Pencarian

Suramnya Bayang Bayang 34

Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja Bagian 34


sekaligus. Mereka memang memerintahkan orang-orangnya
untuk selalu menakut-nakuti Damar dan Saruju. Bahkan Ki
Rangga dan Nyi Wiradana benar-benar akan membunuh
jika batas waktu yang pertama itu lampau. Namun selagi
rencana hukumannya yang tertuju kepada Damar dan
Saruju siap untuk dilaksanakan Ki Rangga dan Nyi
Wiradana telah merencanakan pula untuk menunjuk orang
lain agar pembunuhan terhadap Risang dapat dilakukan.
"Jika kematian keluarga Damar dan Saruju itu
menggemparkan seisi Tanah Perdikan, maka orang-orang
Tanah Perdikan itu tentu akan menelusuri sebabnya.
Mudah-mudahan perhatian para pemimpin Tanah Perdikan
pun seluruhnya tertuju kepada Damar atau Saruju.
Mungkin mereka memang menaruh kecurigaan. Namun
pada saat yang demikian, maka perhatian terhadap Risang
tentu berkurang," berkata Ki Rangga.
"Kita akan menjajaginya," sahut Nyi Wiradana. "Kita
akan mengirimkan orang untuk membunuh dan orang lain
untuk menilai keadaan."
Dalam pada itu, orang yang mendapat perintah untuk
menemui Damar itu telah kembali dan melaporkan, bahwa
orang yang pertama diserahkan adalah pamannya.
116 SH. Mintardja Ki Rangga dan Nyi Wiradana yang mendengar laporan
itu tiba-tiba menjadi tegang. Dengan serta merta Ki Rangga
membentak, bodoh. Buat apa kita mengurusi pamannya"
Orang yang disebut pamannya itu tentu orang lain. Jika kita
membunuh pamannya, maka ia akan memanggil orang lain
lagi yang akan diakunya juga sebagai pamannya atau jika
perempuan diakuinya sebagia bibinya, sehingga kematian
demi kematian berjalan, namun keluarganya sama sekali
tidak berkurang." Orang yang melaporkan itu pun menyahut, "Aku juga
sudah mengatakan, bahwa orang lain tidak akan dapat
diperhitungkan. Tetapi Damar memaksaku untuk
menyampaikan permohonannya ini."
"Orang dungu kau," bentak Ki Rangga pula. "Tetapi kita
tidak peduli. Kita akan mengambil siapapun juga di antara
keluarga Damar." Orang yang memberikan laporan itu tidak menyahut lagi.
Jika Ki Rangga dan Nyi Wiradana sudah mengambil
keputusan, maka sulit bagi siapapun untuk mengubahnya.
Namun ia masih akan bertanya, "Apakah aku perlu lagi
datang kepada Damar dan bertanya tentang nama lain yang
harus disebutnya?" "Tidak perlu. Beberapa orang akan datang melakukan
tugas. Karena kesalahan Damar sendiri, maka orang-orang
kita akan mengambil siapapun yang mereka sukai. Bahkan
mungkin orang yang paling dekat dengan Damar. Mungkin
ibunya." "Orang yang paling dekat dengan Damar adalah dua
orang adiknya," jawab orang itu. "Adik perempuan."
"Bagus," berkata Ki Rangga. "Kita akan mengambil
adiknya. Salah seorang dari kedua orang itu."
117 SH. Mintardja Orang yang melaporkan itu hanya mengangguk-angguk
saja. Tetapi sebenarnya terbersit pula perasaan kasihannya
terhadap Damar dan adik perempuannya yang sama sekali
tidak bersalah itu. Namun ia tidak berani berbuat sesuatu.
Dengan demikian, maka Ki Rangga dan Nyi Wiradana
pun telah menyiapkan orang terbaik. Lima orang akan
memasuki Tanah Perdikan. Tidak seorang di antara mereka
anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan sendiri, karena
Ki Rangga masih mencemaskan anak-anak muda itu, bahwa
mereka pada satu saat akan terpengaruh oleh suasana
Tanah Perdikan yang menjadi semakin baik itu.
Tetapi disamping lima orang itu, Ki Rangga dan Nyi
Wiradana juga menunjuk lima orang yang lain yang harus
mengamati keadaan di Tanah Perdikan Sembojan. Tugas
mereka adalah untuk mengetahui perhatian para pemimpin
Tanah Perdikan terhadap kematian salah seorang anggota
keluarga Damar dan tugas mereka yang lain adalah untuk
meyakinkan apakah kedua orang yang ditugaskan untuk
membunuh Risang itu berkhianat atau tidak.
"Jika kalian mengambil kesimpulan bahwa Damar dan
Saruju memang sudah berkhianat dan tidak dapat
diharapkan lagi untuk pada satu saat melaksanakan
tugasnya, maka kita tidak perlu lagi melakukan
sebagaimana kita rencanakan. Seorang anggota keluarga
setiap bulan. Tetapi kita akan membunuh semua
keluarganya. Tetapi tidak dengan Damar dan Saruju.
Biarlah ia merasakan kepedihan itu untuk beberapa lama.
Baru kemudian kita akan mengambil mereka dan
membawanya kemari. Kematian bagi mereka adalah
hukuman yang terlalu ringan," berkata Ki Rangga.
Demikianlah, Ki Rangga telah memilih lima orang yang
akan memasuki Tanah Perdikan pula, di samping lima
118 SH. Mintardja orang terbaik yang akan membunuh itu. Mereka hanya
sekadar mengamati keadaan selama lima orang lainnya
bertugas membunuh salah seorang keluarga Damar. Namun
Ki Rangga juga memerintahkan kepada mereka, "Tetapi jika
kalian mendapat kesempatan untuk membunuh Risang,
maka lakukanlah. Kalian akan dapat penghargaan khusus
jika kalian dapat melakukannya dengan cara apapun juga."
Kelima orang itu mengangguk-angguk. Tugas sampiran
itu memang sangat menarik. Tetapi mereka pun menyadari
bahwa untuk itu tentu akan sangat sulit dilakukan. Damar
dan Saruju yang sudah lama di Tanah Perdikan itu pun
tidak berhasil melakukannya. Apalagi mereka yang hanya
untuk waktu yang sangat terbatas. Sementara itu, mereka
mempunyai tugas pokok yang lain, yang memerlukan
kecermatan pula untuk melakukannya. Bahkan jika kelima
orang yang bertugas membunuh keluarga Damar itu
memerlukan bantuan, mereka tentu tidak akan tinggal
diam. Pada saat yang ditentukan, sepuluh orang terbaik telah
meninggalkan salah satu sarang dari gerombolan Ki Rangga
Gupita. Mereka adalah bekas prajurit Jipang yang memiliki
pengalaman dan ilmu yang luas, sehingga menurut
perhitungan Ki Rangga, mereka akan dapat menyelesaikan
tugas mereka dengan baik.
"Apa sulitnya membunuh seorang perempuan," berkata
salah seorang dari kelima orang yang mendapat tugas
membunuh adik Damar itu. "Tetapi kita akan memasuki Tanah Perdikan yang kuat,"
berkata kawannya. "Damar tidak akan dapat minta bantuan kepada
siapapun juga," berkata orang yang pertama. "Ia akan
dibayangi oleh beban yang diberikan oleh Ki Rangga.
119 SH. Mintardja Karena itu, maka ia tidak akan berani melaporkan atau
memberikan isyarat kepada para pengawal."
"Belum tentu," jawab yang lain. "Menurut laporan.
Damar berusaha untuk mendekatkan diri kepada para
pengawal, agar ia tidak mendapat kesulitan melakukan
tugasnya yang rumit itu."
"Tetapi tugas itu tidak dapat diselesaikannya sampai saat
ini," jawab yang pertama.
Namun tiba-tiba kawannya yang lain, yang tertua di
antara mereka berkata, "Banyak kemungkinan dapat terjadi.
Mungkin Damar dan Saruju benar-benar mengalami
kesulitan meskipun mereka sudah berusaha membaur
dengan anak-anak muda Sembojan. Tetapi mungkin pula,
justru karena itu, mereka telah tenggelam di antara kawan-
kawannya dan kehidupan Tanah Perdikan itu, sehingga
mereka memang sudah berkhianat. Bahkan masih ada
kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat terjadi antara
lain, bahwa Damar dan Saruju telah mempersiapkan
kawan-kawannya untuk melindungi keluarganya."
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Memang banyak
kemungkinan yang akan mereka hadapi. Dengan demikian
maka tugas mereka pun akan sama sulitnya dengan
membunuh Risang itu sendiri. Tetapi bagi orang Tanah
Perdikan Sembojan nilai Risang jauh lebih tinggi dari nilai
Damar dan Saruju. Dengan demikian maka kesepuluh orang itu menjadi
sangat berhati-hati. Mereka tidak dapat dengan serta merta
mendatangi rumah Damar atau Saruju. Tetapi mereka
memerlukan waktu. Tanah Perdikan Sembojan adalah Tanah Perdikan yang
menjadi semakin lama semakin hidup. Namun dengan
120 SH. Mintardja demikian, maka jalan-jalan induk di Tanah Perdikan itu
menjadi jalan yang ramai yang dilalui bukan saja oleh
orang-orang Tanah Perdikan Sembojan. Orang-orang dari
Kademangan sebelah menyebelah setiap hari banyak juga
yang datang memasuki Tanah Perdikan Sembojan dan
sebaliknya untuk kepentingan perdagangan. Beberapa pasar
yang tersebar di Tanah Perdikan Sembojan pun menjadi
semakin ramai, apalagi pasar di padukuhan induk Tanah
Perdikan. Karena Itu, maka sulit bagi para pengawal Tanah
Perdikan untuk dapat menyaring orang-orang yang
memasuki Tanah Perdikan. Hal itu disadari oleh orang-orang yang bertugas di Tanah
Perdikan. Mereka dapat saja berada di antara orang-orang
yang pergi ke pasar atau berada di jalan-jalan yang
menghubungkan kademangan-kademangan tetangga
disebelah menyebelah Tanah Perdikan.
Dengan perhitungan yang demikian itulah maka mereka
menjadi agak leluasa berada di Tanah Perdikan Sembojan.
Apalagi mereka adalah orang-orang yang tidak begitu
dikenal oleh Damar dan Saruju. Ki Rangga telah dengan
cermat memilih mereka, selain kemampuan mereka yang
memadai, maka mereka tidak akan dapat dengan cepat
dikenali oleh Damar dan Saruju karena sarang mereka yang
berbeda dan sejak mereka berada disebelah Timur Pajang,
mereka berada dalam kelompok yang berbeda dan jarang
saling berhubungan. Namun orang-orang itu telah
mendapat petunjuk dan keterangan tentang Damar dan
Saruju, serta rumah mereka dan jumlah keluarga mereka.
Di hari pertama mereka berada di Tanah Perdikan
Sembojan, mereka hanya sekadar berusaha mengenali
lingkungan yang akan menjadi arena perburuan mereka.
121 SH. Mintardja Sepuluh orang yang ditugaskan Ki Rangga di Tanah
Perdikan Sembojan itu telah memecah diri menjadi bagian-
bagian yang kecil yang terdiri tidak lebih dari dua orang.
Namun mereka dapat menjelajahi Tanah Perdikan itu tanpa
hambatan. Mereka dapat menyusuri jalan-jalan di
padukuhan-padukuhan, apalagi di waktu pagi. Pada saat-
saat orang hilir mudik pergi ke pasar untuk menjual atau
membeli kebutuhan mereka sehari-hari.
Ternyata semua orang yang dikirim oleh Ki Rangga
Gupita itu telah memerlukan berjalan lewat jalan disebelah
rumah Saruju dan Damar. Sesuai dengan petunjuk maka
mereka pun segera mengetahui dimana letak rumah yang
dimaksud. Sementara itu mereka pun telah berjalan melalui
jalan di padukuhan induk yang melewati rumah Pemangku
Jabatan Kepala Tanah Perdikan Sembojan.
Namun ketika mereka berjalan di depan regol itu, mereka
tidak dapat menangkap kesan yang khusus. Mereka hanya
melihat beberapa orang pengawal meronda. Nampaknya
tidak ada persiapan khusus, karena kelihatannya para
petugas itu berada di gardu dengan sikap wajar saja.
Ketika pada malam harinya mereka berkumpul di luar
Tanah Perdikan itu, di sebuah hutan kecil, maka mereka
mulai membicarakan langkah-langkah yang akan dapat
mereka ambil. "Nampaknya di rumah Saruju dan Damar tidak terdapat
penjagaan secara khusus," berkata pemimpin kelompok
yang bertugas membunuh itu.
"Ya," sahut seorang kawannya. "Aku tidak melihat
seorang pengawal pun. Agaknya mereka memang dalam
kesulitan. Jika mereka minta kawan-kawannya melindungi
mereka, tentu mereka akan menelusuri sebab-sebabnya.
Apabila sampai pada satu kesimpulan bahwa keduanya
122 SH. Mintardja akan membunuh Risang, maka keduanya akan mengalami
kesulitan pula dari orang-orang Tanah Perdikan sendiri.
Karena itu, maka kedua orang anak muda itu tidak akan
berani minta bantuan kepada siapapun juga."
"Tetapi," berkata kawannya yang lain. "Jika demikian,
maka keduanya tentu mengambil sikap lain. Keluarganyalah
yang tentu tidak berani keluar dari halaman rumah
mereka." "Itu bukan soal yang rumit. Kitalah yang akan memasuki
rumah mereka. Tentu saja di malam hari," berkata
pemimpin kelompok itu. "Bukankah tugas kita hanya
membunuh seorang. Kita hanya akan memasuki rumah
Damar. Tidak rumah Saruju. Karena giliran pertama
agaknya jatuh pada keluarga Damar."
"Itu tidak terlalu penting," desis pemimpin kelompok
yang lain, yang hanya bertugas untuk mengamati keadaan.
"Jika kalian menganggap lebih mudah untuk membunuh
keluarga Saruju maka kalian dapat memilih keluarga itu.
Yang penting menurut pendengaranku. Tetapi terserahlah
kepada kalian yang bertugas, seorang dari kedua keluarga
itulah yang harus dibunuh."
"Ya," jawab pemimpin kelompok yang bertugas
membunuh itu, "Namun yang disebut-sebut pertama kali


