Pencarian

Selubung Awan Hitam 1

Dewa Linglung 28 Selubung Awan Hitam Bagian 1


SATU PAGI BERKABUT.... Hawa dingin menyusup ke
tulang sumsum. Di antara keremangan kabut yang menyelimuti
udara di tempat itu, tampak sesosok tubuh mun-
cul dengan terhuyung-huyung. Ternyata dia seo-
rang gadis yang pakaiannya robek di sana-sini.
Rambutnya kusut masai, wajahnya pucat seperti
orang yang kehilangan gairah hidup.
Dia terus melangkah walau tertatih-tatih. Kea-
daannya sangat mengenaskan.
Tampaknya gadis ini sudah tak kuat melangkah
lagi, dia terjerembab jatuh.
Dari mulutnya terdengar suara keluhan. Namun
dia masih berusaha untuk bangun.
Kemudian melangkah lagi dengan tersaruk-
saruk. Namun tak lama kembali jatuh tersungkur.
Kali ini gadis itu tak bangkit lagi. Setelah terdengar suara rintihan dari
mulutnya, dia terkapar pingsan...
*** Kabut masih menyelimuti alam, merambah,
menebar ke sekeliling lereng tebing karang terjal dan di sekitar telaga kecil
yang berada di tempat itu. Tempat di sisi telaga berhadapan dengan lereng tebing
terjal itu, tampak sebuah goa. Ada seseorang yang menyandarkan punggungnya di
dinding batu di mulut goa.
Siapa adanya orang itu ternyata tiada lain dari
si Dewa Linglung!
Kedatangannya ke wilayah itu adalah dalam
usaha melacak jejak seorang pemerkosa wanita
yang bergelar Awan Hitam. Selain memperkosa
wanita, manusia itu juga membunuh dan meram-
pok harta benda. Perbuatan manusia terkutuk itu sudah kelewat batas. Para
korbannya kebanyakan terdiri dari gadis-gadis belia yang sebelum diperkosa lebih
dulu disiksa, kemudian dibunuh.
Dia pergi tanpa meninggalkan bekas, jejaknya
lenyap seperti hantu. Demikian yang didengar
Nanjar. Sebagai seorang pendekar penegak kebe-
naran tentu saja hal itu tak dapat di biarkannya.
Sementara ketelengasan dan kebiadaban itu terus berlanjut...
Sejak pagi subuh tadi Nanjar sukar memicing-
kan matanya. Hawa dingin membuat sekujur tu-
buhnya bergidik. Rasanya malas untuk bangun,
karena matanya terasa masih mengantuk. Untuk
mengusir hawa dingin yang dirasakan itu Nanjar menyebarkan hawa hangat dari
pusar. Dengan ca-ra demikian dia dapat meneruskan tidurnya.
Namun selang beberapa saat berlalu nalurinya
yang peka mendengar suara aneh di sekitar tebing.
Tadinya dia tak memperdulikan, karena mengang-
gap paling tidak suara yang didengarnya adalah suara binatang hutan. Siang tadi
sebelum dia menemukan goa di dinding tebing itu memang ada dilihatnya beberapa
ekor rusa yang sudah kehausan mendatangi telaga yang berair jernih itu.
Tapi rasa penasaran dihatinya untuk membuk-
tikan dugaannya itu dia mengurungkan niatnya
untuk tidur lagi.
Walau rasa kantuknya masih belum hilang. Dia
menggeliatkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan,
kemudian melompat berdiri.
"Huh! pantas saja udara dingin sekali. Kiranya aku tidur tak jauh dari sebuah
telaga, dan banyak sekali kabut bertebaran disini..." berkata Nanjar dalam hati.
Lalu melangkah ke luar dari mulut goa. Ma-
tanya tajam menjalari sekitar tempat itu, mencoba menembus kepekatan kabut.
Tiba-tiba Nanjar tersentak. "Sepertinya aku melihat ada sesosok tubuh tergeletak
disana..." desis Nanjar.
Tanpa ayal segera dia berkelebat ke arah tempat itu. Membelalak mata si Dewa
Linglung ketika melihat seorang gadis terkapar tak bergerak di tanah lembab.
Cepat dia berjongkok dan memeriksa per-napasannya.
"Ah, apa yang telah terjadi" Siapa gadis ini?" desisnya dengan heran juga
terkejut. "Untunglah dia masih hidup, dan cuma pingsan saja! Jangan-jangan..."
Jantung Nanjar terlonjak ketika teringat pada si Awan Hitam yang tengah
dilacaknya. Dia menduga mungkin gadis itu adalah korban
kebiadaban si manusia durjana!
Walau belum bisa mengetahui dengan pasti, ta-
pi melihat pakaian gadis itu yang koyak di sana-sini hingga memperlihatkan
sebagian dari auratnya yang semestinya tertutup sehingga Nanjar
mempunyai dugaan demikian. Tanpa berpikir pan-
jang lagi Nanjar segera memondong tubuh gadis
itu. Dibawanya berkelebat masuk ke dalam goa. Goa
itu tak seberapa dalam.
Kemudian dibaringkannya pelan-pelan semen-
tara diam-diam Nanjar memperhatikan wajah si
gadis. Nanjar menduga gadis itu berusia sekitar sembilan belas atau duapuluhan
tahun. Parasnya cukup cantik, bertulang pelipis agak menonjol.
Dan dagu yang terbelah dua. Rambutnya hitam
namun kusut masai. Pakaiannya hampir dikata-
kan tak berbentuk lagi, karena telah sobek di sa-na-sini.
Dugaan Nanjar semakin kuat kalau gadis itu
adalah termasuk salah satu korban dari manusia pemerkosa yang bergelar si Awan
Hitam itu. Setelah sejenak menatap wajah si gadis, Nanjar menghela napas. Lalu
beranjak keluar mulut goa.
"Aku akan menunggunya sampai dia siuman,
kemudian menanyakan kejadian apa yang telah
menimpa dirinya..." gumam Nanjar lalu melangkah ke tepi telaga.
Air telaga itu terasa sangat dingin seperti es, ketika si Dewa Linglung
menyentuhnya. Nanjar
membasuh mukanya beberapa kali berusaha me-
nyegarkan wajahnya. Rasa kantuk seketika hilang lenyap. Dia kembali ke mulut goa
menatap si gadis yang masih terbaring diam. Kemudian dia jatuh
kan pantatnya duduk di atas batu di depan goa.
Matanya menatap ke arah telaga.
"Kalau benar gadis ini adalah korban kebiada-
ban manusia bergelar si Awan Hitam itu tentu dia
sudah tewas. Kukira dia telah berhasil meloloskan diri dan sampai di tempat ini
ketika dirinya tak kuat berjalan lagi, lalu pingsan. Hem, berarti aku hampir
menemui jejak si manusia durjana itu, dan pasti si Awan Hitam tak berada jauh
dari sekitar wilayah ini..." Nanjar menduga-duga dengan mata mendelong memandang
ke depan. Sementara waktu terus berlalu, dan kabut mulai menipis...
Selang beberapa saat telinga Nanjar menangkap
suara keluhan gadis itu. Cepat dia bangkit berdiri lalu beranjak menghampiri.
Tampak gadis itu
menggerakkan tubuhnya. Sepasang matanya per-
lahan-lahan terbuka...
"Oh, di mana aku...?" sentak gadis itu terkejut.
Matanya beradu tatap dengan Nanjar yang berdiri di hadapannya. Tampaknya dia
terkejut melihat si Dewa Linglung yang tak dikenalnya itu.
"Siapa..kau..?" sentaknya dengan mata menatap
tajam. Wajahnya yang sudah pucat itu semakin
memucat. "Tenanglah, nona... kau tak usah khawatir pa-
daku. Aku orang baik-baik. Namaku Nanjar! Aku
menemukan kau tergeletak pingsan di luar sana.
Kebetulan aku menginap di goa ini. Lalu aku
membawamu kemari, dan menunggumu sampai
kau sadar dari pingsanmu..." kata Nanjar menjelaskan sambil tersenyum.
"Apakah kata-katamu bisa dipercaya" Kau, kau
bukan orang dari komplotan si Awan Hitam?"
tanya si gadis dengan curiga, sepertinya dia masih dihantui rasa takut kalau-
kalau orang dihadapannya ini telah berdusta.
Nanjar gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Lengannya menggaruk tengkuk, kemudian me-
nyahut. "Hm, aku telah menolongmu, dan membawamu
ke goa ini karena merasa khawatir terhadap kese-lamatanmu. Di sekitar tempat ini
banyak dihuni binatang buas yang berkeliaran.
Kalau kau tak percaya padaku, baiklah aku
akan pergi..."
