Pencarian

Rahasia Ranjang Setan 2

Mahesa Edan 4 Rahasia Ranjang Setan Bagian 2


Kakek Mata Biru ketika dia mulai mengenali jurus-jurus silat yang dimainkan
Mahesa. Pendekar kita ganda tertawa. "Setahuku dari dulu kau tak pernah menang
menghadapi kakakmu. Apa kau
sekarang takut meneruskan perkelahian ....?"
"Keparat bermulut sombong!" teriak Kakek Mata Biru marah. "Siapa takut
menghadapi kecoak macammu! Kau terima kematianmu!" Kakek Mata Biru angkat tangan
kanannya. Mahesa melihat bagaimana tangan itu menjadi berwarna biru. Tanda si
kakek hendak lepaskan satu pukulan sakti yang benar-benar sangat berbahaya!
"Celaka! Kalau saja aku mau mengeluarkan pukulan api geledek, pasti aku bisa
melayani pukulan saktinya itu. Tapi sekarang bagaimana ini..." Sesaat Mahesa
merasa bingung.
Pada saat itu tiba-tiba ada tiga orang melompat masuk lewat jendela. Mereka
adalah Tumbal Sekti, Gendu dan Komang.
"Ada apa di sini"!" membentak Tumbal Sakti seraya melintangkan keris di depan
dada. Matanya memandang cepat ke arah Mahesa dan Kakek Mata Biru, dua manusia
yang tak pernah dikenal atau dilihatnya sebelumnya.
Kemudian matanya bergerak ke arah ranjang besar dan larpung pemuda ini terpskik.
"Ayah!"
Tumbal Sakti molompat ke atas ranjang, menggoyang tubuh Suryo Maget. Namun dia
segera sadar kalau
ayahnya sudah jadi mayat.
"Raden Tumbal Sakti ...." kata Kakek Mata Biru. "Jika kau ingin tahu siapa
pembunuh ayahmu, dialah orangnya!"
Dan Kakek Mata Biru itu menunjuk ke arah Mahesa.
*** MAHESA EDAN RAHASIA RANJANG SETAN
8 TERTUDUH PEMBUNUH LOLOS
ISTRI MUDA LENYAP
UMBAL SEKTI heran, dia tak pernah kenal kakek
bermata aneh itu tetapi mengapa tahu namanya.
T Sebaliknya rasa heran itu serta morta lenyap begitu dia mendengar ucapan si
kakek bahwa pemuda berbaju putih di dalam kamar itu adalah orang yang telah
membunuh ayahnya. Sekali lompat saja Tumbal Sekti sudah berdiri di hadapan
Mahesa dengan keris terhunus.
"Kakek busuk itu dusta! Tuduhannya palsu!" teriak Mahesa. "Ketika aku datang
ayahmu sudah tewas!
Seseorang telah menjirat lehernya dengan tali kuning sampai patah lalu melarikan
diri!" "Jangan percaya mulutnya Raden. Dia pandai bicara.
Raden menyingkirlah, biar aku yang menamatkan
riwayatnya..." kata Kakek Mata Biru.
"Tidak, keparat ini harus mampus di tanganku!" sahut Tumbal Sakti.
"Hentikan niatmu Raden. Dia bukan tandinganmu!"
Memperingatkan Kakek Mata Biru.
Tapi Tumbal Sakti yang sudah mata gelap tak perdulikan lagi ucapan si kakek.
Kalau sebelumnya dia bertekad hendak membunuh sang ayah atau istri mudanya, kini
yang ingin dibunuhnya pertama sekali adalah Mahesa.
Putera Adipati Suryo Maget itu memulai serangan
dengan kirimkan satu tusukan ke arah dada Mahesa
sementara Gendu dan Komang tampak tertegak kaget dan bingung. Kaget karena
melihat Adipati mereka telah jadi mayat di atas ranjang. Bingung sebab tidak
melihat Randini, istri ke empat yang baru dinikahi Suryo Maget sore tadi.
Keduanya juga merasa takut karena sebagai
pengawal mereka telah kebobolan. Adipati dibunuh orang tanpa setahu mereka.
Seperti dituturkan sebelumnya ketiga orang itu terlibat dalam perkelahian. Gendu
dan Komang menderita luka-luka terutama di bagian kedua tangan masing-masing.
Meskipun tidak membahayakan jiwa mereka tetapi luka-luka teriris yang cukup
banyak itu terasa amat sakit. Masih untung sewaktu keduanya hampir menerima
tusukan-tusukan keris yang mematikan, dari dalam rumah,
terdengar suara bentakan-bentakan dan suara seperti orang berkelahi. Tumbal
Sakti hentikan serangannya lalu masuk ke dalam rumah lewat jendela yang terbuka.
Gendu dan Komang ikut menyusul.
Dua serangan Tumbal Sakti dapat dielakkan Mahesa
dengan mudah. Tapi dari samping datang tendangan
Kakek Mata Biru. Si kakek yang tadi sebenarnya siap melepaskan pukulan sakti
kini tak berani melakukan hal itu karena takut akan menghantam Turnbal Sekti.
Karenanya dia masuk ke dalam kalangan perkelahian dengan fftenjotos dan
menendang. Justru ini adalah satu keuntungan bagi Mahesa. Dia mainkan jurus-
jurus silat orang buta. Dimulai dengan Si buta terjatuh menggapai karang.
Tubuhnya condong ke depan, kedua tangannya menggapai-gapai seperti hendak jatuh.
Tendangan Kakek Mata Biru lewat di atas punggungnya. Serentak dengan itu dia
susul dengan jurus Si buta mencengkeram langit.
Bret! Pakaian compang camping si kakek robek besar ketika kena dijambret. Tubuh si
kakek ikut tertarik ke depan. Di saat yang tepat Mahesa menunggu dengan dua jari
menusuk ke arah dada lawan. Sadar dadanya hendak ditotok lawan, Kakek Mata Biru
membuat gerakan jungkir balik di atas tubuh Mahesa. Bersamaan dengan itu
lututnya di-hantamkan ke kepala pemuda itu sedang tangan kanannya ikut
mengemplang ke arah punggung.
Mahesa cepat rundukkan kepala. Kepalanya selamat
dari hantaman lutut si kakek tetapi dia tak dapat lolos dari gebukan pada
punggungnya. Mahesa terbanting ter-telungkup di lantai kamar. Punggungnya serasa
remuk. Untuk sesaat dia terkapar tak berdaya. Di sudut kamar dekat kaki renjang Kakek
Mata Biru tergelimpang, cepat berusaha bangkit untuk kembali menyerang Mahesa.
Namun disadarinya dia tak dapat menggerakkan kaki atau tangannya lagi. Ternyata
totoken lawan berhasil bersarang di dadanya. Orang tua ini memaki habis-habisan
lalu berteriak pada Tumbal Sakti.
"Raden Tumbal! Lekas habisi pemuda keprat itu."
Mendengar ini dan melihat memang Mahesa seperti
lumpuh menggeletak di lantai, Tumbal Sekti memburu dan tusukkan kerisnya ke
punggung Mahesa. Namun dalam kalapnya putera Adipati Tumenggung ini menyerbu
tanpa perhitungan lagi. Tubuhnya terbanting ke lantai ketika kaki kanan Mahesa
menebas betisnya dengan keras. Terdengar suara kraak. Tulang kering Tumbal Sakti
patah. Pemuda ini roboh dan memekik kesakitan. Dia berusaha berdiri tapi roboh
lagi. "Gendu! Komang! Bunuh orang itu!" teriak Tumbal Sekti.
Yang diperintah tampak ragu-ragu sementara Mahesa soot itu sudah mampu berdiri
kembali meskipun agak terhuyung-huyung. Ketika akhirnya Gendu dan Komang
mencabut senjata masing-masing Mahesa sudah melompat ke jendela dan lenyap.
"Kejar!" teriak Tumbal Sakti.
Gendu dan Komang memburu. Tapi di luar hanya
kegelapan malam yang mereka lihat. Mahesa lari ke arah kali. Di sini ditemuinya
perahu milik Tumbal Sakti. Dia segera masuk ke dalam perahu dan mendayung
mengikuti arus menuju ke hilir.
Gendu dan Komang kembali ke dalam rumah, mem-
beritahu kalau pemuda yang disuruh kejar berhasil meloloskan diri.
"Kalian petugas-petugas tolol! Kalian akan menerima hukuman berat atas apa yang
terjadi di sini! Sekarang lekas cari kain. Topang kakiku dengan bambu atau kayu
atau apa saja! Lalu balut dengan kain!"
Setielah melakukan apa yang diperintahkan putera
Adipati itu Koman dan Gendu mendudukkan Tumbal Sakti di sebuah kursi kayu:
"Sialan! Apa tak ada yang berusaha menolongku!" terdengar Kekek Mate Biru
menggerutu. Rumbal Sakti memberi isyarat pada kedua petugas.
Gendu don Komang lalu menggotong orang tua itu don mendudukkannya di atas kursi
di samping Tumbal Sakti.
