Pencarian

Pendekar Elang Salju 7

Pendekar Elang Salju Karya Gilang Bagian 7


berhati-hati," pikir Wanengpati setelah melihat gerak cepat anak buah Setan
Nakal yang meski terlihat berjalan terpatah-patah namun sebentar saja sudah
berada dua tombak dari mereka berdiri.
"Gila! Setan dari mana ini?" kata salah seorang dari Perguruan Perisai Sakti
yang memegang klewang sepanjang satu tombak, lalu meloncat tinggi ke atas,
sambil berseru keras, "Sobat! Apa yang sekarang kalian tunggu! Ayo, kita cincang
habis mayat berjalan ini!"
Dari atas ketinggian, orang dari Perguruan Perisai Sakti yang bernama Wiratsoko
langsung mengerahkan jurus 'Membelah Batang Pohon' dengan kecepatan tinggi serta
dilambari dengan 'Tenaga Perisai Sakti' hingga delapan bagian. Dua tangannya
menggenggam gagang klewang dengan erat, dan bisa dipastikan seberapa besar
kekuatan yang dimilikinya disaat ia melayang turun dengan cepat diikuti ayunan
klewang. Wukk! Crakk! Crakk! Salah dari Pasukan Mayat Bumi langsung menjadi sasaran empuk bagi klewang
Wiratsoko. Sudah terbayang dalam benaknya, sosok mayat yang terkena jurus
'Membelah Batang Pohon' akan terpotong rapi menjadi dua bagian.
Namun ia kecele! Wratsoko justru langsung terpental balik ke belakang disaat klewangnya membentur
langsung tulang pundak Pasukan Mayat Bumi, disebabkan dari dalam tubuh Pasukan
Mayat Bumi terpancar daya lontar yang amat kuat, bahkan cenderung memiliki
kekebalan terhadap segala macam serangan. Untuk mematahkan daya lontar,
Wiratsoko berjumpalitan beberapa kali dan akhirnya turun dengan kaki terlebih
dahulu dengan ujung tajam mata klewang amblas ke dalam tanah hampir setengah
lebih! Crepp! Jleg!! Sepasang tangan yang memegang gagang klewang terlihat gemetar, bahkan getaran
itu menjalar ke seluruh tubuh.
"Wiratsoko, apa yang terjadi?" tanya temannya.
"Mereka ... mereka bukan manusia!" gumam Wiratsoko sambil berusaha menghilangkan
rasa gentar yang menyelimuti hatinya.
"Manusia atau bukan, kita harus mengenyahkan mereka semua!" seru Mahesa Krudo
sambil menghunus golok, diikuti dengan saudara-saudara seperguruan.
Srakk! Sranggg! "Betul! Kita harus bahu membahu menghadapi mereka!" kata Suratmandi sambil
menghunus klewang, "Wiratsoko, tenangkan dulu hatimu, biar kami yang menghadapi
mereka!" Tanpa menunggu jawaban dari kawannya, Suratmandi dan Empat Golok Sakti dari
Perguruan Karang Patah sudah menerjang ke arah Pasukan Mayat Bumi. Sebentar saja
terjadi perang tanding seru antara Pasukan Mayat Bumi yang kebal bacok dengan
orang dari Perguruan Perisai Sakti dan Perguruan Karang Patah. Terdengar suara-
suara nyaring dan dentingan tajam saat klewang dan golok silih berganti
menghantam tubuh. Crakk! Crangg! Crokk! Meski dengan gerakan kaku, Pasukan Mayat Bumi bisa mengimbangi para
pengeroyoknya, bahkan beberapa tamparan tangan dan tendangan mereka ada yang
mendarat di antara para pengeroyok.
Dhues! Deshh!! Linggo Bhowo dan Janapriya tampak tersurut mundur saat pangkal tangan mereka
terkena hantaman lawan. Rasa ngilu menjalar ke seluruh tubuh, seolah tulang-
belulang mereka lepas semua. Setelah mengalirkan hawa tenaga dalam dari pusar
kemudian dialirkan ke seluruh tubuh, baru rasa ngilu berkurang banyak. Kemudian
dengan diikuti teriakan yang menggetarkan, mereka segera menerjang kembali ke
arah Pasukan Mayat Bumi berada.
Kancah pertarungan kembali terbuka!
Sementara itu, Wiratsoko yang tergempur pertama kali hanya bisa memandangi
kawan-kawannya yang sedang bertaruh nyawa. Rasa gentar masih menyelimuti hati.
Pelan-pelan Wanengpati mendekati Wiratsoko.
Memang sudah direncanakan sebelumnya, bahwa Ayu Parameswari, Ki Dalang Kandha
Buwana dan Juragan Padmanaba harus siaga di dalam padukuhan sekaligus mengawasi
Nyi Dhandhang Gendhis yang sedang hamil tua. Pada mulanya, Ayu Parameswari ingin
ikut dalam rencana penyerangan, akan tetapi melihat situasi yang terjadi dan
adanya kemungkinan bahwa pihak lawan melakukan siasat memancing di air keruh,
mau tak mau Ayu Parameswari harus tinggal di Padukuhan Sonngsong Bayu. Akan
halnya Wanengpati bertindak sebagai pimpinan penyerangan sekaligus mengamati
keadaan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan membahayakan keselamatan
para kawan persilatan. "Para mayat hidup itu memang hebat, sobat Wiratsoko! Kukira teman-teman kita
sedang dalam bahaya besar," tutur Wanengpati sambil matanya tidak lepas dari
semua pertarungan yang terjadi, "Secepatnya kita harus mencari kelemahan
mereka." "Kelemahan?" "Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Seperti misalnya ada yang cantik pasti
ada yang jelek, ada baik ada pula yang buruk." kata Wanengpati sambil menyentuh
pundak Wiratsoko. "Tapi dimana kelemahannya?"
"Itulah yang harus kita cari saat ini!"
Wanengpati tampak termenung, dalam kepalanya berpikir keras tentang bagaimana
cara mengatasi Pasukan Mayat Bumi yang kini sedang dihadapi oleh kawan-kawannya.
"Ada satu jalan! Tapi ini kemungkinan berhasil atau tidaknya sulit sekali
ditentukan!" "Terangkan saja jalan pikiranmu!" potong Wiratsoko cepat sambil mencabut klewang
yang masih menancap di tanah. "Perkara berhasil atau tidak, itu urusan
belakangan!" "Mayat hidup itu dibangkitkan oleh kakek pendek yang sedang berdiri di sana,"
kata Wanengpati sambil mengarahkan pandangannya ke arah Setan Nakal, lalu
sambungnya, "Entah siapa dia sebenarnya, aku pun juga tidak tahu. Cuma yang
jelas, jika dia bisa membangkitkan mayat hidup, dialah sebenarnya kunci untuk
menghentikan mayat hidup itu pula. Ibaratnya kawanan domba, kakek pendek buntak
itu sebagai sang penggembala!"
"Betul! Masuk di akal juga apa yang kau katakan itu!" kata Wiratsoko sambil
menghela napas panjang, "Biar aku adu jiwa dengannya!"
Wiratsoko segera beranjak dari tempatnya berdiri namun baru selangkah dari
tempatnya semua berdiri, Linggo Bhowo sudah jatuh terkapar bermandikan darah.
Rupanya salah seorang dari Empat Golok Sakti terlambat menghindar saat kepalan
tangan mayat hidup mengenai dada dengan kecepatan kilat.
Dhueshh!! Linggo Bhowo yang saat itu sedang melindungi Kamalaya dari terjangan mayat hidup
dari arah belakang, ia rela mengorbankan diri menerima hantaman lawan, sebab
tidak mungkin ia melepaskan pukulan tenaga dalam atau pun sabetan jurus golok,
takutnya justru mengenai sang istri.
"Kakang!!" Kamalaya menjerit tertahan saat melihat sang suami menjadi perisai hidup
baginya. Baru saja wanita cantik itu berteriak mengkhawatirkan keselamatan
Linggo Bhowo, sebuah tendangan keras sarat kekuatan penghancur menghantam
punggung dengan telak. Wutt! Duakk!! Wanita cantik itu langsung terpental ke depan beberapa tombak, dan jatuh
tertelungkup dalam jarak sejangkauan dengan sang suami. Darah kental tampak
tersembur keluar dari mulutnya.
"Bangsat! Aku adu jiwa dengan kalian!" bentak Wiratsoko melihat dua orang dari
Perguruan Karang Patah sudah terluka parah, bahkan salah satu dari Pasukan Mayat
Bumi sudah berjalan menghampiri, siap memberikan tangan maut pada pasangan suami
istri itu. "Wirat, jangan gegabah!" cegah Wanengpati, tapi terlambat!
Wiratsoko sudah melenting ke atas dengan kecepatan tinggi, dan lagi-lagi jurus
'Membelah Batang Pohon' digunakan untuk kedua kalinya. Dari semua jurus yang
dimilikinya, hanya gerakan itulah yang cocok digunakan dalam situasi seperti
ini. Dari atas ketinggian, Wiratsoko yang tidak memiliki keyakinan pada
keberhasilan jurus 'Membelah Batang Pohon' hanya bisa berharap menyelamatkan
nyawa Linggo Bhowo serta Kamalaya dari terkaman maut, dan kali ini 'Tenaga
Perisai Sakti' digunakan hingga sepuluh bagian.
Wutt!! Crasss!! Dan hasilnya ... badan mayat hidup terbelah menjadi dua bagian dengan potongan
rapi akibat tebasan klewang!
Brukk! Mayat hidup ambruk ke tanah diikuti dengan dengan keluarnya gumpalan asap berbau
busuk dan akhirnya hilang tak berbekas.
Hal ini sama sekali diluar dugaan Wiratsoko sebelumnya!
Tentu saja yang kaget bukan hanya Wiratsoko, tapi juga Suratmandi serta Mahesa
Krudo dan Janapriya. Sedari tadi mereka melakukan segala upaya dari bacokan,
tusukan, tebasan sampai lontaran pukulan-pukulan sakti pun tidak bisa membuat
lawan tumbang. Janapriya pun menotok bagian-bagian tertentu dari jalan darah di
tubuh Pasukan Mayat Bumi, namun hasilnya nihil, bahkan mereka terpental balik
akibat daya lontar yang dimiliki oleh lawan.
Tapi justru yang paling kaget sendiri adalah ... Si Setan Nakal!
"Kurang ajar! Bagaimana pemuda itu bisa mengetahui kelemahan dari Pasukan Mayat
Bumi! Aku harus memperkuat mereka!" pikir Setan Nakal sambil mulutnya berkomat-
kamit membaca mantra sihirnya.
Wanengpati sendiri juga kaget melihat keberhasilan Wiratsoko dalam gerak jurus
yang sama. "Aneh, bagaimana bisa dia mengalahkan mayat itu" Bukankah tadi dengan jurus yang
sama dia kalah dalam satu kali gebrakan saja?" pikir Wanengpati.
"Kawan-kawan, gunakan tenaga puncak kalian! Cepat!" seru Wiratsoko sambil
menerjang ke arah Pasukan Mayat Bumi yang berada dekat dengannya sambil
berteriak keras pada Wanengpati, "Sobat Wanengpati! Tolong bantu dua teman kita
yang terluka!" Tanpa menyahut, Wanengpati segera bergegas menghampiri Linggo Bhowo dan Kamalaya
yang pingsan akibat luka-luka yang mereka derita.
Serempak Mahesa Krudo dan Janapriya segera mengerahkan jurus terakhir dari 'ilmu
Golok Sejodoh' yang bernama 'Golok Lingkar Buana' yang dilambari dengan sepuluh
bagian hawa tenaga dalam yang mereka miliki. Maka, Pasukan Mayat Bumi yang kini
telah diperkuat kemampuannya oleh Setan Nakal dari jarak jauh bagai dihujani
oleh ribuan hawa golok tajam dari segala penjuru bahkan dari ujung kepala hingga
ujung kaki tidak ada satu pun yang terlewatkan.
Wutt! Wutt! Crakk! Krakk! Crakk!!
Tapi anehnya, tidak ada satu pun dari jurus 'Golok Lingkar Buana' yang bisa
membuat tiga setan bawah tanah itu terjungkal. Demikian juga dengan Suratmandi
tidak jauh berbeda, bahkan ia yang memiliki ilmu lebih tinggi dari Wiratsoko,
juga tidak bisa berbuat banyak termasuk peningkatan 'Tenaga Perisai Sakti'
hingga sepuluh bagian. Bahkan saking besarnya hawa tenaga dalam yang dikeluarkan
sampai-sampai klewangnya mengeluarkan bunyi dengung bagai ratusan lebah
mengamuk. Wutt! Crakk! Krakk! Akhirnya, tinggal Wiratsoko saja yang kembali berhasil mengatasi salah satu
Pasukan Mayat Bumi dengan cara membabatkan klewang dalam jurus yang sederhana,
dimana ia menggerakkan klewang dalam posisi serong dari arah pundak kiri menebas
ke bawah sampai di pinggang kanan.
Wutt!! Crass ... !! Kembali satu lawan tumbang.
Tiba-tiba saja, Wanengpati berteriak keras, "Tancapkan senjata kalian ke tanah!
Cepat!" Tanpa berpikir panjang, dua golok dan satu klewang langsung menghunjam ke tanah
dengan cepat dan secepat itu pula ditarik kembali dari dalam tanah.
Jrabb! Kemudian secara bersamaan pula, golok dan klewang berkelebatan dengan cepat
membabat habis Pasukan Mayat Bumi yang tersisa.
Crasss! Crakk! Cress!! Kali ini, dua Mayat Bumi bagai dipotong-potong dengan pisau tajam dan akhirnya
tumbang diikuti dengan gumpalan asap kelabu berbau busuk, lalu asap itu
menghilang ditiup angin malam.
"Kurang ajar! Kalian harus mengganti nyawa pasukanku dengan nyawa busuk kalian!"
bentak Setan Nakal, sambil mendorongkan dua buah pukulan sakti ke arah Wiratsoko
dan kawan-kawan. Wutt! Whess ... !! Sebersit hawa pekat yang mengeluarkan bau busuk melayang dengan cepat, bahkan di
tengah perjalanan berubah bentuk menjadi dua gumpalan berwujud bayangan kepala
tengkorak. Rupanya dalam kemarahan akibat 'Ilmu Sihir Pasukan Mayat Bumi' gagal,
Setan Nakal langsung menggunakan Pukulan 'Asap Tengkorak Merana'!
Baru saja Wanengpati beranjak untuk memapaki pukulan lawan, sebuah teriakan
membahana mencegahnya, "Kakang, biar aku saja yang menghadapi setan pendek ini!"
Sebersit hawa naga kemerah-merahan sarat tenaga dalam tinggi memapaki Pukulan
'Asap Tengkorak Merana' milik Setan Nakal.
Jdarr!! Darr!! Terdengar benturan keras saat Pukulan 'Asap Tengkorak Merana' bertemu dengan
hawa naga kemerah-merahan diikuti dengan buncahan asap berbau sangit di sekitar
tempat itu. Setelah asap mereda, terlihat sesosok gadis berbaju merah menyala dengan sebuah
kipas dari sutera terbentang di depan dada.
Siapa lagi jika bukan Ayu Parameswari!
-o0o- Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Dua Puluh Sembilan
"Lebih baik kakang membantu nini Bidadari Berhati Kejam, biar kakek mungil ini
saja aku yang menghadapi."
"Ayu, kenapa kau sampai ditempat ini, bukankah ... "
Sambil berkipas-kipas dengan kipas suteranya, Ayu pun berkata, "Maaf kakang,
disana sepi sekali! Lagi pula ayah yang menyuruhku datang kemari."