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

adalah keluarga Damar. Meskipun demikian jika lebih
mudah bagi kami untuk mengambil keluarga Saruju, maka
kami akan mengambilnya."
Kawan-Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka
memerlukan waktu untuk melihat yang manakah yang lebih
baik mereka lakukan. Di hari berikutnya seorang di antara mereka telah
mengamati rumah Damar dari tempat yang agak jauh.
123 SH. Mintardja Seorang di antara mereka telah menjadikan dirinya seorang
pengemis yang sakit-sakitan. Mula-mula orang itu berada di
pasar. Kemudian ia merambat ke lorong yang melewati
rumah Damar. Untuk beberapa saat ia berhenti dibawah
sebatang pohon. Namun selama ia berada dibawah sebatang
pohon itu, ia tidak melihat seorang pun keluar dari rumah
Damar. Dengan demikian maka orang itu berkata di dalam hati,
"Agaknya keluarga Damar memang sudah harus menjaga
diri setelah mendapat peringatan. Semua orang tetap
berada di halaman rumahnya."
Namun dalam pada itu, ia justru melihat seorang anak
muda yang keluar dari rumah itu. Damar sendiri.
"Anak itu mau kemana?" bertanya orang yang sedang
mengamatinya itu didalam hatinya."
Dengan hati yang berdebar-debar ia melihat Damar lewat
di depannya tetapi tanpa menghiraukannya. Sementara
orang itu pun telah duduk bagaikan membeku dengan
menundukkan kepalanya. Tubuhnya kelihatan sangat lemah
dan bahkan sakit-sakitan. Tetapi ia tidak mengacungkan
tangannya untuk memohon belas kasihan ketika Damar
lewat. Ternyata orang itu telah mengikuti Damar dari jarak
yang agak jauh. Dengan sangat hati-hati ia berjalan dengan
kaki timpang, punggung yang terbongkok-bongkok dan
nafas yang terengah-engah.
"Anak itu pergi ke pasar," berkata orang itu di dalam
hatinya ketika ia melihat Damar memasuki jalan yang
menuju ke pasar. Bahkan orang itu segera dapat mengambil
kesimpulan, bahwa Damarlah yang pergi berbelanja.
Menurut keterangan yang pernah didengarnya dari orang
124 SH. Mintardja yang pernah menemui Damar sebelumnya. Namun justru
karena ancaman-ancaman itu, Damar sendirilah yang
berbelanja. Meskipun hal itu tidak biasa dilakukan, bahwa
seorang anak muda berbelanja di pasar, tetapi terpaksa
dilakukannya. "Kenapa bukan Damar sajalah yang harus dibunuh,"
berkata orang yang menyamar sebagai seorang pengemis
itu. "Agaknya lebih mudah untuk melakukannya. Sekarang
pun aku akan dapat membunuhnya."
Pengemis itu tidak mengikuti terus. Ketika ia sudah
mendapat kepastian bahwa Damar akan pergi ke pasar,
maka ia pun telah berhenti dan kembali duduk di bawah
sebatang pohon yang rindang.
Pengemis itu sama sekali tidak memperhatikan, ketika
seorang berjalan dihadapannya dan agaknya juga menuju ke
pasar. Sementara itu, Damar memang pergi ke pasar. Seperti
yang diduga oleh pengemis itu, Damar memang pergi
berbelanja. Ia tidak membiarkan adik-adiknya atau ibunya
pergi ke pasar, karena mereka akan dapat menemui
kesulitan di perjalanan. Namun dalam pada itu, seorang lagi, yang lewat
kemudian di depan pengemis itu tanpa mendapat
perhatiannya, telah menyusul Damar pergi ke pasar pula.
"He, kau pergi berbelanja?" bertanya orang yang
menyusulnya itu. Damar berpaling. Dilihatnya Gandar berdiri di
belakangnya. "0, kau juga akan pcrgi berbelenja ?" bertanya Damar.
125 SH. Mintardja Gandar tersenyum. Namun kernudian katanya, "Aku
mengikutimu sejak dari rumahmu."
"Apakah kau akan berpesan sesuatu?" bertanya Damar
sambil tersenyum pula, "barangkali ikan gerameh atau
udang?" "Aku memang akan berpesan" jawab Gandar, "tetapi
pesan yang lain." "Pesan apa ?" bertanya Damar.
"Aku mencurigai seorang pengemis. Memang di
padukuhan ini sering terdapat pengemis yang minta belas
kasihan. Tetapi pengemis yang satu ini jarang sekali
mengacukan tangannya untuk memohon belas kasihan
orang lain. Ia lebih banyak duduk sambil memandang
orang-orang yang lalu lalang. Hanya sekali-sekali saja jika
teringat, ia mengacumgkan tangannya dan minta belas
kasihan." sahut Gandar.
Damar mengangguk-ang,guk. Ia mengerti arah
pembicaraan Gandar. Sementara itu Gandar meneruskan,
"Apalagi ketika pengemis itu duduk untuk waktu yang
cukup lama, tidak jauh dari regol rumahmu."
"Kau mengawasi pengemis itu?" bertanya Damar.
"Ya. Bersama Saman. Aku berada di halaman rumahnya.
Bukankah rumahnya hanya berselang dua rumah dari
rumahmu ?" jawab Gandar, "aku justru sudah berpesan
kepada Saman, jika pengemis itu kembali, agar ia
mengamatinya." "Jadi pengemis itu telah Pergi?" bertanya Damar pula.
"Ia mengikutimu. Ia berada di dekat simpang tiga
sekarang. Tetapi jika kau lewat, mungkin orang itu telah
pergi," berkata Gandar.
126 SH. Mintardja "Terima kasih atas peringatan ini." berkata Damar, "aku
akan berhati-hati." "Tenang sajalah" berkata Gandar, "Saman membantu
mengawasi rumahmu jika orang itu atau. kawan-kawannya
datang kerumahmu justru saat kau tidak ada di rumah.
Tetapi bukankah Jati Wulung ada diantara keluargamu
sekarang?" "Ya" jawab Damar, "Jati Wulung ada di rumah"
"Jika demikian berbelanjalah. Aku akan pergi ke. rumah
Saman. Tetapi jangan lupa, kau harus membeli jenang alot.
Nanti aku akan singgah kerumahmu."
Damar sempat tersenyum betapa hatinya gelisah.
Sementara itu, Gandar pun telah pergi meninggalkannya.
Menyusup diantara orang-orang yang sibuk dengan
keperluan mereka masing-masing.
Damar menarik nafas dalani-dalam. Namun ia pun
kemudian telah membeli kabutuhannya sebagaimana
dipesankan oleh ibunya. Seorang penjual yang
mengenalinya bertanya sambil tertawa, "He, kenapa, kau
yang berbelanja hari ini anak muda" Kemana ibumu, atau
adik-adikmu?" Damar pun tersenyum. Jawabnya, "Ibu sedang sibuk
sekali. Sementara adik-adikku sedang merajuk. Justru
kedua adikku itulah yang minta dibelikan makanan pagi
ini." Orang yang bertanya itu tertawa. Katanya, "Senang sekali
mempunyai anak seperti kau. Rajin bekerja, dan tidak malu
malu pergi berbelanja di pasar."
Damar tersenyum masam. Justru karena itu ia menjadi
agak malu juga. Namun memang tidak ada jalan lain yang
127 SH. Mintardja dapat ditempuhnya. Baru sejenak kemudian, setelah ia
selesai berbelanja ia berkata kepada diri sendri, "Kenapa
tidak mencoba minta tolong kepada seseorang yang dapat
pergi berbelanja?" Tetapi Damar merasa ragu. Orang itu, tentu akan
menjadi curiga kenapa bukan ibunya atau adik-adiknya.
Para pengawal di padukuhannya, bahkan diseluruh Tanah
Perdikan itu tahu, bahwa keluarganya memang terancam.
Tetapi; tidak semua orang perlu mengetahuinya.
Karena itu, maka Damar memutuskan bahwa ia
sendirilah yang akan membiasakan diri untuk berbelanja.
Memang berbeda dengan keluarga Saruju. Ternyata
seorang bibi Saruju yang tinggal tidak terlalu jauh dari
rumahnya bersedia berbelanja untuk keluarga Saruju.
Tetapi Saruju pun harus mengambilnya di rumah bibinya
Itu, karenaa bibinya yang sudah mengetahui ancaman yang
ditujukan kepada keluarga Saruju merasa takut juga untuk
pergi kesana. Namun pada giliran yang pertama, ancaman terberat
agaknya ditujukan kepada keluarga Damar. Karena itu,
maka perhatian Gandar dan pemimpin Pengawal Tanah
Perdikan itu pun lebih banyak ditujukan kepada Damar
pula, meskipun mereka tidak mengabaikan keluarga Saruju.
Sementara itu, Damar pun telah menemui Saruju pula
untuk menyampaikan pesan terakhir dari orang yang
diperintahkan oleh Ki Rangga menemuinya.
Saruju memang menawarkan apakah sebaiknya Sambi
Wulung pun untuk sementara biar tinggal bersama Damar
pula. Tetapi Damar menggeleng. Katanya, "Aku kira Jati
Wulung sudah cukup membantuku. Sementara itu masih
ada kenthongan di dalam rumahku. Setiap saat kenthongan
128 SH. Mintardja itu akan dapat dibunyikan dan aku harap, pertolongan akan
segera datang." Dalam pada itu, maka keluarga Damar benar-benar ada
di dalam saat-saat yang paling tegang. Gandar sendiri
kemudian ternyata lebih sering berada di rumah Saman,
yang hanya berjarak dua halaman saja dari rumah Damar.
Meskipun demikian, maka para pengawal tidak
melalaikan tugas-tugas mereka yang lain. Sejalan dengan
usaha untuk menjebak orang-orang yang akan datang untuk
membunuh itu, maka semua pengamatan dan kesiagaan
telah disamarkan dan hanya diketahui oleh para pengawal
saja. Demikianlah setelah beberapa hari kelima orang yang
ditugaskan untuk mengambil salah seorang keluarga Damar
itu berada di sekitar Tanah Perdikan, maka mereka pun
telah bersiap untuk melakukan tugas mereka. Pemimpin
dari kelompok yang harus mengawasi keadaan Tanah
Perdikan itu sudah memperingatkan, bahwa mereka harus
segera menyelesaikan tugas mereka, agar terhadap mereka
pun tidak perlu dijatuhkan ancaman sebagaimana yang
dilakukan atas Damar dan Saruju.
"Kami bukan perempuan yang takut melihat darah,"
geram pemimpin kelompok itu.
"Bukan maksudku," jawab pemimpin kelompok yang
lain. "Tetapi jangan terlalu lama menunggu. Kesempatan itu
harus kau cari, jangan kau tunggu datang sendiri."
"Malam nanti aku akan memasuki rumah Damar,"
berkata pemimpin kelompok yang harus membunuh
keluarga Damar itu. Pemimpin kelompok yang lain tidak menjawab. Tetapi
nampaknya orang-orang yang bertugas membunuh itu
129 SH. Mintardja benar-benar akan melakukan tugasnya pada malam yang
bakal datang. Sebenarnyalah ketika matahari menjadi semakin rendah,
maka kelima orang yang bertugas itu telah dikumpulkan.
Setiap orang di antara mereka mendapat kesempatan untuk
menyatakan pendapatnya. Namun pada umumnya mereka berpendapat, bahwa
tidak ada bahaya yang sungguh-sungguh jika mereka
memang akan memasuki rumah itu malam nanti.
"Memang ada tiga orang laki-laki," berkata salah seorang
di antara kelima orang itu. "Tetapi mereka adalah laki-laki
lugu yang tidak tahu tentang olah kanuragan kecuali Damar
sendiri." "Tiga orang sekaligus harus menghadapi mereka itu jika
mereka berusaha melawan," berkata pemimpin kelompok
itu. "Dua orang lainnya akan bertugas langsung membunuh
siapapun. Mungkin ayahnya, mungkin ibunya, atau salah
seorang adiknya. Tetapi jika mereka melawan, maka
kemungkinan kematian akan bertambah lagi."
"Itu bukan salah kita," jawab pemimpin kelompok yang
lain. "Bahkan seandainya semua terbunuh pula, jika
memang sudah tidak ada cara lain yang lebih baik."
"Tetapi sebagaimana ditekankan kepada kita oleh Ki
Rangga Gupita dan Nyi Wiradana bahwa seandainya Damar
atau Saruju terbunuh pula dalam pertempuran, maka kita
tidak akan dapat dipersalahkannya," desis pemimpin
kelompok yang mendapat tugas untuk membunuh itu.
Demikianlah, maka setelah semua orang menyatakan
pendapat mereka tentang rencana yang akan mereka
lakukan, maka mereka telah mengambil kesimpulan untuk
130 SH. Mintardja memasuki halaman rumah Damar, mengetuk pintunya dan
minta salah seorang di antara keluarganya itu.
"Tetapi bukan pamannya," berkata salah seorang dari
mereka. Namun dalam pada itu, pemimpin kelompok itu masih
berkata kepada pemimpin kelompok yang lain, "Apakah
kalian akan mengamati langsung suasana?"
"Jika itu menguntungkan, aku akan pergi," jawab
pemimpin kelompok yang lain. "Atau barangkali kalian
memerlukan kekuatan cadangan?"
"Tidak," jawab pemimpin kelompok yang bertugas
membunuh itu. "Semuanya terserah kepadamu. Apa kau
akan mengamati langsung atau tidak."
Pemimpin kelompok yang lain itu pun memandangi


