Pencarian

Ajian Duribang 1

Raja Petir 14 Ajian Duribang Bagian 1


AJIAN DURIBANG Oleh Bondan Pramana
Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting: Tuti S.
Hak cipta pada Penerbit
Dilarang mengcopy atau memperbanyak sebagian atau
seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari penerbit
Bondan Pramana Serial Raja Petir
dalam episode: Rahasia Tombak Sangga Buana
128 hal. ; 12 x 18 cm.
https://www.facebook.com/pages/Dunia-
Abu-Keisel/511652568860978
1 "Hiaaa...!"
Suara teriakan melengking tinggi memecah su-
asana pagi yang dipenuhi cericit burung dan desiran lembut angin yang bertiup
semilir. Suara teriakan itu memantul di dinding-dinding Gunung Prataram. Dan
membubung ke langit. Lalu lenyap terbawa angin.
Blarrr...! Sebuah ledakan dahsyat terdengar belum lama
setelah suara teriakan lenyap. Suara ledakan itu berasal dari kaki Gunung
Prataram. Dua orang lelaki
tampak saling mengembangkan senyum. Kelihatannya
mereka tengah merasakan suatu kebahagiaan atau
kepuasan hati. "Sungguh tak kusangka pukulan jarak jauhmu
lebih sempurna dari yang kumiliki, Laga Lembayung,"
ucap lelaki berjenggot panjang warna putih.
Lelaki berpakaian kuning berusia sekitar enam
puluh tahun dan berambut hitam legam itu terse-
nyum, seraya menghampiri lelaki muda berusia sekitar dua puluh satu tahun yang
bernama Laga Lembayung.
Lelaki muda berpakaian kelabu itu menundukkan ke-
pala mendengar pujian lelaki berjenggot putih yang tak lain gurunya.
"Ah, Ki Partugi terlalu berlebihan memuji ke-
mampuanku," kilah Laga Lembayung dengan wajah
agak tersipu. "Aku tak akan mengatakan yang tak patut ku-
katakan, Laga. Kemampuanmu tadi menunjukkan kau
pantas menerima pujian itu. Kau begitu sempurna
memainkan jurus 'Melebur Karang'," ucap lelaki tua yang ternyata bernama Ki
Partugi. Laga Lembayung tak membantah ucapan Ki
Partugi. Disadarinya kalau ucapan itu keluar dari ke-tulusan hatinya.
"Sekarang, kuminta kau memperagakan 'Ajian
Duribang' yang tidak dimiliki tokoh-tokoh persilatan mana pun. Tidak juga Adi
Madrani yang tidak bermi-nat mempelajari ilmu silat," pinta Ki Partugi kemudian.
Ki Madrani adalah saudara angkat Ki Partugi.
Lelaki itu lebih menyenangi perniagaan daripada mempelajari ilmu kekerasan
seperti yang dipelajari Ki Partugi. Perpisahannya dengan Ki Partugi terjadi pada
sewindu yang silam. Saat itu mereka berdua membawa
barang dagangan dengan menggunakan kapal layar
bersama para pedagang lainnya. Naas, dalam perjala-
nan itu mereka dihadang orang-orang bertopeng yang
mengaku Perompak Laut. Pada kejadian itu, Ki Madra-
ni mendapat bacokan pada tangan kiri dan tercebur ke laut. Sedangkan Ki Partugi
dengan segenap kemampuan melawan para perampok-perampok itu. Meski
akhirnya dia harus mengakui keunggulan lawan. Dan
menceburkan diri ke laut mencari selamat.
"Apakah kira-kira Ki Madrani masih hidup, Ki?"
tanya Laga Lembayung sebelum memenuhi permintaan
Ki Partugi. "Entahlah. Setelah kejadian itu, aku berusaha
mencarinya. Namun tak kutemukan mayatnya," ucap Ki Partugi.
"Seandainya Ki Madrani masih hidup, apakah
dia tertarik mempelajari ilmu silat, termasuk 'Ajian Duribang'" Karena
menurutku, Ki Madrani merasa
terpukul dengan kejadian itu dan sadar akan pentingnya ilmu bela diri," tanya
Laga Lembayung lagi.
Ki Partugi tersenyum sebelum menjawab perta-
nyaan muridnya.
"Hal itu bisa saja terjadi, Laga. Tapi kecil sekali
kemungkinannya. Kukatakan demikian karena Adi
Madrani tak mungkin bertahan di laut dengan tangan
yang terluka parah," jawab Ki Partugi.
"Seandainya ada kapal Iain yang lewat di perairan itu dan melihat Ki Madrani
yang tengah terapung, lalu menolongnya. Kurasa hal itu bisa saja terjadi, Ki,"
bantah Laga Lembayung.
Ki Partugi kembali mengembangkan senyum-
nya. "Itulah yang aku harapkan, Laga. Aku bersyu-kur sekali seandainya Adi
Madrani masih hidup," ucap Ki Partugi. "Ayolah, perlihatkan 'Ajian Duribang'
tingkat terakhir yang telah kau kuasai."
"Baik, Ki," ucap Laga Lembayung seraya menggerakkan kakinya lima langkah menjauh
dari hadapan Ki Partugi. Ki Partugi ikut melangkah sejauh tiga tindak,
hingga jarak mereka menjadi lebih jauh. Mata lelaki berjenggot putih itu menatap
lurus wajah Laga Lembayung yang tengah memusatkan pikiran.
Sesungguhnya, Ki Partugi tahu siapa Laga
Lembayung. Pemuda ini adalah putra dari Kerajaan
Suraloka. Anak dari lelaki berusia sekitar lima puluh tahun yang di Kerajaan
Suraloka menduduki tempat
sangat penting. Dialah Patih Sodrana.
Lalu, mengapa Ki Partugi tidak memanggil Laga
Lembayung dengan sebutan terhormat 'tuan muda',
misalnya" Nah! Di situlah letak kelebihan Laga Lem-
bayung. Meskipun dia seorang anak patih, tapi dia tak suka dipanggil 'tuan
muda'. Terhadap sikap rendah hati yang ditunjukkan
Laga Lembayung, akhirnya Ki Partugi pun tak ingin dirinya dipanggil 'guru'. Ki
Partugi meminta Laga Lembayung menyebut namanya dengan tambahan 'Ki' se-
bagai tanda bahwa dirinya lebih tua dari Laga Lem-
bayung. Itu terjadi selama hampir tujuh tahun. Selama Laga Lembayung berguru
padanya. Ki Partugi ingat ketika pertama kali hatinya ter-
tarik untuk mengambil Laga Lembayung menjadi mu-
ridnya. Waktu itu Laga Lembayung tengah dikeroyok
tiga pembegal. Ki Partugi menyaksikan bagaimana La-
ga Lembayung berusaha keras mempertahankan diri
dengan ilmu bela diri yang seadanya. Tetapi karena
kemampuan ilmu silat pengeroyoknya lebih tinggi, ma-ka Laga Lembayung berhasil
dikalahkan. Untung keti-
ga pengeroyok itu tak menghabisi nyawanya.
Ketika Ki Partugi menanyakan apakah Laga
Lembayung menyesali hartanya yang dirampok, pemu-
da itu menjawab 'Mungkin harta itu bukan milikku'.
Jawaban itulah yang disukai Ki Partugi, hingga timbul hasrat di hatinya untuk
mengambil Laga Lembayung
sebagai murid. "Ayo lakukan, Laga!" perintah Ki Partugi setelah dirasa pemusatan pikiran Laga
Lembayung sudah cukup. Tanpa menunggu perintah dua kali, Laga Lem-
bayung segera merenggangkan dua telapak tangannya
yang semula bersatu. Perlahan gerakan itu dilakukan, hingga jarak kedua telapak
tangannya terpaut satu ja-ri.
Kemudian Laga Lembayung mengepalkan jari-
jarinya yang terbuka. Seiring dengan itu, aliran tenaga dalam ke seluruh
tubuhnya dilakukan Laga Lembayung sepenuhnya. Seketika otot-otot tangannya
bersembulan. Lalu dengan cepat tangannya diputar tiga
kali. Dan ketika putaran itu selesai dilakukan, saat itu juga tangannya
dihentakkan kuat-kuat
"Hiaaa...!"
Glarrr! Sebuah ledakan keras terjadi saat Laga Lem-
bayung menggelar 'Ajian Duribang'. Sebongkah batu
sebesar perut gajah hancur berkeping-keping.
Yang mengagumkan dari 'Ajian Duribang' yang
telah dikuasai Laga Lembayung adalah batu itu bukan hanya hancur berkeping-
keping, tapi kepingan batu itu menjadi merah membara dan mengepulkan asap tipis.
Tak terbayangkan akibatnya jika kepala manusia yang menjadi sasaran.
Laga Lembayung menatap kepingan batu yang
membara. Napasnya memburu dan keringat memba-
sahi dahinya. "'Ajian Duribang' tingkat akhir yang kau pera-
gakan itu pun begitu sempurna, Laga. Rasanya ke-
sempurnaan itu hanya kau yang memiliki," ucap Ki Partugi setelah menghampiri
sosok lelaki bertubuh kekar yang mengenakan pakaian kelabu itu.
"Terima kasih, Ki. Namun semua ini tak lepas
dari peran sertamu," ucap Laga Lembayung merendah.
Ki Partugi yang di kalangan rimba persilatan
dikenal sebagai Pendekar Bunga Merah, merasa puas
mendengar ucapan Laga Lembayung.
'Tapi kuingatkan sekali lagi, jangan pergunakan
'Ajian Duribang' tingkat terakhir itu untuk mengakhiri perlawanan musuh-musuhmu.
