Pencarian

Antara Budi Dan Cinta 7

Antara Budi Dan Cinta Hu Die Jian Karya Gu Long Bagian 7


uang dengan surat ini."
"Kau sangat jujur," kata Lu Xiang-chuan.
"Aku selalu jujur," kata Gao Lao-da.
Lu Xiang-chuan berkata, "Tapi kau tidak berkata seperti
itu kepada orang lain."
"Memangnya aku bicara seperti apa kepada orang lain?"
"Orang-orang selalu berkata kau suka tertawa bila
tertawa kau sangat manis."
"Bila sedang berdagang aku tidak pernah tertawa."
"Apakah di antara kita hanya ada urusan dagang" Apa
hal lain pun dapat kita bicarakan."
"Kau bukan pedagang," jawab Gao Lao-da.
"Orang dagang pun ada beberapa macam."
"Apakah kau termasuk orang yang hanya bisa
berdagang?"
"Jangan lupa, surat rumah masih ada di tanganku."
"Aku tidak takut kau tidak memberikannya padaku."
"Kau tampak begitu yakin," kata Lu Xiang-chuan.
"Bila tidak yakin, aku tidak akan kemari," kata Gao Laoda.
Tanya Lu Xiang-chuan lagi, "Apakah kau tahu tempat
ini milik siapa?"
"Dulu milik Lao-bo, sekarang milikmu," jawab Gao
Lao-da. "Apakah kau tidak takut aku akan membunuhmu?"
"Kau boleh coba!"
Gao Lao-da teras menyender, tubuhnya tidak bergerak.
Lu Xiang-chuan melihatnya, Gao Lao-da pun melihat
Lu Xiang-chuan. Wajah mereka sama-sama datar, tidak
berperasaan. Kereta terus berjalan menuju taman bunga Lao-bo.
"Apakah kau akan ikut aku pulang?" tanya Lu Xiangchuan....
"Aku akan selalu mengikutimu bila surat itu belum ada
di tanganku," kata Gao Lao-da.
Tiba-tiba Lu Xiang-chuan tertawa, "Kelihatannya kau
merasa beruntung bekerja sama denganku."
"Aku beruntung apa" Yang beruntung adalah dirimu."
Dengan dingin dia berkata lagi, "Aku mengorbankan
Meng Xing-hun dan Feng-feng, hanya untuk ditukar
dengan surat rumah. Bagaimana denganmu?"
Lu Xiang-chuan tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Gao Lao-da.
"Kau tahu aku sedang menertawakan apa?"
Kereta kuda sudah memasuki taman bunga.
Lu Xiang-chuan membuka pintu kereta kemudian turun.
Dia berkata, "Ikutlah! Aku akan memperlihatkan sebuah
benda." Lu Xiang-chuan melewati jalan kecil di tengah-tengah
pohon bunga menuju kamar Lao-bo.
Gao Lao-da mengikutinya.
Sebuah gembok di bawah sinar matahari pagi tampak
berkilau. Lu Xiang-chuan membuka gembok itu, masuk
melewati mang tamu menuju kamar tidur Lao-bo. Alas
tempat tidur yang sudah hancur berantakan masih
dibiarkan seperti itu. Lampu di meja hampir padam.
Tidak ada cahaya lampu dan tidak perlu membalikkan
badan untuk melihat. Lu Xiang-chuan bisa menebak
ekspresi wajah Gao Lao-da.
Setelah lama Gao Lao-da baru menarik nafas dan
berkata, "Apa artinya semua ini?"
"Artinya Lao-bo belum mati."
"Artinya Lao-bo lolos melewati jalan bawah tanah."
Lu Xiang-chuan mengangguk.
"Mengapa kau tidak mengejarnya?"
Lu Xiang-chuan menggelengkan kepalanya.
"Mengapa tidak mengejar?" tanya Gao Lao-da.
Dengan ringan Lu Xiang-chuan menjawab, "Sebab tidak
keburu kukejar."
Wajah Gao Lao-da berubah. Sekarang dia baru mengerti
mengapa tadi Lu Xiang-chuan hanya tertawa, karena bila
Lao-bo belum mati dia tidak akan bisa mendapatkan surat
rumah itu. Dia telah mengorbankan Meng Xing-hun dan
Feng-feng tapi surat itu masih belum dia dapatkan.
Dengan pelan Lu Xiang-chuan membalikkan kepalanya
melihat Gao dan berkata, "Walaupun Lao-bo sudah pergi,
tapi surat rumah tidak dibawanya kau masih mempunyai
kesempatan. Bila kau mau menukarkan sesuatu maka surat
itu bisa kau bawa pulang."
"Ditukar dengan apa?"
"Kau."
Gao Lao-da menghirup nafas dan berkata, "Apakah aku
pantas?" Lu Xiang-chuan tertawa dan berkata, "Kau tadi berkata
bahwa aku adalah pedagang, pedagang tidak akan mau
merugikan dirinya."
Mata Lu Xiang-chuan teras menatap tubuh Gao Lao-da,
dan berhenti di dada Gao Lao-da.
Tiba-tiba Gao Lao-da tertawa.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Lu Xiang-chuan.
"Apakah kau sudah tahu bahwa hanya dengan 2
kilogram daging babi sudah bisa membeliku?"
"Tidak apa-apa, harga seorang perempuan dapat
berubah-ubah."
Dengan genit Gao Lao-da berkata, "Tidak salah. Siapa
pun yang dapat memberikan surat itu kepadaku, aku akan
segera mengikutinya meski sampai naik ke tempat tidur,
tapi kau...."
Tiba-tiba dia marah dan berkata lagi, "Hanya kau saja
yang tidak boleh melakukannya, walaupun semua yang
berada di sini diberikan, aku tetap tidak bisa."
"Apa sebabnya?" tanya Lu Xiang-chuan.
"Karena kau membuatku merasa mual."
Wajah Lu Xiang-chuan tiba-tiba berubah. Jarang ada
yang bisa melihat perubahan wajahnya. Dan jarang ada
orang yang dapat membuatnya seperti itu.
Dengan dingin Gao Lao-da melihatnya dan berkata,
"Aku mual berdagang denganmu, tapi kalau tidur
denganmu bolehlah."
Lu Xiang-chuan jalan ke hadapan Gao Lao-da dan
merobek bajunya.
Lu Xiang-chuan seperti telah berubah menjadi seorang
asing. Lu Xiang-chuan yang tenang dan kalem sudah tidak
ada. Kemarahan membuatnya berubah menjadi seekor
binatang. Mungkin sebenarnya dia adalah seekor binatang. Gao
Lao-da tetap tidak bergerak, tapi memandang Lu Xiangchuan
dengan dingin. Dalam terang di cuaca dini hari dada
Gao Lao-da yang putih terlihat lebih sexy dan indah.
Mata Lu Xiang-chuan menjadi merah, tiba-tiba dia
mengayunkan tangannya memukul perut dan dada Gao
Lao-da. Gao Lao-da pun segera roboh.
Tapi Lu Xiang-chuan tetap memukulnya seperti sedang
memukul Xiao Tie. Dia sudah tidak sadar siapa yang
berada di hadapannya, adalah Xiao Tie atau Gao Lao-da.
Pukulannya bertubi-tubi tapi tidak keras. Gao Lao-da
pun tidak mengelak.
Pada mulanya dia menahan rasa sakit, kemudian
keringatnya mulai mengalir dan dia mengeluarkan suara
yang aneh. Gao Lao-da berdiri dan melihat Lu Xiangchuan.
Gao Lao-da sudah kembali tenang, dia seperti sebuah
patung orang, matanya memandang Lu Xiang-chuan penuh
dengan penghinaan, dengan dingin dia bertanya, "Apakah
sudah selesai?"
Lu Xiang-chuan tersenyum.
Dengan suara pelan dia berkata, "Sekarang aku akan
pergi, kau harus selalu ingat, ingat kepada kesenangan yang
kuberikan hari ini tapi aku tidak akan datang ke sini lagi.
Aku akan membuatmu menjadi ketagihan."
"Kau akan datang ke sini lagi."
"Kau kira aku suka kepadamu?"
Lu Xiang-chuan tersenyum, "Tentu, kau tahu aku akan
memukulmu, hanya akulah yang berani memukulmu dan
kau sendiri senang kupukul."
Dengan ringan Lu Xiang-chuan melanjutkan lagi,
"Sudah lama kau sulit mencari orang yang berani
memukulmu karena orang lain terlalu tinggi menilaimu.
Tidak tahunya kau baru puas setelah dipukul."
Gao Lao-da mengepalkan tangannya, kukunya masuk ke
dalam daging. Kata Lu Xiang-chuan, "Kau membunuh orang bukan
karena benci kepadanya, melainkan benci kepada dirimu
sendiri. Benci mengapa tidak dapat melupakan si penjual
daging itu, dan mengapa bila memikirkan peristiwa itu kau
malah merasa senang."
Dengan tersenyum dia berkata lagi, "Sekarang kau bisa
tenang, karena aku suka memukul orang kapan pun kau
datang aku dengan senang hati akan memukulmu, sekarang
aku baru tahu. Pada saat bertemu denganku, kau hanya
ingin dipukul olehku"
Tiba-tiba Gao Lao-da membalikkan badan dan dia
menampar Lu Xiang-chuan.
Lu Xiang-chuan menangkap tangannya dan berkata,
"Apakah kau ingin kupukul lagi?"
Tangan Gao Lao-da diputar balik ke belakang dari
wajahnya terlihat dia begitu kesakitan. Sepasang mata yang
dingin berubah menjadi kegairahan yang panas, seperti ada
api yang membakar' tubuhnya.
Lu Xiang-chuan tertawa dan berkata, "Mungkin kita
adalah pasangan yang serasi, kau senang dipukul dan aku
senang memukul."
Tiba-tiba Lu Xiang-chuan mendorongnya dan berkata,
"Hari ini cukup sampai di sini, bila kau ingin dipukul lain
hari saja."
Tubuh Gao Lao-da membentur tembok, Gao Lao-da
melotot dan marah, "Binatang kau! Suatu hari aku akan
membunuhmu!"
"Aku tahu kau benci kepadaku tapi kau tidak akan
membunuhku. Aku sangat kenal orang macam dirimu
Akulah yang paling tahu kau membutuhkan apa," kata Lu
Xiang-chuan. Lalu Lu Xiang-chuan mengusir, "Pergilah!"
Gao Lao-da tidak pergi, dia malah duduk kembali.
Perempuan ibarat buah pir, setiap perempuan, dari luar
seperti dibungkus oleh kulit yang keras tapi bila kau mampu
memecahkan kulitnya yang keras, dia tidak akan pergi,
diusir pun dia tidak akan pergi.
"Mengapa kau masih belum pergi?"
Gao Lao-da tiba-tiba tertawa, "Karena aku tahu kau
tidak ingin aku pergi."
"Oooo?"
Kata Gao Lao-da, "Aku tahu semua yang kau butuhkan,
semua ada pada diriku."
Dengan dingin Lu Xiang-chuan berkata, "Kau tahu
apa?" "Walau Lao-bo sudah mati kau pun tidak dapat
merangkak menuju posisi yang kau inginkan, karena ada
orang yang bisa menghalangimu."
"Siapa?"
"Xiao Tie dan Meng Xing-hun." Dengan genit dia
berkata lagi, "Bukan hanya mereka berdua, mungkin Tu
Da-peng dan Luo Jin-peng, bukan Wan Peng-wang."
Mata Lu Xiang-chuan menyipit dan berkata,
"Teruskan!"
"Pasti bukan karena Wan Peng-wang kau mengkhianati
Lao-bo, apa yang kau dapatkan disini" Malah Wan Pengwang
juga mendapat keuntungan lebih, kau tidak bodoh
karena itu kau bersekongkol dengan Tu Da-peng atau
dengan Luo Jin-peng."
"Lalu?" tanya Lu Xiang-chuan.
"Sebab mereka berdua setelah Lao-bo mati akan
membantumu membunuh Wan Peng-wang, kau tidak akan
berani membunuhnya."
Gao Lao-da tertawa dan melanjutkan, "Mungkin Tu Dapeng
lebih kuat dari Luo Jin-peng, dan hanya Tu Da-peng
yang mampu membunuh Wan Peng-wang ."
"Lanjutkan!"
"Begitu Wan Peng-wang mati, Tu Da-peng bukan
temanmu lagi. Waktu itu dia akan menjadi musuhmu, dan
kau mencari seseorang yang dapat membunuhnya."
Dengan dingin Lu Xiang-chuan berkata, "Aku sendiri
bisa membunuhnya bila aku tidak yakin bisa membunuhnya
aku tidak akan membiarkan dia menggantikan Wan Pengwang.
" Gao Lao-da tertawa lagi, "Sekarang kau memiliki
keyakinan tapi pada saat itu tidak akan sama, dia juga
bukan seorang yang bodoh dan dia pun pasti sudah
waspada." Lu Xiang-chuan tertawa.
Bila ada orang yang dapat menebak pikirannya dia selalu
tertawa seperti menghindar. Dia tahu hanya dengan tertawa
dapat menutupi kegelisahan hatinya. Hanya tertawalah cara
yang paling baik.
"Bila kau mencari orang untuk membunuhnya, akulah
orang yang kau cari."
"Oooo?"
Kata Gao Lao-da lagi, "Orang bila sudah mencapai
posisi yang tinggi, dia pasti akan mencari perempuan dan
arak. Bila kau mau mencari perempuan yang baik, aku bisa
membantumu."
Mata Lu Xiang-chuan semakin bercahaya, dengan
tersenyum dia berkata, "Kau benar-benar berpengalaman."
"Kecuali Tu Da-peng, orang yang sangat ingin kau
bunuh adalah Meng Xing-hun."
Gao Lao-da melihat Lu Xiang-chuan, pelan dia
melanjutkan lagi, "Tapi kau belum tentu bisa membunuh
Meng Xing-hun."
Lu Xiang-chuan mendengar lalu dengan ringan dia
berkata, "Mengapa aku tidak bisa membunuhnya?"
"Sejak kecil Meng Xing-hun dibesarkan olehku, aku
lebih mengenal dia dari siapa pun dan sangat sulit


Antara Budi Dan Cinta Hu Die Jian Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membunuhnya."
"Aku tahu gerakannya sangat cepat," kata Lu Xiangchuan.
"Bukan hanya cepat, diapun sangat tepat memukul
sasaran, mungkin orangnya kurang sadis, tapi itu sudah
lebih dari cukup. Dia pun licik."
"Licik?"
"Licik artinya dia tahu kapan harus bersembunyi, harus
bersembunyi, di mana, bila saatnya belum tepat dia tidak
akan menyerang."
Gao Lao-da tertawa lagi dan berkata, "Waktu dia masih
bersamaku, hanya akulah yang dapat menemukan dia di
mana." "Apakah kau ingin membunuhnya?" tanya Lu Xiangchuan.
Gao Lao-da tertawa dan menjawab, "Aku tidak dapat
membangun rumah di atas tubuhnya."
Lu Xiang-chuan memandang Gao Lao-da dengan lama
dan berkata, "Kau benar-benar memahamiku."
Tawa Gao Lao-da terdengat genit dan manis lalu dia
berkata, "Mungkin kita adalah orang yang sejalur."
Wajah Lu Xiang-chuan berubah menjadi serius dan
berkata, "Sudah kukukatakan sejak tadi, kita berdua sudah
ditakdirkan menjadi pasangan yang serasi."
Kalimat ini sebenarnya tidak enak didengar juga
terdengar sangat menggelikan. Tapi kalimat seperti ini
keluar dari mulut Lu Xiang-chuan sepertinya dia
mempunyai maksud lain.
Siapa pun yang mendengar kata-katanya akan berpikir
kembali. Terlihat Gao Lao-da pun sedang berpikir.
Gao Lao-da memandang Lu Xiang-chuan, dia mencoba
melihat isi hati Lu Xiang-chuan yang paling dalam.
Apa yang ada di hati Lu Xiang-chuan" Tidak ada yang
bisa melihatnya.
Tiba-tiba Gao Lao-da tertawa dan berkata, "Benar, kita
memang ditakdirkan menjadi pasangan tapi kau tidak akan
pernah mengawiniku, aku pun tidak mungkin kawin
denganmu."
"Benar, itu memang tidak mungkin."
"Karena itu, kalimat yang tadi kau ucapkan sama sekali
tidak berguna."
"Ada gunanya," kata Lu Xiang-chuan.
"Apa gunanya?"
"Nanti kita bisa lihat."
"Melihat?" tanya Gao Lao-da.
Lu Xiang-chuan menjawab, "Melihat apa yang bisa kau
lakukan demi diriku."
