Pencarian

Bukit Siluman 2

Pendekar Mata Keranjang 24 Bukit Siluman Bagian 2


Mulutnya bergerak membuka, tapi suaranya tidak
terdengar. Si gadis coba membantu dengan salur-
kan tenaga dalam melalui dadanya. Namun sia-
sia. Bahkan sebentar kemudian Braja Musti
menggeliat dengan perdengarkan erangan pan-
jang. Tapi erangan itu terputus laksana direnggut hantu bersamaan dengan
putusnya nyawa!
Sekar Arum keluarkan jeritan tinggi. Tu-
buh Braja Musti yang sudah tidak bernyawa lagi
diguncang-guncang dengan keras. Lalu kepalanya
direbahkan di dada mayat si pemuda.
"Braja.... Tahu jika begini akhirnya, aku
tak akan lakukan rencana itu! Braja.... Tahukah
kau bahwa saat ini aku mengandung benihmu!
Mengandung anakmu, anak kita! Oh.... Betapa
malang nasibku...," Sekar Arum berkata seraya menciumi mayat Braja Musti. Air
matanya tumpah membasahi muka dan dada pemuda yang te-
lah jadi mayat itu.
"Braja.... Aku bersumpah akan membalas
orang yang melakukan ini! Orang yang telah me-
misahkan kita dan anak kita yang ada dalam
kandunganku! Braja! Percayalah.... Tanpa kau
anak dalam kandunganku ini akan kurawat dan
kubesarkan. Akan kutunjukkan padanya siapa
yang memisahkannya dengan ayahnya!"
Tanpa disadari oleh Sekar Arum, sepuluh
langkah di belakangnya sesosok tubuh terlihat
terguncang lalu menekap mulutnya agar suara
pekikannya tidak terdengar. Namun karena ke-
rasnya guncangan tubuh, sejenak kemudian so-
sok yang bukan lain adalah Nilam Sari jatuh ber-
lutut di atas tanah!
Sewaktu Nilam Sari menyusur pinggiran
sungai, tiba-tiba dia mendengar jeritan. Tanpa pikir panjang Lagi gadis ini
segera berkelebat ke
arah suara jeritan. Dia telah menduga siapa
adanya orang yang menjerit. Sampai pada sumber
jeritan dia melihat Sekar Arum menelungkup di
atas tubuh Braja Musti. Melihat sikap saudara
seperguruannya itu, Nilam Sari dapat menebak
apa yang telah terjadi. Dia segera melangkah
mendekat, namun langkahnya tertahan tatkala
telinganya mendengar ratapan Sekar Arum. Gadis
ini laksana disambar petir di siang bolong! Sea-
kan tak percaya, gadis ini tetap diam. Dia berha-
rap ucapan yang dikeluarkan Sekar Arum hanya-
lah tipuan telinganya saja. Namun ketika Sekar
Arum kembali meratap bahkan mengucapkan
sumpah di samping mayat Braja Musti, Nilam Sa-
ri tak dapat menahan gelegak hatinya. Tubuhnya
berguncang keras sebelum akhirnya jatuh berlu-
tut. Setelah agak sadar, Nilam Sari meng-
goyang-goyangkan kepalanya. Hatinya yang tadi
trenyuh melihat Braja Musti mati kini berubah
menyala-nyala. Dadanya berdebar keras dilanda
marah dan cemburu. Lebih dari itu darahnya
menggelegak mendapati bahwa Sekar Arum telah
mengandung dari benih Braja Musti. Dia merasa
ditipu oleh Braja Musti yang ternyata secara di-
am-diam juga menjalin hubungan dengan Sekar
Arum. Padahal diam-diam Nilam Sari pun telah
mengandung benih akibat hubungannya dengan
Braja Musti! "Keparat jahanam! Ternyata dia menipuku!
Oh.... Apa yang harus kulakukan sekarang" Pa-
dahal aku juga mengandung benih darinya! Aku
tak dapat menyalahkan Sekar Arum. Mungkin dia
juga tak menduga jika Braja Musti menjalin hu-
bungan denganku.... Keparat! Braja Musti-lah
yang seharusnya dihukum! Dan kematian adalah
hukuman setimpal. Tapi.... Bagaimana dengan
kandunganku?"
Nilam Sari bangkit. Lalu balikkan tubuh
hendak tinggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba
dia teringat akan lembaran kulit yang dilarikan
Braja Musti. Secepat kilat dia putar tubuhnya
kembali lalu menghambur ke arah Braja Musti.
Sepasang matanya sejenak mengawasi Se-
kar Arum yang masih tenggelam dalam kesedi-
han. Gadis itu tak memperhatikan Nilam Sari
yang kini ada di dekatnya. Nilam Sari coba me-
nindih bara dalam hatinya lalu mengedarkan
pandangan. Matanya tiba-tiba membeliak besar
tatkala menumbuk pada sebuah lembaran kulit
berwarna coklat yang tergeletak tak jauh dari Bra-ja Musti.
"Lembaran Kulit Naga Pertala!" gumam Nilam Sari dalam hati. Lalu dengan gerakan
kilat tangannya menyambar lembaran kulit. Dimasuk-
kannya ke balik pakaiannya lalu berkelebat me-
ninggalkan tempat itu.
Setelah lama Nilam Sari pergi, Sekar Arum
baru tersadar. Perlahan-lahan dia angkat mu-
kanya dari dada Braja Musti. Mukanya sembab,
air matanya tampak masih mengalir. Gadis ini
lantas memperhatikan sekujur tubuh si pemuda.
Tiba-tiba matanya melihat jubah putih yang ter-
campak. Ingatannya pada Lembaran Kulit Naga
Pertala timbul. Dengan sesenggukkan, tangannya
mencari-cari. Ketika mendapati punggung jubah
robek dia berkesimpulan jika lembaran kulit itu
telah dikeluarkan dari tempatnya.
Sekar Arum lantas melebarkan pandangan
mencari-cari. Namun dia tidak lagi menemukan
lembaran kulit itu.
"Ke mana lembaran kulit itu" Apa mungkin
disimpan"!" Gadis ini bangkit, melangkah mengi-tari gundukan. Namun dia tak
menemukan ba- rang yang dicari. Ketika matanya melihat lobang
sedalam dan selebar dua jengkal dia kernyitkan
dahi. "Hem.... Ini pasti galian Braja Musti. Untuk apa"! Ah, pasti untuk
menyembunyikan lembaran
kulit itu! Berarti lembaran kulit itu masih di sini.
Tapi di mana"!" Sekar Arum tercenung.
"Ah, bukankah tadi aku menangkap keha-
diran seseorang di dekat sini"! Tidak lain pasti Nilam Sari. Jangan-jangan dia
melarikan lembaran
kulit itu!" desis Sekar Arum lalu mengedarkan pandangan ke hamparan tempat itu.
Ketika matanya tak melihat Nilam Sari dugaan gadis ini ber-tambah kuat.
"Jahanam! Pasti dia yang melarikan lemba-
ran kulit itu! Keparat! Dia menggunting dalam li-
patan! Mencari kesempatan saat orang lengah.
Tak kusangka jika dia tega berbuat seperti itu!"
Sekar Arum bantingkan kakinya. "Tentu
dia belum jauh...." Gadis ini lalu berkelebat ke arah pinggiran sungai di mana
sampan berada. Keyakinan Sekar Arum makin kuat tatkala
sampan itu tidak ada lagi. Dia lalu arahkan pan-
dangannya jauh ke depan. Tiba-tiba dari mulut
gadis ini keluar umpatan panjang pendek tatkala
samar-samar sepasang matanya menangkap se-
buah sampan yang meluncur deras di tengah
sungai. "Nilam Sari! Hari ini kau boleh bersenang-senang memiliki lembaran kulit
itu! Tapi aku tak
akan tinggal diam! Nilam Sari. Tunggulah!" teriak Sekar Arum dengan keras. Namun
suaranya seakan lenyap ditelan suara riak air. Gadis ini balikkan tubuh. Saat
itulah baru dirasakan betapa le-
tih tubuh dan pikirannya. Dia lantas tekap wa-
jahnya dengan kedua telapak tangan, tubuhnya
pun perlahan-lahan melorot jatuh di atas tanah.
Tak jelas apa yang ada di benak gadis berpakaian
ungu ini. Mungkin sakit hati melihat saudara se-
perguruannya berbuat pengecut, mungkin juga
menyesali nasib karena kekasihnya harus tewas,
mungkin juga merenungi apa yang akan diper-
buat dengan benih yang kini ada dalam kandun-
gannya! * * * Nampaknya prasangka buruk Sekar Arum
pada Nilam Sari yang diduga membawa lari Lem-
baran Kulit Naga Pertala harus tertanam di lubuk
hatinya. Dan tekadnya untuk merebut kembali
lembaran kulit itu terus menggelora. Hingga sete-
lah kejadian di Bukit Siluman, Sekar Arum terus
malang melintang untuk mencari Nilam Sari
sambil mengasuh anak dari benih Braja Musti
yang akhirnya digelari Raksasa Bermuka Hijau.
