Pencarian

Ratu Petaka Hijau 3

Pendekar Mata Keranjang 5 Ratu Petaka Hijau Bagian 3


6 Pendekar Mata Keranjang 108 kini telah
memasuki kawasan Gunung Wilangkor. Pemuda
ini memang bertekad akan datang lebih awal ke
tempat ini, sehari sebelum hari yang ditentukan.
Dengan demikian, dia akan lebih tahu siapa se-
benarnya tokoh di balik kejadian yang akhir-akhir ini meresahkan beberapa tokoh
silat. Tokoh yang mengancam orang-orang persilatan untuk berga-bung dalam satu
partai. Baru saja Pendekar Mata Keranjang 108
sampai di lembah kala Gunung Wilangkor, ter-
dengar derap kaki kuda di belakangnya. Rasa cu-
riga, mendorongnya untuk mengetahui siapa pe-
nunggang kuda itu.
Maka sebelum derap ladam kuda lebih de-
kat ke arahnya, tubuhnya segera berkelebat dan
bersembunyi di balik sebatang pohon.
Tidak lama, tampak seorang penunggang
kuda melintas di depan Pendekar Mata Keranjang
108. Saat itu juga sepasang matanya tak berkedip memandang ke arah penunggang
yang ternyata seorang dara jelita berpakaian biru. Rambutnya
panjang tergerai. Tangan kanannya memegang
sebuah tongkat kecil yang pangkalnya berbentuk
kepala seekor ular berwarna putih.
"Siapa gadis jelita ini" Apakah dia juga te-man atau saudara seperguruan dua
gadis berbaju hijau itu" Jika benar, sungguh luar biasa! Gadis-
gadis cantik berilmu tinggi, telah bersatu padu membuat keguncangan. Ckk....
Ckk...!" decak Aji Belum juga puas Aji menikmati wajah cantik itu, dari arah
yang sama kembali terdengar derap kaki kuda yang lain. Sebentar saja, sepasang
bola mata Aji kembali terbelalak ketika melihat tampang penunggang yang baru
datang. Dan lebih tak percaya lagi, saat penunggang kuda yang barusan datang ini
menarik bandul lonceng yang
ada di depan dadanya.
Teng! Teng! Lonceng itu berdentang nyaring, dan me-
mekakkan telinga.
Penunggang kuda yang baru datang ter-
nyata seorang laki-laki berusia lanjut, berpakaian hitam. Rambutnya sudah
memutih. Bentuk mukanya tirus dengan kedua pipi amat cekung. Se-
mentara, kedua matanya buta!
Gadis yang telah melintas di depan Pende-
kar Mata Keranjang 108 segera menghentikan lari kudanya. Segera kepalanya
berpaling, tatkala
mendengar derap langkah kuda di belakangnya.
Dia sejenak terperanjat, lalu membalikkan arah
kudanya. Sementara laki-laki berbandul lonceng
yang tak lain Gentapati tertawa lebar.
"Hm.... Kau mencariku, Bidadari Tongkat
Putih?" kata Gentapati pada gadis yang dipanggil Bidadari Tongkat Putih.
Gadis ini lebih terperanjat, mendengar laki-
laki di hadapannya menyebutkan gelarnya.
"Kalau kau yang bergelar Gentapati, uca-
panmu tidak salah!" jawab gadis berjuluk Bidadari Tongkat Putih.
"He... he... he...!"
Gentapati kembali mengekeh panjang.
"Ah! Rupanya kini telah banyak orang yang
mencariku! Lantas, apa ada yang perlu kuban-
tu..."!" tanya Gentapati datar.
"Tidak! Justru aku yang akan membantu-
mu menunjukkan jalan ke alam kubur!" desis Bidadari Tongkat Putih, dingin.
"Adatmu memang tidak ada bedanya den-
gan gurumu! Kalau saat ini aku belum sempat
membuat perhitungan dan pembalasan pada gu-
rumu, tak apalah. Asalkan, aku dapat mencicipi muridnya!"
"Jangkrik! Si buta ini ternyata berilmu
tinggi dan peka sekali...! Bagaimana dia tiba-tiba bisa tahu gadis di depannya?"
rutuk batin Aji dengan hidung mengembang. Memang, lamat-lamat hidungnya membaui
aroma harum seperti
bunga sedap malam.
Sepasang mata Aji berputar mencari-cari.
"Di sini sepertinya tak terdapat bunga itu!
Lantas, dari mana aroma bunga itu" Lagi pula,
bukankah aroma bunga itu hanya akan berbau
pada malam hari...?"
Sambil berpikir begitu, mata Aji terus nya-
lang mencari. Sampai akhirnya matanya tertum-
buk pada Bidadari Tongkat Putih.
"Hm.... Aku tahu sekarang. Si buta itu
mengenali gadis ini mungkin dari aroma bunga!
Ah! Tak disangka sama sekali. Sudah berwajah
cantik, berbau harum lagi...."
Namun Aji segera menghentikan kata ha-
tinya saat.... "Mulutmu terlalu kotor, Tua Bangka! Dan
sudah selayaknya jika mulutmu disumpal bersa-
ma mimpi besarmu untuk mendirikan partai
kembali!" bentak Bidadari Tongkat Putih, lantang.
Aji terkesiap mendengar kata-kata Bidadari
Tongkat Putih. "Hm.... Jadi, inikah biang di balik tingkah Ratu Petaka Hijau"!" desis Aji
ketika pandangannya beralih pada Gentapati.
Saat mendengar kata-kata Bidadari Tong-
kat Putih, Gentapati tersenyum.
"Dengar, Bidadari Tongkat Putih. Aku ma-
sih mau mengampuni selembar nyawamu, jika
kau bersedia masuk menjadi anggota partaiku.
Bahkan kau kelak akan kuberi kedudukan isti-
mewa!" ujar Gentapati menawarkan.
"Simpanlah semua anganmu itu bersama
mimpimu, Gentapati!" bentak Bidadari Tongkat Putih. Saat itu juga Bidadari
Tongkat Putih mengirimkan serangan dengan sentakan tangan kiri.
Wesss...! Mendapati dirinya diserang begitu rupa,
Gentapati hanya tersenyum. Lantas kepalanya
mendongak menghadap langit, membuat lonceng
di depan dadanya berdenting. Dan tiba-tiba kedua tangannya bergerak mengibas.
Blash...! Angin pukulan Bidadari Tongkat Putih
kontan ambyar musnah. Dan ini membuat gadis
itu tercengang. Padahal, serangan yang baru saja dilancarkan disertai pengerahan
tenaga dalam tinggi. Saat itu juga parasnya berubah.
Sementara itu Gentapati segera pula me-
loncat turun dari punggung kuda tunggangannya.
Begitu mendarat, kakinya melangkah perlahan ke
arah Bidadari Tongkat Putih. Sekitar dua tombak dari gadis itu, mendadak
Gentapati menghentikan langkahnya. Belum sempat Bidadari Tongkat Putih berpikir
lebih jauh, tubuh Gentapati bergetar.
Dan tahu-tahu tubuhnya berputar cepat, mem-
buat denting lonceng segera membahana bertalu-
talu menyentak suasana.
Bidadari Tongkat Putih buru-buru menge-
rahkan tenaga dalam yang langsung disalurkan
pada gendang telinganya yang seperti tertusuk-
tusuk. Sedangkan Aji yang terus mengawasi men-
gomel panjang pendek, karena harus berbuat
yang sama. Pada saat itulah tiba-tiba Gentapati seperti
lenyap. Yang tampak kini hanyalah selarik gelombang warna biru melesat ke arah
Bidadari Tong- kat Putih. Bidadari Tongkat Putih tersentak. Lalu se-
cepat kilat tongkat di tangannya disetakkan.
Wuttt! Saat itu juga gelombang asap putih berben-
tuk kepala seekor ular meliuk-liuk, memapak ge-
lombang warna biru.
Blarrr...! Terdengar ledakan hebat ketika dua kekua-
tan beradu. Tubuh Bidadari Tongkat Putih tam-
pak terpental dari punggung kuda tunggangan-
nya, dan jatuh berdebuk di atas tanah. Tapi be-
lum sempat bergerak bangkit, gelombang asap bi-
ru sudah kembali melesat ke arahnya.
Splash! "Aaakh...!"