"Bisakah kau melepaskan totokan di dadaku...?" tanya Kakek Mata Biru.
Tumbal Sakti ulurkan tangan kanannya. Memijit dan meraba-raba dada si kakek.
Tapi sampai berulang kali dia melakukan hal itu totokan di dada si kakek yang
me-lumpuhkan kedua tangan dan kakinya tak bisa dimusnah-kan.
"Sudahlah! Nanti, pun akan lepas sendiri!" kata Kakek Mata Biru jengkel.
"Orang tua bermata biru, siapakah kau sebenarnya" Apa yang telah terjadi di
tempat ini. Siapa pula pemuda yang kabur dan menurutmu adalah pembunuh ayahku...
'' Sampai di situ Tumbal Sakti baru ingat akan keadaan ayahnya. Maka dia memberi
perintah pada Komang agar kembali ke Temanggung. "Datangkan beberapa petugas dan
jangan lupa membawa kereta jenazah! Ayahku harus dibawa dari rumah celaka ini
secepatnya!"
Setelah Komang pergi Tumbal Sekti mengulangi
pertanyaannya. "Siapa aku tidak penting," menyahut Kakek Mata Biru.
"Aku memang sudah sejak lama menyelidiki kematian-kematian aneh yang terjadi
belakangan ini. Termasuk kematian ayahmu. Dan selalu saja aku menemui pemuda
itu. Tadi aku berhasil menangkap basahnya ketika baru saja membunuh Adipati
dengan seutas tambang kuning
"Mengapa dia membunuh ayah" Dan kau belum
menerangkan siapa pemuda itu sebenarnya . . . . "
"Mengapa dia membunuh ayahmu, ini satu hal yang masih kabur bagiku. Pemuda itu
bernama Mahesa. Murid seorang tokoh silat sinting dari pegunungan lyang. Dia
ber-juluk Pendekar Dari Liang Kubur. Setiap muncul selalu membekal rokok menyan,
menebar baunya yang menusuk hidung ke mana-mana..."
"Jauh-jauh dari Temanggung aku kemari sengaja hendak membuat perhitungan dengan
ayah dan istri mudanya. Aku yakin ayah tidak sendirian di rumah ini. Ada istri
mudanya bernama Randini. Tapi ternyata perempuan itu tak ada di sini. Gendu! Kau
pasti bisa menerangkan ke mana
perempuan itu"!"
Dengan ketakutan Gendu menjawab.
"Itulah yang membuat saya heran dan bingung Raden.
Ketika saya dan Komang berjaga-jaga kami dengar Adipati bercakap-cakap dengan
istri mudanya dalam kamar. Tetapi setelah masuk kemari kami temui Adipati telah
tewas dan perempuan itu lenyap...! Saya tidak tahu di mana dia berada. Benar-benar
tidak tahu..."
"Kalau memang begitu ini adalah satu keanehan yang harus dipecahkan!" kata
Tumbal Sekti pula Ialu mengeluh karena kakinya yang patah terasa sakit sekali.
"Tak ada yang aneh!" berkata Kakek Mata Biru. "Berat dugaanku istri ayahmu
bersekongkol dengan pemuda itu.
Dia pasti menunggu pemuda itu di satu tempat..."
Kakek Mats Biru cobs kerahkan tenaga dalamnya lalu perlahan-lahan dialirkan ke
arah dada guna memperlancar aliran darah. Bila aliran darah di bagian itu bisa
pulih, maka totokan di dadanya akan musnah dengan sendirinya.
Dia mencoba berulang kali. Pada kali yang ke delapan baru berhasil. Begitu
dirinya terlepas dari totokan, orang tua ini cepat duduk bersila di lantai, atur
jalan napas dan jalan darah lalu melompat tegak.
"Malam telah larut Aku harus pergi sekarang." Tanpa menunggu jawaban Tumbal
Sakti dia berkelebat ke arah jendela dan lenyap.
*** MAHESA EDAN RAHASIA RANJANG SETAN
9 SI BUTA SAKTI MEMBERI PETUNJUK
ENJELANG pagi perahu yang ditumpangi Mahesa
meluncur sepembawa arus Kali Progo,
M Di sebuah tikungan akhirnya tersekat pada
akar-akar pepohonan yang menjorok ke dalam kali dan terhenti di sana. Mahesa
sendiri saat itu masih terbaring tidur di dalam perahu. Dia baru bangun, ketika
sinar matahari membuat matanya menjadi silau. Memandang berkeliling pemuda ini
dapatkan dirinya terpesat di tepi kali. Di sebelah kanan berjejer pohon-pohon
besar berdaun lebat berusia ratusan tahun dan rata-rata tertutup lumut mulai
dari akar sampai ke batang dan cabang-cabangnya.
"Di mana aku ini..." bertanya Mahesa pada diri sendiri.
Dia membungkuk untuk menyiduk air dan membasahi
mukanya. Saat itu dirasakannya punggungnya yang kena dihantam Kakek Mata Biru
mendenyut sakit. Selesai mencuci muka Mahesa tinggalkan perahu, naik ke darat.
Semula dia bermaksud hendak meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. Namun
melihat hutan belantara begitu lebat hatinya merasa tak enak. Mahesa memutuskan
untuk kembali ke perahu, mengarungi sungai ke arah selatan. Namun baru saja dia
menuruni tebing sungai, belum sempat menjejakkan kaki kanannya di atat lantai
perahu tiba-tiba di belakangnya terdengar suara berdesing.
Mahesa cepat jatuhkan diri. Sebuah benda melesat di atas kepalanya dan menancap
di badan perahu. Ketika memperhatikan benda yang menancap itu kagetlah
pendekar kita. Benda yang menancap di badan perahu yang terbuat
dari kayu keras itu temyata adalah sehelai daun sebesar telapak tangan!
"Anak setan! Daun itu bisa mencelakaiku kalau sampai menancap di kepala atau di
badan!" memaki Mahesa. Dia menoleh ke belakang. Tak seorang pun tampak. Keadaan
di tempat itu sangat sunyi. Bahkan arus Kali Progo pun tidak terdengar. Kicau
burung pagi tiba-tiba saja lenyap.
Desir angin dan gemeresik daun-daun pepohonan juga tidak terdengar. Mahesa
mendongak ke atas. Memperhatikan setiap cabang pohon satu per satu, meneliti
bagian pohon di balik dedaunan yang lebat. Namun tetap dia tidsk melihat seorang
pun. "Pembokong pengecut!" teriak Mahesa. "Perlihatkan tampangmu!"
Baru saja Mahesa berteriak, mendadak terdengar suara berdesing keras. Dari arah
depan tampak lima buah daun melesat ke arahnya. Bersamaan dengan itu terdengar
suara mengiang di kedua telinganya.
"Ayo tunjukkan kepandaianmut Perlihatkan ilmu silat yang kau dapat dari nenek
butut Kunti Kendil! Keluarkan jurus silat tujuh orang katai!"
Mahesa menghantam ke depan. Tiga daun yang datahg menyerang hancur dan luruh ke
tanah. Sebuah dielakkan-nya. Yang kelima menyusup di kaki celananya!
"Anak setan keparat! Siapa orang ini! Dia kenal Kunti Kendil. Tahu ilmu silat
tujuh orang katai..." Mahesa sulit menerka siapa adanya pembokongnya. Karena sudah
bersumpah tidak mau mengeluarkan pukulan sakti yang di-dapatnya dari Kunti
Kendil maka Mahesa berkelebat ke arah pohon baser dari mane tadi keluarnya lima
helai daun yang menyerang itu.
Tapi selagi tubuhnya melayang di udara mendadak lima helai daun lagi tampak
menderu bersiuran ke arahnya.
Agak gugup Mahesa keluarkan jurus-jurus silat orang buta sambil tangannya
menghantam ke depan. Kali ini dua helai daun berhasil dielakkan, dua lainnya
hancur oleh hantaman tangan kosongnya. Namun lagi-lagi daun kelima sempat
menyelusup. Kali ini menancap di bahu kanan baju putihnya!
Bersamaan dengan itu kembali terdengar suara
mengiang. "Cuma ilmu silat orang buta, buruk, itukah yang kau andalkan dalam hidupmu"!'
Mahesa benar-benar dibikin kaget kini. Siapa pun orang yang menyerangnya pasti
tahu banyak tentang dirinya.
Apakah orang ini pembunuh Adipati Suryo Maget yang tengah dikejarnya" Atau
mungkin juga Pendekar Muka Tongkorak, kakek sakti yang memang suka jahil itu
hendak mengujinya" Atau mungkin gurunya sendiri Kunti Kendil"
Tapi setahunya orang-orang itu tidak memiliki kepandaian mengirim suara dari
jauh. Lalu siapa adanya pembokong ini" Main-main atau sungguhan hendak
mencelakainya"!
