Pencarian

Dua Musuh Turunan 11

Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen Bagian 11


terang untuk mencari harta benda leluhurnya, kenapa sekarang dia mencampuri
urusan ini" Dia telah bertentangan dengan satu okpa besar, apa dia tidak kuatir
rahasianya nanti terbuka" Jikalau dia hendak berbuat baik, sudah cukup bila dia
menghajar kedua guru silat itu dan menolong melunaskan hutang sewa tanah nyonya
tua ini dan anaknya. Di kolong langit ini, bangsa okpa sangat banyak dan tak
akan habis dengan dihajar saja..... Bukankah dia mempunyai urusan sangat penting, cara
bagaimana dia dapat dengan gampang berlaku usilan?"
Berpikir sampai di situ, In Tiong tetap tidak mengerti. Ia ingat, Thio Tan Hong
itu cerdik sekali, tindak tanduknya senantiasa secara rahasia, yang mengandung
maksud dalam dan sukar diduga-duga.
Si nyonya tua belum bercerita habis, maka itu dia menambahkan: "Mahasiswa
penunggang kuda putih itu, setelah menghajar kedua guru silat hingga mereka itu
kabur pergi, sudah lantas berkata kepadaku: pergi kau beritahukan semua orang
lelaki di desamu ini, titahkan mereka untuk pergi ke Koaywa Lim guna menyaksikan
keramaian, di sana aku mempunyai uang untuk dibagi-bagikan kepada mereka. Tuan,
kau tentu tidak menghendaki uangnya itu, sebaliknya, kau tentu sudi menonton
keramaian, bukan?" In Tiong manggut. "Sudah lama aku dengar perihal keindahan taman-taman di Souwtjioe," ia menyahut,
"kebetulan akan ada keramaian, sudah pasti aku suka pergi ke sana!"
Habis berkata, ia membayar tehnya sambil melirik kepada si nona muda, maka
terlihatlah olehnya, nona itu sudah menyulam bunga merah yang ke delapan!
In Tiong kaburkan kudanya, yang dapat lari keras, sebelum matahari terbenam, dia
sudah sampai di Souwtjioe. Yang pertama ia lihat adalah jalan besar yang
lantainya berbatu besar kecil dan berwarna belang, yang teratur rata dan rapih,
sedang rumah-rumah nampaknya indah, umumnya berbeda daripada yang biasa terlihat
di lain-lain kota. Juga terdapat banyak pohon-pohonan, umpamanya pohon-pohon
gouwtong dan yanglioe, yang muncul keluar dari tembok-tembok pekarangan.
Rumahnya di mana-mana terdapat taman. Jadi Souwtjioe beda jauh sekali daripada
gurun pasir. Diam-diam ia menghela napas dan berkata dalam hatinya: "Benarlah
perkataan, Sang Yoe Thian Tong, Hee Yoe Souw Hang!....."
"Siang Yoe Thian Tong, Hee Yoe Souw Hang" berarti: "Di atas langit ada sorga, di
muka bumi ada kota-kota Souwtjioe dan Hangtjioe."
Berhubung dengan tugasnya, In Tiong lantas pergi ke kantor soenboe. Ia minta
keterangan tentang tujuh pahlawan dari kota raja, yang diperbantukan kepadanya.
Ia dapat kenyataan, belum satu dari ke tujuh orang itu yang tiba. Tapi ia mesti
menjalankan tugas, tanpa pembantu, ia suka lantas bekerja. Bukankah ia telah
mendengar halnya Thio Tan Hong, ke mana tujuan si mahasiswa berkuda putih itu"
Begitulah, malam itu ia beristirahat, lalu besok paginya, dengan dandan sebagai
rakyat jelata, ia menuju ke Koaywa Lim, taman penglipur.
Koaywa Lim terletak di luar kota Souwtjioe sebelah utara. Itu adalah satu taman
yang luas. Begitu sampai di pintu, orang dapatkan lorong yang panjang, yang
banyak tikungannya, sedang di kedua belah temboknya, terdapat banyak sekali
tulisan-tulisan jaman dulu. Rupanya pemilik taman tak tahu cara melindungi
huruf-huruf itu, waktu itu banyak huruf yang telah gugur dan tampaknya tak tegas
lagi. In Tiong tidak mengenal tulisan-tulisan bagus itu tetapi ia menyayangi, ia
menghela napas. Setelah melewati lorong, di kiri dan kanan lantas tampak
pelbagai macam pohon, pohon kayu dan bunga, bambu dan tumpukan-tumpukan batu,
yang merupakan gunung buatan, ada selatnya, empang teratai dan pasebannya, yang
semuanya indah. Yang disayangi ialah di mana-mana dalam taman itu terdapat
tempat-tempat perjudian, ada banyak pelancongnya, hingga di situ berisik dengan
teriakan-teriakan mereka itu. Tentu saja, suasana itu tak tepat dengan keindahan
taman. Diam-diam In Tiong memasang mata. Dengan lantas ia dapat kenyataan, di mana-mana
terdapat orang-orang sebagai si tukang pukul, yaitu gundal-gundal. Rupa-rupanya
Kioetauw Saytjoe sudah bersedia-sedia untuk menyambut tantangan si mahasiswa
berkuda putih, karenanya dia telah menyiapkan orang-orangnya itu.
Dengan sikapnya sebagai pelancong biasa, In Tiong cari satu tempat di mana ia
dapat memperhatikan sesuatu sambil duduk beristirahat, akan tetapi, sampai lewat
tengah hari, ia masih belum tampak Thio Tan Hong muncul.
Mungkinkah, karena sesuatu hal, Tan Hong mengadakan perubahan dengan mendadak,
hingga ia tak datang hari ini?" ia menerka-nerka.
Justeru ia tengah menduga-duga, apa yang menjadi sebab hingga Tan Hong gagal
menetapi janji, tiba-tiba kelihatan serombongan orang mendatangi dengan suara
yang berisik. Yang menjadi kepala adalah seorang berumur lima puluh tahun, yang
mukanya berewokan. "Kioetauw Saytjoe, hari ini aku datang untuk bertaruh denganmu, untuk main, guna
melewatkan waktu yang terluang!" begitu terdengar suaranya yang besar dan
nyaring. Sejenak saja, taman menjadi sunyi, semua orang berhenti berjudi. In Tiong lantas
dengar beberapa orang bicara berbisik. Antaranya ia dengar nyata: "Liong
pangtjoe dari Hay liong Pay telah tiba. Teranglah dia mempunyai maksud untuk
merubuhkan panggung Kioetauw Saytjoe. Maka lantas juga kita akan menyaksikan
keramaian!....." In Tiong menjadi heran. Inilah di luar dugaannya. Dia muncul di situ untuk
menantikan Thio Tan Hong, siapa tahu sekarang telah datang Liong Pangtjoe, Ketua
Liong atau Naga, dari Hayliong Pang atau Kawanan Naga Laut. Dari pendengaran
terlebih jauh, ia percaya Hayliong Pang Pangtjoe itu mesti ada salah satu okpa
dari kota Souwtjioe. Dari sebelah depan, menghadapi rombongan Hayliong Pang itu, dari antara
rombongan orang banyak, yang lantas membuka jalan, kelihatan muncul satu orang
yang tubuhnya kasar, alisnya tebal, matanya besar. Dia mengenakan thungsha, baju
panjang, yang dilapis dengan makwa, semacam rompi, atau baju pendek tanpa
tangan. Dia unjuk sikap sebagai satu anak sekolah, yang lemah
lembut, tetapi dandanannya tak tepat dengan romannya dan lagaknya. Ia pun
diiringi tujuh atau delapan boesoe, guru silat. Ia maju menghampiri Liong
Pangtjoe, terus dia angkat kedua tangannya, lalu dirangkapkan, untuk memberi
hormat. "Liong Pangtjoe, hari ini angin apa telah meniup kau sampai di sini?" dia tanya.
Dia mencoba bersikap ramah tamah. "Silakan duduk, silakan duduk! Mari kita minum
teh! - Eh, anak-anak, lekas kamu perintahkan supaya lekas disajikan beberapa
rupa kuwe!" Orang telah bersikap manis tetapi si Liong Pangtjoe, dengan roman keren, membawa
sikap dingin. "Kioetauw Saytjoe, hari ini aku ketagihan," demikian jawabnya, "maka itu sengaja
aku datang kemari, untuk bertaruh denganmu! Untuk minum teh, jangan kau kesusu,
marilah kita bertaruh dahulu!" '
Nampaknya Kioetauw Saytjoe In Thian Sek agak jeri terhadap Ketua dari Hayliong
Pang itu, dia diperlakukan demikian kasar dan dingin, masih dia bisa tertawa
manis. "Kita berdua bersahabat, untuk apa kita membuat renggang persahabatan itu?"
berkata ia, dengan sabar. "Kau hendak menitahkan apa" Titahkanlah asal saja yang
adikmu sanggup kerjakan!"
Ketua Hayliong Pang itu kembali tertawa dingin.
"Lao In, siapa yang membuka rumah makan, mustahil dia jeri terhadap perut besar
dari tetamu-tetamunya?" begitu dia menjawab. "Kau telah membuka rumah judi, mana
dapat kau tolak aku yang telah datang untuk turut adu peruntungan" Apakah kau
kuatirkan aku tidak punya uang" Kau tanyakan padaku, apa yang aku hendak
titahkan padamu! Nah, aku menghendaki kau berjudi dengan aku! Kau sanggup
melakukan ini, bukan?"
Habislah kesabaran dari In Thian Sek, mukanya menjadi pucat. Maka berkatalah ia:
"Setiap orang ada mukanya, setiap pohon ada kulitnya, karena kau telah mendesak
aku di muka orang ramai ini,
tidak ada jalan lain, terpaksa aku temani kau! Baiklah! Kau hendak bertaruh
apa?" "Main dadu paling menyenangkan!" sahut Liong Pangtjoe. "Kita lempar dadu! - Eh,
Lao Kwee, tanganmu dingin, mari kau wakilkan aku melemparnya! - Dan kau, Lao In,
apakah kau hendak melemparkan sendiri atau diwakilkan oleh guru besarmu?"
Setelah mengucap demikian, dari rombongan Hayliong Pang muncul satu orang tua
kurus kering yang romannya tak luar biasa, sambil membuka kopiah kulitnya, dia
berkata kepada In Thian Sek: "Aku Kwee Hong, toako, terimalah hormatku!"
Selama dia belum membuka kopiahnya, orang tua itu memang beroman biasa, akan
tetapi setelah kepalanya tak bertutup lagi, dia membuatnya semua orang heran.
Nyata dia mempunyai rambut yang semuanya berwarna merah, rambut itu kusut
seperti awan, numpuk di batok kepalanya.
In Tiong malah terkejut, karena ia kenali orang tua itu.
"Ah, kiranya dia adalah Anghoat Vauwliong Kwee Hong!" kata dia dalam hatinya.
Dia pun heran. "Kenapa dia datang kemari?"
Kwee Hong adalah pahlawan dorna kebiri Ong Tjin, dalam seluruh tahun, dia keram
diri di dalam gedung Soelee Thaykam she Ong itu, karena tugasnya adalah
melindungi diri si thaykam. Jarang sekali dia pergi ke mana-mana, maka itu
jangan kata orang kangouw jarang mengetahui dia, malah pahlawan atau guru-guru
silat di kota raja sendiri, tak banyak yang pernah melihat dia. Keistimewaannya
adalah rambutnya yang merah itu. In Tiong juga belum pernah melihat Kwee Hong,
ia hanya pernah mendengar dari Thio Hong Hoe, baharu sekarang, ia melihat untuk
pertama kalinya, sesudah orang perkenalkan diri sambil membuka kopiahnya. Oleh
karena rambutnya juga, Kwee Hong telah memakai julukan itu, Anghoat Yauwliong,
si Naga Siluman Rambut Merah.
"Inilah aneh," In Tiong berpikir pula. "Ong Tjin telah menjadi hartawan, kenapa
dia utus pahlawannya datang kemari untuk dengan satu okpa merebut sebuah taman"
Dan Kwee Hong sendiri, karena kedudukannya sebagai pahlawan dorna, tidak sepantasnya dia menjadi kawan
atau pembantu seorang pangtjoe. Benar-benar aneh!" Sementara itu, Kioetauw
Saytjoe In Thian Sek telah menjawab Liong Pangtjoe.
"Oh, Kwee Soehoe yang mewakilkan kau?" katanya. "Baiklah, aku tidak akan memakai
wakil, aku akan turun tangan sendiri."
Liong Pangtjoe itu lantas saja tertawa terbahak-bahak.
"Bagus!" serunya. Di sini ada cek seharga sepuluh laksa tail, inilah cek dari
bank besar. Kau lihat biar tegas! Dengan satu dadu, aku bertaruh sepuluh laksa
tail perak!" "Ditanganku tidak ada uang demikian banyak," berkata In Thian Sek.
Liong Pangtjoe tertawa pula, sampai dia melenggakkan kepalanya.
"Apakah kau sangka aku tidak tahu tentang kekayaanmu?" dia kata. "Sawah, kebun
dan toko-tokomu berharga empat puluh laksa tail, dan taman Koaywa Lim ini juga
berharga empat puluh laksa tail, jadi dengan begitu, kau mempunyai pokok berjudi
delapan puluh laksa tail! Maka itu, janganlah kau kuatirkan suatu apa....."
In Thian Sek menjadi mendongkol. Tapi ia tertawa bergelak.
"Oh, kiranya kau memikir untuk memiliki Koaywa Lim ini?" dia kata.
"Ah, jangan kau mengatakan demikian. Apa benar, sebelumnya kalah, kau sudah
jeri?" tanya Liong Pangtjoe.
"Aku kuatir kau tak akan berhasil dengan maksudmu," In Thian Sek baliki.
"Baiklah! Silakan periksa dulu dadunya."
Kwee Hong lantas periksa dadu itu.
"Kwee Toako, dadu itu tidak palsu bukan?" Liong Pangtjoe tanya kawannya.
Kwee Hong tidak menyahuti, dia hanya angsurkan dadu kepada In Thian Sek.
"Kioetauw Saytjoe, kau adalah tuan rumah, silakan kau yang mulai!" kata ia.
In Thian Sek sambuti biji-biji dadu itu, segera saja ia lemparkan sambil
berseru: "Satu"
Lantas enam biji dadu itu berputaran di dalam mangkok yang besar dan cekung. Dan
menyusul itu, seorang membuka suaranya: "Dua, enam! satu, empat! Enam belas!
Toa" Dalam perjudian dadu itu, angka terbesar adalah delapan belas, maka itu, untuk
mendapatkan biji enam belas pun sukar, meski demikian, In Thian Sek telah
menyeka keringat dingin ketika ia kata kepada lawannya:
"Nah, orang she Kwee, kau susullah aku!"
Orang tua berambut merah itu bersenyum, dengan sikap sangat tenang, dia raup
semua biji dadu itu, kemudian dengan lekas dia gerakkan jeriji-jeriji tangannya,
lalu dilemparkan. Segera tukang tunggu biji pun berseru: "Dua, enam! satu, lima! Tujuh belas!
Toa\" Dengan mengatakan "Toa," bandar maksudkan angka besar.
Paras Kioetauw Saytjoe menjadi pucat.
"Ha, ada saitannya!" dia berseru. "Mari, lagi satu kali!"
"Baik!" sambut si orang tua rambut merah. "Kali ini kita bertaruh dua puluh
laksa tail!" Tangan Thian Sek berkeringatan, suaranyapun agak gemetar ketika ia berteriak:
"It sek" Berbareng dengan itu, biji-biji dadu pun telah dilemparkan.
Bandar lantas perdengarkan suaranya seperti biasa: "Dua, enam, satu lima! Bagus!
Kembali tujuh belas!"
Mendapat angka tujuh belas berarti kemenangan hampir pasti, maka itu kali ini In
Thian Sek tampak bersenyum.
Seperti lagaknya tadi, si orang tua tidak mengatakan sesuatu, dengan tenang ia
raup gambar biji-biji dadu itu, untuk segera dilemparkan, nampaknya ia seperti
acuh tak acuh. Para hadirin segera berubah parasnya. Bandar pun berteriak: "Tiga merah, empat!