Terdengar seruan tertahan ketika asap biru
menghantam gadis itu. Tubuh Bidadari Tongkat
Putih yang akan bergerak bangkit, kembali meng-
gelosor di tanah. Namun seluruh tenaga dalam-
nya segera dikerahkan untuk menangkis asap bi-
ru yang rupanya telah mengekang rongga da-
danya. Rupanya gelombang asap biru itu lebih
kuat. Dan ini membuat mata Bidadari Tongkat
Putih gelap. Pandangannya mendadak berku-
nang-kunang. Bibirnya bergetar dengan wajah
pucat pasi. Sementara tak jauh dari tempatnya, Gen-
tapati berdiri tegak seraya tertawa mengekeh.
"Bidadari Tongkat Putih! Meski aku tak da-
pat lagi melihat wajahmu, firasatku mengatakan
kau adalah seorang gadis cantik jelita dan bertubuh montok. Dan tentunya,
sebelum kukirim ke
alam kubur, kau juga ingin merasakan sentuhan
hangat bukan...?" kata Gentapati mendesis menji-jikkan.
Wajah Bidadari Tongkat Putih makin pias.
Bibirnya yang saling menggegat berwarna kebiru-
biruan, mendengar kata-kata Gentapati. Ter-
bayang di benaknya apa yang akan dilakukan
Gentapati terhadapnya.
Gentapati melangkah perlahan, mendekati
tubuh Bidadari Tongkat Putih dengan hidung
kembang kempis. Dua langkah lagi Gentapati
sampai. "Manusia bejat! Perbuatan yang akan kau
lakukan tak akan berlangsung selama aku masih
di depanmu!"
Langkah Gentapati terhenti ketika dari be-
lakang terdengar bentakan menggelegar. Saat itu juga tubuhnya berbalik,
menghadap suara yang
baru saja membentak. Sejenak dahinya berkerut.
Sepasang matanya yang buta mengerdip-ngerdip,
seolah-olah melihat. Namun untuk beberapa saat
dia hanya diam, seperti tak mengenali sosok di
hadapannya. "Setan! Siapa kau..."!" hardik Gentapati, karena tidak mengenali.
Sementara Bidadari Tongkat Putih mem-
buka kelopak matanya yang dari tadi terpejam.
Wanita ini juga nampak terkejut. Sepasang ma-
tanya membesar, mengawasi sosok yang secara
tak langsung menyelamatkannya dari Gentapati.
"Hm.... Siapa dia" Apakah dia akan mampu
mengalahkan Gentapati" Kalau tidak, celakalah
aku! Tapi selagi mereka berhadapan, aku akan
mengerahkan tenaga. Barangkali aku nanti dapat
menolong...," gumam Bidadari Tongkat Putih dalam hati.
"Hei, jawab pertanyaanku. Siapa kau..."!"
ulang Gentapati geram.
"Aku setan pencabut nyawa manusia-
manusia macam kau!" jawab sosok yang tak lain memang Pendekar Mata Keranjang
108, dingin menggetarkan. "Setan bangsat!" maki Gentapati geram.
Belum juga gema suaranya lenyap, Genta-
pati sudah berkelebat. Dan tahu-tahu tubuhnya
lenyap dari pandangan.
"Jangkrik! Tubuhnya sukar diikuti mata!"
rutuk Aji dalam hati.
Dan mendadak, Pendekar Mata Keranjang
108 dikejutkan oleh melesatnya dua tangan di
depan kepala. Untung saja Aji cukup sigap. Cepat tubuhnya mengegos ke kanan.
Namun, tak urung
tubuhnya terhuyung juga terkena sambaran an-
gin kelebatan tubuh Gentapati.
Gentapati tampak marah besar, mendapati
serangan pertamanya begitu mudah dihindari.
Sebelumnya dia memang tidak menyangka. Kare-
na diduga orang yang muncul itu hanya seorang
yang mencari mati.
"Setan! Ternyata kau berani juga membuat
urusan denganku. Apakah kau telah tahu, sedang
berhadapan dengan siapa saat ini..."!" gertak Gentapati.
Aji tersenyum lebar, setelah memberi isya-
rat pada Bidadari Tongkat Putih untuk menjauh.
"Dengar, Gentapati! Aku memang sejak sa-
tu purnama yang lalu mencari-carimu. Berarti,
aku telah tahu siapa kau!" kata Aji berbohong.
Pendekar Mata Keranjang 108 memang se-
benarnya tidak tahu sebelumnya. Dia sengaja
berbuat begitu, dengan maksud agar nyali Genta-
pati sedikit ciut
"Ha... ha... ha...!"
Namun mendengar kata-kata Aji, tawa
Gentapati meledak.
"Dalam satu purnama ini telah banyak to-
koh silat ngacir begitu saja mendengar denting
loncengku. Tapi kali ini, seorang anak bawang co-ba-coba menggertakku" Ha...
ha... ha...! Apakah kau tidak bermimpi anak muda..."!" leceh Gentapati. Mau tak
mau Aji terkejut. Ternyata Gentapati telah dapat menebak kalau usia Aji masih
muda. "Mimpi atau kenyataan, itu bukan uru-sanmu! Sekarang terimalah pukulanku!"
teriak Aji. Seketika Pendekar Mata Keranjang 108
mendorongkan telapak tangannya yang telah
mengepal, langsung mengirimkan pukulan
'Gelombang Prahara'.
Wesss...! Segelombang angin dahsyat laksana praha-


Pendekar Mata Keranjang 5 Ratu Petaka Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ra gelombang menderu ke arah Gentapati. Bebe-
rapa pohon dan semak belukar yang dilewati ber-
derak tumbang dan berserakan.
Gentapati terkejut bukan alang kepalang
merasakan hawa serangan ini. Namun sebagai to-
koh yang pernah malang melintang dalam dunia
persilatan, dia segera tahu apa yang harus dila-kukannya.
"Hiaaa...!"
Dengan seruan nyaring, Gentapati mene-
kan tangannya ke bawah. Sementara seluruh te-
naga disalurkan ke arah kaki, sehingga meski sa-puan angin yang menyerangnya
begitu dahsyat,
tubuhnya tidak bergeming sedikit pun! Sepasang
kakinya sepertinya terpantek ke dalam tanah!
"Keluarkan seluruh tenagamu, Bocah!" ujar Gentapati memanas-manasi dengan senyum
mengejek. Aji tambah penasaran. Kembali kedua tan-
gannya didorongkan dengan tenaga berlipat gan-
da. Wesss...! Gentapati mulai waswas saat kakinya tera-
sa mulai agak goyah dan tubuhnya terhuyung-
huyung hendak roboh.
"Hiaaa...!"
Sambil menghardik lantang, Gentapati ce-
pat menghentakkan kedua tangannya ke depan.
Wusss...! Segelombang asap biru melesat. Namun
Pendekar Mata Keranjang 108 tidak mau bertin-
dak ceroboh. Dengan menambah kekuatan, kedua
tangannya yang mengepal segera disentakkan ke
depan. Dan.... Blarrr...! "Aaakh...!"
Seketika terdengar suara berdentum ketika
dua kekuatan beradu. Tempat terjadinya perte-
muan dua pukulan itu bagai terhempas gempa
dahsyat. Sementara Gentapati yang mengelua-
rkan seruan tertahan, terpental ke belakang dan bergulingan di atas tanah.
Tokoh sesat ini, cepat bangkit. Namun,
mendadak tubuhnya terhuyung-huyung, dan
kembali terjatuh. Buru-buru diambilnya sikap
duduk bersila dengan kedua tangan menakupkan
di depan dada. Matanya langsung terpejam den-
gan mulut bergerak-gerak. Dicobanya untuk
mengatur peredaran darah yang terasa tersendat
dan bagai terhenti.
Sementara Aji juga terpental empat lang-
kah ke belakang. Sekujur tubuhnya terasa ngilu
dan nyeri. Seperti Gentapati, Aji pun lantas duduk bersila untuk mengalirkan
hawa murni ke se-
luruh persendian tubuhnya.
Setelah dapat menguasai keadaan, Genta-
pati bangkit berdiri dengan kacak pinggang. Ma-
tanya yang buta membesar liar.
Melihat lawan sudah berdiri, Pendekar Ma-
ta Keranjang 108 cepat pula berdiri. Kini Aji siap dengan kuda-kuda menyerang.
