Pencarian

Pulau Seribu Setan 2

Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan Bagian 2


tanah dengan kedua kaki di bawah.
"Kau aman, Suci!" hiburnya ketika melihat gadis
itu merapatkan kedua matanya erat-erat.
Begitu kedua kakinya hinggap di tanah, sesuatu
yang luar biasa terjadi....
*** Kakek Buruk Rupa mengerutkan kening yang
tertutup rambut panjangnya. Tempat di mana dia
berada sekarang ini cukup terang, hingga bisa
dilihatnya Camar Hitam yang duduk tak jauh di
hadapannya. Dikelilingi oleh tembok hitam.
Wanita tua kejam itu pun telah bangun dari
pingsannya Sesaat dirasakan kepalanya pusing dan
tubuhnya yang lemah. Namun semuanya sirna,
begitu melihat siapa yang berada di hadapannya.
Seketika dia bangkit dan siap melepaskan ajian
'Penutup Jalan Darah'
"Tahan!" seru Kakek Buruk Rupa yang melihat
Camar Hitam siap melepaskan satu serangan,dengan tangan kanan kedepan. Telapak
tangan terbuka ke atas. Gerakan tangannya itu
bukan sebuah gerakan biasa. Melainkan mengeluarkan tenaga dalam, menahan gerakan
Camar Hitam. Camar Hitam mendengus gusar. Bukan karena
mendengar seruan itu, melainkah karena dirasakan
tubuhnya bagai terhalang dinding tebal tak numpak
"Peduli setan dengan ucapanmu! Kau harus
mampus, Lelaki tua!"
'Tunggu, Camar Hitam! Tinggalkan sejenak
kemarahanmu itu. Tidakkah kau merasa asing
dengan tempat di mana kita berada" Buka kedua
mata jelekmu itu, tatap sekelilingmu! Bukankah
sebelumnya kita berada di...."
"Diam!" potong Camar Hitam. Tetapi tak urung
kedua mata kelabunya memperhatikan pula
sekelilingnya. Tangannya yang siap melepaskan
ajian 'Penutup Jalan Darah' diturunkan. Penuh rasa
heran wanita tua itu berjalan ke sekelilingnya.
"Kau percaya bukan?" seru Kakek Buruk Rupa.
Camar Hitam tak mempedulikannya.
"Hhh! Tempat apa ini sebenarnya" Apa yang telah
terjadi?" kata wanita tua kejam itu dengan suara
mendesis, pada dirinya sendiri.
"Mana aku tahu," sahut Kakek Buruk Rupa
Seenaknya "Aku tidak tanya padamu!" bentak Camar Hitam.
"Aku ingin tahu, tempat apa sebenarnya ini?" maki-
nya ketus. Dialirkan tenaga dalam pada kedua tangannya.
Menghantam dinding hitam itu.
Blaaar! Dinding itu tak goyah sedikit juga.
"Setan belang! Terbuat dari apa dinding ini!"
"Sebelum memutuskan untuk menghancurkan
dinding itu, sebaiknya kita menebak dulu di mana
kila berada sekarang," kata Kakek Buruk Rupa yang
tertawa melihat pukulan Camar Hitam pada dinding
itu tak berfungsi sama sekali.
Camar Hitam menoleh gusar. Mata celongnya
bagai tertarik ke dalam, menyipit.
"Setelah semua ini, tak akan kuurungkan niatku
untuk membunuhmu!"
"Memangnya gampang?"
"Setan!" Tangan kanan Camar Hitam mengibas.
Wusss! Serangkum angin dahsyat menderu ke arah Kakek
Buruk Rupa. Yang tiba-tiba saja sudah tak ada di
tempatnya. Pukulan Camar Hitam menghantam
tembok di belakang si kakek.
Duaaar! Tembok itu tidak jebol sama sekali.
"Tenang dulu, tenang," kata Kakek Buruk Rupa.
"Meneruskan pertarungan kita sangat mudah sekali!
Di tempat semacam ini pun bisa dilaksanakan!
Tetapi, apakah tidak lebih baik kita mengetahui
tempat apa ini dulu sebelum meneruskan pertarungan, hah?"
Camar Hitam terdiam meskipun mengeluarkan
dengusannya. Dibenarkannya pula kata-kata Kakek
Buruk Rupa. Tanpa sadar kedua tangan kurusnya
yang terbungkus baju keperakan meraba-raba
diding itu. Di belakangnya Kakek Buruk Rupa berbuat yang
sama. "Hmmm... menembus dinding ini adalah jalan
pertama untuk keluar dari sini. Tak ada pintu sama
sekali, Gila! Bagaimana caranya kita masuk tadi?"
membatin si kakek sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya. Di lain pihak. Camar llilam sudah merangkum
kembali tenaga dalamnya. Dilipatgandakan dari
pukulan pertama tadi. Tanpa berkata apa-apa pada
Kakek Buruk Rupa, dihantamnya dinding di
hadapannya. Suara gemuruh terdengar hebat. Kakek Buruk
Rupa seketika menoleh dan terkekeh-kekeh.
"Lumayan pukulanmu itu!" desisnya dan melompat keluar mendahului Camar Hitam yang
menggeram. Kalau sebelumnya dua orang tua berbeda aliran
itu berada dalam pertikaian yang sengit, kali ini
tanpa disadari masing-masing berkeinginan untuk
lebih dulu mengetahui di mana mereka berada.
Seperti diketahui. Kakek Buruk Rupa sedang
mencari cucunya yang pergi bersama Pendekar
Slebor. Maka, ingatannya pun beralih pada Suci.
"Di mana cucu jelitaku sekarang ini" Sebenarnya
cukup aman bagiku mengingat dia bersama si
Slebor. Tetapi awas, akan kupatahkan tangan si
Slebor bila pemuda itu mulai bersikap lancang."
Sementara itu Camar Hitam berkata seraya
memandang sekelilingnya.
"Tempat ini seperti sebuah bangunan. Namun
langit-langitnya begitu tinggi sekali. Dan ada dua
lorong yang sangat panjang. Apakah tempat ini
didiami oleh raksasa?"
"Boleh juga pendapat seperti itu," sahut Kakek
Buruk Rupa sambil memperhatikan lorong panjang
di sebelah kanannya. "O ya, kalau kau masih mau
berada di sini, silahkan' Aku ingin melihat keadaan."
Tanpa menghiraukan Camar Hitam Kakek Buruk
Rupa mulai melangkah. Hanya satu tindak dia
berhasil melangkah, selebihnya bagai ditahan oleh
ribuan tangan kasar.
"Kau jangan ke mana-mana! Urusanku untuk
mendapatkan Permata Sakti yang kau miliki dan
kau berikan pada Pendekar Slebor masih menjadi
urusan!" Kakek Buruk Rupa menyahut tanpa menoleh.
"Jelas itu urusanmu!" Lalu dikerahkan tenaga
dalamnya untuk memupus serangan gelap Camar
Hitam. Lalu melangkah lagi dengan santainya.
Tinggal wanita tua berbaju perak dengan rambut
disanggul ke atas yang menggeram. 'Tenaga
dalamnya tak jauh bedanya dengan tenaga dalamku.
Setelah kuketahui tempat sialan ini, akan kuteruskan
pertarunganku dengan orang tua sialan itu!
Terutama, keinginanku untuk mendapatkan Permata Sakti yang dimilikinya dan kuketahui telah
dipegang Pendekat Slebor "
Berlainan arah dengan yang ditempuh Kakek
Buruk Rupa, Camar Hitam berkelebat ke sebelah
kanan. *** Andika memekik keras seraya melontarkan tubuh
Suci dari boponganya bulu kuduknya meremang
tatkala mendapati tubuh yang dibopongnya tadi
berubah menjadi seekor ular besar.
"Benar dugaanku! Hanya jebakan belaka!"
makinya geram. Ular besar warna kuning itu bergerak-gerak
dengan liar. Mulutnya mendesis-desis mengerikan,
mengeluarkan lidah bercabang dua pada ujungnya.
Bola mata bundar berwarna merah tak luput sedikit
pun menatap Andika. Mendadak saja desisan yang
menandakan kegarangan terdengar. Menyusul
kepalanya mencelat ke arah Andika.
Terperangah pemuda urakan itu menghindar
dengan jalan membuang tubuh kesamping. Namun
bersamaan dengan Andika menghindar, ekor ular
besar itu bergerak menyapu kedua kakinya begitu
hinggap di tanah.
