Pencarian

Lima Jalan Darah 2

Pendekar Slebor 41 Lima Jalan Darah Bagian 2


sudah memejamkan matanya. Mawar Wangi jelmaan Setan Selaksa Wajah tersenyum
licik melihat gadis di sisinya sudah pulas.
"Aku harus membereskan satu persatu. Setelah itu, barulah giliran Pendekar
Slebor," gumamnya dalam hati dengan tangan bergerak cepat.
Tuk! Tuk! Tuk! Tubuh Nilakanti menjingkat sejenak. Dan sejurus kemudian dia pingsan dalam
keadaan tertotok. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya, diangkatnya tubuh
gadis jelita itu. Lalu dibawanya ke arah yang berlawanan dari tempat Pendekar Slebor berada.
Setan Selaksa Wajah membawa Nilakanti ke tempat yang agak tersembunyi. Dia
melompat ke atas sebuah pohon. Di situ, tidak akan membuatnya jatuh. Apalagi
saat ini Nilakanti sedang pingsan. Kalaupun sudah siuman, sudah tentu tak akan mampu
meng- gerakkan tubuhnya dan berbicara.
"Kau akan kuurus nanti, Manis. Sekarang giliran putri Adipati Ramada yang
tentunya sudah tak sabar menungguku," gumam Setan Selaksa Wajah.
Mawar Wangi jelmaan Setan Selaksa Wajah kembali ke tempat buntalannya tersimpan.
Gerakannya cepat sekali. Sebentar saja tubuhnya telah menyelinap ke balik semak.
Begitu muncul kembali, yang tampak kini sosok berwajah mirip Pendekar Slebor.
Kemudian Pendekar Slebor jelmaan Setan Selaksa Wajah berkelebat cepat sambil
membayangkan apa yang akan dilakukannya. Namun ketika tiba di tempat Mawar Wangi
berada, dua sosok telah berdiri menghadangnya
Yang semang lelaki berwajah tampan dengan pakaian biru menyala dan rambut
digelung ke atas. Tatapannya dingin, menampakkan kekejaman. Yang seorang lagi wanita tua
yang mengeluarkan bau busuk. Sementara, sosok Mawar Wangi terbaring di rumput dalam
keadaan tertotok dengan tubuh setengah telanjang.
"Ha ha ha.... Rupanya Pendekar Slebor memang mempunyai nyali besar untuk
berhadapan denganku!" kata lelaki berwajah tampan. "Perkenalkan! Aku Lima Jalan
Darah!" "Kang Andika.... Selamatkan aku!" seru Mawar Wangi.
Gadis ini masih tetap menyangka kalau pemuda yang berdiri tiga tombak darinya
adalah Pendekar Slebor asli. Tetapi secepat itu dia jatuh pingsan setelah kaki Lima
Jalan Darah menyepak kepalanya. Dari pelipisnya mengalir darah.
*** 8 Setan Selaksa Wajah yang nyamar sebagai Pendekar Slebor kembali, memperlihatkan
dua sosok tubuh di hadapannya dengan tatapan tak kalah dinginnya. Hatinya agak
bergetar ketika menyadari siapa yang muncul. Julukan Lima Jalan Darah memang belum lama
terdengar. Namun dia tahu tindakan telengas yang sering dilakukan Lima Jalan
Darah telah menggemparkan dunia persilatan dengan totokan darahnya! Orang yang jadi korban
totokannya, tak akan ada yang sanggup hidup lebih lima hari. Dan selama itu,
siksaan yang diderita akibat totokan darah sangat mengerikan!
Kini Setan Selaksa Wajah tahu kalau Lima Jalan Darah pun sedang mencari Pendekar
Slebor. Ini sebenarnya kesempatan baginya untuk bekerja sama dengan Lima Jalan
Darah dalam membunuh Pendekat Slebor, sekaligus untuk mendapatkan Tasbih Emas
bidadari. Tetapi, dia ingin tahu mengapa lelaki berbaju biru menyala itu mencari Pendekar
Slebor" "Hmm.... Nama Lima Jalan Darah cukup santer juga sampai di telingaku. Tetapi
sayangnya, kita tak punya silang sengketa! Lebih baik, ambil jalan masing-
masing!" "Anjing buduk! Manusia keparat sepertimu sudah selayaknya berkalang tanah! Dan
yang terpenting lagi, sebelum mampus, Hantu Gigi Gading mengatakan kalau kau
kawanmulah yang membuatnya seperti itu!" sentak Lima Jalan Darah, tetap menyangka orang di
hadapannya adalah Pendekar Slebor.
Memang, dalam perjalanan mencari Pendekar Slebor, Lima Jalan Darah dan Dewi
Sungai Bangkai menemukan Hantu Gigi Gading tengah dalam keadaan sekarat. Dengan
terpatah-patah dan napas tersengal, Hantu Gigi Gading menceritakan apa yang
terjadi. Dan sesaat kemudian, nyawa busuknya pun melayang.
Dewi Sungai Bangkai geram bukan main. Dia bersumpah akan mencabik-cabik tubuh
kawan Pendekar Slebor dan Andika sendiri!
Kemudian mereka meneruskan perjalanan, hingga akhirnya menemukan Mawar Wangi.
Gadis ini langsung tercekat melihat kehadiran kedua tokoh yang membuatnya
bergetar. Terutama badan Dewi Sungai Bangkai yang mengeluarkan bau busuk. Mawar Wangi
mencoba melarikan diri untuk mencari Pendekar Slebor. Namun, Dewi Sungai Bangkai
de- ngan cepat menotoknya.
Dari Mawar Wangilah mereka tahu, kalau Pendekar Slebor berada bersama gadis itu
sebelumnya. Hanya saja, keduanya tidak tahu siapa yang berada di hadapannya!
Yang mereka sangka, tetaplah Pendekar Slebor.
Setan Selaksa Wajah terdiam. Otak busuknya berpikir licik
"Hmm.... Bila aku bersatu dengan kedua manusia ini, sudah dipastikan keinginanku
untuk mendapatkan Tasbih Emas Bidadari sekaligus membunuh Pendekar Slebor akan
terlaksana. Dalam penyamaran sebagai Pendekar Slebor saat ini, memang bukan cara yang tepat
untuk bekerja sama dengan mereka. Sebaiknya aku tinggalkan saja keduanya!" putus Setan
Selaksa Wajah. Berpikir demikian, Setan Selaksa Wajah menginginkan untuk langsung meninggalkan
tempat itu. Sementara gadis yang berada dalam bopongan Lima Jalan Darah tak
dipedulikannya lagi. Toh dia masih mempunyai Nilakanti yang menggantikan Mawar
Wangi. Akan tetapi, sebelum Setan Selaksa Wajah melakukan rencananya, wanita tua yang
mengeluarkan bau busuk itu sudah meluruk dengan satu serangan maut.
"Sekarang saatnya kau harus mampus, Pendekar Slebor! Kau harus bayar nyawa Hantu
Gigi Gading dengan nyawa sialanmu!"
Setan Selaksa Wajah langsung melenting ke atas ketika serangan yang mengeluarkan
bau busuk itu melabrak ke arahnya. Dari bau busuk yang tercium, dia yakin wanita
tua ini tak lain adalah Dewi Sungai Bangkai!
Dewi Sungai Bangkai menyangka kalau lawan yang dihadapi adalah Pendekar Slebor
asli. Makanya, dia menyerang secara membabi-buta. Pukulan 'Angin Bangkai Lilit
Leher' sudah dilepaskan. Seketika sinar hitam meluruk dahsyat ke arah Setan Selaksa
Wajah yang baru saja menjejak tanah.
Dengan lincahnya si lelaki jago menyamar itu meliukkan tubuhnya. Namun tubuhnya
pun terhuyung ke belakang ketika napasnya terasa sesak
"Gila! Kecepatan dan serangan sinarnya masih tak seberapa! Tetapi, bau busuk ini
justru yang akan membunuhku!" rutuk Setan Selaksa Wajah, seraya mengibaskan kedua
tangannya. Bet! Saat itu juga serangkum angin dingin meluncur cepat ke arah Dewi Sungai Bangkai
yang sedang menyerang ganas. Angin dingin itu langsung membuyarkan bau busuk yang
menyengat leher Setan Selaksa Wajah.
Sementara Dewi Sungai Bangkai tampak begitu terkejut. Dia semula yakin lawannya
bisa dijatuhkan dalam dua jurus berikutnya. Tetapi dugaannya meleset jauh. Angin
sedingin es itu
justru membuyarkan serangannya. Bahkan dalam keterkejutannya, Setan Selaksa
Wajah telah meluruk cepat bagai kilat dengan satu jotosan keras.
Des! Dewi Sungai Bangkai terhuyung ke belakang. Tubuhnya seketika terasa bagai
dikelilingi es. Dalam keadaan terluka dalam itu, keningnya berkerut. Sebelumnya beberapa
kali dia bertarung melawan Pendekar Slebor. Dan setiap kali Pendekar Slebor menyerang,
yang terasa hawa panas dan terdengar suara bagai menyalak. Tetapi sekarang ini"
Mengapa pu- kulannya menjadi sedingin es" Apakah sebenarnya Pendekar Slebor masih memiliki
ajian simpanan yang ampuh"
Menyadari hal itu, Dewi Sungai Bangkai menjadi penasaran. Segera tubuhnya
menerjang kembali dengan serangan bertubi-tubi. Namun agaknya Setan Selaksa Wajah sudah
menemukan kelemahan serangan Dewi Sungai Bangkai. Maka segera ditutupnya
serangan hawa dingin yang mengarah padanya dengan kibasan pukulan angin sedingin es.
Begitu si perempuan gelagapan, kembali pukulannya mendarat telak.
Dess...! Dewi Sungai Bangkai terlempar beberapa langkah. Kalau tadi hawa panasnya masih
mampu dialirkan untuk mengusir hawa dingin yang melingkupi tubuhnya, kali ini
dia terjatuh dengan tubuh menggigil hebat. Aliran darahnya seolah membeku.
"Ternyata tak sia-sia kau dibicarakan orang ha nyak, Pendekar Slebor. "Aku jadi
penasaran! Dan sudah tentu, kau akan membayar lunas sakit hati Malaikat Mata
Satu!" Sehabis berkata begitu, Lima Jalan Darah membuka serangan mautnya. Totokan aneh
jarak jauh yang dilontarkan, membuat Setan Selaksa Wajah terperangah. Sebisanya
dia menghindari. Dan setiap kali berhasil meloloskan diri, totokan darah yang
dilepaskan Lima
Jalan Darah menghantam pohon hingga hangus seketika.
"Benar-benar sinting! Julukan Lima Jalan Darah bukan nama kosong belaka! Bisa
berabe kalau begini! Lebih baik aku tinggalkan dulu kedua manusia sialan ini! Kalau di
sini terus- menerus, bisa-bisa aku tak akan mampu mengacaukan Pendekar Slebor, sekaligus
membunuh dan mendapatkan Tasbih Emas Bidadari!"
Berpikir demikian tubuh Setan Selaksa Wajah bergulingan untuk menghindari
totokan darah yang dilakukan Lima Jalan Darah. Begitu bangkit dilepaskannya pukulan
jarak jauh untuk menjaga jarak. Setelah mendapat kesempatan, mendadak dia melesat
meninggalkan tempat itu. "Setan laknat! Kau tak akan bisa meloloskan diri, Pendekar Slebor!"
