Pencarian

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan 3

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung Bagian 3


ngan Song loya cu," kata Yok Sau Cun.
Dia segera mengeiuarkan bungkusan kain tersebut dan menyerahkannya dengan
kedua belah tangan Ciek Ban Cing menenma bungkusan ilu Dia membukanya
Ternyata memang sepucuk surat rahasia Tulisan tangan di permukaan tersebut
sangat rapi dan bertenaga Tampaknya orang yang me nuhs mempunyai ilmu yang tidak
rendah Ciek Ban Cmg membalikkan surat itu beberapa kali Rasanya tidak ada yang
mencuri gakan. Dia membungkus kembali kain pe nutup surat tersebut dan
menyerahkannya kembali ke tangan Yok Sau Cun.
"Kalau pengantar surat she Yu mengatakan bahwa urusan ini demikian serius, maka
Lao siu juga tidak berani mengambil keputusan Lebih baik Lao siu masuk ke da lam
melaporkan kepada Lo ceng cu tentang surat ini. Sementara Yok Siangkong sifahkan minum dulu
sambil menunggu kembalinya Lao siu," katanya.
Yok Sau Cun memasukkan kembali bung kusan tersebut ke balik pakaiannya.
"Terima kasih atas bantuan Ciek Cong koan," sahutnya.
"Soal kecil Jangan sungkan " Ciek Ban Cing segera bangkit dan tempat duduk dan
masuk ke dalam. Han mulai gelap Seorang pelayan menyalakan penerangan di pintu depan Yok Sau
Cun duduk sendirian Dia menunggu beberapa lama Belum tampak Ciek Cong koan
kembali membentahukan hasil laporannya Dia mengangkat kembali cawannya dan
minum seteguk Belum lagi dia meletakkan cawannya kembali, terdengar suara
langkah kaki yang nngan menuju ruangan di mana dia berada.
Yok Sau Cun tergopoh-gopoh meletakkan cawannya dan berdiri dengan sikap sopan
Teriihat bayangan parijang seseorang me nembus lewat cahaya rembulan, disusul de
ngan kakinyayang melangkah masuk. Untuk sesaat kedua orang itu saling bertatapan
K.ejutan yang tidak disangka-sangka.
Ternyata orang itu adalah pemuda yang bertemu dengannya di lyar kota Tan Yang di
sebuah rumah pertstirahatan dan pernah mendesaknya bergebrak karena dia
menumpang perahu sang piaumoi (adik sepupu).
Yok Sau Cun sama sekali tidak mengira bahwa dia akan bertemu dengan pemuda
berbeju biru itu di tempat tersebut Untuk sesaat dia tidak tahu apa yang harus
di katakana. Pemuda itu Juga menatap Yok Sau Cun dengan gaya angkuh Sebetulnya dia luga
terkejut metihatnya Hanya saja'dia pandai menutupi perasaannya Dia bahkan
tertawa dingin. "Yok heng pasti datang keman untuk bertemu dengan Piaumoi Bagus sekali Per
tarungan kita tadi belum selesai, lebih baik kita lanjutkan lagi sekarang,"
katanya. Yok Sau Cun mendengar nada bicaranya, segera tahu pemuda itu tentu mengira
kedatangannya adalah untuk menemui sang piaumoi. Hatinya segera mengerti.
Ternyata pemuda itu sedang cemburu kepadanya. Tidak heran hari ini dia sengaja
mengajaknya bertemu di luar kota Tan yang Apapun yang dijeiaskannya, pemuda itu
tetap tidak mau mengerti. Mendapat pikiran demikian, diam-diam Yok Sau Cun
merasa lucu dalam hati Dia segera melambaikan tangannya berulang-ulang.
"Hengtai jangan salah paham. Cayhe sebetulnya....".
Pemuda itu mana mungkin membiarkan Yok Sau Cun berbicara banyak Mukanya
dingin sekali. "Yok heng tidak usah banyak bicara Man kita ke ruangan dalam," katanya datar.
"Cnng!!" Tsrdengar sebuah suara yang nyanng. Pedang pemuda itu telah terhunus di
tangan. Kakinya menutul ke tanah, dengan gerakan kilat tubuhnya sudah melayang
keluar Justru pada saat dia melayang, hampir saja dia berbenturan dengan
seseorang yang sedang melangkah masuk. Orang itu adalah Cong koan keluarga Song, Ciek Ban Cing. Dia melihat pemuda
berbaju biru itu melesat dengan pedang di tangan. Wajahnya menghijau. Dia segera
menahan langkah kakinya dan bertanya dengan nada terkejut.
"Kongcu, apa yang kau lakukan?".
Begitu mendengar kata 'kongcu' Yok Sau Cun langsung mendesah.
"Ternyata pemuda berbaju biru ini adalah putra tunggal Song loya cu Tidak heran
ilmu pedangnya demikian tinggi," pikirnya dalam hati.
Pemuda berbaju biru itu memang putra tunggal Song Ceng San Namanya Song Bun
Cun Loya cu sampai usia lima puluh lebih baru mendapat seorang keturunan Setiap
han selalu disayang dan dimanja, putra tunggal keluarga terkemuka mana yana
tidak menjadi sombong mendapat perlakuan demikian".
Wajah Song Bun Cun merah padam.
"Ciek Cong koan, kau tidak perlu ikut campur. Aku ingin mengadu kepandaian de
ngan Yok heng ini," katanya. Ciek Ban Cing segara menggoyangkan tangannya dengan panic.
"Kongcu jangan begitu Lo ceng cu sedang menanti di taman belakang Lao siu
dipenntahkan mengundang Yok Siangkong," sahutnya.
Song Bun Cing segera terpana mendengar keterangan itu.
"Tia ingin bertemu dengannya?" tanyanya kurang percaya.
"Betul," sahut Ciek Ban Cing.
Dia tergopoh gopoh menghampin Yok Sau Cun dan berkata "Mari, Yok Siangkong.
Lo ceng cu sudah menunggu di taman belakang Lao siu akan menunjukkan jalan,"
ajaknya. "Baik," sahut Yok Sau Cun Kemudian dia membalikkan tubuh ke arah pemuda berbaju
biru itu dan menjura dengan hormat "Semuanya hanya salah paham Harap Hengtai jangan
menyimpan dalam hati".
Sinar mata Song Bun Cun menyirstkan cahaya yang janggal.
"Kalau memang Tia ingin bertemu, silahkan Yok heng masuk saja," sahutnya datar.
Tanpa menoleh lagi, dia segera memnggalkan Yok Sau Cun Ciek Ban Cing hanya
menarik nafas melihat sikap kongcunya. Dia menatap ke arah Yok Sau Cun sekilas.
"Yok Siangkong, silahkan," katanya sambil mendahului berjalan di muka. Yok Sau
Cun mengikuti di belakangnya Mereka melalui sebuah kondor yang mempunyai tirai
penghalang dengan tembok berbentuk bulat seperti rembulan Bau harum segera
menerpa hidung Yok Sau Cun Terlihat dua bilah papan panjang tergantung di kin
kanan Di atasnya berpuluh puluh pot dengan bunga berwarna warni.
Ciu Lan! Setiap kali mehhat bunga Lan hua, dia pasti akan tenngat kepada Ciok
Ciu Lan Entah di mana dia sekarang".
Ciek Ban Cing mengaiaknya menctaki tangga yang terbuat dan batu Di atasnya
terdapat berbagai bunga berwarna ungu. Di samping bungabunga itu ada sebuah
jendela besar dengan tirai berwarna kuning Sungguh paduan warna yang manis
sekali Yok Sau Cun kurang begitu tahu nama nama bunga Namun dia senang melihat
warnanya yang menyejukkan hati.
Di tengah tengah taman itu ada sebuah kursi yang terbuat dari bahan kayu jati.
Seorang laki-laki yang sudah berusia lanjut duduk di kursi itu Pakaiannya
berwarna putih penuh sulaman. Celananya berwarna hijau muda Potongan tubuhnya
sedangsedang saja Wajahnya putih bersih Alisnyapanjang dan rambutnya sudah memutih
Bahkan ada seuntai jenggot yang berwarna putih pula. Kelihatannya dia seorang
yang mudah bergaul. Hanya sepasang matanya yang menyorotkan sinar tajam dan tidak
boleh dianggap enteng. Tentunya tidak salah lagi kalau orang tua itu adalah Bulim Toalo Song Ceng San!
Yok Sau Cun mengikuti Ciek Ban Cing berjalan ke hadapan orang tua itu Cong koan
tersebut menekuk sebelah lutut dan membungkukkan tubuhnya dengan penuh hormat.
"Lapor Lo ceng cu, Yok Siangkong sudah tiba " katanya.
Yok Sau Cun maju beberapa langkah. Dia menjura dengan sikap tak katah hormat.
"Boan seng (Aku yang muda) Yok Sau Cun, menemui Song loya cu '.
Penampilannya persis seperti seorang pelajar Tidak ada tampang seorang yang
mengerti ilmu silat Song Ceng San memperhatikannya dengan seksama Tampaknya
anak muda ini sangat tenang, seperti sebuah pohon yang kokoh. Tidak seperti Bun
Cun. Terkadang di hadapannya sendiri juga masih memperhhatkan beberapa bagian
sikap angkuh, pikirnya dalam hati. Tanpa terasa dia menganggukkan kepala
berkalikali. Kemudian dia berdiri dan tersenyum lebar.
"Yok Siangkong datang dari jauh sebagai tamu Lohu terlambat menyambutmu
Silahkan duduk," katanya. Suaranya sangat lembut dan enak didengar Yok Sau Cun
sempat terpana sesaat Kemudian dia tersadar dan segera duduk.
"Terima kasih," sahutnya.
"Lao siu dengar dan Ciek cong koan bahwa kedatangan. Yok Siangkong karena ada
sesuatu urusan pribadi Dan di tengah jalan telah mendapat titipansurat untuk
disampaikan kepada Lohu Benarkah?" tanya Song Ceng San.
"Betul," sahut Yok Sau Cun sopan. Di te ngah jalan Boan seng bertemu dengan
seseorang yang terluka parah Dia mengatakan bahwa ada sepucuksurat rahasia yang
harus disampaikan kepada Song loya cu sebelum matahari terbenam." Dia segera
mengeluarkan bungkusan kain yang berisisurat tersebut dan kemudian
menyerahkannya ke tangan Song Ceng San "Orang she Yu itu juga berpesan
wantiwanti kalausurat ini harus diserahkan langsung ke tangan Song loya cu
Isinya menyangkut keselamatan dunia Bulim. Harap Loya cu segera membacanya".
Ciek Ban Cing segera menyambutnya dan menyerahkan kepada Song Ceng San.
"Ternyata ada urusan yang demikian gawat. Lohu sudah meninggalkan duma ramai dan
tidak mendengar kabar tentang dunia Bulim selama duapuluh tahun lebih,"
katanya. Kain psmbungkus surat itu dibukanya Kemudian tangan kanannya membalikkannya
beberapa kali Setelah itu dia merobek kertas surat tersebut Matanya
memperhatikan dengan seksama. Tiba-tiba mulutnya memperdengarkan seruan terkejut Sebuah sinar
putih memenuhi depan matanya Secepat kilat tangannya menghantam kertas surat itu
sejauh tiga depa dan menancap di i sebatang pohon Namun pada saat yang hampir
bersamaan, tangan kanannya juga terkulai ke bewah.
Peristiwa ini terjadinya begitu cepat. Yok Sau Cun terperanjat.
"Lo ceng cu, apakah kau menemukan sesuatu yang janggal?" tanya Ciek Ban Cing
dengan wajah cemas. Dalam sekejap Song Ceng San dapat menenangkan perasaannya.
"Di dalam surat terdapat racun," katanya datar. Tidak heran tangan kanannya yang
memegang kertas surat itu menjadi lunglai.
Yok Sau Cun terkejut sekali.
"Di dalam surat terdapat racun''" katanya berbarengan dengan Ciek Ban Cing Cong
koan itu segera menaiapnya dengan tajam Tangan kanannya dikembangkan di depan
dada dan bersiap untuk melancarian serangan.
"Manusia she Yok! Kau !".
Song Ceng San mengangkal tangan krnnya dan mencegah Ciek Ban Cing .
"Mungkin kejadian inl tidak adahubungan dengan dirinya".
Ciek Ban Cing mengiakan Tangan yang sudah dipersiapkan untuk menyerang Yok
Sau Cun ditariknya kembali. Dia mendongakkan kepalanya dengan tatapan pilu. "Lo
ceng cu..." panggilnya. "Urusan masih belum terang. Cepat ambilkan Pat pao kei tok tan (sejenis obat)."
bentak Song Ceng San. Tubuh Ciek Ban Cing tergetar Dia memandang dengan wajah pucat.
"Apakah racun itu jahat sekali?" tanyanya.
Song Ceng San tertawa datar.
"Apabila mereka ingin mencelakai Lohu, mana mungkin menggunakan racun yang
nngan?" sahutnya. "Betul.... Betui" Kenngat dingin telah membasahi kening Ciek cong koan Katakatanya
belum selesai, orangnya sudah melayang pergi secepat kilat.
Yok Sau Cun yang sejak tadi mendengar nada pembicaraan kedua orang itu, dapat
merasakan bahwa racun yang mengenai diri Song loya cu agaknya sangat hebat.
Hatinya ketakutan sekali Dia memandang Song Ceng San dengan panik.
"Loya cu, ini... ini....".
Song Ceng San melinknya sekilas "Lohu sama sekali tidak berniat menyalahkan
dirimu Tapi kalau mendengar kisah yang kau tuturkan kepada Ciek Cong koan,
tampaknya masih ada bagian yang kau sembunyikan Lebih baik kau jelaskan sekali
lagi bagaimana kau bisa bertemu dengan orang itu?" katanya.
Yok Sau Cun memang hanya menceritakan peristiwa dia menemukan laki-laki
setengah baya yang terluka itu. Sedangkan bagian depannya tidak dituturkannya
sama sekali Tanpa terasa wajahnya merah padam.
"Boan seng bukan bermaksud menutupi. Tapi apa yang boan seng alami sebelumnya
tidak ada kaitan dengan urusan ini maka boan seng merasatidak perlu
menceritakannya." Keadaan sudah terlanjur seperti ini, Yok Sau Cun terpaksa
menceritakan dari awal bagaimana dia menumpang perahu Hui Fei Cin untuk
menyeberangi sungai dan ak hirnya timbul pertikaian dengan Song Bun Cun. Serta
begaimana laki-laki setengah baya itu membantu dirinya mengalihkan perhatian
pemuda itu. D?a menjelaskan semuanya dengan lengkap tanpa ada sesuatu pun yang
disembunyikan. Song Ceng San mengelus jenggotnya dan menarik nafas panjang.
"Anak ini, Lohu sudah bosan menasehatinya Benar-benar keterlaluan. Beraninya dia
mencan kenbutan di luar tanpa sepengetahuan lohu'" katanya kesal.
"Song heng hanya salah paham .." sahut Yok Sau Cun.
"Hm . Salah paham'" kata Song Ceng dengan nada marah. "Seumpamanya salah paham,
dia juga harus memben kesempatan kepada orang iain untuk menjelaskannya.
Yok Sau Cun melanjutkan kisahnya tentang bagaimana orang itu membantunya
secara sembunyi-sembunyi dan dikejar oleh Song Bun Cun. Juga bagaimana la
menemukan orang itu tergeletak dengan luka parah di atas tumpukan jerami. Tiba
tiba Song Ceng San tertawa terbahak-bahak.
"Orang itu dapat menggetarkan pedang Bun Cun dan jarak jauh Dengan demikian
dapat dibayangkan sampai di mana tingginya ilmu silat yang dia miliki Bagaimana
mungkin dapat dibokong orang sampai tergeletak di atas tumpukan jerami?"
katanya. Yok Sau Cun terpana. "Boan seng melihat sendiri bahwa orang itu memang terluka parah. Dia merintih
terus menerus. Wajahnya juga pucat sekali," sahutnya.
