Pencarian

Dewi Penyebar Maut X 2

Candika Dewi Penyebar Maut X Bagian 2


"Aku juga belum tahu siapa kau. Dan aku tak ber-
tanya." Si tua duduk di tanah kini. Bersila dalam suatu
sikap doa dan memejamkan mata.
Keheranan Tun Kumala memperhatikannya. Tak la-
ma. Si tua membuka mata dan menggelengkan kepala.
"Tak berguna, tak berguna, tak berguna...," gumam-
nya. "Apa yang tak berguna?" tanya Tun Kumala.
"Aku orang yang gagal...," si tua terus bergumam,
seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Sangat gagal..."
"Maaf, apakah Tuan seorang... guru?" Tun Kumala
ragu-ragu. "Tak ada gunanya. Semua yang ada padaku dulu ha-
nya mirip pakaian. Yang bisa robek. Dan kini aku compang-camping." Tiba-tiba si
tua seakan menggigil. Matanya terbelalak dan seakan dipaksa untuk dipejamkan.
Dan ia pun berteriak-teriak. "Tidak! Aku tak berguna...
aku tak layak jadi manusia... aku tak layak jadi manu-siaaaaaa!" teriakannya
tiba-tiba mengentak dahsyat.
Tun Kumala merasa dadanya bagaikan disodok kekuat-
an dahsyat dan ia menjerit terpental membentur tebing.
Si tua semakin menggila. Mendadak melompat berdi-
ri, pasang kuda-kuda dan dengan gerakan gesit yang
menimbulkan badai ia menendang dan menghantam ki-
ri-kanan. "Jangaaan!" jerit Tun Kumala. Gugup ia berlari
menghindar. Kakinya terantuk batu dan ia tercebur ke dalam kali. Ia tak berani
segera keluar dari kali itu. Si tua seolah mengepungnya dengan pukulan-pukulan
dahsyat dan tendangan hebat. Hawa pukulan bersim-
pang-siur, dan ia terpaksa harus terus menunduk me-
rendamkan kepalanya.
Sekali-sekali ia memang harus megap-megap menge-
luarkan kepala dari air. Dan ia bagaikan tersambar ha-wa panas yang dahsyat
mengepungnya. Ada yang membuatnya lebih terkejut.
Gerakan dan tata gerak orang tua itu. Sangat mirip
dengan tata gerak yang biasa dilatih oleh kakaknya, Ra Sindura.
Heran. Agaknya semua yang memiliki ilmu ini gila, sungut
Tun Kumala saat ia kembali menenggelamkan kepala-
nya. Wanita di hutan itu. Orang tua ini. Dan ya, kakaknya sendiri.
Ia menjulurkan kepalanya lagi.
He. Kok tenang"
Dia makin keluar. Ah, orang tua itu ternyata sedang
terduduk. Dan menangis mengguguk.
Sesaat Tun Kumala diam. Ragu-ragu. Tapi ya. Tak
ada pukulan dahsyat lagi. Hanya suara tangis penuh
penyesalan itu. Perlahan Tun Kumala keluar dari air.
Sesaat ia berdiri dengan badan dan pakaian basah
kuyup di tepi kali. Si tua itu terus menangis mengguguk. Sementara orang yang
tadi dibawa si tua tetap terbaring tak bergerak.
Apa yang terjadi"
Perlahan Tun Kumala melangkah mendekat. Seluruh
bajunya memang basah kuyup hingga kini jelas bentuk
kewanitaannya. Dan ia tak sadar akan hal itu.
Si tua masih menangis mengguguk.
"Tuan... maafkan... jika aku telah membuatmu gu-
sar... tapi aku... aku tak tahu apa salahku..." Tun Kumala semakin mendekat.
"Apa pun salahku... tolong di-maafkan...."
Orang tua itu tetap menangis.
"Katakan apa yang terjadi, Tuan. Tuan telah menye-
lamatkan nyawaku.... Apa saja yang Tuan inginkan pas-ti akan kulakukan demi
membalas budi itu."
"Huh... kau masih anak ingusan... kau tahu apa..."!"
Si tua agaknya sadar kini. Ia berdiri, membelakangi Tun
Kumala. "Coba saja ceritakan.... Paling tidak itu akan meri-
ngankan beban Tuan," Tun Kumala memohon.
"Huh...," orang tua itu mendengus. Dengan kakinya
ia menggulingkan tubuh Jalak Katenggeng di tanah.
"Bangsat-bangsat seperti ini yang merusakkan kehidu-
panku!" Agaknya ia akan berkata sesuatu lagi, tetapi tiba-tiba ia jatuh terguling. Tun
Kumala menjerit terkejut. Ia tahu orang tua itu pasti sangat tangguh dalam ulah
keperwi-raan. Tetapi tergulingnya betul-betul terguling bagai orang yang tak
punya kekuatan apa pun.
"Tuan...," rintihnya perlahan, sesaat termenung ge-
metar dan menggeletar kedinginan. Memang aneh. Tadi
hawa pukulan orang itu memberi wibawa panas dan ki-
ni tiba-tiba hawa dingin begitu menusuk.
"Tuan...," panggilnya lagi, melangkah mendekat,
mendekap dadanya yang basah kuyup juga.
Si tua berpaling. Tampak berat sekali. Wajahnya
yang biasanya menggambarkan welas asih - dan ke-
murkaan waktu ia marah tadi - kini melambangkan ra-
sa terkejut yang amat sangat.
"Jangan mendekat...," bisik si tua, membuat Tun Ku-
mala menghentikan langkah. "Kurang ajar...," desisnya lagi.
"A... ada apa, Tuan?" tanya Tun Kumala.
"Kau tak mengerti... Aku yang setua ini bahkan kena
terperdaya."
"Apa?"
"Sudah kubilang..." Orang itu seakan hendak marah.
Tetapi tak jadi. Ia menghela napas dalam-dalam. Be-
ringsut bersila. Bersandar ke dinding tebing. Memejamkan mata.
Sesaat sunyi di tempat itu. Tun Kumala berdiri ke-
bingungan. Tiga tubuh berdiam diri. Si wanita yang tubuhnya terbalut rapat.
Lelaki kasar dari Pagalan itu.
Dan si orang tua yang agaknya bersemadi.
Apa yang akan dilakukannya" Siapa mereka"
"Dahulu aku adalah seorang ksatria...," tiba-tiba si tua menggumam lemah, seolah
membaca pertanyaan di
benak Tun Kumala. "Dalam tugasku menumpas pembe-
rontakan Wirabhumi... aku terpaksa menumpas keluar-
ga terdekatku... dan aku sangat menyesal.... Waktu
itu... aku rasanya rela ikut membakar diri bersama mereka. Aku dan seluruh
keluargaku sangat menyesal.
Kami rela mengorbankan diri untuk menebus apa yang
telah kami perbuat. Tapi... Sang Ratu tak mengizinkan.
Dan perintah Sang Ratu adalah sabda para dewa. Na-
mun aku memilih mundur dari dunia keksatriaanku...
dan kutemukan guru yang tepat, yang begitu berbudi
menurunkan segala ilmunya...." Si tua mencoba mem-
buat gerakan menghormat. "Kemudian kami hidup ten-
teram... menyingkir dari dunia ramai.... Tapi dewata menghendaki lain..." Di
sini napasnya agak tersengal-sengal dan ia harus memejamkan matanya lama sekali.
