Pencarian

Pulau Seribu Setan 1

Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan Bagian 1


PULAU SERIBU SETAN
Serial Pendekar Slebor
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Serial Pendekar Slebor
dalam episode: Pulau Seribu Setan
128 hal. 1 Rambatan sinar surya telah memasuki tiga
perempat perjalanan, sengatannya tak lagi terlalu
garang. Angin berhembus sejuk di tanah luas yang
dipenuhi rerumputan setinggi mata kaki.
Di tempat itulah Andika alias Pendekar Slebor
menghentikan langkah. Di sisinya, Suci berdiri,
tegak pula. Mengedarkan pandangan ke seantero
tempat yang indah. Di hadapan mereka, menjulang
sebuah gunung, indah, tinggi, dan puncaknya
tersaput gumpalan awan putih, lembut dan
menyejukkan. Sejak pertempuran mereka menghadapi si Rase
Maut dan Iblis Tambang, Andika bermaksud untuk
meneruskan perjalanan mencari Kakek Buruk Rupa.
Secara tidak langsung, Andika telah berhasil
memecahkan teka-teki tentang Permata Sakti yang
diberikan Kakek Buruk Rupa (Silakan baca serial
Pendekar Slebor, dalam episode sebelumnya :
"Rahasia Permata Sakti").
"Sulit menentukan di mana kakekmu berada, Su-
ci," kata Andika sambil melirik gadis jelita di sisinya.
Suci hanya mengangguk.
"Tak mengherankan hal itu sebenarnya, Kang
Andika. Kakek selalu berada di mana saja yang ia
hendaki." Andika mengangguk-anggukkan kepalanya. Di
samping hendak menyerahkan kembali Permata
Sakti yang memancarkan sinar biru pada Kakek
Buruk Rupa, akan dikabarkannya pula pada orang
tua aneh yang tidak ketahuan mana hidung dan
mana mulut itu, kalau banyak tokoh- tokoh sakti
kelas atas mencarinya guna merebut Permata Sakti
yang dimilikinya.
"Sebelum malam tiba, sebaiknya kita bergerak la-
gi, Suci. Kulihat ada hutan di depan sana. Agaknya,
cukup lumayan dijadikan tempat bermalam daripada alam terbuka semacam ini."
Suci mengangguk. Sungguh, perjalanan ini
sebenarnya sangat berat sekali baginya, tetapi
membuatnya senang. Senang karena dua hal.
Pertama, karena ia bermaksud mencari kakek yang
dirindukannya. Kedua, karena pada akhirnya
Pendekar Slebor mengabulkan keinginannya untuk
ikut serta. Satu hal lain yang singgah di hati gadis
itu, diam-diam dia ingin memiliki Permata Sakti
yang ada pada Pendekar Slebor. Karena pikirnya,
toh permata itu semula milik kakeknya.
Hari menjelang malam ketika Pendekar Slebor
dan cucu Kakek Buruk Rupa memasuki sebuah
hutan kecil namun lebat. Andika menghentikan
langkahnya di antara jajaran pohon.
Dikagumi ketahanan fisik Suci. Tak sia - sia
Kakek Buruk Rupa mengajarkan beberapa ilmu
meringankan tubuh dan tenaga dalam. Lagi - lagi
Andika berpikir, bila saja Kakek Buruk Rupa
mengajarkan pula cucunya ilmu kanuragan, tak
mustahil suci akan menjadi seorang gadis yang tak
mudah dikalahkan.
Andika menyuruh Suci untuk beristirahat,
sementara ia sendiri bermaksud untuk mencari buah
- buahan sebagai pengisi perut. Sepeninggal
Pendekar Slebor, Suci mendesah pendek, "Ah....
Bagaimana caranya aku bisa memiliki Permata Sakti
itu?" Sementara itu, Andika sudah menemukan banyak
pohon manggis hutan. Cekatan dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang
kesohor, Andika berlompatan memetiknya. Setelah
dirasakannya cukup, Andika bermaksud untuk
menemui Suci kembali.
Namun tiba-tiba saja tubuhnya melenting ke
samping, buah-buahan yang dipegangnya terlepas
ketika beberapa senjata rahasia mendesing halus ke
arahnya. "Manusia hina! Keluar kalian!!" bentak Andika
dengan tatapan jengkel.
Ketika kata-katanya habis, bermunculan sepuluh
orang berpakaian compang-camping berwajah
bengis yang tanpa basa-basi langsung mengurungnya. Di tangan masing-masing terdapat
parang tajam. Salah seorang dari mereka berwajah tirus dengan
kumis dan jenggot merah, mengeluarkan tawa
dingin dan angkuh. Rambut panjang bergetar ketika
tawanya berderai.
"Ada manusia nekat berani masuk ke Hutan
Sengkalan yang dikuasai oleh Setan Hitam
Compang-camping!"
Pendekar Slebor memandang dengan tatapan
semakin menyipit, nyalang memerah. Kewaspadaannya jelas-jelas menguasai dirinya.
Tetapi mulutnya yang usil berseloroh, "Kalau kau
memang menjuluki diri sebagai setan, tanpa kau
juluki pun orang-orang sudah menganggapmu
sebagai setan! Apalagi aku yang cerdik ini" "
Wajah Setan Hitam Compang-camping memerah.
"Keparat! Berani beraninya kau berkata begitu, hah?"
"Bahkan aku herani menyuruh kau untuk kembali
menemui ibumu dan menete padanya!"
Wajah Setan Hitam Compang-camping bertambah
memerah mendengar ejekan Andika. Tiba-tiba saja
ia membuang ludah seraya berseru, "Tangkap
manusia hina itu!!'
Sembilan orang yang bersamanya menerjang
serempak. Kilatan sembilan parang mengarah pada
Andika, bagaikan desingan angin yang datang
berkali-kali. Andika mengeluarkan dengusan. Lalu tubuhnya
berkelebat menghadapi serangan-serangan ganas
yang datang, tubuhnya tiba-tiba menukik ketika tiga
sambaran parang mengarah pada lehernya
Wuuut! Wuuuut! Wuuuut!
Bersamaan dengan menukuknya tubuh Andika,
tangan kanannya menghantam disusul dengan kaki
kiri dan kanan.
Buk! Buk! Buk! Tendangan yang dilakukan secara beruntun itu
mendarat dengan telak di dada ketiga orang
penyerangnya hingga ketiga orang itu terpental
kebelakang. Untuk sesaat ketiganya berusaha
bangkit, tetapi rasa sakit di dada membuat ketiganya
harus telentang menahan sakit.
Seharusnya Andika bisa langsung menghabisi
mereka. Namun, ia tak melakukan hal itu. Karena ia
belum bisa menduga siapakah orang - orang garang
ini. Menurunkan tangan telengas tanpa mengetahui
sebab yang pasti bagi Andika adalah pantangan.
Tetapi hal lain yang menyebabkan ia tak
menurunkan tangan telengas, karena enam buah
parang berikutnya mendesaknya dengan hebat. Tiga
buah parang menghantam bagian atas, sementara
tiga buah lagi menghantam bagian bawah.
Andika memperlihatkan kehandalannya dalam
menghindar. Gerakan keenam lawannya itu bagaikan setan. Sementara Setan Hitam Compang-
camping mengerutkan keningnya melihat gerakan
yang dilakukan oleh Andika.
" Edan! Siapakah anak muda ini" Ilmunya begitu tinggi sekali!"
Andika berkelebat cepat, melepaskan pukulan dan
tendangannya, yang membuat empat orang penyerangnya terkapar pingsan setelah tersambar
serangan balasannya.
"Nah, nah! Apakah kalian masih mau meneruskan
main-main ini?" katanya sambil menghindari dua
serangan lainnya.
Melihat hal itu, Setan Hitam Compang-camping
menderu maju sambil meloloskan parangnya yang
beronce merah. Wuttt! Andika berkelit dengan ringannya.
"Nah, kenapa tidak sekalian saja sejak tadi"
Merepotkan saja!"
Geram melihat serangannya bisa dielakkan
dengan mudah, dikawal gerengan garang, Setan
Hitam Compang Camping menderu kembali.
Parang di tangannya mendadak bagaikan menjadi
banyak. Desingan angin yang ditimbulkannya
membuat bulu kuduk Andika terasa dingin.
Terlambat saja dia membuat gerakan menghindar,
salah satu serangan lawan, pasti akan mampir di
tubuhnya Melihat hal itu. Andika berkelebat secepat kilat ke
sana kemari. Memasuki jurus ketiga, ia bukan hanya
mampu menahan setiap serangan dari tiga
lawannya, bahkan mulai dapat menyusup masuk.
