Pencarian

Suramnya Bayang Bayang 3

Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja Bagian 3


Dengan demikian, maka atas kematian Wiradana tidak akan
dapat dilontarkan tuduhan kepada salah seorang diantara kita
disini," berkata tukang gendangnya.
Warsi mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah. Aku akan
pergi." Tukang gendangnya mengangguk-angguk, sementara Warsi
telah mengenakan pakaian yang khusus.
Sepeninggalan Warsi, maka tukang gendang yang berada di
serambi itu telah berusaha menarik perhatian para peronda
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
44 SH. Mintardja untuk menyatakan bahwa mereka sekelompok kecil itu
seluruhnya berada di banjar. Jika ada yang tidak nampak di
antara mereka, itu adalah Warsi yang mendapat sebuah bilik
khusus di bagian samping dari banjar itu.
Lewat tengah malam, maka tukang gendang itu telah pergi ke
gardu dan menemui peronda yang sedang berjaga-jaga. Katanya,
"Ki Sanak, apakah kami dapat minta minyak kelapa barang
setetes?" "Untuk apa?" bertanya peronda itu.
"Seorang kawan kami telah menderita sakit. Aku kurang pasti,
apakah sebabnya. Tadi, ketika kami sedang melakukan
kewajiban, agaknya sudah mulai terasa olehnya, bahwa badannya
kurang enak. Sekarang sakit itu terasa menusuk," berkata tukang
gendang itu. "Apanya yang terasa sakit?" bertanya peronda itu.
"Semula punggungnya merasa pegal. Namun kemudian
perutnya pun menjadi mual," jawab tukang gendang itu.
Peronda itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, "Coba,
aku akan menanyakan kepada tetangga terdekat di sebelah.
Mudah-mudahan mereka mempunyai minyak kelapa barang
setetes." "Terima kasih Ki Sanak," jawab pengendang itu.
Demikianlah, maka peronda itu pun telah pergi ke rumah
sebelah, setelah ia menyerahkan tugasnya kepada kawannya.
Ternyata sebagaimana diminta, maka peronda itu pun telah
mendapat minyak kelapa meskipun hanya sedikit. Kepada
kawannya di regol, peronda itu berkata, "Aku akan menemui
mereka di serambi. Kasihan, seorang di antara mereka sedang
sakit." Kehadiran peronda itu merupakan saksi, bahwa rombongan
pemukul gamelan itu lengkap menunggui seorang kawannya yang
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
45 SH. Mintardja sedang sakit. Bahkan ketika seorang kawan peronda itu yang lain
datang menengoknya pula, ia pun melihat, semua orang berada di
serambi itu kecuali Warsi. Namun ketika para peronda itu
melihat pintu bilik di bagian samping banjar tertutup, maka
mereka pun menduga, bahwa Warsi yang lelah telah tidur lelap di
dalamnya. Namun dalam pada itu, Warsi telah berada di halaman
rumah di depan rumah Ki Gede
Sembojan. Untuk beberapa saat ia menunggu. Kadang-
kadang Wiradana memang keluar lewat tengah untuk
melihat-lihat para peronda
atau bahkan pergi ke gardu di
bagian lain dari padukuhan
induk itu. Tetapi sudah barang
tentu hal itu tidak dilakukan
setiap malam. "Mudah-mudahan malam
ini ia keluar rumah," desis
Warsi yang telah beberapa
lama menunggu. Sebenarnyalah, tiba-tiba saja pintu pringgitan pun telah
terbuka. Seorang laki-laki muda muncul dari balik pintu dan
berdiri tegak memandang ke kegelapan. Di pinggangnya terselip
sebuah pedang yang tidak terlalu panjang.
Beberapa saat Wiradana berdiri termangu-mangu. Namun
kemudian ia pun telah menghambur turun tangga pendapa
rumahnya menuju ke gardu.
Warsi mengamati semua gerak Wiradana dengan seksama.
Ada semacam gejolak yang sulit dimengerti. Namun kemudian ia
menggeram," Aku harus membunuhnya."
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
46 SH. Mintardja Seperti yang diharapkan oleh Warsi, maka Wiradana pun
kemudian keluar dari regol halamannya. Berjalan menyusuri
jalan induk yang sudah sepi.
"Akhirnya saat itu datang juga," desis Warsi, "Aku akan
mengikutinya, memancingnya keluar padukuhan dan
membunuhnya. Jika perhitunganku tentang kemampuannya
keliru, maka akulah yang akan mati. Tetapi itu adalah akibat yang
wajar dari dendamku yang membakar jantung. Aku atau
Wiradana." Demikianlah, maka Warsi pun mengikuti Wiradana tanpa
diketahuinya. Warsi yang sudah mengamati jalan-jalan di
padukuhan induk itu mengerti dengan sebaik-baiknya, dimana ia
harus mulai memancing calon korbannya.
Sebagaimana yang direncanakan oleh Warsi, maka ketika
Wiradana sampai di sebuah tikungan, maka Warsi telah meloncat
langsung ke jalan di belakang langkah Wiradana. Ia sengaja
membuat langkahnya dapat memanggil Wiradana untuk
berpaling. Sebenarnyalah Wiradana terkejut mendengar seseorang
meloncat ke jalan yang dilaluinya. Dengan serta merta ia
meloncat berputar dan dalam sekejab tangannya telah berada di
hulu pedangnya. Jantung Wiradana menjadi berdebar-debar. Seorang dengan
wajah yang tertutup, telah berdiri tegak di hadapannya.
"Siapa kau?" bertanya Wiradana dengan dada yang
berdebaran. Tetapi orang itu tidak menjawab. Dalam pakaian yang serba
hitam, maka orang yang berdiri tegak itu nampaknya memang
menantangnya. Seorang yang bertubuh kecil, namun nampaknya
terlalu tangkas dan bergerak dengan cepat.
"Siapa kau dan maksudmu?" bertanya Wiradana pula.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
47 SH. Mintardja Orang itu tetap tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja ia
bergeser surut. "Tunggu," cegah Wiradana.
Tetapi orang itu telah meloncat dinding halaman sebelah dan
kemudian berlari ke dalam gelap.
Wiradana menjadi berdebar-debar. Tanpa berpikir panjang,
maka ia pun telah menyusulnya. Wiradana telah meloncati
dinding halaman itu pula dan mengejar orang yang berlari
kedalam kegelapan itu. Namun agaknya Warsi memang tidak ingin melepaskan diri.
Ia sengaja berlari tidak terlalu cepat. Meskipun ia menyusup
pepohonan perdu yang tumbuh di halaman, namun ia sengaja
agar Wiradana selalu dapat mengikutinya kemana ia pergi.
Sebagaimana diharapkan maka Warsi memang berhasil
memancing Wiradana keluar dari padukuhan induk. Demikian
Warsi meloncati dinding padukuhan yang tidak terawasi oleh
para peronda, maka Wiradana pun telah melakukannya pula. Ia
tidak mau kehilangan orang yang mencurigakan itu. Meskipun ia
pun sudah menduga, bahwa orang itu sengaja memancingnya.
Ketika Warsi kemudian berlari menjauhi padukuhan,
Wiradana menjadi ragu-ragu. Ia memang maju beberapa puluh
langkah, tetapi akhirnya ia pun berhenti. Wiradana mulai
memperhitungkan kemungkinan bahwa orang yang dicurigainya
itu berbuat licik. Ia dapat menyiapkan sebuah jebakan yang
terdiri dari beberapa orang untuk membinasakannya.
Menurut dugaan Wiradana, maka yang dihadapinya itu tentu
orang-orang yang ingin membalas dendam atas kematian
Kalamerta dan hancurnya sekelompok pengikutnya.
Tetapi ternyata orang itu tidak meninggalkannya. Ketika Warsi
sadar bahwa Wiradana berhenti, maka ia pun telah berhenti pula.
Dan bahkan ia pun telah melangkah kembali mendekati
Wiradana yang berdiri termangu-mangu.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
48 SH. Mintardja "Siapa sebenarnya kau," sekali lagi Wiradana bertanya.
Tetapi Warsi tetap tidak menjawab. Ia sadar bahwa suaranya
adalah suara seorang perempuan, karena itu, maka Wiradana
akan cepat menghubungkan hadirnya itu dengan kehadiran
serombongan pengamen di Tanah Perdikannya. Meskipun ia
berpakaian seorang laki-laki, tetapi suaranya akan tetap
menunjukkan jenisnya. Jika saat itu ia gagal membunuh
Wiradana, maka akibatnya akan parah bagi semua anggota
rombongannya. Karena orang itu tidak menjawab, maka Wiradana pun berkata
keras, "Kau membuat aku curiga. Marilah kau aku tangkap untuk
pemeriksaan." Orang itu masih tetap berdiri tegak. Namun kemudian dengan
sikapnya, orang itu memaksa Wiradana untuk bergeser mundur.
Warsi pun kemudian bersikap untuk menyerang. Tanpa kata-
kata namun jelas bagi Wiradana bahwa orang itu telah
menantangnya untuk berkelahi.
"Baik," berkata Wiradana, "Aku mengerti kau ingin bertempur.
Tetapi katakan, apa alasanmu dan siapakah kau sebenarnya?"
Tetapi Warsi tidak menjawab. Ia mulai bergeser hati-hati.
Bahkan tiba-tiba saja Warsi kemudian telah mulai menyerang.
Wiradana masih sempat mengelak. Bahkan ia masih sempat
berkata, "Sebut saja apa alasanmu?"
Tetapi Warsi tidak menghiraukannya. Dengan jarinya ia
mengisyaratkan untuk bertempur seorang lawan seorang.
"Apakah kau bisu?" bertanya Wiradana.
Dalam keremangan malam Wiradana melihat Warsi
mengangguk. "Gila," geram Wiradana. "Apa maunya orang bisu ini."
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
49 SH. Mintardja Dengan demikian Wiradana tidak bertanya lagi. Meskipun ia
masih juga curiga. Biasanya orang bisu itu juga tuli. Jika orang itu
bisu dan tidak tuli, mungkin ada sebab-sebab tersendiri. Namun
Wiradana pasti bahwa orang itu tidak tuli.
Namun apapun juga orang itu, Wiradana harus
menghadapinya dalam satu pertempuran. Dalam waktu yang
singkat, maka keduanya telah mengerahkan kemampuan mereka.
Ternyata bahwa orang yang tidak dikenal itu memiliki
kecepatan bergerak yang sulit untuk diimbangi. Tetapi Wiradana
pun mempunyai kelebihan dari lawannya. Kekuatan Wiradana
agaknya lebih baik daripada lawannya, sehingga dalam benturan-
benturan yang terjadi, Wiradana berhasil mendesak lawannya
surut. Namun dalam pada itu, Wiradana ternyata semakin lama
menjadi semakin sulit untuk mengimbangi kecepatan gerak
lawannya. Bahkan kemudian terasa olehnya, serangan-serangan
lawannya itu mulai menyakiti tubuhnya, karena ia tidak sempat
menghindari serangan-serangan yang datang semakin cepat.
Wiradana menggeram menahan sakit yang mulai menjalari
tubuhnya. Namun bagaimanapun juga, Wiradana tidak akan
menghindar dan membiarkan orang itu terlepas dari tangannya.
Dengan cerdik Wiradana bergeser selangkah demi selangkah.
Ia berusaha untuk mendekati gardu yang paling dekat dengan
arena itu, sehingga dengan demikian maka ia akan dapat
memanggil para peronda dan bersama-sama menangkap orang
itu. Tetapi agaknya lawannya itu mengerti, bahwa Wiradana
bergeser ke arah pintu gerbang. Karena itu, maka orang itu pun
bertempur semakin cepat. Agaknya ia berusaha untuk
mengalahkan lawannya secepatnya sebelum ia sempat berteriak
dan memanggil para pengawal.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
50 SH. Mintardja Wiradana semakin lama menjadi semakin terdesak. Tetapi ia
masih terlalu jauh dari gerbang. Seandainya ia berteriak pun
agaknya orang-orang yang berada di gerbang tidak akan
mendengarnya, bahkan rumah-rumah yang terdekat dengan
arena itu pun belum tentu akan dapat mendengar pula.
Karena itu, maka untuk mengatasi kesulitan yang semakin
menekan, maka Wiradana kemudian telah menarik pedangnya.
Lawan Wiradana itu pun tertegun. Ia sadar, bahwa ia tidak
akan mudah mengatasi ilmu pedang Wiradana. Karena itu, maka
Warsi pun kemudian telah mengurai sehelai rantai yang
melingkari lambungnya. Wiradana tertegun melihat senjata lawannya. Senjata yang
jarang dijumpainya, namun yang agaknya sulit untuk dilawan.
Namun demikian, Wiradana tidak dapat mengelak. Ia harus
melawan. Meskipun ia agak menyesal juga, bahwa ia langsung
mengikuti orang itu tanpa memberitahukan kepada para peronda
lebih dahulu. Sejenak kemudian rantai itu pun telah berputar dengan cepat.
Suaranya berdesing seperti berpuluh ribu tawon yang
berterbangan mengelilinginya.
Jantung Wiradana menjadi berdebar-debar. Ternyata bahwa
pedangnya justru telah mengundang satu kesulitan lain yang
mungkin akan lebih parah.
Sejenak kemudian Wiradana pun harus bertempur
menghadapi lawannya yang mempergunakan senjata yang aneh.
Sehelai rantai berputaran dan kadang-kadang mematuk dengan
dahsyatnya. Namun seperti semula, Wiradana telah mengalami kesulitan.
Ketika ujung rantai itu mulai menyentuh kulitnya, maka darah
pun mulai menitik dari luka.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
51

Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

SH. Mintardja Wiradana masih berusaha untuk bergeser mendekati dinding
padukuhan dan apabila mungkin pintu gerbang yang ditunggui
oleh para pengawal yang meronda.
Namun agaknya usaha Wiradana akan sia-sia. Orang yang
mempergunakan tutup muka itu mampu bergerak dengan
kecepatan yang tidak terduga.
Tetapi Wiradana pun tidak mau membiarkan dirinya dibantai.
Karena itu, maka ia pun telah melawan dengan segenap
kemampuannya. Dengan ilmu pedang yang dimilikinya, maka ia
mencoba mengatasi tekanan senjata rantai yang mengerikan itu.
Ternyata bahwa untuk beberapa saat Wiradana berhasil
mempertahankan diri. Namun sebenarnyalah hati laki-laki muda
itu kurang teguh menghadapi kesulitan. Itulah sebabnya, maka ia
cepat menjadi cemas. Tetapi justru kecemasan itulah yang telah mempercepat
kesulitan yang mencengkam dirinya. Putaran rantai ditangan
orang yang menutupi wajahnya itu seakan-akan menjadi semakin
cepat. Sehingga dengan demikian, maka sentuhan-sentuhan
ujung rantai itu pun terasa menjadi semakin sering pula
mengenai tubuhnya. Luka di tubuh Wiradana menjadi semakin parah. Darah
menjadi semakin banyak mengalir. Sementara itu, gerak ujung
rantai itu pun rasa-rasanya menjadi semakin cepat.
