Pencarian

Dua Musuh Turunan 12

Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen Bagian 12


masih membenci aku, rasa permusuhannya terhadapku masih belum lenyap. Aku telah
memberikan penjelasan kepadanya, tapi ia tidak mau percaya, habis bagaimana
sekarang" Jikalau sekarang aku maju membantui keluarga Tamtay ini, tidakkah itu
akan membikin salah faham menjadi bertambah hebat?"
Inilah yang menyebabkan pemuda she Thio ini berdiam saja.
Justeru itu Samhoa Kiam Hian Leng Tjoe, yang sinar pedangnya memain secara
liehay, menerjang kepada si nona tua yang menjaga pintu "touw," atas mana, si
nyonya berikan perlawanan dengan tongkatnya, tetapi baharu dua gebrakan, In
Tiong sudah maju membantui Hian Leng Tjoe, begitu hebat kepalannya itu, hingga
si nyonya mesti mundur keluar dari pintu jagaannya itu. Tentu saja, menyaksikan
itu, Tan Hong menjadi terlebih kaget lagi.
Di lain pintu, yaitu di pintu "kheng," nona yang menjaganya telah dibikin repot
oleh musuhnya yang mendesak hebat sekali.
"Adakah mereka itu ibu dan adikmu?" akhirnya Tan Hong tanya si nona dengan tidak
mempedulikan tegurannya. "Hai, bagaimana" si nona balik menanya, dengan gusar. "Kau hendak tunggu apa
lagi?" Tapi kali ini, sambil bicara, Tamtay Keng Beng sudah lari jauh beberapa tombak.
Pada waktu itu, Tan Hong sudah mendapatkan ketetapan hatinya.
"Kiranya orang-orang dikenal!" serunya sambil tertawa. Dan begitu ia lompat, ia
sudah dapat menyandak nona Tamtay, untuk dilalui, hingga dialah yang terlebih
dahulu menyerbu ke dalam tin.
"Tamtay Toanio, lindungi pintu touw" ia berseru kepada si nyonya tua, sedang
kepada si nona, ia berteriak: "Adik Giok Beng, kau mutar ke pintu hioe. Aku
datang!" Lagi sekali Tan Hong lompat, ia lewati kepala Tiatpie Kimwan, ia nerobos ke
pintu seng, maka di lain saat ia sudah ambil kedudukan didampingnya Tamtay
Tionggoan, tjhoengtjoe atau tuan rumah dari Tongteng Santjhoeng, untuk menjaga
pintu Pat Tin Touw. Sebenarnya ketika hari itu In Tiong nampak kegagalan di Koaywa Lim, ia sangat
mendongkol. Surat Tan Hong, yang merupakan nasehat, dipandang olehnya seperti
sindiran. Ketika pulang ke
kantor soenboe, besoknya ia bertemu dengan ke tujuh jago dari kota raja, yang
telah datang lengkap. Mereka lantas ketahui bahwa Tan Hong sudah pergi ke
Thayouw, mereka pun - berjumlah delapan orang - lantas menyusul. Mereka mendaki
Tongteng San Barat pada hari kedua dari terjeblosnya Tan Hong ke dalam liang
harta rahasia. Adalah di saat mereka tengah mencari Tan Hong, tiba-tiba mereka dengar tertawa
ejekkan dari samping mereka, begitu mereka berpaling, mereka tampak satu nyonya
tua, yang rambutnya telah putih seluruhnya, tengah melambaikan sehelai kain
sulam, yang bersulamkan sepuluh tangkai bunga merah yang besar, di antaranya,
tujuh terkurung sulaman benang merah yang menyolok mata.
Satu siewie menjadi heran ketika ia mengawasi si nyonya tua.
"Eh, apakah dia bukannya si perempuan tua dari warung teh di Tamtay Tjoen?"
berkata ia. "Ah, mana dia anak perempuannya" Ketika hari itu aku lewat di warung
tehnya, nona itu sedang menyulam bunga ini....."
"Benar," kata pahlawan yang satunya lagi. "Ketika itu hari aku lewat di warung,
aku juga lihat si nona sedang menyulam bunga merah itu, malah aku dengar dia
mengatakan, itu adalah bunga yang ke sepuluh."
Mendengar kedua kawan itu, In Tiong bercekat. Ia ingat, ketika ia lewat di
warung teh yang dimaksudkan itu, ia tampak sulaman baharu selesai delapan
tangkai. "Bukankah hari itu kamu telah menanyakan tentang Thio Tan Hong?" ia tanya kedua
siewie itu. "Betul," sahut kedua siewie. "Apakah hubungannya dia dengan bunga sulaman merah
itu?" "Wanita tua ini pasti konconya Thio Tan Hong," In Tiong jawab. Dan segera ia
lompat ke arah si nyonya tua.
Nyonya tua itu melambaikan pula sulamannya.
"Ah, sayang, sayang, kau juga telah datang!....." katanya, suaranya tak enak
didengarnya. "Tiga tangkai bunga merah ini pun akan dipetik Beng-cijie!....."
Dengan "Beng-cijie" itu ia artikan "anak Beng." Tiatpie Kimwan si Kera Emas
tangan besi menjadi gusar.
"Hai, perempuan siluman, kau tengah main gila!" ia bentak. Lantas ia ajak kawan-
kawannya, akan menyusul si nyonya tua, yang sementara itu telah menyingkirkan
diri, gesit gerakannya, dan larinya pun berliku-liku tak hentinya, hingga dalam
tempo yang pendek, ia sudah pancing In Tiong serta ke tujuh toakhotjioe pahlawan
pilihan dari istana, sampai di muka tin.
In Tiong segera lihat batu-batu bertumpuk tak teratur, bagaikan pintu-pintu. Ia
menjadi curiga. Ia tidak kenal Pat Tin Touw, tetapi ia lebih mengerti dibanding
dengan ke tujuh rekannya, ia telah membaca kitab-kitab ilmu perang, maka ia jadi
ragu-ragu. Ia merandek sebelum ia maju terlebih jauh, matanya dibuka dengan
lebar. Segera juga di antara tumpukan-tumpukan batu itu muncul satu nona.
"Hai, kamu telah datang?" berkata nona itu sambil tertawa. "Mereka itu tengah
menantikan rekan-rekannya, mereka sudah tidak sabaran!....."
Terus dia menunjuk. Maka di sebelah kiri, di atas tumpukan-tumpukan batu,
terlihat berbaris tujuh buah tengkorak. Entah dengan obat apa semua tengkorak
itu direndamnya, semuanya mempunyai biji-biji mata dan kulit muka yang hidup.
In Tiong terkejut ketika ia kenali roman salah satu kepala orang itu, ialah
kepala satu penunggang kuda yang telah melewati warung teh, sedang Tiatpie
Kimwan dan Samhoa Kiam kenali kedua yang lainnya ialah pahlawannya Soelee
Thaykam Ong Tjin. Malah satu jago lagi mengenali juga satu kepala lainnya ialah
kepalanya hoepangtjoe atau ketua muda dari Hayliong Pang!
Dalam sedetik itu, semua pahlawan ini sudah lantas menduga bahwa ke tujuh orang
itu mestinya sudah datang di Thayouw untuk mencari Thio Tan Hong tetapi celaka,
mereka, rubuh di tangan si nyonya tua dan puterinya itu. Tentu saja, mereka jadi
sangat gusar. Karena mereka semua bernyali besar, dengan serentak mereka
menyerbu ke dalam tumpukan batu itu, yang mereka tidak ketahui barisan rahasia
Pat Tin Touw adanya. Malah In Tiong, tanpa ayal lagi, sudah turut menyerbu juga.
Dari dalam barisan segera terdengar suatu suara, yang disusul dengan munculnya
seorang tua yang berkumis jenggot panjang terpecah tiga, yang tangannya menyekal
hietjee, yaitu tempuling ikan, siapa lalu diturut oleh beberapa petani, yang
semua bersenjatakan golok, tombak dan pacul, hanya mereka itu selanjutnya
menghilang dan muncul dengan bergantian, secara mendadak.
Tiatpie Kimwan gusar menampak gerak-gerik orang itu.
"Baiklah bekuk dulu si tua bangka!" dia berteriak.
Tongteng Tjhoengtjoe dengar suara besar itu, ia tertawa berkakakan, terus ia
mendahului menyerang dengan tempulingnya.
Dengan satu sampokan tongkatnya, Tiatpie Kimwan tangkis tempuling itu, tetapi
baharu satu gebrakan saja atau si orang tua telah melesat ke samping dan segera
lenyap dari pandangan si Kera Emas Lengan Besi. Hanya, baharu sedetik, tiba-tiba
terdengar sambaran angin di belakangnya si Kera Emas, atau segera terlihat
munculnya si nona dengan sepasang goloknya. Nona ini menyerang dengan dahsyat.
In Tiong maju akan tangkis serangan si nona, ia menggunakan tangan kosong.
"Sungguh liehay!" seru nona itu, yang terus lompat mundur, hingga ia lenyap
pula. Samhoa Kiam lompat, menolongi In Tiong mengejar nona itu, atau ia dicegat si
nyonya tua, yang seperti tak ketahuan dari mana
munculnya, dan dengan sepuluh jari tangannya, nyonya itu mencengkeram ke arah
kepala! Samhoa Kiam terperanjat melihat sambaran orang itu, yang ia kenali adalah tipu
silat Taylek Engdjiauw Kang, dengan lekas ia mainkan pedangnya, guna menangkis
sambaran itu. Si nyonya tua lihat serangannya gagal, ia lantas menyusul dengan serangan lain.
Ia berlaku sangat gesit, ia dibantu dengan saksama oleh kawan-kawannya, maka
juga In Tiong berdelapan seperti telah terkurung di dalam tin itu.
Tujuh jago dari istana itu, bersama In Tiong, adalah orang-orang liehay, akan
tetapi mereka tidak kenal Pat Tin Touw, mereka dipermainkan hingga mereka
terlepas dari hubungan mereka satu dengan lain. Dengan begitu, tak dapat mereka
perlihatkan kegagahan mereka.
In Tiong cerdas, ia lantas dapat melihat bahwa keadaan mereka telah menjadi
kacau karenanya, segera ia teriaki kawan-kawannya: "Perhatikan! Mereka ada
berdelapan, kita juga berdelapan, mari kita lawan satu dengan satu! Jangan kita
kalutkan diri sendiri!"
Teriakan ini ditaati ke tujuh pahlawan, mereka itu lantas mencari masing-masing
satu musuh, maka itu, pertempuran segera berganti rupa.
Pat Tin Touw adalah tin yang liehay, sayang bagi Tongteng Tjhoengtjoe, dia cuma
tahu tiga bagian saja, karenanya tidak dapat dia bergerak dengan bebas, sedang
di antara kawannya cuma dia sendiri, isterinya dan puterinya, yang cukup liehay
untuk melayani musuh, yang lainnya bukannya tandingan setimpal dari pahlawan
istana itu. Karena ini, walaupun musuh telah terkurung, mereka tidak menghadapi
ancaman bencana langsung. Kedua pihak nampak berimbang.
Adalah pada saat yang tegang itu, In Tiong perlahan-lahan mulai mengerti
kedudukan mereka, tapi justeru Samhoa Kiam mendesak si nyonya tua, tiba-tiba
muncullah Tan Hong dengan pedangnya yang hebat.
"Awas!" teriak In Tiong, yang menjadi kaget. Samhoa Kiam dan Tiatpie Kimwan
lantas kenali Tan Hong, yang pernah permainkan mereka, maka sekarang, kedua
pihak saling berhadapan, mereka jadi mendongkol, keduanya maju dengan berbareng,
menyerang si anak muda. Tan Hong putar pedangnya hingga terdengar suara menderu-deru, dengan itu ia
layani kedua musuhnya. Ia bergerak-gerak sangat gesit, hingga baju putihnya
berkibar-kibar di dalam tin itu. Ia melesat ke kiri dan ke kanan, ke depan dan
ke belakang, pedangnya selalu merupakan tusukan atau tikaman, atau ia main
berkelit dari senjata-senjata lawannya itu. Cara berkelahi ini membikin ke lima
pahlawan jadi berpencar pula, cuma In Tiong bertiga Samhoa Kiam dan Tiatpie
Kimwan yang bisa menghadapi betul-betul musuh-musuhnya.
"Bagus!" teriak Tamtay Keng Beng, yang kagum dan girang menyaksikan cara
berkelahinya Tan Hong itu.
Tongteng Tjhoengtjoe pun girang sekali, Ia dapat kenyataan si anak muda mengerti
lebih banyak daripadanya tentang tin itu. Maka ia berseru: "Bagus, majikan tua
ada turunannya! Pasti Kerajaan Tjioe yang besar akan bangkit pula!"
Sudah delapan puluh tahun sejak Thio Soe Seng meninggalkan dunia yang fana akan
tetapi keluarga Tamtay tetap memanggil ia sebagai "laotjoekong" atau majikan
tua, hingga Tan Hong pun dipanggil "siauwtjoe" atau majikan muda. Dengan
"majikan" itu diartikan junjungan.
Pheng Hoosiang pandai mengenai Pat Tin Touw, ia mewariskan kepada Thio Soe Seng,
dan Thio Soe Seng, yang menghendaki keluarga Tamtay melindungi harta bendanya,
sudah memberikan pelajaran pada keluarga ini. Demikian, pengetahuan tentang tin
turun kepada Tamtay Tionggoan, tapi melihat kepandaian Tan Hong, tidak bersangsi
lagi ia bahwa si anak muda ini adalah junjungannya yang muda. Demikian ia
perdengarkan seruannya secara gembira itu.
Dengan nyeburnya Tan Hong dan Tamtay Keng Beng ke dalam medan pertempuran,
suasana berubah dengan lantas, kalau tadinya ke delapan pahlawan istana menang
di atas angin, sekarang mereka jadi terdesak, dari pihak penyerang, mereka
menjadi pihak yang membela diri.
Tamtay Keng Beng berlaku sangat gesit, ia menerjang ke segala arah, akan desak
setiap pahlawan yang kena dipermainkan, Tan Hong membuat mata mereka itu seperti
kabur dan kepala pusing.....
Pembela dari pintu "kheng" adalah Tamtay Giok Beng, ialah adiknya Keng Beng. Dia
tadi kena terserang In Tiong hampir rubuh, hanya tubuhnya terhuyung, sekarang ia
saksikan musuh yang balik diserang, segera dia lompat keluar dari pintu
jagaannya. "Entjie." dia berteriak, "mari kita kepung satu musuh ini! Tadi dia menghina
aku!" Dan dia tuding In Tiong.
Keng Beng sambut adiknya itu sambil tertawa. "Baiklah!" jawab ia. "Kau injak
letak kian, maju ke letak kam, seranglah bagian kanannya!" Dan ia sendiri segera
maju ke letak iie, untuk menuju letak tjin, lalu dengan jurus "Pekhong koandjit"
= "Bianglala putih menutupi matahari," ia menikam pemuda she In itu.
In Tiong tangkis serangan itu, hingga pedang si nona terpental, setelah mana,
hendak ia melakukan pembalasan, atau mendadak di sampingnya berkelebat satu
sinar hijau, karena dengan pedangnya, Giok Beng yang gesit itu sudah taat kata-
kata kakaknya untuk menyerang dari arah kanan. Ke arah kanan ini, angin hebat
dari kepalannya pemuda itu tak sampai pengaruhnya.
In Tiong berkelit dengan lincah.
Keng Beng juga berlaku sangat gesit, setelah tarik pulang pedangnya, ia
menyerang pula, tikamannya mengarah muka, karena mana, In Tiong terdesak di
antara dua tonggak batu, hingga ia cuma dapat berkelit pula. Tapi ia tetap dalam
bahaya, karena sempitnya tempat, untuk berkelit pun sukar. Maka ia tetap terancam.
Sebenarnya seorang diri In Tiong sanggup layani kedua nona Tamtay kakak beradik
itu, Keng Beng dan Giok Beng, tetapi kalau sekarang ia kena terdesak, itu
disebabkan ia hadapi tin batu dan kedua nona itu sudah terlatih bertempur di
dalam t/n-nya itu. Memang sengaja mereka itu mendesak terlebih dahulu, baharu
hendak mereka turun tangan.
