Pencarian

Algojo Gunung Sutra 1

Pendekar Naga Putih 03 Algojo Gunung Sutra Bagian 1


ALGOJO GUNUNG SUTRA Oleh T. Hidayat
Cetakan Pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting : Puji S
Hak Cipta Pada Penerbit
Dilarang Mengcopy atau Memperbanyak Sebagian atau Seluruh Isi Buku Ini Tanpa
Izin Tertulis dari Penerbit T. Hidayat
Serial Pendekar Naga Putih
Dalam Episode 003 :
Algojo Gunung Sutra
128 Hal ; 12 x 28 cm
Tukang Edit : mybeno
http://duniaabukeisel.blogspot.com/
1 Di atas sebuah puncak gunung yang terletak cukup Jauh dari Selatan Desa Cikunir,
berdiri sebuah bangunan besar yang dikurung oleh pagar tembok yang tinggi dan
kokoh. Di atas pintu gerbang yang terbuat dari kayu pilihan tertera nama
'PERGURUAN GUNUNG SALAKA' yang tertulis pada papan tebal. Nama
perguruan itu ditulis dengan tinta emas.
Huruf-hurufnya yang besar dan terukir, cukup indah dan gagah dipandang. Dalam
jarak sepuluh tombak, orang sudah dapat jelas membacanya.
Bagi kaum rimba persilatan, nama Perguruan Gunung Salaka bukanlah nama asing.
Perguruan itu terkenal sebagai pusatnya pendekar-pendekar.
Malam itu, Ki Tunggul Jagad yang merupakan Ketua Perguruan Gunung Salaka tampak
sedang mengumpulkan murid-murid utamanya yang berjumlah delapan orang.
Mereka adalah tokoh-tokoh tingkatan atas di perguruan itu, karena merupakan
murid-murid langsung dari Ki Tunggul Jagad.
"Tentu hati kalian bertanya-tanya, mengapa mendadak aku memanggil.
Sebenarnya hal ini sudah lama
kupikirkan, namun baru kali ini
mempunyai kesempatan untuk
mengutarakannya kepada kalian!" orang tua sakti itu terdiam sejenak sambil
menarik napas panjang, sepertinya apa yang akan disampaikannya ada suatu hal
yang penting. "Begini murid-muridku! Aku
bermaksud menyerahkan urusan perguruan ini untuk sementara waktu kepada kalian."
"Apakah maksud Guru, ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Guru?" tanya salah
seorang murid tertua Perguruan Gunung Salaka yang dipimpin Ki Tunggul Jagad.
Wajah murid ketua itu gelisah, takut kalau-kalau ada tingkah mereka yang telah
membuat hati orang tua sakti itu kecewa.
"Tidak ada satu pun dari kalian yang berbuat salah! Aku hanya berniat ingin
beristirahat dari kesibukan-kesibukan perguruan selama beberapa waktu. Nah!
Oleh karena itu akan kutunjuk salah seorang dari kalian, yang akan
menggantikanku selama beristirahat. Dan
untuk selama itu aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun, atau urusan apa pun!
Apakah kalian sanggup?" tanya Ki Tunggul Jagad sambil merayapi wajah-wajah
muridnya dengan tajam.
"Sanggup, Guru! Dan selanjutnya kami mohon petunjuk dan nasihat demi kelancaran
tugas kami...!" jawab delapan orang murid Ki Tunggul Jagad, dengan suara tegas.
"Hm, bagus..., bagus! Memang begitulah seharusnya," ujar Ki Tunggul Jagad. Kini
wajahnya menjadi cerah.
Kemudian orang tua sakti itu pun menunjuk Ki Sukma Kelana untuk mengurus
perguruan selama dirinya menyepi. Selain itu juga ditunjuk Ki Surya Kencana
sebagai wakil. Begitu juga keenam orang lainnya yang masing-masing diserahi
tugas yang harus dilaksanakan
sungguh-sungguh.
"Nah! Sekarang kemukakanlah pendapat kalian! Kalau ada yang merasa keberatan,
sampaikanlah selagi aku masih ada di sini. Sebab, aku tidak ingin apabila di
kemudian hari ada kejadian yang tidak diharapkan. Dan jika hal itu terjadi, maka
tidak akan segan-segan untuk menghukum kalian!" ujar Ki Tunggul
Jagad, dengan suara yang tegas dan berwibawa.
"Kami setuju, Guru! Dan semua perintah Guru akan kami laksanakan dengan sebaik
baiknya!" janji kedelapan orang murid-murid Ki Tunggul Jagad, ber-sungguh-
sungguh. "Baiklah. Kalau memang sudah tidak ada persoalan lagi, kalian boleh kembali ke
tempat masing-masing "
"Baik Guru!" seru kedelapan orang itu serempak Setelah memberi hormat, delapan
orang itu pun segera
meninggalkan tempat itu.
Pada keesokan harinya kedelapan
murid Perguruan Gunung Salaka mulai menjalankan tugas sebagaimana yang telah
dipesankan guru mereka. Dan tidak seorang murid lain pun yang mengetahui hal
itu, kecuali delapan murid utama Perguruan Gunung Salaka.
Hal itu memang sudah dipesankan oleh Ki Tunggul Jagad, agar tidak terjadi
keresahan di antara murid Perguruan Gunung Salaka itu.
*** Hari masih pagi, ketika serombongan orang bersama-sama mendaki Lereng Gunung
Salaka. Kalau di lihat dari keadaan yang rata-rata kusut dan agak kotor, itu,
jelas bahwa mereka telah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan.
Meskipun langkah-langkah kaki terlihat agak gemetar, namun dari sorot mata
terpancar semangat mereka yang tinggi.
Rombongan itu teidiri dari berbagai golongan. Ada anak hartawan, anak saudagar
kaya, dan ada juga anak pedagang kecil. Maksud kedatangan mereka ke tempat itu
adalah sama, yaitu untuk mengikuti ujian penerimaan murid baru, yang akan
diadakan Perguruan Gunung Salaka pada setiap enam bulan sekali.
Setelah melakukan pendakian yang sukar dan melelahkan, rombongan itu tiba pada
pos pertama yang dijaga dua orang murid tingkat enam, Perguruan Gunung Salaka.
"Saudara-saudara, harap berhenti sebentar...!" seru salah seorang dari dua
penjaga itu. "Huh! Apa maksudnya badut-badut itu mencegah kita"!" Membuat jengkel orang
saja...!" umpat salah seorang pemuda dari rombongan itu. Tarikan wajahnya
kelihatan angkuh. Pemuda itu berusia sekitar enam belas tahun. Pakaiannya
terbuat dari bahan sutra pilihan berwarna biru muda. Wajahnya tampan, bagai
seorang bangsawan. Kelihatan manja dan pesolek.
"Sudahlah! Jangan mencari penyakit, Sobat! Kita baru memasuki pos penjagaan yang
pertama!" jawab seorang pemuda lain, yang rupanya tidak suka ucapan pemuda
pesolek tadi. "Benar! Kalau kita diterima menjadi murid Perguruan Gunung Salaka, kita harus
sabar dan bersikap sopan," sahut pemuda lainnya lagi, ikut memberikan nasihat
Sementara itu, kedua orang murid Perguruan Gunung Salaka yang bertugas menjaga
di pos pertama mulai melakukan pemeriksaan. Setiap orang yang akan melewati pos
pertama, harus meninggalkan segala bentuk senjata tajam yang dibawa.
Jika benar-benar bersih tanpa senjata, baru mereka diperbolehkan meneruskan
perjalanan. "Hm, sombong sekali orang-orang gunung itu! Untuk apa buntalan pakaian
diperiksa" Memangnya kita ini
pencuri...?" geruru si pemuda pesolek lagi.
Kedua orang pemuda yang tadi mencoba memberi nasehat menoleh sejenak. Dan tanpa
menjawab sepatah kata pun segera dipalingkan wajah mereka dengan perasaan sebal.
Memang sudah bisa ditebak sifat jelek pemuda pesolek yang sombong itu.
"Huh! Dikira perguruan ini milik nenek moyangnya apa...!" gerutu salah seorang
dari dua pemuda itu, sambil melengos meninggalkan pemuda pesolek anak hartawan
itu. Tindak-tanduknya memang kelihatan sombong.
Mendengar gerutu itu, pemuda yang satunya lagi hanya tertawa saja. Segera
diikuti langkah temannya, yang sudah berjalan ke arah pos pemeriksaan itu.