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang-orangnya. Agaknya ia memerlukan pertimbangan
dari mereka. Dalam pada itu, seorang di antara mereka berkata, "Ada
juga baiknya kita nonton. Jika diperlukan, apa salahnya kita
membantu, asal laporan yang bakal sampai kepada Ki
Rangga juga berkata begitu."
Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya,
"Baiklah kita juga pergi."
Akhirnya dua kelompok itu pun telah pergi menuju ke
padukuhan dimana Damar tinggal. Namun kelompok yang
kedua, tidak akan terlibat langsung jika tidak diperlukan,
karena kelompok pertama memang sudah terlalu yakin,
akan mampu mengatasi keadaan. Sementara kelompok
kedua memang mempunyai tugasnya sendiri. Tetapi karena
mereka merasa berasal dari satu keluarga besar dengan cita-
131 SH. Mintardja cita yang satu, maka pemimpin kelompok kedua itu pun
telah mempersiapkan diri pula jika diperlukan.
Demikianlah, maka mereka berhasil menyusup lewat
pematang sawah dan lorong-lorong sempit di antara
tanaman yang rimbun di pategalan, mendekati padukuhan
yang mereka tuju. Sekali lagi orang-orang dalam kelompok
yang bertugas untuk membunuh itu meyakini sesuai dengan
pengamatan mereka, bahwa tidak ada orang lain di rumah
itu dan tidak ada penjagaan yang khusus. Namun mereka
memang harus masuk kerumah mereka, karena tidak
pernah ada seorang pun di antara keluarga Damar yang
keluar regol halaman. Dengan sangat berhati-hati maka sepuluh orang itu pun
telah menyusup memasuki padukuhan tanpa diketahui oleh
anak-anak muda yang bertugas meronda. Apalagi karena
dalam beberapa hari, ternyata tidak terjadi sesuatu,
sehingga anak-anak muda itu semakin merasa bahwa
padukuhan mereka tetap aman. Bahkan satu dua di antara
mereka berpendapat, bahwa ancaman Ki Rangga terhadap
Damar itu hanya untuk sekadar menakut-nakuti saja,
meskipun Gandar sudah menekankan, bahwa ia pernah
melihat seorang pengemis yang mencurigakan, kemudian
yang terakhir, ia melihat pengemis itu lagi lewat di muka
rumah Damar. Ketika dalam gelapnya malam mereka mendekati regol
halaman, maka pemimpin kelompok yang bertugas untuk
membunuh itu berkata, "Ternyata tugas kita tidak terlalu
sulit. Kita akan segera memasuki rumah itu dan besok kita
kembali membawa laporan tentang kematian salah seorang
keluarga Damar, sementara itu kau masih akan tinggal
disini untuk beberapa hari, mengamati perkembangan
keadaan." 132 SH. Mintardja Pemimpin kelompok yang lain itu mengangguk-angguk.
Tetapi ia tidak menjawab.
Sementara itu, sepinya malam terasa berbaur dengan
dinginnya udara. Untuk beberapa saat lamanya kedua
kelompok itu berhenti di depan regol. Namun mereka tidak
melihat atau merasakan sesuatu yang ganjil yang dapat
menghambat tugas mereka. Namun dalam pada itu, mereka terkejut ketika mereka
mendengar suara kothekan. Agaknya sekelompok peronda
telah nganglang sambil membunyikan kenthongan bambu
di sepanjang lorong yang mereka lalui. Karena itu, maka
pemimpin kelompok itu pun segera memerintahkan orang-
orangnya untuk masuk ke halaman dan menghilang dibalik
gerumbul-gerumbul perdu dan taman-taman yang rimbun
lainnya. Sebenarnyalah sejenak kemudian, terdengar beberapa
orang anak muda lewat di depan regol halaman rumah
Damar sambil memukul kenthongan-kenthongan kecil
dengan irama kothekan. Bahkan terdengar mereka tertawa
dan bergurau dengan gembira.
Pemimpin sekelompok orang yang akan membunuh itu
mengumpat, ketika peronda itu justru berhenti di muka
rumah Damar. Beberapa orang di antara mereka agaknya
saling berkejaran. Bahkan terdengar suara batu-batu kecil
yang dilemparkan. Rupa-rupanya mereka saling melempar
batu-batu kecil sambil berkejaran.
"Anak setan," geram pemimpin kelompok itu. Namun
mereka harus sabar menunggu para peronda itu pergi.
Rasa-rasanya mereka, telah menunggu terlalu lama
ketika suara kothekan itu menjadi semakin jauh dan
133 SH. Mintardja kemudian di kejauhan para peronda itu agaknya telah
berbelok memasuki lorong yang lain.
Orang-orang yang berada dihalaman rumah Damar itu
menunggu sejenak. Namun kemudian pemimpinnya pun
memberikan isyarat, sehingga mereka pun telah keluar dari
persembunyian mereka. "Kita harus bertindak sekarang" berkata pemimpin.
kelompok yang harus membunuh itu. Kemud'an katanya
kepada pemimpim kelompok yang lain., "Nah tolong awasi
ke adaan. Mungkin merupakan sebagian dari tugasmu.
Tetapi mungkin juga bukan, karena tugasmu mengamati
keadaan Tanah Perdikan ini dalam keseluruhan
hubungannya dengan penyelesaian Risang, anak Nyi
Wiradana." Pemimpin kelompok yang lain itu tersenyum. Katanya,
"Baiklah. Kami akan membantumu."
Pemimpin kelompok yang akan membunuh itu
mengerutkan keningnya, tetapi ia tidak menjawab lagi.
Demikianlah, maka kelompok kecil yang harus
membunuh itu telah mulai bergerak. Pemimpin kelompok
itu pun langsung menuju ke pintu, sementara, orang-
orangnya memencar di sebelah menyebelah. Satu orang
mengamati daerah di kegelapan di sebelah rumah itu,
sementara di sebelah lain diserahkan kepada kelompok
yang membantu termasuk di halaman belakang.
"Jangan ada seorang pun yang lari" berkata pemimpin
kelompok itu. Sejenak kemudian, maka pemimpin kelompok itu telah
mengetuk pintu. Tidak terlalu keras. Ia yakin, bahwa
pendengaran Damar cukup tajam sehingga tidak perlu
134 SH. Mintardja ketukan-ketukan yang mungkin akan dapat membangunkan
tetangga. Sebenarnyalah, sebagaimana diperhitungkan. Ketukan
yang perlahan-lahan atu memang telah membangunkan
Damar. Bahkan bukan hanya Damar, tetap! Jati Wulung
pun telah terbangun pula.
Tetapi keduanya cukup tenang manghadapi keadaan.
Keduanya tidak menjadi gugup meskipun Damar
dicengkam oleh ketegangan. Ia sudah menduga, bahwa
orang yang akan menagambil keluarganya itu telah datang."
Sejenak keduanya bersiap-siap. Damar telah
mengenakan pedang di lambungny sementara Jati Wulung
pun telah mempergunakan senjata wajar pula sebagaimana
dipergunakan oleh Damar. Ketika pintu sekali diketuk, maka Damar lah yang
bertanya dari dalam, "Siapa?"
"Aku Damar" jawab suara diluar, "ada sesuatu, yang
penting untuk kita bicarakan."
Damar mengerutkan keningnya. Suara itu tidak
membayangkan kegarangan. Tetapi ia tidak dapat
mempecayai sikap yang bagaimana pun juga pada saat-saat
seperti itu" Karena itu, maka ia kemudian sepakat dengan Jati
Wulung untuk membangunkan ayahnya dan keluarganya
yang lain; agar mereka tidak dikejutkan oleh keadaan yang
mungkin akan mengundang keributan.
"Apa boleh buat" berkata Damar, "kita harus
membangunkan mereka. Itu lebih baik daripada mereka
terkejut." 135 SH. Mintardja Jati Wulung mengangguk kecil. Samentara itu diluar
terdengar suara lagi, "Bukalah pintumu Damar. Aku ingin
berbicara sedikit." Damar menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia
pun menjawab, "Tunggu. Aku sedang mencari bajuku."
"Tidak perlu Damar. Aku hanya sebentar" desis suara itu.
Tetapi Damar tidak menghiraukan. Ia telah pergi ke bilik
ayahnya dan membangunkannya perlahan-lahan.
"Ayah" berkata Damar, "tolong, tenangkan ibu dan adik-
adik. Pintu rumah ini diketuk orang. Jika orang itu datang
untuk niat buruk, kita harus bersiap-siap."
Ayah Damar itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia.
pun kemudian telah menggapai tombaknya sambil berkata,
"Aku akan menunggui ibumu dan adik-adikmu. Berhati-
hatilah. Bukankah ada kenthongan dirumah ini?"
"Aku akan melihat, siapakah yang datang itu sebelum
kenthongan dibunyikan." berkata Damar.
Ayahnya mengangguk. Namun dalam pada itu, pintu pun
diketuk semakin keras. Ketika Damar-meninggalkan ayahnya ia sempat berkata,
"Bersiaiplah dengan kenthongan itu ayah."
Ayahnya mengangguk. KETIKA Damar kemudian pergi ke ruang depan
menemui Jati Wulung yang menunggu dengan berdebar-
debar, ayah Damar itupun telah mengambil kenthongan.
Kemudian ia ia pun telah menutup pintu sekat ruang depan
dengan ruang dalam. Sementara itu, ia pun mulai
membangunkan istrinya dan anak-anak perempuannya,
kecuali kakek Damar. 136 SH. Mintardja Ketegangan telah mencengkam seisi rumah itu. Damar
dan Jati Wulung yang sudah siap sepenuhnya telah berada
di ruang depan. Dengan hati-hati Damar mendekati pintu.
Ketika ia sudah siap membuka selarak, ia masih juga
berdesis, "Siapa yang diluar" Sebut namamu."
"Damar," terdengar suara itu. "Aku sudah terlalu lama
menunggu. Jangan permainkan aku dengan cara seperti ini.
Bukalah pintu, baru kita akan berbicara."
Damar menjadi semakin yakin. Tentu bukan kawan-
kawannya di gardu. Dan bukan pula orang yang bermaksud
baik. Perlahan-lahan Damar telah membuka selarak pintu
rumahnya. Kemudian pintu itu pun mulai berderit. Sedikit
demi sedikit pintu itu terbuka. Namun tiba-tiba pintu itu
telah dihetakkan dari luar, sehingga pintu itu terbuka lebar-
lebar. Damar bergeser surut. Ia yakin, bahwa ia berhadapan
dengan orang-orang yang datang untuk menghukumnya,
karena ia memang belum berhasil menyelesaikan Risang,
anak Nyi Wiradana. Sementara itu, seorang laki-laki yang bertubuh tinggi
tegap dan kekar telah berdiri di pintu.
Damar yang bergeser surut berdiri disebelah Jati Wulung
yang tegak dengan kerut di dahinya. Namun keduanya telah
bersiap menghadapi segala kemungkinan meskipun mereka
belum menarik pedang mereka dari wrangkanya.
"Siapa kau Ki Sanak?" bertanya Damar.
"Kau tentu sudah dapat menduganya," jawab orang itu.
"Tetapi baiklah aku mengatakan. Aku dan beberapa orang
kawanku yang sekarang mengepung rumah ini, adalah
137 SH. Mintardja utusan Ki Rangga Gupita dan Nyi Wiradana. Kami
mendapat tugas untuk mengambil seorang dari keluargamu
sebagaimana pernah diberitahukan kepadamu oleh petugas
yang mendahului aku. Nah, waktunya itu sudah datang. Aku
akan mengambil orang yang menurut penilaianmu, tidak
berarti lagi di rumah ini. Sebutkan. Kemudian segala-
galanya serahkan kepadaku."
Damar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan
nada berat ia pun menjawab, "Ki Sanak. Bagaimana
mungkin aku dapat melepaskan salah seorang dari
keluargaku. Mereka adalah bagian dari hidupku. Apalagi
ayah dan ibuku. Justru karena mereka, aku ada dan
kemudian dibesarkan."
"Jika demikian, bagaimana salah seorang dari adikmu?"
bertanya orang itu. "Aku mengasihani mereka. Tidak mungkin aku
membiarkan mereka mengalami kesulitan karena aku,"
jawab Damar. "Terserahlah kepadamu. Siapa yang kau sebut. Aku akan
mengambilnya. Aku tidak akan membunuhnya disini. Tidak
dihadapan matamu," berkata orang itu.
Tetapi Damar menggeleng. Katanya, "Itu tidak mungkin.
Kenapa tidak aku saja?"
Orang itu mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia
berkata, "Kau masih diharapkan dapat menyelesaikan
tugasmu. Kau tidak akan dibunuh kecuali jika kemudian Ki
Rangga yakin, bahwa kau memang tidak berarti lagi bagi
kami." DAMAR termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya, "Ki Sanak. Cobalah bayangkan jika hal seperti ini
terjadi padamu. Memang agak berbeda halnya jika tiba-tiba
138 SH. Mintardja saja kau membunuh salah seorang keluargaku, siapapun
orangnya. Tetapi tidak atas keputusanku sendiri."
"Aku tidak dapat berbuat seperti itu," berkata orang yang
bertubuh tinggi kekar itu. "Tidak ada seorang pun di antara
keluargamu yang keluar dari halaman rumahmu. Aku sudah
menunggu untuk waktu yang terlalu lama. Bahkan aku
sudah merasa cemas, bahwa aku pun akan mendapat
ancaman seperti yang terjadi atasmu."