Lima Jalan Darah melesat ke arah Setan Selaksa Wajah melarikan diri. Namun
Pendekar Slebor palsu itu telah menghilang dari pandangan. Geram bukan main hatinya
menyadari hal itu. "Kemana pun pergi, kau tak akan bisa melarikan diri Pendekar Slebor!" desis Lima
Jalan Darah. Lalu si lelaki tampan melesat kembali ke tempat semula. Dilihatnya bagaimana
Dewi Sungai Bangkai menderita karena kedinginan. Ketika tangannya menyentuh kulit
perempuan tua itu, tak ubahnya bagai memegang bongkahan salju es abadi.
"Gila!, PendekarSlebor harus membayar semua ini.
Lima Jalan Darah segera mengerahkan tenaga dalam ke tubuh Dewi Sungai Bangkai.
Hanya dalam tiga tarikan napas saja tubuh Dewi Sungai Bangkai sudah kembali
seperti biasa. Dan wanita tua yang memiliki bau busuk dari tubuhnya itu segera bersila untuk
memulihkan luka dalamnya. *** Pagi kembali datang. Sinar matahari menyengat jagat alam. Pendekar Slebor
yang baru saja terbangun SEGERA teringat akan Nilakanti dan Mawar Wangi. Dia
mencari sambil berteriak, namun tak ada sahutan apa-apa.
"Hoi! Nila! Mawar! Kalian di mana. Kalau kalian meledek, tidak lucu!"
Tetap tak ada sahutan apa pun juga.
"Hmm.... Apakah Nila kembali datang cemburunya" Apa mungkin dia sengaja
mengembalikan Mawar Wangi ke kadipaten" Atau..., jangan-jangan justru membawa
Mawar ke satu tempat dan meninggalkannya. Ah! Tidak mungkin Nilakanti berbuat jelek
seperti itu. Sebaiknya aku mandi saja dulu. Ih, jangan-jangan mereka sedang mandi. Lumayan
sih kalau memang benar," oceh Andika.
Andika pun melesat mencari sungai. Kepalanya celingukan di sekitar sungai yang
mengalirkan air jernih itu. Tak ada tanda-tanda Nilakanti dan Mawar Wangi berada
di sana. "Ah! Biar saja dulu. Setelah mandi, baru aku mencari mereka kembali."
Sambil bersiul-siul tak ada juntrungannya, Pendekar Slebor mencuci seluruh
tubuhnya. Dia berendam, lalu muncul kembali sambil berteriak keras. Norak sekali.
Selesai, Andika mengenakan pakaiannya kembali. Dan baru saja melangkah sepuluh
tindak, dia berpapasan dengan dua manusia. Yang seorang sangat dikenalnya. Dia
sedang membopong satu sosok tubuh yang pingsan. Sedang yang satunya lagi, lelaki
berbaju biru menyala. Andika terperanjat begitu melihat siapa yang berada dalam bopongan orang itu.
"Orang tua bau busuk! Lepaskan gadis itu!" bentak Andika dengan kening berkerut.
Mengapa Mawar Wangi berada di tangan mereka" Kalau begitu di mana Nila" Bukankah
dia bersama Mawar Wangi "
"Pendekar keparat! Rupanya kau masih berada disini"Hhh! Kalau semalam kau
mengeluarkan ajian busukmu yang memancarkan hawa dingin, sekarang tiba giliranmu
untuk mampus!" desis Dewi Sungai Bangkai.
Lima Jalan Darah mengangkat tangannya.
"Biar pendekar sialan ini aku yang urus!"
Sementara itu, kening Andika berkerut. Dia sama sekali tak mengerti, apa yang
dimaksud Dewi Sungai Bangkai. Dan sebelum bisa menemukan jawabannya....
"Semalam kau menjadi anjing pengecut. Dan sekarang berubah menjadi harimau!
Kalau semalam kau dapat meloloskan diri, sekarang kau tak akan mampu melakukannya!"


Pendekar Slebor 41 Lima Jalan Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Andika makin tak mengerti. Meskipun dalam keadaan keheranan, tetap saja sifat
urakannya tak pernah hilang.
"Hei, Pantat Monyet! Mestinya kau tahu, dengan siapa berhadapan. Kalau hanya
pemain ketoprak saja, aku juga bisa menandingimu?" selorohnya sambil menggoyang-
goyangkan tangannya. Wajah Lima Jalan Darah kontan memerah. Aliran darah dalam tubuhnya menjalar
cepat. "Kau harus membayar sakit hati Malaikat Mata Satu, Pendekar Slebor!"
"O.... Jadi, Malaikat Mata Satu brengsek itu sahabatmu, ya?" sahut Andika sambil
mencoba memikirkan kemungkinan yang dikatakan kedua tokoh hitam itu. "Kalau
begitu, salam deh untuknya KAtakan, aku rindu ingin menghapus beleknya."
"Setan hijau keparat!"
Sehabis berkata begitu, Lima Jalan Darah bergerak dengan kaki menyepak.
Gerakannya secepat kilat, mengandung tenaga dalam tinggi.
Andika menyadari adanya serangan hebat. Seketika bergulingan ke arah Lima Jalan
Darah seraya melepaskan satu jotosan ke perut. Namun Lima Jalan Darah bergerak
cepat, memutar kakinya.
Plak! "Heit! Edan!" maki Andika sambil melenting bangkit. Tangan Pendekar Slebor
terasa bergetar. Begitu berdiri, tubuhnya seketika terhuyung. Pada saat yang sama, Lima
Jalan Darah sudah meluruk sambil melepaskan totokan darahnya yang mengerikan.
Meskipun dalam keadaan seperti itu. Andika cepat mengubah arah langkahnya,
membentuk setengah lingkaran.
Wuut! Seketika Pendekar Slebor merasakan angin setajam mata anak panah melesat di sisi
tubuhnya. "Totokan darah!" seru Andika terkejut ketika menyadari arah yang ditotoknya
adalah salah satu urat darah dari tubuhnya.
Lima Jalan Darah terbahak-bahak. Dan serang annya segera diteruskan.
"Kali ini kau tak akan bisa melepaskan diri! Semalam kau masih mampu
melakukannya!"
"Apa sih yang dimaksud kedua orang ini" Padahal semalam aku tidur, dan tidak
tahu- menahu soal mereka. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Mawar Wangi.
Aku juga ingin tahu, di mana Nilakanti berada" Jangan-jangan dia sudah mereka...ah!
Tidak, aku tidak boleh berpikiran jelek seperti itu!"
"Eiiit...!
Benar-benar nipngerikan serangan yang di l akukan oleh Lima Jalan Darah!" kata Andika dalam hati sambil terus
menghindar. Lima Jalan Darah semakin lama jadi bertambah marah karena tak satu totokannya pun yang masuk, bahkan tiba-tiba saja Andika
bergulingan ke arahnya. Di tangannya sudah terangkum' ajian 'Guntur Selaksa'
Des! Tubuh Lima Jalan Darah terhantam pukulan si pemuda. Namun hanya sesaat tubuhnya
bergetar, karena setelahnya, sudah menyerang kembali.
Andika mendengus, lawan ternyata memiliki tenaga dalam lebih tinggi. Kalau
begitu, sekaranglah saatnya menyelamatkan Mawar Wangi. Karena, bisa gawat bila terkena
totokan darah yang dilakukan lelaki berbaju biru menyala itu.
Dan mendadak saja sambil menghindari serangan Lima Jalan Darah. Andika melesat
ke arah Dewi Sungai Bangkai dengan kecepatan luar biasa.
Langsung si perempuan tua membuang tubuh Mawar Wangi, seraya memapak serangan
Andika. Dua tenaga beradu. Kalau saja Dewi Sungai Bangkai tidak tengah terluka dalam
akibat serangan Setan Selaksa Wajah yang menyamar sebagai Pendekar Slebor, sudah tentu
tenaganya akan berimbang. Namun karena dalam keadaan terluka, tubuhnya jadi
mencelat ke belakang. Sementara dengan kecepatan luar biasa, Andika menyambar tubuh Mawar Wangi.
Melihat hal itu, Lima Jalan Darah melepaskan lima totokannya sekaligus. Andika
masih bisa menghindari dengan jalan melentingkan tubuhnya dua kali. Namun, dua totokan
tepat mengenai jalan darahnya.
"Aaakhhh...!"
Terdengar jeritan Pendekar Slebor yang cukup keras. Tubuhnya agaknya terhuyung,
namun dipaksakan untuk mengerahkan sisa-sisa tenaganya. Dengan jalan melesat
cepat, Andika berhasil meloloskan diri dengan membawa tubuh Mawar Wangi.
Lima Jalan Darah tidak mengejarnya. Bibirnya menyungging senyum dingin.
"Kali ini kau tak akan mampu melarikan diri, Pendekar Slebor! Dalam waktu empat
hari, kau akan mampus!"
Lalu terdengarlah tawa keras lelaki ini, hingga memecah kesunyian alam. Daun-
daun berguguran. Hewan hutan yang sejak pertarungan terjadi bersembunyi di sarang
mereka, langsung berlarian keluar. Karena, sarang-sarang mereka menjadi bergetar dan
hancur. Lima Jalan Darah lantas mendekati Dewi Sungai Bangkai Diperiksanya lagi tubuh
wanita yang mengeluarkan bau busuk itu.
"Hhh! Kalau sebelumnya kau terkena pukulan berhawa dingin, sekarang kau terkena
pukulan berhawa panas. Seharusnya, kau mampus saja. Orang Tua! Tetapi karena
sikapmu yang hormat padaku, untuk kedua kalinya aku bersedia mengobatimu. Sekali lagi
kau luka seperti ini, sebaiknya mampus saja!"
*** 9 Andika yang membawa lari tubuh Mawar Wangi merasa sekujur tubuhnya tiba-tiba
memanas. Napasnya terasa tersengal. Rasa sakit luar biasa membuat tubuhnya agak
limbung. Kepalanya bagai berputar dengan pandangan nanar. Tanah yang dipijak
bagai bergerak. Dan Andika jatuh begitu saja. Mau tak mau, Mawar Wangi yang berada
dalam bopongannya pun terjatuh.
"Monyet pitak! Totokan Lima Jalan Darah membuat aliran darahku bagai terhenti!"
maki si pemuda. Cepat Pendekar Slebor duduk bersila, mengambil sikap semedi. Dialirkannya tenaga
dalam ke pusat-pusat totokan. Namun apa yang dilakukannya justru membuat
keadaannya semakin tersiksa.
"Aaakh...!"
Pendekar Slebor menjerit keras ketika terasa ada sengatan pada punggungnya.
Salah satu totokan yang dilakukan Lima Jalan Darah tadi mengenai urat darah di
punggungnya. Yang satu lagi, tepat di mata kaki sebelah kanan.
"Bagaimana totokan-totokan ini harus dihilangkan?" dengusnya dengan napas
semakin tersengal. "Hmm.... Siapa sebenarnya Lima Jalan Darah itu" Aku tak tahu apa yang
dikatakannya! Ougghkh! Tubuhku terasa panas sekali. Kutu monyet!"
Si pemuda berusaha menahan rasa sakit yang dideritanya. Terutama pada saluran
pernapasan yang benar-benar menyiksa.
"Ini lebih mengerikan daripada pukulan bau busuk Dewi Sungai Bangkai. Hm.... Apa
yang harus kulakukan sekarang?"
