Pencarian

Pembunuh Bayaran 2

Pendekar Naga Putih 56 Pembunuh Bayaran Bagian 2


tangan, Panji pun segera menyambutnya. Kaki dan
tangannya bergerak kian kemari. Setiap kali pemuda
itu menampar atau menendang, selalu ada tubuh yang
terjengkang tanpa mampu bangkit lagi. Pendekar Naga Putih memang tidak berniat
membunuh para prajurit
yang menurutnya hanya melaksanakan tugas dari ata-
sannya. Maka, para pengeroyoknya hanya dibuat ping-
san saja. "Heaaat...!"
Dua perwira yang melihat Panji memporak-
porandakan pasukannya, segera memasuki kancah
pertempuran. Begitu tiba, pedangnya langsung berke-
lebat ke arah tubuh Pendekar Naga Putih.
Bettt! Bettt! Panji bergegas menggeser tubuhnya untuk meng-
hindari sambaran dua batang pedang perwira itu. Disusul tamparan balasan yang
lebih kuat, ketika kedua batang pedang lawan kembali berputar mengancam
tubuhnya. Plakkk! Plakkk!
"Aaak...!"
"Aaa...!"
Akibatnya, kedua perwira itu memekik kesakitan!
Tubuh mereka terlempar deras ke belakang.
Kesempatan itu digunakan Panji untuk menerobos
kepungan. Sepasang tangannya bergerak mendorong
ke depan. Whusss...! Angin dingin menusuk tulang yang berhembus dari
sepasang telapak tangan pemuda itu, membuat bela-
san prajurit terhempas bagaikan daun-daun kering
yang diterbangkan angin. Sedangkan tubuh mereka
menggigil hebat.
"Haaat...!"
Senapati Marganta tentu saja tidak sudi membiar-
kan pemuda itu meloloskan diri. Cepat dia mencegah
disertai tebasan pedang yang menimbulkan angin ber-
cuitan! Wuuut...! Merasakan ada serangan berbahaya, Panji bergegas
menarik mundur tubuhnya dua langkah. Setelah sen-
jata lawan lewat di depan tubuhnya, pemuda itu langsung melenting ke udara
seraya melontarkan pukulan
jarak jauh yang mengandung 'Tenaga Sakti Gerhana
Bulan'. Senapati Marganta yang sadar akan kedahsyatan
pukulan sakti pemuda itu, segera melempar tubuhnya
lalu bergulingan menjauh.
Kesempatan itu digunakan Panji kembali untuk
menerobos kepungan, dan segera menghilang di kege-
lapan malam. "Tidak perlu mengejar! Percuma, kalian tidak akan
bisa menyusulnya...!"
Senapati Marganta berteriak kepada para prajurit-
nya, ketika melihat Pendekar Naga Putih berhasil meloloskan diri dari kepungan.
"Seorang pemuda yang hebat dan sangat berba-
haya...," puji Senapati Marganta, merasa kagum bukan main dengan kesaktian
Pendekar Naga Putih.
"Tapi, Tuan Senapati. Apakah mungkin Pendekar
Naga Putih berbuat sejahat itu" Bukankah selama ini kita mendengar kalau pemuda
itu adalah seorang pendekar yang budiman...?" ujar seorang perwira bertu-
buh tegap, yang tidak lain adalah Duranta.
Jelas perwira itu masih belum percaya kalau pen-
dekar muda yang diagung-agungkan kaum rimba per-
silatan itu tega melakukan pembunuhan keji di dalam istana kadipaten.
Kebimbangan hatinya langsung di-utarakan kepada Senapati Marganta, yang secara
tak langsung kini merupakan pimpinan tertinggi di Kadi-
paten Balaraja. Karena, Adipati Balaraja selaku pe-
mimpin tertinggi telah tewas oleh pembunuh misterius.
Sedangkan Pendekar Naga Putih dituduh sebagai pela-
kunya. "Hhh...! Aku sendiri merasa heran, Duranta. Tapi,
kau lihat sendiri buktinya, bukan" Mungkin saja pendekar muda itu adalah seorang
dari ketiga pembunuh
yang melarikan diri dengan jalan berpencar tadi.
Mungkin juga semua ini siasat dari para pembunuh itu dengan cara menonjolkan
Pendekar Naga Putih agar
kita terkecoh. Hm.... Sayang mereka salah menduga
kalau dapat mengelabuiku...," ujar Senapati Marganta, mengajukan pikiran-
pikirannya. Perwira Duranta mengangguk-anggukkan kepala.
Ucapan Senapati Marganta menurutnya memang ma-
suk akal. "Lalu, apa yang harus kita lakukan setelah menge-
tahui jati diri seorang dari pembunuh itu, Tuan Senapati...?" tanya Duranta
lagi, meminta pendapat pimpinannya.
"Sebaiknya kita tetap memperketat penjagaan. Kita
tidak perlu mengerahkan pasukan untuk mengejar
mereka. Aku merasa yakin kalau para pembunuh itu
pasti akan kembali menyatroni istana kadipaten ini.
Bukan hal yang mustahil kalau incaran mereka selan-
jutnya adalah diriku...."
Setelah berkata demikian, Senapati Marganta me-
langkah pergi, meninggalkan Duranta yang tertegun.
Perwira gagah itu tidak sempat berpikir lebih jauh. Karena sebelum meninggalkan
tempat itu, Senapati Mar-
ganta memerintahkannya memimpin para prajurit un-
tuk menyelesaikan segala sesuatunya.
Tanpa banyak cakap lagi, perwira gagah itu segera
memerintahkan para prajuritnya untuk mengobati me-
reka yang terluka dan merapikan tempat yang telah
porak-poranda itu.
*** Tiga sosok tubuh bergerak cepat menerobos lebat-
nya Hutan Pancawarna. Mereka adalah Tiga Setan
Lembah Mayat, pembunuh-pembunuh bayaran yang
telah melakukan tugasnya dengan baik.
Tidak lama kemudian, ketiga manusia berhati iblis
itu pun memperlambat larinya. Beberapa tombak di
depan mereka tampak sebuah bangunan tua berdiri
angker. Dinding bangunan tersebut nampak telah ru-
sak dan berlumut di beberapa bagian. Sekali lihat saja, dapat diketahui kalau
bangunan tua itu sama sekali
tidak berpenghuni.
Tiga Setan Lembah Mayat bergerak mengitari ban-
gunan. Sepertinya mereka ingin memastikan kalau
tempat itu benar-benar aman. Setelah merasa yakin
akan keadaan di sekelilingnya, mereka pun berkumpul di sebuah ruangan bangunan
tua itu. "Aku khawatir dia akan menyalahi janjinya...."
Terdengar ucapan bernada berat milik Dawanta. Le-
laki bertubuh kekar berotot itu menatap saudaranya
yang tertua, seperti hendak meminta pendapat.
"Tidak mungkin, Adi. Kalau benar hal itu dilaku-
kannya, sama artinya dengan bunuh diri.
Tentunya dia tidak menginginkan kita membeber-
kan semua rahasianya ke kadipaten, bukan?" jawab
Malingga. Kelihatannya dia sama sekali tidak
mengkhawatirkan hal itu.
"Biar bagaimanapun kita tidak boleh kehilangan
kewaspadaan. Bukan tidak mungkin dia akan menge-
nyahkan kita untuk menghilangkan jejak," sergah
Songgara ikut menimpali pembicaraan kedua orang
saudaranya. "He he he...! Kita bukan orang bodoh yang baru se-
kali melakukan tugas seperti ini. Semua kekhawatiran kalian, telah ada dalam
kepalaku. Jadi, tidak perlu lagi
ada yang dikhawatirkan. Sebaiknya kita lihat saja nanti...," kilah Malingga
sambil memperdengar tawa parau.
Kemudian, tubuhnya dihempaskan ke lantai bangunan
tua itu. Kekhawatiran Dawanta dan Songgara perlahan pu-
dar, mendengar ucapan saudara tua mereka. Tapi, ba-
ru saja keduanya hendak ikut duduk, Malingga tiba-
tiba melompat bangkit.
"Dia sudah datang...!" seru Malingga, memberitahu-
kan kedua saudaranya.
Dawanta dan Songgara saling berpandangan seje-
nak. Kemudian, keduanya melangkah dan berdiri di ki-ri dan kanan Malingga,
menunggu munculnya orang
yang mereka maksudkan.
"Ha ha ha...! Tidak percuma aku menyewa kalian,
Tiga Setan Lembah Mayat! Kerja kalian benar-benar
membuat hatiku puas...!"
Terdengar gelak tawa memenuhi ruangan. Disusul
bayangan hitam berkelebat menghampiri Tiga Setan
Lembah Mayat. "Hm.... Kami cukup lama menantimu di sini. Kupi-
kir kau akan mengingkari perjanjian yang telah kita sepakati...," sambut
Malingga tanpa rasa hormat sedikit pun. Sikapnya terlihat amat angkuh. Membuat
orang yang baru saja datang, terkekeh perlahan melihat Malingga yang dianggapnya
bertingkah. "Kau tidak mempercayaiku, Malingga" Bukankah
pada tugas yang pertama kalian telah menerima baya-
ran tanpa kurang sepeser pun" Jadi, tidak ada alasan bagi kalian untuk
mencurigaiku," sahut orang bertubuh kurus itu sambil melangkah maju beberapa
tin- dak, membuat jarak di antara mereka semakin dekat.
Rupanya Dawanta dan Songgara masih menyimpan
sedikit kecurigaan kepada orang bertubuh kurus yang
membayar mereka itu. Terbukti saat dia melangkah
maju, keduanya sigap meraba senjata, siap bertindak apabila lawan berbuat
curang. Malingga mengerling kepada dua saudaranya, seba-
gai isyarat agar mereka tenang. Sehingga, baik Dawan-ta maupun Songgara terpaksa
menjauhkan lengannya
dari gagang senjata.
"Tidak perlu banyak cakap lagi! Berikan saja apa
yang sudah menjadi hak kami...!" geram Dawanta ingin lekas-lekas menerima
bayarannya. "He he he...! Jangan terlalu tegang, Dawanta. Lihat-lah apa yang kubawa ini...,"
ujar orang bertubuh tinggi kurus itu seraya menurunkan bungkusan besar yang
tergantung di bahunya. Kemudian bungkusan itu di-
buka dan diperlihatkan kepada Tiga Setan Lembah
Mayat. Tampak enam kantong uang di dalamnya,
membuat kecurigaan Dawanta dan Songgara pupus
seketika. "Keenam kantong uang ini akan menjadi milik ka-
lian. Setelah itu, masih ada satu tugas lagi yang harus kalian lakukan
untukku...," ujar orang tinggi kurus itu dengan bibir tersenyum tipis.
