Pencarian

Bidadari Cadar Putih 3

Joko Sableng 16 Bidadari Cadar Putih Bagian 3


jar dengan si pemegang tongkat.
Namun ada sedikit keanehan, meski keduanya
tampak melangkah terbungkuk-bungkuk pelan serta
satunya tersaruk-saruk mundur, dalam sesaat saja so-
sok keduanya sudah berada jauh di depan sana. Dan
tak lama kemudian, terdengar kembali suara tawa ber-
gelak bersahut-sahutan membuncah seantero kawasan
yang banyak diranggasi ilalang serta semak belukar Itu!
*** DELAPAN AGAK Jauh dari kawasan yang ditumbuhi rangga-
san di mana dirinya sempat bertemu dengan dua orang
laki-laki berwajah hitam bedakan arang, Dewa Orok
memperlambat larinya. Kepalanya berputar dengan
mata liar memandang berkeliling. Pada satu tempat
yang banyak ditumbuhi beberapa pohon besar ber-
daun kering, tiba-tiba pemuda bertangan buntung ini
jejakkan kedua kakinya keras-keras ke atas tanah.
Laksana terbang, sosok Dewa Orok melesat ke sa-
lah satu pohon dan tahu-tahu sosoknya telah mengge-
lantung pada salah satu dahan di kerapatan rindang
dedaunan. Kedua kakinya di atas sementara kepalanya
di bawah. Orang yang tidak memperhatikan dengan
seksama, pasti tidak menyangka kalau yang mengge-
lantung itu adalah manusia adanya. Selain tubuhnya
sengaja dirapatkan ke batang pohon, rimbun dedau-
nan membantu dari pandangan orang.
Sesaat sepasang mata Dewa Orok mengerjap. Lalu
terpejam rapat. "Hem.... Sudah sejak dari kawasan berbatu tempat aku ditanam
orang, aku merasakan
ada seseorang yang selalu mengikutiku! Dan aku ma-
kin yakin setelah mendengar ucapan dua orang berwa-
jah setan hitam itu.... Hem.... Dua orang berwajah hitam.... Siapa mereka
adanya" Sikap dan gerak-
geriknya sepertinya mereka telah mengenaliku! Siapa
yang mereka cari" Rupanya bukan aku saja yang ber-
jalan mencari seseorang.... Lalu siapa pula yang selalu mengikuti perjalananku
ini" Kedua orang berwajah hitam kudengar sebut-sebut kata perempuan.... Apa
memang orang di belakangku itu perempuan" Tapi....
Tak mungkin dia perempuan! Untuk apa seorang pe-
rempuan mengikutiku" Aku pemuda yang tidak utuh
lagi.... Tapi jangan-jangan dia...."
Dewa Orok tidak lanjutkan gumaman nya. Sepa-
sang matanya dibuka lalu memperhatikan sekeliling di bawah sana. Mendadak
sepasang matanya membesar
tak berkesip memandang pada satu jurusan.
"Sekarang ketahuan siapa adanya orang yang sela-lu mengikutiku! Mudah-mudahan
benar dugaan kedua
orang berwajah setan tadi. Seorang perempuan...," desis Dewa Orok berkata pada
diri sendiri. Bibirnya tersenyum. Sepasang matanya makin dibeliakkan.
Nun jauh pada jurusan mana Dewa Orok meman-
dang, samar-samar terlihat satu sosok tubuh melang-
kah perlahan-lahan. Tiba-tiba orang itu hentikan langkah. Kepalanya memandang
lurus ke depan. Saat yang
sama kedua kakinya membuat gerakan. Mendadak so-
soknya berkelebat laksana angin. Dan belum sempat
Dewa Orok dapat menduga siapa adanya orang, tepat
di bawah mana dia berada tahu-tahu telah tegak se-
seorang. Dewa Orok sipitkan mata. Raut wajahnya berubah
seketika. Entah tanpa sadar, dari mulutnya terdengar gumaman. "Dugaan kedua
orang berwajah setan keliru! Dia bukan seorang perempuan! Tapi aku harus
menemuinya...."
Sekali membuat gerakan, sosok Dewa Orok melun-
cur turun sambil jungkir balik satu kali. Saat mendarat si pemuda telah tegak di
hadapan orang dengan
kepala di atas kaki di bawah.
Dewa Orok bungkukkan tubuh menjura. "Guru...
Orang di hadapan Dewa Orok ternyata adalah seo-
rang laki-laki bertubuh pendek berambut hitam lebat.
Mukanya bulat dengan hidung agak besar. Tangan ka-
nannya mempermainkan dua buah batu hitam yang
dilempar-lemparkan silih berganti ke udara.
Orang bertubuh pendek yang dipanggil Guru oleh
Dewa Orok dan tidak lain memang guru si pemuda
adanya yakni orang yang dikenal dengan gelar Cucu
Dewa memandang sekilas pada si murid. Dua buah ba-
tu yang dilempar lemparkan serta-merta ditangkap, la-lu mulutnya dibuka. Dan
enak saja dua buah batu tadi disentakkan masuk ke dalam mulutnya!
"Aku memahami kesulitan apa yang kau alami se-
karang! Dengan pindahnya dotmu ke tangan orang
lain, maka semua kekuatan ilmu silatmu musnah! Kau
hanya dapat kerahkan ilmu peringan tubuh!"
Dewa Orok angkat kepalanya memandang pada
Cucu Dewa dengan mulut terkancing. Namun jelas ka-
lau raut wajahnya menggambarkan jika ucapan yang
baru saja didengar adalah benar adanya.
Cucu Dewa menghela napas dalam. "Dalam hal ini, aku tak dapat membantu banyak.
Satu-satunya jalan,
kau harus dapatkan dotmu kembali! Siapa orang yang
mengambilnya"!"
"Seorang perempuan cantik bergelar Ratu Pemi-
kat...," ujar Dewa Orok dengan wajah murung.
"Ah.... Perempuan! Cantik lagi!" gumam Cucu Dewa dengan gelengkan kepala
perlahan. "Bagaimana sam-
pai perempuan itu tahu"! Kau dirayunya" Atau jangan-
jangan sengaja kau gadaikan dotmu dengan imbalan
tertentu!"
Dewa Orok kini yang gelengkan kepala. "Dot itu
adalah nyawaku! Tak akan kugadai walau diberi imba-
lan apa pun!"
"Hem.... Lalu bagaimana bisa lepas dari mulut-
mu"!"
Dewa Orok lalu ceritakan bagaimana sampai bun-
daran karet mirip dot bayi miliknya jatuh ke tangan
Ratu Pemikat. (Lebih jelasnya silakan baca serial Joko Sableng dalam episode :
"Muslihat Sang Ratu").
"Tidak kuduga sama sekali kalau rahasia besar
tentang kitab itu begitu cepat meluas...," desis Cucu Dewa begitu mendengar
penuturan sang murid. "Sial-nya, dalam keadaan seperti ini, kau harus mendapat
kenyataan pahit! Dotmu hilang diambil orang.... Pa-
dahal kau adalah orang yang, setidaknya punya hak
pada kitab itu!"
Cucu Dewa arahkan pandangannya menerawang
jauh. Lalu mulutnya kembali membuka. "Mendengar semua penuturanmu. aku hampir
yakin kalau kitab
itu kini telah jatuh ketangan orang.... Celaka! Benar-benar celaka!"
Cucu Dewa alihkan pandangan pada sang murid.
"Sebelum mendengar penuturanmu, aku memang me-
nyarankan kau harus dapatkan dotmu! Tapi kini kura-
sa hal itu sangat berbahaya bagimu! Apalagi nyawamu
diincar orang! Sebaiknya untuk sementara ini kau ber-lindung pada satu tempat
yang aman. Dan begitu kea-
daan reda, kau bisa mulai menyelidik mencari kemba-
li!" "Guru.... Bukannya aku tidak setuju dengan saranmu. Tapi kurasa hal itu
nanti akan lebih memper-
sulit diriku!"
"Kau punya alasan dengan ungkapanmu?" "Menurut seorang sahabat, pada purnama
depan, akan ada
sebuah pertemuan besar di Kedung Ombo! Aku khawa-
tir, Ratu Pemikat akan muncul di sana. Dan kalau
nantinya terjadi apa-apa di sana, lalu katakanlah Ratu Pemikat tewas, apakah itu
tidak akan menambah kesulitan bagiku" Beruntung kalau dia bawa dotku. Ka-
lau dia sebelumnya menyimpan pada satu tempat dan
mendahului tewas, apa yang bisa kulakukan"!"
"Hem.... Ucapanmu sepertinya memberiku gamba-
ran akan terjadi huru-hara besar!"
"Firasat dan hubungan beberapa kejadian akhir-
akhir ini membuatku berkesimpulan demikian! Apalagi
kini muncul beberapa orang yang belum pernah ku-
kenal malah mereka sengaja tidak ingin dikenali! Sifat dan tindakannya aneh-aneh
namun aku yakin mereka
bukan orang yang memiliki kepandaian rendah!"