Selagi Andika kebingungan dengan apa yang di alami....
"Brengsek! Lagi-lagi aku ketemu manusia seperti kau ini, Pendekar Urakan!"
Andika menoleh ketika terdengar suara dengusan dari samping kanan. Tampak satu
sosok tubuh kurus dengan rambut acak-acakan. Sebuah bungkusan tergenggam di
tangannya. "Hantu Jantan!"
*** Yang muncul itu memang si Hantu Jantan. Saat ini dia sedang mencari Dewi Sungai
Bangkai. Kakinya melangkah dengan sikap tengik mendekati Andika yang sedang
menahan sakit. "Kenapa kau duduk di situ" Nah! Ketahuan belangmu sekarang, Pemuda Jelek! Ayo,
kau apakan gadis yang pingsan itu" Hm... Sayang sekaligus bodoh sekali. Gadis
secantik dia mau
dengan pemuda konyol seperti kau ini!"
Andika melotot sambil menahan panas di tubuhnya.
"Jangan banyak omong!" bentak Andika dengan napas tersendat. "Mau apa sih kau ke
sini" Sudah bau tanah masih juga kelayapan!"
Si Hantu Jantan mengeluarkan suara dari hidung.
"Apakah aku akan mendiamkan saja melihatmu dalam keadaan terluka seperti itu?"
tukas si Hantu Jantan.
Andika langsung menoleh.
"Bagaimana kau bisa tahu" Bukankah matamu sudah rabun?" selorohnya. Namun,
hatinya mengagumi ketajaman mata si Hantu Jantan.
"Kurang ajar! Sini kuperiksa lukamu?"
Si Hantu Jantan melangkah. Dia lantas membungkuk di dekat Andika. Tangannya
meraba punggung dan mata kaki si pemuda.
"Hmm... Rupanya nasib Pendekar Slebor hanya sampai di sini saja! Kau akan tewas
dalam waktu empat hari!"
"Jangan menakut-nakutiku Pak Tua. Aku sudah biasa menghadapi kematian. Kalau kau
merasa kasihan, kenapa tidak kau coba untuk mengobatinya?" seru Andika. Hatinya
kesal melihat lagak si Hantu Jantan.
"Aku tak menakut-nakutimu. Tapi perlu kau ketahui, yang mampu mengobati hanyalah
orang yang membuatmu begini. Kalau aku yang mengobati, hawa panas dalam tubuhmu
justru akan pindah ke tubuhku! Dan aku tak bodoh mau menerima semua itu, sebelum
melihat Dewi Sungai Bangkai mampus" Sayangku, ada manusia tolol di sini...."
Pendekar Slebor terdiam sejenak. Tak terasa hatinya sedikit kecut mendengar
kata-kata si Hantu Jantan.
"Kalau begitu, aku harus kembali menemui Lima Jalan Darah," gumam Pendekar
Sleboi, tanpa sadar. "Nah, nah.... Siapa lagi manusia yang punya julukan mampu membuat hati keder
itu?" Andika lantas menceritakan apa yang terjadi. Dan si Hantu Jantan menggeleng-
gelengkan kepalanya, setelah mendengar keseluruhan cerita.
"Seingatku, yang bisa melakukan totokan seperti ini hanya Malaikat Putih
Bayangan Maut. Hmm Apakah kau diserang olehnya?" tanya si Hantu Jantan. Sepertinya dia
masih memikirkan tentang orang yang berjuluk Lima Jalan Darah.
"Tadi sudah kukatakan orang yang melakukannya! Apa telingamu tuli, Pak Tua?"
Si Hantu Jantan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kesaktian Malaikat Putih Bayangan Maut sukar dicari tandingannya. Aku tahu dia
mampu melakukan totokan darah seperti ini. Namun semuanya hanya untuk melakukan
pengobatan. Bukan untuk menyerang. Apa yang kau alami ini adalah satu serangan
berbahaya sekali. Kalau tidak segera ditolong, nyawamu hanya sampai empat hari
saja. Bor! Kau mau kalau usiamu tinggal seumur jagung?"
Andika berdiri perlahan-lahan. Napasnya semakin tersengal.
"Aku harus mencari obat pemunah totokan ini dari tangan si Lima Jalan Darah."
"Sebenarnya aku pun bisa mengobatinya."
"Hei?" Andika tercekat sambil memandang kesal si Hantu Jantan. "Tapi kau
mengatakan tak bisa?"
"Sekarang kukatakan bisa"
"Kalau begitu, cepat obati aku! Karena, aku harus mencari Nilakanti!" sambarnya.
"Gadis cantik murid Malaikat Putih Bayangan Maut" Heran, kok manusia urakan yang
jelek sepertimu ini selalu ditemani gadis cantik, ya?"
Si Hantu Jantan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sikapnya membuat Andika mau
memaki. Lalu si Hantu Jantan memandangi bungkusan yang berada di tangannya.
"Sayangku..., apakah aku harus mengobati pemuda bandel ini atau tidak" Oh, kau
menghendaki aku mengobatinya" Baiklah kalau begitu," si Hantu Jantan menatap
kembali ke arah Andika. "Nah! Kau dengar sendiri, bukan" Kekasihku menghendaki aku
mengobatimu"
Kau seharusnya berterima kasih padanya!"
Walau agak jengkel dengan sikap si Hantu Jantan, Andika hanya diam saja.
"Tetapi..., apakah kau tahan dengan pengobatan yang akan kulakukan?" tanya si
Hantu Jantan. "Lakukanlah.... Aku akan berterima kasih padamu."
"Mulutmu selalu ngoceh, Pemuda Tak Beradab!" bentak si Hantu Jantan. "Kau jangan
berterima kasih padaku. Tetapi, pada kekasihku!"
"Iya, ya!" dengus Andika, mendongkol.
Si Hantu Jantan mengangsurkan tangannya yang memegang bungkusan itu dengan hati-
hati. "Nah, ucapkan terima kasihmu pada kekasihku
ini." "Busyet! Iya, terima kasih!"
"Bagus! Aku akan mengobatimu. Tetapi, jawab dulu pertanyaanku. Apakah kau
bersedia kuobati?" "Iya!" sahut Andika, menahan jengkel.
"Dengan cara apa pun aku mengobatimu!"
"Ya!"
"Bagus!"
Si Hantu Jantan bangkit. Lalu dia menungging ke arah Andika. Si pemuda tercekat.
"Busyet! Cara apa yang akan kau lakukan, Kek?" sentak Andika.
"Diam, Tolol! Kau sudah menyetujui dengan cara apa pun aku melakukan pengobatan
terhadapmu!"
"Tetapi jangan seperti ini!"


Pendekar Slebor 41 Lima Jalan Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Si Hantu Jantan meluruskan tubuhnya. Dipandangnya bungkusan di tangannya.
"Rupanya dia tidak mau, Sayangku. Jadi, aku tidak salah, bukan" Hhh! Dia memang
sudah mau mampus!"
Sementara itu, Andika merasakan panas di sekujur tubuhnya semakin meninggi.
Napasnya terasa Senin-Kamis, membuatnya bagai tak mampu untuk melakukan apa-apa.
Dia rela diobati dengan cara apa pun. Tetapi mbok ya jangan dikentuti!
"Iya! Iya! Sudah, obati aku cepat!" sungut Andika, akhirnya menyetujui. Hal itu
didasari oleh rasa cemas terhadap nasib Nilakanti.
Si Hantu Jantan terkekeh.
"Kau lihat sikapnya sekarang. Sayangku. Ternyata otak Pendekar Slebor bebal
juga! Mana ada sih, pengobatan dengan cara seperti itu?"
Sekarang Andika sadar kalau hampir saja dikerjai
"Hampir saja aku menelan bulat-bulat angin pinggul'" dengus si pemuda jengkel.
"Hei, Bor! Sekarang, kosongkan dirimu. Jangan sekali-sekali menahan atau
mengalirkan tenaga dalammu bila merasakan sakit luar biasa saat aku mengobatimu. Kau harus
ingat itu. Sekali kau lakukan, maka justru akan mampus!"
Andika sadar, kalau apa yang terjadi ini akan menentukan nasibnya. Dan kepalanya
pun mengangguk. "Lakukanlah, Pak Tua! Tetapi, bagaimana dengan hawa panas yang akan berpindah
pada tubuhmu?"
"Tolol! Sudah tentu aku akan menutup semua pori-pori di tubuhku agar hawa panas
dari tubuhmu akan berpindah! Aku tentu saja tak mau mati dulu! Kalau aku mampus
bagaimana"
Siapa yang akan menemani kekasihku ini" Sialan! Jangan-jangan, kau mencintai
kekasihku, ya" Kau mengharapkan aku mati, biar kau bisa berpacaran dengannya" Dasar kurang
ajar!" Andika melongo mendengarnya. Bagaimana mungkin dia mempunyai pikiran seperti
itu" Bila si Hantu Betina masih hidup saja tak akan mau mendekatinya karena pasti
sudah tua. Apalagi sekarang sudah mati dan kepalanya selalu dibawa si Hantu Jantan" Orang
tua ini sudah sinting rupanya! Atau..., jangan-jangan dia memang sinting!
Si Hantu Jantan berjongkok lagi di sisinya. Diletakkannya bungkusan yang berisi
kepala kekasihnya di dekatnya.
"Selonjorkan kedua kakimu. Ingat! Jangan alirkan tenaga dalam walau apa pun yang
akan kau rasakan...," ingat si lelaki tua.
Andika menarik napas tiga kali. Lalu dipendamnya seluruh tenaga dalam. Jiwanya
dikosongkan. Perlahan-lahan tangan kurus si Hantu Jantan terasa memegang kedua
ibu jarinya. Lalu terasa aliran hawa dingin yang membuatnya menggigil. Bentrokan
hawa dingin yang masuk ke dalam tubuhnya, membuatnya tersentak. Tubuhnya bagai disengat
kekuatan dahsyat. Andika berontak berkali-kali untuk melepaskan kedua tangannya yang dipegang si
Hantu Jantan karena rasa sakit yang tak terkira. Belum lagi ketika dirasakannya
bagaimana ada hawa yang bagai ribuan jarum masuk ke dalam tubuhnya.
"Aaa...!"
Si pemuda berteriak keras setinggi langit. Napasnya terasa semakin tersengal.
Kepalanya terasa mau pecah dengan aliran darah kacau. Dia berkali-kali muntah
darah sangat kental. Sakit yang menyiksanya belum juga terhenti. Malah semakin menggila.
Seluruh tenaga dalamnya berusaha untuk ditekan agar tidak keluar. Bila tak mendengar penjelasan
si Hantu Jantan, sudah pasti tenaga dalamnya akan dialirkan guna melawan sakit yang tak
terkira. Sementara tubuh si. Hantu Jantan bergetar hebat. Seluruh tubuhnya mengeluarkan
keringat. Namun, pegangannya pada kedua ibu jari Andika tidak terlepas.
Perlahan-lahan terlihat asap mengepul dari sana, lalu keluar dari ubun-ubun kepala Andika.
Andika yang masih menahan sakit, tak kuasa menahannya lebih lama. Dia telah
jatuh pingsan. Bersamaan dengan itu, pengobatan yang dilakukan si Hantu Jantan pun
selesai. Si Hantu Jantan mendesah panjang. Tubuhnya kelihatan lemas sekali.
