Pencarian

Bara Maharani 8

Bara Maharani Karya Khu Lung Bagian 8


cakar Thong-Long Jiauw dari Siang Loo jie mengandung
racun keji."
Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari arah belakang
berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan
hati, cepat ia berpaling ke belakang. terlihatlah sambil
menyemburkan darah hitam dari mulutnya Siang Hauw
roboh terjengkang ke atas tanah, sekujur tubuhnya
mengejang beberapa saat lamanya kemudian matanya
melotot besar dan mati binasa.
Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya, ia tetap
meneruskan gerakannya lari ke depan. Giok Teng Hujien
menyusul dari belakangnya sambil berseru kepada Soatjie
makhluk aneh itu, "Soat-jie, cepat kejar kakek tua
tadi." Rase putih sangat memahami perkataan manusia,
mendengar perintah dari majikannya ia berteriak
kegirangan, tubuhnya segera meluncur lebih dahulu ke
depan dan membuka jalan bagi kedua orang itu.
Sambil berlari Giok Teng Hujien tertawa dan berkata,
"Ini hari Cu Goan-khek betul-betul keok di tangan kita!"
Hoa Thian-hong menjawab ia menoleh ke belakang
ketika dilihatnya tak ada orang yang mengejar. kakinya
segera bergerak semakin cepat lagi meluncurkan ke arah
depan. Haruslah diketahui disaat racun teratainya sedang
kambuh, semakin cepat pemuda itu berlari semakin
berkurang penderitaan yang sedang dirasakan olehnya,
cuma sayang mereka masih berada di dalam kota yang
ramai hingga tenaganya tak bisa digunakan sampai pada
puncaknya, sekalipun begitu Giok Teng Hujien yang
harus mendampingi disisinya sudah merasa kepayahan.
Beberapa waktu kemudian mereka sudah keluar dari
kota, tampaklah si kakek cebol gemuk itu sambil
memanggul tubuh Chin Giok-liong di atas bahunya
sedang berlari mengikuti tembok kota, Soat-jie
membuntuti kurang lebih beberapa tombak
dibelakangnya, manusia dan binatang itu saling kejar
mengejar dengan cepatnya, dalam sekejap mata mereka
sudah berada jauh sekali dari pandangan.
Hoa Thian-hong segera berpikir di dalam hati, "Si
kakek tua ini entah sahabat atau musuhku" Kalau.
ditinjau dari ilmu silatnya yang begitu lihay, andaikata dia
adalah musuhku maka amatlah sulit bagiku untuk
menghadapinya. Sementara otak berputar, sepasang kakinya berlari
semakin kencang lagi, tubuhnya meluncur ke muka
makin tajam hingga badannya berada sepuluh tombak
lebih ke depan dari keadaan semula.
Saat ini posisi Hoa Thian-hong sudah maju lebih ke
depan dari keadaan semula, dari kejauhan ia dapat
saksikan si kakek gemuk cebol itu sedang berlari kencang
dipaling depan, Soat-jie si makhluk aneh itu berlari di
tengah sedang ia bersama Giok Teng Hujien berada
dipaling belakang.
Setelah berlarian beberapa saat lamanya, tanpa terasa
sampailah mereka dipintu selatan kota. mendadak kakek
cebol gemuk itu turunkan Chin Giok-liong ke atas tanah,
lalu seorang diri ngeloyor masuk ke dalam kota dan
lenyap dari pandangan.
Dengan cepat Hoa Thian-hong menyusul sampai
disitu, ia cekal pergelangan Chian Giok Liong sambil
tegurnya, "Giok Liong heng, masih kenalkah kau dengan
diri Siauwte?"
Chian Giok Liong tetap berdiri bodoh di tempat
semula, wajahnya bingung dan terasa pandangan
kosong, walaupun sudah ditegur beberapa kali namun ia
tetap bungkam dalam seribu bahasa
Akhirnya Hoa Thian-hong menghela napas panjang, ia
menoleh ke samping dan berkata, "Cici. pengetahuan
serta pengalaman amat luas, apakah kau punya cara
untuk menolong sahabat Siauwte ini?"
Giok Teng Hujien tersenyum mania, dari sakunya ia
ambil keluar sebuah saputangan dan menyahut, "Aku
cuma sudi mengurusi dirimu seorang urusan orang lain
ogah untuk mencampurinya."
Ia merandek sejenak dan memeriksa luka pada
ketiaknya, lalu menambahkan, "Darah yang menetes
keluar telah berubah jadi merah segar, apakah racun
teratai yang sedang kambuh telah tenggelam kembali?"
"Kurang lebih begitulah" jawab Hoa Thian-hong sambil
menyeka keringat yang membasahi tubuhnya."Setiap
hari racun itu kambuh, tentu akan makan waktu
setengah jam lamanya agar bisa tenggelam kembali,
rasanya waktu yang dibutuhkan hari ini jauh lebih
pendek." Dari sakunya Giok Teng Hujien sambil keluar sebuah
botol porselen, sambil mengeluarkan sejumlah bubuk
putih untuk dipulaskan ke atas bekas cakar yang
membekas di atas ketiak Hoa Thian-hong, katanya
sambil tertawa.
"Bagaimana sih Siang Hauw bisa mati secara
mendadak" Agaknya kau tidak mempan terhadap racun
macam apapun, racun keji dari ilmu cakar Thon-Long-
Jiauw dari Siang Hauw sama sekali tidak manjur
terhadap dirimu....
Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, lalu
jawabnya, "Aku menggunakan serangan sikut untuk
membentur patah kuku di jari Siang Hauw, mungkin
darah beracun dari tubuhku telah bercampur dengan
darah segarnya hingga menyebabkan selembar jiwanya
melayang."
"Ei, makhluk racun cilik!" tegur Giok Teng Hujien
sambil tertawa, "Seandainya aku gigit dirimu, bukankah
selembar jiwaku juga akan ikut melayang?"
Hoa Thian-hong tertawa geli, ia gandeng tangan Chin
Giok-liong dan perlahan-lahan masuk ke dalam kota.
ujarnya "Cici, kau suruh Soat-jie mengejar kakek tua itu,
apakah ia tak akan menimbulkan keonaran?"
"Soat-jie amat jinak dan penurut" sahut Giok Teng
Hujien sambil tertawa merdu, "Sebelum mendapat
perintahku ia tak akan melukai orang secara
sembarangan, si kakek tua tadi adalah sisa dari jagoan
lihai kalangan lurus yang berhasil lolos dari kematian.
aku rasa tindak tanduknya pasti didasarkan oleh rencana
yang matang."
"Ilmu silat yang dimiliki kakek tua itu sangat lihay,
gerak-geriknya lincah dan otaknya cerdas" pikir Hoa
Thian-hong dalam hati. "Seandainya ia benar-benar
adalah jago lihay dari kalangan lurus, kejadian ini betulbetul
merupakan suatu keberuntungan bagi kami, aku
harus berusaha untuk menjumpai dirinya dan ajak dia
berbicara."
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat di dalam benaknya.
segera ujarnya, "Cici sewaktu berada ditepi sungai
Huang-hoo tempo dulu, kau pernah berkata bahwa
dirimu memiliki sebuah Jinsom berusia seribu tahun......"
Berbicara sampai di tengah jalan mendadak ia teringat
bahwa hubungan diantara mereka hanya kenalan biasa,
sama sekali tiada ikatan yang mendalam, Jinsom berusia
seribu tahun yang merupakan obat majsrab sekalipun
dimiliki olehnya belum tentu perempuan itu rela
menyerahkan padanya.
Karena itu bicara sampai di tengah jalan ia segera
membungkam. Sinar mata Giok Teng Hujien berkilat tajam dengan
wajah penuh senyum ia menyahut, "Jinsom seribu tahun
sih cici memang mempunyai sebatang, cuma obat
mujarab itu sukar didapat bila digunakan secara
sembarangan amatlah sayang, penyakit yang diderita
Chin Giok-liong tidak sampai mempengaruhi
keselamatannya, lain hari bila aku bertemu dengan Jien
Hian biarlah cici tegur dirinya sekalian mintakan obat
pemunah bagi orang ini."
Sebenarnya Hoa Thian-hong mengungkap persoalan
ini adalah mengingat luka dalam yang diderita ibunya,
melihat perempuan itu telah salah artikan perkataannya
iapun tersenyum dan tidak memberikan penjelasan lebih
lanjut. Mendadak tampaklah Soat-jie si rase putih itu lari
kembali, kepalanya celingukan ke kiri ke kanan dengan
pandangan tajam, kalau ditinjau dari keadaan itu jelas ia
sudah kehilangan jejak dari kakek gemuk cebol itu.
Giok Teng Hujien segera ulurkan tangannya
membopong rase putih itu ke dalam pelukannya, sambil
tertawa ia berkata, "Licin amat si kakek tua itu, lain kali
kalau sampai berjumpa lagi dengan diriku, aku harus
coba-coba dulu kelihaiannya!"
"Apakah cici kenal dengan asal usul orang ini?"-
Sambil tertawa Giok Teng Hnjiec menggeleng.
"Pokoknya yang jelas dia adalah salah seorang peserta
dan pertemuan Pek Beng Hwie, waktu itu usia cici masih
muda dan tak sempat ikut menyaksikan keramaian
tersebut, jadi akupun tak tahu siapakah nama kakek rua
itu"...."
Ketika pembicaraan berlangsung sampai disitu,
mereka berdua telah tiba disebuah perempatan jalan,
Hoa Thian-hong segera memberi hormat sambil berkata,
"Sungguh beruntung dalam peristiwa yang terjadi pada
hari ini aku telah mendapat bantuan dari cici, budi ini
pasti akan siauwte ingat terus di dalam hati, dilain waktu
aku pasti akan membalasnya."
"Siapa sih yang mengharapkan balas budi darimu?"
omel Giok Teng Hujien sambil tertawa. Ia merandek
sejenak lalu tambahnya, "Permusuhanmu dengan pihak
perkumpulan Hong-im-hwie kian lama kian bertambah
dalam, pihak mereka pasti tak akan mengampuni dirimu,
menurut nasehatku lebih baik menyingkirlah dahulu ke
daerah tenggara. berpesiarlah dahulu di sekitar situ
sambil menunggu hingga suasana jadi reda kembali.
Hoa Thian-hong segera menggeleng. "Siauwte masih
ada urusan pribadi lain yang belum selesai,
bagaimanapun juga aku tetap harus tinggal di kota Cho
Chiu!" "Apakah kau telah mengadakan janji dengan Chin
Wan-hong untuk saling bertemu muka di kota Cho Chiu?"
Merah jengah selembar wajah si anak muda itu,
dengan cepat ia menggeleng. "Nona Chin telah
mendapat guru baru, dalam dua tiga tahun tak mungkin
ia lakukan perjalanan diluar. Siauwte sedang menanti
seorang angkatan tuaku"
"Serangan secara terang-terangan gampang dihindari,
serangan bokongan susah diduga, untuk sementara
waktu pindahlah dulu ke dalam kuil It-goan-koan dan
tinggal bersama cici."
"Terima kasih atas perhatianmu, siauwte paling takut
segala macam peraturan yang membelenggu kebebasan
orang, lagipula masih ada saudara Chin ini. Aku harus
berusaha keras untuk menyelamatkan dirinya!"
"Hiih..... hiih.... hiih.... sungguh tak nyana kau suka
jual tenaga bagi seorang sahabat."
Hoa Thian-hong mengerti bahwa dibalik ucapan Giok
Teng Hujien mengartikan lain, diam-diam ia menyindir
pemuda itu sebagai penolong Chin Giok-liong karena
memandang di atas hubungannya dengan Chin Wanhong
adiknya, segera ia tertawa hambar, sambil berpurapura
tidak mengarti perkataan itu ia berpamitan dan
mohon diri, Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, setelah
termenung sejenak ia putar badan dan berlalu. tetapi
baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba ia putar badan
sambil bertanya, "Saudara Hoa tahukah kau cici she
apa?" "Cici tidak bilang siauwte tak berani banyak bertanya,"
kata Hoa Thian-hong dengan wajah berubah jadi merah
padam. Giok Teng Hujien tertawa cekikikan. "Cici tidak punya
she dan tidak bernama aku tak pernah angkat guru dan
ilmu silatku adalah hasil latihan sendiri. percayakah kau?"
Diam-diam Hoa Thian-hong berpikir dalam hati, "Lie
Hoa Siancu serta Ci-wi siancu dari Biauw-Nia-Sam-Sian
adalah anak buangan yang ditemukan gurunya,
merekapun tak bernama. cuma ia bilang tak ada orang
yang menurunkan ilmu silat kepadanya, kepandaian itu
adalah hasil latihan sendiri, perkataan ini benar-benar
sulit membuat orang untuk mempercayainya."
Dalam hati berpikir demikian, diluar ia menjawab,
"Siauwte tentu saja akan mempercayainya, tolong tanya
siapakah nama Ciehu atau kakak iparku itu?"
"Hiiih.... Hiiih.... Hiiih.... siapa bilang kau sudah punya
kakak ipar" Sebutan Nyonya (Hujien) adalah
pemberianku sendiri, sampai sekarang cicimu belum
pernah kawin!"
"Kurang ajar...." batin Hoa Thian-hong dalam hati, ia
segera memberi hormat dan sambil menggandeng
tangan Chin Giok-liong berlalu dari situ.
Giok Teng Hujien tertawa cekikikan iapun kembali ke
tempat tinggalnya di kuil It-goan-koan.
Dalam pada itu Hoa Thian-hong setelah kembali ke
dalam rumah penginapan, tiba-tiba ia temukan Ciong
Lian-khek berjalan menghampiri dirinya, si anak muda itu
merasa kedatangannya diluar dugaan, dengan cepat ia
persilahkan tamunya masuk ke dalam.
"Cianpwee, ada urusan apa secara tiba-tiba kau
berkunjung kemari?" sapanya.
"Aku telah pindah ke rumah penginapan ini dan
sekarang berdiam di kamar sebelahmu!"
Mendengar ucapan itu Hoa Thian-hong jadi
kegirangan, iapun lantas menerangkan asal usul dari


