Pencarian

Pendekar Pedang Sakti 6

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar Bwee Hoa Kiam Hiap Karya Liong Pei Yen Bagian 6


disadarinya permintaannya itu ahcirnya berubah seakan-
akan menjadi perintah. Sifatnya yang memerintah orang
lain ini nyata telah diperlihatkannya, atas mana Ho Sin lalu
berkata : "Hal ini juga mudah sekali, aku mempunyai
banyak anak buah yang mempunyai penghidupan dan
pengalaman dilaut." Dia tidak ingin memaksa Kim Bwee
Leng menjawab pertanyaannya yang belum dijawab tadi.
Sun Tiauw Wan kemudian menundukkan kepalanya dan
berpikir : "Dalam perkara ini tentu ada sebabnya. Tapi
persoalannya ini tidak kuketahui, berhubung nona itu tak
mau menceritakan duduknya persoalan yang sebenar-
benarnya. Tapi sebaliknya ada suatu tanda, bahwa ia
menyimpan sesuatu rahasia maka ia tidak menjawab
pertanyaan saudaraku, tampaknya benar-benar dia tidak
ingin kami mengetahui urusannya, oleh karena itu, buat apa
aku bertanya pula kepadanya " Hanya mengapa nona ini
benar-benar ingin sekali pergi kelaut " Apakah sebenarnya
makna perjalanannya ini " Sungguh-sungguh tak dapat
kumengerti." Kemudian mulutnya menjawab dengan suara
lantang : "Bila memang nona ingin pergi ke Bu Han,
tentunya nona mempunyai urusan yang penting. Maka
kalau begitu halnya, kamipun tidak perlu acapkali berlabuh,
baiklah siang-malam kita berlayar saja."
Sesungguhnya dia tidak ingin Kim Bwee Leng berdiam
dikapalnya lama-lama. Dengan girang hati Kim Bwee Lang berkata : "Hal yang
lebih baik dari ini tidak ada lagi." Oleh karena itu, Sun
Tiauw Wan lalu memerintahkan anak buahnya berlayar,
dan pada hari keduanya sebelum senja, mereka sudah
sampai dikota Bu Han. Rencana Kim Bwee Leng ialah mula-mula pergi kekota
Bu Han untuk melihat rumah Lie Siauw Hiong. Dia tahu
yang Lie Siauw Hiong adalah pemilik dari toko San Bwee
Cu Poo Hoo. Oleh karena itu, dia ingin menyelidiki asal-
usul Lie Siauw Hiong lebih terang dan terliti, sekalipun
perhubungannya dengan Lie Siauw Hiong sudah mencapai
taraf yang paling rapat dap mesra, tapi terhadap riwayat Lie
Siauw Hiong dia hanya mengetahui samar-samar saja.
Adapun maksudnya untuk menyelidiki asal-usul Lie
Siauw Hiong terlebih jelas, ialah disebabkan dia ingin
mengetahui mengapa orang berbaju putih yang mempunyai
kepandaian sangat tinggi itu telah mengikat permusuhan
dengannya. Kemudian dia ingin menggunakan kapalnya berlayar ke
Timur, untuk menyelidiki jejaknya Lie Siauw Hiong,
karena diam-diam dia berpendapat, bahwa tempo hari dari
pantai dia melihat sebuah kapal ditengah-tengah sungai
yang telah berlayar kearah Timur, kapal mana pasti adalah
kapal orang sekolahan berbaju putih dan wanita cantik yang
memakai kapal tersebut. Begitu kapal mereka tiba dikota Bu Han, Sun Tiauw
Wan lalu berkata : "Bila nona ada keperluan penting,
silahkan naik kedarat saja untuk menyelesaikannya, paling
lambat malam ini atau besok pagi, aku dan saudaraku pasti
akan memenuhi permintaan nona tentang kapal dan anak
buahnya sekalian." Harus diketahui bahwa pengaruh Sun Tiauw Wan
didaerah Tiang-kang besar sekali, untuknya menyediakan
satu kapal, pasti dalam waktu sekejap mata saja sudah
dapat dipersembahkannya. Kim Bwee Leng manggut-
manggut mengiakan dan menyatakan terima kasihnya.
Dengan laku yang tergopoh-gopoh dia naik kedarat,
orang-orang yang melihat wanita muda yang tampaknya
demikian sibuknya ini karena pikirannya agak terganggu
dengan pekerjaan yang sedang diselesaikannya ini, tidak
terasa mereka jadi memandang kepadanya dengan perasaan
yang terheran-heran. Waktu dia melihat pandangan orang banyak tertuju
kepadanya, ia menjadi agak naik darah, tapi dia tidak
berdaya. Dia berniat hendak menyewa saja sebuah kereta,
tapi satu potong uangpun tidak ada padanya. Karena
apabila dia tidak naik kereta, dia tidak tahu dimana
letaknya toko San Bwee Cu Poo Hoo dan jalan kemana
yang harus ditempuhnya menuju ketoko tersebut. Disamping itu, dia tidak sudi untuk menanyakan pada
orang banyak yang memandang kepadanya itu.
Sejak kecil dia mempunyai kebiasaan yang agak
sombong, tentu saja dia tidak mengerti terhadap urusan
didunia ini. Dia mengharapkan tanpa disengaja akan
menemukan toko yang dicarinya itu. Dia berjalan
sepanjang dalam kota Bu Han tiada berhenti-henti untuk
mencari toko tersebut. Kemudian dia terpikir pada dirinya sendiri : "Dengan
caraku begini untuk menjumpai pemilik toko San Bwee Cu
Poo Hoo dan untuk mendapat kabar tentang pemiliknya
dari pelayan-pelayannya, tidaklah pelayan-pelayan toko
tersebut kelak akan menganggap aku sebagai seorang
sinting saja " Tentu saja mereka takkan mau menceritakan
hal yang sebenarnya nanti kepadaku."
Melihat orang banyak dengan kesibukannya masing-
masing berjalan kian kemari sepanjang jalan, dia sendiri
menjadi teturutan sangat bingung.
Begitulah sambil berjalan terus-menerus, kemudian dia
memandang pada sebuah gedung berpintu besar yang
berwarna hitam legam dan pintu-pintunya pada saat itu
terpentang lebar. Didepannya terdapat sebuah batu besar,
dimana tertambat beberapa ekor kuda dan disamping pintu
tersebut tampak dua orang yang berperawakan tegap sedang
berdiri disitu. Diam-diam dia berpikir : "Tempat apakah
rumah ini ?" Waktu dia berjalan mendekati rumah tersebut,
ternyata dimuka pintu itu terdapat sebuah papan merek
yang tengantung diatas pintu dan bertulisan Bu Wie Piauw
Kiok, empat huruf besar. Dan inilah ada untuk pertama kalinya dia melihat
sebuah Piauw Kiok. Maka selagi dia memandang lebih
teliti, sekonyong-konyong tampak dua orang gagah yang
rupanya sedang memperdebatkan sesuatu, disebelah dalam,
kemudian mereka segera berjalan keluar.
Salah seorang antaranya ialah Sun Tiauw Wan sendiri,
hingga diwaktu melihat dia berada disitu, Kim Bwee Leng
menjadi sangat girang dan lalu berkata didalam hatinya :
"Baiklah aku minta dia mengantarkan aku pergi ketoko San
Bwee Cu Poo Hoo itu."
