Pencarian

Anak Langit Pendekar Lugu 1

Pendekar Bloon 9 Anak Langit Dan Pendekar Lugu Bagian 1


Cerita ini adalah fiktif
Persamaan nama, tempat dan ide hanya ke-
betulan belaka.
ANAK LANGIT & PENDEKAR
LUGU Oleh : D. AFFANDY
Diterbitkan oleh : Mutiara, Jakarta
Cetakan Pertama : 1994
Sampul : Ken Bangun
Setting Oleh : Sinar Repro
Hak penerbitan ada pada penerbit Mutiara
Dilarang mengutip, mereproduksi
dalam bentuk apapun tanpa ijin
tertulis dari penerbit.
D. Affandy Serial Pendekar Blo'on
Dalam episode Anak Langit & Pendekar Lugu
SATU Bila bumi telah diguncangkan dengan gun-
cangan yang Maha dahsyat. Bila gunung-gunung
hancur lebur menjadi debu. Bila bumi mengelua-
rkan beban berat yang dikandungnya. Bila pe-
rempuan hamil melahirkan dengan paksa sebe-
lum waktunya. Bila seorang ayah meninggalkan
anak dan istrinya. Bila perempuan menyusui me-
ninggalkan bayi yang disusuinya. Bila orang mati dibangkitkan dari kuburnya,
bila laut meluap dan bintang gemintang bertabrakan. Maka di hari itu
bagi manusia tidak ada lagi tempat berlindung,
tertutup pula baginya pintu tobat. Di hari itu harta benda tidak menolong, cinta
manusia, kekasih
manusia lari meninggalkannya dan mereka Maha
sibuk dengan urusan masing-masing. Maka nik-
mat Tuhanmu yang manakah yang tidak kau
syukuri" Kebanyakan manusia menjadi sombong,
kebanyakan manusia itu lupa dan silau oleh ke-
senangan dunia yang cuma sedikit. Manusia ber-
lomba-lomba mengumpulkan harta benda dan
anak-anak. Padahal mereka hidup di dunia ini ti-
dak akan lama, harta benda yang dikumpulkan-
nya itu kelak akan ditinggalkannya pula! Maka
nikmat Tuhan-mu manakah yang kau syukuri?"
Suara tanpa ujud itu menyentak di tengah-
tengah gemuruh suara hujan deras. Lalu terden-
gar rentetan suara petir menggelegar. Di awali
dengan cahaya kilat yang menerangi suasana di
sekelilingnya. Hujan deras tercurah lagi. Demi-
kianlah hal seperti ini terus berlangsung selama tiga hari dua malam.
Sebagian rumah-rumah penduduk di kota
kerajaan Ujung Dunia terendam. Bahkan ribuan
diantaranya terseret arus. Hewan ternak banyak
yang mati. Ratusan nyawa melayang dan mati
tenggelam. Sungguh ini merupakan azab yang
sangat mengerikan. Mungkin Tuhan marah meli-
hat manusia melakukan dosa di mana-mana, du-
nia ini sudah semakin kotor bertimbun dosa dan
kesalahan, keangkuhan, kekikiran, kelicikan, ke-
serakahan anak-anak manusia.
Dalam suasana seperti itu, tidak seorang
penduduk di kota Ujung Dunia itu yang keluar
meninggalkan rumahnya atau sengaja memisah-
kan diri dari keluarganya. Kebanyakan diantara
mereka memilih bertahan di dalam rumah bersa-
ma keluarga atau anak-anaknya, walaupun keti-
ka itu sebagian rumah mereka telah terendam air.
Kerajaan Ujung Dunia sendiri, yaitu kera-
jaan yang besar dari seluruh kerajaan yang besar dan pernah ada di kolong langit
ini tidak tenggelam karena letaknya yang berada di atas gunung.
Sementara itu jauh dari keramaian kota te-
patnya di sebuah tempat peribadatan berbentuk
surau tampak seorang laki-laki muda berpakaian
putih dan memakai sarung kedodoran duduk ter-
pekur seorang diri. Hampir sepanjang waktu pe-
muda ini tampak berkemak-kemik memanjatkan
do'a dan memuji kebesaran Tuhan. Ia tidak per-
nah lepas dari air suci dan boleh dikata sangat jarang meninggalkan tempat
peribadatan. Rumah di
dekat surau itu memang cukup banyak, jumlah
penduduknya juga padat. Namun akhir-akhir ini
mereka sangat jarang sekali beribadah. Mereka
kelewat sibuk atau sengaja menyibukkan diri un-
tuk berbagai macam kepentingan dunia.
Mereka saling berlomba mengumpulkan
harta, atau bekerja membanting tulang untuk
memenuhi kehidupan sehari-hari yang kian hari
semakin sulit didapat. Sementara harga kebutu-
han pokok kian melambung tinggi nyaris tidak
terjangkau. Melihat kenyataan ini pemuda baju putih
yang dikenal dengan nama Wahyu Sakaning Gus-
ti hanya dapat mengurut dada. Dia sesungguhnya
merasa kasihan pada para penduduk itu. Mereka
telah tertipu mentah-mentah oleh kehidupan du-
nia dan melupakan kehidupan sesudah mati.
Pemuda gagah berwajah lugu ini tiba-tiba
saja menengadahkan wajahnya ketika petir sea-
kan menghantam puncak surau. Bibirnya yang
selalu basah dengan asma Tuhan itu menggeri-
mit. Traat! Glar! Glaar! "Ya Tuhan...! Pertanda apakah ini" Jauh-
kan aku dan mereka dari azabmu yang pedih.
Kembalikanlah kesadaran mereka pada fitrahnya
sebagai manusia. Jangan kau masukkan aku da-
lam golongan hambamu yang melampaui batas.
Aku takut kelak kami akan menjadi orang serugi-
ruginya!" batin pemuda itu.
Wahyu Sakaning Gusti tiba-tiba bangkit
berdiri. Ia melangkah ke teras Surau. Memandang
ke luar hanya kegelapan saja yang terlihat. Di kejauhan pelita dari rumah-rumah
penduduk berke-
lap-kelip bagaikan cahaya kunang-kunang yang
redup. Wahyu Sakaning Gusti alias Pendekar Lu-
gu tengadahkan wajahnya ke langit. Hujan masih
lagi menetes, angin masih juga bertiup, hawa dingin menampar-nampar wajah si
lugu. Traat! Sekali lagi kilat menyambar. Suasana be-
rubah terang benderang. Namun sungguh meng-
herankan, suasana terang itu seakan tidak ada
habis-habisnya. Wahyu Sakaning Gusti kembali
tengadahkan wajahnya ke langit. Astaga! Pemuda
ini pun terperangah. Dari angkasa sana seakan
ada cahaya terang benderang yang meluncur de-
ras seperti Meteor. Cahaya itu sangat menyilau-
kan dan membutakan mata.
"Ya Tuhan... jangan kau turunkan bencana
pada kami!" kata si pemuda seperti orang yang sedang memanjatkan doa.
Cahaya terang benderang berwarna putih
dan berpedar-pedar itu terus meluncur ke bawah
sejajar dengan atap surau. Sampai-sampai Wahyu
Sakaning Gusti menyangka benda bercahaya itu
akan menghantam hancur tempat ibadahnya.
Tidak disangka kira-kira tiga batang tom-
bak lagi cahaya berpedar itu menghantam surau.
Cahaya tiba-tiba berhenti mendadak. Pendekar
Lugu tidak tahan melihat kehadiran cahaya ter-
sebut karena begitu silaunya. Kemudian terden-
gar suara halus, nyaring mengejutkan....
"Wahai jiwa yang tenang. Aku datang dari
sebuah tempat yang sangat jauh. Sebuah tempat
bila seandainya pun seorang manusia mampu
menempuhnya, tubuh orang itu akan hancur. Bi-
la aku berjalan, maka langkahku lebih cepat dari perjalanan suara menempuh
udara. Bila aku berlari maka kecepatanku berpuluh-puluh kali lipat
kecepatan cahaya. Aku datang karena ketegu-
hanmu. Aku menjumpaimu, karena kesabaran
mu, karena kepasrahan mu menghadapi manusia
yang semakin murka dan lupa diri. Wahai jiwa
yang tidak pernah marah. Wahai jiwa yang selalu
patuh pada perintah Tuhan, wahai jiwa yang ti-
dak takabur, tidak sombong, tidak kikir, tidak iri, tidak tamak, tidak pernah
membongkar aib dan
kebusukan orang lain," kata suara itu dengan tenang namun menyejukkan.
Pendekar Lugu langsung terduduk lemas,
sekujur tubuhnya menggigil dilanda kecemasan
dan ketakutan. Lalu ia menangis, tangisnya
membuat tubuh si pemuda terguncang. Dadanya
menjadi sesak, seakan ia merasa kematian sudah
hampir menjemputnya. Cahaya berpedar-pedar
itu kemudian menyambung, suaranya membuat
ujudnya yang dalam bentuk cahaya bergetar.
"Malam ini adalah malam kepercayaan. Kau men-
dapat tugas yang sangat berat. Berat namun mu-
lia, mulia jika kau dapat melaksanakannya den-
gan baik...!"
"Si... siapakah kau...?" tanya Pendekar Lu-gu. Suaranya terbata-bata karena
ketakutan itu masih melanda jiwanya.
"Aku hanya penyampai. Lebih baik kau
panggil aku sebagai 'Anak Langit'. Sekali lagi ku tegaskan padamu, aku anak
langiiit...! Hanya ini saja yang perlu kau ketahui sepanjang hidup."
sahut suara dalam cahaya itu.
Wahyu Sakaning Gusti tampak berkomat-
kamit. Sekujur tubuhnya telah basah bermandi
keringat. Padahal ketika itu udara sedemikian
dinginnya dan hujan kembali turun dengan de-
rasnya. "Tugas apa yang harus kukerjakan?" tanya Pendekar Lugu alias Pendekar Penyampai,
suaranya pelan namun jelas. Cahaya yang berpedar
itu kembali bergetar.
"Sebelum apa yang kusampaikan engkau
terima. Aku ingin bertanya terlebih dulu."
"Apa yang ingin kau tanyakan, ya Anak
Langit?" "Pertama takutkah kau pada raja yang ke-
jam?" "Tidak!" tegas Pendekar Lugu.
