Pencarian

Mata Air Dibayangan Bukit 8

Mata Air Di Bayangan Bukit Karya Sh Mintardja Bagian 8


bernama Singkir itu benar-benar tidak mampu berbuat apaapa.
lagi, selain meloncat, terhuyung-huyung dan bahkan
hampir jatuh, gegedug bertubuh pendek itu tidak dapat
menahan diri lagi. "Aku tidak akan mencampuri persoalannya" Ia menggeram
"tetapi aku tidak mau melhait orang yang tidak dikenal itu
menghinakan padukuhan ini"
Karena itu. maka tiba-tiba saja gegedug yang bertabuh
pendek itu segera meloncat maju sambil berkata "Kakang
Singkir. Bertahanlah. Aku akan membantumu"
Gegedug yang bernama Singkir itu tertegun sejenak.
Keringatnya sudah bagakan terperas dari tubuhnya. Ia benarbenar
sudah berputus asa dan tidak tahu lagi apa yang harus
diperbuat. Namun kehadiran gegedug bertubuh pendek itu telah
menumbuhkan harapan. Wajahnya yang pucat tiba-tiba saja
telah menjadi merah. Tetapi sekejap kemudian ia menjadi1 ragu-ragu. Bahkan
sekali-kali ia berpaling kepada perempuan yang berdiri di
depan regol itu. "Aku tidak peduli perempuan itu" geram gegedug bertubuh
pendek "Aku hanya ingin membunuh orang yang telah
menghinakan padukuhan inli. Marilah, kita bersama-sama
tentu akan dapat melakukannya"
Jlitheng termangu-mangu sejenak. Iapun sempat
memandangi langkah gegedug bertubuh pendek itu. Pada
langkah itu ia mendapatkan kesan bahwa orang bertubuh
pendek itu tentu dapat bergerak dengan cepat dan cekatan.
Namun dalam pada itu, Jlilthengpun mendapatkan kesan
yang lain pula pada orang yang kemudian menjadi semakin
dekat itu. Ternyata bahwa di dalam padukuhan itu ada juga
orang yang mencampuri persoalan yang terjadi pada orang
lain. Dalam pada itu, dengan sengaja Jlithengpun kemudian
bertanya "Jadi kau juga; akan mencampuri persoalan orang
lain, seperti yang aku lakukan?"
"Aku tidak peduli. Tetapi justru karena kau mencampuri
persoalan kakang Singkir itu, kau berarti telah menghina adat
yang berlaku di padukuhan ini. Dengan demikian, maka kau
sudah memaksa orang lain ikut terlibat pula ke dalamnya"
"Bagus" tiba-tiba Jlitheng berteriak "Jika demikian maka
maksudku sudah tercapai Orang-orang padukuhan ini
memang tidak boleh tinggal diam apapun yang terjadi. Jika
kau merasa terhina dan kemudian mencampuri persoalan ini.
maka itu adalah pertanda bahwa kau masih memiliki sifat
yang utuh. Sifat manusia dalam hubungan antar manusia yang
pada dasarnya tidak akan dapat saling melepaskan diri dan
saling t idak menghiraukan yang satu dengan yang lain"
"Persetan" geram gegedug itu "apapun yang kau katakan,
tetapi aku ingin membunuhmu, supaya kau tidak mengotori
kebiasaan yang sudah berlaku di padukuhan ini, dan
terlangsung dengan tenang tanpa diganggu oleh sdapapun
juga" "Aku tidak mengerti, apakah kau mempunyai arti tersendiri
atas kata-katamu. Bahwa padukuhan ini dengan tenang
menganut kebiasaan yang sudah berlaku adalah pengertian
yang membuat kepalaku menjadi pening"
"Cukup" bentak gegedug itu sambil melangkah semakin
dekat "Kau jangan banyak berbicara lagi. Bersiaplah untuk
mati. Meskipun kau dapat mengalahkan kakang Singkir tetapi
melawan kami berdua kau tidak akan mampu bertahan
sepenginang" Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukangguk
ia berkata; "Baiklah. Marilah kita bertempur. Ternyata
bahwa penghuni padukuhan ini jiwanya belum benar-benar
membeku" Gegedug yang bertubuh pendek itu melangkah semakin
dekat. Bahkan iapun telah bersiaga untuk bertempur. Dengan
tangan bergetar ia menarik golok dipinggangnya.
Sementara itu Singkir menjadi termangu-mangu. Namun
sesaat kemudian iapun telah bersiap menghadapi lawannya
yang masih muda itu. Berdua iapun yakin akan dapat
mengalahkan lawannya Dalam ketegangan itu, maka laki-laki yang hampir terbunuh
oleh Singkir itupun melihat apa yang akan terjadi. Tetapi ia
tidak mampu berbuat sesuatu. Jika terpandang olehnya wajah
isterinya yang berdiri dimuka regol, maka hatinyapun menjadi
berdebar-debar. Seakan-akan ia melihat seraut wajah dalam
dua warna. Wajah isterinya yang cantik, namun juga wajah
iblis betina yang mengerikan, yang siap menghisap darahnya
sampai kering. Dalam pada itu, kedua gegedug itupun telah bersiap.
Keduanya telah mengambil sikap dan arahya masiiing-masing.
Namun keduanya masih belum meloncat menyerang.
Jlitheng memandang keduanya berganti-ganti. Namun
akhirnya ia tersenyum sambil berkata "Silahkan Ki Sanak. Aku
sudah siap menghadapi kalian berdua"
Tetapi sebelum kedua orang itu bergerak, beberapa orang
yang menyaksikan perkelahian itupun menyibak. Seorang
yang bertubuh sedang, berwajah tampan melangkah maju.
Dengan senyum di bibirnya ia berkata "Kenapa kalian hanya
berdua?" Orang-orang yang berada diarena itu berpaling. Mereka
melihat seorang berwajah tampan itu semakin mendekat.
Dengan suara tertawa yang renyah ia berkata "Aku akan ikut
campur. Sebenarnya ikut campur. Kemudian persoalan
diantara kita akan kita selesaikan sendiri. Perempuan itu
memang cantik" Gegedug yang bernama Singkir itu mengerutkan
keningnya. Dengan geram ia berkata "Jangan gila
dihadapanku" Orang berwajah tampan itu tertawa. Katanya "Kau ambil
perempuan itu dari suaminya, Tetapi perempuan itu memang
memilih kau daripadanya. Tetapi bagaimana jika perempuan
itu memilih aku, dan aku akan membunuh laki-laki yang sudah
mengalahkanmu" "Kau jangan sombong. Aku tidak dapat membunuhnya. Apa
kau dapat melakukannya?"
"Kita, melakukan bertiga. Jika orang itu sudah mati, kita
akan berbicara. Kita dapat menempuh cara lain dari yang
selama ini berlaku. Merebut seseorang dari sisihannya dengan
mut lak. Tetapi apakah kita dapait melakukan cara yang
berbeda?" Gegedug yang bernama Singkir itu mengerutkan keringnya.
Sejenak ia merenung. Sementara itu, darah Jlitheng justru menjadi panas
mendengar pembicaraan itu. Jika semula ia berusaha untuk
menyelesaikan perkelahian itu dengan darah dingin, namun
pembicaraan antara orang-orang yang dianggapnya menyalahi
hubungan antara manusia yang beradab telah membuat
jantungnya bergejolak. Jlitheng hampir t idak dapat menahan kemarahannya ketika
ia justru mendengar perempuan yang menjadi sumber
persoalan itu berteriak dari regol "Apa salahnya jika yang tidak
seperti kebiasaan yang berlaku itu kita anggap baik dan
bermanfaat?" Ketika Jlitheng berpaling kearah perempuan itu, maka ia
melihat iblis betina ku tertawa.
"Nah kau dengar" berkata orang berwajah tampan
"marilah. Aku akan membantumu membunuh anak muda yang
malang, yang telah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam
kesulitan" Jlitheng menggeretakkun giginya. Ia benar-benar menjadi
marah. Bukan karena ia harus menghadapi tiga orang
bersama-sama. Tetapi justru karena sikap mereka yang gila
itu yang tidak lagi berpegangan pada martabat manusianya.
Karena itu, maka Jlithengpun kemudian menggeram "Kalian
memang bukan orang-orang yang mengerti akan peradaban.
Karena itu, maka aku akan bersikap khusus di dalam"
padukuhan ini. Aku tidak lagi dapat bermain-main sambil
tersenyum dengan harapan, bahwa sikap itu akan melunakkan
hati kalian yang membeku"
Ketiga orang itu mengerutkan keningnya. Kata-kata
Jlitheng itu memang mendebarkan. Apalagi orang yang
bernama Singkir, yang telah mengalami tekanan yang tidak
terlawan dari anak muda yang bernama Jlitheng itu. Yang
kemudian menyadari, bahwa Jlitheng memang tidak ingin
membunuhnya, bahkan melukaipun tidak meskipun ia sudah
tidak berdaya melawannya.
Tetapi bersama dua orang kawannya, maka ia mempunyai
harapan lain meskipun ia menjadi ragu-ragu melihat sikap
Jlitheng yang sama sekali t idak menjadi gentar.
Sejenak kemudian ketika orang yang dianggap orang
terbaik di padukuhan itupun telah bersiap diseputar Jlitheng.
Singkir yang ragu-ragu akhirnya menemukan kemantapan
kembali, meskipun tenaganya belumpulih seutuhnya.
Orang berwajah tampan yang berdiri dua langkah disebelah
Jlitheng itupun kemudian berkata sambi tersenyum "Anak
muda, marilah. Kau masih sempat menyebut nama ayah
bundamu sebelum ajal datang memdukmu. Jangan merajuk
lagi. Aku mengerti, bahwa peradaban di padukuhan ini agak
berbeda dengan padiukuhan-padukuhan yang lain, karena aku
memang bukan orang yang dilahirkan dan dibesarkan di
padukuhan ini. Tetapi cara hidup orang-orang padukuhan ini
sangat menarik, sehingga aku memutuskan untuk pindah ke
padukuhan ini" "Ternyata bahwa penglihatan batinmu telah menjadi kabur"
jawab Jlitheng "Karena itu, maka akupun akan
mempergunakan cara yang barangkali paling baik aku lakukan
bagi orang-orang padukuhan ini. Lihat, cara itulah yang kalian
alami. Bahkan mungkin aku akan melakukannya terhadap
kalian sampai ke batas maut"
Orang-orang itupun berpaling sekilas memandang laki-laki
yang masih terbaring di bawah bayangan batang perdu yang
tumbuh melekat dinding halaman di pinggir jalan itu. Orang
itu mencoba untuk bangkit tetapi yang dapat dilakukannya
hanyalah beringsut dan bersandar dinding halaman.
Gegedug berwajah, tampan itu tertawa. Katanya "Memang
menarik sekali Nampaknya lebih senang menyumbat
hidungnya dari pada mencekik lehernya"
Jlitheng tidak lagi dapat bersabar. Karena itu, maka iapun
beringsut setapak sambil menggeram "Kalian juga akan
mengalami" Gegedug bertubuh agak pendek itupun tidak sabar lagi.
Iapun bergeser selangkah maju sambil berkata "Aku tidak
sabar lagi. Aku sudah menyaksikan bagaimana ia
mempermainkan kakang Singkir. Marilah, kita berbuat
sesuatu" Jlitheng mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak sempat
menjawab, karena orang bertubuh agak pendek itu tiba-tiba
saja sudah menyerang sambil berkata lantang "Aku akan
bertempur sampai orang ini mati di bawah mata orang-orang
padukuhan ini. Ia sudah berbuat sesuatu yang mencemarkan
nama baik kita" Namun Jlithengpun telah siap menghadapi segala
kemungkinan. Ia bergeser selangkah sambil berputar.
Serangan orang bertubuh pendek itu memang dapat
dihindari, namun adalah diluar dugaan bahwa tiba-tiba saja
orang berwajah tampan yang nampaknya masih belum
bersikap itu telah meluncur dengan cepatnya. Kakinya terjulur
Jurus langsung mengarah lambung.
Jlitheng memang terkejut mendapat serangan itu.
Serangan yang tiba-tiba dan demikian cepatnya. Karena itu.
maka ia tidak sempat mengelak lagi. Ia hanya dapat bergeser
setapak. Namun orang berwajah tampan itu ternyata memiliki
kecepatan bergerak yang mengagumkan. Ia masih sempat
menggeliat dan sekaligus merentangkan tangannya. Ketika
kakinya kemudian berhasil menyentuh lawannya meskipun
tidak seperti yang dikehendakinya, ia masih sempat
menghantam kening Jlitheng.
Serangan pertama yang langsung mengenai lawannya itu
benar-benar telah mendebarkan jantung. Jlitheng yang tidak
mengira bahwa ia akan langsung dihantam pada serangan
pertama itu telah terdorong surut. Belum lagi ia sempat
memperbaiki kedudukannya, matka serangan yang berikutnya
telah menyusul. Orang berwajah tampan itu kemudian
meloncat sambil mengayunkan tangannya mengarah ke dahi
Jlitheng. Dalam keadaan yang sulit karena Jlitheng harus
menangkis tombak Singkir yang terjulur, Jlitheng memiringkan
kepalanya sehingga tangan itu tidak mengenai sasarannya.
Tetapi tangan itu masih menghantam pundak Jlitheng dengan
kerasnya. Jlitheng menyeringai menahan sakit. Ketika sebuah pukulan
sekali lagi mengenai dadanya, maka ia benar-benar kehilangan
keseimbangan dan terlempar jatuh.
Ternyata orang berwajah tampan itu benar-benar memiliki
kecepatan bergerak yang mengagumkan. Pada serangan yang
beruntun itu, ia sudah berhasil mengenai tubuh Jlitheng
beberapa kali, sehingga Jilthengpun telah terjatuh.
Namun, dalam pada itu, Jlitheng tidak kehilangan akal. Ia
mengerti apa yang telah terjadi. Karena itu, maka iapun justru
berguling beberapa kali dengan cepatnya. Kemudian iapun
melenting berdiri dengan cepatnya.
Pada saat itu, serangan lawannya telah memburunya.
Bukan saja dari orang berwajah tampan itu. Terapi ketiga
orang lawannya telah berada selangkah dihadapannya.
Apalagi orang berwajah tampan itu.
Tetapi ketika orang itu menyerangnya Jlitheng benar-benar
telah mapan. Ia menyadari keadaan sepenuhnya. Iapun dapat
menjajagi kemampuan lawan. Kekuatan dan kecepatan
mereka bergerak. Dengan demikian, ketika orang berwajah tampan itu
menyerangnya sekali lagi dengan kecepatan tatit di langit,
Jlitheng tidak ingin mengelakkan diri. Ia sudah benar-benar di
bakar oleh kemarahan yang memuncak. Karena itu, maka
iapun telah didorong oleh keinginan seorang anak muda untuk
berbuat sesuatu yang dapat memberikanya kebanggaan
setelah beberapa saat lamanya da menjadi sasaran


Mata Air Di Bayangan Bukit Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kebanggaan lawannya. Apalagi karena kesombongan
lawannya tanpa senjata. Dalam pada itu, beberapa orang yang menyaksikan dari
kejauhan menjadi berdebar-debar, la melihat bagaimana
gegedug berwajah tampan itu mampu mempermainkan
lawannya. Menyerangnya dan bahkan kemudian melemparkan
anak muda itu sehingga jatuh berguling-guling. Kini mereka
melihat orang itu menyerang sekali lagi dan merekapun
melihat Jlitheng tidak dapat mengelakkan diri.
