Pencarian

Kalung Setan 1

Pendekar Slebor 69 Kalung Setan Bagian 1


KALUNG SETAN Serial Pendekar Slebor
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
https://www.facebook.com
/DuniaAbuKeisel
1 Angin berhembus dingin di sebuah tempat yang
dipenuhi rerumputan dan ranggasan semak. Malam masih membentang luas dan siap
beranjak menuju pagi. Di kejauhan Nampak julangan sebuah gunung yang diselimuti
kegelapan. Dalam rentangan malam dingin dan mencekam
itu, nampak satu sosok tubuh sedang duduk berlutut dengan kedua kaki ditekuk
sebagai bantalan
pinggul. Tangan orang yang pejamkan mata ini, terangkap di depan dada. Kendati
mulutnya berkemak-kemik, namun tak ada suara yang keluar.
Dan orang berpakaian biru ini sama sekali tak
merasa terganggu oleh dinginnya udara. Bahkan
seakan sama sekali tak dirasakannya.
Namun kejap berikutnya, mendadak saja kepala
orang ini menegak. Sepasang telinganya dibuka lebar-lebar.
"Dia sudah datang," desisnya dalam hati.
Dari ucapannya, jelas kalau orang berpakaian
biru yang berusia sekitar tujuh puluh tahun ini
sedang menunggu kedatangan seseorang. Kendati
tahu kalau orang yang ditunggunya sudah datang,
namun dia tak beranjak dari tempatnya. Tetap
bersikap seperti semula seolah tak ada sesuatu
yang mengganggunya.
Dan kegelapan malam itu tiba-tiba saja direntakkan oleh suara tawa panjang yang
menggema ke segenap penjuru. Tawa keras yang mengandung
pengerahan tenaga dalam, untuk sesaat mempen-
garuhi pendengaran kakek yang sedang duduk
berlutut, yang saat itu pula menahan dengan aliran tenaga dalamnya.
Menyusul tawa yang panjang tadi, satu bentakan keras terdengar, "Datuk Biru!
Sekian tahun menunggu, tidak tahunya kau hidup seorang diri
di tempat seperti ini! Sungguh menyenangkan sekali! Dan bila melihat sikapmu
seperti sekarang,
rupanya kau sudah tahu aku akan datang! Ya,
aku dating memenuhi janjiku tiga puluh tahun
yang lalu!"
Orang yang kedua tangannya terangkap di depan dada, tarik napas pendek.
"Rasanya, memang tak mungkin menghindarinya lagi. Tiga puluh tahun lalu, dia
masih melontarkan ancaman untuk mencariku setelah berhasil
kukalahkan. Ah, kami sudah sama-sama tua. Dan
nampaknya dia tak pernah puas sebelum mendapatkan benda itu."
Dua kejapan mata kemudian entah dari mana
datangnya, mendadak saja telah berdiri seorang
kakek berwajah tirus sejarak delapan langkah dari
tempat Datuk Biru duduk berlutut. Sepasang mata
si pendatang menatap tajam. Penuh kebencian.
Kedua tangannya yang kurus mengepal kuat. Di
dada kakek berpakaian merah ini terdapat sebuah
kalung berbandul taring!
Dan si kakek tak lakukan apa-apa kecuali tak
berkedip menatap pada kakek yang sedang bersemadi.
Tapi di kejap berikutnya, kakek berpakaian merah ini sudah angkat bicara, "Datuk
Biru! Apakah sekarang kau masih belum juga mau menyerahkan Kalung Setan kepadaku"!"
Datuk Biru tak buka mulut. Sosoknya tetap
berlutut. Merasa ucapannya disepelekan, kakek yang baru datang ini keluarkan bentakan
lagi, "Orang tua
celaka! Apakah kau mendadak menjadi bisu,
hah"!"
Tetapi kali ini dia tak perlu terlalu lama menunggu jawaban orang. Karena Datuk
Biru sudah angkat bicara, "Datuk Merah! Mengapa kau masih bersikap seperti anak kecil" Bukankah tiga puluh
tahun yang lalu sudah kukatakan, kalau Kalung Setan telah
kubuang ke dasar Jurang Trah Gering"!"
"Dusta! Siapa percaya ucapanmu itu, hah"!"
hardik kakek berpakaian merah yang disebut Datuk Merah. Lalu lanjutnya dengan
dada bergolak, "Dan jangan coba-coba untuk dustaiku lagi!"
Perlahan-lahan sepasang mata kakek yang duduk bersemadi itu membuka. Terlihat
kelelahan yang kentara pada pancaran mata itu. Untuk sesaat dia tak buka mulut, hanya
perhatikan saja
sosok yang sedang berdiri dengan sikap jumawa
tak jauh dari tempatnya.
Setelah tarik napas pendek, barulah dia berkata, "Datuk Merah! Sejak dulu kita
bersahabat. Dan
karena benda laknat itulah kemudian kita bermusuhan, hingga saat ini. Jadi
kupikir, ketimbang
persahabatan kita semakin hancur karena benda
itu, maka kubuang saja benda itu."
"Manusia jadah! Berani betul mulutmu masih
coba untuk menasehatiku!" hardik Datuk Merah
dengan tangan menuding.
Kepala Datuk Biru menggeleng. "Tidak. Aku
mengatakan apa adanya. Dan satu hal yang kusesali, mengapa kita harus menemukan
benda celaka yang ternyata membuat persahabatan kita pecah"!"
Datuk Merah tersenyum sinis. "Bila sejak dulu
kau menyerahkan kalung itu kepadaku, sudah barang tentu tak akan pernah ada
peristiwa semacam ini! Dan ini terjadi, semua gara-gara kau!!"
Datuk Biru masih mencoba untuk bersabar
kendati hatinya mulai diliputi kejengkelan.
"Kita adalah dua sahabat yang sejak muda selalu bertualang. Dan kita tak pernah
terlibat dalam pertikaian sekalipun. Bahkan, berbeda pendapat
pun tidak. Tapi, semenjak kita sama-sama secara
tak sengaja datang ke sebuah gua yang kala itu
badai sedang marah, pertikaian pun mulai terjadi.
Ini dikarenakan kalung yang berbandul sebuah
wajah yang mengerikan. Dan kita sama-sama menamakannya Kalung Setan. Aku tetap
berkeinginan agar kita tidak menyentuh benda itu. Tetapi
kau memaksa untuk mendapatkannya. Datuk Merah, apakah kau lupa akibat apa yang
terjadi bila seseorang memiliki Kalung Setan itu?"
"Aku tak peduli! Kau serahkan kalung itu kepadaku, atau... kematian akan
menjemputmu sekarang juga!"
"Tiga puluh tahun yang lalu, kita telah meributkan soal ini sampai pertarungan
tak bisa dihindari. Aku pikir...."
"Jangan berbangga karena kau bisa mengalahkan aku tiga puluh tahun yang lalu,
Orang tua celaka!" putus Datuk Merah berang.
Datuk Biru geleng-gelengkan kepala.
"Kau salah besar bila mengatakan aku berhasil
mengalahkanmu. Padahal, aku sendiri terluka dalam dan kita sama-sama kehabisan
tenaga. Bila saja saat itu kau menyerangku lagi, mungkin kita
sudah tidak bertemu!"
"Dan kau telah mendapatkan kalung itu!"
"Sekali lagi kukatakan, kau salah besar. Karena
setelah kita sama-sama memutuskan untuk menempuh jalan masing-masing, kalung
yang telah menyebabkan keretakan persahabatan di antara
kita, telah kubuang ke Jurang Trah Gering."
"Jahanam terkutuk! Masih juga mau mencoba
mendustaiku! Bila saja kalung itu sejak dulu kau
serahkan kepadaku, mungkin urusan tak akan jadi begini!"
"Tapi aku tak menyesal, bila pada akhirnya,
dengan kalung itu kita saling mencelakakan! Terutama hawa nafsu membunuh yang
dimiliki kalung
itu, akan melingkupi kita untuk membunuh siapa
saja yang kita tak senangi!"
Datuk Merah menggeram. Pancaran matanya
kian berbahaya. Udara masih sangat dingin.
"Dan sekarang, tanpa kalung itu pun, niatku
untuk membunuhmu semakin besar!!" Habis ucapannya, diiringi teriakan keras,
kakek berpakaian merah sudah mencecar ke depan. Angin keras mendahului gerakan
tubuhnya. Di tempatnya, Datuk Biru angkat kepalanya se-
jenak. Kejap berikutnya, tanpa berpindah dari kedudukannya, kedua tangannya
telah dipalangkan
di atas kepala dan menyusul disentakkan ke depan!
Wuussss!! Blaaammm!! Gelombang angin yang mendahului gerakan Datuk Merah terhantam putus oleh
serangan angin yang dilepaskan Datuk Biru. Kendati demikian,
Datuk Merah nampak tak punya niatan sedikit
pun untuk mengurungkan serangannya.
Dia terus mencecar maju!
Hingga akhirnya membuat Datuk Biru harus
melompat ke belakang dan dalam keadaan tegak,
dia miringkan sedikit tubuhnya bersamaan tangan
kanannya diputar.
Wuusss!! Blaaam! Blaaamm!!
Dua kali letupan keras terjadi. Tanah di mana
terjadinya benturan itu membubung ke udara, semakin menambah kepekatan tempat
itu. Tatkala semuanya sirap, nampak masingmasing orang berdiri tegak di atas tanah
dengan napas agak sedikit terengah. Kalau pandangan Datuk Merah begitu tajam menusuk,
dipenuhi keinginan untuk membunuh, pancaran mata Datuk
Biru tetap lembut. Ada riak keinginan agar pertarungan itu tak diteruskan.
Sebelum Datuk Merah lepaskan serangan lagi,
Datuk Biru sudah berkata, "Datuk Merah! Kita sudah sama-sama tua! Mengapa kau
tak pernah mau berpikir untuk mengakhiri segala pertikaian ini" Di
samping itu, kita adalah kawan seperjalanan semenjak muda. Tak ada gunanya kita
lakukan tindakan-tindakan konyol di ambang usia kita yang
semakin menua?"
Datuk Merah sesaat tak keluarkan suara. Dari
sikapnya jelas dia membenarkan ucapan Datuk
Biru. Namun harga dirinya masih terusik, dan
akan tetap terusik bila teringat bagaimana tiga puluh tahun yang lalu Datuk Biru
menolak mentahmentah di saat dia menginginkan Kalung Setan.