"Maafkan aku, Andika. Aku hanya mampu membuatmu bisa hidup lebih lama. Namun tak
lebih dari sepuluh hari. Selain Lima Jalan Darah, satu-satunya yang bisa
mengobatimu hanyalah Malaikat Putih Bayangan Maut. Apakah sebaiknya aku membawamu sekarang
ke Lembah Matahari" Rasanya tidak perlu. Aku harus mencari Dewi Sungai Bangkai
terlebih dahulu! Atau..., jangan-jangan nenek peot itu sudah berada di sana" Hmm....
Sebaiknya aku membuang hawa panas yang berpindah dari tubuh Pendekar Slebor ke tubuhku," desah
si tua. Kini orang tua penghuni Gunung Kabut itu duduk bersila untuk mengembalikan
seluruh tenaganya. Selang beberapa saat, kedua tangannya digerakkan ke depan. Seketika
serangkum angin panas menderu dahsyat, menghantam tiga buah pohon hingga hangus.
"Benar-benar keji totokan darah yang dilakukan Lima Jalan Darah. Kalau saja
tenaga dalamku pas-pasan, bisa-bisa aku yang mampus."
Lalu si tua itu menoleh pada Mawar W angi yang masih terbujur pingsan.
Diperiksanya tubuh gadis itu.
"Hmm.... Luka di pelipisnya ini menandakan tendangan kuat yang diterimanya. Di
tubuhnya pun ada totokan cukup kuat. Untungnya bukan totokan darah yang
diterimanya."
Tangan kurus si tua bergerak dua kali. Dibukanya totokan di tubuh Mawar Wangi.
Si gadis mengejut sebentar.
"Hm.... Tak lama lagi gadis ini akan siuman Begitu pula Pendekar Slebor. Lebih
baik aku tinggal saja keduanya di sini." Si Hantu Jantan mengambil bungkusannya.
"Sayangku....
Apakah yang kulaku kan sudah benar" Tetapi sayangnya, aku tak mampu mengobati
Pendekar Slebor secara menyeluruh. Sebaiknya, kita meneruskan saja perjalanan
menuju Lembah Matahari. Sekaligus, mencari Dewi Sungai Bangkai. Bagaimana" Apakah kau
setuju" Ah, kau pasti setuju. Sayangku. Karena, kaulah kekasihku yang setia."
Lalu sosok kurus dengan rambut acak-acakan itu pun melesat meninggalkan tempat
ini. *** 10 Setan Selaksa Wajah yang masih dalam penyamarannya sebagai Pendekar Slebor
memandang ke sekeliling. Ketika yakin kalau dirinya lolos dari kejaran Lima
Jalan Darah, dibukanya buntalan kain miliknya yang masih sempat diambil tadi. Lalu dia
melompat ke balik
semak untuk mengubah. Begitu muncul kini yang terlihat lelaki tampan mempesona.
Setelah itu, Setan Selaksa Wajah melenting ringan ke atas pohon tempat Nilakanti
berada. Dia terkekeh-kekeh melihat keadaan si gadis yang masih pingsan dalam
keadaan tertotok. "Sangat menyenangkan suasana seperti ini. Nasib Pendekar Slebor sudah di ujung
tanduk. Sampai saat ini aku yakin, tak seorang pun yang tahu keberadaanku di
sini. Hmm.... Sebaiknya aku tinggal menunggu saja saat yang paling tepat untuk membunuh
Pendekar Slebor dan mendapatkan Tasbih Emas Bidadari. Karena, Lima Jalan Darah dan Dewi
Sungai Bangkai pun menginginkan kematian Pendekar Slebor. Berarti aku tinggal makan
nangkanya saja. Mereka yang makan getahnya. Sangat menyenangkan," ocehnya.
Tangan liar Setan Selaksa Wajah perlahan-lahan menggerayangi tubuh Nilakanti
yang dalam keadaan pingsan. Sepasang matanya semakin liar menjilati tubuh yang indah
itu. Diangkatnya tubuh Nilakanti, dan dibawanya ke bawah. Seketika dia menyelinap
masuk ke balik semak. Dibebaskannya totokan tubuh Nilakanti. Si gadis mengejut sebentar,
namun belum tersadar dari pingsannya.
"Menyenangkan. Sangat menyenangkan...," desis Setan Selaksa Wajah sambil membuka
pakaiannya. Tubuhnya bergetar oleh rangsangan birahi yang tinggi. Tangannya
meraba kembali tubuh Nilakanti. Lalu dengan penuh nafsu, disobeknya pakaian si gadis di
bagian dada. Brettt...! Seketika dua bukit kembar menyembul dengan bentuk gempal dan mulus. Sepasang
mata Setan Selaksa Wajah semakin lia berbinar menjilati. Namun belum lagi maksud
jahatnya dilaksanakan, tiba-tiba terdengar derap langkah kuda dari kejauhan.
"Setan keparat!" makinya geram.
Dari balik semak, Setan Selaksa Wajah melihat sepuluh ekor kuda bergerak dan
berhenti di depannya. Dari pakaian yang dikenakan, bisa ditebak kalau mereka adalah
orang-orang Kadipaten Karanganyar.
"Hmm.... Manusia-manusia keparat itu pasti mencari gadis yang kuculik!" duga
Setan Selaksa Wajah dalam hati.
Apa yang diperkirakan lelaki itu memang benar. Sepuluh laki-laki gagah berkuda
itu memang orang-orang kadipaten. Mereka diperintahkan Adipati Ramada yang tadi pagi
terkejut ketika melihat kamar putri kesayangannya kosong, sementara jendela kamarnya
terbuka. Dengan hati geram Adipati Ramada memerintahkan sepuluh pengawalnya untuk mencari
Mawar Wangi. "Kakang Kataran! Di mana kita harus mencari Putri Mawar Wangi?" tanya seorang
lelaki berwajah bulat. Di punggungnya terdapat tombak tajam.
Lelaki bernama Kataran yang memimpin pasukan itu terdiam. Wajahnya yang kukuh
nampak bergetar. Dia memikirkan kemungkinan seorang lelaki tinggi besar yang
telah membunuh Subali dan para pengawal sepulang dari mengantar Mawar Wangi berburu.
Apakah manusia keparat itu yang membawa lari Mawar Wangi"
"Aku tidak tahu. Tetapi sebaiknya, kita berpencar saja di sini. Lima orang ke
sebelah barat, lima orang lagi ke sebelah timur. Bila sampai malam nanti tidak menemukan
jejak Putri Mawar Wangi, kita berkumpul kembali di sini untuk menentukan langkah
selanjutnya," ujar
Kataran. Kataran pun membagi pasukan menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok lima
orang. Namun belum lagi mereka bergerak, tiba-tiba....
"Lelaki laknat! Lebih baik kau mampus!"
Para prajurit kadipaten tersentak ketika terdengar bentakan keras. Bersamaan
dengan itu terdengar menyambar dari balik semak. Lalu, melompat keluar satu sosok tubuh,
melewati orang-orang kadipaten.
*** Rupanya, Nilakanti yang baru tersadar dari pingsan langsung memekik keras sambi)
menutup dadanya yang terbuka. Si gadis segera melancarkan serangan pada Setan
Selaksa Wajah yang sedang membelakanginya!
Namun si lelaki yang juga merubah wajah ini cepat melesat keluar. Dan Nilakanti
pun melesat menyusul disertai serangan mautnya.
"Siapa kau sebenarnya, Manusia Hina"!" bentak si gadis disertai serangan yang
mengeluarkan angin dingin ke arah Setan Selaksa Wajah.
Sementara itu, Kataran terkejut begitu mengenali gadis yang sedang menyerang
lelaki berwajah tampan di hadapannya. Kalau tak salah ingat, gadis itulah yang datang
bersama Pendekar Slebor ketika menyelamatkan sekaligus mengantar Mawar Wangi ke
kadipaten. Menyadari hal itu, lelaki pengawal ini langsung melompat dari kudanya.
"Kurung laki-laki itu!" seru Kataran.
Seketika para pengawal kadipaten mengurung Setan Selaksa Wajah yang sedang
menghindari gempuran-gempuran maut Nilakanti. Si gadis sudah mempergunakan
pedangnya. Setiap kali tangannya bergerak, serangkum angin dingin menderu
dahsyat. Setan Selaksa Wajah memaki tak karuan. Dia berusaha menghindari serangan dari
Nilakanti. Namun si gadis yang tak tahu siapa lelaki tampan yang berada di
hadapannya ini tak
menghentikan serangannya sekali pun. Karena dia yakin, lelaki liar inilah yang
hendak menjelajahi tubuhnya.
Sesaat ingatan si gadis kembali pada Pendekar Slebor. Di mana pendekar urakan
itu berada" Dan di mana Mawar Wangi" Berpikir tegang demikian, Nilakanti semakin
menerjang ganas. "Gadis keparat! Kau tak tahu berhadapan dengan siapa!"
Tiba-tiba saja tubuh Setan Selaksa Wajah berputar setengah lingkaran, seperti
menyongsong pusaran pedang Nilakanti. Gebrakannya mengundang tanya. Karena hanya
orang yang mau mati saja yang berani nekat berbuat seperti itu. Dan ini membuat
Nilakanti merasa di atas angin. Karena diyakini. dalam gebrakan berikutnya akan menguasai
pertarungan. Namun rupanya apa yang telah diduga melesat Karena, Setan Selaksa Wajah justru
membuang tubuhnya, ketika pedang di tangan murid Malaikat Putih Bayangan Maut
itu mendekat. Wuutt! Sambaran pedang Nilakanti meleset. Pada saat yang sama. Satu tendangan Setan
Selaksa Wajah meluruk cepat, tak terhindari lagi.
Duk! "Aaakh...!"
Nilakanti terjajar beberapa langkah disertai pekik kesakitan.


Pendekar Slebor 41 Lima Jalan Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tangkap laki laki itu!" teriak Kataran yang sejak tadi memperhatikan
pertarungan. Serentak sepuluh orang menyerbu Setan Selaksa Wajah.
Deb! Deb! "Aaakh...!"
Namun dalam dua gebrak saja, yang tersisa hanya tinggal tiga orang pengawal.
Selebihnya tewas dengan tubuh bagai tercacah!
Kataran menggeram murka melihat anak buahnya berjatuhan. Tombak di tangannya
mengayun mencari sasaran. Nilakanti sendiri sudah masuk menyerbu dengan
hebatnya. Bet! Bet! "Aaakh...!"
Akan tetapi, lagi-lagi Setan Selaksa Wajah menunjukkan kepandaiannya. Setelah
lima jurus berlalu, dia berhasil membunuh dua orang dari sisa pengawal kadipaten.
Sementara Kataran sendiri menerima pukulan yang bagai mematahkan tulang iganya.
Nilakanti sendiri mengalami hal yang sama. Tubuhnya terjajar tiga tombak ke
belakang, setelah terkena tendangan keras Setan Selaksa Wajah.
"Hhh! Kalian tak pernah memandang betapa tingginya langit!" desis Setan Selaksa
Wajah. "Manusia hina! Kaulah yang tak pernah memandang langit!" balas Nilakanti sambil
berusaha bangkit. Namun si gadis tak kuasa melakukannya. Karena, seluruh
persendian di tubuhnya bagai mati
Kataran hatinya sudah panas segera menerjang dengan sisa tenaganya. Namun hanya
memiringkan tubuhya, Setan Selaksa Wajah membuat serangan Kataran hanya menebas
angin. Bahkan satu jotosan pada punggung membuat pengawal itu jatuh pingsan.