Karena itu, maka merekapun menduga, bahwa Jlitheng benarbenar
akan mengalami kesulitan. Ia tentu akan terlempar
sekali lagi, dan jatuh terbanting ke tanah. Mungkin ia akan
mengalami luka-luka yang parah, bukan sekedar terguling
seperti yang telah terjadi.
Sementara itu, kawan Cempaka yang disebut Iblis
bertangan Petir itupun mengerutkan keningnya. Ia melihat
Jlitheng seakan-akan tidak dapat mengimbangi kecepatan
bergerak lawannya, sementara dua orang yang lab masih
belumbertempur dengan sungguh-sungguh.
Ketika ia melihat orang berwajah taimpan itu menyerang
Jlitheng dan nampaknya Jlitheng tidak mengelakkan dini.
bahkan tidak memanfaatkan senjatanya sebaik-baiknya, ia
menjadi tegang. Yang terjadi kemudian adalah benturan yang keras antara
orang berwajah tampan itu dengan Jlitheng, justru karena
Jlitheng dengan sengaja tidak mengelakkan dirinya, dan tidak
mempergunakan senjatanya.
Ternyata perhitungan Jlitheng tidak terlalu jauh dari
kebenaran. Orang berwajah tampan yang mampu bergerak
cepat itu, ternyata tidak memilki kekuatan seperti yang dapat
dibanggakan. Agaknya ia lebih mementingkan pada
kemampuan bergerak daripada memperhitungkan kekuatan
serangannya. Dengaa demikian, ketika benturan itu terjadi maka orang
berwajah tampan itupun telah terlempar beberapa langkah.
Justru karena Jlitheng yang bertahan itu telah mendorongnya
pula. Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu melihat,
Jlitheng berdiri tegak dengan kaki renggang Lawannyalah
yang terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling di
tanah. Kedua orang gegedug yang bertempur bersamanya
terkejut. Ia melihat orang berwajah tampan itu pada mulanya
seakan-akan berhasil menguasai lawannya dengan
kecepatannya bergerak. Namun kemudian mereka melihat
orang itu justru terlempar, sedangkan J litheng masih tetap
berdiri di tempatinya. Sejenak kemudian, orang yang terlempar iltu berusaha
untuk melent ing berdiri. Namun ternyata bahwa lontaran
tenaganya sendiri yang seakan-akan memental pada benturan
kekuatan dengan lawannya itu, telah membuatnya kesakitan.
Karena itu, ia tidak segera dapat berdiri tegak. Seberapa
saat ia terhuyung-huyung mencari keseimbangan.
Kawan Cempaka yang menyaksikan pertempuran itu
dengan tegang, tiba-tiba saja tersenyum. Namun ia tidak
beranjak dari tempatnya. Ia masih ingin melihat Jlitheng
menghadapi ketiga orang itu untuk selanjutnya.
-ooo0dw0oooTiraikasih Karya : SH Mintardja Convert by : Dewi KZ Editor : Dino
Jilid 07 SEMENTARA itu, Jlithengpun telah mempersiapkan diri
untuk menghadapi kemungkinan selanjutnya. Ia sadar, bahwa
untuk selanjutnya ia akan bertiadapan dengan ketiga orang
gegedug itu bersama-sama.
Ternyata pula, bahwa sejenak kemudian ketiga orang itu
telah bersiap. Gegedug yang berwajah tampan, yang baru
saja terbanting jatuh itu telah berusaha memperbaiki
keadaannya. Namun dengan demikian dia sadar, bahwa yang
dapat dilakukan itu bukannya satu kemenangan. Ternyata ia
hanya dapat mengejutkan orang yang tidak dikenalnya itu.
Tetapi selanjutnya, ia tidak dapat berbuat lebih banyak lagi.
Tetapi bertiga, maka ia mempunyai pertimbangan lain.
Bagaimanapun juga, mereka bertiga adalah orang-orang yang
ditakuti bukan saja di padukuhannya. Tetapi sampai
kepadukuhan sekitarnya. Tidak lebih dari enam orang yang
mempunyai nama dan kedudukan seperti mereka. Jika tiga
diantaranya telah bersedia bekerja bersama, maka mereka
tentu akan merupakan kekuatan yang luar biasa.
"Orang ini memang luar biasa" ketiga gegedug itu
mengakui di dalam hati. Tetapi merekapun menganggap diri
mereka luar biasa pula. Apalagi bertiga bersama-sama.
Sejenak kemudian, maka ketiga orang itu telah melangkah
maju mendekati Jlitheng dari arah yang berbeda. Mereka telah
bersiap untuk menyerang dan kemudlian menghancurkannya.
Terhadap tetangga sendiri, mereka tidak memaafkan setiap
yang dianggapnya salah. Apalagi terhadap orang lain. Maka
mereka t idak akan mengenal belas kasihan.
Orang berwajah tampan itu tidak lagi nampak tersenyumsenyum.
Wajahnya yang tampan iitu bagaikan disaput oleh
warna merah, sehingga wajah itu seolah-olah telah berubah
menjadi wajah hantu yang kehausan melihat darah yang
merah segar. Sementara isu ditanganinya telah tergenggam
sebilah keris yang besar dan panjang,
Jlitheng berdiri tegak seperti batu karang yang tidak
terguncang oleh badai dan prahara. Ia berusaha untuk dapat
melihat dan mengerti apa yang akan diakukan oleh ketiga
lawannya. Sesaat kemudian, maka iapun mulai bergeser ketika
lawannya telah bersiap untuk menyerang. Sementara ia masih
mendengar orang berwajah tampan itu menggeram "Kau
memang tidak tahu diri. Kau merasa bahwa yang kau lakukan
itu dapat menakuti aku" Justru yang kau lakukan itu telah
mendesakmu ke dalam keadaan yang paling gawat"
Jlitheng yang memang sudah marah tidak menunggu lebih
lama lagi. Sebelum oraing itu selesai berbicara, maka ia pun
telah meloncat menyerang dengan kecepatan yang tidak kasat
mata. Serangan itu demikian tiba-tiba, sehingga orang berwajah
tampan itu tidak menduga. Jiika semula ia berhasil
mengejutkan Jlitheng, namun ternyata kemudian, bahwa
iapun telah terkejut sekali mendapatkan serangan itu.
Demikian cepat dan derasnya, sehingga orang berwajah
tampan itu tidak mendapat kesempatan untuk mengelakkan
diri. Karena itu, maka diapun telah berusaha menangkis
serangan-serangan Jlitheng yang mengarah ke dadanya.
Namun ternyata sekali lagi, bahwa kekuatan Jlitheng tidak
dapat diimbanginya. Dengan derasnya Jlitheng telah
menyerangnya pula. Tidak dengan senjatanya, tetapi dengan
kakinya. Yang terjadi sekali lagi telah melemparkannya
beberapa langkah surut dan bahkan kemudian orang berwajah
tampan itu sekali lagi kehilangan keseimbangannya dan jatuh
terlentang. Tetapi Jlitheng tidak sempat memburunya. Kedua orang
lawannya yang lainpun telah menyerangnya pula hampir
bersamaan. Dengan loncatan pendek Jlitheng dapat melepaskan diri
dari garis serangan keduanya. Ia masih mampu mengambil
jarak, dan dengan tangkasnya, ia telah membalas serangan itu
dengan serangan mendatar mengarah ke lambung orang yang
bertubuh agak pendek. Tetapi gegedug bertumbuh pendek itu sempat menggeliat,
sehingga serangan Jlitheng tidak mengenai sasaran.
Sementara Singkir yang sudah sempat beristirahat itu telah
menyerangnya pula dengan sepenuh kemampuannya justru
dengan senjatanya. Namun Jlithengpun masih sempat meloncat. Tetapi
demikian kakinya menjejak tanah, maka iapun telah melenting
menyerang. Tidak menyerang orang bertubuh agak pendek,
dan tidak pula menyerang Singkir, tetapi serangannya diluar
dugaan telah menghantam orang berwajah tampan yang baru
saja berhasil berdiri tegak itu dengan kakinya tidak dengan
tajamsenjatanya. Orang itu belum bersiap sepenuhnya. Karena itu, ketika
serangan itu datang menghantam lambung, ia terpaksa sekal
lagi t idak sempat untuk melindungi lambungnya.
Tetapi kekuatan kaki Jlitheng sekali lagi telah
mendorongnya. Justru semakin keras, sehingga orang itu
terpental beberapa langkah dan langsung terbanting jatuh di
tanah. Sambil menyeringai menahan sakit, orang itu mengumpat
sejadi-jadinya, sementara kedua orang lawannya yang lain
telah menyerang Jlitheng hampir bersamaan, meskipun anak
muda itu masih sempat menghindarinya.
Pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit.
Orang berwajah tampan drtin benar-benar telah dibakar oleh
kemarahan. Serangan-serangan Jlitheng berikutnya seolah
olah selalu memburunya. Namun demikian kedua orang
kawannya yang lainpun telah menjadi sasarannya pula.
Dalam pada itu orang yang menyaksikan pertempuran
itupun menjadi berdebar-debar. Kawan Cempaka yang melibat
Jlitheng marah itupun masih sempat memperhatikan, betapa
Jlitheng masih berusaha menghindari pembunuhan. Pedang
tipisnya seolah-olah tidak dipergunakan sepenuhnya, selain
untuk menangkis dan melindungi dirinya dari senjata lawanlawannya.
Sementara itu ia lebih banyak mempergunakan
kakinya untuk menghantam lawan-lawannya terutama yang
berwajah tampan itu. Jlithengpun kemudian meloncat mundur. Ketiga orang
lawannya memegang senjata yang berbeda-beda. Singkir yang
bersenjata tombak berdiri dengan tegang memandang
kawannya yang menggenggam keris yang besar dan panjang,
ia sudah sering melihat orang berwajah tampan itu membawa
kerisnya kesana-kemari dengan penuh kebanggaan. Iapun
pernah melihat senjata itu dipergunakan. Tetapi kini ia harus
bertempur bersama orang berwajah tampan itu. Sementara
gegedug yang bertubuh pendek itu menggenggam golok yang
besar dan berat "Tidak ada ampun lagi bagimu orang yang tidak tahu diri"
geramorang berwajah tampan itu.
Jlitheng memandang keris itu sejenak. Kemudian katanya
Aku masih dapat menahan diri dengan tidak menyobek
dadamu. Semula aku lelah cukup menyatakan bahwa aku
bukan sekedar sebatang pohon pisang yang dapat kau
perlakukan kehendakmu. Bahkan akupun dengan bangga
dapat menunjukkan, bahwa tenagaku, tanpa senjata ini, dapat
merobohkan mu. Tetapi kini kita akan terlibat dalam perang
senjata seperti dengan kawan-kawanmu. Bedanya orangorang
ini belum menyakit iku seperti yang kau lakukan dengan
tiba-tiba tanpa peringatan apapun lebih dahulu" Jlihteng
berhenti sejenak, lalu "Kita sekarang sudah bersenjata
semuanya. Pedangku tentu akan aku pergunakan sebaikbaiknya,
tidak justru selalu menggangguku"
Kata-kata Jlitheng itu benar-benar mendebarkan jantung.
Meskipun demikian ketiga orang itu tidak mengurungkan
niatnya. Mereka mendesak maju dan bersiaga sepenuhnya.
Kawan Cempaka yang berdiri beberapa langkah dari arena
itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih belum berbuat
sesuatu, karena ia sudah pernah melihat Jlitheng bertempur.
Sebenarnya bertempur. Sejenak kemudian, orang bersenjata keris itu telah
meloncat menyerang dengan garangnya. Kerisnya yang besar
dan panjang itu menebas langsung mengarah ke kening.
Jlitheng yang masih saja tersinggung karena seranganserangan
pertama orang itu yang berhasil menjatuhkannya,
dengan sengaja tidak menghindar, la ingin membenturkan
pedang tipisnya dengan keris yang agaknya juga sebilah keri
pusaka yang mempunyai nilai tinggi.
Sejenak kemudian telah terjadi benturan yang keras antara
pedang tipis Jlitheng dengan keris yang besar dan panjang itu.
Demikian kerasnya sehingga bunga-bunga api berloncatan
diudara, menebar seperti kunang-kunang kecil yang
berterbangan. Namun dalam pada itu, sekali lagi orang berwajah tampan
itu terkejut. Benturan itu benar-benar telah menggetarkan
jantungnya. Tangannya yang menggenggam keris itu menjadi
pedih. Hampir saja kerisnya telah terlepas dari tangannya.
Dalam kesulitan itu, orang berwajah tampan itupun tidak
dapat berbuat lain kecuali meloncat surut. Dalam pada itu
ketika Jlitheng ingin memburunya, maka kedua orang
lawannya yang lainpun telah meloncat menyerangnya hampir
bersamaan. Jlitheng masih sempalt mengelak. Bahkan kemudian ia
tidak ragu-ragu mempergunakan senjatanya, setelah ketiga
orang lawannya menyerangnya dengan tiga pucuk senjata
pala. Sejenak kemudian pertempuran senjatapun telah
berlangsung dengan sengitnya. Ketiga orang gegedug itu
menyerang Jlitheng berganti-ganti, berurutan seperti banjir
yang mengalir menghantam tebing. Namun kadang-kadang
mereka bertiga bersama-sama menyerang dari arah yang
berbeda, seolah-olah Jlitheng tidak akan dapat lagi lolos dari
ketiga ujung senjata lawannya.
Namun ternyata Jlitheng benar-benar mampu bergerak
seperti seekor burung sikatan. Ia masih selalu dapat
menyusup diantara senjata lawannya. Bahkan sekali-kali ia
dengan sengaja membenturkan senjatanya untuk
mengguncang hati lawannya karena tangan mereka tentu
akan terasa menjadi sakit
Betapapun juga Jlitheng berusaha untuk menguasai
kemarahannya yang membakar jantung, namun melawan tiga
senjata Jlitheng tidak dapat terlalu banyak menahan geraknya.
Meskipun dalam kemarahan yang memuncak Jlitheng masih
sadar, bahwa membunuh bukanlah tujuannya, namun iapun
tidak mau mati dihadapan para gegedug yang tidak tahu adat
itu. Bahkan seandainya ia tidak mampu mengatasi lawannya
maka orang yang dengan lemahnya bersandar dinding batu
itupun akan dicekik sampai mati pula, oleh gegedug-gegedug
itu.