"Sebuah peranan yang sempurna Apalagi Yok Siangkong baru pertama kali terjun ke
dalam dunia kongouw. Dan sama sekali belum mempunyai pengaiaman. Dengan
demikian, Yok Siangkong percaya begitu saja kepadanya Lagipula dia dengan cerdik
menolong dirimu lebih dahulu Kemudian baru menitipkan surat Kau pasti tidak akan
menaruh cunga apaapa Kebetulan kau memang akan berkun|ung ke tempat kediaman
Lohu, tentu tidak keberatan mengulurkan ta ngan memben bantuan Ini benar-benar
sebuah pelajaran yang berharga buat kalian kaum muda," kata Song Ceng San.
Yok Sau Cun setengah percaya, setelah menyesali kebodohannya.
"Kalau begitu, lukanya hanya berpurapura..." gumamnya.
"Tentu saja palsu Dia melihat kau seperti seorang pelajar Tidak ada kesan licik
seorang

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang sudah biasa berkecimpung dalam dunia kangouw Dengan meminta
dirimu yang mengantarkan surat ini, Lohu pasti tidak akan curiga ".
Yok Sau Cun merasa sedih sekaligus terpukul.
"Semuanya karena kebodohan boan seng Tidak bisa membedakan yang benar dan
yang palsu. Malah memaksa Song loya cu membaca surat tersebut Kemana boan seng
harus meletakkan muka ini?".
"Dalam hal ini kau tak perlu menyesali dirimu ." kata-katanya belum setesai
Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa memasuki ruangan. Ciek Ban Cing
membawa sebuah botol kumala di tangannya Dia meletakkannya di atas meja
kemudian menuangkan secangkir air hangat Dibukanya botol obat tersebut dan
mengambii tiga butir untuk diserahftan kepada Song Ceng San.
"Sepuluh butir," kata Song loya cu.
"Pat pao kei tok tan adalah obat yang sangat mujarab. Biarpun ]enis racun yang
paling ganas, tiga butir saja sudah cukup Lo ceng cu. ".
"Betul," tukas Song Ceng San "Pat pao kei tan ini adalah pemberian Tongbun yang
terkenal paling hebat dalam meracik racun.
Tapi racun yang terdapat dalam surat ini jangan dianggap enteng Kaiau Lohu tidak
cepatcepat menutup jalan darah penting di bagian lengan lalu menggunakan Iwekang
yang telah Lohu pelajari selama berpuluh tahun untuk menghantamnya, mungkin
sekarang sudah tidak dapat duduk seperti ini lagi Mana mungkin bisa
menghilangkan racun tersebut kalau tidak meminum sepuluh butir Pat pao tan'?".
Ciek Ban Cing mengiakan. Dia segera mengambil lagi tujuh butir obat tersebut dan
diasongkannya ke tangan Song Ceng San Orang tua itu meneguknya sekaligus Kedua
matanya dipejamkan. Sepatah kata pun tidak diucapkan lagi.
Ciek Ban Cing tidak berani bergerak Dia tetap berdiri di samping Song Ceng San
Yok Sau Cun menjaga di bawah tangga batu Matanya memandang orang tua itu tanpa
berkedip Hatinya tegang sekali Bagaimana pun dia yang bertanggungjawab atas
kejadian iniTaman itu menjadi sunyi senyap.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa menyerbu masuk Tam pak
Song Bun Cun dengan wajah cemas memasuki tempat itu. Matanya jelalatan.
"Aku dengar Tia terkena racun jahat, bocah ini yang " Dia menaiki tangga batu
dan langsung menghunus pedangnya.
"Bun ji. Jangan berlaku kasar'" kata Song Ceng San dengan mata tetap terpejam.
"Bagaimana aku yang sebagai ayah mengajar kau seharihan'" Jadi orang harus
berakal sehat Lagipula penstiwa keracunan Tia tidak ada sangkut pautnya dengan Yok
Siangkong Dia hanya kebetulan terpilih sebagai pengantar Kedatangannya dari jauh
adalah sebagai tamu Bagaimana kau demikian tidak sopan?".
Song Bun Cun yang melihat ayahnya masih sadar, tidak berani mengatakan apa-apa
lagi Dia terpaksa menjawab sepatah "lya" saja.
D| belakang Song Bun Cun mengikuti dua orang gadis Mereka adalah Hui Fei Cin
dan pelayannya Siau cui Tentu saja Hui Fei Cin tidak mengenakan cadar lagi
sekarang Meskipun mukanya datar namun matahya seper ti sebuah bola knsta! yang
jernih Dengan gerakan cepat mengerling ke arah Yok Sau Cun sekilas Kemudian
dengan langkah tergesa-gesa dia menghampiri Song Ceng San.
"Paman .. Apakah kau orang tua sudah baik?" tanyanya lembut.
Song Ceng San membuka kedua matanya dan menganggukkan kepala. Bibirnya
tersenyum. "Hampir pulih Meskipun racun di dalam surat ini sangat jahat, tapi hilangnya
juga sangat cepat" Dia berhenti sejenak "Oh. Apakah ayahmu sudah menuju Kwa Cin".
"Tia pergi kemana, keponakan sama sekali tidak tahu Bagaimana paman bisa tahu?"
tanya Hui Fei Cin. Song Ceng Sao menunjuk ke arah surat yang menancap di pohon.
"Surat itu yang mengatakan," sahutnya.
"Apakah dalam surat itu ada mengungkap tentang Tia?" Dia bergegas melangkahkan
kaki untuk mengambil surat tersebut.
"Tunggu dulu!" cegah Song Cen San "Mungkin masih ada sisa racun di dalamsurat
itu. Kau tidak boleh menyentuhnya.
Hui Fei Cin menghentikan langkah kakinya. Dia membalikkan tubuh dan bertanya:.
"Apa katasurat itu?".
"Mereka ingin kau menukar ayahmu dengan Cen Ku Kiam," sahut Song Ceng San
menjelaskan. "Rupanya Cen Ku kiam sudah dimiliki gadis itu," pikir Yok Sau Cun dalam hati.
Hui Fei Cin terkejut mendengar keterangan itu.
"Mereka ingin aku membawa Cen Ku kiam untuk ditukar dengan Tia'" apa yang
terjadi dengan ayahku'?" tanyanya cemas.
"Mereka ingin menurunkan tangan jahat kepada lohu Maka pertama-tama mereka
menyebutkan tentang ayahmu supaya per hatian Lohu terpecah Urusan ini tidak
boleh dipercaya begitu saja. Rasanyatidak mudah terjatuh ke tangan orang," kata Song
Ceng San menenangkannya. "Tidak Kalau Tia tidak terjatuh dalam tangan mereka Tidak mungkin mereka berani
mengancam," sahut Hui Fei Cin sendu.
"Anak, apakah kata-kata paman pun kau tidak percaya lagi?".
Yok Sau Cun teringat peristiwa semalam Manusia yang memakai pakaian hijau dan
mendapat panggilan Ho cong au bo kt dan Houw jiau Sun menyapa pendekar yang
juga berpakaian hijau sebagai Wi Yang taihiap Kemudian Hek Houw Sin
menyapanya sebagai Hui heng! Hui Fei Cing juga she Hui Apakah laki laki setengah
baya yang memakai baju hijau adalah ayahnya" Yok Sau Cun terkejut. Dia segera
menjura dalam dalam. "Cayhe numpang bertanya, apakah ayah Hui siocia yang disebut Wi Yang taihiap'?".
Mata Hui Fei Cin menyorotkan sinar terperanjat.
'Bagaimana Yok Siangkong bisa tahu".".
"Semalam di Kwa ciu, cayhe melihat seorang laki-laki setengah baya berpakaian
hijau. Ada orang yang memanggilnya Wi Yang taihiap, juga ada lagi beberapa orang yang
menyebutnya Hui taihiap Oleh karena itu, cayhe merasa penasaran dan bertanya
" sahut Yok Sau Cun.
Hui Fei Cin mendesah. "Ah . Yang kau katakan adaiah ayahku.
Dia orang tua ternyata sudah sampai di Kwa ciu Eh. Yok Siangkong, kau melihat
ayahku bersama siapa ketika itu?".
"Ketika cayhe meninggalkan rumah makan, dia orang tua sedang bergebrak dengan
Hek Houw sin," jawab Yok Sau Cun.
"Hek Houw sin?".
"Paman, siapa Hek Houw sin itu?" Pertanyaannya beralih kepada Song Ceng San.
Sebeium Song Ceng San sempat menjawab, Ciek Ban Cing sudah menukas.
"Piau siocia, Hek Houw Sin Cao Kuang Tu, di dalam dunia kangouw golongan
hitam, juga merupakan seorang yang bernama besar Tapi kalau dibandmgkan dengan
Ko loya tentu masih terpaut jauh ".
"Paman apakah yang dikatakan Ciek Cong koan benar adanya?" Hanya Hui Fei Cin
penasaran. Song Ceng San tertawa lebar.
"Betul Dibanding ayahmu, Hek Houw Sin Cao kuang Tu masih kalah setingkat,"
sahutnya. Hui Fei Cin baru merasa lega. Dia ikut tersenyum Wajahnya menoleh kepada Yok
Sau Cun.... "Yok Siangkong, di mana kau lihat ayahku bergebrak dengan Hek Houw Sin" Kapan
terjadinya" Dapatkah kau jelaskan lebihterpennci?" tanyanya beruntun seperti
petasan banting. Gadis itu memang aneh. Meskipun mulutnya memperdengarkan suara tertawa yang
merdu. Namun mimik mukanya tetap datar Tentu saja Yok Sau Cun tidak
memperhatikan hal itu Dia langsung menceritakan ke Jadian yang ditemuinya di
rumah makan keci! tadi matam Hanya bagian Be hua niocu Ciok Lan yang
mengajaknya keluar dari rumah makan dan kemudian memberikan pedang lentur
kepadanya dilewatkan. "Be hua popo Ciok sam ku juga muncul di Kwa ciu Kedatangan mereka delapan ba
gian demi Cen Ku kiam juga," kata Song Ceng San Kemudian dia menolehkan
kepalanya "Hui Ji, mungkin ayahmu masih belum tahu bahwa Cen Ku kiam telah
berhasil kau dapatkan Dia bergegas menuju Kwa ciu pasti karena takut pedang
tersebut terjatuh ke tangan golongan Hek to. Oleh sebab itu dia bermaksud
mencegahnya". "Kalau bukan paman yang mengatakan aku juga tidak menyangka kalau pedang yang
kutemukan secara kebetulan itu adalah Cen Ku kiam," kata Hui Fei Cin sambil tertawa.
"Anak, sekarang kau sudah tenang bukan" Sejak tadi Lohu sudah mengatakan bahwa
tidak akan terjadi apa-apa pada ayahmu.".
"Tetapisurat itu....".
"SiJrat itu hanya menggertak saja," kata Song Ceng San.
Dia mengangkat cawan tehnya dan meneguk sampai kering Dia menoleh kembah ke
arah Yok Sau Cun. "Yok Siangkong tadi mengatakan bahwa ada urusan pnbadi yang hendak
dirundmgkan dengan Lohu. Kau datang dari tempat yang jauh Rasanya bukan urusan
biasa bukan" Mengapa tidak kau jelaskan sekarang?".
"Baik." Yok Sau Cun berdiri dan membungkuk dengan hormat. "Boan seng ada satu
persoalan yang ingin meminta pertolongandari Song loyacu ".
Hui Fei Cin memandangnya dengan seksama Dia seakan menaruh perhatian besar
terhadap persoalan Yok Sau Cun.
"Yok Siangkong, silahkan duduk. Lohu memang sudah dua puluh tahun lebih tidak
mencampuri urusan dunia. Namun pertemuan ktta dapat dikatakan jodoh juga. Kalau
kau memang mempunyai ganjalan hati, silahkan ungkapkan. Jangan ragu Lohu
senang bisa membantu," kata Song Ceng San.
"Terima kasih Song loya cu." Yok Sau Cun menjura sekali lagi baru duduk di
tempatnya semula. "Tapi apa yang boan seng mohonkan pertolongan Song loya cu, bukanlah
persoalan boan seng sendiri," sahutnya.
"Oh.." Song Cong San merasa heran. "Jadi persoalan siapa?" tanyanya serius.
"Persoalan suhu boan seng," sahut Yok Sau Cun.
Song Ceng San menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Siapakah suhu Yok Siangkong'?".
"Cia su menyebut dirinya Bubeng lojm.".
"Bubeng lojin^ Lohu belum pecnah mendengar nama ini. Entah apa nama dan she
suhumu yang mulia?" tanyanya bingung.
Wajah Yok Sau Cau merah padam. Dia merasa malu.
"Boan seng sendiri tidak tahu siapa namanya".
Song Ceng San melihat Ydk Sau Cun adalah seorang pemuda yang juJur. Oleh sebab
ilu, diatidak merasa heran ketika pemuda itu menjawab 'tidak tahu".
"Kalau begitu, ada persoalan apa sehmgga Yok Siangkong ingin bertemu Lohu dari
tempat yang demikian jauh?" tanyanya.
Wajah Yok Sau Cun semakin merah mendapat pertanyaan seperti itu.
"Centanya begini... Pada usia boan seng memasuki enam tahun, ada orang tua
dengan dandanan seperti pelajar dan berpakaian lusuh menghadap ayah Dia bersedia
menjadi guru boan seng Ayah kasihan melihatnya sehingga menenma orang tua itu Sejak itu, dia
tinggal di rumah dan mengajarkan boan seng membaca dan menulis ..".
Song Ceng San mendengarkan dengan tampang tertarik.
"Apakah orang tua itu yang disebut Bubeng lojin?".
"Betul Selain mengajarkan membaca dan mfinulis, Cia su juga menyuruh boan seng
duduk melatih pernafasan " sahut Yok Sgu Cun.
"Itu adalah semacam ilmu mengatur pernafasan," kata Song Ceng San.
"Betul Belakangan boan seng baru tahu bahwa yang diajarkan oleh Cia su adalah
Iwekang Pada waktu yang sama, boan seng juga diajarkan ilmu tinju dan pedang.
Perlahan-lahan boan seng tumbuh besar Sering boan seng melihat orang tua itu
menatap langit merenung Tidak jarang menarik nafas berkali-kali. Alis matanya
berkerut kerut. Boan seng mencoba menanyakan hal ini kepada Cia su, namun orang
tua itu selalu menggelengkan kepala tanpa menjawab ".
"Dia pasti ada kesulitan yang tidak dapat diuraikan " tukas Hui Fei Cin.
"Cayhe juga mempunyai pendapat yang sama." Sahut Yok Sau Cun. Kemudian dia
melanjutkan kembali "Sampai musim semi awat tahun ini Orang tua itu tiba-tiba mohon diri.
Sebeiumnya dia berpesan agar boan seng menemuinya tiga hari sebelum
tiongciu Tempatnya di Hun tai Disana ada sebuah gua di bagian selatan yang
bernama Ceng siau tong.". "Dia menetap di rumahmu se!ama empat belas tahun?" tanya Song Ceng San.
"Betul". "Kalau begitu, dia sama sekali tidak mempunyai sanak keluarga?".
"Kemungkinan besar," sahut Yok Sau Cun.
"Apakah tiga hari sebelum tiongciu, Yok Siangkong datang ke Hun tai untuk
bertemu dengan orang tua itu?" tanya Hui Fei Cin.
"Yok heng justru baru datang dari Hun tai," tukas Sorig Bun Cun yang sejak tadi
diam saja. "Kalian semua jangan banyak bicara. Duduklah. Dengarkan cerita Yok Siangkong,"
kata Song Ceng San. "Untuk memenuhi janji itu, boan seng melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa.
Untung saja tiga hari sebelum tiongciu, boan seng sudah sampai Cia su sudah
mengganti pakaiannya dengan dandanan tosu Orang tua itu duduk di atas batu
berbentuk bundar " Sampai disitu, wajah Yok Sau Cun tiba-tiba berubah murunQ.
