Pencarian

Jejak Di Balik Kabut 20

Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja Bagian 20


Namun satu dua kawan mereka justru telah terpelanting jatuh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yang lain mengerang kesakitan sambil terbaring diam. Yang
lain lagi justru berguling-guling sambil berteriak teriak nyaring.
"Siapakah mereka sebenarnya?" pertanyaan itupun mulai
menggelitik mereka yang harus memeras kemampuan mereka
menghadapi orang-orang yang dikira sekedar blandong kayu
itu. Sementara itu pertempuran semakin lama menjadi semakin
seru. Beberapa orang yang berhasil menyusup disela-sela
pertempuran itu telah mendekati pintu regol bangunan utama
perkemahan sementara itu.
Namun Ki Rangga Wirayuda telah siap untuk menahan
mereka. Sementara di belakang regol Ki Lurah Yudatama dan
beberapa orang prajurit dari Pasukan Khusus telah siap pula.
Dalam pada itu, para cantrik yang berada didalam barak
justru menjadi gelisah. Mereka merasa lebih baik berada diluar berak daripada didalam. Jika mereka harus bertempur, maka
bertempur di tempat yang lebih luas akan memberikan
keleluasaan untuk bergerak.
"Apakah kami akan tetap dipenjara didalam barak ini?"
bertanya salah seorang diantara mereka.
"Pertempuran itu sudah menjadi semakin dekat dengan barak
utama ini" "Justru karena itu, maka kami ingin keluar"
"Biarlah para prajurit menyelesaikan tugas mereka"
Para cantrik itupun menjadi semakin gelisah. Sementara
Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya hanya termangu-
mangu saja. Namun ternyata bahwa Ki Panengah dan Ki Waskita
sependapat dengan murid-murid mereka. Bahkan Ki
Kriyadama justru berbisik "Berbahaya bagi mereka. Jika
mereka tetap berada didalam barak ini"
"Ya. Jika ada diantara para penyerang yang melemparkan api,
maka kalutlah keadaan didalam barak ini. Dalam kekalutan,
maka akal tidak lagi bening. Tetapi akan menjadi keruh" sahut
Ki Waskita. Karena itu, maka Ki Panengahpun kemudian berkata kepada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang prajurit "Apakah aku dapat berbicara dengan Ki Lurah
Yudatama?" "Ki Lurah sudah dalam kesiagaan menghadapi lawan yang
semakin dekat dengan regol bangunan ini"
"Jika demikian, biarlah aku menemuinya diluar"
Ternyata Ki Panengah berhasil meyakinkan Ki Lurah Yudatama
bahwa sebaiknya para cantrik berada diluar.
"Baiklah" berkata Ki Lurah "tetapi biarlah mereka berada di
halaman belakang bersama para prajurit yang bertugas di
bangunan induk ini" Ketika hal itu disampaikan kepada para cantrik, maka
merekapun bersorak kegirangan. Seorang diantara mereka
berteriak "Kami memang bukan perawan-perawan pingitan"
Dengan cepat, para cantrik itu menghambur keluar. Tetapi
seperti yang diperintahkan oleh Ki Luar Yudatama, mereka
berada di halaman belakang bangunan utama itu.
Dari sela-sela dinding kayu yang mengelilingi berak induk itu, para cantrik melihat, bahwa disekelilingnya telah terjadi
pertempuran. Para prajurit memang agak kesulitan menahan
arus para penyerang. Karena jumlah para penyerang yang
cukup banyak. Tetapi seorang cantrik berdesis "Aku berharap bahwa ada
beberapa orang yang dapat lolos dan memasuki halaman ini.
Mereka tentu dengan mudah meloncati dinding kayu itu.
sebagaimana kitapun dengan mudah dapat melakukannya
Ki Panengah, Ki Waskita dan Ki Kriyadama menjadi berdebar-
debar melihat pertempuran yang semakin sengit itu.
Merekapun memperhitungkan bahwa sebagian dari mereka
tentu akan berhasil memasuki halaman bangunan induk itu.
Mereka akan dengan mudah meloncati dinding kayu yang
memang tidak terlalu tinggi dan udak terlalu rapat itu. Bahkan dinding kayu itu tidak akan terlalu sulit untuk dirobohkan.
Karena itu, maka Ki Panengahpun kemudian mendekati
Pangeran Benawa yang berdiri tidak terlalu jauh dari Raden
Sutawijaya dan Paksi Pamekas selain prajurit dan Pasukan
Khusus yang bertugas mengawalnya "Pangeran jangan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meninggalkan halaman belakang ini. Keadaan sangat
berbahaya" Pangeran Benawa teisenyum. Katanya "Baik guru. Aku tidak
akan pergi kemana-mana"
Namun ketika Ki Panengah bergeser menjauh, Pangeran
Benawa itupun berkata "Di lereng Selatan Gunung Merapi aku
hanya berdua saja bersama Paksi menghadapi orang-orang
itu" "Keadaannya sudah berbeda, adimas" sahut Raden
Sutawijaya. "Ya" Pangeran benawa menarik nafas panjang.
"Saat itu, mereka tentu tidak tahu, bahwa adimas adalah
Pangeran Benawa" "Ya" "Nah, sekarang mereka mengetahui, bahwa adimas inilah
yang bernama Pangeran Benawa, yang mengenakan cincin
bermata tiga" "Aku tidak mengenakannya" jawab Pangeran Benawa sambil
menengadahkan kesepuluh jari-jarinya"
"Adimas menyembunyikan cincin itu?"
"Ya" "Itu sangat berbahaya. Cincin itu dapat benar-benar hilang
dalam kekalutan seperti ini. Sementara itu, orang-orang yang
memburu adimas Pangeran tidak mau tahu bahwa cincin itu
sudah adimas sembunyikan"
Tetapi Pangeran Benawa tertawa. Katanya sambil
menyentuh kantong ikat pinggangnya "Aku sembunyikan
disini" Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Keadaan
yang gawat itu bagi Pangeran Benawa tidak lebih
menegangkan daripada bermain sembunyi-sembunyian di saat
terang bulan. Dalam pada itu, pertempuranpun menjadi semakin seru.
Dinding halaman bangunan utama itu sudah mulai bergetar.
Ternyata dibagian depan beberapa orang telah berloncatan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
masuk. Tetapi mereka seakan-akan telah memasuki kandang
harimau yang buas dan lapar.
Demikian mereka meloncat turun didalam lingkungan
dinding halaman bangunan utama, maka para prajurit yang
sudah bersiap segera menyambut mereka. Tetapi jumlah
mereka terlalu banyak. Sebagian dari mereka berusaha untuk
dapat memecahkan pertahanan didepan pintu regol. Yang lain
berebut memanjat naik untuk meloncati dinding halaman.
Namun Ki Rangga Suratapa yang bertahan di depan pintu
regol telah bertempur dengan mengerahkan segenap
kemampuannya. Para prajuritpun telah bertempur dengan
garangnya. Namun mereka tidak mampu mencegah orang-
orang yang berlon-catan memasuki halaman bangunan utama.
Namun Ki Lurah Yudatama telah meneriakkan aba-aba
untuk menyambut mereka. Orang-orang yang dengan sangat bernafsu meloncati
dinding halaman tanpa perhitungan, harus menebus
ketergesa-gesaan mereka. Orang-orang itupun segera
terkapar bersandar dinding halaman tanpa dapat memberikan
perlawanan lagi. Tetapi yang lain telah berloncatan memasuki halaman
bangunan utama itu. Bahkan dari arah belakang pula. Para
pemimpin mereka yang pertama-tama meloncat me-masuki
halaman dibagi an belakang dari halaman bangunan utama itu
adalah justru Kebo Serut.
Tetapi Kebo Serut itu terkejut. Yang berdiri di hadapannya
adalah seorang yang dengan serta-merta menyambutnya
dengan menyebut namanya "Kerbau tua. Kau masih saja
bernafsu untuk menjadi Raja di Pajang?"
"Kau siapa?" bertanya Kebo Serut,
Namaku Waskita, Kebo Serut. Apakah kau tidak mengenal
aku lagi?" "Aku belum pernah mengenalmu. Aku juga belum pernah
mendengar namamu. Sebut gelarmu"
"Aku tidak punya gelar. Namaku Waskita. Hanya itu"
"Minggiriah. Aku ingin bertemu dengan Pangeran Benawa"j
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Adalah diluar dugaan, bahwa Pangeran Benawa justru
mendekatinya sambil bertanya "Kau ingin menemui aku?"
Wajah Kebo Serut menjadi tegang. Sementara itu ketiga orang
prajurit pengawal Pangeran Benawapun telah berdiri
disekitamya. "Kau membuat aku bingung" berkata Pangeran Benawa
kepada ketiga orang pengawalnya itu.
Tidak scorangpun diantara mereka menjawab.
Sementara itu, pertempuran dihalaman belakang itupun telah
menjadi semakin ribut. Beberapa orang berloncatan masuk.
Namun beberapa orang pula yang langsung terlempar dengan
luka menganga ditubuh mereka.
Kebo Serut yang melihat Pangeran Benawa itupun berteriak
"Tanggap anak itu, Aku memerlukannya"
Tetapi Ki Waskitapun berkata "Kau tidak akan dapat
menangkapnya, he. Kerbau tua"
"Kenapa tidak?" bertanya Kebo Serut.
"Pangeran Benawa memiliki kemampuan untuk
menghindar" jawab Ki Waskita.
Namun Pangeran Benawa sendiri itupun bertanya "Untuk apa
kau akan menangkap aku?"
"Aku memerlukanmu"
"Untuk apa" Jika yang berusaha menangkapku orang-orang
dari Goa Lampin, aku masih dapat mengerti, karena itu
merupakan kebiasaan mereka. Tetapi jika yang ingin
menangkapku itu kau, kakek tua"
"Persetan" geram Kebo Serut. Orang tua itu tidak menyia-
nyiakan waktu lagi. Ia adalah orang pertama yang memasuki
halaman bangunan utama, serta berhasil bertemu dengan
Pangeran Benawa. Karena itu, maka Kebo Serut itu tidak
menyia-nyiakan kesempatan itu.
Beberapa orangnyapun segera mengepung Pangeran Benawa
dan Ki Waskita, sementara di halaman belakang itupun
pertempuran sudah menjadi semakin sengit.
Tetapi Ki Waskitapun tidak tinggal diam. Ketika Kebo Serut itu mulai beranjak, maka Ki Waskitapun telah bergeser pula.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku ingin memperingatkanmu, Ki Waskita. Minggirlah. Aku
ingin menangkap Pangeran Benawa"
"Apakah aku harus membiarkan saja" Atau bahkan kau
ingin aku membantumu menangkapnya?"
Justru Pangeran Benawalah yang tertawa. Katanya "Kau
agaknya orang aneh, kakek tua"
"Baiklah" berkata Kebo Serut "jika kau mencoba meghalangiku
Ki Waskita, maka yang tertinggal hanyalah namamu saja"
Ki Waskitapun segera bersiap. Ia sadar, bahwa Kebo Serut
adalah seorang yang berilmu tinggi. Namun dalam pada itu,
Kebo Serutpun berteriak sekali lagi "Tangkap Pangeran
Benawa. Hidup atau mati"
Beberapa orangpun kemudian telah bergerak bersama-sama.
Para pengikut Kebo Serut itu sama bernafsunya sebagaimana
Kebo Serut sendiri, karena mereka telah mendengar bahwa
cincin yang diburu oleh Kebo Serut itu ada pada Pangeran
Benawa. Tiga orang prajurit dari Pasukan Khusus yang mengawal
Pangeran Benawa itupun dengan tangkasnya menahan
serangan itu. Dengan pedang ditangan, mereka bertempur
dengan garangnya. Tetapi lawannya terlalu banyak, sehingga
beberapa orang diantara mereka, sempat mendekati dan
menyerang langsung Pangeran Benawa dari beberapa arah.
Ketiga orang prajurit yang merasa dibebani tanggung-jawab
atas keselamatan Pangeran Benawa itu menjadi gelisah.
Tetapi lawan memang terlalu banyak, sementara Pangeran
Benawa sendiri sulit untuk ditempatkan di tempat yang tidak
ter-lalu berbahaya. Sejenak kemudian. Pangeran Benawa sendiri harus bertempur
menghadapi lawan-lawannya. Namun Pangeran Benawa tidak
lagi mempergunakan sepasang pisau belati. Tetapi ditangan
Pangeran Benawa itu tergenggam sebatang tombak pendek.
Dengan tombak pendek itu, Pangeran Benawa ternyata
menjadi semakin garang. Mata tombaknya yang kehitam-
hitaman dengan pamornya yang berkeredipan berputaran di
tangannya yang terampil. Namun Pangeran Benawa itu harus
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengerahkan kemampuannya menghadapi beberapa orang
yang mengepungnya, se-mentara ketiga orang prajurit pilihan
yang mengawalnya harus berhadapan pula dengan beberapa
orang pengikut Kebo Serut.
Dalam pada itu, orang-orang yang ingin memasuki halaman
bangunan induk itu tidak lagi membuang-buang waktu dengan
meloncati dinding halaman. Tetapi dinding halaman itulah
yang kemudian telah mereka robohkan, sehingga dengan
demikian, maka kelompok-kelompok orang telah memasuki
halaman itu pula. Namun para prajurit dan para cantrikpun telah menghadapi
mereka. Para prajurit dari Pasukan Khusus yang berada di
halaman itu, bersama para cantrik yang sudah memiliki bekal
yang cukup, segera menyambut mereka.
Nampaknya Kebo Serut dan para pengikutnyalah yang
mendapat kesempatan terbaik untuk dapat menangkap
Pangeran Benawa. Namun ternyata tidak mudah untuk
menangkap Pangeran Benawa. Beberapa orang telah
mengepungnya dan menyerangnya dari segala arah. Namun
justru setiap kali, justru diantara orang-orang yang
mengepung itulah yang terdengar teriakan kesakitan.
Seorang-seorang diantara mereka terlempar jatuh dan
mengerang kesakitan. Sementara itu, ketiga orang prajurit dari Pasukan Khusus yang
terpilih untuk mengawal Pangeran Benawa itupun telah
mengerahkan segenap kemampuan mereka pula. Setiap kali
senjata mereka telah menggores tubuh lawan mereka. Ujung
senjata itupun telah beberapa kali menghunjam didada lawan.
Tetapi lawan memang terlalu banyak. Para pengikut Kebo
Serut yang tidak menepati kesepakatan permainan saat


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mereka menyerang, memang mendapat kesempatan pertama
menggapai bangunan utama itu. Namun orang-orang yang
mengepung Pangeran Benawa itu terkejut, ketika tiba-tiba
saja seorang anak muda telah meli-batkan diri untuk ikut
melawan mereka. Seorang anak muda yang bersenjata
tongkat. Dengan garangnya anak muda itu mengayun-
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ayunkan tongkatnya diantara serunya pertempuran.
Pangeran Benawa yang melihat kehadiran anak muda itu
tersenyum. Katanya "He, bagaimana dengan para cantrik yang
lain, Paksi?" "Mereka dapat menempatkan diri mereka dengan baik,
Pangeran" jawab Paksi.
"Bagaimana dengan Ki Panengah?"