Itsek" Itsek itu, satu warna, apapula warna merah, adalah angka paling besar.
Si orang tua berambut merah tertawa, dia kata dengan sabar: "Kau memanggilnya,
dia tidak datang! Aku tidak memanggil, dia justeru datang! Nah, mari kita main
terus! Kali ini tarohannya empat puluh laksa tail!"
In Thian Sek menyeringai, tapi ia terima tantangan itu. Merah urat-urat di
dahinya. "Sekarang, kau yang melempar lebih dulu!" dia kata.
"Baik!" sahut si orang tua muka merah itu. "Akan aku melempar lebih dahulu!"
Kali ini Kwee Hong raup biji-biji itu untuk digenggam dengan kedua tangannya,
ketika hendak dilemparkan, tangannya digoyang-goyangkan dulu.
Begitu lekas biji-biji itu berhenti berputaran di dalam mangkok, suasana di
sekitarnya menjadi sunyi senyap. Parasnya In Thian Sek pun menjadi pucat.
Hanya berselang sejenak, bandar perdengarkan suaranya: "Tiga kali enam! Delapan
belas, merangkap itsek!. Thongsat!."
Kalau itsek hanya serupa warna saja, untuk berbagai macam angka, adalah itsek
dengan angka delapan belas, merupakan batas tertinggi, dengan begitu permainan
tak dapat dilanjutkan, karena angka itu tidak dapat disusul lagi. "Toa" adalah
besar, tetapi "thongsat" adalah terbesar, habis semua.
Setelah kesunyian, lalu timbul kegemparan, suara orang ramai menjadi berisik.
Semua orang menjadi heran dan kagum terhadap si orang tua rambut merah itu.
Kenapa tangannya orang tua ini demikian "soen," begitu mujur!
Adalah In Tiong seorang, yang melihat gerakan tangannya Kwee Hong yang
mengetahui sebab-sebabnya kemenangan Anghoat Yauwliong. Kalau dalam melepaskan
senjata rahasia seorang ahli dapat merdeka mengarah ke mana dia suka, begitu
juga dalam hal melemparkan biji-biji dadu. Kwee Hong rupanya seorang ahli, maka
ia dapat menguasai biji-biji itu.
In Thian Sok tak dapat melihat rahasia kepandaian Kwee Hong itu, karena ia
adalah seorang kangouw kenamaan, ia terima kekalahan itu, maka, dengan hati
seperti disayat-sayat, dengan meringis, dia kata kepada lawannya: "Baiklah,
orang she Liong, Koaywa Lim ini menjadi milikmu!....."
"Pokokmu sama sekali delapan puluh laksa tail," berkata Liong Pangtjoe,
"sekarang kau kalah tujuh puluh, masih ada kelebihannya sepuluh laksa, dengan
begitu kau masih dapat kembali sepuluh laksa tail itu, katakanlah, kau kehendaki
sawah, kebun atau uang kontan" Orang she In, dengan punyakan sepuluh laksa tail,
kau masih terhitung orang hartawan juga. Kau lihat, aku tidak berlaku kejam,
masih aku pandang padamu!"
"Sudahlah, jangan bicara terlalu banyak!" si orang tua berambut merah menyelak.
"Sekarang aku berikan ketika, yaitu sebelumnya matahari terbenam, kamu sudah
mesti pindah dari Koaywa Lim ini!"
Kembali muka Thian Sek menjadi pucat. Nyata sudah bahwa ia telah diusir. Akan
tetapi, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, tiba-tiba terdengar satu suara
tertawa tegas, disusul dengan kata-katanya orang yang barusan tertawa itu:
"Tunggu dulu. Aku juga hendak turut bertaruh!"
In Tiong segera menoleh, lalu di depan matanya berkelebat Thio Tan Hong dengan
pakaian serba putih. Tan Hong itu segera muncul dari antara rombongan orang
banyak. Dengan sendirinya In Tiong
menyesal karena ia lupa, saking tertarik pada permainan dadu, ia sampai lengah
memperhatikan pemuda yang ia mesti cari itu. Entah sejak kapan pemuda itu telah
berada di antara mereka. Kioetauw Saytjoe In Thian Sek membuka dengan lebar kedua matanya ketika ia
menoleh kepada anak muda itu, karena dari orang-orangnya ia dapat melukiskan
roman orang dan potongannya, maka tahulah ia, dia ini adalah si mahasiswa
berkuda putih yang telah perhina kedua guru silatnya. Tapi ia baharu saja kalah


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berjudi, sekarang pemuda ini hendak menggantikan tempatnya, ia mencoba menguasai
dirinya. Ingin ia ketahui, apa yang orang akan perbuat. Maka itu ia berdiri diam
di tempatnya, untuk jadi penonton saja.
Thio Tan Hong dandan dengan perlente, lagaknya sebagai satu pemuda hartawan atau
anak orang agung, begitu ia sampai di Souwtjioe, segera ia menjadi perhatiannya
kawanan Hayliong Pang, segera juga beberapa orang Hayliong Pang itu menguntit ia
hingga di hotel. Karena liehaynya, Tan Hong tahu bahwa ia telah dikuntit orang,
ia lalu sengaja bersikap berpura-pura tak mengetahuinya, sengaja ia keluarkan
barang-barang permata yang ia bekal, ia seperti pertontonkan itu.
Beberapa orang Hayliong Pang itu terdiri dari orang-orang berpengalaman, mereka
jadi curiga, karenanya, tidak berani mereka lancang turun tangan, mereka lantas
kembali untuk memberi laporan kepada ketua mereka.
Pada waktu itu, Liong Pangtjoe telah ber-keputusan akan memiliki Koaaywa Lim,
untuk bertindak, ia tunda dulu hal si anak muda asing ini, yang ia ingin ketahui
jelas asal-usulnya, maka tidak ia sangka, baharu ia selesai berurusan dengan In
Thian Sek, si anak muda justeru muncul di antara mereka, malah dia ditantang
bertaruh. Anghoat Yauwliong lirik anak muda ini.
"Kau hendak bertaruh berapa banyak?" dia tanya. Dia tidak tunggu lagi putusan
ketuanya. "Kau sendiri, mempunyai pokok berapa?" Tan Hong balik tanya. Ia menanya sambil
tertawa, sikapnya wajar, tenang.
Liong Pangtjoe mendahului orang memberikan jawaban.
"Pokokku adalah benda miliknya Tuan In ini!" ia jawab sambil tertawa dingin.
"Oh, kalau begitu!" kata Tan Hong sabar, "berikut uang kontanmu sepuluh laksa
tail, semua cuma terdiri dari sembilan puluh laksa! Baiklah, untuk iseng-iseng,
guna melewatkan waktu senggang, suka aku bertaruh dengan kau!"
"Untuk permulaan, berapa kau hendak bertaruh?" tanya si orang tua rambut merah.
Tampaknya si Naga Siluman Rambut Merah tidak sabaran.
Tan Hong bersenyum, dari sakunya ia keluarkan serenceng mutiara, bentuk mutiara
itu bundar-bundar dan besar-besar, semuanya bercahaya, maka teranglah sudah,
semua mutiara itu tulen dan indah, mahal harganya. Pada renceng itu pun
dibandulkan sebuah permata lain, yang sinarnya hijau mengkilap dan membuatnya
silau siapa yang memandangnya.
"Uang tarohanku adalah mutiara dan permata ini," kata Tan Hong sambil tunjukkan
barang berharga itu. "Coba kamu taksir sendiri harganya ini!" Liong Pangtjoe
sambuti rencengan mutiara berikut batu permata itu, ia memeriksanya dengan
teliti. "Kita di sini biasa bertaruh secara pantas," ia berkata kemudian. "Mutiaramu ini
ada seratus biji, setiap bijinya sama besarnya, tidak ada cacatnya, inilah
mutiara yang sukar dicari timpalannya. Menurut taksiran, setiap biji mutiara ini
berharga seribu lima ratus tail perak, tetapi karena ada seratus biji, harganya
mesti dinaikkan sedikit. Aku hitung untuk dua puluh laksa tail!"
"Ah, kau tahu juga harga barang!" kata Tan Hong. "Bagaimana dengan batu
permatanya?" "Batu hijau ini jarang didapatkan," sahut Liong Pangtjoe, "tentang permata ini,
tidak dapat aku menaksirnya. Bagaimana kalau sepuluh laksa tail?"
"Sebenarnya buat sepuluh laksa tail masih kurang sedikit," kata Tan Hong. "Akan
tetapi kita hendak bertaruh, baiklah, aku tidak hendak memberi harga terlalu
tinggi. Kau hitung semua tiga puluh laksa tail, akur! Mari dengan tiga puluh
laksa tail kita bertaruh untuk satu kali lempar!"
Kecocokan telah didapat, maka orang hendak lantas mulai. Bandar sudah lantas
keluarkan dadu yang baru. Tan Hong menangkan undian.
"Kalau aku yang melempar terlebih dahulu, lantas aku dapat itsek atau angka
delapan belas, kau lantas tidak punya ketika untuk melempar lagi," berkata Tan
Hong. "Tidak ingin aku menang secara begitu rupa, sebab kalau kau kalah, kau
jadi tidak puas, kau penasaran. Nah, kau boleh melempar lebih dahulu!"
In Tiong telah memasang kupingnya, ia menjadi heran.
"Ilmu melepas senjata rahasia dari Tan Hong sukar tandingannya di dalam dunia
ini," ia berpikir, "kalau dia yang melempar lebih dulu, sudah pasti dia yang
bakal menang. Sekarang dia suka mengalah dari Anghoat Yauwliong, ada kemungkinan
dia nanti kalah....."
Si orang tua rambut merah tidak berlaku sungkan, dia terima baik usul itu. Dia
pun lantas raup biji-biji dadu itu. Dia rasakan biji-biji itu terlebih enteng,
tetapi dia tidak pedulikan itu. Dia raup dengan kedua tangannya, terus saja dia
lemparkan. Cepat sekali dalam mangkok terlihat tiga biji berhenti bergerak, ketiga-tiganya
menunjukkan angka enam dan tiga biji lainnya masih berputaran. Dengan kedua
matanya si orang tua rambut merah mengawasi tajam kepada ketiga biji itu.
Sebentar kemudian, dua biji pun tak berputaran lagi. Juga kedua biji ini
menunjukkan, angka enam! Pada paras si orang tua lantas tersungging senyuman.
Hebat biji yang ke enam itu, yang membuat hati semua orang tegang. Dialah yang
berputar paling lama. Pada saat dia hendak berhenti, dia perlihatkan angka enam,
tetapi tiba-tiba, dia berputar satu kali lagi dan berhenti menjadi angka lima!
"Dua enam, satu lima !" teriak bandar. "Tujuh belas. Toal"
Adalah keinginan si orang tua rambut merah akan mendapatkan semua biji angka
enam, supaya itsek, serupa warnanya, tetapi angka tujuh belas pun sukar didapat,
ia terpaksa mesti merasa puas.
"Tujuh belas ya tujuh belas, tidak apa," kata dia, menghibur diri. "Sekarang kau
susullah!" ia tambahkan kepada lawannya.
Thio Tan Hong raup biji dadu itu.
"Tujuh belas sukar untuk disusul!" kata dia. Ia angkat kepalanya, akan memandang
ke langit. Ia tidak lantas mulai. Suasana menjadi sunyi, sebab semua perhatian
tertarik padanya. "Sekarang aku mulai!" kata dia, lalu dengan tiba-tiba, tanpa perhatian, dia
lempar biji ke dalam mangkok.
Semua orang menjadi tegang, tak terkecuali si orang tua berambut merah. Dia
malah pentang lebar kedua matanya!
Begitu lekas biji-biji dadu itu berhenti berputaran dan terletak diam, segera
terdengar suara si bandar: "Sepasang empat! Dua lima! Lagi sepasang enam! Sie
Gouw Lak Tjoansat." Sie gouw lak - dua empat, dua lima dan dua enam - itu artinya "tjoansat" -
"kemenangan penuh." Semua orang heran, kecuali In Tiong. Orang heran, sudah si
orang tua rambut merah demikian mujur, sekarang ada Tan Hong yang sangat
beruntung. Kwee Hong mendelong, ia heran bukan main. Ia mempunyai ilmu Tokliong tjiang,
yaitu "Tangan Naga Beracun," dirangkap dengan kepandaian Tokliong teng, ilmu
melepaskan senjata rahasia "Paku Naga Beracun." Itulah kepandaian yang
membuatnya ia peroleh julukan Anghoat Yauwliong si Naga Siluman Rambut Merah.
Itu juga kepandaian yang membikin ia dapat permainkan biji-biji dadu sesukanya, hingga ia
peroleh kemenangan atas In Thian Sek, hingga Hayliong Pang dapat menduduki
Koaywa Lim. Tapi kali ini, ia rubuh ditangannya Thio Tan Hong, orang yang ia
tidak kenal. Tentu saja ia tidak ketahui, selagi Tan Hong raup semua biji, biji-
biji itu sudah lantas digenggam begitu rupa.
Atas kemenangan itu, Tan Hong perlihatkan roman biasa saja. Dengan tenang, dia
kata: "Berikut kemenangan ini, pokokku sekarang berjumlah enam puluh laksa tail.
Nah, semua itu aku pakai untuk bertaruh pula!"
Si orang tua berambut merah cuma bersangsi sebentar, atau lantas ia berikan
penyahutannya: "Baik, akan aku lawan kau satu kali lagi! Sekarang kaulah yang
melempar terlebih dahulu!"
Mendengar sambutan itu, In Tong menjadi heran. Ia herankan si orang tua. Ia
pikir, setelah kekalahannya itu, apa benar orang tua ini tak menginsiafi
sebabnya" Kalau dia insiaf artinya dia tahu, kenapa sekarang dia berani melawan
pula dengan suruh Tan Hong yang melemparkannya lebih dulu"
Tan Hong tertawa yang dia disuruh melempar lebih dahulu.
"Kau suruh aku yang melemparkan lebih dahulu, baik!" ia kata. "Aku harap kau
tidak menyesal di belakang!"
Ia lantas raup ke enam biji dadu itu, lalu dilemparkan pula seperti tadi, tanpa
aksi, tanpa memperhatikan pula. Lantas ke enam biji itu berputaran.
Si orang tua rambut merah mengawasi semua biji itu, tiba-tiba ia berseru: "Satu"
Hampir pada waktu yang sama, ke enam biji itu berhenti berputar.
Bandar pun segera berseru: "Sepasang dua, satu satu! lima!"
Si orang tua lantas tertawa.
"Kiranya lima yang bau!" kata dia.
Untuk permainan dadu itu, angka terbesar adalah delapan belas, yang terkecil
ialah empat, sekarang Tan Hong dapat angka lima, itu sudah berarti kekalahan
pasti. Tetapi In Tiong ketahui sebab-musababnya angka itu. Kwee Hong telah
menggunakan ilmu hembusan napasnya "Toanseng tjinboet," yaitu "Dengan suara
menggempur barang." "Ah, kali ini Tan Hong mesti kalah," kata ia dalam hatinya. Ia tidak bisa campur
mulut kendati ia tahu orang main curang. Di tempat main dadu, orang tidak
dilarang untuk berseru-seru.
Sekarang datang giliran si orang tua rambut merah. Tampaknya ia sangat gembira.
Dengan sebat ia raup biji dadu itu, terus ia lemparkan, hingga mangkok itu
perdengarkan suara nyaring.
Selagi biji berputaran, Tan Hong mengawasi sambil tertawa berkakakan.
Bandar pun segera menyebutkan angka-angkanya: "Sepasang satu, satu dua! Empat!
Empat!" Ketika ia ulangi "Empat" itu, suaranya gemetar, suatu tanda ia kaget
sekali. Tan Hong kembali tertawa besar.
"Ha, kiranya empat busuk!" dia berkata. Muka si orang tua menjadi putih bagaikan
lilin, kekalahannya ini berarti ia pun kalah dalam hal ilmu melepaskan senjata
rahasia. Tan Hong jetrikan dua jari tangannya, dia tertawa.
