Pencarian

Bara Maharani 9

Bara Maharani Karya Khu Lung Bagian 9


sikapnya jadi kikuk dan Salah, dia ingin sekali hatinya
dan berlalu dari situ, tapi apa daya hatinya terasa lemah
menghadapi kaum wanita.
Untuk sesaat pemuda ini jadi melongo dan tak tahu
apa yang musti dilakukan olehnya.
Siauw Leng si dayang kecil itu tidak punya pikiran
cabang. melihat Hoa Thian-hong hendak pergi sedang
Pek Kun-gie ada maksud menahan, ia segera menarik
tangan pemuda itu sambil menyeretnya duduk kembali di
tempat semula, serunya sambil tertawa, "Eeei....
bagaimana sih kau ini" Kok sikapmu tak tahu adat"
pertanyaan yang diajukan nona kami toh belum selesai!"
Hoa Thian-hong tertawa getir, ia duduk ke tempat
semula. Sikap kurangajar yang diperlihatkan Siauw Leng
pada saat ini ternyata tidak peroleh dampratan dari Pek
Kun-gie, malahan gadis ini pura-pura tidak melihat.
Suasana untuk sesaat diliputi kecanggungan serta
serba kerikuhan mendadak pada sesaat itulah terdengar
suara langkah manusia bergema datang, disusul
tampaklah pengurus rumah makan diiringi seorang
pemuda baju putih berjalan mendekat
Melihat kehadiran pemuda itu. dengan mata melotot
besar Siauw Leng segera berseru, "Aaah! Kok kongcu
juga datang ke kota Cho-Ciu?"
Pek Kun-gie sendiri sewaktu mengenali pemuda itu
sebagai Kok See-piauw, dengan alis berkerut segera
alihkan biji matanya yang jeli ke arah Hoa Thian-hong.
Rupanya Kok See-piauw sendiri juga telah melihat
ketiga orang yang hadir dalam gardu, sambil melangkah
masuk ke dalam gardu itu ia tertawa lantang dan
berseru, "Oooh...! Adikku manis, kenapa kau pergi tanpa
pamit" Aku sampai tak enak makan tak enak tidur, kejam
amat hatimu!"
Diam-diam Pek Kun-gie merasa amat gusar melihat
kehadiran pemuda itu, dalam keadaan serta situasi
seperti ini ia tak ingin dirinya diganggu orang lain, di
samping itu diapun takut Hoa Thian-hong tak senang
hati, maka setelah manggut lirih kembali dia alihkan
sorot matanya ke arah pemuda she Hoa tadi untuk
mengamati perubahan wajahnya.
Sementara itu Hoa Thian-hong telah berpikir di dalam
hatinya setelah menyaksikan kehadiran dari Kok Seepiauw,
"Kebetulan sekali, aku memang hendak
mengundurkan diri, eeei .. siapa tahu kau datang
kemari.... inilah kesempatan bagiku untuk pergi dari sini!"
Berpikir demikian ia lantas bangkit berdiri dan siap
memohon diri kepada Pek Kun-gie.
Tiba-tiba Siauw Leng berseru sambil tertawa, "Kok
Kongcu saudara ini bukan lain adalah Hong-po Seng
Kongcu yang pernah kita jumpai tempo dulu, sekarang ia
bernama Hoa Thian-hong dan merupakan orang yang
paling tersohor di kota Cho-Ciu!"
Kok See-piauw sendiri agaknya juga sudah
mengetahui siapakah Hoa Thian-hong itu, dengan alis
berkerut sengaja dia amati lawannya dari atas kepala
hingga sampai ke ujung kaki lalu sambil membuka
kipasnya ia menyindir sambil tertawa , "Bisa lolos dari
bencana besar, kehidupanmu kemudian hari tentu
banyak rejeki, bocah keparat! Sekali goyang badan
ternyata kau betul-betul sudah berubah lebih hebat dari
dahulu!" Hoa Thian-hong berjiwa besar dan bercita cita tinggi,
setiap saat ia selalu memikirkan bagaimana caranya
menumpas kaum iblis serta durjana dari muka bumi dan
bagaimana caranya menegakkan kembali keadilan di
kolong langit, yang termasuk daftar incarannya antara
lain Bun Liang Sinkun, Pek Siau-thian, Jin Hian serta
beberapa orang gembong iblis dari perkumpulan sekte
agama Thong-thian-kauw.
Manusia-manusia sebangsa Kok See-piauw sebetulnya
tidak tercatat dalam hati, tapi setelah menyaksikan
kesombongan pemuda itu serta sikapnya yang begitu
jumawa, tak urung berkobar juga hawa amarah dalam
dadanya, rasa benci dan muak menyelimuti seluruh
benaknya. Kok See-piauw sendiri sudah lama mencintai Pek Kungie,
meskipun tiada kemajuan namun harapan selalu
tetap ada, kini setelah dilihatnya gadis itu secara
mendadak meninggalkan permusuhan dan berubah Jadi
bersahabat dengan Hoa Thian-hong, terutama sikap Pek
Kun-gie yang begitu dingin terhadap dirinya serta raut
wajah pemuda she-Hoa yang tampan serta gagah,
timbullah rasa dengki dan cemburu dalam hati kecilnya,
nafsu membunuh segera berkobar dan tanpa banyak
bicara dia langsung ambil tempat duduk di dalam gardu.
Hoa Thian-hong semakin naik pitam terutama setelah
dilihatnya sikap maupun perkataan lawan amat tak tahu
diri, tapi ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya,
ia merasa tak leluasa untuk bergebrak dalam keadaan
begini. Maka sambil menekan kembali hawa gusarnya ia
bangkit berdiri dan tinggalkan tempat duduknya.
Pek Kun-gie jadi amat gelisah. segera pikirnya di
dalam hati, "Dalam menghadapi persoalan yang kutemui
pada saat ini, aku haru ambil keputusan tegas. Bila
kutampik Kok See-piauw maka paling banter dari sahabat
kita akan berubah jadi permusuhan, sebaliknya kalau aku
sampai menggusarkan dirinya, mungkin sejak detik ini
kami tak akan hidup secara damai."
Hati perempuan memang dalam ibarat saudara,
terutama sekali gadis tinggi hati macam Pek Kun-gie, bila
ia tidak senang mungkin masih mendingan, jika ia telah
jatuh hati maka sekalipun perjalanan dihadang oleh golok
tajampun ia tak akan balik kembali.
Demikianlah, setelah mengambil keputusan ia segera
bangkit berdiri dan mengejar ke sisi Hoa Thian-hong,
serunya, "Disebelah tenggara kota terdapat sebuah kedai
makan tersohor. mari aku temani dirimu makan di
tempat lain saja!"
Hoa Thian-hong terkesiap. dalam hati ia merasa
bangga dengan sikap gadis tersebut tetapi iapun merasa
serba salah, untuk beberapa saat ia jadi berdiri
menjublak dan tak tahu apa yang musti dilakukan.
Kok See-piauw jadi sangat malu dengan tindakan Pek
Kun-gie tersebut, sambil bangkit berdiri teriaknya keraskeras,
"Hian-moy harap berhenti, biar siau-heng saja
yang pergi dari tempat ini!"
Pek Kun-gie tidak menyahut, ia tarik ujung baju Hoa
Thian-hong dan diajak menyingkir ke samping untuk
memberi jalan lewat bagi Kok See-piauw.
Pemuda she-Kok ini adalah anak murid kesayangan
dari Bu-Liang-Sinkun, semula tabiatnya sangat binal dan
kasar, tapi sejak ia jatuh cinta kepada Pek Kun-gie lama
kelamaan sifatnya banyak berubah, ia jadi lebih halus
dan penurut. Tapi kini setelah impian indahnya buyar,
terutama setelah hatinya diliputi kedengkian serta rasa
kecewa. muncullah kembali wataknya yang buas dan
kasar itu. ia bersumpah hendak membalas sakit hati ini.
Tatkala tubuhnya berjalan lewat disisi kedua orang itu,
mendadak ia berhenti dan melotot ke arah Hoa Thianhong
dengan sorot mata berapi-api.
Wajah Pek Kun-gie berubah hebat. ia tahu pemuda itu
mengandung maksud tak baik tanyanya dengan suara
dingin, "Kok-heng, diantara kita berdua hanya ada
hubungan persahabatan dan selamanya tiada urusan
pribadi apapun, dalam urusan hari ini jika Kok-heng
masih suka memberi muka kepadaku. lebih baik
janganlah menimbulkan keonaran dan gara-gara di
tempat ini"
Kok See-piauw tertawa dingin."Hubungan diantara kita
berdua toh sudah berlangsung lama, siapa suruh kau
bersikap kejam lebih duhulu?"
Sorot matanya dialihkan ke arah Hoa Thian-hong,
kemudian sambil tertawa seram tambahnya,
"Kedatangan aku orang she Kok di kota Keng-ciu kali ini
adalah menuntut balas bagi sakit hati guruku, tetapi
memandang di atas wajah adik Pek untuk sementara
waktu urusan itu telah kukesampingkan. tapi sekarang
urusan telah jadi begini, kau si bangsat cilik pun harus
memberi pertanggungan jawab kepadaku"
"Sungguh menggelikan orang ini," batin Hoa Thianhong
di dalam hati, "Dia lebih mengutamakan
kepentingan pribadi daripada perintah gurunya, Hmm!
dasar manusia rendah...."
Sebelum dia sempat buka suara, Pek Kun-gie telah
berseru kembali dengan gusar, "Kok-heng, mengungkap
ungkap kejadian masa lampau bukanlah seorang lelaki
sejati masalah yang menyangkut keluarga Chin telah
kutangani sendiri, bila Kok-heng merasa tidak puas,
silahkan mengajukan perotes langsung dengan diriku!"
Kok See-piauw masih mencintai gadis ini dia tak ingin
putus hubungan sama sekali dengan Pek Kun-gie, tapi
terhadap Hoa Thian-hong rasa bencinya telah merusak
ke tulang sumsum, ia bersumpah hendak membinasakan
pemuda itu. Mendengar ucapan dari gadis she-Pek, ia segera
tertawa panjang dan menyindir, "Hoa Thian-hong, Hoa
Thian-hong, tampangmu sih berubah tambah ganteng
dan gagah, tidak tahu sampai dimana kehebatan ilmu
silatmu, masa kau cuma berani bersembunyi dibawa
gaun seorang perempuan?"
Dalam hati Hoa Thian-hong tertawa geli terhadap Pek
Kun-gie pemuda ini sama sekali tidak menaruh hati, tapi
setelah teringat akan sebuah pukulan Kiu-pit-sin-ciang
yang dihadiahkan Kok See-piauw sewaktu berada di
gedung keluarga Chin di kota Keng-ciu hingga hampir
saja jiwanya melayang, ia jadi bangga hati melihat
kegusaran orang makin memuncak, ia merasa sakit hati
itu tak perlu dibalas lagi asal pemuda she-Kok ini bisa
dibikin naik pitam sehingga muntah darah.
Meskipun demikian, iapun kuatir bila musuhnya itu
menimpakan rasa mangkel dan gusarnya di atas tubuh
Chin Pek-cuan. maka dengan wajah serius katanya,
"Sudah lama aku mendengar orang berkata bahwa Buliang
Sinkun paling pegang janji dan selamanya tak
pernah mengingkari ucapan sendiri, kau sebagai murid
kesayangannya tentu mempunyai watak demikian pula
bukan?" "Kau tak usah menjebak aku orang she-Kok dengan
kata-kata," tukas Kok See-piauw cepat, "Kalau punya
kepandaian ayoh unjukkan kelihayanmu, asal kau si
bangsat belum modar, aku orang she Kok tak nanti akan
mencari Chin Pek-cuan tua bangka itu."
Sebagai tamu terhormat dan perkumpulan Sin-kiepang,
selama ini dia hanya berdiam terus di bukit Taypa-
san, setelah Pek Kun-gie Pergi tanpa pamit buru-buru
ia menerjang ke Timur dan baru tengah hari tadi tiba di
kota Cho-ciu, setelah berkunjung sejenak di kantor
cabang Sin-kie-pang, ia langsung menyusul kemari.
Dengan begitu dia belum sampai mendengar kabar
mengenai pertarungan antara Hoa Thian-hong dengan
Cu Goan-khek, karena itulah dalam pandangannya, dia
musti menganggap enteng musuhnya ini, dianggapnya
pemuda itu bakal keok dalam beberapa gebrakan saja.
Sementara itu Hoa Thian-hong telah tersenyum
setelah diketahuinya Kok See-piauw masuk perangkap,
ujarnya kemudian, "Sulit sekali untuk peroleh janji dari
mulutmu sendiri, kalau memang ingin bergebrak silahkan
saudara tentukan waktu dan tempatnya, aku pasti akan
datang menemui janji."
Kok See-piauw semakin naik pitam, ia tidak menanti
untuk menunggu lebih lama, sambil menyapu sekejap
sekeliling tempat itu serunya, "Ikuti diriku"
Dengan langkah lebar ia berlalu lebih dulu dari situ.
Sambil tersenyum Hoa Thian-hong membuntuti dari
belakangnya, sedang Pek Kun-gie dengan mulut
membungkam mendampingi disisi pemuda tersebut.
Setibanya dilapangan beradu silat Kok See-piauw
segera berhenti, melihat musuhnya datang didampingi
oleh Kun-gie. ia merasa gengsinya semakin terinjak
dengan penuh kegusaran segera teriaknya, "Bila aku
beruntung dan berhasil menangkan pertarungan ini,
Hian-moay tak boleh gunakan obat pemunahku untuk
menolong jiwanya."
Pek Kun-gie mengerutkan alisnya, dari dalam saku dia
ambil sebutir pil warna hijau dan segera ditimpuk ke
depan. Kok See-piauw sambut obat tersebut, tiba-tiba ia
merasa menyesal ia merasa tidak seharusnya karena
persoalan itu dia musti bentrok dengan Pek Kun-gie,
dalam hati. segera pikirnya, "Baiklah. akan kubunuh lebih
dahulu bangsat ini, kemudian akan kulihat kau bakal
berubah pikiran atau tidak?"
Sekali gencet ia hancurkan obat itu jadi bubuk lalu
disebar di atas tanah, jengeknya sambil tertawa dingin,
"Hoa Thian-hong, kau berdiri melulu di situ, apakah
hendak tunggu sampai aku orang she-Kok turun tangan
lebih dahulu?"
"Hmm! Bajingan, kau memang terlalu tak tahu adat!"
dengus Hoa Thian-hong, ia maju kemuka dan segera
melancarkan sebuah pukulan.
Dengan tangkas Kok See-piauw mengegos dari
ancaman itu, lalu sambil tertawa dingin kembali ejeknya,
"Aku kira ilmu silatmu telah mendapat kemajuan pesat,
tak tahunya....Huuuh! Melulu satu jurus itu saja"
Sambil berseru jari dan telapaknya bekerja cepat,
dalam sekejap mata dia sudah kirim lima jurus serangan
silat. Dengan tenang Hoa Thian-hong hadapi setiap
serangan lawar, sembil bertempur pikirnya dalam hati,


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Meskipun orang ini terlalu jumawa, ilmu silatnya luar
biasa juga. Dari sini dapat dibayangkan betapa lihaynya
Bu-liang Sinkun sang gurunya..."
Sementara itu, para tamu dalam rumah makan
tersebut berbondong2 telah penuhi sekitar kalangan
tatkala mereka tahu ada orang sedang bertempur disitu,
tentu saja diantara mereka terdapat pula para jago dari
golongan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong-thiankauw,
suara bisik2 kedengarannya berkumandang
diantara mereka sedang seluruh perhatian dicurahkan ke
tengah kalangan, seakan-akan mereka sedang menikmati
suatu pertempuran yang amat indah.
Dalam menghadapi pertarungannya hari ini, Hoa
Thian-hong bersikap tenang dan sama sekali tidak
terburu nafsu, ilmu pukulan Kun-siu-ci-tau dimainkan
dengan bebas dan enteng, diantara serangan terdapat
pula pertahanan yang kuat.
