Pencarian

Suramnya Bayang Bayang 20

Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja Bagian 20


membawa sepasukan anak-anak muda dari Tanah Perdikan
Sembojan. 44 SH. Mintardja "Mudah-mudahan kami kelak tidak menjumpai kesulitan
diperjalanan," berkata Ki Rangga Gupita. Demikianlah, maka
sejenak kemudian sebelum matahari terbit, kedua orang itu
sudah meninggalkan landasan pasukan Jipang yang baru.
Keduanya pun telah memacu kuda mereka agar mereka dapat
mencapai Tanah Perdikan Sembojan tanpa bermalam di
perjalanan meskipun mungkin jauh malam mereka baru akan
memasuki Tanah Perdikan itu.
*** Sementara itu, Kiai Badra dan Gandar telah memenuhi
janjinya. Sebelum matahari terbit, bersama Gandar ia telah
berada kembali di Tanah Perdikan Sembojan sambil membawa
tunggul yang menjadi pertanda bahwa mereka tengah
mengemban tugas dari Kanjeng Adipati di Pajang.
Kedatangan Kiai Badra di rumah Ki Bekel telah disambut
dengan kebanggaan oleh sekelompok anak-anak muda
padukuhan itu yang ternyata telah membulatkan niatnya untuk
berbuat sesuatu bagi kepentingan Tanah Perdikannya. Apalagi
ketika mereka melihat tunggul itu. Maka jantung mereka pun
rasa-rasanya telah ikut mengembang. Dua orang anak muda dari
padukuhan sebelah pun telah melihat pula tunggul itu, karena
mereka berdua semalam berada di rumah Ki Bekel.
Anak-anak muda yang menyaksikan tunggul itu pun telah
saling berjanji, bahwa mereka akan berusaha mempengaruhi
kawan-kawannya di padukuhan yang lain lagi. Sehingga dengan
demikian maka kedudukan mereka tentu akan menjadi
bertambah kuat. Ketika matahari terbit, ternyata rombongan penari yang agak
besar itu pun telah bersiap. Iswari telah berniat untuk
memancing persoalan meskipun ia masih membuat beberapa
pertimbangan agar masih belum terjadi benturan langsung.
Dengan kelengkapan rombongan penari jalanan, maka Iswari
telah membawa rombongannya ke sebuah pasar. Pasar itu
memang terletak disebuah padukuhan besar disebelah
45 SH. Mintardja padukuhan tempat ia tinggal, sementara Ki Bekel dan anak-anak
mudanya telah sepakat untuk berdiri dipihaknya, namun Iswari
berharap bahwa di pasar itu akan datang orang-orang dari
padukuhan lain dan bahkan anak-anak muda atau laki-laki dari
padukuhan lain yang datang untuk membeli berbagai macam
perkakas dan peralatan dari besi, karena di pasar itu ada tiga
kelompok pandai besi. "Mataku mengantuk," berkata Kiai Badra. "Jika aku
mendengar suara pesinden kita, maka rasa-rasanya aku ingin
tidur dimana pun juga."
"Ah, kau selalu mengejek kakang," jawab Nyai Soka. "Tetapi
jika kau mengantuk karena semalaman kau menempuh
perjalanan, maka sebaiknya kau tidak memukul gendang. Biarlah
Kiai Soka saja yang menjadi pengendangnya kali ini."
"Aku juga pengendang yang baik di padukuhanku," sahut Jati
Wulung. Kiai Badra tertawa. Katanya, "Tentu bukan hanya aku. Dan
bukan karena perjalananku bersama Gandar semalam. Tetapi
semua, siapapun yang menjadi pengendang tentu akan
mengantuk mendengar suara pesinden yang bagaikan
gemerciknya arus bengawan."
"Jika kakang mengejek terus, aku tidak mau jadi pesinden.
Biarlah aku menari saja dan perempuan gemuk itu yang menjadi
pesinden," geram Nyai Soka.
Kiai Badra tertawa. Yang lain pun tertawa pula.
Sementara itu, rombongan itu pun telah berhenti disebelah
pasar. Di tempat yang agak lapang. Sejenak kemudian, tanpa
menghiraukan bahwa waktunya masih terlalu pagi, rombongan
penari itu telah kebar. "Gila," geram seorang penjual sayur. "Apakah mereka sudah
kelaparan. Sepagi ini mereka sudah kebar didekat pasar."
Yang lain pun mengumpat. Tetapi ternyata bahwa rombongan
penari itu telah banyak menarik perhatian. Orang-orang yang
46 SH. Mintardja pergi berbelanja telah meninggalkan para penjual untuk sekadar
melihat seorang penari yang disertai dengan penari lainnya yang
lebih banyak untuk memberikan kesegaran, karena penari yang
seorang yang bertubuh gemuk itu tidak dapat menari dengan baik
kecuali hanya sekadar meliuk-liuk.
Namun sejenak kemudian telah terjadi kegemparan. Ternyata
beberapa orang telah mulai membicarakan penari yang mereka
anggap mirip sekali dengan Nyi Wiradana.
Beberapa orang yang memang sudah mengerti persoalannya
tidak terkejut lagi. Tetapi mereka yang datang dari padukuhan-
padukuhan lain menyaksikan kehadiran penari yang sudah agak
lama tidak terdengar itu dengan jantung yang berdebaran.
"Tidak salah lagi," desis seseorang. "Ternyata tidak di malam
hari pun kita melihat dengan jelas, bahwa perempuan itu adalah
Nyi Wiradana." "Demikian cantiknya perempuan itu," berkata seseorang
perempuan tua. "Ia pernah datang ke rumahku, ketika cucuku
yang pertama lahir. Dengan tulus ia memijat kaki anakku yang
melahirkan itu. O, betapa jauh bedanya dengan Nyi Wiradana
yang sekarang." "Tetapi belum tentu bahwa perempuan itu adalah Nyi
Wiradana," desis orang yang berdiri disebelahnya.
"Uh, aku yakin," jawab perempuan tua itu. "Ia adalah seorang
yang cantik. Bukan saja wajahnya tetapi juga hatinya. Sementara
Nyi Wiradana yang sekarang tidak lebih hanya seorang yang
cantik wajahnya saja. Tetapi ia adalah perempuan yang banyak
mempunyai cacat di dalam dirinya."
Orang yang berdiri disebelahnya termangu-mangu. Namun
tiba-tiba saja perempuan itu menjadi gemetar ketika ia merasa
bahwa pembicaraannya telah didengarkan oleh seorang anak
muda dalam pakaian seorang pengawal.
Apalagi ketika anak muda itu kemudian bertanya kepadanya,
"Apakah yang kalian bicarakan?"
47 SH. Mintardja "O, tidak apa-apa anak muda," jawab perempuan tua itu.
"Kami tidak berbicara apa-apa."
"Kenapa kalian lebih senang melihat pertunjukan itu daripada
berbelanja" Bukankah kalian datang untuk berbelanja?" bertanya
anak muda itu. "Ya, ya anak muda," jawab perempuan tua itu sambil
beringsut, "Kami memang sedang berbelanja."
"Tetapi apakah kau tertarik kepada Nyi Wiradana yang sedang
menari itu" Jika kau pernah melihatnya dahulu sebagai seorang
istri pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan, maka ia sekarang
adalah seorang penari. Memang dalam kedudukan yang terbalik
dengan Nyi Wiradana yang sekarang, yang justru dahulu adalah
seorang penari," berkata anak muda itu.
"Ah," perempuan tua itu mengerutkan keningnya. "Apakah
benar perempuan itu Nyi Wiradana?"
"Apakah kau sudah menjadi pikun meskipun nampaknya kau
belum tua sekali" Agaknya kau hanya dapat mengenali keping-
keping uang saja daripada wajah dan tingkahlaku bahkan suara
seseorang," berkata anak muda itu.
Orang tua itu termangu-mangu. Namun ia merasa ragu-ragu
bahwa anak muda itu sekadar ingin menjebaknya. Karena itu,
maka ia pun kemudian berkata, "Ah, siapapun penarinya, biarlah
ia menari. Jika benar ia Nyi Wiradana, maka itu adalah persoalan
Ki Wiradana." Anak muda itu pun tidak menanggapinya lagi. Tetapi ia sudah
mengatakan dan setidak-tidaknya memberikan kesan, bahwa
perempuan itu adalah Nyi Wiradana.
Dalam pada itu, ternyata para pengawal dari kedua padukuhan
yang telah menemukan kesepakatan itu banyak yang berada di
pasar itu. Mereka tidak berbuat apa-apa kecuali mengawasi
keadaan. Bagaimanapun juga mereka tiba-tiba saja merasa wajib
untuk ikut mengamankan rombongan penari yang aneh itu.
48 SH. Mintardja Namun rombongan itu tidak terlalu lama berada di pasar.
Iswari hanya ingin menyebarkan berita kehadirannya, sehingga
para pemimpin Tanah Perdikan itu mulai membicarakannya lagi
sebagai gangguan keamanan bagi Tanah Perdikan Sembojan.
Beberapa saat kemudian, maka rombongan penari itu telah
menghentikan permainan mereka dan bersiap-siap untuk
meninggalkan pasar yang semakin ramai itu. Ketika Iswari
melihat beberapa orang pengawal berada disekitar tempat ia
bermain, maka ia pu tersenyum.
"Maaf saudara-saudara," berkata Iswari kepada para penonton
yang mengerumuninya, "Aku hanya sempat bermain sebentar,
sekadar untuk memelihara hubungan di antara kita, karena
sudah lama aku tidak berkunjung ke Tanah Perdikan ini. Pagi ini
aku tergesa-gesa mengemban tugas yang harus aku jalani pada
hari ini." "Kenapa hanya sebentar?" tiba-tiba terdengar suara di antara
mereka yang berkerumun. "Aku tidak berani terlalu lama berada di satu tempat," jawab
Iswari. "Kenapa?" bertanya suara yang lain.
"Pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan ini tidak senang
terhadap rombongan kami, karena itu pemangku jabatan Kepala
Tanah Perdikan ini memerintahkan untuk menangkap kami,"
jawab Iswari. "Para pengawal tidak berbuat apa-apa," yang lain lagi
menyahut. "Bermainlah. Kita semuanya akan mencegah jika para
pengawal akan menangkap kalian." Iswari hanya tersenyum saja.
Tetapi ia pun kemudian berkata, "Aku menyesal Ki Sanak. Aku
sudah terlanjur menerima permintaan seseorang untuk menari."
"Sepagi ini?" bertanya seseorang.
"Ya. Pagi-pagi seperti ini," jawab Iswari. Sejenak kemudian,
maka rombongan itu benar-benar telah meninggalkan pasar.
49 SH. Mintardja Tetapi rombongan itu tidak pergi kemana-mana lagi, tetapi
kembali ke rumah Ki Bekel.
Ternyata permainan yang sejenak itu benar-benar telah
mencapai maksudnya. Setiap orang yang ada di pasar itu mulai
berbicara lagi tentang penari yang mirip dengan Nyi Wiradana.
Ketika orang-orang yang berada di pasar itu kembali ke rumah
masing-masing, maka mereka pun telah berceritera tentang
kehadiran rombongan penari itu.
"Mereka datang di siang hari," berkata seorang laki-laki separo
baya. "Mereka tidak lagi melintasi Tanah Perdikan ini di malam
hari ternyata di siang hari, orang semakin pasti bahwa penari itu
memang Nyi Wiradana."
Yang mendengarkan ceritera itu hanya mengangguk-angguk
saja. Meskipun demikian terbersit di dasar jantung mereka satu
harapan, bahwa kehadiran Nyi Wiradana akan merupakan satu
pertanda, bahwa keadaan Tanah Perdikan akan mengalami
perubahan. Pajak tidak akan lagi mencekik leher sebagaimana
pada saat Nyi Wiradana itu masih berada di Tanah Perdikan. Dan
anak-anak mereka yang tersisa tidak akan dikirim ke Pajang lagi
untuk disurukkan ke dalam api peperangan.
Kehadiran rombongan penari itu ternyata sudah terdengar
pula oleh orang-orang di induk padukuhan Tanah Perdikan
Sembojan. Meskipun orang-orang di induk padukuhan Tanah
Perdikan itu biasanya pergi ke pasar yang lain, yang berada di
induk padukuhan itu sendiri, namun ada di antara orang-orang
yang saling berhubungan dengan para pedagang di pasar yang
telah dikunjungi oleh Nyi Wiradana, sehingga berita
kehadirannya itu pun segera tersebar.
Ternyata seorang pembantu Ki Wiradana telah mendengar
ceritera tentang rombongan penari itu. Karena itu, maka dengan
tergesa-gesa telah menyampaikannya kepada Ki Wiradana.
"Gila," geram Ki Wiradana. "Jadi rombongan penari itu telah
datang lagi?" 50 SH. Mintardja "Ya," jawab pembantunya. "Banyak orang yang melihatnya,
karena rombongan itu kebar di dekat pasar."
"Bagaimana sikap para pengawal?" bertanya Ki Wiradana.
"Para pengawal harus pergi ke pasar itu," geram Ki Wiradana.
Pembantunya mengangguk-angguk. Katanya, "Semakin cepat
semakin baik." Ki Wiradana pun dengan tergesa-gesa telah memanggil
pemimpin pasukan pengawal yang tersisa, selain yang berada di
barak latihan. Dengan nada berat diperintahkannya para
pengawal untuk pergi ke pasar di padukuhan pada bagian pinggir
Tanah Perdikan itu. Nyi Wiradana yang mendengar perintah itu pun telah
mendekatinya sambil bertanya, "Ada apa?"
"Rombongan penari itu nampak bermain di pasar," berkata Ki
Wiradana. "Lalu?" bertanya Nyi Wiradana.
"Aku perintahkan pengawal itu untuk datang dan bersama-
sama dengan pengawal setempat menangkap seluruh rombongan
itu," jawab Ki Wiradana.
"Pemalas," bisik Nyi Wiradana. "Lalu apa kerjaanmu he" Kau
harus pergi sendiri. Jika ternyata penari itu adalah istrimu, maka
kau dapat mengambilnya dan membawanya kemari. Aku ingin
bertemu dan berbicara."
Ki Wiradana mengerutkan keningnya. Terasa jantungnya
berdebaran. Namun Nyi Wiradana agaknya masih
menghargainya, karena perintahnya tidak diucapkan langsung
sehingga para pengawal mendengarnya. Nyi Wiradana masih
mengekang diri dan berusaha agar para pengawal tidak
mendengar kata-katanya. Karena itu Wiradana tidak membantah. Jika ia berkeberatan,
maka mungkin istrinya akan berteriak dan para pengawal itu
51 SH. Mintardja justru akan mendengar dan mengetahui bahwa ia telah dibentak-
bentak oleh istrinya. Betapapun beratnya, maka Ki Wiradana itu pun telah


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mempersiapkan diri. Kepada para pengawal ia berkata, "Biarlah
aku pergi sendiri agar kita tidak usah mengulangi usaha
penangkapan ini, "Siapkan kudaku."
Para pengawal menjadi lebih mantap jika mereka pergi
bersama Ki Wiradana sendiri. Dengan demikian maka mereka
akan dapat mengambil sikap yang penting tanpa menunggu
perintah berikutnya. Sejenak kemudian maka Ki Wiradana dan beberapa orang
pengawal telah berderap di jalan-jalan padukuhan. Beberapa kali
mereka melintasi bulak-bulak persawahan dan pategalan.
Kedatangan sekelompok orang-orang berkuda telah
mengejutkan seisi pasar. Tetapi karena matahari telah menjadi
semakin tinggi, maka pasar itu pun telah menjadi tidak terlalu
ramai sebagaimana saat Iswari dan rombongannya berada di
pasar itu. Ki Wiradana dan para pengawalnya segera berloncatan turun.