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Chin Giok-liong serta pertarungannya melawan Cu Goankhek
serta dua bersaudara she-Siang di rumah makan Ci-
Eng Loo. Dengan tenang Ciong Lian-khek mendengarkan kisah
itu, kemudian katanya, "Dewasa ini situasimu amat kacau
tak karuan, banyak penjahat yang ada maksud
mencelakai jiwamu, biarlah untuk sementara waktu Chin
Giok-liong berdiam bersama aku sehingga bila terjadi
sesuatu hal yang tak diinginkan kau tak usah cabangkan
pikiran untuk memperhatikan dirinya."
Hoa Thian-hong jadi amat terharu, pikirnya, "Bergaul
dengan para ksatria sejati memang sepantasnya terus
terang dan bicara blak-blakan, kalau sikapku ragu-ragu
dan sangsi malahan rasanya kurang hormat."
Berpikir demikian iapun mengacapkan rasa terima
kasihnya dan serahkan Chin Giok-liong ke tangan
pendekar itu, sedang ia sendiri sehabis mandi dan tukar
pakaian bersama mereka berdua makan siang dalam
kamar. Tiba-tiba Ciong Lian-khek bertanya, "Ilmu pukulan
tangan kirimu itu kau dapatkan dari siapa?"
"Orang itu bernama Cioe It Bong, sekarang
terperangkap dalam kurungan perkumpulan Sin-kiepang."
"Lalu kepandaian silat tangan kananmu"' "Mendiang
ayahku telah meninggalkan sebilah pedang baja serta
enam belas jurus ilmu pedang sederhana kepadaku,
sayang aku tak becus dan kehilangan pedang baja itu
sewaktu masih ada di dalam markas besar perkumpulan
Sin-kie-pang "Sungguh aneh," bisik Ciong Lian-khek dengan alis
berkerut. "Hoa tayhiap adalah seorang jago kosen, tidak
mungkin ia cuma tinggalkan enam belas jurus ilmu
pedang yang amat sederhana, menurut penilaianku ilmu
pedang itu pasti tak akan sesederhana itu cuma kau
belum sampai berhasil menemukan inti sari dari ilmu itu."
Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong sehabis
mendengar perkataan itu katanya, "Sayang pedang baja
itu tidak berada disisiku kalau tidak aku pasti akan
mainkan jurus-jurus pedang itu sambil memohon
petunjuk dari cianpwee, aku percaya banyak manfaat
yang bakal kutarik dari diri cianpwee."
Ciong Lian-khek adalah seorang ahli pedang yang
setiap saat menggembol sebilah pedang baja di atas
punggungnya, saat itu sambil bersantap katanya, "Coba
gunakanlah sumpit itu sebagai ganti pedang dan
mainkan salah satu jurus serangan itu!"
Hoa Thian-hong mengangguk, ia gunakan sumpit
ditangannya mainkan beberapa gerakan, kemudian
sambil gelengkan kepala dan tertawa sahutnya, "Pedang
baja milikku itu besar lagi berat, sedang sumpit ini terlalu
kecil. Sulit bagiku untuk memperlihatkan gerakan jurus
serangan itu."
Ciong Lian-khek termenung tidak bicara, beberapa
saat kemudian katanya, "Selesai bersantap nanti
gunakanlah pedangku untuk bermain beberapa jurus
serangan itu."
Tapi Hoa Thian-hong segera menggeleng. "Pedang
macam apapun yang berada dalam genggamanku segera
akan patah jadi dua bagian bila kugunakan, dahulu
sudah begini aku rasa setelah tenaga dalamku
memperoleh kemajuan pesat keadaan itu semakin
bertambah payah."
Mendengar perkataan itu kembali Ciong Lian-khek
termenung pikirnya sejenak, lalu katanya, "Menurut
dugaanku enam belas jurus ilmu pedang yang diwariskan
Hoa tayhiap kepadamu itu. Pastilah serangkaian ilmu silat
yang maha sakti dan maha dahsyat, mungkin usiamu
masih terlalu muda dan pengalamanmu masih amat
cetek hingga inti sari dibalik kepandaian itu belum
berhasil kau pahami ..."
Mula2 Hoa Thian-hong melengak, kemudian pikirnya,
"Perkataan ini sedikitpun tidak salah, sewaktu ayah
mewariskan kepandaian tersebut kepadaku, beliau
pernah berpesan pedang ada manusia hidup, pedang
musnah orang mati!"
Berpikir sampai disini ia merasa amat murung dan
kesal, dalam hati pemuda inipun mengambil keputusan
untuk berangkat ke markas besar perkumpulan Sin-kiepang
guna minta kembali pedang bajanya bila saatnya
telah tiba Selesai bersantap karena terlalu lelah maka sesudah
bercakap2 sebentar Hoa Thian-hong naik ke atas
pembaringan dan beristirahat sedangkan Ciong Lian-khek
sambil membawa Chin Giok-liong kembali ke kamar
sebelah, selama bercakap2 tadi meski ia tidak tunjukkan
sikap yang hangat tapi jelas terlihat bahwa la amat
menyayangi si anak muda itu,
Tidur Hoa Thian-hong kali ini benar-benar amat
nyenyak, ketika ia mendusin, hari sudah gelap.
tampaklah suasana dalam kamarnya sunyi senyap tak
kedengaran sedikit suarapun, ia segera bangun dan
berpakaian lalu menuju ke kamar sebelah,
Di bawah sorot lampu tampaklah dalam kamar Ciong
Lian-khek terdapat tiga orang tamu, kecuali Chin Giokliong
dua orang tamu yang lain adalah Si utusan
pencabut nyawa Ma Ching-san serta si pelindung hukum
dan perkumpulan Sin-kie-pang, Tang Hiong-sim.
Ketika melihat Hoa Thian-hong melangkah masuk ke
dalam kamar. Ma Ching-san serta Tang Hiong-sim segera
bangkit berdiri dan maju memberi hormat, sapa mereka
sambil tertawa, "Oooh! Kongcu telah mendusin, aku...."
Mendengar sebutan mereka berdua terhadap dirinya
telah berubah. diam-diam Hoa Thian-hong menaruh
curiga, cepat tukasnya, "Aaah, aku tak tahu kalau kalian
berdua akan berkunjung kemari. bilamana kalian harus
menunggu lama harap suka dimaafkan."
Si utusan pencabut nyawa Ma Ching-san dari
perkumpulan Thong-thian-kauw segera tertawa. katanya,
"Pertempuran yang terjadi antara Hoa kongcu melawan
Cu Goan-khek dari perkumpulan Hong-im-hwie hari ini
telah menggemparkan seluruh kota Cho Chiu, segenap
anggota perkumpulan kami dari atas sampai bawah tak
ada yang tidak merasa kagum, Untuk kehebatan kongcu
sengaja Giok Teng Hujien telah menyiapkan perjamuan
untuk merayakan kemenangan itu, harap Hoa kongcu
sudi untuk menghadirinya."
"Ngomong terus tiada hentinya, jadi dia ada maksud
mengundang aku pergi makan" pikir Hoa Thian-hong
dalam hati. Sambil tertawa segera tukasnya. "Harap Maheng
tunggu sebentar, aku segera berangkat mengikuti
dirimu!...." bicara sampai disini ia lantas berpaling ke
samping. "Kedatangan Tang-heng kesini apakah
membawa tugas dari perkumpulan?"
Tang Hiong-sim tertawa terbahak-bahak, sekilas
cahaya merah melintas di atas wajahnya, ia melangkah
maju ke depan dan ambil keluar sepucuk surat dari
sakunya lalu diangsurkan ke depan.
"Hoa Thian-hong menerima surat itu dan membaca
isinya, ternyata ditulisan tangan dari Pek Kun-gie.
terbacalah isi surat itu berbunyi demikian, "Aku telah tiba
di kota Cho-Chiu, harap datang untuk berjumpa"
Terdengar Tang Hiong-sim berkata, "Nona kami
mendengar bahwa setiap hari Hoa kongcu harus
melakukan 'Lari Racun' dalam hati merasa amat kuatir.
oleh sebab itu ia berharap bisa cepat-cepat berjumpa
muka dengan kongcu."
Diam-diam Hoa Thian-hong tertawa dingin, pikirnya,
"Hmmm! Seandainya tempo dulu aku mati sekarat ditepi
sungai Huang-hoo, masing-masing pihak tentu tidak akan
saling kuatir dan saling mengagumi...."
Berpikir demikian tanpa terasa ia terkenang kembali
akan Chin Wan-hong, cinta kasihnya yang suci dan murni
terasa amat merasuk ke dalam hatinya, ia berharap bisa
cepat-cepat berjumpa lagi dengan gadis itu.
Terkenang akan adiknya pemuda itu segera teringat
pula akan kakaknya. ia berjalan menghampiri Chin Giokliong
lalu menyapa dengan suara lembut, "Saudara Giok
Liong, masih ingatkah dengan siauwte?"
Chin Giok-liong angkat kepalanya dan menatap wajah
pemuda itu beberapa saat lama tapi ia tetap bimbang
dan kebingungan. jelas terhadap diri Hoa Thian-hong ia
merasa tak pernah kenal.
Ciong Lian-khek yang berada disisinya segera
menimbrung, "Ia sudah dicekoki obat pemabok dari Jien
Hian, kejadian yang lampau sudah terhapus sama sekali
dari benaknya. untung selembar wajahnya masih bisa
dipertahankan. lain kali kita bisa berusaha secara
perlahan-lahan untuk menyembuhkan penyakitnya itu,
aku percaya suatu saat dia akan pulih kembali seperti
sedia kala."
Hoa Thian-hong menghela napas panjang, kembali ia
berpaling ke arah Tang Hiong-sim dan berkata, "Tang
heng, merepotkan dirimu suka memberi kabar kepada
nona Pek bahwa besok akan menyambut kedatangannya
di rumah makan Kie Eng Leo!"
Mendengar perkataan itu, Tang Hiong-sim melirik
sekejap ke arah Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san
kemudian mohon diri dan berlalu.
Ma Ching-san sendiri berdiri sambil tersenyum
dikulum, rupanya ia merasa amat bangga dengan
keputusan itu. Sementara itu Hoa Thian-hong telah menoleh ke arah
Ciong Lian-khek sambil berkata, "Aku pikir mumpung tak
ada urusan maka boanpwee ingin pergi mengunjungi kuil
It Goan-Koan, aku ingin lihat manusia macam apa saja
yang tergabung di dalam sekte agama Thong-thiankauw!"
"Pergi berkunjung sih tak mengapa, cuma kau musti
perhatikan permainan setan yang mereka siapkan" ujar si
jago bercambang memperingatkan.
Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san yang
mendengar ucapan itu, sepasang matanya kontan
melotot. "Sahabat, kalau berbicara aku minta kau sedikitlah
tahu diri....."
"Siapa yang sudi jadi sahabatmu?" hardik Ciong Liankhek
dengan mata mendelik, Kenapa musti tahu diri
terhadap dirimu?"
Air muka Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san
berubah hebat, tapi dengan cepat pulih kembali seperti
sedia kala, ujarnya hambar, "Memandang di atas wajah
Hoa kongcu aku orang she-Ma tak ingin ribut-ribut
dengan dirimu." Habis berkata ia putar badan dan berlalu
dari ruang kamar.
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa geli setelah
berpamitan dengan jago bercambang ia keluar dari
rumah penginapan, disitu tampaklah Ma Ching-san
dengan menuntun dua ekor kuda jempolan sedang
menunggu diluar pintu, Hoa Thian-hong sambut tali les
dan berangkatlah mereka berdua menuju ke arah kuil Itgoan-
koan. Kantor cabang dari sekte agama Thong-thian-kauw ini
terletak di sudut kota sebelah timur. banyak sekali
jemaah yang bersembahyang disitu, tapi bagi mereka
hanya boleh mengunjungi batas ruang depan saja, ruang
berikutnya merupakan daerah terlarang bagi kaum
awam. Mengikuti di belakang Ma Ching-san, secara beruntun
Hoa Thian-hong melewati beberapa buah ruang besar
dan tibalah di depan sebuah bangunan loteng yang
tinggi. Suasana di depan loteng sunyi senyap. tak
kedengaran sedikit suarapun, delapan orang bocah imam
berbaju hijau dengan pedang pendek tersoren di
punggung berjaga-jaga di depan pintu. Sambil
menggandeng tangan Hoa Thian-hong berjalan masuk ke
dalam loteng itu.
Pikirnya, "Ditinjau dari sikap Ma Ching-san rupanya ia
merasa agak tegang untuk memasuki tempat ini, dari
wajahnya yang serius jelas loteng ini merupakan tempat
penting disini.
Diam-diam ia perhatikan suasana di sekitar sana
tampaklah olehnya pada setiap saat bangunan loteng itu
dijaga ketat oleh para penjaga pada tingkat yang paling
bawah dijaga oleh delapan orang imam kecil berbaju
hijau, pada tingkat kedua dijaga oleh delapan orang
toosu muda sedang pada tingkat ketiga dijaga delapan
orang pria berbaju hitam, berkerudung hitam dan
berbadan kekar.
Menanti ia sudah tiba di loteng tingkat keempat,
tampaklah di bawah cahaya lampu yang berkilauan
sebuah meja perjamuan telah disiapkan, Giok Teng
Hujien dengan sanggul yang tinggi dan dandanan yang
agung duduk di meja utama. Soat-jie si rase salju berada
dalam bokongannya. Seorang gadis berbaju ungu yang
cantik jelita berdiri di belakang tubuhnya, sementara dua
orang toosu tua duduk pada kursi samping, delapan
orang gadis cantik dan beberapa orang imam kecil berdiri
disekeli1ing sana.
Begitu melihat kehadiran Hoa Thian-hong di atas
loteng, Giok Teng Hujien segera bangkit dari tempat
duduknya dan maju menyambut dengan senyum
dikulum. "Lama benar nih!" serunya, "Aku mengira kau sangat
marahnya dan minta dijemput oleh aku sendiri!"
Hoa Thian-hong tersenyum, sesudah menjura dia
alihkan sorot matanya melirik sekejap ke arah dua orang
toosu tua yang ikut bangkit dan tempat duduknya itu.
"Siapakah sebutan dari tootiang berdua" Cici kau
harus perkenalkan dulu kepadaku!" serunya.
Giok Teng Hujien tersenyum. "Ayoh duduk dulu, soal