Tenaga dalam yang ia miliki saat ini sedang berada
dalam taraf peningkatan, terutama pembaruan antara
hawa murni serta kadar teratai racun yang bersarang di
tubuhnya telah menciptakan sesuatu cara berlatih tenaga
dalam yang aneh, makin kerap ia bergerak makin pesat
kemajuan yang diciptakan dalam tenaga murninya.
bukan saja ia tidak merasa lelah bila bertempur melawan
orang kebalikannya tubuh merasa makin segar dan
nyaman. Lain hanya dengan Kok See-piauw yang diliputi rasa
dengki dan benci, ia berniat membinasakan musuhnya
dalam berapa gebrakan saja, karena itu lewat beberapa
jurus kemudian ilmu 'Kiu-pit-sin-ciang' dari perguruannya
telah dimainkan dengan dahsyat, tangan kanan
menyerang dengan ilmu pukulan tangan kiri menotok
dengan ilmu totokan, ia menyerang secara brutal dan
penuh nafsu. Bila dibicarakan tentang indahnya gerakan serta
luasnya ilmu silat, Hoa Thian-hong tak dapat menangkan
Kok See-piauw, tapi kalau berbicara tentang tenaga
dalam maka pemuda kita ialah yang lebih unggul.
Meskipun jurus pukulannya hanya tunggal tapi dibalik itu
terkandunglah banyak perubahan yang dahsyat, ia tak
pernah menyerang dengan jurus tipuan ataupun
pancingan, namun walau Kok See-piauw telah unjukan
ilmu silat macam apapun itu selalu tak berhasil merebut
kemenangan Begitulah, Kok See-piauw kuat dalam variasi jurus,
lemah tenaga dalam, semakin gusar ia menghadapi
pertarungan itu semakin lemah tenaga serangannya,
hingga lama kelamaan posisinya mulai nampak goyah
dan terdesak bebat.
Menghadapi keadaan seperti ini, Hoa Thian-hong
segera berpikir dalam hati, "Setelah Cu Siauw Lek tampil
ke muka, sekarang bila Kok See-piauw kupukul roboh
maka dengan sendirinya Bu-liang Sinkun bakal muncul
diri, orang lain punya tulang punggung sedang aku" Bila
aku kalah siapa yang akan balaskan dendam?"
Teringat pula luka yang diderita ibunya, ia jadi kesal.
Hilanglah niatnya untuk bertempur lebih jauh. sambil
membentak keras telapaknya laksana kilat menyapu ke
depan. Pukulan ini bukan saja dilancarkan dengan cepat
laksana kilat, bahkan luar biasa hebatnya.
Mimpipun Kok See-piauw tidak menyangka kalau
dalam serangan yang sama secara tiba-tiba musuhnya
telah menggunakan tenaga yang lebih dahsyat, melihat
tak ada kesempatan lagi baginya untuk menghindar,
terpaksa ia putar telapak menyongsong datangnya
serangan itu dengan keras lawan keras.
"Blaaaam....!" di tengah bentrokan nyaring Kok Seepiauw
merasa tubuhnya bergetar keras, lengannya jadi
linu dan kaku hingga tanpa terasa badannya terdorong
mundur dua depa ke belakang.
"Kalau rejeki" pasti bukan bencana, kalau bencana tak
akan kuhindari lebih baik undang saja gurumu!" pikir
Hoa- Thian-hong dalam hati.
Tabuhnya menerjang makin kemuka, telapak diayun
dan sebuah pukulan kembali dilancarkan.
Kok See-piauw terkesiap, buru-buru ia pasang she-si
(Kuda-kuda) kemudian sepasang telapak didorong ke
depan dan menerima datangnya serangan itu secara
keras lawan keras"
JILID 15 : Benci menjadi Cinta
BLAAM...! Sekali lagi terjadi bentrokan dahsyat. Kok
See-piauw rasakan kepalanya hampir pecah termakan
daya tekanan hawa pukulan tersebut. matanya kontan
berkunang-kunang dan tubuhnya mundur ke belakang
dengan sempoyongan. Keadaannya saat ini jauh lebih
payah dari pertama kali tadi.
Hoa Thian-hong sendiri hanya tergetar sedikit ke
samping, lalu seperti tak pernah terjadi apa2 dia loncat
ke belakang tubuh Kok See-piauw, telapaknya diayun
dan segera menghantam punggung orang sekeraskerasnya.
"Jangan bunuh dia!" mendadak Pek Kun-gie menjerit
kaget. Hoa Thian-hong tertegun mendengar seruan itu tanpa
pikir panjang ia kurangi hawa murninya dan ayun
telapaknya ke samping.
Weesss! Tubuh Kok See-piauw segera terlempar ke
depan Meskipun pukulan yang bersarang di atas punggung
lawan ini cukup ringan, namun bagi Kok See-piauw
dirasakan bagaikan terhajar martil seberat seribu kaki, ia
menjerit tertahan dan mencelat sejauh beberapa tombak,
kemudian tubuhnya terbanting keras-keras di atas tanah.
Kok See-piauw berusaha untuk menahan diri namun
gagal, tak bisa dihindari lagi ia muntah darah segar.
"Kok-heng silahkan berlalu dari sini," kata Pek Kun-gie
kemudian. "Dilain hari siaumoay pasti akan minta maaf
kepadamu!"
Kok See-piauw merasa malu bercampur gusar, dengan
sorot mata penuh kebencian ia melotot sekejap ke arah
Hoa Thian-hong kemudian putar badan dan berlalu dari
situ. Hoa Thian-hong sendiri tertawa dingin tiada hentinya,
menanti bayangan punggung musuhnya sudah lenyap
dari pandangan ia alihkan sorot matanya keempat
penjuru. tiba-tiba wajahnya terata panas dan jengah
sekali 0000O0000 PARA tamu yang menonton jalannya pertarungan dari
sisi kalangan pada menyadari bahwa sepasang laki
perempuan yang berada di kalangan bukanlah manusia
sembarangan, melihat pertarungan telah berakhir
merekapun sama-sama membubarkan diri dan kembali
ke tempat masing-masing, suasana tetap sunyi dan tak
seorangpun berani membicarakan lagi peristiwa itu.
Dengan sikap seperti gembira seperti gusar, Pek Kungie
berbisik kepada Siauw Leng, "Bayar rekening kita,
kemudian kau boleh pulang lebih dahulu!"
Kemudian sambil menghampiri Hoa Thian-hong
ujarnya pula, "Mari kutemani dirimu pergi ke rumah
makan lain, bagaimana kalau kita mencicipi sayuran
dusun?" Hoa Thian-hong sendiri sudah sedari tadi ingin
tinggalkan tempat itu, maka tanpa banyak berbicara ia
berjalan keluar dari rumah makan itu dan menuju ke
jalan raya. "Sst... perlahan sedikit aah" mendadak Pek Kun-gie
berbisik. "Langkah kakimu terlalu lebar, aku sampai lelah
menyusul dirimu"
Hoa Thian-hong tertegun dan segera berpaling,
tampaklah gadis itu dengan senyum dikulum dan biji
mata yang bening sedang memandang pula ke arahnya,
"cantik jelita nian gadis ini!" batinnya dalam hati.
"Seandainya enci Wan-hong secantik dirinya, oooh
betapa indahnya suasana itu."
Keadaan dari Pek Kun-gie be.nar-benar bagaikan
berganti orang lain, ini hari wajahnya tidak nampak
dingin atau ketus, sebaliknya gerak-geriknya lemah
lembut dan penuh kehangatan membuat dia nampak
bertambah menarik ibarat sekuntum bunga di pagi hari.
Beberapa waktu kemudian mereka berdua telah tiba di
pusat kota, pada suatu persimpangan jalan Hoa Thianhong
segera berhenti dan ia ada maksud mohon diri
Pek Kun-gie tundukkan kepalanya rendah-rendah,
terdengar ia berbisik lirih, "Kau masih marah kepadaku?"
"Marah apa," tanya sang pemuda tertegun.
"Bu-liang Sinkun adalah jago kelas satu dalam dunia
persilatan dewasa ini, bila kau bunuh Kok See-piauw
maka tindakanmu ini akan mencelakai dirimu sendiri, apa
gunanya mengundang bencana bagi diri sendiri?"
"Aaah... siapa sih yang masih ingatan terus urusan
sepele itu?" bantah Hoa Thian-hong sambil tersenyum,
"Toh urusan itu sudah kita lepaskan, kenapa musti
dibicarakan lagi?"
Pek Kun-gie termenung sebentar, kemudian ujarnya
lagi, "Umumnya bila kita hadiri suatu pertemuan antara
sesama orang kangouw, patut bila kita jangan makan
barang makanan yang mereka suguhkan, sekarang mari
kita bersantap dulu kemudian baru pergi menghadapi
pertemuan itu!"
Hoa Thian-hong tidak tega menampik tawaran orang
maka diapun lantas mengangguk dan berjalan ke arah
Timur Di tengah perjalanan, Pek Kun-gie menarik ujung baju
si anak muda itu dan berbisik "Bila racun teratai itu
kambuh, payah tidak siksaannya?"
Hoa Thian-hong tersenyum. "Payah sekali. rasanya
bagaikan otot-otot dalam tubuhku dicabut dan sekujur
tubuhku digigit berjuta juta ekor semut!"
Pek Kun-gie tertegun, wajahnya berubah jadi pucat
pias bagai mayat, tanya kembali, "Bagaimana caranya
menghilangkan racun teratai itu dari dalam tubuhmu?"
"Di kolong langit tak seorang manusiapun mampu
menghilangkan racun dari teratai racun empedu api itu
dari dalam tubuhku!"
Pek Kun-gie menatap wajah tajam-tajam, kemudian
dengan penuh rasa kuatir ia berkata, "Menurut berita
yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya Kiu-tok
Sianci adalah malaikat dari segala macam racun, apakah
dia juga tak mampu menolongi dirimu" Atau ia tak sudi
memberikan bantuannya?"
"Kiu-tok Sian-nio sangat sayang kepadaku, ia telah
berusaha dengan seluruh pikiran serta tenaganya untuk
menolong aku tapi semua usahanya cuma sia-sia
belaka," berhenti sejenak, lalu sambil tertawa
sambungnya, "Dalam darahku terkandung sari racun,
selama hidup tak mungkin bagiku untuk kawin dan
berbini" Tertegun Pek Kun-gie setelah mendengar ucapan itu,
tapi sesaat kemudian dengan suara halus ia telah berkata
kembali, "Lalu bagai manakah pendapat Chin Wan-hong
tentang musibah ini" Bagiku pribadi asal hatinya sudah
penuju kenapa musti dipikirkan lagi persoalan lain yang
tak perlu?"
Meskipun perkataan biasa saja kedengarannya, namun
Hoa Thian-hong dapat menangkap arti lain dari ucapan
tersebut, setelah melengak sejenak ia berkata,
"Keadaanmu serta diriku ibarat api dan air. tak mungkin
terjalin hubungan persahabatan diantara kita, bila kau
adalah seorang yang cerdik maka sejak kini mustinya
menyadari akan hal itu."
Pek Kun-gie tertawa sedih, seolah-olah ia takut
pemuda itu mendadak merat dari situ ujung bajunya
segera dipegang erat-erat bisiknya lirih, "Aku bukanlah
seorang yang cerdik, kalau tidak dahulu akupun tak akan
bertindak setolol itu."
"Bertindak tolol apa?"
Pek Kun-gie tundukkan kepalanya semakin rendah,
sahutnya tergagap, "Dahulu sikapku terhadap dirimu...."
"Aaai...! Kenapa kita musti ungkap lagi masalah
ketidak cocokan diantara pribadi pada masa yang
lampau" lupakanlah hal itu."
Pek Kun-gie jadi girang bercampur malu, ia melengos
memandang ke arah lain sedang tubuhnya bergeser lebih
dekat lagi dengan pemuda itu, hingga lengan mereka
saling bergerak.
Meskipun gerakan itu lirih sekali tapi dapat
menggantikan beribu2 patah kata, ucapan yang penuh
mengandung rasa cinta yang mendalam.
Beberapa waktu kemudian, kedua orang itu sudah
berada di dalam sebuah rumah makan yang memakai
merek "King-Pak" setelah pelayan menyodorkan daftar
sayur, sambil tersenyum Pek Kun-gie bertanya, "Tempat
ini khusus menjual sayur dusun, kau ingin makan apa?"
Sejak kecil Hoa Thian-hong dibesarkan di atas gunung
yang sunyi, sejak munculkan diri dalam dunia persilatan
walaupun sudah mendekati dua tahun, tapi selama ini
kerjanya melulu berjuang diantara hidup dan mati, kini
sambil membaca sebentar daftar sayuran itu ia
menyahut, "Waaah... begitu tak kenal nama nama
sayuran itu, sembarang saja pokoknya kenyang!"
Pek Kun-gie tertawa lebar, ia sambil daftar sayur itu
lalu bertanya, "Bagaimana kaiau kita pesan saja sayur
Ciong-hau-wi?"
"Baiklah!"
Pek Kun-gie membaca lagi daftar menu itu, kemudian
kembali ia bertanya, "Atau kau ingin merasakan masakan
Angsio-bhe-an-kiau?"
"Meskipun aku orang bangsa Han, bagiku nama
sayuran itu asing sekali dalam pendengaran, terserah
deh apa pilihanmu itu!"


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pek Kun-gie tersenyum, setelah mempertimbangkan
sebentar ia baru pesan beberapa macam sayur,
kemudian tanyanya, "Tengah hari ini, kenapa aku tidak
melihat kau lari racun?"
"Aku sedang berlatih pedang"
"Bukankah siksaannya lebih hebat?"
Hoa Thian-hong mengangguk.
"Asal aku bisa bersabar terus. suatu hari hal itu akan
jadi biasa dengan sendirinya."
Ketika dilihatnya gadis itu sedang memandang ke
arahnya dengan wajah kasihan, ia segera tertawa
nyaring dan bertanya, "Apakah Ciu It-bong masih
hidup?" Pek Kun-gie mengangguk.
"Kalau menurut maksud Tok Cukat, orang itu hendak
dibinasakan secepatnya tapi ayahku tidak setuju maka
sampai sekarang dia masih berada di tempat semula,
bukankah pedang bajamu masih berada ditangannya?"
"Ehmm! Yau Sut si bangsat cilik itu benar-benar keji
dan telengas perbuatannya, suatu saat terjatuh ke
tanganku.... Hmm pasti akan kuhadiahkan sebuah bogem
mentah di atas tubuhnya!"
Pek Kun-gie tertawa lirih. "Dalam suatu peperangan,
kedua belah pihak sudah tentu akan membantu masingmasing
junjungannya, bila kau suka menduduki kursi
kebesaran dari perkumpulan Sin-kie-pang kami, tentu
diapun akan tunduk dan melindungi dirimu dengan
setulus hati. "Masalahnya bukan mau atau tidak" jawab Hoa Thianhong
setelah tertegun sejenak, "Perkumpulan Sin-kiepang
adalah hasil karya dari ayahmu. Masa ia sudi
memberikan kursi kebesarannya kepada orang lain?"
Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah pemuda itu
mendadak sambil tundukan kepalanya rendah2 ia
membungkam. "Eeei... masa kau masih anggap diriku sebagai anak
murid perkumpulan Sin-kie-pang" tanya Hoa Thian-hong
kembali. "Apa salahnya kalau begitu?" sahut Pek Kun-gie sambil
tertawa cekikikan, "Ayahku tidak berputra selama hidup
belum pernah menerima murid, bila sudah lanjut usia
nanti ia pasti akan mengundurkan diri dan kursi Pangcu
akhirnya juga harus diwariskan kepada orang lain"
"Haaah..... haaah.... haah.... kalau menurut peraturan
semestinya warisan itu jatuh ke tanganmu"
Sambil tundukkan kepalanya Pek Kun-gie tertawa lirih.
"Aku adalah seorang perempuan kawin dengan ayam ikut
ayam, kawin dengan anjing harus ikut anjing......"