"Takutkah kau pada pembesar, prajurit ke-
rajaan, tokoh-tokoh sakti dalam rimba persilatan, tukang sihir, tukang teluh,
dukun?" "Tidak! Selama aku berada di jalan yang
benar." kata Wahyu Sakaning Gusti.
"Siapakah musuh yang paling kau takuti
dan patut kau perangi?"
"Nafsuku!"
"Jawabanmu berada dalam posisi yang te-
pat." puji Anak Langit. "Ketahuilah di dunia ini banyak orang dikejar-kejar rasa
takut. Kecuali manusia yang dekat dan selalu berpasrah diri pa-
da Tuhan. Orang kaya takut jatuh miskin, orang
melarat takut tidak makan. Orang berpangkat ta-
kut kehilangan pangkatnya. Takut dalam arti
yang luas adalah takut kehilangan yang muluk-
muluk di dunia ini." jelas Anak Langit.
"Adapun yang paling kejam tindakan ma-
nusia adalah memfitnah, membunuh, orang tua,
paman, kakek, kakak menodai darahnya sendiri.
Atau seorang ibu membuang atau membunuh da-
rah dagingnya sendiri. Atau seorang ibu mem-
buang atau membunuh darah dagingnya sendiri.
Menurutmu apakah sudah tidak rusak perilaku
manusia sekarang ini?"
"Rusak sekali, dan aku merasa sangat pri-
hatin. Aku jadi takut!"
"Takut pada siapa?"
"Pada Tuhanku!"
"Sekarang aku percaya. Ada pun tugas
yang harus kau pikul ada dua. Pertama carilah
hartawan yang paling kaya di dunia ini. Tidak
perlu aku terangkan, nanti kau akan tahu keta-
makan dan kekejamannya. Sedangkan yang ke-
dua kau carilah raja yang paling kejam di kolong langit ini. Untuk membantu
tugasmu agar berhasil dengan baik, maka kau harus mencari seorang
pemuda ganteng berpakaian biru, memakai ikat
kepala biru belang-belang kuning, tampangnya
ketolol-tololan. Ia dikenal dengan julukan lain
Pendekar Mandau Jantan alias si bocah Ajaib.
Mengenai gelar sesungguhnya kau nanti boleh
tanya pada yang bersangkutan. Dia punya kesak-
tian yang dapat diandalkan. Namun dalam masa-
lah keteguhan hati terus-terang saja kurang." jelas Anak Langit.
"Apakah aku sendiri tidak boleh mencari
hartawan dan raja itu?" tanya Pendekar Lugu.
"Pekerjaan ini tidak mudah. Kau memikul
beban yang sangat berat. Karena sebelum sampai
ke tujuan utama kau akan menghadapi rintangan
yang tidak sedikit. Pemuda itu punya berbagai
kesaktian yang dapat kau ajak bekerja sama!"
"Aku terima tugas ini. Apa pun yang akan
terjadi pada diriku, sesungguhnya nyawaku ku-
pasrahkan pada Tuhan!" kata Pendekar Lugu tu-lus. "Wahyu Sakaning Gusti.
Serukanlah pada hartawan kaya itu untuk menghentikan kemaksiatan. Hentikan jual
beli kehormatan perem-
puan. Hentikan perjudian, hentikan pemadatan
dan hentikan pembuangan harta. Jika tiga kali la-ranganmu tidak dihiraukan. Maka
sudah menjadi tugas si Bocah Ajaib untuk membantumu. Demi-
kian juga dengan raja Lalim Durjana. Kekejaman-
nya sudah melampaui batas, tindakannya sewe-
nang-wenang. Berilah peringatan padanya. Jika


Pendekar Bloon 9 Anak Langit Dan Pendekar Lugu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dia tetap membangkang, maka sudah menjadi tu-
gasmu dan tugas Suro Blondo untuk menghenti-
kan raja itu dengan cara yang keras!" tegas Si Anak Langit.
"Aku akan selalu mengingat pesanmu, ma-
lam ini juga aku segera mencari pemuda itu." jawab Pendekar Lugu.
"Berhati-hatilah, berpikir dengan kesaba-
ran sebelum bertindak. Jika orang lain berkata
kasar padamu jangan kau balas. Bersikaplah di-
am daripada bicara tidak berguna. Sesungguhnya
Tuhan-mu menyukai orang-orang yang sabar. Se-
lamat tinggal Wahai Jiwa yang tenang. Di lain
waktu aku akan datang kepadamu!" kata sosok berujud cahaya tersebut. Cahaya
tersebut kemudian melesat ke langit. Semakin lama bergerak
semakin bertambah jauh sampai akhirnya hanya
terlihat titik putih yang teramat kecil, lalu menghilang dari pandangan mata.
DUA Lima ekor kuda dipacu dengan kecepatan
tinggi. Kelima binatang tunggangan berbulu hitam tersebut berlari seperti
dikejar-kejar setan. Pe-nunggangnya adalah lima orang laki-laki berba-
dan gemuk memakai pakaian serba hitam. Wajah
mereka angker, jenggot, cambang serta kumisnya
tumbuh subur tidak terawat dengan baik. Yang
mengerikan dari kelima laki-laki penunggang ku-
da itu semuanya picak bagian mata kirinya. Tidak hanya picak saja, tampaknya
mereka sengaja mencungkil matanya beberapa tahun yang lalu.
Sehingga terlihatlah sebuah rongga mata yang le-
bar dan berwarna kemerah-merahan.
Memasuki sebuah kota yang cukup besar.
Kelima penunggang kuda ini bukan mengurangi
kecepatan kuda mereka. Melainkan terus mem-
bedal kuda-kuda tersebut bagai orang kesurupan.
Orang-orang yang berada di jalan cepat menying-
kir dan seperti orang yang ketakutan.
Tidak lama kemudian mereka membelok ke
sebuah gang lalu berhenti di sebuah bangunan
mewah seperti sebuah penginapan. Kelima laki-
laki bertampang angker turun dari kuda masing-
masing. Dua orang laki-laki yang agaknya pekerja di situ menyambut mereka dengan
hormat dan membawa kuda itu ke tempat biasa untuk ditam-
batkan. Dengan langkah tegap mereka menuju ke
pintu depan. Seorang perempuan bertubuh ge-
muk, gembrot mirip gentong datang menghampiri.
Sementara di dalam ruangan itu tampak belasan
gadis-gadis belia berwajah cantik dan memakai
pakaian mini duduk dengan genitnya.
"Anak-anak, masuklah kalian ke dalam!"
perintah si wanita gemuk.
"Jangan semuanya masuk. Tinggalkan em-
pat orang untuk melayani kami!" bentak salah seorang diantaranya.
Lima belas gadis-gadis cantik berdada me-
nantang dan berpaha mulus masuk. Sedangkan
empat diantaranya terpaksa menunggu. Empat
laki-laki menghampiri ke empat gadis yang me-
nunggunya. Mereka langsung memeluk, mere-
mas-remas bagian yang menonjol, atau tangan
mereka menggerayang ke tempat-tempat menonjol
yang lainnya. Dan sesungguhnya wanita itu me-
miliki banyak tonjolan dan tanjakan yang menye-
nangkan laki-laki keparat seperti empat mata pi-
cak ini. "Tuan datang terlalu cepat dari waktu bi-
asanya! Tentu saja setoran untuk bulan ini belum terkumpul sebagaimana
mestinya!" kata Wanita gembrot macam gentong ini manja.
"Kami selalu datang pada waktunya. Har-
tawan Abdi Banda memberi perintah pada kami
agar hasil dari daerah kemaksiatan ini dikumpul-
kan sebelum masa waktu yang ditentukan da-
tang. Kami hanya menjalankan perintah, tidak le-
bih dan tidak kurang!" dengus laki-laki bertubuh paling tinggi dibandingkan yang
lain-lainnya "Baiklah, saya akan pergunakan uang saya
dulu untuk menutupi sejumlah. kekurangan yang
ada!" kata Suntarini.
Perempuan itu kemudian menghilang di
dalam kamarnya. Ketua mata picak memperhati-
kan kawan-kawannya. Astaga! Ternyata mereka
sedang berbuat mesum di ruangan itu tanpa ma-
lu-malu dilihat lainnya. Sungguh mereka tidak
bedanya dengan binatang yang tidak punya piki-
ran dan rasa malu. Sebaliknya ketua mata picak
ini kelihatannya menganggap kejadian itu biasa-
biasa saja. "Ayo kawan-kawan, teruskan kalian bala-
pan. Akh... masa kalah dengan gadis-gadis ini...!"
kata Rahjendra sambil tergelak-gelak.
Lalu terdengar suara lenguh kenikmatan
disana-sini. Rahjendra sudah tidak menghiraukan
apa yang dilakukan mereka. Mata yang cuma se-
belah itu membuat lebar ketika melihat kepingan
uang emas yang dibawa oleh Suntarini.
"Apakah cuma sekantung ini?" tanya Rahjendra. "Ya, sekantung ini. Bukankah
biasanya se-gini juga jumlahnya?"
"Ah iya, aku sampai lupa" Rahjendra ke-
mudian menjulurkan tangannya ke dada Suntari-
ni. Sebentar saja dengan seenaknya ia membelai-
belai bukit si gembrot yang lembek kedodoran.
"Aih, tuan nakal sekali," desahnya sambil mengedipkan matanya.
"Kenakalanku padamu tidak setiap aku da-
tang kemari. Lain kali jika aku datang lagi kau
harus melayani aku luar dalam!" kata ketua mata picak sambil terkekeh.
"Hik hik hik...! Tentu saja jangan khawa-
tir!" janji Suntarini.
Laki-laki itu memasukkan kantung ke ba-
lik bajunya. Ia memberi isyarat pada kawan-
kawannya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Ingat jika terjadi hal-hal yang tidak diin-ginkan di tempat ini sebaiknya
laporkan pada hartawan Abdi Banda. Tidak ada yang boleh ber-
buat onar di rumah surga ini. Sebagai orang ke-
percayaan kau harus menjaga kepercayaan yang
diberikan oleh hartawan padamu!"
"Baiklah tuan!" sahut Suntarini.
Si gembrot mengantar orang-orang keper-
cayaan hartawan Abdi Banda sampai ke halaman
depan. Kelima mata picak ini meninggalkan ru-
mah pelacuran itu untuk kemudian memungut
keuntungan-keuntungan lain di tempat perjudian
dan pemadatan. *** Pemuda baju biru itu celingak-celinguk
memperhatikan keramaian kota di senja hari. Ko-
ta Cagar Tirta sejak lama memang dikenal sebagai kota kemaksiatan. Penduduk
setempat tidak berani mencegah praktek-praktek terkutuk ini. Ka-
rena pemilik rumah pramusyarat itu tidak lain
adalah hartawan Abdi Banda.
