Pencarian

Ratu Petaka Hijau 1

Pendekar Mata Keranjang 5 Ratu Petaka Hijau Bagian 1


RATU PETAKA HIJAU Darma Patria Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Cover oleh Henky
Editor: Puji S.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Darma Patria Pendekar Mata Keranjang 108
dalam episode: Ratu Petaka Hijau
128 hal. http://duniaabukeisel.blogspot.com
1 Matahari baru saja lepas dari titik tengah-
nya. Namun karena hujan begitu lebat dengan
awan hitam menutupi angkasa, membuat suasa-
na di puncak Gunung Wilangkor ini ditikam kege-
lapan. Sesekali kilat menjilat angkasa, ditingkahi suara guruh yang menggelegar
keras seperti hendak mengguncang bumi. Ketika kilat sekali lagi
menjilat, suasana terang-benderang menerangi
bukit ini. Dan pada saat yang sekejap itu, tampak dua sosok tubuh manusia
berdiri tegak yang sepertinya tidak mempedulikan suasana seperti ini.
Pandangan mata masing-masing mengarah pada
sebuah bangunan megah di puncak bukit ini yang
pintu satu-satunya tampak tertutup.
Dua sosok ini ternyata dua orang perem-
puan muda yang sama-sama berumur kira-kira
delapan belas tahun. Wajah mereka cantik jelita dan hampir mirip satu sama lain.
Dengan pakaian hijau-hijau tipis mereka tampak menarik.
Apalagi pada bagian bawah pakaian terlihat pen-
dek, hingga paha keduanya yang berkulit mulus
terlihat jelas. Sementara pakaian bagian atas dibuat demikian ketat, sehingga
lekukan dada mas-
ing-masing yang membusung menantang dengan
pinggang ramping tampak begitu menggoda mata.
Belum sempat kedua gadis itu bergerak
mendekat.... Teng! Teng! Mendadak dari arah bangunan megah di
depan kedua gadis kembar ini terdengar bunyi
lonceng berdentang dentang. Mula-mula perla-
han, namun makin lama makin keras dan berta-
lu-talu. Begitu kerasnya bunyi lonceng membuat telinga mereka terasa berdengung.
Bahkan dentingan lonceng itu seakan menelan gelegar halilin-tar yang menyalak!
Bersamaan dengan itu, mendadak dari da-
lam bangunan melesat dua larik asap berwarna
biru, langsung meluruk ke arah dua sosok gadis
kembar yang masih berdiri terperangah.
Dan satu tombak lagi asap berwarna biru
menghantam, dua gadis berbaju hijau itu segera
menentangkan kedua kaki. Sehingga pakaian ba-
wah mereka tertarik sampai pangkal paha. Tan-
gan kanan yang mengepal cepat diangkat di atas
kepala, lalu diputar-putar. Sementara tangan kiri mereka terbuka dan ditarik
sejajar dada. Dari tangan mereka yang berputar-putar di
atas kepala, tiba-tiba melesat asap berwarna hijau bergulung-gulung dan
berpusaran. Saat itu
juga, asap biru seakan tertahan, tak bisa menembus pusaran asap hijau.
"Hiaaa...!"
Diiringi teriakan menggelegar, tangan kiri
masing-masing gadis ini menyentak ke depan.
Glarrr! Terdengar bunyi gelegar dahsyat tatkala
tangan masing-masing gadis ini menyentak.
"He... he... he...!"
Belum juga gema gelegar tadi lenyap, ter-
dengar kekehan tawa panjang. Saat itu juga ke-
dua gadis berbaju hijau serentak menyilangkan
kedua tangan di depan dada dengan mata tak
berkedip ke arah pintu bangunan yang kini telah terbuka!
Belum sirna kekehan tawa, dari dalam
bangunan melesat sebuah kursi berwarna putih
yang berdenting-denting. Dan di depan bangunan
itu kursi putih melayang turun, tepat di depan
dua gadis berbaju hijau.
"Guru!" seru kedua gadis kembar ini serentak, langsung menjura hormat.
Ternyata, di atas kursi putih duduk seo-
rang laki-laki yang sekujur kulit tubuhnya telah mengeriput. Dapat diduga kalau
laki-laki ini telah berusia lanjut. Pakaiannya hitam dari bulu kamb-ing.
Rambutnya telah memutih dan panjang. Ben-
tuk tubuhnya tirus seperti tikus, kedua pipinya amat cekung, sehingga tulangnya
tampak bertonjolan. Di lehernya yang agak miring, melingkar
seutas benang yang mengikat sebuah lonceng be-
sar yang menggandul di depan dada. Setiap laki-
laki ini bergerak, terdengar berdenting. Dan bila melihat matanya yang tak
pernah berkedip, kuat
dugaan kalau laki-laki ini buta.
Di hadapan kedua gadis ini, laki-laki di
atas kursi putih yang dipanggil guru menenga-
dahkan kepalanya ke langit. Terdengar dentingan lonceng begitu kepalanya
bergerak. "He... he... he...! Dua belas tahun ku didik,
ternyata kalian tak mengecewakan! Berarti saat-
nya kini telah tiba bagi kita untuk mengibarkan bendera!" kata laki-laki tua itu
yang diawali dengan kekehan panjang. "Hari ini adalah hari ke-bangkitan!
Kebangkitan Partai Gentapati! Kalian Pusparani dan Puspasari, sekarang
berangkatlah! Hancurkan satu persatu partai silat! Buat satu
persatu tokoh silat bertekuk lutut! Hingga pada saatnya, tak satu pun partai
silat berdiri. Dan, tak segelintir tokoh pun berani unjuk gigi! Kalian berdua
kuberi gelar Ratu Petaka Hijau!"
"Segala perintah Guru akan kami laksana-
kan!" sahut Pusparani dan Puspasari yang digela-ri Ratu Petaka Hijau, hampir
berbarengan. "Hm..., bagus! Lakukan tugas kalian den-
gan baik!"
"Guru! Ada yang hendak kami utarakan...,"
pinta Pusparani.
"Katakanlah...!"
"Berapa lama waktu yang Guru berikan
pada kami untuk menyelesaikan tugas ini...?"
"Enam purnama yang akan datang, kalian
berdua harus sudah berada di sini lagi!"
"Jika demikian, kami berdua sekarang pa-
mit berangkat!"
Ratu Petaka Hijau sama-sama menjura
hormat. "Sebentar...," tahan laki-laki di atas kursi putih sambil tersenyum.
Walaupun kedua matanya buta, namun la-
ki-laki tua ini seakan-akan berusaha memandang
Pusparani dan Puspasari berganti-ganti. Dan dia telah paham betul dengan kedua
gadis itu, lewat nada suaranya.
"Kalian tahu, setengah purnama tak jumpa
kalian, aku sangat kesepian.... Ngg... Mendekatlah...!" desah laki-laki
berkalung lonceng masih dengan senyum.
Pusparani dan Puspasari saling berpan-
dangan. Kemudian dengan langkah berat, mereka
berdua maju mendekat.
"Ha... ha... ha...!"
Mendadak tawa laki-laki berkalung lonceng
meledak. Lantas kedua tangannya langsung me-
raup tubuh Pusparani dan Puspasari. Sehingga,
kedua gadis ini berada dekat sekali di samping
kanan dan kirinya.
Wajah kedua gadis kembar ini nampak me-
rah padam. Sepasang mata mereka berkilat me-
nyala. Namun, keduanya tak bisa mengelak. Bah-
kan demikian pasrah, saat tangan laki-laki berkalung lonceng mulai nakal
bergerak-gerak menge-
lus pinggul mereka. Malah, tatkala tangan laki-
laki itu merambat ke atas, kedua gadis kembar ini tak hendak berontak. Tetap
diam. Mereka sama-sama memejamkan mata, sambil menggigit bibir.
Kala tangan itu terus bergerak liar, mereka men-gerang halus. Dan ini membuat
tangan laki-laki itu tambah meliuk-liuk merambah sekujur tubuh
gadis di samping kiri dan kanannya.
Kini tangan laki-laki berkalung lonceng
mulai menarik pakaian bawah Pusparani. Gadis
itu cepat tersadar, dan segera menahan gerakan
tangan gurunya ini.
"Guru.... Sebaiknya bukan di sini tempat-
nya," desah Pusparani, lirih.
"Ah...!"
Laki-laki berkalung lonceng itu seakan ter-
kejut. Gerakan kedua tangannya segera dihenti-
kan. Senyumnya masih menyungging, sementara
napasnya menggebu dan sedikit tersengal. Lantas dengan gerakan tak terlihat,
tangannya cepat
menggamit tubuh Pusparani dan Puspasari
Serentak kedua gadis ini rebah di pang-
kuannya. Saat itu juga kaki laki-laki berkalung lon-
ceng menjejak tanah. Maka kursi putih yang di-
dudukinya bagai terhempas angin. Dan perlahan
kursi itu bergerak memutar, lalu melayang den-
gan tubuh Pusparani dan Puspasari tetap berada
di pangkuan laki-laki tua itu. Dan mereka pun
masuk ke dalam bangunan itu.