Perlawanan Wiradana pun semakin lama menjadi semakin
lemah. Kegelisahan dan kelemahan hatinyalah sebenarnya yang
lebih banyak mendorongnya ke dalam kesulitan. Sebenarnya ilmu
pedangnya memiliki kemungkinan-kemungkinan yang dapat
menembus putaran rantai lawannya, jika kemantapan ilmunya
pun didukung oleh kemantapan hatinya.
NAMUN yang terjadi kemudian Wiradana telah benar-benar
terdesak. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
52 SH. Mintardja Bahkan akhirnya, dengan satu putaran rantai yang cepat,
maka pedang Wiradana telah
terbelit karenanya. Dan oleh
satu hentakan yang kuat maka
rantai itu telah merenggut
pedang Wiradana. Wiradana terpekik kecil. Tangannya terasa sangat pedih.
Tetapi ia tidak berhasil mempertahankan pedangnya.
Dan demikian pedangnya terlontar, maka rasa-rasanya
nyawanya pun telah berada di
ujung ubun-ubun. Tanpa sengaja Wiradana benar-benar tidak mampu melawan. Demikian pedangnya terenggut, maka ia pun hanya
dapat berdiri tegak dengan wajah pucat. Rasa-rasanya ia tinggal
menunggu maut yang segera akan memeluknya.
Lawannya yang bertutup wajah itu berdiri tegak dengan sorot
mata yang bagaikan menembus sampai ke jantung. Perlahan-
lahan ia melangkah mendekat. Rantainya terayun-ayun disisinya,
siap untuk mengoyak dadanya dan dengan demikian maka
lenyaplah segala harapannya untuk melanjutkan pemerintahan
yang akan diwariskan oleh ayahnya dalam waktu dekat.
Dua langkah dihadapan Wiradana orang yang wajahnya
tertutup kecuali matanya itu memandanginya. Rantainya benar-
benar sudah siap untuk membunuhnya.
"Jangan," tiba-tiba terdengar suara Wiradana gemetar, "Apa
sebenarnya alasanmu memusuhi aku" Jangan bunuh aku. Aku
akan memberimu apa saja yang kau minta."
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
53 SH. Mintardja Orang bertutup wajah itu memperhatikan Wiradana yang
ketakutan. Rantainya masih saja terayun-ayun disisinya. Namun
tiba-tiba saja ia melangkah surut.
Diamatinya Wiradana dari ujung rambutnya sampai ke ujung
kakinya. Agaknya sesuatu telah bergejolak di dada orang yang
bertutup wajah itu. Dengan satu dua kali ayunan rantainya, maka
Wiradana tentu sudah akan tergolek diam. Mati. Sebagaimana
diinginkannya. Namun orang itu tidak mengayunkan rantainya. Bahkan tiba-
tiba saja orang bertutup wajah itu berpaling. Dengan cepat ia
meloncat meninggalkan Wiradana yang termangu-mangu.
Sejenak kemudian maka orang bertutup wajah dalam pakaian
yang serba hitam itu telah hilang dari arena. Dengan kecepatan
yang sulit diikuti, orang itu berlari menyusuri pematang diluar
dinding padukuhan induk Tanah Perdikan Sembojan.
Namun diluar penglihatan Wiradana, orang itu pun telah
meloncati dinding memasuki padukuhan dan dengan diam-diam
menuju banjar. Sepeninggal orang itu, maka Wiradana pun berdiri termangu-
mangu. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Jika
orang itu ingin membunuhnya, maka kesempatan itu sudah
terbuka baginya. Wiradana sendiri sudah tidak mampu
melakukan perlawanan sama sekali. Pedangnya sudah terlepas
dari tangannya, sementara keberaniannya pun telah larut
sehingga ia hanya dapat minta dibelas kasihani.
Sesaat Wiradana masih berdiri tegak. Namun kemudian ia
melangkah memungut pedangnya.
Baru kemudian terasa tubuhnya dicengkam oleh perasaan
sakit dan pedih. Lukanya terdapat di beberapa tempat silang
melintang, terkoyak oleh ujung rantai lawannya.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
54 SH. Mintardja Tertatih-tatih Wiradana menuju ke gerbang. Memang masih
agak jauh. Namun akhirnya ia sampai juga ke gardu pertama di
pintu gerbang padukuhan induk.
"Wiradana," seorang pengawal yang melihatnya tiba-tiba saja
berteriak sehingga kawan-kawannya menjadi terkejut.
Sebenarnyalah mereka melihat Wiradana berjalan tertatih-tatih
menyeret tubuhnya mendekati gardu.
Beberapa orang pengawal telah berloncatan mendekat. Dua
orang menangkap tubuh yang hampir jatuh terjerembab itu.
"Apa yang terjadi?" bertanya salah seorang pengawal.
Wiradana tidak menjawab. Sementara itu tubuhnya pun telah
dipapah dan dibaringkannya di dalam gardu dikerumuni oleh
beberapa orang pengawal. "Berhati-hatilah," desis Wiradana.
Dua orang pengawal pun kemudian telah bersiap mengamati
keadaan, sementara yang lain berusaha untuk menolong
Wiradana. "Bawa aku pulang," desis Wiradana.
"Baik. Baik. Aku akan mengambil pedati," desis seseorang itu.
Lalu, "Bukankah itu lebih baik daripada kami mengangkatmu
sampai ke rumahmu." "Tolong angkat saja aku pulang. Lebih cepat lebih baik.
Waktunya jangan tersia-sia dengan mengambil pedati," desis
Wiradana yang terluka parah itu.
Beberapa orang anak muda sependapat. Jika salah seorang
dari mereka pulang mengambil pedati, maka waktunya akan
banyak terbuang sehingga keadaan Wiradana akan menjadi
semakin parah. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
55 SH. Mintardja Karena itu, maka beberapa orang anak muda itu pun telah
bersepakat untuk mengangkat saja Wiradana dan membawanya
pulang ke rumahnya, sementara dua orang akan tinggal di gardu.
"Jika terjadi sesuatu, bunyikan saja isyarat," berkata
Wiradana. "Agaknya para pengikut Kalamerta masih berkeliaran
di sekitar Tanah Perdikan ini."
"Baiklah," jawab salah seorang pengawal yang akan tinggal.
Demikianlah, maka Wiradana pun telah diangkat pulang
kerumahnya dengan tergesa-gesa. Darah yang masih saja
mengalir membuat tubuh itu semakin lemah. Namun di
sepanjang jalan Wiradana masih sempat berceritera, "Aku tidak
tahu, siapa orang itu. Namun agaknya ia memang memiliki ilmu
yang tinggi." "Bagaimana ia dapat melukaimu?" bertanya salah seorang
pengawal yang menggotongnya.
"Senjatanya memang aneh. Sehelai rantai baja," jawab
Wiradana. Namun kemudian, "Untunglah aku mempunyai ilmu
pedang yang mumpuni sehingga aku akhirnya mampu
mengusirnya, meskipun tubuhku terluka parah. Aku tidak tahu,
apakah orang itu akan dapat berlari jauh oleh luka-lukanya pula.
Mungkin besok pagi kalian akan mendapatkan sesosok mayat
diluar padukuhan induk ini, atau mungkin ia sempat berlari jauh
atau bahkan ia mempunyai kawan yang sempat membawanya
pergi. Tetapi aku yakin, bahwa orang itu akan mati."
Para pengawal itu hanya mengangguk-angguk saja. Namun
mereka percaya bahwa Wiradana telah berhasil mengusir seorang
yang memiliki ilmu yang tinggi yang telah memasuki padukuhan
induk Tanah Perdikan Sembojan.
Ketika tubuh itu sampai di rumah Ki Gede, maka seisi rumah
telah terkejut karenanya. Menjelang dini hari rumah itu menjadi
ribut. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
56 SH. Mintardja Untunglah bahwa Kiai Badra masih tetap berada di rumah itu
menunggui cucunya sampai selapan. Setelah lewat selapan, maka
Kiai Badra dan Gandar pun telah bersiap-siap untuk
meninggalkan Tanah Perdikan ini.
Namun sebelum mereka minta diri, maka peristiwa yang
mengejutkan itu telah terjadi.
Sejenak kemudian, maka Kiai Badra pun telah merawat
Wiradana dengan sungguh-sungguh. Dengan kerut-merut di
dahinya ia melihat luka-luka yang agak asing itu. Namun
kemudian Kiai Badra pun mengenalinya bahwa luka itu bukan
disebabkan oleh senjata tajam. Tetapi oleh seutas rantai baja.
"Ya. Orang itu bersenjata
rantai," berkata Wiradana yang
menyeringai oleh perasaan
pedih di seluruh tubuhnya,
sementara Kiai Badra sedang
berusaha untuk membersihkannya. Seperti yang diceriterakan
kepada para pengawal bahkan
juga tentang lawannya yang
bisu, maka Wiradana pun telah
mengatakan, bahwa ia berhasil
melukai lawannya, sehingga
lawannya itu telah melarikan
diri. "Apakah kau tidak dapat
menyebut ciri-ciri lawanmu itu ngger, jika ia benar-benar bisu
seperti yang kau katakan?" bertanya Kiai Badra.
"Orangnya tinggi, besar dan berambut panjang," Wiradana
berusaha mengingat-ingat.
"Berambut panjan Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
57 SH. Mintardja g?" bertanya Kiai Badra.
"Ya. Rambutnya itu terurai dibawah ikat kepalanya," jawab
Wiradana. Kiai Badra merenung sejenak. Kecerahan nalarnya telah
membawanya kepada satu dugaan didalam hatinya, "Orang itu
tentu merahasiakan dirinya sepenuhnya. Ia bukan saja menutupi
wajahnya, tetapi juga menyembunyikan suaranya. Seandainya
orang itu tidak bertubuh tinggi besar, maka aku akan menduga
bahwa ia seorang perempuan."
Tetapi Wiradana ternyata telah memberikan keterangan yang
tidak benar untuk mengangkat dirinya sendiri, sehingga seakan-
akan ia telah bertempur melawan seorang yang tinggi besar dan
berkemampuan sangat tinggi, namun akhirnya dapat
dikalahkannya. Dengan cermat Kiai Badra telah berusaha untuk mengobati
luka-luka yang parah itu, sementara Iswari hanya dapat menahan
tangisnya oleh kecemasan yang mencengkam.
Ki Gede menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat keadaan
anaknya. Ki Gede pun yakin, bahwa anaknya telah menjadi
sasaran dendam para pengikut atau keluarga Kalamerta.
"Untunglah bahwa kau masih mampu melindungi dirimu
sendiri," berkata ayahnya. Lalu, "Karena itu, maka seharusnya
kau lebih rajin menempa diri, mumpung ayah masih ada.
Meskipun ayah tidak dapat berbuat lebih banyak daripada
memberimu petunjuk-petunjuk, namun akan sangat berarti
bagimu dan bagi ilmumu yang masih harus dikembangkan itu."
Wiradana tidak menjawab. Tetapi ia mengakui, bahwa jarak
ilmunya dengan ayahnya memang masih terlalu jauh. Dalam
keadaan yang demikian Wiradana tidak dapat ingkar, bahwa ia
memang kurang tekun menempa diri. Ia terlalu menggantungkan
diri kepada ayahnya dan pengawalan anak-anak muda Tanah
Perdikan. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
58 SH. Mintardja Atas usaha Kiai Badra yang dibantu oleh Gandar, maka
keadaan Wiradana pun menjadi berangsur baik. Perasaan pedih
pun telah berkurang, sementara luka-lukanya sudah menjadi
pampat. "Beristirahatlah," berkata Kiai Badra, "Semakin banyak kau
beristirahat, maka keadaanmu akan menjadi semakin baik."
"Ya. Tidurlah," berkata ayahnya pula.
Demikianlah, maka Wiradana itu pun kemudian ditinggalkan
di dalam biliknya ditunggui oleh istrinya. Dengan wajah yang
cemas, Iswari berusaha untuk melayani suaminya yang terluka
parah. "Terima kasih," desis Wiradana ketika Iswari membantunya


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

meletakkan semangkuk minuman hangat di bibirnya.
Namun dalam pada itu, ketika Wiradana memandang wajah
istrinya yang redup, diluar kehendaknya sendiri, telah terbayang
wajah penari yang berada di banjar. Penari itu wajahnya berseri
dan memancarkan kejelitaan yang mengagumkan. Dengan rias
yang mantap, maka wajah penari itu menjadi semakin cantik.
Melebihi kecantikan Iswari yang lugu.
Namun Wiradana pun kemudian berusaha untuk mengusir
bayangan yang akan dapat menutupi jalur hubungannya dengan
istrinya yang baru selapan dikawininya, justru atas desakan
ayahnya yang merasa berhutang budi kepada Kiai Badra, dan
yang kini telah berusaha untuk menyelamatkannya pula.
Sementara itu, selagi di rumah Ki Gede terjadi kesibukan yang
mencengkam seisi rumah, maka di banjar Warsi berbaring
menelungkup di pembaringannya. Sampai matahari terbit, pintu
biliknya masih belum terbuka. Adalah diluar kebiasaannya,
bahwa ia masih belum bangun sampai matahari memancarkan
sinar pertamanya. Tetapi Warsi memang tidak sedang tidur. Ketika
pengendangnya mengetuk pintu, maka Warsi pun telah bangkit.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
59 SH. Mintardja Dengan cepat ia mengusap matanya yang basah. Warsi memang
menangis sebagaimana perempuan sering menangis.
Dengan lemah Warsi telah membuka pintu biliknya.
Dilihatnya pengendangnya berdiri termangu-mangu didepan
pintu biliknya. "Kau menangis?" bertanya pengendangnya itu.
Warsi menatap wajah pengendangnya yang disebutnya sebagai
ayahnya itu. Namun ia tidak menjawab sama sekali.
"Kami sudah mendengar berita yang sampai kepada para
pengawal, bahwa Wiradana telah terluka parah," desis
pengendangnya. "Tetapi ia tidak mati. Dan kau tidak
membunuhnya." Adalah diluar dugaan sama sekali, ketika tiba-tiba saja Warsi
telah menampar mulut pengendangnya itu. Meskipun tidak
dengan sekuat tenaganya, namun agaknya sentuhan tangannya
itu telah membuat mulut pengendangnya itu berdarah.
"Warsi," desis salah seorang pengiringnya yang lain. "Apa yang
kau lakukan?" Warsi masih berdiri tegak. Namun kemudian katanya dengan
suara bergetar, "Jangan menghina aku lagi."
Orang yang mulutnya berdarah itu berusaha untuk menjawab
terbata-bata, "Aku tidak bermaksud menghina. Tetapi aku
sekadar memberitahukan kepadamu bahwa Wiradana belum
mati. Mungkin kau mengiranya sudah mati. Tetapi ternyata
belum." Warsi memandang orang itu sejenak. Namun kemudian ia pun
telah menutup pintunya lagi, sehingga para pengiringnya hanya
termangu-mangu saja di muka pintu yang sudah tertutup itu.
"Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi," desis orang yang
mulutnya berdarah itu. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
60 SH. Mintardja "Bersihkan darah itu," berkata kawannya.
Orang itu pun cepat-cepat telah pergi ke sumur untuk
berkumur. Mulutnya memang berdarah dan sebuah giginya
menjadi goyah. "Anak binal," gerutunya. "Aku berbangga bahwa gigiku
termasuk gigi yang baik. Pada umurku sekarang gigiku masih
utuh seluruhnya. Tiba-tiba saja ia sudah menggoyahkan satu
gigiku itu." Dalam pada itu, maka para pengiring Warsi telah menjadi
bingung. Mereka tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada
perempuan itu. Mereka mengenal Warsi sebagai seorang gadis
yang garang. Namun tiba-tiba mereka melihat gadis itu menangis
di dalam biliknya. Selagi mereka kebingungan, maka tiba-tiba Warsi telah
membuka pintunya pula. Perlahan-lahan gadis itu keluar dari
biliknya dan duduk di antara para pengiringnya di serambi.
"Besok kita tinggalkan tempat ini. Kita akan pulang," berkata
Warsi dengan suara yang sendat.
Pengendangnya termangu-mangu. Namun diberanikan dirinya
untuk bertanya, "Jadi bagaimana dengan Wiradana?"
"Aku akan memberikan penjelasan kemudian," berkata Warsi.
"Tetapi kau akan banyak kehilangan waktu," jawab
pengendang itu. Warsi memandang orang yang disebut sebagai ayahnya dalam
rombongan pengamen itu. Sorot matanya tiba-tiba saja bagaikan
menyala. Karena itu, maka pengendangnya itu pun telah
menundukkan kepalanya tanpa berani mendesak Warsi untuk
menjawab pertanyaannya. Dengan berbagai pertanyaan didalam hatinya, maka sore itu,
rombongan pengamen itu masih kebar di halaman banjar.
Mereka masih melakukan kegiatan sebagaimana yang dilakukan
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
61 SH. Mintardja sebelumnya. Warsi masih nampak cantik dan menari dengan
baik. Tidak seorang pun yang melihat kemuraman di wajahnya
yang sayu. Riasnya yang mantap berhasil menyembunyikan
kegetiran didalam dadanya.
Malam itu, tidak seorang pun yang menduga, bahwa
rombongan itu akan begitu cepat meninggalkan Tanah Perdikan
Sembojan. Pagi-pagi benar, pengendang yang menjadi pemimpin
rombongan itu telah menghubungi bebahu Tanah Perdikan yang
diserahi untuk mengurus banjar Padukuhan Induk itu.
"Kalian akan pergi?" bertanya bebahu itu.
"Kami sudah terlalu lama disini. Penghuni Tanah Perdikan ini
sudah menjadi jemu dan tidak lagi menaruh minat terhadap
pertunjukkan kami," jawab pengendang itu.
"Ah, tentu tidak. Bukankah hampir tiap malam kalian
mendapat panggilan dari rumah-rumah berhalaman luas di
Tanah Perdikan Sembojan ini," bertanya bebahu itu.
"Dasarnya bukan karena mereka ingin menonton pertunjukan
kami. Tetapi mereka hanya sekadar kasihan saja," jawab
pengendangnya. "Baiklah jika kalian memang sudah berketetapan untuk
meneruskan perjalanan kalian. Tetapi apakah kalian tidak akan
minta diri kepada Ki Wiradana" Bukankah pada saat kalian
datang, Ki Wiradana lah yang telah memberikan ijin meskipun
tidak langsung" Dan bukankah Ki Wiradana telah pernah
mengunjungi kalian di banjar itu pula?" bertanya bebahu itu.
Pengendang itu termangu-mangu. Ia ragu-ragu untuk
menjawab. Tetapi akhirnya ia berkata, "Bukankah Ki Wiradana
sedang sakit" Kami tidak pantas untuk mengganggunya. Dan
agaknya kami tidak cukup pantas untuk mohon diri langsung
kepadanya, apalagi kepada Ki Gede."
"Kenapa?" bertanya bebahu itu.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
62 SH. Mintardja "Kami hanyalah serombongan pengembara yang tidak berarti
apa-apa," jawab pengendang itu.
Demikianlah, maka pada hari itu juga, rombongan penari itu
meninggalkan banjar Padukuhan Induk Tanah Perdikan
Sembojan. Mereka mengucapkan terima kasih kepada tetangga-
tetangga yang tinggal di sekitar banjar dengan sebuah
pertunjukan. Pertunjukan yang berbeda dengan yang pernah
mereka lihat, karena Warsi menari di pagi hari.
Meskipun demikian, penari itu masih tetap seorang penari
yang cantik di mata para penontonnya.
Demikian rombongan itu keluar dari Tanah Perdikan
Sembojan, maka Warsi pun tidak lagi merupakan penari yang
luruh dan lembut. Ketika seorang bertubuh gemuk menghentikan
rombongan itu di sudut sebuah padukuhan diluar Tanah
Perdikan Sembojan, maka dengan senyum yang menghias
dibibirnya Warsi bertanya, "Apa yang kau kehendaki Ki Sanak?"
"Janggrung," jawab orang gemuk itu, "He, berapa aku harus
bayar." "Kau sendiri yang akan mengibingnya?" bertanya Warsi sambil
mendekati laki-laki itu. "Sebentar lagi tentu datang orang banyak. Mereka tentu akan
bersedia ikut menari bersama," jawab orang gemuk itu.
Ketika Warsi menggamit lengan orang itu, maka rasa-rasanya
seluruh tubuh orang gemuk itu meremang. Katanya, "Aku akan
membayar berapa saja kau minta."
"Apakah kau mempunyai uang sebanyak itu?" bertanya Warsi.
"Sebanyak itu berapa?" bertanya laki-laki gemuk itu, "Aku
adalah orang yang sangat kaya."
"Lihat, mana uangmu?" bertanya Warsi.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
63 SH. Mintardja Orang bertubuh gemuk itu telah membuka kantong ikat
pinggangnya yang besar. Dari dalamnya ia mengeluarkan
beberapa keping uang dan melemparkannya ke tangan Warsi.
Katanya, "Nah, cepat menarilah dalam irama yang panas. Aku
akan menari bersamamu, mencium pipimu dan membawamu
pulang." "He," desis Warsi. "Apa kata istrimu?"
"Ada tiga orang istri di rumah. Mereka akan bungkam. Aku
akan mencekik siapa saja di antara mereka yang berani
mempertanyakan kehadiranmu," jawab orang bertubuh gemuk
itu. "O, begitulah tanggapanmu atas seorang perempuan," geram
Warsi. "Kau sangka perempuan tidak mampu mencekikmu
sampai mati." Pertanyaan itu memang mengejutkan. Tetapi cepat-cepat
pengendangnya telah menggamitnya sambil berbisik, "Kita belum
terlalu jauh dari Tanah Perdikan Sembojan. Jika kau sakiti laki-
laki itu, maka akan terbetik berita, seorang penari cantik yang
pernah tinggal di Sembojan, ternyata seorang perempuan yang
garang. Bukankah dengan demikian kesan orang-orang Sembojan
terhadapmu akan berubah" Apalagi jika pada satu saat kau ingin
kembali ke Sembojan dengan cara yang sama ini."
Warsi menarik nafas dalam-dalam. Bahkan ia pun kemudian
menyadari apa yang pernah dilakukan terhadap Wiradana,
meskipun ia telah menyembunyikan wajahnya. Wiradana akan
dapat menghubungkan peristiwa itu dengan tingkah lakunya,
seandainya orang-orang padukuhan itu memperkatakannya
kelak. Sambung bersambung maka akhirnya orang-orang
Sembojan akan mendengarnya juga.
Karena itu, tiba-tiba wajah Warsi pun telah tersenyum manis.
Sekali lagi ia menggamit laki-laki itu. Tetapi katanya kemudian,
"Aku lelah sekali Ki Sanak. Hari ini aku tidak akan menari."
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
64 SH. Mintardja "Kau gila he" Kau menolak uangku yang sekian banyaknya
itu?" teriak laki-laki gemuk itu.
"Bukan begitu Ki Sanak. Aku benar-benar letih hari ini. Aku
baru saja berjalan jauh dalam terik matahari," jawab Warsi. "Aku
ingin istirahat dahulu. Nanti malam aku akan menari. Bukankah
menari di malam hari lebih nikmat rasanya daripada di siang
hari. Apalagi untuk menari bersama seorang laki-laki tampan
seperti kau ini," di luar dugaan Warsi telah mencubit paha laki-
laki itu. Namun laki-laki itu bagaikan menjadi gila. Hampir saja laki-
laki itu menerkam Warsi. Tetapi pengendangnya dengan cepat
menahannya sambil berkata, "Jangan kau sentuh istriku."
"Istrimu?" mata orang gemuk itu terbelalak. "Ia masih terlalu
muda. Sepantasnya ia adalah anakmu."
"Ia istriku yang muda. Aku mempunyai tujuh orang istri.
Kecuali jika kau dapat mengalahkan aku," jawab tukang gendang
itu. "He," wajah orang gemuk itu menjadi cerah. "Kau menantang
aku berkelahi untuk mendapatkan perempuan cantik itu?"
"Ya. Berkelahi dengan jujur," jawab tukang gendang itu.
Orang gemuk itu tertawa. Katanya, "Bagus. Kita akan
berkelahi dengan jujur."
Dalam pada itu, keributan itu justru telah mengundang banyak
orang yang kemudian mengerumuninya. Mereka saling bertanya,
apa yang sudah terjadi. Akhirnya orang-orang yang berkerumun itu mengetahui,
bahwa orang bertubuh gemuk itu akan berkelahi melawan tukang
gendang dari serombongan tukang ngamen untuk
memperebutkan penari yang cantik dari rombongan itu.
"Jika kerbau itu menang, ia akan dapat membawa penari itu
pulang. Mungkin untuk semalam. Mungkin untuk waktu yang
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
65 SH. Mintardja tidak disebut. Aku tidak jelas, bagaimana bunyi perjanjiannya,"
desis seseorang yang mencoba menjelaskan kepada kawannya.
"Tetapi ia adalah orang yang sangat berbahaya," jawab orang
yang lain. "Mudah-mudahan ia membentur batu kali ini.
Kegemarannya mengganggu perempuan-perempuan yang cantik
bahkan tidak cantik pun sangat meresahkan tetangga-tetangga
kita." "Sayang, ia adalah seorang yang memiliki kemampuan yang
tidak terkalahkan di padukuhan ini, sehingga ia dapat berbuat
apa saja," berkata orang yang pertama.
Namun dalam pada itu, orang-orang yang semakin banyak
berkerumunan di sudut padukuhan itu pun telah menebar dan
tanpa diminta membuat suatu lingkaran.
Namun kebanyakan dari mereka menjadi cemas melihat
perkelahian yang akan terjadi. Pengendang yang menyebut
dirinya suaminya penari yang telah diganggu oleh orang gemuk
itu bertubuh kecil meskipun agak tinggi. Umurnya sudah lebih
tua dari calon lawannya. Namun bagi beberapa orang yang
sempat melihat matanya, hatinya menjadi berdebar-debar. Mata
orang itu demikian tajamnya memandang sasarannya bagaikan
tajamnya mata burung hantu.
Sejenak kemudian kedua orang itu sudah berhadapan di
arena. Warsi sendiri nampak acuh tak acuh saja. Ia duduk di
antara para pengiringnya yang lain. Sekali-kali ia mengerling ke
arah orang bertubuh gemuk itu. Jika orang itu kebetulan


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memandanginya, maka Warsi pun tersenyum menggoda.
"Gila," geram orang gemuk yang benar-benar telah menjadi
gila itu. "Nah," berkata tukang gendang itu," Apakah kau ingin
meneruskan niatmu. Jika kau menang, bawa istriku ke rumahmu
sampai kapan kau kehendaki. Tetapi jika kau kalah, maka kau
akan membayar rombongan ini sebagai-mana kau meminta kami
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
66 SH. Mintardja bermain. Kau telah memberikan uang kepada istriku. Tetapi
untuk sekali bermain, kami memerlukan sepuluh kali lipat."
"Gila," orang itu berteriak, "Kalian memang gila. Ayo, majulah.
Aku akan merampas isterimu dengan kekerasan."
Pengendang yang bertubuh kecil tetapi agak tinggi itu pun
melangkah maju. Tubuhnya yang kecil dan umurnya yang lebih
tua dari orang gemuk itu sama sekali tidak memberikan harapan
apa-apa kepadanya untuk dapat memenangkan perkelahian itu.
Sementara itu, salah seorang pengiring Warsi berkata,
"Bukankah benar-benar orang itu harus menakut-nakuti
penonton yang ugal-ugalan."
Kawannya mengangguk, sementara Warsi berpaling
kepadanya sambil berkata, "Jika gagal, apaboleh buat. Aku
sendiri akan memilin leher laki-laki gila itu."
"Kau memancing persoalan," desis salah seorang pengiringnya
yang lain. "Kenapa?" bertanya Warsi
"Kau tersenyum kepadanya, bahkan kau menyentuh tubuhnya.
Karena itu ia menjadi gila," jawab pengiringnya.
Warsi tersenyum. Katanya, "Aku memang ingin
menghilangkan kejemuanku. Aku sangat mengalami tekanan
batin di Tanah Perdikan Sembojan karena aku tidak dapat
membunuh Wiradana. Aku ingin sekadar melepaskan kerisauan
itu. Dengan permainan ini, maka aku akan merasa sedikit
terhibur." Pengiringnya mengumpat di dalam hati. Warsi memang
seorang perempuan yang berhati seruncing garangan pering
wulung. Dalam pada itu dua orang laki-laki telah berhadapan di arena
perkelahian dengan taruhan yang aneh. Seorang penari yang
sangat cantik. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
67 SH. Mintardja Orang-orang yang mengerumuni arena itu menjadi berdebar-
debar ketika laki-laki gemuk itu melangkah maju sambil berkata
lantang, "Aku patahkan pinggangmu yang kurus itu."
Bagi orang-orang padukuhan itu, orang yang gemuk itu adalah
orang yang tidak terkalahkan. Karena itu, maka sebagian dari
mereka merasa sangat kasihan kepada orang yang bertubuh
tinggi kekurus-kurusan itu yang harus berkelahi untuk
mempertahankan istrinya. Dalam pada itu, orang yang bertubuh gemuk itu berjalan saja
maju seperti seekor kerbau tanpa menghiraukan apakah
lawannya akan memukulnya. Dengan langkah tetap dan dada
tengadah ia melangkah. Tangannyalah yang mengepal dan
kemudian telah siap untuk memukul lawannya.
Cara itu adalah cara yang tidak dimengerti oleh orang
bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu.
NAMUN ketika tangan itu benar-benar terayun, maka orang
bertubuh tinggi itu telah bergeser sambil memutar tubuhnya.
Gerak yang sederhana itu telah menimbulkan keheranan
bagi orang-orang yang menyaksikannya. Tangan orang
bertubuh gemuk itu terayun
dengan derasnya. Namun sama
sekali tidak menyentuh sasaran.
Karena itu ia justru terseret
oleh ayunan tangannya sendiri
dan bahkan terhuyung-huyung
beberapa langkah. Hampir saja
ia kehilangan keseimbangan.