Gerakan ekor ular itu menimbulkan angin laksana
debur ombak. Menerabas bunga-bunga beraneka
warna yang langsung luruh dan memuncratkan
tanah setinggi satu meter.
Ular jejadian yang mengerikan itu terus
mengurung Andika dengan dua serangan serempak.
Kepalanya mencelat siap mencaplok kepala Andika,
sementara ekornya mengibas untuk menggempur
lumat tubuh Andika.
Andika tak mau tinggal diam. Dikawal dengan
gerengan keras dan angm kuat, Andika meluncur
dengan merangkum tenaga 'inti petir' tingkat kedua
belas. Gerakan tubuhnya tak ubahnya bagai elang
belaka, siap mencengkeram mangsa.
Des! Des! Dua kali jotosan tangan kanan dan kiri yang
mengandung tenaga 'inti petir' menghantam kepala
ular besai itu. Ular itu justru bertambah liar
bergerak. Makin banyak bunga yang terpapas dan
tanah yang muncrat. Andika mundur sepuluh
tindak untuk melihat apa yang terjadi.
"Gila!" desisnya tertahan.
Ular besar kuning itu tetap menyerang dengan
kepala masih utuh! Belum lagi Andika mengerti apa
yang terjadi, mendadak mulut ular besar itu terbuka,
menampakkan deretan gigi runcing yang siap
mencabik-cabik tubuh Andika. Dari sana, menyembur kabut warna kuning, menderu ke arah
Andika! "Sinting!" maki
pemuda sakti itu sambil
mengibaskan kedua tangannya, mencoba mengusir
gumpalan kabut yang keluar dari mulut besar itu
terus menerus. Tetapi semakin dikebutkan kedua
tangannya, semakin banyak kabut kuning panas itu.
Bergumpal, bergulung dan menderu ke arahnya.
"Ular buduk!" geramnya melompat ke belakang. Dan
ketika hinggap sepuluh tombak di antara bunga-
bunga warna warni, di tangannya sudah tergenggam kain pusaka bercorak catur.
Bersamaan kabut kuning menderu lagi ke
arahnya. Andika mengebutkan kain pusaka warisan
Ki Saptacakra. Suara bagai ribuan tawon marah
mendengung, memenuhi taman itu.
Beeet! Wussss! Bukan hanya gumpalan kabut kuning itu yang
pecah, bunga-bunga yang tumbuh pun terpapas
habis, beterbangan, terkena besarnya angin yang
menderu. Melihat kesempatan, Andika mengempos
tubuhnya, menembus pecahan kabut kuning itu
sambil mengebutkan kain pusakanya kembali.
Wusss! Pyaaarr! Kain pusaka yang dikebutkannya berhasil
dihindari ular besar itu dengan cara meliukkan
tubuhnya. Menyusul ekornya menggebah dahsyat.
Andika melompat dan diiringi teriakan mengguntur,


Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kembali dikibaskan kain pusakanya. Menghantam
kepala ular itu. Telak. Suara raungan membahana,
diiringi dengungan bagai ribuan tawon marah yang
ditimbulkan oleh kebutan kain bercorak catur.
Begitu dahsyatnya hingga debu-debu tebal
menyelimuti tempat di mana ular besar tadi berada.
Menghalangi pandangan Andika yang bersiap
dengan mata memicing. Bila asap hitam itu lenyap.
Andika bersiap untuk menghantamkan kain
pusakanya lagi.
Akan tetapi, dari picingan mata menunggu, justru
membelalak lebar ketika tak lagi melihat ular besar
itu di hadapannya. Serentak Andika memutar
tubuhnya, menghamparkan pandangan pada seluruh tempat.
"Sinting! Ke mana ular besar sialan itu"!"serunya
seraya melompat ke depan. Memperhatikan sekelilingnya. Disampirkan kembali kain bercorak
catur ke lehernya. "Makin besar dugaanku kalau ular
itu ular jejadian belaka! Hhh! Tunggul Manik, tak
akan kubiarkan kau meneruskan
permainan busukmu ini!"
*** 5 Di ruangan yang tersembunyi, Tunggul Manik
menggeram hebat menyaksikan ilmu sihirnya
berhasil ditumbangkan oleh Pendekar Slebor dari
dalam wadah berisi cairan kuning. Matanya
terbelalak tak percaya melihat ular besar ciptaannya
menjadi asap. "Keparat!"
makinya dengan kedua tangan mengepal keras, hingga otot-otot tangannya menyembul. Rahangnya dikertakkan dengan mata
melotot gusar. "Setan alas! Pemuda itu ternyata tidak
hanya memiliki kesaktian tinggi, tetapi otaknya
sangat cerdik! Ketabahannya menjadi jaminan dia
akan mampu menghadapi segala rintangan! Hhh!
Ternyata ilmu sihirku tak mampu menghadapi kain
bercorak catur itu! Ada kekuatan apa yang
tersembunyi pada kain bercorak catur itu" Ingin
kulihat kehebatannya lebih lanjut!"
Diperhatikannya Pendekar Slebor yang melesat ke
kiri dari taman yang kini berantakan.
"Tak akan mudah menghentikan permainan yang
kuciptakan ini, Pendekar Slebor! Dalam tempo yang
singkat, Rimba persilatan akan kehilangan tokoh-
tokoh kelas atasnya! Setelah semua ini berhasil,
berarti ilmuku telah sempurna. Tibalah saatnya
bagiku untuk muncul di dunia ramai! Bukan hanya
mengirim anak buahku untuk menjajaki rimba
persilatan. Tetapi, diriku sendiri yang akan muncul
dan akan kubuat kacau rimba persilatan dengan
menculik dan membunuh para tokohnya!"
Tawa keras mengumandang di ruangan bau
busuk itu. "Hhhh! Memasuki lorong kelima, kau akan
menghadapi sepak terjang anak buahku yang untuk
sementara ini masih kutahan keberadaan mereka,
Pendekar Slebor! Sementara, kau masih harus
mencari gadis yang bernama Suci itu! Sebaiknya,
kulihat keadaan Sepasang Dewa Gurun Pasir dan
Iblis Tambang. Sudah saatnya mereka untuk
siuman." Mulut Tunggul Manik berkomat-kamit kembali.
Tangan kanannya dikatupkan di dada. Lalu
perlahan sekali tangan kanannya bagai mengambil
asap dupa dari wadah yang menyala. Diarahkannya
pada wadah berisi air kuning.
Sesaat kemudian, dia telah melihat apa yang
diinginkannya....
*** Raka Gunarsa menggeliat pelan. Kepalanya
terasa pusing sekali dengan mata yang nyeri.
Tubuhnya terasa pegal. Lamat disertai keluhan,
lelaki dari Sepasang Dewa Gurun Pasir membuka
sepasang matanya.
Mata yang tadi sulit dibuka dan menimbulkan
rasa nyeri, terbelalak begitu melihat sekelilingnya
Sebuah kehampaan bagai merasuki perasaannya
"Di mana ini?" desisnya berusaha berdiri. bagai
orang baru bangun dari tidur selama bertahun-
tahun, dia memutar tubuhnya melihat sekeliling.
"Rasanya, aku seperti berada dalam sebuah ruangan.
Terkurung rapat!" desisnya. "Keparat! Ini tantangan
buat Sepasang Dewa Gurun Pasir."
Tak sengaja kakinya menyentuh satu sosok tubuh
di bawahnya. "Ida Ayu Mantri," desisnya.
Tertegun dan terburu-buru dengan kecemasan
menyelinap di hati, dibangunkannya kekasihnya
yang tak sengaja tersentuh kakinya tadi.
Ida Ayu Mantri terbangun dengan kepala
berpendar pusing. Keluhannya terdengar pelan
sambil memegang kepalanya dengan tangan kanan.
"Di manakah kita berada sekarang ini, Raka?"
tanyanya pelan, menyadari yang membangun
kannya kekasihnya. Wajah cantiknya sedikit
memucat. "Aku tidak tahu. Yang kuingat, ada asap tebal
yang menyelimuti Iblis Tambang. Lalu mengurung
kita Selebihnya kita pingsan."
"Oh! Kepalaku sakit sekali!"
"Alirkan tenaga dalammu. Ida. Dengan cara
begitu, rasa sakit di kepala dan pegal di tubuhmu
akan menghilang "
Ida Ayu Mantri melakukan petunjuk kekasihnya.
Sesaat dirasakan tubuhbta menjadi segar kembali.
"Mana manusia keparat yang berjuluk Iblis
Tambang itu" Jangan-jangan dia yang melakukan
semua ini," tebak Ida Ayu Mantri.