"Bocah ayu! Lebih baik kau mundur saja, kasihan dengan kulitmu yang halus itu."
seru Setan Nakal sambil berkacak pinggang, lalu lanjutnya sambil mejungkit-
jungkitkan alis, "Atau ... He-he-heh ... "
"Dasar manusia mesum! Kiranya mulut ceriwismu belum pernah ditampar orang pulang
pergi!" "Benar ... benar ... ! Memang mulutku ini paling sering ditampar dengan bibir
para gadis-gadis cantik!" balas si Setan Nakal sambil tertawa keras.
"Bagus kalau begitu! Rasanya kipasku ini sudah tidak tahan untuk segera
menyumpal mulutmu yang bau busuk!" Sambil berkata, murid Naga Bara Merah segera
membentangkan Kipas Naga Sutera Merah lebih lebar lagi diikuti dengan sentakan
kipas menyamping ke arah Setan Nakal.
Debb! Meski jaraknya cukup jauh, tapi hawa tenaga dalam membentuk larikan sinar merah
melengkung bak bulan sabit mengarah ke Setan Nakal dengan kecepatan tinggi.
"Aku tangkis, cah ayu!" kata Setan Nakal sambil tertawa haha-hihi mendorong
pelan jari telunjuk kanan ke depan. Selarik cahaya hijau terang terpancar keluar
dan akhirnya tepat berada di tengah-tengah jarak mereka berdua, sinar merah
berbentuk bulan sabit berbenturan langsung dengan selarik cahaya hijau terang.
Bumm! Ledakan nyaring terdengar saat sinar merah yang berasal dari Kipas Naga Sutera
Merah dan cahaya hijau terang dari jari telunjuk Setan Nakal bertemu, dan
benturan tenaga dalam dari ke dua belah pihak ternyata seimbang!
"Hebat betul kau cah ayu! Murid siapa kau ini?" tanya Setan Nakal.
Diam-diam ia merasakan jari telunjuknya tergetar oleh hawa tenaga dari gadis
berbaju merah. "Siapa guruku tidaklah penting bagimu!" Kata Ayu dengan diplomatis, "Tapi jika
kau tetap memaksa juga, kau boleh bertanya pada kipasku ini!"
Setelah ucapannya selesai, murid tunggal Naga Bara Merah dari Jurang Tlatah Api
langsung memutar kipas terbentang lebar dalam lingkaran penuh, kemudian tangan
kiri membentuk tapak menerobos masuk ke tengah lingkaran kipas diikuti dengan
lesatan hawa naga yang seolah keluar dari telapak tangan. Rupanya Ayu
Parameswari menggabungkan jurus-jurus 'Kipas Pengacau Langit' di tangan kanan
sedang tangan kiri melancarkan pukulan 'Naga Memuntahkan Api' yang dialiri
dengan 'Tenaga Sakti Naga Langit Timur' tingkat ke enam!
Woshh!! "Hrooarghh!!" Tempat yang dilalui lesatan hawa berbentuk naga seperti dibajak membentuk parit
panjang nan lebar. Terlebih-lebih suara raungan naga yang menggema di tempat
itu, bahkan orang-orang yang sedang berjibaku pun harus mengerahkan tenaga dalam
tambahan untuk menahan rasa nyeri yang menusuk gendang telinga.
Melihat sesosok naga raksasa dengan mulut terbuka lebar mengarah padanya, Setan
Nakal sedikit tercekat.

Pendekar Elang Salju Karya Gilang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Edan! Ilmu apa yang digunakan bocah ayu ini!" kata hatinya sambil melenting
tinggi ke atas untuk menghindari terjangan hawa naga raksasa.
Akan tetapi, hawa naga yang menerbitkan suara menderu-deru membelah angin
terlihat memutar diri sedemikian rupa, hingga ekor naga berkelebat cepat memburu
ke arah lesatan Setan Nakal.
Wutt! Dikarenakan posisi yang tidak menguntungkan itulah, membuat Setan Nakal nekad.
Dengan mengempos 'Tenaga Sakti Api Neraka Biru' hingga tingkat ke lima, kemudian
dialirkan ke sepasang tangan yang terkepal memancarkan pijar api kebiruan, dia
berani memapaki serangan ekor naga yang datang dari atas.
Duassh ... ! Duarr !! Jderr!!
Terdengar desisan tajam diikuti dengan ledakan keras. Hawa naga merah hancur
luluh sedangkan Setan Nakal mengalami nasib sial dimana tubuhnya terhempar ke
bawah dengan keras, teramat keras malah, hingga membentur tanah sampai membentuk
cekungan sedalam tiga tombak. Hawa tenaga dalam yang berbentuk sabetan ekor naga
itulah telah memaksa tubuh tokoh aliran hitam bagai terbenam ke dalam tanah.
Sedangkan Ayu Parameswari sendiri yang mengendalikan hawa naga dari Kipas Naga
Sutera Merah terjajar beberap langkah ke belakang, diikuti dengan muntahan darah
kental dari mulutnya. "Pijaran cahaya biru itu hebat juga! Uhh ... Dadaku sedikit sesak!" keluh Ayu
Parameswari sambil menyusut darah yang menetes dari bibir indahnya.
Di atas bukit ... Pemuda berbaju putih itu terkejut melihat datangnya gadis berbaju merah, namun
yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah adanya kipas sutera bergambar naga
merah yang dipegang si gadis cantik.
"Dia ... Titisan Sang Api!" desis si pemuda bercangkang kura-kura mengucapkan
sebuah nama. "Hemm, benar! Dia adalah pewaris tunggal dari nini Naga Bara Merah!" Gumam si
pemuda berbaju putih, " ... Akhirnya kita temukan juga penerus dari Pengawal
Gerbang Timur. Ternyata gadis itu!"
Si pemuda bercangkang kura-kura menganggukkan pelan kepalanya.
Dengan adanya pengakuan itu, bisa dipastikan bahwa pemuda berbaju putih berikat
kepala merah itu adalah Paksi Jaladara yang secara resmi diangkat sebagai Ketua
Muda Istana Elang. Akan halnya pemuda gemuk bercangkang kura-kura tentulah murid
tunggal si Pengawal Gerbang Selatan alias Sang Air yang oleh kalangan tokoh
persilatan dijuluki sebagai kura-Kura Dewa Dari Selatan yang bernama Joko Keling
atau dengan menyandang nama keren Arjuna Sasrabahu!
Selama beberapa waktu berkelana di rimba persilatan, Paksi Jaladara telah
mengukir nama harum sebagai sosok pemuda penegak keadilan. Jurus-jurus silat
yang mengadaptasi dari gerakan elang serta pancaran hawa dingin membekukan
tulang dan sumsum membuatnya di juluki Si Elang Salju, tetapi tidak ada satu pun
dari yang para tokoh persilatan mengetahui kalau sebenarnya ia juga sebagai
Ketua Istana Elang yang bermarkas di Gunung Tambak Petir, kecuali orang-orang
terdekatnya di Istana Elang.
Joko Keling sendiri pun mulai di kenal sebagai kawan seperjalanan si Elang
Salju, sosok tubuh tambun kekar lengkap dengan sebuah tempurung atau cangkang
kura-kura raksasa seringkali membuat orang salah sebut sebagai Jin Kura-Kura.
Karena pada dasarnya ia tidak ambil pusing dengan segala macam sebutan orang,
dengan enaknya ia menyandang gelar kehormatan, Jin Kura-Kura!
Sebutan itu pun sebenarnya muncul secara tidak sengaja saat ia lewat di sebuah
desa kecil setelah sebelumnya membebaskan Ki Angon Segoro dari Rajah Penerus
Iblis. Di desa yang subur dan damai, terlihat beberapa anak kecil sedang
bermain-main di tepi sungai. Tentu saja hal itu sangat berbahaya bagi anak-anak
seusia mereka. Dengan maksud baik, Joko Keling berusaha mengingatkan anak-anak
itu agar jangan bermain di sungai, tapi maksud baik itu disalahartikan oleh
bocah-bocah itu. Beberapa anak langsung menangis sambil lari terbirit-birit,
bahkan anak yang paling kecil berusia kurang lebih tujuh tahunan menangis keras
sambil berteriak histeris 'ada Jin Kura-Kura' berulang-ulang.
Tentu desa itu menjadi gempar!
Orang tua masing-masing anak berusaha menenangkan anak-anak mereka yang
menangis. Setelah mendengar penjelasan bahwa ada Jin Kura-Kura di tepi sungai,
warga langsung terperanjat kaget. Mereka langsung berbondong-bondong menuju tepi
sungai dan melihat seekor kura-kura raksasa sedang berdiri berkacak pinggang!
Hampir saja terjadi baku hantam antara warga desa dengan Joko Keling karena
disangka sebagai Jin Kura-Kura yang suka menculik anak-anak, andai Paksi
Jaladara tidak turun tangan menengahi. Setelah memberi penjelasan panjang lebar,
akhirnya warga desa berhasil diredam kemarahannya. Dan lucunya lagi, bocah-bocah
itu tidak takut lagi pada Joko Keling setelah datang Ki Angon Segoro, yang cukup
di kenal warga desa menjernihkan kesalahpahaman yang terjadi. Bahkan bocah kecil
yang tadi menyebut Joko Keling sebagai Jin Kura-Kura yang paling sering berlama-
lama nemplok di punggung Joko Keling.
Alasannya pun sederhana ... si bocah beberapa waktu yang lalu mimpi naik kura-
kura, dan kini mimpinya itu telah menjadi kenyataan!
Satu hari satu malam lamanya Paksi Jaladara dan Joko Keling berdiam di desa itu,
sebagai tanda permintaan maaf dari warga desa karena kejadian menggelikan tadi
siang. Beberapa gadis desa acapkali melirik-lirik ke arah Paksi Jaladara yang
tampan, bahkan Joko Keling pun tidak luput dari sasaran beberapa gadis yang
ingin kenal lebih dekat. Mulai detik itulah, nama Jin Kura-Kura berdengung!
"Jadi tinggal menunggu kemunculan pewaris Pengawal Gerbang Barat alias Sang
Tanah yaitu Si Harimau Hitam Bermata Hijau dan Pengawal Gerbang Utara alias Sang
Batu yang digelari Si Kapak Batu Sembilan Langit," kata Paksi Jaladara sambil
mata elangnya memandang tajam ke arah pertarungan di bawah yang semakin lama
semakin mendekati titik puncak.
Tewasnya Jin Hitam di tangan Raja Penidur membuat Raja Pemalas semakin gencar
dalam melakukan serangan. Beberapa kali Gendruwo Sungsang harus jungkir balik
menghindari jurus-jurus maut lawan. Meski ia telah membentengi diri dengan Ilmu
'Baju Besi Iblis' tingkat merah yang setingkat lebih tinggi dari Ilmu 'Baju Besi
Iblis' tingkat hitam milik Jin Hitam, namun tetap saja ia harus menghindari
benturan Ilmu 'Tapak Tangan Putih' yang digunakan oleh Raja Pemalas. Andai hanya
Ilmu 'Tapak Tangan Putih' saja, tak bakalan ia harus sungsang sumbel menghindari
pukulan Raja Pemalas. Dan celakanya, Raja Pemalas justru menggabungkan Ilmu
'Tapak Tangan Putih' dengan Ilmu gaib 'Sangkakala Braja'!
Wutt! Wutt! Beberapa serangan tapak Raja Pemalas lolos, menyerempet pun tidak.
Sambil tetap berjungkir balik di udara, Gendruwo Sungsang beberapa melancarkan
pukulan-pukulan beruntun yang disertai dengan 'Tenaga Gaib Siluman' tingkat
terakhir, maka terlontar sinar merah membara berbentuk bayangan samar tangan
raksasa. Rupanya, Gendruwo Sungsang berniat mengakhiri pertarungan sehingga
tidak segan-segan mengerahkan Ilmu 'Kepalan Iblis Merah' yang digabung dengan
'Tenaga Gaib Siluman'. Debb! Wess!! "He-he-he, pantas saja namamu Gendruwo Sungsang!" kata Raja Pemalas, " ...
Dengan sungsang-sumbel begitu kau masih bisa memberikan serangan balasan!"
Raja Pemalas dengan masih terkekeh-kekeh sedikit menggeliat ke belakang sambil
dua tapak tangannya yang memancarkan cahaya putih menyilaukan bertepuk tangan
dua kali. Plakk! Pancaran sinar putih semakin menebal dan membesar, lalu dengan sepasang tapak
tangan yang terisi gabungan tenaga gaib Ilmu 'Sangkakala Braja' dan Ilmu 'Tapak
Tangan Putih' tingkat lima belas didorongkan ke depan dengan lambat-lambat.
Sett! Sett!! Tanpa bisa dihindari lagi, Ilmu 'Kepalan Iblis Merah' bentrok dengan Ilmu 'Tapak
Tangan Putih' di tengah udara kosong!
Duasshh!! Cesss ... !! Kali ini tidak terdengar suara dentuman keras seperti yang sudah-sudah, justru
yang terdengar adalah suara desisan lembut seperti besi panas yang dicelupkan ke
dalam air dingin. Suara desisan tetap terdengar seperti sebelumnya dan sinar
merah membara terlihat saling dorong dengan sinar putih menyilaukan. Adakalanya
sinar merah membara itu berhasil mendesak mundur sinar putih, tapi tak lama
kemudian berganti posisi dimana sinar putih sedikit dengan sedikit berhasil
menekan sinar merah membara. Adu tenaga dalam pun terjadi di tempat itu.
Lengah sedikit saja, maka nyawa sebagai taruhannya!
Cess! Cess!! Akan tetapi adu dua ilmu sakti beda alam itu tidak berlangsung lama. Sedikit
demi sedikit pancaran sinar putih yang berasal dari tapak tangan Raja Pemalas
berhasil mendesak mundur sinar merah membara yang berasal dari tangan Gendruwo
Sungsang. "Setan belang! Manusia satu ini kedot juga!" pikir Genderuwo Sungsang sambil
meningkatkan kekuatan puncak.
Kekuatan setiap makhluk pasti ada batasnya, demikian juga dengan sebangsa
mahkluk halus. Dari ubun-ubun kepala Gendruwo Sungsang mengeluarkan kepulan asap
putih kemerah-merahan sama halnya dengan ubun-ubun Raja Pemalas juga mengepulkan
asap putih tipis bergulung-gulung. Rupanya kakek pemalas itu pun sudah sampai
pada ambang batas kekuatan yang dimilikinya, kini yang bisa dilakukan adalah
mempertahankan kekuatan agar tetap bisa mendesak lawan meski sedikit demi
sedikit. Dan pada akhirnya ... Sinar merah membara semakin terdesak, hingga keringat sebesar biji-biji jagung
terlihat menetas dari pelipis Gendruwo Sungsang. Bagi makhluk halus sejenis
gendruwo ini, pertarungan terberat dan terlama adalah yang dialami sekarang!
Melihat kekuatan lawan tinggal satu tarikan napas, dengan mengambil resiko
tinggi kehilangan nyawa, Raja Pemalas menghentakkan sepasang tapak tangannya
diikuti dengan teriakan keras.
"Huppp ... Heyyaaaaa ... !"
Bagai dibantu tangan-tangan tak kasat mata, pancaran sinar putih mendadak
berubah bentuk membesar menjadi lima kali lipat dari ukuran sebelumnya dan
menabrak langsung tangan Gendruwo Sungsang yang masih berusaha mempertahankan
Ilmu 'Kepalan Iblis Merah'!
Duashhh!! Bhlarrr!! "Ahhhhhh ... !!!"
Diiringi dengan jeritan menyayat, raga Gendruwo Sungsang meledak. Hancur
berkeping-keping menjadi serpihan daging halus, di saat menyentuh tanah, berubah
menjadi asap dan hilang disapu angin.