"Bila seseorang ingin orang lain melakukan sesuatu
untuknya, sebaiknya tanyakan dulu apakah dia pun sudah
melakukan apa untuknya?"
"Kau tahu, aku bisa melakukan banyak hal untukmu."
"Baiklah apa yang bisa kulakukan?"
"Sementara ini aku hanya ingin kau melakukan satu hal
untukku." "Apakah kau menyuruhku untuk mencari tahu mengenai
keberadaan Lao-bo?" tanya Gao Lao-da.
"Benar, asal kau bisa menemukan dia, hal lain dapat
kulakukan sendiri."
"Mu akan melakukannya karena aku sendiri pun ingin
mencari dan melihatnya," kata Gao Lao-da tersenyum.
Tawanya terlihat agak aneh.
Lu Xiang-chuan merasa aneh dan bertanya, "Apakah
kau ingin bertemu Lao-bo?"
Dengan pelan Gao Lao-da menjawab, "Aku ingin tahu
Lao-bo itu seperti apa, selalu duduk di tempat tinggi,
menguasai hidup dan mati seseorang. Sekarang dia kabur
dari kejaran orang, dan tidak dapat melindungi dirinya
sendiri. Sekarang akan seperti apakah dia?"
Lu Xiang-chuan pun terdiam, setelah itu baru berkata,
"Aku kira dia juga seperti orang lain, dia sedang berada
dalam kesedihan dan ketakutan, memutuskan suara hal pun
tidak seperti dulu lagi, yang begitu percaya diri dan tegas."
"Apakah semua orang akan menjadi seperti itu?"
"Benar."
Mata Lu Xiang-chuan terlihat seperti ketakutan. Apakah
dia juga takut nasibnya akan seperti Lao-bo"
Gao Lao-da masih tertawa dan berkata, "Maksudmu
Lao-bo sudah tidak menakutkan lagi?"
Lu Xiang-chuan mengangguk dan berkata, "Karena itu
bila kau ingin mencarinya, tidak perlu terlalu khawatir."
"Aku tidak khawatir, sebab bukan aku yang akan
mencarinya."
"Mengapa bukan kau yang mencarinya?" tanya Lu
Xiang-chuan. "Sebab aku tahu ada seseorang yang bisa membantuku
mencari Lao-bo."
"Siapa?"
"Meng Xing-hun, dia yang paling bisa menemukan Laobo."
Wajah Lu Xiang-chuan tetap datar seperti tidak pernah
mendengar nama Meng Xing-hun.
Pada saat Lu Xiang-chuan marah atau membenci
seseorang wajahnya selalu tidak ada ekspresi.
Gao Lao-da tertawa lebih senang lagi dan berkata,
"Bukankah kau mengenal Meng Xing-hun?"
Lu Xiang-chuan mengangguk dan berkata, "Tapi aku
tidak tahu dia ada di mana."
"Aku tahu, karena aku sudah melihatnya."
Mata Lu Xiang-chuan menyipit dan bertanya, "Di
mana?" "Dia ada di sekitar sini."
"...."
Tiba-tiba Lu Xiang-chuan tertawa dan berkata, "Apakah
kau tahu siapa pemilik tanah beribu-ribu hektar ini?"
"Kau."
"Karena itu bila dia ada di sini, orang yang pertama tahu
tentunya aku," kata Lu Xiang-chuan.
Gao Lao-da tersenyum dan berkata, "Memang orang
yang pertama harus tahu adalah dirimu, tapi aku lebih tahu
siapa dia."
"Tapi kau tidak mengenal tempat ini."
"Tempat ini mati, sedangkan orang itu hidup." Dengan
pelan Gao Lao-da melanjutkan, "Hanya aku yang tahu bila
dia berada di suatu tempat akan bersembunyi di mana. Dan
dengan cara apa menghindar dari perhatian orang."
Akhirnya Lu Xiang-chuan mengangguk dan berkata,
"Benar juga kau lebih memahami dia."
"Di dunia ini yang paling memahami Meng Xing-hun
adalah aku dan yang paling memahami Lao-bo adalah
kau," kata Gao Lao-da.
"Kapan kau bertemu dengannya?" tanya Lu Xiangchuan.
"Sebelum bertemu denganmu."
"Apakah dia melihatmu?" tanya Lu Xiang-chuan.
"Tidak."
"Kau akan memakai cara apa supaya dia mau mencari
Lao-bo untuk kita?"
"Tidak menggunakan cara apa pun, sebab dia ke sini
mencari Lao-bo dan juga dirimu."
Gao Lao-da tertawa dan berkata, "Walaupun seorang
perempuan bisa menjaga rahasia, tapi pada saat hidup
dengan seorang laki-laki selama satu tahun dia tidak akan
punya rahasia lagi."
Lu Xiang-chuan sepertinya tidak mendengar kata-kata
Gao Lao-da, dengan pelan dia berkata, "Bila dia sudah
datang, mengapa dia tidak kemari?"
"Sebab dia tidak suka melakukan hal apa pun di malam
hari." "Oh!"
"Ada yang mengira, bila melakukan hal yang sangat
rahasia harus di malam hari," kata Gao Lao-da.
"Apakah itu salah?" tanya Lu Xiang-chuan.
"Sangat salah, karena orang-orang seperti kita pada
malam hari malah lebih waspada bila kau menganggap ini
adalah kesempatan, biasanya adalah sebuah perangkap
yang sedang menunggumu."
"Apakah Meng Xing-hun akan masuk perangkap?"
"Tidak akan," jawab Gao Lao-da. Gao Lao-da tertawa
dan berkata lagi, "Walaupun dia masih muda pada saat dia
berumur antara 7-8 tahun, dia sudah lebih dewasa."
"Kapan dia akan menyerang?" tanya Lu Xiang-chuan.
"Besok, setelah makan siang."
Lu Xiang-chuan tampak berpikir dan berkata, "Benar,
setelah makan siang orang akan lebih santai dan lengah
tidak ada yang memilih waktu seperti ini untuk
menyerang."
"Bila sudah makan, biasanya kita akan mengantuk tidur
lebih nyenyak dari malam hari."
Lu Xiang-chuan melihat ke tempat jauh dan dengan
pelan dia bertanya, "Apakah hari ini dia akan datang?"
"Mungkin dia sudah mendengar tentang Lao-bo, maka
dia akan datang," kata Gao Lao-da.
Gao Lao-da tersenyum.
Bila melihat senyuman mereka, kita akan menyangka
bahwa mereka adalah orang yang paling baik.
Namun ada satu hal. yang tidak boleh dilupakan.
Kecuali Gao Lao-da dan Lu Xiang-chuan di dunia ini
masih banyak orang tersenyum tapi di balik senyumnya
tersimpan sebilah pisau yang tajam.
Sebilah pisau yang dapat membunuh orang tapi tidak
mengeluarkan darah.
Ooo)dw(ooO BAB 18 Meng Xing-hun tidur dengan nyenyak.
Bila dia memang ingin tidur, pasti tidurnya sangat
nyenyak. Di mana pun dan kapan pun dia selalu dapat tidur
dengan nyenyak, apalagi tadi dia sudah sarapan pagi dan
tidur di tempat tidur yang tidak begitu keras.
Sekarang ini, apakah dia masih bisa tidur" Di rumah
masih ada beras dan minyak. Pada saat dia akan pergi, Xiao
Tie memasukkan semua uang ke dalam bungkusan bajunya
tapi Meng Xing-hun mengeluarkan setengahnya dan
memasukkan kembali ke dalam kotak perhiasaan Xiao Tie.
Uang tidak begitu banyak, tapi cukup untuk Xiao Tie
dan Bao-bao hidup sementara dia pergi.
Dalam setahun ini hidup mereka sangat sederhana.
Tiba-tiba dia mengenang kambali saat pertama kali
bertemu dengan Xiao Tie.
Xiao Tie keluar dari rumah makan yang mewah banyak
pemuda yang mengelilinginya. Dia mengenakan baju
berwarna merah dan naik kereta kuda yang mewah pula.
Bila pada saat itu ada orang yang melihatnya, dia tidak
akan menyangka bahwa Xiao Tie sekarang sudah berubah
banyak. Penampilannya sekarang seperti seorang nelayan
perempuan, tangan yang mulus sudah berubah menjadi
kasar. Demi Meng Xing-hun, Xiao Tie sudah mengorbankan
banyak hal. Meng Xing-hun sangat berharap pada suatu
hari dia bisa membalas semua pengorbanan Xiao Tie.
Sebelum berangkat Xiao Tie terus tidur dalam pelukan
Meng Xing-hun. Malam itu mereka sama sekali tidak tidur.
"Kau harus segera pulang," kata Xiao Tie.
"Aku pasti akan pulang."
Bila tidak ada Meng Xing-hun, apakah Xiao Tie dapat
hidup sendiri" Hidupnya begitu susah, apakah dia dapat
menanggung beban ini sendirian"
Karena itu, Meng Xing-hun bersumpah, walau
bagaimana pun dia akan pulang, dia tidak akan
meninggalkan Xiao Tie sendiri. Apakah dia pasti bisa
pulang" Sinar matahari masuk ke dalam ruangan melalui kertas
jendela, sangat lembut seperti sinar bulan.
Meng Xing-hun masih tidur dengan nyenyak tapi ah
mata sudah mengalir dari sudut matanya kemudian
menetes ke bantal.
Pekarangan di luar masih sepi, tiap orang yang menginap
di penginapan kecil itu kebanyakan adalah orang yang
kemalaman dan akhirnya menginap di sana. Karena itu
sebelum hari terang, mereka sudah akan berangkat lagi.
Pada saat itu penginapan sangat ramai, bermacam-macam
orang datang hilir mudik, ada yang makan ada yang minta
teh dan minta disiapkan kuda untuk segera berangkat.
Pada saat itu Meng Xing-hun masuk ke ruangan itu, dia
yakin tidak akan ada orang yang memperhatikan dia.
Tempat yang tidak mau didatangi orang dia akan datang.
Pada saat orang sudah pergi, dia akan datang.
Walaupun Lu Xiang-chuan sudah menyuruh orang
untuk mencari tahu keberadaan Meng Xing-hun, tapi pada
saat seperti ini mereka juga pasti sedang sarapan.
Tapi tidak ada yang menyangka, apa dia sudah datang
sekarang. Bagaimana dengan kemarin malam"
Mungkin tidak ada yang tahu semalam Meng Xing-hun
berada di mana. Dia tidur di atap rumah orang lain, dia
hanya berbaring di atap rumah sambil memandang bintang
meteor. Dia tetap seperti dulu, sering mengkhayalkan rahasia
meteor. Orang jarang bisa berubah.
Mungkin hanya perempuan saja yang bisa berubah.
Demi cinta mereka bisa berkorban dan hal ini tidak dapat
dipahami oleh laki-laki.
Air mata. sudah kering, pelan-pelan Meng Xing-hun
membalikkan badannya. Tubuhnya belum dibalikkan dia
sudah berhenti. Karena jendela kamarnya tiba-tiba terbuka.
Hanya ada satu orang yang berani membuka jendelanya.
Tubuh Meng Xing-hun mulai kaku.
Dia bukan seorang pengecut, juga tidak takut untuk
bertemu orang namun orang ini merupakan pengecualian.
Karena dia merasa tidak enak hati kepada orang itu.
Orang itu sudah datang, mau tidak mau dia harus
bertemu dengannya.
"Apakah aku boleh masuk?"
"Silahkan!"


Antara Budi Dan Cinta Hu Die Jian Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Suara Gao Lao-da begitu lembut dan tawanya begitu
baik serta bersahabat. Sorot mata Gao Lao-da masih penuh
dengan perasaan dan pengertian.
Di kamar itu hanya ada sebuah kursi dan Gao Lao-da
langsung mendudukinya. Meng Xing-hun sendiri duduk di
tepi tempat tidur di hadapan Gao Lao-da. Mereka saling
memandang. Tidak tahu kalimat pertama yang harus
dikatakan. Setelah lama Gao Lao-da baru bertanya dengan
tersenyum, "Kau lihat padaku sekarang, bagaimana
keadaanku menurutmu?"
Meng Xing-huni kut tertawa dan menjawab, "Kau masih
seperti dulu, tidak ada perubahan."
"Kau melihat tidak jelas, sebenarnya aku sudah tua."
Dia tidak berbohong.
Karena pada waktu Gao Lao-da tertawa, Meng Xinghun
melihat ada kerutan di sudut matanya yang semakin
bertambah. Sepasang mata yang indah sudah tidak begitu
bercahaya. Mulai terlihat lelah dan lesu.
Gao Lao-da menghela nafas dan berkata, "Dalam
setahun ini hidupku tidak begitu baik, aku jadi cepat tua."
Meng Xing-hun mengerti maksud perkataan Gao Laoda.
Dia melewatkan satu tahun ini hanya memikirkan
Meng Xing-hun. Meng Xing-hun ingin mengatakan
beberapa kalimat untuk menghibur Gao Lao-da, tapi dia
tidak bisa. Mungkin ada orang yang sejak lahir tidak dapat
menghibur orang lain dengan kata-kata.
Tiba-tiba Gao Lao-da tertawa dan berkata, "Kau tidak
perlu mengatakan apa-apa, aku sudah mengerti."
"Apakah kau tidak menyalahkanku?" kata Meng Xinghun.
Dengan lembut Gao Lao-da menjawab, "Tiap orang
mempunyai hak dalam menentukan hidupnya, aku pun
akan seperti itu."
Meng Xing-hun terharu dan juga sangat berterima kasih.
Meng Xing-hun merasa dia berhutang budi kepada Gao
Lao-da, mungkin seumur hidup tidak akan bisa dibayar.
Lebih baik kita berhutang budi kepada orang lain dari
pada kita dihutangkan oleh orang lain.
"Apakah dia memperlakukanmu dengan baik?"
"Sangat baik," jawab Meng Xing-hun.
Gao Lao-da terlihat sangat iri.
"Kalau begitu kau hidup dengan bahagia, bila ada
seorang perempuan yang dapat membahagiakan laki-laki
sepertimu pasti akan bahagia."
Banyak laki-laki menganggap perempuan sangat lemah,
meng-anggap laki-laki dapat mengatur semua perempuan.
Tapi laki-laki tidak tahu bahwa nasib mereka selalu ada di
tangan perempuan.
Perempuan bisa membuat laki-laki bahagia seperti di
surga, juga bisa membuat hidup laki-laki susah seperti di
neraka. Walaupun laki-laki mempunyai cita-cita yang tinggi, tapi
bila mencintai seorang perempuan yang menakutkan,
seumur hidup laki-laki itu akan menjadi budaknya. Hidup
laki-laki ini akan hancur.
"Kau hidup dengan baik, mengapa kau pulang?"
"Apa benar kau tidak tahu?" jawab Meng Xing-hun.
"Kalau kau kemari hanya untuk memberi selamat
kepada Lao-bo, kau sudah terlambat."
"Sudah terlambat" Apakah terjadi sesuatu kepada Laobo?"
"Tidak ada yang tahu sudah terjadi apa pada Lao-bo,
tidak ada yang berani datang ke taman bunga Lao-bo."
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Meng Xing-hun.
"Tempat itu tiba-tiba menjadi kacau, sepertinya banyak
orang asing yang lalu lalang...." Gao Lao-da melanjutkan
lagi, "Kau bisa ke sana untuk menjenguknya, karena kalian
mempunyai hubungan yang khusus."
Meng Xing-hun segera berdiri tapi begitu melihat Gao
Lao-da dia duduk kembali.
"Kau tidak perlu memikirkan diriku, aku hanya ingin
bertemu denganmu, kapan pun aku bisa pergi."
"Apakah kau akan pulang?"
"Kecuali kembali ke rumah tidak ada tempat yang bisa
kusinggahi lagi."
Meng Xing-hun menundukkan kepalanya dan bertanya,
"Apakah keadaan rumah mereka masih seperti dulu?"
"Mana mungkin masih sama," Dia menghela nafas dan
berkata, "Semenjak kau pergi, Ye Xiang juga pergi. Ada
yang berkata dia mati di tangan Lao-bo, tapi itu tidak dapat
dipercaya. Xiao He tidak pergi tapi dia sudah menjadi idiot,
karena dipukul orang, makan pun harus disuap."
"Untung masih ada Shi Qun," kata Meng Xing-hun.
"Shi Qun pun tidak ada."
Tanya Meng Xing-hun dengan berteriak, "Kemana
dia"!"
"Sejak tahun kemarin aku menyuruhnya pergi ke utara
hingga saat ini dia belum pulang. Juga tidak ada kabar
darinya." Meng Xing-hun bertanya, "Apakah dia mengalami
kecelakaan" Menurutku orang utara pun tidak ada yang bisa
mengalahkannya."
