Pencarian

Pedang Golok Yang Menggetarkan 4

Pedang Golok Yang Menggetarkan Pedang Penakluk Golok Pembasmi Ka Thian Kiam Coat To Thian Kiam Coat To Karya Wo Lung Shen Bagian 4


"Anak." ia menegaskan, "apakah kau benar benar putera Tjoh Kam Pek sahabatku itu?"
"Jikalau loocianpwee masih menyangsikan aku, nanti aku
terangkan segala apa yang aku masih ingat perihal ayahku itu."
"Segala sesuatu dahulu itu." kata Lauw Hay cu, " walaupun aku tidak tahu jelas tapi aku rasa masih ada yang aku ingat. Asal aku memperoleh kepastian kaulah anak sahabatku itu, akan aku tuturkan segala apa yang aku tahu kepadamu."
"Bagaimana caranya loocianpwee percaya aku?" Siauw Pek bertanya.
"Semasa hidupnya, ayahmu itu sangat terkenal, dia telah merantau luas," kata si orang tua "karena itu tidak ada orang yang tidak mengenalnya, jadi buat melukiskan roman wajahnya itulah tidak sulit."
"Kalau begitu sungguh sukar buat boanpwee" Siauw Pek mengaku.
"Jangan bersusah hati dulu, anak. Aku masih punya satu cara." "Tolonglah jelaskan, loocianpwee."
"Dalam ilmu silat Pek Ho Bun, ada tiga jurusnya yang istimewa yang dapat dipakai menyelamatkan diri dari ancaman bahaya," berkata Lauw Hay-tju, "sekarang dengan tongkatku ini, aku hendak mengujimu. Mataku lamur, aku tidak dapat melihat tegas, tetapi asal kau gunakan itu, dapat aku merasakannya." Berkata begitu, dia lalu menjemput tongaktnya. "Mari kita coba" katanya pula. Siauw Pek bingung, dia mengeluh didalam hati.
"Lootjianpwee," katanya, "walaupun cara ini sempurna tetapi bagiku sulit sekali. Aku tidak mengerti ilmu silat Pek Ho Bun. Mana bisa aku melayani lootjianpwee bersilat ?"
Lauw Hay tju menunda tongkatnya, dia heran.
"Ngaco " bentaknya. "oh, hampir aku kena diperdayakan olehmu
" Baru saja dia membentak. orang tua itu sudah menyerang dengan hebat, dia menggunakan tipu silat "Menyapu tentara seribu jiwa."
Ruang itu tidak luas, itulah berbahaya bagi Siauw Pek. Iapun tidak berniat melayani tuan rumah itu. Terpaksa ia melompat mundur, untuk menyingkir keluar. Kho Kong menjadi tidak puas, dia gusar.
"oh, tua bangka tidak pakai aturan" bentaknya. "Bengcu kami tidak sudi melayani kau, karena itu dia senantiasa mengalah. Apakah kau sangka dia takut padamu." Sementara itu, Siauw Pek sudah tiba diluar, ia diikuti oey Eng.
Kho Kong mendongkol, akan tetapi iapun tidak melayani. ia berkelit, terus menyingkir ke sudut.
Mata Lauw Hay tju tidak berguna, tapi tidak demikian dengan telinganya. Ia tahu masih ada satu orang dalam ruangan itu dan
juga di mana orang itu berada, ia maju untuk menyerang Kho Kong.
Kali ini dengan menggunakan jurus "Naga emas mengulur kuku."
Pemuda itu telah menyiapkan sepasang senjatanya, sambil menangkis dan membalas menyerang. ia menusuk dengan jurus "cecer terbang membentur lonceng."
Lau Hay tju berkelit, terus dia menyerang pula, empat kali beruntun- Semua serangan berat dan berbahaya. Kho K^ong membela diri dengan menjaga dan menangkis, dan ketika ia hendak membalas menyerang, tiba-tiba sibuta menggunakan tongkatnya menyingkap tirai, kemudian lompat menyelinap dibelakangnya. Ia menyingkir kedalam kamar.
Kho Kong heran, dia mengerutkan alis.
"Saudara oey, jaga jendela belakang," teriaknya setelah dia ingat sesuatu. "Jangan biarkan situa buta lolos"
oey Eng menyahut. Sambil menghunus pedang ia lari kebelakang.
Sesaat lamanya itu Siauw Pek berdiam saja. Ia heran dan bercuriga. Pikirnya: "Dia lihay, kenapa dia suka tinggal menyendiri ditempat sesunyi ini, hidup belasan tahun sebagai tukang tenung " Sayang ayah tak pernah menceritakan dia pandai silat..."
Ketika itu suara Kho Kong : "TUa b angka buta, ada apakah kesulitanmu" Lekas beri tahu terus terang. Tak nanti kami paksa dan mengganggumu.Jikalau kau tetap bersembunyi, awas akan aku bakar gubukmu ini"
Menyusul ancaman itu, Lauw Hay tju menyingkap tirai dan muncul. Ditangan kanannya tambah sebuah pisau belati. Dia berkata dingin.
"Siapakah yang menyembunyikan diri" Kamu tahu, Lauw Hay tju juga seorang lelaki sejati sayang mataku bercacat, hingga tak sanggup aku membalaskan sakit hati Tjoh Toako, hingga aku mesti menahan malu hidup menyendiri disini, supaya aku dapat melindungi barang titipannya. Aku tidak tahu titipan itu barang apa tetapi aku percaya itu pastilah barang berharga sekali. Karena itu, aku tak dapat mati. Tapi sekarang lain Sekarang ini titipan Tjoh Toako telah diambil oleh ahli warisnya, kalau aku mati, aku tidak menyesal, maka sekarang, mari kita mengadu jiwa sebagai ganti membalaskan sakit hati Tjoh Toako "
Berkata begitu, orang tua ini berhenti sejenak, kemudian meneruskan- "Biar kamu menggunakan akal apa juga, jangan mengharap aku membuka rahasia sedikitpun. Mataku gelap tetapi tidak hatiku. Baik akujelaskan terlebih dahulu, Pisau belatku ini ada racunnya yang jahat, asal pisau ini melukai tubuh orang, racunnya akan bekerja menutup kerogkongan. Pisau belati ini aku simpan spesial untuk membalaskan sakit hati Tjoh Toako, maka itu, justru
kamu datang kemari, inilah bagus sekali. Andaikata aku tidak dapat melawan kami, maka senjata ini akan kupakai membunuh diri " Mendengar begitu, Siauw Pek makin curiga.
"Lootjianpwee, tunggu " ia berkata. "Letakkan dulu senjata
lootjianpwee, supaya kita dapat berbicara secara terus terang."
"Tak perlu kita bicara lagi," kata orang tua itu. "Telah kuketahui siapa kamu "
Siauw Pek semakin heran- orang lamur, tapi kata katanya demikian pasti. " Lootjianpwee, tahukah kau siapa kiranya aku ini ?" ia bertanya.
"Aku tak tahu, namamu, tetapi aku tahu kamu termasuk rombongan apa haha. Kau ingin mengorek keterangan dari mulutku si buta " Hm Jangan harap " Kho Kong gusar.
"Baiklah, tua bangka buta" teriaknya. "Belum pernah aku menemui orang dungu semacam kau Mari "
Kawan ini mau maju menyerang, tapi Siauw Pek mencegahnya. "Sudah, saudara Kho, kita jangan mendesaknya. Mari kita pergi " Lauw Hay tju mendengar itu, dia tertawa dingin-
"Pergilah kamu, pergi, untuk mengundang lebih banyak kawan " dia menantang. "sekalipun kamu datang beratus atau beribu orang, tetapi aku tak jeri Hm Tak lebih tak kurang, jiwaku cuma satu "
Kho Kong gusar dan mendongkol. tetapi dia bertindak keluar. Dia mesti taati kata kata pemimpinnya itu.
Maka bersama-sama bertiga mereka mengundurkan diri.
Tiba ditegalan, Kho Kong mengeluh. "Tua bangka buta itu benar
benar gila. Dia tetap tidak percaya kau, bengtju Dia tidak mau pikir
dikolong langit ini dimana ada orang yang memalsukan anak orang "
"Kalau mendengar kata katanya itu, tak heran dia mencurigai kita," kata Siauw Pek, sabar. "Mestinya dia bersahabat sangat erat dengan almarhum ayahku. Dia menerima pesan, sudah seharusnya
dia bersetia kepada pesan itu. Aku tidak mengerti ilmu silat Pek Ho Bun, ilmu silat partaiku, tidak heran dia menjadi curiga."
"Kalau begitu, apakah kita berhenti sampai disini saja?" tanya Kho Kong, penasaran-Siauw Pek menghela nafas.
"Sayang dia telah menganggap kita sebagai musuh besar," katanya. "Sukar sekali bagi kita merebut kepercayaannya.Jangankan dialah sahabat karib ayahku, walaupun dia seorang tidak dikenal oleh ayahku itu, tak dapat kita memaksakan kematiannya. Aku menyesal sebab kelambatan satu hari saja, gagallah perjamuanku ini..."
"Kau berpikir besar, bengtju," oey Eng turut bicara. "Tapi hati manusia itu sukar dijajaki. Siapa tahu mungkin dia sedang menggunakan tipu daya" Dia toh dapat berpura pura."
Lagi lagi Siauw Pek menarik nafas.
"Melihat gerak geriknya itu, tak mungkin dia sedang menggunakan tipu," katanya. "Sekarang baik kita mencari akal..." Kho Kong tetap penasaran-
"Menurut aku, dia pasti berpura pura " katanya sengit. "Dia licik sekali "
"Dunia Sungai Telaga penuh dengan akal bulus, tak dapat kita menjaganya," kata Siauw Pek, tetapi mengenai Lauw Hay tju, aku percaya dia bukanlah seorang licik,"
Pengalaman pahit getir membuat anak mdua ini dapat memikir jauh. Ia menjadi beda dengan orang orang dewasa seumurnya. Kho Kong bertabiat keras, tetapi dia juga dapat berpikir.
"Ya, sayang kita terlambat," katanya kemudian- "Barang titipan itu mestinya penting sekali. Apakah kita berhenti sampai disini" Menurut aku, sekarang baik kita menyembunyikan diri ditempat ini, untuk secara diam diam kita intai gerak gerik si buta itu. Setelah itu barulah kita menetapkan rencana kita..." oey Eng yang berdiam saja sejak tadi, turut bicara.
"Pikiranmu ini baik, saudara. hanya pelaksanaannya meminta terlalu banyak waktu," katanya. "Menurut aku, baiklah kita melenyapkan dahulu tenaga perlawanannya, yaitu kita tangkap dia hidup hidup, kemudian baru kita berdaya membuatnya mau menuturkan segala galanya. Kalau kita sudah bekuk dia, dia mau matipun tidak bisa." Kho Kong menunjukkan jempolnya.
"Bagus Bagus" pujinya. "Pikiran yang bagus." Tapi, mendadak ia mengerutkan alisnya. "oh, tidak, tak dapat kita lakukan ini" ia menambahkan. "Tadi aku menempur dia, dia lihay."
"Kita berdua bersaudara oey, tak sanggup kita membekuknya. Bengcu liehay, tetapi bengcupun sukar menotok jalan darahnya dalam satu serangan-"
"Memang, dia memang liehay," oey Eng akui "sekarang bagaimana " Titipan barang ayah bengcu penting sekali, perlu kita dapatkan itu. Bagaimana kalau kita sekarang istirahat dahulu, nanti aku selesaikan dia " Kita masuk ke gubuknya dengan berpencar, lalu kita tunggu kesempatan untuk membokong menotok jalan darahnya."
"Didalam pertempuran, tak ada halangannya orang menggunakan pelbagai macam tipu muslihat," kata Siauw Pek. "Hanya dialah sahabat kekal almarhum ayahku, mana pantas kau membokong dia. Lagi pula dia bertabiat sangat keras, andaikata dia membandel menutup rahasia bagaimana, apa yang dapat kita perbuat."
oey Eng berpikir. "Jikalaujalan keras tak dapat. Terpaksa kita mesti ambil jalan halus," katanya. "Terpaksa kita mesti mengalah dan mengabdi kepadanya." Siauw Pek berdiam. Belum bisa ia mengambil keputusan-
"Sayang dahulu ayah tidak mengajariku ilmu silat Pek Ho Bun hingga aku tidak mengerti tiga jurus ilmu itu," katanya. "Tak heran orang tua itu mencurigai aku karenanya."
"Soalnya memang sukar," kata Kho Kong. "Tua bangka itu kukuh sekali"
Tiba tiba oey Eng menarik tangan Siauw Pek. "Ada orang" bisiknya. Mari kita bersembunyi."
Memang ketika itu mulai terdengar tindakan kaki kuda, maka
ketiga pemuda itu lalu mendak diantara gerombolan pohon.
Segera juga tampak mendatang seekor kuda putih tinggi besar, yang berjalan dengan perlahan, penunggangnya ialah seorang muda yang berpakaian mewah, usianya ditaksir baru dua puluh empat atau dua puluh lima tahun, mukanya putih, matanya jeli. Pada pelana tergantung sebatang pedang panjang, yang dihiasi runce merah, yang berkelebat- kelebat ditiup angin.
Tiba didepan rumah Lauw Hay-tju, kuda itu dihentikan, penunggangnya mengawasi rumah serta sekitarnya, setelah itu dia melompat turun dan menghampiri pintu.
"Dialah seorang pemuda hartawan, buat apa dia mengunjungi Lauw Hay-tju?" berbisik oey Eng, mari kita lihat.
"Memang dia mencurigakan," kata Siauw Pek aku menerka dia pandai silat. Kalau kita dekati mungkin dia bercuriga."
"Jangan ragu, bengcu," kata Kho Kong, "dengan selalu ragu, kita bakal gagal. Mari kita dekati dia, kalau dia mempergoki kita, tidak apa. Siapa tahu dialah pemuda yang telah menipu Lauw Hay tju, yang telah mengambil barang titipan ayah bengcu ?"
"Baiklah," Siauw Pek berkata, "sekarang kamu tunggu disini, aku hendak pergi melihat dia, seandainya aku kepergok dan jadi bertempur, jangan sekali-sekali kamu membantu aku, tugas kalian ialah pergi mencari tahu tempat mondoknya orang itu."
"Baik," jawab oey Eng. "Bersama saudara Kho, aku nanti memisah diri untuk menguntit dan menyelidikinya."
Siauw Pek keluar dari tempat sembunyinya, kemudian bertindak menuju kerumah Lauw Hay tju, ia berjalan dengan perlahan. segera
setelah ia mendekati pagar pekarangan, ia melompat untuk bersembunyi diantara pagar itu, guna menghampiri bilik rumah. Ketika itu si tetamu muda dan Lauw Hay tju tengah berbicara sambil berdiri. ia lalu memasang telinga.
"Barang titipan sudah diserahkan, buat apa paman masih menjaga terus rumah gubuk ini?" demikian terdengar sianak muda bertanya.
"Seseorang mempunyai pikirannya sendiri, tak dapat dipaksa," sahut sibuta. "Tolong sampaikan kepada gurumu bahwa aku sehat walafiat "
"Tetapi," kata pula sianak muda, "apabila hal ini tersiar diluaran, mungkin semua orang Rimba Persilatan bakal memusuhimu" orang tua itu menggoyang kepala.
