Pencarian

Nenek Bongkok 3

Pendekar Gila 34 Nenek Bongkok Bagian 3


Di luar malam semakin kelam. Angin pun
berhembus kencang, membuat suasana kian
mencekam. 8 Sementara itu di Kadipaten Balasutra kea-
daan bertambah parah. Satu persatu prajurit dan
orang-orang kepercayaan Senapati Pranggana ma-
ti terbunuh dengan cara yang aneh. Semuanya
kehabisan darah. Pembunuhnya sampai saat ini
tak diketemukan.
Penduduk di sekitar kadipaten pun menja-
di resah, karena hampir setiap malam terjadi ma-
lapetaka. Hampir setiap pagi warga ribut mene-
mukan mayat. Senapati Pranggana sendiri kian
kebingungan menghadapi bencana aneh itu.
"Aneh...! Sungguh aneh. Bagaimana semua
ini bisa terjadi begitu cepat.."! Pasti pembunuh itu bukan manusia!" kata
Senapati Pranggana pa-da Ki Sumo yang sejak peristiwa itu terus berada di
kadipaten. Pada saat itu Surti palsu mengintip dari
balik pintu mendengarkan pembicaraan Senapati
Pranggana dan Ki Sumo. Dia tampak tersenyum-
senyum. "Kami rasa sebaiknya kita segera mencari
Pendekar Gila. Hanya dialah yang dapat meme-
cahkan keanehan ini.,.," kata Ki Sumo memberi usul pada Senapati Pranggana.
"Ya, ya...! Tapi, ke mana kita harus menca-
rinya. Aku merasa bodoh! Aku terlalu terlena oleh keadaan. Semuanya aku yang
salah, hingga sam-
pai melupakan nasihat Pendekar Gila..." ujar Senapati Pranggana menyesali dan
menyalahkan di-
rinya sendiri. Lalu duduk bersandar di kursi. Tubuhnya tampak lemas dengan wajah
murung dan gelisah. Sesaat keadaan hening. Nampak Senapati
Pranggana sedang berpikir. Begitu juga Ki Sumo
dan dua pengawal yang mendampingi sang Sena-
pati. "Paman Sumo, sebaiknya kau bersama seorang pengawal pergi mencari Pendekar
Gila. Na- mun jangan lewat dua hari, Paman. Cepat kemba-
li...!" kata Senapati Pranggana memecah keheningan. "Baik. Kalau begitu biarlah
sekarang juga kami berangkat..," jawab Ki Sumo.
"Baiklah. Hati-hati, Paman...!"
Lalu Ki Sumo dan seorang pengawal me-
mohon diri dan segera berangkat, setelah menjura memberi hormat
Sepeninggal Ki Sumo dan pengawal, Surti
palsu muncul dengan senyum manisnya, lang-
sung mendekati Senapati Pranggana. Dengan ke-
lembutan yang dibuat-buat, Surti palsu merayu
Senapati Pranggana
"Kakang, sebaiknya Kakang istirahatlah
dulu. Nampaknya kau begitu letih. Biar aku pijat, agar keadaannya sehat
kembali...."
"Hm... Kau benar Diajeng. Ayo, hari ini aku
benar-benar letih sekali..." sambut Senapati
Pranggana, lalu beranjak bangkit dari duduknya
dan berlalu dari tempat itu.
Pengawal yang ada di situ tampak mengge-
leng kepala melihat kepergian Senapati Pranggana dan Surti.
Surti palsu terus berusaha merangsang
Senapati Pranggana agar terbangkit gairahnya.
Wanita ciptaan Nenek Bongkok itu memang me-
miliki gairah luar biasa. Akhirnya dia dapat membangkitkan birahi Senapati
Pranggana. Pergumulan antara kedua makhluk yang
sebenarnya berlainan alam itu terjadi. Desah dan rintihan keluar tak henti-
hentinya dari keduanya, Surti palsu dengan buasnya bagai memacu kuda.
Mulutnya memekik mendesah dan merintih pe-
nuh kenikmatan.
Senapati Pranggana akhirnya tertidur pu-
las, Surti jelmaan yang melihat Senapati Prang-
gana mendengkur segera bangun. Mulutnya me-
nyeringai. Seketika tampak dua gigi taring di sudut bibirnya. Wajahnya tampak
menyeramkan dengan sepasang mata melotot memandangi tu-
buh Senapati Pranggana. Lalu perlahan-lahan
mulutnya mendekati wajah Senapati Pranggana.
"Aku harus membunuhnya sekarang juga,
sebelum ada yang tahu siapa aku sebenarnya....
Aku haus, haus...," gumam Surti palsu dengan mata melotot
Namun, ketika dia akan melakukan itu, ti-
ba-tiba Senapati Pranggana menggeliat memiring-
kan tubuh. Surti palsu mengurungkan niatnya.
Ditatapnya agak lama Senapati Pranggana yang
memiliki tubuh kekar dan jantan itu.
"Ahhh..., aku tak ingin dia mati dulu. Aku
masih ingin menikmati keperkasaan dan kejanta-
nannya. Dia benar-benar menggairahkan, aku
masih ingin merasakan dekapan tangannya yang
kekar dan kuat itu...," kata Surti palsu bicara pa-da diri sendiri. Lalu
tersenyum. Diciumnya pipi
Senapati Pranggana. Surti yang masih tanpa pa-
kaian, segera mengambil kain. Setelah melilitkan kain ke tubuhnya yang sintal
itu dia melangkah
keluar. "Lebih baik aku mencari santapan di luar saja...," gumam Surti dalam
hati. Lalu menghilang di kegelapan malam melewati lorong menuju pintu belakang
bangunan kadipaten.
Di situ seorang penjaga sedang mondar-
mandir dengan tangan kanan memegang tombak.
Surti mendekati dengan sengaja membiarkan kain
yang melilit tubuhnya terangkat ke atas. Sehingga pahanya yang kuning mulus
tersingkap. Melihat Surti, prajurit itu segera memberi
hormat sambil menunduk. Surti tersenyum. Lalu
dia pura-pura jatuh seraya cepat menarik kain-
nya, hingga terlepas. Sehingga tubuh Surti tam-
pak setengah telanjang. Buah dadanya yang ra-
num terlihat jelas oleh prajurit itu. Serta merta prajurit membalikkan tubuh.
"Kenapa kau membalikkan badan" Aku tak
akan marah. Bukankah hanya kita berdua yang
ada di sini...?" kata Surti dengan suara lembut
"Tapi... tapi saya takut Kanjeng Putri. Saya,
saya bisa dibunuh oleh Senapati Pranggana...,"
kata prajurit itu masih membelakangi Surti.
Surti yang sudah berdiri di belakang praju-
rit segera menjulurkan lidah. Kemudian perlahan
tangannya membalikkan tubuh prajurit itu. Dan
begitu berhadapan, Surti dengan mendesah bagai
orang sedang mendambakan sentuhan-sentuhan
birahi, menempelkan dadanya yang tak tertutup
itu ke dada prajurit
Kontan saja prajurit yang sudah tak bisa
menahan birahinya menciumi dada Surti dengan
rakus. Namun tiba-tiba.....
"Ukh...!" prajurit itu memekik tertahan dengan mata melotot. Kemudian tubuhnya
am-bruk, dengan leher berlubang. Surti tampak ter-
senyum puas. Dia mengambil tombak dan meng-
hujamkan ke perut prajurit itu. Lalu dia tertawa-tawa senang melihat darah segar
muncrat. Bagai-
kan serigala yang haus dan lapar Surti mengisap
darah itu sepuas-puas hatinya.
Kemudian setelah membersihkan mulutnya
yang penuh darah, Surti meninggalkan prajurit
sial itu. Lolongan anjing hutan terdengar melengk-
ing nyaring di kejauhan, dari hutan sebelah barat Kadipaten Balasutra.
Malam pun semakin larut. Suasana terasa
sunyi dan sepi. Angin menghembus perlahan di
kegelapan malam yang mencekam itu.
* * * Pada saat yang bersamaan, di tempat per-
sembunyian Nenek Bongkok, Surti asli tengah be-
rusaha mencari jalan keluar dari tempat iblis itu.
Namun selalu gagal. Karena Nenek Bongkok yang
menyeramkan itu selalu tahu apa yang akan di-
perbuat Surti. Akhirnya Surti nekat. Apa pun akibatnya
dia harus keluar dari tempat neraka itu. Pada
saat Nenek Bongkok sedang semadi, Surti yang
berhasil membuka tali pengikat pintu, dengan
menahan napas keluar dari kamar yang lebih mi-
rip kurungan itu. Dengan mengendap-endap dia
melangkah menuju lubang besar yang merupakan
pintu masuk dan keluar tempat itu.
