Pencarian

Rahasia Makam Mahesa 3

Mahesa Edan 1 Rahasia Makam Mahesa Bagian 3


Namun dia tertipu. Ratu Mesum sama sekali belum ingin mengeluarkan senjata
andalannya yakni hawa harum yang mengandung racun pelumpuh. Kedua kakinya
melejang-lejang dalam gerakan berubah-ubah. Si Tudung Maut kembali sapukan
tudungnya ke atas. Namun lawan tiba-tiba lenyap dan tahu-tahu di sebelah kiri
terdengar pekik salah seorang perwira muda. Tubuhnya terkapar di tanah dengan
kepala pecah! Perwira yang satu lagi berteriak marah. Putar pedangnya ke atas,
berusaha membabat kaki Ratu Mesum. Seranganya luput. Justru dia terpaksa harus
menyusul kawannya, menerima nasib yang sama.
Tendangan Ratu Mesum menghantam tepat batang
tenggorokannya. Perwira ini keluarkan suara seperti sapi disembelih lalu
tergelimpang mati!
Kini tinggal si Tudung Maut seorang diri.
Ratu Mesum tegak berkacak pinggang. "Apa kau sudah siap untuk mati?" tanyanya
pada si Tudung Maut.
"Sombong amat! Apa kau tidak tahu kalau orang
sombong lebih cepat mampus"!"
Perempuan itu tertawa panjang.
Si Tudung Maut kenakan kembali topi bambunya yang bolong lalu loloskan kain
sarung yang diselempangkannya di bahu.
"Aih bagus! Kau membawa kain sarung segala. Itu nanti bisa dipergunakan sebagai
kain kafan pembungkus mayat-mu!"
Lelaki itu tidak layani ejekan lawannya. Entah kapan dia menggerakan tangan
tiba-tiba kain sarung itu melesat dan menebar seperti jaring, siap membuntal
tubuh Ratu Mesum. Kaget perempuan ini tidak kepalang. Tidak disangkanya kain
sarung yang barusan diejeknya itu bisa berubah menjadi perangkap berbahaya.
Cepat dia melompat ke belakang sambil lepaskan satu pukulan dengan tangan kiri dan tangan
kanan mencengkeram untuk merobek senjata lawan.
Si Tudung Maut tidak bodoh. Dia bukan pendekar
kemarin yang bisa dipercundangi dengan mudah. Namun merasakan angin pukulan yang
keluar dari tangan kiri lawan membuatnya lebih berhati-hati. Ujung kain sarung
menyambar berputar mengelakkan cengkeraman tangan kanan lawan lalu dilain kejap
kain ini menghantam ke muka Ratu Mesum.
"Kain butut busuk begini hendak diandalkan!" ejek Ratu Mesum. Tubuhnya menerobos
diantara lingkaran kain sarung. Satu hal yang tidak diduga lawan dan tahu-tahu
kedua tangannya sudah melesat kearah leher Tudung Maut.
Terpaksa si Tudung Maut tarik kencang-kencang kain sarungnya. Tubuh Ratu Mesum
tergelung ke depan,
keduanya lalu jatuh saling himpit. Lelaki itu bangkit lebih dulu, lepaskan topi
bambunya lalu dilemparkan ke arah kepala lawan. Tapi bambu itu berputar laksana
titiran. Pinggirannya seperti sebuah gerinda tajam. Terpaksa Ratu Mesum gulingkan diri.
Tapi bambu menancap di dinding rumah yang terbuat dari kayu jati keras. Dapat
dibayangkan kalau topi itu sempat menyambar kepala sang ratu!
Ratu Mesum memaki panjang pendek. Selagi dia
mencoba bangun, lawan sudah kembali menyerbu dengan serangan-serangan ganas.
Melihat lawan mundur terus dan merasa dia bisa mendesak, si Tudung Maut
pergencar serangannya. Namun semua itu adalah taktik Ratu Mesum untuk menguras
tenaga lawan sambil mengintai
kelemahan. Ketika satu serangan berantai si Tudung Maut hanya mengenai tempat
kosong dan tubuhnya terdorong ke kiri, secepat kilat Ratu Mesum menghantam
dengan pukulan tangan kosong yang mengeluarkan sinar merah muda. Dalam keadaan
kedua kaki sudah terlanjur ke depan, tak mungkin bagi si Tudung Maut untuk
membuat gerakan mengelak selain langsung jatuhkan diri ke tanah.
Justru lawan sudah perhitungkan hal ini dan susul dengan pukulan kedua yang
tepat menghantam bahu kiri, sisi dan sebagian dadanya!
Si Tudung Maut menjerit keras. Tubuhnya terlempar beberapa langkah. Sebagian
badannya kelihatan seperti terbakar. Sebelah matanya menjadi buta.
Ratu Mesum tertawa panjang.
Si Tudung Maut sadar nyawanya tak bakal lama. Dari balik pakaiannya tiba-tiba
dia keluarkan sebuah tudung kecil yang juga terbuat dari bambu. Benda ini
dilemparkannya ke arah Ratu Mesum. Sang ratu terkesiap kaget, cepat menyingkir.
Namun tak urung pinggiran topi sempat menyerempet bahu kirinya. Pakaian merah
robek, daging bahunya tersayat dalam dan darah mengucur!
"Setan alas!" rutuk Ratu Mesum. Tubuhnya melesat ke depan. Si Tudung Maut yang
tengah meregang nyawa ditendangnya beberapa kali hingga tubuh orang ini remuk
terguling-guling.
Ratu Mesum robek pinggiran pakaian merahnya.
Dengan robekan kain ini dia ikat luka dibahunya. Baru saja dia hendak berkelebat
pergi tiba-tiba terdengar suara Pringgo.
"Mawar! Jangan pergi..."
Ratu Mesum berpaling. Dilihatnya Pringgo berdiri sambil pegangi bagian belakang
kepalanya yang luka dan benyut, lalu melangkah mendekatinya.
"Lelaki keparat!" sentak Ratu Mesum. "Kalau bukan karena kau tak akan bahuku
cacat begini rupa!"
"Mawar, aku ikut bersamamu! Jangan pergi sendiri!"
kata Pringgo seraya hendak memeluk perempuan itu.
"Kau pergilah lebih dulu kalau memang mau ikut!" Ratu Mesum jotos kuat-kuat dada
lelaki itu. darah menyembur dari mulut Pringgo. Tubuhnya terlempat dan roboh tak
berkutik lagi. *** 9 PERTEMPURAN DI PANTAI SELATAN
AMPIR sebulan Kunti Kendil dan Lembu Surah
malang melintang di rimba persilatan. Namun
H keduanya tidak dapat mencari tahu di mana dan ke mana makam Mahesa
dipindahkan. Lain dari itu mereka juga tidak berhasil mencari Wirapapti alias
Iblis Gila Tangan Hitam. Tempat kediamannya di Bukit Karang Putih juga sepi.
Yang kelihatan hanya bekas reruntuhan bangunan bambu.
"Aneh, semuanya serba gaib! Seperti ditelan bumi!" kata Kunti Kendil ketika satu
malam dia bersama Lembu Surah berhenti di luar sebuah desa.
Lembu Surah tak menjawab. Dia asyik melatih diri, memainkan jurus-jurus silat
untuk membiasakan diri dengan keadaan hanya memiliki satu tangan. Kunti Kendil
melihat banyak kemajuan pada diri suaminya itu, paling tidak dalam waktu
beberapa minggu dimuka dia mampu kembali pada keadaan seperti ketika dia masih
memiliki dua tangan utuh.
"Kemana lagi kita akan menyelidiki?" ujar Kunti Kendil lalu menghela nafas
dalam. "Jika aku memberi nasihat, apakah kau mau men-
dengar?" Lembu Surah hentikan latihannya dan ajukan pertanyaan itu.
"Tergantung nasihat apa dulu."
"Apa perlu kita mencari Wirapati...?"
Kunti Kendil mendelik.