"Bersama Ki Kriyadama, mereka berada diantara para
cantrik yang memberikan perlawanan dengan baik"
Pangeran Benawa tertawa. Ia tidak menanyakan Raden
Sutawijaya, karena Pangeran Benawa yakin akan kelebihan
saudara angkatnya itu. Pertempuranpun semakin lama menjadi semakin seru.
Ternyata tidak semua orang berilmu tinggi segera mampu
mencapai bangunan utama. Kelompok-kelompok prajurit telah
menahan mereka. Sementara itu, para prajurit terpilih dengan
garangnya telah menepis setiap serangan dari gerombolan-
gerombolan yang menginginkan memiliki cincin kerajaan yang
berada di tangan Pangeran Benawa itu.
Pertempuran di belakang bangunan utama itu menjadi
semakin sengit. Tetapi orang-orang yang datang menyerang
itu harus melihat kenyataan, bahwa mereka mengalami
kesulitan untuk dapat bergerak lebih jauh, apalagi
menemukan Pangeran Benawa, kecuali Kebo Serut dan para
pengikutnya. Bahkan mereka harus memberikan korban yang semakin
banyak. Ki Panengah, Ki Kriyadama dan bahkan Raden
Sutawijaya bukan jenis pembunuh yang tidak berjantung.
Meskipun di peperangan yang sengit, mereka masih mampu
membuat pertimbangan untuk tidak membunuh lawannya,
tetapi sekedar membuat mereka tidak berdaya. Namun jika
senjata mereka pada satu saat menyentuh jantung, adalah
satu hal yang memang sulit untuk dihindari.
Namun akhirnya bukan hanya Kebo Serut sajalah yang telah
memasuki halaman di belakang bangunan utama itu. Ternyata
para pemimpin dari gerombolan dan perguruan yang lainnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sampai juga ke halaman dibelakang bangunan utama itu.
"Ketika Gedhag Panunggal meloncati dinding yang roboh,
maka iapun segera melihat betapa orang-orangnya yang telah
mendahului memasuki halaman itu mengalami kesulitan.
Gedhag Panunggalpun menggeram. Iapun segera mendekati
seorang tua yang dengan mudahnya menghalau orang-orang
yang datang menyerangnya dari arah manapun juga.
"Luar biasa" desis Gedhag Panunggul "siapa namamu?" Orang
itu mengerutkan dahinya. Namun kemudian iapun berdesis
"Namaku Kriyadama"
"Kau tidak bertanya namaku?" justru Gedhag Panunggallah
yang bertanya. Ki Kriyadama tersenyum. Namun iapun kemudian bertanya
"Bukankah namamu tidak menakutkan sehingga aku akan
dapat menjadi pingsan karenanya?"
"Namaku Gedhag Panunggal"
Ki Kriyadama menarik nafas dalam-dalam. Sementara Gedhag
Panunggal itupun bertanya "Kenapa?"
"Untunglah, aku belum pernah mendengar namamu"
"Persetan dengan kau iblis tua. Minggirlah, atau bersiaplah
untuk mati" "Tidak" jawab Ki Kriyadama "tugasku masih banyak. Aku
masih belum bersiap untuk mati"
Gedhag Panunggal tidak menjawab lagi. Tetapi iapun segera
bergeser dan bersiap untuk bertempur. Sementara itu Ki
Kriyadamapun telah bersiap pula. Sebilah pedang telah
tergenggam di tangannya. Sementara itu, lawannya juga telah
memegang senjata yang mendebarkan. Sebuah bindi yang
bergerigi tajam. Keduanyapun segera terlibat dalam
pertempuran yang seru. Namun ternyata kekerasan dan
kekasaran Gcdhag Panunggal sangat menyulitkan Ki
Kriyadama. Karena itu, maka setiap kali Ki Kriyadama itu harus berloncatan mengambil jarak.
Namun seorang cantrik yang bertubuh tinggi tegap tidak
membiarkan Ki Kriyadama dalam kesulitan. Dengan bekal ilmu
yang telah dimilikinya, maka cantrik itupun telah melihatkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
diri melawan Gedhag Panunggal. Bahkan seorang lagi cantrik
yang bergabung dengan mereka, karena cantrik itu tahu.
bahwa Ki Kriyadamalah yang telah diserahi untuk
merencanakan dan melaksanakan pembangunan padepokan
bagi mereka. "Jika terjadi sesuatu atas Ki Kriyadama, maka pembangunan
padepokan itu setidak-tidaknya akan terhambat" berkata para
cantrik itu didalam hati mereka.
Sebenarnyalah, para cantrik itupun sudah memiliki ilmu dasar
yang kuat. Bersama Ki Kriyadama yang juga berilmu tinggi,
maka mereka merupakan lawan yang berat bagi Gedhag
Panunggal. Sementara itu, yang berusaha memasuki halaman bangunan
utama kemudian dinding halaman itu roboh, namun sebagian
dari para penyerang itu tetap tertahan di luar dinding yang
roboh itu. Wira Bangga yang datang dari depan bersama para
pengikutnya, harus bertempur menghadapi Ki Rangga
Suratama. Ternyata pertahanan Ki Rangga itu juga sulit untuk ditembus.
Ki Rangga adalah prajurit pilihan yang berilmu tinggi.
Sehingga dengan demikian, maka sulit bagi Wira Rangga
untuk dapat melewati Ki Rangga Suratama.
Wira Bangga sendiri yang berhadapan langsung dengan Ki
Rangga Suratama segera menyadari, bahwa Ki Rangga
memiliki kemampuan yang tinggi. Namun Wira Bangga tidak
segera dapat mengenalinya, bahwa ia berhadapan dengan
seorang perwira prajurit Pajang yang tangguh. Tetapi Wira
Bangka itupun segera yakin, bahwa yang menghadapinya itu
bukan sekedar seorang tukang blandong, penebang dan
membelah Kayu atau seorang tukang kayu yang menyiapkan
pekerjaan kayu bagi sebuah padepokan.
"Siapa kau sebenarnya, Ki Sanak?"
Namun Ki Rangga itu menjawab "Aku Sura Kampak. Aku
seorang penebang pohon yang kenamaan diseluruh Pajang.
Bahkan pohon-pohon yang dianggap keramat seperti apapun,
aku akan sanggup menebangnya. Sebaliknya pepohonan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berdiri dekat dengan bangunan dan diatas jalan-jalan atau
ditempat-tempat yang rumit lainnya, aku akan dapat
menebangnya tanpa menimbulkan kerusakan apapun serta
tidak akan menutup jalan meskipun hanya sekejap"
"Persetan" geram Wira Bangga "jangan berharap aku
mempercayaimu" "Terserah kepadamu. Aku tidak akan memaksamu untuk
percaya. Tetapi kau sendiri akan mengalami. Aku akan
menebangmu seperti menebang sebatang pohon pisang"
"Kau tidak bersenjata kapak"
"Kapak hanya untuk menebang pohon. Tidak untuk
bertempur" "Pedangmu terlalu baik bagi seorang blandong kayu.
pedangmu adalah pedang seorang perwira prajurit"
Ki Rangga Suratama tertawa. Ternyata mata orang itu
cukup tajam. "Siapa namamu?" bertanya Ki Rangga.
"Wira Bangga" Ki Rangga mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Ki
Rangga itu berdesis "Pulang sajalah. Ajak orang-orangmu. Apa
sebenarnya yang kau maui dengan menyerang perkemahan
ini?" "Aku tidak gila untuk begitu saja pergi. Serahkan Pangeran
Benawa. Kalian semuanya akan selamat. Tetapi jika tidak,
maka perkemahan ini akan menjadi karang-abang. Semua
orang akan mati dan rencana kalian untuk membangun
sebuah padepokan hanya tinggal sebuah mimpi buruk saja"
"Jika demikian, kita akan bertempur untuk menentukan,
siapakah yang harus tunduk diantara kita"
Wira Bangga menggeram. Yang berdiri dihadapannya
adalah seorang yang tegar menghadapi pertempuran yang
sengit itu, tanpa sedikitpun menunjukkan kegelisahan serta
kecemasannya. Sejenak kemudian, Wira Banggapun telah
meloncat menyerang. Sedangkan Ki Rangga dengan
tangkasnya meloncat mengelakkan serangan itu. Namun
dengan capat pula membalas menyerang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pertempuran diantara keduanyapun segera menjadi semakin
seru. Keduanyapun kemudian telah bertempur semakin cepat
dan keras. Dalam pada itu, pertempuran di pinggir hutan Jabung itupun
menjadi semakin sengit. Orang-orang dari gerombolan dan
perguruan yang telah menyerang perkemahan itu berusaha
untuk mencapai bangunan utama. Tetapi mereka mendapat
perlawanan yang sangat berat. Meskipun ada diantara mereka
yang behasil menyusup dan memasuki halaman bangunan
utama, namun dihalaman itu, mereka juga mendapat
perlawanan yang sangat keras.
Sementara itu. Raden Sutawijaya bertempur bersama
beberapa orang cantrik serta Pasukan Khusus yang
ditempatkan di halaman bangunan utama itu. Tetapi semakin
lama Raden Sutawijaya telah tergeser sampai kesamping
bangunan Namun tidak seorangpun yang mampu
menghentikannya. Setiap kali orang-orang yang bertempur
disekitamya telah terlempar keluar dari arena tanpa dapat
melibatkan diri lagi kedalam pertempuran.
Namun Raden Sutawijaya itupun terkejut ketika di arena
pertempuran itu ia melihat beberapa orang perempuan yang
bertempur dengan garangnya. Mereka menyeruak diantara
dentang senjata yang beradu, langsung menghentakkan
kemampuan mereka mendesak para cantrik dan prajurit yang
bertahan. Namun Raden Sutawijaya segera mengetahui,
bahwa mereka adalah para murid dari perguruan Goa Lampin
Perguruan sesat yang menghimpun beberapa orang
perempuan yang dapat mereka pengaruhi dan bahkan
kemudian tersedia berjalan Giring.
Belum lagi Raden Sutawijaya mengambil sikap, tiba-tiba saja
dua orang perempuan cantrik telah berdiri dihadapannya.
"Aku tentu berhadapan dengan Raden Sutawijaya" desis
seorang diantara mereka. "Kau siapa?" bertanya Raden Sutawijaya.
"Namaku Melaya Weidi.
"Aku Megar Permati, Raden"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Jadi kalianlah para pemimpin di perguruan Goa Lampin"
"Darimana Raden mengetahuinya?"
"Ah, nama kalian telah dikenal oleh semua orang muda di
Pajang. Sepasang perempuan cantik yang memimpin sebuah
perguruan yang disebut perguruan Goa Lampin.
"Ah, Raden. Apakah Raden pernah mendengar nama kami?"
bertanya Melaya Werdi. "Tentu" jawab Raden Sutawijaya "sebenarnya sudah lama
aku ingin bertemu dengan kalian. Tetapi agaknya baru
sekarang aku mendapat kesempatan"
"Pangeran ingin bertemu dengan kami?"
" Ya" "Apakah Raden mempunyai kepentingan dengan kami?"
"Ya. Aku ingin melihat apa yang kau simpan didalam
sarangmu di Goa Lampin"
"Ah, Raden. Kami tidak menyimpan apa-apa"
"Semua orang tahu tentang tabiatmu sebagaimana semua
orang tahu tentang kemampuanmu berdua"
Melaya Werdi itu tertawa. Katanya "Kami memang ingin
mohon Raden bersedia datang ke padepokan kami. Kami
memang dalang untuk menjemput Raden dan Pangeran
Benawa. Jika Raden dan Pangeran Benawa bersedia datang ke
perguruan kami, maka kami berjanji untuk melepaskan semua
orang yang pernah kami simpan di perguruan kami. Aku dan
adikku Megar Permati hanya akan menghamba kepada Raden
dan Pangeran Benawa"
Tiba-tiba saja terasa tengkuk Raden Sutawijaya meremang.
Ketika Melaya Werdi melangkah mendekat, maka Raden
Sutawijaya itupun bergeser surut. Melaya Werdi semakin
mendekat. Demikian pula Megar Permati. Dengan nada
suaranya yang tinggi dan dibuat-buat Megar Permati berkata
"Raden. Jika Raden bersedia datang ke perguruan kami, maka
Raden akan berada di tengah-tengah kehidupan yang hanya
dapat ditandingi oleh mimpi dan angan-angan. Selain kami
berdua, maka perempuan-perempuan cantik akan berada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
disekitar Raden setiap saat. Raden akan dapat meyakini,
bahwa Raden akan berada didalam taman yang penuh dengan
bunga-bunga yang harum baunya serta tenggelam dalam
kehangatan pelayanan kami"
Raden Sutawijaya bukanlah anak-anak lagi. Namun sikap
Melaya Werdi dan Megar Permati membuat tubuhnya menjadi
gemetar. Ketika diluar sadarnya ia memandang wajah
perempuan-perempuan cantik itu, terasa kekuatan yang aneh
telah mencengkam jantungnya. Namun Raden Sutawijaya
bukan orang kabanyakan. Justru Melaya Werdi dan Megar
Permati telah membuat satu kesalahan karena mereka
berusaha untuk menguasai perasaan Raden Sutawijaya
dengan ilmunya. Raden Sutawijaya segera menyadari, bahwa kedua orang
perempuan itu sedang berusaha untuk mencengkam hatinya
lewat pandangan mata mereka. Jika hal itu terjadi pada orang
lain, maka dengan beradu pandang, maka orang itu akan
segera tunduk kepada kehendak Melaya Werdi atau Megar
Permati. Tetapi berbeda dengan Raden Sutawijaya. Raden
Sutawijaya yang mengetahui bahwa keduanya memiliki ilmu
yang dapat memaksakan kehendak mereka lewat benturan
pandangan mata, sama sekali tidak menghindarinya. Sekali-


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sekali dipandanginya mata Melaya Werdi dan sejenak
kemudian ditatapnya dengan tajamnya mata Megar Permati.
Semula Melaya Werdi dan Megar Permati berpengharapan,
bahwa Raden Sutawijaya itu akan segera tunduk kepada
mereka. Bahkan Raden Sutawijaya akan dapat mereka peralat
untuk mengikat Pangeran Benawa pula. Sementara itu,
mereka tidak hanya akan memiliki Pangeran Benawa, putera
Kangjeng Sultan Pajang, tetapi juga cincin yang sedang
diperebutkan itu. Namun wajah merekapun semakin lama
justru menjadi semakin tegang. Melaya Werdi dan Megar
Permati merasakan tusukan-tusukan halus dijantung mereka.
Setiap kali mereka beradu pandang dengan Raden Sutawijaya,
justru dada merekalah yang telah berguncang.
Kedua orang perempuan cantik itu, mula-mula tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyadarinya. Namun semakin lama terasa dada mereka
mulai menjadi nyeri. "Raden" desis Melaya Werdi" Raden masih belum menjawab"
"Ya Raden" Megar Permatipun ingin meyakinkan apa yang
telah terjadi "jawablah permohonan kami"
Raden Sutawijayapun kemudian menjawab "Nyi Melaya Werdi
dan Nyi Megar Permati. Aku adalah putera Pemanahan serta
putera angkat Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pa-jang.
Bagaimana menurut pendapat kalian, apakah aku pantas
berada di sarang kalian bersama adimas Pangeran Benawa"
Jika saja aku ingin berada diantara perempuan-perempuan
cantik, aku dapat menghimpun seribu perawan tercantik di
seluruh Pajang. Mereka tentu lebih berarti bagiku dari
perempuan-perempuan di Goa Lampin"
Wajah Melaya Werdi dan Megar Permati menjadi merah.