Tun Kumala benar-benar bingung. Apa yang dikehen-
daki orang tua ini" Bercerita tentang riwayat hidupnya karena ia akan... mati"
"Tidak... aku takkan mati... dan itulah yang sangat
kusesali...," kembali si orang tua seolah mampu mem-
baca pikiran Tun Kumala. "Jika saja mereka hanya
menghendaki aku dan keluargaku... aku rela. Tetapi
mereka ternyata ingin merongrong Wilwatikta. Dan itu aku tak suka...," suara si
tua bergetar bersemangat.
"Tuan... siapa pun Tuan... agaknya Tuan sangat
mencintai Wilwatikta... seperti aku juga.... Jadi beristi-rahatlah dulu," bujuk
Tun Kumala. "Aku tahu kau mencintai Wilwatikta... hanya aku
pun tahu kau tak ada gunanya," si tua hampir tertawa.
"Seorang wanita muda yang kosong, yang hanya mengi-
kuti keinginan hati, tanpa bisa menimbang kemampuan
diri...." Kata-kata itu terasa pedas di telinga Tun Kumala. "Kau juga keras
kepala... itu aku tahu...." Si tua ter-batuk-batuk.
"Siapakah sebenarnya Tuan?" tanya Tun Kumala
mendekat lagi. "Aku orang yang gagal... aku tak kuasa menahan di-
ri. Aku ingin bangkit membela Wilwatikta lagi. Dengan kekuatan raga! Dan aku
telah mengorbankan sekian banyak muridku. Alih-alih bertobat, aku merasa
kepalang tanggung. Dan akan kutinggalkan ini semua. Untuk
membalas dendam!" Kembali napasnya tersengal-se-
ngal. "Kata-kata itu memang tak sepatutnya keluar dari
mulutku. Tapi sudah begitu jauh aku berdosa."
"Apa sebenarnya yang terjadi?"
"Mereka telah membunuh. Membunuh membabi-
buta. Semua yang ada hubungan keluarga denganku.
Mereka... membunuh... murid-muridku tercinta...," sua-ra si tua hampir menangis.
"Apakah... apakah yang Tuan maksud... Dewi Can-
dika?" tiba-tiba Tun Kumala bertanya.
"Kau cerdas, Gadis."
"Jadi... Tuan pasti... ada hubungan dengan Sang
Bhre Daha?" Selangkah Tun Kumala mundur meng-
hormat. "Benar..." Tiba-tiba si tua membuka mata dan me-
lirik tajam pada Tun Kumala. "Kau sangat terpelajar.
Kuduga kau pasti masih punya hubungan erat dengan
kalangan istana?"
Sesaat Tun Kumala ragu-ragu.
"Aku bisa menduga. Kau mencoba berpakaian seba-
gai orang Melayu. Jadi... mungkin kau memperoleh pa-
kaian itu dari keluarga dekatmu. Sebab kulihat gerak-gerikmu bukanlah orang
pesisir. Itu berarti, orang yang memberimu pakaian itu adalah salah seorang
prajurit yang pernah ikut ke Tumasik. Pasukan terakhir yang
dikirim ke Tumasik adalah pasukan Kuripan. Kau ber-
asal dari Kuripan."
"Oh." Tun Kumala agak terkesan juga oleh tepatnya
tebakan si orang tua. "Tuan... Tuan seorang ksatria...
kemudian... mengundurkan diri dari dunia ramai... kemudian... ah, aku tak bisa
mengikuti kecerdasan Tuan."
"Kau telah menebakku berkeluarga dekat dengan
Bhre Daha. Itu saja sudah hebat." Si tua seakan ter-
senyum. "Ada lagi... nama Tuan... pasti Panembahan Mega-
truh!" tiba-tiba Tun Kumala berkata. Ia ingat gerakan si orang tua tadi yang
mirip gerakan kakaknya. Dan ia
hanya tahu bahwa kakaknya berguru pada seseorang
bernama Panembahan Megatruh. Panembahan itu pas-
tilah setua ini. Dan pasti inilah dia.
Dengan bangga Tun Kumala memandang si orang
tua. Bukannya tidak mengharap pujian.
Tetapi si tua tak memujinya. Ada bayangan senyum
di bibirnya yang pucat. "Kalau aku Sang Panembahan,
Anak goblok... mungkinkah aku berbuat begitu banyak
kesalahan?"
Tun Kumala mengernyitkan kening. Jadi tebakannya
salah. Tapi ia tak suka dikatakan 'goblok'.
"Tapi Sang Panembahan toh manusia juga... sekali
waktu pasti berbuat kesalahan. Bahkan para dewa pun
bisa berbuat salah!" dengusnya gusar.
"Kau tak perlu gusar. Kau juga manusia. Salah tebak
saja tak apa. Tapi... bagaimana kau bisa mengenal na-
ma guruku yang berbudi itu?" Si tua memandang tajam
lewat bulu matanya yang memutih.
"Apakah Tuan tak ingin menebaknya?" tukas Tun
Kumala. "Yang ini agak sulit. Sang Panembahan hampir tak
pernah menampakkan diri. Hampir tak pernah dibica-
rakan orang. Kalau toh beliau punya murid baru... itu aku takkan tahu... karena
sudah kutinggalkan belasan tahun silam." Si tua tampak termenung-menung. "Tapi
kalau kau dari kalangan istana... mungkin juga kau
mendengarnya dari ayahmu atau kakekmu." Si tua
menggelengkan kepala, seolah ingin membuang perca-
kapan tak berguna itu. "Tadi kausebut Dewi Candika.
Dari mana kau tahu?"
"Terjadi bencana di istana Kuripan. Mmmm... Ra-
kryan... Rakryan... Rakryan Rangga tewas.... Kemudian sang permaisuri kedua
juga.... Dan... dan kata orang yang membunuh adalah Dewi Candika...."
"Hm...." Kembali si tua tajam mengawasi Tun Kuma-
la. "Apakah Sang Rakryan atau Sang Dewi ada hu-
bungannya denganmu?"
Tun Kumala kembali tertegun.
"Bagaimana Tuan tahu?" tanyanya akhirnya.
"Getar suaramu tak bisa kausembunyikan, Gadis.
Bahkan aku tahu... entah bagaimana kedua orang itu
sangat kaupikirkan. Entah bagaimana, mereka ada hu-
bungannya.... Apakah Rakryan Rangga itu ayah Sang
Dewi?" "Bukan... bukan...," Tun Kumala tergesa menukas.
Apakah ia bisa mempercayai orang ini"
"Tak usah kau ragu-ragu bercerita padaku, Gadis...
seperti juga aku tak ragu menceritakan ihwalku pada-
mu. Aku merasa percaya padamu.... Dan toh kalau ter-
nyata kau tidak bisa kupercaya... melanggar pantangan
membunuh sekali lagi tak apa-apa lah...."
"Tuan... begitu jauh... meninggalkan... batasan seo-
rang guru?" tanya Tun Kumala ragu.
"Aku memang tak layak diampuni lagi. Jadi... biarlah aku berbuat dosa sebanyak-
banyaknya hingga di peniti-san berikutnya aku akan mendapat hukuman seberat-
beratnya."
"Sebetulnya apa yang telah Tuan lakukan?"
"Aku" Hhh. Apa yang belum kulakukan!" Kembali si
orang tua berwajah masam. "Aku membiarkan murid-
muridku dibantai orang. Aku lari. Aku sembunyi...!" Ti-ba-tiba si tua menangis
lagi. "Maka lebih baik Tuan menebus dosa dengan bang-
kit kembali... dan bukannya berputus asa!" tukas Tun Kumala.