"Gila! Pertanyaan gila!" katanya hampir berteriak. "Jelas-jelas dia
mencelakaimu. Membuatmu menjadi cacat
seumur hidup. Kini kau bertanya apa perlunya mancari anak setan itu! Apa kau
tidak akan menuntut balas?"
Lembu Surah termangu sesaat. Lalu katanya pula,
"Kunti, jika kuingat-ingat, dosaku tak dapat ditakar lagi.
Mungkin apa yang kualami saat ini sudah menjadi
hukuman yang setimpal bagiku. Malah seharusnya aku layak mati. Masih untung
tidak membunuhku..."
"Masih untung! Kau bisa berkata begitu karena kau masih hidup...."
"Lebih baik kita melupakan muridmu itu. kita kembali ke gunung Iyang. Tinggal di
sana berdua-dua dengan
tentram...."
"Surah! Jangan kau lupa. Persoalanmu bukan cuma
bersangkutan pada Wirapati. Tapi juga berkaitan dengan muridku yang satu lagi!
Yang mati ditangnku gara-gara anak setan bernama Wirapati itu. Seumur-umur aku
akan merasa berdosa karena telah kesalahan tangan. Satu-satunya jalan untuk
menebus adalah menemukan Wirapati dan membunuhnya. Mencincang sampai lumat!"
"Dengan berbuat begitu apakah Mahesa bisa hidup
kembali?" tanya Lembu Surah.
"Tentu saja tidak. Tapi hatiku puas! Tak ada hutang piutang yang mengganjal!"
sahut Kunti Kendil.
"Kau hanya menurut suara hatimu Kunti. Dan suara hatimu itu dipengaruhi oleh
setan!" Dari ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Lembu
Surah jelas kakek berwajah muda ini telah berbeda dari masa ketika dia masih
malang melintang dalam dunia persilatan dengan meyandang gelar Datuk Iblis
Penghisap Darah. Agaknya dia kini benar-benar tobat dan ingin menghabiskan sisa
hidupnya dalam jalan yang baik.
"Terserah kau mau bilang apa Surah. Dipengaruhi setan.
Dipengaruhi iblis! Pokoknya aku tak akan mundur. Aku tetap akan mencari
Wirapati. Juga ingin tahu siapa yang mencuri mayat Mahesa. Siapa yang
menguburkannya di lembah, lalu kemana mayatnya dipindahkan! Kalau kau merasa
keberatan mengikuti perjalanan, kau boleh kembali ke gunung Iyang. Aku baru
kembali ke sana jika semua tujuanku tadi berhasil kulaksanakan!"
"Seperti kataku tadi, aku hanya ingin memberi nasihat.
Mau dituruti atau tidak terserah padamu..."
Kunti Kendil seperti tidak mendengarkan ucapan suaminya itu. dia tengah
berpikir-pikir.
"Apa yang ada dibenakmu kini Kunti?"
"Pada hari keseratus hari perjanjian kita, sebelum kau datang, pagi harinya
muncul seseorang ke tempat
kediamanku. Pendekar Muka Tengkorak!"
"Eh, apa urusannya datang ke tempatmu?" tanya Lembu Surah.
"Katanya mencari Mahesa. Aku menaruh curiga, jangan-jangan dia yang mencuri
mayat Mahesa. Lalu ketika diketahuinya aku telah menemui makam pemuda itu,
cepat-cepat jenazah Mahesa dipindahkannya..."
"Kalau betul dia yang mencuri dan menguburkan, lalu memindahkan mayat muridmu
itu, apa perlunya dia membuat papan pengumunan segala!"
"Hai, betul juga katamu itu. apa perlunya.... Mungkin untuk membuatku jadi jengkel
dan marah. Aku tahu kakek itu suka pada anak setan itu..."
"Apa sebenarnya hubungan muridmu dengan si muka
tengkorak itu?"
"Mahesa pernah menyelamatkannya ketika disekap
orang dibawah patung batu. Dia merasa berhutang budi dan nyawa. Anak setan itu
dihadiahinya sepersekian dari tenaga dalamnya..." menerangkan Kunti Kendil.
"Pantas, ketika aku pernah menghadapinya kudapati tenaga dalamnya tidak berada
dibawahku! Ujar Lembu Surah. "Bagaimana kalau kita cari dan temui dia" Aku yakin
banyak keterangan yang bisa dikorek darinya."
"Mencarinya sama saja sesulit mencari jarum dalam tepung!" sahut Kunti Kendil.
Dia lebih suka meneruskan mencari Wirapati.
"Aku tahu di mana monyet tua itu suka muncul. Kalau nasib kita baik kita bakal
menemuinya di tempat itu...."
"Di mana?"
"Di pantai selatan. Di perkebunan nipah. Tempat orang membuat rokok kawung...."
Kunti Kendil menimbang-nimbang. Tawa lebar muncul di wajahnya.
"Eh, kenapa kau tertawa. Ada yang lucu?"
Si nenek menggeleng. "Tak ada yang lucu. Apa kau tak ingat kita bisa melakukan
sesuatu di selatan?"
"Sesuatu apa?"
"Ingat gunung Wilis?"
"Maksudmu madu lebah putih itu?"
"Apa lagi"!"
"Ah, rupanya kau masih ingin terus muda!" seru Lembu Surah.
"Kau tak suka kalau wajahku tetap cantik dan tubuhku tetap kencang...?"
Lembu Surah tertawa gelak-gelak. "Tentu saja aku menginginkan hal itu Kunti. Dan
paling tidak maupun tetap ingin agar aku ini kuat dan tetap muda!"
Setelah puas tertawa, Lembu Surah bertanya:
"Bagaimana pendapatmu tentang kebar dan undangan yang disebar dari mulut ke
mulut. Mengenai pendirian Partai Merapi Perkasa itu...."
"Ada baiknya kita datangke puncak gunung itu. Pertama, aku ingin tahu siapa
orangnya yang punya rencana dan belum apa-apa sudah mengangkat diri jadi Ketua
Partai. Kedua, pasti di sana akan berkumpul banyak para jago dan tokoh-tokoh silat.
Bukan mustahil Wirapati juga muncul di situ. Hanya sayang saat peresmian
berdirinya partai itu masih dua bulan di muk..."
"Karena itulah coba menyirap kabar dan keterangan dari Pendekar Muka Tengkorak
lebih dahulu."
"Aku setuju. Besok pagi-pagi kita berangkat ke selatan,"
Kunti Kendil pula.
"Tapi ada satu hal menjadi ganjalan," kata Lembu Surah. "Topeng kulitku semua
tertinggal di pondokmu.
Kalau kita muncul berdua-dua seperti ini, rahasia kita akan terbuka!"
"Tak perlu dikhawatirkan hal itu. Biar aku sendiri yang menemui si muka
tengkorak itu. kau tunjukkan saja tempatnya."
"Baiklah, tapi hati-hati bicara masih belum pulih sepenuhnya..." meningatkan Lembu
Surah, "Siapa takutkan monyet rongsokan itu!" sahut Kunti Kendil.
*** Laut pantai selatan dimusim angin barat seperti saat itu berombak besar. Para
nelayan jarang yang berani turun kelaut. Kebanyakan dari mereka bekerja mencari
upah pada pemilik pohon-pohon nipah yang biasanya dijadikan daun kawung.
Pagi itu udara cerah sekali. Orang-orang lelaki bekerja memotongi pelepah-
pelepah nipah. Orang-orang perempuan dan anak-anak menjunjunginya membawa ke
rumah-rumah di sepanjang pantai untuk disiangi. Setelah dikupas dan di siangi,
daun-daun nipah itu dijemur sampai kering.
Daun yang telah kering inilah kemudian diserahkan pada pemilik pohon nipah,
dihitung jumlahnya untuk menentu-kan upah.
Lembu Surah berdiri dibalik pohon kelapa dan menunjuk ke arah sebuah rumah. "Kau
lihat rumah paling besar ber-atap rumbia, yang ada sumur di perkarangannya
itu...?" Kunti Kendil mengangguk.