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu kita bicarakan nanti saja!" ia tarik tangan pemuda itu
dan membimbingnya menuju ke meja perjamuan.
Setelah ambil tempat duduk, Giok Teng Hujien baru
menoleh ke arah kedua orang toosu tua itu sambil
berkata, "Dialah Hoa kongcu! Kegemilangan serta
kecemerlangan nama keluarganya tak perlu dibicarakan
lagi kalian musti sudah kenal bukan" pemuda gagah
semacam ini harus dihormati harap kalian berdua suka
memberi hormat lebih dahulu."
Kedua orang toosu tua itu tak berani membantah,
mereka segera bangkit berdiri sambil memberi hormat.
"Selamat bertemu!" serunya hampir berbareng,
Giok Teng Hujien tuding seorang toosu tua di sudut
paling muka, katanya, "Dia adalah Ngo Ing-Cinjin,
sekarang menjabat sebagai ketua dari kuil It-goan-koan
"Selamat berjumpa!" seru Hoa Thian-hong sambil
menjura. Dia angkat kepala dan perhatikan toosu itu, tampaklah
usia dari Ngo Ing Cinjin kurang lebih lima enam puluh
tahunan, jenggot putih terurai sepanjang dada, jubah
kuningnya yang lebar bersulamkan sebuah lukisan Patkwa
dari benang emas, sebilah pedang berbentuk aneh
tersoren di atas bahunya dilihat gerak-geriknya ia
nampak gagah dan menyeramkan
Sementara itu Giok Teng Hujien telah menuding toosu
kedua, ujarnya kembali, "Yang itu adalah Cing-st-cu,
jabatannya adalah ketua dari ruangan ini," ia merandek
sejenak lalu sambil tertawa terusnya, "Perkumpulan kami
semuanya dibagi jadi tiga sektor atas, tiga sektor tengah
dan tiga sektor bawah, kekuasaan kesembilan sektor itu
terletak pada sembilan buah kuil, yaitu Sang-goan-koan,
Tiong-goan-koan serta He-goan-koan. Kuil It-goan-koan
langsung dibawahi oleh ketua kami dan terlepas dari
pengawasan sektor2 tersebut. Apabila kau memandang
kedudukan Cing-Si-Cu seimbang dengan kedudukan
ketua kantor cabang seperti pada perkumpulan lain,
maka dugaanmu itu keliru besar"
"Haah.... haaah...... haaaah..... aku mana berani" sahut
Hoa Thian-hong sambil tertawa, "Terhadap orang yang
bisa duduk sederajat dengan cici, tentu saja aku tak
berani bersikap kurang ajar"
Diluaran ia berkata begitu, sementara dalam hati
pikirnya, "Entah selain sang ketua serta sembilan orang
penjabat kuil apakah masih terdapat kekuasaan yang
lain" Apa pula jabatan cici di dalam sekte agama Thongthian-
kauw ini" Mendadak terdengar Cing Si Cu berkata sambil
tertawa, "Dalam pertempuran yang terjadi hari ini Cu
Goan-khek kehilangan pamor dan namanya jatuh,
pengaruh perkumpulan Hong-im-hwie pun terpukul
hebat. sejak kini pandangan sahabat kangouw dalam
dunia persilatan terhadap diri Hoa Kongcu tentu akan
berubah seratus delapan puluh derajat"
Ia angkat cawan araknya dan menambahkan sambil
tertawa, "Aku sebagai tuan rumah tempat ini, dengan
menyender di atas kecemerlangan hujien ingin
menghormati Hoa kongcu dengan secawan arak, anggap
saja penghormatan ini sebagai pengutaraan rasa kagum
kami terhadap dirimu!...."
Hoa Thian-hong tersenyum, "Tengah hari tadi
kebetulan saja racun keji yang bersarang dalam tubuhku
sedang kumat sehingga aku bertempur dalam keadaan
setengah tak sadar, seandainya kejadian itu berlangsung
di saat2 biasa, aku bukan tandingan dari Cu Goan-khek"
Diapun angkat cawan araknya dan meneguk habis
isinya Selama ini gadis berbaju hijau itu sambil membawa
sebuah poci arak berdiam di belakang Hoa Thian-hong,
melihat cawannya telah mengering buru-buru ia penuhi
kembali cawan tersebut dengan arak.
Merasa hanya dia seorang yang dilayani Hoa Thianhong
curiga. ia segera angkat kepala dan memandang
sekejap ke arah gadis itu. Rupanya Giok Teng Hujien
mengerti apa yang sedang dipikirkan pemuda itu, sambil
tertawa segera ujarnya, "Dia bernama Pui Che-giok
seorang dayang kepercayaanku, ketika berada di tepi
sungai Huang-ho malam itu, bukankah kau sudah pernah
bertemu dengan dirinya!"
Hoa Thian-hong mengangguk, sementara dalam hati
pikirnya, "Perempuan yang membunuh mati Jin Bong
juga mengaku bernama Pui Che-giok, entah saat ini
bersembunyi dimana?" Berpikir sampai disitu segera
ujarnya, "Kasus pembunuhan terhadap Jin Bong rupanya
sudah buyar bagaikan awan di udara, apakah Jin Han
telah berhasil menemukan pembunuhnya dan berhasil
membunuh orang itu untuk membalas dendam atas sakit
hatinya?" "Aaaah masa urusan bisa beres dengan begitu
gampang?" sahut Giok Teng Hujien sambil tertawa,
"Dewasa int memang keadaannya kendor diluar tegang
di dalam sepintas lalu suasana terasa tenang tak
berombak padahal sedari dulu Jin Hian telah
meninggalkan propinsi San-Say dan melakukan
penyelidikan secara diam-diam untuk membekuk gadis
yang mengaku bernama Pui Che-giok itu."
"Aku lihat nasib perkumpulan Hong-im-hwie di tahun
ini kurang begitu mujur" tiba-tiba Ngo Ing Cinjin
menyela, "Loo-toa kehilangan putra kesayangannya, Loosam
terpenggal lengannya dan ini hari Siang Hauw
modar secara konyol aku pikir makhluk2 ganas yang
selama ini tak pernah mencampuri urusan dunia,
sebentar lagi pasti akan bermunculan kembali"
Hoa Thian-hong kerutkan sepasang alisnya ketika
mendengar perkataan itu pikirnya, "Ngo Ing Cinjin adalah
ketua sektor atas dari sekte agama Thong-thian-kauw, ia
sebut orang-orang itu sebagai makhluk ganas,
kemungkinan besar mereka memang merupakan
manusia yang amat lihay!"
"Aaah....! Itu sih belum tentu benar" ujar Giok Teng
Hujien sambil tertawa, "aku rasa urusan yang
berkembang dewasa ini masih belum sampai
menyangkut pokok kekuatan dari perkumpulan Hong-imhwie
seperti Yan-san It-koay, Liong-bun Siang-Sat
sekalian hingga kini belum pernah munculkan diri, Tetapi,
seandainya Jin Hian temui kesialan lagi maka pada saat
itulah si nenek buta itu mungkin akan muncul kembali di
dalam dunia persilatan"
"Aku benar-benar sangat bodoh" pikir Hoa Thian-hong
dalam hati," seandainya perkumpulan Hong-im-hwie
tidak memiliki kekuatan besar yang menunjang di
belakang mereka sedari dulu pihak Thong-thian-kauw
serta Sin-kie-pang pasti sudah membagi wilayah utara
jadi dua bagian!"
Terdengar Ngo Ing Cinjin berkata lagi, "Selama tiga
kekuasaan merajai dunia, aku pikir dunia persilatan tak
akan aman dan tenteram. Terutama sekali kaum
pedagang, pelancong serta rakyat jelata, beban hidup
mereka kian lama kian bertambah berat. Hoa kongcu!
Kau adalah seorang pendekar muda yang berjiwa besar,
apa pendapatmu mengenai situasi tersebut?"
"Aaah... Kiranya pihak Thong-thian-kauw memang ada
maksud meluaskan daerah kekuasaannya, entah dengan
cara apa mereka hendak mewujudkan ciia-citanya itu?"
pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
Berpikir demikian sambil tersenyum ia lantas
menjawab, "Aku masih muda, pengetahuanku amat
cetek dan ilmu silatku amat rendah. Terhadap urusan
dunia persilatan yang begitu meluas, aku tak berani
sembarangan memberi komentar" Habis berkata dia
alihkan sorot matanya ke arah Giok Teng Hujien.
Tampak perempuan itu tertawa manis, kepada Ngo
Ing Cinjin segera ujarnya, "Saudaraku ini memang masih
amat muda, pengetahuannya cetek sekali sedang ilmu
silat yang dimiliki tak bisa dikatakan rendah, namun
kalau dibandingkan dengan puncak kesempurnaan
memang masih terpaut jauh sekali, cuma saja, ia tak
doyan yang keras ataupun yang lunak, perkataan
siapapun tak sudi didengar, siapa berani menyatroni
dirinya maka dia akan hadapi orang itu habis-habisan"
Ngo Ing Cinjin segera tertawa lantang. "Haaah....
Haaah.... Haaah saudara Hoa!" serunya, "Sepanjang
hidupnya Giok Teng Hujien selalu memandang tinggi
dirinya, menurut apa yang kuketahui belum pernah ada
orang yang peroleh perbatian serta kasih sayang dari
dirinya" "Cinjin, jangan kau teruskan perkataan itu," tukas Giok
Teng Hujien sambil goyangkan tangannya berulang kali,
"Dia tak sudi menerima kebaikanku, akupun tak mau
terlalu banyak tersiksa olehnya,'
"Cici, kapan sih aku menyiksa diri cici?" ujar Hoa
Thian-hong sambil tertawa. "Ayoh, kau harus dihukum
dengan tiga cawan arak!" Selesai bicara dia angkat
Cawan dan teguk isinya sampai ludas
Mendadak ia merasakan sesuatu yang aneh, ketika
arak tadi mengalir masuk lewat tenggorokannya segera
timbullah rasa kaku dan pedas yang amat tak enak
dirasakan, sepasang alisnya kontan berkerut. Pikirnya,
"Kiu-tok Sianci pernah berkata kepadaku, teratai racun
empedu api adalah raja dari segala macam racun, selama
racun teratai masih mengeram dalam tubuhku maka aku
tak akan mempan terhadap racun keji macam apapun
juga seandainya bertemu dengan obat racun yang tak
berwujud ataupun berwarna, dalam lidahku malah akan
terasa suatu perasaan yang aneh jangan dalam arak
tersebut mengandung racunnya"...."
Dalam pada itu ketika Giok Teng Hujien menyaksikan
air mukanya menunjukkan suatu perubahan yang sangat
aneh, sambil tertawa segera tegurnya, "Kenapa"
wajahmu tampak murung dan tidak senang hati, apakah
kau salahkan perkataan cici yang kurang sedap didengar"
oooOooo Hoa Thian-hong kontan tertawa dingin. "Ucapan cici
indah didengar, siapa yang bilang kalau kau Sudan salah
bicara" Cuma lambung siauwte rada tidak cocok dengan
arak yang mengandung racun, harap cici suka
memakluminya."
Air muka Giok Teng seketika berubah jadi pucat pias,
ia rebut cawan arak itu dari hadapan Hoa Thian-hong lalu
diperiksa di bawah sorot cahaya lampu, sesaat kemudian
perempuan itu menoleh ke arah Pui Che-giok dan
melotot bulat-bulat.
Pui Che-giok yang dipelototi jadi ketakutan setengah
mati, ia segera jatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil
rengeknya, "Budak......."
Nafsu membunuh berkelebat memenuhi biji mata Giok
Teng Hujien yang indah, mendadak sambil gertak gigi dia
ayun telapaknya menghajar ubun-ubun orang.
Disaat yang kritis Hoa Thian-hong ayun tangannya
mencengkeram pergelangan Giok Teng Hujien, katanya
sambil tertawa, "Aduuuh.... cuma urusan kecil saja, masa
cici benar-benar akan bunuh orang untuk melenyapkan
bukti?" Giok Teng Hujien jadi semakin gusar. "Kurang ajar kau
memang manusia yang tak berperasaan!"
Melihat perempuan itu mengucurkan air matanya
dengan badan gemetar keras saking jengkelnya, dalam
hati Hoa Thian-hong segera berpikir, "Kalau dibilang dia
ada maksud mencelakai diriku, kenapa ia menjadi
mendongkol hingga menangis" Kalau dibilang tak
sengaja, kejadian ini amat tak masuk diakal..."
Ngo Ing Cinjin serta Cing Si-cu saling berpandangan
dengan wajah kebingungan dan tak habis mengerti,
agaknya kedua orang toosu itupun tak tahu duduknya
perkara. Giok Teng Hujien meronta berusaha keras melepaskan
diri dari cekalan orang, namun tak berhasil. Tiba serunya
kepada Pui Che-giok dengan nada gemas, "Tak ada
gunanya membicarakan soal ini kuampuni selembar
jiwamu tapi kau harus kutungi sepasang lenganmu itu"
"Budak tahu salah, terima kasih atas kebaikan nyonya
tidak membinasakan diriku," sahut Pui Che-giok dengan
air mata berlinang.
Ia letakkan poci arak di atas meja, lalu dari sakunya
cabut keluar sebilah pisau belati yang langsung
ditebaskan ke arah pergelangan tangan kirinya.
Dengan ketajaman mata Hoa Thian-hong sekilas
memandang ia telah mengetahui bahwa pisau belati
dalam cekalan Pui Che-giok adalah sebilah senjata
mustika, bukan begitu saja bahkan senjata itu terasa
sangat dikenal olehnya, seakan-akan ia pernah melihat
benda itu disuatu waktu.
Satu ingatan berkelebat dengan cepat di dalam
benaknya ia segera menghardik, "Tahan!"
Laksana kilat ia ulurkan tangannya merampas pisau
belati itu dari tangan orang.
Oleh peristiwa ini rupanya Giok Teng Hujien merasa
kheki bercampur mendongkol dengan gemas teriaknya,
"Eeei...,sebetulnya apa maumu" Apakah kau ingin
melihat aku mati bunuh diri untuk membuktikan
kesucianku?"
Hoa Thian-hong segera tersenyum. "Aku tak pernah
menyalahkan diri cici" Kenapa cici musti marah2?"
Sorot matanya melirik kembali ke arah pisau belati itu,
mendadak ia teringat kembali akan peristiwa yang terjadi
dalam perkampungan Liok Soat Sanceng, di masa itu
perempuan genit yang mengaku bernama Pui Che-giok
pernah menggunakan pisau semacam ini untuk
membunuh Jin Bong.
Dalam hati segera pikirnya, "Kejadian ini benar-benar
aneh, Pui Che-giok yang berada di depan mata saat ini