Dengan sikap yang garang mereka telah memasuki pasar yang
mulai berkurang isinya itu, sementara dua orang pengawal
berada di depan pasar mengamati keadaan sambil menunggu
kuda-kuda mereka yang tertambat pada patok-patok bambu.
"Apakah benar tadi ada serombongan penari yang kebar
didekat pasar ini?" bertanya Ki Wiradana kepada seorang penjual
gerabah. "Ya Ki Wiradana," jawab penjual gerabah itu dengan jantung
yang berdebaran, "Tetapi aku tidak tahu apa-apa. Aku tetap
berada di belakang daganganku."
"Siapa yang tahu, kemana rombongan itu melarikan diri?"
bertanya Ki Wiradana kemudian.
"Aku tidak tahu," jawab penjual gerabah itu. "Mungkin para
pengawal." 52 SH. Mintardja Ki Wiradana menggeram. Sementara itu para pengawal yang
lain pun telah berusaha bertanya pula kepada orang-orang yang
masih ada di pasar itu. Namun mereka tidak tahu, kemana
rombongan itu pergi. "Ya aku tahu, mereka pergi ke Utara," jawab seorang pande
besi yang masih sibuk menyelesaikan sebuah pesanan, kajen
bajak. Namun dalam pada itu, salah seorang pengawal telah melihat
tiga orang pengawal dari padukuhan itu melintas. Dengan serta
merta maka ketiga orang pengawal itu pun telah dipanggilnya.
Ketiga pengawal padukuhan itu termangu-mangu. Namun
mereka pun kemudian telah datang mendekat. Sementara Ki
Wiradana pun telah mendekati pula.
"Apa kalian tidak tahu, bahwa disini baru saja ada
serombongan penari yang kebar?" bertanya Ki Wiradana.
Pengawal itu ternyata bersikap sangat tenang karena
keyakinan yang telah mengendap dihatinya. Jawabnya, "Ya. Aku
mendengar Ki Wiradana."
"Dan kalian tidak berbuat apa-apa" Bukankah kalian akan
dapat menangkap mereka?" bertanya Ki Wiradana.
"Kami memang berusaha untuk secepatnya datang ketika kami
mendengar laporan bahwa rombongan itu adalah rombongan
yang mengiringi Nyi Wiradana menari," jawab pengawal itu.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Ki Wiradana.
Pengawal itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia
berkata, "Maksudku penarinya yang disebut mirip dengan Nyi
Wiradana." "Jangan mencelakai dirimu sendiri," geram Ki Wiradana.
"Lalu kenapa kalian tidak berusaha menyusulnya?"
"Tidak seorang pun yang dapat menunjukkan arah kepergian
mereka kecuali sekadar ke arah Utara," jawab pengawal itu.
53 SH. Mintardja "Kau memang dungu," bentak pemimpin pengawal yang
menyertai Ki Wiradana itu. "Kenapa kau harus menunggu sampai
ada orang lain yang memberitahukan kepadamu tentang
rombongan penari itu" Bukankah kau juga dapat mendengar
suara gemalannya?" "Ya. Tetapi semula aku tidak mengira bahwa suara gemelan itu
mengiring penari yang oleh orang banyak dikatakan mirip sekali
dengan Nyi Wiradana itu," jawab pengawal itu.
"Sadari kebodohanmu," pengawal itu membentak pula.
Wajahnya menjadi merah oleh kemarahan, "Kau tahu apa artinya
kesalahan bagi seorang pengawal?"
"Ya," jawab pengawal itu. Namun ia masih tetap bersikap
tenang. "Karena itu, untuk menebus kebodohanmu, cari rombongan
itu sampai dapat. Bawa mereka kemari. Jangan ada yang
terlampaui," berkata pemimpin pengawal itu. "Kalian dapat
mempergunakan kuda kami. Tetapi dengan syarat bahwa nyawa
kuda itu sama dengan nyawa kalian. Seekor dari kuda itu hilang,
maka seorang di antara kalian akan dihukum gantung," bentak
pemimpin pengawal itu. Wajah para pengawal itu menegang sejenak. Tetapi pengawal
yang lain telah bertanya, "Jika mereka telah keluar dari Tanah
Perdikan ini, bukankah tidak ada wewenang kami untuk
membawanya kemari?" "Bodoh, dungu dan agaknya kalian memang sudah gila,"
geram pemimpin pengawal. "Yang sudah seharusnya kau ketahui
tidak usah kau tanyakan. Tetapi jika rombongan itu telah terlepas
dari lingkungan Tanah Perdikan ini, maka itu pun karena
kebodohan kalian." Ketiga orang pengawal dari padukuhan itu mengangguk-
angguk. Seorang di antaranya berkata, "Kami akan mencoba."
Namun dalam pada itu Ki Wiradana memerintahkan kepada
beberapa orang pengawal, "Ikut mereka. Aku dan yang lain akan
54 SH. Mintardja menunggu disini. Kalian tidak boleh gagal kali ini jika kalian
menemukannya. Beberapa orang pengawal pun telah bersiap untuk meloncat ke
punggung kuda. Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka
mendengar beberapa orang tertawa. Serentak mereka berpaling.
Mereka pun telah melihat beberapa orang yang berdiri berjajar
beberapa langkah di sebelah mereka.
Tiga orang pengawal padukuhan itu terkejut. Orang-orang itu
adalah orang-orang dari rombongan penari jalanan yang ternyata
adalah Nyi Wiradana itu. "Empat orang di antara mereka," desis salah seorang dari
ketiga orang pengawal itu. "Dan penari yang gagah itu."
Ki Wiradana pun terkejut bukan buatan. Yang dilihatnya
ternyata adalah orang-orang yang di antaranya sudah dikenalnya.
Bahkan hampir di luar sadarnya ia berdesis," Serigala Betina itu."
Perempuan yang ada di antara keempat orang laki-laki itu
tersenyum. Katanya, "Kau masih mengenal aku Ki Wiradana?"
"Persetan," geramnya.
"Dan laki-laki ini pun tentu pernah kau kenal pula. "Gandar,"
sambung perempuan yang disebut Serigala Betina itu.
Wajah Ki Wiradana menjadi merah padam. Namun dengan
jantung yang berdegupan semakin keras itu melangkah mendekat
diikuti oleh para pengawalnya, "Apa yang kalian lakukan disini?"
"Sekali-sekali aku ingin juga berbelanja Ki Wiradana," jawab
Serigala Betina itu. "Persetan," wajah Ki Wiradana menjadi semakin tegang.
"Apakah kehadiranmu disini ada hubungannya dengan
rombongan penari itu?"
"Ya. Keempat orang laki-laki itu adalah sebagian dari para
penabuhnya. Dan aku adalah penarinya itu. Maksudku, salah
seorang dari dua penari yang dikenal itu."
55 SH. Mintardja "Dimana penari yang ingin memanfaatkan kepergian Iswari
itu?" bertanya Ki Wiradana.
"Apa maksudmu?" bertanya Serigala Betina.
"Seorang perempuan yang mengaku dirinya Iswari atau
setidak-tidaknya membuat kesan, agar ia disangka Iswari.
Dengan demikian maka ia akan
mendapat warisan bagi anaknya. Anak yang akan disebutnya dikandung sejak
kepergiannya dari Tanah Perdikan Sembojan," berkata
Ki Wiradana. "O," Serigala Betina itu
mengerutkan keningnya. "Jadi
menurut perhitunganmu, kami
telah melakukan satu usaha
penipuan dengan menampilkan
orang yang mirip dengan Iswari
untuk sekadar mendapatkan
warisan?" "Tujuan kalian tentu satu
pemerasan," jawab Ki Wiradana lantang.
"Jadi menurut Ki Wiradana, perempuan yang namanya Iswari
itu pasti sudah tidak ada lagi. Jika ada itu palsu atau dipalsukan
sekadar untuk mendapatkan warisan. Tentu dalam nilai uang.
Begitu?" bertanya Serigala Betina itu.
"Ya," jawab Wiradana yang diwarnai oleh nada kebimbangan.
"Ki Wiradana," berkata Serigala Betina itu. "Kau dapat menipu
siapa saja. Tetapi kau tidak akan dapat menipu aku. Kau dapat
berkata apa saja kepada orang lain, tetapi apakah kau akan dapat
berkata seperti itu kepadaku" Ki Wiradana. Jangan berusaha
menipu diri sendiri."
56 SH. Mintardja "Cukup," bentak Ki Wiradana. "Kau tentu bagian dari alat
untuk memeras itu. Tetapi kebetulan bahwa kita dapat bertemu
disini. Menyerahlah. Kalian adalah tawanan kami."
"Tunggu," berkata Serigala Betina itu. "Apakah sebenarnya
dugaan Ki Wiradana tentang kami dan kecemasan Ki Wiradana
itu sudah terbukti" Kami tidak melakukan apa-apa selain menari
sebagaimana rombongan penari yang lain. Sebelumnya Ki
Wiradana tidak pernah berusaha untuk menangkap rombongan
penari yang penarinya adalah Warsi. Sedangkan apa yang
dilakukan oleh Iswari tidak lebih buruk daripada apa yang
dilakukan oleh Warsi."
"Tutup mulutmu," Ki Wiradana berteriak. "Kau tahu bahwa
aku dapat membunuhmu disini. Aku membawa saksi bahwa
mulutmu telah berceloteh sehingga kau pantas untuk dibunuh
ditempat." "O, kau akan membunuhku?" bertanya Serigala Betina.
"Apakah kau tidak menyadari, bahwa kau tidak akan mampu
melakukannya?" "Kenapa aku tidak mampu melakukannya?" mata Ki Wiradana
terbelalak. "Kau sudah ditakdirkan kalah dari perempuan. Kau kalah dari
Warsi. Kau juga pernah aku kalahkan meskipun aku dalam
keadaan sakit. Dan kau pun akan dikalahkan oleh penari dari
rombonganku ini jika pada suatu saat kau bertemu langsung
dengannya." Wajah Ki Wiradana menjadi merah padam. Ia pun telah
memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk mendekat.
Para pengawal yang sudah siap untuk mencari rombongan
penari itu pun telah mengikat kuda-kuda mereka kembali.
Dengan tegang mereka pun telah mengepung keempat laki-laki
dan seorang perempuan yang ternyata merupakan bagian dari
rombongan penari itu. 57 SH. Mintardja Tiga orang pengawal padukuhan itulah yang menjadi ragu-
ragu. Namun mereka masih belum menentang perintah Ki
Wiradana dengan terbuka. Karena itu, maka mereka pun masih
juga ikut mengepung keempat orang laki-laki dan seorang
perempuan yang akan ditangkap oleh Ki Wiradana itu.
"Kau akan berbuat apa Ki Wiradana?" bertanya Serigala Betina
itu. "Aku akan menangkap kalian dan memaksa kalian untuk
menunjukkan dimana kawan-kawan kalian," jawab Ki Wiradana.
"Jika mereka berada di luar Tanah Perdikan, apakah kau juga
berhak melakukan tindakan atas mereka?" bertanya Serigala
Betina itu. "Persetan. Jika sekarang yang ada adalah kalian, maka
kalianlah yang akan aku tangkap," jawab Ki Wiradana.
"Baiklah. Marilah. Mungkin kawan-kawanku akan melayani
para pengawal. Tetapi aku sendiri ingin membuktikan bahwa
sudah ditakdirkan bahwa kau akan selalu dikalahkan oleh
perempuan," jawab Serigala Betina.
Hati Ki Wiradana terasa sangat sakit mendengar ejekan itu.
Tetapi ia pun tidak dapat mengingkari satu peristiwa di rumah
Serigala Betina itu. Justru pada saat perempuan itu sedang sakit,
ia tidak berhasil mengalahkannya.
Tetapi Ki Wiradana tidak pernah mengetahui bahwa
perempuan yang disangkanya Serigala Betina yang sedang sakit
itu adalah sebenarnya Nyai Soka sendiri.
Namun kemudian Serigala Betina itu telah menjadi murid
Nyai Soka pula. Dengan janji bahwa ia tidak akan melakukan
kejahatan lagi, maka Nyai Soka telah menurunkan ilmu
kepadanya, sehingga Serigala Betina yang memang sudah
memiliki dasar kemampuan olah kanuragan itu kemudian
mampu menyerap ilmu yang diturunkan oleh Nyai Soka dan
menjadi seorang yang benar-benar berilmu tinggi, meskipun apa
yang diberikan kepada Serigala Betina itu masih berada jauh
58 SH. Mintardja dibawah tataran kemampuan Iswari yang telah menyelesaikan
segala macam laku dan mulai mengembangkan ilmunya seluas-
luasnya. Dalam pada itu, Wiradana yang merasa tersinggung sekali itu
telah berdiri berhadapan dengan Serigala Begina yang garang itu.
Sedangkan para pengawal yang lain, telah mengepung arena dan
mereka tidak akan membiarkan seorang pun di antara mereka
lolos. Sementara itu, pasar yang memang sudah berkurang isinya itu
menjadi bubar. Orang-orang yang berada di sekitar tempat yang akan menjadi
arena itu telah berlari-larian menjauh. Orang-orang yang masih
duduk di belakang barang-barang jualannya dengan cepat telah
mengemasinya dan menyimpannya. Sementara kedai-kedai pun


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

telah ditutup. Para pande besi telah memadamkan perapian
mereka dan berkemas pula serta menyimpan semua peralatan
mereka. "Menyerahlah," geram Ki Wiradana.
Tetapi jawaban Serigala Betina memang sangat menyakitkan
hati, "Bukankah aku memiliki kelebihan dari padamu" Kenapa
justru aku yang harus menyerah."
Ki Wiradana tidak sabar lagi. Ia pun segera meloncat
menyerang dengan garangnya.
Namun hal itu sudah diduga oleh Serigala Betina, karena ia
memang berusaha untuk memancing kemarahan Ki Wiradana.
Karena itu, maka ia pun dengan cepat menghindarinya. Bahkan
tiba-tiba saja tangannya telah dikibaskannya mendatar ke arah
lambung. Tetapi Ki Wiradana sempat pula menggeliat, sehingga tangan
perempuan itu tidak menyentuhnya. Dengan kaki kanannya,
maka Ki Wiradana pun kemudian telah berganti menyerang
menyamping. Tetapi ketika ia sadar, bahwa perempuan itu siap
untuk menangkisnya dengan sikunya, maka ia menarik serangan
59 SH. Mintardja kaki kanannya, tetapi kaki kirilah yang diputarnya setengah
lingkaran. Serangannya sekali lagi menyambar lambung.
Namun Serigala Betina itu sempat bergeser mundur, sehingga
tumit Ki Wiradana tidak menyentuhnya.
Pertempuran antara keduanya itu pun semakin lama menjadi
semakin sengit. Sebenarnyalah bahwa penyerapan ilmu dari Nyi
Soka oleh Serigala Betina itu benar-benar sangat berarti baginya.
Dengan demikian, maka ternyata bahwa kemampuan Ki
Wiradana yang sudah dikerahkan itu tidak mampu melampaui
kemampuan Serigala Betina.
Sementara itu, keempat laki-laki yang lain, yang tidak lain
adalah Gandar, Kiai Soka sendiri, Jati Wulung dan Sambil
Wulung, telah bertempur melawan beberapa orang pengawal.
Kemampuan mereka memang tidak seimbang. Keempat laki-laki
itu memiliki ilmu yang tinggi dan matang, sementara para
pengawal adalah anak-anak muda yang mempelajari olah
kanuragan pada kulitnya saja.
Apalagi tiga orang di antara para pengawal itu tidak berkelahi
dengan sungguh-sungguh. Para pengawal padukuhan itu
memang nampaknya ikut bertempur melawan keempat orang
laki-laki itu. Tetapi seorang di antaranya berbisik ditelinga
Gandar, "Maaf, aku terpaksa ikut permainan ini."