Kali ini Hoa Thian-hong dapat menangkap arti lain dari
ucapannya itu, ia tersenyum dan menggeleng.
"Perkumpulan itu adalah tempat berkumpulnya
manusia durjana tempat untuk menindas dan memeras
rakyat jelata, kalau aku mampu maka semua
perkumpulan seperti ini akan kurombak dan kulenyapkan
dari muka bumi"
Pek Kun-gie sama sekali tidak tersinggung oleh
perkataan itu, setelah termenung sejenak ia berkata
kembali, "Sekalipun kau hendak basmi atau lenyapkan
perkumpulan semacam ini, tidak semestinya kalau kau
laksanakan dengan tindak kekerasan. bukankah lebih
baik mendapatkannya dengan jalan menipu kemudian
baru bubarkan secara gampang"'
"Eeeei......! rupanya kau adalah pagar makan
tanaman" Makan di dalam bantu diluar?" teriak Hoa
Thian-hong sambil tertawa gelak.
"Perempuan selalu menghadap keluar masa kau juga
tak tahu akan ucapan ini?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung sayur dan
arak telah dihidangkan Pek Kun-gie dengan kehalusannya
sebagai seorang gadis segera melayani pemuda itu
bersantap dan bercanda, suasana dilewatkan dalam
keadaan yang gembira dan penuh rasa persahabatan.
Tanpa terasa senja telah menjelang tiba, pada waktu
itulah Pek Kun-gie menemani Hoa Thian-hong hingga
tiba di sebuah kantor cabang perkumpulan Hong-imhwie,
katanya, "Tahukah kau mengapa Jin Hian bagi
undangan memanggil dirimu menghadap" tujuannya
tidak lain pastilah hendak menyelidiki pembunuh dari Jin
Bong serta membalaskan dendam bagi kematian
putranya, dalam waktu singkat mungkin keadaan ini tak
akan membahayakan dirimu, tapi bila pembunuh itu
sudah ketahuan maka kau cepat-cepat mengundurkan
diri, perhatikanlah serangan bokongan yang bakal dia
lancarkan terhadap dirimu.
"Betul, secara tidak langsung aku telah ikut terlibat
dalam peristiwa berdarah ini," sahut Hoa Thian-hong
dengan hati terkesiap, "Bila pikiran Jin Hian amat picik,
mungkin saja dia akan seret diriku untuk menemani
putranya yang telah mati"
"Betulkah pembunuh itu mempunyai wajah yang mirip
sekali dengan diriku?"
"Benar memang ada beberapa bagian mirip sekali
dengan wajahmu," sambil berkata ia awasi sekejap raut
Wajah gadis itu, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam
benaknya, segera ia berpikir, "Pembunuh itu berwajah
genit dan merangsang, sedang Pek Kun-gie halus lagi
menarik, seharusnya antara kedua orang itu tidak bisa
dikatakan mirip"
Sementara itu Pek Kun-gie tetap berdiri tegak sambil
membiarkan pemuda itu mengawasi wajahnya, kemudian
sambil tertawa katanya, "Kita toh bukan saudara kembar,
mana mungkin wajahnya bisa mirip bagaikan pinang
dibelah dua dengan diriku" Mungkin kau terlalu gugup
pada waktu itu sehingga salah melihat!"
Hoa Thian-hong sendiripun merasa agak bingung,
maka setelah sangsi sejenak akhirnya ia berkata, "Bila
aku dapat bertemu lagi dengan orang itu, maka aku pasti
akan kenali kembali dirinya, sulit bagiku untuk
menerangkannya pada saat ini"
Habis berkata dia angkat tangan tanda berpisah dan
melanjutkan langkahnya dengan tindakan lebar
"Thian-hong......" tiba-tiba Pek Kun-gie berseru lirih.
"Ada urusan apa?" tanya pemuda itu dengan wajah
tertegun. Pek Kun-gie menunduk tersipu sipu, sahutnya setelah
sangsi sejenak, "Pohon tinggi gampang terhembus angin
janganlah terlalu memperlihatkan kelihayanmu!"
Hoa Thian-hong mengangguk, sambil berlalu pikirnya
dalam hati, "Ibu pernah berpesan kepadaku agar jangan
mencari isteri sebelum tugas yang dibebankan di atas
pundakku selesai dilaksanakan enci Wan-hong menaruh
hati kepadaku hal ini tak bisa ditolak lagi, tapi Pek Kungie
secara tiba-tiba merubah sikapnya terhadap diriku,
lebih baik aku bersiap2 diri lebih dahulu dari pada di
kemudian hari pusing kepala"
Ketika ia tiba di depan pintu kantor cabang
perkumpulan Hong-im-hwie tampaklah Ciau Khong
diiringi anak buahnya menyambut kedatangannya di
depan pintu. "Kongcu betul-betul seorang lelaki yang bisa
dipercayai," ujar Ciau Khong sambil maju memberi
hormat, "Cong Tang-kee kami telah menunggu di ruang
dalam, biarlah aku segera pergi memberi laporan!"
Hoa Thian-hong ambil keluar kartu namanya dan
diangsurkan ke depan, ujarnya, "Aku hanya seorang
angkatan muda dalam dunia persilatan, tidak berani
merepotkan Tang-kee kalian musti menyambut
kedatanganku!"
Ciau Khong mengiakan berulang kali, setelah
menerima kartu nama itu ia serahkannya ke tangan
penerima tamu she-Sun, sambil membawa kartu tadi
orang she-Sun itu segera masuk ke dalam ruangan.
Hoa Thian-hong bersama Ciau Khong mengikuti dari
belakang. Tampaklah dalam ruangan penuh dengan priapria
kekar berbaju serba hijau, bersoren golok berdiri
berbanjar di tepi jalan. dandanan mereka semua sama
senjata yang dipergunakanpun tak ada bedanya, semua
berdiri serius dan tak pernah melirik sekejappun ke arah
tamu yang sedang lewat dihadapan mukanya.
"Luar biasa penjagaan disini dari sorot mata mereka
yang tajam jelas menunjukkan bahwa tenaga dalam
yang mereka miliki amat sempurna," pikir pemuda itu
dalam hati. Sementara itu ia telah diajak melewati sebuah jalan
kecil yang panjang dan tiba di atas sebuah jembatan
kecil yang mungil, diantara bebungahan yang harum
semerbak nampak bangunan indah berdiri dengan
megahnya disitu, ketika Hoa Thian-hong diam-diam
menghitung jumlah penjaga disitu ternyata jumlahnya
persis mencapai empat puluh orang.
Mendadak dari dalam bangunan mungil itu muncul
seseorang berperawakan tinggi kurus dan memakai baju
warna hitam, jenggot hitam terurai sepanjang dada,
wajahnya murung dan sorot matanya tajam. Sambil
bergendong tangan ia berjalan bolak-balik di muka pintu
seperti lagi menantikan kedatangan seseorang.
Hoa Thian-hong segera merasa hatinya tercekat
setelah menyaksikan kemunculan orang itu.
Tampak Ciau Khong maju ke muka dan berkata sambil
memberi hormat, "Lapor Cong Tang-kee, Hoa Thianhong
kongcu telah tiba!"
Jin Hian angkat kepala dan menyapu sekejap wajah si
anak muda itu dengan sorot mata tajam, kemudian
sambil memberi hormat dan tersenyum sapanya, "Ooh....
kiranya Hoa kongcu telah datang, maaf bila aku orang
she Jin tidak menyambut kedatangan mu dari tempat
kejauhan" Seram dan bengis sekali raut wajah oran ini, meskipun
cuma beberapa patah kata belaka, namun ucapan yang
dingin dan tak sedap didengar itu cukup membuat bulu
kuduk di atas tubuh Hoa Thian-hong pada bangun berdiri
semua...., "Dia adalah Cong Tang-kee kami," terdengar Ciau
Khong memperkenalkan.
Dengan cepat Hoa Thian-hong menenangkan hatinya
dengan perasaan mendongkol pikirnya, "Ayah dan ibuku
adalah jago-jago kenamaan yang disenangi setiap orang
Bulim kenapa aku musti takut dengan seorang pentolan
dari suatu perkumpulan kecil?"
Berpikir demikian, semangatnya segera berkobar
kembali, sambil, menjura ujarnya lantang, "Bila
kedatangan dari aku orang she-Hoa sedikit terlambat,
harap Jien Tang-kee suka memaafkan!"
Jin Hian tertawa hambar, ia menyingkir ke samping
dan mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam,
Sambil membusungkan dada Hoa Thian-hong melangkah
masuk ke dalam ruangan, ia lihat dikedua belah sisi
ruangan telah hadir berpuluh puluh orang manusia,
diantara mereka tampak pula Cu Goan-khek, si Malaikat
berlengan delapan Cia Kim yang baru saja kehilangan
lengan. Seng Sam Hauw si hweesio gemuk serta Siang
Kiat yang baru saja kehilangan saudara.
Di tengah ruangan telah tersedia dua buah meja
perjamuan, sambil melangkah masuk ke dalam ruangan
Jin Hian berkata, "Hoa kongcu, silahkan menempati kursi
utama!" Setelah berada di tempat yang berbahaya, rasa jeri
dan kuatir yang semula menyelimuti benak si anak muda
itu lenyap tak berbekas, setelah ucapkan terimakasih ia
segera ambil tempat duduk di samping, sedang Jin Hian
mengiringi duduk di sisinya.
Para jago lain pun segera ambil tempat duduk masingmasing.
seorang pria pertengahan bersoren golok besar
segera melangkah maju dan berdiri di belakang orang
she Jin itu. Suasana dalam ruangan diliputi keseriusan serta
ketegangan. secara tidak sengaja Hoa Thian-hong
menemukan bahwa banyak diantara mereka yang
menggembol senjata, hal ini membuat hatinya jadi amat
terkejut, pikirnya, "Orang-orang itu bisa duduk dalam
kedudukan yang seimbang dengan Jin Hian ini
menunjukkan bahwa kedudukan mereka tidak rendah.
kemunculan mereka semua di tempat ini sungguh
mencurigakan sekali, kalau tinjau dari dandanan mereka
yang keren, mungkinkah dalam dunia persilatan telah
terjadi suatu peristiwa besar?"
"Hoa Kongcu ini hari kau berkunjung kemari sebagai
tamu, bila diantara saudara-saudara Hong-im-hwie kami
terdapat perselisihan dengan dirimu, sementara waktu
persoalan itu tidak kita singgung dulu," ujar Jin Hian
secara tiba-tiba, "Bagaimana kalau dalam pertemuan ini
kita ini hanya membicarakan masalah umum dan bukan
masalah pribadi?"
Hoa Thian-hong alihkan sorot matanya menyapu
sekejap wajah Cu Goan-khek serta Cia Kim dua orang,
melihat sikap mereka tawar dan sedikitpun tidak
menunjukkan suatu reaksi, ia segera tertawa nyaring.
"Bagi aku orang she-Hoa yang belum lama muncu1
diri dalam dunia persilatan, tanpa sebab tentu saja tak
akan berani bikin keonaran, bila Jien Tang-kee ada
urusan silahkan saja diutarakan.
"Nasib dari aku orang she Jin benar amat jelek,
dimasa tua aku musti kehilangan putra tunggalku rasa
sedih yang kualami bisa kau bayangkan sampai dimana
hebatnya. bila sakit hati ini tidak kubalas. sekalipun harus
matipun aku akan mati dengan mata tidak meram"
"Cinta orang tua terhadap putranya memang nomor
satu di dunia, aku dapat ikut merasakan kesedihan
tersebut."
Dalam ruangan perjamuan meskipun hadir dua puluh


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang lebih, tetapi selama pembicaraan itu berlangsung
tak seorangpun diantara mereka yang ikut buka suara,
mereka hanya meneguk arak dengan mulut
membungkam, hal ini membuat Hoa Thian-hong kian
lama kian bertambah curiga.
Mendadak terdengar Jin Hian berkata lagi dengan
suara keras, "Apakah ibumu pernah beritahu kepadamu,
Hoa tayhiap sebenarnya mati di tangan siapa?"
Tergetar keras sekujur badan Hoa Thian-hong
mendengar perkataan itu, dengan Sorot mata tajam ia
awasi wajah orang, kemudian sahutnya, "Ibuku sudah
berhasil menyadari aku artinya hidup, beliau telah
melupakan seluruh budi dan dendam dimasa lampau
bagaikan awan di angkasa, hingga kini ibuku belum
pernah beritahu kepadaku siapakah pembunuh yang
telah menghabiskan jiwa ayahku?"
Rupanya Jin Hian agak tertegun oleh jawaban
tersebut, alisnya berkerut dan ia menunjukkan sikap
seakan akan tidak percaya, setelah berhenti sejenak
ujarnya kembali, "Perkataan semacam ini hanya bisa
diutarakan oleh ibumu yang berjiwa besar dan berpikiran
luas, dendam terbunuhnya seorang ayah lebih dalam dari
samudra, hidup sebagai seorang putra sudah
sepantasnya kalau dendam itu dituntut balas."
"Huuuh...... kau anggap aku orang she-Hoa adalah
manusia macam apa" Aku tahu diantara kalian tiga
golongan saling bermusuhan dan selalu berusaha untuk
merobohkan pihak yang lain, kau ingin menggunakan
pancingan itu agar aku masuk perangkap dan membantu
pihakmu" Aku tak akan setolol itu...." pikir Hoa Thianhong
dalam hati. Sekalipun dalam hati ia berpikir demikian, namun
peristiwa berdarah ini memang sangat menarik hatinya,
setelah berhenti sejenak akhirnya ia berkata, "Aku pikir
Jien Tang-kee mengungkap persoalan ini pasti ada
tujuan tertentu, meskipun aku orang she Hoa tidak tahu
terbunuhnya ayahku tak nanti akan kulupakan untuk
selamanya. Bila Jien Tang-kee ada persoalan katakanlah
secara langsung, bila kau mohon bantuan aku pasti akan
berusaha untuk membantu"
Jin Hian tersenyum, "Ehmmm, kau memang tidak
malu disebut keturunan seorang pendekar besar,
kehebatanmu sulit dibandingkan dengan orang lain"
Ia berhenti sejenak, dengan wajah serius terusnya,
"Ayahmu mati di tangan Thian Ik toosu bajingan dari
Thong-thian-kauw, ibumu tidak mengungkap soal ini aku
duga mungkin ia kuatir apabila kau tak mampu menahan
emosi dan langsung menuntut balas kepada toosu itu,
akibatnya selembar jiwamu pun ikut melayang"
"Toosu bangsat! Rupanya kaulah yang telah
membunuh ayahku!"' pikir Hoa Thian-hong sambil
menggigit bibir.
Jin Hian adalah pentolan dari suatu perkumpulan
besar, sekalipun dia bermaksud mengadu domba, tidak
mungkin kalau hal itu dilakukan tanpa bukti yang nyata,
karena itu Hoa Thian-hong sangat mempercayai
ucapannya ini. Meskipun dalam hati ia menaruh dendam, diluaran
wajahnya tetap tenang dan kalem seperti biasa. Ujarnya,
"Pendapat ibuku memang jauh lebih hebat dari orang
lain, akupun tahu bahwa Thian Ik-cu adalah kaucu dari
Thong-thian-kauw ilmu silatnya lihay dan anggota
perkumpulannya sangat banyak, senang aku bukan saja
seorang diri bahkan ilmu silatnya amat rendah, bila aku
harus menuntut balas hanya karena dorong emosi,
bukan saja selembar wajah belaka dihantar secara
percuma, gagal melukis harimau bukankah aku bakal jadi
bangsa anjing yang ditertawakan sahabat kangouw?"
"Huuh.... pengecut takut mati, rupanya cuma seorang
manusia bernama kosong belaka, dari meja perjamuan
lain berkumandang seruan ketua Hong-im-hwie yang
dingin. Meskipun ucapan itu diutarakan dengan suara yang
amat lirih, tapi semua orang dapat mendengar suara itu
dengan amat jelas Jin Hian segera berpaling dan
mendengus dingin, suasana seketika berubah kembali
dalam kesunyian yang mencekam, semua orang
bungkam kembali dalam seribu bahasa.
