Pencarian

Perantauan Ke Tanah India 2

Pendekar Naga Putih 104 Perantauan Ke Tanah India Bagian 2


dikeluarkan dan diberikannya kepada junjungannya.
4 Setelah Sepasang Intan Biru berada di tangan, terburu-buru Raja Godwana
menghampiri Putri Cande Galia.
Wanita cantik ini memang merupakan Putri Raja Siluman, yang bersemayam di balik
air terjun. Tempat itu terletak di salah satu lembah sebelah tenggara Sungai
Indus. Raja Godwana berkenalan dengan Putri Cande Galia sewaktu tengah berburu beberapa
waktu lalu. Seekor kijang betina yang muda dan cantik telah membuatnya tertarik
dan memburunya. Namun ternyata kijang muda yang gesit itu seperti sengaja
mempermainkan, sehingga membuatnya semakin bernafsu dan mengejar. Tanpa disadari
tindakannya telah membuatnya meninggalkan rombongan. Teriakan para pengawal yang
memperingatkannya tidak dipedulikan. Sehingga, para pengawal kehilangan
jejaknya. Saat kijang itu kembali berhenti karena telah tersudut, Raja Godwana buru-buru
menarik tali busur. Tapi belum lagi anak panah dijepretkan, tiba-tiba saja sosok
kijang betina itu berubah menjadi asap. Ketika asap lenyap, tampaklah seorang
putri yang sangat cantik, hingga membuat Raja Godwana ternganga takjub.
" Ghazab (luar biasa)...!" desis Raja Godwana dengan busur masih terentang. "
Tum kise" " Raja Godwana menurunkan busur dan menggosok-gosokkan matanya
beberapa kali. Namun sosok wanita cantik itu masih tetap tersenyum memandangnya.
" Me, Putri Cande Galia," sahut wanita cantik, yang tubuhnya membayang nyata di
balik sutera tipis berwarna putih itu. Sementara senyumnya tetap dipamerkan,
membuat lutut Raja Godwana goyah.
"Putri Bunga Rembulan..." Nama yang indah sekali dan sangat sesuai dengan
orangnya," kata Raja Godwana dalam bisikan lirih. Namun bisikan itu tetap
terdengar jelas oleh Putri Cande Galia, yang memang berarti bunga rembulan.
"Tapi..., mengapa..., mengapa kau... kau...."
"Menjelma dari seekor kijang" Begitukah yang Paduka maksudkan?" kata Putri Cande
Galia seakan ingin menegasi, tanpa melenyapkan senyumnya yang merontokkan
jantung laki-laki. "Paduka tidak perlu heran. Karena, aku adalah Putri Raja
Siluman. Letak istanaku tidak jauh dari hutan ini. Marilah Paduka singgah.
Sebentar lagi, hari gelap.
Sangat berbahaya berada seorang diri di dalam hutan ini, saat hari gelap."
Tentu saja Raja Godwana langsung menerima tawaran yang memang
diharapkannya. Apalagi hatinya memang sudah tertarik dan langsung bertekuk-
lutut, sementara mulutnya siap mengumbar kata cinta. Padahal, usia Raja Godwana
sudah tidak mudalagi. Empat puluh tahun. Tapi, kecantikan dan senyum Putri Cande
Galia telah membuat dirinya merasa masih muda. Tanpa banyak cakap lagi, segera
saja diikutinya Putri Cande Galia.
Lenyapnya Raja Godwana, tentu saja membuat para pengawal kelabakan. Meski hari
telah menjadi gelap, mereka masih terus berusaha mencari. Tapi hasilnya tetap
nihil. Sampai pada keesokan harinya mereka yang nyaris putus asa, menemukan Raja
Godwana tengah membersihkan diri di sungai sambil bersenandung riang. Meskipun
heran, namun para pengawal merasa gembira melihat junjungannya selamat.
Raja Godwana sendiri tidak menceritakan pengalamannya, kecuali kepada dua orang
pengawal setianya. Mahendharata dan Rajmid Singh.
Mahendharata dan Rajmid Singh pula yang mencarikan orang untuk mencari
Sepasang Intan Biru. Karena menurut Raja Godwana, Putri Cande Gali hanya mau
menerima lamaran apabila dibawakan Sepasang Intan Biru.
Maka setelah berhasil memperoleh Sepasang Intan Biru, dengan ditemani
Mahendharata dan Rajmid Singh, Raja Godwana segera menemui Putri Cande Galia
kembali. *** "Aku sudah memberi apa yang menjadi permintaanmu, Dinda Cande Galia. Dan aku
sudah tidak sabar untuk segera memboyongmu ke istana," ujar Raja Godwana,
setelah menyerahkan Sepasang Intan Biru kepada Putri Cande Galia.
"Kanda Paduka Raja Godwana," Putri Cande Galia tersenyum dengan sepasang mata
berbinar. "Aku punn sudah tidak sabar menjadi permaisurimu, Kanda. Tapi Kanda
tahu sendiri, aku belum siap untuk itu. Memang benar, aku berbeda dengan ayahku
maupun rakyat kami. Aku setengah manusia dan setengah siluman, karena ibuku
bangsa manusia. Tapi pengaruh siluman lebih kuat menguasai diriku. Sehingga,
seperti halnya ayahku maupun rakyat kami, aku pun tidak tahan cahaya matahari.
Sampai hatikah Kanda Paduka melihat tubuhku meleleh musnah oleh sengatan
matahari?"
"Tentu saja tidak, Dinda," sahut Raja Godwana, menggelengkan kepalanya.
"Maka bersabarlah. Kanda Paduka," ujar Putri Cande Galia. "Karena sebentar lagi,
aku akan bisa menjadi manusia utuh setelah bertapa dalam rendaman air Sepasang
Intan Biru selama tujuh hari tujuh malam. Nah, sekarang harap Kanda Paduka
kembali saja ke istana. Pada hari kedelapan, pagi-pagi Kanda Paduka silakan
menjemputku. Karena, hari itu tapa yang kujalani telah sempurna. Dan, tidak ada
halangan lagi bagi Kanda untuk memboyongku ke istana."
"Aaah...! Mengapa sampai selama itu, Dinda Cande Galia?" keluh Raja Godwana, tak
sabar. "Tidak bisakah waktunya dipersingkat?"
"Tidak bisa, Kanda Paduka," Putri Cande Galia tersenyum sambil menggeleng lemah.
"Bersabarlah Kanda. Datanglah pada waktu yang telah kujanjikan."
"Jika memang harus demikian, baiklah, Dinda."
Akhirnya Raja Godwana mengalah, meski wajahnya kelihatan sangat kecewa. Lalu
setelah berpamitan, diajaknya pengawal-pengawal setianya untuk meninggalkan
Kerajaan Siluman ini.
*** Sehari setelah kepergian Raja Godwana dan dua orang pengawalnya, Kerajaan
Siluman yang terletak di sebelah tenggara lembah Sungai Indus kembali didatangi
tiga orang lelaki. Mereka tak lain Khar Najad, Raj Badur, dan Raj Sagar.
Khar Najad menghentikan langkah di dekat air terjun diikuti Raj Badur dan Raj
Sagar. Keduanya tidak berusaha mengusik sewaktu melihat Khar Najad sudah
memejamkan kedua mata dengan berdiri tegak. Raj Badur dan Raj Sagar tahu kalau
kakek sakti ini tengah mengerahkan kekuatan batin untuk mengetahui letak yang
pasti Kerajaan Siluman.
Khar Najad memang bukan sembarang kakek. Meskipun tubuhnya pendek kurus, dengan
usia telah mencapai sembilan puluh tahun lebih, tapi tak terlihat lemah. Malah
semakin tangguh dan sukar dicari tandingan. Tertebih dalam hal ilmu batin. Khar
Najad terbilang merupakan dedengkotnya ilmu sihir di Daratan India Selatan.
Begitu pula dalam hal kepandaian silat. Tak heran kalau ia yang mendapat julukan
Mata Elang Iblis, merupakan seorang ahli silat kawakan. Karena, sejak muda
kegemarannya ilmu silat dan ilmu sihir.
