Pencarian

Raja Lihai Langit Bumi 3

Rajawali Emas 03 Raja Lihai Langit Bumi Bagian 3


Rupanya, gabungan tenaga lima orang lebih tinggi dari pada tenaga yang dimiliki
Tirta. Kendati demikian, masing-masing terluka parah pula didada bagian dalam.
Dan yang dialami oleh Iblis Air ternyata lebih parah. Sejak pertama dia sudah
terluka dalam dan makin menderita saja
sekarang. Tubuhnya langsung ambruk
setelah beberapa saat bertahan. Dan
nyawanya putus setelah berkali-kali
muntah darah. Iblis Angin menggeram setinggi
langit. Masih dalam keadaan terluka dia meluncur deras ke arah Tirta yang sedang
berusaha bangun. Tak mungkin lagi pemuda dari Gunung Rajawali itu bisa
menghindari serangan. Namun dalam detik
yang menentukan, mendadak saja dikibaskan
tangan kanannya yang telah dirangkum
tenaga dari Rumput Selaksa Surya.
Angin terang yang panas menderu
menyongsong Serangan Iblis Angin. Bila
saja Iblis Angin tak langsung membuang
tubuh ke kanan, tak mustahil tubuhnya
akan hangus dan mati secara mengerikan!
"Gila! Dalam keadaan parah seperti itu pemuda ini masih mampu mengeluarkan
tenaga panas membara," pias wajah Iblis Angin membatin dalam hati. "Tak mungkin
bisa dikalahkan
sekarang. Tak bisa
kujajaki lebih tinggi mana ilmunya dengan Bidadari Hati Kejam. Persetan dia
telah memperlihatkan salah satu jurus pengebut Bidadari Hati Kejam! Lebih baik
menyingkir untuk buat perhitungan lebih lanjut!"
Berpikir begitu, Iblis Angin dengan
agak terhuyung, mendekati tiga temannya yang telah bangkit dan mengerumuni mayat
Iblis Air. Diutarakan apa yang jadi
pertimbangannya sekarang. Dan ketiga
temannya pun setuju dengan usulnya.
Lalu dengan tampang penuh dendam
Iblis Angin berseru lantang pada Tirta,
"Urusan sudah membentang. Kami akan datang untuk menjemput ajalmu, Rajawali
Emas!" Tirta hanya terdiam sambil menahan
rasa sakit yang dideritanya. Tak
dihiraukannya ketika empat orang jubah
hitam itu berlalu. Iblis Bayu membopong
mayat Iblis Air.
"Untunglah mereka tak meneruskan
pertarungan ini. Kalau tidak, bisa-bisa justru aku yang akan mampus," desis
Tirta. Lalu dibawah derai hujan yang
makin menderas, ditangkupkan kedua
tangannya di dada dan segera dialirkan
tenaga surya kesekujur tubuhnya guna
mengusir hawa dingin dan rasa sakit.
Selagi Tirta berkonsentrasi penuh,
mendadak saja pendengarannya yang tajam menangkap suara ranting patah. Cepat
dibuka kedua mata, dipentangkan keasal
suara. Melengak dengan tatapan melebar, si
Rajawali Emas ketika melihat seorang
lelaki tua berpakaian compang-camping
dengan rambut panjang dan sebuah tongkat kusam, sedang mencabut Pedang Batu
Bintang yang menancap di batu dengan
tangan kanannya.
Krak! Ketika Pedang Batu Bintang berhasil
dicabut, batu yang tertancap tadi rengkah dan luruh menjadi debu. Langsung
menghilang terkena derai hujan.
Sementara itu, Tirta langsung mengem-
pos tubuhnya sambil berseru, "Manusia keparat! Kembalikan Pedang Batu Bintang
kepadaku!"
Orang tua compang-camping yang baru
datang itu hanya mengibaskan tangan
kirinya tanpa berbalik, sementara tangan kanannya masih memegang Pedang Batu
Bintang. Wussstt! Gelombang angin menderu menghampar.
Bila saja saat ini pemuda dari Gunung
Rajawali itu tidak terluka dalam, dengan mudahnya serangan itu bisa dihindari.
Tubuh Tirta terhantam hingga terpelanting kebelakang. Masih untung telah
dialirkan tenaga surya dalam tubuhnya guna
mengobati luka dalamnya tadi, hingga
pelantingan tubuhnya meskipun keras masih bisa dikendalikan.
Sementara orang tua yang kini
memegang Pedang Batu Bintang berkata
dengan suara dingin, Tak kusangka senjata ampuh ini akan jatuh ketanganku.
Bagus! Urusan dengan Raja Lihai Langit Bumi akan bisa diselesaikan!"
Habis kata-katanya, mendadak saja
orang tua compang-camping itu kelebatkan tubuh. Di seberang, Tirta yang berusaha
bangkit berseru tertahan sambil
mengibaskan tangannya,
"Berhenti!"
Gelombang tenaga panas luar biasa
menderu. Kelebatan tubuh orang tua
berpakaian compang-camping itu terhenti dan terkesiap merasakan panas yang
menggelora. Orang itu segera memutar
tubuh ke atas, dua kali berlompatan, lalu
mengangkat kedua tangannya dan berputar lagi untuk hinggap di tanah dengan
pentangkan kedua kaki.
Tenaga surya yang dilepaskan Tirta,
menghantam pepohonan yang ada di sana
yang hangus seketika dan sisa hamparan
angin panas itu menghantam dinding Bukit Watu Gening yang langsung memuncratkan
bebatuan sesaat tanah bergetar.
Ketika Tirta akan melepaskan
serangannya lagi, sosok orang yang akan diserangnya sudah tak nampak didepan
mata. "Celaka, Pedang Batu Bintang telah didapat orang," geram si Rajawali Emas sambil
menurunkan tangan. Wajahnya
berkerut menandakan dia dalam kemarahan tinggi. "Kalau tak salah ingat, aku
pernah melihat tokoh berpakaian compang-camping itu ketika menyelamatkan Guru
dari serangan maut Manusia Mayat Muka
Kuning, Dewi Kematian dan Ratu Tengkorak Hitam. Orang tua yang memiliki mata
putih tanpa bola mata. Dan kalau tidak salah, tokoh
yang mencuri pedangku itu
dijuluki... Siluman Buta. Keparat, Aku harus kejar manusia laknat itu sebelum
dia turunkan darah yang akan membanjiri rimba persilatan ini, Lalu apa maksudnya
urusan dengan Guru" Apakah dia mempunyai dendam pada Guru" Aku harus tahu
jawabannya di samping mendapatkan Pedang
Batu Bintang kembali. Sebaiknya kube-
baskan dulu gadis-gadis itu."
Dengan agak terhuyung dan setengah
memaksa, Tirta bangkit, membebaskan
gadis-gadis yang terikat. Setelah mele-
takkan kelima gadis itu ke bawah pohon
agak terlindung dari hujan, Tirta menepuk tangannya tiga kali berturut-turut.
Tepukan itu bukan tepukan biasa. Di sela-sela tepukannya dia mengangkat
tangannya keangkasa. Cahaya merah muncrat membedah angkasa. Lalu ditunggunya beberapa
saat. Dan mendadak saja, di angkasa, dalam
gelapnya mayapada, nampak satu bayangan raksasa menderu. Angin dahsyat yang
ditimbulkan membuat suasana bertambah
dingin. Disusul dengan suara keras
memecah hujan. "Koaaaaakkk!"
"Hmmm... dia muncul juga rupanya!"
Bayangan raksasa tadi menukik ke bawah
dengan cepatnya dan hinggap berjarak lima belas tombak dari tempat Tirta
berdiri. Gemuruh kepakan kedua sayap burung
rajawali yang tak lain Bwana itu
memuncrat tanah becek. Dan bagai
menggumpal jadi satu kembali begitu luruh pada bumi.
Dengan cepat Tirta menghampiri burung
rajawali raksasa itu. Burung yang
memiliki paruh besar dan kokoh. Meleng-
kung kuat dengan ujung runcing tajam.