Seraya berkata Nanjar balikkan tubuh, lalu be-
ranjak melangkah ke luar goa.
Sebenarnya Nanjar hanya bersikap pura-pura
saja. Meski hatinya terkejut karena si gadis telah menduga, bahwa dirinya adalah
salah seorang dari komplotan si Awan Hitam.
Ternyata dugaannya tidak meleset! Gadis itu
adalah korban kebrutalan manusia durjana yang
tengah dicarinya.
"Eh..." Tunggu! Jangan pergi dulu...!" sentak
gadis itu terkejut. Nanjar menoleh. Dia pura-pura mengerutkan keningnya.
"Mengapa kau menahanku, nona" Bukankah
kau tak yakin kalau aku ini orang baik-baik?" kata Nanjar.
"Aku... aku percaya! Jangan tinggalkan diriku, tuan pendekar! Kalau kau mau
pergi ajaklah aku serta. Aku takut...! Si Awan Hitam tentu akan
mengejarku. Manusia itu benar-benar biadab! Dia telah menyiksaku..." ujar gadis
ini dengan terbata-bata.
"Hm, kalau begitu tenanglah. Untuk sementara
kau beristirahat ditempat ini. Jangan khawatir, bi-
la manusia itu muncul di tempat ini, aku yang
akan menghadapi!"
"Terima kasih, tuan pendekar! Tapi... manusia
itu berkepandaian tinggi. Aku khawatir dia akan membunuhmu..."
Nanjar tersenyum, lalu sahutnya.
"Tenanglah adik manis! sebaiknya kau beristi-
rahat. Hm... perutmu tentu lapar. Aku akan cari
makanan. Nanti kita teruskan bercakap-cakap!"
Selesai berkata tubuh si Dewa Linglung berke-
lebat lenyap dari pandangan mata si gadis. Membuat dara ini jadi tertegun
kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala.
Bibirnya tersenyum dalam hatinya agak tenang.
Dari gerakan yang begitu cepat itu dia sudah dapat mengetahui kalau pemuda
gondrong itu bukanlah
seorang pemuda sembarangan. Ilmunya tentu tak
berada dibawah si Awan Hitam.
Tak berapa lama si Dewa Linglung telah kembali lagi.
Sambil tangannya menjinjing seekor ayam hu-
tan. Semula niatnya ingin mencari seekor rusa
atau kijang. Akan tetapi yang ditemui ternyata cuma seekor ayam hutan.
Kabut yang menyelimuti di sekitar goa dan da-
nau telah lenyap. Pagi yang sejuk dan berhawa segar itu digunakan Nanjar untuk
mencabuti bulu ayam hutan yang ditangkapnya. Kemudian menya-
lakan api unggun. Dan sebentar kemudian si Dewa Linglung telah duduk membalik-
balik panggang ayam hutan yang wanginya menerbitkan selera
dan membuat cacing-cacing perut berkrukukan.
Gadis itu duduk diatas batu, tak jauh dari si
Dewa Linglung yang asik memanggang binatang
tangkapannya. "Siapa namamu, nona...?" tanya Nanjar tanpa
menoleh, cuma melirik dengan sudut matanya.
"Namaku JUMANTI, tuan pendekar. Ah, kau
benar-benar seorang yang baik hati...!" sahut gadis itu.
"Ehm, kau selalu memanggilku tuan pendekar.
Bukankah telah kuperkenalkan namaku?" kata
Nanjar, seraya menoleh. Gadis itu tertunduk dengan wajah bersemu merah.
Lengannya membetul-
kan sobekan kain yang dikenakannya.
Diam-diam Nanjar mengakui keelokan paras
gadis itu, serta tubuhnya yang padat berisi dan berkulit kuning langsat.
Pantaslah kalau si Awan Hitam manusia hidung belang itu menginginkan
diri si gadis. "Maukah kau berjanji?" tanya Nanjar tiba-tiba.
"Janji apa?" sahut Jumanti.
"Untuk seterusnya kau tak kuperbolehkan me-
manggil dengan kata-kata itu lagi!" ujar si Dewa Linglung. Gadis itu kerlingkan
matanya, seraya menyahut.
"Baiklah! Aku akan memanggilmu kakak saja,
bukankah kau lebih tua usianya dari aku?" sahut Jumanti dengan tersipu.
"Ya, ya...! Begitupun boleh...!" sahut Nanjar.
Kemudian meneruskan memanggang ayam hutan.
Waktu terus merayap tak terasa. Matahari telah memancarkan cahayanya menerangi
jagat. Tampak keakraban sebentar saja telah terjalin diantara
keduanya. Tanpa malu-malu bahkan dengan ra-
kus Jumanti melahap panggang daging ayam hu-
tan itu. Dia mendapat bagian lebih besar dari Nanjar. Sedangkan si Dewa Linglung
cuma menggero- goti sepertiganya saja.
*** DUA Dari penuturan Jumanti dapat diketahui di ma-
na adanya manusia yang bergelar si Awan Hitam
itu. Si gadis menceritakan bahwa dirinya diculik dari rumah tempat tinggal
pamannya dan dibawa
kesatu tempat. Di tempat tersembunyi itu Jumanti mengalami siksaan. Sekujur
tubuhnya dilecuti
oleh cambuk setelah orang itu terlebih dulu mero-bek pakaiannya. Untunglah
sebelum dia dinodai si Awan Hitam kedatangan seorang temannya. Dia
disekap disebuah kamar dalam keadaan terikat,
dan pintu kamar dipalang dari luar.
Di saat manusia itu pergi, Jumanti berhasil melepaskan ikatan dan meloloskan
diri. Nanjar menatap gadis itu yang bicara polos. Dalam hati Nanjar mengutuk manusia
yang mena- makan dirinya si Awan Hitam itu.
"Manusia itu benar-benar keterlaluan! Kalau
gadis ini tak berhasil meloloskan diri, tentu nasib-nya tak jauh berbeda dengan
gadis-gadis lainnya yang jadi korban nafsu iblisnya...!"
"Kak Nanjar, kuharap kau berhati-hati. Aku
khawatir dia akan memperdayakanmu. Manusia
itu sangat licik! Dia pandai menggunakan tipu
daya untuk menjebak korbannya. Bahkan aku te-
lah mendengar banyak yang telah tewas jika beru-rusan dengannya..." Tampaknya
Jumanti begitu mengkhawatirkan keselamatan Nanjar.
"Terima kasih atas perhatianmu, Jumanti. Se-
baiknya aku mengantar kau ke rumah pamanmu
yang kau ceritakan tadi, dan dimana kau selama ini menetap.
Demi keamanan di wilayah ini aku harus me-
ringkus manusia busuk itu!".
Jumanti menundukkan wajahnya. Terdengar
dia berkata lirih.


Dewa Linglung 28 Selubung Awan Hitam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kau begitu baik hati terhadapku, entah dengan apa aku harus membalas
budimu...?"
"Haha... sudahlah! Jangan berpikir macam-
macam. Apakah kau masih sanggup berjalan" Kau
sangat letih tampaknya...! Kalau begitu biarlah aku menggendong mu!"
Jumanti tak menjawab. Dia cuma menatap
Nanjar dengan pandangan aneh. Lalu menunduk-
kan wajah. Ada getaran aneh didada Jumanti bila beradu tatap dengan pemuda yang
telah berbaik hati menolongnya dirinya itu. Seperti ada rasa simpati yang sangat mendalam
terhadap Nanjar.
Dan... tak ada yang mengetahui hal itu kecuali dirinya sendiri.
Tahu-tahu lengan Nanjar telah menangkap
pinggangnya, dan...
"Ohh...?" Jumanti tersentak. Dalam sekejap tu-
buhnya telah berada dalam pondongan pemuda
itu. "Nah! Kini katakan ke arah mana aku harus
menuju?" kata Nanjar dengan tersenyum melihat
gadis itu terkejut. Kejadian itu begitu cepat, dan sudah terlanjur kalau
ditolak. Lagi pula hati gadis ini memang tak menolak untuk dipondong walau
sebenarnya dia masih sanggup berjalan menem-
puh jarak ratusan tombak sekalipun.
"Kau benar-benar melakukannya, kak Nanjar"
Oh, kau sangat baik terhadapku...! Ambillah jalan ke arah utara..." berkata
Jumanti dengan senyum menghias bibirnya yang setengah basah.
Nanjar mengangguk. Dan setelah melihat arah
jalan yang bakal ditempuh segera Nanjar memba-
wa tubuh dara itu berkelebat meninggalkan tem-
pat itu. Jumanti merasa tubuhnya seperti terbang. Len-
gannya memeluk erat tubuh pemuda itu dengan
mata setengah terpejam. Sementara hatinya turut melayang kebalik mega....