*** "Rani! Kapan kita bisa menghentikan se-
mua ini..." Aku sebenarnya sudah muak dengan
cara begini!" kata Puspasari kala mereka telah menuruni Gunung Wilangkor.
"Kita harus bersabar, Sari! Kita harus me-
nyelesaikan tugas ini dahulu. Setelah semuanya
beres dan partai tumbuh besar, saat itulah menghantam guru cabul yang bergelar
Gentapati itu! Saat ini, kita masih perlu tenaganya!" sahut Pusparani menahan gejolak hati
Puspasari, saudara
kembarnya. Sejenak suasana jadi hening ketika belum
ada yang membuka suara lagi. Mereka terus me-
langkah, menuruni bukit ini.
"Tapi di balik ini semua, kita masih ber-
syukur...," sambung Pusparani.
"Bersyukur..." Apa yang kita syukuri..."!"
tanya Puspasari bernada kesal.
"Seandainya kejantanan Gentapati hidup,
aku sendiri tak bisa membayangkan. Mungkin
aku telah menyingkir jauh-jauh sebelumnya!"
"Hm..., maksudmu" Jika..., ngg, anunya
masih bekerja...?" tanya Puspasari sambil tersenyum kecil.
Pusparani tidak menjawab. Ia hanya ikut-
ikutan tersenyum dengan mata sedikit mendelik.
"Ya! Hanya itulah keberuntungan kita!"
sambung Puspasari.
*** Dua penunggang kuda berpacu cepat den-
gan sesekali melepaskan lecutan-lecutan kecil,
agar kuda tunggangannya itu berlari semakin ce-
pat. Berkuda di sebelah kanan adalah seorang
pemuda berusia kira-kira dua puluh tahun. Se-
mentara di sebelahnya adalah seorang gadis mu-
da berusia tujuh belas tahun.
Pemuda berpakaian putih ini cukup tam-
pan. Kulitnya kuning langsat. Tubuhnya kekar.
Sementara gadis di sebelahnya berpakaian jingga.
Wajahnya cantik dengan kulitnya putih. Diting-
kahi bentuk tubuh yang mempesona, membuat
gadis ini makin menarik.
"Kita harus memacu lebih cepat lagi, Ka-
kang Kuswara. Agar kita tak terlambat menghadi-
ri peresmian itu!" teriak gadis itu sambil melirik ke arah pemuda yang dipanggil
Kuswara tanpa memperlambat lari kuda tunggangannya.
"Benar, Arum! Namun kau tak usah kha-
watir. Lembah Gerabah Sewu telah dekat dari si-
ni! Lagi pula, peresmian berdirinya Partai Merpati Putih masih besok pagi...,"
sambut Kuswara, juga berteriak untuk mengalahkan suara deru angin
dan suara derap kaki kuda.
"Tapi kalau kita datang lebih awal, kukira itu lebih baik. Kita masih ada waktu
untuk menemui Ketua Partai Merpati Putih. Dan kita bisa menyatakan bahwa guru
kita. Mahesa Galuh ber-halangan hadir!" balas gadis bernama Arum ini.
Kuswara hanya mengangguk. Namun baru
saja akan bicara lagi mendadak di depan mereka
berkelebat dua buah bayangan dan langsung ber-
diri menghadang. Seketika, Kuswara dan Arum
menarik tali kekang kuda masing-masing.
Kedua penunggang kuda yang nampaknya
saudara seperguruan itu sama-sama tersentak.
Mata mereka tak berkedip memandang pada dua
bayangan yang ternyata dua orang gadis muda
berpakaian hijau tipis.
"Mendengar percakapan kalian tadi, kalian
tentunya murid manusia yang bernama Mahesa
Galuh! Benar...?" sapa salah seorang gadis peng-hadang.
"Mereka berarti telah menguntit perjalanan kita sejak tadi! Kita harus hati-
hati, Arum. Ilmu meringankan tubuh mereka sangat tinggi. Itu berarti kepandaian
mereka juga sangat tinggi. Buktinya lari kuda kita bisa tersusul!" bisik
Kuswara. Gadis berbaju jingga ini hanya mengang-
guk perlahan. Sementara, sepasang matanya tak
beranjak mengawasi dua gadis berbaju hijau di
depannya yang tak lain Pusparani dan Puspasari.
"Benar! Kalian siapa..." Dan, apa maksud


Pendekar Mata Keranjang 5 Ratu Petaka Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kalian menghadang jalan kami?" tanya Kuswara.
Sementara, matanya berputar mengawasi gadis di
depannya. "Hm.... Kamilah yang berjuluk Ratu Petaka
Hijau!" "Ratu Petaka Hijau..."!" ulang Kuswara dengan suara hampir tercekat di
tenggorokan. Kelihatannya, pemuda ini benar-benar ter-
kejut mendengar julukan kedua gadis kembar itu.
Betapa tidak" Setelah dua purnama ini, Ratu Pe-
taka Hijau telah menggegerkan dunia persilatan
dengan sepak terjangnya yang mengiriskan. Ke-
dua murid Gentapati dari Gunung Wilangkor ini
telah menunjukkan taringnya dengan membantai
tokoh-tokoh berkepandaian tinggi, serta memus-
nahkan beberapa perguruan silat. Begitulah yang terjadi di rimba persilatan, dan
itu sampai juga di
telinga Kuswara dan Arum.
Ketika melihat Kuswara sedikit terkejut
dan Arum melotot, Pusparani makin tergelak.
"Sebenarnya aku ingin menemui guru ka-
lian. Tapi karena bertemu muridnya dulu, tak
apalah...," kata Pusparani masih di tengah-tengah gelak tawanya.
"Apa maksud kailan sebenarnya..."!" bentak Arum, mulai kesal.
"Mengubur nama guru kalian. Sekaligus
kalian berdua!" tandas Pusparani.
"Kakang Kuswara! Selentingan tentang dua
gadis binal ini rupanya benar! Apakah tidak se-
baiknya jika mereka mendapat ganjaran setim-
pal..."!" desis Arum, dengan dada bergemuruh.
Pusparani dan Puspasari merah padam.
Rahang mereka terangkat dengan mata menghu-
jam tajam pada Arum.
"Perempuan sok suci! Kaulah yang patut
dihajar!" bentak Pusparani.
Begitu kata-katanya habis, Pusparani lang-
sung menyentakkan kedua tangannya.
Wesss...! Seketika serangkum angin deras meluncur
ke arah Arum. Namun Arum tak kalah sigap. Se-
telah menepak kudanya agar berlari dari tempat
itu, tubuhnya langsung melenting dengan gera-
kan indah. Dan baru saja tubuhnya akan mem-
buat gerakan berputar di udara, Pusparani telah kembali menyentakkan kedua
tangannya. Wesss...! Angin menderu kembali menggebrak,
membuat Arum tercengang. Wajahnya berubah
seketika. Tapi satu depa deru angin menghantam
tubuhnya yang masih di udara, Kuswara cepat
mengirimkan pukulan jarak jauh untuk memapak
serangan Pusparani.
Blem...! Serangan Pusparani kontan ambyar sebe-
lum sempat menghantam Arum. Namun baru saja
Kuswara bersiap kembali, Puspasari telah berke-
lebat. Dan tahu-tahu tangannya telah menukik
tajam ke arah kepala.
Dengan menindih rasa tercekat, Kuswara
cepat merundukkan kepalanya. Tetapi tanpa di-
duga sama sekali, gadis itu menyentakkan ka-
kinya. Kuswara makin terkejut. Tak ada waktu
lagi untuk berkelit, hingga...
Desss! "Aaakh...!"
Tubuh pemuda itu langsung terpental dari
kudanya disertai keluhan tertahan.
Sementara itu Pusparani sudah melesat ke
arah Arum yang baru saja mendarat.
"Sari! Kau urus laki-laki itu. Aku akan
mempercepat perempuan ini masuk liang kubur!"
ujar Pusparani, berteriak.
Di hadapan Arum, Pusparani langsung
menghantamkan kakinya ke arah pinggang. Se-
dangkan tangan kanannya meluruk ke arah leher.
"Hiaaah...!"
Dengan bentakan nyaring, Arum kembali
menghindar dengan melesatkan diri ke atas. Na-
mun saat itulah, Pusparani menghantamkan tan-
gannya ke atas. Gerakannya benar-benar tak ter-
duga, sehingga Arum terlambat berkelit. Akibat-
nya... Desss! "Aaakh...!"
Terdengar pekikan tertahan begitu hanta-
man Pusparani menemui sasaran. Tubuh Arum
tampak melayang dan jatuh di atas tanah, tak
jauh dari tempat Kuswara yang baru saja bangkit.
"Arum! Cepat menyingkir dari sini. Biar
aku yang menghadapi gadis-gadis iblis ini!" seru Kuswara, menyadari keadaan yang
tak memungkinkan.
Kuswara sadar, bahwa meski bagaimana-
pun usaha mereka berdua, tak mungkin mengha-
dapi dua gadis yang memiliki kepandaian bebera-
pa tingkat di atas mereka.
"Kakang Kuswara! Lari dari pertarungan
adalah tindakan pengecut, meski aku tahu kalau
tak mungkin mengalahkan mereka!" sahut Arum seraya bangkit.