Raka Gunarsa memiringkan matanya menatap
sekitar. Membuktikan kebenaran kata kata kekasihnya tentang Iblis Tambang
Pada saat yang sama, Iblis Tambang juga sudah
siuman. Terbelalak diperhatikan sekelilingnya.
Empat dinding mengurungnya dengan langit-langit
tinggi- Belum lagi disadari di mana dia berada, satu
serangan yang dilakukan oleh Raka Gunarsa sudah
menderu ke arahnya. Sigap meskipun kesadarannya
belum pulih benar, Iblis Tambang menggerakkan
tubuhnya. Wusssh! Cepat dikirimkan satu tendangan ke samping,
memutar cepat. Raka Gunarsa menekuk sikunya.
Plak! "Katakan, apakah semua ini ulahmu, ataukah
Pendekar Slebor yang kau sebutkan waktu itu yang
melakukannya, hah"!" bentak Raka Gunarsa.
Iblis Tambang tak segera menjawab. Kalau dia
yang melakukannya, sudah tentu dia tak merasa
keheranan. Kalaupun Pendekar Slebor yang melakukannya, sepanjang ingatannya Pendekar
Slebor tak memiliki ajian semacam gumpalan asap
yang membuat orang pingsan.
Mendapati lawan tak menjawab pertanyaannya.
Raka Gunarsa makin meradang. Dibantu oleh
kekasihnya, keduanya melabrak Iblis Tambang
bertubi-tubi. Ruangan itu bergetar hebat. Beberapa kali dinding
yang melingkupi mereka bagai mau ambruk.
Menghadapi Sepasang Dewa Gurun Pasir, Iblis
Tumbang memang tak mampu bertahan lama.
Terutama, karena keseimbangan tubuhnya belum
pulih benar, sementara kedua lawannya telah
memulihkan kondisi tubuh mereka.
Otak lelaki bersenjata tambang besar itu yang licik
berputar. Dia sengaja menghindari setiap serangan
yang datang memepet ke tembok. Berkelit lincah
dengan sesekali membalas. Serangan yang dilancarkan kedua lawannya berkali-kali menghantam dinding di belakangnya.
Inilah yang memang ditunggu Iblis Tambang.
Sengaja dia tak menghindar kebagian lain. Tetap di
belakang dinding yang terus terkena hajaran dua
lawannya. Akibatnya, dinding itu pun akhirnya
jebol. Bersamaan itu, dengan pencalan satu kaki
sambil mengibaskan tangannya mengirimkan satu
pukulan ke depan, sekaligus menahan serangan Ida
Ayu Mantri, Iblis Tambang melompati dinding jebol
itu, dan berkelebat meninggalkan Sepasang Dewa
Gurun Pasir yang geram bukan main.
"Kelicikan bangsat itu sungguh mengagumkan!",
geram Raka Gunarsa dengan rahang terkatup. "Biar
bagaimanapun juga, manusia itu harus mampus!"
"Tunggu. Raka!"seru Ida Ayu Mantri ketika Raka
Gunarsa hendak melompati dinding jebol itu..
Raka Gunarsa menoleh. Pancarannya sedikit
geram karena ditahan seperti itu. Berarti, hanya
membuang waktu dan membiarkan Iblis Tambang
lolos. "Ada apa?"
"Tidakkah kau merasa heran dengan tempat ini?"
tanya Ida Ayu Mantri. Sekali melompat dia telah
melewati dinding jebol itu.
Raka Gunarsa menyusul. Pandangannya mengedar melihat lorong di depan dan di
belakangnya. "Peduli setan dengan tempat ini! Sekalipun tempat
ini tempat berdiamnya Raja Iblis, aku tak peduli!
Manusia keparat berjuluk Iblis Tambang itu harus
mampus! Aku tak sabar untuk melakukannya dan
menantang Pendekar Slebor!"
"Tenang, Raka. Kau lihatlah dulu sekelilingmu.
Angin dingin berhembus kencang. Lorong-lorong ini
sangat panjang. Apakah kau tidak merasakan
keanehan di sini?"
Raka Gunarsa menurunkan sedikit kemarahannya. Setelah menoleh ke sana-kemari dia
menatap kekasihnya dan menganggukkan kepalanya. "Kau benar, Ida. Tak ada lubang angin di sekitar
sini. Tetapi angin begitu kencang menusuk."
"Apakah kita berada di tepi pantai?"
"Tak ada debur ombak yang kudengar."
"Lalu tempat apa ini?"
Raka Gunarsa tak menyahuti kata-kata kekasihnya. Keheranannya mulai membulat menyadari tempat yang asing ini. Ditatapnya lagi
Ida Ayu Mantri yang sedang menatapnya,
menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Kita tak bisa menebak begitu saja. Bahkan untuk
mengetahui tempat ini, penyelidikan yang akan kita
lakukan belum tentu berhasil. Tetapi sebaiknya, kita


Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memang harus menyelidiki tempat ini, Ida"
lda Ayu Mantri tak banyak bertanya. Menyepakati
kata-kata kekasihnya, dia menganggukkan kepala
"Kita mulai, Raka!"
Keduanya pun berkelebat ke arah Iblis Tambang
melarikan diri.
*** Kakek Buruk Rupa menghentikan langkahnya di
sebuah tempat yang mirip pendopo. Lelaki yang tak
ketahuan mana hidung dan mana mulut itu
bergumam tak jelas. Tubuh bongkoknya berputar
melihat sekelilingnya. Angin dingin menghembusi
wajahnya yang tertutup rambutnya yang putih
panjang. "Sontoloyo! Tempat apakah ini" Seumur hidupku,
baru sekarang aku melihat tempat semacam ini."
Lalu dia menggerutu tak jelas. "Perginya Pendekar
Slebor yang membawa cucuku masih membingungkan lebih-lebih lagi bila memikirkan
Permata Sakti yang kuberikan pada Pendekar
Slebor. Apakah dia bisa memecahkan rahasia
Permata Sakti itu" Brengsek! Mengapa aku bisa
berada di sini?"
Dari balik rambut putih panjang yang menutupi
wajahnya, sepasang mata Kakek Buruk Rupa
berkeliling "Ke mana pula Camar Hitam pergi" Pedulilah
dengan wanita serakah itu! Aku harus mencari jalan
keluar dari sini'"
Bersamaan angin menghembus terdengar suara
dikawal tawa membahana. "Selamat datang di Pulau
Seribu Setan, Kakek Buruk Rupa!"
Di balik rambut pulih panjang yang menutupi
wajahnya, Kakek Buruk Rupa mengerutkan kening.
"Suara itu seperti datang dari sampingku. Begitu
dekat. Tetapi, bagai terseret angin hingga menggema
di seluruh tempat aneh ini. Pulau Seribu Setan.
Apakah aku memang berada di Pulau Seribu Setan,
sebuah pulau yang tak diketahui di mana berada,"
membatin si kakek. Lalu dia terkekeh-kekeh, "Wah,
wah... kalau begitu kuucapkan terima kasih atas
sambutanmu. Ngomong-ngomong, apakah di Pulau
Seribu Setan ini terdapat delman" Aku mau pulang!
Mau buang air besar!"
Suara keras itu menggeram.
"Jangan sesumbar di sini, Orang Tua! Kau tak
lebih dari tikus kurus yang terjebak di sarang kucing
lapar!" "Atau... bukan kau sendiri yang semacam tikus
kurus?" balas Kakek Buruk Rupa sambil terbahak-
bahak. "Orang tua keparat!" makian keras terdengar
kembali. "Jangan menjual lagak di hadapanku!
Akulah Tunggul Manik, Majikan Pulau Seribu
Setan!" "Wah! Kalau begitu, kau boleh memanggilku
dengan sebutan Majikan Pulau Bidadari! Itu terjadi
karena ketampanan wajahku dan selalu dikerubungi
para bidadari!"
"Apakah kau akan sesumbar lagi bila mengetahui
cucumu dan Permata Sakti itu ada di tanganku,
hah?" suara keras itu bertalu lagi diiringi kegeraman
Kakek Buruk Rupa menghentikan tawa setannya.
"Cucuku" Oh! Apakah cucuku berada di sini pula"
Kurang ajar! Aku ingat sekarang, ketika asap tebal
menggulung tubuhku. Pasti asap hitam tebal itu
yang membawaku ke sini. Manusia keparat yang
bernama Tunggul Manik yang melakukan semua ini.