Namun akhirnya ia berhasil
berdiri tegak. Wajah orang itu menjadi merah menyala. Dipandanginya
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
68 SH. Mintardja tukang gendang yang bertubuh tinggi itu. Dengan kemarahan
yang menghentak didadanya ia berkata, "Anak setan. Aku
ternyata telah salah menilai kau orang kurus. Aku kira kau adalah
pengamen yang tidak berharga sama sekali. Namun agaknya kau
memiliki sedikit kemampuan dalam olah kanuragan. Jika
demikian, maka aku pun akan mempergunakan cara yang lain
untuk menghadapimu."
Tukang gendang itu tidak menjawab. Tetapi ia menjadi tegang.
Namun sementara itu Warsi masih duduk saja di antara para
pengiringnya yang lain tanpa menunjukkan kesan apapun juga.
Bahkan ia masih saja tersenyum meskipun ia berusaha untuk
menyembunyikannya. "Apa katamu tentang orang itu?" bertanya salah seorang
pengiringnya. "Tidak apa-apa. Tidak lebih dari seekor kerbau dungu." Jawab
Warsi. Pengiringnya hanya mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak
bertanya lagi. Dalam pada itu, orang yang bertubuh gemuk, yang gagal
merontokkan iga tukang gendang itu telah bersikap. Benar-benar
sikap seorang yang memiliki ilmu kanuragan.
"Aku akan bersungguh-sungguh sekarang," berkata orang
gemuk itu. "Aku tidak lagi menganggap kau sekadar seorang
pengamen yang bodoh. Tetapi kita akan berkelahi dengan ilmu."
Tukang gendang itu sama sekali tidak menjawab. Namun
demikian ia sudah bersedia menghadapi segala kemungkinan.
Demikianlah, maka sejenak kemudian orang bertubuh gemuk
itu benar-benar telah menyerang. Ia tidak sekadar berjalan
mendekati lalu memukul dengan sekuat tenaganya. Tetapi ia
benar-benar telah mempergunakan kemampuannya dalam olah
kanuragan. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
69 SH. Mintardja Serangan-serangannya kemudian menjadi lebih mapan dan
bersungguh-sungguh. Ketika tangannya menyerang mengarah
dada, namun dihindari, maka tiba-tiba saja tangan itu telah
berubah arah dengan serangan mendatar.
Untunglah lawannya bergerak cukup cepat. Sambil
merendahkan diri, maka kakinya telah terjulur mematuk
lambung. Namun orang bertubuh gemuk itu masih sempat
meloncat surut, sehingga kaki itu tidak mengenai sasarannya.
Orang bertubuh gemuk itu mengumpat. Ia menjadi semakin
yakin bahwa lawannya memang memiliki kemampuan dalam
olah kanuragan. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin
berhati-hati. Namun justru dengan demikian serangan-
serangannya menjadi semakin mapan.
"Pantas jika orang ini nampaknya mempunyai pengaruh yang
sangat besar di padukuhannya," berkata orang yang tinggi
kekurus-kurusan itu di dalam hati. Namun sementara itu, ia
masih harus berloncatan menghindar dan sekali-kali menyerang.
Dalam pada itu orang yang bertubuh gemuk yang menjadi gila
melihat kecantikan Warsi itu benar-benar tidak lagi berusaha
untuk mengendalikan diri. Ketika ia sadar, bahwa lawannya
memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kecepatan
gerakannya, maka orang itu pun telah mengerahkan segenap
kemampuan dan kekuatannya. Ia ingin segera menyelesaikan
perkelahian yang gila itu dan membawa Warsi pulang ke rumah
tanpa menghiraukan ketiga istrinya yang tinggal di rumahnya
pula. Namun orang bertubuh gemuk itu sama sekali tidak
menyangka, bahwa yang dilawannya itu adalah salah seorang dari
pengikut Kalamerta. Satu gerombolan yang sangat ditakuti.
Bukan saja saat Kalamerta masih hidup. Tetapi sepeninggal
Kalamerta gerombolan itu masih tetap garang.
Karena itu dalam perkelahian selanjutnya, orang bertubuh
gemuk itu merasa heran, bahwa ia tidak segera dapat mengakhiri
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
70 SH. Mintardja pertempuran itu. Bahkan orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan
itu rasa-rasanya telah bergerak semakin lama menjadi semakin
cepat. Sambil mengumpat orang bertubuh gemuk itu telah
menghentakkan segenap kemampuannya. Ia ingin dengan cepat
menghancurkan tulang-tulang orang bertubuh kurus itu.
Tetapi ternyata bahwa usahanya sama sekali tidak berhasil.
Orang bertubuh kurus itu ternyata mampu bergerak dengan
kecepatan yang tidak diduga dan mampu mengimbangi kekuatan
yang diandalkannya. "Anak setan," geram orang bertubuh gemuk itu.
Namun tiba-tiba saja ia justru menyeringai menahan sakit
ketika kaki lawannya telah mengenai perutnya. Sehingga
perutnya yang besar itu terasa mual.
Tetapi serangan lawannya tidak terhenti. Tiba-tiba pula,
tangan orang bertubuh tinggi kurus itu telah menerkam
keningnya. Namun orang yang bertubuh gemuk itu masih sempat
mengelak, sehingga tangan orang bertubuh tinggi kekurus-
kurusan itu tidak menyentuhnya sama sekali.
Tetapi adalah diluar dugaan, bahwa tiba-tiba saja orang
bertubuh kurus itu telah menjatuhkan dirinya. Dengan kakinya ia
menyapu lawannya dengan sekuat tenaganya.
Satu serangan yang semula tidak terpikirkan oleh orang
bertubuh gemuk itu. Karena itu, maka serangan itu benar-benar
mengejutkan sehingga ia tidak sempat lagi untuk mengelak.
Ternyata sapuan yang keras itu telah menumbuhkan akibat
yang gawat bagi orang bertubuh gemuk itu. Demikian kerasnya
sapuan orang bertubuh tinggi itu, sehingga orang bertubuh
gemuk itu pun tidak mampu lagi bertahan. Kedua kakinya
bagaikan dihempas ke samping pada pergelangan kaki itu,
sehingga tiba-tiba saja orang itu sudah terbanting jatuh ke tanah.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
71 SH. Mintardja Tetapi orang bertubuh gemuk itu tidak menyerah. Dengan
cepat ia berguling menjauh dan kemudian meskipun tubuhnya
gemuk, namun ia mampu dengan tangkas meloncat diri.
Demikian ia tegak, maka lawannya sudah siap menyerangnya.
Tetapi karena orang bertubuh gemuk itu sudah bersiaga
sepenuhnya, maka serangan itu pun dibatalkan.
Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin
seru. Orang-orang yang menonton perkelahian itu di seputar
arena menjadi heran, bahwa orang bertubuh kecil kurus
meskipun tinggi, mampu menghadapi orang yang bertubuh
gemuk itu. Bahkan orang itu nampaknya umurnya sudah jauh
lebih tua dari orang yang bertubuh gemuk itu.
Namun ternyata mereka melihat satu kenyataan, bahwa kedua
orang yang bertempur itu nampak seimbang.
Dalam pada itu Warsi mulai menaruh perhatian atas
pertempuran itu. Tetapi tidak lama. Sejenak kemudian ia
berdesis, "Orang gemuk itu dapat cepat diselesaikan. Aku sudah
jemu. Tidak banyak kesulitan akan dihadapi, jika perlu
membunuhnya sama sekali."
"Kenapa dibunuh?" bertanya pengiringnya.
"Ia sudah menghina aku," jawab Warsi.
Pengiringnya itu mengerutkan keningnya. Tetapi hampir
diluar sadarnya ia berkata, "Ia hanya menghina. Sedangkan
Wiradana tidak juga kau bunuh meskipun ayahnya telah
membunuh pamanmu." Orang itu hampir saja menjerit kesakitan. Tidak ada orang
yang melihat ketika Warsi menginjak ibu jari pengiringnya itu.
"Warsi," wajah orang itu menjadi pucat. Sementara keringat
telah mengalir dari lubang-lubang dikulitnya karena menahan
sakit. Rasa-rasanya ibu jarinya itu telah diremukkan oleh injakan
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
72 SH. Mintardja kaki Warsi. Terasa tekanan kaki Warsi itu bagaikan ditindih
segumpal tanah. "Katakan sekali lagi," desis Warsi.
"Tidak. Aku tidak sengaja mengatakan," minta orang itu.
"Lepaskan. Nanti kakiku kau remukkan dan aku tidak dapat
mengikutimu melanjutkan perjalanan kembali."
"Lain kali mulutmu jangan lancang he" Untung disini banyak
orang sehingga aku hanya menginjak kakimu. Jika disini tidak
ada orang, maka aku sudah mengoyak mulutmu yang tajam itu,"
geram Warsi. "Jangan. Aku minta maaf. Kalimat-kalimat itu rasa-rasanya
meluncur begitu saja tidak terkendali," jawab orang itu.
Perlahan-lahan Warsi melepaskan jari pengiringnya yang
hampir menangis meskipun ia sudah bukan kanak-kanak lagi.
Kawan-kawan semula tidak tahu apa yang telah terjadi.
Mereka hanya melihat salah seorang di antara mereka menjadi
kesakitan. Namun akhirnya mereka pun tahu, bahwa Warsi telah
menginjak ibu jari kaki orang itu.
Sambil menyeringai orang itu meraba ibu jari kakinya. Sambil
mengelus jari kakinya itu ia berkata di dalam hatinya, "Betapa
cantiknya Warsi, aku tidak akan mampu menjadi suaminya.
Setiap hari tubuhku akan disakitinya."
Dalam pada itu, maka pertempuran antara orang yang gemuk
dan pengendang yang mengaku suami Warsi itu masih
berlangsung. Namun keseimbangannya mulai nampak
terguncang. Pengendang itu ternyata mampu bergerak terlalu
cepat bagi lawannya yang gemuk, sehingga serangan-serangan
yang tangkas mampu menembus pertahanan lawannya.
Semakin lama maka serangan tukang gendang itu menjadi
semakin banyak yang berhasil. Beberapa kali kakinya telah
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
73 SH. Mintardja

Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengenai lambung dan beberapa kali tangannya berhasil
mengenai dada dan bahkan kening.
Karena itu, maka rasa-rasanya perut orang bertubuh gemuk
itu menjadi semakin mual dan kepalanya menjadi pening.
Demikianlah perlahan-lahan pengendang itu pun berhasil
mendesak lawannya. Ketika kakinya menyerang mendatar, maka
orang bertubuh gemuk itu masih berusaha menghindar. Namun
kaki itu pun segera berputar, bertumpu pada kaki yang lain.
Dengan cepat maka serangannya berganti. Kaki yang lainlah
kemudian terangkat demikian kaki yang pertama menyentuh
tanah. Orang bertubuh gemuk itu terkejut. Serangan beruntun yang
begitu cepat tidak sempat dihindarinya, sehingga karena itu,
maka gerakan kaki itu pun telah berhasil menghantam tubuhnya.
Meskipun ia berusaha melindungi lambungnya dengan sikutnya,
namun serangan itu datang demikian kerasnya sehingga orang
bertubuh gemuk itu telah terlempar jatuh.
Dengan serta merta ia masih mencoba untuk berdiri. Tetapi ia
tidak mempunyai kesempatan. Lawannya yang tinggi kekurus-
kurusan itu telah memburunya dan dengan sekuat tenaganya,
maka orang itu telah menyerang dengan cepatnya, langsung
mengarah ke dada dengan kepalan tangannya.
Orang bertubuh gemuk itu baru berusaha untuk tegak itu
tidak sempat mengelak sama sekali. Terasa dadanya bagaikan
tertimpa sebongkah batu padas. Nafasnya menjadi sesak dan
rasa-rasanya darahnya pun telah terhenti mengalir.
Orang bertubuh gemuk itu tidak berhasil bertahan untuk tetap
tegak. Ia pun telah terdorong beberapa langkah surut. Namun
kemudian tubuh yang gemuk itu pun telah terguling jatuh di
tanah. Tukang gendang itu meloncat mundur. Tetapi ketika ia
melihat bahwa orang bertubuh gemuk itu tidak bangkit lagi,
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
74 SH. Mintardja maka ia pun menarik nafas dalam-dalam. Dengan kaki renggang
tukang gendang itu berdiri di sisi tubuh yang terbaring diam itu.
"Bangun," geram tukang gendang itu.
Orang bertubuh gemuk itu berdesis menahan sakit
dirubahnya. Dadanya bagaikan pecah dan nafasnya serasa
tersumbat. "Cepat bangun. Kita masih mempunyai waktu. Jika kau
memang menghendaki kita akan dapat berperang tanding sampai
salah seorang di antara kita mati," tantang tukang gendang itu.
"Tidak, jangan," desis orang bertubuh gemuk itu dengan nafas
terengah-engah, "Aku mengaku kalah. Aku minta ampun."
"Kita tidak berkelahi untuk saling mengampuni. Kita sedang
bertaruh. Jika kau mengaku kalah, maka kau harus membayar
taruhan itu. Jika aku yang kalah, aku pun tidak akan ingkar,"
berkata tukang gendang itu.
"Ya. Ya. Aku akan membayar taruhan itu. Aku akan membayar
berapa saja kau minta," jawab orang bertubuh gemuk itu.
Orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu pun kemudian
berkata sambil melangkah surut, "Bangkitlah. Kita akan pergi ke
rumahmu. Istriku akan ikut pula. Tetapi tidak untuk memenuhi
keinginanmu, tetapi untuk mengambil uang taruhan itu."
"Baik, baik. Ambillah ke rumahku," jawab orang bertubuh
gemuk itu. Orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu menahan
nafas dalam-dalam. Seorang yang bertubuh pendek berdesis
kepada kawannya yang berdiri disebelahnya, "Orang itu sekali-
sekali memang harus mendapat peringatan."
"Kenapa orang itu tidak dibunuhnya saja," geram yang lain.
"Ah, rombongan pengamen itu tentu tidak akan membuat
keributan yang menyeretnya dalam persoalan yang lebih gawat.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
75 SH. Mintardja Apalagi dengan cara itu, ia telah memenangkan taruhan yang
mungkin akan sangat berharga bagi mereka."
Kawannya mengangguk-angguk. Namun ia tidak menjawab.
Demikianlah, maka orang bertubuh gemuk itu pun dengan
susah payah telah berusaha untuk bangkit. Seluruh tubuhnya
terasa menjadi memar dan pedih. Wajahnya nampak bengap dan
bernoda biru di beberapa tempat.
Dengan susah payah pula ia pun kemudian berdiri. Sambil
menarik nafas dalam-dalam dicobanya menggerakkan tangannya.
Namun ia pun berdesah kesakitan.
"Kau tidak akan dapat ingkar. Aku mempunyai banyak saksi
dalam taruhan ini," berkata tukang gendang itu.
"Aku tidak akan ingkar. Aku akan membayar sepuluh kali lipat
dari uang yang sudah aku berikan kepada istrimu itu," orang itu
berusaha memperbaiki pernafasannya yang tersendat. Namun
tiba-tiba ia berkata, "Bagaimana jika aku membayar duapuluh
kali lipat?" "Kenapa duapuluh kali lipat?" bertanya tukang gendang itu.