Dalam saat In Tiong terancam bahaya maut itu, tiba-tiba terdengar suara nyaring
dari bentroknya dua senjata, di situ Tan Hong mendadak muncul dari arah samping,
pedangnya dipakai menangkis pedang si nona, hingga pedang itu berubah arah
tujuannya, dengan demikian In Tiong telah ketolongan.
Inilah Keng Beng tidak sangka, ia menjadi sangat heran.
"Apakah yang kau lakukan?" dia tegur si anak muda.
"Kau pandang mukaku, luputkanlah tusukanmu kali ini," Tan Hong bilang.
Keng Beng tetap heran, akan tetapi ia berlega hati karena ia tampak si anak muda
mengawasi ia dengan wajah tersungging senyuman, sinar matanya anak muda itu pun
seperti mengandung suatu maksud. Ia tarik pulang pedangnya, tidak lagi ia ulangi
serangannya. Tongteng Tjhoengtjoe juga turut menjadi heran.
"Siapakah perwira itu?" dia tanya.
"Dialah yang bilang bahwa aku adalah musuh besarnya," Tan Hong jawab tuan
rumahnya. In Tiong mendongkol, ia gusar sekali.
"Siapa kesudian kau menaruh belas kasihan atas diriku!" kata dia dengan nyaring.
"Keluarga kita berdua adalah musuh-musuh besar, di jaman ini, semasa kita masih
hidup bersama, jangan kau harap bahwa permusuhan itu dapat disudah habiskan!"
Dan dengan kepalannya yang dahsyat, pemuda ini maju menyerang.
Tongteng Tjhoengtjoe menjadi terlebih-lebih heran. Ia peroleh kesan, orang
benar-benar memandang Tan Hong sebagai musuh besar, maka heran, kenapa Tan Hong
itu sebaliknya senantiasa melindungi perwira itu.
Tan Hong ulur tangannya yang kiri, kelihatannya ia bergerak dengan ayal, akan
tetapi ketika ia kena tangkis tangan In Tiong, perwira ini terkejut sendirinya.
"He, ia pun telah pelajari Taylek Kimkong Tjioe?" ia kata dalam hatinya. Selagi
begitu, ia mesti mundur tiga tindak, kedua tangannya dilintangkan satu dengan
lain. Tan Hong juga mundur tiga tindak.
"Kakak In Tiong, mundur adalah jalan utama," Tan Hong berkata.
Tapi In Tiong menjadi bertambah gusar.
"Siapakah kakakmu?" ia membentak. Dan kembali ia menyerang dengan tangannya yang
liehay. Tan Hong elakkan diri.
"Hendak aku tanya kau, untuk apa kau datang kemari?" ia tanya.
Kali ini Tiatpie Kimwan adalah yang campur bicara.
"Kau serahkan harta pendaman kepada kami, nanti kami pergi dari sini!" demikian
si Kera Emas Lengan Besi dengan suaranya yang keras. Tapi ini adalah gertak
belaka, yakni kata-kata untuk lindungi muka sendiri. Ia sudah lantas ketahui,
dalam pertempuran ini, pihaknya tidak akan peroleh hasil, maka itu, ia minta
harta pendaman itu sebagai pelabi.
Tan Hong melenggakkan tubuh, dia tertawa berkakakan.
"Jadinya kamu datang untuk harta pendaman leluhurku?" dia tegaskan, mereka itu.
"Memang harta itu aku niat menghadiahkannya kepada raja dari ahala Beng,
sekarang ada kamu yang hendak tolong mengambilnya, untuk membawanya, sungguh
inilah jalan paling baik!"
Mendengar perkataan itu, kecuali Tamtay Keng Beng, semua orang menjadi kaget.
"Siauwtjoe, apa kau bilang?" tanya Tongteng Tjhoengtjoe.
Belum lagi Tan Hong menjawab, In Tiong telah mendahuluinya. Pemuda ini yang
masih gusar, kata pada pemuda she Thio itu: "Satu laki-laki terlebih baik mampus
daripada terhina, maka itu, Tan Hong, kenapa kau berulang kali menghina aku?"
Dalam kemurkaannya itu, tak pernah In Tiong hendak memahami Tan Hong, yang omong
dengan sebenar-benarnya. Tan Hong tidak jadi gusar karena sikap orang itu.
"Apakah yang kau kehendaki supaya kau dapat mempercayainya?" ia tanya.
In Tiong tidak menjawab dengan perkataan, ia hanya menyahuti dengan kepalannya


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

tiga kali beruntun, hingga Tan Hong repot mengelakkan dirinya. Pemuda ini
mendongkol juga akan tetapi tak dapat ia turuti amarahnya itu. Ia mesti berlaku
sabar. Dalam suasana sedang tegang dan sulit itu, selagi In Tiong belum dapat
menjawabnya, mendadak terdengar suara berisik di empat penjuru mereka, lalu dari
pinggang gunung, di antara pohon-pohon dan batu-batu besar, tertampak munculnya
banyak orang dengan potongan tubuhnya tak rata, ada yang kurus, ada yang gemuk,
dan semuanya orang itu tengah mendatangi ke arah mereka.
Segera juga Tan Hong lihat seorang dengan rambut merah seluruhnya, yang awut-
awutan numpuk di kepalanya, orang mana ia kenali sebagai Anghoat Yauwliong Kwee
Hong, orang yang pernah main dadu dengannya. Tapi yang membuatnya ia
terperanjat, adalah ketika ia kenali seorang lain yang tubuhnya tinggi tujuh
kaki lebih, yang berhidung bengkung dan matanya kelabu, yang gegamannya sepasang
kampak besar. Sebab orang itu adalah Chalutu, pahlawan nomor 1 dari guru negara
dari bangsa Watzu, yang kekosenannya, untuk di seluruh Watzu, cuma kalah
setingkat dari Tantai Mie Ming. Saking heran, ia sampai kata dalam hatinya: "Kwee Hong
adalah orang kepercayaannya Ong Tjin, sekarang kenapa berdua mereka ini berada
dan bekerja sama" Apakah mungkin bangsa Watzu sudah menyerang Tionggoan?"
Ketika Tiatpie Kimwan lihat rombongan itu, dia berteriak-teriak: "Bagus kamu
telah datang! Pengkhianat Thio Tan Hong justeru ada di sini!"
Kwee Hong tertawa dingin, sembari maju mendatangi, ia memberi tanda kepada
rombongannya, untuk mereka itu mengurung, tidak dikecualikan tujuh pahlawan dari
istana berikut In Tiong si Boetjonggoan, yang bertugas istimewa untuk raja.
Tiatpie Kimwan menjadi kaget sekali.
"Eh, eh, apakah kamu sudah tidak kenali kami?" dia berteriak-teriak pula,
sekarang saking heran dan kuatir. "Kami berdelapan adalah orang-orang Sri
Baginda sendiri!" Kwee Hong tertawa pula dengan sama dinginnya ketika ia berikan penyahutannya:
"Dan kami, kami semua bukan suruhannya raja kami! - Hm! Lekas kamu serahkan
harta pendaman serta peta buminya!"
In Tiong menjadi sangat gusar.
"Apakah kamu berani mendurhaka?" dia tegur. "Harta pendaman dan peta bumi itu
adalah barang-barang yang dikehendaki Sri Baginda!"
"Pergi kamu ke negeri Watzu, akan cari Sri Bagindamu itu!" dia jawab dengan
jumawa. "Harta dan peta bumi itu adalah Ong Kongkong yang menghendakinya!"
Dengan Ong Kongkong itu, Kwee Hong maksudkan Soelee Thaykam Ong Tjin, si dorna
kebiri. In Tiong tercengang. "Apa kau bilang?" dia tanya. "Bagaimana dengan Sri Baginda?"
Lagi-lagi Kwee Hong tertawa.
"Tidak apa-apa!" jawabnya, sembarangan. "Angkatan perang Watzu sudah masuk ke
dalam kota Ganboenkwan dan raja kamu sudah jadi tawanan bangsa Watzu!....."
Tan Hong segera mengerti segala apa, tanpa tunggu In Tiong layani orang she Kwee
itu, ia mendahului buka mulutnya.
"Kakak In Tiong, insafkah kau sekarang?" katanya. "Kita bergabung melawan musuh,
itu yang utama!" Lalu, tanpa tunggu jawaban pula, ia lompat maju akan segera serang Kwee Hong.
Dengan tiba-tiba pun In Tiong naik darahnya. Ia berseru dengan keras, ia lompat
ke arah si orang asing, untuk lantas menyerang dengan kedua-dua tangannya, yaitu
tangan kiri dengan kepalan, tangan kanan dengan goloknya - golok Ngohouw
Toanboen too. Chalutu gerakkan sebelah tangannya untuk menangkis, atas mana, In Tiong menjadi
kesakitan dan kaget. Pecah telapak tangannya yang menyekal golok, tangan itu
berdarah-darah, hingga hampir saja goloknya terlepas dari cekalannya.
Tapi orang asing itu bukannya tidak menjerit. Dia telah menangkis dengan
sepasang kampaknya, dia berhasil, tetapi pukulan Taylek Kimkong Tjioe dari In
Tiong juga membuat tubuhnya tersampok terpelanting.
"Bagus, anak, kau liehay!" demikian jeritannya. Sehabis itu, dengan kerahkan
semua tenaganya, ia maju mengampak, untuk membalas menyerang. Ia berlaku sangat
bengis. Kwee Hong sebaliknya, karena ia kenal liehaynya si anak muda, tidak berani
tangkis serangannya Tan Hong. Ia berkelit, ia memutar tubuh, setelah itu
baharulah ia balas menyerang.
Tan Hong menyerang dengan ancaman belaka, begitu ia tampak gerakan lawan, ia
berlompat berbalik, hingga di lain saat ia telah dekati Chalutu si orang asing
yang kuat, untuk ditikam, di saat
kampak kirinya mendesak In Tiong, hingga karenanya, In Tiong jadi terhindar dari
bahaya. Mau atau tidak, diam-diam pemuda ini mesti bersyukur terhadap "musuh
besarnya" itu..... Chalutu pentang lebar kedua matanya kapan ia telah lihat tegas, siapa yang
merintangi padanya. "Ha, Thio Kongtjoe, kiranya kau!" dia berseru.
"Kau bukan berdiam di Watzu, mengapa kau datang kemari, apa perlunya?" Tan Hong
balik menanya. "Kau harus ketahui, di sini bukanlah tempatmu! Kau lekas pergi!"
Tapi orang asing itu tidak sudi pergi.
"Keluargamu telah sering terima budi besar dari raja kami, apakah benar kau
berani berontak?" dia pun balik tanya.
"Biarpun aku terbakar menjadi abu, aku tetap bangsa Tionghoa!" sahut Tan Hong.
"Tak mungkin aku bekerja untuk rajamu!"
Chalutu menjadi gusar. "Memang telah aku lihat kau berhati serong!" katanya. "Sekarang teranglah sudah,
kau lari pulang secara diam-diam ke negaramu melulu untuk jadi musuh kami! Hm!
hm! Mari makan kampakku!"
Tan Hong tidak tunggu sampai ia diserang. Ia mendahului menyerang orang kosen
dari Watzu itu. Dua kali ia mendesak dengan tikamannya.
Chalutu berkelit, dia mainkan kampaknya, yang bagaikan gunung Tay San turun
dengan berat ke arah batok kepalanya si anak muda.
Tan Hong ketahui tenaga besar musuh, tidak mau ia adu kekuatan. Ia segera
perlihatkan kegesitannya untuk mengimbangi orang kuat itu.
Kekuatan Chalutu tak di sebawahan Tantai Mie Ming, dalam hal enteng tubuh, ia
kalah dari Tan Hong, maka itu, guna layani anak muda ini, ia ambil sikap membela
diri, sepasang kampaknya melindungkan tubuhnya. Hingga sinar pedang dan kampak saling berkilauan.
Sampai di situ, terjadilah satu pertempuran yang kalut.
Kwee Hong datang dalam jumlah kira-kira empat puluh orang, mereka itu adalah
orang-orangnya Ong Tjin, di antaranya orang-orang kangouw dari Hektoo, Jalan
Hitam, malah juga orang-orang Hayliong Pang yang turut dalam perebutan Koaywa
Lim. Dengan jumlah yang lebih besar, bisa Kwee Hong kurung lawannya. Tapi semua
lawan adalah orang-orang pilihan, tidak mudah untuk segera dapat dikalahkannya,
mereka ini cuma dapat dibikin mengeluarkan tenaga lebih banyak.
Thio Tan Hong yang cerdik segera melihat suasana.
"Semua mundur ke dalam Pat Tin Touw!" ia berseru setelah ia layani dahulu untuk
beberapa puluh jurus. Chalutu tertawa bergelak.
"Semua barisan batu, apa dia dapat berbuat terhadapku?" katanya dengan jumawa.
Dan ia menyerang dengan kampaknya, membuat setumpuk batu gempur.
Dua pahlawan istana maju, untuk rintangi orang kuat dari Watzu ini, tetapi
mereka tidak kenal Pat Tin Touw, mereka justeru masuk ke pintu "mati."
Tan Hong kaget. "Lekas mundur!" dia teriak-teriak.
Chalutu tidak mau memberi ketika, dia mendesak, kampaknya bergerak liehay dari
kiri dan kanan. Dua pahlawan itu terdesak di antara tumpukan batu, mereka jadi tak leluasa
bergerak, maka itu, ketika kampaknya Chalutu turun dengan hebat, mereka tidak
berdaya, tubuh mereka terkampak menjadi dua potong.
Karena kemenangannya ini, orang kuat itu tertawa berkakakan. Tiba-tiba ia
rasakan desiran angin di bebokongnya, sambil memutar tubuh, ia menangkis ke
belakang. Ia menangkis angin tapi berbareng dengan itu, ia dengar suara
memberebet, ialah tanda dari ujung bajunya yang kena disabet robek pedang Tan
Hong, sebaliknya, tubuh Tan Hong sendiri tak tertampak. Karena ini, ia memikir
untuk lompat keluar. Tapi justeru itu, kembali sinar putih dari pedang
berkelebat, ia tampak Tan Hong dengan air muka berseri-seri muncul di kiri, dari
antara tumpukan batu. Dengan sebat ia angkat sepasang kampaknya, guna menangkis
dan teruskan menyerang juga. Tapi ia kalah sebat, lengan kirinya terlanggar
ujung pedang hingga bajunya robek dan dagingnya mengucurkan darah. Tentu saja ia
jadi sangat gusar, maka sambil berteriak, ia lompat akan mengampak pemuda itu.
Tan Hong berada di antara tumpukan batu, ia dapat hindarkan diri, sebaliknya
tumpukan batu yang menghalang di hadapannya menjadi gempur runtuh kena kampakan
yang dahsyat itu, batu hancurannya terbang berhamburan.
Menggunai ketika itu, kembali Tan Hong menyerang, menikam pundak orang.
Chalutu hendak membalas menyerang tapi ia tidak berdaya. Dengan batu hancur
berhamburan, sukar untuk ia melihat tegas tubuh si anak muda yang lincah. Iapun
terhalang oleh tin yang ia tidak kenal, sedang Tan Hong dapat bergerak dengan
merdeka di antara pelbagai tonggak batu itu.
Sesudah tiga kali kena tertikam, walaupun luka-lukanya tidak berbahaya, baharu
Chalutu insyaf, percuma ia andalkan kampaknya atau tenaganya yang besar, maka
itu, ia lantas lompat ke tempat yang lebih lega, untuk dari situ putar kampaknya
guna bela diri. Tan Hong kenali ilmu silat Chalutu, yaitu dua jurus tipu yang digabung menjadi
satu, di atas Chalutu mainkan "Soathoa khayteng" = "Kembang salju menutupi
kepala," dan di bawah "Kouwsie poankin" = "Pohon tua rubuh akarnya." Ia biarkan
orang bersilat sendiri, ia hanya tertawa terbahak-bahak, di lain pihak, ia
berkelebatan ke sana sini, untuk hajar lain lawannya, hingga ia berhasil melukai
beberapa orang lagi. Akan tetapi karena musuh berjumlah besar, mereka tidak
dapat dipukul mundur, sedang dipihaknya, dua lagi pahlawan telah terbinasa di
tangan musuh itu. In Tiong, yang gunai Taylek Kimkong Tjioe, telah perlihatkan liehaynya
pukulannya yang dahsyat. Beberapa musuh telah rubuh binasa. Ia tengah berkelahi
terus ketika ia tampak Anghoat Yauwliong Kwee Hong sedang didesak Tongteng
Tjhoengtjoe, si Naga Siluman Rambut Merah itu mendatangi dekat padanya. Ia
kenali si Rambut Merah itu, yang ia benci, maka dengan sekonyong-konyong ia
tinggalkan lawan-lawannya sendiri, ia mencelat ke arah Kwee Hong itu, untuk
segera menyerang dengan tangan kosongnya ke batok kepala orang.