Akhirnya dua senopati tangguh Istana Dasar Langit di alam gaib hancur musnah di
tangan manusia! Raja Pemalas pun langsung ambruk pingsan ke tanah. Darah terlihat mengalir
keluar dari sembilan lubang di tubuhnya, bisa dipastikan luka dalam yang dialami
teramat sangat parah. Kemungkinan butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih
kembali. Raja Penidur langsung menyongsong tubuh Raja Pemalas, dibawanya ke pinggir arena
berdekatan dengan dua orang dari Perguruan Karang Patah yang telah terluka
terlebih dahulu akibat melawan Pasukan Mayat Bumi. Tanpa membuang-buang waktu,
tangan Raja Penidur melakukan beberapa totokan di beberapa tempat di tubuh Raja
Pemalas diikuti dengan mengalirkan tenaga dalamnya untuk memperingan luka dalam
sang karib setelah sebelumnya memasukkan obat pulung warna hitam sebesar tahi
kambing ke dalam mulut Raja Pemalas.
-o0o- Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Tiga Puluh
"Gila! Dua senopati telah tewas!" pikir Kucing Iblis Sembilan Nyawa sambil
berjumpalitan menghindari serangan tombak di tangan Nawala. "Aku harus pergi
dari tempat ini!" "Kucing garong! Lebih baik kau menyerah saja!" kata Nawala sambil memutar tombak
panjang setengah lingkaran untuk menepis serangan pedang dari perempuan berbaju
ketat hitam-hitam itu. Syutt! Bagai ular yang menempel di pohon, ujung tombak tahu-tahu telah mematuk tangan
kanan yang menggenggam pedang.
Crepp! Ujung mata tombak menusuk dalam hingga tembus ke pergelangan tangan dan tanpa
bisa di cegah, pedang di tangan kanan si Kucing Iblis Sembilan Nyawa jatuh
diikuti dengan suara kerontangan.
Klangg! Nawara yang saat itu masih melesat ke atas, tidak menyia-nyiakan kesempatan emas
yang diciptakan saudara kembarnya. Wanita cantik berbaju putih-putih dengan
sulaman rajawali langsung menukik ke bawah dalam gerak jurus 'Rajawali Emas
Mengincar Kelinci' digabung dengan jurus 'Pedang Menari Diantara Kumpulan
Rajawali'! Syutt! Sratt! Hawa pedang segera mengepung ruang gerak Kucing Iblis Sembilan Nyawa yang masih
terpana dengan tusukan tombak Nawala.
Cras! Crass!! Tanpa sempat menghindar, tubuh wanita sesat itu segera tercacah rapi menjadi
puluhan bahkan mungkin ratusan potong. Sampai-sampai potongan tangan kanan masih
tertusuk di ujung tombak Nawala. Waktu saat tertusuknya tangan kanan dengan
serangan mematikan Nawara hanya sekedipan mata saja.
Crepp! Crepp! Nawala segera menari-narikan ujung mata tombak melakukan beberapa kali gerakan
menusuk di antara potongan-potongan tubuh Kucing Iblis Sembilan Nyawa yang
hampir meluruk jatuh ke tanah.
Blukk! Bluuk! Seperti yang sudah diduga sebelumnya, potongan tubuh Kucing Iblis Sembilan Nyawa
bergetar keras, kemudian secara aneh dan sulit diterima dengan akal sehat,
potongan tubuh kembali menyatu, utuh seperti sediakala. Itulah salah satu ilmu
andalan yang dimiliki oleh murid Ratu Siluman Kucing yang bernama Ilmu 'Rawa
Rontek'! "Hi-hi-hik, dasar cah gemblung! Ribuan kali kau cacah tubuhku, maka ribuan kali
pula tubuhku akan kembali seperti sediakala!" ucap Kucing Iblis Sembilan Nyawa
sambil terkekeh-kekeh. "He-he-he! Nawara, rupanya otak kucing kecil ini sudah karatan! Mau mampus saja
masih pentang bacot!" timpal Nawala.
Nawara langsung mendekati Nawala yang masih berdiri dengan tombak tegak di
tangan kanan, sambil berbisik pelan, "Nawala, bagaimana ini" Kalau begini terus
kita pasti kelelahan menghadapi dia" Sudah delapan kali kita ... "
"Tenang saja! Kali ini kucing jelek itu pasti mampus!" kata Nawala dengan suara
agak keras. Hal ini memang disengaja agar terdengar oleh lawan yang saat itu masih tertawa
terbahak-bahak, bahkan tawanya semakin keras mendengar perkataan pemuda yang
paling dibencinya. "Kenapa kau begitu yakin?" tanya Nawara pelan.
"He-he-he, lihat saja di ujung Tombak Ekor Nagaku!" kata Nawala sedikit keras.
Nawara dengan sedikit terheran-heran mendongak ke atas, bahkan Kucing Iblis
Sembilan Nyawa merasakan sesuatu getaran aneh pada tubuhnya pun ikut-ikutan
memandang ujung tombak yang di pegang Nawala.
Empat pasang mata melotot sesuatu yang tertancap ujung Tombak Ekor Naga,
ternyata selain potongan tangan kanan sebatas pergelangan, terdapat pula sebuah
benda warna merah hati dan merah tua yang masih berlumuran darah tertusuk
seperti sate. Yaitu ... hati dan jantung!
Tawa Kucing Iblis Sembilan Nyawa berubah menjadi jeri kengerian!
"Kapan ... Bocah keparat itu menusuk jantung dan hatiku" Celaka dua belas!"
pikir Kucing Iblis Sembilan Nyawa kebat-kebit, "Dalam dua puluh kali tarikan
napas, aku harus bisa mendapatkan bagian jantung dan hati itu kembali!"
"Kucing garong! Sekarang apa yang bisa kau lakukan tanpa jantungmu?"
Sambil menghela napas panjang, "Bocah tampan, kau menang! Kembalikan jantung dan
hatiku, cepat!" "Eee ... yang memberi perintah seharusnya itu aku, bukan kau! Atau apa kau mau
benda busuk ini aku berikan pada anjing liar, hah!" gertak Nawala sambil
memutar-mutar tombak di tangan kanan.
Tubuh wanita pemuja kucing tampak mengkerut menahan sakit, di tambah ancaman
pemuda bertombak panjang itu semakin membuat tubuhnya menggigil.
"Ja ... jangan ... aku ... mohon ... " terbata-bata wanita sesat itu saat
berkata. "Berikan ... Cepat berikan padaku!" Lanjutnya sambil duduk demprok
ditanah. Ini adalah untuk pertama kali dalam hidupnya, ia meratap-ratap minta ampun
selain itu sisa waktu yang dimilikinya semakin sedikit, kurang lebih tinggal
sepuluh sebelas tarikan napas lagi. Jika lebih dari itu, bisa dipastikan ia akan
abadi di alam kematian! Tiba-tiba, dari arah kegelapan malam, melesat cepat sesosok bayangan putih,
dimana bayangan putih itu langsung melompat tinggi ke atas melewati ujung mata


Pendekar Elang Salju Karya Gilang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Tombak Ekor Naga yang berada di genggaman tangan Nawala.
Pemuda itu kaget bukan main!
Namun sebagai pemuda yang telah terlatih olah kanuragan tentu memiliki daya
refleks yang tidak perlu diragukan lagi. Dengan kecepatan sulit diikuti mata,
Nawala segera menarik tombak memutar ke samping.
Swesshh! Tetap saja sosok bayangan putih berhasil melompati ujung tombak dan kini berada
sepuluh langkah dari belakang Nawala. Pemuda itu segera membalikan badan setelah
sebelumnya melihat pada ujung tombaknya tidak terdapat lagi jantung dan hati
milik Kucing Iblis Sembilan Nyawa, yang tersisa hanyalah potongan tangan kanan.
Ternyata sosok bayangan yang melompati ujung Tombak Ekor Naga adalah seekor
harimau besar berbulu putih!
Mulutnya terlihat mengunyah-ngunyah sesuatu yang bisa dipastikan adalah jantung
dan hati manusia. Bagaimana pun juga binatang tetaplah binatang, tidak bisa
melewatkan begitu saja daging mentah yang terendus oleh hidungnya.
"Harimau putih ... ?" gumam Nawala kaget.
Nawara mengamati bentuk harimau berbulu putih dengan seksama, meski terlihat
tenang tapi tidak bisa menyembunyikan kebuasan yang terpancar dari mata si raja
hutan. "Ini ... harimau liar atau ada orang yang memeliharanya?" kata Nawara dalam
bentuk tanya. "Entahlah ... " sahut Nawala, lalu sambil menoleh pada lawannya yang masih duduk
berlutut, ia berkata, "Kucing sial! Tampaknya umurmu habis pada malam ini saja.
Maaf aku tidak bisa membantumu."
Dengan terengah-engah, Kucing Iblis Sembilan Nyawa berusaha berkata, "Heh ... hh
... jik .. ka bukan ... karen ... na perbu ... atanmu ... akhu ... "
Sampai disini saja, sepasang mata Kucing Iblis Sembilan Nyawa melotot liar,
lidahnya menjulur-julur keluar seolah sedang berusaha mempertahankan sesuatu,
namun akhirnya dengan sentakan keras, tubuh wanita sesat itu luruh ke tanah,
sambil berkelojotan seperti ayam habis disembelih. Sebentar kemudian, ia diam.
Mati! Sepasang Naga Dan Rajawali saling pandang. Tidak pernah disangkanya bahwa wanita
sesat pemuja Siluman Kucing itu harus mati merana tanpa memiliki jantung dan
hati. Sambil menghela napas panjang, Nawala meraih potongan tangan yang masih
tertancap di ujung tombak dan melepasnya dengan gerak pelan. Lalu beranjak
mendekati sosok kaku si wanita berbaju hitam ketat.
Setelah berada dekat, ia meletakkan potongan tangan sambil berjongkok, lalu
berkata, "Ini tanganmu aku kembalikan. Andai dewata menakdirkan dirimu menitis
kembali, jadilah wanita biasa saja. Jangan jadi kucing!"
Sedangkan Nawara mendekati pedang yang tadi digunakan oleh Kucing Iblis Sembilan
Nyawa. "Hemm, ini pedang pusaka. Entah darimana ia mendapatkan pedang sebagus ini. Heh,
sayangnya sudah dilumuri dengan racun," keluh Nawara sambil mengamat-amati
pedang bergagang kepala rajawali bertolak belakang yang kini berada di genggaman
tangannya. Lalu ia merogoh ke dalam saku baju sebelah kiri.
"Semoga dengan bubuk penawar racun ini bisa menetralkan racun yang ada di bilah
pedang." Bilah pedang diletakkan di atas tanah, lalu ditaburi dengan bubuk berwarna
kuning gading berbau harum bunga. Terdengar suara desisan nyaring saat bubuk
penawar racun menyentuh bilah pedang, lalu diikuti keluarnya asap berwarna abu-
abu pekat berbau busuk. Bwushh ... ! Sampai pada lima helaan napas, asap abu-abu semakin memudar, bau busuk makin
menipis dan lima helaan napas berikutnya hilang sirna, yang tersisa hanyalah
kepulan asap warna kuning temaram disertai bau harum bunga. Warna pedang yang
semula hitam abu-abu berubah menjadi hijau kekuning-kuningan, bahkan terlihat
jelas aura pedang yang menyelimuti bilah pedang.
Menyala terang di malam hari!
"Bagus!" seru Nawara dengan gembira.
Pedang bergagang kepala rajawali segera dimasukan ke dalam sarung pedang,
setelah sebelumnya sarung pedang dilepaskan dari punggung mayat Kucing Iblis
Sembilan Nyawa. "Nawara, lebih baik pedang itu kau yang simpan saja!"
"Aku juga berpikiran begitu ... Tapi bagai dengan pedangku sendiri?"
"Gampang! Pedangmu kan hanya terbuat dari baja, meski baja pilihan tapi bukan
pedang pusaka seperti yang kau pedang sekarang ini. Suatu saat bisa saja
pedangmu itu patah."
"Benar juga katamu! Baiklah kalau begitu!" ksata Nawara pada akhirnya setelah
termenung beberapa lama. Mata naga Nawala mengedar ke sekitar, dan akhirnya terpaku pada pertarungan
antara Bidadari Berhati Kejam yang bersenjatakan Pedang Pusaka Besi Kuning yang
dibantu oleh Wanengpati yang saat ini telah menggunakan Keris Kiai Wisa Geni di
tangan kanan sedang tangan kiri melancarkan jurus '108 Cakar Perpooh Sukma'
untuk menghadapi Ratu Siluman Kucing yang telah menjelma menjadi seekor kucing
raksasa. Beberapa bagian tubuh dua tokoh sakti itu terlihat mengeluarkan darah segar
akibat cakaran lawan. Meski dikeroyok dua orang pendekar, akan tetapi kucing jejadian itu masih
terlihat tangguh, bahkan terdesak pun tidak. Beberapa kali Bidadari Berhati
Kejam harus mengumpat sambil jungkir balik menghindari sabetan ekor kucing
raksasa itu. Pada saat jungkir balik itulah, harimau berbulu putih masuk ke kancah
pertarungan, bukan menyerang nenek pemarah atau pun Wanengpati si dalang muda,
tetapi justru menyerang kucing hitam raksasa dengan terkaman tinggi.
Graauwh!! Ratu Siluman Kucing kaget mendapati serangan yang tidak diduganya, bahkan untuk
menghindar pun sudah sulit sekali. Tubuh harimau berbulu putih memiliki tinggi
dan besar yang hampir sama dengan sosok kucing hitam raksasa, tentu saja bobot
puluhan kati langsung menghantamnya dengan suara keras.
Bukk! Terlihat gigi harimau yang besar dan kuat menancap dalam-dalam di leher Ratu
Siluman Kucing, yang berusaha keras melepaskan diri dari gigitan harimau berbulu
putih. Dua makhluk beda jenis dan beda bentuk saling berguling-guling di tanah
diikuti dengan suara gerengan kucing dan auman harimau.
Miaauww, miaauww ... !! Graauwh!!
Pesona pertarungan telah berubah dan tersisa dua arena saja. Di sisi barat
terlihat berkutat seru antara Setan Nakal yang mengandalkan Ilmu 'Api Neraka
Biru' yang sekarang telah digunakan hingga tingkat sembilan dengan lawan tanding
gadis cantik dari Jurang Tlatah Api yang mengandalkan Kipas Naga Sutera Merah
disertai dengan hawa tenaga berbentuk naga merah yang berasal dari pengerahan
'Tenaga Sakti Naga Langit Timur'.
Sedang di sisi tenggara terjadi pertarungan hidup mati antara Ratu Siluman
Kucing yang telah menjelma menjadi kucing hitam raksasa dengan seekor harimau
berbulu putih yang entah darimana datangnya, langsung terjun ke dalam kancah
pertarungan menggantikan pertarungan yang sebelumnya diawali oleh Bidadari
Berhati Kejam yang kemudian dibantu oleh Wanengpati. Meski dikeroyok dua orang,
tetap saja mereka keteter. Tusukan Keris Kiai Wisa Geni dan Pedang Pusaka Besi
Kuning bagai menyentuh tembok baja saat berhasil menyentuh bagian tubuh dari
lawan. Bidadari Berhati Kejam langsung menyeret tubuhnya, sambil menotok beberapa kali
untuk menghentikan pendarahan, demikian halnya dengan Wanengpati. Tubuh pemuda
berbaju dalang terlihat cakaran panjang di bagian dada dan punggung, meski tidak
terlalu parah, namun saja pedih sangat mengganggu saat ia mengerahkan jurus-
jurus silat. "Biarkan saja dua kucing itu saling cakar-cakaran sendiri. Syukur-syukur dua-
duanya mampus," gerutu Bidadari Berhati Kejam sambil menyarungkan Pedang Pusaka
Besi Kuning. "Jangan begitu, Nini! Harimau putih itu telah menolong kita dari maut.