Gandar tersenyum. Tetapi ia tahu maksud pengawal itu.
Sejenak kemudian maka pertempuran itu pun menjadi
semakin sengit. Para pengawal, kecuali yang tiga orang itu, telah
bertempur dengan mengerahkan kemampuan mereka. Namun
ternyata bahwa mereka tidak memiliki bekal yang cukup untuk
menghadapi keempat orang itu meskipun jumlah mereka jauh
lebih banyak. Setiap orang dari keempat orang itu memang harus
bertempur melawan empat orang. Namun empat orang pengawal
itu bagi Sambi Wulung dan Jati Wulung, apalagi Gandar dan Kiai
Soka, tidak terlalu sulit untuk mengatasinya.
Yang bertempur dengan sengitnya adalah Ki Wiradana dan
Serigala Betina yang sudah meningkatkan ilmunya. Perlahan-
60 SH. Mintardja lahan namun pasti, orang-orang yang sekilas sempat melihat
pertempuran itu terutama keempat orang yang datang bersama
Serigala Betina itu, segera yakin bahwa perempuan itu akan
dengan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Sebenarnyalah bahwa sejenak kemudian Serigala Betina itu
telah berhasil mendesak Ki Wiradana. Betapapun juga Ki
Wiradana mengerahkan kemampuannya, namun ia tidak mampu
mengatasi ilmu Serigala Betina itu.
Kemarahan Ki Wiradana sudah tidak tertahankan lagi. Karena
itu, maka ia pun telah mencabut pedangnya sambil menggeram,
"Perempuan iblis. Jika kau tidak mau mendengar kata-kataku,
maka bukan salahku jika kau akan terbunuh dalam perkelahian
ini." Wajah Serigala Betina itu berkerut sejenak. Namun kemudian
katanya, "Jadi kau bersungguh-sungguh Ki Wiradana" Kau
benar-benar ingin membunuhku?"
"Ya. Kematianmu akan membawa ketenangan bukan saja
bagiku. Tetapi bagi Tanah Perdikan Sembojan."
"Karena menurut perhitunganmu, aku tentu tidak akan dapat
berbicara lagi tentang Iswari. Begitu?"
Ki Wiradana tidak menyahut. Tetapi ia telah menggerakkan
ujung pedangnya yang teracu. Di antara desah nafasnya
terdengar giginya yang gemeretak menahan kemarahan yang
melonjak-lonjak di dalam dadanya
Untuk beberapa saat perempuan yang disebut Serigala Betina
itu masih belum melawannya dengan senjata. Ia hanya
berloncatan menghindari serangan-serangan Ki Wiradana yang
semakin lama menjadi semakin cepat. Namun kemudian Serigala
Betina itu mengalami kesulitan apabila ia harus sekadar
berloncatan menghindari serangan yang datang memburu.
Karena itu, maka akhirnya Serigala Betina itu pun telah
mengurai senjatanya pula. Sehelai selendang yang anyamannya
61 SH. Mintardja terdapat jalur-jalur janget pilihan. Dikedua ujungnya terdapat
rumbai timah yang cukup berat.
Dengan selendangnya Serigala Betina itu melawan pedang Ki
Wiradana. Ternyata selendang itu merupakan senjata yang memadai bagi
perempuan itu. Selendang itu mampu menangkis serangan
pedang dengan merentangnya. Jika pedang itu menyentuh
selendang itu, maka rentangannya dikendorkannya, sehingga
terjadi benturan yang lunak.
Namun jika tiba-tiba rentangan itu dihentakkannya, maka
pedang itu bagaikan dilontarkannya. Sementara itu, dengan
kedua ujungnya yang berumbai, Serigala Betina itu menyerang
lawannya. Rumbai-rumbai timah itu akan mampu menyakiti
lawannya jika mengenainya. Bahkan jika Serigala Betina itu
mengerahkan kemampuan dan ilmunya, maka rumbai-rumbai itu
akan dapat meretakkan tulang-tulang lawannya.
Dengan demikian maka pertempuran antara kedua orang itu
menjadi semakin meningkat. Keduanya memiliki kelebihannya
masing-masing dengan jenis senjata yang berbeda ditangan.
Ternyata bahwa Ki Wiradana memang memiliki ilmu pedang
memadai. Tetapi Serigala Betina yang telah ditempa di
padepokan Tlaga Kembang itu pun telah meningkat ilmunya. Ia
tidak lagi sekadar sebagai serigala betina, tetapi perempuan itu
justru telah menjadi harimau betina.
Sementara itu keempat laki-laki yang menyertai Serigala
Betina itu masih bertempur dengan para pengawal. Meskipun
sebenarnya mereka tidak menemui kesulitan apapun, namun
mereka tidak dengan serta merta mengalahkan lawan-lawan
mereka. Namun ketika keempat lawan mereka pada masing-masing
orang itu mencabut pedangnya, maka mereka masing-masing
telah berusaha untuk merampas sebuah pedang daripada
pedang-pedang itu. 62 SH. Mintardja Dengan demikian, maka kemudian Sambi Wulung, Jati
Wulung, Kiai Soka yang tua dan Gandar, telah bersenjata pula,
sehingga pertempuran menjadi semakin sengit.
Keempat orang yang datang bersama Serigala Betina itu
memang dengan sengaja membiarkan lawan-lawan mereka
mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga, sehingga mereka
tentu akan menjadi kelelahan.
Pasar itu sendiri telah menjadi sepi. Tetapi beberapa orang
masih ada yang mencoba dengan sembunyi-sembunyi
menyaksikan pertempuran itu dari kejauhan. Mereka sama sekali
tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka ketahui
hanyalah, bahwa beberapa orang pengawal dibawah pimpinan Ki
Wiradana sendiri telah bertempur melawan sekelompok orang
yang ingin mereka tangkap. Namun ada juga di antara mereka
yang dapat mengenali, bahwa orang-orang yang akan ditangkap
itu adalah orang-orang yang baru saja datang ke pasar bersama
serombongan pengamen dengan penari yang mirip sekali dengan
Nyi Wiradana yang terdahulu.
Sementara itu pertempuran antara Ki Wiradana melawan
Serigala Betina itu menjadi semakin sengit. Keduanya telah
sampai kepada puncak kemampuannya. Namun Serigala Betina
memang mempunyai kelebihan dari Ki Wiradana setelah ia
menyadap ilmu di padepokan Tlaga Kembang. Jika sebelum ia
mendapat perintah untuk membunuh Nyi Wiradana, Serigala itu
bukan apa-apa bagi Ki Wiradana, maka ternyata kemudian
bahwa kemampuannya telah melejit melampaui kemampuan Ki
Wiradana itu. Terasa jantung Ki Wiradana bagaikan meledak bukan saja oleh
kemarahan. Tetapi juga oleh satu kenyataan bahwa sulit baginya
mengatasi senjata perempuan yang disebut Serigala Betina itu.
Pedangnya yang berputar semakin cepat, sama sekali tidak dapat
menyentuh sasaran. Bahkan kadang-kadang Wiradana menjadi
bingung karena gerak lawannya yang seakan-akan menjadi
semakin cepat. 63 SH. Mintardja "Gila," geram Ki Wiradana. "Jika kau tidak menyerah, maka
kau akan benar-benar terbunuh di peperangan ini."
"Jangan terlalu bernafsu untuk membunuh," sahut perempuan
itu. "Meskipun dengan demikian rahasiamu akan terkubur
bersamaku. Tetapi untuk membunuhku agaknya tidak begitu
mudah." "Tutup mulutmu," bentak Ki Wiradana sambil menyerang.
Serigala Betina itu mengelak. Namun ia masih sempat
menjawab, "Ki Wiradana. Baiklah kita tidak berpura-pura lagi.
Akuilah bahwa perempuan yang disebut mirip dengan Iswari itu
memang Iswari. Ternyata Iswari adalah seorang penari yang
sangat baik. Jauh lebih baik dari penari jalanan yang tamak yang
bernama Warsi itu." "Gila," Ki Wiradana berteriak, "Aku koyak mulutmu."
"Kau hanya berteriak-teriak saja. Tetapi tidak pernah kau
lakukan sebagaimana kau katakan," jawab perempuan itu.
"Tetapi aku masih ingin berceritera bahwa Iswari telah
melahirkan anaknya. Laki-laki sebagaimana anak Warsi. Tetapi
ketahuilah, bahwa yang berhak untuk kemudian menggantikan
kelak adalah anak Iswari. Bukan anak Warsi. Nah, kau dengar?"
"Pengkhianat," geram Wiradana. "Aku sudah menduga bahwa
kau akan berkhianat. Sekarang kau harus dibunuh."
"Bukankah kau pernah juga mencobanya tetapi gagal" Waktu
itu aku sedang sakit. Apalagi sekarang, aku segar bugar. Baru saja aku menari di
pasar ini bersama Iswari. Besok lain kali, Iswari sudah
mengatakan, bahwa ia akan mengajak anaknya yang tumbuh
dengan suburnya. Orang-orang Tanah Perdikan ini harus tahu,
siapakah yang kelak akan menjadi Kepala Tanah Perdikan."
"Tutup mulutmu. Aku bunuh kau," Ki Wiradana mengumpat.
Tetapi seperti dikatakan oleh perempuan itu, bahwa tidak mudah
untuk membunuhnya. 64 SH. Mintardja Dengan demikian maka keduanya telah bertempur semakin
keras. Ternyata bahwa Serigala Betina itu bukan saja mampu
bergerak cepat, tetapi ia pun mampu membangkitkan tenaga
cadangan di dalam dirinya sehingga kekuatannya menjadi
bagaikan berlipat. Sementara itu, para pengawal benar-benar telah mengerahkan
segenap tenaganya. Namun usaha mereka untuk mengalahkan
lawan mereka sama sekali tidak berhasil. Bahkan mereka harus
bekerja dengan memeras segenap tenaga dan kemampuannya,
agar mereka tidak justru menjadi sasaran senjata lawan-
lawannya yang telah dirampas dari antara mereka sendiri.
Sementara itu, keempat orang yang menemani Serigala Betina
itu dengan sengaja telah memancing agar lawan-lawan mereka
mengerahkan segenap kemampuan mereka. Sekali-kali ujung
pedang yang berhasil mereka rampas itu memang benar-benar
menyentuh kulit. Meskipun hanya segores kecil, namun luka itu
telah menitikkan darah. Ketika keringat membasahi kulit yang
terluka itu, maka terasa menjadi pedih.
Namun ternyata bahwa setiap pengawal telah terluka oleh
senjata yang dirampas dari antara mereka sendiri. Tidak seorang
pun yang luput dari sengatan ujung sejata. Lengan, siku, pundak,
bahkan lambung dan dada. Ada juga di antara mereka yang telah
terluka punggungnya. Hanya tiga orang pengawal yang tidak bertempur dengan
bersungguh-sungguh itu sajalah yang tidak mendapat cubitan
ujung pedang. Seperti yang dikehendaki oleh kawan-kawan Serigala Betina
itu, maka lambat laun, para pengawal yang telah terluka
betapapun kecilnya itu tenaganya telah menjadi susut. Setelah
mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan yang ada pada
mereka, maka yang tersisa pun semakin lama menjadi semakin
sedikit. Dalam pada itu Sambi Wulung lah yang sempat
mentertawakan lawan-lawannya. Dengan nada tinggi ia berkata,
65 SH. Mintardja "He, bukankah kalian masih muda" Seharusnya tenaga kalian
masih lebih baik dari kami yang tua-tua. Apalagi lihat orang
berambut putih itu. Ia masih mampu bertempur dengan wajah
yang cerah dan senyum dibibirnya. Tetapi kalian, anak-anak
muda yang pernah mendapat latihan yang berat, ternyata tidak
memiliki tenaga yang cukup untuk mempertahankan diri. Apalagi
kalian bertempur bersama-sama dalam kelompok-kelompok
kecil." "Persetan," geram salah seorang di antara para pengawal.
"Jangan menyesal jika kau akan mati disini."
Tetapi Sambi Wulung tertawa semakin keras. Katanya,
"Jangan berceloteh. Atau bahkan kau sedang mengigau. Hanya
orang-orang sakit panas sajalah yang mengigau."
Para pengawal itu menjadi
semakin marah. Tetapi betapapun mereka mengerahkan kemampuan mereka, namun segala usaha


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ternyata sia-sia. Tidak seorang
pun dari keempat orang kawan
Serigala Betina itu yang dapat
dikuasai oleh lawan-lawannya.
Bahkan semakin lama luka-luka
dutubuh para pengawal itu
menjadi semakin banyak. Sementara itu, Wiradana yang mengerahkan kemampuannya tidak juga berhasil menguasai lawannya.
Bahkan sebaliknya, Serigala Betina itu pun kemudian benar-
benar telah mendesak Ki Wiradana.
"Kita sudah terlalu lama bertempur," berkata Serigala Betina
itu. "Sudah waktunya kita menentukan, siapakah yang kalah dan
siapakah yang menang di antara kita."
66 SH. Mintardja Ki Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia menyerang semakin
garang. Namun Serigala Betina itu benar-benar telah berniat untuk
menghentikan pertempuran. Karena itu, maka ia pun menjadi
lebih bersungguh-sungguh, sehingga ketika Ki Wiradana
kehilangan pengamatannya atas senjata lawannya, meskipun
hanya sekejap, maka rumbai-rumbai selendang Serigala Betina
itu telah menyentuh pundaknya.
Serigala Betina itu memang tidak ingin mematahkan tulang di
pundak Ki Wiradana. Karena itu sentuhannya itu pun hanya
menyakitinya. Ki Wiradana yang merasa pundaknya bagaikan menjadi
lumpuh, menggeram dengan marahnya. Perasaan sakit yang
sangat mencengkamnya sampai ke pusat jantung. Namun
demikian ia terpaksa beringsut surut untuk memperbaiki
keadaannya. Serigala Betina sengaja tidak memburunya. Bahkan ia berkata,
"Aku beri kesempatan kau mengatasi perasaan sakitmu."
"Gila," Ki Wiradana yang tersinggung itu meloncat menyerang
dengan pedang terjulur. Tetapi ia terkejut ketika tiba-tiba saja
selendang Serigala Betina itu telah membelit pergelangan
tangannya. Dengan serta merta Ki Wiradana merenggut tangannya. Tetapi
dengan demikian belitan selendang itu seakan-akan justru
menjadi semakin keras. Apalagi ternyata bahwa kekuatan
Serigala Betina itu ternyata telah besar dari kekuatan Ki
Wiradana, karena Serigala Betina itu lebih melepaskan tenaga
cadangannya pula. "Jangan tergesa-gesa," berkata Serigala Betina itu. "Jika kau
sekali-kali dibelit oleh selendang seorang perempuan lain maka
hal itu adalah wajar sekali bagimu. Warsi harus menyadari bahwa
sebagaimana ia datang, kemungkinan yang sama akan terjadi
pada saat lain." 67 SH. Mintardja "Gila. Kau sudah menjadi gila," teriak Ki Wiradana.
Serigala Betina itu terawa. Katanya, "Isterimu tidak ada di sini.
Ia tidak akan menjadi marah."
"Tutup mulutmu. Tutup mulutmu perempuan jalanan," Ki
Wiradana berteriak semakin keras.
"Yang perempuan jalanan bukan aku. Tetapi Warsi, istrimu. Ia
benar-benar perempuan jalanan yang berhasil merenggutmu dari
kedudukanmu yang baik menjadi tidak lebih dari seorang laki-
laki yang tidak berharga. Tetapi kini perempuan jalanan itu justru
telah mendapat kekuasaan yang tertinggi di Tanah Perdikan ini,
karena kau benar-benar sudah dikuasainya. Lahir dan batin."