"Tidak ada seorang pun yang tahu, di dunia persilatan
tiap hari pasti ada perubahan, apalagi sudah setahun," kata
Gao Lao-da. Tawa Gao Lao-da tampak sedih dan dia berkata,
"Mungkin dia tidak apa-apa, hanya mungkin dia tidak mau
kembali ke sini. Setiap orang bisa mencari masa depan yang
lebih baik, dia berhak menentukan nasibnya sendiri, aku
tidak akan menyalahkannya."
Meng Xing-hun kembali menundukkan kepalanya,
hatinya sakit seperti ditusuk jarum.
Dengan sedih Gao Lao-da berkata, "Teman lama sudah
pergi satu per satu, kadang-kadang aku pun merasa
kesepian. Karena itu bila kau ada waktu mampirlah sekalikali
untuk menjengukku."
Tiba-tiba Gao Lao-da tertawa lagi dan berkata, "Bila kau
bisa membawanya pulang, aku akan lebih senang lagi."
Meng Xing-hun mengepalkan tangannya dan berkata,
"Aku pasti akan pulang menjengukmu, asal aku tidak mati,
aku akan membawa dia kemari untuk menjengukmu."
Meng Xing-hun merasa bahwa Gao Lao-da sudah tidak
sekuat dulu, dia merasa punya tanggung jawab untuk
melindunginya dan tidak akan membiarkannya merasa
kesepian. Perempuan yang pintar pasti mempunyai cara untuk
menaklukkan laki-laki yaitu membiarkan laki-laki merasa
bahwa dia sangat lemah dan harus dilindungi. Karena itu
bila kita melihat ada perempuan yang terlihat lemah belum
tentu dia pasti seperti itu mungkin dia lebih kuat dari
perkiraan kita.
Taman bunga Lao-bo selalu seperti itu. Begitu masuk
baru terlihat ada orang dan mereka sangat banyak.
Tiap sudut taman itu mungkin banyak orang yang akan
keluar. Setiap orang siap untuk mencabut nyawamu.
Meng Xing-hun sudah lama masuk ke taman bunga itu.
Bunga chrysan sedang mekar-mekarnya, di bawah sinar
matahari tampak berkilau seperti emas.
Dia berjalan sudah lama tapi tetap tidak terlihat seorang
juga, tidak terdengar ada suara.
Ini membuatnya terasa aneh.
Bila Meng Xing-hun masuk ke dalam semak bunga,
biasanya sudah ada perangkap, sekarang hanya ada tanah
kosong dan wangi bunga. Sepertinya semua orang sudah
menghilang. Meng Xing-hun mengepalkan tangannya. Semakin tidak
menemukan orang di sana semakin membuatnya tegang.
Di sini sudah terjadi perubahan yang besar. Dia tidak
habis berpikir. Walaupun di sini sama sekali tidak ada
orang, tapi seharusnya Lao-bo ada di sini.
"Di dunia ini tidak ada orang yang dapat mengusirnya
apalagi untuk membunuhnya."
Hal ini tidak pernah diragukan oleh Meng Xing-hun tapi
sekarang.... Dia teringat kepada Lu Xiang-chuan.
Apakah Lao-bo sudah dibunuh oleh Lu Xiang-chuan"
Kalau begitu Lu Xiang-chuan pasti ada di sini, tapi
mengapa dia juga menghilang, ini sangat aneh.
Di balik semak-semak ada beberapa rumah yang indah.
Meng Xing-hun tahu bahwa rumah itu adalah rumah Laobo.
Dia pernah menemani Lao-bo makan siang.
Tempat makan masih seperti dulu tapi pintunya sudah
hancur. Meng Xing-hun masuk ke dalam dan terlihat tempat
tidur sudah hancur terlihat melihar ada jalan rahasia di
bawah tempat tidur itu.
Dia masih melihat ada sebuah pintu dan tempat tidur
yang sudah dihancurkan oleh Lu Xiang-chuan, tapi dia
tidak tahu bahwa perahu itu memang sengaja disiapkan
oleh Lu Xiang-chuan untuk dirinya.
"Di dunia bila ada orang yang dapat menemukan Lao-bo
dia adalah Meng Xing-hun."
Ada orang yang ditakdirkan mempunyai bakat seperti
seekor anjing pelacak dan Meng Xing-hun adalah orang
semacam itu. Semua orang yang melarikan diri pasti akan
meninggalkan jejak. Karena orang yang pembawaannya
tenang pasti akan berubah menjadi ceroboh dan akan.
meninggalkan jejak, dia tidak akan melewatkan jejak itu.
Gao Lao-da sangat memahami dan juga mempercayai
Meng Xing-hun. Asalkan Meng Xing-hun berhasil
menemukan Lao-bo, Gao Lao-da akan segera mencari Lu
Xiang-chuan. Perahu itu sangat kecil dan ringan. Di dalam perahu ada
sebuah lampu yang masih bercahaya. Terlihat sungai kecil
yang berliku-liku dan mungkin juga berbahaya.
Di depan mungkin akan terjadi sesuatu yang akan
mencabut nyawa seseorang. Tapi bila sudah sampai di
tempat ini, apakah dia bisa kembali lagi"
Meng Xing-hun memegang dayung dengan erat dan
telapak tangannya sudah berkeringat.
Apakah dia dapat keluar dari tempat ini hidup-hidup"
Kemana sungai ini akan berakhir" Apakah ke neraka"
Ooo)dw(ooO Ma Jia-yi sebenarnya adalah tempat untuk para kurir
menginap, letaknya sekitar 70 hingga 80 h dari taman
bunga Lao-bo. Semenjak kurir mengubah arah jalan maka
tempat ini dibiarkan begitu saja dan tempat ini semakin
sepi. Walaupun tempat ini sepi, tetap masih ada orang.
Tempat ini tinggal beberapa puluh keluarga dan
diantaranya ada yang bernama Ma Feng-zhong, dia tinggal
di rumah milik pemerintah.
Ma Feng-zhong orangnya seperti namanya, sangat sopan
dan hidupnya sangat teratur. Dari lahir hingga sekarang
tidak pernah melakukan hal yang membuat orang menjadi
bingung dan merasa aneh.
Bila tiba waktunya untuk menikah, dia akan menikah,
bila sudah saatnya mempunyai anak, istrinya akan
melahirkan anak untuknya. Sekarang dia sudah mempunyai
dua orang anak.
Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.
Istrinya adalah ibu rumah tangga yang baik. Pandai
memasak, karena itu Ma Feng-zhong makin hari semakin
gemuk. Biasanya orang gemuk disukai orang-orang, apalagi dia
mempunyai istri yang baik.
Karena itu rumah Ma Feng-zhong selalu didatangi oleh
para tamu, setelah makan masakan istri Ma Feng-zhong,
mereka main catur kemudian tamu-tamu akan pulang dan
tidak lupa memuji bunga yang ditanam di pekarangan Ma
Feng-zhong. Ma Feng-zhong selalu tertawa dan mengiyakan.
Menanam bunga adalah hobi yang disukainya. Kecuali
menanam bunga, dia pun senang pada kuda. Walaupun dia
hanya mempunyai dua ekor kuda, tapi kuda-kudanya
adalah kuda yang cepat dan didatangkan dari Mongolia.
Ma Feng-zhong mengurus kedua ekor kuda ini seperti
mengurus anaknya sendiri.
Bila cuaca sedang bagus, dia akan memasang kuda-kuda
itu di kereta kemudian membawa keluarganya pergi jalanjalan,
tapi dia tahu bila dia mempunyai kepentingan
mendadak, dia tidak akan menunggang kudanya. Biasanya
dia mengeluarkan uang dari koceknya dan menyewa kuda
orang lain. Tapi ini berarti bukan dia tidak menyayangi kedua
anaknya. Orang-orang tahu bahwa Ma Feng-zhong sering
dinasehati oleh orang-orang karena dia sangat sayang
kepada kedua anaknya, begitu pun dengan Nyonya Ma.
Bila kedua anaknya menginginkan sesuatu, sebisa
mungkin dia akan mengabulkannya. Bila mereka
melakukan kesalahan atau kenakalan, Ma Feng-zhong
belum pernah memarahi mereka.
Sekarang anak-anaknya sudah berumur 8 hingga 9
tahun, mereka mulai mengerti. Nyonya Ma ingin
menyekolahkan mereka ke kota tapi Ma Feng-zhong malah
melarangnya. Kadang-kadang Nyonya Ma pun memarahi Ma Fengzhong.
"Kalau anak perempuan kita buta huruf tidak jadi
masalah tapi kalau anak laki-laki buta huruf, bagaimana"
Bila khawatir mereka sekolah di luar rumah semestinya bisa
mencari guru yang dapat mengajar di rumah. Mengapa kau
tiap hari hanya bermain-main saja dengan mereka?"
Ma Feng-zhong pasti dengan tertawa mengiyakan
permintaan istrinya. Tapi bila anak-anak ingin memancing
dia akan meletakkan buku dan menemani mereka pergi
memancing. Ma Feng-zhong tidak tega meninggalkan anak-anaknya.
Bila dia ada waktu dia pasti akan menemani mereka.
Walaupun mereka bermain permainan apa saja, Ma Fengzhong
belum pernah mengatakan 'tidak'.


Antara Budi Dan Cinta Hu Die Jian Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Nyonya Ma sudah tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali
mengenai masalah ini, apa pun yang dikatakan oleh istrinya
Ma Feng-zhong pasti akan menurut.
Orang-orang desa sangat iri kepada nyonya Ma,
mungkin leluhur nyonya Ma mengumpulkan banyak pahala
dalam kehidupan sebelumnya maka dia bisa mendapat
suami yang begitu baik.
Hal ini membuat Nyonya Ma sangat bangga, karena Ma
Feng-zhong adalah ayah dan suami yang baik. Juga teman
yang baik. Hal ini tidak ada yang menyangkal. Tapi siapa pun tidak
ada yang menyangka bahwa Ma Feng-zhong mempunyai
sebuah rahasia.
Rahasianya hanya satu. Rahasia yang begitu
menakutkan. Hari itu cuaca sangat cerah, nyonya Ma merasa hari itu
seperti hari biasanya.
Kerena itu nyonya Ma sengaja memasak beberapa
macam sayur yang Ma Feng-zhong sukai. Dan
mengundang teman-teman Ma Feng-zhong untuk makan
malam di rumah mereka. Mereka menyambutnya dengan
gembira. Setelah makan malam mereka akan bermain catur.
Setelah tamu-tamu pulang, sebelum pulang tidak lupa
mereka memuji bunga-bunga yang berada di pekarangan.
Sekarang ini yang sedang mekar adalah bunga Chrysan.
Tamu-tamu sudah pulang tapi Ma Feng-zhong masih
mondar-mandir di pekarangan, sepertinya tidak ingin
masuk ke dalam rumah untuk tidur.
Cuaca sangat cerah, angin berhembus tidak terlalu dingin
juga tidak terlalu panas.
Nyonya Ma mengeluarkan kursi yang terbuat dari
anyaman rotan dan membuat sepoci teh. Mereka berdua
mengobrol di pekarangan.
"Xiao Zhong sekarang ini sudah berusia 10 tahun tapi
dia belum pernah belajar satu buku pun. Kau akan
membiarkannya sampai kapan"
Ma Feng-zhong terdiam kemudian tertawa dan berkata,
"Mungkin aku yang harus mengajarkan mereka membaca."
Nyonya Ma menjadi lega mendengar jawaban Ma Fengzhong
dengan tertawa dia berkata, "Sebenarnya dari dulu
kau harus sudah mengajar mereka membaca. Aku tidak
mengerti mengapa harus menunggu sampai sekarang?"
Dengan tersenyum Ma Feng-zhong berkata, "Kadangkadang
ada hal yang seharusnya kau tidak perlu mengerti."
"Hal apa?" tanya nyonya Ma.
"Masalah laki-laki, lebih baik perempuan jangan tanya.
Sebab bila sudah waktunya, aku akan memberitahumu."
Ma Feng-zhong tidak paham kepada perempuan.
Perempuan bila disuruh jangan bertanya, maka dia akan
semakin, ingin tahu dan terus bertanya, "Kapan" masalah
apa?" Dengan tersenyum Ma Feng-zhong berkata, "Melihat
keadaan sekarang mungkin tidak akan terjadi apa-apa."
Dengan nikmat Ma Feng-zhong menghirup tehnya,
kemudian dengan tertawa dia berkata, "Kau tidur saja
dulu." Artinya pembicaraan sudah selesai. Nyonya Ma pun
menuruti keinginan suaminya dan dia minum teh itu.
Bara saja dia minum seteguk, tiba-tiba pohon bunga
Chrysan bergoyang-goyang. Nyonya Ma mengira dirinya
pusing tapi pohon itu bergoyang semakin kencang.
Tiba-tiba ada beberapa pohon bunga Chrysan yang
terbang ke udara, tanah pun ikut berhamburan. Di bawah
terlihat ada sebuah lubang dan ada kepala seseorang yang
keluar dari sana.
Kepala yang botak yang pertama kali keluar, wajahnya
pucat kehijauan seperti sebuah topeng tembaga.
Tapi itu bukan topeng karena dia bisa bergerak dan
bernafas. Melihat caranya bernafas seperti sudah lama tidak
pernah bernafas. Siapakah orang itu" Apakah dia setan
yang kabur dari neraka"
Nyonya Ma sangat kaget dan hampir pingsan.
Tengah malam begini tiba-tiba ada kepala orang yang
keluar dari dalam tanah, mungkin orang lain pun akan
terkejut hingga pingsan. Tapi Ma Feng-zhong sedikit pun
tidak terkejut, dia seperti tahu akan terjadi hal ini.
Dia tidak lari malah mendekatinya, melihat gerakan Ma
Feng-zhong dia tidak mirip orang yang kegemukan yang
terlalu banyak makan.
Nyonya Ma belum pernah melihat suaminya begitu
lincah dan cepat.
Orang yang berada di bawah tanah sudah keluar.
Ma Feng-zhong tidak pendek tapi orang ini lebih tinggi
dari Ma Feng-zhong, kurang lebih ada satu meter lebih
tinggi. Udara begitu dingin tapi dia tidak mengenakan baju.
Dia terlihat seperti seorang dewa raksasa.
Ma Feng-zhong langsung meloncat ke sana dan
bertanya, "Mana Lao-bo?"
Raksasa itu tidak menjawab, malah balik bertanya,
"Apakah kau yang bernama Ma Feng-zhong?"
Cara bicaranya sangat kaku dan terdengar cadel,
kelihatannya sudah lama dia tidak bicara. Pada saat bicara
pun matanya tidak menatap Ma Feng-zhong.
Sekarang Nyonya Ma dapat melihat dengan jelas bahwa
raksasa ini ternyata buta.
"Aku yang bernama Ma Zhong," kata Ma Feng-zhong.
Mengapa dia tidak mengaku bahwa dia bernama Ma
Feng-zhong"
Tapi raksasa ini mengangguk, sepertinya sangat puas
dengan jawaban Ma Feng-zhong. Kemudian dia
membalikkan tubuhnya dan menaruh seseorang yang
dikeluarkan dari lubang itu.
Seorang perempuan muda dan cantik tapi wajahnya
sangat ketakutan, tampak gemetaran. Tubuhnya dibungkus
oleh selimut tipis, tapi Nyonya Ma bisa melihat bahwa di
batik selimut itu dia telanjang bulat.
Seorang perempuan bila melihat perempuan lain
biasanya akan melihat dengan teliti. Perempuan itu begitu
muda dan cantik mengapa bisa keluar dari bawah tanah"
Nyonya. Ma tidak tahu alasannya.
Siapa pun tidak akan tahu. Tidak ada yang tahu bahwa
jalan keluar dari lubang rahasia Lao-bo adalah di
pekarangan Ma Feng-zhong.
Juga tidak ada yang menyangka bahwa Ma Feng-zhong
mempunyai hubungan dengan Lao-bo.
Ooo)dw(ooO BAB 19 Walaupun Lao-bo tidak bisa berdiri dengan tegak, tapi
suaranya masih terdengar begitu berwibawa dan hangat,
hanya sepasang matanya saja yang terlihat agak lelah.
Perempuan itu sedang memandang Lao-bo, tapi
badannya masih gemetaran.
Ma Feng-zhong sudah berlutut di bawah.
"Berdiri, cepat berdiri! Apakah kau lupa bahwa aku tidak
suka diberi hormat seperti ini?" Suara Lao-bo terdengar
masih kuat dan tenang. Ma Feng-zhong kemudian berdiri
setelah mendengarkan kata-kata Lao-bo.
Kata Ma Feng-zhong, "Sekarang Aku sudah hidup enak,
tidur pun nyenyak."
