Pencarian

Utusan Pulau Keramat 1

Jodoh Rajawali 04 Utusan Pulau Keramat Bagian 1


UTUSAN PULAU KERAMAT CINTAMEDIA Penerbit buku silat bermutu
Serial Silat JODOH RAJAWALI Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Serial Silat Jodoh Rajawali dalam episode:
Utusan Pulau Keramat 128 hal
1 EMBUN pagi masih menetes bagai darah tersisa
dari tangan yang terpotong buntung. Udara pagi yang
menyegarkan peredaran darah itu digunakan oleh Yo-
ga, si Pendekar Rajawali Merah itu, untuk melatih diri menggunakan pedang dengan
satu tangan. Pada mulanya, Yoga mengalami kecanggungan
dalam bergerak karena ia telah kehilangan tangannya
(Baca episode: "Ratu Kembang Mayat"), tetapi sedikit demi sedikit ia sudah mulai
terbiasa bergerak dan
memainkan jurus pedang dengan hanya menggunakan
satu tangan. Luka bekas potongan di lengan kiri Pendekar
Rajawali Merah itu sudah mulai mengering. Warna bi-
ru racun yang ada di sekeliling bekas potongan lengan itu sudah tidak ada.
Bahkan rasa sakitnya pun tidak
tersisa sedikit pun. Ramuan obat yang diminumnya
dari Tabib Perawan atau Sendang Suci, memang sung-
guh hebat khasiatnya. Hanya satu malam beristirahat
penuh setelah meminum obat tersebut, luka bekas po-
tongan menjadi mengering dan tidak terasa sakit lagi.
Itulah sebabnya pagi itu Yoga memberanikan diri men-
coba berlatih pedang memakai batang bambu untuk
membiasakan diri menggunakan satu tangannya yang
tidak ikut terpotong.
Tanpa disadari oleh Yoga, ada sepasang mata
yang memperhatikan gerakan jurus-jurus pedangnya
dari satu tempat. Tempat itu tidak terlalu tersembunyi, namun berada dl belakang
Yoga, sehingga Yoga tidak
tahu, bahwa sepasang mata yang memandanginya itu
kini sedang menitikkan air mata.
"Menyesal sekali aku telah membuatnya cacat
begitu. Seharusnya sebagai Topeng Merah aku tak bo-
leh sampai melukainya, tugasku justru menjaganya.
Tapi mengapa akhirnya pedangku yang membuatnya
sengsara begitu Oh, Yoga... maafkanlah aku. Semua ini tidak sengaja kulakukan
pada dirimu," kata sepasang mata itu dalam hatinya yang tak lain adalah si Tabib
Perawan. Ketika Yoga berkelebat memperagakan menebas
lawan dengan pedang sambil membalikkan badan, ba-
rulah Yoga menyadari ada sepasang mata yang me-
mandanginya sejak tadi. Pendekar Rajawali Merah itu
segera hentikan gerakannya, tersenyum malu sambil
melangkah mendekati perempuan yang memandan-
ginya dari samping rumah.
"Bibi...," sapanya ketika ia berada di depan Tabib Perawan yang masih tampak
muda dan cantik wa-
lau usianya sudah mencapai empat puluh tahun itu.
Yoga melanjutkan kata-katanya,
"Aku melihat air matamu menetes, Bi! Mengapa
menangis?"
Buru-buru Sendang Suci menyusutkan air ma-
tanya dengan tersenyum malu ia sedikit salah tingkah, setelah itu berkata,
"Aku terharu melihatmu! Aku bersyukur sekali,
ternyata kau sudah terhindar dari racun pedang itu,
dan sekarang kau tampak sehat serta segar badanmu!"
"Ya, aku memang sudah merasa segar, Bi! Tapi
mestinya Bibi tidak perlu menangis begitu!"
"Tidak. Aku tidak menangis. Aku... aku hanya
merasa bahagia bisa menolongmu, Yo! Semula aku
menyangka tak bisa menolongmu!"
"Aku ucapkan banyak terima kasih padamu, Bi!
Kalau kau tidak menolongku menangkal racun itu,
aku bisa mati busuk!"
"Ya. Tapi sebaiknya jangan kau gunakan untuk
berlatih dulu. Masa istirahat mu masih sangat dibu-
tuhkan untuk mengembalikan urat-urat yang kaku
akibat racun itu! Jangan banyak gunakan tenaga dulu,
Yo!" "Maaf, Bi. Aku sudah tak tahan ingin berlatih
jurus-jurusku!"
"Cukuplah sampai di sini dulu! Mungkin besok
kau bisa melanjutkan latihan mu itu! Sekarang aku
sudah memasakkan sup untukmu! Sup jamur itu akan
memulihkan kekuatanmu kembali, Yo!"
"Bibi terlalu merepotkan diri. Mestinya Bibi tak perlu memasak segala! Kita bisa
pergi ke kedai terde-kat untuk makan di sana!"
"Aku memasak untuk dirimu, Yo! Aku bangga
sekali dapat memasak untuk diri seseorang yang...
yang ku... maksudnya yang bersahabat baik dengan-
ku!" Ada keraguan yang kikuk diucapkan dan ak-
hirnya dibelokkan ke arah lain. Pendekar Rajawali Me-
rah menyadari hal itu, tapi ia tidak mau membahasnya
terlalu panjang lebar. Cukup disimpannya saja di da-
lam hati. Kemudian ia segera melegakan hati Sendang
Suci untuk menikmati sarapan sup masakan Sendang
Suci itu. Satu malam Yoga tidur di rumah Tabib Pera-
wan. Ia merasa mendapat perawatan yang benar-benar
baik. Tabib Perawan merawat Yoga dengan sungguh-
sungguh. Bahkan ketika Yoga tertidur di balai-balai
depan, Tabib Perawan datang, menyelimuti tubuhnya
dengan pelan-pelan. Saat itu sebenarnya Yoga terban-
gun, namun karena masih terasa berat untuk membu-
ka mata, maka ia biarkan saja kehadiran Tabib Pera-
wan di dekatnya.
Perempuan itu tidak tidur di tempatnya, me-
lainkan menggelar tikar dan tidur di lantai bawah ba-
lai-balai bambu itu. Sesekali Sendang Suci terbangun, menghalau nyamuk yang
mengerumun di tubuh Yoga.
Kemudian dengan pelan-pelan dan penuh hati-hati,
Tabib Perawan melulurkan cairan anti gigitan nyamuk
di tubuh Yoga yang tidak tertutup selimut. Yoga mera-
sakan hal itu, tapi ia membiarkan saja.
Bahkan ketika Sendang Suci mengusap-usap
rambut Yoga dengan pelan dan lembut sekali, Yoga te-
tap pejamkan mata dan tidak melarang sikap perla-
kuan lembut itu. Hanya dalam hatinya, Pendekar Ra-
jawali Merah menemukan satu keanehan sikap dari
Sendang Suci. Sikap itu adalah sikap seorang kekasih
yang begitu sayang kepada orang yang dicintainya. Se-
pertinya begitulah sikap lembut yang diterima Yoga
malam itu. Sementara, di sisi lain, Mahligai yang gila aki-
bat Racun Edan itu masih tetap dalam pasungannya.
Sore tadi Mahligai mengamuk karena lapar, lalu Tabib
Perawan memberikan makan, tapi makanan itu disem-
bur-semburkan sambil Mahligai menggeram berseru
"Aku mau makan daging manusia! Manusia
tampan itu! Manusia tampan itu, bawa kemari! Le-
kaaas...!"
Teeb...! Kembali Mahligai ditotok oleh bibinya
sendiri dan jatuh terkulai lemas di atas pembaringan-
nya. Perempuan cantik berhidung mancung itu men-
jadi repot sendiri. Ada dua kerepotan yang harus di-
tangani secara bergantian, yaitu merawat keponakan-
nya yang gila dan merawat Yoga.
Bahkan pagi itu pun mereka sarapan berdua,
sedangkan Mahligai tidak diberinya sarapan. Ketika
Yoga menanyakannya,
"Mengapa Mahligai tidak diajak makan seka-
lian, Bi?"
"Santapannya berbeda dengan kita! Aku harus
membeli seekor ayam di pasar dan dia akan mema-
kannya mentah-mentah!"
Yoga menghembuskan napas menandakan iba
hatinya mendengar nasib Mahligai yang menjadi doyan
makan daging mentah itu. Karenanya, Yoga pun segera
berkata, "Bolehkah nanti siang aku pergi ke Telaga
Bangkai untuk mencari bunga Teratai Hitam itu, Bi"!
Rasa-rasanya, aku harus secepatnya mendapatkan
bunga Teratai Hitam, agar Mahligai lekas sembuh! Tak
tega aku melihatnya dalam keadaan terpasung begitu
terus-menerus!"
"Keadaanmu masih belum sembuh total, Yo!
Jangan dulu ke mana-mana. Mungkin dua hari lagi
kau baru bisa melakukan perjalanan jauh ke Telaga
Bangkai itu!"
"Tapi kalau terlalu lama, kasihan nasib Mahli-
gai!" "Ya. Memang. Tapi aku tak izinkan kau pergi dalam keadaan belum sembuh
total! Dan... rasa-rasanya memang kau tak perlu lagi mencari bunga Te-
ratai Hitam itu!"
"Mengapa begitu, Bi"!" Pendekar Rajawali Merah terkejut.
"Aku tak izinkan kau mencari bunga itu sebe-
lum kau membalas kekalahanmu kepada si Topeng
Merah!" "Bukankah Bibi bilang aku tak boleh menaruh dendam kepada si Topeng
Merah, atau siapa pun yang
melukai ku?"
"Ini bukan dendam. Aku yakin Topeng Merah
menyesal atas tindakannya yang tidak sengaja telah
membuat tanganmu putus itu! Karenanya, untuk me-
legakan hati orang itu, kau harus membalasnya den-
gan memotong tangan kirinya!"
"Ku rasakan sikap Bibi makin lama semakin
aneh saja!"
"Karena aku tak rela melihat tanganmu bun-
tung satu! Balas kekalahanmu ini kepada Topeng Me-
rah! Jika kau belum balas kekalahanmu ini, kau tidak
perlu mencari bunga Teratai Hitam itu! Kalau toh kau
nekat dan mendapatkannya, aku tak akan mau mene-
rima bunga itu sebelum kau membuat tangan Topeng
Merah buntung satu!"
Pendekar Rajawali Merah diam saja setelah
menelan sisa makanannya. Matanya tertuju ke tepian
meja, dan ia melamun di sana, sampai akhirnya Sen-
dang Suci mendengar Yoga berkata,
"Aku tak bisa melakukan pembalasan itu, Bi!
Bagaimana jika Bibi saja yang melakukan pembala-
san"!" Sendang Suci terperanjat dan bingung menjawabnya. Ia tampak gelisah
beberapa saat, lalu terden-
gar pula ia bertanya,
"Mengapa tak bisa" Kau seorang pendekar yang
perkasa dan punya ilmu tinggi! Pasti kau bisa kalah-
kan jurus-jurusnya Topeng Merah!"
Yoga menggeleng dalam lamunannya, "Tidak.
Bi! Tanganku sudah putus satu. Sedangkan Topeng
Merah mempunyai jurus pedang yang bagus dan cu-
kup hebat! Aku akan kalah bila melawannya!"
"Tidak! Kau tidak akan kalah! Jangan merasa
kecil hati, Yo! Cacat di tanganmu ini akan membuat
kau semakin hebat dalam ilmu pedang! Percayalah,
Topeng Merah bisa kau kalahkan! Lakukan, Yo! Bun-
tungi lengan si Topeng Merah biar lega hatiku dan ti-
dak kecewa lagi melihat tanganmu di buntungi oleh-
nya!" "Kau saja yang melakukannya, Bi! Jangan aku!
Kalau kau memaksaku, aku akan pergi dan tidak mau
bertemu denganmu lagi! Kau saja yang melakukannya!
Buntungi tangan si Topeng Merah itu, tapi hati-hati
jangan sampai tanganmu sendiri yang menjadi bun-
tung! Aku akan marah besar kepadamu jika tanganmu
sampai buntung!"
"Ilmu... ilmu pedangku... hmmm... ilmu pe-
dangku tak sehebat ilmu pedangnya Topeng Merah, Yo!