"Tentu saja Cia su senang sekali berjumpa dengan boan seng Tapi boan seng dapat
melihat bahwa orang tua itu kurus banyak sekali. Wajahnya juga tampak pucat Boan seng
segera menanyakan apakah badannya sedang tidak enak" Cia su hanya tertawatawa. Dia
mengatakan bahwa ketika di rumah boan seng, dia sudah merasa bahwa
penyakit lamanya kambuh kembafi. Oleh sebab itu, dia mencan tempat yang tenang
untuk melewati hari. Boan seng mencoba menanyakan apa penyakit tersebut, namun
Cia su tidak mau mengatakannya. Meiihat keadaannya yang lemas dan tidak
bertenaga, boan seng menduga kalau Cia su mengalami Cao hue jit mo jAtiran darah
terbalik karena salah dalam melatih suatu ilmu). Cia su mengatakan bahwa masih
ada dua persoaian lagi yang mengganjai di hatinya. Tadinya dia ingin menitipkan
persoalan itu kepada boan seng, namun sekarang tidak usah dikatakan lagi juga
tidak apa, katanya". "Suhumu tidak mau mengatakan karena takut merepotkan Yok Siangkong?" tanya Song
Ceng San. "Cia su mengatakan bahwa diri boan seng sendiri harus diperhatikan Meskipun Cia
su tidak bersedia mengatakan, boan seng tetap memohon dengan harapan, Cia su akan
menjelaskannya.". "Apakah dia menceritakan persoalannya?" tanya Song Ceng San.
"Setelah boan seng memohon dengan susah payah, akhirnya Cia su bersedia
mengemukakan satu persoalan saja. Dia mengatakan bahwa pada enam belas tahun


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang lalu dia tanpa diduga kehilangan putra tunggalnya Cia su sudah mencari ke
pelosok dunia namun tidak menemukan juga," sahut Yok Sau Cun.
"Berapa usia putra tunggal suhumu sekarang?" tanya Song Ceng San.
"Menurut cerita Cia su, ketika menghilang usia anak itu baru dua belas tahun,"
sahut Yok Sau Cun. "Apakah suhu pernah menjelaskan, siapa anaknya itu'?" tanya Song Ceng San.
"Cia su tidak mengatakan Hanya pernah mengucapkan secara sambil lalu bahwa
anaknya itu mempunyai tahi lalat merah di alis kanan," sahut Yok Sau Cun..
"Ah.." Song Ceng San mendesah. "Lalu apa persoalannya yang kedua?".
"Boan seng menanyakan persoalan keduaitu Ciasu hanya menggelengkan kepala
sambil menarik nalas Dia tidak ingin mengatakannya, hanya menatap diriku dengan
mata terharu dan berucap" Suhu sangat terhibur mengetahui muridku mempunyai niat
baik Kalau kau dapat bertemu dengan putra suhu yang mempunyai tahi laiat warna
merah di alis sebelah kanan, katakan agar pada sepuluh tahun yang akan datang
supaya datang ke pesisir daerah selatan untuk bertemu denganku Seandamya dia
tidak berhasil menemukan aku, berarti suhu sudah tidak berada di dunia manusia lagi.
Asal kau dapat memenuhi permintaan yang satu ini, suhu sudah cukup puas Mengenai
persoatan yang satu lagi Aih Masa lalu bagaikan asap di udara Suhu juga tidak
ingin mengungkitnya kembali".
"Kalau suhumu memang tidak menjelaskan, bagaimana Yok Siangkong bisa mencan
Lohu'?" tanya Song Ceng San. Hui Fei Cin tampak terperanjat.
"Paman kalau mendengar nada bicara kau orang tua, rasanya paman seperti sudah
tahu persoalan kedua itu?" tanyanya.
"Boan seng kemudian memohon diri ke pada Cia su Ketika menuruni gunung
tersebut, ada orang tua yang meminta boan seng berhenti ".
"Ah " Song Ceng San semakin tertank dengan cerita itu.
"Siapa orang tua itu?" tanya Hui Fei Cin tanpa dapat menahan diri.
"Cayhe tiak mengenalnya. Cayhe membalikkan tubuh dan menjura Cayhe baru saja
bermaksud menanyakan ada urusan apa sehingga dia menghentikan langkah cayhe,
orang tua itu tertawa lebar Dia mengatakan bahwa persoalan kedua Cia su, dia
sudah tahu Cayhe terpana Lalu bergegas menanyakan mengapa Lao cang tidak mengatakan
lebih jelas?" Orang tua itu menjawab "Lohu menunjukkan sebuah jaian terang
untukmu Asalkan kau datang Bu cing dan bertemu dengan Song Ceng San loya cu,
maka permintaan kedua suhumu akan segera terkabulkan ".
Song Bu Cun mendengus dingin.
"Seenaknya dia menyebut nama ayahku begitu saja,'' katanya sinis.
Song Ceng San melinknya sekilas Bibirnya tersenyum.
"Ayah memang bernama Song Ceng San Sedangkan nama memang gunanya agar
mudah dipanggil orang. Mungkin saja dia adalah seorang kenafan lama ayah. Belum
tentu tidak pantas bukan?" kata Song Ceng San tenang. Dia lalu menoleh ke arah
Yok Sau Cun. "Apakah kau masin ingat bagaimana rupa orang tua yang kau temui itu'?".
"orang tua itu berusia sekitar tujuh puluhan tahun Rambut dan alisnya sudah
memulih Di dagunya terdapat jenggot yang tipis Wajahnya seperti anakanak Pakaiannya seperti
seorang pelayan Tangannya meng genggam sebatang rotan," sahut Yok Sau Cun.
Wajah Song Ceng San menunjukkan rasa terkejut, dia mengelus jenggotnya dan tidak
mengucapkan sepatah kata pun.
"Orang tua itu mengatakan bahwa dia juga mengetahui persoalan Cia su yang
pertama," lanjut Yok Sau Cun.
Sekali lagi Song Ceng San mendesah Ah ".
"Boan seng bertanya kembali pada orang tua itu Kalau Lao cang mengetahui
persoalan Cia su yang pertama, tolong jelaskan bagaimana cara boan seng
menyelesaikannya?" orang tua itu menyahut "Aku orang tua mempunyai beberapa
patah syair. Ingat baik-baik "Lima keluar bunga bermekaran. Enam keluar
betecbangan. Pemandangan Ban San indah menggidikkan. Mendongakkan kepafa
menatap tempat tinggal dewata. Sej'ak itu kekasih hati tidak ingin pulang ke
fumah " Mulutnya membaca syair tersebut. Kakinya melangkah. Hati boan seng masih ada
beberapa pertanyaan. Oleh karena itu, boan seng segera mengei'arnya Cara |alan
orang tua itu tidak cepat, namun bagaimana pun boan seng mencoba menyusulnya, te
tap tidak tercandak juga. Tampak orang tua itu membelok di balik sebuah bukit Boan
seng mempercepat langkah. Ketika sampai di belokan itu, orang tua tersebut sudah
tidak kelihatan lagi," kata Yok Sau Cun.
Song Ceng San meliriknya sekilas. Kepalanya manggut-manggut.
"Setelah mendengar perkataan orang tua itu, kau bergegas datang mencari Lohu?"
tanyanya. "Cia su tidak bersedia mengatakannya. Menurut orang tua itu, asal ada sepatah
kata dan Song loya Cu maka permintaan Cia su yang kedua akan terkabul. Oleh karena itu,
tanpa memperdulikan hal lainnya, boan seng segera kemari memohon Song Loya
Cu," sahut Yok Sau Cun.
Song Cen San kembali menganggukkan kepalanya.
"Lohu akan mengabulkan," katanya.
Wajah Yok Sau Cun berseri seketika.
"Song loya cu, kau sudah mengabulkan. Apakah kau orang tua tahu apa keinginan
kedua dalam hati Cia su?".
"Lohu tahu," sahut Song Ceng San tegas.
"Song loya cu, apa sebetulnya permintaan kedua Cia su" Dapatkah Song loya cu
memberitahukan kepada boan seng?".
"Kalau suhumu tidak berkata apa-apa Aku juga tidak perlu menjelaskannya," sahiit
Song Ceng San. "Kalau begitu, Song loya cu }uga sudah tahu siapa Cia su adanya?" tanya Yok Sau
Cun. Wajah Song Ceng San agak berubah mendapat pertanyaan tersebut.
"Lohu hanya mengatakan bahwa Lohu akan membantunya menyelesaikan satu
persoalan," sahutnya.
"Maksud Song loya cu . .".
"Enambelas tahun yang lalu, Lohu pernah berjanji kepada suhumu Asalkan dia
sanggup menenma dua puluh jurus ilmu pedangku, maka aku akan mernbantunya
menangani sesuatu.".
Dia mcmpunyai dua puluh jurus ilmu pedang yang merupakan rahasia Tian san.
Tidak ada orang di dunia ini yang sanggup memecahkannya. Seandainya harus
menerima dua puluh jurus ilmu padang tersebut, tampaknya sulit mencapai
keberhasilan Yok Sau Cun terdiam mendengarkan keterangan itu.
"Kata-kata Lohu im, biarpun enambetas tahun kemudian, masih tetap berlaku,"
lanjutnya. "Maksud Song loya cu . Kalau ingin permintaan Cia su dikabulkan. maka harus
sanggup menenma dua puluh jurus ilmu pedang Loya dulu?" tanya Yok Sau Cun.
"Tidak salah Kalau suhumu datang sendiri, dia juga harus sanggup menerima dua
puluh jurus ilmu pedang lohu dulu " Yok Sau Cun bangkit dan menjura. "Song loya cu,
demi keinginan Cia su. Meskipun tidak tahu diri, Boan seng bcr sedia mencoba".
"Ha , ha ha . " Song Ceng San tertawa terbahak bahak "Maksud Lohu kalau yang
datang suhumu sendiri, maka ia harus sanggup menenma duapuluh jurus ilmu
pedangku Karena sekarang kau yang mewakili suhumu, maka aku hanya memberi
satu jurus sebagai bahan ujian," katanya.
Yok Sau Cun terpana. "Maksud Song loya cu asal boan seng sanggup menerima satu jurus saja ilmu
pedangmu, maka kau akan mengabulkan keinginan Cia su?" tanyanya.
Bagaimanapun, Yok Sau Cun belum pernah menginjakkan kaki di dunia kangouw
Dia mana tahu bahwa Song Cen San sejak duapuluh tahun yang lalu telah mendapat
julukan "Bulim it kiam' Satu jurus pedangnya bahkan masih jauh lebih lihai
dibandingkan seratus Jurus atau seribu |urus kaum keroco.
Hui Fei Cin memandang Yok Sau Cun dengan hati khawatir.
"Yok Siangkong. ilmu pedang paman sa ngat tinggi Kau jangan ...".
"Hui ji, Kau tidak perlu mencemaskan Yok Siangkong Mana mungkin Ku hu
melukainya?" tukas Song Ceng San tersenyum.
Hui Fei Cin tidak berani berkata apa-apa lagi Yok Sau Cun menjura dalam-dalam.
"Boan seng tahu ilmu silat boan seng sangat rendah Kalau dibandingkan dengan
Song loya cu bagai bumi dan langit Tapi demi memenuhi keinginan Cia su, Boan
seng bertekad mencoba ".
"Bagus sekali Apakah Yok Siangkong tidak berbekal pedang?".
"Boan seng membawanya," sahut Yok Sau Cun.
'Bagus Keluarkanlah'" kata Song Ceng San.
Yok Sau Cun mengeluarkan bola pedang tersebut dan balik pakaiannya Sekali
dihentakkan pedang itu mengulur menjadi panjang Pedang lentur semacam itu tidak
memerlukan banyak tenaga Bila digoyangkan, hanya mirip seutas tali saja. Namun
cukup sekali lihat saja, orang pasti akan mengetahui bahwa pedang itu terbuat
dari bahan besi yang lunak dan langka.
Mata Song Ceng San memperhatikan dengan seksama.
"Dan mana Yok Siangkong mendapatkan pedang itu?" tanyanya Yok Sau Cun tahu Song
Ceng San mengenali pedang itu Wajahnya merah padam seketika.
"Seorang teman boan seng yang memberikan." sahutnya.
Mulut Song Ceng San mendesah sekilas.
"Yok Siangkong berkelana di dunia kangouw, lebih baik jangan menggunakan
pedang tersebut. Yok Sau Cun tidak mengerli apa yang dimaksudkan olehnya Dia mengira pedangnya
itu terlalu tajam sehingga mudah melukai lawan, maka dia menjawab dengan sopan.
"Boan seng akan mengingatnya dalam hati".
Sementara itu beberapa orang pelayan sedang menyiapkan sumpit dan mangkok di
atas meja Sekali lihat saja, Yok Sau Cun sudah tahu mereka sedang menyiapkan
makanan Memang waktu itu hari Sudah mulai gelap Sudah waktunya makan malam
Ciek Cong koan sudah mengikuti Song Ceng San berpuluh tahun, hal seperti itu
tidak perlu diberitahukan lagi.
Song Ceng san melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Kalian bawakan sebatang sumpit untuk Lohu " katanya.
Ciek Cong koan tentu tahu maksud hati Song Ceng san Dia segera menjumput
sebatang sumpit dan menyodorkannya kepada Lo qeng cu itu Song Ceng San
menyambutnya Dia tersenyum kepada Yok sau Cun.
"Lohu sudah dua puluhan tahun tidak menggunakan pedang Kita bertanding dengan
sebatang sumpit ini saja Sesudah itu sudah waktunya untuk makan makan ".
"Loya cu menggunakan sebatang sumpit itu sebagai pengganti pedang"' tanya Yok
Sau Cun terkejut. "Kalau Lohu tidak memegang apa-apa, tentu Yok Siangkong tidak akan
mengeluarkan pedang Sekarang kita sudah boleh mulai" kata Song Ceng San.
"Apakah Loya cu ingin bergebrak di tempat ini juga"' tanya Yok Sau Cun terpana.
Song Ceng San tetap duduk di tempatnya semula.
'BetuI Silahkan Yok Siangkong menyerang lebih dahulu " katanya.
Yok Sau Cun melihat Song Ceng San tetap duduk di tempatnya semula Bahkan
berdiri pun tidak. Dia merasa pihak lawannya dirugikan olehnya.
"Song loya cu. .".
"Silahkan Yok Siangkong menyerang LOhu," tukas Song Ceng San.
"Ku ku telah memintamu menyerang. Kau tidak perlu ragu lagi" kata Hul Fei Cin.
"Apa yang dikatakan HUI ji memang tidak salah. Yok Siangkong tidak perlu ragu
Namun Lohu masih perlu mempenngatkan dirimu Kau hanya mempunyai kesempatan
satu jurus sa|a Keluarkanlah ilmu andalanmu Maksud Lohu, kau hanya perfu
menenma satu jurus seranganku Sedangkan dirimu bebas melancarkan berapa jurus
semaumu Asalkan kau sanggup menenma satu jurus dan Lohu, berarti kau sudah
meraih kemenangan.".
Setelah mengucapkan silahkan sekali lagi Dia duduk dengan tenang.
"Boan seng terpaksa menuruti perintah Namun sebeiumnya ada sesuatu hal yang
perlu boan seng kemukakan Pedang lentur.
Ini memang sangat lemas, tapl tajamnya tidak terkira. " kata Yok Sau Cun sambil
membungkuk dengan sopan. "Lohu tahu. Pedangmu itu berasal darl Bo liang pai daerah Hun lam Terbuat dari
bahan besi lunak yang langka Yok Siangkong tidak perlu ragu Silahkan mulai
melancarkan serangan," sahut Song Ceng San.
'Kalau Song loya cu sudah mempunyai pikiran demikian, buat apa aku merasa
sungkan lagi?" pikir Yok Sau Cun dalam hati. Kakinya segera mundur satu tindak
Tubuhnya ditsgakkan Tenaga dalam disalurkan ke bagian tangan yang menggenggam
pedang Pergelangan tangannya memutar Pedang lemas itu menjadi kaku seketika
Kemudian diangkat ke atas Kedua jari telunjuk dan jari manis tangan kinnya
diacungkan sejajar dengan pedang.
"Boan seng mulai menyerang!" serunya.
Pedang panjang ditusukkan ke depan Kedua jan tangan |uga ikut bergerak serentak
Sasarannya bahu Song Ceng San. Dia tidak mengarahkan sasarannya ke dada lawan
Tapi ke bagian bahu Maksudnya untuk berlaku normal kepada orang yang lebih tua.