Semua kepandaian Khar Najad bukan cuma diperoleh dari satu guru saja. Semasa
masih muda, laki-laki ini tidak pernah merasa puas dengan kepandaiannya. Maka ia
mengembara dan berguru kepada tokoh-tokoh sakti yang ditemui. Dalam usahanya
untuk menambah ilmu, bahkan tidak segan-segan ia merendahkan diri, dengan
menjadi pelayan beberapa tokoh sakti yang dijumpai.
Khar Najad pandai membawa diri. Rajin bekerja dan bertutur sopan. Semua itu
dijalani penuh kesabaran. Dari pengalaman-pengalamannya berhadapan dengan tokoh-
tokoh sakti, ia dapat membedakan mana tokoh yang bisa dimintai petunjuk tanpa
perlu bersusah payah, dan mana yang memerlukan kesabaran.
Dan kesabaran serta ketabahan hatinya, membuahkan hasil yang diharapkan.
Sampai akhirnya setelah ilmunya semakin maju pesat, Khar Najad hanya mau berguru
kepada tokoh yang sanggup mengalahkan kesaktiannya. Perbuatannya yang belakangan
itu, membuat banyak tokoh yang ditantang tewas di tangannya. Tapi meskipun
begitu, ia tetap saja tidak pernah merasa puas. Dan dalam usianya yang telah
sangat tua pun, kepandaiannya masih tetap hendak menambah. Akibatnya, korban
semakin banyak jatuh.
Dan, julukan Mata Elang Iblis bergaung semakin santer. Bahkan menjadi momok
nomor satu, khususnya bagi tokoh-tokoh di daerah bagian India Selatan.
"Hm...."
Suara gumaman, membuat Raj Badur dan Ral Sagar sama-sama memandang
kakek kerdil itu. Napas Khar Najad kelihatan agak sedikit memburu. Ada sedikit
keringat yang menyembul di keningnya. Ada gambaran kelelahan yang samar pada
raut wajahnya. "Istana Siluman tepat berada di balik air terjun itu. Hawa di balik air terjun
itu sangat kuat," jelas Khal Najad, menjawab tatapan Raj Badur dan Raj Sagar.
"Di balik air terjun itu, ada sebuah mulut gua yang merupakan pintu gerbang
menuju Kerajaan Siluman. Sekarang, kalian bersembunyilah. Aku akan mengusili
siluman-siluman itu, agar keluar meninggalkan tempatnya. Dan kalian baru bisa
masuk, setelah mereka ke luar.
Bersiaplah. Dan, tunggu isyarat dariku. Ingat! Tujuan kalian hanya mengambil
Cermin Ajaib! Apa pun yang akan kalian temukan di dalam, jangan terkecoh.
Kecuali Cermin Ajaib, lupakan semua yang dijumpai di dalam sana. Jika melanggar
pesanku, kalian tidak akan bisa keluar lagi dari tempat itu. Camkan pesanku
baik-baik!"
Raj Badur dan Raj Sagar mengangguk, lalu bergegas menyembunyikan diri di tempat
yang ditunjuk Khar Najad. Dari kejauhan, mereka menunggu isyarat Khar Najad yang
sudah duduk bersila dengan mata terpejam rapat.
Dan beberapa saat kemudian, tubuh Khar Najad tampak bergerak ke kiri-kanan.
Mula-mula perlahan, namun semakin lama bertambah cepat. Bahkan sampai terlompat-
lompat hingga bergeser dari tempat duduknya semula. Sementara selebar wajahnya
mulai dibasahi butir-butir keringat.
Kendati tidak tahu secara pasti, namun Raj Badur dan Raj Sagar maklum kalau saat
itu Khar Najad tengah melakukan pertarungan batin dengan penghuni Kerajaan
Siluman di balik air terjun itu.
*** Apa yang dilakukan Khar Najad, membuat rakyat Kerajaan Siluman yang berada di
balik air terjun menjadi kelabakan. Serangan gaib ini membuat mereka merasa
kepanasan. Keadaan ini membuat suasana di dalam Kerajaan Siluman menjadi kalang-kabut,
sukar dikendalikan. Masing-masing berebutan untuk keluar dari tempat itu, karena
merasa tidak tahan dengan hawa yang dirasakan semakin menggila. Sebagian berlari
ke bagian belakang, menggunakan pintu gerbang darurat. Sementara sebagian
lainnya menuju air terjun, yang merupakan pintu gerbang utama Kerajaan Siluman.
Putri Cande Galia sendiri yang semula tengah bersemadi di dalam kamar khusus,
merasa terkejut dengan perubahan udara yang tiba-tiba menjadi panas. Meskipun
bagi dirinya pengaruh serangan hawa panas itu tidak terlalu menyiksa, namun
kekacauan yang terjadi membuatnya terpaksa menghentikan semadi. Kemudian
bergegas ia keluar untuk melihat keadaan rakyatnya.
"Kurang ajar...!" desis Putri Cande Galia geram ketika melihat keadaan rakyatnya
yang sudah sangat sulit dikendalikan. "Pasti ada yang tidak beres! Heran! Siapa
yang berani mati mengganggu ketenteraman negeriku?"
Putri Cande Galia maklum, hawa panas itu bukan sewajarnya. Naluri silumannya
bisa merasakan, bahwa hawa panas itu berasal dari mantera-mantera sakti yang
sanggup melumpuhkan kekuatan Bangsa Siluman. Maka kekuatan silumannya segera
digunakan untuk melenyapkan diri. Sebentar saja tubuhnya telah lenyap, berganti
menjadi gulungan asap tebal berwarna merah muda, menebarkan bau harum bunga-
bunga. Kemudian, tahu-tahu muncul di hadapan Khar Najad yang tentu saja langsung
merasakan kehadiran Putri Cande Galia di dekatnya.
Sementara, di tempat persembunyian, mata Raj Badur dan Raj Sagar sampai
terbelalak lebar-lebar sewaktu melihat adanya asap harum berwarna merah muda
yang tahu-tahu muncul di hadapan Khar Najad. Dan mereka semakin terbeliak,
sewaktu menyaksikan gumpalan asap itu lenyap, berganti sesosok tubuh molek
terbungkus sutera tipis berwarna putih, yang diyakini pasti memiliki paras
cantik. "Hei, Kakek Tua bangsa manusia! Mengapa kau mengusik ketenteraman negeriku"
Bukankah kami tidak pernah mengusik-usik bangsamu?" tegur Putri Cande Galia
begitu sosoknya sudah sangat jelas. Padahal, suasana malam itu cuma diterangi
cahaya bulan separuh. Namun itu sudah cukup menerangi wajah cantik menggiurkan
Putri Cande Galia.
"Hm... aku memaksamu keluar hanya ingin melihat, seperti apa cantiknya putri
Raja Siluman" Bukankah menurut dongeng secantik-cantiknya wanita bangsa manusia,
sejelek-jeleknya putri bangsa siluman" Tapi yang kulihat cuma satu. Mana putri-
putri siluman lainnya?" sahut Khar Najad yang sudah membuka kedua mata.
Dipandangnya sosok Putri Cande Galia penuh perhatian. Sementara tongkatnya
diangkat tinggi-tinggi dan diputarnya membentuk sebuah lingkaran.
Putri Cande Galia yang tidak tahu makna gerakan tongkat Khar Najad, mengira itu
merupakan sebuah serangan. Maka, buru-buru langkahnya digeser dengan sikap
waspada, siap memberi perlawanan. Padahal gerakan Khar Najad merupakan isyarat
bagi Raj Badur dan Raj Sagar untuk segera memasuki Kerajaan Siluman. Karena
dengan menggunakan mata batinnya, kakek kerdil ini bisa melihat kalau Kerajaan
Siluman yang terdapat di balik air terjun itu telah ditinggalkan penghuninya.