Suasana seram semakin menyelimuti diri
Surti yang kini sudah berada di mulut pintu ke-
luar dari ruangan seperti goa itu. Sejenak Surti menoleh ke belakang, melihat
apakah Nenek Bongkok masih semadi. Ternyata Nenek Bongkok
masih semadi dengan memejamkan kedua ma-
tanya. Bagai patung, tak bergerak sedikit pun
meski ada nyamuk atau binatang lain yang meng-
gigit bagian tubuhnya.
"Aku harus menggunakan kesempatan ini
sebaik-baiknya...," gumam Surti dalam hati. Lalu dia melompat keluar. Wajahnya
nampak agak lega
begitu berada di luar. Namun mendadak hatinya
merasa ngeri dan takut, ketika sadar bahwa di
luar gelap gulita. Surti menghela napas panjang
dan mengeluh. Ternyata usahanya sia-sia. Den-
gan perasaan sedih Surti akhirnya berdiam diri di mulut pintu yang mirip goa
itu. Badannya melorot lemas hingga terduduk dan bersandar di dinding
batu. Isak tangisnya mulai terdengar lirih.
"Hi hi hi..., Cah Ayu! Jangan coba-coba kau pergi dari sini, kalau kau masih
ingin lebih lama hidup...!" Terdengar suara Nenek Bongkok yang serak dan
mengandung gaib.
Dengan gemetaran istri Senapati Prangga-
na itu memberanikan diri untuk menoleh. Na-
mun, ternyata Nenek Bongkok masih tetap ber-
semadi. Surti jadi heran. Siapa tadi yang berbica-ra. Ketika Surti kembali
menoleh ke arah suara,
tahu-tahu Nenek Bongkok sudah ada di situ.
Bahkan berdiri di dekat Surti yang ketakutan dan gemetaran. Surti coba melirik
lagi ke dalam, dan masih terlihat Nenek Bongkok bersemadi.
Jadi siapa orang yang berdiri di dekatnya
ini" Rupanya dengan mengerahkan ilmu 'Bala
Sewu' yang mampu menjelma jadi seribu Nenek
Bongkok mencoba mengecoh Surti. Jadi yang du-
duk semadi itu adalah jelmaannya, sedang yang
berdiri di dekat Surti raga aslinya.
"Rupanya kau ingin mendapat ganjaran da-
riku..."! Hi hi hi...!" kata Nenek Bongkok. Lalu dengan tongkatnya dia menyodok
tubuh Surti untuk menyuruh masuk.
Dengan pasrah Surti melangkah kembali
masuk ke ruangan dalam. Hatinya dipenuhi pera-
saan yang tak karuan.
"Hyang Widhi, lindungi hamba-Mu ini. Beri
kami kekuatan dan ketabahan menghadapi co-
baan ini. Aku mohon ampunan.... Aku pasrah,
semua kuserahkan pada-Mu!" begitu suara hati Surti, ketika berada kembali di
dalam kamar yang lebih pantas disebut kurungan. Ukurannya kecil,
hingga jika masuk Surti harus membungkuk. Di
dalam pun dia terus-menerus duduk, tak bisa
berdiri. Sedang di kamar sebelah, ular-ular terus merayap ke sana kemari dengan
suara desisan yang mengerikan.
Lalu Nenek Bongkok yang berada di depan
Surti menghilang begitu saja. Sedangkan yang
tengah bersemadi kini mulai menghela napas da-
lam-dalam, kemudian mendengus. Matanya yang
selalu merah, melirik ke arah Surti. Sementara
Surti semakin pucat dan gemetaran, karena me-
rasa akan menerima ganjaran dari si Nenek
Bongkok itu. Tiba-tiba kepala Nenek Bongkok terlepas
dari tubuhnya. Kepala itu melayang masuk ke
tempat Surti yang sedang ketakutan dan menan-
gis. Surti kaget bukan main ketika tahu bahwa
kepala si Nenek menempel di tiang tempat taha-
nan itu. Mulutnya menyeringai lalu tertawa-tawa
mengerikan. "Aaa.... Tolooong...! Aaawww...!" Surti menjerit-jerit histeris melihat kepala
yang lehernya terus meneteskan darah. Namun darah itu berwar-
na kuning serta berbau anyir. Mendadak Surti ja-
di mual dan muntah-muntah, bahkan kemudian
pingsan. "Hi hi hi...! Itulah ganjarannya, kalau mau melawan kehendakku.... Semestinya
aku membunuhmu! Tapi aku ingin Pendekar Gila menyak-
sikan bagaimana aku menyiksamu. Hi hi hi...!
Dan, suamimu saat ini mungkin, sudah mampus
oleh perempuan jelmaanku itu...! Hi hi hi...!" suara Nenek Bongkok bergema
seperti suara gaib
yang mengerikan....
Lalu kepala itu kembali melayang dan me-
nempel di tubuhnya lagi sambil terus terkekeh-
kekeh. * * * Pagi itu Pendekar Gila dan Dogol berada di
Desa Kawulan. Pendekar Gila sangat terkejut ke-
tika melihat keadaan desa itu telah menjadi se-
perti desa mati. Tak seorang pun yang tampak
berkeliaran di jalan maupun di depan rumah
penduduk. Rumah-rumah dalam keadaan tertu-
tup dan sepi. "Gol, pasti ada sesuatu yang tidak beres...,"
kata Sena pada Dogol yang berjalan di sisi ki-
rinya. "Ya," jawab Dogol pendek. Matanya melirik ke kiri dan kanan. Bibirnya
yang tebal bergoyang-goyang seperti orang baca mantera. Namun tak
ada suara yang keluar. Rupanya Dogol mulai ke-


Pendekar Gila 34 Nenek Bongkok di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

datangan rasa takutnya.
Desa Kawulan sudah porak poranda. Di
sana sini tampak berantakan. Prajurit yang ke-
marin dikirim oleh Senapati Pranggana untuk
berjaga-jaga mati semua. "Siapa yang berbuat kejam seperti ini..."!" gumam Sena
lirih, ketika melihat mayat-mayat bergelimpangan. Mereka tak
hanya lelaki, tapi juga anak-anak dan perem-
puan. Semuanya pucat seperti kehabisan darah.
Belum sempat Sena dapat menemukan ja-
waban, tiba-tiba....
Zing, zing, zing...!
Beberapa anak panah meluncur ke arah
Pendekar Gila dan Dogol. Dengan cepat Sena me-
narik tubuh Dogol untuk menghindar dari anak-
anak panah itu. Tubuhnya langsung berjumpali-
tan. Begitu juga yang dilakukan Dogol. Tubuh
gendut itu bergulingan beberapa kali. Bersamaan
dengan itu Pendekar Gila dengan cepat melancar-
kan serangan jarak jauh.
Jglarrr...! "Aaa...!"
Terdengar teriakan dari seseorang yang
bersembunyi di balik pepohonan. Lalu berlompa-
tan lima orang tanpa kepala. Mereka bertelanjang hanya memakai cawat. Tubuh
kelima orang itu
tampak penuh luka. Sedangkan jari-jemari mere-
ka berkuku panjang. Kelimanya tiba-tiba melesat
hendak menerkam Dogol yang berlagak seperti
pendekar, dengan memperagakan gerakan jurus-
jurus silat Sena yang melihat itu membiarkan sa-
ja. Dogol yang melihat kelima manusia tanpa
kepala itu menyerangnya, terpaksa melawan sebi-
sa-bisanya. Dalam keadaan yang membahayakan
jiwanya, Dogol tiba-tiba mendapat bantuan tena-
ga dan ilmu dari Sena. Tak diduga dia dapat me-
lakukan gerakan jurus 'Si Gila Menari Menepuk
Lalat'! Seketika dua manusia tak berkepala itu
mengerang dan roboh, tapi bangkit lagi. Melihat
itu Dogol kemudian kabur, mendekati Pendekar
Gila sambil berseru minta tolong. Namun Sena
diam saja, bahkan melenting ke atas meninggal-
kannya. Sena hinggap atas atap rumah pendu-
duk. Terpaksa untuk kedua kalinya Dogol mem-
beranikan diri menghadapi dua manusia tak ber-
kepala itu. Sedangkan tiga lagi menghadapi Sena
yang berada di atas atap.