"Itu adalah rumah pemilik pohon nipah terbanyak di daerah ini. Pergilah ke sana,
tanyakan apakah kakek pengemis kurus ada di situ. Kalau kau tanyakan Pendekar
Muka Tengkorak, tak seorangpun tahu. Manusia itu sering muncul di sana untuk
meminta rokok kawung berikut tembakau. Dia tak pernah membeli. Entah mengapa
orang selalu memberinya, berapapun yang bisa sibawanya....
Nah, kau pergilah. Hati-hati, jangan mencari silang sengketa. Kita mencari
keterangan, bukan mencari perkara!"
Kunti Kendil kembali mengangguk. Dengan muka yang ditutupi kulit tipis tua
keriput, tongkat kayu kering di tangan kanan dan langkah terbungkuk-bungkuk
serta pincang, nenek itu berjalan terseok-seok menuju rumah yang dikatakan Lembu
Surah. Di perkarangan, di depan tangga rumah seorang
perempuan separu baya asyik memotongi daun kawung.
Melihat si nenek muncul mukanya langsung asam.
"Pengemis lagi! Pengemis lagi! Yang satu masih belum pergi. Sudah datang yang
baru!" Perempuan itu mengeluarkan suara mengomel tapi tanpa memandang pada Kunti
Kendil. Tiba-tiba ujung sebuah tongkat menusuk pelahan
sambungan siku kanannya. Mendadak sontak detik itu juga tangannya itu terkulai
jatuh ke tanah. Bagaimanapun dia berusaha mengumpulkan tenaga untuk mengangkat
atau menggerakkan tangan kanannya itu tetap saja dia tak mampu. Pisau yang tadi
dipegangnya jatuh.
Kunti Kendil tusuk kembali sambungan siku perempuan itu, detik itu pula tangan
kanannya yang tadi berat lumpuh kini kembali seperti semula seolah-olah tak
terjadi apa-apa!
"Aku mencari sahabatku si pengemis kurus. Apa dia ada di sini?" Kunti Kendil
bertanya sambil goyang-goyangkan tongkat kayunya.
Ketakutan setangah mati perempuan yang ditanya
segera berdiri dan hendak lari ke dalam rumah. Tapi cepat sekali bahunya sudah
terpegang oleh si nenek. "Tak usah takut dan jangan berteriak. Aku hanya perlu
jawabanmu. Pengemis kurus sahabatku itu ada di sini atau tidak?"
Perempuan separuh baya itu tak bisa membuka mulut.
Tapi dia menunjuk ke arah atas pohon ketapang besar yang tumbuh di ujung kiri


Mahesa Edan 1 Rahasia Makam Mahesa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pekarangan. Kunti Kendil memandang mengikuti arah yang ditunjuk. Di atas pohon,
pada sebatang cabang besar kelihatan berbaring sesosok tubuh kurus berpakaian
compang-camping. Disela bibirnya terselip sebatang rokok kawung besar. Orang ini
meng-hisap rokok itu tanpa mencopot dari bibirnya. Asap rokok mengepul tiada
henti. Kedua matanya terpejam. Tampak-nya dia asyik sekali menikmati rokok
kawungnya. Kunti Kendil lepaskan pegangannya pada bahu
perempuan tadi. Begitu bahunya terlepas, perempuan ini lari pontang-panting ke
dalam rumah. "Pengemis kurus! Turunlah sebentar. Ada yang hendak kutanyakan!" Kunti Kendil
berseru. Asap rokok mengepul kencang. Sepasang mata masih terpejam. Tubuh kurus itu tidak
bergerak. Hanya pakaian robengnya melambai-lambai ditiup angin laut.
"Pengemis kurus! Aku tahu kau tidak tidur dan tidak tuli.
Aku tahu kau mendengar kata-kataku. Turunlah!"
Dari atas pohon terdengar suara, "Siapa menyuruh siapa"!"
"Aku Kunti Kendil!" sahut si nenek.
Tubuh di atas pohon itu mendadak miring ke kiri dan jatuh ke bawah, melintang
seperti tonggak. Tapi begitu sampai di bawah kedua kakinya tetap saja menjejak
tanah lebih dulu. Ketika berdiri rokok kawung masih terselip dan kedua matanya
masih terpejam. Kakek ini ternyata memang Pendekar Muka Tengkorak Suro Inggil.
"Setan satu ini banyak tingkahnya!" maki Kunti Kendil dalam hati.
Perlahan-lahan sepasang mata itu kemudian tampak terbuka. Lalu muka yang hanya
tinggal kulit pembalut tulang tengkorak itu tampak menyeringai.
"Empat puluh tiga tahun tak pernah bertemu. Bertemu beberapa waktu lalu di
puncak yang acuh tak acuh. Kini tahu-tahu muncul. Berkata hendak menanyakan
sesuatu. Sesuatu itu tentunya yang amat sangat terlalu penting.
Begitu bukan...?" Kembali si kakek menyeringai, membuat si nenek jengkel. Kalau
tidak ada keperluan sudah dibentkanya tua bangka kerempeng itu.
"Ada sesuatu yang harus kau terangkan..."
"Heh, sudah datang atak diundang, sekarang bilang harus! Harus!"
Kunti Kendil ingat peristiwa lebih dua bulan lalu ketika si kakek datang ke
puncak Iyang dan dia menyambut dengan rasa tidak senang. Rupanya kali ini
Pendekar Muka Tengkorak sengaja hendak membalas. Tanpa perdulikan ejekan orang
Kunti Kendil kembali membuka mulut.
"Dua bulan lalu kau datang ke tempatku mencari si buyung. Apakah kau telah
menemukan muridku itu...?"
"Seharusnya aku yang menanykan apakah kau telah
mengetahui di mana si buyung itu sekarang...?"
"Jangan pura-pura tidak tahu!" bentak Kunti Kendil.
Dibentak begitu rupa si kakek tampak tenang. Dia julurkan lidahnya lalu matikan
api rokok kawungnya yang telah jadi pendek dengan menekankan bagian yang berapi
ke atas lidahnya. Ces! Api rokok mati tapi lidah si kakek tidak apa-apa.
"Tua bangka, jangan pamerkan kepandaian di
depanku!" Kunti Kendil malah jadi jengkel. "Kepandaianmu bagus untuk
diperlihatkan di depan anak-anak. Kau kelihatan berbakat jadi tukang sulap. Tapi
tidak ada harganya diperlihatkan padaku!"
"Bicara soal tukang sulap, sebetulnya kaulah yang lebih cocok disebut tukang
sulap Kunti!" tukas Pendekar Muka Tengkorak. "Dulu kau tidak tahu menahu tentang
muridmu itu, kini kau datang jauh-jauh hanya untuk menanyakan di mana anak itu.
bahkan mendampratku sebagai terpura-pura. Apa yang harus aku pura-purakan pada
perempuan tua sejelekmu ini!"
"Sekali lagi kau berani menghinaku, kurobek mulutmu!"
mengancam Kunti Kendil.
Si kakek tertawa mengekeh. Lalu hidupkan sebatang rokok kawung kembali. Setelah
menyedot rokoknya dalam-dalam kakek ini lantas bertanya, "Sebenarnya apa sih
urusanmu datang jauh-jauh kemari"!"
"Aku minta keterangan tentang mayat muridku!" sahut Kunti Kendil.
Mulut ompong Pendekar Muka Tengkorak ternganga.
"Muridmu yang mana yang mati"!"
"Anak setan yang kau sebut dengan panggilan si buyung itu!"
Tubuh Pendekar Muka Tengkorak mencelat ke udara.
Rokok di sela bibirnya lepas dan jatuh. Wajahnya mendadak pucat. Begitu turun ke
tanah dia pegang bahu Kunti Kendil dan goyangkan berulang-ulang.
"Mahesa! Si buyung itu meninggal" Mati"!" teriak si kakek. "Kau bicara benar
atau ngaco! Jangan kau berani mempermainkan aku soal nyawa anak itu. dia sahabat
kepada siapa aku berutang nyawa berulang kali!"