"Dengan membayar duapuluh kali lipat, maka kau
menganggap akulah yang menang," jawab orang bertubuh gemuk
itu. "Apa artinya?" bertanya lawannya yang tinggi.
"Aku bawa istrimu pulang," jawab orang gemuk itu.
"Gila," tiba-tiba saja orang yang bertubuh tinggi kekurus-
kurusan itu telah menangkap rambut orang bertubuh gemuk itu
setelah ikat kepalanya terlempar, "Katakan sekali lagi."
"Tidak. Ampun. Jangan sakiti aku lagi," minta orang yang
gemuk itu. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
76 SH. Mintardja Orang yang berada di sekitar arena itu menggeleng-gelengkan
kepalanya. Dalam keadaan yang parah itu ia masih mengigau
tentang perempuan cantik.
Para pengiring Warsi pun memandang ke arahnya. Nampak
keningnya berkerut. Tetapi Warsi tidak berbuat apa-apa.
Bahkan Warsi pun kemudian berdiri dan berjalan mendekati
orang yang gemuk itu. Dengan senyum dibibirnya ia berkata,
"Maaf Ki Sanak. Suamiku memang bertabiat seperti itu. Ia terlalu
garang dan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada orang
lain untuk membawa istrinya."
"Bukankah itu wajar," bentak pengendangnya.
Warsi mengerutkan keningnya. Dipandanginya
pengendangnya itu dengan sorot mata yang menyala. Namun
hanya sekejap. Tetapi yang sekejap itu telah membuat
pengendangnya itu memalingkan pandangan matanya.
Namun ia pun segera mengalihkan perhatian orang-orang
yang ada di sekitarnya kepada yang gemuk itu, "Mari. Kita akan
pergi ke rumahmu sekarang."
----------oOo---------- Bersambung ke Jilid 3. Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai kasih
http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm
Terima kasih kepada Nyi DewiKZ
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
77 SH. Mintardja Jilid Ketiga Cetakan Pertama Naskah ini disusun untuk kalangan sendiri:
Bagi sanak-kadang yang berkumpul / cangkrukan di
"Padepokan" pelangisingosari atau di
http://pelangisingosari.wordpress.com.
Keberadaan naskah ini tentu melalui proses yang
panjang, mulai scanning, retype " editing dan
layouting sehingga menjadi bentuknya seperti
sekarang ini. Admin mempersilahkan mengunduh naskah ini
secara gratis dengan harapan buku yang mulai langka
ini dapat dibaca oleh sanak kadang di seluruh
Nusantara bahkan di seluruh dunia (WNI yang ada di
seuruh dunia). Untuk menghargai jerih payah beliau-beliau yang
telah bekerja dengan ikhlas demi menghadirkan buku
ini, maka dilarang menggunakan untuk tujuan
komersiil bagi naskah ini.
satpampelangi Koleksi: Ki Arema dan Ki Truno Prenjak
Scanning: Satpampelangi dan Ki Truno Prenjak
Retype: Nyi Dewi KZ di Web http://kangzusi.com/SH_Mintard
ja.htm Edit ulang: Ki Arema Lay-out: Satpampelangi Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
78 SH. Mintardja Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
79 SH. Mintardja ORANG GEMUK itu mengangguk-angguk.
Kemudian dengan tubuh yang bagaikan remuk ia berjalan
diikuti oleh rombongan pengamen menyusuri jalan
padukuhan. Sementara itu pengendang itu masih juga
berkata kepada orang-orang yang berkerumun, "Maaf Ki
Sanak. Kali ini kami telah menghidangkan tontonan yang
lain." Adalah diluar dugaan, bahwa kata-kata itu mendapat
sambutan serta merta. Beberapa orang telah bersorak
karenanya. Namun ketika orang yang bertubuh gemuk itu berhenti
dan berpaling ke arah orang-orang yang bersorak itu, maka
tiba-tiba pula suara tertawa itu pun terhenti. Orang-orang
itu telah terdiam sambil menyembunyikan wajah mereka.
"He, kenapa kalian diam?" bertanya orang yang bertubuh
kekurus-kurusan itu. Tidak ada jawaban. Orang kurus itu bertanya pula, "Agaknya kalian menjadi
ketakutan jika orang yang gemuk ini tahu, siapa saja di
antara kalian yang mentertawakannya. Tetapi jangan takut.
Pada saat-saat lain aku tentu akan lewat di padukuhan ini.
Jika aku mendengar bahwa orang gemuk ini bertindak
sewenang-wenang atas kalian, maka aku tidak akan segan
membunuhnya." Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi tidak ada di
antara mereka yang menjawab.
Demikianlah sejenak kemudian maka orang-orang itu
pun telah meninggalkan sudut padukuhan mereka. Orang
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
80 SH. Mintardja yang bertubuh gemuk itu diikuti oleh sebuah iring-iringan
kembali untuk mengambil uang yang dipertaruhkan dalam
perkelahian itu. Sebagaimana dikatakan, Warsi sendiri menganggap
peristiwa itu sebagai pengisi kejemuannya setelah ia berada
di Tanah Perdikan Sembojan beberapa hari. Dengan
demikian ia sudah berhasil mengurangi ketegangan yang
terjadi didalam jiwanya atas peristiwa yang dialaminya di
Tanah Perdikan Sembojan itu. Dengan melihat orang lain
kesakitan dan menderita, maka rasa-rasanya ia telah
mendapat kawan, sehingga bukan hanya dirinya sendiri
sajalah yang mengalami kepahitan perasaan. Meskipun
yang terasa sakit pada orang itu tubuhnya, bukan hatinya
seperti yang dialami oleh Warsi.
Apalagi ternyata dengan tingkah laku orang yang gemuk
itu, rombongan itu pun telah mendapat bekal yang cukup
banyak. Agaknya orang gemuk itu merasa puas, meskipun ia
tidak berhasil membawa Warsi pulang sebagaimana
taruhan, tetapi Warsi benar-benar telah mau datang ke
rumahnya. Bahkan malam itu Warsi dan rombongannya
telah bermalam di rumahnya pula atas kehendak
rombongan itu sendiri. Warsi memang sering melakukan sesuatu yang sulit
dimengerti. Menjelang senja, tiba-tiba saja ia berkata
kepada pengendangnya, "Aku akan menari di halaman
rumah orang gila ini."
"UNTUK apa?" bertanya pengendang.
"Aku ingin menari. Itu saja," jawab Warsi.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
81 SH. Mintardja Pengendangnya menarik nafas dalam-dalam. Namun ia
pun kemudian mempersilakan orang-orangnya untuk kebar
sore itu, sementara Warsi pun telah berhias pula.
"Katakan kepada orang gemuk itu" berkata Warsi kepada
tukang gendang itu. Ketika hal itu dikatakan oleh tukang gendang itu kepada
orang yang bertubuh gemuk itu, maka kegembiraan yang
tidak terkira terbersit di wajah orang gemuk itu. Dengan
serta merta maka ia pun telah menyiapkan halaman
rumahnya yang akan dipergunakan oleh Warsi untuk
mempertontonkan tarian-tariannya.
Sebenarnyalah bahwa ketika matahari telah tenggelam,
Warsi dan para pengiringnya telah siap di halaman.
Beberapa buah obor telah dipasang. Bukan saja untuk
menerangi arena tempat Warsi akan menari, tetapi di regol
dan di sudut-sudut halaman, telah dipasang pula obor.
"Aku akan menari sampai aku menjadi jemu," berkata
Warsi. "Bukankah kita hanya akan sekadar memperlihatkan diri
kepada orang-orang di sekitar rumah orang gila ini?"
bertanya tukang gendangnya.
"Aku akan menari sampai jemu. Mungkin hanya sebentar
aku sudah menjadi jemu. Tetapi mungkin semalam suntuk,"
jawab Warsi. Tukang gendangnya hanya dapat menarik nafas dalam-
dalam. Segalanya memang tergantung sekali kepada Warsi.
Apapun yang akan dilakukan tidak seorang pun yang akan
dapat mencegahnya meskipun para pengiringnya itu berhak


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
82 SH. Mintardja juga untuk memberinya peringatan. Namun segala
keputusan ada di tangan perempuan yang garang itu.
Ternyata malam itu Warsi benar-benar seperti orang
yang sedang mabuk. Ia menari dengan penuh gairah
meskipun segalanya itu dilakukan atas kehendaknya
sendiri. Ia menari dengan iringan gending-gending yang
panas. Bahkan ia pun kemudian mulai dengan membuka
kesempatan kepada orang-orang padukuhan itu untuk
ngibing. Mula-mula Warsi menyerahkan sampur kepada
orang gemuk yang mempunyai rumah itu untuk ikut menari
bersamanya. Betapa gembiranya orang itu. Rasa-rasanya ia mau
menyerahkan semua kekayaan yang disimpan seluruhnya
kepada Warsi. Apalagi Warsi benar-benar menari dengan
hangatnya. Rasa-rasanya orang gemuk itu tidak mau berhenti.
Betapapun orang lain ingin menggantikannya, tetapi tidak
seorang pun yang berani mengambil sampur itu.
Tetapi ketika orang itu sudah terlalu lama menari, maka
Warsi pun berbisik, tidak dengan kata-kata kasar seperti
biasanya, tetapi dengan lembut, "Ki Sanak. Beristirahatlah.
Aku akan menari semalam suntuk. Berilah kesempatan
kepada orang lain." Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Dengan nada
berat ia menjawab sambil menari, "Aku pun akan menari
semalam suntuk. Apapun yang kau minta, aku akan
memenuhinya." "Jangan," jawab Warsi. "Beri kesempatan kepada
tentangga-tetangga. Bukankah mereka telah datang ke
rumahmu untuk meramaikan malam ini bersamamu."
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
83 SH. Mintardja "Aku tidak peduli dengan mereka," jawab orang gemuk
itu. "Kita akan menari. Bukan hanya semalam. Tetapi
sampai kapanpun kau kehendaki. Rasa-rasanya aku sudah
menjadi gila." Warsi justru tersenyum. Keduanya masih menari dengan
iringan gending yang panas. Sementara itu halaman orang
gemuk itu sudah penuh dengan penonton. Beberapa orang
laki-laki yang berdarah panas hampir tidak sabar menunggu
kesempatan untuk menari bersama tledek yang sangat
cantik itu. Tetapi tidak seorang pun yang berani
menghentikan pemilik rumah yang di padukuhan itu sangat
ditakuti. Dalam pada itu, Warsi sekali lagi berdesis, "Sudahlah.
Kau masih akan banyak mendapat kesempatan. Jika tidak
malam ini, maka besok aku akan menari untukmu
meskipun tidak ada orang lain yang menonton dan tidak
seorang pun yang mengiringi tarian kita."
"O, gila. Gila." orang itu hampir berteriak. Bahkan
dengan serta merta ia meloncat menerkam Warsi. Tetapi
rasa-rasanya warsi itu lenyap menjadi asap, sehingga ia pun
terhuyung-huyung beberapa langkah. Hampir saja ia jatuh
terjerembab. Untunglah bahwa ketangkasannya masih
mampu menolongnya, sehingga ia tidak terjatuh karenanya.
Ketika ia kemudian berpaling ia melihat Warsi masih
menari sambil tersenyum. Sementara itu beberapa orang
serentak telah mentertawakannya meskipun mereka tidak
tahu pasti apa yang terjadi dan mereka pun tidak
mendengar apa yang dikatakan Warsi kepada orang gemuk
itu. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
84 SH. Mintardja Dengan darah yang menjadi semakin mendidih orang
gemuk itu menari semakin bergairah. Bahkan ia tidak lagi
mampu mempertahankan jarak dengan Warsi. Kadang-
kadang orang itu dengan sengaja berusaha untuk
menerkamnya dengan kasar. Tetapi penari yang sangat
cantik itu bagaikan bayang-bayang saja yang tidak dapat
disentuhnya. Dalam pada itu, Warsi sudah mulai menjadi jenuh.
Karena itu maka katanya, "Sudahlah Ki Sanak. Berhentilah.
Aku ingin berganti pasangan. Jika kau tidak mau berhenti,
maka akulah yang akan berhenti sampai sekian."
"Jangan," minta orang gemuk itu.
"Jika demikian, tolong, beri kesempatan orang lain untuk
menikmati kegembiraan malam ini," berkata Warsi sambil
tersenyum cerah. "O. Gila. Aku sungguh-sungguh menjadi gila. Tetapi kau
berjanji untuk memberi kesempatan aku lagi nanti," berkata
orang gemuk itu. "Tentu. Malam masih panjang," jawab Warsi.
"Tetapi apakah kau dapat menari semalam suntuk?"
bertanya orang gemuk itu.
"Tentu saja, aku memerlukan waktu untuk beristirahat
barang sejenak. Tetapi malam ini aku akan menari semalam
suntuk," berkata Warsi.
Orang gemuk itu termangu-mangu. Namun ia pun
kemudian telah menyerahkan sampurnya kembali kepada
Warsi. Dalam pada itu, lebih dari selusin laki-laki telah maju
bersama-sama. Saling mendorong untuk berebut
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
85 SH. Mintardja kesempatan mendapatkan sampur itu. Namun untuk
beberapa saat Warsi masih menari seorang diri sambil
memperhatikan laki-laki yang berdesakan di baris paling
depan. Mereka adalah laki-laki yang merasa diri mereka
gegedug setelah pemilik rumah itu. Mereka merasa bahwa
mereka tidak takut kepada siapapun juga, kecuali kepada
orang gemuk yang baru saja menyelesaikan tari-tariannya
yang kasar. Laki-laki yang sudah menunggu itu menjadi tidak sabar.
Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan tangan
mereka untuk menerima sampur yang masih ada pada
Warsi. Namun dalam pada itu, Warsi telah tertarik oleh seorang
laki-laki muda yang tampan. Dengan gerak yang cekatan ia
menyibak kawan-kawannya dan berdiri bertolak pinggang.
"Kau lihat aku," teriak laki-laki itu.
Sikap orang itu menarik perhatian Warsi. Karena itu,
maka ia pun mendekatinya dan kemudian melemparkan
sampur kepadanya. Laki-laki itu berteriak kegirangan. Dengan serta merta ia
pun turun ke arena. Irama gamelan yang panas membuat
darahnya menjadi panas pula, sehingga sejenak kemudian
maka ia pun telah menari bersama Warsi.
Setiap kali sebagaimana dilakukan oleh orang gemuk
pemilik rumah itu, maka orang itu pun ingin menyentuh
Warsi. Namun setiap kali tangannya bagaikan meraba
angin. Warsi rasa-rasanya memang tidak mungkin untuk
dapat disentuh. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
86 SH. Mintardja Beberapa saat keduanya menari dalam suasana yang
hangat. Namun laki-laki tampan itu ternyata cepat
menjemukan bagi Warsi. Ia terlalu kasar dan sama sekali
tidak mengenal irama. Karena itu, maka gerakannya pun
menjadi liar dan bahkan seakan-akan ia tidak berbuat apa-
apa selain memburu Warsi di tengah-tengah arena.