Arum rupanya telah pula menyadari, apa
yang bakal menimpa dirinya. Namun hatinya te-
lah bulat. Bahkan sebelum Kuswara berbuat se-
suatu, tubuhnya telah menyongsong maju ke
arah Pusparani.
Belum lima langkah Arum maju, Pusparani
tersenyum. Lalu....
"Chiaaa...!"
Begitu terdengar teriakan dari mulutnya,
tubuh Pusparani berkelebat. Begitu cepat gera-
kannya, sehingga berubah menjadi bayang-
bayang hijau. Sementara Arum jadi kebingungan untuk
memastikan di mana beradanya lawan. Sehingga
untuk beberapa saat ia hanya diam menunggu
dengan sepasang mata nyalang berputar. Sedang-
kan kedua tangannya telah menyilang di depan
dada. Wesss...!
Saat itulah tiba-tiba angin deras menghan-
tam dari arah samping. Arum cepat menghindar
dengan miringkan tubuhnya. Tapi di kejap lain,
dari arah belakang muncul dua kaki yang mener-
jang deras. Digkh...! "Aaakh...!"
Tubuh Arum terbanting ke depan disertai
lengkingan keras menyayat, ketika kaki Pusparani mendarat telak di punggungnya.
"Arum!" pekik Kuswara hendak mendatangi Namun baru saja pemuda itu bergerak, da-
ri arah depan Pusparani telah berkelebat dan
menghadang. "Kalian ternyata gadis-gadis biadab!" dengus Kuswara. Rahangnya mengembung.
Matanya merah berkilat menahan amarah.
"Peduli apa katamu! Yang pasti, kalian hari ini harus terkubur menyusul beberapa
tokoh yang mengalami nasib naas seperti kalian!" desis
Puspasari sambil kacak pinggang. Kata-katanya
jelas sarat dengan ancaman.
Benar saja. Begitu kata-katanya selesai,
Puspasari cepat mendorongkan tangan kanannya.
Sementara tangan kirinya terbuka di depan dada.
Wesss...! Angin deras berhawa panas segera melesat
ke arah Kuswara. Namun pemuda itu cepat pula
menyambut dengan menghentakkan kedua tan-
gannya. Wuttt! Blar...! Terdengar suara menggelegar saat kedua
pukulan jarak jauh yang sama-sama berisi tenaga dalam tinggi itu bertemu di
tengah-tengah. Tapi bersamaan dengan itu, tangan kiri
Puspasari bergerak menyentak ke depan. Dan kini Kuswara tidak berdaya lagi
berkelit. Akibatnya...
Desss...! "Aaakh...!"
Tanpa ampun lagi sentakan tangan yang
berisi tenaga dalam tinggi menghantam tubuh
Kuswara. Pemuda itu kontan terpelanting ke be-
lakang. Begitu tubuhnya menyuruk tanah, darah
segar muntah dari mulutnya. Sebentar tangannya
melambai pada Arum. Namun tangan itu lantas
lunglai, seiring hembusan napasnya.
"Kakang...!" panggil Arum perlahan seraya bergerak bangkit.
Tapi saat itu juga, Pusparani telah melon-
cat ke arah Arum dengan kaki kanan langsung
menghentak ke arah leher.
Diegkh! "Aaa...!"
Didahului pekikan dahsyat, Arum terbant-
ing kembali menyuruk tanah. Sejenak tubuhnya
bergerak-gerak, namun sesaat kemudian diam
kaku! Pusparani dan Puspasari saling berpan-
dangan, lalu sama angkat bahu.
"Mahesa Galuh kita tunda dahulu. Sebaik-
nya sekarang kita meneruskan ke Lembah Gera-
bah Sewu. Di sana akan diresmikan berdirinya
Partai Merpati Putih. Sebelum menjadi perintang, sebaiknya kita hancurkan
dahulu!" ajak Pusparani, seraya berbalik dan berkelebat ke arah Lem-
bah Gerabah Sewu.
Puspasari masih tampak tegak. Ditatapnya
tubuh Kuswara dan Arum. Mereka yakin mereka
tewas, Puspasari segera berkelebat ke arah berkelebatnya Pusparani.
2 Lembah Gerabah Sewu hari ini tampak lain
dari biasanya. Di depan bangunan besar yang di
depannya terpampang tulisan Partai Merpati Pu-
tih. Sebuah panggung besar tampak berdiri, dikelilingi para tamu dari golongan
kaum persilatan yang duduk di kursi.
Hari ini adalah hari penting dalam catatan
dunia persilatan. Karena saat ini di Lembah Ge-
rabah Sewu akan diresmikan sebuah partai silat
bernama Merpati Putih.
Peresmian partai ini banyak mendapat
perhatian dari tokoh-tokoh persilatan karena yang akan jadi pucuk kendali adalah
seorang tokoh yang sangat disegani. Di dalam rimba persilatan, gelarnya Pendekar Bayu Raksa.
Digelari demikian, karena setiap gerakan dalam ilmunya bertumpu
pada tenaga angin yang telah dilapisi tenaga dalam. Pendekar Bayu Raksa, yang
bernama asli Sindu Kerapan, dikenal sebagai tokoh silat beraliran putih.
Tatkala terdengar tambur ditabuh bertalu-
talu, semua mata yang hadir memandang ke arah
bangunan tempat tinggal sekaligus tempat berla-
tih para murid Pendekar Bayu Raksa.
Dari dalam bangunan, seorang laki-laki be-
rusia sekitar empat puluh lima tahun muncul di-
iringi beberapa pemuda berpakaian serba putih
yang membawa bendera berwarna hijau, bergam-
bar seekor burung merpati warna putih. Pada ba-
ju bagian dada mereka juga bergambar burung
merpati putih. Melihat ciri-cirinya, jelas kalau mereka murid-murid Partai
Merpati Putih yang ten-
gah mengiringi gurunya yang berjuluk Pendekar
Bayu Raksa. Dengan langkah ringan, mereka menuju ke
atas panggung. Sejenak Pendekar Bayu Raksa
menjura ke seluruh yang hadir sambil memper-
kenalkan diri "Saudara-saudara sekalian yang terhormat,
aku selaku ketua partai dan atas nama seluruh
anggota partai mengucapkan banyak terima kasih
atas kehadiran saudara-saudara sekalian yang
meluangkan sedikit waktu untuk turut menyaksi-
kan peresmian partai kami!" kata Pendekar Bayu Raksa, memberi sambutan.
Seraya memberi kata sambutan, sepasang
mata Pendekar Bayu Raksa berputar ke arah ta-
mu yang hadir. "Kami sengaja memilih nama Merpati Putih
untuk partai kami, dengan harapan agar seluruh
anggota partai lebih menyadari bahwa yang dibu-
tuhkan dalam kancah persilatan adalah perda-
maian sebagaimana dilambangkan oleh burung
merpati. Namun di sisi lain, sebagaimana manu-
sia pada umumnya, kami juga melakukan bebe-
rapa kesalahan. Untuk itulah dengan rendah hati, kami mengharapkan teguran atau
nasihat jika kami melakukan tindakan-tindakan ceroboh!"
Setelah mengakhiri kata sambutannya,
Pendekar Bayu Raksa kembali menjura pada se-
genap tamu. Lalu tubuhnya berputar untuk turun
panggung. Tapi baru saja akan melangkah turun,
seseorang tampak berdiri dari deretan kursi tamu sebelah kanan panggung.
"Bayu Raksa! Kedamaian memang mutlak
ditegakkan. Tapi apakah tingkat kepandaianmu
mampu mengemban tugas berat itu" Lagi pula,
bisakah kedamaian itu tercapai jika segala per-
masalahan belum dituntaskan..."!" tanya seorang
laki-laki berjubah hitam yang baru saja berdiri.
Nadanya terdengar menyindir.
Pendekar Bayu Raksa mengurungkan niat
untuk turun. Seketika dia berbalik, dan meman-
dang pada laki-laki berjubah hitam. Sementara
semua mata yang hadir berpaling ke sebelah ka-


Pendekar Mata Keranjang 5 Ratu Petaka Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

nan, memandang laki-laki gundul berjubah hi-
tam. Tubuh laki-laki gundul ini terlihat tegap, dengan otot-otot yang kekar.
Raut wajahnya bulat. Sepasang matanya melotot. Keramahan tak
melintas sedikit pun di wajahnya. Di dalam rimba persilatan, dia berjuluk Jubah
Setan dan telah
lama malang melintang dalam dunia persilatan.
Ketinggian ilmu silatnya sudah tak diragukan la-gi. Bahkan banyak orang yang
segan berurusan
dengannya, karena tabiatnya sangat kejam.
Pendekar Bayu Raksa diam-diam sadar ka-
lau ucapan Jubah Setan merupakan sebuah pan-
cingan untuk membuat suasana panas. Di lain si-
si, Jubah Setan tampaknya menganggap remeh
tingkat kepandaian Pendekar Bayu Raksa.