"Pembokong pengecut! Jangan kira aku tidak tahu kau sembunyi di mana!" Habis
berteriak begitu Mahesa lepaskan dua pukulan tangan kosong mengandung tenaga
dalam tinggi. Yang satu menghantanl pohon besar di sebelah kanan, lainnya
merobohkon pohon besar di depan sebelah kiri.
Ketika pohon-pohon baser itu bertumbangan ke tanah, tubuh Mahesh telah
berkelebat lenyap den tebing sungai.
Kembali keadaan di tempat itu menjadi sunyi senyap. Saat itu Mahesa sudah berada
dl atas sebuah cabang pohon berdaun rimbun. Dengen sangat hati-hati dia
menyalakan sebatang rokok menyan. Rokok yang menyala ini di-selipkannya pada
ranting pohon. Lalu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun dia beranjak ke cabang
pohon sebelah kanan, berpindah lagi ke sebelah kanan hinnga akhirnva dia berada
di atas pohon yang terpisah jauh dari pohon di mana tadi dia meninggalkan rokok
klobotnya. Bau menyan serta merta menghampar di dalam rimba belantara itu.
Tiba-tiba terdengar lagi suara mengiang di telinga Mahesa.


Mahesa Edan 4 Rahasia Ranjang Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Pemuda tolol! Jangan kira aku tidak tahu kau bersembunyi di mana!"
Mahesa menjadi tegang dan bersiap waspada. Apakah si pembokong benar-benar tahu
di pohon mana dia berada saat itu" Dengan siapkan tenaga dalam terpusat di
tangan kanan pemuda ini menunggu. Dari balik semak belukar yang merambat lebat
pada kaki-kaki pohon-pohon besar yang ada di bawahnya dilihatnya melesat keluar
sepuluh lembar daun, menggebubu ke arah pohon besar dimana Mahesa tadi
menyelipkan rokok klobotnya.
Pemuda ini tersenyum. "Kali ini kau tertipu pembokong!"
lalu secepat kilat Mahesa terjun ke bawah, jungkir balik dua kali berturut-
turut. Di lain kejap dia sudah berada di balik rerumpunan semak belukar lebat.
Sambil berlutut pemuda ini lepaskan pukulan tangan kosong mengandung tenaga
dalam tinggi. Wuutt! Semak belukar musnah bertebaran. Di kaki pepohonan yang kini menjadi rata itu
tampak duduk bersila seorang kakek berpakaian rombeng dekil penuh tambalan.
Kedua matanya buta dan dia duduk sambil tersenyum-senyum.
Jika pukulan maut Mahesa tadi sampai menghancurkan semak-belukar bagaimana
mungkin si kakek yang tadi bersembunyi di dalam semak belukar itu kini kedapatan
masih hidup tanpa cidera suatu apa, malah sambil
senyum-senyum! "Anak muda! Apakah kau masih mengenaliku"!" kakek buta itu menegur.
"Astaga! Kau rupanya kek! Tentu saja aku me-
ngenalimu!" sahut Mahesa. Dia buru-buru mendatangi.
"Kek, mohon maafmu. Aku tadi telah menyerangmu. Aku benar-benar tidak tahu kalau
kau yang ada di sini..."
Si kakek kembali tersenyum. Namun sesaat kemudian wajahnya tampak murung. Dan
orang tua ini mulai
menangis sesenggukan! Inilah dia manusia nomor satu dalam dunia persilatan yang
dikenal dengan julukan Gembel Cengeng Sakti Mata Buta.
Kakek aneh yang pernah memberikan pelajaran tujuh jurus ilmu silat orang buta
pada Mahesa. "Kek, kalau saja tadi kau tidak menyerangku, aku pun tak akan membalas. Apakah
kau terluka...?" tanya Mahesa.
"Aku segar-bugar. Hanya aku mendadak menjadi sedih setelah menyirap kabar
tentang apa yang terjadi dengan dirimu malam tadi
Mahesa jadi kaget. "Hai, secepat itukah kau mengetahui kek"!" tanyanya.
Si kakek mengangguk dan usut air matanya.
"Benarkah kau yang membunuh Adipati Suryo Maget?"
"Itu tuduhan dusta! Aku datang ke sana justru untuk menyelidik. Beberapa kali
terjadi pembunuhan dengan cara yang sama..."
"Lalu apakah hasil penyelidikanmu?"
"Aku belum mendapatkan hasil kek. Pembunuh itu berlaku cerdik. Selalu lenyap
sebelum aku sempat me-
mergoki." "Menurutmu si pembunuh laki-laki atau perempuan?"
"Dugaanku berat bahwa dia adalah seorang pe-
rampuan..."
"Aku sependapat denganmu anak muda. Aku sudah punya prasangka. Bagaimana dengan
kau..." Mahesa terdiam sejenak lalu gelengkan kepala. "Sulit kalau hanya menduga tanpa
bukti-bukti. Kalau aku boleh tanya siapa orang yang kau curigai itu kek?"
"Aku tak akan menjawab. Sebaliknya mau bertanya dulu.
Terakhir sekali ketika peresmian Partai Merapi Perkasa tempo hari kulihat kau
berjalan seiring dengan seorang perempuan cantik luar biasa bernama Sari. Tanpa
kau menerangkan aku sudah tahu bahwa perempuan itu bukan lain adalah betina
iblis yang dikenal dengan julukan Ratu Mesum. Perbuatannya menebar nafsu dan
membunuh di delapan penjuru angin membuat dunia porsilatan bergidik.
Di mane perempuan itu sekarang?"
"Kami berpisah beberapa bulan yang lalu. Berjanji akan bertemu lagi pada hari ke
tujuh bulan dua belas. Kek, apakah kau mencurigai kawanku itu... ?"
"Sampai aku mendapatkan kenyataan bahwa bukan dia yang melakukan pembunuhan-
pembunuhan aneh serta
keji belakangan ini, dia adalah manusia yang kucurigai pada urutan pertama..." Si
kakek aneh kembali terdengar menangis sesenggukan.
"Di masa lalu dia memang iblis perempuan yang gentayangan mengumbar nafsu dan
membunuh setiap
laki-laki yang tidur dengannya. Tetapi ketika aku mengenalnya, dia sudah berubah
sama sekali. Seperti malam dengan siang. Tak mungkin dia yang melakukannya kek.
Cara tewasnya para korban tidak seperti cara-cara pembunuhan yang dilakukan
kawanku itu. Jika dia memang ingin membunuh, kenapa susah payah menjirat dengan
tali kuning segala" Sekali dia menghantamkan tangan seorang laki-laki pasti mati
dibuatnya!"
Gembel Cengeng Sakti Mata Buta termenugg dengan
wajah menunjukkan kesedihan. Sesaat kemudian dia berkata, "Ada petunjuk yang
bisa dijadikan pegangan."
"Petunjuk apakah itu kek"' bertanya Mahesa.
"Setiap korban yang terbunuh rata-rata sudah beristri.
Bahkan lebih dari satu. Aku berkesimpulan bahwa yang menjadi sasaran adalah
lelaki-lelaki hidung belang, yang tak pernah puas diri..."
Apa yang dikatakan si kakek memang benar. Tetapi
Mahesa masih meragukan apakah hal itu memang dapat dijadikan petunjuk untuk
menangkap si pembunuh. Dia yakin ada satu rahasia terkandung dalam semua
kejadian ini. Meskipun demikian petunjuk seorang pandai seperti Gembel Cengeng
Sakti Mata Buta ini tidak boleh diabaikan begitu saja.
"Turut hematku si pembunuh masih berkeliaran di daerah ini. Paling jauh sampai
di Ungaran di sebelah Utara atau Salatiga di sebeleh Timur. Banjar negara di
sebelah Barat dan Bantul di sebelah Selatan. Tapi bukan mustahil sewaktu-waktu
dia muncul di Kotaraja..."
"Siapa pun pembunuh itu dia pasti bukan sahabatku yang pernah menyandang galar
Ratu Mesum itu," kata Mahesa pula.
"Sekatang ke manakah tujuanmu?" tanya kakek bute.
"Turut petunjukmu aku lebih suka menyirap kabar ke Kotaraja," sahut Mahesa.
"Bogus. Cobalah kau sirap kabar tentang seorang Pangeran hidung belang bemama
Kuncoro Ageng. Dia lebih dikenal dengan nama Pangeran Ageng. Istrinya banyak.
Gundik den peliharaannya tidak terhitung. Namun selalu saja masih mencari daun-
daun muda. Jika kau mau berlaku sabar dan berada di sekitarnya beberapa lama,
cepat atau lambat kurasa dia akan menjadi sasaran pembunuh aneh itu..."
"Aku akan perhatikan petunjukmu itu kek..."
"Sekarang ada pertanyaenku. Waktu kau kuserang dengan daun-daun itu kau same
sekali tidak, mengeluarkan kepandaian silat yang kau dapat dari gurumu Kunti
Kendil. Hal ini sudah kuperhatikan sejak kejadian di Merapi dulu. Apa jawabmu
anak muda...?"