Ternyata bahwa ketajaman ilmu mereka tidak mampu
menikam jantung Raden Sutawijaya. Karena itu, maka Nyi
Melaya Werdi itupun menggeram "Raden. Raden telah
menghina kami. Menghina kami sebagai perempuan dan
menghina kami sebagai pemimpin sebuah perguruan yang
besar dan memiliki kekuatan. Tunduklah kepada perintah kami
meskipun Raden adalah putera Pemanahan serta putera
angkat Sultan Pajang. Apalagi sebentar lagi Pajang akan kami
hancurkan. Kekuasaan Kangjeng Sultan akan kami
tumbangkan. Raden jangan mengira bahwa kami tidak tahu
apa yang ada didalam istana Pajang. Istana Pajang tidak lebih
bersih dari padepokan kami. Ada berapa puluh perempuan
yang tersekap didalam istana itu. Bahkan tentu jauh lebih
banyak dari laki-laki yang ada di perguruan kami. Selama ini
kami membiarkan saja dugaan orang bahwa kami telah
menyimpan laki-laki di perguruan kami dalam kerangkeng-
kerangkeng yang sebenarnya tidak lebih dari sekedar fitnah
Nah, apakah perempuan-perempuan di istana juga tidak
ubahnya hidup didalam kerangkeng?"
Dada Raden Sutawijaya bagaikan dihentak dengan sebongkah
batu padas. Darahnya lelah menjadi panas. Namun Raden
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sutawijaya masih menjawab "Jika kau tahu demikian, kaupun
tentu tahu, bahwa aku akan merasa lebih baik berada di
istana daripada di padepokanmu. Di istana, kamilah yang
berkuasa, sementara di padepokanmu, kalianlah yang
berkuasa. Di istana, kami dapat menentukan sendiri apa yang
ingin kami lakukan. Sementara bersamamu, maka kami adalah
budak-budakmu" "Persetan dengan dongeng itu" Megar Permatilah yang
menjadi tidak sabar "tunduklah pada perintah kami. Jika
pandangan mata kami tidak mampu menguasai kebebasan
kehendakmu, maka kemampuan serta ilmu kami akan dapat
mcnun-dukkanmu. Jika kau luput dari tangan kami, maka kami
akan lebih senang melihat kau binasa, anak Pemanahan"
Jantung Raden Sutawijaya bagaikan membara mendengar
cacian Megar Permati. Tetapi Raden Sutawijaya mempunyai
pengalaman yang luas menghadapi segala macam lawan
didalam berbagai macam pertempuran. Jika lawannya berhasil
membakar jiwanya, sehingga kehilangan kendali nalarnya,
maka ia sudah menapak kedalam kenyataan yang buruk.
Karena itu betapapun kemarahan menghentak-hentak di-
dadanya, namun Raden Sutawijaya tetap mampu
mengendalikan perasaannya.
"Bersiaplah" berkata Raden Sutawijaya kemudian "kita berada
di lingkungan pertempuran yang sengit. Jika kita hanya
bercanda saja disini, maka orang-orang yang sedang
bertempur itu akan marah kepada kita Orang-orangmu yang
terlempar dari medan dengan luka di tubuh mereka, akan
mengumpati kalian, karena kalian justru tersenyum-senyum
disini" Megar Permati tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja
senjatanya telah bergetar di tangannya.
Raden Sutawijaya melangkah surut. Namun senjatapun segera
merunduk. Raden Sutawijaya yang juga bersenjata tombak
pendek, telah siap menghadapi kedua orang perempuan kakak
beradik itu. Sejenak kemudian, maka Megar Permati yang marah itu telah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
meloncat menyerang. Kemudian disusul pula oleh Melaya
Werdi. Dua orang perempuan yang berilmu tinggi.
"Kau akan menyesal. Raden" geram Melaya Werdi sambil
meloncat. Diayunkannya pedangnya mendatar selangkah
surut, sehingga pedang itu sama sekali tidak menyentuhnya.
Namun yang kemudian meloncat menyerang dengan pedang
terjulur adalah Megar Permati. Tetapi justru ujung tombak
Raden Sutawijaya terjulur kearah dadanya, sehingga Megar
Permati itu mengurungkan serangannya.
Demikianlah, kedua orang pemimpin perguruan Goa Lampin
itupun telah bertempur dengan garangnya melawan Raden
Sutawaijaya. Meskipun keduanya adalah perempuan-
perempuan berilmu tinggi, tetapi yang mereka hadapi adalah
Raden Sutawijaya. Seorang yang memiliki ilmu seakan-akan
tanpa batas. Pertempuran di halaman bangunan utama perkemahan itu
menjadi semakin sengit. Sima Pracima yang berloncatan
dengan garangnya, menerkam lawan-lawannya dengan kuku-
kuku bajanya yang tajam, terkejut ketika seorang tua tiba-tiba saja telah berdiri di hadapannya.
"Kau siapa, kek?" bertanya Sima Pracima.
"Orang memanggilku Ki Panengah, Ki Sanak. Kau siapa?"
"Namaku Sima Pracima"
"O, jadi kaulah yang bernama Sima Pracima"
"Kau pernah mendengar namaku?"
"Ya. Aku pernah mendengarnya"
"Nah, sekarang kau mau apa" Kenapa tiba-tiba saja kau
berada di medan pertempuran ini" Kau sudah terlalu tua untuk
bermain-main dengan senjata, kek. Apalagi kau telah berdiri
dihadapanku. Mumpung akalmu masih sempat bekerja de-
ngan bening, minggiriah"
"Terima-kasih atas kesempatan ini, ngger. Tetapi aku
adalah satu seorang hamba di Pajang. Adalah kewajibanku
untuk ikut berusaha untuk menyelamatkan Pangeran Benawa
Nah, bukankah orang-orang ini datang untuk mengambil
Pangeran Benawa?" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Dari siapa kau tahu bahwa kami berniat untuk mengambil
Pangeran Benawa?" "Semua orang mengatakan, bahwa kalian sedang memburu
Pangeran Benawa. Karena kalian tahu bahwa Pangeran
Benawa sedang membangun sebuah padepokan disini, maka
kalianpun telah berdatangan kemari"
"Baik. Kau benar. Karena Itu, jika kau mau membantuku
menunjukkan dimana Pangeran Benawa bersembunyi, aku
akan membebaskanmu, kek"
"Jika aku menunjukkan dimana Pangeran Benawa
bersembunyi kepadamu, maka kawan-kawanmu, tetapi juga
saingan-sainganmu itulah yang akan membantai aku"
"Aku akan melindungimu" berkata Sima Pracima.
Ki Panengah tertawa. Katanya "Sebaiknya kau berusaha
melindungi dirimu sendiri saja, ngger. Jika kau benar-benar
sempat bertemu dengan Pangeran Benawa, maka kau tidak
akan dapat keluar lagi dari arena ini"
"Jangan merendahkan aku, kek"
"Tidak. Aku sama sekali tidak merendahkanmu. Aku tahu kau
berilmu tinggi. Tetapi akupun tahu bahwa Pangeran Benawa
berilmu sangat tinggi"
Sima Pracima menggeram. Namun kemudian iapun berkata
"Baiklah kek. Bersiaplah. Sebelum aku bertemu dengan
Pangeran Benawa, Aku harus menyingkirkanmu lebih dahulu"
"Mudah-mudahan kau tidak bertemu dengan Pangeran
Benawa. Ia masih muda. Darahnya masih mudah mendidih.
Sementara itu, ilmunya tidak dapat diukur tatarannya
"Jangan menganggap aku anak yang masih belum hilang
pupuk lempuyang diubun-ubunku, kek. Aku tidak dapat kau
takut-takuti seperti itu. Aku tahu bahwa siapapun didunia ini, tidak ada yang memiliki kemampuan tidak terbatas"
"Kau benar, ngger. Tetapi bukankah batasan itu
mempunyai unda-usuk"
"Cukup, kek. Jika kau memang ingin mati, bersiaplah.
Agaknya kau sudah terlalu lama hidup didunia ini"
Ki Panengah mundur selangkah, katanya" Jika angger ingin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tahu. Pangeran Benawa berada dihalaman belakang ini pula
bersama Kerbau tua itu"
"Kebo Serut?" "Ya. Tetapi kerbau tua itu bertemu dengan sahabat lamanya,
Ki Waskita. Namun agaknya kerbau tua itu tidak dapat
mengenalinya lagi" "Kau melihat sendiri?"
"Ya. Aku tadi berada disana bersama dengan Ki Waskita.
Tetapi akupun kemudian bergeser kemari"
"Aku harus segera menemuinya sebelum Pangeran Benawa
jatuh ke tangan kerbau tua yang gila itu. Nah, sekali lagi aku beri kau kesempatan untuk minggir, kek"
"Tidak usah. Jika aku memerlukan, aku akan mengambil
kesempatan itu sendiri"
"Gila" Sima Pracima berteriak "kau mau apa, kakek tua Kau
jangan bermimpi untuk dapat melawan aku meskipun hanya
sesilir bawang. Demikian kau memutuskan untuk melawan
aku, maka akupun akan segera melubangi jantungmu"
"Bagus. Lakukan"
"Maksudmu?" "Aku memutuskan untuk melawanmu"
Demikian mulut Ki Panengah terkatup, maka Sima Pracima
itu telah meloncat menyerang. Jari-jarinya yang terbuka siap
menerkam dadanya dan mencengkam jantungnya. Tetapi
Sima Pracima itu terkejut. Orang itu mampu bergerak Jebih
cepat, sehingga jari-jari Sima Pracima yang terbalut dengan
baja yang berujung runcing itu tidak menyentuhnya.
"Kau tidak dapat menepati kata-katamu" berkata Ki
Panengah "kau tidak mampu melubangi jantungnya. Bahkan
kau tidak dapat mengoyakkan pakaianku"
"Iblis tua" teriak Sima Pracima "kau akan menyesali
kesombonganmu. Kau akan mati dengan cara yang lebih
parah lagi" Sima Pracimapun menjadi semakin garang. Kakinya
berloncatan sementara tangannya menggapai-gapai
mengerikan. Jika tangan itu gagal mencengkam leher, maka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangan itupun terayun meggetarkan. Sentuhan ujung kuku-
kuku bajanya akan dapat mengoyak kulit daging lawannya
sampai ke tulang. Tetapi betapapun Sima Pracima mengerahkan kemampuannya
untuk menyerang, namun sulit baginya untuk dapat mengenai
tubuh lawannya karena Ki Panengah mampu bergerak
melampaui kecepatan Sima Pracima.
Sima Pracima itupun menggeram seperti seekor harimau yang
lapar melihat seekor kijang melintas di dekatnya. Namun sima
Pracima tidak mempunyai kesempatan untuk dapat melukai
kulitnya, meskipun hanya segores tipis sekalipun.
Dalam pada itu, maka pertempuranpun di perkemahan itupun
semakin lama menjadi semakin seru. Kedua belah pihak telah
mengerahkan kemampuan mereka. Meskipun orang-orang dari
beberapa gerombolan dan perguruan itu jumlahnya lebih
banyak dari mereka yang bertahan, namun kctrampilan para
prajurit telah memaksa para penyerang itu harus
mengerahkan segenap tenaga, kekuatan dan kemampuan
mereka. Namun mereka terlambat menyadari bahwa yang mereka
hadapi bukan sekedar tukang-tukang blandong yang hanya
mampu membelah kayu. Satu-satu orang-orang yang datang
menyerang perkemahan itu terlempar dari arena dengan luka
di tubuh mereka. Meskipun demikian jumlah mereka yang
banyak, mampu mengguncang pertahanan para prajurit
Pajang. Namun mereka yang sudah berada di halaman
perkemahan, tidak mampu mendesak para cantrik dan prajurit
yang bertempur dengan garangnya.
Meskipun dinding halaman telah roboh, sehingga tidak lagi
batas antara halaman perkemahan dan lingkungan
disekitarnya, namun pertahanan yang berlapis, telah
membatasi gerak orang-orang yang datang menyerang
perkemahan itu. Kebo Serut, seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang
dituakan diantara mereka, ternyata tidak mampu
mengalahkan Ki Waskita Semakin lama Ki Kebo Serut justru
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
semakin terdesak. Meskipun Ki Kebo Serut telah mengeluhkan
kemampuannya namun ia tidak behasil menundukkan dan
apalagi menghentikan perlawanannya.
Dalam pada itu, dari kejauhan, para petugas sandi yang
dikirim oleh Harya Wisaka mengawasi keadaan dengan
saksama Mereka melihat dari kejauhan dinding halaman
perkemahan yang roboh. "Apakah mereka akan segera dapat menguasai Pangeran
Benawa dan para cantrik?"
"Kita tidak peduli dengan para cantrik. Tetapi bagaimana
dengan Pangeran Benawa"
"Jumlah mereka terlalu banyak. Agaknya para prajurit dan
para cantrik mengalami kesulitan"
"Pertempuran masih berjalan denggan sengitnya"
"Tetapi orang-orang yang menyerang perkemahan itu telah
mampu menyusup disegala sudut perkemahan. Jika Harya


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Wisaka terlambat, maka Pangeran Benawa tentu sudah jatuh
ketangan mereka. Bahkan mungkin telah dibawa lari atau
dibunuh di tempat, tetapi cincin itu sudah berada di tangan
mereka" Kawannya termangu-mangu sejenak. Sambil mengerutkan
dahinya iapun berkata "Kita harus segera melaporkan kepada
Harya Wisaka. Harya Wisaka tidak boleh terlambat"
"Baik. Kau tinggal disini mengawasi keadaan. Aku akan
pergi menemui Ki Lurah Sindetan"
"Kenapa Ki Lurah Sindetan. Kau harus bertemu langsung
dengan Harya Wisaka"
"Jangan memperbodoh diri sendiri. Apakah kita pernah
dapat menghadap langsung Harya Wisaka begitu saja?"
Kawannya tidak menjawab. "Sudahlah. Tunggulah disini"
Kawannyapun segera bergeser menjauh. Dengan hati-hati
iapun menyusup diatara gerumbul-gerumbul liar. Kamudian
memasuki daerah persawahan. Berlari-lari di pe-matang
menuju ke padukuhan terdekat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di padukuhan itu Harya Wisaka telah menempatkan
landasan pengintaian terhadap kejadian-kejadian di hutan
Jabung. Segala sesuatunya diatur oleh seorang petugas yang
dipercaya oleh Harya Wisaka. Ki Lurah Sindetan.
"Kita akan menghadap Harya Wisaka" berkata Ki Lurah
Sindetan kemudian. Berdua mereka berkuda menuju ke sebuah padukuhan lain
yang dipergunakan oleh Harya Wisaka untuk menempatkan
sebagian dari pasukannya. Laporan yang disampaikan oleh Ki
Lurah Sindetan bersama seorang pengawas yang menyaksikan
langsung pertempuran di hutan Jabung itu memang harus
mempertimbangkannya. Dengan nada berat Harya Wisaka
itupun bertanya "Apakah dalam pertempuran itu kekuatan
kedua-belah pihak sudah nampak susut?"
"Sudah" jawab pengawas yang langsung menyaksikan
pertempuran di hutan Jabung "korban sudah berjatuhan.
