Pencarian

Pedang Kelelawar Putih 2

Siluman Ular Putih 04 Pedang Kelelawar Putih Bagian 2


Kelelawar Hutan tiba-tiba.
Sungkono dan beberapa orang murid
Perguruan Kelelawar Putih yang berlutut di
hadapan Kelelawar Hutan kontan pucat pasi.
Tubuh mereka gemetaran saking takutnya
menghadapi hukuman yang akan dijatuhkan
Kelelawar Hutan.
"Ma..., maafkan kami, Guru! Kami...,
kami sedang melakukan pengejaran. Tadi
kami lihat Nona Bidadari Kecil dan pemuda
itu berlari menuju Pekarangan Terlarang,"
ucap Sungkono gemetaran.
"Mereka masuk ke dalam Sumur Kema-
tian!" bentak Kelelawar Hutan seperti tidak tahu apa yang harus diucapkan.
"Masuk ke dalam Sumur Kematian..."!"
ulang beberapa orang murid-murid Perguruan
Kelelawar Hutan dengan paras makin pias.
Kelelawar Hutan jengkel sekali melihat
perubahan sikap murid-muridnya. Namun ke-
tika hendak menjelaskan, laki-laki tinggi besar itu buru-buru mengurungkannya.
Dengan wajah beringas ia mondar-mandir di bibir
Sumur Kematian. Sesekali pula kepalanya
melongok ke dalam Sumur Kematian.
"Ham...! Kalau begini terus caranya, tak mungkin aku bisa mendapatkan pasangan
Pedang Kelelawar Putih. Rasanya, aku harus
menemui beberapa orang sahabat lamaku un-
tuk meminta bantuannya. Hm...! Tunggulah
pembalasanku, Lowo Kuru!" gumam Ke-
lelawar Hutan dalam hati.
* * * 6 Bau anyir darah, tumpukan tulang-
belulang dan mayat-mayat berserakan me-
warnai suasana dalam Sumur Kematian. Be-
gitu Soma dan Aryani menjejakkan kaki di
dasarnya, langsung disambut bau yang me-
mualkan perut. Untung saja, Soma yang sebe-
lumnya sudah merasakan bau seperti itu te-
lah mengatur jalan pernapasannya. Sementa-
ra Aryani agaknya belum terbiasa dengan
keadaan gelap dalam dasar Sumur Kematian.
Sehingga ia harus menyesuaikan diri seben-
tar, baru kemudian dapat melihat jelas.
Dan gadis itu jadi terpekik ngeri, melihat
dasar sumur yang dipenuhi tumpukan tu-
lang-belulang manusia dan mayat-mayat bu-
suk berserakan. Aryani juga tidak menyangka
kalau dasar Sumur Kematian ini demikian
luasnya dengan beberapa lorong yang me-
manjang. Sejenak Aryani mengedarkan pandangan
keseputar ruangan, dan tiba-tiba berhenti pa-da sebuah kerlip nyala lampu
berpijar di sa-
lah sebuah lorong.
"Di... di sanakah A... Ayah berada, So-ma?" tanya Aryani. Suaranya tergagap
karena lidahnya terasa kelu.
"Benar. Mari kuantar kau menemuinya!"
Soma berjalan lebih dahulu. Sementara
dengan hati berdebar-debar, Aryani berjalan
ke belakangnya.
Selang beberapa saat, sampailah mereka
di dalam lorong yang dimaksudkan. Aryani
menghentikan langkahnya sebentar. Tubuh-
nya tegak tak bergerak. Wajahnya pucat pasi.
Kedua bibirnya bergetar. Inikah ayahnya, se-
perti yang diceritakan Soma" Kalau memang
betul, sosok di hadapannya itu benar-benar
membuat hatinya terpukul!.
Betapa sosok buntung di hadapan si ga-
dis demikian menyedihkan. Wajahnya tua
yang penuh kerutan di kening sebagai per-
tanda kalau laki-laki bermuka tirus itu sudah terlalu banyak mengalami
penderitaan batin.
Pakaian putih- putihnya sudah compang-
camping tak karuan. Demikian juga kumis
dan jenggotnya yang memanjang berwarna
putih. Dan dengan menggunakan rambutnya
yang putih panjang berjuntaian menancap
kokoh ke dalam tanah itulah sosok tanpa kaki dan tangan itu tengah 'duduk'
bersemadi. "A.. Ayah..."!" desis Bidadari Kecil agak ragu-ragu. Air matanya yang merembang
di kelopak matanya pun mulai merembes mem-
basahi pipi. Sosok buntung yang tidak lain Lowo Ku-
ru itu perlahan-lahan mulai membuka kelo-
pak matanya. Sepasang matanya sayu, tak
berkedip memandang Aryani.
"Kau... kaukah anaknya Surtini, Nak?"
tanya Lowo Kuru dengan suara bergetar.
"Ayaaah...!" pekik Aryani tak ragu lagi.
Suaranya pecah menjadi tangis yang me-
nyayat. Dan tahu-tahu gadis itu telah menu-
bruk sosok buntung di hadapannya seraya
memeluk erat-erat.
"Be... benar, Ayah. Aku..., aku Aryani.
Anakmu, Ayah," tangis Aryani semakin terdengar memilukan.
"Oh...!" keluh Lowo Kuru dengan segenap perasaan. Laksana sepasang tangan
rambut-rambut yang berjuntaian ke tanah itu
telah memeluk Aryani erat-erat. "Tidak kusangka kau sudah sebesar ini, Anakku.
Lan- tas, di mana ibumu" Mengapa tidak kau ajak
kemari sekalian?"
Aryani tidak menjawab pertanyaan
ayahnya. Namun tangisnya malah semakin
bertambah. Kedua bahunya bergerak turun
naik. Wajahnya terus disembunyikan ke da-
lam dada kurus Lowo Kuru.
Sementara itu Soma yang melihat ade-
gan memelaskan di depannya, pura-pura ti-
dak melihat. Ia justru lebih senang memper-
hatikan keadaan dalam dasar Sumur Kema-
tian. "Ibu... Ibu pergi, Ayah. Si Jahanam Kelelawar Hutan itulah yang membuat Ibu me-
ninggalkan Perguruan Kelelawar Putih. Mari
kita cari Ibu, Ayah!" ratap Aryani.
Lowo Kuru melepaskan pelukannya. Ke-
palanya menggeleng-geleng lemah. Bibirnya
bergetar. "Maafkan Ayah, Anakku! Ayah tidak bi-
sa. Ayah malu. Dalam keadaan buntung se-
perti ini, aku tidak berani menampakkan diri ke dunia ramai. Di samping itu.
Ayah juga sudah bersumpah tidak akan keluar dari da-
lam Sumur Kematian ini. Inilah tempat ting-
galku selama-lamanya. Dan di dalam Sumur
Kematian ini pulalah aku ingin dikuburkan,"
ucap Lowo Kuru sedih.
Suara laki-laki buntung itu terdengar
bergetar. Wajahnya kuyu. Sepasang matanya
berair. Namun, buru-buru orang tua buntung
itu mengeraskan hatinya.
"Sekali lagi maafkan Ayah, Anakku! Aku
tidak bisa," ucap Lowo Kuru, bergetar.
Aryani membelalakkan matanya lebar.
Wajahnya yang cantik itu penuh air mata.
"Kenapa, Ayah?"
"Aku sudah bersumpah, tak mungkin
menjilat ludah sendiri," jawab Lowo Kuru ke-lu.
"Jadi" Ayah tega membiarkan ibu pergi
begitu saja?" .
Lowo Kuru tak mampu menjawab perta-
nyaan putri tunggalnya. Ia hanya mampu
menggeleng lemah. ...
"Bukannya aku tega, Anakku. Namun
aku sudah terikat sumpah, Jangan paksa
Ayah, Anakku! Sekarang sebaiknya duduklah
di atas batu putih itu! Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu," ujar Lowo
Kuru. Sehabis berkata begitu, dengan meng-
gunakan ujung rambutnya yang mendadak
menjadi kaku laksana puluhan batang-batang
ijuk, sosok buntung Lowo Kuru pun melang-
kah mendekati dinding utara. Di sana, terda-
pat gambar orang sedang memperagakan ge-
rakan-gerakan ilmu silat.
Aryani terharu sekali melihat cara ayah-
nya melangkah mendekati dinding sebelah
utara. Pantas saja ayahnya enggan keluar da-
ri Sumur Kematian. Namun ketika pandangan
matanya tertumbuk pada gambar orang yang
sedang memperagakan gerakan-gerakan ilmu
silat, mendadak keterharuan terhadap ayah-
nya pun sirna. Sebagai orang persilatan,
Aryani sangat tertarik dengan jurus-jurus
yang terdapat pada dinding-dinding Sumur
Kematian. Sekali lihat saja, ia tahu kalau itu adalah jurus-jurus hebat.