Terutama terhadap serangan yang dilancarkan oleh
Setan Hitam Compang-camping.
Dua anak buah Setan Hitam Compang-camping
bagaikan berlomba untuk membunuh Andika. Di
samping geram melihat yang lainnya terkapar
pingsan, keduanya geram karena sejak tadi
serangan-serangan mereka tak berhasil. Bahkan
berkali-kali dipatahkan oleh Andika, sehingga ini
membuat mereka bertambah murka.
Setan Hitam compang camping yang mulai kacau
petahanannya akibat gerakan Andika yang seperti
hantu dan sangat sulit diterka, kali ini mengan-
dalkan ilmu meringankan tubuhnya. Hingga sambil
melompat kesana kemari ini mengelebatkan
parangnya yang menimbulkan suara berdesing.
Namun itu adalah kesalahan. Karena Selagi Setan
Hitam Compang-Camping mencecarnya. Andika
membuat gerakan melurup ke arah dua anak buah
laki-laki berwajah tirus itu. Tiba-tiba jotosan dan
tepat menghantam wajah dan perut dua lawannya.
Yang terkena jotosan rontok giginya dengan wajah
sembab, sementara yang terkena tendangan pada
perutnya, mengaduh dan seketika mendekap
perutnya, karena bagaikan terasa tulang iganya yang
patah. Melihat hal itu, Setan Hitam Compang-camping
bertambah geram. Serangannya semakin ganas dan
mengerikan. Tetapi, Andika yang sudah menemukan bentuk serangannya, dengan mudahnya menjotos punggung lawan yang mengaduh, yang masih mampu mengibaskan
tangannya ke belakang.
Wuuuttt! Andika langsung merunduk menghindari

Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sambaran parang yang cepat itu. Lalu....
But, Kakinya menendang ke depan hingga Setan Hitam
Compang-camping tersungkur. Belum lagi ia sempat
bangkit, Andika sudah menjejakkan kakinya di
kepala lawan yang menggeram sambil memaki-maki
tak karuan. "Nah, mengapa kau tidak mencoba untuk
mengangkat kepalamu, bah?"
Setan Hitam Compang-camping kali ini benar-
benar kena batunya. Ia menepuk-nepuk tangannya
ke tanah. "Aku menyerah."
"Ya, sudah kalau begitu," kata Andika. Lalu seolah
tak ada masalah yang berarti ia memunguti lagi
buah-buahan yang berserakan. Ketika ia hendak
melangkah, terdengar seruan Setan Hitam Compang-camping, .
"Pendekar muda, tunggu!!"
Andika berhentii dan menoleh. "Kenapa lagi"
Apakah kau ingin benar-benar kukemplang pecah
kepalamu?"
"Tidak Aku mangaku kalah. Tetapi, sebutkan
nama." "Brengsek! kalau mau berkenalan, kenapa harus
menyerangku seperti tadi" Untungnya aku masih
sabar. Kalau tidak, kepalamu sudah jadi bubur."
Tak mempedulikan makian Andika, Setan Hitam
Compang-camping
berkata lagi, "Aku ingin mengetahui nama dan julukanmu, Orang Muda."
"Namaku Andika. Orang-orang menjulukiku
Pendekar Slebor. Nah, kau sudah mendengar, kan"
Kalau begitu, aku permisi!"
Mendengar nama dan julukan yang disebutkan
oleh Andika, laki-laki berwajah tirus itu terdiam
sesaat. Lalu terdengar seruannya bagai disengat
kalajengking, "Pendekar Slebor!"
Andika menoleh lagi. "Kenapa lagi" Tidak usah
panggil-panggil begitu aku juga dengar!" dengusnya
gusar. Dilihatnya Setan Hitam Campang camping
merangkak ke arahnya, lalu tiba-tiba lelaki yang tadi
begitu garang, kini bersujud dihadapan Andika.
"Maafkan aku Tuan Pendekar. Sungguh, aku tak
tahu siapa gerangan Tuan Pendekar Tadi"
Kalau tadi Andika gusar melihat sepak terjang
laki-laki itu. Kini ia menjadi risih dengan sikap yang
diperlihatkan bekas lawannya tadi."Tadi garangnya
kayak setan, sekarang ko kayak abdi dalem. Hei, kau
kenapa" Aku bukan ibumu yang suka membelai
kepalamu!"
"Pendekar Slebor, ingatkah kau pada Menur?"
tahu-tahu Setan Hitam Compang-camping bertanya
begitu. Kali ini, sinar matanya begitu hormat.
Sejenak Andika terdiam. "Menur" Oh ya,
bagaimana kabarnya?"
"Ia baik-baik saja, Tuan Pendekar."
"Tetapi, bagaimana kau bisa mengenal gadis itu?"
"Lima bulan yang lalu, ia melewati hutan ini.
Kami bersepuluh bermaksud menangkapnya untuk
dijadikan pemuas nafsu. Tetapi, rupanya gadis itu
bukan orang sembarangan. Ia menghajar kami
tunggang langgang dan mengampuni nyawa kami
asalkan kami berjanji tidak akan membegal lagi."
"Lalu mengapa kau tadi ingin membegalku, hah?"
"Bukan itu maksud kami. Tadi kau lancang telah
mengambil buah-buahan yang selalu kami jaga."
Andika nyengir. "Wah, kalau begitu ada yang
punya, ya" Aku minta ya?"
Setan Hitam Compang-camping menganggukkan
kepalanya. Lalu melanjutkan ceritanya, "Dari Menur
yang tinggal bersama kami selama satu bulanlah
kami mengetahui tentangmu, Pendekar Slebor.
Katanya, ia hendak terus mencarimu. Karena
sesungguhnya ia mencintaimu. Kami saat itu ingin
sekali membantunya untuk mencarimu, tetapi ia
menolak. Dan sepeninggal Menur, kami menjadi
kesepian, karena, tak ada lagi yang bernyanyi dan
bisa diajak bersenda gurau."
Andika diam-diam mendesah pendek. Menur,
ah....ia memang tahu kalau gadis itu mencintainya,
ia pun tahu mengapa Menur tidak kembali pada
gurunya, Kaliki Lorot. Dikarenakan, Kaliki Lorot
akan menolaknya datang bila tidak bersama dirinya.
Andika kembali mendesah mengingat semua itu.
Persoalan cima memang memusingkan (Silakan
baca: "Jodoh Sang Pendekar").
"Kalau begitu ya, sudah."
"Pendekar Slebor, setelah kedatangan dan kepergian Menur, kami berjanji tidak akan
membegal lagi. Tetapi, kami hampir saja kehilangan
kepercayaan. Pendekar Slebor, terus terang, aku dan
kesembilan anak buahku ingin mengabdi kepadamu."
"Wah, apa-apaan ini?" desis Andika yang tak
menyangka kalau Setan Hitam Compang-camping
yang garang itu ingin mengabdi padanya. "Aku
bukan siapa-siapa yang patut dihormati, aku bukan
juga pendekar tangguh yang hebat. Aku hanya...."
"Bila kau menolak, aku akan membunuh kesembilan
temanku yang pingsan ini, lalu membunuh diri."
Andika hanya mengangkat bahu, lalu berkata
seraya melangkah,"terserahlah"
Wajah Setan Compang Camping kelihatan sedih
ditolak seperti itu. Memang, semenjak kepergian
Menur ia bagaikan kehilangan pegangan. Ia dan
kesembilan temannya memang bermaksud untuk
menjadi orang baik-baik. Dan kini, Pendekar Slebor
menolaknya untuk mengabdi padanya.
Lalu tiba-tiba ia mengambil senjatanya yang jatuh
tadi. Dan perlahan-lahan ia mendekati salah seorang
temannya yang pingsan."Maafkan aku, Kawan. Kita
memang tak berguna hidup di dunia ini. Kalian
akan pergi di tanganku, dan aku akan menyusul".
Lalu tangannya diangkat dan siap dihujamkan
kepada temannya yang pingsan.
Trak! Sebuah kerikil membuat tangannya bergetar dan
parangnya jatuh.
*** "Apa-apaan sih kau ini?" dengus Pendekar Slebor
sambil melotot. Meskipun begitu, sifat konyolnya
justru makin nampak, "Kalau mau mampus ya
mampus saja! Jangan di depanku! Memangnya enak
menguburkan sepuluh mayat"!"
