Pencarian

Kemelut Di Pulau Aru 1

Jaka Sembung 16 Kemelut Di Pulau Aru Bagian 1


KEMELUT DI PULAU ARU Karya Djair Warni
Serial Jaka Sembung
Cover Oleh: Djair
Alih Versi Oleh: Danny Situmenang
Jakarta, 1991; cet. Ke-1
Penerbit Sarana Karya, Jakarta
SK 91-85S, 128 hlm; 11 x 18 cm
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit
Ini adalah kisah fiktif. Persamaan nama tokoh, tempat atau pun peristiwa
hanyalah kebetulan belaka
https://www.facebook.com/pages/Dunia-
Abu-Keisel/511652568860978
1 Istana kepala suku Pampani di Kepulauan Aru,
malam itu tampak sepi. Jauh lebih sepi dari biasanya.
Bukan karena para penjaga tidur semua, bahkan ma-
lam itu jumlahnya ditambah hampir dua kali lipat. Tidak hanya di dalam, tetapi
juga di luar istana penjagaan sangat rapat, sehingga rasanya hanya setan atau
siluman saja yang bisa masuk tanpa diketahui.
Akan tetapi karena kerajaan yang dipimpin oleh
Pampani saat ini sedang terancam oleh musuh, di an-
tara para penjaga tidak ada yang berani buka suara.
Semua menunggu dengan perasaan tegang sambil
memasang telinga baik-baik. Demikian juga halnya
penjaga di menara, tak pernah lalai menunaikan tu-
gasnya. Beberapa pengawas kepala berjalan hilir mu-
dik untuk memeriksa semua anak buahnya kalau-
kalau ada yang tertidur.
Pihak musuh tidak mustahil datang menyerbu
secara tiba-tiba. Apalagi karena pihak musuh diketa-
hui sangat kuat dan memiliki ilmu hitam yang sangat
jahat. Menurut desas desus, musuh mereka selain bisa menguasai pikiran seseorang
dengan ilmu sihirnya, ju-ga dapat menghilang bagaikan angin. Jadi pagar tinggi
yang mengelilingi istana belumlah cukup sebagai per-tahanan.
Demikian hebatnya ilmu sihir tokoh sesat Wo-
mere dari Pulau Kolepom yang menjadi tangan kanan
Wan-Da-I, sehingga pendekar gagah perkasa seperti
Wori dapat pula dikuasai. Dua orang bangsa berkulit
putih yang hendak melakukan penelitian di Kepulauan
Aru, juga sudah menjadi tawanan Wan-Da-I. Selain
itu, Wan-Da-I sudah mulai pula menjalin hubungan
kerja sama dengan pihak Belanda. Selangkah lagi, Ke-
rajaan Pampani tentu akan hancur. Demikianlah ren-
cana dan keyakinan musuh!
Malam semakin larut. Putri Nomina dan putranya
yang masih bayi sedang tidur pulas di dalam kamar
yang bersebelahan dengan kamar suami istri Umang
dan Mirah. Suami istri yang dikenal sebagai pendekar sakti dari Pulau Jawa itu
sudah tidur lelap pula, tampaknya siang tadi mereka kelelahan. Suara dengkur si
Lengan Tung-gal Umang terdengar lebih keras sehingga terdengar sampai ke luar
kamar. Lain dengan is-
trinya yang tidur dengan desah nafas halus.
Menjelang tengah malam, Mirah tampak mengge-
liat-geliat. Tidak lama kemudian wanita muda itu terbangun sambil mengusap-usap
kedua matanya. Tanpa
menimbulkan suara mencurigakan, ia duduk dan
memperhatikan suaminya. Umang masih tidur lelap. Ia
menghela nafas lega lalu berjalan berjingkat-jingkat memperhatikan keadaan di
sekeliling kamar. Tampaknya aman-aman saja, maka ia pun segera ke luar dan
menutup pintu kamar kembali.
Di bawah sinar penerangan lampu teplok yang
tergantung di dinding, tampak sepasang mata wanita
itu memancarkan sinar aneh, tajam dan dingin dan
kadang-kadang tampak melotot namun tanpa sinar
sehingga tak ubahnya mata seseorang yang mati pera-
saan. Jarang sekali mata yang sebetulnya indah itu
berkedip. Seandainya ada penjaga yang melihatnya,
pastilah akan bergidik ngeri.
Tidak ada yang tahu kenapa sinar mata Mirah
yang biasanya cerah ceria itu tampak menjadi lain pa-da malam itu. Tak ada pula
yang tahu apa maksudnya
ke luar dari istana dengan cara mengendap-endap. Si-
nar matanya menatap liar, dan sadarlah ia bahwa pen-
jagaan sangat ketat. Akan sukarlah bagi orang-orang
biasa untuk keluar tanpa diketahui penjaga. Tetapi
bagi Mirah yang memiliki ilmu silat yang tinggi, hal itu tidaklah masalah
serius. Ia menahan nafas sambil menunggu para laskar agak lengah. Lalu tanpa
menim- bulkan suara mencurigakan, tubuhnya mencelat ba-
gaikan terbang meloncati pagar. Luar biasa cepat dan ringannya gerakan wanita
itu, sehingga dalam sekejap saja sudah berada di luar istana tanpa diketahui
siapapun juga. Tubuh Mirah kemudian berkelebatan meloncati
tebing-tebing bukit cadas menuju ke arah pantai.
Rembulan malam itu sedang bersinar remang-remang,
sehingga tubuh Mirah tampak hanya bayang-bayang
saja. Seandainya dilihat penduduk tentu akan mengi-
ranya setan yang sedang gen-tayangan mencari mang-
sa. Hanya dalam waktu yang singkat, Mirah akhirnya
sampai di atas tebing di pinggir pantai Laut Arafuru.
Dinding tebing itu sangat terjal bahkan agak condong ke depan, sehingga kalau
misalnya ada yang tergelin-cir, tubuhnya pasti langsung tercebur ke laut. Ting-
ginya hampir sepuluh meter.
Cukup lama juga Mirah berdiri tegak bagaikan
patung di atas tebing itu. Sepasang matanya yang
mencorong aneh menatap ke bawah, memperhatikan
sesosok tubuh yang sedang bersemadi di dalam air
laut. Di bawah siraman sinar rembulan, tampak sa-
mar-samar ombak laut datang bergulung-gulung me-
nerjang tubuh laki-laki itu. Tetapi tak sedikit pun tubuh itu bergoyang,
pertanda bahwa ia bukanlah orang
sembarangan. Si Gila Dari Muara Bondet sendirilah yang ber-
semadi di dalam air laut, di dekat tebing itu. Seperti hari-hari sebelumnya,
lelaki itu sekarang pun tampak benar-benar terlena dalam semadinya sehingga
seperti tidak memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Ada
dua tujuan utama Karta melakukan semadi seperti itu.
Pertama untuk menghimpun tenaga sekaligus me-
nyembuhkan luka-luka yang dideritanya, karena da-
lam suatu pertarungan melawan Wori belum lama ini,
ia menerima pukulan yang cukup telak. Tujuan kedua
adalah untuk mengawasi keadaan di sekitar laut, ka-
rena besar sekali kemungkinan pihak musuh akan
berkeliaran di laut.
"Karta!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita menye-
but nama si Gila Dari Muara Bondet. Suara yang cu-
kup halus, tetapi karena disertai pengerahan tenaga
dalam, suara itu dapat menembus gemuruh air laut,
menembus anak telinga Karta. Ia tersentak dari sema-
dinya dan segera mengenal suara itu. Mirah, pikirnya.
Ketika ia berpaling ke atas tebing, tampaklah olehnya wanita itu sedang berdiri
tegak seraya menatap ke
arahnya. Ada apa gerangan sehingga malam-malam begini
Mirah menemuinya ke laut" Mungkin telah terjadi se-
suatu yang luar biasa, karena kalau tidak demikian,
tidak mungkin istri sahabatnya itu menemuinya. Maka
Karta pun meloncat dari laut, bagaikan terbang saja
layaknya tubuh pendekar itu mencelat ke atas tebing
dan sempat bersalto di udara dengan gerakan yang
sangat cepat dan mengagumkan. Dengan sangat rin-
gannya, kedua kaki Karta mendarat di hadapan Mirah.
"Mirah, apa yang sedang terjadi sehingga kau
menemuiku ke sini" Apakah telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?"
Mirah tidak segera menjawab. Sepasang matanya
semakin tajam menatap wajah Karta.
"Kenapa kau diam saja, Mirah" Bagaimana kea-
daan di istana" Apa yang terjadi terhadap anak dan istriku maupun teman-teman
kita yang lain?"
"Ah, Karta!" Mirah berdesah dengan suara lirih, sehingga membuat Karta semakin
khawatir karena
mengira Mirah merasa ragu-ragu menjelaskan keadaan
yang sebenarnya.
"Mirah, cepatlah katakan apa yang sedang terja-
di!" "Tidak sesuatu pun terjadi!"
Karta mengerutkan kening. Kalau tidak sesuatu
pun terjadi, kenapa Mirah menemuinya" Jangan-
jangan Mirah belum mau menceritakan keadaan yang
sebenarnya. Akan tetapi melihat wajah Mirah yang
tampak biasa-biasa saja, Karta pun dapat menduga
bahwa ucapan wanita itu benar adanya.
"Lalu kenapa kau datang ke sini?" tanya Karta heran.
"Aku sendiri bingung. Tapi.....dalam keadaan basah seperti ini, kau tampak lebih
gagah dan tampan..."