Setelah rombongan itu melewati pos penjagaan pertama, maka mereka kini tiba pada
pos penjagaan kedua. Di pos penjagan kedua ini dijaga tiga orang murid tingkat
lima. Di sini, para calon murid ditanya tentang maksud dan tujuan memasuki
Perguruan Gunung Salaka.
"Sahabat, apa tujuanmu memasuki perguruan kami?" tanya salah seorang yang
menjadi pimpinan di pos kedua ini.
Kali ini yang mendapat giliran adalah
salah seorang dari dua pemuda yang memberi nasihat kepada pemuda pesolek yang
sombong tadi. "Paman" jawab pemuda itu sambil membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Ia
sengaja memanggil paman, karena melihat penjaga itu berumur sekitar tiga puluh
lima tahun. "Maksud hamba memasuki Perguruan Gunung Salaka adalah untuk mempelajari ilmu
silat!" jawabnya jujur.
"Hm, untuk apa kau pelajari ilmu silat" Bukankah ilmu silat hanya akan
mengundang keributan saja?" tanya penjaga itu lagi. Kali ini disertai senyum.
Memang, penjaga itu ingin mengetahui jawaban atau pandangan anak muda itu
tentang ilmu silat
"Paman, menurut pendapat hamba yang bodoh ini, setiap sesuatu yang kita pelajari
atau kita mitiki tentulah memiliki sifat baik dan buruk. Dan semua itu
tergantung pada orang itu sendiri.
Apakah orang itu mempergunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan ataukah untuk
kejahatan" Bukan begitu, Paman?" pemuda itu berhenti sejenak untuk melihat
reaksi penjaga tersebut.
Si penjaga itu mengangguk-angguk penuh kepuasan. Maka kakinya segera menyingkir,
memberi jalan kepada pemuda itu meneruskan maksudnya.
Setelah pemuda tadi lulus dengan baik, ternyata masih ada beberapa orang pemuda
yang berhasil melewati pos penjagaan kedua itu. Demikian pula si pemuda pesolek
yang sombong tadi.
Sedangkan para pemuda yang mengalami kegagalan, dipersilakan meninggalkan
Perguruan Gunung Salaka. Mereka yang gagal berjumlah lima belas orang.
Dengan wajah penuh kekecewaan, lima belas orang pemuda itu bergegas
meninggalkan Perguruan Gunung Salaka.
Kini barulah mereka merasakan kelelahan yang sangat pada tubuhnya. Kelelahan
yang semula tertutup semangat berapi-api tadi, dan baru muncul setelah semangat
itu hancur dilanda kegagalan.
Setelah cukup lama perjalanan dari Kaki Gunung Salaka, lima belas orang pemuda
tadi menjatuhkan diri di atas sebuah padang rumput tebal. Layaknya sebuah
permadani hijau terhampar di mulut sebuah hutan. Mereka segera beristirahat
sambil mengeluarkan bekal yang dibawa di dalam buntalan pakaian masing-masing.
"Hhh! Tidak kusangka, kalau demikian sulitnya untuk menjadi murid perguruan
itu!" keluh seorang pemuda sambil mengunyah makanannya pelahan lahan. Seolah-
olah selera makannya ikut lenyap tergilas kegagalan yang
dihadapinya. "Benar! Tidak seperti guru-guru silat di desa, siapa pun akan diterima asalkan
dapat membayar sejumlah uang yang cukup!" jawab pemuda lain dengan suara
pelahan. Seakan-akan berkata untuk dirinya sendiri.
"Tentu saja. Sebab kata orang, Perguruan Gunung Salaka itu pusatnya para
pendekar. Bahkan kepandaian mereka sudah seperti dewa saja. Malah di antara
tokoh-tokohnya ada yang pandai
menghilang!" pemuda lain lagi ikut pula menimpali.
"Eh! Sampai sedemikian hebatnya!"
seru kedua orang pemuda tadi, yang diikuti pula oleh para pemuda lainnya.
Para pemuda itu segera menggeser bokongnya karena merasa tertarik pada cerita
salah satu kawannya itu.
Pemuda tadi jadi semakin
bersemangat, karena empat belas orang kawannya itu merasa tertarik oleh
ceritanya. Dan untuk sementara, mereka segera terlupa akan kegagalan dan
kelelahan. Sepertinya lenyap begitu saja. Tapi belum lagi cerita itu sempat
diteruskan, tiba-tiba terdengar suara tawa yang berkumandang di sekitar tempat
itu. "Ha ha ha...! Mana ada manusia yang mampu menghilang, anak-anak tolol! Coba
katakan padaku, siapa yang sudah pernah melihat manusia yang dapat menghilang!
Ayo, jawab!" belum lagi gema tawa itu lenyap, orang yang bersuara itu
tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka.
Kelima belas orang pemuda itu
tersentak bagai disengat kalajengking!
Wajah mereka mendadak pucat karena rasa kaget yang luar biasa.
"Ssseeettt... tttaaannn...!"
teriak beberapa orang pemuda dengan tubuh gemetar. Mereka serentak saling
berangkulan satu sama lain Orang yang baru datang itu benar-benar disangka
dedemit. Sebab bagaimana mungkin orang itu tiba-tiba muncul dihadapan mereka,
tanpa diketahui dari mana dan kapan datangnya
Sementara, beberapa orang pemuda lain yang telah memiliki pengetahuan cukup,
mulai menduga bahwa orang itu pasti memiliki kesaktian dan kepandaian tinggi.
Mereka yang lebih mempunyai keberanian dan pengalaman itu, segera saja dapat
menguasai hati dan
perasaannya. "Ha ha ha! Hanya sedemikianlah keberanian orang-orang yang ingin berguru ke
Gunung Salaka" Benar-benar memalukan! Pantas kalau kalian tidak diterima
manusia-manusia sombong itu!"
seru orang itu lagi. Nadanya benar-benar menghina.
Mendengar hinaan itu, lima orang pemuda yang telah dapat meredakan kekagetannya
itu segera bangkit sambil mengepal tangan meskipun belum menjadi murid Perguruan
Gunung Salaka, namun mereka tidak terima dihina orang itu.
"Kisanak yang gagah!" ujar salah seorang dari lima pemuda itu, tanpa
meninggalkan kesopanannya. "Mengapa Tuan menghina kami" Bukankah kita tidak
saling mengenal" Biarpun kami gagal, tapi kami tidak ingin dihina seperti itu."
"Hm," orang yang bertubuh tinggi besar dan bercambang bewok itu mendengus kasar.
Namun ada kekaguman atas
perkataan anak muda di hadapannya yang terdengar sopan tapi mempunyai
ketegasan. "Siapa yang menghinamu, Anak Muda"
Bukankah aku hanya bertanya" Apakah pertanyaan itu di anggap menghina"!
Kalaupun aku menghinamu, kau mau apa?"
tantang orang tua itu. Namun kali ini nada suaranya terdengar lebih halus
meskipun masih mengandung ejekan yang menyakitkan.
"Hm, Orang Tua! Rupanya kau adalah orang sombong yang merasa paling pandai,
sehingga tidak ingin mendengar kelebihan orang lain. Kami berbicara di antara
kami sendiri, lalu apa urusannya denganmu, Orang Tua" Kami ingin bercerita apa
pun, itu adalah urusan kami! Lantas, mengapa dirimu yang kelabakan"
Seperti kakek-kakek yang kebakaran jenggot saja!" jawab pemuda itu lagi semakin berani,
karena sama sekali tidak merasa bersalah.
"Eh eh eh, semakin berani saja kau bicara! Tahukah kau, dengan siapa
berhadapan"! Jaga mulutmu, Anak Muda!
Kalau habis kesabaranku, bisa-bisa kau tidak mempunyai mulut lagi!" ancam orang
tua itu, karena merasa kalah bicara dengan pemuda yang ternyata pandai
memutarbalikan kata-kata itu.
"Huh! Tentu saja tahu, aku sedang berhadapan dengan siapa?" jawabnya lagi,
berwajah sungguh-sungguh.
"Eh eh eh. Rupanya kau sudah pula mengenal diriku, Anak Muda! Coba sebutkan
siapa diriku"! Mungkin nanti bisa kupertimbangkan, apakah kau akan kuampuni atau
tidak"!" teriak orang tua itu. Rupanya dia merasa senang karena namanya sudah
dikenal sampai sedemikian jauh.
"Hm, aku tahu!" jawab anak muda itu sambil tersenyum geli.
" Engkau adalah kakek buruk, gendut, dan usil dengan urusan orang!"