"Artinya kau mempunyai istri yang baik," kata Lao-bo
tersenyum. Lao-bo melihat Nyonya Ma dan berkata, "Aku harus
berterima kasih kepadamu karena kau menguras suamimu
dengan baik."
"Kemarilah beri hormat kepada Lao-bo," kata Ma Fengzhong.
Nyonya Ma adalah perempuan penurut, tapi sekarang
dia sedang ketakutan kakinya menjadi terasa lemas,
bagaimana dia bisa berdiri"
"Tidak perlu ke sini, aku...." Lao-bo mengepalkan
tangannya, daging di sudut mulutnya karena kesakitan
menjadi kaku. Tidak ada orang yang dapat membayangkan bahwa Laobo
sedang menahan sakit yang amat sangat, hanya Lao-bo
yang bisa merasakan sakit seperti itu.
Ma Feng-zhong sangat marah dan bertanya, "Siapa"
Siapa yang berusaha membunuh tuan?"
Lao-bo tidak menjawab. Tapi dari matanya terlihat Laobo
begitu sedih dan marah. Keringat pun ikut bercucuran.
Ma Feng-zhong tidak berani bertanya lagi, dia
membalikkan tubuhnya menuju kandang kuda.
Dengan cepat dia mendorong kereta yang sudah
dipasang dengan dua ekor kuda dan membawanya ke
pekarangan. Sekarang Lao-bo baru bisa menarik nafas panjang dan
berkata, "Persiapanmu sangat baik, dua ekor kuda ini
adalah kuda yang bagus."
"Aku tidak pernah lupa pada pesan-pesan Tuan."
Nyonya Ma melihat suaminya, dia bara mengerti
sekarang mengapa dia senang menanam bunga, mengapa
dia suka memelihara kuda. Semuanya hanya untuk orang
tua yang sedang terluka parah ini.
Nyonya Ma berharap orang tua itu cepat pergi. Jangan
mengganggu hidup mereka yang sudah tenang.
Raksasa itu akhirnya naik ke dalam kereta kuda.
"Apakah kau tahu jalannya?" tanya Lao-bo.
Raksasa itu mengangguk. "Apakah ada orang di luar?"
Seharusnya Ma Feng-zhong yang menjawab, tapi raksasa
ini dengan cepat mengangguk lagi.
Telinganya sangat peka dan tajam, bila di luar ada orang
atau setan dia akan segera bisa mendengarnya karena
telinga orang buta lebih peka.
Hati Nyonya Ma begitu berat. Apakah mereka harus
menunggu hingga tidak ada orang baru mau pergi" Harus
berapa lama menunggu" Tapi Lao-bo menarik nafas dan
berkata, "Baiklah, sekarang kita boleh pergi!"
Gerakan mereka begitu rahasia tapi mengapa harus
menunggu hingga di luar tidak ada orang baru bisa pergi"
Nyonya Ma merasa aneh tapi ada hal yang lebih aneh
lagi. Lao-bo tidak ikut masuk ke dalam kereta kuda itu.
Mengapa, dia tidak pergi" Apakah dia akan tinggal di sini"
Hati Nyonya Ma terasa berat.
Apakah dia tidak takut akan ada seseorang yang
mengejarnya di jalan bawah sana"
Nyonya Ma bukan orang pintar tapi juga tidak terlalu
bodoh, dia melihat ada seorang yang tua harus bersembunyi
dari kejaran musuh.
Kalau pak tua itu tidak pergi, hidup mereka yang tadinya
tenang akan segera berakhir.
Nyonya Ma ingin mengusir mereka, semakin jauh
semaian baik, tapi dia tidak berani, dia hanya
menundukkan kepala. Air mata pun tidak berani menetes
dari matanya. Ma Feng-zhong sudah membuka pintu dan dia
membalikkan, badan melihat raksasa itu.
Mata raksasa itu seperti ikan mati memandang terus ke
depan. Sinar bintang menyinari wajahnya yang pucat dan
hijau. Bila hari biasa wajahnya tidak ada ekspresi tapi hari
ini kesedihan membuat wajahnya jadi bengkok.
Tiba-tiba dia turun dari kereta, berlari mendekati Lao-bo
dan memeluk Lao-bo dengan erat.
Kebetulan saat itu Ma Feng-zhong bisa melihat
wajahnya dia melihat ada dua tetes air mata keluar dari
matanya yang gelap dan terlihat tidak berdaya.
Orang buta pun bisa menangis.
Lao-bo tidak bicara juga tidak bergerak, setelah lama dia
menghela nafas dan berkata, "Pergilah, mungkin di lain
waktu kita masih bisa bertemu lagi."
Raksasa itu mengangguk, sepertinya masih ada yang
harus dia bicarakan tapi dia tidak jadi untuk
mengatakannya. Kelihatannya Ma Feng-zhong pun ikut sedih dan dia
berkata, "Dua ekor kuda ini sudah tahu jalan-jalan di
sekitar sini. Dia bisa mengantarkanmu ke rumah Fang Laoer,
setelah sampai di sana dia akan mengantarkanmu keluar
daerah." Tiba-tiba raksasa itu berlutut, kepalanya menunduk
sebanyak 3 kali dan dia berkata, "Semua masalah di sini,
kuserahkan kepadamu."
Ma Feng-zhong pun ikut berlutut, kepalanya menyentuh
tanah dan berkata, "Aku mengerti, pergilah dengan hatihati."
Si raksasa tidak bicara lagi, kereta kuda langsung pergi.
Pintu segera ditutup. Tiba-tiba sepasang anak keluar dari
rumah, mereka menarik baju Ma Feng-zhong.
Anak laki-laki itu berkata, "Ayah, mengapa setan itu
mengambil kuda kita?"
Dengan lembut Ma Feng-zhong berkata, "Kuda itu ayah
yang berikan kepadanya dan dia bukan setan."
"Kalau dia bukan setan, lalu siapa?" tanya anak laki-laki
itu. Ma Feng-zhong menghela nafas dan berkata, "Dia
adalah orang yang sangat jujur dan setia kawan. Bila kau
sudah besar kau harus seperti dia, itu yang dinamakan
mempunyai jiwa ksatria."
Suara Ma Feng-zhong tiba-tiba berubah, dia tidak bisa
berkata apa-apa lagi.
Anak laki-laki itu seperti mengerti kata-kata ayahnya tapi
anak perempuannya masih bertanya, "Sampai di mana rasa
setia kawannya?"
Lao-bo menarik nafas dan menjawab, "Demi seorang
kawan, dia bertahan hidup di tempat gelap selama puluhan
tahun kecuali ayahmu, dialah yang paling setia kawan."
Anak perempuan itu bertanya lagi, "Mengapa dia harus
setia kawan" Dan apakah setia kawan itu?"
Anak laki-laki itu menjawab, "Setia kawan adalah
berbuat baik kepada teman, laki-laki harus mempunyai rasa
setia kawan."
Dan dia menegakkan dada kecilnya dengan suara besar


Antara Budi Dan Cinta Hu Die Jian Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dia berkata, "Aku juga laki-laki, bila sudah besar harus
seperti dia, harus setia kawan. Ayah, apakah itu benar?"
Ma Feng-zhong mengangguk tapi air matanya sudah
menetes. Lao-bo memegang tangan anak laki-laki itu, dengan
lembut dia berkata, "Apakah dia putramu" Berapa
usianya?" "Belum genap 10 tahun," jawab Ma Feng-zhong.
"Anak ini sangat pintar, bagaimana kalau ikut
denganku?"
Mata Ma Feng-zhong terlihat bercahaya, tiba-tiba dia
menjadi sedih dan dengan pelan berkata, "Sayang dia masih
terlalu kecil, kalau 10 tahun lagi, mungkin...."
Dia menepuk-nepuk kepala anak itu dan berkata,
"Pergilah, carilah ibumu!"
Nyonya Ma sudah merentangkan tangannya dan
memeluk anaknya dengan erat.
Lao-bo melihat ibu anak itu, dia merasa sedih dengan
pelan dia berkata, "Kau mempunyai istri yang baik, anakanak
pun mempunyai ibu yang baik, siapa nama ibunya?"
"Marganya pun Ma, bernama Yue-yun."
Lao-bo mengangguk dan berkata berkali-kali, "Ma Yueyun....
Ma Yue-yun...."
Lao-bo berkali-kali mengucapkan nama ini, seperti ingin
mengingat dalam hatinya.
"Sekarang aku juga akan pergi!" kata Lao-bo kemudian.
"Aku pun sudah siap, mari ikut aku."
Di belakang pekarangan ada sebuah sumur, air sumur
sangat dalam, tapi bersih dan bening. Di atas sumur
tergantung ember yang besar.
Ma Feng-zhong menurunkan ember itu dan berkata,
"Silahkan!"
Dengan pelan Lao-bo masuk ke dalam ember.
Dari tadi Feng-feng hanya melihat dari pinggir, sekarang
pun dia merasa aneh. Feng-feng tidak tahu mengapa Lao-bo
masuk ke dalam ember. Apakah dia akan ikut masuk ke
dalam sumur"
Di bawah sumur banyak air, apakah dia akan bunuh diri"
Tapi Lao-bo terus memelototinya, Feng-feng segera
menundukkan kepala.
Ma Feng-zhong melihat Feng-feng kemudian Lao-bo
bertanya, "Apakah gadis ini juga akan ikut dengan tuan?"
Dengan ringan Lao-bo berkata, "Apakah dia akan
memilih mau ikut denganku?"
Ma Feng-zhong menoleh kepadanya, belum sempat dia
bertanya, Feng-feng sudah berkata, "Aku sudah tidak punya
pilihan lain."
Lao-bo melihat dia, tampak ada kehangatan tapi pada
saat dia melihat Ma Feng-zhong dengan sedih dia berkata,
"Untung kali ini ada dirimu."
Tiba-tiba Ma Feng-zhong berkata, "Tuan jangan
mengkhawatirkan aku, aku sudah puluhan tahun hidup
enak." Lao-bo mengeluarkan tangannya dan memegang tangan
Ma Feng-zhong dengan erat, kata Lao-bo, "Kau sangat
setia, tidak ada kata-kata lain yang ada dalam sebuah
kalimat." "Silahkan tuan katakan," kata Ma Feng-zhong.
Wajah Lao-bo sangat sedih dengan pelan dia berkata,
"Seumur hidupku aku belum pernah salah menilai orang
juga sudah mendapatkan beberapa teman yang baik."
Lao-bo dan Feng-feng sudah turun ke dalam sumur
kemudian menghilang. Melihat riak air yang makin
menghilang, Ma Feng-zhong baru membalikkan badan. Dia
sudah melihat istri dan kedua anaknya sedang menunggu
dia. Sepasang matanya begitu lembut dan mengandung
pengertian dan perhatian setelah menjadi suami istri selama
puluhan tahun. Ma Feng-zhong sangat memahami istrinya.
Ma Feng-zhong tahu istrinya sudah berkorban banyak
hal untuknya dan juga anak-anak. Walaupun susah atau
tersiksa dia tidak akan mengomel.
Sekarang mereka semakin tua, begitu anak-anak sudah
tidur mereka tetap seperti pasangan yang baru menikah,
saling membutuhkan.
Ma Feng-zhong tahu keberuntungannya yang paling
besar adalah menikah dengan istrinya.
Sekarang Ma Feng-zhong berharap istrinya bisa mengerti
dan ingin istrinya bisa memaafkannya.
Anak-anak berlarian mendekatinya. Ma Feng-zhong
bertanya, "Apakah kalian sudah lapar?"
Perut anak-anak sepertinya tidak pernah kenyang.
Dengan tersenyum Ma Feng-zhong berkata, "Anak-anak
jarang makan begitu malam, apakah hari ini bisa
mendapatkan pengecualian?"
Ma Yue-yun menurut dan mengangguk, kemudian dia
berkata, "Masih ada ikan dan telur asin, aku akan memasak
mie." Mie sangat panas. Anak-anak menggulung mie dengan
sumpitnya, setelah ditiup baru bisa dimakan. Makan mie
pun mereka mempunyai cara.
Asal telah bisa melihat anak-anak Ma Feng-zhong sudah
merasa senang tapi hari ini tawanya tidak biasa dan juga
tidak bernafsu makan.
Ma Yue-yun sedang mencabut tulang-tulang ikan tapi
matanya terus menatap suaminya dan akhirnya dia
bertanya, "Mengapa aku tidak tahu kau mempunyai
seorang Lao-bo (paman tua)?"
Ma Feng-zhong tidak tahu harus bagaimana menjawab,
dia berpikir dengan lama lalu dengan pelan dia berkata,
"Dia bukan Lao-bo yang sebenarnya," kata Ma Feng-zhong
"Kalau begitu siapa dia?"
"Dia adalah saudaraku, juga orang tuaku kalau tidak ada
dia pada saat berumur 16 tahun aku sudah dibunuh orang,
dan tidak dapat bertemu denganmu, karena itu...."
Dengan lembut Ma Yue-yun berkata, "Karena itu aku
harus berterima kasih kepadanya, karena dia sudah
menolong suamiku."
Ma Feng-zhong meletakkan sumpitnya. Nyonya Ma
tahu bila sumpit diletakkan artinya dia akan berbicara terus
dan pasti ada masalah yang sangat penting.
Dan dia siap mendengarkan.
"Sekarang kau sudah tahu, aku tinggal di sini hanya
untuk menjaga pintu keluar jalan rahasia."
Dia menghela nafas dan berkata, "Aku berharap selamalamanya
tidak ada yang menggunakan jalan rahasia itu, tapi
tidak disangka hari ini dia datang."
Ma Yue-yun terus mendengar.
"Lao-bo sudah keluar dari lorong itu, artinya di belakang
pasti ada orang yang mengejarnya."
Tanya Ma Yue-yun, "Kalau begitu mengapa dia tidak
naik kereta itu dan pergi?"
"Sebab orang yang mengejarnya pasti orang yang sangat
lihai, walaupun kuda-kuda itu berlari dengan kencang,
akhirnya akan terkejar juga dan dia terluka begitu parah,
mana mungkin bisa naik kereta kuda yang begitu kencang?"
Dengan perlahan Ma Feng-zhong berkata lagi,
"Sekarang bila ada yang datang mengejar ke sini, pasti
menganggap dia sudah naik kereta kuda itu melarikan diri,
tidak akan ada yang menyangka bahwa dia masih ada di
sini, lebih-lebih tidak menyangka dia bersembunyi di sebuah
sumur." Ma Yue-yun baru tahu mengapa harus ada orang yang
pergi naik kereta kuda. Maksudnya adalah menyuruh orang
mengejar kereta kuda itu.
Kuda yang dipelihara oleh Ma Feng-zhong bukan untuk
diberikan kepada Lao-bo supaya dapat melarikan diri
melainkan untuk mengecoh orang lain.
Rencana ini sungguh tidak diduga dan sangat sempurna.
Ma Yue-yun menarik nafas dan berkata, "Semua telah
direncanakan oleh kalian."
"Delapan belas tahun yang lalu sudah direncanakan oleh
Lao-bo. Di mana pun Lao-bo tinggal dia akan
meninggalkan jalan untuk mundur."
Wajah Ma Yue-yun terlihat kekaguman dan dia berkata,
"Dia benar-benar orang yang sangat jenius."
"Benar."
"Bagaimana dengan sumur itu" Apakah dia bisa seperti
seekor ikan bersembunyi di dalam air?"
"Dia tidak bersembunyi di dalam air karena di dalam
sumur' ada jalan untuk mundur."
"Jalan mundur, seperti apa?" tanya Ma Yue-yun.
"Sebelum menggali sumur, dia sudah membuat rumah di
dalam sumur. Tiap bulan bila aku ke pasar, pasti akan
mengganti dengan makanan yang segar, walaupun Lao-bo
tidak muncul, kebiasaan ini tidak pernah berhenti."
Ma Feng-zhong berkata lagi, "Makanan itu tidak akan
bertalian lama, paling sedikit hanya cukup untuk 3 hingga 4
bulan." "Bagaimana dengan air minum?" tanya Ma Yue-yun.
"Di dalam sumur banyak air, tidak akan habis."
"Di dalam sumur semuanya adalah air, bagaimana bisa
masuk ke dalam ramah itu."
"Di dinding sumur ada pintu besi, begitu dindingnya
ditekan pintunya akan bergeser ke dalam tembok."
"Kalau begitu air sumur pun akan ikut masuk ke dalam."
"Di dalam pintu ada sebuah kolam kecil, air kolam sama
tingginya dengan air sumur, walaupun air sumur masuk ke
dalam kolam, air kolam tidak akan banjir keluar.... air tidak
akan mengalir ke tempat yang lebih tinggi, kau pasti
mengerti hukum air ini bukan."
"Rencana ini sangat sempurna, mengapa bisa terpikir
oleh kalian?"