"Aku segan mengatakannya kek. Tapi karena kau yang bertanya tak apalah
kuceritakan. Sampai saat ini aku tetap menghormati nenek itu. Namun sejak dia
menggantungku di puncak lyang, aku sudah bersumpah tidak akan
mempergunakan ilmu kepandaian darinya, apa pun yang terjadi. Bahkan senjata
ampuh papan nisan hitam yang diberikannya telah kukubur di satu tempat..."
"Ah, berat nian sumpahmu!" si kakek langsung saja unjuk tampang sedih dan
kembali sesenggukan menangis!
"Kau tahu anak muda. Orang yang hidupnya bertualang dalam rimba persilatan
sepertimu perlu kepandaian banyak..."
"Ilmu silat yang kau ajarkan padaku sangat dapat diandalkan kek. Yang penting
aku harus lebih banyak melatih diri..."
Si kakek gelengkan kepala. "Ilmu silat butut itu..." katanya mengejek ilmu
silatnya sendiri. "Masih kurang, anak muda. Masih kurang. Kau tetap memerlukan
pukulan-pukulan sakti. Tanpa itu dirimu akan mengalami
kesusahan..."
"Aku ada membawa Keris Naga Biru yang hebat itu!" ujar Mahesa.
"Senjata itu memang hebat. Namun itu hanya senjata titipan. Kelak jika kau
menemukan siapa pemilik sebenarnya kau harus mengembalikannya!"
Mahesa terdiam.
"Kau mendapat Kitab Tujuh Jurus Ilmu Silat Orang Katai.
Apakah sudah kau pelajari?"
"Masih belum kek. Untuk mempelajarinya tidak bisa asal-asalan. Membutuhkan
tempat dan waktu..."
"Benar, kau harus menyediakan semua itu. Aku belum pernah melihat kitab silat
itu. Juga belum pernah menyaksikan orang memainkannya. Tapi aku yakin itu adalah
ilmu silat paling langka, sulit dicari tandingannya. Dan aku juga yakin di dalam
jurus-jurus silat itu jika kau mau menggali Iebih dalam, kau bisa menemukan cara
tertentu untuk menciptakan sendiri pukulan-pukulan sakti. Bukankah kau sudah
memiliki modal tenaga dalam yang luar biasa...?"
"Terima kasih atas petunjukmu itu kek. Aku memang mempunyai rencana seperti yang
kau katakan itu..."
"Apakah kau memang tak ingin lagi bertemu dengan gurumu si nenek perut Kunti
Kendil itu...?" bertanya Gembel Cengeng.
"Sebaiknya memang begitu kek..."
"Ah, dunia ini memang sangat luas," si kakek seperti biasanya kembali mulai
menangis sedih. "Tetapi terkadang sangat sempit hingga tak muat untuk dua orang.
Pertemuan bisa saja terjadi setiap saat tanpa terduga. Kau tahu setelah
peristiwa berdarah di puncak Merapi, Kunti Kendil membawa suaminya yang terluka
parah Lembu Surah memang manusia kuat luar biasa! Orang lain
mungkin sudah mati mendapat hantaman para jago begitu rupa. Tapi kusirap kabar
ternyata dia masih hidup. Cuma keadaannya sangat menyedihkan. Lumpuh sekujur
badan-nya. Kunti Kendil menemaninya dengan setia. Seperti merawat seorang bayi
besar. Kabarnya mereka memencil-kan diri di satu tempat. Walau demikian, seperti
kataku tadi, pertemuan bisa saja terjadi tanpa diduga..."
"Kek, jika pertemuan itu memang terjadi, lalu apakah yang akan kulakukan"' tanya
Mahesa pula. "Kali ini aku tak bisa memberi petunjuk. Soal hubungan guru dan hiurid, kau dan
Kunti Kendil hannya kalian berdua yang bisa menentukan sendiri. Nah, hari sudah
tinggi. Tua bangka buruk dan buta ini harus melanjutkan perjalanan!"
Orang tua buta itu lalu bangkit dari duduknya.
"Kek, apakah kau tidak ingin mencoba rokokku" Rokok klobot rokok enak..."
Gembel Cengeng Sakti Mats Buts tertawa. "Tentu saja aku mau. Tapi kau tak usah
susah-susah menyalakannya.
Aku mengambil yang sudah ada saja!"
"Maksudmu kek?" tanya Mahesa tak mengerti.
Sebagai jawaban orang tua sakti itu melompat. Tubuhnya melesat ke pohon besar di
mana tadi Mahesa bersembunyi dan menyalakan sebatang rokok menyan. Saat itu
rokok tersebut masih terjepit di sela ranting dan masih menyala. Rokok inilah
yang disambar si kakek. Tubuhnya lenyap di balik kerapatan daun-daun pohon-pohon
besar. Yang tinggal kini hanya tebaran bau menyan yang menusuk hidung.
Mahesa geleng-geleng kepala. "Anak setan itu benar-benar luar biasa! Jadi
sebenarnya tadi dia tahu kalau aku menipunya!'
*** MAHESA EDAN 10 RAHASIA RANJANG SETAN
SI CANTIK DI TENGAH RIMBA JUWIRING
IGA ORANG berpakaian prajurit keraron itu datang
menemui lelaki muda yang duduk terkantuk-kantuk di T bawah pohon bambu.
"Pangeran, kuda telah kami siapkan. Peralatan untuk berburu sudah tersedia.
Apakah Pangeran siap untuk berangkat sekarang?" tanya salah seorang dari tiga
perajurit. Orang yang ditanya - sang Pangeran - melunjurkan kedua kakinya lalu menguap lebar-
lebar. "Aku tahu kalau kalian sudah menyiapkan segala sesuatunya. Apakah juga bekal
makanan sudah kalian siapkan" Perburuan ini mungkin memakan waktu seminggu,
mungkin pula sebulan!"
"Jangan kawatir Pangeran Ageng. Bekal makanan sengaja kami sediakan untuk
keperluan dua bulan!" jawab perajurit tadi.
"Bagus! Yang paling penting apakah kalian sudah menyebar kabar bahwa aku
Pangeran Ageng akan berburu rusa di hutan Juwiring"!"
"Sudah Pangeran. Hal itu sudah kami lakukan!"
jawabsi perajurit.
"Dan bahwa selama aku berburu tidak satu orang pun boleh memasuki hutan itu!
Apalagi kalau sampai mengganggu perburuanku di sana!"
"Itu pun sudah kami lakukan Pangeran."
"Semua beres. Pangeran tinggal berangkat dan berburu sepuasnya...!" kata perajurit
satunya. "Rumah peristirahatan di dalam rimba, apakah juga sudah dibersihkan?" tanya
Pangeran Ageng !agi.
"Sudah dibersihkan luar dalam. Rumput-rumput sudah dibabat. Bunga-bungaan sudah
ditanam. Bukankah
Pangeran suka akan bunga-bunga..."
"Bagus! Lalu apakah kalian sudah pula menyiapkan bunga harum teman tidurku di
atas ranjang"!"
"Ah, kalau yang satu, ini memang belum kami siapkan Pangeran. Mana berani kami
mengatur Pangeran untuk urusan ini. Pangeran tentu lebih tahu akan selera
Pangeran sendiri. Pangeran tinggal memberi tahu namanya, tinggal di mana. Kami
akan datang menjemput..."
Pangeran Ageng tertawa gelak-gelak.
"Sebelum berangkat aku ingin meneguk tuak dulu puas-puas. Ambilan bumbung tuak
itu!" Seorang perajurit kemudian mengambil sebuah bum-
bung bambu berisi tuak. Pangeran Ageng merteguk minum-an itu sepuasnya lalu
berdiri dengan terhuyung-huyung dan menyerahkan bumbung pada perajurit yang tadi
menyerahkan. "Kita berangkat sekarang!" kata sang Pangeran pula.
"Bagaimana dengan bunga peneman ranjang itu, Pangeran?" tanya perajurit yang di
sebelah kanan. "Tak usah dirisaukan. Kita akan menemukannya dalam perjalanan!"
Maka ke-empat orang itu naik ke atas kuda masing-
masing. Seekor kuda yang khusus membawa perbekalan mengikuti dari belakang.
Setelah setengah hari menempuh perjalanan rombong-an akhirnya sampai ke hutan
Juwiring yang memang terkenal sebagai padang perburuan orang-orang Keraton
karena di sini terdapat banyak rusanya.
"Apakah kita akan langaung berburu atau beristirahat dulu di rumah kecil dalam
rimba?" tanya seorang peraju rit.
"Kita menuju rumah peristirahatan itu. Tapi jika di tengah jalan ada binatang
perburuan, kenapa harus dibiar-kan?" sahut Pangeran Ageng. Lalu setelah menguap
dua kali berturut-turut dia minta busur dan kantong panah.
Busur dipegangnya di tangan kiri, kantong panah di-gantungkannya di punggung.
Sebilah pedang kemudian di-sisipkannya di pinggang.