Tapi Putri Cande Galia, yang membaui adanya manusia lain di sekitar tempat itu
merasakan adanya gerakan di belakangnya. Sayang sebelum tubuhnya sempat berputar
Khar Najad berseru. Bahkan langsung melancarkan serangan dengan mulut berkemak-
kemik merapal mantera.
"Jahat sekali kau, Kakek bangsa manusia...!" dengus Putri Cande Galia gusar.
Untung dalam diri wanita cantik itu ada unsur manusia. Sehingga, mantera yang
digunakan Khar Najad tidak terlalu berpengaruh terhadapnya. Dan ini membuat
kakek kerdil itu sempat merasa heran, ia sama sekali tidak tahu kalau wanita
cantik yang dihadapinya adalah setengah manusia dan setengah siluman.
"Hm.... Rupanya kau memiliki penangkal mantera-manteraku, Putri Siluman!" desis
Khar Najad seraya mempersiapkan mantera-mantera yang lebih ampuh lagi.
"Percuma kau hambur-hamburkan mantera tengikmu, Kakek Bangsa Manusia,"
leceh Putri Cande Galia tersenyum mengejek, membuat Khar Najad kembali melengak
kaget. Kakek sakti itu hampir tidak percaya dengan apa yang disaksikannya, karena tahu
betul kalau mantera-mantera yang dirapalnya akan sanggup menghanguskan siluman
setangguh apa pun! Namun nyatanya terhadap Putri Cande Galia tidak berarti apa-
apa! Hanya sekujur tubuh wanita siluman itu saja yang dibaluri warna merah. Sosoknya
sendiri sama sekali tidak lebur, seperti apa yang dibayangkan Khar Najad. Malah,
kakek kerdil itu terpaksa harus menghindarkan diri dari serangan balasan yang
dilancarkan Putri Cande Galia. Whuuusss!
Serangan berupa larikan cahaya kemerahan yang dihembuskan dari mulut Putri Cande
Galia menghanguskan sebatang pohon yang berada satu setengah tombak di belakang
Khar Najad. Sedangkan kakek itu sudah berkelebat ke samping, lalu kembali tegak
sambil memikirkan serangan berikut.
Putri Cande Galia memang sengaja tidak mau membuka rahasia dirinya yang setengah
manusia. Sebab dimaklumi kalau kakek bangsa manusia yang dihadapinya adalah
seorang lawan yang sangat tangguh dan berbahaya.
*** Sementara itu, Raj Badur dan Raj Sagar yang telah masuk ke dalam alam siluman
bergegas berpencar menggeledah seluruh ruangan dan kamar-kamar istana untuk
mencari Cermin Ajaib. Tapi, benda keramat ynng menurut Khar Najad tidak mudah
untuk diperoleh, ternyata juga tidak mudah ditemukan.
"Keparat! Di mana Cermin Ajaib itu disembunyikan!" umpat Raj Sagar mengumpat,
menumpahkan kejengkelan hatinya sewaktu bergabung kembali dengan Raj Badur yang
juga belum menemukan Cermin Ajaib itu.
"Ya! Aku sudah tidak tahan berada lama-lama di alam siluman, yang menyeramkan
ini. Sejak memasuki tempat ini, bulu tengkukku terus-menerus berdiri. Hawa dan
suasananya benar-benar membuatku bergidik," ungkap Raj Badur mengutarakan apa
yang dirasakannya.
Dan lelaki ini semakin tak sabar untuk segera menemukan Cermin Ajaib, yang ciri-
cirinya telah ditunjukkan Khar Najad. Tapi dari sekian banyak cermin dalam
istana ini, tak satu pun yang sama dengan apa yang digambarkan Khar Najad.
"Jangan-jangan benda itu memang hanya ada di alam dongeng saja, Raj Badur,"
duga Raj Sagar, mengungkapkan pikiran yang saat itu melintas di benaknya.
"Tidak mungkin, Raj Sagar!" sanggah Raj Badur, menggeleng kuat-kuat. "Kau tahu
sendiri kalau dalam alam siluman banyak tersimpan teka-teki yang mustahil bagi
manusia. Kecuali itu, kalau memang Cermin Ajaib tidak benar-benar ada, mana mungkin Khar Najad mau bersusah-
payah membantu kita?"
"Benar juga, ya," Raj Sagar menganggukkan kepala berulang-ulang. Sementara
kerutan di keningnya semakin nyata. "Tapi kita harus hati-hati, Raj Badur. Siapa
tahu setelah Cermin Ajaib itu diperoleh, Khar Najad malah akan membunuh kita.
Ingat pengalaman di istana Raja Godwana!"
"Aku pun tidak percaya terhadap manusia itu, Raj Sagar," ungkap Raj Badur, juga
mengutarakan perasaannya yang tidak berbeda. "Tapi apa daya kita" Kalaupun
Cermin Ajaib didapatkan dan kita bawa lari, bagaimana cara menggunakannya"
Jelasnya, tidak ada jalan lain bagi kita, kecuali bersikap hati-hati agar tidak
lagi dicurangi orang."
Raj Sagar juga maklum. Tidak ada jalan lain bagi mereka berdua, kecuali menuruti
segala apa yang dikatakan dan diperintahkan Khar Najad. Karena tanpa bantuan


Pendekar Naga Putih 104 Perantauan Ke Tanah India di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kakek kerdil itu memperoleh Cermin Ajaib pun tidak akan ada gunanya bagi mereka.
"Ayo, kita cari lagi, Raj Sagar!"
Raj Sagar tersentak dari lamunan. Setelah mengangguk, mereka kembali berpisah.
Mereka langsung memeriksa ruangan-ruangan dan kamar-kamar lain dengan lebih
teliti. 5 Setelah benar-benar sadar kalau mantera-mantera yang digunakan tidak
berpengaruh bagi Putri Cande Galia, Khar Najad mulai merubah cara bertarungnya!
Kini dicobanya untuk menyerang dengan menggabungkan mantera ilmu sihir dengan
ilmu silat. Akibatnya Putri Cande Galia menjadi terkejut bukan kepalang. Serangan mantera
sihir yang disatukan dengan ilmu silat, benar-benar membuat hatinya bergetar.
Mantera itu telah membuat Putri Cande Galia kehilangan separuh tenaganya. Dan
dalam keadaan demikian, Khar Najad langsung menyusuli dengan serangan-serangan
mengandung kekuatan dahsyat. Sehingga, beberapa kali Putri Cande Galia nyaris
menjadi sasaran serangan maut.
"Jahanam keparat kau, Kakek Bangsa Manusia...!" rutuk Putri Cande Galia dengan
napas tersenggal, karena dipaksa berlompatan menyelamatkan diri. "Kaulah yang
memulai. Dan kau harus membayar mahal kelancanganmu!"
Sehabis berkata demikian, mendadak saja tubuh wanita cantik ini lenyap dari
pandangan, berubah menjadi gumpalan asap berwarna merah muda, yang kemudian
sirna tanpa bekas!
"Ha ha ha...!"
Tapi, perbuatan itu justru malah membuat Khar Najad tertawa berkakakan.
Demikian takabur nada suara tawa Khar Najad. Kelihatannya, apa yang dilakukan
Putri Cande Galia bukan suatu hal yang mengejutkan. Malah, dianggapnya sebagai
permainan anak-anak!
"Bagus...!" seru Khar Najad lantang dengan sikap ombong. "Seharusnya memang
begitulah yang kau lakukan, Perempuan Siluman! Dengan begitu, akan sangat mudah
bagiku untuk memusnahkanmu!"
Usai berkata demikian, kakek kerdil ini segera merangkapkan dua telapak tangan
di depan dada, yang kemudian diputar ke kiri-kanan dalam bentuk lingkaran-
lingkaran kecil. Semakin lama lingkaran yang dibuat semakin besar. Gerakan itu
dibarengi gosokan telapak tangan yang dirangkapkan. Dan beberapa saat kemudian,
terlihatlah kepulan asap tipis yang keluar dari dua telapak tangan yang digosok-
gosokkannya. Mula-mula asap tipis itu bergerak-gerak melingkari telapak tangan Khar Najad,
namun kemudian terus melebar. Ujung dari asap tipis yang seolah merupakan tali
gaib, bergerak melenggak-lenggok seperti tengah mencari sasaran. Hingga satu
ketika, ujung asap tipis itu bergerak melingkari sesuatu. Dan...