"Setan!" hardik Gentapati masih dengan kacak pinggang. "Pukulan 'Gelombang
Prahara'- mu memang hebat. Namun aku tak mungkin bisa
kau kalahkan dengan pukulan itu! Ha... ha...
ha...! Jawab, Setan! Apa hubunganmu dengan
manusia bernama Selaksa dan Wong Agung dari
Karang Langit" He..."!"
Pendekar Mata Keranjang 108 mau tak
mau tersentak kaget bahwa Gentapati mengenali
pukulannya. Dan dia makin terkejut, saat tokoh
sesat ini menyebut nama dua orang yang sudah
tak asing lagi, yakni Eyang Selaksa dan Wong
Agung. Mereka tak lain memang guru-guru Pen-
dekar Mata Keranjang 108.
Namun meski terkejut, Aji cepat menepis-
nya. Bahkan dia kini tertawa renyah.
"Kau tak usah banyak tanya, Gentapati!
Pertanyaanmu sebenarnya sudah kau jawab sen-
diri!" sahut Aji, enteng.
"Hm.... Jika begitu, berarti kau manusia
yang bergelar Pendekar Mata Keranjang...! Bagus!
Aku memang mengharapkan bertemu orang-
orang macam kau!" desis Gentapati.
Mendengar kata-kata Gentapati, Bidadari
Tongkat Putih terkesima. Sepasang matanya lan-
tas mengawasi Pendekar Mata Keranjang 108 dari
ujung kaki sampai ujung rambut.
"Ah! Jadi, inikah pemuda yang bergelar
Pendekar Mata Keranjang 108?" kata batin Bidadari Tongkat Putih.
"Setan!" tegur Gentapati, masih dengan panggilan semula. "Bagaimana jika kau
masuk menjadi anggota partaiku" Kedudukan tinggi
akan kau terima, jika menerima tawaranku!"
"Hm.... Kau menawarkan kedudukan pa-
daku, karena takut menghadapiku bukan...?" ejek Aji sambil tersenyum-senyum.
"Bangsat!" bentak Gentapati. "Siapa takut menghadapi kerucuk macam kau..."!"
Selesai menghardik, Gentapati mendorong-
kan kedua tangannya ke depan. Sementara mu-
lutnya yang menggembung tiba-tiba menyembur
ke depan. Wesss...! Tiga asap biru berhawa panas segera mele-
sat. Namun Aji tak tinggal diam. Segera pula kedua tangannya didorongkan
mengirimkan puku-
lan 'Gelombang Prahara'.
Rupanya, asap biru berhawa panas itu ti-
dak musnah terpapak gelombang angin pukulan
Pendekar Mata Keranjang 108. Malah asap biru
itu kini berkeping-keping, dan melesat ke segala penjuru mengancam keselamatan
Aji. Dengan rasa terkejut, Pendekar Mata Ke-
ranjang 108 cepat menghindar dengan melompat
ke belakang. Dan dari tempat itu cepat pula dikirimkannya serangan dengan
pukulan 'Segara Ge-
ni', pukulan sap keempat.
Werrr...! Gelombang angin berkilat-kilat langsung
meluncur dari tangan Pendekar Mata Keranjang
108, dan segera menggebrak
Bletar! Tar...! Di sekitar tempat ini seakan-akan tersam-
bar kilatan petir.
Gentapati cepat menambah kekuatan tena-
ga dalamnya ke dalam dorongan tangan. Namun
tenaga tambahan itu rupanya tak mampu lagi
menahan gelombang angin berkilat-kilat yang ke-
luar dari sentakan tangan Aji. Bahkan angin yang keluar dari tangan pemuda itu
dengan mudah menerabas asap biru, dan menggebrak lurus ke
arah Gentapati.
"Hiaaa...!"
Gentapati berseru nyaring. Segera tubuh-
nya melesat ke samping, seraya melepas tali yang melingkar di lehernya. Dan saat
itu juga segera disentakkannya tali yang tadi melingkar di lehernya. Teng! Teng!
Suara lonceng segera terdengar menghen-
tak-hentak, membuat Aji terbelalak. Ternyata tali pengikat lonceng itu bisa
menjulur! Selagi Pendekar Mata Keranjang 108 terke-
sima, mendadak denting lonceng itu menderu di
atas kepala dan berputar-putar.
"Uts!"
Cepat-cepat Pendekar Mata Keranjang 108
merunduk. Namun, rupanya lonceng itu seperti
punya mata, sehingga terus berputar dan mem-
buru ke arah kepala. Sementara denting suaranya menusuk-nusuk, makin menghentak.
Ini tentu saja membuat Aji harus mengerahkan dua perha-
tian. Pertama harus berkelit menghindar dari
hantaman lonceng, dan kedua harus mengerah-
kan tenaga dalam untuk menangkis suaranya.
Kini Aji tak bisa lagi punya kesempatan un-
tuk balas menyerang. Dan di lain pihak, tena-
ganya terus terkuras.
"He... he... he...!"
Melihat Aji kalang kabut, Gentapati tertawa
mengekeh. Sementara Bidadari Tongkat Putih yang
baru saja bisa menguasai diri tak dapat lagi menolong. Karena, dia sendiri kini
harus mengerahkan tenaga dalam untuk menangkis dentingan
suara lonceng. Lama-lama Pendekar Mata Keranjang 108
makin terdesak. Dan pada suatu kesempatan,
sewaktu Aji berkelit menyamping, Gentapati men-
girimkan pukulan susulan.
Wesss...! Aji tak menduga. Tak ada kesempatan ba-
ginya untuk mengelak. Dan....
Splash...! "Aaakh...!"
Seketika tubuh Pendekar Mata Keranjang
108 terpental menyusur tanah disertai pekikan
tertahan. Saat itu Aji merasa kepalanya bagai terkena batangan besi.
Pandangannya tiba-tiba ge-
lap. Namun sebelum tubuhnya menggelosor tak
sadarkan diri "Bidadari! Cepat tinggalkan tempat ini!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108.
Bidadari Tongkat Putih nampak ragu-ragu.
Namun karena merasa tidak akan mampu mela-
wan sendiri, akhirnya diturutinya kata-kata Aji.
"Pendekar Mata Keranjang! Aku akan da-
tang lagi ke sini!"
Sambil berseru, Bidadari Tongkat Putih ce-
pat berkelebat dan menghilang. Dia tak peduli
apakah Aji mendengar teriakannya atau tidak.
"Ha... ha... ha...! Kau saat ini sengaja kuberi hidup, Gadis Cantik...! Dengan
demikian, tentunya kau akan datang lagi ke sini. Dan pasti,
bersama gurumu! Itulah nanti yang kutunggu!"
kata Gentapati, sambil tertawa mengekeh.
Kini kaki tokoh sesat itu melangkah ke
arah tubuh Aji yang diam tak bergerak-gerak.
"Hm.... Kau tentunya lebih berharga dari
gadis tadi, Setan! Dengan kukatakan bahwa kau
telah menjadi anggota partaiku, dunia persilatan akan bertambah guncang. Dan,
tokoh-tokoh persilatan akan berpikir beberapa kali untuk ambil tindakan....
Ha... ha... ha...!"
Dengan masih tertawa mengekeh, Gentapa-
ti lantas melingkarkan kembali loncengnya. Lalu dengan cepat, diangkatnya tubuh
Pendekar Mata Keranjang 108 dan dibawa berkelebat ke arah
bukit. 7 Hari terus berjalan sesuai kodratnya. Dan
tanpa terasa, hari yang telah dinantikan Gentapa-ti untuk meresmikan partainya
hampir tiba. Saat ini, tokoh sesat itu memang gembira
sekali. Karena telah banyak tokoh silat dapat di-tundukkannya. Belum lagi bila
ditambah korban-
korban yang bertekuk lutut di tangan Ratu Petaka Hijau, yang sepertinya makin
merajalela. Sebenarnya banyak tokoh yang mencoba
membendung sepak terjang Gentapati dan dua
muridnya. Namun karena kini Gentapati telah pu-
la menurunkan beberapa tokoh yang telah ber-
sumpah akan menjadi anggota partainya, mem-
buat beberapa tokoh mundur teratur sambil me-
nyusun kekuatan dan menunggu waktu yang te-
pat. Dunia persilatan kali ini kembali diguncang prahara besar. Keresahan dan
kecemasan muncul
di mana-mana, menyelimuti setiap orang.
Karena waktu yang ditentukan semakin
dekat, Pusparani dan Puspasari yang mengemban
tugas dari Gentapati segera pula kembali ke Gu-
nung Wilangkor.
