Pencarian

Suramnya Bayang Bayang 32

Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja Bagian 32


"Kita harus mencari alasan, kenapa kita berhenti di sini,"
berkata prajurit Jipang itu.
"Nah, bahwa kau berpura-pura menjadi penjual kayu bakar
agaknya memang sangat tepat. Kau dapat mengamatinya di pagi
hari. Di siang hari aku akan menjual dawet berkeliling
padukuhan induk ini," berkata bekas pengikut Kalamerta itu.
"Penjual dawet?" bertanya bekas prajurit Jipang itu. "Kau
memerlukan kemampuan tersendiri. Kau memerlukan alat dan
barangkali sulit didapat."
"Kita tidak usah memikirkan modal. Kita sudah
mempunyainya. Sedangkan alat-alatnya akan aku bicarakan
dengan penjual dawet di pasar. Jika ia mau menjual alat-alatnya
aku akan membelinya dengan agak mahal. Bukankah orang itu
akan dapat membuat atau membeli lagi yang lain?"
Sebenarnyalah, bahwa bekas pengikut Kalamerta itu telah
berhasil membeli seperangkat alat untuk menjual dawet. Sebuah
pikulan yang bentuknya khusus. Sebuah jambangan kecil dua
kendil khusus untuk diisi dengan budek dan cendol batang aren.
116 SH. Mintardja Kemudian beberapa buah tempurung yang sudah dihaluskan
untuk minum dewet bagi para pembelinya.
Demikianlah mereka bertiga telah berusaha untuk dapat
berkeliaran di padukuhan induk, sehingga mereka mendapat
kesempatan untuk mengamati rumah Iswari serta anak laki-laki
yang bernama Risang. Sebagai penjual dawet, maka bekas pengikut Kalamerta itu
banyak berhubungan dengan para pembelinya. Bukan saja anak-
anak. Tetapi kadang-kadang juga orang-orang tua yang bekerja di
kebun dan kehausan. Juga yang bekerja di sawah. Dengan
mereka penjual dawet itu sempat berbicara tentang bermacam-
macam hal. Antara lain tentang anak laki-laki Iswari yang
bernama Risang itu. Bahkan satu kesempatan telah datang bagi penjual dawet itu
ketika pada suatu hari, pemomong Risang memanggilnya untuk
masuk ke halaman rumah Iswari. Dengan jantung yang berdebar-
debar penjual dawet itu memasuki regol, dan membawa
pikulannya ketempat yang rimbun dibawah sebatang pohon
jambu air. Seorang anak yang sudah pandai berlari-lari telah
mendekatinya dibimbing oleh pemomongnya, seorang
perempuan. Namun ketika ia berpaling ke regol, dilihatnya dua
orang pengawal duduk disebelah regol itu bersandar dinding
sambil memperhatikannya. "Satu kesempatan," berkata orang itu di dalam hatinya. Pada
saat Risang berdiri di depan pikulannya sebenarnya ia dapat
mengambil pisau dibawah jambangan kecilnya. Kemudian
dengan serta merta menikam anak itu meskipun ia sendiri akan
mati. Namun orang itu merasa agak ragu. Sementara itu, seorang
laki-laki yang bertubuh kekar telah mendekatinya pula sambil
bertanya kepada Risang, "He, kau ingin juga minum dawet?"
"Aku haus," jawab anak itu singkat.
117 SH. Mintardja Namun pemomongnyalah yang kemudian berkata kepada
laki-laki itu, "Apakah kakang Gandar juga akan minum dawet?"
Gandar tersenyum. Katanya, "Jangan aku. Mungkin para
pengawal itu memerlukannya."
Tetapi para pengawal itu pun menggeleng. Seorang diantara
mereka berkata, "Kami tidak haus."
Namun dalam pada itu, seorang yang berada di sudut
halamanlah yang menyahut, "Akulah yang haus."
Pemomong Risang itu memanggilnya, "Kemarilah."
Penjual dawet itu menarik nafas dalam-dalam. Kesempatan
untuk menikam Risang sudah lewat. Apalagi seorang di antara
laki-laki yang berdiri disebelah Risang itu adalah Gandar. Salah
seorang yang disebut namanya sebagai seorang yang memiliki
ilmu yang tinggi. Ketika semua telah selesai, dan perempuan pemomong
Risang itu sudah membayar harganya, maka penjual dawet itu
dengan hati yang berdebar-debar meninggalkan halaman rumah
itu. "Setan," geramnya. "Kesempatan itu sebenarnya telah
terbuka. Aku yang terlambat sehingga laki-laki yang bernama
Gandar itu datang mendekat. Seandainya aku cepat bertindak,
maka anak itu tentu sudah mati, meskipun aku juga mati. Namun
aku telah mengorbankan jiwaku bagi kepemimpinan Jipang yang
besar." Tetapi penjual dawet itu tidak berputus asa. Ia yakin bahwa
kesempatan itu akan datang lagi. Apalagi bahwa ia sudah dikenal
sebagai seorang penjual dawet. Ia akan dapat dengan leluasa
lewat jalan di depan gerbang halaman rumah Iswari itu. Sekali-
kali ia tentu akan dipanggil lagi masuk halaman.
Ketika ia menceriterakan pengalamannya itu kepada kedua
orang kawannya, maka kedua orang kawannya itu pun ikut
menyesal bahwa kesempatan itu telah lewat.
118 SH. Mintardja "Tetapi jika saat itu aku mempergunakan kesempatan yang
ada, maka tidak akan sempat kembali ketempat ini".
Kedua kawannya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu
bekas pengikut Kalamerta itu berkata, "Meskipun demikian,
seandainya laki-laki yang bernama Gandar itu tidak mendekat,
aku kira aku benar-benar telah membunuhnya meskipun aku
juga akan mati." "Kita akan mencari kesempatan lain," berkata kawannya.
"Meskipun demikian, tidak ada salahnya jika kita memperhatikan
keselamatan kita sendiri sejauh memungkinkan."
Bekas pengikut Kalamerta itu mengangguk-angguk. Katanya,
"Ternyata dengan menjual dawet ini, aku akan berhasil
melakukan tugas ini dengan baik."
"Nampaknya usahamu itu dapat mendekati keberhasilan. Kita
akan membantumu," berkata bekas prajurit Jipang itu.
Namun dalam pada itu, dihari berikutnya, penjual dawet itu
telah mendengar bahwa baru saja dua orang anak muda Tanah
Perdikan Sembojan yang hilang untuk waktu yang agak lama,
telah datang untuk menyerahkan diri.
"Gila," geram bekas prajurit Jipang yang cacat di wajahnya itu
ketika penjual dewet itu mengatakan kepada kedua orang
kawannya, "Aku ingin membunuhnya."
"Jangan mencari perkara," kawannya berusaha mencegahnya,
"Aku pun ingin melakukannya. Tetapi kita harus menyelesaikan
tugas kita lebih dahulu. Kita jangan mengeruhkan airnya sebelum
kita dapat menangkap ikannya.
Kawannya yang cacat di wajahnya itu masih menggeram,
"Aku benci kepada pengkhianat seperti itu."
"Aku sependapat. Kita akan dapat melakukan sesuatu jika
tugas pokok selesai. Bukankah kedua orang itu tentu akan
dimasukkan kedalam barak khusus lebih dahulu" Apa yang dapat
kita lakukan atas mereka jika mereka ada di dalam barak itu"
Karena itu, kita bunuh dahulu anak Iswari. Kita kemudian
119 SH. Mintardja melaporkannya. Bagaimanapun juga kita memerlukan perhatian
dari Ki Rangga dan Nyai Wiradana. Mungkin kita akan
mendapatkan sesuatu."
"Tetapi mungkin sekali aku mati," berkata pengikut
Kalamerta. "Jangan begitu. Kita akan berusaha menemukan jalan yang
tidak menjurus ke kematian," berkata seorang kawannya.
"Ya. Tetapi itu akan terlalu sulit. Dalam keragu-raguan kita
akan banyak kehilangan kesempatan," berkata bekas pengikut
Kalamerta itu. "Namun seandainya aku harus mati, kalian akan
dapat menceriterakan apa yang terjadi."
"Hanya jika tidak ada jalan lain. Bukan hanya kau yang
mungkin akan mati. Mungkin kita semuanya," berkata salah
seorang bekas prajurit itu.
"Jangan semuanya," jawab bekas pengikut Kalamerta. "Salah
seorang di antara kita harus hidup dan menceriterakan
perjuangan kita yang jantan di Tanah Perdikan Sembojan ini."
Kedua bekas prajurit Jipang itu termangu-mangu. Namun
kemudian salah seorang di antara mereka berkata, "Itu tidak
perlu. Seandainya kita mati bersama-sama, akhirnya Ki Rangga
dan Ki Wiradana pun akan tahu apa yang telah terjadi."
Bekas pengikut Kalamerta itu menarik nafas dalam-dalam.
Namun ia pun kemudian berkata, "Terima kasih atas kesediaan
kalian. Tetapi kita harus berusaha untuk dapat langsung
melaporkan apa yang terjadi. Tidak oleh orang lain."
"Aku kira siapapun yang mengatakannya tidak ada bedanya,"
sebut kawannya yang lain. "Karena itu, kami berdua atau
seorang-seorang akan selalu dekat denganmu. Jika kau dipanggil
untuk masuk ke halaman itu, maka kami akan siap melakukan
apa saja yang dapat membantumu. Mungkin sekadar perhatian
agar kau sempat membunuh anak itu atau hal-hal yang mungkin
kami lakukan." 120 SH. Mintardja "Baiklah," berkata orang itu. "Terserah kepada kalian. Tetapi
yang panting bagi kita, anak itu harus mati."
Ketiga orang itu pun kemudian mengangguk-angguk. Rasa-
rasanya mereka sudah bertekad untuk mati bersama dan hidup
bersama. Namun ketika bekas pengikut Kalamerta itu pergi kesebuah
belik dibawah sebatang pohon raksasa di hutan itu, maka bekas
prajurit Jipang yang cacat matanya itu berkata, "Persetan dengan
orang itu. Biar saja ia mati. Kita berdua akan menikmati hasil
kemenangan ini." Kawannya tertawa. Katanya, "Ia yakin bahwa kita berdua
benar-benar akan membantunya. Apalagi kita dianggapnya siap
untuk mati bersama. Ia akan menjadi semakin bergairah bahkan
bertekad untuk mengorbankan nyawanya. Semakin cepat ia
melakukan, semakin baik. Kematiannya akan dapat menjadi alas
keberhasilan kita untuk meniti kesempatan yang lebih baik
dilingkungan para pejuang."
Keduanya tertawa. Namun mereka pun segera menyesuaikan
diri ketika orang yang pergi ke bilik itu kembali.
Sementara itu, dua orang anak muda yang telah menyerahkan
diri itu diterima dengan senang hati oleh para pengawal Tanah
Perdiman Sembojan. Sebagaimana pesan Iswari, maka setiap
orang yang menyerah akan dapat diarahkan untuk menjadi
seorang abak muda yang berarti bagi Tanah Perdikan Sembojan.
Karena itu, maka Saruju dan Damar itu pun telah diterima
dan ditempatkan disebuah barak yang khusus, yang tinggal
dihuni oleh beberapa orang saja. Tidak lebih dari enam orang.
Mereka pun termasuk anak-anak muda yang belum lama
menyerah. Namun pada mereka telah mulai tampak kesadaran
yang mendalam tentang kesesatan yang pernah mereka lakukan
sebelumnya. Namun di samping enam orang itu, ternyata ada anak-anak
muda yang telah disimpan ditempat yang terpisah. Mereka
adalah anak-anak muda yang menurut penilaian para pemimpin
121 SH. Mintardja Tanah Perdikan Sembojan tidak lagi mempunyai kemungkinan
untuk dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mereka
nampaknya benar-benar telah mengeraskan hati sehingga tidak
lagi mau mendengarkan pendapat orang lain. Tidak mau lagi
mempertimbangkan kenyataan yang dihadapinya.
Namun dalam pada itu, Saruju dan Damar ternyata termasuk
anak-anak muda yang cepat menyesuaikan diri. Semua petunjuk
dan nasihat yang diterimanya selama ini berada dalam barak
khusus itu, nampaknya telah diresapinya sebaik-baiknya.
Keduanya tidak pernah menunjukkan keragu-raguan untuk
kembali ke lingkungannya di Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan
selama ia berada di barak khusus, keduanya menunjukkan
penyesalan yang mendalam. Lebih dari keenam orang kawannya
yang tinggal di barak khusus itu.
Karena itu, maka meskipun Saruju dan Damar itu lebih
lambat masuk ke dalam barak itu, tetapi ternyata para pemimpin
Tanah Perdikan Sembojan telah memberikan kesempatan
mengakhiri masa penjernihan nalar dan budi itu bersama dengan
keenam orang kawannya yang lain.
Demikianlah ketika Saruju dan Damar mendapat kesempatan
keluar dari barak khusus itu, hatinya terasa telah mengembang.
Ditatapnya Tanah Perdikannya dengan jantung yang mekar. Di
antar oleh seorang pengawal, maka Saruju dan Damar telah
dikembalikan kepada kampung halamannya. Mereka tidak
langsung pulang ke rumah masing-masing. Tetapi seperti yang
telah terjadi, keduanya telah diserahkan kepada Ki Bekel.
Sementara itu orang tua mereka pun telah hadir pula di banjar,
untuk menerima keluarganya yang telah dianggapnya hilang itu
kembali ke lingkungannya.
Memang tidak lagi dengan upacara yang meriah. Namun di
banjar hadir Ki Bekel dan para bebahu padukuhan bersama
beberapa orang yang mewakili anak-anak muda padukuhan itu.
Dengan beberapa sesorah, Ki Bekel telah menerima anak yang
hilang itu dan menyerahkan kembali kepada keluarganya.
122 SH. Mintardja "Terimalah. Bimbinglah anak-anak itu untuk tidak tersesat
lagi. Apa yang telah terjadi pada mereka, bukanlah salah mereka.
Pada mulanya mereka telah direnggut oleh satu lingkungan di
luar kehendak mereka sendiri. Untuk beberapa lama mereka
terombang-ambing antara kesadarannya dan kegelapan hati. Kini
mereka telah menemukan yang paling baik dan benar dari
perjalanan hidup mereka yang masih panjang," berkata Ki Bekel
kepada orang-orang yang hadir di banjar.
Untuk selanjutnya, maka anak-anak itu pun telah
diserahkannya kepada keluarganya untuk dibawa pulang.
Saruju dan Damar pun telah dibawa pulang oleh orang tua
mereka. Betapa bahagianya perasaan seluruh keluarganya setelah
mereka menerima kembali anak yang sudah dianggapnya mati
itu. Karena itu, maka delapan keluarga di Tanah Perdikan
Sembojan telah menyelenggarakan sedikit keramaian untuk
menyambut kedatangan anak-anak mereka.
Dua orang bekas prajurit Jipang dan seorang bekas pengikut
Kalamerta itu mengumpat dengan kasar. Tetapi mereka memang
harus menahan diri, bahwa mereka sebaiknya tidak membuat


