Pencarian

Malaikat Berdarah Biru 3

Pendekar Mata Keranjang 3 Malaikat Berdarah Biru Bagian 3


Aji. Sehingga untuk beberapa saat, pemuda ini memandangnya dengan tak berkedip.
"Pemuda ini berwajah tampan.
Bersenjata kipas, berambut gondrong.
Apakah dia yang akhir-akhir ini banyak disebut orang dengan julukan Pendekar
Mata Keranjang...?" kata batin gadis berbaju biru dengan lirikan matanya.
Dengan memberanikan diri, gadis
itu menatap Pendekar Mata Keranjang 108 kembali.
"He...! Siapa kau sebenarnya"!"
ulang gadis berbaju biru ini,
membentak. "Aku Aji. Ngg.... Dan kau sendiri siapa, Gadis Cantik...?" tanya Aji seraya
tersenyum. Raut wajah gadis berbaju biru
tambah memerah.
"Apakah kau manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang"!" gadis ini balik
bertanya. Suaranya tetap ketus.
Namun matanya kembali berpaling ke arah lain, tak kuasa menatap mata Pendekar
Mata Keranjang 108 terlalu lama.
Aji tak menjawab. Dia hanya
cengengesan sambil menarik-narik
kuncir rambutnya.
"Kakang Pandu, melihat penampilan dan senjata pemuda itu, aku yakin dialah
pemuda yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan orang. Pastilah
dia yang berjuluk Pendekar Mata
Keranjang," duga Sakawuni perlahan pada Pandu yang berada di sampingnya.
Saat itu kedua anak muda ini
sudah menyingkir agak jauh. Sambil mata mereka tak lepas dari Aji dan gadis
berbaju biru. "Aku pun sudah menduga demikian Sakawuni...," jawab Pandu.
Sementara itu gadis berbaju biru
tampak gusar, karena pertanyaannya tak dijawab. Disertai dengusan, pandangannya
kembali dipatri ke arah Aji.
Ditatapnya pemuda itu dengan sorot mata menyengat.
"Jawab pertanyaanku! Apakah kau manusia yang bergelar Pendekar Mata Keranjang!"
"Ah! Begitulah orang-orang
menyebutku.... Lantas, kau sendiri siapa?" tanya Aji dengan senyum-senyum.
Gadis berbaju biru mengangguk
perlahan. Lalu....
"Ha... ha... ha...!"
"Pendekar Mata Keranjang! Dengar baik-baik. Orang-orang rimba
persilatan memberiku gelar Dewi Naga Hitam!" kata gadis berbaju biru tandas.
Aji hanya tersenyum mendengar
gadis itu menyebutkan gelarnya.
Sementara di tempat agak jauh,
Sakawuni dan Pandu ternganga.
"Ah! Urusan kita bakal runyam, Kakang Pandu! Kudengar Dewi Naga Hitam memiliki
kepandaian luar biasa! Dan dia juga kejam!" bisik Sakawuni.
Dalam rimba persilatan, nama Dewi Naga Hitam memang telah banyak dikenal orang
sebagai tokoh hitam berkepandaian tinggi, yang sangat kejam. Dia telah malang
melintang di daerah
barat, dan telah banyak tokoh yang terjungkal di tangannya. Tampaknya setelah
lama malang melintang,
telinganya mendengar berita bahwa di Teluk Gonggong akan ada suatu
peristiwa besar. Maka, dia pun lantas menuju Teluk Gonggong.
Mendapati Aji tak terkejut dengan gelar yang disebut, Dewi Naga Hitam sedikit
melotot. Jelas, ini seakan sulit dipercaya.
"Hm.... Gelar bagus, cocok dengan orangnya.... Tapi...."
"Pendekar Mata Keranjang!" potong Dewi Naga Hitam. "Kebetulan, kedata-nganku ke
wilayah timur selain ingin tahu ada apa sebenarnya di Teluk
Gonggong, juga ingin membuktikan
berita besar tentang kehebatanmu.
Hm..., menurut kabar, kau telah
berhasil membuat tokoh-tokoh bertekuk lutut. Nah, bersiaplah!"
Sepasang mata Aji terbelalak.
Senyumnya yang dari tadi menyungging, tiba-tiba lenyap, ketika Dewi Naga
Hitam menghentakkan selendangnya
kembali ke arah Pendekar Mata
Keranjang. Wuttt! Werrr! Selendang yang meliuk-liuk dan
kadang-kadang mengeras itu berkelebat cepat ke sana kemari, mengeluarkan
desingan angin panas. Dan di lain kejap, mendadak
sebuah terjangan
sepasang kaki putih menyeruak di
antara liukan selendang dan menghujam ke arah kepala Pendekar Mata Keranjang
108. Aji merasakan bagai ada badai
yang datang menghempas, hendak
melabrak tubuhnya. Maka secepat itu pula Pendekar Mata Keranjang 108
segera melesat, dan membuat putaran dua kali di udara, kalau tak ingin tubuhnya
tersabet selendang dan
terhantam kaki!
"Keparat!"
Dewi Naga Hitam memaki garang
dengan mata mendelik. Seumur-umur baru kali ini serangan berantainya dapat
dielakkan begitu mudah. Segera
selendangnya ditarik pulang dan
dililitkan pada pinggangnya yang
ramping. Lantas kedua tangannya
ditakupkan. Saat itu juga tubuhnya berputar dan meluncur ke atas. Dan sekejap
kemudian, asap hitam segera melingkupi tubuhnya.
Mata Aji kontan melotot
menelusuri tubuh Dewi Naga Hitam yang tadi meluncur berputar ke atas. Namun baru
saja mendongak, dari bawah
meluruk dua gelombang warna hitam.
Pendekar Mata Keranjang 108 hanya sempat melihat sekejap, dan tahu-tahu dua buah
tangan menggebrak dadanya.
Desss! Desss! "Aaakh...!"
Didahului seruan keras, tubuh Aji terpental ke belakang hingga lima tombak dan
jatuh bergulingan. Sambil mendengus keras pemuda ini menjejakkan tumit kakinya. Dan tubuhnya pun
tegak kembali meski agak terhuyung-huyung.
"Jangkrik! Asap hitam dan putaran tubuhnya ke atas hanya tipuan belaka.
Dirinya sebenarnya tetap berada di tempatnya semula. Hm.... Sialan!"
rutuk Aji dalam hati sambil memegangi dadanya yang terasa terhantam benda berat.
Jubah hijaunya tampak membekas telapak tangan berwarna hitam, tepat di dadanya.
"Ternyata gembar-gembor akhir-akhir ini tentang dirimu hanya gombal belaka. Tahu
begini adanya, aku tak akan jauh-jauh datang ke Teluk
Gonggong. Percuma menghadiri undangan yang diikuti orang-orang berilmu
cekak!" dengus Dewi Naga Hitam dengan senyum mengejek.
Murid Wong Agung ini menggeram
marah. Pelipisnya bergerak-gerak.
Tanpa menghiraukan dadanya yang masih terasa nyeri, cepat dipersiapkannya
pukulan ke tiga 'Gelombang Prahara'!
"Hiaaa...!"
Dibarengi bentakan, Pendekar Mata Keranjang 108 mendorongkan tangannya ke depan.
Sementara Dewi Naga Hitam yang
memandang remeh diam seakan
menunggu. Wesss...! Saat itu gelombang angin yang
mengeluarkan suara bagai prahara
melesat ke arah Dewi Naga Hitam.
Wanita kejam ini terkejut. Buru-
buru kedua tangannya segera ditakupkan ke dada dan disentakkan menghadang
serangan. "Hih...!"
Namun karena Dewi Naga Hitam agak terlambat dalam memapak serangan,
akibatnya.... Glarrr...! "Aaakh.,.!"
Setelah terjadi gelegar hebat
akibat bertemunya dua kekuatan
dahsyat, tubuh Dewi Naga Hitam terpental jauh dan menghantam pohon
disertai jeritan dari mulutnya.
Pakaian biru Dewi Naga Hitam
bagian dada tampak terkoyak. Sehingga, buah dadanya yang putih kencang
terlihat jelas. Dan sesaat kemudian, kulit dada yang putih itu merebak
warna merah seperti terpanggang api.
Kedua matanya yang berbinar
terbelalak. Dari sudut-sudut bibirnya tampak mengalir darah kehitaman.
Namun hebatnya, dalam keadaan
demikian, Dewi Naga Hitam segera
menyentakkan tangannya ke tanah.
Brolll! Wesss...! Tanah itu mendadak terbongkar.
Dan tiba-tiba, dari bongkahan tanah serangkum angin berhembus kencang,
melambungkan tubuh Dewi Naga Hitam. Di udara wanita itu membuat gerakan
berputar. Dan dengan sedikit
tergontai-gontai, kakinya mendarat.
"Pendekar Mata Keranjang!
Kutunggu kau malam purnama di Teluk Gonggong! Kau akan rasakan
pembalasanku nanti!" dengus Dewi Naga Hitam, dingin.
Selesai berkata, wanita berhati
iblis ini segera melesat. Namun saat yang sama dilemparkannya sebuah benda bulat
sebesar telur berwarna hitam ke arah Sakawuni dan Pandu.
"Cepat menyingkir!" teriak Aji, memperingatkan.