"Hm.... Bagus! Tak sia-sia aku mendidik
kalian selama bertahun-tahun!" puji Gentapati tatkala mereka berada di ruang
utama bangunan megah tempat tinggal tokoh sesat itu.
"Tapi..., Guru! Ada sesuatu hal yang harus kita waspadai...!" lapor Pusparani,
setelah agak lama diam.
"Katakan...!" ujar Gentapati, sedikit heran.
"Dalam perjalanan selama enam purnama,
kami bertemu pemuda yang mungkin dapat
membahayakan kita!" lapor Pusparani lagi seraya melirik Puspasari. Yang dilirik
tak menoleh. "Seorang pemuda..." Siapa..."!" kejar Gentapati, cepat
"Pemuda itu berilmu tinggi. Bahkan hampir
saja dapat menewaskan kami berdua! Dia berge-
lar Pendekar Mata Keranjang 108!" jelas Pusparani.
"He... he... he...!"
Mendengar keterangan Pusparani, Genta-
pati tertawa tergelak-gelak. Dan ini membuat
Pusparani dan Puspasari mengernyitkan dahi
masing-masing. "Kalian tidak usah mengkhawatirkan pe-
muda itu! Dia kini sudah ada di tangan kita, setelah berhasil kulumpuhkan. Dan
sekarang dia be-
rada di tempat tahanan kita! Jika waktu peres-
mian nanti tidak juga mau bersumpah menjadi
anggota partai, pemuda itu kita habisi! Agar dike-lak kemudian hari tidak
menjadi duri!" sambung Gentapati mendesis.
Pusparani terkejut. Namun yang lebih ter-
cekat adalah Puspasari. Sungguh tak disangka
kalau gurunya telah menawan pemuda yang
mendadak membuat hatinya kepincut. Namun


Pendekar Mata Keranjang 5 Ratu Petaka Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

buru-buru rasa tercekatnya disembunyikan saat
Pusparani menatap ke arahnya.
"Bagaimana pemuda itu bisa tertawan"
Apakah setelah kejadian itu...?" kata batin Puspasari menerka-nerka.
Gadis ini memang tak menceritakan ten-
tang kejadian di lengah hutan yang mempertemu-
kan dirinya dengan Pendekar Mata Keranjang
108. "Kau tampaknya murung. Ada apa, Sri?"
bisik Pusparani, tatkala paras Puspasari terlihat sedikit masam.
Puspasari terkejut mendengar teguran
Pusparani. Namun bibirnya cepat tersenyum dan
menggeleng perlahan. Tapi, tak urung Pusparani
curiga. Ia menduga Puspasari menyembunyikan
sesuatu. "Tentunya kalian lelah, setelah melakukan
perjalanan jauh! Istirahatlah. Mulai besok, mungkin kita akan mulai kedatangan
tamu. Karena, aku telah menyuruh beberapa orang untuk me-
nyebarkan undangan pada beberapa tokoh yang
belum sempat kudatangi. Dan kalian juga harus
turut mengawasi tawanan kita itu. Karena meski
aku telah menugaskan beberapa orang untuk
menjaga, bukan tak mungkin dia akan mencoba
melarikan diri...!" ujar Gentapati.
Pusparani dan Puspasari mengangguk, lalu
merapatkan telapak tangan di depan hidung.
*** "Kau menyembunyikan sesuatu padaku,
Sari...?" kejar Pusparani setelah berada di sebuah ruangan khusus buat mereka.
Sepasang mata Puspasari sebentar mena-
tap bola mata Pusparani.
"Apakah aku harus berterus terang pa-
danya" Tidak! Rani mungkin tidak setuju dengan
jalan yang akan kuambil! Ah! Memang sebaiknya
aku tidak menceritakan padanya!" kata batin Puspasari
Sejenak suasana hening, ketika Puspasari
belum memberi jawaban.
"Selama ini kita selalu bersama-sama. Apa
yang harus ku sembunyikan?" Puspasari balik bertanya.
"Hm.... Tapi, sejak pertemuan kita dengan
pemuda bergelar Pendekar Mata Keranjang 108,
kulihat kau sering melamun sendiri. Dan tadi,
sewaktu guru memberitahukan bahwa pemuda
itu berhasil ditawan, kau sepertinya bersikap lain!
Apakah kau...."
Pusparani tidak meneruskan kata-katanya
saat Puspasari melotot
"Kau jangan menduga yang tidak-tidak,
Rani!" desis Puspasari.
"Sekadar menduga, kan tidak apa-apa.
Siapa tahu kau diam-diam mencintainya...?" kata Pusparani kalem.
"Sialan! Dia mengetahui segala gerak-
gerikku!" rutuk batin Puspasari.
"Tapi, kurasa tidak mungkin kau menyukai
pemuda itu. Bukankah dia musuh kita" Bahkan
dia mungkin akan menjadi halangan besar bagi
kita kelak"!" sambung Pusparani dengan wajah tegang. Puspasari hanya manggut-
manggut mendengar kata-kata Pusparani.
"Rani.... Dalam hal satu ini, mungkin kita
akan berbeda jalan! Aku sendiri tak tahu, kenapa tiba-tiba saja menginginkan
sebuah kehidupan
damai, tanpa pertumpahan darah, tanpa permu-
suhan, tanpa dendam. Ah! Mungkin ini sebuah
masalah yang berat bagiku. Tapi...." Puspasari tak melanjutkan kata hatinya,
ketika.... "Kau melamun lagi, Sari..."!" usik Pusparani.
"Kau terlalu menduga terus menerus, Ra-
ni...!" kata Puspasari menutupi rasa terkejutnya.
"Syukurlah jika tidak. Tapi kalau kau akan melamun, silakan saja. Aku akan
tidur...!" ujar Pusparani sambil tersenyum dan mengerling pada
Puspasari. "Tidurlah. Aku belum ngantuk. Lagi pula
aku belum mandi!" sahut Puspasari, balas mengerling.
Setelah berkata begitu, Puspasari keluar
dari ruangan, menuju ruangan belakang. Bebera-
pa orang memang sudah tampak di situ. Walau
mereka belum saling mengenal, namun sudah
mengetahui siapa gadis berbaju hijau ini. Sehing-ga tanpa diberi tahu lagi,
mereka segera menjura begitu bertemu Puspasari.
Puspasari hanya mengangguk, mendapat
penghormatan beberapa orang yang ternyata dari
bekas anak buah Gentapati yang telah kembali
lagi, setelah mendengar kabar bahwa tokoh sesat itu akan mendirikan kembali
partainya yang pernah hancur.
Ketika Puspasari sampai pada ruangan pal-
ing belakang yang memang disediakan sebagai
tempat untuk para tawanan, langkahnya berhen-
ti. Sepasang mata Puspasari mendadak terbe-
lalak. Dadanya berdesir kencang. Bibirnya saling menggigit, tatkala melihat
kepala Pendekar Mata Keranjang 108 tampak terkulai. Sementara kaki
dan tangannya dipentang dan diikat dengan kea-
daan berdiri. "Buka pintunya...!" perintah Puspasari pa-da salah seorang penjaga pintu.
Penjaga itu buru-buru membuka gembok
dan membuka pintu. Dengan langkah perlahan,
gadis berbaju hijau itu mendekat ke arah Aji.
Puspasari didera perasaan campur aduk. Senang,
risau, jengkel. Ingin rasanya dia menghambur
dan membebaskan pemuda di hadapannya, jika
keadaan memungkinkan.
Puspasari terus mendekat. Dan saat dekat
sekali, tanpa sadar tangannya bergerak menja-
mah tubuh Pendekar Mata Keranjang.
Perlahan Aji membuka kelopak matanya.
Sejenak matanya mengerdip-ngerdip. Tatkala ma-
tanya benar-benar terang, pemuda ini sedikit tersentak. "Hm.." kau...?" desah
Aji lirih. Sementara matanya terus menatap Puspasari.
Puspasari tak kuasa menjawab. Kepalanya
hanya mengangguk dengan sepasang mata tam-
pak berkaca-kaca.
"Kenapa perempuan ini menangis" Apakah
dia...." Belum sampai Aji meneruskan kata hatinya....
"Maafkan aku, Pendekar! Aku tak kuasa
untuk menolongmu...," ucap Puspasari.