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Damar menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba
saja ia berpaling ke arah Jati Wulung sambil berkata, "Aku
pernah menyebut sebuah nama kepada orang yang pernah
datang sebelumnya. Ambillah pamanku ini."
Orang itu termenung sejenak, lalu sambil menggeleng ia
berkata, "Tidak mungkin Ki Sanak. Hanya keluarga dalam
saluran darah pertama sajalah yang dapat dikorbankan.
Namun usulmu ternyata sangat menarik. Semula aku
mengira, ketika aku mendengar bahwa kau telah
mengusulkan agar pamanmu diambil, kau memang dalam
kebingungan. Tetapi ketika sekarang aku melihat orang
yang kau maksud dengan pamanmu itu, maka aku
mempunyai dugaan lain. Apakah maksudmu ini justru satu
tantangan" Pamanmu menyandang pedang dilambung."
Damar mengerutkan keningnya. Ternyata orang itu
terlalu cerdas, sehingga dengan demikian, maka Damar pun
menduga bahwa orang itu adalah orang yang memiliki ilmu
yang tinggi. "Ki Sanak,"berkata Damar. "Ternyata ketajaman nalarmu
membuat aku kagum kepadamu. Tetapi apa boleh buat.
Sudah barang tentu tidak akan ada orang yang dengan suka
rela menyerahkan salah seorang keluarganya untuk
dibunuh. Karena itu, maka aku tidak akan dapat
mengatakan, siapakah yang akan aku serahkan," Damar
139 SH. Mintardja berhenti sejenak, lalu katanya pula, "Ki Sanak. Apa yang
akan kau lakukan jika hal seperti ini dipaksakan atasmu."
Orang itu menjadi tegang. Namun tiba-tiba ia menjadi
garang, "Damar. Aku tidak mempunyai banyak waktu. Sebut
satu nama dalam lingkungan keluargamu. Atau biarlah aku
masuk dan mengambilnya siapapun yang pertama aku
jumpai." "Baiklah," berkata Damar. "Kau memang sudah terlalu
lama disini. Kau mulai membosankan aku. Karena itu
pergilah." Wajah orang itu menjadi merah. Dengan nada tinggi ia
berkata, "Damar. Apakah kau sudah menjadi gila" Aku
adalah utusan Ki Rangga Gupita. Ternyata kau menjawab
sekehendak hatimu, bukankah kau sudah menyinggung
harga diriku." "Baiklah aku berterus terang Ki Sanak. Aku tidak dapat
memenuhi keinginanmu, menyerahkan seorang anggota
keluargaku untuk dibantai tanpa kesalahan. Yang bersalah
atau lebih tepatnya, yang dianggap bersalah adalah aku.
Bukan keluargaku. Karena itu yang harus dihukum adalah
aku. Itu pun jika Ki Rangga berhak menghukumku," berkata
Damar. Orang itu termangu-mangu sejenak. Nampaknya Damar
memang sudah siap menghadapi keadaan. Karena itu, maka
katanya, "Sekali lagi aku beritahukan, rumah ini sudah
dikepung." Damar memandang orang itu dengan tajamnya. Tetapi
tiba-tiba ia bertanya, "Siapa namamu. Aku sudah berada
dilingkungan prajurit Jipang sejak semula, tetapi rasa-
rasanya aku belum mengenalmu."
140 SH. Mintardja "Tidak ada kesempatan untuk berbicara tentang diriku,"
berkata orang itu. "Beri aku kesempatan memasuki
rumahmu dengan cara yang baik dan membunuh orang
yang pertama aku jumpai. Jika kau memilih jalan lain, maka
akibatnya pun akan lain. Aku mendapat wewenang untuk
menentukan sikap sesuai dengan keadaan yang aku hadapi
disini. Bahkan mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak
dibayangkan sebelumnya, justru karena akan mendapat
tantangan disini." "Sudahlah Ki Sanak," berkata Damar. "Pergi sajalah, atau
lebih baik jika kau menyerah. Kau akan mendapat tempat
lebih baik dari tempatmu sekarang."
Orang itu memandang Damar dengan penuh kecurigaan.
Bahkan dengan nada dalam ia berkata, "Damar, apakah kau
memang sudah berniat untuk berkhianat dengan tidak
melakukan tugasmu dengan baik dan bersiap untuk
melawan jika hukuman itu datang?"
Jawab Damar memang mengejutkan. Katanya, "Ya. Aku
tidak akan ingkar. Aku sudah mengambil keputusan untuk
tidak membunuh Risang dengan
mempertanggungjawabkan segala akibatnya, termasuk
kedatangan kalian malam ini."
"Kau jangan gila Damar," berkata orang itu. "Kau tidak
mempunyai kesempatan."
Tetapi Damar justru tertawa, katanya, "Aku tidak peduli,
apakah rumah ini dikepung seperti yang kau katakan.
Tetapi yang pasti, bahwa kalian berada di tengah-tengah
anak-anak muda Tanah Perdikan Sembojan. Anak-anak
muda yang telah ditempa oleh keadaan, sehingga tanah ini
menjadi sebuah Tanah Perdikan yang keras dan tegar.
Itulah sebabnya aku memutuskan untuk tetap berada di
Tanah Perdikan ini untuk selanjutnya."
141 SH. Mintardja "Persetan," geram orang itu. "Jika demikian, maka aku
tidak usah berpikir terlalu lama. Aku tidak hanya akan
mengambil seorang saja di antara keluargamu. Tetapi aku
akan mengambil seluruhnya termasuk kau sendiri."
"Kau tidak akan mampu melawan seisi padukuhan ini.
Apalagi seluruh Tanah Perdikan," jawab Damar.
Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Tiba-tiba saja ia
telah menarik pedangnya langsung terayun ke leher Damar.
Hampir saja leher Damar tertebas. Ternyata bahwa Jati
Wulung memiliki naluri yang lebih tajam dari Damar,
karena ilmunya yang memang terlalu tinggi bagi Damar,
sehingga Jati Wulung sempat menariknya. Dengan
demikian maka pedang orang itu sama sekali tidak
mengenainya. Damar yang tergeser itu telah menarik parangnya pula.
Namun sementara itu, orang yang bertubuh tinggi kekar itu
telah memberikan isyarat kepada orang-orangnya. Sebuah
suitan nyaring telah membelah sepinya malam di halaman.
Orang-orang yang mengepung rumah itu pun tiba-tiba
telah menghambur ke pintu dan menyerbu masuk.
Tetapi mereka tidak sempat memasuki pintu. Dari dalam,
pemimpin kelompoknya telah terdorong keras sekali
membentur kawan-kawannya sehingga mereka jatuh
berguling keluar pintu. Lima orang telah berloncatan bangkit dan bersiap
menghadapi segala kemungkinan, sementara itu lima orang
lainnnya telah bergeser pula mendekat.
Dalam pada itu, kelima orang itu mendengar pemimpin
kelompok yang harus membunuh itu berkata kepada Damar
dengan suara gemetar oleh kemarahan, "Pengkhianat. Aku
142 SH. Mintardja tidak akan membunuh satu orang. Tetapi semua orang
termasuk kau." Jati Wulung dan Damar yang kemudian juga pergi keluar
berdiri tegak sambil mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Dalam ketegangan itu terdengar Damar berkata, "Aku
sudah mengambil sikap. Karena itu menyerah sajalah. Tidak
ada gunanya kau dan orang-orangmu melawan. Sebentar
lagi kami akan membunyikan isyarat dan anak-anak muda
seluruh padukuhan dan bahkan Tanah Perdikan ini akan
datang." "Persetan," geram pemimpin kelompok itu, "Aku hanya
membutuhkan waktu sekejap untuk membunuhmu."
Damar tidak sempat berbicara lagi. Pemimpin kelompok
itu telah mendekat sambil mengacungkan pedangnya.
Demikian pula keempat orang yang lain.
Namun dalam pada itu, ayah Damar yang berada di
dalam rumah itu telah mendengar suara ribut di luar.
Menurut perhitungannya, anaknya tentu sudah mulai
bertempur melawan orang-orang yang datang itu. Karena
itu, maka ia pun kemudian berkata kepada istrinya dan
anak-anaknya, "Tinggallah disini. Aku akan keluar. Tutup
kembali pintu penyekat itu dan pasang selaraknya. Masih
ada beberapa pucuk senjata. Kau pegang tombak itu Nyi,
biarlah anak-anakmu membawa pedang.
Tungguilah pintu itu. Jika ada orang yang memaksa
membukanya dari luar, pukul kenthongan itu, sementara
yang lain menjaga di depan pintu. Begitu orang itu berhasil
memecahkan pintu dan mamaksa masuk, maka ujung
tombak dan pedang itu harus kau pergunakan sambil
menunggu bantuan yang datang."
143 SH. Mintardja "Kenapa tidak dibunyikan sekarang saja kakang?"
bertanya istrinya. "Aku akan melihat dahulu, apa yang
terjadi diluar," berkata ayahnya. Demikianlah, ayah Damar
itu keluar sambil membawa tombak, sementara itu istrinya
dan kedua anaknya telah memegang senjata pula. Demikian
suaminya keluar, maka pintu pun telah ditutup dan
diselarak kembali. "Kau siap di dekat kenthongan," perintah ibunya kepada
anak perempuannya yang besar, "Jika kau dengar aba-aba,
kau pukul sekuat-kuatnya dengan nada sebagaimana
dipesankan oleh kakakmu Damar."
Adik Damar yang besar itu mengangguk, sementara yang
kecil menjadi gemetar meskipun ia memegang pedang.
Ibunya yang sebenarnya juga ketakutan, berusaha untuk
menyembunyikan perasaan takutnya, agar anak-anaknya
tidak menjadi semakin gemetar.
Dalam pada itu, kelima orang yang akan membunuh itu
pun sudah siap untuk menyerang, sementara Damar dan
Jati Wulung berdiri disebelah menyebelah pintu.
Pada saat yang demikian, maka ayahnya pun muncul
sambil membawa tombak yang sudah merunduk.
Damar terkejut. Tiba-tiba saja ia berteriak, "Jangan
keluar ayah. Biarlah ayah tetap di pintu."
"Aku juga bekas pengawal Tanah Perdikan ini ketika aku
muda," berkata ayahnya.
"Tombak ini adalah tombakku pada saa aku masih
bertugas. Karena itu aku mampu mempergunakan
sekarang." Namun Damar menjawab, "Meski demikian ayah tetap
saja di pintu." 144 SH. Mintardja "Ya," jawab ayahnya. "Aku tahu. Dengan demikian aku
tidak akan mendapat serangan dari samping dan dari
belakang." "Setan," geram pemimpin kelompok yang datang untuk
membunuh. "Tua bangka itulah yang akan mati lebih
dahulu sebagai tebusan kelambatanmu. Kemudian yang
lain-lain dan aku bunuh sebagai tumbal pengkhianatan
Damar terhadap cita-cita perjuangan kita."
Ayah Damar itu ternyata seorang yang memiliki
keberanian yang tinggi. Katanya, "Dalam keadaan terjepit
seperti ini, yang paling baik bagi kita memang harus
melawan. Kematian dalam perlawanan terhadap niat-niat
jahat adalah kematian yang terhormat. Dan kehormatan
adalah sesuatu yang bernilai tinggi."
Pemimpin pengawal itu tidak sabar lagi. Ia pun
kemudian mulai memberikan isyarat kepada orang-
orangnya untuk mulai menyerang.
Namun dalam pada itu, kelima orang yang mendengar
semua pembicaraan itu menjadi pasti bahwa Damar
memang sudah berkhianat. Karena itu maka mereka pun
telah memutuskan untuk ikut serta mengambil bagian.
Pemimpin kelompoknya itu pun berkata, "Ki Rangga
tentu akan dapat menilai apa yang telah kita lakukan. Kita
sudah dengan cepat mengambil sikap, demikian kita
mengetahui bahwa Damar memang telah berkhianat."
Dengan demikian, maka pemimpin kelompok itu telah
memerintahkan kedua orangnya untuk melihat-lihat ke
ruang dalam. Mereka tidak akan dapat masuk lewat pintu
depan, karena di pintu itu berdiri ayah Damar dengan
tombak ditangan. Karena itu, mereka harus berusaha lewat
145 SH. Mintardja pintu butulan, untuk seterusnya memberikan isyarat dari
dalam jika mereka berhasil masuk.
Kedua orang itu tidak menunggu lebih lama. Mereka pun
dengan cepat menyelinap lewat halaman samping menuju
pintu butulan. Dengan kasar mereka telah mencoba untuk membuka
pintu butulan itu. Namun karena pintu itu diselarak, maka
mereka harus berusaha untuk membuka dengan paksa.
Yang ada di dalam menjadi sangat ketakutan. Ibu Damar
yang membawa tombak telah bergeser mendekati pintu
dengan ujung tombak yang merunduk.
Tetapi anak perempuannya tidak lagi dapat menahan
ketakutannya. Tiba-tiba saja tanpa menunggu isyarat dari
siapapun juga, tangannya telah memukul kenthongan
sekuat-kuatnya dengan nada sandi sebagaimana pernah
dikatakan oleh Damar. Suara kenthontan itu memang mengejutkan. Terutama
orang-orang yang datang dalam dua kelompok itu. Mereka
sadar, bahwa isyarat itu tentu akan mengundang para
peronda di gardu. Namun pemimpin kelompok itu menggeram, "Kau sudah
melakukan satu kebodohan. Semakin banyak orang yang
datang, makaa korban pun menjadi semakin banyak pula.
Mayat akan berhamburan di halaman rumah ini."
Damar tidak menjawab. Tetapi ia sudah harus
menggerakkan senjatanya karena seseorang mulai
menyerangnya, Bagi Damar, kenthongan itu memang sudah waktunya
untuk dibunyikan. Dengan demikian kawan-kawannya akan
segera datang untuk membantunya, menangkap orang-


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

146 SH. Mintardja orang yang datang ke rumahnya itu. Apalagi ketika ia
melihat bayangan orang yang bergerak di kegelapan,
sehingga ia yakin, bahwa yang datang tentu tidak hanya
lima orang itu. Bahkan ia memang hampir saja memberikan isyarat.
Namun sebelum ia melakukannya, kenthongan itu sudah
berbunyi. Dalam pada itu, di halaman itu pun telah terjadi
pertempuran. Damar telah bertempur melawan salah
seorang diantara kelima orang itu. Seorang diantara orang-
orang itu telah bcrusaha menyerang ayah Damar. Namun
ayah Damar yang berada di pintu itu mendapat
perlindungan yang baik, sehingga dengan tombaknya ia
dapat mencegah lawannya mendekat.
Jati Wulung yang menyadari kekuatan lawan, telah
berusaha untuk memancing lawan sebanyak-banyak. Ia pun
tiba-tiba telah berloncatan dengan tangkasnya. Dengan
pedangnya ia telah menyerang pemimpin kelompok irtu.
Namun demikian serangannya tidak menyentuh, maka ia
telah meloncat menyerang orang yang lain lagi. Dengan
sengaja Jati Wulung menunjukkan kelebihannya, agar
lawan-lawannya itu lebih banyak memperhatikannya.
Namun dalam pada itu, kelima orang yang lainpun tidak
tinggal diam. Ketika keyakinan akan pengkhianatan Damar
telah mereka peroleh, maka pemimpinya pun berkata
lantang, "Aku memutuskan untuk bersama-sama kalian
membanuh semua orang. Menurut pengamatanku, Damar
memang sudah berkhianat."
"Bagus" berkata pemimpin kelompok pertama, "kita
harus melakukannya segera."
147 SH. Mintardja "Dua diantara orang-orangku telah berusaha masuk
lewat pintu butulan. Mereka harus membunuh semua orang
yang ada didalam meskipun perempuan." berkata
pemimpin kelompok itu. "Pengecut" Damar berteriak, "lawan aku jika kalian
memang laki-laki. Tetapi pemimpin kelompok kedua itu tertawa. Katanya,
"Kami akan membunuh siapa saja. Itu memang tugas yang
dibebankan kepada kami jika aku mengambil kesimpulan
bahwa. kau telah berkhianat.
Damar tidak dapat berbicara lebih banyak. Ia harus
menghindari serangan lawannya yang datang beruntun,
Namun dalam pada itu, agaknya memang tidak diduga
sama sekali oleh orang-orang yang datang untuk
membunuh itu. Dalam pertempuran yang baru mulai itu,
bahkan belum semua orang merasa terlibat, seorang
diantara mereka di kelompak pertama itu telah menjerit.
Pedang Jati Wulung telah mengoyak pundaknya sehingga
darah pun telah memancar dengan derasnya.
"Gila kau" teriak pemimpin kelompok itu. Namun ia pun
harus berloncatan surut. Hampir saja ujung pedang Jati
Wulung Itu mengoyak bibirnya.
Jati Wulung memang menjadi sangat garang. Sementara
itu orang-orang di kelompok kedua pun telah datang pula.
Mereka memang menjadi berdebar-debar melihat tata gerak
orang yang disebut paman Damar, yang oleh Damar telah
ditunjuk untuk menjadi korban yang pertama itu.
Namun dalam pada itu, adik Damar yang ketakutan
didalam. telah memukul kenthongan semakin keras.
Sementara itu, pintu butulan itu pun berguncang-guncang
semakin keras pula. 148 SH. Mintardja Betapa pun ketakutan mencengkam jantung, tetapi ibu
Damar tidak mau membiarkan anak-anaknya itu menjadi,
korban. Karena itu, maka ia telah siap berdiri disamping
pintu butulan. Tangannya yang gemetar menggenggam
tombaknya erat-erat. Pada saat yang demkian, ternyata suara kenthongan itu
telah didengar oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan oleh
anak-anak muda yang berada di gardu. Karena itulah, maka
beberapa-orang anak muda telah berloncatan, berlari
menuju ke rumah Damar. Mereka telah mengemal sandi
isyarat pada suara kenthongan itu. Yang ditentukan bagi
rumah Damar berbeda dengan yang ditentukan bagi, rumah
Saruju. Dua orang anak muda yang pertama memasuki halaman
rumah Damar itu pun telah berteriak, "Damar kami
datang." "Terima kasih," teriak Damar pula. Namun kedua orang
anak muda itu segera terhenti. Dua orang telah dengan serta
merta menyerang mereka. Tetapi kedua anak muda itu adalah pengawal-pengawal
Tanah Perdikan Sembojan, sehingga dengan demikian,
maka mereka pun dengan tangkasnya menghadapi lawan-
lawannya. Ketika dua orang anak muda yang lain datang pula, maka
Damarlah yang berteriak, "Tolong, lihat pintu butulan."
Kedua anak muda itu dengan sigapnya berlari
kesamping. Mereka telah mengenal keadaan halaman
rumah Damar, karena mereka memang sering berada di
halaman rumah itu, sebagaimana anak-anak muda saling
berkunjung. Sehingga dengan demikian maka mereka pun
149 SH. Mintardja telah tahu letak pintu butulan rumah Damar, bahkan pintu
dapur sekalipun. Pada saat yang demikian kedua orang yang berusaha
membuka pintu butulan itu telah hampir berhasil.
Keduanya kemudian telah mengambil ancang-ancang.
Dengan sepenuh tenaga keduanya telah berlari dengan
membentur pintu butulan itu, sehingga selarak pintu itu
pun telah berderak patah.
Sejenak kemudian, maka seorang di antara keduanya itu
telah menendang pintu sehingga pintu yang sudah tidak
diselarak itu pun telah terbuka.
Namun orang itu terkejut. Demikian mereka melangkah
ke pintu, maka mereka melihat ujung tombak mengarah
kepada mereka. "Jangan masuk," terdengar suara perempuan
mengancam. Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian seorang di antara mereka berkata, "Letakkan
tombak itu. Tombak itu tidak ada artinya bagi kami."
Tetapi perempuan itu tidak mau melepaskannya.
Nalurinya sebagai seorang ibu telah membuatnya
kehilangan perasaan takut menghadapi apapun juga.
"Kau sadari, bahwa senjata itu justru akan membuatmu
menjadi semakin sulit. Kami memang akan membunuh
kalian. Tetapi dengan cara yang baik. Jika kalian melakukan
hal-hal yang aneh-aneh, maka kami akan mengambil cara
lain, yang barangkali sama sekali tidak kalian kehendaki,"
geram salah seorang dari kedua orang itu.
150 SH. Mintardja Tetapi perempuan yang merasa wajib melindungi anak-
anaknya itu berkata lantang, "Bunuh aku dahulu. Baru kau
dapat menjamah anak-anakku."
Kedua orang itu menjadi jengkel. Seorang di antara
mereka berkata, "Apaboleh buat. Kita tidak mempunyai
waktu banyak." Kedua orang itu sudah siap untuk melakukan
pembunuhan yang sebenarnya. Namun pada saat keduanya
mulai memencar, tiba-tiba dua orang telah meloncat masuk
pula. Keduanya adalah pengawal yang memang datang
untuk melihat pintu butulan sebagaimana diteriakkan oleh
Damar. Ternyata bahwa memang ada orang yang telah
dengan paksa membuka pintu butulan itu.
"Siapa kalian?" bertanya salah seorang pengawal itu.
Kedua orang yang sudah berada di dalam itu tidak
menjawab. Tetapi keduanya langsung menyerang kedua
orang pengawal itu. Kedua orang pengawal itu kemudian telah memancing
kedua orang itu untuk keluar dan turun ke halaman
samping. Dengan lantang salah seorang dari kedua
pengawal itu berkata, "Disini kita dapat bertempur dengan
leluasa." "Persetan," geram lawannya yang kemudian
menyerangnya dengan garang.
Dua orang pengawal itu sudah siap menghadapi mereka.
Karena itu, maka sejenak kemudian perkelahian pun telah
terjadi di halaman samping. Semakin lama menjadi
semakin sengit. Para pengawal yang sudah menempa diri
itu berusaha untuk dapat mengimbangi kegarangan bekas
prajurit Jipang itu. 151 SH. Mintardja Ternyata bahwa kemampuan dan pengalaman bekas
prajurit Jipang itu lebih luas dari kedua pengawal yang
masih muda itu. Apalagi bekas prajurit Jipang itu sudah
ditempa oleh keadaan yang membuat mereka menjadi
semakin keras dan kasar. Karena itu, maka kedua pengawal
itu pun harus bergeser surut sambil melindungi diri mereka
dari kegarangan lawan-lawannya.
Namun dalam pada itu, anak-anak muda padukuhan itu
pun semakin lama menjadi semakin banyak yang memasuki
halaman rumah Damar. Sementara itu, sepuluh orang yang
dikirim oleh Ki Rangga dalam dua kelompok itu semuanya
telah terlibat dalam pertempuran yang semakin seru.
Apalagi di antara anak-anak muda Sembojan terdapat Jati
Wulung yang memiliki kelebihan bukan saja atas anak-anak
muda Sembojan, tetapi juga atas bekas para prajurit Jipang.
Karena itu, maka meskipun seorang-seorang para bekas
prajurit Jipang itu memiliki pengalaman dan ilmu yang
lebih baik dari para pengawal, namun jumlah para pengawal
itu ternyata makin lama menjadi semakin banyak.
"Gila," geram pemimpin kelompok yang mendapat tugas
untuk membunuh keluarga Damar itu, "Kalian datang
seperti laron masuk ke dalam api. Di halaman ini akan
berhamburan mayat dari para pengawal dan anak-anak
muda yang dungu itu. Kalian tidak tahu, dengan siapa
kalian berhadapan." Tetapi Jati Wulunglah yang menjawab, "Ki Sanak.
Jangankan hanya sejumlah kecil orang-orang yang kasar
dan liar seperti kalian. Seluruh kekuatan bekas prajurit
Jipang yang berbaur dengan bekas-bekas orang-orang
Kalamerta telah terusir dari Tanah Perdikan ini."
"Persetan," geram orang itu.
152 SH. Mintardja Namun sebenarnyalah pemimpin kelompok itu tidak
mampu mengatasi kemampuan Jati Wulung.
Dalam pada itu, Jati Wulung sendiri tidak merasa perlu
untuk dengan serta merta membinasakan orang itu. Ia
sudah melukai seorang di antara mereka. Namun Jati
Wulung menganggap bahwa Sembojan memerlukan orang-
orang itu dalam keadaan hidup. Karena itu, maka mereka
telah dijebak untuk memasuki halaman rumah Damar dan
Saruju. Ternyata bahwa pemimpin pengawal padukuhan itu pun
telah menerima keterangan serupa. Itu sebabnya, maka ia
pun telah memerintahkan, agar jika tidak terpaksa sekali,
para pengawal jangan membunuh lawan-lawannya.
Pada waktu yang tidak terlalu lama, maka halaman
rumah Damar telah dikepung rapat. Para pengawal Tanah
Perdikan Sembojan yang datang bukan saja dari padukuhan
itu, tetapi juga dari padukuhan-padukuhan yang lain,
sehingga dengan demikian maka sepuluh orang akan
menghadapi sejumlah pengawal yang berlipat ganda
banyaknya. Untuk beberapa saat lamanya, masih terjadi
pertempuran yang seru di halaman rumah itu. Sepuluh
orang termasuk yang terluka, telah mengamuk sejadi-
jadinya. Mereka menganggap bahwa para pengawal tidak
akan dapat menahan mereka. Namun ternyata bahwa
perhitungan mereka salah. Meskipun seorang demi seorang
para bekas prajurit Jipang itu memiliki kelebihan, namun
anak-anak muda yang datang memasuki halaman itu
menjadi semakin banyak. Karena itu, maka untuk melawan
para pengawal yang jumlahnya bertambah-tambah itu,
maka rasa-rasanya sepuluh orang utusan Ki Rangga Gupita
itu tidak akan sanggup. 153 SH. Mintardja Karena itu, maka mereka berusaha mencari jalan lain.
Karena mereka menganggap bahwa usaha mereka telah
gagal, maka mereka berusaha untuk melepaskan diri dari
tangan para pengawal. Itu sebabnya, maka mereka telah
dengan susah payah berusaha untuk melarikan diri.
Namun halaman rumah itu terkepung rapat. Karena itu,
maka tidak ada jalan seujung jarum pun yang dapat
ditembusnya untuk menyingkir dari halaman rumah
Damar. Dengan demikian, maka kesepuluh orang itu tidak
mempunyai jalan sama sekali. Mereka tidak dapat
melarikan diri, namun mereka juga tidak dapat menembus
perlawanan anak-anak muda Tanah Perdikan.
Namun justru dalam keadaan yang tidak berpengharapan
lagi, maka kesepuluh orang itu telah menjadi liar. Mereka
menjadi kasar dan bahkan menjadi buas. Tanpa mengekang
diri mereka berusaha untuk membunuh lawannya
sebanyak-banyaknya sebelum mereka sendiri akan mati.
Tetapi mereka tidak dapat melakukannya. Bahkan para
pengawal Tanah Perdikan itu mulai menjadi marah oleh
sikap orang-orang kasar itu, sehingga dalam pertempuran
berikutnya kadang-kadang disengaja ujung-ujung senjata