Berbareng dengan itu terdengar teriakan Tan Hong: "Awas, tangannya jahanam itu
ada racunnya!" In Tiong tahu teriakan itu ditujukan terhadap ia, ia terkejut, karena dalam
keadaan seperti itu, tidak sanggup ia menarik pulang kepalannya itu.
Kwee Hong lihat orang menyerang padanya, dia menangkis dengan putar tangannya,
yang dia buka kepalannya, hingga terlihat tegas telapak tangannya berwarna
merah. Dengan segera kedua tangan bentrok keras, disusul dengan jeritannya
Anghoat Yauwliong, yang lengannya kena terpukul parah dan patah seketika, hingga
lengannya itu mesti dikasi turun tanpa ia berdaya.
In Tiong juga menjadi kaget sekali. Dengan lantas ia merasakan tangannyapun
kaku. Karena ini, bukannya ia menerjang terus tapi ia lekas-lekas mundur.
"Kakak In, empos semangatmu!" Tan Hong teriaki Boetjonggoan itu. "Tahan napas,
jangan kasih hawa beracun naik melewati lenganmu!"
In Tiong berpaling kepada anak muda itu, lalu segera ia jatuhkan diri, untuk
duduk numprah di tanah. Thio Tan Hong bersuara pula: "Keng Beng, kau lindungi dia! Jangan ijinkan musuh
ganggu meskipun selembar rambutnya!"
Keng Beng pun menoleh kepada Tan Hong, untuk melirik, setelah itu dengan tidak
bilang suatu apa, ia dekati In Tiong, untuk menjadi pelindung.
Kwee Hong sementara itu merasakan sakit bukan main, hebat akibat serangan Taylek
Kimkong Tjioe dari In Tiong, rupanya ia tidak sanggup menderita lebih lama, maka
tiba-tiba, dengan kesehatannya, ia rampas golok seorang kawannya terus dengan
itu ia tabas kutung lengannya yang terluka itu sebatas lukanya, setelah mana,
seorang diri ia obati lukanya itu. Ia robek bajunya untuk membungkus lukanya.
"Aku tidak akan mati!" dia teriaki kawan-kawannya. "Perhebat serangan!"
Semua orang heran dan kagum atas kegagahan si rambut merah ini, semua lantas
berkelahi pula dengan hebat.
Di pihak rombongan Kwee Hong ini, kekurangan satu Kwee Hong memang kurangnya
satu tenaga yang berarti tetapi itu tidak membuatnya mereka menderita kerugian
sangat besar, itu tidak mengurangkan sangat kurungan mereka. Di pihak Tan Hong
hal ada sebaliknya. Kurang satu In Tiong sudah berarti kerugian besar, lalu
ditambah dengan Keng Beng, yang seperti ditarik pulang, karena nona ini mesti
melindungi In Tiong saja. Di mana jumlah mereka kurang, kehilangan tenaganya
Keng Beng besar sekali artinya.
Kwee Hong benar-benar ulet. Ia duduk numprah, tetapi ia masih punya sebelah
tangan untuk terus pegang pimpinan, melanjutkan penyerangan, hingga ia berbalik
menjadi berada di atas angin.
Tan Hong mesti saksikan pertempuran yang tak selayaknya itu. Ia mengerti, kalau
terus ia bertempur secara demikian, di akhirnya ia bakal nampak kerugian. Ia
bersusah hati. Sejenak itu, belum tahu dengan cara bagaimana ia bisa kalahkan
musuh, untuk gempur pengurungannya. Ia telah berhasil merubuhkan lagi beberapa
musuh, akan tetapi pihaknya sendiri, kembali rubuh satu jago
pilihan dari istana dan dua tjhoengteng. Keadaan nampaknya makin berbahaya untuk
pihaknya..... Di saat-saat dari kesukaran itu, tiba-tiba dari kejauhan terdengarlah suara
seruling, mulanya sayup-sayup, lalu perlahan-lahan menjadi terang, ialah suara
itu datangnya dari arah pohon-pohon bunga di lamping bukit. Sang angin telah
membawanya suara itu, berikut suara nyanyian yang menimpali irama seruling itu:
"Siapakah yang ramai-ramai menyanyikan lagu-lagu Souwtjioe dan Hangtjioe"
Bunga teratai tersiarnya sepuluh lie,
Bunga koeihoa mekarnya tiga bulan.
Siapa tahu, pohon-pohon adalah benda tak berbudi,
Dia menyeret bagaikan sungai Tiangkang, Menyebabkan kedukaan dari laksaan tahun!
Ya, ya, dia menyeret bagaikan sungai Tiangkang,
Dia menyebabkan kedukaan dari laksaan tahun....."
Halus tetapi terang nyanyian itu, tarikannya bagaikan tarikan penasaran atau
keluhan. Kata-kata nyanyian itu justeru adalah kata-kata tulisannya Tan Hong
pada gambar lukisannya! Sejenak saja, bagaikan terkontakkan hawa listrik, Tan Hong tercengang. Tapi ia
tak usah tergugu lama atau menanti lama-lama. Segera juga dari antara pohon-
pohon bunga, yang banyak bunganya, ia tampak munculnya satu nona remaja yang
tangannya menyekal sebuah seruling pendek, tindakannya perlahan.
Nona itu mengenakan pakaian warna mirip dengan airnya telaga, ujung baju dan
celananya tertiup-tiup angin. Ia beroman cantik sekali, setimpal dengan
tindakannya yang elok, hingga ia bagaikan seorang dewi.
Terkejut Tamtay Keng Beng menyaksikan nona itu, sedang ia sendiri adalah satu
anak dara yang cantik manis, di dalam hati kecilnya, ia menanya: "Adakah dia
dewi dari telaga Thayouw ini
yang terbang naik ke puncak gunung?" Ia menjadi malu sendirinya, sebab ia biasa
merasa angku sekali dengan kecantikannya, sekarang ia kalah pamor.....
Beda daripada si nona Tamtay itu, Thio Tan Hong, yang telah sadar dengan segera,
sudah segera memanggil: "Adik kecil!"
"Oh!....." seru Keng Beng, tertahan. Tak dapat ia mengatakan sesuatu, ia sudah
lantas dapat merasakan suatu perasaan, entah perasaan apa itu.....
Pada matanya In Tiong juga sudah lantas tampak suatu sinar terang.....
Datangnya si cantik secara mendadak itu, menyebabkan pertempuran jadi terlambat,
karena semua orang, mau atau tidak, dengan sendirinya, sudah menoleh mengawasi
nona itu. "Ah, perempuan ini tentunya perempuan sesat!....." seru Kwee Hong. "Lekas
membagi diri! Cegat kepadanya! Jangan kasi dia menyerbu!"
Si nona sendiri, sebaliknya tetap bungkam, hanya tindakan kakinya, yang
perlahan, tak ia hentikan. Ia maju terus, tetap dengan perlahan.....
Semangatnya Tan Hong terbangun secara tiba-tiba. Dengan mendadak dia
perdengarkan suitan panjang, berbareng tubuhnyapun mencelat, lompat dari batu
yang satu kepada batu yang lain! Sambil berbuat demikian, ia terjang musuh-
musuhnya. Dengan cepat ia telah melukai beberapa di antara mereka itu.
Dengan waktu tidak lama, ia sudah lantas berada di luar kurungan di mana, dengan
cepat ia lompat kepada si nona yang baharu datang itu, tangan siapa ia segera
sambar! "Ah, adik kecil!" serunya, "kau pun datang juga!....."
Ia ada demikian bernapsu dan gembira, hingga ia melelehkan air mata.
Si nona kibaskan tangannya, untuk lepaskan cekalannya si anak muda. Tetapi ia
bukannya bergusar, ia bukannya tak menyukainya, ia hanya pakai tangannya itu
untuk menghunus pedangnya.
"Sret!" demikian pedangnya itu bersuara.
"Mana kakakku?" tanyanya.


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Nona ini adalah In Loei. Dia telah tiba di Kanglam, wilayah Selatan yang beda
sekali daripada tanah Utara, maka juga setibanya ia di sini, ia telah salin
pakaian - tidak lagi ia menyamar sebagai satu pemuda. Maka menterenglah
kecantikannya itu. "Kakakmu terkurung di dalam tin itu!" Tan Hong beritahu. "Marilah lebih dahulu
kita pecahkan kurungan musuh, baharu kita bicara!"
Kwee Hong sementara itu sudah berhasil dengan pemecahan tenaganya. Dia telah
tugaskan lima jago pilihan untuk rintangi Tan Hong dan In Loei. Lima jago itu
tidak kenal si pemudi, mereka memandang enteng pemudi itu, tiga di antaranya
sudah lompat menerjang, mendahului dua yang lain.
Dan si pemudilah yang mereka serang!
In Loei sudah hunus pedangnya, dengan sebat ia menangkis. Maka berkelebatlah
suatu sinar pedang yang hijau, menyusul mana, nampak pula cahaya putih yang
berkilau, dari pedangnya Tan Hong, ia mendahului sinar hijau itu, hingga kedua
sinar, berbaling silih ganti. Dan dengan tergabungnya kedua sinar, yaitu kedua
pedang, hebatlah akibatnya. Di mana dua jago yang lain pun telah tiba dengan
cepat dan sudah lantas menerjang juga, dalam dua gebrakan saja, ke limanya rubuh
semuanya, tanpa mereka sempat menjerit lagi, tubuh mereka bergulingan ke kaki
bukit! Kwee Hong saksikan terjangan jago-jagonya, ia lihat kesudahannya pertempuran
itu, ia menjadi sangat kaget.
Bagaikan dua bayangan, Tan Hong dan In Loei sudah lantas tiba di dalam Pat Tin
Touw, keduanya sudah lantas beraksi. Ke kiri dan kanan tubuh mereka bergerak,
dengan lincah serta rapi, erat
perhubungannya. Di antara tonggak-tonggak batu mereka nyeplos sana dan nyeplos
sini, bagaikan capung menyambar air atau kupu-kupu menembus bunga-bunga, sinar
pedang mereka tak hentinya berkilau, berkelebatan. Tubuh mereka bagaikan berada
di empat penjuru, di delapan persegi, kedua sinar pedang putih dan hijau
bergulungan berpencaran, bergulungan pula. Ke mana sinar pedang menyambar, di
situ ada musuh yang terluka atau rubuh, maka juga, dalam tempo yang cepat,
orang-orangnya Anghoat Yauwliong telah menjadi berkurang lebih daripada
separuhnya. Chalutu menjadi bermata merah bahna murka dan mendongkolnya. Ia lompat
menerjang, ia mengampak Tan Hong dengan sepasang kampaknya.
Thio Tan Hong tertawa, tangannya yang menyekal pedang diputar dari kiri ke
kanan, sedang pedangnya In Loei, yang bergerak berbareng, digeser dari kanan ke
kiri. Maka bersatulah kedua pedang! Dan terdengarlah satu suara keras dan
nyaring, atau kedua kampaknya Chatutu telah tertangkis terpental, hampir
terlepas dari cekalan, sebab telapak tangan si pemilik kampak dirasakan sangat
sakit, telapak tangan itu bermandikan darah!
Chalutu sangat agulkan kekuatannya, dia jumawa sekali, sekarang insyaflah ia,
sepasang pedang dari kedua lawannya itu nyatalah ada jauh terlebih hebat
daripada sepasang kampaknya itu!
Tan Hong pun kagum akan menyaksikan kampak lawan tidak terpental terlepas. Ia
lantas tertawa pula! "Nah, marilah sambut lagi ini!" seru dia kepada lawannya itu, lalu sambil
miringkan sedikit tubuhnya dari arah samping, ia menikam.
Chalutu masih sanggup tarik pulang sepasang kampaknya, masih kuat ia menyekal
senjatanya itu, untuk menangkis serangan. Kalau tadi ia yang menyerang, sekarang
ia jadi si pembela diri. Ia memecah kampaknya, ke atas dan kebawah, dengan tipu
silat "Tjiethian watee," atau "Menundukkan langit, menggores bumi." Di atas ia
menangkis untuk bela diri, di bawah ia membabat ke arah kaki.
Berbareng dengan itu, juga pedangnya In Loei bergerak, mengimbangi gerakan
pedangnya Tan Hong, maka setelah ke empat senjata bergerak berbareng,
terdengarlah pula suara nyaring dari bentroknya kedua pasang senjata itu. Begitu
hebat kampaknya Chalutu, kedua kampaknya turun terus, mengenai tonggak batu,
hingga tonggak itu gempur, batunya hancur, terbang berhamburan!
Tapi Tan Hong berdua In Loei, telah berkelit diri.
"Kau pergilah pulang!" demikian suara si anak muda, setelah ia maju pula dengan
satu lompatan pesat, hingga ujung pedangnya segera dapat diarahkan ke bebokong
musuh, ke arah urat besar!
Chalutu segera perdengarkan jeritan keras, berbareng dengan terlepas dan
terlemparnya sepasang kampaknya, ia menyemburkan darah hidup dan dalam mulutnya,
lalu dengan terhuyung-huyung tubuhnya rubuh ke tanah, tanpa bergerak lagi.
Melayanglah jiwanya! Kwee Hong yang melihat itu, kaget bukan main, hatinya menjadi ciut. Sekarang tak
ingat lagi ia kepada tugasnya memegang pimpinan, malah melupakan lengannya yang
sakit, ia ulur tangannya yang satunya pula, ditempel kepada tanah, untuk ia
kerahkan tenaganya mengenjot diri, untuk berlompat jumpalitan, untuk setelah
itu, mencari jalan menyingkirkan diri. Ia gunai kedua kakinya dan tubuhnya juga,
ialah habis berlompat, ia bergulingan.....
"Ke mana kau hendak kabur?" bentak Tamtay Keng Beng, yang lihat aksi musuh itu.
Sambil berseru, si nona berlompat, pedangnya menuding ke arah musuh, tepat
menancap di dada ujungnya tembus ke bebokong, hingga si Naga Sakti Rambut Merah
tak dapat bernapas terlebih jauh!
Lagi sejenak, maka berhentilah pula pertempuran yang dahsyat itu. Di pihak Kwee
Hong, orangnya habis musnah. Di pihak Tan Hong, empat pahlawan istana binasa dan
satu terluka. Syukur bagi Tiatpie Kimwan dan Samhoa Kiam, mereka tidak kurang
suatu apa. Pada pihaknya Tongteng Tjhoengtjoe ada kerugian beberapa orang binasa dan luka.
Dengan tidak membuang tempo lagi, Tan Hong ajak In Loei lari kepada In Tiong
yang terluka parah, mereka lihat anak muda itu separuh meram, dan tangannya
bengkak seumpama lodong. In Loei lantas bercucuran air mata.
"Koko" dia lompat kepada kakaknya itu.
Tan Hong segera maju menghampirkan.
"Adik kecil, adik kecil!" Tan Hong berkata, "biarkan kakakmu beristirahat! Mari
kita gendong dahulu ia, untuk dibawa pulang ke rumah!....."
In Loei sangat menyayangi kakaknya itu, ia berkuatir, dari itu, ia seperti tidak
gubris nasihatnya Tan Hong itu.
Syukur bagi In Tiong, dia telah dapat empos semangatnya, bisa ia menahan napas,
walaupun lengannya parah, namun racun, tidak berhasil mendesak sampai kehati.
"Koko, bagaimana kau rasa?" In Loei tanya kakaknya itu. "Toa..... Tan Hong,
apakah lukanya kakakku ini berbahaya?"