Dan harga dirinya yang telah diinjak-injak,
hanya dapat dihilangkan bila melihat Datuk Biru
berkalang tanah. Apalagi, tiga puluh tahun yang
lalu pula, dia dikalahkan oleh Datuk Biru!
Dengan napas memburu dan dada dibuncah
kemarahan sengit, Datuk Merah mendengus dingin, "Aku tak peduli dengan semuanya!
Yang kuinginkan adalah Kalung Setan! Juga... nyawamu!!"
Datuk Biru menghela dan menarik napas panjang.
"Aku tak tahu, apakah ini dikarenakan pengaruh amarah dan ambisinya, atau dia
memang sejak dulu mempunyai niat jahat padaku" Tapi, ah...
rasanya terlalu kejam menuduh dia mempunyai
niat jahat padaku. Dan sekarang, sudah seharusnya aku menyadarkannya kembali.
Agar dia tidak terus berada dalam jalur kesesatan."
Habis berpikir demikian, Datuk Biru berkata,
"Sesungguhnya, aku sama sekali tak tahu lagi harus berpikir bagaimana. Hanya
yang kuharapkan,
kita sudahi segala pertikaian di antara kita."
"Semuanya akan disudahi bila kau telah mam-
pus!" geram Datuk Merah dan bersamaan dengan
itu, dia tarik kaki kanannya ke belakang hingga
tubuhnya agak condong ke depan. Menyusul kedua tangannya dirangkapkan di depan
dada. Melihat gerakan yang dilakukan Datuk Merah,
Datuk Biru mendesah masygul.
"Dia akan keluarkan ilmu 'Awan Merah'-nya
yang ganas. Ah, apakah aku harus berdiam diri"
Tidak, sudah barang tentu aku harus menghadapinya."
Memikir demikian, perlahan-lahan Datuk Biru
angkat kedua tangannya lurus-lurus dengan langit
yang masih diselimuti malam. Lalu dibawa ke
samping kanan dan kiri, menyusul akhirnya dirangkapkan pula di depan dadanya.
Melihat gerakan yang dilakukan oleh orang yang
dibencinya, Datuk Merah buka mulut, "Tiga puluh
tahun yang lalu, dengan ilmu 'Kabut Biru' kau
berhasil mengalahkanku. Tapi sekarang, jangan
berharap kau bisa melakukan seperti itu lagi!"
"Datuk Merah! Sama sekali tak pernah terpikirkan di benakku untuk mengalahkanmu.
Kalaupun aku bersikap menolak permintaanmu untuk mendapatkan Kalung Setan, karena aku tak
mau di antara kita berada dalam kesesatan. Dan aku yakin, kau juga tahu akibat apa bila
kau mengenakan kalung itu."
"Terkutuk! Jangan mengguruiku!"
Habis ucapannya, Datuk Merah tekan tenaga
dalamnya sedikit. Menyusul terlihat sekujur tubuhnya bergetar. Dan mendadak saja
terlihat asap tipis berwarna merah mengepul dari kedua tan-
gannya yang terangkap. Menyusul hawa dingin
yang mendera tempat itu, tertindih oleh hawa panas yang mendadak terpancar dari
ilmu yang sedang dikeluarkan Datuk Merah.
Di tempatnya, Datuk Biru juga merasakan perubahan udara yang cukup membuatnya
sedikit bergetar. "Tiga puluh tahun yang lalu, kekuatan hawa
panas dari ilmu 'Awan Merah'-nya tak seperti sekarang. Berarti dia memang telah
memperdalam ilmu andalannya itu. Ah, mengapa dia tak mau
mempergunakan akalnya" Apakah dia...."


Pendekar Slebor 69 Kalung Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Jalan pikiran Datuk Biru mendadak saja terputus. Karena dengan suara lantang,
Datuk Merah sudah menerjang ke depan disertai dorongan kedua tangannya.
Serta-merta menghampar gelombang angin yang
perdengarkan suara gemuruh dikawal hawa panas
yang menyengat. Menyusul datangnya gelombang
angin tadi, tiga bongkah awan berwarna merah
melabrak pula. Di tempatnya, Datuk Biru terkesiap sesaat. Seraya surutkan langkah, dia dorong
kedua tangannya yang terangkap tadi. Kejap itu pula gelombang
angin yang dikawal udara sangat dingin menerjang. Disusul dengan kabut-kabut
berwarna biru yang bergerak laksana anak panah.
Sudah dapat dibayangkan apa yang terjadi kemudian. Letupan pertama terdengar
tatkala dua gelombang angin yang sama-sama dilepaskan
masing-masing orang berbenturan. Hawa panas
dan dingin saling lilit dan saling tindih.
Menyusul gelegar dahsyat yang membuat tempat itu laksana dilanda gempa, tatkala
awan-awan merah berbenturan keras dengan kabut-kabut biru.
Blaaaammm!! Tanah sejarak lima tombak mendadak saja
muncrat ke udara disertai getaran kuat. Awanawan merah dan kabut-kabut biru
berpentalan begitu bertemu. Tempat itu bergoyang.
Masing-masing penyerang tergontai-gontai ke
belakang, akibat saking kerasnya benturan yang
terjadi. Untuk beberapa lamanya tak ada yang lepaskan
serangan. Sementara itu, hawa panas dan dingin
masih terus saling tindih, disusul perlahan-lahan
sirapnya muncratan tanah tadi. .
Dan sekarang, terlihat sosok Datuk Biru jatuh
berlutut dengan tangan kanan menahan tubuh
pada tanah. Tetapi pandangannya lurus ke depan.
Tubuh kakek berpakaian biru ini agak bergetar.
Mulutnya menekuk karena satu tekanan kuat pada perutnya yang beranjak naik
dengan cepat. "Huaaakk!!"
Datuk Biru muntah darah dua kali.
Di pihak lain, sosok Datuk Merah pun mengalami nasib tak jauh berbeda. Hanya
bedanya, Datuk Merah masih berdiri tegak kendati sulit untuk
kuasai keseimbangannya dengan segera.
Untuk beberapa saat tak ada yang lakukan apaapa.
Datuk Merah menggeram dalam hati seraya
alirkan tenaga dalam untuk pulihkan keadaan,
"Sejak dulu, aku tahu kalau Datuk Biru berada satu tingkat di atasku. Tapi, aku
tak peduli dengan
semua itu! Karena, dia kelihatan luka parah sekarang."
Di pihak lain, Datuk Biru sedang mendesah
masygul, "Bila pertarungan ini diteruskan, yang
terjadi hanyalah sebuah kematian yang mungkin
akan tiba pada pihakku, dan juga terjadi pada dirinya. Dan ini tak boleh
terjadi. Aku harus bisa
mengembalikan Datuk Merah pada jalan pikiran
semula." Memikirkan demikian, hati-hati Datuk Biru
berdiri kembali. Ditenangkan gemuruh di hatinya
yang terasa kacau balau.
Lalu dia berkata, "Datuk Merah... apa yang telah terjadi ini seharusnya tak
boleh terjadi. Bila
kau masih bersikeras untuk mendapatkan Kalung
Setan, aku bersedia membantumu mencarinya di
Jurang Trah Gering. Dan itu kulakukan, agar kau
tidak terlalu lagi berambisi untuk memilikinya. Bila kita sudah menemukan
kembali benda itu, bukankah sebaiknya kita hancurkan" Ingat, pengaruh kalung itu
sangat berbahaya."
Tetapi mana mau Datuk Merah menyetujui usul
itu. Kepalanya menggeleng keras disertai tatapan
tajam. "Usulmu yang pertama, bisa aku terima! Tapi,
usulmu yang terakhir sama sekali tak bisa kuterima! Biar bagaimanapun juga, aku
harus memiliki kalung itu!"
Datuk Biru mendesah masygul.
"Apa yang bisa kulakukan sekarang" Dia masih
diliputi ambisinya untuk mendapatkan kalung
itu?" desisnya dalam hati, lalu berkata, "Sebaiknya
begini saja. Kau sudah tahu kalau Kalung Setan
telah kubuang ke Jurang Trah Gering. Sebaiknya
kita segera mencari kalung itu. Kita buat satu perjanjian, siapa yang lebih dulu
mendapatkan kalung itu, maka dialah yang berhak menyimpannya
tanpa mendapatkan halangan dari pihak lain. Dan
juga...." "Sudah tentu kau yang akan mendapatkannya,
karena benda itu memang berada padamu!!" putus
Datuk Merah muak.
Datuk Biru gelengkan kepalanya.
"Aku tak tahu apakah sekarang kau sudah menyangsikan kejujuranku atau tidak.
Tapi yang kukatakan itu benar. Kalung Setan telah kubuang ke
Jurang Trah Gering."
"Terkutuk! Sebenarnya aku percaya apa yang
dikatakannya. Sejak dulu dia tak pernah berdusta
sekali pun. Huh! Keinginanku untuk membunuhnya karena dia telah merobek-robek
harga diriku, semakin kuat saja! Tapi...."
Memutus kata batinnya sendiri, Datuk Merah
berkata, "Baik! Usulmu dapat kuterima! Kita akan
berlomba untuk mendapatkan Kalung Setan! Dan
akan kubuktikan padamu, kalau akulah yang
akan mendapatkannya!"
"Mungkin memang dia yang akan mendapatkannya. Tapi mungkin pula aku yang
mendapatkannya. Karena, aku sendiri sudah tak tahu lagi di tempat mana tepatnya
di Jurang Trah Gering
kalung itu kulempar. Tapi biar bagaimanapun ju-
ga, aku harus berhasil mendahului mendapatkannya," kata Datuk Biru dalam hati.
Lalu seraya anggukkan kepalanya dia berkata, "Ya! Kita akan
segera memulainyal"
Datuk Merah tatap dulu tajam-tajam Datuk Biru. Hati kakek satu ini masih
dibuncah dendam
tinggi. Setelah keluarkan dengusan, mendadak saja dia berbalik. Kejap
berikutnya, yang nampak
hanyalah bayangan merah yang bergerak ke arah
timur, seperti sedang menyongsong matahari yang
mulai tampakkan bias-biasnya.
Di tempatnya, Datuk Biru mendesah masygul.
Kakek ini masih menyesali keadaan yang akhirnya
membuat persahabatan di antara mereka harus
berada di persimpangan. Bahkan tanda-tanda keretakannya pun mulai kentara.