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jelas bukanlah Pui Che-giok yang telah membunuh Jin
Bong serta mencuri pedang emas, tetapi mengapa pisau
belati tersebut bisa muncul dari sakunya"...."
Ingatan tersebut dengan cepat berkelebat di dalam
benaknya, ia ada maksud menjajal kepandaian silat yang
di miliki Pui Che-giok tetapi berada di hadapan orang
banyak pemuda itu merasa tidak leluasa baginya untuk
turun tangan. Mendadak terdengar Pui Che-giok merengek, "Nyonya
pernah berkata bahwa kongcu-ya tidak mempan
terhadap obat racun macam apapun, budak tidak
percaya perkataan itu maka dalam sangsinya....."
"Mau menjajal sih tak jadi soal" sambung Hoa Thianhong
sambil tertawa nyaring. "Cuma rasanya berbeda
jauh, kalau tidak setelah masuk ke dalam perutku bisa
jadi aku akan muntah2"
Berbicara sampai disitu ia kembalikan pisau belati tadi
kepadanya. lalu sambil mengambil poci arak dan
membuka tutupnya ia berkata lagi sambil tertawa, "Aku
akan mohonkan ampun baginya, tentu cici suka
mengabulkan bukan"...."
Agaknya Giok Teng Hujien sangat menurut terhadap
pemuda ini, mendengar ucapan tersebut segera ujarnya
kepada Pui Che-giok dengan suara dingin, "Ayoh cepat
ucapkan banyak terima kasih kepada Kongcu-ya, kalau
sampai menggusarkan hatinya... Hmm! Jangan salahkan
kalau aku bsnar2 akan membinasakan dirimu."
Buru-buru Pui Che-giok jatuhkan diri berlutut di
hadapan si anak muda itu, sambil angguk2kan kepalanya
ia berseru, "Terima kasih buat kebaikan kongcu-ya!"
"Sudah...sudahlah..." ujar Hoa Thian-hong sambil
tertawa. Beberapa saat lamanya dia awasi cawan arak sendiri
namun tiada pertanda apapun yang menunjukkan suatu
keanehan. Sementara pelayannya telah hidangkan
kembali arak baru, pemuda itu segera mencicipinya,
terasa arak yang diteguk wangi dan enak dirasakan,
sedikitpun tiada tanda kaku arau pedas lagi. Terdengar
Giok Teng Hujien berseru manja, "Orang bodoh,
penyakitnya tidak terletak di dalam poci arak itu"
"Bagaimana sih caranya melepaskan serbuk racun
tersebut" Apa aku boleh lihat?"
Merah jengah selembar wajah Pui Che-giok, ia tuang
kembali arak dalam poci itu ke dalam cawan Hoa Thianhong
yang awasi terus sepasang tangannya segera
menemukan bahwa jari tangan kiri gadis itu mengetuk di
ujung cawan, tanpa terasa pemuda itu tertawa tergelak.
"Haaah... haaah....haaah.... kiranya penyakit itu
letaknya di ujung jari!"
Sehabis berkata cawan arak tadi disambar dan segera
dituang ke dalam mulutnya.
Giok Teng Hujien yang melihat kejadian itu jadi kaget,
ia rampas cawan itu dari tangan orang lalu ditumpah ke
atas lantai, serunya, "Andaikata aku hendak mencelakai
selembar jiwamu, buat apa kugunakan obat beracun?"
"Yang budak gunakan bukan racun!" sola Pui Chegiok.
Merah jengah selembar wajah gadis she-Pui itu, untuk
sesaat ia jadi tergagap, "Anu....anu...."
Cing Si-cu yang selama ini membungkam segera
tertawa terbahak bahak.
"Haah.... haaah.... haaaah... saudara Hoa tak usah
banyak curiga, hujien sangat menyayangi dirimu
bagaikan menyayangi diri sendiri, masa Che-giok berani
mencelakai jiwamu?"
Hoa Thian-hong segera tersenyum. "Aaaah, kalau
begitu pastilah obat pemabok yang dipakai, eemh aku
memang kepingin tidur pulas....."
Ia bopong Soat-ji si rase salju itu, tambahnya sambil
tertawa, "Sungguh lihay kepandaian yang dimiliki
makhluk cilik ini, jago kangouw kelas menengah belum
tentu bisa menandingi kelihayannya"
"Sayang kau tak mampu untuk memelihara dirinya,"
kata Giok Teng Hujien sambil tersenyum, "Kalau tidak
binatang tersebut pasti sudah kuhadiahkan kepadamu!"
"Seorang lelaki sejati tak akan sudi merampas barang
kesenangan orang sekalipun aku mampu untuk
memeliharanya juga tak mau kuterima," sorot matanya
dialihkan kepada Ngo Ing Cinjin, lalu tambahnya. "Cinjin
adalah ketua dari sektor atas, jauh-jauh datang ke kota
Cho Ciu, pasti ada urusan yang hendak diselesaikan
bukan?" Sambil mengelus jenggot Ngo Ing Cinjin tertawa,
"Dalam kolong langit dewasa ini hanya saudara Hoa
seorang yang pernah menyaksikan sendiri wajah
pembunuh dari Jin Bong, setelah tempo hari Saudara
Hoa dipaksa bunuh diri dengan menelan teratai racun
empedu api, Jin Hian mengira saudara Hoa pasti mati
dan jejaknya akan putus, sekalipun sudah melakukan
penyelidikan selama banyak hari hasilnya tetap nihil. Kini
setelah ia mengetahui kalau saudara Hoa berhasil lolos
dari kematian ia tentu akan datang ke kota Chu Ciu serta
turun tangan terhadap dirimu....."
Hoa Thian-hong mengangguk.
"Dugaan Cinjin sangat tepat dan perkataanmu masuk
diakat, tetapi numpang tanya, apakah kedatangan Cinjin
kemari memang ada hubungannya dengan kejadian ini?"
"Jin Hian cuma mempunyai seorang putera tunggal,
kematiannya merupakan suatu kejadian yang amat iuar
biasa, seandainya pembunuh Jin Bong bukan termasuk
diantara anggota perkumpulan Sin-kie-pang, atau Thongthian-
kauw mungkin urusannya masih mendingan, tetapi
kalau termasuk sebagai anggota salah satu diantara dua
perkumpulan ini maka jelaslah sudah dunia persilatan
bakal dilanda badai dahsyat yang mengerikan,
pertarungan total antara dua perkumpulan besar atau
mungkin juga melibatkan pertarungan diantara tiga
perkumpulan besar jelas sudah pasti bakal terjadi!"
"Bukan saja sekte agama Thong-thian-kauw telah
menaruh perhatian terhadap kejadian ini, sekalipun
perkumpulan Sin-kie-pang secara diam-diam juga
pusatkan perhatiannya kemari," kata Giok Teng Hujien
sambil tertawa. "Dewasa ini perhatian semua orang telah
tertuju ke tubuhmu, setiap perkataan serta tindak
tandukmu sangat mempengaruhi perkembangan dari
peristiwa itu. "
"Bicara tanpa bukti apa gunanya" Masa Jin Hian suka
mempercayai setiap patah kata yang kuucapkan?"
"Tentu saja," sahut Ngo Ing Cinjin. "Meskipun hanya
sepatah kata namun hal itu harus dilihat du!u bagaimana
caranya menyampaikan kata-kata tadi, saudara Hoa
mempunyai peluang yang amat besar untuk memutar
balikkan duduk perkara yang sebenarnya"
"Kalau didengar dari ucapannya barusan, rupanya ia
ingin aku putar balik dan kejadian dan menimpakan
semua kesalahan pada tubuh perkumpulan Sin-kiepang...."
pikir Hoa Thian-hong dalam hati, "Ehmmm...Pui
Che-giok gadungan itu mempunyai raut wajah yang rada
mirip dengan Pek Kun-gie. kejadian ini memang sangat
mencurigakan."
Sementara itu Cing Si-cu telah berkata, "Saudara Hoa,
betulkah satu jurus ilmu pukulan yang kau miliki itu
adalah warisan dari Ciu It-bong?"
Sambil tertawa Hoa Thian-hong mengangguk. "Betul,
saat ini Ciu It-bong masih terkurung di tengah markas
besar perkumpulan Sin-kie-pang, ilmu pukulan 'Kun-Su-Ci
Tau' tersebut memang berhasil kupinjam dari dirinya"
"Pinjam" Bagaimana caranya meminjam?" tanya Giok
Teng Hujien tercengang.
"Dia ingin aku gunakan ilmu pukulan itu
membinasakan Pek Kun-gie bila urusan telah selesai
maka aku harus kutungi lengan kiriku sebagai tanda
mengembalikan jurus pukulan itu kepadanya. Yaaah.....
memang orang itu rada aneh, dalam hati kecilnya dia
ingin sekali meminjam tenagaku untuk membunuh Pek
Kun-gie, tapi ingin pula menggunakan kekuatanku untuk
mencari jejak pedang emas dan membantu dirinya lolos
dari kurungan. aku jadi tak habis mengerti apa yang
musti kukerjakan baginya"
"Heeeh,.... heeeh.... heeeeh.......sungguh gegabah dan
omong kosong!" seru Giok Teng Hujien sambil tertawa
dingin, "membunuh Pek Kun-gie masih boleh saja
dilakukan, kutungi lengan kiri sendiri untuk
mengembalikan ilmu pukulannya peraturan apakah itu?"
"Aku pribadi memang ada maksud membantu
usahanya untuk menemukan pedang emas itu dan
membantu dirinya lolos dari kurungan, akan kuanggap
perbuatan ini sebagai balas jasaku terhadap dirinya,
sedangkan mengenai ilmu silat yang dimiliki Siang Tang
Lay pemilik pedang emas itu aku sama sekali tak ada niat
untuk mempelajarinya
"Oooh... kau sudah mengetahui cerita tentang Siang
Tang Lay?"
"Itupun aku dengar dari mulut Ciu In Bong."
Ngo In Cinjin angkat cawan araknya dan berkata,
"Saudara Hoa, mari kita teguk secawan arak aku masih
ada beberapa patah perkataan hendak diucapkan
kepadamu."
Sejak menelan Teratat racun empedu api daya tahan
Hoa Thian-hong jauh melebihi orang lain. Terhadap
makanan ataupun minuman merangsang macam apapun
tiada pengaruhnya sama sekali baginya, semua makanan
itu segera lenyap tak berbekas setelah masuk ke dalam
lambungnya bagaikan batu tenggelam di dasar samudra,
karenanya walaupun sudah bercawan2 arak ia habiskan
namun pemuda itu masih tetap segar.
"Cinjin, apa yang hendak kau tanyakan?" tanyanya
kemudian. "Selama pengaruh Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie
masih menguasai kolong langit. anggota mereka tutap
melakukan perbuatan-perbuatan bejat yang terkutuk.
Mereka sering kali memeras rakyat, membegal
pedagang, menodai hukum dan mencelakai orang baik,
sungguh jauh berbeda dengan Thong-thian-kauw kami
yang khusus melayani para jemaah yang hendak berdoa,
kehidupan kami tergantung dari sokongan para penganut
agama dan tak pernah melakukan kejahatan di dunia!"
"Pinter amat orang ini berbicara," batin Hoa Thianhong,
"Sudah terang perkumpulan Thong-thian-kauw
adalah aliran sesat tapi ia berani bicara besar dengan
membanggakan diri sebagai aliran suci!"
Dalam hati berpikir demikian, diluar ia menjawab,
"Perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie adalah
organisasi yang amat besar dengan akar yang sudah
merambat dimana-mana, untuk mengalahkan mereka
mungkin saja masih bisa kita lakukan, kalau ingin
membasmi mereka keakar2nya., aku pikir itu cuma suatu
khayalan kosong belaka!"
"Perkataan dari saudara Hoa memang betul Ngo Ing
Cinjin mengangguk tanda membenarkan, "tetapi kita toh
bisa bertindak dengan gunakan otak" Asal pemimpin2
mereka berhasil dibasmi, apa susahnya untuk
membubarkan antek2 mereka?"
"Itulah yang ku-idam2kan selama ini," kembali Hoa
Thian-hong membatin, "Sayang ilmu silat yang kumiliki
tak bisa terlalu dipaksakan, aku harus basmi pemimpin
perkumpulan itu dengan cara apa?"
Walaupun belum lama pemuda ini terjunkan diri ke
dalam dunia persilatan, tapi pengalamannya sudah amat
luas, pengetahuannya mengenai kehidupan manusia luas
dan terlatih sekali. Saat itu tanpa ia sadari meluncurkan
kata-kata dari bibirnya.
"Perkumpulan Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie
adalah serang naga harimau yang dipenuhi oleh jagojago
lihay yang maha dahsyat, sebelum anak buah
mereka berhasil dibasmi. mana mungkin kita bisa basmi
para pemimpinnya?"
"Saudara Hoa bisa mengupas setiap masalah dengan
gamblang dan jelas, sungguh membuat aku merasa amat
kagum" ia merandek sejenak, lalu sambil menyapu
sekejap ke sekeliling perjamuan lanjutnya, "Bicara terus
terang saja. selama di kolong langit masih terdapat
perkumpulan Sin-kie-pang atau Hong-im-hwie yang
pegang kekuasaan maka sekte agama Thong-thian-kauw
sulit untuk merentangkan sayapnya memperluas daerah
kekuasaannya di kolong langit."
"Ooo... jadi kalau begitu kekuatan yang di miliki sekte
agama Thong-thian-kauw saat ini lebih kalau digunakan
untuk menandingi salah satu diantara dua kekuatan itu,
dan lemah bila harus menandingi kedua kedua kekuatan
itu sekaligus?"
Sambil bertepuk tangan Ngo Ing Cinjin tertawa.
"Tepat sekali dugaanmu itu, asalkan diantara Sin-kiepang
serta Hong-im-hwie terjadi perselisihan sehingga
kekuatan mereka saling bentrok satu sama lainnya maka
Thong-thian-kauw akan peroleh kesempatan untuk
berkembang dan menunggu saat yang baik untuk
membasmi lawan-lawannya"
"Tekebur amat ucapan itu!" batin, Hoa Thian-hong
dalam hati, "Jago-jago lihay yang terdapat dalam tubuh
Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie banyak laksana
awan di angkasa, berapa besar sih kekuatan dalam tubuh
Thong-thian-kauw sehingga berani punya angan-angan
yang begitu muluk?"
Tiba-tiba terdengar Cing Si-cu berkata, "Saudara Hoa,
mumpung usiamu masih muda dan tenagamu masih
segar, inilah kesempatan bagimu untuk muncul dalam
dunia persilatan dan menjagoi kolong langit. asal kau
sukses dan luar biasa maka tidak sulit bagimu untuk
menggantikan kedudukan Hoa tayhiap tempo du!u,
namamu tersohor dimana mana dan kehebatanmu