Si nenek tepiskan kedua tangan Pendekar Muka
Tengkorak dengan memukulnya dengan keras-keras.
Dalam keadaan lain mungkin kakek ini akan mengeluh kesakitan. Namun saat itu
rasa terkejut membuat dia seperti tidak merasakan apa-apa.
"Kentut busu! Beberapa hari sebelum dia meninggal kau muncul di puncak Iyang.
Kemudian jenazahnya lenyap!
Tentu ada orang yang mengambil dan melarikannya!
Kemudian kutemukan kuburannya di lembah di kaki
gunung. Beberapa hari kemudian ketika aku datang lagi ke situ kuburan itu
lenyap. Dipindahkan ke tempat lain..."
"Nenek jelek!" ujar Kakek Muka Tengkorak yang menjadi panas karena dimaki kentut
busuk tadi. "Jadi kau datang kemari untuk memberi tahu meninggalnya si buyung,
aku berterima kasih! Tapi jika kedatanganmu mengandung maksud yang bukan-bukan
jangan salahkan kalau aku terpaksa melepas tangan kasar!"
"Oooo... jadi kau mau menantangku"!" si nenek ber-
kacak pinggang. "Dalam sejarah hidupku tak pernah ada orang yang berani
menantang berumur lebih lama dari sepeminuman teh!"
Kakek itu menyeringai. Tapi kedua matanya tampak berkaca-kaca. "Berkelahi hidup
mati denganmu siapa yang takut. Hanya aku perlu tahu mengapa si buyung itu
sampai pendek umurnya. Apakah dia sakit atau dibunuh orang"!
Kalau sakit katakan apa sakitnya! Kalau dibunuh katakan siapa pembunuhnya, biar
kucari sampai ke liang neraka sekalipun!"
Tentu saja Kunti Kendil tak bisa menjawab pertanyaan itu. bukan saja akan
menyingkap tabir kematian Mahesa, tetapi juga karena dia sendiri memang tak akan
mau mengatakan.
"Nenek jelek! Orang bertanya apakah kau tidak mendengar"!" sentak Pendekar Muka
Tengkorak. Dia coba membaca apa yang berada dibalik air muka si nenek, tanpa
mengetahui kalau Kunti Kendil mengenakan topeng kulit tipis.
"Jadi kau tidak mencuri mayatnya dari tempatku?"
"Sialan! Tentu saja tidak!" jawab si kakek jengkel. "Sejak kau mengusirku dari
puncak Iyang, aku bersumpah tidak akan menjejakkan kaki lagi di tempat itu!"
"Juga bukan kau yang menguburkannya lalu memindahkan mayatnya ke tempat lain"!"
bertanya lega Kunti Kendil.
"Tua bangka bawel! Semua jawabanku untukmu adalah tidak! Kau dengar"! Sekarang
katakan apa yang terjadi dengan si buyung. Jika kau berani berdusta kupecahkan
kepalamu! Tak perduli siapapun kawanmu yang mengantar kemari dan bersembunyi di
sana!" Si kakek menunjuk ke arah deretan pohon-pohon nipah dibalik mana Datuk
Iblis alias Lembu Surah bersembunyi menunggu. Kunti Kendil terkejut sekali
mendengar kata-kata itu.
"Hendak memecahkan kepalaku" Tua bangka sombong!
Mari! Aku ingin melihat sampai di mana kerasnya
pukulanmu!" Rupanya si nenek juga sudah tak dapat menahan amarahnya.
Kedua orang itupun berhadap-hadapan dan pasang
kuda-kuda. Dari tempat persembunyiannya Lembu Surah memaki
panjang pendek dan garuk-garuk kepala ketika melihat kedua orang itu berlaga.
Tak henti-hentinya dia mengeluh:
"Celaka! Celaka! Kenapa mereka jadi berkelahi!
Bagaimana ini! Apa yang harus kulakukan"!"
Sebagai salah seorang tokoh persilatan tentu saja Lembu Surah mengetahui sampai
di mana kehebatan
orang tua berjuluk Pendekar Muka Tengkorak itu. Baik Kunti Kendil maupun dia
sendiri tidak berada di atas kepandaiannya bila dibandingkan dengan orang tua
bertubuh jerangkong bermuka tengkorak itu.
Di depan sana dilihatnya debu dan pasir beterbangan akibat gerakan-gerakan kedua
orang yang berkelahi.
Orang-orang yang tadi bekerja memotong dan menyaingi daun nipah kini hentikan
pekerjaan mereka dan berkumpul menyaksikan perkelahian antara dua tua bangka
itu. Setelah sepuluh jurus lebih berhambur serangan gencar, memukul dan menendang
namun tak satupun berhasil mengenai lawannya, Kunti Kendil jadi seperti terbakar
darahnya oleh hawa amarah. Didahului oleh teriakan keras nenek ini berkelebat.
Gerakannya seperti selusin burung yang datang dari dua belas arah, menyerbu ke
satu sasaran yakni Pendekar Muka Tengkorak Suko Inggil.
Namun orang yang diserang ini tampak tenang saja dan nyalakan sebatang rokok
kawung. Dengan rokok itu dia kemudian menghadapi gempuran lawan. Rokok yang
menyala di tangan kiri menusuk kian kemari sementara tangan kanan tak tinggal
diam dan lebih banyak
dipergunakan untuk menangkis. Bila tangkisannya hampir menimbulkan bentrokan, si
kakek cepat susupkan
tangannya ke atas atau ke bawah lalu selinapkan serangan balasan. Dalam pada itu
mulutnya tiada henti menghembuskan asap rokok kawung ke muka lawan. Bukan saja
asap rokok ini membuat pengap pernafasan Kunti Kendil, tapi pemandangannyapun
jadi terhalang. Dan si nenek tahu betul jika asap rokok itu sampai mengenai
kulitnya, pasti dia akan menderita luka bakar yang mengerikan karena asap itu
terdorong oleh kekuatan tanaga dalam yang dahsyat!
Dari tempatnya berdiri Datuk Iblis yang memperhatikan perkalahian itu segera
memaklumi, walaupun istrinya tidak mudah untuk dikalahkan, tapi sebaliknya bagi
Kunti Kendil mengalahkan si kakek muka tengkorak juga bukan hal yang mudah,
malah mungkin mustahil. Kalaupun itu sampai terjadi maka kedua orang itu pasti
akan sama-sama celaka. Jadi mau tak mau perkelahian itu harus dilerai dan
dihentikan. Tapi bagaimana caranya"! Tak mungkin tanpa tidak melukai salah satu
dari antara mereka!
"Aku harus bertindak sebelum mereka mulai keluarkan pukulan-pukulan sakti!" kata
Lembu Surah dalam hati.
Tangan kirinya satu-satunya tangan yang masih dimilikinya sekarang diusapkannya
ke kantong kulit berisi tuak yang ada di pundak kirinya. Setelah berpikir
sejenak kakek yang kini tidak memakai kedok kulit tipis warna kuning itu teguk
tuak dalam kantong lalu melangkah mendekati mereka yang sedang berkelahi. Pada
saat mencapai jarak tertentu Lembu Surah semburkan tuak dalam mulutnya. Semburan
yang disertai tenaga dalam ini bukan main hebatnya.
Tetesan-tetesan tuak tidak beda seperti rangkaian jarum yang melesat.
Pendekar Muka Tengkorak terkesiap ketika mendengar suara berdesing di
belakangnya. Tanpa berpaling dia sudah maklum kalau ada orang yang membokong.
Siapa lagi kalau bukan temannya si nenek yang tadi diketahuinya bersembunyi di
balik pohon-pohon nipah.
"Pengecut curang!" teriak si kakek lalu melompat tinggi ke atas. Di udara dia
jungkir balik seraya lepaskan pukulan tangan kosong. Serangkum angin deras
menghantam ke arah Lembu Surah. Yang di serang cepat menyingkir ketika pohon
nipah di balik mana dia berlindung hancur
berantakan, hampir tercabut berikut akarnya dari tanah yang basah oleh air laut.