"Gurumu baik, aku berterima kasih," katanya. "Tapi aku sudah jadi biasa dengan penghidupan sunyi ini, jikalau aku dipaksa berlalu dari sini, itulah tidak baik."
Pemuda itu masih hendak bicara, tapi ia telah ditolak tubuhnya oleh tuan rumah sampai diluar, setelah itu, brak maka daun pintu telah digabruki di belakangnya.
Untuk sejenak. pemuda itu bengong mengawasi daun pintu, lalu ia menarik napas masgul, kemudian dengan lesu ia menghampiri kudanya, segera mencengklaknya dan berlalu pergi. Kalau tadi datangnya perlahan lahan, kini cepat sekali perginya. Sekali dikaburkan, kudanya segera membawanya larat dan lenyap dari pandangan mata
Siauw Pek heran. Sampai disitu, ia ingin berlalu, tetapi mendadak ia mendengar suara pintu dibuka, lalu tampak Lauw Hay-tju muncul, bertindak perlahan keruang luar.
"Rupanya ada maksud tertentu mengapa orang tua ini lebih suka tinggal menyendiri disini," pikirnya.
"Entah siapa anak muda itu" Dia tidak mirip sembarang orang Kenapa Lauw Hay-tju tak sungkan sungkan lagi terhadapnya ?"
Lauw Hay-tju berhenti berjalan, nampak dia memasang telinga. Siauw Pek terperanjat, lekas lekas ia menahan napas.
Beberapa saat lamanya si buta memasang telinga, terus dia menarik napas panjang kemudian dia berjalan mundar mandir di pekarangan yang penuh daun rontok itu Teranglah pikirannya sedang kacau, rupanya dia tak dapat memutuskan sesuatu. Hingga dia menjadi tidak tenang.
Mendadak. Siauw Pek mendapat satu pikiran : "Kenapa aku tidak mau mencuri masuk ke dalam kamarnya. Mungkin aku akan mendapatkan sesuatu mengenai barang titipan ayahku... Perbuatan ini tidak baik, tapi terpaksa. Kita pun sudah salah paham "
Hanya sedetik, anak muda ini mengambil putusan. Sambil menahan terus napasnya, dia bertindak melintas kebelakang, untuk kedalam rumah.
Lauw Hay-tju sedang terbenam dalam pikirannya, ia tidak mendengar sesuatu.
Dengan cepat Siauw Pek langsung masuk ke kamar tidur si tuna netra. Sebuah kamar sederhana luar biasa. Tidak ada lain perabotan kecuali bale bale yang dijadikan pembaringan, di atasnya bertumpuk kacau beberapa potong pakaian tua dan rombeng. Sebuah selimut bututpun numpuk diujung pembaringan itu.
Dengan berhati hati, Siauw Pek menghampiri pembaringan- ia telah mengulur tangannya, tetapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh satu bentakan : "Siapa?" Lekas lekas ia menarik kembali tangannya itu, tubuhnya ditempelkan kebilik dimana ia berdiam sambil menahan napas, sedang matanya segera mengawasi ke arah suara itu.
Di saat itu terdengarlah satu suara yang nyaring "Amida Buddha Loo lap Su Kay datang mengganggu Lauw Sietju."
Tiba tiba Siauw Pek ingat si pendeta bertubuh tinggi besar yang terlibat di dalam pertempuran mati hidup d imuka jembatan maut Seng Su Kio Dia itu menggunakan goat gee san, senjata yang mirip sekup dan berkilauan. Pendeta itu sangat mengesankan kepadanya.
sekarang ia mendengar orang menyebut nama sucinya, mendadak
dadanya bergolak. darahnya mendidih panas. "Loo lap" berarti
"Pendeta Buddha tua", biasanya dipakai untuk menyebut diri sendiri. Atas kata kata pendeta itu, terdengar jawaban tuan rumah : "Tay
su datang berkunjung ke gubukku yang buruk ini, apakah hendak membuat ramalan seumur hidup ?"
Terdengar pula suaranya si Pendeta, yang terlebih dahulu menghela napas panjang : "Lauw Sie tju, kau sungguh seorang yang luar biasa. Telah beberapa tahun loo lap mengembara selama beberapa bulan aku mencarimu, baru sekarang ini loolap berhasil menemukan siecu disini. Siecu, maksud kedatanganku ini ialah untuk berbicara dengan siecu mengenai suatu peristiwa dalam Rimba Persilatan beberapa tahun yang lampau..." Istilah "taysu" itu ialah panggilan menghormat untuk seorang pendeta. Mendengar itu, Lauw Hay tju tertawa dingin.
"Aku situa adalah orang yang kedua matanya tak dapat melihat apa apa," berkata tuan rumah pula, "aku hidup sebagai tukang meramalkan, dan mengenai urusan kaum Rimba Persilatan tak tahu menahu. Mungkin taysu telah keliru mencari alamat."
-ooodwooo- JILID 7 "Lauw Sietju, tak usah sietju mendustai loo lap lagi," berkata pula si pendeta. "seperti baru saja loolap katakan, sudah beberapa tahun lamanya loolap mencari tahu tentang sietju, baik secara berterang maupun diam diam, baru hari ini loolap berhasil. Sietju, loo lap mengharap dapat bicara dengan kau mengenai peristiwa beberapa tahun yang lampau."
sekonyong konyong si orang buta menjadi habis sabar. "Bicara tentang apakah ?" tanyanya tajam.
"Perkara lama, perkara hutang darah seratus jiwa lebih kaum Pek Ho Bun," Su Kay Tay su, sang pendeta, menegaskan.
Siauw Pek terkejut. Itu adalah soal yang mengenai dirinya sendiri. Mengenai itu, ia menjadi berduka secara tiba tiba, hingga ia tidak dapat mencegah air matanya mengalir keluar. Lekas lekas ia menepisnya, terus ia memasang telinga pula. "Tentang peristiwa itu, sedikitpun aku tak tahu apa apa " Terdengar Su Kay menghela napas panjang pula.
" Karena peristiwa itu, loolap merantau beberapa tahun lamanya," katanya, menyesal, "setelah dengan susah payah baru hari ini aku dapat mencari sietju..."
Lauw Hay tju seperti tidak sabaran. Terdengar dia menggeprakkan tongkatnya ketanah. Dia berkata pula dingin sekali: "Taysu, adakah kau datang kemari untuk memaksa aku si orang she Lauw ?"
"Memaksa, itulah loolap tidak berani," sahut si pendeta. "Beberapa tahun waktu telah loolap kurbankan, hanya untuk
mencari siecu, maksudku yang utama ialah untuk memperoleh
penjelasan siecu supaya loolap dapat pecahkan keragu raguanku."
Kata kau yang belakangan ini rupanya menggerakkan juga hati tuan rumah, sikapnya tak sekeras semula.
"Keragu raguan apakah itu ?" dia bertanya.
"Soalnya begini, siecu," sahut Su Kay : " Dahulu itu kaum kami, Siauw Lim Pay, telah bekerja sama dengan partai partai besar lainnya menyerbu dan membasmi pihak Pek Ho Bun. Peristiwa itu mencurigai loolap. Ketika pembicaraan dilakukan, persetujuan umum telah didapatkan- Loolap bersama beberapa kakak seperguruanku bercuriga tetapi kami tak dapat berbuat apa apa. Ketika itu kami tidak punyabukti bukti serta juga tidak sanggup menunjuk siapa orang yang bersalah. Demikianlah kami tidak dapat
mencegah penyerbuan dan pembasmian besar-besaran itu, hingga dengan hati berdenyutan dan giris kami cuma bisa menyaksikannya. Itulah peristiwa rimba persilatan yang hebat sekali."
Mendengar itu Lauw Hay tju berkata dengan tawar: "Jikalau kau curiga, kenapa kau tidak mau mengajukan diri untuk berbicara terus terang guna mengucapkan beberapa kata kata untuk membela Tjoh Kam Pek" Apakah sikapmu disebabkan kau takut membangkitkan kemarahan umum, hingga seumpama kau menyalahkan api jadi membakar tubuhmu sendiri?"
"Pada saat itu kemarahan umum tengah bergolak." Su Kay menjelaskan- "Seperti diketahui ketua partai kami juga menjadi salah seorang yang telah dibinasakan secara kejam sekali, hingga kakak seperguruanku, yang mewakili ketua partai tidak dapat mengendalikan diri lagi. Aturan partai kami sangat keras, jika lalu loolap mencegah, bukan saja faedahnya tidak ada, sebaliknya, loolap bakal menambahkan minyak pada api yang sedang berkobar besar. Demikianlah loolap terpaksa tutup mulut."
Lauw Hay tju tidak puas. Dia berkata: "Ketika itu kau sudah bercuriga tapi kau toh dapat duduk diam menonton terjadinya peristiwa sangat menyedihkan itu. Sekarang telah lewat belasan tahun, apakah artinya kau mencari tahu duduk persoalannya ?"
" Karena hebatnya peristiwa itu, loolap sampai tak dapat tidur tak bernapsu makan," su Kay mengaku, " karena itu loolap telah memikir buat melakukan penyelidikan, supaya duduk perkara yang sebenarnya dapat dijelaskan dimuka umum supaya sakit hati Keluarga Tjoh itu dapat dicuci bersih."
Lauw Hay tju berkata pula, suaranya tetap dingin: "seratus jiwa lebih orang Pek Ho Bun menjadi arwah arwah yang penasaran, jikalau kau berhasil mencari keterangan, dapatkah kau membalaskan sakit hati mereka itu" Maukah kau membalaskannya?" Su Kay Taysu melengak.
"Soalnya sangat sulit, sangkut pautnya sangat luas," ia berkata. " Didalam peristiwa itu, loolap sendiri terhitung sebagai salah seorang
yang turut melakukan pengeroyokan, cuma loolap bersumpah dihadapan matahari, sama sekali loolap tidak membunuh satu jiwa juga orang orang Pek Ho Bun itu"
"Kau tak mampu membalaskan atau mencuci bersih sakit hati dari seratus lebih jiwa orang Pek Ho Bun itu," kata tuan rumah dengan suaranya yang tetap dingin, "kau pula salah seorang tukang mengeroyok, maka kalau kau sekarang berhasil membuat penyelidikan, apakah gunanya itu" menurut aku yang paling benar tak usah mencari tahu terlebih jauh"
Su Kay jengah tetapi ia masih berkata: "Diantara langit dan bumi ada terdapat semangat yang suci murni, begitu didalam dunia Rimba Persilatan terdapat seseorang atau orang orang yang jujur dan adil, bijaksana Aku harap sie cu mengerti hal itu. Telah loolap katakan, dari dulu-dulu loolap sudah curiga. Bagaimana dapat loolap berdiam saja buat selama-lamanya " Mana mungkni bisa loolap membiarkan Keluarga Tjoh itu tidak terlampiaskan" Mungkin loolap tidak sanggup membalaskan sakit hati, tetapi asal loolap dapat membeberkan duduk perkaranya di muka umum, hingga si penjahat besar, si biang keladi, dapat ditunjuk, itupun sudah dapat membuat legakan hatiku.Jikalau si biang keladi dapat ditunjuk. pasti akan ada orang yang nanti menghukumnya... Dengan begitu maka tercapailah maksud hati" Tiba tiba Lauw Hay tju menghela napas.
"Siauw Limpay mendapat sebutan dan diagungkan sebagai gunung Tay Sang dan bintang Pek Taw terang itu bukan tanpa alasan berkata dia kagum. "Taysu, kau sungguh seorang yang baik hati"
Lauw Haytju menyebut bintang Pek Taw itu sebagai pujian, Pek Taw ialah Bintang Utara atau Dipper. Su Kay jengah.
"Lauw Sitju, harap kau jangan memuji loolap" ia berkata. "Kau membuat loolap malu sekali."
Di saat si pendeta berkata begitu, justru si buta dengan secara sangat mendadak menggerakkan tongkatnya menyambar pinggangnya tetamu itu. Ia sudah menggunakan tipu silat tongkat
"Menyapu seribu serdadu" Betapa kaget si pendeta. Untung dia dapat berkelit.
"Sietju" teriaknya mencegah. "Sietju, berbicaralah yang baik Kenapa tiba tiba sietju menyerang diriku?"
Habis serangannya itu, tiba tiba Lauw Hay tju tertawa nyaring, nadanya bersemangat berbareng bersedih. Itulah seumpama tawa " Dengung naga." Hati Siauw Pek terguncang mendengar tawa itu.
Su Kay merangkap kedua belah tangannya yang diangkat kedepan dadanya. Ia menanti tawa tuan rumah itu berhenti, kemudian ia berkata: "Lauw sitju, di dalam dadamu terbenam kedukaan penderitaan yang tidak terduga besarnya Kenapakah Sitju tak mau mengatakan pada loolap?"
Lauw Hay tju berlaku tenang, dia menjawab:
"Kesembilan partai besar dan kesembilan partai sekutunya, berapa besar pengaruh mereka itu" Kini karena aku ini seorang she Lauw telah dapat kau temukan, bagianku adalah bagian mati. Walaupun demikian, andaikata kau hendak mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutku, itu laksana impian di siang hari" Su Kay menghela napas.
"Lauw Sietju, apa yang loolap utarakan itu telah keluar dari hatiku yang tulus," ia berkata, menyesal. "Tetapi Sietju tidak percaya padaku. oh Tapi, akupun tidak sesalkan . kau memang nyeri rasanya bila menyaksikan seorang sahabat karib terbinasakan, hingga rumah tangganya pun hancur berantakan. Sudah begitu, diantara kaum Rimba Persilatan, tiada seorang jua yang mengajukan diri untuk membelai ataupun sedikitnya untuk mendamaikan, menjelaskan duduk perkaranya . Jangan kata Sietju, loolap sendiri juga tak puas."
"Bagiku," kata tuan rumah, "sudah tidak percaya lagi kepada dunia Rimba Persilatan ada ceng cie perikeadilan Kita adalah ini orang orang asing, taysu, oleh karena itu, aku persilahkanmu"
"Lauw Sietju, sabar dahulu," berkata sipendeta luar biasa. Ia telah "dipersilahkan-diusir, tapi ia tidak gusar. "Sukalah sietju tenangkan diri jangan berduka dan bergusar, sudi kiranya sitju mendengar sepatah kata lagi dari loolap." Lauw Haytju berdiam sekian lama.
"Baiklah" kata kemudian- "Baiklah, aku akan mendengarkan-"
"Penasaran pihak Pek Ho Bun telah menjadi peristiwa yang telah berlalu," berkata si pendeta itu, "dengan begitu, seratus lebih jiwa yang hilang juga tidak bakal hidup kembali, sekarang, aku ingin berusaha untuk melenyapkan penasarannya Tjoh Kam Pek sekeluarga serta seluruh Pek Kee Pok, supaya dunia Rimba Persilatan mengetahuinya. Di dalam dunia ini, sietju, cuma engkaulah seorang yang tahu peristiwa itu, karenanya apa bila kau tidak sudi bicara, bukankah itu akan membikin sahabatmu itu penasaran di alam baka sehingga seratus lebih anggota keluarga dan kampung halamannya turut penasaran juga?"