"Ini adalah cara berpikir Lao-bo, walaupun rencana ini
sangat sempurna. Tapi akan cepat merasa bosan."
Setelah makan semangkuk mie, mereka mulai merasa
mengantuk dan tertidur di atas meja.
Ma Yue-yun melihat anak-anaknya dengan terpaksa dia
tertawa dan berkata, "Sekarang dia bersembunyi di bawah
sumur, mungkin tidak dapat ditemukan oleh orang-orang
itu." Ma Feng-zhong terdiam cukup lama dan berkata,
"Kecuali kita mengatakannya, tak akan ada orang lain yang
tahu." Wajah Ma Yue-yun jadi pucat tapi dia memaksakan diri
tertawa, "Mana bisa kita bicara kepada orang lain" Tidak
perlu diberitahu pun aku tidak akan mengatakannya kepada
orang lain."
Wajah Ma Feng-zhong makin murung, "Sekarang kau
tidak akan bicara, tapi bila ada yang mau membunuh anak
kita, apakah kau masih bisa tutup mulut?"
Sumpit Ma Yue-yun terjatuh, jari-jarinya tampak
gemeteran tidak bisa bicara setelah lama baru dia berkata
dengan suara gemetar, "Kalau begitu kita harus pergi dari
sini." Ma Feng-zhong menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Kita tidak bisa kabur."
"Apa sebabnya?"
Ma Feng-zhong menghela nafas panjang, "Musuhnya
bisa membuat Lao-bo kabur seperti ini, pasti diapun dapat
mengejar kita ke mana pun."
Ma Yue-yun masih gemetar dan berkata, "Kalau begitu
kita harus bagaimana?"
Ma Feng-zhong tidak bicara apa-apa, satu kata pun dia
tidak bicara, karena dia memang tidak perlu menjawab.
Dia hanya diam sambil memandang istrinya. Matanya
terlihat sangat lembut tapi juga sedih.
Ma Yue-yun juga memandang suaminya penuh rasa
kasih sayang dan kagum. Dia tahu semua perbuatan
suaminya adalah mulia.
Ma Yue-yun tiba-tiba menjadi sangat tenang dan dia
memegang tangan suaminya dengan lembut dan dia
berkata, "Aku pun seperti dirimu, sudah hidup enak selama
10 tahun, walaupun terjadi apa-apa aku tidak akan marah."
"Maafkan aku," kata Ma Feng-zhong.
Begitu kalimat ini terlontarkan dari mulutnya. Matanya
sudah penuh dengan air mata kecuali kata-kata ini dia
sudah tidak dapat bicara apa-apa lagi.
Dengan lembut Ma Yue-yun berkata, "Kau tidak
bersalah kepadaku, kau selalu baik kepadaku, aku hidup
denganmu sudah cukup puas, bisa mati denganmu pun aku
rela." Ma Yue-yun berkata lagi, "Semenjak menikah aku belum
pernah meminta apa-apa kepadamu, sekarang aku hanya
minta satu hal."
"Katakanlah!"
Air mata Ma Yue-yun terus bercucuran dengan sedih dia
berkata, "Kedua anak kita masih kecil mereka belum
mengerti apa-apa, apakah kau bisa melepaskan mereka"
Membiarkan mereka terus hidup?"
Ma Feng-zhong melihat ke arah lain tidak tega melihat
anak-anaknya, dengan menangis dia berkata, "Aku tahu,
anak-anak tidak berdosa, karenanya selama ini aku selalu
menuruti kemauan mereka, selalu membuat mereka merasa
gembira." "Aku mengerti."
Sekarang dia baru mengerti mengapa suaminya sangat
sayang kepada kedua anak mereka.
Ma Feng-zhong tahu bahwa anak-anaknya tidak akan
hidup lama. Bagi seorang ayah adakah hal yang lebih
menyedihkan dari itu"
Dengan mata masih menangis, Ma Yue-yun berkata,
"Sekarang aku baru mengerti, kau harus bisa menahan
kesedihan yang begitu dalam."
Ma Feng-zhong berkata, "Aku selalu berdoa supaya kita
tidak perlu menempuh jalan ini. Tapi sekarang sudah tidak
ada pilihan lain."
Ma Yue-yun berteriak, "Tapi kita bisa menyuruh anakanak
pergi meninggalkanmu dari tempat ini, walau mereka
hidup sendiri walau kehidupan mereka hidup dengan baik
atau buruk, walau mereka bisa atau tidak bertahan hidup,


Antara Budi Dan Cinta Hu Die Jian Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

asal kau dapat melepaskan mereka, mati pun aku rela."
Tiba-tiba Ma Yue-yun berlutut di depan suaminya dan
menangis, dia berkata, "Aku belum pernah meminta apa
pun darimu. Hanya kali ini saja aku minta kepadamu,
kabulkanlah...."
Ma Feng-zhong tidak menjawab, dengan pelan dia
melihat mangkuk mie itu, mie di dalam sudah habis.
Ma Yue-yun melihat sorot mata suaminya, tiba-tiba
wajahnya berubah dengan berteriak dia berkata, "Kau....
kau sudah.... di dalam mie....!"
Dengan sedih Ma Feng-zhong berkata, "Benar, aku mau
mengabulkan permintaanmu, tapi sudah terlambat."
Ooo)dw(ooO Apakah di dunia ini ada yang lebih kejam dari neraka"
Ada. Di mana" Ada di tempat ini, dan saat ini.
Di dalam rumah ini hanya ada sebuah tempat tidur,
karena itu Feng-feng hanya bisa duduk di sana.
Kursi dan tempat tidur terbuat dari batu, sangat tidak
nyaman. Tapi Feng-feng duduk dengan anggun. Dia
diajarkan oleh Gao Lao-da.
"Kalau kau ingin memikat laki-laki, kau harus
memperhatikan etika sendiri. Bila berjalan harus tegak,
duduk atau berdiri hingga pada waktu makan harus bagus.
Tidur pun harus mempunyai cara yang baik. Walaupun kau
adalah pelacur kau harus melakukan semuanya dengan
anggun, maka laki-laki akan lebih senang kepadamu."
Sudah berkali-kali Gao Lao-da mengajarkan kepadanya.
"Tapi sekarang aku sudah mendapat laki-laki apa"
Hanya seorang pak tua yang sedang terluka parah."
Bila kau benar-benar sudah mendapatkan seorang lakilaki,
kau pasti mempunyai kesempatan untuk merangkak ke
posisi atas. "Sekarang aku harus merangkak ke mana" Di dalam
sebuah sumur ini" Di sebuah rumah yang bau."
Dia hampir tertawa dan mengeluarkan suara, rumah itu
penuh dengan makanan, seperti gudang.
Di sudut rumah banyak ikan asin dan daging yang
diasinkan, membuat rumah ini bertambah bau. Feng-feng
melihat ikan asin dan dia berusaha menahan diri sambil
mulai berhitung. Dia tidak ingin melihat ke arah pak tua
itu. Dia tidak bisa melihat pak tua itu. Pada saat Lao-bo
sedang berdiri atau memakai baju dia terlihat sangat
berwibawa, tapi sekarang dia telanjang dan berbaring di
tempat tidur. Hampir sama dengan pak tua yang lainnya.
Sewaktu dia berbaring, dia tampak lebih jelek dan kaku.
Sepasang kakinya ditekukkan dan perutnya buncit seperti
seekor katak yang sedang bernafas. Kadang-kadang dari
tenggorokannya terdengar suara.
Bila Feng-feng sedang tidak lapar, mungkin dari tadi dia
sudah muntah. Setelah lama baru Lao-bo menghembuskan nafas. Tapi
dia tetap tidak bisa bangun dari tempat tidur. Badannya
penuh dengan keringat, daging di sekitar perutnya sudah
kendur. Bentuknya lebih jelek dari ikan asin, Feng-feng tidak
tahan lagi, dengan tertawa dingin dia berkata, "Menurutku,
sebaiknya kau menghemat tenaga karena jarum 7 bintang
ini kau sendiri yang bilang tidak ada penawarnya."
Dengan susah payah Lao-bo berhasil duduk dan
melihatnya, dengan perlahan dia berkata, "Kau berharap
aku cepat mati?"
Feng-feng merasa tidak tenang, dia masih muda, belum
puas hidup di dunia ini.
Feng-feng bertanya lagi, "Apakah benar tidak ada
penawarnya?"
"Aku tidak pernah berkata bohong," Angguk Lao-bo.
Wajah Feng-feng menjadi pucat dan berkata, "Kalau kau
tahu pasti akan mati, mengapa masih berusaha kabur?"
Tiba-tiba. Lao-bo tertawa dan berkata, "Aku hanya
mengatakan tidak ada obat penawarnya, tidak berkata tidak
bisa ditolong. Banyak orang yang bisa melakukan
pengobatan dari beberapa helai daun obat."
Mata Feng-feng menjadi lebih bercahaya dan berkata,
"Apakah kau bisa mengeluarkan racun 7 bintang itu?"
Lao-bo menarik nafas dan berkata, "Walaupun bisa,
harus membutuhkan waktu satu hingga dua bulan."
Mata Feng-feng menjadi redup lagi dan dia berkata,
"Kalau begitu, kau harus tinggal di sini paling sedikit satu
bulan?" Lao-bo tertawa.
"Apakah tempat ini tidak baik" Ada daging, ikan, kalau
sudah keluar dari tempat ini, kau akan menjadi gemuk dan
putih." Feng-feng melihat Lao-bo dia merasa Lao-bo adalah
bukan orang yang sangat jahat, dia tidak tahan dan ikut
tertawa juga, kemudian bertanya, "Apakah kau tidak takut
akan ada orang yang mencarimu ke tempat ini?"
"Tidak akan ada yang mencari."
"Apakah orang yang she Ma itu tidak akan bicara apaapa?"
"Tidak akan!"
Dengan dingin Feng-feng berkata, "Tidak kusangka kau
begitu yakin dan sangat percaya kepada orang she Ma itu.
Seperti kau dulu percaya kepada Lu Xiang-chuan."
Lao-bo tidak bicara lagi, wajahnya datar.
"Di dunia ini kecuali orang mati, tidak ada yang benarbenar
bisa tutup mulut," kata Feng-feng.
Lao-bo terdiam dan berkata lagi, "Kau melihat orang
seperti Ma Feng-zhong, apakah demi teman dia rela mati?"
"Mungkin saja dia bisa, bila dia melihat kau dipukul
orang dia akan melindungimu tapi sekarang dia tidak akan
melindungimu lagi."
"Apalagi kau sudah puluhan tahun tidak bertemu
dengannya, walaupun dulu dia sangat setia kepadamu,
mungkin sekarang sudah berbeda."
"Mungkin bila dia tenang baru dia akan berbuat seperti
itu." "Mengapa?"
"Karena dia selalu menganggap demi dirimu dia harus
siap sedia, ini sudah jadi kehidupan sehari-hari. Pada saat
terjadi hal seperti sekarang, dia tidak akan memikirkan apa
pun, tapi dia tetap akan melakukan seperti itu."
Dengan dingin Feng-feng berkata, "Itu karena kau
menyuruhnya berpikir seperti itu."
Dengan tertawa Lao-bo berkata, "Seseorang biasanya
mempunyai 2 sisi, di satu sisi dia baik dan di sisi yang lain
dia jahat, sebagian orang menjaga sisi baiknya. Ma Fengzhong
adalah orang seperti itu, dia akan melakukan
tugasnya dalam keadaan seperti apa pun, karena kau lahir
di tempat yang penuh kejahatan kau hanya bisa melihat sisi
jahat saja, karena itu selamanya tidak paham dengan orangorang
seperti itu, orang seperti Ma Feng-zhong pun tidak
mengerti kepada hal yang dia kerjakan."
Feng-feng membalikkan badannya, dia tidak mau
melihat Lao-bo lagi, dia sendiri pun mengakui bahwa dia
banyak tidak mengerti hal-hal yang ada di dunia ini. Karena
dari dulu dia dididik dalam menghadapi hal apa pun
dengan sisi yang jahat.
Tapi selama ini Feng-feng menganggap dirinya paling
mengerti hati seorang laki-laki. Karena ini adalah
pekerjaannya juga cara dia bertahan hidup bila dia tidak
mengerti hati seorang laki-laki dia tidak akan bisa bertahan
hidup. "Laki-laki di dunia ini hanya ada satu macam, walau dia
paling kaya atau paling miskin semua sama saja. Asal kau
tahu cara menguasai mereka, mereka akan menjadi
budakmu." Menguasai laki-laki ada dua cara. Pertama, membiarkan
mereka merasa dirimu sangat lemah dan mereka akan
melindungi dan mengurusmu, dan harus membuat mereka
merasa bangga mengurus dirimu.
Kedua, selalu mengejek mereka, merusak wibawa
mereka, membuat mereka tidak dapat mengangkat
wajannya di depanmu.
Bila sudah mendapatkan hal seperti itu, asal kau
memberi sedikit perhatian dan sedikit senyum manis,
mereka akan merasa senang dan berterima kasih.
Bila kau sudah bisa membuat laki-laki mempunyai
perasaan seperti itu, mereka akan melakukan apa pun demi
dirimu. Cara-cara ini sudah sering digunakan oleh Feng-feng,
walaupun dia berhadapan dengan jenis laki-laki yang
beraneka ragam, dia tidak pernah takut. Tapi sekarang pada
saat dia menghadapi Lao-bo, kedua caranya sudah
dipakainya tapi di depan mata Lao-bo dia hanya seorang
gadis yang kekanak-kanakan. Kadang-kadang malah tidak
menganggap dia sebagai manusia. Pada saat Lao-bo
melihatnya seperti melihat sebuah meja atau kursi.
Sorot mata seperti ini membuat perempuan menjadi
resah, mereka lebih suka laki-laki memukul atau memarahi
mereka, tapi sikap seperti Lao-bo ini bisa membuat mereka
menjadi gila. Tiba-tiba Feng-feng tertawa. Dia tertawa untuk menutupi
rasa takut dan rasa gelisah.
Dia tertawa sangat menawan dengan tersenyum dia
berkata, "Aku tahu kau benci kepadaku."
Memang dia berharap Lao-bo benci kepadanya. Dia
lebih suka dibenci daripada dipandang sebelah mata.
"Mengapa aku harus membencimu?"
"Karena semua yang kau alami sekarang adalah garagaraku."
"Kau salah!" kata Lao-bo.
"Apakah kau tidak membenciku?" tanya Feng-feng.
"Kami mulai merencanakan tempat ini, ketika kau masih
kecil karena itu tidak ada hubungannya denganmu."
"Kalau tidak ada...."
Lao-bo memotong kata-katanya, "Bila tidak ada dirimu,
masih ada orang lain, kau hanya sebuah alat kecil dalam
rencana ini. Rencana ini sudah matang, siapa pun bisa
menjadi alatnya, sama saja."
Lao-bo tertawa dan berkata, "Aku tidak membencimu,
malah sebaliknya aku kasihan padamu."
Wajah Feng-feng menjadi merah, tiba-tiba dia meloncat
dan berteriak, "Kau kasihan kepadaku" Mengapa tidak
mengasihani dirimu sendiri?"
"Aku hanya tinggal menunggu waktu, saja," kata Laobo.
"Kau tidak akan bisa. Orang seperti dirimu tidak akan
merasa kasihan kepada diri sendiri karena kau mengira kau
adalah orang yang sangat pintar."
"Oooo."
"Seseorang dapat menggunakan sisi jahat orang,
menggunakan sifat serakahnya, iri hati, benci dan orang
seperti itu adalah orang yang sangat pintar," kata Fengfeng.
"Benar," kata Lao-bo.
"Tapi kau lebih pintar dari orang yang pintar. Kau juga
bisa menggunakan sisi baik orang, masih bisa menggunakan
rasa terima kasih dan rasa setia kawan."
Lao-bo mendengarnya kemudian menjawab, "Kalau
begitu aku memang lebih pintar."
Dengan ringan Feng-feng berkata, "Dan akhirnya
bagaimana?"
"Nanti terjadi apa, tidak ada seorang pun yang tahu"
"Aku tahu," kata Feng-feng lagi.
"Oh?"
"Sekarang walaupun Ma Feng-zhong sudah mati dan
tidak ada orang yang dapat mencarimu kemudian kau bisa
mengeluarkan racun 7 bintang itu, apa yang kau
mendapatkan?"
Feng-feng tertawa dengan dingin berkata lagi, "Sekarang
rumahmu sudah diambil orang, tanah pun sudah menjadi
milik orang lain, kau sudah berpisah dengan orang
terdekatmu ditambah lagi kau sudah dekat dengan
kematian, kau sudah tua, kecuali hanya menunggu
kematian, apa lagi yang kau dapat lakukan?"