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

telah menggores ditubuh lawannya.
Apalagi ketika beberapa orang pengawal Tanah Perdikan
Sembojan telah terluka. Maka rasa-rasanya kawan-
kawannya menuntut agar orang-orang yang membayar
utang mereka sampai lunas. Utang darah harus dibayar
dengan darah. Tetapi setiap kali para pengawal itu masih juga teringat
pesan bahwa mereka memerlukan orang-orang itu
tertangkap hidup-hidup. 154 SH. Mintardja Namun seorang pengawal yang terluka lambungnya oleh
goresan pedang lawannya tidak menghiraukannya.
Meskipun tubuhnya semakin lemah, tetapi kemarahannya
telah mendorongnya untuk bertempur terus dan menebus
luka itu dengan korban pada pihak lawan.
Namun dalam pada itu, darahnya justru semakin banyak
mengalir, sehingga sebelum ia berhasil membunuh, rasa-
rasanya ia tidak kuat lagi untuk bertempur terus. Bahkan
keseimbangannya pun mulai terganggu.
Justru hampir saja lawannyalah yang mengakhiri
perlawanannya. Tetapi dua orang pengawal yang lain
dengan sigapnya menggantikan kedudukannya, sementara
kawannya yang lain lagi sempat menolong pengawal itu dan
membawanya menepi. Namun darah memang sudah terlalu banyak keluar.
Karena itu, maka seakan-akan langit dengan bintang
gemintangnya itu pun telah berputar semakin lama menjadi
semakin kabur. Akhirnya pengawal itu pun menjadi pingsan
ketika seorang tabib sibuk mengobati luka-lukanya yang
agak dalam dilambungnya. Dua orang pengawal yang menggantikannya pun merasa
marah sekali. Namun seorang di antara para pengawal itu
berkata, "Sudahlah, menyerahlah."
"Persetan," geram orang itu. "Seorang demi seorang
kalian akan mati seperti kawanmu itu."
Tetapi belum lagi bibirnya terkatub, maka kedua orang
pengawal itu telah menyerang bersama-sama.
Orang yang bekas prajurit Jipang itu terkejut melihat
kecepatan gerak kedua orang lawannya. Namun ia sempat
mengelakkan serangan-serangan itu. Bahkan ketika ia
merendah menghindari ayunan mendatar senjata seorang
155 SH. Mintardja pengawal muda itu, ia sempat menjulurkan senjata lurus-
lurus sehingga ujung senjata itu sempat menyentuh
dadanya sebelah kanan. Meskipun goresan itu tidak terlalu
dalam, tetapi rasa-rasanya pedih juga ketika keringat mulai
menyentuh luka itu. Kemarahan pengawal itu pun telah sampai ke puncak.
Berdua ia menyerang lawannya. Bahkan seorang pengawal
yang lain telah mendekati mereka pula dan sempat
memperingatkan kawannya yang darahnya mulai mengucur
dari lukanya itu. "Aku akan membalasnya," geram pengawal yang terluka
itu. Bekas prajurit Jipang itu tidak mampu bertahan terlalu
lama ketika ia bertempur melawan tiga orang sekaligus.
Karena itu, maka ia pun mulai terdesak. Bahkan pengawal
yang marah dan tergores ujung senjata itu tidak memberi
kesempatan. Pada saat kawannya menyerangnya, serta
pedang lawannya itu terayun menangkis serangan
kawannya, maka pengawal yang terluka itu telah meloncat
dengan tangkasnya. Sambil menahan pedih, maka ia telah
menjulurkan pedangnya dan langsung mengenai tubuh
lawannya itu, tepat di pundaknya.
Lawannya mengeluh tertahan. Pundaknya rasa-rasanya
telah koyak. Sementara rasa-rasanya urat nadinya telah
terpotong pula, sehingga tangannya tidak lagi dapat
digerakkan, justru tangan kanannya.
Orang itu mengumpat kasar. Tetapi ketika ia berusaha
memindahkan senjatanya ketangan sebelah kirinya, maka ia
telah lengah pula sekejap. Ujung senjata lawannya yang lain
telah tergores di punggungnya.
156 SH. Mintardja Bekas prajurit Jipang itu terhuyung-huyung selangkah
maju. Ternyata luka dipunggung itu memanjang dari
sebelah kiri ke sebelah kanan. Terasa luka itu pun menjadi
sangat pedih dan darah yang hangat telah meleleh semakin
deras. Bekas prajurit Jipang itu memang menjadi putus asa.
Namun justru karena itu, maka ia pun kemudian telah
mengamuk dengan buas dan liar.
Namun ujung tombak seorang pengawal yang tidak tahan
melihat keadaannya telah mengakhiri penderitaannya.
Bekas prajurit Jipang itu terbunuh oleh ujung tombak di
dadanya menembus jantung.
Ketika bekas prajurit itu terjatuh dan tidak bernafas lagi,
pengawal yang bersenjata tombak itu termangu-mangu.
Kawan-kawannya pun memperhatikan untuk beberapa saat.
"Aku tidak ingin membunuhnya," berkata pengawal itu.
"Tetapi tidak ada cara lain untuk menghentikan
perlawanannya yang gila itu."
"Mudah-mudahan tidak semuanya menjadi gila seperti
orang itu," desis yang lain. "Sehingga kita benar-benar
dapat menangkap mereka hidup-hidup untuk mendapat
keterangan serba sedikit tentang Ki Rangga dan Nyi
Wiradana." "Tetapi bukan berarti bahwa kita lebih baik memberi
peluang baginya untuk membunuh kita," berkata pengawal
yang terluka itu. Tidak ada yang menjawab. Kawan-kawannya mengerti
bahwa pengawal yang terluka itu benar-benar marah.
Namun sejenak kemudian tubuh pengawal yang banyak
kehilangan darah itu menjadi lemah pula, sehingga
157 SH. Mintardja kawannya telah memapahnya keluar dari arena dan
dibaringkannya di pinggir halaman itu untuk mendapatkan
pengobatan. Sementara itu pertempuran masih berkobar terus. Bekas
prajurit Jipang yang telah ditempa oleh banyak sekali
kesulitan dan bahkan kemalangan, tidak mau
menghentikan perlawanan mereka, meskipun mereka
mengerti bahwa perlawanan mereka itu sia-sia.
Dalam pada itu, ketika isyarat itu terdengar sampai ke
rumah Saruju, maka dengan serta merta Saruju telah
mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah Damar. Sambil
menjinjing pedangnya ia berkata, "Aku harus
membantunya." Namun Sambi Wulung telah mencegahnya. Katanya,
"Siapa tahu, bahwa malapetaka itu nanti justru akan terjadi
disini." Saruju menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya,
"Apakah aku akan membiarkan Damar dalam kesulitan"
Jika ia membunyikan isyarat, itu berarti bahwa ia
memerlukan bantuan."
"Bukankah para pengawal di gardu-gardu telah cukup
banyak sehingga mereka akan berdatangan ke rumah
Damar?" bertanya Sambi Wulung.
Saruju memang menjadi ragu-ragu. Jika ia meninggalkan
rumah itu, apalagi bersama Sambi Wulung dan kemudian
ada tiga atau empat orang utusan Ki Rangga datang ke
rumah itu, maka keluarganyalah yang akan mengalami
bencana. Karena itu, maka ia pun kemudian bertahan untuk
tetap berada di rumahnya bersama Sambi Wulung
menunggu keluarganya yang menjadi sangat gelisah pula.
158 SH. Mintardja Ibunya yang gemetar seakan-akan tidak mau melepaskan
pegangannya pada tangan ayahnya, sementara adik-adiknya
pun menjadi tegang dan menggigil pula. Namun Sambi
Wulung lah yang menentramkan hati mereka dengan
sikapnya yang tegas dan berwibawa itu.
Dalam pada itu pertempuran di rumah Damar pun masih
terjadi terus. Para pengawal lah yang mengalami kesulitan
untuk dapat menangkap mereka hidup-hidup. Perlawanan
orang-orang itu cukup keras dan kasar, sehingga kadang-
kadang para pengawal itu pun terdesak surut, sehingga
mereka dengan terpaksa sekali melumpuhkan perlawanan
bekas prajurit Jipang itu. Dalam keadaan yang demikian
memang sulit bagi para pengawal untuk dapat membatasi
diri sampai pada sikap sebagaimana seharusnya mereka
lakukan. Pesan-pesan telah diberikan oleh para pemimpin
mereka sebelum mereka sempat melihat, apa saja yang telah
dilakukan oleh para bekas prajurit Jipang itu di Tanah
Perdikan Sembojan. Dengan demikian maka memang ada beberapa orang
bekas prajurit Jipang itu terbunuh.
Sementara itu Jati Wulung tengah bertempur melawan
pemimpin kelompok dari orang-orang yang mendapat tugas
untuk membunuh itu. Ketika Jati Wulung melihat
kehadiran para pengawal dalam jumlah yang banyak, maka
Jati Wulung berpendapat, bahwa dirinya sendiri tidak
terlalu perlu sekali menyelesaikan pertempuran itu dengan
cepat. Namun ia akan membuat lawannya letih dan
kemudian menghentikan perlawanan tanpa terus
membunuh orang itu. Ternyata usaha Jati Wulung itu tidak semudah yang
diperkirakan. Pemimpin kelompok itu memang berilmu.
Apalagi dalam keadaan putus asa ia bertempur mati-
159 SH. Mintardja matian. Namun Jati Wulung sebenarnya memiliki banyak
kelebihan daripadanya, sehingga karena itu, maka apapun
yang dilakukan oleh orang itu tidak akan mengacaukan
sikap Jati Wulung. Karena itu, jika Jati Wulung kemudian
menjadi gelisah, bukan karena ia mulai terdesak, tetapi ia
harus menemukan cara untuk mengalahkan lawannya tanpa
harus membunuhnya. Tetapi lawannya itu bagaikan seekor harimau luka yang
mengamuk tanpa perhitungan dan pertimbangan lagi.
Namun Jati Wulung ternyata jauh lebih mengendap dari
para pengawal. Dengan demikian, maka ia berusaha sebaik-
baiknya untuk tidak membunuh lawannya yang sangat
diperlukan keterangannya tentang kehidupan dan
kelompok-kelompok yang masih berada dibawah Ki Rangga
dan Warsi. Dalam pada itu, para pengawal yang sedang bertempur
itu pun merasa terlalu sulit untuk dapat menangkap
lawannya hidup-hidup. Namun ada juga pengawal yang
mempunyai akal. Pengawal yang bersenjatakan tombak
tidak mempergunakan ujung tombaknya. Tetapi mereka
mempergunakan landean tombaknya justru sebagai
pemukul. Dalam keadaan yang sulit dari seorang bekas
prajurit Jipang itu, maka pengawal yang bersenjata tombak
itu telah mendekatinya dan mengayunkan landean
tombaknya untuk memukul tengkuk lawannya itu.
Bekas prajurit Jipang itu pun menjadi pingsan. Namun
ternyata ada juga yang salah hitung. Seorang pengawal yang
membuat landean tombaknya dari kayu berlian,
mengayunkan terlalu keras sehingga justru tulang kepala
orang itu menjadi retak, sehingga keadaan bekas prajurit
Jipang itu menjadi sangat gawat.
160 SH. Mintardja Namun dalam pada itu, di antara sepuluh orang bekas
prajurit Jipang itu, yang jelas sudah tertangkap hidup-hidup
terdapat tiga orang. Para pengawal telah mengikat
tangannya di punggung dan membawanya ke serambi
rumah Damar. Para pengawal memaksa mereka untuk
duduk dengan kaki terselunjur, agar mereka tidak lagi
mampu mengubah keputusannya dan kemudian
membunuh dirinya. Beberapa orang pengawal mendapat
tugas untuk mengawasi mereka. Sementara yang lain masih
akan berusaha untuk mengatasi keadaan.
Tetapi yang juga sudah pasti adalah bahwa empat orang
bekas prajurit Jipang itu terbunuh. Sementara yang lain
masih juga dengan gila bertempur tanpa menghiraukan
keadaan yang mereka hadapi. Mereka sama sekali tidak
menghiraukan kenyataan. Tetapi mereka benar-benar
tengah membabi buta. Dalam keadaan yang rumit bagi para pengawal yang
ingin menangkap orang-orang yang tersisa itu hidup-hidup,
para pengawal memang mendapat kesulitan. Sementara itu
Jati Wulung pun sedang berusaha untuk melumpuhkan
lawannya yang bagaikan menjadi gila itu.
Pada saat yang demikian itulah Gandar baru datang. Ia
memang tidak terburu-buru, karena ia yakin akan
kemampuan para pengawal bergerak cepat. Namun Gandar
tidak pernah menduga, bahwa yang memasuki Tanah
Perdikan dan langsung menuju ke rumah Damar itu terdiri
dari sepuluh orang. Ketika Gandar mendengar isyarat yang merambat dari
padukuhan ke padukuhan, ia sempat melaporkan
kemungkinan lebih dahulu kepada Iswari. Baru kemudian
setelah ia mendapat beberapa petunjuk, maka ia harus
menuju ke padukuhan tempat Damar tinggal.
161 SH. Mintardja Petunjuk Iswari antara lain sebagaimana pernah juga
dipesankan oleh Gandar kepada Jati Wulung dan para
pengawal, agar mereka menangkap para pengikut Ki
Rangga itu hidup-hidup. Ketika Gandar kemudian memasuki arena, maka ia
melihat bahwa pertempuran masih terjadi. Beberapa orang
pengawal, sedang berusaha untuk menjinakkan lawan-
lawan mereka yang menjadi liar dan buas.
Sementara itu Jati Wulung sendiri hampir kehabisan