Sebetulnya jurus yang satu ini harusnya ditujukan ke dada lawan. Karena yang
dilancarkannya adalah salah satu Jurus Butong liong gi kiam hoat yang bernama
Tian tao cung ho. llmu pedang perguruan Bu long memang mempunyai daya serangan
yang kuat Perubahannya mengejutkan Dia menggunakan jurus ini karena melihat
Song Ceng San yang menghadapinya dengan duduk. Dengan demikian, dia lebih sulit
mencapai dirinya. Dan memang jurus ini paling sesuai.
Hal ini juga merupakan sikap yang dijunjung tinggi oleh negara Hanya seorang
yang terpelajar baru memikirkan adat istiadat. Kalau digantikan orang kasar yang
biasanya berkecimpung di duma persilatan, tentu tidak akan mengalah satu tindak pun.
Song Ceng San memperhatikan sikap Yok Sau Cun dengan seksama Diamdiam dia
memuji dalam hati. "Anak muda ini mempunyai jiwa yang besar Meskipun kedudukannya tidak mengun
tungkan, namun dia tetap mengalah terhadap yang tua Kalau saja sikapnya itu tidak
berubah, pasti di kelak kemudian hari, dia akan menjadi seorang tokoh yang
terkemuka". Wajahnya mengembangkan senyuman lebar.
"Yok Siangkong, jurusi ini kau lancarkan demi suhumu Jangan sungkan lagi,
Silahkan keluarkan segenap kemampuanmu.".
Pedang Yok Sau Cun sedang meluncur ditengah jalan, ketika dia mendengar Jurus
ini kau iancarkan demi suhumu' Di benaknya segera terbayang wajah murung dan keluh
kesah gurunya selama ini Dia berkata dalam had "BetuI Kedatanganku han ini
justru untuk memenuhl Cia su," Gerakan pedangnya segera berubah Jurus Tian ho tao cung dan Bu


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

long pai segera ditariknya kembali Serangan berganti dengan sebuah Jurus
dari Kong tong pai yaitu Go gue pue hua Bunga betebaran di bulan lima pedangnya
laksana lima kuntum bunga yang bertaburan di udara.
Tangan Song Ceng San terangkat Segera terdengar Trang' Trang! Trang! Trang!
Trangi sebanyaklima kali Serangan Yok Sau Cun berhasil dihentikan olehnya Setiap
tutulan sumpitnya tepat di bagian tengah pedang pemuda itu Sedikit pun tidak
bergeser. Jurus yang dikerahkan Yok Sau Cun adalah Go gue pue hua dan Kong long paj
Sekali dilancarkan akan berbentuk lima bunga yang memenuhi angkasa Kecepatannya
tidak usah dikatakan lagi Namun, cara Song Ceng San menutui pedang lemasnya
tadi, semuanya bertitik pada tubuh pedang. Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa ilmu
pedang orang tua itu sudah mencapai puncaknya.
Tangan Yok Sau Cun yang memegang pedang terasa linu Getaran dan tubuh pedang
menyusup sampai ke tulang pergelangan tangannya Seperti arus hstrik yang
menialar Hatinya tercekat Tapi dia teringat katakata yang dlucapkan Song Ceng San
barusan, bahwa kedatangannya ini untuk memenuhi keinginan gurunya Kalau saja dia bisa
menahan satu Jurus orang tua itu. Lagi pula dia bebas mengerahkan berapa jurus
saja. Hatinya menjadi lebih mantap. Pada saat itu, terdengar suara tenakan dari Song
Ceng San. "Yok Siangkong, hati-hati!".
Yok Sau Cun yang merasa didepan matanya ada salitik sinar putih. Berkelebat di
depan bola matanya. Tentu saja itu adalah sumpit yang berada dalam genggaman
Song loya cu. Dia seperti melihat sinar pedang', juga dapat merasakan hawa
pedang dari sumpit tersebut. Namun dia tidak tahu bagaimana menghindarkannya?".
Untuk sesaat, dia kelabakan. Pedangnya diangkat secara asatasalan untuk
menangkis Perlu diketahui bahwa gerakan yang dilatihnya sejak kecil Juga merupakan ilmu
andalan suhunya, Bubeng lojin, bila ingin melepaskan diri dan serangan yang
berbahaya. Dia mana tahu kalau ilmu Song Ceng San sudah mencapai taraf di mana
benda apa pun yang ada di tangannya dapat berubah menjadi sebatang pedang.
Gerakannya memang dapat menghindarkan diri dari serangan manapun yang sangat
berbehaya. Namun bagaimana mungkin menahan serangan sumpit yang seperti
pedang itu'' Untung sa|a reaksinya cepat. Tubuhnya memutar dan merubah
gerakannya menjadi Loan po hong kiam sut dari Go bi pai. Sinar pedang bagai
kipas yang besar. Tanpa disengaja, pedangnya membentur sumpit di tangan Song Ceng San
Dengan kekuatan twekangnya saat ini, mana mungkin dia sanggup menahan tenaga
Song Ceng San. Namun telinganya menangkap suara Trang yang nyaring. Tanpa
mengetahui apa sababnya, tubuh Yok Sau Cun malayang sejauh dua depa. Kemudian
terjatuh di tanah pedang lentur yang ada ditangannya ternyata tertabas setengah
Cun oleh sumpit tadi. Sumpit di tangan Song Ceng San masih utuh tanpa somplak sedikit pun. Namun
orang yang duduk di alas kursi itu justru gemetar seluruh tubuhnya.
"Sungguh racun yang keji," katanya dengan susah payah.
Sumpit di tangannya terjatuh ke tanah Lengan kanannya juga ikut terkulai separti
orang lumpuh. Pada saat itu, siapa pun yang menatap keadaan Song Ceng San segera
berubah wajahnya Ciek Ban Cing terperanjat sekali. Langkah kakinya seperti anak
panah yang meluncur, rneneriang ke arah Yok Sau Cun.
"Bocah busuk! Ternyata kau menggunakan racun untuk membokong Lo ceng cu,"
bentaknya. Song Bun Cun yang mendengar bahwa Yok Sau Cun menggunakan racun, wajahnya
segera menghijau. Dia juga ikut menerjang. .
"Manusia she Yok Aku ingin mencincang tubuhmu'" teriaknya Sekali pergelangan
tangannya memutar Pedangnya sudah terhunus.
Meskipun Hui Fei Cin tidak mengatakan apa-apa. Tapi hatinya lebih sedih dan
semua orang itu. Kalau saja perkataan itu didengarnya dari mulut orang lain, bagaimana pun
dia tidak akan percaya. Tapi matanya sendiri telah menyaksikan, bahkan pamannya
juga menyatakan sendiri, tentu tidak salah lagi'.
Di dalam hatinya, dia menganggap Yok Sau Cun sebagai laki-laki satusatunyayang
dapat mengerti isi hatinya Perasaannya hampir tercurahkan kepada pemuda itu Dia
sama sekali tidak menyangka kalau Yok Sau Cun dapat berbuat sekeji itu Sengaja
menaburkan racun ketika sedang bertarung dengan pamannya Hatinya hancur
seketika. Matanya membasah. Dia memaki dirinya sendiri yang begitu bodoh
Menganggap seonggok sampah laksana emas permata.
Yok Sau Cun tampaknya masih belum tahu kalau pedangnya sudah tertebas sedikit.
Dia masfh terkutai di atas tanah dengan wajah pucat pasi Sedangkan Ciek Ban Cing
dan Song Bun Cun sudah berhenti di depannya.
Pedang Song Bun Cun sudah diarahkan pada leher Yok Sau Cun Ciek Cong koan
segera mencegahnya. "Kongcu, jangan membunuhnya!".
"Ciek Congkoan, kau jangan turut campur Bagaimana pun aku harus
membunuhnya!" tenak Song Bun Cun gusar.
"Kongcu, jangan marah dulu Kalau dia bisa menaburkan racun di pedangnya, pasti
dia juga membawa obat penawar. Jangan sampai dia terdesak sehmgga membuang
obat penawar itu Kita harus mendapatkannya dulu," bisik Ciek Ban Cing. Dia
kemudian menoleh ke arah Yok Sau Cun. Kakinya maju satu langkah.
"Bocah, keluarkan obat penawar! Mungkin nyawamu masih bisa diampuni," katanya
tajam. Yok Sau Cun menatapnya dengan kebingungan .
"Ciek Cong koan Cayhe belum pernah menggunakan racun. Bagaimana cayhe bisa
menaburkan racun kepada Song loya cu?" sahutnya lirih.
Wajah Ciek Ban Cing segera berubah membesi.
"Bocah busuki Masih berani mungkir" Kalau kau masih tidak mau mengeluarkan
obat penawar itu, maka telapak tangan ini akan menghantam pecah batok kepalamu!"
bentaknya marah. Song Ceng San menarik natas perlahanlahan. Tubuhnya hampir tidak bertenaga.
"Ciek Cong koan, apa yang kalian lakukan?" tanyanya lirih.
"Lapor Lo ceng cu, bocah ini berani menyebarkan racun, di balik pakaiannya pasti
ada obat penawar," sahut Ciek Ban Cing.
"Sembarangan!" Song Ceng San mendengus dingin "Kau telah mengikuti aku sekian
lama, bagaimana masih tidak bisa membedakan mana yang benar" Cepat mundur dan
bangunkan Yok Siangkong," bentaknya.
Ciek Ban Cing tampaknya kurang puas.
"Lo ceng cu. Kau .".
"Ciek Cong koan, aku memenntahkan engkau membangunkan Yok Siangkong
Apakah kau masih belum mendengar dengan jelas?" Wajah Song Ceng San tersirat
hawa amarah. Ciek Ban Cing tidak berani membantah lagi Dia mundur setindak.
"Yok Siangkong, Lo ceng cu mempersilahkan kau berdiri" katanya.
Yok Sau Cun menggulung kembali pedang lenturnya Dia segera bangkit.
"Bun Cun, mengapa kau tidak lekas minta maaf kepada Yok Siangkong'?" kata Song
Ceng San menoleh kepada putranya. "Dia menaburkan racun kepada Tia. Mengapa aku ...".
Song Ceng San menarik nafas sekali lagi.
"Kapan ayah pernah berkata bahwa Yok Siangkong yang menebarkan racun" Tadi,
setelah menelan pil pemberian Tong bun, aku mengira racun sudah dapat dipunahkan Siapa
tahu ketika mengumpulkan hawa murni. aku merasa ada sesuatu kelainan pada
dmku. Bukan saja racun itu belum punah, malah mulai membuyarkan tenaga
dalamku.". Wajah Ciek Ban Cing menyiratkan rasa terkejut yang tidak terkatakan.
"Apakah Lo Ceng terkena racun pembuyar tenaga?".
"Tidak salah. Lohu pernah mendengar Lo tangke dari partai Tong bun mengatakan
bahwa Pat pao tan dapat memunahkan segala jenis racun, kecuali racun pembuyar
tenaga Racun itu tidak dapat dipulihkan dengan Pat pao tan," sahut Song Ceng San
dengan waiah murung. "Apakah dengan tenaga dalam setinggi paman masih belum sanggup mendesak racun
tersebut keluar dari tubuh?" tanya Hui Fei Cin.
Song Ceng San mengelus jenggotnya sambil tertawa getir.
"Kau ini masih kekanakkanakan. Racun pembuyar tenaga justru diciptakan khusus
untuk orang yang mempunyai iwekang tingkat tinggi Racun itu adalah sejenis racun yang
tidak bewarna atau pun berbau Begitu masuk ke tubuh manusia tangsung
menyatu dengan darah. Hawa murni akan buyar seketika. Membuat tenagamu makin
femah tanpa terasa. Kecuali perguruan yang mempelajari ilmu racun, dt dunia ini
tidak ada orang yang bisa menyembuhkannya.".
"Tia, anak akan mencari obat pemunah itu sekarang juga!" kata Song Bun Cun.
"Tahukah kau siapa yang mencelakal ayahmu ini" Mereka sudah merencanakan
siasat ini dengan matang. Sengaja menyuruh Yok S'angkong mengantarkan surat
berisi racun. Hal ini membuktikan bahwa mereka tidak mau menunjukkan muka
aslinya Tetapi rencana tetap dapat berjalan lancar Bagaimana kau bisa mencari
orangorang ilu?" tanya Song Ceng San.
Yok Sau Cun segera menjura kepada Song Ceng San.
"Song loya cu, Boan seng diperalat orang |ahat untuk mengantarkan surat itu.
Loya cu sama sekali tidak mencurigai boan seng berkomplot dengan mereka. Bagaimana
pun boan seng yang mengantarkan surat itu sehingga Loya cu celaka. Boan seng
sulit menjelaskan kesalahan ini, lagipula hati ini makin tidak tenang. Boan seng ingin
mohon diri Sampal ke ujung langit, sarang naga atau pun kandang harimau, Boan
seng berjanji akan mencari obat pemunah itu. Dengan demikian Boan seng baru
dapat menjelaskan kebersihan diri Harap Song loya cu baikbalk menjaga diri." Selesai
beckata, dia membungkuk sekali lagi kemudian membalikkan tubuh meninggalkan
tempat itu. Hui Fei Cin yang melihat Yok Sau Cun hendak pergi, bermaksud mencegah "Yok
Siangkong, tunggu dufu!" serunya Song Ceng San memandangi bayangan
punggungnya Dia menggelengkan kepala dengan lemah.
Biarkanlah dia pergi. Bocah ini baru ber kelana di dunia ramai, namun budi
pekertinya sangat tinggi Karena Lohu terkena racun jahat itu, hatinya merasa
tidak tentram Bagaimana pun dia tidak akan menetap febih lama di sini Kita menahannya
pun percuma," katanya.
Yok Sau Cun meninggalkan Tian Hua san ceng Dia bergegas kembali ke tepi telaga
Meskipun nan gelap, namun di daerah sekitar itu masih ramai.
Desa kecil itu bernama Hu kian Karena letaknya di tepi telaga, maka banyak orang
yang hilir mudik. Kebanyakan mereka benstirahat satu dua malam di desa tersebut
Pada waktu itu, masih ada beberapa kedai bakmi yang buka.
Yok Sau Cun memilih sebuah kedai yang terletak di muka |alan Setelah
menghabiskan semangkok bakmi dan membayaf makanannya itu. Dia bertanya
kepada pelayan kedai tersebut.
"Saudara, apakah di sini ada rumah penginapan?".
Pelayan itu segera menebarkan senyumnya.
"Kek kuan Tamu yang terhormat, kita di sini tidak memiliki rumah penginapan
Kalau tuan hendak beristirahat barang semalam penduduk desa ini rata rata mempunyai
kamar tamu yang dapat disewa Tuan tidak mengenat jalan di desa ini, biar siaujin
yang mengantar," sahutnya,.
"Merepotkan saudara," kata Yok Sau Cun Tidak apa-apa Mari ikut dengan siaujin,"
sahut pelayan itu sambil tertawa semakin lebar.
Yok Sau Gun mengikuti di belakang pelayan tersebut Kegelapan menyebar di se
panjang jalan Setelah melewati sebuah gang yang sempit, sampailan mereka di de
pan rumah dengan atap rumbia rendah. Pelayan ttu menghentikan langkah kakinya. Dia
membalikkan tubuh dan memandang Yok Sau Cun.
"Tuan harap menunggu sebentar, Siaujin akan memanggil pintu," katanya Dia
membalikkan tubuh dan maju selangkah serta mengetuk pintu itu beberapa kali. Tidak lama
kemudian, terdengar suara seorang perempuan tua menyahut dari sebelah dalam.
"Siapa di luar?".
"Hu toanio Nyonya Huj, aku adalah palayan kedai bakmi. Ada seorang tuan yang
ingin bermalam," kata pelayan itu.
Hu toanio yang mendengar ada tamu yang ingin bermalam menjaAab dengan
tergesa-gesa. "Baik baik.. .".
"Kreet!" Pintu rumah itu segera terbuka.
Dari dalam muncul seorang perempuan tua dengan rambut yang telah memutih
Tangannya membawa sebuah wadah lilin yang menyata. Waiahnya tersenyum. "Tuan,
silahkan masuk dan duduk di dalam," sapanya.
"Tuan silahkan, Siaujin mohon diri," kata pelayan itu.
Yok Sau Cun merogoh kepingan uang perak dari balik sakunya dan dibenkan kepada
pelayan itu. "Terima kasih atas bantuanmu ".
Pelayan itu menerima uang persen dari Yok Sau Cun dan membungkukkan tubuhnya
berkali-kali. Kemudian dia baru membalikkan tubuh dan pergi.