Hoa Thian-hong ikut alihkan sorot matanya ke arah
mana berasalnya suara itu, dia lihat orang yang barusan
bicara adalah seorang pria berusia pertengahan yang
berbadan pendek dan berjenggot lebat, segera pikirnya,
"Orang ini berangasan dan tak punya otak bila sampai
terjadi suatu peristiwa, pertama-tama akan kuhantam
dulu orang itu."
Tiba-tiba terdengar Jin Hian tertawa kering dan
berkata kembali, "Hoa kongcu, bagi orang lain mungkin
dendam ini tak akan terbalas lagi, tetapi bagi Hoa kongcu
harapannya masih selalu ada!"
"Bila Jien Tang-kee suka membantu usahaku ini, aku
tentu akan merasa berterima kasih sekali dan budi
tersebut suatu ketika pasti akan kubalas!"
Pemuda itu merasa jantungnya berdebar keras, tapi
diluar sikapnya tetap tenang dan sama sekali tidak
gugup, sepintas lalu keadaannya memang mirip orang
yang takut mati.
Tapi Jin Hian adalah seorang jago kawakan yang
sudah memiliki banyak pengalaman tentu saja ia dapat
meraba pula apa yang sedang dipikirkan oleh pemuda
itu, atas ketenangan serta kepandaiannya melihat
gelagat ini, dalam hati diapun merasa kagum.
"Thian Ik toosu bangsat itu berambisi besar dan
bercita-cita membasmi seluruh jago di muka bumi serta
merajai di dunia," kata Jin Hian kembali, "Hmm....
Hmm.... ia sudah pandang enteng Pek Siau-thian, juga
pandang rendah aku orang she-Jin!"
"Oooh.... rupanya posisi segi tiga yang selama ini
nampaknya tenang. sebetulnya dibalik kesemuanya ini
sudah mulai terjadi kekalutan, semua orang mulai
dengan rencananya masing-masing untuk menjatuhkan
pihak lawan" Pikir Hoa Thian-hong dalam hati.
Berpikir begitu, dia lantas berkata, "Pepatah kuno
sering berkata. terlalu lama berpisah pisti akan cocok
untuk berkumpul, terlalu lama berkumpul pasti akan
berpisah, aku rasa hal ini sudah jamak dalam kehidupan
manusia!" "Keparat, rupanya kau pandai sekali berbicara dan
terlalu licik pikiranmu," pikir hati Jin Hian.
Diluaran ia tersenyum dan menjawab, "Ucapan Hoa
Lo-te sedikitpun tidak salah, Thian Ik Toosu bangsat itu
memang terlalu licik dan besar ambisinya, dia
menginginkan agar perkumpulan Hong-im-hwie benrok
lebih dahulu dengan pihak Sin-kie-pang kemudian ia
berpeluk tangan jadi nelayan yang beruntung. Hmmm!
Hmmm! Siapa tahu Pek Siau-thian serta aku Jin Hian
justru bukan orang bodoh, sengaja kami kesampingkan
dahulu semua persengketaan pribadi dan bekerja sama
untuk menghadapi toosu bangsat itu terlebih dahulu"
Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya, sengaja ia
menyala, "Wilayah kekuasaan Hong-im-hwie serta Sinkie-
pang toh sudah terbagi amat jelas, air sungai tidak
melanggar air sumur, sengketa pribadi apa sih yang
sudah terjadi antara Jien Tang-kee dengan Pek pangcu?"
Jin Hian tertawa seram nafsu membunuh menyelimuti
wajahnya. "Loo-te, apa kau sudah lupa dengan peristiwa
berdarah yang mengakibatkan matinya putraku?"
"Oooh.... maaf, aku memang bodoh dan tak dapat
menangkap arti yang .sebenarnya dari ucapan Jien Tangkee
itu" Jin Hian tertawa seram. "Aku orang she-Jin telah
berhasil menyelidiki dengan jelas, pembunuhan yang
telah membinasakan puteraku itu bukan anak murid dari
pihak Thong-thian-kauw, melainkan dilakukan oleh
orang-orang Sin-kie-pang."
Beberapa patah kata ini diucapkan dengan suara tegas
dan nyaring, hal ini membuat Hoa Thian-hong jadi
terkejut hingga cawan arak dalam genggamannya hampir
saja terlepas, dengan cepat dia bangkit berdiri.
"Apakah sampai kini Hoa Loo-te masih beranggapan
gadis berkerudung itu adalah anak murid dari Thongthian-
kauw?" seru Jin Hian kembali.
Hoa Thian-hong mengangguk, pikirannya semakin
bingung. "Peristiwa pembunuhan ini betul-betul suatu kejadian
yang sangat aneh........"
Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera
bertanya kembali, "Apakah Jien Tang-kee berhasil
menyelidiki siapakah gadis berkerudung itu?"
Gelak tertawa Jin Hian semakin menyeramkan.
"Bukankah Hoa Loo-te menyaksikan dengan mata kepala
sendiri bahwa pembunuh itu mirip sekali dengan wajah
Pek Kun-gie?"
"Jien Tang-kee....." seru Hoa Thian-hong dengan
wajah berubah hebat.
Jin Hian segera goyangkan tangannya mencegah
pemuda itu bicara lebih lanjut, katanya sambil tertawa,
"Aku orang she-Jin tahu bahwa hubungan Loo-te dengan
Pek Kun-gie baru-baru ini erat sekali"
Ia berhenti sebentar, kemudian tertawa keras
terusnya, "Pembunuh itu pernah melakukan hubung
gelap dengan puteraku, sedang Pek Kun-gie hingga kini
masih perawan suci. karena itu harap Hoa Loo-tee suka
berlega hati. aku orang she-Jin tak akan mencampur
baurkan urusan ini secara gegabah"
Hoa Thian-hong semakin bingung dibuatnya, rasanya
ingin tahu segera muncul dalam hatinya. ia berkata, "Jien
Tang-kee, dapatkah kau terangkan ucapanmu itu lebih
jauh" Andai kata ada rahasia dibalik hal ini, aku pasti tak
akan mengatakannya kepada orang lain"
"Oooh...." Urusan ini sifatnya bukan suatu rahasia,"
sahut Jin Hian sambil tertawa hambar, setelah berhenti
sejenak terusnya dengan nada serius, "Istri Pek Siauthian
mengasingkan diri di atas bukit Hoan Keng dan Pek
Kun-gie mempunyai saudara kembar yang selalu
mendampingi ibunya, demikian Hoa Loo-te tentu paham
bukan?" "Oooh...! Kiranya..." mendadak perkataan itu tidak
ditanjutkan. Melihat pemuda itu membungkam Jin Huan meneguk
isi cawannya dan mendengus dingin.
"Aku percaya seratus persen kepada diri Loo-te,
mengapa sebaliknya Loo-te bersikap ragu-ragu
kepadaku" Bila ada ucapan katakanlah secara blakblakan?"
. Hoa Thian-hong tertawa nyaring, "Ketika aku bertemu
dengan Pek Kun-gie untuk pertama kalinya, waktu
kebetulan bulan satu tanggal satu, dan terjadi diluar kota
Keng-ciu aku rasa mungkin ia sedang pergi mengunjungi
ibunya, kalau tidak apa sebabnya di hari tahun baru ia
berkelian di tempat luaran dan bukannya berpesta dalam
markas" "Pendapat Loo-te mungkin ada benarnya juga," Jin
Hian mengangguk, "Sejak Pek Siau-thian hidup berpisah
dengan isterinya Pek Kun-gie terpaksa harus hilir mudik
antara kedua tempat itu, saudara kembarnya bernama
Soh-gie, jarang sekali ada orang kangouw yang pernah
bertemu muka dengan dirinya"
"Oooh tak kusangka masih ada seseorang yang
bernama Pek Soh-gie sungguh mencengangkan!"
Sementara itu dalam hati kecilnya dia berpikir, "Badik
mustika yang dimiliki Pui Che-giok dayang kepercayaan
dari Giok Teng Hujien itu merupakan senjata yang
dipergunakan untuk membunuh Jin Bong, seandainya
pembunuh itu adalah Pek Soh-gie, kenapa senjata tajam
itu bisa berada di tangan Pui Che-giok" peristiwa ini
benar-benar membingungkan!"
Ketika dia alihkan sorot matanya memandang sekitar
ruangan itu, tampaklah Cu Goan-khek sedang minum
arak seorang diri, malaikat berlengan delapan Cia Kim
duduk termenung, Seng Sam Hua makan minum dengan
lahapnya sedang orang lainpun sibuk dengan caranya
sendiri2, tak seorangpun diantara mereka yang menaruh
perhatian atas pembicaraan antara Jin Hian dengan
dirinya "Loo-te, kau tak usah risau," ujar Jin Hian kembali.
Suatu saat urusan ini akan jadi terang dengan sendirinya,
hanya saja waktu itu aku harap Hoa Lo-te suka bertindak
sebagai saksi, lihatlah aku orang she-Jin akan membedah
isi perut pembunuh itu dan hatinya akan
kupersembahkan untuk bersembahyang bagi arwah
putraku itu"
Hoa Thian-hong mengiakan berulang kali beberapa
saat kemudian ia bertanya, "Jien Tang-kee, tahukah kau
apa sebabnya Pek Hujien tinggalkan segala kemegahan
dan keluarganya untuk mengasingkan diri di tempat yang
terpencil....?"
Jin Hian tertawa dingin.
"Menurut berita yang tersiar katanya percekcokan itu
terjadi karena urusan pribadi, siapapun tak tahu kejadian
yang sesungguhnya!"
"Mengenai peristiwa terbunuhnya putramu itu,
mengapa Jien Tang-kee tidak bekuk lebih dahulu gadis
yang bernama Pek Soh-gie tersebut?"
"Aku toh tiada bukti yang cukup meyakinkan, sedang
dasarku juga hanya perkataan Hoa Loo-te. Aku tahu
hubunganmu dengan Pek Kun-gie sangat erat, andaikata
kita harus berpadu tiga dan waktu itu Hoa loo-te
mengatakan bahwa pembunuhnya bukan orang itu,
bukankah nama baik dari aku orang she-Jin bakal hancur


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

di tanganmu"
Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong. "Sejak
kecil aku sudah dididik hidup sederhana dan bicara jujur,
tentu saja aku tak akan membohong atau berkata yang
bukan-bukan...." serunya.
"Ah, aku hanya bergurau saja harap Hoa Loo-tee
jangan menganggap sungguhan" kata Jin Hian sambil
tertawa ewa, "Menangkap pembunuh sih gampang,
pedang emas itulah yang sulit kudapatkan kembali,
sedang Pek Soh-gie adalah puteri Siau-thian, urusan
yang menyangkut suatu perkumpulan tak berani
kulakukan secara gegabah...."
Berbicara sampai disitu dia lantas angkat kepala dan
berpaling ke arah meja sebelah muka.
Lima orang yang duduk di meja perjamuan itu segera
bangkit dan memberi hormat kepada Jin Hian, tanpa
mengucapkan sepatah katapun mereka berlalu dari
ruang perjamuan.
Hoa Thian-hong jadi curiga tapi ia merasa tidak
leluasa untuk mengajukan pertanyaan secara langsung.
maka segera katanya, "Pedang emas yang amat kecil itu
secara beruntun dari tangan Ciu It-bong jatuh ke tangan
Jien Tang-kee kemudian dirampas pula orang lain,
andaikata pembunuh itu adalah Pek Soh-gie, semestinya
senjata itu sudah terjatuh ke tangan Pek pangcu. tetapi...
apa betul senjata kecil itu mempunyai sangkut pautnya
dengan ilmu silat yang diwariskan Siang Tan Lay" Aku
rada kurang percaya."
Jin Hian tertawa ewa. "Dalam pedang emas itu
tersembunyi dalam teka teki bisu yang amat ruwet sekali,
sekalipun aku serta Ciu It-bong sudah mendapatkannya
agak lama tapi sayang teka teki bisu itu belum berhasil
juga kupecahkan. Tapi aku yakin bahwa pedang emas itu
pasti ada hubungannya dengan ilmu silat yang dimiliki
Siang Tang Lay...."
"Sungguh aneh kejadian ini," pikir Hoa Thian-hong
kemudian di dalam hati.
"Bukan saja Ciu It-bong seorang bahkan Ciong Liankhek
serta Jin Hian pun mengatakan secara meyakinkan
bahwa pedang emas itu ada hubungannya dengan ilmu
silat warisan Siang Tang Lay. Dimana sih sebetulnya
letak kunci untuk memecahkan rahasia ini?"
Tiba-tiba Jin Hian tertawa nyaring dan berkata
kembali, "Ketika Siang Tang Lay menderita kekalahan
hebat setelah kami kerubuti hingga jiwanya terancam, ia
berhasil diselamatkan jiwanya oleh ayahmu. Untuk
menyatakan terima kasihnya pastilah rahasia pedang
emas itu telah diberitahukan kepada ayahmu. Tapi
sayang ayahmu telah meninggal dunia, orang yang
mengetahui rahasia ini mungkin tinggal ibumu seorang"
Tertegun hati Hoa Thian-hong setelah mendengar
perkataan itu, serunya terus terang, "Ibu melarang aku
berhati serakah, urusan pedang emas itu belum pernah
dibicarakan dengan diriku!"
"Aku tahu, aku tahu...." sahut Jin Hian sambil tertawa
dan mengangguk. "Kecerdikan ibumu lebih hebat dari
ayahmu, setiap orang dalam Bu-lim telah mengetahui
akan hal ini"
Dia angkat cawan araknya ke atas menunjukkan sikap
hendak menghormati tamunya dengan secawan arak
dalam hati Hoa Thian-hong kembali berpikir, "Posisi serta
situasi yang kuhadapi saat ini aneh sekali, biarlah aku
pura-pura berlagak hendak pamit, aku ingin tahu
bagaimanakah reaksinya?"
Berpikir begitu ia segera letakkan cawan araknya ke
atas meja dan bangkit berdiri, ujarnya sambit menjura.
"Jien Tang-kee maafkanlah daku, takaran arakku
terbatas sekali lagipula waktu sudah tidak pagi, dengan
ini aku ingin mohon diri lebih dahulu semoga dilain
kesempatan kita dapat bertemu kembali"
Serentetan senyuman licik terlintas di atas wajah Jin
Hian, ia segera menyahut, "Hoa loo-te, kau toh gagah
dan berkepandaian hebat, apa sih artinya beberapa
cawan arak bagimu?"
Melihat pihak lawan tiada bermaksud menghantar
dirinya keluar, Hoa Thian-hong segera sadar bahwa
dibalik kesemuanya itu pasti ada hal-hal yang kurang
beres, ia segera mendebrak meja sambil serunya dengan
wajah berubah hebat, "Jien Tang-kee, apakah kau ada
maksud menahan diriku?"
"Hoa loo-te, kau toh tamu terhormatku...." buru-buru
Jin Hian berseru setelah menyaksikan tamunya marah.
Belum habis ia mengatakan kata-katanya, dari luar
ruangan mendadak berkumandang datang suara
bentakan keras, meskipun sayup-sayup sampai namun
jelas menunjukkan bahwa diluar telah terjadi
pertarungan sengit.
Pria berbaju hijau yang menggembol golok besar dan
berdiri di belakang Jin Hian itu segera bertindak keluar
dari ruangan, tidak selang beberapa saat kemudian ia
sudah masuk kembali sambil memberi laporan, "Diluar
kedatangan seseorang yang tak mau menyebutkan
namanya, ia bersikeras hendak menyerbu masuk
kedalam, sekarang telah bertempur melawan pengawal
golok emas."
Jin Hian mengangguk tanpa mengucapkan komentar
apapun rupanya ia tidak menaruh perhatian atas
kejadian itu. Tiba-tiba suara bentakan keras kembali berkumandang
datang meskipun suaranya masih sayup-sayup sampai
namun semua orang yang hadir dalam ruangan itu dapat
membedakan bahwa jarak lerjadinya pertarungan
semakin mendekat.,
Dalam sekejap mata kecuali Hoa Thian-hong semua
orang yang telah menunjukkan perubahan sikap. bahkan
ada diantara mereka yang telah bersiap siap untuk
bangkit dari tempat duduknya.