Kalau kau saja bisa dibuatnya buntung, apalagi aku"!"
Sendang Suci semakin gelisah. Yoga melihat
kegelisahan itu sebagai ungkapan perasaan takut.
Bahkan ketika Yoga mengulangi kata-katanya,
"Lakukan, Bi! Kalau kau tak bisa melawan dan
mengalahkan Topeng Merah, aku tak mau mengenal-
mu lagi!" Sendang Suci hanya diam saja, seakan tidak
mendengar ucapan itu. Ia mengemasi perabot makan-
nya dan kembali lagi dengan berkata,
"Aku akan ke hutan sebentar untuk mencari
ayam buat Mahligai!"
"Ya. Silakan. Tapi ingat, jika di perjalanan kau bertemu dengan Topeng Merah,
buntungi dia saat itu
juga, Bi!"
"Aku tak menjanjikan apa-apa untukmu, Yo!
Yang kujanjikan hanya kesembuhan mu!" jawab Sendang Suci lalu pergi meninggalkan
Yoga yang terse-
nyum aneh menurut perasaan hatinya itu.
Di perjalanan, hati Sendang Suci sangat resah.
Perhatiannya terpusat pada kata-kata Yoga, hingga da-
lam hatinya timbul berbagai kecamuk yang semakin
mengacaukan jalan otaknya. Ia sepertinya justru men-
dapat tugas dari pendekar tampan itu, tugas untuk
membuntungi Topeng Merah. Ini adalah tugas yang be-
rat baginya, sementara itu, Yoga mengancam untuk ti-
dak mau mengenalnya lagi jika hal itu tidak dilakukan.
Repotnya lagi, jika tangan Sendang Suci sendiri yang
menjadi buntung, Yoga akan marah besar kepadanya.
Sungguh tertekan jiwa Sendang Suci. Ia seper-
tinya makan buah simalakama. Ia harus bisa menga-


Jodoh Rajawali 04 Utusan Pulau Keramat di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tasi hal itu! dalam keadaan hatinya bersedih memikir-
kan nasib Mahligai yang masih gila dan liar itu. Karena kalutnya otak, Sendang
Suci sampai tak menyadari
bahwa di depannya sudah berdiri Tamtama dan Tan-
duk Iblis, si manusia raksasa yang punya wajah ang-
ker menyeramkan itu. Sendang Suci terkejut dan
menggeragap ketika Tamtama menyapanya,
"Bibi Sendang Suci...!"
"Hmmm... eh... siapa kau" Oh, kau Tamtama"!
Hmm... ada apa, Tamtama"!"
Pemuda yang patah hati dan cemburu besar
kepada Yoga itu segera berkata dengan dahi berkerut,
"Pucat sekali wajah Bibi hari ini" Ada apa, Bi?"
"Hmmm... anu... tidak. Tidak ada apa-apa!" jawab Sendang Suci.
"Apakah Mahligai sudah pulang?"
"Belum! Mahligai belum pulang!"
"Jangan-jangan dia dibawa kabur oleh Yoga,
Bi?" "Oh, tidak! Tidak begitu, Tamtama. Yoga tidak
membawa kabur Mahligai! Dia tidak bersama Mahli-
gai!" "Lalu, ke mana dia sekarang" Maksud saya, bocah kunyuk yang memakai gelar
Pendekar Rajawali
Merah itu, Bi?"
"Ada... !"jawab Sendang Suci, kemudian buru-buru sadar apa yang diucapkannya
itu. "Maksudku, ada apa kau mencari Yoga?"
"Saya akan adu si kunyuk itu dengan teman
saya ini, Tanduk Iblis!"
Mata Sendang Suci agak terkesiap. Kemudian
mata itu memandang Tanduk Iblis yang mempunyai
dua benjolan di keningnya seperti sepasang tanduk.
Orang tinggi besar itu selalu mengenakan baju yang
tak pernah di kancingkan, sehingga di dadanya terlihat jelas gambar tato wajah
iblis yang menyeramkan. Itulah sebabnya dia dijuluki Tanduk Iblis. Dan kali ini
matanya itu memandang lembut kepada Sendang Suci,
tidak seganas jika ia memandang seorang lelaki. Sebab Tanduk Iblis adalah orang
yang tidak pernah mau melawan perempuan atau bertindak kasar kepada wanita
mana pun juga. Karena itu ia memandang lembut ke-
pada Sendang Suci.
"Kau ingin mengadu Tanduk Iblis dengan Yo-
ga?" ulang Sendang Suci karena tak punya kalimat lain untuk mengatasi
kegugupannya saat itu.
"Ya! Aku ingin melihat kejantanannya. Kalau
dia melawan teman saya ini bisa unggul, maka saya re-
la Mahligai jatuh ke dalam pelukannya, Bi! Tapi jika ia melawan Tanduk Iblis
kalah, bagaimanapun juga saya
tidak mundur dari Mahligai dan tetap ingin memperta-
hankan Mahligai, sebab... sebab cinta saya terlalu dalam kepadanya, Bi. Mohon
Bibi bisa memaklumi kea-
daan saya!"
"Yaaah... aku bisa memaklumi. Tapi.. tapi ku-
rasa...," Sendang Suci diam kembali. Matanya memandang sekeliling seperti punya
kecurigaan dan kecema-
san tersendiri.
"Bibi mau bicara apa?" tanya Tamtama.
"Hmmm... kalau kau ingin mengadunya, silakan saja Tapi aku tidak tahu di mana
Pendekar Rajawali Merah
yang perkasa itu berada! Cobalah cari di tempat lain.
Jangan tanyakan padaku, Tamtama!"
"Mengapa Bibi kelihatannya menghindari per-
tanyaan saya itu?"
"Karena aku tidak tahu dan tidak bisa menja-
wab pertanyaanmu! Kalau aku tahu di mana Yoga,
akan kutunjukkan padamu! Jangan coba-coba me-
maksaku, Tamtama. Aku bisa marah kepadamu!"
"Baiklah, Bi! Saya tidak bermaksud memaksa
Bibi, cuma... Bibi kelihatannya hari ini mudah tersinggung! Ada apa sebenarnya?"
"Tidak ada apa-apa! Aku mau mencari ayam
hutan! Pergilah sana, cari dia sampai dapat kalau me-
mang kau ingin mengadu dia dengan Tanduk Iblis!"
"Itu pasti, Bi!" jawab Tamtama sambil memberi isyarat kepada Tanduk Iblis untuk
berjalan lagi mencari di mana Yoga berada.
Langkah Sendang Suci kembali dikerumuni
oleh lamunan dan percakapan dalam hatinya. Ter-
bayang perawakan tinggi besarnya Tanduk Iblis yang
mirip raksasa itu, dengan perawakan Yoga yang seka-
rang dalam keadaan buntung tangannya itu. Kecema-
san pun timbul di hati Sendang Suci apabila Yoga
sampai bertarung dengan Tanduk Iblis.
"Dalam keadaan seperti itu, apakah Yoga mam-
pu mengalahkan Tanduk iblis" Rasa-rasanya untuk
saat sekarang, di mana Yoga belum terbiasa mengha-
dapi lawan dengan satu tangan, tipis sekali kemungki-
nan menang pada diri Yoga! Aku akan mencegah per-
tarungan itu dengan cara menyembunyikan Yoga dari
mata Tamtama! Kekuatan itu tidak seimbang jika
sampai Tanduk Iblis, yang bertangan lengkap menye-
rang Yoga, yang bertangan buntung dan baru saja
menjalani kehidupan buntungnya beberapa hari ini!
Tapi... bagaimana jika mereka memergoki Yoga ada di
rumahku, atau memergoki Yoga ada di perjalanan"!
Hmmm... agaknya aku harus melakukan sesuatu!"
Ternyata ketika Sendang Suci sedang pergi, ada
orang yang datang ke pondoknya, tapi bukan Tamtama
atau Tanduk Iblis. Orang yang datang itu berusia anta-ra enam puluh tahun dengan
rambut putihnya dan
pakaian coklat. Orang itu tak lain adalah si Tua Usil, Pancasona, yang juga
dikenal sebagai Manusia Kabut,
karena bisa merubah wujudnya menjadi segumpal ka-
but. "Beruntung sekali kau datang, Tua Usil!" kata Yoga kepada Tua Usil. Ia
segera menarik tangan orang
itu sambil membawanya ke bawah sebuah pohon.
"Tuan Yo diminta pulang oleh Nona Lili jika
keadaan sudah membaik!" kata Tua Usil.
"Mengapa dia tidak datang sendiri kemari?"
"Nona Li tidak mau mencampuri urusan pribadi
Tuan Yo, katanya!"
"Urusan pribadi..."! Apa maksudnya urusan
pribadi itu?"
Tua Usil angkat bahu, "Saya tidak tahu, Tuan
Yo! Yang jelas, Nona Li mengharapkan Tuan Yo lekas
pulang!" "Baik! Aku akan pulang, tapi aku mau minta to-
long padamu, Tua Usil! Kuharap kau mau menolongku
untuk urusan yang satu ini!"
"Saya tidak pernah menolak permohonan ban-
tuan Tuan Yo, tapi selama ini tak ada yang mau men-
gabulkan permohonan saya untuk mengajari saya ber-
diri di atas ilalang!"
Melihat si Tua Usil bersungut-sungut, Yoga ter-
tawa pendek. Lalu Pendekar Rajawali Merah itu segera
berkata, "Kalau kau mau menolongku, aku akan mende-
sak Lili untuk mengajarkan padamu jurus berdiri di
atas ilalang!"
"Benarkah"!" Tua Usil tampak kegirangan.
"Benar! Kurasa kalau aku yang mendesaknya,
Lili akan mau menuruti dan dia akan mengajarkan pa-
damu bagaimana bisa berdiri di atas ilalang!"
"Oh, itu menyenangkan sekali buat saya, Tuan
Yo...! Terima kasih! Terima kasih sebelumnya!" si Tua Usil membungkuk-bungkuk
memberi hormat sebagai
tanda suka citanya.
"Tetapi ingat, kalau pertolonganmu itu sampai
bocor dan didengar oleh satu orang pun, akan kupeng-
gal kepalamu saat itu juga! Karena apa yang harus kau kerjakan ini sangat
rahasia!" "Baik! Saya paham dan akan menjaga rahasia
itu, Tuan Yo! Katakan apa yang harus saya lakukan!"
Dengan suara lirih bernada bisik, Yoga menje-
laskan kepada Tua Usil tentang sesuatu yang harus di-
lakukan oleh si Tua Usil. Pada waktu itu, Sendang Su-
ci dalam perjalanan pulang. Perasaannya menjadi tak
enak, sehingga langkahnya dipercepat Yang terbayang
di benaknya adalah pertarungan antara Yoga dengan
Tanduk Iblis. Itulah yang membuat Sendang Suci tak
bisa terlalu lama dalam perjalanan.
Ketika ia tiba di rumah, ternyata Yoga sedang
duduk sendirian di atas sebuah batu datar di bawah
pohon rindang depan rumah. Sendang Suci merasa le-
ga. Langkahnya terhenti dan senyumnya mekar ceria
ketika melihat Yoga berdiri memandang ke arahnya
dengan senyum ramahnya yang menawan itu.
"Hampir saja aku menyusulmu ke hutan, Bi!"
kata Yoga membuat hati Sendang Suci berdebar indah.
"Apakah aku terlalu lama meninggalkan ka-
mu?" "Tidak. Tapi ada sesuatu yang harus kukerjakan secepatnya, Bi!"
"Tentang apa itu?" sambil Tabib Perawan me-
langkah masuk dan diikuti oleh Pendekar Rajawali Me-
rah. "Saya harus pergi sebentar, Bi! Saya harus memenuhi undangan pertarungan
dari seseorang!"
"Siapa dia orangnya?" Sendang Suci terperanjat
"Topeng Merah!"
"Hah..."!" Sendang Suci makin terkejut. Wajahnya menjadi pucat pasi. "itu tidak
mungkin, Yo...! Eh, hmm... maksudku, tidak mungkin kau harus bertarung dengan
Topeng Merah dalam keadaan lukamu be-
lum sembuh total begini!"
"Tapi dia menantangku, Bi! Dia datang ke sini
sendirian!"