Lehernya penuh dengan bulu tebal berwarna keemasan bercampur kemerahan. Di atas
kepalanya terdapat jambul berwarna
keemasan yang sangat terang. Bulu burung di bagian badan berwarna keemasan
bercampur kemerahan dan kebiruan. Di
sayapnya berwarna keemasan bercampur
warna abu-abu. Yang paling menarik adalah ekornya, yang lebar panjang berwarna
keemasan. Utuh seperti jambul di atas
kepalanya. Kedua kakinya yang sebesar
kaki manusia dewasa itu tampak kering dan sekeras baja, agak bersisik dan jari-
jarinya mekar dengan kuku-kuku runcing
yang tajam dan melengkung pula. Bola
matanya yang besar berwarna kemerahan.
Tak seperti biasanya kalau dia
memanggil Bwana, Tirta akan menyapanya.
Tetapi, dikarenakan dia harus bergerak
cepat, maka dia berkata dengan nada
terburu-buru, "Bwana aku terpaksa memanggilmu. Ada orang yang mencuri pedangku."
Burung rajawali keemasan itu menge-
luarkan suara koakan pelan. Sepasang
matanya yang membulat besar memerah itu bergerak-gerak mengerti ucapan Tirta.
Saat itu koakannya lagi terdengar.
"Tak ada waktu untuk menjelaskannya, Bwana. Baiklah, sambil lalu aku akan
menceritakannya. Sekarang kita cari orang yang mencuri Pedang Batu Bintang. Kita
tak boleh buang waktu," kata Tirta dengan suara agak memburu.
Mengerti ucapan orang, Bwana mengang-
guk-anggukkan kepala. Begitu Tirta melompat dan duduk di bagian antara leher dan
punggung, burung rajawali yang besarnya empat kali gajah dewasa itu, segera
mengangkasa. Tinggalkan Bukit Watu Gening yang
kembali dibungkus kesunyian.
* * * 9 Orang tua compang-camping yang baru
saja mendapatkan Pedang Batu Bintang
menghentikan langkah disebuah jalan
setapak. Di sekeliling jalan itu dipenuhi dengan semak belukar setinggi dada.
Orang tua bertongkat kusam dengan wajah tirus itu menolehkan kepala ke kanan
dan kekiri. Gerakan kepalanya nampak aneh.
Karena sesungguhnya orang tua itu memang buta dan dialah yang dijuluki Siluman
Buta. Tokoh rimba persilatan yang
memiliki sejuta dendam pada Raja Lihai
Langit Bumi! Yang meskipun kedua matanya buta, namun pendengarannya lebih tajam
dari pendengaran
serigala. Dia bisa
mendengar suara dari jarak ratusan
tombak. "Beruntunglah aku yang datang ke
Bukit Watu Gening dan mendengar perta-
rungan hebat. Hmmm... Lima Iblis Puncak Neraka sudah muncul kembali. Aku tahu
kalau manusia-manusia itu punya dendam
pada Bidadari Hati Kejam. Dan kehebatan pemuda yang berjuluk si Rajawali Emas
memang terbukti, bukan
hanya mampu mengalahkan Lima Iblis Puncak Neraka,
tetapi juga membunuh salah seorang dari mereka. Peduli setan! Itu bukan
urusanku! Memanfaatkan Pedang Batu Bintang ini,
urusan dengan Raja Lihai Langit Bumi akan berjalan sesuai dengan keinginanku.
Kemana kucari orang tua keparat yang
telah bikin aku malu di Lembah Maut itu?"
Usai berkata-kata yang bernada geram,
marah dan muak, Siluman Buta kembali
menolehkan kepala. Bukan indera mata yang dipergunakan, tetapi indera
pendengarannya yang sangat tajam.
"Hmmm... lebih baik kutinggalkan
tempat ini." Namun belum lagi di
tinggalkan tempat itu, mendadak
saja kepalanya ditolehkan kekanan. Pendenga-
rannya yang tajam menangkap kelebatan
cepat ke arahnya.
"Sinting! Urusan selalu ada saja!
Hmmm... baiknya kutunggu saja siapa yang datang?"
Berfikir sampai di situ, Siluman Buta
berdiri tegak menunggu dengan tangan
kanan memegang Pedang Batu Bintang dan
tangan kiri bertumpu
pada tongkat kusamnya. Orang yang berkelebat itu pun tiba di
hadapannya. Berdiri dalam jarak lima
tombak. "Hmmm... tepat dugaanku. Sejak orang tua buta melewati sungai di sebelah timur
sana, aku yakin yang dipegangnya adalah Pedang Batu Bintang. Bagaimana ia bisa
mendapatkannya dari tangan si Rajawali
Emas" Apakah
dia mendapatkan secara
curang, ataukah dia telah mengalahkan Si Rajawali Emas. Bisa jadi...."
Kata-kata batin orang yang baru
datang itu putus ketika Siluman Buta
mengeluarkan suara
dingin, "Dari bau
susur yang menguap, jelas yang datang nenek jelek baju hitam panjang. Hmm...
Ratu Tengkorak Hitam, urusan apa kau
menghalangi langkahku?"
Orang yang baru datang yang memang
kenakan baju hitam panjang sambil
mengunyah susur


Rajawali Emas 03 Raja Lihai Langit Bumi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang tak lain Ratu
Tengkorak Hitam keluarkan suara tak kalah dingin, "Lima tahun keluar sarang
berburu Batu Bintang. Sampai Batu Bintang telah ditempa jadi pedangmu perburuan
masih dicari. Siluman Buta, serahkan Pedang
Batu Bintang kepadaku"!"
Terbahak-bahak Siluman Buta mendapati
ancaman orang. "Ilmu baru sejengkal berani lancang hadapi Siluman Buta. Apakah kau tak sadar
kalau umurmu akan sampai disini?"
Mengkelap wajah Ratu Tengkorak Hitam.
Kunyahan susurnya makin cepat hingga air warna merah yang keluar dari susur
makin banyak dan tanpa perasaan jijik langsung dijilatnya.
"Urusan sudah ada di depan mata! Tak lagi aku ulangi kata! Serahkan Pedang
Batu Bintang padaku bila masih sayang
nyawa!" Makin keras tawa Siluman Buta. "Hebat bila Ratu Tengkorak Hitam berani umbar
ancaman. Sayangnya, justru kau yang
akan...." "Tutup mulutmu, Orang Tua Buta!"
geram Ratu Tengkorak Hitam. Dan tangan
kanan kirinya bergerak cepat. Jurus
'Jalan Hitam Kematian' telah dilepaskan.
Sinar hitam menghampar mengeluarkan
hawa panas diiringi dengan gemuruh angin besar. Siluman Buta menelengkan kepala.
Tangan kirinya yang memegang tongkat,
diangkat dan diturunkan. Sangat cepat.
Lalu bergetar bagai gelombang angin
dahsyat kearah serangan Ratu Tengkorak
Hitam. Byuuaarr!! Sinar hitam yang mengancam nyawanya
tadi, langsung buyar berantakan. Menim-
bulkan letupan kecil dan sinar yang
muncrat. Yang mengejutkan nenek baju hitam
panjang itu, karena angin yang ditimbulkan oleh gerakan tongkat Siluman Buta
terus menderu ke arahnya. Terkesiap si
nenek melompat ke kanan, lalu dengan
pencalan satu kaki menderu ke muka.
"Tak tahu diuntung." geram Siluman Buta dengan wajah berubah ketika merasakan
angin panas makin mendekat.
Tiba-tiba saja kembali digerakkan
tongkatnya. Lebih cepat dari yang
pertama. Gelombang angin menderu mengarah pada Ratu Tengkorak Hitam yang kedua
tangannya telah berubah menghitam siap
menghantamkan pukulan 'Jalan Hitam
Kematian' dari jarak dekat. Namun mera-
sakan angin lebih dahsyat dari angin yang ditimbulkan
gerakannya, cepat diempos
tubuhnya kekiri. Si nenek tak ingin
terjadi benturan, karena mulai disadarinya kehebatan tongkat kusam di tangan
orang buta itu. Dari emposan
dia berputar. Kaki kanannya sangat cepat
menyambar kearah kepala Siluman Buta yang dengan entengnya memiringkan kepala.