Mendadak satu ingatan berkelebatan dalam benak Hoa
Thian-hong, segera serunya, "Jin loo-tang-kee, mungkin
orang itu adalah Ciong Lian-khek cianpwee yang sengaja
datang menjenguk diriku karena aku sudah lama sekali
belum juga pulang ke rumah"
Jin Hian mengerutkan alisnya, mungkin la sedang
memperhatikan jalannya pertarungan diluar ruangan.
setelah itu dengan suara dingin ejeknya, "Kalau dia
adalah Ciong Lian-khek, tak mungkin pengawal pribadiku
sanggup dilewati...."
Mendadak air mukanya berubah hebat, sambil bangkit
berdiri tambahnya, "Atau mungkin ibumu yang telah
datang" Hoa Thian-hong terperanjat sekali mendengar ucapan
itu, sementara Cu Goan-khek sekalipun ikut tercekat
hatinya, dalam sekejap mata semua orang telah bangkit
tinggalkan tempat duduknya.
Jin Hian serta Hoa Thian-hong berjalan lebih duluan
keluar dari ruangan itu, para jago yang lain mengikuti
dari belakang. Sekeluarnya dari ruang tadi terdengar
suara bentrokan senjata tajam berkumandang semakin
santar dan ramai, bahkan diiringi bentakan-bentakan
yang memekikkan telinga, Setelah keluar dari lorong
kecil. para jago sama-sama berdiri tertegun.
Di bawah ruang sebelah barat tampak delapan orang
pengawal golok emas dengan membagi jadi dua
setengah lingkaran sedang menggencet seseorang,
pertarungan berjalan dengan amat seru. sisanya dengan
empat orang membentuk satu setengah lingkaran
berkelompok di sekitar lapangan itu pada jarak satu
tombak. Tiga rombongan jago berada di depan itu dan tujuh
kelompok ada di belakang tubuhnya pemotongan oleh
para jago lihay itu membuat jalan mundur orang itu
tersumbat sama sekali.
Pengawal2 golok emas itu benar-benar terdiri dari
para jago yang sangat lihay, empat orang menyerang
dari depan, empat orang menyerang dari belakang
terdengarlah suara dentingan nyaring bergema
memekikkan telinga sambaran golok emas yang lebarnya
mencapai empat senti berkelebat kesana kemari
menyiarkan cahaya emas yang menyilaukan mata,
ditambah pula desingan suara tajam yang membetot
sukma membuat suasa na terasa bertambah
mengerikan.....
Ooo)*(ooO Hoa Thian-hong segera alihkan sinar matanya ke arah
jago lihay yang sedang bertempur melawan delapan
orang pengawal golok emas itu, ia melihat orang itu
mengenakan sepatu tersebut dari rumput, baju pendek
dari kain kasar. Wajahnya hitam dengan kerutan yang
banyak, rambut yang telah memutih berkibar terhembus
angin, meskipun harus menandingi delapan bilah golok
emas tetapi orang itu selalu melawan dengan tangan
kosong belaka. Terlihatlah jurus-jurus serangannya ganas dan dahsyat
meskipun delapan orang musuhnya berusaha keras
untuk menciptakan berlapis2 bayangan golok untuk
membendung serangan orang itu tetap mereka keteter
hebat. Setelah menonton beberapa jurus serangan yang
dipergunakan kakek tua itu, Hoa Thian-hong segera
berpikir di dalam hati, "Tidak aneh kalau Jin Hian
mengira ibuku yang telah datang, ilmu silat yang dimiliki
kakek ini memang luar biasa sekali hebatnya......"
Tiba-tiba kakek tua yang berada di tengah kalangan
itu menggeserkan tubuhnya ke samping, sepasang
telapak, segera direntangkan ke arah kedua belah
samping. Traaang.... traaang.....! di tengah bentrokan nyaring,
dua gulung angin pukulan yang dilancarkan kakek tua itu
sudah menumbuk di atas golok emas dari empat jago
yang berada di hadapannya, tidak ampun lagi keempat
orang itu sama-sama roboh terjengkang ke arah samping
kiri serta samping kanan.
Sungguh cepat gerakan kakek tua itu, dalam sekejap
mata ia sudah menerjang kehadapan pengawal golok
emas itu. Terdengar keempat orang jago itu membentak
keras, cahaya golok berkilauan, serentak mereka
membacok ke arah tubuh lawan.
Mereka2 yang tergabung dalam kelompok pengawal
golok emas rata-rata merupakan jago pilihan diantara
seluruh anggota perkumpulan Hong-im-hwie, dimana
bukan saja mereka dididik langsung oleh Jin Hian bahkan
sim-hoat tenaga dalam yang mereka pelajaripun
merupakan basil didikan langsung dari ketua mereka.
Kecuali mempelajari ilmu pukulan dan ilmu senjata
merekapun mendapat pendidikan ilmu barisan, maupun
ilmu berperang. bukan saja bertempur secara kerja sama
maupun bertarung satu lawan satu mereka semua
merupakan jago-jago yang luar biasa.
Bacokan dari keempat orang itu seketika berhasil
membendung jalan maju kakek tua itu, empat orang
yang kena dipukul pental tadi sementara itu telah
menyusul datang. Dalam sekejap mata empat depan
empat belakang kembali mengurung kakek tua itu di
tengah kepungan.
"Kakek tua itu memang lihay dan sakti," pikir Hoa
Thian-hong setelah menyaksikan jalannya pertarungan,
"Meskipun ia telah berhasil melampaui tiga kepungan
namun masih ada enam babak yang ada di belakang,
apalagi pentolan mereka belum turun tangan sendiri,
bertarung macam begini betul-betul suatu perbuatan
yang tidak cerdik...."
Berpikir demikian ia lantas berpaling ke arah Jin Hian,
pada wajahnya sengaja ia perlihatkan sikap mengejek
dan pandang rendah, seolah-olah ia Sedang
menertawakan pertarungan dengan cara mengerubut itu.
Jin Hian segera mengerutkan dahinya, ia tertawa
rendah dan tiba-tiba bentaknya, "Tahan!"
Sambil berseru perlahan-lahan ia maju ke dalam
gelanggang. Para jago dan pengawal golok emas yang
menghadang di tengah jalan sama-sama menyingkir ke
samping, para jago yang sedang bertempur pun samasama
menarik diri dan loncat keluar dari kalangan.
Jin Hian segera mendekati kakek tua itu sambil
tertawa sapanya, "Pengurus keluarga Hoa. sudah
sepuluh tahun lamanya kita tak pernah saling berjumpa,
masih ingatkah dengan aku orang she Jin?"
Kakek itu alihkan sorot matanya mengamati Jin Hian
sekejap, kemudian menjawab, "Anda toh masih ingat
dengan aku Hoa In, kenapa Hoa In bisa lupa dengan
dirimu?" Sinar matanya berkeliaran memandang sekeliling
tempat itu, lalu serunya lagi, "Majikan kecil kami...."
Belum habis dia berkata, sorot matanya sudah
terbentur dengan wajah Hoa Thian-hong tubuhnya
segera bergetar keras.
Lampu lentera yang tergantung di bawah serambi itu
memacarkan cahaya yang terlalu redup lagipula Hoa
Thian-hongpun tidak kenal siapakah kakek tua itu.
setelah mendengar Jin Hian menyebut kakek itu sebagai
pengurus keluarga Hoa, ia baru tergerak hatinya apalagi
setelah kakek itu menyebut dirinya sebagai Hoa In, ia
segera teringat kembali akan pelayan ibunya yang telah
bekerja selama tiga generasi dengan keluarga mereka.
Cepat ia maju menyongsong ke depan dengan
serunya, "Hoa In! aku adalah Seng Koan...."
Perlu diketahui nama kecil Hoa Thian-hong adalah
Seng jin, ketika ia masih berada di dalam perkampungan
Liok Soat Sanceng dahulu, para pelayan dan dayang
yang bekerja di keluarganya semua memanggil" Seng


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

koan" kepadanya.
Karena itu setelah mendengar suara tersebut, Hoa In
segera membelalakkan matanya lebar2, kemudian
jatuhkan diri berlutut di atas tanah, serunya, "Oooh...Siau
Koan-jin, sungguh menderita budak mencari jejakmu....!"
Dengan mata terbelalak ia memandang wajah Hoa
Thian-hong tanpa berkedip, titik air mata segera jatuh
berlinang membasahi seluruh pipinya.
"Hoa Thian-hong sendiripun dengan air mata
bercucuran maju membangunkan kakek tua itu, serunya,
"Bangunlah dulu sebelum berbicara!"
"Dimanakah majikan perempuan?"
'Ibu masih berada diluar perbatasan, tempat ini bukan
tempat yang cocok untuk berbicara, bangunlah dulu!"
Perlahan-lahan Hoa In bangkit berdiri, setelah
memandang sekejap lagi ke atas wajah Hoa Thian-hong,
dia menyeka air matanya dengan ujung baju.
"Siau Koan-jin, mari kita pergi!" ajaknya kemudian.
Hoa Thian-hong mengangguk, pikirnya, "Sepanjang
hari Chin toako selalu berada dalam keadaan tak sadar,
bila waktu berlarut, terlalu lama badannya tentu akan
menderita gangguan perduli amat dia mau kasih atau
tidak aku akan coba untuk memintanya...."
Ia segera memberi hormat kepada Jin Hian sambil
ujarnya, "Dapatkah aku mengajukan suatu permintaan
kepada Jien Tang-kee?"
"Apakah kau menginginkan obat pemunah bagi Chin
Giok-liong?" tanya Jin Hian sambil tertawa ewa. Si anak
muda itu mengangguk
"Chin Giok-liong hanya seorang pemuda yang baru
saja terjun ke dalam dunia persilatan, ia belum pernah
bermusuhan dengan siapapun, sedang Jien Tang-kee
adalah seorang jago lihay dari suatu wilayah, enghiong
dari dunia ketiga. Apa sih faedahnya bermusuhan dengan
anak muda seperti itu?"
"Hoa kongcu," tiba-tiba Cu Goan-khek menyela
dengan suara dingin, Orang itu berhasil kau rampas dari
tangan aku orang she Cu. sepantasnya kalau obat
pemunah itupun kau dapatkan dari tangan aku orang she
Cu!" "Jien Tang-kee keliru besar" Hoa Thian-hong segera
menyabut sambil ulapkan tangannya, "Dalam
perkumpulan Hong-im-hwie kedudukan Jien Tang-kee
adalah satu tingkat di bawah ketua dan beberapa.
tingkat lebih tinggi dari yang lain, kedudukanmu
terhormat dan dipuja orang Semasa ayahku masih hidup
dahulu, sekalipun dihormati kawanan Bulim itu pun tidak
lebih dianggap sebagai enghiong. Sedang aku..... aku
tidak lain hanya ingin menyelesaikan budi dan dendam
mendiang ayahku, maka aku tiada maksud mencari nama
atau kedudukan, semakin tiada bermaksud menjagoi
diantara kawanan Bulim"
Cu Guan Kek tertawa mengejek, "Jadi maksud Hoa
kongcu, andaikata tiada persoalan kau tak akan
bergebrak dengan orang?"
"Sedikitpun tidak salah! aku tidak ingin memburu
ambisi serta nafsu angkara murka, tetapi kalau didesak
atas dasar keadilan serta kebenaran, sekalipun kepala
harus putus badan harus musnah akan kulakukan juga
hingga titik darah penghabisan. Jien Tang-kee, bila kau
suka beringan tangan dan serahkan obat pemunah itu
kepadaku, sekarang juga aku akan berlalu dari sini,
sebaliknya kalau kau hendak memaksa untuk mengukur
kepandaian, maka aku akan melayani hingga obat
pemunah itu berhasil kudapatkan, perduli dalam ilmu
silat bisa menang atau kalah"
Maksud dari perkataan itu jelas sekali, bila tidak turun
tangan masih mendingan, bila harus turun tangan maka
ia akan nekad melawan terus hingga tujuannya tercapai.
Mendadak terdengar Jin Hian tertawa terbahak bahak
dan berkata, "Ji-te, ucapan dari Hoa kongcu sedikitpun
tidak salah, kalau dibicarakan mengenai ilmu silat belum
tentu dia dapat menandingi dirimu, kaupun belum tentu
dapat menandingi kepandaian silatku, bila Hoa tayhiap
masih hidup di kolong langit akupun belum tentu berhasil
menangkan dirinya, dalam kolong langit dewasa ini
menang kalahlah yang menentukan Enghiong, aku rasa
perebutan satu jurus tak usah dilakukan lagi."
Selesai berkata dari sakunya dia ambil keluar sebutir
pil yang terbungkus dalam lilin kemudian diserahkan ke
tangan Hoa Thian-hong.
Sambil menerima obat itu, pemuda she Hoa lantas
berkata, "Atas kebesaran jiwa Jien Tang-kee, aku
mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Mumpung
hari ini aku serta pelayan tuaku bisa berjumpa kembali
terasa banyak persoalan yang harus kusampaikan
kepadanya, bila selama ini aku telah melakukan
kesalahan, di kemudian hari aku pasti ikan datang
berkunjung lagi untuk mohon maaf."
"Hoa kongcu, kalau kau berbuat begitu maka
tindakanmu itu tidak benar!" kata Jin Hian sambil tertawa
ringan "Lalu bagaimana yang benar" harap Jien Tang-kee
suka memberi petunjuk!...."
"Kesempatan baik untuk membalas dendam bagi
kematian ayahmu telah tiba, kenapa Hoa kongcu
malahan hendak buru-buru berlalu dari sini" Masa kau
sudah melupakan dendammu itu?"
Hoa Thian-hong merasa hatinya tercekat, segera
pikirnya, "Rupanya perkumpulan Hong-im-hwie
mempunyai urusan dengan pihak sekte agama Thong
Thian Kau, kedua belah pihak belum tahu bahwa tenaga
dalam yang dimiliki ibuku telah punah, maka sekarang
ingin menyeret aku terjerumus pula di dalam pertikaian
ini...." Bayangan serta cita-citanya untuk membasmi iblis dan
membangun kembali dunia persilatan yang aman dan
adil selalu melekat di dalam hati kecilnya kini setelah
diketahuinya bahwa kedua partai telah terlibat dalam
suatu permusuhan, jangan dibilang suruh dia pergipun
belum tentu dia mau, apalagi persoalan ini menyangkut
soal pembalasan dendam bagi kematian ayahnya"
Otaknya dengan cepat berputar dan ambil keputusan,
dia serahkan obat tadi ke tangan Hoa In sambil
pesannya, "Bawalah obat ini ke rumah penginapan Seng-
Liong disebelah Timur kota, serahkan kepada seorang
cianpwee yang bernama Ciong Lian-khek."
"Budak belum lama berselang baru saja berkunjung ke
situ, bagaimana kalau obat ini disampaikan agak
belakang saja?" bantah Hoa In sambil menerima obat itu.
Hoa Thian-hong tahu bahwa pelayan tuanya ini tidak
rela tinggalkan dirinya dengan begitu saja, segera
serunya, "Obat ini biar cepat diminum dan penyakitnya
cepat sembuh, mengenai keselamatan diriku kaupun tak
usah kuatir. Meskipun banyak orang yang menghendaki
jiwaku tetapi saat ini waktunya masih belum tiba."
Hoa In nampak tertegun, tapi akhirnya tanpa
mengucapkan sepatah katapun ia putar badan dan
berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya
telah lenyap dari depan mata.
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat kagum atas
kecepatan gerakan pelayan tuanya itu, air muka Cu Coan
kek sekalipun nampak berubah hebat. hanya Jin Hian
seorang tetap tenang dan tidak menunjukkan suatu
reaksi apapun juga.
Setelah suasana hening beberapa saat lamanya, Jin
Hian kembali ulapkan tangannya memberi tanda kepada
Siang Kiat sekalian, kelima orang itu segera memberi
hormat dan berlalu dari situ.