Tetapi pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya"
"Siapakah yang nampaknya akan menguasai keadaan"
Gerombolan-gerombolan liar itu atau para prajurit Pajang?"
"Kami belum dapat mengambil kesimpulan. Pertempuran
itu terjadi demikian sengitnya. Tetapi dinding yang melingkari bangunan utama sudah roboh. Pertempuran terjadi dan
menyebar ditempai yang luas. Para prajurit tidak berhasil
menghambat dan apalagi menahan para penyerang diluar
dinding bangunan utama"
Harya Wisaka mengangguk-angguk. Pengawas yang
langsung menyaksikan medan pertempuran itu telah
memberikan gambaran sejelas-jelasnya sesuai dengan
penglihatannya. Akhirnya Harya Wisakapun telah
memerintahkan pasukannya untuk bersiap. Dipanggilnya para
pemimpin kelompok dan diperintahkannya untuk berada
dalam kesiapan tertinggi.
"Kita akan bergerak segera. Setiap saat aku dapat
menjatuhkan perintah untuk menyerang. Sampaikan perintah
ini, juga kepasukan yang lain yang berada di padukuhan-
padukuhan yang lain"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Demikianlah, para penghubung berkuda telah
menyampaikan perintah itu kepada kelompok-kelompok yang
lain yang berada di padukuhan-padukuhan sebelah
menyebelah. Dalam pada itu, setiap gerakan yang dilakukan oleh para
pengikut Harya Wisaka itu tidak lepas dari pengamatan para
petugas sandi Pajang yang menyampaikannya kepada Ki
Tumenggung Wirayuda Sehingga Ki Tumenggung Wirayuda
dan mengikuti perkembangan keadaan dengan saksama.
Bahkan bukan hanya Ki Tumenggung Wirayuda sajalah
yang memperhatikan pertempuran itu dengan bersungguh-
sungguh. Ki Gede Pemanahan sendiri mengikuti setiap langkah
yang diambil oleh segala pihak. Bagaimanapun juga Ki Gede
Pemanahan menyadari, bahwa anaknya laki-laki bersama
Pangeran Benawa berada di perkemahan itu.
Dalam pada itu, pertempuran di perkemahan itu menjadi
semakin sengit. Meskipun jumlah para penyerangnya lebih
banyak, tetapi para prajurit perlahan-lahan mampu menguasai
keadaan. Hambatan Jerat dan jebakan yang dipasang oleh
para prajurit sudah mengurangi jumlah lawan mereka
Sedangkan dalam pertempuran yang terjadi kemudian,
dengan garangnya para prajurit yang bekerja di perkemahan
itu sebagai pekerja-pekerja kasar, telah membabat lawan-
lawan mereka. Seperti perintah yang diterima para prajurit itu,
sebagaimana perhitungan Pangeran Benawa sehingga ia
bersedia untuk menjadi umpan, memancing gerombolan-
gerombolan serta perguruan-perguruan yang menginginkan
cincin itu, Pajang memang ingin menghancurkan mereka.
Gerombolan-gerombolan dan perguruan-perguruan sesat itu
bagi Pajang merupakan bisul yang dapat pecah, kemudian
menjadi penyakit yang berbahaya. Karena itu, maka
secepatnya bisul itu justru harus dicabut sampai ke akar-
akarnya agar kelak tidak akan dapat tumbuh lagi.
Berdasarkan atas perintah itu, maka para prajuritpun telah
bertempur dengan mengerahkan kemampuan mereka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seorang Lurah Prajurit yang bertempur melawan dua orang
pengikut Kebo Serut berkata "Menyerah sajalah. Jika kalian
menyerah, maka kalian menjalani hukuman atas perbuatan-
perbuatan kalian yang bertentangan dengan paugeran, maka
kalian akan dapat hidup dengan wajar sebagaimana orang
lain. Kalian akan dapat hidup dengan tenang bersama
keluarga. Bersama anak istri dan tetangga-tetangga dalam
suasana yang damai" Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian seorang diantara mereka menggeram "Kau tidak
perlu membujuk aku. Aku tahu apa yang terbaik aku lakukan.
Kau kira jika kami tidak menyerah, kami tidak mempunyai
kemungkinan untuk hidup?"
"Ya" jawab Lurah Prajurit itu "jika kalian tidak menyerah,
kalian akan mati di peperangan ini"
"Omong kosong" "Aku berkata sebenarnya. Kami, yang bertempur ini bukan
blandong-blandong kayu atau sekedar pekerja kasar. Tetapi
kami adalah prajurit-prajurit meskipun kami tidak mengenakan
ciri-ciri keprajuritan kami. Kami memang mendapat tugas
untuk menghancurkan gerombolan-gerombolan dan
perguruan-perguruan yang setiap saat akan dapat
mengganggu ketenangan dan ketenteraman Pajang. Bahkan
dapat mengganggu jalannya pemerintahan di Pajang"
"Mimpi buruk bagi Pajang. Tetapi sebenarnyalah pada
suatu saat Pajang akan dapat kami runtuhkan. Kau kira
pemerintahan di Pajang berjalan baik sekarang ini?"
"Kami tidak mengingkari bahwa ada cacat dalam
pemerintahan di Pajang sekarang ini. Tetapi apakah dengan
demikian kami harus mendukung gerombolan-gerombolan dan
perguruan-perguruan sesat seperti gerombolan kalian ini"
"Persetan dengan igauanmu"
"Sekali lagi aku peringatkan, menyerahlah"
"Cukup, Tengadahkan wajahmu ke langit yang terbentang
diatas Pajang ini. Kau segera meninggalkannya untuk selama-
lamanya" Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi Ki Lurah itu tertawa. Katanya "Jangan mengigau
seakan-akan sebentar lagi kau akan mati"
Kedua orang itu tidak menunggu lebih lama lagi. Seorang
diantara mereka segera meloncat sambil mengayunkan
goloknya yang besar. Tetapi Lurah prajurit itu sempat
mengelak. Bahkan kemudian pedangnyalah yang terjulur
menggapai kearah dada. Tetapi lawannyapun segera meloncat
surut. Lurah prajurit itu tidak sempat memburu, karena
lawannya yang lajn telah menyerangnya pula.
Demikianlah, keduanya telah terlibat lagi dalam pertempuran
yang sengit. Lurah prajurit itu harus bertempur melawan dua
orang pengikut Kebo Serut. Tetapi Lurah prajurit itu memiliki
kemampuan yang tinggi, sehingga kedua orang pengikut Kebo
Serut itupun segera mulai terdesak.
Namun dalam pada itu, seorang kawannya tiba-tiba saja
telah meloncat mendekat sambil berkata "Aku ikut kalian
membantai orang ini"
Lurah prajurit itu meloncat surut "Namun tiba-tiba saja ia
melenting sambil menjulurkan pedangnya lurus-lurus menikam
dada orang yang baru saja melibatkan diri itu. Orang itu
mengumpat kasar. Namun kemudian orang itupun terhuyung-
huyung dan jatuh berguling ditanah.
Kedua orang kawannya yang sudah bertempur lebih dahulu
terkejut. Orang itu tidak sempat berbuat apa-apa. Demikian ia
meloncat mendekat, maka dadanya telah tertembus ujung
pedang. Kedua orang pengikut Kebo Serut itupun harus bertempur
berdua lagi menghadapi lurah prajurit yang garang itu.
Semakin lama kedua orang pengikut Kebo Serut itu menjadi
semakin terdesak. Sementara itu, lurah prajurit itu masih
mencoba memperingatkan" Menyerahlah, agar aku tidak
membunuh kalian berdua"
Tetapi kedua orang itu justru meloncat hampit berbareng
sambil mengayunkan senjata mereka. Prajurit itupun bergeser
dengan tangkasnya Kemudian meloncat berputar. Pedangnya
terayun mendatar dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seorang diantara kedua orang lawannya itu berteriak nyaring.
Orang itu terkejut sekali karena ujung pedang Lurah prajurit
itu menggores dadanya menyilang dari bahu sampai ke bahu.
Kawannyapun terkejut pula. Namun ia berusaha untuk
menguasai keadaan. Justru pada saat kawannya itu
terpelanting jauh, orang itu meloncat menyerang dengan
garangnya. Parangnya menebas mendatar kearah leher lurah
prajurit itu. Namun ternyata Lurah prajurit itu dengan tangkasnya
merendahkan diri pada lututnya. Pada saat yang bersamaan,
iapun telah mengayunkan pedangnya pula mengoyak lambung
lawannya yang seorang lagi itu.
Orang itupun berteriak pula sambil mengumpat-umpat. Ia
masih bertahan berdiri beberapa lama. Namun kemudian
iapun terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terbaring di
tanah. Darah mengalir dari lukanya membasahi padang perdu
disebe-lah hutan Jabung. Lurah prajurit itu termangu-mangu sejenak. Ia masih
mendengar lawannya merintih Tetapi tidak ada niatnya untuk
menikam orang itu didadanya dan membunuhnya. Ia tahu
bahwa orang itu tidak akan mungkin melibatkan diri lagi dalam
pertempuran yang sengit. Seperti Ki Lurah itu, maka para prajurit Pajang yang tidak
mengenakan ciri-ciri keprajuritannya itu telah menyusut
lawannya. Mula-mula dengan perlahan-lahan. Tetapi semakin
berkurang lawan mereka, maka penyusutan itu justru
berlangsung semakin cepat. Jika semula para prajurit Pajang
harus melawan satu atau dua orang lawan, maka merekapun
akhirnya dapat bertempur seorang melawan seorang. Para
prajurit yang telah kehilangan lawannya, akan dapat
membantu kawan-kawannya yang harus menghadapi lebih
dari seorang. Dengan demikian, maka orang-orang dari gerombolan-
gerombolan serta perguruan-perguruan yang menempuh jalan
sesat itu menjadi semakin terdesak. Para prajurit telah
semakin menguasai keadaan. Namun demikian, justru
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
disekitar bangunan induk, pertempuran masih berlangsung
dengan sengitnya. Para pemimpin gerombolan dan perguruan yang sesat itu
semakin berusaha menekan lawan-lawan mereka. Namun
mereka tidak mampu berbuat banyak. Ternyata mereka
masing-masing telah dihadapi oleh orang-orang berilmu tinggi
yang tidak mudah dapat mereka atasi.
Pada saat yang demikian itulah, Harya Wisaka memutuskan
untuk hadir dimedan pertempuran. Keadaan kedua belah
pihak telah menjadi semakin lemah, sementara Harya Wisaka
juga tidak mau kehilangan Pangeran Benawa.
Setelah beibicara dengan beberapa orang kepercayaannya,
maka Harya Wisaka itupun telah mengambil keputusan bulat.
Diperintahkan para penghubung untuk melepaskan anak
panah sendaren kearah beberapa padukuhan terdekat sebagai
isyarat, bahwa pasukannya harus mulai bergerak.
Sekejap kemudian, maka beberapa buah anak panah
sendaren telah meraung-raung di udara. Anak panah yang
meluncur kearah beberapa padukuhan disebelah menyebelah.
Isyarat yang merupakan perintah itu telah didengar oleh para
petugas yang berada di padukuhan-padukuhan sebelah.
Karena itu, maka para pemimpin yang berada di padukuhan-
padukuhan itupun segera memerintahkan para pengikut Harya
Wisaka itu untuk bergerak.
Dengan cepat para pengikut Harya Wisaka yang sebagian
terdiri pada prajurit Pajang itupun telah begerak pula. Mereka keluar dari regol padukuhan seperti laron yang keluar dari
liang-liangn a diujung musim basah, menghambur kearah
perkemahan yang sedang menjadi arena pertempuran itu.
Para pengikut Harya Wisaka yang sedang berlari-larian itu
tidak segera dilihat oleh mereka yang sedang bertempur itu.
Mereka masih sibuk dengan pertempuran itu sendiri. Mereka
masih harus berusaha melindungi nyawa mereka.
Harya Wisaka yang memimpin orang-orangnya itupun telah
memerintahkan kepada para pengikutnya agar
memberitahukan kepadanya jika mereka melihat Pangeran
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Benawa di arena "Pangeran Benawa adalah seorang yang
berilmu sangat tinggi. Tidak ada orang lain yang akan dapat
menandinginya kecuali aku sendiri. Sementara itu, sekelompok
kecil prajurit pilihan bersama Ki Lurah Sindetan sendiri akan
mencoba mengurung dan membatasi gerak Raden Sutawijaya.
Sedangkan yang lain akan diselesaikan oleh Ki Rangga Suraniti
dan orang-orangnya" Baru beberapa saat kemudian, setelah pasukan Harya
Wisaka itu mendekat, maka orang-orang yang sedang
bertempur itu melihat, beberapa kelompok pasukan telah


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berlari-lari dengan senjata telanjang yang teracu-acu.
Kedatangan pasukan itu memang mengejutkan. Orang-
orang dari gerombolan-gerombolan serta perguruan-
perguruan yang menginginkan menangkap Pangeran Benawa
itu mengira, bahwa bantuan para prajurit Pajang berdatangan.
Karena itu, maka merekapun menjadi sangat gelisah. Tanpa
bantuan itu, mereka sudah tidak berpengharapan lagi. Namun
merekapun melihat sebagian dari lawan-lawan mereka, orang-
orang yang mempertahankan perkemahan itu, bersiap-siap
menyongsong mereka dengan senjata teracu.
Para pemimpin gerombolan dan perguruan sesat itupun
segera menyadari kekeliruan mereka Meraka tidak
memperhitungkan kekuatan Harya Wisaka. Beberapa
orangpun telah bergumam pula menyebutkan nama Harya
Wisaka. Tetapi mereka tidak mempunyai banyak waktu.
Beberapa saat kemudian, pasukan yang dipimpin Harya
Wisaka itu telah membentur dua kekuatan yang sudah
semakin menyusut. Apalagi kekuatan gerombolan-gerombolan
serta perguruan-perguruan yang menginginkan cincin yang
dibawa oleh Pangeran Benawa itu.
Ternyata pasukan Harya Wisaka memang benar-benar
kuat. Ketika kemudian terjadi pertempuran segi-tiga, pasukan
Harya Wisaka benar-benar dapat menguasai keadaan.
Namun, justru karena itu, maka perlawanan baik oleh para
prajurit Pajang yang berada di perkemahan, maupun orang-
orang dari gerombolan-gerombolan dan perguruan-perguruan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang memburu cincin yang dibawa oleh Pangeran Benawa itu,
lebih banyak bertempur melawan para pengikut Harya Wisaka
Bahkan orang-orang berilmu tinggipun mulai mengalihkan
perhatian mereka Ki Waskita yang bertempur melawan Kebo
Serutpun harus mempertahankan diri pula dari serangan-
serangan para pengikut Harya Wisaka'
Medan pertempuran itupun menjadi kalut Sementara itu
Harya Wisaka telah menjatuhkan perintah, bahwa orang-
orangnya harus membinasakan kedua belah pihak lawan
mereka Baik para prajurit Pajang maupun pasukan gabungan
yang ingin menguasai Pangeran Benawa itu. Kedua pasukan
yang baru saja bertempur itu memang sudah tidak memiliki
kekuatan yang utuh lagi untuk menghadapi pasukan Harya
Wisaka yang segar. Sementara itu, Harya Wisakapun telah menutup jalan
masuk ke Pajang untuk mencegah para penghubung
memberitahukan keadaan di medan dan minta bantuan
kepada pasukan berkuda yang pada hari-hari terakhir
meningkatkan pengawasan mereka didalam kota Pajang.