Dan tanpa bergeser dari tempatnya, orang tua buta ini mengangkat kakinya.
Paha kanan Ratu Tengkorak Hitam
terhantam telak Bila saja nenek baju;
hitam panjang itu tak segera kuasai
keseimbangannya, tanpa ampun lagi dia
akan ambruk. Namun akibat tendangan tadi, dirasakan tulang pahanya bagai patah.
Agak terhuyung dia bangkit sambil menahan nyeri.
Terdengar suara penuh ejekan dari
Siluman Buta. "Sekarang, ingin kulihat kehebatan Pedang Batu Bintang ini!"
Pucat pasi wajah nenek baju hitam
panjang. Diam-diam kedua tangannya segera merangkum jurus 'Undang Maut Sedot
Darah', yang sampai saat ini tak pernah diketahuinya bagaimana Dewi Karang
Samudera bisa menguasai jurus dahsyat
milik 'Raja Lihai Langit Bumi' itu dan
mengajarkan padanya.
Namun ketegangan yang melanda diri
Ratu Tengkorak Hitam bagai tertahan,
karena tiba-tiba saja dilihatnya Siluman Buta menggerakkan kepala ke arah kiri.
"Mengapa tak teruskan serangannya"
Apakah dia menunggu saat yang tepat, atau tahu kalau aku siap mempergunakan
jurus 'Undang Maut Sedot Darah'" Atau... adakah sesuatu yang lain?"
Tak mempedulikan keheranan si nenek,
Siluman Buta membatin, "Gila! Ada dua manusia yang datang. Dari bau busuk yang
menguap dan bau aroma wangi, aku bisa
tahu siapa orang-orang yang datang ini.
Kedatangan dua orang ini lebih berbahaya
dari nenek baju hitam yang selalu
mengunyah susur ini. Meskipun aku tak
punya silang sengketa pada kedua orang
yang pasti menuju ke sini, tetapi dengan Pedang Batu Bintang di tanganku,
keduanya akan kuhajar sampai mampus!"
Orang tua berbaju compang-camping itu
tegak itu memilih menunggu dua orang yang kelebatannya tertangkap oleh telinga
tajamnya. Meskipun nampak tenang, namun kelihatan jelas kalau dia menindih
segenap perasaan tegangnya.
Dan hal itu tak luput dari pandangan
Ratu Tengkorak Hitam yang diam-diam
mempergunakan kesempatan itu untuk
beringsut. Kedua tangannya masih merangkum jurus 'Undang Maut Sedot Darah',
bersiap-siap menjaga segala kemungkinan.
Hanya dalam dua kejapan mata saja,
dua orang yang dibawa Siluman Buta, telah berdiri dihadapannya.
Berjarak tiga tombak. Tak ada kata yang terucap. Namun dua pasang mata dari dua pendatang
barusan, nampak melebar menatap pedang
yang ada di genggaman tangan kanan
Siluman Buta. "Pedang Batu Bintang!" terdengar suara perempuan begitu mengenali ciri
pedang di tangan Siluman Buta.
Sementara Ratu Tengkorak Hitam
tertegun. "Gila! Mungkin kedatangan keduanyalah yang membuat orang tua buta
ini menghentikan niatnya untuk memper-
gunakan Pedang Batu Bintang. Luar biasa!
Aku sendiri tak menangkap gerakan
keduanya, tetapi orang tua buta ini bisa tahu kalau ada yang datang. Bagusnya,
kekalahanku dan kedatangan keduanya bisa kujadikan mengapa aku lari meninggalkan
mereka." "Hmmm... tak salah dugaanku. Aroma wangi yang menguap dari tubuh orang yang
barusan berucap, jelas dia adalah Dewi Kematian. Dan yang satu lagi, sudah pasti
si Jelek yang berjuluk Manusia Mayat Muka Kuning," batin Siluman Buta. "Rasanya
urusan sudah membentang didepan mata. Aku tahu kalau Dewi Kematian menghendaki
Pedang Batu Bintang. Dan kemunculan
Manusia Mayat Muka Kuning apa lagi kalau bukan urusan dengan Bidadari Hati
Kejam. Tak ada urusanku dengan nenek berkonde
itu kecuali sahabatnya yang berjuluk Raja Lihai Langit Bumi."
Habis membatin, Siluman Buta berkata,
"Selamat datang dan bertemu kembali denganku, Dewi Kematian dan Manusia Mayat
Muka Kuning. Dari dengus napas kalian,
jelas kalian tergesa-gesa. Urusan apakah yang ada di depan mata hingga kalian
menghentikan langkah?"
Perempuan bercadar sutera yang
mengenakan baju sutera pula yang terbuat rendah di dada hingga memperlihatkan
sebagian besar bungkahan payudaranya yang minus dan belahan baju bagian bawah
hingga pangkal pahanya yang berjuluk Dewi Kematian menggeram, "Orang buta
keparat! Jangan jual lagak di hadapanku! Sudah
tentu kau tahu apa yang kami hendaki!
Pedang Batu Bintang yang ada di tanganmu itu"!"
"Persis dugaanku apa yang mereka
inginkan," batin Siluman Buta sambil tersenyum. Lain dengan suara yang masih
tenang dia berujar kembali, "Pedang Batu Bintang ada di tangan. Bila kalian
hendaki, nampaknya ada halang rintang."
Mengkelap wajah di balik cadar sutera
itu. "Sekali lagi kukatakan jangan jual lagak!"
"Apakah kalau aku telah menjual kau mau membeli?" balas Siluman Buta yang
membuat darah Dewi Kematian benar-benar mendidih.
Manusia Mayat Muka Kuning sudah tak
bisa menahan diri Sebelum Dewi Kematian hempaskan kata-kata, dia sudah
menjentikkan tangan kanannya
Trik! Srraaat! Lima larik sinar kuning menderu ke
arah Siluman Buta, yang segera menelengkan kepala menangkap suara desisan halus
itu. "Kau masih berada di bawah kaki
perempuan bahenol itu, Manusia Mayat Muka Kuning! Apakah kau tidak tahu kalau
dia sudah jadi semacam piala bergilir?"
sambil ucapkan kata-kata penuh ejekan,
Siluman Buta menggerakkan tangan kirinya yang meregang tongkat, berputar dua
kali. Mendadak melesat angin deras ber-
putar, menyambut serangan sinar kuning
dari orang tua kurus bertonjolan tulang pada dada. Angin berputar itu bagai
menangkup sinar kuning dan seperti
digerakkan bagai menekan. Lima larik
sinar kuning yang dilepaskan Manusia
Mayat Muka Kuning putus di tengah jalan!
Membesi dan makin pucat laksana mayat
muka orang tua bercelana pangsi hitam
itu. "Kau benar-benar unjuk gigi di
hadapanku!" Usai kata-katanya, digerakkan kembali tangannya, kali ini kedua-
duanya. Kembali sinar kuning melesat dahsyat.
Menyadari kalau lawan melipatgandakan
tenaga dalamnya, Siluman Buta kembali
menggerakkan tangan kirinya dengan melipatgandakan tenaga dalam pula. Angin
berputar yang lebih menghampar mengerikan, lebih dahsyat terjadi.
Dua serangan bertemu.
Pyaaarr! Suara cukup keras terdengar.
Bersamaan dengan itu tanah di mana
bertemunya dua serangan tadi muncrat
menghalangi pandangan. Ketika tanah dan dedaunan yang beterbangan menghalangi
pandangan tadi luruh, terlihat sosok
Siluman Buta mundur tiga tindak sambil
mengeluh tertahan. Sementara Manusia
Mayat Muka Kuning masih berdiri tegak.
"Celaka! Tenaga dalamnya lebih tinggi dariku. Bisa,
berabe kalau begini.
Apalagi bila perempuan bercadar yang
montok itu turut membantu. Tetapi, dengan Pedang Batu Bintang di tanganku, aku
tak akan mundur setapak juga dan tak akan
kulepaskan dua manusia ini," batin Siluman Buta dengan wajah mengkelap.