"Oh, tak mungkin itu, Yo...!" ucap Sendang Suci pelan dengan tertegun bengong.
* * * 2 RASA penasaran membuat Sendang Suci men-
desak ikut dengan Yoga. Pendekar Rajawali Merah tak
bisa menahan keinginan Sendang Suci yang punya
alasan hanya ingin mendampingi demi menjaga kese-
lamatan Yoga. Maka akhirnya mereka pun berangkat
berdua setelah memberi makan Mahligai. Sasaran yang
dituju adalah sebuah bukit di dekat ngarai, jalan menuju Gunung Menara Salju.
Sepanjang perjalanan Sendang Suci tidak ba-
nyak bicara. Perempuan yang melengkapi dirinya den-
gan senjata kipas itu lebih banyak termenung dalam
langkahnya. Sesekali ia menggeragap jika diajak bicara oleh Pendekar Rajawali
Merah. "Apa yang kau renungkan sejak tadi, Bi?" tanya Yoga. Tetapi Sendang Suci hanya
tersenyum, atau
terkadang ia menjawab, "Tak ada yang kurenungkan kecuali luka potong mu itu!"
Pendekar Rajawali Merah tersenyum. Ia tidak
mengupas percakapan dari jawaban tersebut sebab ia
tahu jawaban itu bohong. Sesuatu yang direnungkan
Sendang Suci adalah sesuatu yang menggelisahkan
hati perempuan itu. Hal yang menggelisahkan hati ti-
dak lain kecuali sesuatu yang berhubungan erat den-
gan diri pribadinya. Sebenarnya Yoga bisa saja mende-
sak sampai Sendang Suci mengatakan yang sebenar-
nya menggelisahkan hatinya itu, tetapi Yoga tidak in-
gin memancing keributan dalam perjalanan itu. Den-
gan tangannya yang buntung satu, Yoga tetap melang-
kah dengan tenang, seakan tidak merasa dirinya telah
cacat. Langkahnya pun tetap kelihatan tegap dan ga-
gah, membuat semakin iba hati Sendang Suci meman-
dang ketegaran jiwa Yoga.
Langkah mereka berdua terhenti ketika sekele-
bat sinar merah melesat dari arah kiri Yoga. Dengan
cepat pendekar bertangan buntung sebelah itu melom-
pat ke belakang dengan bersalto satu kali setelah ia
mendengar seruan dari Sendang Suci, "Awas...!"
Wuuut..! Tubuh Yoga yang melesat bersalto ke belakang
itu membuat sinar merah yang terbang dengan cepat
terhindar darinya, dan menuju ke arah Sendang Suci.
Dengan cepat Sendang Suci yang punya kesigapan
tinggi itu menghentakkan tangan kanannya dan mele-
paskan sinar putih menyilaukan hingga kedua sinar
itu beradu di pertengahan jarak.
Duaaar...! Sendang Suci limbung sedikit namun kembali
berdiri dengan sigap dan tahu-tahu kipasnya sudah
berada di tangan dalam keadaan terbuka lebar.
Traab...! Ia melompat maju di depan Yoga dengan si-
kap melindungi dan memandang sekeliling dengan ta-
jam. Tak ada sesuatu yang bergerak mencurigakan.
Tetapi sikap Sendang Suci tetap berjaga-jaga penuh
waspada, seakan sengaja menunggu serangan berikut-
nya. "Topeng Merah sudah ada di dekat kita, Bi!" bisik Yoga dari belakang
Sendang Suci. "Benarkah ada Topeng Merah yang lain"! Aku
tak yakin! Sama sekali tak yakin!" kata Sendang Suci di dalam hatinya.
Tiba-tiba muncul kembali sinar merah berben-
tuk seperti mata tombak seperti tadi. Gerakannya ce-
pat dan datangnya dari kerimbunan pohon di seberang
sana. Wuuut...! Sasaran utama adalah tubuh Yoga, ta-
pi dengan satu kali lompatan dan tangan yang meme-
gang kipas berkelebat, arah sinar merah itu bisa men-
tal berbelok tujuan dan menghantam sebuah pohon.
Wuuusst...! Duaaar...! Pohon besar itu berongga bolong karena hantaman sinar
merah tersebut.
"Mundur, merapat di pohon! Biar ku atasi ini!"
kata Sendang Suci kepada Yoga.
"Biarkan aku yang menghadapi, Bi!"
"Lukamu belum sembuh sekali, Bodoh! Jangan
berdebat pada saat seperti ini! Lekas ke pohon bela-
kang sana!"
Tetapi Pendekar Rajawali Merah bukan orang
yang mudah bersembunyi dari sebuah serangan. Ia ju-
stru sentakkan kakinya dan melentingkan tubuhnya di
udara dengan bersalto maju melewati kepala Sendang
Suci. Pada saat itu tepat seberkas sinar hijau pecah menghantam ke arahnya
dengan cepat. Wuuut..!
Pendekar Rajawali Merah hanya menyentakkan


Jodoh Rajawali 04 Utusan Pulau Keramat di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

telapak tangannya yang dalam posisi miring itu ke de-
pan. Suuut...! Lalu sinar merahnya melesat menyebar
bagai membentuk perangkap dan yang segera menye-
rap sinar hijau itu. Zraaap...! Kini gumpalan sinar merah itu terbang cepat
membawa sinar hijau yang telah
disekapnya, arah tujuannya ke tempat di mana sinar
hijau tadi dilepaskan oleh pemiliknya. Dan sekelebat
bayangan pun segera melompat keluar dari kerimbu-
nan ketika sinar merah itu datang ke sana.
Braaasss...! Pecah dalam satu ledakan yang membuat
kerimbunan itu menjadi plontos seketika.
Seseorang yang melompat keluar tadi kini terli-
hat jelas di mata Yoga dan Sendang Suci. Melihat ke-
munculan orang tersebut, Sendang Suci menggeram
sambil menahan kecemasannya. Orang itu tak lain
adalah Tanduk Iblis yang tadi bertemu dengannya. Apa
yang dicemaskan kini terjadi.
"Yo, mundurlah!" seru Sendang Suci. Pada saat itu Yoga hanya memandang tertegun
melihat perawakan manusia tinggi besar dan menyerupai raksasa itu.
Wuuut...! Sekelebat bayangan berwarna hijau melesat tu-
run dari atas pohon yang ada di belakang Tanduk Iblis.
Bayangan itu pun mendaratkan kakinya di depan Yoga
dengan bersalto melewati kepala Tanduk Iblis. Warna
hijau itu tak lain adalah warna pakaian dari Tamtama.
Melihat wajah Tamtama, Yoga baru bisa terse-
nyum dan melepaskan diri dari keterbengongannya ta-
di. Ia ingat tentang Tamtama yang selalu menyangka
Yoga merebut kekasihnya, yaitu Mahligai. Sedangkan
Sendang Suci sendiri selama ini belum pernah mence-
ritakan kepada Tamtama tentang keadaan Mahligai
yang sekarang menjadi gila, buas, dan liar itu.
"Masih ingat tantanganku tempo hari, Ku-
nyuk"!" seru Tamtama dengan tersenyum sinis, mera-sa besar nyalinya karena ada
Tanduk Iblis di samping-
nya. "Ya, aku ingat! Mana jagomu yang ingin kau adu denganku?"
"Ini...!" Tamtama menuding Tanduk Iblis, dan yang dituding memandang dengan
menyeramkan. Se-baris geram terdengar pada saat kedua tangan besar
Tanduk Iblis itu menggenggam kuat-kuat. Pada waktu
itu, Sendang Suci mendekat dan berdiri di samping
Yoga, seakan siap bertindak sebagai wakil dari Yoga ji-ka sewaktu-waktu datang
serangan dari Tanduk Iblis
ataupun dari Tamtama.
Yoga memandang Tanduk Iblis dengan tenang
dan bahkan berkata,
"Hanya satu yang kau bawa kemari" Ah... tang-
gung sekali!"
Tamtama semakin panas hatinya mendengar
sesumbar yang sengaja dilontarkan Yoga untuk me-
mancing amarah lawan. Tamtama jadi tak enak hati
karena ada Sendang Suci di samping Yoga. Mata Tam-
tama segera berkesip ketika ia melihat ke tangan kiri Yoga yang buntung itu. Ia
terkejut girang dan berkata,
"Hai, mana tangan kirimu" Hilang" Oh, terpo-
tong" Oho, ho, ho.,.!" Tamtama menertawakan. "Sekarang kau ternyata menjadi
pendekar buntung, ya"! Ha,
ha, ha, ha, ha...!"
Tamtama terbahak-bahak. Tapi tawanya itu se-
gera terhenti setelah Sendang Suci melompat maju sa-
tu tindak dan kipasnya yang terkatup itu disodokkan
ke dada kanan Tamtama. Duuss...! Tanduk Iblis mun-
dur satu tindak, tak berani serang Sendang Suci. Se-
mentara itu, sodokan satu kali tersebut membuat Tam-
tama tersentak ke belakang dan jatuh terkapar dengan
suara mengerang kesakitan.
"Bangkitlah kalau kau ingin mati di tanganku,
Tamtama!" sentak Sendang Suci dengan wajah cemberut marah. Tamtama tak berani
bangkit. Ia hanya den-
gan duduk memegangi tangan kanannya. Ketika ia
punya kesempatan melepaskan tangan yang meme-
gang dada kanannya, tampaklah oleh Yoga bahwa da-
da tersebut telah membiru, baju yang dipakai Tamta-
ma berlubang hangus bagai habis terbakar. Jelas so-
dokan kipas tadi mempunyai kekuatan tenaga dalam
yang cukup tinggi.
"Bibi ada di pihak kunyuk itu, rupanya"!"
"Ya. Mau apa kau! Mau tetap menyerangnya"
Silakan! Majulah kalian berdua melawanku dulu! Ka-
lau aku kalah melawan kalian, baru kalian boleh me-
lawan Yoga!"
Dengan masih duduk di tanah tak berani bang-
kit karena ancaman Sendang Suci tadi, Tamtama ber-
seru kembali, "Aku hanya ingin menguji kesaktian orang yang
berani mengaku sebagai pendekar itu, Bi! Aku hanya
ingin bukti kekuatan dan kehebatan ilmunya dengan
mendatangkan jago pilihan ku ini! Kalau Bibi mengha-
langi, berarti Bibi secara tidak langsung mengatakan
bahwa kunyuk itu orang lemah yang pantas dilindungi
oleh wanita seperti Bibi!"
Panas telinga Sendang Suci mendengar ucapan
itu. Tamtama berhasil memancing tantangan yang
membangkitkan gairah bertarung bagi Yoga. Maka
Pendekar Rajawali Merah pun berkata kepada Sendang
Suci, "Bibi, mundurlah...! Kulayani dua-tiga jurus sa-ja tantangan itu!"
Sendang Suci memang mundur, tapi segera
berbisik kepada Yoga,
"Bagaimana dengan lukamu?"
"Percayalah, Bi! Bisa ku atasi sendiri!"
"Baiklah! Kalau perlu, bunuh dia keduanya!"
"Kalau memaksa apa boleh buat!" jawab Pendekar Rajawali Merah.
Sendang Suci pun akhirnya berkata, "Baiklah,
Tamtama! Kita lihat siapa yang unggul dalam perta-
rungan nanti. Tapi jangan sekali-kali kau menyesal ji-ka jagomu itu copot
kepalanya, dan bahkan dirimu ke-
hilangan nyawa!"
Rasa sakit di dada kanan seolah-olah menjadi
hilang. Itu akibat rasa girangnya Tamtama mendengar
keputusan tersebut. Ia pun segera bangkit dan berkata kepada Tanduk Iblis,
"Tanduk iblis, bunuh dia dan jangan kasih ke-
sempatan menyentuh mu sedikit pun! Sisa uang upah
mu harus kau ambil secepatnya dengan menukar ke-
pala bangsat itu!"
"Mundurlah, Tamtama...! Jadilah penonton
yang baik!" kata Tanduk Iblis dengan wajah berseri seri penuh nafsu untuk
membunuh. "Yo... hati-hati," bisik Sendang Suci sambil
mengusap-usap punggung Yoga, kemudian ia menjau-
hi tempat itu, memberi keleluasaan bergerak pada diri Pendekar Rajawali Merah.