"Anak ingusan! Dengan berbuat itu pun aku juga
berbuat dosa!" Tiba-tiba si tua meringis. "Dan mungkin juga... untuk itu aku tak
mampu." "Tak mampu" Tetapi Tuan begitu sakti!"
"Kau hanya tahu kulit luarnya, Gadis," si tua tampak mengeluh. "Si bangsat yang
mengajarkan ilmu palsu
pada orang ini sungguh jahat. Ternyata ia telah me-
nanamkan racun Kunjana Papa pada muridnya ini. Se-macam daya tolak jika dia,
misalkan, tewas oleh pemilik ilmu yang dijiplaknya. Sungguh jahat...."
"Apakah... apakah berbahaya?" Tun Kumala jadi sa-
ngat khawatir. Sesaat si orang tua terdiam. Seolah menikmati nada
khawatir pada pertanyaan Tun Kumala itu. "Tidak," akhirnya ia menjawab. "Bagiku


Candika Dewi Penyebar Maut X di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sih tidak.... Tapi paling tidak aku harus mengumpulkan kekuatan selama empat
puluh hari untuk bisa pulih... dan itu... itu berarti beberapa pekerjaanku
terbengkalai...." Ia melirik pada wanita yang dibalut dan kemudian pada Jalak
Katenggeng yang rupanya masih pingsan.
"Sedang aku... aku harus segera pulang ke Kuri-
pan.... Harus...," Tun Kumala berkata ragu-ragu.
"Tidak. Kau tak bisa pergi ke mana-mana. Pertama,
kau takkan mampu pergi keluar dari daerah ini. Kedua, jika kau memang
dijebloskan orang kemari, maka kau
akan bertemu dengan orang-orang itu. Ketiga, kau ha-
rus membantu aku," kata si tua.
"Harus?" tanya Tun Kumala heran.
"Sudah kubilang. Aku tak terikat lagi oleh basa-basi kesopanan. Kalau perlu akan
kupaksa kau tinggal di si-ni," sahut si tua bernada keras.
"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Tun Kumala.
"Lalu... apa yang harus kulakukan?"
"Engkau mau?"
"Terpaksa, kan?"
"Baik. Pertama, kauganti pakaianmu. Kau bisa sakit
memakai pakaian basah seperti itu. Lagi pula aneh.
Huh, ada anak perempuan berambut sependek itu.
Sungguh menjijikkan."
"Aku tak membawa ganti...." Tak terasa Tun Kumala
meraba kepalanya. Destarnya entah sudah hilang di
mana. "Di balik batu itu ada buntalan bawaanku. Ada bebe-
rapa kain. Bisa kaupakai sementara pakaianmu kauke-
ringkan." Tun Kumala beberapa saat tak beranjak.
"Apa lagi?"
"Aku belum kenal Tuan...," katanya hampir berbisik.
"Huh... ya..." Si tua tepekur. "Aku dulu guru dengan banyak murid. Kini aku
orang berdosa dengan banyak
dosa. Aku bukan Resi Rhagani lagi. Panggil saja aku
Arhagani. Panggil saja aku 'Paman'. Itu pun jika kau sudi."
"Namaku... namaku Tun Kumala..." Tun Kumala me-
nundukkan muka.
"Pasti bukan nama sebenarnya?"
"Bukan."
"Dan kau akan lari dariku jika ada kesempatan?" Si
tua seakan tersenyum, dan sekali lagi berhasil memba-ca pikiran Tun Kumala.
"Aku merasa diriku hanyalah tawanan Tuan... eh,
Paman," kata Tun Kumala.
"Aku suka anak muda yang suka berterus terang.
Baiklah. Jika kau mau lari, larilah. Tetapi jika sampai ketahuan olehku, akan
kubuntungkan kakimu," kata-kata itu tegas sekali.
"Apa... apa yang akan kita lakukan dengan mereka?"
Tun Kumala menunjuk pada si wanita dibalut dan Ja-
lak Katenggeng.
"Wanita itu... seorang prajurit. Kutemukan di... he, di Kuripan! Mungkin kau
kenal dia?" Matanya bersinar
menyelidik Tun Kumala.
"Jika bungkus mukanya dibuka, mungkin ya." Tun
Kumala mengangguk berterus terang. "Kenapa dia?"
"Itu yang ingin kuketahui. Ia tak sadarkan diri terus.
Ia terkena ilmu simpanan keluarga kerajaan. Jadi ada dua kemungkinan. Mungkin ia
berontak. Mungkin ada
keluarga kerajaan yang berkhianat dan ia memergo-
kinya. Aku sedang berusaha menyembuhkannya." Si
tua yang memang Resi Rhagani itu menggelengkan ke-
pala. "Kuragukan kemampuanku. Dan obat-obatan
yang ada di sini pun tak lengkap."
"Jika aku harus membantu Paman dalam hal obat-
mengobat... kurasa sia-sia.... Aku tak tahu obat-obatan sama sekali."
"Sekali pandang pun orang tahu kau agak tolol," kata Arhagani. "Bukan itu. Kau
hanya akan kuajari suatu
mantra... agar paling tidak kau cukup kuat jika harus melakukan hal-hal yang
berbahaya...."
"Misalnya?"
"Misalnya, mungkin si maling kecil itu berontak...
dan aku sedang harus istirahat... atau... kau harus cari makanan di hutan dan
bertemu dengan harimau... atau
... kau ingin mencoba melarikan diri tapi tak punya il-mu... nah, bukankah
berguna?" "Paman akan mengajariku silat?" tanya Tun Kumala.
"Seperti ilmunya... Panembahan Megatruh?" Tun Kuma-
la tak habis pikir. Mengapa orang ingin mengambilnya sebagai murid" Seperti
wanita tua itu dulu. Orang yang menyebut dirinya Nyai Gadung itu.
"Kaukira mudah" Paling hanya akan kuajarkan be-
berapa cara menendang telak saja. Bagaimana?"
"Dan aku boleh lari jika aku suka?"
"Dan kau boleh lari jika kau suka. Tapi akan kuke-
jar, tentu. Dan pada hakikatnya... kau bukanlah orang yang tegaan."
"Maksud Paman?"
"Aku sedang sakit. Kau takkan tega meninggalkan
aku." "Hm..." Tun Kumala berpikir-pikir. Benar juga. Lagi
pula si tua ini telah menyelamatkan nyawanya.
"Baiklah. Lagi pula, Paman telah menyelamatkan
nyawaku." "Tapi ingat... sekali kau setuju, kau harus jadi mu-
ridku, dan kau harus patuh pada kata-kataku."
"Itu aku tak bisa menjanjikan. Siapa tahu aku Pa-
man suruh mencuri ayam, misalnya. Bukan karena
mencuri itu tak boleh. Tetapi rasanya aku tak akan
mampu melakukannya...."
"Boleh saja...."
"Dan Paman tak perlu tahu tentang asal-usulku?"
"Yang kuketahui sudah cukup. Kau dari keluarga
yang dekat dengan istana. Kau baik hati. Itu sudah cukup bagiku."
"Baiklah. Mulai saat ini Paman boleh menganggapku
murid... yang boleh lari kapan saja."
"Tentu, tentu... dan jangan kaukira sangat mudah
jadi muridku." Si tua agak tersenyum.
"Mengapa?" tanya Tun Kumala heran.
"Kau lihat aku tadi. Pada hakikatnya racun Kunjana Papa membuat orang lupa akan
dirinya. Dia bisa mengamuk. Dia bisa berbuat seperti orang mabuk. Dia bisa tiba-
tiba tidur. Dan banyak lagi." Si tua tampak muram.