Selang beberapa saat Nanjar menghentikan la-
rinya. Dihadapannya terbentang hutan rimba be-
lantara. "Kemana lagi arah yang harus kutempuh, Ju-
manti?" tanya Nanjar. Dia agak ragu untuk memasuki hutan dihadapannya.
"Turunkan aku kak Nanjar. Kukira aku sanggup
melakukan perjalanan asalkan kau mau menema-
niku...!" kata Jumanti. Kesempatan baik itu tak disia-siakan Nanjar. Dia memang
agak risih dengan keadaan tubuh gadis itu yang pakaiannya robek disana-sini
hingga sebagian auratnya mau tak mau tertatap olehnya sebagai seorang laki-laki
normal tentu saja hal itu menimbulkan hawa
rangsangan. Apa lagi Jumanti memeluk erat tu-
buhnya. Segera Nanjar menurunkan tubuh Jumanti.
"Kau benar-benar sanggup berjalan" Masih
jauhkah rumah pamanmu?" tanya Nanjar. Gadis
itu mengangguk sambil tersenyum. Lengannya
menunjuk ke arah hutan dihadapannya, seraya
menyahut. "Setelah melewati hutan itu ada sebuah per-
kampungan terpencil. Wilayah itu sudah termasuk perbatasan Kota Raja. Rumah
pamanku berada di
pedesaan itu!" Nanjar manggut-manggutkan kepa-
la. "Marilah kak Nanjar. Aku berhutang budi padamu. Pamanku tentu senang
menerima kedatan-
ganmu..." kata Jumanti seraya mendahului beranjak melangkah, Nanjar mengangguk,
lalu mengiku-ti gadis itu.
Mereka merambas masuk ke dalam hutan. Da-
lam hati Nanjar bertanya-tanya.
"Tampaknya gadis ini seperti memiliki ilmu ke-
pandaian, dan bukan gadis biasa..." Tapi kemu-
dian dia memaki dirinya sendiri. "Bodoh aku! kalau dia tak memiliki ilmu
kepandaian mana mungkin bisa meloloskan diri dari cengkeraman si Awan Hitam?"
"Tampaknya kau mengenal sekali jalan-jalan di
dalam hutan ini. Kau sering kehutan ini?" tanya Nanjar.
"Tentu saja aku mengenal tempat-tempat ini,
karena pamanku sering mengajakku kemari ber-
buru ayam hutan!" menyahut si gadis.
"Pamanmu seorang guru silat?"
"Benar! Dari mana kau mengetahui?"
"Ah, aku hanya menduga-duga saja..." sahut
Nanjar. "Oh, ya! Aku belum menanyakan padamu, sia-
pakah nama pamanmu?" Nanjar bertanya lagi.
Jumanti menoleh sambil tersenyum.
"Dia bernama Sawung Kala!" sahut Jumanti.
Nanjar manggut-manggut. Dan dia tak bertanya
apa-apa lagi. Lewat sepenanak nasi, mereka telah keluar dari hutan lebat itu.
Jumanti mempercepat langkahnya dengan ber-
lari-lari. Nanjar mengikuti.
Ada niatnya untuk meninggalkan gadis itu, ka-
rena tak sabar hatinya untuk menyatroni sarang si Awan Hitam. Tapi dia
membatalkan maksudnya.
Dan dia merasa tak perlu tergesa-gesa. Ada
baiknya untuk mengenal laki-laki bernama Sa-
wung Kala, paman gadis itu.
Berpikir demikian Nanjar segera menyusul gadis itu.
Beberapa saat berlalu mereka telah sampai di
pedesaan seperti yang dikatakan gadis itu. Nanjar tak begitu memperhatikan kalau
tak ada seorang pendudukpun berada didesa itu. Sebuah rumah
paling besar berada disudut sebelah depan pedesaan. Agak menjorok ke dalam, dan
mempunyai halaman yang luas. Nanjar memperhatikan seki-
tarnya. Tiba-tiba Jumanti menarik lengannya.
"Ayolah kak Nanjar. Kau akan kuperkenalkan
dengan pamanku," kata Jumanti. Sikapnya men-
dadak kenes dan agak lincah dan manja. Mau tak mau Nanjar menurutkan tarikan
lengan dara itu.
Sesaat kemudian mereka telah memasuki be-
randa depan. Pintu ruang tengah tampak tertutup.
Jumanti mendorongnya perlahan. Pintu itu tak
terkunci. "Ah, pamanku tampaknya sedang pergi..." kata
Jumanti. Dia membuka pintu kamar, lalu beranjak melangkah ke ruang belakang.
Nanjar berdiri terpaku dipintu ruang tengah.
Dalam ruang itu ada sehelai tikar pandan terbentang dilantai papan. Didinding
ruangan ada sepasang pedang dipajang bersilang. Gadis itu kembali lagi menemui
Nanjar. "Duduklah, kak Nanjar! Mungkin pamanku se-
dang pergi mencariku...! kata si gadis. Tiba-tiba wajahnya berubah. Dia tampak
tersentak dan pa-da wajahnya tampak jelas terlihat perasaan khawatir.
"Celaka..! Aku khawatir paman menyusulku ke-
sarang manusia dajal itu..."
Wajah Nanjar seketika berubah.
"Kalau begitu sebaiknya aku menyusul ke sa-
rang si Awan Hitam!"
"Tunggu! Duduklah dulu, kak Nanjar. Ada hal
yang belum kujelaskan padamu mengenai manu-
sia jahanam itu... Tapi sebaiknya aku ambilkan kau air minum dulu. Kau tentu
haus sehabis melakukan perjalanan. Akupun sangat haus..." Se-
raya berkata Jumanti kembali beranjak keruang
belakang. Nanjar jatuhkan pantatnya di atas tikar.
"Apakah yang akan dikatakan gadis itu" Men-
genai si Awan Hitam?" berkata Nanjar dalam hati.
Terpaksa dia duduk bersabar menanti kemuncu-
lan gadis itu. Nanjar memang merasa tenggoro-
kannya kering. Tak berapa lama Jumanti telah muncul lagi.
Ditangannya tampak sebuah nampan berisi
kendi dan dua buah cangkir dari tanah liat.
Gadis itu segera menuangkan air kendi ke da-
lam dua cangkir tersebut.
"Air teh ini kumasak kemarin... Kau suka air
teh?" Nanjar tak menjawab. Diteguknya air dalam mangkuk tanah liat itu sampai
tandas. Gadis itu menatapnya sambil tersenyum. Lalu turut mene-guk airnya.
"Nah! Katakanlah mengenai manusia telengas
yang gemar menyiksa dan memperkosa perem-
puan itu!" Ujar Nanjar seraya menatap tajam gadis itu. Jumanti mengangguk.
"Baiklah! Kak Nanjar...!" sahut gadis ini dengan sikap sungguh-sungguh. Dara ini
merapikan du-duknya, lalu mulai membentangkan tentang ma-
nusia yang menamakan dirinya si Awan Hitam.
"Dari pembicaraan yang kudengar, saat ini
mungkin dia tak berada disarangnya. Akupun be-
lum memastikan kalau tempat itu adalah sarang
manusia busuk itu. Dia seorang penjahat ulung
yang banyak tipu dayanya.
Aku khawatir disaat kau pergi, justru dia mun-
cul ditempat ini..."
Nanjar jadi menggaruk-garuk tengkuknya.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Nan-
jar. "Hm, sebaiknya kita tunggu sampai beberapa hari disini, atau paling sedikit
dua hari dua malam. Siapa tahu paman keburu datang, dan kalian bisa merundingkan
siasat untuk membekuk manusia penebar bala dan keonaran itu!" sahut Jumanti.
Sesaat lamanya Nanjar termenung, kemudian
berkata. "Akan kucoba menuruti pendapatmu, adik ma-
nis...! Tapi aku tak mau tidur didalam kamar. Aku akan tidur di luar saja!"
"Terserah apa yang kau inginkan, kak Nanjar.
Kau bebas berbuat apa saja di rumah ini...!" berkata si gadis dengan tersenyum.
Lalu bangkit berdiri.
"Bolehkah aku meninggalkanmu sebentar" Aku
mau mandi, dan mengganti pakaianku yang sudah
tak keruan ini. Nanti kita teruskan lagi bercakap-cakap."
Nanjar mengangguk. Dalam hati dia berkata.
"Gadis lugu....! Sebenarnya aku enggan berada ditempat ini berdua-dua dengan
seorang gadis. Tapi apa boleh buat! Keadaan telah memaksa aku hingga aku harus
berdiam di rumah ini..."