"Oh, Mirah!" Karta mengeluh karena mengira Mirah hanya sekedar bercanda. Kalau
dalam keadaan bi-
asa saja, mungkin ia tidak akan perduli Mirah bercan-da. Tetapi dalam keadaan
seperti sekarang ini hati siapa yang tidak kesal kalau ditemui hanya untuk
menga- takan gagah dan tampan"
"Karta!" Mirah kembali berdesis lirih dan tanpa diduga-duga ia mendekap Karta.
Kedua tangannya me-lingkar di dada Karta erat-erat. Wajahnya ditempelkan
sehingga nafasnya yang memburu terasa oleh Karta.
Bukan main terkejutnya Karta melihat sikap Mi-
rah itu. Pelukan dan ciuman itu bukanlah perbuatan
yang biasa-biasa saja. Apalagi ketika tangan Mirah
mengusap-usap dadanya, terasa jemari tangan itu ge-
metaran. Dan dada yang lembut serta hangat itu oh,
telah menempel pula. Seandainya Karta bukanlah seo-
rang pendekar sakti, bisa jadi karena sangat terkejut akan mendorong tubuh Mirah
sampai terlempar. Teta-
pi dengan ketabahan luar biasa, ia mencekal lengan
wanita itu dan dengan halus mendorongnya.
"Mirah, ada apakah sebenarnya" Kenapa sikap-
mu jadi begini?"
"Aku... aku.... oh, Karta!" Mirah tidak mampu meneruskan kata-katanya. Tiba-tiba
ia kembali memeluk tubuh Karta dan berusaha mendekapnya lebih erat
lagi. Tetapi setelah menepiskan tangan Mirah, Karta
menggeser kakinya ke kiri, sehingga tubuh wanita itu hampir terjatuh.
Berdebar jantung si Gila Dari Muara Bondet keti-
ka memperhatikan sinar mata Mirah. Terasa sangat
aneh dan sulit dimengerti maknanya. Namun nalu-
rinya membisikkan bahwa wanita cantik di hadapan-
nya itu sedang dirasuk sesuatu yang sangat kuat.
Mungkin gejolak nafsu birahi yang tak terkendalikan
atau ada yang lainnya. Hal itu pula yang membuat
Karta semakin kebingungan, sebab selama ini Mirah
tak pernah bersikap seperti itu padanya. Bahkan ke-
duanya sudah seperti saudara saja. Lalu kenapa sikap Mirah sekarang jadi seperti
itu" "Akh...!" Tiba-tiba Karta berseru tertahan ketika menyadari bahwa Mirah sudah
memeluknya kembali.
Sikap wanita itu bahkan terasa lebih bernafsu lagi dan tampak beringas. Karta
mendorong Mirah dengan halus, tetapi tanpa disangka-sangka Mirah pun mendo-
rongnya kuat sekali. Akibatnya tubuhnya terdorong
sampai ke pinggir tebing itu. Si Gila boleh merupakan seorang pendekar sakti
yang selalu disegani lawan
maupun kawan, bahkan boleh dikatakan mendengar
namanya saja lawan sudah gentar. Akan tetapi meng-
hadapi keadaan seperti itu, ia menjadi gugup juga.
Bersikap kasar terhadap Mirah rasanya tidak mungkin
dan tidak sampai hati dia, tetapi ia pun tak ingin dipe-luk terus-terusan
seperti itu. Maka ia pun mendorong
Mirah dengan harapan istri sahabatnya itu segera me-
nyadari sikapnya yang tidak baik.
Akan tetapi Mirah tampaknya benar-benar sudah
kesetanan. Ketika Karta mendorongnya, ia pun mem-
balas mendorong bahkan lebih kuat lagi sehingga lela-ki itu terpaksa mundur.
"Mirah jangan...!" Tiba-tiba Karta berteriak kaget karena tubuhnya terjatuh dari
pinggir tebing. Karena tadi Mirah memeluknya erat-erat, tubuh wanita itu
pun ikut terjatuh. Keduanya melayang ke laut dalam
keadaan masih berpelukan.
"Byuuuur!"
Tubuh mereka tercebur ke laut. Untung air di
tempat itu cukup dalam sehingga keduanya tidak
mengalami luka-luka. Setelah berada di air, Mirah
tampak semakin ganas. Ia bukan hanya memeluk Kar-
ta tetapi kedua kakinya pun mengepit pinggang lelaki itu. Tentu saja Karta
semakin kesal. Sikap Mirah itu sudah keterlaluan dan tidak dapat dibiarkan lagi.
Di-dorongnya lagi sekuat tenaga sehingga tubuh Mirah
terlempar. Lalu secepat kilat, Karta meloncat dari dalam air dan tubuhnya
melayang bagaikan terbang ke
atas tebing. Tetapi Mirah pun berbuat hal yang sama, sehingga keduanya kembali
berhadapan di atas tebing
dalam keadaan basah kuyup.
"Mirah! Apa yang kau lakukan ini" Kau.... kau
kesurupan setan rupanya. Ingat, Mirah! Kau adalah istri Umang. Sadarlah!"
Mirah tidak menyahut. Tetapi bibirnya yang me-
rah tipis itu mengulum senyum yang sangat menan-
tang. Lalu tanpa diduga-duga, ia membuka pakaian
yang melekat di tubuhnya. Karta terkejut dan buru-
buru memalingkan wajahnya. Cukup lama keduanya
membisu dan Karta masih membelakangi Mirah.
"Karta!"
Karta membalikkan badan. Sepasang matanya ti-
ba-tiba terbelalak lebar, mulutnya menganga. Ternyata Mirah sudah dalam keadaan
telanjang bulat. Tanpa
sadar, Karta melangkah mundur.
"Karta, apa aku tidak secantik Nomina" Apa aku
tak secantik Ranti istrimu yang kau tinggal di Pulau Jawa" Tataplah tubuhku,
Karta. Kau adalah laki-laki perkasa dan sekarang aku akan menyerahkan segala-
galanya untukmu!" kata Mirah dengan suara terengah-engah.
"Ya. Tuhan!" Karta berkata seperti orang sedang mengigau, "Kenapa kau bersikap


Jaka Sembung 16 Kemelut Di Pulau Aru di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seperti orang jalanan, Mirah" Ingat suamimu. Ia sangat mencintaimu. Sadar,
Mirah!" Karta memperhatikan wajah Mirah yang tiba-tiba
tampak murung. Wajah itu sebetulnya sangat cantik
dengan raut wajah yang bulat telur. Kulit putih halus dengan sepasang mata
bening dan senantiasa berbi-nar-binar. Dan bibir itu, pasti akan menarik setiap
lelaki yang memandangnya. Tetapi sungguh mati, pera-
saan dalam hati Karta selama ini hanya terbatas rasa kagum dan sayang saja. Tak
lebih dari itu. Sekarang
melihat Mirah berdiri dalam keadaan bugil di hada-
pannya, ia menjadi termangu-mangu seperti orang
yang sedang kehilangan akal sehat.
"Karta, janganlah bersikap kasar padaku! Hatiku hancur luluh. Kau tak pernah
mengerti isi hatiku, Karta. Bertahun-tahun lamanya aku merindukan kehadi-
ran bayi dari suamiku, namun sia-sia belaka. Oleh karena itu, aku menghendaki
laki-laki seperti dirimu.
Aku ingin punya anak seperti Ranti, seperti Nomina.
Aku sangat merindukannya. Apakah artinya hidup ini
kalau tanpa anak?" Beberapa tetes air mata mengucur membasahi pipi Mirah yang
pucat. Seketika lenyaplah kekesalan di hati Karta, ber-
ganti rasa iba yang sangat dalam. Memang betul, sua-
mi istri Mirah dan Umang sudah lama menikah namun
entah karena apa sampai sekarang belum dikaruniai
anak. Mirah memang seorang pendekar berilmu tinggi,
sepak terjangnya memerangi kejahatan boleh dibang-
gakan dan dijadikan teladan bagi pendekar lainnya.
Tetapi bagaimanapun juga, pada dasarnya ia adalah
wanita biasa juga. Jadi wajarlah kiranya kalau kenyataan bahwa mereka belum
punya anak, merupakan
penderitaan batin yang sangat menyakitkan baginya.
Ketika ia memeluk Karta kembali, lelaki itu diam
saja bahkan dengan lembut membelai rambut Mirah.
"Maafkan kekasaran ku tadi, Mirah! Sesungguhnya aku tidak pernah bermaksud
menyakitimu. Tetapi perlu kau tahu, sikapmu ini membuatku jadi serba salah.
Aku sangat menghormatimu maupun suamimu
Umang." "Aku tidak tersinggung lagi, Karta!"
"Terima kasih, Mirah. Tetapi aku harap dengan
hormat agar kau menjaga persahabatan di antara kita.
Anak adalah karunia Tuhan. Tak perlu terlalu disesali kalau hasrat hatimu belum
tercapai."
"Kau jangan berkhotbah di hadapanku, Karta.
Jangan membawa-bawa nama Tuhan sekarang." Lalu
dengan air mata yang kembali bercucuran, Mirah ber-
simpuh dan memeluk kedua kaki Karta, "Tolonglah aku Karta. Taburkan benih
keturunan itu di atas la-dang persemaianku. Lakukanlah, Karta. Aku mohon
padamu..."
"Mirah! Kau insyaflah! Sadarlah! Aku menyayan-
gimu, Mirah. Kau pasti tahu itu. Oleh karena itu, harap kau mengerti keadaanku.