Orang-orang yang menonton mulai menyorakinya. Tetapi
agaknya orang berwajah tampan itu salah mengerti. Ia
mengira orang-orang bertepuk karena mereka senang
melihat tingkah-lakunya. Namun ternyata bahwa orang-orang yang menontonnya
pun mulai jemu dengan kehadirannya.
Karena itu, maka Warsi kemudian telah minta agar orang
itu menyerahkan kembali sampurnya. Katanya, "Berilah
kesempatan kepada orang lain Ki Sanak."
"Aku belum puas," jawab orang itu. "Aku belum
memelukmu." "Ah, bukankah kali ini kalian tidak sedang
menyelenggarakan janggrung. Kalian sama sekali tidak
mengeluarkan uang sekeping pun. Jika kali ini aku sedang
kebar dan kemudian kita sepakat untuk menyelenggarakan
janggrung, maka aku tidak berkeberatan. Tetapi kali ini aku
menari untuk sekadar mengucapkan terima kasih kepada
pemilik rumah ini yang telah memberi kesempatan kami
bermalam di rumahnya," jawab Warsi.
"Tetapi beri aku kesempatan sejenak lagi," jawab laki-laki
tampan itu. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
87 SH. Mintardja Warsi menjadi jemu. Katanya, "Sudahlah, agar
pemilik rumah itu tidak menjadi marah kepadamu. Apakah kau berani melawannya?" Ancaman itu telah membuat leher orang tampan itu berkerut. Karena
itu, maka ia pun segera menyerahkan sampurnya kembali kepada Warsi. Demikian sampur itu kembali ke tangan Warsi, maka beberapa orang laki-
laki yang lain telah berdesakan lagi. Sekali lagi Warsi
memilih dan sekali lagi Ia menyerahkan sampur kepada
seorang laki-laki. Tetapi ketika mereka mulai menari maka
laki-laki itu pun terasa tidak menarik sama sekali.
Demikianlah terjadi beberapa kali, sehingga akhirnya
Warsi benar-benar menjadi jemu, sementara malam masih
cukup panjang. Baru saja terdengar suara kentongan
ditengah malam. Warsi pun kemudian memberi isyarat kepada para
pengiringnya untuk menghentikan pertunjukan itu. Namun
demikian pertunjukan itu berhenti, Warsi pun dengan
hormat berkata kepada para penontonnya, "Pertunjukan ini
belum berakhir. Aku sudah berjanji untuk menari sepanjang
malam. Dan aku akan memenuhi janjiku, menari sampai
ayam jantan berkokok untuk terakhir kali, atau jika para
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
88 SH. Mintardja penonton sudah menjadi jemu dan meninggalkan
pertunjukan ini. Dalam pada itu, selagi Warsi beristirahat untuk sekadar
minum minuman panas yang disediakan oleh pemilik
rumah itu, maka beberapa penonton pun telah beristirahat
pula. Mereka duduk di bawah pepohonan dan terpencar di
seluruh halaman. Tidak seorang pun, terutama laki-laki
yang meninggalkan halaman itu. Mereka yang belum
memperoleh kesempatan dengan tidak sabar menunggu
untuk dapat menari bersama seorang perempuan cantik.
Sementara yang sudah pun berharap bahwa masih ada
kemungkinan bagi mereka untuk menari sekali lagi.
Sementara itu, beberapa orang dengan heran telah
memuji kemampuan menari tledek yang cantik itu. Bukan
saja keindahan gerak dan kecantikan tubuhnya, tetapi
bahwa penari itu mampu bertahan untuk menari sampai
tengah malam. Bahkan kemudian ia berjanji untuk dapat
menari semalam suntuk. "Aku hampir tidak percaya," berkata seseorang. "Apa lagi
ia menari dalam irama yang panas dan dengan gerak yang
mempesona. Sama sekali tidak nampak keletihan dan
apalagi kehabisan tenaga. Ia masih mampu memanaskan
suasana dengan geraknya dalam iringan yang serasi."
"Tledek yang satu ini memang aneh," jawab yang lain.
Namun mereka tidak sempat membicarakannya lebih
panjang lagi. Sejenak kemudian, Warsi telah kembali berada
di arena, sementara beberapa orang laki-laki telah kembali
berdesakan. Namun yang diberi kesempatan pertama untuk menari
bersamanya adalah orang gemuk pemilik rumah itu.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
89 SH. Mintardja Ternyata bahwa kesempatan kedua ini pun telah
dipergunakan sebaik-baiknya, sehingga keringatnya
bagaikan terperas dari tubuhnya.
Tetapi kemudian Warsi pun menjadi sebagaimana terjadi
sebelumnya. Ia mulai memilih laki-laki yang seperti
menjadi gila menunggu gilirannya. Bahkan yang dilakukan
Warsi kemudian benar-benar telah memancing persoalan.
Warsi sengaja memberi sampur itu kepada seseorang tetapi
kemudian diambilnya lagi dan diberikan kepada orang lain.
Tetapi yang benar-benar telah membuat arena itu menjadi
gaduh, ketika dengan sengaja dan sadar, Warsi meletakkan
sampur itu di atas dua belah tangan dari dua orang laki-laki
yang sedang berdesakan. Kedua orang itu pun kemudian saling berebut sampur
itu. Masing-masing tidak mau mengalah, sehingga akhirnya
keduanya telah berkelahi dengan sengitnya.
Warsi tersenyum melihat perkelahian itu. Beberapa
orang justru menyibak, sementara kedua orang laki-laki itu
telah mengerahkan kekuatan mereka masing-masing.
Dalam pada itu, sampur yang mereka perebutkan itu
justru telah jatuh ditanah. Tanpa menghiraukan
perkelahian itu Warsi telah memungut sampur itu dan
melambaikannya kepada laki-laki lain yang sedang


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kebingungan. Laki-laki itu tertegun melihat sikap Warsi. Tetapi
kemudian justru tersenyum manis. Didekatinya laki-laki itu
dan ditariknya ke tengah arena.
Dalam kebingungan laki-laki itu tidak me-lawan. Bahkan
kemudian Warsi mulai menggerak-gerakkan tangan orang
itu, maka orang itu pun mulai menari. Tetapi sementara itu,
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
90 SH. Mintardja Warsi justru telah melemparkan sampurnya kepada laki-
laki yang lain lagi, yang kemudian turun pula ke arena.
"Minggir kau," teriak laki-laki yang membawa sampur.
Tetapi Warsi masih saja menari berhadapan dengan laki-
laki itu sambil tersenyum cerah. Wajahnya menjadi semakin
cantik dan gerakannya pun menjadi semakin panas.
Karena itu, laki-laki itu tidak mau pergi. Ketika laki-laki
yang membawa sampur itu mendesaknya, maka tiba-tiba
laki-laki itu marah. Tanpa bertanya satu patah kata pun,
laki-laki yang mendesak itu pun telah pula ditinjunya.
Keduanya pun kemudian telah berkelahi pula. Keduanya
tidak mau mengalah dan tidak mau menepi.
Arena itu pun kemudian menjadi kacau. Dua lingkar
perkelahian telah terjadi. Orang-orang yang berusaha
memisah, justru telah terlibat pula. Mereka mulai berpihak
kepada kawannya yang sedang berkelahi itu, sehingga
perkelahian itu pun menjadi semakin kisruh.
Laki-laki gemuk pemilik rumah itu mulai menyadari,
bahwa di halaman rumahnya telah terjadi perkelahian yang
seru. Mereka telah berkelahi dimanapun di halaman itu,
sehingga tanaman yang tumbuh di halaman dan dikebun
telah menjadi rusak karenanya.
Laki-laki gemuk itu menjadi marah. Dengan tangkasnya
ia meloncat ke atas tangga sambil berteriak, "Berhenti,
semuanya berhenti." Tetapi laki-laki gemuk itu tidak sempat berteriak lagi . Ia
sama sekali tidak dapat melawan, ketika tangannya telah
ditarik oleh Warsi sambil tersenyum manis. Bahkan
kemudian sambil mengelus pundaknya Warsi berkata,
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
91 SH. Mintardja "Biarlah terjadi, apa yang sudah terjadi. Biarlah mereka
mendapat hukuman mereka, karena mereka tidak dapat
menahan diri." Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Tetapi ketika
dipandanginya wajah Warsi yang cantik dan senyumnya
yang cerah, maka ia pun tidak dapat berbuat apa-apa.
Seperti kanak-kanak orang itu dibimbing oleh Warsi ke
tangga pendapa dan kemudian mengajaknya untuk duduk
bersama. Sementara itu, para pengiring yang masih saja memukul
gamelan menjadi bingung. Tidak ada lagi yang menari di
halaman. yang ada justru orang-orang yang sedang
berkelahi. Sekali-kali terdengar orang-orang yang
mengaduh kesakitan, umpatan kasar dan perempuan yang
menjerit-jerit. Namun Warsi sama sekali tidak memberikan
isyarat agar gamelan itu berhenti. Bahkan ketika tukang
gendang itu berusaha untuk mendapatkan isyarat dari
Warsi, Warsi sama sekali tidak menghiraukannya.
"Pergilah kepada anak binal itu," geram tukang gendang
kepada salah seorang pengiring, "Tanyakan kepadanya,
apakah gamelan ini sudah boleh berhenti."
Orang itu pun segera berdiri dan mendekati Warsi yang
sedang duduk di tangga pendapa dengan orang gemuk
pemilik rumah itu. Sejenak ia ragu-ragu. Namun ia pun
kemudian bertanya, "Bagaimana pendapatmu tentang
gamelan itu?" Warsi memandang orang itu sejenak, sementara jantung
orang itu pun sudah berdebar. Tetapi tiba-tiba saja Warsi
tersenyum sabil berkata, "Hentikan. Biarlah orang-orang itu
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
92 SH. Mintardja memuaskan hatinya. Setelah wajah mereka menjadi merah
biru, maka mereka tentu akan berhenti dengan sendirinya."
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia pun
dengan tergesa-gesa kembali dan memberitahukan hal itu
kepada tukang gendang. Karena itulah, maka sejenak kemudian suara gamelan itu
pun telah berhenti. Sementara itu hiruk pikuk perkelahian
di halaman itu pun sudah menjadi susut pula. Mereka yang
sudah menjadi babak belur terhuyung-huyung
meninggalkan halaman itu. Sementara yang lain pun mulai
bertanya kepada diri sendiri, "Apa sebenarnya yang telah
terjadi?" Sementara itu, mereka melihat tledek itu duduk di tangga
pendapa dengan pemilik rumah yang gemuk itu. Orang yang
memang ditakuti oleh seisi padukuhan.
"Kita telah dipermainkan oleh perempuan binal itu,"
tiba-tiba seseorang mengeluh.
"Ya. Dan kita bagaikan telah terbius untuk saling
berkelahi," jawab yang lain.
Beberapa orang yang mulai menyadari keadaan pun
berusaha untuk melerai kawan-kawannya yang masih
berkelahi. Bahkan beberapa orang di antara mereka pun
menjadi marah kepada Warsi yang masih saja duduk sambil
tersenyum-senyum. "Kita harus memberinya peringatan, bahwa tingkah
lakunya telah membuat kita marah," berkata salah seorang
di antara laki-laki yang hidungnya berdarah.
"Apa yang akan kita lakukan?" bertanya kawannya.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
93 SH. Mintardja "Kita seret tledek itu ke tengah-tengah halaman. Kita
buat perempuan itu malu sebagaimana kita telah dibuat
olehnya." "Apakah kita akan memukulinya?" bertanya yang lain.
"Tidak. Kita seret perempuan itu dan kita bedaki
wajahnya yang cantik itu dengan lumpur," jawab yang
hidungnya berdarah. "Siapa yang akan melakukannya?" bertanya orang yang
matanya menjadi biru. Ternyata pertanyaan itu telah membingungkan. Tidak
ada orang yang dapat menjawabnya. Bahkan orang yang
matanya menjadi biru itu berkata, "Perempuan itu tentu
akan mendapat perlindungan dari kerbau dungu yang
tergila-gila kepadanya itu. Sementara itu, kita telah
melihatnya, bahwa tukang gendang tledek itu memiliki
kemampuan melampaui kerbau itu."
Orang-orang yang mendengar kata-kata orang yang
matanya biru dan mulai membengkak itu terdiam. Mereka
sependapat dengan orang itu, bahwa tidak ada seorang pun
yang akan dapat menghukum perempuan yang telah
menimbulkan kegaduhan di padukuhan itu.
Dalam pada itu, Warsi mulai memperlihatkan orang-
orang yang satu demi satu meninggalkan halaman itu.
Mereka berjalan tertatih-tatih sambil menyeringai menahan
sakit. Bahkan ada di antara mereka yang terpaksa dipapah
oleh kawannya, karena kakinya rasa-rasanya telah patah
dalam perkelahian yang ribut di halaman itu.
Sejenak Warsi termangu-mangu. Namun kemudian tiba-
tiba saja ia bangkit. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
94 SH. Mintardja Pemilik rumah itu terkejut. Dicobanya untuk menahan
tangan Warsi. Tetapi tangan orang gemuk itu telah
dikibaskannya, sehingga pegangannya pun telah terlepas.
Tidak seorang pun yang tahu apa sebabnya, ketika tiba-
tiba saja Warsi telah berlari kebilik yang sudah disediakan
baginya. Pemilik rumah itu kemudian bangkit sambil
memandanginya dengan wajah yang tegang. Sekali-kali ia
memandang tukang gendang yang kemudian telah bangkit
pula. Jantung orang gemuk itu menjadi semakin cepat
berdetak ketika ia melihat tukang gendang yang dikiranya
adalah suami tledek itu melangkah satu-satu. Dengan sorot
mata yang tajam tukang gendang itu mendekatinya.
"Aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya duduk saja.
Istrimulah yang membimbingku dan membawaku duduk
disini," berkata orang itu gagap sebelum tukang gendang itu
bertanya sepatah kata pun.
Tukang gendang itu berdiri tegak dengan kaki renggang.
Sementara orang yang gemuk itu menjadi semakin
ketakutan. Kemudian dengan nada berat tukang gendang itu
bertanya, "Kau tentu menyentuhnya. Justru disaat ia tidak
menghendaki." "Tidak. Sungguh mati aku tidak menyentuhnya. Malahan
istrimu yang menyentuhku," jawab laki-laki gemuk yang
ketakutan itu. Tukang gendang itu tidak bertanya lagi. Tiba-tiba saja ia
pun meninggalkan pemilik rumah itu dan menyusul Warsi
ke dalam biliknya. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
95 SH. Mintardja Tukang gendang itu tertegun ketika ia melangkah
memasuki pintu. Dilihatnya Warsi tidur menelungkup
masih lengkap dengan pakaian penarinya, menangis
tersedu-sedu. "Warsi," desis tukang gendang yang kemudian duduk
disebelahnya, "Apa yang sebenarnya terjadi atas dirimu?"
Warsi tidak segera menjawab. Namun ia pun kemudian
bangkit dan duduk disisi tukang gendang itu.