Setelah berkata demikian meledaklah tawa kelima belas orang pemuda itu. Ini
karena mereka dapat membalas hinaan orang tua itu tadi.
Bukan main terperanjatnya orang tua itu. Wajahnya yang semula berseri gembira
itu mendadak gelap. Matanya mencorong tajam berwarna merah seperti darah! Selama
hidup belum pernah dia
mengalami hinaan yang sedemikian itu.
Masalahnya sampai saat ini tak ada seorang pun yang berani menghina tokoh sesat
macam dirinya yang kejam seperti iblis. Jangankan menghina, baru
mendengar namanya saja orang pasti lari pontang-panting!
"Hm! Kalau belum menghirup darah kalian, belum puas hatiku! Dengarlah baik-baik!
Aku adalah Ganda-uwo Hutan Jagal! Maka akan kucerai-beraikan tubuh kalian
semua!" ancam orang tua yang berjuluk Gandaruwo Hutan Jagal itu.
Suaranya begitu parau dan menggeletar karena amarah yang menggelegak.
Mendengar ancaman itu, mau tidak mau bulu kuduk lima belas orang pemuda itu
meremang. Sungguh tidak pernah


Pendekar Naga Putih 03 Algojo Gunung Sutra di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dibayangkan kalau mereka akan berjumpa iblis itu di tempat ini. Apalagi lima
orang pemuda yang mengejeknya tadi.
Mereka pernah mendengar kekejaman Gandaruwo Hutan Jagal yang suka makan daging
manusia. Terutama daging anak muda yang merupakan kesukaannya.
Kelima belas orang pemuda itu
menggigil hebat. Mereka benar-benar dilanda ketakutan luar biasa. Kengerian pun
tergambar di wajah masing-masing
Bahkan beberapa di antaranya sampai terkencing- kencing, karena rasa ngeri yang
mencekam. Kelima belas pemuda itu menggigil hebat! Mereka benar-benar dilanda ketakutan
luar biasa! Lalu terdengar teriakan-teriakan ngeri, ketika Gandaruwo Hutan Jagal mulai
membantai mereka! Dalam waktu singkat, pemuda-pemuda itu sudah banyak yang roboh
dalam keadaan mengenaskan!
Lalu terdengar teriakan-teriakan ngeri, ketika Gandaruwo Hutan Jagal itu mulai
membantai mereka. Dalam waktu singkat, kelima belas orang pemuda itu tewas
dengan keadaan yang sangat mengerikan. Tubuh-tubuh mereka
cerai-berai, bagai diamuk segerombolan binatang liar. Darah merah pun
membanjiri rerumputan tebal yang semula bersih dan menghijau itu.
Setelah puas membunuhi dan memakan anggota tubuh, dan meminum darah lima belas
orang pemuda, dengan langkah santai Gandaruwo Hutan Jagal itu segera
meninggalkan tempat itu. Wajah iblis itu kembali berseri-seri penuh kepuasan.
Angin gunung bertiup lembut
menerobos sela-sela dedaunan
menimbulkan suara gemerisik lembut, bagai kan senandung alam yang melenakan.
Seolah-olah sang angin ingin
menyampaikan berita duka kepada
orang-orang yang
tengah dilanda kesibukannya masing-masing.
* * * 2 Beberapa hari setelah pembantaian lima belas orang pemuda yang malang itu,
tampak serombongan pemuda yang berjumlah sepuluh orang bergegas menuruni Lereng
Gunung Salaka. Mereka adalah murid Perguruan Gunung Salaka yang mendapat tugas
untuk membeli bahan-bahan makanan untuk keperluan sehari-hari.
Tujuh hari sekali beberapa murid Perguruan Gunung Salaka turun ke Desa Cikunir,
yang merupakan desa terdekat dari gunung itu. Kesepuluh orang itu melakukan
perjalanan dengan penuh kegembiraan. Kadang-kadang diselingi derai tawa apabila
salah seorang menceritakan hal-hal yang menggelitik perut.
"He he he! Rupanya Kakang Rupaksa sudah tidak sabar lagi untuk bertemu si
jantung hati, sehingga tega-teganya meninggalkan kita!" ledek salah seorang
ketika melihat orang yang dipanggil Rupaksa itu melangkah mendahuluinya.
Mendengar gurauan itu, yang lain kontan tertawa geli sambil mempermainkan bola
matanya melirik Rupaksa. Mereka
memang sudah tahu apa yang dimaksud salah seorang kawannya itu.
"Ah! Kau bisa saja, Adi! Aku hanya ingin memeriksa keadaan di depan kita saja!"
bantah Rupaksa sambil terpaksa menghentikan langkahnya masalahnya, kalau
langkahnya diteruskan, pastilah mereka akan terus menggodanya.
"Hm! Kalau begitu, silakan teruskan maksud Kakang. Siapa tahu di balik semak-
semak depan sana ada anak gadis kepala desa yang cantik itu! Ha ha ha...!" goda
orang itu, kemudian tertawa terbahak-bahak sambil memegangi
perutnya yang terasa sakit.
Demikian pula kedelapan orang
lainnya. Mereka tidak dapat lagi menahan geli di hati, yang tergelitik oleh
perkataan kawannya itu. Dan tanpa dapat dicegah lagi, meledaklah tawa mereka
sambil terbungkuk-bungkuk memegangi perut.
Rupaksa yang kali ini menjadi bahan godaan kawan-kawannya, hanya dapat berdiri
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa mampu berkata-kata.
Wajahnya sebentar pucat sebentar merah, karena jengah dan malu. Namun meskipun
demikian, Rupaksa sama sekali tidak
merasa tersinggung. Memang, hal seperti itu sudah biasa bagi mereka. Lagipula,
ia tidak ingin merusak suasana yang menggembirakan itu, hanya karena masalah
sepele. "Hm. Tapi kali ini aku
sungguh-sungguh, Adi. Entah mengapa, sejak berangkat tadi, hatiku selalu was-
was. Dan hal ini tidak pernah kualami sebelumnya," ujar Rupaksa
sungguh-sungguh, ketika tawa kawan kawannya mulai mereda.
Melihat wajah dan suara yang
sungguh-sungguh itu, tawa kesembilan orang kawannya itu pun berhenti
seketika. Untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya saling pandangan dengan
wajah bingung. Seolah-olah saling meminta pendapat masing-masing, apakah akan
melanjutkan godaan itu atau tidak.
"Hm..., maksud Kakang, bagaimana?"
tanya salah seorang ragu-ragu.
"Entahlah Adi" Sebaiknya
tingkatkanlah kewaspadaan kita! Yahhh, mudah-mudahan saja tidak ada apa-apa,"
desah Rupaksa penuh harap.
Maka kesepuluh orang murid
Perguruan Gunung Salaka itu kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini tidak
lagi terdengar gelak tawa atau senda gurau. Memang, mereka sudah mulai
terpengaruh perkataan Rupaksa tadi.
"Uuufff, bau apa ini?" teriak salah seorang ketika mereka melewati sebuah hutan
yang cukup jauh dari Kaki Gunung Salaka. Orang itu mengendus-enduskan hidungnya,
seolah-olah ingin memastikan bau yang tercium itu.
"Eh! Seperti bau bangkai! Mungkin bangkai binatang hutan yang mulai mengering!"
teriak yang lain sambil menutup hidung.
Lain halnya Rupaksa. Saat
teman-temannya mulai ribut, ia hanya termenung sambil mengernyitkan dahinya.
Setelah berpikir beberapa saat lamanya, segera dilepaskan sabuk merah yang
melilit pinggangnya.
"Kalian tetaplah di sini, aku akan memeriksa sebentar!" perintah Rupaksa sambil
mengikatkan sabuk pada wajah untuk menutupi hidungnya. Dan dengan langkah
pelahan-lahan, mulai dimasuki mulut hutan itu.
"Aku ikut, Kakang...!" teriak dua orang kawannya yang segera mengikuti langkah
Rupaksa memasuki hutan. Mereka juga ikut melepaskan sabuk masing-masing
untuk menutupi hidungnya, akibat bau yang menyengat.
"Hei, hati-hati!" teriak yang lainnya, memperingatkan.
Dengan penuh kewaspadaan, ketiga orang itu mulai memasuki hutan yang menjadi
sumber bau sehingga mengusik hidung. Tentu saja hal itu tidak terlalu sulit.