Wajah Setan Hitam Compang-camping semakin
kuyu. "Tak ada gunanya kami hidup lagi."
"Konyol! Kau ini tidak mempergunakan otakmu!
Apakah kau pikir dengan jalan membunuh diri kau
sudah merasa berhasil mengatasi kegagalanmu itu"
Bodoh! Kau justru menista dirimu sendiri!!"
'Tetapi...."
"Tidak ada tetapi! Ketegaran harus kau jaga!
Jangan membuat tindakan yang konyol!"
"Bila Tuan Pendekar menolak kami untuk
mengabdi, kami memilih jalan membunuh diri!"
'Tak ada pengabdian apa-apa! Aku bukan orang
yang patut dijadikan sebagai tuan! Bila kau memang
ingin melakukannya, bisa menjadi temanku! Dasar
gemblung!!"
Wajah Setan Hitam Compang-camping seketika
berseri-seri meskipun ia dibentak-bentak seperti itu.
lalu ia berkata, "Aku akan segera menyusulmu. Tuan
Pendekar. Bila teman-temanku ini sudah siuman
dari pingsannya!!"
"Ya,sudah! Kasihan temanku sudah menunggu!"
Andika terus ngeloyor saja.
*** Dua hari berada di Hutan Sengkalan, Andika
merasa sudah cukup. Perjalanannya untuk mencari
Kakek Buruk Rupa memang harus dilanjutkan Suci
menyetujui rencananya itu. Sementara ketika
Andika mengatakan keinginannya pada Setan Hitam
Compang-camping, wajah laki-laki itu seketika
menjadi kuyu. "Izinkanlah kami ikut serta, Tuan Pendekar. Kami
akan mengabdi kepadamu."
"Tidak usah. Asal kalian berjanji tidak akan
membegal lagi, aku sudah senang."
"Tetapi. ."
"Tidak ada tapi-tapian. Ayo. Suci! Kita segera
berangkat" kata Andika sambil melangkah.
Setan Hitam Compang Camping beserta sembilan
anak buahnya tak ada yang bersuara. Mereka hanya
memperhatikan kepergian Andika dan Suci dengan
wajah kuyu. Bagi Andika, memang lebih baik begitu.
Sebenarnya ia ingin pergi sendiri saja, tanpa
kehadiran Suci. Namun gadis yang keras kepala itu
mana mau tahu keinginan Andika. Bahkan berkali-
kali dengan cerdiknya berhasil menemukan Andika.
(Baca : "Rahasia Permata Sakti")
Akan tetapi sesuatu yang aneh terjadi
Baru saja Andika dan Suci berjalan sepuluh
langkah, mendadak sebuah asap hitam muncul.
Begitu pekat dan membuat keduanya terpana sesaat
sebelum kemudian Pendekar Slebor mendorong
tubuh Suci ke kiri.
"Awaasss!!"
Asap hitam tebal bergulung-gulung
itu, mengeluarkan deru angin yang mengerikan. Dan
menerjang ke arah Andika yang bergulingan cepat.
"Busyet! Apa itu?" makinya tak karuan.
Asap tebal itu tiba tiba terpecah menjadi dua. Satu
mengarah pada Pendekar Slebor dan satu lagi
mengarah pada Suci. Dari gumpalan asap tebal itu
bagai ada satu tarikan yang sangat kuat. Begitu
kuatnya hingga Andika dan Suci tak mampu
menahannya. Di samping mereka masih terkejut
dengan kemunculan asap hitam yang tiba-tiba dan
langsung menyerang.
Sementara itu, Setan Hitam Compang-camping
sudah meluncur begitu dilihatnya Suci meronta
dalam asap hitam tebaL Tangannya siap menarik
tangan Suci keluar dari pusaran asap, namun justru
ia sendiri yang tertarik ke dalam.
"Gila!" makinya berusaha berontak. Tetapi tarikan
itu bagai magnit raksasa, memaksanya dengan kuat.
Siksaan cukup menyakitkan dirasakan oleh me-
reka. Pendekar Slebor berusaha memecahkan gum-
palan asap hitam tebal. Namun belum lagi ia
mengeluarkan tenaganya, asap hitam itu mengeluarkan bau yang sangat wangi.
Tercium cepat di hidungnya.
Sesaat kemudian. Pendekar Slebor tak tahu apa
yang terjadi. Begitu pula halnya dengan Suci dan Setan Hitam
Compang camping.
Selebihnya, asap tebal itu lenyap.
Yang tinggal, hanya sembilan anak buah Setan
Hitam Compang-camping, termangu dan tak
mengerti apa yang terjadi.
*** 2 Bukit Karang. Sebuah tanah tandus yang terjal.
Matahari seakan begitu dekat dengan kepala.
Daerah yang cukup terpencil. Terlihat menghampar
luas. Di sebelah utara, terdapat hutan yang
berlumpur pasir.
Daerah tandus yang sulit untuk mencari makan,
rasanya tak ada yang nekat untuk datang, apalagi
memilih tempat itu sebagai tempat tinggal.
Tetapi, satu sosok tua berpakaian keperakan
dengan rambut digelung ke atas, berdiam di
belakang batu karang besar. Dialah si Camar Hitam.
Tokoh sesat yang selalu membuat sengketa.


Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Matanya yang cekung ke dalam, memperhatikan
Kakek Buruk Rupa yang celingukan lima belas
tombak dari tempatnya bersembunyi
"Hhh! Tak perlu aku menghabisi manusia laknat
itu sekarang, karena aku tahu Permata Sakti berada
di tangan Pendekar Slebor!" dengus Camar Hitam
tajam. Panas meranggas.
Sementara itu, Kakek Buruk Rupa yang tengah
mencari cucunya yang hilang, mendesis lirih, "Ada
manusia jelek di balik batu karang itu. Kurang ajar!
Mengintip hanya kerjaan orang iseng! Apakah ia
tahu kalau Permata Sakti itu tidak berada di
tanganku" Mendapati manusia kepalat itu masih
berdiam saja aku yakin, ia tahu Permata Sakti itu
berada di tangan Pendekar Slebor."
Berpikir demikian, Kakek Buruk Rupa melesat
dari tempat berdirinya. Selang beberapa detik,
Camar Hitam berbuat serupa. Ia tak mau
ketinggalan sedikit juga. Dalam pikirnya, ia yakin
Kakek Buruk Rupa akan mencari Pendekar Slebor.
Itulah yang ditunggunya. Pendekar Slebor adalah
musuh bebuyutannya semenjak peristiwa berdarah
beberapa bulan lalu (Untuk mengetahui hal itu,
silakan baca: "Cincin Berlumur Darah").
Di sebuah tempat yang lapang, Camar Hitam
berhenti. Memandang seantero tanah yang luas. Ia
tak mengerti bagaimana tahu-tahu Kakek Buruk
Rupa menghilang. Pandangannya tak berkesip pada
sebuah batu besar yang tak jauh darinya. Hari sudah
memasuki rembang senja.
"Kurang ajar! Manusia aneh itu pasti tahu aku
menguntit!" makinya. "Atau... ia bersembunyi
dibalik batu sialan itu?"
"Bagaimana aku tidak tahu, kalau tapakmu
sekeras gajah?" terdengar suara itu sambil terkekeh-
kekeh. Entah dari mana datangnya, Kakek Buruk
Rupa sudah berdiri lima tombak di hadapan Camar
Hitam. Merdang. Gusar dan penuh amarah Camar Hitam
merasa dipernalukan seperti itu.
"Katakan padaku, dimana Pendekar Slebor
berada"!" serunya keras, memecah seantero tanah
Kakek Buruk Rupa terkekeh kekeh.
"Zaman sudah edan rupanya! kau yang sudah bau
tanah masih mencari perjaka semacam Pendekar
Slebor!" "Orang tua hina! Lancang mulutmu bicara!"
"Aku hanya menyadarkan kau, Camar Hitam."
"Setan alas!!"
Tangan Camar Hitam bergerak. Angin dahsyat
mengerjap ke arah orang tua aneh berambut panjang
menutupi wajah.
Wuuuttt! Tubuh bongkok itu tetap tak berkutik. Masih
mengumbar tawa yang keras. Mendapati sikap
Kakek Buruk Rupa seperti itu, membuat Camar
Hitam marah, karena merasa diejek sekaligus
terhina. Belum lagi serangan pertamanya mengenai
sasaran, ia langsung susulkan serangan kedua.
Wuuuttt! Bersamaan angin deru dari serangan pertama
Camar Hitam, tubuh Kakek Buruk Rupa mencelat
begitu cepat. Menyusul bunyi ledakan keras.