Namun rupanya Sakawuni dan Pandu
hanya ternganga. Mereka begitu
terkejut, sehingga tak bisa berbuat apa-apa lagi. Untungnya, Pendekar Mata
Keranjang 108 cepat menyadari keadaan.
Segera tubuhnya melesat. Dan....
Bet! Bet! Tubuh Pandu dan Sakawuni langsung melayang bagai terdorong angin keras.
Dan keduanya hampir tak percaya, saat menoleh ternyata mereka telah berada dalam
gapitan tangan Aji. Tubuh Pandu di sebelah kanan, sementara Sakawuni berada di
sebelah kiri. Empat tombak dari tempat Pandu
semula, Pendekar Mata Keranjang 108
mendarat. Dan......
Glarrr...! Tepat ketika Aji mendarat,
terdengar gelegar hebat di tempat Pandu semula.
"Terima kasih, Pendekar
Mata Keranjang! Budimu tak akan kulupa...!"
ucap Pandu sedikit menjura hormat.
Sedangkan Sakawuni hanya tersipu-sipu.
Namun, matanya melirik ke arah Aji.
"Ah! Simpan dulu penghormatanmu itu! Aku percaya, kalian berdua
mempunyai ilmu yang tak bisa dipandang enteng. Namun, untuk menghadapi
peristiwa di Teluk Gonggong, masih membutuhkan waktu lagi. Nah! Kalau aku boleh
usul, sebaiknya kalian kembali saja!" ujar Aji sambil memandang ke arah
Sakawuni. Sakawuni menunduk. Wajahnya
bertambah merah.
"Baiklah, Pendekar Mata
Keranjang! Dan.... Jika peristiwa Teluk Gonggong telah selesai, kau kami
undang untuk datang ke tempat kami.
Guru kami pasti akan gembira
sekali...," sahut Pandu sambil mengerdipkan mata pada Sakawuni.
"Jika ada umur panjang dan ada kesempatan, aku akan mampir ke tempat kalian...."
"Ngg.... Apakah Pendekar telah tahu siapa dan tempat tinggal kami?"
tanya Pandu sedikit heran.
Aji tersadar, kalau belum tanya
tentang diri dua anak muda di
depannya. Dan, di mana tempat tinggal mereka.
"Ngg.... Siapa kalian berdua"
Dan, di mana tempat tinggal
kalian...?" tanya Aji seakan tak ada kejanggalan.
Pandu hanya menggeleng, sambil
tersenyum. "Aku, Pandu. Dan ini Sakawuni, adik seperguruanku. Kami bertempat tinggal di
Lembah Sumber Ayu!" jawab Pandu, akhirnya.
Mendengar penuturan Pandu,
mendadak Aji terlonjak. Matanya
menyorot tajam pada Pandu.
"Jadi..." Kalian berdua kenal Ageng Panangkaran"!" tanya Pendekar Mata Keranjang
108. "Bukan hanya kenal. Bahkan beliau adalah guru kami!" jawab Pandu.
"Ah, kebetulan sekali. Bagaimana beliau sekarang" Apakah sudah sembuh?"
Kali ini Pandu dan Sakawuni yang
terkejut. Mereka heran, dari mana Aji tahu jika Ageng Panangkaran baru saja
sakit" "Pendekar tahu perihal guru
kami...?" tanya Pandu, heran.
"Begitulah...," kata
Aji perlahan. "Sampaikan salamku padanya.
Setelah urusan Teluk Gonggong selesai, aku akan pergi ke sana. Sekarang aku
harus pergi. Ada sesuatu yang arus kuselesaikan...."
Selesai berkata, Pendekar Mata
Keranjang 108 melempar pandangan pada Sakawuni. Dan sebelum berkelebat
pergi, mata kirinya mengerdip nakal.
Wajah Sakawuni bersemu merah dan
agak jengkel. Namun yang keluar malah senyum di bibirnya.
"Julukannya memang pantas dengan orangnya! Hm.... Tapi menarik juga
tampangnya...," kata batin Sakawuni, sambil matanya mengikuti arah
berkelebatnya Aji.
"He.... Kau sedang melamun...?"
ledek Pandu. Sakawuni cemberut, lalu bergegas
pergi mendahului Pandu. Dengan senyum-senyum, Pandu mengikuti dari arah
belakang. "Pendekar Mata Keranjang. Ah!
Orangnya memang menyenangkan. Tak heran jika banyak gadis tertarik
padanya...," kata Pandu agak keras.
Sakawuni menoleh. Namun saat
melihat Pandu tersenyum, gadis ini ikut tersenyum. Wajahnya tampak ceria, meski
jalannya agak tergontai-gontai karena terkena pukulan selendang Dewi Naga Hitam.
*** 7 Menjelang malam
purnama bulan ketiga. Sang surya penerang jagat raya baru saja kembali ke peraduannya. Bias
sinarnya yang berwarna kemerahan masih tampak menerangi langit bagian barat,


Pendekar Mata Keranjang 3 Malaikat Berdarah Biru di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lalu perlahan-lahan meredup dan lenyap sama sekali. Kini gelap penuh telah
membungkus bumi. Dan bersamaan dengan itu, dari arah timur sang rembulan mulai
keluar dari lintasan awan.
Bentuknya yang bulat penuh berwarna keputihan, membuat bumi sedikit
terang. Saat keremangan demikian, bagai
burung-burung malam yang pulang
kandang, tampak berkelebatan beberapa sosok tubuh dari berbagai arah menuju satu
tempat. Teluk Gonggong. Ada yang berkelebat berbarengan berjumlah dua atau tiga
orang. Dan, ada juga yang bergerak sendirian.
Begitu sosok-sosok bayangan itu
mencapai Teluk Gonggong, di antara mereka ada yang langsung mendekam di balik
gugusan batu padas. Dan, ada pula yang tegak berdiri seraya
memandang ke sekeliling.
Sementara bulan bulat merayap
makin ke titik tengah. Sehingga
membuat bumi semakin terang benderang.
Dalam suasana agak terang, tampak sesosok bayangan lain berkelebat
cepat. Dan, dia tahu-tahu telah
berdiri di atas satu gundukan batu padas.
"Manik Angkeran!"
Terdengar suara panggilan dari
balik batu padas.
Sosok yang baru datang dan
berdiri di atas batu padas memang Manik Angkeran. Dia sejenak menebar pandangan
ke sekeliling dataran teluk.
Namun karena dataran teluk itu banyak diseraki batu-batu padas, dia tak dapat
segera tahu siapa saja orang yang ada di baliknya.
"Siapa pun yang segolongan
denganku, harap tak jauh dari tempatku berdiri!" kata Manik Angkeran agak keras.
Begitu mengetahui siapa yang baru saja berucap, dari balik batu padas tampak
beberapa kepala menyembul. Dan mereka langsung berkelebat ke arah Manik
Angkeran. "Manik Angkeran! Undangan macam
apa sebenarnya ini...?" tanya seseorang tanpa menunjukkan dirinya.
"Aku pun masih belum begitu
jelas. Namun yang pasti, kita harus hati-hati! Orang-orang golongan sesat
nampaknya mempunyai maksud jelek di balik undangan itu!" jawab Manik Angkeran,
tanpa menoleh. Sepasang mata Manik Angkeran
tampak mencorong tajam, memandang ke arah gubuk. Dari dalam gubuk, tampak mulai
berkelebat beberapa sosok tubuh yang langsung menyelinap kebalik
gundukan batu padas. Sedangkan dua sosok bayangan lainnya tampak berdiri
berjajar di atas gugusan batu padas paling tinggi.
"Guru! Hingga tengah malam, aku tak menangkap kedatangan orang yang kita
inginkan! Apakah orang itu tak datang...?" tanya sosok yang berdiri di atas
gugusan batu padas paling tinggi.
Sosok itu ternyata seorang laki-
laki berjubah toga warna merah
menyala. Siapa lagi kalau bukan
Malaikat Berdarah Biru" Saat bicara kepalanya sama sekali tak menoleh pada orang
di sampingnya yang dipanggil guru.
"Kau tidak usah cemas, Anak
Agung! Pemuda itu pasti datang.
Kalaupun tidak datang, jangan
khawatir. Korban-korban Teluk Gonggong
telah berdatangan. Cita-citaku
menjadikan Teluk Gonggong sebagai kubangan darah dan makam tak bernisan bagi
para tokoh silat golongan putih akan tercapai malam ini! Juga cita-citamu
menggenggam puncak pimpinan
rimba persilatan, tak lama lagi akan terwujud!" kata sosok yang dipanggil guru.
Sosok itu ternyata seorang
perempuan tua berpakaian warna merah.
Rambutnya panjang dan disanggul ke atas. Dia tak lain Bidadari Telapak Setan,
guru Anak Agung yang berjuluk Malaikat Berdarah Biru.
"Guru! Mana kira-kira orang yang berpihak pada kita...?" tanya Malaikat Berdarah
Biru seraya menebar
pandangan. "Sahabat-sahabat yang sealiran dengan Bidadari Telapak Setan, harap unjukan
diri!" ujar Bidadari Telapak Setan lantang.
