Pencarian

Asmara Pedang Dan Golok 2

Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng Bagian 2


wajahnya yang tampan tampak jadi lebih tampan. Tapi
sorot matanya tampak sangat dingin dan keji.
Dalam keadaan ini Hoyan Tiang-souw jadi lupa
menangkap batang besi yang panjang itu, sebab jika tidak
bisa melindungi nyawanya, lalu apa gunanya dia bisa
menangkap batang besi panjang itu"
Dengan kata lain dia harus memusatkan dirinya
menghadapi tusukan pedang Li Poh-hoan yang seperti
datang dari dunia luar dan penuh dengan hawa membunuh.
Tapi dia tetap saja tidak bisa menahan hatinya yang
tergetar oleh wajah lawannya yang sangat ta mpa n.
Sebenarnya dia tidak pernah mengalami keiadi-nn seperti
ini, kalau marah sudah sering terjadi, tapi kaldu hatinya
sampai tergetar karena hal ini, sama sekali tidak pernah
dialaminya. Kalau kejadian ini terjadi pada orang lain dia tidak
peduli, tapi jika terhadap dia, itu adalah masalah besar yang
bisa mengakibatkan nyawanya hilang.
Benar saja karena hal ini dia jadi kehilangan kesempatan,
sinar pedang tahu-tahu sudah mendesak maju sampai
kurang dari tiga kali.
Jarak tiga kaki jika kakinya berada di atas tanah,
mungkin paling sedikit masih bisa melancarkan tiga empat
jurus golok yang berbeda untuk meng-had.ipi datangnya
pedang itu. Apa boleh buat, sekarang tubuhnya masih berada di
udara, dan juga terlalu banyak menggunakan tenaga dalam
untuk mengatur kecepatan tubuhnya turun ke bawah,
walaupun tidak kehabisan tenaga, tapi sangat berbeda jika
dibandingkan dengan saat kaki menginjak tanah.
Pedang musuh hanya ditusukan biasa-biasa saja, tapi
kedahsyatannya sulit digambarkan.
Yang paling menggetarkan Hoyan Tiang-souw adalah
ketika melihat serangan lawannya, tidak tampak ada satu
celah pun. Di dalam keadaan kritis ini, bagaimana dia ada waktu
untuk berpikir mencari akal"
Dia segera mengangkat golok dan diayunkan, titik yang
diarah ujung pedang lawannya.
Bagi orang biasa, jika ingin berhasil menyabet ujung
pedang dengan menggunakan golok, tentu saja hal yang
mustahil. Walaupun seorang pesilat tinggi kelas satu dunia
persilatan, hal ini adalah pekerjaan yang amat sulit dan
sangat bahaya, kecuali orang yang memegang pedang itu
adalah sebuah balok kayu yang tidak ada reaksinya. Jika
tidak, asalkan ujung pedangnya digeser sedikit, maka tidak
akan bisa mengenainya, jika lawan juga adalah seorang
pesilat tinggi, maka itu akan tambah pulit dan sangat
berbahaya. Tusukan pedang itu selain dahsyat juga mantap seperti
Tai-san. Kelebatan Mo-to malah laksana es.
Hawa membunuh dari kedua senjata itu membuat hawa
di sekeliling mendadak turun.
"Traang!" Mo-to benar-benar mengenai ujung pedang itu.
Saat ini tubuh kedua orang itu segera turun ke bawah,
gerakan Hoyan Tiang-souw membuat siapapun terperanjat,
sebab dia masih bisa menyerang lagi dengan goloknya,
membuat gulungan-gulungan sinar, mengurung lawannya.
Tapi dari ratusan bayangan golok itu, hanya satu yang
asli yaitu yang membacok tenggorokan, jika bacokan golok
ini mengena, dijamin kepala Li Poh-hoan terpenggal dan
jatuh ke dalam Kiam-ti.
Terhadap ratusan bayangan golok ini, Li Poh-hoan
hanya membalas satu tusukan pedang, kali ujung
pedangnya satu inci pun tidak melesat, tepat mengenai
golok. "Traang!" kedua orang itu terdorong beberapa kaki.
Hoyan Tiang-souw berteriak:
"Jurus pedang bagus!", suaranya keras laksana geledek.
Tubuhnya meluncur kekiri, ujung kakinya mendongkel,
tepat mengenai batang besi panjang itu.
Gerakannya membuat batang besi panjang itu tidak
terjatuh ke dalam Kiam-ti.
Menurut kabar dalamnya Kiam-ti sulit diukur, jika ada
benda yang jatuh ke dalamnya, siapa yang bisa
mengambilnya kembali"
Li Poh-hoan bersalto satu kali, posisi tubuhnya menjadi
tertelungkup, dia menjulurkan tangan tepat memegang
batang besi panjang itu.
Kedua orang itu tidak bertarung lagi, terbang turun di
tepi Kiam-ti. Li Poh-hoan mengangkat-angkat batang besi panjang di
tangannya, sambil tertawa dingin berkata:
"Jika kau ingin merebut pedang pusaka ini, tanya dulu
pada pedangku yang bukan pedang pusaka ini!"
Sedikit hawa amarah keluar dari ujung alisnya Hoyan
Tiang-souw dan berkata:
"Siapa yang mau merebut barangmu?"
Saat ini amarahnya mendadak hilang, dan berubah
menjadi wajah keheranan, katanya lagi:
"Katamu batang bambu ini pedang" Ku lihat dari sudut
mana pun tidak mirip."
Li Poh-hoan mengangkat sepasang bahunya dan berkata:
"Aneh, aku malah jadi percaya kata-katamu." Yang dia
percayai tentu saja Hoyan Tiang-souw tidak berniat
merebut pedang pusaka. Dia berkata lagi, "Pedang ini
adalah benda pusaka dari luar negeri, namanya Tok-coasim
(Lidah ular beracun). Dalam keadaan biasa hanyalah
sebatang tongkat panjang, tapi dalam keadaan mendesak
dengan pengerahan tenaga dalam, maka akan
mengeluarkan ujung pedang sepanjang tiga dim, sangat
tajam dan kecil seperti kawat baja. Kau tadi mungkin sudah
melihatnya, batu juga jadi seperti tahu, apa lagi tubuh
manusia, jangan dikatakan lagi." .
Hoyan Tiang-souw memang tadi melihat dengan mata
kepala sendiri, maka dia membantah:
"Kenapa kau mengutus orang diam-diam ingin
membunuhku" Dengan ilmu silatmu, sangat pantas
bertarung secara terang-terangan. Kenapa mengguna kan
cara hina diam-diam membunuh orang?"
Li Poh-hoan balik bertanya:
"Tadi kau jelas sudah berada dalam bahaya, jelas sulit
bisa lolos dari serangan pedangku, kenapa mendadak
kekuatan golokmu bisa menjadi sangat dahsyat, membuat
aku tidak sempat merubah arah pedang, sehingga golokmu
bisa mengenai ujung pedangku" apa sebabnya?"
Dalam hati Hoyan Tiang-souw timbul dua wajah lain
yang ketampanannya seperti Li Poh-hoan.
Dua orang ini berbeda aliran, yang satu aliran lurus yang
disebut Kiam-liu (Pedang marga Liu) dan pemiliknya
adalah tuan muda Liu Siang-hen, salah satu keluarga dari
dua keluarga besar dunia persilatan Chun-hong-hoa-goatlou
di Yang-ciu. Ketampanan dia, jaman sekarang boleh dikatakan tidak
satu orang pun yang bisa menandinginya.
Satu wajah lagi yang beraliran sesat adalah Toh Ceng-tie,
julukannya Jin-bin-souw-sim (Manusia berhati binatang).
Orang ini punya kelainan jiwa, sialnya dia memiliki
kepandaian sangat tinggi dan menguasai ilmu hebat dari
berbagai perguruan silat, penuh dengan akal busuk. Siapa
pun yang bertemu dengan dia (termasuk beberapa gurunya),
terpaksa menyalahkan dirinya sendiri, mungkin dalam
kehidupan sebelumnya kurang berbuat amal hingga
dosanya banyak.
Toh Ceng-tie juga sangat tampan. Dulu Hoyan Tiangsouw
hampir saja dibunuh olehnya, jadi harinya masih
membenci padanya.
Maka ketika dalam hati dia muncul dua wajah yang satu
aliran lurus dan yang satu lagi sesat, dia merasa Li Pohhoan
termasuk orang Toh Ceng-tie, saat itu dia jadi naik
pitam. Tadi dia hanya untung-untungan mengibaskan goloknya
dan tepat mengenai ujung pedangnya.
Rahasia ini rasanya tidak perlu dibongkar, maka Hoyan
Tiang-souw hanya tersenyum tidak berbuat apa-apa.
Jawaban yang diberikan juga bukan yang ditanyakan,
berkata: "Ujung pedangmu pun bisa mengenai golokku, kau
memang pantas menjadi lawanku."
Kata Li Poh-hoan:
"Saat ujung pedangku terkena oleh golokmu, pedangku
sudah menjadi tumpul, ketajamannya sudah berkurang
ratusan kali dibandingkan sebelumnya.
Makanya tusukan pedangku, seperti memakai palu
menghantam golok, orang yang ilmu silatnya lebih rendah
dariku, mungkin juga bisa melakukan hal ini."
"Kau terlalu merendah, jika orang itu ilmu silat dan jurus
pedangnya lebih rendah darimu, pasti tidak akan mampu
melakukannya."
"Tentang masalah ini, aku tidak akan berdebat
denganmu." Li Poh-hoan berkata lagi, "hal lain yang ingin
aku katakan adalah masalah permusuhan, kau tahu tidak,
jika kita berdua bermusuhan, akibatnya adalah jika bukan
kau yang mati, maka aku yang meninggal, pasti tidak ada
jalan ketiga?"
"Mengenai masalah kita jadi musuh atau tidak kuncinya
ada di tanganmu bukan padaku." Kata Hoyan Tiang-souw
Li Poh-hoan sambil melirik, berkata lagi: "Benarkah"
Coba kau pikir-pikir lagi, apakah benar atau tidak?"
Hoyan Tiang-souw berpikir keras.
Kata kata ini betul saja tidak benar. Sebab jika Li Pohhoan
tidak bisa melepaskan Cui Lian-hoa, dia tidak hentihentinya
mengejar, dan dia sendiri tidak bisa melupakan
Cui Lian-hoa, maka dia menjadi musuh cintanya.
Orang biasa bertemu dengan musuh cinta, setelah
melakukan pertarungan akan mendapatkan cinta, yang
menang tidak perlu dikatakan, tapi yang kalah biasanya
juga hanya bisa mengeluh lalu pergi jauh.
Tapi jika terjadi pada orang yang berilmu silat tinggi,
maka persoalannya menjadi ruwet.
Buat orang biasa sangat sulit dengan emosinya
membunuh orang menggunakan senjata, tapi bagi pesilat
tinggi dunia persilatan bisa melakukannya, tidak saja bisa,
malah sangat mudah sekali.
Inilah besarnya perbedaan.
Misalkan Li Poh-hoan kalah dalam persainggan cinta,
dengan mudahnya dia akan mencari Hoyan Tiang-souw
dan bertarung dengannya.
Sebaliknya Hoyan Tiang-souw juga sama.
Walau Hoyan Tiang-souw tahu pasti tidak akan
melakukannya, tapi kemungkinannya ada, maka tidak bisa
mencegah orang ada pikiran seperti ini.
Hoyan Tiang-souw tertawa pahit, berkata:
"Kalau begitu kau mau apa?" '
Jawaban Li Poh-hoan cepat sekali, jelas dia sudah
memikirkannya: "Kau kembalilah ke utara, maka tidak akan ada masalah
lagi." Hoyan Tiang-souw melototkan matanya:
"Aku bukan orang yang takut pada masalah, kau harus
ingat ini."
"Aku tahu, aku juga tidak mau mengusikmu, namun jika
kau menghalangi aku, kau suruh aku berbuat bagaimana?"
Tiba-tiba Hoyan Tiang-souw merasakan golok
pusakanya kembali bergerak-gerak dalam sarungnya.
Hai, Mo-to nya kembali ingin keluar sarung, ingin
merasakan darah manusia.
Hai, pertarungan dan pembunuhan yang tidak ada
akhirnya, tapi apakah ada cara lain lagi"
Orang yang berada dalam dunia persilatan sudah tidak
bisa berbuat sekehendak hati, dan manusia yang sudah
masuk dalam jaringnya nasib lebih-lebih tidak bisa berbuat
sekehendak hati, malah sampai hati pun tidak bisa berbuat
sekehendaknya! Hai......
-V v VKetika hari kemarin, sebuah tempat di satu ruangan
besar di pantai See-ouw.
Di dalam ruangan hanya ada wanita, tapi bukan tidak
ada laki laki, hanya laki-lakinya sudah menjadi mayat,
darah segar berhamburan memenuhi lantai, bau amis darah
membuat orang menjadi pusing dan ingin muntah.
Nyonya setengah baya berbaju hijau dengan dingin
berkata: "Hoyan Tiang-souw sudah pergi, langkah dia sedikit
terburu-buru, seperti yang melarikan diri saja, ada apa
sebenarnya" Apakah dia sudah menemukan bahaya" Jika
ada bahaya, lalu bahaya apa?"
Cui Lian-hoa melihat keluar jendela, tapi dia terlalu jauh
dari jendela, maka tidak bisa melihat permukaan air danau
yang jernih dan gunung yang hijau, tapi dia bisa merasakan
cerahnya musim semi dan udaranya.
Namun semua ini akan segera menghilang, bukan
menghilang seperti datang dan perginya musim semi, tapi
dia sendiri yang telah kehilangan kekuatan-nya
merasakan.... .... setelah manusia mati, segala yang ada di dunia ini
terhadap dia sama saja, menghilang.
Aku mungkin tahu kenapa dia terburu-buru 'melarikan
diri', tentu saja bukan karena bahaya, orang ini jika ada
bahaya yang bisa membuat dia takut, itu baru satu kejadian
aneh. "Kau tahu jawabannya," wanita berbaju hijau dingin
berkata, "begitu lihat sorot matamu aku sudah tahu kau
mengetahuinya, jika kau rela mati demi jawaban ini, itupun
bukan tidak boleh."
Cui Lian-hoa sadar yang dia hadapi adalah wanita yang
pintar, licik dan keji, dia balik bertanya:


Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Apakah setelah aku menjawab maka aku boleh tidak
mati?" "Belum tentu, aku tidak bisa menjamin hal ini." "Tadi
kenapa kau tidak membunuh kami" Apakah kau benarbenar
merasa ragu jika sampai tidak bisa membunuh aku,
akan menimbulkan akibat yang sangat berat?"
"Tidak salah, Mo-to nya Hoyan Tiang-souw bukan golok
biasa, jika aku bisa tidak bertarung dengan dia, tentu itu
yang paling bagus."
Akhirnya Cui Lian-hoa mengatakan jawaban-nya:
"Hoyan Tiang-souw mungkin hanya ingin menghindar
dariku, maka dia sampai sekarang belum tahu apakah aku
benar-benar tidak bisa bersilat" Apakah aku bisa kembali
bebas dan lain-lainnya, sudah langsung pergi."
"Jawaban ini kedengarannya sangat aneh, jarang
membuat orang tidak bisa percaya, tapi, tampak-nya tidak
ada alasan lain yang lebih bagus. Mmm, mari kita pergi,
lebih cepat lebih bagus, jangan sampai para petugas
keamanan datang kesini, hingga menambah kerepotan."
Langkah pertama dia menyuruh pergi dulu empat wanita
lainnya yang juga sangat cantik.