Mata Air Di Bayangan Bukit Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Karena itu, ketika ketiga orang lawannya bertempur
semakin garang, maka Jlithengpun harus mengimbanginya, la
tidak mau berkisar menghindar, menangkis dan menyerang
dengan hati-hati. Karena dengan demikian, maka semakin
lama ia justru merasa semakin terdesak
Namun dalam pada itu, lawannya merasa benar-benar
menguasai orang yang tidak mereka kenal itu. Keragu-raguan
Jlitheng mempergunakan senjatanya, membuat lawannya
semakin berbesar hati. "Masalahnya adalah masalah seorang perempuan" berkata
Jlitheng di dalam hatinya "Jika kemudian timbul kematian,
apakah hal itu, sudah seimbang. Apakah justru, dengan
demikian, sebuah nyawa akan menjadi sangat tidak berharga"
Jlitheng dapat menghargai kesetiaan cinta laki-laki terhadap
seorang perempuan dan sebaliknya, yang bersedia
mengorbankan nyawanya. Tetapi tidak untuk seorang
perempuan yang berdiri bertolak pinggang dengan wajah iblis
itu. Dengan demikian, maka kemarahan Jlitheng sebagian telah
tertumpah kepada perempuan itu pula. Meskipun perempuan
itu tidak ikut bertempur mengeroyoknya, tetapi ia justru
merupakan sumber dari peristiwa yang keras, kasar dan liar
itu. Sejenak Jlitheng masih sekedar bertahan sambil membuat
pertimbangan-pertimbangan yang paling baik menurut sikap
dan pendiriannya. Namun dalam pada itu, ketiga lawannya menyangka,
bahwa Jlitheng benar-benar tidak mampu lagi berbuat sesuatu
selain bertahan. Dengan demikian, maka orang berwajah
tampan itupun berkata sambi tertawa "Nah, sekarang kau
mulai menyesal bahwa kau sudah mencampuri persoalan yang
tambul di padukuhan iri. Karena itu, maka pergunakan saatsaat
terakhir ihi untuk memandang terangnya hari dan
hijaunya dedaunan" Kata-kata itu hampir tidak dapat diselesaikan. Jliltheng tibatiba
saja dengan garang menyerangnya. Demikian cepatnya,
sehingga orang berwajah tampan itu tidak sempat
menghindar. Tetapi ia sempat menangkis dengan senjatanya.
Tetapi benturan yang terjadi dengan tiba-tiba itu telah
membuat orang berwajah tampan itu terkejut. Sejenak ia
kehilangan akal ketika terasa tangannya bergetar dan
senjatanya tiba-tiba saja telah terlepas dari tangannya.
Untunglah bahwa kedua kawannya sempat menolongnya.
Keduanya telah menyerang Jlitheng dari dua arah, sehingga
Jlitheng harus menghindar sambil menangkis kedua serangan
itu. Orang berwajah tampan itu sempat mengambil senjatanya.
Namun pada saat itu, Jlitheng telah menyarang kedua
lawannya berturut-turut. Demikian cepatnya, sehingga
keduanya berloncatan menghindar.
Pada saat itulah, Jlitheng yang marah itu telah menentukan
sikap. Kemarahannya yang sebagian tertuju kepada
perempuan itu, telah mendorongnya berbuat sesuatu.
Selagi ketiga lawannya berloncatan menghindari
serangannya, maka tiba-tiba saja Jlithengpun meloncat pula.
Tidak memburu keduanya, tetapi ia telah meloncat keatrah
perempuan yang berdiri bertolak pinggang. Demikian
cepatnya, sehingga tidak seorangpun mampu mencegahnya.
Jlitheng yang menganggap perempuan itu sebagai sumber
bencana dan yang hampir saja membunuh suaminya, tiba-tiba
saja telah menangkap perempuan itu. Dengan sekali renggut
rambut perempuan itu terurai. Tidak ada waktu untuk berbuat
sesuatu. Yang terjadi kemudian telah mencengkam
ketegangan setiap orang yang. menyaksikan.
Sekejap kemudian perempuan itu telah memekik tinggi.
Sejenak kemudian iapun telah terduduk dengan lemahnya.
Sementara ditangan Jlitheng tergenggam segenggam rambut
perempuan yang telah dipotongnya dengan pedang tipisnya,
hampir dikulit kepalanya.
Ketiga orang yang bertempur melawannya itu berdiri,
termangu-mangu. Mereka sama sekali tidak mengira, bahwa
Jlitheng telah berbuat demikian. Karena itu, untuk sesaat
mereka justru berdiri dalamkebingungan.
"Lihat" Jlitheng kemudian berkata lantang "kalian telah
dijerat oleh rambut yang panjang dan ikal dari seorang
perempuan cantik. Tetapi perempuan ini berhat" iblis. Ia telah
menjerumuskan seorang gegedug yang ditakuti untuk
membunuh seorang yang tidak berdaya sama sekali. Karena
perempuan ini maka ia telah kehilangan sifat kemanusiaannya.
Ia juga bukan lagi seorang laki-laki jantan. Kali ini ia, akan
membunuh seorang yang tidak berdaya. Tetapi pada
kesempatan lain, kalian akan bertempur dengan dahsyatnya
memperebutkannya. Kalian, diantara laki-laki, terpilih dari
padukuhan ini" Sejenak ketiga laki-laki itu terdiam. Namun sejenak
kemudian, Singkir yang merasa berhak atas perempuan itu
menggeram dengan marahnya "Anak setan. Kau, telah
menghina kami" "Bukan aku" sahut Jlitheng "kalian telah" menghina
martabat kalian sendiri"
"Bunuh orang itu" teriak yang agak pendek. Sementara
yang berwajah tampan, yang telah menggenggam kerisnya
kembali berkata diantara gemeretak giginya "Kau memang
harus mati" "Bunuh orang gla itu" teriak perempuan yang, kehilangan
rambutnya "Bunuh orang dan bantai sampai lumat.
Singkirlah yang pertama-tama meloncat dengan penuh
kemarahan. Tombaknya mematuk langsung ke arah jantung.
Disusul dengan kedua orang kawannya dengan senjata
masing-masing. Tetapi Jlithengpun telah bersiaga sepenuhnya. Ia sadar,
bahwa yang dilakukan itu akan dapat membakar pertempuran
itu menjadi semakin dahsyat. Namun ia. sudah sengaja
melakukannya. Apapun yang akan terjadi akan dihadapinya.
Karena itu, ketika serangan lawannya menjiadi semakin
dahsyat, maka perlawanan Jlithengpun menjadi semakin
garang pula. Ia tidak lagi menahan diri. Pedang tipisnya
menyambar-nyambar diantara ayunan senjata lawannya.
Semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian
pedang tipisnya berhasil menyusup diantara senjata lawannya
menyentuh kulit orang berwajah tampan itu.
Terdengar orang itu berdesah tertahan. Beberapa langkah
ia meloncat mundur. Namun dalam pada itu, orang bertubuh agak pendek itupun
telah menyeringai pula. Meskipun tidak terkoyak cukup dalam,
namun pundaknya telah menit ikkan darah pula.
Sejenak ketiga orang lawannya termangu-mangu, Singkir
yang seakan-akan telah kehabisan tenaga, berusaha untuk
menghentakkan sisa kemampuannya. Dengan tombaknya ia
meloncat menyerang, selagi Jliltheng berusaha memburu lakilaki
bertubuh agak pendek. Namun malang bagi Singkir. Dengan sentuhan yang
sederhana, tombaknya telah lepas dari sasaran. Bahkan
dengan demikian dadanya telah terbuka. Sebelum ia sempat
memperbaiki keadaannya, makai pedang Jlitheng telah
tergores didadarnya. Seleret luka melintang. Meskipun juga
tidak begitu dalam namun luka itu telah membuatnya menjadi
gugup. Sesaat Jlitheng mempersiapkan serangan berikutnya, maka
tiba-tiba saja ia tertegun. Ia mendengar kawan Cempaka yang
oleh tetangga-tetangganya disebut Iblis bertangan Petir
tertawa. Orang-orang yang terlibat ke dalam pertempuran itu
serentak berpaling kearah suara tertawa itu. Mereka melhat
orang yang tertawa itu melangkah mendekati dua orang yang
berdiri termangu-mangu. "He, kalian mau apa?" bertanya orang yang tertawa itu.
Kedua orang itu menjadi tegang. Salah seorang dari kedua
orang yang ternyata kakak beradik itu menjawab "Tingkah
orang yang tidak kita kenal itu telah menyinggung perasaan
kami" "kalian mau ikut campur seperti mereka yang telah terluka
itu?" desak kawan Cempaka.
"Persoalannya sudah menyangkut kami" jawab yang
seorang lagi. "Kenapa" Apakah kau mempunyai hubungan juga dengan
perempuan itu?" bertanya kawan Cempaka itu pula.
"Tidak. Tetapi yang dilakukannya langsung atau tidak
langsung akan mencemarkan wibawa kami. Jika kami tidak
berhasil membunuh orang itu, maka nama kami akan
direndahkan oleh orang-orang yang semula takut kepada
kami" Kawan Cempaka itu tertawa pula. Katanya "Kalian akan
menjadi lebih terhina lagi jika jumlah kalian menjadi semakin
banyak, tetapi kalian tidak dapat mengalahkannya"
Kedua orang itu termangu-mangu. Sementara orang yang
disebut Iblis bertangan Petir itu berkata selanjurnya "Kau
seharusnya melihat, bahwa orang itu tidak berusaha
membunuh ketiga orang lawannya. Jika hal itu ingin
dilakukan, maka ketiga orang itu sudah mati. Sementara kau
berduapun akan mati pula"
Kedua orang itu menjadi tegang, sementara Jlitheng masih
berdiri tegak, meskipun ia selalu siap menghadapi segala
kemungkinan. "Karena itu, jangan ikut campur" berkata kawan Cempaka
itu kemudian. Kedua orang itu menjadi ragu-ragu. Sejenak mereka saling
berpandangan. Sementara orang yang disebut Iblis bertangan
Petir itu mengulangi "Jangan ikut campur. Jika kalian
memaksa, akupun akan melibatkan diri. Aku tahu, kalian
berdua adalah dua orang kakak beradik yang ditakut i. Seperti
juga ketiga orang yang tidak berdaya itu. Tetapi kalian masih
terlalu muda itu mati atau menjadi cacat. Tetapi jika kalian
memaksa, lebih baik akulah yang melawanmu. Mungkin aku
masih dapat bersikap lebih baik dari orang yang menyebut
dirinya Bantaradi itu"
Kedua kakak beradik iltu menjadi bingung. Tetapi ternyata
bahwa orang yang menjadi anggauta kelompok Sanggar
Gading itu memang disegani. Ternyata kedua orang itu
mengurungkan niatnya dan melangkah surut.
Dalam pada itu, ketiga orang gegedug yang sudah terlanjur
melawan Jlitheng dan yang telah dilukainya itupun menjadi
ragu-ragu. Mereka kemudian melihat orang yang mereka
sebut Iblis bertangan Petir itu melangkah mendekati arena.
Sambil tertawa ia bertanya " Bagaimana saudara-saudaraku,
Apakah kalian masih ingin meyakinkan diri, apakah orang yang
kalian hadapi itu akan mampli membunuh kalian" Jika
demikian, agaknya akan terlambat. Karena dalam mati kalian
tidak akan dapat melihat kemaiian kalian sendiri"
Ketiga orang yang sudah terluka itu termangu-mangu.
Sementara orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu meiang
kah semakin dekat. Iapun kemudian berdiri disisi JUtheing
sambil berkata "Orang ini adalah orang yang luar biasa. Tetapi
ia membawa kebiasaan dan adat yang dikenalnya diluar
padukuhan ini. Karena itu, ia telah mencampuri persoalan
yang terjadi pada suami isteri itu. Meskipun demikian, maka
baginya kepuasan bukanlah derita yang paling pahit bagi
lawannya. Karena jitu ia tidak dengan sungguh-sungguh
berusaha membunuh kalian. Atau membuat kalian cacat atau
menderita lebih parah dari luka-luka yang tidak berarti"
Orang-orang yang sudah terlukai itu berdiri diam. Namun di
dalam jantungnya berdeburan gejolak dan kegelisahan.
"Apakah kalian tidak percaya kepadaku?" bertanya orang
yang disebut Iblis bertangan Petir itu. Lalu "Aku di padukuhan
ini disebut Iblis bertangan Petir. Meskipun aku sendirilah
mulamula yang menyebut diriku sendiri demikian. Tetapi
akhirnya kalian mengakui dan menyebutku demikian pula.
Namun aku masih harus berpikir dua tiga kali untuk berani
menghadapi Bantaradi"
Ketiga orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Dalam
pada itu Iblis bertangan Petir itu berkata pula "Pikirlah. Ada
kesempatan bagi kalian untuk meninggalkan arena. Aku
berdiri disini, sehingga orang yang tidak kalian kenal, tetapi
aku kenal ini akan menyetujuinya"
Sejenak ketiga orang itu termangu-mangu. Namun
kemudian perlahan-lahan ketiganya hampir berbareng
melangkah surut. Meskipun masih terbayang dendam dimata
mereka, namun mereka harus melihat kenyataan yang telah
terjadi dihadapan mereka.
Sementara itu, Singkirlah yang lebih dahului meninggalkan
arena. Ia segera masuk ke dalam regol rumahnya dan
sekaligus melintang sehingga pintu regol itu tidak dapat
dibuka lagi dari luar. Dalam pada itu, perempuan yang rambutnya telah
dirampas oleh Jlitheng itu tiba-tiba saja berdiri dan berlari ke
regol. Tetapi regol sudah tertutup. Dengan sepenuh
tenaganya ia mengguncang regol itu sambil berteriak
memanggil. Tetapi Singkir seolah-olah tidak mendengarnya
lagi. "Kakang, kakang" teriak perempuan itu "bukakan pintu.
Bukakan pintunya" Betapapun ia mengetuk pintu itu dengan tinjunya, namun
pintu itu seakan-akan tidak terdengar sama sekai.
Yang terdengar kemudian adalah suara tangis yang
memekik. Perempuan itu menjatuhkan diri di muka pintu yang
tertutup sambil menangis sejadi-jadinya.
Beberapa orang yang menyaksikan perempuan itu
menangis tertegun sejenak. Perempuan cantik yang
rambutnya telah terpotong oleh pedang Jlitheng itu
menghentak-hentak pintu sejadi-jadinya. Tetapi pintu regol itu
memang sudah tertutup rapat baginya.
Dalam pada itu, kedua orang lawan Jlitheng yang lainpun
selangkah demi selangkah menjauhi arena. Sementara orang
yang disebut Iblis bertangan Petir itu masih berdiri sambil
memandangi keduanya berganti-ganti.
Ternyata peristiwa itu telah merubah kebiasaan yang
berlaku di padukuhan itu. Orang-orang yang acuh tidak acuh,
dan mereka yang saling tidak mampedulikan, tidak saling
mencampuri persoalan orang lain meskipun akan mengancam
jiwa seseorang, tiba-tiba saja telah saling melibatkan diri.


Mata Air Di Bayangan Bukit Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Orang yang disebut Bantaradi itulah yang pertama-tama telah
mencampuri persoalan orang lain. Tetapi iapun akan mampu
mengatasi akibat yang kemudian timbul karenanya.
Sementara, itu, perempuan yang rambutnya telati
terpotong itu masih menangis sejadi-jadinya. Tetapi seolaholah
tidak seorangpun yang menghiraukannya. Kedua orang
yang bertempur bersama Singkir itupun akhirnya telah
meninggalkan arena dan hilang di balik tikungan. Sementara
orang-orang lain yang melihat peristiwa itu dari kejauhanpun
telah menyingkir pula. Mereka takut menghadapi kemungkinan
para gegedug yang dikalahkan dan bahkan terluka itu akan
menumbuhkan kemarahannya kepada mereka yang tidak tahu
menahu persoalannya. Dalam pada itu, Iblis bertangan Petir itulah yang mendekati
perempuan itu sambil berkata "Nah, tidak ada kesulitan
apapun juga untuk membunuhmu sekarang. Tidak ada
seorang laki-lakipun yang bersedia menjadi pelindungmu.