Kata-kata ini sangat kejam seperti bisa ular kobra.
Perempuan bila ingin melukai orang lain, dia bisa
menggunakan kata-kata yang paling pedas, sepertinya ini
adalah kepintaran yang dimilikinya sejak lahir seperti ular
kobra sejak menetas dari telur sudah mempunyai bisa.
Lao-bo tetap dengan tenang melihatnya, sorot matanya
seperti menatap meja dan kursi.
"Mengapa kau tidak bicara, apakah kata-kataku tepat
mengenai pikiranmu?" kata Feng-feng.
"Benar."
Tanya Feng-feng lagi, "Bagaimana perasaanmu
sekarang" Sedang mengasihani aku" Atau sedang
mengasihani dirimu sendiri?"
"Mengasihani dirimu, karena kau lebih harus
dikasihani."
Suara Lao-bo tetap tenang dan dia berkata lagi,
"Memang benar aku sudah tua tapi aku sudah puas hidup
selama ini, tapi kau".... aku tahu kau membenci diriku juga
membenci dirimu sendiri."
Tiba-tiba Feng-feng lari ke hadapan Lao-bo, tubuhnya
gemetaran. Tadinya dia ingin membunuh Lao-bo, tapi
entah mengapa tiba-tiba dia masuk ke pelukan Lao-bo dan
menangis tersedu-sedu.
Lao-bo adalah suami pertama Feng-feng.
Juga suami satu-satunya. Mereka mempunyai hubungan
yang misterius walaupun Feng-feng tidak mau
mengakuinya tapi itu juga tidak dapat mengubah keadaan.
Siapa pun tidak dapat mengubah keadaaan ini.
Ooo)dw(ooO BAB 20 Setiap orang pasti akan mempunyai sikap yang aneh dan
bodoh. Mereka melukai orang lain untuk melindungi diri sendiri.
Orang yang dilukai justru adalah orang yang paling dekat
dengannya. Karena mereka lupa, melukai orang yang dekat


Antara Budi Dan Cinta Hu Die Jian Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dengannya berarti melukai dirinya sendiri.
Karena itu mereka berusaha tidak melukai diri sendiri
bila sudah membuat kesalahan ini artinya dia sama dengan
membenci dirinya sendiri.
Bila di dunia ini ada neraka, neraka telah ada di sini.
Di depan taman bunga, chrysan yang sedang mekar ada
di sebuah pekarangan kecil.
Di rumah itu ada 4 mayat terdiri dari ayah, ibu, dan
kedua anaknya. Bila Meng Xing-hun datang lebih awal mungkin masih
bisa mencegah kejadian tragis ini, tapi dia datang terlambat.
Hari sudah sore, matahari senja tampak seperti darah
berwarna, darah yang sudah beku.
Darah yang keluar dari tempat yang terluka tampak
sudah membeku, Meng Xing-hun melihat luka-luka yang
ada pada mayat itu. Dia berharap mereka masih bisa
menceritakan sebuah rahasia sebelum mereka meninggal.
"Mengapa mereka bisa mati" Siapa yang membunuh
mereka?" Meng Xing-hun adalah seorang ahli membunuh orang,
lebih mengerti orang yang mati daripada orang hidup. Dia
sering bertemu dengan orang mati juga sering meneliti
ekspresi orang yang sudah mati.
Orang yang mati dibunuh oleh golok, biasanya mereka
menunjukkan beberapa ekspresi, yaitu kaget, marah dan
sedih. Siapa pun yang melihat golok yang disabetkan ke
arah tubuhnya, pasti akan berekspresi yang khas.
Tapi mayat suami istri itu tidak sama. Wajah mereka
tidak tampak ketakutan juga tidak terlihat marah. Hanya
ada kesedihan yang dalam, mereka tampak pasrah.
Kelihatannya mereka tidak ingin mati, tapi keadaan yang
membuat mereka harus mati.
Sebelum mereka mati, mereka tidak merasa kaget dan
marah. Sepertinya kematian adalah tanggung jawab mereka
dan rasa bakti mereka.
Di balik semua itu pasti ada suatu alasan. Meng Xinghun
berdiri dan melihat matahari yang terbenam, dia
tampak sedang berpikir. Sebenarnya hal seperti ini tidak
perlu dipikirkan. Siapa pun yang melihat mayat-mayat itu,
pasti akan menganggap mereka dibunuh oleh Lao-bo.
Orang yang berada dalam pelarian sering membunuh
orang untuk tutup mulut tapi Meng Xing-hun tidak
menganggapnya seperti itu.
Dia sudah mengetahui penyebab kematian mereka.
Bukan terluka karena bacokan tapi mereka mati keracunan.
Racun yang ganas membuat mereka mati.
Menurut kebiasaan Lao-bo, dia tidak akan membunuh
orang yang sudah terkena racun ganas. Dia bukan orang
macam itu, dia pun tidak sebodoh itu.
"Mengapa mereka bisa mati" Mereka mati oleh siapa?"
Sudut mata Meng Xing-hun terus bergetar. Bila dia
merasa terharu, sudut matanya sering bergetar.
Apakah dia sudah mengetahui jawabannya" Jawaban
dari rahasia ini.
Tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Meng Xinghun
terdiam sebentar, akhirnya dia berjalan dengan
perlahan menuju pintu, dengan cepat dia membuka pintu.
Begitu pintu dibuka, orang itu sudah berada di balik
pintu. Caranya membuka pintu tidak biasa, bila dilihat
dengan teliti dari cara membuka pintu, maka akan tahu sifat
dari cara membuka pintunya.
Cara membuka pintu Meng Xing-hun sangat istimewa
juga caranya paling aman.
Orang yang di luar sangat terkejut. Siapa pun yang
melihat pintu yang dibuka dengan tiba-tiba dan tidak
melihat ada orang dia akan sangat terkejut.
Apalagi orang ini sering kaget. Orang yang sering kaget
adalah orang yang penakut, mentalnya lebih lemah tapi
juga lebih jujur.
Meng Xing-hun menatap tajam mata orang. Bila dia
melihat orang yang hidup, pertama-tama yang dilihatnya
adalah matanya. Walaupun orang itu sering berbohong tapi
matanya tidak akan berbohong.
Melihat orang di luar pintu sangat terkejut pelan-pelan
Meng Xing-hun keluar dari balik pintu dan bertanya, "Kau
mencari siapa?"
Wajahnya seperti Lao-bo, yang biasanya tidak ada
ekspresi, wajah yang tidak berekspresi adalah wajah yang
menakutkan. Orang yang berada di luar pintu lebih terkejut lagi.
Tanpa sadar dia mundur 2 langkah, dari pintu dia bisa
melihat ke dalam, dia takut dia salah masuk rumah. Dan itu
ternyata benar-benar rumah Ma Feng-zhong, dia sudah
sering datang ke sana.
Dia menghembuskan nafas dan tertawa.
"Aku ke sini mencari kakak Ma, apakah dia ada?"
Oh, ternyata ini adalah rumah keluarga Ma.
"Kau mencarinya ada keperluan apa?" tanya Meng
Xing-hun. Meng Xing-hun bertanya seperti seorang jaksa di
pengadilan yang menanyakan tersangka. Bila kau bertemu
dengan orang seperti itu, kau terpaksa harus menjawab
dengan jujur semua pertanyaannya.
Orang itu terlihat tidak biasa bertarung.
Jakunnya bergerak naik turun, dengan gemetar dia
berkata, "Kemarin malam ada yang membawa kereta kuda
pergi dari sini dan sampai sekarang belum kembali, aku
hanya ingin bertanya ada kejadian apa."
"Kusirnya seperti apa?"
"Tinggi dan besar."
"Apakah di dalam kereta ada orang?" tanya Meng Xinghun.
"Ada."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu."
"Mengapa tidak tahu?" kata Meng Xing-hun marah.
Orang itu karena takut dia mundur lagi, dengan gugup
dia berkata, "Karena pintu dan jendela kereta ditutup
dengan rapat, aku tidak dapat melihatnya."
"Bila tidak tahu, mengapa kau tahu di dalam ada
orang?" "Aku melihat kusirnya, sepertinya dia tidak membawa
kereta kosong."
"Kusirnya bagaimana?"
Orang ini menelan ludah sebelum menjawab,
"Kelihatannya dia sangat tergesa-gesa dan tampak takut."
"Kapan kau melihatnya?"
"Kemarin malam."
"Kira-kira jam berapa?"
"Sudah larut malam karena aku waktu itu sedang
bersiap-siap untuk tidur," jawab orang itu.
"Bila sudah malam, mengapa kau masih bisa melihatnya
dengan jelas?" tanya Meng Xing-hun.
"Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas."
"Bila tidak begitu jelas, mengapa kau tahu kusir itu
tampak takut?"
"Aku.... aku.... hanya mempunyai perasaan seperti itu."
Dia mengangkat tangannya kemudian memegang
rambutnya karena dia takut, sepasang tangan ini entah akan
diletakkan di mana.
Dia tidak pernah ditanya seperti itu, pertanyaanpertanyaan
itu membuatnya sesak nafas. Dia pun lupa
bertanya mengapa Meng Xing-hun terus bertanya
kepadanya. Meng Xing-hun bara membiarkan dia bernafas dan dia
segera bertanya lagi, "Apakah kau melihat dengan mata
kepalamu sendiri?"
Orang ini mengangguk.
"Kau melihat kereta kuda itu berlari ke arah mana?"
Orang itu menunjuk ke arah timur dan berkata, "Ke
sebelah sana."
"Kau tidak salah melihatnya?" tanya Meng Xing-hun.
"Tidak! Karena itu aku ke sini untuk bertanya kepada
kakak Ma karena dia sangat sayang kepada 2 ekor kuda itu.
Walaupun ada teman baiknya ingin meminjam kudanya
hanya untuk berputar saja, dia tidak akan mengijinkannya.
Entah mengapa kali ini dia membiarkan orang yang tidak
dikenalnya memakai kereta kudanya?"
"Apakah orang tinggi besar itu adalah orang yang tinggal
di sekitar sini?"
"Bukan, dia bukan orang sini. Aku pasti tahu orang yang
tinggal di sekitar sini."
"Apakah kau pernah melihat orang itu?"
"Tidak pernah."
"Apakah kuda yang dibawanya adalah kudamu?"
"Bukan, kuda itu milik kakak Ma."
Tanya Meng Xing-hun lagi, "Kusirnya tidak kau kenal,
kudanya pun bukan kuda milikmu, jadi apa hubungannya
denganmu?"
"Aku.... aku...."
"Apakah kau tahu orang yang suka ingin tahu urusan
orang lain, hanya menyulitkan dirinya sendiri."
Orang ini terus mengangguk dia membalikkan tubuh
akan pergi. "Diam di tempat!"
Orang itu kaget hingga meloncat, dengan tertawa kecut
berkata, "Tuan, tuan ingin menanyakan apa lagi."
"Apakah kau ke sini untuk mencari kakak Ma?"
"Ya."
"Dia ada di dalam, mengapa kau tidak masuk?"
"Aku.... aku takut...."
Dengan marah Meng Xing-hun berkata, "Kau takut apa"
Dia sedang menunggumu." Meng Xing-hun menyuruh
orang itu masuk, dia sendiri malah keluar dari pintu.
Orang itu bengong di dekat pintu, akhirnya dia masuk
juga ke dalam. Dengan cepat dia sudah mendengar suara
teriakannya. Meng Xing-hun bicara sendiri, "Orang yang suka
mengurus masalah orang lain pasti akan pusing sendiri."
Di sudut ada 2 batang pipa besi, tergeletak miring
mencuat ke atas.
Pipa besi sebagian berada di dalam sumur. Sebagian lagi
berada di atas sumur. Pipa ini adalah satu-satunya aliran di
mana udara dapat mengalir masuk ke dalam rumah batu
itu. Orang di dalam rumah itu walaupun tidak mati karena
kurang oksigen, nafasnya mungkin terasa tidak nyaman
karena itu di sana tidak dapat memasang api untuk masak.
Lao-bo hanya makan makanan dingin.
Feng-feng memotong daging asin dengan tipis, selembar
demi selembar disusun di atas piring, disusun seperti bunga
supaya enak dipandang.
Dia memakai warna sayur untuk memancing selera
makan. Dengan tersenyum Lao-bo berkata, "Sekarang kau
sudah pandai memotong."
"Sayangnya ini bukan pisau sayur," jawab Feng-feng.
Dia mengedipkan mata dan berkata lagi, "Aku rasa
perempuan harus berlatih cara memotong sayur bukan
berlatih Wu-hu-duan-men-dao."
"Oh?"
Kata Feng-feng lagi, "Bila Wu-hu-duan-men-dao hanya
bisa meminta nyawa orang, tapi berlatih untuk memotong
sayur akan membuat seorang laki-laki akan membuat hidup
seumur hidup."
"Ada yang berkata jalan untuk memikat hati laki-laki
yang paling cepat adalah melalui perut dan ususnya."
"Di dunia ini jarang ada laki-laki yang tidak suka makan
karena itu bila perempuan jago masak, tidak perlu takut
tidak mendapatkan suami."
Lao-bo tertawa lagi, "Kukira kau masih anak-anak, siapa
sangka kau sudah menjadi seorang perempuan dewasa."
Feng-feng mengambil dua buah Guotie dan disatukan
dengan sepotong daging asin, dia menyuapkan makanan itu
ke dalam mulut Lao-bo, tiba-tiba dia berkata, "Ada orang
yang berkata 'perempuan berdandan untuk menarik
perhatian laki-laki', aku merasa kalimat ini harus diganti."
"Bagaimana cara mengubahnya?" kata Lao-bo.
"Kalimatnya harus seperti ini 'perempuan memasak
untuk menarik perhatian laki-laki'," kata Feng-feng.
Dengan mengedipkan mata dia berkata lagi, "Bila
perempuan tidak suka kepadamu, disuruh memasak pun dia
akan menolaknya."
Lao-bo tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Benar,
perempuan hanya mau memasak untuk laki-laki yang
dicintainya, ini sudah terjadi sejak dulu."
Feng-feng berkata, "Laki-laki hanya mau membeli
pakaian untuk perempuan yang dia cintai, bila dia tidak
mencintainya disuruh membeli kain cacat pun dia akan
bilang mahal."
Dengan tertawa Lao-bo berkata, "Aku tahu banyak
tentang laki-laki walaupun dia tidak mencintai istrinya dia
tetap akan membelikan baju untuk dipakai istrinya."
"Karena dia membeli baju bukan untuk istrinya."
"Lalu untuk siapa?"
"Untuknya sendiri, demi menjaga wajahnya, sebenarnya
di dalam hatinya dia hanya ingin istrinya memakai daun
saja, tidak perlu membeli baju terus."
Lao-bo tertawa terbahak-bahak dia mulai merasa selera
makannya bertambah.
Feng-feng mengambil sepotong daging asin menyuapi
Lao-bo lagi dan berkata, "Kalau aku minta dibelikan baju,
apakah kau akan membelikannya untukku?"
"Tentu."
"Kalau begitu kau harus makan sayur balok."
"Mengapa harus makan sayur balok?" tanya Lao-bo.
"Karena jika kau ingin aku memakai baju daun maka
aku akan memberikan sayur balok kepadamu."
Lao-bo tertawa terbahak-bahak lagi. Sudah lama dia
tidak tertawa seperti itu.
Sesudah dia tertawa, daging masuk lagi ke dalam
mulutnya.

Antara Budi Dan Cinta Hu Die Jian Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Lao-bo terpaksa memakannya, tiba-tiba Lao-bo bertanya,
"Tadi kau terus membuatku marah, mengapa sekarang
berubah?" Feng-feng mengedipkan matanya dan bertanya, "Apakah
benar aku berubah?"
"Sekarang kau berusaha membuatku banyak makan dan
mencari cara supaya aku senang."
Feng-feng menundukkan kepalanya, setelah lama dia
menghela nafas dan berkata, "Mungkin aku sudah mengerti
satu hal."
"Hal apa?"
"Di rumah ini hanya ada kita berdua kalau kau tidak
gembira, aku pun akan ikut sedih. Kalau aku ingin gembira,
aku harus membuatmu gembira dulu."
Dia mengangkat kepalanya memandang Lao-bo dengan
perlahan dia berkata, "Seseorang dalam keadaan apa pun
harus mencoba membuat dirinya gembira, apakah benar?"
Lao-bo mengangguk, dengan tersenyum Lao-bo berkata,
"Tidak kusangka kau semakin pintar."
Sebenarnya perempuan itu pintar, bila dia sudah tahu
tidak dapat mengalahkanmu, dia akan menyerah.