Lalu menyuruh Cui Lian-hoa berganti pakaian laki-laki,
termasuk dia sendiri juga.
Sehingga Cui Lian-hoa berubah jadi seorang sastrawan,
dan wanita berbaju hijau menjadi seorang pelayannya.
"Apakah kita pergi ke Pheng-lai di Soatang?" sambil
ganti baju Cui Lian-hoa bertanya padanya.
"Mungkin ya mungkin tidak," wanita baju hijau tidak
mau memberitahukannya dan berkata lagi, "selanjutnya
dalam perjalanan kau adalah tuan muda Cui, aku
adalahpelayanmu Lo-cia.
Palingbaik kau jangan banyak bicara, jika terpaksa harus
bicara, kau harus merubah suaramu menjadi suara laki-laki,
pokoknya jangan sampai membuat orang menimbulkan
masalah, jika ada masalah, aku akan menusuk dulu
tubuhmu dua belas tusukan pedang."
Walaupun orang yang paling kuat di dunia, jika
tubuhnya ditusuk dua belas kali oleh pedang, mungkin
ingin tidak mati juga tidak bisa.
Apa lagi Cui Lian-hoa, dia bukanlah orang yang sangat
kuat, tentu saja tidak bisa tidak mati.
Makanya Cui Lian-hoa bercermin pada kaca memeriksa
apakah ada yang salah atau tidak, dia melihat dirinya
menyamar menjadi laki-laki, ternyata sangat tampan juga!
Jika dalam perjalanan dia punya kesempatan berkenalan
dengan wanita, sehingga mereka jatuh cinta padanya,
itupun bukan hal yang aneh.
Dengan suara kasar dia bertanya:
"Lo-cia, kenapa kau melepaskan empat wanita itu,
sedangkan aku tidak?"
"Mmm, suaramu tampak tidak ada yang salah. Apa
gunanya empat wanita itu untukku" Aku kan bukan lakilaki,
walaupun laki-laki juga tidak perlu wanita sebanyak
itu." Cui Lian-hoa berkata:
"Karena kau bukan laki-laki, maka tidak tahu cara
berpikir laki-laki, jarang sekali laki-laki merasa kebanyakan
wanita, pada dasarnya bagi mereka ber-harap lebih banyak
wanita lebih bagus."
"Kata-katamu mungkin tidak salah, pokoknya aku bukan
laki-laki, malah sangat benci pada laki-laki, makanya aku
tidak menyelidiki cara berpikir mereka."
Di wajah Cui Lian-hoa tidak tampak ada reaksi, tapi di
dalam hatinya dia sangat terkejut.
Wanita ini jika sampai membenci laki-laki, mungkin
tidak hanya menyukai wanita" Untungnya dia sudah
berkata lagi. "Sebenarnya terhadap wanita pun aku membencinya,
itulah sebabnya kenapa aku lebih suka membunuh orang
dari pada menolong orang.
Aku hanya berharap di sepanjang jalan nanti aku tidak
menemukan alasan untuk membunuhmu. Jika ada, aku
pasti tidak akan melepaskanmu! Kau ingatitu!"
Cui Lian-hoa sangat yakin dia bukan berkata hanya
untuk menakut-nakuti.
Dulu dia pernah bertemu dengan orang yang suka
membunuh, mereka laki-laki juga wanita.
Maka dia sangat yakin dia bukan menakut- nakuti
dirinya. Tapi, jika dia ingin sekali membunuhku, kenapa harus
mencari alasan" Buat apa dia mencari kerepotan" apakah
setelah menemukan alasannya lalu membunuh, bisa
membuat dia merasa lebih senang, lebih gembira"
Teniu saja bukan begitu.
Cui Lian-hoa sangat yakin akan hal ini.
Orang yang suka membunuh, merubah caranya bisa
menambah kesenangannya, seperti seorang yang suka
makan pasti lebih suka masakan enak yang lebih
bermacam-macam.
Tapi jika ingin membunuh tapi tidak bisa dibunuh, ingin
makan tapi tidak bisa dimakan. Kejadian ini pasti rasa
sengsaranya lebihbesar dari pada kesenangannya.
Lalu apa yang membuat dia terkekang"
Jika terkekang oleh keadaan luar, siapa orang dibalik
layar itu"
Apakah karena Kie Ting-hoan yang paling berkuasa di
keluarga Kie di Pheng-lai itu"
"Jalan!" Teriak Lo-cia dan mendorong dia. Cui Lian-hoa
sempoyongan beberapa langkah, baru bisa memantapkan
diri. Tapi dia sudah merasakan saat telapak tangan Lo-cia
menyentuh punggungnya, jari kelingkingnya telah menotok
jalan darah di punggungnya, segera seluruh tubuhnya
menjadi sebentar dingin sebentar panas, keadaan begini
berturut-turut terjadi tiga kali.
Inilah jurus pedang Can-bian-tok-kiam yang dirubah
menjadi jurus jari untuk menotok jalan darah, selama
beberapa ratus tahun seluruh pesilat tinggi dunia persilatan
di seluruh dunia, semua sangat takut pada jurus hebat dari
Lam-kiang ini. Sebab menggunakan pedang menusuk jalan darah sudah
merupakan jurus hebat yang tiada dua-nya, bisa
menggunakan jari menggantikan pedang, tentu saja ini lebih
hebat lagi. Tidak hanya itu saja, yang paling memusingkan
kepala, paling menakutkan adalah masih ada racun yang
masuk ke dalam jalan darah.
Maka walaupun tusukannya tidak mengenai jalan darah
penting, tapi sudah membuat orang tidak bisa berbuat apaapa,
malah hanya bisa tinggal diam menunggu dibunuh.
Justru karena menggunakan jari tidak menggunakan
pedang, maka dalam pertarungan menjadi sangat berbeda
sekali jika dibandingkan dengan senjata tajam.
Bagaimana kau bisa tahu saat lawan menarik tangan
atau menepuk bahumu, apakah dia sudah menggunakan
jurus hebat yang mematikan atau tidak.
Manusia sering bertemu dengan beberapa kejadian, jika
kau bukan sahabat wanita ini, malah di dalam hati sadar dia
adalah musuh. Maka di tempat atau dalam keadaan tertentu, dia bisa
menarik-narikmu atau mendorongmu, kau tidak mungkin
setiap kali berbuat seperti menghadapi musuh berat,
bersalto menghindarnya.
Inilah sebab sebenarnya kenapa sampai pesilat tingkat
tinggi juga merasa takut dan pusing terhadap jurus hebat
Cie-kiam-ci-hiat (Jari pedang menusuk jalan darah).
Walaupun Cui Lian-hoa merasakan jeroan di dalam
tubuhnya mengerut, sangat tidak nyaman. Tapi dia tidak
terlalu memperhatikannya.
Dia hanya mengucap sampai jumpa pada See-ouw, apa
lagi saat dari kejauhan melihat pagoda Liu-ho yang megah
dan cantik, di'dalam hatinya tidak tahan timbul perasaan
sedih yang dalam! Sebab dalam dua tiga tahun yang lalu,
dia pernah melihat pagoda ini entah sudah berapa kali, juga
sering naik ke dalamnya.
Sungai Kian-tang mengalir berliku-liku, di sisi lain
pemandangan pegunungan yang sunyi, siapa yang bisa
melupakan hari-hari yang biasa-biasa namun aman sentosa
ini" Tapi sekarang mendadak dia dipaksa masuk ke dalam
dunia persilatan lagi, yang hidup atau matinya sulit
diramalkan. Penglihatan ini apakah penglihatan terakhir kalinya"
Apakah masih ada kesempatan menaiki pagoda yang
ternama ini"
)))>>odwo<<(((
BAB 4 Hoyan Tiang-souw sadar Pek-mo-ci-to hcnsi benar harus
keluar dari sarungnya.
Karena di kedua sisi jalan masuk Kinm li mendadak
muncul satu orang, baju mereka yang berwarna coklat
membuat mereka tampak tidak berbeda dengan batu dan
pohon yang ada di sekeliling-nya.
Selain itu di atas jembatan yang tingginya beberapa
tombak masih ada satu orang lagi.
Mengenai hal ini tidak perlu Hoyan Tiang-souw melihat
ke atas juga sudah mengetahuinya.
Dia mengetahui ini dari gabungan hawa membunuh
mereka bertiga, maka pandangan matanya sudah tidak
terlalu penting lagi.
Baju putih terlihat melayang-layang, tampan laksana
pohon Giok, wajah Li Poh-hoan dingin sekali, seluruh
tubuhnya juga mengeluarkan hawa membunuh yang
menakutkan. Hoyan Tiang-souw memperhitungkan, dia memutuskan
dalam jurus pertama dia sebisanya harus membereskan Li
Poh-hoan dulu, jika bisa membereskan dia dalam satu jurus,
maka sisa ancaman dari ketiga orang lainnya akan
berkurang lebih dari setengahnya.
Begitu Mo-to dia keluar, hanya mengeluarkan ribuan
bayangan pelangi yang mencolok mata, tapi tidak
menyerang pada Li Poh-hoan, malah menahan orang
berbaju coklat yang berada di gerbang Pie-yu-tong-thian.
Tidak peduli Li Poh-hoan setampan apa, dalam hati
Hoyan Tiang-souw tetap saja tidak ada perasaan yang baik
terhadapnya. Maka serangan dia ini menggunakan perasaan bukan
berdasarkan keadaan, tapi menyerang orang baju coklat
bukan Li Poh-hoan, membuat dia sendiri merasa bingung,
kenapa bisa melakukan tindakan ini, menangkap bangsat
bukannya menangkap rajanya dulu" Jika membunuh Li
Poh-hoan terlebih dulu, lalu menghadapi tiga anak buahnya
bukankah akan lebih mudah"
Pokoknya walaupun dia telah membunuh satu anak
buahnya, tapi tetap saja harus bertarung dengan dia. Lalu
kenapa bisa melakukan tindakan yang salah ini"
Di tangan kanan orang berbaju coklat itu memegang
kapak sepanjang tiga kaki, badan kapaknya tebal dan mata
kapaknya tajam, berkilat-kilat menyeramkan orang.
Begitu dia tertawa keras, kapaknya di ayunkan
membacok, jurus kapaknya tidak ada variasi, seperti sedang
membelah kayu bakar saja.
Kilatan ribuan bayangan Mo-to Hoyan Tiang-souw
mendadak jadi satu, gerakannya berubah dari . menyerang
menjadi bertahan, "Traang!" dia menangkis , keluar
serangan kapak lawan.
Ternyata walaupun serangan kapak orang berbaju coklat
itu sangat sederhana, kedahsyatannya sungguh sulit
digambarkan. Walaupun kau bisa dengan satu sabetan golok
memenggal kepalanya, tapi serangan kapak dia ini juga
pasti akan mengenaimu, walaupun tidak mengenai
tempat yang vital, tampak diapun tidak peduli.
Cara bertarung yang tidak mempedulikan keselamatan
diri sendiri seperti ini, sungguh membuat orang jadi tidak
mengerti, kenapa dia masih bisa hidup sampai sekarang"
Jika bukan seorang pesilat tinggi kelas satu, satu jurus ini
bagaimana pun harus mempertaruhkan nyawa, tidak ada
cara lain lagi.
Akibat dari mempertaruhkan nyawa, walaupun orang
baju coklat tidak mati, mungkin juga harus menjadi orang
cacad. Tapi dia selain tidak cacat, tampaknya tidak terluka
sedikit pun. Hati Hoyan Tiang-souw jadi tergetar, tapi kemudian
tenang lagi, sambil menekan goloknya dia bertanya:
"Kau pernah berlatih ilmu Yang-kang?"
Sorot mata orang baju coklat itu tampak sedikit kaku,
tapi jelas tidak cacad mental. Sebab dia berkata dengan
sangat jelas: "Jika kau tidak tahu, memberitahukan padamu juga tidak
ada gunanya."
Hoyan Tiang-souw mengangkat alis tebalnya:
"Memberitahukan pada orang lain mungkin tidak ada
gunanya, tapi untukku lain."
Orang berbaju coklat pasti merasakan kata-kata pemuda
yang gagah berani ini tidak sembarangan. Maka dia
bertanya: "Kenapa kau lain" Siapa pun setelah mati sama saja,
bangsawan atau jenderal dengan pedagang kecil, prajurit
tidak ada bedanya."
"Sebab Mo-to ku ini bisa memecahkan dua puluh satu
macam ilmu Gwakang atau Lweekang, asalkan kau
memberitahukan padaku, ilmu silat apa yang kau pelajari,
maka aku akan memberitahukan padamu golokku ini bisa
tidak membunuhmu."
Dia memang bicara sejujurnya.
Sebab walaupun dia tahu golok pusaka di tangannya bisa
memecahkan dua puluh satu macam ilmu Gwakang mau
pun Lweekang yang paling hebat, juga tahu jenis setiap
macam tenaga dalam, masalah-nya adalah dia tidak tahu
orang ini menggunakan ilmu yang mana. Supaya bisa tahu


Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

lebih banyak, dia jadi mengatakan rahasianya, dia berharap
lawan mau menjawabnya, dengan demikian lain kali dia
bisa mengenal ilmu silat ini.
Kata orang berbaju coklat:
"Sembarangan bicara, sembarangan bicara." terhenti
sejenak lalu berkata lagi, "tapi aku juga merasa kau tidak
membohongi aku."
Li Poh-hoan berdiri di tepi danau sambil menggendong
tangan, sikapnya santai sekali, dengan keras dia berkata:
"Kata-katamu benar, dia orang yang tidak bisa
membohongi orang. Dia berkata dia tidak tahu, pasti tidak
tahu, tenaga dalam macam apa yang kau gunakan untuk,
melindungi diri, sedikit pun tidak bohong!" \
"Kalau begitu itu bagaimana dengan kau" Kau tahu
tidak?" kata orng berbaju coklat.
"Aku tentu saja tahu!" kata Li Poh-hoan.
"Ternyata kalian bukan satu kelompok" Tapi kenapa
kalian semua menyerangku" Dimana aku pernah berbuat
salah pada kalian?" kata Hoyan Tiang-souw.
Orang berbaju coklat tertawa terbahak-bahak, tapi
jawabannya tidak bertele-tele, suaranya sangat dingin dan
menusuk telinga:
"Kau harus mati, dia juga tidak boleh hidup, kami selalu
tidak mau meninggalkan seorang musuh kuat, bagaimana
denganmu?"
Hoyan Tiang-souw tidak bisa membantah: "Aku pun
sama. Tapi kapan kalian ber-musuhan denganku" Aku sama
sekali tidak pernah mendengar tentang dirimu, juga tidak
pernah bertemu denganmu!"
"Sekarang kau sudah mendengar dan melihat, maka kau
menjadi musuhku!"
Aturan begini sungguh tidak masuk akal sekali. Tapi, jika
orang sangat teguh pendiriannya, tampaknya itu adalah hal
yang tidak bisa dikutak-kutik lagi.
Kau boleh membunuh dia, boleh mengancam dia tidak
boleh bicara. Tapi kau tidak bisa merobah pendiriannya.
Hoyan Tiang-souw dengan keras berkata:
"Li Poh-hoan, kelihatannya kau juga tidak bisa
berpangku tangan. Tapi kenapa dua puluh lebih anak
buahmu sedikit pun tidak ada kabarnya" Apakah aku salah
lihat" Orang-orang itu bukan anak buahmu?"