Lihat, suamimu sudah mulai bangkit. Ia akan mengambil
parang dan kemudian menyobek lehermu. Kau akan mati dan
terkapar di tengah jalan, sampai datang anjing-anjing liar
untuk merobek kulit dan dagingmu"
"Jangan, jangan" teriak perempuan itu "Jangan bunuh aku"
"Setiap orang mengalami ketakutan di saat-saat bahaya
maut mengancamnya. Suamipun mengalami perasaan takut
dan ngeri ketika kau berteriak-teriak agar laki-laki itu
membunuhnya" sahut Jlitheng.
"Tetapi jangan bunuh aku" perempuan itu masih menangis.
"Kematian biasanya memang t idak dikehendaki. Tetapi jika
ia datang, sulit untuk dapat dihindari "
Perempuan itu menangis semakin keras. Bahkan kemudian
memekik-mekik. Beberapa orang yang sudah berada di balik
pintu rumahnya, tidak dapat mencegah keinginan mereka
untuk mengetahui apakah yang telah terjadi.
Namun ternyata mereka tidak melihat seseorang berbuat
sesuatu atas perempuan itu. Yang mereka lihat adalah orang
yang disebut Iblis bertangan Petir dan orang yang bernama
Bantaradi itu berdiri tanpa berbuat apa-apa. Tetapi mereka
tidak mendengar kata-kata yang telah diucapkan oleh orang
yang disebut Iblis bertangan Petir itu.
Namun, ternyata bahwa akhirnya hati Jlitheng menjadi cair
juga melihat perempuan itu menjerit-jerit. Dengan nada yang
merendah ila bertanya "Kenapa kau menangis?"
Perempuan itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Seolaholah
orang yang disebut Bantaradi itu t idak melihat apa yang
telah terjadi. Namun dalam pada itu Jlitheng bertanya lebih lanjut "
Seharusnya kau menangisi keadaanmu. Bukan karena kau
telah tidak dihiraukan lagi oleh orang di dalam regol itu, tetapi
seharusnya kau menguasai sifat-sifatmu. Kau benar-benar
seorang perempuan yang tidak berhati dan tidak berjantung.
Kau sudah mempunyai seorang suami. Tetapi kau lari kepada
laki-laki lain. Itupun masih dapat dimengerti, karena mungkin
kau memerlukan sesuatu yang tidak ada pada suamimu.
Tetapi yang paling gila adalah pikiranmu untuk membunuh
suamimu yang sudah tidak berdaya"
"Ia juga akan membunuhku" tangis perempuan itu.
"Itu karena kau akan meninggalkannya"
"Sebelumnya ia sudah berulang kali mengancam akan
membunuhku. Ia terlalu kasar dan selalu menyakitiku setiap
hari" "Tetapi ia tidak benar-benar membunuhmu. Sedangkan kau
benar-benar mendorong laki-laki yang tidak tahu diri itu untuk
membunuh" Perempuan itu menunduk dalam-dalam.
"Lihatlah masa lalumu. Yang cacat dan yang bernoda,
ingat-ingatlah. Kau t idak akan mengulanginya lagi" Jlitheng
berdesis sambil berpaling kepada laki-laki yang tersandar
dinding, namun yang perlahan-lahan mulai mencoba untuk
bangkit dan duduk dengan tegak.
"Ia mulai menyadari dirinya" berkata Jlitheng "Yang baik,
kenanglah agar kau dapat menemukan suasana itu kembali"
Perempuan itu memandang laki-laki yang mulai duduk
sambil mengusap titik darah di mulutnya.
"Laki-laki itu adalah suamimu" berkata Jlitheng.
Perempuan itu masih termangu-mangu. Sementara Iblis
bertangan Petir itu berdesis "Tidak pernah terjadi peristiwa
semacam ini sebelum kau menginjakkan kakimu disini
Bantaradi" "Kalian sudah terlalu jauh tenggelam ke dalam adat dan
kebiasaan yang buram" lalu katanya kepada perempuan itu
"He, apakah kau tidak ingat bahwa laki-laki itu adalah
suamimu". Suamimu yang kesakitan dan terlepas dari bahaya
maut" Betapa buruknya laki-laki itu, tetapi tentu pernah
terjadi suatu masa yang memberimu kebanggaan"
Perempuan itu masih termangu-mangu. Sementara Jlitheng
berkata kepada laki-laki itu dengan lantang "Terimalah
perempuan itu kembali sebagai isterimu. Ia tetap cantik.
Rambutnya akan segera tumbuh lagi. Tetapi sifat-sifat
kaiianpun harus berganti seperti rambut perempuan itu. Yang
buruk harus kalian potong sampai kepangkalnya. Carilah
bentuk kehidupan yang baik"
Laki-laki itu termangu-mangu. Namun perempuan yang
menangis itu t iba-tiba saja bangkit sambil berkata "Apakah
aku dapat kembali kepadanya?"
Jlitheng memandang perempuan itu sejenak. Kemudian
iapun berpaling kepada laki-laki yang mulai dapat duduk
dengan tegak itu. Katanya "He, bukankah kau mengerti
maksudku?" Laki-laki itu memandang Jlitheng sejenak. Namun
kemudian iapun mengangguk.
"Nah" berkata Jlitheng "kalian adalah penganten baru.
Kalian harus mulai dengan kehidupan yang lain dari yang
pernah kalian lakukan"
Perempuan itu menunduk. Namun iapun kemudian
melangkah mendekati suaminya. Perlahan-lahan dan raguragu
ia berjongkok disampingnya. Namun kemudian iapun
mencoba membantu laki-laki itu berdiri.
Dengan susah payah laki-laki itu berdiri berpegangan
tangan isiterinya. Kemudian merekapun melangkah selangkah
demi selangkah kembali ke rumah mereka. Perlahan-iahan
sekali, karena suami itu masih terlalu lemah.
Orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu tertawa
melihat kedua orang itu. Kemudian dengan nada datar ia
berkata kepada Jlitheng "Kau memang orang luar biasa. Kau
dapat mengalahkan tiga orang gegedug yang tidak ada
bandingannya di daerah ini meskipun mereka bertempur
bersama-sama" Jlitheng tersenyum sambil bertanya "Bagaimana dengan
aku" Aku termasuk salah seorang yang disegani. Tetapi tentu
tidak untuk melawan tiga orang sekaligus. Mungkin aku masih
bersedia mencoba untuk melawan dua orang. Tidak lebih"
Jlitheng tertawa. Katanya "Kau selalu merendahkan dirimu"
"Sifatmu itulah yang meragukan" t iba-tiba, saja orang itu
berkata dengan sungguh-sungguh.
Jlitheng terkejut, sehingga iapun bertanya "Apa yang
meragukan padaku?" "Kau tidak sesuai bekerja bersama orang-orang Sanggar
Gading. Kau terlalu baik hati. Itulah yang sejak semula
menjadi persoalan bagi kami. Di perjalanan, ketika kau
membantu Cempaka bertempur, sebenarnya kau dapat
membunuh lawanmu. Tetapi itu tidak kau lakukan. Kau
biarkan beberapa orang itu melarikan diri. Sekarang, dugaan
itu semakin jelas. Seharusnya kau bunuh ketiga orang itu
sekaligus dan kau ambil perempuan itu, meskipun kelak akan
kau lemparkan kembali"
Wajah Jlitheng menjadi tegang. Dengan suara bergetar ia
bertanya "Kau juga hidup dalamdunia yang hitam itu?"
Orang itu tertawa semakin keras. Katanya "Sanggar Gading
adalah tempat orang-orang yang bertindak dengan tegas
tanpa ampun. Jika kami masih dihinggapi rasa ragu-ragu,
maka tugas kami tidak akan selesai"
"Tetapi sikapmu dalam persoalan perempuan ini
meragukan. Kau tidak tegas-tegas mengatakan, bahwa
mereka harus mati. Justru kata-katamu agak miring pula
bagiku" desis Jlitheng.
Orang itu tertawa. Katanya "Aku sudah terpengaruh oleh
sikapmu Biasanya sikap yang baik itu tidak mudah menjalar.
Tetapi sifat-sifat buruk dengan cepatnya merambat dari satu
orang kepada orang lain"
"Kau sadari keadaanmu sepenuhnya"
Orang itu tertawa semakin keras. Katanya "Jangan mengira
bahwa aku tidak mengerti buruk dan baik. Jangan
menganggap aku orang yang tidak mengenal batas-batas
kehidupan" "Jadi apa yang sudah kau lakukan selama ini?"
"Aku sudah memilih. Dan aku mengerti, bahwa yang aku
lakukan itu tidak disukai oleh banyak orang, karena mereka
menganggap bahwa yang aku lakukan bukanlah yang baik.
Aku dan orang-orang Sanggar Gading adalah orang-orang
yang tetap pada pendirian dan sikap. Tegas dalam perbuatan
dan tidak pernah ragu-ragu. Apakah ia lakan membunuh atau
akan melakukan perbuatan-perbuatan lain, apakah perbuatan
itu haik atau buruk"
Jlitheng menjadi berdebar-debar. Ia sudah melakukan
kesalahan, justru karena ia berhasil menolong seseorang dan
karena ia telah mengembalikan perempuan yang hilang itu
kepada suaminya, "Ki Sanak" berkata orang itu kemudian "Mudahmudahan
orang-orang Sanggar Gading mempunyai penilaian lain
terhadapmu dengan penilaian mereka terhadap orang-orang
Sanggar Gading sendiri. Mudahmudahan kebaikan dan keraguraguanmu
tidak menumbuhkan persoalan tersendiri di
kalangan kami, seperti kau sudah menumbuhkan persoalan
baru bagi orang-orang padukuhan ini"
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Betapa dadanya
terasa bergejolak, namun ia masih berusaha menjaga
perasaannya. "Ki Sanak" berkata Jlitheng kemudian "perbuatan itu bukan
ukuran. Yang aku lakukan adalah bukan persoalan yang
dihadapi oleh orang-orang Sanggar Gading. Aku tidak tahu,
apakah orang-orang Sanggar Gading menganggap aku
seorang yang ragu-ragu atau orang yang tidak bersikap, tetapi
ajakan Cempaka telah menarik perhatianku. Dalam keadaan
yang gawat, akupun tidak akan sempat berpikir panjang dan
ragu-ragu" Orang yang disebut Iblis bertangan Petir itu tertawa.
Katanya "Marilah. Singgahlah di rumahku barang sejenak. Kita
akan bersama-sama pergi ke Sanggar Gading"
Jlitheng menarik nafas panjang. Namun t iba-tiba saja ia
bertanya "Siapakah namamu. Apakah aku juga harus
memanggilmu Iblis bertangan Petir?"
Orang itu tertawa pula. Jawabnya "Namaku Rahu. Aku
tidak tahu kenapa orang tuaku menamakan aku Rahu. Nama
yang kurang aku senangi. Karena itu, aku memakai gelar atas
keinginanku sendiri Iblis bertangan Petir"
"Kau tahu gambaran orang tentang iblis?" bertanya
Jlitheng. "Tahu pasti. Dan itulah yang aku kehendaki"
"Kau suka menakut-nakuti orang lain. Namamu memang
menakutkan, seolah-olah kau adalah mahluk yang luar biasa.
Yang mempunyai kekuasaan tanpa banding, sementara dari
tanganku dapat menjulur lidah api"
Rahu, yang disebut iblis bertangan Petir itu tertawa
semakin lama justru menjadi semakin keras.
"Kenapa kau tertawa?" bertanya Jlitheng.
"Menarik sekali. Mungkin kau benar. Aku ingin membuat
kesan, seakan-akan diriku adalah orang yang paling berkuasa,
menakutkan dan mampu melepaskan lidah api dari tanganku"
ia berhenti sejenak, lalu "Kau memang lucu. Tetapi jangan
terlalu keras. Meskipun orang-orang yang menonton
pertunjukan ulangan dengan kedua suami isteri itu sebagai
pusat perhatian telah pergi, tetapi jika masih ada yang
mendengar kata-katamu itu, maka nilai dari gelar itu akan
susut" "Apakah mulamula orang di padukuhan ini percaya, bahwa
kau mendapat gelar itu karena sesuatu kelebihan yang adai
padamu?" "Ya. Dan sampai sekarang mereka menganggap aku orang
yang memiliki kelebihan di padukuhan ini sesuai dengan
namaku" Jlithenglah yang kemudian tertawa. Katanya "Apakah aku
perlu membuat nama yang lebih mengerikan dari namamu?"
Iblis bertangan Petir itu tertawa semakin keras. Tetapi ia
tidak menjawab. Bahkan ketika suara tertawanya sudah
mereda ia berkata "Marilah ke rumahku. Besok kita
melanjutkan tugas kita yang lebih berarti daripada permainan
gila ini" "Besok kita pergi ke Sanggar Gading?" bertanya Jlitheng.
"Ya. Besok kita akan berkumpul untuk menentukan saatsaat
yang gawat. Semua harus diperhitungkan sebaik-baiknya.
Kewajiban yang akan kita lakukan adalah kewajiban yang lain
dari yang pernah kira lakukan sebelumnya"
"Apa sebenarnya yang akan1 kita lakukan besok?" bertanya
Jlitheng tiba-tiba. "Kau sudah membuat dua kesalahan. Kau sudah membuat
orang-orang Sanggar Gading menjadi ragu-ragu" sahut Rahu.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya "Terlalu
dicari-cari. Aku tahu bahwa aku telah salah ucap. Tetapi itu
adalah dorongan sifat ingin tahu seseorang. Karena itu, tibatiba
saja aku bertanya tugas kita besok, yang seharusnya tidak
perlu dipertanyakan. Sedang kesalahanku yang lain sudah kau
katakan, aku tidak membunuh orang-orang yang dapat aku
bunuh. Agak berbeda dengan yang aku katakan pertama.
Ketegasan memang tidak sama dengan pembunuhan"
"Disinilah letaknya. Bukan pada perbuatan tidak membunuh
itu sendiri. Tetapi pada sikap dan pendirianmu yang goyah"
Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya "Terserah
kepadamu. Kau dapat mengatakan apa saja besok kepada
pimpinan Sanggar Gading tentang aku. Kau tentu lebih
dipercaya dari aku. Karena itu, kau dapat membuat aku


Mata Air Di Bayangan Bukit Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menjadi hitam atau merah"
Rahu yang disebut Iblis bertangan Petir tertawa pula.
Katanya "Jangan merajuk. Sifat-sifatmu menarik perhatian.
Disamping meragukan, kau terbuka dan berani. Karena itu
maka agaknya kau masih mempunyai kesempatan"
Jlithengpun kemudian tertawa. Katanya "Aku tidak tahu,
apakah aku akan dapat mempergunakan kesempatan itu
sebaik-baiknya" "Marilah" potong Rahu itu kemudian "Kau tentu ingin
melihat rumahku. Kau perlu minum dan makan. Nanti malam
kau akan tidur nyenyak. Kau tidak usah curiga, bahwa nanti
malamperutmu akan ditusuk dengan parang selagi kau tidur"
Jlitheng tertawa berkepanjangan. Katanya "Kau memang
suka menakut-nakuti orang. Bukan saja dengan pilihan
namamu yang mengerikan itu, Tetapi dalam kelakarpun kau
adalah seorang yang tepat dalam kedudukanmu"
"Apa kedudukanku?"
Jlitheng terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun iapun
kemudian menjawab "Bukankah kau orang Sanggar Gading.
"Ya. Lalu apa artinya jika aku orang Sanggar Gading
dengan kedudukan yang kau maksud?"
"Tidak apa-apa" jawab Jlitheng.