Itu tidak mungkin kula-
kukan. Marilah, biar kuantar kau pulang. Umang ten-
tu mencari-carimu sekarang."
"Tidak!"
Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat cepat se-
kali dan hampir bersamaan dengan itu, sebuah kilatan cahaya putih menyambar ke
arah leher Karta.
"Aaaaah!" Karta menjerit kaget sekali. Secepat kilat ia membantingkan badan ke
samping, lalu bergul-
ing-guling di atas tebing. Ketika ia hendak meloncat bangun, ujung golok telah
menempel di dekat lehernya. "Umang!" kata Karta tanpa sadar.
Memang benar, Umang sendirilah yang menye-
rangnya secara mendadak tadi. Serangan itu dilaku-
kan sangat cepat dan kalau saja Karta tidak memiliki kesaktian tinggi, tentulah
ia akan tewas di ujung golok Umang, atau paling tidak pasti akan menderita luka
parah. Akan tetapi Umang juga bukanlah orang semba-
rangan. Pendekar yang lengan kanannya telah bun-
tung sebatas siku itu memiliki kesaktian yang tidak
boleh dipandang remeh, terutama permainan goloknya
yang sangat kuat dan cepat. Ketika serangannya dapat dielakkan Karta, pendekar
dari Lereng Ciremai itu terus mengejar dan menodongkan goloknya ke arah si
Gila Dari Muara Bondet.
"Bangsat!" bentak Umang geram. Dari sinar matanya terpancar kemarahan yang
meluap-luap dan
tampaknya ia telah melupakan persahabatan di antara
mereka selama ini.
"Tunggu, Umang! Aku akan menjelaskan duduk
persoalan yang sebenarnya," kata Karta terbata-bata.
"Tak perlu banyak bicara di hadapanku, Karta!
Tak kusangka seorang pendekar gagah perkasa seperti
kau berani berbuat seperti ini terhadap sahabatmu.
Kau ternyata tak lebih dari racun perusak yang sangat bejat. Kau sampai hati
membawa istriku dan merayu-rayunya di sini. Benar-benar tak bisa kuampuni kesa-
lahanmu ini. Kau harus menebusnya dengan nyawamu
sendiri!" Karta adalah pendekar gagah perkasa, selain
memiliki kepandaian yang sangat tinggi, ia juga bukan seorang pengecut. Ia tidak
pernah takut mati. Akan tetapi mati di tangan kawan sendiri apalagi hanya kare-
na kesalahpahaman, tentu saja ia tidak mau. Maka ia
masih mencoba menjelaskan persoalan yang sebenar-
nya. "Tunggu dulu, Umang. Jangan terburu nafsu.
Dengarkan dulu penjelasanku. Se-telah itu kau boleh
melakukan apa saja terhadap diriku."
"Kau harus mampus, manusia bejat. Haiiiit!"
Umang mengayunkan goloknya, cepat dan sangat
mendadak sehingga tampaknya tidak ada kemungki-
nan lagi bagi Karta untuk menyelamatkan diri.
"Trang!"
Umang terhuyung beberapa langkah. Ujung
tongkat yang menangkis goloknya sangat kuat sehing-
ga golok di tangannya nyaris lepas. Ia menatap laki-
laki yang menangkis senjatanya sehingga Karta sela-
mat dari maut. Ternyata adalah si Kaki Tunggal Baureksa sahabatnya sendiri.
Sama seperti Umang, pendekar berkaki tunggal
itu pun tadi terbangun dari tidurnya, ketika menden-
gar Umang memanggil-manggil istrinya. Cepat itu
mengintip dari balik pintu dan melihat sahabatnya itu meloncat ke luar istana.
Rupanya beberapa saat setelah Mirah pergi, Umang juga terbangun dan setelah
berusaha mencari-cari, yakinlah ia bahwa istrinya itu
pergi ke pantai menemui Karta.
Tepat seperti dugaannya, Mirah memang ada di
pantai. Hampir ia tak percaya akan penglihatannya
sendiri menyaksikan Mirah memeluk kaki Karta dalam
keadaan telanjang bulat. Dada Umang terasa bagaikan
terbakar oleh gejolak amarah yang tak terkendalikan
lagi. Ia menghunus goloknya dan langsung melancar-
kan serangan mautnya ke arah leher si Gila Dari Mua-
ra Bondet dan tidak perduli lagi walaupun menyadari
serangan goloknya itu bisa membuat sahabatnya te-
was. Baureksa yang sempat melihat bayangan tubuh
Umang berkelebat ke arah pantai segera mengejar. Un-
tung saja ia memiliki ilmu meringankan tubuh yang
sangat tinggi, sehingga masih sempat menyelamatkan
Karta dari maut.
"Kau Baureksa!" kata Umang terkejut. Matanya berkilat-kilat sangat marah melihat
sahabatnya itu menangkis sabetan goloknya.
"Umang, apakah kau tidak menyadari perbua-
tanmu itu" Sabetan golokmu bisa membuntungi leher
sahabat kita Karta."
"Apakah matamu juga tidak melihat bagaimana
bajingan ini hendak mempermainkan istriku" Kau se-
lalu membela Si Gila ini!"
Si Kaki Tunggal melirik ke arah Mirah sebentar.
Wanita itu dengan terburu-buru mengenakan pa-
kaiannya kembali. Baureksa menghela nafas panjang-
panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Syukurlah kau masih mengingat nama asli ku....
Baureksa. Berarti kau ingat siapa diriku, pribadiku
dan pendirianku. Engkau pun tentunya belum lupa
bahwa kita pernah berjuang bahu membahu menum-
pas Lalawa-Hideung di daerah Cilimus bersama Jaka
Sembung. Kau ingatlah semua itu. Jangan berbuat se-
kasar itu kepada Karta!"
"Jadi kau bermaksud menyalahkan aku karena
aku tidak sanggup bikin anak" Dan kau memuji-muji
kejantanan si Gila Dari Muara Bondet keparat ini?"
Sambil berkata begitu, Umang menudingkan goloknya
ke muka Baureksa.
Mendengar ucapan itu, si Kaki Tunggal menghela
nafas berat. Wajah pendekar setengah baya itu tampak menjadi muram, bagaikan
langit diselimuti kabut. Ia
kecewa karena sahabatnya Umang seharusnya tak per-
lu mengucapkan kata-kata seperti itu. Namun selain
merasa kecewa dan kasihan, si Kaki Tunggal juga me-
rasa was-was. Sebab tak biasanya sahabatnya itu ber-
sikap demikian. Dan sinar mata itu, rasanya meman-
carkan sesuatu yang aneh, yang belum pernah dilihat
si Kaki Tunggal selama ini.
"Umang dan Mirah," Akhirnya si Kaki Tunggal berkata setelah perasaannya sedikit
agak tenang. "Kalau kalian masih menganggap aku sebagai orang yang
paling tua di antara kita, maka dengarlah kata-kataku.
Aku mengerti perasaan kalian karena sampai sekarang
belum mempunyai anak. Tetapi itu adalah urusan Tu-
han. Kita hanya sebagai pelaksana. Percayalah, suatu saat kalian pun tentu akan
mempunyai anak."
Tiba-tiba Mirah yang sudah mengenakan pa-
kaiannya meloncat ke hadapan Baureksa. Goloknya
diacungkan dan sinar matanya merah bagaikan me-
mancarkan api, "Diam kau, buntung. Kau tak berhak mencampuri urusan rumah tangga
ku. Diam kataku!
Jangan kau kira aku takut padamu!"
"Mirah, kau sampai hati berkata begitu..." Tiba-tiba Baureksa menghentikan
ucapannya, karena seca-
ra tak terduga-duga, Mirah sudah menerjangnya den-
gan dahsyat. Goloknya diayunkan cepat sekali menim-
bulkan suara berdesing dan kilatan senjata yang langsung menukik ke arah ulu
hati si Kaki Tunggal.
Tentu saja si Kaki Tunggal sangat terkejut. Tapi
Mirah yang dari segi umur boleh dikatakan adalah
anaknya, berani memakinya si buntung. Sekarang ma-
lah menyerangnya kembali dengan ganas. Pendekar
berkaki tunggal itu tentu sudah mengetahui kehebatan ilmu golok Mirah.
Dibandingkan dengan Umang sendiri, agaknya wanita itu tidak kalah berbahayanya.
Maka si Kaki Tunggal pun segera memutar tong-
katnya menangkis serangan Mirah. Akan tetapi agak-
nya Mirah sudah menduga gerakan si Kaki Tunggal,
karena secara mendadak ia sudah menarik goloknya
dan menyambar lagi dari bawah ke atas. Berbarengan
dengan itu, tangan kirinya menampar ke arah dagu
Baureksa. Hebat luar biasa serangan Mirah, sehingga
diam-diam Baureksa kembali dibuat terkejut. Apalagi
karena ia tidak ingin melukai Mirah. Seandainya Mirah merupakan lawan yang boleh
dibunuh, si Kaki Tunggal
tentu saja dapat membalas serangan itu dengan me-
nusukkan tongkatnya yang jauh lebih panjang ke arah
dada istri Umang.
Oleh karena itu, si Kaki Tunggal segera meloncat
mundur sambil memiringkan badan ke kiri. Serangan
golok maupun tamparan Mirah sudah menyambar ke
arah dadanya. "Buk!" Tendangan itu mendarat dengan telak.
Sambil menjerit kesakitan, Baureksa terpelanting
hampir lima meter. Sebelum sempat meloncat bangun,
ujung golok Mirah sudah ditempelkan ke lehernya.