*** TIGA JUMANTI melangkah ke arah pintu kamar.
Membuka pintunya dan membiarkan pintu ka-
mar terbuka. Lalu menguakkan daun jendela. Ca-
haya terang menyorot masuk ke dalam kamar. La-
lu membuka pintu lemari pakaian. Mengambil se-
helai kain panjang. Kemudian mengeluarkan seperangkat pakaian yang akan
dipakainya nanti sesudah mandi. Kemudian menutup pintu lemari.
Enak saja dia melepaskan pakaiannya yang
compang-camping tak keruan itu dan berdiri tanpa busana. Darah Nanjar tersirap.
Mau tak mau dia melihat pemandangan di depannya, karena pintu
kamar yang berdekatan dengan ruang tengah itu
tak ditutupkan. Jumanti membentangkan kain
panjang itu, dan membelitkan ditubuhnya yang
padat berisi. Lalu melangkah keluar tanpa menutup pintu kamar. Cepat-cepat
Nanjar memalingkan wajahnya menatap ke arah beranda depan.
Aneh! Dia merasa jantungnya berdetak cepat.
Dan satu perasaan yang sukar untuk dia meno-
laknya, yaitu mencuri pandang dan diam-diam
memperhatikan keindahan tubuh dara itu.
"Gila...! Mengapa pikiranku jadi tertuju pada
gadis itu...?" berkata Nanjar dalam hati. Dia coba menyatukan kekuatan batinnya
dengan duduk bersila dan mata dipejamkan. Tapi yang terlukis dikepalanya justru keelokan
paras dan keindahan tubuh polos Jumanti! Makin dia berusaha mengusir bayangan
gadis itu, justru semakin kuat sosok tubuh gadis itu menggoda benaknya. Nanjar
menghentikan semedinya dan membuka kedua
matanya. "Benar-benar edan...!" berdesis si Dewa Lin-
glung. Mendadak ada dorongan hasrat yang kuat un-
tuk melihat dimana gadis itu mandi. Dengan detak jantung semakin cepat, Nanjar
bangkit berdiri. La-lu beranjak melangkah ke arah kamar. Matanya
memandang keluar jendela yang terbuka.
Sesaat Nanjar terpaku bagai orang kena tenung.
Matanya memandang tak berkedip. Gadis itu ten-
gah mandi di air pancuran dengan berdiri tanpa pakaian. Jaraknya sekitar lima-
enam tombak dari pintu jendela. Ternyata di bagian belakang rumah itu ada sebuah
bukit kecil. Dibagian atasnya di-tumbuhi pohon-pohon bambu.
Dibawah akar-akar bambu itu terdapat pancu-
ran yang mengucur dari sepotong bambu. Di air
pancuran berair jernih itulah gadis ini mandi.
Semuanya terpampang jelas, dan begitu jelas.
Liku-liku yang indah dan mempesona dari tubuh
dara itu membuat Nanjar lama terpaku menatap
dengan napas tersengal memburu.
Jumanti seperti tak mengetahui kalau sepasang
mata telah memandangnya dengan hawa nafsu
bergejolak. Lengannya menyambar kain di atas ba-tu. Lalu digunakan membungkus
tubuhnya. Nan- jar lenyap dari jendela, dan sesaat telah kembali duduk diatas tikar pandan.
Gadis itu muncul dengan rambut basah, dan
langsung masuk ke kamarnya.
Jumanti menyeka tubuhnya dan rambutnya
yang basah dengan kain panjang yang dipakainya.
Semua itu tak luput dari tatapan mata Nanjar
yang semakin liar.
Betapa sukarnya si Dewa Linglung menepiskan
pikiran kotor dari benaknya.
Hawa rangsangan kian menebar dan menjalar
ke segenap aliran darah dan urat-urat tubuhnya.
Sementara Jumanti seperti memperlambat ge-
rakan menyeka tubuhnya.
Gadis ini seperti sengaja membiarkan bagian
belakang tubuhnya yang terbuka dengan berdiri menghadap ke arah jendela.
"Tampaknya racun dalam air teh itu telah mulai bekerja...!" berkata Jumanti
dalam hati. Bibirnya sunggingkan senyuman. Dan dia menanti reaksi
selanjutnya. Disaat itulah tahu-tahu Nanjar telah berada di belakangnya. Lengannya terjulur
memeluk pinggangnya. Jumanti bersikap seperti orang terkejut.
"O, kak Nanjar... apa yang akan kau lakukan?"
Jumanti merasakan hembusan napas Nanjar
yang menggebu. Dia membisikkan kata-kata lirih menggetarkan di telinganya.
"Kau... kau membuat aku gila, Jumanti...!
Kau... kau..."
Dan Nanjar telah membalikkan tubuhnya den-
gan kasar, lalu merengkuh lehernya dengan penuh nafsu membuat Jumanti
bergelinjang kegelian.


Dewa Linglung 28 Selubung Awan Hitam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Nanjar sudah tak dapat membendung hawa
rangsangan hebat yang mengalir di segenap aliran darahnya. Dia memondong tubuh
bugil itu dan melemparkannya keatas pembaringan. Kemudian
dengan cepat dia melepaskan pakaiannya...
Disaat itulah tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat masuk ke dalam kamar. Dan...
tahu-tahu Nanjar perdengarkan keluhan ketika satu pukulan keras menghantam tengkuknya.
Tubuh si Dewa Linglung roboh tersungkur di lantai kamar.
Pukulan keras itu telah membuat Nanjar tak in-
gat apa-apa lagi dan terkapar tak sadarkan diri.
"Bagus! Kau telah menjalankan tugasmu den-
gan baik, manisku...!" berkata orang ini. Ternyata dia seorang wanita yang
menutup sebagian wajahnya dengan cadar hitam. Sepasang mata wanita ini berkilat-
kilat menatap Jumanti yang cuma terpaku, lalu menundukkan wajahnya.
Terdengar suaranya yang tergetar menyahut.
"Sesuai dengan perintahmu, aku telah melaku-
kan perbuatan tercela ini. Memperdayakan seo-
rang pendekar yang bergelar si Dewa Linglung.
Dan kau telah mendapatkan apa yang kau ingin-
kan...! Kini berilah aku kebebasan seperti janjimu!"
"Tunggu! Kau nyaris tenggelam dalam kenikma-
tan bersama dia kalau aku tak keburu muncul!
Tahukah kau, bahwa aku membenci hal itu" Dan
satu hal yang tak dapat kau pungkiri, diam-diam kau mencintai dirinya!" bentak
wanita ini. Matanya nyalang menatap Jumanti.
"Maafkan aku, Awan Hitam! Aku memang tak
dapat mendustai diriku sendiri. Sebagai manusia yang dilahirkan dalam keadaan
normal seperti layaknya seorang perempuan, aku memang men-
dambakan kehangatan laki-laki! Apakah hal ini bi-sa kau salahkan?" berkata
Jumanti dengan suara tawar.
Kalau saja wanita ini tak memakai cadar penu-
tup wajahnya, jelas akan terlihat perubahan wajahnya mendengar kata-kata gadis
itu. Dia mendengus dingin. Api kecemburuan tam-
pak terlihat disepasang matanya yang nyalang
menatap Jumanti yang tanpa busana dihadapan-
nya. Dia berkata dingin, sedingin es.
"Hm, diantara sekian gadis hanya kaulah yang
masih kuberi waktu untuk hidup lebih lama! Ji-
wamu kuampuni, Jumanti! Akan tetapi kau tak
akan kubebaskan sekarang! Pakailah pakaianmu,
dan ikut aku!"
"Tidak! Kau telah mengkhianati janjimu, Awan
Hitam! Aku ingin kebebasan sekarang, seperti janjimu!" berkata gadis itu dengan
setengah berteriak.
"Hihi... aku bisa merubah janji apapun yang telah kuucapkan! Aku akan bersikap
sebaik mung- kin padamu bila kau turuti kehendakku.
Dan satu hal yang perlu kau ketahui, keselama-
tan jiwa ayahmu berada ditanganku!" Tentu saja keterangan si Awan Hitam membuat
wajah Jumanti berubah pucat.
"Kau... kau telah menawan ayahku juga?" sen-
taknya terperanjat.
"Hihi... aku tidak bodoh! Tanpa aku menawan
ayahmu si tua bangka kaki buntung itu, mana
mungkin kau akan mau menuruti kehendakku?"
berkata wanita ini dengan tertawa dingin.
"Kau... kau memang benar-benar iblis licik!" teriak Jumanti dengan mata
membelalak besar ber-
simbah air mata.
"Sudahlah, Jumanti...! Aku berjanji akan mem-
bebaskan ayahmu, juga kau sendiri, asalkan kau mau setia menemani diriku sampai
beberapa hari lagi...!"