Sun Tiauw Wan yang kebetulan, juga melihatnya dari
jauh dia sudah berlari-lari anjing mendapatkan Kim Bwee
Leng dan berkata : "Kho-nio, lekas-lekas jalan !"
Kim Bwee Leng melototkan matanya dan bertanya :
"Kenapa ?" Dengan gugup Sun Tiauw Wan lalu menjawab :
"Sebentar lagi akan kuceriterakan."
Kim Bwee Leng yang melihat sikap Sun Tiauw Wan
agak gelisah, dalam hatinya dia berpikir : "Ada urusan
apakah lagi " Apakah barangkali timbul perkara yang
bersangkut-paut denganku ?" Tanpa banyak bicara lagi,
diapun lalu mengikutinya berjalan pergi.
Orang yang bersama-sama Sun Tiauw Wan keluar tadi,
dari belakang dengan suaranya yang nyaring berkata : "Sun
Jie Ko, urusan ini aku serahkan kepadamu, harap jangan
sekali-kali kau melupakannya."
Sementara Sun Tiauw Wan pun sambil membalikkan
kepalanya lalu menjawab : Urusan ini kau boleh serahkan
kepadaku, hanya Hwan Twa-ko jangan memperhitungkan
soal tersebut sebagai bebanku sendiri."
Orang yang tersebut tadi ternyata bukan lain daripada
pemimpin dari Bu Wie Piauw Kok yang bernama Hwan
Tie Seng. Sun Tiauw Wan memang mempunyai hubungan
persahabatan yang baik sekali dengannya, maka begitu
sampai dikota Bu-han, lalu dia pergi menyambanginya.
Tapi sebegitu lekas Sun Tiauw Wan sampai di Bu Wie
Piauw Kok, Hwan Tie Seng dengan wajah yang
kebingungan sekali segera berkata : "Sun Jie-ko,
kedatanganmu sungguh kebetulan sekali."
Sun Tiauw Wan lalu balik bertanya : "Kenapa ?"
Hwan Tie Seng menjawab : "Selama dua hari ini dikota
Bu-han telah terjadi perkara-perkara yang hebat sekali. Soal
yang pertama-tama adalah pemilik toko yang baru didirikan
yaitu toko San Bwee Cu Poo Hoo bernama Lie Siauw
Hiong telah hilang tanpa diketahui kemana perginya.
Orang-orang pada memperbincangkan soal ini. Diantara
mereka ada yang mengatakan tentu dia telah diculik orang
untuk dijadikan ......"
Dengan tertawa Sun Tiauw Wan lalu memotong
pembicaraan orang : "Ah, soal ini belum dapat dikatakan
perkara yang besar."
Tapi Hwan Tie Seng segera menjawab : "Sun Jie-ko tidak
mengetahui, pemuda Lie Siauw Hiong ini bukanlah seorang
pedagang biasa. Dia bukan saja mempunyai persahabatan
dengan aku, malahan dengan salah satu 'Kong Tong Sam
Coat Kiam' yaitu Tee-coat-kiam Ie It Hui diapun bersahabat
secara akrab sekali. Bila ada orang yang berani merampok
piauw dari orang ini, aku kuatirkan hal ini akan membuat
heboh." Dengan tertawa terbahak-bahak Sun Tiauw Wan
menjawab : "Hwan Twa-ko masakan curiga bahwa aku
yang melakukan perbuatan itu"
Sambil mengerutkan keningnya Hwan Tie Seng
menjawab : "Aku tidak pernah menduga kau. Kemarin
secara tiba-tiba Ie It Hui telah kembali kekota Han-kouw
......" Sun Tiauw Wan lalu memotong perkataan kawannya :
"Ie It Hui itu bukankah beberapa hari yang lampau telah
kembali kegunung Kong Tong San ?" Terbukti dia sangat
tajam sekali pendengarannya, sampai pada kejadian
dibawah loteng Oey-ho-lauw, sudah diketahui seluruhnya
dengan sejelas-jelasnya. Hwan Tie Seng menjawab : "Memang benar, akupun
mendengar yang dia segera akan kembali kegunung Kong
Tong, untuk memberitahukan perselisihan pada gurunya
Lie Tay-hiap tentang munculnya kembali Chit-biauw-sin-
kun. Dengan tidak diketahui oleh siapapun juga, kemarin
dia bersama-sama Thian-coat-kiam Cukat Toaya dan Jin-
coat-kiam Souw Kho-nio datang kekota Han-kouw ini,
tampaknya mereka telah saling berjumpa ditengah jalan."
Sun Tiauw Wan dengan suara mengandung keheranan
lalu bertanya : "Oh, sekali ini 'Kong Tong Sam Coat Kiam'
semuanya Sudah datang kekota ini, kita untuk kesekian
kalinya akan melihat keramaian."
Dengan mengerutkan keningnya Hwan Tie Seng
menjawab : "Tee-coat-kiam ini ketika tiba ditempat ini, lalu
mendapat kabar tentang lenyapnya Lie Siauw Hiong
pemilik dari toko San Bwee Cu Poo Hoo, dia menjadi
sangat marah sekali. Dia segera menjumpai aku dan lalu
berkata, hal ini pasti dilakukan oleh anak buah dari orang-
orang daerah sungai Tiang-kang, mereka ingin menggunakan pengaruhnya untuk memeras orang ......"
Dengan muka yang berubah, Sun Tiauw Wan menjawab
: "Mengapa Hwan Twa-ko mengucapkan perkataan begitu "
Sekalipun kau mengetahui bahwa aku ini perampok, tapi
cara aku merampok pun mempunyai aturan tertentu. Kami
mempunyai peraturan sendiri dan kami dari golongan orang
yang penghidupannya diair, terhadap orang-orang yang
hidup didaratan dan yang mempunyai kekayaan bertumpuk-tumpuk, sedikitpun kami tidak berhasrat atau
tergiur akan kekayaan mereka itu."
Hwan Tie Seng lalu berkata pula : "Aku maka berkata
begitu, karena kau Sun Jie-ko tidak mengetahui, bahwa
kalau menurut pendapatku, kehilangannya pemilik tersebut
mempunyai sangkut-paut dengan orang lain."
Dengan segera Sun Tiauw Wan bertanya : "Siapa ?"
Hwan Tie Seng lalu memberi isyarat dengan tangannya
sambil berkata : "Justru gurunya orang ini."
Sun Tiauw Wan lalu menepuk meja sambil berkata :
"Hal ini sesungguhnya amat aneh sekali. Pemuda she Lie
tersebut sebagai seorang pedagang, bagaimana dia sampai
mempunyai hubungan dengan orang tua tersebut ?"
Hwan Tie Seng lalu berkata dengan teliti, satu per satu
dia ceritakan dari hal Lie Siauw Hiong bertemu dengan
orang aneh itu untuk pertama kalinya dibawah loteng
rumah makan Oey-ho-lauw, lantas entah cara bagaimana
dia telah menerima undangan orang aneh itu. Hwan Tie
Seng menceritakan semuanya ini pada Sun Tiauw Wan,
yang mendengarkannya dengan termangu-mangu. Kemudian Hwan Tie Seng melanjutkan pula : "Menurut
pendapatku, hilangnya pemuda Lie Siauw Hiong pemilik
dari toko San Bwee Cu Poo Hoo ini, tentulah mempunyai
hubungan yang erat dengan si Raja Racun itu."
Hati Sun Tiauw Wan tergerak, lalu dia teringat bahwa
Kim Bwee Leng juga pernah menanyakan hal itu
kepadanya, hanya disimpannya saja dalam hati, tidak
diceritakannya pada orang lain.