Kecuali jika kau benar-benar menemui jalan buntu, dan hanya dengan men-
gerahkan 'Ajian Duribang' tingkat akhir kau terbebas dari maut," ujar Ki Partugi
lagi. "Baik, Ki. Akan kuingat pesanmu," Laga Lembayung menundukkan kepala setelah
mengucapkan janjinya. Laga Lembayung sadar sepenuhnya kalau
'Ajian Duribang' yang terdiri dari dua tingkatan itu memiliki kedahsyatan yang
tidak patut dipergunakan
di sembarang waktu. Maka pemuda itu berjanji dalam
hati untuk tidak memperagakan 'Ajian Duribang' ting-
kat terendah sekalipun. Kecuali pada saat-saat seperti yang tadi disebutkan Ki
Partugi. "Sekarang semuanya telah selesai, Laga. Kau
telah tampil sebagai sosok yang memiliki ilmu bela diri yang tidak bisa
dipandang sebelah mata. Amalkanlah
ilmu yang kau miliki untuk kebaikan. Hadapi tantan-
gan yang seberat apa pun dalam kehidupan di dunia
yang selalu timpang ini. Enyahkan segala bentuk keba-tilan," nasihat Ki Partugi.
"Sekarang, kembalilah ke Kerajaan Suraloka. Amalkan ilmu yang kau punyai untuk
keutuhan wibawa kerajaan. Dan sampaikan salamku
pada ayahmu."
"Baik, Ki. Akan kujalani segala pesanmu. Ba-
rangkali hanya itu wujud baktiku terhadap budi baik yang telah kau berikan
padaku." Ada kesedihan dalam ucapan Laga Lembayung
itu. Memang begitulah kenyataannya. Bertahan-tahun
dia hidup bersama Ki Partugj. Selama itu pula Laga
Lembayung digembleng dalam hal pekerti bermasyara-
kat dan Ilmu olah kanuragan serta ilmu kesaktian. Selama tahun-tahun itu, Ki
Partugi memberi berbagai
bentuk kebaikan tanpa pamrih. Semuanya itu semakin
membuat hati Laga Lembayung seperti digayuti kebim-
bangan untuk berpisah dengan Ki Partugi si Pendekar Bunga Merah. "Ki...."
Parau ucapan yang keluar dari mulut Laga
Lembayung. Bibir lelaki putra Patih Sodrana itu bergetar.
"Jangan beratkan perpisahan ini dengan ke-
bimbangan hatimu, Laga. Tak ada perpisahan yang
menyedihkan kalau masing-masing kita saling ikhlas.
Karena perpisahan itu hakikatnya nyata. Dan akan selalu mewarnai segala bentuk
kehidupan manusia," papar Ki Partugi memotong ucapan Laga Lembayung.
"Saya mengerti, Guru," tukas Laga Lembayung
seraya menjura hormat.
Terkesiap juga hati Ki Partugi mendengar Laga
Lembayung memanggilnya dengan sebutan 'guru'.
"Jangan memanggilku seperti itu, Laga. Bukan-
kah kita sudah berjanji tidak akan saling memanggil dengan sebutan yang dapat
membuat kepongahan?"
ucap Ki Partugi sedikit menekan.
"Izinkan untuk terakhir kalinya kusebutkan ka-
ta-kata itu," bantah Laga Lembayung hati-hati.
Ki Partugi tidak membantah. Tangan lelaki ber-
juluk Pendekar Bunga Merah itu terulur perlahan ke
arah punggung Laga Lembayung. Dan dengan segenap
perasaan telapak tangannya diusapkan.
"Berangkatlah sekarang, Laga. Jangan khawa-
tirkan keadaanku di sini. Kelak jika kau membutuh-
kanku, kau bisa menemuiku di puncak Gunung Prata-
ram ini." "Ki...."
"Sudah lama aku ingin menghindari rimba ke-
kerasan, Laga. Namun aku tidak bisa melakukan ka-
rena ilmu-ilmuku belum kuturunkan. Sekarang ada
kau yang mewakiliku untuk menumpas segala bentuk
keangkaramurkaan. Aku akan menghabiskan sisa hi-
dupku di puncak Gunung Prataram ini," sergah Ki Partugi. "Ayolah berangkat.
Lihatlah, langit nampak begitu indah. Dan matahari bersinar penuh kegagahan.
Jadi-lah kau seperti matahari yang selalu bersinar dan dihormati karena wibawa
yang tinggi."
"Baiklah, Ki. Aku berangkat sekarang," tukas Laga Lembayung seraya menjura
hormat. Ki Partugi membalas penghormatan Laga Lem-
bayung. Dan ketika kepala Ki Partugi dan muridnya terangkat, Laga Lembayung
segera menjatuhkan lutut-
nya dan memeluk kaki gurunya.
"Aku berangkat, Ki. Doakan dan ikhlaskan se-
gala yang telah kau berikan padaku," ucap Laga Lembayung dengan wajah masih
mencium kaki Ki Partugi
"Tentu, Laga," ujar Ki Partugi.
Laga Lembayung bangkit dari bersimpuhnya.
Ditatapnya sejenak wajah tua lelaki yang berjuluk
Pendekar Bunga Merah itu. Sesaat kemudian, Laga
Lembayung membalikkan badan dan melangkah tegar
meninggalkan Ki Partugi yang menatapnya dari bela-
kang. Lelaki tua berpakaian kuning itu terus berdiri tegak memandangi kepergian
Laga Lembayung yang telah merebut hatinya. Laga Lembayung tak ubahnya
anak kandung. Ah...! Ketika tubuh pemuda itu lenyap ditelan kelebatan hutan, Ki
Partugi membalikkan badan setelah mengucapkan sepatah kata perpisahan.
"Selamat jalan, Laga...."
*** Siang itu matahari berada tepat di atas kepala.


Raja Petir 14 Ajian Duribang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Angin yang bertiup sesekali menghantarkan elusan sejuk sesaat.
Di tengah cuaca seperti itu tampak seorang le-
laki bertubuh kekar melangkah perlahan. Dari cara lelaki itu melangkah bisa
disimpulkan kalau dia bukan penduduk Desa Magetan yang sehari-harinya bekerja
sebagai petani. Lelaki itu berwajah tampan dan gagah.
Kelihatannya dia orang persilatan.
Lelaki gagah berpakaian kelabu yang tak lain
Laga Lembayung itu terus melangkah. Sedikit pun dia tak mempedulikan sengatan
matahari yang bersinar
garang di langit Desa Magetan yang membatasi kotara-ja dengan desa-desa lainnya.
Laga Lembayung tiba-tiba terusik kepekaannya.
Langkahnya terhenti dan bola matanya berputar-putar
seolah mencari sesuatu. Sedangkan kepalanya sedikit ditelengkan. Putra Patih
Sodrana itu sedang mencari-cari sumber suara yang didengarnya samar-samar. Be-
gitu tersamar dengan gesekan dedaunan yang tertiup
angin. Agak lama juga Laga Lembayung memantapkan
pendengarannya. Pada saat berikutnya, tubuhnya su-
dah mencelat ke arah suara itu. Begitu cepatnya gerakan Laga Lembayung. Ilmu
lari cepat yang dipadukan
dengan ilmu meringankan tubuh dilakukannya dengan
sempurna. Hingga tak heran dalam waktu singkat dia
sudah berada di tempat jeritan itu berasal.
Bukan main murkanya Laga Lembayung me-
nyaksikan delapan lelaki gagah bergeletakan tanpa
nyawa. Kemurkaannya tak Iain karena melihat pa-
kaian yang dikenakan delapan lelaki itu. Pakaian yang dikenalinya sebagai
pakaian prajurit Kerajaan Suraloka.
"Hhh...!" Laga Lembayung menarik napas panjang-panjang untuk meredam
kemarahannya. Ada peristiwa apa di Kerajaan Suraloka" Tanya
Laga Lembayung dalam hati. Di benak lelaki berpa-
kaian kelabu ini seketika terekam wajah tua orangtuanya. Patih Sodrana.
"Bagaimana keadaan ayah" Ah.... Aku begitu
mengkhawatirkannya," gumam Laga Lembayung, bica-ra pada diri sendiri.
Laga Lembayung berusaha menghilangkan pra-
sangka buruk yang melintas di benaknya. Tatapan le-
laki muda murid Ki Partugi ini beralih pada mayat-
mayat yang bergelimpangan. Tatapan matanya penuh
kedukaan. Aku harus menguburkan mereka! Tekad Laga
Lembayung dalam hati. Maka, pemuda itu segera
menghampiri tanah kosong yang ada di dekat situ yang
terdapat jejeran pohon-pohon jati.
"Hih!"
Blarrr! Tak ada kesukaran bagi Laga Lembayung
membuat sebuah lubang besar untuk mengubur dela-
pan mayat prajurit Kerajaan Suraloka itu. Hanya dengan sekali hentakan tangan,
disertai 'Ajian Duribang'
tingkat pertama, terciptalah sebuah lubang lebar sekitar satu setengah tombak.
Dan ketika Laga Lembayung kembali melakukan pukulan, maka...
"Hiaaa...!"
Blarrr! Tanah merah kembali berpentalan ke udara.
Lubang itu kini semakin besar. Laga Lembayung me-
narik napas dalam-dalam. Kemudian dengan cepat
memasukkan mayat-mayat ke dalam lubang dan me-
nimbunnya. "Hhh...!"
Peluh membasahi pakaiannya ketika Laga
Lembayung menarik napas lega. Tenaganya telah diku-
ras untuk mengubur mayat-mayat prajurit kerajaan
itu. Sesaat Laga Lembayung memandang langit De-
sa Magetan. Kemudian dengan langkah pendek, perja-
lanannya kembali dilanjutkan menuju Kerajaan Sura-
loka. *** 2 "Haiiit..!"
Trang! Trang! Blagkh! Sesosok tubuh terbalut pakaian hitam terjeng-
kang ketika rusuk kirinya terhantam sodokan sikut
kanan gadis cantik berpakaian jingga. Lelaki berpa-
kaian hitam itu menjerit keras sesaat. Kemudian tu-
buhnya ambruk ke tanah dan tak lagi mampu melan-
jutkan pertarungan.
Sesaat pertarungan terhenti. Dua puluh lelaki
yang berdiri pongah di hadapan gadis berpakaian jing-ga yang tak lain Mayang
Sutera, kekasih Raja Petir, nampak tak percaya kalau teman mereka tak mampu
menghadapi Mayang Sutera.