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

persoalan selagi mereka masih harus menyelesaikan tugas
mereka yang cukup rumit. Dalam pada itu Saruju dan Damar memang telah
menunjukkan sikap yang baik. Mereka berusaha untuk segera
dapat luluh dalam pergaulan anak-anak muda Tanah Perdikan.
Meskipun keduanya merasa bahwa nama mereka sudah cacat,
tetapi mereka berusaha untuk menebus cacat nama mereka
dengan tingkah laku yang meyakinkan.
Bahkan keduanya lebih banyak berbuat daripada anak-anak
muda yang telah lebih dahulu kembali dari lingkungan para
prajurit Jipang. Keduanya tidak pernah mengelakkan kewajiban
anak-anak muda di padukuhan mereka.
Dengan demikian maka kawan-kawan mereka menganggap
bahwa baik Saruju maupun Damar telah benar-benar menjadi
dua orang anak muda yang baik.
123 SH. Mintardja Namun demikian mereka tidak pernah melupakan tugas
mereka. Tugas pokok mereka adalah membunuh anak Iswari
yang disebut Risang itu. Tetapi keduanya tidak merasa tergesa-gesa. Bahwa bekal yang
diberikan oleh Ki Rangga dan Nyi Wiradana cukup banyak, itu
berarti bahwa waktu yang diberikan kepada mereka pun cukup
luas. Lebih baik tidak tergesa-gesa daripada harus mengalami
kegagalan. Karena itu, maka mereka pun telah menyusun rangkaian
langkah-langkah yang harus mereka ambil. Mereka harus
mendapat kesempatan berhubungan langsung dengan keluarga
Iswari. Jika mereka sudah mendapat kesempatan untuk berada di
rumah itu dengan tugas apapun juga, maka mereka akan dengan
mudah dapat melakukan tugas mereka. Membunuh anak Iswari
itu. Akan lebih baik jika pembunuhan itu tidak diketahui oleh
siapapun juga. Tetapi keduanya pun bertekad, jika perlu maka
mereka harus mengorbankan nyawa mereka. Membunuh
dimanapun juga, meskipun banyak saksi yang akan melihatnya
dan mungkin mereka akan beramai-ramai menangkap dan
membunuh mereka. Namun sebelum mereka mendapatkan kesempatan itu, maka
mereka lebih baik tidak berbuat apa-apa. Lebih baik mereka
menunjukkan sikap dan tingkah laku yang dapat meyakinkan
banyak orang, bahwa mereka adalah anak Tanah Perdikan yang
baik. Namun semakin lama mereka hidup di Tanah Perdikan itu,
maka mereka semakin banyak melihat kenyataan tentang Tanah
Perdikan itu. Mereka melihat betapa anak-anak mudanya telah
bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan hidup rakyat
Tanah Perdikan Sembojan. Bahkan untuk beberapa saat lamanya,
mereka berdua telah ikut pula menangani beberapa macam
pekerjaan besar yang sangat berguna bagi perkembangan Tanah
Perdikan Semt;ojan. Mereka telah sempat membuat bendungan
yang dapat mengairi sawah di satu sisi Tanah Perdikan dan
mencakup daerah persawahan dari beberapa padukuhan. Yang
124 SH. Mintardja lain adalah membuat sebuah jalan yang, menghubungkan tiga
padukuhan yang terpencil, sehingga jalan itu dapat menjadi
penghubung sehingga padukuhan itu tidak lagi terasa terpisah.
Jalan yang dibuat itu merupakan jalan yang cukup kuat untuk
dilalui swbuah pedati. Pada saat-saat Saruju dan Damar sedang mencari
kesempatan berhubungan langsung dengan isi rumah Iswari,
maka bekas pengikut Kalamerta itu rasa-rasanya tidak sabar lagi.
Ia ingin dengan cepat menyelesaikan tugasnya meskipun
seandainya ia harus mengorbankan diri.
Namun ternyata, kesempatan itu masih belum kunjung
datang. Meskipun ia beberapa kali menjajakan dawetnya dimuka
regol, namun isi rumah Iswari itu masih belum memanggilnya
lagi. Karenaa itu, maka mereka bertiga, telah mengulangi cara
yang ingin mereka lakukan sebelumnya. Dimalam hari mereka
berusaha untuk menunggu suara tangis Risang. Jika mereka
mendengar suara itu, maka mereka mengetahui dimana anak itu
tidur. Tetapi ternyata bahwa kesempatan itu pun harus ditunggu.
Namun dalam pada iku, dengan tidak diduga sama sekali,
maka di siang hari, pemomong Risang telah memanggil penjual
dawet yang sering menjajakan dawetnya di depan regol
rumahnya. Adalah kebetulan sekali bahwa diteriknya panas
matahari, Risang melihat penjual dawet itu.
"Baiklajh, baiklah" berkata pemomongnya, "biarlah penjual
dawet itu dipanggil."
"Biarlah aku memanggilnya" berkata Bibi
Bekas pengikut Kalamerta -itu menjadi berdebar-debar.
Ternyata kesempatan itu datang sekali lagi. Seharusnya ia
mampu memanfaatkan kesempatan iyu. Apapun yang terjadi. Ia
harus menjadi pahlawan yang akan selalu dikenang oleh Ki
Rangga Gupita dan Nyi Wiradana, jika kelak mereka
125 SH. Mintardja mendapatkan kemenangan, maka akan dibuat sebuah patung
bagi dirinya di alun-alun Jipang
Sambil memikul dawetnya memasuki regol halaman, bekas
pengikut Kalamerta itu memandang berkeliling. Adalah
kebetulan sekali ia tidak mdlihat Gandar. Ia tidak melihat
seorang laki-laki pun di halaman, bahkan. tidak ada orang diregol
halaman. Biasanya satu atau dua orang pengawal berada di
tempat itu. "Kemana mereka?"bertanya penjual dawet itu didalam
hatinya. Namun kemudian katanya didalaan hati, "aku tidak
peduli. Yang penting aku mendapat kesempatan untuk menikam
anak itu. Aku tidak peduli apa yang terjadi berikutnya. Jika
sempat aku akan berlari justru kesamping dan meloncat dinding.
Jika tidak dan jebakan yang memang dibuat aku tidak
berkeberatan mati." Sementara itu ketika penjual dawet itu melihat keluar regol, ia
melihat dua orang sedang duduk di pinggir jalan dibawah
rimbunnya pepohonan. Namun kedua orang itu pun kemudian
telah bergeser sehingga bakas pengikut Kalamtrta itu tidak dapat
melihatnya lagi. Meskipun demikian ia berpikir didalam hati, "Kedua orang itu
tentu mencari tempat yang lebih baik. Mereka tentu akan
membantu aku dalam keadaan yang sulit."
Karena itu hatinya menjadi sedikit tenang. Jika ia harus mati,
maka ada kawannya yang akan mati bersamanya sebagaimana
mereka katakan sendiri. Mereka merasa tidak perlu melaporkan
kepada Ki Rangga Gupita. Jika anak Iswari itu memang mati,
maka peristiwa itu sendiri akan menjadi laporan yang akan
disampaikan oleh seribu mulut, kepadanya.
Seperti yang terdahulu, maka penjual dawet itu telah
meletakkan pikulannya dibawah rimbunnya pohon jambu air.
Tanpa setahu orang lain maka ia telah menyiapkan golok
panjangnya yang disimpannya di pikulannya. Dalam sekejap ia
126 SH. Mintardja akan dapat menarik goloknya dan menikam anak Iswari itu
sampai mati. Baru kemudian ia akan memikirkan dirinya sendiri.
"Tunggulah sebentar," berkata perempuan yang disebut Bibi
itu kepada penjual dawet., "Anak itu sedang mengambil mangkuk
ke belakang." "Baik Ki Sanak," jawab penjual dawet itu. "Aku tidak tergesa-
gesa." "Dalam keadaan seperti itu, tentu daganganmu akan lekas
habis," berkata Bibi kepada penjual dawet itu.
"Biasanya memang begitu. Agak lebih cepat dibandingkan
musim basah," berkata penjual dawet itu. Bahkan katanya
kemudian, "Di musim basah, aku mempersiapkan dagangan lebih
sedikit daripada di musim panas begini."
Bibi itu melangkah mendekat. Ia hanya melihat santan di
jambangan saja tanpa membeli bagi dirinya sendiri.
Sementara itu Risang berlari-lari sambil membawa mangkuk
kecil ke luar dari seketeng. Pemomongnya kemudian berlari-lari
pula mengikutinya. Dalam pada itu penjual dawet itu menjadi semakin berdebar-
debar. Ia melihat satu kesempatan lagi telah terbuka. Karena itu
maka ia harus dapat mempergunakannya sebaik-baiknya.
Dengan jantung berdebar-debar ia melihat Risang semakin
lama semakin dekat dengan mangkuk ditangan. Sementara
pemomongnya pun berlari-lari pula menyusulnya.
Dalam pada itu Bibi yang melihat Risang berlari-lari pun
telah menunggunya pula di sebelah penjual dawet itu. Bahkan
kemudian Bibilah yang menerima mangkuknya itu sambil
berkata,"Mari. Berikan mangkuk itu. Biarlah mangkuk ini diisi
sampai penuh." Risang menyerahkan mangkuk itu kepada Bibi dan kemudian
Bibilah yang menyerahkannya kepada penjual dawet itu.
127 SH. Mintardja Sementara itu, penjual dawet itu benar-benar telah dicekam
oleh kegelisahan. Risang berdiri selangkah saja didepan
pikulannya. Jika ia menarik pisau belati penjangnya, maka
dengan selangkah saja ia sudah dapat menggapainya sambil
menghunjamkan pisau itu ke dalam tubuh anak itu yang tentu
masih sangat lunak. Namun bekas pengikut Kalamerta itu telah menerima
mangkuk itu pula. Ia ingin memberikan mangkuk itu nanti
langsung kepada Risang. Kemudian menangkap tangannya dan
menghentakkannya. Sementara itu tangannya yang lain telah
mencabut pisau belatinya, dan kemudian mudah sekali meskipun
ia tidak melihat jalan terbuka bagi dirinya sendiri. Tetapi karena
tidak ada pengawal di pintu, maka ia akan lari melalui regol,
turun ke jalan besar. Dua orang kawannya telah menunggunya.
Mereka tentu akan membantunya dan bersama-sama berusaha
melarikan diri atau bersama-sama akan ditelan maut.
Meskipun jantungnya menjadi berdebar-debar, namun ia
masih juga mengisi mangkuk itu dengan legen, cendol dan
santan. Kemudian mengaduknya dengan irus kecil. Sementara itu
ia mencoba mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya.
Demikian, maka penjual dawet itu telah menyerahkan
mangkuk itu langsung kepada Risang.
Tetapi pemomongnyalah yang mengulurkan tangan untuk
menerima sambil berkata, "Maril, mari biarlah aku
membawakannya agar tidak tumpah."
Penjual dawet itu mengumpat di dalam hati. Namun
kesempatan itu masih ada padanya. Selagi Risang
memperhatikan mangkuk di tangan pemomongnya dan bahkan
menggapai-gapainya, maka penjual dawet itu pun telah
mengambil keputusan. Dengan cepat ia menarik pisau belati dari sela-sela bingkai
jambangan di pikulannya. Dengan cepat sekali ia bangkit dan
meloncat menerkam Risang.
128 SH. Mintardja Yang dilakukannya demikian cepatnya, sehingga orang itu
yakin bahwa ia akan dapat membunuh anak itu.
Namun yang berdiri dekat Risang selain pemomongnya
adalah Bibi yang pernah disebut Serigala Betina. Karena itu,
maka ketika orang itu menarik sesuatu dari pikulannya, maka
naluri Bibi itu pun telah menjalari tubuhnya. Demikian ia melihat
benda berkilat ditangan penjual dawet yang meloncati pikulannya
itu, maka ia pun telah bertindak pada waktu yang tepat.
Dalam pada itu, saat pisau itu terjulur mengarah ketubuh
Risang, kaki Bibi telah menyambarnya dengan kakinya. Tidak
kalah cepatnya dengan gerak tangan penjual dawet itu, sehingga
sentuhan kaki Bibi yang keras itu ternyata telah mampu
melemparkan pisau ditangan penjual dawet itu sebelum pisau itu
menyentuh dan apalagi tergores ditubuh Risang.
Risang sendiri terkejut. Demikian pemomongnya. Karena itu
maka tiba-tiba saja Risang telah menjerit menangis.
Penjual dawet itu mengumpat kasar. Ia pun telah meloncat
menggapai pisaunya yang terjatuh. Namun sementara itu Bibi
telah berteriak kepada pemomong Risang, "Bawa masuk cepat."
Pemomongnya itu telah mengangkat Risang dengan tergesa-gesa
dan mendukungnya dengan sebelah tangan, sementara
tangannya yang lain masih memegang mangkuk berisi dawet
cendol. "Lepaskan mangkuk itu. Dukung Risang dengan baik,"
pesan Bibi melihat sikap pemomong Risang itu.
Hampir di luar sadarnya pemomongnya itu pun telah
melepaskan mangkuknya dan berlari-lari membawa Risang ke
pendapa. Sementara itu penjual dawet itu telah berusaha mengejarnya
ketika pisau belatinya telah berhasil diambilnya.
Tetapi langkahnya ternyata telah dipotong oleh perempuan
lain yang bertubuh agak kegemuk-gemukan dan bertubuh tinggi
menurut ukuran seorang perempuan.
129 SH. Mintardja Penjual dawet itu tidak mau kehilangan waktu. Karena itu, ia
sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Pisaunya telah
terjulur pula ke dada Bibi untuk menyingkirkan karena penjual
dawet itu akan berusaha mengejar Risang.
Namun ternyata Bibi itu cukup tangkas. Selangkah ia bergeser
kesamping. Ketika pisau itu terjulur sejengkal dari tubuhnya,
maka tangannya pun telah terayun. Dengan sisi telapak
tangannya ia telah memukul pergelangan tangan penjual dawet
itu. Demikian kerasnya sehingga pisaunya sekali lagi terlepas dari
tangannya. Bekas pengikut Kalamerta itu meloncat surut. Dengan wajah
yang tegang baru ia mencoba mengamati perempuan yang telah
menghentikannya itu, bahkan telah menjatuhkan pisaunya.
"Perempuan iblis," geramnya. "Kau telah menggagalkan
rencanaku yang sudah aku susun mapan."
Bibi termangu-mangu. Namun sementara itu Risang telah
dibawa naik ke pendapa dan melintas menuju pringgitan. Ketika
pemomong Risang itu telah membuka pintu pringgitan maka Bibi
itu telah menarik nafas dalam-dalam.
"Anak itu sudah diselamatkan," berkata Bibi.
"Persetan," geram bekas pengikut Kalamerta. Tanpa
bertanya lebih banyak lagi, maka ia pun telah menyerang
perempuan yang agak kegemuk-gemukan itu.
Tetapi perempuan itu cukup tangkas. Ia sempat