"Jubah Setan! Aku memang tiada artinya
jika dibandingkan tokoh-tokoh silat yang hadir di sini. Namun bukan tingkat
kepandaian ilmu yang
menjadi tolok ukur bagi seseorang untuk ikut ser-ta menegakkan perdamaian...!
Bukankah begitu?"
sahut Pendekar Bayu Raksa, seperti tak ingin me-layani pancingan itu.
"Ha... ha... ha...!"
Mendengar kata-kata Pendekar Bayu Rak-
sa, Jubah Setan tertawa tergelak.
"Bayu Raksa! Kau rupanya lupa, ini adalah
dunia persilatan yang segalanya diukur oleh tingkat ilmu. Bukan dengan mulut!
Bagaimana kau akan ikut menegakkan perdamaian, jika ilmumu
cekak?" ejek Jubah Setan.
Bagaimanapun kesabaran seseorang, men-
dengar kata-kata Jubah Setan mau tak mau pasti
akan tersinggung. Apalagi, kata-kata itu menju-
rus pada pribadi. Namun baru saja Pendekar
Bayu Raksa hendak menjawab....
"Semua yang hadir di sini tentunya tidak
untuk mendengarkan debat kusir yang tiada ha-
bisnya. Jika ingin bukti, kenapa tidak langsung saja dilakukan pengujian...?"
teriak seseorang da-ri arah utara.
"Betul...! Betul...!" Terdengar suara lain da-ri para hadirin.
"Dan sudah selayaknya jika yang menguji
adalah orang yang pertama kali tak mempercayai
kepemimpinan Pendekar Bayu Raksa!"
Jubah Setan yang merasa kata-kata itu di-
tujukan padanya, serentak melangkah. Lalu den-
gan gerakan ringan sekali tubuhnya melesat ke
atas panggung. "Bayu Raksa! Kau tentunya mendengar ka-
ta para yang hadir. Nah! Sekarang perlihatkan
pada mereka, bahwa kau bukan hanya ingin me-
negakkan perdamaian dengan mulut!" tantang Jubah Setan seraya menyapu pandangan
pada para tamu. Mendengar kata-kata Jubah Setan, para
hadirin bersorak-sorak. Sementara murid-murid
Pendekar Bayu Raksa terlihat geram.
Mendapati gelagat, Pendekar Bayu Raksa
segera memandang ke seluruh anak didiknya, la-
lu mengangguk. Melihat isyarat itu seluruh anak didik Pen-
dekar Bayu Raksa langsung turun panggung satu
persatu. Maka, kini di atas panggung tinggal Jubah Setan dan Pendekar Bayu Raksa
saja. "Jubah Setan! Sebenarnya hal ini adalah di luar acara yang telah disusun. Namun
karena kau memaksa, ada baiknya kita memang saling
memberi pelajaran!" sambut Pendekar Bayu Raksa.
Jubah Setan memandang dengan dahi ber-
kernyit. "Ha... ha... ha...! Bayu Raksa!" panggil Jubah Setan di tengah ledakan tawanya.
"Sebagai calon pemimpin sebuah perguruan silat, tentunya kau selalu siap di
segala suasana, tanpa terikat pada sebuah acara. Kalau tidak, lebih baik kau
turun dari panggung dan bubarkan partaimu!"
Paras Pendekar Bayu Raksa kontan merah
padam. Namun dengan menekan hawa marah,
Pendekar Bayu Raksa tetap tersenyum dingin.
"Jubah Setan! Kuharap jangan terlalu
sembrono berkata-kata! Silakan saja mulai!"
Jubah Setan menyeringai, seperti menge-
jek. Sementara itu suitan dari bawah panggung
makin membuatnya pongah.
"Baik! Terimalah ujian pertama mu, Bayu
Raksa!" desis Jubah Setan.
Saat itu juga laki-laki gundul ini berkele-
bat. Tubuhnya tiba-tiba lenyap dan berubah men-
jadi bayangan hitam. Di lain kejap terdengar deru angin bersiuran bersamaan
dengan berkibarnya
jubah hitamnya.
Sementara Pendekar Bayu Raksa masih te-
nang. Bahkan tetap tegak tak bergeming. Baru
tatkala sebuah tangan menyambar ke arah kepa-
la, dia cepat merunduk sedikit. Dan dengan cepat kaki kanannya menyapu ke arah
kanan. Wuttt...! Jubah Setan sedikit terkejut. Namun cepat
pula tubuhnya melesat ke atas. Di udara tubuh-
nya berputar sekali, lalu mendadak sepasang ka-
kinya telah bergerak lurus menghantam dada Ke-
tua Partai Merpati Putih itu.
Pendekar Bayu Raksa sadar, jika kaki la-
wannya dihantam dengan tangan, tubuhnya akan
terpelanting sendiri. Berpikir begitu, cepat di-buatnya gerakan salto.
Tepat ketika sepasang kaki Jubah Setan
datang menghantam, kaki Pendekar Bayu Raksa
memapak. Plak! Benturan keras tak dapat dihindari lagi.
Tubuh Jubah Setan yang melancarkan serangan
dari udara, membanting ke samping. Sementara
Pendekar Bayu Raksa hanya tergontai-gontai se-
dikit ke belakang.
Disertai seringai kasar, Jubah Setan bang-
kit. Kakinya serasa nyeri sementara wajahnya kelam. Dengan dengusan keras
ditariknya jubah hi-
tam ke belakang. Dan sekejap itu juga, diki-
baskannya ke depan.
Wesss...! Seketika serangkum angin menderu dah-
syat menggebrak ke arah Pendekar Bayu Raksa.
Beberapa jengkal lagi angin itu menghan-
tam, Pendekar Bayu Raksa menghentakkan ke-
dua tangannya. Wurrr...! Segulung gelombang angin saat itu juga
melesat dari telapak tangan Pendekar Bayu Raksa memapak angin dari jubah hitam
si Jubah Setan.
Dan... Blarrr...!
Terdengar ledakan cukup dahsyat, mem-
buat tempat ini bergetar cukup hebat. Tampak
tubuh Jubah Setan terdorong ke belakang hingga
empat langkah. Sementara Pendekar Bayu Raksa
tegak tak bergeming.
Sorak-sorai hadirin makin menggema,
membuat muka Jubah Setan makin memerah.
Matanya yang melotot tampak berkilat-kilat, me-
nyengat tajam ke arah Pendekar Bayu Raksa.
"Huh...!"
Dengan dengusan tajam, Jubah Setan me-
masukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah
hitamnya. Kini semua mata tertuju pada laki-laki gundul yang rupanya akan
mengeluarkan puku-
lan andalan. Melihat hal ini, Pendekar Bayu Raksa sege-
ra menakupkan kedua tangannya ke depan dada
dengan mulut berkemik. Sementara matanya se-
dikit terpejam.
Sedangkan mata seluruh yang hadir kini
membesar, seakan tak percaya saat Jubah Setan
mengeluarkan tangannya kembali. Tangan itu te-
lah berubah menjadi hitam legam berkilat-kilat.
Dan tak menunggu lama, laki-laki gundul itu se-
gera menghentakkan kedua tangannya ke arah
Pendekar Bayu Raksa.
Werrr...! Sinar hitam berhawa panas disertai deru
angin tajam menyambar cepat. Pada saat yang
sama, Pendekar Bayu Raksa segera pula mendo-
rongkan kedua tangannya.
Wuttt...! Glarrr...! Panggung besar kembali bergetar hebat ke-
tika dua pukulan bentrok di udara. Jubah Setan
tampak terjengkang dan terkapar di atas pang-
gung. Sementara Pendekar Bayu Raksa bergulin-
gan hingga hampir jatuh dari atas panggung.
Dengan meringis menahan nyeri di dada,
Pendekar Bayu Raksa cepat bangkit. Lalu kakinya melangkah ke arah Jubah Setan
yang juga mulai
bergerak bangkit.
"Jubah Setan! Kukira hal ini cukup sampai
di sini saja! Silakan kembali ke tempatmu!" ujar Pendekar Bayu Raksa, dingin.
Seraya mengusap darah yang mengalir dari
sudut bibir, Jubah Setan menggerung keras. Tan-
pa menghiraukan kata-kata Pendekar Bayu Raksa
kedua tangannya diangkat ke atas sejajar kepala.
"Bayu Raksa! Jika mampu menahan puku-
lan 'Setan Kembar'-ku, kau layak memimpin se-
buah perguruan silat!" desis Jubah Setan.
Mendengar Jubah Setan menyebut puku-
lannya, Pendekar Bayu Raksa merasa jika Jubah
Setan telah lebih jauh melangkah. Dia tahu, laki-laki gundul ini mengajak adu
jiwa. "Jubah Setan! Ujian ini tak bertujuan un-
tuk mencelakai. Jadi kuharap kau menyada-
rinya!" ujar Pendekar Bayu Raksa lagi, agak lem-but "Ha... ha... ha!"
Jubah Setan tertawa bergelak-gelak men-
dengar kata-kata Pendekar Bayu Raksa. Namun
belum usai gerakan tawanya....
"Heh..."!"