"Tidak! Apa yang kami lakukan untukmu sudah cu-
kup. Berikan saja uang itu! Kau boleh mencari orang lain untuk melakukan tugas
selanjutnya. Karena menurut kami, sudah tidak ada lagi yang perlu dilaku-
kan...!" tegas Songgara ikut angkat bicara, sebelum Malingga sempat menyahuti
ucapan lelaki tinggi kurus itu. "Maafkan kami, Kisanak. Sebaiknya hubungan ini
memang harus kita akhiri. Sesuai dengan ucapanmu
beberapa hari yang lalu, tugas kami semalam adalah
tugas terakhir. Sebaiknya kau mencari orang lain untuk melakukan tugas
selanjutnya. Semalam kami
hampir tertangkap, dan mungkin juga kami sudah da-
pat dikenali. Itu sebabnya saudaraku menolak tawa-
ranmu dan lebih suka kembali ke tempat kediaman
kami...," Malingga ikut mendukung ucapan Songgara,
yang dirasanya cukup beralasan.
"Hm.... Kalau memang begitu keinginan kalian,
baiklah. Nah, terimalah uang ini. Kalian bisa gunakan untuk bersenang-senang
sampai puas...," ujar lelaki tinggi kurus itu. Tangannya segera mengangkat
bungkusan dan siap melemparkannya kepada Malingga.
"Tunggu...!" cegah Dawanta segera melangkah maju
menjajari Malingga. "Sebaiknya keluarkan saja kan-
tong-kantong uang itu lalu lemparkan kepada kami...!:
"Benar. Lemparkan saja keenam kantong uang itu
kepada kami...!" Malingga ikut menimpali. Dia sepertinya dapat menebak pikiran
Dawanta yang merasa
khawatir kalau bungkusan itu mengandung racun ga-
nas. "He he he...!" sosok tinggi kurus itu kembali mem-
perdengarkan tawa perlahan. Kemudian bungkusan itu
dirogohnya, dan mengeluarkan enam kantong uang
dari dalamnya. Terdengar suara gemerincing memenu-
hi ruangan tersebut, membuat Tiga Setan Lembah
Mayat, terutama Dawanta semakin tak sabar.
Malingga langsung menyambut kantong uang per-
tama yang dilempar ke arahnya oleh lelaki tinggi kurus itu. Kemudian dilempar
kembali pada Dawanta, yang
kemudian melemparkannya pada Songgara. Demikian
seterusnya, hingga tangan masing-masing Tiga Setan
Lembah Mayat memegang dua kantong uang.
"Ha ha ha...!"
Tiba-tiba saja lelaki bertubuh tinggi kurus itu tertawa keras, membuat Tiga
Setan Lembah Mayat men-
jadi terkejut Tak lama kemudian, dirasakan kalau te-
lapak tangan mereka panas dan gatal-gatal.
"Celaka..."!" pekik Songgara yang memang paling
tahu tentang racun ketimbang dua orang saudaranya.
Wajahnya yang memang agak pucat, semakin bertam-
bah pias bagai kehilangan darah.
"Kantong uang ini dilapisi racun...!" desis Malingga geram. Baru disadarinya hal
itu saat pengaruh racun mulai bekerja. Tokoh bertubuh cebol itu melangkah
mundur seraya melemparkan dua kantong uang di
tangannya ke tanah.
"Aaa....!"
Malingga menatap kedua lengannya yang menghi-
tam. Pada bagian telapak tangannya muncul gelem-
bung-gelembung kecil yang kemudian pecah dan men-
geluarkan cairan berbau busuk. Karuan saja tokoh itu menjadi ketakutan setengah
mati. Hal yang serupa juga dialami Dawanta dan Songga-
ra. Kedua tokoh sesat itu pun menjerit-jerit penuh rasa ngeri. Apalagi ketika


Pendekar Naga Putih 56 Pembunuh Bayaran di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

racun itu semakin menjalari lengan mereka dengan sangat cepat Sulit untuk di-
bayangkan, betapa ketakutannya ketiga tokoh sesat
itu. "Ha ha ha...! Kalian telah terkena 'Racun Kelabang Hijau' yang kerjanya
sangat cepat dan mematikan. Sebentar lagi kalian bertiga akan berubah menjadi
bangkai yang mengerikan...!" ujar lelaki di depan mereka.
Mulutnya mengumbar tawa yang meledak-ledak meli-
hat ketiga korbannya semakin ketakutan.
"Bangsat...!" maki Malingga yang tentu saja sadar
kalau hidupnya tidak akan lama lagi. Kesadaran itu
membuatnya nekat Tanpa mempedulikan pengaruh
racun yang mulai menjalar ke pangkal lengan dan te-
rus ke sekujur tubuhnya, tubuh lelaki cebol itu menerjang lawannya.
"He he he...! Perbuatanmu hanya mempercepat daya
kerja racun itu, Malingga...," ejek lelaki tinggi kurus itu tanpa niat
mengingatkan Malingga.
Malingga sempat menahan langkahnya dengan ma-
ta terbelalak ngeri. Ucapan sosok tinggi kurus itu bukan sekadar menakut-nakuti.
Karena saat tenaga da-
lamnya dikerahkan, pengaruh racun itu dirasakan se-
makin kuat. Malingga terpaksa membanting tubuhnya ke tanah
ketika tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang
menggeragoti sekujur tubuhnya.
"Aaarghhh...!"
Terdengar raungan yang mengerikan bagai lolongan
binatang buas yang menyambut datangnya ajal. Se-
bentar kemudian, ucapan lelaki tinggi kurus itu benar-benar terbukti. Tubuh
Malingga mengejang seketika,
dan tewas setelah kembali memperdengarkan raungan
panjang yang mendirikan bulu roma! Setelah mem-
banting-banting dirinya serta bergulingan kian kemari di atas tanah.
"Aaah..."!"
Dawanta dan Songgara terpekik ngeri melihat tubuh
saudara tua mereka terdiam kaku. Sementara, seluruh kulitnya berubah kehitaman.
Yang lebih mengerikan
lagi, sekujur tubuh Malingga dipenuhi gelembung-
gelembung yang kemudian pecah dan menebarkan bau
busuk memualkan perut
"He he he...! Jika kalian berdua ingin lekas mati, silakan mengikuti apa yang
dilakukan Malingga...," ejek lelaki tinggi kurus itu sambil terkekeh penuh
kemenangan. "Kau.... Kau benar-benar keparat...!" umpat Dawan-
ta dengan hati penuh dendam, membuat rongga da-
danya serasa hendak meledak. Sayang dia tidak bisa
melakukan apa-apa lagi. Karena malaikat maut sudah
siap mencabut nyawanya.
"Ha ha ha...!" lelaki tinggi kurus itu kembali mem-
perdengarkan tawa iblisnya saat menyaksikan Dawan-
ta dan Songgara berkelojotan. Tubuh kedua orang itu pun ambruk ke tanah. Terus
bergulingan diselingi
raungan kesakitan yang susul-menyusul.
Seiring dengan berkumandangnya tawa menggele-
gar lelaki bertubuh tinggi kurus itu, nyawa Dawanta dan Songgara melayang ke
akhirat. Kedua tokoh sesat itu tewas dalam keadaan yang sangat mengerikan.
Sambil tetap mengumandangkan tawanya, lelaki
tinggi kurus itu mengumpulkan kembali enam kantong
uang perak yang berserakan di tanah. Dan dimasuk-
kannya ke dalam bungkusan besar. Kemudian tubuh-
nya segera melesat meninggalkan tempat itu.
*** 6 Pemuda berjubah putih itu menahan langkahnya
saat mendengar raungan panjang yang menggetarkan.
Meski telinganya hanya mendengar sayup-sayup, na-
mun pemuda berjubah putih yang tidak lain dari Panji tahu kalau raungan itu
adalah jerit seseorang yang sedang dilanda kesakitan hebat
Ketika raungan menjelang ajal itu kembali merasuk
indera pendengarannya, tanpa ragu-ragu lagi tubuh-
nya berkelebat dengan mengerahkan ilmu lari cepat-
nya. Panji kehilangan jejak ketika raungan mengerikan
itu mendadak lenyap. Segera diduganya kalau orang
yang tadi melengkingkan raungan menyayat hati telah dijemput malaikat maut.
Seketika Panji menghentikan larinya, dan dicobanya mengerahkan indera
pendengaran. Sayang, dia tetap gagal. Suara raungan itu telah benar-benar
lenyap. "Hm.... Sebenarnya apa yang dialami orang malang
itu" Dari jeritannya barusan, aku dapat menduga ka-
lau dia sedang menghadapi sesuatu yang mengerikan
dan sangat menyakitkan. Sayang aku kehilangan jejak.
Kemungkinan besar orang itu telah tewas. Mungkin di-terkam harimau atau binatang
buas lain yang banyak
berkeliaran di dalam Hutan Pancawarna ini...," gumam Panji seorang diri.
Untuk beberapa saat, pemuda itu tetap tak bergerak
di tempatnya. Pendekar Naga Putih benar-benar telah kehilangan jejak.
Harapan yang semula lenyap, timbul kembali ketika
Panji mendengar raungan panjang yang mendirikan
bulu roma. Kali ini telinganya malah menangkap dua
jeritan berlainan.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Naga
Putih segera melesat seperti terbang menuju asal sua-ra. Karena sudah dapat
memastikan asal jeritan itu, tidak sulit bagi Panji untuk segera mencapainya.
Dari kejauhan, dilihatnya sebuah bangunan tua berdiri di dalam hutan. Tanpa
ragu-ragu lagi, Panji segera melesat kembali lalu memasuki sebuah ruangan besar
da- lam bangunan itu.
"Keji...!" desis pemuda itu ketika matanya menyak-
sikan tiga sosok tubuh menggeletak tewas dalam kea-
daan mengerikan.
Pemuda tampan berjubah putih itu bergerak men-
dekat, meski hidungnya mencium bau busuk yang
memualkan perut.
"Hm.... Peristiwa ini jelas baru saja terjadi. Ke-
mungkinan besar pelakunya masih belum pergi
jauh...," duga Panji ketika melihat ketiga sosok tubuh itu benar-benar telah
tewas, dan tidak mungkin dapat diselamatkan lagi. Maka, segera tubuhnya melesat
dengan maksud menemukan jejak si pembunuh.