Dalam perjalanan menuju rumah peristirahatan di
tengah rimba rombongan menemui tiga ekor rusa. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan
Pangeran Ageng dan anggota rombongannya segera memburu ketiga binatang ini. Dua
ekor rusa berhasil dipanah dan ditangkap. Rusa ke tiga sempat meloloskan diri.
"Rejeki besar Pangeran! Belum setengah hari di dalam hutan sudah dapat dua ekor
rusa..." Pangeran Ageng menyeringai senang. Bersama
rombongan dia masuk lebih jauh ke dalam rimba be-
lantara. Menjelang matahari tenggelam mereka sampai di rumah kecil itu. Di sini
rombongan berhenti untuk istirahat.
Perburuan akan dilanjutkan besok pagi.
*** Kicau burung terdengar bersahut-sahutan menyambut
terbitnya sang surya. Begitu matahari menyembul di sebelah timur dan rimba
belantara itu mulai terang, Pangeran Ageng dan tiga perajurit pengawalnya sudah
berada di atas kuda masing-masing menuju bagian rimba sebelah timur di mana
terdapat sebuah mata air.Biasanya rusa dan
binatang hutan lainnya suka berkumpul di sekitar mata air ini. "Pangeran, apakah
tidur Pangeran nyenyak malam tadi?" tanya seorang perajurit.
"Ah, mana bisa nyenyak kalau tak ada selimut yang pandai bernafas...!" sahut
Pangeran Ageng lalu tertawa gelak-gelak. "Jauhkah mata air itu dari sini?"
tanyanya kemudian.
"Cukup jauh. Sekitar seperempat hari perjalanan. Itu kalau kita mengikuti jalan
yang biasa ditempuh para pem-buru. Jika mengambil jalan memintas akan lebih


Mahesa Edan 4 Rahasia Ranjang Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

cepat lagi."
"Kau tahu jalan memintas itu?"
"Cukup hafal Pangeran."
"Bagus. Kalau begitu kita tempuh jalan memintas. Kau jalan duluan..."
Maka rombongan pun menuju mata air di tengah rimba melewati jalan melintas yang
lebih pendek dan cepat. Jauh sebelum tengah hari mereka telah sampai di mata air
itu. Namun tak seekor rusa pun yang tampak di tempat itu.
Sesekali tampak tupai melompat turun dari pohon untuk minum air telaga kecil
atau bengkarung muncul di balik daun-daun atau sela-sela batu, lalu menyelinap
lenyap. "Bagaimana ini! Kalian bilang di mata air ini banyak rusa berkumpul! Seekor pun
tak kulihat!" kata Pangeran Ageng sambil memandang berkeliling dan timang-timang
busur di tangan kanannya. Tiba-tiba seekor tupai tampak di cabang tinggi sebuah
pohon di sebelah kanan. Sesaat binatang ini memandang ke kiri dan ke kanan. Lalu
melayang turun menuju mata air. Namun nasibnya malang. Selagi tubuhnya melayang
di udara, Pangeran Ageng dengan sigap mengambil sebatang anak panah,
merentangkan busur.
Panah dilepas. lepas. Melesat di udara lalu menancap tepat di dada tupai.
Binatang ini mencicit pendek lalu jatuh ke tanah bersama-sama anak panah yang
masih menancap di tubuhnya.
"Tupai masih lebih baik dari pada tak ada buruan sama sekali!" ujar Pangeran
Ageng sementara seorang perajurit turun dari kuda, memungut tupai itu dan
membawanya ke hadapan sang pangeran.
"Jika kau suka kau boleh panggang dan makan se-puasmu!" kata Pangeran Ageng.
"Terima kasih Pangeran. Tapi saya belum lapar," jawab si perajurit.
"Berapa lama kita menunggu di sini sampai rusa-rusa itu muncul...?" Sang
Pangeran rupanya masih kesal dengan binatang buruan yang masih belum kelihatan
itu. "Sabar saja Pangeran. Hari masih pagi. Tentunya rusa-rusa itu masih berkeliaran
di tempat lain mencari makanan. Siang hari, bila mereka sudah letih dan ke-
hausan, tentu binatang-binatang itu akan datang ke telaga kecil ini."
"Apakah tak ada ikan di dalam telaga itu?" bertanya Pangeran Ageng.
"Rasa-rasanya tak pernah ada Pangeran."
"Kalau begitu kita berlindung di balik jejeran pohon-pohon besat sana. Menunggu
sampai rusa-rusa itu
muncul..."
Menjelang tengah hari, ketika rimba belantara Juwirang itu mulai terasa panas
oleh terpaan sinar matahari, seperti yang dikatakan oleh perajurit pengawal
Pangeran Ageng, beberapa binatang hutan mulai menampakkan diri ber-datangan ke
mata air yang membentuk telaga kecil di tengah rimba. Mula-mula tampak dua ekor
burung belibis hutan. Pangeran Ageng tidak begitu terlalu berminat untuk memanah
burung-burung ini. Karena itu dia membiarkan-nya saja. Kemudian muncul dua rusa
betina. Sang pangeran segera menyiapkan panah dan busurnya namun entah mengapa - seperti
dikejutkan oleh sesuatu - kedua binatang itu memanjangkan leher masing-masing,
berpaling ke kiri dan ke kanan lalu melarikan diri dari tepi telaga.
"Sialan! Ada yang tidak beres di sekitar telaga itu. Kedua rusa itu seperti
terkejut!" kata Pangeran Ageng kesaL
"Mungkin ada binatang hutan lainnya yang mengusik hingga dua rusa tadi kaget dan
melarikan diri..." ujar perajurit yang tegak sambil memegang bumbung bambu
berisi tuak. "Tunggu saja. Pasti dua rusa betina tadi muncul lagi. Mungkin juga
bersama kawan-kawannya..."
Baru saja perajurit ini berkata demikian, mendadak dari balik sebatang pohorti
besar muncul dua tanduk runcing.
Perajurit yang memegang bumbung bambu cepat memberi isyarat pada Pangeran Ageng.
Sang Pangeran pun rupanya sudah melihat karena saat itu busur sudah direntang
dan anak panah siap dilepaskan.
Dua tanduk runcing bergerak. Kini tampak moncong seekor rusa, menyusul leher
lalu seluruh tubuhnya. Binatang ini muncul seorang diri dan luar biasa besarnya.
Pangeran Ageng tarik tali busurnya lebih ke belakang. Mata kirinya menyipit.
Bidikannya adalah leher rusa jantan. Sesaat sebelum dia melepaskan anak panah
mendadak dari sudut lain telah lebih dahulu melesat sebuah anak panah berwarna
kuning. Panah ini menancap tepat di leher rusa jantan di dekat pohon. Binatang
itu berjingkrak lalu roboh ke tanah.
Dalam terkejutnya Pangeran Ageng saja melepas anak panahnya. Anak panah ini
hanya sempat menghantam
salah satu tanduk rusa sebelum binatang ini roboh ke tanah akibat hantaman anak
panah pertama! "Ada seorang lain melepas panah!" seru Pangeran Ageng marah. "Kurang ajar! Lekas
kalian cari dan tangkap orang itu!"
Tiga pengawal Pangeran Ageng segera melompat dari balik jejeran pohon, lari ke
arah telaga. Seorang di antara-nya berteriak, "Siapa yang berani memasuki hutan
Juwiring ketika Pangeran Ageng melakukan perburuan"!"
Tak ada yang menjawab. Namun dari balik batang keladi hutan yang besar keluar
seorang berpakaian kuning, mengenakan caping lebar terbuat dari anyaman bambu
hingga kepala dan wajahnya tidak kelihatan. Orang ini lari menghampiri rusa yang
menggeletak mati. Namun sebelum dia sempat menyentuh tubuh binatang itu, tiga
perajurit tadi sudah berada di sampingnya. Salah seorang langsung mendorongnya
hingga terduduk di tanah.
"Manusia edan! Apa kau minta mati berani mengganggu Pangeran Kuncoro Ageng yang
sedang berburu" Siapa yang memberi izin memasuki rimba belantara Juwiring" Apa
tidak tahu kalau sebelum Pangeran Ageng berburu sudah lebih dulu diumumkan tidak
seorang pun boleh masuk ke rimba ini! Dan kau bukan saja masuk tanpa izin dan
mengganggu Pangeran Ageng, malah berani memanah rusa
sasaran sang pangeran! Bersiaplah untuk menerima
hukuman!" Saat itu Pangeran Ageng sudah berada di tempat itu.
Dengan sebal dia menarik lepas caping bambu yang menutupi kepala serta wajahnya.
Begitu caping diangkat, kagetlah ke empat orang itu, terutama sang pangeran.
Yang terduduk di tanah itu ternyata adalah seorang dara berwajah sangat cantik,
berambut hitam yang disanggul di belakang kepala. Matanya yang bening dan raut
wajahnya yang jelita jelas menun jukkan rasa takut.