"Diam. Diam," teriak Ki Wiradana semakin keras sambil
merenggut tangannya. Tetapi selendang Serigala Betina itu
melilit semakin kuat. "Jangan berusaha melepaskan tanganmu dengan cara itu,"
berkata Serigala Betina itu. "Lakukan perlahan-lahan. Urai
dengan tangan kirimu. Jangan tergesa-gesa."
Ki Wiradana seakan-akan telah kehilangan pendiriannya. Ia
menurut saja sebagaimana dikatakan oleh Serigala Betina itu. Perlahan-
lahan ia melepaskan belitan selendang itu dengan tangan kirinya.
Tidak tergesa-gesa dan tidak menghentak-hentak.
Akhirnya selendang itu memang dapat dilepaskannya.
demikian selendang itu terlepas, maka seolah-olah Ki Wiradana
itu telah terlepas pula dari ketidak sadarannya atas dirinya.
Bahkan dengan serta merta ia telah mengayunkan pedangnya
menebas ke arah Serigala Betina.
Hampir saja perut Serigala Betina itu berhasil dikoyaknya.
Untunglah perempuan itu dengan cepat telah meloncat surut,
sehingga ujung pedang Ki Wiradana berdesing kurang dari
sejengkal dari kulitnya. 68 SH. Mintardja "Uh. Hampir saja isi perutku tumpah," berkata Serigala Betina
itu. "Kau ternyata tidak tahu diri. Aku sudah bermurah hati
memberitahukan cara yang baik untuk melepaskan selendang itu.
Tiba-tiba kau telah menyerang dengan serta merta."
"Kau memang harus mati," geram Ki Wiradana.
Pertempuran telah terjadi lagi. Namun Serigala Betina itu
kemudian berkata, "Satu kali aku ingin membelitmu. Tidak pada
tanganmu, tetapi pada lehermu."
Ki Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia menyerang dengan
sisa-sisa tenaga yang masih ada.
Sementara itu, keadaan para pengawal menjadi semakin
payah. Mereka menjadi semakin lemah dan kehabisan tenaga.
Sementara ketiga anak muda yang tidak bertempur dengan
sungguh-sungguh itu pun akhirnya dilukainya juga. Tetapi luka-
luka yang tidak berarti, sekadar untuk menghilangkan
kecurigaan. Meskipun demikian, ternyata bahwa pakaian mereka
telah membekas darah pula.
Semakin lama mereka bertempur, maka tenaga mereka benar-
benar telah terhisap habis. Mereka yang kehilangan senjata
mereka dan berusaha membantu kawan-kawannya tanpa senjata,
telah mengambil alih senjata kawannya yang benar-benar telah
kehabisan tenaga. Tetapi yang dilakukannya itu pun sama sekali
tidak berarti apa-apa. Namun dalam pada itu, keempat orang yang menyertai
Serigala Betina itu masih saja berusaha agar para pengawal itu
bertempur terus dan mengerahkan tenaga mereka. Jika para
pengawal yang menjadi letih itu termangu-mangu, maka keempat
orang itulah yang menyerang, sehingga para pengawal itu
terpaksa menghindari, karena bagaimanapun juga serangan
keempat orang itu dapat mengoyak kulit dagingnya. Namun pada
saat-saat tertentu orang-orang itu membuat dirinya seakan-akan
terdesak, sehingga lawan-lawannya dengan penuh harap telah
berusaha untuk semakin menguasainya. Namun pada saat
tertentu, tiba-tiba saja keadaan menjadi berbalik. Orang-orang
69 SH. Mintardja itulah yang kemudian mendesak dan mengancam perlawanan
para pengawal. Dalam keadaan yang demikian, maka para pengawal itu benar-
benar telah kehilangan kemampuan untuk mengamati diri
mereka masing-masing. Karena itu, maka tenaga mereka benar-
benar telah terkuras habis. Para pengawal itu kemudian rasa-
rasanya tidak lagi mampu berdiri tegak. Setiap kali mereka
terhuyung-huyung karena keseimbangan yang sudah terguncang.
Nafas mereka pun bagaikan bekejaran di kerongkongan. Sedang
keringat mereka telah membasahi seluruh tubuh mereka.
Seorang di antara para pengawal itu, ketika dengan pedangnya
menyerang Kiai Soka yang tua itu, telah kehilangan sasaran
karena orang itu telah meloncat menghindar. Ayunan pedangnya
justru telah menyeretnya sehingga pengawal itu telah kehilangan
keseimbangannya. Namun ketika ia hampir saja roboh, ternyata
Kiai Soka telah meloncat menahannya, sehingga pengawal itu
tetap berdiri. Tetapi sekejap kemudian, Kiai Soka itu pun telah
meloncat pula menyingkir ketika pengawal yang lain berusaha
untuk menyerang pula. Namun hampir saja terjadi kecelakaan di antara para
pengawal. Ketika Kiai Soka itu sudah meloncat menjauhi anak
muda yang ditahannya agar tetap berdiri, sebuah ayunan
mendatar telah menyambarnya. Pengawal itu mengira bahwa
Kiai Soka akan mencelakai lawannya. Karena itu, maka dengan
sisa tenaganya ia telah menebas ke arah lambung orang tua itu,
justru pada saat Kiai Soka meloncat menjauh.
Kiai Soka yang melihat ayunan senjata itu menjadi berdebar-
debar. Sementara pengawal yang mengayunkan senjata itu telah
kehilangan kemampuan untuk menghentikan serangannya,
sedangkan pengawal yang baru saja dilepaskan oleh Kiai Soka itu
sama sekali tidak mampu menghindari lagi.
Dalam keadaan yang demikian, maka sekali lagi Kiai Soka
melenting dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh mata
70 SH. Mintardja wadag. Dengan pedang yang rampasnya, maka ia telah
menangkis serangan itu. Tetapi pengawal yang mengayunkan pedangnya itu pun telah
merasa terlalu letih. Karena itu, ketika pedangnya itu membentur
pedang Kiai Soka yang agak tergesa-gesa dan kurang
memperhitungkan kekuatannya, maka pedang ditangan
pengawal itu telah meloncat dan jatuh ditanah.
Pengawal itu terkejut. Tetapi perasaan lain telah berbaur di
dalam hatinya. Ia bersyukur, bahwa pedangnya tidak mengenai
kawannya sendiri. Tetapi ia kecewa bahwa pedang itu telah
terlepas dari tangannya. Sementara itu, kawannya yang hampir saja tertebas oleh
pedang pengawal itu pun merasakan sesuatu yang aneh di dalam
dirinya. Orang tua itu justru telah berusaha untuk
menyelamatkannya. Satu langkah yang tentu tidak akan diambil
oleh orang kebanyakan yang hanya tahu bermusuhan dan bahkan
dengan penuh nafsu berusaha menghabisi musuh-musuhnya.
Justru karena perasaan-perasaan aneh itu, maka beberapa
orang pengawal menjadi termangu-mangu. Apalagi tubuh mereka
hampir kehilangan segenap kekuatan yang ada, karena mereka
telah mengerahkan semuanya yang mereka miliki sampai benar-
benar habis. Sementara itu, para pengawal yang lain pun keadaannya tidak
jauh berbeda. Mereka sudah tidak dapat berbuat banyak. Bahkan
untuk tetap tegak pun rasa-rasanya mereka sudah tidak mampu
lagi. Sambi Wulung memang selalu berbuat sesuatu yang lain.
Dalam keadaan demikian ia masih sempat juga dengan sengaja
melepaskan setiap senjata dari tangan lawan-lawannya, sehingga
para pengawal itu menjadi sangat berdebar-debar. Disamping
kelelahan yang sangat, mereka sama sekali tidak mempunyai
senjata untuk melindungi diri mereka sendiri.
Ketika para pengawal itu dicengkam oleh kegelisahan, maka
Sambi Wulung itu sempat berkata, "Nah, dalam keadaan seperti
71 SH. Mintardja ini kalian dapat membayangkan apa yang terjadi dengan kawan-
kawanmu yang dibawa oleh orang-orang Jipang ke Pajang.
Bayangkan bahwa aku adalah prajurit Pajang. Karena
sebenarnyalah bahwa aku adalah tataran prajurit Pajang. Padahal
mereka benar-benar berada di dalam pertempuran, sehingga
kesempatan untuk mengekang diri tidak ada lagi. Jika sekarang
aku dan kawan-kawanku sempat menilai dengan siapa aku
berhadapan, maka dipeperangan para prajurit Pajang tidak dapat
melakukannya, sehingga yang terjadi adalah kematian-kematian
yang tidak berarti, sebagaimana jika aku inginkan terhadap
kalian." Wajah para pengawal itu menjadi tegang. Tetapi mereka
sempat juga membayangkan, jika keempat orang itu benar-benar
ingin membunuh, maka mereka tentu sudah mati di depan pasar
itu. Tetapi ternyata bahwa keempat orang itu tidak melakukannya.
Bahkan seorang di antara para pengawal itu telah diselamatkan
dari ujung senjata kawan sendiri.
"Nah," berkata Sambi Wulung kemudian "Sekarang jika kalian
memang sudah menjadi sangat baik, beristirahatlah. Biarlah Ki
Wiradana melanjutkan usahanya untuk mempertahankan diri
dari kawan kami itu. Jika kalian telah tidak kelelahan lagi, maka
kita meneruskan perkelahian ini. Sementara ini kalian dapat
mengobati luka-luka ditubuh kalian. Kami sengaja tidak melukai
kalian lebih parah lagi, karena kami tidak sampai hati
melakukannya." Memang satu dua di antara para pengawal itu justru
tersinggung mendengar kata-kata Sambi Wulung itu. Tetapi
sebagian besar di antara mereka mengakui, bahwa mereka
memang tidak dapat berbuat banyak. Bahkan sikap aneh dari
keempat orang itu telah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan di
dalam diri para pengawal itu. Kecuali tiga orang diantara mereka
yang berasal dari padukuhan itu. Namun demikian, ketiga orang
pengawal itu pun telah terluka pula, meskipun hanya goresan-
72 SH. Mintardja goresan kecil. Namun goresan-goresan itu telah menitikkan
darah dari kulit mereka. Dalam pada itu, Ki Wiradana masih bertempur dengan
mengerahkan segenap kemampuannya. Sementara Serigala
Betina itu pun mampu sekali-sekali membuat Ki Wiradana
kebingungan. Selendangnya memang kadang-kadang membelit
tangan, namun sekali selendang itu membelit lambung. Ketika
Serigala Betina itu menarik selendangnya, maka Ki Wiradana
seolah-olah telah diputar tampa dapat menolak.
Kepala Ki wiradana menjadi pening. Tetapi ia berusaha untuk
tetap menyadari apa yang terjadi. Karena itu, maka ia pun masih
juga bertempur dengan garangnya.
"Ki Wiradana," berkata Serigala Betina itu. "Para pengawalmu
telah kehabisan tenaga. Mereka sudah tidak mampu bertempur
lagi. Seandainya keempat kawanku ingin membunuhnya, maka
mereka akan mati dan tubuhnya terkapar di pasar ini. Kau sadari,
bahwa kau pun akan dapat mati jika kami menghendaki.
Seandainya aku sendiri tidak mampu membunuhmu, maka
kawan-kawanku yang telah kehilangan lawan-lawan mereka itu
akan mampu membantuku. Mengepungmu dan
memperlakukanmu apa saja menurut kehendak kami."


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Persetan," geram Ki Wiradana.
Tetapi kata-katanya terputus, karena rumbai-rumbai
selendang Serigala Betina yang terbuat dari bandul-bandul timah
kecil itu menyambar pipinya.
Perasaan sakit yang sangat telah membuat Ki Wiradana itu
meloncat surut sambil menyeringai. Namun Serigala Betina itu
memburunya. Katanya, "Menyerahlah."
"Kaulah yang akan aku bunuh," teriak Ki Wiradana. Tetapi ia
sudah bersiaga jika selendang itu menyambar pipinya lagi.
Tetapi perempuan itu tidak mengulangi serangannya. Namun
ia masih menjawab, "Kesabaran seseorang akan dapat sampai
kebatas. Nah, apakah kau memang menunggu."
73 SH. Mintardja Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia meloncat menyerang
dengan garangnya. Serigala Betina dan orang-orang yang menyaksikan
pertempuran itu memang menjadi heran. Ternyata bahwa Ki
Wiradana adalah seorang yang tidak mengenal putus asa.
"Ia bertempur sebagai seorang laki-laki," desis Jati Wulung.
"Ia hanya akan mengakhiri pertempuran jika ia sudah tidak
mampu berbuat apa-apa lagi."
Tetapi Sambi Wulung tertawa. Jawabnya, "Tidak. Aku tidak
berpendapat demikian."
Jati Wulung mengerutkan keningnya. Namun kemudian diluar
dugaan Sambi Wulung justru bertanya kepada para pengawal,
"Apakah benar begitu" Apakah benar bahwa Ki Wiradana
bertempur tanpa mengenal menyerah karena ia seorang laki-laki
sejati?" Para pengawal yang kelelahan itu tidak menjawab. Sementara
itu Sambi Wulung tertawa semakin keras. Katanya, "Kalian salah.
Ki Wiradana tidak bertempur sebagai seorang laki-laki yang tidak
mengenal menyerah. Tetapi ia berbuat demikian justru karena ia
merasa ketakutan kepada istrinya. Kepada Warsi. Jika ia kalah
dan tidak berhasil menangkap lawannya itu, maka ia akan
mengalami perlakuan yang pahit di rumah."
Orang yang mendengar keterangan Sambi Wulung itu
termangu-mangu sejenak. Namun Gandar pun kemudian ikut
tertawa pula sambil menyahut, "Aku percaya. Aku percaya
kepada keterangan itu."
Jati Wulung dan Kiai Soka sempat juga tersenyum, sementara
para pengawal itu pun merenungi kata-kata Sambi Wulung itu.
Meskipun nampaknya kata-kata itu dilontarkan begitu saja justru
sebagai kelakar, tetapi rasa-rasanya yang dikatakan itu memang
mengandung kebenaran. 74 SH. Mintardja Karena tidak seorang pun di antara para pengawal itu yang
menjawab, maka Sambi Wulung itu pun mengulangi. "He,
bukankah yang aku katakan itu benar?"
Diluar sadarnya, para pengawal itu mengangguk-angguk.
"Nah, kalain mulai jujur menilai keadaan," berkata Sambi
Wulung. "Sekarang mulailah menilai dirimu sendiri. Mulailah
menilai keadaan kawan-kawanmu yang dikirim ke Pajang dalam
kesatuan pasukan Jipang. Dan nilailah keadaan Tanah Perdikan
ini dalam keseluruhan."
Para pengawal itu tidak menyahut. Sementara Sambi Wulung
berkata lebih lanjut, "Jika kalian tidak melihat sesuatu yang
memerlukan pembaharuan, maka kalian benar-benar sudah
ketinggalan. Nalar budi kalian telah tertutup dan tidak mampu
menilai sesuatu yang wajar. Bahwa Tanah Perdikan Sembojan
telah berpaling kepada Jipang ini pun memerlukan penilaian
yang khusus.Sementara itu, ada dua Nyi Wiradana di Tanah
Perdikan ini sekarang yang masing-masing melahirkan anak laki-
laki dan tentu masing-masing merasa berhak atas kedudukan
Kepala Tanah Perdikan ini," Sambi Wulung berhenti sejenak,
lalu. "Kalianlah yang harus menilai. Kalian tentu belum
melupakan Nyi Wiradana yang dahulu, yang disebut hilang itu.
Susunan pemerintahan pada masa itu dan sikap keibuannya bagi
seisi Tanah Perdikan ini. Sementara itu apakah yang dapat kalian
temukan pada Nyi Wiradana yang sekarang?"