Setidaknya kita wajib berterima kasih padanya." sela Wanengpati.
"Huh, tanpa dibantu olehmu dan harimau sialan itu, aku pasti bisa membereskan
kucing tengik itu!" kata Bidadari Berhati Kejam tidak mau terima kalah.
"Sampai kapan" Sampai kau berubah jadi daging cincang, begitu!?" tukas Raja
Pemalas yang sudah siuman dari pingsannya.
"Kau ... !?" "Apa ... !" Mau mengajak berantem" Ayo!" bentak Seru Raja Pemalas sambil
berusaha bangkit berdiri.
"Sudahlah! Kalian ini dari dulu tidak pernah akur satu sama lain. Lalu apa
bedanya kalian dengan kucing dan harimau yang saling cakar itu?" cela Raja
Penidur sambil bersandar di sebatang pohon.
Bidadari Berhati Kejam hanya mendengus saja.
-o0o- Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Tiga Puluh Satu
Sepasang Naga Dan Rajawali berjalan mendekat ke sisi barat dari peta perkelahian
antara Ratu Gurun Pasir dan Panembahan Wicaksono Aji. Meski telah menggunakan
segala kemampuan tata kelahi hingga tahap tertinggi, tetap saja kakek berjubah
pendeta itu masih belum bisa mendesak lawan. Sama halnya dengan Ratu Gurun Pasir
sendiri, kondisinya tidak jauh berbeda dengan kakek lawannya.
Bisa dikatakan ... sama-sama kuat!
Suatu saat Ratu Gurun Pasir menggunakan jurus 'Ular Menembus Kabut' dimana tapak
tangannya menegak kaku bagai kepala ular lalu bergerak ke atas dengan cepat,
namun anehnya gerak kepala ular malahan berbalik arah memutar lincah ke
pergelangan tangan kiri si kakek.
Bett! Srepp!! Namun, dengan gerakan unik pula, tangan kiri si kakek memutar setengah lingkaran
ke bawah, hingga jari telunjuk yang sarat tenaga dalam justru menotok di urat
pergelangan tangan Ratu Gurun Pasir dengan telak.
Wutt! Takk! Rasa kesemutan menjalar hingga pangkal lengan. Dalam posisi yang tidak
menguntungkan karena jurus 'Ular Menembus Kabut' gagal, sambil berkelit ke
belakang dengan sepasang tangan bertumpu di tanah, kaki kiri kanan menyambar ke
arah muka si kakek pendeta secara bergantian dengan kecepatan kilat lewat jurus
'tusukan Ekor Ular Dan Kalajengking Silih Berganti'!
Plakk! Plakk! Adu jurus hanya berlangsung dalam dua helaan napas, namun akibat yang
ditimbulkan sungguh luar biasa. Kepala Panembahan Wicaksono Aji bagai disambar
petir puluhan kali. Tanpa bisa dicegah, si kakek terpelanting ke belakang dua
tiga tombak jauhnya. Bughh! "Ratu Gurun Pasir semakin tangguh! Ilmunya beda jauh dengan lima puluh tahun
silam!" keluh Panembahan Wicaksono Aji sambil bangkit berdiri serta mengalirkan
hawa tenaga dalam untuk mengurangi rasa sakit, "sudah saatnya nenek mesum itu
harus di ajar adat!"
"Hi-hi-hik! Bagaimana pak tua" Masih mau dilanjutkan?" demikian kata Ratu Gurun
Pasir, tapi dalam hatinya ia sudah kebat-kebit sambil melirik ke sekitar tempat
pertarungan, "Tinggal aku, Si Setan Nakal dan Ratu Siluman Kucing saja yang
masih bertahan! Sobatku Kucing Iblis Sembilan Nyawa pun telah tewas!"
"Tidak ada kata menyerah dalam kamusku! Mari kita tentukan dalam serangan
terakhir, siapa diantara kita berdua yang masih bisa berdiri memijak bumi!" kata
Panembahan Wicaksono Aji dengan tegas.
Kedua telapak tangan segera dirapatkan di depan dada seperti orang menyembah
dengan kuda-kuda kokoh, sementara badan sedikit doyong ke depan. Selanjutnya
tapak tangan kiri bergeser lurus sejajar dengan bahu dikuti dengan tangan kanan
menguncup dengan jari telunjuk memancarkan cahaya coklat kehitam-hitaman. Kali
ini, Panembahan Wicaksono Aji berniat mengakhiri pertarungan dengan menggunakan
gabungan ilmu pukulan maut 'Tapak Pelebur Baja' di tangan kiri sedangkan tangan
kanan menggunakan jurus tertinggi dari ilmu silat 'Belalang Sakti Lengan
Delapan' yang bernama jurus 'Belalang Sembah Menunjuk Bumi'!
Hawa getaran tenaga sakti yang dikeluarkan oleh Panembahan Wicaksono Aji bisa
ditangkap oleh syaraf-syaraf halus tubuh Ratu Gurun Pasir.
"Huh, si tua keparat itu ingin aku jiwa denganku! Baik, aku layani dia!" desis
Ratu Gurun Pasir. Tubuh sintalnya segera melenting ke atas dengan tangan kiri tetap membentuk
kepala ular sedang tangan kanan membentuk cakar yang memancarkan cahaya hijau
kebiru-biruan bergulung-gulung, dimana pancaran cahaya menyilaukan mata tersebut
adalah sumber kekuatan beracun mematikan. Akhirnya, Ratu Gurun Pasir
mengeluarkan juga kemampuan terhebatnya yang merupakan pengembangan dari 'Racun
Ular Dan Kalajengking Berbisa' dan telah di campur dengan Ilmu 'Merubah Syaraf'
sehingga menjadi suatu ilmu baru yang ngedapi-edapi yang di berinama 'Tapak Ular
Dan Kalajengking Berbisa Pelumpuh Syaraf'!
Selain mengandung racun keji yang bisa membusukkan tulang dan daging juga
memiliki daya perusak syaraf yang hebat. Bahkan pengerahan dua kekuatan dahsyat
itu sempat membuat terpana Sepasang Naga Dan Rajawali yang menonton dari jarak
yang cukup jauh. "Nawara, kita harus menjauh dari tempat ini!"
"Benar, aku mencium bau racun pembusuk tulang yang pekat!"
Dua orang kembar segera bergegas berkelebat cepat menjauhi arena maut yang
sebentar lagi bakal terjadi.
Dan benar saja ... Sebentar kemudian pengerahan tenaga sakti Panembahan Wicaksono Aji dan Ratu
Gurun Pasir sudah sampai puncak dimana sosok kakek berjubah pendeta mengeluarkan
bayangan semu belalang sembah raksasa hijau pucat yang merupakan pengejawantahan
dari jurus 'Belalang Sembah Menunjuk Bumi'. Belalang raksasa selalu menggerak-
gerakkan sepasang kaki depan sambil menggetarkan sayap belakang terlihat kentara
sekali. Sedang dari diri Ratu Gurun Pasir yang saat itu masih mengambang di
udara, terbentuk sesosok bayangan ular merah darah yang menjulur-julurkan lidah
dan kalajengking berbulu raksasa acap kali menggetarkan ekor.
"Nawara, coba kau lihat bayangan itu! Bisakah kita melakukannya?"
"Entahlah ... Mungkin saja bisa! Tapi yang jelas, dua orang itu pasti
mengerahkan segala kemampuan hingga tingkat tertinggi mereka," kata Nawara
dengan mata tak pernah lepas dari kancah pertarungan. " ... Mungkin bisa
dikatakan telah mencapai tingkat penyatuan ilmu dan pemiliknya. Tingkat
penyatuan jiwa dan raga!"
"Wuihh ... Desakan hawa tenaga dalam semakin lama semakin membesar!" seru Nawala
sambil mendorongkan sepasang tangan yang berpendar putih perak untuk mengerahkan
Ilmu 'Benteng Baja Dan Tembaga' membentuk dinding pelindung bagi mereka berdua
dari daya desak hawa yang telah mencapai di tempat mereka berdiri, padahal
jaraknya sudah mencapai dua belas tombak lebih. Nawara pun melakukan seperti apa
yang diperbuat oleh Nawala, saudara kembarnya.
Murid kembar dari Benteng Dua Belas Rajawali memang bukanlah jago-jago picisan
belaka. Setinggi apa pun ilmu yang mereka miliki, menurut Rajawali Alis Merah,
tentu masih ada orang yang lebih tinggi lagi. Itulah yang selalu ditanamkan oleh
pasangan suami istri Rajawali Alis Merah dan Naga Sakti Berkait pada mereka
berdua. Prinsipnya, diatas jago masih ada jago!
"Pendeta busuk, serahkan nyawamu!" bentak Ratu Gurun Pasir dari arah ketinggian,
kemudian meluncur dengan kecepatan kilat, menghunjam diiringi hembusan hawa
pelumpuh syaraf diringi sabetan bayangan ekor kalajengking dan mulut ular yang
terpentang lebar menyemburkan asap hitam bergumpal-gumpal mendahului laju turun
Ratu Gurun Pasir. Swosh, wosh ... Jwoshh ... !!!
Gesekan udara dengan bayangan-bayangan pembawa maut terlihat cepat menghampiri
sosok Panembahan Wicaksono Aji yang tetap tenang menanti serangan lawan. Setelah
menghitung jarak serangan dengan cermat, si kakek tua segera memutar pergelangan
tangan kanan memancarkan cahaya coklat kehitam-hitaman membentuk perisai, sedang
tangan kiri yang telah siap dengan pukulan maut 'Tapak Pelebur Baja' menghentak
ke depan memunculkan larikan cahaya berpijar terang hijau kecoklatan, memapaki
bayangan raksasa ular dan kalajengking yang mendekat dari atas.
Srettt! Jderrr! Darr!! Dhuarrr ... !
Timbul kepulan debu dan asap warna-warni semburat ke atas diiringi dengan suara
ledakan yang membahana. Bersamaan dengan itu pula, terjadilah baku serang antara
sosok bayangan belalang sembah raksasa dikeroyok sosok bayangan ular dan
kalajengking raksasa disertai dengan ledakan-ledakan keras akibat beradunya
pukulan. Sepasang Naga Dan Rajawali sampai-sampai menahan napas tegang dikarenakan peta
pertarungan menggunakan ilmu-ilmu kesaktian tingkat tinggi yang jarang dijumpai
oleh mereka berdua. Tar! Tarrr!! Beberapa kali terdengar bunyi letusan nyaring saat pancaran hawa nyasar ke
tempat mereka dan bertabrakan dengan dinding pelindung yang mereka bangun.


Pendekar Elang Salju Karya Gilang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Semakin lama, pancaran hawa nyasar justru semakin bertambah banyak dan semakin
sering terjadi. Untunglah bahwa Ilmu 'Benteng Baja Dan Tembaga' sudah mencapai
tahap sulit ditembus, apalagi saat ini dua orang kembar telah menggabungkan
sekaligus ilmu mereka, kekuatannya menjadi bertambah dua kali lipat.
Tak lama kemudian, terlihat sosok bayangan belalang raksasa dililit erat
bayangan ular sedang bagian punggung menancap erat sengatan kalajengking.
Crepp! Kreek!! Dalam keadaan terdesak seperti itu, capit kiri belalang masih sempat bergerak ke
depan, lalu melesak dalam-dalam ke leher ular hingga tembus ke belakang sedang
capit kanan bergerak menyamping, membabat putus sengat kalajengking.
Jrebb! Cress ... !! Terdengar lolongan kesakitan dan raungan kemarahan silih berganti.
Hingga pada akhirnya ... Woshh!! Bumm! Blumm! Jblumm!
Kali ini bunyi benturan puluhan kali lipat lebih keras dan menakutkan dari
sebelumnya, bahkan Sepasang Naga Dan Rajawali sampai terseret beberapa langkah
ke belakang meski sudah meningkatkan kekuatan tenaga sakti tiga kali lipat dari
sebelumnya, tetap saja tubuh mereka terseret.
Peta pertarungan pamungkas antara Panembahan Wicaksono Aji dan Ratu Gurun Pasir
terhenti seiring dengan berhentinya suara benturan. Setelah beberapa saat,
bayangan belalang, ular dan kalajengking raksasa sedikit demi sedikit memudar
dan akhirnya lenyap tak berbekas, diikuti dengan kepulan asap dan debu yang
melingkupi arena pertarungan menghilang dengan sendirinya.
Yang terlihat adalah ... Tangan kanan Ratu Gurun Pasir berhasil menembus hawa pelindung tubuh dan
memasuki lambung Panembahan Wicaksono Aji hingga tembus ke punggung, sedang
tangan kiri melancarkan totokan maut tepat mengenai ulu hati. Nyawa Panembahan
Wicaksono Aji sulit sekali dipertahankan dengan kondisi terluka parah seperti
itu. Benar-benar parah! Namun, nasib Ratu Gurun Pasir sendiri tidak kalah buruknya dengan si kakek
pendeta lawannya. Tangan kanan kakek pendeta membabat putus tangan kanan Ratu
Gurun Pasir dalam posisi bergerak menyamping sedang tangan kiri yang sarat Ilmu
'Tapak Pelebur Baja' menghantam di dada kiri tepat di jantung, bahkan tapak
tangan itu sampai melesak sedikit ke dalam dada.
Jantung sudah pecah, maka pecah pula nyawa Ratu Gurun Pasir saat itu juga!
Darah kental kehitam-hitaman merembus keluar dari ulu hati Panembahan Wicaksono
Aji. Sambil mendorong pelan, tubuh Ratu Gurun Pasir langsung ambruk. Selain
tewas dengan mata melotot, mulut orang satu-satunya dari Perkumpulan Bidadari
Lembah Angker terbuka lebar. Mungkin saja sukmanya tercerabut paksa lewat mulut,
bukan lewat ubun-ubun! Panembahan Wicaksono Aji masih berdiri tegak, seulas senyum kepuasan menghias
bibir keriput berdarah-darah.
Sepasang Naga Dan Rajawali segera berhamburan mendekati sosok pendeta tua, saat
melihat tubuh lemah penuh jejak luka roboh ke tanah.
"Paman Panembahan!" seru Nawala sambil memangku kepala si kakek.
Dengan lemah, Panembahan Wicaksono Aji membuka mata, lalu tersenyum lemah,
"Nakmas, tugasku di du ... nia sudah sele ... sai. Tak perlu dises ... sali atau
... pun di ... tangis ... si. Ingat pesan ... ku, jalan kebenar ... an pasti
me ... nang mela ... wan jalan kese ... satan!"
"Jangan banyak bicara dulu, Paman! Biar aku bantu mengalirkan tenaga dalamku!"
kata Nawara sambil menempelkan tangan kanan.
Panembahan Wicaksono Aji hanya menggeleng lemah.
"Kali ... an ber ... dua sudah ta ... hu kondi ... siku. Tidak perlu mem ...
buang-buang te ... na ... ga dengan sia-sia! Un ... tuk tera ... khir
kalinya ... aku mau min ... ta ban ... tuan kalian ... "
"Katakan saja Paman Panembahan." ucap Nawala dengan sedih. "Semoga saja kami
mampu melaksanakannya."
Dengan suara yang semakin lemah, Panembahan Wicaksono Aji berusaha mengucapkan
kata-kata terakhir. "Di ... saku kanan ... ku ada dua ... kit ... tab. Kitab pe ... dang kube ... ri
... kan pada kka ... lian, kitab sa ... tunya beri ... kan pada wa ... neng ...
pati sebagai tan ... da mata dari ... ku untuk anak ... nya ke ... lak ... "
Nawara dan Nawala saling pandang dengan haru melihat keteguhan hati orang tua
yang sekarat itu. "Terima kasih, Paman! Pesan Paman akan kami sampaikan pada Kakang Wanengpati,"
ucap Nawala sambil berusaha menahan bendungan air yang ada di matanya, akan
tetapi Nawara sudah tidak bisa membendungnya, akhirnya jebol keluar diiringi
dengan tangis sesenggukan pelan.