Li Poh-hoan berkata:
"Kau tidak salah lihat, sungguh tidak kusangka
tampangmu begitu kasar, tapi otakmu begitu teliti!" Kata
orang berbaju coklat:
"Ku jamin pada kalian, tidak ada orang yang bisa
menerobos datang kemari."
Li Poh-hoan memasang telinganya, meneliti sejenak,
sambil mengerutkan alis berkata:
"Tidak ada alasan, ilmu silat anak buahku cukup bagus,
di antaranya malah ada yang tidak hanya bagus. Walaupun
kalian mengerahkan banyak pesilat tinggi menjaga di semua
jalan, tapi paling sedikit juga hams terdengar suara
pertarungan."
Orang berbaju coklat sambil tertawa dingin:
"Li Poh-hoan, kau tahu tidak siapa aku?"
Li Poh-hoan menggelengkan kepala.
"Kalau begitu hatiku jadi lega."
"Lega" Apa maksudnya?" tanya Li Poh-hoan keheranan.
Hoyan Tiang-souw menyela perbincangan mereka, suara
dia seperti geledek berkata:
"Li Poh-hoan, apakah sekarang kau masih ingin
membunuhku?"
Li Poh-hoan tersenyum:
"Sekarang tidak, tapi di kemudian hari aku tetap tidak
akan melepaskanmu!"
Sedikit pun dia tidak menutup-nutupi, seperti sikap
seorang Enghiong saja.
"Bagus, masalah denganmu aku juga tidak akan tinggal
diam." Dia mengangkat sepasang alisnya, dengan penuh
amarah dan hawa membunuh yang kental berkata lagi,
"kita perhitungkan saja sekarang, tidak perlu menunggu hari
lainnya!" Jika keadaan berkembang seperti yang dipikir-kan oleh
Hoyan Tiang-souw, maka akan terjadi pertarungan segi
tiga, tidak peduli dari pihak mana, mungkin saja
diserang atau menyerang oleh pihak lainnya, keadaan
begini pasti sangat kacau dan bahaya sekali.
Pertarungan segi tiga semacam ini sungguh sungguh
tidak bisa diatur, dan sangat membahayakan pihak mana
pun, siapa pun orangnya mungkin tidak akan suka cara
bertarung seperti ini.
Orang berbaju coklattertawa keras dan berkata:
"Bagus, bagus sekali!"
Terdengar suara Li Poh-hoan sedikit tergesa-gesa, tidak
seperti tadi tenang dan percaya diri.
"Kalian bodoh, semuanya......" mendadak dia berhenti
bicara. Setiap orang tentu tahu, pasti dia ingin memaki mereka
itu gila. Li Poh-hoan hanya berhenti sejenak saja, sudah kembali
mengumpat: "Bagaimana bisa mengukur tinggi rendahnya ilmu silat
dengan memakai cara ini" Apa lagi aku dengan Hoyan
Tiang-souw hanya satu orang saja, tapi kalian ada tiga
orang banyaknya?"
Dalam hati Hoyan Tiang-souw timbul satu perasaan
aneh, tampaknya dia harus tahu jati diri ketiga orang baju
coklat ini, sebab dia seperti pernah mendengar tentang
mereka. Tapi sekarang dia tidak ingat.
Sebenarnya Siapa orang-orang baju coklat ini"
Orang baju coklat mengangkat kapaknya, hawa dingin
menyebar. Wajahnya yang tidak tampan, sekarang tampak semakin
bengis. Dengan suara keras dia berkata:
"Li Poh-hoan, kuharap bisa membunuhmu dulu, hatihatilah!"
Kata hati-hati ini seperti memberitahukan saat
menyerang. Beberapa orang jelas tidak mau memberi tahukan pada
lawan saat menyerang, tapi sering kali tidak tahan
memberitahukan terlebih dahulu atau berteriak.
Namun di antara dia dengan Li Poh-hoan ada Hoyan
Tiang-souw, maka hawa membunuh yang dahsyat dari
kapaknya hanya bisa menerjang pada Hoyan Tiang-souw.
Begitu sorot mata Hoyan Tiang-souw menyapu, dia bisa
melihat celahnya hawa dahsyat kapak lawan.
Sebenarnya dahsyat itu hanya tekanan yang tidak
berbentuk dan tidak bersuara. Seperti besi yang dibakar
sampai merah, kau bisa melihat warna merah-nya, bisa
merasakan panasnya. Kau tahu itu bahaya, dan sama sekali
tidak boleh tersentuh oleh besi itu.
Tapi panasnya tetap saja tidak tampak.
Sehingga jika kau bisa tahu bagian mana dari panas itu
yang berkurang panasnya, keputusannya tidak bisa
menggunakan mata, hanya bisa mengguna-kan perasaan.
Maka jika tadi mengatakan Hoyan Tiang-souw . bisa
'melihat' celahnya hawa dahsyat lawan, jika \
mengatakannya dengan tegas, dia hanya bisa mengatakan
merasakannya saja.
Golok dia pun segera bergerak.
Tapi dalam waktu yang singkat ini, dia tidak tahu kenapa
tiba-tiba dia bisa terpikir Ji-hong hweesio
yang berkhotbah di kuil Han-san, bukan terpikir wajah
atau pakaian dia.
Sebuah gerakan tangannya membuat Hoyan Tiang-souw
menghentikan langkahnya.
Gerakan tangan itu adalah sebuah jurus golok yang
sangat hebat, saat itu Hoyan Tiang-souw sampai terpesona,
hingga tanpa sadar dia menghentikan langkah
mendengarkan kata-kata hweesio tua itu.
Jurus golok itulah yang teringat oleh dia saat ini.
Jika dia masih ingin bicara dengan lawan, bukan
menentukan mati hidup dalam satu jurus, di dunia ini
tampaknya hanya jurus ini yang paling tepat sekali.
Hoyan Tiang-souw menirukan gerak tangan hweesio tua
itu, dengan santainya mengayunkan Mo-to nya sekali.
Orang baju coklat terkejut, lalu menarik kapaknya dan
mundur ke belakang tiga langkah besar, karena dia
memaksa menarik kembali kapak dan seluruh tenaga
dalamnya, maka sesaat nafas dia jadi terengah-engah.
Satu-satunya yang dia rasakan adalah bayangan Motonya
Hoyan Tiang-souw yang sudah membentuk satu
jaring yang sangat besar, menunggu dia masuk dan
terjerumus ke dalamnya.
Tentu saja dia tidak boleh terjurumus ke dalam jaring
lawan, maka dia menggunakan seluruh tenaga dalamnya
menarik kembali serangan kapaknya.
Hoyan Tiang-souw tidak memalingkan kepalanya ke
belakang melihat Li Poh-hoan, dengan keras dia berkata:
"Li Poh-hoan, sebenarnya apa nama tenaga dalam yang
melindungi orang ini?"
Li Poh-hoan bukan menjawab malah balik tanya:
"Golok yang kau gunakan di tanganmu adalah Hiatseng-
mo-to, tapi jurus yang digunakan malah jurus golok
Tay-ceng-pek (Kasih dan kesedihan) dari aliran Budha, kau
ini sebenarnya setan atau Budha?"
Hoyan Tiang-souw berkata:
"Jawab dulu pertanyaanku!"
"Baiklah, aku jawab dulu pertanyaanmu, ilmu pelindung
tubuh dia adalah Joan-kang (Ilmu silat lembut) yang bisa
disetarakan dengan Yang-kang (Ilmu silat keras) Sik-gantang
(Batu bertahan) dari perguruan Tai-san, disebut Cihen-
bian-bian (Kebencian yang tidak habis-habisnya).
Maka kau dari awal sudah salah lihat, dia bukan berlatih
ilmu silat keras, tapi berlatih ilmu silat lembut yang lebih
tahan banting dari kulit sapi yang tebalnya satu inci, apakah
kau pernah mendengar ilmu silat Ci-hen-bian-bian ini?"
Ci-hen-bian-bian, mendengar sebutannya saja sudah
tahu, lebih lengket dan tahan banting dari pada gulali, siapa
pun orangnya tidak sulit menerkanya berdasarkan
sebutannya. Hoyan Tiang-souw berkata:
"Jurus golokku baru saja dipelajari dari kuil Han-san."
Walau dia sudah menjawab pertanyaannya Li Poh-hoan,
tapi Li Poh-hoan masih bertanya lagi:
"Apakah golokmu bisa memecahkan ilmu silat lembut
itu?" Hoyan Tiang-souw berkata:
"Tentu saja bisa, ilmu silat lembut seperti dia hanya
berada di urutan ke sembilan belas dalam tingkatan tenaga
dalam lembut, walaupun bukan yang paling lemah, tapi
juga tidak terlalu jauh!"
Orang seperti dia mungkin termasuk dalam golongan
orang yang kasar, mudah marah, maka kata-kata yang
diucapkannya, mudah dimengerti, mudah percaya.
Sampai orang baju coklat juga kelihatannya tidak
terkecuali, maka dalam sorot matanya tersirat sinar
waspada dan tergetar.
Dia kembali bertanya:
"Li Poh-hoan, apakah kau sekarang sudah tahu jati diri
mereka?" Orang baju coklat tetap tidak bergerak, mungkin dia pun
merasa keheranan, ingin mengetahui jawabannya.
Sebelum Li Poh-hoan menjawab dia memasang telinga
mendengarkan sebentar, baru berkata:
"Aneh, kenapa sedikit pun tidak ada gerakan, anak
buahku tidak mungkin bisa dirobohkan dengan begitu
mudah." Dia tidak menjawab pertanyaannya, malah membuat
satu pertanyaan lagi.
Maka Hoyan Tiang-souw dan orang baju coklat diam
menunggunya. Li Poh-hoan kembali berkata:
"Melihat dari berbagai gejalanya, mereka mungkin dari
perkumpulan Tong-hai-kong-jin (Orang gila dari laut
timur)." Tong-hai-kong-jin bukan nama satu orang tapi nama satu
organisasi yang menyeramkan, walaupun mereka menyebut
dirinya 'orang gila', sebenarnya benar gila atau tidak sulit
dibuktikan. Sebab selama dua puluh tahun lebih organisasi ini demi
uang telah membunuh banyak orang.
Tapi jejak mereka sangat rahasia, di dalam dunia
persilatan selain beberapa orang yang ada hubungannya
dengan mereka, kebanyakan tidak tahu ada perkumpulan
yang menyeramkan ini.
Hoyan Tiang-souw malah tahu dan menganggukkan
kepala, dia ingat lima enam tahun lalu, Kang-bun-ciang-jin,
Cin Sen-tong yang tiada duanya di dunia pernah
menceritakannya.
Walaupun dia tidak tahu seluk beluknya, tapi Cin Sentong
menganggap organisasi itu, meng-khawatirkan dan
membuat dia sangat berhati-hati!
Bagi dia, ini sudah cukup.
Maksud cukup disini adalah Hoyan Tiang-souw sudah
boleh memutuskan membunuh mereka atau tidak.
Karena di dunia ini selain ayah ibu dan saudara yang ada
hubungan darah, tidak termasuk di dalam-nya, orang yang
berhubungan paling dekat dengan dia, Cin Sen-tong yang
paling penting. .
Pek-mo-ci-to di tangan Hoyan Tiang-scuw, adalahpemberian
Cin Sen-tong yang telah direbut kembali dari
seorang pesilat tinggi kelas satu yang sangat lihay dan
menakutkan, lalu diberikan pada dia (golok ini tadinya
milik ayah Hoyan Tiang-souw, Hoyan Cu-khek).
Selain itu, dia pun telah mengajarkan jurus golok hasil
terjemahan dari huruf Khu-pa-li yang ada di batang golok
oleh seorang ahli pusaka kuno, Hai-liong-ong (Raja naga
laut) Lui Auw-houw.


Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Maka bisa dikatakan keberhasilan Hoyan Tiang-souw
hari ini, adalah jasa CinSen-tong.
Saat itu Hoyan Tiang-souw hampir saja dibunuh oleh
Jin-bin-souw-sim Toh Ceng-tie (manusia berhati binatang),
orang paling jahat nomor satu di dunia, waktu itu Cin Sentong
datang tepat pada waktunya dan berhasil mengusir
Toh Ceng-tie. Selain itu, Cin Sen-tong masih pergi ke Chun-hong-lou di
Yang-ciu meminta obat mujarab pada Liu Siang-hen untuk
menyelamatkan nyawa Hoyan Tiang-souw.
Maka jika ada seseorang dipandang hina oleh Cin Sentong,
buat Hoyan Tiang-souw tidak perlu memutar otak
lagi, dia akan langsung memenggal dengan goloknya.
Di lain pihak, jika ada musuh yang di khawatirkan oleh
Cin Sen-tong, tanpa berpikir lagi, dia akan
memperhatikannya.
Sekarang tiga orang baju coklat dari Tong-hai-kong-jin
adalah termasuk kelompok orang yang boleh dibunuh, tapi
juga harus berhati-hati menghadapinya.
Orang lain tentu saja tidak akan terpikir di otaknya
Hoyan Tiang-souw bisa ada pikiran yang sangat aneh ini,
yang paling baik dari Hoyan Tiang-souw adalah wajah dia
yang pemberani dan sifatnya yang mudah marah.
Orang semacam dia, biasanya akan salah di sangka, dia
tampak kurang pintar, kekuatan pikirannya rendah, juga
tidak akan menipu orang.
Setelah tahu dia bukan saja tidak bodoh, malah sering
membuat jebakan dan menjebak seseorang terjerumus ke
dalamnya, saat mengetahui juga sudah terlambat, menyesal
pun tidak keburu.
Sekarang Hoyan Tiang-souw sedang mengguna kan
keunggulan dirinya. Dengan marah dia berteriak:
"Mainan apa itu Tong-hai-kong-jin" Kalian dari Tonghai,
mau apa datang ke Hang-ciu?"
Logika dia sungguh tidak tepat. Kenapa orang dari utara
tidak boleh datang ke selatan"
Apa lagi dia sendiri juga orang dari utara, lalu kenapa dia
sekarang ada di Hang-ciu"
Orang berbaju coklat jadi tertegun oleh pertanyaan ini,
walaupun dia anggota perkumpulan Kong-jin, tapi otaknya
tidak sekacau Hoyan Tiang-souw.
Hoyan Tiang-souw masih marah dan berkata:
"Tujuan kalian pasti untuk menghadapi aku. Tidak perlu
menanyakan pada orang juga sudah tahu, maka aku mau
memenggal tiga kepala anjing kalian dulu, baru
menghadapi Li Poh-hoan."
"Bagus, itu janji." Jawab Li Poh-hoan.
Hoyan Tiang-souw mengangkat golok dilintang kan di
depan dada, suaranya gemuruh memekakan telinga:
"Laporkannama kalian dan tunggu dipenggal!"
Sikap dia membuat para pesilat tinggi dari perkumpulan
Kong-jin mengerti, yaitu jika tidak melaporkan namanya,
dia pasti akan marah sekali.
Jika seseorang dalam keadaan marah sekali, bisa
mengesampingkan nyawanya, berusaha sebisanya
membacokmu. Tentu saja ini adalah hal yang sangat tidak
menguntungkan, melaporkan nama bukankah juga tidak
masalah" Buat apa karena urusan ini membantu hawa membunuh
lawannya" Maka orang berbaju coklat berkata: "Aku adalah Sui Buseng,
kau pasti belum pernah mendengar namaku."
"Memang belum pernah dengar, tapi kau bisa berhasil
melatih tenaga dalam pelindung tubuh Ci-hen-bian-bian,
dan jurus kapakmu sangat keji, sangat tidak serasi dengan
nama kau itu."