Tetapi orang itu berkata "Aku tahu. Kau menganggap
namaku sesuai dengan kedudukanku yang kau sangka tentu
seorang penjahat, seorang perampok, penyamun dan
sebangsanya seperti orang-orang Kendali Putih atau orangorang
Pusparuri" "Jika dugaanmu benar, maka akulah yang akan bertanya,
apakah orang-kedali Putih dan orang-orang Pusparuri masih
sempat juga melakukan hal seperti itu"
"Betapa mereka mencuci tangan mereka, tetapi mereka
sudah melakukan kejahatan seperti itu"
"Dan orang-orang Sanggar Gading?" potong Jlitheng.
Rahu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya "Orang-orang
Sanggar Gading tidak melakukannya. Kami adalah kelompok
orang-orang bercita-cita"
"Tetapi dari mana orang-orang Sanggar Gading memenuhi
kebutuhan hidup mereka"
"Kau semakin mencurigakan bagiku, Tetapi seperti yang
aku katakan, kau masih mempunyai kesempatan. Tetapi jika
kecurigaanku semakin bertambah, mungkin aku akan bersikap
laini" "Apa yang akan kau lakukan" Kau mengakui seperti yang
kau katakan sendiri, bahwa kau tidak mempunyai kemampuan
seperti yang aku miliki"
"Kau bukan saja mencurigakan, tetapi juga sombong" Rahu
berhenti sejenak, lalu "Marilah. Singgah di pondokku"
Jlitheng tidak menjawab. lapun kemudian mengikuti Rahu
yang bergelar Iblis bertangan Petir itu ke pondoknya. Sebuah
pondok yang cukup besar terletak diujung padukuhan agak
menjorok keluar, seakan-akan merupakan halaman yang
menempel pada sebuah padukuhan induk.
Ketika Jlitheng masuk ke dalam pondok itu, ia mendapat
kesan yang aneh. Pondok itu, termasuk pondok yang bersih
dan terawat. Meskipun tidak memiliki perabot yang baik dan
bernilai tinggi, namun pondok itu memberikan kesan yang
menyenangkan. Jlitheng yang sedang memandangi keadaan sekelilingnya
dengan ragu-ragu terkejut ketika ia mendengar Rahu bertanya
"Apa yang kau perhatikan di dalam rumah yang kosong
ini?" Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian
Tidak apa-apa. Aku biasa berusaha mengenal sesuatu yang
baru pertama kali aku lihat. Bukan saja rumah ini, tetapi juga
padukuhan ini" "Barangkali kau sedang memperhitungkan kemungkinan,
lewat pintu mana kau akan melarikan diri jika kau terjebak di
dalam rumah ini" berkata Rahu pula,
Jlitheng tertawa. Tetapi ia tidak menjawab.
"Duduklah. Yang ada hanyalah amben bambu" Iblis
bertangan Petir itu mempersilahkan.
Jlithengpun kemudian duduk diamben bambu yang besar.
Sementara Rahu berkata "Aku akan menjamumu sebelum
besok kita bersama-sama pergi keptadepokan Sanggar
Gading. Jangan takut, kudamupun tidak akan kekurangan
makan. Disini banyak rumput yang hijau segar. Orangku akan
menyabit rumput buat kudamu melebihi kudaku sendiri.
Jlitheng tidak menjawab. Ketika Rahu masuk ke ruang
dalam, maka iapun sekali lagi memperhatikan ruangan itu
dengan saksama. Ruangan itu nampak bersih. Tidak ada sarang laba-laba
disudut-sudutnya. Dindingnyapun nampak terawat, sementara
diatas amben bambu itu terbentang selembar tikar yang putih.
Lantai tanah di bawah amben itu sudah mengeras. Agaknya
tetiap hari lantai itu disiram dengan air, dan kemudian di
sapunya hingga bersih. Disudut nampak sebuah geledeg kecil
dengan sebuah ajug-ajug disampingnya. Cangkul, parang
kapak dan beberapa jenis alat pertanian tersimpan dengan
rapi di geledeg itu. Jlitheng semakin angin mengetahui lebih banyak dari
pondok yang termasuk agak besar di padukuhan itu.
Sejenak ia berdiri di pintu yang menyekat ruangan itu
dengan sebuah pendapa kecil di bagian depan. Pendapa yang
kosong itupun nampak bersih. Lantainya gilar-gilar seperti
juga halamannya Ternyata Jlitheng mempunyai gambaran yang keliru
tentang orang-orang Sanggar Gading. Agaknya orang-orang
Sanggar Gading memang berbeda dengan orang-orang
Kendali Futih dan Pusparuri.
"Tetapi aku mungkin akan salah pula menilai orang-orang
Kendali Putih, Pusparuri dan mungkin padepokan-padepokan
yang lain lagi" berkata Jlitheng di dalam hati.
Jlitheng berpaling ketika ia mendengar langkah dari ruang
belakang lewat pintu samping. Dilihatnya Rahu datang
membawa dua mangkuk minuman.
"Kenapa kau berdiri disitu?" Ia bertanya.
"Rumahmu memang menarik. Bersih meskipun sederhana.
Halamanmu cukup luas meskipun pendapamu termasuk kecil"
Rahu tertawa. Katanya "Adikku tidak mempunyai pekerjaan
apapun juga kecuali mengurusi sawah. Di saat-saat senggang,
ia sibuk dengan rumah ini. Halamannya, pendapa kecil itu,
ruang ini dan seolah-olah ia mengisi kejemuannya dengan
kerja-kerja kecil yang tidak berarti" Rahu berhenti sejenak,
lalu sambil tersenyum ia berkata "hanya dihari-hari terakhir ia
mempunyai kerja sambilan. Jika aku tidak berada di gardu itu,
maka adikku itulah yang berada di gardu itu"
"Apakah, adikmu juga disegani orang disini?" bertanya
Jlitheng. "Adikku seorang anak yang dungu. Tetapi kadang-kadang
ia dapat juga berbuat kasar sehingga orang-orang lain harus
berpikir untuk mengganggunya"
Jlitheng mengangguk-angguk. Sementara Rahu duduk di
amben sambil meletakkan mangkuknya "Minumlah. Air legen"
Jlitheng. termangu-mangu. Ketika lapan kemudian duduk
pula. dipandanginya air legen di dalam mangkuk itu.
"Air legen baru. Bukan air legen yang sudah menjadi tuak
dan dapat membuatmu mabuk" berkata Rahu sambil tertawa.
Katanya selanjutnya "kau mencurigai segala-galanya. Rumah
ini, halaman, legen dan barangkali jika aku menjamumu
makan, kau akan menunggu aku makan lebih dahulu"
"Kau yang mencurigai aku, sehingga apapun yang aku
lakukan kau sangka menyelidikinya" sahut J litheng.
Rahu tertawa berkepanjangan. Katanya "Sudah aku
katakan. Aku memang mencurigaimu. Sikapmu terlalu baik
dan pernyataan-pernyataanmu terdengar aneh dan mengarah"
"Kau kira aku tidak curiga terhadapmu" Kau kira kau dapat
meyakinkan aku?" sahut Jlitheng.
"He" Rahu terkejut "Kau tidak dapat mencurigai aku.
Orang-orang Sanggar Gading percaya sepenuhnya kepadaku.
Bagaimana mungkin kau mencurigai aku?"
Jlitheng termangu-mangu sejenak. Sambil memandang
berkeliling ia kemudian berkata "Rumahmu terawat baik dan
terlalu bersih buatmu "
"O" Rahu tertawa semakin keras. Katanya "Aku mengerti.
Kau masih saja menganggap aku seorang penjahat yang
kotor, kasar dan liar. Seharusnya rumahku adalah rumah yang
berserakkan, penuh dengan berjenis-jenis senjata pembunuh.
Debu yang melekat drsetiap perabot dan sarang laba-laba
yang bergayutan disetiap sudut"
Jlitheng mengangguk sambil menjawab "Sebenarnya
begitu. Aku tidak akan ingkar. Tetapi yang aku lihat justru
berbeda sekali" "Kau harus yakin, bahwa Sanggar Gading bukan sarang
penjahat. Kita adalah orang yang bercita-cita meskipun untuk
mencapai cita-cita itu kita kadang kadang harus membunuh"
desis Rahu bersungguh-sungguh.
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Katanya
"Perbedaannya hanya pada tingkat dan landasan. Tetapi
baiklah, aku tidak akan bertanya lebih banyak lagi, sehingga
akan dapat menambah kecurigaanmu saja"
"Sekarang minumlah" Rahu mempersilahkan.
Jlitheng memandang Rahu yang menyebut dirinya Iblis
bertangan Petir itu sejenak. Namun kemudian diangkatnya
mangkuk berisi legen itu dan oleh perasaan haus, maka legen
itupan diminumnya seteguk demi seteguk, sehingga hampir
separo telah dihabiskannya.
Rahu yang kemudian duduk pula dlsamping Jlitheng itupun
berkata "Istirahatlah sebaik-baiknya disini. Besok kita akan
memasuki Sanggar Gading. Mungkin kau belum mengenal
sikap dan sifat orang-orang Sanggar Gading terhadap orangorang
yang baru dikenalnya. Mereka membenci orang-orang
yang lemah dan berjiwa kerdil. Mereka membenci keraguraguan.
Dan merekapun mempunyai ukuran bagi pendatangpendatang
di padepokan kami" "Apa yang kau maksud?" bertanya Jlitheng.
"Beberapa orang kadang-kadang tidak yakin akan
kemampuan orang-orang baru yang datang ke padepokannya.
Ada semacam keinginan untuk menjajagi mereka yang baru
dikenal itu" "Apakah itu akan berlaku juga terhadapku?" bertanya
Jlitheng. "Mungkin sekali" jawab Rahu.
"Cempaka dan kau pernah melihat, bahwa aku mempunyai
kemampuan yang cukup" berkata Jlitheng kemudian.
"Aku dan Cempaka yang sudah melihatnya. Tetapi yang
lain belum. Aku tidak tahu, apakah Cempaka pernah
mengatakan kepada mereka, bahwa kau mempunyai beberapa
kelebihan. Tetapi jika ia tidak mengatakan apa-apa, maka kau
akan mengalami" Jlitheng tertawa Katanya "Apapun yang akan aku alami,
aku tidak peduli Aku adalah seorang petualang yang
menyenangi pengalaman, yang aneh-aneh di dalam hidup ini.
Tetapi yang perlu kalian ketahui, aku tidak ingin bergabung
dengan orang-orang Sanggar Gading. Jika aku datang maka
aku adalah Bantaradi. Aku yang tetap berdiri atas kehendak
dan kepribadianku sendiri"
Rahu tertawa. Katanya "Kau benar-benar orang aneh.
Sombong, tetapi ragu"
Jlitheng tertawa pula. Jawabnya "Kau mempunyai penilaian
yang salah terhadapku. He, apakah kau juga ingin menjajagi
kemampuanku" "Sebenarnya begitu. Aku ingin melakukannya. Tetapi diluar
rencanaku, aku sudah menyaksikan lebih jelas dan
meyakinkan dari yang aku lihat di malam hari itu. Kau sudah
melawan tiga orang gegedug di padukuhan ini, meskipun
dengan penuh keragu-raguan"
"Karena sumber persoalannya adalah seorang perempuan"
jawab Jlitheng. Pembicaraan mereka terputus, ketika seorang laki-laki
muda masuk lewat pintu butulan. Seorang laki-laki bertubuh
tinggi tegap, berdada bidang dan berpandangan sangat tajam.
"Ini adikku" berkata Rahu sambil menunjuk anak muda
yang berhenti sebentar, mengangguk sambil tersenyum.
Namun kemudian melangkah masuk ke dalam sebuah bilik di
ruang dalam itu. "Luar biasa" desis Jlitheng "adikmu mempunyai tubuh
seorang raksasa. Wajahnya mempunyai kesan tersendiri, la
tentu seorang yang cukup cerdas"
"Kau memuji. Tetapi aku kira ia tidak lebih muda dari kau
sendiri Bantaradi?" Jlitheng menarik nafas sambil memandang pintu bilik yang
masih terbuka. Tetapi ia tidak melihat anak muda bertubuh
raksasa itu. "Apakah adikmu juga mempunyai sangkut paut dengan
orang-orang Sanggar Gading?" bertanya Jlitheng.
"Sudah tentu. Tetapi tidak langsung. Orang-orang Sanggar
Gading mempunyai ikatan yang sangat ketat, sehingga tidak
seorangpun diantara kami yang dapat melepaskan diri dari
ikatan, apabila kami sudah memasukinya, maka adikkupun
telah terpercik pula pengamatan yang ketat, sehingga ia tidak
akan dapat membocorkan rahasia yang diketahuinya, karena
ia adalah adikku" "Siapakah yang dapat mengawasinya" Ia berada di tempat
yang terpisah dari padepokan Sanggar Gading"
"Aku adalah pengawasnya yang paling cermat"
Jlitheng mengerutkan keningnya sejenak. Lalu "Keluarga ini
memang aneh. He, apakah kau mempunyai anak isteri?"
"Tidak. Aku tidak mempunyai keluarga lain kecuali adikku"
"Ia tidak pantas menjadi adikmu"
Sebelum Jlitheng melanjutkan, Rahu telah memotongnya
"Kau mulai curiga lagi. Kau dapat berbicara tentang apa saja.
Tentang kebiasaanku, tentang rumahku dan tentang adikku.
Tetapi jika hal itu kau katakan diantara orang-orang Sanggar
Gading yang tidak pernah menghiraukan hal itu. mereka akan
mulai berpikir. Mereka akan mulai mencari-cari sebab dan
mereka akan mencurigaiku lebih dari kecurigaanmu"
"Apakah ini satu permintaan?" bertanya Jlitheng.
"Tidak. Seperti kau juga tidak minta agar aku tidak
mengatakan kecurigaan-kecurigaanku terhadapmu. Kau
menyerahkan hal itu kepadaku. Akupun tidak akan mencegah


Mata Air Di Bayangan Bukit Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

apa yang akan kau katakan kepada orang-orang lain di
Sanggar Gading itu" Jlitheng tertawa berkepanjangan. Bahkan iapun kemudian
berdiri dan melangkah mondar mandar. Tetapi langkahnya
terhenti ketika ia melihat adik Rahu itu keluar dari biliknya dan
berdiri di muka pintu setelah sekali lagi ia mengangguk
hormat. "Siapakah namamu?" bertanya Jlitheng kepada adik Rahu
itu. Anak muda itu memandang kakaknya sejenak. Ketika
kakaknya mengangguk iapun menjawab "Namaku Rahsa
Semi" "He " Jlitheng mengerutkan keningnya "Rahsa Semi. Nama
yang aneh" Sekali lagi Rahu memotong "Jauh berbeda dengan namaku.
Dan kau mencurigainya lagi. Tetapi aku dapat menjelaskan,
orang tuaku memang sesukanya saja mengambil nama tanpa
pertimbangan-pertimbangan apapun juga. Dan nama itu
memang aneh-aneh, seperti namaku juga. Sehingga aku lebih
senang memakai nama yang lain"
Jlitheng mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian ter
senyum. Katanya "Nama yang bagus sekali"
Tetapi Rahu masih saja berkata "Apapun dapat kau curigai
disini. Nama, keadaan. dan isi rumah, sikap dan ketapa kau
tidak. mempersoalkan, kenapa adikku bertubuh tinggi besar
melampaui kebanyakan orang, sementara aku sendiri tidak?"