"Kunti! Tak ada gunanya melayani manusia itu! mari tinggalkan tempat ini!"
teriak Lembu Surah. Lalu tangn kirinya dipukulkan ke depan. Disaat yang sama di
arah belakang Kunti Kendil lepaskan pula pukulan Api Geledek Menggusur Makam
yang terkenal kehebatannya. Sinar merah berkiblat! Jengkelnya si kakek muka
tengkorak bukan kepalang. Tapi orang bertangan buntung itu yang menyerangnya
dari belakang, kini ganti si nenek.
Terpaksa kakek ini kembali harus melompat ke udara seraya mulutnya memaki:
"Tidak dinyanakan tokoh utama sepertimu juga bisa berlaku curang! Nyatanya kau
bukan saja jelek tapi juga pengecut!"
Kunti Kendil tertawa mengekeh.
"Mana ada istilah pengecut dalam diriku, manusia jelangkong!" Lalu dia
melambaikan tangan pada Lembu Surah. Tanpa mau menyebut nama suaminya ini dia
berseru: "Hai! Mari kita membagi hadiah untuk cacing tanah ini!"
Si nenek menghantam lagi. Kali ini dengan pukulan Kincir Air Melabrak Kuburan.
Sedang Lembu Surah
bersamaan dengan itu lepaskan pula pukulan tangan kosong mengandung hawa panas
dan angin kencang.
Debu dan pasir beterbangan. Daun-daun pepohonan ber-guguran. Kakek muka
tengkorak terjepit diantara dua pukulan sakti itu.
"Sialan! Kalian berdua benar-benar pengecut! Aku terima hadiah kalian! Tapi
makan juga haiahku ini!" teriak Pendekar muka jelangkong itu. tangan kanannya
dipukulkan ke utara, menyambut pukulan Lembu Surah.
Tangan kiri menghantam ke selatan, menangkis serangan Kunti Kendil.
Terdengar dua suara berdentum dalam detik hampir bersamaan. Tubuh Pendekar Muka
Tengkorak mencelat dua tombak lalu jatuh ke tanah. Meskipun dia masih sanggup
berdiri di atas kedua kakinya namun lututnya goyah dan sesaat kemudian kakek ini
terguling dengan darah tampak mengalir dari mulutnya.
Lembu Surah terpental dan menyangsrang diantara
pelepah pohon nipah. Dadanya berdenyut sakit. Luka di bahunya sebelah kiri yang
baru saja sembuh tampak koyak dan mengeluarkan darah kembali. Cepat-cepat orang
ini keluarkan dirinya dari jepitan pelepah nipah. Di sebelah kiri Kunti Kendil
tampak tergontai-gontai beberapa lamanya.
Dia berusaha mempertahankan diri untuk tidak roboh.
Namun sesaat kemudian nenek inipun jatuh berlutut.
Walau tak ada darah yang keluar dari tubuhnya akan tetapi sekujur tulang
belulang laksana remuk. Dia ulurkan tangannya ketika Lembu Surah datang
membantunya bangkit. Setelah masing-masing mengatur jalan nafas dan peredaran darah,
mengerahkan tenaga dalam untuk
mendapatkan kekuatan baru, keduanya kemudian
tinggalkan tempat itu, disaksikan oleh pandangan mata penasaran si kakek muka
tengkorak. "Manusia buntung berambut kelabu itu! Gila! Dia tak kalah hebat dari Kunti
Kendil. Siapa dia" Aku rasa-rasa pernah mendengar suaranya. Tapi dimana...."
*** 10 RANDU AMPEL DAN LUMUT BERACUN
KAKEK MUKA ARANG YANG MISTERIUS
ITA tinggalkan dulu sepasang kakek nenek Kunti
Kendil-Lembu Surah yang berusaha mencari
K keterangan di mana mayat Mahesa berada. Kita
kembali ke gunung Bromo yaitu pada hari terjadinya pertempuran besar antar
Pendekar Muka Tengkorak
dengan Embah Bromo Tunggal serta mahkluk-mahkluk jejadiannya. Di mana saat itu
Mahesa hampir saja jadi bahan godokan ramuan obat yang tengah dikerjakan oleh
dukun terkutuk itu. Seperti yang diceritakan sebelumnya di situ terjadi pula
perkelahian hebat antara Pendekar Muka Tengkorak dengan Randu Ampel yang tiba-
tiba muncul, mengira si kakek adalah Embah Bromo Tunggal dan
langsung menempurnya.
Ternyata Randu Ampel telah memiliki ilmu silat tinggi sekali dengan gerakan-
gerakan serba aneh. Ayah Mahesa ini hampir saja membunuh si kakek jelangkong
kalau tidak dicegah oleh si pemuda. Randu Ampel sendiri kemudian melarikan diri
meninggalkan puncak Bromo.
Sekarang mari kita ikuti riwayat perjalanan Randu Ampel lelaki malang yang gagal
menjadi Adipati Probolinggo itu, malah ditimpa malapetaka, kehilangan istri
serta rusak ingatannya akibat guna-guna Embah Bromo Tunggal yang diperalat oleh
Mangun Aryo, yang menginginkan
kedudukan Adipati Probolinggo. Dia memang berhasil mendapatkan kedudukan itu
namun kemudian setelah delapan belas tahun berlalu, Randu Ampel berhasil mencari
dan menemuinya lalu membunuh musuh besarnya itu.
Seperti diketahui sebelum dirinya terkan guna-guna dukun jahat dari puncak Bromo
itu Mangun Aryo memang memiliki kepandaian silat. Namun hanya silat kampungan
yang mengandalkan tenaga luar atau tenaga kasar belaka.
Ketika dia muncul dalam keadaan gila delapan belas tahun kemudian, ternyata
lelaki ini telah memiliki ilmu silat luar biasa, dan aneh. Di samping itu dia
juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi dan ditambah pula dengan
tenaga dalam yang luar biasa. Bagaimana dan dari mana Randu Ampel mendapatkan
semua ilmu yang aneh dan serba hebat itu"
Kita kembali ke masa sekitar delapan belas tahun yang lalu dari jalinan cerita
silat ini. Setelah memendam istrinya (Wening Muriati) di dalam kuburan tua di
tepi kota Probolinggo, Randu Ampel tinggalkan pekuburan. Di bawah hujan lebat


Mahesa Edan 1 Rahasia Makam Mahesa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan gelap gulitanya malam dia bukan kembali menuju ke kota melainkan lari
memasuki rimba belantara yang sangat rapat pepohonannya. Sepanjang jalan
tubuhnya beberapa kali terantuk batang pohon, tersandung oleh akar yang menembul
dan jatuh, pakaiannya robek-robek tersangkut ranting-ranting sedangan kulit
tubuhnya penuh luka dan barut-barut. Namun semua itu seperti tidak dirasakannya.
Bahkan sambil lari dia membuka pakaiannya lalu melemparkannya ke tanah. Randu
Ampel lari terus bertelanjang dada, tanpa kasut. Hanya mengenakan celana hitam
panjang dan topi tinggi hitam serta kalung warna emas bergambar burung.
Menjelang pagi, ketika hari mulai terang-terang tanah, Randu Ampel baru hentikan
larinya. Dadanya terasa sesak dan dia sulit bernafas. Tubuhnya akhirnya
tergelimpang roboh, jatuh pingsan.
Menjelang tengah hari, ketika matahari berusaha
menembus sinarnya diantara celah-celah daun pepohonan yang sangat rapat, Randu
Ampel siuman dari pingsannya.
Begitu sadar, dari mulutnya keluar suara teriakan aneh.
Lalu dia bangkit berdiri, bersandar ke sebatang pohon.
Sesaat dirasakannya pemandangan berkunang-kunang.