Namun hingga umurnya menginjak tua,
Sekar Arum gagal menemukan Nilam Sari, meski
dari kabar yang berhasil disirap, dia tahu jika Nilam Sari telah punya anak yang
kemudian oleh kalangan rimba persilatan dikenal dengan Peri
Kupu-kupu. Mungkin sadar umurnya tak memungkin-
kan lagi untuk meneruskan niat, akhirnya Sekar
Arum memberi tugas pada anaknya si Raksasa
Bermuka Hijau untuk mencari Nilam Sari, seti-
dak-tidaknya dapat membunuh anaknya. Namun
seperti yang dialami Sekar Arum, Raksasa Ber-
muka Hijau gagal menemukan Nilam Sari, bah-
kan dia juga tak mampu membunuh Peri Kupu-
kupu meski hal itu sudah dilakukannya beberapa
kali. Mengingat membunuh Peri Kupu-kupu
adalah tugas yang harus diselesaikan, akhirnya
selain terus berupaya melakukan sendiri, Raksa-
sa Bermuka Hijau juga menugaskan cucu sekali-
gus muridnya bernama Seruni untuk mencari dan
membunuh Peri Kupu-kupu.
Di pihak lain. Peri Kupu-kupu memperoleh
keterangan persoalan yang sebenarnya dari Nilam
Sari, ibunya. Nilam Sari memberitahukan pada
Peri Kupu-kupu kalau persoalan itu hanya salah
paham belaka. Sekar Arum, dan keturunannya
mengira Nilam Sari mendapatkan Lembaran Kulit
Naga Pertala. Oleh karena itu, Sekar Arum beru-
saha keras untuk merebutnya.
Menjelang akhir hayatnya, Nilam Sari
memberitahukan pada Peri Kupu-kupu, bahwa
antara keturunan Nilam Sari dan keturunan Se-
kar Arum ada pertalian darah. Mereka berasal da-
ri seorang lelaki. Seorang kakek yang sama yaitu
Braja Musti! Setelah mengetahui persoalannya yang se-
benarnya, Peri Kupu-kupu mengadakan penyeli-
dikan dan melakukan perjalanan untuk kembali
mempersatukan darah yang terputus. Hanya Peri
Kupu-kupu belum tahu siapa anak daripada Se-
kar Arum. Karena pada beberapa kali pertemuan
dan bentrok dengan Raksasa Bermuka Hijau, le-
laki berbadan bongsor itu tak mau menjelaskan
persoalannya. ENAM MATAHARI sudah jauh condong ke sebelah
barat ketika sebuah bayangan berkelebat keluar
dari kerapatan hutan kecil. Sejenak dia hentikan
larinya, lalu berpaling ke belakang ke arah hutan yang baru saja dilewati.
"Untung belum gelap. Sedikit terlambat, bisa-bisa aku tersesat di dalam
hutan!" Setelah menarik napas lega, orang ini lan-
tas berlari kembali. Baru kira-kira dua puluh
tombak orang ini hentikan larinya. Sepasang ma-
tanya yang tajam memperhatikan lurus ke depan.
Dari tempatnya berdiri dia melihat seorang nenek
duduk mencangkung di atas sebatang kayu bulat
besar yang melintang menghalangi jalan.
Nenek ini mengenakan jubah besar ber-
kembang-kembang. Rambutnya putih hanya se-
batas tengkuk. Pada bagian atasnya dibelah ten-
gah dan agak bergelombang membentuk sayap.
Kulitnya telah keriput, tapi masih membiaskan
sisa-sisa kecantikan di masa mudanya.
Orang di hadapan si nenek geleng-geleng
kepala lalu tersenyum sendiri. Orang ini lantas
gerakkan tangan usap-usap hidungnya.
Sampai di depan batangan kayu yang me-
lintang di mana si nenek duduk mencangkung,
orang ini lirikkan sepasang matanya. Si nenek tak gerakkan tubuh, matanya pun
belum dia buka.
"Hem.... Tak baik mengganggu keasyikan
orang...," gumamnya seraya angkat kaki kanan-
nya hendak melewati batangan kayu. Namun kaki
orang ini tertahan di udara tatkala bersamaan
dengan itu terdengar bentakan keras dari mulut
si nenek. "Kurang ajar! Beraninya kau hendak me-
masuki daerahku tanpa izin. Cepat katakan siapa
dirimu!" Orang itu tarik pulang kaki kanannya lalu
berpaling. Dia mengernyit. Batinnya lalu mem-
perhatikan sekali lagi. "Daerahnya"! Apakah berarti dia pemilik tanah ini"!"
Orang ini lalu membuka mulut.
"Nek.... Apakah tanah ini milikmu"!"
Sepasang mata nenek yang sedari tadi ter-
pejam kontan membuka. Ternyata mata itu sipit.
Untuk beberapa saat sepasang mata sipit sang
nenek memperhatikan orang di sampingnya. Bi-
birnya mengulas senyum namun senyum itu di-
putus seketika lalu terdengar lagi bentakannya.
"Aku tidak bicara soal tanah. Aku tanya


Pendekar Mata Keranjang 24 Bukit Siluman di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

siapa kau!"
"Sialan. Kalau tidak kuturuti maunya uru-
san sepele ini akan jadi panjang...." Orang ini lantas jerengkan sepasang
matanya lalu usap-usap
hidungnya sambil menjawab. "Namaku Aji Sapu-
tra...." "Hem.... Nama bagus tapi tampangmu tidak!" gumam si nenek lalu
berpaling seraya melanjutkan. "Hari ini tak seorang pun boleh melewati
kawasanku. Cepat putar dan tinggalkan
tempat ini!"
Orang berpakaian hijau yang dilapis den-
gan baju lengan panjang kuning, rambut panjang
dan dikucir ekor kuda, bertubuh tegap dan ber-
wajah tampan bukan lain adalah Pendekar Mata
Keranjang 108. Cengar-cengir sambil usap-usap
hidungnya. "Peringatan telah dikeluarkan. Atau kau
ingin jadi mayat"!" hardik si nenek tanpa berpaling lagi.
Aji sedikit tersentak, bukan hanya karena
hardikan si nenek yang bikin gendang telinga lak-
sana ditusuk namun juga mampu membuat isi
dadanya tergetar. Hanya orang bertenaga dalam
tinggi yang bisa melakukan hal seperti itu.
"Bagaimana ini" Padahal aku harus mele-
wati jalan ini!" batin Aji lalu berkata pada si nenek. "Nek.... Kalau ini
kawasanmu, tolonglah. Biarkan aku lewat. Aku punya urusan yang harus
segera diselesaikan!"
"Setan! Apa kau tuli, hah"!"
"Edan! Daripada cari urusan...," gumam
Pendekar Mata Keranjang lalu edarkan pandan-
gannya. Senyumnya tersungging dengan kepala
manggut-manggut. Tanpa bicara lagi murid Wong
Agung ini putar tubuh lalu melangkah ke arah
mana dia datang.
"Hem.... Lewat sebelahnya juga bisa...," ka-ta Aji dalam hati lalu menoleh ke
belakang. Si nenek terlihat masih berpaling tidak memperhatikan
dirinya. Secepat kilat murid Wong Agung ini ber-
kelebat ke arah utara, lalu berbelok dan berkele-
bat lurus ke depan, arah mana sejajar dengan
tempat si nenek.
Merasa tak ada halangan lagi, Pendekar
108 memperlambat larinya lalu melangkah pelan-
pelan seraya bersiul-siul, mendendangkan lagu
yang tak ketahuan artinya.
"Nenek aneh. Dikira jalan ini cuma satu.
He... he... he...! Siapa dia sebenarnya" Makin banyak saja orang-orang aneh yang
kutemui. Apa- kah dia salah satu dari orang-orang yang menje-
jaki lembaran kulit itu seperti halnya diriku"! Ah, persetan. Mungkin saja...,"
murid Wong Agung tak meneruskan kata hatinya. Malah langkahnya
tiba-tiba terhenti dengan mulut terkancing. Sepa-
sang matanya membeliak hampir tak percaya.
Sepuluh langkah di hadapannya terlihat
seseorang duduk dengan lutut ditekuk sejajar da-
da. Kedua tangannya melingkar di depan kaki.
Sementara mulutnya bergerak-gerak.
"Sialan! Nenek itu!" maki Aji seraya memandang tak berkedip.
"Kau tak mengindahkan peringatan orang.
Tampaknya kau memang mau mati muda!" habis
berkata begitu, orang yang duduk dan bukan lain
adalah si nenek berjubah kembang-kembang le-
paskan lingkaran tangannya pada kaki lalu tan-
gan kanannya mengibas ke depan.
Wuuttt! Gelombang angin menderu dahsyat menga-
rah pada murid Wong Agung. "Nek! Kita bicara baik-baik. Aku...," ucapan Pendekar
Mata Keranjang 108 terputus karena sapuan gelombang an-
gin telah datang. Pendekar dari Karang Langit ini cepat bergerak ke samping
menghindar. Namun
bersamaan dengan itu gelombang angin susulan
telah menggebrak. Aji coba berkelit namun ter-
lambat. Hingga tubuhnya berputar lalu terbanting
ke tanah! Pada saat bersamaan terdengar suara
tawa mengekeh panjang lalu Aji merasakan desi-
ran angin. Berpaling, si nenek telah tegak di sampingnya dengan kacak pinggang!
Seraya meringis kesakitan, Pendekar 108
bergerak bangkit. Sebenarnya dada pemuda ini
telah dilanda rasa geram namun ditahannya keti-
ka sadar jika yang dihadapi adalah seorang nenek
tua yang mungkin saja pemilik kawasan itu.