Sendang Suci berdebar-debar. Matanya tetap
memandang dengan awas, baik pada diri Tanduk Iblis
maupun pada diri Tamtama. Sebab ia khawatir Tam-
tama melepaskan pukulan curangnya di saat Yoga si-
buk menghadapi Tanduk iblis.
Jarak antara Tanduk Iblis dengan Yoga hanya
empat langkah. Mereka saling pandang dengan tajam.
Mereka sama-sama bergerak melangkah membentuk
lingkaran. Lalu tiba-tiba Tanduk Iblis berseru keras-
keras sambil melompat menyerang Yoga,
"Heaaa...!"
Wuuut...! Kaki menendang, tangan Yoga me-
nangkisnya. Plaak...! Tangan Tanduk Iblis pun meng-
hantam cepat ke arah wajah Yoga. Wuut! Tebb...! Tan-
gan itu ditangkap oleh Yoga, dan dengan cepatnya kaki Pendekar Rajawali Merah
itu menendang beruntun ke
arah rusuk lawannya. Des, des, des, des. des...!
Tendangan itu sangat cepat dan tak terlihat
oleh mata telanjang. Yang mereka lihat, Yoga menen-
dang satu kali saja. Tapi yang dirasakan oleh Tanduk
Iblis lebih dari lima kali.
Ketika tangan orang besar itu dilepaskan, tu-
buh tersebut terhuyung-huyung ke belakang dan
hampir saja jatuh menindih tubuh Tamtama. Orang
tinggi besar itu menyeringai kesakitan sambil meme-
gangi tulang rusuknya.
"Serang terus dia! Cabut golokmu dan hantam
kepalanya!" kata Tamtama memberi semangat pada ja-gonya itu.
"Tulang rusuk ku sepertinya ada yang patah sa-
tu! Tendangannya sangat cepat dan berat! Dia punya
ilmu yang tinggi, Tamtama!"
"Desak terus dia! Jangan kasih kesempatan!
Keluarkan senjatamu! Terlalu lama kalau kau tidak
memakai senjata, Tanduk Iblis!"
"Baik!" orang besar itu seperti kerbau yang menurut dengan perintah tuannya.
Semua ia lakukan
demi upah besar yang dijanjikan oleh Tamtama. Maka,
kini ia pun mencabut senjatanya dari pinggang.
Slaap...! Kini di tangan Tanduk Iblis tergenggam golok besar dan lebar bergerigi
pada sebelah sisi tajamnya.
Sendang Suci semakin cemas Senjata lawan
cukup besar dan wajah lawan kian beringas. Satu kali
tebasan goloknya menghadirkan bunyi gaung yang
membuat bulu kuduk merinding. Yoga hanya berkelit
ke samping ketika golok besar itu menebas sebelah ki-
rinya. Wuuung...! Hanya beberapa Jarak saja golok itu berkelebat di samping kiri
Yoga, mungkin kurang dari
setengah jengkal.
Hati Sendang Suci terharu melihatnya Sebab ia
bayangkan kalau saja tangan kiri Yoga masih ada, su-
dah pasti Yoga dapat menangkis tangan Tanduk Iblis
dengan tangan kirinya. Tetapi dengan hilangnya tan-
gan kiri itu, Yoga hanya bisa menghindari ke samping
kanan dan lawan membuang tubuh sambil menendang
cepat ke dada Yoga. Buugh...!
"Ehhg...!" Yoga terpental ke belakang dan hampir saja jatuh jika tidak ditahan
tubuhnya dari bela-
kang oleh Sendang Suci.
"Jangan paksakan diri kalau sekiranya berat!
Biar aku yang maju, Yoga!" bisik Sendang Suci.
"Masih bisa ku atasi, Bi!" jawab Yoga sambil kemudian berkelebat maju dalam satu
lompatan bersalto. Kehadiran tubuh Yoga itu disambut oleh golok
lebarnya Tanduk Iblis yang di hujamkan ke depan. Te-
tapi pada saat itu, rupanya Yoga sudah memperhi-
tungkan gerakan lawan tersebut, sehingga kakinya te-
rangkat sedikit dan cepat menjejak golok besar itu sebagai alas kaki kirinya.
sedangkan kaki kanannya me-
nendang wajah Tanduk Iblis dengan sangat kuat.
"Haah...!"
Duugh...! Tendangan kuat itu terkena telak di
wajah Tanduk iblis. Tubuhnya terlempar empat tindak
ke belakang. Darah mengucur dari hidung Tanduk Ib-
lis. Tamtama terkesiap melihat orang yang di jagokan-
nya bercucuran darah.
Cucuran darah itu membuat Tanduk Iblis men-
jadi semakin ganas. Dengan menggereng ganas ia me-
nebaskan goloknya ke segala arah. Serangannya mem-
babi buta dan hampir mengenai Yoga beberapa kali.
Tamtama kegirangan melihat Tanduk Iblis mengamuk.
Gerakan goloknya itu sering merupakan gerakan me-
nipu lawan sehingga Pendekar Rajawali Merah terde-
sak beberapa kali, dan satu kesempatan bagus diman-
faatkan oleh Tanduk Iblis untuk menendang tubuh Yo-
ga dengan kuat.
Buuhg...! Punggung Yoga menjadi sasaran te-
lak. Tendangan itu membuat tubuh Yoga terpental ter-
bang dan kepalanya membentur pohon. Dees...!
"Yo...!" pekik Sendang Suci dengan nada penuh kecemasan. Ia segera berlari
menghampiri Yoga, tetapi Pendekar Rajawali Merah itu cepat-cepat bangkit dan
berdiri tegak sebelum perempuan itu datang meno-
longnya. Ada darah yang keluar dari hidung Yoga. Tak
terlalu banyak tapi amat mencemaskan Sendang Suci,
sebab ia tahu tendangan Tanduk Iblis tadi adalah ten-
dangan bertenaga dalam cukup tinggi. Pohon pun
akan rontok daunnya jika mendapat tendangan seperti
tadi. "Yo, kau tak apa-apa?" Sendang Suci terhenti langkahnya di depan Yoga
dalam jarak empat tindak.
"Menyingkirlah, Bi! Akan kuselesaikan seka-
rang juga!" kata Pendekar Rajawali Merah dengan suara datar. Ia kelihatan
bersungguh-sungguh, sehingga
Sendang Suci pun mundur kembali.
"Majulah kalau mau buntung kepalamu!" teriak Tanduk Iblis dengan seringai
menyeramkan. Pendekar Rajawali Merah berdiri tegar dan me-
mandang dengan dingin. Pelan-pelan tangan kanannya
bergerak mencabut pedang di punggung. Sendang Suci
berdebar-debar memperhatikan Pedang Lidah Geledek
di lolos pelan-pelan dari sarungnya.
Blaaar...! Petir menggelegar satu kali di angkasa pada
saat pedang itu telah lepas dari sarungnya. Semua ma-
ta terpana dan tak berkedip menatap pedang berca-
haya merah membara megah itu. Tamtama sendiri
sempat bengong memperhatikan pedang Pendekar Ra-
jawali Merah yang di ujung gagangnya terdapat kepala
burung rajawali saling bertolak belakang.
"Tanduk Iblis...!" seru Yoga dari tempatnya.
"Mundur kau!"
Pendekar Rajawali Merah memberi kesempatan
kepada Tanduk Iblis untuk merubah pikirannya. Teta-
pi, Tanduk Iblis justru melompat maju bersama golok
lebarnya. "Heeeaaahhh...!"
Pendekar Rajawali Merah masih diam di tempat
melihat lawannya maju menyerang. Setelah lawan be-
rada dalam jarak sekitar satu tombak, Pendekar Raja-
wali Merah mengibaskan pedangnya dari atas kanan
ke bawah kiri. Wuuut...! Claaap...! Melesat sinar merah
panjang berkelok-kelok dari hasil kibasan pedang itu.
Sinar tersebut merobek tubuh lawan dari atas ke ba-
wah. Craas...!

Jodoh Rajawali 04 Utusan Pulau Keramat di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tanduk Iblis terhenti dari langkahnya. Diam
tak bergerak sambil masih menggenggam golok lebar-
nya. Ia berdiri dengan satu kaki maju ke depan dan
tubuh merendah. Kedua tangan menggenggam erat ga-
gang golok itu.
Tamtama berseru, "Serang terus! Serang, Tan-
duk Iblis!"
Tetapi tiba-tiba saja Tanduk Iblis menjatuhkan
golok lebarnya. Pluuk! Lalu perlahan-lahan tubuh be-
sar itu limbung ke belakang dan jatuh terkapar dengan mata mendelik dan mulut
masih ternganga kecil.
Buugh..! "Tanduk Iblis...!" teriak Tamtama kaget. Sendang Suci mendekati dengan mata
menyipit. Ternyata tubuh Tanduk Iblis telah robek dari
mata kiri turun ke bawah sampai pada bagian perut
kanan. Darah merembes keluar dari robekan dalam
itu. Bekas robekan tersebut berwarna hitam sampai
pada bagian sekeliling luka tersebut. Tanduk Iblis saat itu sudah tak bernyawa
lagi dalam keadaan wajah seperti orang kaget.
"Mengerikan sekali!" pikir Sendang Suci. "Padahal pedang itu belum sampai
menyentuh kulit tu-
buhnya sudah menjadi seperti ini, bagaimana kalau
sampai pedang itu membelah kepala secara jelas-
jelas"! Bisa seperti pohon yang terbelah kapak tajam
jadinya!" Tamtama memandang tak berkedip, lalu mena-
tap Pendekar Rajawali Merah yang masih menggeng-
gam pedangnya. Pendekar Rajawali Merah berkata
dengan nada dingin kepada Tamtama,
"Majulah kau sekalian, Tamtama!"
Blaas...! Tamtama pergi begitu saja tanpa pamit
lagi. Ia lari terbirit-birit ketakutan. Menoleh ke belakang pun tak berani.
Sementara itu, Sendang Suci
hanya berkata dalam hati,
"Dahsyat sekali ilmu pedangnya! Siapa yang
mampu menandinginya"!"
* * * 3 MELIHAT kedahsyatan pusaka Pedang Lidah
Geledek, hati Sendang Suci merasa kecil sekali. Bah-
kan dalam perjalanan ke bukit, tempat si Topeng Me-
rah menunggu, Sendang Suci sempat berkata pelan
kepada Pendekar Rajawali Merah,
"Kurasa kau mampu memotong tangan Topeng
Merah dengan pedang pusaka itu, Yo! Mengapa tidak
kau lakukan saja pada saat itu?"
"Pedang ini tidak untuk bertindak semena-
mena. Kalau tidak sangat terpaksa dan mengancam
nyawa, aku tak mau mencabut pedang ini. Pedang ini
pun bukan sarana untuk balas dendam! Masih banyak
kekuatan lain yang bisa digunakan untuk menyadar-
kan seseorang dari jalannya yang sesat! Kalau orang
itu sudah berulang kali ku sadarkan memakai jurus-
jurus maut ku, tapi ia justru melawannya semakin be-
ringas, barulah kugunakan pedang ini!"
"Apakah nanti jika memang benar kau berha-
dapan dengan si Topeng Merah, kau akan gunakan
pedangmu itu. Yo"!"
"Tergantung bagaimana keadaannya nanti! ja-
wab Pendekar Rajawali Merah dengan suara kalem.
"Kalau begitu, biarlah aku yang menghadapi
Topeng Merah nanti!"
"Sekarang kulihat Bibi sudah yakin betul bah-
wa kita akan berjumpa dengan Topeng Merah! Menga-
pa tadi dari rumah Bibi ngotot bahwa kita tidak akan
jumpa dengan Topeng Merah?"
"Hmmm... ehh... aku takut bertemu dengan To-
peng Merah," jawab Sendang Suci dengan kikuk dan pelan. "Apakah sekarang merasa
tidak takut lagi?"
"Entahlah!"
Bukit itu tidak terlalu tinggi, juga tidak mele-
lahkan sekali jika didaki. Ketika Sendang Suci dari
Pendekar Rajawali Merah tiba di kaki bukit, langkah
mereka terhenti sejenak karena tangan Sendang Suci
menahan lengan Yoga. Hal itu membuat pendekar
tampan yang buntung tangannya memandang heran
ke arah Sendang Suci, dan mata mereka saling berta-
tapan beberapa saat. Lalu, terdengar Yoga bersuara,
"Ada apa, Bi?"