Setelah penglihatannya terang, dalam keredupan hutan dia melihat sebuah batu
besar diantara semak belukar di hadapannya. Di pertengahan batu besar ini ada
sebuah lobang sepemasukan tubuh manusia.
Malihat lobang itu Randu Ampel terbayang pada lobang longsoran kuburan tua di
mana dia telah memendam istrinya hidup-hidup. Kontan lelaki ini berteriak,
"Gila! Semua gila.... Aku juga gila! Fitnah! Fitnah kembali kepada fitnah!"
Randu Ampel meludah ke tanah lalu kembali berteriak:
"Perempuan gila! Perempuan bangsat! Kau bakal mampus!
Mampus...!!!" kakinya dihentakan-hentakkan ke tanah.
Kedua tangannya memukul udara kosong di depannya berulang kali. Dia baru
berhenti setelah tubuhnya mandi keringat dan terasa lunglai, melosoh ke tanah.
Dadanya turun naik, nafasnya kembali sesak. Kedua matanya setengah terpejam
antara melihat dan tidak.
Lelaki yang otaknya tidak waras akibat guna-guna dukun jahat dari gunung Bromo
itu, tidak menunjukkan sikap apa-apa ketika samar-samar dia melihat sebuah
kepala muncul dari lubang batu yang terletak beberapa langkah di depannya.
Orang yang memiliki kepala itu mengenakan penutup kepala dari kain putih hampir
menyerupai sorban. Mukanya sangat hitam, seolah-olah dilumuri arang. Tapi
janggut, kumis dan alis matanya sebaliknya berwarna putih.
Meskipun wajah tua ini tampak biasa-biasa saja namun kesan angker segera
dirasakan oleh siapa saja yang melihatnya, kecuali Randu Ampel yang saat itu
tetap tenang-tenang saja....
Seperti seekor ular kepompong kepala bermuka hitam itu meluncur keluar diikuti
oleh tubuhnya terus ke kaki.
Sesaat kemudian orang ini sudah berdiri di hadapan lobang. Ternyata dia bertubuh
tinggi, mengenakan jubah putih. Kedua tangannya sangat panjang dan terjulai di
bawah lutut. Sepasang tangan inipun tampak berwarna sangat hitam.
Orang tua ini menatap Randu Ampel dengan wajah
mengerenyit. Lalu geleng-gelengkan kepala. Anehnya kemudian dia tampak seperti
tertawa. Matanya meneliti Randu Ampel dari kepala sampai ke kaki. Perlahan-
lahan, antara terdengar dan tiada, dari mulutnya terdengar ucapan: "Sayang...
sayang.... Sudah tua. Tapi apapun adanya, lebih baik dari tidak sama sekali..."
Sosok tubuh hitam tinggi itu bergerak. Gerakannya perlahan saja. Namun di lain
kejap dia sudah lenyap. Jika saja Randu Ampel seorang waras, menyaksikan
lenyapnya orang tadi laksana ditelan bumi demikian cepatnya tentu-kan menjadi
heran. Setelah beberapa lama berlalu, ketika hari memasuki rembang petang seperti orang
yang baru sadar akan keadaan dirinya dan kembali rasa, Randu Ampel
merasakan sekujur tubuhnya sakit. Tulang-tulangnya laksana bertanggalan dari
persendian. Luka-luka sekujur tubuhnya terasa perih. Lalu satu hal lagi,
tenggorokannya terasa kering haus, perutnyapun memcucuk lapar.
Dia memandang berkeliling. Tak ada makanan, tak ada air. Yang tampak hanya
pohon-pohon besar, berdaun lebat, semak belukar rapat dan tanah yang berlumut.
Randu Ampel ulurkan tangan, mengorek lumut di sampingnya.
Rasa lapar dan otaknya yang miring tidak dapat lagi membedakan apakah lumut itu
makanan atau bukan. Enak saja benda ini dimasukkannya ke dalam mulut, dikunyah
dan ditelan. Mula-mula setalah suap pertama ditelannya, diteruskannya dengan
suap kedua, ketiga dan seterusnya.
Pada suap ke enam Randu Ampel tampak mengerenyit tanda menahan sakit. Perutnya
memilin, tubuhnya mendadak menjadi panas dan kepalanya berat serta
pemandangnya menghitam gelap. Tubuhnya terkapar
pingsan! Menjelang malam di mana hutan belantara itu kembali disungkup kegelapan yang
menghitam, orang tua berkulit hitam bertubuh tinggi itu, entah dari mana tahu-
tahu muncul kembali. Dalam kegelapan pandangan matanya seolah-olah bisa
menembus. Dia memperhatikan tubuh Randu Ampel yang tergelimpang di tanah. Dengan
ujung kakinya yang dibungkus kasut tipis dia menyentuh leher Randu Ampel. Terasa
denyutan urat besar di leher itu meski perlahan sekali. Orang ini tersenyum.
Ditinggal-kannya tubuh Randu Ampel lalu masuk ke dalam lobang di batu besar.
Kalau tadi waktu keluar kepalanya yang tersembul lebih dulu maka kini waktu
masuk juga kepalanya yang disorongkan lebih dulu.
Lama sekali Randu Ampel pingsan. Keesokan siangnya baru dia siuman. Dengan susah
payah dia duduk
bersandar ke pohon. Tubuhnya yang tadinya tegap kini tampak susut cepat sekali.
Kedua pipinya mulai men-cekung, begitu juga bagian muka di sekitar mata.
Tenggorokannya terasa perih dan perutnya lapar sekali.
Karena tak sanggup berdiri lelaki ini kembali menggapai-gapai dengan tangan dan
kakinya. Lumut hutan
disekitarnya tercongkel, seperti kemarin terus dimakannya.
Jika saja otaknya waras, lumut yang membuatnya sakit dan pingsan itu tentu tak
akan dimakannya. Setelah makan lumut beberapa kali suap, kembali Randu Ampel
merasakan perutnya sakit dan pemandangannya ber-
kunang, lalu pingsan. Yang sekali ini rasa sakit dan pingsan tidak separah
seperti pertama kali. Begitu siuman yang dilakukan Randu Ampel di luar sadarnya
adalah memakan kembali lumut-lumut yang ada disekelilingnya. Sakit lagi, pingsan
lagi. Demikian sampai terjadi enam kali. Kali yang ke delapan yakni setelah
tujuh kali makan lumut, anehnya Randu Ampel tidak lagi merasakan perutnya sakit.
Pemandangannya juga tidak menjadi gelap berkunang.
Malah diapun tidak jatuh pingsan.
Dihari kedelapan itulah tiba-tiba orang tua berjubah putih berkulit hitam itu
muncul kembali, keluar dari lobang di batu.
"Manusia luar biasa..." katanya dalam hati. "Orang lain satu kali saja makan lumut
hutan beracun itu pasti sudah menemui ajal! Dia memakannya sampai tujuh kali...
dan tidak mati! Sekarang tubuhnya kebal segala macam racun.
Ah... mungkin dia memang yang berjodoh dengan ilmu itu.
Rasanya aku sudah boleh pergi mencari tempat yang damai menunggu saat yang baik.
Seratus dua tahun hidup di dunia ini, apa lagi yang akan kuharapkan selain
mati...?" Untuk pertama kalinya orang tua berwajah hitam itu dekati Randu Ampel dan pegang
kepalanya. Dipegang kepalanya seperti itu Randu Ampel berteriak marah. Dia tendangkan kaki
kanannya ke depan. Wut!
Bukan saja tendangan itu tampak keras tapi juga
mengeluarkan angin. Orang tua bermuka hitam hanya menggerakkan tubuhnya sedikit
dan tendangan Randu Ampel mengenai tempat kosong.
"Lumut ajaib..." desis orang tua ini. "Bukan saja bisa jadi penangkal racun, tapi
sanggup menghimpun tenaga luar biasa!"
"Manusia muka arang!" Randu Ampel membentak.
"Apakah kau mau kupendam" Mau kubikin mampus..."