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kesabaran. Namun dengan benturan-benturan kekuatan
yang terus-menerus, akhirnya Jati Wulung berhasil
membuat lawannya menjadi sangat letih.
Meskipun demikian pemimpin kelompok itu masih
mengumpat dan menyerang dengan sisa-sisa kekuatannya.
Namun Jati Wulung tidak menghindarinya. Ia telah
menangkis setiap serangan lawannya. Dengan senjata yang
terlalu sering berbenturan itu membuat tangan lawannya
itu menjadi pedih. Tenaganya pun menjadi seakan-akan
telah terkuras untuk mengayunkan senjatanya, namun yang
kemudian membentur senjata Jati Wulung.
Pada saat lawannya sudah menjadi semakin lemah, maka
Jati Wulung pun berusaha dengan hati-hati melemparkan
senjata orang itu. Ia merasa perlu melakukannya, agar
senjata itu tidak dalam keadaan yang tidak lagi dapat diatasi
akan dipergunakan untuk membunuh diri. Agaknya orang
itu merasa lebih baik mati daripada jatuh ketangan orang-
orang Sembojan. Gandar yang sudah berada di halaman itu menyaksikan
apa yang akan dilakukan oleh Jati Wulung. Menilik
sikapnya, Gandar dapat membaca rencana Jati Wulung itu.
Dan Gandar pun sependapat, bahwa hal itulah yang paling
baik dilakukan. 162 SH. Mintardja Karena itulah maka disaat-saat berikutnya, justru Jati
Wulung lah yang berusaha menyerang lawannya dengan
keras. Ayunan pedang Jati Wulung mendatar terarah
dengan kerasnya. Namun lawannya masih sempat bergeser
sambil menyilangkan pedangnya. Ketika benturan yang
keras terjadi, terasa genggaman pemimpin kelompok itu
atas senjatanya mulai goyah.
Namun Jati Wulung tidak berhenti sampai sekian.
Sejenak kemudian ia telah memutar pedangnya yang
kemudian mematuk ke arah jantung. Sekali lagi lawannya
meloncat surut. Tetapi Jati Wulung tidak melepaskannya.
Ujung pedang itu telah memburu lawannya pada arah yang
tetap. Karena itulah maka lawannya telah berusaha
menangkis serangan itu. Agaknya Jati Wulung memang
menunggu kesempatan itu. Dengan cepat dan kuat, ia
memutar pedangnya pada saat benturan terjadi. Dengan
demikian, maka senjata lawannya itu bagaikan terputar oleh
pedang Jati Wulung. Orang yang sudah menjadi semakin lemah itu, ternyata
tidak mampu lagi menahan getaran putaran pedang Jati
Wulung. Itulah sebabnya, maka senjatanya telah terlempar
beberapa langkah dari tangannya.
Orang itu memang terkejut. Namun dengan serta merta
ia berusaha meloncat untuk menggapai senjatanya. Namun
Jati Wulung pun telah meloncat pula. Dengan kakinya ia
telah menghantam orang itu sehingga orang itu terpental
beberapa langkah dan jatuh berguling.
Ketika orang itu berusaha untuk bangkit, maka tiba-tiba
saja geraknya terhenti. Ujung pedang Jati Wulung telah
melekat di dadanya. Jati Wulung sadar, bahwa orang itu pada dasarnya tidak
takut mati. Tetapi demikian terasa ujung pedang yang tajam
163 SH. Mintardja menyentuh dadanya, dengan dorongan kesadaran naluriah,
maka orang itu pun telah diam membeku.
"Jangan berbuat sesuatu yang dapat mencelakai dirimu,"
ancam Jati Wulung. Pemimpin kelompok itu benar-benar membeku.
Beberapa orang pengawal yang bergerak untuk
mengerumuninya, telah disingkirkan oleh Gandar sambil
berdesis, "Jangan kerumuni orang itu. Ia akan merasa
direndahkan, sehingga mungkin ia akan mencari
kesempatan untuk membunuh diri."
Para pengawal pun kemudian telah menjauhinya. Tetapi
masih banyak sasaran untuk mereka lihat. Beberapa orang
telah terbaring tanpa dapat bangkit lagi. Namun ada juga di
antara mereka yang pingsan dan bahkan ada yang sudah
terikat diserambi. Dalam pada itu, ternyata pemimpin kelompok yang
bertugas untuk sekadar mengamati keadaan adalah salah
seorang dari antara mereka yang terbunuh.
Dalam pada itu, maka Jati Wulung yang telah berhasil
menguasai lawannya itu berusaha untuk tetap dapat
mempengaruhinya. Sesuai dengan sifat dan watak orang itu,
maka Jati Wulung pun telah bertindak keras pula.
Dengan menghentakkan lengannya Jati Wulung menarik
orang itu sambil membentak, "Cepat. Bangkit. Jangan
merajuk seperti perempuan."
Orang itu tidak dapat berbuat lain. Ia pun kemudian
dengan susah payah berusaha untuk bangkit. Dengan kasar
Jati Wulung mendorong orang itu ke tempat yang tidak
terlalu banyak berkerumun para pengawal. Baru kemudian
ia memberi isyarat kepada seorang pengawal untuk
mendekat. 164 SH. Mintardja "Ikat tangannya," perintah Jati Wulung.
Orang itu termangu-mangu. Ia belum membawa pengikat
apapun. Namun Jati Wulung berkata keras, "Ambil ikat
kepalamu." Pengawal itu terkejut. Namun ia pun kemudian telah
membuka ikat kepalanya. Dengan agak ragu ia kemudian mengikat tangan
pemimpin gerombolan itu dengan ikat kepalanya. Kecuali ia
harus berhati-hati agar orang yang diikat tangannya itu
tidak membuat gerakan yang dapat mencelakainya,
pengawal itu pun merasa sayang, karena ikat kepalanya
adalah ikat kepala yang masih baru.
Namun ia tidak dapat menolak. Ia mengikat tangan
orang itu erat-erat. "Marilah," berkata Jati Wulung kepada orang itu sambil
menyentuh dadanya dengan ujung pedang, "Kita pergi ke
serambi." Orang itu tidak melawan. Jati Wulung telah
membawanya ke serambi. Tetapi Jati Wulung tidak
menempatkannya di tempat yang sama dengan orang-
orangnya yang lain. ----------oOo---------- Bersambung ke Jilid 30. Naskah diedit dari e-book yang diupload di website Tirai
kasih http://kangzusi.com/SH_Mintardja.htm
Terima kasih kepada Nyi DewiKZ
165 SH. Mintardja Jilid Ke tiga puluh Cetakan Pertama Naskah ini disusun untuk kalangan sendiri:
Bagi sanak-kadang yang berkumpul / cangkrukan di,
"Padepokan" pelangisingosari atau di
http://pelangisingosari.wordpress.com.
Keberadaan naskah ini tentu melalui proses yang
panjang, mulai scanning, retype " editing dan
layouting sehingga menjadi bentuknya seperti
sekarang ini. Admin mempersilahkan mengunduh naskah ini
secara gratis dengan harapan buku yang mulai langka
ini dapat dibaca oleh sanak kadang di seluruh
Nusantara bahkan di seluruh dunia (WNI yang ada di
seluruh dunia). Untuk menghargai jerih payah beliau-beliau yang
telah bekerja dengan ikhlas demi menghadirkan buku
ini, maka dilarang menggunakan untuk tujuan
komersiil bagi naskah ini.
satpampelangi Koleksi: Ki Arema dan Ki Truno Prenjak
Scanning: Satpampelangi dan Ki Truno Prenjak
Retype: Nyi Dewi KZ di Web http://kangzusi.com/SH_Mintard
ja.htm Edit ulang: Ki Arema Lay-out: Satpampelangi 166 SH. Mintardja 1 SH. Mintardja PEMIMPIN kelompok itu telah didudukkan di atas
sebuah amben bambu. Kemudian ia memerintahkan tiga
orang pengawal untuk mengamatinya dengan pedang
terhunus. "Hati-hatilah dengan kakinya," berkata Jati Wulung
ditelinga salah seorang di antara para pengawal, "Kakinya
tidak terikat. Beritahu kawan-kawanmu. Karena itu, jangan
terlalu dekat." Pengawal itu mengangguk-angguk. Namun Jati Wulung
masih berbisik, "Jika orang itu berusaha melarikan diri,
teriakkan namaku. Aku akan segera datang. Kalian tidak
akan mampu mencegahnya meskipun tangannya terikat.
Apalagi jika kekuatan telah pulih kembali dan kemudian
berhasil memutuskan tali itu."
Pengawal itu menjadi tegang. Tetapi Jati Wulung
berkata, "Gandar ada di halaman ini juga bukan?"
Pengawal itu tidak menjawab. Namun sejenak kemudian
Jati Wulung pun telah pergi menemui Gandar.
"Aku berhasil menangkap pemimpinnya dalam keadaan
hidup," berkata Jati Wulung.
"Bagus," berkata Gandar. "Mudah-mudahan kita akan
dapat mendengar dari mulut mereka, dimana Ki Rangga
sekarang bersembunyi bersama Warsi. Jika mereka berada
terlalu jauh dari Tanah Perdikan itu, maka kita dapat
berhubungan dengan Pajang untuk bersama-sama
menghancurkannya. Karena jika mereka masih mempunyai
kekuatan betapapun kecilnya mereka masih akan berbuat
aneh-aneh di Tanah Perdikan ini. Terutama sasarannya
diarahkan kepada Risang."
2 SH. Mintardja Jati Wulung mengangguk-angguk. Namun ia pun
berdesis, "Atau barangkali juga Damar dan Saruju."
"Itu bukan pokok persoalan mereka," jawab Gandar. "Hal
itu dilakukan sekadar untuk memaksa Damar dan Saruju
mempercepat usaha mereka membunuh Risang."
Jati Wulung termangu-mangu. Namun kemudian ia
bertanya, "Sekarang, bagaimana dengan pemimpin
kelompok yang tertangkap itu?" Gandar termenung sejenak.
Namun kemudian katanya, "Orang itu harus mendapat
perlakuan khusus. Setiap saat ia dapat dijangkiti keinginan
untuk mati." "Ya," berkata Jati Wulung. "Apakah kita bawa saja orang
itu ke rumah Nyi Wiradana. Bukankan disana kemungkinan
pengamatannya akan lebih baik."
Gandar mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya,
"Baiklah. Tetapi pemeriksaan terhadap dirinya harus
dilakukan segera. Secepat dapat kita lakukan."
Jati Wulung dan Gandar pun kemudian sepakat untuk
membawa mereka yang tertangkap ke rumah Kepala Tanah
Perdikan itu untuk segera diperiksa sampai tuntas,
meskipun mereka tahu, terhadap pemimpin kelompok itu
agaknya mereka akan mengalami kesulitan.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Gandar dan Jati
Wulung telah bersiap untuk membawa pemimpin kelompok
itu. Bahkan Gandar telah minta agar Damar ikut pula
bersamanya. "Rumahmu akan dijaga oleh para pengawal," berkata
Gandar. "Mereka akan memberikan isyarat jika terjadi lagi
sesuatu." 3 SH. Mintardja Bagaimanapun juga Damar merasa ragu-ragu. Namun
kemudian telah memberitahukan kepada orangtuanya
bahkan ia akan mengikut Gandar dan Jati Wulung ke
rumah Nyi Wiradana. "Apakah tidak akan mungkin datang orang lain lagi ke
rumah ini Damar?" bertanya ibunya.
"Para pengawal akan tetap berada disini," jawab Damar.
"Tetapi jangan terlalu lama ya kang," minta adiknya.
Damar menepuk pundak adiknya itu sambil menjawab,
"Aku akan segera pulang."
"Tetapi jangan sendiri," pesan ayahnya.
Damar mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa berjalan
sendiri dalam keadaan seperti itu memang sangat
berbahaya. Tidak seorang pun tahu, apakah memang hanya
orang-orang yang ada di halaman itu sajalah yang telah
dikirim oleh Ki Rangga dan Warsi hari itu.
Namun membawa pemimpin kelompok orang-orang
yang mendapat tugas di Tanah Perdikan Sembojan itu
memang sulit. Orang itu memang merasa lebih beruntung
jika ia mati saja dalam pertempuran itu. Tetapi ternyata
bahwa ia telah tertangkap hidup-hidup.
Tetapi diapit oleh Gandar dan Jati Wulung orang itu
memang tidak dapat berbuat apa-apa. Sementara itu Damar
dan beberapa orang pengawal yang lain telah membawa
tawanan yang lain pula, sementara para pengawal yang
tinggal dan orang-orang lain yang dapat pula ke rumah
Damar serta para tetangga telah merawat mereka yang luka-
luka dan yang telah terbunuh di pertempuran itu.
Ternyata malam itu merupakan malam yang
menggemparkan seisi Tanah Perdikan. Semua padukuhan
4 SH. Mintardja di Tanah Perdikan telah bersiaga. Namun ternyata
pertempuran yang terjadi hanya terbatas di halaman rumah
Damar, di salah satu dari padukuhan-padukuhan yang