Mendengar demikian, wajah Lauw Haytju menjadi guram, tanpa
terasa, airmata berlinang. su Kay menyedekap tangannya.
"Amidabuddha" pujinya. "Lauw Sietju, loolap mohon dengan sangat, sudi kiranya mempertimbangkan kata kataku ini."
Siauw Pek diam diam mengangguk angguk seorang diri. Katanya dalam hati, "Pendeta ini kata katanya benar. Tidak peduli bagaimana hebat dan menyedihkan penderitaannya Pek Ho Bun, tetapi, siapa yang benar, siapa yang salah, mestinya dicari tahu dahulu biang keladinya"
Sampai waktu itu, barulah situna netra menjadi sabar.
"Kau hendak menanyakan hal yang mana?" dia bertanya kepada Su Kay, suaranya sabar.
"Segala apa yang ada hubungannya dengan peristiwa Pek Ho Bun dahulu itu, ingin loolap ketahui," menjawab si pendeta. "Apa yang loolap harap yaitu supaya sietju suka menuturkan semua sejelas jelasnya."
Sebelum menjawab, Lauw Haytju berkata "Aku siorang she Lauw, aku tidak takut kau tak kan nanti membunuh untuk memberangus mulutku"
"Sietju, tembok tetangga ada telinganya" berkata Su Kay. "Jikalau loolap berniat membunuhmu, untuk menutup mulutmu, tidak guna loolap begini lama denganmu dan menanyakan urusan begini melit"
Lauw Haytju mengetok ngetokka n tongkatnya beberapa kali.
"Gubukku buruk dan juga tak punya hidangan untuk disuguhkan kepada para tamu," katanya kemudian, "tapi, silahkan taysu masuk kedalam untuk bicara sambil duduk."
"Sebagai seorang beragama loolap bersahaja baiklah kita duduk disini saja." Berkata begitu, pendeta ini lalu mendahului duduk di tanah.
Kata Lauw Hay tju, mulai: "Jikalau dahulu kaulah yang menjadi ketua Siauw Lim sie, taysu, tak akan terjadi peristiwa hebat dan sedih semacam itu."
"Peristiwa dahulu itu seumpama anak panah yang telah terpasang di busur," berkata sang pendeta, " hingga anak panah itu tak dapat ditarik kembali, hingga andaikata loolap yang menjadi ketua, belumlah tentu loolap sanggup mencegahnya."
Untuk sejenak. pendeta itu berdiam, ia memperdengarkan suara tak nyata bagaikan menggumam.
"Jikalau es tebal tiga kaki, itu karena hawa dingin satu hari," katanya kemudian-" Dalam peristiwa itu loolap percaya Tjoh Kam Pek penasaran, akan tetapi melihat suasana atau duduk perkaranya, loolap tak melihat jalan untuk mencuci bersih sakit hatinya itu. Andaikata ada orang memfitnahnya, fitnah itu teratur sangat sempurna, tak dapat orang memecahkannya. Mungkin siecu mengetahui lebih banyak lagi, cuma belum tahu siecu bisa mulai dari bagian yang mana. Bagaimana jikalau loolap tanya satu demi satu, lalu dimana perlunya, siecu menambah atau menjelaskannya"
Dengan cara ini mungkin kita bisa cari sebab musababnya..." Lauw Hay tju mengangguk.
"Taysu benar," katanya. "Hanya terlebih dahulu hendak aku jelaskan satu hal. Penasarannya saudara Toh itu tak dapat diragukan lagi, cuma karena banyak yang aku tidak jelas, tak berani aku sembarangan bicara."
" Loolap tahu," berkata sipendeta. " Itulah mengenai Nyonya Tjoh. Cerita di luaran banyak sekali, karenanya timbullah kesangsian loolap..."
"Apa?" tanya Lauw Hay-tju cepat. Agaknya dia bersitegang hati. "Maksud taysu, apakah iparku itu, yaitu Nyonya Tjoh seorang wanita jahat?"
"Belum tentu dia seorang jahat," sahut Su Kay, "Tapi benar dia adalah kunci dari peristiwa ini, dia adalah orang penting."
Siauw Pek yang sedang mengintai dan mencuri dengar itu merasakan tubuhnya bergidik. Diluar dugaannya, orang menyebut nyebut ibunya, bahkan katanya si ibu menjadi orang penting. ibu itu dicurigai Dalam hal apakah " "Benarkah ibuku tersangkut paut?" tanyanya di dalam hati.
oleh karena urusan hebat sekali, tak berani anak ini berpikir lebih jauh. Ia menenangkan diri dengan mencoba memasang telinga lebih jauh.
"Lauw Sie-tju, bukankah kau dan Tjoh Kam Pek bersaudara angkat?" Su Kay mulai dengan pertanyaannya .
"Dialah penolong jiwaku" sahut si tuna netra sambil menggeleng kepala. "Tapi dia, dia memandang aku sebagai saudaranya sendiri." su Kay batuk batuk perlahan-
"Itulah sama saja," katanya. "Lauw Sie-tju, kenalkah kau Nyonya Tjoh?"
"Tentu saja Aku tinggal di Pek Ho Bun lima tahun lamanya."
"Maaf, aku hendak tanya hal dirimu sendiri, siecu," kata sipendeta pula. "Ketika siecu bertemu dengan Tjoh Kam Pek. siecu sudah bercacat mata atau belum ?"
"Belum," sahut orang yang ditanya. "Ketika itu kedua mataku belum rusak"
"Lalu kemudian, apakah sebab kerusakannya?"
"Aku bertempur dengan seorang lawan- Dia menggunakan bubuk beracun-"
"siecu diperlakukan baik di Pek Ho Po, lalu kenapa kemudian siecu meninggalkannya?"
"Memang Tjoh Toako memperlakukan aku baik sekali, walaupun demikian Pek Ho Bun bukanlah tempatku tinggal buat selama lamanya?"
"Apakah sebabnya itu" Mungkin ada hubungannya dengan Nyonya Tjoh ?"
Hati siauw Pek tergetar. Itulah pertanyaan yang kembali menyentuh hatinya. Hampir ia tak sanggup mengendalikan diri lagi.
Mestinya tak ada alasannya sipendeta menanyakan demikian-
Mungkinkah ibunya berhati serong " oh, tak dapat ia memikir hal itu
Lauw Hay cu bersikap sangat terang. Ketika ia menjawab, ia menjawab dengan sabar, dengan perlahan sekali.
"Kenapa taysu bertanya begini ?" demikian jawabnya ganti bertanya. Su Kay juga berlaku tenang.
"Adalah soal sukar buat seorang suami menjaga kebijaksanaan isterinya dan kebaikan puteranya," demikian jawabnya. "Loolap cuma mengingini kenyataan, maka itu, loolap mengharap sangat siecu menjawab dengan sebenar benarnya."
"Itu.. itu..." menyahut si orang buta, terputus putus, dan tak segera dia melanjutkanjawa bannya itu.
Panyahutan ini menikam hebat kepada Siauw Pek. Disana terdapat soal ibunya, yang ia sangat cintai. Hampir tak mau ia memasang telinga terlebih jauh.
Su Kay Taysu menanti, tetapi ia menghela nafas perlahan-
"Loolap tahu pertanyaanku ini mengenai kehormatan Nyonya Tjoh, kemudian menjelaskan-Inilah pertanyaan yang seharusnya tak diajukan oleh orang luar, apalagi nyonya itu telah marhum. Tak heran kalau sietju sulit menjawabnya, sebagaimana loolap pun mulanya sukar menanyakannya. Tapi ini terpaksa, sebab disini tersangkut penasarannya seratus lebih jiwa orang Pek Ho Bun, terutama penasarannya Tjoh Kam Pek sendiri. oleh karena loolap tak dapat tidak menanyakannya sietju juga tak dapat tidak menjawab pertanyaanku."
Wajah Lauw hay tju guram sekali waktu ia menjawab.
"Lima tahun aku tinggal di Pek Ho Po, dengan Tjoh Toako, aku bagaikan saudara kandung," demikian sahutnya. "Tjoh Toako satu lelaki sejati, dia jujur, dia memperlakukan aku setulus hati. oleh karena itu diantara kami berdua tiada hal apa juga yang tidak dapat dibicarakan satu sama lain- Tjoh Toako ingin memajukan Pek Ho Bun, untuk mengangkat namanya didalam Rimba Persilatan, sering dia merundingkan soal itu. Dalam hal itu, aku utarakan segala apa yang aku pikir. Cuma dalam soal inilah yang aku belum pernah bicara dengan Tjoh Toako."
Su Kay hendak membuka mulutnya tetapi batal walaupun bibirnya sudah mulai bergerak.
Siauw Pek pun mematung. lauw Hay tju menghela nafas pula.
"Iparku itu, yaitu Tjoh Toaso," sambungnya, "sebagaimana yang terlihat sehari hari, adalah seorang wanita yang bijaksana. Tjoh Toako perlakukan aku sebagai orang sendiri, bagai ia takada pantangan apa apa, demikian sering ia mengundang aku makan minum diruangan dalam dimanapun kami bisa berunding. Karena
ini, aku sering bertemu dengan Tjoh Toaso, hingga aku mengenalnya baik sekali."
Su Kay batuk-batuk perlahan- Ia melihat orang bicara bagaikan memutar mutar.
"Rupanya sietju tidak mau mempercayai loolap." katanya
kemudian- "Baiklah, disini loolap mengangkat sumpah yang berat
sekali.Jikalau loolap bocorkan soal ini, biarlah loolap tak mati wajar "
"Oh, taysu..." kata Lauw Hay tju, cepat. Masih ia berdiam sesaat, baru ia melanjutkan- "Ketika tahun kelima kira kira setelah hari raya kauwgwee Tjeekauw tanggal sembilan bulan sembilan ketika Tjoh Toako berangkat ke Utara buat suatu urusan, iparku telah menyuruh seorang budak perempuan menyampaikan sepucuk surat kepadaku yang meminta aku segera masuk ke dalam, untuk suatu urusan penting katanya ?"
"Habis sietju pergi atau tidak ?" menyela Su Kay Taysu. Dia sangat tertarik perhatiannya.
"Aku tahu kakak Kam Pek pergi ke Utara, mestinya hubungan kami erat sekali, tak selayaknya aku pergi ke dalam," jawab Lauw Hay tju. "Andaikata ada urusan penting, itu dapat dibicarakan di ruang luar. Hanya ketika itu, tidak dapat aku mengutarakan rasa hatiku itu maka aku cuma menitahkan si budak kembali lebih dahulu..."
Pendeta itu kuatir orang tidak mau bicara terus, ia mendesak. "Sebenarnya sietju pergi ke dalam atau tidak ?"
"Mulanya aku menerka, karena iparku itu seorang cerdas, jawaban itu akan membuatnya mengerti dan dia akan merubah tempat pertemuan, yaitu di ruang luar. Nyata dugaanku itu tidak tepat. Tak lama sekembalinya si budak ke dalam, dia sudah muncul pula, dia memanggil lagi bahkan dengan mendesak. Saking terpaksa aku beritahukan budak itu agar dia menyampaikan kepada majikan perempuannya supaya pertemuan dilakukan di ruang luar, setelah mana aku mendahului pergi ke ruang itu, untuk menantikannya. Sia- sia saja aku menunggu diruang luar itu, iparku itu tidak muncul..."
"Apa mungkin dia tak sudi menemui sietju" Su Kay tanya. orang yang didedas itu menarik nafas perlahan-
"Selagi aku memikir buat meninggalkan ruang luar itu, mendadak aku melihat si budak perempuan datang sambil berlari lari, romannya sangat terburu. Dia memberitahukan padaku bahwa tak leluasa buat bicara diruang luar itu dimana ada banyak orang mundar mandir maka aku diminta dengan sangat pergi ke ruang dalam saja. Kembali aku diminta masuk dengan mereka."
Berkata sampai disitu, orang buta ini menarik nafas panjang, setelah itu, ia meneruskan keterangannya : "Hal itu membuat aku menjadi curiga, lantas aku tegur budak perempuan itu serta menyuruhnya menyampaikan kepada iparku bahwa sebelumnya kakak Kam Pek kembali tak dapat aku seorang diri masuk ke ruang dalam, bahwa kalau toh iparku itu mempunyai urusan, itu dapat disampaikan padaku dengan perantaraan si budak."
"Bagus sikapmu, Lauw Sietju." Su Kay memuji. "Aku kagum terhadapmu " si orang tua tertawa sedih.
"Habis menegur si budak. aku lalu meninggalkan ruang luar itu," ia meneruskan- "Hari itu aku menjadi tidak bernafsu makan, hatiku tidak tenang, sedangkan malamnya aku gelisah saja, tak dapat tidur pulas. Tidak habisnya aku memikirkan soal iparku itu."
Su Kay menatap tuan rumahnya. Ia mengharapkan sangat keterangan lebih lanjut. Itu pula pengharapan Siauw Pek tetapi pemuda ini bingung dan berduka.
"Sejak itu, sampai tiga hari, tidak terjadi sesuatu," kemudian Lauw Hay tju menjelaskan lebih jauh. "Budak perempuan itu juga tidak pernah muncul pula . Hanya lewat hari ketiga itu, kebetulan aku bertemu dengan budak itu dipekarangan luar dan ia memberitahukan aku satu hal. setelah itu segera aku mengambil keputusan buat meninggalkan Tjoh Kee So "
"Apakah yang diberitahukan oleh budak itu " Su Kay bertanya.
"Budak itu memberitahukan bahwa pada hari aku tegur dia, dia menyampaikan semua kata kataku kepada nyonya, tanpa dirubah sepatah katapun juga. oleh sebab itu, katanya, nyonya itu terus menangis, sampai dua hari satu malam, hingga kedua matanya bengul dan merah, dan bahwa selama itu nyonya tidak mau makan dan minum..."
siauw Pek kaget, hatinya dirasakan nyeri sekali. Tanpa terasa air matanya mengucur keluar.
"Setelah itu, sietju, kau terus meninggalkan Tjoh Kee So ?" Su Kay tanya pula. Lauw Hay tju menggeleng kepala.
"Walaupun aku telah mengambil keputusan buat mengangkat kaki tetapi itu harus dilakukan nanti, sesudahnya kakak Kam Pek pulang," sahut orang yang ditanya. "Hanya ketika itu hatiku mendongkol sekali, sukar buat menenangkan diri. Akujadi sangat berduka bila aku ingat bagaimana kakak Kam Pek perlakukan aku sangat baik. Dialah seorang laki laki sejati. Karena hatiku panas, aku kuatir tak dapat aku mengendalikan diri apa bila aku berdiam tetap di Tjoh Kee So. Buat sementara aku lalu tinggal diluar. Aku kembali sesudah lewat sebulan lebih."
" Ketika itu tentulah Tjoh Kam Pek sudah pulang. Pernahkah kau singgung soal itu kepadanya?"
"Tidak. Ingin aku bicarakannya.Jikalau aku bicara dengan kakak Kam Pek, aku kuatir dia berselisih dengan isterinya, itu buruk. Iparku putrinya seorang ternama dan ayahnyapun telah membantu banyak kepada kakak Kam Pek..."