"Lalu apakah kau ingin hadir pula di sana"!" tanya Cucu Dewa setelah agak lama
keduanya saling membi-su. "Aku terpaksa akan muncul di sana kalau sampai purnama
ini Ratu Pemikat tidak berhasil kutemu-kan.... Tapi tujuanku semata-mata hanya
untuk men- gambil dotku! Lain tidak!"
"Kalau itu jalan yang kau anggap baik, terserah!
Tapi bagaimanapun juga kau harus lebih berhati-hati!
Hindari terlibat urusan baru dengan orang lain...."
Ucapan terakhir Cucu Dewa mengingatkan si pe-
muda akan keyakinannya pada orang yang selalu
mengikuti langkahnya semenjak dari kawasan di mana
dia ditanam oleh Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa.
Hingga Dewa Orok buru-buru melompat mendekat ke
arah gurunya seraya berbisik.
"Guru.... Apakah Guru selalu mengikutiku selama ini"!"
"Aneh.... Untuk apa aku mengikutimu"!"
"Jadi...." Dewa Orok tidak lanjutkan ucapannya.
Kepalanya berputar dengan mata memandang berkelil-
ing. Cucu Dewa tampak tenang-tenang saja meski me-
lihat muridnya gelisah. Malah dengan rangkapkan ke-
dua tangan di muka dada, orang bertubuh pendek ini
berujar. "Kau mencari perempuan itu"!" Putaran kepala Dewa Orok seketika berhenti. "Kau
tahu..."!"
"Tidak sebanyak yang kau ketahui. Tapi mungkin
cukup membuatmu tidak gelisah dan cemas!" kata Cu-cu Dewa seraya tersenyum. Lalu
mendahului berucap
sebelum Dewa Orok ajukan tanya.
"Dia bukan orang yang ingin cari urusan dengan-
mu! Malah kurasa dia seperti akan melindungimu!
Sayang...."
"Sayang bagaimana"!" tanya Dewa Orok cepat begitu Cucu Dewa tidak segera
lanjutkan ucapannya.
"Dia telah pergi ke jurusan sana!" Cucu Dewa luruskan tangannya menunjuk pada
satu arah. "Bagaimana kau tahu dia tidak ingin cari urusan denganku"!"
"Aku sempat berbincang-bincang dengannya.
Sayang cuma sekejap! Tapi hal itu telah membuatku
gembira..."
"Apakah karena dia muda dan cantik" Tubuhnya
bagus"!"
"Tubuhnya bagus, benar! Kalau muda dan berpa-
ras cantik aku tidak bisa memastikan! Namun bukan
itu yang membuatku gembira seperti yang tadi kuka-
takan Aku gembira karena dari ucapan-ucapannya,
aku merasa dia mengharap sesuatu darimu! Dari itu-
lah mengapa dia selalu mengikutimu!"
Dewa Orok serta-merta tertawa panjang. Cucu De-
wa pandangi muridnya dengan mata mendelik. Lalu
berbicara dengan suara agak keras, membuat sang
murid putuskan tawanya seketika.
"Kau jangan mengira Yang Maha Kuasa tidak me-
limpahkan kasih dan sayangnya pada hati seseorang
untuk memberi sebentuk perasaan padamu! Kau me-
mang cacat, namun itu bukanlah satu penghalang bagi
seseorang untuk berbagi kasih denganmu kalau Yang
Maha di Atas sana telah menentukan!"
"Tapi.... Perbincangan yang hanya sekejap, belum bisa dijadikan jaminan kalau
dugaanmu benar. Apalagi ini berhubungan dengan perasaan perempuan. Yang
menurut orang-orang tua dahulu sulit sekali dijajaki....
Tapi, itu urusan nanti. Yang sekarang ingin kuketahui, bagaimana guru bisa
mengatakan tubuhnya bagus benar! Tapi muda dan berparas cantik tidak bisa memas-
tikan!" "Sekujur tubuhnya dibalut pakaian putih panjang dan jelas membentuk bagus! Namun
ternyata bukan hanya tubuhnya yang dibungkus, tapi seluruh wajah-
nya juga diberi cadar putih dan hanya menyisakan ke-
dua matanya. Itulah yang membuatku kesulitan me-
mastikan muda dan paras cantiknya!"
Dewa Orok tegak dengan tubuh sedikit bergetar.
"Dugaanku tidak keliru.... Ternyata memang perempuan itu...," gumamnya pelan.
"Hem.... Jadi kau telah mengenalnya"!"
"Dialah yang telah menolongku dan perbuatan Ra-
tu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa! Hanya aku merasa
menyesal...."
"Menyesal bagaimana"!"
"Dia tidak mau sebutkan siapa dirinya! Bahkan dia tidak mau sebutkan nama!"
"Itulah satu kenyataan bahwa apa yang dilakukannya tanpa pamrih! Dan kurasa
sulit dicari orang seper-ti dia pada saat-saat seperti sekarang ini! Aku
berharap apa yang menjadi dugaanku tidak salah...."
Cucu Dewa tampak dongakkan kepala setelah ber-
kata. Lalu melanjutkan. "Semula aku ingin mengajak-mu. Tapi mendengar semua
ucapanmu tadi, terpaksa
aku harus pergi sendirian. Kalau kapan-kapan kau
jumpa lagi dengan perempuan bercadar putih itu, to-
long sampaikan salam hormatku padanya.... Dan ka-
takan juga, kalau tidak keberatan, aku akan memang-
gilnya dengan Bidadari Cadar Putih! Nama bagus, bu-
kan?" Tanpa menunggu sambutan dari sang murid, Cucu
Dewa telah berkelebat tinggalkan tempat itu dengan
pandangan penuh tanda tanya dari Dewa Orok.
*** SEMBILAN APA yang dikatakan Cucu Dewa benar adanya. Ka-
rena laki-laki bertubuh pendek Ini memang sempat
jumpa dengan perempuan yang mengenakan pakaian
putih dan seluruh wajahnya ditutup pula dengan ca-
dar yang juga berwarna putih. Perempuan ini tidak
lain memang orang yang menolong Dewa Orok dari
tindakan Ratu Pemikat dan Iblis Rangkap Jiwa yang
menanam tubuh pemuda bertangan buntung itu da-
lam tanah dengan keadaan tertotok.
Entah apa yang dirasakan si perempuan bercadar
putih, namun begitu Dewa Orok sempat sebut-sebut
nama Joko, ada getaran aneh di dadanya. Hingga


Joko Sableng 16 Bidadari Cadar Putih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

meski ia mengatakan harus pergi setelah memberi per-
tolongan, namun sebenarnya dia tidak begitu saja berlalu. Dia coba mengelabui
Dewa Orok dengan hentak-
kan kuda tunggangannya keras-keras, hingga kuda
tunggangannya itu berlari kencang. Padahal sebenar-
nya si perempuan bercadar sendiri tidak pergi jauh da-ri tempat di mana tadi dia
menolong Dewa Orok.
Secara diam-diam, si perempuan bercadar putih la-
lu mengikuti ke mana Dewa Orok melangkah. Dan pe-
rempuan bercadar putih ini sempat terkesiap tatkala
tiba-tiba mendapati Dewa Orok jumpa dengan Joko.
Dadanya berdebar keras. Kalau menuruti kata hati, ingin rasanya dia tunjukkan
diri. Namun ada sesuatu
yang membuatnya bertahan untuk terus sembunyi
meski dengan hati makin bergejolak. Selain itu, ada
hal lain yang membuat dia bertahan sembunyi yakni
karena saat itu ada seorang gadis muda berparas can-
tik jelita mengenakan jubah merah menyala di samp-
ing Joko Sableng.
Begitu Dewa Orok berkelebat pergi meninggalkan
murid Pendeta Sinting dan perempuan muda menge-
nakan jubah merah, si perempuan bercadar kembali
dilanda perasaan bimbang. Malah karena tenggelam
dalam kebimbangan, hampir saja Joko memergokinya
kalau dia tidak keburu berkelebat. Dan untung suasa-
na gelap menolongnya. Hingga meski Joko sempat
mengejar, namun dia pada akhirnya bisa meloloskan
diri dan terus mengikuti langkah Dewa Orok.
