Pencarian

Perawan Lembah Wilis 4

Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo Bagian 4


"Tidak ada tapi! Hayo lekas makan dan minum ketan
dan kopi itu atau......... kujejalkan nanti ke mulutmu!"
bentak Raden Sindupati sehingga Endang Patibroto sendiri
memandang heran. Tidak biasanya senopati muda ini
bersikap demikian galak dan kasar. Akan tetapi karena ia
menyangka tentu ada terjadi sesuatu, ia lalu berkata kepada
pelayannya, "Bibi, kalau memang engkau tidak mempunyai
kesalahan dalam menghidangkan makanan dan minuman
ini, mengapa kau tidak mau makan dan minum" Kau
cobalah dan jangan takut, aku tidak akan marah."
Karena sang puteri yang dilayaninya sudah memberi ijin,
terpaksa, dengan muka pucat, pelayan wanita itu tidak
membantah lagi. Jari-jari tangannya gemeter ketika ia
mengambil piring ketan dan memakan isinya sampai
setengahnya. Kemudian iapun minum kopi itu sampai
setengah cangkir. Tidak terjadi apa-apa!
"Kakang Sindupati......... " Endang Patibroto hendak
menegur senopati itu akan tetapi menghentikan kata-
katanya karena pada saat itu, si wanita pelayan menjerit
dan roboh terguling mencengkeram perutnya sendiri,
merintih-rintih kemudian berkelojotan dan tewasl
Endang Patibroto cepat menyambar piring ketan,
mengambil ketan sedikit dan memasukkan ke mulut. Begitu
lidahnya merasai ketan Itu, cepat dibuang dan diludahkannya kembali. Dermikian pula ia mencicipi kopi
yang cepat ia ludahkan keluar. Sikapnya tenang-tenang saja
dan ia tidak tahu betapa Sindupati memandangnya dengan
kagum dan khawatir. Kemudian ia membalikkan tubuhnya
memandang senopati itu, "Kakang Sindupati, ketan dan kopi mengandung racun.
Bagaimana kau bisa tahu?"
Di dalam hatinya, Sindupati tersenyum girang. Untung
ia berlaku cerdik, pikirnya. Tadinya, Sang Adipati Menak
Linggo yang mengusulkan rencana untuk membunuh
Endang Patibroto dengan jalan meracunnya, mencampurkan racun dalam makanan dan minumannya.
"Wanita itu terlalu sakti, terlalu berbahaya," demikian
antara lain sang adipati berkata, "biarpun sekarang
kelihatan bersekutu dengan kita, akan tetapi sekali rahasia
kita terbongkar, ia merupakan ancaman bahaya yang tak
boleh dipandang ringan. Aku menghendaki agar dia mati,
biar dengan cara apapun juga. Dan kaulah orangnya yang
kuserahi tugas untuk membunuhnya, SindupatiI"
Untung bahwa Sindupati memiliki kecerdikan yang luar
biasa dan ia membeberkan rencananya kepada sang adipati.
"Hamba yakin bahwa seorang sakti seperti Endang
Patibroto, tidaklah mudah diracun begitu saja, gusti adipati.
Mencampurkan racun ke dalam makanan dan minumannya
adalah amat berbahaya karena selain belum tentu ia akan
dapat diracuni karena memiliki daya tahan dan daya
penolak untuk itu, kalau ketahuan bukankah akan
menggagalkan semua rencana" Hamba mempunyai siasat
yang lebih halus lagi."
la lalu menuturkan siasatnya dan sang adipati
menyetujuinya. Dan apa yang terjadi pada pagi hari ini
adalah hasil daripada siasatnya yang amat licik. Ia diam-
diam, tanpa setahu si pelayan, menaruh racun ke dalam
ketan dan kopi, kemudian dia pula yang datang memberi
peringatan kepada Endang Patibroto, bahkan secara kejam
sekali ia memaksa si pelayan yang sebetulnya tidak tahu
apa-apa itu untuk makan dan minum sarapan pagi yang
sudah ia campuri racun sampai tewas! Ketika melihat
Endang Patibroto dapat mengenal racun hanya dengan
mencicipi sedikit ketan dan kopi itu, terbuktilah kebenaran
dugaannya. Andaikata tidak ia peringatkan sekalipun,
Endang Patibroto akan tahu tentang racun dan tidak akan
menjadi korban, bahkan akan menjadi curiga! Kini, dengan
mengorbankan nyawa si pelayan, ia dapat menangkan
kepercayaan Endang Patibroto bahkan tampaklah ia sebagai
seorang yang baik dan setia kawan, membuat ia makin
menonjol dalam pandangan wanita sakti ini!
Ketika ditanya oleh Endang Patibroto bagaimana ia bisa
tahu bahwa sarapan itu ada racunnya, ia sudah
menyediakan jawabannya seperti yang ia rencanakan. "Ah
".. syukur bahwa para dewata masih melindungimu,
diajeng," demikian jawabnya setelah ia memerintahkan
para pengawal. untuk membawa pergi mayat si pelayan dan
di situ tidak terdapat orang lain lagi.
"Alangkah ngerinya! Kalau sampai diajeng menjadi
korban racun......... aaahhh......... betapa mungkin aku
dapat hidup lebih lama lagi......... I" Wajahnya pucat,
suaranya menggetar dan ia melangkah maju, seperti hendak
meraih dan memeluk karena hatinya terharu dan tegang.
Akan tetapi Endang Patibroto melangkah mundur dan
berkata, "Bahaya telah lewat, kakang Sindupati. Sungguh untung
bahwa kakang telah tahu dan dapat memperingatkan aku,
sungguhpun belum tentu aku akan dapat diracun begitu
saja. Duduklah dan ceritakan, bagaimana engkau bisa
mengetahui akan perbuatan keji itu!"
Melihat wanita itu tidak melayani hasratnya, Sindupati
tidak memaksa dan segera mengambil tempat duduk.
Berkali-kali ia menarik napas panjang dan kedua tangannya
yang ditaruh di atas meja masih gemetar. Sesungguhnya
bukan gemetar karena kekhawatirannya terhadap Endang
Patibroto, melainkan gemetar karena girang melihat
berhasilnya siasatnya dan karena nafsu berahi yang
menggelora! "Diajeng Endang Patibroto, jantungku masih berdebar
seakan-akan hendak pecah kalau kuingat betapa keselamatan adinda terancam maut yang mengerikan tadi! -
Ketahuilah, bahwa biarpun kami tidak berhasil menangkap
si penjahat Tejolaksono atau siapapun dia yang menyerbu
kamar adinda, akan tetapi aku diam-diam selalu menaruh
penyelidik dan mata-mata di sekitar istana untuk
mengawasi gerak-gerik yang mencurigakan. Semalam,
demikian menurut penyelidikku, terlihat pelayan laknat itu
mengadakan pertemuan dengan seorang yang tak di-kenal
di taman. Ketika para penyelidik hendak menyergap; orang
itu berkelebat Ienyap cepat sekali. Para penyelidik segera
melapor kepadaku dan aku menjadI curiga kepada pelayan
itu. Semalam aku tidak tidur memikirkan segala
kemungklnan dan akhirnya aku teringat bahwa pelayan
yang bertugas melayani makan minurnmu itu tentu hendak
melakukan sesuatu atas perintah musuh keparat itu. Aku
menghubungkan segala sesuatu dan mengambil kesimpulan
bahwa mungkin si jahat itu hendak meracunimu. Cepat-
cepat aku lalu berlari ke sini dan syukur bahwa kau belum
makan atau minum sarapanmu!" Kembali ia menggigil.
Endang Patibroto tersenyum. Terharu juga hatinya.
Senopati muda ini benar-benar amat memikirkan keselamatannya sehingga menyiksa diri sendiri sedemikian
rupa. Karena terharu dan berterima kasih, ia mengulurkan
tangan dan menyentuh tangan senopati itu di atas meja.
"Terima kasih, kakang Sindupati. Engkau memang baik
sekali terhadap diriku."
Sindupati cepat memegang tangan yang halus itu dan
meremas jari-jari tangan Endang Patibroto. "Diajeng ......
aku......... aku menyediakan nyawaku untukmu dan"."
Endang Patibroto menarik tangannya terlepas dari
genggaman Sindupati. "Kakang Sindupati," katanya cepat-
cepat memotong kalimat yang diucapkan senopati itu,
"sungguh amat disayangkan bahwa kakang terburu nafsu
tadi. Kalau saja pelayan itu tidak dibunuh dan kini masih
hidup, tentu kita dapat memaksanya mengaku siapa
orangnya yang menyuruh dia menaruh racun dalam
sarapanku." Wajah yang tampan itu kelihatan marah sekali, matanya
bersinar-sinar. "Siapa dapat menahan kemarahan, diajeng"
Melihat dia hendak meracunimu! Aku sudah cukup
bersabar. Kalau tidak melihat dia seorang wanita tua, sudah
kuhancurkan kepalanya tadi! Akan tetapi jangan khawatir,
diajeng, aku sudah mempunyai siasat yang baik sekali, yang
dapat memastikan keluarnya penjahat itu!"
Endang Patibroto maklum bahwa senopati di depannya
ini, di samping kesaktiannya, juga memiliki kecerdikan luar
biasa, maka ia segera memandang penuh perhatian dan
bertanya, "Bagaimana siasatmu, kakang Sindupati?"
"Beginilah seharusnya diatur. Sudah jelas bahwa
siapapun, adanya orang yang malam itu mendatangimu,
dan mungkin sekali Adipati Tejolaksono melihat dari
kesaktiannya dan aji pukulan Pethit Nogo seperti yang
adinda katakan, kini berada dalam persembunyiannya dan
masih berada dalam kota raja. Dan jelas pula bahwa dia
tentu menanti saat yang baik untuk bertemu dengan
engkau, karena kalau menghadapi pengeroyokan semua
senopati dan pengawal, tentu dia tidak berani, betapapun
juga hebat kepandaiannya. Oleh karena itu, tiada jalan lain
kecuall memancingnya keluar dari tempat persembunyiannya dan satu-satunya orang yang dapat
memancingnya keluar, adalah diajeng sendiri."
Endang Patibroto mengangguk-angguk akan tetapi
keningnya yang kecil panjang dan hitam seperti dilukis itu
berkerut. Sebagai seorang yang mengutamakan kegagahan
ia tidak suka akan segala macam siasat. Akan tetapi, iapun
tahu bahwa ucapan ini mengandung kebenaran. Kalau
tidak keliru dugaannya, tentu Joko Wandiro sedang
menanti sernpatan untuk turun tangan terhadap dirinya,
dan karena maklum bahwa dia merupakan lawan setanding
dan berat, tentu saja Joko Wandiro berlaku hati-hati dan
tidak sembrono. Memang benar kalau sampai dikeroyok,
betapapun saktlnya Joko Wandiro, tidak mungkin dapat
menang. Kebenciannya terhadap Joko Wandiro sudah
bertambah-tambah ketika terdapat bukti bahwa ia hendak
diracun tadi, sungguhpun ia masih meragu apakah Joko
Wandiro sudi melaksanakan hal semacam itu, hal yang
amat pengecut dan rendah sedangkan ia tahu betul bahwa
Joko Wandiro bukan seorang pengecut, apalagi berjiwa
rendah! "Bagaimana rencanamu untuk memancingnya, kakang
Sindupati?" "Malam ini juga sebaiknya diajeng keluar dari istana dan
berada seorang diri di tempat yang sunyi. Untuk itu,
menurut rencanaku, taman istana merupakan tempat yang
amat baik. Kalau diajeng muncul pada malam hari di
ternpat sunyi seorang diri, aku merasa yakin bahwa
penjahat itu tentu akan muncul. Aku akan mengepung
tempat itu dan kalau dia muncul, kita maju menangkapnya.
Orang ini harus ditangkap untuk diperiksa dan dIketahui
apa maksud datangannya di Blambangan. Gustl adipati
ingin sekalI mengetahui, karena selain hendak mencelakai
diajeng, siapa tahu dia adalah seorang mata-mata Jenggala
atau Panjalu yang berbahaya."
Di dalam hatinya, Endang Patibroto kurang setuju. Akan
tetapi ia tidak melihat cara lain untuk menghadapi Joko
Wandiro. Ia sendiripun ingin melihat orang itu tertangkap,
ingin melihat Joko Wandiro dikalahkan untuk memuaskan
hatInya yang diracuni kebencian. Kalau Joko Wandiro
memusuhinya dan menjadi utusan Pangeran Darmokusumo untuk membunuhnya, mengapa ia harus
ragu-ragu untuk membantu Sindupati menangkap Joko
Wandiro" "Baiklah, malam nanti aku akan berada di dalam
taman." "Sebaiknya menjelang tengah malam jika semua
penghuni istana sudah tidur, agar jangan meragukan hati
penjahat itu diajeng.' Endang Patibroto setuju dan berundinglah mereka
berdua untuk menghadapi dan menangkap Joko Wandiro
atau Adlpati Tejolaksono seperti yang diduga penuh
keyaklnan oleh wanita sakti ini. Dengan hati girang Raden
Sindupati lalu meninggalkan tempat itu untuk melakukan
persiapan. Ia menghubungi para senopati yang memiliki
ilmu kepandaian tinggi, juga Ki Patih Kalanarmodo dan
Mayangkurdo, kemudian mempersiapkan pula seratus
orang perajurit pilihan termasuk dua losin barisan anak
panah yang mengepung taman sari dengan busur dan anak
panah siap di tangan masing-masing.
Malam hari itu, Adipati Tejolaksono atau yang kini


Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berganti nama menjadi Sutejo tukang kuda, rebah di atas
setumpukan jerami kering di dalam kamar di dekat kandang
kuda. Hatinya gelisah sekali dan berkali-kali ia menghela
napas panjang. Sudah beberapa pekan ia bekerja di situ
sebagai tukang kuda, namun belum juga ia berhasil bertemu
empat mata dengan Endang Patibroto. Ia tidak berani lagi
secara sembrono mendatangi tempat Endang Patibroto
setelah malam itu hampir saja ia tertangkap. Kalau sampai
ia dikenal orang, tentu keadaan wanita itu akan menjadi
terancam keselamatannya. Ah, dia sudah meninggalkan
tanda tapak jari Aji Pethit Nogo, tidak mungkin Endang
Patibroto tidak mengenalnya! Mengapa Endang Patibroto
tidak mencarinya, bahkan para senopati dan pengawal yang
berkeliaran mencari" Penjagaan makin diperketat sehingga
ia tidak berani sembrono memperlihatkan diri, lebih tekun
bekerja menyembunyikan diri di balik penyamarannya
sebagai tukang kuda. Ia sudah mendengar percakapan para
perwira yang seringkali datang jika membutuhkan kuda
tunggangan mereka tentang keadaan Endang Patibroto,
malah ia mendengar pula bahwa Raden Sindupati, senopati
yang menjadi tokoh penting dan dipercaya sang adipati,
agaknya jatuh cinta kepada Endang Patibroto! Ia
mendengar pula percakapan para perwira tentang watak
Raden Sindupati yang tak pernah mau melewatkan begitu
saja wanita denok! Semua ini tidak menggelisahkan hati Tejolaksono. Yang
membuat ia terkejut sekali adalah ketika siang hari tadi ia
mendengar bahwa Endang Patibroto nyaris menjadi korban
peracunan dalam santapan paginya. Ia harus cepat-cepat-
menemui Endang Patibroto yang terancam keselamatannya, malam hari ini juga, sebelum ia terlambat!