Yok Sau Cun mengikuti nenek tua itu masuk ke dalam rumah Setelah menutup pintu
kembeli, nenek tua itu meletakkan lilinnya di atas meja. Wajahnya tetap
memperfihatkan senyuman. "Tuan, silahkan duduk. Lao pocu akan menyeduh teh untukmu".
"Lao popo tidak usah repot Cayhe mengganggu di larut malam, rasanya tidak enak
Cayhe hanya mencari tempat untuk beristirahat saia," sahut Yok Sau Cun.
"Tuan, silahkan duduk saja. Di sini jarang ada tamu yang datang Masak air toh
tidak memakan waktu lama," katanya. Dengan punggung membungkuk, dia melangkah
masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, nenek itu keluar kembali dengan tangan
membawa sebaskom air. "Tuan, silahkan cuci muka," katanya.
"Malam-malam merepotkan Lao popo, Cayhe sungguh merasa malu," sahut Yok Sau Cun.
"Kek kuan jangan sungkan Desa kami sedang tidak ada tamu sekarang Pada akhir
musim gugur seperti ini, cuaca mulai dingin Tamu yang berpesiar ke telaga sedikit
sekali Tamutamu yang menginap pun hampir tidak ada Berlainan dengan musim
semi, pada saat itu kami sibuk setengah mati," kata nenek itu tersenyum lebar.
Sembari mencuci muka, Yok Sau Cun bertenya sambil lalu.
"Selain Lao popo, siapa lagi yang tinggal disini?".
Hanya aku lao pocu dengan si kakek dua Pekerjaan kakek mendayung perahu, kaiau
senja hari sudah letih sekali. Sekembafi ke rumah langsung tertidur pulas.


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Namanya orang miskin. Untung saja kadangkadang ada tamu yang menyewa kamar sehingga
kebutuhan rumah tangga masih bisa diatasi," kata nenek itu sambil menarik nafas
panjang. Setelah Yok Sau Cun selesai membasuh muka, nenek itu mengambil baskom jtu dan
masuk kembali ke belakang Kemudian dia keluar lagi dengan sebuah teko dan
cangkir Diletakkannya di atas meja.
"Silahkan minum teh, Tuan." katanya. Dia berjalan menuju kamar yang terletak di
sebelah timur dan membukakan pintunya.
"Tempat tidur tuan adaiah kamar ini. Semua selimut dan sarung kasur selalu lao
pocu cuci dengan bersih. Tuan jangan khawatir Silahkan istirahat dengan tenang. Lao
pocu permisi tidur tebih dahulu," katanya.
Yok Seu Cun berdiri dengan sikap sopan.
"Lao popo istirahat saja, Cayhe tidak ada keperluan apa-apa lagi".
Nenek tua itu berusaha meluruskan punggungnya yang bungkuk dan berjalan dengan
langkah terseok-seok. Yok Sau Cun memandanginya sampai menghilang ke ruangan
dalam Dia merasa agak haus setelah perjalanan yang cukup meletihkan. Diambilnya
cangkir di atas meja dan mengisinya dengan air teh dari teko Teh itu baru saja
diseduh. Uapnya masih mengepul. Daun teh dan gunung di sekitar telaga Tai hu
sangat terkenal Teh itu masih memancarkan semacam keharuman yang menyegarkan.
Perlahanlahan Yok Sau Cun mennnumnya seteguk Pikirannya terus membayangkan
cara terbaik untuk memperoleh obat penawar racun pembuyar tenaga Pengusutan ini
masih tertutup awan gelap Satu-satunya orang yang dapat dijadikan pegangan
adalah lakilaki setengah baya yang pura-pura terluka dan memintanya mengantarkan
surat kepada Song Ceng San Tapi apa yang dikatakannya semua hanyalah dusta belaka
Apakah dia benar benar she Yu atau sem barang menyebut salah satu she yang
terlin tas di benaknya saat itu" Taruh kata dia benar she Yu, dia tidak tahu siapa nama
kepanjangannya Dunia ini luas sekali Bagaimana dia dapat menemukannya" Ada satu
hal jagi Di dalam surat tersebut, dikatakan bahwa Hui Fei Cin harus membawa Cen
Ku kiam untuk ditukarkan dengan nyawa ayahnya Meskipun Song Ceng San
menganggap katakata dalam surat itu hanya gertakan saja, tapi menurut Yok Sau
Cun, itu juga sebuah gans yang peclu di telusuri.
Dia sendiri pernah mendapat keterangan dari Be hua niocu, Ciok Ciu Lan bahwa
kedatangannya Hek Houw Sin Cao Kuang Tu dan anak buahnya, Ho con au bo ki
serta Houw jiau Sun Bo Hai adatah untuk Cen Ku kiam Dengan demikian, selain
untuk manusia she Yu, dia juga perlu mendatangi Kwa ciu sekali lagi Mungkin sa|a
Houwjiau Sun masih menjadi Lao pan kedai makan di kola itu.
Setelah mengambail keputusan Yok Sau Cun segergi mengenngkan isi cangkirnya
Dia merasa mulai mengantuk Dimasukinya kamar yang ditunjuk oleh Lao popo tadi
Tanpa sempat mengganti pakaian lagi, dia langsung tertidur dengan pulas.
Entah berapa lama sudah berlalu. Yok Sau Cun membalikkan tubuhnya Dalam
keadaan setengah sadar, dia terbangun Kepalanya terasa pusing sekali. Mulutnya
juga terasa pahit dan kering. Tidak! Dia merasa seperti rebah di atas sebongkah es. Tubuhnya menggigil Dia
tidak tahu di mana dia berada saat itu Dia ingin membuka mata untuk melihatlihat. Namun
kelopak matanya terasa l"erat Dia menggunakan tangan untuk mengucek mata itu ber
kalikali. Dengan susah payah dia berusaha memandang ke sekitarnya. Semuanya
gelap. Seperti malam hari di tengah hutan. Hatinya menjadi terkejut seketika.
Dia merasa sudah tertidur lama sekali Mengapa hari masih belum terang juga"
Perlahanlahan dia mencoba untuk duduk. Tubuhnya lemas tidak bertenaga. Dia juga
teringat bahwa dirinya sudah meninggalkan Tian Hua san ceng, natk rakit sampai
ke desa Hu kian lalu makan semangkok bakmi di sebuah kedai kecil. Kemudian pelayan
kedai bakmi itu mengantarkannya ke sebuah rumah kecil untuk beristirahat. Nenek
tua pemilik rumah itu menyediakan sebuah teko berisi teh. Dia duduk seorang diri
sambil menikmati teh itu. Setelah itu, mungkin karena hari sudah terlalu larut maka dia
masuk ke kamar untuk beristirahat.
Seingatnya, dia belum meninggafkan rumah nenek itu Kalau begitu, seharusnya dia
masih tertidur di kamar tersebut Mengapa sekarang dia bisa tidur di atas lantai"
Untuk sesaat, Yok Sau Cun dapat merasakan sesuatu yang janggal. Dia memang belum
berpengalaman dalam dunia kangouw, tapi bukan berarti dia tidak menaruh
kecungaan sama sekali terhadap segala sesuatu.
Diam-diam dia mencoba mengatur hawa murni dalam tubuhnya Terasa ada sesuatu
yang menghambat jalan darahnya Yok Sau Cun segera sadar bahwa beberapa jalan
darahnya sudah tertotok. Sekali lagi dia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya Semuanya seperti biasa
saja. Hatinya menjadi curiga. Entah siapa yang menotok jalan darahnya"
Mungkinkah nenek tua itu" Mungkinkah rumahnya itu adalah sebuah tempat perkumpulan
golongan hitam" Pikirannya terus bekerja, namun matanya dipejamkan. Dia berusaha
berkonsentrasi Dengan mengumpulkan semua kemampuannya dia berusaha melihat
sekitarnya Sekarang dia mulai bisa melihat sedikit-sedikit.
Tempat itu tetap sebuah rumah yang kecil. Selain keempat sisi tembok, tidak ada
perabotan lain yang terlihat Di tembok sebelah kiri terdapat sebuah jendela yang
tertutup rapat Yok Sau Gun melangkah dengan hati-hati dan meraba dinding bagian
itu Terasa hawa dmgin menempel di telapak tangannya. Dia segera sadar bahwa
jendela yang dilihatnya merupakan sebuah pintu kecil terbuat dan besi.
Di manakah dirinya sekarang" Pintu basi! Tampaknya dia sudah terkurung dalam
ruang bawah tanah oleh seseorang Yok Sau Cun yakin, tempat itu bukan penjara
desa setempat Dirinya toh tidak melakukan kesalahan apa-apa Buat apa mereka
mengurungnya" Yok Sau Cun berdiri terpaku untuk sesaat Tiba-tiba dia ingat di
balik pakaiannya ada pedang lentur pembenan Ciok Ciu Lan Pedang itu sangat tajam Dapat
menebas berbagai macam senjata tajam Entah kalau digunakan untuk menebas pintu
besi ini,. Begitu pikiran itu melintas, dia segera mengulurkan tangan untuk mengambil
gulungan pedang tersebut. Namun hatinya menjadi tercekat Jangan kata pedang
lentur. Sedangkan daun emas yang selalu diselipkan di ikat pinggang dan beberapa
tail uang peraknya lenyap entah kemana Sudah jelas sudah diambil oleh orang-orang
yang mengurungnya. Yok Sau Cun kesal sekali.
"Tempat ini pasti markas orang-orang jahat," pikirnya dalam hati.
Tepat pada saat itu, dari luar berkuman dang suara gemerincing rantai dan gembok
Perlahan-lahan pintu itu terbuka Disusul dengan seberkas cahaya yang redup.
Tampak seorang laki laki berpakaian hitam masuk dengan langkah tergesa-gesa.
"Apakah kau bernama Yok Sau Cun?" tanyanya.
"Tidak salah Tempat apakah ini' Yok Sau Cun balik bertanya pada orang itu.
"Kau tidak perlu tahu," sahut laki-laki berpakaian hitam itu. Dia mengeluarkan
secarik kain hitam dan balik pakaiannya dan dilambai-lambaikannya di hadapan Yok Sau
Cun. "Aku akan menutup matamu kemudian kau baru boleh keluar," katanya.
"Mengapa harus menutup mataku baru boleh keluar dari tempat ini?".
"Ini merupakan peraturan," sahut laki-laki itu dingin Yok Sau Cun bermaksud
bertanya lagi, namun laki-laki itu dingin. "Tiong kouwnio sedang menunggu di atas.
Cepat tutup matamu.".
Yok Sau Cun terpaksa membiarkan matanya diikat oleh kain hitam itu.
"Siapa Tiong kouwnio?" tanyanya.
"Setatah sampai di atas, kau akan tahu sendiri. Sekarang kau boleh ikut aku
keluar," kata laki-laki itu. Sekali ini tangan Yok Sau Cun ditariknya. Mata pemuda itu tertutup oleh sehelai
kain hitam. Tentu saja dia tidak dapat melihat apa-apa Tetapi dengan mengikuti
takilaki itu, dia dapat merasakan bahwa mereka menuju ke atas. Setelah berjalan kurang lebih
tiga puluh langkah. Kaki laki-laki berpakaian hitam itu berhenti.
"Apakah sudah sampai?" tanya Yok Sau Cun.
Laki-laki itu tidak menjawab. Justru terdengar sebuah suara nyanng dari bibir
seorang perempuan. "Apakah dia yang bernama Yok Sau Cun'?".
"Betul." Terdengar sahutan dari mulut laki-laki itu.
Yok Sau Cun dapat mendengar dengan jelas Jawaban 'Betul' laki-laki itu diucap
dengan nada hormat Tentu kedudukan perempuan itu lebih tinggi dan yang laki-laki
Dari suaranya, Yok Sau Cun tahu kalau umur perempuan itu masih belia, karena ada
sedikit nada kekanakkanakan. "Bagus Kau boleh menyerahkannya kepadaku " Terdengar suara gadis itu kembali.
"Baik" kembali terdengar sahutan dan laki-laki itu.
"Yok Sau Gun Sekarang kau ikut aku," kata gadis itu Kemudian terasa sebuah
tangan yang halus menariknya. Yok Sau Cun menurut kemauan gadis tersebut Secara sambil lalu dia bertanya.
"Apakah kau yang disebut Tiong kouwnio?".
Terdengar suara tawa yang ringan.
"Aku'" Bukan " sahutnya.
"Cayhe ingin numpang bertanya. Tempat apakah ini sebetulnya?".
"Aku tidak dapat mengatakannya kepadamu," sahut suara lembut itu.
"Kalau begilu, apakah aku boleh mengetahui bagaimanacaranyaaku bisasampai ke
tempat ini''" tanya Yok Sau Cun dengan maksud menyelidik.
"Aduh Cerewet amat kau . Aku tidak tahu apa-apa Nanti setelah bertemu dengan
Tiong kouwmo, kau bertanya juga masih belum terlambat," sahut suara lembut itu.
"Cayhe tidak pernah mengenal Tiong kouwmo Apakah dia merupakan Tiong
kouwnio ya Tiong Kouwnio Dia punya beberapa pertanyaan yang ingin diajukan
kepadamu tukas gadis itu dengan nada kesal.
"Apa yang ingin ditanyakan kepadaku?" tanya Yok Sau Cun.
"Apa yang ingin ditanyakannya, mana aku tahu?".
Langkah kakinya dipercepat. Yok Sau Cun merasa bahwa paling setidaknya mereka
melewati dua buah tikungan Dia dapat merasakan dan tarikan tangan gadis itu.
Jalanan itu semuanya panjang sekali pasti rumah ini sangat besar. Ketika mereka
melewati satu ruangan lagi Langkah kaki gadis itu berubah menjadi lambat. Yok
Sau Cun tahu mereka segera sampai di tujuan.
Setelah berJalan kurang lebihlima tindak Tangan lembut yang menariknya terlepas
Terdengar sebuah suara membisik di tell nganya.
"Sudah sampai Sekarang kau boleh melepaskan kain hitarn yang menutupi matamu.".
Yok Sau Cun segera menuruti katakata nya Begitu kain hitam itu terlepas Sorot
matahari yang terang menyilaukan matanya Untuk sesaat dia tidak sanggup melihat
apa-apa Sejenak kemudian, dia baru mulai membiasakan dirinya kembali Di
hadapannya berdiri seorang gadis yang mengenakan rok pendek berwarna ungu.
"Kau tunggu sebentar," kata gadis itu.
Tampaknya gadis itu masih kecil sekali Usianya paling paling enambelas tahunan
Wajahnya masih kekanakkanakan Yok Sau Cun memperhatikan tempatnya berdiri
Tempat itu adalah sebuah ruangan kecil. Di dalamnya terdapatlima pot kembang
yang berisi hiasan kuning Di sampingnya menghias tirai yang menjuntai ke bawah.
Sementara itu, gadis yang mengenakan rok pendek berwarna ungu itu
membungkukkan badannya dengan hormat.
"Lapor Tiong kouwnio, Yok Sau Cun telah dibawa keman," katanya Dari dalam
berkumandang sebuah suara dengan nada dingin.
"Silahkan,". Gadis itu membalikkan tubuhnya.
Tiong kouwnio menyuruh kau masuk ke datani," katanya.
Dia menyingkapkan tirai untuk Yok Sau Cun Pemudaitujuga tidaksungkan lagi Dia
melangkahkan kaki dengan tindakan lebar Kamar itu sangat bersih dan rapi Di
tengahtengahnya terdapat sebuah meja bundar Di sekelilmgnya terdapat beberapa
buah kursi. Di bagian dalam. duduk seorang gadis yang kirakira berusia duapuluh
tiga tahun. Alisnya bagus namun agak tipis Dia tidak memupurkan bedak sama sekali
Wajahnya dingin dan kaku.
Melihat Yok Sau Cun melangkah masuk, dia segera berdirii Bibirnya
mengembangkan seulas senyuman tipis.
"Yok Sauhiap, silahkan duduk," sapanya.
Sauhiap artinya pendekar muda Yok Sau Cun menjura penuh hormat.
"Nona tentunya Tiong kouwnio'?" tanyanya.
Kepala gadis itu mengangguk kecil.