"Apakah benar di atas sana kita sudah ditung-
gu Topeng Merah?"
"Benar! Apakah sekarang Bibi sangsi kembali?"
"Hmmm... ehh... iya! Aku... aku sangsi kembali!" "Apa alasannya?"
"Karena... karena... karena aku berharap jan-
gan bertemu dengan Topeng Merah itu!" "Kenapa?" desak Yoga.
"Hmmm...!" Sendang Suci menundukkan wa-
jahnya. Kejap berikut ia kembali tegakkan wajah dan
berkata, "Baiklah! Aku tidak sangsi! Kita naik ke atas
bukit ini sekarang juga! Jangan pikirkan keraguan ku
lagi, Yo!"
"Tapi wajah Bibi masih pucat begitu?"
"Hmmm... mungkin hanya merasa lelah saja!
Kita buktikan saja, apakah benar Topeng Merah me-
nunggu kita, atau kau membohongi aku!"
Langkah mereka pun dilanjutkan. Sendang Su-
ci lebih banyak diam sepanjang pendakian tersebut.
Jika Yoga menanyakan sesuatu, ia hanya menjawab
sepatah-dua patah kata saja.
Ketika mereka sampai di atas bukit, suara-
suara mereka hilang sama sekali. Dari bongkahan batu
tinggi melebihi tubuh manusia dewasa itu muncul se-
sosok tubuh berpakaian serba merah dari kepala sam-
pai kaki. Orang tersebut mengenakan topeng wajah ib-
lis berwarna merah. Kemunculan itulah yang membuat
mulut Sendang Suci semakin terbungkam dan mata
terbelalak lebar tak berkedip. Pendekar Rajawali Merah juga diam, menatap Topeng
Merah di seberang sana
dengan sikap tenang dan kalem.
Topeng Merah sendiri juga diam di tempatnya,
berdiri tegak dengan pedang hitam di punggung, ka-
kinya sedikit direntangkan. Kedua tangannya mengep-
al di kanan kiri. Sikap itu menunjukkan bahwa ia siap melayani serangan siapa
saja yang datang kepadanya,
sekarang ataupun nanti.
Setelah terbengong beberapa saat, Sendang Su-
ci terdengar berkata kepada Yoga dengan suara mem-
bisik, "Benarkah yang kulihat itu adalah Topeng Merah?" Senyum Yoga berkembang
mekar. "Menurut Bi-bi apakah warna topengnya itu hitam?"
Sendang Suci masih menatap Topeng Merah
tapi kepalanya menggeleng-geleng pelan, mulutnya
mengucap kata lirih juga,
"Tidak mungkin! Dia bukan Topeng Merah!
Dia...!" "Hei, kenapa kau bilang begitu, Bi" Apakah kau buta warna?"
"Tidak!" Sendang Suci menggeleng tegas. "Dia bukan Topeng Merah!"
"Aneh. Mengapa Bibi ngotot menyangkal dia
bukan Topeng Merah?"
Wuuut...! Tiba-tiba sekelebat bayangan melintas dengan
cepat. Benda pipih berkeriap sinar matahari itu pun
melesat ke arah kepala Sendang Suci. Kalau tidak tan-
gan kanan Yoga segera menyembunyikan kepala Sen-
dang Suci dalam rangkulannya, maka kepala itu akan
terpenggal oleh senjata tajam mengkilap itu.
Jleeg...! Bayangan yang berkelebat itu tahu-
tahu sudah ada di depan Yoga dan Sendang Suci. Ma-
kin terbelalak mata Sendang Suci melihat bayangan
yang sekarang sudah berwujud nyata menjadi sesosok
tubuh wanita cantik berpakaian biru muda, rambut lu-
rus berponi rapi, matanya bundar bening, hidungnya
mancung, dan bibirnya mungil menggemaskan.
"Lembayung Senja..."!" gumam Yoga yang san-
gat mengenali wanita berbibir mungil itu. Sementara
itu, Sendang Suci pun segera menyipitkan matanya
karena ia juga mengenali Lembayung Senja sebagai
orang Perguruan Belalang Liar. Sendang Suci cepat
membentak, "Apa maksudmu menyerangku dari belakang,
hah"!" "Tugas untuk membunuhmu!"
Yoga menyahut, "Siapa yang memberimu tu-
gas"!" "Gurumu!" jawab Lembayung Senja.
Zlaaap...! Sekelebat bayangan melesat dari balik
pohon. Bayangan itu menyambar tubuh Topeng Merah
dan dibawanya lari turun ke kaki bukit. Hal itu mem-
buat Yoga terperanjat kaget dan bergegas untuk men-
gejar orang yang menyambar Topeng Merah. Tetapi pa-
da waktu itu kecepatan bergerak kaki Lembayung Sen-
ja mendahului langkah Yoga, sehingga Yoga terpaksa
tersentak jatuh ke belakang karena pinggangnya ter-
kena tendangan Lembayung Senja. Sementara itu,
Sendang Suci terperanjat melihat Yoga dijatuhkan oleh tendangan Lembayung Senja,
maka cepat-cepat Sendang Suci mencabut kipasnya dan mengibaskan ke
lengan Lembayung Senja dalam keadaan kipas terse-
but tertutup. Wuuusst...! Craas...!
"Aahg...!" Lembayung Senja tersentak mundur beberapa tindak.
Serangan Sendang Suci kembali datang dengan
sebuah lompatan yang membuat Lembayung Senja
terpaksa melompat mundur lagi, sebab luka di lengan-
nya akibat kibasan kipas tadi terasa sakit di sekujur tubuhnya. Serangan Sendang
Suci itu mengenai sasaran kosong.
Namun tiba-tiba tanpa disangka muncul kem-
bali Topeng Merah dan segera melepaskan pukulan ja-
rak jauhnya ke arah Sendang Suci. Wuuut...! Sendang
Suci tak tahu datangnya pukulan jarak jauh tanpa si-
nar itu. Akibatnya ia terhempas dan jatuh terguling-
guling. Sendang Suci jatuh terkulai. Tubuhnya menjadi memar sampai di bagian
dada serta leher. Melihat keadaan Sendang Suci, Yoga semakin menggeragap. Ia in-
gin menolong Sendang Suci namun tahu-tahu datang
lagi serangan bercahaya perak menghantam dada Sen-
dang Suci. Cahaya perak itu memang sudah ditangkis
dengan bentangan kipas oleh Sendang Suci, tetapi tu-
buh Sendang Suci tetap terpental dan jatuh kembali
dengan terguling-guling. Sedangkan Topeng Merah
yang baru saja melepaskan sinar perak itu, kini mele-
paskan kembali pukulan mautnya.
"Hiaaat...!" Yoga memekik dan menyentakkan
tangan kanannya. Sinar merah terlepas bagai selarik
besi keras menghantam sinar putih perak tersebut
Blaaar.! Akhirnya kedua sinar itu berbenturan dan pe-
cah di pertengahan jarak antara Topeng Merah dengan
Sendang Suci. "Edan! Ternyata dia punya pukulan dahsyat ju-
ga"!" pikir Yoga sambil menatap Topeng Merah yang hendak kembali menyerang
Sendang Suci. Untung Yo-ga segera berdiri dan menghadang di depan Topeng
Merah. Pendekar Rajawali Merah dan Topeng Merah
saling beradu pandang. Jarak mereka sekitar tiga tom-
bak. Pada waktu itu, ekor mata Yoga melihat Sendang
Suci memuntahkan darah di tempat ia terjatuh itu.
"Hentikan semua serangan!" seru Pendekar Rajawali Merah. Ia tampak gusar melihat
Sendang Suci jatuh dalam keadaan berbahaya.
Hal ini membuat Yoga benar-benar panik men-
gatasinya, karena semuanya berlangsung di luar du-
gaan. Munculnya Lembayung Senja juga di luar du-
gaan. Serangan bertenaga dalam tinggi dari Topeng
Merah juga di luar dugaan. Yoga merasa keadaan di
atas bukit menjadi lebih kacau lagi dari perhitungan
semula. Sendang Suci bangkit dengan napas terengah-
engah. Ia berpegangan pada sebatang pohon yang ada
di dekatnya. Matanya memandang tajam kepada To-
peng Merah, lalu terdengar suaranya berseru,
"Yo...! Minggirlah, biar kuhadapi orang itu!"
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Aku hanya Ingin membuktikan pada Bibi, bahwa
Topeng Merah ada.
Karenanya aku membawa Bibi kemari supaya Bibi me-
lihatnya, bukan bertarung melawannya!"
"Yo... tolong aku...!" Lembayung Senja merintih.
Mata Yoga memandang ke arah Lembayung Senja, de-
mikian pula mata Sendang Suci dan Topeng Merah.
Lembayung Senja dalam keadaan menderita termakan
racun yang ada di ujung kipas Sendang Suci itu. Kini
separo lengannya telah menjadi biru dan mulai mem-
bengkak. Topeng Merah mendekati Lembayung Senja dan
ingin menolongnya. Tetapi perempuan itu masih punya
sisa tenaga yang bisa dipakai untuk menendang. Maka
berkelebatlah kakinya menghantam perut Topeng Me-
rah dengan telaknya. Buuhg...!
"Uhg...!" Topeng Merah tersentak mundur dan hampir jatuh. Tapi tubuhnya segera
disambar oleh Pendekar Rajawali Merah dan jatuh ke dalam pelukan
pendekar buntung itu. Taab...!
"Ternyata kau mempunyai ilmu tinggi juga!" ka-ta Yoga kepada Topeng Merah.
Tetapi tubuh Topeng
Merah segera menyentak dan lepas dari pelukan Yoga.
Pada saat itu, tangan kanan Yoga dengan gerakan ce-
pat menyahut topeng di wajah orang misterius itu.
Sreet...! Terbukalah topeng tersebut, tampaklah wajah di balik topeng itu.
Bukan hanya Yoga yang terbelalak memandang
kaget kepada seraut wajah Topeng Merah, tetapi Lem-
bayung Senja sempat pula terpekik kaget, dan Sen-
dang Suci membuka mata lebar-lebar dengan mulut
ternganga. Wajah itu sangat dikenali oleh mereka. Tapi hampir-hampir mereka
tidak mempercayai wajah itu
adalah wajah yang ada di balik topeng selama ini. Yoga sendiri menjadi gusar dan
kebingungan. "Guru..."!" sebut si Pendekar Rajawali Merah kepada orang yang tadi memakai
topeng. Sedangkan


Jodoh Rajawali 04 Utusan Pulau Keramat di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Lembayung Senja menyebutnya,
"Lili...!"
Sendang Suci mengucap kata, "Kau..."! Kau
yang menjadi Topeng Merah selama ini" Benarkah itu"!
Tidak!" "Memang bukan aku!" jawab Lili dengan pakaian serba merahnya. Ia segera
melepaskan pakaian
serba merah itu dan ternyata di dalamnya ia mengena-
kan pakaiannya sehari-hari.
"Bagaimana mungkin kau bisa memakai pa-
kaian Topeng Merah, sedangkan aku tahu persis orang
yang memakai Topeng Merah adalah si Tua Usil!" kata Yoga terheran-heran.
"Tua Usil..."! Maksudmu si Pancasona itu" Oh,
tidak! Aku tidak percaya!" kata Sendang Suci me-
nyanggah mati-matian.
Dengan nada dingin dan ketus, Lili pun berka-
ta, "Aku sendiri tidak menyangka kalau si pemakai topeng merah ini adalah Tua
Usil, si Pancasona!"
"Si Tua Usil..."! Bbeb... benarkah dia yang
mengenakan topeng merah itu" Oh, aku tak percaya,
Lili!" "Tak perlu dipercaya! Karena Tua Usil pun Topeng Merah yang palsu!" kata
Lili. "Dia mengenakan pakaian dan Topeng Merah karena menuruti bujukan
Yoga!" Mata Pendekar Rajawali Putih menatap Yoga.
Yang ditatap salah tingkah karena merasa bersalah.