Pada awalnya, begitu si perempuan bercadar putih
bisa lolos dari kejaran Joko Sableng, sebenarnya dia ingin sekali berbalik dan
mengikuti murid Pendeta
Sinting. Dada perempuan ini kembali dibuncah rasa
ragu dan bimbang. Namun ingat akan dirinya dan ga-
dis muda yang ada di samping Joko, pada akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti
Dewa Orok. (Tentang
pertemuan Dewa Orok dengan Joko Sableng silakan
baca serial Joko Sableng dalam episode : "Sekutu Iblis"). Si perempuan bercadar
putih tidak tahu mengapa dia memutuskan mengikuti langkah Dewa Orok. Dia
hanya memperturutkan perasaan. Dan begitu mema-
suki kawasan yang banyak ditumbuhi ilalang dan
ranggasan semak belukar, dia menangkap suara tawa
orang bersahut-sahutan. Dia sengaja tidak teruskan
langkah untuk mengikuti Dewa Orok yang terus berlari seakan mengejar suara orang
yang tertawa di tengah
kawasan ranggasan semak belukar. Lalu dia menang-
kap bentakan-bentakan yang memberi pertanda jika
Dewa Orok telah berhadapan dengan orang yang tadi
perdengarkan tawa yang bukan lain adalah dua orang
laki-laki yang wajahnya diberi bedak arang hitam
Saat dia menyimak ucapan-ucapan orang dari jauh
tiba-tiba satu bayangan berkelebat dan tahu-tahu di
hadapan perempuan bercadar putih telah tegak seo-
rang laki-laki bertubuh pendek yang tidak lain adalah Cucu Dewa.
Perempuan bercadar putih sempat terkesiap den-
gan kemunculan Cucu Dewa. Namun karena tidak
mau orang tahu apa yang sedang dilakukannya, si pe-
rempuan bercadar putih segera saja hendak berkelebat pergi tanpa bicara sepatah
kata. "Kuharap kau tidak menaruh curiga padaku! Aku
tidak akan mempersoalkan apa yang sedang kau laku-
kan di sini. Aku hanya kebetulan lewat...," ujar Cucu Dewa membuat gerakan si
perempuan bercadar putih
tertahan. Sepasang bola mata si perempuan bercadar putih
sesaat perhatikan orang di hadapannya. Tapi sejauh
ini dia belum juga perdengarkan suara hingga Cucu
Dewa kembali berucap.
"Apa kau juga sedang kebetulan lewat..."'
Si perempuan bercadar menjawab dengan angguk-
kan kepala. Sementara Cucu Dewa coba pandangi si
perempuan seolah ingin mengetahui siapa adanya
orang. "Boleh aku tahu. Hendak ke mana kau"!"
Si perempuan bercadar putih tidak segera menja-
wab. Dan seakan tahu apa yang ada dalam benak
orang, Cucu Dewa cepat-cepat sambungi ucapannya.
"Sekali lagi kau tak usah menaruh curiga! Aku bertanya semata-mata hanya ingin
tahu. Barangkali kita
satu arah jalan...."
Si perempuan bercadar putih masih juga kancing-
kan mulut tidak perdengarkan suara. Cucu Dewa tidak
tinggal diam. Dia kembali buka mulut.
"Kau tampaknya sedang dalam keadaan bimbang.
Tubuhmu di sini, tapi pikiranmu berada jauh....
Pandangan matamu mengatakan hal itu! Benar"!"
Pancingan Cucu Dewa kali ini tampaknya memba-
wa hasil. Karena si perempuan bercadar putih segera
perdengarkan suara sahutan.
"Kau rupanya pandai juga menebak orang dari ma-
tanya.... Mau sebutkan nama?"
Cucu Dewa tertawa perlahan. "Apalah artinya se-
buah nama. Lagi pula dengan keadaanmu begitu, kau
pasti juga tidak ingin untuk dikenali! Betul bukan"!
Dari itulah maka percuma saja aku sebutkan nama,
karena kau tidak akan perkenalkan diri!"
Mendengar ucapan Cucu Dewa, si perempuan ber-
cadar putih mulai perdengarkan tawa meski ditahan.
"Harap maafkan. Ini kulakukan bukan karena aku tidak mau dikenali. Tapi ada
sesuatu yang mengha-
ruskan aku begini! Dan ini kulakukan bukan karena
ada hubungannya dengan orang lain, tapi semata-
mata berkaitan dengan diriku sendiri...."
"Aku maklum...," ujar Cucu Dewa. "Kadang kala seseorang memang dituntut untuk
melakukan sesuatu
yang membuat orang merasa curiga! Hem.... Sekarang
apakah kau mau mengatakan hendak ke mana"!" kata Cucu Dewa mengalihkan
pembicaraan. Entah apa yang menyebabkan si perempuan berte-
rus terang. Yang jelas perempuan bercadar putih sege-ra menyahut.
"Sebenarnya aku tak tahu akan ke mana...."
Cucu Dewa arahkan pandangan pada jurusan di-
mana terdengar suara-suara bentakan.
"Kau mengikuti pemuda bertangan buntung itu"!"
"Aku hanya menuruti perasaan...."
"Kau mengenal pemuda itu"!"
Si perempuan bercadar putih gelengkan kepala,
membuat Cucu Dewa sedikit kerutkan dahi sebelum
akhirnya berkata pula.
"Apa yang dikatakan perasaanmu hingga kau men-
gikutinya"!"
"Aku tak tahu. Yang jelas aku menduga dia mem-
butuhkan orang lain...."
"Mau ikuti saranku..."!" tanya Cucu Dewa sambil menatap ke bola mata si
perempuan. Meski nada bica-ranya ajukan tanya, namun laki-laki bertubuh pendek
Ini tidak menunggu orang jawab pertanyaannya, kare-
na saat itu juga dia telah menjawab ucapannya sendiri.
"Tinggalkan pemuda itu.... Kau perlu waktu untuk berpikir lama. Jangan tanya
kenapa aku mengatakan
demikian. Mungkin satu hari nanti kau akan temukan
jawabannya sendiri...."
"Sepertinya kau mengenal pemuda itu!" kata perempuan bercadar putih.
"Dari saranku tadi, kurasa tak perlu lagi aku mengatakan mengenal atau tidak
pemuda itu...." Cucu De-wa tiba-tiba arahkan pandangannya pada arah mana
bentakan-bentakan jauh di depan sana terdengar. Ber-
samaan itu mendadak bentakan-bentakan di depan
sana tidak lagi terdengar.
"Aku mencium adanya bahaya.... Aku harus segera pergi...."
Cucu Dewa berpaling. Laki-laki bertubuh pendek
Ini tersentak. Ternyata si perempuan bercadar putih
sudah tidak ada lagi di tempatnya.
"Muridku.... Mudah-mudahan perempuan tadi ada-
lah karunia Yang Maha Pengasih untukmu...," desis Cucu Dewa seraya mendongak
memandang langit.
Saat bersamaan kakinya bergerak. Sosoknya berkele-
bat lenyap di antara ranggasan semak belukar dan ilalang.
* * * Berlari sejarak seratus tombak dari tempatnya se-
mula, perempuan bercadar putih berhenti. Kepalanya
sejenak berpaling ke kiri kanan. Ternyata dia menda-
patkan diri sudah berada di luar kawasan semak belu-
kar dan ilalang di mana tadi dia sempat berjumpa dengan Cucu Dewa.
Perempuan bercadar putih melangkah lalu duduk
di bawah sebuah pohon. Perlahan-lahan kepalanya di
sandarkan pada batangan pohon di belakangnya den-
gan sedikit di tengadahkan. Sepasang matanya yang
merupakan satu-satunya anggota wajahnya yang terli-
hat tampak memandang jauh bahkan melampaui rin-
dang dedaunan pohon di mana dia berada.
"Apa sebenarnya yang kucari dalam perjalananku
ini" Mengapa aku tidak dapat berdamai dengan hati-
ku" Aku tahu.... Sejak jumpa pertama dahulu aku me-
rasakan keanehan dalam diriku, tapi saat itu aku ma-
sih punya harapan, meski untuk mencapai harapan
itu harus ku langkahi beberapa halangan. Aku tak ta-
hu.... Mengapa aku begitu berani ambil risiko, walau untuk itu nyawaku lah yang
harus kujadikan jaminan....
Ah, itu saat-saat yang berlalu! Kini tidak mungkin
lagi aku menggantungkan harapan meski beberapa ha-
langan telah pula berlalu. Aku bukan lagi yang dulu.
Dan kurasa dia pun demikian juga.... Tapi menga-
pa aku tidak dapat melupakannya" Padahal aku tahu,
semuanya akan berakhir dengan perasaan kecewa ka-
lau kupaksakan! Aku sadar.... Mungkin dia diciptakan bukan untukku. Dia seorang
pemuda tampan dan
punya ilmu. Namanya juga dikenal dan harum. Tak
heran jika banyak gadis yang coba mendekati dan
mengerumuninya...."
Perempuan bercadar putih katupkan sepasang ma-
tanya dengan menghela napas dalam. "Gadis berjubah merah.... Dia memang cantik
jelita. Mereka berdua
tampak serasi dan pantas berdampingan.... Tapi,
mungkinkah gadis berjubah merah itu tidak punya
maksud apa-apa"! Dari pembicaraan orang-orang yang
sempat kudengar, aku merasa ada hal besar yang hen-
dak terjadi! Apalagi pembicaraan yang menyebut-
nyebut malam purnama.... Jangan-jangan gadis berju-
bah merah itu...."