Suasana di Desa Magetan yang indah hening
sesaat. Mereka yang bertarung kini terlibat saling menatap. "Hm.... Kukira kau
gadis yang hanya mampu melayani lelaki di kamar," ucap sosok tinggi besar
berpakaian merah.
Lelaki yang ucapannya agak kotor itu meman-
dang wajah cantik Mayang. Matanya yang menjorok ke
dalam sangat bertentangan dengan alis matanya yang
hampir tak ada. Namun sebaliknya, wajah bagian
pinggir lelaki tinggi besar itu ditumbuhi bulu-bulu kasar hitam pekat.
"Sungguh tak kusangka gadis secantikmu me-
miliki isi," lanjut lelaki brewok yang memimpin belasan lelaki berpakaian hitam.
"Itulah pelajaran buat kalian kaum laki-laki!"
bentak Mayang. "Jangan sekali-kali meremehkan perempuan!"
"Ha ha ha...!"
Lelaki brewok berpakaian merah itu tertawa ke-
ras. "Dipuji sedikit saja besar kepala! Dasar perempuan...!" ejek lelaki brewok itu.
"Hentikan!" bentak Mayang sedikit mengerah-
kan tenaga dalam. Suaranya terdengar memantul di
sudut-sudut Desa Magetan.
Lelaki brewok itu terhenyak mendengar benta-
kan kuat yang dilakukan gadis cantik di hadapannya.
Tawanya langsung lenyap. Kini tatapan matanya tertu-ju tajam ke wajah Mayang.
"Kau ternyata gadis setan! Semula aku ingin
menikmati kecantikanmu, tapi kini seleraku hilang sudah. Yang ada keinginan
untuk melenyapkanmu!" ujar lelaki brewok itu dengan nada kasar. "Ketahuilah. Aku
Sagana, pantang dibentak!"
Mayang Sutera membalas tatapan tajam lelaki
brewok yang mengaku bernama Sagana itu.
"Sagana! Aku juga pantang mendengar kata-
kata kotor yang selalu keluar dari mulutmu yang bu-
suk! Aku ragu kalian mampu melenyapkanku!" balas Mayang tak kalah kasar.
"Setan! Cincang mulut perempuan liar itu!" perintah Sagana pada belasan lelaki
berpakaian hitam.
Belasan lelaki berwajah kasar segera berlompa-
tan mengurung Mayang Sutera. Sungguh suatu pe-
mandangan yang janggal. Seorang perempuan belia
berhadapan dengan belasan lelaki berwajah kasar yang menghunus senjata bermacam-
macam. Akan tetapi ji-ka melihat gadis itu, maka kejadiannya menjadi wajar.
Kehebatan ilmu bela diri gadis cantik berpakaian jingga itu tidak bisa diragukan
lagi. "Majulah kalian semua kalau ingin segera ma-
suk ke liang kubur!" ucap Mayang menantang.
Mayang menyadari belasan lelaki yang mengu-
rungnya itu adalah orang-orang yang seringkali berurusan dengan kekerasan.
Mereka pasti mengenal ilmu
silat. Mayang harus mengeluarkan seluruh kepan-
daiannya untuk melumpuhkan mereka.
Belasan lelaki yang mengurung Mayang wajah-
nya berubah gelap. Itu karena ucapannya yang seperti merendahkan. Namun anak
buah Sagana itu tak berani menyerang sebelum mendengar perintah pimpinan-
nya. "Ganyang...!"
Perintah Sagana terdengar menggelegar. Bela-
san lelaki berpakaian hitam segera berlompatan den-
gan senjata terhunus. Mayang dengan segenap kewas-
padaannya memperhatikan gerakan belasan lelaki
yang meluruk ke arahnya.
"Hm...."
Rrrt...! Selesai bergumam, Mayang segera mengem-
bangkan payung kecil yang terbuat dari logam keras.
Payung kecil yang selama ini menjadi senjata andalannya untuk menghadapi setiap
lawan. "Hiaaa...!"
"Heaaat...!"
Mayang segera mengatur kedudukannya den-
gan membawa mundur kakinya selangkah. Dua lelaki
bertubuh kekar melesat lebih cepat dari rekannya dengan senjata berupa pedang
pendek dan golok. Gerakan mereka membelah dan menebas.
Wrrr.... Gadis cantik berpakaian jingga itu segera me-
mutar senjatanya dengan pengerahan tenaga dalam.
Kemudian kakinya menghentak kuat. Tubuh gadis itu
melejit menyongsong dua sosok tubuh yang melesat ke arahnya.
"Hiaaat..!"
Trang! Bret! Dua pengeroyok yang tiba lebih dulu ternyata
harus mengalami kegagalan yang begitu cepat. Lelaki yang satu terpental karena
senjatanya beradu dengan
permukaan payung Mayang yang berputar keras. Se-
dangkan temannya harus merelakan nyawanya pergi
meninggalkan raga. Senjata Mayang Sutera telah
membabat perutnya setelah lebih dulu menangkis se-
rangan. Tubuh lelaki itu langsung ambruk tak bernya-wa. Namun kematiannya tidak
membuat lelaki lainnya
merasa jera. Mereka terus merangsek maju bagai lebah menemukan madu.
Keadaan di sekitar tempat pertarungan menjadi
tak sedap dilihat. Tanah sekitar tempat itu berlubang terkena pukulan nyasar.
Dan pohon-pohon kecil ber-tumbangan. Darah berceceran membasahi tanah Desa
Magetan. Kemurkaan belasan lelaki yang menyaksikan
kematian temannya semakin membuat Mayang was-
pada. Serangan-serangan yang datang dari setiap pen-juru harus dihadapinya
dengan perhitungan matang.
Maka Mayang mengeluarkan seluruh kemam-
puannya. Tubuhnya berkelebat cepat dan menyelinap
di antara kelebatan senjata lawan. Gerakannya yang
seperti orang menari di antara rumpun bambu. Meliuk menghindari benturan. Namun
sekali senjatanya bergerak, lengking kematian pun terdengar susul-
menyusu!. "Hih!"
Breeet! "Aaa...!"
Kembali seorang lawannya dijemput ajal. Le-
hernya hampir putus terbabat payung logam kuning
milik Mayang. Darah memancur dari leher lelaki berpakaian hitam itu. Tubuhnya
ambruk menggelepar se-
perti ayam disembelih.
Memang dalam menghadapi lawan-lawannya
yang berjumlah tidak sedikit dan mengenakan senjata, Mayang tak segan-segan
mengeluarkan jurus-jurus
andalan. Seperti jurus 'Benteng Emas' yang berguna
menahan gempuran lawan, sekaligus memberikan se-
rangan balasan.
Apa yang dilakukan Mayang memang berhasil
menghalau serangan lawan dan menewaskan beberapa
orang. Hingga Sagana menjadi gusar. Maka dipu-
tuskannya untuk membantu anak buahnya. Sagana
segera menghentakkan kakinya, kemudian melenting
ke udara melewati kepala orang-orang yang tengah
bertarung. Jleg! "Hiaaa...!"
Trang! Tubuh Sagana terpental mundur saat senja-
tanya yang berupa clurit hampir mendarat di leher
Mayang. Pekik tertahan mengiringi terhuyungnya tu-
buh lelaki brewok berpakaian merah itu.
"Setan!" umpat Sagana sambil memegangi tangannya yang bergetar hebat.
Mata Sagana berkilat-kilat bagai naga terluka
ketika melihat kehadiran lelaki berpakaian kelabu. Lelaki bertubuh kekar dan
berwajah tampan itu berdiri tegak di hadapan Sagana pada jarak dua setengah
tombak. "Kau sudah menyuruh anak buahmu menge-
royok gadis belia itu. Sekarang dengan kecuranganmu, kau ingin membokongnya!"
ucap lelaki berpakaian kelabu itu dengan suara ditekan. "Laki-laki macam apa
kau..."!"
Sagana tak meladeni ucapan lelaki muda itu.
Hanya matanya saja menatap garang sebagai tanda dia tidak sudi dengan campur
tangan ini. Lelaki muda
berpakaian kelabu yang tak lain Laga Lembayung tak
membalas tatapan tajam Sagana. Tatapan mata Laga
Lembayung memperhatikan pertarungan Mayang Sute-
ra dan anak buah Sagana.
"Teruskan perlawananmu, Nisanak! Biar aku
yang menghadap tua bangka pengecut ini!" teriak Laga Lembayung keras.
Sagana marah bukan main disebut tua bangka
pengecut. Seketika itu pula dia melesat menerjang La-ga Lembayung. Angin menderu
mengiringi tibanya se-
rangan Sagana dengan senjata dibabatkan ke lambung
putra Patih Sodrana itu.
"Hiaaa...!"
Menyaksikan gerakan Sagana, dengan tenang
Laga Lembayung memiringkan tubuhnya.
Dua jari lagi serangan Sagana menyentuh kulit
Laga Lembayung yang sudah lebih dulu merubah ke-
dudukan. Serangan maut itu pun luput.
Tapi Sagana mempunyai gerakan kilat yang pa-
tut mendapat acungan jempol. Sesaat serangannya
berhasil dielakkan, serangan berikutnya berhasil dilakukan dengan tiba-tiba dan
tanpa ditingkahi pekikan seperti semula.
Wuuut! "Heh"!"
Laga Lembayung terkejut melihat senjata Saga-
na sudah berpindah tangan. Dan tahu-tahu sudah
berkelebat mengarah lehernya.
"Uts!"


Raja Petir 14 Ajian Duribang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dengan gerakannya yang tak kalah cepat, Laga
Lembayung merendahkan tubuhnya dalam kedudukan
kuda-kuda rendah. Dan ketika serangan kedua Sagana
berhasil dielakkannya, Laga Lembayung menjatuhkan
tubuhnya seraya memberikan serangan menyampok ke
arah kaki Sagana.