Sui Bu-seng dengan tawa keji berkata: "Bagaimana
dengan kau" Namamu Tiang-souw (panjang umur). Tapi
kau kira orang seperti dirimu ini, bisa tidak panjang umur"
kulihat kau bisa hidup sampai usia tiga puluh tahun sudah
bagus sekali, tapi usia tiga puluh tahun tidak bisa disebut
panjang umur, bagaimana menurutmu?"
"Umurku panjang atau pendek tidak ada hubungannya
denganmu, dua orang lainnya siapa nama mereka?"
"Yang menghadang di jalan yang mengguna-kan senjata
Souw-seng (Umur bintang) adalah Cia San, sesudah kau
bertemu dengan tongkat Souw-sengnya mungkin bisa
berumur panjang!"
Dia lalu tertawa terbahak-bahak, tapi orang lain tidak
ada yang bereaksi.
Maka dia melanjutkan:
"Yang berada diatas jembatan batu itu adalah Hwan
Tong-cing, senjata yang dia gunakan adalah Cui-hun-pian
(Pecut pengejar roh), kedengarannya tidak enak."
"Kapakmu ini disebut apa?"
Sui Bu-sengmengangkatbahu:
"Sepertinya ada orang menyebut dia Ciat-hu (Kapak
patah), aku juga tidak menolaknya. Coba pikir jika jurusnya
kurang keji, kurang hebat, mungkin membunuh seekor
ayam juga tidak bisa, jadi mau tidak mau harus keji dan
hebat, kenapa harus di ributkan?"
Li Poh-hoan berpikir, teori sesat orang ini bisa membuat
orang banyak berpikirk, dengan amarah Hoyan Tiang-souw
yang timbul tiba-tiba, sungguh mirip sekali manfaatnya.
Maka dia tidak mau memikirkannya, karena masih ada
hal lain yang harus segera diketahuinya, paling tidak juga
harus tahu sedikit.
Mendadak dengan marah dia membentak:
"Hoyan Tiang-souw, kau tidak punya alasan untuk
menyerang, sebab tujuan mereka adalah aku. Tampaknya
kau tidak tahu mereka adalah tiga pesilat tinggi dari tujuh
pesilat tinggi hebat di perkumpulan Tong-hai-kong-jin,
menurut kabar tujuh pesilat hebat mereka jarang sekali
keluar. Kali ini malah sekaligus datang tiga orang, bisa dilihat
mereka masih sangat menghargai aku marga Li, kupikir
tidak seharusnya aku membuat mereka kecewa, hari ini aku
harus membunuh mereka bertiga, baru bisa mengetahui
kabar yang aku perlukan."
Hoyan Tiang-souw terkejut sekali dan berkata:
"Setelah membunuh mereka semua, bagaimana kau bisa
mendapatkan keterangan dari mereka?" Li Poh-hoan
berkata: "Bukan dari mereka, tapi dari orang lainnya lagi,
keterangan yang ingin aku dapatkan, mungkin hanya para
petinggi mereka yang tahu, setelah membunuh mereka,
maka akan memancing keluar para pesilat tinggi lainnya."
Kata Sui Bu-seng marah:
"Kentut. Pertama, aku pun tahu semuanya. Kedua, kami
yang mau membunuhmu bukannya kau membunuh kami.
Ketiga, kami telah mendapat laporan, tahu kau pasti saat ini
datang kemari, maka kami sudah mengaturnya dengan
baik. Hemm..! Hemm! Kau kira kau sangat pintar, sangat
mampu" Kenapa tidak kau pikirkan, begitu banyak anak
buahmu, bagaimana bisa mendadak semuanya diam tidak
ada pergerakan" Satu orang pun tidak ada yang datang
membantu?"
Keadaan inilah yang paling mencurigakan dan paling
menakutkan. Li Poh-hoan yakin jika bukan lawan telah menyiapkan
sebuah jebakan, tidak mungkin anak buahnya yang begitu
banyak bisa mendadak hilang, paling sedikit saat bertarung
atau saat meregang nyawa mereka berteriak.
Jika Sui Bu-seng dengan terang-terangan telah
menjelaskan semua ini, itu satu hal yang berharga.
Tapi Li Poh-hoan malah sambil tersenyum berkata:
"Walaupun kalian sudah melumpuhkan semua anak
buahku dengan cara yang amat hina, tapi itu tetap kabar
yang bagus. Paling sedikit di dalam hati kalian sudah ada
ketakutan, tidak berani menggunakan cara lain
menghadapiku, berdasarkan ini, walaupun kalian bertiga
bersama-sama mengeroyok aku, tapi masih merasa tidak
yakin, khawatir ada orang yang membantu aku, maka
langkah pertama kalian harus melumpuhkan dulu anak
buahku. Tindakan seperti ini jelas bukan kebiasaan perkumpulan
Tong-hai-kong-jin. Jadi jelas kalian membunuh bukan
karena disewa orang, hanya ber-tindak atas perintah."
Sui Bu-seng tertawa dingin:
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"
"Kukira perkumpulan kalian sekarang ini sudah tidak
bisa berpendirian sendiri, harus men-dengarkan perintah
orang lain, tentu saja kau tidak akan memberitahu padaku
siapa yang memerintahkan itu, tapi aku pasti berhasil
menyelidikinya."
Sui Bu-seng tertawa sambil mengangkat kepala dan
berkata: "Kau sebentar lagi akan mati, masih mau menyelidiki
apa lagi?"
Suara Li Poh-hoan sangat serius, sedikit pun tidak terasa
main-main, berkata:
"Belum tentu. Walaupun aku sudah mati, masih ada
Hoyan Tiang-souw. Jika dia bisa menyelidiki kalian
diperintah oleh siapa, lalu menyebarkan ke dunia persilatan,
maka orang bisa tahu harus bagaimana melindungi diri, dan
bagaimana caranya menghadapi kalian."
Sui Bu-seng kebingungan dan berkata: "Tapi jika kau
sudah mati, apa gunanya hal ini bagimu" Jadi aku tidak
akan mau melakukannya......"
Li Poh-hoan berkata:
"Kau adalah kau, dan aku adalah aku. Misalnya
sekarang aku menyerang pada Cia San yang ada disisi ku
ini, jika aku menganggap dia ini setara dengan Hoyan
Tiang-souw, aku tidak akan memberitahukan terlebih
dahulu, tidak seperti kau tadi saat menyerang-kan dengan
kapak masih berteriak terlebih dulu."
Sui Bu-seng keheranan:
"Apa maksud kata katamu ini?"
"Maksudku adalah aku akan menyerang Cia San dulu."
Kata-katanya belum selesai, tampak sinar pedang
berkelebat, pedangnya dengan lurus ditusukan pada Cia San
yang berjarak kurang lebih dua tombak.
Jurus pedangnya sedikit mirip dengan 'kapak' nya Sui
Bu-seng, yaitu sama sekali tidak ada variasinya.
Ada juga sedikit perbedaannya, yaitu jurus kapaknya Sui
Bu-seng sama sekali tidak memperhitung kan untung
ruginya, begitu bertarung langsung bertaruh nyawa.
Tapi jurus pedangnya Li Poh-hoan bukan saja tidak ada
sifat kekejian, malah membuat orang merasa walaupun
telah tertusuk oleh dia, belum tentu akan mati!
Perbedaannya sedikit tapi sangat penting, sebab bisa
melemahkan semangat tempur lawan, bisa membuat lawan
bertindak tidak mengambil cara bertarung mati bersamasama.
Tongkat Souw-seng Cia San sedikit pun tidak terlambat.
"Huut huut huut!" sekaligus membuat tiga sapuan,
menangkis pedang.
Tubuh Li Poh-hoan laksana angin melayang ke kiri, dan
menusukan pedangnya.
Gerakan tongkat Cia San kali ini laksana gelombang,
berturut-turut menggerakan tongkatnya dua belas kali dan
berhasil menangkis serangan pedang lawan, jurus tongkat
dia sangat tertutup dan juga keji, dalam dua belas gerakan
tongkatnya, tiga gerakannya berupa serangan.
Tapi karena serangan pedang lawannya sangat
berbahaya dan menakutkan, maka tongkat Souw-seng tidak
ada kesempatan menyerang.
Begitu Li Poh-hoan berputar, dia sudah berada di
belakang rubuhnya, dan kembali pedangnya menusuk.
Cia San berjongkok sambil membalikan rubuh,
menyapukan tongkatnya sampai mengeluarkan suara.
Bayangan tongkat laksana gunung, serangan-nya
berjumlah delapan belas jurus.
Orang lain mungkin tidak tahu, tapi Sui Bu-seng dan
yang lainnya tahu akan hal ini.
Tahu seratus delapan duri beracun yang ada di badan
tongkat sudah berdiri semua, asalkan tergores sedikit, dewa
sekali pun juga jangan harap bisa hidup.
Tampak gerakan pedang Li Poh-hoan tidak cepat juga
tidak lambat, pedang menusuk ke dalam bayangan tongkat,
seperti bambu menusukan ke dalam air danau yangjernih.
Gerakan tongkat Cia San sudah habis di jurus ke delapan
belas, belum sempat dia mengganti jurus baru, mendadak
melihat pedang lawan sudah datang menusuk hanya tinggal
berjarak dua inci lagi.
Saat itu juga wajahnya menjadi pucat pasi, sorot
matanya yang kejam sudah menghilang semua.
Tapi pikiran dalam hatinya lebih banyak dari biasanya,
juga lebih cepat.
.....Walaupun ilmu pedang Li Poh-hoan sangat hebat,
tapi dia hanya menggunakan satu jurus, sedangkan dia
harus secepat kilat menangkisnya dengan delapan belas
jurus tongkat. .....delapan belas jurusnya laksana kilat, laksana guntur,
tapi masih harus mundur ke belakang lima langkah.
.....tusukan pedangnya dengan santai menerobos masuk
ke dalam jaringan tongkat, dan kecepatan-nya belum
pernah terlihat sebelumnya.
..... sebenarnya jurus pedang apa yang dia gunakan"
Di saat seperti ini Cia San merasa banyak hal yang harus
dia pikirkan, tapi dia tidak bisa menahan pikirannya yang
berputar memikirkan jurus pedang aneh dari Li Poh-hoan.
Tapi pikirannya sia-sia, sebab kesempatan berpikirnya
sudah tidak bisa di teruskan lagi.
Baru saja pedangnya Li Poh-hoan berkelebat sekali,
sekejap sudah langsung menghilang lagi.
Pedangnya sudah kembali masuk ke dalam sarungnya,
dan di tenggorokan Cia San sudah ber-tambah sebuah
lubang. Darah segar menyembur sejauh beberapa kaki, tapi tidak


Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ada setetes pun yang bisa mengenai baju putihnya Li Pohhoan.
Sui Bu-seng yang berada di sana dan Hwan Tong-cing
yang berada di atas jembatan batu tentu saja tidak akan
bersorak-sorak, walaupun jurus pedang Li Poh-hoan lebih
hebat lagi satu kali lipat, mereka tetap saja tidak akan
bersorak dan tepuk tangan.
Tapi lain dengan Hoyan Tiang-souw, dia bisa saja
melakukan hal ini, pertama tiga jurus pedangnya Li Pohhoan
yang bisa membunuh lawan memang hebat sekali,
kedua bersorak dan bertepuk tangan bisa menjatuhkan
semangat tempur orang dari Tong-hai-kong-jin itu.
Tapi karena dia sedang asyik mempelajari jurus
pedangnya Li Poh-hoan, dia pun melupakan hal ini.
Sui Bu-seng berteriak tiga kali, Hwan Tong-cing pun
berteriak dua kali, lalu meloncat turun ke bawah jembatan
batu. Suara mereka sangat bengis, terdengar sangat
menakutkan. Jelas mereka sudah menjadi gila. Terlihat
sudah bukan orang normal lagi.
Suara Hoyan Tiang-souw seperti geledek:
"Li Poh-hoan, jurus pedang apa yang tadi kau gunakan?"
Kelihatannya dia sedikit pun tidak terganggu oleh
teriakan bengisnya Sui Bu-seng dan Hwan Tong-cing, dua
orang gila itu.
Li Poh-hoan pun sama tidak terganggu, sambil
tersenyum dia menjawab:
"Jurus pedang ini disebut San-tian-jit-sa (Tujuh kilat
membunuh), jurus pedang keluargaku!"
Jurus pedangnya walaupun disebut San-tian, tapi bukan
sekali menyerang langsung bergerak secepat kilat
menyerang tujuh jurus, kecepatannya adalah menunjukan
saat mengenai titik kematian lawannya, kecepatannya
secepat kilat. Tentu saja Hoyan Tiang-souw tidak akan salah
menafsirkannya, saat ini dia baru bersorak dan tepuk tangan
dan berkata: "Jurus pedang hebat, benar-benar jurus pedang hebat
yang tiada duanya di dunia."
Melihat Sui Bu-seng sudah melangkah sambil
mengangkat kapaknya, dalam hati Li Poh-hoan merasa
lucu, sebab baru sekarang Hoyan Tiang-souw bersorak dan
tepuk tangan, bukankah itu sudah terlambat"
Mo-to yang di jepit di bawah ketek Hoyan Tiang-souw
mendadak bergulir ke telapak tangannya, tangan kanannya
sudah memegang pegangan golok.
Dia masih tetap berhadapan dengan Li Poh-hoan, tidak
memalingkan kepala, goloknya pun tidak keluar dari
sarungnya. Langkah Sui Bu-seng jadi terhentak berhenti, dia tidak
peduli setelah membelah mati Hoyan Tiang-souw, baru
menerjang menghadapi Li Poh-hoan, atau sebaliknya.
Tapi walaupun golok orang ini masih di dalam
sarungnya, aura nya yang seperti sepasukan tentara sudah
mendesak orang menjadi sesak nafas, jelas dia bukan
seorang yang mudah dibunuh dengan sekali bacokan saja.
Kenyataannya, Sui Bu-seng pernah merasakan
kelihayannya Mo-to, di dalam hati sadar untuk
memenangkan pertarungan dengan susah payah saja sudah
sulit, maka dia tidak berani berkhayal hal yang tidak
mungkin ini. Langkah Sui Bu-seng sudah terhenti, Hwan Tong-cing
sudah melakukan serangan, dengan satu teriakan keras
sambil meloncat ke bawah melecutkan cambuknya dari atas
jembatan menyerang Li Poh-hoan.
Orang ini yang termasuk dalam tujuh pesilat tinggi hebat
perkumpulan Tong-hai-kong-jin, Cui-hun-pian di tangannya
bersinar warna keemasan menyilaukan mata, panjangnya
sampai tujuh kaki besarnya sebesar telur bebek.
Jika cambuknya terbuat dari logam emas, dan juga di
dalam batangnya tidak kosong, paling sedikit beratnya ada
seribu kati lebih, malah mungkin dua ribu kati.
Siapa pun jika memiliki emas seberat seribu atau dua
ribu liang di tangan, tidak perlu bekerja apa-apa lagi, sudah
bisa hidup senang seumur hidup.
Tapi ada sebagian orang tidak berpikir demi-kian, walau
di tangannya memiliki emas dua puluh ribu liang, tetap saja
dia masih bekerja.
Tapi juga tidak ada alasan menggunakan begitu banyak
emas untuk membuat sebuah cambuk panjang.
Maka Li Poh-hoan lebih percaya Cui-hun-pian itu hanya
dipoles emas, dan bagian tengahnya kosong.
Kalau bagian tengahnya kosong, bukan meman dang
rendah Hwan Tong-cing sampai tidak bisa menambah
beberapa puluh kati tembaga saja tidak mampu, tapi dengan
bagian tengahnya kosong baru bisa ada keanehan.