Jlitheng tertawa. Ia melihat adik Rahu yang bernama Rahsa
Semi itu juga tersenyum. Namun iapun kemudian berkata
"Maaf, aku harus pergi ke sawah"
Ketika anak muda bertubuh raksasa itu telah keluar dari
ruangan, maka Jlithengpun berkata "Bukan mencurigai, tetapi
aku benar-benar heran melihat sikap adikmu. Ia adalah anak
muda yang sopan. Jauh berbeda dengan isi padukuhan ini
dalam keseluruhan, termasuk kau sendiri"
Rahu akan menjawab. Tetapi ia sudah tertawa lebih
dahulu. Disela-sela tertawanya ia berkata "Baiklah, apapun
nampak aneh dalam pandangan matamu. Sekarang, lupakan
semuanya. Kau adalah tamuku. Besok kita akan bersamasama
pergi ke padepokan Sanggar Gading. Tetapi sebelum
kau terperosok ke dalamnya, biarlah aku memberi tahukan
kepadamu, bahwa orang-orang yang sudah ada di dalam
dinding padepokan, sukar untuk dapat keluar lagi"
Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun katanya "Aku
seorang petualang. Aku sudah banyak dan masih selalu ingin
mengalami peristiwa yang dapat mengisi hidup ini dengan
pengalaman-pengalaman yang menarik"
Rahu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian
katanya "Jika kau merasa letih, beristirahatlah. Marilah, aku
tunjukkan bilik untukmu"
Jlitheng tidak menjawab. Iapun kemudian mengikuti Rahu
ke gandok sebelah kiri, yang disekat oleh sebuah longkangan
kecil dengan rumah induk.
"Beristirahatlah. Nanti, saatnya makan, kau akan aku
berltahu. Sekarang biarlah aku menyediakannya untukmu.
Adikku tentu sudah masak" berkata Rahu.
"Ternyata adikmu orang luar biasa. Ia pandai juga masak,
selain agaknya pandai juga dalamolah senjata" sahut Jlitheng.
"Kami hanya berdua. Kami harus dapat melakukan apa
saja. Sementara aku lebih banyak berada di padepokan
Sanggar Gading daripada di rumah ini" jawab Rahu, lalu
"Beristirahatlah. Akupun akan beristirahat setelah melakukan
kerja yang sangat menjemukan. Menunggumu di gardu itu"
Ketika Rahu kemudian meninggalkan Jlitheng seorang diri,
maka J lithengpun mulai melihat-lihat isi bilik yang
diperuntukkan baginya. Ia masih saja merasa heran, bahwa
rumah itu nampak bersih dan teratur. Perabot-perabotnya
nampak terawat dan mapan. Ia sama sekali telah membuat
bayangan yang salah tentang orang yang bernama Rahu itu.
Ketika orang itu mengajaknya singgah, maka yang terbayang
adalah sebuah rumah yang kotor dam perabot yang kasar,
serta berbagai macam senjata melekat didinding silang
melintang. Tetapi yang dijumpainya adalah rumah yang lain sama
sekali. "Rumah ini benar-benar mencurigakan" katanya di dalam
hati adiknyapun mencurigakan. Kecuali nama maka kedua
orang itu sama sekali tidak mempunyai persamaan ujud dan
bentuk" Namun akhirnya Jlitheng tidak menghiraukannya lagi. Ia
memang merasa lelah, setelah bertempur melawan tiga orang
yang dianggap orang-orang terbaik dari padukuhan yang aneh
itu. Karena itu, maka iapun kemudian melepas pedangnya dan
meletakkan dipembaringan ketika iapun kemudian berbaring
juga. Tetapi Jlitheng sama sekal tidak ingin tidur. Ia merasa
tempat itu sebagai tempat yang aneh. Tempat yang nyaman,
tenang dan sejuk, tetapi justru karena itu, tempat itu
merupakan tempat yang mencurigakan.
Untuk beberapa saat Jlitheng berbaring diam. Namun
angan-angannya sajalah yang mengembara ke tempat yang
jauh. Kadang-kadang kembali ke Bukit Gundul yang selalu
diawasi oleh Daruwerdi. Bukit berhutan yang dihuni oleh dua
orang ayah dan anak perempuannya. Seorang gadis yang
aneh juga menurut pandangan Jlitheng. Seorang gadis yang
memiliki ilmu yang luar biasa, yang dapat mengimbangi
ilmunya sendiri. "Mungkin akulah yang masih jauh ketinggalan dari antara
orang-orang yang disebut berilmu" berkata Jlitheng di dalam
hatinya "karena itu, agaknya bekalku masih kurang sekali
untuk melakukan tugas yang berat ini"
Kebanggaan-kebanggaan kecil dari kemenangankemenangannya
atas orang-orang yang tidak berarti, tidak
dapat memberinya takaran tentang kemampuannya. Orangorang
Kendali Putih, orang-orang padukuhan itu, dan mungkin
beberapa orang yang lain justru akan dapat memberikan
takaran semu tentang dirinya sendiri.
Diluar sadarnya, Jlitheng meraba ikat pinggangnya. Ia
mempunyai sejenis senjata yang dapat dipergunakannya
untuk melindungi dirinya jika ia terpaksa melawan beberapa
orang sekaligus. Paser-paser kecil yang dibawanya itu
mempunyai arti tersendiri baginya, disamping pedang tipisnya
yang mempunyai kemampuan tidak kalah dengan segala jenis
pedang. Bukan saja tajamnya yang mampu menebas putus
kapas yang mengapung diudara dengan ayunan lamban,
tetapi pedang itu juga merupakan pedang yang kuat sekali.
"Aku akan memasuki daerah pengalaman yang
mendebarkan" berkata Jlitheng kemudian "Tetapi aku tidak
boleh melepaskan kesempatan ini. Mungkin jalan ini akan
membawa aku kembali ke bukit gundul itu, dan menghadapi
persoalan-persoalan baru yang mendebarkan, tetapi yang
dapat memberikan jalan menuju kesasaran"
Jlitheng bangkit dan duduk dibibir ambennya ketika ia
mendengar langkah mendekati pintu. Ketika kemudian pintu
bergerit, dilihatnya Rahu berdiri sambil tersenyum. Katanya
"Makanlah. Jangan takut bahwa aku akan meracunmu"
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia membenahi
pakaiannya, ikat kepalanya dan dipungutnya pedangnya dan
dikenakannya di lambungnya.
"Kau seperti akan berangkat kemedan perang" berkata
Rahu. "Inilah sikap seorang petualang sejati" jawab Jlitheng
Rahu tertawa. Dipandanginya Jlitheng dari ujung kakinya
sampai ke ujung ikat kepalanya. Katanya "Kau seorang
petualang sejati. Seorang petualang yang sangat berhati-hati
menghadapi keadaan yang tidak kau kenal dengan baik"
"Apakah kau bermaksud mengatakan bahwa aku seorang
pengecut?" bertanya Jlitheng.
Rahu tertawa semakin keras. Jawabnya "Kau mudah
tersinggung. Seorang yang senang berkelakar tidak boleh
mudah tersinggung. Ada bedanya antara seorang pengecut,
seorang penakut dan seorang yang berhati-hati. Dan kau
termasuk orang yang sangat berhati-hati Bukan seorang
pengecut atau penakut"
Jlitheng tidak menjawab. Tetapi iapun tersenyumpula.
"Marilah. Adikkulah yang masak hari ini Aku hanya
menyiapkan saja di amben dalam"
Jlitheng yang dikenal oleh Rahu bernama Bantaradi itupun
kemudian mengikutinya melintasi longkangan sempit menuju
ke ruang dalam. Diatas sebuah amben yang lebar telah terhidang nasi dan
lauk pauknya. Di dalam sebuah tenong yang tidak begitu berat
terdapat berbagai macam lauk kering. Ikan air yang digoreng
dengan tepung beras. Kacang dan kedele hitam. Sedang di
dalam mangkuk terdapat sayur basah kacang panjang dan
seonggok kulupan dedaunan.
"Makanlah. Adikku yang tidak setiap hari dapat masak,
telah menyediakan lauk yang dapat disimpan sampai sepekan"
berkata Rahu sambil menunjuk tenangnya.
Jlitheng mengangguk-angguk. Ia tidak mau mengecewakan
Rahu. Karena itu, maka iapun makan seperti Rahu. Lahap
sekali. Apalagi ketika Rahu kemudian berkata "Jika kau raguragu,
biarlah aku mengambil dahulu"
Jlitheng hanya tersenyum saja. Sementara itu tangannya
menyuapi mulutnya tiada henti-hentinya. Sebenarnyalah
bahwa Jlitheng yang letih itu juga lapar. Karena itu, maka nasi
hangat itu telah menumbuhkan seleranya.
Malam itu, Jlitheng bermalam di rumah Rahu. Ketika ia
kemudian kembali ke biliknya, ia masih mendengar suara
Rahu yang bercakap-cakap dengan adiknya tentang air di
sawah. Kemudian tentang rumput bagi kuda di kandang,
termasuk kuda Jlitheng. Lamat-lamat Jlitheng masih mendengar Rahu berkata
"Siapkan makan kami pagi-pagi benar. Kami. akan berangkat
sebelum matahari terbit"
"Ya kakang" jawab Semi.
"Anak muda yang baik" berkata Jlitheng di dalam batinya.
Namun kemudian "Tetapi aku tidak boleh terpedaya melihat
sikapnya dan melihat keadaan rumah ini. Mungkin rumah ini
bukan rumah Rahu yang sebenarnya. Mungkin di belakang
keduanya ada orang lain yang menyiapkan segala sesuatu"
Ternyata bahwa Jlitheng tidak dapat melepaskan diri dari
kecurigaannya. Karena itu, maka ketika ia akan membaringkan
dirinya dipembaringan, iapun telah menyelarak pintu biliknya.
Kemudian memperhatikan setiap sudut bilik itu. Namun
menurut pengamatannya, tidak ada sesuatu yang
mencurigakan di dalambilik itu.
Karena itu maka Jlithengpan kcmudan membaringkan
dirinya. Tetapi pedangnya tetap d sisinya, demikian pala ikat
pinggangnya yang digantungi dengan paser-paser kecil.
Ternyata malam itu dilaluinya tanpa terjadi sesuatu. Orangorang
padukuhan itu tidak mendendamnya dan tidak beramairamai
mengepung rumah Rahu yang termasuk orang yang
disegani pala. Rahu yang menyebut dirinya Iblis bertangan
Petir dan adiknya itupun tidak berbuat apa-apa pula atasnya. -
Menjelang dini hari, Jlitheng sudah bangun. Setelah
memperhatikan keadaan dengan seksama, maka iapun
kemudian keluar sambil menjinjing pedangnya langsung
menuju ke pakiwan. Ketika ia keluar dari pakiwan ia melihat
Rahu berjongkok sambil berselimut kain panjang.
"Kau sudah mandi?" bertanya Rahu,
"Bukankah kita berangkat pagi-pagi sebelum matahari
terbit?" sahut Jlitheng.
"Aku bermaksud demikian" Rahu mengangguk-angguk
"tetapi ini masih sangat pagi"
"Lebih baik bersiap lebih awal" sahut Jlitheng.
Namun iapun kemudian merasa bahwa Rahu tersenyumsenyum
sambil memandang pedangnya. Tetapi Jlitheng tidak
peduli. Ia berjalan menuju gandok sambil menjinjing
pedangnya itu. Di gandok, iapun segera berpakaian selengkapnya. Pedang
di lambung dan diperiksanya sekali lagi paser-paser kecilnya
Ternyata tidak ada sebuahpun yang kurang.
Sambil memperhatikan keadaan di sekeliling ia bergumam
di dalam liati "Tidak ada seorangpun yang masuk ke dalam
bilik ini ketika aku di pakiwan"
Setelah selesai berkemas maka Jlithengpun duduk di
amben pembaringannya sambil menunggu. Ia tahu bahwa
Rahu akan memanggilnya, makan pagi dan kemudian baru
berangkat, karena ia mendengar percakapan Rahu dengan
adiknya semalam. Ternyata dugaannya benar. Sejenak kemudian, maka
Rahupun memanggilnya. Dipersilahkannya ia makan bersama
Rahu. Kemudian bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan
padukuhan yang aneh itu. Di halaman dua ekor kuda sudah siap. Namun Jlitheng
masih memeriksa kudanya dengan teliti. Dilihatnya telapak
dikaki kudanya dan ditelitinya pelananya. Baru kemudian ia
berkata kepada Rahu "Aku sudah siap"
"Kita akan segera berangkat" berkata Rahu. Lalu katanya
kepada adiknya "Kau di rumah saja. Jaga rumah ini baik-baik.
Jangan terlalu banyak berhubungan dengan orang-orang
padukuhan Tetapi terserah kepadamu jika kau pada suatu
saat dipaksa untuk menjaga harga diri atau bahkan
keadaanmu dalam keseluruhan"
Adiknya mengangguk. Anak muda bertubuh raksasa itu
nampak kokoh kuat. Agaknya iapun seorang yang trampil dan
trengginas, meskipun tubuhnya tinggi dan besar.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Jlitheng dan Rahu
pun meninggalkan rumahnya menjelang matahari terbit di
ujung Timur. Ketika Rahu dan Jlitheng yang dikenal bernama Bantaradi
itu menyusuri jalan-jalan padepokan, beberapa orang sudah
berada dihalaman meskipun masih remang-remang. Suara
sapu lidi terdengar disebelah menyebelah jalan. Dalam
keadaan yang demikian, padukuhan itu tidak ada bedanya
dengan padukuhan-padukuhan lain yang pernah dikenal oleh
Jlitheng. Desir sapu lidi, derik senggot timba dan sekali-kali
tangis anak-anak mencari ibunya yang sedang ke pakiwan,
memberikan kesan yang tenang. Namun jika matahari telah
naik, maka padukuhan itu akan di sibukkan oleh perselisihanperselisihan


Mata Air Di Bayangan Bukit Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang kadang-kadang berkepanjangan tanpa arti
sama sekali. "Padukuhan ini adalah padukuhan yang paling gila yang
pernah aku lihat" desis Jlitheng tiba-tiba "Tetapi ada juga
orang yang kerasan tinggal disini. Bahkan, ada orang dari
tempat lain justru memilih tinggal di tempat yang gila ini"
Rahu tersenyum. Katanya "Kau akan dapat merasakan
kesenangan tersendiri disini. Apalagi kau yang memiliki
kemampuan melampaui kebanyakan orang. Bahkan tiga orang
gegedug yang bertempur bersama-sama tidak mampu
mengalahkanmu" "He, begitukah sikap dan pandangan kalian terhadap
kehidupan" Siapa yang menang akan memiliki peluang yang
banyak untuk berbuat apa saja, termasuk merebut istri
orang?" Rahu tertawa. Katanya "Tidak seluruhnya gambaranmu
benar. Tetapi sebagian memang deinikian"
"Jika demikian, kenapa kau tidak mencari perempuan yang
paling cantik dan kau jadikan isterimu?" bertanya Jlitheng.
Rahu tertawa semakin keras. Katanya "Mungkin aku akan
dapat berbuat demikian. Tetapi apakah artinya seorang
perempuan yang berada di rumahku hanya wadagnya saja,
tanpa hatinya" Selebihnya, aku tidak ingin dikisruhkan dengan
tanggungan-tanggungan semacam itu. Aku lebih senang
sendiri. Sementara adikku dapat menguras dirinya sendiri"
Jlitheng mengerutkan keningnya. Sikap itupan aneh bagi
Jlitheng. Seorang yang hidup dalam lingkungan yang aneh itu
masih juga berpikir tentang hati seorang perempuan. Bukan
wadagnya. Tanggapan Jlditheng terhadap Rahu menjadi semakin
banyak memberikan teka-teki kepadanya. Ada beberapa hal
yang sama sekali tidak sesuai bahkan bertentangan dengan
dugaannya sebelumnya. Namun demikian ia tidak ingn
menunjukkan kecurigaannya yang menjadi semakin besar.