Tiba-tiba perempuan bercadar putih tertawa sendi-
ri. "Masih pantaskah aku menaruh rasa cemburu pada
gadis yang berada di sampingnya" Tapi.... Aku tidak
bisa menipu diri sendiri. Sepenggal hatiku telah terba-wa olehnya sejak jumpa
pertama itu! Dan apa pun
yang terjadi nanti, aku akan tetap meletakkan hatiku padanya meski aku sadar,
dia tidak mungkin tergapai
oleh tanganku.... Kedua tanganku sudah terlalu lemah untuk menggapainya.
Sementara banyak tangan lentik
dan kuat yang melingkari dirinya!"
Si perempuan bercadar putih kembali buka kelo-
pak matanya. Untuk kesekian kalinya dua pasang bola
mata itu menerawang jauh memandang langit. "Hem....
Cinta kadang bukan harus dengan memiliki. Lebih dari itu, cinta adalah milik
siapa saja. Termasuk diriku
yang mungkin tidak layak lagi.... Hem.... Saat ini aku hampir merasa yakin kalau
dia sedang menghadapi sa-tu urusan besar!"
Si perempuan bercadar putih terlihat angkat tan-
gan kanannya lalu menghitung. "Purnama tinggal
sembilan hari lagi.... Apa sebenarnya yang akan terja-di" Aku harus...."
Perempuan bercadar putih serentak bangkit. Sesaat dia tampak hendak berkelebat.
Namun satu perasaan yang muncul tiba-tiba membuat gera-
kannya tertahan. la tampak bimbang.
Tanpa sadar sepasang mata perempuan bercadar
putih memandang berkeliling. Anehnya yang terlihat
olehnya saat itu adalah kabut putih tipis yang pada
saat lain mendadak membentuk sosok-sosok gadis
muda berparas jelita!
Perempuan bercadar putih kerjapkan mata beru-
lang kali. Lalu menarik napas panjang. "Aku terlalu di hantui perasaan
sendiri.... Aku harus dapat menerima kenyataan.... Aku tidak pantas lag!
mengharapkan nya, tapi aku memang tidak mengharap imbalan apa-
apa! Aku hanya ingin dia tahu, kalau di hatiku masih
ada sebentuk perasaan yang tak mungkin dapat kule-
nyapkan sampai kapan pun! Dan demi perasaan itu,
aku rela berbuat apa saja...."
Kini kebimbangan dalam pandangan dan sikap pe-
rempuan bercadar putih sirna. Dia kembali hendak
berkelebat. Namun kembali dia urungkan. Bukan ka-
rena munculnya perasaan, melainkan sepasang ma-
tanya menangkap satu sosok tubuh yang berlari cepat
jauh di depan sana.
"Dalam situasi seperti saat ini, siapa pun juga perlu mendapatkan kecurigaan!"
gumam perempuan bercadar putih. Tanpa menunggu lama lagi, dia segera
berlari ke arah mana tadi matanya menangkap seseo-
rang. Tapi pada satu tempat, si perempuan bercadar pu-
tih kehilangan jejak orang yang diikuti. Karena dia belum tahu siapa adanya
orang yang diikuti, juga karena dia tidak mau diketahui, maka si perempuan tidak
berani bertindak tanpa perhitungan. Dengan sigap dia
segera berkelebat lalu mendekam di balik dua batu
yang saling berdekatan hingga bukan saja membuat
sosoknya tidak kelihatan, namun dengan leluasa dia
dapat melihat apa yang ada di hadapannya dari celah
batu. Baru saja perempuan bercadar putih mendekam
sembunyi, matanya menangkap satu sosok tubuh hen-
tikan larinya dan tegak tidak jauh dari batu di mana dia mendekam. Sepasang mata
perempuan bercadar
sesaat memperhatikan tak berkesip pada orang yang
tegak dengan kepala sedikit disorongkan ke depan


Joko Sableng 16 Bidadari Cadar Putih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seakan ingin memperjelas penglihatannya.
Mendadak dua bola mata perempuan bercadar pu-
tih terbeliak besar-besar saat orang yang tegak tak
jauh dari tempatnya sembunyi putar diri. Dia adalah
seorang perempuan berwajah cantik. Mengenakan pa-
kaian biru tipis yang di bagian dadanya dibuat rendah seolah ingin menunjukkan
lembah belahan payuda-ranya yang membusung kencang. Bibirnya merah dan
tampak sunggingkan senyum.
"Bukankah dia...: Ratu Pemikat!" gumam perempuan bercadar putih. Mungkin karena
tersentak kaget
mengenali adanya orang yang tegak, hampir saja dari
mulut di balik cadarnya menyeruak suara seruan. Un-
tung si perempuan cepat sadar apa yang kini sedang
dilakukannya. Buru-buru si perempuan bercadar putih lebih run-
dukkan kepala dan tubuh. "Aku yakin. Perempuan ini bukan orang yang berkelebat
kukejar. Karena dia
muncul dari arah belakangku.... Kalau dia orang yang kukejar, pasti dia sekarang
tahu aku berada di sini!
Dan rupanya dia juga sedang mengejar orang.... Tentu orang yang berkelebat
tadi...." Diam-diam perempuan bercadar putih simpulkan peristiwa yang baru saja
terjadi. Baru saja si perempuan bercadar membatin, tiba-tiba satu suara
terdengar. "Mengapa diam di situ" Kau mengejarku, bukan"!"
Perempuan bercadar laksana sirap darahnya. Jelas
kalau suara yang baru terdengar adalah suara perem-
puan. Dadanya mulai sesak. Dan merasa orang sudah
tahu keberadaannya, dia cepat angkat kepala. Namun
kepala orang ini sesaat diam laksana dipacak. Sepa-
sang matanya membesar memperhatikan dari celah
batu. "Astaga! Bukan dia yang bersuara!" gumam perempuan bercadar putih dalam hati.
Lalu perhatikan sosok perempuan berwajah cantik berpakaian biru tipis yang bukan
lain memang Ratu Pemikat adanya.
Saat itu Ratu Pemikat tampak tidak memandang ke
arah batu di mana perempuan bercadar putih mende-
kam. Tapi ke satu jurusan dari mana tadi suara tegu-
ran terdengar. Inilah yang membuat perempuan berca-
dar putih tahu kalau suara teguran bukan keluar dari mulut Ratu Pemikat dan
ditujukan padanya. Melainkan justru dari orang lain dan ditujukan pada Ratu
Pemikat. Sepasang mata perempuan bercadar putih kini be-
ralih ke arah mana saat itu Ratu Pemikat juga sedang memandang. Untuk kesekian
kalinya bola mata si perempuan putih membelalak, malah kali ini kalau tidak
segera takupkan telapak tangan ke mulut, niscaya keberadaannya akan diketahui
orang! Dari celah batu, si perempuan bercadar putih me-
lihat seseorang yang membuat dadanya berdebar ke-
ras. Malah kalau tidak ingat keberadaan dirinya, sege-ra saja ia hendak melompat
keluar dan menghambur.
"Tak kusangka.... Suaranya tadi suara perempuan.
Nyatanya dia.... Rupanya dia tahu sedang diikuti
orang. Atau Jangan-jangan keduanya pura-pura saling
kejar padahal keduanya sudah saling sepakat untuk
bertemu di sini..."!"
Perempuan bercadar putih menghela napas dalam.
Sepasang matanya yang tadi memandang besar-besar,
kini berubah sayu. Kegembiraan yang sesaat terpancar dari matanya mendadak
lenyap laksana direnggut setan. "Ah.... Nyatanya kau telah tahu kalau
kukejar...."
Ratu Pemikat buka suara seraya melangkah mendekati
orang yang tegak di depan sana. Seorang pemuda ber-
wajah tampan mengenakan pakaian putih-putih den-
gan rambut panjang sedikit acak-acakan. Pada kepa-
lanya melingkar satu ikat kepala yang juga berwarna
putih. Pemuda ini tegak memandang pada orang yang
mendatanginya dengan mulut sunggingkan senyum
serta tangan kiri terangkat dan jari kelingking masuk ke lobang telinganya!
"Ah.... Dugaanku rupanya tidak meleset. Sikap dan sambutannya menandakan mereka
berdua sepertinya
sengaja bertemu di sini.... Tapi mengapa ini bisa terjadi..." Bukankah mereka
pernah...." Si perempuan bercadar putih gelengkan kepalanya perlahan dengan ma-
ta terus memandang ke depan lewat celah batu.
"Hem.... Bisa saja mereka sekarang sudah berbaikan! Dan tidak tertutup
kemungkinan pula mereka se-
dang terlibat cinta! Ah.... Kenapa aku terus dihantui hal-hal itu" Peduli dia
terlibat asmara dengan siapa sa-ja. Aku hanya ingin dia tahu, kalau aku...."
Perempuan bercadar putih putuskan kata hatinya. Karena saat itu pemuda
berpakaian putih-putih dan tidak lain adalah
Pendekar Pedang Tumpul 131 Joko Sableng angkat bi-
cara. Kali ini jelas kalau suaranya suara laki-laki.
"Jauh mengejarku, pasti ada sesuatu yang hendak kau sampaikan...."