Mendadak suara si Awan Hitam berubah lunak.
Wanita bercadar ini menjumput pakaian Jumanti
yang berserak diatas pembaringan. Lalu melem-
parkan pada Jumanti.
"Nah! Pakailah pakaianmu!" Namun gadis itu
tak mengacuhkannya. Dia duduk terpaku dengan
mata menatap kosong keluar jendela. Mendadak
dia menutup wajahnya dengan kedua lengan, dan
menangis terisak-isak.
Tampaknya Awan Hitam tak memperdulikan
gadis itu lagi. Dia menatap ke arah tubuh si Dewa Linglung yang terkapar
pingsan. Lalu membung-kukkan tubuhnya. Lengannya mencengkeram
rambut si pemuda gondrong.
"Hihi... pendekar Linglung! Kau akan menjadi
seorang yang paling dungu setelah kau meminum
racun itu! Ternyata kau tak lebih bodoh dari seekor keledai!" Wanita ini
menghempaskan kepala
Nanjar. Lalu matanya tertuju pada dua buah ben-da yang tergeletak dilantai tak
jauh dari onggokan pakaian pemuda itu.
"Hm, ini tentu pedang mustika Naga Merah
yang telah membuat namamu menjulang ke sean-
tero jagat! Dan, seruling tulang berkepala Naga ini sangat bagus. Aku akan
meniupnya bila malam telah sepi untuk mengingat seorang pendekar tolol yang tak
lebih tolol dari seekor keledai!" Wanita bergelar Awan Hitam ini tertawa
berderai. Kemudian selipkan pedang mustika Naga Merah
dan seruling milik si Dewa Linglung ke balik jubah. Lalu menoleh pada Jumanti
yang masih tenggelam dalam isaknya.
"Ayo cepat, adik manis! Pakailah pakaianmu!"
ujar wanita ini Melihat gadis itu masih tak mengangkat wajahnya, wanita ini
hilang kesabarannya.
Sekali lengannya bergerak, dia telah menotok tubuh gadis itu.
Jumanti mengeluh panjang. Wanita bercadar ini
membungkus tubuh gadis itu dengan kain yang
teronggok disisi tempat tidur. Lalu memondong-
nya. Dan beberapa kejap kemudian dia telah me-
mondongnya. Lalu berkelebat keluar dari dalam
pondok itu. Sebentar saja tubuhnya telah lenyap ditelan rimbunnya hutan
belantara... *** EMPAT SEEKOR TIKUS KECIL BERBULU PUTIH keluar
dari onggokan pakaian si Dewa Linglung. Binatang ini mencicit lalu bergerak
merayap kearah tubuh Nanjar yang masih terkapar tak bergerak...
Dia mulai mendengus-enduskan hidungnya
menciumi tubuh si Dewa Linglung. Lalu merayap
naik keatas perut, kemudian merayap kedada dan leher. Kemudian terus merayap
kewajah pemuda itu dengan mengendus-enduskan hidungnya sam-
bil mencicit-cicit, dan menjilati wajah sang maji-kan.
Rasa geli yang menyentuh kulit karena dirayapi kaki tikus putih peliharaannya,
membuat Nanjar tersadar dari pingsan. Matanya membelalak terbuka. Dan detik itu
juga dia melompat bangun.
Alangkah terkejutnya Nanjar ketika merasa tu-
buhnya begitu lemah tak bertenaga. Dia hanya
mampu duduk dengan bersusah payah. Sementa-
ra tikus putih itu telah melompat turun. Binatang kecil itu kini merayap
dikakinya. Nanjar tersentak karena melihat keadaan tu-
buhnya tanpa pakaian. Seketika ingatannya kem-
bali pulih. Sadarlah dia akan apa yang telah dilakukannya. Wajahnyapun berubah
memerah. "Gila...! Aku telah melakukan perbuatan diluar kesadaranku..!?" sentak Nanjar
dengan berdesis.
"Tapi... tapi aku belum melakukannya..." Hatinya membantah. Lalu teringat pada
gadis bernama Jumanti. "Dimanakah gadis itu?" sentak si Dewa Linglung yang tak melihat gadis itu berada
didalam ruangan kamar. Sesaat dia tercenung. Matanya menjalari sekitarnya. Lalu
menatap pada onggokan pakaiannya yang berserak di lantai kamar. Lagi-lagi dia
tersentak kaget, karena tak melihat senjata pusaka dan seruling tulang berkepala
Naga miliknya. "Setan alas! Barang-barang milikku telah dicuri perempuan itu..!" mendesah
Nanjar dengan mata
membelalak. Dengan bersusah payah Nanjar ber-
hasil menjangkau pakaiannya. Lalu dengan meme-
ras tenaga dia segera mengenakan kembali pa-
kaiannya. Napas si Dewa Linglung terengah-engah. Se-
mentara tikus kecil itu melompat keperutnya, lalu merayap naik keatas pundak.
Nanjar julurkan lengannya menangkap binatang peliharaannya itu.
"Putih... tahukah kau apa yang telah terjadi?"
Nanjar mengelus-elus kepala binatang kecil itu,
yang cuma bisa mencicit. Sementara ingatan Nanjar menerawang ke saat kejadian
yang baru saja terjadi. Dia berusaha sekuat fikirannya untuk
mengumpulkan ingatan. Pengaruh apakah yang
telah membuat dirinya melakukan hal yang mema-
lukan itu" Dan yang paling aneh adalah dia telah kehilangan kekuatan tubuhnya.
Hal itulah yang
membuat Nanjar tak habis pikir. Sementara otaknya seperti beku tak mampu
mengingatkan asal
peristiwa yang telah terjadi.
"Celaka! Aku telah benar-benar menjadi seorang yang linglung berat! Aku tak
mampu mengingat
sama sekali..." mengeluh Nanjar dalam hati. Dalam geramnya Nanjar mengumpulkan
segenap kekuatan tenaga dalamnya kearah lengan. Otot-otot tubuhnya mengejang,
dan tulang lengannya berkeri-utan. Lalu dengan berteriak histeris dia menghan-
tamkan ke arah depan.
BRAKKK! Dinding ruang kamar itu hancur berserpihan.
Bahkan tiang penyangga atap rumah diberanda
depan telah patah karena terjangan angin pukulan yang menghambur dari telapak
tangan si Dewa Linglung. Angin pukulannya masih menggoncang
sebuah pohon dihalaman depan rumah itu hingga
batangnya bergoyang-goyang dan belasan daun
pohon itu meluruk berhamburan...
Tampak wajah Nanjar berubah mengelam. Ma-
tanya memancarkan hawa amarah terhadap kebo-
dohan dirinya sendiri. Dadanya kelihatan turun naik, dan napasnya tersengal-
sengal. Tampaknya Nanjar masih belum puas menya-
lurkan kemarahannya. Kembali dia menghantam
kekanan dan kekiri. Maka sebentar saja terdengar suara gaduh seolah rumah itu
dilanda angin ribut.
Dinding-dinding papan berterbangan hancur.
Tiang-tiang penyangga atap rumah patah berde-
rak. Sesaat Nanjar terpana dengan apa yang telah
dilakukannya. Mendadak dia dapat berpikir kem-
bali secara baik.
"Hah!" Tenagaku... pulih kembali?" sentak Nan-
jar dengan wajah berubah girang. Sementara itu tikus putih sahabatnya telah
menyelinap masuk
ke sela bajunya. Disaat itulah bencana kedua
muncul di depan mata. Karena beberapa tiang penyangga dan dinding-dinding papan
ruangan itu telah hancur dan patah-patah, maka tak dapat dicegah lagi wuwungan rumah itu
meluruk kebawah
dengan suara berderak-derak.
Nanjar tersentak kaget....
"Celaka..!?"
Tak ampun lagi rumah itupun roboh seluruh-
nya. Nyaris si Dewa Linglung tertimbun reruntuhan, kalau didetik itu tubuhnya
tak berkelebat melompat keluar dari ruangan itu untuk menyela-
matkan diri... Terdengar suara bergemuruh dari reruntuhan
rumah yang ambruk itu. Sesaat lamanya si Dewa
Linglung menatap dengan mata mendelong melihat rumah yang kini sudah tak
berbentuk lagi, dan telah berubah menjadi timbunan kayu dan atap.