"Jurus-jurus apakah itu, Ayah" Kok, da-
sar-dasar ilmu silatnya mirip jurus-jurus sak-ti 'Cengkeraman Maut Kelelawar
Sakti' dan 'Cakar Maut Kelelawar Hutan'?" tunjuk Aryani saking herannya.
"Itulah jurus-jurus sakti Sumur Kema-
tian, Anakku. Berpuluh-puluh tahun aku
mencoba menciptakan jurus-jurus baru se-
suai keadaanku yang buntung. Kukira jurus-
jurus itu pun sangat cocok denganmu. Coba
perhatikan baik-baik! Jurus-jurus itu hanya
mengandalkan rambut sebagai senjata uta-
manya. Kalau memang tertarik, kau boleh
mempelajarinya sekarang. Tapi sebelumnya,
ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu,
Anakku." "Apa itu, Ayah?"
Lowo Kuru tersenyum. Mungkin itulah
senyumnya yang pertama kali sejak mende-
kam dalam Sumur Kematian. Lagi, Ujung-
ujung rambutnya yang kaku seperti ijuk baja
mendadak bergerak meraih tonjolan batu ke-
cil di samping kiri pintu masuk dalam lorong.
Bed! Begitu melingkari tonjolan batu, lantas
ujung-ujung rambut Lowo Kuru pun menyen-
takkan ke bawah. Maka mendadak terdengar
bunyi berkerit. Dan, perlahan-lahan keluar
sebuah kotak kayu dari dalam dinding Sumur
Kematian di samping tonjolan batu kecil. Ke-
mudian dengan ujung-ujung rambutnya Lowo
Kuru membuka kotak kayu itu, lalu mengam-
bil isinya. Aryani melongo. Ternyata isi dalam ko-
tak kayu adalah sebuah pedang terbuat dari
baja putih murni.
Sedang pada gagangnya terdapat kepala
dan badan kelelawar yang juga berwarna pu-
tih. Itulah pasangan Pedang Kelelawar Putih
yang selama ini dicari-cari Kelelawar Hutan.
Dan begitu dikeluarkan dari dalam kotak
kayu, seketika ruangan dalam dasar Sumur
Kematian dipenuhi cahaya putih yang ber-
pendar-pendar dari batang pedang.
"Itukah pasangan Pedang Kelelawar Pu-
tih yang selama ini dicari-cari Kelelawar Hutan, Ayah?" tanya Aryani.
"Benar, Anakku," jawab Lowo Kuru seraya menutup kotak kayu itu dan mendorong
kembali ke dinding seperti semula. "Dan pedang ini pulalah yang akan kuwariskan
pa- damu, Anakku. Kau tahu, untuk apa pedang
ini, bukan?"
"Tahu, Ayah. Pasangan pedang itu ada-
lah untuk membuka kitab peninggalan Eyang
Guru, Ayah. Tapi, tapi mengapa pedang itu
diberikan padaku?" tanya Aryani tak dapat menyembunyikan keheranan hatinya.
"Sebenarnya pedang ini akan diberikan
pada ibumu. Cuma sayang, ibumu tidak begi-
tu berbakat. Dan kebetulan sekali, kau berjodoh mempelajari Kitab Kelelawar
Sakti pe- ninggalan Eyang gurumu. Di samping itu, Ki-
tab Kelelawar Sakti memang hanya diperun-
tukkan bagi murid-murid perempuan Pergu-
ruan Kelelawar Putih. Dan kulihat, susunan tulang-tulang dalam tubuhmu sangat
cocok dengan ketentuan yang sudah ditetapkan da-
lam kitab peninggalan Eyang gurumu itu,"
papar Lowo Kuru.
"Apa ini berarti aku harus merebut kitab peninggalan Eyang Guru dari tangan
Kelelawar Hutan, Ayah?" tanya Aryani menggebugebu.
"Ya! Namun di samping itu, kau pun ha-
rus membalaskan sakit hatiku. Apa kau mau
menjalankan tugas ini, Anakku?"
"Tentu, Ayah! Tentu. Biarpun Ayah tidak menyuruh pun, aku pasti akan mengadu
jiwa dengannya. Aku tak mungkin dapat mem-
biarkan iblis tua itu berkeliaran menebar
maut di Perguruan Kelelawar Putih ini," sahut Aryani penuh semangat.
"Bagus! Aku senang sekali mende-
ngarnya, Anakku. Sekarang terimalah pedang
ini!" Lowo Kuru 'melangkah' mendekati pu-
trinya yang telah tegak di hadapannya. Dan


Siluman Ular Putih 04 Pedang Kelelawar Putih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengan menggunakan rambut-rambutnya
yang kaku, pasangan Pedang Kelelawar Putih
diulurkan kepada Aryani.
Aryani menerimanya dengan tangan ge-
metar. Sejenak dipandanginya sarung pedang
itu seksama. Lalu, perlahan-lahan dicabutnya dari dalam sarungnya.
Aryani angguk-anggukkan kepalanya.
"Aku bersumpah akan mengadu nyawa
dengan manusia jahanam itu dengan meng-
gunakan pedang ini, Ayah!" desis Aryani alias Bidadari Kecil penuh kemarahan.
"Yayaya,,.!Tapi, kau harus ingat, Anak-
ku. Kelelawar Hutan bukanlah lawan enteng.
Terutama sekali, ilmu sihirnya. Dan sebelum menemui Kelelawar Hutan terlebih
dahulu, kau harus mempelajari jurus-jurus sakti
'Sumur Kematian' yang tertulis di dinding-
dinding ini, Anakku!"
"Dengan senang hati aku akan mempela-
jarinya, Ayah," sahut Aryani bersemangat.
Lowo Kuru mengangguk-angguk. Pan-
dangan matanya sejenak dialihkan ke arah
Soma. "Anak Muda! Kau temanilah putri ku
mempelajari jurus-jurus 'Sumur Kematian'
itu! Aku ingin melanjutkan bersemadi."
Soma yang dari tadi diam-diam mengi-
kuti apa yang dibicarakan Lowo Kuru dan pu-
trinya, pura-pura kaget. Segera badannya
berbalik. "Apa, Ki?"
"Aku minta sudilah kau temani putri ku
mempelajari jurus-jurus 'Sumur Kematian'.
Aku akan melanjutkan bersemadi," ulang Lo-wo Kuru agak meninggi nada bicaranya.
Soma menggaruk-garuk kepala. Nampak
sekali kalau pemuda gondrong murid Eyang
Begawan Kamasetyo itu ogah-ogahan.
"Kau keberatan, Anak Muda?"
"Satu tindakan bodoh kalau menyia-
nyiakan kesempatan baik ini, Ki," sahut Soma alias Siluman Ular Putih seraya
tersenyum ke arah Aryani.
Mata Aryani melotot lebar-lebar.
Soma tertawa bergelak.
"Kalau kau keberatan, ya sudah. Aku
malah senang menemani ayahmu bersemadi."
"Jadi... jadi, kau tidak mau menemaniku berlatih, Soma?" tukas Aryani gemas
sekali. Entah mengapa hatinya jadi resah sekali.
"Habis kau tak menyukaiku sih!" jawab Soma seenak dengkul.
"Kau... kau..," ujar Aryani jengkel bukan main.
Lagi-lagi Soma tertawa bergelak
"Baik-baik! Aku akan menemanimu ber-
latih. Tapi, kau jangan marahi aku, ya!" kata Soma menggoda. Lalu kepalanya
menoleh pa-da orang tua buntung di sampingnya. "Nah, sekarang kau boleh
melanjutkan semadi mu,
Ki!" Lowo Kuru tersenyum. Dalam hati, ia
merasa geli juga melihat tingkah laku pemuda gondrong di hadapannya.
"Ya ya ya...! Aku memang akan melan-
jutkan semadi ku. Kalau kalian ingin menca-
riku, carilah di lorong nomor tiga!" kata Lowo Kuru.
"Baik, Ayah."
Lowo Kuru sempat memandangi pemuda
gondrong di sampingnya, sebelum akhirnya
'melangkah' meninggalkan tempat itu.
Sedang Soma hanya menggaruk-garuk
kepala melihat cara orang tua buntung itu
melangkah meninggalkan mereka.
"Sudah! Buruan kalau kau mau berlatih.
Tunggu apalagi"!" sentak Soma.
"Tapi.... Tapi, kau beri tahu kalau ada
yang salah ya?" pinta Aryani. Entah mengapa, suaranya jadi sedikit manja.
"Yah...! Mana aku bisa" Mengenal jurus-
jurus itu pun tidak. Pelajari saja sendiri!" desah Soma ogah-ogahan.
Sekali lagi Aryani melotot.