Sagana tentu saja terkejut menyaksikan keje-
lian Laga Lembayung yang mampu membaca pertaha-
nannya yang kosong. Untung Sagana memiliki kepe-
kaan yang baik. Sehingga sampokan lawan berhasil dielakkan dengan membuang
tubuhnya ke arah kiri Laga
Lembayung. Crak! Crak! "Heh..."! Ops!"
Laga Lembayung segera bergulingan di tanah.
Ternyata saat membuang tubuhnya, Sagana melaku-
kan serangan dengan membacokkan senjatanya secara
sembarangan ke bagian tubuh Laga Lembayung. Mak-
sud Sagana untuk memberi jarak pertarungan dan
berjaga-jaga agar lawan tidak memberikan serangan
susulan. "Hup!"
Laga Lembayung melentingkan tubuhnya keti-
ka Sagana tidak lagi melanjutkan serangan. Lentingan yang disertai perputaran
tubuh dua kali cukup manis dilakukan Laga Lembayung. Apalagi dengan cara
mendarat yang tanpa menimbulkan suara. Jelas menun-
jukkan dirinya memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Kedua lelaki yang
terpaut usia cukup jauh itu terlihat saling pandang, seperti sedang mengukur
kekuatan masing-masing.
Sementara pada pertarungan lain, Mayang Su-
tera tanpa menemui kesulitan merobohkan lawan-
lawannya. Meski menggunakan payungnya, namun
senjata itu tidak digunakan lagi untuk membabat la-
wan-lawannya. Senjata itu dipergunakan Mayang un-
tuk menangkis serangan lawan.
Trang! Trang! Kembali Mayang menangkis serangan lawan
yang tertuju ke bagian dada dan perut. Benturan keras membuat kedua lawannya
yang barusan menyerang
terpental balik. Dan dengan kecepatan geraknya,
Mayang langsung mengejar.
Tuk! Tuk! "Aaakh...!"
"Akh!"
Dua lelaki berpakaian hitam dilumpuhkan
Mayang dengan totokan yang terarah ke jalan darah.
Kedua lelaki berwajah kasar itu langsung ambruk dan tak lagi mampu meneruskan
pertarungan. Sedangkan
sepuluh lelaki yang bermaksud meneruskan penyeran-
gan dengan berat hati mengurungkan maksudnya. Me-
reka termangu menatap wajah cantik Mayang. Kenge-
rian tergurat jelas di wajah lelaki-lelaki itu.
"Mengapa kalian bengong seperti kerbau dun-
gu"!" bentak Mayang garang.
Lelaki-lelaki berwajah kasar itu tidak menjawab
bentakan Mayang.
"Aaa...!"
Mayang dan lawan-lawannya serta-merta meno-
leh ke arah jeritan yang cukup keras.
Rona wajah Mayang dan lelaki-lelaki kasar itu
berubah. Curat wajah dara cantik berpakaian jingga
itu menampakkan kegembiraan melihat lelaki berpa-
kaian kelabu berhasil melumpuhkan Sagana. Sebalik-
nya, wajah anak buah Sagana bertambah kecut me-
nyaksikan pemimpinnya berhasil dipecundangi Laga
Lembayung. Di sela-sela bibir Sagana nampak darah me-
rembes. Lelaki berpakaian merah itu mengalami luka
dalam setelah kepalan tangan Laga Lembayung meng-
gedor dadanya. Dua orang anak buah Sagana membu-
ru tubuh pimpinannya. Dan mengangkatnya bangkit.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, Kakang Sagana,"
ucap salah seorang lelaki berpakaian hitam yang me-
nyangga tubuh Sagana.
"Sebaiknya begitu. Mereka terlalu tangguh un-
tuk kita," timpal Sagana menyetujui.
"Bagaimana dengan teman-teman yang tergele-
tak itu?" tanya anak buah Sagana yang satunya.
"Suruh teman-teman membebaskan mereka da-
ri totokan gadis setan itu," perintah Sagana.
Salah seorang anak buahnya segera berteriak
lantang. "Bebaskan yang tergeletak itu. Totok jalan darah mereka!"
Ucapan itu terdengar jelas oleh anak buah Sa-
gana yang lain. Dengan cepat mereka membebaskan
teman-temannya.
"Kami akan membalas dendam padamu, Anak
Muda!" ancam Sagana.
"Namaku Laga Lembayung! Kau ingat itu, Ki
sanak," timpal Laga Lembayung mendengar ancaman Sagana. "Dan kau juga, Gadis
Setan!" lanjut Sagana sambil menuding wajah Mayang Sutera alias Dewi
Payung Emas. "Kutunggu apa yang akan kalian lakukan pa-
daku, Sagana!" balas Mayang.
"Huh! Kalian memang bocah-bocah sombong!"
bentak Sagana. "Kalian rasakan nanti balasan kami!"
Setelah berkata begitu, Sagana menatap wajah
anak buahnya. Kemudian....
"Ayo kita tinggalkan tempat ini!" perintah Sagana lantang.
Belasan lelaki berpakaian hitam itu segera ber-
lompatan cepat mengikuti jejak pimpinannya yang su-
dah berlari lebih dulu. Sementara, lima mayat temannya ditinggalkan begitu saja.
Apakah mereka yang membantai prajurit-
prajurit Kerajaan Suraloka" Batin Laga Lembayung sesaat setelah belasan lelaki
itu lenyap ditelan kelebatan hutan d Desa Magetan.
"Terima kasih atas bantuanmu, Kakang Laga
Lembayung," ucap Mayang ketika menyadari di tempat itu hanya tinggal mereka
berdua. "Eh! Ja... jangan ucapkan itu padaku...," ucapan Laga Lembayung gugup. Sementara
mata putra Patih Kerajaan Suraloka itu menatap wajah cantik
Mayang Sutera. "Panggil aku Mayang, Kakang," ucap Mayang lembut "Tapi nama lengkapku Mayang
Sutera." "Eh, ya. Mayang. Tadi itu.... Eh...."
Kegugupan Laga Lembayung semakin menjadi
ketika Mayang membalas tatapannya. Pemuda itu
sungguh tak tahu mengapa dirinya menjadi gugup se-
perti ini. Apakah karena selama tujuh tahun lebih dirinya tak pernah bertemu
gadis-gadis yang membuat-
nya gugup, atau... kecantikan Mayang yang membuat-
nya begitu"
"Pertolonganku hanya kebetulan saja, Mayang,"
ucap Laga Lembayung sedikit tenang. Dia sudah
mampu menguasai hatinya. "Kebetulan aku melewati tempat ini."
"Tapi aku harus tetap mengucapkan terima ka-
sih, Kakang Laga Lembayung," kilah Mayang.
"Eh! Hendak ke mana kau sebenarnya,
Mayang?" tanya Laga Lembayung mengalihkan per-
cakapan. "Aku tak hendak pergi, Kakang. Aku hanya in-
gin menikmati udara pagi. Tapi puluhan lelaki itu telah mengusik kelnginanku,"
jawab Mayang. "Apa kau penduduk Desa Magetan ini?" tanya Laga Lembayung lagi.
Mayang Sutera menggeleng.
"Lalu...?"
"Aku tengah mengembara dengan seorang te-
manku," jelas Mayang.
"Ah! Mana temanmu itu?" tanya Laga Lem-
bayung. "Boleh aku mengenalnya" Apakah dia seorang perempuan juga?"
Mayang tersenyum mendengar pertanyaan be-
runtun lelaki di hadapannya.
"Tentu saja dengan senang hati aku bersedia
memperkenalkanmu dengan temanku, Kakang Laga.
Tapi dia seorang laki-laki," tukas Mayang, menyetujui permintaan pemuda itu.
Wajah Laga Lembayung bersemu merah men-
dengar ucapan Mayang. Tapi lelaki berpakaian kelabu itu kini sudah pandai
menguasai keadaan.
"Dia pasti kekasihmu. Atau bahkan suamimu,"
ucap Laga Lembayung, menutupi kekikukannya.
Mayang Sutera tersenyum.
"Kalau kau sebut suami rasanya salah besar,
Kakang Laga," jelas Mayang.
"Calon suami tak berbeda jauh dengan suami,
Mayang," kilah Laga Lembayung dengan raut wajah tersenyum lucu.
"Ha ha ha...!"
Tawa Mayang betul-betul terlepas mendengar
ucapan dan cara bicara putra Patih Sodrana itu.
"Kita temui dia sekarang, Kakang Laga," putus Mayang sesaat setelah tawanya
reda. Laga Lembayung mengangguk, menyetujui usul
gadis cantik itu. Dan ketika Mayang mengayunkan
langkah, Laga Lembayung mengikutinya di belakang.
*** 3 Siang yang beranjak sore membawa langkah
Mayang Sutera ke sebuah penginapan di pinggiran De-
sa Magetan, yang berjarak sekitar tiga puluh lima pal dari kotaraja.
Langkah kaki Mayang yang tidak begitu tergesa
dibuntuti lelaki berpakaian kelabu yang tak lain Laga Lembayung. Tidak begitu
lama perjalanan itu dilakukan. Kini di hadapan mereka terpampang sebuah pen-
ginapan yang cukup sederhana. Seorang lelaki berpa-
kaian kuning keemasan terlihat tengah menatap
Mayang dengan wajah keheranan.
"Ah. Maafkan aku, Kakang Jaka. Aku terlambat
kembali ke penginapan," ucap Mayang ketika tiba di dekat lelaki berpakaian
kuning keemasan yang tidak
lain Jaka Sembada, lelaki muda digdaya yang berjuluk Raja Petir.
Sementara di belakang Mayang berdiri Laga
Lembayung dengan sikap canggung. Ketika tatapan
Jaka hinggap di wajahnya, Laga Lembayung segera
mengembangkan senyum bersahabat.
"Oh, ya. Silakan duduk, Kakang Laga. Aku
akan menceritakan semuanya pada Kakang Jaka," tukas Mayang mempersilakan kawan
barunya duduk di
hadapan Jaka. Sedangkan gadis itu duduk di samping
Raja Petir. "Sebaiknya Kakang berdua saling berkenalan
dulu," pinta Mayang.