"Mirah, insyaflah!" kata si Kaki Tunggal agak ter-sendat.
"Tutup mulutmu!"
"Kau sungguh keterlaluan, Mirah! Jangan kau ki-
ra aku pernah takut mati. Kalau kau mau membunuh
aku, bunuhlah sekarang juga. Tapi kelak kau akan
menyesali perbuatanmu ini!"
Pada kesempatan itu, Karta bergerak cepat sekali
mengayunkan kakinya menghantam kaki Umang, se-
hingga lelaki itu terjengkang ke belakang. Setelah itu, Karta segera meloncat
bangun dan menghampiri Mi-
rah. "Mirah, jangan kurang ajar!"
"Berhenti!" bentak Mirah sambil menekankan ujung goloknya ke leher Baureksa,
"Kau lihat golok ini!
Jika kau masih berani melangkah maju, kutebas ba-
tang leher si buntung ini!"
Wajah Karta menjadi pucat. Sebagai pendekar
yang sudah sangat berpengalaman, ia segera dapat
menyadari bahwa nyawa si Kaki Tunggal benar-benar
terancam maut. Sekali bergerak saja, pendekar seperti Mirah tentu akan menebas
lehernya hingga buntung,
jika ia mau. Dan jika itu misalnya terjadi, berarti si Kaki Tunggal tewas secara
tak langsung karena dirinya. Karta sungguh tak menginginkannya. Maka ia-
pun menghentikan langkah sambil menunggu kesem-
patan untuk menyelamatkan sahabatnya itu.
"Jangan coba-coba bertindak tolol, Karta! Aku tidak main-main sekarang! Nyawa si
buntung ini ada di
ujung golokku. Kalau kau ingin dia selamat, kau harus bersedia meluluskan
permintaanku tadi! Kalau tidak...."
"Karta, jangan kau perdulikan aku! Jangan turuti kemauannya! Ia sedang
dipengaruhi iblis!" teriak si Kaki Tunggal.
"Diam kau buntung!" bentak Mirah menambah tekanan goloknya sehingga kulit leher
Baureksa berda-rah. "Karta, awas di belakangmu!" Baureksa berteriak tanpa
memperdulikan lehernya yang sakit. Rupanya
saat itu Umang sudah menerjang Karta dengan dah-
syat. Goloknya diayunkan menyambar ke arah leher Si
Gila Dari Muara Bondet.
Ketika senjata maut itu sudah hampir menyen-
tuh kulitnya, Karta menunduk, lalu tangan kanannya
menyambar dada Umang dengan kecepatan yang su-
kar diikuti mata.
"Buk!" Kuat sekali hantaman Karta, sehingga tubuh Umang terlempar dan terjatuh
dari atas tebing.
Karena ia terjatuh ke sebelah kiri, maka Karta menjadi terkejut sebab
disadarinya bahwa di bawah sana, tebing cadas telah siap meremukkan kepala


Jaka Sembung 16 Kemelut Di Pulau Aru di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Umang. "Hah" Umang!" teriak si Kaki Tunggal-yang juga tak kalah terkejutnya.
Akan tetapi tiba-tiba tubuh Umang berputar se-
cara mengagumkan dan kedua telapak kakinya me-
nempel dan langsung seperti lengket di dinding tebing, tak ubahnya seekor
kelelawar. Luar biasa! Baik Karta maupun si Kaki Tunggal sangat terkejut
menyaksikan kehebatan Umang.
"Astaga! Itu adalah ilmu Lalawa Hideung!" teriak si Kaki Tunggal seolah-olah tak
percaya akan penglihatannya sendiri. Tidaklah mengherankan si Kaki Tung-
gal sangat terkejut menyaksikan Umang mem-
pergunakan ilmu Lalawa Hideung sewaktu menyela-
matkan diri. Karena seperti yang dikatakannya tadi, ia dan Umang sendiri bersama
Jaka Sembung beberapa
tahun lalu pernah menumpas tokoh sesat Lalawa Hi-
deung itu di daerah Cilimus. Tetapi sekarang malah
Umang sendiri yang menggunakan ilmu yang luar bi-
asa itu. Agaknya Mirah sendiri pun tak menduga bahwa
suaminya menguasai ilmu itu. Matanya bahkan sam-
pai terbelalak lebar-lebar menyaksikan suaminya sen-
diri dengan posisi menyiku di dinding tebing.
Akan tetapi Karta lebih cepat dapat menguasai
perasaannya dan secepat kilat menendang tongkat si
Kaki Tunggal, meluncur cepat sekali menghantam tan-
gan kanan Mirah.
"Akh!" Mirah berseru kaget dan tanpa dapat dicegah lagi, goloknya terlepas dari
tangannya. Kesempa-
tan itu digunakan si Kaki Tunggal meloncat bangun
dan menangkap tongkatnya. Hampir pada waktu yang
bersamaan, kakinya menggaet kaki Mirah sehingga
kehilangan keseimbangan dan terjatuh bergedebuk.
"Kurang ajar!" bentak Mirah geram.
Sudahlah, Mirah. Sadarlah! Nyebut!" ujar si Kaki Tunggal dengan suara lembut.
Pada saat itu, Umang sudah meloncat kembali ke
atas tebing dan langsung memasang kuda-kuda di ha-
dapan Karta. Sikapnya tampak lebih beringas lagi, siap mengadu nyawa dengan
sahabatnya itu.
"Umang, sahabatku! Ingatlah pada Tuhan. Sadar-
lah. Kau telah keliru. Nyebutlah nama Tuhan. Istigfarlah!" kata Karta. Akan
tetapi Umang bukannya sadar, malah menerjang Karta dengan dahsyat. Ia meloncat
bagaikan terbang ke arah Karta, lalu kakinya mengirim tendangan maut ke arah
dada lawan. "Mampus kau!" bentaknya. Karta berkelit ke samping, lalu tangannya menangkap
pergelangan kaki
Umang. Sebelum Umang sempat berbuat apa-apa,
Karta sudah memutar tangan, melemparkan tu-
buh Umang ke laut.
"Byur!" Tubuh Umang tercebur ke laut. Karta sebetulnya tidak bermaksud
mencelakakan Umang. Te-
tapi pada kesempatan itu ia berpikir, bahwa kalau
Umang berendam di laut, pikirannya tentu akan lebih
jernih. Setelah tubuh Umang tercebur, ia sendiri pun segera ikut terjun ke laut,
karena ia tahu Umang pendekar dari Gunung Ciremai tidak pandai berenang.
Benar saja perkiraan Karta, karena begitu tengge-
lam ke laut, Umang segera gelagapan. Sebentar-
sebentar tubuhnya muncul ke permukaan, namun
kemudian tenggelam lagi. Karta cuma tersenyum dan
sengaja membiarkan sahabatnya itu berjuang mati-
matian menyelamatkan diri dari ganasnya gelombang
laut. Sementara itu, di atas tebing Mirah sudah bangkit berdiri dan menantang si
Kaki Tunggal bertarung
mengadu nyawa, "Baureksa," katanya dan tidak menyebut si buntung lagi, "Kalau kau betul-betul
pendekar jempolan, berikan golokku itu padaku. Kita bertarung secara satria. Aku
sanggup membuntungi kakimu yang satu la-
gi!" "Tampaknya kau sangat bernafsu melawan aku yang sudah tua. Lucu anak kecil
seperti kau menan-tangku berkelahi. Tapi baiklah, hitung-hitung untuk
melemaskan otot, atau latihan. Nih, terimalah golok
mu!" Si Kaki Tunggal melemparkan golok Mirah dengan tongkatnya, yang segera
disambar wanita itu den-
gan cepat. "Ciaaaat!" Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Mirah segera berteriak nyaring lalu
menerjang si Kaki
Tunggal dengan dahsyat. Goloknya disabetkan ke arah
pinggang Baureksa dan ketika lawannya itu meloncat
mundur, ia mendesak maju dengan serangan yang le-
bih ganas lagi.
Akan tetapi keadaannya sekarang sudah berbeda
dengan tadi. Kalau barusan Mirah dapat menjatuhkan
Baureksa, hanyalah karena ia menyerang secara san-
gat mendadak dan laki-laki berkaki tunggal itu tidak bermaksud melukainya.
Sekarang karena sejak tadi
sudah siap sedia, dengan mudah Baureksa dapat
mengelak dan menggunakan kelincahan tubuhnya me-
loncat ke sana ke mari, sehingga semua serangan Mi-
rah menjadi sia-sia.
Tentu saja Mirah sangat penasaran, walaupun
sejak dari dulu ia sebetulnya sudah mengetahui ke-
pandaian si Kaki Tunggal bermain ilmu silat. Sambil
berteriak melengking nyaring ia kembali menerjang la-
wan dengan memutar goloknya cepat sekali sehingga
tampak senjata tersebut berubah jadi banyak sekali.
Lalu tiba-tiba ujung goloknya meluncur ke arah dada
Baureksa didahului cengkeraman tangan kiri ke arah
selangkangan. Cepat dan keji bukan main serangan
seperti itu, karena salah satu saja yang mengenai sasaran, Si Kaki Tunggal pasti
tewas. "Sungguh ganas!" kata Si Kaki Tunggal sambil berkelit ke samping menghindari
cengkeraman tangan
kiri Mirah dan pada saat yang bersamaan ia memutar
tongkatnya menangkis tusukan golok lawan.
"Trang!"