Kejap itu juga, dari balik
gundukan batu-batu padas muncul
beberapa sosok tubuh. Mereka langsung berdiri berhadapan dengan beberapa orang
yang ada di sekitar Manik
Angkeran. Pada saat yang sama, beberapa
orang yang masih mendekam di sekitar Manik Angkeran segera pula unjuk diri dan
tegak berdiri. Di bawah sinar rembulan kini
jelas, di dataran Teluk Gonggong
tampak dua kubu saling berhadap-
hadapan. Kubu sebelah kanan tampak beberapa orang yang menampakkan
ketenangan. Pakaian mereka sebagian besar putih-putih. Mereka berdiri di sebelah
Manik Angkeran. Sementara, kubu yang di sebelah kiri tampak
beberapa orang berwajah beringas dan tak menampakkan gurat keramahan.
Mereka berdiri tak jauh dari Bidadari Telapak Setan dan Malaikat Berdarah Biru.
Pakaian mereka sebagian berwarna gelap.
"Mereka semua adalah calon
korban, Muridku!" kata Bidadari Telapak Setan perlahan.
Malaikat Berdarah Biru hanya
mengangguk pelan disertai seringai di bibir.
Malam terus merambat pelan.
Suasana di dataran Teluk Gonggong tampak tegang, meski tak ada suara yang
terdengar. Saat tengah malam tepat, tiba-tiba dari gugusan batu padas yang
paling tinggi, Bidadari Telapak Setan mengangkat tangan
kanannya. Lalu....
"Aku, Bidadari Telapak Setan penghuni Teluk Gonggong menghaturkan terima kasih
kepada kalian yang telah sudi meluangkan waktu untuk datang ke sini. Perlu
kalian ketahui, undangan ini dimaksudkan agar kalian menyak-
sikan sendiri bahwa pada malam ini, muridku yang bergelar Malaikat
Berdarah Biru, menyatakan diri sebagai pimpinan tokoh-tokoh silat. Baik itu dari
golongan putih, atau dari
golongan hitam. Dan dengan demikian, semua urusan yang menyangkut dunia
persilatan harus sepengetahuan Malaikat Berdarah Biru...!" teriak Bidadari
Telapak Setan, mantap.
Terdengar gumaman dan seruan riuh rendah, baik dari kubu di sekitar Bidadari
Telapak Setan maupun dari kubu di sekitar Manik Angkeran.
Sementara Malaikat Berdarah Biru
tampak berkacak pinggang sambil
tersenyum. Matanya menyapu ke seluruh dataran teluk. Namun mendadak
senyumnya lenyap. Pandangan matanya menuju satu arah di seberang pesisir.
"Ada seseorang baru datang...,"
bisik Malaikat Berdarah Biru.
Berpasang-pasang mata yang berada di dataran teluk serentak mengarah pada
sesosok tubuh yang berjalan
perlahan di pesisir pantai. Di terangi cahaya rembulan yang bersinar
benderang, sosok yang terlihat jelas ini adalah seorang pemuda berpakaian jubah
ketat lengan pendek warna hijau yang dilapisi baju dalam warna kuning lengan
panjang. Rambutnya yang panjang dan dikuncir ekor kuda tampak
berkibar-kibar dihembus angin pantai.
Meski masih jauh, namun suara
nyanyiannya yang tak bisa dimengerti, terdengar jelas di dataran teluk.
Sebelum semua tahu siapa gerangan pendatang baru ini, tahu-tahu pemuda berjubah
hijau yang tak lain adalah Aji atau Pendekar Mata Keranjang 108
telah 100 berdiri di pinggiran teluk.
Matanya bergantian memandang pada dua kubu secara bergantian.
Sementara, sepasang mata Malaikat Berdarah Biru langsung menyengat
tajam. Tangannya serentak mengepal tanda tak Sabar. Meski pemuda bernama Anak
Agung itu belum pernah berjumpa, tapi telah bisa menebak siapa pemuda berambut
gondrong dan berjubah hijau ketat berjuluk Pendekar Mata Keranjang 108.
Semua kepala yang berada di
dataran Teluk Gonggong melenggak
heran. Karena, pemuda itu sepertinya tak acuh. Bahkan terus menyanyikan lagu tak
karuan. Namun, sepasang
matanya terus berkeliling mengawasi.
"Pendekar Mata Keranjang panggil Manik Angkeran sambil menggeleng-geleng.
"Pendekar Mata Keranjang ...?"
gumam orang-orang yang di sekitar Manik Angkeran. "Hm.... Jadi, inikah orang
yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang....?"
"Tingkahnya seperti anak sinting,
tapi...." sambut yang lain.
"Berita yang tersiar, dia adalah pendekar budiman. Bahkan ilmunya sukar
dijajaki. Beberapa tokoh hitam
kabarnya tunggang-langgang ketika bertarung dengannya.
"Pendekar Mata Keranjang...!
Akhirnya kau datang juga!" teriak seseorang yang berdiri di sekitar Bidadari
Telapak Setan. Dia adalah gadis berpakaian biru
ketat yang tak lain Dewi Naga Hitam!
Serta-merta sosok-sosok yang di
sekitar Bidadari Telapak Setan
menggumam riuh rendah, mendengar suara lantang Dewi Naga Hitam.
"Astaga! Pemuda sinting itu
rupanya!" Salah seorang yang berada di
sekitar Bidadari Telapak Setan berseru kaget. Orang yang barusan berseru adalah
seorang perempuan jelita
berpakaian putih ketat. Di lehernya, melingkar untaian kalung dari bunga-bunga
hitam. Sedang di atas telinganya, tampak dua kuntum bunga berwarna hitam. Siapa lagi kalau bukan Ratu
Sekar Langit"
"Sudah kuduga sebelumnya, pemuda yang katanya tanpa juntrung ini pasti akan
datang ke sini. Hm.... Rupanya dialah yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang!
Ratu harus hati-hati! Meski tampak begitu, dia sangat berbahaya!"
ujar orang tua di samping Ratu Sekar Langit yang tangan kanannya memegang sebuah
tongkat. Dia tak lain Buyut Linggar Dipa.
Ratu Sekar, Langit hanya
mengangguk perlahan tanpa menoleh.
"Pendekar Mata Keranjang ....
Hmmm..., julukan bagus. Dan, sesuai dengan
pemiliknya...," desis Ratu
Sekar Langit dengan pandangan tak berkedip.
"Muridku! Dugaanku tak meleset.
Yang kau idam-idamkan telah datang!"
kata Bidadari Telapak Setan pelan.
Malaikat Berdarah
Biru yang diajak bicara tak menanggapi. Pandangannya tetap pada Aji yang tampak melangkah
perlahan ke arah Manik
Angkeran. "Akhirnya kau datang juga,
Pendekar!" kata Manik Angkeran. "Aku tadinya cemas. Karena, kau dan
Hulubalang Rama Gita tak terlihat!"
"Apakah Rama Gita mendapat
halangan...?" tanya Pendekar Mata Keranjang 108.
"Aku belum bisa memastikan. Namun sungguh semangatku
jadi menyala, melihat kehadiranmu...," jawab Manik Angkeran, polos.
Sesaat Aji mengawasi beberapa
orang yang ada di sekitar Manik
Angkeran. "Mereka adalah teman-teman dari
golongan kita, Aji!" jelas Manik Angkeran.
Aji tersenyum dan sedikit menjura pada beberapa orang di situ.
Belum selesai Aji mengangkat
tubuhnya.... "Saudara-saudara! Menyambung kata-kataku tadi, perlu juga kalian ketahui. Karena
malam ini adalah suatu pertemuan yang jarang terjadi, maka jika di antara kalian
ada yang punya masalah, silakan selesaikan di sini!
Biar nantinya tidak ada lagi persoalan yang terpendam, saat Malaikat Berdarah
Biru menjadi pimpinan kalian!" sambung Bidadari Telapak Setan memancing
suasana. "Kami, golongan putih tidak ada masalah, Bidadari Telapak Setan! Dan kami tidak
sudi tunduk begitu saja pada segala aturanmu! Silakan kau pimpin orang-orang
yang tunduk padamu!
Tapi bagi kami, golongan putih tak akan menuruti peraturanmu!" teriak Manik
Angkeran. Bidadari Telapak Setan tertawa
terkekeh. Sementara, Malaikat Berdarah Biru mengalihkan pandangan pada Manik
Angkeran. "Begitu...?" kata Bidadari Telapak Setan. "Dengar, Manik Angkeran!
Peraturanku mengatakan, barang siapa menolak kepemimpinan Malaikat Berdarah
Biru, maka tidak akan bisa
meninggalkan Teluk Gonggong dengan nyawa menempel di tubuh!"
"Tunggu!" sela gadis berbaju biru yang tak lain Dewi Naga Hitam.
Semua mata beralih pada gadis
berbaju biru itu dengan tatapan
membelalak. Karena, pakaian Dewi Naga Hitam di bagian dada tampak koyak hingga
tak bisa menyembunyikan buah dadanya yang menyembul kencang.
"Aku datang jauh-jauh dari
belahan barat, bukan untuk mendengarkan khotbah-khotbah kalian! Aku hanya ingin
menjajal kemampuan manusia yang berjuluk Pendekar Mata Keranjang !"
teriak Dewi Naga Hitam.
Sementara Aji hanya tersenyum.
Sedangkan Dewi Naga Hitam mulai
melangkah ke arah Aji.
Melihat wanita itu melangkah ke
arahnya, Pendekar Mata Keranjang
segera pula melangkah menyongsong.
Maka sekejap kemudian, mereka sudah saling berhadapan.
"Pendekar Mata Keranjang! Malam ini kita tuntaskan persoalan yang kemarin
tertunda!" desis Dewi Naga Hitam.