"Sa... saya tidak tahu kalau ada larangan memasuki rimba ini." kata dara itu
gagap. Suaranya meskipun bernada ketakutan tapi tetap saja merdu terdengar di
telinga tiga perajurit don Pangeran Ageng. "Saya tidak...
tidak tahu kalau Pangeran Ageng tengah berburu di rimba ini." Sang gadis
memandang sesaat pada Pangeran Ageng, lalu letakkan busur dan sisa anak panahnya
di tanah dan bersujud seraya berkata, "Jelas saya telah berbuat kesalahan. Saya
bersedia menerima hukuman ....!" Waktu bersujud di hadapan Pangeran Ageng,
sanggul rambutnya terlepas hingga kini tampaklah rambutnya yang hitam panjang
tergerai sampai ke punggung.
Pangeran Ageng don tiga pengawalnya sesaat saling pandang.
"Berdirilah! Tak perlu bersujud! Bagus kalau kau sudah mengaku bersalah dan siap
menerima hukuman!" kata Pangeran Ageng.
Perlahan-lahan tubuh yang bersujud itu berdiri, Berhadap-hadapan sedekat itu
Pangeran Ageng dapat melihat jelas paras yang begitu cantik, kulit yang sangat
halus serta sepasang payudara yang turun naik karena ketakutan.
"Aku mengagumi kepandaianmu memanah. Siapa
namamu dan kau datang dari mana ,...?"
"Kepandaian saya bukan apa-apa dibanding dengan kepandaian Pangeran..." sahut sang
dara. "Tadi hanya kebetulan saja saya dapat memanah leher rusa itu. Saya bernama
Pinindi, berasal dari desa Torongrejo..."
"Mengapa berani masuk ke dalam rimba Juwiring ini seorang diri?" tanya Pangeran
Ageng. "Tadinya hanya main-main saja di pinggiran hutan sebelah timur. Tahu-tahu
keterusan ...."
"Tahukah kau apa hukuman seseorang yang berani mengusik ketenteraman seorang
Pangeran?"
"Sa... saya menerima salah. Saya siap menerima hukuman. Hanya saja, sebelum saya
dihukum apakah bisa menemui ayah dulu. Kalau saya tidak kembali beliau pasti
akan khawatir..."
"Siapakah ayahmu?"
"Hanya seorang petani miskin, Pangeran..."
"Baik dan dengarlah Pinindi, hari ini kuampuni kesalah-anmu...''
Paras gadis berpakaian kuning itu yang tadi pucat kini tampak berdarah kembali.
"Kuampuni tetapi dengan satu syarat," berkata lagi Pangeran Ageng.
"Saya harap saja syarat itu tidak berat Pangeran..." kata Pinindi.
"Tidak, tidak berat. Malah kehidupan masa depanmu akan penuh keberuntungan!"
"Apakah syarat yang Pangeran maksudkan itu?" tanya Pinindi pula.
"Aku dateng ke rimba Juwiring ini hanya ditemani tiga pengawal. Malam pertama
tadi kulewati dengan tidur seorang diri berselimut udara dingin dan kesepian.
Apakah malam nanti kau bersedia menemaniku di rumah kecil di tengah rimba. Lalu
malam-malam selanjutnya sampai aku selesai berburu..."
Sang dara tampak berubah wajahnya dan tundukkan
kepala. Untuk beberapa lamanya dia tegak dengan mulut terkancing. Akhirnya mulut
itu terbuka juga memberi jawaban.
"Jika itu keheridak Pangeran, dan jika hal itu dijadikan sebagai penebus dosa
serta kesalahan saya, perempuan desa seperti saya mana berani menolak..."
Tiga perajurit di samping sang pangeran tampak saling pandang dan sama
tersenyum. Pangeran Ageng sendiri tertawa lebar.
"Tetapi Pangeran," terdengar suara Pinindi kembali.
"Setelah Pangeran selesai berburu di rimba Juwiring ini, apakah Pangeran akan
melupakan saya, lalu meninggalkan saya begitu saja...?"
Pangeran Ageng berpaling pada ketiga pengawalnya. Seorang di antara mereka
membisikkan sesuatu. Sang
Pangeran mengangguk-angguk lalu pada gadis itu dia berkata, "Tidak aku tidak
akan melupakanmu. Apalagi me-ninggalkanmu. Gadis cantik sepertimu sangat pantas
menjadi pendampingku di Kotaraja..."
"Mohon maafmu Pangeran. Bukankah Pangeran sudah mempunyai beberapa orang istri
dan... dan selir..."
"Hemm... Memang betul. Tapi setelah aku melihat kecantikan paras wajahmu serta
keelokan raut tubuhmu, mereka semua bukan apa-apa..."
"Kalau begitu saya menurut apa mau Pangeran saja..."
"Bagus... bagus!" kata Pangeran Ageng gembira sekali.
"Perburuan hari ini cukup sampai di sini. Kita, kembali ke rumah peristirahatan
itu.." Lalu Pangeran Ageng menolong Pinindi naik ke atas kudanya. Berdua mereka
menunggangi kuda meninggalkan telaga di tengah rimba itu.
*** MAHESA EDAN 11 RAHASIA RANJANG SETAN
TERJEBAK DI ATAS RANJANG
ANGERAN KUNCORO AGENG meneguk tuak di dalam
kendi tanah sampai sepertiga isinya lalu menyeka
Pbibir dengan balik telapak tangan. Dia tersenyum pada Pinindi yang duduk di
depannya. "Enak sekali panggang daging rusa yang kau panah itu."
"Sebenarnya anak buah Pangeran yang pandai membuat bumbu masakah..." jawab
Pinindi. Sambil tak puas-puasnya memandangi wajah cantik
jelita itu Pangeran Ageng berkata, "Tak pernah aku ber-mimpi. Tak ada tanda-
tanda kalau hari ini aku akan bertemu dengan seorang gadis secantik bidadari.
Jika kita sampai di Kotaraja nanti akan kuberikan pakaian bagus, lengkap dengan
perhiasan. Akan kusuruh para dayang memandikanmu di kolam air bunga dan akan
kuminta para juru rias mendandanimu. Kau akan menjelma benar-benar seperti
bidadari. Tidak seorang pun dapat menyaingi kecantikanmu. tidak permaisuri atau
istri muda atau selir dan peliharaan Sri Baginda!"
"Pangeran terlalu memuji saya," kata Pinindi tersipu-sipu.
"Aku tidak mengada-ada," kata Pangeran Ageng:
'Terus terang saya pun tidak menyangka kalau Pangeran ternyata masih begini muda
dan sangat gagah. Tadinya saya mengira yang namanya Pangeran Kuncoro Ageng itu
adalah seorang berusia lanjut dengan kumis dan janggut yang sudah putih..."
Pangeran Ageng tertawa gelak-gelak. Dia meneguk lagi tuak dalam kendi tanah lalu
tegak di depan jendela rumah, memandang ke luar. Malam telah tiba dan segala
sesuatunya di luar sana mulai diselimuti kegelapan. Berbagai suara binatang
hutan terdengar di kejauhan.
"Saatnya bagi kita untuk masuk ke dalam Pinindi," bisik Pangeran Ageng. Kendi
diletakkannya di atas meja. Dia tegak di belakang kursi yang diduduki gadis itu
lalu membungkuk menciumi tengkuk Pinindi. "Mari kudukung kau..."
bisik sang pangeran dengan nafas panas memburu. Lalu tubuh yang montok dibalut
kulit putih halus itu didukung-nya, dibawa masuk ke dalam kamar dan
dibaringkannya di atas ranjang empuk.
"Berapa lamakah kita akan bermalam di sini,
Pangeran?" tanya Pinindi.
"Jika kau suka lebih lama, aku akan mengikuti. Tapi jika kau ingin lekas-lekas
kubawa ke Kotaraja, besok pun kita bisa berangkat. Mengapa kau bertanya
begitu...?"
"Says ingin mengenakan pakaian-pakaian bogus dan perhiasan yang Pangeran
janjikan itu," jawab Pinindi.
Pangeran Ageng tertawa. "Hal itu kau tak usah kawatir.
Apa yang kujanjikan akan kupenuhi. Kau ingin aku
mematikan lampu minyak di kamar ini atau lebih suka berterang-terang?"
"Kalau boleh saya ingin berterang-terang saja Pangeran."
Sang Pangeran tersenyum. Hidungnya kembang kempis.
Memang itu yang diingin-inginkannya. Di bawah penerang-an dua buah lampu yang
ada dalam kamar itu dia akan dapat melihat dan menikmati keindahan tubuh dan
segala sesuatu yang dimiliki Pinindi. Baru saja dia berbaring di sebelah si
gadis terdengar Pinindi berkata. "Aneh, di dalam rimba yang dingin ini saya
merasa kegerahan. Bolehkah saya membuka pakaian Pangeran...?"
Pucuk dicinta ulam tiba! Pikir Pangeran Puger.
"Tentu saja Pinindi. Biar kubantu membuka pakaianmu."
"Tidak usah. Pangeran berbaring saja. Biar saya sendiri yang melakukannya. Tapi
saya tak ingin Pangeran memperhatikan. Membaliklah ke arah dinding. Saya tak
akan lama. Saya akan segera berada dalam pelukan Pangeran..."