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tersebar di Tanah Perdikan Sembojan.
Ternyata orang-orang Tanah Perdikan Sembojan itu
bertindak cepat. Mereka hanya sempat beristirahat sejenak,
ketika kemudian di hari berikutnya Iswari sendiri akan
berbicara dengan pemimpin kelompok yang akan
membunuh keluarga Damar, karena Damar tidak
melakukan tugas yang dibebankan kepadanya pada batas
waktu yang ditentukan. Tetapi Iswari tidak membiarkan orang-orang yang tidak
berkepentingan ikut mendengarkan. Yang ada disebuah
bilik khusus itu hanyalah Iswari sendiri, Damar dan Saruju
yang juga dipanggilnya, Gandar, Jati Wulung, Sambi
Wulung dan ketiga orang kakek Iswari, Kiai Badra, Kiai dan
Nyi Soka. Sementara itu Bibi mendapat tugas khusus
menunggui Risang bermain pada hari itu.
Namun untuk menjaga segala kemungkinan, maka
rumah Kepala Tanah Perdikan Sembojan hari itu telah
dijaga dengan lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Dipintu-pintu butulan pada dinding halaman terdapat dua
orang pengawal yang siap, sementara itu di gardu telah siap
pula beberapa orang pengawal.
Pemimpin kelompok yang duduk ditengah ruangan, di
atas sehelai tikar pandan yang putih itu menjadi berdebar-
debar juga. Betapa tebal keberanian dan tekad untuk
menunjukkan kesetiaannya kepada Ki Rangga dan Warsi
yang masih berjuang tanpa mengenal putus asa bagi
pulihnya kejayaan Jipang.
Namun ketika orang itu mulai mendengar cara Iswari
berbicara dan melihat sikapnya yang lembut, maka ia mulai
5 SH. Mintardja melihat perbedaan yang sangat besar antara kedua istri Ki
Wiradana. Yang seorang nampak lembut, sepenuhnya
sebagai seorang perempuan dan bahkan keibuan,
pandangannya yang luruh bagaikan sejuknya titik-titik
embun di dedaunan. Sementara Warsi nampak garang,
keras dan bahkan kasar. Bahkan terhadap anaknya sendiri
yang masih sangat muda. Tetapi kedua-duanya adalah orang yang cantik dengan
pembawaannya masing-masing.
Sementara itu kehadiran Damar dan Saruju di ruang itu
juga membuat orang itu berdebar-debar. Keduanya akan
dapat menyangkal hal-hal yang tidak benar jika ia
berbohong. Namun satu hal yang menguntungkan bagi
orang itu, Damar dan Saruju tidak berada di sarang yang
sama dengan orang yang telah tertangkap itu, sehingga
Damar dan Saruju tidak akan dapat terlalu banyak
mengetahui tentang diri mereka, atau jika ia memang
berniat untuk berbohong. Meskipun demikian tentu ada beberapa hal yang
diketahuinya sehingga memungkinkan kedua orang itu
mempersoalkan jawaban-jawaban yang diberikan.
Dalam pada itu, maka terdengar Iswari yang bertanya,
"Ki Sanak. Siapakah namamu?"
Pemimpin kelompok itu benar-benar heran melihat sikap
Iswari. Tetapi ketika kemudian ia berpaling ke arah
beberapa orang lain disekitarnya, maka jantungnya
berdegup semakin keras. "Siapa Ki Sanak?" desak Iswari.
"Namaku Rumpak," jawab orang itu.
6 SH. Mintardja Iswari mengangguk-angguk. Kemudian ia pun bertanya
pula, "Apakah kau sudah mengenal kedua anak muda ini"
Maksudku sebelum kau datang ke rumahnya?"
"Kenal," jawab orang itu. "Mereka adalah Damar dan
Saruju. Mereka adalah kawan-kawanku yang baik. Mereka
datang ke Tanah Perdikan ini dengan tugasnya yang rumit.
Membunuh anak Nyi Wiradana."
"Tidak," desis Saruju. "Kami belum mengenalnya. Tetapi
rasa-rasanya kami memang pernah melihat pada saat kami
berada di sebelah Timur Pajang."
"Tetapi kau tidak dapat
ingkar akan tugasmu. Kau menyusup di antara anak- anak muda Tanah Perdikan ini dengan tugas membunuh," geram Rumpak. Tetapi Iswari tersenyum. Katanya, "Kau telah melakukan satu kesalahan yang besar Ki Sanak. Seharusnya kau tidak menyebut tugas Damar dan Saruju. Dengan demikian ia
masih mungkin melakukan tugas yang dibebankan kepadanya itu. Tetapi karena kau
mengatakannya, meskipun sekadar terdorong oleh perasaan
Ki Sanak yang melonjak-lonjak, maka kemungkinan Damar
dan Saruju sudah tertutup sama sekali."
Wajah orang itu menjadi tegang. Sejenak dipandanginya
Damar dan Saruju. Sementara Iswari berkata pula, "Nah,
bukankah keterangan kalian dapat menggerakkan kami
7 SH. Mintardja untuk menangkap Damar dan Saruju" Memang hal itulah
yang kau kehendaki sebagai pernyataan sakit hatimu
kepada mereka. Tetapi dalam bilik tangkapan keduanya
tidak akan dapat berbuat apa-apa."
Rumpak menjadi bingung. Tetapi ia pun kemudian
berkata, "Keduanya sudah berkhianat. Keduanya tidak
berani lagi melakukan tugas mereka."
Iswari bahkan tertawa. Sementara itu Damar dan Saruju
sendiri menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka melihat
kekacauan pikiran Rumpak.
"Baiklah Ki Sanak," berkata Iswari. "Tetapi baiklah kami
beritahukan kepadamu, bahwa kami, di Tanah Perdikan ini
sudah mengetahui siapa dan apakah tugas Damar dan
Saruju disini. Yang sekarang penting bagi kami adalah
keterangan, dimana Ki Rangga Gupita dan Warsi itu
bersembunyi?" "Kenapa kau tidak bertanya kepada Damar dan Saruju?"
desis Rumpak. "Sudah. Tentu sudah. Tetapi jawaban mereka kurang
memuaskan. Menurut mereka, Ki Rangga dan Warsi
mempunyai sarang di beberapa tempat."
"Yang aku ketahui tidak lebih banyak dari yang diketahui
oleh Damar dan Saruju," jawab Rumpak.
"Mungkin, tetapi dengan keterangan Damar dan Saruju,
kemudian keteranganmu, maka pengetahuan kita tentang
Ki Rangga itu tentu lebih banyak," berkata Iswari.
Rumpak mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia
pun menarik nafas dalam-dalam.
Tetapi kulitnya meremang ketika Gandar bergeser
mendekatinya sambil bertanya dengan nada yang masih
8 SH. Mintardja lunak, "Ki Sanak. Tolong sebutkan, dimana Ki Rangga itu
bersembunyi. Tentu saja sejauh yang kau ketahui. Kau tidak
usah mengarang nama sebuah tempat yang dapat kau
bayangkan tersembunyi, dengan sebuah goa yang besar dan
dalam. Tempat beberapa orang di antara kalian tidur dan
menyimpan barang-barang yang berhasil kalian rampas
dari orang-orang dipadukuhan dengan dalih untuk
menegakkan keadilan karena kalian ingin menjunjung
nama Jipang itu kembali."
Keringat mulai mengalir di punggung Rumpak. Namun ia
pun berkata, "Apa ada gunanya aku mengatakan sesuatu"
Meskipun mungkin yang aku katakan itu benar, kau sudah
dibayangi oleh dugaan bahwa aku akan berbohong."
"O," Gandar bergeser semakin dekat. "Bukankah kita
mempunyai banyak waktu" Kami akan mendengarkan
ceritamu, betapa mengasikkannya. Lalu kami akan datang
untuk membuktikan, apakah ceritamu benar. Kami sudah
mempunyai keterangan tentang salah satu sarang Ki
Rangga dari Damar dan Saruju. Jika kami mendengar dari
kalian, maka sekaligus kami dapat melihat tempat itu.
Setidak-tidaknya dua sarang Ki Rangga sudah kita
hancurkan. Tentu saja agar tidak menimbulkan salah
paham dengan Pajang, yang kami lakukan tentu atas
persetujuan Pajang. Panji-panji serta tunggul yang pernah
kami terima, memang menyatakan wewenang kami untuk
bertindak atas nama Pajang, namun bagi tegaknya Tanah
Perdikan ini." Orang yang mengaku bernama Rumpak itu mengumpat
di dalam hati. Ia mulai merasa nada suara Gandar agak
keras. Bahkan tiba-tiba saja Sambi Wulung berkata, "Ki
Sanak. Jangan kau sangka bahwa aku belum pernah
menjelajahi cara hidup yang paling pahit disaat-saat gawat.
9 SH. Mintardja Aku juga pernah menjadi salah seorang yang mewakili satu
sikap. Karena itu, kami pun mengerti, bahwa kau tidak akan
semudah yang kami duga untuk berbicara. Tetapi
pengalaman yang pernah terjadi atas diri kami, aku
terutama, akan dapat aku terapkan disini. Aku harap kau
cukup jantan untuk bertahan dan tidak berkhianat kepada
pemimpinmu itu, sehingga kami harus berusaha untuk
membuka mulutmu. Semakin sulit kami berusaha, maka
hasilnya akan semakin memberikan kepuasan kepada
kami." Wajah orang yang bernama Rumpak itu menjadi merah.
Dipandanginya Sambi Wulung dengan sorot mata yang
menyala. Namun ketika ia kemudian berpaling ke arah Jati
Wulung, maka kepalanya kemudian menunduk dalam-
dalam. Adalah diluar dugaan bahwa Iswarilah yang kemudian
berkata dengan nada yang masih lembut, "Ki Sanak.
Mungkin kau masih terlalu letih. Apakah kau akan
beristirahat saja lebih dahulu" Jika kau menghendaki
demikian, maka kami tidak berkeberatan. Kami akan
memberimu waktu beristirahat sampai senja. Sehari kau
dapat tidur dan barangkali mengingat-ingat yang mungkin
terlupa. Bahkan mungkin kau sempat menelusuri jalan
hidupmu selama ini serta sikap yang manakah yang paling
baik kau lakukan. Ada beberapa perbedaan di antara kau
dengan Damar dan Saruju. Damar dan Saruju adalah
memang anak Tanah Perdikan ini. Jika ia mengambil
langkah untuk kembali kepada keluarganya, kekampung
halamannya, itu bukan berarti satu pengkhianatan. Tetapi
jika kau yang melakukannya disini, maka mungkin kau
benar-benar seorang pengkhianat."
10 SH. Mintardja Jantung orang itu bagaikan berdentang semakin keras.
Ingin rasa-rasanya ia berteriak untuk melepaskan gejolak
perasaan yang bagaikan menyumbat dadanya.
Namun ia tidak melakukannya.
Tetapi ternyata Iswari benar-benar memberinya waktu
untuk beristirahat. Iswari sendiri kemudian bangkit dari
tempat duduknya dan berkata, "Sampai disini dahulu Ki
Sanak. Senja nanti kita akan berbicara lagi. Jika aku
berhalangan maka biarlah Gandar, paman Sambi Wulung
dan Jati Wulung sajalah yang melakukannya. Mungkin akan
lebih baik bagimu, karena kau tidak berhadapan dengan
seorang perempuan. Mungkin kau terpaksa
mempertahankan harga dirimu, karena kau adalah seorang
laki-laki yang tegar. Tetapi jika kau berhadapan dengan
sesama laki-laki, maka kau tidak akan tersinggung jika kau
harus sedikit merendahkan dirimu."
Wajah orang itu menjadi pucat. Ia sadar apa yang akan
terjadi, jika tiga orang laki-laki yang keras itulah yang harus
bertanya dan memeras keterangannya. Apalagi waktu yang
diberikannya adalah setelah senja.
Tetapi Rumpak tidak dapat mengatakan sesuatu. Iswari
pun kemudian meninggalkan bilik itu, sementara Gandar
telah membawa orang itu kembali ke bilik tahanannya.
Dimuka pintu ia sempat berkata, "Pikirkan baik-baik akan
sikap Nyi Wiradana. Tetapi ingat, bahwa Nyi Wiradana
adalah Pemangku Jabatan Kepala Tanah Perdikan ini
disamping seorang perempuan yang barangkali lembut
keibuan. Ialah yang memerintahkan dan melakukan sendiri,
menghancurkan kalian dan mengusir sisanya pada saat
kalian berusaha mengguncang Tanah Perdikan ini dibawah
pimpinan Ki Rangga dan Nyi Wiradana yang lain."
11 SH. Mintardja Rumpak memandang Gandar dengan tatapan mata yang
menyala. Kemarahan telah membakar jantungnya. Tetapi ia
sadar, bahwa ia tidak dapat banyak berbuat. Apalagi ia
berada dilingkungan para pengawal Tanah Perdikan
Sembojan. Karena itu, maka ia harus membiarkan saja Gandar
kemudian menutup pintu bilik dan menyelarakkan dari
luar. Di dalam biliknya Rumpak memang mempunyai banyak
kesempatan beristirahat sampai senja sebagaimana
dikatakan oleh Nyi Wiradana. Tetapi Rumpak sendiri
menyadari, apa yang harus dilakukannya didalam bilik itu.
Ia mengerti, bahwa ia sama sekali tidak diharapkan untuk
beristirahat. Tetapi ia harus merenungi sikap para
pemimpin Tanah Perdikan itu.
Bagi Rumpak, Iswari sendiri memang merupakan
seorang perempuan yang memiliki watak yang jauh berbeda
dengan Warsi. Namun ia pun kemudian menyadari, bahwa
di medan pertempuran, Iswari tentu bersikap lain.
Menghadapi ujung-ujung senjata, maka tentu Iswari tidak
akan bersikap selembut saat-saat ia berada di antara
keluarganya, bahkan jika ia sedang menghadapi anaknya.