Dan Permata Sakti" Bukankah permata itu berada di
tangan Pendekar Slebor" Kalau begitu, pemuda dari
Lembah Kutukan itu pasti berada di sini juga!"
"Mengapa kau diam, hah" Apakah telingamu
sudah semakin budek?"
Kakek Buruk Rupa terkekeh. "Bagaimana dengan
kau sendiri" Apakah kau malu unjuk diri di
hadapanku" Jangan-jangan, wajahmu lebih jelek dari
wajah tampanku ini!"
Bentakan dibaluri geram tinggi terdengar dahsyat.
"Jangan menjadi badut di sini! Kakek Buruk Rupa,
bila kau menginginkan cucumu dan Permata Sakti
itu, kau harus mengikuti perintahku!"
"Main perintah! Kau seperti orang-orang kotapraja
saja! Biar kau yang kuperintahkan! Ayo, keluar! Aku
ingin lihat apakah kau sebangsa kodok bantet
apakah tikus got?"
"Keparat! Sesumbarmu terlewat besar, Orang Tua!
Dengar baik baik aku akan memberikan sebuah
permainan yang pasti sangat kau sukai!"
"Aku tak pernah suka bermain-main!!" kata Ka kek
Buruk Rupa makin ngawur. Dia memang sengaja
memancing kemarahan orang dibalik suara keras itu
untuk keluar "Apalagi, untuk menghadapi manusia
pengecut seperti kau ini"'"
"Diam! Aku ingin kau dengan Pendekar Slebor
bertarung sampai mampus! Bila kau tidak
melakukannya, maka cucumu akan mati di
tanganku!"
"Keparat itu tidak main-main dalam ancamannya,"
batin si kakek. "Bagaimana aku tahu cucuku masih
dalam keadaan segar bugar, hah?"
"Dia aman di tanganku. Saat ini, Pendekar Slebor
sedang berusaha mencari cucumu karena padanya
telah kusuguhkan sebuah permainan! Dan untukmu,
bertarung sampai mampus dengan Pendekar Slebor!
Hadiahnya, cucumu itu!"
"Pendekar Slebor pasti akan menemukan cucuku!"
"Kita lihat nanti! Hahahaha!" suara tawa keras itu
terdengar bertalu-talu. Selebihnya sepi melanda
kembali. Angin dingin yang tadi bagai tertahan
berhembus, kini bertiup lagi. Lebih dingin dari
sebelumnya. Kakek Buruk Kupa membatin, "Aku yakin, ini
hanya sebuah permainan sihir. Nama Pulau Seribu
Setan memang kudengar. Tetapi setahuku, tak
seorang pun yang tinggal di sana. Bahkan pulau itu
bagai tertutup kabut, tak ada yang pernah
menemukannya. Kalau Tunggul Manik mengatakan
semua ini, berarti dia bukan orang sembarangan.
Hhhh! Mau apa sebenarnya manusia keparat itu
berbuat seperti ini" Bila cucuku disakiti, akan
kuhancurkan tempat ini! Peduli setan apakah aku
bisa keluar dan sini atau tidak!"
*** 6 Apa yang dialami oleh Pendekar Slebor memang
sesuatu yang aneh. Pulau Seribu Setan sepenuhnya
dikuasai oleh ilmu sihir Tunggul Manik. Beberapa
kali Andika merasa lorong panjang yang setiap kali
dimasukinya seolah buntu. Dan ketika dia berbalik
ke arah jalan semula, ada bentangan lorong panjang
kembali. "Astaga! Teka-teki lorong-lorong ini saja begitu
memusingkan kepalaku. Setiap kali kntelusuri,
selalu bagaikan buntu. Tetapi setelah dekat masih
terdapat bentangan lorong lainnya. Dan bila aku
kembali ke tempat semula, rasanya begitu panjang.
Kurang ajar! Di mana aku bisa menemukan cucu
Kakek Buruk Rupa itu?" hatinya agak galau dibaluri
kemarahan. Belim lagi Andika melakukan apa-apa, dirasakan
satu keras ke arahnya. Cepat dia memutar tubuh
menghindar. Blaaar! Angin dahsyat itu menghajar tembok hingga
sempal.. Ketika Andikamenoleh, dilihatnya Iblis Tambang
telah berdiri dengan wajah dingin.
"Astaga! Rupanya manusia dajal ini pun tiba disini
pula!" desis Andika
"Kucari di alam sana tak ku temukan! Kini ada di
hadapanku! Bagus! Pendekar Slebor, serahkan
Permata Sakti biru itu kepadaku?" Membentak Iblis
Tambang dengan tatapan dingin.
Andika menggaruk-garuk kepalanya yang tak
gatal. "Ngomongmu gaya juga! Apa kau belum puas bila
kuhajar kembali" Hei, ke mana perginya tanganmu
yang satu itu" Kau jual ya sebagai pengganti
tambangmu?"
Membesi wajah Iblis Tambang. Urat wajahnya
bagai tertarik keluar, menimbun daging kecil di
bawah matanya, hingga kedua matanya menyipit.
"Jangan jual lagak di hadapanku! Kali ini kau akan
mampus di tanganku, Pendekar Slebor!" bersamaan
dengan itu, Iblis Tambang menderu dahsyat.
Dengan mempergunakan tangan kanannya, senjata
tambangnya saat dilepaskan ke arah Andika,
menimbulkan suara gemuruh keras.
Andika yang sudah tahu kehebatan senjata aneh
itu, mencoba membuang tubuh ke samping. Namun
belum lagi hinggap di tanah, kaki Iblis Tambang
sudah memapas kedua kakinya. Sigap Andika
melompat dan meluruk dengan satu jotosan ke
wajah Iblis Tambang.
Tetapi, senjata tambang yang berat itu berputar
hingga menimbulkan desingan bak ratusan anak
panah diluncurkan dari busurnya. Membuat Andika
urung melakukan maksudnya.
Satu tendangan mengenai perutnya, hingga dia
terjajar ke belakang.
"Boleh juga!" desisnya sambil menyeringai. lalu
sambungnya dalam hati, "Kecepatan tambang itu tak
jauh berbeda bila dia menggunakan kedua tangan.
Tetapi, tenaga yang keluar tak sebesar bila dia
mempergunakan kedua tangannya. Berarti, kelemahannya jelas berada di tangan kanan."
"Kau akan melihat kelebihanku yang lain!"
Andika yang sedang berpacu dengan waktu untuk
menemukan cucu Kakek Buruk Rupa, tak mau
bertindak tanggung. Lagi pula, dia sudah memperkirakan kelemahan ilmu senjata tambang
lawan. Sebelum Iblis Tambang menyerangnya
kembali, dia sudah mendahului.
Melalui pencalan satu kaki, tubuhnya meluruk ke
depan. Namun, lagi-lagi bersamaan tubuhnya
menyerang, tambang besar itu menderu. Membuat
Andika kembali urung. Dan kali ini dia berusaha
menghindar sekaligus menemukan sela untuk
melakukan serangan.
Sekali pun senjata maut Iblis Tambang sangat
hebat, mengeluarkan suara menderu-deru, namun
dia tidak mampu menandingi kegesitan Pendekar
Slebor. Justru berkali-kali manusia dajal ini terkejut
karena serangan Andika selalu mengarah pada
tangan kanannya
"Keparat! Dia mencecar tangan kananku terus!
Setan alas!! Geraqkanku jadi semakin susah!!"
Iblis Tambang keluarkan keringat dingin ketika
pada jurus selanjutnya dia bagai tak mampu
bertahan lagi. Dalam keadaan kedua tangannya
utuh, dia sungguh sulit mengalahkan Andika. Lebih-
lebih kini hanya satu tangannya yang berfungsi.
Andika sendiri memang tak mau membuang
waktu lama. Beberapa kali serangannya yang
dilancarkan tiba-tiba membuat Iblis Tambang
memekik. Bahkan pakaian Iblis Tambang di bagian
dada, sobek terpapas tangan kanannya.
Iblis Tambang melompat mundur dengan wajah
pucat. Sebaliknya, Andika tertawa-tawa.
"Kau tidak usah tegang! Pokoknya, kau akan pergi
ke akhirat dengan cara yang paling menyakitkan!"
Mendidih darah Iblis Tambang mendengar ejekan
itu. Dilipatgandakan tenaga dalamnya dan diputar
senjata tambangnya lebih hebat. Kali ini, seluruh
tubuh Andika terbungkus serangan lawan yang
gencar dan bertubi-tubi.