"Seluruh kekalahanmu berjumlah sembilan puluh laksa tail!" dia kata. "Kau telah
menghabiskan pokokmu, cek, tanah milik, berikut Koaywa Lim ini, sekarang menjadi
kepunyaanku si orang she Thio!"
Dengan sekonyong-konyong saja Kioetauw Saytjoe In Thian Sek lompat bangun,
sebelah tangannya menyambar, menjambak ke arah pundak Tan Hong.
"Hrn! Kau penipu! Kau berani merampas aku punya Koaywa Lim?" dia berteriak.
Tapi dia baharu berteriak atau segera dia menjerit "Aduh!" disusul dengan
rubuhnya tubuh, menggeletak di tanah.
Thio Tan Hong tertawa sambil berseru: "Hai, kuku singa patah!"
Orang semua mengawasi In Thian Sek, mereka lihat ke lima jarinya si Singa Kepala
Sembilan telah patah dan berdarah-darah, orangnya pun pingsan.
Menampak demikian, semua gundalnya Thian Sek lantas maju menyerang.
"Foei! Tidak tahu malu!" teriak Tan Hong. "Siapa suka berjudi, dia mesti terima
kekalahan! Aku pun menangkan Koaywa Lim ini bukan dari tangannya si orang she In
ini!" Mulut Tan Hong bersuara, tubuhnya pun bergerak, diturut dengan gerakan kaki dan
tangannya, yang lincah dan sebat, hingga di lain saat, semua gundal Kioetauw
Saytjoe telah rubuh terguling.
Si orang tua berambut merah keluarkan sebelah tangannya secara tiba-tiba.
"Kioetauw Saytjoe, jangan kau bikin malu kaum kangouw1." dia berseru.
Teriakan itu terang ada bantuan untuk Tan Hong menegur Thian Sek, tapi di mulut
lain, ditangan lain, tangan jahat Anghoat Yauwliong justeru bergerak ke arah si
pemuda berpakaian putih. Tan Hong sangat celi matanya, sangat cepat gerakannya, melihat tangan orang
bergerak ke arahnya, ia mengibas dengan tangan bajunya, hingga tangan jahat itu,
tangan Naga Beracun, nyasar dari sasarannya.
"Nah, itulah baharu kata-katanya satu laki-laki!" kata Tan Hong sambil tertawa.
Ia tetap bawa sikap seperti tak tahu bahwa orang telah menyerang ia secara
curang. Kemudian ia ambil air teh dingin, yang terus diirup, untuk disemburkan
ke mukanya In Thian Sek, hingga di lain saat, orang she In itu telah sadar dari
pingsannya. Liong Pangtjoe lantas saja berkata: "Kioetauw Saytjoe, kali ini kita harus
mengaku kalah! Baiklah kau pergi ke Hayliong Pang, untuk menjadi hiotjoe1. Kita
lihat saja nanti, berapa lama dia dapat kuasai Koaywa Lim ini!"
Ketua dari Hayliong Pang ini juga satu ahli silat, mendapatkan Kwee Hong bukan
tandingan orang, ia sengaja bawa sikap sebagai seorang kangouw sejati, yang akui
kekalahan setelah kena dipecundangkan orang.
Tan Hong tidak pedulikan lagak orang, dia hanya kata kepada In Thian Sek:
"Kioetauw Saytjoe sekarang kau keluarkan surat-surat tanah serta uang kontanmu!"
In Thian Sek tengah mengobati jari-jari tangannya, dia sedang nunduk.
"Akan aku turut perintahmu," ia menjawab.
"Kau harus bersikap hormat," Thio Tan Hong peringatkan. "Aku tahu berapa banyak
tanahmu dan bandamu, maka jikalau kau main gila, meskipun kau mempunyai sepuluh
kepala, semua kepala itu akan aku tebas kutung! Eh, siapakah di antara kamu yang
suka mengangkut barang-barang?"
Dalam sekejap saja serombongan orang telah memajukan diri sambil bersurak.
Mereka nyata sebagian adalah penduduk Tamtay Tjoen, sebagian penduduk melarat
dari kota Souwtjioe. Memang sejak siang-siang Tan Hong telah pesan mereka
berkumpul di taman Koaywa Lim itu.
Tan Hong bertindak tegas. Ia bakar hangus semua surat-surat tanah Kioetauw
Saytjoe, untuk menghabiskan semua hak si okpa, sedang uang kontan okpa itu, ia
bagi-bagikan di antara semua penduduk itu. Sampai lohor baharulah ia selesai
dengan pembagiannya itu. Selama itu Kioetauw Saytjoe, Liong Pangtjoe dan Anghoat Yauwliong, berikut
orang-orangnya, karena malu, sudah ngeloyor pergi dengan diam-diam.
Habis mempesta pora harta orang, Thio Tan Hong tertawa berkakakan. Tiba-tiba ia
membungkuk, akan petik setangkai bunga teratai dari dalam empang, terus ia
bersenanjung: "Telah dikembalikan asal tanahku, maka hari ini bunga teratai
muncul dari dalam lumpur!..... Lalu, kalau tadi ia tertawa terbahak-bahak,
sekarang mendadak ia mengucurkan air mata.
In Tiong mengawasi terus kelakuan orang, di dalam hatinya, ia kata: "Dia tentu
telah menyaksikan yang usaha leluhurnya telah diilas-ilas orang, maka sekarang
ia menjadi sangat terharu....."
Ketika itu oran g telah mulai bubar, maka In Tiong, yang kuatir dikenali Tan
Hong, lekas-lekas juga angkat kaki. Ia kembali ke kantor soenboe. Kali ini ia
dapatkan, dari tujuh pahlawan istana, dua baharu saja sampai. Mereka ternyata
adalah kedua paman guru dari Taywee Tjongkoan Kong Tiauw Hay, yaitu Tiatpie
Kimwan Liong Tjin Hong dan Samhoa Kiam Hian Leng Tjoe.
Selama pieboe, In Tiong telah merubuhkan Liok Thian Peng, keponakan murid dari
dua pahlawan ini, karenanya, di antara kedua pihak terdapat ganjalan, akan
tetapi sekarang mereka sama-sama ditugaskan kaisar, terpaksa mereka tidak berani
timbulkan ganjalan itu. In Tiong tuturkan apa yang barusan ia saksikan di Koaywa
Lim. Liong Tjin Hong dan Hian Leng Tjoe adalah orang-orang kangouw berpengalaman,
setelah mendengar penuturan In Tiong, keduanya saling memandang, lantas mereka
kerutkan alis. "Urusan nampaknya aneh," kata Liong Tjin Hong kemudian. Anghoat Yauwliong adalah
tangan kanan Ong Tjin, kenapa dia bantui Hayliong Pang memperebutkan Koaywa Lim"
Thio Tan Hong pandang emas bagaikan tanah, dia juga tak ketentuan tempat
kediamannya, kenapa sekarang dia justeru menghendaki taman Koaywa Lim itu"
Menurut keterangan kau, Koaywa Lim adalah bekas istana peristirahatan dari Thio
Soe Seng, siapa tahu kalau harta dan peta Thio Soe Seng itu berada di dalam
Koaywa Lim?" In Tiong anggap dugaan itu masuk di akal. Pembicaraan mereka ini ditunda setelah
diambil persetujuan untuk sebentar malam
mencoba pergi ke Koaywa Lim, lantas mereka bersantap malam, habis bersantap,
mereka beristirahat. Di saat genta di loteng kota berbunyi tiga kali, mereka bertiga berdandan,
mengenakan yaheng ie, pakaian untuk keluar malam, setelah mana, tanpa ayal lagi,
mereka keluar dari kamar mereka, untuk segera menuju ke Koaywa Lim.
Setelah berpindah tangan, taman penglipur lara itu telah berubah rupa. Lenyaplah
segala keramaian, gantinya adalah kesunyian. Memandang gunung-gunung dan lain-
lainnya, perasaan orang seolah-olah dibawa kepada ketenteraman, keindahan alam.
In Tiong, Liong Tjin Hong dan Hian Leng Tjoe sempurna ilmu enteng tubuhnya,
dengan merdeka mereka dapat melompati tembok pekarangan, untuk masuk ke dalam
taman secara diam-diam. Di saat mereka hendak memecah diri, untuk membuat
penyelidikan, tiba-tiba mereka dengar suara orang yang datangnya dari arah
timur. Mereka memberi tanda satu dengan lain, lantas dengan berindap-indap,
mereka menuju ke timur. Setelah datang dekat kepada suara itu, mereka lantas
sembunyikan diri di belakang batu gunung-gunungan.
Masih suara itu terdengar.
"Mungkin Thio Tan Hong, si bocah, jeri terhadap kita," kata seorang di
antaranya. "Dia baharu dengar kabar, lantas dia singkirkan diri!"
"Apakah mungkin dia telah peroleh hasil?" tanya yang lain.


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Lalu terdengar suara yang ketiga: "Tepat dugaan Ong kongkong, maka syukur kita
telah datang tidak terlambat."
Yang belakangan ini adalah suara Anghoat Yauwliong Kwee Hong.
In Tiong terkejut. "Benar saja mereka adalah orang-orangnya si dorna kebiri Ong Tjin," kata ia di
dalam hati. "Thio Tan Hong datang ke Souwtjioe
untuk mencari harta dan peta pendaman, kenapa wartanya telah tersiar di mana-
mana?" Sebentar saja In Tiong menduga demikian, lantas ia ingat sesuatu.
"Ong Tjin banyak kaki tangannya, dia bermata awas dan berkuping tajam, tentunya
dia dapat ketahui yang aku telah di kirim raja kesini," demikian pikirnya pula.
"Menurut petunjuk gambar, tempat itu mesti di sini," terdengar pula suara Kwee
Hong. Coba lihat, di sini ada bekas-bekas bongkaran, cuma batunya belum
terbongkar. Mungkin karena bocah itu bersendirian saja, dia belum keburu
membongkar hartanya, begitu dia dengar suara kita, lekas-lekas dia angkat
kaki....." Menyusul kata-kata itu terdengarlah suara pacul dipakai menggali tanah dan suara
besi membentur batu. In Tiong gerakkan tubuhnya. Baharu pundaknya bergerak, atau ia telah ditekan
Samhoa Kiam. "Jangan kesusu," Samhoa Kiam berbisik. "Kita tunggu sampai mereka sudah selesai
menggali, nanti kita datang tinggal mendahar saja!"
In Tiong masih mencoba mengintai di antara sela-sela batu. Di depan sebuah batu
Thayouw tjio yang besar bagaikan harimau nongkrong, ia lihat kira-kira sepuluh
orang tengah berdegingan membongkar batu. Tidak lama, lantas terdengar satu di
antara orang-orang itu berseru: "Ini dia, ini dia! Lihat lobang ini! Ah, masih
ada menghalang sepotong batu pekgiok pay!"
Seorang yang lain mengangkat linggisnya, dia membongkar. Menyusul itu terdengar
satu suara nyaring, banyak lelatu api meletik.
"Lekas minggir!" Kwee Hong berteriak.
Dari dalam liang menyambar keluar sejumlah panah api, lantas enam atau tujuh
orang rubuh, muka mereka bermandikan darah hitam.
"Panah beracun yang liehay sekali!" Kwee Hong berseru pula. Ia berdiam. Ia
tunggu sampai anak-anak panah melesat habis. Masih ia kuatir, maka ia ambil
tameng, sambil menggunakan itu, untuk melindungi diri, ia maju kemuka liang. Ia
melakukan pemeriksaan. Tiba-tiba ia berseru: "Kita ditipu si bocah!" demikian
seruannya. "Hm!"
Ia mundur beberapa tindak, melepaskan tamengnya, ia ganti itu dengan pacul.
Keras ia memacul ke arah pekgiok pay, hingga batu penghalang itu dapat
disingkirkan. Tapi ia kecele. Liang itu kosong.
Rombongan orang itu lantas mengutuk, dengan menggendol kawan-kawannya yang
terluka, mereka lantas berlalu dari situ. Maka sebentar saja, tempat itu bersih
dari mereka. "Mari kita lihat!" Tiatpie Kimwan mengajak.
In Tiong dan Hian Leng Tjoe akur, mereka keluar dari tempat sembunyi, akan
menghampiri liang bekas galian itu. In Tiong berlaku sangat hati-hati. Mendekati
batu bekas bongkaran Kwee Hong itu, yang telah terbelah, mereka lihat ukiran
huruf-huruf yang berbunyi:
"Manusia mati karena harta, burung mampus karena barang makanan! Tuan-tuan
datang kemari, silakan tuan-tuan rasakan lezadnya panah beracun!"
Di bawahnya ditambah lagi, bunyinya: "Pay batu ini didirikan oieh Kaisar
kerajaan Tjioe, Thio Soe Seng."
In Tiong terkejut. "Sungguh hebat!" pikirnya. "Thio Soe Seng telah menduga dari siang-siang bahwa
ada orang yang akan membongkar harta simpanannya, maka itu ia telah memasang
jebakan panah beracun ini."
Anehnya, liang itu dangkal, sedang menurut kabar yang tersiar, jumlah simpanan
harta Thio Soe Seng itu banyak sekali, bertumpuk bagaikan bukit. Kalau benar,
mana bisa harta itu disimpan dalam lobang seperti ini"
Ketiga orang itu saling memandang. "Aku percaya Thio Tan Hong masih belum
berhasil mendapatkan harta pendaman itu," Samhoa Kiam utarakan dugaannya.
"Bagaimana kau dapat menduga demikian?" tanya In Tiong.
"Pertama-tama lobang itu tidak mirip tempat menyimpan harta," Samhoa Kiam
terangkan. "Thio Tan Hong pun berada di bawah pengawasan Kwee Hong dan Hayliong
Pang, meski dia luar biasa, tidak nanti dia sanggup angkut harta itu. "
"Kata-katamu beralasan, soetee," kata Liong Tjin Hong, "hanya, kalau benar dia
belum berhasil membongkar harta itu, kenapa dia tinggalkan Koaywa Lim ini"
Mungkinkah harta sebenarnya tidak dipendam di sini?"
Selagi kedua orang itu bilang In Tiong mengawasi ke arah pay. Mendadak ia lihat
sehelai kertas kecil melekat di samping batu itu, suratnya pun halus. Ia baca
dengan cepat: "Seperti yang satu cegluk, yang satu lagi patok, demikian kerajaan keluarga
Tjioe, bukan ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, untuk apa bercape hati
diperebutkan" Saudara In Tiong, angkat kaki adalah yang paling sempurna. - Dari
adikmu, Thio Tan Hong."
"Celaka!" berseru In Tiong dengan gusar.
Liong Tjin Hong dan Hian Leng Tjoe heran.
"Ada apakah?" mereka tanya.
"Lihat ini!" sahut kawan itu. Membaca surat itu, kedua saudara seperguruan itu
melongo, mereka bungkam. Sementara itu sang ayam sudah mulai berkokok.....
-ooo0dw0ooo- Bab XVII Dengan duduk di atas sebuah perahu kecil yang enteng, seorang diri Thio Tan Hong
tengah mengayuh dipermukaan telaga Thayouw, tangan kanannya menyekal dayung,
tangan kirinya menggenggam sebuah anak kunci dari emas yang bercahaya berkilau-
kilauan. Dia pentang kedua matanya, memandang telaga yang luas itu. Dengan riang
gembira, dia buka mulutnya dan bersenanjung dengan nada tinggi: "Telaga Thayouw
yang luasnya tiga puluh enam ribu bahu, airnya masih tak dapat mencuci kedukaan
orang-orang gagah dari jaman dahulu hingga sekarang!"