Ratu Pemikat hentikan langkah hanya sejarak tiga
tombak dari murid Pendeta Sinting. Perempuan bertu-
buh bahenol ini sesaat tampak sunggingkan senyum
seraya geliatkan tubuh, hingga pinggulnya yang men-
cuat kencang dan besar terlihat menggoda.
"Kau tentunya ingat akan pertemuan kita beberapa waktu yang lalu.... Kau tahu,
sampai saat ini aku tidak bisa melupakan peristiwa itu! Aku selalu teringat pada
belaianmu.... Sentuhan-sentuhan tanganmu yang
nakal.... Rengkuhan dan cumbuanmu.... Aku...."
Murid Pendeta Sinting tarik jari tangan kirinya dan
lobang telinga, lalu dilintangkan ke mulut. Kepalanya berputar dengan mata liar
memandang berkeliling.
Ratu Pemikat tersenyum dengan sebelah mata
mengerdip. "Kau tak usah khawatir. Di sini hanya ada kita berdua. Seperti saat
kita bertemu beberapa waktu yang lalu! Kurasa kau tentu masih mengingatnya...."
Joko tidak menyambuti ucapan Ratu Pemikat Dia
tetap memandang berkeliling dengan dada berdebar.
Jelas wajahnya membayangkan ketakutan. Sementara
di balik batu, dada perempuan bercadar laksana mele-
dak. Sepasang matanya serentak memejam rapat!
Ucapan Ratu Pemikat laksana ledakan petir didada
dan telinganya.
Pada awalnya perempuan bercadar putih masih bi-
as kuasai diri mendengar ucapan Ratu Pemikat. Dia
menduga itu hanya ucapan perempuan yang tinda-
kannya sudah banyak diketahui orang kalangan rimba
persilatan. Dia juga menyangka ucapan Ratu Pemikat
hanya mengada-ada. Karena yang diketahuinya selama
ini, antara Ratu Pemikat dan Joko Sableng ada satu
ganjalan besar yang tidak mungkin begitu mudah dile-
nyapkan. Kalaupun ganjalan itu sudah sirna, adalah
terlalu cepat bagi mereka berdua jika sampai melaku-
kan sesuatu yang tidak senonoh!
Tapi begitu melihat Joko tidak membantah ucapan
Ratu Pemikat malah lintangkan jari di mulut pertanda jelas kalau dia tidak mau
orang lain mendengar, si perempuan bercadar putih seakan tidak tahan lagi. Dia
sudah hendak keluar dari balik batu. Lalu mengelua-
rkan apa yang ada dalam benaknya!
Tapi satu perasaan tiba-tiba muncul yang mem-
buat perempuan bercadar putih segera bisa kuasai diri meski tubuhnya masih
terlihat bergetar.
"Aku tidak berhak melarangnya berbuat apa pun
dan dengan perempuan mana pun.... Aku sekarang
bukan lagi yang dulu yang setidaknya masih punya
bekal untuk berharap! Yang kumiliki sekarang tinggal sekeping hati. Hanya
sekeping hati inilah yang akan
kuberikan padanya tanpa aku harus berharap sesuatu
meski hanya ucapan harapan...."
Perempuan bercadar coba tabahkan hati. Lalu per-
lahan-lahan kelopak matanya dibuka lagi dan dengan
perlahan-lahan pula diarahkan pada jurusan mana
Ratu Pemikat dan murid Pendeta Sinting berdiri ber-
hadapan. Sementara di depan sana, untuk beberapa lama
Pendekar 131 memandang lekat-lekat pada Ratu Pe-
mikat. "Aku memang tidak lupa, pernah bersama perempuan ini pada beberapa waktu
yang lalu. Tapi apa-
kah waktu itu aku memang sempat berbuat melam-
paui batas terhadapnya..." Saat itu seluruh pakaianku memang terlepas. Tapi
anehnya.... Mengapa aku tidak
bisa mengingat apa sebenarnya yang telah terjadi..."
Apa karena saat itu aku begitu tenggelam..."!" Murid Pendeta Sinting gelengkan
kepalanya perlahan.
"Aku harus hati-hati dengan perempuan ini! Aku
masih tidak tahu pasti apa sebenarnya yang ada dalam pikirannya! Waktu pertama
kali jumpa setelah peristiwa di Pulau Biru, dia menyatakan penyesalannya.
Bahkan aku lantas terlibat cumbu rayu dengannya.
Saat aku tersadar, perempuan ini telah tidak ada. Herannya dia tidak menyentuh
pedangku. Padahal kalau
dia mau, tidak sulit baginya mengambil dan memba-
wanya pergi. Bahkan kalau dia menginginkan nyawa-
ku, rasanya tidak ada halangan baginya untuk berbuat semaunya...." (Tentang
pertemuan Ratu Pemikat dengan Pendekar 131, baca serial Joko Sableng dalam
episode: "Warisan Laknat").
"Yang ku herankan, saat kujumpai lagi dia telah bergabung dengan Iblis Rangkap
Jiwa dan Ni Luh
Padmi. Malah dari Dewa Orok, kudengar dia juga telah mengambil dot pemuda itu!
Dia juga telah tahu kalau
Kitab Hitam jatuh ke tangan Malaikat Penggali Ku-
bur...!" Seperti diketahui, saat Pendekar 131 menyamar
sebagai pemuda berperangai perempuan dan memper-
kenalkan diri sebagai Lumba-lumba untuk menyelidik,
murid Pendeta Sinting berjumpa dengan Ratu Pemikat,
Iblis Rangkap Jiwa, serta Ni Luh Padmi di bawah Bukit Selamangleng.
Hemm ... Aku yakin di balik tindakannya selama
ini, dia punya satu maksud tertentu! Bahkan perte-
muan purnama depan mungkin saja adalah renca-
nanya. Kalau dia tahu betul jika Malaikat Penggali Kubur telah mendapatkan Kitab
Hitam, jangan-jangan
pertemuan nanti masih ada kaitannya dengan Malai-
kat Penggali Kubur.... Hem...."
"Kau memikirkan sesuatu" Atau sedang menge-
nang apa yang pernah kita lakukan"!" Ratu Pemikat buka suara setelah agak lama
murid Pendeta Sinting
hanya terlihat tercenung tanpa buka suara.
Pendekar 131 sunggingkan senyum. "Terus terang.
Aku memang tidak bisa melupakan peristiwa itu....
Sayang, setelah itu kau pergi begitu saja tanpa mem-
beri tahu. Aku berusaha mencarimu. Tapi...."
"Aku sekarang ada di hadapanmu...," potong Ratu Pemikat dengan busungkan dada.
"Kalau kau masih ingin...." Ratu Pemikat menyela dengan tertawa nyar-ing merdu.
Lalu lanjutkan. "Kau ingin sekarang..."!"
Tangan kanan kiri Ratu Pemikat terangkat. Lalu
mulai membuka kancing pakaiannya. Joko angkat
tangan kanannya sambil gerak-gerakkan ke kiri kanan.
Namun Ratu Pemikat tidak pedulikan gerakan tangan
Joko yang memberi isyarat agar orang tidak lanjutkan
tindakannya. Malah sambil tersenyum-senyum, Ratu
Pemikat melangkah satu tindak.
Meski tangan kanannya memberi isyarat agar Ratu
Pemikat tidak lanjutkan tindakannya, namun begitu
perempuan ini luruhkan kembali kedua tangannya,
dan di hadapannya terpampang jelas dua payudara
putih kencang yang bergerak turun naik menggoda,
mau tak mau membuat murid Pendeta Sinting pen-
tangkan mata besar-besar!
Dari celah batu di belakang sana, meski Ratu Pe-
mikat tegak membelakangi batu, namun gerakan dan
pandangan mata murid Pendeta Sinting telah cukup
membuat si perempuan bercadar putih maklum apa
yang ada di depan hidung Pendekar 131.
"Dasar perempuan jalang...," desis perempuan bercadar putih seraya menarik napas
panjang. Perempuan
ini tabahkan hati untuk tetap arahkan pandangannya
ke depan meski dadanya makin bergelora antara
muak, cemburu, dan geram.
"Ratu...," terdengar suara murid Pendeta Sinting.
Kali ini suaranya terdengar agak bergetar parau. "Aku mencarimu bukan untuk
mengulangi peristiwa yang
lalu.... Aku... aku ingin menanyakan sesuatu pada-
mu...." Ratu Pemikat tidak coba menutupi dadanya yang
terbuka. Malah dia sengaja menarik napas panjang
hingga dadanya tampak makin membusung. "Kau in-
gin bersenang-senang dahulu atau ingin aku jawab
pertanyaanmu dahulu"! Atau kau ingin aku menjawab
sambil kita bersenang-senang seperti dulu..."!"
"Terus terang. Setelah pertemuan kita beberapa
waktu itu, aku pergi ke satu tempat. Dan ketika aku
kemarin bertemu seorang sahabat...."
"Jangan terlalu banyak berbasa-basi! Bukankah
yang hendak kau katakan masih ada hubungannya
dengan sebuah kitab"!" tukas Ratu Pemikat.