Namun suara gadis itu terdengar sangat
perlahan. Bahkan tersendat bagai menggantung
di tenggorokan.
Habis berkata Puspasari segera bergegas
keluar. Beberapa orang penjaga nampak kehera-
nan melihat tingkah gadis ini. Namun mereka tak berani berkata apa-apa.
8 Hari yang ditentukan Gentapati akhirnya
tiba.... Puncak Gunung Wilangkor hari ini tampak luar biasa. Di tengah-tengah
hamparan puncak
bukit, tampak sebuah panggung besar. Sementa-
ra di sekitar panggung, duduk berputar beberapa tamu dari kaum rimba persilatan.
Kedatangan mereka ada yang sengaja karena diundang, na-
mun ada juga yang datang terpaksa karena sudah
dibubuhi racun yang penawarnya akan diberikan
pada hari peresmian ini.
Sementara itu di dalam ruangan khusus,
Gentapati mengadakan pertemuan tersendiri den-
gan beberapa orang yang dianggap dapat diper-
caya. Beberapa lama tokoh sesat itu memberi be-
berapa tugas-tugas terakhir pada mereka.
Tak lama kemudian, terdengar dentangan
lonceng bertalu-talu. Begitu gema dentingan lonceng lenyap dari arah dalam
bangunan megah melesat sebuah bayangan disertai dentingan lon-
ceng. Dan tahu-tahu, sosok itu telah berdiri tegak di tengah-tengah panggung.
Seluruh mata yang hadir segera saja terpu-
sat pada sosok yang kini berdiri di tengah panggung. Sosok ini yang tak lain
Gentapati segera
menyapukan pandangan, seolah-olah matanya ti-
dak buta. Lantas kepalanya sedikit mendongak
"Aku, Gentapati yang juga Ketua Partai
Lonceng Kematian, menghaturkan banyak terima
kasih atas kedatangan saudara-saudara di sini,
untuk ikut serta menyaksikan peresmian berdi-
rinya kembali Partai Lonceng Kematian. Perlu
saudara-saudara ketahui, maksud kami mendiri-
kan kembali partai ini adalah untuk mempersa-
tukan beberapa perguruan silat yang ada serta
mempersatukan beberapa tokoh silat dalam satu
wadah partai. Yakni, Partai Lonceng Kematian!
Kami tidak memaksakan kehendak saudara-
saudara sekalian untuk menjadi anggota partai
kami. Namun begitu, siapa pun juga yang merasa
sebagai tokoh silat dan memiliki perguruan silat maka, dia harus ada di bawah
pengawasan kami!"
kata Gentapati, angkat bicara. Nadanya terdengar pongah.
Terdengar riuh rendah suara hadirin,
tatkala mereka mendengar kata-kata Gentapati
Mereka saling berpandangan satu sama lain, me-
nyadari kalau kata-kata itu mengandung pak-
saan. "Saat ini beberapa tokoh silat berilmu tinggi, bahkan sebagian di
antaranya pernah malang
melintang dalam dunia persilatan, telah resmi
menjadi anggota partai kami. Kini untuk memper-
singkat waktu, kuharap kalian semua berdiri dan mengucapkan sumpah setia pada
partai kami. Sekaligus, semuanya berada di bawah pengawa-
san kami!" lanjut Gentapati.
Kembali suasana riuh rendah. Di antara
yang hadir saling berucap sendiri-sendiri. Dan ti-ba-tiba....
"Gentapati! Mendengar segala ucapanmu,
berarti tidak sesuai apa yang tertera dalam un-
danganmu! Karena di dalam undangan, hanya
tertulis undangan peresmian. Tidak ada istilah
kami harus mengangkat sumpah setia pada par-
taimu!" teriak seseorang sambil mengacungkan tangan.
Semua kepala yang hadir segera berpaling
pada orang yang baru saja berkata pedas. Ternya-ta, dia adalah seorang laki
berusia agak tua yang dikenal sebagai tokoh dari golongan putih.
"Hm.... Rupanya Pendekar Jala Sakti!" gumam Gentapati. "Untuk tokoh-tokoh
seangka- tanmu, memang telah kami sediakan tersendiri
jabatan tertentu. Jadi, tak usah khawatir!" sahut Gentapati seenaknya.
Seluruh yang hadir dibuat tercengang! Be-
tapa tidak" Walau buta, Gentapati bisa tahu siapa gerangan yang baru saja
berkata. "Aku tidak mengharapkan jabatan apa-apa
dalam hal ini! Aku sudah waktunya mengundur-
kan diri dari dunia persilatan! Aku hanya ingin mengutarakan, bahwa tidak
sepantasnya kau
memaksa kehendak para hadirin!" teriak laki-laki tua berjuluk Pendekar Jala
Sakti. "Hm.... Begitu" Lalu, apa yang kau kehen-
daki"!" tanya Gentapati agak jengkel.
"Kuharap kau mau menarik kata-katamu
yang memaksa untuk harus mengangkat sumpah
setia pada partaimu!" sahut Pendekar Jala Sakti lantang.
Gentapati tersenyum sinis.
"Kalau itu kehendakmu, aku memang tidak
memaksa. Tapi, perlu kau ketahui. Siapa pun
yang turun dari Gunung Wilangkor tanpa terlebih dahulu mengangkat sumpah, maka
yang turun, hanya namanya saja. Sementara, jasadnya terka-
par di sini!" desis tokoh sesat Ketua Partai Lonceng Kematian.
"Itu pemerasan, Gentapati! Siapa pun, pas-
ti menolak hal itu!" kata Pendekar Jala Sakti lantang. Gentapati mengeluarkan
seruan kesal. Lantas kepalanya berpaling ke arah depan ban-
gunan rumahnya. Di sana, tampak berderet bebe-
rapa anak buahnya
"Pusparani! Cepat selesaikan manusia tua
itu!" perintah Gentapati. Saat itu juga, sosok tubuh ramping berpakaian hijau
berkelebat ke arah panggung. Dan tahu-tahu, gadis yang dipanggil
Pusparani telah berdiri di situ.
"Pendekar Jala Sakti! Karena kau satu-
satunya orang yang tidak setuju dengan kemauan
kami, maka kau harus tinggalkan jasadmu di
Gunung Wilangkor ini!" bentak Pusparani, begitu memandang tajam ke arah Pendekar
Jala Sakti. Pendekar Jala Sakti menggeram. Lantas
dia meloncat ke atas panggung.
"Aku memang rela mati, daripada harus
mengorbankan dan menjual harga diri!" balas Pendekar Jala Sakti.
Sementara, Gentapati sudah melangkah ke
pojok panggung. Sementara semua mata yang
hadir dibuat terpesona melihat penampilan Pus-
parani. Karena pakaiannya demikian tipis dan ketat. Sehingga lekukan seluruh
tubuhnya tampak
jelas. Dan tanpa banyak bicara lagi, Pendekar
Jala Sakti dan Pusparani langsung terlibat dalam pertempuran sengit. Namun tanpa
disadari semua yang hadir, diam-diam sesosok tubuh yang selu-
ruh tubuh dan mukanya tertutup, tampak men-
gendap-endap ke belakang ruangan tempat ting-
gal Gentapati. Sosok ini melangkah, sepertinya telah paham betul dengan tempat
ini. Karena semua orang sedang berada di luar,
hal ini membuat sosok itu leluasa melangkah. Ba-ru saat mencapai ruangan
tahanan, dia berhenti
Sejenak tubuhnya menyelinap di balik sebuah
ruangan. Dari ruangan ini, sosok itu bisa melihat ke
arah ruangan tahanan yang dijaga dua orang.


Pendekar Mata Keranjang 5 Ratu Petaka Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Mereka hanya orang-orang yang berilmu
cekak. Aku bisa mengatasi mereka! Aku harus se-
gera bertindak, karena waktuku singkat!" gumam sosok yang seluruh tubuhnya
terbungkus ini, dan hanya menyisakan pada lobang matanya.
Sosok bertubuh ramping itu lantas me-
langkah perlahan, mendekati arah ruang taha-
nan. Begitu melihat kehadirannya, dua orang
penjaga ruang tahanan tampak terkejut. Buru-
buru mereka menyongsong dengan senjata terhu-
nus. Namun baru saja kedua orang itu bergerak
menyongsong, sosok bertubuh ramping ini telah
menggerakkan kedua tangannya.
Wusss...! Segelombang asap berwarna hijau segera
melesat, membuat dua orang penjaga itu terkejut.