Ia telah mengibaskan tangannya untuk memapaki
serangan kedua dari Camar Hitam.
Menyadari hal itu, merahlah wajah Camar Hitam.
Apalagi melihat Kakek Buruk Rupa sudah berdiri di
batu besar. Camar Hitam kembali menggerakkan
tangannya, ke arah batu besar itu. Bagaikan ada
sebuah bom yang meletus, batu besar itu pecah
seketika. Sementara si orang tua aneh yang berada di
atasnya tadi tidak nampak di mata.
Camar Hitam celingukan dengan bersiaga dan
wajah memerah. Tiba-tiba terdengar suara dingin
bernada angker dari sisi kirinya.
"Cukup bermain-main untuk hari Ini! Jika kau
tidak segera pergi, aku tak segan-segan menurunkan
tangan telengas padamu'"
Camar Hitam berbalik segera. Matanya yang
kelabu bagai memancarkan serat api.
"Jangan sesumbar! Justru kau tak akan hidup lebih
lama lagi!"
Kakek Buruk Rupa kembali berkata dengan suara
yang semakin dingin, "Tinggalkan tempat ini. Kalau
tidak, nyawamu tak akan pernah lagi melekat di
tubuh busukmu itu!!"
Tanpa membuang tempo, Camar Hitam bergerak
laksana kilat ke arah Kakek Buruk Rupa. Tongkat
kusamnya digerakkan, menimbulkan kesiur angin
yang sangat keras sekali.
Kakek Buruk Rupa mengangkat sebelah kakinya.
Wuuuuttt! Sigap Camar Hitam membuang tubuh ke kiri
dengan cara bergulingan.
"Gila! Hebat sekali kesaktian yang dimilikinya!
Hhh! Aku ingin tahu, apakah ia mampu menandingi
'Ajian Penutup Jalan Darah' milikku ini!"
Camar Hitam segera mengatupkan kedua tangan
di dada. Menarik nafas sejenak dan dihembuskan
perlahan-lahan. Bersamaan denganitu tangannya
bergerak ke atas. Namun belum lagi ia melepaskan
ajian andalanya, dilihatnya asap hitam tebal
bergulung-gulung ke arah Kakek Buruk Rupa.
Bagai sebuah jaring, asap tebal itu menerjang
Kakek Buruk Rupa. Dilihatnya bagaimana orang tua
aneh itu seperti berada dalam sekat yang sempit dan
ketat. Penuh rontaan namun tak mampu melepaskan
diri. Merasa ada kesempatan untuk menghabisi Kakek
Buruk Rupa, Camar Hitam segera menerjang. Ajian
"Penutup Jalan Darah' telah dipergunakan.
Wuuusss! Dikawal angin mengerikan, ajian yang mampu
memusnahkan jalan darah lawan dalam setiap
totokannya dan membuat lumpuh tak berdaya,
meluncur ke arah Kakek Buruk Rupa.
Keanehan terjadi. Karena asap yang menggulung
Kakek Buruk Rupa, mendadak terpisah. Membentuk
tiga gumpalan sekaligus. Dan menahan ajian
'Penutup Jalan Darah' milik Camar Hitam.
Tercengang Camar Hitam melihatnya. Detik lain,
tercekat ia melompat ke kiri karena tiga asap itu
menderu ke arahnya.
"Sinting! Apa-apaan ini?" makinya kalap. Ia
berusaha menghujankan asap-asap itu dengan ajian
andalannyu Namun seperti yang pertama tadi, asap
itu terus menderu dan seperti yang dialami Kakek
Buruk Rupa. tubuhnya juga terkurung asap lebal.
Napasnya sesak. Darahnya kacau. Uratnya kaku.
Lebih parah lagi ketika asap hitam itu mengeluarkan
aroma wangi yang memabukkan. Dalam waktu tiga
detik, Camar Hitam terkulai pingsan, menyusul
Kakek Buruk Rupa yang lebih dulu pingsan.
Asap itu pun lenyap dengan anehnya, membawa
tubuh keduanya.
*** Pulau Seribu Selan.
Pulau yang menyimpan banyak misteri di
dalamnya, menghampar dalam senja yang redup.
Matahari seakan tak mampu lagi bertahan lebih
lama memberikan penerangan. Debur ombak yang
memecah batu karang, sahut menyahut terdengar di
kejauhan. Di salah satu ruangan yang terdapat pada sebuah
bangunan yang cukup besar, di tengah-tengah
pulau, Tunggul Manik terbahak-bahak melihat
kejadian demi kejadian pada sebuah wadah yang
berisi air berwarna kuning. Di sisi wadah yang tak
besar itu, terdapat dupa yang mengeluarkan bau
busuk. Di air kuning itu, dilihatnya bagaimana Kakek
Buruk Rupa dan Camar Hitam dalam keadaan
pingsan. "Kalian akan menemani tiga pendatang sebelumnya!" desisnya dengan suara keras. Laki-laki
berbaju hitam pekat dengan bagian dada tak
tertutup, hingga memperlihatkan sebuah tato
bergambar tengkorak, mengatupkan kedua tangan
di dada. Sejurus kemudian tubuhnya bergetar.
Matanya yang agak menukik dengan kelopak mata
berlipat ke dalam, makin menyipit Mulutnya
berkomat kamit hingga brewok yang memenuhi
wajahnya bergetar pula.
Air kuning dalam wadah pun bergetar. Terlihat
asap tebal yang melingkupi tubuh Kakek Buruk
Rupa dan Camar Hitam melayang dalam alam yang
kasat mata. Tak lama kemudian Tunggul Manik membuka
kedua matanya "Permainan yang sangat menarik akan dimulai,"
katanya terbahak "Pendekar Slebor dan yang lain
nya, akan mampus di Pulau Seribu Setan ini!"
Lalu suaranya menggema keras, bagai meretakkan
dinding ruang yang berbau busuk. "Iblis Tambang
dan Sepasang Dewa Gurun Pasir akan kuundang
pula ke sini!"
*** Apa yang dialami Pendekar Slebor memang
sungguh aneh. Tubuhnya tahu-tahu ambruk di
sebuah ruangan yang kotor. Agak gelap. Sebelum
berhasil membuka matanya lebih lebar, Andika
merasa kepalanya pusing bukan alang kepalang.
"Kerbau bunting! Apa yang sebenarnya terjadi?"
makinya jengkel. Pandangannya seperti tertutup
dalam gelap. Namun, ketajaman matanya yang
terlatih di delik lain tak membuatnya linglung lagi.
"Tempat apa ini?" desisnya pula.
Dirabanya dinding pekat itu. Diketuk-ketuknya.
Suaranya nyaring. Berarti dinding itu kosong.
Ingatan Pendekar Slebor beralih pada Suci. Ia
mendesis pelan, "Suci... Suci...."
Tak ada sahutan apa-apa. Sesaat, Andika berusaha
memanggil lagi. Yang terdengar justru keluhan
seorang laki-laki, dari sudut ruangan.
"Pendekar Slebor...."
"Busyet! Kok suaramu jadi berubah. Suci!"
"Aku Setan Hitam Compang ramping," suara dari
sudut ruangan itu terdengar.
"Celaka! Ke mana Suci!"
Dengan meraba dan dibantu oleh Setan Hitam
Compang-camping, Andika mencari Suci di setiap
jengkal ruangan. Tetapi tak ada sosok Suci.
"Apakah aku sedang mabuk?" serunya jengkel.
"Ke mana Suci" Oh, aku ingat sekarang. Ada asap
tebal yang bergulung ke arahku, melingkupi dan
membuat seluruh persendianku tak bisa digerakkan.
Tahu-tahu aku sudah berada di sini! Sinting! Apakah
Suci mengalami hal yang sama?"
"Pendekar Slebor... kurasa Suci memang berada di
sekitar sini. Tetapi terpisah."
"Mengapa?"
"Aku tidak tahu."
Andika terdiam. Belum lagi Andika menemukan
jawaban atas kebingungannya,
suara keras menggema di telinga, bagai hendak merobek-
robeknya. "Selamat datang di Pulau Seribu Setan, Pendekar
Slebor!" Dada Andika berdetak. Pulau Seribu Setan" Ia
pernah mendengar nama pulau itu dan disangkanya
pulau itu hanya ada di alam khayal.