Dan secara perlahan ingatan Nanjarpun kemba-
li pulih. Dia mulai dapat mengingat asal kejadian
yang dialaminya... Sesaat lamanya dia tertegun dengan bekerjanya kembali sirkuit
otaknya. "Ya, aku ingat! Setelah meminum air teh yang
disuguhkan Jumanti, aku merasa ada perubahan
dalam aliran darahku. Seperti ada suatu rangsangan yang hebat, sehingga aku tak
kuat melawan keinginanku untuk melakukan perbuatan edan
dengan gadis itu. Kukira gadis itu telah menaruh semacam ramuan beracun yang
membuat aku jadi
demikian. Dan bahkan aku telah kehilangan daya kekuatan tubuhku. Celakanya aku
seperti tak dapat berpikir secara normal! Cuma beberapa gelintir ingatan saja
yang masih secara tersimpan diotak-ku..." berkata Nanjar dalam hati.
Namun satu kejadian aneh yang membuat Nan-
jar diam-diam bersyukur adalah dia kembali pulih dari kelemahan daya kekuatan
tubuhnya. Nanjar
menduga kepulihan tenaga dalamnya adalah aki-
bat secara tak sengaja dia melampiaskan kemarahannya pada dirinya sendiri dengan
menghancur- kan apa yang berada disekelilingnya. Ternyata hal itu justru memulihkan
tenaganya kembali. Sebenarnya apa yang telah terjadi itu adalah wajar. Dalam
tubuh Nanjar sendiri telah ada satu kekuatan yang hebat untuk menolak racun.
Semua itu karena Nanjar adalah seorang ahli ramuan, dan entah berapa macam
dedaunan yang mengandung kha-siat telah digayam masuk keperutnya, dan bersatu
dengan darah. Namun setiap racun tentu mempunyai kadar ukuran yang berbeda.
Semua itu bisa terjadi, dan Nanjar terkena pengaruh hebat yang kekuatan darahnya
tak mampu melawannya.
Namun Nanjar pernah menjadi murid seorang
tokoh Rimba Hijau berilmu tinggi, yaitu si Raja Si-luman Naga yang telah
mewariskan cara mengum-
pulkan tenaga yang dinamakan Tenaga dalam
sungsang. Dengan cara ini bukan saja dia dapat melakukan suatu pukulan hebat
yang bernama Pukulan Inti Es, akan tetapi juga punya fungsi ganda. Yaitu mengumpulkan kembali
cairan racun dan mengembalikan ketempat asalnya. Itulah se-babnya disaat dia
tengah terlonglong mengingat kejadian yang telah dialaminya, tiba-tiba Nanjar
merasa perutnya mual. Ususnya seperti bergolak dan berbunyi berkeributan.
Mendadak dia tak dapat menahan keinginan untuk muntah.
"Hoaaak..!"
Desakan dari dalam itu begitu kuat. Dua kali
dia muntah, maka dia merasakan rasa mual dipe-
rutnya perlahan-lahan lenyap. Alangkah terkejutnya Nanjar ketika melihat yang
dimuntahkan itu adalah air teh yang telah diminumnya. Sesaat dia memperhatikan


Dewa Linglung 28 Selubung Awan Hitam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan mata tak berkejap. Air teh itu telah tercampur dengan cairan ludah
perutnya. Nanjar merasakan mulutnya asam. Sesaat kemu-
dian dia menyengir sendiri sambil menggaruk-
garuk tengkuknya.
"Benar dugaanku! Air teh itu mengandung ra-
cun. Haih! Benar-benar racun yang sangat berbahaya..." desis si Dewa Linglung.
Diam-diam dia bersyukur bisa memuntahkan cairan itu dari perutnya. Khawatir
masih ada sisa racun dalam tubuhnya, Nanjar segera salurkan kekuatan tenaga
dalam, dan hawa murni untuk disebar kesegenap
tubuh. Dilakukannya dengan duduk bersila. Se-
lang tak lama tampak uap putih mengepul dari
ubun-ubun kepala, juga dari segenap lubang pori-pori ditubuhnya. Nanjar
menghentikan cara itu ketika merasa tubuhnya telah kembali enteng. Ke-
mudian Nanjar melompat berdiri. Dia mulai men-
gumpulkan kembali ingatannya. Akhirnya Nanjar
dapat mengingat disaat satu pukulan mendarat ditengkuknya dia roboh tak sadarkan
diri. Akan tetapi dalam keadaan setengah sadar telinganya telah mendengar suara
orang berbicara. Hal itu karena fikiran dibawah sadarnya terus bekerja.
"Yang membokongku pastilah manusia bergelar
si Awan Hitam itu! Akan tetapi aneh! Aku seperti mendengar suara seorang
perempuan..." Mung-kinkah manusia itu seorang perempuan?" berkata Nanjar dalam
hati. Akhirnya Nanjar mengambil
kesimpulan bahwa suara seorang laki-laki bisa sa-ja mirip seperti suara
perempuan. Yang penting dia harus mengejar manusia itu.
Berfikir demikian Nanjar segera berkelebat me-
ninggalkan tempat itu. Pengalaman yang baru saja terjadi tak mungkin dapat
dilupakan, bahkan akan dijadikan suatu pelajaran, bahwa dirinya tak boleh begitu
saja mudah percaya terhadap setiap orang apalagi yang baru dikenalnya. Jelas
gadis bernama Jumanti itu telah menjebak dirinya ketempat itu.
Kemungkinan gadis itu adalah anak buah si Awan Hitam! Demikian yang terpikir
dibenak si Dewa
Linglung. Nanjar merambas masuk kedalam hutan. Se-
bentar saja tubuhnya lenyap tak kelihatan lagi...
*** LIMA KITA MENENGOK KE SEBUAH PERGURUAN
SILAT, yang bernama perguruan Trisula Dewa Ke-
tua perguruan yang beraliran putih ini namanya cukup kondang di wilayah sekitar
lereng pegunungan Kendeng. Sang ketua bernama Reka Ananta,
bergelar si Pendekar Tangan Kidal. Senjata yang menjadi andalannya adalah sebuah
tombak ber-mata tiga yang disebut Tombak Trisula. Walaupun dia bertangan kidal,
namun tak semua murid-muridnya bertangan kidal. Dan jangan mengang-
gap enteng tangan kanannya. Karena sebelah tangan palsu pendekar tua itu dapat
dipergunakan untuk menghantam dan menghancurkan dada la-
wan dan meremukan batok kepala.
Siang itu tampak Reka Ananta tengah melatih
dua belas orang muridnya. Diantara dua belas
orang pemuda itu ada terdapat seorang gadis, yang turut berlatih. Siapa adanya
gadis itu adalah puteri tunggal Reka Ananta sendiri.
Tampaknya latihan itu tak terlalu lama, karena segera Reka Ananta menyuruh
berhenti, dan membubarkan murid-muridnya. Gadis berbaju
serba putih berpotongan singsat itu agak terheran.
Tak seperti biasa ayahnya menghentikan latihan.
Dia melihat sang ayah beranjak masuk ke ruang
pesanggrahan. Segera dia beranjak mengikuti dari belakang.
Baru saja Reka Ananta memasuki pintu kamar-
nya, gadis itu sudah berdiri dipintu kamar dibelakang punggung sang ayah.
"Ada apa ayah" Tampaknya ayah kurang ber-
semangat hari ini...!" berkata si gadis. Reka Ananta ternyata telah mengetahui
kalau puterinya mengi-kutinya. Dia menyahut tanpa berpaling. Matanya menatap
keluar jendela kamarnya.
"Tidak ada apa-apa anakku..! Sengaja ayah
menghentikan latihan karena ada keperluan yang harus ayah selesaikan..!"
"Apakah aku tak boleh mengetahui, ayah?"
tanya gadis ini. Reka Ananta membalikkan tubuhnya. Matanya menatap gadis itu.
Sesat dia ter- diam, kemudian menghela napas.
"Andini, anakku yang manis, baiklah ayah akan
memberitahukan. Kukira kau mengenal nama per-
guruan Matahari, bukan?"
"Tentu ayah! Bukankah nama ketuanya adalah
Ki Wikalpa?" potong gadis yang ternyata bernama Andini itu. Reka Ananta
mengangguk. "Benar, anakku! Hari ini ayah akan mene-
muinya. Mungkin akan memakan waktu sampai
beberapa hari. Kuharap kau tak pergi kemana-
mana sepeninggalku. Dan beritahukan pada re-
kan-rekan seperguruanmu yang lain..." Andini di-am terpaku. Entah mengapa sejak
beberapa hari ini hatinya selalu berdebar-debar. Dia khawatir ada sesuatu yang bakal terjadi
terhadap diri ayahnya.
"Bolehkah aku ikut, ayah" Oh, ya! Bukankah Ki
Wikalpa mempunyai seorang anak gadis seusiaku"
Aku ingin berkenalan lebih akrab dengannya..!"
berkata Andini. Bola matanya tampak membesar
menatap sang ayah. Andini sangat berharap ayahnya mengizinkan dia turut serta.