"Aaa...!"
Terdengar jeritan Putri Cande Galia, ketika lingkaran asap tipis itu mengecil,
tak ubahnya seekor ular yang melilit tubuh dan hendak meremukkan tulang-tulang
tubuh korbannya.
"Ha ha ha...!"
Jeritan Putri Cande Galia disambut tawa berkakakan Khar Najad. Tubuh wanita
cantik itu sendiri kini sudah tampak kembali, namun dalam keadaan sekujur tubuh
terbelenggu dalam lingkaran asap.
"Aaa...!"
Putri Cande Galia melolong kesakitan. Sosoknya kini mulai disamari cahaya
semerah bara yang berkedip-kedip. Dan hal itu merupakan ancaman bahaya besar
baginya. Karena, cahaya semerah bara itu adalah akibat dari tali gaib yang
melingkari tubuhnya, dan tengah menyedot kekuatan dalam dirinya.
"Perlu bantuan, Putri Cande Galia?"
Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba Putri Candi Galia mendengar satu suara yang
ditujukan kepadanya. Bukan cuma wanita cantik itu yang menoleh, Khar Najad pun
secepat kilat memutar kepala. Seketika matanya memandang ke tempat asal suara.
Ada gambaran keterkejutan dan juga penasaran pada raut wajahnya.
"Kaukah itu, Ratu Iblis Tangan Darah"!" tanya Khar Najad, memandang sesosok
bayangan berperwakan kurus yang terlindung di bawah bayangan pohon.
"Putri Cande Galia," panggil sosok berperawakan kurus itu, sama sekali tidak
mempedulikan pertanyaan Khar Najad. "Sekali lagi aku bertanya. Apakah kau
memerlukan bantuan?"
Suara itu pelan saja. Namun hebatnya, sanggup menindih lolongan Putri Cande
Galia. Sehingga, suaranya terdengar sangat jelas.
"Untuk apa kau bertanya, Bangsa Manusia! Kalau memang bermaksud ingin menolong,
lakukanlah. Jika tidak, pergilah dari tempat ini. Karena, aku lebih baik musnah
daripada mengemis kepadamu!" sahut Putri Cande Galia dengan susah-payah dan
napas tersengal.
Wanita cantik ini sudah merasa putus asa, karena telah salah mengambil langkah.
Sebab, kalau saja tadi tidak khilaf menggunakan kekuatan silumannya, belum tentu
Khar Najad akan dapat melumpuhkannya semudah itu. Sayang, datangnya kesadaran
itu terlambat. "Tentu saja kau tidak perlu mengemis kepadaku, Putri Cande Galia," kata sosok
berperawakan kurus itu terkekeh sember. "Cukup dengan memberi imbalan sebagai
balasan dari pertolongan yang akan kuberikan. "
"Apa yang kau kehendaki dariku?" tukas Putri Cande Galia, setengah menjerit.
"Pinjamkanlah Cermin Ajaib kepadaku barang beberapa waktu. Setelah selesai,
benda itu akan kukembalikan lagi kepadamu. Bagaimana" Apakah kau setuju?" usul
sosok berperawakan kurus itu, kembali terkekeh sember.
"Mengapa kau begitu yakin kalau aku memiliki Cermin Ajaib?"
Putri Cande Galia berpaling, untuk dapat melihat sosok yang menawarkan
pertolongan kepadanya. Sementara, cahaya memerah bara yang menyelimuti sekujur
tubuhnya tampak sudah mulai pudar warnanya. Itu merupakan tanda kalau kekuatan
Putri Cande Galia sudah berkurang jauh. Dan apabila cahaya itu sudah berubah
putih, tandanya akhir dari keberadaannya akan segera terjadi. Tali gaib Khar
Najad akan memusnahkan dirinya.
"Dua orang muridku, Raj Badur dan Raj Sagar membawa Sepasang Intan Biru kepada
Batsa, demi memperoleh jabatan sebagai Guru Negara. Dari wajah kedua muridku
itulah, aku membaca semua yang akan terjadi. Dan itu ada kaitannya dengan murid-
muridku. Melalui wajah mereka pula, aku bisa melihat apa yang bakal dilakukan
Batsa dengan Sepasang Intan Biru. Ternyata, benda-benda keramat itu hendak
diberikan kepadamu, agar kau bersedia menjadi istrinya. Lalu, mata batinku
melihat Batsa datang menemuimu. Saat melihat wajahmu, ada satu bayangan yang
benar-benar membuatku hampir tidak mempercayainya. Dan bayangan itu adalah
Cermin Ajaib! Sebuah benda yang semula kusangka hanya ada dalam dongeng saja.
Itulah sebabnya, mengapa aku bisa berada di tempat ini. Aku hanya hendak
meminjamnya saja. Karena indera keenamku mengatakan, Cermin Ajaib tidak akan
bisa dimiliki bangsa manusia. Cermin Ajaib akan lenyap dengan sendirinya tepat
pada waktu malam bulan purnama," jelas sosok berperawakan kurus, yang tak lain
Ratu Iblis Tangan Darah, tokoh tua berwajah buruk.
"Rupanya kau cukup tahu banyak mengenai Cermin Ajaib itu. Tapi perlu kau tahu,
lenyapnya Cermin Ajaib bukan berarti kembali kepadaku. Setelah lenyap, benda itu
bisa jatuh ke mana saja. Siapa yang berjodoh, akan menemukannya. Kendati, hanya
dapat memiliki selama satu purnama. Setelah itu, Cermin Ajaib akan kembali
lenyap. Hanya apabila ditemukan bangsa siluman sajalah, yang akan terus bisa
memiliki, " jelas Putri Cande Galia, merasa kepalang sudah diketahui.
"Tapi aku hanya memerlukannya untuk beberapa hari saja," tukas Ratu Iblis Tangan
Darah. "Sebelum purnama datang, aku akan mengembalikan benda itu kepadamu, Putri
Cande Galia."
"Setttan!"
Percakapan Putri Cande Galia dan Ratu Iblis Tangan Darah terhenti oleh umpatan
Khar Najad, yang merasa terhina karena telah disepelekan. Dan kemarahannya itu
ditumpahkan kepada Putri Cande Galia dengan menambah kekuatan lilitan tali gaib.
"Aaa...!"
Begitu lilitan makin mengecil, Putri Cande Galia melolong tinggi. Sedangkan Ratu
Iblis Tangan Darah malah tertawa sember. Baginya perbuatan Khar Najad malah
justru menguntungkan.
"Bagaimana, Putri Cande Galia?" desak Ratu Iblis Tangan Darah mendesak, tak
sabar. "Baiklah," jawab Putri Cande Galia dalam jeritan. Ia benar-benar sudah
tidak tahan lagi dengan siksaan itu. Sehingga dengan terpaksa tawaran Ratu Iblis
Tangan Darah diterima.
"Tidak akan semudah itu, Ratu Iblis...!"
Khar Najad menggereng. Dan saat itu juga telapak tangannya dibuka dan langsung
didorongkan ke arah Ratu Iblis Tangan Darah, yang kemudian di tarik kembali
dalam bentuk lingkaran.
Wiiirrr...! "Hih, hih hih...!"
Ratu Iblis Tangan Darah mendongakkan kepala meremehkan serangan Khar Najad yang
berupa angin berputaran laksana angin puting beliung.
Sementara angin berputar itu terus bergerak mendekati Ratu Iblis Tangan Darah,
dengan menggilas masuk apa saja yang dilalui. Jangankan rerumputan atau batu-
batu kerikil. Pepohonan besar saja tampak doyong, tersedot putaran. Padahal
pohon-pohon itu berada dalam jarak sekitar dua tombak. Dapat dibayangkan, apa
jadinya jika tubuh Ratu Iblis Tangan Darah yang jadi korbannya.