Dengan sampurnya ia mengusap air matanya yang masih
saja mengalir, menghanyutkan bedaknya yang masih
tersisa. "Tingkah lakumu memang sulit dimengerti Warsi. Aku
tahu akan hal itu. Tetapi kali ini kau benar-benar membuat
aku kehilangan akal. Aku bukan saja tidak mengerti, tetapi
kau telah membingungkan aku dan kawan-kawan kita yang
pergi bersama kita," desis tukang gendang itu.
"Aku memang sudah menjadi gila," jawab Warsi disela-
sela isaknya yang belum mereda, "Kegagalanku untuk
membunuh anak Sembojan itu benar-benar membuat
hatiku bagaikan diguncang oleh ketidakpastian."
"Aku adalah orang tua Warsi," berkata penggendang itu,
"Aku sudah dapat melihat meskipun samar-samar, apa yang
telah terjadi di dalam dirimu."
Warsi tidak menyahut. Dibiarkannya pengendangnya itu
berkata selanjutnya, "Kau tidak dapat membunuh laki-laki
itu karena kau adalah seorang perempuan yang pada satu
saat telah terlibat dalam garis getaran batin terhadap laki-
laki." Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
96 SH. Mintardja Warsi menutup wajahnya dengan sampurnya. Tangisnya
justru menjadi semakin mengeras. Dengan sendat ia
berkata, "Aku berusaha melupakannya dengan membuat
satu permainan. Siang tadi aku merasa kurang puas. Aku
ingin melihat laki-laki padukuhan ini saling berkelahi.
Tetapi setelah hal itu terjadi, ternyata tidak memuaskan
aku. Juga usahaku untuk menemukan seorang laki-laki
yang dapat sekadar mengisi kekosongan hatiku pun sama
sekali tidak berhasil. Suara Warsi hilang ditelan isaknya. Sementara itu,
pengendangnya pun berkata, "Sudahlah. Kita akan segera
kembali. Kita akan melaporkan semua yang telah terjadi."
"Apakah ayah tidak akan marah kepadaku?" bertanya
Warsi sambil menangis. "Kau katakan saja apa yang sebenarnya terjadi di dalam
hatimu. Bagaimanapun juga kau adalah seorang perempuan
yang mempunyai penilaian yang sangat pribadi terhadap
seorang laki-laki. Ternyata Wiradana, laki-laki Sembojan itu
telah memikat hatimu sehingga kau tidak sampai hati untuk
membunuhnya," berkata tukang gendangnya.
"Aku dihadapkan pada satu kesulitan untuk memilih.
Jika aku tetap pada sikapku sekarang dengan tidak
membunuhnya apakah aku akan dapat
mempertanggungjawabkan hal ini kepada ayah. Padahal
kaupun tahu, ayah terlalu kecewa dan marah atas kematian
paman Kalamerta," jawab Warsi.
Tukang gendang itu menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian katanya, "Kau masih belum mencobanya. Aku
tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh ayahmu. Tetapi
bagaimana pun juga, kau adalah anaknya. Menurut
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
97 SH. Mintardja perhitunganku bagaimanapun juga ia mengasihi pamanmu,
tetapi ia tentu lebih mengasihi anaknya sendiri."
"Soalnya bukan sekadar adik dan anak," jawab Warsi.
"Soalnya adalah harga diri dan kehormatan."
Pengendangnya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya, "Kau telah dihantui oleh perasaanmu sendiri. Aku
juga orang tua yang dirumah mempunyai anak meskipun
berbeda dengan kedudukanmu. Aku juga seorang yang
barangkali dapat disebut buas seperti serigala. Tetapi pada
saat-saat hatiku bening aku bermimpi agar anak-anakku
mendapatkan kebahagiaan didalam hidupnya."
Warsi berusaha untuk berhenti menangis, meskipun
dengan demikian ia bagaikan dicekik oleh isaknya sendiri.
Namun akhirnya iapun menjadi tenang.
"Tidurlah," berkata pengendangnya. "Besok kita akan
meninggalkan tempat ini, langsung kembali. Tanpa singgah
disepanjang jalan. Kau tidak akan menari lagi agar jiwamu


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang luka itu tidak bergejolak sehingga dapat menimbulkan
persoalan-persoalan baru."
Sikap Warsi ternyata agak berbeda. Biasanya ia tidak
mau tunduk kepada siapapun juga. Ia lebih senang
menuruti keinginannya sendiri. Namun saat itu, ternyata
bahwa ia dapat mengerti petunjuk pengendangnya yang di
padukuhan itu diaku sebagai suaminya, tetapi di Tanah
Perdikan Sembojan disebutnya sebagai ayahnya.
Dalam pada itu, Warsi pun kemudian membaringkan
dirinya masih lengkap dengan pakaiannya. Sejenak ia
merenung, sementara itu, pengendangnya pun telah bangkit
berdiri dan berkata, "Aku pun akan bersiap-siap."
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
98 SH. Mintardja Ketika pengendangnya kemudian keluar dari biliknya,
langkahnya tiba-tiba tertegun. Dilihatnya pemilik rumah
yang gemuk itu berdiri termangu-mangu.
"Apa yang telah terjadi?" bertanya orang gemuk itu.
"Ada sesuatu yang mengganggunya," jawab
pengendangnya. "Maksudmu ada orang yang mengganggu dengan halus,
maksudku dengan guna-guna atau tenung?" desak pemilik
rumah itu. "Ya. Tetapi segalanya telah teratasi," jawab tukang
gendang itu sambil memegang hulu kerisnya. "Keris ini
tidak dapat dikalahkan dengan cara apapun juga. Aku telah
mengusirnya dan agaknya tidak dengan sengaja aku telah
melukai seseorang. Mudah-mudahan orang itu tidak mati,"
jawab tukang gendang itu.
"Maksudmu orang padukuhan ini" Aku akan
menyelesaikannya," geram orang gemuk itu.
"Aku tidak tahu. Tetapi mungkin orang padukuhan lain
yang kami datangi di malam-malam sebelumnya," jawab
tukang gendang itu. Orang bertubuh gemuk itu menjadi semakin ketakutan
terhadap tukang gendang yang mengaku suami dari tledek
yang cantik itu. Kecuali ia memang pernah dikalahkan, ternyata orang itu
memiliki kemampuan untuk melawan tenung dengan
sebuah pusaka yang menurut tukang gendang itu tidak
dapat dikalahkan dengan cara apapun juga.
Dalam pada itu, maka tukang gendang itu pun kemudian
telah pergi kepada teman-temannya. Di sisa malam itu juga
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
99 SH. Mintardja mereka harus berkemas. Besok pagi-pagi benar mereka
akan meninggalkan padukuhan ini.
Menjelang fajar, Warsi telah bangkit dari
pembaringannya. Ia memang tidak tidur barang sekejap
pun. Setelah melepas pakaian tarinya maka Warsi pun
segera pergi ke pakiwan. Namun sesuatu telah terjadi, sama sekali diluar dugaan
Warsi sendiri. Ketika ia berada di dalam pakiwan, tiba-tiba
saja seorang laki-laki yang mengenakan sebuah topeng telah
meloncat masuk. dengan pisau terhunus laki-laki itu
mengancam, "Jangan berteriak tledek yang binal. Kau telah
mengacaukan kehidupan padukuhan ini. Kau telah
membuat kami saling berkelahi. Karena itu, maka kau harus
mendapat hukuman. "Apa yang telah aku lakukan?" bertanya Warsi.
"Bukankah mereka saling berkelahi atas kehendak sendiri?"
"Jika kau tidak sengaja memancing kekeruhan, maka
perkelahian itu tidak akan terjadi. Orang-orang padukuhan
ini biasanya hidup rukun. Tetapi kehadiranmu telah
merusakkan persaudaraan itu."
"Jadi apa maksudmu sekarang?" bertanya Warsi.
"Ikut aku, sejak keributan itu berakhir aku menunggu
kesempatan seperti ini," jawab laki-laki itu.
"Kemana?" bertanya Warsi.
"Kau harus menebus kebinalanmu," jawab laki-laki itu
sambil mengacungkan pisaunya ke dada Warsi. Lalu
katanya, "Kau harus menebus bengkak-bengkak di
pundakku dengan kecantikanmu."
"Kau sudah gila," desis Warsi.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
100 SH. Mintardja "Ya, aku memang sudah gila. Tetapi kaulah yang
menyebabkan aku gila. Bahkan laki-laki sepadukuhan ini
menjadi gila," jawab laki-laki itu.
Warsi merenungi wajah laki-laki itu. Fajar masih belum
menyingsing, sehingga dini masih disapu oleh keremangan
sisa malam. "Cepat ikut aku sebelum fajar," bentak orang itu.
Warsi berusaha untuk menahan diri. Katanya,
"Tinggalkan aku sendiri. Aku akan mandi."
"Jangan membantah. Pisauku dapat membelah dadamu
dan kencantikanmu akan tinggal menjadi dongeng saja,"
geram laki-laki itu. "Jika suamiku mengetahui hal ini, kau akan dibunuhnya.
Bukankah kau tahu, bahwa pemilik rumah ini yang kalian
takuti itu pun dapat dikalahkannya?" berkata Warsi.
"Karena itu, aku berbuat sebagaimana aku lakukan
sekarang, agar suamimu tidak mengetahui," jawab laki-laki
itu. Lalu, "Cepat. Ikuti aku ke rumah yang akan aku
tunjukkan kepadamu. Rumah pamanku yang kosong."
"Jangan bodoh," desis Warsi. "Jika aku hilang, maka
suamiku dan pemilik rumah ini akan mencari aku di seluruh
padukuhan. Akhirnya kita akan diketemukan juga."
"Aku bukan sedungu kerbau anak manis," jawab laki-laki
itu. "Kau memang akan diketemukan di rumah yang kosong
itu. Tetapi tanpa aku. Kau sendiri terkapar sambil merintih.
Dengan demikian kau sudah menebus kebinalanmu."
"Aku akan mengatakan siapa yang membawa aku," jawab
Warsi. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
101 SH. Mintardja "Kau tidak akan mengenal aku," jawab laki-laki itu.
Warsi memandang wajah laki-laki itu. Wajah yang
tertutup oleh topeng yang buruk.
Tetapi menurut bayangan Warsi, wajah laki-laki itu
sendiri tidak lebih dari topeng yang dikenakannya.
Dalam pada itu, Warsi mulai menjadi jemu melayani
laki-laki gila itu. Tetapi terasa ada juga sedikit kebanggaan
dihati perempuan itu. Ia menjadi semakin yakin, bahwa ia
memang cantik, sehingga beberapa orang laki-laki benar-
benar telah kehilangan akal. Bahkan ada juga laki-laki yang
berusaha untuk mengambilnya.
"Laki-laki ini terlalu berani," berkata Warsi didalam
hatinya. Namun tiba-tiba saja ia menjadi sangat benci
kepada laki-laki itu. Justru karena Warsi membayangkan
wajah laki-laki itu sebagai wajah topeng yang dikenakannya.
"Cepat," laki-laki itu membentak. Ketika Warsi masih
saja berdiam diri, maka tiba-tiba saja laki-laki itu
menggapai lengan Warsi dan berusaha menariknya.
Selangkah Warsi membiarkan dirinya terseret oleh
tangan laki-laki itu. Namun kemudian langkahnya terhenti
dimuka pintu pakiwan. "Aku dapat berteriak," desis Warsi.
"Jika kau berteriak, kau akan mati," ancam laki-laki
bertopeng itu. "Jangan membuat aku menjadi muak. Lepaskan,"
berkata Warsi kemudian. "Cepat. Jangan banyak bicara," bentak orang itu.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
102 SH. Mintardja Ketika Warsi menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya
cahaya merah sudah membayang dilangit. Tiba-tiba saja ia
menghentakkan kaki dan berusaha untuk berlari.
Laki-laki itu terkejut. Dalam waktu yang sekejap itu ia
benar-benar kehilangan akal, sehingga ia tidak mempunyai
pilihan lain daripada mempergunakan pisaunya.
Nalarnya yang tiba-tiba saja menjadi buntu telah
mendorongnya untuk mengejarnya sambil mengayunkan
pisaunya, justru oleh perasaan takut yang menghentak.
Sebenarnya Warsi tidak perlu melarikan diri. Jika ia
melakukannya, maka ia sekadar ingin tahu, apakah laki-laki
itu benar-benar akan membunuhnya.
Ternyata bahwa Warsi pun kemudian melihat laki-laki itu
benar-benar mengayunkan pisaunya ke arah punggungnya.
Namun yang terjadi kemudian sama sekali tidak
sebagaimana dibayangkan oleh laki-laki itu.
KETIKA pisau itu terayun kepunggung Warsi, maka
terasa tangan laki-laki itu telah diterkam oleh kekuatan
yang tidak dapat diukurnya, sehingga tangannya seakan-
akan menjadi remuk karenanya. Sejenak kemudian maka
tangan itu sudah terpilin menyamping, sementara terdengar
suara lembut ditelinganya, "Inikah yang kau kehendaki
anak manis." Orang itu sempat berpaling. Dilihatnya Warsi berdiri
disampingnya sambil memegang tangannya yang terpilin
itu. "Baiklah," berkata Warsi. "Bawalah aku ke rumah
pamanmu. Apa saja yang kau kehendaki aku tidak akan
menolak." Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
103 SH. Mintardja Kata-kata itu sangat membingungkan laki-laki yang
kesakitan itu. Karena itu, maka sejenak kemudian ia
berdesis. "Lepaskan. Tanganku sakit."
"Tanganmu inilah yang akan kau pergunakan untuk
benar-benar membunuhku. Kau tidak hanya mengancam
dan bermain-main. Tetapi kau benar-benar akan
membunuh," geram Warsi tiba-tiba.
Wajah yang cantik dan kata-kata yang lembut itu tiba-
tiba saja telah berubah. Wajah itu bagaikan menjadi wajah hantu betina yang
menyeramkan dan suaranya pun telah berubah pula
bagaikan ringkik hantu yang sedang marah.
Laki-laki itulah yang kemudian akan menjerit. Tetapi tiba-tiba saja suaranya patah sebelum terloncat dari sela-sela bibirnya. Tangannya yang terpilin itu terasa benar-
benar patah. Namun pisau yang digenggamnya itu ternyata telah terhunjam di
lambungnya sendiri. Laki-laki itu tidak sempat
berteriak. Tubuhnya kemudian terhuyung- huyung. Warsi masih sempat
menahannya dan meletakkannya perlahan-lahan.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
104 SH. Mintardja Sejenak Warsi memandang tubuh yang terbujur itu. Baru
kemudian ia melangkah pergi dan kembali ke pakiwan. Dan
sesaat kemudian yang terdengar adalah debur air yang segar
di pagi hari menjelang matahari terbit.
Tanpa kesan apapun Warsi pun telah kembali ke dalam
biliknya. Pagi itu iring-iringan pengamen itu akan
meninggalkan padukuhan yang telah sempat menjadi ribut.
Beberapa orang laki-laki telah menjadi korban kegilaan
mereka dan saling menghantam di antara mereka, sehingga
beberapa orang telah menjadi luka-luka.