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

disegani setiap orang"
Hoa Thian-hong tertawa hambar ia tidak menanggapi
perkataan itu sebaliknya alihkan sorot matanya ke arah
Giok Teng Hujien, seolah olah ia menghadapi suatu
persoalan besar yang tak bisa diputusi sendiri dan kini
mohon pendapatnya,
Terdengar Giok Teng Hujien tertawa ringan dan
berkata, "Sering kali aku dengar orang berkata bahwa
Pek Kuan Gie berulang kali menghina serta mencerca
dirimu Pek Siau-thian pun pernah menancapkan jarum
beracun pengunci sukmanya di atas tubuhmu, sebagai
seorang lelaki sejati, pria tulen. kalau sakit hati semacam
Ini tidak dituntut balas, apa gunanya hidup lebih lanjut di
kolong langit?"
Ia merendek sejenak, dengan wajah serius terusnya,
"Manusia-manusia yang tergabung di dalam perkumpulan
Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie. bukanlah termasuk
manusia baik-baik bila kau berhasil memancing
perpecahan diantara mereka sehingga mengakibatkan
terjadinya pertempuran diantara mereka sendiri, itu akan
merupakan pahala besar bagimu Dan seandainya pihak
Thong-thian-kauw hanya berpelukan tangan
menyaksikan hari'mau bertarung kemudian jadi nelayan
mujur yang menantikan hasil, apa pula ruginya terhadap
dirimu?" Dalam hati kembali Hoa Thian-hong berpikir, "Mereka
mengepung diriku dan selalu menasehati diriku untuk
memusuhi pihak Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie, bila
aku tetap bersikeras menolak kerja sama dengan
mereka, orang-orang itu pasti akan berubah sikap dan
malahan membenci diriku. Waktu itu musuh akan muncul
dari tiga penjuru, sulit bagiku untuk menghadapinya.
Bagaimanapun menyanggupi dulu persoalan ini tak ada
salahnya, asal tindakanku selanjutnya benar dan tidak
keluar dari pikiran sendiri"
Setelah memutuskan demikian, ia pura-pura berlagak
termenung dan berpikir sejenak kemudian sambil tertawa
terbahak-bahak sahutnya, "Haah.... haaah.... haaah....
rupanya sikap cici selama ini terhadap diriku adalah
didasari tujuan ini, kalau siauwte tolak untuk bekerja
sama dengan kalian maka tindakanku ini pasti akan
dianggap sebagai tak tahu diri....."
Sambil tertawa panjang ia memberi hormat kepada
semua orang lalu putar badan dan berlalu.
"Kau mau apa?" seru Giok Teng Hujien pura-pura
marah, "Malam semakin larut dan perutku sudah
kenyang oleh arak dan hidangan, siauwte ingin mohon
pamit" "Huuh....tak usah mangkel dulu, persoalan pokok toh
belum selesai dibicarakan"
Hoa Thian-hong tetap menggelengkan kepalanya,
dengan wajah serius ia menjawab, "Pembicaraan lebih
baik diputus sampai disini dulu, toh masalah ini tidak
terlalu penting dan kita tak usah pasang hio, angkat
sumpah dan meneguk arak darah" ia menoleh dan
menambahkan, "Tootiang berdua aku mobon pamit lebih
dulu" Ngo Ing Cinjin serta Cing Si-cu segera bangkit berdiri
dan coba menahan, tetapi karena melihat keputusan
pemuda itu sudah bulat maka mereka pun mengantar
tetamunya turun dari loteng.
Setelah keluar dari kuil It-goan-koan, Giok Teng
Hujien sambil membopong Soat-ji si rase salju itu jalan
bersanding disisi Hoa Thian-hong, katanya sambil
tertawa, "Bukankah kau sudah berjanji dengan Pek Kungie
untuk berjumpa di rumah makan Kie Ing-Loe" dalam
janjimu itu kau hendak berbicara dari hati kehati,
ataukah hendak merundingkan soal penggunaau
tentara?" "Semuanya bukan, aku cuma ingin mencari tahu kabar
berita mengenai seseorang"
"Siapa?" tanya Giok Teng Hujien cepat dengan alis
berkerut. Sebenarnya Hoa Thian-hong sangat merindukan
ibunya, dia hendak selidiki jejaknya dari mulut Pek Kungie,
tetapi setelah didesak lebih jauh terpaksa ia
berbohong, "Kesadaran Chin Giok-liong terganggu dan
tidak waras, aku hendak mencari tahu kabar berita
mengenai ayahnya Chin Pek-cuan"
Dengan sorot matanya yang tajam Giok Teng Hujien
menatap sekejap wajah si anak muda itu, kemudian
sambil tertawa serunya, "Makin lama aku semakin
merasa bahwa wajahmu yang jujur bukanlah watakmu
yang sebenarnya, kau banyak akal dan licik sekali,
mulutnya tajam dan pandai berbicara, kau seorang yang
lihay" Hoa Thian-hong tersenyum, tiba-tiba satu ingatan
berkelebat dalam benaknya, segera ia berkata, "Sudah
lama aku tak pernah bertemu dengan Pek Kun-gie, aku
mau menyelinap sejenak ke dalam kantor cabang
perkumpulan Sin-kie-pang di kota Cho-Ciu. Cici, kalau tak
ada urusan bagaimana kalau jagakan keselamatanku
diluar?" "Aaah, di tengah malam menyirepi kamar pribadi anak
gadis orang, macam apakah perbuatanmu itu"'"
"Apa sih salahnya, aku sendiripun sudah kenyang
menerima penghinaan2 darinya"
"Kalau kau sudah amat rindu kepadanya karena sudah
lama tak bertemu, sehingga mau mengintip dirinya
sejenak, tentu saja boleh tapi kalau suruh aku menjaga
keselamatanmu diluar...... tak usah yaaah!"
Hoa Thian-hong tertawa haha hihi, setengah merayu
serunya lagi, "Baiklah, kalau begitu biar aku pergi
seorang diri, seandainya jejakku ketahuan dan terbunuh,
mengingat pada hubungan kita tolong cici suka balaskan
dendam bagi kematianku itu."
Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, sambil berbicara
dan melanjutkan perjalanan terasa sampailah mereka di
sekitar bangunan kantor cabang perkumpulan Sin-kiepang.
Hoa Thian-hong segera enjotkan badannya siap
meloncat masuk ke dalam Pekarangan orang, tapi
dengan cepat Giok Teng Hujien menarik tangannya
sambil berseru, "Eeei....kau benar-benar mau cari garagara?"
"Pek Kun-gie adalah gadis yang amat lihay, kalau
berada di tengah siang hari bolong sulit bagiku untuk
mengorek keterangan dari mulutnya, maka dari itu
mumpung ia tak menduga akan kutangkap dulu dirinya,
kalau suka mengaku tentu saja lebih baik, kalau ia
menolak untuk menjawab.... Hmm Hmm.... sampai darah
panasku naik ke otak, sekali tebas kucabut selembar
jiwanya!" "Hmm! Masa kau tega?"
"Kenapa tidak tega" diantara kami berdua toh tiada
perhubungan persahabatan, malahan aku punya dendam
terhadap dirinya?"
Giok Teng Hujien tertawa cekikikan.
"Baiklab aku akan tetap berjaga diluaran sedang kau
boleh urusi pekerjaanmu. Tapi kau musti ingat, kalau
sikapmu tidak sopan dan menangkap ikan di air keruh
aku segera akan lepaskan api untuk membakar habis
kantor cabang kota Cho-Ciu ini"
Tertegun Hoa Thian-hong mendengar ancaman itu,
dalam keadaan terburu ia tak sempat menangkap
maksud yang lebih dalam dari ucapan itu, setelah
mengepos tenaga tubuhnya segera meloncat masuk ke
dalam pekarangan bangunan itu.
Tenaga dalamnya sudah peroleh kemajuan yang amat
pesat dengan enteng sekali dan tanpa menimbulkan
sedikit suarapun tubuhnya sudah melayang turun dibalik
tembok pekarangan
Hoa Thian-hong sudah agak lama berdiam di kota Cho
Ciu ini sekalipun dia belum pernah memasuki bangunan
rumah ini tetapi garis besarnya ia sudah mengetahui.
Pemuda itu tahu bahwa Pek Kun-gie pasti beristirahat di
ruangan dalam, maka sambil merambat disisi tembok
tubuhnya segera menyusup ke arah belakang,
Penjagaan di dalam kantor Cabang sangat ketat, di
bawah setiap lampu lentera tampaklah jago-jago lihay
dengan senjata terhunus bersiap siaga dimana mana.
Hoa Thian-hong bernyali besar dan berilmu tinggi,
ditambah pula pengalamannya yang kian hari kian
bertambah, dengan amat mudah sekali si anak muda itu
berhasil masuk ke dalam ruang belakang.
Pencarian dilakukan di sekitar kamar2 yang dikelilingi
kedua bunga indah. sesudah menyelidiki dua buah kamar
akhirnya dia berhasil menemukan kamar tidur dari Siau
Leng si dayang cilik itu,
Sesudah mengamati sejenak suasana di sekitar sana,
ia tahu Pek Kun-gie pasti berdiam di dalam kamar
serambi sebelah kanan, tubuhnya segara berkelebat
mendekati pintu kamar disitu ia tak mendengar sedikit
suarapun. Akhirnya setelah sangsi sejenak, ia dorong pintu
kamar itu lalu menyelinap masuk ke dalam dan menutup
kembali pintu kamar tadi.
Di tengah kegelapan, tiba-tiba rasalah segulung
desiran angin tajam meluncur datang mengancam
pinggangnya. Ditinjau dari desiran angin yang mengancam tiba, Hoa
Thian-hong segera kenali sebagai. gerakan tangan Pek
Kun-gie, dalam hati ia mengagumi atas kesigapan gadis
itu. Telapak kirinya segera diputar membentuk gerakan
setengah lingkaran di depan dada, kemudian mengirim
satu pukulan k emuka.
"Aaah...." terdengar Pek Kun-gie menjerit tertahan.
Rupanya dari desiran angin pukulan itu ia berhasil
membedakan serangan itu sebagai pukulan tangan kiri,
daa diapun segera teringat kembali akan diri Hoa Thianhong.
Dalam gugupnya sang telapak segera diayun ke muka
menyambut datangnya serangan tersebut.
"Blaaam.....!" Pek Kun-gie menjerit tertahan tubuhnya
segera terlempar hingga mencelat ke belakang.
Ketika masih berada di kota Seng-Ciu tempo dulu,
sebuah pukulannya telah merompalkan tiga biji gigi Hoa
Thian-hong, peristiwa itu dianggap oleh pemuda tersebut
sebagai penghinaan yang paling memalukan selama
hidupnya. Karena itu walaupun dalam serangannya
barusan ia tiada maksud menghabisi jiwa orang tapi
tenaga murni yang digunakan telah mencapai lima
bagian, rupanya ia sengaja hendak memberi pelajaran
kepadanya. Seperti layang2 yang putus tali tubuh Pek Kun-gie
mencelat ke arah belakang, bagaikan bayangan Hoa
Thian-hong segera menyusul dari belakangnya, sepasang
lengan digerakkan seketika ia berhasil menangkap
pergelangan orang.
"Bruuuk!" di tengah benturan nyaring tubuh Pek Kungie
terbanting di atas pembaringan. Hoa Thian-hong
yang takut gadis itu melancarkan serangan balasan
segera cekal sepasang lengannya erat". dan ikut
jatuhkan diri ke atas pembaringan. Dengan begitu tanpa
sadar tubuhnya telah menindih di atas badan gadis itu.
Suara langkah kaki yang ramai segera berkumandang
diluar ruangan, terdengar seseorang membentak nyaring,
"Siauw Leng!"
Hoa Thian-hong semakin tak berani lepas tangan,
sambil menindih tubuh Pek Kun-gie semakin rapat
bisiknya, "Cepat usir pergi orang-orang yang berada
diluar kamar, kalau tidak kupatahkan tengkukmu!"
Pek Kun-gie berbaring di atas ranjang dengan napas
tersengal-sengal, ia marah bercampur mendongkol,
giginya saling beradu gemerutukan, saking gemasnya
ingin sekali gadis itu menggigit tubuh Hoa Thian-hong.
Mendadak.... ia tertegun....
Kiranya ia masih merupakan seorang gadis perawan,
berhubung wataknya yang sombong dan tinggi hati,
belum pernah ada seorang priapun yang mendapatkan
perhatiannya. karena pandangannya yang hambar
terhadap hubungan antara muda-mudi inilah selama,
hidupnya ia tak pernah bergesekan kulit dengan lawan
jenis. Hari ini adalah permulaan bulan enam, udara panas
ditambah pula ia baru saja bangun dari tidurnya, karena
itu tubuhnya hanya memakai selapis pakaian dalam yang
amat tipis. Setelah tubuh Hoa Thian-hong menindih di atas
tubuhnya, segulung bau khas lelaki yang amat tebal
segera menyerang ke dalam hidungnya. hal ini membuat
jantungnya berdebar keras dan pikirannya termangumangu.
Dalam pada itu diluar kamar terdengar suara Siauw
Leng menyahut, "Apakah Lie-Ngo" Suara apa barusan
itu?" "Suara itu berasal dari kamar siocia, cepat kau tengok
ke dalam apa yang telah terjadi," kata seorang pria
dengan suara berat.
Hoa Thian-hong segera mengerutkan dahinya setelah
mendengar perkataan itu, bisiknya kesisi telinga Pek
Kun-gie, "Cepat usir mereka pergi dari sini, kalau tidak
kujagal dirimu terlebih dulu"
Terdengar Siauw Leng berjalan mendekat pintu luar
lalu menegur, "Nona, apakah kau sudah bangun?"
"Usir semua penjaga dan sekitar tempat ini, jangan
berbuat kegaduhan yang membisingkan!" teriak Pek Kungie
gusar. Siauw Leng mengiakan, suara langkahnya makin
menjauh dan sampaikan pesan nonanya tadi kepada
para peronda. Sementara itu Pek Kun-gie tidak berbicara lagi, diapun
tidak meronta seolah-olah hatinya sudah pasrah dan


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

terserah Hoa Thian-hong mau berbuat apa saja terhadap
dirinya. Siapa sangka si anak muda itu segera menyadari akan
kesilafannya setelah berhasil menenangkan hatinya tibatiba
ia merasa bau harum semerbak tersiar di lubang
hidungnya tubuh di bawah tindihannya terasa lunak dan
halus, begitu kencang tindihannya membuat napas Pek
Kun-gie tersengal, dadanya naik turun bergelombang.
suara detak jantungnya yang berdebar pun secara lapat
lapat kedengaran,
Sebagai seorang pemuda jujur yang berhati suci, ia
segera menyadari akan perbuatannya itu, seketika
cekalan pada tangan kanannya dikendorkan dan jari
tanganpun berkelebat menotok jalan darah di atas bahu
dara tersebut......
Tenaga lweekang yang dimiliki Pek Kun-gie jauh lebih
cetek setingkat kalau dibandingkan dengan Hoa Thianhong,
tetapi ilmu silatnya tidak berada di bawah pemuda
itu. Di tengah kegelapan tangannya bergerak cepat tahutahu
ia malah berhasil mencengkeram pergelangan
kanan si anak muda she Hoa itu.
Dengan begitu kedua belah pihakpun saling mencekal
pergelangan tangan lawannya, diam-diam Hoa ThianTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
hong merasa jengah sendiri, bisiknya lirih, "Aku ada
urusan hendak ditanyakan kepadamu, biarkanlah kutotok
sebuah jalan darahmu agar akupun bisa bangun dan
duduk" "Tiada perkataan lain yang akan kubicarakan dengan
kau, bunuh saja diriku!" teriak Pek Kun-gie dengan
gemas. Hoa Thian-hong tertawa dingin. "Untuk membunuh
dirimu sih gampang sekali, Hmm! Sekalipun kau Pek Kungie
telah kubunuh, rasa benci dan dendam yang
berkecamuk dalam dadaku juga belum bisa buyar"
Sambil menggertak gigi Pek Kun-gie membungkam
dalam seribu bahasa, ia tidak mengendorkan
tangannyapun tidak meronta dengan tenang tubuhnya
tetap berbaring di atas pembaringan.
Lama kelamaan Hoa Thian-hong jadi serba salah
sendiri, pikirnya, "Bagaimana jadinya ini" Kalau begini
terus keadaannya hingga diketahui orang lain, bukan
saja Pek Kun-gie akan jadi malu dibuatnya, akupun akan
dianggap orang sebagai pemuda tengik...."
Mendadak dari halaman belakang terdengar seseorang
membentak keras, "Ada pencuri... .tangkap.... tangkap!
Ada orang melepaskan api!"
"Siapa" Berhenti!" seseorang yang lain membentak
dengan suara nyaring.
JILID 14 : Melawan Kok See Piauw lagi
Hoa Thian-hong kenali suara itu sebagai suara dari Oh
Sam, ia tahu pastilah Giok Teng Hujien sudah mengacau
diluar, hatinya jadi amat gelisah. Pikirnya, "Orang itu tak
bisa membedakan yang mana serius yang mana tidak,
seharusnya aku tidak ajak dia datang kemari"
Berpikir sampai disitu tubuhnya segera meloncat
bangun dari atas pembaringan dan sekalian menyeret
tubuh Pek Kun-Gie hingga terbangun pula dari atas
ranjang, tangan kanannya berputar membetot kembali
tangannya, sementara jari tangannya bagaikan tombak
menotok ke atas tubuh lawan. Pek Kun-gie ayunkan
tangan kirinya berulang kali, di tengah kegelapan kedua
orang itu laksana kilat saling menyerang sebanyak tiga
jurus. Mendadak terdengar Oh Sam lari menghampiri pintu
kamar sambil teriaknya. "Nona, apakah kau berada di
dalam kamar?"
Hoa Thian-hong semakin gugup, tangan kanannya
kembali kena dicengkeram oleh Pek Kun-gie keras-keras.
"Aku tidak apa-apa," sahut gadis itu dengan napas
tersengal, "Jangan lari kesana kemari bikin berisik saja!"
"Nona ada musuh berhasil menyusup kedalam, orang
itu melepaskan api dan membuat keonaran, hingga kini
orangnya belum tertangkap."
"Aku sudah tahu!"
Oh Sam mengiakan berulang kali, lewat beberapa saat
kemudian ia baru berlalu dari sana.
Jelas perubahan yang terjadi di dalam kamar telah
diketahui pihak luar, hanya saja sebelum mendapat
perintah dari Pek Kun-gie mereka tak berani
sembarangan masuk ke dalam untuk melakukan
pemeriksaan. Sementara itu Hoa Thian-hong serta Pek Kun-gie
masih berdiri saling berhadapan dengan masing-masing
pihak mencekat pergelangan lawannya, kedua belah
pihak dapat mendengar detak Jantung masing-masing
dan saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah
katapun. "Begini terus keadaannya bukanlah suatu tindakan
yang benar" pikir Hoa Thian-hong dalam hati, "Lebih baik
kuajukan pertanyaanku kemudian cepat-cepat tinggalkan
tempat ini."
Setelah mengambil keputusan, ia segera bertanya
dengan suara mendalam, "Dimanakah Chin Pek-cuan?"
"Kau toh tidak serahkan orang itu kepadaku, darimana
aku bisa tahu"...."
"Setengah tahun terakhir apakah ada orang datang ke
gunung Tay-pa-san untuk mencari diriku?"
"Ada," sahut Pek Kun-Gie setelah tertegun sejenak.
Hoa Thian-hong jadi terperanjat, dengan berangasan
segera serunya, "Siapa" pria atau perempuan?"
"Heeeh... heeeh... tentu saja perempuan!"
Hoa Thian semakin gelisah. kelima jarinya semakin
kencang mencengkeram pergelangan orang, teriaknya
dengan gusar, "Cepat jawab! Siapa yang telah mencari
aku?" Seketika Pek Kun-Gie merasakan tulang
pergelangannya jadi sakit seperti mau patah, ia menjerit
tertahan dan tanpa terasa jatuh terkulai dalam pelukan si
anak muda itu, jawabnya lirih, "Chin Wan-hong...."
"Chin Wan-hong kenapa?" tanya Hoa Thian-hong
tertegun. "Chin Wan-hong datang ke markas mencari dirimu, ia
telah kubunuh!"
"Kalau dia bilang ibuku mungkin aku masih percaya,"
batin pemuda tersebut, "kalau bilang cici Wan-hong,
sudah terang ia cuma ngaco belo belaka!"
Segera tanyanya lebih jauh, "Kecuali dia, apakah
masih ada orang yang datang mencari diriku?" "Masih!
tiga ekor harimau dari keluarga Tiong pun sudah
kubunuh!" "Fuuh! omongan setan yang tak genah.."
Pergelangannya segera dibalik melepaskan diri dari
dari cekalan orang, kemudian putar badan dan coba
menerjang keluar lewat pintu.
Pek Kun-Gie jadi kebingungan dan tak tahu apa yang
mesti dilakukan, tapi ia tak ingin melepaskan dirinya
dengan begitu saja di tengah kegelapan tubuhnya segera
menerjang ke depan menghadang di depan pintu.
"Kau mau apa?" tegur Hoa Thian-hong.
Pek Kun-Gie agak tertegun, kemudian jawabnya, "Aku
ada perkataan hendak disampaikar, kepadamu!"
"Besok tengah hari aku nantikan kedatanganmu di
rumah makan Kie Ing Loo, kalau ada urusan kita
bicarakan besok saja"
Perasaan hati kaum gadis memang paling sukar
diraba, Pek Kun-Gie sendiripun tak mengerti apa
sebabnya ia jadi begitu, melihat Hoa Thian-hong hendak
pergi ia semakin tak rela melepaskannya begitu saja, tapi
gadis inipun merasa kehabisan daya untuk menahan
dirinya. Dalam keadaan apa boleh buat, segera teriaknya
lantang, "Siauw Leng, pasang lampu!"
Terdengar dayang cilik itu mengiakan dari luar
ruangan, cahaya lampu segera berkilat menerobos
masuk lewat celah2 pintu.
Dalam pada itu suara pencarian yang berlangsung di
tempat luar belum berhenti, setelah Pek Kun-gie buka
pintu Siauw Leng sambil membawa lampu lentera
berjalan masuk kedalam, sinar matanya berputar
menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, ketika secara
mendadak menjumpai Hoa Thian-hong berada di dalam
kamar, sepasang matanya kontan berbelalak lebar, ia
tatap pemuda itu tak berkedip.
Hoa Thian-hong pada saat ini bukan Hong-po Seng
tempo dulu. bukan saja wajahnya tampan dan tubuhnya
keren, wajahnya tercemin cahaya yang amat gagah.
Kegagahan semacam ini paling gampang melumerkan
hati kaum gadis dan paling muda membuat lawan
jenisnya jatuh hati kepadanya.
Hoa Thian-hong yang diawasi terus, oleh Siauw Leng
maupun Pek Kun-gie, lama kelamaan jadi jengah sendiri.
Sengaja ia kerenkan wajahnya sambil menegur, "Apa sih
yang kau lihat" Aku adalah Hong-po Seng yang tak bakal
mati, diluar dugaan kalian semua bukan?"
"Aduuuh....!" jerit Siauw Leng sambil menepuk dada
sendiri, "Aku kira siapa yang telah bergebrak dengan
nona di dalam kamar, rupanya kau...."
"Ngaco belo! Ayoh enyah dari sini!" bentak Pek Kungie
marah. Siauw Leng tertawa cekikikan, ia letakkan lampu
lentera itu di atas meja kemudian putar badan dan
mengeloyor pergi. Oh Sam yang ikut menyelinap masuk
ke dalam kamar, saat itu ikut melayang keluar pula dari
ruangan tersebut.
Pek Kun-gie menutup pintu kembali, sambil bersandar
di atas pintu ujarnya ketus, "Malam2 buta kau menyusup
masuk ke dalam kamar tidurku, sebenarnya apa
maksudmu?"
Hoa Thian-hong tertawa dingin. "Aku senang datang
segera datang, kau mau apa?"
Pek Kun-gie mendengus dingin, bibirnya bergerak
seperti mau mengatakan sesuatu tapi akhirnya
dibatalkan kembali.
Hoa Thian-hong sendiripun merasa tiada perkataan
lain yang bisa dibicarakan lagi, setelah berdiri saling
berhadapan beberapa saat lamanya pemuda itu segera
maju ke depan dengan langkah lebar, katanya, "Aku mau
pergi, bila ada urusan kita bicarakan besok pagi saja!"
"Siapa yang datang bersamamu?" tegur Pek Kun-Gie
sambil tetap menghadang di depan pintu kamar.
"Seandainya sekali hantam kulancarkan sebuah
pukulan dahsyat, rasaaya tidak sulit untuk
membinasakan dirinya, Cuma," pikir si anak muda itu
ragu-ragu. Akhirnya ia tak tega dan menjawab dengan suara
hambar, "Seorang sahabatku menunggu diluar ia tak
enak ikut masuk kesini!"
"Hrnmm! Manusia macam apapun kau gauli," sindir
Pek Kun-Gie sambil mencibirkan bibirnya. "Makin hari kau
semakin cabul, apakah tidak takut menjadi nama baik
keluargamu!"
Hoa Thian-hong tahu yang dimaksud gadis ini pasti
Giok Teng Hujien, dengan alis berkerut ia segera tertawa
dingin. "Aku lihat ada baiknya kau kurangi sindiranmu
terhadap orang lain, aku orang she Hoa merasa bahwa
setiap tindakanku adalah jujur dan terbuka, siapa cabul
siapa tidak aku punya pandangan sendiri"
"Oooh......! jadi kau anggap aku Pek Kun-Gie adalah
seorang perempuan cabul..?" teriak gadis itu dengan
wajah berubah. "Aku tak mau perduli perempuan apakah dirimu itu..."
mendadak satu ingatan berkelebat pada benaknya, ia
segera berpikir, "Buat apa aku bicarakan urusan yang tak
berguna dengan dirinya"... Lebih baik membungkam
saja...." Terdengar Pek Kun-gie berkata lagi dengan suara
dingin, "Jangan kau anggap pihak Thong-thian-kauw
benar-benar mampu untuk melindungi keselamatanmu.
jika sungguh terjadi bentrokan, siapapun akan berusaha
menghabisi jiwamu"
"Haaah... haaah.... haaah.... tentang soal itu kau tak
usah kuatir, nyawa toh milikku sendiri. Aku jauh lebih
jelas menilai diriku sendiri daripada kau! "
Mendadak terdengar suara bentakan-bentakan keras
berkumandang datang dari tempat kejauhan, sepasang
biji mata Hoa Thian-hong segera berputar, katanya
sambil tertawa, "Aaaah... mereka sudah mulai
bertempur! aku mau tengok kesana!"
Dengan tenaga yang besar dia getarkan lengan kirinya
sehingga membuat tubuh gadis itu terpental sejauh lima
depa, buru-buru pemuda itu membuka pintu kamar dan
kabur keluar. Pek Kun-gie merasa gusar bercampur mendongkol.
sambil ikut mengejar keluar teriaknya gusar, "Biar
siluman rase itu yang datang cari kemari!"
Hoa Thian-hong pura-pura tidak mendengar, iapun tak
menggubris bagaimana keadaan dari Giok Teng Hujien,
bagaikan bintang yang jatuh dari langit tubuhnya segera
melayang keluar dari pekarangan dan selalu dari situ.
Ketika tiba di pusat kota tiba-tiba dari arah belakang ia
dengar ada orang menyusul datang, dengan cepat
pemuda itu menoleh. tampak Giok Teng Hujien sambil
membopong rase saljunya dengan senyum dikulum
sedang menguntil di belakang tubuhnya.
Hoa Thian-hong tersenyum. "Cici, di dalam sekte
agama Thong-thian-kauw, sebenarnya apa jabatanmu?"
"Pengawas dari sepuluh sektor, tidak kecil bukan?"
"Benar! pengawas dari sepuluh ketua sektor memang