Aji tetap tersenyum. Matanya tak
berkedip menatap gugusan dada Dewi Naga Hitam yang menantang.
"Dewi Naga Hitam! Sebenarnya di antara kita tidak ada masalah! Malah persoalan
kita kemarin kuanggap telah
selesai. Tapi jika kau ingin
meneruskan, aku hanya ikut saja!"
sahut Pendekar Mata Keranjang 108, enteng.
"Dajal Ireng!" potong sebuah suara, memanggil. "Laki-laki berbaju hijau adalah
bagianmu!"
Karena yang memanggil Malaikat
Berdarah Biru, Dajal Ireng segera melangkah. Padahal, wajahnya merah padam
karena merasa diperintah.
Sementara orang berbaju hijau
yang tak lain dari Manik Angkeran segera menyongsong langkah Dajal


Pendekar Mata Keranjang 3 Malaikat Berdarah Biru di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ireng. Kini, di dataran teluk tampak dua orang di sebelah kanan dan dua orang di
sebelah kiri telah bergerak memulai serangan.
Pada saat itu Dewi Naga Hitam
cepat menjentikkan tangannya. Maka mendadak selendang hitamnya yang
melingkar di pinggang lepas, langsung meliuk mengeluarkan suara mendesis ke arah
Aji. Dengan gerakan mengagumkan,
Pendekar Mata Keranjang 108 segera melesat ke udara. Begitu berada di udara,
cepat dikirimkannya pukulan
'Ombak Membelah Karang'!
Wusss! Seketika serangkum angin ber-
gulung-gulung cepat menukik ke bawah ke arah selendang itu.
Dewi Naga Hitam segera menarik
selendangnya. Lalu tangan kirinya segera didorong ke arah Aji. Dan. .
Blarrr! Terdengar ledakan, membuat tanah
di dataran teluk seakan terjadi gempa saat pukulan Aji dipapasi sentakan tangan
kiri Dewi Naga Hitam.
Tubuh Dewi Naga Hitam tampak
terjajar beberapa langkah, namun saat itu juga selendangnya dikebutkan.
Wuttt...! Selendang hitam itu meliuk,
mengeluarkan asap hitam. Tapi sebelum sempat berubah menjadi seekor ular hitam,
Aji segera mengebutkan
tangannya ke arah asap yang mulai bergerak-gerak.
Bret! Bret! "Keparat...!"
Dewi Naga Hitam berteriak marah,
tatkala dilihat selendang hitamnya robek terbelah dua. Bahkan matanya semakin
merah berkilat, saat selendang hitamnya mengepulkan asap dan berbau sangit.
Werrr...! Selagi Dewi Naga Hitam dilanda
amarah, mendadak dari arah samping terdengar suara menderu dahsyat
disertai hembusan angin kencang. Dan begitu melirik sekilas, wajahnya
tampak tercekat. Namun dengan menindih rasa terkejut, segera kedua tangannya
ditakupkan sejajar dada. Lalu, secepat itu pula disentakkan ke arah gelombang
angin yang datang dari samping.
Bret! Blar! "Aaakh...!"
Dewi Naga Hitam terpental
disertai raungan menyayat. Tubuhnya langsung menerabas gundukan batu padas dan
roboh. Semua mata di dataran teluk
mengarah pada Dewi Naga Hitam. Dan semua mata itu melotot, saat melihat Dewi
Naga Hitam diam tak lagi
bergerak. Sementara itu, Aji yang tadi
mengirimkan pukulan dari arah samping tampak terjajar dua langkah
kebelakang. Begitu telah mampu
menguasai diri, dia telah siap
kembali. Namun kembali semua mata di situ
terbelalak. Begitu Aji telah
menggerakkan tangannya, tiba-tiba Dewi Naga Hitam menghentakkan tangannya ke
tanah. Tubuhnya yang tadi diam tak bergerak, melesat ke udara dan
langsung berputaran. Maka saat itu juga asap hitam segera menggulung seluruh
tubuhnya. Selagi Pendekar Mata Keranjang
108 baru dongakan kepala ke atas, tiba-tiba gulungan asap hitam itu telah
menukik ke arahnya. Seketika tubuhnya melompat ke samping kanan,
seraya mengarahkan tangannya yang telah dialiri tenaga dalam penuh ke udara, di
mana tubuh Dewi Naga Hitam tadi tergulung asap.
Asap hitam yang menukik kearah
Aji tadi memang hanya tipuan. Karena begitu mencapai tanah, asap itu segera
ambyar tanpa mengeluarkan akibat apa-apa!
Pada saat yang sama Pendekar Mata Keranjang 108 menghantamkan pukulan ke udara.
Dan.... Desss...! "Aaakh...!"
Terdengar jeritan melengking,
saat pukulan tangan Aji yang diarahkan ke atas menghantam bayangan yang
hampir saja tak terlihat.
Begitu jeritan lenyap, tubuh Dewi Naga Hitam tampak luruh deras dari udara,
menghujam tanah. Sebentar dari bibirnya yang menggenang darah
kehitaman keluar erangan perlahan, sebelum akhirnya terkatup. Tubuhnya tak
bergerak lagi dengan sepasang mata mendelik!
Sementara semua mata tertuju pada tubuh Dewi Naga Hitam yang telah kaku,
sekonyong-konyong dari arah sepuluh tombak dekat gubuk terdengar bentakan dan
sumpah serapah.
Ketika semua mengarah pada suara
bentakan, tampak Dajal Ireng roboh terkapar. Begitu merambat bangkit,
tiba-tiba tubuh Manik
Angkeran berputar. Dan sesaat kemudian tubuh, Manik Angkeran telah tak bisa lagi terlihat
mata! Selagi Dajal Ireng kebingungan,
mendadak berkelebat dua tangan ke arah kepalanya. Dia terkejut, tak bisa lagi
menghindar. Dan....
Prak! Prak! "Aaa...!"
Kepala Dajal Ireng yang diikat
kain warna hitam itu penyok. Darah segar langsung muncrat dari hidung dan
telinganya! Dan sebelum tubuhnya roboh mengantuk tanah, Manik Angkeran
menghantamkan kakinya.
Buk! Telak sekali kaki Manik Angkeran
mendarat di perut Dajal Ireng, membuat tubuhnya melesat kencang dan jatuh di
lekukan teluk tanpa membuat bersuara lagi!
Melihat dua orang dari barisannya menemui ajal beriringan, mata Malaikat
Berdarah Biru mendelik bagai ingin keluar dari rongganya.
"Anak Agung! Kau tak usah
khawatir demikian rupa! Itu adalah keuntungan tersendiri bagi kita. Tanpa
mengeluarkan tenaga, telah bertumba-ngan orang-orang yang mungkin bisa menjegal
kita di tengah jalan! Dan kau tak usah cemas. Orang yang selama ini kita tunggu-
tunggu, kini telah berada
di sini! Aku yakin, pemuda yang
berjuluk Pendekar Mata Keranjang itu adalah murid Wong Agung! Gerakan dan kuda-
kuda yang dimain-kannya mirip sekali dengan gurunya. Meskipun,
gerakan untuk menyerang dan pukulannya baru kali ini kulihat...," bisik Bidadari
Telapak Setan. "Aku pun sudah menduga! Lihat, di balik jubah hijau ketatnya tergurat sebatang
kayu kecil. Itu pasti kipas lipat!" tunjuk Malaikat Berdarah Biru seraya
mengangkat sedikit bahunya.
Bidadari Telapak Setan hanya
mengangguk. "Anak Agung! Ingat! Kau jangan turun tangan d-hulu, sebelum semuanya tumbang.
Kau harus simpan tenaga! Saat mereka sudah loyo, kau masih segar bugar...!"
lanjut Bidadari Telapak Setan.
Selagi kesunyian masih mencekam
di tempat itu, mendadak dari arah gundukan melesat sesosok tubuh. Dan tahu-tahu,
sosok itu telah berdiri dengan kaki terpentang di hadapan Pendekar Mata
Keranjang 108. Sejenak mata Aji terbelalak
lebar-lebar, karena pakaian sosok berbaju hitam yang kini lima langkah di
depannya, pada bagian bawahnya dibuat membelah tengah memanjang.
Sehingga, saat kedua kakinya
terpentang, kulit putih mulus sosok
itu jelas terlihat sampai hampir
pangkal pahanya!
Sosok berbaju hitam itu adalah
perempuan muda bertubuh bagus.
Rambutnya panjang tergerai. Baju
bagian atas dibuat sedemikian rupa, hingga lekukan buah dadanya tampak
mempesona. Dan dia tak lain dari Selir Iblis. Senyumnya tampak tersungging
tatkala melihat sepasang mata Aji yang nyalang tak berkedip memandang
pahanya. "Pendekar Mata Keranjang! Kenapa hanya memandang begitu rupa" Kau boleh
menyentuh dan merabanya...! Bukan hanya itu saja. Yang ini pun boleh!"
Sambil berkata, Selir Iblis
menyingkapkan kain bagian dadanya.
Sehingga, setengah dari buah dada yang menantang itu menyembul jelas.
"Mendekatlah,
Pendekar Gagah!
Rabalah.... Jangan hiraukan mata-mata yang melihatmu! Atau kalau kau malu,
bagaimana kalau mencari tempat yang jauh dari berpasang mata yang
mengawasi...?" desah Selir Iblis, seraya melangkah mendekat.