"Apakah itu akan terjadi pada diri Paman?" tanya
Tun Kumala khawatir.
"Paling tidak lima hari sekali, Gadis... dan kau harus menjaga agar aku tak
berbuat yang tidak-tidak...."
"Ah... aku... aku..." Tun Kumala kebingungan.
"Kau harus menghitung hari dengan tepat. Jika hari
itu datang... kau harus ikat aku. Ah, ah... kau benar, tali macam mana yang bisa
kuat menahanku" Lebih
baik kau lari bersembunyi saja, Gadis... sejauh-jauhnya... sampai masa itu
lewat. Kau ingat tadi... masa itu takkan lama. Namun, kalau aku mau, aku bisa
melom-pati tebing ini sampai ke ujung atas sana. Jadi me-
nyingkirlah."
"Agaknya Paman sayang juga padaku," sindir Tun
Kumala. "Hanya karena aku harus tergantung padamu, Ga-
dis... lain tidak. Nah, pergi tukar pakaian sana. Dan tu-tupi kepalamu itu.
Sungguh menjijikkan."
Orang tua yang kini menamakan diri Arhagani itu
pun berpaling, berjalan tertatih-tatih ke sebuah celah di dinding tebing.
Dikeluarkannya sebuah buntalan besar.
Dibukanya di tanah. Ternyata isinya berbagai obat-obat-
an. Ia menggelengkan kepala. Kecewa.
Ketika Tun Kumala kembali dengan memakai kain
pertapaan yang dililitkan di seluruh tubuhnya dan kepala diikat selendang,
Arhagani berpaling. Dan tiba-tiba tertawa lepas.
"Kenapa?" tanya Tun Kumala heran.
"Gadis, kau sungguh lucu. Baru kali ini aku tertawa
lepas setelah hampir sekitar tiga puluh tahun aku ter-kungkung oleh tata
kehidupanku. Kau sungguh campur
aduk. Murid pertapa, bukan. Sudra, bukan. Ksatria apa lagi. Pelayan juga bukan.
Gundulmu lucu. Wajahmu
tampan. Tapi kalau orang bertemu denganmu di malam
hari pasti ketakutan. Kau sungguh seperti gandarwa
yang lemah. Bagaimana kalau kupanggil kau Gemut"
Toh aku tak mau keliru memanggilmu pria, padahal
aku tahu kau wanita?"
Gemut memang berarti 'lemah'. Sesaat merah pipi
Tun Kumala mendengar uraian itu. Namun, ya, apa gu-
nanya sebuah nama bagus dalam keadaan seperti ini.
"Baiklah. Gemut namaku. Dan Paman adalah pa-
manku. Nah, apa yang harus kulakukan?"
"Sudah kuramu obat untuk wanita itu. Sedang si ja-
hanam itu sudah kuberi obat pingsan lagi. Kaubuka
pembalut si wanita."
Begitu pembalut muka si wanita dibuka, Tun Kuma-
la, atau kini bernama Gemut, menjerit lemah.
Muka wanita itu bagaikan tertutup seluruhnya de-
ngan ramuan obat-obatan yang sudah meleleh dan me-
nutupi seluruh wajah. Wajah itu sendiri tampak me-
ngerikan. Kulitnya seakan bekas luka bakar. Ketika ra-sa takut Gemut sedikit
menyusut, terpandang olehnya
kalung keprajuritan di leher wanita itu. Hanya satu wanita prajurit yang
pangkatnya setinggi ini.
"Kakangmbok Madri!" serunya perlahan.
"Kau kenal?" tanya Arhagani.
"Ya. Wajahnya memang rusak... tapi kalung ini... ha-
nya satu prajurit wanita di Kuripan yang berhak. Ia Kakangmbok Madri, pengawal
pribadi Gusti Dewi Mali-
ni...." "Apa benar?" Arhagani tampak tertarik. Mendekat.
"Ya. Aku yakin... dia... dia sering..." Tiba-tiba Gemut menutup mulut.
"Aku tahu. Dia sering datang ke rumahmu. Aku bisa
menerka selanjutnya," kata Arhagani.
"Apa?" Gemut mengernyitkan kening.
"Kau pasti punya kakak pria. Dan kakak priamu itu
pasti kekasih Sang Dewi!" Tiada rasa bangga di suara Arhagani waktu menebak ini.
"Tidak!" tukas Gemut gusar.
"Aku pun tak suka itu terjadi, Gemut...." Arhagani
menunduk. "Tetapi itu terjadi. Di mana-mana. Juga di zamanku. Kalau kau ingin
merasa sedikit lega... itu terjadi pula pada diriku. Hingga aku mengundurkan
diri dari dunia ramai."
"Oh, maafkan aku, Paman...." Gemut ikut menun-
duk. "Tak apa. Yang jadi persoalan sekarang... mungkin
agak jelas. Seorang dari kalangan istana telah membunuh Madri. Mungkin untuk
menutup mulutnya."
"Tak mungkin itu Kakang Sindura!" tiba-tiba tercetus nama itu. Dan Gemut
langsung menyesal.
"Itu nama kakakmu?" Arhagani memperhatikan Ge-
mut. "Ya. Begini... Kakang Sindura... dituduh membunuh
sang permaisuri kedua..." Tiba-tiba Gemut menangis te-risak-isak. "Dan...
Kakangmbok Madri adalah saksi
utamanya...."
"Apakah... terus teranglah, mungkinkah kakakmu
yang menyerang Madri ini?" Tiba-tiba Arhagani bersikap bersungguh-sungguh.
"Rasanya tak mungkin. Kakang Sindura langsung
dimasukkan tahanan. Bahkan kami pun tak tahu ia di-
tahan di mana. Biasanya memang dikirim ke Wilwa-
tikta." "Kakakmu itu bisa berhubungan kasih dengan Sang
Dewi. Pasti kedudukan keluargamu tinggi. Mungkin
ayahmu yang membunuh Madri?"
Tiba-tiba tangis Gemut menjadi-jadi.
"Tak usah menangis!" tukas Arhagani. "Tangismu
takkan bisa membetulkan lagi apa yang salah!"
"Bukan... bukan itu yang kutangisi.... Ayahanda...
Ayahanda... adalah Rakryan Rangga... dan beliau... beliau telah tewas bahkan
sebelum Sang Dewi tewas!"
"Oh!" Arhagani mengelus-elus jenggotnya yang putih.
Kali ini tebakannya agaknya keliru semua.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" tanyanya akhirnya.
"Paman tak bisa menebak, kan?" Dalam sedihnya
Gemut masih bisa menggoda Arhagani.
"Aku kan bukan dewa," sahut Arhagani.
"Aku hanya dengar dari Paman Rakryan Mapatih...."
Gemut berhenti sejenak. Oh. Sejak kapan ia telah ber-pisah dengan Rakryan
Mapatih" Pasti sudah lamaaaaa
sekali. "Ramanda Rangga dipanggil ke istana. Dan tewas di jalan.Dan ternyata tak
ada yang memanggil ke istana.
Kemudian... Kakang Sindura menyelidik ke istana. Tak ada yang tahu yang terjadi.
Putra Rakryan Tumenggung diketemukan tewas. Sang Dewi juga tewas. Kakangmbok
Madri menuduh yang menewaskan adalah Ka-
kang Sindura...."