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

suatu kedudukan yang sangat terhormat, dengan
jabatanmu itu pergi mengacau kantor cabang orang,
apakah kau tidak malu ditertawakan oleh sesama
sahabat kangouw?"
"Fuui! bocah kurangajar, kesemuanya ini bukankah
gara-gara kau yang bikin onar!"
Hoa Thian-hong tertawa nyaring, setibanya di
perempatan jalan kedua orang itu berpisah, pemuda itu
segera berangkat pulang ke rumah penginapannya.
Setibanya di rumah penginapan, Hoa Thian-hong
membuka kamar tidur Ciong Lian-khek. Ia lihat jago
bercambang itu sedang duduk bersemedi sedang Chin
Giok-liong sudah terlelap tidur, maka iapun kembali ke
kamarnya sendiri untuk beristirahat.
Semalam berlalu dengan secepatnya, hari kedua pagipagi
sekali Hoa Thian-hong telah bangun, sebelum ia
turun dari pembaringan tiba-tiba Ciong Lian-khek
berjalan masuk ke dalam kamar diikuti penerima tamu
she-Sun dari perkumpulan Hong-im-hwie serta Ciau
Khong ketua kantor cabang kota Cho Ciu.
Hoa Thian-hong tahu bahwa urusan pasti luar biasa,
buru-buru ia turun dari pembaringan dan menyapa kedua
orang itu. Selesai memberi hormat dari sakunya Ciau
Khong ambil keluar sebuah kartu undangan merah yang
besar dan diangsurkan ke tangan pemuda itu.
Di atas kartu merah tadi tercantumlah beberapa huruf
yang berbunyi demikian, "Hormat kami. Jin Hian ketua
dari perkumpulan Hong-im-hwie"
Terdengar Ciau Khong berkata, "Sebetulnya ketua
kami akan berkunjung sendiri kemari, tetapi berhubung
masih banyak urusan yang harus diselesaikan maka sulit
bagi beliau untuk berkunjung sendiri, karena itu aku
sengaja diutus datang kemari untuk menyampaikan rasa
kagum kami terhadap dirimu"
"Jin Hian adalah pemimpin dari suatu perkumpulan
besar" pikir Hoa Thian-hong dalam hati." Soal undangan
walaupun enteng tapi gengsinya luar biasa, belum lama
aku terjun ke dalam dunia persilatan. Kalau berbicara
menurut peraturan dunia persilatan, sepantasnya kalau
akulah yang melakukan kunjungan kepadanya"
Berpikir sampai disitu dia segera menjura dan berkata,
"Aku tiada berbudi dan berkemampuan, tidak berani
kuharapkan kunjungan dari Jien Tang-kee, harap Ciauheng
suka menyampaikan kepada ketua kalian, katakan
saja besok sore aku pasti akan datang berkunjung ke
kantor cabangmu untuk mengucapkan terima kasih
kepada Jien Tang-kee!"
Ciau Khong mengiakan beralang kali, setelah memberi
hormat diapun mohon pamit dan berlalu. Dari sikap
maupun nada ucapannya yang begitu menghormat
seakan-akan memperlihatkan bahwa dalam semalaman
saja nilai Hoa Thian-hong sudah meningkat berlipat li pat
ganda. Selesai sampan pagi, seorang pelayan muncul
menyampaikan sebilah pedang baja. Ciong Lian-khek
terima pedang itu sambil ujarnya, "Pedang ini sengaja
kusuruh orang untuk membuatnya semalam, mumpung
sekarang tak ada urusan, mari kita berlatih diluar kota.
Hoa Thian-hong merasa amat berterima kasih atas
perhatian orang, sambil membawa serta Chin Giok-liong
mereka tinggalkan rumah penginapan dan menuju keluar
kota. Di suatu tempat yang sunyi, Hoa Thian-hong terima
pedang baja itu dan menimang2nya sebentar, lalu
berkata, "Pedang baja milikku itu terbuat dari baja yang
dilapisi besi murni, berat keseluruhannya mencapai enam
puluh dua kati, aku rasa pedang ini jauh lebih kecil,
beratnya hanya mencapai tiga puluh tiga kati dan
merupakan separuh dari senjataku itu, entah cocok tidak
bila kugunakan nanti?"
"Baja Hian-tiat adalah benda yang tak ternilai
harganya, sekalipun ada uang juga belum tentu bisa
dibeli. Senjata tajam keluaran dari kota Cho-Ciu sudah
tersohor di seluruh kolong langit, bila kau mengatakan
kurang bagus, yaah. apa boleh buat, tak mungkin
mereka sanggup membuatkan yang lebih baik lagi."
Ia berpikir sebentar, lalu tambahnya, "Sekarang coba
kau mainkan dulu ilmu pedangmu, aku pingin tahu
sampai dimanakah kehebatannya."
Hoa Thian-hong tertawa, sambil memegang pedang
baja itu dia maju ke tengah kalangan, setelah hening
sejenak kaki kirinya melangkah maju setindak ke muka,
pedang di tangan kiri mengayun ke atas dan laksana kilat
lancarkan sebuah babatan maut.
"Sreeeet....!" desiran angin pedang bergema memekik
telinga, suara dengungan akibat getaran di tubuh pedang
itu berbunyi nyaring dan tajam, seolah-olah pedang
tersebut akan terpatah jadi beberapa bagian.
"Usahakan sekuat tenaga untuk mengatur hawa
murnimu!" seru Ciong Lian-khek dengan suara dalam.
Hoa Thian-hong menyadari bahwa pedang baja itu tak
kuat menahan getaran hawa murninya, sekuat tenaga ia
berusaha membendung penggunaan hawa murninya
yang hebat dengan sangat hati-hati setiap babatan
dilancarkan. Jumlah jurus dalam ilmu pedangnya itu hanya enam
gerakan belaka, walaupun Hoa Thian-hong mainkan
dengan gerakan lambat namun dalam sekejap seluruh
gerakan itu telah selesai dimainkan.
Hoa Thian-hong pun tarik kembali pedangnya sambil
berdiri keren, ujarnya, "Cianpwe adalah seorang ahli
pedang kenamaan......"
"Kau tak usah sangka-sangka terhadap diriku!" tukas
Ciong Lian-khek sambil goyangkan tangannya, "Aku
adalah Seorang manusia yang sudah mati separuh,
selama kau ada niat untuk mengatur dunia persilatan
maka aku akan menjadikan diri untuk membantu
usahamu dalam dunia kangouw, tak ada perbedaan
tingkat kaum enghiong tak ada perbedaan usia, kita tak
usah gubris apakah itu cianpwee atau boanpwee, selama
kau berani meneriakkan keadilan dalam dunia persilatan
aku akan selalu mendukung cita-citamu tiap orang
berusaha dan berjuang menurut kemampuan masingmasing,
siapapun tidak mengurusi satu sama lainnya,
bukankah begitu jauh lebih bagus?"
Hoa Thian-hong merasa sangat terharu sehingga
tanpa terasa air mala jatuh bercucuran membasahi
pipinya, buru-buru ia berseru, "Baiklah, akan kulatih
kembali degan seksama, mungkin karena sudah lama,
ilmu itu tersia-sia kesaktiannya serta kemujijatan gerakan
jurus ilmu pedang itu sendiri, asal kau suka berlatih giat
hingga pedang yang enteng itu dapat kau gunakan untuk
melawan musuh tanpa berhasil dipatahkan lawan, maka
tenaga dalammu berarti telah memperoleh kemajuan
satu tingkat"
Mendengar perkataan Hoa Thian-hong jadi tertegun.
"Selama ini belum pernah aku memikirkan soal itu,
sedikitpun tidak salah! Seandainya sekarang aku berlatih
dengan memakai pedang ini, kemudian ganti memakai
pedang biasa, bukanlah selanjutnya aku berlatih dengan
memakai pedang bambu atau pedang kayu" dasar
belajar silat rupanya satu sama lain adalah sama dan
tidak jauh bedanya"
"Ucapan tepat sekali!" jago pertambangan sangat
membenarkan. Tempo dulu Hoa Thian-hong sendiripun pernah
merasakan, dengan hanya andalkan sebuah jurus
pukulan 'Kun-siu-ci-tauw' saja tidak cukup baginya untuk
menghadapi para jago lihay dengan ilmu silat yang
beraneka ragam, tapi berhubung pedang bajanya telah
ditahan oleh Ciu It-bong dan ia tidak berhasil
menemukan senjata tajam yang cocok banyaknya, maka
persoalan itu untuk sementara waktu terbengkalai.
Sekarang setelah disadarkan kembali oleh Ciong Liankhek,
ia baru sadar bahwa senjata tajam bukanlah
masalah yang penting, asal dia melatih diri dengan giat
maka akhirnya menggunakan senjata tajam macam
apapun tak ada bedanya satu sama lain.
Tanpa terasa semangat segera berkobar, niat untuk
melatih diri pun semakin menebal. Sekali lagi ia pasang
kuda2 dan mengulangi kembali permainan ilmu
pedangnya, tapi berhubung penggunaan hawa murni
yang tidak sesuai bisa mengakibatkan patahnya pedang
baja itu' maka meskipun gerakannya dilakukan sangat
lambat' pemuda itu justeru merasa semakin payah. baru
berlatih beberapa saat sekujur badannya telah basah
kuyup oleh keringat.
Selama ini Chin Giok-liong hanya duduk disisi kalangan
dengan pandangan mendelong dan bodoh, sedangkan
Ciong Lian-khek pusatkan seluruh perhatiannya
menyaksikan permainan pedang pemuda itu, sesaat
kemudian tiba-tiba ia angkat kepala dan berpaling ke
arah tembok kota.
Kiranya diantara lekukan tembok kota duduklah
seorang kakek tua yang gemuk pendek dan berwajah
merah bercahaya sedang mengawasi Hoa Thian-hong
berlatih pedang, tatkala Ciong Lian-khek menoleh ke
arahnya, kakek gemuk itu segera menggerakkan bibirnya
membisikkan sesuatu dengan ilmu menyampaikan suara,
kemudian perhatiannya dicurahkan kembali ke arah
permainan pedang si anak muda itu.
Setelah berlatih kurang lebih satu jam kemudian,
sekujur badan Hoa Thian-hong telah basah kuyup oleh
air keringat, napasnya tersengkal2 bagaikan kerbau
Ketika itulah mendadak kakek gemuk di atas tembok
kota itu menyentilkan sebutir batu kerikil menghantam
ujung pedang baja di tangan Hoa Thian-hong.
Sementara itu seluruh perhatian yang dimiliki si anak
muda itu sedang dicurahkan dalam permainan jurus
pedangnya, begitu merasakan datangnya ancaman dari
luar, hawa murninya segera disalurkan semakin hebat
menelusuri tubuh pedang itu.
"Criiing...!" diiringi suara dentingan nyaring, pedang
baja yang besar dan kasar itu seketika putus jadi empat
lima puluh potongan kecil dan berceceran di seluruh
angkasa Hoa Thian-hong yang sedang pusatkan seluruh
perbatiannya berlatih ilmu pedang hingga berada dalam
keadaan lupa diri, sewaktu melihat pedang bajanya
secara tiba-tiba tergetar patah jadi amat terperanjat,
tubuhnya dengan tangkas berkelit ke samping
meloloskan diri dari sambitan kutungan pedang itu,
sedang matanya dengan tajam menyapu sekeliling
tempat itu mencari asal datangnya serangan bokongan
itu. Rupanya si kakek gemuk yang berada di atas tembok
kota itu tiada maksud berjumpa dengan pemuda itu,
badannya dengan cepat menyusup ke bawah dan
menyembunyikan diri dibalik tembok kota.
Dalam pada itu Ciong Lian-khek telah maju
menghampiri dirinya sambil berkata, "Nanti aku akan
suruh ahli besi buatkan sebilah pedang lagi untukmu, kini
sudah mendekati tengah hari, bagaimana dengan racun
teratai yang mengeram di dalam tubuhmu?"
Sesudah bergaul agak lama dengan jago buntung isi,
lama kelamaan Hoa Thian-hong sudah lupa dengan
kebiasaannya, melihat wajahnya murung dan
menguatirkan persoalan itu, buru-buru ia tertawa paksa.
Racun teratai sudah akan mulai kambuh, biar kulatih
dulu serangkaian ilmu pukulan tangan kosong"
Sambil maju beberapa langkah ke depan, ia segera
rentangkan telapaknya dan mulai berlatih
Tiba-tiba Ciong Lian-khek meloloskan pedangnya yang
tersoren d ipunggung, ia berseru, "Mari aku temani
dirimu bermain beberapa gebrakan!"
Pedang digetarkan dan segera terpisah mengancam
beberapa bagian tubuh pemuda itu.Hoa Thian-hong
melengos ke samping, telapaknya langsung ditadok
kemuka.... suatu pertarungan serupun segera terjadi
diantara dua orang jago lihay itu.
Ilmu pedang yang dimiliki Ciong Lian-khek ganas,
tajam dan telengas, setiap gerakannya cepat laksana
sambaran kilat. Dengan susah payah Hoa Thian-hong
masih sanggup mempertahankan diri, kurang lebih
setelah lewat seratus gebrakan, mendadak racun teratai
yang mengeram dalam tubuhnya mulai kambuh, sekujur
tubuhnya terasa linu dan amat sakit.
Dengan kambuhnya racun teratai, hawa murni yang
bergolak dalam tubuhnya semakin berlipat ganas, cuma
sayang pikirannya tak tenang. Menghadapi ilmu pedang
Ciong Lian-khek yang cepat dan ganas benar-benar tidak
sesuai Beberapa saat kemudian, sebuah tabasan pedang jago
bercabang itu berhasil mampir di atas bahu Hoa Thianhong,
ia segera melompat mundur ke belakang sambil
berseru, "Cepatlah pergi lari racun, pertarungan ini kita
lanjutkan besok pagi saja!"
Dalam peristiwa yang terjadi kemarin siang, secara
kebetulan saja aku berhasil lolos dari tangan Cu Goankhek"
pikir Hoa Thian-hong di dalam hati." Kejadian
semacam ini setiap saat bisa jadi terulang kembali,
mumpung sekarang ada kesempatan aku musti berusaha
keras untuk menahan siksaan dan berlatih giat, dari pada
sampai menghadapi keadaan seperti ini aku jadi bingung
dan gelagapan"
Berpikir sampai disitu ia segera ambil keputusan
dengan menahan rasa sakit berlatih terus.
"Ayoh kita lanjutkan bergebrak!" katanya sang badan
meluruk ke muka dan telapaknya langsung diayun
menghantam tubuh lawan.