"Sebaiknya aku mencari jalan lain saja da-
ripada mencari penyakit. Orang macam begini
akan semakin menjadi-jadi bila diladeni...," Pendekar 108 lalu putar tubuh dan
melangkah balik
dengan hati memaki tak habis-habisnya. Namun
baru saja lima langkah, terdengar teriakan keras.
"Hukumanmu belum selesai. Ke mana kau
akan pergi"!"
"Tua bangka sialan ini benar-benar bikin
urusan!" Murid Wong Agung berpaling ke bela-
kang. "Nek. Apa maumu sebenarnya"! Aku sudah menerima kau buat jatuh. Sekarang
kau bilang hukuman belum selesai!"
"Kau berani menipuku dengan menelikung
jalan hendak masuk kawasanku. Hukuman ba-
gimu adalah mati!" ujar si nenek membuat Pendekar Mata Keranjang terperangah
bercampur ge- ram. "Edan!" umpat Aji.
"Betul. Edan! Kalau tidak berlaku edan kau
tidak akan kebagian!" timpal si nenek lalu buka mulutnya lebar-lebar. Bersamaan
dengan itu gumpalan cairan menjijikkan melesat keluar dari
mulutnya. Aji terbelalak. Baru sekali ini dia lihat
orang mampu membuang ludah dengan membu-
ka mulut lebar-lebar! Dan liur itu bukan saja me-
lesat laksana anak panah namun juga keluarkan
suara mendesing disertai sambaran angin keras!
Murid Wong Agung cepat angkat tangan
kanannya lalu dihantamkan ke bawah arah mana
gumpalan ludah melesat. Tapi yang dipukulnya
hanyalah udara kosong! Pada saat bersamaan
terdengar suara 'breett'. Pendekar 108 melirik.
Pakaian bagian pinggangnya robek dan menge-
pulkan asap! Selagi Pendekar Mata Keranjang terhenyak
menyaksikan, si nenek tiba-tiba goyang-
goyangkan kepalanya. Tubuhnya berputar satu
kali. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan tahu-
tahu dua tangan telah menghantam ke arah kepa-
la Aji. Wuuttt! Wuuttt!
Dua pasang tangan belum sampai meng-
hantam sasaran angin deras telah mendahului
menderu. "Gila! Omongan tua bangka ini tidak main-
main. Dia ingin aku mati!" duga Pendekar 108.
Pemuda ini segera rundukkan sedikit kepalanya
lalu kedua tangannya dihantamkan ke atas.
Bukkk! Bukkk! Dua pasang tangan beradu di udara. Pen-
dekar 108 berseru tertahan. Tubuhnya terdorong
sampai lima langkah. Kedua tangannya laksana
dipanggang api dengan dada berdenyut sedikit.
Ketika matanya meneliti, tampak kedua tangan
itu berwarna merah dan bergetar!
Di hadapannya, si nenek kibas-kibaskan
kedua tangannya. Meski tidak mengeluarkan se-
ruan, namun dari paras wajahnya jelas jika orang
tua ini merasakan sakit.
"Anak sialan! Kau membuat tanganku ke-
semutan. Kau harus mati dua kali!" hardik si nenek lalu angkat kedua tangannya
sejajar dada. "Tahan!" seru Aji tatkala mengetahui si nenek hendak lepaskan pukulan tangan
kosong ja- rak jauh. Tapi seruan Aji tak mendapat tangga-
pan. Malah si nenek keluarkan tawa berderai
sambil hantamkan kedua tangannya.
Wuuttt! Wuuuttt!
Pendekar Mata Keranjang tak mendengar
suara deruan. Namun bersamaan dengan itu tu-
buhnya seperti disapu gelombang angin dahsyat
yang berputar-putar aneh, hingga tubuhnya ber-
putar-putar. Sebelum putaran angin itu meng-
hempaskan tubuhnya, murid Wong Agung ini ke-
rahkan tenaga dalam. Kedua tangannya meman-
carkan sinar kebiruan, lalu didorongkannya ke
depan. Wuttt! Wuttt! Dua larik sinar biru membersit, sekejap
kemudian mengembang.
"Mutiara Biru.... Hik... hik... hik.... Apa he-batnya"!"
Pendekar 108 jadi terhenyak mendengar si
nenek mengenali pukulan yang dilepaskannya.
Sementara itu di hadapannya si nenek kebutkan
kedua tangannya ke bawah. Lalu telapak tangan-
nya dikembangkan dan didorong pelan-pelan ke
depan. Pendekar Mata Keranjang hampir tak
mempercayai penglihatannya. Pukulan 'Mutiara
Biru' yang dilepaskannya serta-merta berbalik
melesat ke arahnya! Hingga saat itu juga dua si-
nar biru pukulannya sendiri menderu ke arahnya!
Tak ada jalan lain bagi Pendekar 108 kecuali
menghantam serangannya sendiri. Maka dengan
membentak keras kedua tangannya didorong
kembali. Kali ini dengan kerahkan setengah dari
tenaga dalamnya.
Blaaarrr! Kawasan luar hutan itu laksana dilanda
gempa. Hawa panas menghampar, suasana beru-
bah menjadi semburat warna biru. Tanah ber-
hamburan ke udara dan semak belukar tak jauh
dari terjadinya bentrok pukulan sakti itu terbabat rata dan hangus.
Karena pukulannya yang membalik telah
disertai dengan pukulan si nenek, maka tenaga di
dalamnya lebih kuat dari pukulan yang dilepas Aji untuk menangkis, hal ini
membuat tubuh murid
Wong Agung ini mencelat ke belakang dan jatuh
terbanting di atas tanah! Pemuda ini merasakan
napasnya tersumbat dan aliran darahnya mam-
pet. Namun sadar jika sewaktu-waktu orang tua
ini bisa mencelakai dirinya, Aji cepat kerahkan
tenaga dalam untuk mengatasi aliran darah dari
dadanya. Di seberang sana, meski hanya mendorong
pukulan Pendekar 108, namun tak membuat si
nenek selamat dari bias bentroknya pukulan. Se-
hingga ketika ledakan terdengar, sosok si nenek
melenting laksana kapas ke belakang. Namun se-
belum tubuhnya menyuruk tanah, orang tua ini
kebutkan kedua tangannya ke bawah. Hingga tu-
buhnya yang hampir menghajar tanah itu mem-
bumbung kembali ke udara. Di udara si nenek
membuat gerakan laksana orang menari dengan
kepala digoyang-goyang. Anehnya bersamaan
dengan itu, tubuhnya melayang turun perlahan-
lahan sebelum akhirnya menjejak tanah dengan
duduk, kedua kaki merangkap di depan dada dan
kedua tangan dilingkarkan!
Pendekar Mata Keranjang gertakkan ra-
hang. Kemarahan yang ditahan serta ancaman
orang membuat darah mudanya tak bisa diben-
dung lagi. Seraya gulingkan tubuh kedua tangan-
nya disentakkan dengan telapak mengembang.
Hawa panas menghampar, semburat warna
kebiruan serta dua sinar biru mencorong melesat
cepat dengan membawa gelombang angin dahsyat
ke arah nenek. Murid Wong Agung ini telah le-
paskan pukulan 'Mutiara Biru' dengan tenaga da-
lam penuh. Di seberang sana, si nenek keluarkan se-
ruan tegang. Kepalanya digoyang-goyang. Lalu
tubuhnya berputar dan berkelebat lenyap dari
pandangan. Pukulan sakti yang dilepas Pendekar
108 terus melesat lalu menghantam apa saja yang
ada di belakang si nenek tadi berada.
Dua batang pohon besar langsung berde-
rak tumbang, sementara semak belukar tercabut
sampai akar-akarnya dan terhumbalang ke uda-
ra. Belum sirap suara derak tumbangnya pohon,
terdengar suara tawa panjang mengekeh. Pende-
kar Mata Keranjang terlonjak hingga bangkit ber-
diri lalu berpaling. Si nenek berjubah kembang-
kembang kecak pinggang, tegak empat langkah di
samping Pendekar 108! Dan belum sempat Pen-
dekar Mata Keranjang melakukan gerakan, si ne-
nek telah melompat dengan tangan kanan di atas
kepala siap lakukan pukulan.
Murid Wong Agung tak mau bertindak ayal.
Kedua tangannya cepat diangkat untuk menang-
kis. Namun Aji tertipu, karena bersamaan dengan
terangkatnya tangan Pendekar Mata Keranjang, si
nenek tarik pulang tangannya. Tubuhnya berges-
er ke samping lalu tangan kirinya bergerak mene-
likung. Pendekar 108 merasakan tubuhnya te-
rangkat. Dia cepat menghantam ke tangan kiri si
nenek yang ternyata telah menelikung pinggang-
nya. Namun hantaman Pendekar 108 terlambat.
Sebelum tangan itu menghantam, si nenek telah
sentakkan tangan kirinya yang menelikung ping-
gang Pendekar Mata Keranjang, hingga kejap itu
juga tubuh murid Wong Agung ini terbanting de-


Pendekar Mata Keranjang 24 Bukit Siluman di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ras ke atas tanah!
Si nenek melangkah mendekat dengan
mengumbar tawa. Sadar akan keadaan dirinya
dan tak ada jalan lain untuk mempertahankan
nyawa, Pendekar Mata Keranjang 108 meraba
pinggangnya di mana tersimpan kipasnya. Tangan
kanannya lalu menyelinap. Sebelum kipas keluar,
si nenek tengadahkan kepala seraya berteriak.
"Orang di balik pohon. Lekas keluar!"