Benarkah ia berada di Pulau Seribu Setan"
"Orang jelek yang bau selokan! Siapa kau
sebenarnya"!" seruya tak kalah keras
"Kekeraskepalaan
Pendekar Slebor patut diacungkan jempol. Hanya sayang, tak lama lagi
hanya tinggal kenangan. Ketahuilah. aku Tunggul
Manik, ketua dan Serikat Kuda Hitam!"
"O... bagus kalau begitu! Anak buahmu sudah
menjadi makanan cacing tanah!" sahut Andika
geram. "Dan kau akan tercacah di pulau ini, Pendekar
Slebor!" suara keras itu berkumandang diiringi tawa.
"Manusia buduk!" maki Andika dalam hati. Untuk
mengetahui kebenaran itu, ia memang harus lebih
banyak memancing. Tetapi untuk saat ini,
pikirannya tiba kembali pada Suci. Seruannya
terdengar lagi, "Orang jelek yang suka ngumpet!


Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Katakan, di mana gadis yang bersamaku itu?"
Gema tawa berkumandang.
"Ini permainan yang akan kita jalani! Pertama, kau
harus berusaha menemukan gadis yang bernama
Suci itu! Kedua, kau harus bisa menghadapi lawan-
lawan tangguh! Setelah kau berhasil melewati
keduanya, tantangan lain akan datang! Menghadapi
aku! Dan terakhir, kau harus menemukan jalan
keluar dari Pulau Seribu Setan!"
"Monyet buntung! Jangan mengumbar pepesan
kosong!" "Kita akan melihat permainan ini, Pendekar
Slebor. Nyawa anak buahku harus kau bayar dengan
nyawamu!" "Apa yang akan kudapatkan bila aku berhasil
lepas dari semua ini?" seru Andika menahan marah.
"Permata Sakti!"
Seketika Andika meraba pinggangnya. Tak ada
Permata Sakti itu di sana.
"Keparat itu pasti telah mengambilnya," desisnya
marah dalam hati
"Kau tak akan menemukannya, Pendekar Slebor
Selagi kau terlelap pingsan entah kau bermimpi
bagus atau sebaliknya, Permata Sakti itu sudah
kuambil. Tetapi sekarang aku yakin, mimpi
buruklah yang membentang di hadapanmu,
Pendekar Slebor! Kuharap, kau akan menikmatinya!"
"Keparat!" geram Andika berusaha menentukan
dari mana asal suara itu.
"Sekarang, dengar baik-baik! Bila kau berhasil
melewati permainan yang kuciptakan ini, kau akan
mendapatkan Permata Sakti kembali."
"Kau sudah merasa seperti dewa! Bagaimana bila
tantangan ketiga yang kau berikan, kau mampus
lebih dulu" Bagaimana bisa kudapatkan Permata
Sakti itu?"
"Jalan keluar dari tantangan keempat, adalah
Permata Sakti itu! Bila kau berhasil menemukannya,
maka kau akan selamat keluar dari sini!"
"Manusia kambing! Kau akan menyesali semua'
ini!" maki Andika keras. Dia menggeram mengetahui kelicikan Tunggul Manik.
"Rasanya, kau akan terlalu sulit untuk menghadap
tantangan ketiga! Karena, akulah lawanmu!"
"Menghadapi manusia picik seperti kau, anak
kecil yang baru bisa buang ingus pun akan mampu
menjatuhkanmu"
"Sesumbarmu kelewat besar. Kita buktikan se-
mua ini. Dan permainan yang mengasyikkan ini bisa
kita mulai! Perlu kau ingat, setiap tantangan bisa
datang kapan saja! Hingga tugasmu mencari Suci,
akan selalu dihadang oleh maut. Bukankah ini
sebuah permainan yang mengasyikkan! Selamat
berjuang Pendekar Slebor!" tawa itu berkumandang
keras dan lamat akhirnya lenyap sama sekali
Tinggal Pendekar Slebor yang menggeram
setinggi langit. Manusia yang bernama Tunggul
Manik atau Majikan Pulau Seribu Setan, sulit
ditentukan di ruangan mana dia berada. Marah,
diterjangnya dinding yang melingkupinya.
Des! Tak jebol. Bahkan bergeming saja tidak. Justru
tangannya yang agak ngilu. Dikerahkan tenaga 'inti
petir' dan dihantamnya lagi. Berulang kali. Tetapi
dinding itu tetap tegak berdiri.
"Laknat! Terbuat dari apa dinding ini"!" maki
Andikn kesal. Tangannya nyeri bukan main. Dan ia
teringat akan tantangan pertama dari Tunggul
Manik, la harus menemukan Suci secepatnya.
Andika menduga, Suci berada di sebuah tempat -
entah di mana. Mungkin dalam keadaan tak
berdaya. Mengingat semua Ini, Andika bertambah
yakin, ucapan Tunggul Manik tidak main-main.
"Hhhh! bila kutemukan di mana kau berada,
Tunggul Manik, akan kucabik-cabik tubuhmu!"serunya geram dan memeras otaknya
memikirkan jalan keluar dari sini.
Karena, dia harus berpacu dengan waktu!
"Pendekar Slebor...,"
panggil Setan Hitam Compang-camping yang sejak tadi terdiam.
Karena jengkel akibat kata-kata Tunggul Manik,
Andika menyahut dengan nada membentak, "Apa?"
"Benarkah Pulau Seribu Setan itu ada?"
"Apakah kau tadi tidak mendengarnya, hah?"
"Aku mendengarnya."
"Bagaimana pendapatmu sendiri?"
"Bila kau yakin akan adanya Pulau Seribu Setan,
aku pun yakin akan hal itu."
"Bagus! Tetapi, jangan cuma jadi kambing congek
saja!" seru Andika yang tahu keinginan Setan Hitam
Compang-camping untuk mengabdi padanya. Dan
itu sangat tidak disukai Andika.
Kali ini Setan Hitam Compang-camping terdiam.
Karena dia merasa, salah bicara saja akan
memancing kemarahan Pendekar Slebor.
*** 3 Jalan yang harus ditempuh oleh Pendekar Slebor
sekarang, keluar dari ruangan gelap ini. Mengingat
tenaga 'inti petir' tak mampu menghancurkan
dinding ruangan, Andika merapal ajian 'Guntur
Selaksa' yang diciptakan di Lembah Kutukan.
Tubuhnya mendadak bagai dilingkupi sinar
perak. Tempat di mana dirinya disekap, menjadi
terang seketika. Setan Hitam Compang-camping
mendesis takjub melihal hal itu. Dia mundur tiga
langkah mengingat Andika bermaksud menghantam
dinding di hadapannya
Dikawal seruan keras penambah semangat,
Andika meluncur menghantam dinding itu.
Blaaaarrrr! Dinding itu seketika jebol. Pecahannya berpentalan keluar. Sesaat Andika bersiaga. Matanya
menatap ke depan melalui dinding yang jebol besar
itu. Tak ada tanda-tanda jebakan. Diputuskannya
untuk segera meninggalkan ruangan di mana dia
disekap. "Kita keluar dari sini!" katanya memberi tahu
Setan Hitam Compang-camping.
Dengan sekali lompat, Andika mencelat melalui
dinding yang bolong itu. la harus berpacu dengan
waktu, karena diyakini ucapan Tunggul Manik
bukan ancaman kosong. Menyusul Setan Hitam
Compang camping yang sudah berada di sisinya.
Berada di luar ruangan, keadaan agak terang
meskipun temaram. Anehnya, meskipun tempat di
mana Andika menjejakkan kaki sekarang tertutup
rapat dinding, angin dingin terasa berlarian bagai
berada di alam terbuka. Suasana angker dan
mencekam. Andika tak tahu, saat ini malam atau
sebaliknya. "Busyet! Apakah bangunan ini benar-benar berada
di Pulau Seribu Setan?" desisnya tak tahu harus ke
mana. Di hadapannya ada lorong panjang. Di
sebelah kirinya berbentur tembok, ke kiri nampaknya ada jalan.
Andika memutuskan untuk melewati lorong
panjang di hadapannya.
Ditolehkan kepalanya pada Setan Hitam Compang-camping yang sejak tadi terdiam.
"Aku akan memasuki lorong di hadapanku ini.
Sebaiknya, kau memasuki lorong sebelah kiri."
"Baik."
"Ingat, kita berada di Pulau Serihu Setan, yang
sebenarnya rada tak masuk akal. Tetapi ucapan
Tunggul Manik bisa kita jadikan pegangan. Jadi, kau
harus berhati-hati "
"Aku akan melakukannya "
"Sebaiknya pula, hindari bila terjadi bentrokan.