Akhirnya, Yoga sendiri yang mendahului bicara untuk
menjelaskan perkara tersebut.
"Memang aku yang menyuruh si Tua Usil men-
genakan pakaian Topeng Merah. Aku menyuruhnya
berdandan seperti itu, untuk membuktikan kepada
Tabib Perawan bahwa Topeng Merah memang ada...."
"Dan yang memenggal tanganmu, bukan?"
"Ya. Benar! Memang Topeng Merah yang me-
menggal tanganku ini!" jawab Yoga.
"Lalu siapa yang menjadi Topeng Merah itu"!"
desak Lili. Yoga diam beberapa saat, menundukkan kepa-
la. Pada waktu itu, semua mata memandang ke arah-
nya. Bahkan Sendang Suci mencoba untuk mendeka-
tinya dengan langkah gontai. Yoga pun segera menja-
wab, "Orang itu adalah Sulasmi!"
"Siapa Sulasmi itu?"
"Dulu dia teman dekat ku. Dia dari seberang
lautan. Dia punya dendam dengan Kembang Mayat!
Dia ingin melindungiku, karena merasa tak rela meli-
hat aku diserang orang lain. Tapi pada waktu ia bertarung dengan Kembang Mayat,
ia salah arah dalam me-
nyerang. Tanganku menjadi sasarannya dan putus!
Kembang Mayat mengamuk, akhirnya kedua orang
sama-sama jatuh ke jurang yang amat dalam. Jurang
itu tak seberapa jauh dari makam kakeknya Malaikat
Gelang Emas! Jadi, kalau kau mau menuntut balas
atas terpenggalnya tangan ku ini, tuntutlah dia di neraka sana! Sulasmi sudah
mati bersama Kembang
Mayat." "Tapi bagaimana kau bisa mendapatkan pakaian dan topengnya ini" Bahkan
bersama pedangnya
juga?" "Sebelum ia melakukan pertarungan terakhir
dengan Kembang Mayat, ia melepaskan semua pa-
kaiannya, topengnya, dan pedangnya. Ia mengenakan
pakaian biasa. Pakaian ini disembunyikan di suatu
tempat dekat dengan tempat pertarungannya itu. Mak-
sudnya supaya Kembang Mayat tahu, siapa dirinya se-
benarnya. Pakaian itu sempat ku sembunyikan juga di
tempat lain sebelum aku muncul di pertarungan akhir.
Dan kemarin, aku sengaja bangun dari tidurku tanpa
setahu Tabib Perawan, lalu mengambil pakaian terse-
but. Pada waktu Tabib Perawan pergi, Tua Usil datang.
Kusuruh dia menjadi Topeng Merah dengan jaminan
akan kuajarkan satu ilmu yang belum pernah ia lihat,
yaitu ilmu berdiri di atas air. Ia sangat gembira dan bersedia menjadi Topeng
Merah. Padahal aku hanya
ingin meyakinkan kepada Tabib Perawan, bahwa To-
peng Merah itu memang ada dan dialah yang memeng-
gal tanganku ini! Karena Tabib Perawan agaknya curi-
ga, bahwa bukan Topeng Merah yang memenggal tan-
ganku!" Lili menghempaskan napas, lalu berkata,
"Hampir saja aku membunuh si Tua Usil tadi. Untung ia segera menyebut namaku.
Lalu kurampas pakaian
merah dan topengnya itu, dan ku kenakan sendiri!"
"Sekarang di mana dia?"
"Ku ikat di bawah pohon sana!"
"Kasihan!"
Lili memandang Tabib Perawan dan berkata,
"Bagaimana keadaan lukamu, Tabib Perawan?"
"Sudah membaik. Tapi butuh istirahat agak la-
ma supaya benar-benar membaik!"
Kemudian gadis cantik jelita itu menatap Yoga.
"Kapan kau akan pulang ke rumah si Tua Usil?"
"Mungkin besok pagi, jika menurut hasil peme-
riksaan Tabib Perawan, lukaku benar-benar sembuh!
Aku masih harus menjalani perawatan beberapa saat
untuk menyempurnakan kesembuhan ku!"
"Terserah kamu saja, Yo! Aku akan membawa
pulang Lembayung Senja untuk menyembuhkan luka-
lukanya itu! Kurasa, aku tak perlu lagi mencari-cari
Topeng Merah! Buang-buang waktu saja!"
Dengan sangat ringannya Lili mengangkat tu-
buh Lembayung Senja, seperti mengangkat pelepah
daun pisang, kemudian ia segera pergi berkelebat tan-
pa memandangi Yoga lagi. Wajahnya tetap cemberut
kaku, namun semakin cantik bagi hati Yoga.
Setelah Lili dan Lembayung Senja menghilang,
barulah Sendang Suci, si Tabib Perawan itu meman-
dangi Yoga dengan sorot pandangan mata yang dingin.
Yoga sempat salah tingkah sebentar ditatap demikian.
Kejap berikutnya terdengar Tabib Perawan bersuara
tegas, "Mengapa kau mengarang cerita seperti itu di depan Lili dan Lembayung
Senja"!"
"Apakah itu salah, Bibi?"
"Salah besar! Seharusnya kau katakan yang
sebenarnya, bahwa kau telah menemukan pakaian dan
topeng merah itu di rumahku!"
Yoga sedikit salah tingkah, tapi ia masih keliha-
tan tenang. Yoga tidak terkejut mendengar kata-kata
Sendang Suci, sebab ia telah terkejut lebih dulu, yaitu ketika ia menemukan
pakaian dan topeng warna-merah di rumah Sendang Suci. Di saat itulah ia terke-
jut karena tak menyangka bahwa Topeng Merah ada-
lah Sendang Suci sendiri.
Sendang Suci berkata lagi, "Seharusnya kau
katakan saja, bahwa Topeng Merah itu adalah aku!
Kau telah menjebakku hadir di sini dengan memaksa
Pancasona untuk menjadi Topeng Merah. Kau mene-
mukan pakaianku itu di kamar rempah-rempah, bu-
kan"!" "Ya. Benar, Bi!" jawab Yoga pelan, seperti merasa bersalah. "Tapi aku
tidak pernah bilang kepada Pancasona, bahwa Topeng Merah itu adalah kau, Bi!
Sampai sekarang Topeng Merah masih tersembunyi ja-
ti dirinya!"
"Mengapa tidak kau beberkan saja di depan
mereka tadi!" sentak Tabib Perawan dengan menahan segumpal rasa yang bercampur
aduk, antara marah,
malu, dan haru. "Kalau kukatakan kepada mereka, terutama
kepada Lili, pasti Lili akan membalas membuntungi
tanganmu, Bi!"
"Akan kuserahkan tanganku! Sekarang pun ka-
lau kau mau buntungi aku, aku tak akan melawan!
Karena aku sangat menyesal, mengapa pedangku
mengenai tanganmu! Penyesalan ini rasa-rasanya tidak
akan ada habisnya, sebelum kau membalas membun-
tungi tangan ku!"
"Bi... sudahlah! Lupakan semua itu! Aku tahu
saat itu kau tidak sengaja! Sudah kubilang dalam per-
cakapan kita kemarin, tak ada orang yang bisa meno-
lak takdir. Cacat di tubuhku ini adalah takdir, Bi!"
Air mata Sendang Suci meleleh basah di pi-
pinya yang masih halus dan berkulit kencang. Dengan
memandang ke arah jauh dan berburai air mata, Sen-
dang Suci berkata,
"Rasa sesal ku tak akan terobati seumur hidup!
Aku tak rela jika kau diserang atau dilukai oleh orang lain, karenanya aku
selalu tampi! dengan topeng merah ku dan membelamu jika kau bertarung dengan
siapa pun. Sementara aku tak rela kau dilukai orang
lain, aku sendiri justru membuntungi tanganmu! Apa-
kah itu bukan penjelasan yang luar biasa besarnya ba-
gi diriku, Yo"!" Tabib Perawan mengisak pelan.
Yoga sengaja diam saja, lalu ia mendengar Sen-
dang Suci melanjutkan kata,
"Kalau saja kau tahu isi hatiku yang sebenar-
nya, kau akan memahami mengapa aku membelamu
dalam tiap pertarungan mu! Aku merasa sudah cukup
tua dalam usia, aku malu jika tampak terang-terangan
terpikat pada seorang pemuda seusia mu. Aku berusa-
ha untuk menjaga hatiku agar jangan menyatakan cin-
ta kepada mu, dan aku bertekad hanya akan hadir da-
lam keadaan kau dalam bahaya. Tetapi, aku sendiri
bertarung dengan kecemburuan dalam hatiku! Ketika
kulihat kau bersama Kembang Mayat, hatiku luka.
Aku mencoba mengobatinya sendiri. Tapi tak berhasil.
Kebetulan Kembang Mayat punya hutang padaku, yai-
tu anak buahnya yang bernama Merak Betina telah
membuat keponakanku gila. Maka kuhabisi pergu-
ruannya sebagai pelepas dendam dan kecemburuan ku
itu. Sengaja ku pancing Kembang Mayat untuk berta-
rung denganku di tempat lain, karena kulihat waktu
itu kau datang bersama Lili! Pernah aku ingin membu-
nuh Lili tapi kau membelanya dan aku tak sanggup
melawanmu!"
Samar-samar isak yang lembut itu masih ter-
dengar di telinga Yoga. Dalam keadaan seperti itu,
Pendekar Rajawali Merah bagai tersekat kerongkon-
gannya, tak dapat berkata apa pun kepada perempuan
yang mengutarakan cintanya secara terang-terangan
itu. "Itulah sebabnya saat kau datang minta obat
atas luka di tanganmu, hatiku seperti disayat-sayat!
Orang yang ku sayangi datang dalam keadaan bun-
tung tangannya, dan itu karena ulah ku, oh... perih
sekali hatiku kala itu, Yo! Hampir-hampir aku ingin
memelukmu dan menangis dalam pelukan mu. Tapi...
aku malu! Sejak dulu aku tak pernah punya perasaan
seperti ini, mengapa sekarang menjelang usiaku me-
nua, perasaan cinta dan ingin dicintai itu datang" Aku malu, Yo! Aku sadar, kau
berhak menolak ku. dan aku
tidak berhak memaksa mu! Tapi izinkan aku tetap de-
kat denganmu, supaya aku bisa selalu memandangi
kekasih hatiku jika aku sedang rindu padanya..."
Pendekar Rajawali Merah masih tidak bisa ka-
takan apa-apa selain hanya tundukkan kepala dan
bungkam seribu bahasa.
* * * 4 BENARKAH persoalan telah selesai" Benarkah
Lili, si Pendekar Rajawali Putih itu, mempercayai sepe-nuhnya cerita tentang
Sulasmi itu" Ternyata gadis
yang cantiknya melebihi bidadari itu tidak mudah per-
caya begitu saja. Beberapa hal ia pikirkan yang mem-
buat cerita Yoga tentang Sulasmi si Topeng Merah, ternyata mempunyai kejanggalan di dalamnya.
"Jika benar Sulasmi adalah si Topeng Merah,
mengapa ia membumihanguskan pesanggrahan mu,
Lembayung Senja"!"
"Itu yang tidak ku mengerti, Lili!" "Apakah perguruanmu punya persoalan dengan
tokoh bernama Sulasmi?" tanya Lili kepada Lembayung Senja yang
habis diobati itu.
Lembayung Senja yang bersuara lemah menja-
wab, "Tidak. Kami tidak punya masalah dengan orang yang bernama Sulasmi!"
"Apakah Kembang Mayat punya musuh berna-
ma Sulasmi!"
"Setahuku tidak! Semua musuh Kembang
Mayat kami kenal! Karena setiap orang yang ingin me-
nyerang Kembang Mayat, selalu harus melewati kami
dulu, sehingga kami kenal siapa-siapa mereka!"
Pendekar Rajawali Putih diam merenung bebe-
rapa saat lamanya. Setelah puas merenung, ia kembali
berkata kepada Lembayung Senja,
"Aku sangsi dengan pengakuan Yoga!"
"Hati kecilku pun mengatakan demikian."
"Jika benar Sulasmi sudah mati bersama Kem-
bang Mayat, mengapa Yoga tidak memberitahukan ke-
pada kita sejak awalnya" Mengapa baru sekarang ia
ceritakan tentang siapa Topeng Merah sebenarnya?"