Hoa Thian-hong semakin curiga lagi, tak tahan ia
menegur, "Jien Tang-kee, tadi kau mengatakan bahwa
kesempatan bagus begitu untuk menuntut balas bagi
Kematian ayahku telah tiba, padahal Thong-thian-kauwcu
jauh berada di kota Leng-An, sebetulnya apakah
maksudmu" Jin Hian tertawa hambar, sambil putar badan
tinggalkan tempat itu dia menjawab, "Perkumpulan
Hong-im-hwie telah mengerahkan segenap kekuatannya
menuju ke selatan, dalam perjalanan ini kalau Hoa
kongcu sudi mengiringnya maka kami akan merasa amat
bangga" Terkejut hati si anak muda itu setelah mendengar
ucapan tersebut, kembali pikirnya di dalam hati,
"Kejadian ini berlangsung amat mendadak tanpa
mengeluarkan sedikit suarapun ternyata pertempuran
telah berada di samping pintu"
Berita ini diketahui olehnya terlalu mendadak, hal itu
membuat Hoa Thian-hong merasa agak kelabakan. Untuk
beberapa saat lamanya ia membungkam terus sambil
berusaha menenteramkan hatinya.
Sekali lagi semua orang balik ke dalam ruangan
perjamuan, setelah masing-masing ambil tempat duduk,
Jin Hian lantas berkata sambil tertawa, "Perjalanan kita
kali ini menuju kota Leng-An bakal waktu beberapa hari
perjalanan. sebentar lagi kita akan berangkat Hoa
kongcu silahkan bersantap lebih dahulu dari pada di
tengah jalan nanti merasa kelaparan!"
Hoa Thian-hong tersenyum, sambil tundukkan kepala
ia bersantap dan meneguk arak, dengan menggunakan
kesempatan yang sangat baik inilah ia berusaha
memecahkan situasi yang sedang dihadapinya sambil
berusaha mencari jalan keluar untuk menghadapi segala
kemungkinan besar merupakan salah satu pembunuh
ayahku..." pikirnya di dalam hati. "Tapi jelas bukan hanya
dia seorang saja, dendam terbunuhnya ayahku, aku
sebagai putranya bersumpah harus menuntut balas, tapi
perbuatan ini tak boleh kulakukan secara gegabah, apa
lagi sampai tenagaku dipergunakan oleh Jin Hian Aku
harus berusaha mempergunakan sengketa antara pihak
Hong-im-hwie dengan Thong-thian-kauw ini sebagai
sumbu bahan peledak yang akan memecahkan
pertumpahan darah antara ketiga golongan itu...."
Berpikir demikian, dia lantas angkat kepala dan
berkata, "Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa
kekuatan dari 'Tiga besar' adalah seimbang, andaikata
dalam persengketaan ini pihak kalian harus kerahkan
segenap kekuatan yang dimilikinya, menang kalah
kekuatanmu pasti akan mengalami kemunduran dan
kerugian yang cukup parah, apakah kau tidak takut
karena itu posisimu jadi goyah" Dan apakah kau tidak
takut pihak Sin-kie-pang akan jadi nelayan beruntung
yang tinggal mengeduk keuntungannya saja sambil
berpeluk tangan?"
"Perkataan dari Hoa kongcu ini memang tepat sekali,"
puji Jin Hian sambil tertawa dan bertepuk tangan,"
Dalam pertempuran ini, andaikata aku tidak beruntung
dan menderita kekalahan, bukan saja kekuatan inti
perkumpulan Hong-im-hwie akan menderita kerusakan
hebat, posisi kekuasaanku akan goyah. bahkan
kemungkinan besar bakal runtuh dan hancur berantakan"
Dari sikap serta gerak-geriknya yang rileks dan tidak
bersungguh hati, Hoa Thian-hong segera mengetahui
bahwa dibalik peristiwa itu masih terselip latar belakan g
lain, ia segera berkat. "Aku lihat persoalan ini
menyangkut posisi kekuasaan pihak kalian serta jauh
berbeda dengan permusuhan pribadi antara perorangan
mungkinkah Jien Tang-kee sudah mempunyai rencana
yang masak serta memegang keyakinan penuh bahwa
kemenangan pasti berada dipihak, kalian?"
Jin Hian tertawa gelak, "Hoa kongcu benar-benar amat
cerdik sekali dan pandai melihat gelagat, aku orang she
Jin benar-benar merasa amat kagum."
Dari ucapan yang selalu berusaha menghindar dari
pokok pembicaraan tersebut, Hoa Thian-hong segera
menyadari bahwa banyak bicarapun tak ada gunanya,
dengan mulut membungkam ia segera bersantap dan
minum arak, Beberapa saat kemudian Hoa In telah muncul kembali
dalam ruangan itu, sambil menghampiri ke sisi Hoa
Thian-hong ujarnya, "Siau Koan-jin, obat itu kuserahkan
ketahgan Ciong Lian-khek!"
Hoa Thian-hong mengangguk, pikirnya. "Keluarga Hoa
kami telah tercerai berai dan berantakan, meskipun
sebutan antara majikan dan pelayan tak perlu dihapus,
rasanya soal peraturan rumah tangga tak perlu
kuperhatikan lagi"
Berpikir demikian, ia lantas menuding ke sebuah kursi
kosong sambil katanya, "Malam nanti kita masih akan
melakukan perjalanan, duduklah dan bersantap dulu!"
Perlu diketahui Hoa In adalah pengurus dari
perkampungan Liok Soat Sanceng, ketika Hoa Goan-siu
masih melakukan perjalanan dalam dunia persilatan
tempo dulu, Hoa In-pun sering kali munculkan diri pula di
dalam Bulim, ilmu silat yang ia miliki belum tentu berada
di bawah kepandaian silat dari Jin Hian.
Oleh sebab itu ketika Hoa Thian-hong suruh pengurus
perkampungannya itu duduk, para jago dari pihak Hongim-
hwie-pun tak seorangpun yang memberi komentar,
bahkan tak ada pula yang menunjukkan sikap tidak puas,
Tetapi Hoa In segera gelengkan kepalanya, "Aku tidak
lapar!" Tiba-tiba serunya kembali, "Baiklah...... Aku akan
bersantap disitu saja."
Sepuluh orang yang semua duduk dimeja perjamuan
sebelah depan secara beruntun berlalu semua, Hoa In
segera menuju ke tempat itu, setelah bersantap ia buruburu
balik lagi ke belakang tubuh Hoa Thian-hong.
Kembali beberapa waktu telah lewat, kali ini Cu Goankhek
sekalian yang bangkit berdiri, katanya, "Toako,
kami sekalian akan berangkat lebih dahulu!"


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Jin Hian mengangguk. "Ingat baik-baik rencana kita
yang sebenarnya, dalam perjalanan berusahalah
mengadakan saling kontak antara kedua belah pihak,
setibanya di kota Ceng-kang nantikanlah kedatanganku!"
Cu Goan-khek mengiakan dan segera berlalu .
Menanti Hoa Thian-hong menyapu sekejap sekeliling
ruangan itu, dia lihat disitu sudah tiada orang lain lagi
kecuali Jin Hian, Cia Kim serta tiga orang pria baju hijau
yang menyoren golok besar bergagang emas itu.
Rupanya jin Hian tidak dapat membendung rasa
girang yang meluap-luap dalam hatinya, setelah
meneguk habis isi cawannya ia menghembuskan napas
panjang dan berkata sambil tertawa, "Sejak pertemuan
besar Pak-Beng-Hwie, dunia persilatan terasa sunyi
bagaikan berada di kuburan, setelah sepuluh tahun
merana akhirnya ini hari muncul pula setitik napas
Perkumpulan Hong-im-hwie bakal merajai persilatan, aku
ingin lihat kau si toosu bangsat Thian Ek bakal berubah
muka atau tidak?"
Dia buang cawannya ke lantai dan tertawa terbahakbahak.
"Haaa.... haaah.... haaaah.... Hoa Loo-te, mari
kitapun berangkat!......"
Sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya, Hoa
Thian-hong berpikir, "Rupanya mereka semua terdiri dari
manusia-manusia yang tidak menginginkan kesunyian,
selama ini tak seorangpun diantara mereka yang berkutik
lantaran waktu yang dinanti nantikan belum tiba....."
Sekeluarnya beberapa orang itu dari ruang perjamuan.
tampaklah Ciau Khong serta seorang pembantunya
sedang menanti di depan pintu, tujuh delapan ekor kuda
jempolan telah disiapkan di samping jalan, sementara
keempat puluh orang pengawal golok emas itu tanpa
menimbulkan suarapun telah berlalu semua dari situ.
Setelah semua orang naik ke atas panggung kuda. Jin
Hian angkat kepala memandang sekejap cuaca di langit,
kemudian sambil berpaling ke arah Hoa Thian-hong ia
perlihatkan wajahnya yang kegirangan.
Hoa Thian-hong pura pura berlagak pilon sambil
menjura serunya, "Jien Tang-kee, silahkan berangkat
lebih dahulu!"
Sikapnya yang tegas, mantap dan gagah ini
merupakan warisan langsung dari orang tuanya. hal ini
menunjukkan pula didikan Hoa Hujien selama sepuluh
tahun serta pengalamannya yang dialaminya selama ini
telah menimpa pemuda itu jadi semakin matang dan
berpengalaman. Jin Hian yang menyaksikan itu diam-diam merasa
kagum, sedang pelayan tua Hoa In merasa girang
bercampur bangga.
Suara derap kaki kuda berkumandang memecah
kesunyian, Jin Hian menceplak kudanya berlalu lebih
dahulu dari pintu besar, malaikat berlengan delapan
menyusul dan belakang kemudian pria bergolok emas itu
nomor tiga, Hoa Thian-hong nomor empat sedang Hoa In
paling buncit. Lima ekor kuda berlari sepanjang jalan menuju ke
pintu kota sebelah utara Setelah kelima ekor kuda itu
berlalu dari bawah wuwungan rumah seberang jalan
segara berkelebat keluar enam tujuh sosok bayangan
manusia. mereka semua tidak menyembunyikan jejaknya
lagi, ada yang lari menuju ke pintu barat, ada yang
menuju ke pintu selatan. ada yang membuntuti di
belakang kuda dan ada pula yang naik ke tembok kota.
Hoa Thian-hong yang melihat arah yang mereka tuju
adalah pintu utara, ia nampak agak tertegun. Tapi
sebelum ia sempat mengajukan keragu-raguannya itu Jin
Hian telah alihkan lari kudanya menuju ke arah Timur. Di
bawah cahaya bintang kelima ekor kuda itu nampak
mengitari dinding kota itu satu kali, tidak selang
sepertanak nasi kemudian mereka telah tiba diluar kota
sebelah selatan dan mulai menginjak jalan raya menuju
ke arah Wi-Im. Perjalanan dilakukan amat cepat, ketika fajar hampir
menyingsing mereka beristirahat sejenak di sebuah
dusun kecil di tepi jala ketika itulah Hoa Thian-hong
bertanya, "Jien Tang-kee, pergerakan kita kali ini akan
dilaksanakan secara terang-terangan ataukah hendak
dilakukan secara sembunyi dan diluar dugaan
mereka"......."
"Wilayah Kanglam adalah suatu wilayah yang makmur
dan ramai. di dalam setiap kota besar tentu terdapat
kantor cabang dari Thong-thian-kauw, gerakan pasukan
besar kita tentu akan mengejutkan mereka dan diketahui
jejaknya sejak dari permulaan, oleh karena itu gerakan
kita kali ini dilakukan setengah terang-terangan dan
setengah bersembunyi, asal pada bulan tujuh tanggal
tiga kita bisa mencapai kota Ceng-kang, sekalipun Thian
Ek si toosu bangsat itu sudah memperoleh berita, belum
tentu ia mampu melakukan penjagaan yang ketat
terhadap serbuan kita orang"
Hoa Thian-hong yang meninjau persoalan itu dari
sudut pandangan ke depan, secara lapat-lapat dapat
merasakan pula rumit serta kalutnya persoalan ini, ia
tahu bahwa pekerjaan besar semacam ini tak mungkin
sungguh dilakukan oleh Jin Hian sekalian beberapa
gelintir orang saja, kebanyakan pihak Sin-kie-pang tentu
terlibat pula dalam peristiwa ini.
Sekalipun begitu diapun menyadari bahwa banyak
bertanya tak ada faedahnya, oleh sebab itu ia segera
mengambil keputusan untuk menunggu perubahan
dengan sikap tenang. Mulutnyapun membungkam dalam
seribu bahasa,.
Terdengar Jin Hian bertanya kembali, "Hoa loo-te,
untuk setiap kali 'lari racun', apakah kau mempunyai saat
yang tertentu?"
Pemuda itu mengangguk, "Benar, setiap setengah hari
menjelang tiba."
Jin Hian termenung sebentar, lalu berkata lagi, "Kalau
begitu sebelum tengah hari nanti kita beristirahat dulu
sebentar di kota Ko-kee-ceng!"
"Jien Tang-kee, janganlah karena urusan ini hingga
menunda perjalananmu ini!...." Jin Hian tersenyum. "Kita
toh sedang melakukan perjalanan bersama, sudah
sepantasnya kalau kami mengimbangi keadaan dari
rekan seperjalanan kami, kalau tidak bantu membantu
darimana kita bisa kokoh?"
Setelah sang surya menyingsing perjalanan segera
dilakukan, tengah hari racun teratai yang mengeram
dalam tubuh Hoa Thian-hong kambuh, ia segera turun
dari punggung kudanya dan melanjutkan perjalanan
dengan jalan berlari.
Makin lari ia semakin cepat hingga dalam sekejap
mata rombongan kuda telah ditinggalkan beberapa ratus
tombak jauhnya Hoa In tak mau tinggalkan majikan
mudanya dengan begitu saja, diapun loncat turun dari
kuda dan berlari di sisinya.
"Siau Koan-jin!" serunya kemudian. bila kau tidak
tahan, biarlah budak menotok beberapa buah jalan
darahmu serta menggendong dirimu untuk melanjutkan
perjalanan"
JILID 16 : Kesetiaan Pelayan Setia
Hoa Thian-hong tertegun, pikirnya, "Cara menotok
jalan darah belum pernah kujajal...tapi bagaimanakah
faedahnya?" Pemuda itu segera menggeleng, katanya,
"Biarkanlah aku lari seorang diri, kau boleh kembali naik
kuda" "Tidak, aku masih kuat untuk lari!"
Waktu itu tengah hari telah menjelang, sang surya
memecahkan cahayanya dengan terang menyiarkan
hawa panas yang menyengat badan, Hoa Thian-hong
tidak tega membiarkan kakek tua itu ikut menderita
lantaran dia, dengan alis berkerut segera serunya, "Hati
licik manusia sukar diduga, setiap saat kemungkinan
besar kita bakal diserang dan dibokong oleh orang, kau
harus menjaga badan serta tenagamu baik-baik, hingga
seandainya terjadi urusan kita tidak jadi kelabakan serta
mandah dijagal oleh musuh"
Hoa In ragu-ragu sejenak, lalu menjawab, "Walaupun
ucapan Siau Koan-jin benar, tapi selama Siau Koan-jin
melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, budak
merasa tidak tenang untuk naik kuda seorang diri"
Hoa Thian-hong merasa amat terharu hingga tanpa
terasa air mata jatuh berlinang, tapi dengan wajah serius
dan pura-pura gusar ia menegur kembali, "Ayah telah
mati, ibupun tak ada disini. masa kau tak mau mengerti
perkataanku."
Mendengar teguran itu Hoa In segera menghentikan
larinya, buru-buru ia berseru, "Budak...budak...."
Sebelum ia sempat meneruskan kata-katanya,
bagaikan hembusan angin puyuh Hoa Thian-hong sudah
melampaui dirinya, dalam sekejap mata pemuda itu
sudah berada puluhan tombak jauhnya di depan sana.
Sesaat kemudian Jin Hian sekalian telah menyusul
kesitu, Hoa In segera loncat naik ke atas kudanya dan
membawa kuda tunggangannya dari Hoa Thian-hong
menyusul dari belakang.