Pendekar 108 meringis sambil kerutkan
dahi. Kipas yang sudah ada digenggaman urung
dikeluarkan. Namun tangan itu tetap menyelinap
di balik pakaian.
Belum lenyap suara si nenek, dari balik
pohon berkelebat sesosok bayangan lalu tegak li-
ma langkah di belakang si nenek.
Pendekar Mata Keranjang sipitkan mata
memperhatikan orang yang baru datang. Dia ada-
lah seorang gadis muda berparas cantik. Menge-
nakan pakaian warna biru ketat dengan rambut
panjang tergerai. Sepasang matanya bulat dengan
bibir merah. Dadanya terlihat kencang sementara
pinggulnya mencuat bagus.
Untuk beberapa saat gadis berpakaian biru
ini memperhatikan Aji dengan mata tak berkedip.
Lalu melihat punggung si nenek dengan mata
berkilat-kilat. Si nenek putar tubuhnya. Tiba-tiba nenek berjubah kembang-
kembang ini kernyitkan
kening. Lalu dari mulutnya terdengar gumaman
tak menentu. Namun jelas jika nenek ini merasa
terkejut! "Aneh.... Dia yang memanggil tapi dia ter-
kejut...," gumam Pendekar 108 lalu perlahan-
lahan bangkit. TUJUH KALAU si nenek tampak terkejut dengan
kedatangan si gadis berpakaian biru, tidak demi-
kian halnya dengan si gadis. Sepasang mata gadis
ini memandang tajam pada si nenek, memperha-
tikan dari ujung rambut sampai kaki.
"Rambut putih dikepang dua berbentuk
sayap, jubah kembang-kembang. Hem.... Tua
bangka inilah orangnya...," batin si gadis. "Tapi untuk meyakinkan, akan kutanya
dulu!" Gadis berbaju biru ini lantas tengadahkan
kepala. Dari mulutnya terdengar dia berucap.
"Kau manusia yang bergelar Peri Kupu-
kupu"! Benar"!"
Si nenek berjubah kembang-kembang
goyang-goyangkan kepalanya beberapa kali. Tiba-
tiba dia perdengarkan tawa mengekeh.
"Lain yang dipanggil lain yang datang! Tak
apalah...," gumam si nenek lalu sapukan pandangannya berkeliling. Matanya
mencari-cari. "Orang tua! Lekas jawab. Jangan sampai
aku salah turunkan tangan!" si gadis membentak tatkala si nenek tak jawab
pertanyaannya. "Lain yang dicari lain yang didapat. Hem...
anak gadis. Nasibmu baik. Kau memang sedang
berhadapan dengan orang yang kau sebut!" Habis berkata demikian si nenek kembali
sapukan pandangannya sambil bergumam. "Ke mana tua
bangka sialan itu...!?"
"Hem.... Jadi bukan gadis ini sebenarnya
yang tadi dipanggil. Lalu siapa" Berarti masih ada orang lagi di sekitar sini!"
pikir Pendekar 108 begitu mendengar gumaman si nenek yang membe-
narkan dirinya bergelar Peri Kupu-kupu.
"Peri Kupu-kupu..." Hem.... Tua bangka
peot begini bergelar Peri..."!" Aji jadi tertawa sendiri dalam hati. Lalu
pandangannya mengarah
pada gadis berbaju biru. "Dia tampaknya menahan marah. Siapa dia" Hem....
Wajahnya cantik,
tubuhnya bagus...."
Di hadapan Peri Kupu-kupu, si gadis lu-
ruskan kepalanya. Matanya berkilat-kilat me-
nyengat pada Peri Kupu-kupu. Kejap lain dia ke-
luarkan dengusan keras lalu berkata.
"Dengar! Aku Seruni, cucu sekaligus murid
Raksasa Bermuka Hijau! Kau adalah salah seo-
rang yang harus kulenyapkan dari lindungan lan-
git! Itu tujuanku dan itu nasib buruk yang harus
kau terima!"
Habis berkata begitu, si gadis yang menye-
but dirinya Seruni mundur dua langkah. Kedua
tangannya dipalangkan di depan dada siap le-
paskan pukulan.
Peri Kupu-kupu goyang-goyangkan kepa-
lanya tanpa membuat gerakan tangan. Mulutnya
komat-kamit sebentar, lalu berujar.
"Anak gadis. Sebaiknya kita bicara dulu.
Jangan sampai urusan orang-orang tua menurun
pada cucu!"
"Itu urusanmu! Urusanku membunuhmu!"
"Baiklah. Sebelum aku mati di tanganmu,
mau kau jawab pertanyaanku"!"
Sepasang mata Seruni sejenak menatap ke
arah mata sipit Peri Kupu-kupu.
"Katakan!"
"Kau bilang aku adalah salah seorang yang
harus kau bunuh. Siapa lagi lainnya"!"
Seruni tertawa pendek. "Itu urusanku. Kau
nanti dapat tanya pada teman-temanmu di alam
kubur!" Peri Kupu-kupu tak marah mendengar
hardikan Seruni. Sebaliknya dia tersenyum-
senyum. "Selain membunuh, kau juga punya tu-
juan lain"!" Peri Kupu-kupu ajukan pertanyaan.
"Persetan dengan segala tanyamu! Terima-
lah nasib burukmu!" sergah Seruni lalu tarik tangannya dari dada terus ke
belakang. Lalu mendo-
rongnya ke depan.
"Tahan! Jika aku mati, apakah kau tak
menyesal"!"
"Jahanam! Apa maksudmu"!"
Peri Kupu-kupu tertawa mengekeh. Puas
tertawa nenek ini palingkan wajahnya ke samp-
ing. Pendekar 108 terlihat berdiri menyandar di
batang pohon seraya memperhatikan ke arahnya,
membuat si nenek kernyitkan dahi sambil berkata
dalam hati. "Sialan. Dikiranya apa aku ini?" Sementara itu Seruni diam-diam juga
lirikkan ma- tanya pada Aji.
"Hem.... Siapa pemuda ini" Kenapa bentrok
dengan Peri Kupu-kupu" Apakah ia juga mempu-
nyai tugas seperti...," Seruni putuskan kata hatinya, karena saat itu Peri Kupu-
kupu telah ber-
kata. "Anak gadis. Aku tahu. Membunuhku ada-
lah urutan kedua. Yang pertama sebenarnya ada-
lah mengorek keterangan dariku. Betul bukan"!"
"Keterangan apa yang bisa diperoleh dari
Tua bangka sepertimu" Hah..." Bagiku kema-
tianmu adalah yang pertama dan terakhir!"
Ucapan Seruni sedikit merubah paras wa-
jah Peri Kupu-kupu. Dalam hati nenek ini berka-
ta. "Apakah Raksasa Bermuka Hijau melupakan
urusan itu" Jika tidak, kenapa masih menu-
gaskan gadis ini untuk mencabut nyawaku" Apa-
kah dia tak ingin mengorek keterangan mengenai
Lembaran Kulit Naga Pertala yang disangkanya
ada padaku"! Ataukah dia telah yakin kalau lem-
baran kulit itu masih berada di Bukit Siluman"!
Kalau tidak, mana mungkin dia menginginkan
kematianku sebelum didapatkannya lembaran
itu"!" Selagi Peri Kupu-kupu menduga-duga, Seruni berkata.
"Kau siap menuju kematian"! Atau mau bi-
cara dulu"!"
"Anak gadis. Bicara adalah jalan terbaik,
karena kematian tidak menyelesaikan urusan.
Tapi karena ini urusanku dengan Raksasa Ber-
muka Hijau kakekmu, lebih baik aku mene-
muinya...."
"Aku adalah cucunya! Katakan saja pada-
ku! Aku utusannya!"
Peri Kupu-kupu gelengkan kepalanya.
"Urusan kecil di tangan orang tua akan berubah besar jika jatuh ke tangan anak
muda! Aku akan bicara sendiri dengan kakekmu!"
"Baik. Akan kuantar kau menemuinya. Ta-
pi hanya penggalan kepalamu!" hardik Seruni
dengan suara tinggi. Gadis ini lalu berkelebat ke depan. Tangan kiri kanannya
disentakkan ke arah Peri Kupu-kupu.
Murid Wong Agung yang berada tak jauh
dari situ buru-buru menghindar dengan melom-
pat ke belakang lalu seenaknya saja duduk meng-
gelosoh. Dari tempatnya kini dia memandang le-
kat-lekat pada Peri Kupu-kupu sambil usap-usap
hidungnya. "Hem.... Mendengar nada bicaranya, nenek
ini orang baik-baik. Dan kalau mau sebenarnya
mudah saja dia membunuhku saat aku roboh.
Tapi dia tidak melakukannya. Malah memanggil
seseorang tapi yang muncul lain. Hem.... Nenek
ini mempunyai maksud tertentu...."
Di depan sana, begitu Seruni sentakkan
kedua tangannya, dua rangkum angin keluarkan
suara laksana badai melesat cepat ke arah Peri
Kupu-kupu. Peri Kupu-kupu goyang-goyangkan kepala.
Tiba-tiba tubuhnya melesat ke udara. Tangan kiri
kanannya mengebut ke bawah.
Wuuutt! Wuuttt!