"Hm..." Arhagani mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Aku.... aku kemudian bertekad untuk mencari pem-
bunuh sebenarnya... guna membebaskan Kakang Sin-
dura. Untuk itu kupotong rambutku... yang Paman bi-
lang menjijikkan dan membuatku tampak lemah dan...
tolol" "Hm, tidak, Gemut.... Kau memang masih tampak
lemah dan tolol... tetapi dari ceritamu tadi aku yakin kau adalah gadis yang
cerdas, berani, tabah dan setia.
Katakan padaku... apakah kakakmu dituduh berdasar-
kan tanda-tanda yang ada pada korban-korban?"
"Ya... ya... seingatku demikianlah yang diceritakan
oleh Paman Mapatih." Gemut mengangguk berkali-kali.
"Semua menuduh kakakku karena bahkan luka di tu-
buh Ayahanda adalah khas bekas pukulan kakakku....
Itu sungguh tak masuk di akal, bukan?"
"Kurasa ini memang siasat Dewi Candika. Muridku
yang sangat berbakat, Uttara juga mengalami fitnah
yang sama. Lalu... siapa yang mencelakakan Madri?"
Sementara itu Madri telah hampir terbuka semua,
dan hati-hati Arhagani mengerik bekas obat yang me-
nempel di tubuh wanita itu.
"Tak bisakah ia ditanyai?" tanya Gemut, memperha-
tikan Madri yang masih menutup mata rapat-rapat.
"Coba tanyai dia... mungkin ia percaya padamu," bi-
sik Arhagani.

Candika Dewi Penyebar Maut X di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Aku yakin... Raden Sindura yang membunuh Gusti
Dewi," Madri berkata sangat lemah. "Aku harus meng-
hukumnya...."
"Hukum akan dijatuhkan oleh dewata. Dia yang ber-
salah tak akan bisa lari," kata Arhagani begitu lembut hingga Gemut tercengang.
"Kami tak ingin tahu tentang itu. Kami ingin tahu siapa yang mencelakaimu."
"Itu aku tak tahu...."
"Dia pasti bangsawan tinggi. Di Kuripan mungkin
hanya ada satu-dua orang saja yang punya ilmu ini,"
bisik Arhagani lagi.
"Itu aku tak tahu...."
"Ada dua kemungkinan. Kau sesat hingga harus di-
binasakan. Atau ia yang sesat dan kau memergokinya."
"Itu aku tak tahu...."
"Ini sangat penting. Kau prajurit Wilwatikta. Kau mengerti kepada siapa kau
harus setia," bisik Arhagani la-gi. "Aku tahu. Dan kau tak akan tahu." Madri pun
me- mejamkan matanya lagi.
Arhagani termenung. Menggelengkan kepala.
"Aku punya dua tawanan. Tapi aku tak terbiasa me-
nyiksa orang untuk memeras keterangan dari mereka,"
keluhnya. "Jangan Paman siksa Kakangmbok Madri," dengus
Gemut. "Kalau orang itu sih... boleh Paman potong kakinya sedikit-sedikit sampai
ia ngaku. Aku tak peduli."
Ia memalingkan kepala kepada Jalak Katenggeng.
"Rasanya ia memang punya kedudukan cukup tinggi
hingga perlu dipasangi racun Kunjana Papa." Arhagani mengangguk. "Sudah. Lumuri
tubuh Madri dengan obat
ini. Aku akan mencoba mencari ikan."
"Paman makan ikan?" Gemut heran.
Arhagani tidak menjawab.
5. DI PUNCAK TRANG GALIH
DI PUNCAK bukit Trang Galih. Bukit padas berbatu terjal berbongkah-bongkah
raksasa. Wara Hita berdiri merenungi langit yang membiru di sekelilingnya. Di
ka- kinya hanya batu-batu cadas. Baru kemudian di kejau-
han hutan hijau mulai menghampar.
Ia yang di kalangan keluarga istana mulai ditakuti
sebagai penyebar maut tanpa kenal ampun, saat itu
sangat cantik dan segar dengan pakaian serba biru. Se-
lendang suteranya juga biru melambai perlahan ditiup angin. Seperti juga rambut
hitamnya yang saat itu ter-gerai lepas.
Matanya yang bulat hitam indah mengawasi tajam
sekelilingnya. Tapi ia tak memandang apa pun.
Tiba-tiba saja Nagabisikan telah ada di belakangnya.
Dan seolah bermata di punggungnya, Wara Hita lang-
sung bersimpuh tanpa memalingkan tubuh.
"Kau gelisah, Nanda Ratu," kata Nagabisikan, desis
ucapannya membuat jenggot dan kumis putihnya terbe-
lai. "Hamba gelisah, Guru, karena segalanya tidak sesuai dengan jangka waktu
yang kita tentukan," sahut Wara
Hita. "Aku tahu bukan itu yang kaupikir...." Nagabisikan
melangkah mendekat. "Jadwal waktu itu sendiri se-
sungguhnya masih tepat. Dan kita tak boleh tergesa-
gesa. Dua-tiga tahun kauperlukan untuk mengacaukan
para penguasa hingga mereka tak bisa memerintah
dengan baik. Kemudian kaugebuk mereka dengan pasu-
kanmu yang terlatih. Itu yang jadi rencana kita semula."
"Mohon ampun jika hamba terlalu terburu-buru,
Guru...." Wara Hita tunduk.
"Ilmumu sudah cukup memadai, tapi ada yang telah
mengganggu pikiranmu."
"Banyak yang hamba pikir gagal... misalnya... hi-
langnya pemuda tahanan dari Rahtawu itu."
"Ah. Tara, namanya?"
"Benar, Guru. Seluruh hutan telah kami periksa. Ia
lenyap tak berbekas."
"Dan apa yang kaurisaukan" Mungkin ia jatuh, te-
was dan dimakan harimau."
"Guru juga yang maha mengetahui...."
"Ya. Dan aku tahu bukan itu yang kaupikirkan."
"Apa kiranya itu, Guru?"
"Aku telah mendengar tentang pertemuanmu dengan
seorang pemuda tanah seberang... Tun Kumala."
"Ah. Bibi Wara Huyeng agaknya telah bercerita berle-
bihan." "Mungkin. Tetapi kudengar kau telah memerintah-
kan beberapa orang untuk mencari orang itu."
"Hamba hanya ingin menawannya, Guru."
"Sesungguhnya hatimu yang telah tertawan padanya.
Kau telah bentrok dengannya. Toh kau masih terus
mengingatnya. Dan merindukannya."
"Mohon ampun, Guru...."
"Itu sangat melemahkanmu, Ananda Ratu. Dan itu
bisa jadi halanganmu terbesar kelak."
"Hamba mohon petunjuk, Guru."
"Sudah waktunya Nanda Ratu bergerak lagi. Upacara
di Wengker sudah dekat. Kita akan berangkat ke sana.
Sementara bibimu si Huyeng akan menyebar ketakutan
di ujung timur."
"Baiklah, Guru, segala titah akan hamba junjung."
Wara Hita makin tunduk menyembunyikan perasaan
hatinya. "Kita berangkat nanti malam."
Dan Nagabisikan lenyap secepat ia muncul tadi.
Wara Hita lama termenung-menung.
Betulkah ia masih mengenang Tun Kumala"
Memang. Ia harus akui itu. Pemuda itu memang ti-
dak gagah. Tidak perkasa. Bahkan terlalu gemulai. Tapi justru pada kegemulaian
itu Wara Hita menemukan sesuatu yang tak ada pada pemuda lain. Dan sesuatu
yang sangat menarik hatinya.
Didengarnya suara napas orang yang terengah-engah
memanjat puncak itu.