"Ah.... Betul!" kata Joko dengan mimik terperanjat.
Ratu Pemikat sesaat memperhatikan perubahan
pada wajah murid Pendeta Sinting dengan bibir terse-
nyum. "Pandai Juga kau membuat sandiwara wa-
jah...," gumamnya dalam hati. "Kau tidak tahu. Semua yang ada dalam otakmu sudah
ku bongkar saat kita
jumpa dahulu! Hik.... Hik.... Hik...! Membunuhmu saat ini tidak sulit bagiku.
Tapi itu tak akan kulakukan!
Dengan membunuhmu, berarti aku berhadapan lang-
sung dengan Malaikat Penggali Kubur. Pemuda kepa-
rat itu terlalu sulit ku taklukkan! Aku ingin kau yang berhadapan dengan
Malaikat Penggali Kubur. Kuyakin,
kau masih mampu menghadapi Malaikat Penggali Ku-
bur. Setelah Kitab Hitam berada di tanganmu, saat itulah kematianmu tiba...."
Setelah diam sesaat, Ratu Pemikat lalu buka mu-
lut. "Aku memang telah mendengar ada sebuah kitab sakti. Tapi benar tidaknya
kabar itu aku tidak tahu
pasti. Yang jelas, saat ini telah muncul beberapa orang yang namanya pernah
disegani dalam kancah dunia
persilatan! Mereka sengaja hendak mencari kitab itu
atau tidak, aku juga tidak tahu banyak! Apa kau men-
ginginkan kitab itu juga"!"
"Kalau kau saja berpendapat tidak tahu pasti, apa gunanya aku bersusah payah?"
"Aku juga mendengar kalau pada purnama ini akan ada satu pertemuan besar di


Joko Sableng 16 Bidadari Cadar Putih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kedung Ombo...."
"Hem.... Akhirnya dia mengatakan juga perihal pertemuan itu...," membatin Joko.
Ratu Pemikat masih dengan tersenyum lanjutkan
ucapannya. "Aku punya firasat, pertemuan itu ada kai-
tannya dengan kitab sakti yang dibicarakan orang. Kalau kau ingin tahu benar
tidaknya kitab itu, tidak ada salahnya kau hadir di sana purnama ini...."
"Kau akan hadir nanti..."!" tanya Pendekar 131.
Ratu Pemikat gelengkan kepala. "Aku sudah bosan dengan segala hal yang berkaitan
dengan dunia persilatan. Pengalaman di Pulau Biru telah membuatku
berhitung diri. Tapi kalau kau mengajakku, aku tidak keberatan...."
"Seperti halnya dirimu, aku juga sudah muak dengan hal-hal yang berhubungan
dengan rimba persila-
tan. Itu hanya akan mendatangkan malapetaka! Kalau
kau berminat silakan kau datang sendiri saja. Aku tidak tertarik!"
Masih dengan senyum Ratu Pemikat anggukkan
kepala. "Ah.... Kalau orang sepertimu tidak tertarik, untuk apa aku berminat?"
katanya meski diam-diam dalam hati dia berkata sendiri. "Kau menutupi apa
sebenarnya yang ada dalam hatimu. Aku percaya kau
pasti akan datang.... Kitab Hitam adalah sebagai tu-
gasmu untuk memusnahkannya! Dan kau pasti tidak
akan sia-siakan kesempatan...."
"Seperti juga ucapanmu," kata Ratu Pemikat me-nyambungi ucapannya. "Hal yang
berhubungan den-
gan rimba persilatan hanya akan mendatangkan mala-
petaka. Bahkan sia-siakan waktu dan nyawa. Padahal
ada hal lebih menarik yang bisa diperbuat dan tidak
mendatangkan malapetaka, malah mendatangkan ke-
nikmatan. Juga tidak perlu harus menunggu sampai
bulan purnama, tapi sekarang juga bisa...."
Habis berkata, Ratu Pemikat tengadahkan kepa-
lanya sedikit seolah ingin tunjukkan lehernya yang jenjang dan putih. Dari
mulutnya terdengar suara desa-
han panjang. "Pendekar 131.... Apalagi yang kau tunggu" Aku telah menjawab apa yang kau
tanyakan. Sekarang saat-
nya kita bersenang-senang seperti dulu, bukan...?"
Murid Pendeta Sinting tergagap meski sepasang
matanya tetap mementang tak berkesip. Dan pemuda
dari dusun Kampung Anyar ini tersedak tatkala men-
dadak Ratu Pemikat telah maju dan kedua tangannya
langsung melingkar ke tengkuknya!
*** SEPULUH SEPASANG mata dari celah batu milik perempuan
bercadar putih bergerak memejam seketika. Dari mu-
lut di balik cadar putihnya terdengar gumaman tidak
jelas. Saat yang sama, kepala bercadar putih ini bergerak berpaling. Lalu
terdengar desisan.
"Apa yang harus kulakukan" Membiarkan perbua-
tan kotor ini terus berlangsung di depan mataku" Me-
reka memang berhak melakukan apa saja! Tapi aku
juga punya hak untuk membela perasaan!"
Sosok perempuan bercadar putih bergetar keras.
Malah perlahan-lahan orang ini terlihat hendak bergerak bangkit. Namun tiba-tiba
sosoknya kembali diam
dan terlihat kembali merunduk. Saat bersamaan ter-
dengar helaan napas panjang.
"Ah.... Untuk apa kau harus perturutkan pera-
saan" Aku tahu perasaannya padaku! Tapi itu dahu-
lu.... Sekarang mungkin bisa saja berubah setelah ta-hu diriku.... Lalu apakah
aku harus diam dengan se-
mua ini" Berapa lama aku selalu merindukan untuk
bertemu dan membagi cerita dengannya. Aku telah
berjalan jauh untuk mencarinya. Tapi begitu kutemu-
kan, dirinya selalu berada dengan seorang perempuan
cantik! Apa memang nasibku harus begini..." Sean-
dainya Yang Maha Tinggi memperkenankan aku untuk
memilih, aku memilih buta mata! Atau haruskah ke-
dua mataku kubuat buta sendiri" Biar sepenggal hati
ini tidak terjamah perasaan kotor" Biar sepenggal hati ini tetap putih bersih?"
Perlahan-lahan sambil terus merunduk, kedua
tangan perempuan bercadar terangkat lalu menutupi
kedua mata dan wajahnya yang tertutup cadar. Saat
yang sama, dari sela jari-jari tangan si perempuan
tampak merembes cairan bening!
Sementara di depan sana, Ratu Pemikat tarik ke-
dua tangannya yang melingkar di tengkuk Pendekar
131. Hingga mau tak mau kepala Joko bergerak terta-
rik ke depan dan tepat menumbuk dua payudara putih
sang Ratu. Meski murid Pendeta Sinting pada mulanya beru-
saha agar tidak tergoda, namun begitu wajahnya tepat bersentuhan dengan payudara
sang Ratu, darah pemuda ini menggelegak. Wajahnya terasa panas. Tu-
buhnya sedikit bergetar.
"Aku kali ini tidak membutuhkan lagi ilmu
'Penyaluran Suara'! Tidak ada yang perlu kukorek dari mulut-nya!" Diam-diam Ratu
Pemikat membatin.
Seperti diketahui, Ratu Pemikat, memiliki ilmu
yang bisa membuat orang terangsang dan tenggelam
dalam gejolak. Lalu orang itu akan menjawab semua
pertanyaannya tanpa sadar. Hal ini pernah diperbuat
Ratu Pemikat pada murid Pendeta Sinting saat mereka
bertemu pertama kalinya setelah peristiwa di Pulau Bi-ru. Merasa si pemuda mulai
dilanda gejolak, Ratu Pe-
mikat tidak sia-siakan kesempatan. Dia mulai mengge-
liat dengan perdengarkan desahan. Sementara kedua
tangannya terus menekankan wajah Joko ke dadanya.
"Dasar manusia-manusia binatang! Bercinta pun
tak kenal tempat dan waktu!"
Tiba-tiba terdengar satu bentakan keras. Saat ber-
samaan, satu deruan keras terdengar. Dan kejap lain, satu gelombang luar biasa
dahsyat menghampar!
Pendekar 131 dan Ratu Pemikat sama tersentak.
Kepala murid Pendeta Sinting yang masih bersentuhan
dengan dada Ratu Pemikat ditarik ke belakang. DI pi-
hak lain, Ratu Pemikat cepat pula lepaskan lingkaran kedua tangannya di tengkuk
Joko. Hampir berbaren-gan kedua orang ini meloncat ke belakang.
Gelombang menghantam tempat kosong di mana
tadi murid Pendeta Sinting dan Ratu Pemikat berpelu-
kan mesra. Laksana disentak setan, kepala Ratu Pemikat ber-
paling. Dari mulutnya terdengar bentakan keras.
"Keparat! Kau cari mampus berani mengganggu ke-
senangan orang!"
Kedua tangan Ratu Pemikat bergerak menyentak.