Namun dalam pada itu, para prajurit Pajang telah
mempergunakan isyarat yang lain untuk mendatangkan
bantuan yang memang sudah dipersiapkan. Justru pada saat
para penghubung Harya Wisaka melontarkan anak panah
sendaren, para petugas sandi dan penghubung prajurit
Pajangpun telah melakukan hal yang sama. Namun arahnya
sajalah yang berbeda, sehingga para pengikut Harya Wisaka
tidak sempat memperhatikannya. Perhatian mereka lebih
tertarik kepada anak panah sendaren yang ditujukan kepada
mereka daripada anak panah sendaren yang lain. Apalagi anak
panah sendaren yang dilepaskan oleh para penghubung dari
Pajang, menuju kearah yang lain.
Sebenarnyalah isyarat beranting sebagaimana direncanakan
berlangsung dengan lancar. Panah yang terakhir yang
dilepaskan oleh seorang penghubung tepat meluncur dan
jatuh di halaman depan barak pasukan berkuda sebagaimana
telah dirancang. Isyarat itu merupakan perintah bagi pasukan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berkuda untuk segera berangkat menuju ke hutan Jabung
yang letaknya tidak terlalu jauh dari pintu gerbang kota.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian, iring-iringan
pasukan berkuda itupun telah berderap melintasi gerbang
utama langsung menuju ke hutan Jabung.
Demikian mereka melintasi jalan bulak yang panjang,
sekelompok prajurit, pengikut Harya Wisaka. terkejut melihat
pasukan berkuda itu. Mereka adalah sekelompok prajurit yang
bertugas untuk menutup jalan, agar tidak seorangpun
memasuki gerbang kota, untuk mencegah agar pasukan
berkuda itu tidak dapat dihubungi. Namun justru pasukan
berkuda itu melintas dengan garangnya menuju hutan jabung.
Karena itu, maka sekelompok prajurit itu justru telah
meninggalkan tempatnya menyusul ke hutan Jabung.
Dalam pada itu, dua orang penghubung berkuda yang
ditugaskan untuk mencari jalan lain menghubungi pasukan
berkuda jika cara yang terdahulu gagal, telah sampai ke barak
pula. Tetapi merekapun segera mendapat pemberitahuan,
bahwa pasukan berkuda sudah berangkat.
"Sukurlah" berkata penghubung itu. Keduanya menyadari
bahwa keadaan medan tentu sangan gawat bagi para prajurit
Pajang yang sudah berada disana Keadaan itu akan sangat
membahayakan pula bagi Pangeran Benawa dan Raden
Sutawijaya. Sebenarnyalah, pertempuran di tepi hutan Jabung itu
menjadi semakin sengit. Namun para prajurit Pajang yang
sudah berada ditempat itu tidak kehilangan hubungan yang
satu dengan yang lain. Dengan bahasa sandi serta isyarat-
isyarat rahasia, mereka tetap berhubungan yang satu dengan
yang lain. Dalam pada itu, para prajurit Pajang yang sudah berada di
perkemahan itu, harus mengerahkan segenap kemampuan
mereka. Sementara Ki Waskita dan Ki Panengah telah
melepaskan lawan-lawan mereka karena kelompok-kelompok
pengikut Harya Wisaka yang bagaikan banjir bandang
melanda medan pertempuran itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sima Pracima ternyata tidak sempat memburu Ki Panengah
karena ia segera terjebak dalam kepungan para pengikut
Harya Wisaka Beberapa orang pengikutnya segera bergabung
dengan Sima Pracima untuk melawan sekelompok orang yang
mengepungnya. Sementara itu, Ki Waskita dan Ki Panengah telah berada
didekat Pangeran Benawa. Demikian pula Raden Sutawijaya
Melaya Werdi dan Megar Permatipun harus menghadapi
lawan-lawan mereka yang baru. Beberapa orang prajurit
pilihan, pengikut Harya Wisaka.
"Berhati-hatilah Pangeran" desis Ki Panengah.
Pangeran Benawa tersenyum. Katanya "Pertempuran yang
meriah, guru" Ki Panengah mengerutkan dahinya. Sementara Pangeran
Benawa bertanya "Dimana Paksi?"
"Aku melihat tongkatnya berputaran" sahut Raden
Sutawijaya. Pangeran Benawapun kemudian melihat Paksi pula
bersama para cantrik dan para prajurit dari Pasukan Khusus
yang memang ditempatkan di bangunan utama itu untuk
melindungi Pangeran Benawa.
Ki Waskita dan Ki Panengah sependapat, bahwa kekuatan
Harya Wisaka jauh lebih berbahaya dari kekuatan gerombolan-
gerombolan dan perguruan-perguruan yang memburu
Pangeran Benawa itu. Dengan demikian, maka kekuatan perguruan Ki Panengah
yang sedang membangun padepokan itu seakan-akan telah
berkumpul. Bahkan Ki Kriyadamapun telah berkumpul pula
dalam satu kelompok untuk menghadapi terutama para
pengikut Harya Wisaka. Dalam pada itu, para prajuritpun seakan-akan telah ditarik
dan berkumpul disekitar perkemahan. Ki Rangga Suratama
sudah tidak lagi bertempur melawan Wira Bangga. Tetapi
kedua-duanya justru sudah bertempur menghadapi
sekelompok prajurit yang menjadi pengikut Harya Wisaka.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, seseorang telah memberitahukan kepada
Harya Wisaka, bahwa Pangeran Benawa berada diantara
sekelompok orang yang nampaknya memang sedang
melindunginya. "Dimana mereka?" bertanya Harya Wisaka.
"Marilah" desis orang yang telah melihat Pangeran Benawa.
"Sukurlah bahwa Pangeran Benawa masih berada disini"
berkala Harya Wisaka kemudian.
Namun sebelum mencari Pangeran Benawa, Harya Wisaka
berkata kepada Ki Rangga Suraniti "Aturlah orang-orangmu"
"Siapakah mereka sebenarnya?" pertanyaan itupun mulai
menggelitik mereka yang harus memeras kemampuan mereka
menghadapi orang-orang yang dikira sekedar blandong kayu
itu. "Semuanya sudah siap melaksanakan perintah berikutnya"
jawab Ki Rangga Suraniti "Ki Rangga Surareja juga sudah siap
dengan orang-orang pilihannya"
"Bagaimana dengan Ki Nukilan?"
"Ki Nukilan sudah menunggu perintah"
"Pasukan kita harus diatur. Sebagian harus membinasakan
orang-orang dari perguruan-perguruan sesat itu, sebagian
menahan para prajurit dan membinasakan mereka, sebagian
lagi bersamaku, memecah perlindungan atas Pangeran
Benawa. Aku sendiri yang akan menangkap Pangeran Benawa
itu. Ki Rangga Suranitipun telah memberikan isyarat kepada
orang-orang terpenting didalam pasukan Harya Wisaka yang
sudah mengambil ancang-ancang untuk langsung menangkap
Pangeran Benawa. Dalam pada itu, Pertempuran disekitar perkemahan itupun
menjadi semakin sengit. Orang-orang dari gerombolan-
gerombolan serta perguruan-perguruan sesat itupun benar-
benar sudah tidak merasa mampu untuk melawan arus para
pengikut Harya Wisaka. Meskipun para pemimpin mereka
masih dapat melindungi diri mereka sendiri, tetapi keadaan
para pengikutnya menjadi sangat parah. Sebelum para
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pengikut Harya Wisaka itu datang, maka sudah berada dalam
kesulitan. Apalagi setelah arus kekuatan pasukan Harya
Wisaka yang segera itu melanda mereka. Karena itu, tanpa
berjanji lebih dahulu, maka para pemimpin itu telah
memberikan isyarat kepada pengikutnya untuk meninggalkan
arena pertempuran. Sebenarnya masing-masing berniat untuk pergi tanpa
memberitahukan kepada yang lain. Mereka akan membiarkan
gerombolan dan perguruan yang lain binasa dalam
pertempuran itu. Namun diluar kehendak mereka, maka setiap
pemimpin mempunyai pikiran yang sama sehingga seolah-olah
mereka mendapat aba-aba untuk serentak meninggalkan
arena'' Namun para pengikut Harya Wisaka yang mendapat
perintah untuk menghancurkan lawan mereka tanpa kecuali
begitu saja membiarkan mereka melarikan diri. Beberapa
kelompok diantara mereka berusaha mengejar orang-orang
yang melarikan diri itu. Sebagian dari mereka memang tidak
mampu melepaskan diri. Punggung merekapun telah dilubangi
dengan ujung pedang atau tombak sehingga mereka jatuh
me-nelungkup dengan berlumuran darah.
Namun demikian, para pemimpin mereka akhirnya dapat
keluar dari neraka itu. Merekapun menyusup diantara
pepohonan hutan yang lebat menjauhi api pertempuran yang
masih menyala di perkemahan.
"Ternyata kita tidak dapat melawan Harya Wisaka" desis
Kebo Serut yang berhasil melarikan diri bersama beberapa
orang pengawalnya yang terpercaya.
"Kita benar-benar dihancurkan hari ini, Ki Kebo Serut" desis
salah seorang kepercayaannya itu.
"Setan Harya Wisaka. Ia benar-benar licik. Ia sempat
membuat perhitungan yang cermat untuk mengambil
keuntungan dari sergapan kita untuk menangkap Pangeran
Benawa" Kepercayaannya itu mengangguk-angguk. Katanya
"Nampaknya Harya Wisaka akan berhasil menangkap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Benawa. Bahkan mungkin Pangeran Benawa itu
akan dibunuhnya ditempat"
"Beberapa orang berilmu tinggi melindunginya. Jika saja
Harya Wisaka itu tidak datang"
"Seandainya Harya Wisaka tidak datang, apakah kita akan
dapat menangkap Pangeran Benawa?"
Kebo Serut menarik nafas dalam-dalam. Katanya "Prang
berewok itu ilmunya sangat tinggi. Aku tidak tahu, apakah aku
mampu mengalahkannya atau tidak"
"Jika saja ada kesempatan" desis kepercayaannya itu.
"Orang berewok itu bukan satu-satunya. Sebelum Harya
Wisaka datang, kitapun sudah terjebak. Orang-orang Pajang
itu sempat membuat hambatan, jerat dan jebakan-jebakan
disekeliling perkemahan. Ada beberapa orang kawan kita yang
tidak sempat sampai di perkemahan kita. Kelompok-kelompok
yang lainpun demikian. Bahkan mungkin masih ada kawan-
kawan kita yang sampai saat ini masih berada di lubang
jebakan yang dalam dan belum dapat membebaskan dirinya"
"Orang Pajang juga licik"
"Orang-orang yang kita anggap pekerja-pekerja kasar itu
ternyata adalah prajurit-prajurit"
"Orang-orang Pajang yang licik itu kini mengalami
perlakuan yang licik lagi. Mereka akan dibantai habis oleh
kekuatan Harya Wisaka"
Sambil menarik nafas dalam-dalam Kebo Scrutpun berdesis
"Semuanya memang licik. Kita juga licik. Kelompok-kelompok
lain juga licik" "Namun Harya Wisakalah yang akan dapat menikmati
kemenangan hari ini"
Kebo Serut tidak menjawab. Katanya "Marilah. Kita tinggalkan
tempat ini. Besok kita akan mendengar kabar, apa yang
terjadi di perkemahan ini"
Bukan hanya Kebo Serut yang berpendapat bahwa Harya
Wisaka akan berhasil menangkap Pangeran Benawa Para
pemimpin dari gerombolan dan perguruan-perguruan yang
terlibat dalam pertempuran disebelah hutan Jabung itu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berpendapat bahwa Harya Wisaka akan berhasil menangkap
Pangeran Benawa Betapa kuatnya pengawalan atas Pangeran


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Benawa, tetapi pasukan Harya Wisaka itu jumlahnya tidak
terhitung. "Bagaimana mungkin Harya Wisaka dapat bekerja serapi itu
dimuka hidung kekuasaan Panjang" berkata Sima Pracima
kepada orang-orang terdekat.
"Satu keajaiban" desis orang terdekat itu "tetapi pengaruh
Harya Wisaka dilingkungan keprajuritan Pajang juga cukup
besar" "Ia dapat memikat dan kemudian mengikat kelompok-
kelompok prajurit untuk menjadi pengikutnya dengan
menaburkan uang" "Darimana ia mendapat uang sebanyak itu"
Namun orang terdekat yang lain berdesis "Bahkan Harya
Wisaka berhasil menguasai sebagian prajurit Pajang hanya
dengan janji-janji. Jika saja ia berhasil menyingkirkan
Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang mulai kurang disukai oleh
banyak orang pada saat-saat terakhir masa pemerintahannya"
Sima Pracima mengangguk-angguk. Namun untuk sementara
ia harus melepaskan nafsunya untuk menguasai Pangeran
Benawa dengan cincinnya yang bermata tiga itu.
Di tempat lain, Melaya Werdi dan Megar Permati yang juga
berhasil lolos dari tangan Harya Wisaka dalam kekalutan
perang segi tiga itu sempat beristirahat pula setelah mereka
luput dari tangan orang-orang yang mengejarnya.
Kasihan Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya "desis
Melaya Werdi" "Salah mereka sendiri" sahut Megar Permati "jika Raden
Sutawijaya mau mendengar ajakan kita serta mengajak
Pangeran Benawa pula, mereka tidak akan terlibat dalam
kesulitan seperti sekarang. Memiliki kekuatan yang dibawa
oleh Harya Wisaka, sulit bagi Pangeran Benawa dan tentu juga
Raden Sutawijaya untuk meloloskan diri. Meskipun semua
kekuatan yang ada dikerahkan untuk melindungi keduanya,
tetapi arus kekuatan harya Wisaka tidak terbendung"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Nampaknya Harya Wisaka telah mengerahkan semua
kekuatan yang dimilikinya" berkata Melaya Werdi "para
pendukungnya telah dikumpulkannya beserta para prajurit
Pajang yang berhasil dipengaruhinya"
"Pertarungan antara hidup dan mati" desis Megar Permati.
"Nampaknya Harya Wisaka kali ini akan berhasil"
Sebenarnyalah pertempuran di perkemahan itupun masih
berlangsung dengan sengitnya. Setelah para pemimpin
gerombolan dan perguruan yang menyerang perkemahan di
hutan Jabung itu melarikan diri, maka para pengikut Harya
Wisaka tidak banyak mengalami kesulitan untuk
menghancurkan para pengikut mereka. Tanpa ampun maka
merekapun telah dibantai habis-habisan. Hanya orang-orang
yang berhasil melarikan diri sajalah yang selamat, sementara
yang terjebak dalam pertempuran, tidak mendapat ampun
sama sekali meskipun mereka menyerah.
Tinggal para prajurit Pajang serta para cantrik sajalah yang
masih bertempur dengan gigihnya. Mereka sama sekali tidak
terlalu jauh dari Pangeran Benawa. Beberapa orang pengawal
khususnya berusaha menyibakkan medan agar Harya Wisaka
dapat berhadapan langsung dengan Pangeran Benawa.
Namun Pangeran Benawa tidak berdiri sendiri. Disebelah
kanannya berdiri Raden Sutawijaya sedangkan disebelah
kirinya adalah Paksi Pamekas.