Keras dan nyaring suara itu hingga burung-burung di telaga itu beterbangan
karena kagetnya. Itulah anak kunci emas yang Thio Tan Hong dapatkan dari liang di dalam Koaywa
Lim. Dengan mengikuti petunjuk gambar itu, tahulah Tan Hong, bahwa harta besar
simpanan leluhurnya itu dipendam di dalam taman penglipur itu. Itulah sebabnya
ia telah pergi ke Koaywa Lim, untuk turut dalam perjudian dadu yang
menggemparkan itu. Sementara itu ia telah ketahui, dari pesan leluhurnya, tempat
menyimpan harta itu dipersiapkan dengan panah-panah beracun, maka itu, sebelum
menggali, ia sudah membuat penjagaan diri, ini juga sebabnya kenapa ia berhasil
membongkar tanpa menemui halangan. Hanya, setelah ia berhasil membongkar pekgiok
pay, di situ ia tidak dapatkan barang lainnya kecuali anak kunci emas itu. Cuma, di atas anak
kunci itu, ia lipat dua baris ukiran huruf-huruf halus yang berbunyi:
"Di telaga Thayouw, dibukit Tongteng San Barat, Dengan anak kunci ini, harta simpanan dapat dicari."
Pada waktu ia hendak pendam harta besarnya itu, Thio Soe Seng berpikir keras, ia
memikirkan tempat di mana ia dapat menyimpan
dengan aman. Ia berkedudukan di Souwtjioe, kalau ia simpan di kota itu juga,
pasti Tjoe Goan Tjiang dapat menerkanya. Sebaliknya, jikalau ia menyembunyikan
di tempat jauh, sulit pengangkutannya dan itu pun mudah membuat rahasia bocor.
Maka akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyimpan harta itu di Say Tongteng
San, yaitu gunung Tongteng San Barat, di telaga Thayouw. Dari kota Souwtjioe ke
gunung itu, perjalanan hanya sehari satu malam. Demikian ia membuat persiapannya
dan bekerja. Tentang lukisan yang menunjukkan Koaywa Lim adalah tempat harta, itulah sebagian
hanya akal belaka. Di sini cuma dititipkan anak kunci emas itu, yang dilindungi
panah api beracun. Setelah selesai segala apa, gambar lukisan itu diserahkan kepada "raja yang
muda," yaitu putera Thio Soe Seng serta boesoe-nya, pahlawan kepercayaan, yang
setia, ialah leluhurnya Tjio Eng. Pada putera dan pahlawan itu, telah
diberitahukan bahwa di dalam liang diatur panah beracun itu serta caranya untuk
membongkar pekgiok pay, supaya orang luput dari ancaman anak panah. Perihal anak
kunci emas dan tempat yang benar di mana harta terpendam, serta lain rahasia
itu, bukan cuma si putera malah si pahlawan juga tidak mengetahuinya suatu apa.
Itu artinya selanjutnya si putera atau siapa pun, harus berikhtiar dan
mencarinya sendiri. Sewajarnya saja, Thio Tan Hong telah berlaku cerdik. Setelah dia dapatkan anak
kunci emas itu, dia tutup dan uruk pula liang itu sebagaimana adanya, kecuali
tanah bekas bongkaran sebelah atas, yang tak dapat dia tutup rapi sebagaimana
asalnya. Habis itu, sebelumnya rombongan Kwee Hong tiba, dia sudah angkat kaki
dari Koaywa Lim. Untuk dapat pergi ke Say Tongteng San, Tan Hong menitipkan dahulu kuda putihnya
kepada satu sahabatnya, lalu dengan sebuah perahu kecil dan enteng, yang telah
disiapkan sejak siang-siang oleh sahabatnya, dia berangkat memasuki telaga
Thayouw. Tempat permulaan berangkat adalah di jembatan Banlian Kio di kota
Souwtjioe itu. Ia berangkat tengah malam, maka dengan lekas ia
telah keluar dari Siekauw, hingga ia sudah lantas berada di permukaan telaga
yang luas dan di lingkungi bukit.
Tentu saja, dalam keadaan seperti itu, tidak ada kegembiraan Tan Hong akan
menyaksikan keindahan alam di telaga itu, hanya sambil mengayuh, ia keluarkan
anak kunci emas itu dan dibulak-balikkan untuk diperiksa.
"Huruf-huruf yang terdapat pada anak kunci ini berbunyi: dengan punyakan anak
kunci ini, harta simpanan akan dapat dicari," demikian ia berpikir, "akan
tetapi, bagaimana aku harus mencarinya" Gunung Say Tongteng San besarnya seratus
kali lipat daripada Koaywa Lim, tidakkah aku bagaikan mencari sepotong jarum di
laut yang besar" Tentang hartanya sendiri, itu adalah satu soal lain, tidak
demikian dengan peta buminya - peta bumi itu berhubungan dengan nasib negara!"
Tan Hong memandang ke muka air di sekitarnya. Air, melulu air! Pemandangan
tenang tetapi indah, terbuka juga hati Tan Hong. Maka akhirnya, ia tertawa
sendirinya. "Dengan perahu di tengah gelombang, tenanglah hati," pikir dia. Di tempat permai
ini, di saat begini tenteram, perlu apakah aku berduka tidak keruan" Tidakkah
aku tolol?" Ia lantas simpan anak kunci itu, lalu mengayuh pula. Oleh karena perahu itu
kecil dan enteng, dia dapat bergerak dengan laju, seperti dibantu oleh layar.
Telaga Thayouw mempunyai tujuh puluh dua puncak, di atas itu meganya indah, puas
hati memandangnya. Sekarang Tan Hong telah membuktikan benarnya perkataan bahwa
Thayouw ini, dengan keindahannya itu, dapat menangkan Tong Gouw.
Belum lama ia mengayun perahunya, atau lantas tampak puncak Say Tongteng San.
Memang gunung itu tidak dapat menandingi Ngogak, ke lima gunung ternama dari
Tionggoan, akan tetapi karena letaknya di antara telaga, gunung ini mempunyai
keistimewaan sendiri, tebingnya curam, banyak batu yang aneh-aneh rupanya, yang
menerbitkan berbagai kesan.
Begitu lekas ia tiba di kaki bukit, Tan Hong segera mendarat. Ia tampak di kaki
bukit, sawah berjejer, sedang di atas gunung, banyak macam pohon-pohonan, yang
rapat tumbuhnya, ada buahnya, ada bunganya, yang menyiarkan bau harum.
"Sungguh tenang dan nyaman jikalau di sini orang mendirikan gubuk untuk
bertinggal," Tan Hong melamun.
Setelah mencari jalan, Tan Hong mulai mendaki bukit. Ia berjalan sambil
berpikir, ke arah mana ia mesti cari tempat rahasia harta itu, tiba-tiba ia
lihat dua bocah tukang angon kerbau tengah mendatangi ke arahnya bersama dua
ekor binatang angonnya. Dua bocah itu sudah lantas mengawasi anak muda ini,
sinar mata mereka menunjukkan keheranan atau bercuriga.
Tan Hong segera menghampiri mereka untuk mengajak mereka bicara.
"Kedua engko kecil, aku numpang tanya," dia kata. "Aku datang kemari untuk
pesiar. Untuk naik ke atas gunung, adakah di sini jalan yang baik?"
Kedua bocah itu saling memandang.
"Aku tidak tahu!" sahut satu di antaranya, suaranya keras.
"Heran," pikir Tan Hong, "kenapa kedua bocah ini begini tidak tahu adat, mereka
beda jauh daripada penduduk Tamtay Tjoen?"
Selagi Tan Hong berpikir demikian, ia heran mendapatkan kedua bocah angon itu
tiba-tiba berselisih mulut, sama-sama mereka mementang mulut lebar. Yang di
belakang berkata bocah yang di depan sengaja menginjak lumpur hingga lumpur
sawah muncrat mengenai pakaiannya, yang di depan bilang, kawannya itu sengaja
membikin kerbaunya menendangi batu hingga ada batu yang terbang ke batok
kepalanya. "Lucu," pikir pemuda ini, yang berniat memisahkan mereka itu.
Dari berselisih mulut, kedua bocah itu sudah lantas saja berkelahi. Tidak cuma
demikian, mereka juga menganjurkan kerbau
mereka masing-masing untuk turut berkelahi juga. Hingga sebentar saja, keadaan
menjadi kacau. Celaka untuk Tan Hong, selagi jalanan sempit, kedua kerbau itu saling seruduk
dan saling uber, ke arahnya. Ia sampai menjerit ketika ia hampir kena diterjang,
terpaksa ia pentang kedua tangannya, dengan gerakan "Yama hoentjong," atau "Kuda
hutan membuka suri," ia tolak kedua kerbau itu ke kiri dan kanan.
Ia dapat lindungi dirinya, kedua kerbau itu ngusruk dan rubuh.
Saking kaget, kedua bocah itu menjerit keras.
Kalau mau, Tan Hong dapat melukai kedua kerbau itu, tapi ia telah menggunakan
hanya tiga bagian dari tenaganya, maka itu, ia menjadi heran, ia menjadi kaget
mendengar jeritan kedua bocah itu.
"Adakah aku memakai tenaga terlalu besar hingga kedua bocah itu turut terluka?"
ia tanya dirinya. Lantas ia awasi kedua ekor kerbau. Kembali ia menjadi
terkejut. Kedua kerbau itu tengah berlarian, kedua bocah angonnya tidak nampak.
"Ah, ke mana mereka pergi?" pikir Tan Hong. Pada saat ia hendak mencari, dari
sebuah tikungan tampak dua orang tani baharu saja muncul, hanya, untuk herannya,
ia dengar mereka itu segera berseru: "Setan, hari terang benderang, dari mana
datangnya penjahat ini"....."
"Kedua engko, dengar dulu," kata Tan Hong dengan cepat. Ia menyangka pasti bahwa
orang telah mencurigai padanya. "Aku bukannya orang jahat....."
"Kau bukannya orang jahat?" bentak salah satu petani itu sebelum orang berhenti
bicara. "Kenapa kau lukai kerbau kami dan menculik juga kedua anak kami?"
Tan Hong heran. "Aku menculik anakmu?" dia tegaskan. "Mereka..... mereka....."
Dua petani itu tertawa dingin.
"Mereka..... mereka kenapakah?" katanya mengejek. "Kenapa mereka itu lenyap"
Jikalau bukannya kau yang menyembunyikan mereka, pasti kau telah menyerahkan
mereka kepada koncohmu, untuk segera dibawa pergi, buat dijual!" Mau atau tidak,
Tan Hong tertawa. "Mana bisa terjadi demikian?" ia kata. "Coba periksa dahulu
kerbaumu, binatang itu terluka atau tidak, habis itu baharu kamu pergi cari
kedua bocah itu!" Kedua petani itu menjadi murka, tanpa banyak omong lagi, mereka angkat pacul
mereka masing-masing, dengan itu mereka menyerang!
Tan Hong terkejut, apapula ketika ia saksikan kesebatan orang. Walaupun dia
bertenaga besar, orang tani biasa tidak nanti demikian sebatnya.
Terpaksa Tan Hong berkelit dengan gerakan "Poanliong djiauwpou," atau "Naga
melilit." Tapi ia tidak cuma berkelit. Berbareng dengan itu ia pun mengangkat
kedua tangannya, akan menyambuti pacul orang itu, untuk disamber dan dirampas.
"Tolong! Tolong!" teriak kedua petani itu. "Tolong, ada rampok! Ada rampok bunuh
orang!" Tan Hong mendongkol berbareng geli dalam hatinya.
"Jikalau aku berniat membunuh kamu, siang-siang jiwamu sudah akan melayang!" ia
kata pada mereka itu. "Tidak nanti aku biarkan kamu membuat keributan!"
Segera ia ayunkan kedua tangannya, akan melemparkan kedua pacul orang.
Pada waktu itu pula, muncul lagi delapan orang, yang datang dari mana kedua
orang tani tadi keluar, mereka juga membawa pacul, dan tanpa banyak omong lagi,
mereka maju mengeroyok Tan Hong, dari depan dan belakang, dari kiri dan kanan.
Mau atau tidak, Tan Hong jadi mendongkol.
"Tidak keruan-keruan aku mesti berkelahi, sungguh naas," pikirnya. Ia lompat
berkelit, ia memikir untuk meloloskan diri, meninggalkan mereka itu, atau
mendadak ia jadi heran. Ia telah dikurung ke delapan orang itu, ke mana saja ia
noblos, di situ ada petani yang menghalang dan pacul yang melayang ke mukanya.
"Inilah cara berkelahi yang terlatih," pikirnya kemudian. Karena ini, ia jadi
bersungguh-sungguh, ia tunjukkan kehebatannya. Ia lantas peroleh hasil, tak lama
berselang, ia dapat membuat orang kewalahan, hingga mereka itu main mundur,
hanya pada saat itu, belum dapat ia mengalahkan mereka itu, kecuali apabila ia
menggunakan kekerasan. Latihan mereka itu sempurna, masih dapat mereka
mengurung, tidak mau mereka mengalah.
Akhir-akhirnya Tan Hong bertindak juga, sambil berseru, ia desak mereka, hingga
mereka mundur satu tombak lebih.
"Jikalau kamu masih tidak hendak berhenti, jangan salahkan aku, aku tidak akan
berbuat sungkan-sungkan lagi!" ia mengancam. Tapi ia tertawa.
"Apa artinya tidak sungkan-sungkan?" tanya satu petani, yang rupanya menjadi


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pemimpin. "Bangsat anjing, apakah kau kira kami takut?"
Tan Hong jadi mendelu juga. "Baik aku gunakan pedangku, untuk membuat pacul
kalian kutung, hendak aku lihat, kamu jeri atau tidak....." pikir dia. Lantas
dia lindungi diri dengan tangan kiri, tangan kanannya dipakai merabah pedangnya.
Justeru itu, dari atas gunung, terdengar suara pertanyaan: "Hai, kenapa kamu
berkelahi?" Tan Hong mendongak, akan melihat ke atas, hingga ia tampak satu orang dengan
kumis jenggot panjang, jidatnya lebar, hidungnya besar, dan dandannya seperti
anak sekolah akan tetapi romannya seperti seorang yang mengerti silat.
"Penjahat ini melukai kerbau dan menculik anak kami!" sahut petani yang menjadi
kepala itu. "Kerbau kita tidak terluka," kata orang itu, yang terus memanggil-manggil: "A
Tjiauw! A Seng!" Tan Hong melirik kepada kedua ekor kerbau. Sekarang ia lihat, kedua binatang itu
tidak lagi saling kejar, hanya berhenti berlari dan berdiri diam, dan dari bawah
perutnya muncul kedua bocah angon tadi, keduanya sambil tertawa berkakakan!
Terhadap Tan Hong, mereka pun mengejek secara Jenaka, hingga pemuda ini
tersenyum. "Aku juga heran kenapa kedua kerbau itu berputaran tak hentinya, kiranya mereka
ini yang main gila," katanya di dalam hati. "Kepandaian mereka menungang kerbau
nyata terlebih liehay daripada orang Mongolia menunggang kuda. Mereka muncul
secara tiba-tiba, mereka berbuat itu dengan sengaja atau bukan" Baiklah aku
berlaku waspada." Orang di atas gunung itu, yang usianya telah lanjut, terdengar pula berkata:
"Orang-orang tani desa biadab dan tidak tahu aturan, ini pun salah pengertian,
maka itu aku harap kau tidak berkecil hati tuan. Eh, kenapa kamu tidak lekas-
lekas menghaturkan maaf kepada tuan itu" Lekas! Setelah itu kamu lekas pergi
meluku!" Ke delapan petani itu, berikut kedua bocah, yang telah berkumpul menjadi satu,
lantas menghadap Tan Hong, untuk memberi hormat. Sesudah mana, mereka semua
ngeloyor pergi, hingga di situ Tan Hong berada seorang diri saja.
"Apakah siangkong datang untuk pesiar?" tanya si orang tua kemudian.
"Benar," sahut Tan Hong, singkat.
"Tujuh puluh dua puncak tak mudah habis dipandang, sawah yang luas juga dapat
menghilangkan duka, maka kalau siangkong datang untuk pesiar, kau mesti berdiam
di sini sedikitnya beberapa hari," berkata pula si orang tua.
Tan Hong lihat orang berlaku sopan, ia pun bersikap hormat.
"Aku ingin bertanya mengenai she dan nama iootiang," ia mohon.