Karena dari ucapan manusia keparat itu, dia hanya
menginginkan aku. Meskipun belum diketahui apa
tujuannya melakukan semua ini"
Setan Hitam Compang Camping menganggukkan
kepalanya. "Mulailah. Dan hati hati."
Setelah menatap Andika, lelaki berpakaian
compang-campmg itu menganggukkan kepalanya.
Seolah meminta kekuatan batin pada Andika. Sosok
tinggi besar itu pun sudah berkelebat ke arah kiri,
mengikuti lorong panjang di hadapannya.
Andika mendesah pendek.
"Aku harus memburu waktu. Nasib Suci belum
kuketahui."
Ia segera berkelebat memasuki lorong di
hadapannya. Semakin dia melangkah angin dingin
makin menusuk tulang. Dikerahkan tenaga dalamnya guna mengatasi angin yang datang seperti
menampar seluruh tubuhnya.
Manusia semacam apa Tunggul Manik itu yang
mampu menciptakan semua ini" desis Andika dalam
hati menyadari keanehan ini adalah ciptaan dari
Tunggul Manik Lorong panjang itu telah dilalui. Dan membentur
pada sebuah pemandangan aneh. Ada lima buah
pintu di hadapannya, masing-masing berjarak satu
meter. "Busyet! Seperti buntu apa yang ada di hadapanku
ini!" dengusnya. "Lima buah pintu. Hmm... pintu
mana yang harus kumasuki?"
Keras Andika memeras otaknya. Menentukan
pintu mana yang ditempuh. Tak mustahil kalau
pintu pintu itu berisi jebakan. Setelah terdiam
beberapa saat. Andika memutuskan untuk masuk
melalui pintu pertama. Karena, semuanya harus dari
awal. Disiagakan dirinya. Ajian 'Guntur Selaksa' sudah
terangkum sebagai senjata. Perlahan Andika
membuka pintu, agak bergetar dengan dada
berdebar. Begitu pintu dibuka, matanya segera memicing
dan memalingkan kepala. Sinar yang sangat terang
begitu mencolok menghantam kedua matanya. Tak
sadar Andika menggerakkan tangannya untuk
menutupi pandangan.
"Kucing buduk! Apa apaan ini"!" dengusnya
sambil menutup pintu kembali. Napasnya agak
terengah. "Gila! Pintu itu bukan jalan yang benar.
Tak mustahil bila aku terus menatap sinar panas itu,
kedua mataku akan jadi buta! Pintu kedua harus
kumulai sekarang."
Kali ini Andika kembali bersiap bila memang
cahaya panas itu ada lagi di pintu kedua. Tetapi,
begitu pintu kedua dibuka, angin dahsyat
bergulung-gulung ke arahnya.
Memekik pemuda urakan itu melompat keluar
dan menendang pintu hingga tertutup.
Hiaaat! Hantaman angin dahsyat itu menghantam pintu.
Ruangan itu bagai bergetar hebat. Anehnya, pintu
tak jebol sama sekali. Sesaat Andika menunggu. Tak
ada lagi gempuran dari angin yang menggulung-
gulung ke arah pintu.
Selebihnya sunyi seperti sediakala.
"Kutu busuk! Pintu manaa lagi yang halus
kumasuki"!" makinya geram. Namun tekadnya
untuk menentukan jalan keluar dari lorong panjang


Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang baru dilaluinya makin membulat. Tantangan
semacam apa pun tak akan dipedulikan pemuda
urakan dari Lembah Kutukan ini, sebelum dia puas
mengetahui rahasianya.
Dibukanya pintu pintu lainnya, hati-hati dan
penuh kesiagaan. Dari pintu ketiga, meluncur
puluhan tombak ke arahnya. Dari pintu keempat
mengeluar asap busuk yang menyengat. Dari pintu
kelima, terlihat dua orang aneh terbungkus pakaian
dari emas menyerangnya.
Bukan bualan tegangnya pemuda pewaris ilmu
Pendekar Lembah Kutukan itu. Semua pintu telah
dibuka. Namun tak ada tanda-tanda pintu mana
yang harus ia masuki.
"Monyet buduk! Tak ada di antara kelima pintu ini
yang memberikan kenyamanan," desisnya sambil
menghapus kuingat. "Semuanya penuh bahaya
mengancam. Mungkin pula jebakan. Apakah
jebakan-jebakan itu melupakan sebuah jalan"
Ataukah memang jebakan semata?"
Sesaat Andika tak bisa memutuskan apa yang
akan dilakukan berikutnya. Sampai terlihat, lamat
tangan kanannya memegang hendel pintu kedua
kembali. "Angin! Ya, barangkali saja aku bisa menerobos
pusaran angin itu! Pintu-pintu ini memang penuh
jebakan Aku tak peduli sekarang. Biar bagaimanapun juga, aku harus lebih dulu membuktikan!!"
Sebelum membuka pintu, dialirkan tenaga dalam
ke seluruh tubuh. Bobot tubuhnya ditambah melalui
aliran tenaga dalam itu. Sigap Andika membuka
pintu kedua kembali
Tegak ia berdiri dengan kedua tangan siap
dikibaskan ke depan. Matanya dibuka lebar-lebar,
siaga menanti serangan dahsyat yang datang. Tetapi
sejenak ia tertegun tak lagi angin keras bergulung.
Justru sebaliknya lorong panjang yang nampak di
matanya. Kaget Andika menutup pintu kembali.
"Aneh! Apa sebenarnya yang terjadi" Ataukah...."
Cepat Andika membuka pintu pertama. Tak ada
lagi cahaya panas menyilaukan. Begitu pula ketika ia
membuka pintu ketiga, keempat dan kelima. Tak
ada serangan apa-apa. Yang nampak dari balik
setiap pintu, hanyalah lorong yang panjang.
Tertegun Andika menyaksikan semua ini. Sesaat
kelihatan ia mengangguk-angguk. "Hmm... apakah
sebenarnya ini sebuah kunci" Bila aku membuka
semua pintu, maka serangan itu akan lenyap"
Karena, tak mustahil orang lain enggan untuk
membuka pintu lainnya bila mengetahui ada
serangan berbahaya. Hhh! Tadi kubuka pintu kedua,
berarti, akan kulewati lorong di balik pintu kedua
itu." Memikir demikian, dibukanya lagi pintu kedua.
Setelah menarik napas, Andika melesat melalui
lorong panjang di hadapannya.
*** Di satu tempat Tunggul Manik menggeram
melihat kecerdikan Pendekar Slebor dari wadah
yang berisi cairan kuning
"Cerdik! Tak sia-sia pemuda itu dijuluki pendekar
sejuta akal. Ia telah berhasil memecahkan rahasia
Lima Pintu Kematian. Akan ku lihat, apakah ia akan
bisa memecahkan rintangan-rintangan berikutnya
yang telah ku siapkan?"
Tak lama kemudian, mulut lelaki kasar itu
nampak berkomat-kamit.
*** Bukit Cadasgering, sebuah tempat yang jauh dari
Pulau Seribu Setan. Letaknya yang berada di sekitar
pegunungan kapur, menyebabkan daerah itu begitu
tandus. Kekeringan akrab sekali dengan bukit itu.
Setiap kali angin berhembus kencang, debu kapur
langsung bertebalan menjelajah tanah Bukit Cadasgering. Apalagi di siang yang terik ini.
Namun, tempat yang jarang didatangi orang,
justru tengah terjadi satu pertarungan dahsyat.
Seorang laki laki bersenjata tambang besar, sedang
mencecar sepasang anak manusia berbaju biru.
Gempuran tambangnya begitu dahsyat, menghancurkan kapur-kapur yang langsung beterbangan. Siapa lagi manusianya kalau bukan
Iblis Tambang yang memiliki senjata tambang besar
dan sedang melancarkan serangan dahsyat itu.
Sejak pertarungan dengan Pendekar Slebor dan
terluka pada tangan kirinya, ia menghindar dan
berhasil mengobati luka-luka tangannya.
Sementara yang sedang digempur ilu adalah
Sepasang Dewa Gurun Pasir. Pasangan serasi dari
orang-orang muda yang berusia paling tidak tiga
puluh tahun dan dua puluh enam tahun.
Julukun Sepasang Dewa Gurun Pasir bukan
julukan kosong. Namanya cukup dikenal sejak lima
bulan terakhir. Datang dari dataran pasir yang
cukup panjang di pantai timur pulau Bali. Tak
seorang yang mengerti apa maksud mereka tiba di
tanah Jawa. Hanya desas-desus mengatakan, mereka
selalu menantang siapa saja yang dijumpai.