Soma tidak mempedulikannya. Si pemu-
da hanya berjalan mendekati batu putih di
pinggir ruangan. Seketika tubuhnya dijatuh-
kan seenaknya sembari menonton Aryani ber-
latih. * * * 7 Malam merambah perlahan. Kerlip ber-
juta bintang dan pancaran sinar rembulan di
cakrawala membuat suasana permukaan
mayapada terang benderang. Di bawah usa-
pan sinar rembulan, tampak lima sosok
bayangan putih-putih tengah mengendap-
endap memasuki Pekarangan Terlarang mela-
lui tembok sebelah utara yang jarang sekali
dilalui murid-murid Perguruan Kelelawar Pu-
tih. Gerakan mereka ringan sekali ketika me-
loncat dan kembali turun ke dalam Pekaran-
gan Terlarang, Namun tiba-tiba sosok yang
paling depan menghentikan langkahnya. Ke-
dua tangannya cepat dikibaskan ke belakang,
memberi isyarat agar keempat sosok lainnya
bersembunyi. Tanpa banyak cakap, keempat sosok
yang diperintahkan segera menyelinap ke ba-
lik dinding tembok Pekarangan Terlarang. Ke-
betulan sekali warna tembok itu putih, se-
hingga ketika keempat sosok berpakaian pu-
tih-putih itu merapat ke tembok tidak begitu kentara.
Sedang sosok paling depan yang bertu-
buh ramping segera menyelinap dengan cara
berjongkok ke balik sebatang pohon kecil di
sampingnya. Sepasang mata tajamnya terus
memperhatikan beberapa orang murid Pergu-
ruan Kelelawar Putih yang sedang berjaga-
jaga tak jauh dari Sumur Kematian yang ter-
nyata berjumlah tidak kurang dari dua belas orang.
Buru-buru sosok ramping berpakaian
serba putih yang berjongkok di balik sebuah
pohon itu memberikan isyarat kepada keem-
pat sosok di belakangnya. Namun ketika hen-
dak melaksanakan niatnya, mendadak dari
tembok Pekarangan Terlarang sebelah selatan
berkelebat sesosok bayangan putih-putih lain yang menuju rumah batu tak jauh
dari Sumur Kematian.
"Kakang Sungkono! Mengapa kau berlari
seperti dikejar setan, Kakang?" tegur salah seorang murid penjaga Sumur Kematian
lantang. Sosok bayangan yang ternyata laki-laki
berpakaian putih-putih bernama Sungkono
cepat menghentikan langkahnya. Sepasang
matanya yang tajam sejenak memperhatikan
kerlip lampu di rumah batu. Lalu kembali
matanya memperhatikan adik-adik sepergu-
ruannya yang bertugas menjaga Sumur Ke-
matian. "Ada apa, Kang" Kok, nampaknya kau
gelisah sekali?" tanya salah seorang murid penjaga yang berpita hijau.
"Aku tidak sedang gelisah. Aku hanya
ingin melapor pada Guru. Apa Guru ada di
dalam rumah batunya, Wongso?" sahut
Sungkono. "Ada. Sejak tadi pagi guru tidak keluar dari rumah batunya. Memangnya kau mau
melapor apa, Kakang?" tuntut murid berpita hijau yang dipanggil Wongso itu
heran. "Aku hanya ingin melapor kalau Setan
Cantik dan Cantrik Tudung Pandan dari Ista-
na Ular Emas tengah menunggu Guru di pen-
dopo." "Oh...! Aku kira ada apa Rupanya tokoh
dari Istana Ular Emas itu yang ingin menemui
Guru. Aku kok jadi tidak mengerti, mengapa
Guru mau berkawan akrab dengan mereka"
Bukankah Setan Cantik dan Cantrik Tudung
Pandan itu adalah orang-orang licik?" tanya Wongso setengah berbisik, seperti
takut kalau suaranya terdengar Kelelawar Hutan yang sedang berada di dalam rumah
batunya. "Hush! Jaga mulutmu, Wongso! Apa kau
sudah bosan hidup, he"!" tegur Sungkono memperingatkan.
"Tidak, Kakang. Aku..., aku cuma men-
gungkapkan keheranan ku saja," elak Wongso ketakutan.
"Sudah! Sekarang jangan membicarakan
Guru lagi! Sebaiknya jalankan saja apa yang
Guru perintahkan!" ujar Sungkono, tegas.
"Baik, Kakang,"
"Nah, sekarang teruskan saja tugas ka-
lian. Aku akan segera melaporkan kedatangan
Setan Cantik dan Cantrik Tudung Pandan ke-
pada Guru."
Sehabis berkata begitu, Sungkono segera
berkelebat cepat menuju ke rumah batu tak
jauh dari Sumur Kematian.
Sementara itu, kelima sosok berpakaian
serba putih yang sedang bersembunyi di dind-
ing sebelah utara Pekarangan Terlarang
hanya bisa saling berpandangan ketika tadi
Sungkono menyebut-nyebut Setan Cantik dan
Cantrik Tudung Pandan. Dari sorot mata jelas sekali kalau nyali mereka kontan
surut mendengar disebut-sebutnya kedua tokoh sesat
dari Istana Ular Emas itu.
Sebelum mereka berbuat sesuatu, dari
arah rumah batu telah berkelebat cepat seso-
sok tinggi besar berpakaian hitam-hitam den-
gan ikat kepala juga berwarna hitam. Ia tidak lain dari Kelelawar Hutan.
Sementara jauh di belakangnya adalah Sungkono, murid berpita
kuning yang tadi melaporkan kedatangan Se-
tan Cantik dan Cantrik Tudung Pandan.
Melihat berkelebatnya dua sosok bayan-
gan itu, sosok ramping berpakaian putih-
putih yang dari tadi bersembunyi di balik sebatang sebuah pohon segera
mengisyaratkan keempat sosok berpakaian putih-putih lain-
nya di belakang.
"Nanti dulu, Bibi Guru Bidadari Putih.
Biarkan si Keparat Kelelawar Hutan menemui
kedua orang tamunya dulu," cegah salah satu sosok berpakaian putih-putih yang
bersembunyi di dinding tembok Pekarangan Terla-
rang lirih. "Kenapa, Sindu" Apa kau takut meng-
hadapi kedua belas penjaga itu?" tukas sosok ramping berpakaian putih yang tak
lain Bidadari Putih, berbisik.
Memang, keempat sosok kekar berpa-
kaian putih-putih di belakang Bidadari Putih adalah empat orang murid utama Lowo
Kuru. Setelah berhasil mengusir Setan Cantik ketika sedang bertarung melawan Bidadari
Putih, keempat orang murid utama Lowo Kuru itu
lantas mengajak Bidadari Putih untuk mene-
mui Lowo Kuru, suaminya.
"Bukannya aku takut menghadapi mere-
ka, Bibi Guru. Terus terang aku khawatir ka-
lau Kelelawar Hutan keburu datang kemari
sebelum kita berhasil meringkus kedua belas
orang murid penjaga itu. Ya, kalau Kelelawar Hutan datang sendirian. Tapi, kalau
ia datang bersama Setan Cantik dan Cantrik Tudung
Pandan. Bagaimana kita harus menghadapi
mereka, Bibi," kilah laki-laki yang tak lain Sindu.
"Baiklah kalau begitu," sahut Bidadari Putih akhirnya.
Namun mendadak kasak-kusuk kedua
orang itu telah diketahui salah seorang murid penjaga. Maka sejenak perhatiannya
dialihkan ke arah tempat persembunyian Bidadari
Putih dan keempat Orang murid utama Lowo
Kuru. "Siapa bersembunyi di situ"!" bentak murid itu lantang.
Yang kaget mendengar bentakan itu bu-
kan saja Bidadari Putih dan keempat murid
utama Lowo Kuru, melainkan juga murid-
murid penjaga lainnya.
"Ada apa, Kakang Penggalih" Apa kau
melihat sesuatu yang mencurigakan?" tanya Salah seorang murid penjaga lainnya
heran. "Benar Panuluh. Tadi aku mendengar
orang berkasak-kusuk di sebelah sana!" sahut laki-laki yang dipanggil Penggalih
seraya menunjuk ke tempat Bidadari Putih dan keem-
pat orang murid utama Lowo Kuru bersem-
bunyi. "Baik. Kalau begitu, mari kita lihat ke sana!" ajak Panuluh bersemangat.
Di tempat persembunyiannya, Sindu jadi
cemas. "Celaka! Rupanya kedatangan kita telah
diketahui murid-murid penjaga itu!" desah Sindu.
"Hm...! Tidak ada pilihan lain. Mumpung selagi Kelelawar Hutan keluar menemui
Setan Cantik dan Cantrik Tudung Pandan, kita ha-
rus secepatnya merobohkan mereka. Ayo, ce-
pat. serang mereka!" ujar Bidadari Putih seraya dengan gesitnya keluar dari
tempat per- sembunyiannya. "Baik!" sahut keempat orang murid utama Lowo Kuru serempak.