"Tak usah kau tanyakan namaku, cukup kau memanggilnya aku iootiang," sahut orang
tua itu. "Aku juga, cukup memanggil kau siangkong. Tidakkah ini sederhana?"
Tan Hong setuju dengan sifatnya orang tua itu.
"Benar," ia jawab.
"Aku si orang tua tinggal di atas gunung ini," kata pula orang tua itu.
"Beberapa sahabatku menamakan tempat kediamanku ini Tongteng San tjhoeng.
Siangkong akan berpesiar beberapa hari di sini, apabila siangkong tidak
berkeberatan, baiklah siangkong beri ketika bagiku untuk aku jadi si tuan rumah.
Bagaimana siangkong pikir?"
"Kau baik sekali, iootiang, terima kasih," sahut Tan Hong. "Aku kuatir aku nanti
mengganggu padamu....."
Orang tua itu tertawa lebar.
"Sama sekah tidak, siangkong1." ia kata. "Siangkong berpesiar, setelah lelah,
kau datang ke gubukku, untuk beristirahat, jikalau ada jodoh, kita berkumpul,
kalau tidak, sudah saja. Tidak ada gangguan bagiku....."
Tan Hong girang, ia hampirkan orang tua itu, untuk memberi hormat, yang mana
dibalas si orang tua. Ia merasa puas dengan perkenalan ini. Ia memang berniat
mencari seseorang yang mungkin bantuannya bisa diharapkan untuk mencari tempat
menyimpan harta, sekarang ada si orang tua, inilah kebetulan.
Si orang tua menunjuk kelereng gunung, ia berkata: "Di sana tidak ada apa-apa,
akan tetapi sedikit sayur dan ikan tersedia juga. Kalau siangkong hendak pesiar,
silahkan. Sebentar malam siangkong mampir padaku, akan aku sediakan ikan segar
dan arak putih untuk teman kita pasang omong."
"Terima kasih," Tan Hong mengucap, tangannya dirangkapkan. Di dalam hatinya, ia
berpikir pula: "Kalau orang tua ini tidak menyembunyikan sesuatu maksud, ia
mestinya seorang kangouw yang luar biasa, maka berhubung dengan kedatanganku
ini, andaikata aku tidak berhasil mencari harta, senang aku dapat bersahabat dengan
dia. Rombongan petani itu juga bukan sembarang orang, ada baiknya juga untuk
berkenalan dengan mereka....."
Sampai di situ, mereka berpisahan, Tan Hong pun mendaki terus, untuk berpesiar
katanya, sedang sebenarnya ia memasang mata, mencari sesuatu.
Selama berdiam di atas gunung, terus sampai lohor, dengan matanya yang awas, Tan
Hong merasa bahwa kadang-kadang ada seorang petani, atau penduduk gunung itu,
yang sedang mengambil kayu atau memetik buah hutan, memasang mata kepadanya. Ia
heran, ia jadi bercuriga. Tapi ia tidak jeri. Ia tetap perhatikan tempat yang ia
kunjungi, ia ingat baik-baik. Kemudian, ketika matahari sudah mulai turun, ia
menetapi janji terhadap si orang tua, ia bertindak ke lamping gunung, ia pergi
ke apa yang si orang tua sebutkan kampung Tongteng San tjhoeng.
Justeru waktu itu, pintu pekarangan telah dibuka dengan perlahan-lahan, yang
membukakannya adalah satu nona, yang kedua matanya bersinar dan kulit mukanya
halus seperti nona Kanglam atau nona Utara yang manis.....
"Heran," pikir Tan Hong. "Kecantikan In Loei ada bagaikan bunga tjielan,
kecantikan nona ini ada seumpama bunga mawar atau hoeyong. Kalau mereka berdua
direndengkan, sungguh sulit untuk memilihnya....."
Tan Hong baharu hendak membuka mulut, atau si nona telah mendahului. Lebih
dahulu nona itu tertawa manis.
"Siangkong, adakah kau siangkong yang datang berpesiar di gunung ini?" demikian
dia menanya. "Ayah telah berbicara tentangmu kepadaku. Silahkan masuk!"
Tan Hong mengucap terima kasih, terus ia ikuti nona itu masuk ke dalam
pekarangan di mana tertanam pohon rotan, rupa-rupa pohon bunga, paseban dan
empang. Itu adalah sebuah taman yang
menarik yang tak kalah dengan Koaywa Lim, hanya kalah besar. Taman ini pun
nyaman. Si orang tua, atau tuan rurnah, tampak tengah berdiri di depan paseban di mana
telah tersedia arak, melihat tetamunya, ia menyambut dangan manis.
"Bagaimana keindahan telaga dan gunung di sini?" ia menanya.
"Telaga Thayouw ini jauh lebih indah daripada Tonggouw," jawab Tan Hong.
"Airnya, gunungnya, bagaikan lukisan saja. Hal ini pun telah dibenarkan oleh
orang-orang jaman dahulu. Boanseng kagum sekali."
Orang tua itu tertawa. "Hanya sayang," katanya, "ada orang-orang yang memandang telaga dan gunung ini
hingga mereka melupakan nama besar dan kedudukan tinggi, sampai di otak mereka
hanya terdapat kuningan yang busuk saja. Tidakkah itu lucu dan mereka harus
dikasihani?" Mendengar itu, berdenyut hati Tan Hong.
"Mungkinkah dia ketahui bahwa aku datang kemari untuk mencari harta terpendam
itu!" ia tanya dirinya sendiri. Tapi segera ia tertawakan dirinya, yang ia
katakan banyak kecurigaannya. Tapi ia masih berpikir lebih jauh: "Leluhurku
menyimpan harta, itulah satu rahasia. Aku juga ketahui harta disimpan di sini
sesudah aku dapatkan anak kunci emas. Maka, cara bagaimana orang tua ini
mengetahuinya" Perkataannya barusan mungkin kebetulan saja....."
Tuan rumah silahkan tetamunya duduk, ia mengundang minum, lantas mereka pasang
omong terlebih jauh, mengenai pemandangan alam dari telaga dan gunung, dari hal
ilmu surat dan seni lukis. Nyata mereka cocok satu dengan lain. Cuma sampai
sebegitu jauh, mereka pantang menanyakan asal-usul mereka masing-masing.
Setelah tenggak beberapa cangkir arak, orang tua itu kelihatan sudah pusing.
"Siangkong, aku sudah pusing, aku ingin tidur," berkata dia. "Pemandangan
Thayouw di waktu malam indah sekali, jikalau siangkong ingin menyaksikan,
silahkanlah. Tempatku ini ada
pintunya yang senantiasa terbuka. Siangkong boleh minta ditemani anakku atau
dapat juga pergi seorang diri. Kalau pulang, tidak usah siangkong mengetok
pintu, asal ditolak, pintu akan terbuka."
"Baik sekali orang tua ini," pikir Tan Hong. "Ia seolah-olah mengetahui isi
hatiku. Memang Thayouw mestinya indah di bawah cahaya Puteri Malam."
Ia lantas menghaturkan terima kasih. Orang tua itu pun lantas mengundurkan diri.
Si nona tertawa manis, ia menanya: "Adakah ini yang pertama kali siangkong
pesiar kesini?" "Ya," sahut Tan Hong. "
"Siangkong kata, siangkong datang dari Utara, aku lihat kau seperti orang
Kanglam," kata pula si nona, sambil tertawa. "Eh, ya, aku seperti pernah lihat
siangkong, entah di mana, aku seperti kenal kau....." '
"Kau omong main-main, nona!" Tan Hong pun tertawa. "Sebenarnya ingin aku lebih
siang mengenal kau, maka sayang, baharu sekarang ada ketika bagiku datang kemari
untuk menyaksikan keindahan telaga dan gunung di sini." Nona itu tertawa, ia
tidak bilang suatu apa. "Silakan siangkong ambil tempat di sini," kata dia. "Tempat kami buruk, harap
siangkong tidak mencelanya."
Tan Hong sebaliknya melihat sebuah kamar yang bersih yang berada di tengah-
tengah empang teratai, yang bunganya sedang mekar, warnanya merah dadu, hingga
indah dipandangnya, semerbak harumnya.
Sambil tertawa, nona itu mengundurkan diri, akan tetapi masih terdengar suaranya
yang halus: "Benar-benar, kalau melihat orang dari romannya, dia akan keliru
mengenal Tjoe Ie. Menghadapi pemandangan bukit dan telaga ini, orang bicara dari
hal manusia, sekalipun dibanding dengan kaisar, berapakah harga satu kati dari
kaisar itu?" Tan Hong lantas berpikir: "Benar-benar, ada ayahnya, ada puterinya! Nona ini
sangat sederhana dan polos....."
Lantas ia ingat In Loei, karena mana, bayangan si nona seperti tertindih. Ia
mengawasi bunga teratai, ia ingat akan pengalamannya hari ini. Ia merasa aneh,
ia merasa melayang, hingga tak ada keinginannya untuk tidur.
Tanpa merasa, tak tahu ia berapa lama ia berdiam di dalam kamar itu, Tan Hong
tiba-tiba melihat sinar rembulan memasuki jendela, ia pun dengar suara halus
dari gelombang telaga itu. Ia lantas kerebongi dirinya dengan baju luarnya, ia
tolak daun pintu belakang, untuk pergi keluar kamar, untuk mendaki bukit. Dari
sebelah atas, sangat menarik memandang telaga yang indah itu, yang disinari
cahaya Puteri Malam. Gunung Tongteng San Barat nyata berdiri agung di tengah-
tengah telaga, yang luasnya delapan ratus lie. Tak dapat dilukiskan kepermaian
alam itu. Selagi kesengsem dengan pemandangan itu, tiba-tiba Tan Hong dengar nyanyian si
nona: "Mega abu-abu menggulung, maka bersihlah langit keperak-perakan,
Angin yang halus datang meniup gelombang sang rembulan,
Pasir diam, air berhenti, lenyap juga suara dan bayangan.
Dengan secawan aku menghaturkan, aku bernyanyi untuk tuan,
Bagaikan air jernih cukup untuk mencuci bersih kekotoran.
Dalam hidupnya untuk apa manusia menyatakan penyesalan.
Emas, perak dan mutiara, semua merupakan benda penghalang,
Semua itu harus dihabiskan di antara gelombang! Aku nasihati tuan-tuan Ada arak,
minumlah hingga mabuk sendirian, Ada arak tak diminnm, sayanglah sang rembulan."
Merdu nyanyian itu, terbawa angin menjelajah telaga Thayouw.....
Thio Tan Hong termenung lalu ia berpikir.
"Nona ini menyanyikan syair dari jaman Tong. Bukankah dengan itu ia tengah
menasehati aku untuk jangan bercapai hati dan tenaga mencari harta simpanan itu"
Ah, mana dia tahu cita-citaku! Aku tak berminat menguasai harta besar itu! Mana
sudi aku segala benda busuk itu?"
Lalu timbul keinginannya untuk membalas si nona. Maka ia menyambutnya:
"Tuan, berhentilah bernyanyi, dan kau dengar nyanyianku
Puncak ini mendadak menjulang, menunjang "langit perak".
Di dalam dunia ini juga ada laki-laki sejati,
Berdiri dengan tegak dan gagah, dengan pedang dilintangkan!
Gelar kebangsawanan dan permata, semua itulah kotoran,
Cita-citanya ialah satu kali menggulung pemerintahan!"
Begitu lekas suara Tan Hong lenyap maka di sana, di antara batu-batu berdiri
bagaikan ujung rebung, si nona, wajahnya tersungging senyuman. Dia memandang
kepada si anak muda, tangannya dilambai-lambaikan dengan perlahan.
Tanpa merasa, anak muda ini bertindak menghampiri.
"Apakah benar kau hendak kukuhi cita-citamu?" tanya si nona tiba-tiba.
"Tak tahu aku, cita-cita apakah yang nona maksudkan," jawab Tan Hong. "Akan
tetapi, kalau satu laki-laki melakukan sesuatu, mana dapat dia gampang-gampang
merubahnya?" Wajah si nona berubah. "Kau datang kemari dengan pikiran untuk mencuri harta!" dia kata sambil tertawa
dingin. "Itulah kau jangan harap!"
Dengan sekonyong-konyong nona itu menghunus sebatang pedang pendek, yang
sinarnya hijau berkelebat, dengan apa ia menikam dada si anak muda di depannya.
Tan Hong kaget, akan tetapi ia dapat berkelit.
"Nona, kau siapa?" ia tanya.
Nona itu tidak menyahuti, sebaliknya, dengan kegesitannya, ia menikam pula
berulang kali. Tan Hong tidak melakukan perlawanan, ia hanya berkelit, karenanya ia jadi
terdesak sampai di tempat di mana terdapat banyak batu.
"Nona, tunggu,....tunggu!" ia berkata, berulang-ulang. "Dengarkan dahulu....."
Ia belum menutup mulutnya, juga si nona belum menjawab dia, atau mendadak dari
antara sela-sela batu yang banyak itu, muncul beberapa orang, di antara siapa
terdapat si tuan rumah, yang usianya sudah lanjut dan tangannya menyekal
sebatang tempuling, ketika dia lompat ke atas sebuah batu, dia langsung menikam
ke arah uluhati si pemuda.
Hebat sambaran tempuling itu, maka tahulah Tan Hong bahwa orang tua itu liehay
ilmu silatnya. Suara sambaran itu membuktikan orang terlatih baik.
"Lootiang, kau kenapa?" Tan Hong masih menanya. "Kenapakah sikap kau ini?"
"Hrn! Apakah benar kau sendiri masih belum mengerti?" jawab tuan rumah itu.
"Mulanya aku sangka kau seorang terhormat, kiranya kau ada satu manusia jahat
yang dipengaruhi harta!"
Sementara itu Tan Hong kenali beberapa orang di antaranya adalah petani-petani
yang tadi siang ia lihat.
"Memang telah kami lihat, kau bukannya orang baik-baik!" berkata beberapa orang
itu. "Lihat! Lihat pedang! Lihat tombak cagak!"
Memang benar, senjata mereka itu banyak macamnya, ada pacul juga.
Tan Hong gentar juga karena orang segera mengepung dia, lebih-lebih tempuling si
orang tua dan pedang pendek si nona. Ia tidak diberi kesempatan untuk bicara.
Tentu saja, tanpa perlawanan yang berarti, ia bisa terkurung terus di tempat
itu, yang banyak batunya. Maka terpaksa ia hunus pedangnya dengan apa segera ia
tabas kutung senjatanya dua petani.
"Tahan!" ia berteriak, begitu lekas kedua orang itu mundur, mereka kaget sebab
senjata mereka kena dibabat kutung.
Si orang tua tertawa berkakakan.
"Dengan terkurungnya kau di dalam barisan ini, percuma saja pedang mustikamu!"
kata dia dengan wajar tetapi jumawa. Lantas dia maju pula, menikam dengan
tempulingnya. Tan Hong masih pandang orang tua ini, tidak mau ia mendesak, tidak ingin ia
memapas senjata orang, ia hanya melawan yang lainnya. Akan tetapi, kalau yang
satu mundur yang lain maju, atau mereka meluruk, atau mereka pun seperti
menghilang di belakang batu. Kali ini, mereka itu berlaku sangat licik, tidak
sudi mereka membuat senjata mereka bentrok.
Setelah berkelahi sekian lama, Tan Hong lantas dapat perhatikan sikap orang.
Berikut si orang tua dan si nona, ayah dan anak dara, lawan berjumlah delapan
orang, dan kedudukan mereka pun di delapan penjuru, dan caranya mereka bertempur
ialah tiap-tiap kali mereka mundur, akan berkelit di belakang batu, akan
kemudian muncul lagi untuk melakukan serangan secara tiba-tiba.
"Coba aku arah satu orang," pikir anak muda itu.
"Ingin aku lihat, cara bagaimana kau sembunyikan dirimu....."