Hwan Tie Seng berkata lagi : "Tapi Ie It Hui menduga,


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar Bwee Hoa Kiam Hiap Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bahwa orang yang melakukan pekerjaan tersebut tentunya
dimaksudkan orang-orang sebawahan Ho Twa-ko dan kau
Sun Jie-ko." Sun Tiauw Wan hanya tertawa tercengang saja.
Kemudian Hwan Tie Seng menyambung : "Hari ini,
pagi-pagi benar, Ie It Hui bersama Suheng dan Sumoaynya
pergi kearah utara, kegunung Bu Tong San. Dan sewaktu
mereka hendak pergi dia masih memesan aku, yaitu dia
meminta aku agar mencari jejaknya pemuda she Lie itu.
Terus terang hendak kukatakan, bahwa hilangnya pemuda
she Lie itu sesungguhnya terlalu aneh sekali."
"Sebaliknya dia ini sesungguhnya juga seorang yang
aneh pula. Cuma aku tidak dapat menyelidikinya dengan
jelas asal-usul yang sebenarnya. Begitu pula Raja Racun
Kim It Peng, jika dia bermaksud akan menentangnya, buat
apakah dia mengundang pemuda itu kekapalnya " Sudah
tentu Raja Racun ini tidak mempunyai maksud untuk
berlawanan dengannya."
"Apakah barangkali kepergian orang she Lie ini dengan
Kim Bwee Leng mempunyai sangkut-paut, makanya Kim
Bwee Leng dengan keras kepala datang kemari ?" pikir Sun
Tiauw Wan didalam hatinya.
Sejurus kemudian, dia segera minta diri. Hwan Tie Sang
lalu memesan, kembali kepadanya untuk menyelidiki jejak
Lie Siauw Hiong. Perkataan mana seakan-akan menaruh
curiga terhadap pada kawannya ini.
Sun Tiauw Wan tentu saja merasa kurang senang, maka
begitu jalan keluar, dia terus pergi menemui Kim Bwee
Leng, karena dia kuatir bahwa Hwan Tie Seng mengenal
Kim Bwee Leng sebagai anak Kim It Peng.
Sebelumnya Kim Bwee Leng bertanya : "Persoalan
apakah yang terjadi dan dibicarakan antara kau dengan
kawanmu itu ?" Sun Tiauw Wan sudah tentu tidak mau menceritakan
perkara ini kepadanya, maka dia menjawab dengan
sembarangan saja. Pikiran Kim Bwee Leng waktu itu hanya
semata-mata tertuju kepada Lie Siauw Hiong saja, maka
persoalan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya
sendiri, tidak dia hiraukan sama sekali.
Maka setelah berjalan dua tindak, Kim Bwee Leng lalu
bertanya lagi : "Apakah disini ada sebuah toko yang
bermerek San Bwee Cu Poo Hoo ?"
Mendengar pertanyaan ini, Sun Tiauw Wan sangat
terkejut sekali, diam-diam dia berpikir : "Benar saja
dugaanku !" "Aku ingin pergi ketoko San Bwee Cu Poo Hoo untuk
menyelesaikan satu perkara, tapi aku tidak tahu jalan mana
yang aku harus tempuh untuk sampai ditempat tersebut.
Apakah kau bisa tolong mengantarkan aku kesana ?" ulas
Kim Bwee Leng selanjutnya.
Dengan pura-pura tidak tahu Sun Tiauw Wan lalu balik
bertanya : "Kho-nio ingin pergi ketoko San Bwee Cu Poo
Hoo, apakah barangkali nona ingin membeli barang-barang
permata " Aku memang pernah mendengar tentang toko
San Bwee Cu Poo Hoo itu, tapi aku tidak tahu dijalan mana
letaknya." Dengan gugup Kim Bwee Leng berkata : "Bagaimana
caranya aku pergi kesana, sedang aku sendiri tidak tahu
juga jalannya ?" "Gampang. Aku akan menolong Kho-nio mencarikan
sebuah kereta untuk mencari toko tersebut," jawab Sun
Tiauw Wan lagi. Tapi dalam hatinya dia berpikir : "Melihat
kegugupan nona ini, menandakan bahwa dia dengan
pemilik toko San Bwee Cu Poo Hoo, orang she Lie itu tentu
mempunyai hubungan yang mesra dan rapat sekali, maka
terhadap perkara ini, sebaiknya aku tidak turut campur
tangan." Sun Tiauw Wan selalu memikirkan dirinya sendiri, agar
dia terhindar dari segala keruwetan. Kemudian dia buru-
buru memanggil seseorang yang sedang berdiri dipinggir
jalan. Dia menyuruh orang itu memanggil kereta dengan
memberikannya sedikit uang kepadanya.
Perlakuan Sun Tiauw Wan ini membuat muka Kim
Bwee Leng menjadi merah dan hatinya gugup, karena ia
menyangka mungkin Sun Tiauw Wan telah tahu bahwa ia
benar-benar tak beruang, sedangkan mau mengatakan terus
terang bahwa ia tak beruang pada Sun Tiauw Wan untuk
membayar sewa kereta ketoko San Bwee Cu Poo Hoo
tersebut, amat berat lidahnya untuk mengucapkannya.
Selagi hatinya masih dalam kegugupan, keretapun telah
datang, sesudah itu, Sun Tiauw Wan lalu memberikan uang
sewa kereta pada tukang kereta sambil berkata : "Tahukah
kau jalan ketoko San Bwee Cu Poo Hoo ?"
"Tahu," sahut tukang kereta itu.
"Kalau kau tahu, antarkanlah nona ini kesana," perintah
Sun Tiauw Wan lagi kepada tukang kereta tersebut.
Setelah menerima uang sewa keretanya, tukang kereta itu
segera mempersilahkan Kim Bwee Leng naik dan lalu
mengantarkan ketoko San Bwee Cu Poo Hoo.
Sesampainya disana, kereta itu lalu diberhentikan,
sedang tukang kereta itu kemudian berkata : "Pada dua hari
ini pemilik toko San Bwee Cu Poo Hoo telah diculik orang,
sehingga pintu tokonya tertutup terus."
Kim Bwee Leng lalu turun dari kereta sambil melihat-
lihat ketoko itu. Benar saja pintu toko tersebut ditutup rapat
dan terkunci rapi, tapi dia tidak memperdulikan hal itu. Ia
langsung menuju ketoko itu dan terus mengetok pintu toko
itu beberapa kali. Selang sejurus lamanya, terdengar pintu dibukakan orang
dari dalam, kemudian pelayan toko yang membuka pintu
tersebut bertanya : "Nona ingin mencari siapa ?"
Pertanyaan ini sebenarnya sangat umum dan sederhana
sekali, tapi telah membuat Kim Bwee Leng bagaikan
kesima dan tidak dapat menjawab pertanyaannya. Dia
berdiri terbengong sejenak dan tidak tahu memikirkan
ucapan apa yang harus dikatakannya, tetapi setelah berdiam
diri sejurus lamanya, barulah dia berkata : "Aku datang
mencari pengurus toko ini."
Mendengar perkataan Kim Bwee Leng ini, kepala
pelayan itu diulurkannya agak keluar sedikit dan dengan
cermat dia memperhatikan wajah si nona itu. Kemudian
barulah dia menjawab : "Silahkan tunggu sebentar."