Laga Lembayung mengulurkan tangan lebih du-
lu. Dan Jaka segera menyambut uluran tangan lelaki
itu. "Laga Lembayung," ucap lelaki berpakaian kelabu memperkenalkan diri dengan
tegas. "Jaka Sembada," balas Jaka tak kalah tegas.
Sesaat lamanya kedua lelaki itu saling berjabat
tangan. Pada saat berikutnya tautan tangan keduanya lepas. Namun Laga Lembayung
seperti orang terkesi-ma. Tatapan mata lelaki itu menerawang jauh, seperti
tengah memikirkan sesuatu.
"Kau.... Kaukah yang berjuluk Raja Petir?"
tanya Laga Lembayung kemudian.
Jaka tersenyum mendengar ucapan Laga Lem-
bayung. "Lupakan saja julukan itu, Laga," ucap Jaka.
Sengaja tak memanggil Laga Lembayung dengan sebu-
tan 'kakang' atau 'adi'. Menurut Jaka, usianya dan
usia Laga Lembayung tak berbeda jauh, malah mung-
kin sama. Sepasang alis Laga Lembayung terangkat men-
dengar ucapan Jaka.
"Aku lebih suka kau mengingatku sebagai Jaka
Sembada, bukan Raja Petir," tandas Jaka melihat keheranan Laga Lembayung.
"Oh! Maafkan, aku tadi tak bersikap hormat
padamu, Kakang Jaka," tukas Laga Lembayung seraya menundukkan kepala.
"Jangan bersikap begitu padaku, Laga. Dan
jangan panggil aku kakang. Kurasa usia kita tak berbeda jauh," pinta Jaka
merendah. "Benar rupanya ucapan guruku. Kau memang
seorang tokoh yang rendah hati," puji Laga Lembayung. "Namun, kuharap kau tak
keberatan ku- panggil kakang."
Mayang yang duduk di sebelah Jaka, terse-
nyum mendengar pujian Laga Lembayung. Jaka tak
membantah keinginan Laga Lembayung. Akhirnya pe-
muda itu membiarkan Laga Lembayung memanggil di-
rinya kakang. "Sekarang giliran aku yang bercerita," selak Mayang Sutera ketika tak
didengarnya lagi ucapan La-ga Lembayung dan Jaka Sembada.
"Silakan bercerita. Biar aku tahu di mana kau
mengenal Laga Lembayung," ucap Jaka menyetujui
keinginan kekasihnya.
Mayang Sutera segera menceritakan kejadian
yang dialaminya. Bagaimana dirinya dikeroyok anak
buah lelaki berpakaian merah yang mengaku bernama
Sagana. Dan kedatangan Laga Lembayung yang merin-
gankan bebannya, sekaligus menyelamatkannya dari
bokongan Sagana.
"Begitulah, Kakang Jaka. Pengeroyokku kira-
kira berjumlah dua puluh orang. Tanpa bantuan Ka-
kang Laga, aku tak tahu apa yang terjadi padaku,"
ucap Mayang menuntaskan ceritanya.
Jaka tertegun mendengar cerita kekasihnya.
Dia sungguh menyesal telah menaruh curiga pada La-
ga Lembayung yang telah menyelamatkan Mayang dari
bencana. "Ah! Terima kasih atas pertolonganmu, Laga.
Maafkan sikapku yang telah mencurigaimu," tukas Ja-ka terus terang.
Laga Lembayung tak menyahuti ucapan Raja
Petir. Baginya, ucapan Jaka tak ubahnya igauan da-
lam mimpi. Dia baru yakin kalau di dunia ini masih


Raja Petir 14 Ajian Duribang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ada orang ternama yang memiliki budi pekerti dan sikap rendah hati.
"Pertolonganku tidak seberapa jika dibanding-
kan dengan sepak terjangmu membasmi segala bentuk
keangkaramurkaan, Kakang Jaka. Mungkin kelak kau
yang akan menolongku," ujar Laga Lembayung.
Jaka Sembada tersenyum.
"Oh, ya. Sebenarnya kau hendak ke mana, La-
ga?" tanya Jaka mengalihkan pembicaraan.
"Aku hendak ke Kerajaan Suraloka," jawab Laga Lembayung singkat.
"Ke Kerajaan Suraloka?" ulang Mayang Sutera.
"Apakah Kakang hendak melamar jadi prajurit?"
Laga Lembayung menggelengkan kepala dengan
senyum tipis tergurat di wajahnya.
"Tidak, Mayang," ucap Laga Lembayung.
"Lalu?"
"Untuk menemui ayahku," jawab Laga Lem-
bayung tak bermaksud membanggakan diri.
"Ayahmu..." Beliau bekerja untuk Kerajaan Su-
raloka?" tanya Jaka, ingin menegaskan.
Laga Lembayung mengangguk-angguk kepala.
"Sebagai apa?" tanya Mayang ingin tahu.
Sesaat Laga Lembayung membiarkan perta-
nyaan Mayang. Dan gadis cantik berjuluk Dewi Payung Emas itu tidak mendesak Laga
Lembayung untuk segera menjawabnya.
"Maaf. Aku tak bermaksud menyombongkan di-
ri," ucap Laga Lembayung kemudian. "Di Kerajaan Suraloka, ayahku menjabat
sebagai patih."
"Jadi kau seorang putra patih, Kakang" Oh.
Begitu sederhananya penampilanmu. Juga tutur ka-
tamu sopan," puji Mayang.
Laga Lembayung tersipu mendengar pujian ga-
dis cantik kekasih Raja Petir itu.
"Maaf, Laga. Kalau boleh kutahu, sebenarnya
dari mana kau ini. Sepertinya telah menempuh perja-
lanan jauh," kata Jaka menutupi ketersipuan Laga Lembayung.
"Seperti orang-orang lain, dan mungkin juga
seperti Kakang Jaka. Aku pun ingin memiliki sedikit kemampuan ilmu bela diri.
Sebab, menurutku seorang
lelaki akan percuma jika tak memiliki ilmu olah kanuragan dalam kehidupan yang
keras ini. Terlebih hidup di lingkungan kerajaan, yang bukan mustahil penuh
persaingan. Untuk itu aku meninggalkan kerajaan un-
tuk menuntut ilmu silat. Syukur aku mendapat seo-
rang guru yang berilmu tinggi dan berwatak baik, arif, dan bijaksana. Tujuh
tahun lebih aku menuntut ilmu
pada Ki Partugi," jelas Laga Lembayung menceritakan asal-usulnya.
"Cukup lama juga kau meninggalkan Kerajaan
Suraloka dan ayahmu," timpal Jaka.
"Ya. Itu sebabnya aku harus segera ke sana.
Aku khawatir telah terjadi sesuatu di sana," tutur Laga Lembayung.
"Kejadian apa maksudmu, Kakang?" tanya
Mayang. "Sebelum aku memergoki pertarunganmu den-
gan Sagana dan anak buahnya, aku telah menemukan
delapan mayat prajurit Kerajaan Suraloka. Aku tak ta-hu siapa yang membunuh
mereka. Aku khawatir ke-
matian mereka ada sangkut-pautnya dengan keama-
nan Kerajaan Suraloka," ujar Laga Lembayung mene-rangkan.
"Hm...," gumam Jaka. Matanya merayapi wajah cemas Laga Lembayung.
"Jika begitu, sebaiknya kau segera kembali ke Kerajaan Suraloka," putus Jaka.
"Sebaiknya memang begini, Kakang Jaka," ujar Laga Lembayung menyetujui. "Kuharap
kalian berdua sudi singgah di Kerajaan Suraloka. Tenaga dan kepandaian kalian
sangat dibutuhkan jika di sana terjadi sesuatu yang tak diinginkan."
"Tentu saja, Laga. Dengan senang hati kuterima undanganmu," sahut Jaka.
Mayang Sutera menganggukkan kepala menye-
tujui ucapan Raja Petir.
"Baiklah. Aku pergi sekarang."
Laga Lembayung bangkit dari duduknya.
Kemudian tangannya diulurkan untuk berjaba-
tan tangan dengan Jaka dan Mayang. Laga pun mem-
bawa langkahnya meninggalkan pasangan pendekar
muda itu. Namun baru tiga langkah kaki Laga Lembayung
terayun, tiba-tiba dari selatan penginapan yang ditumbuhi pohon-pohon besar
berlompatan beberapa sosok
tubuh berpakaian hitam. Puluhan lelaki berpakaian hitam itu langsung menutup
jalan Laga Lembayung.
Lelaki putra Patih Sodrana itu tentu saja was-
pada dengan keadaan seperti itu. Di pikirannya terlintas dugaan kalau lelaki
berpakaian hitam yang meng-
hadang jalannya ada hubungannya dengan pengeroyok
Mayang. Atau mungkin dengan kematian prajurit Kera-
jaan Suraloka. Jaka dan Mayang yang melihat puluhan lelaki
berpakaian hitam, segera beranjak mendekati Laga
Lembayung. Tatapan Jaka tajam ke arah lelaki berpa-
kaian hitam yang berjumlah tiga puluh orang lebih.
"Tikus-tikus kurap!" maki Mayang geram.
"Tenang, Mayang. Kita lihat saja, apa yang me-
reka inginkan," ucap Jaka, menenangkan Ma-yang.
Baru saja selesai ucapan Jaka, dari arah yang
sama melesat tiga sosok lelaki berpakaian merah. Gerakan ketiga lelaki itu
begitu ringan. Dan mendarat tanpa menimbulkan suara. Jelas mereka memiliki ilmu
meringankan tubuh tingkat tinggi. Begitu juga ilmu si-latnya. Tiga lelaki yang
berperawakan berbeda itu berdiri angkuh di hadapan Jaka, Mayang, dan Laga Lem-
bayung. Lelaki pertama bertubuh tinggi besar. Badan-
nya tegap dan otot tubuhnya bersembulan keluar dari pakaiannya yang cukup ketat.