Bila kau tidak mau dikalahkan oleh perempuan kau
harus mengalahkan dia. Bila kau bersama perempuan saja,
hanya ada 2 jalan, jangan berharap ada jalan ketiga. Lakilaki
yang pintar pasti tahu harus memilih jalan yang mana,
karena itu kau jangan kalah.
Kalah artinya adalah 'angkat tangan'. Bila kau kalah satu
kali, kau akan selalu dikalahkan.
Ooo)dw(ooO BAB 21 Air sumur sangat dingin, dengan pelan Feng-feng minum
segelas air itu kemudian dia berkata, "Kalau memang
benar-benar harus hidup di sini seumur hidupku, boleh
juga." "Apakah kau bersedia?"
Feng-feng mengangguk, menarik nafas kemudian
berkata, "Hanya sayang kita tidak dapat hidup tenang di
sini." "Mengapa?"
"Karena mereka akan mencari kita."
"Mereka, siapa?" tanya Lao-bo lagi.
"Mereka mungkin musuhmu, mungkin juga mereka
adalah temanmu sendiri."
"Aku sudah tidak mempunyai teman."
Pada saat Lao-bo berkata seperti itu, wajahnya datar
tidak ada ekspresi, seperti menganggap hal itu adalah
masalah yang sepele.
"Siapa yang tahu, kita masih mempunyai teman atau
tidak. Teman sejati biasanya tidak terlihat tapi pada saat
kau menghadapi bahaya dan kesulitan, mereka akan
muncul." Kata-kata Feng-feng tidak salah. Teman sejati dan
musuh dalam selimut biasanya tidak terlihat.
Dan bahkan tidak akan menyangka mereka siapa. Laobo
tiba-tiba teringat kepada Lu Xiang-chuan, dia tidak
menyangka Lu Xiang-chuan akan menjadi musuhnya dan
tega mengkhianatinya.
Sekarang Lao-bo tidak tahu siapa teman yang dapat
sehidup semati dengannya. Lao-bo melihat tangannya dan
berkata, "Walaupun aku mempunyai banyak teman,
mereka pun tidak dapat mencari hingga kemari."
"Apakah mereka tidak dapat menemukan kita?"
"Benar."
"Aku ingat dulu kau pernah mengatakan, di dunia ini
tidak ada yang mustahil."
"Ya, aku memang pernah berkata seperti itu."
Feng-feng berkata lagi, "Pada saat kau mengatakan
kalimat ini, aku terjatuh dari tempat tidur ke dalam sebuah
lubang yang dalam, pada waktu itu perasaanku sepertinya
dunia terbelah menjadi dua."
"Apakah kau tidak menduga?"
"Benar, aku tidak menduganya karena Lu Xiang-chuan
menjamin bahwa kau tidak dapat melarikan diri lagi. Bila
tidak aku pun tidak mau mengiyakan semua
permintaannya."
Feng-feng melihat Lao-bo, tidak terlihat rasa malu dari
wajahnya, dia melanjutkan lagi, "Aku dibeli oleh mereka
untuk mencelakaimu karena aku adalah orang yang
memiliki harga, asal kau berani membayar dengan harga
tinggi, apa pun akan kulakukan."
"Apakah kau tidak merasa malu" Atau sedih?" tanya
Lao-bo. "Mengapa harus sedih" Di dunia ini banyak orang yang
memiliki harga, ada yang tinggi dan juga yang murah."
Tiba-tiba Lao-bo tertawa dan berkata, "Kau salah. Di
dunia ini walaupun kau mengeluarkan uang dengan harga
berapa pun juga tidak akan bisa membeli orang itu."
"Apakah maksudmu orang bermarga Ma itu?"
"Seperti Sun-ju," kata Lao-bo.
"Sun-ju".... apakah yang kau maksud adalah raksasa buta
itu?" "Benar."
"Apakah dia sudah melakukan banyak hal untukmu?"
"Apa yang sudah dia lakukan, kalian tidak akan sanggup
membayangkannya," kata Lao-bo.
"Apakah dia sudah menunggumu sekian lama di bawah
sana?" "Sudah 13 tahun, dia hidup sendiri di bawah tanah yang
gelap. Perasaannya hidup di sana, tidak dapat dibayangkan
oleh siapa pun."
Pertama kalinya mata Lao-bo tampak bercahaya, cahaya
yang memancarkan rasa terima kasih, dengan pelan dia
berkata, "Dulu dia pun seperti dirimu, mempunyai
sepasang mata yang terang, bila orang yang hidup di dalam
kegelapan selama 13 tahun, matamu akan seperti
kelelawar."
Kata Feng-feng lagi, "Bila kau menyuluhku berbuat
seperti itu, aku lebih memilih untuk mati."
"Di dunia memang banyak hal yang lebih buruk dari
pada kematian, dan lebih menyedihkan lagi."
"Mengapa dia harus menahan kesedihan yang begitu
dalam?" "Karena aku ingin dia yang melakukannya."
"Apakah hanya itu alasannya?"
"Memang hanya itu."
Pada saat Lao-bo mengatakan dua kata itu, mata Lao-bo
terlihat sangat sedih.
"Aku masih tidak mengerti, mengapa dia bisa tepat
menolongmu?" tanya Feng-feng.
"Jangan lupa, orang buta pendengarannya lebih tajam."
"Apakah dia selalu mendengar?"
"Benar, dia selalu mendengar dan menunggu."
Tiba-tiba wajah Feng-feng memerah dan bertanya,
"Kalau begitu.... apakah dia juga mendengar pada waktu di
tempat tidur kita...."
Lao-bo mengangguk. Wajah Feng-feng tambah merah
lagi, "Mengapa kau tidak takut dia bisa mendengarnya?"
Lao-bo terdiam lama baru berkata, "Aku sendiri pun
tidak menyangka, bisa terjadi hal itu...."
Feng-feng menundukkan kepalanya. Lao-bo menatapnya
dan berkata, "Selama puluhan tahun ini, kau adalah
perempuan pertamaku."
Feng-feng memegang tangan Lao-bo dengan erat.
Tangan Lao-bo kurus namun kuat. Bila memegang
tangannya akan merasa dia masih muda.
"Apakah kau menyesal?" tanya Lao-bo.
"Aku tidak menyesal, kalau aku menyesal aku tidak akan
mengenalmu."
"Menurutmu aku orang yang bagaimana?" tanya Lao-bo
lagi. "Aku tidak tahu, yang aku tahu, bila masih ada orang
yang memakai uang untuk mencelakaimu. Berapa pun
harga yang ditawarkan aku tidak akan mau melakukannya
lagi." Lao-bo melihat Feng-feng dengan lama. Kemudian Laobo
menghela nafas dan berkata, "Aku sudah tua, masih bisa
bertemu dengan perempuan seperti dirimu, aku tidak tahu
apakah ini suatu keberuntungan Atau malah sebaliknya"
Siapakah yang bisa menjawab pertanyaan ini"
Tidak ada. Tangan Feng-feng lebih erat lagi memegang tangannya
tapi tubuhnya tetap gemetaran.
"Kau takut?" tanya Lao-bo.
"Aku dengar yang mengganti Sun-ju adalah Fang Laoer?"
"Benar."
"Apakah Fang Lao-er akan setia kepadamu" Apakah di
dunia ini banyak orang yang rela mati untukmu?"
"Ada."
"Dan kau masih percaya kepadanya?" tanya Feng-feng.
"Ya."
"Mengapa?"
"Karena teman sejati tidak membutuhkan banyak teman,
satu saja sudah cukup."
Tiba-tiba Feng-feng memeluk Lao-bo dan berkata, "Aku
tidak mau menjadi temanmu, aku ingin menjadi istrimu.
Walaupun kita berada di sini atau di luar sana, walaupun
akan terjadi sesuatu kepadamu, aku akan tetap menjadi
istrimu." Orang tua yang sudah lama sendirian, sudah sekarat dan
sudah tidak mempunyai jalan keluar ternyata masih bisa
bertemu dengan perempuan seperti Feng-feng. Kecuali
memeluk dengan erat, dia tidak dapat melakukan apa-apa
lagi. Ooo)dw(ooO Fang Lao-er menjadi kusir dan Sun-cu duduk di sisinya.
Fang Lao-er orangnya pendek tapi gesit, dia adalah
seorang kusir yang ahli. Bila dia sedang mengendarai kereta
kuda tidak ada kereta lain yang dapat mengejarnya.
Tapi saat ini dia sedang tidak bisa berkonsentrasi.
Matanya tampak tidak tenang seperti banyak pikiran.
Tiba-tiba Sun-ju bertanya, "Apakah kau sedang
memikirkan sesuatu?"
Matanya tampak tidak tenang, "Mengapa kau bisa
tahu?" Fang Lao-er terkejut, jawabannya sudah menjawab
pertanyaan Sun-ju.
Tapi itu hanya terjadi sebentar, wajahnya langsung
berubah seperti merasa terhina dan tampak dingin,
kemudian dia bertanya, "Apakah kau dapat melihatku?"
Dengan dingin Sun-ju menjawab, "Aku tidak dapat
melihat, tapi aku dapat merasakan. Kadang-kadang ada hal
yang tidak perlu dilihat oleh mata."
Fang Lao-er melihatnya, melihat tubuhnya yang keras
seperti besi, sikap Fang Lao-er langsung berubah.
Seseorang yang memiliki tubuh dan wajah yang keras
seperti besi terbayang kepalan tangannya pun keras.
Fang Lao-er menarik nafas dan tertawa kecut kemudian
berkata, "Aku sedang memikirkan sesuatu, kadang-kadang
aku curiga apakah orang buta lebih pintar dari orang yang
normal?" "Apakah benar kau sedang memikirkan hal itu" Tapi aku
tahu kau sedang memikirkan apa."
Kata Fang Lao-er, "Coba kau pikir, mengapa kita capecape
hanya membawa kereta kosong untuk melarikan diri,
mengapa tidak mencari tempat untuk beristirahat saja dan
kita masih bisa minum arak dan bersenang-senang."
Mata Fang Lao-er terus berputar, sekarang dia
memandang Sun-ju, mencari tahu apa yang sedang
dipikirkannya tapi dia tetap tidak tahu isi hati Sun-ju.
Karena itu dia coba-coba bertanya, "Kelihatannya kau
bisa minum?"
"Dulu memang begitu."
"Apakah sudah lama kau tidak minum?"
"Benar, sudah lama aku tidak minum sepertinya aku
sudah lupa bagaimana rasa arak."
"Apakah kau tidak ingin minum?" tanya Fang Lao-er.
"Siapa bilang aku tidak ingin minum?"
"Aku tahu di depan sana ada arak yang enak, juga ada
perempuan.... ," kata Fang Lao-er.
Sun-cu tidak bicara tapi wajahnya berekspresi sangat
aneh seperti sedang tertawa seperti bukan.
Mungkin dia sudah lupa bagaimana cara tertawa. Fang
Lao-er segera berkata, "Asalkan kau membawa uang,
perempuan disuruh melakukan apa pun dia pasti mau."
"Apakah cukup dengan 500 tail perak?"
Mata Fang Lao-er menyipit dan dia berkata, "Sangat
cukup, bila mempunyai 500 tail perak tapi tidak dapat
menggunakannya, orang itu sangat bodoh."
Sun-ju masih tampak ragu dan dia berkata, "Bagaimana
dengan kereta ini....?"
Fang Lao-er segera memotong kata-katanya, "Kita tidak
usah mempedulikan kereta ini. Asalkan kau mau dan aku
pun mau, kita berdua yang melakukannya, orang lain tidak
akan tahu."
Dan dia berkata lagi, "Bila kau masih merasa terbebani
oleh kereta ini kita dapat menjualnya dan masih bisa
mendapat uang. Kita dapat hidup di sini selama 2 bulan
dengan enak."
"Bila sudah lewat 2 bulan bagaimana?" tanya Sun-cu.
Fang Lao-er menepuk pundaknya dan berkata, "Jadi
orang hidup senang dulu, dalam 2 bulan kita tidak perlu
memikirkan apapun, orang yang terlalu serius adalah orang
yang bodoh."
Sun-ju terdiam lama dan menjawab, "Baiklah, kita pergi.
Hanya...."
"Hanya apa?" tanya Fang Lao-er.
"Apakah kau tidak takut ada yang menanyakan kereta
itu?" Wajah Fang Lao-er berubah, "Artinya...."
"Walaupun kita menjual kereta ini atau bahkan tidak


Antara Budi Dan Cinta Hu Die Jian Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menjualnya, pasti akan ada orang yang mengikuti kereta ini
untuk mencari kita, bila kita memusnahkan kuda dan
keretanya, tidak akan ada orang yang bisa mencari kereta
ini." Dia menepuk ikat pinggang yang lebar dan tebal yang
terbuat dari kulit yang terikat di tubuhnya dan berkata,
"Soal uang, kau tidak perlu khawatir, yang lainnya aku
tidak punya, aku hanya punya uang."
Fang Lao-er segera tertawa hingga matanya menjadi sipit
kemudian dia berkata, "Baiklah, aku akan menuruti
kemauanmu."
"Berapa lama lagi hari baru gelap?"
"Sebentar lagi."
"Aku ingat di sini ada beberapa danau."
"Benar, kau sudah beberapa kali ke tempat ini."
Fang Lao-er menghentikan kereta itu di pinggir danau.
Malam sudah larut, walaupun siang tempat itu sangat
jarang dilewati orang.
"Apakah di sini ada batu?" tanya Sun-ju.
"Pasti ada."
"Baiklah sekarang kita mencari beberapa buah batu yang
besar, kemudian masukkan ke dalam kereta."
Tidak sulit melakukan hal itu.
"Kemudian bagaimana?" tanya Fang Lao-er.
"Jalankan kereta kuda ini ke arah danau kemudian
tenggelamkan."
Tiba-tiba Sun-cu mengayunkan tangannya, kepala kuda
dipukulnya, kedua ekor kuda itu tidak mengeluarkan suara
sedikit pun, langsung ambruk ke bawah, mati.
Fang Lao-er hanya bengong, setelah lama nafasnya baru
kembali normal.
Dia hanya melihat kilatan kilatan pisau dan kedua ekor
kuda itu sudah terpotong menjadi 8 bagian. Udara sarat
dengan bau darah gerakannya tidak tergesa-gesa tapi sangat
cepat dan mantap.
Fang Lao-er tidak tahan dengan bau itu kemudian dia
muntah-muntah. Dengan dingin Sun-ju bertanya, "Apakah
kau muntah?"
Yang dimuntahkan oleh Fang Lao-er adalah air empedu.
Kata Sun-ju lagi, "Bila sudah selesai muntah cepat gali
lubang untuk mengubur' kedua ekor kuda ini dan juga
muntahanmu."
"Lebih baik kita ikatkan pada sebuah batu besar
kemudian kita tenggelamkan ke dasar danau, jadi kita tidak
perlu bersusah payah lagi," kata Fang Lao-er.
"Kalau begitu kita sudah meninggalkan jejak."
Memang dia bila melakukan sesuatu pekerjaan sangat
bersih dan tidak pernah meninggalkan jejak.
Bila bangkai kuda ditenggelamkan ke dasar danau lama
kelamaan akan membusuk bila sudah membusuk bangkai
kuda itu akan mengapung dan segera akan diketahui oleh
orang lain. Ini hanya jalan alternatif singkat saja jadi lebih baik tidak
melakukannya. Fang Lao-er menarik nafas dan berkata, "Tidak
kusangka orang yang tinggi besar seperamu bisa bekerja
dengan teliti."
"Aku memang harus teliti."
"Mengapa?"
"Aku sudah berjanji kepada Lao-bo tidak akan
membiarkan orang lain mengejarku."
Wajah Sun-ju berekspresi sangat aneh lagi dengan pelan
dia berkata, "Bila aku sudah berjanji kepada Lao-bo dalam
keadaan seperti apa pun aku pasti akan menepati janjinya."
"Apa lagi yang kau janjikan kepada Lao-bo?" tanya Fang
Lao-er. Dengan perlahan Sun-ju berkata, "Aku masih berjanji
bila aku tidak jujur, dia boleh mengambil nyawaku."
Wajah Fang Lao-er segera berubah dan mundur' sambil
berkata, "Aku tadi hanya bergurau, aku tidak mengatakan
hal yang sebenarnya...."
Sun-ju memotong kata-katanya dengan dingin,
"Mungkin kau hanya bergurau, tapi aku tetap harus berhatihati,
aku tidak akan memberi kesempatan siapapun untuk
mencelakai Lao-bo."
Fang Lao-er sudah mundur 10 langkah keringatnya
mengalir deras, tiba-tiba dia berlari sangat kencang.
Larinya segera terhenti begitu golok Sun-ju sudah
menyusul larinya.