Siapa yang tidak kenal dengan hartawan
Abdi Banda, manusia kaya raya di dunia yang
kunci gudang harta bendanya saja tidak dapat di-
tarik oleh dua ekor kuda yang kuat-kuat.
Sementara itu pemuda berwajah ketolol-
tololan ini tiada henti menggaruk kepalanya.
Pembangunan kota yang sedemikian pesat mem-
buatnya terkagum-kagum.
"Hebat juga daerah ini. Gedungnya megah-
megah, penduduknya hemm... terutama para ga-
dis itu. Jalannya megal-megol, pinggulnya wah...
hanya membuat kepalaku mumet (pusing)." batin si pemuda berambut hitam
kemerahan. "Hieekh...!"
Kuda kurus kering yang ditunggangi oleh
Suro Blondo tiba-tiba saja ngadat tidak mau ja-
lan. "Kuda goblok ini taik sama kentutnya saja yang besar. Tenaga tidak ada.
Mana tulang-tulangnya bertonjolan" Kuda kurus begini kalau
dijual tukang loak pun nggak bakalan sudi. Me-
nyesal aku mengambilnya di pinggir jalan. Dasar
goblok... blok-blok...!" dengus si pemuda.
Disebut dirinya goblok, seakan mengerti
kuda tersebut tiba-tiba saja berlari cepat laksana terbang. Suro Blondo
terkesiap dan hampir saja
terjatuh. Kuda terus berlari tidak tentu arah. Terkadang menabrak tukang jual
makanan dan buah-buahan di pinggir jalan.
"Hei berhenti, gobloook...!" teriak Suro Blondo. Ternyata ucapan itu hanya
membuat lari kuda semakin menggila. Suro jadi bingung, cela-
kanya apa saja yang berada di depan kuda terse-
but ditabraknya. Hingga pemilik barang-barang
dagangan menjadi berang dan mengejar Suro
Blondo si anak ajaib.
"Waduh mengapa jadi begini!" desis Suro si bocah Ajaib kalang kabut. "Wah kalau
begini te- rus semua orang bisa memukuliku. Hanya kuda
pinter saja yang tidak membuat susah majikan.
Pinter... ter...ter...!"
Cieeet...! Secara mendadak kuda itu berhenti saat
Pendekar Blo'on menyebut kata pintar. Suro me-
longo, kini ia baru mengerti kuda itu rupanya
punya panggilan yang konyol. Kalau dibilang gob-
lok ia marah dan langsung berlari sekencang-
kencangnya. Sedangkan kalau dikata pintar lang-
sung berhenti. "Ah siapa sebenarnya majikanmu. Tuanmu
pastilah orang konyol dunia akherat. Sekarang lebih baik kita berbalik. Aku
perlu mencari sebuah penginapan untuk melewatkan malam ini."
Tklak-tkluk tklik tklok!
Demikianlah dengan malasnya kuda itu
mengikuti perintah si Bocah Ajaib Suro Blondo.
Setelah mencari-cari sampailah pemuda baju biru
ini di depan sebuah tempat yang sangat mewah
mirip dengan penginapan. Banyak laki-laki keluar
- masuk dalam bangunan itu.
Seorang laki-laki tukang urus kuda meng-
hampiri Pendekar Blo'on. Kuda langsung dibawa
oleh laki-laki itu untuk ditambatkan di tempat
yang telah tersedia.
"Hei... mau dibawa kemana kuda kurus
itu?" tanya Suro Blondo.
"Ditambatkan, tuan!"
"Oh...!" Suro manggut-manggut. Si Bocah Ajaib segera bergegas memasuki pintu
depan. Sampai di dalam bangunan itu ia melongo seperti
orang bego. Banyak perempuan cantik di situ.
Mereka masih muda-muda, para laki-laki hidung
belang pun tidak kalah banyaknya. Diantara me-
reka ada yang sedang berpelukan atau bercumbu
tanpa rasa malu dan tak jarang pula yang sedang
berbincang-bincang sambil minum arak.
"Tempat macam apa ini" Apa mereka sua-
mi istri?" Suro garuk-garuk kepala. "Kurasa inilah yang namanya sorga dunia
neraka akherat. Oh...
kalau begitu aku salah alamat. Lebih baik aku keluar saja!" pikir si pemuda.
Dengan cepat ia membalikkan tubuhnya
dan hendak berlalu dari situ. Namun terlambat,
dua orang gadis cantik berkulit putih dan mema-
kai pakaian merangsang telah menggandeng tan-
gannya kiri kanan.
"Aih tuan yang gagah. Mengapa buru-buru
pergi" Kau adalah orang yang paling gagah dari
sekian laki-laki hidung belang disini. Marilah ikuti kami!" kata salah seorang
diantara mereka sambil tersenyum genit. Lalu temannya menimpali. "Kami tidak
akan mengecewakan mu!"
"Hei, apa-apaan ini. Aku cari penginapan.
Bukan mencari perempuan!" kilah Suro bingung.
"Hi hi hi...! Menginap disini dapat tidur
dengan nyenyak dan kepuasan sekaligus!"
"Jangan....! Aku tidak punya uang...!" kata si konyol.
Kedua gadis jalang itu saling berpandan-
gan. "Bagaimana Melur?" tanya yang disamping
kiri Si Bocah Ajaib.
"Tidak apa-apa. Untuk pemuda setampan.
dia aku bersedia menyerahkan diriku sepenuhnya
tanpa dipungut bayaran sedikit pun." sahut Melur. "Aku pun setuju!" sahut gadis
yang berbadan jangkung.
Takut menarik perhatian orang-orang yang
berada di dalam ruangan itu. Akhirnya Pendekar
Blo'on hanya menurut saja. Kedua gadis cantik
tersebut membawa pendekar Blo'on memasuki
sebuah ruangan. Sebuah kamar mewah dengan
tempat tidur berwarna merah jingga.
"Duduklah kekasih kami!"
Suro Blondo menurut. Namun tiba-tiba ia
terperangah kaget ketika kedua gadis itu mele-
paskan seluruh pakaian yang melekat di tubuh
mereka. Dalam keadaan polos begitu salah seo-
rang diantaranya langsung berdiri di depan Suro.
"Hutan rimbanya begitu lebat, bukitnya
menjulang ke langit!" pikir si pemuda seperti orang yang sedang menyanyi.
"Marilah kekasih. Malam ini kita habiskan
untuk menikmati sorga dunia!" tantang salah seorang dari gadis itu. Sebelum dada
yang menonjol itu menghimpit wajah si pemuda. Suro tiba-tiba
saja melompat. "Jangan kalian dekati aku!" dengus Pendekar Blo'on. Walau pun ia bersikap
serius, namun tetap saja mimiknya terkesan konyol.
"Hei... ada apa" Kami mau memberi ke-


Pendekar Bloon 9 Anak Langit Dan Pendekar Lugu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

nikmatan padamu mengapa sekarang menolak"!"
tanya Melur. "Kalian bertingkah seperti hewan saja. Dan
jelek-jelek gini aku masih manusia!" tegas si pemuda. "Kau... mengapa kau malah
menolak" Malam ini kami menyerahkan tubuh kami dengan
suka hati untuk seorang pemuda segagah eng-
kau. Kalau kau mengecewakan kami, maka akan
kami panggil tukang pukul!" ancam gadis jangkung. Tanpa di duga-duga Si Anak
Ajaib melom- pat lagi ke pintu. Karena pintu dalam keadaan
terkunci maka ia terpaksa mendobraknya. Daun
pintu hancur berkeping-keping. Kedua gadis itu
berteriak keras.
"Tangkap orang itu. Ia tidak membayar...!"
"Bayar apa" Lha wong aku tidak berbuat
apa-apa kok!" dengus Pendekar Blo'on. Percuma saja ia membela diri karena laki-
laki di ruangan itu telah mengepungnya. Dua algojo berbadan tegap kumis
melintang maju serentak.
"Jangan berani kurang ajar kau bocah.
Siapa pun yang sudah bersenang-senang dengan
gadis disini harus bayar!" teriak salah seorang algojo itu marah.
"Manusia congekan. Sudah kubilang aku
tidak berbuat apa-apa. Gadis-gadis itu hanya
memfitnah...!" Suro Blondo membela diri.
Percuma saja ia berteriak. Dua orang algojo
menghantamkan tinjunya ke wajah Suro.
"Tampangmu yang tolol biar kami bikin ko-
nyol sekalian!" dengus salah seorang algojo dengan beringasnya.
Suro melompat ke samping, lalu menangkis
dengan sikunya. Gerakannya cepat dan sangat
kacau sekali. Tiba-tiba saja....
Duuk! "Hek...!"
Algojo berbadan gemuk pendek menjerit
tertahan. Kawannya yang berbadan gemuk tinggi
jadi marah. Ia menendang pendekar Blo'on tepat
pada bagian buah jambunya. Buah jambu dilin-
dungi pemiliknya dengan mempergunakan sebe-
lah tangan. Suro melompat di atas meja sambil
berjingkrakan seperti seekor monyet. Dari bibir-
nya terdengar suara ngak-ngik nguk seperti suara monyet. Lalu....
Jtak! Tangan si pemuda menghantam jidad la-
wan. Kening algojo itu benjol sebesar telur angsa.
"Kunyuk keparat!" maki algojo pendek.
Tangannya mencengkeram rambut si pe-
muda. Suro menarik wajahnya ke belakang. Lalu
ia melompat-lompat, mengelak kian kemari den-
gan gerakan gesit seperti seekor kera. Inilah jurus
'Kera Putih Memilah Kutu'. Salah satu jurus yang dimiliki oleh si pemuda.
Set! Serangan si pendek lolos menghantam an-
gin. Algojo jangkung semakin tidak sabar. Mereka mengepung Suro dari dua arah,
lalu menerjang ke
depan dalam waktu bersamaan. Rupanya Si Anak
Ajaib meloloskan diri dari bawah. Tanpa dapat di tahan-tahan lagi mereka pun
saling bertabrakan.
Bletak! "Wadaww...!"
"Goblok mengapa kau malah menabrakku!"
maki algojo pendek.