Kedua senjata itu beradu menimbulkan suara
berdentang keras. Karena Mirah kalah tenaga, tubuh-
nya sempat terdorong mundur beberapa langkah. Na-
mun dengan cepat ia menerjang Baureksa kembali.
Tubuhnya mencelat bagaikan terbang dan sewaktu
meluncur ke arah si Kaki Tunggal, goloknya diayunkan menyambar leher lawan.
Melihat serangan yang sangat ganas itu, si Kaki
Tunggal tetap tenang bahkan sempat tersenyum men-
gejek. Lalu secepat kilat ia menundukkan kepala, ke-
mudian mencengkeram perut Mirah. Sebetulnya se-
rangan Baureksa itu bukanlah serangan yang terlalu
hebat, tetapi karena Mirah sudah dikuasai amarah
yang meluap-luap, ia menjadi kurang waspada. Tanpa
sempat menghindar, perutnya sudah dicengkeram dan
pada saat ia hendak menyabetkan goloknya, si Kaki
Tunggal sudah melemparkan tubuhnya ke laut dari
atas tebing. "Karta! Ini satu lagi, suruh dia ikut mandi!" teriak si Kaki Tunggal.
Suara jeritan Mirah mendadak terhenti ketika tu-
buhnya tercebur ke laut. Karena ia sama seperti
Umang tidak bisa berenang, ia menjadi gelagapan.
Melihat itu, Karta menjadi kasihan dan segera
memburu untuk memberikan pertolongan. Tanpa dis-
adarinya, bahaya mau telah mengancam dari dasar
laut. Sebuah benda kehitam-hitaman mirip bubu pe-
nangkap ikan meluncur cepat sekali ke arah tubuh
Umang. Tanpa sempat menghindar, tubuh lelaki ber-
lengan tunggal itu terceblos masuk perangkap miste-
rius itu dan dalam sekejap hilang di dalam laut.
Pada kesempatan itu, Karta sudah memangku
tubuh Mirah hendak membawanya ke tepi pantai.
Akan tetapi ia menjadi tersentak kaget manakala me-
nyadari bahwa Umang sudah menghilang.
"Hah" Ke mana suamimu, Mirah" Tenggelam"
Ah, tidak mungkin!" Karta segera menurunkan tubuh Mirah dari pangkuannya,
memburu ke arah Umang gelagapan tadi. Bagaimanapun juga, Umang tak mungkin
tenggelam begitu saja. Biarpun tak pandai berenang,
paling tidak pasti bisa bertahan untuk beberapa saat.
Pasti telah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Hanya beberapa saat setelah Karta memburu ke
arah Umang tadi, Mirah pun mengalami hal yang sa-
ma. Tubuhnya tersedot dan masuk perangkap maut di
dalam laut. Benda berbentuk bubu penangkap ikan itu
bergerak cepat sekali, sehingga dalam sekejap tubuh
Umang dan Mirah sudah lenyap.
Tentu saja Karta sangat terkejut. Ternyata bukan
hanya Umang yang hilang, tetapi kini telah menyusul
Mirah. Ini bukan kecelakaan biasa, pasti perangkap
musuh "Kurang ajar!" bentak Karta, lalu segera menyelam. Dengan kepandaian berenang,
ia bergerak ke sa-
na ke mari memeriksa sekitar perairan pantai. Namun
usahanya sia-sia. Ia telah kehilangan jejak.
Sementara itu, di atas tebing cadas, si Kaki
Tunggal menunggu dengan penuh tanda tanya. Tadi ia
sempat melihat Umang gelagapan dan Karta memang-
ku Mirah. Tetapi hanya sekejap saja, kedua suami istri itu sudah lenyap. Si Kaki
Tunggal pun menjadi khawatir dan menduga bahwa sesuatu yang tak diinginkan
telah terjadi. Tapi karena ia pun tak begitu pandai berenang, ia hanya menunggu
di atas dengan perasaan
tegang. Tiba-tiba Karta tersembul ke atas permukaan air,
lalu mencelat bagaikan terbang ke atas tebing, kemu-
dian mendarat ringan di hadapan si Kaki Tunggal.
"Celaka, Baureksa! Mereka menghilang, pasti di-
culik musuh!" kata Karta dengan nafas terengah-
engah. "Ini tentu perbuatan musuh. Huh! Selama ini kita selalu kecolongan. Benar-benar
mereka sangat lihai
dan licik. Mereka bisa menyerang dari dasar laut!"
"Mungkinkah si tukang sihir jahanam itu?"
"Saya rasa memang mereka. Umang dan Mirah
diculik untuk dijadikan budak melawan kita, seperti
halnya Wori. Jadi kita selalu dipaksa bertempur den-
gan kawan-kawan sendiri. Benar-benar licik!"
"Aku jadi menyesali kejadian tadi!"
"Tak perlu terlalu disesali. Tapi kita harus berusaha untuk menemukan mereka
kembali. Ah, Karta!
Mengertikah kau tentang peristiwa tadi?"
"Maksudmu Mirah dan Umang telah di-pengaruhi
ilmu sihir?"
"Benar! Kita masih bisa terhindar dari pengaruh sihir itu, karena batin kita
bersih, tidak dipengaruhi pikiran-pikiran buruk. Mereka sudah cukup lama
menikah, namun sampai sekarang belum mempunyai ke-
turunan. Mirah tak sabar lagi menunggu bahkan iri
terhadap Nomina. Dan Umang pun cemburu pula pa-
damu. Pikiran seperti itulah yang bisa merusak keber-sihan batin sehingga dengan
mudah dapat dipengaruhi
sihir lawan."
*** 2 Sementara itu, di ruangan bawah tanah, Wan-
Da-I dan Womere tampak tersenyum-senyum puas
sambil tak henti-hentinya mengatakan bahwa dalam
waktu dekat, Kepala Suku Pampani pasti akan hancur.
Dan mereka pun akan menjadi penguasa di Pulau
Trangan dan sekitarnya, seperti yang sudah lama dici-ta-citakan Wan-Da-I.
Seperti diceritakan pada awal kisah ini, tokoh se-
sat Wan-Da-I yang merupakan anak haram dari Iblis
Pulau Aru sengaja mengundang tukang sihir dari pu-
lau Kelepom yakni Womere untuk menghancurkan ke-
kuasaan Pampani. Dengan ilmunya yang sangat jahat
itu, Womere dapat mempengaruhi pikiran Wori si Pen-
dekar Bumerang, sehingga memusuhi pihak Pampani
yang sejak dari dulu adalah sahabatnya sendiri. Selain itu, mereka juga telah
menawan Profesor Van Leinen
dan Simon yang kebetulan datang dari negeri Belanda
untuk melakukan penelitian ilmu pengetahuan di Ke-
pulauan Aru. Sekarang, pihak Wan-Da-I berhasil pula me-
nangkap suami istri Umang dan Mirah. Tepat seperti
yang diucapkan si Kaki Tunggal kepada Karta, pikiran suami istri itu sudah
dipengaruhi ilmu sihir Womere.
Itulah sebabnya Mirah seperti tidak tahu malu lagi
mengajak bahkan memaksa Karta untuk melakukan
hubungan seks. Dan ketika keduanya timbul tengge-
lam di laut, mereka pun masuk perangkap berbentuk
bubu penangkap ikan dan langsung dibawa kabur
anak buah Wan-Da-I, sehingga Karta kehilangan jejak.
"Bawa mereka masuk!" kata Wan-Da-I ketika dua anak buahnya datang sambil membawa
alat perangkap misterius yang berisikan tubuh Umang dan Mirah.
Kedua laki-laki bertubuh raksasa itu masuk ke
ruangan Wan-Da-I, kemudian mengeluarkan tubuh
Umang dan Mirah yang ternyata sudah dalam keadaan
tak sadarkan diri. Setelah itu, kedua lelaki raksasa berkulit hitam anak buah
Wan-Da-I itu melangkah
mundur setelah terlebih dulu mengangguk hormat ke
arah majikannya.
"Womere, suruhlah mereka istirahat!" kata Wan-Da-I. "Baik, tuanku!"
Si tukang sihir Womere melangkah menghampiri
Umang dan Mirah. Kedua tangannya dengan jari-jari
terbuka direntangkan ke arah dua tawanan itu dan
mulutnya komat kamit beberapa saat. Setelah itu, ia
berkata dengan suara yang sangat berpengaruh: "Ban-gunlah, hai pendekar-pendekar
yang tangkas! Ban-
gun!" Perlahan-lahan Umang dan Mirah membuka ma-ta, seperti orang baru tersadar
dari mimpi buruk. Keduanya merasa tubuhnya sangat lemas, tetapi terasa
ada kekuatan gaib memaksa mereka untuk bangkit
berdiri. "Bangun! Bangun..... dan berjalan..." kata Womere lagi.
Seperti robot, Umang dan Mirah melangkah se-
suai perintah Womere. Sinar mata mereka sayu, bah-
kan seakan-akan tidak bersinar sedikitpun juga, di-
tambah gerak tubuh yang sangat kaku, maka mereka
tak ubahnya seperti mayat berjalan.
"Jalan ke depan!" perintah Womere yang masih tetap merentangkan tangan mengikuti


Jaka Sembung 16 Kemelut Di Pulau Aru di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

suami istri itu
dari belakang dalam jarak sekitar dua meter. Umang
dan Mirah terus melangkah menuju sebuah ruangan
lain melalui lorong sempit dan gelap.
Dalam ruangan itu telah tersedia dua buah peti
kayu yang bentuknya seperti peti mati. Begitu sepa-
sang pendekar itu masuk ke ruangan itu, dua pengaw-
al bertubuh raksasa tadi segera membuka tutup peti.