Konon, di pulau Dewata, tak ada lagi yang
mampu menandingi mereka.
Dalam menghadapi setiap lawan yang ditantang,
Sepasang Dewa Gurun Pasir selalu menyerang
serempak. Tidak alang kepalang, gempuran mereka
dahsyat dan mematikan.
Gempuran Iblis Tambang dibalas cepat, bersamaan dan beruntun. Mencecar bagian-bagian
yang berbahaya. Kelebihan dari Sepasang Dewa
Gurun Pasir, kelincahan yang luar biasa. Menyusul
jurus-jurus yang mematikan.
Pertarungan itu sebenarnya singkat saja, bila Iblis
Tambang tidak segera mundur dan berseru, "Tahan!"
Gempuran dari dua lawannya terhenti. Menatap
tak berkesip pada lawan
"Sepasang Dewa Gurun Pasir tak akan melepas
lawan sebelum bekalang tanah" seru yang laki-laki
Wajahnya tampan dengan rambut gondrong. Ikat
kepala berwarna putih. Pakaian birunya berkebyar
dimainkan angin. Kejantanan begitu nampak,
namun matanya memancarkan keculasan.
"Kita tak saling kenal, tak punya silang sengketa!
Mengapa menyerang?" seru Iblis Tambang menahan
napas. Memperhatikan lawan yang sedang menatap
dingin. "Pulau Jawa gudang dari para pendekar! Kami
menyeberang untuk menjajal kemampuan!"
Otak culas yang dimiliki Iblis Tambang berputar
cepat Ia merasa ada kambrat yang bisa dijadikan
sekutu. "Jelas tak mampu aku menghadapi kalian. Jauh
ilmu yang kalian miliki dibanding kepandaianku!"
katanya memulai rencana busuk yang terjalin begitu
saja di benaknya.
"Raka Gunarsa! Jangan buang tempo! Bunuh
manusia itu!" seru yang wanita. Kecantikannya
sungguh luar biasa. Memiliki dada yang besar, yang
sejenak akan membuat mata laki-laki yang belum
mengenal betapa kejamnya wanita itu akan tergiur
dan tak akan mengarahkan tatapannya pada obyek
lain. Kulitnya pulih, bening. Tetapi, senyum yang
bertengger di bibirnya dingin sekali, sedingin
tatapan matanya.
"Kau dengar kata-kata kekasihku, Manusia
Laknat" Kau tak bisa kuampuni lagi! Tak akan
pernah Sepesang Dewa Gurun Pasir meninggalkan
lawan-lawannya tanpa nyawa lawan-lawannya
putus dari badan!"
"Tunggu!" semakin culas pikiran yang ada di
benak Iblis Tambang. Dengan memasang wajah
mengalah dan sikap pasrah, dia berkata lagi, "Aku
tak akan melawan. Karena menghadapi kalian
hanyalah sebuah kesia-siaan. Ampuni selembar
nyawaku yang hina ini,"
"'Tak ada yang mampu menghentikan keinginan
Sepasang Dewa Gurun Pasir!" seru Raka Gunarsa
dengan seringai lebar.
"Akan kuberikan imbalan pada kalian bila kalian
mau mengampuni nyawaku!"
"Hhhh! Kami tak membutuhkan harta benda!
Yang kami butuhkan adalah pengakuan!"
"Akan kutunjukkan pada kalian lawan tangguh
untuk menjajal kemampuan!"
Raka Gunarsa terbahak-bahak.
'Tak seorang pendekar pun yang mampu
menghentikan sepak terjang Sepasang Dewa Gurun
Pasir! Berani menantang, berarti siap menghadapi
ajal! Menolak tantangan Sepasang Dewa Gurun
Pasir, akan mampus seperti anjing lapar!"
"Pendekar Slebor mampu mengalahkan kalian!"
seru Iblis Tambang terus memasang jeratnya.
"Keparat!" meradang Raka Gunarsa keras.
Tawanya terhenti seketika. Kedua matanya mendelik besar pada Iblis Tambang yang dalam hati
tersenyum. "Siapa orang yang kau sebutkan itu"!
Sehebat apa kesaktian yang dimilikinya"!*
Merasa lawannya terpancing ucapannya. Iblis
Tambang bagai menemukan sasarannya, "Di tanah
Jawa ini, telah lama malang melintang seorang
pemuda berbaju hijau pupus yang menjuluki dirinya
Pendekar Slebor! Pemuda itu pun memiliki
keinginan seperti kalian, menjajal kemampuan siapa
saja yang dirasakannya cukup tangguh menghadapinya! Akupun terpaksa menerima tantangannya dan aku kalah! Jadi kupikir, satu-
satunya yang mampu mengatasinya adalah kalian.
Sepasang Dewa Gurun Pasir. Yang aku yakin
kemampuan kalian lebih tinggi dari Pendekar
Slebor! Tetapi perlu kalian ketahui, kesombongan
Pendekar Slebor harus dihentikan! Seperti yang
diinginkan oleh banyak pendekar di tanah Jawa ini!"
Sepasang Dewa Gurun Pasir merandek gusar.
Berpandangan sesaat. Keduanya adalah manusia-
manusia yang tak pernah puas dengan kemampuan
yang mereka miliki. Terutama, pada kemampuan
orang lain. Setiap saat mereka mengisi kehidupan
yang mereka jalani untuk menebarkan tantangan.
Bagai disepakati, keduanya menganggukkan kepala.
Raka Gunarsa menoleh lagi pada Iblis Tambang
yang makin tersenyum dalam hati.
"Tunjukkan di mana manusia keparat itu! Akan
kami buktikan, bahwa Sepasang Dewa Gurun Pasir
tak akan terkalahkah!"
"Tentu, tentu aku akan menunjukkannya," kata
Iblis Tambang sambil tersenyum. Terbayang di
benaknya ia akan memetik keuntungan dari
pertarungan antara Pendekar Slebor dengan
Sepasang Dewa Gurun Pasir.
"Bila manusia berjuluk Pendekar Slebor itu tak
mampu menghadapi kami, kau harus mati!!"
Tak cukup membuat Iblis Tambang ketakutan
dengan ancaman itu.

Pendekar Slebor 52 Pulau Seribu Setan di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Baginya, bila terjadi pertarungan hebat antara Pendekar Slebor dan
Sepasang Dewa Gurun Pasir, ini suatu hal yang
sangat menarik. Permata Sakti yang dimiliki
Pendekar Slebor sekarang, adalah sasaran yang
diinginkannya. Juga, membalas sakit hatinya akan
kekalahannya waktu itu.
Namun kata-kata dari Ida Ayu Mantri mengejut
kau Iblis Tambang "Kami ingin mengambil sebelah
tanganmu, agar kau tak lepas dari tangan kami!!"
Bersamaan dengan itu, tubuh lda Ayu Mantri
berkelebat laksana kilat. Iblis Tambang terkejut
dengan wajah pias. Sebelum dia sempat melakukan
gerakan apa-apa, entah bagaimana terjadinya, tahu-
tahu tangan kirinya telah putus.
Jeritan keras terdengar menyayat. Tubuh Iblis
Tambang bergulingan. Bersamaan dengan itu, Ida
Ayu Mantri menjentikkan tangan kanannya.
Tuk! Tuk! Urat darah Iblis Tambang tertotok. Darah yang
mengalir dari tubuh Iblis Tambang terhenti seketika,
bersamaan dengan gerak tubuhnya yang kelojotan.
Raka Gunarsa terbahak-bahak sambil merangkul
kekasihnya. Lalu penuh nafsu dikecupinya leher dan
wajah Ida Ayu Mantri yang kegelian.
"Menyenangkan. Sangat menyenangkan. Aku
menyukai kekejamanmu, kekasihku. Sepasang Dewa
Gurun Pasir tak akan menemui lawan sepadan!"
Ida Ayu Mantri menatap mesra pada kekasihnya.
"Tak seorang pun akan mampu lari dari tangan
Sepasang Dewa Gurun Pasir!"
Penuh kemesuman, Raka Gunarsa merebahkan
tubuh kekasihnya di atas tanah yang cukup panas.
Namun hal itu tak dirasakan oleh keduanya.
Tertawa-tawa mulai dibukanya pakaian kekasihnya
disertai kecupan liar yang panas.