Dalam pada itu Hoa Thian-hong yang sudah berada
jauh di depan. tiba-tiba lari berbalik ke belakang,
kemudian pulang pergi beberapa kali di sekitar
rombongan itu, makin berlari kecepatannya semakin
tinggi hingga akhirnya halnya tinggal setitik cahaya saja
yang berkelebatan kesana kemari.
Ketika tengah hari sudah lewat dan sore menjelang
tiba. Beberapa orang itu telah tiba di kota Ko-kee-ceng,
sebelum mereka sempat beristirahat dari arah selatan
terdengar suara derap kaki kuda yang ramai
berkumandang datang. itulah suara dari rombongan dua
puluh pengawal golok emas yang baru saja tinggalkan
dusun itu untuk melanjutkan perjalanan.
Meskipun kota itu kecil, tapi karena merupakan jalan
raya penting yang menghubungkan Utara dan Selatan,
maka dalam kota itu terdapat lima buah rumah
penginapan. Beberapa orang itu segera masuk ke dalam
penginapan untuk beristirahat serta berjanji tengah
malam nanti akan melanjutkan perjalanan kembali.
Sekujur badan Hoa Thian-hong basah kuyup oleh
keringat, setibanya di rumah penginapan ia segera
memerintahkan pelayan untuk siapkan air buat mandi..
Pada pelana setiap kuda tunggangan tersebut telah
tersedia sebuah kantongan berisi uang serta air minum.
Hoa In segera mengambil sekeping uang perak dan
diserahkan kepada pelayan itu sambil pesannya, "Lihat
baik-baik potongan badan sauya kami ini, belikan satu
setel baju yang paling bagus dengan warna biru
bersulamkan benang emas, berdasar warna kuning, bila
tak ada yang cocok buatkan dengan segera, sebelum
senja nanti pakaian itu harus sudah siap. Di samping itu
carikan pula satu setel baju warna ungu bagiku."
Pelayan itu menerima uang tersebut, setelah
mengamati potongan badan kedua orang tetamunya ia
baru berlalu. "Eeei.... tunggu dulu pelayan!" tiba-tiba Hoa In
berseru kembali, "Celana untuk sauya ini belikan dulu!"
"Hamba mengerti!"
Sepeninggalannya pelayan itu, Hoa Thian-hong sambil
tertawa segera berkata, "Buat apa sih musti mencari
pakaian yang mahal" Apalagi memilih warna biru dengan
strip benang emas"
"Selama Lo-ya masih hidup, sering kali ia berdandan
seperti ini"
Bayangan tubuh ayahnya segera terlintas di dalam
benaknya, rasa sedih segera menyerang hatinya, sambil
tertawa paksa segera ujarnya, "Ilmu silat yang kau miliki
telah mencapai puncak kesempurnaan. Aku pikir
beberapa orang jago lihay itu masih belum bisa
menandingi kekuatanmu!"
"Siau Koan-jin, mungkin kau lupa bahwa ilmu silat
yang budak miliki adalah langsung dari Lo-thay-ya," ujar
Hoa In dengan mata berubah jadi merah, "Sewaktu toaya
belajar silat, budakpun ikut berlatih!"
Melihat kakek tua itu menangis, buru-buru si anak
muda itu berseru, "Ibu paling tidak suka melihat aku
menangis, sekarang adalah saat bagiku untuk berkelana
di dalam dunia persilatan. janganlah kau bangkitkan pula
kesedihanku"
Dengan cepat Hoa In menyeka air mata yang
membasahi pipinya. "Siau Koan-jin, ada urusan apa Cubo
(majikan perempuan) pergi keluar perbatasan"
Mengapa beliau ijinkan dirimu berkelana seorang din?"
tanyanya kemudian.
Hoa Thian-hong mengerling sekejap ke arah dinding
ruangan sebelah kiri, lalu sambil tertawa jawabnya, "Aku
pergi tanpa pamit, ibu sedang berkelana di empat
penjuru mencari jejaknya"
Hoa In tidak tahu perkataannya itu sungguhan atau
tidak, ia lantas mengomel. "Aaai...! Siau Koan-jin benarbenar
nakal, kau toh tahu bahwa musuh kita tersebar
dimana mana, kenapa kau menahan bermain kesana
kemari tiada arah tujuan?"
Hoa Thian-hong tersenyum, ia tidak menanggapi lagi
ucapan tersebut. sambil alihkan pokok pembicaraan
kesoal lain katanya, "Selama banyak tahun
bagaimanakah kau lanjutkan hidupmu?"
"Setelah pertemuan Pak-Beng-Hwie, Cubo buru-buru
pulang ke dalam perkampungan dan memerintahkan
budak serta seluruh anggota perkampungan untuk
mengungsi kelaut Tang-hay, waktu itu budak tidak ingin
meninggalkan Siau Koan-jin, tapi akupun tak tahu Cubo
telah menyembunyikan Siau Koan-jin dimana maka ..." la
berhenti sejenak, lalu bergumam, "Siau Koan-jin tentu


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengetahui bukan bagaimani perangai cubo" . .
"Ibu memang lebih sukar diajak berbicara daripada
ayahku, aku sendiripun tidak berani membangkang
perintahnya"
"Benar. siapa yang berani membangkang perintah
Cubo" Waktu itu keadaan amat mendesak dan situasi
amat berbahaya, Cubo pulang dengan membawa luka
dalam yang amat parah, budakpun tak tahu
bagaimanakah keadaan Siau Koan-jin, terhadap perintah
dari cubo ini dalam hati kecilku budak merasa amat tidak
puas" "Ibuku mengatur demikian, tentu saja dia mempunyai
alasan tertentu"
"Meskipun memang beralasan tapi caranya itu tidak
bagus, keluarga Hoa hanya mempunyai keturunan Siau
Koan-jin seorang, sedang budak yang mengerti sedikit
ilmu silat ternyata bukannya di perintahkan untuk
melindungi keselamatan Siau Koan-jin, sebaliknya malah
disuruh mengungsi jauh kelaut Tanghay, bukankah
tindakan ini hanya akan membuat hatiku merasa semakin
tidak tenteram?"
"Haruslah diketahui Hoa In adalah anggota keluarga
Hoa, sedang Hoa Thian-hong adalah majikan dari
keturunan keluarga Hoa sebaliknya majikan
perempuannya berasal dari luar, dalam pandangan
matanya majikan kecil itu merupakan keseluruh dari
keluarga Hoa, kedudukkannya jauh lebih terhormat dan
penting dari majikan perempuannya maka dari itu Hoa In
merasa tidak puas pada saat ia dititahkan untuk
mengungsi dan bukannya mendapat tugas untuk
menyelamatkan majikan kecilnya.
Menyaksikan ketulusan hati serta kesetiaan pelayan
tuanya ini, Hoa Thian-hong merasa amat terharu. Tapi
iapun merasa tak enak untuk memberi penjelasan karena
keputusan itu dilakukan oleh ibunya.
Dalam suasana yang serba kikuk itulah tiba-tiba
pelayan datang membawa air panas menggunakan
kesempatan itulah ia segera berseru, "Aku mau mandi
dulu, sehabis mandi kita pergi bersantap!"
Hoan in berpesan kepada pelayan untuk siapkan
hidangan, kemudian menutup pintu dan siap membantu
majikan mudanya untuk lepas pakaian.
"Kau duduk sajalah, aku akan kerjakan sendiri" tampik
Hoa Thian-hong, setelah melepaskan pakaian ia bertanya
kembali, "bagaimana kemudian" Apakah kau selalu
berdiam di laut Tang-hay?"
Hoa In mengundurkan diri dan duduk di samping, lalu
menjawab, "Cubo memerintahkan aku untuk meyakinkan
ilmu 'Sau-yang ceng-khie' bila sudah berhasil maka aku
dititahkan untuk kembali ke daratan Tionggoan dan
mencari Siau Koan-jin. Dalam keadaan apa boleh buat
terpaksa budak membawa seluruh anggota keluarga
lainnya sebanyak lima orang mengungsi ke laut Tanghay.
Sungguh tak nyana ilmu 'Sau-yang-ceng-khie'
benar-benar susah sekali untuk melatihnya, akupun tidak
dapat memadahi kecerdikan Toa-ya dimana dalam usia
dua puluh tujuh tahun kepandaian tersebut telah berhasil
dikuasainya, selama perjalanan hingga tiba dilaut Tanghay,
hatiku benar-benar merasa amat sedih, aku
menyedihkan kematian toa-ya, rindu pula terhadap Siau
Koan-jin, terdesak oleh keadaan maka terpaksa setiap
hari aku berlatih dengan giat. Sungguh tak nyana tujuh
delapan tahun kemudian ilmu Ceng-kie tersebut akhirnya
berhasil aku kuasai juga"
Hoa Thian-hong merasa amat girang bercampur
terharu mendengar kabar itu, sambil tersenyum ujarnya,
"Berlatih ilmu silat secara paksa memang merupakan
suatu pekerjaan yang amat menderita, tapi setelah
berhasil maka penderitaan itupun tidak terlalu sia-sia."
"Begitu kepandaian silatku berhasil kuyakini, hari itu
juga budak berangkat menuju ke daratan Tionggoan,
siapa tahu meskipun sudah kujelajahi utara maupun
selatan, sudah kusambangi sahabat2 toa-ya dulu kabar
berita mengenai soan-jin belum juga ketahuan, Selama
tiga empat tahun belakangan ini budak benar-benar
merasa amat menderita"
"Macam apa saja sih sahabat serta kenalan lama
ayahku itu?" tanya Hoa Thian-hong sambil menghela
napas ringan. Hoa In gelengkan kepalanya dan menggerutu,
"Mereka2 yang termasuk jago lihay sudah mati semua, di
rumah hanya tertinggal perempuan2 tua istri belaka, ada
pula sebagian yang masih hidup tetapi jejaknya tidak
ketahuan, entah mereka telah menyembunyikan diri
dimana?" Hoa Thian-hong menghela napas panjang mendengar
kabar itu. Selesai mandi kedua orang itupun bersantap di
dalam kamar sambil membicarakan soal rumah tangga,
kemudian Hoa In memaksa pemuda itu untuk naik
pembaringan beristirahat sedang ia sendiri duduk
bersemadi di dekat pintu.
Senja itu ketika Hoa Thian-hong mendusin dari
tidurnya, pakaian baru telah siap, dibantu oleh Hoa In
pemuda itu segera berdandan.
"Coba kau lihat, aku mirip dengan ayahku atau tidak?"
ujar Hoa Thian-hong kemudian sambil tertawa.
Hoa In mengamati wajahnya beberapa saat, kemudian
menjawab, "Potongan badan serta raut wajahmu mirip
dengan Toa-ya, alismu rada tebalan, mata serta hidung
mirip pula, cuma bibir serta janggutmu lebih mirip
majikan perempuan"
"Lalu bagaimana dengan perangaiku" lebih mirip
ayahku ataukah ibuku?" Hoa In berpikir sebentar, lalu
sahutnya, "Toa-ya ramah dan halus sedang Cubo keras
lagi disiplin. sewaktu Siau Koan-jin masih kecil dulu nakal
dan lincah mirip toa ya, entah kalau sekarang lebih mirip
siapa '" Hoa Thian-hong tersenyum. "Di dalam situasi yang
serba kacau ini, lebih baik perangaiku lebih mirip dengan
ibuku," katanya.
Selesai bersantap hari sudah gelap, kedua orang
itupun bercakap-cakap lagi di dalam kamar sambil minum
teh. Suatu ketika mendadak Hoa In memperendah
suaranya sambil berbisik, "Siau Koan-jin, aku telah
berhasil mendapat keterangan yang amat jelas mengenai
peristiwa berdarah yang menimpa toa-ya tempo dulu.
Dalam pertarungan yang terakhir toaya seorang diri
dikerubuti oleh lima orang manusia jahanam, mereka
adalah Thian Ek toosu siluman dari Thong-thian-kauw,
Yan-san It-koay serta Liong-bun Siang-sat dari Hong-imhwie
serta seorang bajingan tua yang bernama Ciu Itbong."
Hoa Thian mengangguk.
"Sstt.... awas dinding bertelinga...." bisiknya.
"Ketiga orang pentolan bajingan dari Thong-thiankauw,
Hong-im-hwie serta Sin-kie-pang semuanya adalah
manusia-manusia rendah yang tak tahu malu, mereka
manusia yang tak bisa pegang janji dan omongannya
plin-plan. menurut pendapatku lebih baik kita berangkat
sendiri saja untuk membunuh Thian Ek toosu bajingan itu
guna balaskan dendam bagi toa-ya, melakukan
perjalanan bersama-sama Jin Lo-ji itu pasti tak akan ada
manfaatnya."
"Ucapanmu memang benar, bukan saja kita harus
menyelesaikan dendam pribadi, kitapun harus keras
untuk membasmi ketiga buah perkumpulan besar hingga
lenyap dari muka bumi."
"Lalu apa yang musti kita lakukan?"
"Kita laksanakan saja tindakan kita menurut keadaan
di depan, perlahan lahan apa yang kita harapkan pasti
tercapai juga. Putra Jin Hian telah mati datanganku,
cepat atau lambat dia pasti akan turun tangan kepadaku,
berhati hatilah setiap saat!"
"Budak rasa lebih baik kita cepat-cepat temukan jejak
Cubo, mungkin dia mempunyai cara yang baik untuk
menyelesaikan persoalan ini," usul Hoa In sambil
mengerutkan dahinya.
Hoa Thian-hong segera menggeleng, bisiknya, "Ibuku
tak dapat unjukan diri di depan umum luka dalam yang
ia derita masih belum sembuh betul bila ia unjukan diri
maka keadaan kita akan semakin berbahaya."
Mendadak dari luar pintu terdengar suara langkah
manusia, Hoa In segera bangkit sambil menegur, "Siapa
disitu?" Ketika pintu dibuka, terlihat orang itu bukan lain
adalah komandan dari pasukan pengawal pribadi Jin
Hian. Orang itu she-Cho bernama Bun Kui dan merupakan
komandan dari keempat puluh orang pengawal golok
emas, ketika itu sambil melangkah masuk ke dalam
ruangan katanya, "Tang-kee kami mempersilahkan Hoa
kongcu meneruskan perjalanan kembali!...,"
Hoa Thian-hong mengangguk dan segera keluar dan
kamar, Hoa In sambil membawa buntalan mengikuti dari
belakangnya. Jin Hian serta Cia Kim-pun secara beruntun
munculkan diri pula, setelah Cho Bun Kui membayar
rekening berangkatlah kelima orang itu meneruskan
perjalanannya menuju ke arah Selatan.
Keempat orang pengawal golok emas selalu berada di
depan rombongan Jin Hian, setiap kali mereka
beristirahat di rumah penginapan, rombongan pengawal
itu tentu berangkat melanjutkan perjalanan kembali.
Sebaliknya Cu Goan-khek sekalian sejak berpisah di kota
Cho ciu belum parnah bertemu kembali, rupanya orangorang
itu melakukan perjalanan lewat jalan kecil.
Suatu tengah hari ketika racun teratai dalam tubuh
Hoa Thian-hong kambuh kembali sebagai mana biasanya
ia segera berlarian bolak balik mengitari rombongan itu,
setelah lari sejauh beberapa li dia balik dan menyusul
kembali rombongannya.
Mendadak.... dari tengah jalan muncul seorang tauto
yang memelihara rambut menghadang jalan perginya,
Padri berambut itu berusia enam tujuh puluh tahunan
dengan raut wajah yang bersih dan kulit badan berwarna
putih. Ia mengenakan sebuah jubah padri berwarna putih,
tangannya membawa senjata sekop berbentuk bulan
sabit yang terbuat dari baja, sebuah tasbeh berwarna
putih tergantung di lehernya. sedang pada keningnya
terikat sebuah ikat kepala terbuat dari perak, di bawah
sorot cahaya sang surya tampaklah orang itu begitu
gagah bagaikan malaikat.