"Sial! Dia nyeplos dari bawah bego!" bantah sijangkung.
Saat mereka sedang saling berbantahan
itulah Pendekar Blo'on melompat ke udara. Lalu
tangannya kanan kiri menyambar ke bagian teng-
kuk kedua lawannya.
Tuuk! Tuuk! "Hekh...!"
Kedua laki-laki tukang pukul itu merasa
sekujur tubuhnya menjadi kaku. Suro tertawa
sambil mengekeh.
"Kalian benar-benar telah menjadi patung
sementara yang tidak lucu. Eeh... ada lagi ru-
panya. Perempuan macam gentong ini apakah tu-
kang pukul juga?" batin Suro Blondo.
Ternyata perempuan gembrot itu meng-
hampiri Pendekar Blo'on. Suro menunggu dengan
perasaan was-was.
*** TIGA "Hhm, siapakah kau ini, pemuda tampan
bertampang tolol" Kau datang membuat kegadu-
han disini. Jelaskan tujuanmu jika tidak ingin
mencari susah!" bentak si gembrot yang tidak lain adalah pengurus rumah
pelacuran itu sekaligus
orang kepercayaan hartawan Abdi Banda.
Pendekar Blo'on seka keningnya yang ber-
keringat. "Aku.... Suro Blondo. Aku kemalaman di sini dan cari penginapan.
Ternyata aku salah masuk. Jadi aku terpaksa keluar, tapi kedua gadis
itu telanjang lalu mengajakku ini dan itu. Aku tidak mau, eeh... mereka malah
menuduhku yang tidak-tidak!"
"Benar begitu, Melur?" tanya Suntarini ditujukan pada kedua gadis yang sekarang
telah berdiri di ambang pintu. Ternyata kedua gadis itu sangat patuh pada majikannya.
"Benar, bu!" jawab salah seorang diantaranya dengan ketakutan.
Jadi kalian berbohong?" dengus Suntarini
berang. "Maafkan kami. Terus-terang kami merasa
tertarik pada pemuda itu. Tapi ternyata dia
menghina dengan menolak ajakan kami!"
"Kenapa kau menolaknya, anak muda?"
"Karena aku hanya ingin tidur saja. Sudah-
lah, aku tidak mau berdebat. Sekarang mau pergi, dan jangan coba-coba halangi
aku jika tidak ingin
kugebuk!" tegas Pendekar Blo'on.
"Silakan kalau mau pergi!" kata Suntarini.
Pendekar Blo'on pun akhirnya berlalu me-
ninggalkan tempat maksiat itu. Sementara itu
Suntarini diam-diam segera mengirimkan utusan
untuk menghubungi kaki tangan hartawan Abdi
Banda tentang kemunculan pemuda baju biru
tersebut. Setelah keluar dari rumah mewah itu Pen-
dekar Blo'on terus menuju ke pinggiran kota.
Namun di sudut kota langkahnya terhenti setelah
melihat sebuah bangunan lain berwarna merah.
Yang membuat Suro terheran-heran karena di ba-
gian depan bangunan tersebut terdapat gambar-
gambar manusia dalam berbagai bentuk.
"Gambar itu seperti orang main topeng-
topengan kelihatannya kayak orang mabuk. Lalu
ada gambar bidadari cantik hampir telanjang.
Aku heran sekarang ini berada dimana, ya...?" pikir si pemuda, lalu menggaruk
kepalanya seperti
orang linglung.
Karena merasa penasaran. Maka akhirnya
pemuda itu melangkahkan kakinya memasuki
bangunan tersebut. Sampai di dalam ia kaget ju-
ga. Dalam bangunan itu ternyata terdapat laki-
laki yang sedang menghisap sesuatu dari pipa.
Tercium bau khas yang selama ini belum pernah
dirasakan oleh Suro Blondo.
Para laki-laki itu seperti orang yang sedang
mabuk. Diantara mereka ada yang tertawa-tawa,
ada pula yang tersenyum-senyum tanpa mele-
paskan pipa panjangnya namun ada pula yang
menangis. "Bapak, mengapa bapak tertawa seperti
orang gila" Yang bapak isap ini rokok apa racun?"
tanya si Anak Ajaib. Ia mengendus-endus. Cuping
hidungnya kembang kempis. Namun tiba-tiba sa-
ja sebuah tangan yang kokoh telah menariknya ke
belakang hingga membuat kakinya tergantung se-
tengah jengkal dari lantai yang terbuat dari batu marmar itu.
"Bicara dengan orang yang sedang menik-
mati sorga adalah sebuah pantangan disini!" dengus orang berpakaian hitam
memakai penutup
kepala warna hitam pula. Seluruh tubuh orang ini terbungkus pakaian hitam
ringkas. Hanya sepa-sang matanya saja yang tidak tertutup. Suro yang memang
belum pernah bertemu dengan orang seperti ini jadi kaget.
"Hei... lepaskan! Kau hantu, setan atau
manusia?" tanya si pemuda.
"Aku Ninja Sakura. Ninjatsu yang membu-
nuh dengan seribu akal seribu cara!" sahut orang ini.
Lalu tanpa bicara apa-apa lagi ia menyeret
Si Anak Ajaib menuju ke sebuah ruangan lain. Di
dalam ruangan itu tubuh si pemuda berambut
kemerah-merahan itu dilemparkan begitu saja.
Untung dirinya tidak dalam keadaan tertotok. Se-
hingga ia masih dapat berguling-gulingan dengan
baik. Dengan cepat Suro Blondo berdiri. Ternya-
ta lima orang laki-laki lainnya telah mengurung-
nya dengan ketat. Ninja yang menyeretnya tadi
memberi aba-aba membunuh pada kawan-
kawannya dengan bahasa yang tidak dimengerti
oleh Pendekar Blo'on.
"Haiik...!"
Serentak kelima ninja hitam tadi maju ke
depan. Mereka menyerang dengan memperguna-
kan pedang kecil dan pendek yang biasa di per-
gunakan untuk Harakiri (Bunuh diri).
Bukan main cepatnya serangan itu. Se-
hingga hanya dalam waktu sekejab lima buah
ujung senjata telah siap merencah tubuh si pe-
muda. Pendekar Blo'on leletkan lidah. Tiba-tiba ia melompat ke udara. Namun
begitu serangan lu-put, lima buah piauw meluncur deras ke arahnya.
Siing! Suro cepat pukulkan tangannya ke lima
arah, senjata rahasia tersebut rontok menimbul-
kan suara berdenting. Lalu terlihat pula lima
buah senjata berbentuk bintang empat persegi
meluncur deras ke arahnya.
"Haiiit...!"
Zab! Zab! Zab! Suro melompat ke samping kiri, atau ter-
kadang melompat sambil berjongkok. Tangannya
menggaruk ke bagian tubuhnya. Sedangkan dari
mulutnya terdengar suara lolongan panjang se-
perti suara lolongan serigala. Inilah sebuah jurus
'Serigala Melolong Kera Sakti Kibaskan Ekor'.
Set! Set! Lima buah senjata kembali meluncur
membacok kepala, menusuk leher, menghantam
perut dan menyabet punggungnya. Serangan ke-
lima Ninja itu jelas sangat berbahaya.
Dengan cepat pemuda itu berguling-guling
membebaskan diri dari kepungan senjata. Seo-
rang lawan yang berada di sisi kirinya dihantam
dengan telapak kaki.
Duuk! Kraak! Lawan menjerit keras. Suro bangkit berdiri,
kemudian merebut senjata lawannya. Belum
sempat ia mempergunakan senjata yang dirasa-
kan sangat aneh itu. Empat serangan lain telah
mengejarnya. Suro tidak punya waktu. Ia angsur-
kan tubuh lawan dan segera menjadikannya ta-
meng. Cres! Cres!
Tidak ayal lagi tubuh Ninja malang itu
menjadi sasaran bacokan senjata kawannya sen-
diri. Empat Ninja hitam lainnya menggeram.
Yang jadi pimpinan memberi isyarat dengan gera-
kan tangan. Tiba-tiba saja mereka mencabut pe-
dang panjang di punggungnya. Senjata itu diputar dengan mempergunakan kedua
tangan. Lalu serangan datang bertubi-tubi. Pendekar Blo'on jadi kalang kabut.
Sambil melolong, menjerit atau
menangis ia terus menghindari serangan Ninja
itu. Walau pun gerakannya kacau, namun tidak
satu pun mata pedang mengenai sasaran.
Serentak Ninja-Ninja ini melompat mun-
dur. Yang jadi pimpinan maju ke depan, lalu men-
jura hormat. Ke empat Ninja menghilang. Yang
jadi pimpinan buka bicara.
"Siapa anda?"
Suro garuk-garuk kepala. Bibirnya me-
nyunggingkan senyum. "Aku tentu saja bukan setan hitam berkedok seperti kalian.
Namaku Suro Blondo!" "Suro San!"
"Suro Blondo saja tidak memakai San...!"
"San sama artinya tuan. Tuan Suro, kuli-
hat anda punya kepandaian hebat. Jika sudi ber-
gabung, tentu kita dapat bersama-sama menjaga
rumah madat ini. Hartawan Abdi Banda pasti
berkenan menerima anda sebagai pasukan kea-
manannya. Dan soal upah tidak usah khawatir!"
"Kau sendiri yang memakai kedok ini sia-
pa?" "Aku dari Sakura, negeri jauh di seberang laut. Aku Ninja Sakura!"
"Dimana itu Sakura?"
"Jauh dari sini."
"Apa disana sudah tidak ada pekerjaan un-
tuk orang seperti kalian?" tanya si Bocah Ajaib.
"Banyak. Tapi untuk yang berani mem-
bayar tertinggi, itulah tujuan kami".!"
"Namamu?"
"Kenziro Nakasone."
"Wah namamu aneh amat. Berarti kau
orang asing! Aku tidak tertarik tawaranmu! Pu-
lang ke negerimu atau aku akan memotong li-


Pendekar Bloon 9 Anak Langit Dan Pendekar Lugu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dahmu!" tegas Suro Blondo dengan sikap serius, namun mimiknya tetap konyol.
"Di kasih tawaran baik untuk hidup enak
tidak mau!" dengus Kenziro Nakasone.
Di luar dugaan tiba-tiba saja ia membung-
kukkan tubuhnya dalam-dalam layaknya seperti
orang yang menghormat pada tamunya. Namun
begitu Suro Blondo lengah. Maka dari balik pa-
kaian hitam Kenziro melesat dua buah kaitan
yang sangat tajam.