Sayang, Panji tidak tahu secara pasti arah yang ha-
rus ditempuhnya. Karena itu, dia hanya mengelilingi sekitar bangunan dalam jarak
belasan tombak. Tapi,
tak satu manusia pun yang ditemukannya. Sadar ka-
lau telah terlambat, Pendekar Naga Putih memutuskan untuk segera kembali ke
tempat kejadian.
Kenyataan yang didapatnya benar-benar membuat-
nya terkejut setengah mati. Saat diperhatikannya pakaian dan bentuk tubuh ketiga
mayat itu, Panji segera dapat menebak kalau mereka adalah orang-orang yang
pernah bentrok dengannya beberapa hari lalu. Bahkan ketiga orang itu seperti
sengaja mencarinya, dan hendak melenyapkan dirinya.
"Siapa sebenarnya ketiga orang ini" Mereka muncul
untuk mencariku setelah aku berada di sekitar Kadipaten Balaraja. Mengingat
ucapan-ucapan Senapati Ka-
dipaten Balaraja yang menuduhku sebagai pembunuh,
bisa jadi ketiga orang ini ikut terlibat di dalamnya. Ta-pi, mengapa mereka
sampai terbunuh" Padahal ke-
pandaian ketiga orang ini sangat tinggi, dan tidak mudah untuk dikalahkan" Jelas
kalau si pembunuh ada-
lah tokoh puncak yang memiliki kesaktian tinggi. Entah permusuhan apa yang
membuat tokoh itu sampai
membunuh mereka bertiga" Mungkin hal ini ada kai-
tannya dengan pembunuhan yang terjadi beberapa ha-
ri ini di dalam Istana Kadipaten Balaraja. Hm.... Aku harus menyelidikinya...,"
gumam Panji yang mulai
menduga ada sesuatu yang tidak beres di dalam Istana
Kadipaten Balaraja.
Panji baru saja hendak membalikkan tubuh dan
meninggalkan tempat itu. Ketika sepasang matanya
sempat menangkap goresan-goresan di tanah, segera
langkahnya ditahan. Cepat pemuda itu melangkah
mendekati mayat bertubuh cebol, yang baunya sangat
menyengat hidung.
"Hm.... Rupanya salah satu dari orang-orang ma-
lang ini sempat meninggalkan nama si pembunuh.
Pasti dia hendak meninggalkan pesan kepada siapa sa-ja yang kebetulan menemukan
mayat mereka. Petun-
juk yang diberikannya jelas sangat berarti sekali bagi-ku. Dengan begitu,
kejadian-kejadian di istana kadipaten akan segera dapat terungkap...," gumam
Panji seraya mengangguk-angguk. Diam-diam dipujinya kecer-
dikan salah seorang dari korban pembunuhan keji itu.
Setelah mendapatkan petunjuk, yang meskipun
masih sangat samar, Pendekar Naga Putih segera ber-
kelebat meninggalkan tempat itu.
*** Saat malam merayap perlahan, Panji bergerak me-
masuki Kadipaten Balaraja secara sembunyi-
sembunyi. Tujuannya hendak menemui Senapati Mar-
ganta untuk memperjelas masalah yang berkecamuk di
dalam istana. Pemuda perkasa itu sudah bertekad un-
tuk menghadapi segala sesuatu yang bakal terjadi. Dia tidak takut menghadapi
bahaya maut, demi menegak-kan keadilan.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, tidak sulit bagi
Pendekar Naga Putih untuk menyelinap ke dalam wi-
layah istana kadipaten. Meskipun belum tahu pasti letak bangunan yang didiami
Senapati Marganta, Panji
tidak kehilangan akal. Pemuda itu bergerak ke bagian belakang istana kadipaten.
Kemudian, dengan mudah-nya menawan seorang pelayan yang tengah terbuai
mimpi. "Aku tidak bermaksud menyakitimu. Kuminta kau
menunjukkan, di mana Senapati Marganta tinggal?"
tanya Panji kepada pelayan yang sekujur tubuhnya
gemetar karena ketakutan.
Rupanya pelayan itu menduga kalau Panji adalah
pembunuh kejam yang selama beberapa waktu ini ber-
keliaran di lingkungan istana. Rasa takutnya mem-
buatnya tidak dapat menahan kencing. Celananya per-
lahan menjadi basah.
"Jangan takut. Aku bukan seorang pembunuh. Ma-
lah aku berniat membantu Kadipaten Balaraja untuk
menangkap manusia jahat itu," bujuk Panji lagi, berharap agar pelayan itu dapat
hilang rasa takutnya, dan mau berbicara.
"Sejak Adipati Balaraja terbunuh, Tuan Senapati
tinggal di dalam salah satu kamar istana. Dia hendak melindungi Paduka
Permaisuri dan putranya yang masih berusia enam tahun," tuturnya dengan suara
su- sah-payah. "Terima kasih, Kisanak. Maaf, aku harus mem-
bungkammu agar tidak menyusahkanku...," bisik Pan-
ji. Lalu satu jarinya menotok lumpuh tubuh pelayan
itu. Kemudian melesat menuju tempat yang ditunjuk-
kan pelayan itu.
Pada waktu hendak memasuki ruangan dalam ista-
na, matanya menangkap delapan orang yang tampak-
nya sedang meronda. Panji terpaksa menyelinap ke dalam semak di taman bagian
samping istana. Setelah
mereka lewat, Pendekar Naga Putih kembali melesat
bagaikan bayangan hantu menuju kamar yang menu-
rut pelayan istana menjadi tempat tinggal Senapati
Marganta sementara.
Dengan mendorongkan telapak tangannya disertai
pengerahan tenaga dalam, pintu yang terkunci itu ber-derit perlahan.
"Siapa...?" tegur sebuah suara dari dalam kamar.
Membuat Panji memutuskan untuk langsung masuk.
Sebagai seorang panglima yang memiliki kepan-
daian tinggi, Senapati Marganta sempat melihat berkelebatnya sesosok bayangan
memasuki kamarnya. Tapi,
sebelum sempat bertindak apa-apa, seorang pemuda
tampan berjubah putih telah berdiri di hadapannya dalam jarak tiga langkah.
Kenyataan itu membuat Sena-
pati Marganta sadar akan kesaktian tamu tak diun-
dang itu. "Pendekar Naga Putih..."!" desis lelaki gagah itu
dengan sepasang mata terbelalak lebar. Sungguh tak
disangkanya kalau pendekar muda itu berani datang
menyatroninya. "Maaf kalau kedatanganku yang tidak pantas ini
membuat Panglima terkejut...," ujar Panji merendah-
kan suaranya, karena tidak ingin membuat seisi istana terbangun.
"Hm.... Kau benar-benar telah tersesat jauh, Pende-
kar Naga Putih. Seharusnya kau sadar kalau perbua-
tanmu membunuhi orang-orang istana kadipaten akan
membuat tokoh golongan putih marah besar dan akan
memusuhimu. Tapi, jangan kau sangka aku sama
dengan korban-korbanmu terdahulu. Kecerobohanmu
ini akan membuat kau menyesal seumur hidup, Pen-
dekar Naga Putih...!" geram Senapati Marganta sambil menggeser mundur
langkahnya. Siap menghadapi
Pendekar Naga Putih.
"Sabar, Panglima. Kedatanganku justru hendak me-
laporkan tentang pembunuh-pembunuh keji itu. Me-
nurut dugaanku, pembunuh itu adalah orang-orang
bayaran yang melakukannya demi uang. Dan, aku te-
lah mengetahui siapa orang yang berada di belakang
tiga orang pembunuh itu," jelas Panji, membuat Senapati Marganta kelihatan
sangat terkejut. Karuan saja lelaki gagah itu menarik gerakannya. Ditatapnya
wajah Pendekar Naga Putih setengah tidak percaya.
"Hm.... Dari mana kau mengetahui kalau pembu-
nuh itu berjumlah tiga orang" Apa pula maksudmu
dengan mengatakan kalau kau sudah mengetahui to-
koh di belakang layar yang membayar ketiga orang
itu?" tanya Senapati Marganta seraya menatap lekat-
lekat wajah pemuda tampan di hadapannya. Panglima
gagah itu merasa tertarik setelah mendengar keterangan Panji. Sehingga tidak
lagi kelihatan siap tarung.
Panji sebenarnya hanya menduga saja tentang
pembunuh-pembunuh itu. Tampaknya dia sudah ber-
hasil memancing keterangan secara tidak langsung da-ri panglima gagah di
hadapannya. Dia pun berusaha
untuk menegasinya lagi.
"Jadi benar kalau pembunuh itu berjumlah tiga
orang" Kalau begitu, mereka telah tewas di dalam Hutan Pancawarna di sebuah
ruangan dalam bangunan


Pendekar Naga Putih 56 Pembunuh Bayaran di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tua. Tapi, meskipun racun ganas itu telah membuat
mereka tewas, salah seorang dari mereka sempat
mengguratkan sebuah nama pada tanah. Itu sebabnya
mengapa aku memaksa diri untuk menghadap dalam
keadaan seperti ini," jelas Panji lagi, membuat Senapati Marganta kelihatan
semakin kaget "Sebuah nama" Siapa nama yang ditulis salah seo-
rang pembunuh itu sebelum kematiannya...?" tanya
Senapati Marganta dengan wajah semakin menegang.
"Tokoh keji itu berjuluk Raja Racun Kelabang...,"
sahut Panji dengan kata-kata yang jelas terdengar di telinga Senapati Marganta.
"Raja Racun Kelabang..."!" gumam panglima gagah
itu mengulang julukan yang dikatakan Pendekar Naga
Putih. Senapati Marganta seperti tidak mempercayai
laporan Panji. "Benar. Tokoh itulah yang telah menewaskan ketiga
pembunuh bayaran yang disewanya. Rupanya dia su-
dah merasa sudah cukup dengan apa yang dilakukan
ketiga pembunuh bayarannya. Apakah Tuan Panglima
pernah mendengar nama tokoh jahat itu...?" tanya
Panji ketika melihat Senapati Marganta terdiam mene-kuri lantai.
Dengan sabar Panji menunggu ucapan yang bakal
keluar dari mulut senapati itu.
"Ha ha ha...! Kau benar-benar bodoh, Pendekar Na-
ga Putih! Sayang orang yang hendak kau jadikan
kambing hitam itu telah tewas beberapa tahun silam.
Kau jelas-jelas telah dipermainkan orang...!" ejek Senapati Marganta.