"Kemudian siecu toh bicara juga kepada Kam Pek halnya kau berniat meninggalkan rumahnya ?"
"Benar. Setelah aku memberitahukan niatku itu, kakak Kam Pek heran, sampai dia tercengang. Dia menahan aku, dia mintaaku jangan pergi. Niatku sudah pasti, tidak dapat aku merubahnya. Kakak Kam terus menahan, sampai dia memaksa aku tinggal hingga permulaan lain tahun. Permintaan itu tidak dapat aku tolak maka aku berjanji akan berdiam terus di Tjoh Kee So. Itulah janji belaka,
sebab kejadiannya belum lagi habis musim dingin, aku sudah
berangkat pergi dengan hanya meninggalkan sepucuk surat."
"Setelah kepergianmu itu, apa kemudian kau pernah bertemu pula dengan Tjoh Kam Pek ?"
"Kendati juga aku sudah meninggalkan Tjoh Kee So, aku tetap tidak melupakan kakak Kam Pek, terutama aku sangat menaruh perhatian pada soal kemakmuran dan keruntuhan Pek Ho Bun- Kakak Kam Pek demikian baik hati, sukar buat aku melupakan kebaikannya itu. Karena itu secara diam diam aku biasa memasang mata atas Pek Ho Bun-.."
"Sietju telah tinggal beberapa tahun lamanya di Pek Ho Bun pastilah orang orang Pek Ho Bun semuanya kenal kau. Selama sietju menyelidik itu, apakah tak pernah ada seorang juga yang memergokinya ?" Lauw Hay tju menggeleng kepala.
"Tidak." sahutnya. "Aku bisa menyamar, akupun menggunakan obat merubah warna kulit mukaku..."
Baru saja tuan rumah yang buta ini menutup rapat mulutnya, tiba tiba ada golok ringan Liu yap hui too, " golok terbang daun
yang liu" yang menyambar kedadanya. Itulah serangan gelap yang
sangat mendadak dan menyambarnya senjata juga pesat luar biasa.
Su Kay Taysu adalah salah seorang pendeta Siauw Lim Sie yang lihay ilmu silatnya, ia melihat datangnya bokongan itu, walaupun terkejut, ia dapat mengebut dengan tangan jubahnya yang gerombongan, kemudian membentak:
"Siapa berani main gila" Tubuhnya mencelat bagaikan burung melesat keluar pagar pekarangan
Siauw Pek sedang bingung dan berduka, meskipun ia liehay, ia tidak melihat atau mendengar serangan gelap itu, baru setelah Su Kay Taysu membentak. ia terperanjat dan tersadar. Ia segera melihat senjata gelap itu menancap ditiang pintu. Lekas-lekas ia menyusut air matanya. Ia memikir ingin turut keluar, guna melihat
siapa sipembokong itu, tetapi sekonyong konyong, terjadilah hal hebat dan menyedihkan
Dengan tiba-tiba Lauw Hay tju, yang bangkit berdiri, memperdengarkan suara yang tertahan, terus tubuhnya roboh terguling
Menyaksikan itu, si anak muda kaget sekali, tapi dia sadar, segera dia lompat keluar ruangan, akan tetapi ia tidak melihat siapa juga. Sebagaimana tadi, Su Kay yang gesit itu, juga tidak melihat adanya orang lain-
Ketika Siauw Pek kembali, untuk melihat Lauw Haytju, ia mendapat kenyataan dada si orang tua tuna netra itu telah tertancap dua batang senjata gelap yang bentuknya anak panah bukan dan anak torak juga bukan-
Diterangnya matahari, senjata rahasia itu memperlihatkan warna biru marong, maka itu jelaslah, itulah senjata maut yang telah dibubuhi bisa.
Walaupun dia lihay, Siauw Pek masih hijau dalam hal pengalaman, maka itu, melihat kecelakaan si tunanetra, ia bingung, baru sesaat kemudian ia ingat bahwa ia perlu menolong orang itu. Segera ia maju dua tindak. untuk membangunkan orang tua itu sambil memanggil : "Loocianpwee Loocianpwee "
Panggilan itu tidak mendapat jawaban- Di dalam herannya, si anak muda meraba ke hidung orang tua itu. Ia tidak merasakan hembusan napasnya.
"Mati " serunya didalam hati. Kembali ia bengong, matanya mendelong mengawasi senjata rahasia itu. Didala m hati, ia berkata
: Sungguh senjata rahasia yang sangat berbahaya Dalam sekejap dia rampas nyawa orang..."
Penyerang gelap itu liehay sekali, senjata rahasianya sampai nancap di tulang dada. Itulah yang menyebabkan kematian segera
Dalam bingungnya, Siauw Pek tidak tahu mesti berduka atau b erg usar, cuma air matanya turun menetes tanpa dirasanya, jatuh ketubuh tak bergerak dari si orang tua yang malang itu.
Tiba tiba, dari kejauhan terdengar jeritan tajam dari seorang wanita.
XXX Mendengar jeritan itu, tiba-tiba Siauw Pek menjadi tenang. Maka ingatlah ia bahwa Su Kay Taysu bakal segera kembali. Ia harus menyingkir, supaya orang tidak memergokinya, agar ia tidak akan dicurigai dan disangka jelek. Tapi, sebelumnya berlalu, ia masih ingat senjata rahasia itu. Dengan sebat ia mencabutnya, terus ia melompat, melintasi pagar pekarangan, guna menyembunyikan dirl diantara gerombolan rumput disis Hutan bambu. Baru saja ia bersembunyi, Su Kay sudah kembali. Segera ia mendengar pendeta itu menghela napas panjang dan berkata-kata seorang diri: "Kurang ajar, aku telah kena terpedayakan tipu "Memancing harimau meninggalkan gunung". Dengan begini aku telah mengurbankan jiwa Lauw Sie tju, meskipun benar bukanlah aku yang membunuhnya. Inilah sangat penasaran Cara bagaimana aku dapat menenteramkan hatiku...?"
Sekonyong-konyong pendeta ini berhenti berbicara seorang diri. Hal ini disebabkan sinar matanya bentrok dengan dada Lauw Hay tju dimana tak ada lagi senjata rahasia maut yang nancap itu. Tentu sekali ia tidak tahu bahwa Siauw Pek telah mengambilnya. Ia hanya menjadi heran curiga.
Sesaat kemudian, Siauw Pek mendengar pula suara pendeta itu, yang berkata: "Penjahat itu berani sekali, dia tak melihat mata padaku Dia telah membawa pergi senjata maut itu, supaya aku tidak dapat menyelidiki. Sayang aku terlambat kembali, hingga aku kehilangan barang bukti itu. oh, LauwSietju, kau dengar, biar bagaimana, pasti aku akan menyelidiki perkaramu ini, guna membalaskan sakit hatimu "
Sampai disitu, Siauw Pek tidak mendengarkan terlebih jauh, sebaliknya, lekas-lekas ia mengangkat kaki, guna menyusul oey Eng dan Kho Kong, di tempat yang dijanjikan untuk mereka saling bertemu. Tiba disana, ia disambut gembira oleh dua kawannya itu, yang kuatir akan keselamatannya sebab ia pergi begitu lama. oey Eng mengeluarkan napas lega.
"Apakah bengcu menemukan kesulitan?" dia bertanya. Dia melihat roman muka ketua itu beda daripada biasanya.
"Tempat ini bukan tempat bicara yang aman " sahut Siauw Pek.
"Mari kita lekas berlalu dari sini" Dan ia mendahului bertindak pergi.
oey Eng heran tetapi ia ikut pergi. Begitu jugakho Kong, yang tak kurang herannya.
Mereka berlari-lari terus, sampai sejauh tujuh lie. Kebetulan sekali, mereka berhenti di sebuah Touw Tee Bio, yaitu kuil dimana dipuja malaikat bumi. Disitu kuil itu mencil sendiri, karena tak tampak kampung atau rumah orang di sekitarnya.


Pedang Golok Yang Menggetarkan Pedang Penakluk Golok Pembasmi Ka Thian Kiam Coat To Thian Kiam Coat To Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Bengcu, kenapakah kau?" tanya Kho Kong bingung. "Apakah bengcu menghadapi lawan yang tangguh?"
"Hebat," sahut si anak muda, menghela napas. Ia
menceriterakan apa yang ia saksikan, kecuali yang mengenai
ibunya. Mendengar keterangan ketua itu, Kho Kong gelisah.
"Mengapa bengcu tidak membantu pendeta itu mencari s i pembunuh?" tanyanya. "Mengapa bengcu tidak mau membalaskan sakit hatinya Lauw Haytju ?"
"Bukannya aku tidak mau membantu tetapi aku mesti berhati- hati," sahut ketua itu.
"Dilihat dari keadaannya, terang sudah bahwa seorang yang berbuat jahat itu hendak datang dengan berencana. Mereka telah bersiap sedia dan mengatur segalanya. Tak mudah mencari penjahat itu karena disekitar rumah Lauw Haytju terdapat banyak gerombolan rumput dan pohon bambu lebar, hingga dimana saja orang dapat menyembunyikan diri."
"Lain daripada itu, sekarang ini tidak dapat bengcu muncul
secara terbuka," berkata oey Eng yang menyetujui sikap ketuanya.
"Seorang laki-laki sejati " kata Kho Kong keras. Masih dia penasaran : "Berjalanlah dia tak merubah namanya, duduk dia tak menukar shenya. Mengapa kita mesti bekerja dengan mengumpatkan kepada dan hanya menonjolkan ekor" Mengapa kita tidak mau memperlihatkan dirl untuk secara laki laki sejati melakukan pembalasan sakit hati ?"
"Kau benar, saudaraku, hanya keadaannya bengcu lain-" oey Eng memberi penjelasan- "Jikalau bengcu menampakkan diri, setelah namanya diketahui umum, segara kita akan mendapat kesulitan- Pertama tama semua orang Rimba Persilatan akan menjadi musuh musuh kita, yang kedua, musuh kita yang sebenarnya, si biang keladi, akan mendapat kesempatan untuk berlaku waspada atau menyembunyikan diri, hingga kita bertambah sukar buat menyelidikinya. Adalah berbahaya untuk menghadapi musuh yang banyak. yang kita tidak kenal sama sekali. Kau tahu sendiri berapa besar jumlah anggota anggota sembilan partai besar serta sembilan partai lainnya itu. Bagaimana kita bertiga dapat menghadapi mereka semua ?"
"Jikalau begitu, bukankah buat selama lamanya bengcu tidak akan dapat muncul secara terang terangan ?" Kho Kong berkata pula. Dia tetap kukuh dengan anggapannya. Dia terlalu jujur untuk bisa segera merubah pendiriannya itu.
"Bukan begitu saudara," oey Eng memberi penjelasan pula. "Dalam hal ini kita mesti melihat waktu dan kesempatannya. Nanti sesudah ketahuan siapa si musuh besar, baru bengcu perkena ikan dan mengumumkan dirinya guna menghadapi musuh besar itu secara terang-terangan, secara laki laki sejati "
Kho Kong tak sabaran tetapi dia cerdas, dia dapat mengerti, maka setelah mendengar keterangan saudara itu, ia segera tutup mulut. oey Eng menghela napas.
"Bengcu, bagaimana sikap bengcu" Apa bengcu telah memikir atau menetapkan tindakan bengcu selanjutnya ?" ia bertanya kepada ketuanya.
"Sebentar kita kembali kerumah gubuk tadi, untuk melihat mayat loosianpwee Lauw Hay tju sahut ketua itu, "Dia menjadi saudara angkat ayahku, tak dapat kita membiarkan mayatnya itu terlantar. Kecuali Su Kay Taysu telah mengurusnya Saudara tadi berdiam ditempat yang penting, apakah kalian tidak melihat orang yang mencurigakan yang berlalu disitu ?"
oey Eng dan kawannya berpikir.
"Tidak^ kecuali seorang penggembala dan seorang wanita dusun," jawab oey Eng kemudian-
"Benar, aku mengerti sekarang" berkata Kho Kong. "Kau mengerti apa ?" bertanya oey Eng.
Kho Kong menunjuk pakaiannya.
"Kita dapat menyamar, kenapa mereka tidak ?"
"Benar, adikku " kata oey Eng. "Kata katamu ini membuat aku ingat si wanita dusun itu Dia membawa sebuah rantang, kepalanya dibungkus hingga mukanya tak nampak tegas. Ketika itu angin tidak bertiup keras dan juga wanita dusun tidak biasanya membungkus kepala dengan sabuk putih..."
"Sayang ketika itu kita tidak curiga hingga kita tidak memegatnya untuk menanyainya dengan jelas," kata Kho Kong.
"Bagaimana dengan si penggembala, apakah diapun mencurigakan?" bertanya Siauw Pek.
"Tentang dia aku tidak perhatikan, jadi tidak ada yang dapat dicurigai," sahut oey Eng "Apa yang ingat, dia menuntun seekor kerbau celananya digulung tinggi, dan usianya rasanya sudah lanjut."
"Apakah dia membawa pacul atau lain alat pertanian?" "Tidak. dia cuma membawa sepotong suling bambu."
"Apakah kau melihat tegas sulingnya itu ?" Kho Kong melengak.
"Suling bambu atau bukan, aku kurang tegas, tetapi jelas itu
bukan alat pertanian-" Tiba tiba semangat si anak muda terbangun-
"Mari kita cari " serunya, "barangkali kita masih bisa mendapati sesuatu..." Kho Kong pun menjadi bersemangat.
"Mari " sambutnya. "Mari " dan segera ia mendahului bergerak.
"Jangan sembrono, saudara," pesan oey Eng. "Kita mesti dengar bengtju, jangan kita bertindak sendiri " Kho Kong tersadar. Dia tersenyum. "Baik " katanya.
Segera mereka berangkat. Ketika mereka mendekati rumah Lauw Hay tju, disana terlihat banyak penduduk kampung, antara satu dengan lain mereka berbicara perlahan- Teranglah kebinasaan si orang buta telah tersiar cepat.
"Kasihan," kata seorang wanita tua. "Dialah seorang buta dan tidak ada anaknya baik lelaki maupun perempuan, bahkan juga tiada sanaknya..."
"Kasihan Lauw Hay tju" kata seorang kakek, "dia hidup sebagai tukang tenung, dia tidak punya musuh, entah siapa yang demikian kejam membunuhnya mati..."
"Akan tetapi paman," kata seorang lain, "walaupun dia buta,
uang simpanannya banyak. simpanannya itu pasti menarik hati
orang jahat. Mungkin uangnya ada delapan ratus atau seribu tahil "
"Bagaimana kau tahu uang simpanannya ada seribu tahil ?" tanya seorang lainnya.
"Benar Bagaimana kau ketahui itu ?" tanya seorang lain lagi.
orang itu terkejut. Terang dia insaf bahwa dia telah salah bicara. Tidak tunggu lagi, dia pergi mengangkat kaki. Siauw Pek sebaliknya memikir lain-
"Tak pantas Su Kay Taysu," pikirnya. "Lauw Hay tju mati karenanya, kenapa sekarang dia meninggalkannya pergi " Mungkinkah didaalm kalangan pendeta tidak ada orang yang baik hatinya ?"