"Anak buahku telah berlaku kurang sopan terhadap Yok sauhiap Harap jangan
menyimpan di hati," katanya.
"ini yang dinamakan pertama menghina kemudian mengangkat Kalian mengurung
aku di ruang bawah tanah Sekarang toh mengaku sendiri." kata Yok Sau Cun dalam
hati. "Perkataan kouwnio baik sekali Mungkin ini hanya sekedar salah pengertian,"
sahutnya sambil menggoyangkan tangan.
"Yok Siangkong silahkan duduk Aku ada Deberapa partanyaan yang mohon Jawaban
dari Sauhiap," kata katanya sangat manis namun penuh pengalaman.
Yok Sau Cun duduk di hadapannya.
"Tiong kowunio ingin bertanya soal apa" Cayhe bersedia mendengarkan.".
Gadis cilik yang tadinya mengantarnya Kembaii lagi dengan sebuah baki berisi
tako dan cangkir Teko yang berisi teh itu memancarkan bau harum.
"Yok Sauhiap, silahkan minum," katanya.
Kepala Tiong kouwnio menoleh kepada gadis itu.
"Ambilkan barangbarang milik Yok Sauhiap," perintahnya.
Gadis itu mengiakan Dia membalikkan tubuh dan pergi. Tidak lama kemudian, dia
sudan kembali lagi dengan berbagai macam barang ditangannya Diletakkannya
barangbarang itu di alas meja Ada gulungan pedang, sebungkus daun emas dan
beberapa tail uang perak. Sekali lihal saja, Yok Sau Cun mengenali barangbarang
tersebut adalah miliknya.
Tiong kouwnio menunjuk ke atas meja.
"Yok Sau Cun, periksalah Apakah semua itu milikmu" Kurang atau tidak'" Kalau
sudah cukup, harap disimpan kembali," katanya.
Yok Sau Cun mengambil barangbarang itu dan menyehpkan ke balik pakaiannya.
"Tidak... Semuanya sudah lengkap," sahutnya.
Aku tidak tahu bahwa Yok Sauhiap ada lah orang kepercayaan Hong Lo Cianpwe.
Kalau ada hal-hal yang kurang menyenangkan Harap Yok Sauhiap sudi memaafkan,"
kata Tiong kouwnio dengan sikap normal.
Ini adalah untuk kedua kalinya dia meminta maaf kepada Yok Sau Cun
Kedengarannya lembut sekali Fasti dia sudah terbiasa menampilkan wajah dingin
dan kaku Sehingga meskipun bibirnya tersenyum namun mimik wajahnya tetap datar
Tetapi tetap begitu mempesona dan cantik jelita'.
Yok Sau cun sama sekali tidak tahu siapa Tiong 'Lo cianpwe' yang dimaksudkan
olehnya" Mulutnya hanya berdehem sekenanya.
"Aku dengar Yok Sauhiap baru datang dari Ma cik san?" tanya gadis itu lebih


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lanjut. "Tidak salah Cayhe memang baru datang dan Ma cik san ".
Matanya yang bening menatap Yok Sau Cun sekilas.
'Apakah Yok Sauhiap sudah bertemu dengan Song loya cu?" tanyanya.
Hati Yok Sau Cun tergetar Diamdiam dia berpikir "Apakah manusia she Yu yang
memperalat diriku sekelomplotan dengan orang-orang ini" Kalau tidak, bagaimana
dia bisa tahu bahwa aku baru kembali dari Ma cik san?".
Dia mendongakkan wajahnya dan berusaha setenang mungkin.
"Sudah. . Tapi Song loya cu dicejakai oleh orang jahat," Yok Sau Cun sengaja
menghentikan katakatanya.
"Song loya cu dicelakai orang" Mengapa aku lidak mendengar ada kejadian seperti
ini?" tanya Tiong kouwmo heran.
Dalam hati Yok Sau Cun memaki gadis itu yang dianggapnya pandai bersandiwara.
'Song loya cu hanya sedikit lengah sehingga terserang racun Namun dia mempunyai
obat pemunah racun yang amat mufarab, yaitu Pat paotan dari perguruan Tong bun
Setelah menenggak obat itu, tentu tidak ada bahaya lagi. Bagaimana orang luar
bisa tahu?" sahutnya. Tiong kouwnio merapikan rambut di keningnya. Dia tetap menatap ke arah pemuda
itu. "Aku hanya sekedar bertanya. Tetapi aku ingin mencari berita seseorang dari Yok
Sauhiap," katanya. "Siapa yang ingin ditanyakan Tiong'Kouwnio?" tanya Yok San Cun.
"Keponakan luar dari Song loya cu Juga merupakan putri tunggal dan Wi Yang
tayhiap, Hui Fei Cin kouwnio " kata gadis itu.
"Cayhe tidak terlalu kenal dengan Hui kouwnio itu," sahut Yok San Cun.
"Selama di Tian Hua san ceng, apakah Yok Sauhiap pernah mendengar kabar tentang
pedang yang didapatkan Hui kouwnio?" tanya gadis itu kembali.
Yok San Cun purapura tidak mengerti. Dia menampilkan kesan keheranan.
"Cayhe tidak pernah mendengar mereka mengatakan. Bagaimana sebetulnya jalan
cerita tentang mendapatkan pedang itu?".
Tiong kouwnio tertawa merdu.
"Yang didapatkannya sudah pasti Cen Ku kiam. Apakah Yok Sauhiap benarbenar
tidak tahu?". "Cayhe memang tidak tahu," sahut Yok Sau Cun.
Gadis itu kembali tertawa renyah. Tatapan matanya memberi kesan kurang percaya.
"Di hadapan orang sendiri, tidak perlu berdusta Apakah kedatangan Yok Sauhiap
bukan karena Cen Ku kiam?".
Yok Sau Cun termangumangu. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Mata Tiong
kouwmo mengawasinya dengan tajam.
"Malam hari itu Yok Sauhiap menumpang di atas perahu Huj kouwnio Kalau tidak
salah, sikapnya terhadapmu boleh juga Mungkinkah dari tutur bicaranya Yok Sauhiap tidak
dapat menangkap apa apa?" lanjutnya.
Hati Yok Sau Cun tercekat.
"Apakah Tiong Kouwnio sangat jelas mengenai diri cayhe," sindirnya.
"Aku juga hanya mendengar kabar angin. Apa yang kuketahui tidak terlalu banyak,"
kata Tiong kouwnio. "Cayhe juga punya pertanyaan yang ingin dia|ukan.".
"Silahkan Yok Sauhiap kemukakan saja," sahut Tiong kouwnio.
Mata Yok Sau Cun terangkat sedikit.
"Apakah Tiong kouwnio ini ..".
Gadis itu tidak membiarkan Yok Sau Cun bertanya lebih lanjut Dia tersenyum
lebar. "Apakah Yok Sauhiap masih belum Jelas?" sahutnya.
"Oh.." Yok Sau Cun menyahut sekenanya. Sebetulnya dalam hati, dia semakin
bingung. Dan nada bicara gadis itu, dia seakan mengira Yok Sau Cun sudah tahu
siapa dirinya. Tidak salah lagi! Tadi dia mengatakan bahwa Yok Sau Cun adaiah orang keper
cayaan Hong lo cianpwe Mungkin dia sudah salah mengenali orang Sedangkan Yok
Sau Cun sendiri fuga tidak menyangkal Dia malah membiarkan saja Siapa tahu
dengan cara demikian dia bisa melacak asa! usul gadis itu'".
Perlahanlahan Tiong kouwnio bangkit dan tempat duduknya.
"Selamanya kami sangat menghormati partai kalian Kalau Yok Sauhiap memang
tidak tahu menahu tentang Cen Ku kiam, aku juga tidak perlu banyak bertanya
[agi. Yok Sauhiap silahkan minum. Nanti aku akan menyuruh orang mengantar kau keluar
dari sini," katanya.
Yok Sau Cun juga ikut berdiri. Dia membungkuk dengan hormat.
"Tidak perlu merepotkan. Cayhe mohon diri saja," sahutnya.
Gadis itu tersenyum datar.
"Setelah mmum teh, toh masih belum terlambat untuk keluar," katanya.
Begitu gadis itu mengungkapkan tentang minum teh' Yok Sau Cun baru teringat.
Bukankah setelah minum teh suguhan nenek tua itu kemarin malam, dia langsung
tertidur dan tidak sadarkan diri" Tentu di dalam teh ada obat biusnya. Hatinya
tercekat Dia buruburu menyahut. "Terima kasih Cayhe tidak mgin mengganggu lebih lama.".
Dia langsung melangkah keluar ruangan. Namun Tiong kouwnio menghadang di
depannya. "Yok Sauhiap harap berhenti, kau sudah tahu asal usul kami. Seharusnya kau tahu
juga perbuatan kami Apa yang kami lakukan selalu terselubung. Tidak boleh ada
orang luar yang tahu. Kalau Yok Sauhiap tidak mau meminum teh ini, bagaimana aku
dapat mengijinkan kau keluar dari sini?" katanya.
Perkataan ini sama juga artinya telah menyatakan dengan terang.
"Apakah maksud Tiong kouwnio ingin membius cayhe dulu baru diantarkan keluar?"
tanya Yok Sau Cun. Wajah gadis itu menampilkan perasaan menyesalnya.
"Yok Sauhiap adalah orang yang penuh pengertian Gerakgenk kami, untuk sementara
masih belum boleh diketahui orang Aku terpaksa berbuat demikian Memandang kerja
sama pihak kna. aku masih mengharapkan kebesaran jiwa anda ".
Tiong kouwnio tidak membiarkan Yok Sau Cun berkata lebih lanjut Dia mengangkat
tangannya ke alas Dengan gerakan secepat kilat. dia menotok jalan darah tidur
pemuda itu. " *. ". Kejadian itu seperti sebuah mimpi panjang.
Tidak! Kalau mimpi tentu hanya bayangan samara-samar yang tenngat. Sedangkan
mimpi yang satu mi lain sekali. Yok Sau Cun ingat sekali, bahkan sampai hal-hal
yang terkecil. Sekarang. dia merasa ada percikan dingin di wajahnya, Pikirannya perlahanlahan
tersadar Dia masih rebah dr atas tempat tidur Pakaiannya pun belum diganti.
Begitu juga sepatunya Matanya langsung menangkap kelambu berwarna biru dengan
bungabunga kecil. Bukankah dia masih berada di kamar tidur yang disewanya
kemarin malam". Pada saat itu, kelambu telah disingkap oleh seseorang Sesosok bayangan bertubuh
langsing sedang berbisik dengan suara rendah di samping telinganya.
"Yok Siangkong, cepat bangun'".
Yok Sau Cun masih terbayang gadis bergaun pendek tadi. Pikirannya masih bingung.
Mulutnya mengeluarkan suara 'oh .. Tubuhnya segera membalik. Lalu bangun dan
duduk. "Siapa kau?". Dan kejauhan terdengar suara kokokan ayam jago Setidaknya sekarang sudah
kentungan kelima. Namun dalam kamar masih gelap gulita.
"Aku adalah Siau cui Sengaja datang ke mari untuk menolongmu," kata bayangan
langsing tersebut. Rupanya rasa dingin di wajahnya adalah perbuatan gadis itu yang mencipratkan air
agar dia tersadar. "Siau cui kouwnio, bagaimana kau bisa datang ke mari?" tanyanya heran.
Dia turun dari tempat tidur Siau cui mundur selangkah Dan menyahut dengan suara
berbisik. "Ciek Congkoan menduga orang-orang jahat itu pasti tidak akan melepaskankan Yok
Siangkong Oleh karena itu, dia memmta Song bu jAnak buah Song loya cuj
mengikuti secara diamdiam Siocia juga segiera mengutus aku mengmtil di
belakangnya. Ketika orang jahat itu membawa Yok Siangkong pergi. Song bu dan aku
mengikuti secara diamdiam sampai ke Wi su kan. Song bu puiang untuk memben
laporan. Sedangkan aku bersembunyi di sekitar tempat itu tanpa bergerak karena
takut kepergok. Kemudian, entah mengapa mereka mengantarkan Yok Siangkong kembali
lagi. Aku lalu mengambil air dan memercikkannya ke wajah Siangkong. Tempat ini
adalah kediaman Hu pocu yang sekomplotan dengan orang-orang Hu Lekas kau ikut
aku keluar," katanya paniang lebar.
Siau cui segera metangkah mendekati Jendela. Tiba-tiba terdengar seruan
terperanjat dari mulutnya. "Waktu aku masuk tadi, terangterangan jendela ini masih kubiarkan dalam keadaan
tidak terkunci. Entah siapa yang menutupnya dari luar?".
Tiba-tiba terdengar suara parau perennpuan tua berkumandang dan luar.
"Yok Siangkong baru bangun tidur Tentu saja jendela harus ditutup supaya tidak
masuk angin". Pintu kamar Hu terbuka Nenek tua Hu toamo berdiri dengan bibir mengembangkan
seulas senyuman licik. "Ah. ." Siau cui terparanjat Kakinya mundur dua langkah dan pedang pendek yang
terselip di pinggangnya segera dikeluarkan.
"Siau kownio, jangan takut. Lao pocu beritahukan kepadamu. Kami baru tahu kalau
Yok Siangkong adalah orang sendiri Maka kami mengantarnya pulang kembali.
Sedangkan Song bu yang diutus Ciek Cong koan, dalam perjalanan sudah dibereskan
oleh orang kami. Sekarang tinggal kau seorang diri Lebih baik letakkan seniata
itu secara baikbaik Dengan memandan'g waJah Yok Sauhiap, kami tidak akan
menyulitkan dirimu.".
Siau cui membalikkan tubuh dan memandang Yok Sau Cun.
"Yok Siangkong . " Wajahnya menampilkan perasaan takut.
"Lao popo. Mengapa kau mengoceh yang tidaktidak'" Siapa yang kau katakan orang
sendiri?" tanya Yok Sau Cun marah Dia mengerti perasaan Siau cui yang salah
paham. "Yok Siangkong Budak ini tidak boleh dilepaskan. Mulutnya berseru lantang Pedang
pendek diacungkan. Tubuhnya menerjang.
"Gerakan bagus" kata Hu toa hio.
Bayangan melesat Pedang pendek Siau cui luput dan sasaran Tangan nenek itu
terulur. Tanpa sempat berkelit, pergelangan tangan Siau GUI berhasil
dicengkeramnya. Kamar itu memang kurang luas Kedua orang itu bergebrak dalam kamar sesempit ini
Yok Sau Cun tidak menemukan akal untuk menenang keluar, dia berteriak dengan
panic. "Siau cui kouwnio, mundurlah'".
Hu toa nio memang ticik Dia mengerti maksud Yok Sau Cun Tangannya segera
berpindah ke bahu Siau cui.
"Budak busuk' Kalau kau berani bergerak sedikit saja, maka lao pocu akan
mematahkan lenganmu yang indah inil" ancamnya. Cekalan tangannya diperkuat Siau
cui sampai mengaduh kesakitan.
"Lao popo! Lepaskan dia1" bentak Yok Sau Cun.
Belum lagi nenek itu menyahut dari arah belakangnya terdengar suara seseorang.
"Hu pocu . Yok Siangkong menyuruhmu lepaskan gadis itu. Kalau kau masih tidak
mau menurut, maka telapak tangan ini akan menggetarkan jantungmu sehmgga pecah
". Nenek itu merasa ada sesuatu yang lunak dan nangat menempel di punggungnya.
Hatinya tercekat sekali. "Slapa kau?" tanyanya dengan suara lirih.
Pandangan Yok Sau Cun terhalang oleh nenek tua dan Siau cui. Namun sekali dengar
saJa, dia dapat mengenali siapa orang itu.
"Ciok kouwnio " panggilnya dengan nada nang.
Tiba-tiba dan arah luar terdengar suara siulan Disusul dengan bentakan Ciok Ciu
Lan Lalu Trangi Trang' Bunyi benturan sentata.
Hu toanio tertawa tergelakgelak Dia melesat sambit menarik lengan baju Siau cui
Begitu kedua orang itu pergi, Yok Sau Cun juga menenang ketuar Di ruang tamu
terlihat pintu masuk telah terbentang lebar Sinar matahan menyorot menusuk mata
Yok Sau Cun Rupanya telah terang tanah!.