Tiada suara deruan yang terdengar, namun
di bawah sana serangan Seruni bukan hanya me-
lenceng tersapu tapi juga ambyar dengan kelua-
rkan letupan. Sosok Seruni terlihat tersurut
mundur hingga lima langkah, membuat gadis
berparas cantik ini katupkan mulut rapat-rapat
dengan dagu mengembang. Sepasang matanya
mengikuti gerakan Peri Kupu-kupu yang perla-
han-lahan melayang turun seperti seekor kupu-
kupu yang hendak hinggap di bunga.
Begitu setengah tombak lagi si nenek men-
jejak tanah, Seruni keluarkan bentakan keras
sambil kirimkan serangan. Tubuhnya berputar
dua kali, pada putaran ketiga kedua tangannya
menghantam. Suasana mendadak redup pekat, hawa
dingin menusuk menyungkup tempat itu. Angin
menderu-deru laksana gemuruh gelombang. Dike-
jap lain terdengar suara seperti air laut muncrat.
Bersamaan dengan itu suasana tambah pekat,
karena tanah yang terkena pukulan Seruni ter-
bongkar lalu membumbung ke udara.
Seruni menunggu dengan tangan siap
kembali kirimkan pukulan karena dia tak men-
dengar suara seruan atau erangan dari orang
yang diserang. Namun hingga suasana sirap, ga-
dis ini tetap tak mendengar suara erangan malah
lebih-lebih yang membuatnya membelalak, si ne-
nek tak tampak batang hidungnya!
"Jahanam! Kalau mampus mana bangkai
keparatnya kalau hidup mana sosok bangsat-
nya"!" Seruni besarkan sepasang matanya menca-ri ke sana kemari. Sementara
Pendekar Mata Ke-
ranjang memandang Seruni dengan senyum dita-
han, membuat gadis itu curiga lalu membentak.
"He! Maha Tua bangka itu"!"
Pendekar 108 layangkan pandangannya lu-
rus pada si gadis, namun sebenarnya matanya
memandang pada sosok yang berada tepat di be-
lakang si gadis.
Mendapati orang tidak menjawab perta-
nyaannya bahkan memandangnya dengan aneh,
Seruni jadi naik pitam.
"He! Lekas jawab atau kau ingin mati seka-
lian"!" "Aku di sini, Anak gadis...."
Seruni tersentak hingga meloncat ke de-
pan, karena suara itu demikian dekat dengan te-
linganya. Dia lalu memutar diri dan tampaklah
Peri Kupu-kupu tegak di mana tadi dia berada!
Hal ini membuat Seruni terguncang dengan muka
merah mengelam. Gadis ini maklum jika saja Peri
Kupu-kupu punya niat mencelakai dirinya, tidak
sulit hal itu dilakukan karena saat itu Peri Kupu-kupu tepat berada di
belakangnya sementara di-
rinya tak tahu.
Peri Kupu-kupu merapikan rambutnya
yang cuma sebatas tengkuk. Lalu melangkah per-
lahan ke arah Seruni.
Entah merasa jera atau geram, Seruni me-
lompat mundur seraya kirimkan pukulan. Dikejap
lain tubuhnya berputar lalu berkelebat tinggalkan tempat itu.
Peri Kupu-kupu menggeser langkah satu
tindak ke samping. Pukulan Seruni yang tampak-
nya dilakukan tanpa tenaga dalam kuat itu men-
deru ke sampingnya.
"Tunggu!" seru Peri Kupu-kupu menahan
kelebatan Seruni, namun gadis itu telah lenyap.
Nenek ini lantas berpaling ke arah Pendekar 108.


Pendekar Mata Keranjang 24 Bukit Siluman di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dari mulutnya terdengar gumaman tak jelas
tatkala matanya tak lagi melihat pemuda itu.
Peri Kupu-kupu usap keringat di leher dan
wajahnya. Lalu mendongak dan berkata. "Banci!
Kenapa kau diam saja di situ"!"
Si nenek tak menunggu lama. Saat itu juga
dari balik sebuah pohon besar berkelebat sesosok
bayangan, dan tahu-tahu di depan Peri Kupu-
kupu berdiri seorang lelaki berwajah amat tam-
pan, malah lebih mendekati jelita. Sepasang ma-
tanya berbentuk bundar. Rambutnya panjang dan
dikepang dua. Bibirnya berbentuk bagus, dan di-
beri pemerah menyala. Tubuhnya yang semampai
dibungkus pakaian perempuan.
Orang yang baru datang, keluarkan tawa
panjang. Tangan kanannya bergerak pulang balik
dengan gemulai. Setelah mengerdipkan mata ki-
rinya, dia berkata. Suaranya mirip seorang pe-
rempuan. "Peri Kupu-kupu. Manusia punya kehen-
dak namun yang di atas menentukan. Aku tahu,
kau tadi berkehendak memanggilku, tapi yang
muncul gadis itu."
"Setan Pesolek! Tak usah banyak bicara!"
rungut Peri Kupu-kupu kesal. "Jangan menam-
bah-nambah urusanku lagi!"
"Manusia hidup tak lepas dari urusan, Peri
Kupu-kupu. Itulah hidup. Tapi tiada urusan yang
tak dapat diselesaikan."
"Sekarang bagaimana"!"
"Kita cari tempat yang tenang untuk bica-
ra." Laki-laki berpakaian perempuan yang ternyata berjuluk Setan Pesolek lalu
memberi isyarat pada Peri Kupu-kupu. Kejap lain dia melesat di
antara kerapatan rimbun pohon meninggalkan
tempat itu, disusul kemudian oleh si nenek ber-
jubah kembang-kembang.
DELAPAN SERUNI yang mengaku cucu dan murid
Raksasa Bermuka Hijau terus berlari laksana di-
kejar setan. Segenap kemampuannya dikerahkan.
Karena saat itu malam telah turun, membuat so-
soknya menjadi samar-samar hitam yang berke-
lok-kelok di antara kerapatan pohon. Dia berlari
kencang bukan khawatir dikejar oleh Perl Kupu-
kupu, karena dia sudah sempat berpaling ke be-
lakang dan dengan sekilas pandang gadis ini telah tahu jika si nenek tak
mengejarnya. Sebaliknya
dia berkelebat cepat karena hatinya gundah dan
kecewa tak dapat melaksanakan niatnya untuk
membunuh Peri Kupu-kupu. Yang lebih lagi,
seandainya Peri Kupu-kupu mau, nyawanya
mungkin sudah melayang!
Pada suatu tempat bertanah rata dan di
sana-sini banyak batu-batu besar, Seruni henti-
kan larinya. Setelah mengusap keringat di wajah-
nya dia melangkah perlahan ke arah sebuah batu
besar lalu duduk dengan sandarkan punggung.
Kedua kakinya diselonjorkan ke depan.
Gadis berwajah cantik ini tengadahkan ke-
pala. Langit tampak cerah tak berawan. Bintang
gumintang bertaburan dan bulan mulai meram-
bat pelan menambah keindahan cakrawala. Tapi
semua itu tak membuat Seruni terhibur. Wajah-
nya pucat dan murung. Lalu dari mulutnya ter-
dengar dia berucap lirih.
"Eyang Guru.... Maafkan aku. Aku belum
berhasil melaksanakan tugas yang kau ama-
natkan padaku. Tapi percayalah, aku tak akan
kembali dengan tangan hampa. Bagaimanapun
caranya, aku akan membawa kepala tua bangka
itu ke hadapanmu, peduli setan dia memberikan
keterangan atau tidak!"
Sejenak Seruni terdiam. Kepalanya masih
tengadah. Kini sepasang matanya memperhatikan
sang rembulan. Kalau sebentar tadi air mukanya
membayangkan kekecewaan dan geram, kini be-
rubah menjadi gelisah dan bimbang.
"Membuat mampus salah seorang dari be-
berapa orang yang harus kulenyapkan begini su-
litnya. Apakah aku mampu untuk menghadapi
lainnya" Ah.... Belum lagi mencari pemuda yang
katanya berhasil memiliki kipas ungu 108 yang
kini digelari orang Pendekar Mata Keranjang 108.
Akankah aku dapat menyelesaikan tugas ini atau
gagal dan bahkan harus tewas" Ah, seandainya
aku tahu di mana ibuku berada mungkin dia da-
pat membantuku. Ibu.... Di mana kau berada"
Masih hidupkah kau...?" Tanpa disadari oleh Seruni air matanya sudah berlinang
membasahi wa- jah dan sebagian pakaiannya.
"Eyang selalu mengatakan bahwa ibuku te-
lah meninggal tapi dia mungkir jika kutanya di
mana kuburnya. Firasatku mengatakan ibu lupa
jika pernah melahirkan seorang anak" Ah, betapa
banyak masalah yang kuhadapi...."
Tiba-tiba Seruni sentakkan kepalanya ke
sebelah kanan, matanya berkilat-kilat meman-
dang ke arah sebuah batu besar. Kedua tangan-
nya diangkat mengusap sebagian air matanya.
Mendadak dia bangkit lalu berteriak garang.
"Siapa pun adanya kau, cepat unjukkan di-
ri!" Tak ada suara menyahut atau munculnya
seseorang. Namun Seruni masih menunggu. Be-
berapa saat berlalu masih tak ada gerakan tak
ada jawaban, Seruni tarik tangan kanannya ke
belakang. "Bagus! Rupanya kau ingin kekerasan!" Seruni mendengus keras. Tangan kanannya
segera dihantamkan ke arah batu besar. Dia sengaja
menghantam bagian atas batu, hingga kejap ke-
mudian bagian atas batu besar itu pecah berkep-
ing dan berhamburan ke udara.