Demikianlah mereka meneruskan perjalanan mereka. Di
ujung padukuhan seorang yang berpapasan dengan keduanya
sama sekali tidak berpaling kearah mereka.
"Inilah sikap yang sebenarnya dari orang-orang padukuhan
ini. Mungkin sama sekali tidak acuh terhadap orang lain.
Tetapi mungkin juga karena tatapan mata sudah cukup alasan
untuk dianggap ikut campur dalam persoalan orang lain" desis
Jlitheng. Rahu mengangguk. Katanya "Kau cepat mengenali sifat
orang-orang padukuhan ini. Mereka mencoba menentang sifat
manusiawi yang ingin saling berhubungan dan saling
memerlukan" "Dan kau tertarik juga untuk melakukannya" sahut J litheng.
Rahu mengangguk lagi. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan
iapun kemudian berkata "Lupakan orang-orang padukuhan itu.
Kau harus mulai memperhitungkan langkahmu dipadepokari
Sanggar Gading" Jlitheng mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia
berdesis "Aku sudah siap, meskipun seandainya Sanggar
Gading itu merupakan sarang serigala yang paling buas. Satu
dari isi Sanggar Gading sudah aku kenal. Jika orang-orang
Sanggar Gading itu pada umumnya seperti kau, maka aku
akan memasuki padepokan yang nyaman, bersih dan damai,
karena isinya akan selalu berbicara tentang hati. Bukan
tentang wadag" "Ah, kau selalu mengada-ada" potong Rahu "Aku mencoba
berbuat baik karena, aku adalah tuan rumah. Tetapi di
padepokan, aku adalah orang yang lain dari yang Kau kenal di
rumahku. Dan kaupun akan menjumpai tata kehidupan yang
asing, seperti kau menjumpai tata kehidupan di padukuhanku,
meskipun dalam bentuk yang berbeda"
Jlitheng. mengerutkan keningnya. Ia harus memperhatikan
peringatan itu dengan sungguh-sungguh. Ia harus
mempersiapkan dirinya, memasuki sarang serigala liar yang
setiap saat akan dapat menerkamnya dari segala penjuru.
"Tetapi aku sudah bertekad untuk memasukinya" berkata
Jlitheng di dalam hati. Namun seolah-olah Rahu itu mengetahui apa yang sedang
dipikirkannya, sehingga orang yang menyebut dirinya Iblis
bertangan Petir itupun berkata "Sekali lagi aku
memperingatkan, orang-orang Sanggar Gading bukan orang
yang ragu-ragu. Bukan orang yang penuh dengan belas
kasihan dan kasih sayang. Tetapi kami bukan segerombolan
perampok dan penyamun tataran sepanjang jalan sepi dan
rumah-rumah saudagar. Kami adalah orang-orang yang
bercita-cita" Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Itulah agaknya maka
orang-orang Sanggar Gading berkeras untuk mendapatkari
pusaka yang diduga berada ditangan Daruwerdi yang
menuntut nilai tukar yang tinggi. Yang agaknya akan dipenuhi
oleh orang-orang Sanggar Gading, apapun akibatnya.
Tetapi Jlitheng tidak menyahut. Ia mulai merenungi
perjalanan yang sedang dilakukannya. Bahkan kemudaan ia
bertanya "Apakah padepokan itu masih jauh?"
"Jangan bertanya begitu. Kau tentu mengenal jalan ke
padepokan Sanggar Gading"
"Aku tidak tahu"
"Kau tentu dapat mengenal ciri-ciri jalur jalan menuju
kesebuah padepokan. Apalagi samar-samar kau pernah
mendapat petunjuk, dan kau telah menemukan padukuhan
pula" "Aku malas berpikir dan mengenali tanda-tanda yang samar
karena adai kau. Aku lebih mudah bertanya kepadamu dari
pada aku harus mengamati setiap batang pohon dan jejak
dijalur jalan ini" Rahu tertawa berkepanjangan Katanya "Kau memang
orang yang aneh. Seorang petualang sejati, tetapi juga
seorang pemalas sejati"
"Aku mengikut kau saja sampai dimanapun" desis J litheng.
Rahu masih saja tertawa. Dengan nada datar ia berkata
"Seandainya aku pergi kearah yang salah, yang dapat
menyesatkanmu ke tempat berbahaya?"
"Aku bunuh kau. Bukankah kau sendiri yang mengatakan,
bahwa aku mempunyai kelebihan darimu. Aku dapat melawan
tiga orang gegedug, sedang kau hanya mampu mengimbangi
sebanyak-banyaknya dua orang saja" jawab Jlitheng.
Rahu masih tertawa. Jawaban Jlitheng terdengar lucu ditelinganya.
Demikianlah, maka keduanya berpacu menyusuri jalanjalan
di tengah-tengah bulak yang panjang. Namun tanah
nampaknya tidak tergarap dengan baik. Parit-parit telah kering
dan tanggul-tanggulnyapun telah banyak yang rusak.
Sementara daerah yang kering nampak gersang dan kekuning
kuningan. Hampir diluar sadarnya Jlitheng bertanya "Apakah daerah
ini juga memiliki keanehan seperti padukuhanmu?"
"Ada tiga empat padukuhan yang memiliki persamaan sifat.
Sebentar lagi kita akan keluar dari daerah yang kau anggapi
aneh itu dan memasuki daerah yang hampir tidak
berpenghuni. Daerah yang kering dan tandus" jawab Rahu.
Jlitheng mengangguk-angguk. Ia memang melihat di
depannya daerah yang menjadi semakin gersang. Rasarasanya
gerumbul-gerumbul yang tumbuh disebelah
menyebelah jalan menjadi kuning terbakar oleh panas
matahari disiang yang terik, dan kedinginan oleh t itik-t itik
embun di malam hari. Namun titik-t itik embun itu tidak dapat
menyegarkan dedaunan yang semakin kuning dan akhirnya
runtuh mengotori jalan yang semakin sempit pula, Beberapa
dahan yang kering gun dul bagaikan menggapai-gapai
kepanasan dan menggigil kedinginan di malamhari.
"Kita memasuki daerah terpencil" berkata Rahu "Bukankah
kau sudah memperhitungkannya?"
Jlitheng memandang jauh kedepan. Padang perdu yang
terbentang dihadapannya memberikan kesan yang tersendiri
pula, sesudah ia keluar dari padukuhan yang aneh itu.
"Kenapa padepokan Sanggar Gading memilih tempat
seperti ini?" bertanya Jlitheng kemudian.
"Kita belum sampai ke padepokan Sanggar Gading" jawab
Rahu, namun kemudian katanya "Tetapi bukankah sudah
wajar, bahwa kelompok-kelompok yang hidup dengan cara
dan cita-citanya yang tersendiri, memilih tempat yang
tersendiri pula. Kau tentu dapat membayangkan bahwa
dengan demikian kita sudah jauh mengurangi kemungkinan
pergeseran dan benturan yang dapat terjadi dengan susunan
masyarakat yang sewajarnya. Bukankah kau juga dapat
membayangkan, bahwa orang-orang Kendali Putih, orangorang.
Pusparuri dan padepokan di Gunung Kunir juga
terpisah dari susunan masyarakat sewajarnya?"
Jlitheng mengangguk. Jawabnya "Ya, ya. Aku mengerti.
Bukan saja kalian tetapi banyak pula terdapat padepokan yang
terasing, karena penghuninya tidak lagi ingin berhubungan
terlalu banyak dengan unsur-unsur duniawi. Beberapa orang
menganggap dirinya sudah waktunya untuk mendekatkan diri
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga mereka memilih
suasana yang sepi dan tenang"
Rahu mengerutkan keningnya. Katanya "Kau sengaja ingin
mengatakan bahwa yang kami lakukan adalah sebaliknya?"
"Jika tanggapanmu demikian, terserahlah" jawab Jlitheng
tanpa berpaling. Rahu tidak menjawab. Namun nampak bibirnya tersenyum.
Senyumyang tidak dapat dimengerti.
Keduanyapun kemudian memasuki daerah gersang itu
semakin dalam. Mereka melintasi padang yang ditumbuhi
dengan gerumbul-gerumbul perdu yang ke kuning-kuningan.
Sekali-kali mereka, melihat seekor dua ekor burung terbang.
Namun nampak betapa lesunya.
Demikianlah, semakin tinggi matahari naik dilangit, maka
panasnyapun menjadi semakin terik. Perjalanan J litheng dan
Rahu telah sampai ke daerah yang gersang sama sekali. Batubatu
padas berserakkan disebelah menyebelah jalan setapak.
Bahkan yang, mereka jumpaii kemudian adalah rantingranting
perdu yang tidak berdaun lagi.
"Tetapi perdu itu tidak mati" tiba-tiba saja Rahu berkata
seolah-olah ia, mengetahui apa, yang terpikir oleh J litheng.
Lalu "Jika hujan mulai jatuh, ranting-ranting itu akan bersemi
dan dedaunan akan tumbuh hijau segar. Pada saatnya
dedaunan itu akan menguning dan runtuh di musim kering"
"Daerah yang benar-benar terasing" berkata Jlitheng "jalan
ini tentu jarang sekali dilalui orang. Kecuali orang-orang yang
tersesat, atau orang-orang Sanggar Gading"
"Ya" jawab Rahu "Dan kau sudah memasuki daerah kuasa
orang-orang Sanggar Gading. Kau harus mempersiapkan diri
menghadapi setiap kemungkinan. Padepokan itu sendiri masih
jauh. Mungkin menjelang senja kita baru akan sampai. Tetapi
di perjalanam ini, kau mungkin sekali akan mengalami hal-hal
yang tidak menyenangkan, justru karena kau orang yang
belum dikenal disini. Meskipun Cempaka pernah mengatakan,
bahwa ada satu kemungkinan, seseorang akan hadir, dan
bahkan menyuruh aku menunggumu di padukuhanku, namun
tidak semua orang Sanggar Gading senang akan
kedatanganmu. Mereka mencurigaimu dan mungkin mereka
tidak yakin, bahwa kau dapat dijadikan lawan yang seimbang,
atau kecurigaan-kecurigaan yang lain"
Jlitheng mengerutkan keningnya. Nampaknya Rahu tidak
sedang berkelakar. Tetapi ia berkata dengan sungguhsungguh.
Karena itu, Jlitheng memang harus berhati-hati. Ia tidak
melihat seseorang di padang perdu yang gersang itu. Tetapi
peringatan itu agaknya berlaku untuk waktu yang tidak lama
lagi. Jika kuda mereka memasuki daerah itu semakin dalam,
maka kemungkmankemungkinan itu akan dapat terjadi.
Terik matahari terasa semakin membakar tengkuk. Tetapi
mereka masih melanjutkan perjalanan. Di bawah sebatang
perdu yang masih berdaun cukup lebat, meskipun sudah
menjadi kekuning-kuningan, keduanya berhenti untuk
memberi kesempatan kepada kuda-kuda mereka beristirahat.
"Bantaradi" tiba-tiba saja Rahu berdesis sambil duduk
bersandar pohon itu "Aku tidak tahu, kenapa kau tertarik
memasuki padepokan Sanggar Gading"
Jlithengpun kemudian duduk pula. Pertanyaan itu terdengar
aneh di telinganya. Karena itu, maka iapun bertanya pula
"Kenapa kau bertanya demikian" Bukankah aku seorang
petualang yang seperti aku katakan, ingin melihat segala ini
dunia ini meskipun kadang-kadang harus menempuh bahaya"
Yang atan dilakukan oleh orang-orang Sanggar Gading
agaknya akan sangat menarik. Karena itu, aku ingin
mengalaminya meskipun yang akan terjadi itu dapat
berbahaya bagi keselamatanku"
Rahu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berkata dengan
sungguh-sungguh "Jika kau terjerat oleh padepokkan itu,
maka kau harus menghentikan petualanganmu karena kau
akan menjadi salah satu dari patung-patung hidup yang
berada di padepokan itu. Kau tidak akan sempat lagi berpikir
dan memikirkan rencana-rencanamu lebih jauh. Kau akan
menjadi salah seorang dari mereka yang tinggal melaksanakan
perintah tanpa mengetahui sebab dan akibatnya. Kecuali Jika
kau langsung dapat berdiri pada sederet tataran dengan para
pemimpinnya" Jlitheng mengerutkan keningnya. Lalu katanya "Apakah kau
juga tidak sempat berpikir dan berbuat tanpa sadar, sesuai
dengan perintah yang kau terima?"
"Aku beruntung untuk mendapat sedikit kepercayaan dari
pimpinan Sanggar Gading" jawab Rahu.
Jlitheng tertawa. Katanya "Pengalaman yang menarik
sekali. Aku ingin menguji ketahanan akal dan perasaanku. Jika
pada suatu saat aku terperosok ke dalam lingkungan yang
demikian apakah aku tidak kehilangan kepribadianku"
"Jika ternyata kemudian kau t idak lagi mengerti tentang
dirimu sendiri?" bertanya Rahu.
"Jika terjadi demikian, ternyata bahwa akal dan perasaanku
tidak ada artinya lagi. Dan aku memang sepantasnya menjadi
budak-budak yang tidak mengerti akan dirinya sendiri" jawab
Jlitheng, Rahu mengangguk-angguk, Katanya "Kau memang keras
kepala. Tetapi aku sudah banyak memberikan keterangan
kepadamu, "Terima kasih. Tetapi aku tidak tahu, apakah kau sedang
menilai kemantapanku, atau karena kau benar-benar ingin


Mata Air Di Bayangan Bukit Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menunjukkan isi dari padepokanmu. Aku menganggap hal itu
agak mustahil, apalagi jika kau termasuk salah seorang yang
mendapat kepercayaan untuk memimpin di Sanggar Gading"
berkata Jlitheng kemudian.
Wajah Rahu menegang. Katanya "Sikapmu bukan sikap
orang-orang Sanggar Gading. Tetapi pada suatu saat, aku
adalah salah seorang pemimpin dari Sanggar Gading itu,
sehingga akupun dapat bertindak tegas terhadapmu"
Jlitheng mulai tertawa lagi sambil berkata "jika demikian,
ada kemungkinan yang lain. Kau menjadi cemas, bahwa aku
akan dapat menggeser kedudukanmu. Karena itu, kau
memberikan kesan yang buruk terhadap Sanggar Gading agar
aku mengurungkan niatku untuk datang dan menemui
Cempaka" Rahu menegang sejenak. Namun kemudian iapun tertawa "
Tepat. Kau memang memiliki tanggapan sangat tajam. Tetapi
yang penting bukan kecemasanku tentang kedudukanku. Aku
yakin bahwa aku akan dapat mempertahankannya. Jika kau
mengira bahwa aku benar-benar dapat kau kalahkan maka
kau keliru. Aku kadang-kadang memang merasa perlu untuk
merendahkan diri" "Untuk apa?" bertanya Jlitheng.