Para pengawal itu tidak menjawab. Tetapi mereka memang
sedang merenungi keadaan.
Gandarlah yang kemudian berbisik ditelinga Sambi Wulung,
"Tahu juga kau apa yang terjadi pada masa itu?"
"Katanya," sahut Sambi Wulung sambil tersenyum.
Gandar juga tersenyum. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.
Dalam pada itu, pertempuran antara Ki Wiradana dengan
Serigala Betina itu sudah mencapai puncaknya. Serigala Betina
telah benar-benar mengerahkan kemampuannya untuk
75 SH. Mintardja menghentikan perlawanan Ki Wiradana. Ilmu yang disadapnya
dari Nyai Soka ternyata memang melampaui kemampuan Ki
Wiradana, betapapun Ki Wiradana berusaha untuk
menumpahkan segenap kemampuannya.
Dengan meningkatkan kecepatannya, maka rumbai-rumbai
Serigala Betina itu menjadi semakin sering menyentuh tubuh Ki
Wiradana. Pada pundak, lengan, punggung dan bahkan dadanya.
Perasaan sakit telah menyengat-nyengat diseluruh tubuhnya.
Bukan saja yang dikenai oleh rumbai-rumbai lawannya, tetapi
perasaan sakit itu seakan-akan telah menjalari tubuhya bersama
aliran darahnya ----------oOo---------- Bersambung ke Jilid 17. Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai
kasih http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm
Terima kasih kepada Nyi DewiKZ
76 SH. Mintardja Jilid Ke tujuh belas Cetakan Pertama Naskah ini disusun untuk kalangan sendiri:
Bagi sanak-kadang yang berkumpul / cangkrukan di
"Padepokan" pelangisingosari atau di
http://pelangisingosari.wordpress.com.
Keberadaan naskah ini tentu melalui proses yang
panjang, mulai scanning, retype " editing dan
layouting sehingga menjadi bentuknya seperti
sekarang ini. Admin mempersilahkan mengunduh naskah ini
secara gratis dengan harapan buku yang mulai langka
ini dapat dibaca oleh sanak kadang di seluruh
Nusantara bahkan di seluruh dunia (WNI yang ada di
seuruh dunia). Untuk menghargai jerih payah beliau-beliau yang
telah bekerja dengan ikhlas demi menghadirkan buku
ini, maka dilarang menggunakan untuk tujuan
komersiil bagi naskah ini.
satpampelangi Koleksi: Ki Arema dan Ki Truno Prenjak
Scanning: Satpampelangi dan Ki Truno Prenjak
Retype: Nyi Dewi KZ di Web http://kangzusi.com/SH_Mintard
ja.htm Edit ulang: Ki Arema Lay-out: Satpampelangi 77 SH. Mintardja 1 SH. Mintardja BUKAN saja perasaan sakit yang terasa mengganggu Ki
Wiradana. Tetapi gangguan yang lain itu datang dari dirinya
sendiri. Kelelahan mulai menghambat gerakan-gerakannya.
Rasa-rasanya pedangnya menjadi semakin berat dan kakinya pun
bagaikan dihisap oleh tanah.
Namun akhirnya, Ki Wiradana tidak mampu bertahan lebih
lama lagi. Sekali-sekali ia terhuyung-huyung oleh kelelahan yang
tidak dapat diatasinya. Namun perasaan sakitnya pun benar-
benar telah menghujam sampai ke tulang sungsum.
Serigala Betina yang melihat keadaan Ki Wiradana yang
menjadi semakin sulit itu pun kemudian telah menghentakkan
kemampuannya untuk mengakhiri pertempuran. Dengan
kecepatan yang mengejutkan, Serigala Betina itu telah menyerang
Ki Wiradana dengan selendangnya membelit lambungnya.
Kemudian dihentakkannya selendang itu dengan sepenuh
kekuatannya, sehingga Ki Wiradana terputar seperti gasing.
Demikian besarnya hentakkan kekuatan Serigala Betina itu,
sehingga Ki Wiradana tidak mampu menahan diri dari putaran
yang cepat dan kuat. Apalagi kekuatan Ki Wiradana telah susut
hampir sampai kedasar. Untuk beberapa saat Ki Wiradana terputar, sehingga ia benar-
benar telah kehilangan keseimbangannya. Karena itu, maka
sebelum putaran itu berhenti, maka Ki Wiradana telah benar-
benar tidak mampu berdiri lagi. Ia pun kemudian telah
terbanting jatuh di tanah.
Ki Wiradana masih berniat untuk meloncat bangkit. Tetapi
ternyata ia pun sekali lagi terhuyung-huyung dan jatuh pula
terbaring. Kepalanya bagaikan ikut berputar dan dunia
disekelilingnya pun seolah-olah ikut berputar pula.
Ki Wiradana benar-benar merasa pening disamping perasaan
sakit yang menyengat-nyengat. Bahkan perutnya pun menjadi
mual dan seluruh tenaga dan kemampuannya bagaikan terhisap
habis sama sekali. 2 SH. Mintardja Untuk beberapa saat Ki Wiradana masih terbaring. Setiap ia
berusaha untuk bangkit, maka rasa-rasanya kepalanya masih saja
berputar seperti gasing. Keempat orang yang menyertai Serigala Betina itu pun
kemudian mendekatinya. Namun Sambi Wulung sempat berkata
kepada para pengawal, "Lihat, apa yang terjadi dengan Ki
Wiradana. Mendekatlah. Dan tolonglah."
Para pengawal itu termangu-mangu. Namun Sambi Wulung
itu berkata selanjutnya, "Jangan takut. Perempuan itu tidak akan
berbuat apa-apa atasmu."
Para pengawal itu pun dengan ragu-ragu mendekati Ki
Wiradana yang terbaring diam. Sementara itu, Serigala Betina itu
pun berjongkok disampingnya sambil berkata, "Ki Wiradana.
Bukankah kau sudah tidak berdaya" Bagaimana jika kau yang
sudah tidak berdaya ini aku bawa ke rumahku?"
"Gila. Perempuan liar. Kubunuh kau," geram Ki Wiradana
yang jantungnya bagaikan meledak.
Serigala Betina itu tertawa. Katanya, "Apakah kira-kira Warsi
akan mencarimu." Kemarahan yang tidak tertahankan menghentak-hentak dada
Ki Wiradana. Namun dengan demikian, ia justru tidak dapat
mengucapkan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya.
Para pengawal yang telah mendekati Ki Wiradana itu menjadi
termangu-mangu. Namun Serigala Betina itu pun kemudian
berdiri melangkah menjauh, "Baiklah. Tolonglah pemangku
jabatan Kepala Tanah Perdikanmu ini. Bawalah ia kembali
kepada perempan jalanan yang telah menjadi istrinya itu.
Katakan, bahwa Ki Wiradana telah dikalahkan oleh seorang
perempuan. Tetapi bukan Iswari. Perempuan itu adalah emban
Iswari. Pemomong Iswari yang memiliki kemampuan tidak ada
sekuku ireng dibanding dengan kemampuan Iswari."
Para pengawal itu pun termangu-mangu. Tidak ada seorang
pun yang menyahut, sementara ketiga orang pengawal dari
3 SH. Mintardja padukuhan itu, masih juga berada di antara kawan-kawannya
tanpa menimbulkan kecurigaan, karena mereka mampu
menyesuaikan diri. Sejenak kemudian, maka Kiai Soka, mewakili kawan-
kawannya berkata kepada Ki
Wiradana, "Sudahlah Ki
Wiradana. Kami minta diri.
Kami sama sekali tidak ingin
menentang kekuasaan di Tanah
Perdikan, selama kekuasaan di
Tanah Perdikan ini tidak menyimpang dari kebenaran.
Karena itu, renungkanlah,
apakah kau sudah menyimpang
dari kebenaran. Kebenaran di
dalam lingkungan keluargamu,
dan kebenaran tentang hubungan antara Tanah Peridkan ini dengan Pajang dan
Jipang." Ki Wiradana yang tidak berdaya itu hanya dapat mengumpat-
umpat saja. Ketika para pengawal mendekatinya dan berusaha
menolongnya. Ki Wiradana masih dapat membentak, "Jangan
sentuh aku. Aku tidak memerlukan pertolongan. Aku tidak apa-
apa. Jika perempuan itu tidak pergi, aku akan membunuhnya
nanti." Serigala Betina itu pun tertawa. Katanya, "Kau benar-benar
sudah kehilangan akal. Setiap orang tahu, bahwa aku sudah
mengalahkanmu. Tetapi aku masih berbaik hati tidak
membunuhmu, sebagaimana aku tidak membunuh Iswari pada
saat itu, meskipun alasannya berbeda."
"Cukup, tutup mulutmu," teriak Ki Wiradana.
4 SH. Mintardja Suara tertawa Serigala Betina itu bagaikan mengumandang.
Namun kemudian katanya, "Marilah. Kita tinggalkan pemimpin
buruk itu. Ia adalah laki-laki pengecut yang tidak ada duanya di
Tanah Perdikan ini. Ia sudah meruntuhkan kebesaran nama
ayahnya dan meruntuhkan nilai-nilai yang ada di Tanah Perdikan
ini. Biarlah pada saatnya ia memikul tanggung jawab. Sekarang,
biarlah kita tidak menakut-nakuti orang-orang yang masih tersisa
di pasar ini." Kiai Soka yang sempat berdiri disamping Ki Wiradana berkata
dengan nada lembut, "Pikirkanlah anakmas. Kau masih muda.
Bayangkan kebesaran Ki Gede pada saat ia memerintahkan
Tanah Perdikan ini. Kenapa kau tidak dapat melakukannya"


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bukankah kau anaknya dan sekaligus muridnya" Meskipun anak
dan murid yang manja, sehingga ilmu yang kau sadap ternyata
baru dasar-dasarnya yang masih sangat dangkal. Sebenarnya aku
heran juga bahwa anak dan murid Ki Gede Sembojan sama sekali
tidak mampu mengimbangi kemampuan seorang perempuan
seperti perempuan gemuk yang mengaku juga penari itu. Juga
tidak dapat mengimbangi ilmu Warsi yang cantik namun yang
telah menjerumuskan kau ke dalam langkah-langkah yang hitam
itu." "Diam. Diam kau kambing tua," bentak Wiradana.
Kiai Soka menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Baiklah. Aku
akan diam. Tetapi aku harap para pengawal sempat merenungi
peristiwa yang telah terjadi disini. Persoalannya akan
menyangkut hari depan Tanah Perdikan ini."
Ki Wiradana masih akan berteriak. Tetapi tenaganya rasa-
rasanya telah terhisap habis oleh perasaan sakit dan letih yang
tidak tertahankan lagi. Karena itu, maka suaranya bagaikan
terpotong dikerongkongan, "Tutup mulutmu."
Kiai Soka dan kawan-kawannya kemudian berpaling kepada
para pengawal dan berkata, "Sudahlah. Kami minta diri.
Renungkan apa yang telah terjadi. Sementara kawan-kawanmu
5 SH. Mintardja menjadi korban pertempuran di Pajang tanpa memberikan arti
apa-apa bagi Tanah Perdikan ini."
Kiai Soka tidak menunggu jawaban. Mereka pun kemudian
beringsut dan meninggalkan Ki Wiradana yang lemah, namun
dadanya bagaikan menyala oleh kemarahan, kekesalan dan
kesakitan. Dalam pada itu, ketika orang-orang itu telah pergi, maka sekali
lagi para pengawal berusaha untuk menolong Ki Wiradana.
Tetapi sekali lagi Wiradana itu membentak, "Jangan sentuh aku,
kalian dengar. Aku tidak apa-apa. Sudah aku katakan, jika
perempuan itu tidak pergi, aku akan membunuhnya."
Para pengawal beringsut surut. Sementara itu dengan susah
payah Wiradana berusaha untuk bangkit.
Dengan menghentakkan sisa kekuatannya, maka Ki Wiradana
itu pun berusaha untuk berdiri. Meskipun tertatih-tatih namun ia
berhasil juga untuk berdiri di atas kedua kakinya. Sekali-kali
nampak mulutnya menyeringai menahan kesakitan yang
mencengkam seluruh tubuhnya. Namun kepalanya sudah tidak
begitu pening. Langit seakan-akan sudah berhenti berputar.
Namun ternyata suara Wiradana sudah menjadi lantang lagi,
"Kita kejar orang-orang itu."
Para pengawal saling berpandangan. Tetapi seakan-akan
terngiang di telinga mereka, kata-kata orang-orang yang telah
datang kepada mereka sambil bergurau, "Ki Wiradana tidak
bertempur sebagai orang laki-laki yang tidak mengenal
menyerah. Tetapi ia berbuat demikian justru karena ia merasa
ketakutan kepada istrinya."
Tetapi untuk sejenak para pengawal itu hanya berdiam diri
saja. Sementara Ki Wiradana sendiri rasa-rasanya masih belum
mampu berdiri dengan tegak. Apalagi ketika ia akan melangkah,
maka hampir saja ia jatuh terjerembab. Namun ketika beberapa
orang pengawal bersamaan melangkah mendekat untuk
membantunya, maka sekali lagi ia membentak, "Aku tidak apa-
6 SH. Mintardja apa" Sebagaimana kalian lihat. Atau mata kalian sudah menjadi
buta?" Dalam kebingungan, maka seorang pengawal yang lebih tua
dari kawan-kawannya akhirnya berkata, "Mereka sudah
melarikan diri Ki Wiradana. Agaknya mereka menyusup jalan-
jalan sempit, sehingga sulit untuk dapat menemukannya."
"Siapa di antara kalian yang mempunyai kemampuan
mengenali jejak" He, bukankah dalam penempaan diri kalian
mendapat latihan untuk menelusuri jejak?"
"Bersamaan dengan masa pasar bubar seperti ini, sulit sekali
untuk mengikuti jejak kaki di jalan-jalan yang memang banyak
dilalui orang Ki Wiradana," jawab pengawal itu.
Ki Wiradana menjadi terengah-engah. Namun katanya,
"Tetapi bukan karena aku kalah melawan perempuan gila itu.
Bukan karena kalah. Tetapi mereka dengan licik telah melarikan
diri dari arena pertempuran."
Para pengawal tidak menjawab. Tetapi sebenarnyalah mereka
tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa mereka memang
kalah. Namun hal itu memang menguatkan pendapat orang-
orang yang telah meninggalkan mereka itu, bahwa Ki Wiradana
benar-benar merasa ketakutan apabila kenyataan ini didengar
oleh istrinya. Sejenak kemudian, maka Ki Wiradana dan para pengawalnya
itu pun telah berbenah diri. Kepada ketiga orang pengawal yang
berasal dari padukuhan itu, Ki Wiradana berpesan, "Kumpulkan
kawan-kawanmu. Cari mereka sampai ketemu. Jangan takut. Jika
perlu bunyikan isyarat sehingga aku akan datang sendiri untuk
menangkap mereka." Ketiga pengawal itu mengangguk bersama-sama. Seorang
diantara mereka pun menjawab, "Baik Ki Wiradana. Kami akan
mencoba melakukannya."