Pemuda ini berpikir demikian karena ia ingat halnya sipendeta tinggi besar yang bernapsu sekali menyerang ayah bundanya. Inilah kesan buruk yang ia dapatkan dari pengeroyokan dahulu itu.
Kho Kong mementang mata lebar, memandang keempat penjuru. Mendadak dia menghampiri ketuanya. Kemudian berbisik: "Lihat di sana, bengcu, dibawah pohon yangliu itu, itu orang yang lagi berdiri. Dialah si penggembala tadi "
siauw Pek kemudian menoleh. Dua tombak terpisah dari mereka ada sebuah pohon yang liu, disitulah si penggembala yang disebutkan kawannya itu.
orang itu mengenakan pakaian kasar, tubuhnya besar, celananya digulung tinggi, kakinya terbungkus sepatu rumput, sedang tangannya memegang sebatang tongkat panjang dua kaki yang warnanya hitam, tampak mirip seruling.
"Pasang mata terhadapnya, jangan sampai dia lolos," katanya. "Baik, bengcu" Kho Kong menjawab.
"Intai saja," Siauw Pek pesan lagi kawan itu mau memisahkan diri. Jikalau tidak sangat terpaksa, jangan bentrok dengannya. Kho Kong mengangguk, terus ia bertindak pergi.
siauw Pek bertiga berdandan sebagai orang desa, mereka tidak menarik perhatian orang-orang desa itu.
Tidak lama disitu muncul seorang tua usia lebih kurang lima puluh tahun, dia mendatangi cepat-cepat, tangannya memegang sebatang bun cwee pipa panjang, dimana digantungkan kantong tembakaunya. Melihat dia, orang kampung mengangguk memberi hormat.
Mungkin dia itu kepala desa Jie Sie Wan- Dia membuka jalan diantara orang banyak yang berkerumun, akan menghampiri mayat Lauw Hay tju, untuk memeriksa. ia menggeleng geleng kepalanya dan menarik napas.
"Perlu kita membelikan peti mati, untuk mengurus mayatnya, kemudian merawatnya dahulu dirumah ini..." katanya kemudian- Ia memandang kesekelilingnya, kemudian meneruskan- "Anak anak muda baiklah tenaga, dan siapa yang berada, seharusnya dia mengeluarkan uang. Aku akan mengeluarkan seratus bun-"
Suara itu mendapat sambutan hangat. Kemudian banyak orang yang merogo sakunya. Maka didalam waktu yang pendek telah dapat dikumpulkan uang sebanyak kira-kira lima renceng. Empat orang muda segera membawa uang itu pergi, dan tidak lama, mereka sudah kembali bersama sebuah peti mati.
siauw Pek menyaksikan mayat Lauw Hay tju dimasukkan kedalam peti mati, diam-diam ia mengeluarkan airmata.
"Lootjianpwee, tenangkanlah hatimu," katanya didalam hati. "Asal nyawaku masih ada, akan aku cari si orang jahat buat dipakai sebagai kurban untuk sembahyangi lootjianpwee"
Selagi ia memuji, Siauw Pek merasa ada orang membentur tubuhnya. ia segera menoleh itulah oey Eng, yang terus bertindak pergi. ia mengerti, ia segera pergi menyusul.
Segera sesudah ia terpisah cukup jauh dari rumah gubuk, oey Eng mempercepat jalannya sembari berjalan cepat itu ia berkata: "Saudara Kho tengah menyusul penggembala itu. Mari kita lekas menyusul "
Siauw Pek mengangguk. iapun mempercepat jalannya. Ditempat terbuka seperti itu, mereka tidak berani sembarangan menggunakan Keng kang sut, yaitu ilmu lari ringan tubuh yang pesat. Baru setelah terpisah semakin jauh dari rumah gubuk. mereka berani lari lebih cepat.
Sekira empat atau lima lie, mereka melihat kesana kemari. Kho
Kong tak nampak. juga si penggembala yang dicurigai itu.
"Apakah kita tidak salah jalan, saudara oey?" bertanya Siauw Pek, heran.
"Aku melihat tegas, tidak salah " sahut sang kawan-
"Disini tidak ada orang, mari kita menggunakan ilmu lari cepat" kata Siauw Pek kemudian- ia terus berlompat.
"Tahan " mendadak terdengar satu bentakan disusul dengan melesatnya satu bayangan orang dari sisi jalan yang penuh dengan gombolan pohon- Dia terus menghadang ditengah jalan itu.
Siauw Pek segera memandang tajam. Orang itu, yang pakaiannnya dari bahan kasar, berumur kira-kira lima puluh tahun, kumisnya sudah putih.
"Siapakah kau tuan?" tanya sianak muda. "Kenapa kau menghadang kami ?"
"Belum aku tanya kau, kau sudah mendahului menegur" kata orang tua itu dengan gusar. "Aku hendak bertanya kepada kamu, apakah hubunganmu dengan Lauw Hay tju?"
Siauw Pek menatap tajam, di dalam hati ia berkata: "Aku sedang mencari seseorang, tapi justru yang aku cari muncul sendiri " Ia mendongkol tapi menahan sabar. "Aku tidak kenal dia..." sahutnya pelan-orang tua itu tertawa terbahak bahak.
"Hmm, kau hendak mempermainkan akukah Kim Gan Tiauw" katanya, mengejek. "Sudah beberapa puluh tahun aku menjelajah dunia Sungai Telaga, mataku belum pernah kelilipan pasir sebutirpun. Jikalau kau tidak kenal dia, habis, siapakah yang kenal dengannya" Aku lihat kau diam memuji dan matamu mengeluarkan sesuatu air"
"Seandai benar aku mengenal dia, lalu kau mau apa?" Siauw Pek balik bertanya. "Apakah kalau orang kenal dia orang menjadi melanggar hukum"
orang yang menyebut dirinya Kim Gan Tiauw itu Elang Mata Emas menjawab kaku kaku: "Mengenal dia tidak melanggar undang undang tetapi kau menyinggung aku. Jikalau kau tahu diri, marilah baik baik ikut denganku"
"Turut kau pergi kemana?" Siauw Pek tanya.
"Tak usah kau tahu"
"Emas tulen tak takut api" kata sipemuda. "Aku tidak sangkut paut dengan Lauw Hay tju, aku tidak takut diperiksa kamu..." Ia menoleh kepada oey Eng, lalu menambahkan : "Aku hendak bicara dahulu dengan saudaraku ini, supaya dia dapat membawa kerumahku."
"Tidak dapat" Kim Gan Tiauw membentak. lalu mendadak ia menyerang kearah oey Eng yang mendampingi ketuanya.
oey Eng terkejut sekali. Serangan itu tak disangkanya sama sekali. Tapi syukur masih sempat ia berkelit.
Hebat Kim Gan Tiauw Dia bukan menyerang dengan tangan kosong tapi dengan senjata tajam, bahkan itulah "hui too", yaitu senjata rahasia "golok terbang" senjata itu lewat disisi telinga sasarannya, terus nancap dipohon jue di belakangnya.
Mata Siauw Pek menatap tajam. Sesaat ia telah mengenali golok terbang itu. Itulah senjata rahasia yang nancap didada Lauw Hay tju yang merampas nyawanya orang tua tukang tenung itu. Karena itu, selain sangat berduka, ia pun menjadi gusar. Teranglah orang tua ini pembunuh saudara angkat dari ayahnya almarhum
Kim Gan Tiauw tidak menyangka oey Eng dapat berkelit, ia tercengang. Tapi cuma sebentar, kemudian dia tertawa terkekeh kekeh.
"Maaf, maaf" katanya. "Aku situa bangka tidak pernah menerka bahwa kamu berdua adalah orang-orang yang pandai silat. Bagaimana jikalau kau mencoba lagi beberapa golokku ?"
Berbareng dengan kata-katanya itu, Kim Gan Tiauw segera menyerangnya lagi, bahkan sekarang dia telah meluncurkan empat batang hui to dengan saling susul yang tiga hampir serentak yang
keempat berada di belakang jarak dua kaki. Tiga golok terbang yang
pertama itu menuju tiga tempat berbahaya pada tubuhnya oey Eng.
Sekarang anak muda itu sudah siap sedia. Ia berkelit sambil terus memutar tubuh dan tangan kanannya meraba kepada buntalannya, untuk mengambil senjatanya, tetapi golok yang keempat menyusul cepat sekali. Ia jadi terdesak, tak sempat ia berkelit pula, dengan terpaksa ia mengayun tangan kirinya, buat menangkis. Kalau hui to dan lengan beradu, dan maka terlepaslah lengannya itu.
Tepat golok terbang itu lagi mengancam sasarannya, jatuh bakal mangsanya, mendadak ujungnya melengos, menyambar kesamping, hingga oey Eng mendengar disamping telinganya suara lewatnya senjata itu, hingga hati tergetar.
Kim Gan Tiauw terperanjat melihat senjatanya itu gagal. Ia kaget karena ia ketahui sebab ialah goloknya telah disentil lawannya dengan "Tan Cie Sin thong". yaitu ilmu "Menyentil jeriji tangan". Insyaftah ia bahwa ia tengah menghadapi lawan yang tangguh, maka tanpa ayal lagi, melompat meninggalkan oey Eng, untuk menyelinap di dalam rujuk yang lebat.
Siauw Pek tidak menyangka orang kabur, hingga ia tidak sempat mengejar.
oey Eng menghampiri ketuanya sambil berkata: "Aku menyesal sudah berlaku lengah, hingga hampir aku terkena huitoo, terima kasih bengcu, atas pertolonganmu"
"Kau dalam bahaya, saudaraku, aku merasa kuatir," kata Siauw Pek. Mendadak ia berhenti sejenak. tetapi segera ia menambahkan: "Eh, apakah katamu tadi?"
"Terima kasih atas pertolongan bengcu," oey Eng mengulangi. Siauw Pek menggeleng kepala.
" Kapan aku menolong kau, saudaraku?" ia tanya. "Aku justru menguatirkan keselamatanmu waktu melihat kau menggunakan tenagamu menyampok senjata rahasia itu."
"Oh, bengcu cuma memuji aku" kata kawan itu tertawa. Siauw Pek menggeleng kepala pula.
"Dengan sebenarnya, bukan aku yang menolong kau, saudara"
Oey Eng mau percaya ketua itu, maka ia menjadi heran, hingga ia melengak.
"Kalau begitu aneh, bengcu" katanya. "Dengan sebenarnya, bukanlah aku yang menangkis golok terbang itu. Memang aku telah mencoba menyampoknya, sebab sudah tidak ada lain jalan untuk menolong diri. Aku percaya lenganku sebelah bakal terlepas kutung^ Kalau itu sampai terjadi, pasti aku tidak akan dapat membantu lagi kepada bengcu. Di luar dugaanku, tengah lenganku terancam itu, tiba tiba golok melesat kesamping dan telingaku mendengar suaranya yang lewat pesat sekali. Heran, siapakah orang yang demikian liehay dapat menyampok golok itu dengan tenaga dalamnya?" Siauw Pek menyeringai jengah.
"Bicara terus terang, kepandaian silatku ialah sembilan jurus ilmu pedang serta sejurus ilmu golok." ia menerangkan- "Aku lihat kau terancam bahaya, aku hendak menolongmu, tapi aku tidak berdaya, niat ada, tenaga tiada."
Memang benar, kecuali ilmu golok dan pedangnya, Siauw Pek tak mengerti ilmu senjata rahasia atau ilmu silat lainnya. Satu satunya kepandaiannya ialah tenaga dalamnya itu.
"Memang benar golok itu ada yang sampok." oey Eng berkata
pula. "Jikalau penolong itu bukannya bengcu, mesti ada orang lain?" "Yang pasti bukannya aku"
"Amidabuddha" tiba tiba terdengar satu seruan suci. disusul dengan munculnya orang yang memuji itu, keluar dari dalam rujuk sejauh setombak lebih dari mereka. Dialah seorang tua dengan
jubah abu abu, tangannya mencekal hudtim yaitu kebutan. Dia berwajah tenang tenang agung.
Dua orang itu lalu menoleh, dan Siauw Pek segera mengenali Su Kay Taysu. Pendeta itu bertindak perlahan menghampiri mereka berdua.
"Maaf loolap telah secara diam diam menyampok huitoo itu," katanya, merendah. oey Eng lebih melengak.
"Kita tidak kenal satu dengan lain, kenapa suhu membantuku?" tanyanya.
oey Eng lebih tenang daripada Kho Kong akan tetapi, dia juga masih kurang pengalamannya dalam dunia Sungai Telaga. Su Kay tersenyum.
"Buddha kami maha agung dan mulia," sabdanya, "tugasnya ialah menolong sekalian makhluk, maka itu adalah tugasku bila aku berbuat sesuatu untuk sietju."
siauw Pek sementara itu mengingat mayat Lauw ha tju, yang ditinggalkan secara begitu saja oleh pendeta ini, ia menjadi tidak senang.
"Ya, kata kata saja menolong sesama manusia, buktinya lain " katanya, tertawa dingin, "Perbuatannya lain daripada kata katanya " Mendengar itu, Su Kay melengak. Tapi hanya sejenak. ia lantas tertawa.
"Sietju menegurku, pasti ada sebabnya, katanya. Loolap mohon sukalah sietju menunjuki kesalahanku itu."
"Boleh saja menunjuki bukti" kata Siauw Pek masih menolongkol. "Di depan mata kami berada satu kesalahan besar dari kau" Pendeta itu merangkap kedua tangannya di depan dadanya. Loolap bersedia mendengarnya, katanya.
"Kau kenal Lauw Hay tju atau tidak ?" Siauw Pek bertanya. Kembali pendeta itu melengak.
"Baru hari ini loolap menemuinya," sahutnya. "Inipun dapat dikatakan kenalan-Baik Sekarang hendak aku tanyakan tentang Lauw Hay tju.
Sayang dia telah mati terbokong orang jahat dan jenazahnya masih berada di gubuknya, di sana tak jauh dari sini."
"Itu aku tahu. Kematiannyapun ada sangkut pautnya dengan kau. Hanya, setelah dia mati, mengapa kau tidak mengurus mayatnya?"
Su Kay terperanjat, lalu dengan pandangan tajam dan dingin dia menatap anak muda di hadapannya itu. Hanya sejenak. dia nampak menjadi tenang pula.
"Sietju, bagaimana kau dapat tahu begini jelas ?" tanyanya. "Kau seperti melihatnya sendiri "
Ditanya begitu, Siauw Pek terkejut didalam hati. ia lalu berpikir. "celaka Kalau aku jelaskan bahwa aku mengintai mereka, tentu pendeta ini mencurigai aku, pasti dia akan mendesakku dengan pelbagai macam pertanyaannya.Jikalau aku tidak berikan dia keterangan yang sebenarnya..."
Karena keragu raguannya ini, si anak muda menjadi tak dapat segera menjawab. Su Kay menjadi curiga.
"Sietju," katanya keren, "pakaianmu kasar tetapi itu tak dapat menyembunyikan wajahmu yang sebenarnya. Bicara terus terang, tentu sietju datang ke Jie Sie Wan karena ada maksud yang tertentu..."
"Memang benar, taysu. Tapi itu tak ada hubungannya dengan taysu sendiri."