Ida Ayu Mantri banyak terkikik geli. membiarkan
tangan kekasihnya merajah seluruh tubuhnya. Hal
itu memang sering terjadi. Kedua anak manusia
berhati mesum itu melakukan hubungan badan
dimana saja mereka suka. Tak peduli dihadapan
orang banyak. Karena, nafsu telah mengalahkan akal
sehat mereka. Namun sebelum apa yang mereka inginkan ter-
laksana, terdengar seruan Raka Gunarsa.
"Lihat! Asap apa yang melingkupi tubuh laki-laki
buntung itu"!"
*** Ida Ayu Mantri cepat merapikan pakaiannya.
Terbelalak dan kening berkerut ia menyaksikan apa
yang dikatakan kekasihnya. Tubuh Iblis Tambang
mengapung tak berdaya dalam gumpalan asap
hitam. Belum lagi menyadari apa yang terjadi,
keduanya terkesiap ketika muncul asap hitam
lainnya. Bergulung ke arah mereka
"Gila! Apakah ini perbuatan manusia yang
berjuluk Pendekar Slebor" Baik, kita lihat siapa yang
lebih kuasa!" sentak Raka Gunarsa sambil bersiap
menyongsong asap hitam yang melesat ke arahnya.
Jotosan penuh tenaga dalam dilepaskan.
Plossss! Jotosan itu bagai nyeplos belaka. Belum
keheranan melanda Raka Gunarsa habis, tubuhnya
mendadak bagai ditarik, memasuki asap tebal itu
secara paksa. Ida Ayu Mantri berusaha menolong. Tetapi, hal
yang sama pun dialaminya. Rontaan keduanya, tak
mampu meloloskan diri dan tak berdaya dalam
gulungan asap hitam.
Tak lama kemudian, keduanya pun terkulai
pingsan *** 4 Lorong yang dilalui Andika semakin panjang.
Rasanya sudah cukup lama Andika berlari, namun
belum menemukan ujungnya pula. Dia seolah
sedang mengejar dinding hitam panjang di kanan
kirinya. Dalam berlari Andika berbisik di hati, "Aneh! Ini
benar-benar aneh! Baru kali ini kudapati bangunan
memiliki lorong demikian panjang. Hhh! Di mana
aku harus menemukan Suci. Manusia keji bernama
Tunggul Manik memaksaku untuk marah rupanya.
Aku pun harus mempertanggungjawabkan Permata
Sakti yang memancarkan sinar biru pada Kakek
Buruk Rupa."
Penuh pertanyaan yang belum terjawab dalam
benaknya. Andika tak menghentikan larinya barang
sekejap. Penasaran dibawanya terus larinya.
Dalam jarak lima tombak. Andika melihat sebuah
taman di hadapannya. Memancarkan bau wangi
yang mampu membuat siapapun terbius beberapa
saat. Dihentikan lariya disana. Sukar ditebak, berapa
lama dia berlari melewati lorong. itu Dan matanya
memandang takjub apa yang terpampang di
hadapannya. "Hmmm... taman apa ini" Banyak bunga-bunga
beraneka warna tumbuh di sini dan menebarkan
semerbak wangi. Aku yakin, ini mirip kaputren di
mana selir para raja tinggal. Busyet! Pulau Seribu
Setan bukan hanya banyak menyimpan misteri!
Tempat yang kuyakini berupa bangunan ini pun
menyimpan keanehan yang dalam. Sebesar apakah
bangunan ini" Apakah seukuran dengan ikan paus
raksasa?" Diperhatikan sekelilingnya dengan rasa keheranan
makin menggunung. Belum lagi Andika menduga
apa yang akan terjadi, sayup-sayup telinganya
menangkap suara di kejauhan.
"Kang Andika! Tolong akuuuu!" Terdengar
teriakan penuh duka dan kesedihan.
Andika tersentak.
"Suci!" desisnya. Diputar tubuhnya berkali-kali,
mencoba menemukan dari mana asal suara itu.
"Suci, itu suara Suci. Apakah dia berada di sekitar
sini" Suciiii! Di mana kau berada"! Succciiii!!"
"Kang Audikaaaa! Tolong aku! Bebaskan aku,
Kang!" Suara yang dikenal Andika sebagai milik Suci,
menggema di tempat itu. Membuat Andika harus
mendengus berkali-kali karena sulit menentukan
darimana asal suara itu. Tak ada tanda-tanda dia
bisa menemukan. Karena yang terpampang di
hadapannya, hanyalah taman bunga belaka.
"Apakah itu hanya ilusi saja" Ataukah desir angin
yang membawa suara Suci dari satu tempat" Tetapi,
pendengaranku tak salah, kalau suara itu berasal
dari sekitar taman."
Diputuskan unluk menyelidiki taman besar penuh
bunga-bunga itu. Tetapi, tak ada tanda-tanda Suci
disana. Disesali kebodohannya mengapa harus
membuang tenaga memeriksa taman, karena dari
tempatnya berdiri tadi dia tak melihat tubuh Suci di
sana. "Suci!! Katakan, kau di mana" Aku akan
menolongmu?" serunya keras.
"Kang Andika, aku tidak tahan! Sakit, Kang
Andika! Sakiitttt!!" suara itu menggema lagi, kali ini
diiringi isak yang memilukan.
Geram bukan buatan Andika menyadari sukar
baginya menentukan dari mana asal suara itu.
Karena, bagai terseret, berpindah dari satu tempat ke
tempat lam. Kegeraman itu makin bertambah,
membayangkan kemungkinan Suci saat ini berada
dalam satu penderitaan. Itu terbukti dari suaranya
yang serak dan penuh duka.
"Berabe kalau begini. Aku cuma bisa jadi kambing
congek belaka! Rupanya Tunggul Manik memang
sudah mempersiapkan semuanya."
Namun mendadak saja Andika tersentak, dengan
bola mata membulat besar. Di hadapannya
mendadak terlihat sebuah tiang gantungan. Cukup
tinggi. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi,
Suci terikat terikat diujung atas sana.
"Gila! Tak kulihat ada tiang ini tadi" Bagaimana
bisa muncul mendadak" Kurang ajar! Siapa lagi
kalau bukan Tunggul Manik," makinya dalam bati.
Penuh kegeraman dan kekhawatiran Andika
melompat lima tindak ke depan. Mendongak dan
berseru, "Suci! Tahan, aku akan menolongmu!"
"Sakit, Kang Andika! Aku ngeri!!" seru Suci
dengan wajah pucat. tubuhnya tak bisa digerakkan.
Sungguh bukan bualan kelu hati Andika melihat
keadaan Suci. Diperhitungkannya tinggi tiang
gantungan yang mengikat tubuh Suci.
Tetapi, satu pikiran menyelinap di benaknya.
"Apakah ini bukan sebuah jebakan?" pikirnya.
"Sejak tadi aku tidak melihat ada tiang gantungan di
sini. Lalu tahu-tahu muncul begitu saja dengan
tubuh Suci terikat. Hmm... aku harus berhati-hati!
Jangan-jangan, ini permainan berikutnya dari
Tunggul Manik."
"Kang Andika... mengapa kau diam saja"
Mengapa kau tidak segera menolongku" Manusia
laknat itu akan membunuhku, Kang! Tolong aku,
Kang! Tolooong!!"
Serua Suci membuat hati Andika menjadi galau.
Sukar menebak apakah ini sebuah jebakan atau
bukan. Untuk beberapa saat Andika masih terdiam,
tak berbuat apa apa.
Ketika melihat tubuh Suci bergetar hebat diiringi
teriakan bagai lolongan serigala, Andika tersentak.
"Sakit, Kang! Sakiiiittt!!"
Diputuskan untuk melompat menyambar tubuh
Suci. Diperhitungkan sekali lompat ia akan
memutuskan tali-tali pengikat tubuh Suci.
Dikerahkan ilmu meringankan tubuhnya Kedua
tangannya dialiri tenaga dalam tinggi. Dengan
pencalan dua kaki, tubuh Andika meluncur ke atas.
Tak ada angin yang terasa menyambar. Semua
mendadak seperti mati. Begitu tiba di hadapan Suci,
tanpa membuang tempo, Andika memapas putus
tali yang mengikut tubuh Suci. Tangan kirinya sigap
menyambar tubuh Suci yang terpental begitu tali
pengikat tubuhnya putus.
Cepat Andika kendalikan diri. Masih merangkul
Suci, dia putar tubuhnya dua kali. Dan meluncur ke
Sang Ratu Tawon 2 Pedang Bengis Sutra Merah ( Tan Ceng In) Karya See Yan Tjin Djin Tusuk Kondai Pusaka 5
^