"Aku tak ingin Datuk Merah mendapatkan kalung itu. Kalung itu penyebab bencana
yang mengerikan. Aku harus dapat menemukannya lebih
dulu...." Setelah menghela napas panjang, Datuk Biru
segera bergerak ke arah barat. Meninggalkan tempat yang telah porak-poranda dan
siap didera matahari siang nanti.
*** 2 Tiga hari kemudian.
Pagi telah menghampar dengan bias-bias keindahannya. Pagi yang indah itu pun
menyelimuti Jurang Trah Gering yang tak begitu dalam. Di sana-sini banyak terdapat batu-batu
lamping dan pepohonan. Beberapa ekor burung beterbangan,
bermandikan cahaya pagi.
Dari arah kiri, nampak dua sosok tubuh sedang
melangkah menuruni Jurang Trah Gering. Dari caranya melangkah, nampak kedua
orang berbeda jenis itu sudah sangat hapal dengan situasi di Jurang Trah Gering.
Yang melangkah agak di depan, seorang pemuda bertubuh tegap tanpa mengenakan
pakaian. Pemuda yang diperkirakan baru berusia sekitar
dua puluh tahun ini memiliki perawakan yang bagus. Tubuhnya dipenuhi tonjolan
otot yang ditempa oleh alam. Dia melangkah sambil bersiul-siul.
Di belakangnya, nampak seorang gadis berpakaian putih agak kusam melangkah
sambil menyanyikan kidung perdamaian. Paras gadis yang
mengenakan celana panjang ringkas ini begitu jelita. Sepasang alisnya hitam
dengan mata yang jernih. Bibirnya tipis memerah dengan pipi yang agak
kemerahan karena mentari pagi. Sosoknya begitu
segar. Rambutnya yang indah dikuncir dua. Mereka adalah kakak beradik yang
tinggal di dusun Gelagah, yang letaknya sekitar satu penanakan nasi
dari Jurang Trah Gering.
Si kakak adalah yang laki-laki dan bernama
Sumarta, sementara adiknya yang jelita bernama
Sumiati. Sejak Sumarta berusia tujuh tahun, mereka telah ditinggal oleh kedua
orang tuanya, yang
tewas akibat dusun mereka didatangi gerombolan
penjahat. Saat itu Sumarta diperintahkan oleh
ayahnya untuk membawa lari Sumiati.
Dan satu-satunya tempat yang cukup aman,
adalah berdiam di Jurang Trah Gering. Selama
enam tahun Sumarta membawa adiknya di tempat
itu hingga akhirnya mereka menjadi kerasan. Namun Sumarta juga menyadari kalau
suasana di Jurang Trah Gering tak akan membuat kehidupan
mereka berkembang.
Akhirnya dia pun memutuskan untuk kembali
ke dusun Gelagah. Masih ada beberapa orang yang
dikenali Sumarta dan menyambut mereka dengan
gembira. Selama tinggal di Jurang Trah Gering, Sumarta
berusaha untuk menjadi seorang pemahat dengan
memanfaatkan kayu-kayu dari pohon yang sangat
banyak jumlahnya di Jurang Trah Gering. Dan dari hasil memahat itulah dia
akhirnya dapat membuat rumah yang sederhana dan menghidupi
adiknya yang kini tumbuh menjadi seorang dara
jelita. Dan seperti biasanya, setiap dua minggu sekali
Sumarta selalu datang ke Jurang Trah Gering untuk mencari kayu yang dapat
digunakan sebagai
bahan pahatannya.
Kalau biasanya Sumarta selalu datang seorang
diri, kali ini adiknya ingin ikut dengan alasan ingin
mengenang kembali tempat yang selama enam tahun mereka huni. Dan di pagi ini,
mereka mulai menuruni Jurang Trah Gering.
Dari kejauhan, Sumiati sudah berteriak, "Kakang Sumarta! Apakah gubuk itu yang
pernah kita tinggali dulu"!"
Sambil terus melangkah, Sumarta berkata, "Kau
betul, Ati! Memang gubuk itulah yang pernah kita
tinggali beberapa tahun yang lalu."
"Gubuk itu masih nampak kuat!"
"Aku selalu merawatnya setiap kali aku datang
ke Jurang Trah Gering."
"Ayolah, Kakang... sebaiknya kita cepat ke sana.
Aku sudah tidak sabar," kata Sumiati. Lalu dengan
cekatan gadis jelita ini mendahului kakaknya melangkah.
"Hei, hei... hati-hati! Masih banyak embun! Kau
bisa terpeleset nanti!"
Laksana kijang yang lincah, Sumiati hanya tertawa-tawa saja dan kini dia sudah
tiba di dasar Jurang Trah Gering. Masih tertawa-tawa gadis jelita ini mendatangi gubuk yang
selama enam tahun
pernah ditinggalinya.
Sumarta berseru, "Kau jangan ke mana-mana!
Aku akan mencari kayu di ujung sana!"
"Pergilah, Kakang! Aku betah sampai sore di
tempat ini!!"
Sumarta tersenyum. Dengan kapak yang cukup
besar di pundaknya, dia berjalan melewati gubuk
itu. Sementara itu, Sumiati sudah masuk ke gubuk
itu. Dia melebarkan senyum melihat gubuk ini sama sekali belum berubah.
Direbahkan tubuhnya
pada dipan kayu yang dulu pernah ditidurinya.
Rasa hangat menyelimuti dirinya hingga dia makin
betah berada di tempat itu.
"Enam tahun, cukup lama juga aku tinggal di
sini bersama Kang Sumarta. Ah, bila saja saat ini
ada ayah dan ibu, alangkah bahagianya...."
Buru-buru gadis jelita ini menghapus segala ingatan tentang orang tuanya. Karena
dia selalu ingat pesan kakaknya untuk tidak mengenang lagi
peristiwa mengerikan itu. Tapi biar bagaimanapun
juga, Sumiati masih ingat bagaimana bapaknya
menyuruh mereka pergi dengan kepanikan luar
biasa. "Ah, daripada memikirkan soal itu, lebih baik
aku memikirkan soal yang lain."
Lalu dengan mempergunakan sebatang ranting
yang masih terdapat daun-daun di ujungnya, gadis
jelita ini mulai membersihkan gubuk itu.
Saat ini matahari sudah sepenggalah. Namun
berada di Jurang Trah Gering, hanya kesejukan
yang dirasakan. Setelah membersihkan gubuk itu,
Sumiati melangkah keluar.
Dihirupnya udara sejuk dalam-dalam.
"Benar-benar aku berada di surga," katanya pada dirinya sendiri.
Lalu dilihatnya seekor kelinci sedang berdiam
sambil menatapnya dengan kedua telinga panjangnya yang bergerak-gerak.
"Hei, ada makanan!" desisnya tanpa sadar. "Dulu, aku selalu makan daging kelinci
dan burung di sini. Ah, perutku jadi lapar sekarang!"
Perlahan-lahan Sumiati mendekati kelinci itu
sambil bersuara, "Ayo, sini, Manis. Sini...."
Tetapi sudah tentu kelinci itu langsung lari begitu dia mendekatinya.
"Ya...," desisnya kecewa.
Tapi kejap berikutnya, dia sudah masuk kemba-
li ke dalam gubuk. Dilihatnya ada perangkap kelinci yang dulu dipergunakannya.
"Rupanya Kang Sumarta masih menyimpan


Pendekar Slebor 69 Kalung Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

benda ini. Hem, daripada menganggur, lebih baik
aku mencari makanan saja. Kalau biasanya Kang
Sumarta pulang aku sudah menyediakan makanan, kali ini biar kami makan di sini
saja." Lalu dengan gembira gadis berpakaian putih
agak kusam ini melangkah keluar dengan membawa jaring besar yang dulu
dipergunakan untuk
menangkap kelinci. Sejenak diperhatikan sekelilingnya sebelum memutuskan untuk
melangkah ke arah kiri. Namun rupanya, Sumiati sedang bernasib sial.
Karena sejak tadi dia belum juga menemukan kelinci-kelinci yang diburunya.
"Wah! Pada kemana mereka ya" Pada bersembunyi barangkali," katanya sambil garuk-
garuk kepalanya. Tetapi bagi seorang gadis yang memiliki watak
keras karena tempaan alam, tak membuat Sumiati
berputus asa. Dia terus melangkah mencari kelinci
yang siap diburunya.
Bahkan dia sudah semakin jauh masuk ke daerah Jurang Trah Gering. Tepat matahari
di atas kepala, dihentikan langkahnya di antara jajaran
pepohonan. "Waduh! Kok belum ada juga ya?" desisnya mulai sebal. Tapi lagi-lagi kekerasan
hatinya memutuskan untuk terus mencari buruannya.
Mendadak didengarnya suara riang burungburung. Seketika kepalanya ditegakkan.
"Wah! Yang banyak justru burung. Tapi sayang,
aku tak membawa perangkap untuk menangkap
burung. Ya sudahlah, lebih baik aku meneruskan
mencari kelinci."
Masih membawa pandangan untuk melihat beberapa ekor burung yang beterbangan,
Sumiati diam-diam menelan ludahnya. Perutnya sudah mulai merasakan lapar.
Dan mendadak saja kening gadis ini berkerut
tatkala pandangannya membentur pada sebuah
benda yang menggantung di sebuah pohon. Bila
saja benda itu tak memancarkan sinar kehitaman,
mungkin Sumiati tak akan melihatnya.
"Lho, Iho... benda apa itu yang bercahaya kehitaman?" desisnya dengan kening
makin berkerut.
"Berjuntai-juntai seperti... sebuah kalung. Kalung"
Ah, mana ada kalung di sini" Kalaupun memang
itu kalung, siapa yang iseng telah membuangnya?"
desisnya pada diri sendiri.
Lalu perlahan-lahan dia melangkah mendekati
pohon di mana benda yang pancarkan sinar hitam
itu dilihatnya.
"Wah! Betul kalung itu! Ih! Bagus sekali! Siapa
ya yang memilikinya?" desisnya lagi.
Untuk sesaat Sumiati melupakan perutnya yang
mulai kelaparan. Karena ada dorongan untuk
mengetahui secara jelas benda yang dilihatnya,
gadis jelita ini segera melemparkan perangkap kelinci yang dibawanya.