"Sekurang giliranmu, Gadis Manis. Setelah kau beres, tinggal Pendekar Slebor
yang harus kubereskan'"
Hati Nilakanti menjadi ciut ketika lelaki tampan itu mendekatinya dengan
seringai buas yang membuat bulu kuduk meremang.
'Tak ada yang bisa menolongmu sekarang...."
"Kutu loncat! Apa kau tidak lihat ada aku di sini"!"
Mendadak terdengar seruan dari sebelah kiri. Setan Selaksa Wajah menoleh.
"Kang Andika! Mawar!" seru Nilakanti.
*** Bagaimana Pendekar Slebor bisa sampai di sini" Setelah siuman dari pingsannya
karena tak sanggup menahan sakit akibat pengobatan yang dilakukan si Hantu Jantan,
Andika terbangun. Dan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah cantik Mawar W angi
yang lebih dulu siuman. Andika pun teringat pada Nilakanti. Namun yang membualnya heran ketika bertanya
pada Mawar Wangi, justru gadis ini belum bertemu Nilakanti lagi. Keheranan si
pemuda semakin menjadi-jadi ketika dikatakan, kalau Mawar Wangi menunggu kedatangannya
di tempat tadi. Bahkan Andika yang mengajaknya keluar dari kadipaten.
Pasti ada yang salah, pikir Andika. Maka segera diajaknya Mawar Wangi untuk
mencari Nilakanti. Memang agak terlambat. Namun nasib jelek belum menimpa murid Malaikat
Putih Bayangan Maut itu.
"Hhh! Bila kau ingin selamat, serahkan Tasbih Emas Bidadari kepadaku!" dengus
Setan Selaksa Wajah, begitu melihat tampang Pendekar Slebor.
"Menyerahkannya sangat gampang. Tetapi menyerahkannya pada manusia sepertimuu ,
perlu kesepakatan?" sahut Andika.
"Apa maksudmu?"
"Kau mendapatkan pusaka ini dariku. Sementara aku mendapatkan kepalamu.
Bagaimana" Kesepakatan yang bagus sekali, bukan?"
"Setan alas! Kulumat tubuhmu, Pendekar Slebor!"
Sehabis berkata begitu, tubuh Setan Selaksa Wajah melompat ke arah Andika. Si
pemuda urakan SEgera berkelit dengan melompat ke sana kemari dengan gerakan
cepat mengagumkan. Beberapa kali suara bagai petir menyalak terdengar. Andika yang merasakan betapa
kuatnya tenaga dalam lawan, segera mengalirkan tenaga 'inti petir" tingkat ke
sepuluh. Kini pertempuran berlangsung sengit. Setan Selaksa Wajah mengeluarkan segenap
kemampuan mendesak Pendekar Slebor. Namun si pemuda membalas tak kalah ganas.
Desss...! Bukkk...! Dalam jurus berikutnya, Setan Selaksa Wajah berhasil mendaratkan satu tendangan
ke dada. Namun, dia pun harus menerima pukulan yang kuat di punggungnya.
Andika mundur dua tindak sambil cengengesan.
"Tidak sakit! Payah juga! Tendanganmu," oceh si pemuda. Padahal mulutnya
meringis menahan sakit. Mendengar ejekan seperti itu, Setan Selaksa Wajah menggeram marah. Kali ini
serangan yang dilakukan cepat luar biasa. Tubuhnya berputar melingkari Andika sambil
mengirimkan jotosan. Justru sekarang Andika yang kelabakan menerima serangan. Dia mendelik gusar
sambil berusaha menghindar. Namun karena gerakannya selalu tertutup oleh pusaran tubuh
Setan Selaksa Wajah. Bahkan tubuhnya berkali-kali menjadi sasaran pukulan.
"Biang panu! Ibuku saja tak memukul kepala, dia enak sekali menjitak kepalaku!"
maki Andika, dalam hati. Siapa sebenarnya laki-laki tampan ini" Rupanya banyak yang
menginginkan Tasbih Emas Bidadari dan nyawaku! Hmm.... Lima Jalan Darah dan Dewi
Sungai Bangkai bisa menjadi momok yang mengerikan. Tetapi, aku masih belum
mengerti apa yang dimaksud Mawar Wangi, Lima Jalan Darah, dan Dewi Sungai Bangkai yang
mengatakan kalau aku pernah berjumpa mereka sebelumnya"!'
Meski kebingungan, Andika terus berusaha memecahkan kesulitan yang dihadapinya.
Otak encernya terus bekerja sambil melayani serangan-serangan ganas.
Dan tiba-tiba saja, Andika membuat gerakan menakjubkan.
Breeeppp! Di tangan si pemuda tahu-tahu sudah terpegang kain pusaka bercorak catur warisan
Ki Saptacakra. Ketika dikibaskan, terdengar suara menggelegar bagai sambaran petir.
Dan tahu- tahu, kain pusaka itu melibat kaki Setan Selaksa Wajah.
"Hih!"
Dengan cepat Andika menarik kain itu dan membantingnya.
Bruk! Bersamaan dengan itu, Pendekar Slebor menyusuli dengan satu jotosan telak di
dada Setan Selaksa Wajah.
Desss! Setan Selaksa Wajah jatuh terjengkang. Dari mulutnya mengalir darah segar.
Andika terperangah. Karena lelaki itu masih bisa berdiri kembali, meskipun sudah
agak sempoyongan Menyadari hal itu. Andika segera menerjang dengan ajian 'Guntur
Selaksa' yang sudah terangkum di tangannya.
Des! Kembali tubuh Setan Selaksa Wajah terjengkang sejauh tiga tombak, terkena
pukulan keras Andika. Namun tubuhnya yang kedot itu masih bisa untuk bangkit. Kini baru
disadari, siapa pemuda lawannya. Dan dia merasa lebih baik menghindar dari pada mati di
tangan Pendekar Slebor sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya
Begitu bisa bangkit, Setan Selaksa Wajah berbalik dan melesat pergi.
"Hei! Mau ke mana kau?" seru Andika sambil mengejar. Namun sosok lelaki tampan
itu sudah menghilang dari pandangan. "Siapa sebenarnya dia?"
Andika lantas mendekati Nilakanti yang masih ditemani Mawar Wangi.
"Siapa sih dia?" tanya si pemuda. "Pacarmu, Nila?"
"Enak saja! Aku justru ingin membunuhnya! Kau ke mana saja, Kang Andika"
Meninggalkan aku begitu saja!" seru Nilakanti ketus.
Andika yang masih bingung dengan apa yang terjadi, tak menghiraukan makian
Nilakanli. Dia sudah menatap Mawar Wangi.
"Ceritakan sekali lagi apa yang kau alami," ujar Pendekar Slebor.
Dengan keheranan Mawar Wangi mengulang ceritanya.
"Tetapi, aku tak pernah datang kembali ke kadipaten dan mengajakmu ke hutan ini,
Mawar," tandas Andika, setelah Mawar Wangi menyelesaikan ceritanya.
"Oh! Kok bisa begitu?" tukas Mawar Wangi dengan kening berkerut. Dia berpikir,
apakah Andika malu mengatakannya karena sekarang ada Nila" "Bukankah Kang Andika
sendiri yang datang mengetuk pintu kamarku?" susulnya.
"Kalau kau tak percaya, kau bisa bertanya pada Nila," ujar Andika.
"Kang Andika benar, Mawar. Sejak meninggalkan kadipaten, dia selalu bersamaku,"
timpal Nilakanti.
"Tetapi..., kalau begitu siapa yang datang dan mengajakku ke sini?" tanya Mawar
Wangi tak mengerti. "Dia.,., mirip sekali denganmu, Kang Andika."
Andika terdiam sesaat
"Nila..., bagaimana tiba-tiba kau berpisah dengan Mawar?" tanya si pemuda,
akhirnya. "Aku tidak tahu. Tadi kuajak dia untuk mencari tempat yang nyaman untuk tidur.
Ketika aku terlelap, masih kurasakan totokan yang membuatku terbangun sejenak. Tetapi
selebihnya, aku tidak tahu. Karena aku langsung pingsan. Dan ketika terbangun, lelaki kurang
ajar itu sudah berada di dekatku!"
"Kalau begitu...."
"Kang Andika...," potong Mawar Wangi dengan suara heran. "Aku baru sekarang ini
bertemu Kak Nila lagi. Aku tak pernah mendatanginya."
"Itu yang akan kutanyakan. Mawar! Semalam ada seseorang yang mirip denganmu
mendatangi kami. Dan kau yakin yang datang itu bukan dirimu?"
"Justru aku sedang menunggu kedatangan Kang Andika, sampai munculnya orang yang
berjuluk Lima Jalan Darah dan Dewi Sungai Bangkai.
"Apa yang terjadi, Kang Andika?" tanya Nilakanti.
"Setelah diobati si Hantu Jantan, kesehatanmu terasa pulih kembali. Meskipun aku
tak tahu apakah pengobatannya sudah sempurna atau belum. Hmm.... Aku yakin..., ada
sesuatu yang aneh yang kita alami ini. Dan aku jadi penasaran ingin mengetahuinya, Nila,
bersediakah kau menjaga Mawar?" papar si pemuda.
"Maksud Kang Andika?" tanya Nilakanti.
"Carilah tempat persembunyian untuk sementara. Aku hendak melakukan sesuatu
untuk membuktikan dugaanku. Karena sebelum aku bertarung, Lima Jalan Darah dan Dewi
Sungai Bangkai pun mengatakan telah bertarung denganku sebelumnya. Hmm.., berjanjilah
padaku untuk menjaga Mawar."
"Kang Andika?., aku ingin membantumu."
"Tidak usah. Kau jaga Mawar dan berjanjilah padaku."
Meskipun dari sorot matanya Nilakanti tidak setuju, tetapi kepalanya mengangguk
pula. "Kalau begitu, pergilah kalian dari sini. Kulihat lukamu tak seberapa parah,
Nila. Bila kau sudah mengalirkan tenaga dalam yang dipadukan dengan hawa murnimu, pasti akan
pulih kembali," ujar Andika.
Nilakanti mengangguk-angguk. "Kang Andika...," panggil Mawar Wangi.
Andika menggaruk-garuk kepalanya. Bisa berabe. Apalagi dia melihat Nilakanti
sudah melengos. "Nila akan menjagamu. Setelah semuanya selesai, kau akan kuantar ke kadipaten.
Kau lihat sendiri, mereka adalah orang-orang kadipaten. Tentunya ayahmu cemas karena
kau tak ada di kamarmu semalam."
"Tetapi, bukankah Kang Andika yang menjemputku?"
Andika menghela napas.
"Percayalah, Mawar.... Ada sesuatu yang aneh. Dan aku tak pernah menjemputmu
semalam." Sehabis berkata begitu, Andika berkelebat cepat
Mawar Wangi menundukkan kepalanya. Dia masih tak mengerti, mengapa Kang Andika
menyangkal semuanya" Sementara, Nilakanti sebagai gadis rimba persilatan, paham
apa yang sebenarnya terjadi.
*** 11 Bersama luka dalamnya Setan Selaksa Wajah terus berlari. Dan dia baru berhenti
setelah tiba di pinggir hutan sebelah tenggara. Dia berkali-kali merutuki kekalahannya.