Hal itu tentu saja membuat Panji terkejut bukan
main. Padahal pemuda itu sudah memeriksa jenis ra-
cun yang terdapat di tubuh Tiga Setan Lembah Mayat
Dan diketahuinya pula kalau racun jahat itu bernama Racun Kelabang Hijau.
"Tapi, aku melihat dan memeriksa sendiri bukti-
buktinya, Tuan Panglima," bantah Panji.
Memang, Pendekar Naga Putih belum pernah lagi
mendengar kabar tentang tokoh sesat berjuluk Raja
Racun Kelabang. Mungkin tokoh sesat itu selalu me-
nyembunyikan diri di pertapaannya, dan jarang mun-
cul ke dunia ramai belakangan ini. Jadi, ada kemungkinan tokoh sesat itu benar-
benar telah tewas.
"Kau hanya mengarang cerita usang, Pendekar Naga
Putih! Sekarang aku bertambah yakin kalau kau ada-
lah pembunuh biadab itu. Karena kau pernah tertang-
kap basah olehku, maka kau berusaha untuk mencari
cara meloloskan diri dengan melemparkan fitnah ke-
pada orang lain. Tidak kusangka kalau pendekar yang diagung-agungkan kaum rimba
persilatan adalah seorang yang berhati keji dan licik!" geram Senapati Marganta.
Kembali Senapati Kadipaten Balaraja itu bersiap
menghadapi Pendekar Naga Putih. Bahkan sudah
mengeluarkan lengkingan panjang sebagai isyarat ke-
pada seluruh prajurit kalau tengah berhadapan den-
gan pembunuh misterius yang beberapa hari ini telah menggemparkan Kadipaten
Balaraja dengan kekeja-mannya.
"Tuan Senapati. Aku sama sekali bukan pembunuh
keji yang kau maksudkan. Sampai kapan pun aku ti-
dak akan pernah berbuat sekeji itu. Izinkanlah aku
membantu untuk mengungkapkan masalah yang ma-
sih gelap ini...," pinta Panji yang menjadi terkejut melihat perubahan sikap
panglima itu. "Hm.... Tidak perlu banyak cakap lagi, Pendekar Ke-
ji! Kau memang harus dilenyapkan agar umat manusia
menjadi tenteram!" bentak Senapati Marganta. Setelah itu, tubuhnya langsung
menerjang Panji dengan serangan-serangan yang menimbulkan deruan angin keras.
Plak! Plak! "Sabar, Tuan Panglima...," tahan Panji, setelah me-
nepiskan dua buah serangan lawan yang mengancam
jalan darah kematian di tubuhnya.
"Sambut saja seranganku, Pemuda Iblis...!" bentak
Senapati Marganta penuh kemarahan. Sepertinya, dia
sudah tidak bisa lagi diajak bicara baik-baik. Dibarengi sebuah pekikan nyaring,
panglima gagah itu kembali
menerjang hebat.
"Haiiit..!"
Brakkk! Sadar jika tetap berada di dalam kamar itu akan su-
lit baginya untuk meloloskan diri, maka Panji terpaksa melesat ke luar dengan
menjebol daun jendela. Du-gaannya ternyata tidak meleset! Baru saja kedua ka-
kinya menjejak tanah, beberapa batang tombak lang-
sung menyambutnya.
Wuttt! Wuttt! "Hiaaah...!"
Cepat Panji membungkukkan tubuh sambil memu-
tar sepasang lengannya, membuat tombak-tombak itu
berpatahan dan terpental ke mana-mana.
"Jangan biarkan pendekar biadab itu lolos! Tidak
perlu tanggung-tanggung, bunuh saja dia...!"
Senapati Marganta yang saat itu masih berada di
dalam kamarnya memberi perintah. Kemudian, tubuh-
nya bergerak melompati jendela yang telah jebol, lalu terus meluncur untuk
menerjang Panji.
Meskipun semua kemungkinan itu telah diperhi-
tungkan, tak urung Panji sempat menjadi bingung.
Pendekar Naga Putih tidak ingin menurunkan tangan
kejam kepada para prajurit kadipaten yang hanya me-
nuruti perintah pimpinannya itu. Sedangkan untuk
dapat lolos dari kepungan ratusan prajurit itu, tidak mungkin tanpa melukai
mereka. Hal itulah yang membuatnya menjadi bingung dan terdiam untuk beberapa
saat. Sedangkan para prajurit kadipaten sepertinya tidak
ingin membiarkan pemuda itu lolos untuk yang kedua
kalinya. Sehingga, mereka membuat kepungan berla-
pis-lapis, agar Pendekar Naga Putih tidak dapat lagi melarikan diri seperti
beberapa malam lalu.
Panji sendiri sempat terkejut menyaksikan bentuk
barisan kepungan para prajurit itu. Pada lapisan terdepan, masing-masing
prajurit memegang golok terhu-
nus di tangan. Sedangkan pada tangan kiri mereka
terdapat sebuah perisai berbentuk bulat. Sadarlah
Pendekar Naga Putih kalau Senapati Marganta me-
mang telah mempersiapkan cara khusus untuk meng-
hadapinya. "Haaat..!"
Saat Panji tertegun melihat barisan yang berlapis-
lapis dan sangat teratur itu, tiba-tiba saja para prajurit di barisan terdepan
berteriak keras. Separoh dari mereka yang semula dalam posisi berlutut, kini
bergulingan di tanah sambil menyabetkan golok besar ke ba-
gian tubuh Panji.
Melihat hal itu, Pendekar Naga Putih cepat bergerak mundur dengan satu lompatan
pendek untuk menghindari serangan mereka.
"Aaat..!"
Saat tubuh Panji melambung di udara, kembali ter-
dengar teriakan nyaring serempak. Barisan prajurit
pada lapisan kedua melesat ke udara sambil men-
gayunkan goloknya yang menderu mengancam tubuh
pemuda tampan berjubah putih itu.
"Yeaaah...!"
Karena ingin mengetahui lebih jauh akan kehebatan
pasukan itu, Pendekar Naga Putih mencoba melontar-
kan dua buah pukulan ke arah lawannya yang terde-
pan. Dan.... Bukkk! Bukkk! Kaget bukan main hati Panji ketika kepalannya dis-
ambut dengan perisai yang terpasang di tangan kiri
lawan. Yang membuat pemuda itu lebih terkejut ada-
lah tenaga pukulannya dapat membalik. Seolah-olah
perisai itu terbuat dari benda kenyal yang tahan pukul.
"Hebat...!" desis Panji dengan wajah yang tidak me-
nyembunyikan rasa kagum melihat ketangguhan para
prajurit Kadipaten Balaraja. Meskipun demikian, Pendekar Naga Putih sama sekali
tidak merasa gentar
ataupun cemas. Karena tenaga pukulan yang dipergu-
nakannya barusan masih dalam tingkat yang rendah.
Entah kalau 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya tadi dikerahkan untuk menghadapi
barisan perisai itu.
"Yeaaah...!"
Whuttt! Whuttt!
Dua buah sambaran golok datang mengancam leher
dan perut pemuda itu. Panji segera menggeser mundur tubuhnya, lalu
melanjutkannya dengan gerak berputar. Begitu serangan lawan luput, tubuhnya
sudah berbalik dan langsung mendorongkan sepasang tela-
pak tangannya ke depan.
Bummm...! "Aaa...!"
Terdengar pekik ngeri susul-menyusul ketika dari
sepasang telapak tangan pemuda itu keluar deruan
angin tajam, membuat para prajurit yang berada di
depannya, langsung terpental bagaikan daun kering
yang diterbangkan angin. Sebagian dari korban puku-
lan itu langsung menggeletak tak sadarkan diri. Panji memang masih membatasi
penggunaan tenaga mukji-zatnya agar tidak sampai menewaskan lawan.
*** 7 Baru saja tubuh Panji melesat ke tempat lowong un-
tuk dapat meloloskan diri, terdengar teriakan-teriakan
nyaring diselingi kilatan ujung tombak. Ancaman-
ancaman itu datang dari empat penjuru, membuat
Pendekar Naga Putih terpaksa harus menahan lang-
kahnya. "Haaat...!"
Delapan kilatan mata tombak mengancam jalan da-
rah penting di tubuhnya. Membuat Panji tidak bisa
tinggal diam. Apalagi dari desingannya dapat ditebak kalau luncuran senjata itu
mengandung kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi.
"Heaaah...!"
Karena tidak mau tubuhnya tertembus delapan ma-
ta tombak lawan, Pendekar Naga Putih terpaksa me-
nunda niat untuk melarikan diri. Tubuhnya bergerak
dengan mengandalkan kelincahan tubuh untuk meng-
hindari ancaman maut itu. Dibarengi juga dengan pu-
taran sepasang lengannya yang membuat kedelapan
pelempar tombak itu berlompatan mundur.
Kesempatan itu kembali dipergunakan Pendekar
Naga Putih untuk menjejakkan kakinya ke tanah. Lalu dalam sekejap, tubuhnya
melambung ke udara dan
berputaran beberapa kali, melewati barisan prajurit yang menghadangnya.
"Hujani dengan anak panah,,.!" perintah Senapati
Marganta. Segera saja kesempatan itu digunakannya
selagi Panji berada di udara untuk menghujani dengan anak panah.
Belum lagi gema suara Senapati Marganta lenyap,
menyusul desingan riuh bagai hendak meruntuhkan
langit. Puluhan batang anak panah itu melesat deras ke arah tubuh Pendekar Naga
Putih yang masih melayang di udara!
"Yeaaa....!"
Dengan mengandalkan kekuatan mukjizat yang di-
milikinya, Panji menyapu anak-anak panah yang men-
gincar kepalanya. Sedangkan yang mengarah tubuh-
nya sama sekali tidak dipedulikan. Pendekar Naga Putih yakin kalau 'Tenaga Sakti
Gerhana Bulan' yang me-lapisi tubuhnya mampu menghalau anak-anak panah
itu. Terdengar suara bergemeretak ramai ketika seluruh anak panah yang
menghujani tubuh pemuda itu, langsung runtuh dalam keadaan patah! Beberapa
batang di antaranya tergenggam erat di tangan Panji.
Untung Pendekar Naga Putih tidak berniat membu-
nuh. Kalau saja mau, tentu tidak akan sulit baginya untuk meloloskan diri.
Gagalnya serangan terakhir tadi tidak membuat
semangat Senapati Marganta surut. Kemarahannya
makin meledak-ledak, memenuhi rongga dadanya.