"Brak !" lantas pintu tersebut ditutupnya, Kim Bwee
Leng terpaksa berdiri menunggu dipinggir jalan. Setelah
berselang sejurus lamanya pula, pintu tersebut terbuka
separuh kembali oleh pelayan itu. Pelayan tersebut lalu
mempersilahkannya masuk. Kim Bwee Leng sambil membetulkan letak rambutnya
yang kusut, lalu berjalan masuk. Pelayan itu melihat ada
wanita muda yang demikian cantiknya, menatap terus pada
gadis muda ini tanpa berkedip. Disebelah dalam didepan
meja kasir terdapat beberapa kursi besar yang kokoh.
Kim Bwee Leng begitu berjalan masuk, pelayan toko itu
dengan hormat mempersilahkan si nona duduk. Anak dara
ini yang untuk pertama kalinya datang ketempat itu,
langsung berhadapan satu sama satu dengan pelayan yang
belum dikenalnya itu, hatinya agak gugup. Dalam pada itu
pelayan toko tersebut selalu memperhatikannya dari
samping, sedangkan dia sendiri tidak berani memperhatikan
pelayan itu. Selagi dia menundukkan kepalanya berpikir, sekonyong-
konyong terdengar orang berdehem dua kali dihadapannya,
buru-buru dia mengangkat kepalanya memandang. Tampak
olehnya seorang tua kurus kering tengah memandang
kepadanya dengan sinar mata yang agak ganjil. Tidak
diketahuinya, mengapa dalam hatinya timbul satu perasaan
yang aneh sekali. Pandangan mata orang tua kurus kering
ini seakan-akan disertai suatu tenaga yang sukar dilawan.
Orang tua kurus kering ini berdehem lagi dua kali, lalu
memulai pembicaraannya : "Kho-nio ada urusan apakah
berkunjung kemari ?"
Dengan suara yang sangat perlahan Kim Bwee Leng
menjawab : "Aku ...... aku bersama majikanmu she Lie
...... mempunyai perhubungan sebagai sahabat karib belaka
......" Begitulah dengan terputus-putus dia berkata pada orang
tua itu. Tapi dia selanjutnya tidak tahu, apakah yang harus
dikatakannya lagi. Muka orang tua kurus kering ini tampak sedikit berubah,
lalu dia berkata pula : "Lie Loopan (majikan she Lie) tidak
ada dirumah, Kho-nio ada urusan apa mencari dia ?"
Kim Bwee Leng lalu menjawab : "Aku tahu."
Sinar pandangan mata orang tua kurus kering itu
berputar dan lalu berkata : "Nona tahu apakah ?"
Sambil mengangkat kepalanya Kim Bwee Leng berkata :
"Aku tahu dia tidak ada disini, aku datang kemari hanya
ingin menanyakan ......"
Orang tua kurus kering itu bertanya lagi: "Siapa nama
nona yang mulia ?" Kim Bwee Leng menjawab : "Aku she Kim."
Muka orang tua kurus kering itu semakin kaget dan lalu
bertanya : "Apakah hubungannya nona dengan Kim It Peng
?" Mendengar pertanyaan orang tua ini, dalam hati Kim
Bwee Leng merasa sangat terkejut dan berpikir, kenapa
orang ini mengetahui nama 'ayahku "' Orang tua ini
tentulah salah seorang pegawai toko San Bwee Cu Poo Hoo
yang sangat dipercayai, pikirnya.
Orang tua ini meski tubuhnya kurus kering, tapi ia
seakan-akan mempunyai kekuatan gaib luar biasa yang
sanggup membuat Kim Bwee Leng tidak berdaya untuk
menjawab pertanyaannya. Tapi biarpun demikian, akhirnya dengan perasaan ragu-
ragu si nona telah menjawab juga : "Dia adalah ayahku."
Mendengar jawaban Kim Bwee Leng, muka orang tua
kurus kering itu tampak seperti terperanjat dan kulit
mukanya tampak seperti sedang bergerak-gerak. Ia berdiri
terpaku dan membisu sejurus lamanya.
Sekonyong-konyong dia maju selangkah kemuka, sambil
menunjuk kearah Kim Bwee Leng dan berkata :
"Dipusarmu yang sebelah kiri, bukankah ada satu tanda
tahi lalat hitam, yang bentuknya sebesar butir beras ?"
Saking kagetnya, Kim Bwee Leng terlompat bangun dari
kursinya dan berpikir : "Cara bagaimana orang tua ini
sampai pada tanda dibadanku ia tahu sedemikian jelasnya "
Sedangkan Lie Siauw Hiong sendiri belum tentu
mengetahuinya !" Dalam keherannya, persoalan yang
sedang dihadapinya ini seolah-olah merupakan sebuah teka-
teki yang pelik sekali untuk dipecahkannya.
Dada orang tua ini tampak turun naik, sedangkan
matanyapun tidak putus-putusnya memandang pada Kim
Bwee Leng, seakan-akan menantikan jawaban si nona, tapi
Kim Bwee Leng sendiri hanya dapat balas memandang
orang tua kurus kering ini dengan pandangan yang penuh
mengandung aneka ragam pertanyaan.
Orang tua kurus itu kemudian perlahan-laham menghela
napas, sedangkan pandangan matanya terhadap anak dara
itu berubah menjadi sangat lembut sekali, sedangkan
badannyapun kelihatan seolah-olah berubah menjadi lemas
sekali. Dia lalu menjatuhkan dirinya duduk disebuah kursi.
Setelah itu, ia melanjutkan pertanyaannya : "Ibumu itu,
dia ...... dia apakah baik-baik saja ?"
Dengan perasaan curiga dan ragu-ragu, ditambah dengan
pikirannya yang sangat lemah disaat itu, Kim Bwee Leng
seolah-olah memikirkan sesuatu hal yang sangat aneh dan
samar. Tapi akhirnya dengan suara yang hampir tak
kedengaran dia berkata: "Ibu sudah meninggal dunia."
Tampak kelopak mata orang tua kurus kering itu
bergerak-gerak, butir-butir air matanya tampak dengan
nyata menggenangi biji-biji matanya, tapi siapapun tidak
tahu, apakah air mata itu terbit karena perasaannya yang
terharu ataukah perasaan yang gusar. Mulutnya tampak
terbuka seakan-akan hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak
dapat mengeluarkan sepatah katapun. Dengan badan yang
sempoyongan dia berdiri, seakan-akan romannya tampak
menjadi jauh lebih tua dari saat itu dan diapun menjadi
jauh lebih lemah saja. Kemudian dia berjalan masuk, meninggalkan Kim Bwee
Leng seorang diri dengan perasaan terheran-heran dalam
ruangan itu. Tak seorangpun dapat menduga, bahwa dalam
hati orang tua kurus ini berkecamuk kesedihan yang maha
hebat. Kini dia sudah berhadap-hadapan dengan dara, anak
kandungnya sendiri, tetapi dia masih tidak mau
menceritakan hal yang sebenarnya pada anak ini. Hal ini
tentu disebabkan oleh banyak faktor yang sukar
diutarakannya. Lebih-lebih dia tak ingin anak daranya
menerima pukulan batin yang hebat dan tidak mau pula
anak daranya ini menimbulkan perasaan benci terhadap
ibunya sendiri. Oleh karena berbagai persoalan itu, maka
dia terpaksa berjalan pergi dengan secara diam-diam, tanpa
mengutarakan sesuatu yang sedang berperang dengan amat
hebatnya didalam pikirannya.