Tahu bahwa lawan kali ini makhluk jeja-
dian, atau mayat, Pendekar Gila segera menggu-
nakan ajian 'Tamparan Sukma'. Sebuah jurus
ampuh untuk melawan roh, hantu, dan sebang-
sanya dengan menggunakan kekuatan sukma.
Gerakan Pendekar Gila nampak lamban, tapi se-
benarnya sangat dahsyat
Jglarrr...! Ketiga manusia tanpa kepala itu menge-
rang. Tubuh mereka terbakar lalu jatuh ke ba-
wah. Sena melesat mengejar. Namun seketika ke-
tiga makhluk itu hilang dan yang tampak hanya
asap mengepul lalu hilang.
Sementara itu Dogol yang menghadapi ke-
dua manusia tanpa kepala, tampak terdesak. Se-
na membiarkan walau Dogol sempat berseru min-
ta tolong. "Edan...! Kakang Sena membiarkan aku.
Celaka, aku harus berbuat sesuatu...!" gumam Dogol dalam hati, sambil terus mengelakkan serangan kedua lawannya dengan
berjungkir balik.
Tiba-tiba tubuh Dogol bisa melenting ke
atas dan mendarat atap rumah penduduk. Dogol
yang tak menyangka dirinya bisa berbuat begitu
merasa kaget juga. Lalu tertawa-tawa, sambil
membusungkan dada.
"He he he.... Aku bisa melompat, he he
he...!" gumamnya dengan tawa terkekeh. Namun Dogol menjadi lupa dan lengah.
Hingga.... "Huaaa...!"
Dogol kaget ketika kedua manusia tanpa
kepala tahu-tahu sudah ada di kanan dan ki-
rinya, siap untuk menerkamnya. Tanpa pikir pan-
jang lagi, sambil teriak sekuat tenaga, dia han-
tamkan kepalan tinjunya dengan cepat ke dada
kedua lawannya. Pukulan keras dan telak itu
membuat kedua manusia tanpa kepala roboh dan
jatuh. Dogol kaget sendiri. Dia melihat seluruh
tubuhnya sendiri sambil mengerutkan kening, la-
lu tertawa-tawa begitu melihat lawannya roboh.
Namun kegembiraan Dogol hanya sesaat. Seketi-
ka kedua manusia aneh itu melompat kembali
hendak menghajar Dogol.
Pada saat itu Sena yang melihat Dogol da-
lam bahaya, dengan cepat melenting ke udara.
Dan dengan tendangan keras dia menghajar ke-
dua manusia tanpa kepala sambil menyelamatkan
Dogol. Dibawanya si Gendut itu menjauh. Semen-
tara kedua manusia tanpa kepala itu terpental
dan jatuh ke tanah. Setelah menurunkan Dogol,
Pendekar Gila segera mengeluarkan ajian
'Tamparan Sukma'.
"Aaawww...!"
Kedua makhluk itu meraung-raung. Tubuh
mereka terbakar, lalu menghilang dengan me-
ninggalkan kepulan asap. Sena menghela napas
dalam-dalam. Dogol sambil bernapas ngos-ngosan
seperti habis lari jauh, memandang dengan pera-
saan aneh. "Edan...! Rupanya mereka jin...!" gumam Dogol lirih, lalu terduduk, lemas.
Sena tersenyum-senyum melihat Dogol ke-
lelahan. Kemudian memeriksa keadaan, dia men-
cari seorang warga yang mungkin masih hidup,
untuk diminta keterangan. Siapa yang berbuat
keji seperti itu, hingga hampir semua rumah ter-
bakar habis dan penduduk desa mati dengan
sangat mengerikan.
Ketika Sena hendak pergi karena merasa
tak ada lagi yang bisa ditanya, tiba-tiba terdengar rintihan seseorang. Suara
rintihan seorang lelaki.
Cepat Sena menuju arah suara. Ternyata seorang
lelaki setengah tua yang lengannya sudah bun-
tung. Dan mata sebelah kirinya sudah tak ada.
Darah terus mengucur dari lubang matanya.
"Ya, Jagad Dewa Batara..."!" seru Sena ketika melihat lelaki malang itu,
"Kuatkan hatimu, Ki...! Tahan, tahan, Ki.... Aku akan coba mengo-batimu...,"
ujar Sena kemudian.
Sena segera mengeluarkan obat dari kan-
tung yang dia simpan di balik ikat pinggangnya.
Lalu memberikan sebutir obat pada lelaki itu.
"Makanlah, Ki. Semoga obatku ini dapat
mengurangi rasa saktimu...," kata Sena lagi. "Dogol...! Cepat kemari...!"
serunya memanggil Dogol yang tengah melepas keletihannya.
Dogol yang mendengar panggilan itu segera
lari menuju arah Sena.
"Ya, Kakang...!" seru Dogol lirih, begitu melihat keadaan lelaki di hadapannya.
Lalu dia berjongkok di sisi Sena.
"Bantu Bapak ini untuk duduk. Biarkan
dia bersandar di tubuhmu...!" kata Sena penuh wibawa. Lalu menggaruk-garuk
kepala sambil nyengir menatap lelaki malang itu.
Beberapa saat kemudian lelaki itu mulai
nampak segar. Darah yang tadi mengalir telah
berhenti. Dan rasa sakitnya telah hilang. Lelaki itu mulai bisa menghela napas
lega. "Terima kasih, Tuan..., terima kasih...!" ka-ta lelaki itu sambil menundukkan
kepala beru- lang kali. "Nama saya Lankuti.... Saya penduduk sini." "Sudahlah, Ki! Kau
sekarang sudah sehat.
Aku hanya ingin tanya, siapa yang berbuat ini...?"
tanya Sena dengan sabar.
Sejenak lelaki itu mengingat-ingat kejadian
mengerikan beberapa waktu yang baru lalu.
"Makhluk itu mengerikan, wujudnya seper-
ti wanita tua. Tongkatnya dia hantamkan tiga kali di tanah. Tiba-tiba muncul
makhluk-makhluk da-ri kubur. Dia membangkitkan mayat-mayat itu
dan memerintahkannya untuk membunuh serta
membakar rumah penduduk. Mereka mengisap
darah manusia...! Mengerikan.... Untung aku da-
pat menyelamatkan diri, tapi lenganku buntung,
kena hantaman tongkat si Perempuan Tua itu...,"
tutur orang tua itu yang mengaku bernama Lan-
kuti. "Lantas...?"
"Kemudian mereka begitu saja pergi, lalu
menghilang...," lanjut Ki Lankuti, lalu menunduk sedih mengenang peristiwa itu.
"Tak salah dugaanku. Nenek Bongkok itu
melampiaskan kemarahannya pada orang-orang
tak berdosa. Ini semua gara-gara aku gagal me-
nangkap dan membunuhnya...," gumam Sena da-
lam hati. "Apakah kita tinggal di sini, Kakang Se-
na...?" tanya Dogol.
"Tidak, kita bawa orang ini. Kita cari tem-
pat yang aman. Lalu aku akan ke tempat Nenek
Bongkok itu...."
Dogol segera membantu Ki Lankuti berdiri,
untuk melanjutnya melangkah pergi dari Desa
Kawulan yang kini dibumihanguskan itu. Namun
bam saja mereka beberapa langkah, mendadak....
"Tuan Pendekar...! Tunggu...!"
Terdengar seruan dari seseorang. Sena dan
Dogol membalikkan badan, memandang ke arah
orang yang berseru tadi. Nampak dua orang ber-
larian menghampiri Pendekar Gila.
"Oh, kau Paman Sumo..." Bagaimana kau
bisa kemari. Ada apa..?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kami sejak kemarin mencari-cari Tuan
Pendekar. Keadaan kadipaten penuh keanehan....
satu persatu prajurit pengawal mati secara men-
gerikan, kehabisan darah. Kami belum dapat me-
nemukan pelakunya. Maka Senapati Pranggana
mengutus saya untuk mencari Tuan Pendekar...,"
tutur Ki Sumo pada Sena.
"Heh..."!"
Dogol memekik kaget. Kedua bola matanya
membelalak. Demikian juga dengan Ki Lankuti
yang lalu menggeleng kepala. Namun Sena nam-
pak tenang, meski sebenarnya dalam hati tersen-
tak mendengar penjelasan Ki Sumo itu.
"Gawat, mungkin si Surti yang ada di kadi-
paten bukan Surti... Ah, apa mungkin..."!" tanya Sena dalam hati.
"Tuan Pendekar dimohon oleh Senapati
Pranggana untuk memecahkan masalah itu. Un-
tung kami menemukan Tuan Pendekar di sini..."
kata Ki Sumo dengan nada lemah.