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Ciong Lian-khek putar pedang menyambut datang
serangan, melihat hawa pukulan yang dipancarkan dari
telapaknya kian lama kian bertambah kuat, sehingga
mengakibatkan pedang bajanya merasa gemetar yang
sangat kuat, ia jadi terkejut bercampur girang, sambil
mengepos tenaga pertarungan dilanjutkan semakin seru.
Puluhan jurus setelah lewat, suatu kesempatan Ciong
Lian-khek melancarkan tiga jurus serangan berantai,
pedangnya bergetar kencang dan secara tiba-tiba
menotok dada pemuda itu.
Ketika pertarungan melawan Cu Goan-khek tempo
hari, pertama. Ia bertarung dengan keras lawan keras,
kedua. Jiwanya terancam bahaya. Karena itu perlawanan
yang. diberikan sepuluh kali lipat lebih hebat dari pada
sekarang, maka ia sanggup mempertahankan diri tidak
kalah. Sebaliknya keadaan yang dihadapinya saat ini jauh
berbeda pertarungan ini termasuk dalam bilangan
latihan, setiap jurus harus dipatahkan dengan jurus,
setiap gerakan harus dipecahkan dengan gerakan tentu
saja lama kelamaan pemuda itu tak tahan dan keteter
hebat. Mendadak Ciong Lian-khek berseru dengan nada
dalam, "Rendahkan bahu ke bawah sambil lintangkan
kaki ke samping, maju menyerobot sambil kirim
serangan!"
0000O0000 Hoa Thian-hong tertegun mendengar seruan itu, tapi
dengan cepat ia dapat memahami seruan tersebut, sekali
lagi ia menubruk maju kemuka.
Tidak lama setelah pertarungan berlangsung, Ciong
Lian-khek dengan gerakan yang sama melancarkan
tusukan kembali ke depan, Hoa Thian-hong tidak raguragu
lagi, ia rendahkan bahunya ke bawah sambil
geserkan kaki kanannya ke samping, sambil putar
telapak ia kirim satu pukulan ke muka.
Tusukan pedang Ciong Lian-khek segera mengenai
sasaran kosong, dengan cepat ia melayang mundur ke
belakang. Menggunakan kesempatan itu Hoa Thian-hong
menerjang ke depan dan merebut posisi yang lebih baik,
serangan bertubi-tubi segera dilancarkan.
Pertarungan berlangsung kurang lebih satu jam
lamanya dengan sebilah pedangnya Ciong Lian-khek
pertunjukan pelbagai perubahan yang tiada taranya.
berulang kali si anak muda itu menelan kekalahan
ditangannya tapi setiap kali ia pasti peroleh pemecahan
dari jurus ampun tadi, dengan demikian setelah
bertarung sengit hampir satu jam lamanya manfaat yang
ia dapatkan melebihi hasil latihan selama tiga bulan.
Akhirnya kedua orang itu berhenti bertarung, dengan
sekujur badan basah kuyup oleh air keringat mereka
beristirahat dan mengatur pernapasan.
Kemudian Sambil mengajak Chin Giok-liong mereka
kembali ke rumah penginapan, selesai membersihkan
badan dan pakaian Hoa Thian-hong masuk ke dalam
kamarnya jago bercambang itu untuk berpamitan, Ketika
itulah Ciong Lian-khek ambil keluar sebuah kartu
undangan sambil berkata, "Janjimu dengan Pek Kun-gie
lebih baik dipenuhi seorang diri, bisa bersahabat itu lebih
baik, kau musti sedia jalan mundur untuk menghadapi
segala kemungkinan yang tidak diinginkan!"
Ia termenung beberapa saat lamanya. kemudian
melanjutkan, "Dalam pertemuanmu dengan Jin Hian
nanti, bertindaklah menurut keadaan. bila kau sanggup
menemukan jejak pembunuh tersebut hal ini jauh lebih
bagus lagi."
"Mengapa begitu?" tanya Hoa Thian-hong sambil
menerima kartu undangan tersebut.
Ciong Lian-khek tidak menjawab, ia berjalan keluar
dari kamar dan periksa Sekejap keadaan di empat
penjuru, lalu sambil bersandar di atas pintu bisiknya,
"Berhasil mencari tahu jejak pembunuh Jin Bong berarti
pula berita mengenai pedang emas ada harapan bisa kita
temukan. Bila kita berhasil dapatkan pedang tersebut
berarti pula ada harapan besar bagi kita untuk
mendapatkan ilmu silat warisan dari Siang Tang Lay. Jika
demikian keadaannya maka usaha kita membasmi kaum
iblis serta menegakkan kembali keadilan dalam dunia
persilatan pun ada harapan besar."
Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong segera
merasa darah panas bergelora dalam dadanya.
"Cianpwee, kau juga percaya dengan rahasia pedang
emas?" Meskipun Ciong Lian-khek berulang kali menyatakan
bahwa dia tak mau dipanggil sebagai 'cianpwe', tapi
kebiasaan sukar dihilangkan dan mulut pemuda itu.
Dengan wajah serius Ciong Lian-khek mengangguk.
"Pedang kecil berwarna emas itu ada hubungan yang
erat sekali dengan ilmu silat peninggalan dari Siang Tang
Lan, persoalan ini tak bakal salah lagi! Sekarang
pusatkan saja seluruh perhatian dan tenagamu untuk
mendapatkan pedang emas itu, mengenai masalah yang
lain kita bicarakan kemudian hari saja. aku percaya suatu
ketika persoalan ini pasti akan jadi terang!"
"Mengenai pembunuh dari Jing Bong, sedikit banyak
aku telah memperoleh suatu gambaran!" ujar Hoa Thianhong
setengah berbisik.
"Maksud perempuan yang mencatut nama Pui Chegiok
serta raut wajahnya mirip dengan Pek Kun-gie itu?"
"Bukan! bukan orang itu yang kumaksudkan"jawab
pemuda itu sambil menggeleng, "jejak perempuan itu
bagai kabut di pagi hari, detik ini entah dia sudah berada
dimana" yang kumaksudkan adalah Pui Che-giok dayang
kepercayaan dari Giok Tong Hujie!"
"Dengan alasan apa kau mencurigai orang itu?" tegur
Ciong Lian-khek dengan suasa terkejut, "Nak, kau musti
tahu persoalan ini bukanlah persoalan kecil yang boleh
dibuat permainan, suatu tindakan yang keliru segera
akan mendatangkan bencana kematian yang
mempengaruhi mati hidup seseorang!"
"Ketika pembunuh itu menyelesaikan jiwa Jin Bong,
yang dipergunakan adalah sebilah badik mustika yang
kecil mungil, kemarin sewaktu aku berada di kuil It-goankoan,
dalam paniknya Pui Che-giok juga pernah unjukkan
badik mustika yang bentuknya persis sekali dengan alat
pembunuh tersebut, oleh karena itulah aku menduga
antara mereka berdua tentulah terkait oleh suatu
hubungan yang sangat erat"
Ia berhenti sebentar dan berpikir, kemudian lanjutnya,
"Tatkala peristiwa berdarah itu sedang terjadi, perahu
peribadi milik Giok Teng Hujien kebetulan pula sedang
berlabuh di sungai Huang-hoo, apakah cianpwee tidak
merasa bahwa kejadian ini aneh sekali?"
"Ehmm...! badik mustika adalah suatu benda yang
kecil dan tidak menyolok mata, tak nyana bocah ini
bekerja amat teliti dan seksama, sampai urusan sekecil
itupun tidak terlepas dari pengamatannya. Aaai.... ia
betul-betul bernyali besar dan berpikiran teliti, bocah ini
termasuk seorang calon jago yang luar biasa. Mungkin
Thian punya mata dan sengaja menurunkan bocah ini ke
bumi untuk melenyapkan kaum durjana dan iblis dari
kolong langit?" pikir Ciong Lian-khek dalam hati kecilnya.
Berpikir sampai disitu ia lantas berkata, "Banyak
peristiwa yang terjadi di kolong langit kadang kala
berada diluar dugaan orang, adu kelicikan dan adu
kekejian bukanlah sifat utama dari orang golongan kita.
Kau harus bertindak dengan hati-hati, bekerja secara
mantap dan seksama, utamakan perlindungan jiwa atas
diri sendiri kemudian baru pikirkan usaha untuk maju ke
titik sukses, jangan terlampau gegabah dan menuruti
emosi hati sehingga sebaliknya malah kena dicurangi
oleh pihak lawan"
Hoa Thian-hong mengiakan berulang kali, sesudah
menepuk bahu Chin Giok-liong ia putar badan dan
berlalu dari situ.
Sambil menghantar pemuda itu keluar dari kamar,
Ciong Lian-khek berpesan kembali, "Kunjunganmu ke
perkumpulan Hong-im-hwie lakukanlah menurut
peraturan dunia persilatan, dengan begitu mereka tak
akan turun tangan menghadapi dirimu. Aku punya
dendam sedalam lautan dengan Cia Kim, bila kita saling
bertemu pertarungan sengit pasti akan terjadi, maka dari
itu akupun tak akan menemui kepergianmu ini."
Hoa Thian-hong mengiakan sertu mengangguk,
sepeninggalnya dari rumah penginapan dia langsung
menuju ke rumah makan Ki-Eng-Lo.
Sebagai seorang jago muda yang mendapat sorotan
paling tajam dari semua golongan di kota Cho-Ciu,
pemuda ini dikenal oleh seluruh orang di rumah makan
tersebut, ketika ia tiba dipintu depan. Pemilik rumah
makan diiringi beberapa orang pelayan telah menyambut
kedatangannya sambil berkata, "Hoa-ya, Pek toasiocia
dari perkumpulan Sin-kie-pang telah siapkan perjamuan
dalam gardu Cui-Wi-Teng, silahkan Hoa-ya menuju
kesitu!" Hoa Thian-hong mengangguk dan segera mengikut di
belakang orang itu, setelah melewati tanah lapang untuk
bersilat mereka putar ke dalam sebuah jalan kecil yang
rimbun. beberapa puluh tombak kemudian sampailah
mereka di hadapan sebuah gardu persegi delapan yang
rimbun dan sejuk, dalam gardu telah disiapkan meja
perjamuan. Pek Kun-gie dengan mengenakan pakaian serba putih
duduk disisi gardu, ketika Itu ia sedang memperhatikan
sepasang capung di tengah kolam teratai, Siauw Leng
sambil memegang sebuah kipas berdiri disisinya, dayang
ini sedang celingukan kesana kemari seperti sedang
mencari sesuatu.
Ketika Hoa Thian-hong munculkan diri di tempat itu,
Siauw Leng sambil tertawa cekikikan segera berseru,
"Nona, tamu kita telah datang!"
Pengurus rumah makan itu maju beberapa langkah
kemuka dan berseru sambil memberi hormat, "Nona,
Hoa-ya telah tiba!"
Perlahan-lahan Pek Kun-gie berpaling dia ulapkan
tangannya mengundurkan pengurus rumah makan itu,
kemudian dengan sikap ogah-ogahan bangkit berdiri dan
berjalan menuju kemeja perjamuan.
"Agaknya pertemuan yang diadakan hari ini rada
sedikit berlebihan" pikir Hoa Thian-hong dalam bati.
Sementara ia berpikir begitu, langkahnya dilanjutkan
menuju ke arah meja perjamuan sapanya sambil
memberi hormat, "Nona, harap suka memberi maaf bila
kedatanganku agak terlambat!
"Untuk keterlambatanmu kau harus dihukum dengan
tiga cawan arak" seru Siauw Leng dengan cepat sekali
tertawa, "Kemarin malam secara gegabah dan kasar kau
telah melukai pula nona kami, sebentar lagi hutang ini
musti diselesaikan pula!"
"Hmmm! Sedikit tak tahu aturan!" tegur Pek Kun-gie
dengan wajah berubah, "Apa itu kau, kau, kau?"
Sambil meleletkan lidahnya Siauw Leng segera
membungkam, buru-buru dia penuhi cawan kedua orang
itu dengan arak wangi.
Diam-diam Hoa Thian-hong pun memperhatikan sikap
Pek Kun-gie, dia lihat wajah gadis itu layu dan lemah
bahkan nampak sedikit murung dalam hati segera
pikirnya, "Serangan yang kulancarkan kemarin malam
hanya menggunakan tenaga sebesar lima bagian, masa
ia benar-benar terluka?"
Bibirnya bergerak hendak mengucapkan beberapa
patah kata yang menyatakan permintaan maaf, tapi
setelah teringat kembali akan penghinaan yang pernah
diterima pada masa lalu, pemuda itu segera keraskan
hatinya dan membungkam dalam seribu bahasa.
Kecantikan wajah Pek Kun-gie boleh dibilang nomor
satu di kolong langit, kecuali kalah setengah tingkat dari
gadis yang mencatut nama Pui Che-giok boleh dibilang
gadis2 lain dalam dunia persilatan tak seorangpun yang
dapat menandingi dirinya.
Tampak ia angkat kepala memandang sekejap ke arah
Hoa Thian-hong, lalu ujarnya, "Apa yang hendak kau
katakan" Mengapa tidak jadi bicara" Apa takut didengar
orang lain?"
Hoa Thian-hong menggeleng, sambil angkat cawan
arak ia menyahut, "Sanak keluarga dari Chin Pek-cuan
Loenghiong masih tertinggal di kota Seng-ciu, asal kan
tersedia melindungi jiwa mereka semua maka semua
hutang piutang kita dimasa yang silam kuhapuskan
sampai disini saja, sejak kini aku tak akan mencari garagara
dengan dirimu lagi."
"Hmmm, kesetia kawanmu terhadap keluarga Chin
rupanya luar biasa sekali?"
Hoa Thian-hong tertegun, dari nada ucapan itu dia
dapat menangkap suatu perasaan lain yang aneh sekali,
setelah merandek sejenak ia lantas berkata, "Chin Pekcuan
pernah melepaskan budi terhadap keluarga Hoa
kami, dan aku rasa semua orang pasti mengetahui akan
kejadian tersebut. Setelah aku makan teratai racun
empedu api, enci Chin Wan-hong pula yang
mengusahakan obat mujarab sehingga aku dapat
terhindar dari bahaya maut, bila tiada pengorbanan
darinya, darimana aku Hoa Thian-hong bisa munculkan
diri di kota Cho-Ciu pada saat ini?"
Dari pembicaraan itu dapat terlihat betapa mesranya
sikap pemuda ini terhadap diri Chin Wan-hong, perasaan
tersebut sama sekali tidak disembunyikan barang
sedikitpun jua.
Pek Kun-gie segera tertawa dingin, selanya, "Bila aku
tidak mengirim Oh Sam untuk menghantar kalian