Seet! "Wah kurang ajar. Manusia kapiran! Baru
bisa menghormat saja sudah mau minta nyawa-
ku! Heaaa...!" teriak Si Anak Ajaib.
Ia bersalto ke udara, sehingga senjata gai-
tan bertali ini lewat di bawah kakinya. Tiada disangka-sangka dari bagian
langit-langit ruangan
melesat sosok hitam lainnya. Sambil melayang di
udara ia membabatkan pedang di tangan. Walau
pun dalam keadaan kepepet, namun Suro masih
mampu mengibaskan pedang pendek rampasan.
Trang! Benturan pertama membuat Suro kehilan-
gan keseimbangan. Namun pada kesempatan itu
arah senjatanya yang sempat menyimpang di-
kembalikan ke arah semula.
Jhess! Bruuk Pedang pendek menembus perut sang Nin-
ja. Suro Blondo terduduk namun segera bangkit
lagi. Ketika ia menoleh maka kepala Ninja-Ninja
itu telah menghilang dari pandangan mata.
"Gila! Ninja itu kabur sebelum kalah dan
tanpa sebab." pikir Pendekar Blo'on terheran-heran. Belum hilang rasa kagetnya,
tiba-tiba lantai ruangan yang dipijaknya seperti amblas ke
bawah. Karena ruangan itu cukup luas, maka
sungguh sulit bagi si pemuda untuk mencari se-
lamat. Tubuhnya dengan cepat meluncur ke ba-
wah. Beruntung pada waktu itu tampak sosok
bayangan lain berkelebat menyambarnya. Suro
merasa tubuhnya melayang laksana terbang.
Bayangan hitam tadi terus menerobos langit-
langit ruangan. Tembus ke genteng, namun sete-
lah mereka berada di atas genteng beberapa orang Ninja telah mengepung mereka.
Orang yang telah menyelamatkan Suro
Blondo melemparkan sesuatu ke arah ketiga Nin-
ja tadi. Dar! Dar! Dar!
Ketiga benda bulat berwarna hitam lang-
sung meledak ketika di tangkis oleh para Ninja
itu. Begitu asap menebar, maka para penyerang
bergelimpangan roboh dengan mata melotot dan
jiwa melayang. Beberapa orang Ninja yang mun-
cul kemudian langsung melakukan pengejaran.
Namun gerakan dan ilmu lari mereka kalah cepat
dibandingkan dengan sosok hitam yang memang-
gul Suro Blondo.
"Orang ini berlari secepat angin, bergerak
seperti Malaikat. Tapi mengapa dia terus berlari.
Padahal mereka tidak mungkin dapat menyusul."
Karena posisinya sejajar dengan bahu sang peno-
long. Maka si konyol ingin memastikan yang me-
nolongnya laki-laki atau perempuan. Tangan ki-
rinya pun pura-pura menyampir di bagian dada.
Belum lagi niat itu terlaksana, tangan penolong-
nya telah bergerak sepuluh kali lebih cepat.
Tuuk! Dan tangan si pemuda pun berubah kaku
karena tertotok. Terdengar suara dengus sosok
hitam tersebut. Sementara ia tidak mengurangi
kecepatan larinya.
Hingga pada akhirnya mereka sampai di
sebuah tebing yang sangat curam. Tubuh Si Bo-
cah Ajaib dilemparkan begitu saja.
Bruk! "Wadoui... kira-kira. Tanganku yang sebe-
lah tertotok. Main lempar seenaknya apa kau kira aku babi hutan?" protes
Pendekar Blo'on bersun-gut-sungut.
Sosok berpakaian serba hitam yang ternya-
ta juga memakai pakaian seperti ninja hanya
mendengus. Malah ia menotok bagian tubuh lain-
nya disaat pemuda berambut hitam kemerah-
merahan itu lengah.
*** EMPAT "Ahk... kurang ajar sekali." Maki Si Anak Ajaib dalam hati. Inilah salah satu
sikapnya yang paling tidak ia sukai. Ia selalu lengah dan jarang memikirkan
keselamatan diri sendiri.
Jika sekarang dirinya sudah dalam kea-
daan tertotok tersebut, bukan mustahil orang
yang telah melarikannya dari rumah madat itu
punya maksud ingin membunuhnya
Dalam keadaan terlentang itu ia segera me-
lihat orang yang telah menotoknya. Ternyata
orang ini malah duduk di bawah sebatang pohon.
"Kau diam disitu dan jangan lihat-lihat
kemari! Aku bisa membunuhmu kapan pun aku
mau!" tegas orang itu.
"Heh... suaramu kecil seperti perempuan.
Apakah anda seorang gadis yang sedang menya-
mar?" tanya Suro sambil menggelengkan kepa-
lanya. "Jangan bicara jika tidak kutanya!" dengus orang berpakaian seperti Ninja
sengit. "Wah suaramu ketus, pasti kau seorang
perempuan!" tebak si usil tanpa menghiraukan ucapan si gadis.
"Diam...! apakah kau ingin cepat mati di-
tanganku?"
Jika saja tangannya tidak tertotok, mung-
kin pemuda ini sudah garuk-garuk kepalanya.
"Mati dengan cara bagaimana pun aku
mau, yang penting atas kehendak Tuhan. Tapi ji-
ka harus mati ditangan orang misterius seperti-
mu, tentu aku jadi penasaran. Aku belum melihat
wajahmu, rupamu, bibirmu mungkin jika kau
punya bibir...!"
Plak! Belum sempat pemuda itu melanjutkan ka-
ta-katanya sebuah tamparan yang cukup keras
mendarat di pipinya.
"Aku tidak punya silang sengketa dengan-
mu, mengapa kau menamparku?" protes Pende-
kar Blo'on. Dalam otaknya yang cerdik ia segera
mendapatkan akal untuk membebaskan diri dari
pengaruh totokan tersebut.
Diam-diam ia pun mengerahkan tenaga da-
lamnya. Namun pemuda itu terkejut. Karena to-
tokan di tubuhnya bukan main hebatnya. Suro
mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimili-
kinya. Kali ini usahanya itu mendatangkan hasil.
Maka terbebaslah dia dari pengaruh toto-
kan. Namun ia tetap berpura-pura, menunggu
perkembangan berikutnya. Ternyata orang itu
menghampirinya. Setelah sampai di depan Pende-
kar Blo'on ia berjongkok.
"Kuperingatkan padamu jangan coba-coba
mencampuri urusan hartawan Abdi Banda. Dia
bisa membuat hidupmu tersiksa atau mati per-
cuma karena ketololanmu!" tegas orang ini.
"Ehh... kau ini siapa" Apakah juga begun-
dalnya hartawan yang memperdagangkan barang-
barang haram itu?" pancing si Bocah Ajaib.
"Jangan sembarangan kau bicara. Aku
adalah orang yang tidak menyukai hartawan itu
memperdagangkan wanita, judi dan madat. Cuma
hartawan keparat itu terlalu tangguh karena se-
demikian banyak pengawal berkepandaian tinggi
yang menjaganya. Jangankan manusia, seekor
semut pun tidak bisa menyusup ke sana, apalagi
kau manusia lemah, tolol lagi!"
Suro Blondo tersenyum. Orang yang belum
jelas identitasnya ini dan bersuara seperti wanita terlalu angkuh.
"Jadi itu alasanmu, sehingga engkau me-
musuhinya?"
"Bukan hanya itu saja. Hartawan Abdi
Banda selain kikir, pelit juga sewenang-wenang
terhadap rakyat miskin. Tidak sedikit orang yang mati percuma karena terlambat
mengembalikan hutang. Ia juga manusia yang paling rakus den-
gan kemewahan dunia."
"Kalau begitu, kau pasti seorang gadis yang sedang menyamar!" tebak Pendekar
Blo'on. "Mau laki-laki, bencong atau wanita bukan
urusanmu. Kau tidak layak mengetahui siapa
aku. Yang jelas aku seorang laki-laki...!"
"Heh...!" Suro terlonjak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang
telah me- larikannya seorang laki-laki. "Lalu mengapa kau menotokku?"
"Untuk memastikan agar kau jangan pergi
diluar sepengetahuanku! Tidak kusangka ternyata
kau hanya pemuda lemah yang cuma bisa melon-
cat-loncat seperti monyet!"
"Kalau hanya cuma itu, sebaiknya aku per-
gi saja." kata Si Bocah Ajaib.
"Hi hi hi...! Bagaimana kau bisa lari dariku, jika tubuhmu dalam keadaan
tertotok" Aku Rana
Unggul tidak dapat kau tipu!"
"Begitukah Rana Unggul" Lihatlah aku se-
karang sudah dapat berdiri." kata si pemuda.
Pendekar Blo'on tiba-tiba berdiri.
Kenyataan ini membuat Rana Unggul ter-
kesima. Bagaimana pemuda ini bisa melakukan-
nya" Pertanyaan itulah yang mula-mula muncul
dibenaknya. "Kau.,. manusia tolol sepertimu bagaimana
bisa membebaskan totokan?" tanya Rana Unggul.
"Ha ha ha...! Tentu saja kulakukan dengan
ketololanku!" sahut si pemuda. Tanpa menunggu lebih lama lagi pemuda itu
melarikan diri.
"Hei... tunggu...!" cegah Rana Unggul.
Percuma saja ia berteriak memanggil, ka-
rena Suro Blondo telah menghilang dalam kegela-
pan malam. Pendekar Blo'on terus berlari, hingga hari
menjelang pagi sampailah ia di sebuah tempat
yang sangat luas tanpa pepohonan.
"Daerah apa ini namanya?" pikir Suro. Se-luas-luasnya mata memandang hanya
hamparan batu kapur dan bukit gersang.
Dengan perasaan letih yang teramat san-
gat, pemuda ini melangkahkan kakinya menelu-
suri daerah tidak bertuan itu. Setelah seratus
tombak, langkahnya terhenti kembali.
Entah dari mana datangnya tahu-tahu di
depan pemuda itu telah berdiri seorang laki-laki memakai pakaian rapi berwarna
putih. Laki-laki
ini masih sangat muda, mungkin umurnya baru
sekitar dua puluh lima tahun. Tampangnya lugu,
tarikan pada bibirnya cukup keras agaknya ia
seorang anak manusia yang sibuk dengan piki-
rannya. "Salam sejahtera saudaraku! Tidak ku-
sangka akhirnya Tuhan mempertemukan aku dan
engkau juga!"