Wara Huyeng. Lengkap dengan berbagai perhiasan
mencorong. Serta tata rias mencolok.
"Anakmas... melamunkan pemuda seberang lagi?"
tanya Wara Huyeng langsung.
"Bagaimana Bibi bisa tahu?"
"Mudah. Jika Anakmas menyendiri pastilah untuk
menyembunyikan sesuatu. Tetapi kisah asmara jangan
harap lolos dari pandang mata hamba!" Wara Huyeng
tertawa terkikik-kikik.
"Aku memang tak bisa melupakan anak muda itu,"
kata Wara Hita hampir mengeluh.
"Dia memang tampan... tapi bukan pria idaman....
Percayalah, orang macam itu hanya akan mengecewa-
kan dirimu saja. Dia sombong karena tampan. Dia terla-lu tampan untuk jadi pria
sejati. Lebih baik cari yang lain."
"Entah kenapa, walaupun dia sudah menyakiti hati-
ku, dia saja yang kuingat."
"Dia akan sombong padamu. Jual mahal." Wara Hu-
yeng mencibir. "Mungkin," kata Wara Hita lemah.
"Tapi... kenapa bersedih" Cari saja dia. Seret kemari.
Biar nanti kuajari cara bercinta." Wara Huyeng agaknya kasihan juga melihat
wajah Wara Hita.
"Takkan semudah itu...." Wara Hita menengadah,
memperhatikan seekor burung putih yang terbang sen-
diri mengarungi langit biru lepas.
"Kaupikir... wanita tua jelek itu akan menghalangi ki-ta" Huh. Dia memang
sakti." Wara Huyeng memperha-
tikan tubuh Wara Hita. "Tapi... toh Sang Guru berhasil menyembuhkanmu.
Memulihkanmu. Menolak hawa ra-cunnya. Itu saja bukti bahwa Sang Guru sanggup
menghadapinya. Dan Sang Guru sendiri bersabda... wa-
nita itu bukan siapa-siapa... tak perlu ditakuti. Kau-pinta pada Sang Guru untuk
mencarinya."
"Sang Guru tak setuju." Bagaikan perawan pemalu
Wara Hita mempermainkan ujung selendang suteranya.
"Itulah yang kupikirkan, Bibi."
"Gampang. Kita berangkat sendiri!" Wara Huyeng
benar-benar tak tega melihat Wara Hita bersedih.
"Itu pun tak gampang. Aku harus segera berangkat
ke Wengker, ikut mengacau jalannya Upacara Sra-
dha...." "Huh. Senang juga. Maksudku, bagiku... aku tak ta-
han berada di tempat sunyi seperti ini...." Wara Huyeng kebingungan kini.
"Bibi tidak ikut ke sana...."
"Hah?"
"Bibi harus bergerak ke timur. Menyebarkan ketaku-
tan di antara keluarga Wilwatikta." Tiba-tiba mata Wara Hita bersinar saat ia
berpaling memperhatikan Wara
Huyeng. "Apa?" tanya Wara Huyeng heran.
"Bibi bisa mencari pemuda itu!" Wara Hita berkata
tegas tak malu-malu kini. "Hubungi Emban Layarmega
dan anak buahnya. Sebar mata-mata. Bawa dia ke
Wengker bertemu denganku."
"Emban Layarmega sudah terpaksa mundur bersem-
bunyi," kata Wara Huyeng. "Pasukan Kuripan telah
mengobrak-abrik tempatnya."
"Mereka bersembunyi di desa Ketrawa. Di bawah
Gunung Hamba."
"Hm. Jadi itu tugas hamba?"
"Jadi itu tugas Bibi." Wara Hita mengangguk man-
tap. 6. AHIRENG DAN TURI
PUNCAK bukit itu dingin. Sepi. Hijau. Rimbun. Dan di pagi itu mestinya suasana
lebih dingin dan sepi. Tetapi di tanah lapang di antara gerombolan semak-semak
tidak sesepi itu. Bentakan-bentakan gempuran hantam-
an pertempuran terdengar riuh.
Dua orang sedang bertarung.
Seorang pemuda berkulit hitam-legam, hanya me-
makai cawat, bergerak gesit sekali. Langkah-langkah
kakinya hampir tak terlihat, tetapi tubuhnya seakan
melesat ke sana kemari bagaikan terbang dan hanya di-kendalikan pikiran.
Hantaman-hantaman tinjunya juga
membawa wibawa angin dahsyat yang menggetarkan
pepohonan yang berada di sekitar pinggir lapangan.
Lebih mengherankan adalah lawannya.
Ia seorang gadis. Paling tidak bentuk tubuh dan
rambutnya menunjukkan ia seorang gadis. Kulitnya
merah tembaga, tampak jelas karena pakaiannya yang
compang-camping. Dan rambutnya berantakan tak te-
ratur. Gerakannya tampak jauh lebih gesit dari gerakan si pemuda. Tapi jelas
terlihat ia sengaja menghindar terus. Atau, sekali-sekali, bahkan seolah-olah
memasang dirinya untuk menerima hantaman dari si pemuda. Dan
jika itu terjadi, maka tubuhnya seakan terempas keras membentur apa saja yang
kebetulan ada di belakangnya. Begitu dahsyat. Tapi ia bagaikan kebal. Membal
berdiri dan langsung melesat menghindar lagi. Mereka telah bertempur dari sejak
matahari belum terbit tadi. Dan kini matahari telah sedepa di atas kaki langit.
"Tunggu, kita berhenti dulu," tiba-tiba si pemuda
berteriak dan tubuhnya terpental mundur berputar di
udara dan berdiri tegak, tetap teguh dalam kuda-kuda.
Si wanita langsung berhenti. Begitu saja. Dan tak
terlihat napasnya terengah-engah sedikit pun walaupun gerakan sebelumnya adalah
gerakan yang sangat cepat.
"Kau hebat... istirahatlah." Si pemuda bersila bersemadi, menghirup udara dalam-
dalam. Seluruh tubuh-
nya berkeringat berkilauan dan seakan ikut mengisap
apa saja. Si wanita hanya memperhatikannya. Kemudian ber-
jalan ke bawah sebatang pohon besar. Dari balik batang pohon yang sangat besar
itu muncul seorang lelaki tua membawa sebuah kendi.
"Jingga, kau mau minum?" tanya orang tua itu.
Si wanita hanya memandangnya. Muka dan seluruh
tubuhnya memang berwarna merah jingga dan aneh
serta seram. Namun matanya begitu bening dan tajam.
Sementara raut muka dan tubuhnya sesungguhnya me-
nunjukkan kecantikan.
"Aku hanya menawarimu minum," si tua bersungut,
surut mundur ketakutan oleh pandang tajam itu.
"Turi, kau minumlah...." Si pemuda sementara itu te-
lah mengorak sila dan berdiri.
Wanita itu, yang dipanggil 'Jingga' karena kulitnya, memang Turi - murid Padepokan
Rahtawu yang telah
begitu banyak mengalami penderitaan. Ia terjeblos jadi anak buah Emban
Layarmega. Ia dijebloskan ke Sumur
Hitam. Ia bertarung dengan ular raksasa, Ki Gong. Ia menyerap darah ular
tersebut hingga makin hari kulitnya makin merah. Dan kemudian ia telah diambil
oleh si Buyut - wanita penuh rahasia yang bercita-cita mengangkat muridnya ke tahta
Wilwatikta. Ahireng, sang
murid, memang harus menyerap ilmu simpanan keluar-
ga kerajaan, Wajraprayaga, dan salah satu caranya adalah menggebuki Turi yang
telah menyerap semua darah
Ki Gong. Dengan cara itu memang setiap saat Ahireng
memperoleh imbasan ilmu tersebut.