Di dalam ruangan itu sendiri tidak begitu terang. Hanya remangremangsaJa
Bayangan Hu toanio dan Siau cui sudah tidak kelihatan. Samarsamar Yok Sau Cun
melihat ada dua orang yang sedang berdiri berhadapan.
Yang satunya tentu Ciok Ciu Lan. Ketika dia menempelkan telapak tangannya di
belakang Hu toa nio, ada orang lain yang membokongnya dan belakangnya juga
Orang itu menyerang dengan tangan kosong, namun karena tenaga yang terpancar
dari telapak tangan itu sangat kuat, Ciok Ciu Lan tidak berani menyambutnya
dengan kekerasan Tubuhnya bergeser, dalam waktu yang bersamaan, dia melemparkan
beberapa senjata rahasia ke arah orang tersebut, namun berhasil disampok jatuh.
Sekarang mereka berdiri berhadapan. Siapa pun tidak ada yang bergerak Namun
ketika Yok Sau Cun sampai di pintu depan, sebuah telapak tangan yang memmbulkan
angin keras menyambutnya Pemuda nu tidak sempat berkelit lagi. Dalam keadaan
panik dia mengulurkan kedua telapak tangannya dan menyambut hantaman lawan
dengan kekerasan Jurus yang digunakannya adalah Tong bun ki houw jMenghadang
hanmau didepan pintuj Meskipun kedua telapak direntangkan dalam waktu yang
bersamaan, namun tenaganya jadi berkurang karena terbagi dua Oleh karena itu,
ketika telapak tangan mereka saling beradu, tenaga Yok Sau Cun yang tersalur
hanya lima bagian. Dia terdesak mundur satu langkah.
pada saat yang bersamaan, Ciok Ciu Lan segera bertindak Dengan cepat, dia
menerjang ke arah orang tersebut.
"Budak pulang ke rumahf" teriak orang itu tiba-tiba. Tangan kanannya ditarik
kembali. Disusul dengan telapak tangan kin diangsurkan ke depan dan menyambut
serangan Ciok Ciu Lan. Gadis itu melancarkan dua serangan berturut-turut, namun ketika telapak mereka
saling beradu, tubuh Ciok Ciu Lan tergetar mundur dan berdiri dengan
terhuyunghuyung. Yok Sau Cun mendengar orang itu berteriak 'Budak pulang ke rumah' berdiri dengan
termangumangu Dia merasa suara itu tidak asing di telinganya Matanya segera
celingukan Sayangnya ruangan itu terlalu gelap sehingga dia tidak dapat melihat
dengan jelas Dia hanya tahu bahwa bentuk badan orang itu sedang-sedang saja
Wajahnya tidak tampak. Begitu melancarkan sekali serangan terhadap Ciok Ciu Lan,
tubuhnya segera melayang keluar dan pintu belakang. Sebetulnya serangan orang
tad! Ditujukan kepada Yok Sau Cun Dalam keadaan panik, Ciok Ciu Lan menerjang ke
arahnya. Dengan demikian dia yangterpukul mundur Yok Sau Cun sekall lihat sudah
mengetahui kalau Ciok Ciu Lan masih betum sanggup menandingi orang itu.
Pada saat itu, dia bermaksud mengejar orang tadi. Tapi pandangannya menatap ke


Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

arah Ciok Ciu Lan yang berdiri dengan tubuh sempoyongan. Dia segera
menghampinnya. "Ciok kouwnio... apakah kau terluka?" tanyanya cemas.
Ciok Ciu Lan menenangkan dirinya sesaat Dia menarik nafas panjang.
"Lumayan.... Aku tidak apa-apa," sahutnya.
"Kalau tidak apa-apa syukurlah. Mari kita kejar orang itu." kata Yok Sau Cun
sambil mendahului gadis nu melayang keluar.
Asal saja ayam sudah berkokok, hari pun segera terang benderang.
Di belakang rumah itu terdapat lumbung padi yang rendah Banyak rumputrumput
yang berserakan. Ketika Yok Sau Cun sampai di tempat itu, bayangan laki-laki
yang bertubuh sedang sudah tidak kelihatan Lebihlebih si nenek tua dan Siau cui.
Ciok Ciu Lan takut Yok Sau Cun menemukan hal yang tidak dungmkan Dia segera
mengikuti di belakangnya Dengan keheranan dia melihat Yok Sau Cun sedang berdiri
dengan wa]ah termangumangu. "Apakah mereka sudah kabur?" tanyanya.
Yok Sau Cun tidak menjawab. Dia seperti sedang berkata kepada dirinya sendiri.
"Pasti dia tidak salah lagi. Pasti dial".
Mata Ciok Ciu Lan jelalatan kesana kemari.
"Siapa yang kau maksudkan?" tanyanya bingung.
"Manusia she Yu " sahut Yok Sau Cun sambil membalikkan tubuh.
Ciok Ciu Lan makin tidak mengerti.
"Siapa manusia she Yu?".
Yok Sau Cun menarik nafas paniang.
"Cerita ini sangat panjang Oh Ya .. ciok kouwnio . bagaimana kau juga bisa ada
di tempat ini?". Pipi Ciok Ciu Lan terlihat rona merah.
"Buat apa kau tanya bagaimana aku bisa datang ke tempat ini" Orang..." Dia malu
mengakui bahwa sebetulnya dia mengikuti Yok Sau Cun Matanya mengerling ke arah
pemuda itu sekilas. "Semalam kau menyewa kamar di rumah Hu toanio Tadinya aku
tidak tahu kalau Hu toanio ini adalah pentolan golongan hitam yang sangat terkenal di
wilayah Kiang pak. Julukannya Pok hua popo jNenek penepuk bungaj. Kemudian
setelah kau tertidur, aku kira tidak akan terjadi apa-apa lagi, maka aku pun
pergi mencari rumah penduduk lainnya untuk beristirahat...".
"Rupanya semalam Ciok kouwnio sudah melihat cayhe. Mengapa kau tidak menyapa
saja?" tanya Yok Sau Cun. Ciok Ciu Lan tidak memperdulikan kata-katanya.
"Sampai tadi, aku seperti sedang bermim pi Dalam mimpi itu aku mendengar perca
kapan laki-laki dan perempuan Terdengar laki-laki itu berkata. 'Siau cui, cepat kau
tolong Yok siangkong Aku akan pulang memberi laporan' Mendengar katakata itu aku tersentak
bangun. Rupanya aku bukan bermimpi Aku juga tahu bahwa telah terjadi
sesuatu dengan dirimu Aku mengintil di belakang Siau cui, ternyata kau sudah
diantar kembali oleh Hu toanio Kisah selanjutnya kau sudah tahu sendiri ".
"Sekarang Siau cui pasti dibawa lakifaki she Yu itu ke Wi su kan, di mana aku
juga disekap tadi malam Menolong jiwa seseorang lebih penting Man kita pergi'"
ajaknya. Ciok Ciu Lan menatapnya dengan heran.
"Apskah markas mereka terletak di Wi su kan" Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
Tadi malam dia menyewa kamar di rumah penduduk yang lain Apa yang terjadi pada
diri Yok Sau Cun tentu sa|a belum diketahumya.
Yok Sau Cun mencentakan bagaimana dia bertemu dengan laki-laki she Yu yang
purapura terluka, lalu dititipkan surat rahasia untuk diantarkan kepada Song
loya cu Dia juga mencentakan bahwa orang tua itu terkena racun jahat Lalu bagaimana
dirinya dibius dan dibawa ke markas mereka Gadis yang bernama Tiong kouwnio
ternyata salah. mengenatinya sebagia orang kepercayaan Hong locianpwe Oleh sebab itu, tengah
malam itu juga dia diantar kembali.
Ciok Ciu Lan terkejut sekali.
"Ternyata tadi malam kau sudah diculik mereka lalu dikembalikan lagi Untung saja
mereka salah mengenali orang. Kalau tidak. kemana aku. ." katakatanya tidak
dilanjutkan. Sebetulnya dia ingin mengatakan 'kemana aku dapat menemukan dirimu'"' Dia segera
mengalihkan bahan pembicaraan "Yok Siangkong Menurut ceritamu tadi, kau dibius
dulu baru dibawa pergi, tenlu demikian Juga ketika diantar kembali Bagaimana kau bisa
tahu kalau markas orang-orang jahat itu berada di wilayah Wi su kan"'.
Yok Sau Cun tersipu-sipu.
"Harap Ciok kouwnio jangan menertawakan Sebetulnya sejak kecil Cia su melatih
cayhe ilmu meiancarkan jalan darah Jadi cayhe tidak khawatir kalau tertotok orang.".
"Jadi dia tidak berhasil menotok Yok Siangkong," kata Ciok Ciu Lan.
"Baiklah.... Kita sudah boleh berangkat sekarang," ujar Yok Sau Cun.
"Tidak boleh jadi Sekarang hari sudah pagi. Kalau kita kesana saat ini, pasti
tidak bisa turun tangan menofong orang Dalam keadaan terang seperti ini, kita toh
tidak mungkin memanjat tembok rumah orang?" kata Ciok Ciu Lan mengmgatkan.
"Menolong jiwa orang seperti memadamkan kebakaran Kita tidak perlu memanjat
tembok. Kita terangterangan sa|a datang meminta orang ".
Mata Ciok Ciu Lan berkedip kedip Dia mengerling sekilas kepada Yok Sau Cun
Bibirnya mencibir. "Tampaknya kau sangat memperhatikan gadis itu," sindirnya.
Wajah Yok Sau Cun merah padam men dengar katakatanya.
"Ciok kauwnio mana boleh berkata begitu Jangan kata kedatangan Siau cui kouwnio
adalah untuk menolong aku, andai kata tidak, kita juga tetap harus menolongnya.
Apalagi orang-orang itu sangat kejam," sahutnya.
Ciok Ciu Lan merasa malu sendiri.
"Aku hanya bergurau. Mengapa begitu saja kau sudah marah?"'.
"Tidak Cayhe sama sekali tidak marah.".
Ciok Ciu Lan merapikan rambutnya yang tertiup angin.
"Kalau kau sudah bertekad mendatangi mereka secara terangterangan Man' Aku
temani kau ke sana. Meskipun sarang naga ataupun kandang harimau, kita bikin
mereka kucar kacir!" katanya.
Yok Sau Cun menatap ke alas langit Matahan sudah tinggi sekali Dia
menganggukkan kepalanya. "Baik, kita berangkat sekarang juga ".
Kedua orang itu jalan bennngan Mereka langsung menuju Wi su kan Tempat yang
mereka lalui adalah jalan raya Pagi nan seperti ini sangat rarnai Para pelayan
toko sudah mulai menurunkan cantang Yok Sau Cun dan Be hua mocu, Ciok Ciu Lan tidak
berani mengerahkan ginkang karena takut menarik perhatian penduduk setempat.
Mereka terpaksa berjalan dengan langkah lebar.
Jarak antara Hu kian dan Wi su kan kurang lebih dua puluh li. Kira-kira tengah
hari baru bisa sampai di tujuan.
Wi su kan tidak dapat disebut kota kecil.
Baru masuk kota itu saja sudah terlihat banyak gedung-gedung mewah. Yok Sau Cun
mengaJak Ciok Ciu Lan melewati beberapa gang sempit, Sampai ke ujung tenggara,
terlihat sebuah rumah besar dengan tembok tinggi mengelilinginya. Keadaannya
seperti sebuah benteng yang tertutup.
Kedua orang itu melalui sebuah padang rumput yang luas, kemudi.an menuju pintu
masuk Pintu gerbang itu terbuat dari besi yang kokoh. Pada saat itu, keadaannya
sedang tertutup rapat. Yok Sau Cun tidak perduli. Dia maju selangkah dan menggedor pintu itu dengan
keras. "Bum Bum! Bum".
Tidak terdengar sahutan dan sebelah datarn. Yok Sau Cun rnenungu sesaat Tidak
ada orang yang rnernbukakan pintu tersebut. Dia rnenggedor lagi beberapa kali Mulutnya
bertenak lantang. "Apakah ada orang di dalam?".
Kali ini terdengar langkah kaki yang berat mendatangi dengan tergopohgopoh.
Kedua belah pintu best berwarna hitam pekat itupun terkuak sedikit. Dari dalam muncul
seorang. laki-laki berusia lanjut. Wajahnya beriubanglubang seperti bekas penyakit cacar
Dia memperhatikan Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan.
"Siangkong hendak mencan siapa?" tanyanya dengan suara parau.
Wajah orang tua itu sudah berkenput. Rambutnya sudah berubah putih. Begitu juga
jenggotnya. Punggungnya bungkuk. Persis seperti kakekkakek yang sudah pantas
dimasukkan dalam rumah jompo.
"Lao cang... Cayhe Yok Sau Cun Cayhe ingin bertemu dengan Tiong kouwnio,"
sapanya sopan. "Mungkin Siangkong salah alamat Lao cujin kami she Cin Bukan she Tiong," sahut
orang tua itu. "Cayhe tidak tahu apakah majikanmu she Cin atau bukan Cayhe ingin mencari Tiong
kouwnio. Dia mengenakan rok pendek berwarna...".
"Siangkong pasti salah alamat. Majikan rumah ini beserta keluarganya sedang
keluar kota Di sini hanya aku seorang diri. Mana ada yang bernama Tiong kouwnio?" tukas
orang tua itu. "Semalam cayhe sempat berbincangbincang dengan Tiong kouwnio di taman bunga.
Tiong kouwnio sendiri yang menyuruh anak buahnya mengantarkan cayhe pulang.
Bagaimana bisa keliru?" Yok Sau Cun tetap berkeras.
"Kalau aku bilang tidak ada, pasti tidak ada. Buat apa aku berbohong kepadamu?"
seru orang tua itu kesal Dia tidak memperdulikan Yok Sau Cun Pintu gerbang itu
hampir dirapatkannya kembali Yok Sau Cun menahan sebetah tangannya di pintu
gerbang itu. "Tunggu dulu," katanya.
Mata orang tua itu menyorotkan sinar kemarahan.
"Apa lagi yang Siangkong ingin tanyakan?".
"Kalau Lao koan ke tidak bersedia melaporkan kedatangan kami Biar kami masuk
sendiri ke dalam," kata Yok Sau Cun. Kakinya langsung maju dua langkah.
"Aku lihat Siangkong ini seperti seorang pelajar. Siapa tahu demikian tidak tahu
aturan" Aku sudah mengatakan berkali-kali Di sini cuma ada aku orang tua
sendirian. Tidak ada orang lainnya Mengapa Siangkong tetap memaksa juga?" bentaknya kesal.
Ciok Ciu Lan memperhatikan sepasang mata orang tua itu Tampaknya biasabiasa
saja Tidak seperti orang yang pernah belajar iimu siiat, hatinya menjadi cunga
Dia menarik lengan baju Yok Sau Cun dan bertanya dengan suara rendah. "Apakah Yok
Siangkong tidak salah mengenali tempat?".
"Cayhe mengingatnya dengan jelas. Sudah tidak salah lagi," sahut Yok Sau Cun.
"Siangkong ini past! salah alamat." Orang tua itu tetap pada pendiriannya.
"Yok Siangkong memastikan tempat ini yang didatanginya semalam. Fasti tidak
salah lagi." Dia menoleh kembali kepada pemuda itu. "Yok Siangkong Kita masuk ke dalam
dan memeriksa sendiri.".
Tubuh orang itu bergetar karena menahan marah.
"Tengah han bolong kalian berani....".
Ciok Ciu Lan tidak memberi kesempatan kepada orang tua itu untuk bicara lebih
lanjut. "Kami hanya ingin mencari seseorang. Mengapa kau begitu panik?" Tangannya
bergerak dengan cepat. Urat nadi bagian leher orang itu telah tertotok. Dia menutup
kembah pintu gerbang tersebut. "Yok Siangkong, mari kita masuk," katanya.
Yok Sau Cun memperhatikan orang tua yang sudah jatuh terkulai itu.
"Apakah Ciok kouwnio menotok jalan darahnya?".
"Kalau tidak, bagaimana mungkin dia akan membiarkan kita masuk ke daiam?" sahut
Ciok Ciu Lan sambil tersenyum.