Misalkan di dalam cambuknya tersembunyi senjata gelap
atau cairan racun atau benda-benda yang menakutkan ini.
Dia memutar tubuhnya, berdiri di sebelah utara, dan
bersamaan itu mencabut pedangnya lalu diayunkan,
pedangnya bergetar membentuk bayangan pedang yang
tidak terhitung banyaknya, gerakannya seperti air beriak
sedikit pun tidak ada hawa mem-bunuh.
Sinar emas juga laksana kilat datang menyapu, dari atas
tengah dan bawah berbunyi tiga kali, setiap sapuan cambuk
ditangkis oleh pedang, sama sekali tidak bisa menembus.
Mata Hwan Tong-cing melotot wajahnya menyeringai
sambil berteriak, cambuk emasnya menyapu laksana angin
kencang, berturut-turut cambuknya menyerang tujuh kali,
ke tujuh jurus cambuk ini sekaligus dilakukan, di saat
berganti jurus sedikit pun tidak ada celah.
Sesaat beribu sinar emas laksana jaring yang amat besar,
menutup pada Li Poh-hoan.
Setelah tujuh cambukan lalu tujuh cambukan lagi, semua
jurusnya menyerang dengan amat ganas.
Di bandingkan dengan serangan pedang Li Poh-hoan
kelihatannya malah lebih lemah.
Walaupun sinar pedang laksana riak gelom-bang air
jernih, tapi masih dapat menangkis serangan ganas cambuk
lawan, setiap orang bisa melihat dia hanya bisa bertahan
tidak bisa menyerang.
Bertahan itu adalah objek.
Objek itu mengandung arti lemah, kalah, dan menuruti.
Tapi bertahan juga ada gunanya, misalnya saat lawan
sedang bersemangat menyerang, tidak baik bertarung keras
dengannya. Saat itu harus melakukan pertahanan yang kuat,
menunggu semangat lawan mengendur baru mencari celah
lawan dan balas menyerang.
Tapi Li Poh-hoan seperti tidak bermaksud itu.
Walaupun dia masih menggunakan jurus pedang seperti
air danau jernih yang tenang, menangkis gelombang
serangannya Hwan Tong-cing (setiap gelombang tepat tujuh
jurus). Tapi Hoyan Tiang-souw dan Sui Bu-seng sama sama
merasa dia ini bukan bertahan untuk menunggu
kesempatan balas menyerang.
Sui Bu-seng sudah lama bekerja sama dengan Hwan
Tong-cing, menyaksikan Hwan Tong-cing sudah
menyerang empat gelombang tapi masih belum berhasil,
keadaan ini walaupun tidak begitu bagus, tapi juga tidak
aneh. Tapi Hwan Tong-cing selalu berteriak marah bukan
hanya berteriak saja, tapi karena keadaan yang sangat tidak
bagus. Menurut perkiraan Hoyan Tiang-souw, alasan Li Pohhoan
bukan mumi hanya untuk bertahan saja, malah dia
menjelaskan dengan mulutnya:
"Jurus pedang yang bagus, setiap gerakan pedang selalu
bisa menangkis cambuk emas, selalu bergerak diri tik yang
sama, di bagian kedua cambuk, sungguh jurus pedang yang
bagus." Kata Li Poh-hoan:
"Aku hanya takut kau salah paham, mengira aku hanya
punya cara menyerang tidak punya cara untuk bertahan,
maka dengan menggunakan jurus keluargaku yang disebut
Cap-ji-sin-kiam (Dua belas jurus ilmu pedang). Jurusku ini
disebut Chun-sui-pi-it-thian (Musim semi air hijau ada di
langit.), kau jangan tertawakan."
Sambil bertahan dia dengan tenang berbicara, malah
ramah sekali. Itu bisa dilihat dia pasti bukan terpaksa
bertahan, tapi dalam pertahanan yang masih menyimpan
banyak tenaga. Hoyan Tiang-souw dengan suara keras yang beberapa
kali lipat dari orang biasa berkata:
"Kenapa kau memberitahukan jurus pedangmu padaku?"
? ? ? BAB 5 Pertanyaan ini sampai Sui Bu-seng pun ingin tahu,
makanya dia juga memasang telinganya.
Li Poh-hoan mengayun-ayunkan pedangnya, menangkis
setiap serangan cambuk emas lawan, sambil tersenyum
menjawab: "Sebab kau pasti tidak tahu jurus pedangku, maka aku
mengambil kesempatan ini supaya kau bisa melihat
sendiri." "Kenapa aku harus tahu?" Hoyan Tiang-souw masih
tidak mengerti.
"Hay, aku khawatir cepat atau lambat kau akan
bertarung denganku, maka lebih baik aku memberi tahukan
lebih dulu!"
'Tapi kenapa kita pasti akan bertarung"' pertanyaan ini
hanya berkumandang di dalam hati Hoyan Tiang-souw, dia
tidak mengucapkannya, takut orang salah paham mengira
dia takut akan pertarungan itu.
Mendadak Li Poh-hoan membalikan tubuh menghadap
pada Sui Bu-seng, tangan kanan masih tetap menekan
pegangan pedang.
Sepasang mata di bawah alis tebalnya berkilat-kilat
seperti mata macan, padahal di saat dia t membelakangi Sui
Bu-seng, dia pun mampu setiap saat menyerangnya.
Sekarang setelah saling berhadapan, tekanan-nya tampak
semakin kuat dari tadi.
Hampir saja Sui Bu-seng tertekan mundur oleh
pembawaan dia, tapi akhirnya masih bisa berdiri tegak,
malah masih bisa berteriak:
"HwanLo-jit (saudara ketujuh), aku segera datang
membantumu."
Biasanya suara Hoyan Tiang-souw lebih keras beberapa
kali lipat dari orang biasa, sekarang dia berbicara sengaja
memperkeras lagi, tentu saja suara-nya jadi lebih
menggetarkan telinga orang:
"Kau tidak boleh membantu, kecuali kau bisa
mengalahkan Mo-to ku. Jika tidak kau harus tunggu sampai
diantara mereka ada yang menang atau kalah."
Sui Bu-seng berteriak, wajahnya berubah jadi bengis.
Hoyan Tiang-souw mengira dia pasti akan mengayunkan
kapaknya menyerang membabi buta.
Tapi hal itu ternyata tidak terjadi, Sui Bu-seng masih
tetap berdiri di tempatnya.
Walaupun Sui Bu-seng tidak waras, tapi di saat
penentuan hidvip mati, dia tetap bisa memperhitung-kan
untung ruginya.
Jika dia selalu membunuh orang secara mem-babi buta,
mungkin dia sudah mati sejak dulu.
Dia sadar tidak mudah menghadapi Mo-to nya Hoyan
Tiang-souw. Apa lagi jika memperhitungkan tugasnya kali
ini, Li Poh-hoan lah sasaran utamanya.
Selain itu Hoyan Tiang-souw tidak membunuh orangorang
mereka, tapi Li Poh-hoan sudah, di samping punya
permusuhan, di lain pihak dia sudah melihat jurus
pedangnya Li Poh-hoan, sedangkan jurus Mo-to Hoyan
Tiang-souw, dia belum melihatnya.
Makanya setelah dihitung-hitung, lebih baik dia
mengumpulkan seluruh tenaga untuk menghadapi Li Pohhoan.
Dia tidak bisa lolos dari Hoyan Tiang-souw untuk
mengeroyok Li Poh-hoan, jadi Hwan Tong-cing seorang
diri yang kerepotan.
Paling sedikit ada tiga kerepotan bagi Hwan Tong-cing.
Pertama, sia-sia saja cambuknya menyerang secara
bergelombang, dia hanya bisa menggunakan satu jurus Liehwee-
cui-hun (Bara api mengejar roh) dari tiga jurus
cambuknya. Dua jurus cambuk lainnya tidak ada kesempatan
digunakan. Kedua, dia hanya bisa berteriak-teriak seperti orang gila.
Sebab setiap pedang Li Poh-hoan menangkis serangan
cambuknya, selalu mengenai bagian kedua dari sembilan
bagian Cui-hun-pian nya, malah selalu dititik yang sama,
satu mili pun tidak salah.
Hwan Tong-cing sendiri sadar itu adalah titik terlemah
dari seluruh cambuknya, dia sungguh tidak mengerti
kenapa lawan bisa tahu satu-satunya titik kelemahan
cambuknya. Tapi tidak peduli dia mengerti atau tidak, pokoknya dia
harus menggunakan seluruh tenaga dalamnya untuk
menutupi titik kelemahan ini, dia hanya bisa berteriakteriak
di dalam hati. Dia tidak bisa berteriak untuk menambah semangat, dia
malah menjadi kesal.
Ketiga, masalah tubuhnya, ternyata pedang Li Poh-hoan
walaupun mumi untuk bertahan, tapi tetap ada kilatan
pedang yang menyambar tubuhnya, mula mula masih tidak
terasa apa-apa, tapi semakin lama semakin
Kilatan pedang yang tanpa bentuk tanpa su.ir.i tanpa
warna dan tanpa rasa itu, seperti jarum panjang menusuk ke
dalam tulang, maka rasa sakitnya juga tidak seperti jarum
yang ditusukan ke dalam daging.
Sekarang dia sudah bisa menemukan sumber kilatan
pedang yang tidak berbentuk itu ternyata bukan dari pedang
yang ada di tangannya Li Poh-hoan.


Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tapi datang dari batang panjang di tangan kirinya, tapi
setelah mengetahui satu hal, timbul rasa sakit pada hal
lainnya lagi. Jika sudah mengetahui tapi tetap tidak bisa melepaskan
diri dari kesakitan, lalu apa gunanya mengetahui"
Untungnya segala sesuatu di dunia ini selama-nya
berubah-rubah tidak menentu, fenomena yang terjadi dari
berbagai unsur berkumpul menjadi satu.
Misalnya tubuh manusia, terbentuk dari ber-bagai unsur,
di tambah ruang dan waktu. Jika kurang satu saja dari
berbagai unsur ini maka tidak akan bisa hidup, atau disebut
akan menghilang.
Dan jika segala sesuatu di alam ini semuanya abadi dan
tidak berubah, maka masalahnya akan jadi besar.
Seorang bayi karena bersifat tidak berubah, maka
selamanya jadi seorang bayi, besi juga selamanya tidak bisa
ditempa jadi baja.
Pokoknya segala benda jika selamanya tidak berubah,
tidak akan bisa lahir benda-benda baru, coba bayangkan
bukankah dunia akan membosankan"
Jujur saja di alam ini sama sekali tidak ada satu benda
pun yang abadi, tidak berubah, karena tidak ada satu benda
pun bisa ada tanpa syarat-syarat tertentu.
Sampai disini lebih baik jangan membicarakan hal itu
lagi. Akhirnya Hwan Tong-cing mendapatkesempatan
merubah keadaan.
Pada saat ini Hoyan Tiang-souw berkata pada Li Pohhoan:
"Lebih baik cepat selesaikan pertarunganmu, aku sudah
tidak sabar lagi!"
"Benar juga!" setelah berbicara mendadak jurus
pedangnya menjadi lambat.
Hwan Tong-cing mengerahkan seluruh tenaganya,
menggetarkan cambuk emas nya sampai menjadi tegang
lurus, laksana sebuah tongkat panjang.
Terlihat dia sudah memegang cambuknya dengan kedua
tangannya, jurusnya juga menjadi jurus tongkat.
Inilah salah satu jurus hebat dari tiga jurus Cui-hun-pian
yang disebut Ji-ciang-se-kun (Tongkat laksana tombak).
Tampak cambuk emas yang lurus itu menancap
mendongkel memukul melontar, dengan empat macam
gerakan menyerang sebanyak dua belas jurus.
Bersamaan waktu itu dia pun berteriak sangat keras,
akhirnya bisa juga mengeluarkan kekesalan di dalam
hatinya. Serangan dia mendadak menjadi kuat, dan \ berhasil
mendesak mundur Li Poh-hoan tiga langkah, tampaknya
tinggal menambah sedikit serangan lagi dia akan
melumpuhkan lawan.
Tapi dia malah menyatukan sepasang tangan-nya, dan
cambuk emasnya mengerut satu kaki lebih.
Baju putih Li Poh-hoan berkibar-kibar, begitu memutar
tubuh, dia sudah berada sebelah kiri lawan-ny.i, lalu ujung
pedangnya menusuk, membelah angin mengeluarkan suara
"Ssst!"
Saat ini, Hwan Tong-cing baru benar-benar mengerti,
dirinya telah melakukan satu kesalahan fatal, tapi dia sudah
tidak keburu membetulkan juga tidak keburu
menambalnya. Dia hanya melihat ujung pedang yang tajam sudah
berada disisi tenggorokan, kecepatannya sampai untuk
berpikir pun sudah tidak keburu. Lalu hanya merasa titik
kematian di tenggorokannya telah ditusuk pedang, hanya
itu saja. Kali ini Li Poh-hoan tidak memasukan pedangnya ke
dalam sarung, pedang dipegang di tangannya.
Menunggu tubuh Hwan Tong-cing jatuh ke tanah baru
dia berkata: "Jika kau tidak berniat menggunakan senjata gelap di
dalam Cui-hun-pian untuk membunuh aku, kau paling
sedikit masih bisa hidup beberapa saat......"
Serangan pedang dia laksana kilat, orangnya sangat
tampan, dan tingkahnya tenang anggun, walau pun telah
membunuh dua orang pembunuh bayaran ternama,
kelihatannya seperti bukan dia yang membunuhnya.
Hoyan Tiang-souw memalingkan kepala, dalam hatinya
terkesan satu bayangan aneh.
Tapi dia tidak mengucapkan apa-apa, dia mundur
beberapa langkah, lalu berkata pada Sui Bu-seng:
"Lawanlah, walaupun Li Poh-hoan kalah dan mati, aku
pun tidak akan membantu dia."
Sui Bu-seng berteriak, lalu meloncat melewati Hoyan
Tiang-souw, langsung menerjang Li Poh-hoan,
terjangannya dahsyat seperti kerbau gila, sangat
menakutkan. Hanya sekejap mata dia sudah membacokan kapaknya
pada Li Poh-hoan.
Tapi dalam waktu singkat ini Li Poh-hoan tetap dengan
tenang mengangkat pedangnya, sikapnya anggun penuh
percaya diri, dia seperti tidak melihat terjangan lawan yang
begitu dahsyat.
Di dalam layangan baju putihnya Li Poh-hoan berputar
ke kanan, pertama kali menggunakan tebasan pedang ke
belakang. Sikap dia kelihatannya tenang, tapi gerakannya sangat
cepat, cepatnya sampai Ciat-hu Sui Bu-seng terdesak
mundur ke belakang dua langkah besar, baru mendapatkan
kesempatan balas menyerang.
Tapi ayunan kapak Sui Bu-seng sampai dua belas jurus,
itu hanya menangkis serangan susulan pedang Li Poh-hoan.
Li Poh-hoan berputar ke belakang tubuh dia, sinar
pedangnya berkelebat secepat kilat, satu sabetan pedang
datang lagi menyerang.
Sui Bu-seng merasa ada hawa pedang tajam menyerang
tenggorokannya, tajamnya laksana pedang yang
sebenarnya, saat itu tidak tahan warna wajahnya jadi
berubah besar. Dia tahu hanya pedang yang benar-benar yang bisa
datang membunuh, maka sifat gilanya keluar, tanpa
mempedulikan pedang lawan, dengan meng-gunakan
seluruh tenaga dalamnya dia melemparkan kapaknya pada
lawan. Jarak mereka berdua tidak jauh, maka pedang Li Pohhoan
bisa menusuk Sui Bu-seng, tapi kapak Sui Bu-seng
juga bisa mengenai Li Poh-hoan.