Demikianlah, menjelang tengah malam, tukang kuda
Sutejo ini melompat keluar dari kamarnya dan sebentar saja
ia sudah berlompatan di atas atap dengan kecepatan luar
biasa. Malam itu masih terang bulan dan kebetulan tidak
ada mendung sehingga sinar bulan menerangi permukaan
bumi. Dengan pandang matanya yang tajam dan waspada,
ketika melewatl atap istana, Tejolaksono dapat melihat
berkelebatnya bayangan yang amat cepat menuju ke taman
sari, yaitu taman bunga yang amat luas dan indah dari
istana Kadipaten Blambangan. Hati-nya berdebar keras.
Bayangan seorang wanita yang bertubuh langsing. Tidak
salah dugaannya ketika ia melihat wajah bayangan itu.
Siapa lagi wanita yang dapat bergerak secepat itu kalau
bukan Endang Patibroto! Dengan girang sekali Tejolaksono
lalu melompat turun dan mengikuti dari jauh. Hatinya
makin berdebar ketika ia melihat Endang Patibroto
memasuki taman sari lalu duduk di atas bangku di tengah
taman sari itu, lalu termenung menghadapi kolam ikan
emas yang penuh dengan teratai putih.
Sejenak Tejolaksono memandang tubuh yang duduk
termenung itu dengan hati terharu. Inilah Endang
Patibroto, wanita yang sejak kecil ia kenal, yang pernah
menjadi musuhnya berkali-kali, lawan terberat yang pernah
ia jumpai. Endang Patibroto, puteri kandung bibi
Kartikosarl dan ayah angkatnya, Pujo. Masih tunggal guru
dengannya, ketika keduanya di waktu kecil digembleng oleh
Resi Bhargowo di Pulau Sempu (baca Badai Laut Salatan).
Telah sepuluh tahun ia tidak pernah bertemu muka dengan
Endang Patibroto yang semenjak menjadi isteri Pangeran
Panjirawit tak pernah meninggalkan istana suaminya. Kini,
secara aneh terlibat oleh peristiwa-peristiwa .yang tak
tersangka-sangka, mereka kembali bertemu dl Blambangan.
Sungguh tidak dapat disangka lika-liku hidup ini. Ia
melangkah maju menghampiri dan memanggil lirih,
"Endang......... !"
Tubuh yang duduk diam seperti arca itu tiba-tiba
bergerak melompat sambil memutar tubuh menghadapi
Tejolaksono, sepasang mata yang seperti bintang bercahaya
dan suaranya penuh teguran, "Joko Wandiro, ternyata
benar engkau..... ...... !!!"
Tejolaksono terpesona memandang Endang Patibroto
masih tetap seperti dahulu, seakan-akan tidak bertambah
sepuluh tahun usianya. Masih tetap cantik jelita dan masih
penuh semangat, panas dan galak seperti dahulu.
Mendengar suaranya ketika menyebut nama kecilnya
dengan nada marah, Tejolaksono mau tak mau tersenyum.
"Benar aku, Endang Patibroto. Akan tetapi namaku
sekarang Tejolaksono......"."
"Tidak perduli Joko Wandiro atau Tejolaksono, engkau
tetap selalu memusuhiku! Engkau......... pengecut rendah.
Memang sudah kunanti-nanti kau." Sambil berkata
demikian, Endang Patibroto sudah menerjang maju dengan
cepat dan tangkas, mengirim tamparan ke arah kepala
Tejolaksono. Tangannya ketika berkelebat itu mengeluarkan angin panas menyambar.
"Plakk I!" Endang Patibroto menjadi miring kedudukan
tubuhnya ketika Iengannya bertemu dengan tapak tangan
Tejolaksono yang menangkisnya. Akan tetapi secepat kilat
Endang Patibroto sudah memukul lagi ke dada lawan.
Tejolaksono melompat mundur sambil beseru,
"Nanti dulu, Endang......... engkau salah sangka?""
"Weerrrr......... plakk!" Kembali Tejolaksono terpaksa
menangkis karena tamparan yang menyusul hantaman ke tiga tak dapat ia elakkan lagi, demikian cepat sekali datangnya. Kembali keduanya terdorong ke belakang. "Endang, dengarlah keteranganku......... kau......... kau tertipu......... masuk perangkap......... I"
Adipati Tejolaksono kembali melejit ke kanan agak jauh untuk menghindari tendangan kilat yang
disusul hantaman Aji Wisangnala yang ampuhnya
menggiriskan. "Engkau utusan Panjalu, hayo menyangkallah kau
manusia palsu!" "Betul, memang sang prabu di Panjalu yang mengutusku
menyusul dan mencarimu, tapi semua pembunuhan keji
itu..... " "Tak usah banyak cakap. Aku sudah tahu semua! Aku
tahu siasat Darmokusumo yang jahat. Aku tahu......... I
Aku tahu......... Semua kesalahan ditimpakan pada diriku.
Dan kau datang untuk menangkapku, menyeretku ke depan
kaki Raja Panjalu dan Raja Jenggala yang jahat!"
"Endang......... l"
"Cukup! Tak usah banyak cerewet lagi. Kau sudah
mencoba menangkapku malam itu, kemudian......... kemudian mencoba meracuniku ......... aku tidak takut. Hayo majulah, kalau
tidak engkau yang menggeletak tewas di sini, tentu aku!"
Kembali Endang Patibroto sudah menerjangnya dengan
dahsyat sekali. Wanita ini teringat akan semua peristiwa
yang menimpa dirinya, teringat akan kematian suaminya
dan kini melihat Joko Wandiro yang hidupnya selalu lebih
bahagia daripadanya, membuat ia menumpahkan semua
kebencian dan kemarahannya kepada musuh lama ini.'
"Endang, dengar dulu......... kau tertipu ?"..!" Akan
tetapi pada saat itu tampak banyak sekali bayangan
manusia berkelebat dan ternyata tempat itu sudah terkurung
oleh belasan orang senopati dan perwira yang dipimpin
sendiri oleh Ki Patih Kalanarmodo dan Sindupati.
"Tangkap mata-mata......... terdengar teriakan-teriakan di
sekeliling tempat itu. Tejolaksono terkejut sekali, tidak menyangka bahwa ia
akan menghadapi kepungan seperti ini. Ketika dua orang
senopati menerjang dari kiri ia menggerakkan kaki tangan
dan......... dua orang lawan itu roboh terjengkang!
"Wuuuttt......... !!" Tejolaksono cepat membuang diri ke
kiri karena pukulan Endang Patibroto dari kanan itu
dahsyat sekali datangnya.
"Endang, larilah. Mari kau ikut aku lad, Endang.........
sebelum terlarnbat. Marilah, nanti aku beri penjelasan.........
Namun Endang Patibroto tidak memperdulikannya dan
pada saat itu, Raden Sindupati, Mayangkurdo, Ki Patih
Kalanarmodo, Klabangkoro, Klabangmuko dan beberapa
orang senopati yang lain yang pilihan telah menerjang
maju. Cepat Tejolaksono menggerakkan tubuhnya, kaki
tangannya menyambar dan sambil menangkis semua
hantaman lawan, la telah berhasil merobohkan Klabangmuko dan Klabangkoro dengan tendangan berantai. Akan tetapi, karena ia dihujani serangan, seperti
juga senopati-senopati yang ia robohkan tadi, Klabangkoro
dan Klabangmuko tidak terluka parah dan dapat bangkit
kembali sambil meringis kesakitan.
"Ehh......... dia ini si Sutejo tukang kuda ?"..!"
Terdengar seorang perwira berseru kaget dan semua orang
tercengang. Siapa kira bahwa penjahat yang dianggap
maling haguna (maling sakti) dan selama ini dicari-cari itu
ternyata adalah si tukang kuda yang baru! Orang dusun
yang kelihatan bodoh, jujur, dan rajin bekerja! Kinipun
pakaiannya masih sederhana, namun setelah bergerak,
bukan main hebatnya! Melihat banyaknya orang-orang yang mengeroyoknya,
bukan orang-orang sembarangan pula, dan melihat betapa
taman itu terkepung oleh seratus orang lebih perajurit
sehingga merupakan pagar manusia yang tebal, Tejolaksono mulai khawatir.
Ia masih sibuk berkelebat ke sana ke marl menghadapi
pengeroyokan para senopati yang kini sudah menggunakan
senjata, dan untuk yang penghabisan ia berseru,
"Endang......... dengarlah kepadaku. Mari kita lari
bersama......... masih ada waktu. Kalau kita berdua
menyerang, tikus-tikus busuk ini tak mungkin dapat
menahan kita.........!"
Akan tetapi sebagai jawaban dari ajakan ini, Endang
Patibroto kini malah mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo
dan menghantam dengan Aji Wisangnala yang dilakukan
dengan pengerahan tenaga dahsyat sekali ke arah lambung
Tejolaksono. Itulah pukulan maut yang tak mungkin dapat
ditahan, biar oleh seorang manusia sakti seperti Adipati
Tejolaksono sekali pun! Beberapa orang senopati yang
terdekat sudah roboh mendengar pekik tadi dan
Tejolaksono terkejut bukan main. Dia sedang menghadapi
serbuan senjata yang banyak sekali, dan kini dari samping
kanan Endang Patibroto memukulnya ke arah lambung
dengan pengerahan aji yang sedemikian dahsyatnya! Tidak
ada pilihan lain baginya, mengelak tidak keburu lagi
menangkis tentu kurang kuat dan tentu ia akan menjadi
korban. Maka cepat ia membalikkan tubuh ke kanan dan
menerima pukulan Wisangnala yang ampuhnya menggila
itu dengan dorongan kedua telapak tangannya pula ke
depan sambil mengerahkan Aji Brojo Dahono (Kilat
Berapi) yang dahulu ia terima dari gurunya, Ki Patih
Narotama. "Desssss......... !!!" Dua pasang tangan bertemu
permukaannya dan tubuh Endang Patibroto terlempar ke
belakang sampai tiga meter lebih dalam keadaan pingsanI
Akan tetapi, Tejolaksono juga terhuyunghuyung ke
belakang, kepalanya pening pandang matanya berkunang.
Kalau ia tadi mengerahkan seluruh tenaganya, tentu
Endang Patibroto akan terpukul tewas dan dia sendiri tidak
akan terluka parah. Akan tetapi bagaimana ia tega untuk
membunuh Endang Patibroto" Maka ia tadi hanya
mengerahkan sebagian besar tenaganya, tidak sepenuhnya
sehingga akibatnya sungguhpun ia dapat membuat Endang
Patibroto pingsan, namun dia sendiri juga mendapat
hantaman di sebelah dalam tubuhnya yang cukup hebat.
Sebelum Tejolaksono sempat memulihkan tenaga, banyak
pukulan-pukulan keras dan penggada menghujani tubuhnya


Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sehingga ia roboh pingsan. Segera para senopati
menubruknya dan melibat-libat tubuhnya dengan ikatan-
ikatan rantai yang amat kuat seperti seekor kerbau hendak
disembelih saja. Kemudian, beramai-ramai mereka menggotong tubuh Tejolaksono sambil bersorak kegirangan. Adapun Endang Patibroto yang pingsan itu
sudah lebih dulu dipondong oleh Raden Sindupati dan
dibawa pergi menuju ke......... rumah senopati itu sendiri.
Ketika Sindupati yang memondong tubuh Endang
Patibroto tiba di rumah gedungnya, ia disambut oleh
seorang wanita yang maslh amat muda dan berwajah cantik
jelita akan tetapi pucat pasi mukanya.
"Kakangmas......... I" Wanita itu menegur dan matanya
terbelalak lebar. Akan tetapi dengan kasar Sindupati
membentak, "Minggir kau!" Lalu terus membawa tubuh Endang
Patibroto memasuki kamarnya.
Wanita muda itu adalah selirnya, yaitu puteri Adipati
Menak Linggo dari selir yang "dihadiahkan" kepada
Sindupatl. Dibentak seperti itu, wanita ini minggir dan
terisak menangis, akan tetapi ia tidak berani berbuat
sesuatu, hanya pergi memasuki sebuah kamar lain dan
membanting tubuh di atas pembaringan sambil menangis
tersedu-sedu. Semuda itu, sudah terlampau banyak ia
menderita tekanan batin semenjak setahun yang lalu ia
diberikan kepada Sindupati, dijadikan benda permainan
senopati itu yang sama sekali tidak memperdulikan hati
wanita muda ini. Endang Patibroto masih merasa pusing sekali dan
napasnya agak terengah ketika ia mendengar suara yang
halus, "Minumlah, diajeng......... minumlah madu tentu
akan sembuh dan enak badan-mu......... !" Segera ia merasa
ada benda menempel bibirnya. Ia berada dalam keadaan
setengah sadar akan tetapi dapat mengenal suara Sindupati,
maka tanpa membuka mata ia segera membuka mulut dan
minum madu manis dan harum dari cangkir itu dengan
penuh kepercayaan. Memang enak rasanya, dan mendatangkan rasa hangat di dadanya. Madu yang manis
dan harum bercampur jamu., Ia masih meramkan matanya,
mengingat-ingat. Kemudian teringatlah ia akan pertandingan tadi. Tadikah" Ia tidak tahu bahwa ia telah
rebah pingsan selama setengah malaml Joko Wandiro,
alangkah berat lawan itu. Teringat ia betapa pukulan
Wisangnala membentur gunung karang dan tenaga aji itu
membalik, membuat dadanya sesak dan tubuhnya
terlempar ke belakang. Bukan main hebatnya Joko
Wandirol Tangan yang lembut membelai rambutnya dahinya lalu
turun ke pipinya, terus ke lehernya. Bisikan-bisikan yang
tadinya hampir tak terdengar, kini mulai terdengar, lirih-
lirih dekat telinga. "Diajeng Endang Patibroto......... alangkah cantik jelita
engkau, alangkah gagah perkasa......... ah, adinda......... aku
cinta padamu, diajeng........." Jari tangan itu turun ke atas
dada dan....... bibir yang panas menempel mulutnya!
Endang Patibroto hampir saja tenggelam karena
terbayang ia kepada kemesraan bercinta dengan suaminya,
membayangkan bahwa yang berbisik-bisik, membelai dan
menciumnya itu adalah suaminya. Akan tetapi ia segera
teringat dan tersentak kaget. Bukan suaminya yang sudah
mati, melainkan Raden Sindupati! Segera ia mendorong
sambil melompat bangun dari atas pangkuan karena tadinya
ia rebah telentang dengan kepala di atas pangkuan
Sindupati yang duduk di atas pembaringan. Tubuh
Sindupati terlempar keluar dari pembaringan dan seperti
seekor burung kepinis, Endang Patibroto sudah melompat
turun dan berdiri menatap Sindupati yang terbanting roboh
di atas lantai. "Diajeng......... Sindupati merintih.
Merah wajah Endang Patibroto. Kamar ini terang dan
kiranya sinar mata-hari telah bersinar masuk melalui
celahcelah daun jendela kamar itu. Sebuah kamar yang
indah. Dan ia tadi berada di atas pembaringan, bersama
Sindupati, sejak malam tadi, ia memandang senopati itu,
bingung karena merasa malu, menyesal bercampur marah.