Lalu dengan cekatan dan tanpa dirundungi rasa
ngeri sedikit pun, dia sudah naik ke pohon itu. Gerakannya sangat lincah. Dalam
tempo yang sing-
kat, Sumiati sudah berada di dahan pohon di mana benda bersinar kehitaman
dilihatnya. "Memang kalung!" serunya gembira. "Sinar hitam itu terpancar dari bandulnya. Ah,
siapa ya yang memilikinya" Kalau aku mengambilnya, apakah ini bukan yang disebut pencuri"
Menjadi pencuri" Mana sudi aku! Tapi...."
Hati gadis ini menjadi bimbang. Ada dorongan
kuat untuk mengambil kalung itu. Di lain pihak,
ada pula perasaan tak ingin memiliki benda yang
bukan miliknya.
"Tapi ya... kan tidak ada yang memilikinya. Setahuku, hanya aku dan Kang Sumarti
yang selalu datang ke Jurang Trah Gering. Mungkin ya.. kalung ini ada yang melemparnya.
Sebaiknya, kuambil saja...."
Lalu dengan agak sedikit menggapai, Sumiati
memegang bandul kalung itu. Begitu dipegang,
tangannya seketika seperti pancarkan sinar kehitaman. Sesaat kelihatan gadis ini
menjadi tegang.
Tetapi dorongan untuk memiliki kalung itu semakin
kuat melingkupinya.
Dengan susah payah akhirnya dia berhasil
mengambil kalung itu. Dan diperhatikannya dengan seksama.
"Ih! Bagus sekali! Rantainya terbuat dari rantai
berwarna hitam kecil-kecil. Juga... oh!"
Seperti disengat kalajengking, mendadak saja
gadis jelita ini melepaskan kalung itu hingga jatuh
ke tanah. Seharusnya, gerakan jatuhnya kalung
yang tak seberapa berat itu, tak akan menimbulkan suara letupan. Tapi begitu
kalung itu terhem-
pas ke tanah, terdengar letupan kecil yang membuat tanah itu memburai ke udara.
Masih berada di dahan yang didudukinya, kening Sumiati berkerut.
"Aneh!" desisnya tanpa sadar.
Lalu terburu-buru dia turun. Kali ini dia tak berani untuk segera mengambil
kalung yang masih
pancarkan sinar kehitaman. Dia hanya berdiri
dengan perasaan waswas sejarak tiga langkah dari
kalung itu. "Kalung yang entah milik siapa itu memang indah. Tapi, bandulnya.... Ih! Kok
yang tergambar di
sana mengerikan sekali. Sebuah wajah. Wajah...."
Tanpa sadar Sumiati palingkan kepalanya ke
belakang, lalu ke sekelilingnya. Setelah diyakini
tak ada sesuatu yang menakutkan, dia meneruskan jalan pikirannya.
'Seperti wajah setan," desisnya kemudian. "Ih!
Seram ah!"
Lalu gadis ini memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu, meninggalkan
kalung yang pada bandul nya terlihat wajah penuh taring dengan sepasang mata memerah. Segera
diambilnya perangkap kelinci yang tadi di dilemparnya.
Dia merasa lebih baik kembali ke gubuk. Khawatir kalau kakaknya sudah tiba di
sana dan cemas mencarinya.
Namun baru saja dia melangkah dua tindak,
mendadak saja gadis ini berdiri tegak. Kepalanya
tegak dengan langit. Dan laksana sebuah robot,
mendadak saja Sumiati gerakkan tubuhnya menghadap kalung itu kembali.
"Aneh, apa yang terjadi?" desisnya sambil berusaha membalikkan tubuhnya lagi.
Tetapi, hanya ada hasratnya belaka tanpa bisa dilakukannya.
Dan mendadak dilihatnya sinar hitam yang
memancar dari kalung berwajah setan itu, membesar. Langsung melingkupinya yang
menggigil ketakutan namun tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan
berteriak saja pun tidak.
Cukup lama sinar hitam itu menyelimuti seluruh tubuhnya. Setelah menghilang,
terlihat paras Sumiati menegang. Dan dengan gerakan kaku, gadis yang semula hendak meninggalkan
tempat itu, justru mendekati kalung yang tergeletak di atas
tanah. Rasa ngerinya tadi mendadak sontak lenyap begitu saja. Bahkan dengan enaknya
Sumiati memungut kalung itu. Memperhatikannya sejenak.
Bibirnya tersenyum saat memasukkan kalung itu
pada kepalanya dan membiarkan kalung itu kini
melingkar di lehernya.
Saat dia palingkan kepala, terlihat sepasang
matanya memerah mengerikan!
*** 3 Pada saat yang bersamaan, Sumarta sedang
berteriak memanggil adiknya di sekitar gubuk itu.
Di depan gubuk, telah terdapat potongan kayu
yang diikat menjadi satu.
"Ati! Sumiati!" serunya dengan kedua tangan
membentuk corong.
"Ah, ke kemana itu anak" Ati! Di mana kau"
Ati!!" Tetap tak ada sahutan apa-apa. Perasaan Sumarta menjadi tidak enak sekarang.
"Bandel! Ke mana dia" Ah, tak seharusnya dia
kuizinkan untuk ikut tadi," desisnya agak jengkel.
Dia kembali berteriak. Tetapi tak ada sahutan
apa-apa. Sumarta akhirnya memutuskan untuk
mencari adiknya dan terus berteriak memanggil.
Justru yang terdengar kemudian satu suara,
"Lho, lho! Kenapa berteriak" Mau jadi tarzan ya?"
Seketika pemuda gagah ini palingkan kepalanya
ke kanan. Keningnya berkerut melihat seorang
pemuda berambut gondrong acak-acakan sedang
nyengir tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Siapa pemuda itu?" pertanyaan itulah yang
pertama kali terlontar di hati Sumarta. Karena, selama dia mendatangi Jurang
Trah Gering, sekali
pun dia belum pernah berjumpa dengan orang lain
kecuali adiknya sendiri.
Pemuda yang menyapanya dan memiliki sepasang alis hitam legam menukik laksana
kepakan sayap elang, nyengir lagi, "Busyet! Kenapa melotot
begitu" Kau pikir aku ini seorang gadis ya?"
"Aneh! Siapa dia" Ucapannya konyol sekali, tapi
bernada jenaka?" kata Sumarta dalam hati dan belum membuka mulut.
Lagi-lagi pemuda berpakaian hijau pupus yang
di lehernya melilit kain bercorak catur buka mulut
sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal,
"Kenapa sih melihati ku seperti itu" Ada yang aneh
ya?" Tanpa sadar Sumarta menggelengkan kepalanya. Masih menatap si pemuda dia
berkata, "Siapakah Saudara sebenarnya?"
"Aku" Aku yang kau maksud?" si pemuda menunjuk dirinya sendiri. "Namaku Andika.
Yah... aku cuma kebetulan saja tertarik melihat tempat
ini dari atas tadi. Makanya, aku segera mendatanginya. Kali-kali saja ada cewek
cantik nganggur."
"Dia berucap seperti tak dipikirkan lebih dulu.
Gayanya urakan sekali. Tapi kilatan matanya yang
jenaka membuatku yakin kalau dia bukanlah
orang jahat."
Habis membatin demikian, Sumarta tersenyum,
"Namaku Sumarta."
"Nama yang bagus. O ya, siapa sih yang kau cari" Kok berteriak-teriak seperti
tarzan begitu?"
"Aku sedang mencari adikku."
"Sumiati?" '
"Oh! Kau mengenalnya" Di mana dia?" sahut
Sumarta segera dengan pandangan berbinar.
"Mengenalnya" Ya, tidak!"
"Tapi bagaimana kau bisa tahu?"
"Memangnya telingaku tuli! Kan aku mendengar
kau berteriak menyebutkan nama adikmu!" sahut
si pemuda sambil nyengir.
Sumarta cuma mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, "Maaf, aku tak bisa
meneruskan pembicaraan ini lebih lama. Aku harus
mencari adikku. Bila hari mulai senja, kemungkinan besar akan sulit
menemukannya."
Pemuda berpakaian hijau pupus yang memang
Andika alias Pendekar Slebor, angkat sepasang
alisnya. Pemuda urakan dari Lembah Kutukan ini
kemudian berkata,
"Bagaimana bila aku membantumu mencarinya" Kebetulan sekali aku lagi tak punya
kerjaan nih." Sejenak Sumarta memandangi dulu si pemuda
sebelum menganggukkan kepalanya. Kejap berikutnya keduanya sudah melangkah.
Sumarta berteriak memanggil nama adiknya.
Pendekar Slebor ikut-ikutan dengan gaya urakannya.
Tapi sampai sejauh itu, belum ada tanda-tanda
kalau Sumiati telah ditemukan.
Di sebuah jalan setapak, Sumarta menghentikan langkahnya. Dia tiba pada satu
pikiran baru. "Apakah tak mungkin kalau adikku sudah pulang lebih dulu?"
Andika merasa pertanyaan itu ditujukan padanya. Makanya dia menyahut, "Maksudmu
pulang ke mana?"
"Ke rumah."
"Memangnya kalian tinggal di sini?"
Sumarta menggeleng.
"Dulu, kami pernah tinggal di sini. Tapi sekarang kami tinggal di dusun
Gelagah." "Maksudmu, dia sudah kembali kedusun Gelagah?"
Sumarta mengangguk-anggukkan kepalanya.
Andika menggaruk-garuk kepalanya yang tidak
gatal. "Karena aku sudah memutuskan untuk membantumu, bagaimana bila kau mengecek saja
adikmu di rumah. Biar aku yang meneruskan
mencarinya?"
Mendengar usul itu, Sumarta menatap dalamdalam pada Andika. Andika mendengus
begitu menyadari kalau pandangan pemuda tanpa pakaian itu sekarang mengandung
kecurigaan. "Kutu landak! Kok dia curiga begitu sih" Apa
tampang kerenku ini seperti orang pesakitan?"
dengusnya dalam hati.
Lalu dilihatnya kepala Sumarta menggeleng.
"Bukannya aku tidak setuju dengan usulmu, tetapi, aku masih berkeinginan mencari
adikku sampai ketemu."
"Itu lebih baik. Ayo, kita teruskan langkah lagi!"
ajak Andika dan sambil melangkah dia mendumal,
"Monyet pitak! Jadi aku nih yang punya urusan"
Padahal perutku sudah kelaparan banget! Huh!
Lagi pula mau apa sih aku tertarik datang ke tempat seperti ini" Tapi ya... dari
atas sana tempat ini
sangat bagus. Lagi pula, tak ada salahnya aku
membantu pemuda ini mencari adiknya...."