*** Ratu Iblis Tangan Darah rupanya memang benar-benar menganggap serangan Khar
Najad hanya sebagai permainan anak-anak. Usai memperdengarkan tawa sembernya,
mulutnya membuka lebar-lebar seperti orang menguap. Dan, terjadilah satu
pemandangan yang sangat luar biasa! Mata Khar Najad sendiri sampai terbelalak
saking takjub melihat cara lawannya mengatasi serangannya.
Betapa tidak" Angin puting beliung serangan Khar Najad yang tengah bergerak
mendekati sasaran, sedikit demi sedikit tersedot masuk ke dalam mulut Ratu Iblis
Tangan Darah! Dalam waktu singkat saja, angin puting beliung itu lenyap masuk ke
dalam perut perempuan berwajah buruk ini yang tampak membuncit bagaikan tengah
mengandung sembilan bulan!
Belum lagi Khar Najad tersadar dari keterpakuannya, tiba-tiba saja mulut Ratu
Iblis Tangan Darah yang tadi ditutup setelah menyedot habis angin puting
beliung, kini kembali terbuka. Langsung ditiupkannya angin dalam perut ke arah
Khar Najad! Rupanya ia hendak mengembalikan angin puting beliung yang baru saja
ditelannya. Whusss...! Suara menderu ribut mengembalikan kesadaran Kitar Najad. Melihat serangan yang
dikembalikan kepadanya, cepat Khar Najad memalangkan lengan kanan di depan dada
dengan telapak menghadap ke bawah. Sementara, tangan kirinya dipalangkan di
depan perut dengan telapak menghadap ke atas. Lalu kedua lengannya digerakkan
perlahan, membentuk putaran. Dan hebatnya, setiap putaran kedua lengannya
membuat angin puting beliung ciptaannya yang dikembalikan Ratu Iblis Tangan
Darah, dapat tersedot mengikuti gerakan kedua lengannya. Dan akhirnya angin
puting beliung itu kembali lenyap tanpa bekas!
Usai menyedot habis angin puting beliung ciptaannya, Khar Najad langsung
menjatuhkan tubuh di tanah dalam keadaan bersila. Setelah bertepuk tangan sekali
di atas kepala, dan dilanjutkan dengan menepuk kedua dadanya, Khar Najad
menghantamkan kedua telapak tangan ke tanah di kiri dan kanan tubuhnya.
Kening Ratu Iblis Tangan Darah berkerut dan mendadak....
"Aaah...!"
Perempuan berwajah buruk itu terpekik, karena tanah yang dipijaknya tiba-tiba
amblas seperti longsor menciptakan sebuah lubang. Sementara di sekitar tepi
lubang, tanahnya langsung berguguran.
Ratu Iblis Tangan Darah tentu saja tidak sudi dirinya terkubur hidup-hidup. Maka
sambil mengeluarkan lengkingan panjang, kedua kakinya menendang dinding lubang.
Dan dengan sekali menggenjot saja, tubuhnya langsung melambung tinggi ke udara.
Tapi, selagi tubuh perempuan itu melakukan putaran, Khar Najad cepat
mengulurkan kedua lengannya. Kemudian jari-jari tangannya meregam, seolah tengah
mencekal sesuatu yang langsung disentakkan ke bawah.
Sebagai akibatnya, tubuh Ratu Iblis Tangan Darah yang tengah berada di udara
tiba-tiba saja terbetot ke bawah, dan terbanting jatuh menimbulkan suara
berdebuk keras.
Brukkk! Tapi, lagi-lagi Ratu Iblis Tangan Darah menunjukkan ketangguhannya. Begitu
terjatuh, tubuhnya langsung melambung kembali ke udara. Seolah tubuhnya dari
gumpalan karet yang kenyal.
Khar Najad kembali dibuat penasaran. Apalagi tubuh Ratu Iblis Tangan Darah yang
melambung bagai bola karet itu langsung menggelundung menerjangnya yang
didahului sambaran angin panas. Kakek kerdil itu berusaha menghalau dengan
melontarkan pukulan jarak jauh. Tapi serangannya ternyata sama sekali tidak
berarti. Bahkan angin pukulannya malah terpecah, diterobos gelundungan tubuh
Ratu Iblis Tangan Darah!
Sementara tubuh perempuan berwajah buruk itu terus meluncur tanpa dapat dicegah
lagi! Hingga.... Desss...! "Aakh...!"
Demikian cepat luncuran itu datang, hingga Khar Najad terhumbalang dan jatuh
terguling-guling di atas tanah disertai keluhan tertahan. Dan ketika baru saja
melompat bangkit, tubuh Ratu Iblis Tangan Darah yang menggelinding di atas
permukaan tanah laksana sebuah bola, kembali datang. Sehingga....
Desss.... "Aakh...."
"Hih hih hih...!" Ratu Iblis Tangan Darah tertawa sember, menyaksikan Khar Najad
terduduk lemas dan muntah darah setelah terpental deras. "Sebaiknya kau segera
bersiap-siap melayat ke akhirat, Khar Najad!"
Perempuan itu segera menyiapkan pukulan terakhir, yang akan memisahkan roh
dengan raga Khar Najad.
Khar Najad sendiri sadar akan luka dalam yang diderita. Dua kali hantaman telak
Ratu Iblis Tanga Darah, telah membuat beberapa bagian dalam tubuhnya rusak
berat. Kalaupun dapat menyembuhkannya akan memakan waktu lama. Bahkan akan
menjadikannya cacat seumur hidup. Luka itu, selain akan membuat kedua kakinya
lumpuh, juga bisa mengakibatkan kebutaan pada kedua matanya. Lebih parah lagi
sebagian besar tenaga dalamnya akan hilang. Karena pusat penyimpanan tenaga
dalamnya juga terluka.
Sadar akan keadaan itu Khar Najad hanya bisa pasrah, menunggu kematian yang
bakal menjemputnya. Kakek kerdil ini merasa lebih suka mati ketimbang hidup
hanya menjadi bahan ejekan orang.
*** "Raj Badur, cepat ke sini...!"
Teriakan Raj Sagar membuat Raj Badur yang tengah mengobrak-abrik sebuah kamar,
menghentikan gerakannya. Lalu tanpa membuang waktu lagi, langsung saja
ditinggalkannya kamar itu, dan segera menemui Raj Sagar.
"Lihat...!"
Begitu melihat Raj Badur muncul di ambang pintu ruangan, Raj Sagar langsung saja
menudingkan jari telunjuknya ke satu arah.
Sambil masih berdiri tegak di ambang pintu, Raj Badur mengarahkan pandangan
mengikuti jari telunjuk Raj Sagar. Dan sepasang matanya langsung terbeliak,
menyaksikan sebuah benda bersinar-sinar yang tergantung di salah satu dinding di
dalam ruangan ini.
"Benda itukah yang dinamakan Cermin Ajaib?" tanya Raj Badur dalam desisan lirih,
nyaris tak terdengar. Ia sendiri sempat heran mendengar suaranya kering. Karena
selain ketegangan, ada perasaan ngeri yang tiba-tiba saja menyeruak dalam
hatinya. "Pasti, Raj Badur! Pasti!" Raj Sagar mengangguk beberapa kali.
Sama seperti Raj Badur, suara Raj Sagar pun terdengar kering dan berupa desisan.
Malah pada raut wajah dan sorot matanya, ada gambaran ngeri dan penasaran.
"Mengapa kau tidak lekas-lekas mengambilnya, Raj Sagar?" tanya Raj Badur seraya
mengalihkan perhatian dari cermin yang dirasakan telah mendatangkan perasaan tak
menentu dalam hati.
"Tidak semudah yang kau bayangkan, Raj Badur," Raj Sagar menggeleng lemah sambil
mendesis berat. "Aku sudah mencobanya. Tapi sewaktu hendak menjangkau, tiba-tiba
saja seperti ada satu kekuatan daya tolak. Akibatnya, aku terlempar tanpa dapat
ku cegah lagi."