Tanpa diperintah lagi, Umang terlebih dahulu melang-
kah dan masuk ke dalam peti. Beberapa saat kemu-
dian, Mirah pun masuk ke dalam peti yang satu lagi.
"Bagus! Beristirahatlah kalian dengan baik. Kalau saatnya sudah tiba, kalian
akan diberikan tugas!" ujar Womere sambil memberikan isyarat agar kedua pengawal
segera menutup peti mati itu kembali.
Di sudut ruangan itu, ada pula dua lelaki berku-
lit putih yang agaknya juga merupakan tawanan Wan-
Da-I. Keduanya duduk dengan kedua tangan terbe-
lenggu kepada dinding batu ruangan itu. Mereka ada-
lah Profesor Van Leinen dan sahabat mudanya Simon.
Kedua orang asing itu terkejut menyaksikan sepasang
insan berlainan jenis digiring masuk, lalu masuk ke
dalam peti. Jelas tampak oleh kedua kulit putih itu betapa Umang dan Mirah
bagaikan robot saja disuruh
berjalan dan masuk peti oleh Womere.
"Profesor, coba lihat di sana! Dua orang tawanan baru," kata Simon setengah
berbisik. "Aku sudah melihatnya sejak tadi. Tampaknya
mereka adalah sahabat-sahabat kepala suku Pampani.
Wajah mereka seperti tergambar dalam bentuk boneka
gabus yang kemarin kita lihat di kamar Womere. Kasi-
han mereka."
"Tapi mengapa mereka tidak diperlakukan seperti kita" Mereka tidak dibelenggu!"
Profesor Van Leinen menghela nafas panjang. Se-
kalipun belum ada yang menjelaskan, namun karena
sudah sangat berpengalaman maka ia segera dapat
mengerti kenapa dua tawanan baru itu tidak dibeleng-
gu seperti mereka.
"Mereka adalah tawanan istimewa, lain dengan
kita. Untuk membelenggu mereka tidak memakai ran-
tai besi, melainkan menggunakan ilmu magis. Karena
tawanan pribumi itu adalah orang yang menggunakan
kekuatan batin. Sedangkan kita adalah orang-orang
yang berkekuatan pikiran. Oleh karena itu, untuk
orang seperti kita bagiannya adalah rantai besi."
"Aku punya ide, Prof."
"Maksudmu apa?"
"Betapa sempurnanya kalau kita pun bisa mem-
pelajari ilmu-ilmu magis dari belahan bumi bagian Timur ini. Kita akan menjadi
bangsa yang tak terkalah-
kan." "Mungkin ada benarnya. Tetapi prosesnya tidaklah semudah yang kau
pikirkan. Semuanya serba su-
sah dan membutuhkan kesabaran serta kebulatan te-
kad. Tapi kita lihat saja nanti. Nasib kita saja belum kita ketahui bagaimana
akhirnya. Selamat dari cengkeraman orang-orang ini saja sudah syukur. Mereka
sangat jahat dan licik, jauh berbeda dengan Pampani
serta kawan-kawannya."
Pada kesempatan itu, ketika hari sudah mulai
pagi, si Kaki Tunggal dan Karta sudah sampai di halaman istana. Wajah mereka
pucat mencerminkan ke-
cemasan, karena Umang dan Mirah telah hilang entah
ke mana. Walaupun belum menemukan petunjuk ten-
tang hilangnya kedua sahabat mereka itu, namun si
Kaki Tunggal dan Karta sudah dapat menduga bahwa
yang menangkap suami istri itu pastilah pihak Wan-
Da-I. Dan itu pula yang membuat mereka sangat ce-
mas, karena keduanya menyadari bahwa sekali jatuh
ke tangan tokoh sesat itu, maka akan sulitlah mele-
paskan diri. "Untuk sementara sebaiknya kau turut berjaga-
jaga di lingkungan istana, Karta. Siapa tahu pihak musuh bersiap-siap menyerang
kita." "Tidak, Baureksa. Lebih baik aku tetap tinggal di laut. Lebih banyak
manfaatnya."
"Aku mempunyai pertimbangan lain, Karta. Ingat, di saat Mirah dan Umang masih
ada, kita tetap bisa
kebobolan dan keteter oleh ancaman musuh."
"Tapi lihat posisi kota kita, terpagar kuat. Begitu musuh menyelundup, langsung
diketahui para penjaga
di atas menara. Semua orang bisa segera bersiap-siap.
Jadi yang tidak bisa diduga-duga adalah serangan
yang langsung dilancarkan dari laut. Tugaskulah un-
tuk memata-matainya."
"Hm, betul juga pendapatmu. Hampir tak terpikir olehku. Hm, tiba-tiba aku
teringat pada pintu tembusan yang pernah, kau temukan itu. Coba kau tunjuk-
kan padaku di mana letaknya."
"Baiklah!" Karta segera meloncati pagar yang mengelilingi istana, disusul oleh
si Kaki Tunggal. Dalam sekejap saja, keduanya sudah berada di belakan-
gan istana. Tanpa menimbulkan suara mencurigakan,
kedua pendekar itu merangkaki kolong bangunan be-
sar itu. Setelah cukup lama merangkak, Karta memberi
isyarat untuk berhenti. "Aku, pun baru ingat sekarang pada terowongan ini.
Mudah-mudahan kita bisa menemukan Umang dan Mirah," bisiknya.
Terowongan yang dimaksudkan Karta itu meru-
pakan sebuah lubang yang tidak terlalu besar. Agak-
nya pintu masuk itu sangat dirahasiakan, sehingga selama ini tak seorang pun di
antara para laskar yang
mengetahuinya. Dulu hanya karena kebetulan saja si
Gila Dari Muara Bondet menemukannya.
Dengan sangat hati-hati, Karta membuka tutup
pintu tembusan yang terbuat dari batu bundar. Si Kaki Tunggal terlebih dulu
masuk diikuti oleh Karta. Mereka kemudian menuruni tangga batu di bawah tanah,
sambil meraba-raba karena tempat itu sangat gelap.
"Belok kiri. Seingatku ada lorong menuju ke sa-
na. Hati-hati dengan tongkatmu," bisik si Gila Dari Muara Bondet.
"Jangan khawatir. Ujung tongkatku ini mempu-
nyai mata yang langsung berhubungan dengan seluruh
urat-urat syaraf dalam tubuhku."
Kedua pendekar itu terus menuruni tangga batu,
hingga kemudian si Kaki Tunggal menghentikan lang-
kahnya dengan tiba-tiba. Karta yang berjalan di belakangnya menjadi heran,
"Kenapa berhenti. Ada apa?"
"Kita sudah ketinggalan. Lorong itu telah ditutup batu." "Kurang ajar! Benar-
benar cerdik mereka. Sampai kita tidak sempat berbuat apa-apa untuk memasuki
sarang mereka. Yah, tampaknya tak ada jalan lain la-
gi!" Keduanya memutuskan untuk ke luar kembali.
Namun betapa terkejutnya mereka ketika hendak
kembali, pintu batu bundar itu sudah terkunci dari
luar. "Celaka! Pintu itu sudah ditutup dari luar. Kita terjebak!" kata si Kaki
Tunggal. "Apa yang harus kita lakukan?" Karta bertanya sambil berfikir keras. Tetapi
tiba-tiba terdengar suara berdesis dari sela-sela tutup lubang itu dan ketika
me-nengadah tampaklah asap berwarna ungu bergumpal-
gumpal ke arah mereka.
"Asap beracun!" teriak Karta panik. Ia mencoba menahan pernafasan agar tidak
menghirup asap itu. Si Kaki Tunggal pun melakukan hal yang sama, namun
daya tahannya tidak terlalu lama. Ia menghirup asap
beracun itu, hingga terdengar batuk-batuknya meme-
nuhi ruangan sempit itu. Tak lama kemudian, ia pun
roboh lemas. Karta memiliki daya tahan yang lebih la-ma, karena sejak kecil ia
sudah terbiasa menyelam,
baik di sungai maupun di laut.
Sambil mengerahkan tenaga dalamnya, lelaki itu
mencoba mendorong pintu batu bundar, namun tidak
berhasil, sehingga yakinlah ia bahwa pintu itu sengaja ditahan orang dari atas.
Hal itu membuat Karta bertambah geram, karena kalau tidak segera dapat ke luar
dari kepungan asap beracun itu, maka ia bersama si
Kaki Tunggal pastilah akan celaka. Bahkan tidak mus-
tahil akan tewas secara mengerikan.
Dalam keadaan yang sangat genting itu, Karta
segera memasang kuda-kuda sambil memusatkan per-
hatiannya. Kedua tangannya disilangkan di depan da-
da, lalu sambil melengking nyaring, ia memukul pintu batu bundar itu.
"Ciaaaat....! Praaaak!" Hebat bukan main pukulan Karta yang dilancarkan dengan
pengerahan tenaga dalam itu. Seketika pintu batu itu hancur berantakan.
"Baureksa, kita harus segera ke luar!" teriak Karta sambil mengangkat tubuh si
Kaki Tunggal yang su-
dah sangat lemas. Sekali meloncat, ia pun berhasil ke luar dari lubang itu. Akan
tetapi sepotong kayu besar menyambar dan langsung menghantam punggung Karta,
sehingga terpelanting bersama si Kaki Tunggal. Sebelum keduanya berhasil
bangkit, tiang kayu penyang-
ga bangunan yang cukup besar itu telah menimpa
punggung mereka.