Berdasarkan keadaan ini, sebenarnya Sui Bu-seng tidak
perlu melemparkan kapaknya menyerang lawan.
Tapi pengalaman bertarung Sui Bu-seng sudah banyak
sekali, sudah membunuh entah berapa banyak pesilat tinggi
dunia persilatan, tentu saja gerakan dia punya alasan
tersendiri. Ternyata pengalaman memberi tahu dia, pedang cepat
dan kapak lambat.
Artinya dia pasti mati lebih dulu tertusuk oleh pedang.
Dan setelah mati, kekuatan kapak akan kehilangan
dorongan tenaga, bukan saja kekuatannya jauh berkurang,
malah akan tertahan oleh lima jarinya sendiri.
Jika dia tidak mati pun tetap akan kalah, maka sekalian
saja dia melemparkan kapak, berharap bisa mengembalikan
modal sedikit. Serangan pedang Li Poh-hoan ternyata jadi terdesak dan
sedikit berubah.
Pedang bergetar, kapak terpental melayang ke udara,
luka Sui Bu-seng jadi bukan di tenggorokan, tapi di mata
kirinya. Mata kiri Sui Bu-seng tertusuk pedang, tidak perlu
dijelaskan tentu saja mata ini segera menjadi buta, tapi dia
tidak sampai mati.
Dia pun tidak sampai roboh, hanya mundur dua
langkah, menggunakan tangan kirinya menutup luka mata
kiri yang bercucuran darah segar.
Li Poh-hoan berdiri tegak sambil mengangkat pedang,
sikapnya anggun, sambil tersenyum berkata:
"Sui Bu-seng, kau sudah mati setengah, apakah kau tahu
siapa yang harus disalahkan?"
Siapa pun orangnya, setelah matanya buta sebelah, tentu
saja bisa di anggap mati setengah, aturan asuransi jaman
sekarang juga begitu.
Diam-diam Sui Bu-seng mengerahkan tenaga dalamnya,
berturut-turut menghirup nafas tiga kali.
Sekejab sakitnya sudah berkurang banyak, dan
kesadarannya pun sudah kembali.
Dia tertawa gila juga kesal, katanya:
"Aku tidak tahu, aku hanya bisa salahkan kau, selain
kau, siapa lagi yang bisa aku salahkan?" Kata Li Poh-hoan:
"Salah, Kau datang untuk membunuh aku tapi tidak
berhasil, ini disebut kalah kemampuan, bagai-mana boleh
menyalahkan aku?"
"Harus kah aku menyalahkan diri sendiri?"
"Salah, kau kalah kemampuan, itu hal yang tidak bisa
dibantah, misalkan kau mungkin tidak bisa mengalahkan
ketuamu, tapi apakah kau bisa menyalahkan dirimu sendiri"
apakah kau akan bunuh diri karenanya?"
Sui Bu-seng jadi bingung dan berkata: "Tentu saja aku
tidak akan bunuh diri, tapi aku harus menyalahkan siapa?"
"Kau harus menyalahkan orang yang mengutus mu
kesini, yang tidak tahu kemampuanmu kalah oleh
lawanmu. Dengan kata lain, orang yang mengutus kalian
untuk membunuh aku, seharusnya menyelidiki dulu
kemampuanku. Jika tidak menyelidiki terlebih dulu, itu
sama dengan sia-sia saja mengantarkan nyawa kalian,
menurutmu orang ini harus disalahkan, tidak?" Sui Bu-seng
dengan keras teriak: "Angap saja menyalahkan dia, lalu
mau apa?" "Biar aku membalaskan untuk kalian, kau
sendiri tidak mampu, tapi aku mampu!"
Tawa Sui Bu-seng sangat bengis dan menakut-kan,
mungkin karena wajahnya penuh dengan darah.
"Usulan ini cukup bagus, tapi aku tidak akan masuk
perangkapmu, aku juga tidak akan meng-khianati saudara
dan teman sendiri!"
"Kau salah. Aku bukan menanyakan masalah internal
kalian, karena orang yang memerintah kalian pasti adalah
ketua kalian Tok-kah-kong-liong (Kaki tunggal naga gila)
Pui-suhu. Tidak perlu diragukan lagi, buat apa kau
menghabiskan waktu sia-sia?" Sui Bu-seng keheranan:
"Kau sungguh lihay, tidak heran kekuatan Thi-pian-tanpang
(Perkumpulan Pikulan besi) di Han-sui sangat besar,
bahkan menurut kabar kau bertekad menguasai seluruh
dunia persilatan."
"Jangan bicarakan ini, coba kau pikir-pikir, jika kau
menganggap jurus pedangku cukup hebat, merasa aku bisa
membalaskan kekesalanmu. Maka kau beri tahukan
padaku, siapa yang mengancam perkumpulan Tong-haikong-
jin?" Sui Bu-seng berpikir sejenak, walaupun mata dia sudah
buta darah memenuhi wajahnya, tapi bagaimana pun dia
adalah orang pesilat tinggi kelas satu, maka dia masih bisa
bertahan. Setelah dia berpikir sebantar baru berkata:
"Kau bunuhlah aku!"
Kali ini giliran Li Poh-hoan keheranan:
"Kenapa" Kau sudah bosan hidup?"
"Bukan, soalnya aku tidak tahu ketua diancam oleh
siapa. Mungkin setelah aku jadi setan baru bisa
menyelidikinya, saat itu aku pasti akan memberitahu kan
padamu!" Dia mengucapkan kata-katanya tidak dengan nada
kelakar, bisa dilihat dia memang punya pikiran demikian.
Li Poh-hoan jadi tertawa salah, menangis pun salah, dia
memalingkan kepala melihat pada Hoyan Tiang-souw.
Hoyan Tiang-souw sangat tegas, memberi isyarat untuk
'menbunuh' nya.
Membunuh orang walaupun menyenangkan, tapi bukan
cara bagus untuk menyelesaikan masalah.
Maka Li Poh-hoan tertawa pahit, memalingkan kepala
berkata pada Sui Bu-seng:
"Kau pasti punya sedikit informasi, hanya kau sendiri
tidak tahu bahwa itu merupakan informasi penting! Jika
kau ingin aku membantumu membalas-kan kekesalanmu,
membantu perkumpulan kalian melepaskan diri dari
ancaman, sekarang coba jawab beberapa pertanyaanku!"
Sui Bu-seng berpikir sebentar baru menjawab:
"Baik, tanyalah."
"Perkumpulan kalian dalam satu dua tahun ini apakah
ada pemasukan yang khusus?"
"Jika kami ada bisnis ada tugas, maka ada pemasukan,
tapi tidak bisa dikatakan khusus."
"Di markas lama kalian apakah akhir-akhir ini ada
gerakan khusus" Misalnya di bidang pertahanan?"
Sui Bu-seng menggelengkan kepala. "Ada tidak pesilat
tinggi yang baru bergabung" Yang ilmu silatnya kurang
lebih sama dengan kalian?" "Tidak ada!"
"Kalau begitu apakah ketua kalian mempunyai orang
yang paling disayang" Laki-laki atau perempuan sama saja,
ada tidak?"
Saat ini, Sui Bu-seng baru bereaksi, tubuhnya tergetar
dan berkata: "Ada, ada seorang wanita." "Siapa dia?"
"Tidak tahu," Sui Bu-seng menjawab, "aku hanya tahu
dia bermarga Lu, kami memanggil dia Lu-hujin." "Berapa
usia dia" Apakah dia cantik sekali?" "Dia memang terlalu
cantik. Tidak ada orang yang tidak berpikiran demikian.
Aku sendiri juga begitu, tapi biasa aku tidak mendekati
wanita, aku tidak suka wanita, sebab wanita adalah sumber
keruwetan, kesedihan, pusing, dan mala petaka, maka
wanita selain kejelekannya, masih ada keuntungan apa
lagi?" Kata-kata Sui Bu-seng tentu saja terlalu ekstrim. Jika
diganti dengan orang yang menyukai wanita, mungkin dia
bisa mengutarakan seribu macam kebaikan wanita.
Tapi jika Sui Bu-seng membenci wanita, itu juga tidak


Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bisa dilarang dia berpikiran demikian.
Li Poh-hoan menggoyangkan tangannya dan berkata:
"Kau pergilah!"
Sui Bu-seng sampai Hoyan Tiang-souw yang berdiri agak
jauh jadi sangatterkejut.
"Pergi" Kau menyuruh aku pergi?"
"Telingamu tidak sakit bukan?"
"Tidak mungkin, kau pasti ada siasat busuk lainnya......"
Guman Sui Bu-seng.
"Tidak ada." Li Poh-hoan berkata, "janjiku selalu
ditepati, sedikit sekali orang yang tidak percaya katakataku."
Sui Bu-seng merasa masih tidak percaya, dengan gagap
berkata: "Tapi kalian sudah kehilangan banyak orang?"
"Tidak apa-apa." Li Poh-hoan masih tampak sangat
yakin dan berkata, "aku berharap racun yang kalian
gunakan kelihayannya tidak sampai tidak bisa
dikendalikan."
Sui Bu-seng terkejut dan berkata:
"Kau tahu kami menggunakan racun?"
"Itu hal yang sangat wajar." Li Poh-hoan tersenyum dan
berkata, "selain menggunakan racun, kalian punya cara apa
lagi mampu melumpuhkan semua orangku tanpa
menimbulkan suara?"
Akhirnya Sui Bu-seng merasa tidak tahan lagi.
Walaupun dia adalah pesilat tinggi kelas satu, tapi
setelah sebelah matanya ditusuk menjadi buta, dan tidak ^
diobati untuk menghentikan darah dan mereda-kan rasa
sakit, walaupun seorang pesilat tinggi kelas satu pun tidak
akanbertahan lama.
Makanya dia bertanya lagi:
"Benar aku boleh pergi?"
"Setelah kau pergi maka kau akan tahu."
Hoyan Tiang-souw melihat bayangan pung-gung Sui Buseng
menghilang baru berkata:
"Kau bukan tidak berani membunuh orang, kenapa
melepaskan pembunuh bayaran yang seperti orang gila ini"
Walaupun dia tidak mampu melawanmu, tapi keluargamu,
teman-temanmu bagai-mana" Mmm, aku dengar dia
menyebut perkumpulan Thi-pian-tan, dan kau adalah
ketuanya bukan" Lalu bagaimana dengan nyawa anak
buahmu" Orang semacam Sui Bu-seng mungkin tidak akan
membalas budi!"
"Sebelumnya aku sudah memberikan obat penangkal
racun pada seluruh anak buahku yang ikut dalam
pertarungan ini, semua sudah kupikirkan, misalnya
melepaskan Sui Bu-seng, ini juga sudah kupikirkan
sebelumnya."
"Sebelumnya kau sudah tahu Tong-hai-kong-jin akan
menyerangmu?"
"Hanya perkiraan saja, aku sudah mengetahui mereka
sudah datang, tentu saja juga tahu kau sudah datang kesini,
aku hanya memperhatikan orang-orang yang pantas
bertarung denganku, bukan semua orang harus aku
perhatikan."
"Tampaknya kau sangatmemandangku!" Li Poh-hoan
sambil menghela nafas: "Maaf, kenyataannya aku salah
perhitungan. Maka pembantu penting yang aku tinggalkan
di sampingku sudah dibunuh olehmu. Seharusnya dia
membantu aku menghadapi orang-orang Tong-hai-kong-jin
itu." "Untungnya kau mendadak membantu aku." Li Pohhoan
melanjutkan lagi, "membuat tiga orang pembunuh
bayaran kelas satu Tong-hai-kong-jin hanya bisa satu
persatu bertarung denganku."
Hoyan Tiang-souw tertawa, dia tahu Li Poh-hoan
menyembunyikan kekuatannya, kenyataannya tiga
pembunuh bayaran kelas satu Tong-hai-kong-jin sekalipun
bersama-sama mengeroyok dia, juga belum tentu mereka
bisa menang. Tapi karena dia ingin menyembunyikan, maka tidak
perlu membongkarnya.
Li Poh-hoan berkata lagi:
"Kupikir para pembantuku yang cukup penting diamdiam
telah aku sebarkan di sekeliling, sudah menangkap
orang-orang yang menebar racun itu, dan mulai melakukan
pertolongan, maka aku tidak tergesa-gesa dan masih ada
waktu bicara denganmu."
Hoyan Tiang-souw mengerutkan alis tebalnya:
"Hanya bicara" Bukan bertarung untuk menentukan
siapa yang lebih unggul?"
Di wajah tampan Li Poh-hoan tampak tawa pahit, dia
berkata: "Apa gunanya bertarung denganmu" urusanku sudah
cukup banyak, dan kau adalah orang dengan jurus golok
yang paling menakutkan sepanjang pengalamanku, apa lagi
kau masih sangat muda." ,
"Masalah ini apa hubungannya dengan usia muda l atau
tua?" "Tentu saja ada hubungannya, jurus golok dan tenaga
dalammu sekarang sudah hebat begini, di kemudian hari
pasti akan meningkat, kau mungkin menjadi ahli golok
besar yang tiada tandingnya di dunia persilatan, buat apa
aku membuat permusuhan dengan orang semacam kau?"
"Kau juga masih sangat muda, paling banter juga kau
hanya beberapa tahun lebih tua dariku, maka aku pun tidak
berani memandang remeh dirimu, semakin cepat kita
bertarung menentukan siapa yang lebih unggul semakin
bagus." Dia sedikit pun tidak tergiur oleh kata-kata lawan, ini
kejadian yang sangat aneh.
Umumnya, kecuali ada permusuhan atau dendam
kesumat, kenapa harus bertarung menentukan
pemenangnya"
Li Poh-hoan mengerutkan alis, berpikir sejenak dan
berkata: "Baik, kita segera bertarung menentukan siapa
pemenangnya juga bagus."
Bagaimana pun dia adalah seorang Pangcu, dan Thipian-
tan-pang menguasai perairan Han-sui, malah dua
tahun ini kekuasaannya sudah berkembang lagi, sampai
Huang-ho dan Tiang-kang ada sebagian dikuasai atau di
bawah pengaruhnya.
Maka dia tidak boleh tampak lemah. Tapi Hoyan Tiangsouw
malah mengeluarkan kata-kata yang sangat diluar
dugaannya, dia berkata:
"Tapi tidak sekarang aku sudah melihat kau berturutturut
membunuh Cia San dan Hwan Tong-cing berdua, juga
mengalahkan Sui Bu-seng, ke tiga orang pesilat tinggi kelas
satu ini telah menguras kekuatanmu.
Kau sudah tidak mampu mengerahkan tenaga dalam di
saat tadi kau menusukan pedang kepadaku, jika kau tidak
mau mengakuinya, kau boleh mencoba jurus itu biar aku
melihatnya!"
Li Poh-hoan mengeluh dalam-dalam:
"Kau sungguh musuh yang sangat menakut-kan."
Tampang dia tidak seperti berpura-pura.
"Tapi aku masih tidak tahu asal-usul jurus pedangmu,
pengetahuanku sangat sedikit, sebenarnya kau ini dari
perguruan mana?"
Li Poh-hoan berkata:
"Aku pernah belajar jurus pedang dari empat perguruan
besar, tapi bertemu dengan pesilat tinggi kelas satu
semacam Sui Bu-seng, aku terpaksa meng-gunakan jurus
pedang keluargaku, maka boleh dibilang aku tidak ada
perguruan!"