"Maksudmu, Cermin Ajaib itu yang melemparkanmu?" tanya Raj Badur, seolah tidak
mempercayai cerita Raj Sagar.
"Memang sukar dipercaya," kata Raj Sagar, tidak menyalahkan Raj Badur. Ia
maklum, Raj Badur tidak mempercayai ceritanya. "Sebaiknya cobalah sendiri."
Raj Badur menarik napas panjang, lalu segera melangkah mendekati dinding tempat
benda itu tergantung.
Benda yang memang sebuah cermin itu sendiri tidak seberapa besar, berbentuk
bulat telur. Panjangnya kira-kira satu setengah jengkal. Dan lebarnya tak lebih
dari satu jengkal. Seluruh tepiannya tertutup bingkai dari ukiran kayu cendana


Pendekar Naga Putih 104 Perantauan Ke Tanah India di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berwarna coklat kehitaman.
Ketika sudah berada kira-kira setengah tombak dari cermin itu, Raj Badur
menghentikan langkah, tubuhnya berputar, memandang Raj Sagar. Tatapannya seolah
mengatakan bahwa ia tidak mengalami keanehan apa-apa. Tapi, tentu saja ia tidak
mengatakan apa yang dirasakan, saat semakin dekat dengan benda itu. Rasa ngeri
mendadak menyergapnya tanpa sebab. Bulu tengkuknya terus-menerus berdiri.
Sementara debaran dalam dadanya kian cepat. Semua itu berusaha ditekan dan tidak
dikatakannya kepada Raj Sagar. Karena, ia masih belum bisa menerima kalau semua
itu akibat pengaruh cermin yang tergantung di dinding ruangan.
"Ambillah cermin itu, Raj Badur!"
Dalam suara Raj Sagar tersirat sedikit kejengkelan. Ia sudah siap mentertawakan.
Malah, diam-diam Raj Sigar mengharapkan Raj Badur agar memperoleh kejadian yang
jauh lebih parah daripada apa yang telah menimpa dirinya.
Raj Badur menoleh sekilas dengan bibir mengulas senyum tipis. Lalu, perlahan
tangan kanannya terulur untuk menjangkau cermin yang tergantung setinggi
dagunya. Meskipun saat mengulurkan tangan ketegangan terasa kian memuncak, namun
perbuatannya tetap dilanjutkan.
Raj Sagar sudah melebarkan mulutnya. Tawanya siap meledak. Kata-kata ejekan
sudah dipersiapkan untuk membalas sikap Raj Badur terhadapnya. Tapi, mulut yang
sudah terbuka lebar itu mendadak mengerut kembali. Ejekan yang sudah berada di
ujung lidah terpaksa harus ditelan lagi. Karena tanpa kesulitan sedikit pun, Raj
Badur ternyata dapat mengambil cermin itu!
6 "Gila! Bagaimana bisa begitu"! Mengapa kekuatan daya tolak itu tidak muncul dan
melemparkan Raj Badur"! Aneh"!" gumam Raj Sagar. Ia termenung dengan berbagai
pertanyaan memenuhi kepala.
Sementara, Raj Badur sudah melangkah ke arah Raj Sagar dengan mulut
menyunggingkan senyum kemenangan.
"Terus-terang, cermin ini memang agak aneh lain daripada yang lain. Tapi bukan
berarti cermin ini bisa melemparkan orang," kata Raj Badur sambil menimang-
nimang cermin di tangannya.
Sengaja Raj Badur tidak menceritakan kalau waktu mengulurkan tangan untuk
mengambil cermin, terlebih dahulu membaca mantera pengusir siluman yang
diajarkan Khar Najad. Dan ia merasa sangat yakin, mantera itu dapat melindungi
selama berada Negeri Siluman.
Dengan senyum masih belum meninggalkan wajah, Raj Badur mengangkat cermin ke
depan wajahnya. Diperhatikannya wajahnya yang berada di dalam cermin. Puas
memandangi garis-garis wajahnya, bibirnya tersenyum sendiri. Dan kini, cermin
itu kembali diturunkan. Dan...
"Aaakh...!"
Tiba-tiba Raj Sagar terpekik. Sepasang matanya terbeliak lebar. Wajahnya pucat-
pasi, bagai tak dialiri darah! Ia cepat melompat mundur, dengan sikapnya jelas-
jelas menunjukkan betapa tengah dilanda ketakutan hebat!
"Raj Sagar! Kau..., kau kenapa?"
Raj Badur jadi ikut-ikutan gugup. Cepat kepalanya menoleh ke belakang, mengira
ada sesuatu yang telah membuat Raj Sagar sampai sedemikian ketakutan. Tapi, di
belakangnya tidak ada apa-apa, kecuali dinding ruangan. Tentu saja Raj Badur
menjadi heran bukan main.
Tapi bukannya menjawab, ketika Raj Badur kembali hendak mendekat, lagi-lagi Raj
Sagar melompat mundur. Malah kepalanya digeleng-gelengkan dengan wajah penuh
kengerian. "Raj Sagar! Ada apa denganmu?" hardik Raj Badur keras, saking jengkel melihat
sikap Raj Sagar. Lalu ia melompat ke depan.
Raj Badur merasa jantungnya nyaris copot ketika 'Raj Sagar malah berteriak-
teriak kalang-kabut sambil melompat jauh hingga membentur dinding di
belakangnya. Lalu bagaikan kerasukan setan, Raj Sagar melompat ke pintu, terus
berlari terbirit-birit sambil berteriak-teriak ketakutan.
"Raj Sagar...! Tunggu...!" teriak Raj Badur sambil berlari mengejar.
Ketika melihat Raj Badur mengejarnya, Raj Sagar malah semakin kalap berlari.
Beberapa kali kepalanya menoleh ke belakang, seolah takut kalau-kalau Rj Badur
dapat mengejarnya. Akibatnya, tubuhnya pontang-panting membentur dinding lorong.
Permukaan dinding lorong yang bergerinjul dan tajam, membuat pangkal lengan dan
bahunya mengucurkan darah. Tapi semua itu seperti tidak dirasakan.
Raj Sagar terus saja berlari keluar. Ketika melewati pintu gerbang utama
Kerajaan Siluman dan melihat air terjun, langsung saja ia melompat. Diterobosnya
curahan air yang deras itu. Akibatnya, Raj Sagar terjatuh ke dalam air sungai.
Tubuhnya langsung timbul tenggelam dipermainkan curahan air terjun yang jatuh
tepat menghantam dirinya.
"Raj Sagaaar...!"
Suara teriakan Raj Badur yang memanggil, membuat Raj Sagar semakin bertambah
kalap! Demikian hebat rasa takut yang menderanya, sehingga dengan sejadi-jadinya
ia berusaha berenang untuk mencapai tepian sungai.
Dengan wajah yang tak ubahnya mayat, Raj Sagar bergegas naik ke darat. Sebentar
ia terduduk lemas dan terbatuk-batuk hebat, karena cukup banyak air yang
tersedak masuk ke dalam mulut dan hidungnya. Tapi meskipun tubuhnya terasa
sangat lelah dan napas masih tersengal-sengal, begitu kembali terdengar teriakan
Raj Badur, Raj Sagar melompat secepat kilat dan terbirit-birit melarikan diri.
*** Suara langkah berlari Raj Sagar yang ditingkahi dengus napas seperti kuda pacu,
membuat Putri Cande Galia, Ratu Iblis Tangan Darah, dan Khar Najad, sama-sama
menolehkan kepala. Ketiganya sama terheran-heran menyaksikan cara berlari Raj
Sagar, yang seperti orang dikejar setan.
"Raj Sagar..."!"
Ketika mengenali siapa orang yang berlari sedemikian kalapnya, keheranan Ratu
Iblis Tangan Darah semakin bertambah. Rasa heran dan penasaran membuatnya jadi
lupa dengan niat semula, yang sudah siap menghabisi Khar Najad.