Dengan semakin santernya bau busuk itu, berarti semakin dekat pula ke arah
sumbernya. Selang beberapa waktu kemudian, Rupaksa dan kedua orang kawannya
mulai mendekati tempat lima belas orang pemuda yang dibantai secara mengerikan!
"Aaahhh...!" kenguh ketiga murid Perguruan Gunung Salaka itu, tertahan.
Mata mereka membelalak dengan wajah pucat. Apa yang disaksikan ini,
benar-benar membuat hati terguncang! Di hadapan mereka kini terbentang sebuah
pemandangan yang dapat membuat hati siapa saja akan menggigil ketakutan, karena
rasa ngeri yang hebat! Memang, yang disaksikan mereka adalah belasan mayat yang
sudah tidak mungkin dapat dikenali. Tubuh belasan mayat itu sudah mulai
mengering, dan tidak satu pun yang anggota tubuhnya masih lengkap. Ada
sosok mayat yang tanpa kepala. Ada pula yang tanpa kaki. Bahkan ada yang isi
perutnya berhamburan!
Rupaksa dan kedua orang kawannya segera berlari meninggalkan tempat itu, dengan
langkah terhuyung-huyung. Mereka tidak sanggup lagi menahan rasa mual yang tiba-
tiba menyerang. Seluruh tubuh mereka kini dibanjiri keringat dingin.
Dan begitu tiba di tempat
kawan-kawannya, tubuh ketiga orang itu ambruk bagai sehelai karung basah.
Dengan cepat mereka segera melepaskan sabuk yang menutupi mulut dan hidungnya.
"Huaaakkk...!"
Tanpa dapat dicegah lagi, tiga orang itu langsung muntah-muntah. Rasanya seluruh
isi perut ingin dikeluarkan saat itu. Setelah tidak ada lagi yang dimuntahkan,
ketiga orang itu masih belum dapat berkata-kata. Tubuh mereka lemas seolah-olah
tenaga ikut pula tersedot.
"Ada apa, Kakang" Apa yang sudah terjadi?" tanya kawan-kawannya, cemas.
Memang mereka tidak tahu apa yang telah dialami tiga kawannya itu. Mereka memang
tidak sempat bertanya sebab begitu tiba ketiganya langsung ambruk dan
muntah-muntah hebat. Sehingga, ketujuh orang kawannya itu hanya dapat
memandang, disertai wajah bingung.
Mereka segera membantu mengurut-urut tubuh ketiganya, agar pernapasannya lebih
longgar. Selang beberapa waktu kemudian,
Rupaksa dan dua orang lainnya sudah mulai pulih kembali lagi. Wajah ketiganya
tampak sudah segar seperti semula.
Ketiganya pun segera melangkah
menghampiri tujuh orang kawannya yang sudah pula berdiri menyambutnya.
"Ayolah, Kakang. Kami sudah tidak sabar mendengar ceritamu," pinta salah seorang
kawannya, ketika mereka sudah duduk di atas bebatuan.
"Baiklah. Akan kuceritakan kepada kalian, apa yang telah kami temukan dalam
hutan itu," jawab Rupaksa kalem.
Rupaksa pun mulai menceritakan
semua yang disaksikan di dalam hutan itu.
Ketujuh orang temannya itu berkali-kali berseru kaget bercampur ngeri. Sama
sekali tidak disangka kalau bau busuk itu berasal dari mayat-mayat manusia yang
hampir mengering. Sungguh di iuar dugaan sama sekali.
"Meriurut cerita Kakang, mayat itu berjumlah belasan banyaknya. Aku jadi curiga,
jangan-jangan...," orang itu tidak meneruskan ucapannya. Hal ini memang dapat
berakibat buruk bagi Perguruan Gunung Salaka, maka segera dibuang jauh-jauh
pikiran yang bukan-bukan itu.
"Hm, mengapa tidak kau teruskan ucapanmu, Adi" Katakanlah apa yang menjadi
dugaanmu. Nanti baru kita teliti benar tidaknya," ujar Rupaksa penasaran.
"Benar! Katakanlah apa yang menjadi dugaanmu. Siapa tahu misteri pembunuhan itu
dapat disingkap," bujuk kawan yang lain, ikut menimpali.
"Sebenarnya aku takut tentang dugaanku itu. Sebab hal ini akan besar sekali
pengaruhnya bagi nama besar perguruan kita. Maka sebaiknya, kubuang jauh-jauh
pikiran itu," bantah orang itu cemas.
"Jadi, kejadian itu bisa
berpengaruh pada perguruan kita" Gila!"
ujar kawannya yang lain.
"Nanti dulu, nanti dulu! Mmm..., belasan orang yang terbunuh dan mayatnya sudah
hampir mengering. Jadi paling sedikitnya sudah dua atau tiga hari
terbunuh. Dan hari kejadian pembunuhan ini, paling tidak berbarengan dengan hari
penerimaan murid-murid baru.
Aaahhh..., benarkah dugaanku?" ujar Rupaksa. Wajahnya terlihat agak pucat.
"Kalau memang demikian, berarti malapetaka akan menimpa perguruan kita!"
"Benar! itulah yang kutakutkan, Kakang!" ujar kawannya, yang memang berpikir
demikian. "Kalau begitu, kita harus bertindak cepat! Kalian bertujuh, tetaplah pada tugas
semula. Sedangkan aku dan dua orang teman lainnya akan kembali keperguruan untuk
melaporkan kepada Guru. Biar bagaimana-pun, pembunuhan itu terjadi di wilayah
kita. Maka sudah merupakan kewajiban kita untuk menyelidikinya,"
usul Rupaksa. "Baiklah, kalau
memang sudah menjadi keputusanmu, Kakang!" jawab mereka, segera menyetujui usul itu.
Maka murid-murid Perguruan Gunung Salaka itu pun berpisah. Rupaksa dan dua orang
lainnya bergegas kembali
keperguruan, sedang tujuh orang lainnya segera meneruskan perjalanannya.
Sementara itu Rupaksa mengerahkan ilmu
meringankan tubuh untuk mempercepat perjalanan, diikuti dua orang kawannya.
Kihi Rupaksa dan dua orang kawannya tiba di Puncak Gunung Salaka. Tanpa
membuang-buang waktu lagi, mereka memasuki bangsal utama perguruan itu untuk
menghadap guru besar mereka.
"Hei, berhenti dulu! Mau ke mana, kalian?" tegur seorang murid yang sedang
mendapat tugas membersihkan bangsal utama itu.
"Kami ingin menghadap Guru. Ada sesuatu yang ingin dilaporkan!" jawab Rupaksa.
Suaranya dibuat hormat karena yang menyapa mempunyai tingkatan yang lebih tinggi
daripadanya. "Hm, penting sekalikah kabar itu"
Tidak dapatkah ditunda hingga nanti sore, Adi Rupaksa?" tanya orang itu mulai
ragu. "Tidak bisa, Kakang! Ini menyangkut nama besar perguruan kita. Dan kalau Guru
Besar marah, biarlah akan kutanggung akibatnya!" ujar Rupaksa. Suaranya begitu
tegas. "Ah! Bukan begitu maksudku. Adi Rupaksa! Kalau begitu masuklah. Biarlah
resikonya kita tanggung bersama-sama."
Maka keempat orang itu segera
melangkah menuju bangsal utama yang dijadikan tempat pertemuan. Letaknya di
tengah-tengah bangunan besar Perguruan Gunung Salaka. Rupaksa dan dua orang
temannya segera memasukinya. Sedangkan orang yang mengantar sudah kembali
meneruskan pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan mereka.
*** "Ampun, Guru! Kami bertiga datang menghadap," ucap Rupaksa dan dua temannya
sambil berlutut. Kepala mereka tertunduk, seperti tak berani menatap sorot mata
tajam Ki Sukma Kelana wakil guru besar mereka.
"Hm.... Bangkitlah, kalian. Kabar apakah yang kau bawa Rupaksa?" tanya Ki Sukma
Kelana dengan suara dalam.
"Ampun, Guru! Kami membawa berita buruk, dan mohon petunjuk!" tutur Rupaksa
penuh hormat. Kemudian dengan dibantu dua orang temannya, Rupaksa segera
menceritakan apa yang telah ditemukannya di dalam hutan di dekat Kaki Gunung
Salaka. "Kurang ajar! Siapa orangnya yang berani melakukan perbuatan biadab itu"!"
Hm. Segera harus diselidiki, Kakang!
Kalau tidak, mereka tentu akan semakin kurang ajar kepada kita!" ujar Ki Surya
kencana dengan wajah merah padam.