Begitu melihat kilau golok itu, Fang Lao-er terpaku di
pohon hidup-hidup, tangan dan kakinya terasa kram, dia
mati. Suara teriakannya seperti suara ringkik kuda di tengah
malam yang sunyi.
Lubang digali lebih dalam dan lebih lebar, Sun-ju
menguburnya, tanah yang lebih dibuang ke danau.
Kemudian dia berlutut menghadap ke arah selatan.
Dia tidak tahu dewa apa yang berada di selatan, dia
hanya tahu bahwa Lao-bo ada di bagian selatan. Baginya
Lao-bo adalah dewa. Pada saat dia berlutut, air matanya
mulai mengalir.
13 tahun yang lalu, dia sudah mengabdikan hidupnya
untuk Lao-bo, dia sudah siap mati dan sekarang ini
keinginannya baru terkabul.
Air matanya masih mengalir kemudian dia berkata,
"Sebenarnya aku ingin membawa kereta ke tempat yang
lebih jauh lagi tapi sayang aku buta, jadi aku hanya bisa
mati." Tidak ada yang tahu mengapa dia rela mati demi Lao-bo.
Hanya dia sendiri yang tahu.
Seorang raksasa seperti dirinya tidak bisa hidup normal
di masyarakat, dia ditakdirkan mengalami kesedihan
seumur hidup, dan tidak mendapat kehangatan sedikit pun.
Tapi Lao-bo telah menolongnya, memberi dia
kehangatan dan rasa persahabatan. Baginya hal ini lebih
berharga dari harta apa pun. Baginya ini sudah cukup
alasan untuk berkorban demi Lao-bo.
Dia hidup untuk membalas budi.
Kadang-kadang dengan memberi sedikit kehangatan,
orang akan berterima kasih seumur hidupnya. Asal kau
memberi sedikit kehangatan akan menerima kegembiraan
seumur hidupnya.
Sayangnya tidak semua orang dapat memberi
kehangatan. Mereka lebih senang mengejek dan menghina,
membuat orang yang diejeknya menjadi dendam.
Sun-ju dengan pelan berdiri berjalan menuju danau dan
masuk ke tengah-tengah danau.
Air danau sangat dingin. Pelan-pelan dia tenggelam, dia
meraba mencari kereta kuda itu.
Dengan sekuat tenaga dia mulai mendorong kereta itu ke
tengah danau, kemudian dia membuka pintunya dan masuk
ke dalam kereta. Dia duduk berhimpitan dengan batu-batu
itu dan menutup pintu.
Setelah itu dia menancapkan pisau ke jantungnya sendiri.
Pisau tertanam ke dalam jantung yang tersisa hanya
gagangnya saja, dia memegang pisau itu hingga jantungnya
berhenti berdenyut. Pisau tidak membuat luka yang lebar
karena itu lukanya tidak mengeluarkan darah. Darah yang
keluar sedikit itu sudah bercampur dengan air danau.
Air danau tetap berwarna hijau dan tenang.
Siapa pun tidak akan ada yang tahu ada sebuah kereta di
dalam danau dan juga tidak tahu di dalam kereta ada
mayat. Lebih-lebih tidak tahu hati yang jujur dan baik ada
pada tubuh orang yartg menakutkan itu.
Tidak ada jejak yang bisa ditelusuri.
Kuda, kereta kuda, Sun-ju, dan Fang Lao-er sudah
lenyap dari dunia karena itu jejak Lao-bo ikut lenyap juga.
Ooo)dw(ooO Seorang perempuan yang pintar, bila dia mau, dia bisa
menyulap tempat yang buruk bisa menjadi rumah yang
hangat dan menyenangkan.
Feng-feng adalah seorang perempuan yang pintar.
Tempat itu sebenarnya sangat buruk tapi sekarang sedikit
demi sedikit mulai ada perubahan, boleh dikatakan sudah
mirip rumah yang benar.
Setiap benda disusun dengan rapi, daging asin dan ikan
asin digantungkan dan ditutup oleh seprai yang putih dan
bersih. Ma Feng-zhong menyiapkan banyak makanan untuk
Lao-bo, begitu juga dengan baju dan seprai.
Bila Feng-feng sedang sibuk, Lao-bo hanya melihatnya
dari pinggir, dari matanya Lao-bo terlihat sangat senang.
Laki-laki sangat menyukai perempuan yang senang
bekerja. Karena dia akan merasa bahwa perempuan itu
menyukai dia dan benar-benar dimiliki oleh laki-laki itu.
Feng-feng dengan lingan memutar tubuhnya dan tertawa
kemudian dia berkata, "Bagaimana?"
"Sangat baik."
"Sebaik apa?" tanya Feng-feng.
"Seperti sebuah rumah tinggal."
"Benar, tempat ini seperti rumah, rumah untuk kita
berdua." Lao-bo melihatnya, wajahnya yang berseri-seri ditambah
dia masih muda, dia ikut merasa menjadi muda juga.
Kata Feng-feng, "Di dunia banyak keluarga kecil, ada
suami dan istri. Sebuah rumah yang mungil, tidak perlu
mengkhawatirkan makanan tidak perlu takut kedinginan."
Dengan puas dia menghela nafas dan berkata,
"Perempuan mana pun bila sudah mempunyai rumah
seperti itu, dia akan merasa puas dan cukup."
Lao-bo tertawa dan berkata, "Hanya sayang suaminya
adalah seorang pak tua."
Dengan manja Feng-feng berkata, "Mengapa kau selalu
mengira dirimu sudah tua?"
Feng-feng berkata lagi, "Suami yang baik bagi seorang
perempuan bukan diukur umurnya, melainkan apakah dia
bisa bersikap lembut atau pengertian kepada istrinya, dan
apakah dia itu laki-laki sejati?"
Dengan tersenyum Lao-bo memegang tangan. Feng-feng
dengan erat. Selama ini ada yang menganggap dia adalah teman baik,
seorang laki-laki berjiwa ksatria, tapi dianggap sebagai
suami yang baik adalah untuk pertama kalinya.
Istrinya pun seperti Feng-feng, pintar, lembut, cantik.
Tapi dalam setahun dia hanya melewatkan beberapa malam
bersamanya. Begitu hidupnya mulai tenang dan bisa menikmati
keberhasilannya, istrinya meninggal karena terlalu banyak
berpikir. Hingga akhir hayatnya dia tidak merasa menyesal
dan tidak pernah meminta apa pun. Satu-satunya yang dia
minta adalah Lao-bo harus menyayangi kedua anaknya.
Tapi dia tidak mengabulkannya.
Dia bukan suami yang baik juga bukan ayah yang baik.
Lao-bo milik semua orang tapi dia tidak mempunyai waktu
untuk mengurus kedua anaknya.
Begitu teringat kepada kedua anaknya, hati Lao-bo terasa
sedih. Anak laki-lakinya sudah dikubur di bawah pohon
bunga Chrysan, dan putrinya....
Lao-bo tidak mengerti hati Sun Ti, belum pernah
mengetahui bagaimana cara Sun Tie bisa bahagia, yang dia
tahu dia hanya memikirkan nama baiknya sendiri.
"Mengapa orang yang sudah tua, baru benar-benar bisa
menyayangi anak-anaknya?"
Apakah karena sudah terkurung dan tidak ada jalan
keluar, dia baru merasa menyesali kesalahannya"
Lao-bo menarik nafas dengan panjang dan berkata, "Aku
bukan suami yang baik, dulu bukan sekarang pun begitu."
Dengan manja Feng-feng berkata, "Aku tidak ingin tahu
tentang masa lalumu, hanya sekarang kau...."
Lao-bo menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Sekarang bila aku berusaha menjadi suami yang baik pun
sudah tidak ada waktu lagi."
"Mengapa tidak ada waktu lagi" Bila kau mau pasti
bisa." "Sayang ada hal yang aku tidak suka tapi harus aku
lakukan." Lao-bo memandang ke tempat jauh, wajahnya
berubah menjadi serius.
Feng-feng melihat sorot matanya tampak ketakutan dan
dia berkata, "Apakah kau akan membalas dendam?"
Lao-bo tidak menjawab.
Feng-feng bertanya lagi, "Mengapa kau harus membalas
dendam, sebaiknya lupakan saja."
"Tidak bisa!"
"Mengapa.... .mengapa....?"
"Bila aku tidak membalas dendam, hidupku seperti
orang mati."
"Aku tidak mengerti," kata Feng-feng.
"Kau tidak akan mengerti."
Gigi dibayar dengan gigi, darah dibayar dengan darah.
Ini adalah prinsipnya dari dulu, juga prinsip seorang
pesilat, bila dia tidak melakukannya artinya dia adalah
seorang penakut dan pengecut. Dan pasti akan
ditertawakan oleh orang lain dan diejek juga. Dia akan
dihina hingga dia merasa malu.
Hidup bila dihina dan dipandang sebelah mata, untuk
apalagi hidup di dunia ini"
Dengan pelan Lao-bo berkata, "Bila aku diberi
kesempatan hidup sekali lagi, aku tidak mau menjadi aku
yang sekarang! Sekarang aku ingin berubah pun sudah tidak
bisa lagi."
Feng-feng mengangkat kepalanya dan berkata, "Bila kau
hidup sekali lagi, kau tetap tidak akan berubah karena kau
ditakdirkan memang untuk menjadi orang seperti ini, kau
memang ditakdirkan menjadi 'Lao-bo'."
Suara Feng-feng menjadi lembut dan berkata, "Mungkin
aku pun tidak berharap banyak kau bisa berubah, karena
aku suka dengan kau yang sekarang, walau baik atau buruk
kau adalah seorang ksatria."
Kata-kata Feng-feng tidak salah.
Lao-bo adalah Lao-bo, selamanya adalah Lao-bo.


Antara Budi Dan Cinta Hu Die Jian Karya Gu Long di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Selamanya tidak bisa berubah juga tidak ada yang bisa
menggantikannya, walau hidup ini baik atau buruk, dia
tetap akan ada di dunia ini.
Lao-bo berbaring wajahnya tampak datar.
Bila dia sedih dia akan seperti itu Dia sekarang menahan
rasa sakit, di punggung seperti ada jarum yang menusuk.
Feng-feng melihatnya dengan lembut dan bertanya,
"Apakah lukamu bisa sembuh?" Lao-bo mengangguk.
"Apakah setelah sembuh, kau akan keluar?" Lao-bo
mengangguk lagi.
"Aku khawatir kau sendiri tidak bisa melawan mereka?"
Dengan terpaksa Lao-bo menjawab sambil tertawa,
"Dari dulu aku berjuang seorang diri."
"Waktu itu kau mempunyai 2 pembantu yang baik."
"Kau tahu?" tanya Lao-bo.
"Aku hanya mendengar sekilas."
Feng-feng tertawa dan melanjutkan, "Sebelum bertemu
denganmu, aku sudah banyak mendengar tentang dirimu."
Lao-bo memejamkan matanya, dia tidak mau bicara lagi.
Apakah dia pun akan seperti Feng-feng mengkhawatirkan
hal ini" Tapi Feng-feng masih terus bicara, "Aku tahu, yang
satunya bernama Lu Man-tian dan satu lagi bernama Yiqian-
long, mereka berdua malah mengkhianatimu. Tapi
sejak awal mereka sudah melakukan banyak hal untukmu."
Dengan kesal Lao-bo bertanya, "Kau masih tahu
apalagi?" "Aku tahu sekarang kau sudah tidak bisa mencari orang
seperti mereka lagi."
Lao-bo menarik nafas dan berkata, "Perempuan sangat
aneh, hal yang tidak perlu diketahui tapi mereka tahu
semua, hal yang seharusnya mereka tahu, mereka malah
tidak tahu."
Feng-feng mencoba memancingnya dengan pelan dia
berkata, "Apakah kau tidak ingin mendengar hal ini"
Apakah kau kira aku suka membicarakan hal ini?"
"Kau tidak perlu membicarakan hal ini lagi."
"Sebenarnya aku pun tidak mau membicarakan hal ini,
aku memilih kata-kata yang tepat, tapi sekarang...."
Tiba-tiba air mata Feng-feng menetes, dia berteriak,
"Mengapa aku tidak boleh bicara" Kau adalah suamiku,
hidupku sudah kuserahkan padamu. Aku hidup atau mati
hanya untuk dirimu."
Akhirnya Lao-bo membuka matanya, keadaan seperti ini
membuat laki-laki tidak tega.
Feng-feng menangis tersedu-sedu di dada Lao-bo, air
matanya sudah membasahi baju Lao-bo.
Masih dengan menangis Feng-feng berkata, "Aku hanya
ingin tahu, setelah keluar dari sini berapa persen kau bisa
menang?" Lao-bo menepuk-nepuk pundak Feng-feng dan
menjawab, "Apakah kau tahu, kata-kata yang jujur lebih
menyakitkan untuk didengar?"
"Aku tahu, tapi aku harus tetap bicara."
Setelah lama Lao-bo bicara lagi, "Aku adalah seorang
penjudi, biasanya penjudi selalu menyisakan barang
taruhan untuk taruhan berikutnya, tapi kali ini semua
barang taruhanku sudah habis."
"Apakah kali ini taruhannya sangat besar?" tanya Fengfeng.
Lao-bo tertawa, tawanya sangat sedih dan dia berkata,
"Taruhan terakhir biasanya adalah taruhan yang paling
besar." "Apakah kau tidak takut barang taruhanmu akan habis
dimakan oleh mereka?"
"Sekarang belum tahu tapi dadu sudah dilempar."
"Siapa yang mendapat angka lebih besar?"
"Mereka," jawab Lao-bo.
Tubuh Feng-feng menjadi gemetar, dengan menangis dia
berkata, "Sebelum mereka memakan habis semua, kau
harus mencari cara untuk mengambil barangnya kembali."
Lao-bo menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata,
"Sekarang sudah tidak keburu lagi."
"Mengapa?" tanya Feng-feng.
"Karena barang taruhannya tidak ada di sini."
"Ada di mana?"
"Ada di Fei-feng-bao."
Feng-feng sangat terkejut dan berkata, "Apakah Fei-fengbao
adalah pusat dari Wan Peng-wang?"
Lao-bo mengangguk dan menarik nafas, "Waktu itu aku
mengira Wan Peng-wang adalah musuhku satu-satunya."
Feng-feng ikut menghela nafas dan berkata, "Aku ingat
ada orang yang mengatakan, teman baik dan musuh baru
terlihat setelah saat-saat terakhir."
Lao-bo tertawa kecut dan berkata, "Kau pasti ingat sebab
kalimat ini karena aku yang mengatakan-nya."
"Mengapa kau memasang taruhan di tempat lain, begitu
tangan dikeluarkan kau akan segera dimakan."
"Karena aku sudah memperhitungkan dia tidak bisa
makan taruhanku."
"Apakah taruhannya terlalu besar?" tanya Feng-feng.
"Besar kecil tidak masalah yang penting tidak ada. yang
tahu kita bertaruh di sebelah mana."
"Mengapa?"
"Karena taruhan ini aku taruh di belakang."
"Aku tidak mengerti."
"Aku sudah menentukan tanggal 7 nanti aku akan
membawa orang-orang menjadi 4 jalan untuk menyerang
dari depan, untuk orang lain sepertinya ini memang
taruhanku, taruhan ini adalah taruhan yang dapat dilihat."
"Sebenarnya apakah kau masih ada taruhan lain yang
lebih besar?"
"Benar."
"Kau bertaruh apa?" tanya Feng-feng.
"Dalam beberapa tahun ini, tidak ada yang tahu aku
sudah melatih suatu kelompok anak muda."
"Anak muda?"
"Anak muda biasanya lebih berani untuk bertarung aku
menamakan kelompok ini sebagai kelompok harimau.
Karena mereka seperti harimau yang baru lahir, mereka
tidak takut kepada apa pun."
"Anak muda biasanya kurang pengalaman."
"Memang pengalaman itu sangat penting, tapi pada saat
di lapangan keberanian adalah yang paling penting."
"Apakah kau melatih mereka untuk pertarungan kali
ini?" Lao-bo mengangguk dan berkata, "Kami sudah berlatih
selama beribu-ribu hari untuk bertarung suatu hari, dan
pertarungan kali ini untuk mereka sangat penting."
"Aku masih belum mengerti," kata Feng-feng.
"Aku sudah berjanji kepada mereka, bila kali ini kami
menang, orang-orang yang hidup dihadiahi dengan uang
yang berlimpah, yang dapat mereka nikmati seumur hidup
mereka. Bila mereka kalah mereka hanya bisa mati."
"Mereka pasti percaya karena Lao-bo tidak pernah
ingkar janji."
Pedang Kayu Harum 15 Pendekar Pedang Matahari 4 Neraka Lembah Tengkorak Pendekar Sakti Welas Asih 3
^