"Saudara, eh... aku merasa tidak punya
saudara." kata si pemuda sambil menyeka ke-
ningnya. "Setiap manusia adalah bersaudara satu
dengan yang lainnya." Jelas pemuda yang pelihara jenggotnya itu.
"Oh begitu ya" Aku tidak tahu, selama ini
aku beranggapan orang satu puser baru saudara.
Ah, bicaramu enak sekali didengar aku jadi men-
gantuk...!"
"Jangan tidur dulu. Banyak hal yang ingin
aku bicarakan dengan engkau wahai saudaraku!"
cegah pemuda itu yang tiada lain adalah Pende-
kar Lugu. "Aku mengantuk sekali. Sudah satu mala-
man aku tidak tidur, cari penginapan ternyata
rumah pelacuran, mencari lagi ketemu rumah
pemadatan. Lalu aku dikroyok Ninja, dibawa ka-
bur oleh Rana Unggul, laki-laki yang suaranya
seperti perempuan. Isi dunia ini neko-neko (ber-
macam-macam). Perempuan dikaruniai wajah
cantik, dada cantik, pinggul cantik malah menjual mulutnya yang dibawah puser.
Lalu laki-laki suka lupa diri karena madat, arak. Mereka lalu mabuk... mabuk
lagi... kemudian mabuk lagi! Aku
jadi pusing...!" keluh si pemuda, sikapnya serius, namun tampang konyolnya tidak
menunjukkan keseriusan. "Apa yang kau lihat belum seberapa sauda-
raku. Di akhir jaman ini, ada bapak kandung
berbuat seperti binatang hina dengan menyetu-
buhi anak perempuannya sendiri. Selama berta-
hun-tahun malah. Belum lagi seorang paman
dengan keponakannya, seorang kakek dengan cu-
cunya. Belum ditambah laki-laki serong, isteri serong." "Itu pertanda apa,
sobat. Apakah ini lam-bang kemajuan manusia?" tanya Suro.
"Bukan kemajuan, tapi kebobrokan moral.
Tipis Iman, ini suatu pertanda tidak lama lagi dunia ini akan jadi porak
poranda." "Aha... bicaramu seperti seorang pandai
agama. Siapakah engkau ini?" tanya si pemuda baju biru sambil golang-golengkan


Pendekar Bloon 9 Anak Langit Dan Pendekar Lugu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kepala. "Aku anak manusia ciptaan Tuhan juga.
Sama seperti dirimu dan manusia-manusia lain.
Aku bukan ahli apa-apa. Hanya sekedar penyam-
bung lidah dan mengemban suatu tugas yang cu-
kup berat...!"
Untuk pertama kalinya Si Bocah Ajaib
pandang wajah pemuda di depannya. Lagi-lagi
Suro tercekat, betapa sejuk tatapan mata pemuda
itu. Seakan tersimpan seribu satu kedamaian dis-
ana. "Apakah engkau punya nama, sobat?"
"Namaku Wahyu Sakaning Gusti." jawab
pemuda baju putih kalem.
"Heh, sebuah nama yang sangat agung."
desis Suro tercekat. "Kau pasti bukan manusia seperti aku,"
Pendekar Lugu tersenyum. "Aku tetap ma-
nusia sepertimu. Tidak ada kelebihan pada diri-
ku. Aku hanya sekedar penyampai. Bagaimana
pun aku memerlukan bantuanmu!" kata Wahyu
Sakaning Gusti.
"Bantuan apa, aku tidak bisa apa-apa?"
sergah Suro. "Tidak seorang pun yang tahu seberapa da-
lamnya sebuah telaga yang tenang. Bukankah
kau Pendekar Blo'on?"
"Aku Suro Blondo. Bagaimana kau bisa ta-
hu?" "Anak Langit telah mengatakan padaku!"
sahut Pendekar Lugu.
Pendekar Blo'on menggelengkan kepala
sambil garuk-garuk rambutnya.
"Apa yang dapat kubantu?"
"Banyak sekali. Pertama adalah memberi
peringatan pada hartawan Abdi Banda. Setelah
itu memberi kesadaran pada raja Lalim Durjana!"
tegas Pendekar Lugu.
"Weleh-weleh. Apa yang baru kau ucapkan
barusan adalah menyangkut persoalan sangat be-
sar dan urusan yang besar pula. Aku tahu harta-
wan Abdi Banda adalah orang yang telah mengi-
kuti jalan setan, langkah setan dan serba setan.
Rumah pelacuran, perjudian, pemadatan dan ma-
sih banyak lagi yang membuat aku bingung. Me-
reka terlalu kuat, mustahil kita dapat mengemba-
likan mereka ke jalan yang betul."
"Jika Tuhan menghendaki, hal semacam
itu tidak perlu dirisaukan." tegas Pendekar Lugu penuh keyakinan.
"Heh, jangan dipandang enteng. Hartawan
Abdi Banda punya sepasukan Ninja Sakura. Tan-
gan kanannya lima jagoan mata picak. Tidak ter-
hitung tokoh-tokoh bayaran yang tentu saja me-
miliki kepandaian tinggi!" kata si pemuda was-was. "Aku hanya penyambung lidah,
tiga kali peringatan telah cukup. Sedangkan kau adalah
pendampingku."
"Jika demikian, kita perlu bertemu dengan
hartawan itu?" ujar Pendekar Blo'on.
"Aku telah datang dua kali dalam mim-
pinya. Sekali lagi aku datang kepadanya. Jika ia tidak mau kembali ke jalan yang
benar. Maka kelak hartawan Abdi Banda akan binasa tertimbun
harta dan kesenangan dunia lainnya!"
"Aku kurang mengerti dengan ucapanmu!"
sergah Suro sambil usap-usap keningnya. Saat
itu matahari sudah mulai meninggi. Angkasa tiba-
tiba seperti terbelah dengan terdengarnya suara
bergemuruh dahsyat.
"Dia datang lagi!" kata Pendekar Lugu
sambil memandang ke langit.
"Siapa?"
"Anak Langit." sahut si pemuda.
"Mengapa aku tidak melihatnya?"
"Ujudnya tidak pernah kelihatan, ia dalam
bentuk cahaya. Seperti matahari itu, tapi lebih terang dari matahari!" jelas
Pendekar Lugu. Ternyata memang benar adanya, begitu Suro mencoba
memandang ke langit matanya menjadi silau. Ca-
haya itu tepat berada di atas kepala mereka.
"Kalian sudah saling bertemu. Maka sepa-
kat sudah sama kalian dapatkan. Sesungguhnya,
orang-orang sesat itu kalian beri peringatan atau tidak tetap sama tidak ada
gunanya. Aku melihat
Abdi Banda mengerahkan sebagian besar kekua-
tannya. Aku melihat tukang sihir telah menafsir-
kan arti mimpi perjumpaannya denganmu, Pen-
dekar Lugu. Kebenaran yang kau sampaikan ma-
lah membuatnya murka. Satu kali peringatan lagi
sudah cukup bagimu, Wahyu Sakaning Gusti.
Tindakan selanjutnya tegakkanlah kebenaran.
Hanya itu saja yang perlu kusampaikan saat ini,
selamat tinggal...!" kata Anak Langit.
Cahaya aneh itu kembali melesat menem-
bus langit. Suro termangu, heran sekaligus mera-
sa takjub. LIMA Empat orang penunggang kuda berbulu
putih itu terdiri dari empat orang gadis berpa-
kaian tipis memakai cadar. Tubuh mereka mene-
barkan bahu harum. Saat Pendekar Blo'on dan
Pendekar Lugu hendak meninggalkan padang
tandus tersebut. Maka diwaktu itu mereka mun-
cul. "Bagaimana perempuan-perempuan itu bi-sa menunggang kuda, saudaraku?" tanya
Pendekar Lugu. Ia sendiri tidak berani memandang ke
arah mereka. Karena pakaian gadis-gadis itu yang tipis memperlihatkan bentuk
tubuhnya dipenuhi
dengan tonjolan-tonjolan.
"Hei, mengapa harus menunduk" Peman-
dangan di depan kita indah sekali. Kurasa Harta-
wan itu mengirimkan gadis-gadis ini untuk kita,
Pendekar Lugu...!" celetuk Suro Blondo sambil cengar-cengir.
"Jagalah bicaramu, karena rusak bicara-
mu, maka ikut rusak pula anggota tubuhmu yang
lain!!" tegas Pendekar Lugu tetap menundukkan kepala. "Jadi aku harus bicara
apa?" Suro garuk-garuk kepala. "Orang-orang ini jelas utusan hartawan itu."
Belum sempat Pendekar Lugu menyahuti
ucapan Pendekar Blo'on, keempat gadis penung-
gang kuda itu telah berhenti di depan mereka. Sa-
lah seorang diantaranya langsung bertanya.
"Yang mana diantara kalian bernama
Wahyu Sakaning Gusti?" tanya gadis yang paling cantik. "Aku...!"
"Yang bernama Suro Blondo?"
Pendekar Blo'on nyengir. "He he he...!
Aku..,!" sahut si konyol.
"Menurut ahli sihir hartawan Abdi Banda,
kalianlah orang yang bakal menyusahkan maji-
kan kami. Sekarang kami mengemban tugas un-
tuk menangkap kalian!"
"Ha ha ha...! Sobatku, mereka mau me-
nangkap kita. Apakah kau mau?"
"Suro Blondo. Tidak ada yang punya kuasa
atas jiwa kita terkecuali Tuhan!" sahut Pendekar Lugu. Sekejab pemuda ini
menoleh pada gadis-gadis berpakaian tipis itu. "Lebih baik kalian kembali dan
beritakan pada hartawan kikir itu
agar kembali ke jalan yang benar." tegas Pendekar Lugu. "Jangan berkotbah di
depan kami. Kami bekerja sesuai dengan perintah!" dengus keempat gadis
berpakaian tipis kembang-kembang ini. Serentak mereka melompat dari punggung
kudanya masing-masing. Dua orang berusaha menotok Wahyu Sa-
kaning Gusti sedangkan yang dua lagi berusaha
meringkus Pendekar Blo'on. Ternyata Pendekar
Lugu ini dengan cepat mengelak. Lalu melompat
di atas cabang pohon.