Sebentar jakun Aji turun naik
dengan cepat. Dadanya berdebar. Aliran darahnya mendesir kencang. Namun belum
sampai tiga langkah kaki Selir Iblis.
"Aji, hati-hatilah! Jangan ter-jerat tipuan nafsu!"
Terdengar bisikan Manik Angkeran,
membuat Aji terkejut. Buru-buru pemuda ini mengangguk perlahan.
"Tahan!"
Dua langkah lagi
Selir Iblis sampai, mendadak Aji membentak garang.
"Perempuan! Sungguh sayang
sekali, aku tidak berselera dengan tubuh yang bagus itu. Bagaimana jika kau
mencari saja di alam kubur..."
Atau..., kau jajakan di pinggir
jalan..."!" lanjut Pendekar Mata Keranjang 108.
"Jahanam!" seru Selir Iblis.
"Hih!"
Seketika perempuan itu menyentak-
kan tangannya ke depan. Maka larikan gelombang warna hitam segera berkiblat ke
arah Aji. Wesss...! Karena begitu dekat, Pendekar
Mata Keranjang 108 tak sempat
menangkis dengan pukulan tangannya.
Tubuhnya hanya berkelebat, namun
larikan gelombang hitam itu seakan bermata. Ke mana tubuhnya berkelebat, larikan
hitam menggidikkan itu terus mengikuti.
"Jangkrik! Aku tak ada ruang untuk lepaskan pukulan...," rutuk batin Aji.
"Giring ke batu padas!"
Tiba-tiba terdengar teriakan
Manik Angkeran, membuat Pendekar Mata Keranjang 108 tersadar. Segera tubuh
Aji melesat ke gundukan batu padas.
Dan begitu larikan gelombang yang mengikuti sedepa di belakangnya,
tubuhnya cepat menyelinap ke balik batu padas. Lalu....
Darrr! Gundukan batu padas kontan hancur berkeping-keping terkena larikan
gelombang warna hitam. Pada saat yang sama tubuh Aji telah melesat. Dan tahu-
tahu Pendekar Mata Keranjang 108
telah berdiri tiga tombak di hadapan Selir Iblis.
"Perempuan liar! Tiba waktunya bagimu menyusul teman perempuanmu tadi!" bentak
Aji dengan kedua tangannya terkepal tersilang di depan dada, siap melepas pukulan 'Gelombang
Prahara'. Tapi saat Aji siap menyerang....
"Buyut Linggar Dipa, kau diundang ke sini bukan hanya untuk menonton orang
berkelahi!"
Malaikat Berdarah Biru berteriak
lantang dari gugusan batu padas.
Sejenak Buyut Linggar Dipa
mendengus geram. Namun demi melihat Ratu Sekar Langit mengangguk perlahan,
tubuhnya cepat berkelebat ke arah Manik Angkeran.
"Manik Angkeran! Akulah
tandingmu!" teriak Buyut Linggar Dipa, tepat ketika Pendekar Mata Keranjang 108
melepaskan pukulan ke arah Selir
Iblis. Namun, bentakan
Buyut Linggar Dipa bagai tertelan suara menggemuruh pukulan tangan Aji.
Mendapati gelombang angin yang
mengeluarkan suara bagai air bah, Selir Iblis cepat pula mendorong
telapak tangannya.
Brak! Bret! Terdengar suara benturan saat
gelombang angin yang keluar dari
tangan Aji terpapak angin dingin yang keluar dari tangan Selir Iblis. Tapi,
tenaga yang keluar dari tangan
Pendekar Mata Keranjang 108 lebih kuat, sehingga tubuh Selir Iblis terpental dan
melayang jauh. Untung saja perempuan itu cepat mematahkan daya dorong, dengan
membuat putaran tubuh.
Sebentar kemudian tubuhnya mendarat, walaupun sedikit gontai.
Aji sendiri terjajar lima langkah ke belakang dan jatuh terduduk. Namun begitu
bangkit, matanya kembali
nyalang melihat keadaan Selir Iblis.
Ternyata baju bagian bawah Selir
Iblis yang telah membelah telah
terkoyak. Sehingga, tanpa urung kaki sebelah kanannya polos tanpa penutup.
Selir Iblis sesaat jadi tertegun.
Namun belum habis rasa tertegunnya, Pendekar Mata Keranjang 108 telah meloncat,
hendak melancarkan serangan
kembali. Selir Iblis tak tinggal diam.
Cepat pula dia meloncat mendekati Aji.
Sehingga belum sempat Pendekar Mata Keranjang 108 melepaskan pukulan, dia telah
mendahuluinya dengan terjangan kaki ke arah dada.
Aji tersentak. Namun cepat dia
membuang diri ke tanah. Sambil memutar tubuh, kaki kanannya menggaet kaki Selir
Iblis yang tegak mengimbangi tubuhnya yang sedang menerjang.
Dug! Bruk! Tak ampun lagi, Selir Iblis
terbanting deras ke tanah. Darah segar mulai mengucur dari hidungnya.
Belum sempat Selir Iblis bangkit, satu tangan Pendekar Mata Keranjang 108
menyambar cepat ke arah dada.
Wuttt! Merasa bahaya datang, Selir Iblis cepat miringkan tubuhnya. Namun tanpa diduga
sama sekali, dari arah samping sebuah tangan lain menghantam tubuhnya yang
sedang miring. Des! "Aaakh...!"


Pendekar Mata Keranjang 3 Malaikat Berdarah Biru di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Untuk kedua kali, tubuh Selir
Iblis terbanting di tanah disertai keluhan tertahan. Kali ini, dari
bibirnya memuntahkan darah kehitaman.
Dan perlahan-lahan, kulitnya yang putih mulus berubah kebiru-biruan.
Lalu di lain kejap, wajahnya yang tampak cantik berubah menjadi kisut mirip
nenek-nenek. Sebentar matanya yang sayu menatap ke arah Aji yang kini berdiri
tak jauh darinya. Lantas dengan suara tak dapat dimengerti, Selir Iblis terkulai
dan tak bergerak lagi!
Sepasang mata Malaikat Berdarah
Biru mendelik. "Jahanam tua! Dia telah menipuku!
Ternyata dia seorang nenek-nenek!"
Mulut Anak Agung mengeluarkan
serapahan panjang pendek dalam hati.
Di lain pihak, Buyut Linggar Dipa tampak terdesak hebat. Namun dalam keadaan
demikian, mendadak dia sempat memukulkan tongkatnya.
Wut! Seketika beberapa benda putih
berbentuk pipih menyerupai pisau kecil melesat cepat ke arah Manik Angkeran.
Dengan sedikit terkejut, Manik
Angkeran cepat pula menghentakkan kalung yang kini telah diputar-putar di depan
dada. Wusss! Seketika angin keras berputar-
putar kencang di depan Manik Angkeran seperti melindungi dari segala
serangan yang datang dari arah depan.
Tak! Tak! Tampak beberapa benda menyerupai
pisau berpentalan, terpapak angin yang
diciptakan Manik Angkeran. Namun
agaknya salah satu dari benda mirip pisau itu menerobos tak terbendung.
Tak ada jalan lain bagi Manik
Angkeran, kecuali harus menyambut senjata rahasia itu. Karena jika
menghindar dengan menggeser tubuhnya, akan lebih banyak lagi senjata rahasia
yang lolos dari angin pertahanannya.
Maka secepat kilat kakinya segera dikepakkan, memapak senjata rahasia Buyut
Linggar Dipa yang berhasil
lolos. Bret! Pras! Terdengar kain terkoyak. Dan ketika Manik Angkeran melirik, tampak kulit bagian pahanya terkelupas
mengeluarkan darah. Pisau kecil
berwarna putih telah menancap di
pahanya. Sambil menahan sakit tak terperi, Manik Angkeran memutar lebih cepat kalung
manik-maniknya. Angin keras terus berkiblat. Dan sesaat kemudian, tanpa diduga
sama sekali, Manik
Angkeran melemparkan kalung ke arah Buyut Linggar Dipa.
Wuttt...! Kalung yang telah terisi tenaga
dalam tinggi itu meluruk deras tak terbendung lagi, menerabas dada Buyut Linggar
Dipa. Prat! "Aaakh...!"
Tubuh Buyut Linggar Dipa kontan
terjungkal disertai keluhan tertahan.
Lalu keras sekali tubuhnya menghantam tanah. Pakaiannya nampak berlubang kecil-
kecil, membentuk seperti manik-manik. Sekujur kulit tubuhnya bagai terjilat api,
hingga merah membara.
Dari hidung dan bibirnya mengucur darah. Namun dalam keadaan yang
demikian itu, Buyut Linggar Dipa tetap berusaha merambat bangkit.
Rupanya Manik Angkeran tahu
gelagat. Sebelum tubuh Buyut Linggar Dipa tegak penuh, tubuhnya cepat
berputar dengan kaki sebelah kanan sedikit diangkat. Dan....
Set! Alas kaki Manik Angkeran yang
terbuat dari kayu seketika melesat cepat ke arah tubuh Buyut Linggar Dipa yang
mulai bergerak bangkit.
Dengan rasa terkejut yang amat
sangat. Namun, rupanya serangkum angin yang mendahului serangan telah
menerjangnya. Dugh! Tubuh Buyut Linggar Dipa
terhuyung hampir jatuh. Padahal pada saat itu, alas kaki yang merupakan serangan
sesungguhnya, terus menerjang arah dadanya.