Sehabis berkata begitu, keempat orang
murid utama Lowo Kuru segera menyusul Bi-
dadari Putih. Begitu mereka mendarat, kedua
belas orang murid penjaga itu segera mengu-
rung dengan pedang yang berkilat-kilat ter-
timpa sinar rembulan.


Siluman Ular Putih 04 Pedang Kelelawar Putih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Penggalih, Panuluh! Siapa suruh kalian berani lancang seperti ini, he?" bentak
Bidadari Putih garang.
"Bi..., Bibi Guru" Kaukah Bibi Guru?"
kata Penggalih gemetar. Samar-samar dari te-
rangnya sinar rembulan, matanya dapat me-
nangkap sosok berpakaian putih-putih yang
memang Bidadari Putih.
"Kalau sudah tahu, mengapa tidak lekas
angkat kaki meninggalkan tempat ini!" hardik Bidadari Putih lagi garang.-
"Ma..., maafkan kami, Bibi Guru! Ka..., kami diperintahkan Guru Kelelawar Hutan
untuk me..., menangkap Bibi Guru hidup
atau mati," kata Penggalih gemetar.
"Apa"! Kelelawar Hutan menyuruh ka-
lian menangkapku"!" sentak Bidadari Putih kaget bukan alang kepalang.
Sungguh wanita ini tak menyangka ka-
lau Kelelawar Hutan telah memerintahkan
murid-muridnya untuk menangkap dirinya.
Ini jelas di luar perkiraannya. Semula, ia memang sengaja datang ke Sumur
Kematian dengan cara bersembunyi, karena tidak ingin
bertemu Kelelawar Hutan. Tapi, siapa sangka
justru Kelelawar Hutan malah memerintah-
kan murid-muridnya untuk menangkap di-
rinya. "Be..., benar Bibi Guru. Bahkan kami
pun diperintahkan untuk menangkap Nona
Bidadari Kecil hidup atau mati," jelas Penggalih, merasa rikuh juga.
"Keparat! Ayo, sekarang laksanakan tu-
gas kalian kalau tidak mau menyingkir dari
hadapanku!" geram Bidadari Putih penuh
kemarahan. "Maaf. Sekali lagi kami mohon maaf, ka-
lau terpaksa lancang terhadap Bibi Guru,"
ucap Penggalih seraya mengisyaratkan kese-
belas teman-temannya untuk menangkap Bi-
dadari Putih. "Baik, baik! Laksanakanlah tugas kalian!
Tunggu apa lagi"!" tantang Bidadari Putih tak dapat lagi mengendalikan
amarahnya. Sehabis berkata begitu, Bidadari Putih
segera berkelebat cepat menyerang Penggalih
dan Panuluh. Demikian juga keempat orang
murid utama Lowo Kuru.
Meski hanya dengan tangan kosong, ter-
nyata dalam waktu singkat keempat murid
utama Lowo Kuru sudah dapat mendesak pa-
ra pengeroyoknya dengan mudah. Dan seben-
tar kemudian, para penjaga itu pun dapat di-
robohkannya dengan mudah. Termasuk juga,
Penggalih dan Panuluh yang tak sadarkan diri di tangan Bidadari Putih.
"Mari! Sebaiknya kita langsung masuk
ke dalam Sumur Kematian, Bibi! Mumpung
Kelelawar Hutan dan murid-muridnya belum
kemari," ajak Sindu, setelah tak satu pun penjaga yang bergerak bangkit.
"Baik. Mari!" sahut Bidadari Putih menyetujui.
Dan sekali menutulkan kakinya ke ta-
nah, tahu-tahu sosok ramping Bidadari Putih
telah berkelebat cepat menuju ke Sumur Ke-
matian. Tanpa banyak membuang-buang waktu,
keempat orang murid utama Lowo Kuru pun
segera menyusul. Namun ketika mereka hen-
dak masuk ke dalam Sumur Kematian, tiba-
tiba Bidadari Putih melihat berkelebatnya tiga bayangan di atas tembok
Pekarangan Terlarang.
"Kelelawar Hutan...," desis Bidadari Putih.
Keempat orang murid utama Lowo Kuru
cepat berpaling ke belakang. Satu di antara
tiga sosok bayangan yang sedang berlari ken-
cang menuju Sumur Kematian memang Kele-
lawar Hutan. Sedang dua sosok di samping-
nya adalah dua orang perempuan berpakaian
kuning keemasan.
"Hm...! Menilik pakaian yang dikenakan, kedua orang itu pasti Setan Cantik dan
Cantrik Tudung Pandan. Siapa lagi kalau bukan
dua tokoh sesat dari Istana Ular Emas itu"
Mari, sebaiknya kita segera masuk ke dalam
Sumur Kematian!" ajak Sindu jerih juga melihat siapa yang datang. Dan tanpa
banyak ca- kap lagi, ia segera masuk ke dalam Sumur
Kematian, diikuti ketiga orang adik sepergu-
ruannya. Hanya Bidadari Putih sajalah yang seje-
nak memperhatikan ketiga sosok bayangan
yang sedang mendekatinya.
"Manusia Laknat! Tunggulah pembala-
sanku!" desis Bidadari Putih.
Dan sehabis berkata begitu, wanita ini
pun segera meloncat ke dalam Sumur Kema-
tian. Begitu masuk, kening Bidadari Putih
sempat berkerut ketika melihat berpuluh-
puluh tulang manusia tertancap rapi di dind-
ing-dinding Sumur Kematian. Dan ini tentu
saja dapat memudahkan dirinya dan keempat
orang murid Lowo Kuru masuk ke dalam.
Tanpa begitu mempedulikannya, Bidadari Pu-
tih segera meneliti tulang-tulang yang tertan-
cap rapi di dinding-dinding lalu meloncat ke dasarnya.
* * * Sesuai julukannya, sosok di belakang
Kelelawar Hutan dan di samping Setan Cantik
memang seorang perempuan bercaping lebar
terbuat dari anyaman daun pandan. Rambut-
nya hitam panjang dibiarkan tergerai di bahu.
Wajahnya cantik berbentuk lonjong. Sepasang
matanya tajam, alis matanya tebal. Hidung-
nya mancung dengan kulit wajahnya kuning
langsat. Sedang tubuhnya yang tinggi ramp-
ing dibalur pakaian warna kuning keemasan.
Konon dulu sebelum diangkat menjadi
murid perguruan Istana Ular Emas, wanita
yang merupakan kakak seperguruan Setan
Cantik adalah seorang cantrik di Kadipaten
Kuripan. Berhubung waktu itu terjadi pembe-
rontakan, Cantrik Tudung Pandan yang ber-
nama asli Sumi ini mendapat tugas untuk
menyelamatkan putra Adipati Kuripan. Cuma
sayang, di tengah perjalanan ia dan putra
Adipati Kuripan dihadang pasukan pemberon-
tak. Untung saja pada saat pasukan pembe-
rontak tengah memaksa putra Adipati Kuri-
pan untuk dibawa ke kadipaten, mendadak
muncul Bunda Kurawa pemilik Istana Ular
Emas. Sehingga, akhirnya Sumi dan putra
Adipati Kuripan itu menjadi murid Bunda Ku-
rawa. Karena selalu mengenakan tudung lebar
terbuat dari anyaman daun pandan maka
oleh Bunda Kurawa, Sumi mendapat julukan
Cantrik Tudung Pandan.
Sejenak Kelelawar Hutan berdiri tegak
tak bergerak. Hanya matanya saja yang berge-
rak-gerak liar, memandangi Sumur Kematian
dan beberapa orang muridnya yang roboh.
Wajahnya menegang. Rahangnya bertonjolan
pertanda tengah menahan amarahnya yang
menggelegak. Lalu dengan kemarahan me-
muncak tahu-tahu tubuh tinggi besarnya
berkelebat cepat, langsung menotok kedua
belas muridnya yang roboh. Dalam waktu
yang tidak lama, kedua belas murid Kelelawar Putih itu pun terbangun.
"Panuluh! Apa yang terjadi di sini" Cepat
katakan!" tanya Kelelawar Hutan garang.
"Bibi Guru Bidadari Putih dan empat
orang laki-laki berpakaian putih-putih datang kemari. Kami mencoba menangkap,
ta..., tapi gagal. Kami..., kami dapat dirobohkan mere-
ka, Guru," lapor Panuluh dengan suara bergetar saking takutnya.
"Keparat! Murid-murid tak berguna!
Mampuslah kalian semua!" bentak Kelelawar
Hutan dengan wajah bengis. Kedua tangan-
nya yang telah berubah menjadi hitam legam
mendadak mengibas, melepas pukulan Tan-
gan Hitam ke arah dua belas orang muridnya.