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tetapi menurut tanggapannya, Iswari pun tidak akan
berbuat diluar batas-batas perikemanusiaan sebagaimana
pernah dilakukan oleh Warsi. Seandainya Iswari sendiri
yang akan memeriksanya, maka keadaannya tentu tidak
akan menjadi sangat buruk.
Namun Rumpak tidak tahu, apakah para pemimpin
Tanah Perdikan Sembojan semuanya mempunyai landasan
sikap seperti Iswari, terutama Gandar, Jati Wulung dan
Sambi Wulung yang dikenalinya meskipun hanya dalam
saat yang pendek. Jati Wulung dan Sambi Wulung yang
12 SH. Mintardja sudah memasuki masa-masa pengendapan itu pun
nampaknya masih sangat garang. Apalagi Gandar. Berbeda
dengan sikap orang-orang yang lebih tua lagi di antara
pemimpin itu. Selagi Rumpak itu merenung ia terkejut. Tiba-tiba saja
selarak pintunya dibuka. Seorang perempuan yang agak
gemuk telah memasuki biliknya. Ketika perempuan itu
tertawa, maka terasa jantungnya bergejolak semakin cepat.
"Silakan beristirahat
sebaik-baiknya Ki Sanak,"
berkata perempuan itu. Lalu,
"Orang-orang serumah itu
memanggilku Bibi. Semula hanya Risang sajalah yang
memanggilku Bibi. Tetapi sekarag panggilan itu seakan-akan sudah berubah
menjadi nama bagiku. Sedang sebelumnya, aku dipanggil Serigala Betina
dari Tanah Perdikan Sembojan, meskipun aku bukan orang asli dari Tanah
Perdikan ini." Terasa keringat dingin mulai mengalir ditubuh Rumpak.
Perempuan ini mempunyai sikap dan tentu saja watak yang
tidak sewajarnya sebagaimana seorang perempuan. Ketika
perempuan itu kemudian duduk dipembaringannya dekat di
sebelahnya, maka diluar sadarnya ia bergeser menjauh.
"Ki Sanak," Bibi itu tertawa. "Aku tidak akan berbuat
apa-apa. Aku hanya ingin menceritakan serba sedikit
tentang Tanah Perdikan ini, terutama tentang Ki Wiradana.
13 SH. Mintardja He, bukankah kau kenal dengan Ki Wiradana yang telah
dibunuh oleh Warsi itu" Atau tepatnya bersama-sama
dengan Ki Rangga Gupita yang kemudian mengambil Warsi
itu untuk menjadi sisihannya?"
Ketika Bibi tertawa, kulit ditengkuk Rumpak terasa
meremang. Sementara itu Bibi pun berkata, "Akulah yang
mendapat tugas dari Ki Wiradana untuk membunuh Iswari,
justru pada saat Iswari sedang mengandung. Pada saat itu
Warsi merupakan orang baru disini. Ia berhasil merampas
hati Ki Wiradana, bahkan sampai ke dasar kesadarannya,
sehingga Ki Wiradana sampai hati untuk menyingkirkan
istrinya yang mengandung. Karena aku dikenal sebagai
perempuan serigala betina maka Ki Wiradana itu
mempercayakan tugas itu kepadaku. Tetapi ternyata aku
tidak sampai hati melakukannya. Aku tidak
membunuhnya," Bibi itu berhenti sejenak, lalu, "He, kau
tertidur mendengar ceritaku, seperti anak-anak yang
mendengarkan dongeng neneknya. Aku bukan nenekmu
he." Rumpak terkejut. Tetapi ia justru bergeser menjauh.
Namun tiba-tiba Bibi itu tertawa sambil bergeser
mendekat sehingga Rumpak menjadi gemetar, katanya,
"Aku tidak ingin mendengar ceritamu."
Tetapi Bibi itu masih tertawa. Katanya, "Aku belum
selesai. Aku hanya ingin memberikan kesan kepadamu
tentang diriku. Mungkin aku adalah perempuan yang paling
buas yang pernah kau kenal. Tetapi kau dapat
memperbandingkan dengan Warsi. Siapakah sebenarnya
yang lebih buas. Aku atau Warsi. Warsi menghendaki Iswari
yang mengandung itu mati. Tetapi aku tidak sampai hati
melakukannya meskipun aku tidak kurang dari seekor
serigala pada waktu itu."
14 SH. Mintardja Rumpak justru menggeram. "Jangan menghina aku," desis Bibi. "Kau akan
dihadapkan pada sekelompok orang yang akan memeras
keterangan dari mulutmu. Hati-hatilah berbicara. Aku tidak
tahu, apakah aku sampai hati atau tidak untuk ikut berada
didalamnya. Tetapi jika aku kehilangan kendali sikapku,
maka aku adalah orang yang paling liar disini, melampaui
laki-laki yang bernama Gandar itu."
Rumpak menjadi semakin geram. Dengan nada yang
bergetar ia bertanya, "Apa maksudmu sebenarnya dengan
mengucapkan ceritamu itu. Untuk menakut-nakuti aku?"
"Ya. Dan aku berhasil, karena kau telah menjadi gemetar
karenanya," jawab Bibi. "Tetapi ingat. Bukan sekadar
menakut-nakuti karena hal itu akan benar-benar dapat
terjadi atasmu. Sadari itu. Atau barangkali aku berniat
untuk menantangmu berkelahi tanpa bantuan orang lain
jika kau mengelak untuk berterus terang. Kau akan
mengalami satu peristiwa yang barangkali belum pernah
kau alami, bahkan kau lihat sekalipun."
Jantung Rumpak rasa-rasanya berdenyut semakin cepat.
Apalagi ketika kemudian ia mendengar perempuan yang
disebut Serigala Betina itu tertawa.
Namun dalam pada itu Bibi itu pun kemudian berkata,
"Sudahlah. Tidak baik aku terlalu lama berada dibilikmu.
Apalagi jika kau ternyata kemudian pingsan ketakutan,"
Bibi itu berhenti sejenak, "Tetapi aku minta kau perhatikan
kemungkinan itu. Aku akan menantangmu untuk berkelahi
seorang melawan seorang."
Bibi tidak menunggu jawaban. Ia pun kemudian
meninggalkan orang yang menjadi tawanan itu dalam
kekalutan perasaan. 15 SH. Mintardja Orang itu sadar ketika ia mendengar pintu bilik itu
diselarakkan lagi dari luar. Namun ia justru menarik nafas
dalam-dalam. Bahwa perempuan yang agak gemuk itu telah
keluar dari biliknya, rasa-rasanya bilik itu menjadi lapang.
Namun sejenak kemudian ia mulai berpikir tentang kata-
kata yang dilontarkan oleh perempuan itu. Memang tidak
mustahil ia berbuat aneh-aneh seperti itu, atau setidak-
tidaknya ia mendapat perintah untuk melakukan hal seperti
itu. Jika ia harus berkelahi melawan perempuan itu, maka
ia akan menjadi tontonan. Jika ia menang tidak seorang
pun akan mengaguminya karena ia harus melawan seorang
perempuan. Tetapi jika ia kalah, maka ia akan lebih
direndahkan lagi. Rumpak pun akhirnya menyadarinya, bahwa semuanya
itu memang sudah diatur oleh orang-orang Sembojan untuk
mendesaknya agar ia menjawab semua pertanyaan tanpa
harus dipaksa, apalagi dengan kekerasan. Orang-orang
Sembojan ingin tanya jawab berikutnya berjalan lancar.
Namun Rumpak pun menyadari, bahwa hal itu terjadi atas
pengaruh Iswari, Pemangku Jabatan Tanah Perdikan
Sembojan. Agaknya Iswari tidak ingin melakukan kekerasan jika
mungkin. Tetapi apakah para pemimpin Sembojan yang lain
juga bersikap demikian" Rumpak ternyata sama sekali tidak
sempat beristirahat. Ia terlalu sibuk dengan pergolakan di
dalam dirinya sendiri. Keragu-raguan, kecemasan dan
bahkan ketakutan. Perasaan yang belum pernah mencengkam jantungnya
sebelumnya. Sebagai seorang yang ditempa oleh kerasnya
latihan-latihan keprajuritan di Jipang, kemudian oleh
pertempuran yang seru di beberapa medan. Terakhir ia
16 SH. Mintardja telah hidup dalam keadaan yang kasar dan penuh dengan
langkah-langkah kekerasan.
Namun ia belum pernah mengalami kecemasan dan
bahkan ketakutan seperti saat itu. Saat ia ada didalam
sebuah bilik yang tidak terlalu luas, cukup bersih dan
tertutup rapat. Rumpak berdiri dipersimpangan jalan. Apakah ia akan
berterus terang menjawab semua pertanyaan, sehingga
dengan demikian ia telah berkhianat seperti juga Damar
dan Saruju, atau ia harus bertahan meskipun tubuhnya
akan hancur dilumatkan oleh orang-orang yang keras dari
para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan itu. Atau
ia akan hanyut dalam sikap
yang lembut sebagaimana ditunjukkan oleh Nyi Wiradana itu. Rumpak akhirnya merebahkan dirinya dipembaringannya. Tetapi rasa-rasanya kepalanya menjadi beku. Ia justru tidak
dapat berpikir dengan jernih. "Gila. Aku sudah gila,"
keluhnya. "Agaknya ketahanan jiwaku menghadapi keadaan yang sulit masih terlalu rapuh."
Sementara itu, sekali lagi pintu bilik itu terbuka. Rumpak
telah bangkit dan duduk dipembaringannya sambil
menggeram, "Siapa lagi yang akan mengganggu aku?"
17 SH. Mintardja Tetapi yang masuk adalah seorang perempuan tua
membawa makanan baginya. Perempuan tua yang dlihatnya
duduk bersama ketika ia menghadap Pemangku Jabatan
Kepala Tanah Perdikan itu.
"Makanlah Ki Sanak," berkata perempuan tua itu. "Tetapi
barangkali yang dapat kami hidangkan tidak terlalu
memenuhi selera Ki Sanak. Sekadar nasi putih, sayur waluh
dan sedikit ikan yang ditangkap di sungai sebelah. Telur itu
pun telur yang diambil dari petarangan di belakangan
dapur, karena di rumah ini memang dipelihara beberapa
ekor ayam." Rumpak termangu-mangu sejenak. Tiba-tiba saja ia
melihat suatu kesempatan. Jika ia menerobos keluar dari
pintu yang terbuka itu, maka ia akan mendapat kesempatan
untuk lari. Tetapi niat itu diurungkannya. Ia yakin bahwa disekitar
rumah itu tentu terdapat para pengawal yang siap untuk
memburunya dan menangkapnya. Apalagi jika perempuan
yang disebut Serigala Betina itu masih ada disekitar tempat
itu. Karena itu maka Rumpak itu pun duduk saja di
pembaringannya sambil memandangi makanan yang
disajikan oleh perempuan tua itu.
Sementara itu, perempuan tua itu pun tersenyum
kepadanya sambil berkata, "Makanlah. Jangan memikirkan
persoalanmu sekarang. Kau renungi atau tidak, akhirnya
akan sama saja. Semuanya tergantung kepada kesediaanmu
bekerja bersama kami. Tetapi pergunakan waktumu baik-
baik untuk beristirahat dan makan, agar tubuhmu menjadi
kuat. Mungkin kau memerlukannya untuk meningkatkan
daya tahan dan mengatasi perasaan sakit. Tetapi Ki Sanak,
kami berharap bahwa kita akan dapat bekerja sama dengan
18 SH. Mintardja baik. Beberapa orangmu yang tertangkap hidup sudah
mulai menceritakan tentang diri masing-masing dan
tentang Ki Rangga Gupita serta Warsi, yang keduanya
kemudian hidup sebagai dua orang suami istri."
Rumpak tidak menjawab. Dipandanginya makanan yang
diletakkan oleh perempuan tua itu. Terlalu baik untuk
seorang tawanan. Tetapi rasa-rasanya ia tidak lapar dan
tidak ingin menyentuhnya.
Sejenak kemudian perempuan tua itu pun meninggalkan
bilik itu sambil berkata, "Makanlah. Nanti aku akan
mengambil mangkuknya."
Sepeninggal perempuan itu Rumpak termangu-mangu.
Ia mulai mengamati makanan yang ditinggalkan. Tetapi ia
pun kemudian telah berbaring dipembaringannya tanpa
menyentuh mangkuk-mangkuk yang dihidangkan itu.
Untuk sesaat ia berbaring. Tetapi kemudian ia merasa
perlu untuk tetap dalam keadaan yang paling baik. Wadag
dan jiwanya. Karena itu maka ia pun telah bangkit lagi. Dipaksanya
dirinya untuk makan, agar ia tidak menjadi sangat lemah
dan tidak mampu mengatasi perasaan sakit jika hal itu
dialami. Setelah makan dan minum, maka tubuhnya
memang merasa lebih segar, meskipun tidak terasa enak
dimulutnya. Badannya merasa bertambah kuat dan
darahnya pun menjadi semakin hangat.
Bahkan orang itu pun menggeram, "Apapun yang akan
terjadi, aku akan bertahan dan tidak akan berkhianat."
Baru sejenak kemudian orang itu berbaring lagi.
Tekadnya sudah bulat, bahwa ia akan menghadapi segala
tekanan jika para pemimpin Tanah Perdikan Sembojan
yang akan memerasnya. 19 SH. Mintardja "Mereka harus tahu bobot seorang prajurit Jipang,"
berkata prajurit itu di dalam dirinya.
Untuk beberapa saat ia menunggu.Tiba-tiba saja
terdengar selarak pintu itu terbuka. Ketika daun pintu itu


Suramnya Bayang Bayang Karya S H. Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bergeser, maka perempuan tua yang telah menempatkan
makanan di dalam biliknya itu berjalan tertatih-tatih
masuk. "Bagaimana Ki Sanak. Apakah Ki Sanak sudah makan?"
bertanya perempuan tua itu.
Tiba-tiba saja pikiran Rumpak berubah. Ketika tubuhnya
sudah terasa menjadi semakin kuat, maka ia memang
bertekad untuk melarikan diri mumpung pintu terbuka.
Memang ia merasa seakan-akan ingin terjun ke dalam
kegelapan karena ia tidak tahu apa yang ada diluar. Tetapi
ia sudah bertekad bulat untuk tidak gentar mengalami
apapun juga. Jika ia berlari keluar dari bilik itu, ia
mempunyai kesempatan betapapun kecilnya untuk
meloncati dinding rumah Kepala Tanah Perdikan itu dan
hilang tanpa dapat disusul oleh para pengawal. Tetapi
kemungkinan lain, ia akan ditangkap. Beberapa orang
pengawal akan mengejarnya dan mengepung lingkungan
disekitar halaman rumah itu. Tetapi itu bukan soal. Ia akan
bertempur sampai mati sekalipun, karena hal itu tentu lebih
baik daripada ia tetap hidup tetapi diperas dengan cara yang
parah oleh para pemimpin Tanah Perdikan itu.
Karena itu, maka Rumpak pun telah bangkit dari
pembaringannya. Diamati pintu yang terbuka itu,
sementara perempuan tua itu berdiri tanpa
menghiraukannya. Ia sibuk mengemasi mangkuk-mangkuk
kotor dan sisa makan. Namun sayang bahwa perempuan itu
berdiri di antara sebuah amben kecil dan dinding kayu. Jika
ia benar-benar ingin belari keluar, maka perempuan itu
20 SH. Mintardja harus menyingkir atau didorongnya saja tanpa
memperdulikan, apakah ia akan jatuh terbanting.
Sejenak ia termangu-mangu. Namun ia tidak mau
kehilangan waktu. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia
berkata, "Minggirlah."
Perempuan itu menjadi heran. Dipandanginya Rumpak
yang sudah siap untuk meloncat berlari melintasi halaman
dan mencapai dinding. Ia sudah melihat dinding yang tidak
begitu tinggi, sehingga dengan mudah ia akan dapat
meloncati meskipun ia tidak tahu, jika ia meloncat maka ia
akan terjun dimana. Ternyata Rumpak tidak sempat menunggu. Ia sudah
ancang-ancang untuk menghambur dengan kecepatan yang
paling tinggi. "Minggir," bentaknya sekali lagi.
Tetapi perempuan itu nampaknya justru menjadi
bingung. Karena itu, maka Rumpak itu tidak menghiraukannya
lagi. Ia pun telah meloncat berlari. Jika ia menyinggung
perempuan itu, ia tahu bahwa perempuan tua itu tentu akan
jatuh. Namun yang terjadi benar-benar diluar dugaannya.
Ketika Rumpak belari dengan mengerahkan segenap
kekuatan dan tenaganya pada loncatan pertama, maka pada
langkah kakinya yang berikutnya ia memang menyinggung
perempuan tua itu. Tetapi yang terjadi, perempuan itu seakan-akan tidak
Makam Bunga Mawar 27 Pedang Awan Merah Karya Kho Ping Hoo Wanita Gagah Perkasa 2
^