"Maaf, kakang Sindupati. Akan tetapi ......... aku.........
aku tidak dapat menerima cinta kasihmu! Betapapun baik
engkau sudah terhadap diriku, namun....... hemm .....
jangan sekali-kali berani meraba diriku lagi karena lain
kali......... aku akan membunuhmu!" Setelah berkata
demikian, Endang Patibroto lalu melompat keluar dari
kamar itu dan terus melarikan diri.
"Diajeng......... Endang Patibroto......... !!"
Namun seruan Sindupati ini tidak terjawab dan senopati
ini lalu merangkak bangun. Belakang kepalanya yang
terbentur lantai menjendol dan terasa nyeri. la menyeringai,
mukanya menjadi merah padam, kedua tangannya dikepal
dan ia menggumam dengan marah,
"Hem m......... Endang Patibroto, engkau tak mau
disayang orang! Lihat saja engkau nanti! Tidak bisa
mendapatkan diri-mu secara halus, aku akan menggunakan
kekerasan! Ha-ha-ha, awas engkau jangan kira dapat
melepaskan diri begitu saja dari tangan Raden Sindupati!"
Kalau saja Endang Patibroto dapat mendengar ucapan
dan sikap Sindupati setelah ia meninggalkan kamar
senopati itu, tentu ia akan menjadi kaget sekali. Akan
tetapi, Endang Patibroto sudah berlari jauh dan di dalam
hatinya wanita ini malah merasa kasihan kepada Sindupati.
Ia menganggap senopati itu amat baik dan biarpun tadi
telah berani menjamah tubuhnya, bahkan mencium
bibirnya, namun ia dapat memaafkan perbuatan yang ia
anggap terdorong oleh cinta kasih yang mendalam! Seorang
wanita seperti Endang Patibroto, tentu saja tidak dapat
membedakan antara cinta kasih murni seperti cinta kasih
mendiang suaminya, dengan cinta berahi seperti cinta
seorang pria macam Sindupati yang menjadi hamba
daripada nafsu berahi dan menginginkan tubuhnya karena
ia cantik jelita belaka, seperti rasa sayang seorang akan
setangkai bunga mawar. Jika masih segar dinikmati
keindahannya dan harumnya, jika sudah bosan dan
kembang itu melayu lalu dibuang begitu saja!
Ketika Endang Patibroto memasuki tempat tinggalnya,
ia mendengar dari para pengawal bahwa Adipati
Tejolaksono telah tertangkap dan kini sedang mengalami
siksaan di dalam penjara!
"Menurut keputusan gusti adipati, mata-mata itu yang
telah menewaskan tujuh orang pengeroyok semalam, akan
dihukum picis di alun-alun sore hari nanti!" demikian
antara lain para pengawal memberitahukannya.
Berdebar jantung Endang Patibroto. Dihukum picis!
Hukuman yang mengerikan. Tubuh orang hukuman akan
diikat di alun-alun, dan setiap orang boleh menggunakan
sebuah pisau tajam yang tersedia di situ untuk mengerat
kulit dan daging, si terhukum, kemudian algojo akan
mengoleskan asam dan garam pada goresan pisau! Si
terhukum tidak akan mati seketika, melainkan mati
perlahan-lahan, menderita siksaan ngeri yang tiada taranya,
kemudian mungkin baru pada keesokan harinya mati
kehabisan darah! Ia membayangkan wajah Joko Wandiro
dan Endang Patibroto meramkan mata.
Kepalanya makin pening, pandang matanya berkunang.
Teringat ia akan semua kebaikan Joko Wandiro. Betapa
pria itu kini telah menampung ibu kandungnya, betapa Joko
Wandiro tidak mendendam kepadanya biarpun dialah yang
membunuh ibu kandung Joko Wandiro! Betapa dahulu ia
amat tertarik kepada Joko Wandiro, betapa ia merindu,
haus akan kasIh sayangnya namun pada lahirnya ia selalu
bersikap keras dan bermusuh. Bahkan terbayang pula
betapa seringkali, sebelum akhirnya ia jatuh cinta sungguh-
sungguh kepada Pangeran Panjirawit, seringkali ia
membayangkan wajah Joko Wandiro di kala suaminya itu
mencumbunyal "Tidak......... ! Tidak boleh......... !" Demikian teriak
hatinya dan dengan kepala masih pening, dengan langkah
terhuyung-huyung Endang Patibroto lalu lari menuju ke
penjara! Para penjaga yang menjaga penjara dengan ketat, semua
mengenal Endang Patibroto dan tidak seorangpun di antara
mereka berani mencegah ketika Endang Patibroto
memasuki penjara. Bahkan Mayangkurdo yang bertugas
mengepalai barisan penjaga, hanya bertanya,
"Apakah perlunya menemui keparat itu" Gusti adipati
sudah memutuskan hukum picis, harap saja paduka jangan
membunuhnya!" Jilid VII ENDANG PATIBROTO hanya menggeleng kepala,
tidak berani mengeluarkan suara karena ia tidak percaya
kepada suaranya sendiri yang tentu akan tergetar. Adapun
Mayangkurdo tidak melihat keberatan sesuatu atas
kunjungan Endang Patibroto. Biarpun disiksa sejak malam
tadi, Tejolaksono tidak pernah mau mengaku sesuatu,
hanya tersenyum mengejek dan menerima siksaan sampai
berkali-kali jatuh pingsan. Karena itu Mayangkurdo dan
yang lain-lain tidak tahu bahwa rahasia busuk mereka telah
diketahui Tejolaksono dari mulut Ki Brejeng! Mereka
hanya menyangka bahwa Tejolaksono datang atas perintah
sang prabu di Panjalu untuk menangkap Endang Patibroto
yang sampai sekarang tentu dianggap pemberontak oleh
Panjalu, dan Jenggala. Ketika Endang Patibroto memasuki kamar tahanan, ia
melihat Tejolaksono rebah dan setengah bersandar pada
dinding. Kaki tangannya dibelenggu dengan rantai besi,
juga lehernya. Pakaiannya hancur dan seluruh tubuhnya
berdarah bekas cambukan! Ksatria sakti ini tidak pingsan,
sadar dan sinar matanya masih penuh semangat
sungguhpun tampak lemah sekali. Sedikitpun tidak ada
keluhan keluar dari mulutnya. Mukanya baret-baret bekas
cambukan pula, mata kirinya membiru. Hati Endang
Patibroto trenyuh sekali.
Apalagi melihat betapa sinar mata itu memandangnya
dengan senyum, seperti mulutnya.
"Pergilah kalian! Tinggalkan aku sendiri dengan keparat
ini!" bentak Endang Patibroto kepada tiga orang algojo
tinggi besar yang agaknya kelelahan karena harus terus
menyiksa akan tetapi tak boleh membunuh si tahanan.
Mereka lalu pergi meninggalkan Endang Patibroto yang
segera menutupkan daun pintu besi. Lalu ia berdiri di depan
Tejolaksono. "Hemm, Endang Patibroto. Agaknya engkau puas
sekarang. Dapat melampiaskan semuan kebencianmu
kepadaku. Ah, betapa bencimu kepadaku, Endang. Sejak
sepuluh tahun yang lalu! Belum dapatkah engkau
melupakan semua peristiwa yang lalu" Endang.............
demi bibi Kartikosari, demi paman Pujo............. kaubunuhlah saja aku. Aku tidak takut menghadapi
siksaan, akan tetapi ngeri menghadapi penghinaan. Kau
pukullah aku sampai mati, aku akan berterima kasih
dan............. dan tolonglah kau amat-amati keluargaku di
Selopenangkep." Ucapan itu keluar dengan ringannya dari mulut
Tejolaksono, sedikitpun tidak tampak berduka atau takut.
Alangkah perkasanya pria ini! Dan tak tertahankan lagi
Endang Patibroto terisak, lalu menjatuhkan diri berlutut,
lalu tangannya meraih belenggu-belenggu kaki tangan
Tejolaksono. "Tidak usah, Endang. Tiada gunanya. Kalau aku
menghendaki, agaknya aku masih akan sanggup mematahkan belenggu-belenggu ini. Akan tetapi apa
gunanya" Penjagaan terlampau kuat dan aku terlalu lelah
dan lemah. Apalagi ada engkau, betapa mungkin aku dapat
lari?" Makin mengguguk Endang Patibroto menangis. "Joko
Wandiro............. mengapa......... " Mengapa engkau selalu
memusuhi aku" Mengapa engkau yang diutus oleh si
keparat Darmokusumo untuk mengejar dan menangkap
aku" Aku sudah............. sudah tidak lagi menganggap
engkau sebagai musuh, tapi............. tapi kau datang ke sini
dan............. " "Husssshh............. engkau salah sangka. Inilah yang
hendak kuterangkan kepada-mu. Inilah sebabnya mengapa
aku selalu hendak menemuimu. Kau tertipu! Kau harus
segera lari dari sini. Mereka menipumu. Mereka hendak
membunuhmu! Dengarlah baik-baik, Endang Patibroto.


Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Semua peristiwa di Jenggala dan Panjalu diatur oleh si
keparat Sindupati!" "Tidak mungkin! Aku mendengar sendiri dari mulut
Wiku Kalawisesa............. !!
"Kau dibohongi! Aku tahu semua ini dari mulut Ki
Brejeng sebelum ia mati."
"Ki Brejeng" Mati" Apa artinya ini ...... .?"
"Aku memang mengejarmu, dan di tengah jalan aku
bertemu Ki Brejeng. Kau masuk perangkap! Wiku
Kalawisesa adalah anak buah Sindupati. Sengaja membunuhi para .ponggawa untuk melemahkan kedua
kerajaan yang akan diserbu. Dan mereka memasang jerat.
Menyebar desas-desus memburukkan namamu, hendak
mengadu domba. Kau terkena hasutan sehingga kau
menyerbu Pangeran Darmokusumo yang tidak berdosa!
Kau.... ..... eh, kenapa, Endang............. ?"
Akan tetapi Endang sudah tidak mendengarnya lagi.
Wanita ini menjadi pucat wajahnya, lalu berusaha bangkit
berdiri, terhuyung-huyung, kedua tangannya memegang
kepala sendiri, matanya dimeramkan, mulutnya mengeluh
lirih, "Ahhh.............. kepalaku............. begini pening............. panas............. "
Tejolaksono terkejut sekali. Sekali pandang melihat
wajah yang agak pucat itu kedua pipinya mangar-mangar
merah, bibirnya yang terbuka itupun merah seperti habis
makan cabe, matanya setengah dipejamkan, napasnya
tersendat-sendat, tubuhnya gemetar, tahulah ia bahwa
Endang Patibroto yang seperti orang mabok arak ini telah
keracunan! "Endang............. kau keracunan............. Lekas, bersila
mengatur napas, menggunakan tenaga sakti mengusir hawa
racun dari dada dan kepalamu............. , pergunakan
Widodo Mantra.............
Namun terlambat sudah. Endang Patibroto agaknya
sudah tidak dapat menguasai diri dan pikirannya lagi,
mulutnya berbisik-bisik, "............. pangeran............. kekasihku pangeran.............
"Ha-ha-ha-ha! Jangan harap dapat lari dariku, diajeng............. !!" Daun pintu kamar tahanan terbuka dari
luar dan Sindupati melompat masuk. Melihat Endang
Patibroto yang terhuyung-huyung seperti orang mabuk, ia
terkekeh girang lalu menubruk maju, memeluk dan
memondong tubuh Endang Patibroto.
"Diajeng Endang Patibroto............. ! Aku cinta
padamu............. ha-ha-ha............. mengapa lari dari
kakanda?""..?"
"............. pangeran............. pangeran ?"".!"
Dengan mata dipejamkan Endang Pathbroto berbisik-
bisik dan ia sama sekali tidak marah lagi seperti tadi ketika
tubuhnya didekap dan dipondong, bahkan kedua lengannya
lalu merayap dan merangkul leher Sindupati, mukanya
disembunyikan pada dada senopati itu!
"Ha-ha-ha-ha!" Sindupati tertawa bergelak, lalu sambil
memondong tubuh wanita yang mabuk oleh racun
pembangkit nafsu berahi yang tadi ia campurkan ke dalam
madu, ia mengayun kaki menendang Tejolaksono yang
memandang semua itu dengan mata melotot. Dalam
keadaan terbelenggu seperti itu, terpaksa Tejolaksono
menerima tendangan yang mengenai pinggangnya sehingga
tubuhnya terbentur dinding. Kembali Sindupati tertawa
sambil membawa tubuh Endang Patibroto keluar dari
dalam kamar tahanan. Blambangan adalah gudangnya ilmu hitam, gudangnya
jamu-jamu yang amat mujijat, dan di kadipaten ini terdapat
banyak sekali ahli-ahli pembuat racun. Ketika Sindupati
malam kemarin memberi minum madu kepada Endang
Patibroto, ia mencampurkan bubukan jamur belang yang
mengandung racun pembangkit nafsu berahi amat hebat.
Orang yang terkena racun ini, terutama sekali wanita, akan
mabuk dan tidak dapat menguasai dirinya lagi, tidak sadar
apa yang dilakukannya, dan seluruh tubuhnya dikuasai oleh
nafsu berahi yang menyala-nyala. Demikian pula, biarpun
ia seorang wanita yang sakti mandraguna, namun darahnya
yang sudah keracunan membuat Endang Patibroto mabuk
juga sehingga terbayang olehnya Pangeran Panjirawit yang
tercinta dan ketika ia dipondong Sindupati, ia menganggap
bahwa suaminyalah yang memondongnya!
Dengan kegirangan hati yang meluap-luap Sindupati
memondong tubuh Endang Patibroto ke dalam rumahnya,
masuk ke dalam kamarnya yang tadi ditinggalkan Endang
Patibroto. Kini tercapailah keinginan hatinya. Ia ingin
memiliki tubuh Endang Patibroto, baik secara suka rela
ataupun paksa, dan setelah itu baru ia akan membunuh
wanita ini untuk memenuhi perintah Adipati Blambangan!
Kini, setelah Endang Patibroto mabuk oleh racun jamur
belang, pasti akan terpenuhi keinginan dan nafsunya!
Dengan wajah berseri-seri ia melemparkan tubuh Endang
Patibroto ke atas pembaringan. Endang Patibroto hanya
mengeluh lirih dan bergulingan gelisah di atas pembaringan
itu, matanya dipejamkan. "Ha-ha-ha-ha, Endang Patibroto. Akhirnya engkau
terlempar juga dalam pelukanku, cah ayu denok.............
Dengan nafsu berkobar Raden Sindupati menghampiri
pembaringan, matanya jalang memerah, napasnya agak
terengah-engah panas, hidungnya kembang kempis,
wajahnya yang tampan kini tampak buas. Lama ia berdiri di
pinggir pembaringan, melahap tubuh Endang Patibroto
dengan pandang matanya, kemudian ia membungkuk,
terkekeh dan kedua tangannya menjangkau.............
"Kakangmas senopati.............
Raden Sindupati yang sudah menyentuh pundak Endang
Patibroto dan sudah menaikkan sebelah lututnya ke atas
pembaringan, tersentak kaget dan turun membalikkan
tubuh dan menghardik, "Umi! Mau apa engkau masuk ke
sini" Hayo pergi, kalau tidak ingin kutempiling kau!!"
Wanita muda bermuka pucat itu memandang dengan
mata terbelalak ke arah tubuh Endang Patibroto yang
bergerak-gerak gelisah dl atas pembaringan. Hatinya
menjadI semakin panas sekali, panas oleh cemburu.