"Saudara Suro. Aku tidak berkenan berha-
dapan dengan perempuan. Lebih baik kau urus
mereka!" kata pemuda itu.
"Wah itu tidak adil namanya. Masa' engkau
yang memberi peringatan aku yang harus meng-
hadapi bahaya!" dengus Pendekar Blo'on sambil menghindari serangan yang
dilakukan oleh lawannya.
"Jangan biarkan mereka meloloskan diri!"
teriak gadis bertubuh jangkung.
Dua gadis lainnya segera mengejar Pende-
kar Lugu. Namun pemuda berjenggot itu telah le-
nyap dari pandangan mata. Kini hanya tinggal
Pendekar Blo'on saja yang terpaksa menghadapi
serangan ke empat gadis cantik itu. Suro melom-
pat ke samping ketika serangan lawan menghan-
tam dadanya. Tapi dari bagian belakang menderu
tendangan yang cukup keras. Suro jadi kalang
kabut. Ia jungkir balik, lalu melompat lagi ke udara. "Hiyaa...!"
Dua orang gadis cantik mengejarnya. Seka-
li jambret maka yang kena dijambret malah cela-
na Suro Blondo. Celana itu melorot sampai seba-
tas pantat. "Wei... kurang ajar. Gadis-gadis mesum.
Kalian telah bikin aku malu, maka balasannya
juga harus setimpal." dengus si pemuda.
Suro tarik balik celananya. Sementara ga-
dis tadi sempat dibuat merah wajahnya. Rupanya
ia tidak sengaja melakukan itu. Dengan demikian
dia lengah. Suro dengan cepat melompat ke de-
pan, tangannya lalu menyambar.
Breet! Bret! Dengan satu sentakan keras, maka pa-
kaian lawan yang tipis itu terlepas semuanya.
Pendekar Lugu langsung pontang panting meng-
hindari pemandangan yang menyolok itu.
"Auuw...!"
Kedua gadis itu menjerit karena malunya.
Mereka menutupi bagian auratnya yang terbuka
menantang. "Weleh-weleh...! Ada hutan lebat, bukit
kembar. Apakah kita harus sama-sama menye-
rang tanpa pakai senjata?" tanya si konyol.
Dua orang kawan gadis-gadis itu tentu ti-
dak tinggal diam. Mereka segera mencabut senja-
tanya. "Pemuda gendeng! Kau telah membikin ma-lu besar pada kawan-kawan kami.
Untuk itu kau harus menyerahkan nyawamu!" ancam gadis yang jadi pimpinan mereka.
"Kemaluan kawanmu memang besar-besar.
Pasti majikanmu menyukai yang seperti itu. Ma-
salah nyawa itu urusan Tuhan! Aiih...!"
Belum sempat Suro melanjutkan kata-
katanya, dua mata pedang telah membabat mu-
lutnya. Suro terpaksa melompat lagi, lalu usap-
usap mulut yang hampir tertebas pedang.
"Mereka ini benar-benar minta nyawaku.
Kalau mulutku tadi kena aku pasti tidak punya
mulut. Padahal cuma mulut perempuan yang le-
bih dari satu. Gelo betul...!" gerutu pemuda berambut kemerah-merahan ini dalam
hati. Siing! Senjata lawan kembali menderu dan
menghantam batok belakang kepalanya si pemu-
da. Secepat kilat pemuda itu menundukkan kepa-
la, lalu ia melompat-lompat atau terkadang ber-
jingkrakan. "Nguk! Nguk!"
Gerakan tangan si pemuda menggaruk ke
depan, menendang ke samping sambil menggaruk
tubuhnya. Berulang kali tebasan pedang menge-
nai tempat kosong. Kedua gadis itu terus merang-
sak, sementara dua kawannya sedang sibuk
membenahi pakaiannya.
"Manusia kunyuk! Apa bisamu cuma me-
lompat dan menghindar?" dengus si jangkung.
"Hiyaa...!"
Terdengar suara teriakan dari belakang
Pendekar Blo'on. Pemuda ini terpaksa berguling-
guling, karena pada saat itu dua ujung pedang
meluncur ke dada dan lehernya. Tidak urung ten-
dangan keras menyambar punggungnya.
Buuk! "Hekk...!"
Pemuda ini menggeliat kesakitan. Namun
ia masih dapat tersenyum walau pun bibirnya
meneteskan darah. Sementara lawannya tadi te-
lah menginjaknya tepat pemuda itu dalam kea-
daan telentang. Dengan cepat Suro menangkap
kaki yang mulus itu.
"Wah kau tidak memakai celana dalam ru-
panya!" gerutu si konyol. Secepatnya ia memban-tingkan tubuh si gadis, lalu
totokan yang cukup
kuat menghantam punggung si gadis.
"Oh...!"
Gadis itu mengeluh. Pemuda berambut hi-
tam kemerahan ini sudah tidak dapat berdiam le-
bih lama. Set! Wuuk! "Aih... gelo betul...!" celetuknya. Ia melihat senjata lawannya dari dua arah
sekaligus. Pemuda ini segera mundur, lalu mengerahkan jurus
'Seribu Kera Putih Mengecoh Harimau'.
Disertai teriakan keras tubuh pemuda itu
berkelebat lenyap, hingga tidak lama kemudian
yang terlihat adalah bayangan biru belaka. Ketiga lawannya tentu menjadi kaget
dan dibuat bingung. Karena begitu cepatnya gerakan Suro Blon-
do ini, hingga membuat serangan lawan-lawannya
mengenai sasaran kosong.
Suro terus maju ke depan. Tiba-tiba ia me-
lompat tinggi ke udara. Saat tubuhnya meluncur
ke bawah, maka tangannya meluncur ke dua arah
sekaligus.

Pendekar Bloon 9 Anak Langit Dan Pendekar Lugu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tuk! Tuk! "Akh...!"
Dua orang lawan kena ditotok. Tubuh me-
reka kaku dengan gerakan seperti orang bersilat.
Si Bocah Ajaib ini jadi geli dan ingin tertawa. Namun pada waktu yang bersamaan
yang jadi pim- pinan menusukkan pedangnya ke arah si pemu-
da. Suro Blondo jadi terkesiap dan langsung geser langkahnya. Ternyata dia kalah
cepat, sehingga...
Bret. "Aduh...!"
Pemuda ini menjerit tertahan. Walaupun
punggungnya ketika itu mengucurkan darah Suro
tidak perduli. Ia terus berputar-putar, lalu ka-
kinya menendang keras perut lawannya. Pimpi-
nan dari gadis-gadis itu mengibaskan pedangnya
untuk memapas kaki lawannya. Tapi Suro geser
kakinya. Kaki terus meluncur dan menghantam
puser si gadis agak di bawah.
Dess! "Aaaa...!"
Gadis baju kembang-kembang terpelanting
roboh. Ia muntah darah, dalam keadaan seperti
itu ia mencoba bangkit berdiri. Namun ter-
huyung-huyung dan jatuh lagi.
Suro memungut sebuah pedang, lalu me-
nempelkannya di tenggorokan gadis itu.
"Sekarang tiba giliranmu. Kau mau mati
atau kembali ke jalan yang benar!" kata si pemuda sambil seka keningnya.
"Ja... jangan bunuh aku. Kami memilih
mengabdi padamu. Hartawan Abdi Banda sudah
sangat tua. Sedangkan kau masih muda dan
tampan. Kami tentu mau disuruh apa saja!"
"Bagaimana kawan-kawanmu?"
"Tentu mereka lebih senang lagi bersama-
mu...!" Suro tepuk keningnya. Kepala pemuda itu
langsung pusing. "Gila kalau ke empat gadis cantik ini semuanya mengabdi padaku
mana tahan!"
pikir si pemuda. Si konyol lalu bertanya. "Kalau kalian kusuruh memijit tubuhku
apakah mau?"
"Wah, mau sekali. Disuruh mijit luar dalam
sampai bagian yang paling dalam pun kami mau
saja." sahut gadis itu.
Suro menghampiri gadis yang terluka ter-
sebut. "Aku mau menyembuhkan kau. Buka mu-
lutmu!" Tanpa curiga si gadis membuka mulutnya.
Suro memasukkan obat pulung berwarna hitam
pemberian gurunya Malaikat Berambut Api. Obat
itu pahit rasanya.
"Kau memberiku apa?"
"Obat?"
"Kok bentuknya bulat seperti itu?"
"Cerewet ah, mungkin taik kambing atau
kotoran sapi. Jangan banyak tanya. Yang penting
kau bisa sembuh." dengus si pemuda pencongkan mulutnya. Tidak berapa lama gadis
yang bernama Seruni itu mulai dapat merasakan pengaruh mu-
jarab obat tersebut.
Suro menghampiri tiga gadis lainnya yang
dalam keadaan tertotok. Lalu dia membebaskan
totokan bekas lawannya. Begitu terbebas dari to-
tokan mereka langsung berlutut.
"Hei... apa-apaan kalian" Aku bukan maji-
kanmu!" cegah Suro Blondo bingung. Namun
keempat gadis itu tampaknya tidak perduli lagi
dan tetap ngotot ingin mengabdi pada si pemuda.
"Bagaimana pun anda telah memaafkan
kesalahan kami dan memberi kesempatan pada
kami untuk tobat. Kami, aku, Seruni, Seroja, Sentini dan Sri Sedap ingin
mengabdikan jiwa raga
kami padamu!"
"Wah, kalau bicara soal mengabdi sebaik-
nya kalian mengabdi pada Tuhan. Ah... namamu
kok aneh amat. Sri Sedap, kayak penyedap ma-
kanan saja. Apa ada bagian tubuhmu yang se-
dap!" "Ada... ada kalau tuan mau. Aku bersedia memberikannya pada tuan kapan
saja...!" jawab Sri Sedap tanpa ragu.
Suro garuk-garuk kepala dan sempat me-
merah wajahnya. Di saat itulah terdengar suara
sayup-sayup....
"Pendekar Blo'on. Lidahmu bisa menjeru-
muskan dirimu ke jurang neraka. Hati-hatilah
kau bicara! Mereka itu lemah Iman. Jika mereka
kau suruh telanjang sekali pun pasti mau. Tapi
Tuhanmu murka, sebaiknya kau membimbing
mereka ke jalan yang benar!" kata suara itu yang tidak lain adalah suara
Pendekar Lugu yang me-nunggunya di kejauhan.