Sambil membelai rambut Nawara yang ada di sampingnya, ia pun berkata dengan
lemah, "Sudah ... lah ... ja ... ngan ka ... lian ta ... tangisi kepergi ...
anku. Lihat ... lah ... malai ... kat pen ... jemput ... ku sudah da ...
tang ... aku ma ... u ber ... rang ... kat du ... lu ... se ... la ... mat
ting ... gal ... !" Selesai berkata, Panembahan Wicaksono Aji menghela napas pelan, kemudian tangan
jatuh lemas diikuti mata tertutup untuk selama-lamanya.
Sepasang Naga Dan Rajawali hanya tertunduk. Baru disadarinya bahwa memang pada
akhirnya manusia harus kalah oleh kodrat kemanusiaan yang sudah ditakdirkan sang
pencipta. Sesakti apapun, sehebat apa pun yang namanya makhluk hidup pasti akan
menemui yang namanya ... Kematian! Setelah Nawala mengambil dua jilid kitab yang ada di saku kanan Panembahan
Wicaksono Aji, yang memang benar kitab pedang dan kitab bersampul hitam,
diserahkan pada Nawara kedua-duanya untuk disimpan dahulu.
Tangan kekar Nawala membopong jasad Panembahan Wicaksono Aji melangkah pelan ke
arah tempat dimana para tokoh persilatan berkumpul menonton pertarungan antara
harimau berbulu putih mulus dengan kucing raksasa jelmaan Ratu Siluman Kucing.
Wanengpati yang tadi mendengar suara benturan tenaga sakti dengan keras adalah
orang pertama yang bertanya pada Sepasang Naga Dan Rajawali.
"Bagaimana dengan kondisi Paman Panembahan" Parahkah?"
Nawala hanya menggeleng lemah sambil meletakkan jasad si pendeta, lalu berkata
lirih, "Beliau ... telah mendahului kita semua, Kakang ... "
"Ooooh ... " Wanengpati berseru kaget. Sinar kesedihan terpancar dari matanya
yang tampak berkaca-kaca.
Nawala menoleh pada saudara kembarnya, setelah memandang beberapa jenak dibalas
dengan anggukan pelan Nawara segeramenghampiri dengan mata sembab sambil
mengangsurkan kitab hitam ditangan ke arah pemuda itu.
"Kakang Wanengpati, ada titipan dari Paman Panembahan. Mohon diterima."
Amanat orang yang sudah meninggal harus dilaksanakan, dan hal itulah yang
dilakukan Nawara saat ini.
"Terima kasih atas kesediaan kalian. Apalagi amanat yang harus aku terima?"
tanya Wanengpati sembari menerima uluran kitab hitam dari tangan Nawara.
"Beliau hanya berpesan bahwa kitab ini sebagai tanda mata untuk anakmu, Kakang."
Wanengpati berlutut sambil berkata pelan, "Terima kasih Paman Panembahan! Di
saat kondisimu seperti ini, Paman masih memikirkan jiwa orang lain. Terima kasih
banyak." Sementara itu peta pertarungan masih alot, namun perlahan-lahan harimau berbulu
putih berhasil mendesak kucing hitam raksasa. Beberapa cakaran dan gigitan
taring harimau singgah di tubuh.
Crakk! Crok! Krekk! Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Tiga Puluh Dua
Kalau sebelumnya tusukan senjata tajam tidak mempan sama sekali, justru gigi
tajam si harimau berbulu putih beberapa berhasil membuat jejak luka yang cukup
banyak. Tentu saja kondisi tubuh harimau itu tidak jauh berbeda dengan si kucing
hitam, beberapa goresan merah memanjang akibat cakaran kucing menghiasi bulu-
bulu putih mulusnya. "Sialan! Harimau dari mana ini" Tenaga silumanku tidak bisa dikerahkan seperti
biasanya! Padahal tadi waktu melawan nenek kapiran dan pemuda berkeris itu, aku
bisa mengerahkan tenaga semauku. Ada yang aneh dengan harimau putih ini," keluh
Ratu Siluman Kucing sambil berkelit ke samping menghindari tubrukan kilat
harimau berbulu putih. "Jika begini terus, nyawaku benar-benar melayang untuk
selamanya. Lebih baik aku cari jalan mundur terlebih dahulu."
Sambil melakukan terjangan ke depan dengan tangan kanan mengibas cepat, diiringi
dengan desiran angin setajam pedang, membuat harimau berbulu putih mundur
beberapa langkah dengan lompatan ke belakang.
Wutt! Wuss!! Namun ternyata itu hanya gerak pancingan belaka. Waktu yang hanya sekejap
dimanfaatkan oleh Ratu Siluman Kucing untuk meloloskan diri.
Melihat kelebatan Ratu Siluman Kucing yang bersiap melarikan diri, semua
khalayak berseru kaget. Tanpa dikomando, Bidadari Berhati Kejam berteriak
nyaring sambil mencabut pedang dari sarung, "Kucing sial! Enak saja kau
melarikan diri dari kancah pertarungan! Jika mau pergi, tinggalkan nyawamu
ditempat ini!" Srangg! Tubuh dan pedang langsung meluncur cepat, namun kecepatan luncuran pedang dan
tubuh Bidadari Berhati Kejam masih kalah cepat dengan melesatnya sebuah benda
panjang dari arah belakang.
Sebatang tombak! Kilatan mata tombak terpancar kuat pertanda luncuran dilambari dengan tenaga
dalam kuat, bahkan sampai muncul suara raungan yang bagai ribuan lebah mengamuk.
Wuung! Wuuungggg ... !! Ratu Siluman Kucing pun menyadari datangnya bahaya dari arah belakang. Sambil
berkelit merendah, ia berusaha membuat luncuran tombak lewat di atasnya.
Set! Aneh bin ajaib, tombak seakan bermata, ikut-ikutan bergerak merendah.
Wutt! Tentu saja Ratu Siluman Kucing kaget bukan alang kepalang, tapi sudah terlambat
untuk menghindar. "Ehh!?" Dengan mengandalkan kekebalan tubuh, kucing jejadian itu berusaha menahan
tusukan tombak. "Huh, segala macam tombak busuk bisa berbuat apa pada diriku?" batinnya, hingga
dalam waktu singkat Ratu Siluman Kucing membuat keputusan berani sambil tetap
melesatkan tubuh ke depan bermaksud melanjutkan pelarian.
Tapi keberaniannya kali ini salah besar!
Memang benar bahwa tubuhnya tahan, bahkan bisa dikatakan kebal terhadap senjata
tajam, akan tetapi ia melupakan satu hal, yaitu titik lemah daya kebal.
Tiba-tiba ... Jrabb!! "Uhh ... !" Ratu Siluman Kucing memekik lirih kemudian tubuhnya terjerembab diiringi debuman
keras. Ternyata, ujung mata tombak secara tidak sengaja justru berhasil menembus
masuk lewat salah satu lubang hawa yang ada dibawah tubuhnya, yaitu lubang anus,
terus bergerak maju memasuki dalam tubuh dan akhirnya ...
Ujung mata tombak mencuat tajam dari dalam mulut!
Mata Ratu Siluman Kucing terbeliak, tidak menyangka terjangan tombak masuk lewat
tempat yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya. Setelah mengejang beberapa
saat untuk mempertahankan hidupnya, nyawa terakhir siluman betina yang sering
berbuat kejahatan dimasa hidupnya, pada akhirnya harus hilang untuk selama-
lamanya. Nyawa ke sembilan, satu-satunya nyawa yang dimilikinya, akhirnya benar-
benar tak mungkin bisa ditarik kembali dari alam mana pun.
Bummm! Kepulan asap hitam kelam membuncah, membungkus sosok raga kucing hitam raksasa,
meski tanpa menimbulkan suatu bau-bauan yang khas, hanya bau sangit yang biasa-
biasa saja. Blubb! Gumpalan asap hilang lenyap menyusup masuk ke dalam tanah. Jasad Ratu Siluman
Kucing pun hilang bersamaan dengan hilangnya gumpalan asap. Kini yang tertinggal
hanya sebuah tombak tajam bermata perak mengkilat dengan batang tombak warna
perak pula. Tombak dari campuran baja dan perak pilihan yang ditempa oleh pandai
besi khusus dari benteng dua belas rajawali telah menamatkan akhir hidup Ratu
Siluman Kucing untuk selama-lamanya.
Tombak bermata perak memiliki tiga ruas dengan ukiran naga memanjang dan bisa
disatukan menjadi satu tombak panjang. Tombak tiga ruas sengaja didesain
sedemikian rupa agar memudahkan pemakainya dalam menggunakan jurus-jurus silat
serta praktis dalam penyimpanan. Senjata itulah yang digunakan Naga Sakti
Berkait dalam mendidik Nawala, saudara kembar dari Nawara dalam menurunkan ilmu-
ilmu silat dan menggubah 'Jurus Sakti Mandau Naga Jantan' menjadi ilmu baru
'Jurus Sakti Tombak Naga Jantan' dan ilmu ini hanya diturunkan pada Nawala
seorang! "Akhirnya ... mampus juga makhluk jelek itu!" gerutu Bidadari Berhati Kejam
sambil menyarungkan Pedang Besi Kuning.
Nawala berjalan ke depan, lalu memungut tombak miliknya, menekan sebuah tombol
kecil di gagang tombak. Klik! Tombak langsung berubah menjadi tiga ruas yang dihubungkan dengan seurat benang
perak, lalu ditekuk menjadi tiga dan dimasukan ke dalam sarung tombak yang ada
dibalik punggung. Sleep! "Untung saja lemparan tombakku tapi tepat sasaran, kalau tidak ... "
"Kalau tidak apa" Aku tahu tadi serangan tombakmu meleset lewat punggung, kalau
tidak aku timpuk dengan kerikil mana bisa tepat sasaran!?" Raja Penidur bergumam
sambil memindahkan posisi tidurnya.
"Iya ... iya ... he-he-he ... "
"Dasar cah gemblung! Malah cengengesan!!" kali ini Bidadari Berhati Kejam yang
membentak, lalu menoleh pada Raja Penidur, "Tukang tidur! Darimana kau tahu
kelemahan dari kucing mampus itu?"
"Ahh ... itu sih gampang!" tukas si Raja Penidur sambil mengubah posisi tidur
menjadi miring ke kiri, "Jika kau belajar ilmu kebal, bagian mana dari tubuhmu
yang tidak mungkin bisa kau latih dengan baik?"
Bidadari Berhati Kejam tercenung mendengar jawaban bernada tanya itu.
"Benar ... Benar, kenapa aku tidak berpikir sampai disitu?" gumam Bidadari
Berhati Kejam sambil menepak jidat pelan.
Kalau menepak keras-keras, bisa celeng dia!
Nenek pemarah itu tahu betul hanya bagian mata, rongga mulut, lubang telinga,
bagian alat vital dan lobang anus merupakan titik lemah tubuh manusia.
"He-he-he ... " Raja Pemalas mendadak terkekeh-kekeh sendiri.
"Apa yang kau tertawakan" Kau mentertawakan aku?" tanya Bidadari Berhati Kejam
dengan heran. "Tidak ... tidak ... aku hanya mentertawakan pemuda bertombak itu."
"Aku malu bilang ... "
"Cepat katakan!" bentak nenek pemarah itu.
"Sinikan telingamu!" Perintah Raja Pemalas pada Bidadari Berhati Kejam.
"Setan tua! Kau jangan main gila denganku!"
"Kau mau dengar tidak!?"
Dengan ogah-ogahan nenek berpedang Besi Kuning menyorongkan telinga ke arah si
kakek. Si kakek membisikan sesuatu pada si nenek.
Sesaat kemudian, selebar muka Bidadari Berhati Kejam merah padam karena malu,
tapi mulutnya menyinggungkan senyum simpul, "Dasar tua bangka usil! Otak jorokmu
tidak pernah dibawa ke tabib barangkali!?"
Nawala yang saat itu asyik melihat pertarungan Setan Nakal dengan Ayu
Parameswari, mendengar celotehan si Raja Pemalas. Tentu saja ia merasa aneh, dan
akhirnya tidaktahan untuk bertanya, "Memangnya ada yang aneh padaku, Nini?"
"Tidak ada ... " sahut Bidadari Berhati Kejam sambil berjalan menjauh. "Tanya
saja pada dia!" Mata Nawala hanya memandang sekilas pada Raja Pemalas. Pandangan itu sudah
mengisyaratkan sebuah pertanyaan.
"Kau benar-benar ingin tahu?"
"He-eh!" "He-he-he, kau tahu ... tadi apa yang kau pegang?" tanya Raja Pemalas dengan
nada gurau. "Tentu saja aku tahu." kata Nawala pendek, sebab yang dia pegang terakhir kali
cuma tombak miliknya. "Kalau begitu, kau harus bersiap-siap cuci tangan tujuh hari tujuh malam
lamanya," kelakar Raja Pemalas sambil berusaha menahan tawa yang hampir meledak
keluar. "Lho, apa hubungannya cuci tangan dengan memegang tombak?" tanya si pemuda
sambil memandangi dua telapak tangan yang tadi memegang tombak, tidak ada yang
aneh disana. "Coba kau ingat-ingat, tadi tombak saktimu itu bersarang dimana?" jawab Raja


Pendekar Elang Salju Karya Gilang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Pemalas, dan akhirnya tawa yang sedari tadi ditahan-tahan akhirnya meledak
keluar sampai terbahak-bahak.
"Uhh ... kukira apa" Tombakku tadi kan cuma bersarang di ... " berkata sampai
disini, mata Nawala melotot setelah mengetahui maksud pertanyaan nakal si Raja
Pemalas. Membayangkan sampai disini, perut Nawala mendadak mual dan akhirnya ...
Hoekh, hoekhh ... !! Isi perut tumpah keluar dan hampir saja menimpa selebar wajah Raja Pemalas yang
ada di depannya. Plook! "Bocah setan! Apa-apa'an kau ini!?" bentak Raja Pemalas sambil berkelit ke
samping. Tanpa menjawab sepatah kata pun, Nawala langsung berlari menjauh, menuju sungai
yang tidak jauh dari tempat itu, hanya tertutup rerimbunan semak ilalang.
Disana ... Langsung mengeluarkan tombak terus dimasukan ke dalam air begitu saja, diikuti
dengan mencuci tangan sambil digosok-gosokkan pada batu atau rumput-rumput air,
hingga air sungai sampai berbuih.
Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Tiga Puluh Tiga
Kembali ke pertarungan ...
Kekalahan Ratu Siluman Kucing ternyata tidak mempengaruhi semangat tempur Setan
Nakal, bahkan semakin menggebu-gebu mengerahkan tingkat kesaktian yang lebih
tinggi. Ayu Parameswari pun merasakan daya tekan yang semakin menggelora, hingga
beberapa jurus ke depan, terlihat gadis cantik berbaju merah bagai dikepung
cahaya-cahaya biru berpijar yang berasal dari 'Ilmu Sakti Api Neraka Biru' milik
Setan Nakal. Sementara itu, nun jauh di dalam perut bumi, disuatu lorong rahasia yang begitu
tersembunyi, sosok berjubah kuning emas sedang memandang ke arah cermin datar.