Bergetar tubuh Pangeran Ageng mendenger kata-kata yang serba merangsang itu.
Maka tanpa banyak cerita lagi dia pun balikkan badan rnenghadap ke dinding
kamar. "Apakah Pangeran sendiri tidak membuka pakaian..."
terdengar oleh sang pangeran suara Pinindi bertanya justru di saat dia
membayangkan bahwa gadis itu telah mulai membuka pakalan luarnya.
"Tentu... tentu Pinindi. Tapi aku ingin kau nanti yang melakukannya. Kau nanti
yang membukakan pakaianku.
Kau mau... Kau mau bukan, Pinindi?"
"Apa pun yang Pangeran pinta akan saya lakukan.
Bukankah saya ini milik Pangeran?"
"Ah, aku benar-benar berbahagia menemukan seorang gadis secantik dan sebaikmu.
Kau perempuan paling penuh pengertian akan hasrat mendalam dari seorang laki-
laki..." "Betulkah begitu Pangeran...?"
"Ya... ya..." Dan sang pangeran mendengar suara tubuh Pinindi membalik. "Ah, kini
dia tentu sudah tak berpakaian lagi," membayangkan Pangeran Ageng. Lalu cepat-
cepat dia membalikkan tubuh, siap untuk memeluk tubuh polos mulus Pinindi datam
kedua tangannya.
Tapi di saat itu - sebelum dia sempat membalik - sang pangeran merasa ada sesuatu
menyelusup melewati
kepalanya, lalu terhenti di leher. Menyusut ada satu kekuatan laksana setan
menjerat lehernya!
"Ranjang setan adalah yang paling bagus untuk manusia budak nafsu semacammu
Pangeran Kuncoro Ageng!" terdengar suara Pinindi.
Tali kuning yang dipakainya menjerat leher sang
pangeran dibetot dan ditariknya kuat-kuat.
"Mampus... mampus kau Pangeran! Mampus!"
Tali itu ditariknya lagi kuat-kuat.
Tapi tak ada terdengar suara kraak! Tak ada terdengar suara patahnya tulang
leher sang pangeran. Tak ada suara tercekik hek! Juga tidak ada geleparan tangan
atau lejangan kaki! Apa yang terjadi"
Tiba-tiba bukk!
Siku kiri Pangeran Ageng menghantam pinggul Pinindi dengan keras hingga gadis


Mahesa Edan 4 Rahasia Ranjang Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ini terpental dan menjerit saking kaget tak mengira dan juga karena sakit yang
amat sangat. Tubuhnya terkapar di lantai.
Di saat yang sama Pangeran Ageng melompat turun dari atas ranjang. Tali kuning
besar masih menjirat lehernya.
Lengan kanannya yang tadi disusupkan di bawah dagu dan melintang sepanjang leher
masih menempel di leher itu.
Gerakannya melindungi leher dengan lengan kanan inilah tadi yang
menyelamatkannya dari jerat maut tali kuning Pinindi! Di atas lantai gadis itu
dilihatnya masih mengenakan pakaian kuning lengkap. Tak satu bagian pun yang
terbuka atau tersingkap.
"Siapa kau sebenarnya"!" bertanya Pinindi lalu melompat dan tegak sejauh delapan
langkah dari Pangeran Ageng.
Sang pangeran lepaskan tali kuning yang mengikat leher dan lengan kanannya lalu
sambil putar-putar tali itu di tangan kanan dia balas bertanya, "Kau sendiri
siapa" Namamu bukan Pinindi. Juga bukan Surti atau Randini atau segala macam nama yang
ternyata palsu semua..."!"
Berubahlah paras Pinindi. Tapi dia cepat berusaha menguasai diri sambil berkata,
"Saya tidak mengerti maksud kata-katamu!"
"Apa kau juga tidak mengerti dengan maksud benda-benda ini?" ujar Pangeran Ageng
seraya mengeluarkan empat utas tali kuning yang membuat mata Pinindi jadi ter-
beliak. "Itu tali maut yang bisa kukumpulkan. Masih banyak lainnya yang tidak
kudapatkan! Apakah kau hendak berkata bahwa tali-tali itu bukan milikmu" Bahwa
selama ini bukan kau yang malang melintang melakukan pembunuhan-pembunuhan di
atas ranjang" Ranjang yang
seperti kau sebut tadi ranjang setan"!" Hari ini aku Pangeran Ageng membongkar
rahasia perbuatan biadab-mu!"
"Kau bukan Pangeran Ageng!" teriak Pinindi.
"Ha... ha... Kau memang benar. Aku bukan Pangeran Kuncoro Ageng...!" sahut orang
di hadapan Pinindi. Lalu di-bukanya pakaian bagus dan mewah yang dikenakannya.
Di balik pakaian itu ternyata dia mengenakan sehelai baju dan celana putih. Dari
balik pakaian putihnya dia mengeluarkan sebatang rokok. Dalam hati orang ini
memaki. "Anak setan! Mulutku sampai asam satu harian tidak merokok!" Lalu rokok
itu dinyalakannya. Bau menyan serta merta menebar di dalam kamar.
"Pendekar Dari Liang Kubur!" teriak Pinindi dengan wajah pucat pasi.
Mahesa tersenyum dan hembuskan asap rokoknya ke
atas. "Bagus, kau sudah tahu siapa aku. Sekarang katakan siapa dirimu. Mengapa kau
melakukan pembunuhan-pembunuhan itu" Dan mengapa korban-korbanmu kau
habisi di atas ranjang! Lekas katakan!"
"Aku sudah lama mendengar nama besarmu. Tapi kau tidak bisa memerintahku."
"Kenapa begitu"!" tanya Mahesa.
"Karena jangan kira aku takut padamu!"
"Bagus! Berani berbuat berani bertanggung jawab..."
gertak Mahesa. Tiba-tiba di depannya dilihatnya Pinindi mengeluarkan seutas tali kuning
sepanjang satu tombak. Tali ini diputar-putarnya di atas kepala hingga
mengeluarkan suara seperti petir. Ujung tali itu tiba-tiba melesat menghantam ke
arah kepala Mahesa. Pemuda ini cepat merunduk. Tetapi tak terduga ujung tali
menyambar ke arah kaki kirinya.
Sebelum dia sempat berbuat sesuatu ujung tali telah menjirat pergelangan kaki
kirinya. Sekali Pinindi menyentakkan tali itu tak ampun Mahesa jatuh
terjengkang. Belum Iagi dia sempat bangkit kaki kanan si gadis sudah menderu ke
arah kepalanya!
"Anak setan keparat!" maki Mahesa. Ternyata gadis cantik bertubuh molek dengan
sikap lemah lembut penuh daya tarik ini memiliki kepandaian luar biasa. Untung
saja tadi waktu membentengi lehernya dengan lengan dia telah mengerahkan tenaga
dalam. Kalau hanya mengandalkan tenaga luar tidak mustahil tulang lengannya akan
patah dan lehernya langsung terjirat! Nasibnya akan sama dengan Adipati Suryo
Maget atau Raden Bondo atau
semua laki-laki lain yang telah jadi korban keganasan perempuan aneh itu!
Semula Mahesa hendak lepaskan pukulan untuk me-
mukul hancur paha Pinindi. Namun tendangan datang begitu cepat hingga terpaksa
pemuda ini keluarkan jurus si buta terjatuh menggapai karang. Tubuhnya dibantingkan ke belakang. Kedua tangannya menggapai ke atas dan
terdengar pekik Pinindi ketika dapatkan betis kanannya tertangkap dua tangan
lawan! Gadis ini tak kurang akal. Dia putar tangannya yang memegang tali kuning, yang
ujungnya saat itu masih me-lingkar di kaki kiri Mahesa. Tali ini diputarnya
demikian rupa, maksudnya untuk menjerat kedua tangan lawan. Tapi Mahesa berlaku
lebih cerdik. Sambil lepaskan cekalannya di betis Pinindi pemuda ini lebih cepat
menarik lepas ujung tali pada kaki kirinya lalu melompat melewati kepala Pinindi
don dari atas dia putar tali kuning itu sebat sekali.
Di lain kejap Pinindi tegak mernatung tak bisa bergerak.
Sekujur tubuhnya, mulai dari paha sampai ke bahu telah dililit tali besar
miliknya sendiri!
"Aku sudah siap mati! Bunuhlah!" teriak Pinindi. Dia tidak berusaha meronta.
Sepasang matanya yang bagus memandang galak pada Mahesa.
Si pemuda justru sunggingkan senyum dan hisap
rokoknya dalam-dalam. Die ambil potongan tali yang tadi dipakai Pinindi untuk
menjerat lehernya dan putar-putar di depan hidung si gadis.
"Tadi tali ini kau pakai untuk membunuhku, dengan tali ini pula sebentar lagi
aku akan menjerat betang lehermu.
Mudah saja memenuhi permintaanmu bukan...?"