"Aku masih mempunyai tugas yang lebih
penting, Paman. Kalau begitu kalian pergi ke ka-
dipaten, awasi terus wanita itu. Dogol, tentunya
kau sudah mengerti...," kata Sena.
"Ya, Kakang...," jawab Dogol.
"Wanita" Maksud Tuan Pendekar, wanita
yang mana...?" tanya Ki Sumo keheranan.
"Surti...!" jawab Sena singkat.
"Kanjeng Putri?" gumam Ki Sumo sambil
mengerutkan kening.
"Sudah, cepat pergi! Jangan sampai dia lo-
los! Usahakan dia tetap di kadipaten sampai aku
datang. Sampaikan pesanku ini juga pada Sena-
pati Pranggana...!" kata Sena dengan suara tegas.
Lalu pergi meninggalkan mereka.
"Aneh, apa maksud Tuan Pendekar itu"
Benarkah Kanjeng Surti yang berbuat itu. Kena-
pa...?" tanya Ki Sumo pada Dogol.
"Nanti Ki Sumo tahu sendiri. Ayo cepat,
nanti kita terlambat!" ajak Dogol, kemudian melangkah sambil membopong Ki
Lankuti, dibantu
oleh prajurit pengawal itu.
9 Di tempat persembunyian, Nenek Bongkok
tengah tertawa terkekeh-kekeh. Dia tengah me-
mainkan ular-ular dengan tongkatnya. Sebagian
ular melilit di tubuhnya. Namun Nenek Bongkok
nampak seperti tak merasa ngeri atau takut.
Bahkan seekor ular berbisa, digigit kepalanya,
sampai putus lalu dimakan. Kemudian sisanya di-
lempar ke arah Surti yang berada dalam kurun-
gan. Surti menjerit-jerit. Nenek Bongkok semakin senang.
"Hi hi hi...! Cah Ayu, setelah selesai aku
memakan ular-ular ini, aku akan membunuhmu.
Agar aku bertambah muda dan cantik seperti wa-
jahmu. Hi hi hi...! Tenang-tenang saja dulu, ya....
He he he...!" ujar Nenek Bongkok sambil kembali menggigit ular-ular berbisa itu.
Sedangkan ular piton yang panjangnya delapan depa tampak me-
rambat di dinding batu ruangan itu. Lidahnya te-
rus menjulur ke arah Surti.
"Hyang Widhi, lindungi aku...! Beri aku ke-
sempatan untuk tetap hidup.... Tolooong hamba-
Mu ini... oh...," begitulah keluhan Surti yang semakin nampak pucat dan pasrah.
Tubuhnya te- rus gemetaran. Menggigil menahan takut.
Di luar, sesosok bayangan berkelebat lalu
melenting ke udara dan mendarat dengan ringan-
nya. Seorang pemuda tampan berambut ikal den-


Pendekar Gila 34 Nenek Bongkok di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gan pakaian rompi kulit ular. Sejenak mata pe-
muda itu menyelidik ke sekeliling tempat yang
sunyi, sepi itu.
Sementara matahari sudah mulai condong
ke barat. Sinarnya tampak kuning kemerahan
menembus dedaunan di Lembah Seribu Iblis. Pe-
muda itu menelengkan kepala memasang telinga,
lalu melompat mendekati sebuah lubang besar
yang menyerupai goa.
Lubang itu ditutupi akar-akar serta pepo-
honan rambat. Pemuda berpakaian rompi kulit
ular yang tak lain Pendekar Gila segera menyusup
ke dalam. Dan sekejap dia sudah berada dalam
sebuah tempat yang pengap mirip goa itu.
Nenek Bongkok masih sibuk memakani
ular-ular piaraannya. Wajahnya yang sudah keri-
put dan seram itu semakin menakutkan. Pipi dan
mulutnya yang berlumuran darah, dibiarkan begi-
tu saja. Lalu dia duduk bersila menghadapi Surti yang sebentar-sebentar melirik
ke arahnya. Surti tak tahan dengan bau amis yang menyengat itu,
ketika Nenek Bongkok melemparkan daging ular
ke dekatnya. Apalagi ketika dilempari seekor ular yang sudah mati, tapi masih
ada kepalanya. Surti menjerit-jerit histeris.
Pendekar Gila kini sudah dapat melihat ke
ruangan tempat Nenek Bongkok yang masih asyik
memakan ular-ular itu. Ketika Sena hendak me-
masuki ruangan, tiba-tiba seekor ular hampir te-
rinjak kakinya. Sena cepat menghindar, sambil
melompat ringan.
Nenek Bongkok sudah banyak memakan
ular peliharaannya. Lalu dia mengambil cawan
berisi arak bercampur darah. Ditenggaknya cai-
ran berwarna merah itu, lalu menepuk-nepuk pe-
rutnya yang kekenyangan.
Pada saat itu Pendekar Gila menggunakan
kesempatan untuk menghantarkan pukulan jarak
jauh yang dahsyat ke arah Nenek Bongkok.
Wuttt! Glarrr! "Ekkkh...!"
Nenek Bongkok memekik pendek. Seketika
itu juga dia melancarkan serangan dengan me-
lempar tongkatnya. Tongkat meluncur ke arah sa-
saran. Namun Pendekar Gila dengan tangkas me-
nangkis, bahkan berhasil menangkap tongkat itu.
Kemudian dengan gerakan cepat pula pemuda itu
melompat mendekati tempat Surti ditahan. Dibu-
kanya pintu ruangan tahanan itu.
Surti kaget melihat kedatangan Pendekar
Gila. Wanita itu seakan mendapat semangat baru
dan keberanian begitu melihat Sena.
"Bawa tongkat ini! Dia tak akan berani
mendekatimu, karena tongkat ini akan bisa me-
musnahkan dirinya. Cepat lari...!" perintah Sena sambil terus melancarkan
serangan ke arah Nenek Bongkok dengan pukulan jarak jauh yang
mengandung hawa panas dan dapat menghan-
curkan apa saja.
Jglrrr! Serangan Pendekar Gila dapat dielakkan
oleh Nenek Bongkok. Angin pukulan itu meng-
hantam dinding batu hingga hancur berantakan.
"Kurang ajar! Bocah edan, mampus kau!
Hih...!" Nenek Bongkok mengeluarkan serbuk be-racun dari kuku-kukunya yang
runcing dan pan-
jang. Serbuk berwarna ungu itu menebarkan bau
busuk. Pendekar Gila yang sudah melenting ke
arah pintu keluar, segera melancarkan pukulan
'Inti Brahma'. Seketika tangan kanan yang dihen-
takkan mengeluarkan bola-bola api, menghajar
Nenek Bongkok itu. Salah satunya mengenai tu-
buh si Nenek. Bersamaan dengan itu Pendekar
Gila melompat keluar, menghampiri Surti yang
menunggu. "Sebaiknya kau cepat ke kadipaten, mereka
memerlukan bantuanmu. Jaga tongkat itu. Biar
aku menghadapi perempuan terkutuk itu. Ce-
pat..,!" perintah Sena.
"Terima kasih, Tuan Pendekar.,.. Jasamu
tak akan kulupakan...," kata Surti lalu melesat pergi. Kemudian Pendekar Gila
sengaja memancing Nenek Bongkok agar mengejar dirinya.
"Nenek, Nenek Bau Busuk, keluar! Ayo,
tangkap aku! Riwayatmu tak akan lama lagi...!"
seru Pendekar Gila. Sementara itu Surti berlari kencang, bagaikan seorang
pendekar wanita yang
memiliki ilmu cukup tinggi. Entah dari mana Sur-
ti mendapat keberanian dan lari cepat itu. Mung-
kin juga karena saat ini dirinya menguasai tong-
kat sakti Nenek Bongkok. Ternyata benar. Siapa
saja yang menguasai tongkat berkepala tengkorak
itu akan timbul dalam dirinya kekuatan dan ke-
beranian. "Aku harus secepatnya sampai di kadipa-
ten. Perasaanku tak enak. Mudah-mudahan saja
Pendekar Gila mampu mengatasi si Nenek Kepa-
rat itu!" kata Surti dalam hati.
Dia terus melesat cepat melompati tebing,
menyeberangi sungai dan melintasi hutan jati.
Namun larinya mendadak terhenti, ketika
Surti melihat sosok orang merangkak-rangkak
mencoba bangun.
"Hah..."!" gumam Surti, lalu mendekati sosok itu. Ternyata seorang wanita
setengah baya. Wanita itu merangkak berusaha bangun, tapi ter-
jatuh. Surti semakin dekat dan jongkok.