Tapi mereka tidak bisa menghindar.
Baru saja dua penjaga itu berusaha meng-
halau asap, sosok ramping ini melepaskan puku-
lan jarak jauh.
Desss! Desss! "Aaakh!"
"Aaa...!"
Tubuh kedua penjaga itu terpental disertai
lenguhan dan menghantam dinding.
Tubuh kedua penjaga itu tampak bergerak-
gerak sebentar, namun tidak lama kemudian di-
am kaku! Pakaian keduanya hangus dengan kulit
sekujur tubuh tampak berubah kebiruan. Ru-
panya, telak sekali pukulan jarak jauh sosok bertubuh ramping ini mendarat di
tubuh mereka. Sosok terselubung kain ini kembali melan-
jutkan langkahnya ke ruang tahanan. Begitu tiba dengan kekuatan dahsyat
disentaknya gembok itu
hingga pintu ruang tahanan terbuka. Dan dengan
gerakan cepat, sosok itu segera masuk.
Pendekar Mata Keranjang 108 sempat ter-
sentak ketika sosok ini langsung membuka ikatan pada tangan dan kakinya.
Padahal, Aji sudah
mengerahkan tenaga untuk mencoba membuka
ikatan itu, namun tidak berhasil.
"Siapa kau...?" tanya Aji lirih, seraya mengawasi sosok di depannya.
Sosok terbungkus ini tidak menjawab, dan
terus membuka ikatan. Baru setelah Aji terbebas, dia bergerak cepat menelusuri
lorong-lorong ruangan. Sementara itu di arena pertarungan, ter-
nyata Pendekar Jala Sakti telah tewas di tangan Pusparani. Dan seluruh tamu yang
hadir pun kembali bergumam riuh rendah. Pada saat itulah
tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat, dan berdi-ri di atas panggung satu tombak
di depan Puspa-
rani. "Bidadari Tongkat Putih! Akhirnya kau datang juga. Pusparani! Selesaikan
pula gadis lak-nat itu!" perintah Gentapati dari sudut panggung.
Hidungnya seketika mendengus-dengus. Karena
bersamaan dengan berkelebatnya bayangan Bida-
dari Tongkat Putih tadi, menyebar aroma bunga
sedap malam. Seluruh mata yang hadir kembali tertuju
pada panggung. Dan tanpa menunggu perintah
lagi, Pusparani segera memulai serangan dengan
menghantamkan kedua tangannya.
Wusss...! Gelombang angin kencang dan asap hijau
segera menggebrak ke depan. Namun pada saat
yang sama Bidadari Tongkat Putih menyentakkan
kedua tangannya pula.
Blarrr...! Ledakan dahsyat segera terdengar ketika
dua serangan bertenaga dalam itu bentrok, mem-
buat panggung itu berguncang hebat.
Tubuh Pusparani tampak terjengkang dan
jatuh terduduk. Pakaiannya tampak hangus. Se-
mentara, Bidadari Tongkat Putih terjajar dua tindak ke belakang. Tubuhnya
terhuyung-huyung,
sebelum akhirnya jatuh juga.
Pusparani segera bangkit. Demikian pula
Bidadari Tongkat Putih. Sementara seluruh hadi-
rin menarik napas dalam-dalam. Sedangkan Gen-
tapati hanya tersenyum dengan kepala mendon-
gak. Pusparani cepat menarik kedua tangannya
ke belakang. Lalu dengan bentakan nyaring dia
melompat dengan mulut menyembur ke depan.
Splashhh...! Tiga larik asap hijau segera melesat ke
arah Bidadari Tongkat Putih. Satu datang dari
arah kanan, satu dari arah kiri, dan satunya lagi menghantam dari arah atas.
Mendapati serangan berbahaya, Bidadari
Tongkat Putih cepat mengatupkan kedua tangan-
nya ke depan dada. Lalu tongkatnya disentakkan
ke depan. Wuttt! Saat itu juga tercipta asap putih yang
membentuk kepala seekor ular, meliuk-liuk me-
mapak tiga larik sinar asap biru. Karena asap putih ini meliuk cepat, membuat
tiga larik asap biru dapat segera terpapasi.
Bletar! Tar! Tar!
"Aaakh...!"
Terdengar tiga ledakan berturut-turut,
tatkala asap putih berbentuk kepala ular itu
menghantam tiga larik asap biru. Dan suara itu
disusul oleh keluhan Pusparani yang tangannya
terasa kesemutan dan dadanya terasa berdenyut
nyeri. Tubuhnya tampak sudah terkapar di atas
panggung. Sementara Bidadari Tongkat Putih sendiri
hanya jatuh terduduk. Namun, tak urung tan-
gannya juga gemetar. Bahkan hampir saja tong-
katnya terpental.
Pada saat Bidadari Tongkat Putih akan
bergerak bangkit, Gentapati telah menggerakkan
kedua tangannya.
Wuttt...! Gelombang angin menderu disertai asap bi-
ru berhawa panas meluncur, membuat Bidadari
Tongkat Putih tersentak kaget. Dia menggeram
marah, menyadari dirinya diserang secara penge-
cut. Namun segera tongkatnya disentakkan ke
depan. Tapi, rupanya Gentapati sudah tahu apa
yang akan dilakukan Bidadari Tongkat Putih. Se-
hingga sebelum asap putih membentuk kepala
seekor ular, telah dikirimkannya serangan susu-
lan. Blsattt...!
Asap putih yang mulai melesat dan akan
berubah bentuk itu seketika musnah. Sementara
asap biru dari sentakan Gentapati terus melabrak tanpa halangan lagi!
Tampak wajah Bidadari Tongkat Putih te-
lah pias. Dia sudah tidak bisa lagi berkelit.
"Matilah aku...," desah Bidadari Tongkat Putih, dengan sepasang mata terpejam
rapat. Pasrah. Sementara mata seluruh hadirin juga ikut-ikutan memejam. Di lain
pihak terdengar guma-
man panjang pendek, mencela tindakan Gentapa-
ti. Namun di saat yang sangat gawat itu tiba-
tiba menderu serangkum angin keras yang meng-
gemuruh dahsyat. Dan ketika asap biru sejengkal lagi menghantam tubuh Bidadari
Tongkat Putih, angin itu langsung melabrak, membelokkan arah
serangan hingga menghantam tempat kosong.
Blarrr...! Terdengar ledakan dahsyat ketika asap bi-
ru berbelok arah dan langsung menghantam sisi
panggung hingga jebol. Sementara, tak urung tu-
buh Bidadari Tongkat Putih ikut terseret terkena sambaran angin serangan yang
baru datang. Bidadari Tongkat Putih yang dari tadi su-
dah memejam serentak membuka kelopak ma-
tanya, saat tubuhnya terasa bukan dihantam
namun hanya terseret ke samping.
Begitu menoleh, Bidadari Tongkat Putih
melihat seorang pemuda berpakaian jubah ketat
warna hijau lengan pendek yang dilapisi baju
warna kuning lengan panjang tengah melangkah
ke arah panggung sambil mengebut-ngebutkan
kipas warna ungunya.
9 "Pendekar Mata Keranjang!" teriak Bidadari Tongkat Putih.
Gentapati terkejut besar. Demikian juga
Pusparani. Sementara, seluruh pandangan mata
yang hadir terbelalak lebar.
"Rani! Mana Sari"! Bangsat ini bagaimana
bisa lolos" Padahal tali ikatan itu hanya kita yang tahu, bagaimana cara
melepasnya! Pasti ada di
antara kalian berdua yang berkhianat!" dengus Gentapati, membentak galak.
Pusparani tak menjawab. Sepasang ma-
tanya berputar ke seluruh tempat itu. Dan tatkala matanya tertumbuk pada
Puspasari yang tampak
berdiri di tengah-tengah para hadirin, dia melotot garang.
"Sari! Dari mana saja kau"! Dan, kenapa
kau berada di situ..."!" teriak Pusparani.
"Rani! Dengar! Mulai hari ini, aku memu-
tuskan untuk mengakhiri segala impian kita!" sahut Puspasari, enteng.
"Rani! Kutugaskan padamu untuk mering-
kus betina itu, dan membunuhnya!" perintah Gentapati berapi-api.
Paras Pusparani tampak berubah. Namun
kala teringat impiannya akan segera sirna, kema-rahannya menggelora. Segera dia
ancang-ancang hendak meloncat ke arah Puspasari yang berada
di tengah-tengah para tamu.