Dia tentu saja tidak mengetahui, bahwa isterinya sendiri
pada waktu yang lampau pernah mengalami kepahitan
hidup bersamanya, dan dia lebih-lebih tidak mengetahui,
yang pada waktu mudanya dia pernah melakukan sesuatu
perkara, yang telah menyebabkan dia seumur hidupnya
menderita karena akibat daripada perbuatannya itu.
Setelah termangu-mangu sesaat lamanya, akhirnya Kim
Bwee Leng menjadi sadar apa maksud tujuannya datang
kesitu, setelah melihat sinar pandangan mata yang penuh
tanda tanya dari pelayan toko tersebut.
"Jika kalian tidak ingin memberitahukan aku, aku sendiri
juga bisa menyelidikinya," pikirnya. Setelah dia

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar Bwee Hoa Kiam Hiap Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menetapkan pikirannya ini, lalu dia menanti sampai hari
sudah menjelang malam. Didalam hati dia mengatakan :
"Dia datang ketoko San Bwee Cu Poo Hoo semata-mata
untuk menyelidiki riwayat hidup Lie Siauw Hiong, karena
inilah merupakan persoalan yang paling diutamakannya."
Dengan menanggung kesedihan dan penderitaan yang
hebat, 'Hauw Jie' telah berhasil melenyapkan perhubungan
antara ayah dan anak. Waktu pertama kali dia melihat
gadis yang berbaju hijau ini, hatinya tiba-tiba dirasakan
tergoncang. Belakangan setelah dengan bukti-bukti yang nyata dia
meyakinkan, bahwa gadis yang sedang berhadapan
dengannya itu adalah anak dara kandungnya sendiri, maka
dengan berusaha sekeras-kerasnya ia telah menekan
perasaan hatinya hingga berhasil.
Sebagaimana diketahui perhubungan antara ayah dan
ibu dengan anak laki-laki maupun anak daranya, sangatlah
erat sekali. Orang yang menjadi ayah maupun ibu, umumnya lebih
suka menanggung penderitaan seorang diri biar bagaimanapun hebatnya, daripada penderitaan itu mesti
dirasakan oleh anak-anaknya, meski itu bagaimanapun
kecilnya juga. Tapi Kim Bwee Leng dengan sendirinya sudah tentu
tidak menyadari hal ini, walaupun dia merasa sangat
terharu terhadap orang tua kurus yang berhadapan
dengannya. itu. Tapi perasaannya ini amat lemah dan samar sekali, jauh
sekali bedanya dengan perasaannya yang sangat kuat
terhadap diri pemuda Lie Siauw Hiong. Begitulah setelah
menyelidiki sebentar keadaan disekitarnya, lalu dia balik
kembali kepantai. Hari mulai menjelang malam, kentongan pertama
berbunyi, kemudian disusul dengan kentongan yang kedua
...... setelah dia menghitung kentongan malam itu, lalu dia
memperkencang bajunya. Setelah dia memeriksa dengan teliti seluruh pakaiannya
berikut sepatunya sekali, lalu mencoba-coba kegesitan
pergerakan tubuhnya, dan akhirnya dia merasa, bahwa
segala sesuatunya telah berjalan sempurna seperti yang
dicita-citakannya. Begitulah dengan gerak seperti seekor kucing malam, dia
keluar dari dalam rumahnya, dengan mengikuti tanda-tanda
yang telah dicatatnya disiang hari. Tidak lama kemudian
dia telah sampai pula pada toko San Bwee Cu Poo Hoo
kembali. Persangkaannya terhadap seluruh pegawai toko
tersebut tidak meleset, bahwa pelayan atau pegawai toko itu
adalah orang-orang biasa saja.
Tapi terhadap orang tua yang dilihatnya siang hari tadi
agak berbeda sekali, karena sinar matanya sangat hidup dan
tajam. Oleh karena itu, dengan lebih berhati-hati dan tanpa
menerbitkan suatu suarapun, dia telah berhasil mencapai
toko tersebut. Dari arah yang jauh sekali pada genting dihadapannya,
terdengar suara kucing mengeong. Suara kucing itu sangat
tajam dan mempengaruhi siapa yang mendengarnya. Hal
itu mengingatkan orang serta-merta bahwa pada saat itu
adalah dimusim Cun (semi).
Dengan sinar mata yang tajam dia memandang
kesekelilingnya, sedang lampu-lampu disebelah bawahnya
ternyata sudah dipadamkan orang seluruhnya.
Jantung si nona seolah-olah terdengar berdebaran,
sekalipun dia sendiri memiliki kepandaian silat yang tinggi
sekali, tapi perbuatannya ini adalah baru pertama kalinya
dilakukannya. Oleh karena itu, tidak heran jika debaran
hatinya menjadi bertambah keras.
Tatkala itu ia berdiri diujung genting toko tersebut sambil
berpikir. Beberapa kali dia bermaksud melompat turun, tapi
pada saat-saat terakhir dia tidak dapat melaksanakan
niatannya dan tidak tahu pula cara bagaimana dia harus
melakukan usahanya ini. Baginya pengalaman serupa ini dikalangan Kang-ouw
sedikit sekali yang telah dia pelajari, apa lagi dia sekarang
adalah untuk pertama kalinya terjun kedalam rimba
persilatan, maka terhadap segala perkara, dia belum dapat
memecahkan dengan tepat dalam waktu yang singkat.
Begitulah dengan berdiam diri saja dia memandang
keadaan sekelilingnya. Pekarangan toko tersebut pada saat
itu sangat gelap sekali, dengan begitu, cara bagaimanakah
dia dapat menyelidiki sesuatu " Tadi dia telah
merencanakan sesuatu yang harus dilakukannya, tapi waktu
dia dihadapkan dengan suatu kenyataan, lain pula
kesudahannya. Pada saat itu barulah dia mengetahui,
bahwa apa yang dipikirkannya semula, ternyata tak mudah
dapat dikerjakan begitu saja.
Begitulah dibawah naungan bintang-bintang dilangit
pada malam yang agak gelap itu, dia berdiam diri saja
diatas genteng toko itu, tapi waktu dia menengadah
kepalanya memandang kelangit, dia melihat bintang-
bintang gemerlapan memancarkan sinarnya yang sebentar
terang sebentar gelap, seakan-akan sedang menertawakannya. Sekonyong-konyong dari arah belakangnya terdengar
suara orang yang batuk-batuk, maka dengan perasaan kaget
buru-buru dia mundur setindak, waktu dia membalikkan
badannya memandang, ternyata seorang tua dengan
mukanya yang sangat kaku sekali, memandangnya sambil
berkata : "Kau datang lagi kemari hendak apa ?"
Orang tua kurus ini ialah orang yang dijumpainya siang
hari tadi, diam-diam dia berpikir : "Orang ini sungguh tinggi
sekali kepandaiannya, dia datang dibelakangku, sedikitpun
aku tidak mengetahuinya."
Orang tua kurus ini 'Hauw Jie' diam-diam pun berpikir :
"Malam-malam begini dia datang kembali kemari, ingin
berbuat apakah ia sebenarnya " Apakah barangkali dia telah
mengetahui siapa aku ?"
Sambil bersiap-siap dan memusatkan seluruh perhatiannya Kim Bwee Leng tidak menjawab pertanyaan
orang tua itu, sedangkan sinar mata 'Hauw Jie' tak henti-
henti menatap mukanya. "Kau sebenarnya datang kemari mau apa ?" tanya orang
tua itu. Pada saat itu perasaan hati Hauw Jie sangat ragu-ragu.