Wesss! "Aaakh...!"
Seleret sinar hitam legam yang during
berkesiurnya hawa dingin dari kedua telapak
tangan Kelelawar Hutan cepat melabrak ke-
dua belas tubuh muridnya. Laksana daun-
daun kering yang berguguran tertiup angin,
tubuh kedua belas orang itu jatuh berpelan-
tingan tanpa mampu bergerak lagi dengan tu-
buh hangus terbakar!
"Satu pukulan hebat, Tapi aku ragu,
apakah dengan pukulan 'Tangan Hitam'-mu
itu kau sanggup merobohkan Lowo Kuru?"
ejek Cantrik Tudung Pandan.
"Apa maksudmu bicara demikian, Can-
trik Tudung Pandan"!" sentak Kelelawar Hutan gusar. Sepasang matanya yang
memerah melotot lebar. "Sudah jelas yang kukatakan, bukan"
Pukulan 'Tangan Hitam'-mu memang hebat.
Cuma, terus terang aku meragukan apa kau
sanggup menghadapi Lowo Kuru. Salahkah
kalau aku meragukan kehebatan pukulanmu,
Kelelawar Hutan?" jawab Cantrik Tudung
Pandan lebih menyakitkan.
Kelelawar Hutan menggereng penuh ke-
marahan. Wajahnya yang garang menegang.
Kedua pelipisnya bergerak- gerak. Sedang ke-
dua telapak tangannya telah berubah menjadi
hitam legam sampai ke pangkal siku, siap
menghanguskan tubuh Cantrik Tudung Pan-
dan. "Ha ha ha...! Di antara kawan sendiri,
mengapa bersitegang begini?" sela Setan Cantik menengahi.
Kelelawar Hutan menurunkan kedua
tangannya. Dalam hatinya diam-diam dia me-
nyesali kebodohannya. Apalagi, saat itu ia
memang sedang membutuhkan bantuan dua
tokoh sesat dari Istana Ular Emas itu. Berpikir demikian, amarah Kelelawar Hutan
pun mulai sedikit berkurang.
"Kau benar, Setan Cantik. Aku pikir di
antara kawan sendiri memang tidak perlu
bersitegang begini. Tapi, aku yakin pukulan
'Tangan Hitam'-ku sanggup meremukkan tu-
buh buntung Lowo Kuru."
"Lantas, mengapa kau tidak masuk saja
ke dalam Sumur Kematian" Mengapa malah
meminta bantuan kami berdua untuk meng-
hadapi orang tua buntung itu?" tukas Cantrik Tudung Pandan, lagi-lagi membuat
merah telinga Kelelawar Hutan.
"Bukannya aku tidak berani masuk ke
dalam Sumur Kematian, Cantrik Tudung
Pandan. Tapi, ketahuilah! Menurut keteran-
gan beberapa orang muridku, selain Lowo Ku-
ru, di dalam Sumur Kematian juga ada seo-
rang pemuda sakti yang dapat melumpuhkan
puluhan muridku dengan mudah. Apalagi se-
karang ditambah lagi Bidadari Putih dan em-
pat orang laki-laki berpakaian putih-putih seperti yang dikatakan muridku tadi.
Untuk itulah aku mengharap bantuan kalian," tukas Kelelawar Hutan merendah.
"Hm...! Jadi begitu persoalannya. Tapi
kalau menurut hematku, lebih baik kau pun
harus memanggil teman-teman lain. Sebab,
tadi siang sewaktu aku sedang menuju kema-
ri, kulihat Lelaki Berkumis Kucing pun tengah menuju kemari. Entah, ada urusan
apa." "Hm...! Ya ya ya...! Terima kasih atas ke-teranganmu, Setan Cantik! Dan aku pun
akan mempertimbangkan usulmu tadi. Tapi
sekarang, sebaiknya kita melanjutkan perbin-
cangan di pendopo saja. Tak enak rasanya ki-
ta bicara sambil berdiri begini. Mari!"
"Baiklah!" sahut Setan Cantik dan Cantrik Tudung Pandan, hampir bersamaan.
Dan tanpa banyak cakap lagi ketiga
orang itu pun segera berkelebat keluar dari
Pekarangan Terlarang. Gerakan kaki mereka
cepat sekali laksana terbang. Sehingga dalam waktu singkat sosok bayangan mereka
lenyap di antara kegelapan malam.
*** 8 "Manusia-manusia jahanam! Siapa be-
rani mencari mati di dalam Sumur Kematian,
he"!"
Belum hilang gaung suara bentakan,
mendadak dari salah sebuah lorong di dalam
Sumur Kematian meluruk angin kencang
yang disusul gulungan sinar hitam ke arah
Bidadari Putih dan keempat orang murid
utama Lowo Kuru.
Wesss! Bukkk! Bukkk! Tanpa ampun, dua orang murid Lowo
Kuru terpental beberapa tombak ke belakang.
Dadanya yang terkena hantaman gulungan-


Siluman Ular Putih 04 Pedang Kelelawar Putih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gulungan hitam terasa mau jebol dan nyeri
bukan main. Sementara itu untung saja Bi-
dadari Putih dan dua orang murid Lowo Kuru
lainnya cepat membuang tubuh ke samping.
Sehingga, selamatlah ketiga orang itu dari
hantaman gulungan-gulungan hitam yang
menyerang. Sedang gulungan-gulungan hitam yang
ternyata rambut hitam dari sosok buntung itu terus menerabas ke depan, langsung
menancap kokoh di dinding Sumur Kematian. Ke-
mudian, meluncur satu sosok buntung yang
berkelebat cepat menyerang Bidadari Putih
yang baru saja bangkit.
"Suamiku! Hentikan seranganmu!" teriak Bidadari Putih, lantang.
Gulungan-gulungan hitam yang tengah
melayang-layang di udara mendadak berhen-
ti. Namun sosok buntung itu terus menerabas
ke depan, membuat rambut-rambut hitam itu
kembali menancap kokoh di dinding-dinding
Sumur Kematian.
"Siapa kau"!" bentak sosok buntung yang tidak lain Lowo Kuru.
"Aku... Aku Surtini, istrimu, Kakang,"
sahut Bidadari Putih gemetar.
Apa yang terlihat benar-benar membuat
hati wanita itu nyeri. Ia tidak menyangka suaminya dalam keadaan mengenaskan
Seperti itu. Meski dapat membayangkan penderitaan
suaminya yang hidup di dalam Sumur Kema-
tian, namun begitu menyaksikan dengan ma-
ta kepala sendiri, tak urung air mata Bidadari Putih pun merembes membasahi
pipi. Lowo Kuru membelalakkan matanya
sungguh tidak diduga kalau istrinya akan
muncul dalam Sumur Kematian.
Pada saat yang sama, Soma dan Bidada-
ri Kecil tengah berkelebat cepat ke dasar Sumur Kematian. Sesampainya di sana,
tampak beberapa orang yang tak dikenal tengah ber-
diri berhadapan dengan Lowo Kuru. Siluman
Ular Putih bersiap-siap membantu Lowo Ku-
ru. Namun tidak demikian halnya Bidadari
Kecil. Begitu melihat sosok perempuan berpa-
kaian putih-putih yang sangat dikenalnya,
Aryani segera menghambur. Langsung ditu-
bruknya Bidadari Putih.
"Ibu...!"
Bidadari Putih tersentak kaget. Suara
gadis itu begitu sangat dikenalnya. Maka be-
gitu melihat Bidadari Kecil tengah berlari ke arahnya, Bidadari Putih pun cepat
menyam-butnya. "Aryani...!"
Bidadari Putih memeluk putri tunggal-
nya erat-erat. Air matanya semakin memban-
jiri membasahi pipi.
"Ba..., bagaimana kau bisa sampai ke-
mari, Anakku" Siapa yang mencemplungkan
kau kemari?" tanya Bidadari Putih dengan bibir bergetar.
"Aku... aku ingin bertemu Ayah, Ibu,"
kata Aryani dengan tangis memelas di dalam
pelukan ibunya.
"Istriku! Kasihan kau. Aku benar-benar
telah menelantarkan kalian berdua. Aku laki-
laki tak bertanggung jawab. Rasanya, aku tak layak lagi hidup lebih lama di alam
mayapada ini. Ma... maafkanlah aku, istriku!" ucap Lowo Kuru dengan segenap
perasaan sesalnya.
Suara laki-laki tua ini pun terdengar
bergetar-getar. Seolah-olah, ia tidak kuat lagi menahan guncangan batinnya yang
hebat. Bahkan tanpa diduga sama sekali, tahu-tahu
orang tua buntung yang memang sebenarnya
kurang waras, karena bertahun-tahun men-
derita dalam Sumur Kematian itu menggerak-
kan kepalanya ke dinding.