Hoyan Tiang-souw tahu lawan tidak mau berterus
terang. Sebenarnya dia adalah orang yang sangat pintar, hanya
saja sejak lahir mudah marah (Mengenai hal ini menurut
kabar ada hubungannya dengan disaat dia berusia lima
enam belas tahun, pernah makan seekor kalajengking darah
yang sangat jarang ditemui di dunia).
Dan wajah dia terlihat kasar pemberani, maka sering
orang salah menduga dia adalah seorang yang kaki dan
tangan kuat, tapi otaknya sederhana.
Sambil tertawa dingin dia berkata:
"Siapa yang paling ternama di keluargamu" Siapa yang
menciptakan jurus pedang itu dan mewaris-kan ke generasi
berikutnya?" ^
Li Poh-hoan berpikir sejenak lalu berkata:
"Kakekku, kudengar dulu dia adalah seorang pembunuh
bayaran yang paling ditakuti, paling lihay. Dia tidak punya
nama, semua orang memanggil dia Leng-hiat (Berdarah
dingin) Li Cap-pwee (Li ke
Delapan belas), jurus pedang yang dia wariskan sangat
hebat, aku pun berpikir demikian!"
Nama Leng-hiat Li Cap-pwee, Hoyan Tiang-souw tidak
pernah mendengarnya, sebab kejadian ini terjadi lima,
enam puluh tahun malah mungkin tujuh, delapan puluh
tahun yang lalu.
Di dunia persilatan generasi baru selamanya
menggantikan generasi lama.
Beberapa puluh tahun adalah waktu yang cukup
panjang. Tapi dia tidak bisa tidak harus mengakui jurus pedang
yang diturunkan oleh Leng-hiat Li Cap-pwee sungguh
bagus sekali, apa lagi serangannya, itu adalah jurus pedang
sakti buat pembunuh bayaran.
Tidak ada variasi juga tidak ada gejala, tapi
kecepatannya laksana kilat.
"Aku merasa sangat menyesal." Li Poh-hoan berkata
lagi, "kelihatannya kita mungkin tidak bisa berteman!"
berkata demikian, tentu saja dia ada alasan dan jalan
pikiran lain. Hoyan Tiang-souw pun punya jalan pikiran sendiri,
sambil mengangguk kepala berkata:
"Betul! Betul!" saat ini di dalam hati dia terbayang
dengan jelas satu wajah yang sangat cantik, dialah Cui
Lian-hoa. "Maka setelah lewat hari ini, setiap saat, dimana saja aku
bisa mencarimu untuk bertarung, tentu saja kau juga boleh
melakukan hal yang sama, dan aku sudah mempersiapkan
dengan baik kau bisa muncul kapan saja."
o-o-o Li Poh-hoan dengan baju putihnya yang berkibar-kibar
berjalan keluar dari Ho-ciu, wajahnya yang tampan tampak
sedikit warna gelisah.
Dia bukan mengkhawatirkan anak buahnya, karena para
anak buahnya yang telah dilumpuhkan oleh racun itu.
Pertama sebelumnya telah memakan obat penangkal
racun. Kedua sudah mendapatkan pengobatan, selanjutnya dan
perlindungan, seharusnya tidak akan mengkhawatirkan.
Ketiga, para anak buah ini hanyalah orang orang kelas
tiga, para pembantu kelas satu dan kelas dua di dalam
perkumpulan semuanya tidak ada apa-apa.
Anak buahnya mula-mula masih keheranan kenapa tidak
membiarkan mereka mengawal Pangcu-nya, malah
membiarkan para pesilat kelas tiga yang bertanggungjawab"
Sekarang semua orang sudah mengerti, sebab
menghadapi ahli racun, siapa pun tidak akan yakin
sanggup, hanya bisa melawan dengan reaktif saja.
Misalnya minum obat anti racun terlebih dulu, tindakan
seperti ini walaupun bisa menghindar dari kematian, tapi
memerlukan waktu, dan setelahnya akan membuang waktu
untuk berobat. Maka di samping Pangcu tidak ada orang yang bisa
ditugaskan. Li Poh-hoan juga bukan risau karena telah membuat
janji pertarungan dengan Hoyan Tiang-souw, karena itu
pasti pertarungan ilmu silat murni yang terbuka dan adil,
walaupun sampai kalah dan mati, di* juga akan merasa
puas. Yang dia khawatirkan adalah nona Cui yang berada di
luar kuil Han-san.
Gadis yang wajahnya secantik bunga, setiap orang akan
mencintainya, sebenarnya tidak harus ditakuti, tapi Li Pohhoan
justru takut dia seorang diri.
Sebab Thi-pian-tan-pang yang berada di perairan Hansui,
setelah beberapa tahun sukses mengembangkan
kekuasaan dan daerahnya, akhir akhir ini mendadak
mendapat gangguan.
Mendapat halangan adalah hal yang tidak bisa
dihindarkan dalam pengembangan daerah dan kekuasa an,
siapa yang rela memberikan daerah dan kekuasaannya pada
orang lain" Tapi halangan itu muncul bersamaan di
beberapa daerah.
Belum lama ini dia juga menerima peringatan rahasia,
supaya Thi-pian-tan-pang tunduk dan mene-rima perintah
dari pihak lawan, tidak boleh melawan.
Dengan demikian masalahnya jadi semakin ruwet dan
berbahaya, sulit diduga.
Li Poh-hoan tahu lawan menggunakan cara menaklukan
berbagai daerah untuk menundukan kekuatannya, dia juga
tahu lawan pasti mengerti orang seperti dia ini tidak mudah
ditaklukan. Maka pasti ada cara lainnya lagi yang lebih lihay dan
menakutkan menunggu menghadapi dia.
Setelah dia berpikir lama, dia keluar dari markasnya
berusaha menyerang.
Dengan kata lain, dia ingin membalikan keadaan dari
reaksi menjadi aksi.
Tentu saja dia pun sudah menghabiskan tidak sedikit
uang, menggerakan entah berapa banyak mata mata,
berusaha mengumpulkan informasi lengkap.
Dalam hal ini, tidak bisa dikatakan dia telah berhasil
mendapat beberapa kesuksesan, karena dia sudah tahu di
seluruh dunia persilatan entah sudah berapa banyak
perkumpulan atau organisasi yang menyerah dan dikuasai.


Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dia juga tahu organisasi rahasia ini diperintah bukan
oleh seorang laki-laki tapi seorang perempuan.
Seperti perkumpulan pembunuh bayaran Tong-hai-kongjin
walaupun menyeramkan, tapi malah sedikit lebih
sederhana. Sebenarnya perkumpulan ini bisa saja dikuasai oleh
siapapun, dan syarat untuk menguasainya cukup dengan
uang. Tidak tahu apakah Lu-hujin kesayangan ketua
perkumpulan Tong-hai-kong-jin, Pui-suhu ada
hubungannya dengan organisasi misterius itu"
Nama Lu-hujin baru saja diketahui tadi, dan sebelum ini,
dia selalu waspada terhadap setiap wanita yang berilmu
tinggi dan jati dirinya tidak diketahui.
Nona Cui pun wanita semacam ini.
Tidak ada yang tahu dia datang dari mana, tiba-tiba saja
muncul dalam lingkaran yang dia perhatikan. j
Bisa juga dikatakan seperti ini, langkah pertama Li Pohhoan
keluar adalah memimpin sendiri para pesilat tinggi di
perkumpulannya pergi ke Kang-lam, dan dia kebetulan
muncul dalam perjalanan ini.
Sebenarnya di sepanjang perjalanan Li Poh-hoan, wanita
yang ditemuinya bukan hanya dia seorang.
Tapi karena dia mendapatkan informasi yang sangat
dipercaya menunjukan, wanita penguasa dalam organisasi
misterius itu ada di Kang-lam, karena dia baru saja
menaklukan Jit-teng-hwee (Perkumpulan tujuh lampu) di
Ho-hui. Itu hanyalah organisasi sederhana yang hanya terdiri dari
tujuh orang, ke tujuh orang ini adalah pesilat tinggi yang
amat lihay, tapi ambisinya tidak terlalu besar,
kekuasaannya paling banter hanya sampai Bu-ouw (danau
Bu) saja. Ketika Li Poh-hoan sedang memperluas kekuasaannya,
pernah berhubungan dengan mereka, mereka sedikit pun
tidak mau mengalah, maka Li Poh-hoan diam-diam
mengutus orang untuk mengawasi Jit-teng-hwee.
Ingin mengawasi para pesilat tinggi seperti ini tentu saja
tidak mudah, juga tidak mungkin mengutus puluhan pesilat
tinggi yang setara dengan mereka untuk mengawasinya.
Dengan kata lain, cara pengawasannya menggunakan
cara lain. Yang diperlukan oleh penanggung jawabnya bukan
hanya ilmu silat saja, otak dan caranya lebih penting,
misalnya menyuap orang-orang terdekat salah satu dari
tujuh orang Jit-teng-hwee ini dan lain-lainnya.
Buktinya sudah ada tiga keluarga di rumahnya yang
berhasil disuap, makanya pergerakan Jit-teng-hwee, Li Pohhoan
sedikit banyak bisa tahu.
Karena itulah, perihal mereka mendapatkan ancaman
dari luar tapi tidak mau menyerah, Li Poh-hoan juga sudah
tahu. Keadaannya berkembang lagi, saat lima dari tujuh orang
penting Jit-teng-hwee dibunuh, maka Li Poh-hoan segera
datang ke Kang-lam.
Menceritakan nona Cui.
Li Poh-hoan bukanlah orang yang suka wanita, dan
walaupun kecantikannya Nona Cui bisa membuat orang
jadi mengila-gila, dia juga tidak mungkin bisa
membuntutinya dari Bu-ouw sampai Soh-ciu.
Sebab utamanya bukan nona Cui, tapi nyonya cantik
setengah baya itu, dua orang pelayan cantik, malah nona
Cui juga memanggil dia To Sam-nio.
To Sam-nio pernah muncul di Ho-hui, malah telah
membunuh seorang anak buah Li Poh-hoan.
Ilmu silat anak buahnya cukup lumayan, sengaja diutus
oleh penanggung jawab Ho-hui malam-malam mendatangi
kamarnya To Sam-nio, dan sengaja bentrok dia, supaya bisa
mengetahui kekuatan dia.
Kekuatan To Sam-nio yang sudah dicoba, ternyata ilmu
silatnya sangat tinggi, kehebatannya bisa menandingi siapa
saja dari tujuh orang terpenting Jit-teng-hwee.
Li Poh-hoan segera memutuskan rencananya.
Mulai dari Bu-ouw dia secara terbuka membuntuti
rombongan nona Cui, dan seluruh pembunuh bayaran
sudah mengetahui dia telah mengatur sebuah rencana,,
berharap memancing musuh besarnya ke Ho-ciu untuk
bertarung. Bagaimana dan kenapa rencananya bisa bocor, Li Pohhoan
tidak menyelidikinya.
Jika kebocorannya sampai terputus, suatu saat jika dia
ingin sengaja membocorkan rahasia tentu tidak bisa lagi.
Tidak terhitung banyaknya siasat licik yang ada di dunia
persilatan untuk memenangkan pertarungan, dan orang
yang berambisi ingin menguasai dunia sangat besar,
kepintaran dan caranya tentu saja sangat ruwet dan aneh.
? ? ? Di atas jembatan kuno di luar kuil Han-san. Angin
musim semi meniup dengan lembut.
Pohon-pohon Hong dan Liu yang terjuntai ke bawah,
hijau lembut seperti sajak seperti lukisan.
Li Poh-hoan menyandar ke pagar batu di sisi jembatan,
dari jauh melihat ke arah gerbang kuil Han-san.
Untuk apa nona Cui dan To Sam-nio datang ke kuil
Han-san" Apakah mereka sedang melakukan gerakan besar yang
bisa menggemparkan dunia, membuat sejarah di dunia
persilatan, atau ingin melancong menikmati keadaan
tempat itu, datang ke kuil kuno yang ternama ini membakar
hio sembahyang" atau apakah mereka kenal dengan ketua
kuil Han-san, Ji-hong hweesio itu"
Tidak mengherankan jika mereka kenal, masalahnya
adalah apakah Ji-hong hweesio kenal mereka tidak"
Sejauh apa hubungan mereka"
Li Poh-hoan pasti tidak lupa Hoyan Tiang-souw dengan
hanya satu gerakan golok bisa mendesak mundur Ciat-hu
Sui Bu-seng. Jurus goloknya sungguh hebat, sulit
dilukiskan. Persis laksana gempa dahsyat di dalam tiupan angin
lembut musim semi, sebaliknya juga bisa dikatakan di
dalam hawa membunuh yang amat sadis, bergelombang
satu aura kasih sayang yang tidak terbatas.
Maka keganasannya serangan Ciat-hu Sui Bu-seng jadi
terdesak, malah tidak ada jalan lain selain segera mundur ke
belakang. Selain itu, Li Poh-hoan yang ingin maju membantu juga
tidak bisa memikirkan bagaimana cara membantunya.
Sebenarnya bukan hanya Li Poh-hoan saja yang merasa
hormat dan keheranan pada Ji-hong hweesio, Hoyan Tiangsouw
pun sama merasakannya.
Sorot mata Li Poh-hoan sementara meninggal-kan
gerbang kuil Han-san, beralih ke jembatan kuno di
seberangnya. Benar saja, selain Hoyan Tiang-souw siapa lagi yang
langkahnya mantap dan auranya tegap"
Mo-to Hoyan Tiang-souw masih dikepit di dalam
keteknya, dengan langkah tegap naik ke atas jembatan,
sampai berjarak kurang lebih tujuh langkah dari Li Pohhoan
baru berhenti. Sepasang matanya yang besar di bawah alis tebalnya
berkilat-kilat, kedua orang itu saling pandang sejenak. 'i
Dengan suaranya yang menggelegar Hoyan Tiang-souw
berkata: "Kenapa kau berdiri disini lagi?"
Li Poh-hoan tidak menjawab juga tidak membantah,
sambil tertawa pahit berkata:
"Kau sendiri tahu, sudah cukup!"
Hoyan Tiang-souw mengerutkan alis tebalnya dan
berkata: "Kau bukan seorang pembohong, aku terpaksa percaya
padamu." "Untuk membalas kepercayaanmu padaku, aku
beritahukan satu kabar, perihal kau telah membunuh tuan
muda Kie Hong-in dari Hong-lai sudah menyebar di dunia
persilatan, keluarga Kie akan mengetahuinya dalam satu
dua hari ini."
"Apa kau mengkhawatirkan aku?" "Tidak peduli apa
pikiranmu, ada satu kata yang tetap akan kuberitahukan
padamu." Li Poh-hoan mengibaskan lengan bajunya yang
seputih salju itu, baju ditubuhnya tampaknya semakin putih
bersih, "Di keluarga Kie ada tiga orang pesilat tinggi,
diantaranya hanya nama Kie Ting-hoan yang diketahui
oleh orang luar, menurut yang aku tahu mereka punya
pesilat tinggi yang telah benar-benar terlatih."
"Nama tidak penting, aku sudah banyak membunuh
pesilat tinggi yang tidak tahu namanya."
Kata-kata ini sangat takabur sekali, suaranya juga
nyaring, beberapa laki-laki di atas jembatan dan di darat
juga mendengarnya.
Seorang laki-laki besar berbaju hijau mendadak
melangkah naik ke atas jembatan batu. Langkah dan
sikapnya sangat tegap dan pemberani.