"Bagus," desis Ki Wiradana. "Kalian adalah pengawal Tanah
Perdikan ini. Karena itu, kalian harus menjunjung nama baik
7 SH. Mintardja Tanah Perdikan ini dengan mengorbankan apa saja yang dapat
kalian korbankan." "Ya Ki Wiradana," jawab pengawal itu. "Kami akan
melakukannya." Ki Wiradana pun kemudian meninggalkan pasar itu dengan
jantung yang berdebaran. Bukan saja karena ia ternyata
dikalahkan oleh Serigala Betina lagi, tetapi lebih mendebarkan
baginya, bagaimana ia harus menjawab jika Warsi nanti
bertanya." Hampir diluar sadarnya tiba-tiba saja ia bergumam, "Orang-
orang itu memang licik. Mereka tidak berani bertempur beradu
dada. Dalam kesempatan yang memungkinkan mereka selalu
melarikan diri." Para pengawal termangu-mangu sejenak. Mereka merasakan
kepahitan perasaan Ki Wiradana. Namun para pengawal itu
merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Jika Ki Wiradana saja bagi
orang-orang itu tidak lebih sebagai bahan kelakar, maka apa yang
dapat mereka lakukan diarena benturan kekerasan".
Dalam pada itu, semakin dekat dengan padukuhan induk Ki
Wiradana pun menjadi semakin termangu-mangu.
Sebenarnyalah didalam jantungnya bergejolak kegelisahan yang
sangat. Apa kata istrinya jika ia mengetahui bahwa Ki Wiradana
pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan telah
dikalahkan oleh seorang pemomong penari jalanan.
Karena kegelisahannya yang hampir meledakkan dadanya itu,
tiba-tiba saja ia membentak, "He, apakah kalian tidak dengar.
Orang-orang itu adalah orang-orang yang licik, yang tidak mau
bertempur beradu dada. Mereka selalu melarikan diri dalam
setiap kesempatan. He, kalian dengar?"
"Ya, ya Ki Wiradana," hampir berbareng beberapa orang telah
menjawab. Ki Wiradana justru menggeram. Katanya, "Kalian sadari
bahwa aku mengenal kalian seorang demi seorang?"
8 SH. Mintardja Para pengawal itu termangu-mangu. Mereka tidak tahu
maksud Ki Wiradana. Namun sementara itu, Ki Wiradana
meneruskan, "Karena itu, maka jika salah seorang di antara
kalian telah memfitnah aku dengan mengatakan yang bukan-
bukan tentang peristiwa itu, maka kalian akan tahu akibatnya."
Para pengawal itu saling berpandangan. Sementara itu Ki
Wiradana berkata, "Kalian harus mengatakan apa adanya dari
peristiwa yang baru saja terjadi. Orang-orang licik itu telah
melarikan diri di antara keramaian orang-orang yang berada di
pasar, sehingga kita tidak dapat menangkap mereka. Orang-
orang seisi pasar menjadi ribut dan berlari-larian tidak menentu."
Beberapa di antara para pengawal menarik nafas dalam-
dalam. Mereka pun kemudian mengangguk-angguk. Mereka
mengerti sepenuhnya, apa yang harus mereka katakan di
padukuhan induk nanti. Namun sebagian di antara mereka sempat juga bertanya di
dalam diri mereka sendiri, "Tetapi apakah orang-orang yang
melihat perkelahian itu dipasar tidak akan dapat berceritera
tentang keadaan yang sebenarnya terjadi?"
Tetapi mereka pun menjawab sendiri, "Persetan. Aku tidak
peduli. Seandainya demikian itu baru akan terjadi kemudian.
Mungkin Warsi akan mendengarnya, mungkin tidak. Atau
mungkin Ki Wiradana sempat menemukan jawabannya."
Dengan demikian maka para pengawal itu pun menjadi malas
berpikir. Apapun yang akan terjadi, mereka tidak mau bersusah
payah merenungkannya. Dengan demikian, maka perjalanan Ki Wiradana itu pun
semakin lama menjadi semakin dekat dengan padukuhan induk,
sementara kegelisahan di dalam dadanya telah bergejolak
semakin menderu. Dalam pada itu, ketiga orang pengawal yang ikut terlibat
dalam perkelahian di pasar itu pun kemudian telah menghubungi
kawan-kawan mereka. Dengan gairah mereka menceriterakan
apa yang sudah terjadi. Sambil menunjukkan luka-luka pada
9 SH. Mintardja tubuhnya mereka berkata, "Aku juga ikut berkelahi melawan para
penabuh gamelan yang berada di pasar itu."
"Kenapa kau juga dilukainya?" bertanya kawannya. "Bukankah
mereka tahu, bahwa kau sudah menentukan sikap?"
"Aku merasa, bahwa yang mereka lakukan terhadap kami
bertiga tidak bersungguh-sungguh," berkata salah seorang di
antara para pengawal itu. "Mereka bermaksud agar Ki Wiradana
tidak segera mengetahui, apa yang sebenarnya kami lakukan."
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun sambil
tersenyum, seorang di antara mereka berkata, "Ki Wiradana akan
mengalami satu masa yang sangat sulit. Ia akan memetik hasil
tanamannya sendiri. Dan kita semua adalah salah satu korban
permainannya yang sesat ini."
"Ki Wiradana tidak sedang bermain-main," jawab kawannya.
"Ki Wiradana justru sedang menjadi permainan. Dan kita terseret
pula karena kita adalah pengikutnya."
Kawannya merenung sejenak. katanya, "Ya. Kau benar. Ki
Wiradana memang tidak sedang bermain-main. Ia justru telah
terjerat dan menjadi sasaran permainan yang tidak dapat
dihindarinya lagi. Tetapi itu bukan berarti bahwa Ki Wiradana
tidak bersalah. Ia sebenarnya masih mempunyai pilihan ketika
Warsi itu datang kepadanya. Agak berbeda dengan kita. Kita
tidak dapat berbuat lain daripada melakukan tugas yang
dibebankannya kepada kita."
Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Baru
sekarang kita mendapat kesempatan untuk memilih. Mudah-
mudahan pilihan kita tepat."
Kawannya mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia
berkata, "Kita harus bertindak sebaik-baiknya. Apapun yang
terjadi atas diri kita, tetapi ini adalah hasil dari pilihan kita
sendiri. Bukan sebagaimana yang terjadi atas kawan-kawan kita
yang berada di Pajang. Mereka sama sekali tidak memilih untuk
melakukan hal seperti yang telah mereka lakukan itu. Apalagi jika
kita harus mati. Kematian kita dilandasi dengan keyakinan,
10 SH. Mintardja sementara kematian kawan-kawan kita adalah sekadar umpan
yang tidak banyak memberikan arti apa-apa."
Dengan demikian maka para pengawal itu pun bertekad
semakin mantap. Apalagi ketika kemudian beberapa orang di
antara mereka yang paling berpengaruh telah dipanggil untuk
berkumpul dan berbicara tentang langkah-langkah yang akan
mereka ambil. "Jika tekad kita telah bulat, maka tidak ada lagi yang akan
dapat menghambat kita," berkata Iswari.
"Tekad kita sudah bulat," jawab beberapa orang hampir
bersamaan. "Jika demikian, maka aku minta kalian tidak lagi
merahasiakan diri. Kita harus bersiap. Tiga padukuhan akan
menyatakan memisahkan diri dari kuasa Ki Wiradana dan siap
untuk bertempur jika memang mereka menghendaki," berkata
Iswari. "Aku sependapat," berkata Ki Bekel dari padukuhan yang
terbesar dari ketiga padukuhan yang telah menyatakan berpihak
kepada Iswari. Padukuhan yang memiliki beberapa desa yang
besar dan kecil, bahkan satu di antaranya adalah sebuah Banjar
panjang, "Aku telah menghimpun bukan saja para pengawal,
anak-anak muda dan remaja, tetapi juga semua laki-laki yang
masih mampu mengangkat senjata. Agaknya kita tidak perlu
menunggu sampai sisa pasukan Tanah Perdikan yang berada di
Pajang kembali. Mungkin kita akan kehilangan waktu, apalagi
jika orang-orang Jipang datang bersama mereka."
Ternyata bahwa Ki Bekel dari padukuhan yang lain pun tidak
berkeberatan. Mereka pun ternyata telah siap pula sebagaimana
Ki Bekel di padukuhan terbesar itu.
Iswari menarik nafas dalam-dalam. Jantungnya bagaikan
mengembang. Ia berharap bahwa orang-orang yang akan menjadi
pengikutnya itu benar-benar meletakkan niatnya atas dasar
keyakinan. 11 SH. Mintardja Meskipun Iswari sendiri kemudian berkata, "Saudara-
saudaraku. Jika aku menyatakan niatku untuk melawan kekuatan
kakang Wiradana, sama sekali bukan karena keinginanku untuk
memperoleh kekuasaan atas Tanah Perdikan ini bagiku sendiri.
Tetapi karena istri kakang Wiradana yang muda telah melahirkan
anak laki-laki, maka aku akan melakukan apa saja atas hak yang
ada pada anakku. Apalagi pertanda kekuasaan Tanah Perdikan
telah berada ditanganku. Bagaimana pun caranya, tetapi ternyata
bahwa bandul bertatahkan burung elang itu sekarang ada pada
anakku." Ki Bekel dari padukuhan yang terbesar itu pun berkata,
"Apapun yang terjadi, kami berniat ingin mengembalikan
keadaan Tanah Perdikan ini sebagaimana seharusnya. Selain
menghapus kekuasaan yang berada di sekitar Ki Wiradana yang
sebenarnya bukan orang-orang yang berhak untuk ikut serta


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengemban tugas kepemimpinan di Tanah Perdikan ini, juga
Tanah Perdikan ini harus kembali ke dalam lingkungan keluarga
Pajang. Kami memang bermusuhan dengan Jipang. Namun yang
terjadi sebaliknya. Justru kami telah berpihak kepada Jipang
untuk melawan Pajang. Hal ini terjadi karena kuasa Wiradana
sudah haus oleh kewibawaan orang-orang disekitarnya."
"Terutama perempuan iblis itu," desis Ki Bekel yang lain, "Kita
rebut Tanah Perdikan ini kembali."
"Terima kasih," berkata Iswari. "Sejak hari ini kita akan
bersiaga. Kita harus menyiapkan tanda-tanda bahaya dan isyarat.
Beberapa orang terpenting di antara kita akan siap dengan kuda,
sehingga jika terdengar isyarat tertentu, maka dengan cepat, kita
akan mencapai tujuan."
Para Bekel itu pun kemudian telah bersepakat untuk
menentukan bunyi-bunyi isyarat yang berbeda dengan kebiasaan
yang berlaku di Tanah Perdikan Sembojan. Dengan demikian
maka jika terdengar isyarat, maka orang-orang yang berpihak
kepada Iswari akan segera dapat mengetahui, siapakah yang
membunyikannya. 12 SH. Mintardja Sementara itu, di rumah Ki Wiradana, pemangku jabatan
Kepala Tanah Perdikan itu sedang duduk sambil menundukkan
kepalanya. Warsi, istrinya berjalan hilir mudik didepannya.
Sementara itu orang yang mengaku pedagang permata itu duduk
pula beberapa langkah dari padanya disamping Tukang Gendang
yang pernah diakui sebagai ayah Warsi.
"Jadi kau mencoba berbohong ya?" bentak istrinya. "Tadi
siang aku mempercayaimu. Tetapi ternyata aku telah mendengar
ceritera yang lain. Orang-orang itu sama sekali tidak melarikan
diri sebagaimana kau katakan. Tetapi kau dan para pengawal
telah mereka kalahkan."
"Siapa yang mengatakannya?" desis Ki Wiradana.
"O, jadi kau akan berusaha untuk membela diri" Jika aku
sebut nama salah seorang pengawal yang ikut bersamamu, maka
kau akan mencekik anak itu," geram Nyi Wiradana. "Tetapi
memang bukan pengawalmu yang mengatakannya. Mereka
semua sudah kau pesan untuk berbohong. Tetapi seisi pasar
melihat, bahwa kau telah dikalahkan oleh seorang perempuan.
Dan perempuan itu ternyata bukan istrimu yang kau
sembunyikan itu. Yang kau katakan telah tidak ada lagi, tetapi
yang ternyata kau simpan ditempat yang tidak aku ketahui."
Ki Wiradana memang tidak dapat membantah, bahwa ia telah
dikalahkan. Tetapi ia ingin menjelaskan tentang istrinya yang
hilang dan ternyata telah muncul kembali itu.
"Aku tidak menyembunyikannya," berkata Ki Wiradana. "Yang
aku katakan kepadamu sebenarnyalah telah aku lakukan.
Perempuan yang bertempur melawan aku di pasar itulah yang
telah berkhianat." "O," Nyi Wiradana itu justru bertolak pinggang dihadapannya,
"Jadi kau benar-benar dikalahkan oleh perempuan itu. Bukan
sekadar satu pertunjukan yang tidak pantas dilakukan oleh
seorang pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan."
Ki Wiradana tidak dapat menjawab. Karena itu, maka ia pun
telah berdiam diri sambil menundukkan kepalanya.
13 SH. Mintardja Sementara itu, kata-kata Warsi mengalir seperti derap kaki
sepasang kuda yang berpacu. Tidak ada saat-saat untuk dapat
memotong, menyela apalagi menjawab.
Bahkan sekali-kali ayah Warsi itu pun ikut pula mengumpati
menantunya yang dianggapnya sangat dungu.
"Aku kira anak Ki Gede yang
telah mampu membunuh Kalamerta itu memiliki sedikit
ketajaman nalar dan kemampuan dasar olah kanuragan," berkata Ki
Saudagar. "Ternyata ia tidak lebih dari
kanak-kanak yang masih harus
bergantung kepada kehangatan
pelukan ibunya," Ki Saudagar
itu berhenti sejenak, lalu,
"Warsi adalah istrimu. Bukan
ibumu. Kau harus melindunginya, bukan ia harus
melindungimu" Ki Wiradana sama sekali tidak dapat menjawab. Sekali-kali terdengar tarikan nafasnya.
Namun kemudian kepalanya telah tertunduk lagi.
Dengan perasaan yang hancur ia harus mendengarkan
umpatan-umpatan, caci-maki dan ejekan-ejekan yang
menyakitkan hati. Namun kepahitan itu harus ditelannya dengan
penyesalan di dalam hatinya.
"Kita harus menebus penghinaan ini," berkata Warsi.
"Kemudian jika kakang mau mengatakan apa yang sebenarnya,
mungkin aku sempat memburunya, mencarinya dan kemudian
menyeret perempuan itu dibelakang kaki kudaku."
"Ya," jawab Ki Saudagar. "Tetapi kemana kita harus mencari
perempuan iblis itu. Apalagi penari yang mirip dan yang
14 SH. Mintardja barangkali memang perempuan yang bernama Iswari itu
sekarang." "Pada suatu saat kakang Wiradana harus mengatakan. Dimana
istrinya itu disembunyikan," geram Warsi.
"Aku tidak menyembunyikan," sahut Ki Wiradana. "Aku
bersumpah." "Apapun yang kau katakan," Warsi menjawab dengan nada
tinggi. "Sekarang kita bersiap. Kita akan mengelilingi Tanah
Perdikan ini sesudah senja. Biasanya rombongan penari jalanan
itu kebar pada saat-saat sesudah senja jika mereka akan
melakukan pertunjukan pada malam hari."
Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Namun istrinya
telah membentaknya, "Cepat, siapkan pasukan. Kenapa kau
masih merenung saja?"
Wiradana itu pun kemudian bangkit dan berjalan keluar.
Namun demikian ia berada di luar pintu, maka ia pun telah
mengangkat wajahnya. Dengan garang Ki Wiradana pun memanggil pemimpin
pengawal yang bertugas. Dengan lantang ia berkata, "Siapkan
pasukan pengawal yang kuat. Kita akan mengelilingi Tanah
Perdikan untuk mencari langsung orang-orang yang telah
mengacaukan Tanah Perdikan ini. Ternyata kita tidak dapat lagi
mempercayai para pengawal dipadukuhan yang hanya dapat
bermanja-manja saja. Mungkin kita akan bertempur karena kita
tahu, ada di antara mereka yang memiliki kemampuan yang
cukup." Pemimpin pengawal itu mengangguk hormat. Katanya,
"Baiklah Ki Wiradana. Siapa saja yang akan pergi selain para
pengawal, agar disiapkan kuda bagi mereka?"