Cermin tersebut memantulkan bayangan kejadian yang ada di atas bumi. Terlihat
dengan jelas bagaimana dua senopati tangguh dari Istana Iblis Dasar Langit yaitu
Jin Hitam dan Gendruwo Sungsang tewas, bahkan sampai Kucing Iblis Sembilan Nyawa
dan sesembahannya yaitu Ratu Siluman Kucing yang mati mengenaskan pun tidak
luput dari sorot mata yang kian lama kian menakutkan. Termasuk tewasnya Ratu
Gurun Pasir dan Panembahan Wicaksono Aji terpampang jelas lewat cermin raksasa
yang ada dihadapannya. "Kurang ajar! Untung saja Cermin Terawang Dua Alam tidak pernah lepas dari
tanganku! Para manusia yang menyatroni tempat ini memang bukan orang
sembarangan," gumam si Topeng Tengkorak Emas, "terutama dua kakek sialan itu,
tak kusangka mereka membekali diri dengan ilmu-ilmu gaib yang paling ditakuti
golongan makhluk halus, hmm ... Andaikata Ayahanda Raja tidak melarangku untuk
turun tangan, sudah sedari tadi aku kirim mereka berangkat ke akherat! Jahanam
betul!" Dua tangan terkepal saling menghantam satu sama lain sampai terdengar bunyi
nyaring, lau ia jalan mondar-mandir dengan dua tangan terlipat dibelakang di
depan Cermin Terawang Dua Alam, si Topeng Tengkorak Emas terlihat gelisah,
antara membantu anak buahnya atau meninggalkan tempat kediamannya di dasar bumi.
"Hentikan perbuatan konyolmu, anakku!"
Sebuah suara menggema di tempat itu, dan belum sempat gema suara hilang, entah
darimana datangnya, sesosok tubuh terbungkus baju perak terang telah berdiri
tepat dibelakang si Topeng Tengkorak Emas berada. Sosok serba perak mengenakan
topeng tengkorak yang sama persis dengan yang dipakai si Topeng Tengkorak Emas,
hanya berbahan dari baja putih mengkilap.
"Ayahanda Raja!"
Sosok yang dipanggil Ayahanda Raja hanya mendengus saja tanpa membalas sapaan si
Topeng Tengkorak Emas. Tatapan sinis, kejam dan licik terpancar kuat dari sorot
mata di balik topeng. "Hemm, rupanya begini cara kerjamu" Benar-benar memalukan!" sindir si Topeng
Tengkorak Baja pada pemuda didepannya.
Si Topeng Tengkorak Emas hanya tertunduk diam, namun pancaran mata yang menunduk
menatap tanah bagai mengeluarkan api membara mendengar sindiran orang yang
disebutnya sebagai 'Ayahanda Raja'!
"Kenapa kau tidak turun tangan sendiri?" tanya si Topeng Tengkorak Baja bernada
menyelidik. "Bukankah Ayahanda ... "
"Nawa Prabancana! Disinilah letak kesalahanmu! Kau tidak bisa menterjemahkan
arti 'jangan turun tangan sendiri', bukan berarti harus mengorbankan anak buahmu
dengan sewenang-wenang! Ingat, bagaimana pun juga seorang pemimpin pasti
membutuhkan orang yang dipimpin atau anak buah, sebuah kerajaan pasti
membutuhkan rakyat." kata si Topeng Tengkorak Baja. " ... dan perlu kau ketahui,
tugasmu adalah mendirikan Kerajaan Dasar Langit di atas bumi, kau masih ingat?"
"Masih ingat dengan jelas, Ayahanda."
"Bagus! Lalu, apa kau sudah berhasil mendapatkan Sepasang Mutiara Langit yang
kita inginkan?" "Belum, Ayahanda! Tapi ananda yakin bahwa tidak lama lagi Sepasang Mutiara
Langit pasti berada dalam genggaman kita," sahut Nawa Prabancana alias si Topeng
Tengkorak Emas. "Aku tidak butuh komentar, tapi bukti yang nyata! Dan perlu kau ketahui, dua
tiga hari ke depan akan terjadi Gerhana Matahari Kegelapan yang terjadi setiap
seribu tahun," kata si Topeng Tengkorak Baja dengan keras, " ... Pendahuluku
sebelumnya berhasil dengan gemilang mendirikan Kerajaan Dasar Langit di alam
gaib lewat bantuan Sepasang Mutiara Bumi Dasawarna yang saat ini tersimpan
Gudang Pusaka Kerajaan. Dan itu pun terjadi tepat pada saat Gerhana Matahari
Kegelapan terjadi di muka bumi."
"Ananda mendengarkan!"
"Akan tetapi leluhurku gagal mendirikan Kerajaan Dasar Langit di atas bumi
dikarenakan Sepasang Mutiara Langit yaitu Mutiara Langit Putih dan Mutiara
Langit Merah hanya muncul satu saja dan itu pun saat Gerhana Matahari Kegelapan
kedua, sedang pasangannya Mutiara Langit Merah akan muncul bersamaan dengan
Gerhana Matahari Kegelapan berikutnya. Dan itu akan terjadi dua tiga hari ke
depan," tutur Topeng Tengkorak Baja, sambil menerawang ia melanjutkan perkataan,
"Namun ... gara-gara orang-orang dari Istana Elang pula, niat mendirikan
Kerajaan Dasar Langit di atas bumi gagal terlaksana. Dan kau tahu apa artinya?"
Topeng Tengkorak Emas yang disebut-sebut bernama Nawa Prabancana, hanya terdiam
membisu. "Artinya ... hingga sekarang ini kerajaan dasar langit di atas bumi belum
terwujud sama sekali. Dan sekarang untuk mendirikan kerajaan tersebut
dilimpahkan kepadamu. Menjadi tanggung jawabmu sebagai Putra Mahkota Kerajaan
Dasar Langit di alam gaib." kata si Topeng Tengkorak Baja sambil berdiri tegak,
lalu sambungnya, " ... Kita harus menggantikan bangsa manusia yang lemah dan
terbelakang digantikan oleh bangsa kita. Bangsa kita lebih kuat dan tangguh dari
pada bangsa manusia. Dengan adanya Mutiara Langit Merah, bangsa kita bisa keluar
masuk ke alam manusia dengan bebas, bisa menampakkan wujud kapan saja dan dimana
saja. Ha-ha-ha!" Tawa keras dari si Topeng Tengkorak Baja terdengar membahana, menggetarkan
dinding-dinding yang melingkupi tempat yang terpendam di dalam tanah itu.
"Ananda paham maksud Ayahanda Raja!"
"Bagus ... ! Bagus ... ! Apa tempat calon kerajaan kita sudah kau siapkan dengan
baik?" tanya si Topeng Tengkorak Baja, mengalihkan pembicaraan.
"Sudah Ayahanda! Bahkan beberapa delapan Senopati sudah Ananda kirim kesana
untuk menjaga kemungkinan yang terjadi."
Si Topeng Tengkorak Baja terlihat mengangguk-anggukkan kepala, lalu katanya,
"Tempat mana yang kau pilih?"
"Di bekas kerajaan Kediri."
"Di Kediri?" "Benar, Ayahanda Raja!" tutur Nawa Prabancana dengan tegas.
"Baik! Aku tunggu hasilnya tiga hari mendatang!"
Datang tanpa diundang, pergi tanpa diantar. Begitulah kata yang tepat untuk si
Topeng Tengkorak Baja. Entah dengan ilmu apa dia bisa datang dan pergi sesuka
hatinya. Dan tentang Nawa Prabancana sendiri, bisa di tebak siapa dia adanya. Pemuda
hasil perkawinan antara manusia berjenis perempuan yang bernama Danayi, murid
Perguruan Rimba Putih yang secara tidak sengaja makan buah Laknat Hitam yang
merupaka simbol pernikahan para iblis, hingga Danayi sekaligus memiliki sembilan
orang suami! Bahkan Nawa Prabancana pun menguasai kitab terlarang rimba persilatan yang
bernama 'Bhirawa Tantra'. Tentu campur tangan penghuni Istana Dasar Langitlah
yang membuat kitab sesat itu sampai bisa dipelajari dengan tuntas oleh Nawa
Prabancana, dikarenakan para iblis mengetahui dengan pasti bahwa manusia
setengah setan separo iblis yang memiliki darah campuran antara bangsa mahkluk
halus dengan bangsa manusia saja yang bisa menguasai sempurna ini Kitab 'Bhirawa
Tantra'! Jadi, Danayi bisa dikatakan bukan tanpa sengaja memakan buah setan itu, tapi
didalamnya sudah ikut campur tangan iblis yang berperan besar dalam keberhasilan
menjebak anak manusia masuk ke dalam lingkaran setan.
"Aku harus mengirim Ilmu 'Sukma Bayangan' untuk menghajar manusia-manusia rendah
itu!" gumam Nawa Prabancana alias si Topeng Tengkorak Emas sambil terus
mengawasi pertarungan antara Setan Nakal dengan Ayu Parameswari lewat kaca
saktinya. -o0o- "Cah ayu, buat apa kau ngotot begitu" Sudahlah!" seru si Setan Nakal sambil
sepasang tangannya membentuk cakar dialiri tenaga dalam tinggi serta kandungan
'Ilmu Sakti Api Neraka Biru' tingkat ke sembilan mendorong ke depan, tepat ke
arah dada membusung si gadis berbaju merah.
Wutt! Kilatan cahaya biru tajam bagai pisau cukur membara mengiringi sepasang cakar
maut milik Setan Nakal. Murid Naga Bara Merah dari Jurang Tlatah Api bukannya tak tahu maksud dan tujuan
lawan. Disaat jarak tinggal dua tiga tindak lagi, badan berkelit ke samping
sambil kaki kiri tekuk ke bawah sedang kaki kanan menerobos masuk di antara
celah perut dan paha Setan Nakal.
Wukk! Blarr!! Jurus tendangan 'Naga Bayangan Membuka Pintu' tepat mengenai ulu hati, akan
tetapi dinding pelapis tubuh yang dimiliki oleh Setan Nakal bukan alang kepalang
hebatnya. Jangankan terluka, bergeser beberapa garis saja tidak. Gadis
bersenjata kipas itu terpental ke belakang dengan kaki kanan gembung bengkak
kebiruan, dan darah berceceran keluar bersamaan dengan jatuhnya tubuh si gadis
ke tanah. Rupanya, si Setan Nakal sengaja membuka peluang bagi lawan untuk
menyerang bagian dada, sehingga jurus 'Sepasang Cakar Peluntur Darah' yang
dilancarkannya bisa mengenai sasaran. Meski perhitungannya meleset, namun
setidaknya satu dari dua serangan berhasil mengenai pundak kiri lawan dengan
telak. Wanengpati dan Raja Penidur segera memburu ke arah Ayu Parameswari tergeletak.
Wanengpati bergegas menghampiri adiknya sedang Raja Penidur dengan mata masih
terkantuk-kantuk berdiri limbung kesana kemari.
"Ayu ... !!" "Kakang, kakek cebol itu hebat juga," kata Ayu sedikit terengah-engah, sambil
berusaha bangkit berdiri.
"Lebih baik kamu istirahat saja."
"Tidak bisa, kakang! Aku masih belum kalah," Ayu berkata.
"Anak manis, buang saja keras kepalamu itu ke tong sampah!" gumam Raja Penidur,
" ... biar yang tua-tua saja yang menangani Setan Nakal ini. Sembuhkan dulu
lukamu!" "Tapi ... " Ayu masih berusaha membantah.
"Benar apa tukang mimpi itu! Ayu, kau istirahat dulu!" potong Bidadari Berhati
Kejam sambil melangkah mensejajari Raja Penidur.
"He-he-he! Rupanya ada nenek cantik disini! Wah, wah ... Hari ini aku ketiban
durian runtuh barangkali!" seloroh si Setan Nakal sambil cengar-cengir. " ...
tapi ... baunya sudah bau bangkai!" Hidung peseknya berulang kali mengendus-
endus, seolah-olah ada bau harum di tempat itu.
"Dasar setan brengsek! Nih makan pedangku!" Bidadari Berhati Kejam memaki sambil
mencabut Pedang Pusaka Besi Kuningnya, lalu ditebaskan memutar dua lingkaran
penuh dan jurus 'Lingkaran Dua Mata'!
Sutt! Wutt! Dua larik cahaya bulat kuning suram melesat cepat ke arah Setan Nakal yang masih
ketawa-ketawa sumbang. "Weleh, weleh ... belum-belum sudah menggunakan ilmu sakti," seru si Setan Nakal
diikuti dengan dorongan sepasang tangan yang membentuk cakar memapaki hawa
pedang yang membentuk bulatan.
Bumm! Bumm!! Debuman keras terdengar. Bidadari Berhati Kejam langsung terpental ke belakang
dua tiga tombak saat hawa pedangnya bertemu dengan 'Sepasang Cakar Peluntur
Darah' yang dilancarkan oleh Setan Nakal. Meski tidak terluka dalam, akan tetapi
tangannya yang memegang pedang sampai kebas, memegang pedang pun rasanya sulit
sekali. Ingin rasanya ia menjatuhkan pedang di tangan, tapi keangkuhannya lebih
besar lagi untuk mempertahankan pedang tetap berada ditangannya!
Kondisi Setan Nakal pun tidak kalah parahnya. Pada pertarungan sebelumnya, ia
sudah terluka dalam akibat pertarungan sengit dengan pewaris Sang Api, kini
lukanya diperparah dengan benturan tenaga sakti milik Bidadari Berhati Kejam.
Selain terlempar puluhan tombak jauhnya, dari hidung, telinga dan mulut keluar
darah segar kental kehitam-hitaman!
Dasar setan nakal, ia malah cengar-cengir saja mendapati dirinya berdarah-darah,
bahkan dengan rakus, ia menjilati darahnya sendiri.
"Sialan! Kecapku banyak yang tumpah! Rugi jika dibuang begitu saja!" katanya
sambil bangkit terhuyung-huyung. "Kok rasanya kecut!" Nini cantik, boleh aku
cicipi kecapmu?" selebar wajah laki-laki pendek buntak itu belepotan darah, sehingga wajahnya
sekarang benar-benar mirip setan!
Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Tiga Puluh Empat
"Dasar manusia gila!" sentak Bidadari Berhati Kejam dengan mimik muka bengis.
Crapp! Pedang Pusaka Besi Kuning ditancapkan di tanah. Dengan susah payah ia berusaha
berdiri dengan bertumpu pada gagang pedang. Darah merah kental terlihat meleleh
keluar dari sudut bibirnya yang keriput, lalu ia usap dengan tangan kiri. "Ilmu
si setan tengil ini hebat juga! Pantas jika ia bisa mengukir nama besar di rimba
persilatan," pikir si nenek, "Tapi aku tidak boleh menyerah kalah begitu saja.
Mau ditaruh dimana nama besar Bidadari Berhati Kejam jika menghadapi tokoh
seperti ini sudah menyerah kalah!?"
"Bagaimana" Kau setuju ... "
"Setuju kepalamu pitak!" seru Bidadari Berhati Kejam melesat sambil menyeret
pedang yang masih terbenam di tanah seperempat bagian. "Jika kau ingin tahu
jawabanku, tanya saja pada pedangku ini!"