Tapi laki-laki tua itu menggeleng.
"Jangan, anakku..! Maksudku jangan sekarang!
Kapan-kapan kau pasti akan kuajak menemuinya.
Nah, pergilah selesaikan latihanmu!"
Tampaknya Andini kecewa karena ayahnya tak
mengizinkan dia turut serta. Dengan menunduk-
kan wajah dia segera beranjak meninggalkan
ruangan kamar Reka Ananta. Kemudian menghi-
lang diruang belakang pesanggrahan.
Laki-laki tua ini menghela napas. Dia tak dapat menyalahkan sikap anak gadisnya.
Selama ini dia jarang mengajaknya keluar dari pesanggrahan.
Sehari-hari gadis itu cuma berlatih, dan berlatih jurus-jurus yang diwariskan
olehnya. Reka Ananta sangat berharap anak gadisnya menjadi seorang
pendekar wanita yang tangguh. Dan memiliki ilmu kepandaian yang sulit dikalahkan
orang lain. Di samping itu dia telah menggemblengnya dengan
keras. Kekerasan dalam mendidik dan disiplin
yang baik akan menjadikan diri si gadis itu menjadi seorang yang kuat mental dan
tahan uji. Karena untuk mengharungi kehidupan di Rimba Persila-tan memerlukan
ketabahan, keuletan, kegigihan
juga kepandaian yang tinggi.
Tadinya Reka Ananta akan pergi dengan me-
ninggalkan surat, dan berangkat secara diam-
diam. Tapi ternyata anak gadisnya telah terlanjur mengetahui. Walaupun dia tahu
Andini kelihatan
agak kecewa, tapi dia yakin anak gadis itu akan mematuhi perintahnya untuk tidak
meninggalkan pesanggrahan setelah kepergiannya. Dan memberitahukan pada rekan-rekan
seperguruannya atas
kepergiannya...
Maka setelah berkemas si pendekar tua yang
merupakan ketua dari perguruan Awan Jingga itu segera menyelinap dari jendela
kamarnya melesat lenyap keluar tembok pesanggrahan. Gerakannya
sangat tangkas dan gesit. Ilmu meringankan tu-
buhnya telah berada ditingkat tinggi. Hingga kecepatan seekor kijang yang
berlari cepatpun tak
akan mampu menandingi kecepatan berlari pen-
dekar Tombak Trisula ini. Ternyata Reka Ananta tak lupa untuk membawa
senjatanya.... Dengan
mengerahkan ilmu lari cepat Reka menuju kearah barat.
*** ENAM HAL APAKAH yang membuat Reka Ananta tam-
pak sangat tergesa-gesa menuju ke perguruan Matahari dengan membekal senjata"
Marilah kita ikuti perjalanannya...
Setelah lebih dari sepenanak nasi, dan dalam
perjalanan itu Reka Ananta telah melewati dua
buah sungai serta sebuah bukit disebelah barat pegunungan Kendeng, maka laki-
laki tua ini mulai memperlambat larinya.
Sepanjang jalan benak Reka Ananta terus me-
mikir tiada hentinya. Ternyata yang dipikirkan adalah suatu hal yang selama ini
telah merisaukan hatinya. Yaitu kemunculan manusia yang menamakan dirinya si
Awan Hitam! "Perbuatan si manusia itu semakin menggila!
Setelah menculik anak gadis Ki Wikalpa, lalu menculik pula laki-laki sahabatku
itu...! Aneh! Benar-benar sangat aneh, hingga tak seorangpun ada
yang mengetahui diculiknya Ki Wikalpa dari pe-
sanggrahannya. Tampaknya Ki Wikalpa sendiri tak melakukan perlawanan, seperti
dituturkan murid-muridnya...!" Demikian pikir Reka Ananta dengan menggigit-gigit
gerahamnya. "Sebagai sahabat baiknya aku tak dapat mem-
biarkan hal itu terjadi. Aku harus menolong Ki Wikalpa, dan entah bagaimana
nasib anak gadisnya belum dapat diketahui secara pasti atau mati atau hidupnya.
Yang jelas seperti berita yang kudengar, setiap korban yang berhasil diculiknya
akan menemui kematian setelah dirinya diperkosa...! Benar-benar perbuatan
biadab!" mendesis Reka
Ananta. Ketika Reka Ananta tiba di muka pesanggrahan,
tampak belasan orang prajurit berada di tempat itu. Kesemuanya menunggang kuda.
Melihat Reka Ananta muncul di pintu gerbang
perguruan seorang perwira Kerajaan menghampiri.
Setiba di hadapannya langsung melompat turun
dari punggung kuda.
"Kalau tak salah, bukankah anda adalah Reka
Ananta, ketua perguruan Trisula Dewa sahabat
baik ayahku...?" berkata perwira itu sambil menju-
ra. Reka Ananta terkejut, barulah dia sadar kalau perwira kerajaan itu adalah
anak tertua Ki Wikalpa. Ki Wikalpa memang mempunyai dua orang
anak keturunan. Yang satu wanita dan satunya la-gi seorang anak laki-laki, yaitu
anaknya yang sulung. Seperti diketahui dari Ki Wikalpa, anak su-lungnya berada
di Kota Raja, menjadi seorang abdi Kerajaan. Dari pakaiannya, Reka Ananta sudah
dapat menduga kalau perwira itu berpangkat Ke-
pala Prajurit. Cepat-cepat dia balas menjura seraya berkata.
"Benar...! Apakah anda putera sulung Ki Wikal-
pa sahabatku?" balik bertanya Reka Ananta. Perwira gagah itu mengangguk.
"Tidak salah dugaanmu, paman...! Aku Windu
Pati, anak sulung Ki Wikalpa! Kedatangan paman tentu akan membantu kami
menangkap manusia
keji yang telah menculik adik perempuan dan
ayahku!" kata perwira muda itu.
"Ya! Aku telah siap menyambung nyawa untuk
menumpas manusia terkutuk itu, dan demi Yang
Maha Agung, aku bersumpah akan membunuh
manusia keparat itu dengan tanganku, bila manusia terkutuk bergelar si Awan
Hitam itu menga-
niaya dan membunuh sahabatku!" kata Reka
Ananta dengan suara agak ditekan.
"Terima kasih atas kesediaanmu, paman. Tapi
marilah kita bercakap-cakap didalam. Kukira ada beberapa hal yang paman harus
ketahui...!"
Reka Ananta mengangguk. Windu Pati mem-
bimbing laki-laki ketua perguruan Awan Jingga itu
kedalam ruang pesanggrahan. Sementara seorang
murid perguruan menambatkan kuda Windu Pati
ditiang kayu. Setelah keduanya duduk berhadapan diruang
tengah, Windu Pati mengeluarkan secarik kertas kain dari saku bajunya.
"Manusia misterius bergelar Awan Hitam itu
meninggalkan surat ini diatas meja kamar pribadi ayah...!" katanya, sambil
memberikan benda yang dipegangnya pada Reka Ananta. Laki-laki ini segera
menerimanya, lalu membaca surat itu. Isi surat itu adalah demikian.
AWAN HITAM AKAN MENGEMBALIKAN KETUA
KALIAN DENGAN TEBUSAN SEKANTUNG
PERHIASAN ATAU UANG EMAS!
LETAKKAN APA YANG AKU INGINKAN ITU
DIATAS TUGU PERBATASAN SEBELAH TIMUR!
INGAT! JANGAN COBA-COBA MENGELABUI AKU,
NYAWA KETUAMU BERADA DITANGANKU!
AKU BERJANJI AKAN MEMBEBASKAN PULA
GADIS ITU! WAKTUNYA ADALAH DUA MALAM SETELAH
AKU MENCULIK KETUAMU!
Merah padam wajah Reka Ananta membaca isi
surat ancaman dari si manusia bergelar Awan Hitam itu.
"Keparat! manusia itu benar-benar edan!"
menggeram Reka Ananta.
Lalu memberikan lagi surat ancaman itu pada
Windu Pati. Perwira muda ini tersenyum kaku. La-
lu menyimpan surat itu kesaku bajunya.
"Lalu bagaimanakah rencanamu, Windu" Apa-
kah anda akan mengabulkan permintaan manusia
edan itu?" bertanya Reka Ananta. Perwira muda
itu mengangguk.
"Ya! Apa boleh buat. Ketika kemarin seorang da-ri murid ayahku melaporkan ke
Kadipaten dengan menemuiku, aku langsung melaporkan hal ini pa-da Kanjeng
Adipati. Ternyata beliau bersedia
memberikan sekantung perhiasan dan uang emas
untuk menebus ayah dan adikku yang diculik si
Awan Hitam...! Windu Pati memberikan keteran-
gan. Lalu melanjutkan dengan berbisik di telinga laki-laki tua itu.