"Jangan banyak bicara! Kalau mau bunuh lakukan cepat!"
"Tenang Pinindi. Pangeranmu ini hendak bertanya lebih dulu. Jika jawabanmu cukup
masuk akal, mungkin hukum-anmu bisa kuperingan!"
"Pangeran keparat! Apa yang hendak kau tanya"!"
bentak Pinindi alias Randini alias Surti dan banyak alias lainnya.
"Mengapa kau membunuhi orang-orang itu. Aku tahu mereka memang lelaki-leleki
budak nafsu. Tetapi mereka tidak punya kesalahan apa-apa terhadapmu... Usiamu
masih begini muda. Mengapa menjadi setan di atas
ranjang"!"
"Kau sendiri mengapa menyaru menjadi Pangeran Ageng" Bukankah tujuanmu juga
untuk memuaskan nafsu terkutukmu"!"
"Jangan salah sangka! Aku berbuat begitu justru untuk menjebakmu lalu
menangkapmu basah!" sahut Mahesa pula.
"Semua lelaki memang pandai memutar lidah..."
"Apakah kau tidak mau mengatakan mengapa kau membunuhi orang-orang itu...?"
kembali Mahesa bertanya.
"Itu bukan urusanmu! Kalau kau mau bunuh aku, bunuh saja! Jangan banyak cerita,
jangan banyak tanya!"
Tiba-tiba pintu kamar dibuka orang dari luar dengan paksa. Sesosok tubuh masuk
ke dalam sambil mengeluarkan seruan.
"Memang benar itu bukan urusannya. Tapi urusanmu dengan aku, anakku!"
*** MAHESA EDAN 11 RAHASIA RANJANG SETAN
AKHIR DARI KEBEJATAN
AHESA DAN PININDI sama palingkan kepala. Di
dalam kamar itu kini tegak seorang lelaki berusia Msekitar setengah abad,
berpakaian sangat lusuh.
Rambut, janggut serta kumisnya sudah memutih. Dia memandang pada Pinindi dengan
mata berkaca-kaca.
"Sumini anakku..." kata orang tua itu. "Lebih dari empat tahun mencarimu. Jika aku
ingat perbuatan terkutukku dulu, ah sungguh aku menyesal. Ingin aku bunuh diri
me-nebus dosa dan aib besar itu. Tapi kemudian kusadari hanya satu orang yang
patut mencabut nyawaku. Yaitu kau sendiri anakku. Kau... yang telah kurusak
karena terhasut oleh nafsu bejat. Karena... karena kau sama benar dengan
mendiang ibumu. Oh Gusti Allah... Hukumlah aku seberat-beratnya . . . ."
"Ayah!" seru Pinindi yang ternyata nama sebenarnya adalah Sumini. Suaranya
tercekik dan bergetar tanda dia berusaha menahan luapan perasaannya. "Tak patut
aku memanggilmu sebagai ayah. Pergi dari sini. Aku tak ingin melihatmu lebih
lama... !"
"Kau memang tak akan melihatku lebih lama Sumini..."
Lelaki berambut putih yang mengaku ayah Sumini keluarkan sebuah clurit besar
lalu dia melangkah mendekati gadis yang terikat gelungan tali kuning itu. Mahesa
cepat menangkap bahu orang ini.
"Apa yang hendak kau lakukan" Apa dia anakmu....?"
"Dia memang anakku. Jangan kau halangi maksudku.
Lepaskan tali yang mengikat tubuhnya. Akan kuberikan clurit ini padanya. Biar
dengan senjata ini ditebasnya leherku..."
"Braaak! Tiba-tiba jendela kamar hancur berantakan. Seorang berpakaian hitam molompat
masuk. Gerakannya gesit dan pandangan matanya liar. tetapi ketika matanya
membentur Sumini, pandangannya menjadi redup. Dia berpaling pada lelaki berambut
putih dan berkata "Akik Demang, jika ada yang akan dibunuh oleh puterimu ini
saat ini, akulah orangnya!"
Akik Demang, ayah Sumini tampak melengak kaget.
"Guru silat Bindi Rejo apa maksudmu?" tanyanya menyentak.
"Akik Demang, maafkan aku. Budi perangai kita ternyata sama. Kebejatan kita
ternyata tidak berbeda. Apa yang kau lakukan terhadap anak kandungmu, telah
kulakukan pula terhadapnya ketika dia kuambil jadi murid setelah melarikan diri
dari rumah akibat perbuatanmu..."
Akik Demang tampak menggeletar sekujur tubuhnya.
"Jadi... jadi...! Manusia keparat! Kucincang badanmu!"
teriak Akik Demang. Sekali lompat saja dia sudah berada di hadapan Bindi Rejo.
Clurit besar di tangannya membabat.
Guru silat itu terdengar mengeluh pendek. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.
Kedua tangannya menekap perutnya yang robek besar dimakan clurit. Darah menyem-
bur. Ketika tubuh itu terjatuh dan kedua tangannya tak lagi dapat menekap perut,
maka dari perut yang robek keluar membusai usus besarnya.
"Seharusnya... seharusnya dia yang membunuhku.
Bukan... bukan..." Kata-kata Bindi Rejo hanya sampai di situ karena nyawanya
keburu meninggalkan tubuh.
Sumini tegak dengan wajah mendongak. Kedua mata-
nya terpejam. Tampak air mata membasahi pipinya. Dadanya turun naik menahan
gelora. Tiba-tiba dari mulutnya keluar satu teriakan dahsyat. Bersamaan dengan
itu dia jatuhkan tubuhnya ke lantai lalu bergulingan. Gulingan ini membuat tali
yang menggulung tubuhnya terlepas. Selagi Akik Demang tertegun memegangi clurit
berdarah, senjata ini tiba-tiba dirampas oleh Sumini lalu dibabatkannya ke
lehernya sendiri!
"Sumini!" pek'rk Akik Demang. .
Tapi terlambat. Tak satu orang pun yang sempat menahan dan menghalangi perbuatan
Sumini. Lehernya
hampir putus. Sesaat dia tersandar ke dinding kamar lalu melosoh ke lantai. Dari
leher yang hampir putus itu terdengar suara menggeros beberapa kali lalu diam.
Seperti gila Akik Demang menubruk mayat anaknya.
Merampas clurit yang masih tergenggam di tangan Sumini lalu menikamkannya dalam-
dalam ke perutnya.
Mahesa bantingkan rokoknya ke lantai. Semua terjadi serba tak terduga dan sangat
cepat hingga tak satu pun yang bisa dilakukannya. Selain itu apa yang saling
diucapkan oleh orang-orang itu membuat psemuda ini tertegun terkesiap. Sudah
begini bejatkah dunia" Sang ayah me-rusak kehormatan anak kandungnya sendiri"
Lalu seseorang mengambil gadis yang malang itu menjadi muridnya.
Untuk kemudian digagahi pula"!
"Pangeran... Apa yang harus kita lakukan sekarang...?"
Satu suara bertanya.
Mahesa berpaling ke pintu. Di situ tegak tiga orang perajurit yang selama ini
bertindak menjadi pengawalnya.
"Kentut busuk! Aku sudah bukan Pangeran lagi. Kalian bukan perajurit lagi.
Sandiwara kita tamat sampai di sini.
Besok pagi urus ketiga jenazah ini. Setelah itu kalian boleh pergi. Ini bayaran
kalian... bagilah bertiga!" Dan baiik Pakaiannya Mahesa mengeluarkan sebuah
kantong kecil berisi potongan-potongan perak dan melemparkannya pada orang di
hadapannya. Lalu dia melangkah ke pintu.
"Pangeran... eh sahabat muda, kau mau ke mana?"
tanya orang yang menangkap kantong berisi perak.
"Aku mau pergi tidur di luar. Siapa sudi tidur dengan mayat!" sahut Mahesa pula.
"Kalau begitu kami ikut bersamamu. Bangunan ini bisa menjadi rumah setan!
Pangeran Kuncoro Ageng yang
sebenarnya pasti akan mati ketakutan diganggu tiga setan penasaran . . . .!"
Tiba-tlba ban menyan menebar di udara. Lelaki yang tadi bicara kembali membuka
mulut. "Ah! Anak muda itu!
Mengapa dia merokok menyan pula! Membuat suasana
jadi semakin mengerikan!" Lalu dia mengajak kedua temannya meninggalkan kamar
itu sebelum tengkuk
mereka terasa tambah dingin dan merinding.
T A M A T Kunjungi http://hanaoki.wordpress untuk mendapatkan aneka macam ebook
berkualitas. Kunjungi pula website kolaborasi berikut :
http://dimhad.co.nr
http://cerita-silat.co.cc
http://admingroup.vndv.com
http://mygrafity.wordpress.com
http://malikussaleh.wordpress.com :
http://semua-buku-kita.blogspot.com
http://ceritasilat.wordpress.com
http://bagoesga.wordpress.com
Raja Silat 4 Pukulan Si Kuda Binal Karya Gu Long Rahasia Si Badju Perak 4
^