*** Semua orang yang ada di sekitar panggung
pertarungan terkejut bukan main ketika dua
bayangan hijau mendadak berkelebat, dan tahu-
tahu telah berdiri di atas panggung. Yang satu
berhadapan dengan Jubah Setan, sementara sa-
tunya langsung berhadapan dengan Pendekar
Bayu Raksa. Seluruh mata yang hadir kontan mendelik
tak berkedip. Bahkan sebagian ada yang berdecak kagum dengan jakun turun naik
dan napas memburu kencang. Karena ternyata yang kini berada
di atas panggung adalah dua orang gadis cantik
berpakaian hijau-hijau tipis membangkitkan
syahwat. Selagi seluruh perhatian terarah pada dua
gadis yang baru datang, salah seorang gadis yang berhadapan dengan Jubah Setan
tiba-tiba berpaling pada tamu yang hadir.
"Kalian semua dengar! Kami akan men-
gampuni nyawa kalian semua, tapi dengan satu
syarat!" teriak gadis itu.
Keheningan segera menyambut. Semua te-
linga dan mata kini tertuju pada gadis yang kini pandangannya menyapu seluruh
yang hadir. "Siapa sebenarnya dua gadis cantik itu...?"
bisik salah seorang yang duduk di deretan paling depan pada orang di sebelahnya.
Yang diajak bicara menggeleng perlahan
tanpa menoleh. "Kalian semua harus berlutut dan men-
gangkat sumpah masuk partai yang akan kami
dirikan!" lanjut gadis itu lagi.
Terdengar riuh rendah dari para yang ha-
dir. "Siapa kalian sebenarnya..."!"
Kali ini Pendekar Bayu Raksa yang angkat
bicara sambil mengibaskan tangan kanannya,
saat beberapa anak didiknya akan bergerak ke
arah panggung. Dia mengisyaratkan agar murid-
muridnya kembali ke tempat masing-masing.
Gadis berbaju hijau yang berada di depan
Pendekar Bayu Raksa melangkah maju, menjajari
gadis satunya yang tadi di depan Jubah Setan.
Sejenak pandangan beredar ke sekeliling.
"Kami adalah Ratu Petaka Hijau! Enam
purnama depan, kami akan meresmikan berdi-
rinya Partai Lonceng Kematian! Dan menjadi ke-
harusan bagi kalian semua untuk masuk menjadi
anggota partai kami! Jika tidak, kalian akan tahu akibatnya!" teriak gadis itu,
lantang. "Ratu Petaka Hijau...?" seru beberapa hadirin dengan dahi berkernyit. Sementara
mata me- reka masih tak berkedip.
"Aku hampir tak percaya jika Ratu Petaka
Hijau yang kabarnya telah menewaskan beberapa
tokoh silat andal serta mengobrak-abrik beberapa perguruan silat, adalah dua
orang gadis muda....
Hm.... Jika demikian, mereka tidak boleh dibuat remeh!" batin Pendekar Bayu
Raksa. Sementara, Jubah Setan tak menghiraukan
semua kata-kata gadis di depannya. Dia seperti
terlalu terkesima dengan penampilan gadis di depannya. Hingga tatkala semua
hadirin bagai ter-
sentak mendengar kata-kata salah satu gadis dari Ratu Petaka Hijau, Jubah Setan
hanya tersenyum-senyum dengan mata melotot.
"Ratu Petaka Hijau!" sebut Pendekar Bayu Raksa dengan menahan rasa amarah.


Pendekar Mata Keranjang 5 Ratu Petaka Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Masuk menjadi anggota sebuah partai adalah tidak men-
jadi keharusan!"
"Itu menurutmu! Menurut kami, adalah
suatu keharusan. Jika ditawar, maka nyawa ada-
lah imbalannya!" bentak salah seorang gadis berbaju hijau yang tak lain
Pusparani dengan nada
tinggi. "Ah...!" sela Jubah Setan seolah terkejut.
Namun bibirnya menyungging senyum. "Aku setuju saja masuk partai kalian, asal
imbalannya salah satu dari kalian bisa bersenang-senang barang sejenak denganku!"
"Laki-laki bermulut kotor macam kau pan-
tas disumbat!" teriak Pusparani, seraya mengalih-kan pandangan pada Jubah Setan
dengan mata menyengat. "Disumbat" Oh! Boleh..., boleh saja asal
dengan mulutmu. Ha... ha... ha...!"
Wajah Pusparani merah padam.
"Jubah Setan! Berlututlah! Dan, minta am-
pun atas kelancangan mulutmu!" dengus Pusparani sambil berkacak pinggang.
Jubah Setan meremehkan. Lantas kakinya
maju beberapa tindak dengan sedikit merunduk,
seakan hendak menuruti kata-kata Pusparani.
Namun tatkala dekat, mendadak tangannya men-
julur hendak menggapai tubuh Pusparani.
"Jahanam!" bentak Pusparani.
Gadis itu cepat berkelit ke samping, se-
hingga tangan Jubah Setan hanya menggapai
tempat kosong. Bahkan dari arah samping Puspa-
rani langsung menghentakkan kedua tangan me-
lepaskan pukulan jarak jauh.
Wesss...! Saat itu juga serangkum angin menderu
segera melesat membuat Jubah Setan sedikit ter-
kejut. Namun laki-laki gundul itu cepat melenting ke atas menghindar seraya
mengibaskan jubah
hitamnya. Wesss! Kini angin kencang menukik lurus ke arah
Pusparani. Namun gadis ini seakan tahu gelagat.
Segera dipapaknya serangan itu dengan sentakan
tangan kanan. Sementara, tangan kirinya me-
nunggu. Glarrr...! Panggung besar itu berguncang saat kiba-
san jubah hitam Jubah Setan yang bertemu angin
pukulan Pusparani, menimbulkan suara mengge-
legar. Tubuh Jubah Setan tampak melayang ma-
kin tinggi. Dan saat itulah tiba-tiba tangan kiri Pusparani bergerak tepat
menghujam ke atas.
Wuttt...! Jubah Setan tercekat. Dicobanya untuk
menghindar dengan membuat putaran di udara.
Namun baru saja bergerak berputar, Pusparani
kembali menghantamkan kedua tangannya.
Kali ini Jubah Setan tak bisa lagi berkelit.
Hingga.... Desss! "Aaakh...!"
Tubuh Jubah Setan melayang turun den-
gan berjungkir balik. Tapi sebelum tubuhnya
sempat jatuh menyentuh panggung, Pusparani
yang telah mengepalkan tangan kanan cepat me-
mutar-mutarkannya di atas kepala. Sementara
tangan kiri diletakkan sejajar dada. Maka saat itu juga asap berwarna hijau
segera bergulung-gulung, membuat tubuh Jubah Setan mendadak
berputar-putar di udara, mengikuti angin pusa-
ran yang keluar dari tangan Pusparani.
"Hiaaat...!"
Dengan bentakan nyaring, Pusparani tiba-
tiba menghentakkan tangan kirinya pada tubuh
Jubah Setan. Desss! "Aaa...!"
Terdengar jeritan dari mulut Jubah Setan
begitu serangan Pusparani mendarat telak pada
sasaran. Tubuh laki-laki gundul terlempar keluar dari panggung.
Brak! Begitu mencium tanah, Jubah Setan coba
merambat bangkit dan duduk. Namun baru saja
dapat duduk, dari mulutnya keluar muntahan da-
rah berwarna hitam. Bersamaan dengan itu, tu-
buhnya kembali ambruk dan tak bangkit lagi!
Mulut semua yang hadir langsung terka-
tup. Keheningan datang menyentak. Di suasana
demikian, tiba-tiba Puspasari yang tadi berhadapan dengan Pendekar Bayu Raksa
memutar tu- buhnya, menghadap Pendekar Bayu Raksa.
"Nah, Bayu Raksa! Sekarang kesempatan
untuk menentukan masa depanmu juga partai-
mu!" kata Puspasari dengan senyum sinis. Kakinya sengaja dipentang-kan, sehingga
pakaian bawahnya tertarik ke atas. Dan ini membuat pa-
hanya terlihat jelas hampir seluruhnya
"Kalian terlalu bermimpi jika memaksakan
kehendakmu!" desis Pendekar Bayu Raksa, sedikit geram.
"Hm.... Jika demikian, kau berarti telah ta-hu akibatnya, bukan..."!" leceh
Puspasari. Pendekar Bayu Raksa tidak menjawab.
Sementara beberapa orang yang bernyali
ciut segera berdiri hendak meninggalkan tempat.
Namun gerakan mereka tertahan tatkala....
"Tak seorang pun bisa meninggalkan tem-
pat ini, sebelum mengangkat sumpah!" teriak Pusparani, lantang.
Beberapa orang yang tadi hendak ngacir
dengan tubuh gemetar segera kembali duduk,
tanpa berani lagi memandang ke arah panggung.
"Baiklah, Bayu Raksa. Terimalah hari ke-
matianmu!" desah Puspasari setelah menunggu lama, namun tak juga ada tanggapan.
Sehabis berkata, Puspasari segera mengi-
baskan tangannya ke arah kepala. Sementara ka-
ki kanannya bergerak cepat ke arah selangkan-
gan. Pendekar Bayu Raksa cepat menyambut
serangan dengan merundukkan kepala. Sementa-
ra tangan kanannya menghentak ke bawah.