Sementara pertempuran disekitarnya masih berlangsung terus,
Harya Wisaka itupun berteriak nyaring "Pangeran Benawa.
Menyerahlah. Aku hanya ingin cincin yang kau bawa. Jika kau
menyerahkan cincin itu, maka kau akan bebas untuk
meninggalkan tempat ini. Atau akulah yang akan menarik
orang-orangku. Kau dapat melanjutkan membangun sebuah
padepokan yang memadai di hutan Jabung ini"
"Apakah paman mengira, bahwa dengan demikian
persoalannya sudah selesai?"
"Aku tidak terlalu dungu sebagaimana yang kau duga,
Pangeran. Aku tahu, bahwa ayahandamu. Sultan Hadiwijaya
akan memburuku. Tetapi itu tidak apa-apa. Aku mempunyai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
landas an tempat berpijak. Aku mempunyai orang-orang yang
aku percaya. Akupun mendapat dukungan dari para Senapati
yang sakit hati terhadap ayahmu. Senapati yang dengan
terpaksa menyerahkan anak-anak gadisnya ke istana. Bahkan
ada diantara mereka yang harus merelakan istrinya untuk
dipersembahkan kepada Kangjeng Sultan"
"Omong kosong" geram Pangeran Benawa.
"Jangan berpura-pura tidak tahu"
"Dengan fitanahmu itu kau berhasil mempengaruhi banyak
pemimpin prajurit Pajang, paman" sahut Raden Sutawijaya.
Harya Wisaka tertawa. Katanya "Kau juga jangan pura-pura
tidak tahu Raden. Tetapi agaknya kau juga memiliki kesamaan
dengan ayah angkatmu itu"
"Itu adalah fitnah yang paling keji, paman"
Harya Wisaka tertawa. Katanya "Menyerahlah"
"Aku juga prajurit, paman" jawab Pangeran Benawa.
"Bagus. Jika demikian kita akar bertempur. Aku tahu, bahwa
Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya berilmu sangat
tinggi. Tetapi aku sendirilah yang akan menangkapmu dan
membunuhmu jika kau keras kepala. Sementara itu,
saudaraku ini akan memisahkan Raden Sutawijaya dari
Pangeran Benawa. Dua orang saudaraku ini akan mampu
melaksanakannya. Sedangkan saudaraku yang lain ini
mendapat tugas khusus untuk membunuh anak muda yang
bernama Paksi itu" "Kenapa Paksi harus dibunuh?" bertanya Pangeran Benawa
"Satu pesan khusus" jawab Harya Wisaka "ternyata , Paksi
juga termasuk orang penting yang harus mendapatkan
perhatian khusus dari pasukanku"
Pangeran Benawa tidak menjawab. Namun iapun segera
mempersiapkan dirinya. Sebatang tombak pendek tergenggam
di tangannya sebagaimana Raden Sutawijaya.
Sementara itu, Ki Panengah, Ki Marta Brewok, ki Lurah
Yudatama Ki Rangga Suratama, Ki Kriyadama dan para
prajurit dari pasukan khusus telah bertempur dengan
mengerahkan segenap kemampuan mereka Ternyata Harya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wisaka telah membuat perhitungan dengan tepat Harya
Wisaka telah mempersiapkan orang-orang khusus yang akan
menghadapi orang-orang berilmu tinggi itu.
Raden Sutawijaya memang terpancing untuk bertempur
melawan dua orang yang disebutnya sebagai saudara Harya
Wisaka. Keduanya berilmu tinggi. Mereka bergerak dengan
tangkas dan cepat. Kekuatan mereka melampaui kekuatan
orang ke-banyakan. "Gila" geram Sutawijaya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain. Ia harus bertahan. Jika ia gagal maka kedua orang itu akan
membantu Harya Wisaka menangkap Pangeran Benawa.
Sementara itu, Paksi harus menghadapi lawannya yang
agaknya memang sudah dipersiapkan untuk membunuhnya.
Dengan tongkatnya Paksi bertempur mengimbangi
kemampuan lawannya. Sementara itu, Pangeran Benawa harus menghadapi Harya
Wisaka yang berniat menangkap Pangeran Benawa dengan
tangannya sendiri. "Sebenarnya aku ingin beradu kepandaian bermain kuda.
Pangeran" berkata Harya Wisaka "tetapi ternyata aku tidak
mempunyai kesempatan lagi. Ketika aku mendengar bahwa
orang-orang sesat itu berburu di hutan Jabung, akupun telah
me-lakukannya pula" Ternyata Pangeran Benawa cukup tenang menghadapi Harya
Wisaka. Karena itu, maka sambil berloncatan menghindari
serangan-serangan Harya Wisaka yang bersenjata pedang,
Pangeran Benawa sempat menjawab " Paman tidak akan
dapat memenangkan pertandingan bermain kuda melawan
aku. Aku adalah penunggang kuda terbaik di Pajang"
"Omong kosong" jawab Harya Wisaka sambil meloncat
menyerang. Tetapi serangannya sama sekali tidak menyentuh
sasaran. Pangeran Benawa sempat menghindar kesamping.
Bahkan tombak pendeknya yang berputar, kemudian terjulur
lurus kearah dada. Namun Harya Wisaka memiringkan
tubuhnya, sehingga ujung tombak Pangeran Benawa tidak
menyentuhnya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Akulah penunggang kuda terbaik" geram Harya Wisaka
"aku pulalah orang yang menguasai ilmu pedang terbaik di
Pajang dan bahkan seluruh Demak"
"Aku tidak peduli. Tetapi aku adalah orang yang memiliki
kemampuan tertinggi bermain tombak disamping kakangmas
Sutawijaya yang telah mampu menghunjamkan ujung
tombaknya ke lambung paman Harya Penangsang. Nah,
sekarang adalah giliranku untuk melakukannya atas paman
Harya Wisaka" "Anak setan kau Pangeran" geram Harya Wisaka "bukankah
Sultan Hadiwijaya itu tidak ubahnya sosok setan yang telah
merampas tahta Demak dan membawanya ke Pajang.
Kakangmas Harya Penangsanglah yang sebenarnya berhak
atas tahta itu. Tetapi dengan licik Karebet anak Tingkir itu
berhasil menguasainya. Sekarang sudah waktunya untuk
mencabut kembali tahta yang dirampasnya itu"
Pangeran Benawa meloncat kesamping. Tombaknya berputar
dengan cepat. Ayunan mendatar menyambar kearah dada.
Namun Harya Wisaka sempat mengelak.
"Dongeng paman itu bagus untuk menidurkan anak-anak di
ujung malam. Tetapi tidak untuk digelar di medan
pertempuran seperti ini"
Harya Wisaka tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannya
datang beruntun sehingga Pangeran Benawa harus bergeser
surut. Dalam pada itu, para prajurit Pajang dan para cantrik benar-
benar berada dalam kesulitan. Mereka telah dikepung dengan
rapatnya. Sebuah lingkaran yang tidak terputus bergerak
semakin menyempit. Ujung-ujung senjata mencuat seperti
ujung daun ilalang. "Kau tidak akan dapat menghindar kemanapun, Pangeran"
geram Harya Wisaka. "Aku tidak akan lari kemana-mana. Aku akan membunuh
paman disini" Harya Wisaka menghentakkan senjatanya sambil
membentak Kau memang anak yang sombong. Aku akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membunuhmu. Cincin itu akan menjadi miliku. Kematianmu
serta hilangnya cincin kerajaan itu akan menjadi lambang
berakhirnya kekuasaan Pajang. Karena sudah diramalkan,
bahwa keraton Pajang tidak akan berumur lebih dari satu
keturunan saja. Kau, anak Hadiwijaya tidak akan sempat
menjadi raja di Pajang"
Harya Wisaka terkejut. Ujung tombak Pangeran Benawa
hampir saja menyentuh bibirnya. Untunglah Harya Wisaka
dengan tangkas meloncat selangkah surut.
Dalam pada itu. Raden Sutawijaya yang berhadapan
dengan dua orang lawan harus mengerahkan kemampuannya
pula. Tetapi Raden Sutawijaya adalah seorang yang ilmunya
seakan-akan tidak terbatas. Karena itu, maka iapun mampu
mengimbangi kedua orang lawannya yang berilmu tinggi itu.
Meskipun sekali-sekali Raden Sutawijaya harus meloncat surut
dan mengambil jarak jika ia mengalami kesulitan, namun
kemudian justru Raden Sutawijayalah yang menyerang
keduanya dengan garangnya.
Ternyata dua orang yang dipersiapkan oleh Harya Wisaka
untuk menyingkirkan Sutawijaya itu tidak segera berhasil.
Kemampuan Sutawijaya tidak segera dapat diredam oleh
kedua orang lawannya. Bahkan sebaliknya, kedua orang lawan
Raden Sutawijaya itu segera mengalami kesulitan.
-ooo00dw00ooo- Jilid 19 DI SISI lain, Paksi bertempur melawan seorang yang
umurnya menjelang separo baya. Tubuhnya yang tinggi dan
kekar nampak sangat meyakinkannya. Ditangannya
tergenggam sebuah bindi yang berat. Tetapi ditangan orang
itu, bindi itu berputaran dengan cepatnya.
"Kau tidak mempunyai kesempatan lagi, Paksi" geram
orang itu. "Kau siapa?" bertanya Paksi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
"Aku adalah salah seorang kepercayaan Harya Wisaka"
"Kenapa Harya Wisaka ingin membunuhku" bertanya Paksi.
"Tidak hanya kau, Paksi. Harya Wisaka ingin membunuh
semua orang yang bekerja bersama dengan Pangeran
Benawa" "Aku mengerti. Tetapi nampaknya ada sesuatu yang khusus
sehingga ia telah menunjuk seseorang untuk melakukannya"
"Nasibmu memang buruk. Jangan terlalu banyak bertanya,
agar kau dapat mati dengan tenang. Jika kau tahu kenapa kau
harus dibunuh, maka perasaanmu akan tersiksa menjelang
kematianmu" "Persetan dengan igauanmu. Tetapi kau belum menyebut
namamu" geram Paksi.
"Namaku Gana Warak"
"Baiklah" berkata Paksi kemudian "jika kau benar-benar
ingin membunuhku, maka akupun benar-benar ingin
membunuhmu" Gana Warak itu tertawa. Katanya "Kau anak kemarin sore
yang masih berbau pupuk lempuyang. Kau tidak mempunyai
pilihan apapun sekarang ini kecuali mati"
Tetapi Paksi sama sekali tidak terpengaruh. Bahkan iapun
ikut tertawa pula sambil menjawab "Kaulah yang agaknya
sengaja membunuh diri. Kenapa kau menjadi jemu untuk
berjuang disamping Harya Wisaka"
"Setan bekasakari kau"
"Jangan marah. Aku adalah tidak marah meskipun kau
mengumpati aku atau menghina. Marah adalah satu
pantangan besar bagi orang yang sedang bertempur. Nah,
bukankah aku telah berbaik hati memberimu peringatan"
"Tutup mulutmu. Atau aku yang harus mengoyaknya"
Paksi yang masih muda itu tertawa semakin keras.
Ternyata orang yang sudah separo baya, yang seharusnya
sudah mengendap itu lebih cepat marah daripada Paksi.
Namun dengan demikian, orang itupun kemudian telah


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyerang Paksi dengan bindinya, seperti prahara yang
menerjang pepohonan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi Paksi berdiri teguh seperti batu karang. Betapapun
gerangnya serangan-serangan yang menerjangnya, namun
Paksi letap bertahan dengan teguh. Putaran bindi lawannya
yang melibatnya dapat ditepisnya. Ayunan bindi itu dapat
dilangkis-nya dengan tongkatnya.
Benturan-benturan yang terjadi telah mengejutkan
lawannya. Gana Warak yang garang itu tidak menduga, bahwa
anak muda yang akan dibunuhnya itu mempunyai kekuatan
yang sangat besar, serta ketangkasan gerak yang sangat
cepat. Namun Gana Warak tidak sempat menilai kemampuan
lawan dengan cermat. Ia harus bertemput dengan cepat,
mengimbangi kecepatan gerak lawannya yang masih terlalu
muda baginya itu. Namun dalam pada itu, kepungan pasukan para pengikut
Harya Wisaka itu menjadi semakin mengecil. Para cantrik dan
para prajurit yang bertahan itu semakin mengalami kesulitan.
Jumlah lawan ternyata terlalu banyak.
Sementara itu, pasukan berkuda yang meluncur dari pintu
gerbang Panjang sudah menjadi semakin dekat dengan hutan
Jabung. Derap kaki Kuda yang gemuruh itu bagaikan
menggancang bumi menimbulkan gempa. Semakin lama
pasukan berkuda itu menjadi semakin dekat. Tetapi mereka
yang bertempur di hutan Jabung tidak segera mendengarnya.
Hiruk pikuk pertempuran, teriakan-teriakan nyaring, sorak
yang sekali-sekali terdengar, dentang senjata dan bentakan-
bentakan lantang, memenuhi seluruh arena.
Baru kemudian, ketika pasukan berkuda itu menjadi sangat
dekat, orang-orang yang bertempur, terutama para pengikut
Harya Wisaka, terkejut karenanya. Tetapi mereka tidak
mempunyai banyak kesempatan. Demikian mereka menyadari
bahwa pasukan berkuda itu datang, maka pasukan berkuda
itu telah bergerak melingkar. Mereka te-lah membuat
lingkaran di luar kepungan para pengikut Harya Wisaka.
Harya Wisaka yang bertempur melawan Pangeran Benawa
mengumpat kasar. Dengan kemarahan yang menggelegak di
dadanya, Harya Wisaka itupun berteriak "Apa kerja kelompok
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang menutup jalan masuk ke Pajang sehingga prajurit
berkuda itu mendapat laporan tentang pertempuran di hutan
ini?" Tidak ada yang menyahut. Orang-orang yang bertempur
didekat Harya Wisaka juga mempunyai pertanyaan seperti
yang diteriakkan oleh Harya Wisaka. Namun segala
sesuatunya sudah terjadi. Pasukan berkuda itu telah berada di
hutan Jabung, bahkan telah mengepung pasukannya.
Justru Pangeran Benawalah yang bertanya sambil meloncat
surut "Kau bertanya kepada siapa, paman" Kepadaku atau
kepada orang lain?" Harya Wisaka tidak menjawab. Tetapi ia justru menggeram
"Anak yang malang. Kedatangan mereka akan mempercepat
kematianmu. Semula aku masih memikirkan kemungkinan
untuk memaafkanmu asal kau serahkan cincin itu kepadaku.
Tetapi sekarang, kesempatan itu telah tidak ada sama sekali.