Namun sejauh itu belum tampak adanya
gerakan dari balik batu, membuat si gadis marah.
Kini kedua tangannya ditarik dan dihantamkan
langsung ke arah batu itu. Sebelum kedua tangan
menghantam, dari balik batu berkelebat sesosok
bayangan, seraya berseru.
"Tahan pukulan!"
Seruni urungkan niat. Kini sepasang ma-
tanya mendelik memperhatikan seorang pemuda
berpakaian hijau dilapis pakaian tangan panjang
kuning, tegak berdiri di hadapannya dengan se-
nyum-senyum. "Kau!" gumam Seruni parau begitu menge-
nali siapa adanya pemuda.
"Kau sengaja mengikutiku dan mencuri
dengar! Kau mungkin teman tua bangka itu. Kau
harus mati!" ujar Seruni sambil tarik kedua tangannya lagi siap lepaskan
pukulan. "Tunggu!" tahan si pemuda yang bukan
lain adalah Pendekar Mata Keranjang 108 sambil
memandang lekat-lekat pada Seruni.
Sewaktu Seruni bentrok dengan Peri Kupu-
kupu dan tak dapat melaksanakan niatnya, gadis
ini berkelebat pergi setelah kirimkan satu puku-
lan. Pada saat bersamaan Aji pun diam-diam ber-
kelebat pergi. Karena arah yang dituju sama den-
gan Seruni, Pendekar Mata Keranjang mengiku-
tinya dari belakang. Sebenarnya dia tidak berniat mengikuti ke mana Seruni
pergi. Namun setelah
sampai pada suatu tempat rata yang jarang di-
tumbuhi pohon, Pendekar 108 jadi kebingungan
sendiri. Jika dia terus berlari bukan tak mungkin Seruni akan mengetahuinya.
Pendekar 108 tak
mau bikin persoalan. Dia telah menduga jika nan-
tinya Seruni pasti akan menuduh yang bukan-
bukan jika dia ketahuan. Memikir sampai di situ,
begitu Seruni duduk bersandar pada sebuah batu
besar, Pendekar 108 ini diam-diam juga menyeli-
nap dan mendekam di balik sebuah batu di sebe-
lah kanan Seruni sambil mencari kesempatan un-
tuk berkelebat. Namun niatan Aji tertahan tatkala telinganya menangkap ucapan
Seruni. Dan akhirnya dia mengambil keputusan untuk tetap di
balik batu begitu mendengar dirinya juga disebut-
sebut oleh Seruni. Meski saat itu Seruni tak me-
nyebut namanya, namun pemuda yang telah me-
miliki kipas ungu 108 tidak lain adalah dirinya!
"Maaf. Aku bukan mengikuti atau mencuri
dengar ucapanmu. Kita hanya searah dalam per-
jalanan. Aku...."
"Dusta!" potong Seruni. "Apa yang kau ker-jakan di balik batu itu. Hah..."!"
Pendekar Mata Keranjang cengar-cengir
sambil usap-usap hidungnya. "Seperti halnya
kau, aku juga capek. Lalu duduk di balik batu...."
"Hem.... Begitu. Jelaskan siapa dirimu.
Siapa gelarmu dan apa hubunganmu dengan tua
bangka berjubah kembang-kembang tadi!"
Aji senyum-senyum sejenak lalu menjawab.
"Aku Aji Saputra... Seorang pengelana jalanan yang melangkah menurutkan ke mana
kaki men-gayun. Si nenek itu pun baru kali ini kutemui!"
Si gadis memandang Pendekar Mata Keran-
jang dari atas hingga bawah. "Aji.... Tapi kalau tua bangka Peri Kupu-kupu bikin
masalah dengan dia, pastilah dia salah seorang dari kaum
persilatan. Hem.... Apa dia tadi mendengar uca-
panku" Ah, peduli setan!" Seruni arahkan pandangannya pada jurusan lain. Lalu
berujar. "Malam ini aku masih berbaik hati. Cepat
tinggalkan tempat ini!"
Murid Wong Agung tak menghiraukan uca-
pan orang. Malah dia melangkah satu tindak ke
depan. "Seruni. Apa yang kau ketahui tentang nenek bergelar Peri Kupu-kupu
itu"!"
Seruni menggeleng pelan. "Di sini bukan
tempatnya untuk bertanya! Kataku cepat tinggal-
kan tempat ini. Pikiranku bisa berubah dalam se-
saat!" "Jika itu maumu, baiklah. Tapi kusaran-kan padamu untuk berpikir jernih.
Meski aku be- lum tahu siapa adanya Peri Kupu-kupu, namun
dia tampaknya orang baik-baik. Jangan menuruti
perasaan dan ucapan orang! Gunakan akal piki-
ran dan hati bersih.... "
"Jahanam! Kau tahu apa tentang tua
bangka itu, hah"! "
"Aku buta tentang dia. Tapi melihat sikap-
nya dia orang baik. Kau sadar itu"!"
Seruni tersenyum sinis. "Kau lupa. Sikap
seseorang justru tameng kepalsuan untuk menu-
tupi sifat sebenarnya!"
"Hem.... Jadi Peri Kupu-kupu itu orang ja-
hat?" "Tidak hanya jahat tapi juga licik dan pengecut! Orang macam dia pantas
dilenyapkan!"
"Apa yang diperbuatnya terhadapmu"!"
"Kau bertanya apa menyelidik, hah"!"
"Aku hanya ingin tahu. Karena tanpa ujung
pangkal dia tiba-tiba menyerangku. Siapa tahu
ucapanmu benar, dia menyembunyikan sifat se-
benarnya. Takkan kubiarkan dia hidup jika dia
benar-benar orang jahat!"
"Kau jangan ikut campur urusan ini. Se-
lembar nyawanya milikku!" sahut Seruni seraya arahkan kembali pandangannya pada
Aji. "Mana bisa begitu" Dia telah membuat
urusan denganku! Tapi, hem.... Bagaimana kalau
kita bersama-sama membagi nyawanya" Atau se-
tidak-tidaknya aku membantumu melenyapkan-
nya juga orang-orang lainnya" Bukankah selain
nenek itu kau masih punya urusan lagi"!"
"Berarti dia mendengar ucapanku tadi...,"
batin Seruni lalu tertawa pendek bernada sinis.
"Aku punya tangan untuk membunuhnya! Aku
tak butuh bantuan!"
"Sialan. Sombong betul gadis ini! Tapi aku
akan memancingnya untuk mengatakan apa hu-
bungannya dengan diriku...," Aji berkata dalam hati. "Seruni. Rimba persilatan
kata orang tua-tua penuh dengan kelicikan, kekejian, dendam
kesumat, hasutan serta fitnah. Lebih dari itu ber-kubang beberapa orang aneh
berilmu tinggi...."
Seruni kepalkan kedua tangannya dan di-
acungkan ke atas. "Rimba persilatan boleh me-mendam seribu kelicikan, seribu
kekejian dan dendam kesumat. Silakan beratus-ratus orang
berilmu tinggi berenang di dalamnya! Aku telah
siap menghadang dan menghadapinya! Jangan ki-
ra aku jadi surut karena ucapanmu!"
"Semangatmu menyala-nyala, ilmumu ting-
gi. Tapi jangan lupa, otak serta kecerdikan juga
diperlukan. Jika tidak, kau akan meninggalkan
bumi sebelum kau bertemu dengan orang yang
selama ini kau rindukan!"
Seruni tak sadar tersurut sampai dua
langkah ke belakang mendengar ucapan terakhir
Pendekar Mata Keranjang. Parasnya berubah mu-
rung dengan bibir saling menggait. Perlahan-
lahan pula matanya tampak digenangi air.
Melihat keadaan Seruni, diam-diam Aji me-
rasa bersalah. Murid Wong Agung ini lalu me-
langkah mendekat.
"Maaf kalau ucapanku menyinggung. Se-


Pendekar Mata Keranjang 24 Bukit Siluman di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

benarnya aku hanya ingin mengingatkan bahwa
ada sesuatu hal yang lebih penting dalam hidup-
mu selain amanat yang sekarang kau emban. Me-
nurutku.... "
Pendekar 108 tak lanjutkan ucapannya ka-
rena saat itu Seruni memandang ke arahnya den-
gan pandangan nyalang.
"Jangan lanjutkan kata-katamu! Dan ang-
kat kaki dari sini!"
"Seruni...."
"Pergi kataku! Pergi!" teriak Seruni dengan air mata tumpah.
Entah Aji mengira teriakan si gadis hanya
karena terbawa perasaan yang sejenak kemudian
pasti akan reda, Pendekar Mata Keranjang tetap
tegak di situ. "Jahanam!" maki Seruni seraya angkat kedua tangannya. Suara gelombang angin
dahsyat menyapu ke arah Pendekar 108. Tersentak kaget,
Pendekar Mata Keranjang cepat-cepat berkelebat
meninggalkan tempat itu. Di depan sana tanah
kontan muncrat ke udara menghalangi peman-
dangan terkena pukulan Seruni.
Begitu tanah surut, Seruni tampak duduk
bersandar di lamping batu dengan tangan men-
dekap wajah. Bahunya berguncang-guncang. En-
tah apa yang ada di benak gadis ini, yang pasti di lain saat terdengar suara
sesenggukannya!
SEMBILAN PENDEKAR 108 menggeliat ketika hawa
hangat menyentuh sekujur tubuhnya. Perlahan
dia membuka kelopak matanya. Mata itu segera
mengatup kembali ketika silau oleh cahaya mata-
hari pagi yang menerobos lewat daun-daun pepo-
honan di mana dia berada.