"Ha ha ha! Memang kalian berdualah yang paling
sulit ditundukkan. Tetapi sekarang, tiba saatnya aja menjemput nyawa kalian. Dan
Pampani bukanlah apa-apa bagiku!" Orang itu menginjak balok kayu sehingga
leher Karta terjepit. Pendekar gagah perkasa itu mencoba melepaskan diri, tetapi
karena tadi sudah kehabisan tenaga ia tak bisa berbuat banyak, apalagi karena
tenaga injakan orang itu sangatlah kuatnya.
Sambil berusaha menahankan rasa sakit di le-
hernya, Karta melirik dan memperhatikan wajah orang
itu. Wajahnya tiba-tiba berubah jadi pucat, tetapi sebentar kemudian berubah
merah padam kembali.
Tampaknya ia sangat terkejut, bahkan seolah-olah tak percaya akan penglihatannya
sendiri. "Kau... kau Maleang Pangaru....?" Karta mendesis menyebut nama Iblis Pulau Aru.
Wajar kalau pendekar
si Gila Dari Muara Bondet terkejut bagaikan disambar petir, karena dahulu
Maleang Pangaru yang dijuluki
Iblis Pulau Aru itu sudah tewas bersama pendeta
Naomi, nenek tua yang juga tak kalah jahatnya. Ba-
gaimana sekarang tiba-tiba Iblis Pulau Aru muncul dalam keadaan segar bugar
bahkan menyerangnya" Kar-
ta tak habis pikir, dan karena ia tahu tokoh sesat itu sangat tinggi ilmunya
serta sangat jahat pula, nyawanya sudah pasti dalam keadaan terancam.
Melihat Karta terkejut, laki-laki tua itu tertawa
terbahak-bahak hingga perutnya berguncang-guncang,
"Ha ha ha! Seperti yang kau lihat sendiri. Aku telah datang menagih nyawamu!"
Suara gaduh di bagian belakang istana itu ru-
panya membuat para penjaga gempar. Tanpa diko-
mando lagi, para laskar itu menyerbu ke arah suara
itu dengan senjata terhunus. Mereka ternyata dipimpin oleh Pampani sendiri.
"Berpencar! Sebagian masuk ke kolong bangunan
dan sebagian lagi masuk lewat pintu. Cepat!" teriak Pampani dengan suara
menggelegar mengatasi suara
hiruk pikuk serbuan laskar. Dengan sigap, mereka
pun menyerbu menuruti perintah pimpinannya.
"Itu dia orangnya!" teriak seorang laskar ketika melihat seorang lelaki sedang
menjepit leher Karta
dengan balok kayu.
"Sergap!"
"Bunuh!"
Laskar yang jumlahnya puluhan orang itu berte-
riak-teriak sehingga dalam sekejap Maleang Pangaru
sudah terkepung rapat. Akan tetapi laki-laki itu me-
mang bukan orang sembarangan. Begitu puluhan
tombak mengincar tubuhnya dari segala arah, ia sege-
ra berputar dan kedua tangannya bergerak cepat seka-
li. "Krak! Krak!" Senjata-senjata tombak itu berpa-tahan dan sebelum laskar sempat
menguasai rasa ka-
getnya, kedua tangan Maleang Pangaru sudah men-
cengkram ke sana ke mari. Cengkraman itu kuat dan
keras bagaikan baja, sehingga setiap laskar yang terkena langsung roboh dengan
tubuh tercabik-cabik.
Ada yang kulit perutnya tembus, hingga ususnya ter-
burai, ada yang lengannya copot, ada yang lehernya
hampir putus dan sebagainya.
Walaupun demikian, laskar lainnya tetap tidak
gentar. Mereka terus menerjang. Roboh satu maju dua
atau tidak orang, sehingga makin banyaklah laskar
yang roboh bermandikan darahnya sendiri. Bagaima-
napun juga, kekuatan laki-laki tersebut tentu ada ba-tasnya. Setelah cukup lama
bertarung, ia akhirnya terdesak bahkan kemudian berdiri dalam keadaan tak
berkutik di dekat tiang istana.
"Bunuh!" Terdengar teriakan nyaring dan tombak-tombak itu pun merekam tubuh
Maleang Pangaru.
Tubuh orang tua itu mengejang meliuk dan meregang,
kemudian terkapar dengan puluhan tombak tertancap
di tubuhnya. Terdengar jeritan panjang keluar dari
mulut lelaki tua itu dan setelah menggelepar-gelepar
beberapa saat, tubuh itu pun terkulai lemas dalam
keadaan tidak bernyawa. "Mampus kau!"
"Horeee! Kita berhasil membunuhnya. Tuanku
Pampani pasti sangat gembira melihatnya. Kawan-
kawan, salah seorang di antara kalian cepat memberi-
tahukannya kepada Tuanku Pampani!" teriak pemimpin laskar itu dengan wajah cerah
ceria. "Aku saja!" teriak seorang pengawal istana, lalu bagaikan anak panah dilepas
dari busurnya berlari
sambil berjingkrak-jingkrak hendak memberitahukan
keberhasilan mereka kepada Pampani. Akan tetapi ke-
tika sampai di halaman belakang istana, pengawal itu mendadak menghentikan
langkahnya. Matanya terbelalak lebar dan mulutnya menganga bagaikan anak ke-
cil melihat setan di siang bolong.
Maleang Pangaru yang tadi dilihatnya telah tewas
di ujung puluhan tombak, kini justru bertarung den-
gan Pampani. Pengawal itu hampir tak percaya pada
penglihatannya sendiri. Ia mengusap-usap matanya,
bahkan kemudian mencubit lengannya sendiri dan
manakala terasa sakit, sadarlah ia bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Saking
kaget dan bingungnya, pengawal itu hanya berdiri bengong bagaikan patung, ti-
dak tahu harus berbuat apa.
Beberapa saat kemudian, pengawal itu tersadar,
lalu berbalik lagi ke tempatnya semula ingin menyak-
sikan keadaan musuh mereka yang tadi terkapar ber-
lumuran darah dan sudah diyakini tewas. Di depan
pintu, ia bertubrukan dengan kawannya sendiri yang
saat itu juga kebetulan berlari hendak ke luar.
"Duk!" Kepala mereka sama-sama beradu keras.


Jaka Sembung 16 Kemelut Di Pulau Aru di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Akibatnya kedua laskar itu sama-sama terjengkang
dengan jidat benjol. Terdengar suara makian, tetapi
tanpa memperdulikan rasa sakit di kepalanya, pen-
gawal itu terus berlari ke dalam. Ia menyeruduk keru-
munan kawan-kawannya bagaikan babi hutan dikejar-
kejar pemburu. Beberapa laskar terpelanting oleh do-
rongan yang sangat kuat.
Agaknya pengawal itu terlebih dulu menyadari
apa sebenarnya yang telah terjadi. Maka ia pun berteriak-teriak bagaikan orang
kesurupan setan. "Lihat....!
Lihat! Kalian rupanya buta semua. Rabun dan kotok!
Lihat, siapa dia!"
Para laskar itu sama-sama melihat ke arah mu-
suh yang tadi mereka rejam hingga tewas.
"Hah?" Serentak para laskar itu mengeluarkan suara kaget dan sama-sama meloncat
mundur. Lelaki yang terkapar dengan puluhan tombak tertancap di
tubuhnya itu ternyata bukan Maleang Pangaru seperti
yang mereka lihat tadi. Lelaki itu tidak tua, melainkan masih muda dan tubuhnya
pun tegap, tidak kurus seperti halnya Maleang Pangaru.
Seorang laskar meloncat dan mengangkat wajah
yang terkulai itu. Dan ia kembali berseru kaget bagaikan orang disengat
kalajengking: "Hah" Ini... ini kawan kita sendiri!" Yang lainnya memperhatikan
dengan seksama. Dan benar, korban yang mereka rejam hingga tewas adalah teman
mereka sendiri. Sadarlah para
laskar itu bahwa mereka sudah bertindak salah,
menghabisi nyawa teman sendiri. Padahal tadi, dengan sangat jelasnya mereka
menyaksikannya sebagai Ma-laeng Pangaru. Bagaimana mereka semua yang jum-
lahnya puluhan orang itu sedemikian mudahnya terti-
pu oleh musuh" Untuk beberapa saat, para laskar itu
terdiam, saling berpandangan dengan wajah menun-
jukkan rasa bersalah dan penyesalan yang sangat da-
lam. Beberapa di antara para laskar itu, yang agaknya tadi ikut merejam tubuh
kawan mereka dengan tombak segera meninggalkan tempat itu dengan air mata
bercucuran. Tak terlukiskan bagaimana hancurnya pe-
rasaan mereka karena terlanjur membunuh kawan
sendiri. Sementara itu, Pampani tampak mulai terdesak
oleh musuh yang berwujud Iblis Pulau Aru itu. Semua
ilmu simpanan Pampani sudah ia keluarkan, namun
jangankan mendesak, ia makin keteter dan pada suatu
kesempatan, tendangan kaki lawan mendarat telak di
dagunya. "Braaak!" Tubuh Pampani terpelanting dan
menghantam tiang bangunan. Tanpa ampun lagi ban-
gunan di sekitar itu roboh menimpa tubuh sang Kepa-
la Suku. Dengan sisa tenaga yang ada, Pampani me-
lemparkan puing-puing bangunan yang menimpa tu-
buhnya. Ia terengah-engah dan sekujur tubuhnya di-
banjiri keringat. Wajahnya agak pucat, karena ia sadar nyawanya benar-benar
sangat terancam. Tetapi
sebagai pendekar gagah perkasa yang juga sebagai ke-
pala suku, ia tidak mau menyerah begitu saja. Baginya mati dalam pertarungan,
apa lagi melawan musuh be-sarnya adalah lebih terhormat daripada menyerah.