Justru Andika sengaja membiarkannya. Karena,
dengan cara begitu secara tidak langsung dia telah
menguras tenaga Iblis Tambang.
Apa yang diduga berikutnya memang benar.
Karena lama kelamaan serangan Iblis Tambang
mengendur. Mukanya merah mendapati tak satu
serangannya pun yang mengenai sasaran. Hal ini
membuat kemarahannya semakin menjadi.
Namun Andika yang sudah menemukan bentuk
penyerangannya, dengan mudah menyarangkan
jotosan dan tendangannya. Berkali-kali, hingga
membuat Iblis Tambang menekan erat perutnya.


Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Bagi Andika, manusia seperti Iblis Tambang
memang tak perlu dikasihani. Akan diberinya
pelajaran pada lelaki dajal itu. Maka, dengan cepat
dan mengalirkan kembali tenaga 'inti petir'-nya,
Andika menderu, siap memapas tangan kanan Iblis
Tambang. Pikirnya, tanpa kedua tangan, Iblis
Tambang hanyalah menjadi orang pesakitan belaka.
Namun belum lagi Andika melakukan hal itu, satu
sosok biru menderu cepat ke arahnya. Memapaki
serangannya. Plak! Cepat Andika melenting ke belakang tiga tombak.
Begitu hinggap kembali, dilihatnya dua sosok tubuh
berbaju biru sedang menatap dingin ke arahnya
*** Sebelum Andika berkata apa-apa, Iblis Tambang
yang merasa selamat dari sambaran maut Andika,
cepat bergulingan mendekati sepasang anak
manusia yang memasang wajah dingin.
"Raka Gunarsa!"serunya pada yang laki-laki,
penuh dengan sikap menjilat Apalagi mengingat
dirinya telah diselamatkan dari serangan Pendekar
Slebor. Pandangannya berkilat kilat penuh kelicikan.
Orang yang baru datang itu bukan lain adalah
Sepasang Dewa Gurun Pasir. "Bila kau ingin
mengetahui orang yang berjuluk Pendekar Slebor,
pemuda itulah orangnya!"
Pada saat Iblis Tambang mendekatinya, Raka
Gunarsa hendak menghantamkan tangannya pada
lelaki itu,menjadi urung ketika mendengar keterangannya. Pandangan matanya lurus tek
berkesip pada Andika yang tengah mengira-ngira
siapakah kedua orang ini. Bila melihat cara
memapaki serangannya pada Iblis Tambang tadi,
jelas-jelas lelaki yang dipanggil dengan nama Raka
Gunarsa bukan orang sembarangan. Benturan
lengannya barusan cukup membuat tangannya
bergetar. Nampaknya kemampuan yang sama pun
dimiliki oleh wanita yang berdiri dengan dua tangan
terlipat di dada di samping lelaki itu. Keduanya
memasang wajah dingin.
"Hhh! Pemuda masih bau kencur rupanya yang
kau maksudkan, Iblis Tambang!" seru Raka Gunarsa.
Keinginannya untuk diakui sebagai orang tak
terkalahkan, membuat kepongahan merambati
wajahnya. Andika masih terdiam, sementara otaknya terus
berpikir. Apakah kedua manusia itu kambratnya
Iblis Tambang" Tetapi bila melihat sikap Iblis
Tambang yang seperti orang pesakitan itu, jelas-jelas
justru lelaki jelek itu tunduk pada keduanya
Raka Gunarsa berkata lagi, berat dan menunjukkan tenaga dalam pada suaranya, "Pendekar Slebor! Cukup membuat keder julukan
itu! Tetapi tidak bagi kami, Sepasang Dewa Gurun
Pasir yang ingin menjajal kemampuan!"
Kalau sejak tadi Andika terdiam memperhatikan,
sekarang terdengar dengusannya. "Orang-orang
yang tak pernah puas dengan apa yang dicapainya!
Hhh! Sepasang Dewa Gurun Pasir... bila kau ingin
menjajal kemampuan, bukan saat yang tepat!"
"Peduli setan!" maki Raka Gunarsa dengan rahang
terkatup rapat. Matanya membiaskan kemarahan
yang luar biasa.
Melayani omong kosong seperti ini, hanyalah
mengundang diri masuk ke sebuah kebodohan
Andika tidak pernah tertarik untuk meladeni orang
orang yang terlalu tidak puas dengan apa yang
mereka miliki. Dan selalu ingin diakui sebagai yang
terbesar. Apalagi saat ini. Andika.merasa berpacu
dengan waktu untuk menemukan Suci.
Dia berkata dingin, "Sebaiknya... bila memang kau
bermaksud menantangku, kita tunda untuk be-
berapa saat!"
Raka Gunarsa terbahak-bahak. Dia menoleh pada
Iblis Tambang, lalu berkata dengan nada meleceh-
kan, "Kau dengar sendiri, bukan" Orang yang kau
tunjuk sebagai orang yang mampu memuaskan
keinginan kami, ternyata tak lebih dari kambing
congek belaka! Mana keberanian yang kau gembar-
gemborkan itu, hah" Ayam sayur kau berikan pada
kami!" Bila menuruti kata hatinya, Andika akan langsung
menampar mulut kurang ajar itu. Tatapannya
dialihkan pada Iblis Tambang. Otaknya segera
berpikir, "Manusia keparat itu rupanya sengaja
menjebakku. Hhh! Bila melihat sikapnya, aku yakin
kalau Iblis Tumbang bukan apa apa dibandingkan
Sepasang Dewa Gurun Pasir. Lengan kirinya yang
kutung pasti tanda mata dari Sepasang Dewa Gurun
Pasir. Kalau menuruti kata hatiku, akan kugebrak
keduanya. Tetapi ini bukanlah saat yang tepat,
mengingat aku masih harus menemukan di mana
suci berada."
Lalu dia berseru kepada Raka Gunarsa, "Kesombongan Sepasang Dewa Gurun Pasir
sebenarnya memaksaku untuk menerima tantangan
kalian! Tetapi, bila kalian merasa diri nomor satu...
coba tunjukkan jalan keluar dari Pulau Seribu Setan."
"Jangan berdalih! Bila kau takut katakan terus
terang hingga kami rela menahan diri tidak
langsung membunuhmu!" Ida Avu Mantri yang
berseru. Andika tersenyum dalam hati melihat wajah
cantik di hadapannya. "Sayangnya, wanita itu pun
berhati kejam." Lalu katanya dengan ketenangan
luar biasa, "Takut hanyalah setipis kulit ari. Rasa
takutlah yang membuat setiap manusia gamang
dalam melakukan tindakan"
'Banyak omong!" geram Ida Ayu Mantri.
"Rasanya sulit melepaskan diri dari orang-orang
celaka yang suka mengumbar kepandaian," batin
Andika. "Sebaiknya, kucoba saja untuk melunakkan
hati mereka." Dengan pandangan tetap tenang
Andika berkata, "Untuk saat ini, kuakui kalian
memang hebat meskipun aku tidak tahu apakah
kalian memang pantas mendapat pujian seperti itu.
Sebaiknya...."
"Setan alas! Kau hanya membuang waktu,
Pendekar Slebor! Tanpa kau layani keinginan kami,
kau tetap akan mampus!" Dikawal dengan geraman
tinggi, tubuh Ida Ayu Mantri berkelebat. Saking
cepatnya yang nampak hanyalah bayangan biru
belaka. Tak ada jalan lain bagi Andika selain memapaki
serangan itu. Dia sengaja tak beranjak dari
tempatnya, semata untuk menjajaki tenaga dalam
lawan. Begitu jotosan Ida Ayu Mantri siap
menghantam wajahnya, Andika mengangkat sebelah tangannya dengan kibasan cepat.
Des! Andika surut tiga tindak ke belakang ketika
dirasakan tangannya bergetar. "Bukan buatan!
Tenaga dalamnya cukup tinggi! Terpaksa aku harus
melayani orang orang ini dulu!"
Ida Ayu Mantri sendiri saat ini sedang memular
tubuhnya di udara Begitu serangan pertamanya di
papaki Andika, dia segera susulkan serangan kedua.
Tendangan kaki kanan dan kiri dilepaskan
bersamaan tubuhnya berputar.
Kembali Andika menangkis serangan serempak
itu. Tetapi kali ini disusul dengan satu serangan
balasan. Kakinya menyepak ke atas. Ida Ayu Mantri
terkejut dan terburu-buru membuat silang kedua
tangannya ke bawah.