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menghindari serangan itu sehingga tidak menyentuhnya.
Bahkan sambil bergeser ke samping Bibi telah
mempersiapkan satu serangan.
Demikian kakinya menyentuh tanah, maka tubuh Bibi
yang besar dan telah terlontar pula. Kaki kirinya melangkah
maju sementara tangannya terjulur lurus ke depan
menggapai sasaran, dada lawannya.
130 SH. Mintardja Namun yang diserangnya adalah bekas pengikut
Kalamerta yang dipercaya. Itulah sebabnya, maka serangan
itu sama sekali tidak mengenai sasarannya. Penjual dawet
itu sempat mengelakkannya dengan loncatan kesamping.
Namun Bibi tidak membiarkannya. Ia pun telah meloncat
pula sambil mengayunkan tangan mendatar menebas ke
arah kening. Pengikut Kalamerta itu merendahkan diri. Namun
sekaligus kakinya telah bergerak melingkar menyapu kaki
Bibi yang tangannya masih terjulur.
Namun Bibi itu pun tangkas pula. Ia sempat meloncat
ketika kaki penjual dawet itu melingkar menyerang,
sehingga dengan demikian kaki itu tidak mengenai sasaran.
"Ternyata kau mempunyai kemampuan pula he?" gumam
Bibi seperti kepada diri sendiri.
Namun penjual dawet yang marah itu pun telah
memutuskan untuk membunuh perempuan itu dan ia harus
mencari kesempatan untuk melarikan diri.
Dengan demikian maka bekas pengikut Kalamerta itu
segera menghentakkan segenap kemampuannya.
Sebenarnyalah bahwa kemampuan bekas pengikut
Kalamerta itu tidak mampu mengimbangi kemampuan Bibi
yang pernah disebut Serigala Betina, apalagi setelah ia
mendapat tuntunan dari Nyai Soka. Karena itu, ketika Bibi
itu benar-benar telah mempergunakan kemampuannya
yang sesungguhnya, maka penjual dawet itu pun segera
terdesak. Namun penjual dawet itu tidak menyerah. Yang ingin
dilakukannya jika ia tidak dapat membunuh lawannya
adalah melarikan diri. 131 SH. Mintardja Karena itu, ketika ia sempat menghentakkan ilmu dan
mendesak Bibi selangkah surut, maka ia pun telah berusaha
untuk meloncat menuju ke pintu gerbang halaman.
Tetapi ternyata ia memang tidak mampu melepaskan diri
dari tangan Bibi. Demikian ia meloncat berlari, maka Bibi
pun telah meloncat pula dibelakangnya. Bahkan dorongan
tenaga cadangan Bibi yang lebih besar, membuat
langkahnya lebih cepat. Karena itu, sebelum orang itu sampai ke regol halaman,
Bibi telah mendahuluinya dan menutup kemungkinan
orang itu keluar dari regol halaman, karena Bibi itu sendiri
telah berdiri ditengah-tengah pintu.
"Gila," geram penjual dawet itu. Dengan tangkasnya ia
menyerang. Kakinya telah terangkat menyamping setelah ia
memutar tubuhnya setengah lingkaran.
Bibi tidak menghindari serangan itu. Ia bahkan
membentur serangan itu dengan sedikit merendah sambil
memiringkan tubuhnya untuk melindungi lambungnya
dengan lengan dan sikunya.
Kaki penjual dawet itu pun kemudian telah membentur
siku Bibi. Demikian besar kekuatannya yang telah
dihentakkannya, sehingga Bibi terguncang
keseimbangannya. Tetapi Bibi masih tetap tegak berdiri di
regol halaman rumah Iswari itu.
Ternyata yang terjadi pada penjual dawet itu lebih parah.
Ketika kakinya membentur siku Bibi, maka kekuatannya
yang besar seakan-akan telah memental dan menghantam
bagian dalam tubuhnya sendiri. Karena itu maka ia pun
telah terdorong beberapa langkah surut, dan bahkan ia pun
telah jatuh terguling. 132 SH. Mintardja Namun dengan sisa tenaganya orang itu berusaha untuk
bangkit. Tetapi demikian ia berdiri tegak, dengan perut
yang masih mual dan kepala yang pening, tiba-tiba saja
telah datang serangan Bibi yang dahsyat, karena Bibi itu
pun menjadi marah karena keseimbangannya yang
terguncang. Kaki Bibilah yang kemudian terjulur menyamping
dilambari dengan kekuatan yang sangat besar. Serangan
yang kuat itu telah menghantam langsung ke leher penjual
dawet itu. Sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan,
karena menurut penglihatan penjual dawet itu, perempuan
yang agak gemuk itu memakai kain panjang.
Namun penjual dawet itu tidak sempat
memperhatikannya lebih lanjut. Kaki Bibi itu benar-benar
telah mengenai lehernya. Demikian kerasnya sehingga
tulang leher orang itu telah dipatahkannya.
Orang itu terlempar sekali lagi. Jauh lebih keras dan
jauh. Penjual dawet itu terlempar beberapa langkah dan
jatuh terbanting di tanah. Tetapi ia tidak lagi berusaha
untuk bangkit. Demikian ia terjatuh, maka ia pun telah
terbujur diam. Sementara itu, Bibi pun telah berdiri tegak dengan kaki
rapat. Ternyata kain panjangnya telah koyak karena
serangannya yang dilontarkannya dengan sepenuh tenaga,
sementara ia tidak mempersiapkan pakaiannya untuk
melakukannya. Sementara itu, halaman itu telah banyak dikerumuni
orang. Iswari sendiri telah keluar di pendapa sambil
mendukung Risang. Seakan-akan ia tidak
mempercayakannya kepada orang lain. Nyai Soka pun telah
berada di pandapa pula, sementara Gandar berdiri disisi
pendapa bersama seorang pengawal. Beberapa orang lain
133 SH. Mintardja yang mendengar keributan itu telah pula ke luar dan turun
ke halaman. Dalam pada itu, maka Nyai Sokalah yang kemudian turun
dari pendapa dan mendekati Bibi sambil berkata, "Pergilah
kebilikmu dahulu." Bibi pun kemudian berkisar dari tempatnya, sementara
Nyai Soka telah mendekati tubuh yang terbaring itu.
Bahkan sejenak kemudian Kiai Badra pun telah berjongkok
pula untuk mengamati keadaan penjual dawet itu.
Namun Kiai Badra itu pun telah menggelengkan
kepalanya sambil berkata, "Serangan itu terlalu keras."
Nyai Soka pun menarik nafas dalam-dalam. Orang itu
tidak terluka sama sekali. Namun tulang lehernyalah yang
agaknya telah dipatahkan oleh Bibi yang marah.
Beberapa saat kemudian, Bibi pun telah kembali pula ke
halaman. Sementara itu Iswari yang mendukung Risang
telah turun bersama pemomongnya yang ketakutan.
Seorang pengawal yang berdiri di pintu gerbang menjadi
berdebar-debar. Ternyata bahwa ia telah melalaikan tugas
karena ia berada beberapa langkah dari gerbang itu dan
sempat berbicara dan bahkan berkelakar dengan kawannya
di luar regol. Karena menurut penglihatannya hanyalah
seorang penjual dawet saja yang memasuki halaman, maka
ia tidak banyak menaruh perhatian.
Dalam waktu yang singkat, maka padukuhan induk itu
menjadi gempar. Orang-orang yang mendengar peristiwa
itu telah datang beramai-ramai ke rumah Kepala Tanah
Perdikan mereka. Mereka ingin melihat apa yang terjadi
dan apakah tidak terdapat korban di antara orang-orang
Tanah Perdikan itu, apalagi Risang.
134 SH. Mintardja Ternyata seisi rumah itu tidak ada yang mengalami
cidera. Risang masih tetap di dalam dukungan ibunya.
Sementara itu, penjual dawet yang telah terbunuh itu telah
diangkat kependapa pula. Kabar itu bukan saja hanya tersebar di padukuhan induk.
Tetapi kemudian telah tersebar ke seluruh Tanah Perdikan.
Hampir setiap orang telah memperkatakan percobaan
pembunuhan atas Risang, anak Iswari oleh seorang penjual
dawet. Namun percobaan itu telah gagal dan bahkan
penjual dawet itu telah terbunuh oleh Bibi.
Sementara itu, Kiai Badra, Kiai Soka dan para pemimpin
Tanah Perdikan yang lain, merasa sayang, bahwa orang itu
telah terbunuh, sehingga dengan demikian daripadanya
sama sekali tidak dapat disadap keterangan apapun juga
tentang usaha itu. "Kita tahu, siapakah yang memerintahkannya. Tetapi jika
kita sempat bertanya, maka mungkin kita dapat
mengetahui, dimanakah mereka sekarang bersembunyi,"
berkata Kiai Soka. Bibi itu menundukkan kepalanya. Katanya, "Aku tidak
sengaja membunuhnya. Hatiku ternyata telah dibakar oleh
kemarahan yang tidak terkendali, sehingga aku kurang
dapat menahan diri."
"Sudahlah," berkata Kiai Soka, "Segalanya telah telanjur.
Namun kita harus memperkirakan bahwa orang ini tidak
sendiri." Sebenarnyalah dua orang kawannya telah mendengar
pula kegagalan yang dialami bekas pengikut Kalamerta itu.
Keduanya mengumpat tidak habis-habisnya. Seorang di
antara mereka menggeram, "Orang itu ternyata dungu
135 SH. Mintardja sekali. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin ia
dapat gagal." "Tetapi satu kenyataan adalah, bahwa ia gagal
membunuh," geram yang lain. "Dengan demikian kita tidak
segera dapat kembali dan memberikan laporan tentang
kegagalan itu." Yang lain termangu-mangu. Namun kemudian katanya,
"Apakah kita tidak akan mengalami kesulitan" Mungkin Ki
Rangga dan Nyi Wiradana akan membebankan kegagalan
ini kepada kita." "Kita dapat menyusun cerita," jawab kawannya. "Apapun
dapat kita katakan, karena orang dungu itu menurut
pendengaranku sudah mati."
"Untung juga orang itu mati, sehingga ia tidak dapat
menyebut kehadiran kita disini," jawab yang lain.
Beberapa saat lamanya mereka termangu-mangu.
Namun kemudian kawannya berkata, "Kita akan menunggu
beberapa hari lagi. Mungkin kita akan mendapat bahan
yang baru sehingga kita akan dapat mengambil keputusan,
apakah kita akan kembali atau kitalah yang akan menjadi
pahlawan." "Tetapi jangan mati," sahut yang lain. "Aku ingin
mendapat penghargaan karena kepahlawanan kita.
Betapapun kita disanjung, tetapi kalau kita mati maka kita
tidak akan dapat merasakan lagi kebanggaan itu."
Kawannya mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia
bergumam, "Ya, aku mengerti."
Demikianlah keduanya memutuskan untuk tetap berada
di Tanah Perdikan itu barang satu dua hari untuk
136 SH. Mintardja mengetahui perkembangan selanjutnya. Seorang di antara
mereka masih tetap pada pekerjaannya, penjual kayu bakar.
Dua orang lain yang membicarakan peristiwa itu dengan
sungguh-sungguh adalah Saruju dan Damar. Menurut
penilaian mereka, kehadiran mereka di Tanah Perdikan itu
memang tidak sendiri. "Agaknya petugas itu telah gagal,"
berkata Saruju. "Ya," sahut Damar. "Tetapi orang itu tentu bukan satu-
satunya. Agaknya di Tanah Perdikan ini berkeliaran para
pengikut Ki Rangga dan Nyi Wiradana."
"Kali ini mereka mendapat tugas langsung membunuh
anak Iswari yang ternyata gagal. Mungkin lain kali, jika kita
dianggap sudah keluar garis kesetiaan kita, maka kitalah
yang akan menjadi sasaran. Bahkan mungkin keluarga kita,"
berkata Saruju. Damar menarik nafas dalam-dalam. Kedua anak muda
itu mulai merasakan satu masalah di dalam hidup mereka
dalam hubungannya dengan kesetiaan mereka terhadap
Jipang. Menurut penglihatan mereka sehari-hari di Tanah
Perdikan Sembojan, segala sesuatunya telah menjadi
semakin tertib, tenang dan wajar. Sementara itu, menurut
penjelasan beberapa orang perwira Pajang yang masih ada
di Tanah Perdikan Sembojan, Tanah Perdikan itu sejak
semula memang mempunyai garis hubungan dengan
Pajang. "Bukankah hal itu sudah kita ketahui sejak kita belum
menggabungkan diri dengan Jipang?" desis Damar.
Saruju mengangguk. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan ia
kemudian justru berkata, "Kegagalan itu telah mempersulit
137 SH. Mintardja tugas kita. Orang-orang Tanah Perdikan ini akan menjadi
semakin berhati-hati."
"Kita tidak dibatasi waktu. Kita akan dapat menunggu
sampai mereka menjadi lengah lagi," berkata Damar.
"Memang itu adalah satu-satunya jalan. Tetapi sampai
kapan mereka akan menjadi lengah lagi," sahut Saruju.
"Itulah yang kita tidak tahu," jawab Damar.
"Tetapi bagaimanapun juga, kita memang berada dalam
keadaan yang rumit. Peristiwa itu menjadi peringatan bagi
kita, bahwa kita memang benar-benar diawasi tanpa kita
sadari," berkata Saruju.
"Kita tidak perlu cemas selama kita tidak menyimpang
dari garis tugas kita," jawab Damar.
Dengan demikian maka kedua orang anak muda itu
menjadi semakin berhati-hati. Mereka tidak boleh salah
langkah. Meskipun demikian maka salah paham mungkin