Kadang-kadang dia sangat mengharapkan bahwa gadis
dihadapannya ini sudah mengetahui bahwa dirinya adalah
ayah kandungnya sendiri. Dan kadang-kadang pula dia
mengharapkan untuk selama-lamanya anaknya ini jangan
mengetahui siapa dia ini sebenarnya.
Kim Bwee Leng berdiam diri sejurus, lalu dia
mengangkat kepalanya sambil berkata : "Aku berharap kau
sudi memberitahukan kepadaku sesuatu, yaitu hal Lie
Siauw Hiong, bagaimana asal-usulnya yang sebenarnya "
Aku adalah ......" Akhirnya dia merasa tidak enak untuk
menjelaskan perhubungannya dengan Lie Siauw Hiong,
lalu dengan cepat melanjutkan penjelasannya : "Aku hanya
ingin mengetahui tentang riwayat hidupnya dengan sejelas-
jelasnya, lain tidak."
Itulah soal yang dianggapnya paling penting sekali yang
hendak dia tanyakan. Dia sendiripun tidak bermaksud akan
keluar malam-malam untuk menanyakan pada orang lain
tentang soal ini. Oleh karena itu, cara bagaimanakah dia
dapat memperoleh jawaban yang memuaskan dari pihak
yang dia ajak bicara. 'Hauw Jie' sekalipun merahasiakan
perhubungannya dengan Kim Bwee Leng sebagai anak dan
ayah, tapi dia tidak bisa menceritakan hal Lie Siauw Hiong
kepada anaknya ini, karena soal itu, berhubungan erat
sekali dengan rencana Bwee San Bin yang telah diaturnya
selama sepuluh tahun lebih yang lalu itu.
Oleh sebab itu, bagaimana dia dapat menceritakan orang
yang telah melepas budi baik terhadapnya, dan berbareng
juga menceritakan rencananya, sekalipun orang dihadapannya adalah anak dara kandungnya sendiri "
Apa lagi perkataan Kim Bwee Leng diucapkannya
mundur maju, dengan perasaan curiga 'Hauw Jie' malahan
menganggap yang gadis ini datang atas perintah Raja
Racun Kim It Peng. Pada saat itu pikiran ayah dan anak jauh berbeda sekali
dari satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, lalu Hauw
Jie berkata : "Kau adalah seorang gadis remaja, tengah
malam buta begini keliaran menyelidiki riwayat orang lain,
untuk apakah sebenarnya " Lebih baik kau pulang saja
lekas-lekas." Dia tidak merasa bahwa dalam perkataannya
ini mengandung perasaan kekuatiran terhadap anaknya.
Tapi Kim Bwee Leng tentu saja tidak dapat mendengar
suara hati ayahnya ini, diapun tidak pernah berpikir sampai
kesitu pula. Ia telah dipermainkan nasib. Apa yang sedang dipikirkan
oleh Kim Bwee Leng, tak lain daripada soal Lie Siauw
Hiong saja. Tidak ada orang lainnya lagi kecuali Lie Siauw
Hiong. Biasanya Kim Bwee Leng sangat cerdas sekali, tapi
pada detik itu karena dipengaruhi oleh pikirannya yang
kacau, dia tidak dapat lekas-lekas mencari jalan keluar.
Dia sungguh-sungguh menjadi benci pada orang tua ini,
karena tidak sudi memberitahukan hal Lie Siauw Hiong
kepadanya, maka dengan penuh kemarahan dan kebencian
dia berkata : "Biar bagaimanapun aku harus mengetahui
riwayat hidup Lie Siauw Hiong, dan bila kau ingin
menghalang-halangi, aku ...... aku pasti tidak akan berlaku
sungkan-sungkan lagi terhadapmu !"
Hauw Jie berkata : "Jadi kau tidak mau mendengar
perkataanku ?" Sebagai jawaban Kim Bwee Leng hanya mengeluarkan
suara jengekan dari lobang hidungnya dan diam-diam dia
berpikir pada dirinya sendiri : "Mengapa aku harus
mendengar perkataanmu ?"
Pada saat itu otaknya menjadi sangat pening sekali dan
kacau, perasaannyapun tidak terkendalikan lagi, lalu dia
berkata : "Kau tidak sudi aku mengetahui urusannya, maka
aku akan memukulmu terlebih dahulu."
Pikirannya yang sudah sangat kacau sekali, telah
membuat si nona berpandangan sangat picik. Lalu dengan
tiba-tiba dia membentak : "Kau mengapa justeru ingin tahu
urusanku ?" Sepasang tangannya bergerak. Tangan kanannya sedikit
dibengkokkan, sedangkan tangan kirinya disodorkan
kemuka, begitulah dengan mengeluarkan suara ser, ser, dua
kali, ia menggunakan seluruh kekuatannya untuk memukul
'Hauw Jie'. Dia tidak mengetahui bahwa orang tua ini adalah ayah
kandungnya sendiri ! Hauw Jie pun tidak pernah menduga,
bahwa si nona akan melakukan serangan yang sekonyong-
konyong ini, hingga dalam kekagetannya angin pukulan itu
sudah sampai didadanya. Hauw Jie hanya dapat menangkis saja, dengan
melupakan bahwa sepasang tangannya itu sudah tidak
berguna lagi. Oleh karena itu, bagaimanakah dia dapat
menahan serangan Kim Bwee Leng ini, yang telah
mendapat latihan selama sepuluh tahun dibawah asuhan
Kim It Peng sendiri " Apa lagi kepandaian Kim Bwee Leng
jauh melebihinya, hingga dengan sebisa-bisanya saja dia
melakukan penangkisan. Kim Bwee Leng waktu melihat orang tua ini hanya
menangkis dengan tangannya saja, hatinya menjadi amat
terkejut, karena dia kuatir kalau-kalau dia tak sanggup
menahan daya serangan lawannya itu. Maka setelah tangan
kirinya dipergunakan untuk menangkis tangan lawannya,
tangan kanannya segera dipergunakan untuk menyodok iga
orang. Tapi tak disangka-sangka begitu tangan kirinya
beradu dengan sepasang tangan lawannya, ia merasakan
bahwa tangan lawan itu sangat lembek sekali. Dalam
keheranannya ini, sekonyong-konyong saja tangannya
sudah mengenai dada pihak lawannya.
Sekalipun tenaga dalam Hauw Jie amat kuat, diapun
tidak dapat menahan daya serangan gadis ini, maka dengan
mengeluarkan suara 'Oweeee' lantas dia memuntahkan
darah segar dari mulutnya, hingga darah itu muncrat
menodai baju hijau Kim Bwee Leng itu.
Hal mana, sungguh membuat hati si nona merasa sangat
menyesal dan tidak mengerti, mengapa pukulannya ini
dapat mengakibatkan kejadian tersebut. Lalu dia berpikir :
"Dengan mengandal tenaga dalamnya, lawanku ini tidak
mungkin terbinasa dengan pukulanku ini. Ambil saja
misalnya tentang ilmu meringankan tubuhnya. Kurang
lebih dia lebih tinggi satu tingkat daripada diriku sendiri."
Dengan lemah sekali orang tua kurus kering ini bernafas
dan matanya memandang keangkasa. Kini pandangannya
sangat kabur. Dia merasa yang anggota tubuhnya sebelah
dalam telah terluka berat. Sambil menghela napas, dia
menyesalkan perjalanan nasibnya : "Mengapa aku harus
mati didalam tangan anak kandungku sendiri ?" Oleh
karena itu, dengan memaksakan diri dia berkata : "Kau
datang kemari ......"