Keinginannya untuk membunuh Pendekar Slebor semakin menjadi-jadi.
Ketika lelaki ini bermaksud menyembuhkan luka dalamnya, telinganya mendengar
langkah bergegas ke arahnya. Dengan sigap tubuhnya melenting ke atas pohon.
Begitu hinggap, tampak seorang gadis berlari ke arahnya. Si gadis berhenti di bawah
pohon tempat Setan Selaksa Wajah bersembunyi, dan celingukan di sana.
"Murid Malaikat Putih Bayangan Maut'" dengusnya begitu mengenali siapa yang
datang. Dengan kegeraman yang tinggi, tubuh Selan Selaksa Wajah langsung meluncur ke
arah gadis yang ternyata Nilakanti
Menyadari ada angin kencang yang menderu ke arahnya, Nilakanti mendongak.
Terdengar seruannya yang cukup keras karena terkejut. Dia mencoba menangkis
serangan Setan Selaksa Wajah.
Des! Karena tidak dalam keadaan siap serang dan berdirinya dalam keadaan tidak
menguntungkan, mau tak mau tubuh Nilakanti tersuruk oleh hantaman Setan Selaksa
Wajah yang begitu keras.
Tubuh Nilakanti terguling. Setan Selaksa Wajah yang masih dalam penyamarannya
sebagai lelaki tampan, langsung memburu. Kali ini seluruh keinginannya untuk
memiliki si

Pendekar Slebor 41 Lima Jalan Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gadis lenyap, berganti kemarahan membludak.
Dalam keadaan terguling, Nilakanti mencoba membuang tubuhnya. Akan tetapi,
sambaran kaki Setan Selaksa Wajah lebih cepat lagi.
Des! Tubuh si gadis terlontar tiga tombak ke belakang. Setan Selaksa Wajah bukannya
merasa bangga akibat tendangannya, justru menghentikan serangannya dengan kening
berkerut. Saat meneruskan serangannya tadi, dia yakin kalau gadis itu mampu
menahan serangannya. Bahkan membalas. Akan tetapi, justru si gadis terlempar kembali.
Setan Selaksa Wajah melihat kesempatan di depan matanya.
"Hhh! Aku ingin lihat bagaimana murkanya Pendekar Slebor bila melihat kau mampus
di tanganku, Gadis Sial!"
Begitu selesai kata-katanya, Setan Selaksa Wajah membuka jurus mautnya.
Nilakanti mengangkat sebelah tangannya seolah memberi isyarat agar Setan Selaksa
Wajah menahan gerakannya. Kelihatannya dia tak mampu lagi bergerak.
"Sebelum kau bunuh, aku ingin mengetahui sesuatu. Siapa kau sebenarnya" Dan ada
urusan apa?" tanya Nilakanti.
"Orang-orang rimba persilatan menjulukiku Selan Selaksa Wajah," katanya dengan
nada pongah. "Keinginanku sudah jelas. Untuk mendapatkan Tasbih Emas Bidadari dari
tangan Pendekar Slebor. Sekaligus membunuhnya."
"Aku tak pernah percaya kau berjuluk Setan Selaksa Wajah!" leceh Nilakanti,
disertai tawa mengejek. "Ha ha ha.... Sangat menyenangkan mendengar kata-katamu itu, Gadis Manis. Tetapi
sayangnya, hanya ada seorang Setan Selaksa Wajah di dunia ini. Dan, akulah
orangnya. Apakah kau tak sadar saat kau dan Pendekar Slebor didatangi gadis manis bernama
Mawar Wangi" Gadis itu adalah jelmaan diriku. Sementara, Mawar Wangi, sedang menunggu
keda- tangan Pendekar Slebor di tempat yang agak jauh...."
"Apakah kau yang menyamar sebagai Pendekar Slebor, dan membawa Mawar W angi
meninggalkan kadipaten?"
"Tepat sekali. Aku senang menjawab pertanyaan orang yang mau mampus!"
"Tetapi aku tetap tidak percaya kalau kau adalah Setan Selaksa Wajah! Hanya
seorang yang bisa melakukan penyamaran seperti apa pun. Dan dia adalah Raja Penyamar!"
"Bila aku berjumpa dengannya, orang tua keparat itu akan kubuat mampus!" dengus
Setan Selaksa Wajah dengan rahang berkerut geram.
"Tunjukkan kemampuanmu bila kau memang Setan Selaksa Wajah!"
Merasa ditantang, kesombongan Setan Selaksa Wajah semakin tinggi.
"Kau lihat sekarang!" serunya sambil mencopot rambut palsunya.
Lalu dengan gerakan sangat cepat, Setan Selaksa Wajah mengubah wajahnya di sana-
sini, setelah mengambil alat-alat yang ada dalam buntalannya.
Di tempatnya, Nilakanti memekik. Dan kini melihat wajah Mawar Wangi di
hadapannya. "Apakah kau sudah percaya sekarang?" tanya Setan Selaksa Wajah.
Gadis itu hanya terdiam dengan tatapan tak percaya.
"Sekarang! Mampuslah kau!"
Setan Selaksa Wajah yang menduga kalau Nilakanti sudah tak mampu bergerak,
meluruk dengan satu serangan maut. Dengan sekali pukul, nyawa Nilakanti jelas-jelas akan
melayang. Namun di luar dugaan, tiba-tiba saja tubuh gadis manis yang kelihatan tak
berdaya itu melenting. Dari udara, dia menerjang ke arah Setan Selaksa Wajah.
Duar! Suara bagai salakan petir terdengar, Setan Selaksa Wajah terperanjat menyadari
kalau tubuhnya bagai disengat petir berkekuatan tinggi.
"Rupanya kau sudah diajarkan ajian 'Guntur Selaksa' oleh Pendekar Slebor!" duga
Setan Selaksa Wajah. "Dan kau akan terkejut menyadari siapa yang kau hadapi ini?" tukas sosok
Nilakanti dingin. Lalu tangan si gadis terangkat. Dicabutnya rambut palsu yang digunakannya.
Tangannya lantas mengupas kulit wajahnya yang ternyata terbuat dari sejenis getah. Dan
disobeknya pakaian pulih yang dikenakannya. Tak lama kemudian, wajah Nilakanti beruubah
menjadi sosok..., Pendekar Slebor!
*** "Anjing kurap!" maki Setan Selaksa Wajah dalam wajah mirip Mawar Wangi.
Andika tertawa melihat wajah yang mendadak pias begitu. Inilah rencana yang
dijalankannya. Karena sejak mengalami kebingungan demi kebingungan yang
dialaminya, otak cerdiknya menduga kalau ada seseorang yang memiliki kemampuan tinggi dalam
hal menyamar. Selama ini dalam hal menyamar yang diketahuinya hanyalah Raja
Penyamar. Namun dia tak memungkiri kalau ada tokoh lain yang mempunyai kemampuan sama.
Untuk membuktikan dugaannya, Andika sengaja menyamar sebagai Nilakanti. Karena
dia berpikir, bila memang ada orang yang seperti dugaannya itu, pasti sudah mengenal
Nilakanti. Dan dugaannya pun menjadi kenyataan sekarang. Ternyata sosok di hadapannya
mengaku sebagai Setan Selaksa Wajah. Kemampuannya dalam hal menyamar mungkin bisa
menandingi si Raja Penyamar, yang pernah menurunkan keahliannya pada Pendekar
Slebor. "Rupanya ada pemain ketoprak di sini!" ejek Andika dengan kedua tangan terkepal.
Sedangkan Setan Selaksa Wajah yang tak menyangka melihat kenyataan ini, hanya
melotot tak percaya. Sungguh, tak pernah diketahui kalau Pendekar Slebor
memiliki keahlian
menyamar yang patut dibanggakan pula.
Dan kemarahannya pun membuat Setan Selaksa Wajah segera menyerang dengan
membabi-buta. Andika yang sudah geram pun menerjang pula. Pertarungan sengit pun
berlangsung kembali.
Sebelumnya, saat diserang Setan Selaksa Wajah dalam penyamarannya sebagai
Nilakanti tadi, Andika sudah membuat pertahanan diri dengan tenaga 'inti petir'
pada sekujur tubuhnya. Hingga hantaman Setan Selaksa Wajah tak membawa pengaruh apa-apa
terhadap dirinya Saat Setan Selaksa Wajah tadi menyerang, dia sudah membuang diri ke
tanah. Pertarungan itu tak terasa sudah berlangsung dua puluh jurus. Mereka saling
serang dan hindar. Masing-masing pun menunjukkan kemampuan. Serangan Setan Selaksa Wajah
yang ganas itu bisa diimbangi Andika. Apalagi ketika pemuda pewaris ilmu Pendekar
Lembah Kutukan itu mempergunakan kain bercorak catur. Dan ini membuat Setan Selaksa
Wajah harus berpikir beberapa kali untuk masuk menyerang.
Dan beberapa kali pula jotosan Andika masuk, membuat tubuh Setan Selaksa Wajah
tersentak dengan aliran hawa panas pada tubuhnya. Menyusul satu tendangan keras,
membuat Setan Selaksa Wajah terlempar disertai muntahan darah.
"Busyet! Kok jadi begini, sih" Tadi kau bersama gadis itu. Andika. Sekarang,
justru kau menyerangnya mati-matian!"
Mendadak terdengar suara dari samping, saat Andika sudah siap melancarkan
serangannya pada Setan Selaksa Wajah.
Andika menoleh. Tampak si Hantu Jantan sedang menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lalu ditatapnya bungkusan yang dipegangnya.
"Kau lihat sendiri pemuda brengsek itu, Sayangku" Memang aku yakin, dia tak
pantas mendapatkan gadis secantik dia. Tetapi..., rasa-rasanya aku melihat sesuatu yang
aneh dari gadis itu. Apakah kau melihatnya pula, Sayangku" Oh, kau melihatnya" Ya, ya...
Tanda silang pada telapak tangan kanannya justru mengingatkan aku pada manusia busuk puluhan
tahun yang lalu, Sayangku. Kau mengingatnya pula?"
Andika yang tak mengerti apa yang dikatakan si Hantu Jantan, siap melancarkan
serangan. "Tahan!" seru si Hantu Jantan. "Kau tak akan bisa membunuh manusia keparat itu,
Pendekar Slebor."
"Dia bukan Mawar Wangi. Pak Tua. Dia Setan Selaksa Wajah!"
"Aku sudah tahu! Tua bangka keparat yang sudah berusia seratus tahun itu rupanya
masih bisa mengubah dirinya menjadi apa yang disukai. Sampai saat ini, aku
memang tak tahu bagaimana rupa aslinya. Tetapi aku tahu kalau dia adalah manusia busuk dari
tanda silang di telapak tangannya! Minggir! Biar aku yang menangani manusia ini! Dia
punya silang sengketa padaku puluhan tahun yang lalu!"
"Sepasang Hantu Neraka! Rupanya kau tinggal sendiri sekarang! Bagus, ingin
kulihat kemampuanmu!" kata Setan Selaksa Wajah. Dia sudah bisa bangkit, walau menderita
luka dalam cukup parah.
Si Hantu Jantan terbahak-bahak.
"Apakah aku tidak tahu, kalau kau sudah mempersiapkan ajian 'Telapak Akhirat'"!