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

saja dapat terjadi. Untuk mengelabuhi orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan, mereka harus berbuat sebaik-baiknya. Tetapi hal
itu akan dapat menimbulkan salah penilaian bagi orang-
orang yang mendapat tugas dari Ki Rangga Gupita dan Nyi
Wiradana. Tetapi jika mereka tidak berbuat demikian, maka mereka
tidak akan mendapat kepercayaan, apalagi mendapat
kesempatan untuk menjadi akrab dengan keluarga Iswari.
Meskipun demikian, keduanya bertekad untuk
menempuh jalan sebagaimana dilakukan. Mereka harus
mendapat kepercayaan dari orang-orang Tanah Perdikan
Sembojan. 138 SH. Mintardja Dalam pada itu, setelah mayat penjual dawet itu
dikuburkan, maka Tanah Perdikan memang nampak
menjadi semakin berhati-hati. Para pengawal menjadi lebih
sering mengadakan ronda keliling Tanah Perdikan.
Beberapa orang pengawal berkuda telah melintasi bulak-
bulak sawah, menghubungkan padukuhan yang satu dengan
padukuhan yang lain. Bukan hanya di siang hari, tetapi
justru di malam hari gelombang pengamatan semakin
diperketat. Dua orang bekas prajurit Jipang yang berada di Tanah
Perdikan itu merasa bahwa mereka tidak lagi mempunyai
cara untuk melakukan tugas mereka sejak kegagalan
seorang kawannya. Karena dengan demikian maka rasa-
rasanya setiap jengkal tanah di rumah Pemangku Jabatan
Kepala Tanah Perdikan itu selalu diawasi dengan ketat.
Bukan saja oleh para pengawal, tetapi juga oleh para
pemimpin, pemomong dan pengawal anak Iswari yang
disebut Risang itu. "Kita sudah kehilangan semua kesempatan," berkata
bekas prajurit yang cacat wajahnya.
Kawannya, yang cacat pada matanya menyahut, "Untuk
sementara kita memang tidak akan dapat berbuat apa-apa.
Karena itu lebih baik kita kembali dan melaporkan
kegagalan ini kepada Ki Rangga."
"Dan kita berdua akan digantung," jawab yang lain.
Tetapi prajurit yang cacat pada matanya itu berkata,
"Kita akan menceritakan kedunguan seorang dari kawan
kita itu. Kita timpakan semua kesalahan kepadanya. Ia tidak
akan dapat membantah, atau mengatakan lain kepada Ki
Rangga dan Nyi Wiradana."
139 SH. Mintardja Kawannya, yang cacat pada wajahnya termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil
menjawab, "Marilah. Kita akan kembali dan melaporkan
kepada Ki Rangga Gupita. Apapun yang dapat kita katakan
kepada mereka, maka untuk saat ini lebih baik bagi kita
meninggalkan Tanah Perdikan ini."
Kedua orang itu benar-benar telah meninggalkan Tanah
Perdikan Sembojan. Mereka berniat melaporkan peristiwa
yang telah terjadi dan memberi tekanan bahwa
kawannyalah yang bersalah sehingga rencana itu gagal.
Ketika kedua orang itu sampai di sarang mereka, ternyata
bahwa Ki Rangga dan Nyi Wiradana tidak sedang berada di
sarang itu. Karena itu, maka keduanya harus menunggu
beberapa hari sampai saatnya Ki Rangga dan Nyi Wiradana
datang. Demikian mereka mendapat kesempatan untuk berbicara
dengan Ki Rangga, maka mereka pun telah menghadap
dengan segala macam cerita yang telah disepakati bersama
untuk disampaikan kepada Ki Rangga dan Warsi. Mereka
telah menimpakan segala kesalahan kepada kawannya yang
terbunuh itu. Ketika keduanya telah menghadap, maka Ki Rangga pun
bertanya, "Bagaimana dengan tugasmu?"
Bekas prajurit Jipang yang cacat pada wajahnya
menyahut, "Ampun Ki Rangga. Sebenarnya tugas kami
sudah mendekati keberhasilan."
"Ya," jawab Ki Rangga. "Sebenarnya anak itu sudah
berada dalam jangkauan. Hanya berjarak sepikul saja.
Tetapi ternyata bahwa perempuan yang disebut Serigala
Betina itulah yang menghalangi. Sementara pada saat yang
mendebarkan itu kalian berdua tidak berbuat apa-apa. Jika
140 SH. Mintardja seandainya kalian berdua membantu, misalnya dengan
menarik perhatian Serigala Betina itu, maka Risang tentu
sudah mati. Orang yang berpura-pura menjual dawet itu
sudah membuat perhitungan cukup cermat dan mapan."
Kedua orang bekas prajurit Jipang itu termangu-mangu.
Ternyata Ki Rangga telah mengetahui segala-galanya.
Dengan demikian maka kedua orang itu tidak dapat berbuat
apa-apa. Yang dikatakan oleh Ki Rangga sebenarnyalah apa
yang telah terjadi. "Nah, jika demikian, maka kesalahan itu sebenarnya
terletak pada kalian. Kenapa kalian tidak berusaha untuk
menarik perhatian Serigala Betina itu pada saat pisau belati
kawanmu yang menjual dawet siap menusuk, seharusnya
perempuan itu berpaling ke arah kalian apapun yang kalian
lakukan. Tetapi kalian justru telah bergeser pergi dari regol
halaman rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan
itu." Kedua orang itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Tidak sepatah kata pun dapat diucapkan. Bahkan keduanya
telah sampai pada kesimpulan bahwa mereka akan dapat
dihukum mati. Namun ternyata Ki Rangga tidak melakukannya. Bahkan
ia berkata, "Baiklah. Kalian dapat beristirahat. Tetapi jika
pada suatu saat kalian mendapat tugas yang rumit, maka
kalian tidak boleh berbuat bodoh seperti itu. Dengan
kegagalan yang sudah kedua kalinya itu, maka usaha kita
akan menjadi semakin rumit. Setidak-tidaknya untuk
beberapa waktu mendatang karena halaman dan anak
Iswari itu tentu dijaga dengan lebih ketat lagi."
Kedua orang itu termangu-mangu. Mereka seolah-olah
tidak percaya akan pendengaran telinganya. Namun Ki
Rangga itu berkata pula, "Pergilah"
141 SH. Mintardja Kedua orang itu telah beringsut dan meninggalkan
tempat itu. Ketika mereka sudah berada di luar, mereka
masih saja merasa berdebar-debar. Bahkan prajurit yang
cacat wajahnya itu berdesis, "Apakah benar kita telah
dibebaskan dari segala hukuman?"
Kawannya termangu-mangu. Namun dengan nada berat
ia berkata, "Apakah ini bukan sekadar permainan untuk
menyakiti perasaan kita sebelum kita akan digantung?"
Keduanya masih saja dibayangi oleh kegelisahan. Mereka
tidak yakin akan diri mereka sendiri.
Meskipun demikian prajurit yang cacat di wajahnya itu
kemudian berkata untuk menentramkan hatinya sendiri,
"Jika Ki Rangga dan Nyi Wiradana itu mengetahui dengan
pasti apa yang sudah terjadi, maka mereka pun tentu
mengetahui pula kesulitan tugas yang mereka emban."
"Tetapi Ki Rangga sudah mengatakan, bahwa kitalah
yang bersalah, karena kita tidak berusaha menarik
perhatian perempuan yang disebutnya Serigala Betina itu,
sehingga tidak memberi peluang kawan kita menikam anak
Iswari yang sudah berada di jangkauan pisau belatinya,"
sahut yang lain. Leher mereka terasa meremang. Namun yang cacat
diwajahnya itu berkata, "Biar sajalah. Apapun yang akan
terjadi akan kita tanggungkan."
Dengan demikian untuk dua tiga hari kedua orang itu
masih gelisah. Bahkan ketika kemudian Ki Rangga dan
Warsi meninggalkan sarangnya yang satu itu. Kedua bekas
prajurit itu masih juga dibayangi oleh kesalahannya."
"Mungkin Ki Rangga akan menghukum kita dari
kejauhan," berkata prajurit yang cacat matanya itu.
142 SH. Mintardja Namun hukuman itu tidak juga kunjung datang.
Ternyata bahwa Ki Rangga memang tidak menjatuhkan
hukuman kepada kedua orang itu. Ia memerlukan kekuatan
yang sebesar-besarnya bagi perjuangannya, sehingga karena
itu, maka ia telah mengurangi jumlah orang yang dijerat
dengan hukuman. Namun Ki Rangga akan menjatuhkan hukuman yang
semakin berat bagi mereka yang berkhianat. Kegagalan satu
tugas bukan merupakan kejahatan yang tidak dapat
diampuni. Hanya pengkhianatan sajalah yang merupakan
kejahatan tertinggi, dan harus menjalani hukuman mati.
Ketika kedua orang itu mulai yakin bahwa mereka
memang tidak akan dihukum, karena yang mereka lakukan
bukan pengkhianatan, maka Saruju dan Damar yang berada
di Tanah Perdikan Sembojan masih belum mempunyai cara
yang tepat untuk melakukan tugas mereka. Orang-orang
disekitar Risang masih tetap berjaga-jaga dan
mengawasinya dengan rapat sekali. Sehingga karena itu,
maka Saruju dan Damar masih menunggu kesempatan itu
datang kepada mereka. Namun sebenarnyalah bahwa keduanya sudah mulai
dihubungi oleh seseorang yang harus mengawasi mereka.
Yang mula-mula mereka jumpai adalah kepercayaan Ki
Rangga dan Warsi. Pada saat Saruju berada di pasar, maka
seseorang telah berdiri disampingnya sambil berdesis,
"Selamat pagi Saruju."
Ketika Saruju berpaling ia menjadi berdebar-debar.
Orang itu dikenalnya dengan baik.
"Sudah cukup lama kau berada di Tanah Perdikan.
Bagaimana kesanmu," bertanya orang itu.
143 SH. Mintardja Hampir saja Saruju salah menjawab. Hampir saja ia
mengatakan bahwa Tanah Perdikan ini telah menjadi baik,
tenteram dan kesejahteraannya telah meningkat.
Untunglah bahwa ia segera menyadari dengan siapa ia
berbicara. Karena itu, maka jawabnya, "Secara lahiriah
Tanah ini memang nampak bertambah baik. Tetapi isinya
masih saja seperti dahulu. Orang-orang asing itulah yang
memerintah Tanah Perdikan ini."
Kepercayaan Ki Rangga itu mengangguk-angguk.
Menurut penilaiannya Saruju masih tetap merupakan orang
yang dapat dipercaya. Ia masih mampu menilai keadaan
Tanah Perdikan itu sesuai dengan pesan yang pernah
diberikan. Sementara itu orang itu pun telah bertanya pula,
"Kemudian bagaimana dengan tugasmu?"
"Aku sedang berusaha merebut kepercayaan orang-orang
Tanah Perdikan ini," jawab Saruju. "Kegagalan orang yang
ditugaskan membunuh anak Iswari dengan kasar itu
mempersuli tugas kami. Mungkin kami memerlukan waktu
yang lebih panjang dari seharusnya. Tetapi kami yakin,
bahwa kami akan dapat melakukannya."
----------oOo---------- Bersambung ke Jilid 28. Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai
kasih http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm
Terima kasih kepada Nyi DewiKZ
144 SH. Mintardja Jilid Ke dua puluh delapan
Cetakan Pertama Naskah ini disusun untuk kalangan sendiri:
Bagi sanak-kadang yang berkumpul / cangkrukan di,
"Padepokan" pelangisingosari atau di
http://pelangisingosari.wordpress.com.
Keberadaan naskah ini tentu melalui proses yang
panjang, mulai scanning, retype " editing dan
layouting sehingga menjadi bentuknya seperti
sekarang ini. Admin mempersilahkan mengunduh naskah ini
secara gratis dengan harapan buku yang mulai langka
ini dapat dibaca oleh sanak kadang di seluruh
Nusantara bahkan di seluruh dunia (WNI yang ada di
seluruh dunia). Untuk menghargai jerih payah beliau-beliau yang
telah bekerja dengan ikhlas demi menghadirkan buku
ini, maka dilarang menggunakan untuk tujuan
komersiil bagi naskah ini.
satpampelangi Koleksi: Ki Arema dan Ki Truno Prenjak
Scanning: Satpampelangi dan Ki Truno Prenjak
Retype: Nyi Dewi KZ di Web http://kangzusi.com/SH_Mintard
ja.htm Edit ulang: Ki Arema Lay-out: Satpampelangi 145 SH. Mintardja 1 SH. Mintardja ORANG itu mengangguk-angguk. Katanya, "Baiklah.
Aku akan selalu menghubungimu. Jika bukan aku, maka
seseorang akan segera memperkenalkan dirinya."
Saruju mengangguk-angguk.
Namun sepeninggalan orang itu, maka Saruju pun
bergegas meninggalkan pasar itu. Ia langsung pergi ke
rumah Damar. Untunglah Damar masih ada di rumahnya.
Dengan singkat Saruju menceriterakan pertemuannya
dengan kepercayaan Ki Rangga itu dan minta agar Damar
mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan-
pertanyaan.

Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Damar mengangguk-angguk. Namun ia tidak dapat
ingkar kepada dirinya sendiri, bahwa ia memang mulai
terpengaruh oleh tata kehidupan Tanah Perdikan itu. Rasa-
rasanya ia benar-benar mendapat ketentraman dan
kedamaian. Berbeda dengan tata cara kehidupan di barak
yang keras dan kasar itu. Meskipun para pemimpinnya
selalu mengatakan bahwa suasana itu dipengaruhi oleh
gejolak darah perjuangan mereka.
"Baiklah," berkata Damar. "Aku akan berusaha untuk
tidak salah ucap." "Di sekitar kita tentu banyak terdapat orang-orang yang
selalu mengawasi kita," berkata Saruju.
Damar mengangguk-angguk. Katanya, "Kita tidak dapat
melepaskan diri dari keadaan ini. Kita adalah binatang
buruan yang setiap saat akan dapat ditangkap, di jerat dan
bahkan dibunuh sama sekali."
Demikianlah, maka Saruju pun telah meninggalkan
rumah Damar dengan hati yang berdebar-debar. Namun ia
2 SH. Mintardja telah merasa lega bahwa ia sempat memberitahu Damar
atas kehadiran kepercayaan Ki Rangga Gupita dan Warsi
itu. Ternyata yang dikatakan Saruju itu benar. Di pagi
harinya, ketika Damar membuka air untuk mengairi
sawahnya seorang telah berhenti di tanggul paritnya.
Damar menjadi berdebar-debar. Orang itulah yang
dikatakan oleh Saruju Kepercayaan Ki Rangga Gupita.
"Bagaimana keadaanmu selama ini Damar?" bertanya
orang itu Damar tersenyum sambil melangkah mendekat.
Jawabnya, "Baik Ki Sanak. Bagaimana dengan kau dan
kerabat di rumah?" "Semuanya baik," jawab orang itu. "Apakah kau sudah
kerasan disini?" Damar tersenyum pula. Katanya, "Tanah ini adalah tanah
kelahiranku. Aku memang kerasan tinggal disini seandainya
Tanah ini dalam keadaan wajar."
"Maksudmu" Apakah sekarang keadaannya tidak wajar?"
bertanya orang itu. "Aku memang ingin tinggal di kampung halaman ini
untuk seterusnya," berkata Damar. "Tetapi tidak dengan
orang-orang pendatang yang tiba-tiba saja menduduki
jabatan kepempimpinan di Tanah ini. Rasa-rasanya ada
sesuatu yang menggelitik perasaan. Bukan karena aku
mendapat tugas dari Ki Rangga Gupita. Tetapi sebagai anak
Tanah Perdikan ini aku memang merasa tersinggung."
Kepercayaan Ki Rangga Gupita itu mengangguk-angguk.
Ia pun menganggap bahwa Damar masih juga termasuk
orang yang dapat dipercaya. Karena itu, maka katanya
3 SH. Mintardja kemudian, "Syukurlah jika kau masih berpijak pada sikap
seorang pejuang. Yang aku lihat selama ini seakan-akan kau
telah tenggelam di dalam arus sikap dan pendapat anak-
anak muda Tanah Perdikan ini yang telah kehilangan
kiblat." "Aku memerlukan kepercayaan mereka," berkata Damar.
"Tanpa kepercayaan mereka, aku tidak dapat berbuat apa-
apa." "Ya. Kalian memang cerdik. Mudah-mudahan kalian
berhasil. Kami, para pejuang akan selalu menghubungi
kalian. Seorang yang lain akan datang kepada kalian. Ia
akan menyebut nama anak Ki Wiradana yang lahir dari Nyi
Wiradana, pemimpin kita."
Damar mengangguk kecil. Sementara itu kepercayaan Ki
Rangga itu pun telah minta diri.
Sambil memandang orang itu berjalan menyusuri bulak
panjang menjauh, Damar menarik nafas dalam-dalam. Ia
telah benar-benar terperosok ke dalam satu ikatan yang
sulit untuk dipatahkannya. Ia harus berjalan terus
betapapun ancaman ditelinganya, bahwa jika ia bergeser
dari sikapnya, maka bukan saja ia sendiri, tetapi
keluarganya akan menjadi korban.
Damar menarik nafas dalam-dalam.
Ketika orang yang menemuinya itu sudah hilang
dikelokan jalan, maka Damar pun telah kembali ke
pekerjaannya, mengairi sawahnya.
Siang itu Damar telah bertemu dengan Saruju di antara
anak-anak Tanah Perdikan yang sedang mengerjakan
bendungan. Tanpa didengar oleh orang lain, maka Damar
telah menceriterakan kedatangan kepercayaan Ki Rangga
sebagaimana pernah datang pula kepada Saruju.
4 SH. Mintardja "Apa katanya?" bertanya Saruju.
Damar pun telah menceriterakannya apa yang telah
dikatakannya. "Mudah-mudahan orang itu tidak menjadi curiga,"
berkata Saruju. Dengan demikian maka Saruju dan Damar menjadi
semakin berhati-hati. Tetapi mereka merasa lebih tenang
bekerja di antara anak-anak muda Tanah Perdikan justru
setelah mereka mengatakan, bahwa hal itu mereka lakukan
sekadar untuk mengelabuhi anak-anak muda Tanah
Perdikan Sembojan. "Apalagi kita tidak tergesa-gesa," berkata Saruju
kemudian, "Ki Rangga dan Nyi Wiradana tidak memberiku
batasan waktu, sehingga kita sendirilah yang menentukan
kapan kita akan melaksanakannya."
Tetapi rasa-rasanya mereka memang enggan untuk
melakukan secepatnya. Mereka masih ingin mengalami
hidup tenang dan tentram. Merka masih ingin berada
dilingkungan keluarga. Bermain dengan anak-anak sebaya
dan mereka masih ingin melupakan dendam dan kebencian,
kekasaran dan kekerasan. Di antara anak-anak muda yang
sebaya, mereka sempat berkelakar. Kadang-kadang
berbicara tentang sesuatu yang tidak ada ujung pangkalnya,
melupakan kesibukan, bukan saja kewadagan, tetapi juga
kejiwaan. Baik Saruju maupun Damar kadang-kadang memang
bertanya kepada diri sendiri, apakah benar bahwa mereka
merasa tersinggung dengan kehadiran Iswari dan kakek
serta neneknya. Serta kehadiran orang-orang lain dari luar
Tanah Perdikan ini" 5 SH. Mintardja Lalu bagaimana dengan Warsi sendiri" Apakah ia
seorang yang memang berasal dari Tanah Perdikan ini"
Namun kulit mereka merasa meremang ketika mereka
menyadari bahwa nyawa mereka terancam. Bahkan
keluarga mereka. Meskipun demikian, keduanya memang agak terlalu lama
menunggu kesempatan. Namun bukan saja terlalu lama,
tetapi mereka memang menunggu kesempatan itu datang.
Mereka sama sekali tidak mengusahakan kesempatan itu
untuk diperolehnya. Hampir di luar sadar mereka, maka hari demi hari
berlalu. Minggu ke minggu berikutnya dan bahkan bulan
telah lewat. Tetapi kesempatan itu tidak datang kepada
Saruju dan Damar. Apalagi untuk beberapa lama tidak seorang pun yang
datang menghubungi mereka. Menanyakan atau menegur
tentang tugas-tugas mereka.
Namun dalam pada itu, ketika Saruju sedang berada di
tempat seorang pandai besi untuk membeli sebuah kapak
pembelah kayu, seorang telah berjongkok disampingnya.
Dengan nada rendah ia berkata, "Aku tunggu kau disimpang
tiga itu." Saruju menjadi berdebar-debar. Namun ia pun segera
sadar, bahwa orang itu tentu merupakan alat dari Ki Rangga
Gupita dan Warsi. Karena itu, setelah ia membayar harga kapak itu, maka ia
pun telah meninggalkan pandai besi itu dan menuju ke
simpang tiga sebagaimana dikatakan oleh orang yang belum
dikenalnya itu. 6 SH. Mintardja "Marilah Ki Sanak," berkata orang itu ketika Saruju
mendekatinya. Tetapi Saruju tidak mau duduk disampingnya. Simpang
tiga itu adalah simpang tiga yang banyak dilalui orang. Jika
ia terlalu lama berbincang dengan orang yang tidak dikenal
di Tanah Perdikan itu, maka
mungkin sekali akan dapat
menarik perhatian. "Siapa kau?" bertanya
Saruju. "Aku hari ini hanya ingin
sekadar memperkenalkan diri," berkata orang itu. "Aku
datang atas nama Ki Rangga
Gupita dan Nyai Wiradana demi kesetiaanku kepada Puguh anak yang berhak untuk mewarisi kedudukan ayahnya di Tanah Perdikan
ini." "Kenapa baru sekarang kau datang?" bertanya Saruju.
Pertanyaan itu mengejutkan orang itu. Namun kemudian
jawabnya, "Aku berbuat tidak atas kehendakku sendiri.
Tetapi aku melakukan perintah."
Saruju menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia
pun berkata, "Baiklah. Lalu apa perintah yang harus aku
lakukan?" "Aku menyampaikan sebuah pertanyaan dari Ki Rangga,"
jawab orang itu. "Pertanyaan apa?" desis Saruju.
7 SH. Mintardja "Kenapa tugasmu belum kau lakukan?" sahut orang itu.
Namun dalam pada itu, orang itu pun berkata,
"Sudahlah. Kita akan bertemu lagi. Aku tahu, bahwa kau
tidak ingin diamati oleh seseorang. Kita akan memilih
tempat yang lebih tenang untuk dapat berbicara panjang.
Seperti aku katakan, aku sekadar memperkenalkan diri hari
ini." Saruju menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia tidak
mau menunjukkan kegelisahannya. Karena itu, maka
katanya, "Pergi sajalah ke pasar. Di pasar semua orang
dapat berbicara dengan siapa saja tanpa mendapat
perhatian dari orang lain. Aku akan mengajak Damar. Aku
tahu, persoalannya tentu akan menyangkut tugas yang
belum dapat dilaksanakan itu."
"Baiklah. Aku akan pergi ke pasar besok pagi-pagi,"
berkata orang itu. Saruju tidak bertanya sesuatu lagi. Ia pun segera
melangkah meninggalkan orang itu sendiri. Ketika ia
berpaling ke sekitarnya, ia menarik nafas panjang. Agaknya
memang tidak ada orang yang memperhatikannya.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia
pun telah meninggalkan tempat itu pula.
Saruju yang gelisah agaknya langsung menuju ke rumah
Damar. Tetapi ternyata ia tidak menemukan Damar di
rumahnya. "Kemana?" bertanya Saruju kepada keluarga Damar yang
ada di rumah. "Aku tidak tahu, tetapi ia pergi dengan kawannya," jawab
yang ada di rumah. 8 SH. Mintardja Saruju mengangguk-angguk. Jika demikian ia tidak perlu
mencari Damar karena jika ia berada di antara orang lain,
maka ia tidak akan dapat mengatakan sesuatu.
Karena itu, maka Saruju pun justru berpesan, "Tolong
sampaikan kepada Damar, bahwa aku menunggu dirumah
sore ini." "Apakah kau ingin memberikan pesan yang lain?"
bertanya keluarga Damar itu.
"Tidak. Aku berharap Damar dapat datang ke rumahku,"
jawab Saruju. "Ia memesan ayam jantan."
Saruju meninggalkan rumah Damar dengan hati yang
gelisah. Ia harus sempat berbicara dengan Damar sebelum
menemuinya orang itu besok di pasar.
Namun sebenarnyalah di sore hari Damar datang ke
rumahnya. Namun agaknya Damar pun telah mengetahui
untuk apa Saruju memanggilnya. Tentu bukan karena
seekor ayam jantan. "Marilah," berkata Saruju mempersilakan Damar,
"Masuk sajalah.Kita berbicara di dalam."
Damar pun telah masuk ke ruang dalam.
Dengan hati-hati Saruju pun menceriterakan bahwa ia
telah bertemu dengan petugas yang dikirim oleh Ki Rangga
Gupita. Demikian hati-hati karena ia tidak ingin seorang
pun antara keluarganya yang mendengarnya.
"Jadi orang itu telah datang?" desis Damar.
"Ya. Pertanyaannya adalah, kenapa kita masih belum
melakukan tugas kita," berkata Saruju.
9 SH. Mintardja Damar menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
katanya, "Bukankah tidak ada batas waktu yang diberikan
kepada kita?" "Ya. Memang tidak ada batas waktu. Tetapi kesabaran
merekalah yang terbatas. Kita tidak akan dapat melampaui
batas kesabaran mereka itu," jawab Saruju.
Wajah Damar menjadi buram. Hampir di luar sadarnya
ia berkata, "Apakah kita harus kembali ke dalam kehidupan
itu?" "Kita sudah terjebak ke dalamnya," berkata Saruju. "Kita


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terlambat melihat kenyataan. Dan agaknya kita sudah
terjerat ke dalam satu lingkungan yang kita tidak akan
dapat ke luar lagi."
Damar mengangguk-angguk. Katanya, "Kita akan
mengalami kehidupan yang baik seperti ini lagi, jika usaha
Warsi berhasil. Jika Warsi dan Ki Rangga berhasil
menduduki Tanah Perdikan ini dan membina kehidupan di
dalamnya, maka kita akan dapat hidup seperti ini lagi
meskipun yang memimpin Tanah Perdikan ini berbeda.
Bahkan mungkin kita akan mendapat kedudukan dan kuasa
yang membuat kehidupan kita lebih baik dari sekarang."
"Apakah kau berbicara dari dasar nuranimu?" bertanya
Saruju. Damar menundukkan kepalanya. Dengan nada yang
bergetar, ia berkata,, "Aku tidak tahu. Tetapi aku beharap
demikian." "Mudah-mudahan" gumam Satuju, "tetapi kita dapat
memperhitungkan. Jika Ki Rangga dan Warsi menang,
maka jangkauan mereka adalah Pajang. Bukankah dengan
demikian benturan kekerasan masih akan berlangsung
lama". Ki Rangga akan menghubungi bekas prajurit Jipang
10 SH. Mintardja yang berserakan. Kemudian menghubungi para Adipati di
pasisir dan Bang Wetan seperti yang-pernah disebut-sebut.
Tanah ini akan kembali dihisap sampai kering dan
perjuangan menentang Pajang itu pun akan sia-sia
meskipun tanah ini kelak dapat dijadikan landasan. Karena
Pajang akan menjadi semakin mapan dan semakin kuat."
Damar menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, "Apa
yang akan kita perbuat?"
"Kita akan menemui, orang itu" berkata Saruju. Kita akan
mendengarkan apa perintah Ki Rangga lebih lanjut."
Damar mengangguk sambil berdesis, "Baiklah. Besuk:
aku akan pergi ke pasar pagi-pagi."
"Bawalah sebilah keris. Syukur jika kau mempunyai
selonsongnya yang masih baik" berkata Saruju.
Wajah Damar menjadi tegang. Namun dengan serta
merta Saruju berkata, "Kita tidak akan membunuhnya.
Tetapi, kita akan bersiap seakan-akan kita sedang
membawa.sebilah keris, agar :pembicaraan kita tidak
terganggu oleh perhatian orang lain. Apalagi kecurigaan."
Damar menarik nafas dala.m-dalam. Kemudian
jawabnya, "Baiklah. Besok aku akan membawa sebilah keris.
Kita dapat berbicara disudut pasar, didekat Pande Besi itu."
"Ya. Pande Besi itu memang sering memperjual belikan
wesi aji. Termasuk keris dan senjata-senjata bertuah
lainnya. Dengan demikian: kita tidak akan dicurigai,
sementara itu suara Pande Besi menempa barang-barang
yang dibuatnya akan menenggelamkan pembicaraan kita
dengan orang yang ditugaskan oleh Ki Rangga itu,"
Demikianlah, maka Damar pun telah minta diri setelah
mereka berjanji untuk bertemu di pasar besok pagi-pagi.
11 SH. Mintardja Namun dalam pada itu, kedua anak muda itu semalam
suntuk hampir tidak dapat tidur karenanya. Mereka
dibayangi oleh bermacam-macam kejadian yang dapat
menjerat mereka apabila mereka tidak dapat melakukan
tugas mereka dengan baik.
Sernentara itu didalam hatinya Daanar berkata, "Aku
akan selalu merindukan kehidupan saperti ini jika
kelak aku kembali ke lingkungan yang keras di sarang penyamun dan Perampok itu." Demikianlah, seperti yang
sudah dijanjikan, maka pagi-
pagi benar sebelum matahari
terbit, mereka sudah bersiap-
siap untuk pergi ke pasar.
Orang tua Damar memang menjadi heran, bahwa Damar
akan pergi ke pasar pagi-pagi sambil membawa sebidah
keris yang dibungkus dengan selongsong kain putih.
"Untuk apa keris itu,?" bertanya ayah Damar.
Damar tersenyum. Katanya, "Aku mempunyai seorang
kawan yang tahu tentang besi bertuah. Aku ingin,
menunjukkan keris ini kepadanya. Menurut ayah keris ini
memiliki tuah yang tinggi."
"Ya. Keris itu adalah keris peninggalan kakekku. Jika
keris itu sudah kau tunjukkan kawanmu itu, bawa keris itu
kembali" berkata ayah Damar.
12 SH. Mintardja "Aku akan membawanya kembali ayah. Aku tidak akan
menjualnya" berkata Damar sambil tertawa, "aku hanya
ingin tahu, apakah keris ini memang memiliki tuah seperti
yang kita duga selama ini."
"Aku tidak meragukannya Damar" 'berkata ayahnya,
"tetapi terserahlah kepadamu jika kau ingin
meyakinkannya. Namun jiika kawanmu itu berpendagat
lain, maka ia bukan seorang yang tahu benar tentang keris,
karena aku yang memilikinya sudah meyakininya berpuluh
tahun." Damar masih tertawa. Namun betapa kecut hatinya
mengingat tugas yang dipikulnya.
Ketika matahari terbit. Damar dan Saruju sudah ada di
sudut pasar. Sambil menunggu petugas yang dikirim oleh Ki
Rangga, Damar telah menunjukkan kerisnya kepada Pande
Besi di sudut pasar, yang memang sering memperjual
belikan keris dan jenis wesi aji yang lain disamping alat-alat
pertanian dan barang-barang yang dibuatnya sendiri.
Pande Besi itu mengangguk-angguk sambil mengamati
keris yang dibawa oleh Damar. Katanya, "Kerismu luar
biasa. He, apakah kau akan menjualnya?" Damar
tersenyum. Katanya, "Seorang kawanku ingin melihatnya. Tetapi
sebenarnya ayah tidak ingin menjualnya."
"Jika keris itu memang akan dijual, jangan dijual kepada
orang lain. Berikan kepadaku," berkata Pande Besi itu.
"Aku hanya ingin menjajagi," berkata Damar.
Ternyata bahwa tidak lama kemudian, orang yang
mereka tunggu itu pun telah datang. Mereka kemudian
duduk di sebelah gubug yang dipergunakan oleh Pande Besi
13 SH. Mintardja itu. Tidak terlalu jauh. Namun karena pande besi itu
kemudian mulai bekerja, maka pembicaraan ketiga orang
itu tidak dapat didengar oleh orang lain, meskipun mereka
tidak berbisik-bisik. "Nah," berkata petugas itu. "Beri kesempatan aku
menyampaikan pesan dan penilaian Ki Rangga Gupita dan
Nyi Wiradana atas kerja kalian."
Damar dan Saruju mengangguk. Sementara itu Damar
masih memegang keris yang tidak lagi berada di
wrangkanya. "Jangan cemas," berkata Damar. "Kita pergunakan keris
ini sebagai alat untuk duduk berbicara dan tidak dicurigai
orang, seakan-akan kita sedang tawar menawar keris ini."
Orang itu mengangguk-angguk. Tetapi setiap kali ia
masih memperhatikan keris itu dengan cemas.
"Nah, katakan," minta Saruju kemudian.
Orang itu menarik nafas. Lalu katanya, "Ki Rangga dan
Nyi Wiradana menilai pekerjaan kalian terlalu lamban."
"Aku akui," berkata Saruju. "Tetapi ini adalah akibat dari
cara yang sangat kasar yang telah dipergunakan oleh
seorang petugas yang lain.
"Jawaban itu sudah diduga," berkata orang itu. "Tetapi Ki
Rangga tidak mau alasan itu kau pergunakan tanpa batas.
Karena itu baik Ki Rangga maupun Nyi Wiradana menuntut
tugasmu segera dapat dilaksanakan. Perjuangan kita
meningkat terus, sementara kita belum sempat
mempersiapkan landasan perjuangan di Tanah Perdikan
ini." "Kami sudah berusaha," berkata Saruju dengan wajah
berkerut. "Tetapi kami masih menemui kesulitan. Meskipun
14 SH. Mintardja demikian, laporkan, bahwa aku sudah mendapat
kepercayaan dari anak-anak muda di Tanah Perdikan ini."
Tetapi orang itu tersenyum. Namun senyumnya
membuat bulu tengkuk Saruju dan Damar justru
meremang. Dengan nada rendah orang itu bertanya, "Hanya
itu yang harus aku laporkan?"
Betapa hatinya bergetar Damar masih juga menjawab
sambil menyembunyikan perasaan itu, "Bukankah itu satu
langkah yang harus aku capai dalam tugas ini" Tanpa
melalui langkah itu, maka semuanya akan sia-sia."
"Aku tahu," jawab orang itu. "Tetapi perbandingan antara
waktu dan hasil yang kau capai sama sekali tidak seimbang.
Jika langkahmu selamban ini, maka baru setelah anak itu
mampu mengangkat pedang kau akan bertindak. Bahkan
mungkin justru jantungmulah yang akan dilubangi oleh
pedangnya." "Jangan berlebih-lebihan menanggapi kesulitan kami,"
berkata Damar. "Kau kira tugas kami sama mudahnya
dengan merampok meskipun di Kotaraja sekalipun. Bahkan
memasuki Istana Hadiwijaya itu sendiri."
"Kalian memandang diri kalian terlalu besar hanya
karena tugas ini," berkata orang itu. "Itulah sebabnya kalian
menganggap bahwa dengan tugas ini kalian merupakan
orang yang paling dihargai di lingkungan kami."
Jantung Saruju dan Damar menjadi semakin berdebar-
debar. Sementara itu Saruju pun kemudian bertanya,
"Tegasnya, apa yang dikehendaki oleh Ki Rangga Gupita
dan Nyi Wiradana?" Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia
pun berpaling ke keramaian pasar yang semakin sibuk,
15 SH. Mintardja justru matahari mulai naik. Suara Pande Besi disebelahnya
pun menjadi semakin nyaring pula.
Dengan nada rendah orang itu berkata, "Ki Rangga dan
Nyi Wiradana menghendaki kalian cepat menyelesaikan
tugas kalian." "Setelah anak itu terbunuh, apa yang akan dilakukan oleh
Ki Rangga dan Nyi Wiradana" Apakah kita dengan serta
merta akan dapat memasuki Tanah Perdikan ini" Tidak Ki
Sanak. Semuanya memerlukan waktu yang panjang. Jika
Risang itu terbunuh, maka diperlukan pengesahan atas
nama Puguh sebagai anak Wiradana. Itu tidak dapat
berlangsung dalam satu dua hari. Jika para pemimpin dari
Tanah Perdikan ini bertahan, maka akan terjadi persoalan
yang masih memerlukan pemecahan. Sementara itu Pajang
masih dapat menentukan sikapnya atas peristiwa ini."
"Kau kira Ki Wiradana dan Nyi Wiradana itu tidak
mempunyai penalaran dalam persoalan ini?" bertanya
orang itu. "Semua orang tahu, bahwa jika Risang itu mati,
masih diperlukan perjuangan tahap berikutnya. Namun
langkah itu harus ditempuh lebih dahulu. Semakin cepat
kepastian itu terjadi, maka semakin yakin kita akan berhasil
perjuangan kita kelak. Tanpa Risang, maka arah pewarisan
kuasa di Tanah Perdikan menjadi pasti, karena tidak
mungkin Iswari itu mempunyai anak lagi, karena Wiradana
sudah mati." "Aku tahu," jawab Saruju. "Tetapi apakah sudah
diperhitungkan sikap Pajang?"
"Kau gila," geram orang itu. "Apakah artinya Pajang"
Bukankah Tanah ini akan menjadi landasan perjuangan
melawan Pajang" Jika Risang mati, maka kehadiran Puguh
akan mempengaruhi sikap orang-orang Tanah Perdikan ini.
Mereka akan berpaling dari Iswari ke Nyi Wiradana yang
16 SH. Mintardja ternyata masih mempunyai seorang anak laki-laki dari Ki
Wiradana. Dengan sedikit menjelaskan permasalahannya,
maka orang-orang Tanah Perdikan akan berganti sikap,
karena pada dasarnya mereka setia kepada Kepala Tanah
Perdikan mereka dan sudah barang tentu dengan
keturunannya yang sah."
Saruju dan Damar masih akan membantah. Mereka
melihat seribu macam persoalan yang terbentang
dihadapannya. Namun orang itu telah memotongnya, "Aku
tahu, bahwa kau telah memperhitungkan segalanya dengan
terlalu cermat, sehingga kau menjadi ragu-ragu untuk
menentukan langkah. Tetapi agaknya berbeda dengan Ki
Rangga dan Nyi Wiradana. Tahap yang harus dilalui itu
harus dilakukan secepatnya, apapun yang akan terjadi
kemudian. Tugasmu adalah menyelesaikan anak itu. Kau
tidak usah berpikir setelah itu lalu apa dan bagaimana.
Orang lain akan memikirkannya dan orang lain pula yang
akan memecahkannya. Kau bukan pemimpin tertinggi yang
berhak menentukan langkah-langkah kita sampai pada
tahap yang terakhir. Landasan kita sekarang adalah Risang
harus tidak ada. Yang ada kemudian tinggal Puguh saja. Itu
saja." Saruju dan Damar menarik nafas dalam-dalam. Beberapa
orang berjalan didekatnya hilir mudik. Untunglah tidak ada
anak muda yang melihat mereka dan mendekatinya
meskipun mereka menyangka bahwa yang dibicarakannya
adalah keris yang dibawanya itu.
"Nah," berkata orang itu. "Semuanya telah jelas bagi
kalian berdua. Jangan mempersoalkan seribu macam
masalah yang belum tentu akan terjadi atau yang telah
diperhitungkan oleh orang lain. Sekali lagi, tugasmu
membunuh Risang. Tidak lebih."
17

Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

SH. Mintardja Saruju dan Damar mengangguk-angguk. Mereka sadar
bahwa mereka tidak akan dapat berbantah. Karena itu,
maka Saruju pun berkata, "Baiklah. Kami mengerti. Kami
akan segera melakukannya. Kami sekarang sudah mendapat
kesempatan berada di lingkungan para petugas di rumah
Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan itu. Kami akan
segera mencari kesempatan itu meskipun dengan demikian
akan merenggut nyawa kami."
"Bagus," berkata orang itu. "Singkirkan perhitungan dan
kecemasanmu tentang langkah-langkah berikutnya. Kau
hanya mendapat satu tugas. Dan tugas itu harus kau
lakukan dalam waktu dekat. Selambat-lambatnya dalam
batas waktu sampai akhir bulan berikut nanti."
Wajah kedua anak muda itu menegang. Dengan cemas
Damar bertanya, "Hanya sampai akliir bwiian berikut nand"
Jadi tidak ada dua bulan.?"
Ornang yang menghubunginya itu mengangguk. Katanya,
"Ya. Hampir dua bulan. Tetapi bukankah, waktu itu cukup
panjang. Kau hanya memerlukan satu loncatan dan
menikamnya. Kemudian melarikan diri. Nah, bukankah
waktu yang sesungguhnya kau perlukan hanya sekejap
saja?" "Ya" jawab Saruju yang tersinggung, "apalagi jika
diucapkan dengan mulut. Tidak dilakukan dengan sikap dan
langkah." "Tetapi batas waktu itu perlu bagi kalian" berkata orang
itu, "jika tidak, maka kalian akan dapat berbuat seernaknya,
tanpa batas.. Kalian hanya menikmati bekal yang kalian
sembunykan diluar Tanah Perdikan ini Kau habiskan bekal
itu untuk keperluan keluarga kalian, sementara itu tugas
yang harus kalian emban tidak pernah kalian lakukan"
18 SH. Mintardja "Gila" geram Damar, "lihat sendiri ketempa.t kami
menyimpan bekal itu. Bekal itu masih hampir utuh. Kami
tidak dapat memper'gunakannya, karena kami tidak mau di.
curigai. Kami baru akan mempergunakannya satelah tugas
kami selesai." "Bagus" berkata orang itu,
"karena itu, selesaikan tugas
itu. Lalu kau dapat memberikannya kepada keluarga kalian." "Baik" berkata Saruju,
"namun kami berhak untuk
mencari jalan agar dalam tugas tersebut kami ssempat
menyelamatkan diri. Kami tidak barus mati bersama anak itu." "Tentu" berkata orang itu,
"kalian dapat membunuhnya
dari jarak jauh. Dengan sumpit yang agaknya pernah kalian
pelajari atau dengan apa saja."
"Kami akan kembali ke saramg kita sebeluan waktu itu
habis" berkata, Saruju.
"Nah, begitulah. Kalian masih tetap prajurit pilihan yang
tidak terguncang oleh keadaan betapapun baiknya." berkata
orang itu. Tetapi kemudian katanya dengan nada berat,
"Tetapi masih ada yang harus aku sampaikan."
"Apa?" bertanya Saruju."
"Sebenarnya sulit bagiku untuk mengatakannya. Tetapi
justru aku merasa bahwa kalian harus mengetahuinya"
berkata orang itu pula dengan ragu.
19 SH. Mintardja "Katakan" desak Damar, "jangan seperti orang berteka-
teki pula." Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kcmudian
ia pun berinsut mendekat sambil memandang orang yang
lalu-lalang di sekitar mereka. Beberapa langkah di dekat
mcreka seorang penjual reramuan jamu telah dikerumuni
oleh para pebelinya sehingga penjualnya tidak nampak lagi.
"Katakan" desak Damar tidak sabar lagi.
Orang itu memang nampak ragu-ragu. Dengan nada
rendah ia berkaita, "Bukan maksudku. Aku hanya
menyampaian perintah saja. Jika aku mengucapkannya,
bukan berarti bahwa aku sapendpat dengan bunyi perintah
itu." Saruju dari Damar menjadi semakin berdebar-debar,
sementara itu orang itu pun kemudian berkata, "Anak-anak
muda. Ki Rangga Gupita dan Nyi Witadana telah
menjatuhkan perintah yang terasa sangat pahit. Kalian
memang harus melakukan tugas kalian selambat-lambatnya
akhir bulan berikut nanti. Itu adalah perintah wajar. Namun
ada ancaman yang membayangi perintah itu." orang itu
berhenti sejenak. Disekanya keringatnya di keningnya.
Bagaimanapun juga ia mengatur perasaannya, namun
terasa berat juga mengucapkan.
"Anak-anak muda. Ki Rangga dan Nyi Wiradana telah
mengancam kalian, jika kalian terlambat melakukan
perintahnya, maka setiap sebulan kelambatan. seorang
diantara keluarga kalian akan diambilnya."
"Diambilnya?" wajah Saruju dan Damar menjadi merah,
"apa maksudmu."
Bukan maksudku. Aku hanya menyampaikannya" jawab
orang itu, "jika kalian terlambat maka setiap bulan seorang
20 SH. Mintardja diantara keluarga kalian akan menjadi tanggungan. Orang
itu akan disingkirkan. Ki Rangga dan Nyi Wiradana akan
mulai dari adik-adik kalan. Baru yang terakhir orang tua
kalian dan kakek kalian. Jika seorang sebulan maka sepuluh
bulan kelambatan, habislah keluarga kalian berdua."
"Gia" Damar hampir berteriak. Namun orang itu sempat
menahan, "Jangan kau biarkan gejolak perasaanmu. Kita
berada di pasar." Wajah Damar telah membara. Keris ditangannya menjadi
gemetar. Namun orang itu berkata, "Yang berada di Tanah
Pddikan ini bukan hanya aku sendiri."
Damar menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu orang
itu berkata, "Sudah aku katakan. Sama sekali bukan niatku.
Juga sudah aku katakan, jika aku mengucapkannya bukan
berarti bahwa aku sependapat dengan cara ini. Tetapi
perintah ini justru harus kau dengar agar kau dapat
mengatur diri. Mengatur perasaan dan lebih baik jika
semuanya itu tidak terjadi."
Saruju tidak berkata sesuatu. Kepalanya tertunduk
dalam-dalam. Terasa bahwa kaki dan tangannya memang
telah terbelenggu dan tidak mungkin akan terlepas lagi.
Ternyata bahwa Saruju lebih berhasil menguasai
perasaannya dari pada Damar yang hampir meledak.
Bahkan dengan nada dalam Saruju kemudian berkata, "Kau
tidak bersalah. Aku justru mengucapkan terima kasih
bahwa kau telah memberitahukan ancaman itu kepada
kami. Agaknya memang lebih baik bagi kami untuk lebih
cepat mengetahui. Tetapi yakinkan Ki Rangga dan Nyi
Wiradana, bahwa kami akan menyelesaikan tugas kami
sebelum batas waktu itu datang. Langkah-langkah kami
sudah mendekati langkah akhir yang menentukan.
21 SH. Mintardja Kepercayaan yang sangat kami perlukan dalam tugas ini
telah kami dapatkan."
"Baiklah anak-anak muda," berkata orang itu.
"Lakukanlah tugas kalian sebaik-baiknya. Aku masih akan
selalu menghubungi kalian. Jika kalian memerlukan
bantuan, katakanlah dengan terus terang agar aku dapat
mempersiapkan sebaik-baiknya. Sebenarnya menurut
pengamatanku, suasana di Tanah Perdikan ini akan
membantu kalian. Tanah Perdikan ini terasa menjadi
tenang dan dengan demikian mereka sudah mulai menjadi
lengah dan tidak mengira hal yang akan kalian lakukan itu
terjadi." Saruju dan Damar mengangguk-angguk. Sebenarnyalah
mereka memang tidak akan mempunyai pilihan lain.
Mereka harus melakukannya.
Memang ada sepercik penyesalan bahwa mereka tidak
memisahkan diri saja dari Ki Rangga dan Nyi Wiradana
sebagaimana dilakukan oleh sebagian dari kawan-kawannya
yang telah menyerah lebih dahulu. Mereka justru dapat
menikmati ketenangan Tanah Perdikan itu tanpa dibayangi
oleh kuasa Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana. Bahkan
ancaman untuk membunuh seluruh keluarga.
"Apakah kalian masih ragu-ragu?" tiba-tiba saja orang
yang datang itu bertanya ketika dilihatnya kedua anak muda
itu merenung. Saruju menarik nafas dalam-dalam. Jawabannya, "Bukan
menyesal. Tetapi aku mulai memperhitungkan waktu
sebaik-baiknya." "Nah," berkata orang itu, "Aku minta diri. Aku harus
melaporkan pertemuan ini kepada Ki Rangga dan Nyi
Wiradana." 22 SH. Mintardja Saruju dan Damar mengangguk kecil. Dengan nada
rendah Damar, berkata, "Beri kami petunjuk-petunjuk
berikutnya." "Tentu, meskipun mungkin bukan aku sendiri yang akan
datang kemari," berkata orang itu.
Saruju dan Damar kemudian beringsut pula ketika orang
itu kemudian meninggalkan mereka.
"Kita berpisah disini," berkata Saruju. "Kita akan
bertemu dan berbicara pada kesempatan lain. Kita akan
menjadi serigala di antara domba-domba yang hidup tenang
dan damai di padang rumput yang menjadi semakin subur."
Damar menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian
menyarungkan kerisnya dan membiarkan Saruju memasuki
keramaian pasar yang riuh. Sementara Damar sendiri
berjalan termangu-mangu dengan langkah yang goyah.
Kepalanya rasa-rasanya menjadi pening dan jantungnya
berdebaran semakin cepat.
Hampir diluar sadarnya, maka Damar telah memasuki
sebuah warung di pinggir pasar itu dan memesan minuman
panas. "Kau nampak pucat," sapa pemilik warung yang sudah
dikenalnya itu, seorang perempuan yang gemuk. "Apakah
kau sakit?" "Aku merasa agak pening," jawab Damar. "Karena itu aku
singgah. Jika aku minum minuman hangat aku kira
tubuhku akan menjadi segar lagi."
Perempuan gemuk itu dengan cekatan telah menyiapkan
minuman panas bagi Damar. Kemudian mempersilakannya,
"Minumlah. Mumpung masih panas. Wedang jahe itu akan
membuat tubuhmu menjadi hangat."
23 SH. Mintardja Damar menghirup wedang jahe sehingga semangkuk
penuh telah dihisapnya. Setelah makan beberapa potong
makanan, maka ia pun kemudian meninggalkan warung itu
setelah membayar harganya.
Namun kepalanya masih juga tetap pening. Jantungnya
masih terasa berdebar-debar.
Ketika ia memasuki halaman rumahnya, dilihatnya kedua
adiknya justru siap untuk pergi. Mereka telah, melintasi
pendapa dan menuju ke pintu regol halaman.
"Kau akan kemana?" bertanya Damar yang berpapasan
dengan kedua adik perempuannya di regol.
"Ke pasar kang" jawab salah seorang dari kedua adiknya,
"biyung tidak dapat pergi berbelanja sekarang karena
kepalanya terasa pening. Kamilah yang akan membeli
keperluan kita hari ihi."
Damar memandang kedua adiknya dengan tatapan mata
yang aneh. Namun kemudian ditepuknya bahu kedua
adiknya itu sambil berpesan, "Berhati-hatilah."
Kedua adiknya itu menganggk. Mereka menjadi heran
melihat tingkah laku kakaknya. Namun sebelum salah
seorang di antara mereka bertanya, Damar berkata, "Aku
juga pening seperti biyung. Mungkin kami. Terkena
penyakit yang sama."
"O" adiknya yang besar mendekatinya, "kakang juga
sakit?" "Hanya sedikit. Tetapi tadak apa-apa." berkata Damar
kemudian. Sementara, adiknya yang kecil bertanya, "Apakah kakang
perlu minuman panas dahulu" Biarlah kami berangkat
nanti. Pasar itu tentu masih ramai."
24 SH. Mintardja "Tidak" jawab Damar, "aku sudah membeli di warung
bibi gemuk itu. Pergilah. Jangan lupa, beli ikan lele. He,
bukankah kau sudah diajari biyung membuat pecal lele?"
Adiknya yang besar tersenyum. Katanya, "Tepat seperti
pesan ayah. Aku akan membeli serenteng ikan lele."
Damar pun tersenyum pula. Dipandanginya adiknya yang
kemudian keluar regol. Bahkan beberapa langkah ia
mengikut di belakang sampai Damar itu berdiri lagi di regol
halaman rumahnya. Namun tiba-tiba saja wajahnya terasa menjadi tegang.
Jantungnya bagaikan akan meledak ketika ia melihat orang
yang menemuinya di pasar itu melangkah mendekatinya.
"Kau disini?" geram Damar.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, "Sayang
sekali. Kedua adikmu ternyata gadis-gadis yang akan
tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Jika kau gagal,
siapakah yang sampai hati untuk menyelesaikannya."
Dada Damar terasa menggelegak. Hampir saja ia
meloncat mencekik orang itu. Untunglah bahwa ia masih
sempat menahan dirinya. Bahkan ia pun kemudian