Si nona tanya kakaknya, lalu tanpa tunggu jawahan, ia balik menanya Tan Hong,
yang hampir saja ia panggil toako. Memang telah biasa ia menggunakan kata-kata
toako itu, hanya sekarang dihadapan In Tiong dan beberapa orang lainnya, tiba-
tiba ia merasa likat. Karena menyebut nama Tan Hong itu, dengan sendirinya
wajahnya menjadi bersemu dadu.
"Tidak, tidak apa-apa....." Tan Hong jawab.
"Hanya terlebih baik biarkan dia beristirahat....."
In Tiong sendiri telah tidak jawab adiknya itu, sewaktu ditanya, dia tengah
memejamkan mata, ia seperti tak sadar akan dirinya. Baharu kemudian, mendadak ia
buka kedua matanya. "Kau siapa?" ia balik tanya adiknya.
"Koko, akulah adik kandungmu," In Loei jawab.
In Tiong lirik Tan Hong, lalu ia tertawa dingin.
"Kau adik kandungku" Apakah kau tidak keliru kenali orang?" dia tanya adiknya.
In Loei menangis. "Koko, kau tega." Kata dia. "Betapa sengsara aku mencari kau....."
"Adakah aku mempunyai adik perempuan yang sedemikian baik hatinya?" In Tiong
masih mengejek. "Memang aku adalah adik kandungmu." sang adik bilang. "Jikalau kau tidak
percaya....." "Bukti apa kau ada punya?" kakak itu tanya, keras.
In Loei kertek giginya, tangannya merogo ke dalam sakunya dari mana ia keluarkan
surat wasiat kulit kambing yang bertuliskan dengan darah. "Koko, kau lihat ini!"
ia kata. Dua saudara ini memang masing-masing ada punyai separuh dari surat wasiat itu,
itu adalah bukti paling kuat.
In Tiong lirik surat wasiat itu, lalu ia lirik juga si nona. Ia lihat dua butir
air mata jatuh dari kedua matanya adik itu.
"Hm," katanya, "masihkah kau ada punya muka untuk keluarkan surat wasiat
engkong?" Tahu sudah In Tiong akan adiknya ini tetapi sengaja ia bawa sikapnya itu, untuk
paksa si adik keluarkan surat wasiat itu.
Sakit rasanya hati In Loei, tetapi karena sikap aneh dari kakaknya ini, ia tidak
jadi menangis, air matanya tak mengucur terlebih jauh.
Sehabis mengejek adiknya itu, In Tiong pandang Tan Hong, sekonyong-konyong ia
angkat tangannya untuk menuding. Di saat ia hendak buka mulut, untuk mengatakan
sesuatu, sekonyong-konyong juga Tan Hong berlompat, dengan jari-jari tangannya
yang kuat bagaikan tombak cagak, ia totok lengannya In Tiong itu. In Loei kaget bukan
kepalang. "Hai, kau berbuat apa?" dia tanya.
Tan Hong belum menjawab, atau In Tiong sudah menghela napas.
"Thio Tan Hong, tidak usah kau berlaku baik hati, tak usah kau berpura-pura," ia
kata. "Aku, walaupun aku mesti terbinasa, tidak nanti aku kesudian menerima budi
kebaikanmu....." Mendengar ini, In Loei lantas insyaf.
Nyatalah Tan Hong bukan serang kakaknya itu, yang sedang sakit dan tidak
berdaya, tapi Tan Hong justeru menggunakan kepandaiannya untuk tolong sang
kakak. Serangan itu adalah semacam pukulan untuk mencegah jalan darah, guna
mencegah racun menjalar naik.
"Adik kecil, marilah kita lekas pulang!" Tan Hong kata tanpa mempedulikan sikap
kasar dari si Boetjonggoan. "Mari, mari, kita, bicara!"
Dan dengan ulur tangannya, ia tarik tangan baju si nona.
In Loei melirik kepada kakaknya, lantas ia putar pergelangan tangannya, dengan
begitu loloskan cekalannya si anak muda. Mukanya menjadi pucat pias, ia berdiri
tanpa sepatah kata. Tan Hong jadi sangat bersusah hati, ia pun jengah, maka dengan membungkam ia
menjauhkan dirinya. Tamtay Toanio, yang sejak tadi berdiam saja, menggeleng kepala.
Tamtay Keng Beng jadi sangat heran, hingga di dalam hati kecilnya, berkata:
"Jikalau kata-kata Tan Hong yang aku dengar di dalam guha, terang sekali dia
sangat erat hubungannya dengan nona ini, mestinya si nona adalah jantung
hatinya, maka heran, kenapa nona ini bersikap begini tawar terhadapnya?"
Sambil berpikir demikian, Keng Beng menoleh kepada Tan Hong, justeru si anak
muda angkat tangannya, menggape kepadanya.
Dengan hati bimbang, Nona Tamtay menghampiri anak muda itu.
Tan Hong tunggu orang telah datang dekat sekali padanya, ia berkata dengan
perlahan: "Lukanya In Tiong bercampur racun tangan liehay, luka itu tidak dapat
dia mengobatinya sendiri. Aku ada punya obat mustajab warisan leluhurku, hendak
aku ajarkan kau cara mengobatinya, untuk kau obati dia hingga menjadi
sembuh....." Sambil berkata Tan Hong sambil serahkan obatnya yang lantas
diterima oleh Keng Beng. "Siapakah nona itu?" Keng Beng tanya.
Tan Hong menyeringai ketika ia jawab: "Aku adalah musuh dia!"
Nona Tamtay melengak. "Apa" Dia itu musuhmu?" ia tanya.
"Bukan! Akulah musuh dia!" sahut Tan Hong. "Oh, bukan! Dia anggap aku adalah
musuhnya....." "Kalau begitu, kenapa tidak kau sendiri yang obati dia?" Nona Tamtay tanya. Ia
masih heran. "Tidakkah dengan begitu, permusuhan dapat dibikin habis?"
Tan Hong tertawa. "Aku justeru tidak ingin dia ketahui bahwa akulah yang menolongnya," ia jawab.
"Aku tak ingin nanti dia mengatakan, aku tolong dia justeru dia tengah terancam
bahaya maut, supaya aku jadi melepas budi terhadapnya."
Sementara itu Tongteng Tjhoengtjoe sudah lantas suruh satu orangnya gendong In
Tiong untuk dibawa pulang. Ketua Tongteng Santjhoeng ketahui pentingnya waktu,
jadi tak dapat mereka berdiam lama-lama di dalam tin itu.
In Loei lantas berjalan mengikuti, tapi satu waktu ia menoleh ke belakang, maka
matanya segera bentrok dengan satu
pemandangan, yang membuat hatinya tergerak. Ia tampak Tan Hong jalan berendeng
dengan Keng Beng, pemuda dan pemudi itu tengah berbicara satu dengan lain, muka
mereka dekat sekali satu pada lain, hingga mulut si anak muda bagaikan nempel
kepada rambut di samping kupingnya si nona. Mereka pun bicara sambil tertawa-
tawa, agaknya mereka tengah bergurau.
Tak keruan rasa hatinya Nona In ini.
"Baiklah, kau tidak pedulikan aku, aku juga tak akan pedulikan kau!" pikirnya,
"bila diumpamakan saja sebagai orang yang belum pernah kenal satu pada lain,
kita berpisah saja, habis perkara!....."
Tiba-tiba saja muncul kesedihannya si nona, tanpa dapat ia pertahankan lagi, air
matanya turun mengetes. "Nona, luka kakakmu tidak berbahaya," berkata Tongteng Tjhoengtjoe, membujuk.
"Jangan kau menangis....."
Ketua rumah ini tak tahu hati orang, ia menyangka si nona kuatirkan keselamatan
jiwa kakaknya, maka itu ia menghiburkannya.
In Loei berdiam, ia seperti tidak mendengarnya. Ia sekarang menangis dengan
tersedu-sedu. Ketika di akhirnya orang sampai di Tongteng Santjhoeng, itulah waktunya asap
mulai mengepul dari dapurnya setiap rumah.
Tongteng Tjhoengtjoe pernahkan In Tiong dalam sebuah kamar bersih dan sunyi, ia
tugaskan satu orangnya untuk menjaga dan melayaninya. Di lain pihak, ia
perintahkan lekas mensajikan barang hidangan.
Tiatpie Kimwan dan Hoasam Kiam menjadi tak enak hati. Tuan rumah sangat manis
budi dan ramah tamah sekali, ia juga tidak hendak sebut-sebut halnya mereka itu
datang untuk mencari harta simpanan.
Selagi bersantap, dua orang itu menghaturkan terima kasih kepada Tan Hong yang
telah tolongi mereka. Tak lama sehabis dahar, semua orang undurkan diri untuk beristirahat.
Tamtay Keng Beng taati pesan Tan Hong. Sehabis bersantap, seorang diri ia pergi
ke kamar In Tiong. Dari luar kamar ia sudah tampak sinar api, yang
memperlihatkan bayangannya In Loei. Ia hentikan tindakannya di muka pintu.
"Koko, kakek kita bukanlah dia yang mencelakainya," begitu ia dengar Nona In
bicara kepada kakaknya. "Tentang itu, Ie Kokioo sudah membicarakannya dengan
jelas sekali. Maka itu, sakit hati itu baiklah jangan dibalas lagi."
"Habis apa kau hendak bilang tentang sakit hati selama dua puluh tahun kakek
mesti menggembala kuda?" terdengar In Tiong, sang kakak.
"Itulah perbuatan ayahnya," In Loei bilang. "Memang perbuatan itu tidak
selayaknya. Itu juga bukannya suatu permusuhan yang hebat sekali." In Tiong
tertawa dingin. "Pandai kau membelai musuh!" katanya, tajam.
In Loei lantas menangis. "Koko....." katanya, tertahan.
"Apa?" sang kakak bilang. "Gadisnya Keluarga In dilarang tidak bersemangat
jantan!" In Loei gigit giginya atas dan bawah, ia seka kering air matanya.
"Koko, gurumu sendiripun mengatakan bahwa Thio Tan Hong itu adalah orang kaum
kita," berkata ia, sungguh-sungguh. "Yang mesti diutamakan adalah musuh luar,
musuh asing, maka segala apa yang dapat disudahi, baiklah dibikin habis
saja....." Berulangkah In Tiong perdengarkan suara tawarnya, "Hm! Hm!" Kemudian dengan
tiba-tiba, ia kata dengan keras: "Aku tahu kau memang cintai bocah she Thio
itu!" In Loei sudah pertahankan sedapat-dapat untuk tidak menangis, tetapi mendengar
suara kakaknya itu, ia menangis pula menangis dengan merasa malu dan mendongkol.
"Siapa bilang aku cinta ke padanya?" dia tanya dengan keras. "Dia..."
"Kau cinta dia, baik! Kau tidak cinta dia pun baik!" kakak itu memotong. "Tapi,
pendek kata, aku larang kau menikah dengan dia!"
"Diapun telah punyakan orang yang dia penujui!" In Loei berseru. "Seumurku,
tidak akan aku menikah, maka tak usahlah kau capekan hati untukku!"
In Tiong melengak. Ia juga mendongkol. Di dalam hati kecil, ia kata: "Kiranya
karena kau tidak dapat menikah dengan Tan Hong, kau jadinya tidak sudi
menikah....." Sebenarnya hendak kakak ini tegur adiknya itu, atau ia lihat kedua mata adiknya
merah, ia jadi batal sendirinya. Sesaat itu ia ingat bahwa adik ini adalah adik
satu-satunya, sedang pertemuan mereka ini adalah yang pertama sejak perpisahan
mereka belasan tahun. Ia menjadi tak tega hati. Di akhirnya, ia menghela napas
sendiri.

Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Adalah di saat itu, mereka dengar suara pintu berkeletek, disusul oleh suara
batuk-batuk perlahan, lalu daun pintu terpentang, tertolak dari luar, dari mana
terlihat Nona Keng Beng bertindak masuk.
In Loei jengah sendirinya. Baharu ia bicarakan nona itu, sekarang si nona
sendiri muncul. Tapi ia paksakan hati, untuk menyambutnya sambil tertawa.
"Terima kasih, nona," kata In Tiong. "Sebenarnya tidak berani aku mengharap
kedatanganmu ini....."
Nona Tamtay berlaku polos.
"Mari ijinkan aku lihat lukamu," ia kata, langsung.
"Lukaku tidak berarti, terima kasih untuk perhatianmu," kata pula In Tiong,
"Loei, tolong kau antarkan nona ini."
Sebenarnya mendongkol Keng Beng melihat sikap dan mendengar perkataan In Tiong
itu, akan tetapi ia dapat atasi dirinya. Ia melirik, ia lantas bawa sikap
seperti tak terjadi sesuatu. Malah ia tertawa tertahan.
"Benarkah tidak apa-apa?" tanyanya, masih tertawa. "Cobalah kau menyedot napas,
ingin aku lihat!" Tadi In Tiong bentrok sama adiknya, karena bangkitnya kemurkaannya, lukanya
kambu tanpa ia merasa, racun bekerja, maka itu, waktu ia menarik napas, ia
merasakan dadanya sesak, iapun ingin tumpah-tumpah.
Keng Beng lihat itu, segera ia kata: "Jikalau kau tidak obati lukamu ini, kau
tak akan dapat lewatkan malam ini jam dua belas! Untuk satu laki-laki, walaupun
ada dibilang, dia pandang kematian bagaikan berjalan pulang, akan tetapi
kematianmu secara begini, sungguh-sungguh sangat tidak berharga! Kalau aku, hm,
tidak nanti aku sudi menjadi laki-laki semacam itu!....."
Mendadak wajahnya In Tiong menjadi pucat pias. Ia rasakan lukanya mendatangkan
rasa sangat sakit yang sangat.
"Nona Tamtay, tak dapatkah dia diobati?" In Loei tanya nona rumah.
"Aku hanya kuatir kakakmu menolak orang hingga satu lie lebih!" sahut Keng Beng.
Penyahutan ini ada mengandung dua maksud: Satu menyindir In Tiong, dan kedua,
mengenai juga penolakan In Tiong itu untuk Tan Hong.
In Tiong tidak menginsafi itu, ia kata: "Terima kasih, nona. Di sini aku telah
menjadi tetamumu, sebenarnya tidak berani aku membuatnya kau berabe....."
In Loei sebaliknya mengarti akan maksud kata-kata itu.
"Kiranya Tan Hong telah bicara segala apa kepada nona ini....." pikirnya. Ia
jadi berduka. Tapi di sini ada mengenai keselamatan kakaknya, suka ia menindas
perasaan hatinya. Maka ia kata: "Jikalau nona dapat menolong kakakku ini, kita
berdua saudara akan bersyukur tak habisnya."
"Tak usahlah kamu bersyukur," bilang Nona Tamtay, yang sebenarnya hendak
mengatakan, "Sudah cukup untukku asal kau tidak benci dan mencaci aku....."
Tiba-tiba ia merasa seperti melihat Tan Hong lirik ia, maka pikirnya terlebih
jauh. "Perlu apa aku melukai hati kekasihnya?" Ia lantas lirik pula In Loei, di
dalam hatinya dengan menyesal ia kata: "Nyatalah nona ini ada jauh terlebih
beruntung daripada aku....."
Segera nona ini keluarkan obatnya, yang ada dua rupa, yaitu satu untuk dimakan,
satu lagi untuk dipakai di luar. Ia juga membekal sebilah pisau perak serta
segumpal kapas. "Entjie, kau tolong bantu aku," ia mohon kepada In Loei.
Tangan baju In Tiong segera digulung naik. Tempat yang luka, yang bengkak,
lantas digurat dua kali, merupakan segi empat, kemudian, dengan cekal lengan
orang, Nona Tamtay gunai jari-jari tangannya akan menekan, atas mana, dari luka
guratan itu sudah lantas mengucur keluar darah yang hitam, yang berbau bacin.
Sebat bekerjanya nona rumah ini. Setelah merasa darah sudah keluar cukup, ia
sekai luka itu untuk bersihkan darahnya, lalu ia memborehkan obat, yang lebih
jauh ia tutup pula dengan kapas untuk terus dibalut.