"Ya," hanya itu jawaban Lembayung Senja. Ia menyeringai sebentar, menahan rasa
sakit pada bagian
luka di lengan kiri. Luka itu sebenarnya tak terlalu lebar. Tetapi menghitam dan
tepiannya masih membiru.
Bagian lain yang memar dan bengkak sudah bisa di-
atasi oleh hawa murni Lili, tapi bagian sekitar luka
masih belum bisa hilang dari warna birunya.
Mata Lili memandangi luka itu sambil terme-
nung memikirkan kata-kata Pendekar Rajawali Merah.
Tiba-tiba Lili menemukan sesuatu yang membuatnya
tegak dan bersemangat,
"Lukamu ini aneh!" katanya.
"Aneh bagaimana maksudmu?" "Lukamu ini seperti luka potong yang dialami Yoga.
Masih ada racunnya yang belum bisa hilang dari sekeliling luka. Bi-
asanya, luka yang biasa-biasa saja jika mendapat ha-
wa murni dariku, bisa lekas sembuh. Mengapa luka ini
tidak" Dari... agaknya racun yang ada di lukamu ini, sama dengan racun yang ada
di luka Yoga!"


Jodoh Rajawali 04 Utusan Pulau Keramat di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ya, benar pendapatmu itu! Tapi, luka ini aki-
bat kipasnya Tabib Perawan itu, sedangkan lukanya
Yoga akibat pedang si Topeng Merah! Mungkinkah ra-
cun mereka sama?"
"Bisa saja terjadi, jika mereka adalah satu
orang!" "Maksudmu, Tabib Perawan itulah si Topeng Merah?"
Lili diam, memandangi Lembayung Senja.
Agaknya Ia hati-hati sekali untuk menjawab ya atau
tidak. Ia pikirkan beberapa saat, setelah itu ia berkata,
"Kulihat tadi luka di tangan Yoga sudah men-
gering! Ampuh sekali obat dari Tabib Perawan itu! Aku saja tak bisa menangkal
racun tersebut dari lukanya
Yoga!" "Jika dia si pembuat racun, maka dia tahu persis penangkalnya!" timpal
Lembayung Senja.
"Kurasa, memang dialah si Topeng Merah!" sua-ra Lili agak menyentak.
Kemudian ia berseru memanggil Pancasona
yang ada di dapur rumah pondoknya itu,
"Tua Usil...! Tua Usil, kemari sebentar!"
Manusia Kabut itu datang dengan tergesa-gesa,
lalu berkata, "Apakah malam ini juga Nona Li mau ajarkan
saya berdiri di atas ilalang?"
"Malam ini ilalang tidur, tahu"!" sentak Lili.
"O, ya! Memang tidur. Lantas mengapa saya di
panggil, Nona Li?"
"Coba ceritakan kembali apa yang dikatakan
Yoga pada saat dia menyuruhmu menyamar sebagai
Topeng Merah?"
"Saya sudah lupa, Nona Li!"
"Kalau begitu aku juga lupa caranya berdiri di
atas ilalang!"
"Ah, jangan begitulah, Nona Li! Hmmm...! Baik-
lah akan saya ceritakan kembali! Tuan Yo waktu itu bilang, saya harus jadi
Topeng Merah. Saya bertanya,
bagaimana bisa sedangkan saya tidak punya topeng
merah! Lalu, Tuan Yo bilang, bahwa ia menemukan
pakaian Topeng Merah di semak-semak pada saat ia
jalan-jalan di pagi hari!"
"Tunggu...!" potong Lili. "Dia bilang, menemukan?" "Ya. Dia bilang begitu, Nona
Li!" "Padahal menurut pengakuannya di depan kita,
dia yang sembunyikan pakaian dan topeng merah itu!"
katanya kepada Lembayung Senja.
"Barangkali dia tidak perlu jelaskan masalah
sebenarnya kepada Tua Usil. Ia ambil singkatnya cerita saja. Itu bisa saja
terjadi!" Lili mengangguk-angguk, kemudian menyuruh
Tua Usil melanjutkan ceritanya, dan orang berambut
putih rata itu melanjutkan kata-katanya,
"Saya bilang pada Tuan Yo, bahwa saya tidak
mau disuruh-suruh tanpa mendapat upah. Lalu Tuan
Yo bilang, Nona Lili mau ajarkan saya berdiri di atas ilalang jika mau menyamar
menjadi Topeng Merah.
Saya tanya, siapa pemilik Topeng merah itu" Tuan Yo
menjawab, bahwa Topeng Merah itu milik seseorang
yang tak perlu saya tahu namanya! Setelah itu saya
didandani Tuan Yo, tampaknya tergesa-gesa sekali se-
hingga saya mengenakan topengnya sambil berlari me-
ninggalkan tempat itu...."
"Maksudmu, rumah si Tabib Perawan itu?" "Ya.
Benar!" "Padahal menurut keterangannya, waktu itu Tabib Perawan sedang pergi.
Mengapa harus terburu-buru?" Lembayung Senja menjawab, "Karena Yo takut kalau
Tabib Perawan keburu datang dan memergoki
dia sedang mendandani Tua Usil sebagai Topeng Me-
rah palsu!"
"Tepat sekali!" kata Lili dengan tegas.
"Apakah kau tahu dari mana Tuan Yo men-
gambil pakaian merah dan topengnya?"
"Dari belakang rumah itu, Lembayung Senja,"
jawab Tua Usil.
"Bukan dari suatu tempat yang jauh?" "Bukan!"
Tiba-tiba Lili berkata setelah suasana menjadi
hening sesaat, "Aku ingin satu bukti lagi!" "Bagaimana caranya?"
"Besok kau ikut aku ke rumah Tabib Perawan
itu. Kita pura-pura tidak tahu soal Topeng Merah. Ke-
datangan kita untuk minta obat padanya, supaya lu-
kamu itu sembuh dan racunnya hilang. Jika ia bisa
obati lukamu itu, berarti memang dialah pemilik racun di pedang yang memotong
tangan Yoga!"
"Baik. Aku setuju! Berarti dialah yang membu-
mihanguskan perguruanku, dan aku berhak menuntut
pembalasan padanya!" kata Lembayung Senja, yang
secara diam-diam masih mengincar Topeng Merah ju-
ga. Tua Usil bertanya, "Lalu, kapan saya akan di-
ajari berdiri di atas ilalang, Nona Li"!"
"Tunggu kalau masalah ku ini sudah selesai!
"Yaaaah... tertunda lagi...!" Tua Usil bersungut-sungut. "Nanti keburu saya
mati, Nona Li!"
"Arwahmu yang akan ku ajari bagaimana berdi-
ri di atas ilalang!"
Di ujung pagi, Lili dan Lembayung Senja be-
rangkat menuju Lembah Bukit Berhala, tempat kedia-
man Tabib Perawan. Sebenarnya mereka mau ajak Tua
Usil. tapi Manusia Kabut itu tidak mau.
Lembayung Senja bisa berjalan sendiri. Rasa
sakit, tinggal sedikit, tapi lukanya masih berdenyut-
denyut dan memar membiru di sekelilingnya. Pada
saat mereka sedang menyeberangi sebuah sungai
dangkal itulah, mereka berpapasan dengan enam
orang bertubuh tinggi dan besar. Lembayung Senja
sempat terpekik tertahan ketika enam orang itu mun-
cul dari tanggul sungai dan mendekati mereka bersa-
ma-sama. "Lili, siapa mereka itu?" bisik Lembayung Senja.
"Entahlah! Mungkin keturunan raksasa zaman
purba!" balas Lili berbisik, tapi matanya masih tetap memandang ke arah orang-
orang bertubuh tinggi besar
itu. Lima dari mereka berhenti, bagai berbaris
membuat hambatan dl depan Lili dan Lembayung Sen-
ja. Satunya lagi mendekati Lili. Orang yang mendekati Lili itu adalah orang muda
yang ganteng dan berkumis
tipis, namun tingginya hampir dua kali tinggi tubuh Li-li, sehingga waktu bicara
dengannya Lili harus men-
dongak. "Jangan takut, Nona!" kata orang muda yang tampan itu. "Kami tidak
bermaksud jahat kepada No-na, dan tidak bermaksud menyantap kalian. Kami ma-
nusia biasa, bukan raksasa!"
"Lantas apa mau kalian menghadang di depan
kami?" "Kami hanya ingin bertanya tentang seseorang, Nona!"
"Siapa kalian sebenarnya?" tanya Lembayung
Senja memaksakan diri untuk bersikap berani.
"Namaku sendiri Gandaloka," jawab pemuda
raksasa yang ganteng itu. "Mereka berlima adalah te-manku, Gadranaya, Rogami,
Lombo, Sarpa, dan satu
lagi Yodana. Kami utusan dari Pulau Kana!"
"Pulau Keramat"!" sela Lembayung Senja den-
gan dahi berkerut.
"Ya. Orang-orang sini banyak yang menyebut-
nya Pulau Keramat! Tapi nama pulau itu sendiri ada-
lah Pulau Kana!"
"Nenek guruku pernah berpesan agar jangan
sekali-sekali mendekati Pulau Keramat!" kata Lembayung Senja kepada Lili dengan
suara didengar oleh
Gandaloka. "Konon, Pulau Keramat itu penduduknya pemakan daging manusia semua!"
"Itu tidak benar, Nona! Barangkali karena ketu-
runan kami adalah orang-orang bertubuh besar, se-
hingga mereka anggap kami ini raksasa pemakan dag-
ing manusia. Padahal kenyataannya tidak begitu!"
Lili menyahut dengan pertanyaan, "Lantas, apa
maksud kalian datang kemari dan menghadang kami?"
"Kami diutus untuk mencari seorang pendekar
bertangan buntung!" jawab Gandaloka kemudian.
Lili dan Lembayung Senja sama-sama terperan-
jat dan saling pandang. Namun mulut mereka hanya
sama-sama membisu tanpa suara, sehingga Gandaloka
berkata, "Maksud kami, pendekar itu buntung salah sa-
tu tangannya. Bukan kedua kakinya!"
"Siapa nama pendekar itu?"
"Utusan kami menyebutnya, Pendekar Rajawali
Merah alias Yoga!"
Seperti ada petir menampar pipi Pendekar Ra-
jawali Putin, ia sangat terkejut dan kembali menatap
Lembayung Senja yang juga terperangah mendengar
jawaban polos Gandaloka. Kemudian Lili berkata,
"Dari mana kalian tahu bahwa Pendekar Raja-
wali Merah itu bertangan buntung?"
"Orang yang mengutus kami menyebutkan ciri-
ciri tersebut, Nona."
"Siapa yang mengutus kalian sebenarnya?"
"Gusti Ratu!"
Kali ini Lili berbisik dengan pelan, "Bagaimana
menurutmu" Apakah kita perlu melawan orang-orang
ini?" "Jangan! Mereka orang-orang berbahaya, Lili!"
bisik Lembayung Senja. "Seseorang dari rakyat Pulau Keramat yang diutus pergi
keluar dari pulaunya, berarti dia adalah orang yang berilmu tinggi."
"Tapi dia mencari Yoga"! Aku harus melindungi
Yoga jika dia mau mencelakakan Yoga?"
"Tanyakan dulu apa keperluannya mencari Yo-
ga?" Maka, Lili pun bertanya kepada Gandaloka,
"Sebenarnya apa maksud kalian mencari Pendekar Rajawali Merah?"
"Dia calon mempelai ratu kami!".
"Hahh..."!" Lili terperangah kaget dengan mulut dan mata sama-sama terbuka.
Hatinya menjadi seperti
di panggang lahar gunung berapi yang amat panas
mendengar jawaban polos itu.
"Siapa yang menyuruh kalian" Gusti Ratu?"
"Benar, Nona!"
"Maksudnya, Pendekar Rajawali Merah mau di-
kawinkan dengan Gusti Ratu kalian?" desak Lili makin penasaran.
"Benar, Nona! Dan itu atas pilihan Gusti Ratu
sendiri!" "Siapa Gusti Ratu kalian itu sebenarnya?"
"Gusti Kembang Mayat!"