Plak! Terdengar benturan, tatkala kaki Puspasari
terkibas tangan Pendekar Bayu Raksa.
Tubuh gadis itu terhuyung dua langkah ke
belakang. Sungguh tak disangka jika kibasan
tangan laki-laki itu mampu membuyarkan terjan-
gan dahsyat yang dilancarkannya. Bahkan saat
melirik tangan yang terasa panas, matanya sem-
pat terbelalak. Tangannya ternyata berwarna ke-
merahan! "Hiaaa...!"
Disertai bentakan menggemuruh, Puspasa-
ri mengangkat tangan kanannya ke atas kepala.
Lalu diputar-putarnya dengan gerakan cepat.
Wesss...! Saat itu juga serangkum angin berwarna
hijau segera bergulung ke arah Pendekar Bayu
Raksa. Namun mendapati hal demikian Ketua
Partai Merpati Putih ini telah waspada. Secepat kilat tangan kirinya disentakkan
untuk memapak. Sementara tangan kanan siap dengan segala ke-
mungkinan. Benar saja. Tatkala dua serangan itu ben-
trok di udara. Puspasari cepat sentakkan tangan kirinya.
Pendekar Bayu Raksa tak tinggal diam. Se-
gera pula tangan kanannya disentakkan.
Glarrr...! Darrr...! Terdengar dua suara menggelegar dahsyat
berturut-turut. Tubuh Puspasari terlempar ke belakang hingga dua tombak dan
terkapar. Semen-
tara Pendekar Bayu Raksa terpelanting ke pojok
panggung. "Chiaaa...!"
Di saat itulah tiba-tiba Pusparani meloncat
ke arah Pendekar Bayu Raksa dengan kaki kanan
cepat mengarah ke dada. Padahal Pendekar Bayu
Raksa baru saja merambat bangkit.
Karena tak menyangka, Pendekar Bayu
Raksa terkejut. Namun gerakan kaki itu rupanya
lebih cepat. Sehingga....
Desss,! "Aaakh...!"
Disertai keluhan tertahan, tubuh Pendekar
Bayu Raksa terbanting keras ke samping.
"Perempuan telengas!" teriak beberapa murid Pendekar Bayu Raksa.
Namun, mereka tak berani bergerak. Kare-
na disadari, dua gadis berjuluk Ratu Petaka Hijau memang bukan tandingan mereka.
Puspasari segera bangkit. Sambil menden-
gus geram dia meloncat ke arah Pendekar Bayu
Raksa dengan tangan kanan siap menghantam
kepala. Semua mata yang hadir sama memejam.
Bisa dibayangkan, apa yang bakal dialami Pende-
kar Bayu Raksa.
Pada saat tangan kanan Puspasari akan
mendarat di kepala Pendekar Bayu Raksa, tiba-
tiba dari arah kejauhan terdengar nyanyian tak
karuan yang meningkahi hembusan angin ken-
cang. Suaranya seakan mengguncang tempat ini.
Pusparani yang berdiri agak jauh cepat
menoleh. Sementara Puspasari meneruskan han-
taman tangannya. Satu jengkal tangan itu meng-
hempas kepala Pendekar Bayu Raksa, entah dari
mana berkelebat satu bayangan yang langsung
menyambar tubuh Ketua Partai Merpati Putih itu.
Wuttt! "Heh"!"
Hantaman tangan Puspasari menghantam
tempat kosong. Bahkan tubuhnya sempat terdo-
rong dua langkah ke belakang.
"Setan! Siapa berani unjuk gigi di hadapan Ratu Petaka Hijau, he...?" dengus
Puspasari setelah berhasil menguasai rasa terkejutnya. Tubuh-
nya langsung berbalik mencari sosok yang telah
menyelamatkan Pendekar Bayu Raksa.
*** Semua mata yang hadir kini terbuka kem-
bali. Mereka seakan tak percaya, ternyata Pendekar Bayu Raksa sudah tidak ada di
tempatnya. Dan mereka kembali mencari siapa gerangan yang
telah menyelamatkan Ketua Partai Merpati Putih itu. Di lain pihak. Puspasari dan
Pusparani sama-sama tegak mematung seraya memandang
samping kiri panggung, ke arah sosok bayangan
tadi membawa Pendekar Bayu Raksa. Dahi mere-
ka sama-sama berkerut, masing-masing matanya
membeliak! Semua yang hadir pun ikut-ikutan menga-
rahkan pandangan ke arah kiri panggung. Di sa-
na, telah berdiri seorang pemuda mengenakan ju-
bah ketat lengan pendek warna hijau yang dilapisi pakaian dalam lengan panjang
warna kuning. Rambutnya panjang, dan dikuncir ekor kuda. Wa-
jahnya tampan dengan tubuh kekar. Pemuda itu
berjalan perlahan meninggalkan Pendekar Bayu
Raksa yang telah ditangani para muridnya. Sam-
bil berkipas-kipas, dari mulut pemuda itu terdengar dendang nyanyian yang tak
karuan. Selagi semua mata mengarah ke arahnya,
tiba-tiba pemuda berjubah hijau berkelebat. Dan tahu-tahu dia telah berdiri
tegak di atas panggung sambil tersenyum dengan sepasang mata tak berkedip
menelusuri tubuh kedua gadis berjuluk Ra-
tu Petaka Hijau.
Tepat dua tombak di depan Ratu Petaka
Hijau, pemuda berjubah ketat warna hijau lengan pendek yang tak lain Aji alias
Pendekar Mata Keranjang 108 berhenti. Kipas ungunya segera di-
masukkan. Lalu tubuhnya berbalik, sambil men-
gedarkan pandangan.
"Ah! Kiranya aku datang ke tempat yang
salah! Kukira ada pesta besar dengan acara ma-
kan-makan. Tak tahunya...."
"Pemuda gendeng!" bentak Pusparani, me-motong kata-kata Pendekar Mata Keranjang.
"Siapa kau..."!"
Pendekar Mata Keranjang 108 memutar
kepala ke arah Pusparani. Sebentar matanya
kembali menelusuri lekukan tubuh gadis itu dari
paha hingga dada. Lantas matanya melirik ke
arah Puspasari yang ada di sampingnya.
"Orang sinting! Kau tidak tuli, bukan...?"
bentak Pusparani kembali.
"Ah! Aku hanyalah seorang pengelana jala-
nan. Namaku Aji!" jawab Aji tetap tersenyum.
"Ngg..., lantas siapa kalian ini...?"
Pusparani mendongak memandang langit.
"Ha... ha... ha...! Hei, Aji! Sebaiknya kau lekas pergi dari tempat ini! Karena,
kau sekarang sedang berhadapan dengan Ratu Petaka Hijau!"
gertak Pusparani.
Pusparani sengaja menggertak, agar pemu-
da ini segera pergi. Gadis ini merasa, pemuda di hadapannya memiliki tingkat
kepandaian tinggi.
Terbukti hanya dengan sekali berkelebat dia telah mampu menyelamatkan nyawa
Pendekar Bayu Raksa yang telah di ambang kematian.
Sementara, Aji hanya tersenyum. Tidak
tampak rasa terkejut sedikit pun pada wajahnya.
Dan ini membuat Pusparani dan Puspasari makin


Pendekar Mata Keranjang 5 Ratu Petaka Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mendelik! Sedangkan para tamu yang hadir mengge-
leng-geleng kepala. Mereka saling berbisik dan
saling menduga-duga.
"Selama ini aku hanya mendengar ciri-
cirinya. Dan ciri-ciri itu rasa-rasanya terlihat pa-da pemuda ini!" cetus salah
seorang laki-laki berbaju kuning di deretan depan, pada laki-laki berbaju merah
yang duduk di sampingnya.
"Hm.... Ciri-ciri siapa...?" kata laki-laki ber-
baju merah. "Pemuda yang bergelar Pendekar Mata Ke-
ranjang!" jelas laki-laki berbaju kuning.
"Pendekar Mata Keranjang 108...?" ulang orang yang diajak bicara agak keras
karena terkejut, hingga semua orang mendengar.
Maka sekonyong-konyong di tempat itu
terdengar beberapa gumaman. Dan saat bersa-
maan Pendekar Bayu Raksa yang telah pulih
kembali segera berkelebat ke atas panggung.
Langsung didekatinya Pendekar Mata Keranjang
108. "Pendekar Mata Keranjang, selamat datang di Lembah Gerabah Sewu. Maaf, jika
sambutan kami tidak begitu berkenan...," ucap Pendekar Bayu Raksa seraya menjura hormat
"Ah! Jangan bersikap begitu, Paman! Sam-
butan dua gadis ini kurasa cukup membersihkan
mata. Bahkan membelalakkan mata...!" sahut Aji sambil balas menjura. Sementara
ekor matanya melirik ke arah dua gadis di sampingnya.
Mendengar Pendekar Bayu Raksa me-
manggil Pendekar Mata Keranjang, dua gadis
kembar yang berjuluk Ratu Petaka Hijau serentak beringsut mundur.