Lengan In Tiong itu sebenarnya kaku dan ba'al, tidak mendatangkan rasa sakit,
akan tetapi setelah perawatannya Keng Beng itu, sebentar kemudian, anak muda ini
merasakan tekanan, atau pencetan, sepuluh jari si nona, membuatnya ia merasa
sakit sedikit, sakit-sakit enak.....
Selama di gurun pasir Utara, jarang In Tiong melihat nona-nona remaja, sekarang
ia menghadapi nona ini, yang cantik manis luar biasa, tanpa merasa hatinya
tergerak, jantungnya berdenyut dan
goncang bagaikan berlompatan. Kulit mukanyapun ia rasakan panas sendirinya.
"Budimu yang sangat besar ini, nona, tidak nanti aku melupakannya," kata ia
akhirnya. "Menyesal aku telah membuatnya kau bercape lelah....."
Tamtay Keng Beng tidak angkat mukanya ketika ia berikan penyahutannya: "Aku
lihat kau adalah satu laki-laki sejati, mengapa sekarang kau bawa sikapmu
sebagai satu nona pemaluan?"
In Tiong adalah satu laki-laki, jikalau di waktu-waktu biasa ada orang
mengatakan ia bersifat bagaikan perempuan, ia tentu akan gusar, sebab ia anggap
itu suatu penghinaan besar, tetapi sekarang Tamtay Keng Beng yang mengatakan
itu, sebaliknya, ia jadi merasa sangat senang. Begitulah ia merasa mukanya
panas..... "Terima kasih, entjie," kata In Loei setelah nona itu selesai dengan tugasnya.
"Biarlah selanjutnya aku yang merawati kakakku ini."
Memang niat Keng Beng, sehabis mengobati, hendak ia lantas undurkan diri, maka
ketika mendengar perkataan itu, ia tinggalkan sisa obat, ia berikan petunjuk
terlebih jauh, setelah kesemuanya itu, tanpa mengucap sepatah kata, cuma dengan
manggut perlahan kepada Nona In itu, ia bertindak pergi.
Heran In Loei menyaksikan sikap itu.
"Nona ini datang untuk menolongi, kenapa sikapnya begini dingin?" ia berpikir.
"Mungkinkah dia telah dengar perkataan-perkataanku tadi"....."
Karena ini, ia menjadi merasa kurang tenang.
In Tiong tunggu sampai suara tindakan kaki orang mulai lenyap, baharu ia buka
mulutnya. "Nona Tamtay itu baik sekali!" bilangnya. Pada sinar matanyapun nampak tanda
bahwa ia merasa puas, sinar mata itu bersorot halus.
Mendengar ini, melihat sinar mata kakak itu, hati In Loei tergerak. Segera
teringat ia akan pertemuannya tadi dengan Tan Hong. Ia pandang kakaknya itu,
hendak ia bicara, atau ia batal sendirinya.
In Tiong lihat wajah adiknya itu, kelakuan mana agak luar biasa, ia menjadi
heran. Bibir adik itu sudah hendak bergerak, lalu urung. Sinar mata adik itupun
yang semula bercahaya, lalu guram. Nampaknya adik itu berkuatir atau tegang.
Paras adik itu mendatangkan rasa kasihan orang.....
Nona Tamtay di lain pihak sudah berjalan terus, ia melintasi lorong, ia mutar ke
gunung-gunungan palsu, dari mana ia hendak langsung pergi kepada Tan Hong, untuk
melaporkan bahwa tugasnya telah selesai.
Tan Hong tetap bertempat di dalam kamar indah di tengah empang teratai itu.
Ketika itu sang rembulan dari tanggal muda baharu saja mulai muncul, menyinari
bunga teratai, membuatnya suasana di situ sangat tenang. Ketika itu si pemuda
tengah menyenderkan tubuh kepada loneng. Ia mengenakan pakaian serba putih, yang
putih mulus bagaikan salju. Matanya memandang jauh ke depan, dari mulutnya
terdengar suara bersenanjung perlahan.
Keng Beng menghentikan tindakannya ketika ia dengar suara orang, yang telah
terbawa angin. Ia mengawasi sambil memasang kuping.
Yang disuarakan itu adalah syair "Lim Kang Sian" atau "Dewi turun ke sungai"
dari Lok Kian Ie dari negeri Houw Siok, Siok Belakangan, dari jaman Ngo Tay.
Tamtay Keng Beng kenal syair itu, di dalam hati kecilnya, ia kata: "Dia pinjam
syair itu, inilah sangat tepat. Tepat tempatnya, tepat suasananya. Dari telaga
ini ia memandang keselatan, di sanalah kota Souwtjioe. Kota Souwtjioe itu dahulu
adalah tempat letaknya istana Thio Soe Seng, hanyalah sekarang, istana itu telah
menjadi tanah belukar, gempur temboknya, lebat lumut dan rumputnya. Pantas dia
teringat akan itu semua....."
Setelah berdiam sejenak, nona ini berpikir pula: "Dia mengenangkan negaranya
begini rupa, toh dia hendak serahkan peta buminya dan harta pusakanya kepada
musuh dari leluhurnya, yaitu kaisar ahala Beng, sikapnya dan perbuatannya itu,
sungguh ada hal yang ganjil....."
Selagi ia bagaikan melamun, nona ini dengar lebih jauh suara orang, yang di
akhiri tangisan sesegukan. Ia menjadi heran sekali. Tidak ia sangka, pemuda yang
gemar tertawa itu pun bisa menangis. Ia turut menjadi terharu. Tapi, sehabis
menangis, tiba-tiba Tan Hong tertawa, akan akhirnya dia bersenanjung pula: "Tali
baju menjadi longgar, tidak aku menyesal, untuk dia aku menjadi kurus layu, aku
pun puas. Apakah yang hendak dibuat duka" Ya, adik kecil, adik kecil, walaupun
kau menyiksa pula padaku, tidak nanti aku gusar dan sesalkan kau....."
Mendengar itu, Keng Beng menjadi tidak keruan rasa, perasaannya pun menjadi
campur aduk. Ia berduka. Ia tersadar dengan terkejut ketika kemudian ia tampak
bayangan bunga telah bergeser, sedang dari luar pekarangan, ia dengar suara
kentongan, yang berbunyi tiga kali. Tidakkah ia datang ke situ untuk memberi
laporan kepada Tan Hong" Kenapa ia berdiam saja di tengah jalan, seperti ia
takut menemui Tan Hong itu"
"Nyatalah sangat sekali cintanya ia terhadap In Loei," ia berpikir. "Untuk In
Loei itu, ia rela menderita. Seandainya ada lain orang yang menyinta aku seperti
cintanya dia itu, oh, matipun aku puas..... Ah, sayang sekali mereka ada dari
keluarga-keluarga yang saling bermusuh. In Tiong ada demikian berkeras hati,
bagaimana nanti -ooo00dw00ooo- Bab XIX Nona Tamtay terus berdiri diam, pikirannya terus bekerja keras, hingga tak sadar
ia bahwa sang waktu telah berjalan terus, sampai kemudian, ketika ia angkat
kepalanya memandang ke arah Tan Hong, anak muda itu telah lenyap dari tempatnya
meloneng tadi. "Rupanya sia-sia ia menantikan aku, ia sudah lantas pergi tidur," ia berpikir.
Karena ini, Keng Beng lantas membalik tubuh, untuk jalan kembali. Tengah ia
keluar dari gunung-gunungan, ia lihat satu tubuh berkelebat di antara pohon-
pohon bunga, segera ia lompat maju untuk memapaki, segera In Loei tampak di
depannya. "Oh, entjie." ia membuka suara. "Sudah begini malam, kenapa kau masih belum
tidur?" Nona In melengak.
"Aku baharu saja tunggui kakak tidur," ia menyahut kemudian. "Aku keluar untuk
mencari angin....." "Bagaimana keadaannya kakakmu?" Keng Beng tanya pula.
"Terima kasih, entjie. Sungguh kau pandai mengobati, sekarang bengkaknya lengan
kakakku telah kempes delapan atau sembilan bagian. Aku percaya, besok kakakku
akan sudah dapat turun dari pembaringan."
Selagi mengucap demikian. In Loei merasa sangat heran. Ia berpikir: "Tadi di
waktu merawat kakak, dia bersikap sangat tawar, mengapa sekarang dia sangat
ramah tamah terhadap aku?"
Keng Beng bersenyum. Ia seperti tidak ambil pusing bahwa orang heran, ia malah
ulur tangannya ke pundak nona itu, ia dekatkan mulutnya kekuping si nona. Terus
saja ia berbisik: "Entjie, jangan kau mengucap terima kasih terhadap aku.....
kau seharusnya bersyukur kepada Tan Hong....."
In Loei makin jadi heran. "Apa?" tanyanya.
"Obat adalah kepunyaannya, pun cara mengobatinya dialah yang mengajarinya
padaku," Nona Tamtay jawab.
"Oh!" In Loei berseru, lalu ia bungkam, matanya mendelong. Untuk sejenak itu tak
dapat ia berkata-kata. Keng Beng melanjutkan perkataannya. Ia kata: "Kemarin dia lihat In Toako memaksa
kau keluarkan itu surat wasiat kulit kambing yang berdarah, dia tidak
menghendaki kau dan kakakmu ketahui bahwa dialah yang memberi obat, maka dia
pinjam tanganku." Mendengar itu, di dalam hatinya, In Loei kata: "Kiranya kemarin mereka bicarakan
urusan ini, nyatalah anggapanku itu keliru." Karena ini, ia jadi bersyukur
kepada Tan Hong, ia menginsyafi perhatiannya anak muda itu. "Ah, mengapa ia
mesti berbuat demikian?" katanya, menanya.
"Umpama akupun menyukai satu orang, aku akan berbuat demikian juga," ia bilang.
"Asal saja orang akan merasa beruntung, tidak ada artinya kalau kita sendiri
rugi sedikit....." Kembali In Loei melengak.
"Nona ini baharu kenal aku, kenapa dia bergurau begini rupa?" ia pikir. Tapi ia
merasa bahwa orang rupanya bersungguh-sungguh, maka ia menatap, hingga sinar
kedua pasang mata jadi bentrok satu pada lain. Ia lantas lihat bahwa pada
senyuman nona itu ada apa-apa yang dingin.
Nona Keng Beng ada cerdik sekali, melihat wajahnya In Loei, ia menduga bahwa
orang masih bercuriga, maka itu, ia gigit kedua baris giginya dengan keras,
untuk menguasai dirinya, guna cegah berdenyutnya jantungnya.
"Kakakmu adalah satu laki-laki, entjie, hanya sayang ia sedikit keras kepala,"
ia bilang. Kembali heran In Loei akan dengar kata-kata itu, akan tetapi kakaknya dipuji, ia
lantas tertawa. Apakah kau hanya punya satu kakak?" Keng Beng tanya pula, secara
mendadak. "Ya, aku hanya punya seorang kakak," In Loei jawab.
"Apakah ada lain orang lagi dalam rumahmu?" lagi-lagi Keng Beng tanya.
"Masih ada ibuku, tetapi sekarang ia berada di Mongolia, entah di mana," In Loei
jawab. "Di belakang hari, akan aku cari ibuku itu....."
"Kecuali ibu, apakah tidak ada lagi sanak terdekat?" Keng Beng tanya pula. Ia
seperti tak habisnya menanya.
"Tidak ada lagi. Kakakku masih belum menikah."
"Oh, entjie belum punya enso?"
Sampai di situ, keheranan In Loei bersalin rupa. Terang si nona tengah mencari
jalan untuk bicara tentang kakaknya. Mulanya ia menyangka, nona itu menaruh hati
kepada Tan Hong, tapi nyatanya sekarang bahwa dia sebenarnya memperhatikan
kakaknya itu. Hampir saja ia mengatakannya: "Jikalau kau sudi jadi enso-ku,
itulah baik sekali!" Tapi masih dapat ia mengatasi diri, terhadap seorang yang
baharu dikenal, tidak berani ia sembarang bergurau. Hanya pada alisnya sajalah
tampak tegas kegirangannya. Ia awasi nona itu, ia bersenyum.
"Ya, aku masih belum punya enso....." ia jawab.
In Loei tidak tahu bahwa sebenarnya, dengan paksakan diri, Keng Beng ucapkan
kata-katanya melulu untuk melenyapkan kecurigaan, atau cemburu terhadap ia.
Di antara sinar rembulan, yang nyeplos antara daun-daun pohon-pohonan, kelihatan
kedua nona itu saling menjabat tangan, keduanya bertindak dengan perlahan dengan
hati mereka masing-masing bergoncang sendirinya. Mereka berjalan di tepi
pengempang teratai, hingga di lain saat, di antara tedengan gorden, mereka lihat
suatu bayangan tubuh. "Tan Hong masih belum tidur!" kata Keng Beng sambil tertawa. "Dia tengah
menantikan kau, entjie1."
"Cis" seru In Loei, yang segera merasakan mukanya panas sendirinya. Ketika tadi
ia keluar dari kamar In Tiong memang
hatinya pepat, ingin ia melegakannya. Ia bimbang. Adalah niatnya untuk
menyingkir dari Tan Hong, akan tetapi, adalah niatnya juga, untuk tengok anak
muda itu, maka ia telah bertindak ke arah pengempang. Adalah di luar dugaannya
bahwa rahasia hatinya itu dapat dibade Keng Beng. Maka ia menjadi jengah.
Keng Beng sudah lantas tertawa geli, ia terus putar tangannya untuk dapat
terlepas dari cekalannya si Nona In, setelah mana, ia lari mutar ke gunung-
gunungan akan kemudian lenyap dalam semak-semak pohon bunga.
In Loei awasi orang menyingkir. Kapan kemudian ia menoleh ke arah paseban di
tengah empang, ia tampak Tan Hong sudah pentang daun jendela dan kepalanya
ditongolkan keluar. "Adik kecil! Adik kecil!" demikian suaranya anak muda itu, perlahan tetapi tedas
di antara kesunyian malam itu.
In Loei tidak jawab panggilan itu. Ia seperti terhilang rasa, tetapi dengan
perlahan-lahan, ia bertindak ke arah empang teratai itu.
Keng Beng dari tempatnya sembunyi saksikan pemandangan itu, ia menjadi girang
berbareng sedih, hingga tanpa merasa, ia mengucurkan air mata.
In Tiong sementara itu dapat tidur nyenyak selama satu malam, ketika keesokannya
ia mendusi, ia tampak matahari sudah naik tinggi. Ia ingat kepada lukanya, ia
lantas menggerak-gerakkan lengannya yang sakit. Untuk kegirangannya, ia dapat
bergerak dengan leluasa, seperti biasa. Melainkan tubuhnya, ia rasakan masih
sedikit lemah. Ia berdahaga, ia lantas ceguk secawan air. Kemudian ia berbangkit akan rapikan
pakaiannya, untuk bertindak keluar dari kamar, dengan begitu dengan lantas ia
dapat saksikan keindahannya Tongteng Santjhoeng dengan gunung dan gua palsunya,
dengan tamannya, dengan pengempangnya dan lain-lainnya lagi.
Dengan pikiran terbuka, In Tiong jalan terus, tindakannya lambat. Ketika ia tiba
di depan gunung-gunungan, tiba-tiba ia dengar suara orang bicara di arah
belakang gunung palsu itu. Suara itu keras. Itulah suara orang bertengkar,
berebut omong. "Harta simpanan ini telah kita jagai untuk iaotjoekong selama beberapa turunan,"
demikian satu orang, "kenapa sekarang harta itu hendak diserahkan kepada
musuhnya, kepada kaisar keluarga Tjoe" Di alam baka, pastilah Iaotjoekong tak
akan meram mata!" ("Laotjoekong" ialah "majikan atau junjungan yang tua").
"Duduknya hal tidak demikian," terdengar satu suara orang tua, yang tegas dan


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

nyata. "Benar seperti katanya siauwtjoe, dahulu adalah dua keluarga
memperebutkan negara, akan tetapi sekarang adalah suatu bangsa asing hendak
datang menyerbu! Dalam hal ini kita mesti menimbang berat dan entengnya, maka
itu mestilah kita bersatu hati dan bersatu tenaga, untuk menangkis musuh luar!"
Seorang lagi berkata: "Aku tidak percaya kaisar keluarga Tjoe hendak bersungguh-
sungguh hati menangkis serangan musuh luar itu!"