Aku harus segera membunuhmu, kemudian menyapu pasukan
berkuda itu sampai orang yang terakhir"
Tetapi Pangeran Benawa tertawa. Katanya "Dalam keadaan
seperti ini, paman masih sempat bermimpi. Lihat paman,
pasukan paman sudah terkurung. Pasukan paman memang
mungkin mendesak kedalam kepungan karena jumlah pasukan
paman jauh lebih banyak dari pasukan kami. Tetapi
kedatangan pasukan berkuda itu tentu akan membawa
perubahan" " Jangan banyak bicara. Kau lebih baik mempergunakan
kesempatan ini untuk berdoa. Sekejap lagi nyawamu akan
terpisah dari ragamu"
Namun Harya Wisakalah yang terkejut. Demikian mulutnya
terkatub, ujung tombak Pangeran Benawa terjulur kearah
mulutnya. Hampir saja Harya Wisaka terlambat. Namun ia
masih sempat meloncat surut sambil merendah. Bahkan Harya
Wisaka sempat menjulurkan senjatanya kearah lambung
Pangeran Benawa. Namun Pangeran Benawa dengan
tangkasnya menggeliat, sehingga ujung senjata itu tidak
menyentuhnya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Harya Wisaka yang kemudian mengerahkan
kemampuannya mencoba untuk dengan cepat menghabisi
perlawanan Pangeran Benawa. Tetapi Pangeran Benawa yang
menyadari keadaan telah meningkatkan ilmunya. Ternyata
Harya Wisaka tidak segera mampu mengakhiri perlawanan
Pangeran Benawa yang jauh lebih muda dari dirinya itu.
Meskipun pedangnya berputaran seperti baling-baling yang
mengitari tubuhnya, sehingga seakan-akan tubuh Harya
Wisaka itu terbalut oleh awan yang putih kelabu, namun ujung
pedang itu sama sekali tidak mampu menyentuh tubuh
Pangeran Benawa. Namun Pangeran Benawapun mengalami
kesulitan untuk menembus kabut yang menyelimuti tubuh
Harya Wisaka itu. Sementara itu, pasukan berkuda yang telah mulai
memasuki arena itupun segera menambah keseimbangan
pertempuran. Jika semula para pengikut Harya Wisaka yang
mengepung para cantrik dan prajurit yang jumlahnya lebih
kecil dari para peng-ikut Harya Wisaka, sehingga mereka
semakin terhimpit dalam kepungan yang menyempit, maka
justru pasukan Harya Wisakalah yang kemudian telah terjepit.
Dibagian dalam mereka harus menghadapi prajurit Pajang dan
para cantrik yang sudah berada di hutan Jabung, sedangkan
keluar mereka menghadapi para prajurit dari pasukan berkuda
yang tegar, yang tenaga dan kekuatannya masih utuh.
Sementara itu, kaki-kaki kuda yang beriari-lari mengelilingi
medan itupun akan dapat melukai para pengikut Harya Wisaka
yang menjadi lengah. Pertempuran di arena itu menjadi semakin sengit. Para
prajurit berkuda yang bersenjata pedang, bertempur dengan
garangnya. Pedang mereka menyambar-nyambar seperti
kuku-kuku elang yang tajam mencengkam anak ayam yang
berlari ketakutan. Tetapi para pengikut Harya Wisaka itu bukannya tidak
memberi perlawanan. Merekapun berusaha untuk
meruntuhkan para prajurit yang ada dipunggung kuda itu.
Beberapa orang telah melemparkan tombak mereka. Ternyata
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ada juga yang ber-hasil. Seorang prajurit berkuda yang
dadanya tertembus tombak telah terlempar jatuh dari
kudanya. Tetapi prajurit yang lain sempat menangkis dengan
pedangnya, sehingga tombak itu terlempar jatuh ditanah
tanpa menyentuh sasarannya.
Tetapi para pengikut Harya Wisaka yang marah karena
tidak berhasil mengenai penunggangnya, telah menyerang
kudanya dengan sengaja. Mereka tidak menghiraukan
siapakah sebenarnya lawan mereka. Tetapi kuda-kuda yang
menjadi tunggangan itu mereka anggap ikut bersalah. Dengan
demikian, maka beberapa ekor kuda telah jatuh terguling.
Ujung tombak telah menembus tubuh mereka. Sementara
penunggangnya telah terpelanting jatuh. Namun merekapun
dengan tangkasnya meloncat bangkit. Senjata mereka yang
masih tetap dalam genggamanpun segera berunduk. Mereka
juga tidak menjadi tanggung jika mereka harus bertempur
dengan kaki menginjak bumi.
Dengan demikian, maka pertempuran di hutan Jabung
itupun menjadi semakin sengit. Pasukan yang dikerahkan oleh
Harya Wisaka tidak lagi dapat menekan lawan-lawan mereka.
Para cantrik dan para prajurit dari pasukan khusus yang
memang dikirim untuk melindungi para cantrik, terutama
karena di hutan Jabung itu hadir juga Pangeran Benawa dan
Raden Sutawijaya, tidak lagi mengalami tekanan yang sangat
berat. Sebagian lawan mereka telah bergerak surut untuk
menghadapi pasukan berkuda yang datang bagaikan arus
banjir bandang itu. Harya Wisaka yang mengetahui langsung dan kemudian
mendapat laporan tentang keadaan medan, berteriak nyaring
"Tutup mulutmu, dungu. Kau kira aku buta dan tidak dapat
melihat apa yang terjadi?"
Penghubung itu terdiam. Namun iapun harus segera
tanggap akan keadaan disekitamya. Karena itu, maka
penghubung itupun harus bertempur untuk melindungi dirinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pangeran Benawa yang masih harus bertempur melawan
Harya Wisaka berkata "Jangan marah kepada penghubungmu,
paman. Ia melakukan kewajibannya untuk memberitahukan
bahwa pasukan paman dalam kesulitan"
"Kau juga harus menutup mulutmu, Benawa" teriak Harya
Wisaka. Tetapi betapapun Harya Wisaka mengerahkan
kemampuannya, tetapi Pangeran Benawa benar-benar
menguasai ilmunya dengan mapan.
Bahkan ketika Harya Wisaka sampai pada puncak ilmunya.
Pangeran Benawa sama sekali tidak beranjak surut. Pangeran
Benawa tidak menjadi gentar melihat cahaya yang berkilat-
kilat pada daun pedang lawannya sehingga membuatnya
kadang-kadang menjadi silau. Namun dengan ilmu Sapta
Panggraita. Pangeran Benawa dapat mengetahui dengan
tepat, apa yang dilakukan oleh Harya Wisaka.
"Kau selama ini berguru kepada siapa, Benawa" geram
Harya Wisaka. "Kepada ayahanda, paman"
"Omong kosong. Pekerjaan ayahmu hanyalah bercanda
dengan perempuan-perempuan itu"
"Ia menyisihkan sedikit waktunya, untuk mengajariku
bermain tombak bersama kakangmas Sutawijaya"
"Setan. Tentu Pamanahan yang mengajarimu sehingga kau
menjadi sangat sombong seperti juga Sutawijaya. Tetapi
sebentar lagi Sutawijayapun akan mati"
Tetapi Pangeran Benawa itu berkata "Lihat paman. Kedua
orang lawan kakangmas Sutawijaya itu sama sekali tidak
berdaya. Mereka justru mulai terdesak. Sementara itu,
Paksipun tidak dapat dikalahkan oleh lawannya. Itukah
saudara-saudara paman yang paman banggakan?"
Harya Wisaka tidak menjawab. Tetapi diapun meloncat
dengan pedang terjulur lurus kearah dada Pangeran Benawa.
Tetapi Pangeran Benawa dengan cepat mengelak. Bahkan
tombaknyapun berputar dengan cepat. Landeannya terayun
menyentuh lengan Harya Wisaka. Tetapi sentuhan itu tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menyakitinya. Sambil meloncat mundur, Harya Wisaka telah
menyiapkan serangan. Demikian Pangeran Benawa meloncat
maju dengan ujung tombak menikam kearah dada, Harya
Wisaka sempat menangkisnya dengan menebas ujung tombak
itu kesamping. Pertempuran diantara keduanyapun menjadi semakin sengit.
Kemarahan Harya Wisaka rasa-rasanya akan meledakkan
dadanya. Meskipun ia tahu bahwa Pangeran Benawa berilmu
tinggi, tetapi ia tidak mengira bahwa Pangeran Benawa iiU
mampu mengimbangi kemampuannya bermain pedang
dengan unsur-unsur gerak yang semakin rumit. Bahkan
kekuatan ilmunya telah memancar dari daun pedangnya yang
dapat membuat lawannya menjadi silau oleh kilatan-kilatan
yang tajam. Tetapi pertahanan Pangeran Benawa sekali tidak terguncang
karenanya. Pangeran Benawapun masih tetap tangkas.
Serangan-serangannya masih tetap garang dan berbahaya.
Disisi lain. Raden Sutawijaya masih menghadapi kedua orang
lawannya. Namun kedua orang lawannya yang disebut
saudara-saudaranya oleh Harya Wisaka itu, tidak segera dapat
menguasai keadaan. Bahkan semakin lama Raden Sutawijaya
telah semakin menekan mereka. Apalagi ketika pasukan
berkuda semakin mendesak dan menguasai medan.
Kegelisahan pasukan Harya Wisaka telah merembet pula ke
jantung kedua lawan Raden Sutawijaya.
Sementara itu, Paksi berloncatan dengan tongkatnya yang
berputaran menghadapi lawannya yang garang. Setiap kali
tongkatnya telah membentur senjata lawannya yang berat.
Tetapi bindi lawannya itu tidak juga berhasil mematahkan
tongkat Paksi yang ujudnya tidak lebih dari sebatang kayu
yang seolah-olah begitu saja dipatahkan dari dahannya.
Lawan Paksi itupun menjadi semakin gelisah pula
sebagaimana kawan-kawannya. Ia tahu pasti, bahwa pasukan
Harya Wisaka tidak akan mampu bertahan menghadapi
pasukan berkuda itu, kecuali jika Harya Wisaka dengan cepat
dapat membunuh Pangeran Benawa, kedua orang lawan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Raden Sutawijaya juga segera dapat menghentikan
perlawanannya dan ia sendiri mampu segera mengakhiri
perlawanan Paksi, anak muda yang garang itu. Dengan
demikian Harya Wisaka, kedua lawan Ra-den Sutawijaya dan
Gana Warak itu sendiri akan dapat langsung terjun melawan
para prajurit, maka kematian Pangeran Benawa dan Raden
Sutawijaya akan dapat mengecilkan hati para prajurit dan para
cantrik. Bahkan orang-orang berilmu tinggi yang berada di*
ntara para cantrik itupun akan dicengkam oleh kegelisahan
dan kebingungan. Tetapi ternyata hal itu tidak dapat mereka lakukan. Bahkan
Gana Warak itu sendiri telah mendapat tekanan yang besar
dari Paksi. Sebenarnyalah tongkat Paksi yang berputaran semakin cepat
itu telah mampu menyentuh tubuh Gana Warak. Meskipun
sentuhan itu belum menyakitinya, tetapi Gana Warak merasa
benar-benar terkejut. Karena itu, maka Gana Warak itupun telah mengerahkan
segenap kemampuannya. Ayunan bindinyapun kemudian
bagaikan menimbulkan angin prahara yang dengan kerasnya
melanda tubuh Paksi. Paksi harus bertahan terhadap hembusan angin prahara itu.
Bahkan kemudian, seakan-akan telah berubah menjadi angin
pusaran yang melingkarnya. Debu dan sampah dedaunan
berter-bangan disekitarnya. Bahkan angin itu seakan-akan
mengangkatnya keudara.

Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ilmu iblis mana lagi yang dipergunakan Warak gila ini" geram
Paksi. Namun Paksi telah mengenal ilmu seperti itu. Mungkin
orang yang pernah menyerangnya dengan ilmu serupa adalah
saudara seperguruan Gana Warak. Tetapi mungkin juga
bukan. Mungkin mereka adalah sempalan-sempalan dari pergu
man yang semula mempunyai satu lajer.
Justru karena itu, Paksi telah mendapat petunjuk,
bagaimana ia harus melawannya. Sambil berdiri tegak dengan
lutut yang sedikit merendah, Paksipun telah memutar
tongkatnya dilambari dengan ilmu yang telah pernah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
disadapnya. Tongkatnyapun kemudian berputar berlawanan
arah dengan angin pusaran yang melandanya. Semakin lama
semakin cepat semakin cepat.
Ternyata Paksi memang luar biasa. Putaran tongkatnya yang
melampaui kecepatan baling-baling yang ditiup angin kencang
itu, mampu mempengaruhi putaran ilmu lawannya. Angin
pusaran itu semakin lama menjadi semakin mengecil,
sehingga akhirnya yang terjadi adalah gejolak angin yang
kacau tanpa arah. Debu dan sampah berhamburan kesegala
arah. Hembusan udara yang tidak menentu dan kacaunya
penglihatan oleh debu dan sampah dedaunan.
Gana Warak mengumpat kasar. Namun kemudian
dihentakkannya bindinya langsung mengarah ke tubuh Paksi.
Namun Paksipun telah bersiaga sepenuhnya. Dengan cepat ia
mengelak. Bindi itu terayun sejengkal dari keningnya. Bahkan
Paksi masih sempat menjulurkan ujung tongkatnya.
Gana Warak tidak menduga, bahwa Paksi justru
menyerangnya dengan ujung tongkatnya. Karena itu, ujung
tongkat itu telah mengenai lambungnya. Gana Warak segera
meloncat mengambil jarak. Namun Paksi justru memburunya.
Serangannyapun telah menyusul pula. Tongkatnya itupun
terayun mendatar menyambar kcarah lututnya. Gana Warak
melenting tinggi. Sekali ia berputar di udara, kemudian jatuh
tepat pada kedua telapak kakinya, sementara tubuhnya
seakan-akan menjadi lentur. Sekali lagi tubuhnya melenting
dan terayun diudara. De-ngan sebuah putaran diudara, maka
Gana Warak telah mengambil jarak. Sehingga ketika Paksi
memburunya, Gana Warak telah bersiap sepenuhnya.
Namun dalam pada itu, para prajurit berkuda, semakin
menguasai arena. Para pengikut Harya Wisaka semakin
terhimpit antara kekuatan yang ada didalam kepungan mereka
dan kekuatan yang kemudian yang ada di dalam kepungan
mereka dan kekuatan yang kemudian justru mengepung
mereka. Karena itu, maka keutuhan pasukan para pengikut Harya
Wisakapun menjadi semakin rapuh. Sementara itu para
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
prajurit dari pasukan berkuda yang datang dalam keadaan
yang bugar itu, bertempur semakin garang.
Harya Wisaka yang terkepung itu memang tidak mempunyai
pilihan lain kecuali bertempur. Tetapi ia masih dapat berusaha.
Tiba-tiba saja Harya Wisaka itu telah meneriakkan aba-aba
sandi yang meskipun telah disepakati oleh para pemimpin
pasukan Harya Wisaka, namun mereka sama sekali tidak
berniat untuk melontarkannya.
Namun ternyata isyarat sandi itu terlontar juga.
Para cantrik dan para prajurit Pajang tidak ada yang
mengetahui arti dari isyarat itu. Namun merekapun lelah
mempersiapkan diri pula. Mereka memperhitungkan bahwa
pasukan Harya Wisaka itu akan berusaha meninggalkan
medan. Tetapi yang terjadi kemudian agak berbeda dari perhitungan
mereka. Harya Wisaka tidak beranjak dari lawannya. Demikian
pula kedua lawan Sutawijaya yang menjadi semakin sulit.
Lawan Paksipun tidak meninggalkan anak muda itu pula.
Namun yang terjadi adalah guncangan di medan pertempuran.