"Hahh..."!" kini Lembayung Senja ikut terpekik bersama Lili. Jawaban itu benar-
benar seperti sebuah
mimpi bagi Lembayung Senja.
"Buk... buk... bukankah Kembang Mayat telah
meninggal karena masuk ke jurang?" kata Lembayung Senja memancing penjelasan.
Gandaloka yang lugu itu
menjawab apa adanya,
"Tidak, Nona! Gusti Kembang Mayat belum me-
ninggal. Beliau memang jatuh ke jurang, tapi pada
waktu itu Pendeta Agung kami sedang bertapa di ba-
wah jurang tersebut, yaitu memohon kepada dewata
agar diberikan seorang pemimpin negeri untuk kami.
Lalu, Gusti Kembang Mayat jatuh dl pangkuan Pendeta
Agung Ganesha itu, dan berarti beliaulah calon ratu
kami! Sekarang beliau sudah diboyong ke negeri kami,
dan siap lakukan penobatan sebagai ratu secara resmi.
Tetapi syaratnya, beliau harus kawin dulu! Dan beliau memilih Pendekar Rajawali
Merah sebagai calon mempelai prianya. Kami diutus untuk mencari Pendekar
Rajawali Merah dl sini, untuk kemudian membawanya
ke negeri kami di Pulau Kana. Di sana Pendekar Raja-
wali Merah akan dinikahkan dengan ratu kami!"
Gemetar tangan Lili mendengarnya. Gemeletuk
juga giginya menahan amarah yang ingin meledak di
dadanya. Sebelum kedua perempuan itu bicara, Gan-
daloka sudah mendahului berkata dengan tetap ra-
mah, "Jika Nona-nona bisa menolong kami, menun-
jukkan di mana Pendekar Rajawali Merah itu berada,
kami akan undang kehadiran Nona-nona ini pada ma-
lam perkawinan ratu kami! Kami akan sediakan un-
dangan khusus, dan menganggap Nona-nona adalah
tamu kehormatan kami!"
Lili diam saja karena sibuk menahan amarah-
nya. Ia pun masih bingung mengambil keputusan Te-
tapi Lembayung Senja buru-buru berkata,
"Kami sedang ingat-ingat di mana Pendekar Ra-
jawali Merah berada, sebab kami juga sedang mencari
dia! Aku sendiri ingin minta tolong kepada Yoga untuk sembuhkan lukaku ini!"
sambil Lembayung Senja menunjukkan lukanya. "Jadi kami belum bisa memberi tahu
di mana Pendekar Rajawali Merah itu berada!"
Maksud Lembayung Senja bicara begitu, karena
ia tahu Lili membutuhkan pertimbangan dalam me-
langkah. Lili agaknya ragu-ragu untuk mengambil si-
kap menyerang Gandaloka dan kawan-kawannya. Te-
tapi karena Lembayung Senja menunjukkan lukanya,
maka Gandaloka pun memandangnya dan segera ber-
kata, "Lukamu itu kalau tak salah karena terkena Racun Serangga Setan. Itu bisa
membuat sekujur tubuh menjadi busuk!"
"Dari mana kau tahu tentang Racun Serangga
Setan ini"!" tanya Lembayung Senja.
"Kami mempelajari segala macam jenis racun,
Nona. Dan... kalau Nona bersedia, boleh saya turut
mencoba menyembuhkan luka Nona?"
Bingung juga Lembayung Senja menjawabnya,
ia memandang Lili, tetapi Lili diam saja. Tak memberi isyarat apa-apa. Wajahnya
menjadi cemberut dan
berkesan ketus serta dingin. Gandaloka sudah mende-
kati Lembayung Senja. Ia mendekatkan wajahnya ke
lengan itu, memeriksanya sesaat. Lembayung Senja
karena tak tahu harus berbuat apa, maka ia diam saja
ketika lukanya dipandangi Gandaloka.
Bahkan sekarang Gandaloka menempelkan te-
lapak tangannya ke luka itu. Telapak tangan tersebut
menjadi menyala kuning kehijau-hijauan. Terasa din-
gin sekujur tubuh Lembayung Senja pada saat itu.
Dan beberapa saat kemudian, telapak tangan yang


Jodoh Rajawali 04 Utusan Pulau Keramat di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membara kuning kehijauan itu padam. Telapak tangan
yang mencakup menutup semua luka di lengan kiri
Lembayung Senja itu segera diangkat.
Terkesiap mata Lembayung Senja saat melihat
luka itu telah hilang. Bukan hanya kering, melainkan hilang lenyap tak berbekas,
sampai pada darahnya
yang mengering pun hilang seluruhnya. Telapak tan-
gan yang tadi habis dipakai menutup luka tersebut
ternyata mempunyai kesaktian tersendiri yang menga-
gumkan. "Saya telah bantu Nona, sekarang bisakah No-
na bantu saya menemukan Pendekar Rajawali Merah
itu"!" kata Gandaloka yang membuat Lembayung Senja dan Lili hanya bisa saling
pandang untuk beberapa
saat. * * * 5 ADA sepasang mata yang memandangi perte-
muan antara enam utusan dari Pulau Keramat itu
dengan Lili dan Lembayung Senja. Ada sepasang telin-
ga yang mendengarkan percakapan mereka dari balik
persembunyian. Sepasang mata dan telinga itu adalah
milik seorang pemuda lumayan tampan dan dengan
pakaian hijau dan rompi putih rapi. Pemuda itu juga
mendengar perkataan Lembayung Senja kepada Gan-
daloka, "Untuk sementara ini, kami belum tahu di ma-na Pendekar Rajawali Merah
berada! Karena kami pun
sedang mencari dia. Jika kami temukan Pendekar Ra-
jawali Merah, maka kami akan memberi tahu kalian!
Di mana kami bisa temukan kalian jika sewaktu waktu
kami mempunyai kabar yang kalian butuhkan itu?"
"Kami tinggal di tempat tak tentu, Nona. Tapi
untuk memanggil kami berenam...!" Gandaloka ber-
henti sebentar. Ia mendekati temannya yang tadi dis-
ebutkan bernama Gadranaya itu. Ia bicara sebentar
dengan orang tersebut, lalu orang berambut panjang
dengan botak di bagian tangannya itu menyerahkan
sesuatu kepada Gandaloka, kemudian Gandaloka
kembali menemui Lembayung Senja dan berkata.
"Nona, bawalah Kulit Kerang Kencana ini! Jika
Nona ingin memanggil kami, tiuplah kulit kerang itu.
Memang di telinga manusia biasa, sepertinya tidak
mendatangkan bunyi. Tapi untuk telinga kami, bunyi
itu cukup keras, dan kami bisa melacak di mana Nona
berada. Kami akan segera datang menemui Nona!"
Lembayung Senja menerima sebuah benda ke-
cil. Benda itu adalah kulit kerang berwarna kuning
mengkilap seperti emas. Karenanya disebut Kulit Ke-
rang Kencana. "Bagaimana cara meniupnya?"
"Tiup saja pada bagian yang berlubang itu, No-
na!" Kulit kerang sebesar jempol tangan itu segera
ditiup pada bagian yang berlubang oleh Lembayung
Senja. Uuuff...! Tak ada suara apa-apa. Tetapi seseo-
rang yang tertunduk di barisan paling pinggir itu sege-ra dongakkan wajah dan
memandang Lembayung Sen-
ja. "Tidak ada suaranya?"
"Memang. Tapi telinga kami mendengar semua-
nya! Itu adalah alat panggil bagi prajurit-prajurit Negeri Linggapraja, Nona!"
Gandaloka tersenyum dengan keramahannya.
"Baiklah! Akan kulakukan jika kabar itu sudah
ada pada kami!"
Sejak tadi Lili hanya diam saja dengan wajah
dingin. Ketika Lembayung Senja pamit pun, Lili hanya
anggukkan kepala dan tidak mengucapkan kata apa
pun. Tapi matanya memandangi kepergian keenam
manusia raksasa itu dengan sorot pandangan mata
yang dingin, memendam permusuhan yang dalam.
"Mengapa kau terima kulit kerang itu?" tanya Lili dengan datar.
"Untuk meyakinkan bahwa kita benar-benar ti-
dak tahu di mana Yoga. Apakah kau tidak berkenan"
Jika tidak berkenan akan ku buang saja kulit kerang
ini!" Pendekar Rajawali Putih tidak menjawab, tapi
segera teruskan langkahnya. Lembayung Senja terpak-
sa mengikuti langkah itu. Tapi ia segera berkata,
"Ke mana arah tujuan kita, Lili"!"
"Ke rumah Tabib Perawan itu!"
"Tapi... lukaku telah hilang! Untuk apa kita ke
sana?" "Bikin perhitungan dengan Tabib Perawan itu!
Tak perlu pembuktian lagi. Kurasa sudah cukup ke-
simpulan yang kita peroleh. Cukup kuat bukti kita un-
tuk menuduhnya sebagai si Topeng Merah!"
"Lantas bagaimana dengan keenam utusan Pu-
lau Keramat itu?"
Langkah Pendekar Rajawali Putih terhenti lagi.
Kali ini ia berhenti tepat di bawah sebuah pohon rin-
dang, sehingga matahari pagi melindungi kulitnya yang kuning langsat itu. Tak
jauh darinya ada sebongkah
batu, dan di sana Lili duduk termenung dengan mata
memandang ke depan dalam keadaan menerawang.
Lembayung Senja ada di sampingnya, berdiri dengan
memperhatikan kulit kerang itu. Tak berapa lama ke-
mudian barulah terdengar suara Lili berkata,
"Ternyata Kembang Mayat masih hidup, dan
dia justru diangkat menjadi ratu di Pulau Kana atau
Pulau Keramat itu! Sekarang dia kirim utusan untuk
membawa Yoga ke Pulau Kana, ini benar-benar sebuah
tantangan bagiku!"
"Kau akan melawan keenam utusan itu?" "Bagaimana jika benar begitu" Apakah aku
tak layak me- lawan mereka?" "Alasanmu apa?"
"Menahan supaya Yoga tidak dibawa mereka,
melarang mereka mengawinkan Yoga dengan Kembang
Mayat! Apakah kau ingin membela Kembang Mayat da-
lam hal ini" Jika ya, itu berarti kau dan aku harus bertarung lebih dulu,
Lembayung Senja!"
Tertegun Lembayung Senja mendengar tantan-
gan itu, ia tidak cepat memberi jawaban. Ia ganti me-
nerawang sampai beberapa saat. Setelah Lili berdiri
dan melangkah tiga tindak ke depan sambil menarik
napas di sana, terdengarlah suara Lembayung Senja
berkata, "Kembang Mayat masih kuanggap ketua pergu-
ruanku! Tapi hubungan ku dengan kau semakin hari
semakin akrab saja, Lili. Sulit sekali bagiku untuk
memusuhi mu!"
"Pada dasarnya apakah kau setuju jika Yoga
menikah dengan Kembang Mayat di Pulau Kana sana?"
"Aku tidak bisa menjawab!" kata Lembayung
Senja. "Masalah itu adalah masalah pribadi yang tidak bisa diselami oleh orang
lain! Jika aku disuruh berpihak, aku tidak tahu harus berpihak pada siapa!"
Pendekar Rajawali Putih dekati Lembayung
Senja, berhadapan muka dalam jarak dekat, lalu ber-
kata, "Jika kau ingin berpihak kepada ketuamu, aku tidak keberatan!"
"Aku berhutang nyawa padamu, saat kau sela-
matkan aku dari luka serangan Topeng Merah! Jika
benar Topeng Merah adalah Tabib Perawan itu, berarti
dua kali kau selamatkan aku dari tindakan Topeng
Merah yang melukai ku dengan racun!"
"Lupakan tentang hutangmu itu! Aku pun akan
melupakannya!" kata Lili dengan tegas.
"Apakah kau pikir itu hai yang mudah" Ku-
bayangkan andaikata pada waktu itu kau tidak mera-
watku, lantas bagaimana nasibku" Pasti sudah mam-
pus sejak kemarin-kemarin! Untung kau mau menya-
lurkan hawa murni ke tubuhku, sehingga aku selamat
dari ancaman mati itu!"
Jodoh Si Naga Langit 7 Kabut Di Bumi Singosari Karya Arief Sujana Ilmu Silat Pengejar Angin 1
^