Dia berjalan di belakang tubuh Li Poh-hoan, karena
kata-katanya Hoyan Tiang-souw dia menghentikan
langkahnya. Kata Li Poh-hoan:
"Tan Lo-hen, rupanya kau tidak bisa menahan diri"
Maukah kau mendengar nasihatku"
Saat dia bicara, tidak memalingkan kepalanya
kebelakang, tapi bisa menyebutkan nama orang yang
datang ini, tampak ini salah satu kelebihannya dari pada
orang lain. Sebenarnya kehebatannya tidak hanya sampai disini.
Laki-laki besar berbaju hijau berkulit hitam itu
menghentikan langkahnya dan berkata:
"Bagaimana kau bisa tahu yang naik ke atas jembatan
adalah aku" Apakah ada orang yang memberi tahu
padamu?" Li Poh-hoan berkata tawar:
"Selain pesilat tinggi ilmu golok, siapa lagi yang bisa
sekali melihat Hoyan Tiang-souw langsung tidak tahan dan
menampilkan diri" Walaupun selama ini kau belum pernah
memperagakan keahlian golokmu yang sebenarnya, tapi
aku tetap bisa melihat kau adalah pesilat tinggi kelas saru.
Aku selalu ingin menyelidiki kenapa orang pandai
sepertimu, malah sengaja mau merendahkan diri berada di
barisan kelas dua di perkumpulan, aku masih belum
berhasil menyelidikinya, tapi sekarang kelihatannya sudah
tidak pentinglagi!"
Sambil menekan pegangan golok dan dengan suara
dalam TanLo-hen berkata: \
"Li-pangcu, kau boleh mencurigai aku, tapi tidak perlu
berpikir ke arah yang jelek, aku sama sekali tidak berniat
buruk padamu. Ini hanya alasan pribadi sehingga tinggal di
Siang-yang."
"Kalau aku tidak berpikir baik, kau sudah mati sejak
dulu, mungkin kau percaya aku mampu melakukannya."
Kata Li Poh-hoan tawar.
"Aku percaya," angguk Tan Lo-hen setelah berpikir
sejenak. "Tapi aku sudah ada janji pertarungan dengan Hoyan
Tiang-souw, kau adalah orang dari Thi-pian-tan-pang, jika
kau melakukan ini, pikiran apa yang akan dipikirkan dia?"
Tan Lo-hen membandel dan berkata: "Apa yang
dipikirkannya aku tidak peduli, dengan susah payah aku
menemukan seorang yang benar-benar pantas menjadi
lawanku, maka walaupun akan membuatmu marah, tetap
akan kulakukan!"
Hoyan Tiang-souw tidak marah juga tidak tertawa, sorot
matanya melihat ke arah kuil Han-san.
Dalam hatinya muncul bayangan Cui Lian-hoa. Sedang
apa dia" Sedang berdiskusi dengan Ji-hong hweesio" Lalu
siapa Ji-hong hweesio itu"
Sebenarnya dia bukan tidak memperhatikan Tan Lo-hen,
tapi karena telah banyak mengalami hal ini, maka menjadi
biasa. Orang-orang dunia persilatan selalu begitu.
Orang yang semakin percaya diri, saat bertemu dengan
lawan tangguh semakin ingin mencobanya tidak boleh
tidak. Li Poh-hoan tertawa pahit dan sedikit menghela nafas,
bergumam "Semoga Hoyan Tiang-souw jangan salah paham
padaku!" Dia melangkah mundur ke belakang dan Tan Lo-hen
melangkah maju ke depan.
Maka sekarangTan Lo-hen berhadapan dengan Hoyan
Tiang-souw. Tan Lo-hen berkata:
"Aku berada di jembatan sana, tapi sudah merasakan
hawa golokmu yang amat kuat, maka aku tidak bisa
menahan diri ingin bertanding golok dengan mu"
Hoyan Tiang-souw berkata:
"Beberapa orang juga sering berkata demikian, tapi
bertanding sering ada yang terluka atau mati, diantara kita
tidak ada permusuhan atau dendam, buat apa bertanding?"
Di dalam mata Tan Lo-hen menyorot sinar ganas yang
membara: "Kalau kau takut, bersujudlah tiga kali di depan umum
padaku, jika tidak takut, gunakanlah golokmu."
Di ujung kedua alis tebal Hoyan Tiang-souw menyorot
amarah yang seperti bisa dilihat dan diraba.
Ini adalah ciri tunggal Hoyan Tiang-souw yang berbeda
dengan orang di seluruh dunia. Walaupun Pek-mo-ci-to
sebilah golok pusaka di dunia, tapi tidak bisa dianggap
cirinya. Karena Mo-to bisa saja pindah tangan kepada
orang lain, dan setiap orang bisa mengepitnya di bawah
ketek. Hanya amarah yang berbentuk dan berisi ini, tidak ada
orang kedua yang memilikinya.


Asmara Pedang Dan Golok Karya Suma Leng di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Mo-to bergulir ke telapak tangannya. Begitu dia marah
maka dia akan menyerang, mengenai mencabuf keluar atau
tidak Mo-tonya, itu tidak ada syarat tertentu. Jika lawannya
terlalu lemah, tidak perlu mengeluarkan golok, maka dia
menggunakan tinju telapak tangan atau kaki, juga sama bisa
merobohkan lawan.
% % % BAB 6 Tan Lo-hen menggerakan tangan, sebilah golok panjang
yang sangat tajam, seperti sulap sudah berada di tangannya.
Hawa golok yang amat dingin dari kejauhan mengikuti
arah ujung golok menutup Hoyan Tiang-souw.
Dengan melihat gerakan mencabut golok saja, semua
orang sudah tahu ilmu goloknya sudah sampai ke tingkat
paling top. Hati beberapa orang jadi mengerut karenanya, mereka
semua adalah anggota dari Thi-pian-tan-pang.
Karena Tan Lo-hen adalah kelompok mereka, dan sudah
bersama-sama selama beberapa tahun, dan manusia punya
perasaan. Maka di dalam hati mereka memihak pada Tan Lo-hen,
dan mengkhawatirkannya. Dengan kata-kata yang lebih
tepat adalah setelah semua orang melihat gerakan golok
Tan Lo-hen yang luar biasa, seperti seorang yang ternama,
mereka malah jadi meng-khawatirkan dia, karena jelas jika
dua macan bertarung pasti ada satu yang terluka.
Jika salah satunya bukan macan tapi kelinci, mungkin
paling banter bokongnya ditendang orang dan masalahnya
selesai. Golok panjang Tan Lo-hen satu mili pun tidak bergerak.
Tapi hawa golok yang tidak ada wujudnya, berubah
menjadi angin golok.
Baju Hoyan Tiang-souw memang sedikit berkibat-kibar,
dia merasa tampaknya lawan ingin menggunakan angin
golok yang dingin dan tajam itu, untuk mengangkat amarah
dia. "Sreeng," Pek-mo-ci-to keluar tiga inci.
Sinar goloknya berkelebat.
Ibarat kau mencuri pandang pada matahari melalui celah
jari, tetap saja tidak bisa membuka mata karena silaunya,
maka terhadap golok Hoyan Tiang-souw semua orang bisa
melihat tapi tidak bisa menatap nya.
Mata Tan Lo-hen pun tidak tahan, dia sedikit
memejamkan mata, hingga angin goloknya jadi melemah.
Tapi dia masih tetap tegar, sedikit pun tidak takut.
Hati Hoyan Tiang-souw tergerak, amarahnya kembali
berkurang hampir setengahnya.
Tentu saja karena Mo-tonya pun memiliki satu tenaga
gaib, bisa membuat penjahat ketakutan.
Jika bukan seorang penjahat, pembawa Mo-to hanyalah
lebih tajam dari pada golok yang paling bagus dan paling
tajam. Orang ini tidak ada sikap ketakutannya.
Jadi dia bukanlah orang yang jahat dan licik.
Itulah sebabnya, kenapa amarahnya Hoyan Tiang-souw
berkurang. Tapi dia tetap siap bertarung terus, karena dia sudah
cukup banyak pengalaman, tahu benar sifat orang semacam
ini, tahu Tan Lo-hen pasti tidak akan mau mundur sedikit
pun. Hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan orang
baik atau orang jahat.
Tan Lo-hen bukan saja tidak mau mundur, malah sudah
menyerang duluan.
Dia meloncat ke atas, tubuhnya yang tegar ringan dan
lincah laksana garuda.
Terbang ke atas sampai setinggi tiga tombak, dari atas
udara dengan dahsyat menyerang ke bawah.
Loncatan dia sedikit pun tidak ada variasi, sehingga
setiap orang bisa melihat dengan jelas.
Tapi serangan golok dia secepat kilat menyabet ke kiri
membacok ke kanan, dan perubahan tidak menentu,
membuat mata orang sulit menerka arahnya.
Ketika mau turun, golok panjang dia telah disebetkan
sebanyak tiga belas kali.
Hoyan Tiang-souw mundur ke belakang dua langkah,
(hal ini sangat diluar dugaan orang, karena melihat amarah
dia seperti macam orang yang mati pun tidak mau mundur)
Tapi dua langkah mundurnya, membuat orang menjadi
kagum. Sebab setiap bacokan Tan Lo-hen hanya meleset
kurang satu dua inci saja, tiga belas bacokan golok laksana
angin ribut bergulung lewat, karena itulah Hoyan Tiangsouw
mundur dua langkah.
Jika membiarkan Tan Lo-hen melanjutkan serangannya,
tentu Hoyan Tiang-souw harus mundur lagi kebelakang.
Tan Lo-hen juga tidak berniat menghentikan
serangannya, jurus golok dia juga tidak hanya tiga belas
jurus golok ini saja.
Tapi karena Mo-to Hoyan Tiang-souw sudah keluar dari
sarungnya, di dalam kilatan sinar terang terselip dua sinar
yang berbentuk tetes air mata.
Sabetan goloknya, hanya Tan Lo-hen yang merasakan
Mo-to itu memang ada tenaga gaibnya.
Maka jika dia tetap mau menyerang, Mo-to itu seperti
telah menjelma entah jadi berapa banyaknya, menunggu dia
masuk untuk di bunuh.
Jika demikian, asalkan tidak menyerang atau tidak maju
bukankah akan aman"
Disinilah gaibnya, jika tidak maju menyerang, maka Moto
itu bisa maju dan menyerang sekali.
Dan juga bisa membuat Tan Lo-hen merasa di tubuhnya
seperti ada sepuluh celah lebih yang bisa diserang.
Menyerang tidak bisa, bertahan juga tidak mampu. Tan
Lo-hen terpaksa berteriak sekali, lalu mundur ke belakang
tiga langkah besar.
Hoyan Tiang-souw berdiri tegak laksana gunung, Mo-to
sudah masuk lagi ke dalam sanmgnya, dia tidak
melanjutkan serangannya, melihat tampang-nya terlihat dia
tidak perlu bertarung lagi.
Tan Lo-hen jadi naik pitam, berdasarkan apa
kemenangan bisa di tentukan dalam satu jurus saja"
Walaupun benar kemenangan sudah ditentu-kan, itupun
tidak perlu membusungkan dada, mata melotot
menampilkan tampang galak!
Dia tertawa saking marahnya, lalu "Huut!" meloncat ke
atas delapan kaki.
Golok panjangnya dibacokan, secepat kilat seganas
macan. Sebenarnya dia telah salah paham pada Hoyan Tiangsouw.
Seumur hidup tampang Hoyan Tiang-souw memang
begitu, membusungkan dada, mata melotot marah,
tampang yang galak, tampang dia selain tampang ini tidak
ada tampang lain lagi.
Tan Lo-hen menyerang seperti gila, bacokannya
sambung menyambung. Kakinya belum menyentuh tanah,
dia sudah membacokan goloknya sebanyak lebih dari lima
belas kali bacokan.
Setiap bacokannya melewati ujung hidung, mata atau
tenggorokan, titik kematiannya Hoyan Tiang-souw, setiap
bacokan hanya kurang satu dua inci saja dari sasarannya..
Hoyan Tiang-souw terus mundur ke belakang, setelah
lima belas bacokan golok dia sudah mundur tiga langkah,
tapi cara mundurnya pun lebih gagah lebih anggun
dibandingkan orang lain.
Sama sekali tidak terlihat mundur dengan pontang
panting" Akhirnya amarahnya yang sudah ditahan, kembali
menyembur keluar dari kedua ujung alis tebalnya.
Ada sebagian orang memang menggemaskan dan
membuat orang marah.
Jelas-jelas tidak ada permusuhan dan dendam kesumat,
buat apa harus bertarung mengadu nyawa"
Bicara mengenai ilmu silat, apakah jurus golokmu sangat
bagus, lalu tidak mengizinkan orang lain memiliki jurus
golok bagus" Aturan dari mana ini"
Sekali dia naik darah, Mo-to kembali keluar dari
sarungnya, sinar golok laksana kilat muncul di kegelapan
malam, membuat mata yang penonton jadi berkunangkunang.
Tapi mata Tan Lo-hen tidak berkunang-kunang,
serangan golok Hoyan Tiang-souw yang terdahulu,
walaupun hanya ada dua titik sinar berbentuk air mata, tapi
tidak menjadi perhatian Tan Lo-hen.
Sekarang mau tak mau dia bukan saja memperhatikan
malah bertambah terkejut sekali, karena dia telah melihat
dua titik sinar yang mencolok mata, yang berbentuk air
mata itu muncul di dalam sinar golok itu!
Apa artinya dua tetes air mata ini, dia tidak tahu, dia
tidak sempat memikirkannya, satu-satunya yang bisa dia
lakukan adalah sekuat tenaga membacok-an goloknya tujuh
kali berturut-turut, bukan dibacokan pada musuh, hanya
untuk membuat tabir di depan Mo-to itu.
Dia berharap tabir goloknya bisa menahan Mo-to supaya
tidak mengenai tubuhnya, inilah satu-satunya yang bisa dia
harapkan. Siapa pun orangnya pasti mengakui tabir golok yang
dibuat Tan Lo-hen sangat kerap sekali, malah bisa dibilang
satu tetes air pun tidak akan bisa menembus.
Tapi Mo-to tetap saja bisa menembus tabir golok itu,
sedikit pun tidak terhalang.
Sepertinya tabir golok itu ada satu celah yang sangat
besar. Mo-tonya Hoyan Tiang-souw tiba-tiba bergerak miring
ke samping setengah kaki.
Tan Lo-hen berteriak keras, lengan kirinya terbang
sejauh tujuh atau delapan kaki, darah segera mengucur.
Jika golok Hoyan Tiang-souw tidak bergerak miring
sedikit, yang terbang keluar itu bukan lengan^ kirinya tapi
kepalanya. Tan Lo-hen mengangkat golok panjangnya tegak ke
langit, posisinya masih sangat menantang.
Jika jurus dia ini adalah serangan terakhir yang
mengerahkan seluruh sisa tenaganya, walaupun dia sendiri
hancur lebur tapi harus berhasil, kedahsyat-annya tentu saja
bisa menggetarkan bumi dan langit.
Tapi masalahnya, dalam hati Tan Lo-hen tidak didukung
oleh dendam kesumat yang amat sangat.
Walaupun ada dendam kesumat seperti ini, apakah
pikiran dia bisa atau tidak mencapai taraf ini, itu juga
menjadi pertanyaan.
Di dunia ini ada banyak hal yang bisa dilaku-kan oleh
Bara Api Di Laut Kidul 1 Pendekar Rajawali Sakti 184 Kembang Lembah Darah Kisah Si Rase Terbang 4
^