Mereka meneruskan langkah kembali dan sesekali berteriak. Andika sengaja
kerahkan tenaga dalamnya agar teriakannya terdengar sampai jauh.
Tapi tepat senja mulai datang, mereka belum juga


Pendekar Slebor 69 Kalung Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menemukan di mana Sumiati berada.
Andika mulai merasa tidak enak melihat ketegangan yang menyelimuti wajah
Sumarti. "Sejak hari masih siang tadi, sudah sulit menemukan di mana gadis bernama
Sumiati berada.
Dan sudah barang tentu di hari yang mulai gelap
ini akan semakin sulit. Hem, apa yang harus kulakukan sekarang?"
Untuk beberapa saat anak muda dari Lembah
Kutukan ini terdiam memikirkan cara terbaik. Diliriknya Sumarta yang kian
gelisah. Lalu katanya, "Sumarta, sebaiknya kita jalankan usulku yang pertama tadi. Kau
pulanglah, barangkali adikmu memang sudah pulang sebenarnya."
Kali ini Sumarta tidak membantah seperti tadi.
Seraya anggukkan kepala dia berkata, "Terima kasih atas niat baikmu, Andika. Ya,
aku akan segera
pulang. Besok pagi, kau datanglah ke tempat kami
di dusun Gelagah."
Andika menganggukkan kepala.
Lalu dilihatnya Sumarta sudah balikkan tubuh
dan siap melangkah. Namun baru lima tindak pemuda itu melangkah, mendadak saja
terdengar suara, "Kang Marta!!"
Serta-merta Sumarta balikkan tubuh. Dilihatnya Sumiati keluar dari balik
ranggasan semak belukar sambil tersenyum. Separuh gembira dan gemas, pemuda itu
menyambut kedatangan adiknya
dengan seruan, "Ati! Kau hampir saja membuat copot jantungku! Ke mana saja kau?"
Gadis jelita berkuncir dua itu tersenyum.
"Untungnya masih belum copot, kan?"
"Kau ini! Ayo, kita segera pulang!" kata Sumarta, lalu berkata pada Andika,
"Andika, secara tidak
langsung kau memang telah membantuku. Sudi-
kah kau untuk mampir ke tempatku?"
Andika tersenyum dan sesekali melirik Sumiati
yang sedang tundukkan kepalanya.
"Busyet! Cantik amat! Rugi berat nih kalau tidak mampir! Tapi ya... harus tahan
diri dulu dong.
Bisa berabe kalau ketahuan ada maunya."
Sambil cengengesan anak muda dari Lembah
Kutukan ini berkata, "Aku masih ingin berada di
sini. Mungkin besok aku akan mendatangimu...."
Lalu sambungnya dalam hati, "Untuk melihat dara
jelita yang aduhai itu."
Sumarta cuma menganggukkan kepalanya. Lalu
berkata pada adiknya, "Ayo, Ati! Kita bisa tersesat
karena sebentar lagi malam akan datang."
"Kakang marah padaku?" tanya adiknya tanpa
berani angkat kepala.
Sumarta menghela napas pendek. "Sudahlah.
Tidak apa-apa."
"Aku... aku tadi, bermaksud mencari kelinci untuk kita panggang, Kakang. Dan
aku...." "Sudahlah. Ayo!" putus Sumarta. Setelah anggukkan kepala pada Pendekar Slebor,
pemuda itu menarik tangan adiknya untuk mengikutinya.
Tinggal Andika yang memperhatikan kepergian
kedua kakak beradik itu.
"Wah! Nasibku lagi beruntung rupanya! Ada cewek cakep kayak begitu! Ya, lebih
baik aku...."
Mendadak saja Andika putuskan ucapannya.
Sepasang matanya yang tajam mendadak saja menyipit, tatkala melihat sosok
Sumiati yang kemudian lenyap bersamaan lenyapnya tubuh Sumarta
di balik ranggasan semak.
Untuk beberapa saat anak muda urakan ini
hanya terdiam, mencernakan apa yang baru saja
dilihatnya. "Aneh!" desisnya kemudian. "Sejak tadi, aku tak
melihat ada cahaya hitam pada leher gadis bernama Sumiati itu. Tapi barusan, ada
pendaran cahaya hitam yang begitu kuat" Lho, lho... dari mana
asal cahaya hitam itu?"
Tak tahu harus menjawab apa dari pertanyaannya sendiri, anak muda ini garuk-
garuk kepalanya
yang tidak gatal.
"Benar-benar busyet! Kok aku jadi penasaran
ingin mengetahui dari mana asalnya cahaya hitam
itu" Apakah gadis itu menyembunyikan sesuatu di
balik pakaiannya" Ih! Kalau dia memang menyembunyikan sesuatu, ya aku tahu apa
yang disembunyikannya" Tapi masa iya sih sampai pancarkan sinar hitam seperti
yang kulihat barusan?"
Karena rasa penasaran yang mulai menggigil,
akhirnya si Urakan ini memutuskan untuk mengikuti kakak beradik itu.
Sementara itu, Sumarta dan Sumiati sudah tiba
di depan gubuk yang dulu pernah mereka tinggali
selama enam tahun.
Sumarta segera mengangkat kayu-kayu yang telah diikatnya menjadi satu seraya
berkata, "Ati!
Kau bawa kapakku itu!"
"Kakang... sejak pagi kita belum makan?" kata
adiknya seperti merengek.
"Nanti saja di rumah kita makan. Bukankah
masih ada persediaan ketela untuk kita makan?"
Sumiati menganggukkan kepalanya.
Sumarta berkata, "Ayo, kau berada di depanku!"
"Ih, Kakang ini! Aku mana bisa menentukan
arah dalam keadaan gelap seperti ini" Sebaiknya,
Kakang saja."
Sumarta tahu kalau saat ini adiknya sedang datang manjanya. Sambil mendengus
pelan, dia mendahului melangkah dengan membawa kayukayu di punggungnya.
"Hati-hati!" desisnya.
Sumiati tak menyahut. Dia mengikuti dari belakang dengan membawa kapak milik
kakaknya. Melangkah dengan membawa beban seperti itu
dan dalam keadaan yang cukup gelap, membuat
Sumarta tidak bisa melangkah lebih cepat dari biasanya. Tapi dia juga tak mau
kemalaman di Jurang Trah Gering, kendati sebelumnya ada niatan
untuk menginap dulu di gubuknya itu.
Sumiati sendiri terus melangkah mengikuti kakaknya sambil bernyanyi-nyanyi
kecil. Namun lama kelamaan, satu keanehan terjadi. Karena mendadak saja terlihat
sepasang matanya menatap tajam dan pancarkan sinar merah.
Mulutnya memang terus bernyanyi-nyanyi yang
kali ini dengan perubahan paras yang tegang.
Di leher hingga dadanya, nampak sinar hitam
berpendar mati. Berulangkali dan kemudian melingkupi batas leher hingga dadanya.
Dan satu kebencian mendadak saja muncul di hati gadis itu
yang sebenarnya tak tahu mengapa bisa terjadi.
Dari belakang, dilihatnya sosok kakaknya yang
sedang membawa kayu-kayu laksana sosok seorang musuh yang harus dimusnahkan. Dan
kebencian itu datang begitu saja.
"Berhenti!"
Sudah tentu Sumarta terkejut mendengar ucapan yang dilontarkan dengan nada
membentak. Dia berhenti tetapi tak membalikkan tubuh.
"Kenapa lagi" Ayo, jangan manja!" desisnya seraya melangkah lagi.
"Orang tak dikenal! Kataku berhenti!"
Kali ini tubuh Sumarta menegak. Suara itu, bukan hanya begitu keras, tetapi
sangat asing di telinganya.
Dengan perasaan heran, pemuda gagah ini
membalikkan tubuh. Saat itu pula keningnya berkerut begitu melihat wajah asing
pada wajah adiknya. Untuk beberapa saat Sumarta menatap tak
mengerti. "Aneh! Ada apa ini" Mengapa Sumiati kelihatan
begitu garang" Dan matanya... oh! Memancarkan
sinar merah yang mengerikan?" desisnya dengan
perasaan mulai diliputi kegelisahan.
Di hadapannya, adiknya menatap dingin. Mulutnya merapat.
"Ati... ada apa?" tanya Sumarta sambil tenangkan gemuruh hatinya.
"Jangan banyak cakap! Aku menginginkan nyawamu!!"
"Gila!!" desis Sumarta tersentak. Kayu yang dibawanya dilemparkan begitu saja.
Dipandangi wajah adiknya dengan seksama. Dilihatnya pancaran
mata yang penuh sinar membunuh pada bola mata adiknya. "Ati! Sadarlah! Ada apa
ini"!"
Sebagai sahutan dari ucapannya, Sumiati justru
angkat kapaknya tinggi-tinggi. Melihat sikap adik-
nya yang seperti hendak habisi nyawanya, Sumarta berseru tertahan seraya mundur
perlahanlahan. "Sumiati! Kau kenapa" Kenapa"!"
Mendadak adiknya terbahak-bahak keras.
"Gila! Tak pernah Sumiati tertawa seperti itu!
Lagi pula, suaranya bukan suara Sumiati. Oh! Apa
yang telah terjadi" Mengapa adikku jadi seperti
ini?" Belum lagi dia dapat cernakan apa yang terjadi,
Sumiati telah ayunkan kapak yang dipegangnya.
Laksana seorang penebang kayu yang siap memotong kecil-kecil kayu hasil
tebangannya. *** 4 Wiiuut!! Secara refleks Sumarta bergulingan ke kiri. Namun belum lagi dia berdiri tegak,
dengan sorot mata buas, adiknya sudah memburu ke arahnya seraya ayunkan
kapaknya. "Sumiati!!" serunya tertahan sambil berusaha
hindari ayunan kapak adiknya.
Craakk! Sebuah dahan yang telah patah terpotong menjadi dua begitu ayunan kapak tadi
mengenainya. Sumarta buru-buru melompat berdiri.
"Sumiati! Sadarlah! Sadarlah, Adikku!!" serunya
berusaha menyadarkan kekalapan adiknya.
Tetapi adiknya hanya kembangkan senyuman
dingin. Pancaran matanya kian kuat memancarkan nafsu membunuh.
"Siapa pun orangnya, dia harus mati di tanganku! Aku haus darah! Haus darah!!"