Dan tanpa mempedulikan lawannya yang sudah pasrah menerima kematian itu, Ratu
Iblis Tangan Darah segera menjejakkan kakinya. Seketika itu juga, laksana
sambaran kilat, tubuhnya melayang. Sekali menggerakkan tangan saja, leher baju
bagian belakang Raj Sagar sudah tercengkeram. Dan Ratu Iblis Tangan Darah benar-
benar tidak mengerti ketika Raj Sagar berteriak ketakutan.
"Tolooong...!"
"Murid keparat! Memalukan...!" maki Ratu Iblis Tangan Darah marah bukan main!
Maka seiring makiannya, dibantingnya tubuh Raj Sagar.
Brak...! "Aaakh...!"
Raj Sagar memekik kesakitan. Dan tanpa menoleh sedikit pun ia langsung
melompat bangkit, lalu kembali lari terbirit-birit. Dan itu membuat kemarahan
Ratu Iblis Tangan Darah kian bertambah.
"Keparat! Berhenti kau, Raj Sagar!" hardik Ratu Iblis Tangan Darah.
Tapi bukannya berhenti, Raj Sagar malah berlari semakin kalap. Ratu Iblis Tangan
Darah menggereng lalu melesat cepat mengejar. Dalam jarak kurang lebih satu
tombak, tangan kanannya terulur ke depan dengan jari-jari terbuka. Seketika
terdengar suara mencicit tajam yang disusul ambruknya tubuh Raj Sagar.
Rintihan Raj Sagar yang minta-minta ampun terhenti ketika tubuhnya diangkat Ratu
Iblis Tangan Darah, tepat berhadap-hadapan muka. Raj Sagar tertegun sesaat.
Diperhatikannya wajah di depannya dengan perasaan heran.
"Gu..., Guru...," desis Raj Sagar, ragu-ragu.
"Memangnya kau kira aku siapa, hah"! Kau kira aku setan, Murid Keparat!"
Ratu Iblis Tangan Darah menggerakkan tangan menampar wajah muridnya
beberapa kali, tak memperdulikan darah yang mengalir dari bibir Raj Sagar yang
pecah. Dan perbuatannya baru dihentikan setelah Raj Sagar merintih minta ampun sambil
menyebut namanya. Artinya, Raj Sagar sudah mendapatkan kesadarannya kembali.
"Raj Badur, Guru. Raj Badur...," kata Raj Sagar dengan napas terengah-engah.
"Kenapa Raj Badur" Apa yang sudah terjadi dengannya, Raj Sagar" Ayo cepat
jawab!" "Raj Badur..., Raj Badur... cermin, Guru. Cermin..., cermin setan...."
"Keparat! Kau benar-benar memalukan, Raj Sagar! Sikapmu benar-benar tidak pantas
menjadi murid Ratu Iblis Tangan Darah!" dengus Ratu Iblis Tangan Darah seraya
mengangkat tangannya, siap memberi tambahan tamparan di wajah Raj Sagar. Tapi
gerakan tangannya terhenti di tengah udara, ketika terdengar suara teriakan yang
sudah dikenalnya betul. Raj Badur!
"Raj Sagaaar..., tunggu aku...!"
Ratu Iblis Tangan Darah menoleh. Tampak Raj Badur tengah berlari menuju ke
tempatnya berada. Semula, perempuan berwajah buruk itu bermaksud untuk menunggu
di tempatnya. Tapi niatnya segera berubah ketika melihat dari arah sebelah kanan
Raj Badur, tampak Khar Najad berlari tertatih-tatih.
Sambil setengah menyeret tubuh Raj Sagar, Ratu Iblis Tangan Darah segera menuju
ke tempat Raj Badur dan Khar Najad.
"Raj Badur!" panggil Khar Najad sambil mengulapkan tangan ke arah Raj Badur.
Sementara Raj Badur segera menoleh dan menghentikan langkah, sewaktu
mengenali siapa orang yang memanggilnya.
Raj Badur sudah siap melontarkan pertanyaan mengenai cermin di tangannya.
Tapi, pertanyaan batal diajukan, karena Khar Najad yang begitu tiba didekatnya
langsung terpekik dan melangkah mundur.
Raj Badur menjadi heran dan juga penasaran. Terlebih sewaktu melihat betapa
pucatnya wajah Khar Najad. Dan, betapa dalamnya sorot mata kakek sakti itu yang
menggambarkan rasa takut dan ngeri.
"Ada apa, Khar Najad" Mengapa kau seperti orang ketakutan?" Raj Badur tidak bisa
menahan penasarannya.
"Kau..., kau..., sssi... ap... pa...?"
Bukannya menjawab, Raj Badur malah termenung. Ia benar-benar tidak habis pikir,
mengapa Khar Najad tokoh yang kesaktiannya amat dikaguminya itu kini tampak
sangat ketakutan terhadapnya. Malah sangat gugup. Dan, kata-katanya tidak begitu
jelas. Parau dan kering. Pelan seperti orang mendesah dalam ketegangan.
"Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada diriku" Tadi, Raj Sagar yang lari
terbirit-birit ketakutan. Sekarang, malah Khar Najad" Aneh?" gumam Raj Badur,
benar-benar bingung dengan kejadian-kejadian aneh yang dialaminya.
Dan kesempatan itu dipergunakan Khar Najad untuk menjauhi Raj Badur dengan
sangat hati-hati. Seolah-olah ia sedang berjalan di hadapan seekor harimau
kelaparan yang sedang tidur, khawatir kalau-kalau suara langkahnya membuat
harimau terbangun dan menerkamnya.
"Hei!"
Mendadak, jantung Khar Najad nyaris copot. Ketika sedang tegang-tegangnya, tahu-
tahu terdengar sebuah seruan mengejutkan. Padahal, seruan itu bukan berasal dari
Raj Badur. Juga, bukan ditujukan kepadanya. Seruan itu memang milik Putri Cande
Galia yang ditujukan kepada Raj Badur. Dan putri Kerajaan Siluman itu sudah
berdiri di hadapan Raj Badur sambil melirik cermin yang digenggam Raj Badur
erat-erat. "Berikan cermin itu kepadaku," pinta Putri Cande Galia tanpa basa-basi lagi.
"Cermin itu milikku. Sebaiknya, kembalikan sebelum aku mengambil keputusan untuk
mencabut nyawamu."
Tapi, Raj Badur malah menghela napas sambil menggeleng. Raj Sagar takut padanya,
Khar Najad pun demikian. Tapi, mengapa wanita cantik ini tidak" Demikian pikir
Raj Badur seraya menatap wajah Putri Cande Galia yang cantik menggiurkan itu.
Semakin ditatap, semakin berdesirlah darahnya. Tedebih, saat melihat tubuh
membayang di balik pakaian sutera pulih yang tipis dan tembus pandang itu.
Kelakian Raj Badur merasa seperti ditantang. Hingga, ia tidak malu-malu lagi
meneguk air liurnya.
"Kau tidak takut melihatku, Putri Siluman?" tanya Raj Badur dengan mulut
tersenyum. Sementara matanya melahap wajah dan sekujur tubuh Putri Cande Galia
dengan rakusnya.
"Takut kepadamu?" kata Putri Cande Galia dengan tarikan bibir membentuk ejekan.
"Kau tahu siapa aku, Raj Badur?"
"Tidak perlu kau jelaskan pun, aku sudah tahu kalau kau adalah putri bangsa
siluman," sahut Raj Badur masih tetap tersenyum, meski tahu kalau Putri Cande
Galia mengejeknya.
"Nah! Mengapa harus bertanya lagi?" tukas Putri Cande Galia. "Sebagai bangsa
siluman, tentu saja aku tidak takut terhadap segala macam setan, jin, peri,
mambang, ataupun iblis. Mereka sama denganku."
"Hm.... Dengan kata lain, kau menganggap aku ini setan" Begitu maksudmu, bukan?"
desis Raj Badur mulai tersinggung.