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar Bwee Hoa Kiam Hiap Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Kim Bwee Leng merasa seakan-akan ada semacam
tenaga gaib yang menariknya menghampiri orang tua yang
sudah akan mati ini. Dibawah sinar bintang-bintang Hauw
Jie memandang muka anak daranya dengan perasaan
girang bercampur sedih. Lalu dia berkata pada dirinya
sendiri : "Aku harus mengampuninya, karena dia tidak
mengetahui segala-galanya. Bila aku membuat dia merasa
menyesal, maka matikupun merasa tidak tenteram.
Sedikitpun aku tidak merasa sebagai seorang yang
bertanggung jawab atas penghidupannya, maka pada saat
ini sudah seharusnyalah aku memberikan dia kesenangan
hidup." Begitulah dengan menahan perasaan yang sukar sekali
dicegah oleh kebanyakan manusia, dalam saat-saat
kematiannya ini dia masih tetap menyembunyikan rahasia
hidupnya serta tak ingin diketahui oleh anak daranya.
Tapi dalam saat demikian inilah, dalam otak Kim Bwee
Leng terasa sangat hampa sekali, setiap perkataan orang tua
kurus ini mengandung maksud yang dalam, malahan apa
yang tak diketahuinya tadi, dalam waktu sedetik saja dia
sudah mengetahui dengan pasti. Kini setelah dia
mengetahuinya, dia merasa bukan buatan sedihnya, dalam
hati dia berpikir : "Dia ...... apakah benar ayah kandungku
sendiri ?" Sekalipun tadinya dia tidak pernah mempunyai perasaan
kasih sayang terhadap ayahnya, dan juga tidak pula
membencinya, tapi pada detik ini sekonyong-konyong
tangisnya meledak : "Aku telah membunuh ayahku sendiri
!" Kim Bwee Leng tiba-tiba meraung-raung sejadi-jadinya.
Untuk penghabisan kalinya Hauw Jie tersenyum,
sedangkan dari sela-sela mulutnya darah masih saja
mengalir keluar. Ternyata pada saat itu dia telah
meninggalkan dunia yang fana ini.
Dia mati sambil tertawa. Karena girang atau sedihkah "
Rasanya tak seorangpun dapat mengetahui sebab musababnya.. (Oo=dwkz=oO) Kota Han-yang terletak disebelah selatan sungai Han-sui,
diarah barat Tiang-kang dan disebelah utara gunung Tay-
piat-san, yang biasa disebut gunung Ku-san, yang berhadap-
hadapan dari kejauhan dengan gunung Coa-san dalam
wilayah kota Bu-ciang hanya terpisah oleh sebuah sungai
saja. Dalam musim semi dibulan tiga, burung-burung pada
beterbangan dan rumput-rumput hijau mulai membiak
kembali. Dewasa itu disebelah pantai utara dari kota Han-
yang, dipinggir telaga See-cu-ouw terdapat sebuah
kelenteng yang bernama Sui-gwat-am.
Didalam keleteng itu kini bertambah satu Nikouw
(pendeta wanita) yang usianya masih sangat muda belia.
Tiap-tiap pagi terdengar suara lonceng yang berbunyi.
Begitulah setiap kali ia membunyikan lonceng, air mata
Nikouw muda ini selamanya tidak henti-hentinya
membasahi pipinya. Jika dibandingkan penghidupannya,
jauh lebih sengsara daripada nikouw-niklouw yang lainnya.
Ia berlatih dengan lebih rajin dan sungguh-sungguh, seakan-
akan dengan latihannya yang berat ini, dia dapat
menghilangkan kesengsaraan batinnya yang diderita selama
itu. Begitulah setiap larut malam, bila orang-orang melewati
kelenteng kecil ini, dibelakang pekarangannya atau
disebelah luar tembok kelenteng itu dibawah sebuah pohon
besar, orang pasti akan menjumpai nikouw yang masih
sangat muda usianya ini sedang melatih diri dalam ilmu
meringankan tubuh yang sangat hebat, yaitu sebuah ilmu
yang sangat teristimewa dikalangan Kang-ouw.
Setiap bulan tanggal empatbelas, dibawah pemandangan
alam yang indah permai seringkali kedapatan dia duduk
seorang diri bersedih hati, seakan-akan ada suatu perasaan
mahaberat yang amat menekannya, sehingga menghimpit
sekali perasaannya yang sukar dilupakan itu.
Orang yang sedang dirundung malang tak putus-
putusnya ini, tidak lain tidak bukan adalah Kim Bwee Leng
sendiri. Tak terkatakan perih hatinya disaat itu. Kepada
siapakah ia harus meminta maaf atas perbuatannya yang
terkutuk itu, yang telah membunuh ayah sendiri, sekalipun
perbuatan ini dilakukannya tiada dengan sengaja "
Semenjak ia masih kecil ditinggalkan ayahnya, barulah
pada kali ini ia bertemu kembali, tetapi ...... ia telah
membunuhnya ! Dalam hati kecilnya ia merasa bahwa tidak
ada pengampunan terhadap tindakannya ini, oleh karena
itu, lalu dia melepaskan segala pengharapannya. Bahkan
ingatannya terhadp Lie Siauw Hiong pun telah dilenyapkannya pula. Kemudian ia pergi kekelenteng ini
menjadi nikouw untuk menebus dosa-dosanya.
Tapi penghidupan yang demikian sunyi dan menyendiri
ini memakan waktu yang amat panjang.
Apakah dia dapat bertahan lama terhadap penghidupan
yang demikian " Ho Sin dan Kang-lie-pek-liong Sun Tiauw Wan telah
mempersiapkan sebuah kapal untuk Kim Bwee Leng, tapi
setelah lama mereka menunggu-nunggu si nona tidak
muncul juga, merekapun terpaksa mengangkat layar dan
berlayar menuju kearah Timur.
(Oo-dwkz-oO) Jilid 12 Hal ini justeru adalah yang diharap-harapkan sekali oleh
Sun Tiauw Wan. Dia tidak ingin sekali, dasar pekerjaan
yang telah dibuatnya selama ini akan terlibat dalam
peristiwa ini, yang banyak sekali menyangkut diri gembong-
gembong terkenal dalam kalangan Kang-ouw. Ada kalanya
diam-diam dia berpikir pada dirinya sendiri : "Pemilik toko
San Bwee Cu Poo Hoo ini sebagai pedagang mengapa
mempunyai kawan orang-orang yang ternama sekali dalam
kalangan Kang-ouw " Malah tampaknya Kim Bwee Leng
dengannya mempunyai hubungan yang sangat rapat
sekali." Setelah lewat tiga bulan kemudian, dipantai sungai
Tiang-kang, toko San Bwee Cu Poo Hoo yang berjumlah
tigabelas itu sudah ditutup semuanya. Nama Lie Siauw
Hiong ini, kecuali diluar kota Bu-han Sam-cin, belum terbit
peristiwa apa-apa, tapi sekarang dikota Bu-han Sam-cin pun
hanya sedikit orang saja yang mengingat akan nama itu.
Begitu pula Hwan Tie Seng dan Beng Pek Kie serta
kawan-kawannya, dewasa itu karena sudah banyak sekali
peristiwa-peristiwa yang menyangkut diri gembong-
gembong terkenal dalam golongan Kang-ouw, merekapun
tidak lagi memikirkan tentang anak hartawan she Lie ini.