Pikiran itu diwujudkan, Tan Hong desak satu petani, yang ia lihat kepandaiannya
biasa saja. Petani itu berlari-lari di batu, lantas dia lenyap, sebagai
gantinya, si nona dengan pedangnya dan satu petani lain dengan tumbaknya,
menyerang dengan tiba-tiba dari kiri dan kanan dari mana mereka itu muncul
secara mendadak. Ketika ia desak si nona, nona itu pun mundur menghilang, lalu
si orang tua muncul sebagai gantinya, dan orang tua itu menyerang dengan hebat.
"Bagaimana harus aku layani mereka ?" pikir Tan Hong sambil terus melawan musuh-
musuhnya. Dari delapan lawan itu, kecuali si nona dan ayahnya, yang enam berkepandaian
cukup untuk masuk dalam dunia kangouw, cuma di mata Tan Hong, mereka adalah


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

orang-orang biasa saja, hanya yang aneh adalah caranya mereka berkelahi, main
mundur dan menghilang, untuk dengan tiba-tiba muncul pula, menyerang separuh
membokong. Pertempuran luar biasa ini berlangsung sekian lama, tetap Tan Hong tidak bisa
desak terus satu musuh, tidak mampu lagi ia menabas kutung senjata orang. Di
lain pihak, tetap ia terkurung, tiap-tiap kali ia diserang. Lama kelamaan ia
jadi kewalahan juga. Syukur untuknya, ia mempunyai pedang yang tajam luar biasa
itu, yang ditakuti musuh, hingga musuh tak dapat mendesak ia habis-habisan.
Lama juga Tan Hong berpikir, sampai tiba-tiba ia seperti tersadar. Tidakkah
kurungan itu mirip dengan kurungan barisan istimewa Pat Tin Touw, atau "Delapan
Barisan." dari Khong Beng" Ingat ini, ia lantas perhatikan lebih sungguh-
sungguh, ia perhatikan letaknya berbagai batu. Ia lantas dapat lihat "delapan
pintu" ialah "hioe" = berhenti, "seng" = hidup, "siang" = luka, "touw" = tutup,
"soe"=mati, "keng" = pemandangan, dan "kheng" = kaget. Ia tidak sangka bahwa ia
akan menemui Pat Tin Touw di Say Tongteng San di Thayouw ini, sedang panglima-
panglima perang, dahulu dan sekarang, hanya beberapa orang yang berhasil melihat
itu. Memperhatikan lagi sesaat, Tan Hong tahu pintu "seng" =hidup dijaga oleh si nona
yang bersenjatakan pedang pendek itu. Ia lantas saja berpikir bagaimana caranya
memukul pecah tin itu, untuk membebaskan dirinya. Lalu, dengan tidak bersangsi
sedikit juga, ia lompat mencelat. Dari pintu soe ia lompat ke pintu kheng, dari
sini ia melejit ke pintu siang, terus memutar ke pintu touw, akan lebih jauh
melesat ke pintu seng1. Dengan cara penyerangan itu, barisan Pat Tin Touw itu lantas menjadi gempar,
keadaan menjadi kacau, hingga si nona menjadi kaget sekali. Karena Tan Hong
mendesak ia, berulangkah ia main berkelit saja.
Sebenarnya tidak sampai hati anak muda ini, akan tetapi ia ingin nerobos keluar,
ia ingin, maka terpaksa ia mendesak terus, ujung pedangnya senantiasa bergerak-
gerak di bebokong si nona. Dengan cara ini ia hendak paksa si nona keluar dari
pintu "hidup" (seng) itu, untuk memimpin atau mengantarkan ia keluar.
Segera orang sampai di pintu keluar, si nona mendadak menjerit dengan tajam,
agaknya ia sangat ketakutan.
Tan Hong melengak, ia menyangka, karena kurang hati-hati, ia telah melukai si
nona. Karena ini, terhentilah serangannya. Tapi justeru itu, bagaikan "bumi
terbalik, langit berputar, terdengarlah satu suara nyaring, di muka bumi itu
terbukalah suatu lobang besar, dan sebelum tahu apa-apa, tubuhnya sudah
terjeblos ke dalam lobang itu!
Nyatalah, tempat di mana barusan Tan Hong berhenti, adalah lobang jebakan. Atas
tanah itu ada urukan pasir. Dalam keadaan biasa, karena liehaynya ilmu enteng
tubuhnya, sebenarnya dapat Tan Hong lompat untuk menyelamatkan diri, akan tetapi
jeritan si nona membuatnya ia tercengang, hingga ia merandak, dari itu, tak
keburulah ia mencelat lagi.
Walaupun ia telah terjeblos, Tan Hong tidak lantas jatuh. Ia masih dapat
kesempatan untuk lompat jumpalitan, maka ketika kakinya menginjak dasar lobang,
ia jalan dengan perlahan. Ia hanya berada dalam gelap gulita, hingga sekalipun
ke lima jari tangan di depan matanya, tidak dapat ia lihat.
Dalam sekejap ia kaget, lantas ia dapat kuasai pula dirinya. Yang paling dulu ia
lakukan ialah merogo ke dalam sakunya, untuk mengeluarkan serenceng mutiara
yabeng tjoe-nya, yang ia cantelkan diujung pedangnya, maka, cahaya mutiara itu,
yang bentrok dengan cahaya pedang, segera menerbitkan sinar terang, hingga sekarang
ia dapat melihat dengan nyata.
Lobang itu dalam sekali, kelihatannya sukar bagi orang merayap naik ke atas
untuk keluar dari situ. Dasarnya juga tidak rata, dan tanahnya demak, bau demak
itu tidak sedap. Untung bagi Tan Hong, lobang itu tidak buntu, ada lobang
lainnya yang merupakan terowongan atau lorong. Karena mempunyai api istimewa
itu, ia lalu bertindak mengikuti terowongan itu yang jalannya tidak rata, demak
semua. Ketika ia tiba pada akhir terowongan, ia berhadapan dengan tembok batu.
Jadi sampai di situ habislah terowongan itu.
Tanpa merasa, anak muda ini menghela napas.
"Tidak kusangka bahwa di sinilah tempat ajalku," katanya dengan perlahan.
"Secara begini, aku akan menemui kematianku secara kecewa....."
Tapi ia bukan seorang yang mudah putus asa. Selagi hilang harapan itu, timbul
kemurkaannya. Sekonyong-konyong ia ayunkan kepalannya ke arah tembok.
"Duk!" begitulah terdengar suara keras. Tiba-tiba, tembok itu tampak bergerak
sedikit. "Hai!" berseru anak muda ini, yang timbul pula harapannya. Ia lantas saja
bekerja. Tidak lagi ia gunakan kepalannya, hanya ujung pedangnya untuk mengorek-
ngorek dan menggurat-gurat. Harapannya makin besar ketika ia dapat kenyataan
tembok itu gempur sedikit-sedikit, gempurannya meluruk jatuh.
Nyatalah batu itu ditambal, dengan gempurnya tambalan itu, batunya pun nampak
bergerak sedikit. Melihat itu, Tan Hong menjadi dapat harapan. Segera ia pasang
kuda-kudanya, menghadapi batu itu, setelah mengerahkan tenaganya, ia menolak
dengan keras kepada batu itu. Dan..... terdengarlah satu suara keras dan nyaring
batu itu rubuh ke lain arah, yang meninggalkan sebuah liang yang hanya muat
tubuh satu orang! Tanpa bersangsi, Tan Hong memasuki liang itu, hingga sejenak saja ia telah
berada di lain sebelah. Yang hebat adalah kedua matanya lantas menjadi silau. Ia
meramkan matanya, ia buka lagi dengan perlahan, untuk meneliti cahaya yang
membuat matanya itu silau. Apabila ia sudah melihat tegas, ia menjadi girang
bukan kepalang. Di sana terdapat sebuah terowongan, cahaya itu datangnya dari terowongan itu. Ia
lantas bertindak ke dalam terowongan itu, yang lebih pendek, dari yang semula
tadi, maka itu, sebentar kemudian, sampailah ia di tempat yang buntu. Di situ
terdapat sebuah pintu batu, bukan batu biasa, tetapi seluruhnya pekgiok, batu
kumala warna putih. Batunya sendiri tidak aneh, yang aneh adalah besarnya. Maka
dapatlah dimengerti jikalau kumala putih itu berharga besar bukan main.
Sekarang Tan Hong simpan yabeng tjoe-nya, ia rabah pintu kumala itu, yang licin.
Ia merabah-rabah ke sekitarnya sampai jari tangannya menyentuh suatu liang
kecil. Ketika ia awasi, ia dapat kenyataan liang itu adalah liang kunci. Kembali
ia dapat harapan. Tan Hong keluarkan anak kuncinya, ia masukkan itu ke dalam liang kunci itu,
apabila ia memutarnya, pintu kumala itu terbuka. Dengan girang ia masuk ke pintu
itu, hingga ia berada di lain ruangan. Sambil melewati pintu, tangannya
mendorong ke belakang daun pintu, atas mana, pintu itu tertutup pula.
Sambil menyimpan anak kuncinya, Tan Hong pentang kedua matanya. Di hadapannya
sekarang nampak sinar terang, yang bercahaya berkilauan, itulah sinar dari emas
dan perak serta barang permata lainnya. Sekejap itu, ia dapatkan suatu perasaan.
Bukankah ia tengah menghadapi suatu harta besar"
Tan Hong gunakan tangannya, akan mengangkat berbagai permata itu, sampai di
bawahnya ia dapatkan sebuah kotak kumala. Kotak itu tidak dikunci, hingga mudah
dapat dibuka. Isinya adalah sehelai peta bumi yang lebar. Ia lantas beber peta
itu, ia memandangnya dengan menggunakan sinar pelbagai barang permata itu.
Peta itu melukiskan dengan jelas setiap tempat, ada gunungnya, ada kalinya.
Untuk tempat-tempat yang harus dibelai, atau diserang, ada petunjuk-petunjuk
yang berupa catatan. Melihat jamannya, sangat lengkap peta itu.
Tan Hong tahu, itulah peta yang dicari-cari. Itulah peta Pheng Hoosiang, yang
dibuatnya tentu dengan susah payah dan memakan waktu, untuk Thio Soe Seng
memperebutkan negara dengan Tjoe Goan Tjiang.
Mengawasi peta itu, dengan sendirinya Tan Hong mengucurkan air mata.
Selagi mengawasi kotak kumala, di atas itu Tan Hong lihat ukiran huruf-huruf
yang berbunyi: "Bila peta ini muncul, maka bangkitlah pula Kerajaan Tjioe yang besar."
Tan Hong duga bahwa leluhurnya, yaitu Thio Soe Seng, percaya turunannya akan
dapat menemui harta dan peta itu, maka ditinggalkannya pesan itu supaya turunan
itu nanti mengusahakan untuk mewujudkan cita-citanya merubuhkan kerajaan Beng,
untuk membangun pula kerajaan Tjioe.
Sambil menghadapi kotak kumala itu, Tan Hong paykoei sampai delapan kali, sambil
memberikan hormatnya itu, ia angkat kepalanya, mendongak, seraya mengucap: "Thio
Tan Hong, turunan yang tidak berbakti, mohon maaf leluhurnya, bahwa mungkin
sekali Tan Hong tak dapat mewujudkan pesan memusnakan kerajaan Beng guna
menghidupkan pula kerajaan Tjioe....."
Dengan mencari harta dan peta itu, Thio Tan Hong sudah mempunyai suatu maksud
tertentu, yaitu peta dan harta itu hendak ia serahkan kepada Kokloo Ie Kiam,
supaya Ie Kokloo menggunakannya untuk menangkis penyerbu, petanya untuk
pembelaan dan penyerangan, dan uangnya guna membeayai angkatan perang dan
membeli alat senjata dan rangsum.
Setelah meneliti peta itu, Tan Hong menggulungnya pula.
"Sekarang aku mesti pergi ke mulut gua, untuk perdengarkan suara nyaring, guna
membeber cita-citaku, guna memperlihatkan kecintaanku terhadap negara, mungkin
Tongteng Tjhoengtjoe dapat mendengarnya dan akan insaf pada cita-citaku itu.
Semoga dia nanti menurunkan dadung untuk aku naik ke atas....."
Begitu ia berpikir, begitu Tan Hong bertindak ke pintu kumala. Tadi ia telah
menutup pula pintu itu, sekarang ia mesti membukanya kembali. Ia terkejut,
ketika ia dapatkan pintu terkunci, hingga tak dapat ia membukanya. Ia mencoba
dengan anak kuncinya, akan tetapi terbukti, itu bukanlah anak kunci yang tepat.
Nyata pintu itu mempunyai dua macam kunci, satu untuk di luar, dan yang lain
untuk yang di dalam. "Celaka!....." ia mengeluh.
Kali ini benar-benar hebat. Pintu itu tidak dapat digempur seperti pintu batu
tadi. Di situ cuma ada emas dan perak serta permata, tidak ada barang makanan,
itu artinya bahaya lapar mengancam padanya. Di situ pun tidak ada air, hingga
tenggorokannya akan lekas menjadi kering. Leher kering sama bahayanya dengan
perut kosong. "Kelihatannya pasti aku akan mati kelaparan dan berdahaga di sini....." pikirnya
pula kemudian. Menghadapi ancaman maut adalah sangat hebat, maka itu, dalam putus asanya. Tan
Hong berteriak-teriak di muka pintu, ia harap suaranya itu terdengar sampai di
luar. Tapi ia pentang suara tanpa ada hasilnya, suara itu cuma terdengar oleh
kupingnya sendiri, hingga ia merasa tuli.....
"Orang kata, seseorang dapat bertahan selama tujuh hari jikalau ia tidak dahar,
tapi aku terlatih ilmu silat, mungkin aku dapat bertahan selama sepuluh hari,"
pikir ia kemudian, menghibur diri. "Selama sepuluh hari, aku mesti berpikir
untuk mendayakan sesuatu....."
Pikiran Tan Hong lantas saja melayang, ke-permusuhan antara kedua keluarga Thio
dan Tjoe, yang berjalan turun temurun, atau di
lain saat ia ingat In Loei, wajah siapa segera terbayang dihadapan matanya. Ia
lihat tegas nona itu cantik dan manis tapi berbareng dengan itu pun bengis,
bagaikan tengah murka.....
"Oh, adik kecil, sukar bagi kita bertemu pula....."
Tan Hong mengeluh. Tan Hong tahu, sudah beberapa kali In Loei berniat membinasakan dia, tetapi ia
tidak bersakit hati karenanya. Ia malah sangat tertarik terhadap nona itu, yang,
kecuali sedang murka, juga manis dan menarik hati, karena gerak-geriknya yang
halus. "Memang dia berniat membunuh aku, tapi ada kalanya dia sangat lemah lembut,"
pikirnya pula. "Ya, halus budi pekertinya. Yang kurang padanya adalah kekerasan
hati berlainan dengan anak daranya Tongteng thjungtjoe, aku percaya dia berani
berbuat dan berani bertanggung jawab, hingga alangkah baiknya apabila sifat
mereka berdua dapat digabung menjadi satu. Dengan begitu jadilah dia satu
manusia yang sempurna....."
Terkurung dalam guha itu, Tan Hong menjadi tidak keruan rasa. Untuk tungkuli
diri, ia periksa semua harta leluhurnya itu, ia angkat sana dan angkat sini, ia
balik-balikkan. Tiba-tiba tertindih oleh setumpuk mutiara, ia dapatkan satu
kotak pualam lainnya. Ia angkat itu. Di atas kotak itu ia baca ukiran berikut:
"Surat-suratnya guru marhum. Soe Seng simpanlah dengan perhatian."
Dengan lekas Tan Hong buka kotak itu, untuk melihat isinya, ia dapatkan peta
bumi yang masih terpisah satu dengan lain dan sejumlah catatan. Ia mengerti,
terang sudah, semua itu adalah berbagai catatan dari Pheng Hoosiang ketika dia
mulai dengan pembuatan peta buminya itu, yang dicatat di setiap tempat ke mana
dia telah pergi, ketika semua itu telah dihimpunkan menjadi satu, terjadilah
peta yang orang berebut mencarinya.