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menyadari, bahwa orang itu pun merasa betapa berat
hatinya menyampaikan perintah itu kepadanya.
Betapa kasar dian liarnya orang itu, ternyata padanya
masih juga terdapat perasaan iba dan kasihan.
Damar menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia ingin
mengendapkan perasaannya yang sedang bergejolak.
Hampir diluar sadarnya ia memandang kedua adiknya yang
berjalan menjauh,. Terbayang di rongga matanya, adik-
adiknya itu diseret oleh orang-orang yang lebih buas dari
orang yang datang kepadanya itu. Kedua adiknya yang tidak
25 SH. Mintardja bersalah itu kemudian dibunuh dengan cara yang keji tanpa
belas kasihan. Jantung Damar bagaikan pecah karenanya. Namun ia
pun kemudian terkejut ketika orang yang termangu-mangu
itu berkata, "Damar, aku ikut berharap agar kau dapat
melakukan tugasmu dengan baik agar kedua adikmu dan
sanak kadangmu selamat. Lebih baik anak Iswari itu yang
mati daripada salah seorang keluargamu."
Damar mengangguk. Namun ia tidak menjawab sepatah
katapun. "Baiklah, aku minta dri" berkata orang itu kemudian
sambil melangkah pergi. Sesaat Damar memandangi langkah orang itu. Semakin
lama menjadi semakin jauh. Sementara itu kedua adiknya
sudah tidak nampak lagi karena hilang ditelan kelak jalan.
Tiba-tiba saja Damar telah didorong oleh kecemasannya
tentang kedua adiknya. Iapun tiba-tiba telah melangkah lagi
menuju ke pasar. Tetapi ia tidak menempuh jalan yang
dilalui orang yang datang kepadanya itu.
Dengan melalui jalan-jalan setapak ia telah memintas
agar adiknya tengah dibayangi oleh bahaya yang tidak akan
dapat dielakkannya. Karena itu, maka ia pun telah didera
oleh kecemasann, yaitu untuk menyusul adiknya.
Dengan melalui jalan-jalan setapak iya telah memintas
agar ia dapat mendahului orang yang datang kepadanya itu
dan mendahului pula kedua adiknya.
Sebenarnyalah Damar memang lebih dahulu mencapai
regol pasar. Untuk beberapa saat ia menunggu. Baru
kemudian ia melihat kedua adiknya itu datang mendekati
regol. 26 SH. Mintardja Damar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak
sampai hati untuk membiarkan kedua adiknya itu berbelnja
untuk keperluan mereka sehari-hari tanpa pengawasannya
meskipun ia tahu ancaman itu baru akan berlaku
secepatnya hampir dua bulan mendatang.
Kedua adik Damar itu terkejut ketika mereka melihat
Damar justru sudah berada di regol pasar. Dengan serta
merta adiknya yang kecil bertanya, "Kakang sudah ada
disini?" Damar mencoba tersenyum. Sementara adiknya yang lain bertanya
pula, "Apakah ada pesanan
kakang yang terlupa?"
"Aku hanya ingin melihat
apakah kalian tidak lupa membeli pesananku dan kebetulan juga pesanan ayah." jawab Damar. "Tentu tidak" jawab
adiknya yang besar. "Marilah. Kita berbelanja
bersama" berkata Damar.
"Ah tidak pantas seorang laki-laki pergi berbelanja"
berkata adiknya yang kecil.
"Aku tidak pergi berbelanja. Aku hanya mengikuti saja
kalian berdua berbelanja" berkata Damar.
Kedua adiknya tidak menolak ketika kemudian Damar
mengikuti mereka berputar-putar didalam pasar.
27 SH. Mintardja Namun kedua adiknya itu sama sekali tidak mengetahu:
perasaan yang bergejolak di hati Damar. Bahkan keduanya
tidak tahu, bagaimana Damar sekali-sekali menggeretakkan
giginya menahan gejolak didalam dadanya itu.
Namun Damar itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia
melihat Saruju justru masih berada dipasar pula. Ia duduk
di depan perapen seorang Pande Besi di sudut pasar itu.
Pande Besi yang lain dari Pande Besi yang sudah
disinggahinya sebelumnya.
"Kenapa kau disitu?" bertanya Damar.
Saruju menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia
berdesis, "Aku gelisah sekali. Dan apa yang kau lakukan?"
"Mengawani kedua adikku berbelanja, karena biyungku
sedang sedikit pening." jawab Damar, "aku tidak, dapat
membiarkan mereka, pergi berdua saja."
Saruju mengerutkan keningnya. Ia melihat dua orang
adik perempuan Damar yang sedang berbelanja diawasi
oleh kakaknya. Ketika Damar kemudian minta diri untuk mengikut
adiknya yang masih belum selesai dengan tugas mereka,
Saruju berkata kepada diri sendiri, "Damar tentu juga
dibayangi kegelisahan seperti ini, sehingga ia tidak mau
membiarkan kedua adik parempuannya itu pergi tanpa
diawasinya meskipun ancaman itu tidak akan dilakukan
sekarang." Demikianlah, maka baru setelah kedua adiknya membeli
semua keperluan keluarganya sehari-hari, keduanya diikuti
oleh Damar meninggalkan regol pasar, Ternyata pasar itu
masih cukup ramai. Bahkan masih juga ada beberapa orang
yang baru datang untuk berbelanja. Agaknya mereka yang
28 SH. Mintardja karena sesuatu hal tidak sempat untuk pergi ke pasar lebih
pagi lagi. Namun dalam pada itu, maka sehari itu Damar diliputi
oleh berbagai macam angan-angan sebagaimana juga
Saruju. Kegelisahan mencengkam jantung meeka. Mereka
sadar bahwa mereka tidak akan dapat mengelakkan diri dari
ancaman itu. Satu demi satu keluarganya akan dibunuh jika
mereka terlalu lambat malakukan tugas yang dibebankan
kepada mereka. Ternyata betapapun tebal penyesalan menyesak di dada
mereka, namun sudah tidak ada artinya sama sekali.
Ancaman itu tetap akan dilaksanakan oleh Ki Rangga dan
Nyi Wiradana. Satu-satu keluarganya akan terkapar dengan
luka di dada, tembus oleh pedang para pengikut Ki Rangga
dan Nyi Wiradana sebagaimana kelak dirinya sendiri.
Hari yang satu telah meloncat ke hari ya;ng lain. Rasanya
begitu cepat. Sementara itu Saruju dan Damar masih belum
menemukan cara terbaik untuk melakukan tugas mereka.
Sekali-sekali mereka berusaha untuk mendapat kesempatan
berada di rumah Iswari, Namun untuk datang terlalui sering
ke padukuhan induk tanpa kepentingan yang memadai
tentu akan sangat menarik perhatian.
Dari hari ke hari keduanya mencari jalan. Bagaimana
mereka harus membunuh Risang.
"Ternyata lebih baik jika kita orang asing sama sekali,"
berkata Damar. "Cara yang kasar pernah dipergunakan oleh
orang terdahulu telah menutup kemungkinan bagi kita
untuk melakukannya sekarang. Dalam kesempatan yang
jarang kita dapatkan, kita melihat Risang selalu diawasi oleh
orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Jika bukan
Gandar, maka Bibi itulah yang ada didekatnya disamping
pemomongnya." 29 SH. Mintardja Saruju mengangguk-angguk. Namun akhirnya ia berkata,
"Kita akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan cara
lain kecuali membunuhnya sambil membunuh diri. Namun
dengan demikian keluarga kita akan selamat."
Saruju menundukkan kepalanya. Minggu pertama telah
lewat. Sementara itu mereka belum melihat kemungkinan-
kemungkinan yang dapat terjadi.
Namun sementara itu Saruju dan Damar menjadi
semakin rajin bekerja di antara anak-anak muda Tanah
Perdikan Sembojan. Apapun yang dilakukan oleh anak-anak
muda, maka Saruju dan Damar tentu ada di antara mereka.
Tidak ada seorang pun di antara kawan-kawan mereka
yang tahu, apakah sebenarnya yang sedang bergejolak di
dalam dada mereka. Kegelisahan yang semakin lama
semakin menyesak. Tetapi kesempatan masih belum terbuka bagi mereka.
Meskipun Saruju dan Damar merupakan sebagian dari
mereka yang dianggap mempunyai pengabdian yang baik,
namun bagi keduanya masih belum diberi kesempatan
untuk bertugas di rumah Pemangku Jabatan Kepala Tanah
Perdikan. Hanya para pengawal yang dipercaya sepenuhnya
sajalah yang mendapat giliran bertugas di rumah Risang.
"Jika kita mendapat kesempatan seperti itu," desis
Damar ketika keduanya bertemu dan membicarakan
rencana-rencana mereka. "Kita dan anak-anak muda seperti kita, tidak seorang pun
yang mendapat kesempatan bertugas di rumah Kepala
Tanah Perdikan," sahut Saruju.
"Jadi bagaimana?" bertanya Damar. "Waktu kita semakin
menyempit, sedangkan aku tidak ingin keluargaku mati."
30 SH. Mintardja "Siapa yang mau membiarkan keluarganya dibunuh
seorang demi seorang," berkata Saruju. "Bagi kita memang
lebih baik membunuh daripada dibunuh. Keadaan Tanah
Perdikan ini ternyata telah membius kita, sehingga kita
telah kehilangan semangat berjuang sebagaimana telah
membakar hati kita pada saat kita berangkat ke Tanah
Perdikan ini." Damar mengerutkan keningnya. Sambil menarik nafas ia
berkata namun tanpa gairah, "Ya. Kita telah kehilangan
tekad yang membara. Suasana kehidupan di Tanah
Perdikan ini jauh berbeda dengan suasana kehidupan di
dalam sarang kita." "Karena itu, kita memang harus bangkit. Kita harus
bertindak dengan cepat tanpa ragu-ragu. Kita harus mampu
menyingkirkan pengaruh yang telah mencengkam kita
selama ini. Sementara kita sebenarnya tahu pasti, bahwa
kehidupan yang tenang, tenteran ini adalah kehidupan yang
semu semata-mata," berkata Saruju. "Kita harus kembali
kepada jiwa kita sebagai pejuang untuk membebaskan
tanah ini dari tangan-tangan orang-orang yang tidak
berhak, karena Iswari itu memang bukan orang yang
dilahirkan di Tanah Perdikan ini."
Damar mengangguk-angguk. Ia pun mencoba untuk
menghayati kembali sikap sebagaimana saat mereka
berangkat menuju ke Tanah Perdikan ini.
"Kenapa kita tidak bergerak di malam hari?" bertanya
Saruju. Damar mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia
bertanya, "kita memasuki rumah itu sebagai laku seorang
pencuri?" 31 SH. Mintardja "Ya. Kita masuk rumah itu. Jika kita ketemukan bilik
Risang, maka semuanya akan menjadi beres," berkata
Saruju. "Aku setuju. Tetapi apakah akan semudah itu?" desis
Damar. "Kita akan mencobanya," sahut Saruju.
Dengan demikian, maka mereka berdua mulai membuat
rencana untuk bergerak di malam hari. Sebagai anak muda
yang hampir setiap saat ikut serta dalam kegiatan anak-
anak muda di Tanah Perdikan, maka mereka tahu pasti,
tempat-tempat yang dapat mereka lalui, dan tempat-tempat
yang harus dihindarinya. Bukan hanya di padukuhan
mereka sendiri tetapi juga di padukuhan induk yang sekali-
kali pernah mereka amati.
Setelah rencana mereka menjadi masak, maka kedua
anak muda itu pun mulai melakukannya. Mereka merasa
lebih baik mencoba daripada tidak berbuat sama sekali,
sementara haripun merayap terus mendekati batas waktu
yang telah ditentukan. Di malam hari keduanya bertemu ditempat yang telah
mereka tentukan. Kemudian dengan hati-hati keduanya
pergi menuju ke padukuhan induk. Dengan mudah mereka
dapat menelusuri jalan yang paling aman sehingga mereka
tidak bertemu dengan seorang pun yang akan
mencurigainya. Demikian pula setelah mereka sampai ke
padukuhan induk. Maka mereka pun mengetahui
bagaimana mereka memasukinya tanpa melalui pintu-pintu
regol yang manapun juga, karena regol-regol itu selalu
diawasi oleh para pengawal yang bertugas meronda.
Dengan mengendap-endap mereka berhasil mendekati
dinding rumah Kepala Tanah Perdikan.
32 SH. Mintardja Namun yang terjadi adalah sebagaimana pernah terjadi
dengan orang-orang terdahulu mencoba menghabisi
Risang. Mereka tidak dengan mudah menemukan bilik
Risang. Hampir semalam suntuk Risang tidak terbangun
jika tidur. Apalagi merengek dan menangis.
Karena itu, maka usaha mereka untuk menemukan bilik
Risang pun sia-sia. Sementara itu, kedua orang anak muda itu sama sekali
tidak berani memasuki rumah Kepala Tanah Perdikan itu
sebagaimana laku perampok. Mereka dapat merampok
justru di Kota Raja Pajang yang terkenal karena pasukannya
yang kuat. Namun untuk memasuki rumah Kepala Tanah