Fitnah kembali kepada fitnah! Dukun jahat awas kau! Kau juga akan kubunuh...!"
Si muka hitam terkejut. Untuk pertama kalinya dia seperti menyadari kalau Randu
Ampel tidak waras otaknya.
Dan dibalik itu dia dapat merasakan adanya satu
goncangan jiwa yang sangat luar biasa pada diri Randu Ampel.
"Ah, nasibku mendapatkan orang gila! Mungkin sudah takdir.... Tak tahu aku
bagaimana jadinya nanti!" membatin orang tua itu dengan hati rawan.
Seperti melenting, tiba-tiba tubuh Randu Ampel
mencelat ke atas. Gerakan itu dilakukannya dari keadaan duduk menjelepok di
tanah tanpa mengambil sikap duduk lebih dulu. Satu hal yang tak mungkin bisa
dilakukan orang pandai manapun juga!
"Astaga!" kejut orang tua berjubah putih muka hitam.
Tapi dia juga tersenyum gembira. "Tubuhnyapun ternyata menjadi ringan! Tidak
bisa tidak bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah membawanya kemari!"
"Anak manusia!" kata orang tua itu pada Randu Ampel untuk pertama kalinya.
"Siapapun adanya kau dan
bagaimana adanya keadaan dirimu, aku bersyukur jalan Tuhan telah membawamu
datang kemari. Rupanya sudah takdir kau yang ditunjukNya untuk mendapatkan
warisanku itu. sebetulnya aku ingin berada lebih lama lagi bersamamu di sini.
Tapi keadaan tak memungkinkan. Aku harus pergi sekarang!"
Wut! Randu Ampel memukul ke arah dada orang tua itu
sambil berteriak-teriak tak karuan. Namun yang dipukul sudah lenyap meninggalkan
tempat itu. Sesaat setelah orang tua itu pergi udara di atas rimba belanda itu berubah
mendung. Hujan kemudia turun lebat pohon jambu. Sebatang pohon mangga, pohon
pisang dan pepaya. Semua pohon ini sarat dengan buah-buahnya yang masak-masak
dan semuanya berbentuk aneh, yakni
pendek katai. Rata-rata hanya setinggi pinggang Randu Ampel.
Setelah delapan hari tidak pernah melihat makanan, maka mendapatkan buah-buahan
itu tanpa pikir panjang Randu Ampel segera memetik dan memakannya sepuas hati.
Semua buah-buahan itu lezat luar biasa, jauh lebih lezat dari buah-buahan serupa
yang pernah dimakannya sebelumnya.
Puas makan berbagai macam buah-buahan itu Randu
Ampel masuk lebih jauh ke dalam goa. Langkahnya
terhenti pada dinding batu besar lebar yang merupakan ujung dari goa itu. pada
dinding itu terpampang 17 gambar orang yang tengah memainkan jurus-jurus silat.
Pada sebelah bawah masing-masing gambar terdapat
serangkaian tulisan yang merupakan nama jurus lengkap dengan penjelasan.
Randu Ampel yang dulunya hanya tahu ilmu silat
kampungan kelas rendahan mundur beberapa langkah untuk lebih dapat memperhatikan
keseluruhan dinding lebar itu.
"Ilmu silat fitnah!" teriaknya tiba-tiba. "Mampus!
Perempuan itu harus mampus! Mana Mangun Aryo. Juga mana telur jahat itu..." Fitnah
kembali kepada fitnah!"
Lelaki itu duduk di lantai gua, bersadar ke dinding batu.
Saat itulah untuk pertama kalinya dia melihat sederetan tulisan pada sebelah
atas dinding goa yang penuh dengan gambar-gambar silat. Tulisan itu berbunyi:
GOA INI BERNAMA GOA KERAMAT TUJUH BELAS
SIAPA YANG MASUK KE DALAMNYA BERARTI
BERJODOH BERJODOH DENGAN ILMU SILAT KERAMAT
TUJUH BELAS JIKA DIPAKAI UNTUK KEBAJIKAN DIA AKAN
BERMANFAAT JIKA DIGUNAKAN UNTUK KEJAHATAN DIA AKAN
MAKAN DIRI SENDIRI
SATU GAMBAR SATU TAHUN
SATU JURUS SATU TAHUN
TUJUH BELAS GAMBAR TUJUH BELAS TAHUN
TUJUH BELAS JURUS TUJUH BELAS TAHUN
BARANG SIAPA YANG TELAH MEMPELAJARI ILMU
SILAT INI HARAP MENGHAPUS SEMUA GAMBAR
DAN TULISAN DENGAN AIR PUTIH DARI MATA AIR
Tak ada tanda-tanda yang menerangkan siapa yang
menulis atau membuat semua gambaran di dinding goa itu. Karena otaknya yang
tidak waras, Randu Ampel sama sekali tidak menyadari bahwa saat itu dia telah
kejatuhan rezeki besar, mendapatkan sejenis ilmu silat yang langka dalam rimba
persilatan masa itu. untuk beberapa lamanya dia duduk seperti itu. kemudian
timbul niat dalam hatinya untuk pergi dan keluar dari goa itu. Namun memandang
pohon-pohon buah-buahan yang aneh tapi syarat dengan buah lezat itu hatinya
merasa sayang. "Kalau aku tidak pergi, aku tak akan berhasil mencari manusia keparat itu. kalau
aku pergi, sayang buah-buahan itu. Nanti dicuri orang atau binatang..." katanya
dalam hati. "Ah, biar nanti saja aku pergi. Di luarpun rasanya masih hujan..."
Setalah berhari-hari berada dalam goa Keramat Tujuh Belas itu, lambat laun Randu
Ampel tertarik juga pada tulisan dan gambar-gambar di dinding. Sambil tertawa-
tawa dan terkadang memaki marah tak karuan Randu Ampel coba meniru sikap orang
dalam gambar-gambar di dinding.
Dia tidak mulai dari urutan gambar pertama tapi dari gambar yang menurutnya
bagus. Setelah bosan dia
berpindah pada gambar lain. Sesuai dengan petunjuk di dinding batu itu
seharusnya untuk satu jurus ilmu silat Keramat Tujuh Belas itu dihabiskan waktu
satu tahun untuk mempelajari dan menguasainya. Namun karena otaknya yang tidak
waras maka Randu Ampel hanya
mengikuti kemauan hatinya dan semua gerak yang
dicontohnya justru malah terbalik dari gambar dan petunjuk yang ada!
Tujuh belas tahun memendam diri dalam goa keramat itu, telah merobah phisik,
jalan pikiran Randu Ampel dan kemampuan Randu Ampel. Bekas calon Adipati
Probolinggo itu kini kelihatan berkulit pucat karena jarang tersentuh sinar
matahari. Otaknya masih jauh dari waras, namun dalam benaknya sudah terpantek
manusia-manusia jahat yang telah mencelakai dirinya dan istrinya, yang akan
dicarinya sampai ke manapun. Yang paling luar biasa ialah kemampuan yang kini
dimiliki lelaki itu, kalau dulu dia hanya memiliki ilmu silat kampungan maka
kini dia menjelma menjadi seorang yang memiliki ilmu
kepandaian yang jarang tandingannya. Tubuhnya kebal terhadap semua jenis
beracun, tenaga dalamnya luar biasa, ilmu meringankan tubuhnyapun tinggi sekali.
Randu Ampel sendiri tidak menyadari semua kemampu-an yang dimulikinya. Dalam
hatinya hanya ada satu tujuan, mencari Mangun Aryo. Lalu dukun jahat yang
diperalat oleh lelaki itu. Seperti punya firasat dan perhitungan tersendiri,
setelah tujuh belas tahun berada dalam goa itu Randu Ampel pada suatu hari
memutuskan untuk pergi. Satu hal yang tidak dikerjakannya sebelum pergi ialah,
dia lupa menghapus semua gambar dan tulisan di dinding dengan air putih dari
mata air sesuai petunjuk.