Biarpun la mengalami banyak derita batin semenjak oleh
ayahnya, sang adipati, dihadiahkan kepada senopati
Sindupati, namun la telah jatuh cinta kepada laki-laki ini
sepenuh hatinya. Tidak ingin ia melihat suaminya bermain
dengan wanita lain, dan hatinya selalu sakit dan hancur
kalau ia melihat Sindupati membawa pulang wanita-wanita
cantik. Akan tetapi kali ini ia tidak dapat menahan
kemarahannya melihat betapa suaminya Itu hendak
memiliki seorang wanita dengan cara yang amat tidak
patut, yaitu dengan paksa dan dengan bantuan jamu racun
perangsang! "Kakangmas............. , jangan............. jangan lakukan
itu ............. " Marah sekali Sindupati. Ia melangkah maju mendekati
selirnya ini, mukanya merah. "Apa" Sejak kapan engkau
berani menghalangi kesenanganku?""
Dewi Umirah, wanita muda itu menggelengkan
kepalanya dengan "Tidak, kakangmas, saya
tidak menghalangl kesenanganmu. Sebagai seorang selir, saya
tidak berhak melakukan hal itu. Akan tetapi, saya
berkewajiban untuk mengingatkan suami daripada perbuatan jahat dan keji! Memperkosa seorang wanita di
luar kehendaknya adalah perbuatan jahat dan keji,
kakangmas. Ingatlah, dan harap kakangmas sadar, jangan
lakukan itu............! Wanita ini tidak sadar............. dia
mabuk racun............. tidak baik memperkosa............. "
"Tutup mulutmu! Ha, engkau iri hati! Engkau cemburu,
setan............. !" Dengan marah sekali Sindupati mendorong
pundak selirnya sehingga tubuh Dewi Umirah terlempar ke
belakang, menabrak dinding dan terguling. Namun wanita
Itu bangun lagi, berlutut dan berkata,
"Saya tidak iri hati, tidak cemburu, kakangmas. Sudah
kukubur perasaan itu! Akan tetapi............. melihat kau
hendak melakukan perkosaan keji............. ah, bagaimana
saya dapat melihat suami saya melakukan kekejian ini dan
mendiamkannya saja" Ingat kakangmas, perbuatan ini akan
dikutuk para dewata............. !"
"Apa" Keparat engkau! Berani mengumpat ...... ! Pergi
minggat!!" Sindupati menggerakkan kakinya menendang
dan tubuh Dewi Umirah terlempar ke luar melalui pintu!
Sindupati sambil memaki-maki lalu membanting daun pintu
kamar dan menguncinya dari dalam!
Napasnya terengah-engah saking marahnya dan kemarahan ini telah mengusir gelora nafsu berahinya. Ia
jengkel sekali, lalu menyambar sebuah botol berisi arak dari
atas meja, menuangkan isinya ke dalam perut. Perut dan
dadanya terasa panas kini dan perlahan-lahan nafsunya
menggelora lagi. Dilemparkannya botol kosong ke sudut
kamar dan ia melangkahmaju menghampiri pembaringan di
mana Endang Patibroto masih menggeliat-geliat sambil
mengeluh lirih. Sindupati terkekeh, tangannya meraih,
merenggut, terdengar suara "breettt!!" pakaian robek,
disusul ketawa terbahak. Ketika Tejolaksono melihat betapa tubuh Endang
Patibroto yang ia tahu dalam keadaan setengah sadar
karena pengaruh racun itu dipondong oleh Sindupati dan
dilarikan keluar tahanan, hatinya penuh kegelisahan dan
kemarahan. Tadinya ia sudah hampir berputus asa karena
kalau ia memberontak dan dapat membebaskan diri, tidak
mungkin ia dapat membebaskan diri, karena di sana,
terdapat banyak senopati tangguh d terutama sekali ada
Endang Patibroto! Kini, menyaksikan keadaan Endang
Patibroto yang terancam bahaya lebih mengerikan daripada
maut, timbul semangatnya. Ia segera meramkan mata,
mengheningkan cipta, mengumpulkan seluruh daya dan
hawa saktl di tubuhnya, mengetrapkan aji-ajinya lalu tiba-
tiba terlengkinglah pekik yang dahsyat dari mulutnya, pekik
Aji Dirodo Meta (Gajah Mengamuk) dan pada saat itu
juga, ia meronta dan............. terdengar suara keras ketika
semua rantai besi yang membelenggu kaki tangan dan
lehernya hancur berkeping-keping!!
Tejolaksono melompat bangun dan pada saat itu, para
pengawal yang mendengan suara pekikan dahsyat tadi
sudah menyerbu ke dalam. Akan tetapi lima orang
pengawal termasuk tiga orang algojo yang terdahulu masuk,
disambut oleh hantaman yang membuat mereka semua
roboh terjengkang kembali keluar pintu! Tubuh Tejolaksono
menerjang keluar dan ia telah mengerahkan Aji
Triwikrama, sebuah aji kesaktian agung yang didapatnya
dari ajaran mendiang ang Prabu Airlangga. Begitu
tubuhnya muncul keluar, para pengawal dan penjaga bediri
terpaku di tempat masing-masing dengan mata terbelalak
dan muka pucat. Aji kesaktian agung Triwikrama bukanlah
sembarang aji dan hanya Tejolaksono seoranglah yang
dapat mewarisinya dari Sang Prabu Airlangga. Di jaman
Purwacarita, jamannya Mahabharata, yang memiliki aji
kesaktian agung ini hanyallah Sang Prabu Dwarawati atau
Sri Bathara Kresna. Aji kesaktian ini baru dapat dikeluarkan
apabila hati dalam keadaan marah dan sakit hati dan begitu
aji ditrapkan, akibatnya hebat luar biasa. Para lawan akan
terpesona, akan ngeri ketakutan karena dari tubuh yang
beraji Triwikrama ini seakan-akan keluar hawa mujijat yang
menakutkan, mengeluarkan perbawa yang menggiriskan,
seakan-akan berubah menjadi seorang raksasa sebesar
Gunung Semeru yang akan menghancurkan segala yang
menentangnya! Pihak lawan akan dicekam ketakutan
sehingga mereka sampai lupa untuk bergerak menentang
musuh. Ketika para pengawal itu berdiri terhenyak pucat
ketakutan, Tejolaksono segera melesat keluar dan dengan
kecepatan kilat ia sudah melampaui kepala mereka untuk
pergi mengejar Sindupati. Selama beberapa pekan menjadi
tukang kuda di Blambangan, waktunya tidak dibuang sia-
sia sehingga ia sudah hafal akan keadaan di Blambangan,
tahu pula di mana adanya istana senopati Sindupati. Baru
setelah Tejolaksono lari jauh, para pengawal sadar akan
keadaan mereka. Sambil berteriak-teriak mereka mengejar.
Beberapa orang pengawal yang berada di depan sempat
menghadang dan beiasan orang sudah menyeruduk maju
dengan tornbak dan golok di tangan. Namun dengan
ketangkasan yang luar biasa, terdorong oleh rasa khawatir
dan marah mengingat akan nasib Endang Patibroto,
Tejolaksono menggerakkan kaki tangannya. Dua orang
roboh mencelat, seorang dapat ia tangkap tengkuknya, ia


Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

angkat tubuhnya dan ia putar-putar sedemikian rupa
sehingga para pengeroyok cepat mundur dan menahan
senjata, takut mengenai tubuh kawan sendiri. Tejolaksono
lalu melempar tubuh orang yang dijadikan perisai tadi ke
arah para pengeroyok, kemudian menggunakan kepanikan
mereka ia meloncat lagi terus melanjutkan pengejarannya.
Makin banyak kini perajurit-perajurit mengejarnya dari
belakang, namun tak seorangpun dapat menandingi
kecepatan gerak tubuh Tejolaksono yang melesat ke depan
seperti burung terbang cepatnya.
Empat orang pengawal menyambutnya di depan pintu
rumah Raden Sindupati, akan tetapi dalam dua gebrakan
saja Tejolaksono sudah merobohkan mereka dengan
pukulan-pukulan jari tangannya yang mengandung Aji
Pethit Nogo. Ia terus menyerbu ke dalam. Dewi Umirah
terbelalak dan dengan muka pucat wanita ini lari keluar dari
rumahnya, terus melarikan diri ke istana ayahnya untuk
melaporkan segala peristiwa yang amat menghancurkan
hatinya. Tejolaksono tidak mengenal dan tidak memperdulikan
Dewi Umirah, bahk tidak mengganggu para pelayan yang
mendeprok dan menggigil di atas lantai terus lari ke dalam.
Ia tahu di mana adanya kamar senopati Raden Sindupa
karena ia pernah menyelidiki rumah in di waktu malam.
Daun pintu kamar it tertutup dan la mendengar suara
ketawa bergelak di sebelah dalam.
Tejolaksono mengerahkan tenaga sakti di dalam
tubuhnya lalu menggempur daur pintu dengan bahunya.
"Braaaakkkk............. !I" Daun pintu jebol dan pecah,
tubuhnya menerjang ke dalam kamar.
Mata Tejolaksono menjadi merah saking marahnya
ketika ia melihat Sindupati duduk di pinggir pembaringan,
dengkan tubuh Endang Patibroto rebah atas pembaringan.
Pakaian Endang Patibroto terobek dari atas ke bawah,
sedangkan senopati itu sambil tertawa-tawa sedang
membuka bajunya. Ketik Sindupati mendengar suara keras
pecahnya daun pintu, ia menoleh dan matanya terbelalak
melihat bahwa yang muncul adalah Tejolaksono yang baru
saja tadi ia tendang ketika ia melarikan Endang Patibroto.
la kaget bukan main, juga terheran-heran, akan tetapi
secepat kilat ia meloncat, menyambar tombaknya di sudut
kamar kemudian langsung menerjang Tejolaksono dengan
tusukan tombak pusakanya.
"Sindupati keparat engkau............. !!" Tejolaksono
memaki, miringkan tubuh sehingga tombak itu menyeleweng dekat lambungnya. Tangan kiri meyambar
menangkap tombak, ditarik dengan gentakan keras sehingga
tubuh lawan ikut mendekat, tangan kiri dengan jari-jari
terbuka menampar dengan Aji Pethit Nogo.............
"Bresssss.............
!!" Tubuh Sindupati terlempar dibarengi jeritnya dan terus menubruk jeruji jendela yang
menjadi patah-patah, tidak tahan menerima hantaman
tubuh yang sakti itu, dan tubuh Sindupati terus terlempar
keluar kamar, dan terbanting jatuh bergulingan. Pingsan!
Pukulan tadi amat kerasnya, dilakukan dalam keadaan
amarah meluap-luap oleh Tejolaksono. Kalau orang lain
tentu akan tancur remuk tulang-tulang iganya. Akan tetapi
karena Sindupati bukan orang biasa, kekebalannya
menyelamatkan nyawa dan ia hanya terlempar dan
terbanting pingsan seperti orang diseruduk gajah! "Endang........ ..... !" Tejolaksono melompat mendekati pembaringan. Hatinya lega melihat dan mendapat kenyataan bahwa kedatangannya belum terlambat. Untung sekalil Beberapa menit lagi saja terlambat tentu............. ah, ngeri ia membayangkan. Endang Patibroto meno!eh,
akan tetapi matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka
dan agak terengah sambil tersenyum, berbisik-bisik tak
menentu. Ketika Tejolaksono meraba dahi, terasa amat
panas. Cepat ia menyambar tubuh Endang Patibroto yang
panas dan lemas rtu setelah merapikan kembali pakaian
yang hampir telanjang, memanggulnya nenelungkup di atas
pundak kiri, merangkul kedua pahanya dengan lengan kiri
kemudian ia cepat membalikkan tubuh karena mendengar
gerakan orang-orang di pintu.
"Joko Wandiro! Lebih baik kau menyerah, percuma saja
kau melawan. Tempat ini telah terkepung ribuah orang
perajurit! Kalau melawan, akan hancur tubuh kalian di
bawah senjata kamil" kata Ki Patih Kalanarmodo yang
mengepalai sendiri pengejaran terhadap tawanan yang lolos
ini. Di sampingnya tampak Mayangkurdo, Klabangkoro
dan Klabangmuko serta senopati lainnya, senjata di tangan!
"Hail, orang-orang Blambangan! Dengarlah! Inilah aku
Adipati Tejolaksono, seorang ponggawa Kerajaan Panjalu
yang pantang menyerah! Jangan harap akan dapat
menangkap kami berdua sebelum pecah dadaku. Minggir!"
Tiba-tiba Tejolaksono menerjang maju, tangan kanannya
menyambar ke depan karena ksatria sakti ini telah
mempergunakan Aji Bojro Dahono untuk membuka jalan.
Ki Patih Kalanardomo dan Mayangkurdo adalah dua
orang tokoh sakti di Blambangan, dan mereka sudah
mengerahkan kekebalan untuk menahan pukulan jarak jauh
ini, namun tetap saja mereka terdorong roboh ke belakang,
terjengkang dan menabrak Klabangkoro dan Klabangmuko!
Ributlah keadaan di pintu itu dan Tejolaksono mempergunakan kesempatan ini untuk melesat keluar
melalui lubang jendela di mana tadi tubuh Sindupati
terlempar. Di luar jendela, tampak Sindupati yang hanya
mengenakan sebuah celana hitam sampai ke lutut, berdiri
dan mencak-mencak sambil berteriak-teriak,
"Tangkap............! Tangkap...........!" Akan tetapi dia
sendiri lari mundur saking gentar menghadapi Tejolaksono.
Ksatria ini tidak memperdulikannya, terus saja melesat ke
depan lari keluar dari pintu samping. Namun di sini ia
tertahan pula oleh barisan pengawal yang sudah
menghujankan tombak dan gobok ke arah tubuhnya.
Tejolaksono menangkis dan merampas sebatang golok.
Diputarnya gobok ini dan terdengarlah angin bersiutan,
goloknya berdering aneh dan yang tampak hanya segulung
sinar putih yang menyelimuti tubuhnya dan tubuh Endang
Patibroto. "Trang-trang-cring............. !!" Beberapa batang tombak
dan golok lawan patah-patah. Mereka mundur dan
Tejolaksono maju terus sambil memutar golok, mainkan
ilmu goloknya yang dahulu ia pelajari dari Ki Tejoranu,
pertapa perantau ahli golok. Itulah Ilmu Golok Lebah Putih
yang mengeluarkan suara mengaung seperti suara
serombongan lemah mengamuk keluar dari sarang mereka
yang terganggu. Senjata-senjata lawan beterbangan,
terdengar jerit kesakitan dan darah muncrat dari lengan
yang tertabas putus atau dari pundak yang terluka. Sebentar
saja ujung golok di tangan kanan Tejolaksono telah menjadi
merah oleh darah musuh. Ia mengamuk terus sambil
bergerak maju sampai akhirnya ia tiba di pekarangan depan
di mana musuh lebih banyak lagi mengurungnya. Kini ia
dihadapi oleh para senopati yang dipimpin oleh Ki Patih
Kalanarmodo. Terpaksa Tejolaksono tidak dapat melarikan
diri dan hanya rnemutar golok untuk melindungi tubuhnya
dan tubuh Endang Patibroto. Ah, kalau saja Endang tidak
menjadi korban racun, mereka berdua tentu akan dapat
membuka jalan darah dan menerobos keluar, pikir
Tejolaksono dengan menyesal. Dengan adanya Endang
Patibroto di sampingnya, mereka akan dapat mengamuk
dan mengatasi pengeroyokan sekian banyaknya lawan.