"Guru...! Jangaaan...!" pekik keempat orang murid utama Lowo Kuru hampir
bersamaan. Dan sebelum keempat orang murid itu
bertindak, mendadak sesosok bayangan putih
keperakan telah berkelebat cepat mengha-
dang gerakan Lowo Kuru yang hendak mem-
benturkan kepalanya ke dinding. Maka sebe-
lum peristiwa mengenaskan itu terjadi....
Bukkk! "Heekkk..!"
Aneh sekali. Entah mengapa, kepala Lo-
wo Kuru seperti menghantam kantong kapas
yang lunak. Sehingga selamatlah nyawanya.
Namun karena gerakan kepala orang tua bun-
tung itu begitu keras, maka tak urung juga
Soma sempat meringis kesakitan. Perutnya
mendadak terasa diaduk-aduk, hendak me-
muntahkan isinya.
"Orang tua tak berperasaan! Bagaimana
kau dapat mengerti perasaan anak dan istri-
mu kalau kau sendiri belum tahu perasaan-
mu sendiri!" bentak Soma alias Siluman Ular Putih garang.
Dengan menggunakan Ujung-ujung
rambutnya yang menotol ke badan pemuda
penghadangnya, Lowo Kuru cepat menarik
kepalanya. Dan ia segera berdiri seperti semu-la, menggunakan ujung-ujung
rambutnya yang menancap kokoh ke tanah.
Pada saat rambut-rambut Lowo Kuru
menotol ke badan Soma itulah Siluman Ular
Putih menggelinjang kegelian.
"Eh eh...! Dasar orang tua tak tahu diri!
Sudah ditolong, pakai menggelitiki lagi!"
Mata Lowo Kuru terbelalak lebar. Bu-
kannya tersinggung oleh makian barusan,
melainkan heran melihat pemuda penolong-
nya mampu menguasai 'Tenaga Inti Kapas'
yang hanya dikuasai beberapa gelintir orang
di dunia persilatan. Satu di antaranya orang yang menguasai 'Tenaga Inti Kapas'
adalah Eyang Bromo. Ia adalah salah seorang tokoh
sakti yang jarang sekali menampakkan diri ke dunia ramai.
"Kau..." Apa hubunganmu dengan
Eyang Bromo, Anak Muda" Apakah kau...,
kau murid orang tua sakti dari Gunung Bro-
mo itu?" tanya Lowo Kuru dengan mata terbeliak lebar saking kagumnya.
"Aku?" Soma menunjuk dadanya sendiri.
"Ah...! Kau ini mengada-ada saja, Ki! Mana aku tahu orang tua sakti yang kau
sebut-sebutkan itu. Mendengar namanya pun baru
kali ini."
"Tidak mungkin! Kau pasti mengenal
orang tua sakti itu. Sebab, siapa lagi yang
mampu menguasai Tenaga Inti Kapas' kalau
bukan murid orang tua sakti dari Gunung
Bromo itu. Tapi..., tapi kalau tidak salah, bisa jadi kau murid Eyang Begawan
Kamasetyo dari Gunung Bucu. Sebab hanya dua orang
tua sakti itu sajalah yang mampu menguasai
'Tenaga Inti Kapas'. Ya yaya...! Kau pasti murid dari salah satu orang tua sakti
yang kusebutkan tadi," tebak Lowo Kuru seraya mengangguk-angguk.
Soma menggaruk-garuk kepala. Sung-
guh tidak disangka kalau orang tua buntung
penghuni Sumur Kematian itu mempunyai
pengetahuan cukup luas tentang dunia persi-
latan. Diam-diam Soma yang bergelar Silu-
man Ular Putih pun mulai mengagumi orang
tua buntung di hadapannya.
"Sudahlah, Ki! Buat apa membicarakan
tentang diriku" Apa tidak sebaiknya kau urus saja anak dan istrimu. Juga,
keempat orang yang menyebutmu Guru itu!" ujar Soma seraya menunjuk ke arah empat orang laki-
laki yang kini telah berlutut tak jauh dari Lowo
Kuru. Lowo Kuru terkejut. Seketika itu juga,
kepalanya berpaling ke arah empat laki-laki
berpakaian putih-putih yang kini telah berlutut di hadapannya
"Terimalah hormat kami, Guru! Maaf,
kalau baru sekarang kami bisa menemui
Guru," ucap Sindu penuh hormat.
Lowo Kuru mengangguk-angguk.
"Bangunlah kalian semua!" perintah Lo-wo Kuru berwibawa.
Dengan tangkas, keempat orang murid
Lowo Kuru melompat bangun. Sejenak pan-
dangan mata keempat orang itu memperhati-
kan pemuda gondrong di samping gurunya
penuh kagum. Lagi-lagi Soma hanya menggaruk- garuk
kepalanya. Namun belum sempat membuka
suara.... "Aryani! Ajaklah ibumu beristirahat di
lorong sebelah! Nanti aku menyusul!" sela Lowo Kuru.
"Baik, Ayah!" sahut Aryani tangkas. "Ma-ri, Bu!"
Aryani alias Bidadari Kecil cepat meraih
lengan ibunya. Dan diajaknya Bidadari Putih menuju ke lorong sebelah. Namun
tiba-tiba saja gadis itu menghentikan langkahnya.
"Eh...! Mau apa kau di situ" Ayo, ikut
aku!" ajak Aryani.
"Habis kau tak mengajakku, sih"!" sahut Soma, asal bunyi.
"Dasar kolokan!"
Dalam ruangan berukuran tiga kali em-
pat tombak, Bidadari Kecil dan keempat orang murid utama Lowo Kuru terus
berlatih jurus-jurus 'Sumur Kematian' yang tergurat di dinding-dinding lorong.
Tak jauh dari mereka
tampak pula Lowo Kuru yang tengah membu-
ka kotak kecil yang disimpan di dinding sebelah utara.
Begitu kotak kecil berwarna hitam ter-
buka, maka berpendarlah cahaya merah yang
berasal dari sesuatu di dalam kotak itu. Ben-da itu tak lain adalah pohon Lontar
Merah be- rukuran sangat kecil. Panjangnya kira-kira
satu jengkal tangan manusia dewasa. Sesuai
namanya, daun-daun lontar itu pun berwarna
merah. Sedang, batang-batangnya berwarna
putih bersih mirip tulang.
Soma yang duduk tak jauh dari Lowo
Kuru sempat berdecak kagum beberapa kali.
Sepasang matanya membelalak lebar.
"Pohon apa itu, Ki" Kok berwarna me-
rah?" tanya Soma, saking herannya.
"Mungkin kau baru kali ini mendengar-
nya, Anak Muda. Inilah yang dinamakan
Daun Lontar Merah. Khasiatnya sungguh luar
biasa. Tak hanya untuk menyembuhkan pe-
nyakit menahun, tapi juga bisa untuk me-
nyembuhkan orang mati jika Tuhan memang
menghendaki demikian."
Bidadari Putih yang dari tadi memang
sudah kagum melihat Daun Lontar Merah
semakin membelalakkan matanya. Pohon itu-
lah yang selama ini diidam- idamkannya.
"Suamiku! Kalau boleh izinkan. aku
memakan Daun Lontar Merah itu," pinta Bidadari Putih tak sabar.
"Tentu saja, Istriku. Dari cerita Aryani, aku tahu kalau kau keracunan. Dan
kalau melihat racun yang mengeram dalam tubuh-
mu pasti Kelelawar Hutanlah yang telah men-
celakakanmu!" kata Lowo Kuru.
"Ya...! Siapa lagi... kalau bukan Manusia Jahanam Kelelawar Hutan itu. Begitu
kau dapat dirobohkan jahanam itu, tidak lama ke-
mudian aku pun terkena pukulan 'Tangan Hi-
tam'. Untung, waktu itu aku sudah menge-
rahkan tenaga dalam sebelum pukulan itu
mendarat di tubuhku. Namun tetap saja aku
tidak dapat menghindar dari hawa racun yang
diakibatkan pukulan itu, Suamiku," tutur Bidadari Putih. Napasnya sampai
terengah- engah saking tidak kuatnya menahan ama-
rahnya menggelegak.
"Makanlah Daun Lontar Merah ini, Istri-
ku!" ujar Lowo Kuru seraya menjulurkan
ujung-ujung rambutnya yang 'memegang'
Daun Lontar Merah kepada istrinya.
Bidadari Putih menerimanya dengan
tangan bergetar. Daun Lontar Merah di tela-
pak tangan kanannya sejenak dipandanginya
seksama. Tidak terlalu kecil memang. Paling, hanya sebesar kuku ibu jari manusia
dewasa. Demikian dengan segenap pengharapannya,
perlahan-lahan segera dimakannya Daun
Lontar Merah. Ajaib sekali. Selang beberapa saat, seke-
tika itu juga wajah Bidadari Putih yang kepucatan berubah menjadi kemerah
-merahan! Lowo Kuru yang saat sudah menyimpan
kotak kecil berisi Daun Lontar Merah pada
tempatnya semula, tak henti-hentinya terus
memandangi istrinya dengan mata berseri.