Wajahnya kasar ditumbuhi kumis tipis. Dialah Sugali. Sedangkan dua lelaki
lainnya bertubuh pendek. Namun yang satunya memiliki perut buncit, hingga tampak
lebih mirip gentong air daripada manusia. Sedang temannya bertubuh kurus. Mereka
bernama Guliwa dan Pardira.
"Ha ha ha.... Kalian harus mampus sekarang!
Tak ada alasan bagi kami untuk membiarkan kalian
mereguk udara lama-lama!" Ucap lelaki kurus kering yang bernama Pardira. "Bukan
begitu Adi Guliwa dan Adi Sugali?"
"Ha ha ha...!"
Tawa membahana tercipta sebagai jawaban per-
tanyaan Pardira.
"Mereka memang tak pantas hidup!" umpat Guliwa. Telunjuk lelaki bertubuh mirip
gentong air itu menuding wajah Jaka, Mayang dan Laga Lembayung
bergantian. "Ya. Kalau kalian mampu memukul mundur
Sagana dan anak buahnya, kini ganti kalian yang kami hempaskan ke karang
kematian," ucap Sugali tak mau kalah. "Maaf Kisanak sekalian. Rasanya di antara
kita tak ada permusuhan. Mengapa tiba-tiba saja Kisanak
sekalian memusuhi kami?" tanya Jaka tenang. Suaranya bagai air dingin yang
mengalir menembus keger-sangan. Tiga lelaki berpakaian merah itu menatap Jaka
tajam-tajam. "Apa pedulimu bertanya seperti itu, Kucing Ko-
reng"!" bentak Pardira keras.
Kaki Mayang terangkat satu langkah menden-
gar penghinaan lelaki kurus itu. Begitu juga Laga
Lembayung. Mereka bermaksud menghajar mulut lan-
cang Pardira. Namun tangan Jaka telah lebih dulu
menahan langkah Mayang dan Laga Lembayung.
"Sabar. Aku tidak merasa terhina dengan uca-
pan yang tak benar itu," cegah Jaka.
Mayang Sutera dan Laga Lembayung mengu-
rungkan niatnya menghajar lelaki kurus itu.
"Kisanak. Ketahuilah, aku bukan kucing koreng
seperti yang kau ucapkan itu. Kalau boleh kutebak,
kaukah yang berjuluk Cacing Kurang Makan?" balas Jaka tenang. Namun ucapannya
berpengaruh dahsyat
bagi Pardira. Wajah Pardira berubah gelap mendengar julu-
kan yang diberikan Jaka. Seketika itu pula tangannya terangkat ke atas, memberi
perintah pada rekan-rekannya.
"Seraaang...! Ganyang bocah-bocah ingusan
itu!" teriak Pardira.
Puluhan lelaki berpakaian hitam, Guliwa serta
Sugali segera merangsek menyerang Jaka, Mayang,
dan Laga Lembayung. Teriakan dan pekikan mereka
hingar-bingar memekakkan telinga.
"Hiaaa...!"
"Heaaat...!"
*** 4 Sore yang seharusnya indah dengan angin yang
bertiup semilir tak dapat dirasakan lagi. Puluhan lelaki dan seorang dara cantik
berpakaian jingga terlihat saling hantam, saling tusuk dan saling babat. Mereka
berusaha menjatuhkan lawan secepatnya.
Suara pekikan marah dan kesakitan serta den-
tang senjata beradu berbaur dengan suara pukulan
dan sodokan serta berdebuknya tubuh-tubuh yang ke-
na hajar. Pertarungan yang terpecah menjadi tiga bagian
berjalan cukup seru. Dara jelita yang berjuluk Dewi Payung Emas bergerak manis
dan lincah, berkelebat di antara serbuan senjata lawan.
Meskipun lawan tidak sedikit, namun perlawa-
nan Mayang Sutera belum menggunakan senjata seca-
ra penuh. Senjatanya yang berupa payung logam ma-
sih tertutup, Tetapi serangan balasannya mampu
mendesak sepuluh lelaki berpakaian hitam dan Sugali.
Mayang Sutera hanya melakukan gerak-gerak
cepat menghindar. Dan serangan balasannya hanya
untuk menotok jalan darah lawan. Gerakan Mayang
Sutera terangkum dalam ilmu 'Menepak Laut Meng-
genggam Air' dan 'Totokan Pembeku Gerak'.
"Hiaaa...!"
Bet! Bet! Tuk! Tuk! Terdengar dua jeritan yang hampir bersamaan.
Seiring dengan bergeraknya tangan Mayang yang
menggenggam payung. Ujung senjata yang terbuat dari logam keras berkelebat cepat
menotok punggung dua
lelaki berpakaian hitam yang tengah berada di udara.
Kedua anak buah Sugali itu langsung terjengkang, dan ambruk di tanah tanpa mampu
melanjutkan pertarungan. Para penghuni penginapan yang menyaksikan
pertarungan dari dalam, sempat terkagum-kagum me-
nyaksikan gadis yang berjuluk Dewi Payung Emas itu.
"Ck ck ck...! Gadis cantik itu hebat betul. Tapi apakah mereka bertiga mampu
menghadapi lawan
yang banyak?" ucap seorang lelaki pendek yang men-gintip dari balik jendela
penginapan. Pada saat itu, Jaka tengah berhadapan dengan
Pardira. Pertarungan itu berlangsung cukup seru. Lelaki pendek kurus itu tampak
bernafsu sekali menun-
dukkan Jaka. Sayang, lelaki itu tidak tahu dengan siapa dia berhadapan.
Seandainya sejak pertama tahu,
mungkin dia beserta anak buahnya akan mundur tera-
tur. Tetapi itu tidak terjadi. Pardira dengan mata gelap terus berkelebat
menyerang bagian-bagian peka tubuh
Raja Petir. Jaka segera mengerahkan jurus 'Lejitan Lidah
Petir'. Jurus yang diperuntukkan untuk menghadapi
keroyokan lawan dengan mengandalkan kecepatan leji-
tan seperti petir menyambar. Beberapa serangan ganas lawan kandas dan membentur
tempat kosong. Setiap
kali serangan lawan tiba, yang diserangnya justru lenyap meninggalkan tempatnya.
Kenyataan itu membuat Pardira gusar bukan
main. Mulutnya berteriak-teriak memberi perintah pe-nyerangnya agar lebih cepat
dan terarah. Namun
sayang lawannya Raja Petir. Maka keinginan Pardira
hanya tinggal keinginan. Serangan lelaki berpakaian hitam ini sia-sia saja.
"Hiaaa...!"
"Yeaaat...!"
"Haiiit...!"
Tiga lelaki berpakaian hitam yang merasa pena-
saran, menyerbu Jaka dengan golok-golok berukuran
besar. Sasarannya leher, perut dan dada pemuda itu.
Angin berkesiutan mengiringi datangnya serangan
dahsyat tiga anak buah Pardira.
Tetap seperti kejadian-kejadian awal, ketiga le-
laki itu terpaksa menebaskan senjatanya ke tempat
kosong. Sebab Jaka sudah tak ada di tempat ketika serangan mereka tiba.
Sebaliknya, Jaka menggelar jurus
'Petir Menyambar Elang' yang dipadu dengan jurus
'Lejitan Lidah Petir'.
Tubuh Raja Petir yang berada di udara berputar
balik dan meluruk cepat menyerang ketiga anak buah
Pardira yang masih tertegun.
"Haaat...!"
Plak! Plak! Plak!
Tamparan tangan yang sedikit dialiri tenaga da-
lam, membuat ketiga lelaki itu tak sempat berkutik.
Mereka langsung ambruk ke tanah. Pingsan.
Sengaja Jaka melakukan hal itu. Karena dia
merasa tidak mempunyai hak untuk menghilangkan
nyawa mereka. Apalagi masalahnya belum diketahui
secara pasti. Apa yang dilakukan Jaka ternyata tidak diikuti
Laga Lembayung. Putra Patih Sodrana itu terpaksa
mengeluarkan tangan besi untuk menghadapi lawan-
lawannya yang sangat menginginkan nyawanya.
"Hiaaa...!"
Sebuah sambaran senjata berkelebat mengarah
leher Laga Lembayung. "Heaaat...!"
Belum lagi serangan dari depan sampai, lawan
Laga Lembayung yang lain melejit dari arah belakang dengan senjata yang bergerak
membacok kepala.
Menghadapi serangan cepat dari dua arah yang
berlawanan, tanpa pikir panjang Laga Lembayung
menggelar pukulan jarak jauhnya yang bernama jurus
'Melebur Karang'.
"Haaat..!"
Wrrr...! Serangkum angin keluar dari tangan kanan La-
ga Lembayung yang menghentak. Begitu cepat-nya
hingga lawan yang berada di depan tak mampu menge-
lak.

Raja Petir 14 Ajian Duribang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Brasss! "Aaa...!"
Tubuh lelaki itu terhempas dengan bagian dada
gosong. Nyawanya melayang seketika itu juga.
Laga Lembayung tak peduli melihat kematian
lawan. Pemuda itu masih harus menghadapi serangan
bokongan. Maka, setelah selesai menggelar jurus
'Melebur Karang', tubuhnya berbalik menghadapi se-
rangan lawan. Bet! "Uts!"
Laga Lembayung mencondongkan tubuhnya ke
belakang ketika serangan lawan datang mencecar da-
da. Seiring dengan gerakannya, diam-diam Laga Lem-
bayung menciptakan 'Ajian Duribang' tingkat pertama.
"Hih!"
Bleps! "Aaakh...!"
Tubuh orang berpakaian serba hitam itu lang-
sung terjengkang ke belakang terkena pukulan Laga
Lembayung. Lelaki itu ambruk ke tanah dengan tanda
merah terlihat pada pergelangan kaki. Sedangkan
nyawanya melayang, seiring dengan pukulan yang me-
nerpa dada. "Jangan salahkan aku jika nyawa kalian kuki-
rim ke neraka!" teriak Laga Lembayung keras.