Namun sebelum Pusparani bergerak, Pus-
pasari telah meloncat mendahului. Dan indah se-
kali kakinya menjejak tanah di samping pang-
gung. "Sari! Rupanya kau telah terbujuk mulut pemuda konyol itu! Hingga rela
mengorbankan semua jerih payah kita selama ini! Ingat, Sari...!
Impian kita sudah di depan mata...!" desis Pusparani yang kini telah berdiri di
depan Puspasari.
"Rani!" kata Puspasari, pelan. "Maafkan aku, Rani. Dalam hal ini, rupanya kita
berbeda jalan! Kalau kau mau mengikuti jejakku yakni
kembali ke jalan benar, mari kita segera tinggal-
kan tempat ini! Kita bisa berkumpul lagi seperti dahulu!"
"Bedebah!" umpat Pusparani. "Matamu rupanya telah tertutup cinta buta, Sari!
Hingga kau berubah pikiran...!"
"Rani! Jangan kau sebut-sebut soal cinta.
Itu urusanku! Walau kau saudaraku, namun soal
cinta siapa pun tak berhak ikut campur!" balas Puspasari.
"Lidahmu ternyata telah pandai bicara, Sa-
ri! Baiklah. Kuperingatkan padamu, kembalilah...!
Impian kita pasti tercapai!"
"Tidak, Rani! Aku telah memutuskan jalan
hidupku!" "Kau memang keras kepala!" bentak Pusparani. "Sari! Terpaksa aku bertindak
kejam, karena kau telah menghancurkan cita-citaku selama ini!
Kau ternyata pengecut, Sari! Hanya karena cinta, kau berani pertaruhkan
segalanya!"
"Itu jalan yang terbaik bagiku, Rani! Dan
kau tak punya hak untuk mengatur!"
"Keparat!" dengus Pusparani, seraya menghentakkan kedua tangannya.
Wesss...! Serangkum angin disertai asap berwarna
hijau segera melesat. Namun Puspasari tidak
tinggal diam. Segera pula kedua tangannya disentakkan.
Blarrr...! Dua pukulan yang sama jenisnya segera
bentrok di udara menimbulkan suara menggele-
gar. Karena keduanya adalah saudara sepergu-
ruan, maka kekuatan yang dikerahkan sama be-
sarnya. Dan itu membuat tubuh mereka sama-
sama terpental ke belakang.
Pusparani segera bangkit dari jatuhnya.
Demikian pula Puspasari. Kini keduanya telah
sama-sama berdiri berhadapan, dan saling me-
masang kuda-kuda untuk menyerang.
"Anggota Partai Lonceng Kematian! Lekas
musnahkan mereka-mereka yang masih mem-
bandel dengan perintah kita!" teriak Gentapati.
Dari dalam bangunan megah itu mendadak
muncul sekitar seratus orang.
"Siapa yang tidak mau diperintah tua buta
ini harap segera berkumpul ke arah samping
panggung! Kalian akan dipimpin Bidadari Tongkat Putih!" teriak Pendekar Mata
Keranjang 108, cepat ambil tindakan dengan berkelebat ke pang-
gung. Bidadari Tongkat Putih segera meloncat ke arah samping, setelah mendengar
kata-kata Aji. Dan beberapa orang dari hadirin yang ada, bergegas menuju ke arah Bidadari
Tongkat Putih. Dan
sebagian lagi nampak menyambut beberapa orang
yang juga mulai bergerak ke arah panggung dari
bangunan megah itu.
Maka tanpa dapat dielakkan lagi terjadilah
pertempuran dahsyat antara golongan orang-
orang yang tidak setuju, dengan orang-orang yang menjadi anggota partai
Gentapati. Ratusan senjata berseliweran segera terli-
hat berkilat mencari korban. Suara jerit kematian dan bentakan-bentakan segera
terdengar menjadi
satu, bagai membuncah puncak Gunung Wilang-
kor. "Kau bagianku, Buta!" bentak Aji, langsung menghadang Gentapati. Langsung
dikeluarkannya kipas dan disentakkannya melengkung ke
depan. Wuttt...!
Serangkum angin bergerak melengkung,


Pendekar Mata Keranjang 5 Ratu Petaka Hijau di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dan melesat ke arah Gentapati. Namun tokoh se-
sat itu segera pula melepas ikat lehernya. Dan secepat kilat loncengnya
dilontarkan memapak se-
rangan Aji. Sayang, kali ini bandul lonceng Gentapati
bagai tertahan angin lengkung serangan Aji, dan langsung terpental. Bahkan jika
Gentapati tak segera berkelit, kepalanya pasti akan terhantam
loncengnya sendiri.
Namun Gentapati yang sudah malang me-
lintang dan kenyang pengalaman, segera melesat
ke atas. Sementara loncengnya berderak di ba-
wahnya. Dan pada saat itulah, tiba-tiba Gentapati segera menyentakkan tangannya,
sehingga lonceng itu segera melesat lagi.
Aji cepat menjejak panggung. Tubuhnya
melenting ke atas menghindari terjangan lonceng.
Sementara Gentapati segera mengerahkan
tenaga dalamnya, hingga tubuhnya mental balik
ke atas panggung
"Menghadapi manusia satu ini, terpaksa
aku harus menggunakan jurus sap kelima! Jika
tidak, pertempuran di bawah tidak akan segera
selesai!" kata Aji dalam hati. Segera kipasnya di-katupkan di depan dada. Dan
mendadak seluruh
tubuhnya berubah menjadi kemerah-merahan.
Pada saat yang sama, Gentapati juga siap.
Kedua tangannya terkepal di depan dada. Semen-
tara loncengnya sudah menggantung di depan pe-
rutnya. "Hiaaa...!"
Disertai hentakan garang, Aji cepat meng-
gerakkan kipasnya.
Wusss...! Gelombang angin warna merah muda dis-
ertai suara menggemuruh melesat ke arah Genta-
pati. "Bayu Cakra Buana!" desis Gentapati, seperti mengenali pukulan yang
dilancarkan Pende-
kar Mata Keranjang 108.
Gentapati sejenak tampak tersentak kaget.
Namun buru-buru menyentakkan tangan kanan-
nya. Sementara, tangan kiri memutar loncengnya.
Wusss...! Gelombang asap biru disertai dentang lon-
ceng yang bertalu-talu segera melesat.
Blast...! Namun gelombang angin merah muda mu-
dah sekali memusnahkan asap biru. Dan suara
dentangan lonceng segera pula terhenti, tepat ketika tali pengikat lonceng itu
putus terkena sambaran angin sentakan kipas Pendekar Mata Ke-
ranjang 108. Namun demikian, Gentapati tak juga ciut.
Dia segera melompat sampai empat tombak ke
udara. Lalu seketika kedua telapak tangannya
disentakkan ke muka yang disusul muntahan
hawa dari mulutnya.
Kini Aji bagai terkurung oleh asap biru
yang datang dari segala penjuru. Tapi dengan cepat kembali. Pendekar Mata
Keranjang 108 me-
nyentakkan kipasnya. Kembali dikirimkannya ju-
rus sap kelima pukulan 'Bayu Cakra Buana'.
Wuttt...! Gelombang angin merah muda kembali
menghantam ke depan. Dan di tengah jalan tiba-
tiba gelombang angin merah muda itu berpencar,
memapasi seluruh asap biru yang datang.
Blashhh...! Gentapati kaget. Benar-benar tak disangka
jika serangan terakhirnya masih bisa dimusnah-
kan Pendekar Mata Keranjang 108. Hingga untuk
beberapa saat, dia tercenung! Belum habis rasa
kagetnya, selarik gelombang merah muda telah
kembali melesat.
Gentapati yang telah waspada segera mele-
sat ke samping, sehingga sinar merah muda itu
hanya menghantam tempat kosong!
Tapi, kali ini Pendekar Mata Keranjang 108
tak memberi lagi kesempatan pada Gentapati. Be-
gitu gelombang merah muda lolos, Aji segera me-
lompat. Dan segera pula kipasnya disentakkan ke sana kemari.
Wurrr...! Kembali gelombang angin merah menebar
ke segala jurusan, ke arah tubuh Gentapati. Sedangkan tokoh sesat itu tak bisa
lagi mengelak, karena larikan warna merah muda itu begitu banyak dan datang dari
segala arah. Lalu....