Srakk! Srakk!! Suara tanah terbelah diikuti dengan pancaran hawa tenaga gaib yang berasal dari
Pedang Pusaka Besi Kuning ditambah dengan pancaran hawa 'Tenaga Sakti Sukma
Gelap' tingkat tujuh menimbulkan pancaran cahaya kuning buram yang menyelimuti
sekujur badan si nenek dan pedangnya. Memang perlu diketahui, di jajaran tokoh-
tokoh persilatan yang memiliki ilmu pedang setara dengan Bidadari Berhati Kejam
bisa dihitung dengan jari, bahkan Sepasang Dewa Pembunuh pun masih kalah dua
urat jika beradu ilmu pedang, meski si nenek sendiri tidak memiliki satu pun
jurus-jurus atau ilmu-ilmu pukulan sakti, tapi 'Tenaga Sakti Sukma Gelap' yang
dimilikinya sudah setara dengan pukulan-pukulan sakti tokoh-tokoh kosen tingkat
atas. "Jika tidak kugunakan tahap akhir, kapan lagi saat yang tepat selain sekarang."
pikir si nenek. Dan kali ini, si nenek berpedang Besi Kuning benar-benar mengerahkan segenap
kesaktian hingga tingkat teratas, dikarenakan menyadari bahwa sosok manusia
buntak didepannya bukanlah sosok yang mudah dihadapi, apalagi dirinya mengetahui
bahwa lawan pun memiliki Rajah Penerus Iblis yang bisa melipatgandakan kekuatan
berkali-kali lipat dari kekuatan aslinya. Meski belum berhasil menembus tingkat
ke delapan dari 'Tenaga Sakti Sukma Gelap' tapi kekuatan daya lebur tingkat ke
tujuh sudah lebih dari cukup untuk meluluhlantakkan sebuah bukit cadas.
Pancaran cahaya kuning buram pun berubah menjadi kuning kehitam-hitaman yang
semakin kental saat mendekati sosok Setan Nakal yang masih asyik bermain dengan
darahnya sendiri, seolah tidak menyadari bahwa dirinya berada di ujung tanduk.
"Kali ini ... kau bakal menemui Raja Akhirat!" seru Bidadari Berhati Kejam
sambil menyabetkan Pedang Besi Kuning yang sarat dengan 'Tenaga Sakti Sukma
Gelap' tingkat ke tujuh ke arah Setan Nakal!
Wuttzz! Wizzz! Desingan cahaya bergulung-gulung membelah udara terdengar nyaring menusuk
gendang telinga. Meski mata pedang tidak sampai pada sasaran, namun hawa pedang


Pendekar Elang Salju Karya Gilang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

yang terlontarlah merupakan kunci pamungkas dari jurus 'Pedang Membelah Bukit
Menebas Gunung'! Blumm! Blumm!! Setan Nakal yang masih dalam posisi tidak siap siaga bagai dihantam sebongkah
batu raksasa dengan berat puluhan ribu kati, tubuhnya sampai terseret puluhan
tombak ke belakang, hingga mendekati lubang pintu masuk ruang bawah tanah.
Tapi kali ini, Bidadari Berhati Kejam salah perhitungan!
Serangan tingkat tujuh dari 'Tenaga Sakti Sukma Gelap' kandas di ujung jari
telunjuk Setan Nakal. "Ilmu Sakti ... Jari Bayi!" Bidadari Berhati Kejam berseru nyaring.
'Ilmu Sakti Jari Bayi' sebenarnya adalah ilmu terlarang rimba persilatan, yang
merupakan salah satu dari empat ilmu sesat yang ada di Kitab 'Bhirawa Tantra'
dimana ilmu ini dalam mempelajarinya harus menggunakan darah bayi yang masih
dalam kandungan dan harus berumur kurang dari tiga bulan. Dimana bayi suci
dikeluarkan dengan cara halus menggunakan ilmu-ilmu gaib tertentu (istilahnya
sekarang memindahkan janin secara gaib dengan bantuan mahkluk halus) dan
dimasukkan ke dalam sebuah cupu yang memiliki sepuluh lubang di bagian atas
bawah. Lalu dengan tenaga dalam, gumpalan daging bayi suci 'dilumatkan' hingga
menjadi bubur darah yang setelah menetes keluar lewat sepuluh lubang cupu
tersebut disedot dengan daya hisap lewat jari telunjuk. Itulah sebabnya
dinamakan sebagai 'Ilmu Sakti Jari Bayi' karena semakin banyak darah bayi yang
terhisap jari telunjuk, maka jari telunjuk semakin berwarna cerah bahkan
kulitnya sehalus kulit bayi!
"He-he-he, tahu juga kau rupanya!" kata Setan Nakal sambil terkekeh-kekeh.
Sebenarnya yang digunakan oleh Setan Nakal tidak hanya 'Ilmu Sakti Jari Bayi'
saja tapi masih digabung dengan 'Ilmu Sakti Api Neraka Biru' tingkat delapan,
sebab ia tidak yakin raganya mampu menampung beban kekuatan yang begitu besar
saat ia menggunakan 'Ilmu Sakti Jari Bayi' tingkat akhir, sehingga yang
dikeluarkan hanya setengah bagian saja lalu digabung dengan 'Ilmu Sakti Api
Neraka Biru' tingkat delapan disebabkan oleh kondisi terluka parah. Andaikata
dalam keadaan sehat, tanpa gabungan 'Ilmu Sakti Api Neraka Biru' pun ia sanggup
menghentikan serangan si Bidadari Berhati Kejam.
Lain dimulut lain dihati, itulah ciri khas Setan Nakal. Meski pada dasarnya ia
ketawa-ketawa tanpa beban, tapi dalam hatinya ia merutuki panjang pendek.
"Slompret! Serangan nenek busuk itu berhasil menembus hawa pelindung tubuhku!
Ulu hati dan jantungku terserempet hawa pedang kuningnya." kata hati Setan Nakal
masih haha-hihi, " ... andai sekali lagi aku menerima serangan yang sama seperti
tadi, jangankan 'Ilmu Sakti Api Neraka Biru' tingkat sembilan, andai digabung
dengan 'Ilmu Sakti Jari Bayi' tingkat akhir pun tidak bisa berbuat banyak! Aku
harus melakukan serangan kilat!"
"Nenek sial! Sekarang giliranku yang melakukan serangan! Terima jurusku!" seru
si Setan Nakal sambil memasang kuda-kuda kokoh sambil menghimpun segenap tenaga
sakti. Kali ini tidak pertarungan menggunakan jurus-jurus serang hindar seperti saat ia
menghadapi murid tunggal Naga Bara Merah, akan tetapi langsung menggunakan ilmu-
ilmu kesaktian tingkat tinggi. Namun, sebelum laki-laki buntak itu mengempos
tenaga lebih lanjut, sekelebat bayangan kuning keemasan melesat keluar dari
lubang pintu ruang bawah tanah, melompati Setan Nakal yang ada didepannya,
kemudian menerjang dengan kecepatan yang sulit diikuti dengan pandangan mata.
Blassh ... ! Lapp ... ! Bidadari Berhati Kejam terperanjat kaget. Belum sempat ia menghindar, dadanya
sudah disentuh sebentuk tenaga lembut namun menyimpan kekuatan dashyat.
Dessh ... !!! Nenek itu langsung terpental dan disaat masih melayang di udara, mulutnya
memuntahkan darah segar. "Huakk!!" Bayangan itu terus bergerak dengan kecepatan kilat. Sulit sekali untuk mengikuti
gerak langkah si bayangan kuning keemasan. Kemana pun ia berkelebat, pasti
terdengar suara beradunya pukulan dan diikuti dengan terlemparnya orang-orang
yang terkena hantamannya.
Setelah Bidadari Berhati Kejam, kini giliran Wanengpati mendapat bagian. Meski
sudah berusaha menghindar, tapi tulang pundaknya terhajar keras.
Prakk! Terdengar suara berderak patahnya tulang saat tapak bayangan kuning tepat
mendarat di pundak Wanengpati. Pemuda berbaju dalang itu ternyata masih sempat
mengerahkan tenaga pelindung tubuh di saat yang tepat. Sepasang kakinya sampai
amblas ke dalam tanah hingga setinggi mata lutut.
Bisa dikatakan kondisi Wanengpati benar-benar mengenaskan!
Bayangan kuning keemasan segera berkelebat ke tempat lain. Kali ini giliran
Sepasang Raja Tua, Nawara dan Ayu Parameswari yang menerima serangan tapak
secara beruntun. Empat orang jago persilatan itu bukan orang-orang berilmu
rendah, tapi menghadapi bayangan kuning emas seperti telur dibenturkan dengan
batu kali. Dessh ... Dasss ... ! Prakk!!
Raja Pemalas dan Raja Penidur terlempar ke kiri kanan dengan luka dalam yang
diderita tidak ringan, bahkan Raja Pemalas pingsan untuk kedua kalinya. Akan
halnya si Raja Penidur tulang kaki kiri patah saat berusaha mengelak ke samping.
Ayu Parameswari dan Nawara justru sedikit lebih baik. Meski sempat bertukar
sejurus dua, tapi serangan tapak si bayangan kuning keemasan terlalu cepat dan
rapat menghujani tubuh indah mereka berdua.
Plak! Plakk! Deshh ... !!
Tanpa sempat berteriak, Nawara langsung pingsan saat sebelum menyentuh tanah,
sedang Ayu Parameswari masih sempat berkelit dengan menggunakan tenaga peringan
tubuh menghindari serangan tapak yang jumlahnya ribuan bentuk.
Wess! Jrass!! Meski tidak kena secara langsung, tapi hawa tapak sempat menyerempet bahu kiri
hingga membuatnya terpelanting ke kanan. Rasa dingin bagai dikungkung es
menjalari sekujur tubuh gadis dari Jurang Tlatah Api itu.
Lapp ... !! Bayangan kuning keemasan kembali beraksi. Kali ini giliran orang-orang dari
Perguruan Perisai Sakti dan Perguruan Karang Patah. Meski mereka dalam keadaan
siaga tempur, tapi tidak bisa berbuat banyak terhadap lawan yang tidak diketahui
bagaimana rupa dan bentuknya.
Dess!! Dasss!! Duashh .... !!
Enam orang itu terlempar tak tentu arah bagai diterjang badai besar.
Dua orang dari Perguruan Perisai Sakti terlempar ke samping kemudian menabrak
pohon mahoni dan terkulai lemas entah hidup entah mati. Empat orang Perguruan
Karang Patah pun nasibnya tidak jauh berbeda dengan kawan-kawannya. Maheso Krudo
dan Janapriya masing-masing menderita patah tangan dan tulang pundak, sedang
Linggo Bhowo dan Kamalaya justru menemui nasib lebih naas. Saat itu, kondisi
pasangan suami istri itulah yang paling lemah di antara mereka berenam, dimana
ubun-ubun Linggo Bhowo remuk terhantam tapak bayangan kuning keemasan dan
pelipis kiri Kamalaya melesak ke dalam terhantam tapak kiri lawan saat ia
berusaha mencuri serang dari belakang.
Pasangan suami istri itu tewas seketika!
Gerak si bayangan kuning keemasan cepat bagai sambaran kilat. Setiap serangan
yang dilakukan selalu membawa maut bagi lawan. Lengah sedikit maka nyawa
melayang. Bukan main! Serangan kilat barusan yang dilakukan bayangan kuning keemasan benar-benar luar
biasa. Bisa dibayangkan, menggempur sekumpulan tokoh-tokoh persilatan berilmu
tinggi hanya dalam waktu dua tiga kedipan mata, dan hasilnya ...
Semua terkapar di tanah dengan luka tidak ringan, bahkan ada yang tewas
seketika! "Gila! Siapa gerangan bayangan kuning ini" Tapak tangannya mengandung unsur api
panas menyengat seperti tungku api di luar tubuh tapi dalam tubuh terasa dingin
membeku seperti dimasukkan dalam gumpalan es. Hawa panas ini bahkan lebih panas
dari 'Tenaga Sakti Naga Langit Timur'-ku," batin Ayu Parameswari sambil
mengedarkan tenaga dalam ke sekitar bahu yang terasa panas dingin silih
berganti. " ... bahkan kecepatan dan kerapatannya seperti kilat menyambar. Siapa
gerangan tokoh ini?"
Gadis itu bahkan sempat melihat bagaimana dua orang dari Perguruan Karang Patah
yaitu Linggo Bhowo dan Kamalaya tanpa sempat menghindari serangan tapak yang
datang bertubi-tubi dan akhirnya membuat pasangan suami istri itu tewas
seketika! Bahkan harimau berbulu putih mulus itu pun tidak luput dari hajaran si bayangan
kuning keemasan. Meski tidak mati, tapi terlihat dari mulutnya keluar darah yang
cukup banyak, tergeletak dengan napas kembang kempis.
"Ha-ha-ha!! Ternyata kalian tidak ada apa-apanya. menghadapi sejurus dua 'Ilmu
Tapak Kilat' kalian tidak mampu!" tawa keras di bayangan kuning terdengar
menggema dimana-mana, bahkan sampai daun-daun berguguran terkena sebentuk tenaga
tak kasat mata yang dikeluarkan lewat suara tawa. "Kalian semua memang
pecundang!" Orang-orang yang baru saja menerima serangan 'Ilmu Tapak Kilat' secara beruntun,
kembali harus mengerahkan tenaga dalam untuk menahan suara tawa yang seperti
bisa menyobek-nyobek dinding telinga dan membuat kepala berdenyut-denyut seperti
mau pecah. Kembali korban berjatuhan.
Wiratsoko, Suratmandi, Maheso Krudo dan Janapriya pingsan setelah beberapa saat
berusaha menahan benturan suara tawa yang mendesak masuk ke dalam dinding
telinga, sedang yang masih berusaha bertahan adalah Ayu Parameswari dan Raja
Penidur, meski dengan agak bersusah payah. Adalah Nawara dan Raja Pemalas
pingsan terlebh dahulu pun tidak luput dari getaran suara itu, dari telinga
mereka darah menetes keluar perlahan-lahan.
Jadi bisa diartikan suara gema bertenaga dalam tinggi itu bisa mengenai siapa
saja tanpa pandang bulu! kembali ke sosok bayangan kuning, dimana sosok bayangan itu masih terlihat
samar, antara ada dan tiada, bahkan kadang meliuk-liuk seiring dengan tiupan
angin malam. Sulit sekali menentukan bagaimana rupa dan bentuknya. Suara
binatang malam yang semula saling bersahut-sahutan, kini senyap. Suara jangkrik
pun tak kedengaran sedikit pun juga!
Setan Nakal yang melihat kedatangan si bayangan kuning emas segera duduk
bersimpuh, menyembah! "Terima kasih atas bantuan Ketua!"
"Hemm ... Setan Nakal! Cepat kau selesaikan mereka semua!"
"Baik, Ketua!" Bayangan kuning keemasan pun mulai memudar secara perlahan-lahan dan akhirnya,
menghilang bagai asap di tengah pekatnya malam!
Setan Nakal bangkit berdiri sambil mengeluarkan tawa khasnya.
"He-he-he! Akhirnya ... malam ini aku bisa berpesta-pora sepuasnya! Bahkan ...
he-he-he, aku bisa mencicipi tiga gadis cantik sekaligus!" seru si Setan Nakal
sambil masih cengar-cengir, "Beberapa nyawa laki-laki busuk sudah lebih dari
cukup untuk menggantikan Pasukan Mayat Bumi yang habis terbantai dan bakaran
daging harimau sudah lebih dari cukup untuk menghuni perutku! Benar-benar pesta
besar, ha-ha-ha!!" Si Setan Nakal melangkah pelan-pelan mendekati Ayu Parameswari, gadis yang
paling dekat dengannya. "Nona cantik! Kaulah orang pertama yang akan merasakan nikmatnya surga dunia,
hua-hah-ha ... " ucap Setan Nakal diselingi suara tawa terbahak-bahak.