Ternyata isyarat itu adalah usaha pasukan Harya Wisaka
mengerahkan kekuatan disatu sisi. Pasukan mereka seakan-
akan telah bergeser dan memusatkan perlawanan mereka
pada sisi yang mereka anggap lemah. Isyarat berikutnya telah
terlontar pula, dan pertempuranpun segera berubah
bentuknya. Pasukan Harya Wisaka telah menggempur dinding kepungan
yang mereka anggap lemah. Dengan demikian, maka
hentakkan itu telah mendesak para prajurit dan pasukan
berkuda disatu sisi untuk bergeser surut. Namun sebelum
lingkaran itu pecah, para prajurit berkuda dengan cepat
memperkuat dinding kepungan yang hampir koyak itu.
Namun gerak pasukan Harya Wisaka telah berubah lagi. Pada
dasarnya pasukan Harya Wisaka telah mengacaukan garis
pertempuran. Sebagian dari mereka sengaja menyusup masuk
disela-sela pasukan lawan. Yang lain. Bahkan ada diantara
mereka yang sengaja bergerak dengan cepat menyilang garis
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pertempuran. Namun para prajurit dari pasukan berkuda segera
menanggapinya. Mereka menyadari, bahwa lawan telah
memancing perang brubuh. Sehingga dengan demikian, maka
para pemimpin prajurit Pajang itu menduga, bahwa itu adalah
usaha terakhir dari pasukan Harya Wisaka untuk
menyelamatkan diri. Dalam pada itu, Harya Wisaka sendiri masih ingin
mempergunakan kesempatan yang ada untuk menangkap
atau membunuh sama sekali Pangeran Benawa. Namun
ternyata Pangeran Benawa memiliki ilmu yang lebih tinggi dari
dugaannya. Karena itu, maka Harya Wisakalah yang
mengalami kesulitan. Tetapi Harya Wisaka sama sekali tidak berputus-asa.
Dikerahkannya segenap ilmunya untuk mematahkan
perlawanan Pangeran Benawa.
Yang nasibnya lebih buruk dari Harya Wisaka adalah Gana
Warak. Seorang yang diaku saudara oleh Harya Wisaka.
Seorang yang berasal dari sebuah perguruan di seberang
Gunung Kendeng. Ternyata Paksi yang bersenjata tongkat itu
mampu mematahkan ilmu yang berkembang dan bersumber
dari Aji Sapu Angin. Karena itu, maka justru Gana Waraklah
yang kemudian mengalami kesulitan. Sekali-sekali tongkat
Paksi telah dapat menyentuhnya. Bahkan ketika ujung tongkat
Paksi menyambar lambungnya, Gana Warak terdorong
beberapa langkah surut. Perutnya terasa menjadi mual.
Namun sebelum Gana Warak sempat memperbaiki
keadaannya, tongkat Paksi yang terayun mendatar
menyambar kearah kening. Gana Warak masih sempat menangkis dengan bindinya yang
berat sehingga ujung tongkat itu tidak mengenainya Namun
dengan sangat cepat Paksi memutar tongkatnya. Tongkat itu
terjulur lurus, menggapai dadanya.
Gana Warak terdorong dengan derasnya. Kali ini ia tidak
berhasil mempertahankan keseimbangannya, sehingga Gana
Warak itu jatuh terbanting ditanah. Namun dengan cepat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gana Warak itu meloncat bangkit. Dengan berteriak nyaring,
Gana Warak memusatkan nalar budinya. Sekali lagi ia
mencoba menyerang Paksi dengan Aji Sapu Anginnya yang
sudah berkembang dan menjadi semakin berbahaya.
Tetapi sekali lagi, Paksi mampu meredamnya. Angin pusaran
itupun bagaikan lenyap dihalau oleh gelar kekuatan yang
berputar kearah yang sebaliknya, sesuai dengan puratan
tongkat Paksi. Namun serangan yang kedua itu membuat Paksi semakin
marah. Karena itu, demikian angin pusaran itu pecah
berhamburan, maka serangan Paksipun datang bagaikan
banjir bandang. Ternyata Gana Warak memiliki kemampuan untuk bergerak
secepat Paksi. Karena itu maka ujung tongkat Paksipun lelah
mengenainya pula. Bahkan menjadi semakin sering. Ketika
tongkat itu benar-benar mengenai keningnya, maka
pandangan mata Gana Warak bagaikan menjadi gelap.
Sebelum ia sempat berbuat sesuatu, maka tongkat paksi itu
telah memukul tengkuknya, sehingga Gana Warak itu jatuh
tertelungkup. Sekali lagi Paksi mengangkat tongkatnya.
Namun kendali nalarnya mampu mencegahnya. Baginya orang
itu akan menjadi penting jika Paksi menghubungkannya
dengan rencana khusus orang itu untuk membunuhnya.
Karena itu, maka Paksi mengurungkan niatnya untuk
membunuhnya. Ketika Gana Warak itu mencoba untuk bangkit, sekali lagi
paksi memukul tengkuknya. Tetapi tidak dengan tongkatnya.
Paksi memukul tengkuk orang itu dengan tangannya, agar ia
dapat memperhitungkan, bahwa orang itu tidak akan mati
karenanya. Sebenarnyalah bahwa Gana Warak telah menjadi pingsan.
Paksipun kemudian memanggil salah seorang prajurit yang
kehilangan lawannya. "Bantu aku mengikat orang ini. Aku memerlukannya"
Prajurit itupun kemudian telah melepaskan kamus dan ikat
pinggang orang itu. Dengan kamus dan ikat pinggangnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sendiri, maka tangan dan kaki orang itu telah diikat.
Dalam pada itu, perangpun menjadi semakin sengit. Medan
itupun telah menjadi kacau balau. Tetapi para pengikut Harya
Wisaka yang berlari-lari menyusup disela-sela lawan dan
kawan itu, justru mampu memperpanjang perlawanan. Namun
yang terjadi itu tidak akan memperngaruhi akhir dari
pertempuran itu. Harya Wisakapun akhirnya menyadari, bahwa tidak ada
gunanya lagi bertempur berlama-lama. Justru hanya akan
mengurangi jumlah kawan-kawannya yang menjadi korban
ujung-ujung senjata lawan. Perang brubuh yang kacau itupun
ternyata mampu ditanggapi dengan baik oleh para prajurit
yang memang sudah memiliki pengalaman yang luas itu.
Sehingga para prajurit dan para cantrik itu tidak menjadi
bingung atau kehilangan pegangan. Karena ilu, maka sejenak
kemudian, telah terdengar isyarat yang dilontarkan oleh Harya
Wisaka disahut oleh beberapa orang diantara mereka. Isyarat
yang kemudian terdegar di seluruh medan itupun
menimbulkan berbagai pertanyaan pada para cantrik dan
prajurit Pajang. Sementara itu, medan pertempuran itupun nampaknya
menjadi semakin kacau. Para pengikut Harva Wisaka berlari-
lari, menyerang dan menghindar dengan berbagai macam cara
yang kadang-kadang kasar.
Namun pada saat yang demikian ilu, kedua lawan Raden
Sutawijaya justru mengalami nasib yang buruk. Ketika
keduanya mencoba menghentakkan kemampuan mereka,
ternyata Raden Sutawijayapun telah siap dipuncak
kemampuannya. Karena itu, maka kedua orang lawannya itu sama sekali tidak
berhasil mengacaukan perlawanan Raden Sutawijaya yang
agaknya memang tidak menghiraukan suasana seluruh
medan, karena Raden Sutawijayapun yakin, bahwa para
cantrik dan para prajurit akan dapat menguasai keadaan.
Dalam pertempuran yang semakin cepal, seria kemampuan
yang diluar perhitungan nalar, maka kedua orang lawan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sutawijaya itu lelah kehilangan kesempatan. Seorang
diantaranya yang mencoba untuk menyerangnya dari
samping, justru telah terjerumus kedalam keadaan yang
paling buruk. Tombak Raden Sulawijaya lelah menghunjam
langsung kedalam perutnya.
Kawannya yang melihat keadaan iiu, sama sekali tidak
berusaha menolongnya. Ia tahu bahwa usaha itu tentu akan
sia sia. Karena itu, maka iapun justru berusaha melarikan diri dan hanyut kedalam kekacau-balauan pertempuran.
Telapi Raden Sutawijaya tidak melepaskannya. Dengan
loncatan panjang, maka ujung tombak Raden Sutawijaya itu
lelah menggapai punggung orang yang berusaha melarikan
diri itu. Terdengar teriakan nyaring. Namun kemudian diam.
Pada saat yang demikian, maka pertempuranpun menjadi
semakin kacau. Namun para pengikut Harya Wisakapun telah
mempergunakan kesempatan uniuk itu bergerak keluar dari
arena. Mereka bergerak kearah hulan Jabung yang masih
lebal. Harya Wisaka yang tidak lagi mempunyai kemungkinan uniuk
berhasil menangkap atau membunuh Pangeran Benawapun
berusaha untuk mempergunakan kesempatan itu, melarikan
diri dalam perlindungan kekacau-balauan itu.
Namun dalam pada itu, terdengar Ki Rangga Yudapranata
berteriak "Menyerahlah. Kalian tidak mempunyai kesempatan
lagi" Tetapi para pengikut Harya Wisaka tidak segera memenuhi
perintah itu. Mereka masih berusaha untuk melepaskan diri.
Mereka menyadari, bahwa jika mereka menyerah, mereka
akan diadili dengan tuduhan pemberontakan.
Sementara ilu, Harya Wisaka sendiri masih mencari
kesempatan untuk dapat menghindari lawannya yang masih
muda itu. Ketika arus kekacauan itu seakan-akan melanda arena tempat
Harya Wisaka bertempur, karena para pengikut Harya Wisaka
sengaja ingin memberi kesempatan kepada pemimpinnya
uniuk melarikan diri, maka Harya Wisaka telah berusaha untuk
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hanyut dalam arus yang bergejolak keras itu.
Namun demikian ia meloncat surut, maka langkahnyapun
segera terhalang. Ternyata Raden Sutawijaya telah berdiri
dengan tombak pendek ditangannya menghadangnya.
Harya Wisakapun segera bergerak kesamping. Namun sekali
lagi langkahnya terhenti. Dihadapannya berdiri Paksi dengan
tongkatnya siap untuk menghadapinya.
Harya Wisaka menjadi berdebar-debar. Sementara itu arus
gelombang kekacauan telah berlalu. Para prajurit Pajang telah
menghalau para pengikut Harya Wisaka dengan meninggalkan
korban yang terbujur lintang di medan.
"Kalian licik" geram Harya Wisaka "kalian hanya berani
bertempur dengan kelompok seperti ini"
"Menyerahlah, paman" desis Pangeran Benawa "bukankah
selama ini kita telah bertempur seorang melawan seorang"
Ternyata paman tidak dapat mengalahkan aku"
"Kau telah menyadap ilmu iblis" geram Harya Wisaka.
Pangeran Benawa tersenyum. Katanya "Apakah yang paman


Jejak Di Balik Kabut Karya S H Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

katakan. Aku mohon paman menyerah. Ayahanda bukan
pendendam" "Kalau saja kalian jantan, aku akan menantang salah
seorang diantara kalian untuk berperang tanding"
"Paman mempunyai persoalan dengan aku" berkata
Pangeran Benawa "karena itu, perang tanding itu hanya dapat
paman lakukan untuk melawan aku"
" Tetapi jika paman kehendaki, akupun siap melayani paman"
desis Raden Sutawijaya. Harya Wisaka termangu-mangu. Sementara itu Pangeran
Benawapun berkata "Sebelum kita berperang tanding paman,
aku ingin menantang paman untuk berlomba ketangkasan
naik kuda. Aku ternyata seorang pendendam. Sebelum kita
berlomba ketangkasan naik kuda, aku masih belum puas. Baru
kemudian kita akan berperang tanding jika paman inginkan"
Wajah Harya Wisaka terasa menjadi panas. Tetapi ia memang
tidak akan dapat berbut apa-apa menghadapi ketiga orang
yang telah mengepungnya itu. Sementara itu, pasukan Harya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wisaka itupun telah hanyut dari arena. Sebagian dari mereka
tidak sempat melarikan diri. Mereka tertangkap dan dipaksa
untuk menyerah. Mereka harus meletakkan senjata mereka di
tanah. Karena mereka tidak mau menyerah dengan suka-rela
sehingga masih memberikan perlawanan sampai mereka tidak
mempunyai kesempatan lagi atau terluka, maka para prajurit
telah mengikat tangan mereka.
Ki Rangga Yudapranata yang melihat keadaan medan bersama
Ki Panengah, Ki Waskita dan Ki Kriyatama telah menemukan
tubuh Ki Rangga Suraniti yang terbaring diam.
"Sayang sekali" Ki Rangga Yudapranata berjongkok disisinya
"Ia seorang prajurit yang baik. Ia memiliki ilmu yang tinggi"
Namun merekapun terkejut pula ketika mereka melihat Ki
Rangga Suratapa terbaring tidak terlalu jauh dari tubuh Ki
Rangga Suraniti. Tetapi Ki Rangga Suratapa itu masih
bertahan. Nafasnya masih mengalir lancar dari lubang
hidungnya. Dengan cepat Ki Waskita merawatnya. Ia membawa obat
yang untuk sementara akan dapat menolongnya.
"Ki Lurah Yudatama" desis Ki Ranngga Suratapa.
"Kenapa?" "Ia juga terluka parah"
Ki Panengahlah yang kemudian bangkit. Sementara dengan
sendat Ki Rangga berkata "Ia berada tidak jauh dari tempat
ini" Ki Panengah dan Ki Kriyadamapun segera mencarinya. Ketika
mereka akhirnya menemukannya, ternyata Ki Lurah itu sudah
tidak bernafas lagi. "Seorang prajurit yang sangat baik" desis Ki Panengah.
Sementara itu, seorang prajuritnya duduk disisinya sambil
mengusap air matanya. Prajurit itu sendiri terluka. Tetapi ia
sempat berdesis ketika Ki Panengah dan Ki Kriyadama
mendekatinya "Ia seorang pemimpin yang baik. Aku
berhutang nyawa kepadanya"
Ki Panengah mengangguk. Katanya "Ya. Ki Lurah Yudatama
adalah seorang prajurit yang baik"
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki Panengah dan Ki Kriyadama itupun kemudian bangkit
berdiri dan beringsut ketika Pangeran Benawa, Raden
Sutawijaya dan Paksi datang mendekat. Diantara mereka
berdiri Harya Wisaka yang sudah tidak bersenjata.
Demikian prajurit yang menangisi Ki Lurah Yudatama itu
melihat Harya Wisaka, maka tiba-tiba saja ia meloncat
bangkit. Pedangnya terangkat dan terayun dengan derasnya
sambil berteriak "kaulah sumber dari malapetaka ini"
Tetapi pedang itu membentur landean tombak pendek
Pangeran Benawa. Demikian kerasnya, apalagi orang itu tidak
mengira bahwa akan terjadi benturan, maka pedang itu telah
terlepas dari tangannya. Orang itu terkejut. Selangkah ia surut. Dengan wajah yang
tegang prajurit itupun bertanya "Kenapa Pangeran
menghalangi aku?" "Prajurit" desis Ki Kriyadama "kau berbicara dengan
Pangeran Benawa" "Ya, aku tahu. Justru karena itu aku bertanya. Bukankah
Harya Wisaka ini sumber dari malapetaka ini?"
Sepasang Pedang Iblis 16 Pendekar Pendekar Negeri Tayli Karya Jin Yong Mencari Bende Mataram 5
^