"Amidabuddha " sipendeta memuji pula, "Sietju tidak sudi memberitahukan maksud kedatanganmu kemari, mungkin itu disebabkan ada kesulitannya. Sietju, jikalau kau percaya loolap. ingin sekali loolap bicara terbuka denganmu."
siauw Pek berpikir, kelihatannya dia bukan orang jahat. Tapi hati
manusia tak dapat diterka, lebih baik aku tidak memperkenalkan
diriku kepadanya. Maka ia lekas menjawab: " Itulah tak usah, taysu"
Terus dia menoleh kepada oey Eng dan berkata: "Mari kita berangkat "
Pemuda ini membatalkan niatnya menegur lebih jauh kepada sipendeta tentang dia meninggalkanjenazah Lauw Hay tju, sebab soal itu dapat menyangkut dirinya. Karenanya ia ingin lekas lekas pergi.
"Sietju, tunggu" tiba tiba sipendeta berkata
"Loolap masih ingin bicara "
Mau tidak mau, Siauw Pek menoleh juga.
"Kau melepaskan budi kepada saudaraku ini, budimu itu akan kami ingat baik baik. Dilain hari, apabila kita bertemu pula, akan aku membalasnya. Aku mempunyai urusan yang penting, sekarang tidak dapat aku bicara banyak banyak denganmu, taysu "
Justru karena orang ingin lekas lekas pergi, malah Su Kay Taysu bertambah. Tiba tiba sepasang alisnya terbangun, lalu tubuhnya melompat maju dengan pesat sekali. Dengan begitu didalam sekejap ia telah berada didepan si anak muda.
"Sietju kau membutuhkan penjelasan" katanya seraya merangkap kedua belah tangannya tanda menghormat. "Memang aku membiarkan jenazahnya Lauw Hay tju tetapi inilah untuk memancing si penjahat yang telah menurunkan tangan berbisa itu. Aku menerka dia bakal datang pula untuk memperoleh kepastian Lauw Hay tju benar sudah mati atau masih hidup,"
"Habis, berhasilkah kau mendapatkan sijahat itu ?"
"Menurut penyelidikanku," sahut si pendeta, "diJie Sie Wan ini atau sekitarnya telah berkumpul secara diam-diam tak sedikit jago- jago Rimba Persilatan, kalau toh sampai sekian lama Lauw Hay tju masih hidup dengan tenang, itulah disebabkan orang jahat, atau
sijahat itu, tidak berniat membinasakannya. Atau karena penjahat itu belum memperoleh keterangan cukup maka dia belum turun tangan membunuh orang buta itu."
"Sekarang dengan kedatanganmu, kau telah menyebabkan kematian Lauw Hay tju" Siauw Pek menegur.
"Itulah sebabnya hendak loolap cari sipenjahat, untuk membalaskan sakit hatinya Lauw Hay tju "
"Jikalau kau mendengar kata katamu ini, aku rupanya juga mencurigai aku?" kata Siauw Pek.
Su Kay berlaku terus terang.
"Sekarang ini belum dapat aku memastikan siapa pembunuh itu," sahutnya. " Karena itu siapa juga yang datang kemari, dia tak bebas dari sangkaan- Sietju mengatakan diri kamu bukannya sipenjahat, tetapi biar bagaimana pun, kamu belum dapat membebaskan diri seluruhnya."
siauw Pek berpikir pula: "Dunia Kang ouw berbahaya, pendeta ini sukar dipastikan dia tidak tengah mendusta. Tak dapat aku terpedayakan olehnya. Baiklah aku lekas-lekas berlalu dari sini." Karena berpikir begini, ia berkata dingin "Taysu, dapat kami memastikan kepadamu bahwa kami bukanlah pembunuh Lauw Hay- tju Didalam hal ini, taysu percaya atau tidak. terserah kepada taysu sendiri."
"Benar benarkah tuan berdua hendak berlalu dari sini ?" pendeta itu menegaskan-"Kalau begitu, terpaksa loolap mesti menahannya ?"
"Jikalau kami berdua tidak mau berdiam di sini ?"
" Karena ummat Buddhist mengutamakan cinta kasih, suka loolap memberikan siecu memilih satu diantara dua jalan "
"Jalan apakah itu, taysu ?"
"Jalan yang satu sangat sederhana. Itulah supaya siecu suka berdiam disini sementara waktu untuk bisa berhandai handai.Jalan
ini tidak saja dapat membantu loolap pula dapat membebaskan siecu dari sangkaan-"
"Jalan yang lainnya ?"
"Itu juga sederhana. Cukup asal siecu berdua dapat lolos dari cegahanku ini Jikalau siecu berhasil lolos, loolap tidak akan menahan kalian lagi."
"Pendeta ini sangat sombong, mestinya dia liehay sekali," pikir Siauw Pek. "Baiklah aku mencoba ilmu pedang guruku."
Begitu ia berpikir, segera pemuda ini menghunus pedangnya.
"Dari kata katamu, taysu pastilah ilmu silatmu liehay sekali." katanya. "Nah sekarang aku yang muda ini ingin mencoba barang satu dua jurus"
Su Kay tahu dia terkenal sekali dalam Rimba Persilatan, dia
menerka si anak muda tidak akan berani melawannya, maka dia
menjadi heran ketika mendengar pemuda ini ingin mengujinya.
"Baiklah," akhirnya dia berkata. " Dengan sepasang tangan kosongku ini hendak aku menyambut pedangmu. Silahkan"
"Baik" Siauw Pek pun menyambut. "Terpaksa aku menyambut perintahmu " Begitu ia berhenti berkata, begitu sianak muda menikam.
Su Kay berlaku tenang sekali, bahkan ia tersenyum, akan tetapi, segera setelah si pemuda menyerang itu, parasnya berubah sekejap. Dalam terkejutnya, ia mencelat berkelit
"Terima kasih mau mengalah, taysu " kata Siauw Pek sambil memberi hormat dengan merangkap pedang dan kedua tangannya, setelah mana ia menarik tangannya oey Eng untuk diajak berjalan pergi.
Pendeta itu ternganga mengawasi orang berlalu, baru setelah mereka pergi jauh juga, ia tersadar. Ia kaget dan heran, iapun menyesal dan malu sendirinya. Tak dapat ia menyangkal janjinya,
akan memaksa menahan pemuda itu. Dialah seorang pendeta dan pula laki-laki sejati, dia jago Rimba Persilatan-
Sesudah terpisah lima tombak dari sipendeta, dengan perlahan oey Eng kata pada ketuanya: "Bengcu, tikaman bengcu tadi luar biasa sekali, sangat hebat. tak dapat orang menyangka atau menerkanya, tidak heran sipendeta mencelat keheranan. Aku lihat wajahnya berubah menjadi pucat "
"Dia sombong, dia memandang enteng kepada lawan, itulah sebabnya. Asal dia dapat mengendalikan dirinya sedikit saja, tak nanti dia terdesak pedangku."
"Tak usah merendah, bengcu. Menurut penglihatanku, sekalipun dia bersiap sedia dan berhati-hati, tak mudah buatnya menangkis tikaman bengcu."
Siauw Pek hendak menjawab pula kawan itu tetapi ia terhalang oleh satu seruan. oey Eng terperanjat.
"Itulah Kho Kong " serunya, dan segera dia lari, akan memburu kearah suara itu.
Liauw Pek segera menyusul.
Mereka mesti memutari sebuah rimba dahulu sebelum mereka melihat tiga orang tengah bertarung seru. Mulanya mereka itu nampak bagaikan bayangan-bayangan yang bergerak-gerak gesit sekali. setelah datang mendekat, Siauw Pek seketika melihat tegas Kho Kong tengah dikepung dua orang dan keadaan sahabat itu terancam
--ooo0dw0ooo-- JILID 8 "Saudara Kho, lekas mundur " si anak muda menyerukan-
Kho Kong bertiga bertempur ditanah sawah yang berlumpur, kaki mereka saban-saban membelebas, karena itu gerak gerik mereka kurang bebas. Pakaian mereka telah kecipratan air kotor.
Kho Kong sudah mulai terdesak, ketika ia mendengar suaranya Siauw Pek, yang ia kenal ia menjadi girang sekali. Maka ia menjawab : "Bengcu..." Tapi baru saja ia membuka mulutnya ketika itulah justru serangan tiba. Ia kaget sekali, dengan gugup ia menangkis. Karenanya tak sempat ia melanjutkan kata-katanya. oey Eng melihat tegas saudara itu terdesak. "Biar aku bantu padanya." katanya pada Siauw Pek.
"Jangan sembrono," sianak muda berkata, "saudara Kho terdesak tetapi ia masih dapat bertahan sekian lama. Sulit adalah lumpur sebatas dengkul itu. Tapi mereka itu sudah jadi biasa, tidak demikian dengan kau, bahkan kalau kau maju, kedua lawan mungkin akan memperkeras desakannya. Baiklah kita tunggu sampai mereka pindah dari sawah, baru kita memberikan bantuan." oey Eng menurut.
"Bengcu benar," katanya. Ia lantas menyiapkan pedangnya, untuk sewaktu-waktu membantu saudara angkatnya itu.
siauw Pek berkata tenang, sebenarnya hatinya tegang. Itu disebabkan Kho Kong makin terdesak kedua lawannya, jangankan buat mundur keluar dari sawah, buat menangkis saja repot. Bagaimaa harus menolong kawan itu "
"Mau tak mau, mesti aku mencoba goloknya Suhu Siang Go."
pikirnya kemudian- Ia ingat Toan Hun It Too. golok tunggal
pencabut nyawa. "Terpaksa aku mesti melukai kedua musuh itu "
Segera dia mengambil keputusan, siauw Pek mulai menghafal rahasia cara pemakaian goloknya yang ampuh, sambil menghafal tangannya membuka buntalannya, dikeluarkan goloknya.
Itu adalah sebuah golok tua yang terbuat dari baja hijau, dari perunggu, gagangnya terukir dengan ukiran yang halus dan
tergantung runce sutera kuning. Terkena sinar matahari, golok itu bercahaya berkilauan-
Segera setelah dia bersiap. sepasang mata Siauw Pek yang tajam dan bengis diarahkan kepada kedua lawan Kho Kong.
Oey Eng melihat wajah bengcu itu, dia terkejut hingga dia tercengang. Ketua ini menjadi bengis luar biasa, perubahannya itu secara sangat tiba tiba. Tadinya ia hendak mencegah, tetapi bibir bengcu itu sudah bergerak mengeluarkan seruan perlahan, segera disusul selagi tubuhnya lompat kearah sawah, berkelebat golok itu yang memperlihatkan sinar hijau yang menyilaukan-
Hanya sekejap maka terdengarlah suara jeritan kesakitan yang hebat, yang saling susul, diiringi dengan robohnya kedua musuh Kho Kong roboh terkulai di sawah, darahnya yang merah berlumuran membuat merah lumpur di dekatnya.
Sementara itu Siauw Pek berdiri diam saja. goloknya didalam cekalannya, wajahnya nampak tak wajar guram, suram dan menyesal... Kho Kong dengan sepasang senjatanya ditangan juga berdiri tertegun- Baru selang sesaat dia tersadar, maka lekas lekas ia meninggalkan sawah menghampiri ketuanya itu.
"Terima kasih, bengcu." katanya memberi hormat. "Terima kasih atas pertolongan bengcu."
Sesaat itu, Siauw Pek pun bagaikan tersadar, maka wajahnya segera berubah pula. Bahkan dia bisa tertawa perlahan- Walaupun demikian diapun berkata kata seorang diri: "Kenapa kau membunuh mereka" Mereka toh bukannya musuh besar hingga mereka mesti dibinasakan?"
Kho Kong dapat menerka hati orang.
"Tetapi, bengcu," katanya, "bengcu terpaksa melakukan itu untuk menolong aku." Siauw Pek menghela napas.
"Tidak salah, tidak salah," katanya, menarik napas. "Ia, karena aku hendak menolong jiwamu, saudara, terpaksa aku membinasakan mereka itu berdua."
Sementara itu terdengar suaranya Oey Eng, "Bengcu Saudara Too, mari lekas"
"Perlu kita urus dahulu mayat dua orang itu," kata sang ketua.
"Tak usah bengcu berlelah diri," berkata Kho Kong, yang segera
mengangkat kedua mayat lawannya itu pergi dari tengah sawah.
Bagaikan dia letih sekali, siauw Pek mengambil sarung golokya, yang terletak ditanah untuk menyimpan goloknya itu, kemudian dia duduk menumprah, kepalanya diangkat, didongakkan, untuk mengawasi matahari diantara langit yang biru.
Berselang sekian lama, Kho Kong sudah kembali dengan pakaian sudah ditukar dengan yang kering dan bersih, dia menghampiri ketuanya dan berkata perlahan- "Bengcu, dua orang itu adalah penjahat-penjahat besar dari dunia Rimba Hijau, merekalah yang digelarkan Hoolam Jie cie. Dua tikus dari Hoolam. Julukan itu sudah membuktikan kejahatan mereka, dengan membinasakan dua manusia jahat itu, tak usah bengcu menyesal atau masgul."
Siauw Pek berpaling dengan perlahan-
"Bagaimana kau ketahui itu?" tanyanya.
"Selagi aku mengubur mayatnya, pada tubuhnya kedapatan sebuah surat yang memakai alamatnya," sahut Kho Kong. Siauw Pek menghela napas.
"Mana suratnya itu?"
Kho Kong merogoh sakunya dan mengeluarkan surat yang ia sebutkan, lalu menyerahkannya pada ketuanya seraya berkata: "Silahkan bengcu periksa." Siauw Pek menyambuti, ia membeber surat dan membaca: "Hoolam Djie Tjie
Selagi aku bepergian, diam diam pada tengah malam kamu memasuki rumahku, kamu mencuri dan juga melukai orang, maka ketahuilah olehmu, untuk sakit hati ini, jikalau aku tidak membunuh kami, tak puas hatiku...
Bagian selanjutnya surat itu tidak dapat dibaca, sebab suratnya sudah kotor dan rusak bekas terkena lumpur.
"Jikalau begini, benarkah mereka manusia manusia busuk." kata si anak muda seorang diri.
"Mereka mencuri dan melukai orang, memang benar mereka bukan orang baik baik " kata Kho Kong tertawa. Siauw Pek tersenyum.
"Mereka manusia manusia jahat, tak salah aku membunuhnya" katanya, yang terus melemparkan surat itu seraya ia berlompat bangun-Hati Oey Eng lega menyaksikan gerak gerik ketuanya itu. "Bengcu penuh kasih dan bijaksana, kaulah bukan sembarang orang," katanya. Si anak muda menghela napas.
"Ayah bundaku terfitnah dan terbinasakan, mereka merembet seratus jiwa orang lain," katanya. "peristiwa itu membuat aku merantau dan terlunta lunta bertahun tahun, semua itu aku ingat baik sekali, berkesan sangat mendalam, walaupun demikian, tak ingin aku membinasakan biar seorangpun asal dia orang baik baik. Selamanya aku hendak mencari tahu dan membedakan diantara benar dan salah."
"Oh, begitu..." kata Oey Eng, yang terus memandang Kho Kong dan menanya : "Saudaraku, rupanya karena kau menguntit Hoolam Djie Tjie, kau jadi dikepung mereka itu?"