Lalu dengan ganasnya Sumiati memburu kakaknya dengan kapak yang dipegangnya.
Kendati tak memiliki ilmu apa-apa, tetapi Sumarta adalah
sosok pemuda yang telah ditempa alam. Dengan
pergunakan sebatang kayu, dia berusaha menjatuhkan kapak yang dipegang adiknya.
Menyusul dia menyergap dengan maksud agar
adiknya menghentikan tindakan gilanya itu. Namun yang mengejutkan Sumarta,
karena tangan kanan adiknya sudah mengibas. Memukul dadanya yang tergontai-gontai ke belakang.
Dadanya laksana dihantam godam yang sangat
keras, membuat Sumarta untuk sesaat merunduk
menahan sakit. Dan pemuda tanpa pakaian itu tak
bisa untuk berdiam lebih lama, karena dengan ganasnya Sumiati sudah menerjang.
Astaga! Gadis lembut itu selain mendadak saja
memiliki kekuatan yang besar, juga dapat melompat laksana seekor kijang. Memburu
dan siap menyergap Sumarta.
Berteriak Sumarta sambil melompat ke samping
kiri. Kendati berhasil, namun tangan kiri Sumiati
menyerempet bahunya. Akibatnya sosok Sumarta
terlempar dengan deras di atas tanah!
"Darah! Bau darah kucium! Menyenangkan sekali!" seru Sumiati dengan suara
bergetar. Di tempatnya, dengan susah payah dan ketaku-
tan yang semakin menjadi-jadi, Sumarta berhasil
bangkit. Dipandangi adiknya dengan tatapan tak
percaya. Apa yang ada di hadapannya ini memang
sulit dipercaya.
Sumarta yakin, kalau semua itu terjadi tanpa
dikehendaki oleh adiknya. Bahkan mungkin tanpa
disadarinya. Sebelum dia memikirkan lebih lanjut keadaan
yang membingungkannya, mendadak saja terlihat
sinar hitam dari leher dan dada adiknya. Sinar hitam itu lebih terang dari dada
Sumiati. "Gila! Apa yang sebenarnya terjadi" Mengapa
dari balik pakaian adikku ada sinar hitam" Celaka!
Ada apa ini" Ada apa"!"
Lalu dilihatnya, bagaimana Sumiati sambil menatap dingin ke arahnya,
mengeluarkan sesuatu
dari balik bajunya. Sebuah kalung! Dan dari kalung itulah memancar sinar hitam!
"Astaga! Dari mana dia mendapatkan kalung
itu" Setahuku, Sumiati tak pernah memiliki kalung apa-apa. Apalagi kalung
mengerikan yang
pancarkan .sinar hitam itu. Apakah kalung itu
yang menyebabkan Sumiati menjadi buas seperti
itu?" Semakin tak menentu perasaan Sumarta melihat apa yang melingkar di leher
adiknya. Dilihatnya bagaimana wajah Sumiati begitu keras, tatapannya tajam
menusuk. "Darah! Ya, darahlah yang membuatku dapat
bertahan!" suara aneh yang terdengar agak sengau
itu meluncur dari mulut Sumiati. "Orang muda!
Darahmu pasti segar! Aku menginginkannya!"
Habis ucapan itu terdengar, mendadak sontak
mencelat sinar hitam yang perdengarkan suara
gemuruh dari bandul kalung yang dikenakan Sumiati.
Seperti telah lenyap sebagian nyawanya Sumarta melihat kejadian yang mengerikan
itu. Dia melompat ke samping kanan.
Blaaarrr!! . Tanah di mana tadi dia berdiri, langsung membubung tinggi disertai
berhamburannya ranggasan
semak. Untuk beberapa saat hari yang sudah dimasuki malam, kian menggelap. Saat
itu pula tercium bau yang sangat amis.
"Celaka! Benar-benar celaka!" desis Sumarta
dengan dada naik turun. Kalaupun tadi pemuda
ini berhasil menyelamatkan diri, itu dikarenakan
dia lebih dulu bergerak dari lesatan sinar hitam
tadi. Begitu pandangannya dibawa pada tanah yang
tadi terhantam sinar hitam itu, dilihatnya tanah
itu telah membentuk sebuah lubang yang cukup
besar. Makin ciut nyali Sumarta melihat keadaan
ini. "Aku tak tahu apa yang terjadi. Tetapi, bila aku
berada di sini terus, Sumiati akan tetap membunuhku. Ah, malang nian nasib
adikku. Apa yang
sebenarnya telah terjadi" Apakah tindakan kejamnya ini karena kalung yang


Pendekar Slebor 69 Kalung Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dikenakannya" Lalu
dari mana dia menemukan kalung itu?"
Belum habis dia berpikir, sinar hitam tadi sudah melesat kembali. Gelombang
angin angker menggebrak. Kali ini Sumarta mendadak saja se-
perti kehilangan tenaganya. Bahkan tubuhnya
menggelosoh jatuh terduduk.
Pemuda ini nampak pasrah menghadapi apa
yang akan terjadi.
Namun sebelum sinar hitam yang diiringi gemuruh angin itu menghantam putus
nyawanya, mendadak saja satu gelombang angin lainnya menggebrak dari arah
sampingnya. Menabrak sinar hitam
yang mengarah padanya.
Blaaam! Blaaammm!!
Benturan keras yang mengerikan menggema di
malam yang gelap. Sumarta sendiri harus terjengkang ke belakang karena kuatnya
pengaruh benturan tadi. Dan sebelum tubuhnya ambruk di atas
tanah, satu sosok tubuh telah menyambarnya.
Menyusul terdengar letupan keras di belakang
Sumarta. Blaaarrr! Ranggasan semak yang di belakangnya terdapat
sebuah pohon, langsung rengkah. Menyusul pohon
itu tumbang dengan perdengarkan suara berdebam.
"Menyingkir dari sini!" seruan itu menyadarkan
Sumarta dari ketertegunannya.
Lalu dilihatnya orang yang menolongnya itu telah berdiri dua langkah
membelakanginya.
"Andika...," desisnya pelan.
Si penolong yang bukan lain anak muda urakan
dari Lembah Kutukan itu, pandangi sosok Sumiati
yang sedang menggeram.
"Monyet pitak! Kecurigaanku ternyata terbukti!
Kini aku tahu, dari mana asalnya sinar hitam yang
kulihat tadi pada punggung si gadis. Dari sebuah
kalung. Gila! Mengapa Sumarta tak pernah mengetahui soal kalung itu" Tapi,
apakah kalung itu
yang memang sangat berbahaya, atau sesungguhnya Sumiati yang mempunyai niatan
jahat pada kakaknya sendiri?"
Gadis berpakaian putih agak kusam yang menjadi buas, merandek gusar, "Pemuda
berbaju hijau pupus! Lebih baik menyingkir dari sini sebelum
menyesali keadaan!"
Andika garuk-garuk kepalanya. Dia belum
membuka mulut. Karena masih dipikirkannya apa
yang menyebabkan gadis jelita itu menjadi sedemikian buas.
Terdengar lagi suara sengau Sumiati, "Menyingkir dari sini! Aku menginginkan
darah pemuda gagah itu! Baru kemudian darahmu!"
"Enaknya! Memangnya darah monyet main ingin begitu saja"!" rutuk Andika dalam
hati. Lalu dia berseru, "Eh! Kau ini siapa sih sebenarnya"
Sumiati atau sebangsa dukun yang menyamar sebagai Sumiati"!"
"Persetan dengan ucapanmu itu! Menyingkir!
Atau... kau ingin lebih dulu darahmu habis kuhisap!!"
"Busyet! Enak betul ya main hisap begitu"
Ngomong-ngomong, kau memang bisa membuat
lubang di ubun-ubunku! Lalu dengan mempergunakan sedotan kau bisa menghirupnya
seperti sebuah kelapa muda! Fiuh! Segar betul!"
"Jahanam!!" '
Bersamaan makian yang menggelegar, dari ka-
lung yang dikenakan Sumiati, mendadak saja melesat sinar hitam berkekuatan
tinggi. "Heeiii!!" tersentak anak muda urakan itu sambil dorong tubuh Sumarta ke samping
kanan, sementara dia sendiri segera melompat ke samping
kiri. Blaaammm!! Untuk kedua kalinya sebuah pohon tumbang
dan keluarkan suara bergemuruh.
Di tempatnya, Andika sipitkan matanya.
"Sinar hitam itu melesat dari kalung yang dikenakan Sumiati. Hem, aku yakin,
kalau sesungguhnya keadaan Sumiati sekarang ini dikuasai
oleh kalung aneh itu. Dan lebih aneh lagi, sepertinya Sumarta tak mengetahui
soal kalung itu"
Atau..." Terputus jalan pikiran Pendekar Slebor, karena
sinar-sinar hitam itu kembali melesat ke arahnya.
Kali ini, dengan pergunakan tenaga 'Inti Petir' tingkat kelima, Andika
menyongsong. Suara salakan petir terdengar begitu dia gerakkan kedua tangannya. Disusul suara
keras dua kali. "Ugghhh!!"
Sosok Andika terlempar begitu kedua tangannya
memutus sinar-sinar hitam yang mengarah padanya. Dadanya saat itu pula dirasakan
sangat ngilu. Aliran darahnya mendadak jadi kacau. Kepalanya pusing tujuh keliling.
Sumiati tertawa sengau.
"Kini, kau akan menyesali karena berani lancang campuri urusanku!"
"Suaranya pun berubah dari suara yang sebelumnya kudengar. Sudah jelas kalau dia
dikuasai oleh kalung itu. Kalung Setan! Monyet buduk!
Kambing bunting! Landak bau! Kalau begitu, aku
harus merebut kalung yang dikenakannya!!"
Sementara Sumarta hanya terduduk dengan
napas terengah dan perasaan tak menentu sambil
pandangi keadaan adiknya.
Perlahan-lahan Andika melangkah dua tindak
ke depan. Pandangannya tajam tak berkedip. Ada
rasa ngeri di hatinya yang mendadak muncul.
"Untuk mendapatkan kalung itu, sudah tentu
tak akan mudah. Tapi, bila aku tak mendapatkannya, urusan akan jadi kapiran!
Peduli kerbau gila!
Aku harus mencobanya!"
Berpikir demikian, Andika segera kerahkan tenaga 'Inti Petir' tingkat pamungkas.