Hoa Thian-hong sudah tiga kali mengitari jalanan itu
tapi selama ini belum pernah temukan jejak orang itu,
sekarang melihat kemunculannya secara tiba-tiba ia jadi
tercengang, sebelum ingatan kedua berkelebat dalam
benaknya orang itu sudah berlari mendekati ke arahnya.
Dengan cepat kedua belah pihak saling berpapasan,
mendadak padri itu menyilangkan senjata sekop bulan
sabitnya ke tengah jalan sambil serunya, "Siau sicu,
harap tunggu sebentar"
Hoa Thian-hong terkejut, terasa olehnya cahaya
keperakan berkelebat lewat dan tahu-tahu ujung sekop
sudah menghadang di depan dada. Dalam keadaan
begini tak mungkin baginya untuk menahan gerakan
tubuh lagi, karena gugup ia segera mencengkeram
senjata lawan sambil didorong keluar.
Bayangan putih berkelebat lewat tauto tua itu
mengitari tubuh Hoa Thian-hong satu lingkaran,
sementara senjata sekop bulan sabit masih tetap
menyilang di depan dada pemuda tersebut.
"Sungguh aneh gerakan tubuhnya," pikir Hoa Thianhong
dengan hati terkesiap. cepat ia bergeser dua
langkah ke belakang lalu berseru. "Toa suhu, harap suka
memberi jalan lewat bagiku!"
"Ditinjau dari sikapmu yang tidak tenang dan
langkahmu yang terburu-buru. apakah kau merasa amat
tersiksa?"
"Benar! aku terkena racun aneh yang amat keji,
sekujur tubuhku terasa sakit bagaikan tersiksa...."
"Masa dengan berlari lari begitu maka rasa sakit yang
menyerang tubuhmu bisa dikurangi?"
"Ucapan toa suhu sedikitpun tidak salah" jawab si
anak muda itu, karena tiada berminat untuk banyak
bicara ia segera enjotkan badan dan lari kembali ke
muka. "Bocah muda, kau berani kurang-ajar!" bentak Tauto
tua itu dengan suara nyaring senjata sekop bulan
sabitnya segera dihantam ke atas batok kepala pemuda
itu. "Rupanya padri tua ini ada maksud mencari perkara...
baiklah akan kucoba sampai dimanakah kelihaiannya,"
pikir pemuda itu di dalam hati.
Mendengar datangnya desiran angin tajam yang
mengancam batok kepalanya, ia segera putar badan
sambil mengirim satu babatan ke tengah udara, serunya
lagi, "Toa suhu maafkanlah daku!"
"Blaaam...!" pukulan Hoa Thian-hong secara telak
bersarang di ujung senjata sekop tersebut membuat
senjata itu mencelat sejauh empat lima depa ke tengah
udara. Oleh benturan keras tadi kedua belah pihak samasama
merasakan lengannya jadi linu dan kaku, mereka
merasa kaget dan kagum atas kelihaian lawannya, sambil
membentak keras suatu pertempuran sengitpun segera
terjadi. Pertempuran belum berlangsung lama, tiba-tiba Hoa
Thian-hong merasa daya tekanan yang dipancarkan
lewat senjata sekop itu kian lama kian bertambah berat,
bahkan tak pernah daya tekanan itu berkurang. Dalam
waktu singkat tekanan yang datang dari empat penjuru


Bara Maharani Karya Khu Lung di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu berat laksana bukit, mengikuti gerakan perputaran
senjata itu segulung demi segulung menggencet
tubuhnya habis-habisan.
Hoa Thian-hong merasakan sepasang matanya jadi
silau terkena pantulan cahaya perak yang berkilauan,
nampaknya ia semakin keteter dan tak mampu untuk
mempertahankan diri lebih jauh.
Dalam keadaan begini, timbullah perasaan ingin
menang di dalam hatinya, ia membentak keras.
Sepasang telapaknya dengan segenap tenaga segera
disodok kemuka.
Tauto tua itu semakin melipat gandakan tenaga
tekanannya setelah melihat keadaan musuhnya keteter
hebat. tapi setelah merasakan datangnya perlawanan
yang gigih, dengan alis berkerut ia segera berseru, "Aku
akan turun tangan keji untuk membunuh orang, bocah
cilik! Kalau kau tak merasa kuat menahan diri cepatcepatlah
buka suara untuk minta ampun!...."
"Aneh sekali," pikir pemuda she-Hoa dalam hati,
"tauto ini mirip sekali dengan malaikat dalam lukisan,
wajahnya tidak nampak seperti orang jahat, tetapi
mengapa ia meneter diriku terus-menerus?"
Dengan suara lantang ia segera menegur, "Toa suhu,
bagaimanakah sebutanmu?"
Tauto tua itu tidak menjawab, sebaliknya mengejek
kembali, "Bocah cilik, perhatikan langkahmu. Aku lihat
kau cukup tangguh juga untuk bertahan. Janganlah
karena berbicara gerakanmu jadi kalut!"
Bacokan sekopnya bagaikan gulungan ombak di
samudra menyerang ke depan tiada hentinya. Sekuat
tenaga Hoa Thian-hong memberikan perlawanan yang
gigih kembali ia berseru, "Toa suhu, aku toh tak pernah
mengganggu atau menyakiti hatimu, apa sebabnya toa
suhu mendesak diriku terus meneius, sebetulnya apa
maksudmu?"
"Aku sedang mencari derma!"
"Mencari derma, masa beginilah cara seorang pendeta
mencari derma," batin pemuda itu, Dengan suara lantang
segera serunya, "Toa suhu, kau tidak mirip dengan
pendeta yang menyiksa diri, entah derma apa yang
sedang kau cari?"
"Aku hendak menderma dirimu, samudra penderitaan
tiada bertepi, berpalinglah ke arah daratan. bila kau
mengerti gelagat sekarang juga ikutilah aku berlalu dari
sini" "Toa suhu, ucapanmu ini mengandung maksud yang
sangat mendalam maafkanlah aku yang muda tak
sanggup menangkap arti dari perkataanmu itu"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, daya
tekanan yang tergencar keluar dari ujung senjata itu kian
berkurang, Hoa Thian-hong secara paksakan diri masih
dapat mempertahankan diri.
Terdengar Tauto tua itu berkata kembali, "Dari sini
menuju ke arah selatan adalah samudra penderitaan
yang tak bertepi bila kau tidak segera berpaling maka
kau akan tenggelam dalam samudra penderitaan itu.
Sekalipun ada nelayan bermurah hati yang muncul,
belum tentu dapat menghantar kau naik ke atas daratan,
ucapan ini cukup sederhana, aku rasa kau tentu bisa
menangkap maksudnya bukan?"
Hoa Thian-hong cerdik dan berotak encer, dengan
cepat ia berhasil menangkap maksud yang sebenarnya
dari ucapan itu. Dia tahu Tauto itu sedang
memberitahukan kepadanya bahwa perjalanannya
menuju ke kota Leng An serta menceburkan diri ke
dalam pertikaian tiga besar sama artinya begaikan
tenggelam di tengah samudra penderitaan, ia dianjurkan
segera berlangsung dan jangan menceburkan diri dalam
persengketaan itu.
Meskipun dalam hati ia mengerti, sayang pemuda ini
tak mau menerima nasehat tersebut, Setelah berpikir
sebentar ia lantas berkata, "Terima kasih atas maksud
baik taysu, sayang aku pernah bersumpah di hadapan
kuburan mendiang ayahku, sekalipun badan harus
hancur dan jiwa musti melayang, aku harus
menyelesaikan dahulu pesan dari mendiang ayahku ini"
"Takdir telah menentukan begini, kau melakukan
tindakan tersebut hanya akan tinggalkan penyesalan
belaka. usaha apa yang bisa kau lakukan"...."
"Maksud Thian sukar diduga manusia, siapa tahu
bagaimana yang dimaksudkan sebagai takdir" Bagiku
hanya ada jalan maju tanpa jalan mundur, meskipun
harus mati juga tak akan menyesal!"
Rupanya Tauto tua itu dibikin gusar oleh ucapan
tersebut, dengan suara berat ia berkata, "Kau terlalu
keras kepala dan teguh dalam pendirian kalau memang
kau tak sudi mendengarkan nasehatku, akupun tidak
ingin banyak berbicara lagi. Kau harus layani dahulu
serangan-serangan gencarku, bila aku menang kau harus
pergi dari sini mengikuti diriku, sebaliknya kalau kau
yang menang maka aku akan menghaturkan sisa hidupku
ini untuk selamanya mengikuti serta mendampingi dirimu
kendati kau hendak pergi keu jung langit atau dasar
samudrapun"
Berdebar hati Hoa Thian-hong mendengar perkataan
itu, ia tahu ilmu silat yang dimiliki Tauto tua itu jauh
berada diatasnya, Karena itu ia tak berani memberikan
komentar setelah tenangkan hati dengan mulut
membangkam ia lakukan perlawanan secara gigih dan
waspada, ia berusaha agar kemenangan bisa diraih
olehnya. Dalam waktu singkat pertarungan berlangsung
semakin sengit. angin pukulan yang kuat menyambar
silih berganti. sambaran senjata sekop bulan sabit
berkelebat memancarkan cahaya perak yang
menyilaukan mata, seluruh tubuh si anak muda itu
terkurung dalam kepungannya, Sesaat kemudian, Hoa
Thian-hong mulai kepayahan, napasnya tersengal-sengal
dan dengusan hidungnya kedengaran makin nyata.
Disaat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terdengar
suara bentakan gusar Hoa In bergema datang dari
kejauhan. "Hey, siapa itu" Cepat tahan!"
Ketika mengucapkan bentakan itu tubuhnya masih
berada ratusan tombak jauhnya, tapi bersamaan dengan
berakhirnya ucapan terakhir, sesosok bayangan manusia
telah menerjang masuk ke dalam gelanggang.
"Jangan bertindak bodoh!" seru Hoa Thian-hong
memperingatkan.
Hoa In yang harus menderita dua belas tahun
lamanya sebelum berhasil menemui majikan mudanya
kembali dalam keadaan selamat. tentu saja tak ingin
membiarkan dirinya menempuh bahaya, bersamaan
dengan datangnya terjangan itu. sepasang telapak
dengan mengerahkan ilmu 'Sau-yang-ceng-khie' segera
menyambar ke arah senjata sekop bulan sabit lawan.
Terdengar Hoa In membentak nyaring serentetan
suara pekikan naga yang nyaring bergema memecahkan
kesunyian, tauto tua itu cepat-cepat loncat mundur dan
melayang keluar dari gelanggang, dalam waktu singkat
tubuhnya sudah berada beberapa ratus tombak jauhnya
dari tempat semula dan kabur menuju ke arah utara.
Memandang bayangan punggung Tauto tua itu hingga
lenyap dari pandangan, Hoa Thian-hong baru berpaling
dan menegur, "Bagaimana" Kau tidak sampai terluka
bukan?" Sambil memegang tangan kanannya dengan telapak
kiri, Hoa In menggeleng. "Untung aku tidak terluka,
Tauto tua itu sungguh lihay!"
"Aku lihat kedatangannya tidak bermaksud jelek,
diapun tak mau sebutkan namanya atau mungkin dia
adalah salah satu rekan ayahku dalam pertemuan Pek-
Beng-hwee tempo dulu?"
Hoa In termenung sebentar lalu menggeleng.
"Dandanan dari Tauto tua itu istimewa sekali, bila dia
adalah seorang jago kenamaan aku pasti tak akan lupa
terhadap dirinya. Tapi aku merasa tak pernah berjumpa
dengan manusia seperti itu"
"Mungkin baru2 ini dia baru berdandan macam
begini?" Hoa In mengangguk, tiba-tiba serunya, "Di depan
sana telah terjadi persoalan beberapa orang hidung
kerbau dari perkumpulan Thong-thian-kauw telah
menghadang jalan pergi Jin Hian serta Cia Kim.
"Pihak lawan terdiri dari berapa orang" Mari cepat kita
kesana!" seru pemuda itu dengan alis berkerut.
Hoa In segera menarik lengannya sambil berkata,
"Dari pihak Thong-thian-kauw terdiri dari tiga orang
toosu tua dan seorang perempuan, pertempuran itu pasti
akan berlangsung beberapa waktu lamanya, Siau Koanjin
tak usah terburu-buru."
"Aku ingin menonton jalannya pertarungan ini!"
"Apa sih yang baik untuk dilihat" Ketiga orang toosu
tua dari Thong-thian-kauw itu adalah Ngo Ing cinjin,
Ceng Si-cu serta Ang Yap Toojin, sedang yang
perempuan bernama Giok Teng Hujien!"
"Ehmm. Giok Teng Hujien adalah seorang sahabat
karibku, lumayan juga wataknya bahkan aku sebut dia
sebagai cici," kata Hoa Thian-hong sambil tertawa.
Perkataan ini segera meneguhkan hati Hoa In.
"Siau Koan-jin mengapa kau berhubungan dengan
perempuan macam itu?" serunya, "Bila Cubo tahu akan
kejadian ini, dia pasti tak akan senang hati"
Pemuda itu segera menggeleng, katanya dengan
wajah serius, "Siapa saja yang bisa kukenali aku akan
berhubungan dengan dirinya, orang" yang tergabung
dalam tiga kelompok besar terlalu banyak, bagi kita mau
bertarungpun tak akan ada habis-habisnya, mau
bunuhpun tak akan ada selesainya, bila kita bisa
menasehati beberapa orang diantaranya hingga bertobat
dan berpihak pada kita, bukankah kejadian itu sangat
baik sekali?"
"Siau Koan-jin. caramu bekerja tidak mirip dengan toaya.
tidak mirip pula dengan Cuba, sungguh bikin orang
jadi cemas dan tidak tenteram"
Hoa Thian-hong tersenyum. "Keadaan mereka adalah
empat lawan dua, Soat-jie milik Giok Teng Hujien pun
merupakan jago yang sangat lihay, menurut pendapatmu
apa yang bakal dilakukan oleh Jin Hian?"
"Buat Jin Hian sih tak jadi soal. bila tak bisa menang
masih mampu untuk melarikan diri. Sebaliknya luka yang
diderita Cia Kim belum sembuh betul, mungkin sulit
baginya untuk meloloskan diri dalam keadaan selamat...."
Hoa Thian-hong segera berpikir dalam hati kecilnya,
"Bila aku tiba disitu, pihak mana yang musti kubantu"
Suatu masalah yang cukup pelik" Setelah berpikir
sebentar, akhirnya dia ambil keputusan untuk memburu
ke gelanggang itu, segera katanya, "Situasi pertempuran
setiap saat bisa terjadi perubahan besar, lebih baik kita
cepat ke situ."
Tidak menunggu jawaban lagi, ia percepat langkahnya
meninggalkan tempat itu.
ooooOooo "SIAU KOAN-JIN, tunggu sebentar!" teriak Hoa In
sambil menyusul dari belakang, "kita tunggu saja sampai
salah satu pihak menangkan pertarungan itu, kita baru
menyerang pihak yang menang"
"Itu namanya siasat menusuk harimau dengan hati
gegabah" seru Hoa Thian-hong sambil tertawa, "Sayang
Jin Hian adalah seorang manusia licik, sedang para toojin
dari Thong-thian-kauw juga siluman2 yang punya otak
encer. mereka tak akan tertipu mentah oleh siasat
macam begitu!,"
Dengan kecepatan gerak kedua orang itu sementara
pembicaraan masih berlangsung gelanggang pertarungan
sudah muncul di depan mata.
Tampaklah Soat-ji makhluk aneh itu dengan ganasnya
sedang menerjang Cie Kim habis habisan. sejak sebuah
lengan kirinya dikutungi Ciong Tian kek hingga peristiwa
itu mulut lukanya belum sembuh benar-benar, hal ini
membuat keadaannya ibarat harimau yang masuk dusun
digonggongi anjing, ia didesak oleh makhluk aneh
tersebut hingga kalang kabut dan keteter hebat, diantara
beberapa orang itu posisinya yang paling kritis.
Suling Emas 10 Dewa Arak 92 Memperebutkan Batu Kalimaya Pengantin Berdarah 1
^