"Joko Wandiro............! " Bisikan lemah di dekat
telinganya membuat ia berdebar. Endang Patibroto telah
sadar! Biarpun masih lemas dan lemah, namun jelas sudah
ingat dan buktinya dapat mengenalnya!
"Jangan khawatir, Endang, aku melindungimu!" bisiknya
kembali dan "trangg!" ia membuat dua golok di tangan
Klabangkoro dan Klabangmuko patah sekaligus! Dua orang
kakak beradik raksasa ini menyumpah-nyumpah karena
telapak tangan mereka lecet-lecet. Cepat mereka telah
menyambar lain golok dari tangan anak buah mereka.
Sementara itu, lain-lain senopati sudah menyerbu dari
sekeliling Tejolaksono yang kembali harus memutar golok
dengan cepat dan kuat. Ia kini mengambil sikap bertahan sambil memasang
mata mencari bagian yang paling lemah untuk dapat
menerobos keluar. Ia pikir bahwa dalam keadaan terkurung
ini, sementara ia masih dapat bertahan, karena kalau tidak
terkurung, musuh dapat menghujankan anak panah dan ini
berbahaya. Akan tetapi kalau terus mempertahankan diri
terhadap kepungan yang demiklan ketatnya, sampai berapa
lama ia dapat bertahan" Andaikata pengeroyokan itu terjadi
di malam hari, ia masih mempunyai banyak kesempatan
meloloskan diri. Akan tetapi pada siang hari!
"Joko Wandiro............. , keteranganmu ...... tadi............. , bagaimana itu............. Aku tidak mengerti............" Kembali terdengar bisikan suara Endang
Patibroto yang kini mulai mengangkat muka dan lengannya
tidak lemas lagi melainkan kini dapat merangkul leher
menekan pundaknya. Sebelum menjawab, Tejolaksono mainkan Ilmu Golok
Lebah Putih dengan cepat dan mainkan jurus-jurus
pertahanan sehingga kini sinar golok putih bergulung-
gulung membungkus tubuh mereka berdua. Jangankan
hanya hujan senjata lawan, andaikata ada hujan air yang
deras sekalipun tubuh mereka takkan menjadi basah!
Setelah yakin bahwa pertahanannya cukup kuat dan untuk
sementara ia tidak akan dapat terancam, Adipati
Tejolaksono lalu membagi perhatiannya kepada Endang
Patibroto, lalu berbislk menjawab.
"Aku datang ke Blambangan bukan untuk menangkaprnu, Endang. Engkau, juga Panjalu dan
Jenggala, semua telah tertipu oleh Sindupati. Wiku
Kalawisesa adalah kaki tangan mereka dan kau sengaja
diadu domba. Darmokusurno tidak berdosa, maka
penyerbuan ke sana tentu saja menimbulkan salah faham.
Semua adalah hasil siasat Sindupati yang menjadi utusan
pemerintah Blambangan. Sadarlah............. kau hampir saja
menjadi korban............. !"
"Ah............. aku............. aku mengapa tadi?"..?"
Sindupati ............. ah, apa yang terjadi ............. ?" Suara
ini bercampur isak. "Si keparat itu harnpir saja mencemarkanmu, hampir
memperkosamu, Endang! Kau telah diracun sehingga
mabuk dan tidak wajar, tidak sadar............. Sindupati
adalah kaki tangan Blambangan yang mengatur semua
siasat. Dialah musuh besar kita............. !"
Endang Patibroto mengeluh. "Aahhhh ............. madu
itu............. ahhh............. kakang Sindupati............. dia............. dia............. !" Kembali Endang Patibroto
terisak, agaknya pikirannya yang mulai sadar teringat akan
segala peristiwa yang terbang dan saling muncul dalam
benaknya.

Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tenanglah, Endang. Kau tidak apa-apa. Belum
terlambat. Nyaris............. ah, Dewata masih melindungimu............. "
"Trang-trang-cring............. !!" Oleh percakapan itu,
perhatian Tejolaksono terpecah dan hampir saja ia menjadi
korban ketika senjata di tangan Ki Patih Kalanarmodo,
Mayangkurdo dan Klabangkoro berhasil menerobos
memasuki garis pertahanan gulungan sinar goloknya.
"Joko Wandiro............. kau lepaskan aku ............. kau
lepaskan, akan kuhancurkan kepalas mereka............. !"
Berdebar jantung Adipati Tejolaksono. Suara Endang
Patibroto itu! Itukah suara Endang Patibroto yang dahulu!
Penuh semangat, penuh keberanian, seperti suara seekor
harimau betina. Endang Patibroto sudah sadar sepenuhnya!
Dan ini merupakan cahaya yang membuka harapan baru
untuk kebebasan. "Tapi, kau masih lemah............. "
"Tidak! Tidak, lebih baik kita berdua mati dalam
perlawanan daripada aku mati memberatkan engkau
seorang diri menghadapi mereka. Turunkan aku, Joko
Wandiro!" Lengan kiri Tejolaksono yang memeluk kedua paha
wanita sakti itu dapat merasa betapa di balik kain yang
membungkus paha, di balik kulit paha yang halus itu kini
terasa bergerak-gerak penuh tenaga sakti, ia girang sekali
karena ini merupakan tanda bahwa Endang Patibroto tidak
lagi selemah tadi. Ia segera menurunkan tubuh itu,
melepaskan pelukannya, akan tetapi masih menjaga dan
waspada dengan permainan goloknya agar dapat melindungi tubuh Endang Patibroto.
Kedua kaki Endang Patibroto masih menggigil,
kepalanya masih agak pening, tubuhnya masih panas
terpengaruh racun perangsang nafsu. Akan tetapi begitu
telapak kakinya menginjak tanah, tubuhnya membalik dan
kedua tangannya bergerak menyambar.
"Desss............. ! Prakkkk............. !!" Dua orang
pengeroyok yang berada di belakang Tejolaksono roboh
dengan dada remuk dan kepala pecah terkena sambaran jari
tangan Endang Patibroto yang memukul dengan Aji Pethit
Nogo! "Bagus, Endang! Mari kita hajar mereka ini!" seru
Tejolaksono gembira sekali dan ia tidak mau kalah, sekali
bergerak, tangan kirinya menghantam roboh seorang lawan
dan goloknya membabat ke depan mengenai paha kiri
Klabangmuko yang memekik dan roboh dengan paha
robek. Ia cepat ditolong anak buahnya dan dibawa mundur.
"Mari, Joko Wandiro. Mari kita basmi orang-orang
Blambangan!" kata pula Endang Patibroto yang sudah
berhasil merobohkan seorang lawan sambil merampas
sebatang pedang, lalu mengamuk. Tubuhya masih lemah,
kepalanya masih pening, namun para pengeroyok itu
bukanlah tandingan wanita sakti ini.
Demikian girangnya hati Tejolaksono sehingga ia
kembali mengeluarkan pekik dahsyat Dirodo Meto lalu
bersumbar, "Hayoh orang-orang Blambangan! Babobabo!
Inilah Endang Patibroto dan Joko Wandiro, keturunan
orang-orang Mataram! Keroyoklah, kerahkan seluruh
perajurit Blambangan!!"
Hebat sekali amukan Tejolaksono dan Endang Patibroto.
Bertumpuk-tumpuk mayat para pengeroyok, bergelimpangan dan kini kedua orang yang perkasa itu telah
keluar dari pekarangan, sampai di jalan-jalan akan tetapi
selalu dikeroyok seperti dua ekor jengkerik dikeroyok
ribuan semut! Bukan hanya puluhan, ada ratusan orang
pengeroyok roboh tewas atau terluka parah. Sudah lima kali
Tejolaksono berganti golok yang sudah rompal, demikian
dengan Endang Patibroto. Namun, Endang Patibroto masih
belum sehat benar. Pengaruh racun masih amat
mengganggunya, membuat darahnya panas bergolak,
kepalanya pening, matanya mengantuk! Dan pengeroyokpun amatlah banyaknya, ada ribuan orang
banyaknya! Mulailah kedua orang gagah ini terdesak.
Tejolaksono boleh jadi gagah perkasa, sakti mandraguna,
namun iapun hanya seorang manusia dari darah dan
daging. Ia mulai lelah. "Joko Wandiro............. mari kita melarikan diri.............
aku............. aku............. ah, panas sekali tubuhku.............
pening kepalaku............" Biarpun berkata demikian,
namun seorang pengeroyok yang terlalu dekat terbelah
dadanya oleh pedang di tangan wanita sakti ini!
"Kurungan terlalu rapat............. tak mungin lari.............
, mari kita menyerbu ke istana saja, Endang............"
Tejolaksono menubruk maju merobohkan dua orang
pengeroyok. "Ke............. istana............. ?""
"Ya, kita serbu istana dan tawan adipati, baru ada
harapan kita selamat. Hayolah............. !!"
Endang Patibroto mengerti apa yang dimaksudkan
Tejolaksono. Memang melihat banyaknya pengeroyok,
kiranya tak akan mudah meloloskan diri, apalagi karena dia
sendiri masih lemah dan mabuk. Dan kalau mereka berhasil
menawan Adipati Menak Linggo, mereka dapat memaksa
adipati itu membebaskan mereka! Endang Patibroto lalu
mengerahkan tenaga, menahan kepeningan kepalanya lalu
mengamuk di samping Tejolaksono. Amukan dua orang
sakti ini membuat para pengeroyok terdesak mundur.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Tejolaksono untuk
menyambar tangan Endang Patibroto, diajaknya meloncat
tinggi melampaui kepala para pengeroyok naik ke atas atap.
"Kejar............. !!!"
"Siap barisan panah............. !!!"
Tejolaksono dan Endang Patibroto memutar cepat
pedang dan golok rampasan mereka ketika mendengar
bersiutnya banyak anak panah menyambar mereka. Anak-
anak panah itu runtuh semua ke bawah atap. Akan tetapi
para pengeroyok itu sudah mengejar, dan ke mana pun juga
dua orang sakti itu melompat dan lari, mereka selalu
dikurung dari bawah dan dihujani anak panah. Tejolaksono
dan Endang Patibroto lari terus sampai tiba di atas atap
istana. Hari telah mulai menjadi senja. Setengah hari
mereka tadi bertanding menghadapi keroyokan ratusan
orang perajurit itu. "Mari kita turun!" kata Tejolaksono. Mereka meloncat
turun dan kembali para pengawal mengeroyok mereka
sambil berteriak-teriak. Dua orang ini mengamuk lagi, sambil mencari kesempatan untuk menyerbu ke dalam istana. Tiba-tiba terdengar sambaran anak panak yang banyak sekali. Anak-anak panah ini berbeda dengan yang tadi, menyambarnya dengan kecepatan yang luar biasa tanda bahwa yang melepaskan adalah seorang ahli. Dan melihat banyaknya tentulah banyak orang pula yang
melepaskan anak-anak panah itu. Endang Patibroto dan
Tejolaksono cepat memutar senjata menangkis, dan............. terdengar jerit-jerit mengerikan ketika belasan
orang perajurit pengeroyok menjadi korban anak-anak
panah ini. Akan tetapi anak-anak panah itu meluncur terus
sebagai hujan. Endang Patibroto menjerit lirih. Pahanya terkena anak
panah. Karena ia pening dan lelah, dan karena anak-anak
panah yang menyambar itu amat kuat dan cepat, akhirnya
ia termakan oleh anak panah pada paha kirinya, jauh di atas
dekat pangkal pahanya. Ia terhuyung-huyung dan
Tejolaksono cepat meloncat dekat dan memutar golok
melindungi tubuh Endang Patibroto.
"Kuatkan tubuhmu............. hayo kita lari ke dalam !!"
Tejolaksono membiarkan Endang Patibroto lari lebih dulu,
sedangkan ia melindungi dari belakang dengan putaran
golok. Kiranya pihak lawan telah menggunakan ahli panah
yang luar biasa dan bahkan mereka tidak segan-segan
mengorbankan belasan orang perajurit menjadi korban anak
panah mereka sendiri. Endang Patibroto berhasil memasuki gerbang pendopo
dan pada saat Tejolaksono hendak menyelinap masuk,
punggungnya terasa nyeri sekali. Kiranya sebatang anak
panah telah menancap di punggungnya! la mengerahkan
hawa sakti di tubuh menahan sakit dan alangkah kagetnya
ketika ia merasa betapa bagian yang terkena anak panah itu
panas dan gatal-gatal tanda bahwa anak panah itu ujungnya
diberi racun! "Cepat! Kita masuk ke dalam, harus tangkap adipati
sekarang juga!!" katanya tergesa-gesa. Maklumlah ia bahwa
setelah kini dia dan Endang Patibroto terluka, dan anak
panah itu mengandung racun pula, kalau mereka tidak
lekas-lekas dapat menawan sang adipati, tentu akan celaka!
Beberapa orang pengawal istana yang menghadang
mereka, dapat dengan mudah mereka robohkan. Kemudian
mereka terus lari memasuki istana, mencari sang adipati di
dalam kamarnya. Endang Patibroto yang terpincang-
pincang menjadi petunjuk jalan. Tejolaksono melindungi
dari belakang. Setelah masuk ke dalam istana mereka aman
dari serangan anak panah. Akan tetapi sunyi sekali di dalam
istana itu. Bahkan seorangpun abdi dalem tiada tampak.
Yang tampak hanya beberapa orang pengawal istana yang
kadang-kadang menyambut mereka namun dengan mudah
mereka robohkan. Tiba-tiba terdengar suara ketawa terbahak-bahak. Suara
ketawa Sang Adipati Menak Linggo! Girang sekali hati
Endang Patibroto dan Tejolaksono. Suara itu keluar dari
sebuah kamar yang tertutup pintunya. Setahu Endang
Patibroto, kamar ini bukan kamar tidur, bukan pula kamar
sidang, melainkan kamar belakang. Tejolaksono lalu
menghampiri pintu kamar dan menendang daun pintunya
yang seketika pecah berantakan. Tampaklah kini di sudut
kamar itu, sebelah dalam, Adipati Menak Linggo duduk di
kursi gading, memangku seorang selir yang muda dan
cantik, dan di belakangnya berdiri pula Raden Sindupati, Ki
Patih Kalanarmodo, dan senopati Mayangkurdo yang
kesemuanya memegang senjata tajam di tangan!
Keadaan dua orang sakti ini sesungguhnya sudah payah.
Keringat membasahi seluruh tubuh dan mereka Telah
Lebih-lebih Endang Patibroto yang masih berada dalam
pengaruh racun perangsang nafsu. Kini anak panah beracun
pula menancap di paha, belum dicabutnya. Alga anak
panah yang menancap di punggung Tejolaksono belum
tercabut. Namun dua orang sakti ini tidak menjadi gentar,
bahkan kini timbul harapan baru ketika mereka melihat
Adipati Menak Linggo. Akan tetapi, Endang Patibroto yang melihat Raden
Sindupati di situ, sama sekali tidak perduli lagi akan sang
adipati. Seluruh perhatiannya tertuju kepada Sindupati. Ia
memandang dengan kebendan dan kemarahan yang
meluap-luap, seolah-olah hendak ditelannya hidup-hidup
senopati muda itu yang telah mempermainkannya, betapa
ia telah berbaik dengan senopati itu, betapa ia telah
menganggapnya sebagai seorang sahabat baik, betapa ia
hampir saja ternoda, diperkosa oleh Sindupati! Saking
marahnya, Endang Patibroto sampai menggigil tubuhnya
dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata.