Buyut Linggar Dipa masih coba
menyilangkan kedua tangannya di depan
dada, namun....
Desss...! "Aaakh...!"
Alas kaki itu telah lebih dahulu
menghujam dada orang tua itu, hingga kembali terjatuh. Sebentar kakinya yang
tampak membujur itu melejang-lejang. Namun, tak lama kemudian diam tak bergerak!
Melihat keadaan ini, Ratu Sekar
Langit segera menghambur ke arah Manik Angkeran, Namun, Pendekar Mata
Keranjang 108 segera dapat menghalangi dengan sentakan tangan ke depan.
Werrr! Angin menderu segera menggulung,
membuat Ratu Sekar Langit segera
menghentikan gerakannya. Kepalanya langsung menoleh ke arah Aji dengan sepasang
mata menghujam tajam.
Padahal, pada saat yang sama angin serangan Pendekar Mata Keranjang 108
masih menderu kearahnya.
Dengan jejakan kakinya, Ratu
Sekar Langit melenting tinggi. Maka serangan angin dari tangan Pendekar Mata
Keranjang 108 lewat menerabas tempat kosong.
Sementara, begitu mendarat Aji
cepat meloncat ke arah wanita itu, tanpa gerakan menyerang.
"Tunggu, Ratu! Kuharap kau
melihat keadaan ini! Tak ada untungnya mengorbankan nyawa sia-sia. Lagi pula,
kalau hanya untuk mendirikan sebuah partai besar, tanpa bantuan Bidadari Telapak
Setan dan muridnya aku percaya kau bisa mewujudkannya." Atau kalau Ratu perlu
bantuan, aku akan senang hati membantu...."
Ratu Sekar Langit tak segera
menjawab. Bibirnya tersenyum, walau terasa dipaksakan.
"Pendekar Mata Keranjang! Sungguh sayang, aku tak tertarik tenaga yang kau
tawarkan! Bersiaplah menghadapi kematianmu!" teriak Ratu Sekar Langit lantang.
Saat itu juga Ratu Sekar Langit
menakupkan tangannya sejajar mulut.
Perlahan-lahan tangannya dibuka dan siap dihantamkan. Namun, ia jadi
terheran-heran saat Aji tak juga
bergerak untuk menghindar atau membuat gerakan untuk menangkis. Malah
sepertinya pemuda itu pasrah! Hanya sepasang mata Pendekar Mata Keranjang 108
yang tajam memandang dalam-dalam ke bola mata bulatnya.
Ratu Sekar Langit serasa
menangkap hawa aneh pada tatapan mata tajam di depannya. Semakin ditatap, hawa
aneh itu serasa makin menghujam dadanya.
Dan tanpa disadari, tangan Ratu
Sekar Langit yang telah siap
menghantam perlahan-lahan luruh ke bawah.
Pendekar Mata Keranjang 108 menarik napas dalam-dalam. Senyumnya segera menyungging. Matanya tak henti
menatap bola mata Ratu Sekar Langit.
"Terima kasih.... Ternyata Ratu tidak meneruskan niat untuk
menghabisiku...," ucap Aji perlahan.
"Pendekar Mata Keranjang ! Untuk saat ini mungkin tidak. Tapi di lain waktu,
mungkin pikiranku berubah!"
kata Ratu Sekar Langit tanpa senyum.
"Ngg.... Bagaimana dengan
tawaranku tadi...?" tanya Aji sambil melirik tajam dan tetap tersenyum.
"Aku menyangsikan ucapanmu!"
jawab Ratu Sekar Langit, tandas.
"Apakah rupaku mirip anak kecil, hingga kau ragu dengan ucapanku...?"
Mendengar kata-kata Aji,
Ratu Sekar Langit tak segera menjawab. Ia tampak ragu-ragu. Sementara, matanya lekat-
lekat menatap pemuda tampan ini.
"Aku tidak tahu. Tapi melihat tingkahmu, kau memang mirip anak
kecil! Tapi..., baiklah. Kutunggu kedatanganmu di Istana Padalarang, setelah
urusan ini selesai. Aku harus pergi sekarang...!" ucap Ratu Sekar Langit seraya
berbalik akan meninggalkan tempat ini.
"Tunggu!" tahan Aji.
Ratu Sekar Langit mengurungkan
niat. Dan dia langsung berpaling pada Aji dengan tatapan tajam.
"Sebelum aku datang ke tempatmu, berikan dahulu penangkal racun yang diakibatkan
senjata rahasia Buyut Linggar Dipa...," pinta Aji, sedikit mengangguk.
Serentak Ratu Sekar langit
menoleh ke arah tubuh Buyut Linggar Dipa yang telah tak bergerak. Matanya yang
bulat tampak berkaca-kaca.
"Maafkan, Ratu. Ajal memang tak dapat ditolak! Tapi, percayalah. Aku sangat
bahagia sekali melihat Ratu Sekar Langit keluar dari barisan
Bidadari Telapak Setan... !"kata Aji, perlahan.
Bibir Ratu Sekar
Langit menyungging senyum, meski guliran bening mulai menetes dari sudut
matanya. Lantas tangannya terangkat.
Segera dicabutnya bunga berwarna hitam yang ada di atas telinga.
"Suruh Manik Angkeran menelan bunga ini.... Dan...."
"Harap Ratu suka meneruskan kata-katanya...!" pinta Aji, sedikit heran.
"Selamatkan Rama Gita. Dia berada di sela batu di pulau itu!"
Sambil berkata, Ratu Sekar Langit menunjuk pada pulau. Kemudian tubuhnya
berbalik dan berkelebat meninggalkan Teluk Gonggong dengan diikuti tatapan dan
senyum Aji. Aji segera melangkah ke arah
Manik Angkeran. Segera diberikannya
bunga berwarna hitam pemberian Ratu Sekar Langit.
"Paman Manik Angkeran! Setelah kau telan bunga ini, harap menuju pulau itu. Rama
Gita berada di sana...," ujar Aji perlahan.
Manik Angkeran mengangguk
disertai ringisan, menahan rasa sakit yang kini mulai menjalar sampai perut.
*** 8 Kepergian Ratu Sekar Langit
membuat para tokoh golongan putih tersenyum. Sementara di lain pihak terdengar
sumpah serapah dan makian panjang pendek.
"Jahanam! Betina itu rupanya terkena bujukan pemuda edan ini...!
Saatnyalah bagiku turun tangan...!"
rutuk Malaikat Berdarah Biru.
"Anak Agung! Rupanya keadaan tidak memungkinkan bagi kubu kita!
Orang-orang di sekitar kita tak ada lagi yang bisa diandalkan. Ternyata, mereka
hanya keroco-keroco! Sementara di pihak lawan, belum satu pun yang tewas.
Ngg..., kurasa lebih baik kita cari siasat untuk mengundurkan
diri.... Setelah itu, aku akan atur lagi bagaimana caranya mengadakan
pembalasan!" kata Bidadari Telapak Setan.
Orang-orang golongan hitam yang
berdiri di belakang Malaikat Berdarah Biru tampak menahan rasa terkejut.
Wajah mereka cemas, mendengar
percakapan Bidadari Telapak Setan dengan Malaikat Berdarah Biru. Namun tak satu
pun yang berani bergerak.
"Guru! Ikan telah berada di
telapak tangan. Lantas, apakah harus kita lemparkan kembali ke air..."
Kalau kau ingin mengundurkan diri, lekas menyingkirlah!" tegas Malaikat Berdarah
Biru, tanpa memandang.
Mendengar kata-kata bernada
meremehkan, wajah Bidadari Telapak Setan bagai hangus terbakar. Hatinya benar-
benar jengkel, betapa muridnya saat ini sudah berani kurang ajar.
"Anak Agung! Ingat! Urusanmu bukan hanya sampai di sini saja.
Perebutan kekuasan di Bali masih
membutuhkan pemikiran tersendiri. Jika kau tewas sekarang, betapa senangnya Rama
Gita. Dia akan membawa penggalan kepalamu untuk diadili tanpa tubuhmu!
Ah, bet-pa mengenaskan. Sekali ini, turuti saranku! Kita tinggalkan tempat ini.
Masih banyak waktu untuk menyusun pembalasan!" kata Bidadari Telapak Setan,
mengingatkan. Bidadari Telapak Setan lantas
melangkah satu tindak ke depan.
"Anak Agung! Aku akan menghadapi anak keparat itu! Dan kau, lekaslah tinggalkan
tempat ini. Kau tentunya tahu ke mana harus pergi!" bujuk perempuan tua itu.
Sementara, Malaikat Berdarah Biru hanya mengusap-usap janggutnya. Tidak
mengangguk, juga tidak menggeleng.
Bahkan memandang pun tidak.
Dengan raut merah padam, Bidadari Telapak Setan segera berkelebat ke arah
Pendekar Mata Keranjang 108 yang telah berdiri dengan bersedekap.
"Aji! Hati-hati
menghadapinya. Hindarkan tubuhmu dari benturan secara langsung dengan telapak tangannya!"
ujar Manik Angkeran mengingatkan, saat melihat Pendekar Mata Keranjang 108
mulai bergerak melangkah menyambut Bidadari Telapak Setan.
Aji menoleh ke arah Manik
Angkeran, dan langsung mengangguk.
Sementara, semua mata kini
tertuju pada dua orang yang telah saling berhadapan.