"Hm.... Inikah pemuda yang berjuluk Pen-
dekar Mata Keranjang 108" Penampilannya me-
mang keren. Tapi..., ah! Tujuanku harus tercapai dahulu!" desah Puspasari dalam
hati sambil mengawasi Aji dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Jadi, kau yang bergelar Pendekar Mata
Keranjang 108"!" tanya Pusparani melirik tajam.
Aji tertawa. "Sepertinya kalian tak berkenan dengan
pertemuan ini. Padahal aku sangat gembira dapat bertemu gadis-gadis mempesona
seperti kalian!"
kata Pendekar Mata Keranjang 108, seenaknya.
Ratu Petaka Hijau saling berpandangan.
Julukan Pendekar Mata Keranjang 108 memang
sudah beberapa lama didengar dua gadis ini.
Bahkan jauh hari sebelum berangkat, guru mere-
ka yang berjuluk Gentapati sudah memberikan
isyarat bahwa salah satu lawan tangguh yang
akan dihadapi adalah manusia yang bergelar
Pendekar Mata Keranjang 108. Namun, mereka
tak menduga sama sekali jika manusia yang ber-
gelar Pendekar Mata Keranjang 108 adalah seo-
rang pemuda berwajah tampan dan berilmu ting-
gi. Bahkan pemuda ini membuat mereka berdua
sedikit goyah dari tujuan semula, yakni membuat para tokoh silat bertekuk lutut
hingga tak berani lagi unjuk gigi.
"Walau kau telah lancang ikut campur
urusan kami, namun aku masih berlapang hati
mengampuni nyawamu. Asal saja, dengan syarat.
Kau harus bersumpah masuk dalam partai yang
akan kami dirikan!" kata Pusparani, sedikit meremehkan.
"Hm...."
Aji menggumam seraya manggut-manggut.
"Bahkan kau akan memperoleh keuntun-
gan besar, jika menyetujui tawaran kami!" sam-
bung Pusparani dengan senyum menggoda.
"Hm.... Jika ada orang yang memaksakan
kehendak yang dibumbui sebuah tawaran, kukira
hal itu patut dicurigai!" sahut Aji.
Kontan saja wajah Pusparani kecut berse-
mu merah. "Rupanya kau manusia yang tak tahu di-
untung! Dikasih hati, malah minta mati!" bentak Pusparani, geram.
Habis berkata, Pusparani segera menghen-
takkan kedua tangannya.
"Pendekar Bayu Raksa! Karena kau terlu-
ka, kuharap untuk sementara turun dari pang-
gung ini. Mereka berdua sangat berbahaya!" ujar Aji memperingatkan.
Cepat bagai kilat Pendekar Bayu Raksa me-
loncat turun dari atas panggung.
Tepat ketika tubuh Ketua Partai Merpati
Putih itu berkelebat, serangan Pusparani empat
jengkal lagi menghantam Pendekar Mata Keran-
jang 108. Seketika Aji cepat menghentakkan tan-
gannya untuk memapak.
Wesss...! Blarrr...! Gelombang angin yang datang dari Puspa-
rani langsung ambyar tatkala terpapak sentakan
tangan Aji. Akibat pertemuan dua kekuatan tadi, terdengar ledakan dahsyat yang
mengguncang tempat ini. Seketika paras Pusparani berubah. Demi-
kian juga Puspasari. Sementara para tamu yang
hadir berdecak kagum.
"Dua gadis jelita! Sebelum segalanya ber-
lanjut, kuharap kalian sadar! Kembalilah ke jalan benar!" seru Aji, lantang.
"Mulutmu terlalu ceroboh mengeluarkan
kata-kata, Pendekar!" dengus Pusparani ketus.
Lantas tangannya dikepalkan dan diputar cepat di atas kepala.
Segelombang asap hijau langsung berpu-
tar-putar di atas kepala Pusparani dan tiba-tiba melesat ke arah Aji.
Wesss...! Pendekar Mata Keranjang 108 segera men-
gepalkan kedua tangannya dan mematangkannya
di depan dada. Satu depa asap hijau melabrak,
kedua tangannya dihantamkan ke depan.
Wurrr...! Seketika dua gelombang yang disertai sua-
ra gemuruh dahsyat menghembus ke depan. Ru-
panya Aji telah melepas pukulan 'Gelombang Pra-
hara'! Brashhh...!
Dua larik gelombang pukulan dari Aji sal-
ing bentrok dengan asap hijau dari tangan Pusparani. Demikian dahsyat pertemuan
dua serangan ini hingga tubuh Pusparani sampai terjengkang
ke belakang dan jatuh terkapar. Sedang Aji sendi-ri terhuyung mundur dua
langkah. Melihat hal ini, Puspasari yang masih ber-
diri segera menghambur ke arah Pusparani.
"Kita harus menghadapi bersama-sama,
Sari! Pemuda ini begitu tangguh!" bisik Pusparani seraya merambat bangkit.
Puspasari tak menjawab. Malah, kepalanya
berputar dan menatap tajam pada Pendekar Mata
Keranjang 108! "Kau tampaknya ragu-ragu! Apakah kau
tertarik pemuda itu?" sindir Pusparani, melirik Pendekar Mata Keranjang 108.
Paras Puspasari berubah bersemu merah.
Bibirnya mendesis dengan sepasang mata beralih
memandang saudara kembarnya.
"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini! Soal pemuda sinting itu, kita tunda dulu
sebaiknya. Kita selesaikan dulu yang lainnya. Toh suatu
saat, pemuda itu pasti akan mencari kita!" usul Puspasari perlahan.
Saat itu juga Puspasari mengeluarkan se-
buah benda bulat berwarna hijau sebesar kepalan tangan, dan segera
dilemparkannya ke arah Pendekar Mata Keranjang 108.
Wuusss! Asap hijau segera mengurung tempat itu.
Dan pandangan Pendekar Mata Keranjang 108
pun tertutup. "Licik!" seru Aji seraya menerjang kepulan asap hijau.
Namun, ternyata asap itu begitu tebal.
Hingga tatkala Aji berhasil keluar dari bungkusan asap hijau, dua gadis jelita
berjuluk Ratu Petaka Hijau sudah tak terlihat lagi batang hidungnya!
Namun baru saja Aji hendak berbalik, ma-
tanya tertumbuk pada tulisan di atas tanah.
Pendekar Mata Keranjang!
Jika kau pendekar sejati, datanglah ke pun-
cak Gunung Wilangkor lima purnama mendatang!
Terlanda, Ratu Petaka Hijau
"Hm.... Pasti salah satu dari kedua gadis
itu yang menulis! Kecepatannya sungguh luar bi-
asa! Namun sayang, kepandaiannya telah dis-
alahgunakan. Tapi di balik semua itu, pasti ada seseorang yang memperalatnya!
Kelak, aku pasti
akan datang ke Gunung Wilangkor!" kata Aji, seraya berkelebat pergi.
"Pendekar! Tunggu!" teriak seseorang menahan langkah Pendekar Mata Keranjang.
Aji menoleh sebentar. Ternyata yang berte-
riak adalah Pendekar Bayu Raksa.
"Aku tak bisa lama-lama di sini. Bagaima-
napun juga, aku harus mengikuti jejak kedua ga-
dis itu. Tidak mustahil mereka akan membuat ke-
rusuhan di tempat lain...."
Sejenak Pendekar Mata Keranjang menatap
Pendekar Bayu Raksa.
"Pendekar Bayu Raksa, maaf. Aku harus
buru-buru! Suatu hari nanti aku akan mampir ke
sini!" Begitu kata-katanya habis, Pendekar Mata Keranjang 108 langsung melesat
pergi. "Pendekar aneh! Datang dan pergi bagai
angin lalu...," gumam Pendekar Bayu Raksa, seraya berbalik menuju panggung yang
kini tampak mulai tenang kembali.
3 Pagi begitu cerah. Langit yang biru hanya
disemaraki arakan awan putih tipis yang bergerak perlahan. Sehingga membuat
pancaran matahari
leluasa menembus dataran bumi, menerangi satu
lereng Gunung Mahameru yang menjulang. Sinar
itu terus menerpa sesosok tubuh yang duduk
bersila di depan mulut sebuah gua di lereng gu-
nung ini. Tubuhnya tak bergeming dan tak juga
mengeluarkan suara. Bisa ditebak kalau sosok ini sedang bersemadi.
Sosok yang ternyata seorang laki-laki tua
berusia sekitar tujuh puluh tahun ini mengena-
kan pakaian warna biru kedombrongan. Rambut-
nya putih dan panjang menjuntai. Meski kulit sekujur tubuhnya telah mengeriput,
namun sisa- sisa gurat ketampanan masih tampak.
Angin pagi ini bertiup semilir. Namun
anehnya rambut sosok ini yang putih dan pan-
jang tampak berkibar-kibar seperti ditiup angin keras. Sementara pakaiannya yang
gombrong nampak mengembung. Siapa pun lelaki tua ini,
pastilah mempunyai ilmu tinggi. Dan ternyata,
kibaran rambut serta pakaiannya yang mengem-
bung dikarenakan terdorong kekuatan dahsyat
yang keluar dari tubuhnya.