Manusia Mayat Muka Kuning hanya
pentangkan senyum mengejek dengan kedua tangan bersedekap di dada. Bagai mencoba
menyembunyikan tonjolan tulang-tulangnya.
Di matanya yang memancar kejam, sangat
jelas satu keinginan untuk menuntaskan
nyawa Siluman Buta.
Sedangkan Ratu Tengkorak Hitam yang
merasa harus mempergunakan kesempatan
untuk memainkan peranan liciknya,
langsung berucap, "Dewi... aku tahu kalau manusia buta itu telah miliki Pedang
Batu Bintang. Itulah sebabnya aku meninggalkan kalian berdua di gubuk. Ini
kesempatan kita untuk mendapatkannya, Dewi!"
"Diam kau, nenek jelek! Atau kusobek mulutmu bila tak mau diam"!" sentak Dewi
Kematian dengan sepasang mata melotot di balik cadar suteranya.
Seketika terkunci mulut Ratu
Tengkorak Hitam. Dalam hati dia membatin geram, "Untuk saat ini aku masih
menuruti apa yang kau inginkan, Dewi Tetapi jangan berharap kau akan mendapatkan
aku tunduk terus menerus di tanganmu. Bila kau sudah bunuh lelaki tua buta
keparat itu, akan kugunakan kesempatan untuk merebut dan
melarikan Pedang Batu Bintang. Kau akan terkejut menyaksikan semuanya
nanti. Baiknya, kulihat saja apa yang akan
terjadi dan pergunakan kesempatan ini
selagi mereka akan bertarung untuk
sembuhkan pahaku yang bagai remuk."
* * * 10 Mendadak saja terdengar ledakan yang
sangat keras. Tempat itu bergetar hebat.
Semak belukar yang tercabut lebih banyak.
Jalan setapak yang hanya lebar satu
tombak saja, kini membentuk lapangan
karena banyaknya semak
yang terpapas hangus. Rupanya, di saat Dewi Kematian sedang
membentak Ratu Tengkorak Hitam, Manusia Mayat Muka Kuning sedang melancarkan
serangan dahsyat pada Siluman Buta. Di
mana lelaki tua yang buta itu langsung
menggunakan Pedang Batu Bintang menyambut serangan Manusia Mayat Muka Kuning.
Ledakan yang terdengar tadi karena
deru angin yang terhampar saat Pedang
Batu Bintang digerakkan oleh Siluman Buta menghantam serangan Manusia Mayat Muka
Kuning yang terkesiap dan cepat membuang tubuh ke kanan. Namun bersamaan angin
yang menderu kencang tadi, memancarkan
pula sinar keemasan yang cukup
menyilaukan. Membuat Manusia Mayat Muka Kuning terpekik dan meskipun dia
berhasil menghindari gempuran angin dahsyat itu, namun tak urung punggungnya
terpapas sinar keemasan.
Hanya sekilas sebenarnya. Namun orang
tua muka kuning yang kejam itu menjerit setinggi langit! Punggungnya yang agak


Rajawali Emas 03 Raja Lihai Langit Bumi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mencangkung, tergores luka yang dalam dan seketika sayatan itu membuat daging
dan kulitnyan hangus. Segera dialirkan hawa murninya
menahan aliran panas yang
mendadak meraja di tubuhnya.
Jeritannya membuat Dewi Kematian
langsung menolehkan kepala. Wajahnya yang tertutup cadar terkesiap melihat apa
yang terjadi. Mengkelap dia penuh kemarahan
Dewi Kematian melihat apa yang dilakukan Siluman Buta yang saat ini sedang usap-
usap Pedang Batu Bintang yang baru saja
membuat Manusia Mayat Muka Kuning
kelojotan. "Keparat! Tak seharusnya Manusia
Mayat Muka Kuning bisa dikalahkan oleh
Siluman Buta. Meskipun manusia itu
memiliki ilmu yang baru. Pedang Batu
Bintang memang senjata dahsyat.
Kedudukanku pun bisa tak beres bila
pedang itu masih di tangannya," membatin Dewi Kematian sambil memikirkan jalan
keluar. Sedangkan Ratu Tengkorak Hitam
bergumam tak jelas, "Bisa berabe kalau begini! Bisa-bisa dua manusia keparat ini
mampus di tangan Siluman Buta. Kurang
ajar! Padahal aku ingin melihat keduanya menghajar lelaki tua buta itu sementara
aku akan gunakan kesempatan untuk
merampas Pedang Batu Bintang."
Perempuan bercadar sutera itu yang
telah pentangkan kedua kaki kini tak lagi pandang sebelah mata pada Siluman
Buta. Semua disebabkan Pedang Batu Bintang yang dipegang lelaki buta itu.
Siluman Buta telengkan kepala bagai
mendengar gerakan kaki Dewi Kematian.
Padahal yang dilakukan perempuan bercadar sutera itu sangat pelan sekali."
"Kau rupanya tengah bersiap melakukan serangan untukku, Dewi" Bagus! Berarti,
kau akan merasakan juga kehebatan pedang di tanganku ini!"
Tak membuang waktu, Dewi Kematian
mendadak saja menepukkan tangannya
berkali-kali. Ilmu Tepukan Cabut Sukma'
telah dilepaskan. Satu ilmu tepukan
dahsyat yang bisa bikin hancur pen-
dengaran lawan dan secara tidak langsung memunahkan keseimbangan lawan. Ilmu
yang aneh karena lawan yang ditujulah akan
merasakan betapa dahsyatnya tepukan itu, sementara yang lainnya tak akan
merasakan apa-apa.
Pendengaran bagi Siluman Buta adalah
alat vital kehidupan yang paling utama, karena matanya tak berfungsi sama
sekali. Sudah tentu mendapati tepukan yang sangat keras membuat telinganya yang peka itu
bagai ditusuk oleh ratusan sembilu
bermata dua yang sangat tajam. Lelaki
buta itu langsung kelojotan dan sebisanya berusaha mengalirkan tenaga dalam.
Namun tepukan yang dilakukan oleh Dewi Kematian terus datang berulang kali,
beruntun dan bertubi-tubi.
Manusia Mayat Muka Kuning yang sudah
berhasil memulihkan dirinya, segera
merangkum tenaga dalamnya. Di saat
Siluman Buta sedang
kelojotan, dia menerjang dengan dua jotosan siap di
hajarkan pada kepala dan dada orang buta berbaju compang-camping itu. Yang saat
ini kehilangan pegangan dan seperti
melupakan kalau Pedang Batu Bintang
berada di tangannya.
Maka tanpa ampun lagi tubuhnya telak
terhantam jotosan Manusia Mayat Muka
Kuning. Tubuh renta berbaju compang-
camping itu meluncur deras ke belakang, menerabas semak belukar dan ambruk
pingsan dengan tubuh yang bertanda bekas pukulan orang. Tongkat kusam dan Pedang
Batu Bintang yang dipegangnya terlepas.
Begitu melihat Pedang Batu Bintang di
tangan Siluman Buta terlepas, Dewi
Kematian segera menghentikan tepukannya.
Dan mengempos tubuhnya, untuk menyambar Pedang Batu Bintang. Namun satu bayangan
hitam telah mendahului. Bahkan sebelumnya, melancarkan satu tendangan ke
perutnya. Plak! Meskipun terkejut dan tak menyangka
ada yang akan merebut Pedang Batu Bintang dan menghantamkan tendangan
keperutnya, Dewi Kematian masih memperlihatkan
kelasnya. Ditarik tangan kirinya ke bawah dan menangkis lalu berputar ke
belakang. Ketika hinggap kembali ke tanah, sepasang mata di balik cadar sutera melebar dan
meluncur bentakannya, "Apa yang kau lakukan, Ratu Tengkorak Hitam?"
Ratu Tengkorak hitam yang mendahului
merebut Pedang Batu Bintang dan menendang Dewi Kematian, tersenyum penuh ejekan.
"Dewi... apakah kau pikir selama ini
aku membiarkan diriku berada di bawah
kakimu" Jangan bermimpi! Yang kuinginkan sudah kudapatkan! Bila kau
menginginkannya, silakan kau merebutnya!"