Dengan menamengkan diri seperti itu, anak muda ini menerjang ke depan, dengan
maksud untuk menyambar
Kalung Setan yang menggantung di leher Sumiati.
Dan seperti yang sudah diperkirakannya, anak
muda ini tak mudah melakukan maksud. Karena
mendadak saja gumpalan asap hitam yang tebal
mendadak menyembur dari kalung yang pancarkan sinar hitam itu.
Seketika Andika dikerubungi oleh asap-asap
tebal yang pekatkan mata. Serta merta anak muda
urakan ini menjadi kelabakan dan berusaha membebaskan diri dari kungkungan asap-
asap hitam itu. "Kutu landak! Kalau mau serang pakai asap begini, bilang-bilang dong! Kan aku
bisa memejam- kan mataku dulu!" serunya konyol dalam kungkungan asap hitam itu.
Dua kejapan mata kemudian, pemuda yang di
lehernya melilit kain bercorak catur ini sudah berhasil loloskan diri dari
kungkungan asap hitam
itu. Dia terbatuk-batuk seperti kakek yang tua
renta. Di depan, bibir Sumiati pentangkan senyum
dingin. "Itulah akibat dari kebodohan yang kau lakukan!!"
Andika meleletkan lidahnya dengan sesekali
terbatuk. "Mau bodoh kek, pintar kek, itu urusanku! Apa
urusannya denganmu, hah"!" selorohnya asal. Tapi dia menyambung dalam hati,
"Gila! Seluruh tubuhku terasa dingin sekali. Ada kekuatan dingin
yang mencoba matikan aliran darahku. Tentunya
ini akibat asap-asap hitam tadi. Kerbau dungu!"
Segera saja Pendekar Slebor alirkan hawa panas
ke sekujur tubuhnya untuk tindih rasa dingin
yang membuatnya bisa membeku. Bersamaan dia
sedang alirkan hawa panas ke seluruh tubuhnya,
asap-asap hitam itu menyembur kembali dari kalung yang dikenakan Sumiati.
Kali ini ke arah Sumarta yang sedang memperhatikan sosok adiknya dengan
pandangan sedih.
Dan pemuda gagah ini benar-benar dirundung
kepedihan yang dalam. Karena dia tak melakukan
gerakan apa-apa sebagai tanda hindari ganasnya
asap-asap hitam itu.
Justru Andika yang melotot.
"Dungu!" hardiknya tanpa sadar seraya melompat ke arah Sumarta. Sambil kibaskan
tangannya yang mengandung tenaga 'Inti Petir' tangan kirinya
telah menyambar sosok Sumarta.
Begitu berhasil menyambar Sumarta, terdengar
letupan keras dua kali. Beruntun, yang disusul
dengan tumbangnya dua buah pohon!
Andika sendiri yang masih merasakan dingin
pada sekujur tubuhnya, harus melompat kembali
karena asap-asap hitam itu sudah menggebrak lagi. Disusul dengan sinar-sinar
hitam yang membabi buta, disertai tawa sengau Sumiati.
"Monyet buduk! Bisa konyol kalau begini! Dalam
keadaan tubuh yang terus dingin seperti ini, sulit
bagiku untuk menghadapi Sumiati. Ah, memang
malang nasib gadis itu. Lebih baik, aku menyingkir
saja dulu!"
Tetapi hal itu pun tak mudah dilakukannya.
Masih dengan membawa tubuh Sumarta, anak
muda urakan ini terus menghindar dan sesekali
mencoba memapaki dengan tenaga 'Inti Petir'.
Hingga satu kesempatan pun didapatnya. Dengan pergunakan ilmu peringan tubuhnya
yang kesohor, si Urakan ini segera berkelebat menjauh
sambil membopong tubuh Sumarta.
Tetapi bukannya senang karena diselamatkan
orang, Sumarta justru berteriak-teriak kalap, "Lepaskan aku! Lepaskan! Aku ingin
bersama adikku!"
"Sumarta!" seru Andika yang sekarang mempunyai pikiran lebih baik menjauh dulu
ketimbang urusan jadi berantakan. "Dia memang adikmu!
Tapi sekarang ini, dia bukan adikmu!"
"Aku tak peduli! Lepaskan aku! Lepaskan!"
"Eh, kok kepala batu betul ya orang ini" Rasanya ingin kujitak saja!" dengus
Andika dalam hati. Lalu serunya, "Pergunakan akal sehatmu!
Untuk saat ini, kita lebih baik menghindar dulu!
Dan berpikir bagaimana caranya menyelamatkan
adikmu!" Sumarta terus berteriak keras.
Kembali ke tempat semula, Sumiati menggeram
dingin. Kalung yang bandulnya bergambar sebuah
wajah yang mengerikan itu, kini pendarkan sinar
hitam. "Keparat! Aku harus mencari darah! Darah!!"
Kejap berikut, setelah keluarkan dengusan berat, dengan gerakan laksana angin,
gadis jelita yang berubah menjadi kejam akibat pengaruh Kalung Setan itu, segera meninggalkan
Jurang Trah Gering yang makin gelap diselimuti malam.
*** 5 Hari ini siang meranggas. Debu-debu beterbangan dihembus angin yang membawa
udara panas. Saat ini matahari tepat berada di atas kepala.
Sebuah ranggasan semak yang terdapat di sebuah hutan kecil, menyibak. Menyusul
munculnya satu sosok tubuh berpakaian merah. Sosok lelaki
berusia lanjut ini hentikan langkahnya dua tom-
bak dari ranggasan semak tadi.
Pandangannya dibawa ke kejauhan, menatap
panas yang semakin kuat mendera bumi.
"Beruntung karena aku telah berhasil melewati
tempat celaka itu! Bila tidak, bisa-bisa tubuhku
akan terpanggang!" desis kakek ini yang tak lain
Datuk Merah. Lalu diperhatikan sekelilingnya yang dipenuhi
ranggasan semak belukar.
"Jurang Trah Gering sudah tak jauh lagi. Setelah melewati hutan ini, aku sudah
langsung menemukan Jurang Trah Gering. Huh! Kendati aku
tak sepenuhnya mempercayai ucapan Datuk Biru,
tetapi aku dapat membuktikannya lebih dulu."
Kakek berwajah tirus dengan kalung berbandul
taring ini keluarkan dengusan berat, tanda kemarahan masih menggumpal di
dadanya. "Sungguh celaka Datuk Biru! Bila saja dulu dia
menyerahkan Kalung Setan ketika aku minta, semua urusan tak akan jadi begini!
Tapi, semuanya sudah terjadi! Dan aku tak pernah menyesalinya!
Karena dengan kata lain, kakek celaka itu telah
menginjak harga diriku habis-habisan!"
Mendadak saja Datuk Merah gerakkan tangan
kanannya ke depan. Wuuuuttt!!
Satu gelombang angin menghampar menyeret
ranggasan semak belukar dan berakhir setelah
menghajar sebuah pohon yang langsung gugurkan
seluruh dedaunannya.
"Dia harus mampus! Harus mampus!" serunya
dengan napas terengah-engah. Menyusul dia memaki lagi, "Terkutuk! Mengapa harus
dia yang per- tama kali menemukan kalung itu" Keparat! Sampai hari ini aku tidak tahu
bagaimana kalung itu
bisa berada di sana, dan siapakah pemilik yang sesungguhnya! Peduli setan dengan
semua itu! Aku ingin memilikinya!!"
Sepasang mata kakek berwajah tirus ini menatap tajam, tanpa kedip. Untuk saat
ini dia tak tahu
apa yang ditatapnya, tetapi jelas tergambar kalau
kebenciannya pada Datuk Biru makin menjadijadi.
"Huh! Lebih baik aku segera bergerak kembali!
Aku harus mendahului Datuk Biru tiba di Jurang
Trah Gering! Dengan cara bagaimana aku bisa
menemukan kalung itu, aku tak peduli!"
Setelah keluarkan dengusan keras, Datuk Merah segera berkelebat kembali. Gerakan
kakek ini

Pendekar Slebor 69 Kalung Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sangat lincah. Bahkan terlihat kalau kedua kakinya sama sekali tak menginjak
tanah. Sepenanakan nasi telah dilaluinya dengan cepat
dan tiga kejapan mata berikutnya, kakek yang
memiliki dendam pada sahabatnya sejak muda itu,
kini telah tiba di luar hutan yang tadi dilewatinya.
Tak ada dengusan napas terengah yang terdengar saat dia hentikan langkahnya.
Pandangannya disapu ke sekelilingnya. Panas tak lagi terlalu
menggigil, karena nampak senja sebentar lagi akan
datang. Sepasang mata tajam Datuk Merah mendadak
saja melotot ke samping kiri begitu melihat bayangan biru berkelebat dengan
cepat. "Terkutuk!!" makinya geram begitu menyadari
siapa adanya orang yang berkelebat. "Datuk Biru!
Keparat betul! Kehadirannya di sini, semakin
membuatku yakin kalau dia memang mengetahui
di mana Kalung Setan berada! Bisa jadi kalung itu
memang ada di salah satu tempat di Jurang Trah
Gering, dan dialah yang menyimpannya, bukan
melemparnya. Setan keparat!!"
Hati Datuk Merah semakin digumpal kemarahan tinggi begitu tiba pada pikiran
seperti itu. Mendadak kaki kanannya dihentakkan di atas
tanah, yang seketika membuat tanah itu membuyar setinggi paha.
"Setan terkutuk!" geramnya. "Sebaiknya, kubuntuti saja kakek keparat itu!"
Kejap itu pula Datuk Merah sudah berkelebat
ke arah perginya Datuk Biru.
Sejarak dua puluh langkah, kakek berpakaian
biru terus berkelebat cepat dan tak lama kemudian dia tiba di sisi kanan atas
dari Jurang Trah
Gering. Di tempat itu dihentikan langkahnya.
Sesaat dia tarik napas pendek sebelum membawa pandangannya ke sekitar Jurang
Trah Gering yang dipenuhi pepohonan.
"Aku ingat betul, tiga puluh tahun yang lalu, dari sisi kanan Jurang Trah Gering
di tempat inilah
kulempar Kalung Setan. Entah di mana jatuhnya
kalung itu."