"Hm.... Telingaku menangkap gerakan
orang mendaki menuju kemari. Apakah Kuswara
dan Arum?" gumam sosok berpakaian biru gombrong seraya membuka kelopak matanya.
Memang sungguh luar. biasa pendengaran
laki-laki tua ini. Karena pada saat yang sama, di kaki Gunung Mahameru
berkelebat cepat dua sosok bayangan hijau yang meliuk-liuk di antara
pepohonan. Bahkan sesekali kedua bayangan hi-
jau itu menerabas semak belukar lebat, mendaki
ke arah lereng di mana sosok berpakaian biru
gombrang berada.
Sementara itu, sepasang mata laki-laki tua
ini kelihatan menyipit. Dahinya yang sudah keriput tampak mengernyit.
"Dua orang! Pakaian mereka hijau-hijau.
Berarti bukan Kuswara dan Arum! Melihat gera-
kannya, mereka berilmu tinggi. Siapakah mere-
ka..." Dan ke mana gerangan Kuswara dan
Arum..." Seharusnya mereka telah kembali. Me-
mang, belum waktunya bagi Kuswara dan Arum
untuk turun gunung. Mereka masih miskin pen-
galaman...," kata batin sosok berpakaian biru gombrang dengan mata terus
mengawasi dua bayangan hijau yang terus menapak ke arahnya.
Laki-laki berpakaian biru gombrang perla-
han bangkit. Matanya memandang ke bawah se-
bentar, lalu tubuhnya berputar. Kini kakinya melangkah perlahan menuju gua.
Namun meski langkahnya perlahan, tahu-tahu tubuh sosok ini
telah lenyap masuk ke dalam gua. Jelas dari sini bisa dilihat, betapa tingginya,
ilmu meringankan tubuh laki-laki itu.
Bersama dengan lenyapnya sosok berpa-
kaian biru gombrang, dua sosok bayangan hijau
yang berkelebat telah tiba di lereng ini. Dan kini mereka berhenti di depan
mulut gua. Dua sosok berpakaian hijau itu ternyata
tak lain dari Ratu Petaka Hijau alias Pusparani dan Puspasari. Sejenak kedua
gadis kembar ini
saling berpandangan, lantas beralih memandang
tajam ke mulut gua.
"Mahesa Galuh, keluarlah! Ada kabar pent-
ing untukmu!" teriak Pusparani.
Hingga beberapa saat, masih tak terdengar
jawaban dari dalam gua.
"Mahesa Galuh! Kami tahu, kau ada di da-
lam. Apakah kau tak ingin mendengar kabar ten-
tang kedua anak didikmu...?" teriak Pusparani la-gi.
"Hai. Pendatang Asing! Bersikaplah sopan
di tempat orang lain!"
Mendadak terdengar suara dari dalam gua.
"Ha... ha... ha...!" Pusparani dan Puspasari serentak tertawa panjang.
"Kau tidak usah berbasa basi, Mahesa Ga-
luh! Karena hari ini adalah hari terakhir bagimu menghirup udara!" kali ini yang


Pendekar Mata Keranjang 5 Ratu Petaka Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

angkat bicara Puspasari.
Lama tak ada sahutan, membuat Puspara-
ni dan Puspasari mendengus kesal.
"Ternyata kau seorang pengecut, Mahesa
Galuh! Kau hanya berani jika bertempur secara
keroyokan, seperti yang telah kau lakukan bebe-
rapa tahun yang silam, saat menghancurkan Par-
tai Gentapati!" teriak Pusparani.
"Hm.... Rupanya kalian adalah cucu-cucu
Partai Gentapati. Apa kalian tak salah alamat datang kemari...?"
Kembali dari dalam gua terdengar lagi sa-
hutan. Namun kali ini kedua gadis itu tak menjawab. Malah Pusparani tampak
mengangguk per-
lahan pada Puspasari. Dan segera tubuhnya ber-
kelebat masuk dalam gua yang kemudian diikuti
Puspasari. Ternyata gua itu cukup besar. Sehingga
mereka berdua dengan leluasa bisa melangkah
tegak dan berjajar. Tapi semakin jauh ke dalam, ternyata semakin sempit. Dan mau
tak mau, mereka berdua harus melangkah satu persatu den-
gan kepala merunduk. Dan di lain pihak udara
dingin mulai menusuk. Dan suasana gelap pun
segera menyambut. Tapi keadaan ini rupanya tak
membuat Ratu Petaka Hijau bersungut-sungut.
Bahkan mereka tampak tegar dan tenang.
Tak lama, mereka sampai di sebuah relung
tinggi dan lebar yang mengarah pada dua ruas jalan. "Hm.... Pasti di ruas jalan
yang ujungnya kelihatan terang ini, Tua Bangka itu berada...!"
bisik Pusparani, seraya melangkah menelusuri
ruas jalan yang ujungnya tampak sedikit terang.
Sampai ujung jalan, mata Ratu Petaka Hi-
jau terbelalak. Ternyata, ujung ruas jalan itu ber-hubungan dengan sebuah
hamparan pasir yang
luas. Meski tidak ada penerangan sama sekali,
namun tempat itu kelihatan terang. Ketika Pusparani dan Puspasari menengadah,
barulah disadari kalau ternyata langit-langit tempat itu berlobang, yang membuat
sinar matahari dapat menerobos
masuk. Selagi menengadah....
"Apa tujuan kalian sebenarnya..."!" terdengar kembali suara bentakan.
Ratu Petaka Hijau serentak memutar kepa-
la masing-masing. Dengan mata nyalang mereka
mencari sumber suara. Namun hingga beberapa
lama sumber suara itu tak dapat ditentukan.
Dari sini mereka sadar kalau orang yang
akan dihadapi berilmu sangat tinggi.
"Sari! Kita harus hati-hati. Bangsat tua ini rupanya telah menguasai ilmu
'Penjalin Suara'!"
bisik Pusparani.
Puspasari hanya mengangguk perlahan.
Mereka sebelumnya memang telah tahu dari Gen-
tapati kalau Mahesa Galuh adalah seorang tokoh
silat beraliran putih berilmu tinggi yang tinggal di sebuah gua di lereng Gunung
Mahameru. Mahesa
Galuh adalah salah seorang yang ikut serta
menghancurkan Partai Gentapati pada beberapa
tahun silam. Namun Pusparani dan Puspasari tak
menduga jika Mahesa Galuh lelah pula mengua-
sai ilmu 'Penjalin Suara', sebelum ilmu yang
membutuhkan pengerahan tenaga dalam lebih
untuk mempelajarinya.
"Mahesa Galuh! Kami datang memberi ka-
bar baik untukmu. Pertama, kedua muridmu te-
lah kami kirim ke neraka. Kedua, kami ingin juga mengirimmu menyusul kedua
muridmu!" "Hm.... Ternyata kabar tentang iblis yang
banyak membuat masalah adalah kalian orang-
nya!" desis suara dari dalam gua, penuh gejolak amarah.
"Ha... ha... ha...!" Pusparani tertawa mengekeh. "Kalau kau sudah tahu, hanya
ada satu syarat yang dapat memperpanjang hidupmu! Lekas tunjukkan dirimu. Dan,
berlututlah di hada-
pan kami sambil mengangkat sumpah untuk ma-
suk menjadi anggota partai kami!"
Selesai berkata. Pusparani berkelebat, lalu
berdiri tegak di tengah-tengah dataran pasir. Sementara Puspasari segera
mengikuti. Keduanya
kini berdiri tegak berjajar, dengan tangan berkacak pinggang.
"Mahesa Galuh! Laksanakan perintah jika
masih ingin hidup!" bentak Puspasari.
"Kalian jangan bermimpi, Bocah-bocah!"
Belum juga gema suara itu lenyap, dari
ujung dataran pasir melesat sebuah bayangan.
Dan di kejap lain di hadapan Ratu Petaka Hijau
telah berdiri sesosok bayangan yang tak lain Mahesa Galuh. Langsung ditatapnya
dua gadis di depannya tanpa berkedip.
Mendapati dirinya dipandangi demikian
rupa, Pusparani sedikit mementangkan sepasang
kakinya. Sehingga pakaian bawahnya yang sudah
pendek tertarik ke atas, membuat seluruh pa-
hanya yang berkulit putih mulus terlihat jelas.
"Mahesa Galuh! Lekas berlututlah! Setelah
itu, kau bisa melihat sepuas hatimu. Bahkan tanganmu bisa merasakan apa yang kau
lihat!" ujar Pusparani sambil tersenyum.
Mahesa Galuh tersenyum dingin. Sepasang
matanya lantas beralih memandang ke arah
samping. Sebentar kemudian kepalanya tenga-
dah. "Kalian kira aku bisa dimuslihati dengan tubuh yang telah dikotori tangan
guru kalian..."
Hm..., sayang. Aku tidak begitu tertarik dengan sisa-sisa tangan Gentapati!"
gumam Mahesa Galuh, dingin.
Pusparani dan Puspasari sama-sama ter-
Pendekar Latah 18 Kitab Ilmu Silat Kupu Kupu Hitam Naga Bumi 3 Karya Seno Gumira Rahasia Ciok Kwan Im 1
^