"Seraaang...!" perintah Senapati Marganta kembali
dengan berapi-api sambil melesat maju. Dia sendiri
merangsek dengan sabetan pedang yang mengincar ti-
tik-titik jalan darah kematian di tubuh Pendekar Naga Putih. Bettt!
Panji menarik mundur tubuhnya dua langkah saat
pedang di tangan Senapati Marganta datang mengan-
cam. Dan, terus bergerak kian kemari dengan lompa-
tan-lompatan pendek untuk menghindari sambaran
ganas senjata para perwira kadipaten yang ikut menggempur.
"Hm.... Kalian terlalu memaksa...!" geram Panji di
sela-sela sambaran senjata-senjata lawan. Usai berka-ta demikian, kedua
tangannya dikembangkan, meng-
halau tebasan empat pedang lawan. Dan....
Bukkk! Desss...!
"Aaakh...!"
Tiga perwira dan dua prajurit yang menyerangnya,
langsung terpental dengan mulut memuntahkan da-
rah! Rupanya Pendekar Naga Putih mulai kehilangan
kesabaran. Tentu saja keberangan Panji membuat la-
wan-lawannya menjadi terkejut dan gentar.
Tanpa sadar, beberapa orang di antara mereka ber-
gerak mundur dengan wajah berubah tegang!
"Jangan takut! Ayo, maju...!"
Senapati Marganta yang melihat belasan prajuritnya
bergerak mundur dengan wajah pucat, kembali mem-
beri perintah dengan lantang, seperti hendak memba-
kar semangat anak buahnya. Dia sendiri menerjang
Panji kembali yang saat itu bergerak ke kiri untuk meloloskan diri, karena
kepungan di bagian itu terlihat lemah.
"Jangan harap kau dapat keluar dari tempat ini da-
lam keadaan hidup, Pemuda Keji..."!" bentak Senapati Marganta sambil menyusul
lesatan tubuh Panji, lalu
dikirimkannya tusukan pedang ke punggung pemuda
itu. Plakkk! "Aihhh..."!"
Tanpa menoleh lagi, Panji mengibaskan lengan ka-
nannya ke belakang. Kali ini Pendekar Naga Putih
mengerahkan lebih dari separoh kekuatan saktinya.
Akibatnya, tubuh Senapati Marganta terlempar mun-
dur, tak sanggup mempertahankan kuda-kudanya
yang memang dalam posisi lemah itu.
"Bangsat...!" umpat Senapati Marganta yang ru-
panya masih dapat menyelamatkan tubuhnya dengan
melakukan tiga kali salto di udara.


Pendekar Naga Putih 56 Pembunuh Bayaran di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Panji sendiri saat itu sudah tidak peduli lagi dengan korban pukulannya.
Sepasang tangannya bergerak cepat membagi-bagikan pukulan kepada para prajurit
dan perwira yang mencoba mencegahnya. Akibatnya,
para pengepung itu berpelantingan ke sana-sini. Bahkan beberapa di antara mereka
ada yang langsung te-
was dengan kulit tubuh membiru.
"Ahhh..."!"
Tanpa mempedulikan teriakan-teriakan Senapati
Marganta agar mencegah kepergian pemuda itu, para
prajurit yang dilabrak Panji bergerak mundur. Dengan demikian, jalan lolos bagi
pemuda itu semakin terbuka lebar. Kesempatan itu tidak disia-siakan Panji.
Tubuhnya langsung melesat dengan kecepatan yang sukar ditangkap mata, lalu terus
menghilang di kegelapan malam.
"Kejaaar...!"
Melihat Panji berhasil lolos dari kepungan, segera
saja Senapati Marganta memerintahkan para prajurit-
nya untuk melakukan pengejaran.
Para prajurit itu sesaat kelihatan ragu-ragu. Mereka sadar, untuk melakukan
pengejaran terhadap seorang
tokoh sakti seperti Pendekar Naga Putih, tentu saja akan sia-sia. Ilmu lari
cepat pemuda itu tidak mungkin dapat ditandingi.
Senapati Marganta yang dapat membaca pikiran
anak buahnya, segera memerintah untuk menyiapkan
kuda. Dengan kuda-kuda itulah, pengejaran akan di-
lakukan terhadap Pendekar Naga Putih.
*** Panji terus berlari menerobos kegelapan malam. Un-
tunglah bulan bersinar penuh, sehingga dia tidak
mengalami kesulitan yang berarti, meski harus mele-
wati perkebunan dan hutan-hutan kecil. Pendekar Na-
ga Putih berniat menjauhi Kadipaten Balaraja untuk
sementara waktu. Sementara telinganya samar-samar
menangkap derap kaki kuda di belakangnya.
"Rupanya mereka benar-benar menginginkan kema-
tianku. Benarkah Raja Racun Kelabang telah mening-
gal" Lalu, siapa pembunuh misterius yang mengguna-
kan 'Racun Kelabang Hijau' untuk membunuh ketiga
orang itu" Hhh.... Tidak kusangka kalau persoalannya semakin bertambah
rumit...," desah Panji sambil terus berlari menjauhi Kota Kadipaten Balaraja.
Meskipun demikian, pemuda itu sama sekali tidak merasa jera.
Tekadnya sudah bulat untuk mengungkap misteri itu.
Ketika pagi muncul menggantikan tugas sang Ma-
lam, Panji menghentikan larinya di tepian sungai bera-rus deras. Setelah
membasuh wajahnya dengan air
sungai yang bening dan menyegarkan itu, Panji duduk beristirahat pada sebuah
batu di tepi sungai.
Pendekar Naga Putih termenung memikirkan cara
memulai kembali penyelidikannya. Untuk kembali ke
Kadipaten Balaraja jelas tidak mungkin. Di sana di-
rinya akan mendapatkan kebencian dan tuduhan keji.
Tak seorang pun yang dapat diharapkan dapat mem-
berikan keterangan mengenai kejadian-kejadian itu.
Satu-satunya jalan, harus mencari
Raja Racun Kelabang. Jika benar tokoh itu telah
tiada, berarti dia harus memulai segalanya dari awal.
Setelah hatinya mantap mengambil keputusan,
Panji bangkit. Seingatnya, Raja Racun Kelabang tinggal cukup jauh dari Kadipaten
Balaraja. Tepatnya di daerah Pegunungan Gedang. Ke tempat itulah tujuannya,
untuk mengungkapkan misteri yang masih sangat ge-
lap baginya. Dengan kepandaian yang tinggi, Panji dapat mem-
persingkat waktu perjalanan. Pada pagi hari berikutnya, Pendekar Naga Putih
sudah menjejakkan kakinya
di daerah Pegunungan Gedang.
Hawa yang segar dan pemandangan pegunungan di
pagi hari yang indah, membuat pemuda itu menghen-
tikan langkah sesaat. Tubuhnya berdiri tegak, menik-mati keindahan alam dan
keagungan sang Pencipta.
Kemudian tubuhnya bergerak lagi untuk menyeberangi
sungai selebar tiga tombak, yang membelah jalan me-
nuju kaki Gunung Gedang.
Tapi, baru beberapa tindak kakinya menginjak kaki
gunung itu, langkahnya dihentikan. Di depannya terlihat tiga sosok tubuh
menghadang perjalanannya. Setelah saling bertatapan sejenak, Panji bergerak
mendekati ketiga orang bertampang kasar itu. Mungkin ketiga lelaki kasar itu
adalah murid Raja Racun Kelabang, pikir Panji.
"Maaf, Kisanak. Dapatkah kalian menunjukkan
tempat tinggal Raja Racun Kelabang...?" tanya Panji dengan senyum ramah dan
tubuh sedikit membungkuk, sebagai tanda penghormatan kepada ketiga orang itu.
"Kaukah yang berjuluk Pendekar Naga Putih...?"
Bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan
Panji, salah seorang dari mereka malah balik bertanya.
Nadanya pun sama sekali tidak menujukkan sikap
bersahabat. Bahkan ada nada sinis dalam pertanyaan
itu. Panji tidak segera menjawab pertanyaan orang tadi, yang berwajah persegi
empat dengan tarikan bibir me-nyunggingkan senyum mengejek. Mata pemuda itu
merayapi wajah ketiga penghadangnya, tetap dengan
sikap ramah dan tersenyum.
"Benar. Akulah yang dijuluki sebagai Pendekar Naga
Putih. Siapakah kalian" Apa kalian bertiga memang
sengaja hendak menghadang perjalananku...?" tanya
Panji setelah memberikan jawaban pasti kepada ketiga
lelaki bertampang kasar itu.
"Kalau begitu, kau harus mati...!" desis lelaki berwajah persegi yang langsung
saja meloloskan sepasang
pedang dari punggungnya. Demikian juga dengan dua
orang yang lain.
"Hm ... Tepat dugaanku. Kalian jelas sengaja hen-
dak menghalangi perjalananku," ujar Panji lagi yang mulai bersiaga ketika
melihat ketiga orang itu merenggang membentuk kepungan dari tiga penjuru. "Sein-
gatku kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Entah
persoalan apa yang membuat kalian hendak mele-
nyapkanku... ?"
Tak satu pun dari mereka menanggapi ucapan Pan-
ji. Mereka terus bergerak memutar, mengelilingi tubuh pemuda berjubah putih itu.
Dan.... "Haaat..!"
Lelaki berwajah persegi yang bibirnya selalu mem-
bentuk senyum mengejek itu, langsung membuka se-
rangan dengan tebasan sepasang pedang. Kemudian
disusul oleh dua orang lainnya berturut-turut.
Bettt! Bettt! Panji merunduk saat sepasang pedang lawan berge-
rak mengancam leher dan dadanya. Dari posisi miring, tubuhnya bergerak ke depan
dengan langkah panjang,
lalu sepasang tangannya bergerak hendak mendorong
tubuh lawan. "Yaaat..!"
Panji terpaksa menarik kedua lengannya, karena
saat itu ada mata pedang lain yang datang mengancam kedua lengannya itu. Dan....
"Haiiit..!"
Dengan sebuah gerak berputar yang cepat, Pende-
kar Naga Putih langsung mengirimkan sebuah tendan-
gan keras yang telak menghantam perut lawan di ki-
rinya. Bukkk! "Hugkh...!"
Tanpa ampun lagi, lelaki kurus yang menyerang da-
ri sebelah kiri itu langsung jatuh terguling-guling ke belakang. Tendangan yang
keras itu membuatnya memuntahkan darah segar. Dan tidak mampu bangkit
untuk beberapa saat lamanya.