Blash! Blash...!
"Aaa...!"
Gentapati menjerit lengking ketika larikan
warna merah muda menghantam tubuhnya. To-
koh sesat itu kontan terpelanting keluar dari
panggung. Demi mengetahui siapa yang terpental, be-
berapa orang dari golongan putih yang tidak setu-ju depan Gentapati segera
menghambur ke arah
robohnya dedengkotnya tokoh sesat itu.
Dengan bentakan-bentakan membahana
mereka segera menghujamkan senjata di tubuh
Gentapati. Jras! Crap! Crasss...!
"Aaa...!"
Gentapati menjerit-jerit. Namun beberapa
orang tambah beringas menghujamkan senja-
tanya. Dan ketika jeritannya tak terdengar lagi, orang-orang itu segera
menghentikan hujaman-nya. Begitu semua senjata terangkat, tampak
tubuh Gentapati telah berserakan. Kedua tan-
gannya terpenggal dan kaki kanan hancur!
Beberapa orang pengikut Gentapati segera
menghentikan pertempuran. Mereka mulai mun-
dur teratur menuju bangunan megah itu. Semen-
tara orang-orang dari golongan putih segera mengejar. Melihat hal itu Aji segera
bertindak. "Hentikan pertempuran!" teriak Pendekar Mata Keranjang 108.
Serta merta langkah-langkah orang yang
mengejar berhenti. Dan mereka sama-sama me-
noleh ke arah Aji.
Tapi mendadak mereka dikejutkan oleh su-
ara bentakan yang masih juga membahana. Keti-
ka menoleh, mereka semua sama tercekat. Ter-
nyata di arah lereng, tampak Pusparani dan Pus-
pasari masih terlibat pertempuran sengit.
Tubuh mereka sudah tampak menge-
naskan. Pakaian mereka sudah koyak tak karuan.
Dari bibir dan hidung sudah tampak darah kehi-
taman, pertanda sama-sama terluka dalam.
"Hentikan, Sari!" teriak Aji.
Namun, terlambat. Pada saat yang bersa-
maan, Pusparani melancarkan serangan dengan
sisa-sisa tenaganya. Sementara Puspasari yang
diserang tak tinggal diam. Dengan segenap tenaga yang masih ada juga segera
dilepaskannya pukulan jarak jauh. Dan....
Blarrr...! Suara menggelegar dahsyat segera meng-
guncang tempat ini. Sementara tubuh Pusparani
dan Puspasari tampak sama-sama terpental. Be-
gitu menghantam tanah, tubuh keduanya sama-
sama menggelepar. Namun sesaat kemudian ga-
dis bersaudara kembar yang satu seperguruan ini sama-sama diam tak bergerak!
Semua mata yang menyaksikan tampak
terpejam. Mereka menarik napas panjang, me-
nyayangkan kejadian itu.
Sedangkan Pendekar Mata Keranjang 108
tampak tercenung, namun tak bisa berbuat ba-
nyak. 10 Tokoh-tokoh silat segera menyatu. Dan se-
cara serentak mereka menjura pada Pendekar
Mata Keranjang 108 dan Bidadari Tongkat Putih.
Sementara, bekas anggota Partai Lonceng Kema-
tian alias Partai Gentapati yang selamat, tampak berdiri dengan tubuh gemetar.
Mata mereka tak
berani memandang ke arah Pendekar Mata Keran-
jang 108. "Kalian boleh pergi. Namun, kalian harus
sadar dengan kembali ke jalan yang lurus! Sekali lagi kutemui di antara kalian
masih tetap di jalur hitam, tiada ampun lagi!" ancam Bidadari Tongkat Putih
dingin menggetarkan.
Mendengar kata-kata Bidadari Tongkat Pu-
tih, anggota Partai Gentapati segera membuang
senjata dan buru-buru berlutut di depan Pende-
kar Mata Keranjang 108 dan Bidadari Tongkat
Putih. "Hari ini, mata kami benar-benar terbuka.
Kami berjanji akan kembali ke jalan lurus...,"
ucap salah seorang bekas anggota Partai Lonceng Kematian tetap berlutut.
"Sekarang kalian boleh pergi!" ujar Bidadari Tongkat Putih.
Satu persatu bekas anggota Partai Genta-
pati mendongak. Dan perlahan-lahan mereka be-
ringsut mundur, sebelum akhirnya berbalik. Kini masing-masing melangkah menuruni
Gunung Wilangkor.
"Kami merasa kagum terhadap jiwa besar
Pendekar berdua! Seandainya tidak ada kalian,
entah nasib apa yang bakal menimpa. Lebih-lebih terhadap dunia persilatan...,"
ucap salah seorang dari golongan putih dengan mata tak berkedip.
"Ah! Kalian terlalu membesar-besarkan hal
ini! Apalah artinya aku, jika tanpa bantuan kalian semua...," jawab Aji,
merendah. "Kukira persoalan di sini telah berakhir. Kalian bisa meninggalkan
tempat ini. Aku harus tinggal sejenak di sini, masih ada yang harus aku
selesaikan...."
Pendekar Mata Keranjang 108 segera men-
dekati mayat Puspasari. Para tokoh sepertinya ta-hu, apa yang berkecamuk dalam
benak Pendekar Mata Keranjang 108. Mereka pun tanpa bicara la-
gi segera meninggalkan Gunung Wilangkor ini.
Sementara Bidadari Tongkat Putih tetap
diam dengan sepasang mata mengawasi Pendekar
Mata Keranjang.
"Manusia satu ini memang menarik. Tak
mustahil jika banyak gadis terpikat. Dan, apakah
dia juga tahu jika aku...."
Bidadari Tongkat Putih tak meneruskan
kata hatinya tatkala Pendekar Mata Keranjang
mengangkat tubuh Puspasari dan membopong-
nya. "Pendekar Mata Keranjang! Aku turut ber-sedih atas kematian orang yang
mencintaimu. Ngg..., tapi bisakah kita bicara sebentar...?" usik Bidadari Tongkat Putih
seraya melangkah mendekati Pendekar Mata Keranjang yang membopong
tubuh Puspasari.
Pendekar Mata Keranjang 108 tak menja-
wab. Perasaannya masih galau.
"Bidadari Tongkat Putih.... Hari ini aku betul-betul merasa kehilangan. Ku mohon
kau tak menggangguku. Jika ada umur panjang, kita pas-
ti akan bertemu lagi. Dan tentunya kita bisa cerita panjang lebar. Aku ingin
mengubur jenazah
Puspasari dan saudara kembarnya!" tolak Pendekar Mata Keranjang, halus. Suaranya
terdengar lirih, seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
Dalam hati, Pendekar Mata Keranjang 108
yakin kalau orang yang membebaskannya dari
tahanan adalah Puspasari. Inilah yang membuat
Aji tak ingin diganggu dulu. Dia merasa, Puspasa-ri telah menolong jiwanya. Itu
yang tak akan dapat dilupakannya....
Bidadari Tongkat Putih menarik napas
panjang, berusaha menguatkan perasaannya
yang galau. Kakinya melangkah menjauhi Pende-
kar Mata Keranjang 108, menyusul beberapa to-
koh yang telah terlebih dahulu meninggalkan Gu-
nung Wilangkor.
"Puspasari.... Maafkan aku yang tak bisa
menyelamatkanmu! Sebenarnya, aku juga...."
Aji tak meneruskan ucapannya. Sepasang
matanya memandang lekat-lekat pada paras Pus-
pasari di bopongannya yang-masih tampak terse-
nyum, meski tubuhnya telah dingin
Perlahan Aji membungkuk, lantas men-
cium kening Puspasari. Bidadari Tongkat Putih
yang ternyata masih berdiri dan hendak berkele-
bat, sempat melihat tingkah Aji. Dadanya lang-
sung bergemuruh terbakar api cemburu. Hatinya
bagai ditusuk. Wajahnya segera dipalingkan. Dan dengan mata berkaca-kaca,
tubuhnya berkelebat
menuruni Gunung Wilangkor.
SELESAI Tunggu serial Pendekar Mata Keranjang 108 da-
lam episode: PEWARIS PUSAKA HITAM
Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: Fujidenkikagawa
http://duniaabukeisel.blogspot.com
Pendekar Pemanah Rajawali 17 Pedang Medali Naga Karya Batara Si Racun Dari Barat 6
^