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Perdikan Sembojan dengan menggedor pintu maka
keduanya berarti membunuh diri.
Karena itu, maka usaha mereka untuk melakukan tugas
mereka di malam hari telah mereka hentikan. Sementara
itu, hari-hari pun telah menjadi sempit. Bulan pertama dari
waktu yang diberikan sebagaimana batasan telah lewat. Jika
dalam bulan berikutnya mereka tetap tidak mampu
melakukan tugas mereka, maka seorang demi seorang
keluarga mereka akan dihabisi.
Sebenarnyalah ketika bulan pertama habis, ternyata
Saruju dan Damar telah ditemui pula oleh petugas yang
dikirim Ki Rangga dan Warsi.
Berbeda dengan petugas yang terdahulu, maka kedua
orang itu ternyata adalah dua orang yang kasar. Mereka
tidak menemui Saruju dalam kesempatan yang baik. Tetapi
mereka telah menunggu Saruju langsung di depan
rumahnya. "Saruju," berkata orang itu dengan serta merta tanpa
basa-basi. "Aku mendapat tugas untuk memberimu
33 SH. Mintardja peringatan. Sebulan telah lampau sejak perintah kepadamu
diberikan, bahwa waktumu hanya sampai akhir bulan ini."
"Aku sudah tahu," jawab Saruju. "Bulan pertama yang
sudah genap sebulan telah lampau. Aku sudah sampai pada
bulan berikutnya. Dan aku tidak akan pernah lupa, bahwa
keselamatanku dan keluarga terancam jika aku gagal
melakukan tugasku sampai akhir bulan ini."
"Bagus," berkata orang itu. "Karena itu kau harus
menyesuaikan diri." "Jangan ajari aku seperti kanak-kanak," berkata Saruju.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan."
Kedua orang yang datang kepadanya itu menjadi tegang.
Seorang yang telah dikenalnya itu pun kemudian berkata,
"Kami hanya melakukan tugas. Peringatan itu justru satu
kebaikan hati, bahwa Ki Rangga dan Nyi Wiradana tidak
dengan serta merta melepaskan kalian dan tahu-tahu waktu
itu sudah habis, sehingga kalian barus menanggung akibat
buruknya, karena seorang demi seorang keluargamu akan
terbuauh." "Sudah aku katakan, bahwa aku akan menyelesaikan
tugasku pada waktu yang sudah ditentukan. Semua langkah
sudah diatur dan direncanakan dengan saksama. Kami,
tidak mau gagal sebagaimana cara yang pernah diambil
dengan kasar oleh orang-orang dungu itu sehingga tugasku
justru men jadi semakin sulit," berkata Saruju. Lalu katanya
pula, "Jika petugas kita terlalu sering, "dikirim untuk
sekedar memberikan peringatan kepadaku dan Damar,
maka hal itu pun akan dapat menghambat tugas kami. Jika
kehadiran kalian dilihat oleh para pengawal dan mulai
mencurigai aku, maka persoalannya. akan berkembang
semakin buruk bukan sebaliknya.
34 SH. Mintardja "Kami adalah orang-orang yang, menjalankan
tugas"sahut orang yang belum dikenal oleh Saruju ku,
"jangan salahkan kami."
"Baik. Pesanku saja sampaikan kepada Ki Ranga, bahwa
sebaiknya Ki Rangga tidak mengirimkan orang lagi
kepadaku sampai saatnya aku berhasil." berkata Saruju,
"dengan demikian maka Ki Rangga dan Nyi Wiradana
sudah membantu tugas-tugas yang akan aku laksanakan."
"Kau terlalu berani mengucapkan pendapatmu. Tetapi
kami mengerti. Kami akan menyampaikannya dengan cara
yang sebaik-baiknya sehingga Ki Rangga dan Nyi Wiradana
tidak menjadi marah dan mengambil langkah-langkah lain
yang justru dapat .menyudutkanmu. Jauh lebih sulit dari
yang kau lakukan sekarang." berkata orang yang pernah
merampok bersamanya di Pajang itu.
"Tidak. Ki Rangga dan Nyi Wiradana tentu akan mengerti
maksud kami. Jika terjadi salah paham, maka cara kalian
mengatakannya tentu tidak tepat sebagaimana aku
maksudkan, atau bahkan kalian dapat membumbuinya
sehingga kesannya menjadi buruk, atau bahkan memfitnah.
Tetapi untuk melakukan tugas ini kami memang
memerlukan bantuan dan pengertian. Bukan sekedar
ancaman-ancaman melulu." berkata Saruju.
Wajah kedua orang itu, nampak menegang. Namun
orang yang pernah dikenalnya itu berkata, "Baiklah. Aku
minta diri. Jika aku lebih lama lagi disini pembicaraan kita
menjadi semakin keras. Dan akan datanglah hambatan yang
sebenarnya bagimu." Saruju tidak menjawab. Dipandanginya saja kedua orang
yang kemudian keluar dari halaman rumahnya itu.
35 SH. Mintardja Namun demikian kedua orang itu keluar, dengan langkah
yang lemah Saruju pergi ke kandang di sebelah rumahnya.
Dengan jantung, yang berdebaran ia duduk di teritisan
kandangnya sambil merenungi dirinya sendiri.
Bagi Saruju, maka hari depan adalah hari yang gelap. Ia
tidak dapat membayangkan apakah yang akan terjadi.
Apakah ia kelak akan dapat hidup sebagai layaknya
kehidupan seseorang dengan sewajarnya. Apakah kelak ia,
dapat tinggal di sebuah rumah bersama sebuah keluarga
yang manis. Yang terbayang diwajan Saruju adalah sarang perampok
yang ganas sebagaimana pernah dialaminya. Orang-orang
yang berwajah dan berhati keras seperti, batu. Tanpa
kelembutan dan gambaran masa depan yang bersih.
Kawan-kawannya yang tinggal di sarang bersamanya
yang lebih tua dari padanya pun hidup liar seperti dirinya
dan anak-anak muda yang lain. Mereka tidak beristri dan
beranak. Satu dua ada memang menyebut tentang istri dan
anaknya. Tetapi mereka tidak pernah dapat berhubungan
lagi karena keadaan. Bahkan ada diantara mereka yang
memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan orang-
orang diluar sarang Jantungnya terasa berdegup semakin
cepat. Karena itu, maka Damar ingin orang itu segera
meninggalkan rumahnya. (SBB 28 hal 39)
( Gak nyambung ya, dari aslinya memang begitu.)
(SBB 28 hal 40) mereka. Jika mereka keluar, maka orang
lain bagi mereka adalah sasaran perampokan dan
kekerasan. Bagaimanapun juga, kehidupan yang demikian sangat
mendebarkan jantung. Ketika Saruju ada didalamnya, maka
ia tidak terlalu banyak dapat melihat tentang kehidupan itu
36 SH. Mintardja sendiri. Tetapi setelah ia berada diluarnya maka nampak
olehnya, betapa kelamnya kehidupan yang demikian.
Namun ia merasa terlalu sulit untuk melepaskan diri dari
lingkungan itu. Keluarganya seorang demi seorang akan
menjadi korban. Dan tentu yang terakhir adalah dirinya
sendiri. Sementara itu, kedua orang yang pernah datang
kepadanya itu telah pergi ke rumah Damar.
Agak berbeda dengan Saruju, maka Damar yang biasanya
sekeras Saruju itu menanggapinya dengan sikap yang lain.
Damar tidak banyak memberikan tanggapan atas perintah
yang dibawa oleh kedua orang itu.
Sebagaimana Saruju maka seorang di antara keduanya
itu telah dikenalnya. Ia pun
terkejut ketika tiba-tiba saja
kedua orang itu mengetuk pintu rumahnya keras-keras
dan bertanya kepada salah
seorang adiknya, apakah ia
ada di rumah. Adiknya memang agak takut melihat kedua orang
itu. Karena itu maka ia pun
dengan tergesa-gesa memanggil Damar dan mengatakannya bahwa dua orang yang berwajah seram mencarinya.
Damar memang sudah menduga. Karena itu, ketika ia
melihat kedua orang itu berdiri di muka pintu, ia tidak
terkejut lagi. 37 SH. Mintardja Berbeda dengan Saruju maka Damar mempersilakan
kedua orang itu untuk masuk ke rumahnya dan duduk di
ruang dalam. Sehingga menurut perhitungan Damar, tidak
ada orang lain yang melihatnya. Sementara itu ayahnya
berada di sawah dan ibunya berada di dapur, sehingga
pembicaraan mereka tidak akan didengar oleh orang lain.
Bahkan adik-adiknya pun tidak akan berusaha
mendengarkan percakapan mereka karena mereka merasa
tidak berkepentingan. Kedua orang itu memang orang-orang yang kasar.
Demikian mereka duduk disebuah amben yang besar, maka
kaki mereka pun langsung ditekuknya pada lututnya yang
tegak tanpa menghiraukan apapun.
"Damar," berkata orang yang pernah dikenalnya itu
sebagaimana ia berkata kepada Saruju. "Aku datang untuk
memberimu peringatan bahwa waktumu telah kau lalui
hampir separohnya." Damar mengangguk kecil. Katanya, "Ya. Aku menyadari."
"Jika kau tidak dapat menyelesaikan pada waktu yang
sudah ditentukan, maka kau tentu sudah dapat
membayangkan akibatnya."
"Ya," Damar mengangguk-angguk.
"Karena itu, maka kau harus bersungguh-sungguh
dengan tugasmu," berkata orang itu pula.
Damar masih mengangguk-angguk sambil menjawab,
"Baiklah. Aku akan berusaha sejauh dapat aku lakukan."
"Jangan hanya sejauh dapat kau lakukan. Kau harus
yakin bahwa tugas itu akan dapat kau selesaikan. Jika tidak
maka satu-satu keluargamu akan dibunuh," berkata orang
itu lagi. 38 SH. Mintardja "Jangan terlalu keras berbicara di ruang ini," berkata
Damar. "Aku dapat mendengar meskipun kau berbicara
perlahan-lahan." Orang itu menarik nafas. Namun kemudian ia pun
mengangguk-angguk. "Baiklah," berkata orang itu. "Aku minta diri. Aku hanya
memberimu peringatan. Mudah-mudahan kau berhasil."
Damar memang tidak banyak memberikan tanggapan.
Rasa-rasanya segan baginya untuk berbicara tentang
tugasnya. Sebenarnyalah kedua orang itu pun segera meninggalkan
rumah Damar. Demikian mereka melintasi halaman, maka
adik Damar yang kecil yang sedang berada di halaman
segera mendekati kakaknya, sambil bertanya, "Siapakah
mereka kakang?" Damar mencoba tersenyum. Katanya, "Itu adalah orang-
orang yang terbiasa menebangi kayu dihutan-hutan. He,
kau nampaknya takut kepada mereka?"
"Ya. Aku takut," berkata adiknya.
Damar berusaha untuk tertawa. Katanya, "Tidak apa-apa.
Mereka tidak apa-apa."
"Tetapi kenapa mereka kemari" Apakah kakang
mempunyai hubungan dengan penebang kayu dihutan-
hutan?" bertanya adiknya.
"Tidak. Aku hanya mengenalnya. Dan mereka juga
bertandang kemari," jawab Damar berbohong.
Tetapi nampaklah adiknya yang kecil itu kurang yakin
akan jawaban kakaknya itu. Tetapi ia tidak bertanya lebih
39 SH. Mintardja banyak lagi. Bahkan adik Damar yang kecil itu pun telah
meninggalkannya. Damar berdiri termangu-mangu memandang adiknya itu.
Namun ia pun kemudian telah kembali masuk ke dalam
rumahnya. Bahkan Damar itu telah masuk ke dalam
biliknya. Dengan wajah muram Damar duduk merenungi dirinya
sebagaimana dilakukan oleh Saruju. Angan-angannya
bergejolak sebagaimana terjadi pada Saruju.
Ternyata bahwa kedua orang itu mempunyai kesan dan
sikap yang sama terhadap keadaan diri mereka dan masa
depan mereka. "Gila," geram Damar. Namun seakan-akan ia tidak
berkemampuan melawan nasib yang sangat buruk yang
selalu membayanginya itu.
Malam itu, Saruju dan Damar telah bertemu. Tetapi
mereka sudah tidak lagi berusaha untuk mengintip rumah
Kepala Tanah Perdikannya. Mereka merasa tidak mampu
untuk menembus dinding rumah itu, karena di dalam
rumah itu terdapat orang-orang berilmu tinggi memagari
Risang. Bahkan untuk mengetahui dimana Risang tidur pun
mereka tidak berhasil. "Apa yang dapat kita lakukan," berkata Saruju. "Di siang
hari pun dalam kesempatan yang sedikit bagi kita
memasuki halaman rumah Risang itu, kita selalu melihat
bahwa anak itu selalu diawasi oleh orang-orang berilmu
tinggi. Jika bukan Gandar, maka Bibilah yang ada
didekatnya. Bahkan kadang-kadang ibunya sendiri atau
kakek buyutnya." "Memang tidak ada pilihan lain Saruju. Seperti yang
pernah kita bicarakan. Kita harus melakukannya sambil
40 SH. Mintardja membunuh diri," berkata Damar. "Namun dengan demikian
keluarga kita akan selamat."
"Jika kita berhasil membunuh anak itu, meskipun kita


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sendiri menjadi korban, agaknya tidak apa-apa. Kita
menjadi bebanten dari keselamatan keluarga kita sendiri,"
berkata Saruju. "Tetapi yang paling pahit adalah jika kita
gagal dan kita justru tertangkap atau terbunuh. Maka
keluarga yang kita tinggalkan pun akan mengalami nasib
yang paling buruk. Mereka akan menjadi sasaran
kemarahan Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana, sementara
itu orang-orang Tanah Perdikan ini pun akan menyoroti
mereka sebagai keluarga pengkhianat. Mereka akan tersisih
dari pergaulan dan terutama adik-adik kita, akan
kehilangan masa depannya. Sementara itu, dalam kepahitan
hidup dan keterasingan, maka puncak daripada penderitaan
mereka adalah ujung-ujung senjata orang-orang Ki Rangga
Gupita dan Nyi Wiradana."
Damar merenungi kata-kata itu. Tetapi dadanya bagaikan
pecah jika teringat olehnya kedua adik perempuannya.
Apakah mereka juga merasa menjadi korban.
Dalam pada itu Saruju pun berkata, "Sudahlah. Besok
kita bicarakan lebih lanjut. Marilah kita pergi ke gardu."
Damar mengangguk. Tetapi seperti biasanya keduanya
tidak selalu bersama-sama. Saruju pergi dahulu, baru
kemudian Damar menyusulnya. Agar tidak menimbulkan
kesan, bahwa mereka masih terikat secara khusus.
Di gardu anak-anak muda yang berkumpul berkelakar
seperti biasanya. Bukan hanya mereka yang sedang
bertugas, tetapi banyak anak-anak muda yang lain ikut
duduk dan bergurau untuk mengisi kekosongan waktu
mereka di malam hari. Namun jika mereka sudah mulai
mengantuk, kecuali yang bertugas, langsung saja
41 SH. Mintardja menjatuhkan diri dan tidur di gardu itu pula, sehingga
kadang-kadang di gardu itu justru berjejalan anak-anak
muda yang tertidur, sementara mereka yang sedang
Pendekar Laknat 11 Golok Sakti Karya Chin Yung Pendekar Pemanah Rajawali 29
^