Dalam pada itu, ternyata pemilik rumah itu pun masih
sempat menyuruh para pelayannya bahkan istrinya untuk
menyediakan minuman panas bagi rombongan tledek itu.
Seperti yang dijanjikan maka ia telah menyediakan uang
taruhan dan bahkan lebih dari itu.
Demikian matahari naik dilangit, maka pengendang dari
rombongan pengamen itu pun telah minta diri. Mereka
akan melanjutkan pengembaraan mereka sebagaimana
selalu mereka lakukan. "Sebenarnya kalian tidak usah mengembara," berkata
orang gemuk itu, "Jika kalian mau tinggal disini, maka
segala kebutuhan kalian akan aku cukupi."
Wajah pengendang itu menjadi tegang. Dengan nada
yang tiba-tiba menjadi garang itu bertanya, "Dan istriku
harus menjadi selirmu?"
"O, tidak. Tidak. Bukan maksudku begitu. Aku sudah
puas dengan menari saja bersamanya," jawab orang gemuk
itu. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
105 SH. Mintardja "Sekarang kau berkata begitu. Tetapi jika aku benar-
benar tinggal disini, maka kau tentu akan mulai bertingkah.
Dan kami yang merasa berhutang budi kepadamu, tidak
akan dapat menentang lagi niat iblismu," geram
pengendang itu. "Tidak. Tentu tidak," jawab orang gemuk itu dengan
wajah yang pucat. Namun tiba-tiba saja penari yang cantik itu telah
menggamit pengendangnya. Sambil tersenyum ia berkata
kepada pemilik rumah itu, "Kami mohon maaf atas segala
kekasaran dan kesalahan kami. Sekarang biarlah kami
mohon diri. Tetapi kami, terutama aku sendiri tidak akan
melupakan rumah ini dengan segala kemurahan hatimu."
"Ah," orang gemuk itu hanya berdesah saja. Tetapi ia
justru tidak dapat menjawab.


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sejenak kemudian, maka sekelompok pangamen itu telah
bersiap untuk pergi. Para pengiring sudah mempersiapkan
gamelan yang akan mereka usung di atas pundak.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja rumah itu menjadi
gempar. Seseorang telah berteriak-teriak seperti kerasukan
setan. "Ada apa?" bertanya beberapa orang yang mendengar
keributan itu. Beberapa orang pun kemudian berlari-larian. Mereka
dengan cemas mengguncang tubuh seorang perempuan
yang berteriak-teriak tidak menentu.
"Ada apa" Ada apa?" bertanya seorang laki-laki tua.
Sementara itu pemilik rumah yang gemuk itu pun telah
mendekat pula. Dengan lantang ia berkata, "Jangan
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
106 SH. Mintardja diguncang-guncang begitu. Ia justru akan semakin
bingung." Beberapa orang pun kemudian menyibak. Orang yang
bertubuh gemuk itulah yang kemudian bertanya, "Ada apa"
Kau melihat apa?" Perempuan itu tidak menjawab. Ia masih saja berteriak-
teriak. Namun kemudian ia pun menunjuk ke satu arah, di
sebelah pakiwan. Orang bertubuh gemuk itu pun segera meloncat. Namun
langkahnya pun tertegun. Dilihatnya sesosok tubuh yang terbaring di dekat
pakiwan itu. Dari lambungnya mengalir darah yang
membasahi tanah yang lembab.
"Siapa orang ini?" desis pemilik rumah itu.
Beberapa orang telah berkerumun pula. Ketika seseorang
berjongkok disamping mayat itu, orang itu pun berdesis, "Ia
mengenakan topeng." "Lepaskan topeng itu," perintah pemilik rumah yang
gemuk itu. Orang yang berjongkok itu pun kemudian berusaha
untuk melepaskan topeng itu. Namun demikian topeng itu
terlepas, maka orang-orang yang mengelilingi tubuh yang
terbaring itu ter-kejut. Orang itu adalah orang padukuhan
itu sendiri. "Kenapa orang ini?" desis seseorang.
"Mungkin ia terbunuh ketika terjadi perkelahian yang
kisruh itu," sahut yang lain.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
107 SH. Mintardja "Tetapi kenapa ia mempergunakan topeng," bertanya
yang lain lagi. Ternyata teka-teki itu tidak terjawab. Berlari-lari
seseorang telah memberitahukan kematian orang itu
kepada keluarganya, sementara orang gemuk pemilik
rumah itu pun telah menemui sekelompok orang-orang
ngamen yang akan meninggalkan rumahnya.
"Satu peristiwa yang aneh," berkata orang yang gemuk
itu. "Apa yang terjadi?" bertanya Warsi.
Orang gemuk itu pun kemudian menceriterakan apa yang
dilihatnya. "Mungkinkah hal itu terjadi karena kehadiranku disini?"
bertanya Warsi dengan penuh penyesalan. "Jika demikian
maka kehadiranku di padukuhan ini, dan justru karena aku
telah berusaha menghibur tetangga-tetangga semalam,
akibatnya adalah sebuah kematian."
"Tidak," jawab orang gemuk itu dengan serta merta
karena ia menjadi cemas, bahwa penari itu tidak akan mau
datang lagi kelak, "Tentu ada sebab lain. Jika perkelahian
yang telah terjadi itu memang merenggut nyawanya, ia
tentu tidak sempat mempergunakan topeng. Menurut
dugaanku tentu ada persoalan lain meskipun sulit untuk
ditebak. Dan tentu merupakan satu perkelahian yang sukar
sekali untuk menemukan pembunuhnya."
Warsi mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian
bertanya, "Dengan demikian, apakah aku akan dapat
melanjutkan perjalanan?"
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
108 SH. Mintardja Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja
timbul satu keinginan untuk mempergunakan kesempatan
itu menahan kepergian sekelompok pengamen yang
membawa perempuan yang cantik itu. Katanya,
"Sebenarnya memang tidak ada keberatan apapun. Tetapi
sebaiknya kalian menunggu sampai persoalan ini menjadi
jelas. Kami tentu akan melaporkan kepada Ki Demang.
Sementara itu, kalian tetap tinggal disini."
Wajah pengendang itu tiba-tiba menjadi tegang. Katanya,
"Jadi kau mencurigai kami, atau salah seorang di antara
kami?" "Tidak. Bukan maksudku," jawab orang gemuk itu.
"Jadi apa maksudmu, bahwa kau berusaha menahan
keberangkatan kami" Kalau kau mencurigai salah seorang
dari kami, katakanlah berterus terang. Siapakah yang telah
melakukan pembunuhan itu. Dan kenapa orang itu justru
bertopeng. Tetapi jika tidak, biarlah kami melanjutkan
perjalanan," berkata pengendang itu sambil bangkit berdiri.
Namun Warsi telah mengamitnya. Sambil tersenyum ia
berkata, "Sebaiknya, beri kesempatan kami untuk
berangkat, agar kesan kami terhadap padukuhan ini tetap
baik. Dengan demikian, akan ada keinginan kami untuk
kembali ke padukuhan ini pada saat lain."
Orang gemuk itu mengerutkan keningnya. Sambil
menarik nafas dalam-dalam ia pun berkata, "Baiklah, jika
hal itu memang sudah menjadi keputusan kalian. Silakan.
Kami memang tidak dapat menahanmu lebih lama lagi
tinggal di padukuhan ini."
"Terima kasih," jawab Warsi sambil tersenyum. Katanya
kemudian, "Kami akan langsung kembali ke rumah kami.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
109 SH. Mintardja Kami tidak akan ngamen lagi disepanjang jalan pulang,
karena kami telah mendapat bekal yang terlalu banyak bagi
anak-anak kami di rumah."
"Itu tidak seberapa," berkata orang gemuk itu, "Jika lain
kali kalian datang, maka aku akan memberi kalian lebih
banyak lagi." Dengan demikian, maka sekelompok pengamen itu, sama
sekali tidak menunggu penyelesaian tentang orang yang
terbunuh di halaman rumah orang gemuk itu. Yang menjadi
teka-teki adalah justru orang itu berusaha
menyembunyikan wajah aslinya dengan mempergunakan
topeng. Dengan demikian maka orang-orang telah
menduganya bahwa orang itu datang dengan maksud yang
tidak sewajarnya. "Tetapi siapakah yang telah membunuhnya?" pertanyaan
itu pun telah mengganggu perasaan orang-orang yang
menyaksikannya. Namun dalam pada itu, keluarga orang yang terbunuh itu
telah menyatakan menerima peristiwa itu sebagai satu
bencana bagi keluarga mereka. Mereka tidak akan
mempersoalkannya lebih lanjut, karena mereka pun
menyadari, bahwa tentu ada ketidakwajaran dalam tingkah
laku orang yang terbunuh itu. Sehingga dengan demikian
maka keluarga orang yang terbunuh itu menganggap bahwa
persoalannya telah selesai.
Dalam pada itu, Warsi dan iring-iringannya telah
meninggalkan padukuhan itu.
Warsi tidak mengenakan pakaian seorang penari,
sementara para pengiringnya telah membawa gamelan tidak
dalam keadaan siap untuk dimainkan.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
110 SH. Mintardja Sementara itu, tiba-tiba saja seorang di antara para
pengiring Warsi berdesis, "Kematian yang memang aneh.
Orang bertopeng itu memberikan kesan yang ganjil. Sangat
ganjil." Warsi memandang orang itu sejenak. Ketika ia berpaling
kepada pengendangnya, maka pengendangnya itu pun
sedang memandanginya dengan tajamnya.
"Kenapa kau memandang aku begitu?" bertanya Warsi.
"Bagaimana aku memandangmu?" orang itu ganti
bertanya. Tiba-tiba saja Warsi menarik nafas dalam-dalam sambil
menjawab dengan nada dalam, "Aku memang yang
membunuhnya." Pengendangnya itu hampir saja berdesis, "Aku sudah
menduga. Untunglah bahwa ia sempat menahan diri,
sehingga ia tidak mengucapkannya. Namun yang kurang
dimengertinya, kenapa laki-laki itu mempergunakan sebuah
topeng. Tanpa diminta, maka Warsi pun kemudian
menceriterakan apa yang telah terjadi di pakiwan, sehingga
karena ia menjadi sangat muak terhadap tingkah laku laki-
laki itu, maka laki-laki itu telah dibunuhnya.
Pengendang dan para pengiring lainnya pun menarik
nafas dalam-dalam. Tetapi mereka mengerti, kenapa Warsi
telah membunuh orang itu. Apalagi Warsi menganggap
bahwa orang itu pun benar-benar berusaha membunuhnya.
Tidak seorang pun di antara para pengiringnya yang
mempertanyakannya. Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
111 SH. Mintardja Pengendangnya itu pun tidak. Sementara Warsi
sendirilah yang kemudian berkata, "Aku tidak dapat
menyakitinya tanpa membunuhnya. Jika ia tidak mati, ia
akan berceritera tentang aku."
Para pengiringnya masih berdiam diri. Mereka tidak
tahu, tanggapan apakah yang sebaiknya diberikan tentang
hal itu. Namun agaknya Warsi pun tidak menghiraukan
tanggapan para pengiringnya. Ia tidak menanyakannya dan
kemudian persoalan itu pun seolah-olah telah
dilupakannya. Namun yang menjadi persoalan kemudian adalah
kemungkinan ada orang yang dapat mengenal mereka.
Karena itu, maka untuk perjalanan berikutnya, mereka telah
memilih malam hari. Dengan demikian, sebagaimana saat
mereka berangkat, tidak seorang pun yang akan dapat
mengenali mereka. Terutama orang-orang yang telah
mengenal mereka dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
dalam rombongan kecil itu, orang-orang yang telah
mengenal mereka akan menjadi curiga.
Demikianlah, maka setelah menempuh perjalanan yang
menegangkan, maka akhirnya Warsi telah berjalan
mendekati rumahnya. Di tengah malam iring-iringan kecil
itu menuju ke sebuah padukuhan yang cukup besar.
Semakin dekat mereka dengan padukuhan itu, maka
jantung Warsi terasa berdentangan semakin cepat. Ia harus
mempertanggungjawabkan semua yang telah dilakukannya
kepada ayahnya. Ia harus melaporkan kegagalannya untuk
membunuh Wiradana apalagi Ki Gede Sembojan. Sehingga
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
112 SH. Mintardja dengan demikian, maka dendam atas kematian Kalamerta
masih belum dapat ditebusnya.
Hampir di luar sadarnya, ketika iring-iringan itu
mendekati padukuhannya, maka tiba-tiba saja Warsi
berhenti. Sejenak ia berpaling kepada para pengiringnya.
Bahkan kemudian ia pun telah melangkah menepi duduk di
atas sebuah batu padas dipinggir jalan.
"Warsi," desis pengendangnya, "Marilah. Kita tinggal
selangkah lagi." Warsi termangu-mangu. Bahkan rasa-rasanya nafasnya
menjadi semakin sesak. Rasa-rasanya ingin ia berteriak
keras-keras untuk melepaskan himpitan pada perasaannya.
Namun untunglah bahwa nalarnya masih dapat
mengekangnya. "Warsi," pengendangnya itu pun kemudian duduk
disebelahnya. Meskipun ia termasuk salah seorang yang
buas dan garang dalam lingkungannya, tetapi pada saat ia
merasa dirinya sebagai seorang yang telah berusia tua
menghadapi seseorang gadis yang sedang bergejolak
jiwanya. Katanya kemudian, "Marilah. Segala sesuatunya
dapat kita bicarakan di rumah. Kau tidak akan dapat
merenungi segalanya itu untuk mendapatkan satu
penyelesaian. Kau harus menghadap ayahmu dan
mengatakan semuanya dengan utuh."
Warsi mengusap matanya yang mulai basah. Namun
kemudian ia pun menengadahkan wajahnya sambil
berdesis, "Marilah. Kita akan melanjutkan perjalanan."
Warsi berusaha untuk berjalan dengan menengadahkan
kepalanya. Ia ingin tetap merupakan seorang gadis yang
garang dihadapan ayahnya.
Http://kangzusi.com/ dan http://pelangisingosari.wordpress.com/
113 SH. Mintardja Namun demikian, Warsi tidak dapat ingkar kepada
dirinya sendiri. Ketika ia memasuki regol halaman
rumahnya, jantungnya terasa berdentang semakin cepat.
Meskipun rumah itu bukan rumah seorang demang, atau
seorang bebahu padukuhan yang penting, apalagi rumah
seorang Kepala Perdikan, namun setiap saat rumah itu
selalu dijaga oleh dua orang pengikut ayahnya yang setia,
sebagaimana para pengiring yang menyertainya ngamen ke
Tanah Perdikan Sembojan. Ketika dua orang penjaga itu melihat sekelompok orang


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memasuki halaman, mereka pun segera bersiaga. Tetapi
demikian cahaya obor menggapai wajah Warsi, maka kedua
orang itu pun menarik nafas dalam-dalam. Sambil
menyongsong kedatangan iring-iringan kecil itu, maka salah
Neraka Hitam 11 Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Giok Bun Kiam Lu Karya Chin Yung Suling Emas Dan Naga Siluman 13
^