"Aku," bentak Ki Wiradana.
"Sendiri?" bertanya pengawal itu pula.
15 SH. Mintardja Ki Wiradana menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Tidak.
Aku akan pergi dengan Warsi, Ki Saudagar dan ayah Warsi."
Pengawal itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, "Aku
akan menyiapkan empat ekor kuda. Bukankah kita akan
berkuda?" "Ya. Kita akan pergi setelah senja," berkata Ki Wiradana.
Dengan cepat pemimpin pengawal itu pun kemudian
memerintahkan menyiapkan empat ekor kuda disamping kuda
para pengawal sendiri. Pemimpin pengawal itu sudah tahu, apa
yang sudah terjadi dengan Ki Wiradana di pasar. Karena itu,
maka ia pun berusaha untuk tidak terulang lagi, sehingga dengan
demikian maka pemimpin pengawal itu telah menyiapkan
pengawal yang kuat. Ketika senja turun, maka semuanya telah siap. Warsi pun telah
siap pula. Meskipun di mata para pengawal Ki Wiradana lah yang
akan memimpin sekelompok pasukan Tanah Perdikan Sembojan
itu, namun sebenarnya bahwa Ki Wiradana berada dibawah
pengaruh istrinya. Sejenak kemudian, ketika semuanya sudah siap, maka
sekelompok orang berkuda telah meninggalkan rumah Kepala
Tanah Perdikan Sembojan untuk menemukan para pengamen
yang telah menghina pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan
itu. Derap kaki kuda mereka telah menggetarkan jantung orang-
orang yang tinggal dipinggir jalan keluar dari Tanah Perdikan itu,
karena beberapa orang di antara mereka mengetahui, bahwa
sekelompok pengawal yang dipimpin oleh Ki Wiradana sendiri
akan mencari dan menangkap para pengamen yang mempunyai
seorang penari yang mirip sekali dengan Nyi Wiradana yang
terdahulu. Orang-orang padukuhan induk belum pernah melihat
kelompok pengamen itu, karena kelompok pengamen itu tidak
sampai ke padukuhan induk. Tetapi dari kawan-kawan mereka
atau saudara-saudara mereka yang tinggal dipadukuhan-
16 SH. Mintardja padukuhan lain yang terutama terletak di daerah pinggir Tanah
Perdikan mereka telah mendengar, bahwa penari itu bukan saja
mirip, tetapi memang Nyi Wiradana sendiri.
Karena itu ada semacam kecemasan bahwa sekelompok
pengawal yang kuat itu akan dapat menemukan kelompok
pengamen itu dan kemudian menangkapnya. Istri pemangku
jabatan Kepala Tanah Perdikan itu tentu akan memperlakukan
Nyi Wiradana dengan kasar dan semena-mena bahkan mungkin
akan melampaui batas-batas kewajaran. Bukan hanya karena
penari itu adalah istri Ki Wiradana pula, tetapi justru karena Nyi
Wiradana itu telah dianggapnya membuat Tanah Perdikan ini
tidak tenang. Namun orang-orang itu tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka
hanya merenung dan berangan-angan. yang dapat mereka
lakukan tidak lebih dari berdoa, agar tidak terjadi sesuatu atas
Nyi Wiradana itu. Sementara itu, maka kuda-kuda pun telah berderap. Ki
Wiradana bersama istrinya, Ki Saudagar dan pengendang itu pun
telah melintasi bulak-bulak panjang diiringi oleh sekelompok
pengawal yang kuat. Sasaran pertama adalah pasar yang tentu
telah menjadi sepi. Mungkin pengamen itu telah kebar didekat
pasar, ditempat yang cukup lapang.
Tetapi ketika iring-iringan orang berkuda itu telah melewati
sebuah simpang empat dan memasuki jalan menuju kesebuah
padukuhan, maka Ki Wiradana yang berkuda dipaling depan
terkejut. Dengan isyarat ia pun telah menghentikan iring-iringan
itu. Ternyata ditengah-tengah jalan telah dipasang patok yang
rapat dan rintangan yang melintang, menutup jalan.
"Siapa yang berbuat gila ini?" Warsi mulai berteriak.
Ki Wiradana pun kemudian melompat turun. Ketika ia
berusaha mengguncang patok-patok itu ternyata bahwa patok itu
telah dipasang dengan kuatnya. Bukan sekadar tangan-tangan
17 SH. Mintardja jahil yang bermain-main dengan tanpa menghiraukan akibatnya.
Tetapi patok-patok itu benar-benar telah dipasang.
Ki Wiradana itu pun kemudian dengan lantang
memerintahkan kepada para pengawal untuk turun dan
membongkar patok-patok itu. Namun Nyai Wiradana berkata,
"Biarlah. Kita akan melihat, apakah ada juga patok-patok
semacam ini ditempat lain. Jika kita menemukannya juga, maka
kita harus menanggapinya dengan sungguh-sungguh."
Ki Wiradana justru termangu-mangu sejenak. Kemudian ia
pun kembali meloncat ke punggung kudanya ketika Warsi
berkata, "Marilah. Kita melihat di jalan yang lain."
Iring-iringan itu pun kemudian berbalik dan mengambil jalan
yang lain yang menuju ke pasar itu pula, meskipun agak
melingkar. Tetapi ternyata perjalanan
mereka telah terhambat pula. Di
jalan itu pun telah terdapat
patok-patok yang kuat sehingga
iring-iringan itu tidak dapat
meneruskan perjalanan. "Ini tentu perbuatan yang
sudah direncanakan dan diperhitungkan," berkata Warsi.
"Aku tidak percaya bahwa
yang melakukan hal ini hanya
para pengiring dari penari yang
menjadi sangat terkenal di
Tanah Perdikan ini. Meskipun
demikian, kita akan melihat,
apakah yang telah terjadi di jalan-jalan yang lain."
Lewat senja sampai malam menjadi sangat pekat, maka iring-
iringan itu telah menempuh perjalanan beberapa jalur jalan.
Ternyata jalan-jalan itu memang sudah ditutup dengan patok-
patok yang kuat dan rapat. Bahkan beberapa batang pohon
18 SH. Mintardja munggur yang tumbuh dipinggir jalan telah ditebang dan cabang-
cabang serta ranting-rantingnya telah dipergunakan untuk
membuat patok-patok yang menutup jalan.
"Siapa yang telah menjadi gila seperti ini," geram Ki Wiradana.
Yang menjawab adalah Warsi, meskipun ia masih mengekang
diri dan mengucapkannya sangat perlahan, "Ini pertanda bahwa
kewibawaanmu telah pudar sama sekali."
Ki Wiradana tidak menjawab. Sementara Warsi berkata, "Kita
harus berbuat sesuatu."
"Kita bongkar saja patok-patok ini," berkata Ki Wiradana.
"Tidak ada gunanya. Persoalan ini harus kita tanggapi dan kita
selesaikan sampai tuntas. Bukan sekadar membongkar patok-
patok ini. Kita tahu, bahwa patok-patok ini terpasang dijalan
menuju ke Tanah Perdikan bagian barat. Ada beberapa
padukuhan yang dengan demikian telah tertutup karenanya,"
berkata Ki Saudagar. "Marilah kita kembali," berkata Warsi. "Kita akan berbicara


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan para pemimpin pengawal. Kita ternyata dihadapkan
kepada persoalan yang bersungguh-sungguh. Bukan sekadar
sekelompok pengamen saja."
Dengan demikian, maka iring-iringan itu pun telah kembali ke
padukuhan induk. Namun malam itu juga Ki Wiradana telah
memerintahkan para pengawal untuk memanggil para pemimpin
pengawal, terutama yang berada di barak-barak, yang sedang
menempa diri dalam latihan-latihan yang berat. Mereka adalah
kekuatan yang akan dapat diandalkan.
Namun ternyata mereka telah mendapat laporan yang sangat
mengejutkan. Sekelompok di antara para pengawal yang berada
di dalam barak, yang terdiri dari anak-anak muda dan para
pengawal dari beberapa padukuhan telah meninggalkan barak.
"Ini adalah laporan yang paling gila yang pernah aku dengar,"
teriak Ki Wiradana yang bukan saja marah, tetapi ia juga merasa
19 SH. Mintardja cemas menghadapi sikap istrinya. "Apakah pemimpin kelompok
itu tidak dapat mencegah mereka."
Pengawal yang menyampaikan laporan itu menjawab, "Kami
menemukan pemimpin kelompok dan pelatih dari kelompok-
kelompok yang melarikan diri itu pingsan dan terluka pada tubuh
mereka. Agaknya mereka telah berusaha untuk mencegah, tetapi
justru mereka menjadi korban."
"Panggil mereka kemari," bentak Ki Wiradana.
"Mereka berada dalam keadaan yang sangat lemah. Tetapi
baiklah kami akan membawa mereka kemari," jawab pengawal
itu. Laporan itu ternyata benar-benar telah menggoncangkan
perasaan Ki Wiradana dan kekuasaan yang sebenarnya yang
memerintah Tanah Perdikan itu sendiri.
"Tentu bukan satu kebetulan bahwa pada saat-saat jalan
dipatok dan menutup beberapa padukuhan tertentu, maka anak-
anak yang berada di barak, yang juga berasal dari padukuhan
yang sama, telah melarikan diri," geram Warsi.
Ki Wiradana mengangguk. Jawabnya, "Ya. Kita menyadari."
"Kita harus bertindak cepat. Sebelum mereka sempat
menyusun kekuatan dengan sebaik-baiknya, kita harus
menghancurkannya," berkata Ki Saudagar.
"Kita tidak boleh tergesa-gesa ayah," berkata Warsi yang
menanggapi peristiwa itu dengan sungguh-sungguh. "Mereka
bukan orang-orang dungu seperti kakang Wiradana. Ternyata
para pengiring dari penari yang cantik itu memiliki kemampuan
yang tinggi. Mereka masih sempat berkelakar ketika mereka
harus melawan dua tiga orang pengawal sekaligus. Sementara itu,
perempuan yang menyatakan diri pemomong dari penari yang
cantik itu dengan mudah dapat mengalahkan pemangku jabatan
Kepala Tanah Perdikan ini."
Ayah Warsi mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Jadi
bagaimana menurut pertimbanganmu?"
20 SH. Mintardja "Kita jangan terjebak pada langkah-langkah yang tidak
diperhitungkan," jawab Warsi. "Kita bukan anak-anak ingusan
dalam putaran kekuatan. Karena itu, maka kita harus
memperhitungkan setiap langkah yang akan kita ambil."
Ki Saudagar itu mengangguk-angguk. Jawabnya, "Aku
sependapat Warsi, segala sesuatunya memang terserah
kepadamu." "Kita harus tahu pasti, berapa orang pengawal yang ada di
padukuhan-padukuhan yang telah memberontak itu. Berapa pula
yang lari dari barak-barak. Sementara itu, berapa kekuatan yang
ada pada kita," berkata Warsi.
Ki Saudagar mengangguk-angguk. Ternyata dalam keadaan
yang sulit itu Warsi tidak kehilangan akal. Ia masih sempat
berpikir jernih untuk mengatasi kemelut yang terjadi itu.
Namun dalam pada itu, dalam keheningan malam yang
mencekam sesaat, telah terdengar derap kaki kuda berpacu
memasuki regol halaman rumah Kepala Tanah Perdikan
Sembojan. "Siapa?" bertanya Warsi. "Kenapa para penjaga membiarkan
mereka memasuki halaman?"
Ki Wiradana termangu-mangu sejenak. Namun ketika
terdengar pintu diketuk orang, ia bangkit dan berjalan menuju ke
pintu. "Siapa?" bertanya Ki Wiradana.
"Aku ngger. Randukeling," terdengar jawaban dari luar.
"Kakek," Warsi hampir memekik ketika ia mendengar nama
kakeknya. Dalam keadaan yang sulit itu rasa-rasanya ia telah
mendapatkan satu titik cerah dengan kehadiran kakeknya itu.
Ketika Ki Wiradana membuka pintu, maka yang melangkah
masuk kemudian adalah benar Ki Randukeling dan seorang yang
sambil tersenyum berkata, "Selamat malam semuanya."
21 SH. Mintardja "O, Ki Rangga," wajah Warsi menjadi semakin cerah. "Marilah.
Silakan." Keduanya pun kemudian dipersilakan duduk pula diatas
sebuah amben bambu yang besar, sementara Ki Wiradana telah
menutup pintu kembali. "Kedatangan kalian tepat pada waktunya," berkata Warsi.
"Kenapa?" bertanya Ki Rangga.
"Kami memang mengharap kakek dan Ki Rangga datang,"
jawab Warsi dengan nada berat. "Aku memerlukan kawan untuk
memecahkan persoalan-persoalan yang timbul."
"Bukankah disini ada Ki Wiradana?" bertanya Ki Rangga.
"Aku tidak dapat berbincang dengan orang dungu itu," sahut
Warsi. "Warsi," potong kakeknya.
"Bukankah Ki Wiradana itu suamimu. Siapapun orang itu,
dalam keadaan apapun, kau telah memilihnya untuk kau jadikan
suamimu. Karena itu, kau harus bersikap sebagai seorang istri."
"Aku sudah mencoba kakek," jawab Warsi. "Tetapi ternyata
kakang Wiradana itu kelewat dungu. Aku tidak menduga sama
sekali, bahwa ia tidak memiliki apapun juga sebagaimana yang
dimiliki oleh Ki Gede Sembojan dahulu."
"Sudahlah," jawab Ki Randukeling. "Tetapi agaknya kalian
memang sedang membicarakan sesuatu yang penting, sehingga
malam-malam begini kalian masih juga duduk berbincang."
"Ya kakek," jawab Warsi. "Memang penting sekali. Soalnya
menyangkut hidup dan mati Tanah Perdikan ini."
Ki Randukeling mengerutkan keningnya. Ia pun kemudian
berpaling kepada Ki Rangga sambil berkata, "Persoalan telah
timbul dimana-mana."
Ki Rangga mengangguk-angguk, desisnya, "Tetapi Nyi
Wiradana belum mengatakan, persoalan apa yang timbul di
Tanah Perdikan ini."
22 SH. Mintardja Ki Randukeling termangu-mangu sejenak. Katanya, "Baiklah,
katakanlah Warsi. Apa yang telah dibicarakan dengan sungguh-
sungguh oleh para pemimpin di Tanah Perdikan ini."
"Di Tanah Perdikan ini telah terjadi pemberontakan kakek,"
jawab Warsi langsung pada persoalannya.
"Pemberontakan?" bertanya kakeknya.
"Ya kakek. Beberapa padukuhan telah menutup diri dengan
membuat batas pada jalan-jalan yang menuju ke padukuhan itu,"
jawab Warsi. "O," Ki Randukeling dan Ki Rangga mengangguk-angguk.
"Itulah sebabnya kami menjadi agak bingung. Kami memang
harus melingkar mencari jalan atau turun dari kuda dan
menuntun kuda-kuda kami melintasi tanah persawahan. Baru
sekarang kami menjadi jelas bahwa padukuhan-padukuhan itu
telah memberontak." "Ya. Beberapa kelompok pengawal di barak telah melarikan
diri. Mereka adalah pengawal dari padukuhan-padukuhan yang
memberontak itu," berkata Warsi lebih lanjut.
Ki Randukeling menjadi berdebar-debar sebagaimana juga Ki
Rangga Gupita. Dengan suara dalam Ki Rangga berkata, "Tetapi
orang-orang padukuhan itu tidak berbuat apa-apa. Mungkin ada
juga orang yang melihat kami turun ke sawah sambil menuntun
kuda, bahkan menginjak-injak tanaman. Tetapi tidak seorang
pun yang menegur kami."