Laki-laki setengah baya ini memang wakil Ki Sukma Kelana. Bahkan dulu juga
sebagai adik seperguruan Guru Besar Perguruan Gunung Salaka itu.
"Sabarlah, Adi. Kita toh belum mengetahui pasti, apakah pembunuhan itu dilakukan
manusia atau binatang buas.
Sedangkan menurut laporan Rupaksa, keadaan mayat-mayat itu bagai diamuk binatang
buas dan ganas. Dan sebelum mengetahui secara jelas, kita tidak bisa asal tuduh
saja. Jika hal itu akan menjadi persoalan baru bagi kita, maka sebaiknya harus
diperiksa dulu kebenarannya. Setelah itu baru dicari keterangan penyebab kematian
orang-orang itu," ujar Ketua Perguruan Gunung Salaka, Ki Sukma Kelana panjang
lebar. "Tapi, Kakang! Kita tidak boleh mendiamkan saja! Aku yakin, perbuatan itu pasti
dilakukan oleh orang-orang yang tidak senang dengan kemajuan dan
nama besar Perguruan Gunung Salaka.
Jadi, biar bagaimanapun kita harus segera bertindak! Agar mereka tahu bahwa
perguruan kita tidak dapat dibuat main-main!" tegas Ki Surya Kencana yang benar-
benar merasa terpukul akan kejadian itu. Jelas itu merupakan sebuah tamparan
pada wajah mereka, karena terjadi masih di sekitar daerah
perguruan itu. "Benar. Tapi aku akan mengutus beberapa orang murid-murid tingkat empat untuk
mencari tahu penyebab kematian orang-orang itu. Kemudian, baru
dipikirkan langkah selanjutnya!" ujar Ki Sukma Kelana memberi keputusan.
"Tidak perlu, Kakang! Biar aku sendiri yang akan menyelidikinya!"
sergah Ki Surya Kencana yang sudah bangkit dari duduknya.
"Maafkan aku, Kakahg! Tapi
percayalah! Aku akan bertindak sesuai dengan perintahmu, dan aku akan berusaha
untuk tidak membuat persoalan baru. Aku pamit dulu, Kakang!"
Setelah berkata demikian, Ki Surya Kencana membungkuk hormat kepada Ki Sukma
Kelana yang juga kakak
seperguruannya itu. Dengan langkah lebar
laki-laki setengah baya itu segera meninggalkan tempat bangsal utama.
Tidak lama setelah kepergian wakil ketua Perguruan Gunung Salaka itu pergi,
Rupaksa dan kedua orang murid lainnya juga segera mohon diri. Ki Sukma Kelana
hanya mengangguk saja.


Pendekar Naga Putih 03 Algojo Gunung Sutra di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Hmm, Tunggu!" cegah Ki Sukma Kelana ketika tiga muridnya itu akan melangkah.
" Ada apa Guru?"
"Kupesankan kepada kalian bertiga agar tak menceritakan kepada siapa pun.
Dan sampaikan pesanku ini kepada rujuh orang murid lainnya," jelas Ki Sukma
Kelana. "Baik, Guru. Kami akan melaksanakan perintah Guru sebaik-baiknya," jawab
ketiganya serempak. Setelah memberi hormat mereka segera beranjak
meninggalkan tempat itu.
*** Hari baru menjelang siang, ketika sesosok tubuh berlumuran darah melangkah
terseok-seok menaiki Lereng Gunung Salaka. Pakaian yang dikenakan sobek di sana-
sini, akibat sayatan senjata tajam yang juga melukai kulit dan dagingnya.
Rasanya hanya karena semangat baja saja yang membuatnya mampu bertahan hidup
sampai saat itu.
Duggg! Duggg! Brukkk...!
Setelah menggedor pintu gerbang di hadapannya beberapa kali, orang itu pun
ambruk. Kedua kakinya sudah tidak mampu lagi berdiri, dan merintih lirih.
Dirasakan sakit pada luka-lukanya yang diderita.
Dua orang murid Perguruan Gunung Salaka yang bertugas menjaga pintu gerbang
bergegas membukanya, ketika mendengar gedoran yang cukup keras tadi.
Dan alangkah terkejutnya mereka
mendapati sesosok tubuh yang berlumur darah tergeletak tak berdaya di depan
pintu gerbang perguruan. Bergegas keduanya menghampiri dan membalikkan tubuh
yang tertelungkup itu.
"Hei! Bukankah dia salah satu kawan kita yang bertugas memberi bahan makanan ke
Desa Cikunir" Kemana yang lainnya" Apa yang terjadi pada mereka"!" seru salah
seorang penjaga itu. Wajahnya diliputi ketegangan.
"Sudahlah, jangan banyak tanya dulu! Cepat laporkan hal ini kepada Guru Besar!
Lihatlah! Luka-lukanya parah
sekali. Mungkin ia tidak bisa bertahan terialu lama. Cepat, beritahukan kepada
Guru Besar!" teriak penjaga yang satunya lagi. Hatinya juga diliputi kecemasan.
Dia memang merasa khawatir kalau-kalau orang itu sudah tewas, sebelum sempat
menceritakan kejadian yang dialaminya.
Bagai dikejar setan, salah seorang dari dua penjaga itu melesat
meninggalkan tempat itu menuju bangsal utama perguruan. Tentu saja kelakuannya
yang di luar kebiasaan itu, mengundang perhatian murid-murid lainnya. Hal ini
memang menjadikan mereka bingung, dan hatinya diliputi keheranan.
"Hei, berhenti! Ada apa ini"!
Mengapa berlari bagai di kejar setan" Apa yang telah terjadi"! Cepal katakan!"
seru seorang murid tingkat empat tiba-tiba sambil menghadang perjalanan penjaga
itu. "Kakang, di depan pintu gerbang ada salah seorang murid yang terluka parah.
Dan aku tidak tahu kenapa. Aku harus cepat-cepat melaporkan hal ini kepada Guru
Besar! orang itu sepertinya sudah tidak dapat bertahan lebih lama lagi!"
lapor penjaga itu dengan napas
tersengal-sengal.
"Baiklah kalau begitu. Cepat kau menghadap Guru. Aku akan memeriksanya teriebih
dulu." Setelah berkata demikian, orang
yang dipanggil kakang itu berkelebat menuju pintu gerbang. Gerakannya cepat
sekali, seolah-olah kedua kakinya tidak menyentuh permukaan tanah. Dan dalam
waktu singkat saja dia telah tiba di tempat sosok tubuh yang membujur tak
berdaya. "Ayo, semua ke pinggir! Jangan merubung seperti itu," teriak murid tingkat empat
itu ketika melihat di depan pintu gerbang telah dipenuhi murid yang berdesak-
desakkan ingin menyaksikan kejadian itu.
Mendengar suara teriakan keras, murid yang berdiri bergerombol seketika buyar
untuk memberi jalan kepada salah seorang kakak seperguruan mereka yang baru tiba
itu. Namun mereka hanya bergeser sedikit, tanpa berniat
meninggalkan tempat. Tentu saja hal ini membuat tokoh tingkat empat yang baru
datang tadi menjadi berang.
"Hei! Ayo, semuanya kembali ke tempat masing-masing! Atau kalian ingin dihukum,
hah!" "Ampun, Kakang...!" seru murid-murid perguruan itu. Yang kemudian bergegas
meninggalkan tempat tanpa menoleh lagi.
Tanpa buang-buang waktu lagi tokoh tingkat empat Perguruan Gunung Salaka itu
segera memeriksa keadaan murid yang terluka parah tadi. Hatinya menjadi
terkejut, ketika mendapati luka-luka akibat pukulan-pukulan yang cukup kuat.
Apalagi ditambah sayatan senjata tajam yang memenuh seluruh tubuh adik
seperguruannya itu. Cepat-cepat
dilakukan totokkan di beberapa bagian tubuh yang penuh luka, ketika mendengar
suara mengorok dari kerongkongan tubuh yang tergeletak itu. Pertanda bahwa
nyawanya akan meninggalkan raga.
"Hkkkhhh... huaaakkk...!" segumpal darah kental yang menyumbat
kerongkongannya terlompat keluar ketika beberapa bagian tubuhnya ditotok kakak
seperguruannya. Dan beberapa saat kemudian, orang itu pun membuka kedua matanya
pelahan-lahan. "Cepat, katakan. Siapa yang melakukan perbuatan keji ini?" tanya tokoh itu
dengan suara tegang.
"Algojooo.... Ghununghhh....