Lelaki berwajah persegi yang sepertinya menjadi
pemimpin mereka, kembali mencecar Panji dengan ke-
lebatan sepasang pedangnya. Bahkan satu lawan yang
lain pun, sudah ikut menyerbu. Untuk sementara Panji hanya mengandalkan
kelincahan tubuh untuk mengelak. Pemuda itu ingin meneliti gerak lawan agar
dapat mengenali asal aliran ketiga orang itu.
"Heaaah...!"
Setelah cukup lama bertarung, dan belum bisa
mengetahui sumber ilmu silat lawan, Pendekar Naga
Putih mulai melancarkan serangan. Sekali tangannya
bergerak, tubuh seorang lawan terbanting jatuh, me-
muntahkan darah segar. Sedang yang seorang lagi me-
luncur terkena tamparan kerasnya. Sehingga, kedua
lawannya jatuh berdebuk di tanah.
"Yeaaah...!"
Lelaki bertubuh kurus yang tadi terkena tendangan
Panji, sudah bangkit kembali. Dia berniat membokong Pendekar Naga Putih dengan
tusukan pedangnya.
Sayang maksud busuknya itu gagal. Panji yang men-
dengar teriakan dan desingan senjata, langsung saja membungkuk. Dengan kuda-kuda
miring, dikirimkannya tusukan jari tangan kanan.
Akibatnya, tubuh lelaki curang itu terjajar mundur
dengan wajah merah padam menahan sakit. Pedang-
nya terpaksa dilepaskan karena sepasang tangannya
sibuk mendekap perut. Tampak darah segar merembes
keluar dari sela-sela jarinya. Sebentar kemudian, tubuhnya ambruk ke tanah.
Nyawanya melayang saat itu
juga. "Ahhh..."!"
Dua orang lainnya menjadi terkejut bukan main.
Tidak mereka sangka kalau pemuda tampan yang
usianya masih sangat muda itu dapat merobohkan sa-
lah satu dari mereka dengan mudah. Kenyataan itu
membuktikan kalau Pendekar Naga Putih memang
memiliki kesaktian yang menggetarkan.
"Jika kalian tidak ingin mengalami nasib serupa,
cepat katakan, mengapa kalian memusuhiku tanpa
alasan" Kalau tidak, nasib kalian mungkin akan lebih buruk dari kawan kalian
itu...!" ancam Panji dengan suara yang menggetarkan hati kedua orang itu.
Untuk beberapa saat lamanya, kedua orang itu ber-
tukar pandang dengan wajah agak pucat. Lalu, kedua-
nya sama-sama mengangguk bersepakat. Tiba-tiba....
"Haaat...!"
Kedua orang itu tampaknya lebih suka mati di tan-
gan Panji. Dengan sisa-sisa kemampuan, mereka me-
nerjang Pendekar Naga Putih bagaikan sepasang ban-
teng luka. "Keras kepala...!" maki Panji melihat kebandelan
kedua lawannya. Pemuda itu sadar kalau dia harus
bertindak sedikit kejam untuk mengorek keterangan
dari orang-orang itu.
Bettt...! Ketika tebasan pedang lawan datang, Panji sama
sekali tidak menghindar. Dengan kekuatan tenaga saktinya, pemuda itu menahan
sabetan pedang lawan pa-
da tubuhnya. Trakkk! "Ahhh..."!"
Terdengar derak benda patah, ketika mata pedang
itu berbenturan dengan tubuh Pendekar Naga Putih.
Hal yang dianggap mustahil itu membuat lawannya
terperangah. Sehingga, dengan mudah Panji menceng-
keram batang leher lawan dengan jari tangan kanan-
nya. "Hmhhh...!" sambil mendengus kasar, Pendekar Na-
ga Putih menghentakkan tangannya ke atas. Sehingga, tubuh lawan terangkat naik
dari atas tanah.
"Aaa...!"
Lelaki bertubuh sedang itu berteriak parau. Tenggo-
rokannya dirasa seperti terjepit benda yang amat kuat Wajahnya memerah, dan
sepasang matanya terbeliak
hampir melompat ke luar.
"Ekhhh...!"
Sekali menggerakkan jari-jari tangannya, remuklah
batang leher lelaki kasar itu. Kemudian, mayatnya dihempaskan ke tanah begitu
saja, membuat lawan yang
tinggal seorang lagi menjadi semakin pucat ketakutan.
"Kau akan mengalami nasib yang jauh lebih menge-
rikan apabila tidak mau menjawab pertanyaanku ta-
di...!" ancam Panji seraya melangkah perlahan.
Sementara, lelaki berwajah persegi itu bergerak
mundur. Keberaniannya telah terbang melihat cara
Pendekar Naga Putih meremukkan batang leher ka-
wannya. Plakkk! "Akh...!"
Dengan kecepatan yang sukar diikuti mata, tubuh
Pendekar Naga Putih melesat ke depan. Tahu-tahu saja wajah lelaki itu telah
tertampar keras, membuat tubuhnya terpelanting.
"Katakan! Mengapa kau hendak membunuhku" Ka-
lau tidak, aku akan menyiksamu habis-habisan...!" ancam Panji lagi. Hatinya
merasa jengkel karena tanpa sebab yang jelas orang-orang itu menghendaki
kematiannya. "Kami..., kami hanyalah orang-orang bayaran. Kami
akan menerima bayaran yang besar apabila dapat me-
lenyapkanmu," akhirnya lelaki berwajah persegi itu
terpaksa mengakui.
"Hm.... Dari mana kau tahu aku berada di tempat
ini...?" desak Panji lagi, tetap dengan langkah lambat, menghampiri lawannya
yang sudah kehilangan keberanian itu.
"Orang..., yang membayar kami yang memberitahu
kalau kau mungkin menuju tempat ini...," jawab lelaki itu lagi. Tubuhnya kini
terduduk, karena kedua kakinya tidak kuat lagi menyangga berat tubuhnya. Je-
las, tatapan sepasang mata Panji yang mencorong
menggetarkan jantung telah membuat lawannya seolah
lumpuh. "Siapa orang yang membayarmu untuk melakukan
perbuatan ini?" desak Panji, lagi semakin mendekati sasarannya.
"Dia adalah. .."
"Aaa...!"
Belum lagi lelaki berwajah persegi itu mengatakan
nama orang yang membayarnya untuk membunuh
Panji, tiba-tiba dari lereng gunung terdengar jeritan panjang. Serentak keduanya
menoleh ke lereng Gunung Gedang.
"Ahhh..."!"
Terkejut bukan main hati Pendekar Naga Putih ke-
tika sepasang bola matanya menangkap sesosok tubuh
kurus menggelinding ke bawah dengan deras. Jelas


Pendekar Naga Putih 56 Pembunuh Bayaran di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang itu terjatuh. Lereng Gunung Gedang memang
terlihat agak licin. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Panji segera melesat untuk
menolong orang itu.
Melihat Pendekar Naga Putih lupa kepadanya, lelaki
berwajah persegi itu langsung mengambil langkah se-
ribu. Kabur! *** 8 Panji yang mendengar suara orang berlari di bela-
kangnya, terpaksa menghentikan langkahnya. Betapa
terkejutnya pemuda itu ketika melihat buronannya
melarikan diri. Terjadilah pertentangan di hatinya, antara menyelamatkan orang
yang terjatuh, atau me-
nangkap tawanan yang sangat berarti baginya itu.
Dengan berpikir kalau sosok lelaki kurus yang terjatuh itu kemungkinan besar
tewas dan tidak mungkin
tertolong, maka Panji mengambil keputusan untuk
mengejar lelaki berwajah persegi yang hampir membe-
rikan keterangan penting kepadanya.
"Haiiit...!"
Dibarengi sebuah teriakan nyaring, tubuh Pendekar
Naga Putih melesat ke depan, lalu melambung tinggi
melewati kepala lawannya. Kakinya menjejak ringan
setelah berputaran beberapa kali di udara.
"Ahhh..."!"
Bukan main terkejutnya hati lelaki berwajah persegi itu ketika Pendekar Naga
Putih tiba-tiba saja berdiri tegak beberapa langkah di depannya.
"Hm.... Kau hendak melarikan diri rupanya...," den-
gus Panji dengan sorot mata yang menggetarkan jan-
tung. Secepat kilat tangannya menotok jalan darah buruannya. Dan, tubuh lelaki
itu pun menggeloso ke ta-
nah bagai sehelai karung basah.
Setelah melumpuhkan buruannya, Panji melesat
kembali dengan maksud melihat orang yang terjatuh
barusan. Ketika menemukan seorang kakek-kakek ter-
duduk di dekat semak dengan napas satu-satu, Panji
mendekatinya. "Anak Muda...., tolonglah aku...," suara kakek itu
demikian lemah.
Hal itu membuat Panji menjadi iba. Dan tanpa curi-
ga sedikit pun, kakek itu didekatinya dengan maksud untuk menolong.
Ketika tiba di depan kakek itu, Panji berjongkok untuk memeriksa luka-luka yang
dideritanya. Tapi..., ba-ru saja mengulurkan tangan untuk memeriksa, tiba-
tiba.... "Heaaah...!"
Kakek itu membentak sambil mendorong sepasang
telapak tangan ke depan. Karuan saja Panji terkejut setengah mati. Dia terlambat
menyadarinya. Akibatnya, tidak bisa menghindar dari serangan licik itu.
Dan.... Desss...! "Aaargh...!"
Tanpa ampun lagi, tubuh Pendekar Naga Putih ter-
lempar deras sejauh tiga tombak lebih, kemudian terguling-guling lebih dari satu
setengah tombak. Pukulan licik yang mengandung kekuatan hebat itu, mem-
buat mulutnya memuntahkan darah segar. Wajah Pan-
ji pucat seketika. Untunglah tenaga saktinya sedikit melindungi tubuhnya, meski
agak terlambat. Kalau tidak, mungkin dada pendekar muda itu sudah remuk
akibat pukulan yang luar biasa itu.
"Uhukkk! Uhukkk...!"
Panji terbatuk hebat dengan tubuh terbungkuk-
bungkuk. Darah segar kembali menetes dari mulutnya.
Tubuhnya terasa lemas, ditambah rasa gatal yang me-
nyerang bagian dalam dadanya. Sadarlah Panji kalau
pukulan itu mengandung racun ganas.