"Mungkin mereka masih berusaha menahan diri, atau mereka
tidak tahu siapakah kakek sebenarnya. Atau mereka mengenal Ki
Rangga sebagai salah seorang perwira dari Jipang sehingga
mereka masih membatasi diri agar Jipang tidak ikut campur
dalam hal ini," jawab Warsi.
Ki Randukeling mengangguk-angguk. Katanya, "Ternyata
persoalannya menjadi gawat. Jika para pengawal telah
meninggalkan baraknya, maka pemberontakan itu tentu sudah
diatur dengan baik."
23 SH. Mintardja "Tentu kakek," jawab Warsi. "Tentu penari yang cantik itulah
yang mengatur segalanya."
"Penari yang mana maksudmu?" bertanya Ki Randukeling.
"Istri kakang Wiradana. Semua orang sekarang sudah
menyakini bahwa perempuan itu memang Nyi Wiradana.
Ternyata ia masih mempunyai pengaruh di Tanah Perdikan ini,
sehingga beberapa padukuhan telah berhasil di bujuknya untuk
memberontak," jawab Warsi.
Ki Randukeling jadi termangu-mangu. Dengan nada datar ia
berkata kepada Ki Rangga, "Apakah dengan keadaan seperti ini
kita akan dapat memenuhi maksud kedatangan kita di Tanah
Perdikan ini?" Ki Rangga Gupita menjadi tegang. Dengan nada berat ia
berkata, "Semua ini kesalahan pemangku jabatan Kepala Tanah
Perdikan ini yang tidak mampu mengendalikan orang-orangnya.
Jika ia memiliki wibawa sebagai Kepala Tanah Perdikan, maka
semuanya ini tidak akan terjadi."
"Sudah aku katakan kepadanya," sahut Warsi. "Ia telah
kehilangan kewibawaannya."
"Sudahlah," berkata Ki Randukeling. "Yang penting, apa yang
harus kita lakukan sekarang ini?"
"Aku tetap memerlukan pasukan untuk melawan pasukan
Pajang," berkata Ki Rangga Gupita.
"Tetapi tidak dalam keadaan seperti ini," jawab Warsi, "Kita
harus menyelesaikan lebih dahulu persoalan yang kita hadapi
disini. Kekuatan beberapa padukuhan yang memberontak itu
tentu cukup memadai, sehingga jika sebagian dari para pengawal
masih akan dibawa keluar, maka dalam beberapa hari ini, mereka
yang memberontak itu akan berhasil mengusir kita."
Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki
Randukeling pun berkata, "Kita dihadapkan pada persoalan yang
sama-sama berat. Tetapi aku berpendapat, bahwa kita harus
menyelesaikan persoalan di Tanah Perdikan ini lebih dahulu."
24 SH. Mintardja "Apakah itu tidak terbalik Ki Randukeling. Dengan kekuatan
yang masih ada, kita akan menghancurkan Pajang. Baru
kemudian kita akan menyelesaikan persoalan ini. Dengan
bantuan Jipang maka pemberontakan disini akan dapat
diselesaikan dalam waktu setengah hari," berkata Ki Rangga.
"Tetapi jika keadaan sudah menjadi parah, maka persoalannya
menjadi lain," jawab Ki Randukeling. "Mungkin orang-orang
yang sekarang memimpin Tanah Perdikan ini sudah diusir dan
yang perlu diperhatikan, jika pasukan Jipang memenangkan
pertempuran melawan pasukan Pajang di medan sebelah Timur
apakah berarti bahwa perang dengan Pajang sudah selesai dan
pasukan Jipang dapat ditarik kembali?"
Ki Rangga Gupita termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian katanya, "Baiklah. Kita selesaikan pemberontakan ini
besok. Aku akan ikut bersama kalian. Kita akan menghancurkan
padukuhan-padukuhan itu sampai lumat, sehingga tidak ada
kesempatan bagi mereka untuk bangkit kembali. Jika para bekel
ikut campur dalam pemberontakan ini, maka mereka pantas
dihukum mati. Demikian pula yang terlibat. Dengan demikian,
maka padukuhan-padukuhan yang lain akan melihat, hasil dari
langkah sesat para pemberontak itu."
"Kita memang harus menunjukkan sikap yang keras," sahut
Warsi. "Bagus," geram Ki Rangga Gupita. "Semua yang bersalah akan
dihukum mati. Hanya mereka yang bersedia ikut ke Pajang
sajalah yang akan mendapat pengampunan."
Namun dengan ragu-ragu Ki Wiradana berkata, "Tetapi
apakah dengan pembunuhan yang semena-mena itu persoalan
akan dapat diatasi dengan bijaksana?"
"Kau memang pantas kehilangan kewibawaanmu," jawab Ki
Rangga Gupita. "Dengan sikap yang keras, maka kau telah
mencegah hal yang serupa terulang kembali."
"Tetapi kematian yang tidak terhitung jumlahnya akan
berakibat buruk bagi Tanah Perdikan ini," sahut Ki Wiradana.
25 SH. Mintardja "Tutup mulutmu," bentak Ki Rangga Gupita. "Kita berjuang
untuk tegaknya kewibawaan Tanah Perdikan ini. Untuk
menjunjung kekuasaan Kepala Tanah Perdikan meskipun masih
pemangkunya. Tetapi kau sendiri berhati lemah seperti
perempuan. Bahkan perempuan seperti Warsi itu pun mampu
mengatasi perasaannya bagi kepentingan Tanah Perdikan ini,
sementara kau merajuk dan merengek dengan cengeng.
Wajah Ki Wiradana menjadi merah. Apalagi ketika
Randukeling tersenyum sambil berkata, "Sudahlah ngger. Kau
memang telah melakukan banyak kesalahan, sehingga istrimu,
dan kini tamumu, telah melontarkan kata-kata kasar."
"Tetapi aku tetap pemangku jabatan Kepala Tanah Perdikan
ini kakek," jawab Ki Wiradana.
Namun Ki Rangga Gupita membentak, "kau tidak dapat
berbuat apa-apa tanpa kami.
Tanpa Warsi, tanpa Ki Saudagar, tanpa Ki Randukeling
dan tanpa prajurit-prajurit
Jipang disini. Kau hanya mampu merayu penari-penari
cantik untuk memenuhi keinginanmu yang ternyata
tidak seimbang dengan gejolak
perjuanganmu di Tanah Perdikan ini. Karena itu, kau


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berterima kasih kepada Warsi
yang sebenarnya merasa sangat
kecewa mempunyai suami seperti kau. Namun demi kesetiaannya sebagai seorang istri, ia telah berbuat apa saja bagi
Tanah Perdikan ini."
Ki Wiradana menjadi semakin terdesak. Wajahnya menjadi
semakin merah. Namun ia sadar, bahwa ia tidak akan berbuat
26 SH. Mintardja apa-apa. Karena itu, maka ia pun hanya dapat menundukkan
kepalanya dengan jantung yang hampir meledak.
Sementara itu, terdengar Ki Rangga Gupita, "Kita siapkan para
pengawal sekarang." "Sudah aku katakan kepada ayah, tetapi sebelum kau dan
kakek datang," jawab Warsi. "Jangan kehilangan akal dan
tergesa-gesa. Aku ingin tahu pasti, imbangan kekuatan yang ada.
Bukankah kau seorang perwira prajurit Jipang?"
Ki Rangga menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Aku
mempercayakan pengamatanku pada firasat di dalam hatiku.
Tetapi jika kau akan bertindak dengan hati-hati, aku tidak
berkeberatan. Tetapi ingat harus menyelesaikan persoalan ini
dengan cepat." "Kehadiranmu dan kakek akan dapat mempercepat gerakan
kita," jawab Warsi. "Bagus," jawab Ki Rangga. "Bukankah dengan demikian maka
tugas kita akan cepat selesai."
Warsi pun kemudian bertanya kepada Ki Wiradana, "Kakang,
apakah malam ini kita dapat melihat keseimbangan kekuatan
antara para pengawal di padukuhan-padukuhan itu dengan para
pengawal diluarnya, termasuk yang melarikan diri dan yang
masih tinggal di barak?"
"Mungkin dapat diusahakan Warsi," jawab Ki Wiradana.
"Tentu dapat," desis Warsi. "Bukankan jumlah orang-orang itu
pasti dan namanya sudah diketahui" Karena itu, maka tolong
kakang. Usahakan agar kita semua mendapat gambaran, sehingga
kita akan bergerak lebih cepat. Kehadiran Kakek dan Ki Rangga
meyakinkan kita, bahwa kita akan dapat mengatasi kesulitan.
Para pengiring dari penari yang cantik itu, jumlahnya terbatas.
Dan sudah tentu tidak semuanya di antara mereka memiliki ilmu
yang tinggi, sehingga seandainya jumlah mereka sebanyak orang
yang dijumpai oleh kakang Wiradana di pasar, maka jumlah itu
tidak akan menggetarkan kita lagi. Disini ada kakang Wiradana,
27 SH. Mintardja ada aku, ayah dan kakek serta Ki Rangga. Juga ada ayah angkatku
ini. Disamping itu para pengawal yang sudah mendapat tempaan
yang matang masih cukup banyak dibanding mereka yang
melarikan diri." Ki Wiradana pun kemudian telah meninggalkan ruangan itu.
Ketika ia keluar ruangan, maka tidak lagi melakukan
sebagaimana kebiasaannya. Ki Wiradana tidak lagi
menengadahkan wajahnya dan dengan garang, memanggil para
pengawal. Tetapi dengan kepala tunduk ia berjalan ke gardu
mendekati para pengawal yang sedang bertugas.
Para pengawal yang melihat Ki Wiradana pun segera
beringsut. Beberapa orang justru telah turun dari gardu dan
berdiri menyambutnya. Suara Ki Wiradana tidak lantang lagi. Namun demikian yang
dikatakannya cukup jelas bagi para pengawal. Ki Wiradana akan
pergi ke barak untuk menghitung jumlah para pengawal.
Dari para pemimpin pengawal di barak Ki Wiradana kemudian
mendapat kepastian, bahwa jumlah pengawal yang berada di
padukuhan yang memisahkan diri itu serta para pengawal yang
melarikan diri, masih lebih kecil dari para pengawal dari
padukuhan-padukuhan yang lain serta yang masih berada di
barak. "Apa yang akan Ki Wiradana lakukan?" bertanya pemimpin
pengawal itu. "Apakah Ki Wiradana akan mengambil langkah
kekerasan?" Ki Wiradana ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia pun
mengangguk, "Mungkin sekali.
Tetapi pemimpin pengawal itu berkata, "Ki Wiradana. Apakah
tidak ada cara lain. Mungkin Ki Wiradana dapat mengadakan
pendekatan dengan mereka. Apakah yang sebenarnya mereka
kehendaki" Bukankah Ki Wiradana belum pernah
menanyakannya?". 28 SH. Mintardja Ki Wiradana menggeleng. Jawabannya, "Aku memang belum
pernah berhubungan dengan mereka."
"Nah, karena itu, maka agaknya dapat dihindari pertumpahan
darah di antara kita. Apalagi kami yang pernah tinggal disatu
barak ini," berkata pemimpin pengawal itu. Ki Wiradana
termangu-mangu. Sebenarnya ia sependapat dengan pemimpin
pengawal itu. Tetapi apakah istrinya dan Ki Rangga akan dapat
menyetujuinya?" Namun hal itu tidak dikatakan kepada para pengawal itu.
Biarlah perasaan itu tetap menjadi bebannya yang terasa sangat
berat. Bahkan kepada pemimpin pengawal itu ia menjawab, "Sudah
bukan waktunya lagi kita bersikap lunak. Pada suatu saat, orang-
orang Tanah Perdikan ini harus mengerti, bahwa langkah-
langkah yang diambil oleh mereka yang memberontak itu harus
mendapat hukuman yang setimpal."
"Tetapi, jika hal itu dapat diselesaikan dengan baik, bukankah
akan lebih berarti daripada jika diselesaikan dengan kekerasan"
Kekerasan akan menumbuhkan dendam. Orang-orang yang
sanak kadangnya terbunuh akan merasa tergelitik untuk
membalas dendam. Sementara itu gejolak perasaan yang tidak
terkendali akan dapat merusakkan Tanah Perdikan ini. Mungkin
ada padukuhan yang akan menjadi abu oleh kobaran api
kemarahan. Bahkan orang-orang yang tidak bersalah pun akan
dapat menjadi korban mendidihnya darah di dalam jantung ini,"
berkata pemimpin pengawal itu.
"Waktu untuk berhati manis telah lewat," berkata Ki
Wiradana, "Kita sudah banyak belajar dari kehidupan yang
lampau. Dan sekarang tiba waktunya untuk bertindak tegas."
"Apa yang pernah kita alami sebelumnya, Ki Wiradana"
Kehidupan yang manakah yang telah memberi pelajaran bagi
kita?" bertanya pemimpin pengawal itu. "Yang terjadi di Tanah
Perdikan ini sulit untuk diikuti dengan nalar sampai saatnya
beberapa padukuhan telah memberontak."
29 SH. Mintardja Wajah Ki Wiradana menjadi merah. Dengan lantang ia
bertanya, "Apakah kau juga sudah terpengaruh?"
"Tidak," jawab pemimpin pengawal itu. "Tetapi aku mengikuti
perkembangan keadaan. Aku sudah mendengar semua ceritera
yang terjadi di Tanah Perdikan ini dengan sebenarnya. Para
pengawal yang beberapa kali dikalahkan oleh orang-orang yang
tidak dikenal, meskipun mereka ingkar. Bahkan Ki Wiradana
juga. Penari yang sebenarnya adalah Nyi Wiradana sendiri. Dan
pendirian beberapa orang bekel yang disebut memberontak itu."
"Kau adalah pemimpin pengawal," bentak Ki Wiradana, "Kau
hanya dapat menjalankan perintah."
Pemimpin pengawal itu mengangguk hormat. Katanya, "Jika
demikian, aku memang tidak mempunyai pilihan lain."
Ki Wiradana justru termenung sejenak. Dipandanginya wajah
pemimpin pengawal yang memandanginya dengan sorot mata
yang kosong itu. Hampir saja Ki Wiradana berkata, bahwa ia pun sebenarnya
mempunyai pendirian seperti pemimpin pengawal itu. Tetapi
dengan susah payah ia bertahan untuk tetap menyimpannya di
dalam hatinya. Yang kemudian dikatakan oleh Ki Wiradana justru satu
perintah, "Para pengawal harus bersiap besok pagi-pagi. Mungkin
mereka akan kita perlukan."
Tidak ada jawaban lain dari pemimpin pengawal itu kecuali,
"Baik Ki Wiradana. Perintah itu akan kami lakukan."
Ki Wiradana pun kemudian meninggalkan barak itu.
Pemimpin pengawal itu dengan beberapa orang kawannya
menjadi termangu-mangu. Namun ada juga di antara pemimpin
pengawal itu yang berkata, "Aku puji sikap tegas Ki Wiradana. Ia
harus bersikap demikian agar kewibawaannya terpelihara."
Pemimpin pengawal yang bersikap lain itu tidak menjawab. Ia
adalah pengawal Tanah Perdikan yang harus tunduk kepada
30 SH. Mintardja perintah, sebagaimana diajarkan oleh para prajurit Jipang
kepada mereka. Ketika Ki Wiradana kembali ke rumahnya, ternyata para
pemimpin Tanah Perdikan itu masih menunggunya. Dengan
serta merta Warsi telah bertanya kepadanya,
"Bagaimana kakang" Apakah kakang sudah mendapat
Kisah Membunuh Naga 4 Pedang Awan Merah Karya Kho Ping Hoo Pedang Langit Dan Golok Naga 17
^