"Tidak seluruhnya begitu," jawab saudara yang ditanya itu. "Sebenarnya aku menguntit si penggembala yang membawa bawa seruling itu. Rupanya dia mengetahui aku menguntitnya, lalu dia memancing aku sampai disini. Terang disini dia telah mengatur tentara tersembunyi. Dengan mendadak Hoolam Djie Tjie muncul dan mengepung aku, selagi aku bertempur, penggembala itu terus kabur dan menghilang. Tidak kusangka kedua penjahat itu tangguh, untung bengcu lekas datang membantu..."
"Teranglah mereka telah mengatur rencana sempurnya," berkata Siauw Pek.
"Lauw Hay tju sudah menutup mata, kawanan itu tentu tidak bakal datang pula kemari," berkata oey Eng. "Aku pikir, sebaiknya kita segera berangkat pergi. Kita perlu menyelidiki si penggembala dan konco-konconya." Kembali Siauw Pek menghela napas. Ia masgul sekali.
"Aku berniat pergi ke Pek Ho Po untuk melihat kampung halaman dan rumahku..." katanya. Ia mendongak melihat langit.
"Baiklah, bengcu. Mudah mudahan saja disana kita akan mendapatkan sesuatu yang bisa membantu penyelidikan kita ini," berkata oey Eng. Siauw Pek mengangguk. "Baik Marilah "
Segera anak muda ini berjalan di depan- ia berjalan sambil mengingat-ingatjalanan ke kampung halamannya itu. Ia mengingat samar samar. Oey Eng dan Kho Kong mengikuti di samping kiri dan kanan bengcu itu.
Belum ada satu jam, tiga orang sekawan ini sudah mulai melihat kota Gakciu. Itulah sebuah kota yang ramai, disana banyak penduduk mundar mandir. Dipandang dari segi militer, kota itu juga sebuah kota penting.
Ketika sedang berjalan oey Eng mengawasi pakaian kedua kawannya dan pakaiannya sendiri.
"Dengan dandanan semacam ini, tak pantas kita berjalan dijalan- jalan yang ramai ini," katanya perlahan- "Baik kita cari tempat dimana kita bisa beristirahat sebentar." Siauw Pek setuju.
"Baiklah," sambutnya. "Kita singgah sekalian untuk jajan-"
"Gak Yang Lauw menjadi tempat terkenal dari kota Gakciu, kenapa kita tidak pergi kesana saja?" Kho Kong mengusulkan- "Kita minum disana."
"Didalam kendaraan, diatas perahu, di rumah makan atau dikantoran, orang paling berminyak matanya," kata oey Eng. "kita berdandan begini, apakah kita tidak bakal diusir bagaikan anjing ?"
"Jikalau sampai terjadi begitu, aku akan ajar adat orang macam begitu" Siauw Pek usulkan- "Kita pergi dahulu kesebuah tempat, untuk membuat pakaian baru, barulah kita pergi ke Gak Yang Lauw."
"Bengcu benar " Kho Kong memuji.
Maka pergilah mereka mencari suatu toko penjahit, disana mereka minta dibikin beberapa potong baju dan celana. Dilain saat, selagi mendekati magrib, mereka itu sudah sedang menuju keranggon, atau lauwteng, Gak Yang Lauw.
Sebenarnya Gak Yang Lauw bukan ranggon atau lauwteng bersahaja, tempat itu adalah restoran terbesar didalam kota Gakciu. Sekalipun dihari hari biasa, restoran itu selalu penuh dengan tamu tamunya. Demikianlah, ketika Siauw Pek bertiga tiba, ruang sudah penuh.
"Maaf tuan tuan, sudah kehabisan tempat duduk" menyambut seorang pelayan.
"Tak usah kau gelisah hati, kami dapat naik dan melihat sendiri " kata Kho Kong, dingin. Dan tanpa memperdulikan si pelayan, dia membuka tindakan lebar untuk naik kelaUWteng.
Siauw Pek dan oey Eng mengikuti. Mereka tak likat lagi, karena pakaian mereka sekarang sudah mentereng. Nampaknya mereka sebagai orang yang beruang atau orang Rimba Persilatan, hingga pelayan itu tidak berani mencegah.
Tiba diatas lauwteng, benar semua meja sudah penuh, kecuali didekat jendela ada seorang pria setengah tua lagi duduk sendirian- Dia mengenakan baju panjang warna biru. Bertiga mereka menghampiri meja itu, tanpa mengatakan sesuatu, ketiganya kemudian duduk.
Mata seorang setengah tua itu bersinar tajam memandang ketiga orang itu, rupanya dia bergusar tetapi sejenak itu juga, dia batal membuka mulutnya. Dia berdiam saja.
Kho Kong lalu minta delapan rupa barang santapan serta sebotol arak cong Goan Ang, setelah itu dia berkata keras-keras : "Pelayan
tadi tak dapat dipercaya kata katanya Katanya tidak ada tempat
kosong, nyatanya disini masih ada sebuah, bahkan meja ini besar " orang setengah tua itu jadi mendongkol sekali.
"Meja ini meja yang telah aku pesan dari tadi " katanya, dingin- "Sekarang ini aku tengah menantikan kawan kawanku " Kho Kong tidak merasa tersinggung, bahkan dia tertawa. "Kalau begitu, kami akan makan lekas lekas." katanya.
Pelayanan nampak cepat sekali, hanya sebentar, datanglah arak yang dipesan-
Kho Kong segera menyambar botol arak itu, kemudian menuangi sebuah cangkir, terus ia tenggak kering, habis itu, dengan seenaknya saja ia berkata pada si orang setengah tua berbaju biru. "TUan- silahkan Mari kita minum "
Pria itu bingung melihat lagak polos dari Kho Kong, tak tahu dia mesti bergusar atau bersabar, sedangkan Kho Kong sudah duduk bercokol waktu kemudian dia melayani minum, Kho Kongpun sudah mendahului mengeringkan cawannya Siauw Pek maju sampai tengah.
"Tuan, dapatkah aku mengetahui she dan nama tuan yang mulia ?" tanyanya hasrat.
"Aku she Beng," sahut pria setengah tua itu. Tapi ia tidak sempat melanjutkan kata katanya, untuk menyebut namanya, sebab dari bawah lauwteng segera terdengar suara berisik. Segera ia mendekati jendela untuk mendongok kebawah dimana ia dapatkan banyak orang berkerumun dijalan besar. Mungkin disana telah terjadi sesuatu keonaran-
Siauw Pek tertarik suara riuh itu, ia turut menghampiri jendela, untuk melihat kebawah. Dan ia melihat orang yang rebah di tanah, rupanya orang itu sudah tidak bernyawa.
Tiba tiba si pria setengah tua berseru kaget, segera dia menolak
daun jendela, untuk dipentang, kemudian lompat turun
Perbuatan luar biasa itu menyebabkan seruan kaget dari banyak orang dijalan besar, bahkan ada yang berteriak : "celaka celaka Ada orang bunuh diri dari lauwteng "
Selain suara riuh itu, orangpun kacau, sebab banyak yang lari menyingkir, kuatir nanti ketimpa pria yang melompat turun itu. Hingga mereka saling tubruk.
Siauw Pek heran melihat sikap orang itu, tetapi ia lebih heran waktu ia mengawasi kearah orang yang rebah ditanah itu. Karena ia melihat punggung orang itu tertancaplah senjata tajam. Saking ketarik, tak sempat mengajak kedua kawannya, ia lari turun ditangga lauw teng.
Melihat kelakuan ketuanya itu, oey Eng dan Kho Kong lari menyusul.
Tiba dijalan besar, si pria setengah tua terlihat tengah mengangkat tubuh orang yang terluka itu, sepasang matanya
mengeluarkan sinar sangat bengis, dengan tajam ia mengawasi ke
sekitarnya, seperti orang yang lagi mencari si pembunuh gelap.
"Penyerang itu keberaniannya luar biasa," kata Siauw Pek menghela napas. "Dia berani turun tangan disaat siang benderang seperti ini serta ditempat umum yang begini ramai..."


Pedang Golok Yang Menggetarkan Pedang Penakluk Golok Pembasmi Ka Thian Kiam Coat To Thian Kiam Coat To Karya Wo Lung Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Memang pembunuh itu berani sekali. Amidabuddha " tiba tiba terdengar pujian dibelakang si anak muda.
Siauw Pek bercekat hati, segera ia menoleh. Maka ia mengenali Su Kay Taysu. Ia melengak saking herannya.
"Teranglah pendeta ini sedang mengamat amati kami " pikirnya.
Tak lama pria setengah tua itu memeluk tubuh mayat itu, mendadak dia menyabut pisau belati yang menjadi algojonya. Karena senjata tajam itu dicabut, darah hidup lantas mancur keluar dari liang lukanya.
Siauw Pek mengawasi senjata itu, ialah sebuah pedang pendek tiju atau delapan kim, cahayanya menyilaukan mata. Itulah tanda bahwa pedang itu tidak beracun. Tapi itu pula bukti lengan si penyerang kuat luar biasa, hingga dia dapat merenggut jiwa orang sekejap tanpa menggunakan bisa.
oey Eng menghampirkan sipria setengah tua sampai dekat, maka ia melihat padapedang pendek itu ada ukiran hurufnya yang halus,
yang bunyinya: "Kiu heng tje kiam-Hiat tyay hiat boan, artiya :
"pedang permusuhan dan kebencian- Hutang darah bayar darah."
Pria setengah tua itu juga melihat huruf huruf ukiran pedang itu, setelah itu dipondongnya mayat itu, untuk terus dibawa lari cepat sekali, hingga sesaat dia sudah lenyap dari tempat ramai itu.
Siauw Pek mengawasi hingga orang itu lenyap dari pandangan-
"Pedang permusuhan dan kebencian Hutang darah bayar darah." ia menghafal perlahan-Apakah pemilik pedang pendek itu" Mungkin ia menderita terlebih hebat daripada aku?"
"Takdir Takdir " kata Su Kay Taysu seorang, suaranya keras. Dia seperti menimpali anak muda ini. "Melihat begini, agaknya bencana Rimba Persilatan sedang makmurnya dan belum mulai reda..."
siauw Pek melirik kepada pendeta itu, lalu ia berkata perlahan
kepada kedua kawannya : "Mari kita naik pula ke lauwteng."
Dengan berlalu tiga orang ini, berkurang juga orang banyak yang berkerumun itu, mereka pada bubar sendirinya, hanya mereka itu pada menarik napas panjang pendek. Karena petaka itu hebat sekali.
"Aneh Berbahaya " tiba tiba terdengar satu seruan parau.
siauw Pek mendengar suara itu, ia segera menghentikan tindakannya, untuk secara diam diam memperhatikannya.
Segera terdengar pertanyaan seorang lain : "Eh, Yu Loo dji, apa yang aneh ?"
orang yang dipanggil Yu Loo-dji itu, yaitu si Yu nomor dua, menjawab : "Aneh korban tadi. Tadi dia sedang berjalan dibelakangku, jarak antara kami cuma satu tindak, tetapi aku tidak dengar suara jeritan atau keluhan kesakitan, tahu tahu aku dikagetkan suara robohnya tubuh, hingga aku segera menoleh. Aku berpaling dengan cepat, tetapi aku tidak melihat sekalipun bayangan dari penyerangnya, sedangkan setahuku biar orang bagaimana gesit juga tak mungkin dia lolos dari mataku. Bukankah itu sangat aneh dan berbahaya ?"
Terdengar lagi satu suara lain : "Ya, aneh si aneh, tetapi, apakah si bahayanya ?"
"Kami berjalan hanya selang satu tindak." Yu Loodjie menerangkan, "jikalau penyerang itu salah tangan dan dia menikam punggungku apakah itu bukan namanya berbahaya ?"
Tiba tiba Su Kay Taysu menyapa orang she Yu itu : "Sietju, coba kau ingat ingat. Apakah kau tadi tidak melihat orang yang mencurigakan sikapnya ?"
Yu Looejie berpikir, ia menjawab : "Memang tadi banyak orang yang berlalu lintas tetapi orang yang terdekat dengan kurban itu cuma aku, waktu aku berpaling, aku melihat dia sudah rebah tengkurep dan punggungnya telah tertancapkan senjata tajam itu. Aku tidak melihat siapa juga yang dapat dicurigai."
Mendengar pembicaraan itu, Siauw Pek mempercepat jalannya hingga dilainsaat ia sudah sampai di lauwteng. Ketika itu, tetami tetamu rumah makan itu sudah tinggal kira kira separuh. Rupa rupanya yang lain lainnya telah pada menggunakan kesempatan untuk mengangkat kaki dan mengalap barang hidangannya
Ketika siauw Pek dan kawan kawannya sudah duduk kembali, pelayan segera menyuguhkan barang makanan yang dipesan tadi. oey Eng mengisikan cawan mereka.
"Bengtju, pendeta itu turut datang ke mari " katanya perlahan. ia teliti dan melihat kemuka tangga lauwteng. Disana pendeta muncul.
" Kita jangan usil padanya, kita tetap makan," kata ketua itu.
oey Eng menurut, juga Kho Kong. Maka merekapun bersantap. cepat makan mereka, habis minum segera mereka turun dari lauw teng. Uang barang hidanganpun diletakkan saja di atas meja.
siauw Pek berjalan di sebelah depan kawannya, menuju
keselatan. ia selalu mengingat-ingat jalan kekampung halamannya.
Lewat kira kira empat atau lima lie, di depan mereka tampak sebuah kuil besar, berdiri tegak di antara banyak pepohongan yang merupakan rimba.
"Semasa aku kecil, pernah dengan ayah datang ke kuil ini," kata Siauw Pek peria han, "Inilah Kwan ong Bio, kuil dimana dipuja Kwan Kong yang gagah, jujur dan setia. Dahulu, kuil ini sangat bersih, perawatnya hanya seorang beribadat yang telah lanjut usianya serta kacungnya. Sekarang kita perhatikan dulu keadaan disini, baru kita cari tempat sepi dimana kita dapat beristirahat. Setelah sore nanti, baru kita pergi ke Pek Ho Po..."
" Kenapa kita mesti menanti sampai sore?" Kho Kong tanya.
" Untuk beriaku waspada," sahut sang bengcu "Aku duga mesti ada satu atau lebih jago Rimba Persilatan yang mengawasi Pek Ho Po, jikalau kita datang siang, kita mudah diintai.Jika kita pergi
malam, andaikata dipergoki, mudah untuk kita melarikan diri." Kho
Kong dapat mengerti, bahkan ia puji kecerdikan ketuanya itu.
Mereka berbicara sambi berjalan, maka itu lekas juga mereka itu telah mendekati kuil. Kedua daun pintu pekarangan yang diberi berwarna merah, ditutup sebelah hingga hanya tubuh seorang saja dapat lewat situ. Dari antara pepohonan terdengar suaranya tong geret, suara mana menambah kesunyian kuil itu.
oey Eng mendahului jalan di muka. Selewatnya pintu itu, tampaklah sebuah pekarangan yang luas dan ditumbuhi rumput kecuali jalanannya, yang terbuat dari batu baru merah.
Seorang tua yang rambutnya sudah putih, tengah memaculi rumput, agaknya dia sudah tak kuat lagi.