Ucapan putra Patih Sodrana itu ternyata ber-
pengaruh besar pada Guliwa. Lelaki pendek seperti
gentong air itu tertegun tanpa melanjutkan serangan.
"Suiiiit...!"
Tiba-tiba terdengar siulan yang cukup keras.
Siulan yang dilakukan Pardira dengan menge-
rahkan tenaga dalam.
Pada awalnya, Jaka, Mayang dan Laga Lem-
bayung tertegun mendengar siulan yang melengking
tinggi itu. Namun mereka tersadar ketika melihat lawan-lawannya berkelebat
cepat. Mereka membopong
kawan-kawannya yang tergeletak pingsan. Sedangkan
yang menjadi mayat tak dipedulikan. Pardira, Sugali, dan Guliwa bergerak
meninggalkan tempat pertarungan. Diikuti puluhan anak buahnya.
Jaka, Mayang dan Laga Lembayung hanya me-
mandangi kepergian mereka tanpa berusaha mengejar.
Jaka tak ingin mengejar puluhan lelaki berbaju hitam dan tiga lelaki berpakaian
merah karena merasa tak
mempunyai urusan dengan mereka. Begitu juga Laga
Lembayung yang lebih mementingkan segera kembali
ke Kerajaan Suraloka daripada harus mengejar pulu-
han lelaki yang tidak diketahui keinginannya.
Perkelahian telah usai. Beberapa orang yang
menonton pertarungan dari dalam penginapan, dan
seorang lelaki setengah baya pemilik penginapan serta beberapa pembantunya
berhamburan keluar menghampiri Jaka, Mayang dan Laga Lembayung. Mereka
berdecak kagum atas kehebatan ketiga anak muda itu.
"Kalian betul-betul hebat," puji lelaki berpakaian coklat yang tak lain pemilik
penginapan. "Baru kali ini aku menyaksikan mereka tak berkutik."
"Siapa sebenarnya mereka, Ki?" tanya Jaka yang merasa tertarik dengan ucapan
lelaki setengah
baya itu. "Secara jelasnya aku tak tahu siapa mereka,
Anak Muda. Namun pekerjaan mereka sehari-hari
memang membegal pendatang-pendatang baru di Desa
Magetan ini. Mereka menamai dirinya Macan Hutan
Lindung." "Apa markas mereka di Hutan Lindung?" tanya Mayang polos.
"Bisa jadi, Nisanak," ucap pemilik penginapan.
"Hm...," gumam Jaka.
"Aku bangga gerombolan Macan Hutan Lindung
berhasil kalian taklukkan. Tapi, aku juga khawatir mereka melakukan pembalasan
terhadap penginapanku,"
ucap pemilik penginapan dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah pucat.
Ketiga anak muda itu tersentak mendengar
ucapan pemilik penginapan itu.
"Aku akan menunggu kedatangan mereka un-
tuk membalas dendam di penginapan ini, Kisanak,"
ucap Mayang, mencoba menenangkan kekhawatiran
lelaki setengah baya itu.
Jaka memandang wajah kekasihnya, merasa
terharu dengan tanggung jawab yang ditunjukkan
Mayang. "Betul, Ki. Aku akan tetap di penginapan ini
sampai mereka datang untuk membalas dendam. Na-
mun aku lebih berharap mereka tidak melakukannya,"
timpal Jaka. Tatapan pemuda berpakaian kuning keemasan
itu kemudian beralih pada Laga Lembayung.
"Silakan kau kembali ke Kerajaan Suraloka, La-
ga," ucap Jaka, tanpa bermaksud memerintah.
"Kau benar, Kakang Jaka. Aku memang harus
segera menemui ayahku. Aku ingin membuktikan ke-
cemasanku," ucap Laga Lembayung, menyetujui usul Jaka. "Kudoakan tak terjadi
apa-apa di Kerajaan Suraloka, Laga," tukas Jaka seraya memegang bahu Laga
Lembayung. "Aku akan mengunjungimu setelah persoalan di penginapan ini selesai."
"Kalau begitu, aku pergi sekarang. Kutunggu
kedatangan kalian berdua," ucap Laga Lembayung seraya menatap wajah Jaka dan
Mayang bergantian.
"Mari Kakang Jaka, Mayang dan Kisanak semua...."
Tubuh putra Patih Sodrana itu segera berbalik.
Dan melangkah cepat-cepat. Mayang, Jaka dan bebe-
rapa penghuni penginapan menatap tubuh Laga Lem-
bayung dari kejauhan. Sampai tubuh yang terbalut
pakaian kelabu itu lenyap.
Jaka segera memandang wajah pemilik pengi-
napan. 'Maaf, Ki. Bisakah kau menolongku mengurus
mayat-mayat itu?" pinta Jaka sopan.
Pemilik penginapan menganggukkan kepala.
Dengan gerakan tangannya, lelaki setengah baya itu
memerintah pembantu-pembantunya untuk mengurus
mayat anggota Macan Hutan Lindung. Sedangkan Jaka
kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Diikuti
Mayang yang kamarnya bersebelahan dengannya.
*** 5 Udara pagi sangat jernih ketika Laga Lem-
bayung tiba di muka gapura kehormatan Istana Sura-
loka. Dari situ, kira-kira seperempat pal jauhnya, terdapat pagar pembatas dari
beton dengan pintu berlapis baja. Kelihatan sangat tegar dan kuat.
Agak menjorok ke dalam tampak bangunan
yang lebih tinggi dari pagar pembatas. Bangunan tinggi memanjang searah dengan
pagar batas itu ruang pengintaian yang dihuni pasukan panah. Penghuni ban-
gunan pengintai tak kurang lima ratus ahli panah.
Laga Lembayung bersikap tenang, karena tidak
dilihatnya ada hal-hal yang dikhawatirkan, melan-
jutkan langkahnya setelah sesaat tadi memandangi
muka Istana Suraloka yang masih penuh kesan wiba-
wa. Bangunannya nampak terawat rapi. Dan para pen-
jaganya patuh dan sigap.
"Berhenti!"
Sebuah bentakan yang cukup kuat membuat
Laga Lembayung mengurungkan langkahnya yang
tinggal selangkah lagi melewati gapura kehormatan.
Dua penjaga gapura yang bertubuh tinggi kekar
menghadang Laga Lembayung dengan tombak.
"Gerak-gerikmu semenjak tadi kuperhatikan
sangat mencurigakan. Siapa kau" Ada keperluan apa
melintasi gapura kehormatan?" tanya lelaki tinggi ke-
kar dengan kumis kasar melintang.
Laga Lembayung tersenyum mendengar perta-
nyaan penjaga itu. Dia maklum dengan perbuatan-nya
yang mungkin menjadi prajurit jaga setelah Laga Lembayung tak lagi tinggal di
lingkungan kerajaan. Itu sebabnya Laga Lembayung tidak marah. Malah dikagu-
minya kewaspadaan prajurit jaga itu. Kewaspadaan
seperti itulah yang dibutuhkan untuk keamanan suatu kerajaan.
"Namaku Laga Lembayung," ucapnya memper-
kenalkan diri. Laga Lembayung baru hendak meneruskan
ucapannya ketika dilihatnya dari arah belakang penja-ga nampak seorang berlari-
lari kecil ke arahnya. Laga Lembayung tak meneruskan niatnya.
"Tuan muda!"
Panggilan lelaki setengah baya yang tengah ber-
lari itu membuat dua penjaga yang menghadang Laga
Lembayung dengan tombak cepat menarik senjatanya
masing-masing. Kemudian bergerak cepat mundur sa-
tu langkah dengan sikap tegap, dengan tombak dipe-
gang di samping pinggang.
"Tuan muda, mana prajurit-prajurit yang ditu-
gas menjemputmu?" tanya lelaki setengah baya setelah lebih dulu merundukkan
kepala. "Ah, Paman Wibi. Kau sehat-sehat saja?" balik Laga Lembayung mengalihkan
percakapan. Sungguh
tak enak kalau menceritakan kematian delapan praju-
rit kerajaan yang ditemukannya di mulut Desa Mage-
tan. Lelaki setengah baya yang dipanggil Paman Wi-
bi itu menganggukkan kepala.
"Ah! Syukurlah jika begitu," ucap Laga Lembayung. "Bagaimana dengan ayahku,
Paman?" "Beliau sehat. Tak kurang suatu apa," ujar Pa-
man Wibi. Dua prajurit jaga yang mendengar percakapan
Laga Lembayung dengan orang kepercayaan Patih So-
drana menjadi semakin tak enak hati. Jantung kedua
lelaki itu berdebar keras. Sementara paras mereka bersemu merah. Mereka khawatir
kedudukannya akan le-
pas mengingat sikapnya yang kasar pada lelaki yang
begitu dihormati Paman Wibi.
Setelah mendengar kabar baik tentang ayah-
nya, Laga Lembayung segera melangkah menghampiri
dua penjaga yang tadi menghadang perjalanannya.
Jantung dua penjaga itu semakin berdegup kencang
melihat langkah kaki Laga Lembayung yang meng-
hampiri. Berdirinya pun tampak bergetar.
"Namamu siapa, Kisanak?" tanya Laga Lem-
bayung pada lelaki bertubuh kekar yang berkumis ka-
sar melintang. "Hamba... ham...."
Laga Lembayung tersenyum melihat kegugupan
lelaki berwajah kasar di hadapannya.
"Kenapa menjadi gugup seperti itu" Sebagai
seorang prajurit jaga seharusnya bersikap tegas dan tegap. Seperti yang kau
perlihatkan barusan padaku.
Aku suka sikapmu yang pertama itu. Tegas," ujar Laga Lembayung.
Seperti ada air sejuk menyirami hati lelaki ber-
kumis kasar melintang. Hatinya tiba-tiba menjadi tenang. Dan jantungnya berdetak
teratur. Semua itu
berkat ucapan Laga Lembayung yang begitu penuh wi-
bawa. "Nama hamba Jonawa, Tuan Muda," ucap lelaki berkumis kasar melintang
tegas. "Nah, begitu! Dan kau?" tanya Laga Lembayung pada lelaki bertubuh tegap tanpa
kumis. Rambutnya
ikal berwarna hitam legam.