Tapi, secepat sepasang mata itu mengatup,
secepat itu pula, Aji membukanya. Karena sesaat
sebelum sepasang matanya dikatupkan karena
merasa silau, dia sempat melihat adanya dua so-
sok berdiri di hadapannya.
Mereka ternyata adalah seorang lelaki dan
perempuan yang telah berusia lanjut. Yang di se-
belah kanan adalah seorang kakek bertubuh ge-
muk besar. Pada kedua ketiaknya terlihat dua
bambu kecil sebagai penopang tubuh, karena ke-
dua kakinya buntung. Dua bambu itu demikian
kecilnya, dan tubuh si kakek demikian besarnya.
Tapi, bambu itu tidak melengkung apalagi patah!
Di sebelah si kakek adalah seorang perem-
puan tua yang juga bertubuh gemuk besar men-
genakan pakaian merah. Rambutnya yang putih
disanggul di atas. Bibirnya dipoles merah menya-
la. Nenek ini mengenakan anting-anting besar
yang dimuati beberapa anting-anting kecil.
"Gongging Baladewa.... Dewi Kayangan...,"
seru Aji setengah kaget, karena tak menyangka
akan bertemu dengan dua tokoh tua yang sakti
itu. "Hik hik hik...!" perempuan gemuk itu tertawa mengikik. Kemudian, setelah
merasa puas menebar kegembiraan, dia berkata.
"Kau benar-benar pemalas, Anak Kurang
Ajar! Hanya bicaramu saja yang besar, mengata-
kan hendak pergi ke Bukit Siluman. Tapi, nya-
tanya malah pergi ke Pulau Kapuk! Enak-enakan
tidur di sini! "
"Dewi... Siapa yang pemalas, dan enak-
enakan tidur"!" bantah Aji seraya usap-usap hidung dan cengar-cengir.
"Tentu saja kau, Anak Kurang Ajar!" sentak Dewi Kayangan. "Mana mungkin aku"!
Bukankah kau yang tengah bermalas-malasan. Bahkan ma-
lah tidur"! Bukankah sewaktu di Dusun Kepati-
han, setelah sembuh dari luka dalam akibat ber-
tarung dengan Dewa Maut, kau katakan ingin
pergi ke Bukit Siluman! Buktinya"!"
Pendekar 108 garuk-garuk kepalanya se-
raya bangkit. "Kata-katamu perlu kubetulkan, Dewi," sahut Pendekar Mata Keranjang. "Bukan aku
yang ingin pergi ke Bukit Siluman. Bagaimana mungkin aku ingin pergi ke tempat
yang namanya baru
kudengar"! Apalagi di mana adanya tempat itu
pun aku belum tahu"!"
"Hik hik hik...!" Dewi Kayangan tertawa mengikik. "Kau dengar ucapan anak ini,
Gongging"! Meski kurang ajar dan tak bisa diam melihat dahi licin, dia memiliki
otak yang lumayan. Ingatannya cukup kuat."
"Seberapa kuat ingatannya, Dewi?" Gongging Baladewa ikut buka suara. "Mampukah
men- gangkat tubuhku"!"
Pendekar Mata Keranjang tak kuasa untuk
menahan senyum lebar yang menghias bibirnya.
"Hik hik hik...! Rupanya kau sudah men-
dapatkan kemajuan, Gongging. Kau sudah mem-
punyai selera untuk bergurau. Sayang, leluconmu
norak! Kau masih kurang tahu kapan dan di ma-
na harus bersikap seperti itu!" cela Dewi Kayangan. Gongging Baladewa hanya
mendengus. Aji tertawa pelan. Sedangkan Dewi Kayangan, cekiki-
kan. "Anak Kurang Ajar!" Dewi Kayangan putuskan tawanya. "Kau tahu mengapa kau
harus ke Bukit Siluman"!"
Aji angkat kedua bahunya. Lalu kepalanya
digelengkan. "Dewi.... Mengapa mesti bertanya lagi"!
Bukankah kau pun mendengar ketika Setan Peso-
lek menyuruhku pergi ke tempat itu"! Dia tak
menjelaskan apa pun!"
"Hik hik hik...! Inilah orang yang tak meng-
gunakan apa yang dimilikinya"! Punya mulut, tak
dipergunakan untuk bertanya! Mengapa tidak kau
tanyakan orang yang tak ketahuan jenisnya itu"!"
"Dewi.... Kurasa tak ada gunanya berteka-
teki lagi," Pendekar Mata Keranjang menukas.
"Kalau kau memang tahu, beritahukanlah pada-
ku. Kalau kau tak tahu, lebih baik kuteruskan ti-
durku yang tertunda. Pergi ke Bukit Siluman pun
tak ada artinya, bila aku tak tahu tujuannya!"
"Hik hik hik...! Sejak berpisah dari keka-
sihmu itu kau mudah sekali marah, Anak kurang
ajar! Tapi, baiklah. Dengarkan baik-baik, karena
aku tak akan mengulangi keteranganku lagi. Aku
hanya katakan sekali! Tidak ada pengulangan la-
gi, kecuali kalau memang sekali saja tak cukup!
Hik hik hik...!"
Perempuan tua bertubuh besar itu pu-
tuskan tawanya sebelum tuntas. Gongging Bala-
dewa geleng-geleng kepala, bingung.
"Anak bodoh! Waktu itu, si Pesolek me-
mang tak mengatakan mengapa kau harus pergi
ke Bukit Siluman. Karena, dia sendiri belum tahu
jelas. Si banci itu hanya tahu, ada sesuatu yang
sangat berharga di sana. Tapi, setelah kau pergi, dia berhasil mengetahuinya!"
"Syukurlah...," desah Pendekar 108, seraya usap-usap hidungnya. "Dengan begitu,
aku tak seperti keledai bodoh, mencari-cari sebuah tempat, tanpa tahu apa yang
kucari!" "Jangan potong ucapanku! Kalau aku lupa
akan apa yang ingin kuutarakan, kau yang akan
rugi!" sentak Dewi Kayangan, ditutup cekikikannya. "Dengar, manusia banci itu
telah pergi me-nyusulmu untuk memberitahukannya. Khawatir,
dia tak bertemu denganmu, aku dan Gongging
ikut pergi untuk mencarimu. Susah-payah kami
mencari, eh kau malah enak-enakan bermalas-
malasan." "Dewi.... Aku tak bermalas-malasan...."
"Sudah! Sudah...! Tak ada gunanya berde-
bat lagi!" Dewi Kayangan memutuskan. "Sekarang, kau dengar baik-baik. Tujuanmu
ke Bukit Siluman adalah untuk mengambil lembaran ku-
lit...." "Lembaran kulit"!" potong Aji, cepat. "Untuk apa segala macam lembaran
kulit bagiku"!
Jangankan hanya lembaran, sekalipun tumpukan
aku tak akan tertarik!"
"Aku tak peduli apakah kau tertarik atau
tidak!" Dewi Kayangan berkeras. "Yang jelas lembaran kulit yang kau remehkan itu
akan segera membuat geger dunia persilatan. Lembaran itu
akan menjadi rebutan, dan membuat pertumpa-
han darah. Itu menurut si manusia banci!"
"Apakah orang-orang persilatan telah de-
mikian dungunya, sehingga mau memperebutkan
segala macam kulit"! Apalagi hanya selembar!"
gerutu Pendekar 108.
"Lembaran itu bukan benda sembarangan.
Menurut si banci kawanmu itu, lembaran yang
bernama Lembaran Kulit Naga Pertala itu berisi-
kan ilmu silat tinggi!"
"Begitukah"!" sahut Pendekar 108, bernada acuh. "Sayang, aku tak tertarik...."
"Anak Monyet! Aku tak peduli apakah kau
tertarik atau tidak. Yang penting, kau harus men-
dapatkan Lembaran Kulit Naga Pertala, agar tak
terjatuh ke tangan orang-orang golongan hitam!"
tukas Dewi Kayangan dengan suara lebih dike-
raskan. "Apa yang dikatakan Dewi Kayangan me-
mang tak salah. Kau harus mendapatkan Lemba-
ran Kulit Naga Pertala itu. Dan...."
Gongging Baladewa terpaksa putuskan
ucapannya, karena Dewi Kayangan memotong
ucapannya dengan suara keras.
"Tak perlu berpanjang lebar lagi, Gongging!
Ataukah kau ingin ikut bermalas-malasan, tidur
di tempat ini seperti anak kurang ajar itu"!"
Tanpa menunggu tanggapan Gongging Ba-
ladewa, Dewi Kayangan melesat meninggalkan
tempat itu. Si kakek bertubuh besar, hanya bisa
mengangkat bahu, kemudian melesat mengikuti.
Tinggal Aji sendirian di tempat itu. Pemuda ber-
pakaian hijau itu tercenung, seperti tengah me-
mikirkan sesuatu. Tak lama kemudian mulutnya
bergerak membuka.
"Bukit Siluman.... Lembaran Kulit Naga
Pertala...." Sambil menggumamkan kata-kata itu, Pendekar 108 ayunkan langkah dan
tebarkan pandangan ke sekeliling.
Baru dapat lima tombak tiba-tiba sebuah
bayangan berkelebat dan tegak tiga tombak di
hadapan Pendekar 108. Murid Wong Agung hen-
tikan langkah. Dengan mata mengerjap dia perha-
tikan orang di hadapannya.