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

melakukan perjalanan sejauh ribuan li, masih kau bisa
sampai di tempat tujuan....?"
Mula2 Hoa Thian-hong tertegun, kemudian pikirnya
dalam hati, "Seandainya bukan dikarenakan tiga batang
jarum beracun 'So-Hun-Tok-Ciam' akupun tak akan
menelan teratai racun untuk bunuh diri, andaikata aku
mati keracunan itu masih mendingan, sekarang aku
hidup segar bugar di kolong langit sedang Teratai racun
empedu api yang seharusnya kuberikan kepada ibuku
sebagai obat malah termakan olehnya, siapa yang harus
menyembuhkan sakit yang diderita ibu?"
Sebagai seorang anak yang berbukti kepada orang
tuanya, Hoa Thian-hong lebih mementingkan soal
kesehatan ibunya daripada soal lain. Teringat akan hal
tersebut rasa bencinya terhadap pihak perkumpulan Sinkie-
pang kian bertambah tebal, sekalipun berhadapan
kamu dengan seorang gadis cantik jelita bagaikan
bidadari, perasaan itu sulit pula untuk disembunyikan....
Sementara itu ketika Pek Kun-gie tidak mendengar
jawaban dari si pemuda itu, dan segera berpaling dan
berkata lagi, "Kemarin malam aku telah pikirkan kembali
pertanyaan yang kau ajukan kepadaku rasanya sekarang
aku telah berhasil memahami maksud yang sebenarnya
dari pertanyaanmu itu...."
"Maksud apa?" tanya Hoa Thian-hong dengan alis
berkerut. "Bukankah kemarin kau bertanya kepadaku, adakah
seseorang datang ke markas mencari dirimu" Sekarang
aku sudah tahu siapakah orang yang kau maksudkan itu"
"Siapa?"
"Ayahmu sudah meninggal, hanya ibumu merupakan
satu2nya orang yang kau sayang Kalau kulihat dari
sikapmu yang gelisah bercampur cemas maka dapat
kusimpulkan bahwa kau tentulah merasa kuatir bila
ibumu pergi ke markas Sin-kie-pang mencari dirimu.
bukan begitu?"
Tercekat juga hati Hoa Thian-hong mendengar
perkataan itu, dengan suara dingin segera serunya, "Ilmu
silat yang dimiliki ibuku sangat lihay, andaikata ia benarbenar
berkunjung kebukit Tay-pa-san, maka aku
peringatkan lebih baik kalian berhati-hati!"
"Addduuuh mak! benarkah Hoa Hujien selihay
itu?"teriak Siauw Leng tiba-tiba sambil tertawa
merdu."Aku jadi pingin tahu sampai dimanakah
kehebatannya"
Dengan pandangan dingin Pek Kun-gie melirik sekejap
ke arah dayangnya lalu angkat cawan araknya dan
diangsurkan kepada Hoa Thian-hong.
Pikiran Hoa Thian-hong jadi kuatir, ia tak dapat
membebaskan gadis cantik di hadapannya ini seorang
teman atau lawan tanpa banyak bicara diapun angkat
cawan arak sendiri dan meneguknya setegukan.
Terdengar Pek Kun-gie berkata kembali, "Memang aku
tahu bahwa kelihayan ilmu silatnya yang dimiliki orang
tuamu dikenal oleh setiap orang, tapi kau musti ingat
bahwa sepasang kepalan susah mengalahkan empat
buah telapak Apalagi dalam markas perkumpulan Sin-kiepang
terdapat jago lihay yang tak terhitung jumlahnya,
bila ibumu benar-benar berani menempuh bahaya, aku
takut sulit baginya untuk keluar dari situ dalam keadaan
selamat" Tertegun bati Hoa Thian-hong mendengar perkataan
itu, hanya dia seorang yang tahu bahwa Hoa hujien
menderita luka dalam yang amat parah sehingga ilmu
silatnya tak dapat dipergunakan lagi, tapi rahasia
semacam ini tentu saja tidak sampai diucapkan keluar,
Sambil tertawa paksa segera katanya, "Kalau anggota
perkumpulan Sin-kie-pang kalian berani berbuat kurang
ajar terhadap ibuku dengan andalkan jumlah banyak,
akupun tak usah susah2 pergi mencari satroni dengan
orang lain, rasa dongkolku itu segera akan kulampiaskan
di atas tubuhmu, dengan gigi aku balas gigi dengan
cakar aku balas cakar, hutang baru hutang lama
semuanya aku bereskan atas namamu seorang"
Pek Kun-gie segera mendengus dingin."Hmm! Aku
nasehati dirimu, lebih baik lepat21ah bunuh diriku, sebab
kalau tidak, sekembaliku ke kota Seng-ciu maka seluruh
keluarga dari Chin Pek-cuan akan kubunuh sampai habis"
"Kau anggap aku tak berani mencabut jiwamu..."
teriak Hoa Thian-hong dengan gusar Tiba-tiba ia merasa
dibalik ucapan gadis itu seakan-akan terselip nada pedih yang
menyedihkan hati, sikapnya yang lesu dan murung pada
saat ini jauh berbeda dengan sikapnya yang angkuh dan
sombong dimasa lampau, ia jadi heran dan untuk sesaat
berdiri tertegun,
Keadaan Pek Kun-gie nampak lesu, layu dan seperti
orang aras2an, dengan kepala tertunduk dia awasi cawan
araknya dengan pandangan mendelong.
Lama sekali ia baru angkat kepala dan memandang
wajah si anak muda itu, biji matanya yang bening secara
lapat-lapat terselip kelesuan yang sangat aneh.
Makin dipandang Hoa Thian-hong merasa semakin
bingung, ia merasa sikap Pek Kun-gie pada saat ini jauh
berbeda dengan sikapnya dimasa silam. sekarang bukan
saja tidak nampak kesombongan jiwanya bahkan nampak
jauh lebih halus dan lembut.
Setelah berpikir sejenak, pemuda itu merasa semakin
bingung. Akhirnya sambil angkat cawan araknya ia
berkata setengah gelagapan, "Aku akan menemani nona
untuk minum beberapa cawan lagi, bila kau tak ada
urusan lain, akupun ingin mohon diri terlebih dulu"
Mendengar perkataan itu, Pek Kun-gie angkat
cawannya dan meneguk setegukan. kemudian dengan
nada seenaknya ia berkata, "Aku dengar katanya ibumu
sangat cantik, benarkah itu?"
Hoa Thian-hong tidak menyangka kalau ia bakal
mengajukan pertanyaan semacam itu, setelah melengak
sejenak ia mengangguk "Benar, ibuku memang sangat
cantik" "Bagaimana kalau kecantikannya dibandingkan dengan
Chin Wan-hong"...."
Hoa Thian-hong segera tersenyum. "Lucu amat
pertanyaanmu ini, yang satu adalah orang dewasa
sedang yang lain baru seorang bocah, bagai mana aku
musti membandingkannya"...."
Haruslah diketahui Hoa Hujien adalah seorang
perempuan yang amat cantik, meskipun usianya telah
mencapai empat puluh tahun namun kecantikan
wajahnya masih belum hilang lenyap.
Sedangkan Chin Wan-hong hanya halus lemah lembut
dan menyenangkan orang, gadis ini tidak termasuk
dalam golongan gadis cantik. Bila hendak dibandingkan
tentu saja ia bukan tandingan dari kecantikan Hoa Hujien
Sekalipun begitu Hoa Thian-hong tidak ingin
merendahkan salah satu diantara mereka berdua, sebab
yang satu adalah ibu kandungnya yang sangat disayang
sedang yang lain adalah teman akrabnya, dalam keadaan
begini pemuda tersebut segera ambil jalan tengah
dengan tidak memberikan perbandingan
Tiba-tiba terdengar Siauw Leng nyeletuk, "Bagaimana
kalau Hoa Hujien dibandingkan dengan nona kami?"
"Lancang amat kau ini, jangan banyak bicara,!" seru
Pek Kun-gie dengan uring2an. Ia berpaling ke arah Hoa
Thian-hong kemudian melanjutkan, "Tabiatku suka
menyendiri dan jarang sekali mengikat tali persahabatan
dengan orang lain, di hari2 biasa teman,ku hanya budak
ini saja, bila ia kurang ajar kepadamu harap kau suka
memaafkan"
"Omongan bocah cilik kenapa musti dipikirkan?" sahut
Hoa Thian-hong sambil tersenyum. ketika dilihatnya
sepasang biji mata gadis itu sedang mengawasi dirinya
seolah-olah sedang menantikan perkataan selanjutnya,
terpaksa sambil tersenyum ia menambahkan, "Harap
nona jangan marah, ibuku ibarat rembulan di angkasa
sedang nona bagaikan sekuntum bunga, meskipun kedua2nya
indah namun sulit bagiku untuk
membandingkannya"
Bila di-hari2 biasa. perkataan itu pasti akan
menggatalkan telinga Pek Kun-gie, tapi sekarang
wajahnya tetap tersungging senyuman lirih, sedikitpun
tidak nampak rasa tidak senang yang terlintas di atas
wajahnya. "Aku toh seorang budak ingusan yang tiada berharga,
mana bisa dibandingkan dengan Hoa Hujien" Mungkir.
dengan enci Wan-hong mu itupun tak dapat
mengimbangi"
"Apanya sih yang bagus pada diri Chin Wan-hong"
Kalau dibandingkan dengan nona kami, dia belum ada
separuhnya!" sela Siauw Leng tidak puas.
Sorot mata Pek Kun-gie berkilat ia sapu sekejap wajah
Hoa Thian-hong lalu katanya sambil tertawa,
"Perempuan yang telah dewasa toh gampang berubah,
siapa tahu kalau kecantikan wajah Chin Wan-hong secara
tiba-tiba berubah jadi lebih cantik dari pada diriku?"
Hoa Thian-hong tersenyum, pikirnya, "Perempuan
memang aneh sekali, baik dalam raut wajah maupun
dalam ilmu silat, mereka selalu ingin kecantikannya
melebihi orang lain."
Ia bangkit dari tempat duduknya dan segera menjura,
katanya, "Karena masih ada urusan lain, dilain hari saja
aku datang kembali untuk menyambangi nona!"
Wajah Pek Kun Ge yang baru saja dihiasi senyuman
kegembiraan seketika berubah jadi sedih kembali setelah
mendengar pemuda itu mohon diri.
Hoa Thian-hong adalah pemuda yang cerdik.
meskipun usianya masih muda tapi dia pandai melihat
gelagat orang. menyaksikan gadis itu menunjukkan rasa
sedih setelah ia mohon pamit, tanpa terasa dalam hati
pikirnya, "meskipun gadis ini sombong dan agak mau
menang sendiri dalam menghadapi tiap persoalan,
namun bila keadaannya bisa begini halus terus menerus,
dia patut diajak berteman"
Berpikir sampai disitu. timbullah rasa kasihan dalam
hatinya, ia segera berkata, "Pagi ini Jin Hian telah
mengutus orang untuk mengampaikan sebuah kartu
undangan kepadaku, karena akupun membutuhkan
sejenis obat darinya maka undangan tersebut telah
kuterima. Bila nona tak keberatan, aku ingin mohon diri
lebih dahulu agar bisa bikin sedikit persiapan"
"Itu toh urusan nanti malam" Atau mungkin hendak
pergi ke kuil It-goan-koan?"
Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang tinggi hati,
sebelum berkenalan dengan Hoa Thian-hong belum
pernah hatinya tertarik siapapun, tapi setelah berjumpa
dengan pemuda itu, sedikit demi sedikit ia mulai tertarik
hatinya oleh kegagahan serta ketampanannya, dalam
hati kecilnya timbullah rasa cinta yang mendalam, cinta
itu bersemi sedikit demi sedikit. akibatnya rasa senang
gadis ini terhadap pemuda itu boleh dikata jauh lebih
mendalam dari pada cinta dalam pandangan pertama.
Rasa cinta itu mulai bersemi sejak perkenalan mereka,
ketika terjadi peristiwa Hoa Thian-hong bunuh diri
dengan menelan teratai racun empedu api di tepi sungai
Huang-hoo, gadis itu baru menyadari bahwa hati kecilnya
telah terisi oleh bayangan Seorang pria, dan pria itu
bukan lain adalah Hoa Thian-hong.
Tapi sayang semuanya terlambat, pemuda pujaannya
telah bunuh diri dan kabar beritanya sejak itu ikut lenyap
bersama lenyapnya Chin Wan-hong serta Tiong-si Sam
Houw. Ketika berita tentang munculnya kembali Hoa Thianhong
dalam dunia persilatan tersiar sampai gunung Tay-
Pa-San, Pek Kun-gie merasakan hatinya senang
bercampur murung, ia merasa ingin sekali cepat-cepat
bertemu dengan pemuda itu, tapi diapuu tahu antara
mereka berdua pernah terikat oleh suatu permusuhan
dimasa yang silam, sengketa tadi seolah-olah sebuah
jurang yang dalam telah memisahkan mereka berdua
pada tepian yang berbeda, hal mi membuat hatinya jadi
murung dan sedih. tapi akhirnya ia nekad berangkat juga
ke kota Cho-Chiu untuk bertemu dengan dirinya.
Hoa Thian-hong sendiri meskipun tidak dapat
memahami perasaan hati si gadis, tapi ia dapat metihat
perubahan sikap Pek Kun-gie yang amat besar serta
sikap persahabatannya terhadap dia, hal iti membuat
Sepasang Arwah Bisu 1 Mas Rara Seri Arya Manggada 2 Karya S H Mintardja Bara Dendam Menuntut Balas 2
^