Membesi wajah di balik cadar sutera
mendengar kata-kata orang.
Sementara Manusia Mayat Muka Kuning sudah menggebah ke arah Ratu Tengkorak Hitam.
Nenek baju hitam panjang itu cuma
mendengus dan menggerakkan tangannya.
Sinar keemasan yang sangat terang
bagai menerobos laju serangan Manusia
Mayat Muka Kuning, yang terkesiap dan
keluarkan pekik tertahan, lalu cepat
bergulingan. Sinar keemasan itu langsung menghanguskan semak belukar sepanjang
lima belas tombak
"Manusia keparat ini rupanya berakal licik! Tak akan kubiarkan dia lebih lama
menghirup udara segar" geram Dewi
Kematian dalam hati. Lalu kembali
ditepukkan tangannya.
Plaaakkk! Keras. Dan bagai sayatan masuk ke
gendang telinga Ratu Tengkorak Hitam.
Namun nenek baju hitam panjang itu
langsung menggerakkan pedang sakti di
tangannya. Berkali-kali suara keras dari jurus Tepukan Cabut Sukma' Dewi
Kematian putus di tengah jalan. Bahkan suara angin yang menderu dari Pedang Batu
Bintang meluncur, menghantam masuk ke gendang
telinga Dewi Kematian yang memekik dan
jatuh bergulingan.
Mendapati dua lawannya tak berdaya
dalam beberapa gebrakan, Ratu Tengkorak Hitam memutar Pedang Batu Bintang di
depan dadanya. Lalu dengan pencalan satu kaki, dia menderu untuk menghabisi
nyawa kedua lawannya yang sudah tak berdaya.
Namun mendadak dirasakan angin deras
meluncur dari belakang. Terkesiap Ratu
Tengkorak Hitam membalikkan tubuh dan
menggerakkan Pedang Batu Bintang!
Wuuusst Satu bayangan merah melompat melewati
tubuh Ratu Tengkorak Hitam. Selagi
melompatinya dihantamkan kedua kakinya dengan gerakan aneh pada kepala nenek
baju hitam panjang itu. Ratu Tengkorak Hitam sadar akan bahaya yang datang.
Namun terlambat meskipun masih sempat
menggerakkan tangan kiri untuk melindungi kepalanya.
Des!Des! . Tendangan kaki kanan bayangan merah
tertahan tangan kiri si nenek. Tetapi
tendangan kaki kirinya telak menghantam bahu kanan si nenek. Terdengar suara
berderak tanda tulang bahu nenek baju
hitam panjang patah. Menyusul suara
teriakan kesakitan dan tubuh yang ambruk.
Sementara tubuh si nenek ambruk, bayangan merah tadi segera menyambar Pedang
Batu Bintang di tangan si nenek. Lalu
berjumpalitan dua kali ke samping dan
berdiri tegak sambil menatap Pedang Batu Bintang dengan kekaguman berganda.
Ratu Tengkorak Hitam yang tak bisa
menggerakkan tangan kanannya karena
bahunya patah, masih bisa mengangkat
kepala. Dan melihat siapa orang yang
membokongnya tadi. Terdengar seruannya
pelan sebelum dia pingsan, "Kaki
Gledek...."
Orang yang melakukan bokongan tadi
memang si Kaki Gledek yang meskipun
tubuhnya belum pulih benar akibat hajaran Ratu Tengkorak Hitam beberapa hari
lalu, masih sanggup membayar dendamnya itu.
Semua dikarenakan nenek baju hitam
panjang dalam keadaan tidak siaga
menyambut serangannya dan juga dilakukan dengan cara membokong. Namun curang
atau tidak, tak dipedulikan oleh orang tinggi besar bercodet panjang dipipi
kanan. Seringaiannya melebar hingga seperti
hendak merobek kembali codet di pipinya melihat Ratu Tengkorak Hitam pingsan.
"Dengan Pedang Batu Bintang di
tangan, akan kukuasai rimba persilatan
ini!!" serunya keras sambil umbar tawa.
Di seberang Dewi Kematian yang dari
telinganya mengalir darah segar akibat
serangan Pedang Batu Bintang, menggeram dalam hati, 'Tak kusangka di tempat sepi
begini sudah memancing munculnya para
tokoh. Si Kaki Gledek, tokoh yang
memiliki ilmu hanya sejengkal. Namun saat ini, dengan Pedang Batu Bintang di
tangan, dia tak ubahnya menjadi manusia setengah dewa."
Terkesiap wajah di balik cadar sutera
ketika si Kaki Gledek menolehkan kepala ke arahnya. "Aku ingin mencoba kehebatan
pedang ini sekali lagi! Hmmm... perempuan bertubuh montok yang berjuluk Dewi
Kematian, kau akan merasakan semua ini!"
Dalam keadaan keseimbangan yang mulai
goyah, Dewi Kematian mengangkat sebelah tangannya. Lalu perlahan-lahan dia
berdiri, "Menghadapi manusia ini sekarang tak perlu menggunakan kekerasan. Aku
masih punya satu ilmu yang bisa
menaklukkannya," batin Dewi Kematian dan kini tegak berdiri. "Tak kusangka orang
yang berjuluk si Kaki Gledek demikian
gagah dan tampannya. Aku bersedia menjadi pengikutmu," kalanya sambil pasang
senyum. Kaki Gledek tertawa mendapati kata-
kata orang. "Siapa percaya omongan yang keluar dari mulut busuk" Inilah kesempatan untuk
menjajal kehebatan Pedang Batu Bintang.
Nama besarmu sebagai tokoh tingkat
tinggi, akan menjadi bukti kehebatan
pedang ini. Bersiaplah untuk mampus...."
"Tunggu... apakah kau tidak ingin
menikmati tubuhku ini sebelum kau bunuh?"
Dewi Kematian mengumbar rayuannya.
Kembali Kaki Gledek tertawa. Meskipun
sesaat parasnya berubah mendengar kata-
kata orang, namun segera ditindih semuanya. Karena dia tahu, perempuan bercadar
sutera yang sedang mencoba memancing
gairahnya ini adalah tokoh yang licik dan sangat kejam.
"Apakah kau pikir aku ini bodoh yang mau menuruti segala rencana busukmu itu"
Hahaha... hanya orang-orang yang suka
menggeluti piala bergilir yang akan
menubruk apa yang kau tawarkan itu,
perempuan mesum?"
Membesi wajah Dewi Kematian mendengar
ejekan yang menyakitkan hatinya itu.
Namun saat inilah yang ditunggu olehnya.
Saat lawan berbicara, diam-diam dia
telah mempergunakan jurus ampuh yang
mampu memikat siapa saja yang ditujunya.
Jurus pengasihan yang membuat orang akan jatuh lutut di kakinya. Jurus yang
dinamakan 'Lepas Cadar Bidadari'.
Kaki Gledek yang siap mengayunkan
pedang yang memancarkan sinar keemasan
itu mendadak saja tertegun. Sepasang
matanya melotot dan perlahan-lahan
membara. Dalam pandangannya Kaki Gledek melihat
tubuh Dewi Kematian mendadak
polos. Tubuh yang indah dengan lekuk
tubuh yang mempesona masuk kedalam
pandangannya. Aroma wangi yang menguap dari tubuh
perempuan bercadar sutera itu makin
membesar, bagai membelai-belai indera
penciumannya. Sesaat lelaki tinggi besar itu terdiam dan tanpa sadar tangannya
yang diangkat tadi turun perlahan.
"Dia sudah terkena ajian ini. Tak
memakan waktu lama rupanya. Hmmm...
sebentar lagi kau akan mampus!" senyum Dewi Kematian dalam hati.
Dengan menggerakkan seluruh anggota
tubuhnya," terutama dada dan pinggulnya yang montok dan mulus, perlahan-lahan
perempuan bercadar sutera itu mendekati Kaki Gledek yang menelan ludahnya
berulang kali. Sementara itu, Manusia Mayat Muka
Kuning membesi wajahnya karena dilanda
cemburu tinggi. Sejenak ingin diayunkan tangannya untuk menghajar pecan kepala
si Kaki Gledek yang tegak dan mabuk
kepayangan. Namun segera ditindih
keinginannya itu karena dia yakin Dewi
Kematian mempunyai maksud tertentu
melakukan semua itu.