"Hamba Lapak, Tuan Muda," jawab lelaki yang berdiri di sebelah kanan Jonawa.
"Bagus! Aku senang dengan sikap yang kalian
tunjukkan. Sebagai prajurit jaga, modal kalian adalah kewaspadaan penuh pada
setiap keadaan. Jangan sekali-kali lengah. Karena kelengahan kalian berakibat
kekacauan bagi kerajaan ini," tukas Laga Lembayung menasihati. "Namun, hiasilah
kewibawaan kerajaan ini dengan budi yang luhur serta sopan-santun kalian."
Dua prajurit jaga itu hanya menundukkan ke-
pala mendengar ucapan Laga Lembayung yang dirasa-
kan sangat benar dan patut dijunjung tinggi.
"Aku maklum kalau kalian tak mengenalku.
Sudah tujuh tahun lebih aku meninggalkan Kerajaan
Suraloka. Mungkin kau bertugas di kerajaan ini setelah aku tidak di sini.
Prajurit! Angkat kepala kalian.
Dan tatap wajahku," pinta Laga Lembayung
Prajurit jaga yang bernama Jonawa dan Lapak
serta-merta mengangkat wajah. Mata mereka nampak
takut-takut menatap wajah putera Patih Sodrana.
"Kalian ingat baik-baik. Namaku Laga Lem-
bayung, putra Patih Sodrana," ujar Laga Lembayung.
"Ohhh...."
Ada nada keterkejutan yang terlontar begitu sa-
ja dari mulut prajurit jaga itu.
"Di antara kita tak ada perbedaan, Paman Jo-
nawa dan Paman Lapak," kilah Laga Lembayung.
"Asalkan kita dapat saling menghormati kepentingan masing-masing. "
Dua prajurit jaga itu menundukkan kepala
mendengar ucapan luhur putra Patih Sodrana. Sung-
guh keduanya mengagumi sikap dan budi pekerti lela-
ki muda yang berdiri di hadapannya. Yang menurut
mereka begitu luhur.
"Kembalilah pada tugas masing-masing," perin-
tah Laga Lembayung seraya memegang pundak salah
seorang prajurit jaga.
Dua prajurit jaga itu segera mematuhi perintah
Laga Lembayung setelah lebih dulu menjura hormat
"Sebaiknya lekas kita temui ayah. Paman," ajak Laga Lembayung pada Paman Wibi.
"Ayo, Tuan Muda," timpal Paman Wibi. Lalu melangkah lebih dahulu. Diikuti Laga
Lembayung dengan langkah panjangnya, hingga keduanya melangkah
sejajar. *** Suasana di kepatihan sunyi dan lengang. Angin
berhembus semilir menggoyangkan pucuk-pucuk ce-
mara yang tumbuh berjajar rapi. Sejauh mata meman-
dang, yang terlihat hanya taman-taman indah di su-
dut-sudut lingkup kepatihan.
Burung-burung kecil bersenandung sambil ber-
lompatan dari ranting ke ranting, menambah keinda-
han suasana kepatihan. Sementara di tempat-tempat
tertentu tampak beberapa prajurit jaga menunaikan
tugasnya. Mereka menjura ketika melihat kedatangan


Raja Petir 14 Ajian Duribang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Paman Wibi dan Laga Lembayung.
Memasuki halaman rumah Patih Sodrana, Laga
Lembayung dan Paman Wibi disambut dengan tundu-
kan kepala empat prajurit jaga. Laga Lembayung
membalas penghormatan mereka.
"Anakku...!" sambut seorang lelaki tua berpakaian putih bergaris renda keemasan,
Lelaki berusia lima puluh dua tahun itu menghambur menyongsong
Laga Lembayung yang berdiri tegak di ruang utama
kepatihan. "Ayah...!"
Laga Lembayung pun melakukan hal yang sa-
ma. Mereka berangkulan melepaskan kerinduan yang
bertahun-tahun terpendam di dasar hati. Suasana ha-
ru meliputi ruang utama kepatihan itu.
"Kau bertambah tampan dan gagah, Anakku,"
ujar lelaki berambut panjang yang digelung ke atas.
Dialah Patih Sodrana, ayah kandung Laga
Lembayung. "Ah, Ayah. Kau pun begitu. Meski usiamu ber-
tambah, namun wibawa Ayah tak kalah bertambah-
nya," timpal Laga Lembayung.
Patih Sodrana tersenyum mendengar ucapan
anaknya. Kemudian tangannya kembali terulur me-
rangkul tubuh Laga Lembayung. Saat itu ingatan Patih Sodrana kembali pada masa
ketika ibu Laga Lembayung masih hidup. Istrinya, Saraswati, amat me-
nyayangi Laga Lembayung. Namun sayang dia harus
menghadap Sang Pencipta untuk selamanya di saat
putra satu-satunya berusia sebelas tahun.
"Kau bertemu di mana dengan delapan prajurit
yang kuutus?" tanya Patih Sodrana sambil mengajak putranya duduk.
Laga Lembayung tidak segera menjawab perta-
nyaan ayahnya. Tatapannya beralih ke wajah Paman
Wibi. "Terima kasih atas kesediaanmu mengantarku, Paman," ucap Laga Lembayung
dengan harapan Paman Wibi mengerti kalau dirinya hanya ingin berdua
saja dengan ayahnya.
Paman Wibi memang orang yang cerdik dan
berwawasan luas. Dia mengerti maksud ucapan Laga
Lembayung. Maka, lelaki itu segera menundukkan ke-
pala dan memohon diri.
*** "Ahhh...!"
Patih Sodrana terkejut mendengar cerita Laga
Lembayung akan kematian delapan prajurit kerajaan
yang ternyata diutus ayahnya untuk menjemputnya.
"Apakah kematian mereka perlu kita laporkan
ke hadapan Prabu Lokawisesa?" tanya Laga Lem-
bayung hati-hati.
"Melaporkan kematian mereka memang harus,
Laga." jawab Patih Sodrana seraya memandang barisan pohon cemara yang kelihatan
melalui jendela. "Namun kita harus memberikan alasan yang tepat agar Prabu
Lokawisesa tidak menjadi resah atas kabar buruk ini."
"Kurasa kematian mereka karena hal yang bi-
asa Ayah. Tidak ada sangkut-pautnya dengan wibawa
kerajaan. Barangkali saja dalam perjalanan mereka
bertemu sekawanan pembegal yang menginginkan har-
ta-harta mereka," ucap Laga Lembayung mencoba
mencarikan jalan keluar.
Patih Sodrana mengangguk-angguk mendengar
kemungkinan yang dipaparkan putranya.
"Kemungkinan itu mungkin benar, Laga. Tapi
yang jelas keamanan di sekitar kerajaan perlu dilipat-gandakan. Dan kewaspadaan
harus ditingkatkan.
Khususnya bagi diri kita," timpal Patih Sodrana.
Kini Laga Lembayung yang mengangguk mem-
benarkan ucapan ayahnya.
"Ah. Kau kelihatan lelah sekali, Laga. Sebaiknya beristirahatlah dulu. Ceritanya
bisa kita lanjutkan nanti," putus Patih Sodrana seraya memegang bahu putranya.
Laga Lembayung tak membantah ucapan ayah-
nya. Dia memang sangat lelah dan perlu istirahat untuk mengembalikan tenaganya
seperti semula.
"Besok pagi kita menghadap Maha Pati Gempita
dan Prabu Lokawisesa," ucap Patih Sodrana.
Laga Lembayung mengangguk. Kemudian berla-
lu meninggalkan ayahnya menuju kamar.
*** 6 Di ruangan Prabu Lokawisesa kegembiraan se-
dang melanda. Prabu Lokawisesa menampakkan air
muka cerah. Berkali-kali senyumnya tercipta, yang tertuju pada Laga Lembayung.
Lelaki bertubuh tegap dan tampan.
Di sebelah kanan Laga Lembayung duduk den-
gan khidmat Patih Sodrana dan Maha Patih Gempita.
Beliau adalah saudara lain ibu dengan Prabu Lokawi-
sesa. Maha Patih Gempita putra seorang selir men-
diang ayah Prabu Lokawisesa. Namun selama belasan
tahun dia tidak menetap di Istana Suraloka. Maha Patih Gempita tinggal di sebuah
padepokan yang berada di luar kerajaan. Ketika dia berkeputusan menetap di
istana, Prabu Lokawisesa memberinya jabatan sebagai maha patih. Meskipun di
Kerajaan Suraloka sudah ada seorang patih, yakni Patih Sodrana. Pemberian
jabatan itu dilakukan sang Prabu karena rasa persaudaraan
yang tinggi pada Maha Patih Gempita. Walaupun dia
anak seorang selir. Di Kerajaan Suraloka kini ada seorang patih dan maha patih.
"Aku senang melihatmu kembali, Laga," ucap Prabu Lokawisesa dengan senyum
terkembang. "Menurutku, sekarang kau bukan Laga Lembayung yang du-
lu. Tubuhmu nampak kekar dengan otot-otot bersem-
bulan keluar sebagai simbol kegagahan," puji Prabu Lokawisesa gembira.
Laga Lembayung merasa risih mendapat pujian
demikian dari orang yang sangat dihormatinya. Maka
sebisanya putra Patih Sodrana itu menyembunyikan
kerisihannya dengan menundukkan kepala dalam-
dalam. "Laga. Kehadiranmu di tengah-tengah kami kini adalah sebagai Laga
Lembayung yang telah memiliki
kemampuan ilmu silat yang tidak bisa dianggap remeh.
Kuduga kemampuanmu lebih tinggi dari punggawa-
punggawa di kerajaan ini. Atau bahkan mampu mele-
bihi kepandaian ayahmu, dan Maha Patih Gempita.
Aku bangga jika hal itu benar nyata. Aku akan mem-
Parit Kematian 1 Senopati Pamungkas I Karya Arswendo Atmowiloto Bloon Cari Jodoh 2
^