Sutraaa... akkkhhrrr...!" setelah berkata susah payah, orang itu pun
menghembuskan napasnya yang terakhir di atas pangkuan salah seorang kakak
seperguruannya.
"Gunung Sutra!" gumam tokoh tingkat empat itu sambil memandang salah satu
penjaga pintu gerbang yang juga ikut mendengar perkataan terakhir kawannya.
"Kakang, bukankah Perguruan Gunung Sutra adalah sebuah perguruan yang besar dan
terhormat. Mengapa mereka begitu tega melakukan pembunuhan sekejam ini kepada
perguruan kita?" tanva penjaga pintu gerbang itu heran.
"Entahlah! Rasanya mustahil kalau perbuatan ini dilakukan perguruan itu.
Tapi ucapan orang yang sekarat, tidak mungkin bohong! Ahhh! Sebaiknya, hal ini
harus dilaporkan dulu kepada Guru Besar.
Biarlah Guru yang memutuskannya nanti!"
"Apa yang harus kuputuskan, Santiaji?" tiba-tiba terdengar suara yang berat dan
berwibawa. Dan sebelum gema suara itu hilang, di samping mereka telah berdiri
Guru Besar mereka, ki Sukma Kelana.
"Guru!" seru keduanya sambil berlutut di hadapan guru besar mereka.
"Hm, bangkitlah kalian. Ceritakan, apa yang sudah terjadi?" tanya Ki Sukma
Kelana kepada tokoh tingkat empat yang ternyata bernama Santiaji. Hanya dengan
sekilas pandang saja, guru besar Perguruan Gunung Salaka itu sudah mengetahui
bahwa murid yang diceritakan penjaga tadi sudah tidak bernyawa lagi.
"Ampun, Guru. Kami pun tidak tahu pasti kejadiannya, Dan mayat ini adalah salah
seorang dari tujuh murid perguruan yang bertugas membeli bahan-bahan keperluan
di Desa Cikunir. Dia kembali seorang diri dalam keadaan terluka parah. Sedangkan
yang enam murid lainnya, sampai saat ini belum kembali, Guru!" lapor Santiaji dengan panjang
lebar. "Lalu, apakah pada saat-saat terakhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa" tanya Ki
Sukma Kelana lagi sambil menunjuk mayat muridnya itu.
"Ada, Guru. Dia memang mengatakan sesuatu. Tapi...," Santiaji tidak berani
meneruskan ucapannya.
"Tapi apa, Santiaji?" tanya Ki Sukma Kelana, heran.
"Em, anu, Guru! la... ia mengatakan, semua... semua itu adalah perbuatan
Perguruan Gunung Sutra, Guru!" jelas Santiaji kemudian menunduk hormat.
"Hm. Benarkah yang kudengar ini, Santiaji?" tanya Ki Sukma Kelana dengan wajah
gelap. "Apakah mungkin mereka melakukan perbuatan sekejam ini kepada kita"!"
"Benar, Guru! Memang demikianlah yang dikatakannya. Aku pun ikut
mendengarkan, Guru!" jawab penjaga pintu gerbang yang tadi ikut mendengarkan
bersama Santiaji.
"Hhh...," Ki Sukma Kelana hanya menarik napas panjang, setelah mendengar
pernyataan yang menguatkan laporan Santiaji itu.
"Sudahlah. Sekarang urus mayat itu baik-baik. Dan jangan menceritakan kejadian
ini kepada siapa pun. Santiaji, kau ikut aku!"
Setelah berkata demikian, Ki Sukma Kelana segera meninggalkan tempat itu.
"Baik, Guru!" ujar Santiaji, yang segera melangkah mengikuti Pimpinan Perguruan
Gunung Salaka itu.
Sepeninggal tokoh-tokoh perguruan itu, beberapa orang murid yang berada tak
jauh dari tempat kejadian segera dipanggil oleh penjaga pintu gerbang uniuk
menjalankan perintah guru besar mereka.
*** 3 Hari masih sangat pagi, ketika lima orang murid yang bertugas mengambil air di
Lereng Gunung Salaka itu menemukan beberapa manusia yang telah menjadi mayat!
Mayat-mayat itu seolah-olah sengaja di letakkan di pinggir sungai tempat
biasanya mengambil air. Setelah meneliti mayat yang ternyata berjumlah enam
orang itu, kelima orang murid Perguruan Gunung Salaka tersentak mundur diiringi
wajah pucat. Memang, mereka kenal betul, bahwa mayat-mayat itu tidak lain adalah
kawan seperguruan mereka sendiri.
"Kalian berdua cepat naik ke atas.
Laporkan hal ini kepada Guru Besar.
Cepat...!" perintah salah seorang dari mereka. Dua orang yang mendapat perintah
itu, yang semula hanya berdiri terpaku
tanpa sanggup mengeluarkan suara.
Akhirnya dapat pula bersuara.
"Baiklah. Kami akan segera kembali secepatnya!" jawab salah seorang setelah
tersadar. Dan tanpa di perintah dua kali, kedua orang itu segera melesat
meninggalkan tiga orang kawannya yang menunggu di tempat itu. Karena jaraknya
tidak terlalu jauh, maka tidak lama kemudian dua orang itu sudah kembali
disertai dua orang tokoh tingkat empat yang salah seorang di antaranya adalah
Santiaji. "Kakang, apa yang terjadi terhadap mereka?" tanya salah seorang yang tadi
menunggui mayat-mayat itu. Di wajahnya tergambar kegelisahan dan kemarahan.
"Entahlah. Aku tidak tahu, siapa yang telah membunuh mereka" Dan apa maksudnya
meletakkan mayat-mayat itu di sini!" jawab Santiaji yang masih ingin
menyembunyikan persoalan yang sedang dihadapi Perguruan Gunung Salaka.
''Tapi, kesalahan apa yang telah mereka perbuat, Kakang" Bukankah mereka adalah
murid-murid yang ditugaskan untuk membeli bahan-bahan makanan ke desa terdekat?"
tanya yang lainnya mendesak.
Memang mereka merasa tidak puas atas jawaban Santiaji tadi.
"Ahhh, sudahlah! Lebih baik, sekarang bawa mayat-mayat itu ke atas, agar Guru
Besar dapat memeriksanya! Ayo, cepat!" perintah Santiaji yang mencoba mengelak
dari pertanyaan adik
seperguruannya itu.
Tanpa membantah lagi, lima murid tadi dengan dibantu oleh beberapa kawannya
segera mematuhi perintah kakak seperguruannya itu. Karena mayat-mayat itu masih
baru, jadi mereka tidak merasa jijik untuk membawanya.
Ki Sukma Kelana termenung di hadapan tujuh mayat muridnya itu, di halaman
Perguruan Gunung Salaka. Wajah orang tua yang biasanya selalu tenang, kini
menjadi muram. Kemarahan mulai terbayang diwajah tuanya. Rupanya kali ini
hatinya benar-benar terpukul atas kematian murid-muridnya itu. Namun meskipun
demikian, Ki Sukma Kelana masih berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahannya.
Hanya, di matanya sekilas terlihat kilatan cahaya kemerahan yang membuat hati
orang-orang yang memandangnya tergetar.
Namun, tidak demikian sikap yang ditujukkan Ki Surya Kencana. Orang kedua dari
Gunung Salaka itu sudah tidak dapat menyembunyikan kemarahannya lagi.
Tubuhnya sampai menggigil karena menahan amarah yang telah memenuhi rongga
dadanya. "Heaaattt...!"
Tiba-tiba tubuh Ki Surya Kencana melesat cepat bagai kilat ke arah sebuah pohon
besar yang berjarak sekitar lima batang tombak darinya. Tangan kanannya
berkelebat cepat ke arah batang pohon besar itu. Dan....
Kraaakkk.... Gusraaakkk...!
Pohon sebesar badan kerbau itu
kontan patah, kemudian tumbang dengan menimbulkan suara bergemuruh. Hebat sekali
tenaga sakti orang tua itu. Entah apa jadinya kalau yang menjadi sasaran telapak
tangannya adalah tubuh manusia.
Ngeri rasanya untuk membayangkannya.
Para murid Perguruan Gunung Salaka yang menyaksikan kehebatan pukulan Ki Surya
Kencana itu, hanya terbelalak kagum sambil berdecak. Memang selama berdiam di
Gunung Salaka, baru kali inilah mereka dapat menyaksikan
kehebatan orang tua itu.