Murid tunggal Naga Bara Merah hanya bisa mengernyitkan dahi sambil terus
mengalirkan tenaga dalam untuk menindih hawa panas dingin yang menyengat
pundaknya. "Setan Nakal, kau akan menyesal jika berani melangkah dua tindak lagi ... "
ancam Ayu Parameswari. "Ha-ha-ha, menyesal!" Benar sekali! Aku akan menyesal jika tidak ... " suara
Setan Nakal sengaja diputus, sambil dua alisnya menjungkit-jungkit ke atas. Lalu
tangan kanan segera terulur ke depan, menuju ke arah bagian dada membusung Ayu
Parameswari. Akan tetapi, kurang jarak sejengkal dari bagian yang ditujunya, sebuah bentakan
nyaring terdengar, "Setan keparat! Kau sentuh sedikit saja tubuh gadisku itu,
tubuh kecilmu bakal kusate hidup-hidup!" Bersamaan dengan kata-kata terakhir,
sebuah tombak panjang meluncur cepat dari samping dan ... Tentu saja si Setan
Nakal tidak mau tangannya tersate dengan sia-sia, jauh-jauh dia membuang diri
menghindari sergapan tombak yang tepat mengarah ke tangan dengan bersalto ke
belakang. Wutt ... ! Jlebb! Bersamaan dengan lontaran tubuh kakek pendek buntak itu, sebatang tombak
berwarna putih keperakan menancap dalam-dalam di tanah, tepat dimana tadi Setan
Nakal berdiri. "Nawala!" seru Ayu Parameswari setelah melihat seorang pemuda berbaju putih
dengan sulaman naga berdiri membelakanginya.
"Ayu, bagaimana keadaan lukamu?" tanya Nawala tanpa menoleh ke belakang.
"Aku terluka di bagian pundak, tapi tidak terlalu parah."
Sudut mata tajam Nawala mengedar ke sekeliling.
"Gila! Siapa yang melakukan semua ini" Teman-temanku bukan orang yang berilmu
rendah, tapi jika bisa membuat mereka semua terkapar di tanah tanpa bisa
bergerak lagi pasti perbuatan orang berilmu tinggi," pikir murid Naga Sakti
Berkait. "Apa ini perbuatanmu?" tanya Nawala sambil memandang tajam si Setan Nakal.
Terlihat sorot kemarahan dari mata pemuda berbaju putih dengan sulaman naga di
dadanya itu. Setan Nakal terlihat bergidik. Bulu kuduknya meremang.
"Sinting! Tatapan mata pemuda itu seperti tatapan binatang buas," kata hati si
Setan Nakal, tapi diluarnya ia berucap, "Jika aku yang melakukannya, kau mau
apa" Jika tidak, kau juga mau apa?"
"Dasar setan brengsek!" Bentak Nawala dengan tangan terkepal, saat dari sudut
matanya melihat saudara kembarnya juga tergeletak pingsan. Terdengar suara
berkerotokan saat pemuda itu mengerahkan tenaga dalam dari pusarnya terus
dialirkan ke seluruh tubuh. Belum sempat Nawala mengerahkan tenaga dalam hingga
sepenuhnya, sebuah seruan keras terdengar dari atas bukit.
"Pemuda bertombak! Biar aku saja yang membereskan setan yang sebentar lagi masuk
neraka ini! Kau urus saja teman-temanmu!"
Bersamaan dengan itu pula, sebuah bayangan raksasa terlihat menutupi bayangan
bulan, lalu meluncur cepat ke arah Setan Nakal yang saat itu sudah siap siaga
dengan 'Ilmu Sakti Api Neraka Biru' untuk menghadapi Nawala, tapi yang datang
justru serangan dari atas kepalanya!
"Wuaaa ... ada kura-kura raksasa jatuh dari langit!" seru Setan Nakal, kaget.
"Benar, aku memang kura-kura yang jatuh dari langit, yang akan menggencet
tubuhmu sampai jadi perkedel," bentak si bayangan yang berbentuk kura-kura
raksasa, yang di sekelilingi tubuhnya terselimuti api berkobar-kobar. Bayangan
kura-kura raksasa terlihat meluncurkan tubuh kurang lebih belasan tombak dari
tempat Setan Nakal berdiri.
"Setan mampus, mari kita lihat mana yang paling panas, apimu atau api milikku!"
Luncuran semakin cepat, dan akhirnya terdengar ledakan keras membahana disaat
bayangan kura-kura raksasa yang diselimuti api berkobar-kobar menimpa langsung
tubuh Setan Nakal yang baru mengerahkan 'Ilmu Sakti Api Neraka Biru' tingkat
enam! Blumm! Blumm! Blamm ... !!
Api kuning kemerahan bercampur dengan api biru pekat segera menyebar ke segala
arah. Pohon-pohon yang ada di sekitar tempat itu terdongkel keluar dari tanah
dan langsung hangus terbakar saat jilatan api menyentuhnya diikuti suara
keretekan. Terdengarlah suara beradunya pukulan keras beberapa kali dari balik kobaran api.
Plakk! Plakk! Dess ... !!
"Siapa pemuda bercangkang kura-kura itu" Ah, sudahlah ... kubantu saja teman-
temanku. Kurasa dia mampu menandingi si Setan Nakal, lagi pula aku yakin dia
bukan orang jahat," desis Nawala setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya,
kemudian menjauh dan menghampiri kawan-kawannya yang tergeletak di tanah.
Sementara itu, kobaran api semakin membesar, membesar dan membesar lagi, bahkan
pancaran hawa panas tersebut begitu menyengat hingga puluhan tombak jauhnya,
hingga dengan terpaksa murid Naga Sakti Berkait menggusur tubuh-tubuh pingsan
itu tempat yang aman. Ayu Parameswari, gadis Pewaris Sang Api yang sudah lumayan
sembuh dari lukanya, membantu Nawala mengamankan teman-temannya.
"Bagaimana keadaan teman-teman kita yang lain?" tanya Ayu Parameswari saat
melihat Nawala memondong Nawara, saudara kembarnya.
"Semua pingsan karena luka dalam cukup parah, hanya ... "
"Hanya apa?" "Hanya sobat Linggo Bhowo dan Kamalaya ... mereka suami istri tewas."
"Oh ... " seru si gadis sambil mendekap mulutnya.
Keduanya berdiri termangu memandangi tubuh-tubuh yang kini terjajar rapi di


Pendekar Elang Salju Karya Gilang di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

belakang sebuah batu besar untuk menghindari terpaan hawa panas yang datang
secara bergelombang. "Siapa dia, Nawala?" ranya Ayu Parameswari memecahkan keheningan.
"Aku tidak tahu. Mungkin saja salah seorang sahabat rimba persilatan yang
kebetulan lewat," jawab Nawala sekenanya.
"Apa kau akan tetap memondong saudara kembarmu itu terus-menerus seperti itu?"
"Oh ... iya ... " setelah menurunkan Nawara, pemuda itu meneliti beberapa saat,
ia bergumam, " ... pinggangnya terhantam tenaga dalam yang berhawa panas diluar
dan dingin di dalam dengan telak. Butuh waktu beberapa bulan untuk
menyembuhkannya. Entah guru berdua sanggup atau tidak?"
"Apakah bisa disadarkan dulu?"
"Sudah kucoba dengan mengurut atau menotok jalan darah di beberapa tempat, tapi
tidak berhasil juga."
"Bagaimana dengan yang lain?"
"Sama saja." Kembali keheningan menyeruak diantara mereka berdua.
"He-he-he! Setan Nakal, kobaran apimu seperti tangan perawan yang menggaruk-
garuk punggungku, geli-geli nikmat." ejek si pemuda bercangkang kura-kura yang
tak lain Joko Keling adanya.
Jilid 1 : Sang Pewaris - Bab Tiga Puluh Lima
Tubuh pemuda tambun itu dengan ringan menadahi datangnya setiap serangan Setan
Nakal yang telah dilapisi dengan 'Ilmu Sakti Api Neraka Biru' tingkat ke tujuh.
"Mampus kau!" Brakk! Desss! Beberapa pukulan maut tepat mendarat di dada Joko Keling, murid tunggal si Kura-
Kura Dewa Dari Selatan. Tapi pemuda itu tidak bergeser sedikit pun dari
tempatnya berdiri, kokoh bagai batu karang.
"Mampus apa'an" Aku masih sehat tuch!?" seru Joko Keling sambil membalas
serangan lawan dengan 'Tinju Dewa Api' yang sedari tadi sudah siap digunakan,
tepat mendarat di dada Setan Nakal lewat pukulan lurus ke depan. Kali ini pemuda
Pewaris Sang Air itu tidak menggunakan 'Ilmu Silat Pulau Kura-Kura' warisan
gurunya, tapi langsung mengerahkan pukulan-pukulan sakti yang bisa membawa maut.
Dess! Derr ... ! Setan Nakal terjajar beberapa langkah ke belakang, tapi tidak keluar dari dalam
kubah api yang telah terbentuk sejak awal pertarungan mereka berdua.
"Bagaimana" Enak tidak sentuhan lembut 'Tinju Dewa Api'-ku?" Ucap Joko Keling
sambil berdiri berkacak pinggang, lalu tanpa menoleh ia pun berteriak lantang,
"Pewaris Sang Api! Cepat susul Ketua ke arah selatan. Bantu ketua memburu si
Topeng Tengkorak Emas! Biar manusia mungil ini aku yang menyelesaikan!" Lalu
tanpa menunggu jawaban dari si gadis berbaju merah, ia segera mengambil sikap
untuk mengerahkan 'Tapak-Tapak Dewa Api'.
"Lebih baik kau turuti apa permintaannya! Siapa tahu orang yang disebutnya ketua
itu memang membutuhkan bantuanmu." Usul Nawala, seolah tahu apa yang dipikirkan
Ayu Parameswari, ia pun berkata. "Biar mereka, aku yang menjaganya."
"Baiklah kalau begitu."
Segera saja murid Naga Bara Merah berkelebat ke jurusan selatan dengan
mengerahkan ilmu peringan tubuh 'Naga Melangkah Di Atas Awan'-nya dengan
kecepatan tinggi. Blass ... ! Sekejap saja, hanya terlihat sebentuk titik merah di kejauhan.
Sementara itu, busur pertarungan kini terentang kuat antara murid Kura-Kura Dewa
Dari Selatan dengan Setan Nakal yang merupakan salah satu pemilik Rajah Penerus
Iblis. "Setan belang! Kura-kura dari mana kau?" tanya Setan Nakal sambil mengerahkan
ilmu gabungan antara 'Ilmu Sakti Api Neraka Biru' tingkat ke tujuh dan 'Ilmu
Sakti Jari Bayi'. Kembali pancaran hawa panas bagai berada di tungku api yang
kian membara semakin membuncah. "Bocah keparat! Kita tentukan saja dalam satu
kali serangan! Kau yang hidup atau aku yang mati!"
"He-he-he! Boleh ... boleh ... aku sendiri juga tidak mau bertele-tele bertukar
jurus denganmu! Bikin sakit tulang-tulangku saja," kata Arjuna Sasrabahu alias
Joko Keling sambil terus meningkatkan kekuatan 'Tapak-Tapak Dewa Api' setingkat
demi setingkat. Jwoss ... Swoshh ... !! Meski sama-sama memiliki tenaga dalam berhawa panas, akan tetapi mutu dari
tenaga dalam mereka jelas beda jauh. Jika Joko Keling memiliki tenaga sakti yang
dipupuk sedari awal ia menjadi murid tunggal Pengawal Gerbang Selatan, lain
halnya dengan Setan Nakal yang mendapat dukungan dari kekuatan gaib yang
bersumber dari rajah yang ada di sepasang tangannya.
Sebentar saja, kobaran api membentuk bayangan kura-kura raksasa kuning kehijauan
yang bergerak-gerak liar dengan mulut terbuka lebar memperdengarkan suara serak,
memperlihatkan gigi-gigi tajam dan perlahan namun pasti, sosok kura-kura ap
berjalan dengan lambat-lambat ke arah Setan Nakal yang juga telah siaga dengan
rangkaian 'Ilmu Sakti Api Neraka Biru' tingkat ke tujuh dan 'Ilmu Sakti Jari
Bayi', hingga menghasilkan bentuk bayangan roh-roh bayi kuning kebiruan yang
berseliweran di seputar tubuhnya. Roh-roh itu seakan berteriak-teriak kesakitan
memohon pertolongan. Jrashh ... Woshh ... Woshh ... !!
Terdengar suara desauan-desauan angin tajam dari balik tubuh pendek buntak
tersebut. "Hemm ... Roh-roh bayi yang malang. Paman akan berusaha membebaskan kalian dari
kungkungan ilmu sesat itu," gumam Arjuna Sasrabahu sambil memandang nanar raga
Setan Nakal. "Kucoba saja dengan tingkat delapan."
Begitu sampai pada tahap ke delapan, pemuda bercangkang kura-kura itu segera
mengemposkan tenaga, lalu dikuti dengan jurus 'Kepala Kura-Kura Keluar
Menampakkan Diri' yang berupa lontaran hawa sakti dari lima jari tangan
terpentang lebar ke arah Setan Nakal dengan sebat.
Wutt ... Woshhh ... Wosshh ... !!
Setan Nakal yang melihat lawan sudah membuka serangan terlebih dahulu, segera
membalas. Tubuhnya Setan Nakal yang terselumuti paduan cahaya kuning dan biru
cemerlang silih berganti melakukan gerakan menahan. Tangan kiri berbentuk tapak
rapat 'Ilmu Sakti Api Neraka Biru' tingkat ke tujuh memancarkan semakin cahaya
biru cemerlang berusaha menyapu dari samping sedang telunjuk kanan yang berwarna
kuning cerah berpendar-pendar melakukan gerak totokan beberapa kali ke dalam
lingkaran hawa pelindung Arjuna Sasrabahu yang berbentuk kura-kura raksasa.
Wukk ... Cusss ... Srutt ... Srutt ... !!
Dharr!! Blegarr!! Jdarrr .. !!
Tubuh Arjuna Sasrabahu terseret ke belakang hingga enam tujuh tombak jauhnya
disaat terjadi benturan dahsyat. Totokan 'Ilmu Sakti Jari Bayi' memang berhasil
menembus hawa sakti yang melingkupi tubuh pemuda berbadan bongsor itu, meski
kekuatan perusaknya sudah berkurang setengahnya lebih dikarenakan tertahan efek
pelindung dari 'Tapak-Tapak Dewa Api'. Tubuh pemuda itu sempat tersengat hawa
panas, namun dengan adanya Perisai Kura-Kura Sakti yang mlekat ditubuhnya, hawa
panas itu langsung buyar, terserap masuk ke dalam perisai pusaka itu.
"Dasar celeng tua! Tenaga apinya hebat juga," umpat Arjuna Sasrabahu sambil
menetralisir hawa yang sempat menembus dadanya, " ... mengapa tadi aku tidak
kerahkan saja tingkat sembilan atau sepuluh sekalian" Bodoh benar aku ini.
Untung saja perisai warisan kakek selalu melekat ditubuhku. Kalau tidak, wah
bisa jadi kura-kura panggang nih!?"
Sementara itu, kondisi fisik Setan Nakal terlihat begitu mengenaskan. Meski
serangan jurus 'Kepala Kura-Kura Keluar Menampakkan Diri' yang dilambari dengan
ilmu 'Tapak-Tapak Dewa Api' berhasil ditepis dengan sempurna, tapi ia lupa bahwa
ilmu warisan dari Kura-Kura Dewa Dari Selatan merupakan gabungan unsur air dan
unsur api. Meski bisa ditolak dengan baik, tapi ibarat seerti orang memotong
aliran air dan kobaran api dengan sebilah pisau tajam. Akibatnya pun bisa
dilihat. Tubuh pendek buntak itu bagai diterjang lahar panas, dimana suara
dentuman keras yang terdengar merupakan saat dimana 'Ilmu Sakti Jari Bayi' yang
sarat dengan roh-roh bayi berhamburan keluar dari kungkungan Rajah Penerus Iblis
karena didesak hawa murni panas membara.
Saat kubah api yang melingkupi pertarungan padam sempurna, terlihat tubuh Setan
Wanita Gagah Perkasa 10 Pendekar Slebor 27 Rahasia Sang Geisha Pendekar Wanita Penyebar Bunga 16
^