"Ibuuu..."!" pekik Surti ketika mengetahui bahwa perempuan itu ternyata ibunya,
Nyi Kuntari. Wajahnya tampak pucat dan lusuh.
"Ibuuu..,. Kenapa bisa jadi begini, Bu,,.?"
tanya Surti sambil memeluk erat Nyi Kuntari.
"Su.,,. Surti, perempuan tua itu iblis, Nak!
Suamimu tentu dalam bahaya.... Ada perempuan
mirip kau di kadipaten... dia... dia... ukh...!" suara Nyi Kuntari serak dan
terputus-putus.
"Kurang ajar...! Rupanya nenek edan itu
benar-benar ingin menghancurkan keluargaku
dan kadipaten....!" gumam Surti geram.
"Ibu tak kuat lagi, Surti.... Pergilah, biar Ibu di sini, Nak...," kata Nyi
Kuntari dengan suara lemah. "Tidak.... Ibu harus ikut aku, agar Ibu melihat aku
membunuh perempuan jejadian itu...,"
jawab Surti dengan geram.
Lalu Surti menuntun Nyi Kuntari mening-
galkan tempat itu dengan berbagai perasaan.
Dendam, marah, dan sedih bercampur di hatinya,
Bagai mendapat kekuatan dari luar, Surti bisa
berjalan dengan cepat sambil membawa ibunya.
Di kadipaten, Ki Sumo, Dogol, dan Ki Lan-
kuti kini sudah memasuki pendopo. Mereka ber-
pura-pura seakan tak mengetahui masalah. Na-
mun ketiga orang itu telah siap dan mempunyai
rencana. "Kau masuk ke sana, periksa apa Senapati
Pranggana ada di kamarnya... Biar aku berjaga di sini! Dan Ki Lankuti, tolong
jaga pintu sebelah
sana...," kata Ki Sumo lirih sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
Dogol segera mengendap-endap memasuki
lorong yang menuju kamar Senapati Pranggana.
Lalu hilang dari pandangan Ki Sumo. Sementara
Ki Lankuti sudah bersembunyi di balik pilar,
menjaga di situ. Walaupun lengan kirinya telah
buntung, Ki Lankuti nampak tegar. Hal itu karena pengaruh obat dari Pendekar
Gila. Tangan kanannya menggenggam sebilah golok panjang. Siap
menghajar lawan.
Suasana sunyi dan sepi di pendopo, se-
hingga terasa mencekam dan mencemaskan me-
reka. "Aneh, ke mana para prajurit..." Apa mereka ada di ruang belakang..."!"
tanya Ki Sumo dalam hati.
Sementara Dogol kini sudah sampai di pin-
tu kamar Senapati Pranggana. Dengan hati-hati
Dogol melongok ke dalam, setelah melihat pintu
kamar terbuka sedikit. Erat-erat tangan kanan-
nya menggenggam sebilah golok.
Di dalam kamar dilihatnya seorang perem-
puan dengan buas menjilati tubuh Senapati
Pranggana. Lidahnya panjang dan bercabang, ba-
gai lidah ular! Dogol terbelalak kaget, ketika tahu bahwa itu Surti jelmaan.
Senapati Pranggana tak
bergerak sama sekali. "Apakah Senapati Pranggana sudah mati..."! Ah...!" gumam
Dogol dalam ha-ti.
Lalu Dogol melongok lagi ke dalam. Namun
wanita itu sudah tidak ada di dalam kamar.
Hanya Senapati Pranggana yang masih telentang
tidur di atas ranjangnya. Baru saja Dogol ingin
melangkah masuk, tiba-tiba....
Plak plak! "Aaawww...!"
Dogol memekik kesakitan karena kena se-
buah tepakan dari belakang. Tubuhnya yang gen-
dut terguling. Dogol segera bangkit dan ternyata Surti jelmaan sudah berdiri di
hadapannya. Mulutnya yang berlumuran darah segar menyeringai
menyeramkan. Matanya yang semula sayu indah,
perlahan-lahan berubah menakutkan.
"Kurang ajar...! Perempuan iblis...!
Heaaa...!" Dogol dengan gerakan cepat seperti layaknya gerakan Pendekar Gila
membabatkan golok ke tubuh Surti. Namun Surti jelmaan Nenek
Bongkok itu tak menghindar sedikit pun.
Cras! Cras! Golok Dogol membabat tubuh wanita itu
dua kali. Namun anehnya tubuh itu tak menga-
lami luka atau putus. Hanya tergores, lalu gore-
san itu hilang. Dogol kaget. Bibirnya yang agak
tebal semakin dower. Matanya melotot, tak per-
caya dengan apa yang dilihatnya.
"Hi hi hi.... Kau manusia goblok! Sekarang
terimalah ini...!"
Dengan gerakan yang sulit diikuti mata, ti-
ba-tiba tamparan Surti jelmaan sudah mendarat
di pipi Dogol. Lelaki gendut itu terpental jatuh di ranjang tempat Senapati
Pranggana tidur. Dogol
meringis. Dia sempat melirik ke arah Senapati
Pranggana yang tidur. Dan alangkah kagetnya
Dogol ketika melihat Senapati Pranggana sudah
mati. Lehernya terluka bekas gigitan.
"Wajah, walahhh..."! Celaka...! Aku harus
bisa lolos dari sini!" gumam Dogol lirih. Lalu dengan pura-pura hendak
menyerang, dia membuka
gerakan aneh dan lucu. Kemudian sambil berte-
riak, dia bukannya menyerang melainkan melom-
pat ke arah jendela
Brakkk...! Dogol berhasil menjebol jendela dan lolos.
Suara keras itu terdengar oleh Ki Sumo dan Ki
Lankuti. Disusul terdengar bentakan seorang wa-
nita yang mengejutkan Ki Sumo. Cepat dia me-
lompat memasuki lorong. Namun baru sekejap,
tubuhnya tahu-tahu sudah terpental dan jatuh
tersungkur ke lantai.
Surti jelmaan dengan wajah bengis dan
mata bagai mata iblis menyeringai. Lalu melan-
carkan serangan gencar ke arah Ki Sumo yang
masih telentang di lantai. Namun Ki Lankuti ce-
pat melompat mencoba menghalangi, dengan
memapaki serangan dahsyat Surti jelmaan.
Plak! Plak! Krek..! "Aaa...!"
Ki Lankuti menemui ajalnya. Surti jelmaan
setelah menghantam dua kali dengan pukulan, la-
lu mematahkan leher lelaki bertangan buntung
itu. Lalu mengisap darahnya. Ki Sumo segera
menggunakan kesempatan itu. Dengan gerakan
cepat Ki Sumo melompat sambil mengayunkan
pedangnya membabat kepala Surti jelmaan yang
sedang mengisap darah Ki Lankuti.
Cras, cras! "Aekh!" Surti jelmaan memekik pendek.
Seketika itu kepalanya putus dan jatuh ke lantai.
Namun sekejap kemudian melayang, dan menem-
pel kembali di tubuhnya sambil tertawa-tawa.
"Hi hi hi,..! Manusia bodoh kalian ini.... Kalian akan mati semuanya, sebelum
Pendekar Gila datang...!" serunya dengan suara lantang.
"Edan...! Gusti..., kutuklah wanita iblis ini!
Beri aku kekuatan untuk menghadapinya...!" gumam Ki Sumo lirih, sambil terus
menatap Surti jelmaan tak berkedip.
Pada saat itu Dogol yang meringis merasa-
kan sakit di pinggangnya, diam-diam melangkah
mendekat. Lalu bersembunyi di balik tiang pen-
dopo. Ki Sumo melihatnya. Dogol cepat memberi
isyarat dengan gerakan tangan agar Ki Sumo
memancing wanita itu keluar. Ki Sumo mengerti,
maka segera kembali membuka jurus dan menye-
rang Surti jelmaan.
"Heaaa...!"
Surti jelmaan berusaha memapaki seran-
gan itu. Dengan cepat Ki Sumo mengurungkan
babatan pedangnya. Dan pada saat itu Dogol me-
lompat dan dengan cepat menusukkan goloknya
ke tubuh Surti jelmaan.
Jlep!

Pendekar Gila 34 Nenek Bongkok di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ukh!"
Surti jelmaan hanya memekik pendek, lalu
dengan cepat tangan kirinya menghajar Dogol,
Namun Dogol mengelak dengan merundukkan
kepala, sambil mencabut goloknya yang menan-
cap di tubuh wanita iblis itu. Tubuh wanita itu
tak berdarah atau terluka.