Tentu saja sekarang ini, peta kasar itu sudah tidak ada perlunya, kecuali itu
pelbagai catatan lain, tentang penduduk sesuatu tempat dan kebiasaannya masing-
masing, perihal keletakan pelbagai gunung dan sungai yang mengenai pergerakan
tentera. Semua itu pun menyatakan ketelitian Pheng Hoosiang, kesungguhan hatinya, yang sudah
bercapai hati untuk mengumpul dan membuat itu.
"Semua ini harus aku simpan dan kumpulkan dengan rapih, inilah bagus bila dibuat
menjadi satu jilid buku istimewa," demikian Tan Hong pikir. Tapi, bukan bagian
petanya, hanya tulisannya. Kali ini ia lihat catatan tersusun, yang merupakan
sejilid buku tipis. Buku ini berkalimat "Hiankong Yauwkoat" atau "Rahasia ilmu
silat." Ia baca lembaran pertama, tentang ucapan Khong Tjoe perihal "iie"=
dasar, "khie"= hawa, dan "siang"=roman. Ia heran. Dari mana Khong Tjoe mengerti
tentang hiankong atau Iweekang, ilmu silat bagian dalam" Maka ia membaca terus. Ia dapatkan
penjelasannya: "Roman itu bersifat iimu siiat; hawa itu pengaruhnya iimu siiat;
dan dasar adalah buahnya iimu siiat. Kaiau ketiganya diperoleh dengan lengkap,
gerakan tangan dan kaki tak akan menyeleweng."
Lalu, lebih jauh, ada berbagai penjelasan lainnya lagi. Maka, setelah membaca
itu, Tan Hong menghela napas saking kagum. Seorang diri ia kata: "Setelah
membaca ini, baharu aku kenal akan diriku. Dibanding dengan guru besar ini, aku
tak lain daripada sinar kunang-kunang."
Karena ini, ia menjadi sangat tertarik, kemudian ia lanjutkan terus.
Harus diketahui, Pheng Hoosiang itu bukan sembarang orang. Ia pun telah menjadi
guru dari dua kaisar - Tjoe Goan Tjiang dan Thio Soe Seng - maka dapatlah
dimengerti yang ia mempunyai kepandaian istimewa, yang melebihi kebanyakan
orang. Kebetulan sekali, Tan Hong adalah orang yang mendapatkan kitab warisan
itu, dengan kecerdasannya ia dapat menginsyafi isi kitab itu.
Kakek guru dari Tan Hong, Hian Kee Itsoe, telah mendidik empat murid, kepada
tiap muridnya ia telah mewariskan masing-masing serupa kepandaian. Tan Hong
ketahui, toasoepee Tang Gak mendapatkan Taylek Kimkong Tjioe, dan djiesoepee
Tiauw Im Hweeshio mendapatkan Gwakang, ilmu silat bahagian luar, atau
Ngekang - ilmu keras. Sekarang, setelah ia membaca kitab ini, tanpa petunjuk
lisan dari guru lagi, mengertilah ia isi dari kedua ilmu silat itu, hingga ia
jadi girang tak kepalang.
"Dengan memiliki kitab ini, apabila aku meyakinkannya dengan sungguh-sungguh,
bukankah aku akan mengerti maksud setiap ilmu silat dan mudah mempelajarinya
sesuatu ilmu?" demikian ia kata seorang diri. Tapi begitu lekas ia sadar bahwa
ia tengah terkurung, dengan tiba-tiba saja ia menjadi lesu pula....."
Dengan cara bagaimana ia dapat keluar dari gua ini"
-ooo0dw0ooo- Bab XVIII Biar bagaimana juga, Tan Hong adalah seorang yang keras hatinya, yang cerdas,
maka setelah memikir sebentar, dapat ia legakan hatinya. Ia anggap tak usah ia
pikirkan soal bisa keluar atau tidak, ia hanya harus meyakinkan dahulu kitab
itu. Demikian ia bertekun dengan kitab itu.
Mulanya Tan Hong mulai merasa lapar, akan tetapi setelah meyakinkan kitab, ia
merasa lega, hingga selama setengah hari, ia dapat merebahkan diri dan tidur
pulas. Ketika ia mendusin, tidak tahu ia sudah jam beberapa waktu itu. berbagai
batu permata bersinar terang sekali.
"Coba aku melatih diri," pikir Tan Hong kemudian. Ia ingat Taylek Kimkong Tjioe
dari toasoepee-nya, maka lantas saja ia hajar pintu kumala dengan kepalannya.
Pukulan itu menerbitkan suara yang keras, pintu tidak terbuka, tapi suara itu
sudah menyatakan bahwa ia telah peroleh hasil.
Kelaparan satu hari, Tan Hong rasakan ia masih dapat melawannya, yang hebat
adalah keringnya kerokongannya disebabkan dahaganya. Umumnya siapa kelaparan
terus menerus, dalam tempo tujuh hari baharulah ia akan terbinasa sendirinya, tapi apabila
orang tidak minum, kekuatan bertahannya cuma tiga hari atau ia akan meninggal
dunia. Sekarang ia mencoba menguatkan hati, untuk menahan serangan lapar dan
haus itu. Sementara itu, ia telah selesai membaca kitab "Hiankong Yauwkoat" itu,
ia sudah sanggup menghafal di luar kepala. Hasilnya luar biasa, yaitu ia dapat
mengurangkan rasa haus dan laparnya itu.
Selagi Tan Hong menghafal terus, tiba-tiba kupingnya mendengar satu suara
perlahan. Segera ia memasang kuping. Ia dengar suara seperti orang sedang
menggali tanah, sedang membongkar. Ia perhatikan arah dari mana suara itu
datang. "Siapa?" ia berseru sambil lompat setelah ia ketahui tempat asalnya suara itu,
ialah arah pintu. Itu pun suara seperti orang tengah membongkar batu keras.


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tidak ada jawaban dari luar, kecuali suara membongkar batu itu, yang masih tetap
terdengar. Dalam penasarannya, Tan Hong kerahkan tenaga di tangannya, lalu ia hajar pula
pintu batu kumala itu. Pukulannya itu mendatangkan suara keras sekali, akan
tetapi pintu tidak rubuh, bergeming pun tidak. Sebaliknya, tangan si penyerang
dirasakan sangat sakit, seperti tangan itu hendak copot.
"Tidak sembarang alat besi dapat menggempur rubuh pintu ini." ia pikir kemudian.
"Siapa itu di luar?" kembali ia tanya. "Kalau kamu hendak menolong aku, kenapa
kamu tidak menjawab pertanyaanku?"
Tetap tidak ada suara yang menyahuti. Cuma terus terdengar suara menggali tanah
itu. "Inilah hebat," pikir Tan Hong. Dari suara galian itu, ia duga orang yang
bekerja cuma bersendirian. Apakah artinya tenaga satu orang" Bukankah ia tetap
terancam bahaya kelaparan dan kehausan itu"
Tengah ia berpikir, Tan Hong lihat tanah gempur di bawah pintu, lantas ia
gunakan pedangnya, akan mengorek ke arah itu, habis mana terlihat satu sinar
kecil masuk dari bawah pintu. Teranglah, orang di sebelah luar sudah berhasil
membongkar dan membuat lobang itu, yang besarnya sejari tangan. Ia menjadi lega,
tapi ia pun heran. "Apakah artinya ini?" ia menduga-duga. "Mungkinkah orang membuat liang supaya
dia dapat menceploskan barang makanan untukku" Tapi liang ini masih terlalu
kecil....." Ia memasang kuping. Ia dengar suara menggali di sebelah luar telah berhenti.
Sebagai gantinya terdengar suara lain, seperti orang mendorong dengan suatu
benda keras. Ia lantas saja mengawasi.
Tiba-tiba terlihat suatu sinar berkilau, warnanya kuning emas. Segera tertampak
diceploskan satu kunci emas. Ketika Tan Hong sambuti itu, ia dapat kenyataan
anak kunci itu mirip dengan kepunyaannya. Sebagai seorang yang cerdas, ia lantas
dapat menerka maksud orang. Maka tanpa membuang waktu sedetik juga, ia coba
masukkan anak kunci itu keliang kunci pintu batu kumala itu. Begitu lekas ia
memutar, daun pintu menjeblak dan satu nona cantik, dengan wajah tersungging
senyuman manis, tengah berdiri di muka pintu, mengawasi kepadanya.
Ketika ia lihat tegas roman orang, Tan Hong merasa ia bagaikan tengah bermimpi.
Nona itu, ia kenali, adalah puterinya Tongteng Tjhoengtjoe, yang mukanya
kemerah-merahan, yang senyumannya tidak segera lenyap.
Nona itu berdiri dengan tangan kirinya menyekal pedang, tangan kanan memegang
linggis. Pada ujung pedangnya masih terdapat sisa lumpur. Di mulut gua, sebelah
atas, tergantung sebuah tengloleng, hingga karenanya, barang-barang permata itu
lantas bersinar di antara cahaya api.
"Terima kasih untuk pertolongan kau ini, nona!" kata Tan Hong sambil menjura
kepada nona itu. Ia tahu, tidak dapat ia diam dan
mengawasi saja. Nona itu tertawa dengan tiba-tiba, lekas-lekas ia tutup
mulutnya. "Tuan muda, keluargaku telah menantikan kau selama tiga turunan," berkata ia,
suaranya halus dan merdu. "Tadi malam belum tahu kami bahwa kau adalah tuan muda
kami, hampir saja kami celakai jiwamu, maka itu, bukannya kau menyalahkan kami,
sebaliknya kau menghaturkan terima kasih terhadap kami!"
Mendengar demikian, Tan Hong insyaf dengan tiba-tiba. Ia tertawa berkakakan.
"Janganlah kau memanggil tuan muda kepadaku," ia mencegah. "Ada hubungan apakah
antara aku dengan leluhurku itu yang kebetulan saja mengangkat dirinya menjadi
raja" Aku adalah orang she Thio dan namaku Tan Hong, kau panggil aku Tan Hong
saja!" "Sejak dua bulan yang lalu aku telah ketahui she dan namamu itu," berkata pula
si nona. "Ketika itu telah aku memikirnya, nama itu bagus sekali. Di pekarangan
rumah kita ditanam banyak pohon hong, adakah kau melihatnya pohon itu?"
Masih si nona suka bersenyum, wajahnya berseri-seri. Ia tak pemaluan, ia bicara
dengan si anak muda bagaikan kenalan lama, yang sudah biasa bergurau.
Tan Hong lantas saja berpikir. Ia lantas ingat In Loei. Nona ini nyata sangat
bebas. Ia awasi nona ini, ia seperti melirik.
"Jangan kau kesusu untuk memberitahukan she dan namamu padaku," ia kata. "Kau
biarkan aku menerkanya. Bukankah she-mu she rangkap Tamtay dan namamu memakai
kata Beng di antaranya?"
"Kau menerka tepat," sahut si nona. "Bukankah kau ketahui she dan namaku ini
karena kau diberitahu oleh Tamtay Biat Beng?"
"Tantai Tjiangkoen belum pernah berbicara denganku bahwa dia mempunyai adik
perempuan yang cerdik sebagai kau ini," jawab Tan Hong.
Si nona tertawa. "Aku kuatir, sebelumnya ini ia memang belum mengetahui bahwa ia mempunyai adik
perempuan yang bodoh sebagai aku ini!" ia kata. "Baharu bulan yang lalu ia
datang kemari secara sangat kesusu, untuk belajar kenal dengan keluarga kami,
untuk perkenalkan diri dan mengakui pamili, habis itu, cuma menginap satu malam,
dia sudah kabur pula!"
Tan Hong segera menghitung hari. Hari ketika Tantai Mie Ming datang ke Thayouw
adalah harian si pangeran asing hendak pulang ke negerinya. Nyatalah setelah Mie
Ming dan ia pergi menghadap
Ie Kiam, Mie Ming terus secara diam-diam meninggalkan kota raja tanpa diketahui
orang, sedang di kota raja terdapat banyak pahlawan kimie wie.
"Kalau begitu," berkata si nona, "seberlalunya Biat Beng dari sini, dia tidak
bertemu pula dengan kau. Ketika itu hari dia datang, dia telah berbicara
mengenai kau yang secara diam-diam nelusup masuk ke Tionggoan, katanya mungkin
kau akan pergi ke Souwtjioe untuk mencari harta benda warisan leluhurnya,
karenanya, dia suruh kami perhatikan kau. Sayang dia datang dan pergi secara
kesusu begitu rupa, sampai dia tidak sempat melukiskan tampang dan potongan kau.
Kita mulanya percaya kau serupa seperti dia, setelah tinggal bertahun-tahun di
Mongolia, romanmu seperti orang Mongolia saja. Siapa sangka, kau cakap ganteng
melebihi pemuda-pemuda Souwtjioe dan Hangtjioe....."
Habis mengucap, si nona bersenyum pula, kedua bibirnya dibuat main. Rupanya
dengan mendadak ia telah insyaf bahwa ia telah berbicara secara terlepasan, akan
tetapi ia tak malu seperti nona-nona lainnya.
Tan Hong pun tertawa di dalam hatinya.
Tantai Mie Ming, atau Tamtay Biat Beng, rupanya seperti orang Ouw, orang
Mongolia, itulah disebabkan engkong dan ayahnya telah menikah dengan orang
Mongolia, jadi roman itu bukan disebabkan karena tinggal terlalu lama di
Mongolia dan karenanya, wajahnya
bisa berubah. Nona ini nampak cerdas akan tetapi kali ini, ia menduga
keliru....." "Ketika pertama kali kau datang pesiar, kami sudah curiga," berkata pula si
nona. "Selama belakangan ini kami tengah menghadapi suatu urusan, yaitu kabarnya
ada orang jahat yang telah mendapatkan sehelai salinan peta kota Souwtjioe,
karena peta itu, mereka menduga tempat menyimpan harta adalah taman Koaywa Lim,
maka selama setengah bulan yang lalu, tak putusnya datang orang ke Koaywa Lim
untuk melakukan pemeriksaan. Rahasia kami di sini, tidak diketahui orang luar,
akan tetapi tak dapat kami tidak bersiaga. Begitulah kami menyangka jelek
padamu." Hong tertawa . "Coba kau pandang aku, adakah aku mirip penjahat?" dia tanya.
"Itulah sebabnya," sahut si nona. "Kalau tidak, mungkin kau telah kehilangan
jiwamu! Ayah telah melihat romanmu dan dengar suaramu yang halus, ia tak dapat
menerka-nerka asal-usulmu. Ayah telah memikir untuk segera mencari tahu, apakah
kau benar tuan muda kami atau bukan, ia masih ragu-ragu, ia kuatir nanti gagal
dan karenanya, tanpa diinginkan, rahasia di sini terbuka sendirinya, maka itu,
ia bersabar. Begitu ayah ambil putusan, biar kau terkurung, jangan kau sembarang
kabur. Dikurung di dalam Pat Tin Touw ini, kau tidak diganggu, sebab ayah tak
sudi mencelakai orang baik-baik. Kau tahu, meskipun kau kenal Pat Tin Touw dan
dapat meloloskan diri, kau tidak dapat kabur terus."
Tan Hong mengawasi. "Habis, kenapa akhirnya kamu kenali juga aku?" dia tanya.
Si nona juga tertawa. "Di kolong langit ini, kecuali kau seorang, siapa lagi yang sanggup membuka
pintu kumala ini dari luar?" dia menjawab.
Juga Tan Hong tertawa pula. Ia kata: "Di kolong langit ini, kecuali kau seorang,
siapa lagi yang sanggup menolongi aku keluar dari sini?"
Nampaknya nona itu sangat puas. Kembali ia tertawa,
"Memang seharusnya demikian, bukan?" kata dia. "Kedua anak kunci kita ada luar
biasa, tapi pun kebetulan sekali. Tanpa kedua anak kunci ini, pintu tak dapat
dibuka dan ditutup kembali....."