"Hiaaat...!"
Bidadari Telapak Setan yang
rupanya telah tak sabar, segera
menyentakkan tangannya ke depan.
"Hm.... Akan kulayani bentrok pukulan. Usianya telah lanjut. Jadi tak
mungkin tahan terus-menerus
mengerahkan tenaga untuk memukul...,"
kata batin Aji.
Secepat itu pula, Pendekar Mata
Keranjang 108 memapak sentakan tangan Bidadari Telapak Setan dengan pukulan
'Ombak Membelah Karang'. Dan....
Blarrr! Ledakan menggelegar segera
menyambut, saat dua pukulan bertemu.
Namun Aji sedikit terkejut, melihat tubuh Bidadari Telapak Setan ternyata tak
bergeming sedikit pun.
Melihat hal ini, Pendekar Mata
Keranjang 108 cepat menyiapkan pukulan
'Gelombang Prahara'. Namun baru saja Aji akan bergerak, Bidadari Telapak Setan
telah menyentakkan
kedua tangannya, melepaskan pukulan 'Serat Jiwa'.
Wesss...!

Pendekar Mata Keranjang 3 Malaikat Berdarah Biru di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Seketika selarik gelombang merah
disertai gemuruh, meluruk ke arah Pendekar Mata Keranjang 108. Namun secepat itu
pula, Aji melempar tubuhnya ke samping seraya
menghentakkan tangan ke arah gelombang yang lewat di depannya.
Blarrr! Suasana di Teluk Gonggong men-
dadak terang benderang oleh bunga-bunga api yang berpentalan ke segala arah
bagai jilatan petir. Gundukan batu-batu padas tampak berhamburan.
Gubuk yang ada di tengah dataran
sebentar tampak berguncang hebat, sebelum akhirnya roboh menimbulkan
bunyi berderak.
Namun, lagi-lagi mata Pendekar
Mata Keranjang 108 dibuat terkesiap.
Tubuh renta Bidadari Telapak Setan ternyata tetap tak bergeming. Padahal pemuda
itu sendiri sempat terlempar satu tombak ke belakang!
Sementara tubuh Aji terlempar ke
belakang, kesempatan itu digunakan Bidadari Telapak Setan untuk menoleh kearah
muridnya. Maka demi melihat Malaikat Berdarah Biru masih tegak mematung, wanita
tua itu melotot
garang. "He...! Apa lagi yang kau
tunggu..."!" bentak Bidadari Telapak Setan.
Malaikat Berdarah Biru mengeluar-
kan dengusan keras. Lalu tubuhnya berbalik dan segera melangkah kearah pesisir.
Pendekar Mata Keranjang 108 yang
telah bisa menguasai dirinya, melihat murid Bidadari Telapak Setan itu
hendak kabur. Maka Aji cepat bangkit akan mengejar. Tapi belum sempat
bergerak.... Werrr! Dari arah samping tahu-tahu telah menderu gelombang angin berwarna
merah. Maka secepat itu Aji
mengurungkan niat untuk mengejar. Dan karena tak ada waktu lagi untuk
menghindar, tangannya cepat dimasukkan
kebalik jubahnya.
Wuttt! Bet! Dan sesaat kemudian, dengan kaki
terpentang di tangan Aji telah
menggenggam kipas ungu yang langsung direntangkan di depan dada. Lalu
secepat kilat, kipasnya dikibaskan ke arah gelombang yang datang.
Blap! Gelombang angin warna merah
mendadak bagai membentur dinding, bahkan mental balik ke arah Bidadari Telapak
Setan, Tentu saja hal ini membuatnya tercekat. Wajahnya tampak pucat. Namun, ia
cepat menghindar dengan meloncat ke samping.
Tapi baru saja tubuh Bidadari
Telapak Setan mendarat, pada saat yang sama Pendekar Mata Keranjang 108 telah
melepaskan pukulan 'Gelombang Prahara'! Akibatnya, gelombang angin langsung
meluruk ke arah wanita tua ini.
"Hiaaat...!"
Didahului dengan bentakan
melengking, Bidadari Telapak Setan segera mendorongkan tangannya. Namun pada
saat itu, Aji juga cepat
mengibaskan kipasnya.
Werrr...! Blarrr...! Terdengar ledakan
menggelegar hebat, saat sentakan tangan Bidadari
Telapak Setan yang telah mengerahkan pukulan 'Serat Jiwa' bertemu pukulan
'Gelombang Prahara' milik Pendekar Mata Keranjang 108. Pijaran api tampak
mengangkasa. Tanah tempat bertemunya dua pukulan itu terbongkar,
menciptakan lobang cukup lebar.
Namun tanpa diduga sama sekali
kedua tokoh yang sama-sama telah
mengerahkan ilmu tingkat tinggi itu hanya
terjajar beberapa langkah.
Bahkan Pendekar Mata Keranjang 108
kembali menyentakkan tangannya,
melepaskan jurus sap keempat, 'Segara Geni' dengan gerakan amat cepat.
Werrr...! Saat itu juga melesat serangkum
angin kencang yang diiringi kilatan api, menuju ke arah Bidadari Telapak Setan.
Sementara perempuan tua itu
tampak tersentak dan buru-buru hendak berkelit. Namun....
Jderrr...! "Aaa...!"
Terdengar jeritan menyayat begitu hantaman Pendekar Mata Keranjang 108
mendarat telak di tubuh Bidadari
Telapak Setan. Seketika, tubuh
perempuan itu melayang hingga
pinggiran pesisir, lalu jatuh berdebuk keras di pasir.
Sementara Pendekar Mata Keranjang 108 segera melesat ke arah robohnya
Bidadari Telapak Setan. Dan betapa sukar dipercaya. Ternyata tubuh
Bidadari Telapak Setan telah hangus, menimbulkan bau sangit seperti daging
terbakar! "Hmm... Benar kata Eyang Selaksa.
Pukulan sap keempat dan kelima tidak boleh digunakan secara ceroboh.
Akibatnya, sungguh mengenaskan...,"
gumam Aji pelan. Tubuhnya lantas
berbalik, hendak pergi dari tempat ini.
Namun baru beberapa tombak
berkelebat Pendekar Mata Keranjang 108
menghentikan gerakannya, takkala
sebuah bayangan melesat. Dan tahu-tahu, bayangan itu telah berdiri satu tombak
di depan Aji. "Malaikat Berdarah Biru!" desis Pendekar Mata Keranjang 108.
Tanpa banyak bicara, sosok yang
memang Malaikat Berdarah Biru segera membuka serangan dan melepas pukulan
'Serat Jiwa'! Wesss...! Seketika gelombang angin berwarna merah melesat bergemuruh membuat
Pendekar Mata Keranjang 108 terpaksa menghindar dengan melenting ke
samping. Namun Malaikat Berdarah Biru tak
mendiamkan begitu saja. Kakinya
langsung menjejak, sehingga tubuhnya melesat dengan kaki lurus ke arah
kepala Aji. Cepat Pendekar Mata Keranjang 108
merundukkan kepalanya, dengan tangan terangkat ke atas. Namun, mendadak murid
Bidadari Telapak Setan ini
menarik pulang kakinya. Bahkan dengan gerakan cepat tubuhnya melenting ke atas,
langsung mendorongkan tangannya ke bawah!
Wesss...! Gelombang angin berwarna merah
kembali menukik dari atas dengan suara menggemuruh. Untung Aji masih sigap.
Tubuhnya cepat dibuang ke tanah
berpasir, lalu bergulingan menjauh.
Sedikit saja terlambat menghindar, bukan tak mungkin tubuhnya akan
melesak ke dalam pasir pantai yang kini terbongkar dan beterbangan.
"Jangkrik! Ternyata dia lebih hebat
daripada gurunya! Gerakannya
cepat. Dan sepertinya hendak mengajak adu badan! Hm..., aku harus menyerang
dengan jarak jauh! Peringatan Manik Angkeran pasti juga berlaku untuk Malaikat
Berdarah Biru!" kata batin Aji, begitu melenting bangkit berdiri.
Namun rupanya Malaikat Berdarah
Biru telah membaca jalan pikiran
lawannya. Baru saja pemuda murid Wong Agung ini berusaha menjauh, Malaikat
Berdarah Biru meluruk deras.
Dengan jarak dekat, Aji merasa
tak ada kesempatan untuk melepaskan
pukulan. Sementara, lawannya terus mengejar dengan berharap agar terjadi adu
anggota badan. Maka dengan gerakan mengagumkan
Pendekar Mata Keranjang 108 menghindar dengan membuat lentingan ke depan.
Sehingga terjangan Malaikat Berdarah Biru hanya menebas angin kosong.
Tepat ketika Malaikat Berdarah
Biru berbalik, Pendekar Mata Keranjang 108 telah mendarat sepuluh torn bak dari
tempat semula. "Sial!" dengus Aji.
Saat itu juga Pendekar Mata
Keranjang 108 mengepalkan kedua tangan dan menyilangkannya di depan dada.
Segera dibuatnya gerakan jurus
'Gelombang Prahara'.
"Hih...!"
Pada saat yang sama, murid
Bidadari Telapak Setan
ini telah menyentakkan tangannya, melepaskan pukulan 'Serat Jiwa'. Maka dari kedua
telapaknya meluncur gelombang merah yang menderu tajam.
"Heaaah...!"