Kembali terdengar suara angker dari si orang tua tadi: "Dalam keadaan hebat
seperti ini, dia tidak melawan juga tak mungkin! Kita harus ingat, di samping
kaisar itu, ada Ie Kiam dan lain menteri besar yang setia kepada negara.
Sekarang telah pasti keputusanku, hendak aku turut perkataannya siauwtjoe, maka
kamu semua jangan banyak omong pula!" ("Siauwtjoe" ialah "tuan atau junjungan
yang muda.") In Tiong kenali, orang tua itu adalah Tongteng Tjhoengtjoe, tuan rumah dari
Tongteng Santjhoeng itu, maka yang lainnya tentulah orang-orangnya si tuan
rumah. Hatinya lantas saja bercekat. "Sri Baginda telah menganggap Thio Tan Hong
mencari harta simpanan dan peta bumi itu hendak dipakai memberontak melawan
pemerintah," ia berpikir, "tetapi sekarang buktinya, harta besar itu justeru
hendak dipersembahkan kepada Sri Baginda!"
In Tiong merasa aneh, ia menjadi kagum, hatinya goncang keras. Dalam saat
seperti itu, ia tak bisa berbuat lain daripada berdiri terpaku bagaikan patung.
Atau mendadak: "Hai Tjonggoan thaydjin kau pun telah datang kemari?" demikian
satu teguran, yang datangnya dari arah lorong, teguran mana diberikuti suara
tertawa. Dengan terkejut In Tiong menoleh. Maka dilorong itu, ia tampak dua orang tengah
mendatangi ke arahnya. Ia segera kenali, mereka itu adalah si ibu dan anak
daranya yang ia ketemukan di warung teh. Tentu saja sekarang tahulah ia siapa
ibu dan anak itu. "Peebo" ia lantas memanggil sambil terus memberi hormat.
Tamtay Toanio lantas tertawa.
"Bagaimana, kau telah sembuh?" tanya nyonya itu. "Sungguh kau beruntung!"
Dan si nona atau Tamtay Giok Beng, telah bawa kejenakaannya. Ia tertawa haha-
hihi ketika ia berkata kepada ibunya: "Aku telah dengar entjie mengatakan bahwa
kemarin dia masih berlagak menjadi satu laki-laki!....."
Paras In Tiong menjadi merah sendirinya.
Nona yang jail itu tidak memperdulikannya, dia malah tertawa dingin sekarang.
Dengan sebat dia rogo sakunya, untuk tarik keluar sehelai saputangan tersulam,
dengan satu gerakan tangan, ia kibaskan itu yang membuatnya terbeber, maka di
dalam saputangan itu tertampaklah sulaman dari sepuluh tangkai bunga merah, yang
berkibar secara menyolok mata!
In Tiong lihat saputangan dengan sulaman bunganya itu, kembali hatinya bercekat.
Tamtay Toanio tertawa. "Anak Beng, jangan kau bikin kaget tetamumu!" dia kata.
Masih Giok Beng tertawa cekikikan. Dengan dua jari tangannya yang sebelah, ia
gulung tujuh tangkai bunga merah itu, sambil menggulung ia berkata dengan wajar:
"Ini tujuh butir telur busuk yang hendak bikin celaka toako Tan Hong telah aku
petik! Tinggal tiga lagi tetapi Toako Tan Hong larang aku mengganggunya, di
larang sekalipun disentuh saja!....."
In Tiong bercekat pula. Ia tahu, tiga tangkai itu dimaksudkan terhadap dia
bersama Tiatpie Kimwan dan Samhoa Kiam.
Tamtay Toanio tertawa pula.
"Sejak di paseban teh telah aku lihat In Siangkong adalah orang baik-baik," ia
bilang. "Sudahlah, anak Beng, aku larang kau bergurau pula!"
Keluarga Tamtay ini bertugas melindungi harta simpanan, oleh karena itu Tongteng
Tjhoengtjoe Tamtay Tionggoan telah wajibkan diri menduduki Tongteng San Barat
itu. Selaku persiapan, bagaikan mata-mata, telah diadakan warung teh itu, yang
dilakukan Tamtay Toanio serta puterinya, untuk mengawasi setiap orang yang
mendaki bukit di tengah telaga itu. Sebelum ia masuk ke Tongteng Santjhoeng, Tan
Hong sendiri tidak tahu bahwa nyonya dan nona itu adalah isteri dan anaknya
Tamtay Tionggoan. Tamtay Toanio tidak pedulikan orang heran atau bingung.
"In Siangkong," ia berkata pula kepada tetamunya itu, "mari aku ajak kau
melihat-lihat sesuatu!"
Dalam keadaan seperti itu, tak dapat tidak, In Tiong lantas ikuti nyonya itu.
Mereka jalan di lorong, memutari gunung-gunungan, sampai di suatu tempat di mana
- begitu berkilau sinar terang mengkilap - In Tiong tampak tumpukkan emas dan
perak, dari barang-barang permata lainnya! Di sana pun berdiri Tongteng
Tjhoengtjoe bersama beberapa petani, mendampingi harta besar itu.
"Ha, In Thaydjin, bagus kau datang!" seru tuan rumah begitu ia tampak tetamunya
itu. Kemudian, menoleh kepada satu orangnya, ia menitahkan: "Pergi kau undang
Thio Siangkong datang kemari!"
Tongteng Tjhoengtjoe biasa memanggil siauwtjoe, tuan muda, kepada Thio Tan Hong,
akan tetapi Tan Hong keras menampik, maka kesudahannya dia mengubahnya panggilan
itu, dari siauwtjoe menjadi siangkong.
Tidak berselang lama, tampak Tan Hong datang bersama-sama In Loei. Mereka itu
bertindak di antara jalanan yang berbariskan pohon-pohon bunga. Waktu In Loei
lihat kakaknya, ia segera kendorkan tindakannya, dari berendeng, ia jadi
ketinggalan di sebelah Tan Hong.
In Tiong saksikan pemandangan itu, diam-diam ia menghela napas, ia merasa likat
sendirinya. Tapi sekarang ia tidak lagi bergusar seperti kemarinnya.
"Bagaimana dengan lukamu, saudara In?" tanya Tan Hong begitu lekas ia telah
datang dekat. Sebenarnya In Tiong tidak niat menjawabnya, akan tetapi kesopanan memintanya,
maka ia manggut dengan tawar.
"Tak usah kau kuatirkan, aku masih hidup," ia jawab.
Tan Hong tidak marah, ia malah bersenyum. "Bagus!" katanya. Ia menanya pun
dengan sengaja, karena ia tahu kemujaraban obatnya, yang begitu dipakai tentu
bakal menyembuhkan lukanya. Tongteng Tjhoengtjoe tidak pedulikan ketegangan di
antara kedua anak muda itu.
"Harta ini aku telah menjaganya selama beberapa turunan," ia berkata, maka
sekarang telah tiba saatnya untuk aku melepaskan pikulanku yang beratnya ribuan
kati! In Thaydjin, aku minta sukalah kau beristirahat sedikitnya dua hari lagi
di sini, setelah itu hendak aku mohon agar kau angkut harta ini ke kota raja,
untuk dipersembahkan kepada junjunganmu supaya dipakai sebagai belanja tentera."
Tan Hong tidak tunggu jawabannya In Tiong lagi, berkata: "Apa yang dikatakan
Anghoat Yauwliong kemarin bukan kedustaan belaka," ia bilang. "Telah aku peroleh
kabar pasti, angkatan perang Watzu benar-benar sudah menerjang ke Ganboenkwan,
di sana telah terbit perang di antara kedua negeri!"
In Tiong dengar itu, ia menjadi sangat gusar, hingga dengan tangannya ia sampok
batu gunung-gunungan dihadapannya.
"Jikalau aku tidak sapu habis tentara Watzu, aku sumpah tak akan jadi manusia!"
Tiba-tiba ia terhuyung, dari mulutnya ia muntah-kan darah hidup.
In Loei kaget, ia lompat akan tubruk kakak itu, untuk pegangi tubuhnya
Tan Hong pun sambar tangan orang akan periksa nadinya.
"Jangan kuatir," kata ia setelah memeriksa. "Ini cuma disebabkan kemurkaan
disatu saat. Saudara In," ia tambahkan, "lagi dua hari, kau akan sembuh pula.
Jangan kau pikirkan tentang bahaya perang, walau keadaan sangat genting,
peperangan bukannya urusan dua tiga hari. Yang penting adalah harta besar ini,
di waktu diangkut, kau harus mohon bantuannya Tjhoengtjoe, supaya nanti di
tengah jalan tak sampai ada yang begal!"
"Dan kau?" Tongteng Tjhoengtjoe tanya anak muda itu, menegasi.
"Aku masih punyakan lainnya yang jauh lebih penting dari harta ini," jawab Tan
Hong. "Ah, peta bumi, kau maksudkan?" tanya Tongteng Tjhoengtjoe.
"Benar," sahut Tan Hong. "Sekarang ini musuh tangguH dan kita lemah, peta itu
penting bagi pihak kita. Bukankah kita jadi berada di tempat terang dan musuh di
tempat gelap" Itu artinya lebih berfaedah daripada tambahan sepuluh laksa
serdadu!" Mendengar itu, Tongteng Tjhoengtjoe tiba-tiba menggeleng kepala, pada wajahnya
pun lantas tampak roman berduka.
"Kenapa ha?" tanya Tan Hong.
"Thio Siangkong," sahut orang tua itu, "walaupun kau gagah dan cerdas, dengan
kau hanya seorang diri, hatiku tidak tenteram. Peta itu ada mengenai nasibnya
negara kita, dan dorna Ong Tjin telah ketahui halnya itu! Benar rombongannya
Anghoat Yauwliong telah dapat kita tumpas, tetapi tak dapat kita pastikan bahwa
dia tidak akan mengirim lain rombongan lagi! Perjalanan ada ribuan lie jauhnya,
kau berjalan seorang diri, jikalau terjadi sesuatu di tengah jalan kami tentunya
tidak ketahui itu....."
Tan Hong rupanya menginsyafi itu, ia bungkam.
"Selayaknya aku titahkan orang untuk temani siangkong," Tongteng Tjhoengtjoe
berkata pula, "akan tetapi, sayang aku tak dapat lakukan itu. Orang-orang di
sini, semua kepandaiannya ada di bawahan siangkong, maka jikalau siangkong
menghadapi musuh tanggu, siangkong tidak ada orang yang membantuinya....."
"Memang juga perjalananku kali ini agak berbahaya," Tan Hong akui, "tetapi aku
cuma membawa sehelai peta bumi, itu tidaklah terlalu menyolok mata. Adalah kau,
yang mengangkut harta besar, kau memerlukan banyak tenaga. Maka untuk aku,
janganlah kau memecah-mecah tenaga."
In Tiong yang mendengar orang "adu mulut" jadi berpikir keras. Tapi lekas sekali
ia telah dapatkan pikiran. Maka ia angkat kepalanya.
"Adik Loei, kau pergilah bersama dia!" tiba-tiba dia kata, suaranya nyaring.
Mendengar itu, semua orang tercengang. In Loei sendiri girang berbareng kaget,
hatinya goncang. Inilah ia tidak sangka.
Rupanya In Tiong tahu keheranan semua orang, berikut adiknya itu.
"Aku tahu kamu berdua mempunyai ilmu silat pedang yang tergabung menjadi satu,"
ia tambahkan, "maka itu, walaupun
musuh ada jauh terlebih liehay, masih kamu dapat melayaninya. Dengan kau yang
pergi, hatiku tenang."
Dengan "ilmu silat pedang yang tergabung menjadi satu" itu, In Tiong maksudkan
"Siangkiam happek," yang ringkasnya, "sepasang pedang terangkap."
Tan Hong segera menjura dalam kepada orang she In itu.
"Terima kasih, saudara In!" ia mengucap.
"Hm!....." In Tiong perdengarkan suara dingin.
"Terima kasih apa" Aku tidak memikir untuk kau!"
"Aku tahu maksudmu kepada peta bumi," sahut Tan Hong. "Bagaimana jikalau aku
menghaturkan terima kasih kepadamu atas namanya negara kerajaan Beng?"
"Baik!" jawab In Tiong. "Karena kau hendak bekerja untuk Kerajaan Beng, suka aku
membalas hormatmu!" Dan ia lantas menjura. Mau atau tidak, In Loei jadi
bersenyum. "Loei, mari!" In Tiong panggil adiknya itu.
In Loei hampirkan kakaknya, lalu berdua, sambil bergandengan tangan, mereka
bertindak ke arah pohon-pohon yang lebat. Di sini In Tiong usap-usap rambut yang
halus dari adiknya itu, sinar matanya pun menyatakan ia sangat mengasihi adik
itu. "Adikku, adakah kau gusar kepadaku?" ia tanya, perlahan, suaranya halus.
"Koko, aku justeru sangat girang!" sang adik jawab.
"Sejak kita berpisahan, tiada satu saat yang aku tidak pikirkan kau," kata kakak
itu pula. "Aku kangen terhadap kau, Loei, sehingga kadang, aku bermimpi menemui
kau..... Aku mimpikan kau bagaikan kau baharu berumur tiga tahun, dengan tiga
untai kuncirmu, bagaimana dipadang rumput kau mengawasi ibu mengembala
kambing....." In Loei girang dan terharu, hingga ia mengeluarkan air mata.
"Koko, aku tahu, kau memang menyayangi aku, mengasihi aku....." katanya.
In Tiong menghela napas panjang. "Kemudian," katanya, meneruskan, "tatkala untuk
pertama kali kita bertemu di Tjengliong Kiap, ketika itu kau menyamar sebagai
laki-laki, kau justeru membantui musuh menentang pihakku. Itu waktu aku telah
berpikir, di mana pernah aku lihat orang ini" Ah, dia mirip dengan
saudaraku..... Karena itu juga waktu itu aku tidak memikir untuk berlaku telengas."
"Ya, kita yang bersaudara, perasaan kita memang sama." kata In Loei. "Ketika
itu, koko, aku juga berpikir seperti kau pikir itu."
"Kemarin," tiba-tiba In Tiong bicara getas, "tahulah aku bahwa kau adalah
adikku, aku jadi sangat girang, tetapi berbareng akupun berduka, sakit
hatiku..... Ya, kau nampaknya bergaul sangat erat dengan dia itu!"
Hati In Loei memukul, ia lantas tunduk, air, matanya pun segera mengucur dengan
deras. "Adikku," In Tiong berkata pula, "ilmu pedangmu sudah cukup untukmu menjelajah
dunia kangouw, hanya sayang, hatimu terlalu lemah. Kau sebagai gadisnya keluarga
In, sekarang aku ingin supaya kau kuatkan hatimu dan jawab satu hal."
Parasnya In Loei menjadi pucat, tetapi ia menyahuti.
"Silahkan bilang, koko," katanya.
In Tiong awasi adik itu. "Sakit hati terhadap Thio Tan Hong boleh aku tidak membalasnya," ia bilang,
"akan tetapi, walau bagaimanapun, dia tetap seorang putera dari musuh kita yang
kakek paling bencikan, maka itu kau, selama hidupmu sekarang, di jaman ini, tak
dapat kau dan dia menjadi suami isteri! Kalau sekarang kau pergi bersama ia,
untuk mengantarkannya, itu melulu untuk mengantar peta bumi
itulah untuk Kerajaan Beng kita yang terbesar! Selama di tengah jalan, tak dapat
kau kasi dirimu ditipu dengan kata-katanya yang manis. Jikalau sampai kejadian
kau benar-benar sukai dia, baiklah persaudaraan kita kakak beradik dibacok
kutung saja menjadi dua potong! Loei, sekali lagi aku peringatkan aku larang kau
dan dia menjadi suami isteri! Ini adalah apa yang hendak aku katakan. Dapatkah
kau meluluskan atau tidak" Bilang, bilanglah! Bilanglah!"
In Loei jadi sangat serba salah. Iapun ada sangat berduka. Kalau kakak itu
bicara seperti kemarin, keras dan kasar, mungkin ia segera berikan jawabannya
yang sama kerasnya, menuruti napsu amarahnya. Tapi sekarang..... sekarang kakak
ini menatap ia dengan sinar mata yang memohon sangat..... Ia mencoba kuatkan
hatinya. Ia angkat kepalanya, untuk membalas menatap kakak itu. Di akhirnya, ia
menjawab dengan perlahan: "Baiklah, koko, aku berjanji....."