Ketika melihat Dogol dan Ki Sumo berlari
keluar, dengan geram Surti jelmaan mengejar me-
reka. Mulutnya meraung-raung keras bagaikan
harimau. Sementara Ki Sumo dan Dogol telah
bersiap-siap menghadapinya.
"Kita permainkan dia sedapat mungkin,
sambil menunggu Tuan Pendekar datang...," bisik Ki Sumo dan Dogol
"He he he.... Rencana yang bagus. Aku se-
tuju, Tapi.,." Bagaimana kalau salah satu dari ki-ta mati duluan" Aku ngeri.
Belum mau mati," ujar Dogol lirih dengan nada sedih. Bibirnya tambah
dower. "Ah.... Mati dan nasib manusia Hyang Widhi yang menentukan, Gol...,"
sahut Ki Sumo mencoba memberi sedikit keyakinan pada Dogol.
"Iya, ya.... Kalau sekarang tidak mati, nanti juga mampus...!" gumam Dogol
seperti bicara pa-
da diri sendiri.
Pada saat itu Surti palsu sudah muncul.
Sepasang matanya menyorot tajam dan bagai
mengandung gaib. Dogol dan Ki Sumo tampak
melongo, seperti terkena pengaruh sorot mata itu.
* * * "Sekarang kau manusia-manusia jelek,
akan kukirim ke akherat...!" seru Surti jelmaan dengan geram. Lalu dia melompat
hendak menerkam Ki Sumo dan Dogol.
"Heeettt...!"
"Hah..."!"
Ki Sumo dan Dogol membelalak kaget, me-
lihat gigi taring wanita itu seketika menyeringai.
Lidahnya yang menjulur panjang bercabang di
ujungnya, seperti lidah ular!
Dogol dan Ki Sumo berusaha menghindar,
tapi wanita jelmaan itu lebih cepat
"Aaa...!" Ki Sumo dan Dogol menjerit kesakitan, ketika terkena cakaran wanita
iblis itu. Seketika kedua orang itu terhuyung-huyung melin-
tir sambil mengerang dan memegangi wajahnya
masing-masing. Mereka merasakan perih dan pa-
nas di bekas cakaran itu.
"Perih... panas...!" seru Ki Sumo.
Sedangkan Dogol hanya mengaduh-aduh
sambil memegangi pipi sebelah kirinya yang ter-
gores cakaran Surti palsu itu.
"Hi hi hi...! Kalian akan segera mampus!
Terimalah ini...!" seru Surti jelmaan. Lalu dengan gerakan aneh wanita itu
mendekati keduanya.
Ketika wanita itu hendak menerkam Dogol
dan Ki Sumo dari luar, muncul Surti dan Nyi
Kuntari. Tanpa basa-basi lagi Surti asli melompat dan melenting di udara sambil
mengarahkan tongkat ke arah Surti jelmaan yang hendak
menghabisi Dogol dan Ki Sumo.
Suara teriakan nyaring mengejutkan Surti
jelmaan. Dia cepat menoleh ke arah Surti yang
masih di udara. Dogol dan Ki Sumo pun terkejut,
lalu menghindar. Sedangkan Surti jelmaan tak
sempat mengelakkan serangan Surti asli yang be-
gitu cepat Jlep...! Tongkat itu menembus dada wanita yang
mirip Surti. Dan secepat itu pula Surti kembali
mencabut tongkatnya.
"Aaakh...! Ukh...!" wanita jelmaan itu mengerang. Matanya melotot bagai mau
keluar dari kelopaknya. Lidahnya menjulur panjang.
Surti yang sudah seperti orang kemasukan
setan, tak puas sampai di situ saja. Dengan gerakan cepat dia menghantamkan
ujung tongkat berkepala tengkorak itu ke kepala wanita jelmaan yang mirip dirinya.
Prak! "Aaa...!" kembali lengkingan keras terdengar dari mulut wanita jelmaan itu.
Tubuhnya ro- boh ke tanah dan seketika itu hancur berkeping-
keping. Tak ada setetes pun darah yang keluar.
Hanya lendir-lendir berwarna kuning yang menji-
jikkan. Ki Sumo dan Dogol melongo sambil meng-
geleng-gelengkan kepala keheranan.
"Sungguh, seumur hidupku baru kini me-
lihat kejadian yang mengerikan ini. Hi hi hi....'"
gumam Dogol sambil bergidik.
Kepingan-kepingan daging itu pula lalu jadi
abu. Selanjutnya berubah asap dan mengepul ke
udara. Surti menghela napas lega. Nyi Kuntari,
ibunya Surti dengan wajah masih pucat mende-
kati anaknya. Surti memeluk sang Ibu, begitu ta-
hu Nyi Kuntari ada di sisinya. Matanya berkaca-
kaca. Ki Sumo dan Dogol mendekati sambil me-
megangi luka di pipi mereka. Dengan wajah sedih, Ki Sumo memberitahu pada Surti
tentang Senapati Pranggana.
"Kanjeng Surti, kami mohon maaf..., kami
tidak dapat menyelamatkan Kanjeng Senapati
Pranggana.... Wanita iblis itu telah mendahului
kita, membunuh Senapati Pranggana...."
Surti sudah tak bisa menangis lagi, karena
sudah merasakan sejak Pendekar Gila menyu-
ruhnya segera ke kadipaten. Hanya nampak sorot
matanya yang penuh kedukaan. Serta kepedihan
yang hebat. "Kenapa semuanya berakhir begini..." Ke-
napa tidak aku saja yang mati" Oh, Gusti, bagai-
mana nasibku..."!"
Surti masih dalam keadaan yang tidak me-
nentu. Dia berdiri mematung, memandang kosong
jauh ke depan. Lalu tiba-tiba dia berseru, "Anakku..."! Anakku..." Apakah dia
selamat.., apakah
dia selamat"! Oh, Anakku...!" Surti berlari seperti orang kesurupan, diikuti Ki
Sumo dan Nyi Kuntari.
"Anakku...!" teriak Surti terus berlari menuju kamarnya.
Surti mendobrak, pintu kamar yang ter-
kunci. Lalu segera dia memasuki kamar priba-
dinya. Dengan cepat dia menuju tempat tidur
bayi. Di sana dia melihat anaknya sedang tidur
pulas. "Anakku...?" suaranya lirih, "Apakah dia tidur atau mati..." Ah, tidak.
Anakku masih hi-
dup...," lanjutnya lalu mengangkat sang Bayi.
Ternyata anak itu memang masih hidup.
Surti yang tadi seperti orang gila, seketika wajahnya berubah cerah kembali.
Diciuminya sang
Anak berulang-ulang. Pada saat itu muncul Ki
Sumo, Dogol, dan Nyi Kuntari.
"Surti...," tegur ibunya lembut, Surti membalik dan tersenyum lebar.
"Ibu.... Ternyata Yang Maha Kuasa masih
melindungi anak yang tak berdosa ini. Oh terima
kasih, Gusti, terima kasih.... Kau telah menyelamatkan anakku, sebagai ganti
suamiku...," ucap Surti sambil menengadah, seakan dia bicara pada
Yang Maha Kuasa di atas sana.
"Ibu, sebaiknya aku melihat suamiku du-
lu...," kata Surti lagi, lalu segera pergi menuju
kamar Senapati Pranggana, yang juga kamarnya.
Dogol dan Ki Sumo mengikutinya. Sedangkan Nyi
Kuntari menggendong anak Surti menunggu di
kamar itu. "Oh, Kakang Mas..., Kakang Pranggana.
Maafkan aku, Kakang...! Aku ingin ikut dengan-
mu, Kakang... aku tak bisa hidup tanpamu, Ka-
kang Pranggana...," isak Surti sambil memeluk mayat suaminya yang pucat
kehabisan darah itu.
Lalu diam-diam Surd mengambil keris yang terge-
letak di dekat tempat tidur. Dan cepat dia men-
gangkat keris itu untuk bunuh diri.
Namun, dengan cepat Ki Sumo yang meli-
hat itu melompat dan menubruk tubuh Surti. Se-
dangkan Dogol cepat bergerak merebut keris di
tangan Surti. "Kanjeng Putri! Ingat, nyebut, Kanjeng Sur-
ti...! Bukankah Hyang Widhi sudah memberikan
keselamatan pada anak Kanjeng Surti" Ingat, sa-
darlah...! Bunuh diri tidak bisa menghilangkan
semua yang telah terjadi. Hyang Widhi akan ma-
rah jika Kanjeng Surti melakukan itu. Bunuh diri itu dosa...!" tutur Ki Sumo
dengan tegas, dan tetap menahan Surti.