Begitu gelombang itu satu depa
lagi menghantam, Pendekar Mata
Keranjang 108 menghentakkan tangannya pula. Dan....
Glarrr...! Pantai Sendang Biru bagai terhempas ombak dahsyat begitu terjadi ledakan dahsyat, saat dua pukulan
tingkat tinggi beradu. Suasana yang mulai terang karena sang surya mulai tampak
dari ujung laut sebelah timur, semakin terang benderang oleh bunga-bunga api
yang berpijaran ke segala arah.
Tubuh Aji terlempar dua tombak ke belakang. Sementara Malaikat Berdarah Biru
terbanting di atas pesisir. Dan mereka segera sama-sama merambat
bangkit, saat itu juga keduanya cepat menyiapkan serangan kembali.
Tepat ketika Malaikat Berdarah
menyentakkan tangannya, sesaat Aji sudah mencabut kipasnya.
Bet! Sekali kebut, kipas itu telah
terkembang di depan dada Pendekar Mata Keranjang 108. Dan begitu gelombang merah
dari tangan Malaikat Berdarah Biru hampir menghantam, Aji langsung
mengibaskannya ke depan.
Blarrr...! "Aaakh..!"
Dua kekuatan berisi tenaga dalam
tinggi bertemu, menimbulkan suara menggeledek. Pasir pantai tampak
beterbangan, menutupi pandangan. Dan dari kepulan pasir, mencelat satu sosok
tubuh. Sosok yang terbungkus jubah toga merah itu bergulingan, lalu berusaha
duduk bersila. Sementara, sosok satu lagi hanya
terjajar beberapa langkah walaupun
dari mulutnya memamerkan seringai kesakitan.
Pasir yang berhamburan seperti
terkena angin kencang dan berhembus menuju satu arah. Malaikat Berdarah Biru
berseru kaget Begitu kepulan debu lenyap
terbawa angin laut, sosok berjubah toga merah yang tak lain Malaikat Berdarah
Biru tampak menggereng marah.
Matanya nampak merah. Napasnya
tersengal dengan dada berguncang. Dari bibirnya tampak mengalir darah segar.
Jelas, dia dalam keadaan terluka dalam yang cukup parah. Sehingga, tidak bisa
segera bangkit berdiri, kecuali hanya meringis kesakitan.
Aji sendiri merasakan tangannya
kesemutan. Namun dia cepat mampu
menguasai diri. Bahkan kini berdiri mantap dengan tangan bersedekap,
menanti lawannya berdiri.
"Pendekar Mata Keranjang! Ingat!
Urusan kita tidak akan habis sampai di sini! Tunggu hari pembalasanku!"
Begitu kata-katanya lenyap,
Malaikat Berdarah Biru mengempos
tenaganya. Dan ketika bangkit tubuhnya cepat berbalik, lalu berkelebat cepat
meninggalkan tempat ini.
Sementara, Pendekar Mata Keran-
jang 108 tidak berusaha mengejar
ketika mendadak dari dataran teluk terdengar suara riuh rendah. Begitu
menoleh, Aji terkejut. Ternyata,
orang-orang golongan putih telah
bergerak menyongsong orang-orang
golongan hitam yang telah tampak
kehilangan nyali.
"Pertumpahan darah lebih lanjut harus dicegah!" gumam Aji, langsung berkelebat
ke arah dataran teluk.
Dengan gerakan cepat, Pendekar
Mata Keranjang 108 mencari tempat yang lebih tinggi. Dan secepat itu pula
kakinya mendarat kokoh di sebuah batu padas yang tadi ditempati Bidadari Telapak
Setan. "Berhenti...!"
Beberapa orang golongan putih
menghentikan langkah dan menoleh, begitu mendengar teriakan Pendekar Mata
Keranjang 108. "Harap semua dapat kendalikan diri! Tak ada gunanya pertumpahan darah
diteruskan. Masalah ini kita anggap tuntas! Bagi mereka yang tidak sepaham
dengan golongan putih, lekas angkat kaki dari sini!" teriak Pendekar Mata
Keranjang 108 lagi.
Mendengar kata-kata Aji, beberapa orang dari golongan hitam satu persatu
beringsut mundur. Dan dengan wajah tertekuk mereka melangkah menuruni dataran
teluk dan berkelebat ke arah pantai.
Pendekar Mata Keranjang 108
tampak menarik napas panjang dan
dalam. Setelah menyimpan kembali
kipasnya ke balik jubah hijaunya, matanya beredar ke sekeliling.
Dirayapinya orang-orang di sekitarnya.
"Kita semua harus bersyukur, karena rencana jahat Bidadari Telapak Setan dan
Malaikat Berdarah Biru bisa dibendung!" lanjut Aji.
"Benar, Pendekar! Kami juga
menghaturkan terima kasih padamu yang telah menyelamatkan dunia persilatan dari
tangan keji Malaikat Berdarah Biru!" sambut salah seorang seraya menjura hormat.
Beberapa orang ikut-ikutan
menjura. "Aji..,."
Tiba-tiba terdengar panggilan
yang disusul dengan berkelebatnya sosok bayangan yang memanggul
seseorang di pundaknya.
"Paman Manik Angkeran...!" seru Aji agak terkejut, seraya melompat ke arah Manik
Angkeran. "Dia terluka parah. Aku harus menyelamatkannya. Karena, nyawaku juga tergantung
pada kesembuhannya!" kata Manik Angkeran, seraya melirik orang di pundaknya yang
tak lain Rama Gita.


Pendekar Mata Keranjang 3 Malaikat Berdarah Biru di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Hm.... Syukur Rama Gita masih selamat. Jika tidak, mungkin pergelangan tangan
Manik Angkeran akan terputus setelah dua hari menda-tang...," kata batin Aji.
"Pendekar Mata Keranjang dan teman-teman dari golongan putih....
Aku mohon maaf, karena harus pergi dahulu. Semoga di lain waktu kita bisa
berjumpa lagi...."
Selesai berkata, Manik Angkeran
berkelebat diiringi anggukan Aji dan beberapa orang yang berada di situ.
*** Tepat ketika orang-orang golongan putih telah meninggalkan Pendekar Mata
Keranjang 108 di Pantai Sendang Biru, mendadak terdengar derap ladam kaki kuda.
Cepat Aji menoleh, ternyata yang datang adalah seorang dara jelita berpakaian
putih menunggang kuda.
Sementara, di sebelahnya tampak seekor kuda yang tanpa penunggang.
Tapi mendadak sepasang mata Aji
terbelalak seakan tak percaya, melihat siapa yang datang.
"Ratu Sekar Langit! Apakah dia datang
menagih janji..." Brengsek!
Kenapa aku ceroboh mengumbar janji"!
Lantas, bagaimana jika dia memang benar-benar menagih janji dan
mengajakku ke tempatnya...?" rutuk batin Aji.
Aji segera berkelebat menyongsong kedatangan gadis berparas ayu itu.
"Ada apa, Ratu...?" tanya Aji seraya senyam-senyum bodoh.
Ratu Sekar Langit menghentikan
kuda tunggangannya. Sejenak matanya memandang pemuda itu.
"Manusia sunting! Apa dia sudah lupa pada janjinya yang belum selang satu
hari...?" maki Ratu Sekar Langit dalam hati.
Dengan lompatan indah, Ratu Sekar Langit turun dari kudanya. Langsung
telunjuknya menuding Pendekar Mata Keranjang 108.
"Pendekar Mata Keranjang! Kuharap kau tak menarik pulang segala ucapan yang
telah kau katakan!" kata Ratu Sekar Langit bernada jengkel, wajahnya bersemu
merah. Aji tampak menarik napas panjang.
Sementara, matanya menatap tajam pada bola mata bulat Ratu Sekar Langit.
"Ngg....Tapi...?"
"Kau tak usah bertapi-tapian, Pendekar! Aku perlu jawaban pasti sekarang juga!"
sentak Ratu Sekar Langit!
Aji terdiam. Kata-kata gadis
cantik itu ternyata tak meleset dari dugaannya.
Karena lama pemuda ini tak juga
menjawab, dengan
wajah memberengut
Ratu Sekar Langit kembali naik
kepunggung tunggangannya.
"Sebentar, Ratu!" ujar Aji.
"Janji bohong apa lagi yang akan kau ucapkan, Pendekar"!"
Pendekar Mata Keranjang 108 lagi-
lagi tak menjawab. Malah kakinya
melangkah mendekati kuda yang tanpa penunggang. Dengan sekali jejak,
tubuhnya melenting. Dan tahu-tahu, dia sudah berada di punggung kuda.
"Ratu, silakan jalan!"
Ratu Sekar Langit menoleh.
Bibirnya tampak menyungging senyum.
Matanya tampak berkaca-kaca. Lalu dengan masih tersenyum, tangannya menyentak
kekang tali kuda tunggangannya.
Dengan senyam-senyum Aji mengi-
kuti tarik kekang tali kuda dan
berjalan menjajari. Memang sulit bagi pemuda urakan macam Aji untuk menolak
tawaran menarik dari seorang gadis jelita macam Ratu Sekar Langit.
SELESAI Tunggu serial selanjutnya:
"MISTERI PENARI RONGGENG"
http://duniaabukeisel.blogspot.com/
Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: mybenomybeyes
Harimau Mendekam Naga Sembunyi 6 Dendam Empu Bharada Karya S D Djatilaksana Lambang Naga Panji Naga Sakti 10
^