Sadar jika dibiarkan berlarut-larut racun itu akan
segera menjalar, Panji segera memusatkan pikiran. Dikerahkannya 'Tenaga Sakti
Inti Panas Bumi' sebagai
penjelmaan dari Pedang Naga Langit yang sanggup
menawarkan jenis racun terkuat sekalipun.
Tidak berapa lama kemudian, tubuh pemuda berju-
bah putih itu bergetar hebat. Butiran keringat sebesar biji jagung bersembulan
di wajahnya. Lapisan sinar
kuning keemasan menyusul muncul, menebarkan ha-
wa panas luar biasa dalam jarak satu tombak
"Gila...! Apa yang terjadi dengan pemuda itu"! Ke-
kuatan apa yang dimilikinya" Benarkah dugaanku ka-
lau lapisan sinar kuning keemasan itu tengah memba-
kar racun pukulanku" Kalau benar demikian, jelas
pemuda itu benar-benar sangat sakti! Aku jadi ragu
untuk dapat menundukkannya...," desis kakek bertu-
buh tinggi kurus yang rupanya hanya berpura-pura jatuh dari lereng gunung untuk
menjebak Panji. Niat li-ciknya itu memang berhasil baik.
"Huakhhh...!"
Seiring dengan lenyapnya sinar kuning keemasan
berhawa panas itu, Panji memuntahkan segumpal da-
rah kental kehitaman. Setelah itu, tubuhnya terasa
ringan kembali, dan kepalanya tidak lagi berdenyut-
denyut. Bahkan rasa gatal di dadanya lenyap tanpa
bekas. Jelas, racun di tubuhnya telah berhasil dipu-nahkan.
"Kau benar-benar seorang pemuda yang luar biasa,
Pendekar Naga Putih. Betapa bangga hatiku sean-
dainya kita bisa berkawan dan melenyapkan permu-
suhan. Maafkan tindakanku barusan. Aku hanya ber-
maksud mengujimu. Apa yang terjadi barusan meru-
pakan peringatan sekaligus pengalaman buatmu, agar
lain kali bisa lebih hati-hati...," ujar kakek bertubuh tinggi kurus itu,
menyembunyikan kelicikannya.
"Pukulanmu benar-benar hebat dan jahat, Kek.
Tentu saja aku tidak akan menolak uluran persahaba-
tanmu, meskipun kau hampir saja membuatku tewas.
Tapi, sebelumnya kau harus menjawab pertanyaanku.
Siapa sebenarnya dirimu" Kalau kita belum saling
kenal, mana mungkin dapat menjadi sahabat..?" tim-
pal Panji yang kali ini bersikap penuh kewaspadaan.
Dia berusaha mengulur waktu dengan basa-basi itu,
agar tubuhnya yang masih lemah dan kekuatannya
yang berkurang dapat kembali pulih.
"He he he...! Mengapa kau masih berpura-pura,
Pendekar Naga Putih. Aku sudah tahu tujuanmu da-
tang ke Gunung Gedang ini. Nah! Sekarang kau telah
berhadapan dengan penghuninya. Apa maksudmu
mencariku, Pendekar Naga Putih...?" tanya kakek itu.
Secara tidak langsung, mengakui dirinya sebagai Raja Racun Kelabang yang hendak
dijumpai Panji.
"Hm.... Jadi kau yang berjuluk Raja Racun Kela-
bang...?" ujar Panji, meminta ketegasan.
"Benar. Akulah yang berjuluk Raja Racun Kelabang.
Nah, apa yang kau inginkan dariku...?" tanya kakek itu lagi sambil menatap Panji
dengan pandangan menyelidik tajam.
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, bolehkah
aku mengetahui bagaimana kau dapat menduga mak-
sudku datang ke tempat ini" Mungkinkah ada seseo-
rang yang mengabarkannya kepadamu...?" tanya Panji
bernada menyelidik.
Wajar saja kalau Pendekar Naga Putih bertanya de-
mikian. Sebab, menurutnya tak seorang pun tahu ten-
tang kedatangannya ke Gunung Gedang. Lalu, bagai-
mana ketiga penghadang yang telah dilumpuhkannya
itu bisa mengetahui kalau dia datang ke tempat ini"
Bagaimana pula Raja Racun Kelabang bisa menebak
maksud kedatangannya" Tentu saja semua pertanyaan
itu sangat sulit dijawab Panji.
"He he he...! Tidak perlu aku menyembunyikan se-
mua apa yang ku tahu, Pendekar Naga Putih. Aku su-
dah mendengar tentang tewasnya Tiga Setan Lembah
Mayat di Hutan Pancawarna. Dan, ketiga orang yang
kuketahui sebagai pembunuh bayaran itu, tewas oleh
'Racun Kelabang Hijau', bukan" Sedangkan aku belum
pernah meninggalkan tempat ini. Jelasnya, ada seseorang yang hendak memfitnah
dan menjatuhkan nama
besarku. Bagaimana pendapatmu, Pendekar Naga Pu-
tih...?" tanya Raja Racun Kelabang menjelaskan apa
yang diketahuinya.
Mendengar ucapan itu Panji langsung tertegun.
Dengan adanya penjelasan itu, berarti dia telah gagal untuk menemukan petunjuk.
"Ah, sebentar...!" Panji tersentak ketika ingat pada lelaki berwajah persegi
yang dilumpuhkannya tadi
Dengan agak tergesa, Panji membalikkan tubuhnya
untuk membawa tawanannya ke hadapan Raja Racun
Kelabang. "Tunggu...!" sambil berseru, Raja Racun Kelabang
melesat seperti hendak mencegah Panji mendekati ta-
wanannya. "Ada apa, Raja Racun Kelabang" Mengapa kau
mencegahku...?" tegur Panji bernada curiga. Matanya menatap tajam wajah kakek
itu. "Sebaiknya lupakan saja tawananmu itu. Karena
persoalan ini menyangkut nama baikku, biarlah aku
saja yang mengurusnya," pinta Raja Racun Kelabang.
Setelah berkata demikian, kakek itu melangkah men-
dahului Panji. "Tidak. Aku sudah telanjur terlibat ke dalam persoalan ini!" bantah Panji yang
memang belum percaya penuh pada keterangan Raja Racun Kelabang. Biar ba-
gaimanapun, dia harus mempertahankan tawanannya.
Sebab, hanya orang itu yang menjadi kunci jawaban
dari semua peristiwa yang melibatkan namanya.
"Kalau begitu aku terpaksa harus merebutnya dari
tanganmu!" Raja Racun Kelabang tidak mau kalah.
Malah kakek itu tampak tidak ragu-ragu untuk mere-
butnya dengan jalan kekerasan.
"Hm.... Aku akan mempertahankannya dengan ta-
ruhan nyawaku, Raja Racun Kelabang...!" tegas Panji seraya melangkah mundur
beberapa tindak. Pendekar
Naga Putih tahu kalau kakek itu memiliki sifat yang sangat licik. Tentu dia
tidak akan ragu-ragu berbuat curang demi mencapai kemenangan.
"Kurang ajar...!" geram Raja Racun Kelabang.
Langsung saja dilontarkannya serangan kilat sega-
nas serangan ular berbisa. Untung Panji waspada,
membuat serangan Raja Racun Kelabang luput
"Heaaah...!"
Dengan sebuah bentakan keras, Pendekar Naga Pu-
tih melancarkan serangan balasan yang tidak kalah
berbahaya dengan serangan lawan. Kendati tenaganya
belum pulih sepenuhnya, namun hati pemuda itu sa-
ma sekali tidak gentar. Bahkan mampu membuat la-
wannya kerepotan dengan serangkaian serangan maut.
Plak! Plak! Terdengar ledakan keras saat kedua pasang lengan
itu berbenturan. Tubuh keduanya terjajar mundur. Jelas hal itu membuktikan
kekuatan mereka berimbang.
Panji menggeser mundur langkahnya. Kemudian
disiapkannya 'Ilmu Silat Naga Sakti' untuk menghada-pi Raja Racun Kelabang.
Tenaga Pendekar Naga Putih
sebenarnya belum pulih benar, namun berusaha un-
tuk tetap tenang dalam menghadapi lawannya.
"He he he....! Ke mana perginya tenaga sakti mukji-
zat yang kabarnya sangat hebat itu, Pendekar Naga
Putih?" ejek Raja Racun Kelabang yang menyadari ka-
lau kekuatan lawan banyak berkurang akibat pukulan
beracun yang dilontarkan secara licik tadi.
"Hm.... Biar bagaimanapun aku tetap akan berusa-
ha membekukmu, Raja Racun Kelabang...," desis Panji yang membuka jurusnya
kembali dan siap menghadapi
lawan berat itu.
"Haaat...!"
Kali ini Pendekar Naga Putih memulai serangan le-
bih dulu. Sepasang tangannya yang membentuk cakar
naga, bergerak kian kemari dengan menebarkan hawa
dingin menusuk tulang. Sehingga, Raja Racun Kela-
bang tidak berani menganggap enteng kekuatan pe-
muda itu. Bettt! Raja Racun Kelabang menarik mundur tubuhnya
untuk menghindari sambaran cakar naga Panji. Ke-
mudian langsung dibalasnya dengan serangan yang ti-
dak kalah berbahaya. Sebentar saja kedua tokoh sakti itu terlibat dalam
pertarungan sengit yang mendebar-kan.
*** "Yeaaat...!"
Untuk kesekian kalinya, Raja Racun Kelabang men-
cecar lawannya dengan serangkaian serangan maut
Sepasang tangannya seolah berubah menjadi ratusan
banyaknya. Setiap sambaran tangannya selalu diiringi suara mencicit tajam,
pertanda tenaga sakti kakek itu telah mencapai tingkat kesempurnaan. Sehingga,
dalam jurus kesembilan puluh tujuh itu, Panji jadi sibuk menghindari serangan
hebat lawannya.
Dukkk! Plakkk! Terdengar suara benturan keras, membuat udara di
sekitar tempat itu bergetar. Untuk yang kesekian kalinya tubuh kedua tokoh itu
terjajar mundur. Bahkan kali ini Panji terjajar agak jauh akibat tenaga saktinya
yang kian melemah.
Kesempatan baik itu tidak disia-siakan Raja Racun
Kelabang. Diiringi teriakan melengking yang meme-
kakkan telinga, kakek bertubuh tinggi kurus itu melesat bagai sambaran kilat.
Pukulan-pukulannya melun-
cur deras, mengancam tubuh Pendekar Naga Putih.