"Maafkan aku, Kakang! Bukan maksudku untuk memamerkan, kekuatan di depan murid-
murid. Sebab kalau tidak kutumpahkan kemarahanku, bisa-bisa kepalaku pecah
dibuatnya. Aku benar-benar tidak sanggup lagi untuk bersabar, Kakang! Oleh karena itu,
ijinkanlah aku kembali untuk mencari pembunuh biadab itu!" ujar Ki Surya Kencana
kepada kakak seperguruannya, penuh harap. Dia memang pernah mencari sipembunuh,
namun hasilnya sia-sia.
Maka, diputuskanlah untuk kembali ke perguruan. Dan kini, Ki Surya Kencana masih
belum punya bukti-bukti yang jelas.
Ki Sukma Kelana yang merasa maklum akan kemarahan adik seperguruannya itu hanya
tersenyum penuh kesabaran. Ia tahu betul watak adiknya. Meskipun ia tidak
mengijinkan adik seperguruannya itu pergi, pastilah Ki Surya Kencana akan pergi
secara diam-diam.
"Baiklah, Adi! Kali ini kau kuijinkan kembali untuk pergi
menyelidikinya. Tapi ingat. Jangan menurunkan tangan kejam pada sembarang orang.
Kendalikan hawa amarahmu, jangan sampai membuat persoalan baru lagi!"
pesan Ki Sukma Kelana yang akhirnya terpaksa mengalah kepada adik
seperguruannya itu.
"Terima kasih, Kakang. Aku pergi dulu," ucap Ki Surya Kencana bersemangat. Tubuh
orang tua sakti itu berkelebat cepat, seolah-olah pandai menghilang saja.
"Hati-hati, Adi!" seru Ki Sukma Kelana memperingatkan. Suaranya
terdengar melengking tinggi karena didorong tenaga dalam yang kuat. Bahkan gema
suaranya terdengar sampai
sedemikian jauhnya.
"Bagaimana dengan kami, Guru"
Apakah kami harus berdiam diri saja, melihat keadaan perguruan yang sedang dalam
kemelut itu?" tanya Santiaji yang merupakan tokoh tingkat empat di Perguruan
Gunung Salaka. Pertanyaan bernada penuh permohonan.
"Betul, Guru. Berilah kami tugas.
Dan akan kami jalankan sebagai mana yang diperintahkan!" pinta yang lain lagi.
Tingkatannya dalam perguruan ini sama dengan Santiaji.
"Baik! Tanpa kalian minta pun sebenarnya sudah kupersiapkan sebuah tugas untuk
kalian berdua," ujar Ki Sukma
Kelana yang merasa maklum akan perasaan kedua orang murid kepalanya tersebut
Yang ingin segera mencari biang keladi dari kemelut yang tengah mereka hadapi.
"Tugas yang akan kuberikan kepada kalian adalah pergi ke Desa Cikunir. Di sana
tanyakanlah kejadian yang
sebenarnya kepada penduduk setempat. Dan ingat! Dalam melakukan penyelidikan,
lakukanlah penyamaran. Hal ini agar tidak mudah dikenali musuh-musuh kita.
Dan juga, kalian harus berangkat pada malam hari untuk menghindari intaian
musuh! Karena, kita tidak mengetahui siapa dan di mana musuh-musuh yang
sebenarnya. Kalian mengerti maksudku?"
"Mengerti, Guru!" jawab keduanya serempak.
"Nah! Kalau begitu, sekarang uruslah dulu mayat-mayat ini sebagaimana mestinya.
Baru setelah itu, kalian bisa mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk
penyamaran nanti. Nah, aku pergi dulu!" ujar Ki Sukma Kelana sambil melangkah
meninggalkan tempat itu.
''Terima kasih, Guru...!" jawab keduanya lagi sambil berlutut memberi
hormat, diikuti murid-murid lainnya yang juga masih di tempat itu.
Sepeninggal Ki Sukma Kelana maka mulailah mereka mengurus mayat keenam orang
kawan seperguruannya itu.
Sedangkan Santiaji dan teman
setingkatnya bergegas kembali ke kamar untuk mempersiapkan segala sesuatu yang
diperlukan dalam melakukan tugas yang diberikan guru besarnya itu.
* * * 4 Kehangatan sinar matahari pagi
menyertai langkahnya memasuki


Pendekar Naga Putih 03 Algojo Gunung Sutra di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perbatasan sebuah desa. Meskipun usianya sudah tua, namun langkah kakinya
teriihat ringan dan mantap. Tubuhnya tegap dan sehat, pertanda orang itu selalu
memperhatikan kesehatan.
Pakaiannya yang terbuat dari kain kasar berwarna putih itu, disatukan dengan
celana hitam. Maka penampilan orang tua itu menjadi teriihat sederhana. Siapa
lagi kalau bukan Ki Surya Kencana yang sedang dalam penyelidikan atas
pembantaian beberapa murid Perguruan Gunung Salaka.
Ki Surya Kencana juga sengaja
melakukan penyamaran agar kehadirannya dalam dunia persilatan tidak mudah
dikenali orang. Sudah hampir seminggu melakukan penyelidikan, namun yang
ditempuh masih tetap gelap. Sama sekali belum ditemukan tanda-tanda tentang si
pembunuh sedikit pun. Tapi berkat semangatnya yang tinggi, Ki Surya Kencana
tetap meneruskan pencarian.
Orang kedua di Perguruan Gunung Salaka itu melangkahkan kakinya menuju sebuah
kedai makan yang terletak di tepi jalan utama desa itu. Hatinya merasa lega
ketika di dalam kedai makan tidak terlalu banyak pengunjung. Dihampirinya sebuah
meja yang terletak dekat jendela. Dengan demikian dia dapat memandang bebas
keluar. Ki Surya Kencana menggerakkan tangannya memanggil pelayan, dan memesan
beberapa jenis makanan dan minuman, Tidak lama, pelayan yang dipanggil kembali
kemejanya dengan membawa beberapa makanan dan minuman. Kemudian segera disantap
makanannya dengan pelahan. Di dalam kedai, ada juga beberapa orang juga tengah
menyantap makanan. Semula tidak dipedulikan sama sekali obrolan orang-orang yang sedang
mengisi perut itu. Tapi, mendadak wajahnya berubah ketika mendengar cerita dua
orang yang berada di seberang mejanya.
"Bayangkan! Siapa yang tidak gemetar bila melihat sesosok mayat yang keadaannya
sangat mengerikan itu! Entah binatang buas jenis apa yang begitu ganas
menyiksanya. Sampai-sampai anggota tubuhnya terpisah-pisah! Hiii!
Mengerikan sekali!" tutur salah seorang.
Tentu saja hal ini sangat menarik perhatian Ki Surya Kencana.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, segera ditinggalkan mejanya untuk menghampiri
meja dua orang yang tengah bercerita. Dengan langkah yang
dibuat-buat, segera didekati dua orang itu.
"Selamat pagi, Kisanak," sapa Ki Surya Kencana, sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku tertarik dengan ceritamu tadi. Hm, bolehkah aku ikut
mendengarkannya?"
"Selamat pagi! Silakan...,
silakan!" jawab kedua orang itu, dengan senyum ramah.
"Ceritamu tadi sungguh menarik, Kisanak Mmm, dimanakah engkau melihat mayat yang
sedemikian mengerikan itu?"
tanya Ki Surya Kencana penuh minat Wajahnya begitu bersungguh-sungguh.
Sebagaimana sifat manusia pada
umumnya, kedua orang itu pun senang jika ceritanya menarik perhatian orang lain.
Dan dengan suara yang dibuat-buat, orang itu lalu menceritakan pengalamannya
kepada Ki Surya Kencana. Laki-laki setengah baya itu mendengarkan dengan wajah
berseri-seri. "Karena kami berdua adalah pedagang keliling, maka banyak mengetahui atau
menemukan peristiwa yang sedang terjadi saat ini," jelas orang itu penuh
kebanggaan. "Jadi, pembunuh seperti itu sedang mewabah di sekitar sini?" tanya Ki Surya
Kencana lagi, meminta kepastian.
"Benar! Bahkan dua hari yang lalu, di Desa Karang Gempal ini seorang pemuda
berumur empat belas tahun lenyap tanpa jejak. Dan pada keesokan paginya, seorang
pencari kayu menemukan sesosok mayat yang masih baru. Namun tubuh si mayat sudah
hampir tak berdaging.
Rupanya binatang itu merasa kekenyangan
sehingga tidak menghabiskan santapannya itu," tutur orang itu wajahnya
menggambarkan kengerian yang amat sangat.