Tentu saja Raj Badur tidak sudi disamakan dengan bangsa siluman. Tapi, Putri
Cande Galia malah tertawa oleh perkataannya itu. Sehingga, Raj Badur menjadi
penasaran. Seketika cermin itu diangkatnya. Diperhatikannya seluruh wajahnya.
Tidak ada yang berubah, dan tidak ada yang aneh pada wajahnya.
Tapi, tidak demikian yang dilihat Putri Cande Galia, Khar Najad, maupun Ratu
Iblis Tangan Darah yang tiba di dekat Raj Badur. Sementara, Raj Sagar yang telah
dibebaskan dari pengaruh totokan dan tidak mampu melawan kehendak gurunya,
terpaksa ikut memandang wajah Raj Badur. Kali ini, ia tidak terlihat takut.
Karena selain ada gurunya di sampingnya, juga masih ditambah Khar Najad dan
Putri Cande Galia.
Raj Badur sendiri sama sekali tidak tahu, bagaimana sebenarnya rupanya saat itu.
Padahal sesungguhnya, wajahnya telah berubah menyeramkan. Sepasang matanya yang
semula lebar, tampak bulat berwarna kebiruan seperti mata singa. Hidungnya pun
lebih mendekati hidung singa, yang batangnya ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna
kecoklatan. Kedua alis matanya tebal, juga berwarna coklat, yang di bagian ujungnya
bercabang dua. Demikian pula mulutnya. Giginya telah ditumbuhi sepasang taring yang tajam
berkilat-kilat. Semua itu masih ditambah warna dan bentuk rambutnya, yang
menyerupai rambut singa jantan!
Seperti itulah raut wajah Raj Badur sekarang. Dan perubahan yang tidak
diketahuinya, terjadi setelah bercermin, sewaktu masih berada di Negeri Siluman.
Wajah seperti itulah yang disaksikan Raj Sagar, hingga membuatnya ketakutan dan
lari terbirit-birit. Raj Sagar sendiri sebenarnya bukanlah seorang laki-laki
penakut. Dan kalau pun berjumpa makhluk berwajah seram pada saat tengah malam,
belum tentu merasa takut.
Apalagi, sampai lari terbirit-birit. Tapi karena yang memiliki wajah seseram itu
adalah Raj Badur, yang berubah di hadapannya secara tiba-tiba dan sangat
mengejutkan, Raj Sagar tak mampu lagi menguasai perasaan takut yang muncul
begitu saja. Terlebih, saat itu ia baru saja mengalami kejadian aneh yang
menimbulkan perasaan ngeri. Juga masih ditambah perbawa Cermin Ajaib yang bisa
menimbulkan rasa takut dan ngeri bagi siapa saja yang melihatnya.
"Raj Badur! Apa yang sudah terjadi denganmu?" tanya Ratu Iblis Tangan Darah.
Dan meskipun telah berusaha membuat suaranya setenang mungkin, tetap saja
terdengar nada kegentaran dalam suaranya.
"Apa yang sudah terjadi denganku"!" ulang Raj Badur sambil tersenyum. Sama
sekali tidak disadari kalau senyumnya lebih mirip seringai seekor singa jantan
yang buas dan tengah kelaparan. "Tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan terjadi
denganku, Guru.
Malah aku sangat beruntung, karena berhasil menemukan cermin ini, yang kurasa
Cermin Ajaib!"
"Cermin itu milik bangsaku, Raj Badur!" selak Putri Cande Galia menggeram gusar.
"Kembalikan cermin itu kepadaku. Atau, kau akan kubunuh karena telah berani
mencuri Cermin Ajaib itu!"
"Kau lupa perjanjian kita, Putri Cande Galia," tukas Ratu Iblis Tangan Darah
mengingatkan Putri Cane Galia. "Kau sudah kutolong. Berarti, Cermin Ajaib itu
telah menjadi milikku, kendati hanya untuk beberapa hari. Jadi, biarkanlah
cermin itu tetap berada di tangan muridku. Kelak setelah urusanku selesai, aku
akan mengembalikannya kepadamu."
"Tidak, Ratu Iblis Tangan Darah!" tandas Putri Cande Galia, langsung menoleh ke
sebelah kanannya. "Karena Cermin Ajaib telah dicuri, dan pencurinya adalah
muridmu, maka perjanjian kita tidak berlaku lagi! Lain halnya jika pencuri
Cermin Ajaib bukan orang yang menjadi muridmu!"
"Hmh! Enak saja kau bicara!" dengus Ratu Iblis Tangan Darah, penuh kegeraman.
"Bagiku, janji itu tetap berlaku. Dan karena kau telah berani ingkar, maka jika
niatku semula hanya meminjam saja, sekarang malah aku hendak memilikinya. Dan
setelah kugunakan untuk merubah diriku menjadi muda dan cantik, sebelum lenyap,
Cermin Ajaib itu akan kujual kepada siapa saja yang berani menawar dengan harga
tinggi. Mungkin juga, akan kutawarkan kepada raja-raja di seluruh Daratan India ini.
Dengan begitu, aku bisa melanjutkan hidup yang penuh gelimang kesenangan dan
kemewahan!"
"Jangan mimpi kau, Ratu Iblis!" sergah Putri Cande Galia, tetap pada
pendiriannya. "Cermin Ajaib itu tetap tidak akan kuberikan kepadamu!"
Setelah berkata demikian, Putri Cande Galia langsung bergerak. Tangannya terulur


Pendekar Naga Putih 104 Perantauan Ke Tanah India di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

untuk merebut Cermin Ajaib dari tangan Raj Badur.
Tapi tentu saja Ratu Iblis Tangan Darah tidak membiarkan begitu saja perbuatan
Putri Cande Galia. Saat itu juga tangannya meluncur ke depan, untuk mencengkeram
pergelangan tangan Putri Cande Galia. Dan begitu cengkeramannya dapat dielakkan,
ia sudah menyusulinya dua kali tamparan yang mengancam kepala dan lambung Putri
Cande Galia. Kelihatannya perlahan saja, dan sama sekali tidak berbahaya.
Namun, Putri Cande Galia yang sadar kalau tamparan perlahan itu akan bisa
menghancurkan bagian dalam kepala maupun lambungnya, segera saja melompat ke
belakang. Berbarengan dengan itu, mulutnya meniup.
Whusss...! Seketika seberkas cahaya merah meluncur ke arah Ratu Iblis Tangan Darah. Tapi
serangan itu tidak mengenai sasaran, karena perempuan berwajah buruk itu telah
melompat ke kanan. Akibatnya, rerumputan tempat Ratu Iblis Tangan Darah tadi
berpijak, langsung dilalap lidah-lidah api. Sedangkan Ratu Iblis Tangan Darah
sendiri telah berdiri tegak, siap melanjutkan pertarungan.
Sementara itu, Raj Badur yang segera bergerak menjauhi arena pertarungan, harus
menghadapi Khar Najad yang hendak merebut Cermin Ajaib di tangannya. Bergegas
tubuhnya melompat ke belakang. Begitu menyadari kalau kepandaian Khar Najad
berada beberapa tingkat di atas kepandaiannya, timbul kekhawatiran di hati Raj
Badur. Ia takut, Cermin Ajaib akan dapat direbut orang. Maka, kepalanya segera
menoleh ke arah Raj Sagar dengan sorot mata minta bantuan.
Semula, Raj Sagar agak meragu. Tapi ketika meihat sikap Raj Badur masih tetap
seperti yang selama ini dikenalnya, maka tanpa ragu-ragu lagi tubuhnya melesat
untuk memberi bantuan. Mereka berdua sama sekali tidak tahu kalau saat itu Khar
Najad sudah menderita luka dalam yang parah!
7 "Keadaan bagian India Selatan pada masa sekarang memang sangat menyedihkan,"
tutur Pathar, orang tertua dari Algojo Empat Serangkai. Wajahnya tampak
menunjukkan rasa penasaran di hatinya.
Utusan Pulau Keramat 1 Pendekar Bloon 12 Perjalanan Ke Alam Baka Tumbal Pusar Merah 2
^