Gelombang angin laksana topan prahara melesat ke
satu jurusan di mana terlihat satu sosok tubuh tegak berdiri dengan kedua tangan
merangkap di depan da-da. "Ha.... Ha.... Ha...! Aku bukan saja akan mengganggu
kesenangan mu, Perempuan Cabul! Tapi seka-
ligus mencabut kesenangan mu selama-lamanya!"
Kedua tangan orang yang baru perdengarkan tawa
dan suara bergerak. Satu gelombang kembali meng-
hampar memangkas gelombang yang melesat dari Ratu
Pemikat. Bummm! Terdengar ledakan keras. Tempat itu sesaat ber-
guncang. Sosok Ratu Pemikat tampak bergoyang-
goyang. Namun kejap lain terdiam setelah perempuan
Ini kerahkan tenaga dalam untuk kuasai diri. Semen-
tara di depan sana, sosok orang yang baru saja me-
mangkas pukulan Ratu Pemikat tetap diam tak ber-
geming. Malah kedua tangannya kini kembali merang-
kap di depan dada.
Murid Pendeta Sinting sesaat tidak angkat kepa-
lanya. Dadanya disesaki berbagai perasaan. Malu,
khawatir, dan gelisah. Wajahnya tampak merah pa-
dam. Dia coba menduga-duga siapa adanya orang. Ka-
rena hatinya membisikkan kalau dia pernah menden-
gar suara orang. Itulah yang menyebabkan dia belum
berani memandang siapa adanya orang.
Sementara Ratu Pemikat segera beliakkan mata
memandang tajam pada orang di seberang. Mendadak
raut wajah Ratu Pemikat berubah. Mulutnya bergetar.
Malah kalau tidak jaga diri, niscaya kakinya akan bergerak tersurut!
Orang di seberang kembali perdengarkan tawa. La-
lu berkata. "Ratu Pemikat! Matamu masih mengenaliku bu-
kan"!" Tanpa menunggu jawaban, orang ini sentakkan kepalanya ke arah Pendekar
131 Joko Sableng. "Pendekar 131! Mengapa masih malu-malu" Angkat batok
kepalamu. Lihat siapa yang datang hendak mencabut
selembar nyawamu"!"
Walau dengan muka masih merah padam, namun
mendengar ucapan orang, dada pemuda ini mulai pa-
nas. Dia angkat kepalanya. ,
Dari tempatnya tegak, murid Pendeta Sinting meli-
hat satu sosok tubuh yang tidak dapat dikenali wajahnya karena wajah orang ini
tertutup kain cadar ber-
warna hitam. Orang ini juga mengenakan jubah pan-
jang hitam sebatas lutut. Rambutnya berwarna pirang
keemasan bergerai menutupi sebagian pundak dan
kain cadarnya. "Dewi Siluman!" desis Joko dengan mata terpentang besar.
Kalau Ratu Pemikat dan murid Pendeta Sinting ter-
sentak kaget, perempuan bercadar putih yang segera
saja turunkan tangannya dari wajah begitu terdengar
bentakan orang, tak kalah kagetnya. Sepasang ma-
tanya yang basah dan sembab sesaat tampak menger-
jap beberapa kali. Lalu memandang tajam ke depan.
"Dewi Siluman!" gumamnya mengenali siapa
adanya orang yang berjubah panjang hitam dan men-
genakan cadar yang juga berwarna hitam.
"Bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul di sini" Bukankah selama ini kabar
beritanya tidak terdengar la-gi" Ah.... Agaknya keadaan akan gawat! Mudah-
mudahan Joko segera dapat memutuskan pilihan apa
yang terbaik harus dilakukan...." Si perempuan bercadar putih berkata pelan. Dia
lalu makin rundukkan
tubuh hingga sejajar dengan tanah. Namun sepasang
matanya lebih seksama memperhatikan.
Orang berjubah panjang hitam dan bercadar hitam
yang bukan lain memang Dewi Siluman, untuk kese-
kian kalinya tertawa panjang. Namun kali ini tiba-tiba tawanya mendadak diputus.
Kepalanya bergerak silih
berganti menghadap Ratu Pemikat dan murid Pendeta
Sinting yang masih sama tegak dengan mulut terkanc-
ing. "Kau, Perempuan Cabul! Dan kau, Pendekar Jalang! Kalian kuberi kesempatan
untuk lanjutkan per-
mainan! Tapi ingat! Ini permainan terakhir kalian berdua! Setelah itu kalian
berdua harus suka rela serah-
kan nyawa masing-masing!"
Ratu Pemikat angkat kedua tangannya kancingkan
pakaiannya yang terbuka. Dia sempat melirik sesaat
pada murid Pendeta Sinting. Lalu memandang dingin
pada Dewi Siluman.
"Kuperingatkan kau!" ujar Ratu Pemikat sambil luruskan tangan menunjuk pada Dewi
Siluman. "Jaga mulut usilmu! Dan cepat menyingkir dari sini!"
Dewi Siluman tertawa lagi. "Kau malu permainan-
mu dilihat orang" Dasar manusia-manusia binatang!
Buka mata kalian besar-besar! Sudah sejak tadi per-
mainan kalian dilihat orang! Karena kalian sudah
tenggelam dalam nafsu kotor, kalian pasti tidak mera-sa! Ha.... Ha.... Ha!"
Baik Ratu Pemikat maupun Pendekar 131 serentak
sama putar kepala berkeliling. Kalau Ratu Pemikat tidak tampakkan wajah berubah,
tidak demikian halnya
dengan Joko. Dada pemuda ini makin tidak enak. Rasa
gelisah makin melanda. Dia khawatir kalau orang yang dimaksud Dewi Siluman
adalah orang yang telah dike-nalnya. Namun murid Pendeta Sinting agak lega
tatka- la sepasang matanya tidak melihat orang lain di tem-
pat itu. Tapi rasa lega Joko tidak lama. Dewi Siluman
arahkan kepala pada sebuah batu yang saling bersebe-
lahan. Dia sesaat tidak buka mulut. Ratu Pemikat dan murid Pendeta Sinting sama-
sama gerakkan kepala ke
arah mana kepala Dewi Siluman kini menghadap. Da-
da Joko makin berdebar ketika Dewi Siluman perden-
garkan suara. "Orang di balik batu! Mengapa kau malu perli-
hatkan diri"! Padahal kau tidak malu mengintip
orang"!"
Semua orang di situ mendengar suara orang ber-
gumam. Joko makin pentangkan mata. Sementara Ra-
tu Pemikat memandang dengan sinis.
"Apa kau ingin aku memaksamu tunjukkan tam-
pang"!" Dewi Siluman membentak ketika orang di balik batu hanya perdengarkan
gumaman tanpa unjuk diri.
Dewi Siluman buka rangkapan kedua tangannya.
Namun belum sampai bergerak lebih jauh, dari balik
batu perlahan-lahan terlihat orang bangkit berdiri dengan tubuh memunggungi ke
arah semua orang yang
kini memandang ke arahnya.
Murid Pendeta Sinting sesaat tengadah menduga
duga siapa adanya orang yang mengenakan pakaian
putih panjang dan tegak memunggungi di antara dua
batu itu. Sementara Ratu Pemikat hanya memandang
sekilas. Bibir perempuan bertubuh bahenol ini menye-
ringai. "Jahanam! Dia mencuri dengar pembicaraanku!
Dia juga telah berlaku kurang ajar sengaja mengintip ku!" Dada Ratu Pemikat
dilanda perasaan geram. Mulutnya seketika membuka.
"Tunjukkan tampangmu! Katakan siapa kau"!"
Dewi Siluman perdengarkan tawa pendek menden-
gar bentakan Ratu Pemikat. Lalu arahkan kepala pada
Ratu Pemikat. "Soal siapa dia, itu urusan nanti! Itu pun kalau mungkin!"
Tanpa palingkan muka menghadap Dewi Siluman,
Ratu Pemikat berkata.
"Siluman geblek! Giliranmu akan tiba! Sekarang bi-ar kuselesaikan perempuan
keparat itu!"
"Siapa perempuan berpakaian putih itu" Apa dia
mengenaliku..." Ah.... Mengapa urusannya jadi begini tidak karuan"! Kalau dia
memang kukenal, dan memang sudah sejak tadi berada di situ.... Waduh, cela-ka"
Diam-diam murid Pendeta Sinting terus berkata pada dirinya sendiri. Dia tidak


Joko Sableng 16 Bidadari Cadar Putih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tahu apa yang sekarang
harus dilakukan. Hingga untuk beberapa lama dia
hanya tegak termangu!
Di lain pihak, seolah tidak sabar melihat orang ma-
sih juga tidak mau balikkan tubuh tunjukkan muka,
Ratu Pemikat bergerak melompat.
Namun Dewi Siluman tidak tinggal diam. Sebelum
Ratu Pemikat sempat bergerak. Dia sentakkan tangan
kirinya, membuat gerakan Ratu Pemikat tertahan oleh
gelombang yang menderu dan menghampar di depan-
nya "Perempuan cabul! Aku tidak akan tunggu giliran!