Kuil besar, saking sepinya nampak menjadi seram. oey Eng merasakan itu. " Kuil tua yang menyeramkan," katanya dengan perlahan.
"Tembok bersih, jendela dan pintu tak ada yang rusakl kuil seperti baru selesai diperbaiki" berkata Kho Kong. "Mengapa tak nampak orang atau orang orang yang datang bersujud?"
"Yah. Inilah aneh " kata Oey Eng merasa.
Si orang tua, seorang imam, perlahan lahan mengangkat kepalanya mengawasi ketiga orang itu, kemudian ia tunduk pula, melanjutkan pekerjaannya. Menyaksikan orang bekerja begitu lambat Kho Kong menggeleng geleng kepala.
Melihat cara bekerjanya itu, sebelum rumput yang di timur selesai, yang di barat pasti tumbuh lagi, hingga seumur hidupnya itu, tak kanti dia dapat membersihkan seluruh pekerjaan ini...
"Entah ketuanya, apa dia sama tuanya seperti orang tua itu?" kata Siauw Pek.
Mereka berjalan terus, sampai memasuki pintu yang ke dua. Keadaan disini berbeda daripada pekarangan disebelah depan itu. Disini tumbuh belasan buah pohon pek yang, besar besar dan tinggi sekali, hingga seluruh pekarangan teriyon cabang caban dan daunnya, dan rontokan daun membuatnya bala sekali. Pekarangan itu bagaikan beberapa bulan tidak pernah disapu.
"Diruang ke dua ini banyak kamar yang kosong, baik tak usah kita masuk kedalam." oey Eng usulkan sesudah ia memandang sekitarnya. "Jangan kita ganggu imam ketuanya kuil ini, cukup kita beristirahat disini."
Siauw Pek akur. ia segera pergi kesebelah barat, kekamar ramping.
Kho Kong mendahului ketuanya. ia segera membuka pintu kamar sisir itu, hingga lantas ia melihat sebuah meja dimana terpuja Toh Wan Sam Kiat Gle, Tiga Saudara angkat dari Taman Loh (persik), ialah Lauw Jie, Kwan Kong dan Thio Hwie. Merekalah tiga orang
besar darijaman Sam Kok Tiga Negara yang menjadi contoh teladan buat kesetiaan, kegagahan dan kejujuran- Bahkan kesetiaannya mencakup kesetiaan diantara saudara, kesetiaan/cinta negara, dan kesetiaan menepati janji. Tirai sulam disitu masih baru tetapi penuh debu.
"Aneh " pikir oey Eng. "Kuil telah diperbarui segalanya, mestinya kuil ini menerima kunjungan ramai, kenapa sekarang justru begini sunyi, malah menyeramkan ?"
Masih kawan ini memandang sekitarnya, baru dia bertanya kepada ketuanya: "Bagaimana bengcu lihat kuil ini?"
"Baiklah, kita beristirahat disini saja." sahut ketua itu sambil mengangguk perlahan- "Selekasnya sang malam tiba, kita pergi ke Pek Ho Po."
oey Eng segera meletakkan buntalannya, terus ia duduk sambil memejamkan mata, untuk bersemadhi, tetapi suasana kuil mencekam hatinya, tak dapat ia menenangkan diri. Ketika ia melirik kedua kawannya, ia mendapatkan mereka itu sudah bercokol dengan tenang sekali. Ia segera bangkit bangun, untuk bertindak keluar. Belum lagi ia melintasi pintu, matanya sudah melihat si kacung imam tadi, tengah berjalan sambil memanggul paculnya dijalan samping untuk menuju ke toa-tian, pendopo besar.
"Dia masuk kedalam, entah dia mengabarkan ketuanya atau
tidak tentang kedatangan kami," pikirnya. Ketika ia melihat pula
kearah si too jin, ia terperanjat. orang itu telah lenyap cepat sekali
"Aneh " pikirnya pula, dan kecurigaannya segera timbul. Maka ia batal berjalan terus, sebaliknya, dengan perlahan-lahan, ia kembali ketempatnya, untuk duduk bercokol pula. Ia terus piklri si imam tua^ "Dia masuk ke dalam tentu dia akan melapor ketuanya. Hanya dia aneh. Dia sudah loyo, mengangkat pacul hampir tidak kuat, kenapa dia lenyap demikian cepat, hanya sekejapan mataku" Pasti dia liehay ilmu ringan tubuhnya. Satu antara dua: Apakah dia orang liehay yang lagi menyembunyikan diri atau satu penjahat besar yang
menyamar... Dan ketuanya, dia pasti ketua yang liehay juga, sebab kalau tidak, tak nanti dia dapat menguasai kacungnya ini..."
Memikir lebih jauh, oey Eng menyaksikan siimam tua yang lenyap kedalam ruang dalam dengan melalui pintu sisir. Kemungkinan dia mendekam di tanah dan lalu merayap memasuki pepohonan lebat, baru dari sana masuk ke dalam.
"Apakah tak aneh sikapnya almarhum ayah bengcu dahulu ?" pikirinya pula lewat sejenak. "Bengcu mengatakan, ketika dahulu ia bersama ayahnya datang kemari, kuil ini sama sepinya seperti sekarang ini dan penghuninya juga tetap dua orang, si ketua dan kacungnya. Buat apakah ayah bengcu datang kesini" Pasti ada maksudnya."
Walaupun otaknya bekerja keras, oey Eng tidak mau mengganggu ketua dan saudaranya. Ia coba menenangkan diri. tapi sekarang, diam diam ia berjaga jaga. Kecurigaan membuatnya waspada dan bersiap siaga.
Belum lama orang she oey ini bersemadhi, tiba tiba telinganya mendengar tindakan kaki yang perlahan sekali. Hatinya bercekat, segera ia membuka sedikit matanya. Ia melihat sikacung imam tua berkelebat. Hanya sedetik imam itu lantas menghilang pula dipintu dimana dia muncul.
"Tepatlah terkaanku " pikir Oey Eng. "Dia muncul sekejap. lalu menghilang Apa mau dia kerjakan?" Maka ia segera merogoh sakunya, menyialkan dua biji senjata rahasianya. Lama juga Oey Eng menanti, kuil tetap sunyi senyap. dan siimampun tak muncul pula. Lewat lagi sekian lama, Siauw Pek dan Kho Kong tersadar.
oey Eng lega melihat kedua kawan itu sudah bangun, segera ia berkata kepada ketuanya : "Bengcu, aku ingin menanyakan sesuatu, dapat atau tidak ?"
Siauw Pek tertawa. " Katakanlah "
"Begini, bengcu. Ketika dahulu ayah bengcu datang kekuil ini, apakah maksudnya ?" Siauw Pek heran, dia mengawasi sahabatnya itu. Diapun berpikir.
" Waktu itu aku masih kecil, ingatanku belum kuat. Jikalau tidak salah, ayah mau menjenguk ketua kuil ini."
oey Eng bangkit, ia lari keluar kamar, untuk melihat sekeliling, setelah itu ia masuk kembali.
"Apakah bengcu ingat berapa lama ayah bengcu berdiam didalam kuil ini?" ia tanya pula.
Siauw Pek heran- "Saudara ku menanya begini rupa, apakah kau curigai sesuatu?" ia balik bertanya.
"Tjoh Lotjianpwee menjadi ketua Pek Ho Bun mestinya dia banyak sekali kerjaan dan repot," berkata Oey Eng. "Kuil seharusnya ramai, dan bukan tempat bersemayam, apa perlunya ayah bengcu datang kemari" Tentu ada maksud dan sebabnya, bukan" Demikian dengan bengcu sekarang, kenapa bengcu ingat kuil ini dan mau langsung datang kesini" Bukankah itu disebabkan bengcu berkesan sekali terhadap kuil ini?"
Siauw Pek mengangguk. "Kau benar," sahutnya.
"Sekarang ingin aku menerka," kata oey Eng pula. "Ketika dahulu bengcu dan ayah bengcu datang kemari, kuil sama sunyinya seperti sekarang. Itulah kesunyian yang mengesankan, sekarang kita tiba disini, kitapun beristirahat ditempat yang sepi. Bukankah ini yang menyebabkan bengcu ingat kuil Kwan ong Bio ini ?"
"Jikalau kau tidak menjelaskan begini, saudara oey, akupun tidak ingat kesanku dahulu itu," ia akui. "Ketika dahulu ayah datang kemari rasanya ayah membuat janji pertemuan dengan seorang sahabatnya."
"Nah, coba bengcu ingat ingat, siapakah sahabatnya itu ?"
" Ketika itu aku masih kecil sekali, mana dapat aku mengingatnya ?" jawab siketua. Tapi ia toh berpikir, kepalanya diangkat, melihat ke atas. Lewat sejenak, ia berkata pula: " orang yang dijanjikan itu, yang aku ingat, datang dengan menaiki sebuah kendaraan berkuda yang mentereng sekali."
Tiba tiba Kho Kong menyela: "Kalau begitu tak sukar buat kita mendapatkan kepastian Bukankah waktu itu belum lewat terlalu lama " Kenapa kita tidak mau cari ketua kuil ini, untuk menanyakan ?"
"Begitulah pikiranku," kata oey Eng. " Entah bagaimana pendapat bengcu."
"Pikiranmu berdua sama, pastilah itu tidak keliru."
"Kalau begitu, baik sekarang kita segera pergi cari siimam ketua" kata Kho Kong, yang mendahului berlompat bangun. Dia bukannya sembrono hanya tabiatnya agak terburu nafsu.
"Menurut dugaanku, ketua kuil ini pasti bukan orang biasa," oey Eng berkata pula. Jikalau sebentar kita bertemu dengannya, harus kita berlaku sungkan, asal kita tetap waspada, dan jikalau tidak sangat perlu, baik bengcu j angan perkenalkan diri." Siauw Pek mengangguk. Dia setuju. "Kamu baik sekali " katanya.
"Aku berterima kasih "
Iapun bangkit buat memberi hormat sambil menjura, sedangkan air matanya berlinang-linang .
oey Eng dan Kho Kong terperanjat, lekas lekas mereka membalas hormat.
"Jangan, jangan sungkan bengcu" kata mereka. "Tanpa bengcu kita pasti tak akan akur seperti sekarang ini, bahkan pasti kita sudah mati bersama. Untuk membalas budi, kami mau lakukan segala apa untuk bengcu."
"Jangan mengucap demikian, saudara," kata Siauw Pek, yang menepas air matanya.
Ketika itu matahari sudah doyong kebarat dan sinarnya sinar layung, dari luar terdengar suara pohonpekyang yang tertiup angin, pemandangan indah tetapi itu tak dapat menyingkirkan kesunyian yang menyeramkan dari kuil ini. Sampai disitu ketiganya bertindak kedalam oey Eng jalan dimuka.
DI luar toatian ada lantai yang tinggi, disitu menghadang sebuah pintu yang tertutup rapat. Dipojok pintu itu tampak sikacung imam yang tua yang duduk nglenggut. Jubahnya abu-abu disisinya menggeletak paculnya.
"Locianpwee" oey Eng menyapa sambil memberi hormat. Ia tahu
bukan orang sembarangan orang, tidak mau ia berlaku gegabah.
Dengan perlahan si imam membuka kedua matanya, ia
mengawasi orang yang menyapanya. "Ada apa ?" dia tanya.
"Kami bertiga kebetulan lewat di Gakciu," sahut oey Eng. "sudah lama kami mendengar nama terkenal dari ketua Kwan ong Blo, kami sengaja datang berkunjung. Tolong locianpwe mengabarkan kedatangan kami ini."
Nampak imam itu tercengang, terus ia tertawa hambar. "Terlambat kedatanganmu ini, tuan-tuan," katanya. Kho Kong heran-
"Terlambat bagaimana ?" dia tanya.
"sudah tiga hari ketua kami pergi kelain tempat."
"Tahukah locianpwee kemana perginya ketuamu itu?" tanya oey
Eng tersenyum. Si imam menggoyang kepala, tetapi dia tertawa.
"Kuil kami tidak ramai, ketua kami senggang sekali, maka itu dia pergi pesiar seenaknya saja. dia pergi kemana dia suka, jadi sulit untukku menyebutkan kemana dia pergi."
"Kuil ini besar dan indah, mustahilkah loo tiang tinggal seorang diri disini?" tanya Kho Kong. Ia membahasakan "lootiang", orang tua yang dihormati. Imam itu melempangkan tubuhnya.
"Inilah kuil tua seperti juga tua pohon-pohonnya." sahut. "Kuil ini belukar dan bala, tapi dia telah menemani aku situa selama beberapa puluh tahun- Memang kuil ini sepi tetapi tenteram, tempat tenteram yang jarang didapati. Jangan terharu karena kesepianku, tuan-tuan, sekalipun masih ada ketua kami, dia juga tak pernah memperhatikannya," Ia bangkit dan mengangkat paculnya, lalu sambil tertawa tawar ia menambahkan : " Hari ini sudah banyak aku bicara " Segera ia memanggul pacul dan bertindak pergi. Kho Kong melirik ketuanya.
"Tua bangka ini aneh" katanya.
Suara itu tak perlahan, mestinya si imam dengar, tetapi dia seperti berlagak tuli, dia ngeluyur terus.
"Mari kita masuk kedalam toatian untuk melihat lihat" kata oey Eng yang suaranya disengajakan keras.
Mendadak si imam merandek, agaknya dia ragu, tetapi segera dia berjalan terus. Kho Kong mengangkat tangannya, dia meraba pintu. "Apa kita masuk ?" tanyanya.
"Awas, jangan merusak pintu orang" Siauw Pek memperingatkan-
Kho Kong menolak daun pintu, tetapi pintu itu tak bergeming. Ia heran, alisnya berkerut.
"Di luar tak ada kuncinya, tentu dikunci dari dalam," kata oey Eng.
Kho Kong mencoba menggunakan tenaga tenaganya pintu itu, sampai dua kali. Pintu itu tetap berdiri tegak. Ia menjadi gusar, sehingga dia berkata: "Aku tidak percaya aku tidak sanggup mendorongmu menjeblak"
Segera dia mengerahkan tenaga dalamnya. Dia memang pernah mempelajari "Tong cu Hun goan Khie kang", yaitu ilmu tenaga dalam yang dinamakan "semangat perjaka". Ia mengerahkan separuhnya tetapi sudah seberat lima ratus kati. Maka hanya segebrakan, daun pintu itu menjeblak, roboh terbanting dengan menerbitkan suara berisik sekali. Siauw Pek menghela nafas.
"Kita telah merusakkan pintu orang. Bagaimana kita nanti bertanggung jawab?" katanya.
"Janganlah kuatir, bengcu " kata Kho Kong tertawa. "kita gantikan saja dengan sejumlah uang" terus dia bertindak masuk. Dengan terpaksa, Siauw Pek dan oey Eng mengikuti.
Toa tian ataupun pendopo besar itu, semua jendelanya tertutup rapat karena itu, ruang menjadi gelap suram. Mata sipemuda tajam tetapi ia masih sukar melihat tegas.
Seruling Sakti 9 Pendekar Sakti Suling Pualam Karya Chin Yung Buddha Pedang Dan Penyamun Terbang 20
^