Tampak Reka Ananta manggut-manggut kepala.
Kemudian keduanya meneruskan dengan perun-
dingan singkat mengenai rencana penyergapan
terhadap si Awan Hitam malam nanti.
Windu Pati bersama sebelas anak buahnya ter-
nyata baru saja datang ke pesanggrahan itu. Tak lama dia keluar, lalu menyuruh
anak buahnya untuk beristirahat dan menyimpan kuda. Ternyata Ki Wikalpa hanya
mempunyai sembilan orang murid.
Mereka segera membantu lasykar Kadipaten untuk mengurus kuda-kuda mereka
termasuk kuda Windu Pati. *** Dalam kesibukan membantu para prajurit Ka-
dipaten, selain memasukkan kuda dalam sebuah
ruangan dibelakang pesanggrahan, para murid
perguruan Matahari juga sibuk menyediakan air
minum serta makanan seadanya.
Sebelas orang prajurit yang dibawa Windu Pati
adalah para prajurit pilihan kelas satu yang rata-rata berkepandaian tinggi dan
telah terlatih dalam setiap pertarungan. Atas izin dari Adipati, Windu Pati


Dewa Linglung 28 Selubung Awan Hitam di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membawa mereka untuk membantu usahanya
dalam meringkus si Awan Hitam yang dikhawatir-
kan kejahatannya akan merembet ke Kota Raja.
Tentu saja Adipati tidaklah bodoh untuk mem-
percayakan sepenuhnya pada perwira muda itu.
Secara diam-diam dia mengutus seorang Tumeng-
gung untuk membantunya bersama beberapa
orang lasykar Kadipaten.
Salah seorang dari murid perguruan Matahari
tampaknya ada yang bersikap mencurigakan. Laki-laki ini sejak terjadi percakapan
Windu Pati dengan Reka Ananta telah sembunyi dibalik pintu.
Dan dengan diam-diam dia mencuri dengar pembi-
caraan. Namun dia tak dapat mendengar seluruh-
nya, karena Windu Pati berbicara dengan berbisik ditelinga Reka Ananta, dan
selanjutnya Windu Pati bicara dengan perlahan sekali.
Laki-laki ini segera menyelinap dan lenyap dari belakang pintu ruangan sebelah
dalam yang mempunyai beberapa ruang disebelah belakang.
Kini tampak laki-laki itu sibuk membagi-
bagikan air minum yang di ciduknya dari dalam
ketel besar. Tak sampai selesai dia membagikan air minum yang langsung dibawa
oleh kawan seperguruannya dalam nampan untuk disuguhkan pada
prajurit kadipaten, laki-laki ini memberikan
gayungnya pada kawan seperguruannya. Laki-laki
itu berkata. "Teruskan olehmu, kakang Suta. Perutku mu-
las, aku mau ke belakang dulu...!"
"Huh! Kau ini ada-ada saja, pakai perut mulas
segala...!" gerutu kawan seperguruannya yang bernama Suta. Laki-laki itu hanya
menyengir, lalu menyahut.
"Hehe.. perutku memang tak tahu diri, harap
kau maklum. Apakah kau ingin aku buang air di-
tempat ini?"
"Sudahlah, cepat kesana! Jangan sampai bikin
malu pada Den Windu Pati!"
Laki-laki ini segera meninggalkan ruangan lalu beranjak kebelakang. Tempat
membuang hajat yang terletak dihalaman paling belakang, bersebe-lahan dengan kandang kuda.
Melalui sebuah pintu si laki-laki menyelinap masuk ke dalam sebuah
ruang yang terhalang pagar tembok. Ternyata dia tak menuju ke arah tempat
membuang hajat, akan tetapi dengan berindap-indap mendekati pintu keluar. Dari
mulutnya terdengar suara menggumam.
"Hm, aman...! Untuk sementara aku menghilang
dulu...!" Tapi baru saja dia mau membuka pintu menda-
dak sebuah bayangan berkelebat.
Laki-laki ini tersentak kaget, karena tahu-tahu bahunya ada yang mencengkeram...
Alangkah terkejutnya laki-laki ini ketika melihat orang yang muncul secara tiba-
tiba dan mencengkeram bahunya tak lain dari Windu Pati!
"Tunggu, keparat! Katakan, apa yang kau ma-
sukkan ke dalam cerek berisi air minum yang dis-
uguhkan padaku?" bentak Windu Pati. Berubahlah seketika wajah laki-laki itu.
Tapi segera dia menjawab.
"Ah... aku tak memasukkan apa-apa kecuali
teh. Ada apakah" Tampaknya raden mencurigai
aku" Kami memang selalu menyuguhkan air teh
pada setiap tetamu...!"
"Hm, benarkah begitu?" Windu Pati menge-
rutkan keningnya tanpa melepaskan cengkera-
mannya. "Siapakah namamu, dan sudah berapa lama
kau menjadi murid ayahku?"
"Be...belum lama, Den! baru kurang lebih tiga
bulan ini" Namaku... Sakera!" sahut laki-laki itu dengan agak gugup. Windu Pati
tampak tersenyum sinis lalu berkata dengan suara dingin.
"Aku memang mencurigai kau. Bukankah kau
berdiri di belakang pintu ruang dalam, dan secara diam-diam menguping
pembicaraan kami?" Muka
Sakera tampak semakin berubah pucat, dia men-
jawab dengan tergagap.
"Bukan aku yy... yang berdiri disitu, Den!
Mungkin kau salah lihat. Aku dari pagi belum
menginjak ruangan dalam...!"
Plak! Satu tamparan keras membuat laki-laki itu
menjerit kesakitan.
"Keparat! Kau berani berdusta" Dengarlah peni-
pu! Aku tahu persis di perguruan ini tak menyimpan bubuk teh. Dan kau tahu"
Ayahku selalu me-
nyuguhi tetamu dengan air putih, baik terhadap tetamu maupun aku sendiri!"
bentak Windu Pati
dengan dada berombak-ombak menahan marah.
Lalu melanjutkan kata-katanya.
"Kau pasti telah memasukkan racun dalam ce-
rek! Dan... hem, kulihat tanganmu celemongan hitam. Pastilah kau yang menulis
surat ancaman, dan diletakkan diatas meja kamar pribadi ayahku!"
Tiba-tiba lengan Windu Pati menjulur dan men-
cengkeram baju dibagian dada Sakera.
"Katakan cepat! Kau pasti telah menaruh racun
dalam makanan yang disuguhkan pada ayahku.
Aku yakin ayah tak segampang itu diculik! Menga-kulah, bangsat!"
Tapi Sakera membungkam mulut. Tiba-tiba se-
cepat kilat lengannya menyelinap ke balik baju mencabut sebilah belati yang
terselip dipinggangnya. Dengan gerakan kilat dia menusuk lambung
Windu Pati. Akan tetapi perwira Kerajaan ini lebih cepat
bergerak untuk menepiskan lengan Sakera. Belati ditangan laki-laki itu terlepas,
secepat kilat Windu Pati telah menotoknya.
Tak ampun lagi Sakera tersungkur dengan
mengeluh, karena tubuhnya seketika menjadi ka-
ku tak dapat digerakkan. Dengan cepat Windu Pati memeriksa pakaian laki-laki
itu. Dia menemukan sisa ramuan yang terbungkus kain didalam pakaian Sakera.
"Heh! Ingin kulihat, racun apakah yang telah
kau gunakan itu?" berkata dingin Windu Pati. Sekali lengannya bergerak dia telah
menjambak rambut laki-laki itu, lalu menengadahkan kepa-
lanya. Disaat Sakera meringis kesakitan, dia men-
jejalkan serbuk itu ke dalam mulutnya.
Kemudian membekap mulut laki-laki itu. Lalu
menyeret tubuhnya ke sudut ruangan dekat tem-
pat pembuangan hajat.
Windi Pati celupkan kain pembungkus serbuk
itu ke dalam bak berisi air.
Lalu dijejalkan ke mulut Sakera dan diperasnya kuat-kuat.
Sakera megap-megap dengan membelalakkan
mata. Disaat kejadian itu berlangsung, Reka Ananta
berdiri dipintu ruang belakang memperhatikan.
Dia melihat Windu Pati menghempaskan tubuh la-
ki-laki bernama Sakera itu. Lalu membuka toto-
kannya. Mulut Sakera tampak membusah. Matanya
mendelik-delik. Lidahnya terjulur. Dia mengurut-urut tenggorokannya.
Sastrawan Cantik Dari Lembah Merak 6 Duri Bunga Ju Karya Gu Long Pendekar Sakti Dari Lembah Liar 7
^