Surti berangsur-angsur sadar dan menjadi
lemah, lalu terduduk di kursi dekat pembaringan.
Pada saat itu Nyi Kuntari muncul dengan meng-
gendong anak Surti. Wajah wanita setengah baya
itu nampak memelas, Surti bangkit dan meng-
hambur ke ibunya, lalu memeluk dengan tangis
kesedihan yang mengharukan.
Melihat hal itu Dogol dan Ki Sumo pun me-
rasa terharu. "Sudahlah Surti, semua ini kehendak Yang
Maha Kuasa.... Terimalah dengan hati lapang.
Kau harus ingat, sudah banyak prajurit, pengaw-
al, dan bahkan Rah Jati yang setia pun telah
menjadi korban orang jahat itu.... Ilmu sihir itu harus segera dimusnahkan...
Semoga Hyang Widhi melindungi dan memberikan kekuatan pada
Pendekar Gila yang sedang menghadapi Nenek
Keparat itu...," ujar Nyi Kuntari.
Surti kemudian menghela napas panjang,
setelah melepas pelukannya. Ditatapnya sang Ibu
dengan mata sayu. Kemudian beralih ke Dogol
dan Ki Sumo. "Terima kasih, Ki Sumo, dan juga kau Do-
gol. Tanpa kalian mungkin semuanya lebih bu-
ruk. Tapi aku harus membunuh Nenek Bongkok
dengan tongkat ini. Senjata makan tuan...," kata Surti dengan tegas.
"Surti..., bukankah Pendekar Gila sudah
berjanji akan menumpas nenek iblis itu" Sudah-
lah, tunggu saja di sini! Pendekar Gila pasti dapat melenyapkan perempuan busuk
itu...," kata
ibunya membujuk Surti agar mau mengerti. Na-
mun Surti sudah murka terhadap Nenek Bongkok
yang telah menyiksa batinnya.
"Aku dapat mengerti, Ibu mengkhawatirkan
jiwaku. Tapi, Bu. Aku harus membantu Pendekar
Gila sekaligus membalas sakit hatiku.... Maaf, Bu!
Aku hanya mohon doamu. Dan kumohon Ki Su-
mo dan Dogol, tolong urus suamiku! Aku akan
segera kembali dengan kemenangan!"
Selesai berkata begitu, Surti melesat pergi.
Nyi Kuntari, Ki Sumo, dan Dogol tak bisa mence-
gahnya lagi. Mereka hanya dapat memandangi
kepergian Surti yang menyimpan dendam itu.
10 Des! Krak! "Edan!" pekik Nenek Bongkok dengan mata melotot kaget sambil melompat ke
belakang. Tulang tangannya terasa sangat nyeri dan panas ba-
gai terbakar, akibat benturan dengan tangan Pen-
dekar Gila. Padahal, dia telah mengerahkan selu-
ruh tenaga dalamnya. Nenek Bongkok itu merin-
gis, lalu menyeringai bengis.
"Bangsat...! Kau pikir kau sudah merasa
menang, Anak Edan..."!" bentak Nenek Bongkok dengan kemarahan meluap-luap karena
merasa dipecundangi. Kini Nenek Bongkok mengerahkan segenap
kemampuannya untuk dapat segera menjatuhkan
Pendekar Gila, sambil menyatukan kedua telapak
tangan perempuan tua itu berteriak keras.
"Hiaaa...!"
Seketika telapak tangan yang beradu itu
berasap, lalu berubah menjadi api membara. Ke-
mudian diiringi teriakan Nenek Bongkok meren-
tangkan kedua tangan ke samping, lalu cepat
menghentakkan ke depan sambil menggeser kaki
kiri dan kanan ke depan. Sehingga kedua kakinya
mengangkang. Melihat Nenek Bongkok mengeluarkan ilmu
sihirnya, Pendekar Gila nampak tenang-tenang
saja. Matanya tak berkedip menatap kedua tan-
gan lawan yang terus bergerak cepat. Lalu dengan berteriak keras, Nenek Bongkok
menghentakkan tangan kanan dan kirinya yang berapi itu ke arah Pendekar Gila.
"Heaaat..!"
Glarrr...! Hantaman Nenek Bongkok yang diarahkan
ke Pendekar Gila meleset. Karena pemuda itu
mengelak dengan melompat ke samping. Lalu
dengan cepat tubuhnya bangkit
Namun, Nenek Bongkok tak memberikan
kesempatan sedikit pun pada lawan untuk bisa
melancarkan serangan balik.
Dia terus mencecar, membuat Pendekar Gi-
la harus melenting di udara dan bersalto bebera-
pa kali untuk menyelamatkan diri.
"Edan, Nenek Busuk ini! Bisa modar aku
kalau begini terus," gumam Sena sambil terus melenting. Akhirnya Pendekar Gila
sempat juga melancarkan serangan balik asal-asalan, untuk
mencari peluang dan memancing kemarahan la-
wan. "He he he...! Nenek Busuk, aku yakin bahwa kau tak bisa menangkapku.
Apalagi membu- nuhku!" kata Pendekar Gila sengaja mengejek Nenek Bongkok yang semakin murka
itu.

Pendekar Gila 34 Nenek Bongkok di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Nenek Bongkok tampak semakin marah.
Matanya yang selalu merah bertambah merah,
bagai api membara.
"Kali ini kau tidak akan bisa mengelak lagi, Pemuda Edan! Kau akan mampus...!"
bentak Nenek Bongkok. Dengan mendengus keras, dia me-
nepukkan telapak tangan tiga kali, lalu menginjak tanah tiga kali pula. Dan
seketika itu juga bermunculan lima sosok mayat hidup dari dalam ta-
nah. Wajah mereka sangat mengerikan. Kemu-
dian disusul dengan ular-ular berbisa yang ber-
macam-macam jenisnya. Ular-ular keluar dari
mulut si Nenek Bongkok.
Melihat itu Pendekar Gila sempat kaget ju-
ga. Lalu dia mengambil napas dalam-dalam men-
gumpulkan tenaga dalamnya. Dengan cepat dis-
atukan tangannya, lalu direntang ke atas untuk
mengerahkan tenaga 'Inti Bayu' ke seluruh per-
sendian. Kemudian tangan ditarik ke bawah, dile-
takkan di pinggang.
Dengan cepat dihentakkan kedua tangan-
nya yang menggenggam. Seketika menderu angin
kencang laksana prahara yang mampu mener-
bangkan batu sebesar gajah. Kontan mayat-mayat
hidup dan ular-ular itu tertiup angin hingga me-
layang di udara lalu jatuh setelah menerjang pe-
pohonan dan bebatuan.
Nenek Bongkok kaget tapi tak putus asa.
Dengan cepat dia kembali mengeluarkan ilmu si-
hirnya. Dengan berteriak keras bagai memecah
bumi, mulut nenek itu menjadi lebar sekali, bagai karet yang melar.
Dan dari dalam mulut itu keluar lima so-
sok makhluk menyeramkan sebesar bayi. Mak-
hluk-makhluk bergigi runcing dan bertaring itu
memiliki kepala menyerupai buaya. Kulitnya ber-
sisik keras berwarna kehijauan. Mereka melompat
menerkam Pendekar Gila, lalu menggigit tubuh
pemuda itu yang sempat lengah karena tak me-
nyangka kalau Nenek Bongkok akan melancarkan
serangan ilmu sihirnya.
Pendekar Gila kewalahan. Dia coba mene-
pis dan melemparkan makhluk-makhluk aneh
dan mengerikan itu. Namun mereka selalu kem-
bali dan lebih ganas menggigiti, hingga tubuh Se-na pun terluka.
"Hi hi hi....! Kau sebentar lagi akan mati, Pemuda Edan. Tak ada lagi yang bisa
menghalangi maksudku, kalau kau mati. Hi hi hi!" suara Nenek Bongkok itu
menggema. Pendekar Gila masih terus berusaha men-
gatasi amukan ganas makhluk-makhluk itu. Dan
kini satu dari lima makhluk itu dapat dicengke-
ramnya. Lalu ditusuknya kedua mata makhluk
dengan jari tangan. Seketika makhluk itu menge-
rang lalu mati.
Namun tubuh Pendekar Gila mulai mele-
mah, karena gigitan makhluk itu mengandung ra-
cun. Akhirnya Pendekar Gila roboh ke tanah.
Namun pada saat itu Surti muncul. Dia
berdiri di atas gundukan tanah tak jauh dari
tempat kejadian itu.