Namun ada yang tidak diketahui si Buyut. Turi telah
mempelajari ilmu Coban Saleksa. Apa pun yang terjadi di sekelilingnya secara
serta-merta tercatat. Dan dise-rap.
Turi masih tampak tolol dan mengibakan hati. Na-
mun kekuatannya pun semakin bertambah. Hanya ka-
rena ilmu simpanan Emban Layarmega-lah maka ia
masih tak mampu menggunakan kehebatannya itu.
Turi tertegun mendengar sapaan Ahireng. Suara Ahi-
reng baginya selalu terdengar begitu sejuk. Lembut. Tidak seperti suara orang-
orang lain yang seakan selalu menghardik dan mengejeknya. Tetapi ia tetap diam
di tempatnya. Ahireng mengambil kendi dari tangan si pelayan tua.
Dan mengulurkannya pada Turi.
"Minumlah," katanya. Dan sengaja kendi itu dilun-
curkannya dengan dorongan tenaga dari telapak ta-
ngannya. Turi seakan tak bergerak. Tetapi sesungguhnya jari
tangannya menyentil. Dan kendi tersebut naik. Tepat
berhenti di depan mulutnya, menukik dan mengucur-
kan air.

Candika Dewi Penyebar Maut X di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Turi minum dengan puas. Dan membiarkan kendi
tersebut jatuh pecah berantakan di tanah.
Ahireng tak mempedulikan itu. Memang setiap kali
begitu. Dan si pelayan tua memang membawa beberapa
kendi. Ia duduk di bawah pohon. Dengan pedang hitamnya
ia membuat beberapa goresan di tanah. Turi datang
mendekat. "Kita main 'catur', Turi. Kau ambil batu, aku potong-an kayu," kata Ahireng.
Turi mengangguk. Matanya yang indah di muka me-
rah itu seakan bersinar gembira sesaat. Ia memang su-
ka permainan ini. Permainan apa saja. Dan Ahireng ta-hu benar sifat Turi kini.
Turi seakan kembali menjadi anak kecil. Bermain merupakan hadiah yang sangat di-
dambakannya. Bukan makan. Bukan minum. Bukan
beristirahat. "Aku pun senang bermain denganmu, Turi," kata
Ahireng. "Kalau kalah kau tak marah, kalau menang
kau tak mengejekku. Dan biar aku curang pun kau tak
mengeluh. Kalau saja adikku seperti kau..." Tiba-tiba Ahireng tertegun. Ia
memang terbiasa berbicara sendiri sepeninggal si Buyut. Turi tak pernah
bersuara. "Tidak... adikku tak akan seperti kau. Dia cantik. Dia sakti. Walaupun dia juga
hitam. Kau jelek. Dan merah...."
Turi menjalankan buah caturnya.
Sembarangan Ahireng juga menjalankan buah catur-
nya. "Entah... apakah ia mau mengakuiku sebagai kakak-
nya. Tapi, dia harus. Suatu saat kelak aku akan jadi ra-ja. Dan dia
kuperintahkan untuk mengakuiku sebagai
kakaknya."
Turi menjalankan buah caturnya lagi.
Ahireng berpikir sejenak.
"Ya. Jika aku jadi raja, tak jadi soal apakah aku hitam atau jelek. Aku akan
punya permaisuri cantik. Hh.
Dulu kau juga cantik, Turi... sewaktu di rumah Emban Layarmega. Kau ingat" Dan
kau baik hati padaku...."
Turi seakan tak memperhatikan kata-kata Ahireng,
ia lebih memperhatikan gerakan catur pemuda itu. Dan menjawabnya.
"Tapi... jika aku jadi raja... aku hanya ingin punya permaisuri..." Ahireng
tiba-tiba tertegun. Sekilas ia melihat sesaat Turi seakan tertarik pada kata-
katanya. Dan mata hitam indah itu seakan bersinar. Betulkah" Sulit
untuk membuat Turi tertarik pada sesuatu. Mengajak-
nya bermain adalah salah satu temuannya. Apakah ada
hal lain yang menarik perhatian Turi" Mungkinkah ga-
dis ini... cemburu"
"Aku ingin punya permaisuri secantik... secantik
Buyut...," Ahireng sengaja berkata. Dan memang kata-
kata itu keluar dari hatinya. Ia tak pernah tahu bagaimana bentuk tubuh atau
wajah si Buyut yang menjadi
gurunya. Tapi entah kenapa setiap kali ia semakin rin-du pada sang guru. Dan
juga ia bisa melihat bahwa tangan-tangan Turi gemetar. Mungkinkah ia memang
cemburu" "Si Buyut entah ke mana saja pergi. Kaupikir sudah
berapa lama ia pergi, Turi?" tanya Ahireng menggoda.
Turi tak menjawab. Sekilas ia hampir terlihat meng-
gigit bibir bawahnya, seolah menahan hati. Ini permainan baru bagi Ahireng.
Mungkin ia bisa mempermain-
kan Turi lebih jauh.
"Kau tahu tidak, Turi... di balik kerudung dan pa-
kaian yang menutupi dirinya, si Buyut pastilah sangat cantik. Bahkan walaupun
sudah tua, namun beliau
pasti jauh lebih cantik darimu saat kau cantik dulu!
Nah, apa lagi yang kucari" Sang Buyut sakti. Pandai.
Cantik. Bukankah sangat tepat jadi permaisuriku ke-
lak" Sementara kau... mungkin masih terus jadi umpan pukulan tukang pukul kami,
hi hi hi hi...." Ahireng
menjalankan buah catur sambil melirik Turi.
Turi masih menggigit bibir. Membalas gerakan tadi.
"Kami akan menjadi raja dan ratu bagaikan Kama-
jaya dan Kamaratih! Bagaikan dewa dan dewi dari ka-
yangan. Tak apalah dewanya agak hitam sedikit. Tapi
dewinya begitu cantik, apa bisa dikatakan orang?"
Tiba-tiba Turi mengentak berdiri. Matanya yang hi-
tam memancar marah. Ia mengentakkan kaki. Agaknya
pujian terus-menerus pada si Buyut tak tertahan lagi olehnya.
"Kenapa, Turi?" Ahireng tertawa, masih juga duduk.
"Kau tak mungkin menang atau... hei, kau iri karena
aku memuji-muji kecantikan Sang Buyut?"
"Hhh!" Baru kali ini Turi bersuara. Ia mengentakkan
kaki lagi dan pergi meninggalkan Ahireng.
"Hei, Turi, kembalilah. Ini adalah kenyataan. Sang
Buyut lebih cantik dari kamu. Kenapa kamu harus iri?"
Ahireng berteriak, makin senang menggoda.
Ia tertegun. Tiba-tiba saja Turi lenyap.
Ia saat itu sudah tahu, Turi punya ilmu gerak lari
yang sangat ajaib. Mungkin yang dibilang gurunya Sura-Caya. Ia pun sudah selalu
berusaha menirukannya. Ta-pi sejauh itu mungkin ia hanya bisa meniru kulitnya.
Sedang ilmu murninya... seperti barusan. Tiba-tiba lenyap!
"Hei, Turi! Kembali!" teriak Ahireng berdiri. Setelah berhari-hari mengajaknya
'berlatih', Turi sesungguhnya tak perlu dijaga lagi. Tak pernah pergi
meninggalkan sanggar di gunung terpencil itu. Bahkan sekali-sekali Turi pergi
sendiri. Namun selalu kembali. Memang daerah di sekitar itu hanya hutan rimba.