Des! Seharusnya selagi lawan dalam keadaan terjepit
seperti itu, Andika bisa segera menyusulkan
serangannya. Tetapi Andika yang memang enggan
untuk melayani manusia-manusia
yang berkeinginan seperti Sepasang Dewa Gurun Pasir
justru mundur dua tindak.
Satu teriakan keras terdengar. Raka Gunarsa
sudah menderu dahsyat. Di samping kemarahannya
dia juga jengkel melihat lawan seperti memberi
angin pada kekasihnya. Dia tahu kalau lawan bisa
menjatuhkan kekasihnva saat itu juga.
Berarti ini tantangan!
Tidak tanggung lagi. Saat menyerang Raka
Gunarsa melipatgandakan
tenaga dalamnya. Mendapati perubahan angin serangan yang datang.
Andika mencelat ke samping. Tetaoi kibasan kaki
kiri Raka Gunarsa, membuatnya harus melompat.
Bersamaan dengan itu, Ida Ayu Mantri yang tak
tahu kalau Andika sengaja melepaskannya, menyepak ke muka.
Cepat Andika memutar tubuhnya. Dirasakan pula
perubahan angin serangan Idu Ayu Mantri.
"Keduanya tidak main-main rupanya" dengus nya
yang mau tak mau harus menghindar dan
membalas. Dua gempuran dahsyat datang sekaligus. Beruntun dan bertubi-tubi. Membuat Andika
menjadi kacau pikirannya. Di satu segi, dia merasa
harus memburu waktu, sementara di segi lain,
menghadapi dua manusia celaka ini akan memakan
waktu. Dilihatnya Iblis Tambang yang menyeringai
penuh kemenangan. Dia berseru, "Raka Gunarsa!
Pendekar Slebor telah mencuri Permata Sakti
milikku!" "Persetan dengan ucapanmu!" bentak Raka
Gunarsa dan meningkatkan kecepatannya. Begitu
pula dengan Ida Ayu Mantri. Keduanya telah
mempergunakan ajian andalan mereka 'Gabungan
Dua Dewa'. Hingga setiap kali keduanya melancarkan serangan, terdengar suara menggebah
keras. Andika sendiri akhirnya mulai turun tangan pula.
Kalau tadi serangannya tidak begitu diarahkan, kali
ini dia tak mau bersikap tanggung. Diputar
tubuhnya ke samping, menghindari serangan dua
lawan sekaligus.
Bersamaan dengan itu, Andika merunduk.
Kakinya menendang keras. Mengenai kedua
lawannya yang terhenyak dan segera bangkit
kembali. Menyerang dengan kemarahan berlipat
ganda. Melihat Sepasang Dewa Gurun Pasir mulai
terdesak, Iblis Tambang memperlihatkan wajah
aslinya. "Keparat! Ternyata dua manusia ini tak mampu
menghadapi Pendekar Slebor! Bisa aku yang celaka!"
Selagi Iblis Tambang ketakutan seperti itu, Pen-
dekar Slebor sedang melancarkan serangannya. Te-
naga 'inti petir' sudah dipergunakan. Dengan
mengandalkan ketepatannya yang kesohor, dia
menyodok masuk dan memukul dua kali.
Des! Des! Raka

Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Gunarsa terpelanting dan terkapar. Sementara kekasihnya terbanting dan berguling
sampai dua tombak. Melihat hal itu, wajah Iblis
Tambang makin memucat
Walau tubuh Sepasang Dewa Gurun Pasir terasa
sakit tak karuan dengan jantung berdebar dan darah
mengalir kacau, keduanya masih bisa berdiri.
Mengalirkan hawa murni ke dada yang bagai
remuk. "Setan alas!" maki Raka Gunarsa. "Jangan
berbangga dulu dengan hasil perbuatanmu itu! Kau
akan menerima ganjarannya!"
Andika yang sudah mundur lima tindak
menggeleng-gelengkan kepala.
"Manusia-manusia yang tak tahu diuntung!"
dengusnya dalam hati. Dengan mata memicing yang
memancarkan kegusaran dia berkata, "Sebaiknya,
lupakan semua ini! Karena, di dunia ini tak ada yang
lebih tinggi dan lebih rendah. Kalau pun merasa
lebih tinggi, masih ada yang lebih tinggi lagi begitu
seterusnya. Kuakui, kehebatan Sepasang Dewa
Gurun Pasir sangat tinggi. Sebaiknya. kalian
berusaha membebaskan diri d Pulau Seribu Setan
ini." Sehabis berkata bergitu Andika berkelebat cepat
meninggalkan mereka yang tertegun mendengar
kata-kata Andika Perasaan tidak enak tiba-tiba
muncul. "Raka Gunarsa. baru kali ini kutemui seorang
pendekar yang memiliki ilmu tinggi dan hati bijak
seperti dia," kata Ida Ayu Mantri.
Raka Gunarsa menganggukkan kepalanya
"Kau benar, Ida. Tak kusangka, kalau orang yang
berjuluk Pendekar Slebor itu masih sedemikian
muda. Kesaktiannya begitu tinggi Aku jadi malu
mengingat, kalau dia sebenarnya mampu menghabisi kita. Seperti yang kulihat saat kau
pertama kali menyerangnya, Ida."
Seketika Ida Ayu Mantri menoleh dengan kening
berkerut. "Apa maksudmu, Raka?"
"Kulihat, tadi pun Pendekar Slebor membiarkan
kau bebas. Padahal, dia bisa meneruskan serangannya."
Hati Ida Ayu Mantri menjadi bergetar tak karuan.
Perasaannya yang menduga kalau Pendekar Slebor
tak berani menyerangnya tadi pupus perlahan.
"Benarkah yang kau katakan itu?" Raka Gunarsa
mengangguk pasti. "Gila! Sungguh gila!" rutuk Ida
Ayu Mantri tak karuan.
"Aku jadi malu dengan sikap kita selama ini,
Ida...." "Bodoh! Mengapa hanya karena ucapan Pendekar
Slebor saja kalian seperti lumpuh?" bentakan itu
terdengar keras. Iblis Tambang yang tidak suka
melihat Sepasang Dewa Gurun Pasir bagai pasrah
dan melupakan keinginan mereka, menjadi geram.
Terutama mengingat Sepasang Dewa Gurun Pasir
tak mampu menjatuhkan Pendekar Slebor. Padahal,
dia menginginkan Permata Sakti yang disangkanya
masih berada pada Pendekar Slebor.
Kalau sebelumnya Raka Gunarsa sudah jengkel
terhadap Iblis Tambang, kali ini kejengkelannya
makin menjadi. Dia berbalik dengan tatapan gusar.
"Jangan banyak bacot!" sentaknya penuh kegeraman. "Justru kau yang harus mengganti malu
kami!" "Setan alasi Dengan cara seperti itu, kalian justru
menunjukkan kepengecutan kalian sendiri! Kalian
tak pantas disebut sebagai... eeeittt!"
"Kusumpal mulutmu, Keparat!" Ida Ayu Mantri
sudah menerjang mendahului kekasihnya.
Iblis Tambang terperanjat. Dia berusaha menghindar. Tetapi, Raka Gunarsa lebih cepat
menghantam dadanya hingga tubuhnya terhuyung
ke belakang. Belum lagi keseimbangannya normal, Ida Ayu
Mantri telah mengirimkan serangan selanjutnya.
Menyusul serangan Raka Gunarsa. Dalam tempo
beberapa kejapan saja. Iblis Tambang sudah pingsan.
*** 7 Pendekar Slebor kembari menghentikan larinya.
Dia benar-benar pusing, memikirkan di mana harus
mencari Suci. Apalagi bila memikirkan jalan keluar
dari bangunan aneh yang terus menerus berbentuk
lorong. Bahkan terkadang Andika tidak yakin
apakah lorong-lorong itu pernah dimasuki sebelumnya. "Tuyul botak! Semuanya dinding hitam terus. Tak
ada lagi taman seperti yang kujumpai sebelumnya!
Sinting! Ilmu sihir milik Tunggul Manik memang
sangat tinggi!"
Dirabanya dinding di hadapannya, yang dalam
setiap lorong selalu berwarna kehitaman itu.
Diketuk-ketuknya. Beberapa kali Andika mendengar
suara menggema.
"Hmmm... di balik dinding ini aku seolah merasa
ada tempat kosong." Untuk beberapa lama Andika
terdiam, dan mengetuk kembali dinding-dinding itu.
Sampai kemudian dia bergumam, agak tidak jelas.