Maka ia pun segera meloncat bangun dan tampak agak
sempoyongan. Melihat itu, lawan tertawa kemudian menyeringai
buas. Beberapa saat kemudian, tubuhnya berkelebat
menerjang Pampani. Tangan kirinya melancarkan pu-
kulan maut ke arah dada Pampani. Cepat sekali ge-
rakkannya, sehingga kepala suku itu hanya sempat
berkelit ke samping dengan cara menggeser kaki. Teta-pi agaknya serangan itu
hanya pancingan saja, karena begitu Pampani menggeser kaki, tiba-tiba kaki kanan
lawan sudah menghantam dadanya.
"Buk!"
Tubuh Pampani kembali terlempar dan sebelum
ia sempat bangkit, tendangan lawan lagi-lagi menghan-
tam dagunya. Menyusul lagi hantaman kaki kiri, hing-
ga akhirnya Pampani tergeletak tak berdaya lagi. Kepalanya sangat pusing,
sehingga tanah tempatnya terge-
letak terasa berputar-putar, pandangan matanya pun
berkunang-kunang, sehingga kadang-kandang tubuh
lawan tampak berubah jadi banyak sekali.
Kembali lawan yang berwujud Maleang Pangaru
itu menyeringai buas. Matanya berkilat-kilat dan me-
rah bagaikan memancarkan api sewaktu menatap
Pampani. Agaknya ia sudah memutuskan akan meng-
habisi nyawa kepala suku itu. Tetapi sebelum melak-
sanakan niat hatinya, ia masih sempat berkata.
"Riwayatmu akan kuakhiri sampai di sini saja.
Sebenarnya tanpa bantuan pendekar-pendekar dari
Pulau Jawa itu, kau tidak ada artinya sama sekali bagiku. Walaupun mereka tidak
sesakti si Setan Cebol,
tetapi mereka cerdik-cerdik serta ulet. Tidak seperti kau yang dungu bagaikan
kerbau. Walaupun demikian, kawan-kawanmu itu satu persatu sudah kupere-
teli hingga suatu saat nanti semuanya akan bertekuk
lutut di hadapanku. Sekarang giliranmu untuk mam-
pus!" Orang tua itu mengangkat kaki kanannya, bersiap-siap menginjak dada
Pampani hingga remuk.
Akan tetapi tiba-tiba sebuah balok kayu menghantam
tengkuknya "Buk! Augh!"
Tubuh lelaki itu terdorong ke depan, memegangi
belakang kepalanya yang dihantam pakai balok kayu
itu, ternyata sudah retak dan mengeluarkan darah. Ia menggeram hebat sambil
memutar tubuh melihat siapa yang menyerangnya dari belakang. Ternyata adalah
Karta sendiri. Tadi pendekar dari Muara Bondet itu tertimbun
di dalam reruntuhan bangunan dan karena sudah
sempat kehabisan tenaga, ia tidak bisa segera bangkit.
Barulah setelah menghimpun tenaga dalamnya, ia me-
rasa kuat kembali. Tepat ketika ia ke luar dari reruntuhan, ia melihat Pampani
sedang terancam maut dan
ia pun segera bertindak menyelamatkan nyawa kakak
iparnya itu. "Yeaaaaa!" Karta melengking panjang dan nyaring. Tubuhnya mencelat bagaikan
terbang menerjang
Maleang Pangaru. Goloknya diputar cepat sekali hing-
ga menimbulkan suara berdesing-desing dan menim-
bulkan gulungan sinar mata golok kehitam-hitaman
mengurung tubuh lawan. Itulah ilmu golok Karta yang
paling dahsyat, sehingga lawan bisa kebingungan se-
bab senjata di tangannya tampak berubah jadi banyak
sekali dan setiap saat selalu mengincar tubuh musuh-
nya, dari segala sudut.
Tetapi lawan yang dihadapinya saat ini juga bu-
kan orang sembarangan. Mendapat serangan yang
sangat cepat seperti itu, ia segera meloncat menghindar, kemudian melancarkan
serangan balasan dengan
tangan kosong tetapi tidak kalah berbahayanya. Pada
saat itu, dari dalam lubang muncul pula sesosok tu-
buh, yang tak lain adalah si Kaki Tunggal sendiri. Setelah mengerahkan tenaga
dalamnya tadi, ia pun dapat
mengusir pengaruh asap beracun yang memenuhi pa-
ru-parunya. Pendekar berilmu tinggi ini pun tidak kalah terkejutnya melihat di
tempat itu telah mengamuk lelaki tua yang sangat mirip dengan Iblis Pulau Aru.
Wajah dan penampilan maupun cara bertarung orang
itu tidak ada bedanya dengan Maleang Pangaru, se-
hingga kalau misalnya si Kaki Tunggal belum tahu
bahwa tokoh sesat itu sudah tewas dahulu, tentu dia
tidak akan ragu-ragu lagi bahwa lelaki itu adalah musuh besar Pampani.
"Apakah benar-benar Iblis itu atau hanya ilmu
sihir belaka?" tanya hati si Kaki Tunggal. Ia ingin menyaksikan kehebatan ilmu
silat orang aneh itu. Maka ia pun melemparkan topi pandannya sambil mengerahkan
tenaga dalam, sehingga topi itu meluncur cepat sekali. Agaknya lelaki itu tidak
sempat memperhati-kannya, sehingga topi si Kaki Tunggal dengan telak
menghantam tulang iga Maleang Pangaru.
"Aaaah!"
Tubuh Maleang Pangaru meliuk-liuk dengan wa-
jah yang tiba-tiba berubah jadi pucat, pertanda bahwa ia menderita luka dalam
yang cukup parah akibat hantaman topi si Kaki Tunggal.
"Oh, kau sudah datang Baureksa!" seru Karta girang. Ketika melihat sahabatnya
menerjang Maleang
Pangaru, ia pun melancarkan serangan mautnya.
"Yeaaaa!"
Tongkat si Kaki Tunggal menyambar ke arah leh-
er Maleang Pangaru sementara golok Karta membabat
ke arah pinggangnya. Hebat sekali serangan kedua
pendekar itu. Tetapi dalam keadaan yang sangat kritis itu, Maleang Pangaru masih
sempat mengelak dengan
cara berkelit ke samping sambil menundukkan kepala
sehingga kedua senjata lawan hanya menerpa angin.
Namun saat itu, tangan kiri si Kaki Tunggal sudah
menghantam pinggangnya.
"Buk!"
Tubuh Maleang Pangaru terpelanting beberapa
meter. Melihat itu, Karta menjadi girang, lalu segera meloncat sambil
mengayunkan goloknya siap membabat leher lawan hingga putus. Akan tetapi tiba-
tiba terdengar jeritan:
"Tahan! Aku adalah Pampani!"
"Mampus kau!" bentak Karta karena mengira
musuhnya hendak memperdayai mereka kembali. Go-
loknya meluncur cepat sekali menusuk dada lawan.
"Tunggu! Aku adalah Pampani, bukan Maleang
Pangaru!" Lelaki itu kembali berteriak. Akan tetapi Karta tetap tidak mau
perduli. Goloknya terus meluncur dan tampaknya lawannya pun tidak akan mampu
mengelak lagi. "Trak!" Hanya beberapa centimeter sebelum
menghunjam di tubuh lawan, golok Karta tertahan
oleh tangkisan tongkat Kaki Tunggal sahabatnya.
"Tunggu dulu, Karta!" kata si Kaki Tunggal setengah membentak "Lihat baik baik,
siapa yang hendak kau bunuh itu!"
Karta memperhatikan wajah lelaki yang hendak
dibunuhnya! Dan dia pun berseru kaget dengan wajah
pucat, "Astaga! Pampani!"
"Kita hampir membunuh kawan sendiri," kata si Kaki Tunggal seraya menggeleng-
gelengkan kepala.
Karta segera menyarungkan goloknya! lalu mem-
bantu Pampani berdiri. Dadanya masih berdebar-
debar, tak berani membayangkan apa yang bakal ter-
jadi seandainya si Kaki Tunggal tidak menangkis go-
loknya tadi. Padahal sewaktu ia menerjang, jelas sekali terlihat oleh matanya
bahwa lelaki itu adalah Maleang Pangaru. Sadarlah pendekar itu bahwa dirinya
sudah termakan oleh ilmu sihir lawan. "Maafkan aku, Pampani!"
Para laskar yang menyaksikan kejadian itu juga
tidak kalah terkejutnya. Tadi mereka sudah bersiap-
siap melakukan pengeroyokan terhadap musuh besar
mereka. Namun ternyata musuh yang tampak sebagai
Maleang Pangaru itu adalah kepala suku mereka sen-
diri. Tiba-tiba terdengar suara ketawa terbahak-
bahak, keras sekali dan sambung menyambung seperti
suara ketawa setan dari alam gaib. Pampani dan saha-
bat-sahabatnya maupun para laskar sama-sama ber-
paling ke arah asal suara itu. Alangkah terkejutnya
mereka menyaksikan dua sosok tubuh laki-laki sedang
Si Pedang Kilat 1 Ilmu Ulat Sutera Karya Huang Ying Pengelana Rimba Persilatan 3
^