"Sekedar untuk menyenangkan orang lain. Apalagi
petualang yang masih memiliki jiwa kekanak-kanakan seperti
kau, yang masih merasa senang dan bangga jika disanjung"
Tetapi Jlithengpun tertawa. Katanya "Kau mempunyai bakat
untuk menakut-nakut i orang. Ternyata caramu memilih gelar
dan sikapmu yang tertutup. Tetapi aku tidak dapat kau takuttakuti
dengan cara itu" "Masih ada kesempatan untuk mengetahui, siapakah
diantara kita yang memiliki kelebihan sebelum kita memasuki
Sanggar Gading" gumam Rahu.
"O, jadi kaulah orang yang pertama akan menjajagi
kemampuanku. Baiklah. Aku kira, aku tidak berkeberatan"
jawab Jlitheng. Rahu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian
"Berhati-hatilah. Aku terpaksa memperingatkanmu sekali lagi.
Aku melihat bayangan maut merundukmu. Bukan, sekedar
mengancam dan menakut-nakuti. Sebenarnya aku tidak
berkepentingan sama sekali seandainya mayatmu terkapar
disini menjadi makanan burung-burung pemakan bangkai"
"Aku tidak mengerti" gumam Jlitheng.
Rahu tidak menyahut. Tetapi sekilas pandangan matanya
menyambar seonggok batu padas beberapa puluh langkah
dari tempatnya berhenti. Diluar sadarnya Jlithengpun ikut memandang kearah batu
padas itu. Tiba-tiba saja wajahnya menjadi tegang. Ia melihat
sekilas ujung tombak mencuat dibalik batu padas itu. Namun
kemudian ujung tombak itu segera lenyap.
"Apakah artinya?" desis Jlitheng "Kau sudah tahu" jawab
Rahu. Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa
Rahu benar-benar bermaksud baik terhadapnya. Namun
karena itu, ia menjadi semakin heran, terhadap orang aneh
itu. Tetapi ia tidak sempat memikirkannya lebih panjang.
Sementara itu ia mendengar Rahu bergumam hampir berbisik
"Orang dlibalik batu itu memberi isyarat agar aku
menjauhimu. Berhati-hatilah"
Jlitheng menjad" semakin tegang. Sementara itu ia melihat
Rahu berdiri dan berjalan mendekati kudanya yang sedang
beristirahat di bawah bayangan dedaunan meskipun sudah
mulai menguning. "Dengarkan kata-kataku" desis Rahu kemudian tanpa
memperhatikan Jlitheng yang menegang.
Sementara itu, dari arah batu-batu padas yang
berserakkan, dua orang merunduk mendekati. Jlitheng. Salah
seorang dari keduanya tiba-tiba saja meloncat berdiri diarah
belakang Jlitheng. Dengan serta merta ia telah melontarkan
tombaknya mengarah ke punggung Jlitheng.
"Awas, dari arah belakangmu" desis Rahu sambil mengusap
leher kudanya. Seolah-olah ia sama sekali tidak menghiraukan
apa yang bakal terjadi atas Jlitheng.
Jlitheng mendengar peringatan Rahu. Dengan serta meria
iapun segera berpaling. Hampir saja ia terlambat, karena
tombak itu meluncur demikian cepatnya. Untunglah bahwa
Jlitheng masih mempunyai waktu sekejap untuk menjatuhkan
diri. Namun segera iapun melent ing berdiri menghadap
kepada orang yang telah melemparkan tombaknya.
"Pengecut" geram Jlitheng, kemudian katanya lantang "Jika
kalian mempunyai harga diri, marilah. Jangan membunuh dari
arah belakang" Tetapi orang yang melemparkan tembak itu tertawa.
Katanya "Padang ini adalah padang perburuan. Siapapun
boleh memburu lawannya. Lawan yang dikehendakinya
meskipun tanpa sebab. Kemudian membunuhnya dan
melemparkannya ke sela-sela batu padas di lereng terjal
sebelah untuk menjadi makanan burung-burung pemakan
bangkai atau anjing-anjing liar yang berkeliaran"
"Aku tahu" jawab Jlitheng "padang ini adalah padang
kematian. Tetapi jika kalian jantan, kita akan berhadapan"
Seorang yang lain, yang masih berada dibalik batu padas,
segera meloncat pula sambil berteriak "Jangan banyak cakap.
Kematianmu akan segera tiba tanpa ada yang menyesalinya.
Iblis bertangan Petir telah membawamu ke padang kematian
ini. Dan itu berarti bahwa kau adalah orang yang tidak
berharga untuk tetap hidup"
Jlitheng memandang Rahu sejenak. Tetapi orang itu masih
saja mengusap leher kudanya. Agaknva ia sama sekali tidak
tertarik pada pertentangan yang sedang terjadi.
"Gila" desis Jlitheng. Tetapi dalam pada itu Jlithengpun
mengetahui bahwa sebenarnya Rahu telah berusaha
menyelamatkannya, meskipun ia bertanya di dalam hati
"Apakah ada jalan lain. yang yang lebih baik daripada daerah
yang disebut padang kematian ini" Atau ada rencana-rencana
khusus dari orang yang menyebut dirinya Iblis bertangan Petir
itu?" Ketika Jlitheng sedang termangu-mangu, maka kedua
orang yang semula bersembunyi dibalik batu-batu padas itu
pun melangkah mendekat. Yang telah melemparkan
tombaknya, telah menggenggam pedang di tangannya.
"Ki Sanak" berkata Jlitheng kemudian "Aku tidak mengerti.
Apakah kalian bersungguh-sungguh atau sekedar ingin
menjajagi kemampuanku saja?"
Terdengar keduanya tertawa meledak. Salah seorang dari
keduanya berkata "Kau memang gila. Tidak ada harapan
bagimu untuk keluar dari daerah kematian ini. Kami tidak
pernah untuk tidak bersungguh-sungguh. Kami akan
membunuhmu" Jlitheng berpaling sejenak memandang Rahu yang masih
sibuk dengan kudanya. Dengan suara bergetar ia bertanya
kepadanya "Rahu. Apakah seharusnya aku membunuh di
sini?" "Itu urusanmu" berkata Rahu.
Jlitheng menjadi- semakin gelisah. Tetapi ia sadar, bahwa
ia akan dapat benar-benar mati menghadapi kedua orang itu.
Ketika salah seorang dari keduanya melemparkan tombaknya,
itu bukan sekedar menjajagi. Tetapi tombak itu benar-benar
akan dapat mencabut nyawanya, jika Rahu tidak memberinya
isyarat. Sekilas terdengar kembal kata-kata Rahu "Orang-orang
Sanggar Gading tidak pernah ragu-ragu"
Jlitheng menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Sanggar
Gading memang tempat orang-orang gila, Kedua orang itu
agaknya memang bersungguh-sungguh ingin membunuhnya.
Jlitheng tidak sempat berangan-angan terlalu lama tentang
orang-orang Sanggar Gading. Kedua orang yang
menggenggam senjata itu semakin lama menjadi semakin
dekat. Bahkan tombak yang belum dilemparkan itu sudah
merunduk mengarah ke dadanya.
"Jangan menyesal" geram salah seorang dari mereka "Kau
akan mati. Benar-benar akan mati. Kami tidak ingin melihat
orang-orang baru memasuki daerah kami. Yang selama ini apa
yang kami dapatkan sudah berangsur susut. Jika padepokan
kami masih bertambah-tambah dengan orang-orang baru
yang tidak berarti, itu hanya akan menyusutkan bagian kami"
"Bagian apa yang kau maksud?" bertanya Jlitheng tiba-tiba.
"Setiap orang dari padepokan kami akan menjadi seorang
Adipati. Menurut perbitungani kami, daerah yang akan kami
kuasai sudah terlalu sempit. Apalagi jika masih saja ada
orang-orang baru yang datang ke padepokan kami Maka
daerah kekuasaan kami tidak akan lebih dari satu padukuhan
kecil" Jlitheng mengerutkan keningnya. Katanya "He, apakah
kalian sedang bermimpi atau sedang bermain seperti kanakkanak
di terang bulan. Adipati apakah yang kalian maksud?"
"Kau memang dungu. Sebelum mati, ketahuilah bahwa
Demak akan segera jatuh. Pemimpin kami akan merajai negeri
ini. Kami semuanya akan menjadi Adipati dari bang Wetan
sampai bang Kulon. Dari Pesisir Kidul sampai Pesisir Lor"
Jlitheng tiba-tiba saja tertawa. Ia tidak dapat menahan geli
di hatinya. Katanya disela-sela derai tertawanya "kalian benarbenar
pemimpi yang menggelikan. Apakah kalian dapat
membayangkan daerah seluas Demak sekarang ini?"
"Kenapa tidak" jawab salah seorang dari mereka "meskipun
tidak seluas Majapahit, tetapi Demak masih mempunyai
kekuasaan sampai keujung Timur Pulau ini. Mungkin daerah di
seberang lautan masih harus dinilai kembal. Tetapi angkatan
laut Demak harus bangkit sebesar kekuatan armada
Majapahit. Kebulatan yang pecah disaat-saat akhir kekuasaan
Majapahit tidak boleh terulang kembali"
Jliltheng terrnangu-mangu sejenak. Katanya kemudian
dengan nada dalam "Darimana kalian mendengar semuanya
itu?" "Jangan memperbodoh kami. Aku adalah putera
Sanggapurana, salah seorang prajurit di masa kejayaan
Majapahit. Aku tahu apa yang aku lakukan sekarang ini"
Jlitheng terkejut mendengar jawaban itu. sehingga tanpa
disadarinya ia berdesis "Kau putera seorang prajurit dari
kerajaan Majapahit akhir" Jika demikian, kenapa kau tersesat
sampai ke padepokan ini?"
"Siapa yang tersesat" Persetan. Jangan banyak bicara. Kau
harus mati dan t idak mengotori padepokan kami"
Jlitheng termangu-mangu Sekali lagi ia berpaling kepala
Rahu. Namun orang itu sama sekali tidak menghiraukannya
lagi. Seolah-olah disekitar Rahu itu sama sekali tidak terjadi
sesuatu yang dapat menegangkan urat syarafnya.
Dengan demikian Jlitheng tidak lagi dapat mengharapkan
pertimbangannya. Ia harus mengambil sikap menghadapi
kedua orang itu. yang seorang diantaranya mengaku putera
seorang prajurit yang bernama Sanggapurana.
Namun dalam pada itu, yang diingat oleh Jlitheng adalah
kata-kata Rahu, bahwa tidak seorangpun dari lingkungan
Padepokan Sanggar Gading yang ragu-ragu. Ketika ia tidak
membunuh gegedug yang merebut istri orang, Rahu
mengatakan kepadanya, bahwa ia adalah seorang yang terlalu
baik dan ragu-ragu bagi Sanggar Gading.
Dan saat itu, Jlitheng telah berhadapan dengan dua orang
yang agaknya benar-benar ingin membunuhnya.
"Aku tidak boleh ragu-ragu" berkata Jlitheng di dalam
hatinya "Dan aku tidak perlu berbaik hati kepada mereka"
Karena itu, maka Jlithengpun segera mempersiapkan diri
menghadapi segala kemungkinan. Pedang tipisnya
digenggamnya. Wajahnya nampak tegang, sedangkan sorot
matanya bagaikan menembus dada kedua orang lawannya
berganti-ganti untuk melihat isi hati yang sebenarnya dari
keduanya. "Apakah mereka sekedar ingin menjajagi, atau benar-benar
akan membunuhku "sekali-kali keraguan itu masih saja
tumbuh. Namun kemudian tetapi aku tidak boleh ragu-ragu.
"Bersiaplah untuk mati karena kebodohanmu. Kau Sudah
memasuki daerah yang tidak kau kenal, dan kini berada di
padang perburuan yang juga disebut padang kematian" geram
orang berpedang yang menyebut dirinya putera
Sanggapurana. "Aku sudah bersiap" jawab Jlitheng. Namun ia masih ingin
mencoba berbicara "Apakah kalian pernah mendengar apa
yang dikatakan oleh Cempaka, tentang aku" Kedatanganku
adalah karena undangannya"
"Persetan" geram orang itu "Cempaka t idak akan berbuat
apa-apa terhadapku. Dan kau lihat, bahwa Rahu yang dekat
dengan Cempaka dalam banyak hal, sama sekali tidak berbuat
apa-apa ketika kau sudah berhadapan dengan maut"
"Siapa yang berhadapan dengan maut?" tiba-tiba saja
Jlitheng menggeram. Katanya di dalam hati "Aku harus
mengimbangi sikap mereka" Kemudian dengan lantang ia
berkata "Jika kalian memang t idak mau mendengarkan
kesempatan belas kasihanku, marilah. Kita akan mulai. Padang
kematian memang setiap kali harus disiram dengan darah.
Bukan saja darah para pendatang yang kalian anggap akan
mendesak kedudukan kalian, tetapi juga darah orang-orang
lama yang sudah tidak berarti lagi untuk diganti dengan
mereka yang lebih baik dan berilmu"
Kedua orang itu tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba
saja orang berpedang itu meloncat menyerangnya. Pedangnya
terayun mendatar menebas lambung.
Tetapi Jlthangpun telah bersiap menghadapi segala
kemungkinan. Ia masih sempat meloncat surut. Namun
demikian ia berjejak diatas tanah, maka ia harus meloncat
sekali lagi, karena ujung tombak lawannya yang lain telah
mengejarnya. Namun ketika, serangan berikutnya mematuk dadanya.
Jlitheng telah siap untuk menangkis, bahkan dengan satu
putaran ialah yang kemudian meloncat menjulurkan ujung
pedang tipisnya. Tetapi lawannyapun cukup cepat. Ia sempat menghindar.
Ketika Jlitheng siap memburunya, lawannya yang lain telah
menyerangnya dari arah lambung. Setapak Jlitheng bergeser.
Dengan tangkas ia memukul senjata lawannya, sehingga
arahnyapun telah meleset jauh dari tubuhnya.


Mata Air Di Bayangan Bukit Karya Sh Mintardja di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pada pertempuran yang terjadi, seperti juga yang pernah
dilakukan, Jlitheng merasa sangat berterima kasih, bahwa ia
telah mendapatkan sebilah pedang tipis. Pedang yang ringan,
tetapi memiliki kekuatan yang luar biasa. Sementara
ketajamannya tidak kalah dengan pedang yang manapun
juga. Dalam pada itu, maka pertempuran di padang kematian
itupun semakin lama meningkat semakin sengit. Kedua orang
yang berusaha untuk membunuh Jlitheng itupun ternyata
memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Namun
ternyata mereka menghadapi anak-anak muda yang benarbenar
telah bersiap melakukan petualangan yang sudah
diperhitungkan akan sangat berbahaya bagi dirinya.
Dalam pada ita, ketika pertempuran itu menjadi semakin
seru, Rahu ternyata tertarik juga untuk menyaksikannya.
Iapun kemudian duduk bersandar sebuah batu padas yang
besar sambil menilai keadaan.
Sejenak wajahnya menjadi tegang. Namun kadang-kadang
dampak ia tersenyum cemas. Bahkan kadang-kadang ia
menghentakkan jari-jarinya pada lututnya. Agaknya ia benarbenar
telah dicengkamoleh peristiwa yang dihadapinya.
Ternyata bahwa kedua orang Sanggar Gading itu benarbenar
telah mengerahkan segenap kemampuan mereka.
Seperti yang dikatakan olah Rahu, maka orang-orang Sanggar
Gading benar-benar bukan orang yang banyak mempunyai
Sepasang Pedang Siluman 3 Edensor Karya Andrea Hirata Pemberontakan Taipeng 10
^