"Sejak pertama keluar dari tempatku disekap, aku
selalu mengikuti setiap lorong yang di kanan kiri
terdapat dinding panjang kehitaman ini. Bagaimana
bila sekarang kutembus dinding-dinding ini"
Apakah ada sesuatu di balik setiap dinding"
Baiknya, kucoba saja untuk menembus dinding di
hadapanku ini"
Memutuskan seperti itu. Andika merangkum
ujian 'Guntur Selaksa' di kedua tangannya. Lalu di-
hantamnya dinding di hadapannya.
Duaaarr! Dinding itu jebol dengan menimbulkan suara bak
ombak menghantam karang di pantai. Ada cahaya
redup di dalamnya. Andika tidak segera masuk,
karena dikhawatirkan ada jebakan yang menantinya.
Hati-hati dilongokkan kepalanya melihat ruangan
yang terang itu.
Ada sebatang besi di hadapannya. Ketika
diarahkan pandangannya ke bawah, ada semacam
sumur yang dalam sementara besi itu terus
membujur ke bawah.
"Tempat apakah ini?" desisnya dengan kening
berkerut. 'Adakah sesuatu yang bisa kujadikan pa-
tokan untuk menemukan Suci" Atau, hanya jebakan
belaka" Sebaiknya, biar kucoba untuk masuk ke
dalamnya."
Dengan sekali lompat. Andika sudah melingkarkan kedua tangan dan kakinya pada
batang besi itu. Dipejamkan kedua matanya untuk
mengonsentrasikan diri. Dilipatgandakan tenaga
dalamnya, siaga bila datang satu serangan. Setelah
membulatkan tekad mulailah dia meluncur di
batang besi itu, ke bawah.
Semakin ke bawah dirasakan angin begitu keras
bertiup. Dan batang basi yang masih ke tempat
semacam sumur, terus berlangsung. Entah berapa
lama sudah berlalu. Yang dirasakan, sudah lama
sekali dan bertambah dalam
Mendadak saja pegangan pada besi itu terlepas.
Rupanya besi bulat itu sudah habis. Cepat Andika
mengendalikan tubuhnya dengan mempergunakan
ilmu meringankan tubuhnya.
Bruk! Ia terjatuh dengan pantat terduduk. Rupanya
batas besi itu tidak terlalu jauh dengan dasar. Sigap
dia berdiri dan meraba ke atas. Tangannya
menggapai batas terakhir dari besi yang tadi dibuat
sebagai luncuran.
"Edan! Kepalaku jadi pusing melihat semua ini?"
dengusnya. Matanya mencoba tembusi kegelapan
tempat. "Apakah ini semacam lorong pula" Ataukah
sebuah ruangan?"
Mengandalkan ketajaman mata dan nalurinya,
Pendekat Slebor melangkah ke samping kanan. Tak
ada dinding yang tersentuh. Dilakukannya ke
sebelah kiri. Lalu ke belakang.
"Hmmm... ini bukan semacam ruangan. Kalau
pun ini sebuah lorong, pasti sangat lebar sekali.
Sebaiknya, aku melangkah terus ke depan."
Mulai dilangkahkan kakinya dengan kesiagaan
penuh. Semakin jauh melangkah, mulailah dilihatnya cahaya terang di hadapannya. Dan dia
tiba di sebuah ruangan yang memancarkan bau
sangat wangi sekali.
Tak ada suara apa pun yang terdengar. Bahkan
angin pun seperti berhenti bertiup. Mendadak saja
pandangannya terhalang kabut putih yang cukup
tebal. "Apa-apaan ini" Bagaimana tahu-tahu bisa ada
kabut keparat di hadapanku?"
Sesaat Andika berusaha menajamkan pandangannya dengan kesiagaan membesar. Batinnya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi.
Benar saja. Begitu tatapannya membaik dan kabut
putih itu menghilang, di hadapannya berdiri
sepuluh orang laki-laki berpakaian hitam dengan
destar merah. Masing-masing menunjukkan wajah
garang. Dan di tangan mereka terdapat senjata
parang tajam, berkilat-kilat tertimpa cahaya yang
entah datang dari mana, menatap tak berkesip ke
arah Andika. *** "Kura-kura bau!" rutuk Andika sambil tak
berkesip menatap sepuluh lelaki garang di
hadapannya. "Melihat penampilan mereka, jelas
mereka adalah anggota Serikat Kuda Hitam.
Beberapa anggotanya pernah kuhajar di alam luar
sana!" Sesaat kemudian, Andika membatin lagi,
"Kampret! Kalau mereka adalah anak buah Tunggul
Manik atau majikan Pulau Seribu Setan... mengapa
justru mereka yang mengacau di rimba persilatan
sementara Tunggul Manik berdiam diri di Pulau
Seribu Setan ini'' Hanya satu jawaban, kalau
Tunggul Manik tidak menghendaki dirinya untuk
muncul di rimba persilatan lebih dulu. Dia
mengirimkan anak buahnya ntuk melihat keaadan.
Gambaran tentang Tunggul Manik mulai jelas
sekarang. Dia sengaja mengundangku atau mungkin
ada lagi yang datang ke tempat ini untuk emnguji
kesaktiannya. Setelah berhasil mengalahkan orang
yang diundangnya kesini, dia akan muncul di rimba
persilatan! Keparat! Tak akan kubiarkan semua itu
berlangsung!"
Sepuluh lelaki berwajah garang itu, maju satu
tindak. Tak berkesip menatap Andika.
Salah seorang dari mereka yang mempunyai
hidung bulat dan besar berkata geram, "Kau telah
membunuh sejumlah kawan kami, Pendekar Slebor!
Hal itu tak akan pernah kami maafkan sebelum
melihatmu terkubur di Pulau Seribu Setan ini!"
"Lagi pula, siapa yang mau minta maaf?" sahut


Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Andika seenaknya sambil menjulurkan lidah. "Justru
aku datang ke sini, buat mengemplang kepala
kalian! Ayo, maju satu-satu! Berbaris, dan jangan
berebut!" Sebagai jawaban atas tingkah Andika yang penuh
ejekan, lima dari lelaki garang bercambang bauk itu,
menderu seraya mengibaskan parang di tangan
mereka. Wussshhh! Bersamaan dengan itu, Andika melompat kedepan. Lima parang yang dikibaskan ganas lolos
dari sasaran. Dari lompatannya, pemuda dari
Lembah Kutukan ini menendang dengan kaki kanan
dan kiri ke arah lima orang dari lelaki berbaju hitam
dan berdestar merah lainnya, semata untuk
membuat mereka jeri. Tetapi, orang-orang itu justru
bertambah beringas karena mendapati Andika yang
tak segera menurunkan tangan.
"Kutu busuk! Mereka rupanya tak mau mengerti
kalau aku sengaja takmenurunkan tangan," makinya
dalam hati. Lalu menyambung sambil menghindari
sambaran parangiparang tajam, 'Tak ada jalan lain
rupanya..."
Memikir demikian, pemuda sakti itu mencelat ke
depan. Kedua tangannya bergerak cepat.
Wuuut! Prak! Prak! Tiga orang bisa menghindar, sementara dua orang
lagi terkapar dengan kepala pecah. Lolongan keras
terdengar mewarnai tempat itu ketika tangan
Andika menghantam pecah kepala dua lawannya.
Menyadari hal itu, kemarahan dari sisa orang-
orang itu bertambah tinggi. Dikawal dengan
gerengan kemarahan yang memecahkan telinga,
delapan parang tajam menderu ke arah Andika yang
menarik napas panjang melihat perbuatan yang
terpaksa dilakukannya.
"Kutu monyet! Ini makin membuang waktu saja
untuk menemukan Suci! Aku tak bisa tinggal diam
sekarang. Rasanya, terpaksa aku harus menurunkan
tangan telengas. Orang-orang semacam ini tak akan
mau mengerti betapapun yang mereka lakukan
adalah sebuah dosa dan kekejian. Begundal tengik
macam mereka ini hanya akan mempersempit jalan
kedamaian. Apalagi, mereka tentunya sangat patuh
akan perintah Tunggul Manik! Padahal, aku hanya
bermaksud menakut-nakuti mereka biar kapok!"
Dengan mempergunakan kecepatan dan tenaga
'Inti Petir' nya, dalam tiga jurus berikutnya Andika
berhasil membunuh kedelapan lawannya.
Ditarik napas sambil memandangi masing-masing
mayat yang tumpang tindih bergelimpangan. Ada
rasa penyesalan di hati pendekar yang berjiwa
lembut itu. "Maafkan aku, terpaksa kulakukan hal im. Aku
tidak boleh membuang waktu! Meskipun aku tidak
tahu di mana Suci berada tetapi ... Hei!!"