Tapi kali ini Ahireng khawatir juga.
"Turi! Ayo kembali. Kita teruskan catur ini!" teriaknya. Tak ada jawaban.
"Ini rajamu sudah tersudut. Satu langkah lagi pasti
keok!" teriak Ahireng lagi.
Tak ada jawaban.
"Ayo, cepat... kita mulai lagi, ya... aku korbankan tiga anak buah dulu...."
Tetap tak ada jawaban.
Ahireng gelisah. Ia berpaling pada pelayan tua yang
setia menungguinya.
"Kek. Kaulihat ke mana dia pergi tadi?" tanyanya.
Si kakek menggelengkan kepala.
"Sialan. TURIIIII!" teriak Ahireng mengerahkan sua-
ranya. Kemudian tubuhnya melesat. Cepat sekali me-
nembus pepohonan rimba dan memotong beberapa ja-
lan setapak yang biasa mereka lewati jika pergi dari sanggar ke tempat ini. Tak
ada tanda-tanda keberadaan Turi.
"TURIIII!" ia berteriak, berdiri di atas sebatang dahan pohon raksasa.
Tak ada jawaban.
Ahireng melompat turun dan berlari ke lapangan ke-
cil tempat mereka berlatih tadi. Si pelayan tua sedang bersandar ke pohon dan
terkantuk-kantuk. Maklum. Ia
pun harus berangkat ke tempat itu sejak hari gelap tadi.
"Kek! Turi kembali?" bentak Ahireng.
"Tidak itu!" Si kakek terkejut terbangun.
"TURIIII!" teriak Ahireng.
Hanya gemanya sayup-sayup terdengar jauh.
"Celaka," keluh Ahireng. Ia tak mengerti. Masa per-
soalan seperti itu saja membuat Turi begitu marah" Padahal biasanya dimaki-maki
dan dibentak-bentak seper-ti apa pun dia diam saja.
"TURIIIII!" Tak ada jawaban. Ahireng berpaling lagi
pada si kakek. "Aku akan ke sanggar. Kauikuti perlahan-lahan. Dan
lihat-lihat, ya" Kalau kaulihat Turi, bujuk dia pulang!"
"Kkkalau ketemu macan?" tanya si kakek ketakutan.
"Sungguh untung kau bisa dimakannya!" sahut Ahi-
reng geram. Dan ia melesat pergi.
Ke mana Turi pergi" Mungkinkah ke sendang di atas
gunung itu" Ya. Di sana ada sumber air panas. Turi
memang sering berendam di sana. Dan sesaat pikiran
Ahireng teringat pada seorang gadis yang dipergokinya
sedang berendam di sendang air panas itu. Cepat ia berlari, bahkan berkali-kali
harus melompat melesat melewati dahan-dahan pepohonan raksasa.
Beberapa saat ia sudah tiba di tempat itu. Di sini
hawa agak hangat dan tumbuh bunga-bunga liar ber-
warna cerah. Turi senang main dengan bunga-bunga
itu. Tetapi kini tak ada seorang pun di situ.
"TURIIIII!" teriaknya lagi.
Tak ada jawaban. Gila!
Betapa cepatnya lari gadis itu hingga sekilas saja ia tak bisa mencari jejaknya"
Apakah Turi menyembunyikan kesaktiannya yang asli" Mereka memang biasa ber-
kejaran, tetapi Ahireng tak pernah benar-benar sampai tertinggal.
Atau... mungkinkah karena daya amarah yang amat
sangat membuat Turi memperoleh kekuatan yang luar
biasa dahsyat" Hingga mampu berbuat lebih dari bi-
asanya" He. Kalau benar itu... apakah Turi cemburu" Turi
cemburu" Apakah sesungguhnya diam-diam Turi me-
nyukainya" Kalau saja dalam keadaan biasa, mungkin
Ahireng akan tertawa. Sungguh lucu jika gadis merah
itu menyukai pemuda yang sehitam dia.
Tapi kemungkinan itu memang ada.
Ahireng berlari menuruni gunung lagi. Ke tempat
mereka tadi berlatih.
Dilihatnya si kakek sedang duduk di tengah lapang-
an. Tampaknya kebingungan.
"Hei, kau belum juga pergi?" hardik Ahireng.
"Takut kalau bertemu macan, Den," kata si kakek
gemetar. "Kau tahu di sini tak ada macan!" tukas Ahireng.
"Tapi tadi waktu kutanya, Raden bilang ada," si ka-
kek bingung. "Tolol. Aku hanya bercanda." Dan Ahireng tertegun
lagi. Mungkin ia tadi memang bercanda. Tapi Turi
menganggapnya ia berkata sebenarnya.
"TURIIII! AKU HANYA BERCANDAAAAA!" teriaknya.
"Hamba rasa Turi tidak takut pada macan, jadi tak
penting baginya Tuan bercanda atau tidak," kata si kakek.
"Aku bukan bicara tentang itu!" tukas Ahireng.
"Lagi pula waktu Tuan bicara tentang macan, si Jing-
ga itu telah pergi!" kata si kakek lagi.
"Diam!" bentak Ahireng. "Kau cepat berangkat sana!"
Ahireng melompat ke atas dahan pohon. Berteriak
lagi, "TURIIIIIII! AKU HANYA BERCANDAAAAAA! ENG-
KAU TIDAK JELEEEEEK!"
Ia ingat kata-katanya tadi tentang si Buyut. "KAU
TIDAK LEBIH JELEK DARI SANG BUYUUUUUT! PU-
LANGLAH! DAN BANDINGKAN... SANG BUYUT PASTI
JAUH LEBIH JELEK DARIMUUUUU!!!"
"Bagaimana kau bisa tahu?" tiba-tiba terdengar sua-
ra lembut di sampingnya.
Ahireng terkejut. Apakah itu tadi suara Turi" Ia tak pernah dengar Turi
berbicara. Ia memilih pura-pura tak mendengar. Ia melompat
turun ke tanah.
Si kakek masih di tengah lapangan.
"Kau lihat Turi, Kek?" Ahireng memperkeras sua-
ranya. "Mungkin sudah dimakan macan," sungut si kakek.
"Sesungguhnya ia itu cantik sekali. Coba kalau se-
ring mandi. Mungkin warna merahnya bisa hilang," kata Ahireng lagi sambil terus
memasang telinga. Ia yakin ada seseorang di dekat mereka. "Kalau tampak wajah
aslinya, mana mungkin Sang Buyut bisa bertanding ke-
cantikan dengannya?"
"Apakah kau telah pernah melihat wajah Sang
Buyut?" suara lembut itu terdengar begitu dekat.
"Tentu, dulu waktu..." Ahireng berpaling dan ter-
tegun. Di hadapannya berdiri gurunya. Sang Buyut!
Bersambung ke jilid 11.
Scan/Edit: Clickers
PDF: Abu Keisel
https://www.facebook.com/pages/Dunia-
Abu-Keisel/511652568860978
Document Outline
CANDIKA: DEWI PENYEBAR MAUT-10
1. ROTA DAN ROGA
2. PERANG TANDING
3. PANEMBAHAN MEGATRUH
4. DI DASAR KALI PUTIH
5. DI PUNCAK TRANG GALIH
6. AHIRENG DAN TURI
Misteri Rumah Berdarah 8 Pertempuran Di Lembah Bunga Hay Tong Karya Okt Dendam Empu Bharada 23
^