Apa yang dilihatnya kemudian memang
jadi kenyataan. Bagai sapi ompong Kaki
Gledek tetap terbengong, bahkan perlahan-lahan terlihat tubuhnya gemetar.
Parasnya berubah memerah. Dan mendadak saja di-
rangkulnya Dewi Kematian dengan sejuta


Rajawali Emas 03 Raja Lihai Langit Bumi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

nafsu menggelora.
Diciuminya leher, wajah, dan dada
perempuan montok itu. Sementara tangan kirinya merangkul ketat dengan tangan
kanan masih memegang Pedang Batu Bintang.
"Lakukanlah, Kasih... lakukan..,
telah lama aku tak merasakan kehangatan belaianmu...," lirih suara Dewi Kematian
bagai tersekat di tenggorokan.
Kaki Gledek yang benar-benar telah
terkena pengaruh ajian pengasihan Dewi
Kematian, tak sadar kalau tangan kanan
perempuan bercadar itu terangkat
perlahan-lahan. Dan....
Prak! Prak! Dua kali tangan yang dialiri tenaga
dalam tinggi itu menghajar kepala Kaki
Gledek yang langsung memekik, rubuh
dengan kepala rengkah. Kelojotan sejenak bagai ayam disembelih dengan pisau
tumpul dan kasar. Matanya masih mendelik namun kejap kemudian nyawanya sudah
putus dengan keluarkan suara melolong.
"Manusia sialan! Ilmu masih dangkal berani unjuk gigi di hadapanku!" bentak Dewi
Kematian sambil merapikan pakaiannya kembali. Dalam hatinya dia menyambung,
"Ilmu 'Lepas Cadar Bidadari' memang sangat mudah digunakan dan sangat
mengejutkan hasilnya."
Manusia Mayat Muka Kuning yang kini
makin sadar apa maksud Dewi Kematian
bersikap seperti menyediakan tubuhnya
untuk digeluti Kaki Gledek, dengan
tertawa berdiri sambil berkata, "Ilmu apa yang kau pergunakan itu, Dewi"
Sehingga manusia bau selokan itu bisa menurut dan kau bunuh dengan mudah?"
Dewi Kematian yang sudah mengambil
Pedang Batu Bintang menolehkan kepala dan tersenyum.
"Sesuatu yang membuat orang dari
jenismu itu akan jatuh di kakiku!"
"Luar biasa!" puji Manusia Mayat Muka Kuning, namun diiringi dengan dengusan
karena dengan kata lain Dewi Kematian
menutupi ilmu yang baru saja diperlihatkannya tadi. "Kau dengan mudah bisa
menaklukkannya"
"Siapa pun akan bisa kutaklukkan
dengan ilmu yang dahsyat ini, Orang tua muka kuning! Tak terkecuali kau!"
Manusia Mayat Muka Kuning sekarang
tertawa. Lalu mendekati perempuan ber-
cadar yang memiliki tubuh montok dengan buah dada dan pinggul yang besar. Tangan
kanannya dengan liar meraba dada gempal itu. Sementara tangan kirinya meremas-
remas pinggul Dewi Kematian yang diam
saja sambil tersenyum memperhatikan
Pedang Batu Bintang di tangannya.
"Pedang Batu Bintang sudah jatuh ke tanganku. Sudah tentu..."
Kata-kata Dewi Kematian terputus
bagai dibetot setan ketika pendengarannya menangkap gemuruh angin dahsyat dari
angkasa, yang membuat cadarnya sedikit tersingkap dan pakaiannya yang berkebyar
hingga lebih memperlihatkan bungkahan
buah dadanya yang mulus dan pahanya yang gempal.
Manusia Mayat Muka Kuning segera
menghentikan 'kerja'nya. Dia mendongak.
Satu bayangan raksasa berwarna keemasan terlihat dalam pandangannya. Menyusul
suara keras ke seantero tempat,
"Koaaaakkkk!!"
*** 11 Suara yang keras bagai memecah langit
dan gemuruh angin yang berputar itu
membuat dua manusia yang masih tegak
berdiri tertegun beberapa saat.
"Bwana! Burung rajawali keemasan!"
seru Dewi Kematian tanpa mengalihkan
kepala dari pandangan.
Manusia Mayat Muka Kuning lebih
tanggap apa yang akan terjadi, "Pendekar Rajawali Emas telah menjadi majikan
burung rajawali itu. Berarti dia...
Dewiiii!!"
Sepasang mata celong ke dalam milik
si orang tua muka kuning, menangkap satu sosok tubuh melompat dari burung
rajawali keemasan itu. Langsung melesat ke arah
perempuan bercadar. Dewi Kematian yang
disadarkan oleh seruan Manusia Mayat Muka Kuning segera mengangkat kepala. Namun
dia kalah cepat oleh bayangan keemasan
yang melesat ke arahnya.
Tangan kanannya yang memegang Pedang
Batu Bintang terkena totokan, yang
seketika membuat urat darahnya kaku.
Pedang di tangan terlepas dan bayangan
keemasan itu segera menyambar Pedang Batu Bintang sebelum jatuh. Lalu melompat
ke samping dan berdiri tegak sambil membuka kedua kakinya.
Dewi Kematian segera menoleh.
Mengkelap wajah di balik cadar sutera
itu. Tangan kanannya meskipun berhasil
dipulihkan, namun masih terasa nyeri.
"Pemuda keparat! Lagi-lagi kau yang muncul" Kali ini, di mana Bidadari Hati
Kejam berada?" sentaknya kemudian.
Bayangan keemasan yang tak lain
adalah Tirta alias si Rajawali Emas
tersenyum. Lalu dengan sikap yang enak
sekali dimasukkan Pedang Batu Bintang
yang telah pindah kembali ke tangannya ke warangka yang ada di punggungnya.
Masih tersenyum dia berkata, "Persoalan
Bidadari Hati Kejam bukan urusanku. Bila
kalian ingin mencarinya, mengapa kalian masih berdiri di sini?"
Manusia Mayat Muka Kuning membentak,
"Dari ucapanmu aku yakin kau tahu di mana Bidadari Hati Kejam. Dan aku yakin kau
pasti tahu di mana Raja Lihai Langit Bumi berada"!"
Tirta membatin dalam hati, "Dua
manusia ini tokoh hitam berilmu tinggi.
Aku memang harus berhati-hati. Dari
ucapan keduanya tadi, aku yakin mereka
punya urusan dengan Guru-guruku. Hmm...
biar urusan aku yang tanggulangi." Lalu katanya, "Urusan Bidadari Hati Kejam dan
Raja Lihai Langit Bumi jelas bukan
urusanku. Lebih baik kita berpisah di
sini." "Setan muda keparat! Kau boleh
tinggalkan tempat ini, setelah serahkan Pedang Batu Bintang dan tanggalkan
nyawamu!" geram Dewi Kematian dalam kemarahan memuncak.
"Tak bisa memang kuhindari urusan
ini," batin Tirta dan diam-diam melirik ke atas. "Bwana masih berada di atas.
Tentunya dia tak akan membantu bila tidak kuperintahkan. Biarlah dia terbang
berputaran saja di atas. Hmm... burung
cerdik yang menurut akan kata-kataku.
Dari kejauhan sebenarnya sudah kudengar ada pertarungan hebat di tempat ini. Dan
nyatanya memang benar. Makanya ku
perintahkan Bwana untuk memancing
ketertegunan mereka sementara kurampas
kembali Pedang Batu Bintang. Dan
sekarang...."
"Ucapan hanya sekali terlontar! Cepat lakukan perintah!" bentak Dewi Kematian
keras, memutuskan kata hati Tirta.