"Jangan takut, sobat. Aku hanya mengajak
mereka bercanda!" Jawab Pendekar Mandau Jantan ini disertai senyum.
Pemuda tampan berwajah ketolol-tololan
ini mengajak ke empat gadis itu menuju kota Tir-
ta Maya. ENAM Tirta Maya tidak pernah sepi dari waktu ke
waktu. Suasana semakin bertambah ramai apabi-
la malam hari. Banyak kalangan bangsawan men-
cari hiburan di kota ini. Diantara mereka ada
yang menghabiskan uang di meja judi. Ada pula
yang bersenang-senang di rumah pemadatan atau
pelacuran. Semua tempat ini seperti telah dis-
ebutkan adalah milik hartawan Abdi Banda.
Sore itu seorang gadis cantik berambut
panjang terurai memasuki rumah pelacuran yang
tidak pernah sepi pengunjung itu. Kehadiran ga-
dis berpakaian hitam ringkas ini tentu menarik
perhatian tetamu laki-laki yang sedang tawar me-
nawar dengan perempuan-perempuan pelacur itu.
Tidak kurang si gembrot Suntarini, yaitu perem-
puan kepercayaan sang hartawan merasa heran.
Ia menyangka tentu gadis ini ingin menawarkan
diri untuk menjadi gadis penghibur. Hal ini tidaklah mengherankan karena sangat
banyak gadis- gadis dari daerah miskin yang berbuat seperti itu demi menyambung hidup dirinya
atau keluarganya. Namun gadis ini sangat lain, ia lebih cantik. Pinggulnya
sedang buah dadanya membayang
kencang di balik pakaiannya yang ketat. Mungkin
anak orang punya atau paling tidak dia gadis ter-pelajar. Tatapan matanya
membuat para laki-laki
langsung klepek-klepek.
"Ada yang dapat kami bantu, Nisanak!"
tanya Suntarini menyambut kehadiran gadis itu
dengan senyum ramah berbau maksiat. "Atau
mau bekerja disini" Ditanggung penghasilan be-
sar, pekerjaan hanya uncang-uncang kaki dan
melayani tamu yang datang!"
"Kurasa hanya kau yang dapat membantu-
ku keluar dari kesulitan!" kata gadis itu setengah berbisik.
Sementara itu beberapa laki-laki terus
memandangnya dengan mata melotot. Tatapan
mata mereka diwarnai dengan nafsu rendah. Sun-
tarini sendiri langsung tersenyum. Gadis ini pasti akan menawarkan diri.
Terbayang dalam benaknya keuntungan besar yang akan diraihnya. Seo-
rang gadis yang masih suci tentu dia dapat me-
nawarkan pada langganan dengan harga tertinggi.
Paling sedikit seratus keping uang emas.
"Apakah kau membutuhkan uang Nisa-
nak...!" "Namaku Puspita Sari."
"Nama yang bagus secantik orangnya."
Suntarini menimpali.
"Betul aku membutuhkan uang...!" sahut Puspita Sari.
"Berapa?"
"Tiga ratus keping emas!"
Mata Suntarini membulat lebar. "Itu adalah
jumlah yang cukup besar. Tapi kalau kau mau
bekerja disini seperti gadis-gadis itu tentu uang yang kau butuhkan ada.
Bagaimana?"
Gadis cantik itu tersenyum sinis, namun
tetap menganggukkan kepala.
"Tunggu sebentar disini!" Suntarini meninggalkannya. Ia tampak bicara dengan
seorang laki-laki berbadan gemuk berperut besar. Laki-
laki yang sudah bau tanah mengangguk-
anggukkan kepala, lalu mengeluarkan uang dan
diberikannya pada Suntarini.
"Nah sekarang kau sudah menjadi milik
Kinanjar. Jangan khawatir, dia orang kaya. Dia
punya ratusan ekor sapi dan ratusan ternak lain-
nya. Ikuti dia ke kamar. Nanti bagianmu dapat
kau ambil!" pesan Suntarini. Kinanjar tanpa ma-lu-malu langsung menggandeng
lengan Puspita Sari. Puspita diajak memasuki sebuah kamar.
Sesampainya di dalam kamar laki-laki gemuk itu
langsung mencengkeram dada si gadis. Namun
diluar dugaan gadis itu mencabut sesuatu ber-
warna putih mengkilat lalu menusukkannya ke
perut Kinanjar.
Laki-laki malang itu tidak sempat lagi men-
jerit karena mulutnya dibekap oleh Puspita. Ia
berkelojotan di atas tempat tidur, darah mengu-
cur deras membasahi sprei. Tidak lama kemudian
laki-laki itu tewas sebelum dapat mencicipi apa-
apa. Pintu ditendang, hingga terbukalah dengan
lebar. Sosok tubuh besar yang sudah tidak ber-
nyawa lagi melayang dari dalamnya. Lalu meng-
hantam meja tempat dimana Suntarini sedang
menghitung laba.
Braak! Mayat Kinanjar yang melotot jatuh di ba-
wah kaki Suntarini. Suasana di ruangan itu pun
menjadi panik, ribut dan gadis-gadis penghibur
berhamburan keluar saking takutnya.
Para tamu laki-laki tetap berada di tempat
walaupun hati mereka diliputi dengan rasa gentar juga. Dua orang tukang pukul
langsung meng-hambur menyerang Puspita Sari. Tangan si gadis
dikibaskan ke arah mereka. Dua buah benda
berwarna putih seperti perak melesat dengan ke-
cepatan laksana terbang.
Algojo-algojo itu tidak sempat lagi menge-
lak. Dua buat mata pisau beracun menembus
leher sedangkan yang satunya lagi menghantam
jantung. Orang-orang ini langsung ambruk dan ti-
dak berkutik lagi. Tubuh Puspita Sari lalu me-
layang, bukan main cepat gerakannya. Di lain
waktu ia sudah mencengkeram rambut Suntarini.
"Kau telah membuat rendah martabat
kaummu sendiri. Perempuan-perempuan itu se-
karang tidak ubahnya seperti sampah busuk yang
tidak berguna. Semua ini hanya demi kepentin-
gan hartawan dan kepentinganmu sendiri. Kau
hanya tinggal mengatakan, kematian bagaimana
yang kau dambakan"!" dengus Puspita Sari, gadis yang tidak jelas asal usulnya
ini geram. "Ja... jangan... kau ambillah uang ini se-
muanya asalkan jangan kau bunuh aku Nisanak!"
ucap Suntarini menghiba-hiba.
"Uang busuk dari hasil yang menjijikkan.
Sekarang kau harus memakan kepingan-
kepingan uang ini sampai habis!" perintah si gadis, dingin.
"Bbb... baik...!"
Karena takut dibunuh dan mengalami na-
sib sial seperti kedua algojo itu, maka Suntarini terpaksa memakan uang
tersebut. Baru dua keping uang emas yang dima-
kannya mata sudah melotot seperti melihat setan.
Suntarini terpaksa minum air. Namun mata uang
tetap nyangkut di tenggorokan.
"Nah seperti itulah yang dirasakan oleh
orang lain. Sekarang makan lagi!" perintah Puspita.
Dengan tubuh menggigil ketakutan Sunta-
rini kembali telan dua keping emas, hingga ma-
tanya melotot. "Auu... uuuk... uuh...!".
Perempuan gembrot itu tersengal-sengal
karena begitu sulitnya bernafas.
"Siksaan ini belum seberapa, nanti di nera-
ka kau akan tahu akibatnya....!" dengus Puspita.
Dengan keras ia memukul punggung leher
Suntarini, hingga empat mata uang melompat da-
ri mulutnya. Namun karena sedemikian kerasnya
pukulan itu hingga membuat Suntarini tergeletak.
Tubuhnya mengejang, lalu terdiam untuk selama-
lamanya. Puspita langsung menyambar puluhan pe-
lita yang terdapat di situ. Minyak ditumpahkan.
Hanya dalam waktu yang sangat singkat rumah
pelacuran itupun dikobari api.
Api semakin lama semakin bertambah
membesar dan terus melahap rumah kemaksia-
tan ini. Gadis-gadis penghibur yang tidak sempat menyelamatkan diri terbakar
hidup-hidup. Puspita berkelebat keluar. Dalam pada itu
dari arah belakangnya terdengar suara derap
langkah kuda yang dipacu dengan tergesa-gesa.
Ternyata mereka adalah lima laki-laki gemuk ma-
ta picak. "Siapa yang telah membakar salah satu
kekayaan hartawan Abdi Banda?" tanya Rahjendra yang jadi pimpinan.


Pendekar Bloon 9 Anak Langit Dan Pendekar Lugu di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Walau pun di bagian halaman depan itu
banyak laki-laki hidung belang yang menyaksikan
kejadian tersebut. Tidak seorang pun yang berani angkat bicara. Padahal ketika
itu Puspita masih
berada di antara mereka.
"Kau mencari orang yang membakar ge-
dung ini?" tanya Puspita sambil menghampiri.
"Betul! Siapa pun kunyuknya harus digan-
jar setimpal!" dengus Rahjendra.
"Aku yang telah membakarnya!" sahut
Puspita tanpa merasa gentar sedikit pun.
Rahjendra menjadi marah bukan kepalang.
Ia langsung menyerbu ke arah gadis berpakaian
hitam ketat tersebut. Namun si gadis tiba-tiba
melenting ke atas tembok. Dalam sekejapan saja
tubuhnya lenyap. Rahjendra alias Setan Kebina-
saan bermaksud mengejar. Namun belum sempat
ia melompat, di atas tembok telah berdiri seorang laki-laki berpakaian serba
putih berjanggut panjang. "Siapa kau" Apakah kawannya gadis liar tadi?" bentak
Rahjendra sengit.
Si pemuda yang tidak lain adalah Pendekar
Lugu tersenyum. "Aku tidak mengenalnya. Aku hanya penyambung lidah, untuk itu
tinggalkan hartawan Abdi Banda dan kembalilah ke jalan
yang benar!" kata Wahyu Sakaning Gusti.
"Bangsat kapiran! Kau bicara pada orang
yang salah dan waktu yang salah pula. Hiaa...!"
teriak Rahjendra. Ia langsung menghunus sang-
kur kembarnya dan menikam dada lawannya se-
cara bertubi-tubi. Serangan yang dilakukan oleh
Geger Dunia Persilatan 16 Memburu Manusia Harimau Seri Manusia Harimau Karya S B Chandra Makam Bunga Mawar 29
^