Dia adalah seorang laki-laki dengan tam-
pang seperti anak kecil berusia sepuluh tahun,
berkepala botak dan berwajah kelimis. Tidak ada
kumis, jenggot mau pun cambang. Mengenakan
celana pendek putih tanpa baju.
Sejenak Aji kernyitkan dahi. "Rasanya aku
belum pernah jumpa dengan manusia ini. Menga-
pa, sikapnya seakan-akan mempunyai silang
sengketa dengannya"!"
"Aku Mahaesa Bayangan!" Tiba-tiba orang di depan Aji keluarkan bentakan.
"Serahkan kipas milikmu padaku!"
Mendapat bentakan, Aji mulai geram. "Me-
nyingkirlah dari hadapanku!" Aji bales membentak. Mahaesa Bayangan ulurkan
tangan mem- buat gerakan meminta. "Aku akan menyingkir,
tapi serahkan dulu kipas itu!"
"Kau bisa minta pada malaikat maut!"
"Keparat!" maki Mahaesa Bayangan seraya menghambur ke depan. Kedua tangannya
berkelebat menghantam ke arah kepala dan perut.
Pendekar 108 tak tinggal diam. Dia mundur satu
langkah. Tangan kiri menghantam ke bawah, tan-
gan kanan diangkat ke atas.
Bukkk! Bukkk! Benturan tak terhindar lagi. Mahaesa
Bayangan terhuyung ke belakang namun cepat
dia bantingkan kaki. Tubuhnya melenting seten-
gah tombak. Dari atas udara kedua tangannya ki-
rimkan pukulan jarak jauh bertenaga dalam kuat.
Wuuut! Wuuuttt!
Angin menderu kencang menghampar ke
arah murid Wong Agung.
"Manusia geblek! Kau hanya cari mati sa-
ja!" seru Pendekar Mata Keranjang lalu hantamkan kedua tangannya. Dua berkas
sinar biru me- lesat cepat lalu mengembang.
Blammm! Mahaesa Bayangan menjerit keras. Sosok-
nya mental jauh ke belakang lalu terkapar di atas tanah. Mulutnya mengucurkan
darah segar. Laki-laki ini memaki tak karuan lalu tertatih-tatih
bangkit. Baru saja tubuhnya tegak, tiba-tiba dari arah samping kiri terdengar
suara deru dahsyat.
Di lain saat gelombang angin menggebrak. Ma-
haesa Bayangan berteriak tegang. Dia tak sempat
berpaling untuk mengetahui siapa yang kirimkan
serangan karena saat itu juga tubuhnya tersapu
lalu melayang. Entah untuk mencoba menahan
gerak tubuhnya, Mahaesa Bayangan kerahkan si-
sa-sisa tenaganya. Dia lalu membuat gerakan
berputar di udara. Namun sapuan itu begitu dah-
syat hingga baru saja tubuhnya berputar, sosok-
nya telah menghantam sebatang pohon. Sesaat
kemudian dia jatuh ke tanah dengan nyawa pu-
tus! Meski berdiri agak jauh, namun Pendekar
Mata Keranjang 108 masih merasakan matanya


Pendekar Mata Keranjang 24 Bukit Siluman di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perih dan hempasan kuat laksana air bah yang
mendorong. Dengan menahan rasa terkejut murid
Wong Agung ini berpaling ke kiri. Sepasang ma-
tanya mendelik tak berkedip. Bersandar pada se-
batang pohon sepuluh tombak dari tempatnya
berdiri Pendekar Mata Keranjang melihat seorang
laki-laki mengenakan jubah hitam ketat menatap
sangar ke arahnya. Sosok orang ini tinggi kurus.
Rambutnya disanggul ke atas. Parasnya lonjong
dan berwarna pucat. Sepasang matanya kecil dan
berwarna merah. Kedua alis matanya tebal dan
bertautan. Yang membuat orang ini makin ang-
ker, adanya sepasang taring yang menyembul dari
sudut-sudut mulutnya.
"Busyet! Ini hantu apa manusia?" gumam
Aji lalu alihkan pandangannya pada Mahaesa
Bayangan. Aji jadi bergidik. Selain hangus hitam, ternyata kulit tubuhnya
mengelupas! Belum sampai Pendekar 108 berpaling lagi
pada orang yang baru datang, terdengar bentakan
keras agak sengau.
"Aku mewakili sang mayat. Serahkan pa-
daku kipas itu!"
Menoleh, Pendekar 108 melihat orang ber-
jubah hitam telah melangkah ke arahnya lalu
berhenti dua tombak di hadapannya dengan se-
pasang mata mengawasi tajam.
"Orang tak dikenal. Siapa kau"!" Aji menegur. Namun diam-diam mengawasi orang di
ha- dapannya dengan lekat-lekat. Matanya disipitkan
lalu dibuka lebar-lebar dengan dahi berkerut.
"Mengapa kau menginginkan kipas milikku?"
Sebaliknya orang berjubah hitam berkata
sendiri dalam hati. "Menyirap dari manusia yang telah jadi mayat tadi, aku yakin
memang pemuda ini orangnya. Hem.... Rezekiku besar. Jika kipas
ungu 108 itu teraih, tinggal memburu Lembaran
Kulit Naga Pertala. Rimba persilatan akan ada di
genggaman!" Orang ini lantas berpaling ke samp-
ing dan berkata.
"Dengar Anak Muda! Orang di hadapanmu
adalah Hantu Berjubah! Aku tak akan bicara be-
rulangkali! Atau kau ingin jadi mayat tak berku-
lit!" Hantu Berjubah menghardik sambil hantamkan kedua tangannya.
Wuttt! Wuttt! Sinar hitam muncrat keluar dari tangan
Hantu Berjubah. Bersamaan dengan itu hitam
pekat segera menyungkup.
Tanpa bicara lagi murid Wong Agung ini
angkat kedua tangannya, kerahkan tenaga dalam
pada kedua tangannya. Seketika menjadi biru
berkilau. Serta merta didorongkan ke depan.
Wuuttt! Wuuuttt!
Dua larik sinar biru melesat cepat ke arah
Hantu Berjubah. Kejap lain di tempat itu berbaur
warna biru dan hitam. Kejap kemudian terdengar
gelegar dahsyat memecah ketika pukulan Mutiara
Biru bentrok dengan pukulan sakti 'Asap Kema-
tian' yang dilepaskan Hantu Berjubah.
Bunga api tampak berpijar di udara lalu
padam terkena hamburan tanah yang menguda-
ra. Hantu Berjubah tampak terhuyung-huyung
namun segera dapat kuasai diri. Tubuhnya berge-
tar keras, wajahnya hitam kemerahan.
Lima belas langkah di hadapan Hantu Ber-
jubah, Pendekar Mata Keranjang berlutut dengan
mulut megap-megap dan dada turun naik dengan
keras. Mukanya pucat dan tangan gemetaran.
Mengetahui tak mengalami cedera parah,
setelah kerahkan tenaga dalam Hantu Berjubah
segera bangkit. Di seberang, melihat Hantu Ber-
jubah telah bangkit, Pendekar 108 segera pula
berdiri. Mata Hantu Berjubah mendelik angker.
Dengusan hidungnya terdengar keras. Diam-diam
dia berkata dalam hati. Kalau tak segera kubikin
mampus, anak ini berbahaya! Bisa jadi duri di
kemudian hari!" Berpikir demikian, Hantu Berjubah segera kerahkan tenaga
dalamnya dan seko-
nyong-konyong dia lepaskan pukulan dengan lu-
tut sedikit ditekuk.
Karena kali ini dengan kerahkan segenap
tenaga dalamnya, bukan hanya sinar hitam saja
yang melesat keluar, namun bersamaan dengan
itu gelombang angin deras menggebrak dengan
keluarkan suara luar biasa dahsyat. Di kejap lain, pemandangan jadi gelap
gulita! Daya lesat sinar hitam yang begitu cepat
dan mendadak tidak memungkinkan bagi Pende-
kar 108 untuk segera lepaskan pukulan 'Mutiara
Biru', membuatnya terpaksa melompat mundur
sambil menghantam.
Pukulan sakti yang dilepas Pendekar 108
masih menyelamatkan dirinya dari hantaman te-
lak pukulan Hantu Berjubah, namun karena ja-
raknya begitu dekat, membuat sosok murid Wong
Agung ini merasakan sekujur tubuhnya laksana
dipanggang ketika terjadi bentrok pukulan. Dan
di lain kejap tubuhnya telah mencelat dan mem-
bentur pohon hingga pohon itu berderak tum-
bang. Tubuhnya lalu jatuh terkulai di samping
pohon yang tumbang dengan darah mengucur da-
ri mulut dan hidungnya!
Hantu Berjubah tertawa mengekeh. Lalu
berkelebat dan tahu-tahu telah tegak di samping
Pendekar 108 dengan tangan menjulur dan tubuh
membungkuk. Pendekar 108 bertahan agar tidak pingsan.
Dan perlahan-lahan tangan kanannya menyelinap
di balik pakaiannya di mana tersimpan kipasnya.
Dia berusaha mencabut kipas itu. Namun wajah
murid Wong Agung ini jadi pias tatkala tenaganya
tak mampu untuk mencabut kipas dari pinggang-
Pedang Awan Merah 2 Joko Sableng 42 Rahasia Darah Kutukan Medali Wasiat 7
^