Tirta kembali tersenyum. "Heran,
mengapa kau begitu memaksa" Sebenarnya
yang kau inginkan itu Pedang Batu Bintang atau diriku" Kalau yang kau inginkan
Pedang Batu Bintang, jangan berharap
banyak, deh! Apalagi kalau diriku ini. Ha ha ha... biarpun kecantikanmu
menggiurkan, sayangnya aku tak pernah
tertarik sama sekali."
Mengkelap wajah Dewi Kematian.
Sementara Manusia Mayat Muka Kuning
mendapati orang mengejek wanita yang
dicintainya ini, sudah menerjang dahsyat.
Kedua tangannya memancarkan sinar warna kuning. Bertanda dikeluarkannya tenaga
dalam tingkat tinggi.
"Wah, kau tidak usah cemburu, Orang jelek muka kuning! Apakah kau akan
mempertahankan terus perempuan yang hanya selalu mengandalkan tubuhnya untuk
mendapatkan apa yang diinginkan?"
Tirta yang memang sudah bersiap
segera melompat ke samping kanan. Dari
tempatnya itu, disentakkan kedua tangannya memapak serangan lawan.
Desss! Dua pukulan yang sama-sama dialiri
tenaga dalam bentrok di udara. Tubuh
Manusia Mayat Muka Kuning tampak sedikit terhuyung. Tetapi setelah dikerahkan
tenaga dalamnya untuk menahan huyungan tubuhnya agar tidak ambruk, lelaki tua
itu segera tegak kembali dengan kokohnya.
Di seberang, Tirta sendiri tampak surut satu langkah ke belakang.
Bila saja saat ini Manusia Mayat Muka
Kuning tidak dalam keadaan terluka, tak mungkin dia akan terhuyung seperti tadi.
Namun kekalapan yang telah menenggelamkan perasaannya membuatnya langsung
menerjang kembali, lebih ganas.
Wuuuut! Kali ini sinar kuning dari tangannya
lebih menyala. Tirta terkesiap sejenak.
Segera diangkat tangan kanannya siap
kirimkan pukulan.
Buukkk! Meskipun dalam keadaan terluka,
Manusia Mayat Muka Kuning masih miliki
tenaga yang lebih tinggi dari yang
pertama diperlihatkan. Pemuda dari Gunung Rajawali itu merasa tubuhnya laksana
dihantam batu besar.
Namun sebelum Tirta benar-benar jatuh
akibat serangan susulan dari Manusia
Mayat Muka Kuning, dia masih sempat
berputar dan membalas dengan satu
tendangan. Terkesiap. Manusia Mayat Muka Kuning mendapati lawannya yang sudah
dua kali digedor masih sempat membalas.
Bahkan menghantam bahu kanannya.
Dessss! "Aaahhr Terdengar seruan tertahan Manusia
Mayat Muka Kuning. Tubuhnya terhuyung dan jatuh terduduk. Belum lagi disadari
bagaimana lawan membalasnya tadi,
mendadak dirasakan hawa panas yang luar biasa merambati tubuhnya. Perlahan dan
makin membesar. Tersentak dicobanya
menutup hawa panas itu dengan mengerahkan hawa murninya. Namun panas yang
mendera Itu justru makin menggila.
Rupanya, dalam keadaan yang terjepit
itu, Tirta sudah mengalirkan tenaga surya pada tangan kanannya.
"Setan keparat! Mengapa tubuhku jadi panas seperti ini?" maki batin si lelaki
tua muka kuning.
Dewi Kematian yang melihat sahabat
sekaligus kekasihnya dalam keadaan
kelojotan, segera berkelebat mendekat.
Dipegangnya tubuh orang tua tanpa baju
itu! Dan segera ditarik pulang kembali.
"Gila! Mengapa aku seperti memegang bara api?" dengusnya terkejut. Setelah
dialirkan tenaga dalam dan hawa murninya pada kedua tangannya, barulah dia bisa
memegang tubuh yang masih terasa panas
itu. Keringat bukan hanya mengaliri
sekujur tubuh Manusia Mayat Muka Kuning, tetapi juga tubuh perempuan montok
bercadar sutera itu. Dan perlahan-lahan panas yang membakar tubuh lelaki muka
kuning itu sirna.
Merasa sahabat sekaligus kekasihnya
tidak lagi tersiksa oleh panas yang
membakar, Dewi Kematian menolehkan kepala dengan tatapan garang. "Kau telah
berbuat lancang, Rajawali Emas!"
"Perempuan bercadar... aku tahu kau guru dari Juragan Lanang. Manusia busuk yang
telah kuasai Dusun Bojong Pupuk.
Apakah kau tidak tahu kalau muridmu itu telah tewas?" sahut Tirta enteng.
"Kurang ajar!" geram Dewi Kematian menyadari kata-kata si Rajawali Emas.
"Pasti kau yang melakukannya" Usai mengumbar kata-kata, Dewi Kematian
melesat cepat. Angin deras mengiringi
lesatan tubuhnya.
Tirta langsung mengempos tubuh dan
memapaki dengan jurus 'Lima Kepakan
Pemusnah Rajawali'.
Bummmm! Gerak kelebatan kedua orang ini sama-
sama tertahan di udara. Kejap kemudian terdengar ledakan dahsyat saat terjadi
pertemuan serangan keduanya. Tubuh Dewi Kematian mental balik ke belakang. Dari
mulutnya keluar seruan tertahan bersamaan darah yang muncrat keluar. Setelah
membuat gerakan putar tubuh dua kali,
perempuan montok itu hinggap di tanah
dengan kaki agak terhuyung. Lalu jatuh melorot sambil memegangi dadanya yang
terasa remuk. Si Rajawali Emas sendiri mencelat
tiga tombak ke belakang. Saat mencoba
berdiri tegak, dia pun agak goyah. Namun masih bertahan untuk tidak jatuh.
Dadanya dirasakan nyeri bukan main. Bila saja
tadi saat menyerang tidak dibantu dengan tenaga surya, tak mustahil Tirta akan
tewas dengan dada bolong!
Wajah di balik cadar sutera membesi.
"Bila saja saat ini aku tidak terluka dalam akibat pengaruh Pedang Batu Bintang
yang dilepaskan oleh Ratu Tengkorak Hitam tadi, akan kuteruskan pertarungan ini.
Tetapi sangat berbahaya bila aku nekat.
Manusia Mayat Muka Kuning sudah tak
berdaya. Yang mengherankan, mengapa
serangannya yang tak terasa ada angin
panas justru sangat menyiksa panasnya
pada tubuh" Aneh! Julukan pemuda yang
baru muncul di rimba persilatan ini
memang bukan omong kosong." Lalu dengan suara geram Dewi Kematian berkata,
"Rajawali Emas... untuk saat ini aku mengaku kalah. Tetapi, tidak dalam
pertemuan berikutnya!"
Tirta yang berdiri agak goyah hanya
tersenyum. "Urusan sudah harus
diselesaikan. Tetapi bila belum puas,
masih banyak waktu mendatang!"
Dengan susah payah dan
agak

Rajawali Emas 03 Raja Lihai Langit Bumi di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terhuyung, Dewi Kematian mendekati
Manusia Mayat Muka Kuning. "Kita
tinggalkan tempat ini."
"Tidak! Pemuda itu harus mampus!"
"Jangan bodoh! Masih banyak waktu
untuk kita membalas!" Lalu katanya dengan suara ditekan, "Apakah dalam kondisi
seperti ini kau akan bertarung juga
dengan Raja Lihai Langit Bumi" Jangan
lakukan tindakan tolol. Kita tinggalkan tempat ini dan kita tuntaskan seluruh
persoalan. Mengenai si Ratu Tengkorak Hitam yang pingsan itu, dia pun akan
dapatkan ganjarannya yang berani
mengkhianatiku!"