Sekeluarnya dari goa itu Randu Ampel seharusnya
menuju ke selatan, yakni arah terdekat menuju Probolinggo jika memang dia
bermaksud mencari musuh besar Adipati Mangun Aryo. Namun arah yang ditempuhnya
justru bertolak belakang, hingga selama beberapa bulan lelaki ini malang melintang
antara Kali Grabokan dan kaki gunung Bromo. Suatu hari dia tersesat ke sebuah
daerah pesawahan yang sangat luas. Di sini dia menemukan seorang anak lelaki
penggembala, duduk di punggung kerbaunya sambil meniup suling. Tiupan suling
anak ini demikian merdunya hingga Randu Ampel tercekat. Dia mendatangi anak itu.
Melihat orang berpakaian aneh, bertopi tinggi hitam butut, bermuka cekung dan
berkumis serta janggut yang meranggas liar, tentu saja anak itu ketakutan dan
hendak lari. "Bocah... kau tak usah takut. Permainan sulingmu bagus sekali. Maukah kau
mengajarkan cara memainkannya padaku. Lalu memberikannya padaku...?"
"Orang gila! Aku tidak mau ! Lepaskan aku! Ibu..." si anak menjerit. Dan hendak
lari. Tapi Randu Ampel cepat menariknya dan si anak tahu-tahu sudah berada dalam
gendongannya. "Bocah, kau dengar. Jika kau mengajarkan dan
memberikan suling itu padaku, aku akan bawa kau berlari mengelilingi sawah ini
tiga kali putar. Bagaimana...?"
"Tidak! Lepaskan. Aku tidak akan mengajarkan main suling padamu. Kau ambil saja
suling ini. Tapi lepaskan diriku.... Ibu tolong ada orang gila menangkapku!"
Penasaran Randu Ampel lemparkan pengembala itu
kembali ke punggung kerbaunya. Tapi suling si anak sudah diambilnya. Sambil
berjalan di pematang sawah dia coba meniup dan memainkan suling bambu itu. sejak
hari itu ke mana-mana dia selalu membawa suling. Beberapa hari kemudian dia


Mahesa Edan 1 Rahasia Makam Mahesa di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sudah pandai memainkan alat tiup itu.
Namun lagu yang dimainkannya terdengar aneh, tak pernah dikenal siapapun
sebelumnya! Kenapa Randu Ampel membujuk bocah penggembala
itu dengan imbalan membawanya berlari seputar sawah untuk mendapatkan suling
bambu" Hal ini dilakukannya karena secara tidak diduga dia menyadari bahwa dia
memiliki kemampuan berlari yang luar biasa. Sekeluarnya dari hutan lelaki itu
melanjutkan perjalanan dengan berlari-lari kecil. Tubuhnya terasa enteng. Lari
sampai sekian jauh dia tidak merasa letih ataupun sesak nafas. Ketika dicobanya
berlari lebih cepat, lebih cepat baru lelaki ini mengetahui kalau dia mempunyai
kemampuan berlari yang sangat cepat. Sampai saat itu Randu Ampel belum lagi
mengetahui dahsyat berupa tenaga dalam di samping ilmu meringankan tubuh serta
ilmu silat tingkat tinggi yang hampir sulit dicari tandingannya.
Randu Ampel baru mengetahui kehebatan dirinya
sendiri ketika suatu hari dalam perjalanan ke Probolinggo dia dihina lima
prajurit Kadipaten Lumajang yang tengah berkemah di luar desa Bantaran.
Saat itu hari masih pagi. Udara cerah dan angin sejuk bertiup dari arah barat.
Randu Ampel bergegas menuju ke utara ketika hidungnya yang kini memiliki
penciuman tajam mancium bau sesuatu yang sedap. Segera dia memutar langkah ke
arah datangnya sumber bau itu. Dia menemui lima orang berpakaian prajurit tengah
mengemasi kemah, bersiap untuk pergi. Sebelum pergi mereka menjerang air lebih
dulu dan memasak kopi. Bau kopi inilah yang tercium oleh Randu Ampel. Betapa
sedapnya kalau diapun dapat meneguk secangkir kopi hangat, harum dan manis.
"Bolehkah aku minta kopi kalian barang secangkir?"
tanya Randu Ampel pada orang-orang itu.
Lima prajurit itu berpaling ke arah Randu Ampel.
Kelimanya sama tersenyum lalu tanpa mengacuhkan terus mengemasi kemah. Dua orang
diantaranya malah sengaja menghirup kopi masing-masing sampai mengeluarkan suara
mencapak. "Hai, aku bertanya boleh minta kopi. Kenapa kalian diam saja...?"
Salah seorang yang barusan meneguk kopi turunkan cangkir kalengnya dan
berkata,"Pengemis busuk! Pegilah!
Jangan mengganggu dan jangan membuat aku dan kawan-kawan sampai marah!"
"Wah, aku bukan pengemis. Aku hanya minta secangkir kopi!" sahut Randu Ampel.
Lima prajurit itu tertawa.
"Kawan-kawan!" kata yang tadi bicara. "Dia memang bukan pengemis. Tapi orang
gila!" "Betul!" menimpali kawannya yang tegak di samping kanan. "Lihat saja pakaiannya!
Kotor lusuh, bau! Tidak pakai baju. Tapi punya kalung dan topi tinggi butut!"
"Mungkin dia pensiunan Adipati yang berobah pikiun dan sinting!" yang lain ikut
bicara. Lima prajurit dari Kadipaten Lumajang itu kembali tertawa gelak-gelak.
"Aku bukan orang gila! Juga bukan pensiunan Adipati.
Dulu... eng... memang aku pernah mau jadi Adipati!" kata Randu Ampel pula. Dan ini
membuat tawa lima orang itu tertawa makin riuh.
"Sudah! Pergilah! Tak ada kopi untukmu!"
"Aku pandai meniup suling! Kalau kumainkan satu lagu untuk kalian apakah kalian
mau memberi upah dengan secangkir kopi?" ujar Randu Ampel sambil acung-acungkan
suling bambunya.
"Hai! Dia bukan pengemis, bukan pensiunan Adipati.
Tapi tukang ngamen rupanya!" kata prajurit yang tadi menyuruh Randu Ampel pergi.
"Baiklah, coba saja kau perdengarkan satu lagu. Kami mau dengar!"
Mendengar ucapan itu maka Randu Ampel lalu tiup
sulingnya. Tiupan suling orang gila mana ada iramanya.
Sebentar melengking tinggi, sebentar terdengar parau rendah. Lagunyapun antah
lagu apa. "Sudah! Sudah! Sakit kupingku! Lagumu tak enak.
Tiupan sulingmu bisa membuatku muntah. Pergi sana!"
Randu Ampel hentikan meniup suling. "Tadi kalian berjanji akan memberikan
secangkir kopi kalau aku meniup suling!"
"Pengemis gila busuk! Siapa yang berjanji! Pergi sebelum kami pukul!"
Randu Ampel menggeleng. "Tidak, aku mau kopi!"
katanya. "Hem... jadi kau tetap memaksa" Baik! Ulurkan tanganmu. Kembangkan kedua telapak
tanganmu dan rapatkan!"
Menyangka orang akan memberikan secangkir kopi
Rndu Ampel ikuti perintah orang. Sulingnya diselipkan di pinggang. Lalu dia
rapatkan kedua tangannya dn ulurkan ke depan dengan telapak menghadap ke atas.
Orang yang menyuruh dia melakukan hal itu mengambil segenggam kopi dan sedikit
gula dari dua buah kantong lalu meletakkannya di atas telapak tangan Randu
Ampel. Dari atas perapian yang masih menyala diambilnya kaleng berisi air mendidih. Air
ini lalu dituangkannya ke atas telapak tangan Randu Ampel!
TAMAT Episode berikutnya :
Rahasia Lenyapnya Mayat Mahesa
Created ebook by kingthunder08@gmail.com
Raja Silat 28 Pedang Kilat Membasmi Iblis Karya Kho Ping Hoo Hikmah Pedang Hijau 10
^