"Huah-ha-ha-ha! Joko Wandiro dan Endang Patibroto.
Dua orang yang amat hebat!" Adipati Menak Linggo
tertawa bergelak. "Akan tetapi akan menemui ajal di
Blambangan kecuali kalau kalian suka menakluk!"
Endang Patibroto mengeluarkan lengking mengerikan
disusul bentakannya,

Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Sindupati ,jahanam keji!!" Tubuhnya sudah menerjang:masuk ke dalam kamar itu.
"Endang, hati-hati 1" Tejolaksono terpaksa menerjang
masuk pula untuk melindungi temannya. Tadinya ia
menaruh curiga, akan tetapi melihat Endang Patibroto
sudah melompat masuk, ia tentu saja tidak mau
membiarkan temannya itu terancam bahaya.
Begitu kaki kedua orang sakti yang melompat ini
menyentuh lantai............. "kraaaaakkkk !!" lantai itu
terbuka ke bawah dan tanpa dapat dicegah lagi tubuh kedua
orang ini terjun ke dalam lubang. Suara ketawa Sang
Adipati Menak Linggo menggema mengikuti jatuhnya dua
orang itu! Tejolaksono cepat meraih tangan Endang Patibroto dan
dengan menggunakan Aji Bayu Sakti, ia dapat menahan
luncuran tubuh sehingga ketika kaki mereka tiba di dasar
sumur, tidaklah terbanting keras.
"Ah............. keparat............. kita tertipu, Joko Wandiro............. !!" Endang Patibroto mengeluh.
"Kau duduklah istirahat, Endang. Pahamu terluka dan
kalau aku tidak keliru sangka, tentu anak panah itu beracun,
seperti yang menancap di punggungku. Paling perlu kita
harus mencegah menjalarnya racun. Bagaimana rasanya?"
"Memang beracun. Panas dan gatal-gatal," jawab
Endang Patibroto sambil menjatuhkan diri duduk di lantai
sumur itu dan bersandar pada dinding. Ternyata sumur ini
adalah sumur buatan manusia, dindingnya dari batu yang
amat keras, lantainyapun dilapis besi sehingga tidak
mungkin menggati terowongan. Tempatnya cukup luas,
segi empat dan tidak kurang dari lima meter panjangnya.
Keadaan di situ remang-remang, mendapat sinar dari atas
karena setelah mereka termasuk perangkap, lubang sumur
di atas itu dibuka terus dan dijaga kuat.
"Endang Patibroto............. dalam keadaan seperti ini,
kau maafkan aku, ya" Tiada jalan lain untuk mengatasi
racun anak panah kecuali menghisap racunnya keluar.
Dapatkah kau mengisap luka anak panah yang menancap di
pahamu?" Endang Patibroto tidak menjawab, lalu mengerahkan
tenaga mencabut keluar anak panah yang menancap di
pahanya. Darah yang menghitam akan tetapi hanya sedikit
sekali, mengalir keluar. Karena memang pakaiannya tadi
terobek oleh Sindupati, maka dengan mudah ia menyingkap
bagian paha yang terluka itu, lalu ia menundukkan muka ke
arah paha sambil mengangkat kakinya. Namun, betapapun
ia membungkuk, tak mungkin mulutnya mencapai paha
yang terluka. Mulutnya hanya dapat mencapai paha di atas
lutut saja, sedangkan yang terluka adalah dekat pangkal
paha! Adipati Tejolaksono dalam keadaan remang-remang itu
hanya melihat saja dan merasa kasihan. Ia sudah
memeriksa keadaan ruangan ini, mendapat kenyataan
bahwa tidak ada jalan keluar bagi mereka, kecuali melalui
lubang yang berada di atas itu, yang tingginya tidak kurang
dari lima belas meter! Ruangan di bawah tanah yang
menjadi penjara mereka ini dilapis besi semua! Kini ia
mendekati Endang Patibroto dan berkata,
"Endang Patibroto, kalau tidak dikeluarkan racun
itu............. akan berbahaya. Bolehkah aku............. membantumu?" Ia ragu-ragu karena tempat yang terkena
adalah paha, tempat yang tentu saja merupakan bagian
terlarang untuk disentuh orang apa lagi laki-laki!
Kesuraman tempat itu menyembunyikan warna merah
yang menjalar di seluruh muka Endang Patibroto, sampai
telinga dan lehernya. Ia menunduk dan tidak menjawab.
Kepalanya masih pening, dadanya panas sekali dan ia diam
tak bergerak seperti arca, tidak kuasa menjawab.
Tejolaksono dapat memahami perasaan Endang Patibroto,
maka dengan hati-hati ia mendekati, duduk dan berkata
perlahan, "Sekali lagi maafkan aku, Endang. Dalam keadaan
seperti ini, segala perasaan sungkan harus ditindas. Yang
terpenting adalah menyelamatkan diri dari bahaya racun
yang mengancam kita, baru kita mencari jalan untuk
berusaha keluar dari sini. Bolehkan aku membantu
mengeluarkan racun itu?"
Endang Patibroto masih menunduk dan hanya dapat
mengangguk. Tejolaksono lalu membungkuk dan tanpa
ragu-ragu menempelkan mulutnya pada paha yang berkulit
halus, putih, dan panas itu. Pendekar sakti ini
menggunakan seluruh kekuatan batinnya untuk menutup
semua panca indra, terutama sekali menutup perasaannya
sehingga yang terasa olehnya hanyalah luka yang harus ia
hisap dan keluarkan darahnya yang telah keracunan. la
menahan napas dan menggunakan tenaganya menghisap
sampai mulutnya penuh dengan darah yang memancar
keluar dari lubang luka, untuk kemudian diludahkan dan
dihisap lagi. Endang Patibroto yang tadinya menundukkan muka,
kini mengangkat mukanya tengadah, keningnya berkerut-
kerut, bibirnya digigit. Hampir ia tidak kuat menahan,
bukan karena nyeri, melainkan karena ia merasa tersiksa
bukan main. Rangsangan racun pada tubuhnya masih
mengamuk hebat, membuat seluruh tubuhnya panas,
membuat perasaannya haus akan kemesraan, membuat ia
ingin sekali menerima belaian cinta kasih pria! Dan
kini............. merasa betapa mulut Joko Wandiro menempel
di paha, tempat yang amat perasa, betapa mulut yang basah
dan panas itu menghisap, hampir saja ia tidak kuat
bertahan. Napasnya makin terengah-engah dan ia harus
menggenggam dan mencengkeram jari-jari tangannya
sendiri agar jangan mencengkeram dan merangkul Joko
Wandiro! Hebat bukan main siksaan batin ini dan kedua
pipi Endang Patibroto sampai penuh dengan air mata yang
bercucuran dari kedua matanya. la membayangkan wajah
suaminya, terus berpegang kepada suaminya, kepada
kesetiaannya terhadap suaminya almarhum agar dari situ ia
mendapat tambahan tenaga untuk melawan rangsangan
nafsu berahi yang memuncak!
Akhirnya selesailah siksaan yang dirasakannya amat
lama itu. Terdengar suara Joko Wandiro seakan-akan
terdengar dari jauh, seperti dalam mimpi, "Beres sudah,
Endang. Semua racun telah keluar dan kau boleh sekarang
menghimpun tenaga sakti untuk memulihkan tenagamu."
Endang Patibroto membuka mata, menggunakan
punggung tangan kiri menghapus air matanya. "Terima
kasih, Joko Wandiro. Sekarang kau membaliklah, biar aku
membersihkan racun di punggungmu."
Tejolaksono mengangguk, lalu membalikkan tubuh,
duduk bersila membelakangi Endang Patibroto. Wanita
perkasa ini lalu menggunakan tangan mencabut anak panah
yang menancap di punggung, membuka baju Tejolaksono
dan seperti yang dilakukan oleh adipati ini tadi, iapun lalu
menempelkan mulutnya pada luka bekas anak panah dan
menyedot. Tejolaksono harus mengerahkan tenaga batin
untuk melawan perasaan aneh yang menyerang hatinya
ketika ia merasa betapa bibir yang lembut dan panas itu
menempel punggungnya. Iapun menderita, akan tetapi
tidaklah sehebat penderitaan Endang Patibroto yang harus
pula menahan serangan racun perangsang yang masih
menguasai dirinya. Akhirnya selesailah cara pengobatan yang sederhana itu.
Racun telah keluar semua dari punggung Tejolaksono dan
mereka kini duduk bersila, bersamadhi dan mengatur
pernapasan untuk memulihkan tenaga. Bahaya maut yang
mengancam mereka melalui racun anak panah sudah
terlewat. Akan tetapi bahaya yang lebih besar lagi
terbentang di depan mata! Mereka terkurung dan tidak
mungkin dapat keluar dari dalam sumur. Seakan-akan
mereka berdua telah terkubur hidup-hidup!
"Hujani anak panah saja!"
"Kubur saja mereka dan tutup lubang ini dengan batu-
batu besar!" "Alirkan saja air sungai ke dalam lubang agar mereka
mati tenggelam seperti dua ekor tikus!"
Suara-suara ini mereka dengar dari atas sumur dan
tampak bayangan-bayangan di atas itu. Mereka berdua
hanya dapat menekan batin melawan kengerian, akan tetapi
mereka maklum sedalamnya bahwa semua ancaman itu
kalau dilaksanakan, akan mengakibatkan mereka tewas di
dalam sumur. Tiada bedanya. Apapun yang mereka akan
lakukan, akhirnya mereka akan mati!
"Huah-ha-ha-ha, enak benar kalau mereka dibikin mati
begitu saja! Tidak, si wanita iblis Endang tidak boleh mati
terlalu enak begitu! Biarkan mereka kelaparan sampai
mampus di dalam lubang. Ha-ha-ha!"
Ucapan ini, yang biarpun suaranya berubah terdengar
dari dalam lubang itu, dapat mereka duga adalah suara
Adipati Menak Linggo. Dengan adanya ucapan itu agak
legalah hati Endang Patibroto dan Tejolaksono. Ucapan
sang adipati merupakan keputusan dan hal ini berarti
mereka tidak akan mati seketika, masih akan dapat
bertahan sampai beberapa hari. Dan selama nyawa masih
berada di dalam tubuh, mereka tidak akan putus asa!
Setelah bersamadhi agak lama, pulih kembali tenaga
mereka. Juga Endang Patibroto tidaklah terlalu tersiksa
seperti tadi, sungguhpun pengaruh jamu perangsang itu
masih belum meninggalkan tubuhnya. Memang hebat sekali
daya rangsang racun jamur belang. Sekali memasuki tubuh
lewat makanan atau minuman, racun jamur belang ini akan
memasuki darah dan tidak akan punah sebelum si korban
terlampiaskan dan terpuaskan nafsunya!
Setelah pulih kembali tenaga mereka, mulailah dua
orang sakti ini memeriksa keadaan dasar sumur atau
ruangan bawah tanah itu. Mereka memeriksa dan meraba-
raba akan tetapi ternyata bahwa benar-benar tidak ada jalan
keluar melalui bawah. Dinding sebelah kiri adalah batu
gunung yang menghitam dan kuat sekali, demikian pula
dua dinding yang lain. Adapun dinding di kanan malah
dilapis besi, sedikitpun tak dapat digeakkan. Mereka sudah
mencoba untuk menghantam dengan telapak tangan
mereka sambil mengerahkan aji kesaktian, namun dinding-
dinding itu hanya tergetar saja dan sedikit batu remuk,
namun dinding tetap tertutup rapat! Mereka sudah pula
berusaha meloncat ke atas mengerahkan Aji Bayu Sakti,
namun sia-sia. Tak mungkin meloncat keluar dari tempat
sedalam itu, apalagi meloncat secara tegak lurus begitu.
Habis sudah akal mereka pergunakan, semua tenaga
mereka kerahkan, namun sia-sia. Andaikata mereka dapat
mencapai atas sumur, tetap saja mereka akan berhadapan
dengan penjagaan yang amat ketat, dan sebelum dapat
keluar tentu akan dihujani anak panah sehingga terpaksa
harus turun kembali! Tejolaksono menindas perasaannya, bersikap tenang. Ia
mengajak Endang Patibroto duduk bersila di lantai,
berhadapan. "Tidak ada jalan untuk lolos, Endang
Patibroto, akan tetapi aku tetap yakin bahwa selama Hyang
Widhi belum menghendaki kita mati, tentu kita akan dapat
lolos juga akhirnya."
Endang Patibroto menghela papas. panjang. Sudah
semalam suntuk mereka berusaha mencari jalan keluar
dengan sia-sia. Kini agaknya hari telah siang kembali,
melihat sinar terang yang turun dari lubang di atas. Kadang-
kadang tampak bayangan kepala orang di atas lubang, akan
tetapi biarpun ada orang menjenguk dari atas, dasar lubang
terlampau dalam sehingga takkan tampak. Apalagi, dasar
lubang itu merupakan ruangan tiga kali lebih luas daripada
mulut lubang sehingga mereka berdua dapat duduk agak
terlindung ke pinggir, tidak tepat di bawah lubang sumur.
Endang Patibroto juga tidak merasa takut_ atau susah
hatinya. Entah bagaimana, ia malah merasa senang
menghadapi kematian di dalam kuburan ini! Ia sendiri tidak
mengerti mengapa hatinya merasa begini. Yang ia tahu
bahwa ia tidak sedih karena di situ ada Joko Wandiro.
"Joko Wandiro, akupun tidak takut menghadapi
kematian. Apakah artinya kematian bagi seorang yang
sengsara seperti aku" Ahhh, daripada mengenang kesengsaraanku, lebih baik kau ceritakan kembali, kini yang
jelas, tentang segala pengalamanmu. Aku masih merasa
seolah-olah dalam mimpi mendengar keteranganmu
kemarin yang amat mengejutkan hatiku."