"Lekas bersemadi, Istriku! Kendalikan
hawa racun yang mengeram dalam tubuhmu
dan muntahkanlah!" ujar Lowo Kuru lagi.
"Baik, Suamiku," sahut Bidadari Putih patuh. Sehabis berkata begitu, perlahan-
lahan Bidadari Putih pun mulai memejamkan
matanya. Napasnya yang semula memburu
kini mulai agak tenang. Dan tidak lama ke-
mudian, wanita ini telah tenggelam dalam


Siluman Ular Putih 04 Pedang Kelelawar Putih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

semadinya. * * * 9 Kabut pagi hari perlahan-lahan tersing-
kap oleh matahari yang baru saja menam-
pakkan diri dengan sinarnya yang kuning
keemasan di ufuk sebelah timur. Dari lereng
sebelah barat Gunung Sumbing, tepatnya di
Pekarangan Terlarang, cahaya matahari terus
menerabas jauh ke ufuk sebelah barat sana.
Sejak kegagalan menangkap Bidadari
Putih tiga hari yang lalu, Kelelawar Hutan
memerintahkan murid-muridnya untuk
memperketat penjagaan di Pekarangan Terla-
rang. Segala siasat dan jebakan telah dipersiapkan disana, Dan tidak kurang dari
empat puluh murid Perguruan Kelelawar Putih di
tempatkan di Pekarangan Terlarang dengan
senjata lengkap.
Sepintas suasana di atas Pekarangan
Terlarang, terutama sekali di sekitar Sumur
Kematian, terasa begitu mencekam. Dua pu-
luh orang murid penjaga tampak siap siaga
dengan senjata di tangan. Sepasang mata me-
reka tak pernah lepas dari mulut Sumur Ke-
matian. Di saat kedua puluh orang murid
penjaga tengah bersiap siaga, mendadak dari
mulut Sumur Kematian muncul sesosok
bayangan putih yang kemudian disusul pula
oleh beberapa sosok bayangan putih lainnya.
Dan yang terakhir muncul adalah sosok
pemuda berambut gondrong dengan pakaian
rompi dan celana bersisik warna putih kepe-
rakan. Sosok itu tidak lain dari Soma alias Siluman Ular Putih.
Begitu Soma berada di atas Sumur Ke-
matian, keningnya berkerut dalam -dalam.
Sepasang matanya yang berwarna biru terus
memperhatikan kedua puluh orang murid
penjaga. "Tangkap Nona Bidadari Kecil dan Bibi
Guru Bidadari Putih!" teriak salah seorang murid penjaga, lantang.
Mendengar teriakan lantang itu, dua pu-
luh orang murid penjaga yang sedari tadi te-
lah bersiap siaga segera mengepung rombon-
gan kecil dari Sumur Kematian. Senjata ter-
hunus di tangan langsung diputar-putar.
"Keparat! Kalian benar-benar ingin men-
cari mampus. Jangan salahkan kalau aku
terpaksa berlaku kasar pada kalian!" bentak Bidadari Kecil penuh kemarahan.
"Aryani! Jangan terlalu kasar pada me-
reka! Mereka hanyalah orang-orang suruhan,"
tegur Bidadari Putih.
Aryani menggerutkan gerahamnya. Se-
pasang matanya memancarkan rasa tidak
puas terhadap ucapan ibunya barusan.
"Baik, Ibu," sahut Aryani akhirnya.
"Kunyuk-kunyuk tak tahu diri! Mengapa
tidak kau suruh sekalian Kelelawar Hutan
kemari, he"!" bentak Sindu kesal.
Sehabis berkata begitu, Sindu yang tidak
sabar melihat tingkah murid-murid penjaga
segera menyerang. Kedua tangannya berkele-
bat cepat dengan jari-jari terkembang, siap
menotok. Melihat Sindu telah mendahului menye-
rang, ketiga orang murid Lowo Kuru pun se-
gera menerjang para pengepungnya. Demi-
kian juga Aryani, Bidadari Putih, dan Siluman Ular Putih. Sehingga dalam waktu
yang tidak lama, kedua puluh orang murid Kelelawar
Hutan sudah terdesak hebat. Malah hampir
separonya roboh tak mampu bangun lagi ter-
kena totokan. Tiba-tiba murid yang tadi mengeluarkan
bentakan nyaring, bersuit panjang. Menden-
gar isyarat itu, beberapa orang murid penjaga yang belum roboh segera menyeret
teman-temannya yang tertotok keluar dari arena pertempuran.
Soma dan yang lainnya hanya saling
berpandangan. Mereka belum tahu, apa yang
akan dilakukan kedua puluh orang murid
penjaga. Namun ketidak mengertian mereka
kini terjawab. Begitu kedua puluh penjaga itu menyingkir jauh, mendadak dari
balik tembok Pekarangan Terlarang telah berloncatan ber-
puluh-puluh murid Perguruan Kelelawar Pu-
tih dengan busur panah tergenggam di tan-
gan. "Setan alas! Mereka benar-benar meng-
hendaki nyawa kita!" desis Aryani penuh kemarahan.
Memang benar apa yang dikatakan
Aryani. Begitu murid-murid pembawa busur
itu hinggap di atas tembok memutar Pekaran-
gan Terlarang, segera membentangkan bu-
surnya. Twang! Twang! Selang beberapa saat, berpuluh- puluh
anak panah melesat cepat bagai hujan me-
nyerang Soma dan kawan-kawan.
"Keparat! Ini tidak main-main lagi.
Hihhh...!" dengus Bidadari Putih, mulai tidak dapat mengendalikan amarahnya.
Dan begitu lincahnya, Bidadari Putih
yang kini sudah sembuh seperti ketika masih
gadis cepat menyampok rontok beberapa ba-
tang anak panah. Demikian juga yang lain-
nya. Namun rupanya murid-murid pembawa
busur itu telah mempersiapkan semuanya.
Begitu serangan pertama gagal, yang lain se-
gera menarik busur kembali.
Twang! Twang! Selang beberapa saat, kembali berpuluh-
puluh batang anak panah meluncur ke atas
tubuh Soma dan kawan-kawan. Tidak ada pi-
lihan lain, terpaksa Siluman Ular Putih dan
kawan kawan cepat menangkis dengan senja-
ta di tangan sambil perlahan-lahan bergerak
mendekati. Tak! Tak! "Edan...!"
Soma alias Siluman Ular Putih kesal ju-
ga dibuatnya. Sambil terus menangkis rontok
puluhan batang anak panah, Siluman Ular
Putih cepat berkelebat mendekati murid-
murid pembawa busur. Gerakan kedua ka-
kinya ringan sekali, laksana seekor capung
yang bergerak lincah menangkap mangsa.
Dan dalam waktu tidak lama, pemuda gon-
drong murid Eyang Begawan Kamasetyo pun
berhasil mencapai tembok Pekarangan Terla-
rang. Beberapa orang murid bersenjata panah
segera mengarahkan busur ke arah Siluman
Ular Putih. Soma tentu saja tidak ingin kalah cepat. Begitu kedua kakinya
menjejak tembok
Pekarangan Terlarang, segera ilmu meringan-
kan tubuh diarahkan. Dan dengan jari-jari
terkembang cepat ditotoknya tubuh beberapa
orang murid bersenjata panah.
Tukkk! Tuukk! Tukkk!
Tiga kali tangan Siluman Ular Putih ber-
gerak. Maka seketika itu juga tubuh tiga
orang murid bersenjata panah terpelanting
roboh tak dapat bangun lagi terkena totokan.
"Heaaat.,.!
Tuk! Tuk! Dan rupanya serangan Siluman Ular Pu-
tih pun tidak hanya sampai di sini. Dengan
mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya
yang sudah mencapai tingkat tinggi, kembali
jari-jari tangannya bergerak menotok roboh
beberapa orang murid bersenjata panah. Se-
hingga dalam waktu yang tidak lama, barisan
murid-murid pembawa panah di tembok ba-
gian sela-tan berhasil dibuat kocar-kacir.
Melihat sepak terjang pemuda gondrong
murid Eyang Begawan Kamasetyo dari Gu-
nung Bucu, Bidadari Putih dan Aryani pun
segera menjejakkan kakinya ke tembok Peka-
rangan Terlarang bagian barat. Meski berpu-
luh-puluh. batang panah menghujam ibu dan
anak itu mampu meliuk-liukkan tubuh. Se-
hingga, akhirnya di tembok Pekarangan Terla-
rang bagian barat. Kedua tangan mereka yang
sudah gatal-gatal segera berkelebat menotok
roboh beberapa orang murid pembawa panah.