Kalau puluhan tahun yang lalu kau bisa mengalahkan aku dengan ajian keparat itu,
sekarang jangan
harap mampu melakukannya!"
Mendengar kata-kata itu, Pendekar Slebor jadi tercenung sendiri. Ajian Telapak
Akhirat'" Desisnya. Rupanya Sepasang Hantu Neraka dulu memang mempunyai silang sengketa
dengan Setan Selaksa Wajah.
"Sudah sana! Minggir!"
Sehabis membentak begitu, si Hantu Jantan berkelebat cepat ke arah Setan Selaksa
Wajah. Desingan angin meluncur cepat. Dan dari kelebatan tubuh si Hantu Jantan
memancar sinar kuning menggidikkan.
"Hup!"
Setan Selaksa Wajah melompat dengan satu egosan. Lalu mendadak dia menyergap ke
arah telapak tangan si Hantu Jantan. Namun dengan cepat si Hantu Jantan menarik
tangannya. "Nah kau lihat sendiri. Andika! Bila dia berhasil menyentuh tanganku yang
memancarkan hawa dingin, berarti siap melancarkan ajian 'Telapak Akhirat'-nya! Tetapi
sayangnya, dia tak
akan mampu melakukannya!"
Apa yang dikatakan si Hantu Jantan memang benar. Dalam dua gebrak berikutnya,
Setan Selaksa Wajah terdesak hebat oleh serangan-serangannya yang berbahaya. Dan
berkali-kali tubuhnya terhantam pukulan dahsyat.
"Aaaakhhh...!"
Tiba-tiba Setan Selaksa Wajah menjerit setinggi langit ketika tangannya
ditangkap tangan Si Hantu Jantan yang memancarkan panas amat dahsyat lau ditekannya dengan
kuat. "Manusia keparat ini tak akan memiliki kekuatan bila tanda silang merah pada
telapak tangannya di tangkap. Lebih tak berdaya lagi, bila tangan ini dipotong!"
Jeritan Setan Selaksa Wajah yang setinggi langit disusul kelojotan tubuhnya.
Namun tangan si Hantu Jantan bagai sebuah capit bertenaga raksasa yang sangat keras.
Tak mudah bagi Setan Selaksa Wajah untuk melepaskan diri. Akibatnya, tubuhnya terasa
semakin lama semakin lemas. Tenaganya bagai hilang perlahan-lahan. Dan jeritannya pun mulai
melemah "Sayangku..... Apakah aku harus membunuh manusia sialan ini?" tanya si Hantu
Jantan pada bungkusan yang dipegangnya. "Oh, kau mengizinkan aku membunuhnya" Baik,
baik aku akan melakukannya!"
Setan Selaksa Wajah yang tak berdaya membelalakkan matanya. Disadari kalau maut
sudah di ambang pintu. Tetapi....
Desss...! Wuutt..! Justru lelaki ini terkejut ketika tubuhnya terlontar ke belakang. Sementara
tubuh si Hantu Jantan tertarik ke samping oleh sambaran satu sosok bayangan hijau pupus. Pada
saat yang sama, meluruk sinar-sinar hitam yang tak menemukan sasaran.
Duaarr! Duaaarr!
Ledakan keras terdengar dua kali. Dan pohon besar di belakang mereka seketika
hangus terhantam sinar-sinar hitam itu.
*** 12 Apa yang sebenarnya terjadi" Di saat si Hantu Jantan berniat menghabisi Setan
Selaksa Wajah Pendekar Slebor melihat dua buah sinar hitam yang mengeluarkan bau busuk
berkelebat ke arah si Hantu Jantan. Maka dengan mempergunakan seluruh tenaga
dalam dan ilmu meringankan tubuhnya, Andika melesat menendang tubuh Setan Selaksa Wajah
se- kaligus menyambar tubuh si Hantu Jantan.
Yang disambar Andika justru memaki-maki.
"Pemuda brengsek! Mau apa sih kau sebenar nya?"
"Apa kau tidak lihat kalau kedua pohon itu hangus, Pak Tua?" tukas Andika sambil
menunjuk pohon yang dimaksud.
"Masa bodoh! Aku ingin membunuh manusia keparat itu! Hei, Manusia Jelek! Sini
kau!" seru si Hantu Jantan pada Setan Selaksa Wajah yang terkulai tak berdaya.
Napasnya terlihat
terputus-putus.
Andika yang merasa bahaya lain akan datang, bersiaga tanpa mempedulikan makian
si Hantu Jantan. Dan kini bisa terlihat siapa yang muncul di hadapannya. Lima Jalan
Darah dan Dewi Sungai Bangkai!
Si Hantu Jantan yang sudah melangkah dua tindak untuk mendekati Setan Selaksa
Wajah seketika melotot begitu melihat Dewi Sungai Bangkai, Kemarahannya
bertambah tinggi.
"Rupanya kau berada di .sini. Nenek Busuk!"
"Orang tua bau tanah! Apakah kau memang ingin mampus?" balas si nenek sengit.
Menyadari kalau manusia yang dicarinya berada di hadapannya, si Hantu Jantan
langsung mengempos tubuhnya. Gerakannya cepat luar biasa penuh tenaga dalam
tinggi. Dewi Sungai Bangkai mendengus. Cepat kedua tangannya menghentak, mengirimkan


Pendekar Slebor 41 Lima Jalan Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pukulan berbau busuk.
Sementara Lima Jalan Darah tengah memperhatikan Pendekar Slebor dengan tatapan
gusar. Dia tidak mengerti ketika melihat pemuda berpakaian corak catur itu dalam
keadaan biasa-biasa saja. Bahkan napasnya tak terlihat tersendat. Padahal dia yakin, dua
totokan darahnya tepat mengenai tubuh Pendekar Slebor.
"Pendekar Slebor! Serahkan Tasbih Emas Bidadari kepadaku!" bentak Lima Jalan
Darah. "Kalau aku tak mau menyerahkannya, bagaimana?" tukas Andika.
"Setan alas!"
Mendadak saja Lima Jalan Darah mengibaskan tangannya. Seketika meluruk angin
dahsyat meluncur cepat.
Andika mencelat cepat dengan segala kelincahannya. Dia tahu betapa dahsyatnya
serangan Lima Jalan Darah. Makanya dicobanya untuk menghindar sambil mencari
sela menyerang. Namun kali ini, Lima Jalan Darah sudah mengerahkan kecepatannya yang luar biasa.
Serangan-serangan totokan darahnya benar-benar mengerikan.
"Monyet busuk! Gembel Kurapan!" maki Andika.
Tak ada jalan lain lagi bagi Andika kecuali harus mempergunakan kain bercorak
caturnya. Sekali tangannya mengibas, terdengar suara menggeletar disertai
sambaran angin yang mengacaukan serangan Lima Jalan Darah.
"Keparat! Kain pusaka itu menghalangi setiap gerakanku! Dan angin yang keluar
seolah mematikan setiap totokan darah yang kulakukan! Aku harus merebutnya lebih dulu!"
Mendadak saja Lima Jalan Darah bergerak memutari tubuh Andika. Pendekar Slebor
tercekat, karena lagi-lagi harus menerima serangan seperti itu.
"Kutu monyet!" maki Andika.
Pendekar Slebor kelihatannya kebingungan untuk menghentikan serangan Lima Jalan
Darah yang berupa jotosan dan tendangan mengandung tenaga dalam penuh. Dua kali
tubuhnya terhantam tendangannya. Lalu satu jotosan membuat tubuhnya terpental.
Saking kerasnya tubuh Andika meluncur ke belakang, hingga dari balik perutnya
mencelat sebuah benda memancarkan sinar keemasan.
Melihat benda itu, sepasang mata Lima Jalan Darah terbelalak. Dengan cepat
disambarnya benda itu. Namun....
"Setan keparat!"
Segera tubuh Lima Jalan Darah melenting ke belakang saat satu sosok tubuh
menghalanginya dengan kibasan pedang. Bahkan sosok itu pun menyambar benda yang
tak lain pusaka darah Ki Bubu Jagat, Tasbih Emas Bidadari.
Tap! Lalu dengan lincahnya sosok ramping itu hinggap di tanah.
*** Penuh kegeraman Lima Jalan Darah memandang sosok yang berhasil merampas Tasbih
Emas Bidadari. "Serahkan Tasbih Emas Bidadari kepadaku!" bentak Lima Jalan Darah.
Sosok ramping yang tak lain Nilakanti melotot garang
"Manusia hina! Sebaiknya kau mampus daripada membuat celaka di dunia ini!"
bentak Nilakanti. "Gadis kurang ajar! Kau akan menyesali ocehan busukmu itu!" desis Lima Jalan
Darah seraya menggerakkan tangannya cepat
"Pergunakan kecepatanmu, Nila! Jangan sampai terkena totokan darah yang
dilakukannya!" teriak Pendekar Slebor.
Begitu mendengar seruan Pendekar Slebor, Nilakanti urung untuk menyongsong
serangan. Tubuhnya berkelit lincah.
Beberapa kali Lima Jalan Darah melakukan serangannya. Namun, tak satu pun yang
mengenai sasaran. Hal ini membuatnya semakin kalap. Dan kini sasarannya adalah
Pendekat Slebor.
Wusss! Andika tercekat melihat serangkum angin meluruk ke arahnya.
"Monyel pitak!" makinya seraya bergulingan.
Tak ! Tak ! Tak !
"Auuukhhh...!"
Namun gerakan yang dilakukan Pendekar Slebor terlambat. Karena tiga buah totokan
sudah singgah di tubuhnya diiringi jeritan setinggi langit. Seketika Andika
merasa napasnya
tersengal. Hawa panas pun mengalir di sekujur tubuhnya. Lebih menyiksa daripada
sebelumnya. Melihat hal itu Nilakanti berteriak kaget. Kalap, dia menderu ke arah Lima Jalan
Darah. Dalam keadaan begini, serangannya justru jadi tak menentu. Dan dengan mudahnya
Lima Jalan Darah menghindari. Bahkan mengirimkan satu jotosan telak!
Desss...! Nilakanti pingsan seketika.
Kini Lima Jalan Darah berdiri dengan tatapan liar ke arah Tasbih Emas Bidadari
yang berada di tangan kiri Nilakanti. Dengan perlahan didekatinya gadis itu.
*** Sementara itu pertarungan si Hantu Jantan dengan Dewi Sungai Bangkai semakin
seru saja. Dalam hati penuh amarah dan dendam, si Hantu Jantan menyerang si nenek
secara bertubi-tubi. Dewi Sungai Bangkai yang bukan tandingan si
Hantu Jantan, berkali-kali harus merelakan tubuhnya terkena hantaman keras.
Dewi Sungai Bangkai benar benar tak mampu lagi bertahan. Dalam dua gebrakan
berikutnya, mendadak tangan kurus si Hantu Jantan yang sekeras besi memapas
lehernya! Crasss...! "Aaakhhh...!"
Kepala Dewi Sungai Bangkai terpental, tubuh tanpa kepala yang memuncratkan darah
dari leher itu bergerak terhuyung, lalu ambruk. Si Hantu Jantan mendengus puas
sambil mengusap wajahnya yang terkena muncratan darah Dewi Sungai Bangkai. Lalu
kepalanya berpaling pada bungkusan yang dipegangnya.
"Sayangku, semoga kau puas. Dan aku berjanji, tak akan pernah lagi membunuh,"
katanya, lirih.