Sehabis bersantap pagi, Thio Tan Hong bersama In Loei pamitan dari orang banyak,
mereka turun dari bukit, untuk menyeberangi telaga. Keluarga Tamtay, ayah dan
gadisnya, mengantar sampai di tepi telaga.
Sebuah perahu telah tersedia di tepi telaga, di bawah sebuah pohon yanglioe,
itulah sebuah perahu yang enteng, yang di dalamnya itu telah disiapkan arak
harum buatan Tongteng San, berikut daging kering dari ayam dan lainnya. Semua
itu adalah hasil dari perhatian yang besar dari Tongteng Tjhoengtjoe.
Tamtay Keng Beng, dengan tangan memegangi cabang yanglioe yang meroyot turun,
mengawasi orang naik keperahu. Dengan perlahan sekali, ia mengucapkan: "Ribuan
oyot yanglioe tak dapat mengikat menghentikan sebuah perahu yang berlayar....."
Wajahnya tampak suram. "Entjie Keng Beng," berkata In Loei kepada nona itu, "tolong kau perhatikan
kakakku! Lain hari nanti kita bertemu pula di kota raja!" Keng Beng tertawa.
"Entjie In Loei," ia menjawab, "tolong kau perhatikan siauwtjoe kami!"
Tongteng Tjhoengtjoe juga nimbrung: "Aku pujikan supaya kamu selamat di
perjalanan, supaya peta bumi dapat dibawa ke kota raja, supaya tidak sia-sialah
yang keluarga kami telah melindunginya selama beberapa turunan!"
Di mukanya In Loei tertampak warna merah, tetapi tjhoengtjoe itu bicara secara
sungguh-sungguh, ia lantas angkat kedua tangannya, untuk membalas hormat sambil
mengucapkan terima kasih.
Thio Tan Hong telah kenyang melawan gelombang, sekarang dapat ia berkumpul
berdua dengan In Loei, ia girang bukan kepalang. Maka juga, selagi membuatnya
perahunya laju, ia menepuk-nepuk irama untuk bernyanyi. Tapi, ketika ia menoleh
ke tepi tadi, ia tampak Tamtay Keng Beng masih memegangi cabang yanglioe dan
matanya si nona mengawasi kepadanya.....
"Eh, saudara kecil, mengapa kau tidak tertawa?" tanya Tan Hong, yang lihat orang
diam membungkam. "Apakah yang mesti ditertawainya?" tanya In Loei sambil membuat main tali
bajunya. "Kita dapat membuat perjalanan bersama, apakah itu bukan suatu hal yang
menggirangkan?" tanya Tan Hong.
"Jaraknya perjalanan tapinya terlalu pendek," kata si nona.
Untuk sejenak, Tan Hong melengak. Tapi segera ia insyaf. Maka ia pikir dalam
hatinya: "Memang, perjalanan hidup manusia ada jauh tetapi perjalanan kita
terlalu pendek....." Lalu ia kata: "Tidak usah kau mengatakannya, aku dapat
menerka apa katanya kakakmu kepadamu. Tentang itu kau tidak usah kuatir. Tujuan
kakakmu sama dengan tujuan kita, mungkin akan datang waktunya yang ia nanti
ijinkan kita melakukan perjalanan jauh bersama-sama....."
Mendengar ini, hati In Loei tergerak.
"Memang, sikap kakak kemarin dan hari ini beda sekali," pikir ia. "Sebelumnya ia
sangat keras mencegah aku berjalan bersama Tan Hong. Dahulu ia membenci sangat
Tan Hong, ia berkukuh hendak membalasnya, tetapi sekarang, permusuhan itu telah


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

berkurang banyak. Benar seperti kata toako, dalam dunia ini tak ada benda yang
selamanya tak berubah....."
Baharu nona ini berpikir demikian, atau lain pikiran datang pula.
"Apa yang pagi ini koko katakan, semuanya beralasan," demikian pikirnya pula.
"Aku kuatir setelah ini, untuk selanjutnya, ia tak dapat mengalah lebih
jauh....." Karena ini, ia jadi bertambah duka. Tapi, hendak ia hiburkan diri. Maka ia
pikir, baiklah ia ke sampingkan dahulu urusan pernikahan, lebih baik ia
mementingkan kejadian yang ia hadapi. Bukankah sudah cukup asal ia sering
bertemu muka sama Tan Hong, bertemu muka bukan sebagai musuh"
Tan Hong biarkan orang berpikir, ia mengawasi sambil bersenyum. Ia telah menerka
apa yang si nona pikirkan, ia sengaja membiarkannya saja, tak mau ia
mengganggunya. Dengan membungkam, orang bisa dapatkan sesuatu yang baik.....
Di waktu magrib, kedua anak muda ini telah seberangi telaga Thayouw. Mereka
bermalam di kota Souwtjioe.
Ketika pertama kali ia mendaki Tongteng San, Tan Hong telah titipkan kudanya,
Tjiauwya saytjoe ma, pada satu keponakannya Tamtay Toanio, sekarang ia ambil
kudanya itu, untuk di hari kedua ia bersama In Loei lakukan perjalanan ke Utara.
Di sepanjang jalan mereka lihat banyak kuda kereta berjalan bererot mengangkut
rangsum, tahulah mereka artinya kegentingan ketenteraan.
Begitu lekas mereka memasuki wilayah propinsi Hoopak, Tan Hong dan In Loei
saksikan suasana yang terlebih tegang. Mereka yang menuju ke Utara sedikit
sekali, sebaliknya mereka yang menuju ke Selatan, makin lama makin banyak,
mereka menyingkir untuk mengungsi.
Lagi dua hari mereka berjalan, kecuali mereka berdua, tidak tampak orang lainnya
lagi. Di jalan besar, di jalan kecil, sampai di gili-gili sawah, yang tampak
adalah mereka yang tengah mengungsi, berisik suara mereka itu. Orang-orang tua
dipayang, anak-anak kecil dituntun..... Dan anak-anak yang lebih kecil ada yang
memanggil-manggil ayah dan ibunya.....
Mereka itu sangat mengharukan dipandangnya. Kabar angin juga berbareng ada
tersiar luas. Ada yang mengatakan bahwa pasukan perang Mongolia sudah menerjang
masuk ke kota Kieyongkwan atau telah tiba di Hoaydjoe atau Bitin, dua kecamatan
di utara kota raja. Ada lagi yang bilang musuh sudah lintasi Patatleng. Yang
lebih hebat lagi adalah kabar burung bahwa ibu kota Pakkhia sudah dikurung
musuh. Sejumlah rakyat pengungsi itu ketika ketahui Tan Hong berdua hendak pergi ke
Pakkhia, semua mereka menunjukkan roman heran dan kaget, lalu mereka memberi
nasehat untuk keduanya mengurungkan niat mereka, sebab katanya itulah perjalanan
mengantarkan jiwa..... Mau atau tidak, Tan Hong jadi berduka juga. Ia mesti pergi ke Pakkhia, walaupun
keadaan genting dan berbahaya. Tidak bisa lain, ia ubah ambil jalan, yaitu ia
tak lagi ambil jalan besar, ia hanya ambil jalan kecil untuk memotong jalan ini,
baharu dua hari, mereka sudah tidak bertemu seorang jua. Di kampung-kampung
dalam sepuluh, sembilan orang telah pergi menyingkir. Terang sudah, siapa yang
dapat mengungsi, dia telah singkirkan dirinya dari daerah perang.
Segera Tan Hong dan In Loei tiba di sebuah desa dekat Pong San. Di sini mereka
berputar-putar mencari rumah penduduk yang ada penghuninya, setelah setengah
harian, baharu mereka ketemui satu keluarga tani yang belum mengungsi. Keluarga
ini terdiri dari satu nyonya tua dan satu anak muda, ibu dan anak. Si ibu sudah
tua dan lemah, tak kuat jalan, dan si anak tak tega meninggalkannya.
Tan Hong minta dikasi menumpang. Nyonya tua itu baik budi, suka ia memberi
tempat meneduh, tetapi ia bilang, tak dapat ia menyediakan beras atau nasi.
"Tidak apa," kata Tan Hong, yang terus berikan separuh dari bekalan sekantong
berasnya. Malah iapun obati nyonya itu, yang dapat sakit mejen. Ia memang ada
membekal obat-obatan. Si orang tua bersyukur, karena dengan lekas ia telah sembuh dari sakitnya itu.
Ditanya tentang keadaan perang, nyonya tua itu tidak dapat memberi keterangan
kecuali katanya menurut kabar bahwa kota Hoaydjoe sudah jatuh, sedang kota itu
terpisah dari kampungnya cuma kira-kira seratus lie. Kabar itu ia dengar dari
sanaknya yang lewat mengungsi di kampungnya itu.
Nyonya rumah tidak punya kamar lebih, Tan Hong dan In Loei terpaksa rebahkan
diri di kamar yang dijadikan gudang kayu. In Loei telah menyamar sebagai satu
pemuda, ia tak usah kuatir mendatangkan kecurigaan orang. Tetapi mereka tak
dapat tidur pules, mereka kuatirkan urusan negara.
Tepat jam tiga, Tan Hong dengar pintu depan didobrak terbuka, ketika ia lompat
keluar, ia dapati tuan rumah yang muda sedang dicekal keras oleh satu perwira
yang mukanya berlumuran darah.
"Lekas masak nasi untukku, atau aku bunuh kau!" demikian si perwira mengancam.
"Berlakulah murah hati, tuan, lepaskan anakku," memohon si nenek.
"Baik, tapi lekas masak nasi!" kata perwira itu. "Di sini ada dua ekor kuda,
mari kasikan yang satu padaku. Anakmu pun mesti gendol barangku!.....
"Akan aku masak nasi, tuan," kata pula si nenek. "Tapi kasihani anakku yang
tinggal satu-satunya ini. Dari tiga anakku, yang dua sudah dipaksa dibawa pergi
oleh kamu. Kasihani kami, tuan, bebaskanlah dia....."
"Tua bangka tolol" Bentak perwira itu. "Tentara Mongolia sudah menerjang, siapa
juga mesti pergi perang!..... Tiba-tiba ia menoleh, ia lihat Tan Hong di pojokan
yang suram, karena api pelita yang kelak-kelik. Ia lantas saja tertawa, terus ia
kata: "Hai, babi tua, kau mendustai Lihat di sana, apa bukan masih ada satu lagi
anakmu?" Sambil pegangi tangan si anak muda, yang ia pencet nadinya, perwira itu maju
kepada Tan Hong, untuk jambak pemuda kita itu.
Tan Hong mengawasi dengan dingin.
"Bukannya kau pergi berperang, kau sebaliknya mengganggu rakyat!" katanya dengan
bengis. Ia menangkis sambil berniat cekal tangan perwira itu.
Si perwira tarik tangannya, ia lantas menyerang. Tapi Tan Hong dapat menangkis
pula. Setelah dua tiga gebrak, Tan Hong heran. Ilmu silat si perwira ternyata adalah
ilmu silat dari Tiamtjhong Pay. Terpaksa ia mendesak, untuk bikin perwira itu
lepaskan cekalannya kepada tuan rumah, setelah mana, ia mendesak lebih jauh.
Masih si perwira melawan, sampai kemudian dia berteriak "Aduh!" dan tubuhnya
rubuh terguling, karena tak dapat dia bertahan lama.
"Eh, eh, kau toh Thio Tan Hong?" dia berseru selagi dia rebah dan matanya
mengawasi orang yang merubuhkan padanya. "Kau, kau..... ampunilah aku, jangan
kau tangkap aku dan bawa ke Mongolia!....."
Tan Hong heran, ia mengawasi.
"Jangan ngaco!" katanya. "Siapa mau tangkap kau untuk dibawa ke Mongolia?"
Ia maju akan cekal tangan orang, untuk menyeka mukanya yang penuh darah itu,
setelah meneliti, iapun melenggak.
Perwira itu nyata adalah Taylwee Tjongkoan Kong Tiauw Hay, pantas dia liehay.
"Memang, segala pembesar banyak yang galak....." kata si nenek. Ia menghela
napas. "Tapi kasihan dia ini, dia terluka begini rupa....."
Tubuh Tiauw Hay itu terlukakan belasan anak panah, dua antaranya belum tercabut.
Kecuali mukanya, pakaiannya pun berlepotan darah. Dia ada sangat lelah, kedua
matanya pun hilang sinarnya.
"Dia benar tangguH, walanpun dia terluka parah, masih sanggup dia melayani aku
beberapa jurus," pikir Tan Hong. Tapi, ketika ia periksa luka orang, kebanyakan
luka itu tidak berbahaya, kecuali dua yang anak panahnya masih menancap. Ia
lantas cabut terus ia memberikan obat.
"Apakah dia sahabatmu?" si orang tua tanya.
"Ya," sahut Tan Hong sembarangan. Tapi ia jengah untuk mengucap demikian. Di
dalam hati kecilnya, ia berkata: "Apabila orang tahu dia ini Taylwee Tjongkoan,
sekalipun raja akan turut dapat malu....."
Setelah itu, si nenek hendak pergi masak nasi. "Tidak usah," Tan Hong cegah,
"nanti aku sendiri yang layani dia."
Benar-benar Tan Hong pergi untuk memasak nasi.
"Kong Tjongkoan, kau dahar seadanya saja," ia bilang kemudian.
Di waktu pieboe, Tiauw Hay telah menitahkan orang bekuk Tan Hong, sekarang ia
lihat orang bersikap baik, kepadanya dengan diobati dan dikasi makan, tidak
berani ia banyak omong. Ia dahar dengan cepat dan banyak, hingga dengan cepat
juga ia mulai pulih kesegaran tubuhnya.
"Kong Tjongkoan, kenapa kau tidak ikuti Sri Baginda?" tanya Tan Hong kemudian.
"Kenapa kau menyingkir seorang diri kemari?"
Tjongkoan itu perlihatkan rupa berduka.
"Panjang untuk berceritera," ia jawab. Ia menghela napas. "Sebenarnya aku memang
mengiringi Sri Baginda, tentera kita
berjumlah lima puluh laksa jiwa, tetapi pasukan itu termusnah semua, jikalau aku
tidak lekas lari, sudah pasti jiwaku pun turut lenyap....."
Tan Hong terkejut, hingga ia memotong: "Apa?" tanyanya. "Benarkah kau ikuti Sri
Baginda" Mungkinkah tentara Mongolia sudah masuk ke Pakkhia?"
"Bukan," Tiauw Hay jawab, cepat. "Sebenarnya Sri Baginda mengepalai sendiri
angkatan perangnya, sekarang dia berada di luar kota Hoaydjoe di mana dia telah
dikurung rapat-rapat oleh musuh....."
Kembali Tan Hong terkejut.
"Apa" Sri Baginda pimpin sendiri angkatan perang?" dia tanya. "Usul siapakah
itu?" "Itulah kehendak Ong Kongkong....." sahut Tiauw Hay.
Tan Hong ada demikian gusar hingga ia hajar meja di depannya sehingga ujung meja
itu pecah. "Ong Tjin, itu jahanam!" teriaknya. "Sunguh dia sangat jahat!"
Tiauw Hay tidak berani buka mulut, ia bungkam.
In Loei, yang sejak tadi diam saja, datang menghampirkan.
"Jangan kau bergusar," ia menyabarkan. "Cobalah tanya dia lebih jauh."
"Kenapa tidak dititahkan Ie Kiam Ie Thaydjin yang mengepalai angkatan perang?"
Tan Hong tanya. "Itu ada urusan pemerintah, aku tahu apa?" Tiauw Hay jawab. "Apa yang aku
dengar, orang mengatakan Ie Kiam adalah menteri sipil, dia tidak mampu memimpin
tentara." "Hm! Sekarang mereka itu yang pegang pimpinan, bagaimana dan jadinya?"