Panji terpaksa terus melangkah mundur untuk me-
nyelamatkan dirinya. Tapi, untuk menghindar terus
dari serangan lawan ternyata tidak mudah. Mau tak
mau tangannya harus menepiskan beberapa pukulan
lawan yang tidak bisa dihindarinya. Setiap kali lengan mereka berbenturan, tubuh
Panji selalu tergetar mundur. Pada suatu saat....
Desss! "Ughhh...!"
Tubuh Pendekar Naga Putih terpelanting akibat pu-
kulan keras yang mendarat telak di tubuhnya. Darah
segar kembali menetes dari sudut bibirnya. Meski begitu, Panji masih dapat
berguling saat telapak kaki lawan hendak melumatnya.
Derrr...! Terdengar ledakan bagai mengguncangkan bumi ke-


Pendekar Naga Putih 56 Pembunuh Bayaran di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tika telapak kaki Raja Racun Kelabang hanya menjejak tanah kosong. Kalau saja
pemuda itu tak sempat
menghindari gempuran ganas itu, niscaya tubuhnya
akan lumat seketika.
Sadar kalau 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'nya su-
dah tidak mungkin diandalkan untuk menghadapi la-
wan, Pendekar Naga Putih segera memusatkan pikiran
untuk mengeluarkan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi'.
"Aaarkkk....!"
Diawali sebuah pekikan keras, muncullah lapisan
cahaya keemasan yang menebar hawa panas menyen-
gat kulit. Tentu saja Raja Racun Kelabang menjadi terkejut Sungguh tidak
dimengertinya, bagaimana mung-
kin lawan yang sudah kehabisan tenaga itu masih bisa mengerahkan kekuatannya
yang lain"
Raja Racun Kelabang memang tidak bisa memaha-
mi kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Pendekar
Naga Putih. Tenaga yang kali ini digunakan Panji bu-kanlah tenaga yang didapat
dari latihan yang bisa berkurang karena terlalu banyak dikerahkan. Sedangkan
'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi' adalah tenaga gaib jelmaan Pedang Naga Langit,
maka kekuatannya pun ti-
dak akan pernah berkurang. Hanya saja Panji jarang
menggunakannya, kecuali dalam keadaan terpaksa se-
perti sekarang.
"Gila...!" desis Raja Racun Kelabang yang tak habis pikir dengan keanehan itu.
Meskipun demikian, kakek itu sama sekali tidak terlihat gentar. Saat itu juga
tubuhnya melayang ke depan sambil mendorong sepa-
sang telapak tangannya.
Whusss..! Serangkum angin keras disertai bau amis, mengi-
ringi terlepasnya pukulan maut Raja Racun Kelabang!
Melihat kedahsyatan serangan lawan, Panji pun ti-
dak tinggal diam. Segera dikerahkannya tenaga sakti itu ke kedua lengannya.
Kemudian didorongkan ke de-
pan untuk menyambut datangnya serangan lawan.
Dan.... Blarrr...! Bumi di sekitar Gunung Gedang bagai dilanda gem-
pa ketika dua gelombang tenaga sakti yang maha dah-
syat itu berbenturan di udara.
"Aaa...!"
Raja Racun Kelabang menjerit ngeri! Tubuhnya ter-
lempar bagaikan daun kering yang diterbangkan angin, lalu menghantam sebatang
pohon besar yang tumbuh
di tepi sungai. Tubuh Raja Racun Kelabang berikut
pohon itu langsung terjerumus ke dalam sungai.
Panji yang hanya tergetar akibat beradunya tenaga
itu, segera melompat untuk mengejar tubuh Raja Ra-
cun Kelabang yang terbawa arus. Pemuda itu langsung menyambarnya dan
mengangkatnya naik. Hal itu dilakukan karena tokoh itu sangat penting sekali
bagi Panji untuk membersihkan namanya dari tuduhan Sena-
pati Marganta. Sambil membawa tubuh Raja Racun Kelabang yang
pingsan dengan luka dalam yang parah, Pendekar Na-
ga Putih menghampiri lelaki berwajah persegi yang sejak tadi di tinggalnya.
Kemudian, jarinya bergerak untuk membebaskan totokan pada tubuh lelaki itu.
"Nah! Sekarang katakan, siapa yang membayar mu
untuk membunuhku...?" tanya Panji kepada lelaki
yang tampak ketakutan itu.
"Se..., Senapati Marganta...," jawab lelaki itu dengan suara patah-patah.
"Senapati Marganta..."!" seru Panji setengah tak
percaya. Tapi ketika teringat betapa panglima itu sangat in-
gin melenyapkannya, Panji akhirnya dapat memper-
cayai juga. Kini Pendekar Naga Putih mengerti, menga-
pa Tiga Setan Lembah Mayat hendak membunuhnya
pula. Rupanya tiga pembunuh bayaran itu pun dijanjikan imbalan tinggi untuk
melenyapkan dirinya.
"Lalu, mengapa Tiga Setan Lembah Mayat menuduh
Raja Racun Kelabang sebagai pembunuhnya...?" tanya
Panji lagi, agak heran.
"Raja Racun Kelabang adalah guru Senapati Mar-
ganta. Senapati itu hendak menguasai Kadipaten Balaraja dengan bantuan
gurunya...," jelas lelaki itu lagi, membuat Panji mengerti mengapa persoalan itu
jadi demikian rumit. Rupanya orang dalam istana kadipa-
ten itu sendiri yang hendak berkhianat
"Hm.... Kalau begitu, aku juga akan membawamu
ke Kadipaten Balaraja. Kali ini senapati pengkhianat itu akan merasakan akibat
perbuatannya!"
*** Kemunculan Panji di Kota Kadipaten Balaraja den-
gan membawa dua orang tawanan, benar-benar mem-
buat gempar seisi kota itu. Penjaga pintu gerbang
langsung melaporkan kedatangan pemuda itu. Tidak
seorang pun berani mencegah. Apalagi ketika Panji
mengatakan kalau kedua orang yang dibawanya ada-
lah orang-orang yang telah mengacaukan Istana Kadi-
paten Balaraja.
Saat itu kedatangan Panji didampingi oleh kekasih-
nya. Memang, pemuda itu sengaja menjemput Kenanga
sebelum mendatangi kadipaten.
Ketika Panji dan Kenanga yang diiringi puluhan
penduduk kota tiba di depan gerbang istana, puluhan prajurit menghadang dengan
senjata terhunus. Mereka dipimpin oleh Perwira Duranta.
"Pendekar Naga Putih, apa maksudmu memasuki
kadipaten dengan membawa dua orang tawanan itu?"
tegur Perwira Duranta dengan sikap waspada. Jelas
kalau perwira gagah itu masih mencurigai Panji.
"Tuan Perwira, kedua orang ini adalah orang-orang
yang terlibat di dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di istana kadipaten.
Apakah Tuan Perwira tidak kenal dengan kakek ini...?" ujar Panji.
Ditatapnya wajah Perwira Duranta dengan sinar
mata tajam. Dan Pendekar Naga Putih jadi kecewa ke-
tika melihat perwira itu menggelengkan kepala.
"Hm.... Kalau begitu, biar Saranta yang menje-
laskannya," ujar Panji sambil menoleh pada lelaki berwajah persegi, salah
seorang dari pembunuh sewaan
Senapati Marganta yang ditawannya.
Tanpa ragu-ragu lagi, Saranta segera menceritakan
semua yang diketahuinya. Diakuinya kalau dirinya di-bayar untuk membunuh
Pendekar Naga Putih. Dije-
laskannya juga siapa kakek yang berjuluk Raja Racun Kelabang yang dibawa Panji.
Perwira Duranta menjadi terkejut bukan main mendengar semua penjelasan itu.
"Jadi, Senapati Marganta yang menjadi biang keladi
dari semua peristiwa ini"! Tidak kusangka kalau dia mempunyai niat jahat untuk
menguasai kadipaten
ini...," ujar Perwira Duranta yang sejak semula me-
mang tidak percaya kalau Pendekar Naga Putih adalah pelaku semua kejadian itu.
"Tuanku...!"
Perwira Duranta menoleh ketika mendengar suara
panggilan yang ditujukan padanya. Kening lelaki gagah itu berkerut ketika
melihat seorang prajurit berlari menghampirinya.
"Ada apa...?" tanya perwira gagah itu dengan suara
berwibawa. "Kami..., kami menemukan Senapati Marganta te-
was. Dia..., dia bunuh diri, Tuanku...," lapor prajurit yang bertugas menjaga
istana kadipaten itu dengan
napas memburu. Perwira Duranta hanya bisa menghela napas pan-
jang mendengar berita itu. Kemudian memandang Pan-
ji dan Kenanga dengan wajah menyesal.
"Rupanya dia memilih mati daripada dihukum gan-
tung di depan rakyat banyak...," desah Perwira Duran-ta pelan namun terdengar
cukup jelas bagi Panji dan Kenanga.
"Jika demikian, kami mohon diri. Kedua orang ini
kami serahkan untuk diadili," ujar Panji.
Kemudian, diserahkannya Raja Racun Kelabang
dan Saranta kepada perwira gagah itu. Raja Racun Kelabang tampak sudah tidak
berdaya, karena Panji telah melumpuhkan kesaktiannya dengan jalan melumpuhkan
otot besar di kedua bahunya.
Tubuh Panji dan Kenanga tiba-tiba berkelebat cepat
sebelum Perwira Duranta sempat membuka mulut,
bahkan untuk sekadar mengucapkan terima kasih.
"Pendekar Naga Putih benar-benar seorang lelaki
gagah berhati mulia. Dia sama sekali tidak mengha-
rapkan imbalan atas jasa-jasanya, meskipun hanya
sekadar ucapan terima kasih...," gumam Perwira Du-
ranga yang semakin kagum kepada pemuda sakti itu.
Di kejauhan, dua sosok tubuh berlari menuju arah
barat yang telah diwarnai oleh lembayung. Hari tam-
paknya akan bergulir dan terus bergulir, sementara
dua pendekar sejati itu akan terus mengisinya dengan perjuangan untuk
menancapkan bendera kebenaran.
SELESAI Scan by Clickers
Edited By Culan Ode
Pdf By Abu Keisel
http://duniaabukeisel.blogspot.com
https://www.facebook.com/pages/Dunia-
Abu-Keisel/511652568860978
Document Outline
1 *** 2 *** *** 3 *** *** *** 4 *** *** 5 *** *** 6 *** *** 7 *** *** 8 *** *** SELESAI Suramnya Bayang Bayang 1 Pedang Pusaka Buntung Karya T. Nilkas Tiga Dara Pendekar 9
^