"Memang siasat Adipati Blambangan amat busuk,
Endang. Demikian rapi dan pandai siasat itu dijalankan
sehingga aku tidak bisa menyalahkan engkau. Baiklah
kuceritakan sejelasnya agar kau dapat mengerti. Mula-mula
aku diperintah oleh sang prabu di Panjalu untuk
menyelidiki pembunuhan-pembunuhan aneh yang terjadi di
Panjalu dan Jenggala, yang memakan korban nyawa
banyak ponggawa penting. Berangkatlah aku segera ke
Panjalu dan di sana aku mendengar tentang penyerbuanmu
ke istana Pangeran Darmokusumo. Dapat kau bayangkan
betapa terkejut dan heran hatiku. Pangeran Darmokusumo
adalah suami adik suamimu sendiri, dan di antara kau dan
dia ada permusuhan. Kalau kau sudah menyerbu seperti itu,


Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sudah pasti ada alasan-alasan yang sangat kuat. Selain itu,
aku mendengar desas-desus bahwa engkaulah orangnya
yang melakukan pembunuhan-pembunuhan aneh itu. Hal
inipun aku tidak percaya, sama sekali karena aku yakin
bahwa kau bukanlah seorang yang sudi melakukan
pembunuhan secara demikian pengecut dan keji. Tanpa
berlaku pengecut dan sembunyi-sembunyi, apa sukarnya
kalau kau memang mau membunuh mereka" Mereka itu
sama sekali bukan lawanmu. Maka berangkatlah aku ke
Jenggala dengan maksud menemuimu sendiri dan bertanya
kepadamu secara berterang tentang penyerbuanmu ke
Panjalu itu. Dan di Jenggala aku mendengar bahwa kau
telah membebaskan suamimu yang dipenjara oleh Sang
Prabu Jenggala!" Tejolaksono berhenti sebentar, memandang wajah yang
termenung dan kini alis yang indah bentuknya itu
mengerut, sinar mata itu jelas membayangkan kedukaan
besar. "Aku terkejut sekali dan makin terheran-heran. Tentu
telah terjadi sesuatu yang amat aneh. Entah kejadian apa
dan baru setelah aku bertemu denganmu akan dapat
terbuka semua rahasia itu. Maka aku lalu mulai
mencarimu. Aku sudah mempunyai dugaan bahwa dalam
hal ini tentu terselip rahasia yang besar, dan bahwa orang
yang mempunyai keinginan merusak Jenggala dan Panjalu,
tentulah musuh besar kedua kerajaan itu. Dan siapa musuh
besar yang pada saat ini paling kuat kecuali Blambangan"
Dengan dasar inilah maka aku segera berangkat ke
Blambangan untuk mengusut rahasia itu."
Endang Patibroto menghela napas panjang. "Engkau
selalu jauh lebih cerdik daripada aku, Joko Wandiro. Aku
sudah tertipu dan terbujuk............. "
"Tidak, Endang. Bukan karena aku lebih cerdik,
melainkan mungkin lebih teliti dan hati-hati. Dan kebetulan
sekali di tengah jalan aku bertemu dengan Ki Brejeng yang
menceritakan segala macam rahasia itu. Ki Brejeng menjadi
ponggawa Blambangan dan dipercaya untuk ikut dalam
pasukan Sindupati." "Si keparat jahanam Sindupati! Ahh ............. aku akan
mati penasaran sebelum dapat menghancurkan kepala
jahanam keji itu" "Dia memang amat jahat dan cerdik bukan main. Aku
telah memukulnya dengan Aji Pethit Nogo, akan tetapi
ternyata ia belum mati. Selain cerdik ia juga sakti. Karena
kecerdikannya itulah maka dia diserahi pimpinan pasukan
untuk mengacau Jenggala dan Panjalu. Dan Sindupati
menjalankan siasatnya dengan amat baiknya. Kau tentu
ingat akan mendiang Bhagawan Kundilomuko penyembah
Bathari Durgo itu, bukan" Nah, Bhagawan Kundilomuko
adalah paman dari Adipati Menak Linggo, maka Adipati
Blambangan mendendam kepadamu dan berpesan kepada
Sindupati agar mencelakaimu atau sedapat mungkin
membunuhmu." "Mengapa Ki Brejeng tidak menceritakan semua itu
kepadaku?" "Biar pun tidak bercerita kepadamu karena takut kepada
Sindupati, namun diam-diam Ki Brejeng setia kepadamu,
Endang. Nanti akan kuceritakan tentang itu. Menurut
penuturan Ki Brejeng, Sindupati mempergunakan dukun
lepus Sang Wiku Kalawisesa untuk membunuh-bunuhi para
ponggawa penting kedua kerajaan untuk melemahkan
kedua kerajaan itu. Di samping itu, Sindupati menyebar
desas-desus untuk menjatuhkan nama baikmu. Setelah kau
berhasil memaksa Wiku Kalawisesa mengaku, sang wiku
yang jahat itu makin menjerumuskan engkau dengan
mengaku bahwa Darmokusumo yang menyuruhnya.
Demikianlah, tentu saja pihak Panjalu makin menyangka
buruk kepadamu ketika kau menyerbu ke sana. Dan Sang
Prabu Jenggala setelah melihat bukti penyerbuanmu itu,
tentu saja menjadi marah dan menahan suamimu. Engkau
menyerbu penjara, memaksa suamimu bebas, kemudian
melarikan diri. Nah, tentu saja kalau aku tidak bertemu dan
mendengar cerita Ki Brejeng, akupun akan menyesalkan
semua yang kau lakukan itu. Ki Brejenglah yang membuka
semua rahasia itu." "Kenapa dia mati" Menurut Sindupati si laknat, Ki
Brejeng melarikan diri karena ingin hidup bebas."
"Ha, memang Sindupati pandai berdusta. Ki Brejeng
melihat betapa engkau hendak dibunuh dengan racun,
maka ia yang masih setia kepadamu mencegah perbuatan
itu dengan mengganti makananmu yang, teracun.
Akibatnya, ia disiksa dan dilempar ke dalam jurang dan
disangka sudah mati. Siapa kira, Ki Brejeng memilikl daya
tahan luar biasa, sampai tiga malam masih belum mati
sehingga ketika aku lewat, dia dapat bertemu dan bicara
denganku." Sepasang mata Endang Patibroto bersinar-sinar penuh
kemarahan dan kebencian. "Hemm............. si keparat Sindupati! Dan kalau teringat
betapa aku selalu menganggapnya orang baik-baik, seorang
sahabat sejati............. ahh, aku malu kepada diri sendiri.
Alangkah bodohku............. !"
"Bukan kau yang bodoh, Endang........... ," kata
Tejolaksono menghibur, "melainkan Sindupati yang terlalu
licik dan cerdik. Akan tetapi, ada sebuah hal yang amat
menggelisahkan hatiku. Mengapa engkau di Biambangan
seorang diri saja, Endang Patibroto" Di manakah kau
sembunyikan Pangeran Panjirawit, suamimu.............?""
Endang Patibroto menarik napas dari mulut keras-keras
seperti tersedak. Ia memandang kepada Tejolaksono dengan
sepasang mata terbelalak dan muka pucat. Melihat
Tejolaksono mengira bahwa wanita yang keras hati ini
kembali kurang percaya kepadanya karena kekurangpercayaan itu memancar dari pandang matanya,
maka ia cepat menyambung, "Kurasa............. kalau ada
sang pangeran, beliau tentu tidak akan begitu mudah
terbujuk, bersekutu dengan Blambangan."
"Endang............. ! Endang............. ! Kau kenapa. ......
?"" Tejolaksono terkejut dan heran sekali karena wanita itu
tiba-tiba menangis sesenggukan. Jantungnya berdebar keras
penuh kekhawatiran dan prasangka buruk.
"Aduh............. , Joko............. kau............. kau benar-
benarkah tidak tahu............. " Apakah kau tidak mendengar
dari Ki Brejeng....?" Tejolaksono menggeleng kepala. "Dia
tidak menyebut-nyebut tentang suamimu ?""
Tangis Endang Patibroto makin mengguguk dan dengan
suara tersendat-sendat ia berbisik, "............. dia............. dia
suamiku ............. dia telah tewas............. !"
"Duh Jagad Dewa Bathara............. !!!"
Tejolaksono berseru kaget sekali dan saking terharu
hatinya, la menerima tubuh Endang Patibroto yang
menelungkup, memeluk pundak wanita itu yang menangis
sesenggukan sepertl anak kecil sehIngga muka itu
membasahi dadanya. Sampai lama Endang Patibroto
menangis. Baru sekali ini ia dapat menumpahkan seluruh
kedukaan yang terkumpul di hati dan tangisnya kali ini
seperti air bah yang jebol tanggulnya. Ia merintih-rintih dan
memanggil nama suaminya, memeluk pinggang Tejolaksono, membenamkan mukanya di dada yang bidang
Itu. Tejolaksono............. mengelus-elus.............
kepala Endang Patibroto. Hatinya penuh keharuan. Betapa
buruknya nasib wanita Ini, piklrnya. Terbayanglah ia
semenjak Endang Patibroto masih kecil. Demikian
banyaknya percobaan hidup, demikian banyaknya kenyataan pahit harus ditelan oleh Endang Patibroto.
Kemudian, setelah mengalami masa bahagia bersama
suaminya hanya untuk beberapa tahun saja, kini sudah lagi
harus menderita sengsara yang amat hebat.
Akan tetapi, sebagai jawaban, Endang Patibroto
menangis makin mengguguk sehingga Tejolaksono menjadi
bingung dan hanya dapat mendekap erat-erat sambil
mengelus-elus rambut yang halus itu. Setelah mereka tangis
yang menggelora, Endang Patibroto menarik napas
panjang, terisak dan tanpa mengangkat mukanya dari dada
Tejolaksono ia berbisik, "Ia terbunuh ketika aku melarikannya, terkena anak
panah yang datang bagaikan hujan............. "
"Aduh, kasihan kau Endang Patibroto ......!"
Joko Wandiro atau Tejolaksono kini dapat merasakan
betapa hebat penderitaan batin yang menimpa wanita ini.
Dengan mata basah ia lalu mendekap kepala Endang
Patibroto dengan maksud hatl menghiburnya. Sementara
Itu, Endang Patibroto menangis lagi sampai tubuhnya
tergoyang-goyang dalam pelukan Tejolaksono. Sampai
lama mereka berpelukan di dasar sumur itu, dan akhirnya
tangis Endang Patibroto terhenti. Namun ia tidak bangkit
dari atas dada Tejolaksono dan berkata lemah,
"Joko Wandiro............. sejak dahulu............. alangkah
baiknya engkau terhadap diriku. Aku dahulu seperti orang
buta. Engkau............. engkau selalu baik kepadaku, Joko
Wandiro............. "
Berdebar jantung Tejolaksono. "Endang, kau lupa, aku
sekarang adalah Adipati Tejolaksono............. " katanya
sambil menekan perasaannya.
"Bagiku kau tetap Joko Wandiro yang baik hati, yang
selalu mengalah kepadaku............. "
"Hemm, dan kau dahulu membenci aku, membenciku
setengah mati dan memusuhiku............. " Tejolaksono
tersenyum, teringat akan watak wanita ini dahulu yang
amat keras. Maka amatlah mengherankan melihat wanita
ini sekarang menangis begitu sedihnya, dan memeluknya
seperti ini. Hampir tak dapai dipercaya!.
Tiba-tiba Endang Patibroto merenggut tubuhnya terlepas
dari pelukan Tejolaksono.
Jilid VIII IA DUDUK bersimpuh di depan pria itu, matanya
memandang dengan tajam, wajahnya yang masih basah itu
pucat, rambutnya kusut, namun menambah kecantikannya
yang aseli, cantik jelita sehingga mengharukan hati
Tejolaksono yang memandangnya.
"Tidak............ ! Tidak, Joko Wandiro! Aku tidak pernah
membencimu! Tidak............ belum pernah aku membencimu!" Mata itu memandang dengan pancaran
sinar yang membikin Tejolaksono terkejut dan bingung.
Begitu tajam, begitu mesra, begitu penuh perasaan
dan............ mengandung cinta kasih seperti kalau mata
Ayu Candra memandangnya! Ia cepat menekan hatinya.
"Ah, Endang Patibroto, engkau dahulu selalu memusuhiku, bukan" Semenjak kita kecil ?"."
"Tentu saja, karena aku tidak mau kalah olehmu. Aku
ingin menang darimu, ingin kaukagumi. Aku tidak pernah
mau kalah oleh siapa juga, teristimewa oleh engkau Joko
Wandiro. Akan tetapi, akhirnya aku harus mengakui
keunggulanmu dan............ dan hal itu tidak membuatku
benci?".." "Tetapi setelah kita dewasapun, kau selalu memusuhiku.
Kau membenciku!" "Tidak! Memang kita selalu bertentangan, keadaan
keluarga kita yang melibat kita sehingga terjadi pertentangan. Akan tetapi. ...... , aku tak pernah
membencimu, Joko Wandiro. Di sudut hatiku, tak pernah
lenyap aku............ aku............ ah, perlu apa aku berpura-
pura lagi" Kita sekarang menghadapi maut di depan mata.
Kita takkan dapat lolos dart sini, hal ini aku yakin benar.
Kita pasti akan mati di sini; entah berapa hari lagi. Karena
itu, karena kita berdua akan mati bersama di sini, tak perlu
lagi akuberpura-pura, tak perlu lagi malu-malu. Andaikata
kita tidak menghadapi kematian yang tak mungkin dapat
dihindarkan lagi, sampai matipun aku tentu tidak sudi
membuka mulut mengadakan pengakuan ini. Joko
Wandiro, engkau keliru besar kalau mengira bahwa dahulu
aku membencimu. Tidak sama sekali! Ingatkah engkau di
dalam hutan itu, ketika engkau dari belakang memelukku"
Dari belakang engkau mendekap dan menciumku" Kalau
aku membencimu, tentu sudah kupukul mati kau di saat itu
selagi engkau tidak siap! Akan tetapi tidak! Aku tidak
menyerangmu, aku menggigil karena bahagia! Akupun
merasa bahagia sekali ketika sebelum meninggal ayah
berpesan agar aku berjodoh denganmu. Tidak, Joko
Wandiro. Aku tidak membencimu ketika itu. Aku............


Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

aku cinta kepadamu! Nah, dengar engkau sekarang"
Menghadapi kematian aku tidak malu-malu lagi mengaku.
Aku cinta kepada-mu."
"Endang............ !!" Joko Wandiro atau Adipati
Tejolaksono berseru kaget, matanya terbelalak memandang,
hampir tidak percaya akan pendengaran telinganya ketika
mendengar pengakuan yang tak pernah disangka-sangkanya
ini. Kemudian dengan suara gemetar ia mencoba untuk
membantah, "Tapi............ kau hendak membunuhku............ , ingatkah pertandingan di badai itu"
Berebutan keris pusaka Brojol Luwuk?"
"Tentu saja, Joko Wandiro." Endang Patibroto menghela
napas panjang. "Tentu saja. Hati siapa yang tidak sakit
karena ditolak cintanya" Engkau menolak dijodohkan
denganku. Engkau memilih Ayu Candra!"
Melihat kini wanita itu menunduk dan mengalirkan air
mata, Tejolaksono menghela napas panjang,, menekan
perasaannya yang menggelora, lalu berkata lirih,
"Endang Patibroto, perlu apakah hal-hal yang sudah lalu
kauceritakan" Perlu apakah hal itu disebut-sebut lagi"
Hanya untuk menghancurkan perasaan kita berdua."
Sampai lama Endang Patibroto tidak menjawab, terisak-
isak. Kemudian ia berkata lagi, "Orang selalu keliru
menyangka tentang diriku, keliru menafsirkan isi hatiku.
Mungkin karena aku liar dan ganas, karena aku murid
Dibyo Mamangkoro............ Biarlah sekarang aku
mengaku semua............ pada saat terakhir hidup kita ini.