Kata katanya terhenti. Pandangannyamembulat
besar tak berkedip Keningnya berkerut yang
membuat tampangnya menjadi jelek.
Di hadapannya, delapan orang yang tadi
dilumpuhkannya, bangkit dalam keadaan segar
bugar. "Sihir!" dengus pemuda urakan itu. "Seperti ular
jejadian itu!!"
Tetapi Andika tak bisa memikirkan soal itu lebih
lama. Karena delapan lawannya tadi sudah
menggempurnya dengan ganas. Hampir saja tiga
parang dari delapan parangyung menderu ke
arahnya, membuat putus kedua tangan pemuda
berbaju pupus ini.
Menyadari kalau lawan-lawannya ini seperti
berada dalam pengaruh sihir, kembali Andika
bertindak cepat. Kali ini tak segan-segan lagi
menurunkan tangan, karena bisa-bisa nyawanya
yang melayang. Dua orang dari mereka pecah kepalanya terkena
tendangan kerasnya. Sementara enam orang lainnya
ambruk dengan tubuh penuh luka dan mengalirkan
darah. Belum lagi Andika menarik napas panjang, enam
orang itu lebih bangkit kembali. Lebih garang dan
mengerikan. "Benar-benar sinting!" maki Andika sambil
menghindar. Kali ini dia tak langsung menurunkan
tangan telengas. Dihindarinya setiap serangan yang
datang dengan otak berpikir keras. "Hmm...
bagaimana bisa begitu?" batinnya. "Semula mereka
ber-jumlah sepuluh. Dua orang mati dengan kepala
pecah. Tinggal delapan. Lalu kedelapan orang itu
mati pula. Tetapi bangkit kembali. Dua orang pecah
pula kepalanya. Tersisa enam orang dengan ganas
menyerang. Dan kini...Aku tahu! Aku tahu!"
Bagai anak kecil yang mendapatkan kue apem,
Andika memutar tubuhnya berkali-kali. Ditendangnya kepala tiga lawannya sekaligus dan
ambruk dengan kepala pecah. Sementara tiga
lainnya dijotos pada dadanya. Darah makin banyak
mengalir. Diperhatikannya mayat-mayat itu dengan hati
tegang. Mendadak tiga lawan yang terhantam pada
dadanya bangkit, sementara yang terhantam
kepalanya hingga pecah tak berkutik.
"Kepalanya! Bila kuhancurkan kepalanya, mereka
tak akan bisa bangkit lagi! Karena, yang lainnya pun
demikian!" desisnya dalam hati.
Tanpa membuang waktu lagi, Andika mendahului
menyerang. Jotosannya sekarang diarahkan ke
kepala. Sebenarnya, lagi-lagi Pendekar Slebor tak
ingin melakukan hal demikian. Namun, semuanya
sangat terpaksa memang harus dilakukan.
Prak! Prak! Prak!
Seketika ketiga lawannya ambruk dengan kepala
pecah. Ditunggunya kembali dan ditariknya napas
setelah melihat bahwa peihitungannya benar.
"Kepalanya! Ya. kepala mereka kunci dari semua
ini. Bila kepala pecah, mereka tak berdaya. Tetapi,
mengapa di alam luar sana mereka bisa mampus"
Hmmm... mungkin pula ini kelemahan dari ilmu
sihir yang dimiliki Tunggul Manik"
Diperhatikannya mayat itu satu persatu dengan
perasaan tak enak. Tetapi kejap lain si anak muda
muda mengalihkan perhatiannya pada sekelilingnya. Di hadapannya ada sebuah lorong
panjang berliku. Dilihatnya pula ada sebuah pohon
besar tak jauh dari hadapannya.
"Semakin membingungkan sebenarnya sekarang
ini. Tetapi, aku tak akan berhenti sebelum
mengetahui seluruh rahasia yang tersimpan di Pulau
Seribu Setan."
Diperhatikannya mayat-mayat itu. Satu pikiran
timbul di benaknya....
*** Sehabis melihat keadaan Sepasang Dewa Gurun
Pasir, Iblis Tambang dan setelah mempermainkan
Kakek Buruk Rupa, Tunggul Manik memutuskan
untuk melihat keadaan Pendekar Slebor.
Dia merasa cukup berhasil menguji setiap ilmu
sihirnya. Namun mengingat dua kali Pendekar
Slebor berhasil memusnahkan ilmu sihirnya, rasa
marah pada pemuda sakti dari Lembah Kutukan itu
makin membesar.
Kembali dia berkomat-kamit dan wadah yang
berisi cairan kuning bergoyang dan berubah.
Pemandangan lain terpampang.
Sejenak Tunggul Manik mengerutkan keningnya.
"Keparat! Di mana Pendekar Slebor berada?"
makinya. Dikendalikan lagi cairan kuning dalam
wadah. Ditelusuri setiap tempat di bangunan besar
itu. Tetapi sosok Pendekar Slebor tidak nampak
"Setan alas! Terlalu lama aku melihat manusia-
manusia lain yang kutawan, hingga kini Pendekar
Slebor luput dari pantauanku! Tetapi, tak mungkin
dia bisa menghilang begitu saja! Tak seorang pun
yang tahu jalan keluar dari Pulau Seribu Setan
kecuali aku!"
Penuh kegeraman dia terus mencari Pendekar
Slebor melalui wadah berisi cairan kuning di
hadapannya. Dilihatnya Sepasang Dewa Gurun
Pasir sedang bersemadi dan tubuh Iblis Tambang
yang pingsan. "Hhhh! Mereka telah bertarung rupanya! Biar tahu
rasa! Tetapi... aku membutuhkan lelaki jelek yang
berjuluk Iblis Tambang! Hatinya dingin dan kejam!
Sepasang Dewa Gurun Pasir akan terkubur dan
menjadi penghuni abadi Pulau Seribu Setan! Saat ini,
kuketahui kalau keduanya menginginkan Pendekar
Slebor! Akan kupertemukan mereka nanti! Tetapi...
setan keparat! Di mana Pendekar Slebor berada!"
Kembali ditelusurinya setiap lorong dari wadah
yang berisi cairan kuning, hingga dilihatnya sebuah
dinding jebol. Sejenak Tunggul Manik terdiam.
Bibirnya melebar dengan tarikan pada kedua
pipinya. Matanya mengembung geram.
"Keparat! Rupanya pemuda itu benar-benar
cerdik. Dia berhasil kembali memecahkan rahasia
ilmu sihirku dengan cara menghancurkan dinding di
mana di balik setiap dinding selalu terdapat besi
menuju ke bawah. Hhh! Sebaiknya kulihat disana!"
Ditelulusuri besi yang mengarah ke bawah itu
dari wadah berisi cairan kuning. Mukanya membesi
ketika melihat sepuluh orang anak buahnya
tergeletak dengan kepala pecah.
"Aku yakin, Pendekar Slebor yang melakukan
semua ini. Kembali dia bisa memecahkan rahasia
sihirku yang kuletakkan pada setiap kepala manusia
keparat itu. Kepala mereka pecah! Kurang ajar! Pasti
dia menuju ke penjara dimana gadis bernama Suci
itu ku tahan."
Kembali ditelusurinya tempat itu dari wadah
berisi cairan kuning. Dilihatnya puluhan anak
buahnya lalu lalang di sana. Dengan kehebatan ilmu
sihirnya, Tunggul Manik atau Majikan Pulau Seribu
Setan telah membaluri tempat itu dengan kekuatannya. Dari jalan itulah dia mengirim dan
mengeluarkan anak buahnya ke dunia ramai.
Tentunya dikendalikan dengan ilmu sihirnya.
Namun yang membuat keningnya berkerut dan
wajah makin membesi, tak dilihatnya sosok berbaju
hijau pupus di sana
"Keparat! Di mana pendekar itu bersembunyi?"
makinya geram. Disesali mengapa dia tidak
memantau gerak gerik Pendekar Slebor terus
menerus. "Tak mungkin sosoknya bisa luput dari
pandangan wadah cairan kuning ini. Pasti pemuda
itu berada di sekitar sana!"
Kembali ditelusuri tempat itu. Namun orang yang
dicarinya tak ada di tempat itu.
"Setan alas! Berabe kalau Pendekar Slebor bisa
Seruling Sakti 6 Bende Mataram Karya Herman Pratikto Harimau Mendekam Naga Sembunyi 3
^