Kepala si Hantu Jantan menoleh, melihat bagaimana Pendekar Slebor tengah dalam
keadaan tersiksa akibat totokan Lima Jalan Darah, memaksa tubuhnya untuk
bergulingan ke arah Tasbih Emas Bidadari.
Tesss! Begitu kaki si pemuda bergerak, Tasbih Emas Bidadari yang hendak diambil Lima
Jalan Darah terpental. Bersamaan dengan itu, sambil mengerahkan sisa tenaganya, Andika
melenting. Disambarnya Tasbih Emas Bidadari yang masih melayang.
Tap! Begitu hinggap di tanah, tubuh Pendekar Slebor sempoyongan.
Lima Jalan Darah menggeram murka. Tangan nya bergerak kembali.
"Setan alas kau, Pendekar Slebor!" dengusnya seraya mengibaskan tangannya.
Untungnya si Hantu Jantan cepat melesat ke arah Pendekar Slebor. Segera
disambarnya pemuda urakan itu.
Tes! Tes! Totokan darah yang dilepaskan Lima Jalan Darah pun hanya mengenai lima buah
pohon hingga hangus. "Hhh! Rupanya kaulah yang berjuluk Lima Jalan Darah!" dengus si Hantu Jantan,
setelah meletakkan tubuh Pendekar Slebor.
"Orang tua sinting! Lebih baik tinggalkan tempat ini sebelum menjadi sasaran!"
ancam Lima Jalan Darah.
"Bicara memang gampang. Tetapi sayangnya, aku ingin melihat kehebatanmu!"
Sehabis berkata begitu dengan masih memegang bungkusan di tangannya, si Hantu
Jantan bergerak cepat ke arah Lima Jalan Darah. Namun dengan tenangnya lelaki
tampan ini segera mengibaskan tangannya.
"Setan!" maki si Hantu Jantan. Cepat dia membuang tubuhnya ketika merasakan
sambaran panas ke arahnya
"Tinggalkan tempat ini, Orang Tua Busuk!" maki Lima Jalan Darah dengan tangan
terus bergerak-gerak melepaskan totokan lima jalan darahnya yang mengerikan.
Si Hantu Jantan yang baru saja bangkit berdiri menjadi kalang kabut. Meskipun
demikian dia masih bisa menunjukkan kemampuannya sebagai tokoh rimba persilatan. Dengan
gerakan luar biasa cepatnya dia menghindar. Tubuhnya melenting ke atas. Dari udara,
tangannya mengibas cepat.
Lelaki berbaju biru menyala itu tercekat dan terpaksa mundur beberapa langkah.
"Hhh! Orang tua bau tanah ini tak boleh dianggap enteng! Kecepatannya sangat
sukar kuikuti. Hmm.... Sejak tadi dia selalu memegang bungkusan di tangannya. Dan dari
cara memegangnya, jelaslah kalau bungkusan itu sangat berharga baginya. Baiknya, aku
coba dugaanku ini!"
Kalau tadi Lima Jalan Darah mengarahkan serangan pada bagian-bagian jalan darah
di tubuh si Hantu Jantan, kali ini diarahkan pada bungkusan yang dipegang Penguasa
Gunung Kabut. Dan dugaan lelaki berbaju biru itu tenyata membawa hasil.
"Anak setan! Kau harus membayar perlakuan busukmu pada kekasihku ini!" maki si
Hantu Jantan, seraya kalang kabut menyelamatkan bungkusannya.
Lima Jalan Darah merasa sudah menemukan cara menyerang yang paling enak. Maka
dia terus mengarahkan serangan-serangan mautnya pada bungkusan di tangan si
Hantu Jantan. "Bangsat setan!" rutuk si Hantu Jantan, kalang kabut. Keringatnya sudah banyak
mengalir berbalur dengan ketegangan mendalam.
Pendekar Slebor yang melihat keadaan gawat yang dialami si Hantu Jantan, menarik
napas panjang. "Tak ada jalan lain. Untuk menghadapi Lima Jalan Darah yang kesaktiannya begitu
tinggi terutama serangan totokan darahnya, terpaksa aku harus mempergunakan kesaktian
Tasbih Emas Bidadari," desis si pemuda sambil menatap Tasbih Emas Bidadari yang berada
di tangannya. "Mudah-mudahan caraku ini berhasil. Aku ingin, tenaga yang dimiliki
Lima Jalan Darah melemah. Dan dia tak mampu melakukan serangannya!"
Sehabis berkata begitu, tiba-tiba saja tubuh Pendekar Slebor bergetar hebat.
Dalam keadaan terluka parah akibat terkena totokan Lima Jalan Darah untuk kedua
kalinya, si pemuda menjerit setinggi langit. Panas menyengat terasa mendesak-desak sekujur
tubuhnya yang terhuyung-huyung.
Pada saat yang demikian, Pendekar Slebor bermaksud melepaskan Tasbih Emas
Bidadari. Karena dia yakin getaran hawa panas yang masuk ke tubuhnya berasal
dari pusaka sakti itu. Akan tetapi, keinginannya tak bisa dilakukan. Karena, Tasbih Emas
Bidadari bagai melekat di tangannya. Sementara tubuhnya terus saja terhuyung-huyung.
Si Hantu Jantan yang melihat keadaan itu menjadi terpecah perhatiannya. Namun
untungnya, pada saat yang bersamaan Lima Jalan Darah menghentikan serangannya.
Ketamakannya untuk mendapatkan pusaka Tasbih Emas Bidadari membuatnya tertawa.
Terutama ketika melihat keadaan Pendekar Slebor yang bagai sekarat.
"Ha ha ha.... Kini saatnya bagimu untuk pergi ke neraka, Pendekar Slebor!"
seraya terbahak-bahak.
Tangan lelaki itu bergerak beberapa kali. Namun yang mengejutkan, tubuhnya
mendadak tersa melemah. Dan dia tak mampu melakukan totokan lima jalan darah!
"Edan! Kenapa jadi begini"!" rutuknya.
*** 13 Tepat ketika tubuh Lima Jalan Darah melemah, keadaan Pendekar Slebor pulih
kembali. Selesai sudah terhuyung-huyungnya. Getaran pada tubuhnya pun melemah. Meskipun
demikian, napasnya masih tersengal akibat totokan darah yang dilakukan Lima
Jalan Darah. "Terima kasih...," desah Pendekar Slebor pelan, seolah berkata pada Tasbih Emas
Bidadari. Si Hantu Jantan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ambruknya Lima
Jalan Darah dengan kedua lutut tertekuk dan dalam keadaan tak berdaya.
"Pusaka milik Ki Bubu Jagat memang sangat mengerikan. Sudah selayaknya bila
Malaikat Putih Bayangan Maut yang menjaga Tasbih Emas Bidadari," kata si Hantu
Jantan sambil mendesah panjang. Lalu dihampirinya Andika. "Untuk kedua kalinya kau
terluka akibat totokan yang dilancarkan Lima Jalan Darah. Kali ini aku tak sanggup mengobatimu.
Se- baiknya, kita segera menuju Lembah Matahari."
Andika yang merasa seluruh tenaganya terkuras, hanya mengangguk-angguk saja.
Sedikit pun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Napasnya masih terasa
tersendat. "Lima Jalan Darah tak akan mampu bergerak lagi, sebelum kau mencabut kata-katamu
pada Tasbih Emas Bidadari. Tetapi untuk manusia busuk seperti dia, nampaknya itu
hukuman sangat layak!" kata si Hantu Jantan.
Andika mengangguk-angguk. Namun sejurus kemudian kepalanya celingukan.
"Aku tak melihat Setan Selaksa Wajah...?" katanya, lirih.
Si Hantu Jantan yang juga ikutan mencari menganggukkan kepalanya.
"Rupanya manusia setan itu mencuri kesempatan untuk kabur ketika kita disibukkan
oleh lawan masing-masing. Hei, Bor! Apakah kau akan mendiamkan saja murid Malaikat
Putih Bayangan Maut itu?"
Andika menggeleng.
"Tolong kau gendong dia, Pak Tua. Mudah-mudahan dalam waktu yang tak terlalu
lama dia akan siuman dari pingsannya," ujar si pemuda.
"Bagaimana dengan kau?" tukas si Hantu Jantan.
'Rasanya, aku masih bisa bertahan meskipun kesehatanku bertambah payah."
Si Hantu Jantan lantas membopong tubuh Nilakanti yang masih pingsan.
"Kalau begitu, kerahkan ilmu meringankan tubuh yang kau miliki. Ingat! Jangan
dipadukan dengan tenaga dalam. Aku yakin, pendekar kenamaan sepertimu akan mampu
melakukannya," ingat si Hantu Jantan.
Andika menuruti saran si Hantu Jantan. Dan kejap berikutnya. Pendekar Slebor
sudah

Pendekar Slebor 41 Lima Jalan Darah di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

merasa bagai terbang ketika si Hantu Jantan menyambar tangannya. Sambil
membopong tubuh Nilakanti lelaki tua itu membawa lari Pendekar Slebor.
Sementara Lima Jalan Darah tetap terduduk dengan kedua kaki tertekuk. Tenaganya
semakin lama semakin lenyap. Untuk merintih saja, dia sudah tak mampu.
Selebihnya, sunyi mendera.
*** Di satu tempat yang sunyi, satu sosok tubuh sedang duduk bersemadi. Kelihatan
sekali kalau lelaki itu sudah cukup lama melakukan semadinya. Rupanya, dia sedang
mengobati luka dalamnya. Selang beberapa saat, lelaki itu menyelesaikan pengobatan.
"Hhh! Kali ini kau berhasil mengalahkan aku. Pendekar Slebor.... Namun lain
kali, justru kau yang akan berkalang tanah!"
Lelaki tampan yang tak lain Setan Selaksa Wajah mengusapkan kedua tangannya ke
wajah. Dari wajah tampan, mendadak saja terlihat wajah seorang kakek tua renta
tak berdaya. "Hhh! Suatu saat, Pendekar Slebor! Suatu saat!" desis Setan Selaksa Wajah. Lalu
si kakek pergi tertatih-tatih dari tempat ini.
*** Di sebuah kamar apik yang menebarkan bau harum satu sosok ramping berwajah
jelita sedang menangis tersendat. Tubuhnya tengkurap dengan kedua tangan menutupi
wajah. "Kang Andika.... Apakah kita akan berjumpa lagi?" desahnya tersendat
Dia adalah Mawar Wangi. Atas saran dari Nilakanti, gadis ini kembali ke
kadipaten. Kataran yang sudah siuman dari pingsan pun membantu Nilakanti dalam membujuk
Mawar Wangi. Semula Mawar Wangi bersikeras menolak. Namun karena Nilakanti terus membujuk
akhirnya hatinya luluh. Dan sekarang ini si gadis kadipaten dilanda rindu
mendalam pada Pendekar Slebor.
"Kang Andika.... Aku ingin sekali hidup bersamamu. Datanglah ke sini, Andika....
Datanglah..., aku pasti akan menunggumu...."
Karena terlalu lama menangis dan kelelahan yang menderanya, gadis cantik itu
tertidur. SELESAI PENDEKAR SLEBOR
Segera terbit :
MANUSIA LABA-LABA
Pendekar Wanita Penyebar Bunga 6 Boma Gendeng 4 Muridku Macho Garuda Mata Satu 2
^