Melihat Pendekar Gila dalam keadaan ba-
haya, Surti berteriak keras mengalihkan perha-
tian Nenek Bongkok. Maksudnya agar Pendekar
Gila mendapat kesempatan untuk memulihkan
tenaga dalam dan mengeluarkan ajian-ajiannya.
"Hei, Nenek Busuk, Jelek Bongkok...! Kalau
kau ingin tongkat ini utuh, kemarilah! Ayo, lawan aku...! Ha ha ha..... Kau akan
mampus jika tongkatmu ini aku patah-patahkan seperti mematah-
kan tulang-tulang ragamu! Aku tahu rahasia ke-
kuatanmu, Nenek Busuk! Tengkorak ini adalah
kepalamu, bukan..."! Aku akan menghancurkan
tengkorak ini.... Ha ha ha...!"
Nenek Bongkok yang mendengar ancaman
Surti menjadi cemas dan bingung. Kepalanya
menggeleng-geleng keras tak henti-hentinya.
Pada saat itu Pendekar Gila masih berta-
rung dengan empat makhluk aneh. Darah di len-
gan dan dadanya semakin banyak akibat gigitan
makhluk-makhluk berkepala mirip buaya itu.
"Kurang ajar...! Kau akan kukirim ke akhe-
rat bersama pemuda edan itu...!" sungut Nenek Bongkok sangat marah. Lalu segera
terbang ke arah Surti. Surti pun cepat melompat kabur me-
mancing Nenek Bongkok agar jauh dari Pendekar
Gila. "Bangsat! Jangan lari kau... grrr...!" Nenek Bongkok menggereng seperti
harimau dan terus
mengejar Surti Sementara itu Pendekar Gila mulai dapat
mengumpulkan tenaga dalamnya. Karena perha-
tian Nenek Bongkok terpecah jadi dua, maka ke-
saktian ilmu sihirnya pun menjadi mentah. Sena
tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera
mengerahkan ajian 'Inti Brahma'. Makhluk-
makhluk itu dilemparkan, lalu dihantamnya den-
gan ajian 'Inti Brahma' yang mengeluarkan bola-
bola api. "Aaawww.... Grrr...!" makhluk-makhluk itu meraung-raung ketika tubuh mereka
terbakar la-lu berubah menjadi abu. Setelah itu Pendekar Gi-
la segera mencari Surti yang menghadapi Nenek
Bongkok. "Aku harus segera dapat membantu Surti.
Kalau tidak dia akan menjadi korban si Nenek Ib-
lis itu...!" gumam Sena.
Nenek Bongkok ternyata bertarung seru
dengan Surti. Istri senapati itu menyingsing kainnya ke atas dan mengikat dengan
kembennya. Hingga jika Surti menendang atau mengangkat
kakinya, kedua pahanya yang mulus tersingkap.
"Heit..!"
"Grrr..!"
Nenek Bongkok rupanya merasa takut juga
mendekati Surti. Dia tak berani bertindak semba-
rangan, karena bisa-bisa tongkat itu akan mema-
kan dirinya sendiri. Dan Surti tahu itu, maka
dengan sengaja mencecar Nenek Bongkok, agar
tak sempat melancarkan jurus atau ilmu-ilmu si-
hirnya. "Kau akan mati dengan tongkatmu sendiri,
Nenek Jelek, Busuk!" seru Surti sambil terus mencecar si Nenek Bongkok.
Namun pada saat yang tepat, Nenek Bong-
kok akhirnya dapat memukul punggung Surti
yang membungkuk mengelakkan tendangan ti-
puannya. "Aaakh...!"
Surti memelok dan terhuyung-huyung.
Tongkat di tangan kanannya terlepas melayang di
udara. Nenek Bongkok melompat hendak me-
nyambut tongkatnya. Namun, Sena lebih cepat
menyambar tongkat itu. Lalu memukulkan ke
arah dada Nenek Bongkok yang sama-sama ma-
sih di udara dengan Pendekar Gila.
Nenek Bongkok menjerit nyaring. Tubuh-
nya jatuh dengan keras, membentur batu cadas.
Namun anehnya, tak ada luka di tubuhnya. Apa-
lagi kesakitan. Hanya saja dirasakan dadanya se-
sak dan sukar bernapas, setelah terhantam tong-
kat di tangan Pendekar Gila.
Pendekar Gila mendarat dengan ringan
sambil tetap memegang tongkat itu. Ditatapnya si Nenek yang masih mengerang
memegangi dada.
Lendir-lendir berwarna kuning keluar dari mulut-
nya. "Apakah kau ingin tobat atau...?" tanya Se-na. "Tidak..., aku tak pernah
menyerah! He he he...!" sahut Nenek Bongkok.
Surti bangkit dan mendekati Pendekar Gi-
la. "Sebaiknya cepat kita bunuh nenek busuk itu, Tuan Pendekar...!" kata Surti
sinis. "Sabar...! Kita tak boleh membunuh lawan
yang sedang terluka...," kata Sena mengingatkan Surti. "Tapi...."
Belum sempat Surti melanjutkan ucapan-
nya, tiba-tiba Nenek Bongkok itu melompat me-
nerkam Pendekar Gila. Dan lidahnya yang menju-
lur panjang lalu mengeras bagai pisau tajam,
hendak menusuk dada Sena. Dengan cepat Surti
merebut tongkat di tangan Pendekar Gila yang
sengaja merobohkan badan, agar Surti lebih mu-
dah menusuk punggung Nenek Bongkok yang
menindihnya. Sementara Pendekar Gila dan Nenek Bong-
kok saling bergumul, Surti dengan menahan den-
damnya menunggu saat yang tepat. Pendekar Gila
dalam keadaan gawat sekali. Lidah nenek yang
kini berubah seperti pisau itu sedikit lagi akan menembus dadanya.
"Kau sebentar lagi melayang ke akherat,
Pemuda Edan...!"
Suara Nenek Bongkok terdengar serak dan
seperti mengandung gaib. Rupanya dia lupa den-
gan Surti. Di saat Nenek Bongkok sibuk beradu
tenaga dengan Pendekar Gila, Surti dengan geram
dan murka mengangkat tongkat tinggi-tinggi. Lalu dihujamkannya ke punggung yang
bongkok itu dengan keras sekali, hingga menancap sepertiga
panjang tongkat itu.
Jlep! "Aaa...! Grrr...!" Nenek Bongkok menjerit nyaring menyakitkan telinga. Lalu
bergerak bangun. Pada saat itu Pendekar Gila melompat mun-
dur. Lalu dengan ajian 'Tamparan Sukma' dihan-
tamnya Nenek Bongkok.
Jglarrr...! "Aaa...!"
Hanya suara jeritan yang terdengar meme-
cah kesunyian tempat itu. Tongkat itu menancap
di tanah. Dan dari situ asap ungu mengepul ke
udara. Surti menghela napas lega, lalu menyeka
keringat di keningnya. Kemudian dia terduduk
lemas. Pendekar Gila tercenung sejenak, lalu me-
noleh ke arah Surti yang masih menundukkan
kepala. Sena menghampirinya, lalu berjongkok.
"Terima kasih, kau telah menyelamatkan
jiwaku. Aku tak akan lupakan itu. Aku menyesal
dan merasa bersalah, karena tidak dapat melin-
dungi Senapati Pranggana...," kata Sena, tegas.
"Aku mengerti. Kau tidak bersalah, Tuan
Pendekar. Semua ini kehendak Yang Maha Kuasa.
Aku bisa menerima kenyataan ini, walaupun ha-
tiku sangat sedih. Dan aku puas karena dapat
memusnahkan Nenek Bongkok yang jahat itu.
Arwah suamiku tentunya akan tenang di alam
sana...," suara Surti begitu lembut, menyentuh hati Sena.
Sejenak keduanya diam. Suasana pun se-
ketika berubah sunyi dan sepi. Di atas, langit
senja hari tampak terang benderang. Awan hitam
yang sejak tadi menyelimuti langit kini telah hilang terbawa angin.
Sena lalu berdiri, disusul oleh Surti. Wani-
ta itu tersenyum manis pada Sena yang kemudian
menggaruk-garuk kepala dan cengar cengir. Kece-
riaan kembali terpancar pada wajah kedua insan
itu. Lalu keduanya melangkahkan kaki dengan
membawa kemenangan yang tak dapat dilupakan.
Nenek Bongkok itu telah binasa. Namun tongkat
keramat yang sakti itu masih menancap di ta-
nah.... SELESAI Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: Fujidenkikagawa
https://www.facebook.com
/DuniaAbuKeisel
Pedang Kiri 5 Pedang Keadilan Karya Tjan I D Manusia Harimau Merantau Lagi 4
^