Mereka segera masuk ke dalam. Pertamatama mereka melewati halaman depan yang
berbatu. Oi kedua tepinya terdapat berbagai tanaman hijau Di hadapan mereka ada
sebuah pendopo berpintu tinggi. Di atasnya terdapat papan besar dengan huruf-
huruf indah "Su li coan cia" (Rumah kaum pelajar) Yok Sau Cun tersenyum smis melihat
tulisan tersebut Pintu itu juga berwarna hitam dan terbuat dari bahan besi Yok Sau Cun
mendorongnya. Mereka melangkah lagi ke dalam. Sekarang mereka berada di
sebuah ruangan besar yang kemungkinan besar di gunakan sebagai ruang tamu Di
sudut kiri terdapat sebuah meja sembahyang. Yok Sau Cun menunjuk ke sebelah
kanan. Ciok Ciu Lan mengikutinya Tempat itu adalah sebuah iorong panjang Mereka
berjalan terus Sekarang mereka sampai ke pusat rumah itu. Di kiri kanan terdapat
beberapa kamar tidur. Yok Sau Cun tidak masuk ke dalam salah satu kamar itu, tapi dia mengambil jalan
sebelah kanan dan belok ke sebuah ruangan yang berukuran sedang. Dari sana
mereka menikung lagi ke kiri Dia berhenti di depan sebuah taman.
Tempat itu tadinya sangat rapi dan bersih. Bahkan ada beberapa bangku kayu yang
biasa digunakan untuk duduk di sore hari. Tapi apa yang dilihat Yok Sau Gun
sangat berlainan Tempat itu berubah menjadi kotor dan berdebu Tidak ada sebuah bangku
pun yang menghiasi taman itu. Bahkan tirai yang menjuntai di depan koridor pun
tidak terlihat lagi Yok Sau Cun ingat kemarin ada lima pot kembang berisi bunga
knsan yang tergantung di kedua sisi taman itu Sekarang semuanya menghilang bagai
gaib. Giok Ciu Lan mengikuti di belakang Yok Sau Cun Dia melihat pemuda itu melongok
ke kanan kiri Seakan ada sesuatu yang dicannya Tapi sejak tadi ia tidak berkata
apaapa Clok Ciu Lan tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.
"Yok Siangkong, apa yang kau cari?" tanyanya.
"Aku bukan sedang mencari sesuatu Kemarin malam, terangterangan dayang cHik itu
membawa cayhe kemari. Kain penutup mata cayhe juga dibuka di sini Di taman mi
juga terdapat potpot berisi bunga knsan kuning," kata Yok Sau Cun menjelaskan.
"Tampaknya ruangan ini sudah lama tidak pernah digunakan pemiliknya," ujar Ciok
Ciu Lan . Yok Sau Cun tertawa dingin.
"Seandainya ruangan ini sudah lama tidak dipergunakan, pasti rumputrumput yang
ada di taman sudah tinggi dan serabutan," katanya.
Ciok Ciu Lan ikut tertawa.
"Apakah kau menduga mereka sengaja mengatur semua ini?".
"Rumputrumput yang rapi itu paling sulit disembunyikan Sedangkan kotoran dan
debu mudah

Pedang Pusaka Dewi Kahyangan Sian Ku Po Kiam Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sekali Asalkan kita mengambil pasir halus atau tanah merah lalu
diulaskan di atas meja dan sekitar ruangan, tentu sudah jauh berlainan,' kaTa
Yok Sau Cun. Ciok Ciu Lan menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Yok Siangkong, sungguh tidak terduga, baru dua hari kita tidak bertemu.
Pengalamanmu tentang dunia kangouw sudah |auh bertambah," katanya.
Dia memandang Yok Sau Cun sambii ter senyum Tiba-tiba ada sesuatu yang
melintas di benaknya. "Man kita selidiki lagi rumah ini".
Yok Sau Cun berjalan di depan Dia menunjuk ke dinding sebelah kiri.
"Tadinya di sini ada sebuah lukisan Di depan kondor Juga ada tirai yang
menjuntai.". Mereka melangkah ke dalam Kemarin malam ada sebuah jendela besar yang dapat
menembus cahaya Sekarang jendela itu juga masih ada. Namun sudah kotor dan
berdebu Sedangkan meja dan kursi di mana dia duduk bersama Tiong kouwnio sudah
menghilang entah kemana Ruangan itu kosong melompong. Seakan apa yang
dialaminya hanya dalam mimpi Tapi Yok Sau Cun berani memastikan bahwa ruangan
ini adalah tempat di mana dia berada tadi malam.
Ciok Ciu Lan memperhatikan seluruh ruangan itu dengan seksama.
"Yok Siangkong, apakah kau menemukan sesuatu''" tanyanya.
Yok Sau Cun menggoyangkan tangannya.
"Segala perabotan yang ada pun sudah menghilang Apa lagi yang dapat cayhe te
mukan?". Ciok Ciu Lan tersenyum manis.
"Aku justru menemukan dua hal .." sahutnya.
Meskipun warna kulitnya agak kehitaman, namun apabila dia tersenyum, dua deret
giginya yang putih bersih ditambah lagi bola maianya yang bening membuat
wajahnya menjadi rupawan dan mempesona.
"Apa yang kau temukan''" tanya Yok Sau Cun.
Ciok Ciu Lan meluruskan jari telunjuknya.
"Pertama, ketika aku masuk ke dalam ru mah ini, aku melihat hanya ruangan depan
dan sini yang terdapat banyak debu dan kotoran, iya bukan?".
"Tidak salah," sahut Yok Sau Cun.
"Ini yang dikatakan menutupi kebenaran," kata Ciok Ciu Lan.
"Hal kedua". 'Kedua kaiau ruangan ini sudah lama tidak pernah digunakan, ketika kita masuk
tadi, pasti akan tercium bau apek. Tapi yang kita ternui tidak demikian, bukan" Aku
justru menciurn bau harum bedak yang san r," sahut Ciok Ciu Lan tersenyum.
'Kau mencium bau harum?" tanya Yok Sau Cun.
"Betul. Bau harum itu sangat samar Namun aku dapat merasakannya Itu adalah bau
haiurn dari bedak pupur buatan Hang ciu yang sangat terkenal Hal ini membuktikan bahwa
orang terakhir yang berada dalam ruangan ini adalah seorang gadis Pupur yang
dipakainya adalah pupur buatan Hang ciu Lagipula waktunya pasti belum berapa
lama," kata Ciok Ciu Lan.
'Ciok kouwnio, apa yang kau katakan me mang tidak salah. Waktu aku duduk
bersamanya tadi malam, aku sempat mencium bau harum yang terpancar dari
dirinya," sahut Yok Sau Cun.
Mata Ciok Ciu Lan menatapnya penuh arti. Bibirnya mencibir lagi.
"Jarak duduk kalian pasti sangat dekat," katanya.
"Tempat duduk kami hanya dihalangi sebuah meja bundar," sahut Yok Sau Cun tanpa
merasa ada udang di balik batu dalam pernyataan gadis ini.
"Cantikkah dia?"" tanya Ciok Ciu Lan de ngan gaya acuh tak acuh.
Rasa hangat menjalar di pipi Yok Sau Cun.
"Apa yang dimaksud Ciok kouwnio?".
"Aku toh hanya bertanya apakah dia ter masuk gadis yang cantik" Memangnya tidak
boleh'?"'sahut Ciok Ciu Lan dengan bibir bersungut-sungut.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berjalan ke ruangan di mana mereka berada
Tampaknya bukan satu orang saja.
"Ada orang datang " kata Yok Sau Cun.
"Lebih bagus kalau ada yang datang Bukankah kita ingin mencan Tiong kouwnio'?"
sahut Ciok Ciu Lan. Perkataannya baru selesai, seseorang te lah menerJang masuk seperti banteng yang
sedang mengamuk Orang itu mengenakan pakaian berwarna biru langit. Ketika
melihat Yok Sau Cun dan Ciok Ciu Lan Dia tampak terpana.
"Rupanya Yok heng ada di sini" Suaranya datar dan kaku.
Yok Sau Cun melihat orang yang datang adalah Song Bun Cun. Dia segera menyapa
dengan ramah. "Ternyata Song heng.".
Sinar mata Song Bun Cun menatapnya tajam Bibirnya tersenyum mengejek.
'Kalian menebarkan debu di ruangan mi, apakah telah bernJal kabur?".
Yok Sau Cun terpana mendengar katakatanya.
"Song heng salah paham. Cayhe dan Ciok kouwnio juga baru datang ".
"Ha. . ha. ha " Song Bun Cun tertawa terbahakbahak Bola matanya berputar pertama
dia memandana Ciok Ciu Lan, kemudian beralih kepada Yok Sau Cun Tatapannya
berhenti pada din anak muda itu.
"Manusia she Yok. Kau sungguh pandai memainkan perananmu Dengan sengaja kau
meracuni ayahku. Kemudian memutarbalikkan persoalan dan mengarang cerita yang
dapat diterima akal sehingga ayahku mempercayaimu. Tanpa mendapat kesulitan
apaapa kau diijinkan meninggalkan Tian Hua san ceng Sekarang kedokmu telah
terbuka. Apalagi yang ingin kau katakan?".
Yok Sau Cun makm bingung mendengar tuduhan pemuda itu.
"Bagaimana Song heng bisa mempunyai pikiran seperti itu" Cahye ".
"Tidak usan banyak bicara Keluarkan pedangmu" bentak Song Bun Cun tanpa memberi
kesempatan kepada Yok Sau Cun untuk menjelaskan.
"Aih.. semua inj hanya salah paham Bagaimana cayhe harus menjelaskan supaya Song
heng mau mengerti". Song Bun Cun menghunus pedangnya Dia memandang Yok Sau Cun dengan
pandangan dingin. "Biar bagaimana caramu menjelaskannya, aku juga tidak akan percaya lagi Lebjh
baik kau keluarkan pedangmu dan duel dengan Kongcumu ini".
"Biarpun harus bertarung, kau juga mesti memberi kesempatan kepada Yok
Siangkong untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya," kata Ciok Ciu Lan
kesal. Song Bun Gun mengerlingnya sekilas.
"Siapa kau?" tanyanya datar.
"Aku adalah aku Manusia di kolong langit mi diciptakan justru"untuk membereskan
persoalan sesamanya. Bagaimanapun di dunia mi masih ada peraturan!" seru Ciok
Ciu Lan sambii mendelik. 'Ciok kouwnio, Song heng adalah putra tunggal Song loya cu dari Tian Hua san
ceng " kata Yok Sau Cun menerangkan.
Ada apa kalau memang orang dan Tian Hua san ceng Meskipun putra kaisar saat ini
juga harus mengerti etiket" sahut Ciok Ciu Lan garang.
Song Bun Cun tertawa tergelak gelak "Terhadap orang kasar seperti kalian, buat
apa pakai etiket segala macam?" sindirnya.
Pedang di tangannya digetarkan Dia berkata lebih lanjut "Manusia she Yok Kalau
kau masih tidak mau mengeluarkan pedangmu jangan salahkan kalau Kongcumu
tidak segansegan lagi".
Mata Yok Sau Cun mulai membara. "Song heng selalu mendesak aku Sebe.
tulnya ada dendam apa di antara kita?" tanyanya lantang.
"Dendam apa" Kau meraeuni ayahku ".
"Tutup mulut'" Yok Sau Cun benar benar marah sekarang "Ketika pert'ama kali Song
heng mengundang aku ke rumah penstirahatan di perbatasan kota, apakah karena aku
meraeuni ayahmu juga" Apalagi pens tiwa racun itu cayhe sudah menerangkan bahwa
cayhe hanya diperalat orang Bahkan cayhe sudah mengucapkan sumpah bahwa
meskipun harus menenang sarang naga ataupun kandang hanmau cayhe tetap akan
mencari obat pemunah itu sampai dapat Kedatangan Song heng ini sepertinya ingin
mengambil nyawa cayhe baru puas SebetuI nya antara kita ada permusuhan apa?".
"Karena perbuatan busukmu telah terbongkar Kongcu harus membunuhmu. Tidak
boleh tidak" sahut Song Bun Cun.
"perbuatan busuk apa yang tetah terbongkar" Coba jelaskan".
Terdengar suara seseorang menukas pembicaraan mereka.
"Kongcu, serahkan saja dia kepada Lao siu ".
Terlihat seorang laki-laki tua bertubuh tinggi besar masuk ke dalam ruangan
tersebut Siapa lagi kalau bukan Cong koan dan Tian Hua san ceng, Ciek Ban Cing. Di
belakangnya masih adaenam orang laki-laki berpakaian pengawal dengan pedang
panjang di tangan masing masing Begitu masuk, mereka segera menyebar menjadi
dua baris dengan tiga orang di kin kanan.
Bola mata Ciek Ban Cing melirik kesekitar ruangan itu dan berhenti pada diri Yok
Sau Cun. "Manusia she Yok, apakah keu masih tidak mau mengakui bahwa engkau memang
sengaja datang ke Tian Hua san ceng untuk meracuni Lo ceng cu kami?" tanyanya
garang. "Ciek Cong koan juga menuduh cayhe sengaja meracuni Song loya cu Apakah ada
buktinya?" tanya Yok Sau Cun. "Kalau Lao siu tidak mempunyai bukti, mana mungkin menuduh langsung?" sahut Ciek
Ban Cing sambil tertawa sumbang.
"Mengapa Ciek Cong koan tidak mengatakannya saja biar cayhe tahu?".
"Tadi malam kau menginap di rumah Hu toanio Kemudian mereka membiusmu dan
membawa kau pergi ke suatu tempat. Menjelang subuh mereka mengantarkan kau
kembali bukan?" tanya Ciek Ban Cing.
"Tidak salah," sahut Yok Sau Cun.
"Kalau kau bukan komplotan mereka, mana mungkin mereka akan melepaskan
dirimu" tanya Ciek Ban Cing.
"Hal itu karena mereka salah menduga cayhe sebagai orang kepercayaan seseorang
yang mereka sebut Hong Lo cianpwe Oleh karena itu mereka segera melepaskan din
cayhe kembali," sahut Yok Sau Cun.
"Lao siu telah mengikuti Lo ceng cu selama berpuluh tahun Hampir seluruh dunia
pernah dijelajahl Lao siu Apakah sepatah dua patah katamu itu dapat menipu Lao
siu"' tanyanya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana dugaan Ciek Cong koan sen din'?" tanya Yok Sau Cun.
"pada saat itu Hu toanio belum tahu asal usulmu Melihat kau datang dan Tian Hua
san ceng, dia sengaja membiusmu dan membawamu ke tsmpat ini pada tengah malam
Tetapi pemimpin pergerakan itu sendiri tahu siapa dirimu, malah meminta engkau
meneruskan sandiwara yang telah kau perankan Mereka mengantar kau kembali
supaya menjadi matamata bagi mereka," sahut Ciek Ban Cing.
Hati Yok Sau Cun panas sekali. Dia tertawa dingin.
"Apa yang dikatakan Ciek Cong koan hanya berdasarkan dugaan saia Apakah masih
ada bukti lain yang tebih konkret?".
"Tentu saja Lao siu masih ada bukti lainnya Yaitu perkataan yang keluar dari
mulut Hu toanio sendiri bahwa kau adalah orang sendiri. Apakah aku hanya mengada-ada?".
"Dari siapa kau dengar centa itu?" tanya Yok Sau Cun.
"Kau tidak perlu tanya siapa yang mengatakannya Lao siu hanya mgin tahu apakah
benar Hu toanio pernah mengucapkan katakata itu?".
"Tidak salah. Hu toanio memang pernah mengatakannya.".
Yok Sau Cun terdiam sesaat Dia mengerti urusan sudah semakin runyam.
Waktu itu Siau cui kouwnio sedang menyadarkan aku, namun ketahuan oleh Hu
toanio Dia sengaja mengucapkan katakata.
itu di depan Siau cui kouwnio. Mana boleh dipercaya begitu saja?" sahut Yok Sau
Cun. "Kalau katakata Hu toanio tidak dapat dipercaya, lalu katakatamu memang bisa
dipercaya?" tanya Ciek Ban Cing ketus "Apalagi kami bernasil menemukan dirimu di
Keris Maut 1 Kereta Berdarah Karya Khu Lung Pendekar Seribu Diri 10
^