Engkau tahu, Joko Wandiro, setelah aku kalah olehmu,
setelah aku putus harapan, kehilangan engkau yang
mencintai Ayu Candra, kehilangan Brojol Luwuk yang
telah kaurampas, kehllangan kasih lbu kandung............
kehilangan semuanya, bahkan kehilangan hati karena
cintaku padamu tak terbalas............ ketika itu............ aku
hendak membunuh diri di dalam badal............ "
"Endang............ " Tejolaksono berseru lagi penuh
keharuan. "Biarlah kuceritakan semua ............ kita toh akan
mati............ biarlah kauanggap aku wanita tak
bermalu............ semua ini kenyataan hatiku............ Joko
Wandiro, ketika aku hendak membunuh diri, muncul
Pangeran Panjirawit yang mencintaku. Dialah yang
merenggutku dari maut, kemudian menghiburku............
melimpahkan kebaikan budi kepadaku............ ah, kasihan
Pangeran Panjirawit suamiku............ " Ia terisak lagi dan
tak dapat melanjutkan kata-katanya. Tejolaksono hanya
duduk bersila dan memandang, seperti arca. Pengakuan
wanita ini benar-benar merupakan serangan dahsyat pada
hatinya, membuat ia lupa sama sekali bahwa mereka
berdua pada saat itu menghadapi ancaman maut yang tak
terhindarkan lagi. Setelah menyusut air matanya, Endang Patibroto
melanjutkan kata-katanya, ............ dengan penuh
pengertian, penuh kesabaran dia membimbingku, mengisi
hidupku, seolah-olah menghidupkan lagi aku yang bangkit
dari kematian............ melimpahkan cinta kasihnya sampai
aku berhasil membalas cintanya............ tapi............ tapi
akhirnya ia tewas dalam membela diriku............ ah,
hampir aku gila dibuatnya. Hanya satu cita-cita hidupku.
Membalas kematiannya, mendendam kepada Jenggala dan
Panjalu, sehingga nekat bersekutu dengan Blambangan.
Akan tetapi kau muncul............ ! Ternyata aku keliru
sangka, bukan Jenggala dan Panjalu yang menjadi sebab
kematian suamiku, melainkan Blambangan! Dan kini............ aku diperternukan lagi dengan engkau............
kini di tepi kematian. Ahhh, Joko Wandiro............ !"
Endang Patibroto menubruk dan menangis di atas
pangkuan Tejolaksono yang masih terbenam dalam
keharuan, diam seperti arca.
Endang Patibroto kembali bangkit dan duduk. Agaknya
ia bisa menguasai hatinya yang remuk redam, tidak
menangis lagi, bahkan ia mulai membenarkan rambutnya
yang kusut, disanggulnya, akan tetapi kedua tangannya
menggigil sehingga sanggul itu tidak benar, bahkan terlepas
dan terurai lagi, sepasang matanya memandang wajah pria
yang bersila di depannya. Cahaya matahari menyinar dari
lubang di atas sehingga cahaya remang-remang di ruangan
bawah tanah itu tidak begitu gelap benar. Mereka bertemu
pandang dan sukar dilukiskan apa yang tersinar keluar dari
pandang mata masing-masing.
"Joko Wandiro?"?"."
Seperti mimpi Tejolaksono mendengar panggilan ini,
panggilan yang dikeluarkan dari bibir yang gemetar. Ia
memandang, tak mampu menjawab, hanya menggumam
lirih, "Hemmmm............ ?"
"............ aku............ , kita............ " Endang Patibroto
tak dapat melanjutkan kata-atanya, lalu menunduk dan
menarik napas panjang. Agaknya sukar ia menyatakan isi
hatinya. "Bicaralah, Endang Patibroto. Aku mendengar............ "
"Joko Wandiro............ , aku telah berdosa kepada
ayah............ dan sekarang kita berdua menghadapi
kematian. Tak lama lagi kita akan bertemu dengan
ayah............ , aku telah mengecewakan hati ayah............
tidak dapat memenuhi pesannya yang terakhir, yang keluar
dari mulutnya sebelum ia meninggal dunia. Joko
Wandiro............ "
Kembali ia terdiam dan kepalanya makin menunduk.
Sampai lama -Tejolaksono menanti, namun tidak juga
keluar ucapan lanjutan wanita itu dan ia sama sekali tidak
dapat menduga apa yang akan dikatakan wanita luar biasa
ini. "Bagaimana, Endang Patibroto" Apa yang hendak
kaukatakan?" "............ Joko Wandiro............ ahh............ bagaimana aku harus mengatakan kepadamu............ Akan
tetapi............ biarlah, biar semua orang menganggapku
seorang wanita hina............ biar kau sendiri menganggapku rendah............ aku tidak perduli............
Joko Wandiro, kalau ada sedikit saja rasa cinta dan kasihan
di hatimu terhadap diriku............ aku............ "
Melihat betapa sukarnya Endang Patibroto menyampaikan perasaan hatinya, Tejolaksono segera
berkata menghibur, "Terus terang saja, dahulu aku pernah
amat kagum dan cinta kepadamu, Endang, sebelum aku
bertemu dengan Ayu Candra ............ dan tentang kasihan,
kau tahu bahwa aku selalu mengasihanimu............ "
Endang Patibroto mengangkat mukanya dengan wajah
berseri sedikit. Ia menggigit bibir bawah, agaknya menahan
perasaan jengah dan malu, kemudian la berkata, "Kalau
begitu............ Joko Wandiro, kau terimalah aku sebagai
isterimu?"." "Haaaahhhh............
?"?" Tejolaksono memandang dengan terbelalak. Sungguh mati ia tidak pernah
menyangka bahwa Endang Patibroto akan berkata
demikian. Pantas saja begitu sukar keluar dari mulut!
"Joko Wandiro, aku tahu bahwa engkau tentu akan
memandang rendah dan hina kepadaku dengan permintaanku ini. Akan tetapi............ aku ingin mati
sebagai isterimu! Aku ingin menghadap ayah setelah
memenuhi pesannya. Aku............ aku............ ahhh............" Kembali ia menubruk dan terisak perlahan
ketika melihat sinar mata Tejolaksono seperti itu.
"Tapi............ tapi............ Endang............ ingatlah kepada Pangeran Panjirawit, mendiang suamimul!" Tejolaksono yang wajahnya menjadi pucat itu berkata
gagap. Ia harus mengatakan sesuatu untuk memulihkan
ketenangannya, untuk menangkis serangan Endang Patibroto yang langsung menusuk jantung menembus hati
menyentuh perasaan. "Pangeran Panjirawit" Kasihan suamiku, semoga rohnya
diterima Sang Hyang Widhi.l Tidak, dia tidak apa-apa,
karena dia sudah tahu, Joko Wandiro! Aku telah membuka
rahasia hatiku ketika ia meminangku, terus terang
kuceritakan kepadanya bahwa aku adalah jodohmu yang
ditentukan ayah, bahwa aku............ aku mencintaimu!
Akan tetapi, dia dapat mengerti, dan dapat mengasuh,
begitu sabar dan penuh pengertian sehingga beberapa tahun
kemudian dia berhasil menjatuhkan hatiku. Ia tahu bahwa
pada bulan-bulan pertama, di waktu dia mencumbu rayu,
aku menganggap bahwa dia bukanlah Pangeran Panjirawit,
melainkan ............ Joko Wandiro............ Nah, aku telah
membuka rahasia, terserah kepadamu, aku rela kauanggap
apa saja............ , wanita tak bermalu, wanita hina dina dan
rendah............ tidak setia............ apa saja, Joko Wandiro.
Kita akan mati bersama............ dan aku ingin mati
sebagai............ isterimu?"..!"
Sampai lama Tejolaksono yang masih duduk bersila itu
menatap wajah yang menunduk, rambut yang kusut terurai,
dada yang turun naik diseling tangis, pakaian yang robek-
robek, tubuh yang membayangkan kelemahan dan
kelelahan, kesengsaraan dan duka nestapa menimbulkan
haru dan iba. Alangkah mudahnya bagi seorang pria untuk
menyayang seorang wanita sehebat Endang Patibroto!
Alangkah mudahnya untuk jatuh cinta! Akan tetapi ia
teringat akan isterinya, terbayang wajah Ayu Candra yang
mencintanya dengan sifatnya yang halus dan setia. Hampir
semua ponggawa di masa itu, apalagi yang pangkatnya
adipati, tentu mempunyai selir, pada umumnya sampai
belasan orang selir, sedikitnya tiga orang. Akan tetapi
selama sepuluh tahun ini Adipati Tejolaksono tidak mau
mengambil selir, bukan karena Ayu Candra melarangnya,
sama sekali bukan. Ayu Candra dapat memaklumi
kedudukan wanita dan "hak" kaum pria pada masa itu.
Akan tetapi Adipati Tejolaksono tidak mau mengambil selir
karena cinta kasihnya kepada isterinya amat mendalam, ia
tidak mau membagi cinta kasihnya itu dengan wanita lain!
"Endang Patibroto............ , aku............ kasihan kepada
Ayu Candra............ "
Endang Patibroto menutupi mukanya dengan telapak
tangannya. "Aduh............ sungguh aku seorang wanita
yang tidak tahu malu, Joko Wandiro............ , kalau saja
tidak menghadapi kematian yang tak terelakkan lagi,
sampai mati sekalipun tak mungkin aku dapat membuka
semua rahasia hati dan hidupku padamu! Memang
sesungguhnya engkau seorang laki-laki yang patut dicinta,
engkau setia dan memang semestinya engkau mengasihi
Ayu Candra isterimu............ akan tetapi...... aku
mendengar bahwa dia mempunyai putera............ Ayu
Candra ada puteranya dan di sana ada............ ibu
Kartikosari dan bibi Roro Luhito.. ..... sedangkan
aku............ aku tidak mempunyai siapa-siapa di dunia
ini............ karena itu............ aku ingin sekali mempunyai
engkau di alam baka, Joko Wandiro............ ! Tidak
kasihankah engkau kepadaku" Sedikitpun tidak............ ?"
Endang Patibroto menangis sambil menutupi mukanya. Air
matanya mengalir turun melalui celah-celah jari tangannya.
Wanita ini telah membongkar semua rahasia hatinya yang
tak diketahui oleh orang lain kecuali mendiang suaminya
yang pernah ia ceritakan, itupun tidak semua, tidak seperti
pengakuannya kepada Joko Wandiro sekarang ini. Ia telah
membuka semua isi hatinya, maklum bahwa ia menghadapi
resiko yang amat berat, dapat membuat ia dipandang
rendah dan hina. Namun, karena yakin bahwa mereka
berdua akan mati, ia tidak perduli lagi. Ia ingin menjadi
isteri Joko Wandiro pada saat-saat terakhir hidupnya, untuk
memenuhi pesan ayah kandungnya, untuk

Perawan Lembah Wilis Karya Kho Ping Hoo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memenuhi............ hasrat yang menjadi kandungan hatinya
semenjak dahulu, semenjak pertemuannya dengan Joko
Wandiro setelah ia menjadi dewasa, semenjak diam-diam ia
jatuh cinta kepada pria ini namun keadaan tidak memberi
kesempatan kepada dua hati ini untuk bersatu padu, bahkan
membuat mereka menjadi saling bertentangan!
"Endang kasihan kau, Endang ....!" Ketika jari-jari
tangan Tejolaksono dengan gerakan halus mesra menyentuh kedua pundaknya, Endang Patibroto merasa
seakan-akan ubun-ubun kepalanya disiram air embun dari
surga loka! Menyusup masuk memenuhi hati dan perasaan,
meluap keluar melalui kedua matanya dan ia mengeluarkan
suara setengah menjerit setengah merintih ketika memeluk
pinggang Adipati Tejolaksono dan membenamkan mukanya di dada pria yang selalu dicintanya dalam hati
akan tetapi dimusuhinya pada lahirnya itu.
"Terima kasih............ terima kasih, Joko ............ kalau
engkau ada sedikit kasihan dan sudi membagi cintamu
kepada diriku yang hina ini............ " ia tersedu.
"Hushhhh............ mengapa kau bilang begitu, Endang?"
Joko Wandiro atau Tejolaksono memegang ujung dagu
Endang Patibroto dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri,
lalu mengangkat muka wanita itu sehingga rnenengadah.
Mereka bertemu pandang, muka mereka saling mendekat
sehingga napas hangat mereka terasa ke muka masing-
masing. "Endang Patibroto, engkau sama sekali tidak hina,
tidak rendah............ engkau mulia dalam pandanganku
karena pengakuanmu menghapus lenyap semua salah
pengertian dahulu............ tidak, bukan engkau yang minta
menjadi isteriku, melainkan akulah kini yang meminangmu. Endang Patibroto, maukah engkau menjadi
isteriku, menjadi selirku yang pertama dan terakhir?"
Wajah cantik yang tengadah itu, pucat dan rambutnya
kusut, matanya dipejamkan akan tetapi air matanya terus
berlinang keluar melalui sepasang pipi, bibirnya gemetar,
menggigil setengah menangis setengah tersenyum, hanya
dapat tergerak perlahan mengangguk-angguk. Kedua
tangan Joko Wandiro mendekap muka itu, pada leher di
bawah telinga, memandang seperti orang memandang
sebuah mustika yang amat berharga, kemudian seperti
tanpa mereka sadari, bibir mereka bertemu dalam sebuah
ciuman yang mesra, yang didorong oleh getaran dua buah
hati yang saling berjumpa, setelah lama dan jauh berpisah.
Ciuman ini membuat Joko Wandiro seakan-akan mendapatkan kembali sebuah keindahan yang sudah lama
terhilang sehingga keharuan memenuhi hatinya, menaikkan
sedu sedan dari dalam dada ke lehernya, menjadi satu
dengan sedu sedan yang naik dari dalam dada Endang
Patlbroto! Adipati Tejolaksono atau Joko Wandiro adalah seorang
manusia juga. Seorang manusia dari darah dan daging.
Betapapun saktinya, ia masih tak dapat membebaskan diri
daripada perasaan dan hawa nafsu. Apalagi terjun dalam
lautan asmara bersama seorang wanita seperti Endang
Patibroto! Mereka berdua bergandeng tangan menghadapi maut,
telah berada di ambang pintu kematian. Menghadapi
ancaman kematian. bersama:, hanya mereka berdua,
membuat mereka makin lekat satu kepada yang lain. Belum
pernah selama hidupnya Joko Wandiro tenggelam dalam
madu asmara seperti itu. Cinta kasih Ayu Candra
kepadanya amat besar, akan tetapi tenang dan halus. Kini ia
terseret oleh cinta kasih Endang Patibroto yang bagaikan
badai Laut Selatan, menggelora dan menyeretnya sampai ke
dasar yang paling dalam. Sesuai dengan watak Endang
Patibroto, apalagi ditambah oleh racun yang telah
terminum oleh wanita itu.
Juga Endang Patibroto seperti mabuk. Dahulu ia selalu
terbuai oleh gelora cinta kasih suaminya, Pangeran
Panjirawit yang amat besar. Akan tetapi sekarang ia mabuk
oleh cinta kasihnya sendiri yang meluap-luap. Semua
perasaannya terhadap Joko Wandiro yang dahulu ia tindas
dan pendam, kini meletus dan meluap, tak terbendung lagi.
Kedua orang insan ini seperti dalam sekarat menghadapi
maut. Memang mereka menghadapi maut, dan karena
Inilah maka mereka seperti dalam sekarat. Tak pernah
sedetikpun mereka terpisah lagi semenjak saat mereka
berciuman itu. Mereka lupa akan segala, lupa waktu,
bahkan ancaman kematian, hanya tahu bahwa mereka
hidup bersama dan akan mati bersama, dan pengetahuan
inilah yang menambah kemesraan di antara mereka. Kini
Dendam Iblis Seribu Wajah 10 Kisah Sepasang Rajawali Karya Kho Ping Hoo Hina Kelana 16
^