Datuk Biru hentikan desisannya. Hatinya terasa
tidak enak memikirkan kalau dia harus cepat
mendapatkan Kalung Setan. Terutama, bila dia tak
mendapatkannya, maka Datuk Merah akan terus
memburunya. "Sesungguhnya, aku tak ingin mendapatkan Ka-
lung Setan. Biarlah kalung laknat itu terkubur entah di mana. Karena... aku
sendiri merasa pernah
dikuasai oleh kalung celaka itu tiga puluh tahun
yang lalu. Masih beruntung aku dapat pergunakan
hawa murniku untuk mengusir pengaruh kejam
Kalung Setan. Ah, keadaan memang sudah tak bisa ditanggulangi lagi. Satu-satunya
jalan, aku memang harus menemukan kalung itu sebelum
didahului oleh Datuk Merah."
Teringat akan sahabatnya sejak muda, kakek
berpakaian biru ini menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sungguh tak kumengerti, bagaimana Datuk
Merah bisa bersikap seperti sekarang" Dia begitu
menggebu-gebu untuk mendapatkan Kalung Setan, bahkan bersiap untuk mencabut
nyawaku. Ah, entah apa jadinya bila dia memang memiliki
kalung itu dan dikuasai oleh Kalung Setan?"
Kali ini sambil geleng-gelengkan kepalanya, Datuk Biru menghela napas masygul.
Di balik ranggasan semak sejarak dua puluh
langkah, Datuk Merah menggeram pendek.
"Jahanam sial! Mengapa dia masih berdiri di
tempat itu" Mengapa tak segera menuruni Jurang
Trah Gering untuk mencari kalung yang katanya
dilemparnya ke jurang itu tiga puluh tahun lalu"
Celaka keparat! Aku sudah tak sabar untuk memiliki Kalung Setan! Tapi untuk saat
ini, biarlah kutahan dulu keinginanku. Akan kuikuti ke mana
dia pergi."
Sementara itu di tempatnya, Datuk Biru mendesis lagi, "Saat ini senja sudah
datang. Tak lama
lagi malam tentunya akan tiba dan menyelimuti
seisi Jurang Trah Gering. Dalam kegelapan, sangat
sulit bagiku untuk menemukan Kalung Setan. Tapi, dalam keadaan terang pun aku
belum tentu bisa menemukannya. Karena, aku sendiri tak tahu
di mana jatuhnya Kalung Setan setelah kulempar
tiga puluh tahun yang lalu."
Kakek ini terdiam kembali. Pikirannya terus
mencoba mengingat-ingat di mana kira-kira jatuhnya kalung yang akan dicarinya.
Tetapi semakin dipikirkan, perasaan Datuk Biru semakin tak menentu. Dia mencoba berpikir,
menimbang dan memutuskan. Sampai terlihat kepalanya digeleng-gelengkan.
"Sebaiknya, aku mencari kalung itu besok pagi
saja. Dengan bantuan sinar matahari, kuharap
aku tak akan banyak menemukan kesulitan."
Memutuskan demikian, Datuk Biru perhatikan
sekelilingnya. Lalu berkelebat ke arah timur.
Di balik ranggasan semak belukar, Datuk Merah melengak dengan kening berkerut.
"Aneh! Mengapa dia tak segera menuruni Jurang
Trah Gering" Apakah dia tahu kalau aku menguntitnya dan mencoba mengambil
keuntungan darinya?" Datuk Merah terdiam sejenak sebelum lanjutkan desisannya,
"Jangan-jangan... dugaanku
memang tepat. Kalau dia tak melempar Kalung Setan ke Jurang Trah Gering,
melainkan menyimpannya di satu tempat. Kalaupun dia mendatangi
tempat ini, dia mencoba untuk kelabuiku. Setan
keparat! Beruntung aku masih bisa melihatnya!!"
Habis berpikir demikian, Datuk Merah segera
berkelebat menyusul Datuk Biru. Gerakan yang dilakukannya sangat cepat sekali.
Hati kakek berwajah tirus ini semakin dibuncah kemarahan tinggi.
Dia tak akan pernah memaafkan sahabatnya itu,
yang telah menyakiti hatinya dan mengalahkannya
tiga puluh tahun yang lalu. .
Datuk Merah memang masih sempat melihat
bayangan biru di kejauhan. Namun dua kejapan
mata berikutnya, dia hentikan larinya dengan kepala menegak.
"Terkutuk!" semburnya kemudian dengan mata
membelalak. "Ke mana kakek celaka itu sekarang"!"
Dipicingkan matanya untuk menangkap kembali bayangan biru yang sebelumnya
dilihatnya. Tetapi bayangan Datuk Biru benar-benar lenyap dari
pandangannya. "Setan! Setan! Setan! Dimana manusia celaka
itu?" dengusnya sengit dengan mata pancarkan sinar penuh bara. "Keparat! Menilik
keadaan sekarang, jelas kalau dia tahu aku membuntutinya!
Huh! Makin kuat keinginanku untuk membunuhnya! Kelak, kudapatkan atau tidak
kalung itu, dia
akan tetap kubunuh!!"
Datuk Merah kepalkan tinjunya kuat-kuat dengan mata pancarkan sinar berbahaya.
Dia makin merasa dipermainkan oleh Datuk Biru.
"Peduli sejuta setan!" desisnya geram. "Lebih
baik, aku segera kembali ke tempat semula! Tapi
tak segera kuturuni Jurang Trah Gering! Siapa tahu kakek celaka itu akan datang
lagi ke sana!!"
Memutuskan demikian dan membawa kemara-
han tinggi Datuk Merah kembali ke tempat semula.
Tetapi apa yang diduga oleh Datuk Merah berlainan sekali dengan kenyataannya,
karena Datuk Biru sesungguhnya tidak mengetahui kalau dia diikuti. Bukan dikarenakan Datuk
Biru memiliki ilmu rendah hingga tak mengetahui dibuntuti
orang. Tapi orang yang membuntutinya memiliki
ilmu tak jauh berbeda dengannya bahkan sambil
berkelebat telah kerahkan ilmu peringan tubuh.
Kalaupun mendadak saja Datuk Biru lenyap dari pandangan Datuk Merah, ini
disebabkan karena
Datuk Biru tiba-tiba melompat ke balik ranggasan
semak. Karena, tempat itulah yang dirasakan cukup aman dan terlindung hingga dia
bisa bebas beristirahat sambil memikirkan langkah selanjutnya.
"Kalung Setan...," desis si kakek yang kini sudah duduk bersemadi di bawah
sebatang pohon.
Beberapa helai daun pohon itu gugur dan terbang
dibawa angin senja. Datuk Biru usap jenggot putihnya dengan perasaan tak
menentu. "Entah
mengapa, aku bukan hanya menangkap satu isyarat yang diberikan oleh Datuk Merah.
Tapi kutangkap peristiwa yang lebih mengerikan yang
akan ditimbulkan oleh Kalung Setan. Ah, entah
apa jadinya bila seseorang mendapatkan kalung
itu dan dikuasai olehnya. Sama seperti diriku yang
hampir dikuasai oleh kalung celaka itu. Ah, apakah yang akan terjadi?"
Datuk Biru menghela napas panjang-panjang.
Wajah tuanya yang mendadak sendu, diusap oleh
angin senja. "Aku akan terus mencari Kalung Setan dan
akan kucoba untuk memusnahkannya...." Berpikir
demikian, Datuk Biru menyesali sedikit tindakannya yang telah membuang kalung
itu tiga puluh tahun lalu. "Mengapa waktu itu tak segera kuhancurkan saja Kalung Setan, kendati
aku tak tahu bagaimana caranya. Paling tidak, aku akan menguburnya di satu tempat, bukan
melemparnya seperti yang telah kulakukan dulu."
Kembali kakek ini menghela napas masygul.
"Dan aku tak ingin, apa, yang kukhawatirkan
terjadi...," desisnya sambil rapatkan mata.
Perlahan-lahan kedua tangannya diletakkan di
atas dengkulnya yang duduk bersila. Kejap berikutnya, kakek yang sedang gelisah
karena dibuncah pikiran tak menentu mi, segera bersemadi untuk menenangkan
pikirannya. *** 6 Hamparan pagi telah menyemai lagi bumi ini.
Pagi yang indah dengan dibaluri keriangan burung-burung yang beterbangan,
sebenarnya dapat
memancing pesona yang sukar ditepiskan oleh
orang-orang yang menikmati panorama pagi.
Tetapi, dua pemuda yang berusia tak jauh berbeda satu sama lain, tak bisa
menikmati keindahan itu. Mereka berada di sebuah tempat yang sepi
dan dikelilingi oleh pepohonan.
Pemuda yang berdiri tegak yang sebelumnya
perhatikan sekelilingnya, membawa pandangannya
pada pemuda yang duduk kuyu bersandar di batang sebuah pohon. Pemuda berpakaian
hijau pupus yang bukan lain Pendekar Slebor adanya, tarik
napas pendek, sebelum mendengus dalam hati.
"Aku tak bisa menyalahkan sikapnya yang penuh penyesalan seperti sekarang. Tapi
ya... kenapa dia tak pergunakan otaknya sih untuk memikirkan
sikap adiknya yang menjadi kejam seperti itu?"
Pemuda yang duduk bersandar di bawah pohon,
tak keluarkan suara apa-apa. Pandangannya kosong, menyiratkan kedukaan yang
dalam. Tangannya memainkan sebatang rumput, yang dengan
gerakan simultan seolah tanpa disadarinya, telah
memotek-motek rumput itu sampai habis. Lalu digigit bibirnya dengan perasaan
hampa. Pendekar Slebor mendengus melihat sikap Sumarta yang seperti kehilangan
pegangan. Dia kemudian berkata, "Sumarta, tak seharusnya kau direjam oleh pikiran-pikiran
jelek tentang adikmu. Seharusnya yang kau pikirkan, bagaimana caranya mengembalikan adikmu
seperti semula...."
Sumarta tidak menjawab. Bahkan sepertinya
dia tak mendengar apa yang dikatakan anak pemuda dari Lembah Kutukan itu.
Dan Sikapnya membuat Andika garuk-garuk
kepalanya yang tidak gatal.
"Bagaimana nih caranya untuk mengembalikan
dia seperti semula" Kutu kupret! Jadi bikin urusan
saja!!'' Habis mendumal begitu, pemuda yang di lehernya dililit kain bercorak catur
berkata lagi, beberapa pertanyaan yang hendak kukemukakan. Aku
ingin kau menjawabnya."
Sumarta mengangkat kepalanya. "Monyet pitak!
Pendekar Elang Salju 2 Dewa Arak 31 Perkawinan Berdarah Elang Terbang Di Dataran Luas 5
^