Tiauw Hay tidak menjawab, tetapi dia menutur: "Sri Baginda bersama Ong Kongkong
yang pegang pimpinan, mereka berangkat dari Pakkhia pada tanggal enam belas
bulan tujuh, tanggal sembilan belas mereka lewat di Kieyongkwan, tanggal dua
puluh tiga tiba di Soanhoa, lalu pada tanggal satu bulan delapan mereka memasuki
kota Taytong. Selama itu, beberapa hari lamanya, terbit hujan angin besar,
tentara menderita kedinginan. Karena tidak ada persiapan baju dingin. Di kota
Taytong itu, beberapa laksa jiwa mati beku, maka belum mereka menghadapi musuh,
barisan itu sudah kacau sendirinya. Celakanya, Pengpou Siangsie Kong Tim telah
jatuh dari kudanya dan terluka parah. Oleh karena kejadian-kejadian tidak
diingin itu, Hoepouw Siangsie Ong Tjo mengusulkan untuk menarik pulang angkatan
perang. Ong Kongkong tolak usul itu, malah ketika angkatan perang diberangkatkan
lebih jauh, Hoepouw Siangsie dihukum berlutut di tanah berumput. Pada tanggal
dua bulan delapan, Sianhong Tjio Heng telah mulai menghadapi tentara Watzu di
Vanghookauw, dia kalah dan barisannya musnah. Pangeran Boetjinpek Tjoe Bian
merangkap tjongpeng dan Pangeran Seelenghouw Song Eng merangkap tjongtok dari
Taytong telah terbinasa bergantian dalam pertempuran itu. Atas itu Tjongpeng
Kwee Teng dari Taytong mengasi pikiran kepada Sri Baginda untuk mundur dari kota
Tjiekengkwan, tetapi kembali Ong Kongkong menolak. Ong Kongkong adalah orang
asal Wietjioe, dia hendak ajak Sri Baginda pergi ke rumahnya, karena mana,
angkatan perang lantas di pimpin ke kota Wietjioe itu. Orang baharu jalan empat
puluh lie, tiba-tiba tujuan diubah ke arah timur, alasannya ialah Ong Kongkong
kuatirkan sawah ladangnya nanti ludas terinjak-injak pasukan tentera.
Kesudahannya orang ambil jalan bekas, untuk kembali ke Soanhoa. Ketika pada
tanggal sepuluh pasukan tentara tiba di kota Soanhoa, pasukan musuh telah dapat
menyandak. Pertempuran terjadi di bukit Yauwdjieleng. Di sinilah angkatan perang
kena dipukul rusak dan buyar. Baharu kemarin dahulu Sri Baginda menyingkir ke
Touwbokpo. Pasukan depan dari musuh sementara itu, dengan ambil jalan kecil, sudah
mendahului Sri Baginda, maka itu pasukan musuh itu dapat balik kembali, untuk
terus melakukan pengurungan."
Thio Tan Hong menjadi terlebih-lebih gusar. Tahulah ia sekarang bahwa orang yang
menganjurkan raja maju perang sendiri, yang pimpin tentara, yang mengajaknya
mundur, semua adalah dorna Ong Tjin seorang. Terang sudah, Ong Tjin sudah
merencanakan semua itu, hingga karenanya, angkatan perang Kerajaan itu menjadi
hancur lebur. Selagi anak muda ini mencoba menenangkan diri, Kong Tiauw Hay telah bicara pula.
Kata dia: "Syukur aku dapat melihat gelagat, diam-diam di waktu malam, aku
nerobos keluar dari kepungan. Seandainya aku terus terkurung di Touwbokpo itu,
jikalau aku tidak terbinasa dalam peperangan, tentulah aku mati kelaparan....."
Tan Hong perdengarkan suara dingin "Hm!"
"Di bebokongmu ini ada tergendol bungkusan besar yang agaknya berat, barang
apakah itu?" ia tanya sambil menunjuk ke belakangnya tjongkoan itu.
Kong Tiauw Hay tidak segera menjawab, tetapi mukanya menjadi pucat.
Sebet bagaikan kilat, tangannya Tan Hong menyambar ke bebokong orang, hingga
dalam sedetik bungkusan itu telah berpindah tangan, lalu terus si anak muda
membantingnya di tanah, sehingga bungkusan itu pecah dan isinya berhamburan.
Untuk herannya semua orang, isi bungkusan itu adalah goanpo atau uang emas
potongan semua. Tan Hong tertawa dingin.
"Jadinya kaburmu ini ialah untuk harta besar ini!" katanya.
Kong Tiauw Hay turut tertawa.
"Harta ini semua adalah hadiah Sri Baginda kepadaku," ia berikan, keterangan.
"Semua ini bukannya harta tidak halal. Hari ini
kau telah tolong aku, suka aku untuk kita membagi dua harta ini....."
Kembali Tan Hong tertawa dingin. Tapi setelah itu, mendadak ia unjuk roman
bengis. "Kecewa kau menjadi Taylwee Tjongkoan1. Kecewa kau menyebut-nyebut budinya Sri
Baginda!" kata dia. "Sri Baginda telah berlaku baik hati terhadap kau, kenapa di
saat Sri Baginda terancam bahaya, kau tinggal dia lari?"
Kong Tiauw Hay melengak. Ia tahu Thio Tan Hong ini musuh raja, maka ia heran
kenapa anak muda itu menegur ia secara demikian. Ia berani majukan usulnya itu
pun karena menganggap pemuda ini musuh junjungannya.
"Malam ini kau berdiam di sini," kata Tan Hong. "Besok pagi kau turut aku pergi
ke Touwbokpo." "Apa" Pergi untuk mengantarkan jiwa?" Tiauw Hay tanya.
"Kau gegares gaji negara, sekalipun nyata-nyata ada untuk antarkan jiwa, itu
sudah seharusnya!" Tan Hong bilang. "Kenapa kau takut" Kau toh antarkan jiwa
bukannya sendirian saja" Kamipun antarkan jiwa bukannya sendirian saja" Kamipun
turut antarkan jiwa bersama?"
Wajahnya Tiauw Hay menjadi pucat sekali. Ia tidak bilang apa-apa lagi, hanya
lantas ia membungkam, untuk terus punguti uang goanpo itu, untuk dikumpulkan.
Tan Hong bersama In Loei tertawa dingin, mereka mengawasi tanpa mencegah.
Kuda putih dari Tan Hong dan kuda merah dari In Loei berada didekat mereka, ada
goanpo yang mencelat ke kuda itu, maka Tiauw Hay terus punguti semua uangnya. Di
saat ia datang dekat kuda putih, mendadak ia lompat akan sambar lehernya kuda
itu! Tjiauwya saytjoe ma bukan kuda sembarangan, dia kaget dan berontak, lantas dia
menyentil berulang-ulang, dia meringkik tak hentinya.
"Hai, apa kau bikin" bentak Tan Hong. Tiauw Hay tidak menjawab, karena dia tidak
bisa takluki kuda putih itu, ia terus lompat naik ke bebokongnya kuda merah. Ia
lantas saja tertawa. "Aku Kong Tiauw Hay masih ingin hidup senang lagi beberapa tahun, maka maafkan
aku, tidak dapat aku antarkan kamu!" kata dia, yang terus gunakan goloknya
menumblas kempolan kuda, saking kaget dan sakit, kuda itu sudah lantas berlompat
lari, kabur keluar, hingga sesaat kemudian kuda dan penunggangnya lenyap di
malam yang gelap itu. In Loei jadi kaget. "Toako, mari kita kejar!" dia berteriak. Tan Hong tapinya menggeleng kepala.
"Orang semacam dia, dicandak pun tidak ada faedahnya....." ia bilang. Ia terus
menarik napas panjang, dengan lesu ia jatuhkan diri ke kursi, ia kata: "Dahulu
Gak Boe Bok pernah bilang, 'Pembesar sipil doyan duit, pembesar militer sayang
jiwa, kalau begitu, apakah artinya urusan penting"1 Dan sekarang ini, pembesar
sipil, pembesar militer, semuanya doyan duit! Kejahatannya Ong Tjin itu nyata
tak kalah daripada kejahatannya Tjin Kwee, karenanya aku kuatir hikayat Ahala
Song bakal terulang pula, kehinaannya Baginda Hwie Tjong dan Baginda Kim Tjong,
yang tertawan musuh, akan terlihat pula hari ini!....."
"Di dalam kerajaan ada Tjin Kwee, di sana pun ada Gak Boe Bok," berkata In Loei,
"Di mana Ie Kokloo tidak kalah daripada Gak Boe Bok itu, aku harap toako tidak
menjadi tawar hati."
"Hanya sayang Ie Kokloo itu tidak punya kekuasaan atas tentara," bilang Tan
Hong, yang masih berduka. "Menyesal aku tidak punya sayap untuk terbang ke
Pakkhia, supaya aku bisa bantu Ie Kokloo itu....."
Dua anak muda ini jadi sangat bersusah hati. Karena ini, tidak tunggu sampai


Dua Musuh Turunan Peng Tjong Hiap Eng Seri Ke 2 Thiansan Karya Liang Ie Shen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pagi, mereka sudah lantas pamitan dari si nenek dan anaknya, dengan menunggang
kuda putih, mereka berangkat pergi. Belum lama mereka jalan mereka lantas dengar
suara tambur dan terompet yang datangnya dari arah depan.
Tan Hong larikan kudanya mendaki tanjakan, dari situ ia memandang jauh ke depan,
hingga ia tampak banyak bendera, boleh dibilang di seluruh bukit dan tegalan,
tertampak tentara Mongolia.....
"Tidak dapat kita lewati mereka itu....." kata In Loei, lesu.
"Aku ada akal," kata Tan Hong. "Kau turunlah dan tunggu di sini." In Loei
menurut. "Kau umpetkan diri," Tan Hong kata pula. Lalu ia larikan kudanya turun gunung,
ia menghampirkan dan masuk ke dalam pasukan musuh!
In Loei kaget bukan main, mukanya pucat sekali. Syukur ia tak usah ketakutan
terlalu lama. Sebab segera juga ia lihat Tan Hong telah kembali bersama dua
perwira bangsa Watzu. Tentu saja, ia sekarang menjadi sangat heran.
Nona In tidak ketahui bahwa Tan Hong pandai bahasa Mongolia, bahwa di dalam
sakunya pemuda ini ada menyimpan sehelai lengtjhie, bendera pertandaan militer,
yang dia curi ketika dahulu dia keluar dari Mongolia, untuk menyusup masuk ke
Tionggoan. Sekarang lengtjhie itu dia gunakan, dia akui bahwa dirinya adalah
mata-mata Watzu yang diutus ke Tionggoan semenjak sebelumnya perang. Dan dia
dipercaya dua perwira Mongolia itu.
Tan Hong mendusta terlebih jauh, katanya di bukit itu dia lihat seorang yang
mencurigakan, dia ajak kedua perwira, untuk memeriksa, maka itu, mereka datang
bersama. Tapi, begitu lekas mereka sudah mendaki bukit di mana In Loei berada,
dengan sekonyong-konyong dia hajar dua perwira itu hingga mereka rubuh binasa
sebelum tahu apa-apa. Bukit itu terpisah dari barisan Mongolia beberapa lie jauhnya, maka itu, tidak
ada satu serdadu Mongolia yang lihat apa yang terjadi dengan kedua perwira
mereka. In Loei telah saksikan kejadian itu, ia lantas muncul.
"Bagus!" kata Tan Hong kepada kawannya itu. "Sekarang mari kita menyamar sebagai
dua perwira Mongolia ini. Bukankah kau belum lupa akan bahasa Mongolia?"
"Ya, aku masih belum lupa!" sahut In Loei sambil tertawa. "Aku tidak sangka
bahwa sekarang bahasa itu berguna bagi kita..."
"Aku telah cari keterangan jelas," Tan Hong berkata pula. "Mereka ini adalah
pasukan tangga ketiga dari resimen kedua, dan kemarin, barisan ini baharu saja
melakukan pertempuran hebat. Mungkin barisan ini telah bentrok dengan Gielim
koen di bawah Thio Hong Hoe dan mendapat kerugian besar maka sekarang mereka
sedang disiapkan untuk dipersatukan dengan pasukan lainnya. Maka cocoklah kalau
kita menyamar jadi kepala barisan mereka. Ingat, kau bernama Hawa dan aku
Talai." In Loei manggut, ia bersedia akan iringi kawannya itu. Keduanya lantas lucuti
seragam kedua perwira Mongolia itu, untuk mereka pakai. Syukur bentuk tubuh
mereka tidak beda jauh. Tan Hong tunggu sampai sudah magrib, baharu ia ajak In Loei turun dari tempat
sembunyi itu, untuk larikan kuda mereka ke dalam barisan
Mongolia itu, untuk campurkan diri. Mereka tidak tampak kesukaran, karena pemuda
she Thio itu ketahui baik segala aturan tentara Mongolia. Mereka dapat tempat
dalam satu pasukan yang baharu saja disusun rapi.
Keesokan paginya, barisan ini sudah lantas dimajukan pula. Mereka di kirim ke
Touwbokpo sebagai bala bantuan. Lewat tengah hari, mereka tiba di medan perang.
Begitu melihat keadaan pihak Beng, Tan Hong kaget sekali. Barisan Beng itu telah
kena dihajar hingga hancur menjadi sejumlah barisan-barisan kecil, yang
berserabutan ke timur dan barat.....
-ooo00dw00ooo- Bab XX Dengan berisik terdengarlah suara terompet di dalam pasukan perang Watzu,
disusul gemuruhnya suara tambur perang, lalu di atas gunung terlihat berkibarnya
sehelai bendera besar dengan tanda hurufnya "Komandan." Dan satu perwira
Mongolia,yang dandan sebagai pangeran, kelihatan bercokol di atas kudanya di
atas gunung itu. Dengan cambuknya, pangeran itu menunjuk ke arah depan.
Dia itu adalah Thaysoe Ya Sian, orang yang pegang kekuasaan besar atas bala
tentera Watzu. Dia sedang pimpin barisannya, akan hajar tentera kerajaan Beng
itu, yang dicegat sana sini, hingga tentera itu jadi kalut sekali.
Dalam keadaan kacau itu, sekonyong-konyong di sebelah timur, muncul satu pasukan
Beng yang mengibarkan bendera naga, ketika tentera Watzu lihat bendera itu,
mereka lantas saja berteriak-teriak: "Ha, raja Bengtiauw ada di sana!"
Menyaksikan itu Tan Hong kertek gigi.
"Sungguh Ong Tjin jahat sekali!" kata dia dalam hatinya. "Nyatalah dia masih
kuatir musuh tidak tahu di mana adanya Sri Baginda!"
Sebab maksud dikibarkannya bendera raja itu adalah untuk memberi tanda kepada
musuh, agar musuh ketahui di mana adanya raja.
Kaisar Kie Tin dari Kerajaan Beng telah terkurung satu hari dan satu malam di
benteng Touwbokpo, ia berkuatir bukan
main. Ia telah saksikan angkatan perangnya telah dihajar rusak oleh musuh,
sampai ia tidak sanggup mengumpulkan dan menyusunnya pula dengan sempurna. Ia
sekarang hanya mengandalkan kepada Thio Hong Hoe serta pasukan pengawalnya
sendiri. Begitulah ia ajak komandan dari Kimie wie itu membicarakan soal
menoblos kurungan musuh. Raja dan pahlawannya ini tengah berbicara tatkala mereka lihat Ong Tjin berlari-
lari datang dengan muka terpucat-pucat, dan begitu tiba di hadapan raja, orang
kebiri itu perdengarkan suaranya yang tak wajar: "Sri Baginda, celaka! Tentera
lapis besi musuh sudah sampai di muka kubu-kubu! Lekas Sri Baginda titahkan Thio
Tongnia pergi menangkis mereka!....."
Selagi raja tercengang, Thio Hong Hoe sudah perdengarkan suaranya: "Jangan
kaget, Sri Baginda!" demikian pahlawan ini. "Hari ini, meski mesti kurbankan
jiwa, hambamu akan lindungi Sri Baginda menoblos kurungan!"
Sehabis mengucap demikian, pahlawan ini segera lari keluar, untuk wujudkan kata-
katanya, guna memukul mundur musuh.
Seberlalunya pahlawan itu, tiba-tiba saja Ong Tjin tertawa menyeringai. Tidak
Dendam Iblis Seribu Wajah 17 Gento Guyon 19 Dewa Sinting Warisan Berdarah 1
^