Habis berkata, muka si nona menjadi merah sendirinya. Ia nampak malu. Inilah
tidak heran. Dengan tiba-tiba ia ingat akan kata-kata ibunya. Waktu ia masih
kecil, pernah ibunya berkata padanya: "Jodoh itu ada seumpama anak kunci. Suatu
anak kunci mesti ada suatu biang kuncinya, suatu kunci tak dapat dibuka dengan
anak kunci lainnya." Dan sekarang, kedua anak kunci itu telah menemui
biangnya..... Maka ia menjadi jengah, sendirinya.
Tan Hong heran akan kelikatan orang. Ia tidak melihat alasannya untuk itu. Tentu
saja, tak tahu ia akan kata-kata ibunya itu. Lalu ia mendehem.
"Dari she dan namamu, telah aku ketahui yang tiga," ia kata sambil bersenyum.
"Masih ada satu lagi yang aku belum tahu....."
"Kau lihat, benar-benar aku tolol!" kata nona itu. "Sampai pun she dan namaku
belum aku beritahukan padamu. Aku ialah Tamtay Keng Beng, ayahku Tamtay
Tionggoan, dan kakekku Tamtay Kwie Tjin. Kakekku adalah panglimanya kakekmu,
Kaisar Thio itu....."
Tan Hong tertawa. "Nama kakekmu itu aku kenal," ia kata. "Secara begini benar-benar aku harus
berterima kasih kepada keluargamu. Oleh karena kakekmu itu turut kakekku, dia
mendendam penasaran, dia menerima penghinaan. Tidakkah dia telah ikut pindah ke
negara asing dan karenanya menjadi orang asing juga" Di pihak lain, keluargamu
ini, selama beberapa turunan, telah menjagai gunung ini....."
Tamtay Keng Beng tertawa.
"Apakah jeleknya untuk tinggal di sini?" dia tanya
"Setiap pagi dan sore kami memandangi telaga dan gunung. Apakah itu tidak cocok
dengan kau?" Ditanya begitu, Tan Hong bersenyum.
Si nona pun bersenyum, lalu ia berseru: "Ah! Kau lihat, kembali aku lupa suatu
hal!" "Apakah yang kau lupakan?" tanya Tan Hong.
"Aku lupa bahwa kau telah terkurung di sini satu hari satu malam!" sahut si
nona. "Kau lihat, di sini aku telah membawa makanan untuk kau."
Dia bertindak keluar, dia ambil sebuah naya yang tadi dia tunda di luar pintu.
Dia tenteng itu ke dalam. Isi naya itu ialah buah peksee piepee dari
Tongteng San dari Thayouw serta rangsum kering berikut daging.
"Mari cobai!" ia kata kepada si anak muda.
Lebih dahulu Tan Hong dahar piepee, kemudian ia makan daging. Ia rasakan makanan
itu lezad sekali, yang ia belum pernah merasakannya. Tentu saja, untuk makanan
itu, ia haturkan terima kasihnya.
Selagi orang dahar, Tamtay Keng Beng memandang kesekitar ruangan, ia juga
membuat main berbagai mutiara.
"Tidaklah heran kalau sejak dahulu kala sampai sekarang ini, banyak orang yang
ingin sekali menjadi raja," kata dia kemudian sambil tertawa. "Lihat leluhurmu
ini. Dia menjadi raja baharu beberapa tahun, dia sudah lantas dapat mengumpulkan
harta begini besar....."
Bagaikan batu, dia lempar-lemparkan beberapa butir mutiara yang besar. Dia
bagaikan anak kecil yang gembira dengan barang mainan. Dia pun suka tertawa.
"Semua barang ini indah dan bagus untuk dibuat main," kata ia kemudian, "hanya
sayang tidak dapat dipakai menghilangkan dahaga dan lapar. Aku lihat, mutiara
ini tak seperti piepee-ku!....."
Tan Hong tertawa. "Maka itu, aku lebih suka piepee-mu, tak ingin aku mutiara ini!" ia kata.
"Enak didengarnya kata-katamu ini," berkata si nona. "Jikalau kau tidak
menghendaki mutiara ini, perlu apa kau melakoni perjalanan yang penuh bahaya,
jauh dari Mongolia kau datang ke Thayouw ini?"
"Itulah lain," terangkan Tan Hong. "Mutiara ini hendak aku serahkan kepada lain
orang." Tamtay Keng Beng heran. "Siapakah orang itu?" dia tanya.
"Dialah kaisar dari ahala Beng."
Keng Beng terkejut. "Apa?" tanyanya. "Kau hendak serahkan kepada kaisar Beng" Bukankah kaisar itu
musuh besar dari keluargamu?"
"Benar, kaisar Beng itu musuh keluargaku," Tan Hong akui.
"Habis, kenapa kau hendak serahkan harta ini kepada musuh itu?" si nona
tegaskan. "Memang niatku untuk menyerahkan harta ini padanya."
"Ah, tidak, tidak!" seru si nona. "Harta ini benar kepunyaan keluargamu akan
tetapi keluarga kami, telah beberapa turunan mewakili keluargamu menjagainya.
Apabila harta ini kau hendak serahkan pada orang lain, untuk itu kau perlu
menanyakan dahulu sikap kami!"
"Bila aku menyebutkannya, kau tentu setuju," kata Tan Hong, tenang. Dan ia
tuturkan cita-citanya untuk melindungi negara, sekalipun kaisar berasal dari
keluarga lain, malah musuhnya.
Tamtay Keng Beng tertawa.
"Kalau begitu bukannya kau langsung memberikan kepada kaisar Beng!" dia kata.
"Kau hendaknya menyerahkan kepada orang yang akan menggempur bangsa asing! Ah,
kau bikin aku kaget....."
Tan Hong dahar terus piepee hingga habis hampir separuhnya, selama itu Tamtay
Keng Beng terus mengajak dia pasang omong, hingga nona ini seperti melupakan
bahwa di luar guha, di atas liang, ada orang, yang mengharap-harap mereka
berdua. Dengan begini, Tan Hong mengetahui banyak tentang keluarga Tamtay itu.
Ternyata dahulu Thio Soe Seng, pada malaman dari keruntuhannya, sudah
meninggalkan pesan dan pertanggungkan puteranya kepada Tamtay Kwie Tjin,
panglima yang setia itu, habis itu, Kwie Tjin menyingkir jauh ke Mongolia.
Tentang Koaywa Lim, yaitu petanya, Thio Soe Seng menitipkan kepada satu
pahlawannya yang ia sangat percaya, seorang she Tjio, ialah leluhur
Hongthianloei Tjio Eng. Pun secara rahasia, Thio Soe Seng sudah meminta adiknya
Tamtay Kwie Tjin, ialah kakeknya Tamtay Keng Beng, untuk tinggal dan menjagai
bukit Tongteng San Barat itu, di dalam gunung mana harta besarnya disimpan,
untuk pintu rahasianya ia tinggalkan cuma sepasang anak kunci yang dapat membuka
pintu itu. Semua itu telah dilakukan secara sangat rahasia.
Tantai Mie Ming dengan Tamtay Keng Beng adalah kakak beradik sepupu, saudara
tjintong, tapi mereka terpisah jauh satu sama lain, satu di Mongolia, gurun
pasir Utara, yang lain di Kanglam, Selatan, sudah begitu, selama beberapa
turunan, mereka tidak pernah surat menyurat satu pada lain, baharu bulan yang
lalu, Tantai Mie Ming datang secara tiba-tiba, dengan menggunakan ketika itu
untuk mengantarkan pangeran asing. Baharu setelah itu, keluarga Tamtay ini
ketahui bahwa junjungannya telah meninggalkan keturunan di Mongolia.
Senang hati Tan Hong mengawasi Nona Tamtay ini, yang wajahnya bercahaya di
antara sinar batu-batu permata, hingga ia teringat sesuatu.
"Kalau nanti adik kecilku melihat kau, pasti ia senang sekali!" ia kata.
"Apa" Adik kecilmu?" tanya si nona. "Kenapa ia senang padaku?"
"Adik kecilku itu sejak kecil telah kehilangan ayah bundanya," sahut Tan Hong
sambil tertawa. "Dia yatim piatu, bersendirian saja, tidak ada orang yang
bermain dengan dia. Kau dengan dia seumur. Bukankah kamu berdua dapat menjadi
sahabat-sahabat kekal?"
Tiba-tiba Tamtay Keng Beng menjadi gusar. "Apa" Aku harus menemani adik kecilmu
bermain?" dia tegur. "Hm! Aku tidak suka bermain dengan bocah busuk!"
Baharu ia ucapkan kata-kata itu, nona ini lalu menjadi jengah sendirinya. Ia
telah terlepasan berbicara. Bukankah Tan Hong juga satu "bocah busuk?" Dengan
sendirinya, air mukanya menjadi bersemu dadu.
Tan Hong tertawa. "Adik kecilku itu bukan satu bocah busuk," ia beritahu.
"Kalau bukan bocah busuk tentu bocah harum!" kata si nona. "Hm! Bocah harum pun
aku tak sukai!" "Dia juga, bukannya bocah harum!" Tan Hong masih tertawa. "Dia, kau tahu, dia
adalah satu nona kecil....."
Keng Beng agaknya tercengang.
"Satu nona kecil?" dia tegaskan.
"Ya, satu nona kecil," sahut Tan Hong. "Hanya ketika pertama aku bertemu dengan
dia, dia dandan sebagai seorang priya, lalu karena kebiasaan, terus aku panggil
dia adik kecil, panggilan ini tak dapat dirubah hingga sekarang ini."
Entah kenapa, mendengar orang menyebut "adik kecil," Nona Tamtay mendapat
perasaan luar biasa. Agaknya orang telah berhubungan erat satu pada lain. Setahu
kenapa, ia seperti merasa
jelus atau cemburu. Ia merasa, seumurnya, belum pernah ia dapatkan perasaan
semacam ini. Maka ia jadi heran sendirinya.


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tan Hong juga seperti merasakan sesuatu mengenai nona ini, maka itu, keduanya
membungkam saja, sampai sekian lama, mereka terbenam dalam kesunyian.
Adalah kemudian, ketika ia ingat sesuatu, Tan Hong pecahkan kesunyian itu.
"Kenapa ayahmu tidak datang kemari!" dia tanya. "Ayah dapatkan ada satu musuh
mendaki gunung, dia tentunya telah mengatur Pat Tin Touw," sahut si nona,
suaranya wajar, bagaikan tak ada ancaman bahaya.
Tidak demikian dengan Tan Hong. Pemuda ini agaknya terkejut.
"Jikalau ada musuh mendaki gunung, itulah tentu musuh yang tanggu," ia kata.
"Mari kita lekas pergi melihat!"
"Apa sih yang disebut musuh yang tanggu?" berkata si nona, masih dia acuh tak
acuh. "Musuh itu tidak nanti sanggup melawan tempuling ayahku! Atau kalau dia
sanggup melawan ayah, dia toh masih tak sanggup lolos dari barisan batu....."
Pat Tin Touw adalah barisan dengan tonggak-tonggak batu yang letaknya seperti
tak teratur, maka itu si nona menyebutnya barisan batu. Nona ini juga nampaknya
sangat mengandalkan kegagahan ayahnya itu, hingga ia tak berkuatir sedikit juga.
Di dalam hati kecilnya, Tan Hong berkata: "Ah, nona cilik, kau mana ketahui, di
luar langit ada langit lainnya, di samping orang ada orang lainnya lagi! Musuh
yang datang kali ini, kalau bukannya pahlawan-pahlawan dari istana, tentu
sebangsa Anghoat Yauwliong....." Tapi, ia kata kepada si nona: "Lebih baik
marilah kita pergi melihat!"
"Baiklah!" kata Tamtay Keng Beng.
Lalu berdua mereka keluar dari guha, mereka kunci pintu kumala itu. Setibanya di
mulut guha, di sana tergantung sehelai dadung,
dengan itu keduanya, dengan saling susul, mendaki naik, hingga Tan Hong lihat
pula sinar matahari. Ia bernapas lega. Menurut letak matahari, ketika itu adalah
tengah hari. Pintu dari Tongteng Santjhoeng telah ditutup rapat, di lereng gunung, di antara
batu-batu tampak tubuh orang bergerak-gerak bagaikan bayangan. Dari sana pun
terdengar bentrokan keras dari senjata-senjata tajam. Melihat itu, Tan Hong
percepat tindakannya, ia hendak lari untuk memberikan bantuannya.
"Untuk apa kesusu?" berkata Nona Tamtay Keng Beng. "Ibu dan adik perempuanku pun
telah tiba, musuh tangguh apa lagi yang dijerikan?"
Tan Hong heran mendengar perkataan nona ini. Ketika ia bermalam di Tongteng
Santjhoeng, ia tidak lihat nyonya rumah.
"Oh, kiranya kau masih punya ibu?" tanyanya.
"Kenapa tidak?" Keng Beng membaliki "Hanya ibuku tidur di lain tempat, setiap
sepuluh hari atau setengah bulan sekali, baharu ia datang kemari. Ketika tadi
aku melihat ibu mendaki gunung, lekas-lekas aku susul kau, untuk menolongi
padamu." Tan Hong menjadi lebih heran, kali ini mengenai sikap nyonya rumah.
"Di sini tersedia tempat bagaikan tempat dewa, bukannya suami isteri tinggal
bersama-sama, tetapi mereka berpisahan, tinggal berjauhan rumah, kenapakah?" ia
berpikir. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak sempat menanyakan keterangan. Maka
itu, bersama-sama mereka lari terus. Setibanya di muka Pat Tin Touw, baharulah
keduanya - atau lebih benar Tamtay Keng Beng - terkejut. Musuh-musuh yang
terkurung di dalam tin, adalah barisan istimewa, yaitu musuh-musuh yang liehay
sekali. Yang satu adalah seorang tua, yang lain satu toodjin, atau imam.
Si orang tua memegang sebatang senjata luar biasa, tongkat panjang berkepalakan
seperti naga dengan di bahagian kepalanya ditambah pula dua rupa alat lainnya,
yaitu yang satu menyerupai
telapakan tangan dengan jeriji-jerijinya lancip sebagai gaetan, yang lainnya
merupakan duri-duri yang tajam, maka selagi tongkat itu diputar, nampaknya
seperti lengan orang hutan yang berbulu, seperti orang menerkam. Dan si imam
memegang sebuah pedang panjang, yang tidak luar biasa, hanya apabila digerak-
gerakkan, pedang itu mengeluarkan sinar sebagai bunga pedang, hingga membuat
lawan jeri. Masih ada seorang lainnya, musuh yang ketiga, yang tampak dari
dandanannya, nyata dia seorang perwira, yang masih muda. Ia mempunyai kepalan
yang liehay, yang menyambar-nyambar sambil memperdengarkan suara angin yang
keras. Tamtay Keng Beng mengawasi dengan saksama. Ia lihat ayahnya menjaga pintu
"mati." Ayahnya terkurung musuh tetapi penjagaannya masih tetap kuat. Ia ingin
membantui ayah itu, maka sambil menghunus pedangnya, ia berseru. Waktu ia hendak
lompat menyerbu, ia tampak Tan Hong berdiri menjublak, matanya mendelong. Tentu
saja ia jadi heran. "Hai, kau kenapa?" tegur si nona. "Tadi kau sendiri yang tegang tidak keruan,
sekarang kenapa kau diam saja" Kau hendak membantui ayahku, apa kau hendak
tunggu?" "Celaka!....." Tan Hong, mengeluh dalam hatinya.
Ia kenali si orang tua dan si imam, ialah Tiatpie Kimwan Liong Tjin Hong bersama
Samhoa Kiam Hian Leng Tjoe. Ia tidak pusingkan kedua orang itu, tetapi yang
membuatnya ia bersangsi adalah si perwira muda, yang tidak lain daripada In
Tiong kakak In Loei, itu Boe tjonggoan baru. Ia saksikan hebatnya pertempuran,
ia kuatirkan ada jiwa yang melayang.
Tan Hong pun masih berpikir terlebih jauh: "Secara diam-diam aku telah membantui
In Tiong peroleh gelarnya itu, meski demikian, aku tahu betul, dalam hatinya, ia
Iblis Lembah Tengkorak 2 Oeyse Karya Thio Tjin Boen Suramnya Bayang Bayang 34
^