Tukkk! Tukkk! Beberapa orang murid bersenjata panah
langsung terpelanting roboh begitu terkena
totokan jari-jari tangan Bidadari Putih dan
anaknya. "Heaaa...!"
Aryani yang sudah tidak dapat mengen-
dalikan amarahnya berteriak ganas. Tubuh-
nya kembali berkelebat cepat menyerang be-
berapa orang murid pembawa panah lainnya.
Kali ini gadis itu bukan hanya sekadar meno-
tok, melainkan melepas tamparan dan ten-
dangan. Plak! Desss...!
"Aaakh...!"
Dalam waktu yang tidak lama, murid-
murid bersenjata panah di bagian barat tem-
bok Pekarangan Terlarang dapat dibuat ko-
car-kacir. Di saat murid-murid bersenjata panah
dapat dibuat kocar-kacir, mendadak...
"Manusia-manusia pencari mati! Lekas-
lah serahkan diri kalian baik-baik!"
Dari arah barat tembok Pekarangan Ter-
larang terdengar bentakan garang dari seseo-
rang. . Belum hilang suara bentakan tadi, tahu-
tahu di tempat itu telah berdiri tegak sesosok bayangan hitam-hitam dengan wajah
garang. Tidak lama kemudian, hinggap pula dua so-
sok bayangan berpakaian kuning keemasan.
Sosok bayangan berpakaian hitam-hitam
tak lain adalah seorang lelaki bertubuh tinggi besar. Di kepalanya tampak
melingkar ikat kepala juga berwarna hitam. Wajahnya bengis
dengan sepasang mata mencorong menyi-
ratkan kekejaman. Siapa lagi dia kalau bukan manusia durjana yang bergelar
Kelelawar Hutan"!
Sedang di belakang Kelelawar Hutan
adalah dua orang wanita cantik berpakaian
kuning keemasan.
Yang sebelah kanan bercaping lebar dari
anyaman daun pandan. Sedang di samping-
nya adalah seorang wanita cantik berusia tiga puluh lima tahun. Rambutnya yang
hitam panjang digelung ke atas. Dua orang wanita
cantik itu tidak lain dari dua orang tokoh sesat dari Istana Ular Emas. Setan
Cantik dan Cantrik Tudung Pandan!
"Kelelawar Hutan! Dosamu telah ber-
tumpuk. Demi Tuhan aku akan membalaskan
sakit hati kedua orangtuaku!" bentak Aryani dengan kemarahan memuncak.
"Bocah lancang! Beraninya kau berkata
demikian"!" bentak Kelelawar Hutan garang.
"Mandra...! Hari inilah aku akan memba-
las sakit hatiku dan juga sakit hati suamiku!"
desis Bidadari Putih.
Sret! Sret! Tangan kanan wanita itu cepat melepas
pedang di balik pinggangnya. Demikian juga
Aryani. "Ha ha ha...! Majulah kalian anak-anak
setan! Kebetulan sekali kalian muncul secara bersamaan. Sehingga, aku tidak
perlu bersu-sah payah mencari!" ejek Kelelawar Hutan di antara tawanya.
Aryani yang berada paling depan cepat
menerjang orang tua tinggi besar itu. Tangan kanannya yang memegang pedang
digerakkan sedemikian rupa, menusuk ulu hati Kelelawar
Hutan. Sedang tangan kirinya siap pula me-
lancarkan totokan ke jalan darah Kelelawar
Hutan. Hebat sekali serangan Bidadari Kecil ini.
Bidadari Putih yang berada di belakang Arya-
ni tidak dapat berbuat apa-apa karena saat
itu, sedang berada di atas tembok Pekarangan Terlarang.
Melihat serangan Aryani, Kelelawar Hu-
tan hanya tersenyum dingin sinis. Tusukan
pedang yang mengarah ulu hatinya cepat di-
elakkan dengan satu liukan indah. Bersa-
maan dengan itu, tiba-tiba jari-jari tangannya cepat mengirimkan totokan ke
pergelangan tangan Aryani. "Ah...!" pekik Aryani kaget bukan alang kepalang.
Si gadis tidak menyangka serangannya
dapat dimentahkan demikian mudah. Jari-jari
tangan kirinya yang semula bermaksud me-


Siluman Ular Putih 04 Pedang Kelelawar Putih di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

notok, buru-buru digerakkan ke samping be-
gitu totokannya hanya mengenai tempat ko-
song. Sedang tangan kanannya yang teran-
cam totokan segera diputar cepat. Dan pe-
dangnya langsung membabat lengan Kelela-
war Hutan. Wesss! Wesss! Pedang di tangan Aryani hanya menem-
bus angin kosong beberapa jengkal dari tem-
pat sasaran. Namun tiba-tiba saja, Kelelawar
Hutan menjejakkan kakinya ke tempat Peka-
rangan Terlarang. Dan seketika itu juga, tu-
buhnya mencelat tinggi ke udara.
Setelah dua kali berputaran, Kelelawar
Hutan cepat menukik tajam. Kedua jari-jari
tangannya yang terkembang siap meremuk-
kan batok kepala Aryani dari atas. Di tempat lain Bidadari Putih yang melihat
putri tunggalnya dalam keadaan mengkhawatirkan,
hanya memekik cemas tanpa bisa berbuat
banyak. Aryani bukannya tidak tahu dirinya da-
lam keadaan bahaya. Melihat serangan yang
datang demikian cepatnya, cepat tubuhnya
dilempar ke samping. Sembari bergerak demi-
kian, tiba-tiba rambutnya yang tergerai di ba-hu telah bergerak cepat, menangkis
jari-jari tangan kanan Kelelawar Hutan yang siap meremukkan kepalanya.
Wesss! Plakkk! Gulungan-gulungan rambut hitam Arya-
ni berhasil menangkis tangan kanan Kelela-
war Hutan. Bahkan dengan menggunakan ju-
rus 'Sumur Kematian' yang baru saja dipela-
jarinya, gulungan rambut gadis itu pun ber-
hasil menghajar telak dada Kelelawar Hutan.
Bukkk! "Aaakh...!"
Kelelawar Hutan memekik kaget. Seketi-
ka itu juga, tubuhnya yang terkena hantaman
terjajar ke belakang. Karena masih berada di atas tembok Pekarangan Terlarang,
maka Kelelawar Hutan segera membuat salto beberapa
kali di udara dan mendarat empuk di tanah.
"Jahanam! Rupanya kau telah mampu
menguasai jurus 'Sumur Kematian', Bocah!
Pantas saja kau berani menjual lagak di de-
panku. Tapi, jangan harap aku takut meng-
hadapi jurus-jurusmu, Bocah!" dengus Kelelawar Hutan penuh kemarahan.
"Hiaaat...!"
Aryani yang penasaran sekali dengan
Kelelawar Hutan cepat berkelebat menyusul.
Pedang di tangan kanannya digunakan untuk
menusuk ubun-ubun dari atas. Sedang tan-
gan kirinya digunakan untuk menangkis ka-
lau-kalau ada serangan balik.
Melihat putri tunggalnya telah bergerak
lebih dahulu, Bidadari Putih yang juga mera-
sa geram melihat sepak terjang Kelelawar Hu-
tan hendak berkelebat, menyusul dengan sen-
jata di tangan. Namun sayang, baru saja kakinya menjejak tanah, tiba-tiba saja
di hadapannya telah menghadang dua orang wanita
berpakaian kuning keemasan.
"Biarkan bocah lancang itu bermain-
main dengan Kelelawar Hutan, Bidadari Pu-
tih! Sekarang, hadapi saja aku!" desis Setan Cantik sinis.
"Keparat! Lagi-lagi kalian yang membuat ulah di Perguruan Kelelawar Putih! Apa
kalian sudah bosan hidup, he"!" bentak Bidadari Putih garang.
"Ha ha ha...! Sungguh pintar sekali kau berkoar, Bidadari Putih! Aku jadi ingin
lihat, apakah kau sanggup mewujudkan kata-katamu itu"!" ejek Cantrik Tudung
Pandan. Sehabis berkata begitu, tokoh sesat dari
Istana Ular Emas itu pun segera mencabut
pedang tipisnya yang melilit di pinggang. Dan seketika Cantrik Tudung Pandan
telah berkelebat cepat menyerang Bidadari Putih.
Melihat kakak seperguruannya telah
mendahului, Setan Cantik pun segera menca-
but pedang tipisnya yang melilit di pinggang.
Dan dengan garang-nya, tubuhnya berkelebat
Kisah Tiga Kerajaan 10 Joko Sableng 26 Titisan Pamungkas Pendekar Pedang Dari Bu Tong 8
^