"Wah, sungguh berbahaya kalau begitu," desah Ki Surya Kencana yang juga memasang
wajah kengerian, agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Ha ha ha...! Jangan takut, Kisanak hewan itu hanya memilih daging-daging yang
masih segar saja, jadi tidak perlu khawatir," hibur keduanya. Hati mereka merasa
geli melihat wajah orang tua itu yang mendadak pucat
"Ah, syukuriah kalau begitu.
Sekarang lebih baik aku pergi saja.
Sungguh aku menjadi semakin ngeri mendengar ceritamu, Kisanak. Mari," ujar Ki
Surya Kencana meminta diri.
Setelah membayar harga makanan
serta minumannya teriebih dahulu, orang tua itu pun bergegas meninggalkan kedai
makan. Kepergiannya diiringi gelak tawa dua orang pedagang keliling tadi.
Sesampainya di luar kedai, Ki Surya Kencana segera berkelebat menuju keluar Desa
Karang Gempal. Dia berminat memeriksa ke sekeliling perbatasan desa itu. Siapa
tahu di sana dapat menemukan
sedikit pe-tunjuk, atau pun tanda-tanda yang akan membawanya kepada pembunuh
biadab itu. Setelah cukup lama berkeliling,
tiba-tiba telinganya mendengar sebuah suara yang mencurigakan. Ki Surya Kencana
semakin mempertajam indra pende-ngarannya, untuk memastikan arah suara yang
mencurigakan itu. Beberapa saat kemudian, orang tua itu menarik napas kecewa.
Ternyata yang didengarnya adalah suara langkah kaki manusia yang terdengar
lambat dan berat.
"He he he...! Rupanya cacing-cacing di dalam perutku sudah mulai kelaparan
lagi," terdengar suara orang berbicara.
Tiba-tiba muncul sosok tubuh tinggi besar dan bercambang bauk. Dielus-elus
perutnya yang gendut, sambil bergumam sendirian. Entah mengapa tahu-tahu saja
orang itu meludah kekiri-kekanan dengan cuping hidungnya bergerak-gerak
seolah-olah mengendus sesuatu.
"Huh! Bau daging alot! Bau daging alot!" teriak sosok tubuh itu berkali-kali.
Ki Surya Kencana yang bersembunyi di balik semak-semak merasa terkejut sekali
mendengar umpatan orang tinggi besar,
"Gila! Manusia ini tajam sekali penciumannya. Seperti binatang pemakan daging
saja layaknya," pikir Ki Surya Kencana.
"Hei! Keluar kau, kakek peot! Baumu memualkan perut, tahu!" teriak orang tinggi
besar itu. Suaranya begitu serak menakutkan.
Ki Surya Kencana merasa panas
perutnya mendengar sumpah yang
dilontarkan orang yang berwajah
menyeramkan itu. Dengan langkah bagaikan orang lemah, Ki Surya Kencana segera
keluar dari tempat persembunyian. Ia sengaja berbuat demikian agar reaksi orang
itu terpancing.
"Hm, mengapa kau bersembunyi di balik semak-semak itu"! Apakah sengaja memata-
mataiku" Jawab, peot! Jangan sampai kurobek-robek mulutmu yang sudah mulai
ompong itu!" bentak orang tinggi besar, yang tak lain adalah Gandaruwo Hutan
Jagal. "Oh. Tidak..., tidak! Aku... aku hanya tersesat," jawab Ki Surya Kencana, pura-
pura gugup. Hatinya sudah mulai menduga tentang orang yang berada di hadapannya.
Namun, ia tidak ingin
bertindak sebelum dapat memastikan bahwa orang tinggi besar itulah yang dicari.
"Hm, untung aku sedang tidak berselera untuk membunuh. Kalau tidak, aku tidak
akan segan-segan merobek-robek tubuh peotmu itu. Hayo, pergilah sebelum
pikiranku berubah!" dengus orang itu sambil mengibaskan tangannya, secara
pelahan dan sembarangan.
Namun, Ki Surya Kencana yang berdiri sejauh dua tombak dari orang itu, menjadi
terkejut sekali. Dirasakannya sambaran angin kuat yang ditimbulkan gerakan
sembarangan tadi. Dengan wajah
seolah-olah tidak menyadari adanya bahaya, Ki Surya Kencana segera
mengerahkan tenaga sakti untuk
melindungi tubuhnya dari serangan itu.
Ketika sambaran angin kuat itu tiba, Ki Surya Kencana cepat mengendorkan kedua
kakinya. Maka tak ayal lagi, tubuh orang tua itu terdorong dan jatuh bergulingan
sejauh tiga tombak. Dan dengan pura-pura susah payah, Ki Surya Kencana berusaha
bangkit berdiri.
"He he he.... Orang tua peot yang lemah dan menjemukan, huh!" dengus orang itu.
Setelah berkata demikian, Gandaruwo Hutan Jagal itu melangkah pergi. Tidak
dipedulikannya lagi Ki Surya Kencana yang masih pura-pura terhuyung.
Ki Surya Kencana masih belum dapat memastikan siapa sebenarnya orang yang
bertubuh tinggi besar dan menyeramkan itu, juga tidak ingin memperpanjang
urusan. Maka ketika Gandaruwo Hutan Jagal melangkah pergi, hanya didiamkan saja.
Tapi yang jelas dia berniat menguntit orang yang mencurigakan itu dari kejauhan.
Mendadak kening orang tua itu
berkerut dan wajahnya menegang, ketika secara samar-samar teringat akan seorang
tokoh golongan hitam yang ciri-cirinya mirip dengan orang tinggi besar itu.
Dengan kecepatan kilat, tubuhnya pun segera berkelebat ke arah Gandaruwo Hutan
Jagal itu pergi.
"Kisanak, pelahan sedikit...!" seru Ki Surya Kencana ketika sudah melihat orang
yang bertubuh tinggi besar itu.
Mendengar seruan itu, Gandaruwo
Hutan Jagal segera menghentikan
langkahnya. Hatinya jadi heran ketika melihat orang yang berteriak itu adalah
tubuh tua yang tadi dibuatnya
terpelanting. Selintas terpancar hawa maut dari sepasang sinar matanya yang
semerah buah saga itu.
"Hhh! Apakah ingin mencari mampus, orang tua peot"! Berani benar kau menunda
perjalananku!" ujar Gandaruwo Hutan Jagal dengan suara menggeram marah.
"Tunggu dulu, Kisanak. Aku hanya ingin bertanya sedikit!" jawab Ki Surya Kencana
tenang. Namun sorot matanya terlihat tajam dan berpengaruh.
"Huh! Apa yang ingin kau tanyakan"!
Cepat katakan!" kata Gandaruwo Hutan Jagal tak sabar. Sekejap tadi hatinya
sempat terkejut melihat sinar mata yang tajam menusuk dari orang tua yang
dianggap remeh itu. Namun karena ketinggian hatinya, maka tidak
dipedulikannya.
"Hm.... Kalau mata tuaku tidak salah lihat, Kisanak pastilah yang berjuluk
Gandaruwo Hutan Jagal. Benar?" tanya Ki Surya Kencana. Pandangan matanya seperti
menyelidik. "Ha ha ha.... Memang tidak salah, peot! Akulah yang berjuluk Gandaruwo Hutan
Jagal. Lalu, apa maumu"i" jawab Gandaruwo Hutan Jagal penuh kesombongan.
Tapi memang demikian kebiasan
tokoh-tokoh golongan hitam, yang selalu merasa bangga apabila namanya sudah
dikenal orang. "Dan aku pun sudah pula mengenal kebiasaanmu yang suka memakan daging manusia
itu. Satu lagi pertanyaanku.
Pemahkah kau berkeliaran di sekitar Gunung Salaka pada dua minggu yang lalu?"
tanya Ki Surya Kencana dengan wajah yang mulai menegang. Sengaja dia memancing
dengan pertanyaan itu untuk menuju kepada pokok persoalan yang
sesungguhnya. "He! Apa maksudmu, orang tua peot!
Dan apa hubunganmu dengan Perguruan Gunung Salaka" Hm..., nanti dulu! He he
he..., sekarang aku ingat. Bukankah kau yang berjuluk si Tangan Pedang" Tidak
salah lagi, kaulah orangnya!" tebak Gandaruwo Hutan Jagal. Wajahnya juga
Pedang Medali Naga 15 Malaikat Berwajah Putih Lo Ban Teng Karya Tk Kiong Han Bu Kong 2
^