Dia hanya perempuan tukang intip tidak berguna!"
Sebenarnya Ratu Pemikat hendak alihkan perha-
tian Dewi Siluman pada murid Pendeta Sinting dan dia hendak menghadapi orang
berpakaian putih panjang.
Karena perempuan berwajah cantik ini maklum siapa
adanya Dewi Siluman. Dan sesungguhnya pada awal-
nya Ratu Pemikat merasa sedikit kecut dengan ke-
munculan Dewi Siluman. Namun karena di samping-
nya ada murid Pendeta Sinting dan yakin kalau Joko
tidak akan diam kalau Dewi Siluman berbuat yang ti-
dak-tidak, maka perlahan-lahan rasa kecut Ratu Pe-
mikat sirna. Bahkan kini dia merasa yakin. Hingga begitu mendengar ucapan Dewi
Siluman, Ratu Pemikat
berpaling. "Apa maumu sekarang"!"
"Aku masih memberimu waktu untuk bermain-
main terakhir kalinya dengan Pendekar Jalang itu!
Hik.... Hik.... Hik...! Aku ingin lihat bagaimana permainan kalian!"
"Ratu Pemikat...." Sebaiknya kita hindari pertum-pahan darah! Untuk memecah
perhatiannya, kau per-
gilah ke utara, dan aku akan ke selatan!" bisik Joko.
"Tapi ucapan perempuan itu tak bisa didiamkan!"
"Untuk apa pedulikan ucapan orang" Bukankah
kau masih punya urusan lain"!"
Dahi Ratu Pemikat berkerut. Dia berpaling me-
mandang murid Pendeta Sinting dengan berbagai du-
gaan. "Heran. Kau sepertinya tahu lebih banyak tentang diriku daripada aku! Coba
katakan apa urusan lain
yang katamu masih kupunya"!"
"Ah. Kau salah duga. Kau pasti lebih banyak tahu tentang dirimu daripada aku.
Jadi bagaimana mungkin
aku bisa katakan urusan apa itu! Bagaimana" Kau ke
utara aku ke selatan! Cepat, jangan terlalu dipikir panjang!"
"Mungkinkah dia tahu" Atau ucapannya hanya ke-
betulan" Ah.... Peduli setan! Tapi ucapannya memang
ada benarnya. Aku harus menghindar.... Urusan besar
masih belum selesai!" membatin Ratu Pemikat. Lalu kerdipkan mata memberi
isyarat. Namun di depan sana, Dewi Siluman rupanya da-
pat menangkap apa yang hendak dilakukan Ratu Pe-
mikat dan Pendekar 131. Hingga bersamaan dengan
kerdipan mata Ratu Pemikat dan sebelum keduanya
bergerak, Dewi Siluman telah berkelebat dan tahu-
tahu telah tegak menghadang jalan Ratu Pemikat den-
gan tangan merangkap di depan dada.
"Kalian tidak mau menggunakan waktu yang kube-
rikan" Apa kalian tidak menyesal karena permainan
terakhir kalian terpenggal di tengah jalan"! Atau barangkali kalian hendak cari
tempat yang berpeman-
dangan indah" Coba katakan di mana"! Aku akan sa-
bar menanti! Hik.... Hik.... Hik...!"
Bukan hanya sampai di situ, kalau tadi Dewi Silu-
man sempat membentak pada orang berpakaian putih
panjang di dekat batu, kini Dewi Siluman arahkan ke-
pala pada perempuan berpakaian putih itu yang masih
tegak memunggungi dan berkata.
"Perempuan berpakaian putih di dekat batu! Ba-
gaimana dengan kau" Apakah kau masih juga ingin
melihat bagaimana permainan terakhir manusia-
manusia ini"! Mereka tampaknya ingin mencari tempat
lain yang indah! Apa kau ikut serta"!"
Perempuan yang diajak bicara perlahan-lahan ber-
gerak putar tubuh. Kini murid Pendeta Sinting bisa
bernapas lega meski wajahnya tetap merah padam. Ka-
rena dia yakin betul baru pertama kali ini berjumpa
dengan orang yang kini telah hadapkan wajah ke
arahnya. Namun begitu masih ada pertanyaan yang
belum juga bisa dijawab sendiri, dan malah membuat-
nya curiga. "Mum.... Perempuan berbaju putih itu juga sembunyikan wajah di balik cadar!
Jangan-jangan dia teman Dewi Siluman!"
Perempuan bercadar putih sesaat hadapkan wa-
jahnya lurus ke arah murid Pendeta Sinting. "Aku melihatnya dalam keadaan
bimbang. Dia tidak dapat me-
mutuskan apa yang harus diperbuat untuk lepas dari
urusan Ini! Padahal aku tahu pasti, urusan di depan
sana begitu penting baginya! Hem...."
"Dewi Siluman!" Perempuan bercadar putih perdengarkan suara. "Kau memberiku
undangan bagus!
Sayang, aku tidak punya kesempatan lagi.... Dan ha-
rap kau ketahui, aku bukannya tukang intip! Aku te-
lah berada di sini sebelum mereka muncul...."
Cadar hitam Dewi Siluman tampak bergerak-gerak.
Perempuan yang pernah terlibat bentrok dengan peris-
tiwa di Pulau Biru ini sesaat terkejut mendapati orang mengenali dirinya.
"Hem.... Dia tahu namaku. Berarti setidaknya dia
orang yang kukenal! Tapi rasanya.... aku belum pernah bertemu dengannya!"
"Rupanya kau telah mengenalku!" kata Dewi Siluman dengan suara agak garang.
"Katakan siapa kau"!"
Perempuan bercadar putih gerakkan kepala meng-
geleng. "Aku tidak ingin melihat orang terkejut... Lagi pula di antara kita
tidak ada hubungan atau silang
sengketa apa-apa. Jadi bukankah lebih baik kau tidak mengenaliku...?"
"Baik! Aku tak akan memaksa tahu siapa kau
adanya! Tapi ingat! Jangan kau berani melangkah dari tempatmu!"
Habis berkata begitu, Dewi Siluman berpaling lagi
ke arah Ratu Pemikat dan murid Pendeta Sinting.
"Kalian telah sia-siakan tawaranku! Dengar. Tawaranku ku ubah jadi perintah!"
bentak Dewi Siluman.
Kepalanya kini menghadap ke arah Pendekar 131.
"Pendekar 1311 Serahkan Pedang Tumpul 131 sebagai ganti nyawamu! Serahkan juga
kedua kitab di tanganmu sebagai tebusan jiwa perempuan sundal mu
itu!" Meski hatinya panas mendengar ucapan Dewi Siluman, namun karena tidak
ingin membuat keributan
dan urusan baru, murid Pendeta Sinting menekan ge-
jolak hatinya. Malah dia buru-buru berseru ketika dili-hatnya Ratu Pemikat
angkat kedua tangannya hendak
lepaskan pukulan.
"Tahan! Tidak seharusnya urusan kecil ini diselesaikan dengan saling pukul"
"Bagus!" ujar Dewi Siluman sambil tertawa panjang. "Ternyata kau seorang
pendekar yang tahu har-kat perempuan, meski perempuan cabul!" Kepala Dewi
Siluman bergerak menghadap Ratu Pemikat. "Kau perempuan beruntung! Pendekar mu
rela menebus jiwa-
mu dengan barang yang ku kehendaki!"
Kepala Dewi Siluman kini tengadah. Rangkapan
kedua tangannya dibuka lalu sama diulurkan ke de-
pan membuat sikap meminta.
"Berikan tebusan itu!"
Murid Pendeta Sinting dan Ratu Pemikat saling
pandang. Sebenarnya Ratu Pemikat sudah tidak saba-
ran dan ingin menggebuk perempuan bercadar dan
berjubah hitam di depannya itu. Namun Joko geleng-
kan kepala hingga perempuan berparas cantik itu mau
tak mau tahan niatnya.
Pendekar 131 kedipkan mata memberi isyarat pada
Ratu Pemikat. Sesaat Ratu Pemikat terlihat ragu-ragu, namun begitu melihat Joko
anggukkan kepala, Ratu
Pemikat berkelebat. Saat yang sama, murid Pendeta
Sinting juga gerakkan tubuh berkelebat.
Namun sebelum kedua orang ini benar-benar ber-
kelebat, satu sosok tubuh mendahului berkelebat lak-
sana angin. Dan saat itu juga satu gelombang dahsyat menghampar.
Orang yang berkelebat mendahului gerakan Ratu
Pemikat dan Pendekar 131 bukanlah Dewi Siluman
meski jelas pukulan yang dilancarkannya melesat de-
ras ke arah murid Pendeta Sinting!
SELESAI Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: Rendra
Si Pedang Tumpul 6 Pusaka Golok Iblis Dari Tanah Seberang Seri Pengelana Tangan Sakti Karya Lovelydear Sang Fajar Bersinar Di Bumi Singasari 18
^