Meskipun sejuta kemarahan dan
kegeraman menggayuti hati, Manusia Mayat Muka Kuning membenarkan kata-kata Dewi
Kematian. Lalu dengan perlahan dan
mengerahkan sisa-Sisa tenaganya, dia
bangkit. Sambil kertakkan rahang dia
berkata pada Tirta,
"Tunggu pembalasan kami, Rajawali
Emas!" Tirta hanya tersenyum saja. Lalu dengan agak sempoyongan dua manusia
berbeda jenis itu segera berlalu. Tirta menunggu sampai keduanya benar-benar
menghilang dari pandangan. Setelah
diyakini keduanya tak akan muncul lagi, mendadak tubuhnya makin goyah dan
ambruk. "Oh! Untungnya mereka memutuskan
Untuk menghentikan
pertarungan. Kalau
tidak, sudah tentu aku tak akan sanggup menghadapi. Pedang Batu Bintang sudah
kudapatkan kembali. Tinggal menunaikan
pesan dari Guru-guruku tentang Iblis
Kubur. Siapakah dia sebenarnya?"
Dengan menahan rasa sakitnya, Tirta
tepukkan tangan dan digerakkannya keatas.
Cahaya merah muncrat ke angkasa. Bwana
yang masih berputaran di angkasa,
langsung melurup turun Burung rajawali
keemasan itu mengeluarkan Koakan pelan.
"Tidak usah, Bwana. Sengaja aku tidak memanggilmu untuk membantuku, karena aku
masih sanggup menandingi keduanya. Ya,
ya... aku mengerti, kau sangat setia
kepadaku. Bwana, bawa aku pergi dari sini untuk memulihkan tenagaku," sahut
Tirta tersenyum.
Bwana keluarkan koakan lagi, kali ini
bernada gusar. "Tidak usah. Biar dua manusia itu
berlalu. Ayo, Bwana... kita tinggalkan
tempat ini...."
Dengan sekali melompat sambil
memegangi dadanya, Tirta sudah hinggap di bagian antara leher dan punggung
Bwana. Bwana masih keluarkan koakan bagai
omelan. "Kau memang burung yang sangat setia, Bwana. Aku beruntung menjadi majikanmu,"
kata Tirta tersenyum. Lalu dibelainya
leher Bwana yang berwarna keemasan dengan penuh kasih sayang. Meskipun Bwana
adalah burung peliharaannya, namun Bwana juga
termasuk gurunya. Karena, selama lima
tahun, Bwana , menggemblengnya di Gunung Rajawali.
Gemuruh angin terdengar saat burung
rajawali itu kepakkan kedua sayapnya.
Lalu dengan hentakan dua kaki yang
menimbulkan lubang sedalam setengah
tombak, Bwana melesat ke angkasa dengan memperdengarkan suaranya yang sangat
keras. "Koaaaaakkkk!!"
* * * Sepuluh kali penanakan nasi telah
lewat, menerabas tempat itu dalam
kesunyian. Malam telah lama datang, dalam angin dingin mencekam.
Sosok compang-camping yang jatuh
pingsan, perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Rasa sakit sebenarnya tak bisa
ditanggulangi. Namun dipaksakan untuk
duduk Lalu ditegakkan tubuh dan mulailah dilakukan semadi guna memulihkan
tenaganya kembali.
Selang beberapa saat, orang tua
compang-camping yang tak lain adalah
Siluman Buta menarik nafas dan
mengeluarkannya perlahan. Dilakukan
sampai lima belas kali. Jalan napasnya
mulai normal, namun rasa sakit di sekujur tubuhnya masih cukup menyengat.
"Manusia-manusia keparat!" dengusnya geram. "Dewi Kematian dan Manusia Mayat
Muka Kuning... nyawa kalian tak akan
kulepaskan. Selama ini tak pernah ada
silang sengketa terjadi di antara kita.
Namun kalian telah jelmakan dinding tebal di antara kita. Bukan hanya nyawa Raja
Lihai Langit Bumi yang akan mampus, nyawa kalian berdua pun tak akan pernah
kulepaskan!"
Orang tua buta berbaju compang-
camping itu berdiri dengan tangan
menggapai. "Hmmm.. mana tongkatku itu?" desis-nya. Dan mendadak saja dikatupkan kedua
tangannya di depan dada. Sejurus kemudian nampak tubuhnya bergetar. Dan....
Wuussss! Tap! Entah dengan tenaga apa yang
dilakukannya, mendadak saja tongkat
kusamnya yang terpental entah di mana itu meluncur ke arahnya yang langsung
menangkap. "Aku tak lagi mendengar ada suara-
suara di sini. Apakah Manusia Mayat Muka Kuning dan Dewi Kematian telah
tinggalkan tempat ini dengan membawa Pedang Batu
Bintang?" katanya sambil menelengkan kepala kesana kemari. Alat pendengarannya
yang tajam sudah berfungsi seperti
sediakala sejak dialirkan hawa murni ke kedua telinganya itu. Lalu terdengar
dengusannya geram, "Peduli setan dengan pedang itu! Nyawa keduanya yang
kuinginkan!"
Memutus kata-katanya sendiri, tubuh
Siluman Buta mendadak berkelebat
tinggalkan tempat itu dengan sejuta
dendam membara.
* * * Tepat ketika rembulan yang sinarnya
dihalangi oleh gayutan gumpalan awan
hitam telah tiba pada sepertiga
perjalanannya menuju pagi, mendadak saja satu sosok tubuh berpakaian hijau muda
tipis hingga menampakkan lekuk tubuhnya yang tertimpa sinar rembulan tipis,
muncul di tempat yang dilanda sunyi
mencekam. Rambutnya yang berwarna
keperakan makin bersinar ditimpa sinar rembulan pula.
Sepasang mata bulatnya yang bagus
memperhatikan sekitarnya.
"Hmmm... menurut getaran hatiku,
nenek baju hitam panjang yang sekarang
pingsan berada di sekitar sini. Dasar
bodoh! Kalau saja nenek sialan itu tak
serakah dan menghiraukan Pedang Batu
Bintang dan terus mempergunakan jurus
'Undang Maut Sedot Darah', urusan dengan Raja Lihai Langit Bumi akan bisa
diselesaikan. Tetapi dasar nenek
pengunyah susur yang serakah, yang tak
tahu tingginya langit dan dalamnya bumi!
Biar kutunda urusan sekarang, juga untuk mencari makam Iblis Kubur yang bisa
menjadi pembantuku untuk membunuh Raja
Lihai Langit Bumi."
Perempuan berwajah jelita yang tak
lain Dewi Karang Samudera kembali
mengedarkan pandangan. Pakaian hijau
lumut yang tipis membungkus tubuhnya
bagai memberi kesempatan pada siapa saja yang ingin menikmati pemandangan enak
dimata. Tubuh perempuan berambut seperti dihiasi pernik perak benar-benar
menggiurkan dan menjanjikan.
Setelah mengedarkan pandangan bebe-
rapa saat, mendadak diusap kedua
tangannya. Tiba-tiba di telapak tangan
kanannya membersit sinar putih yang
bening. Dari dalam sinar putih bening
itulah dilihatnya tubuh Ratu Tengkorak
Hitam yang sedang pingsan di sebuah
tempat. "Dasar nenek serakah! Masih untung
kujamin hidupnya! Bila tidak, dia akan
kubiarkan mampus di sini!"
Lalu tanpa tau bagaimana tubuh molek
berbaju hijau muda menerawang
itu bergerak, tahu-tahu dia sudah berada
dihadapan tubuh Ratu Tengkorak Hitam yang pingsan.
Ditepuk tangannya tiga kali. Sinar
putih bening keluar dan menelingkupi
tubuh Ratu Tengkorak Hitam. Lalu segera perempuan jelita berambut keperakan itu
berkelebat. Anehnya Ratu Tengkorak Hitam yang pingsan dan kini dibungkus sinar
putih bening itu bagai digerakkan
mengikuti kelebatan Dewi Karang Samudera!
Selebihnya, tempat itu kembali didera
sepi. Hanya tinggal mayat Kaki Gledek
yang dibungkus dingin.
SELESAI Ikuti kelanjutan Rajawali emas,
Dalam episode: "SUMPAH IBLIS KUBUR"
Scan/E-Book: Abu Keisel
Juru Edit: Mybenomybeyes
Si Rajawali Sakti 8 Suling Naga Karya Kho Ping Hoo Pedang Langit Dan Golok Naga 21
^