Sebaliknya apakah nama Lie Siauw Hiong ini akan
lenyap begitu saja untuk selama-lamanya "
Pertanyaan ini tidak seorangpun dapat menjawabnya
secara tepat. Kong Tong Sam Coat Kiam secara berpencaran naik
kegunung Bu Tong San untuk bertanding ilmu pedang.
Penyerbuan yang dipimpin oleh Leng-hong-kiam-khek ini,
ternyata mendapat perlawanan dari sembilan murid kepala
yang mendapat latihan langsung dari Cek Yang Tojin.
Mereka telah bertempur enam jam lamanya, pada waktu
mana Souw Eng Swat yang agak lemah kepandaiannya
telah kena terpukul punggungnya sehingga memuntahkan
darah segar. Dengan demikian, Leng-hong-kiam-khek telah membuat
'Kong Tong Sam Coat Kiam' menderita penghinaan atas
dirinya sendiri, dan karena mereka telah mengalami
kekalahan, kemudian mereka turun gunung kembali. Cek
Yang Tojin pura-pura tidak tahu. Sesungguhnya dia sedang
memikirkannya daya untuk menjatuhkan partai Kong
Tong. Pertama untuk menempatkan dirinya ketingkat tertinggi
dalam kalangan Kang-ouw, kedua dia memikirkan pada
tempo hari dia bersama Li Gok yang telah memperoleh
suatu barang berharga secara tidak syah dan diam-diam
mendaulatnya menjadi miliknya sendiri.
Kong Tong Sam Coat Kiam yang untuk pertama kalinya
menderita kekalahan, turun gunung dengan perasaan
tertekan, sedangkan napas Souw Eng Swat sudah empas-
empis. Sekalipun dia telah diberi pengobatan yang
sempurna dari obat-obatan yang dibuat oleh partai Kong
Tong yang khusus untuk dipakai sebagai obat menyembuhkan patah tulang maupun luka-luka dalam, tapi
setelah dipakaikan obat tersebut, lukanya sedikitpun tidak
tampak berangsur baik. Cu-kat Beng dan Ie It Hui berdua, mereka secara diam-
diam telah jatuh cinta terhadap Sumoaynya. Mengingat
keadaannya seperti sekarang. mereka sangat gugup sekali,
mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Kedua orang ini diam-diam memaki pada partai Bu
Tong yang dengan mengandalkan jumlah yang jauh lebih
banyak memenangkan jumlah yang lebih sedikit, dengan
demikian secara terang-terangan antara Kong Tong dan Bu
Tong telah terlibat dalam permusuhan. Perselisihan yang
telah berlangsung bertahun-tahun ini tak mungkin agaknya
dapat didamaikan kembali.
Mereka tahu, apa bila menunggu sampai mereka tiba
digunung Kong Tong, barangkali luka-luka Sumoaynya in
itidak akan dapat disembuhkan lagi.
Cu-kat Beng seorang yang sangat pandai sekali bergaul
dalam kalangan Kang-ouw, ia sangat terkenal dan diseluruh
tempat dia mempunyai kenalan. Dalam pada itu tiba-tiba
saja dia teringat seseorang, lalu dia berkata pada Ie It Hui :
"Mengapa kita tidak pergi mencari Louw Ciang !"
Ie It Hui sambil menggosok-gosok kepalanya berkata :
"Jika Su-heng tidak menyebut namanya, Siauw-tee benar-
benar telah hampir lupa akan orang itu. Sekarang ada tabib
yang pandai disini, luka Sumoay ini asalkan dia sendiri
yang turun tangan mengobatinya, apakah yang dikuatirkan
tidak menjadi sembuh" Hanya dikuatirkan yang tabib ini
akan timbul penyakit lamanya pula."
Dengan tertawa Cu-kat Beng lalu menjawab : "Sekalipun
orang ini tabiatnya sangat aneh, tapi terhadapku dia
mempunyai perhubungan dan kesan-kesan yang baik, asal
saja aku pergi menjumpainya dan memohon bantuannya,
dia pasti akan meluluskannya."
Begitulah kedua orang ini lalu naik kuda, sedangkan
Souw Eng Swat dibawa dengan naik kereta. Mereka
melakukan perjalanan siang malam, untuk memburu waktu
pergi kekota Keng-san, dipropinsi Ouw-pak, untuk
menjumpai dan meminta bantuan Sun-ie atau tabib sakti
yang bernama Louw Ciang, yang tinggal diluar kota
tersebut. Tabiat Louw Ciang ini sesungguhnya sangat aneh sekali,
jika orang yang tidak berjodoh untuk diobatinya, sekalipun
mati dihadapannya, dia tak mau menolongnya. Tabib itu
mempunyai ilmu pengobatan, juga mempunyai kepandaian
silat pula, yaitu ilmu silat biasa saja. Tapi dalam hal
mengobati orang sakit, ia harus dipuji luar biasa sekali
pandainya, gembong-gembong ternama dikalangan Kang-
ouw yang telah berhutang budi kepadanya, boleh dikatakan
tidak sedikit jumlahnya. Tapi juga tidak sedikit orang yang
tidak menyukai tindak-tanduknya, meski dalam hal itu
mereka tidak berdaya sama sekali terhadapnya.
Cu-kat Beng yang menunggang kuda lalu menghampiri
kereta yang dinaiki Sumoaynya.
Pada saat itu matahari sudah hendak kembali
keperaduannya diarah Barat. Malam tiba, hawa dimusim
semi sekalipun tidak terlampau panas, tapi karena mereka
melakukan perjalanan secara tergesa-gesa, muka mereka
basah penuh dengan keringat. Sebentar-bentar mereka
mengeluarkan saputangan untuk menyeka keringat itu.
Waktu mereka sampai pada sebuah hutan bambu,
ditengah-tengah mana tampak sebuah pekarangan yang
dikitari dinding bilik, tidak terasa lagi semangat mereka jadi
terbangun. Ie It Hui lalu menunjuk dengan perasaan yang
girang sekali dan berkata : "Nun disana disebelah muka
kita, adalah rumah si tabib itu."
Cu-kat Beng pun lalu menganggukkan kepalanya sambil
berkata : "Benar."
Kedua orang ini lalu menarik tali les kudanya sambil
berkata pada kusir kereta : "Lekas jalan."
Begitulah kereta yang ditarik dua ekor kuda itu lalu
mempercepat jalannya menuju kehutan bambu tersebut.
Waktu mereka sampai dimuka hutan itu, kereta dan
kuda lalu dihentikan. Cu-kat Beng berkata : "Baiklah kita
masuk dengan berjalan kaki saja, untuk menghindarkan
kumatnya tabiat orang tua yang aneh itu."
Ie It Hui pun lalu turun dari kudanya, kemudian dari
dalam kereta itu dia memboyong keluar tubuh Souw Eng
Swat. Pada saat itu wajah nona itu yang sangat cantik telah
berubah menjadi pucat sekali. Pipinya yang biasanya sangat
montok dan berwarna merah dadu, kini sudah cekung.
Dalam hatinya Ie It Hui merasa sangat kasihan sekali,
hingga dia sudah ingin sekali memeluk dan merangkulnya
saja. Cu-kat Beng disebelah sanapun buru-buru menghampiri
dan mengulurkan tangan kanannya untuk memegang
tangan kiri Souw Eng Swat. Dengan terpaksa Ie It Hui
tertawa, begitulah mereka berdua dengan masing-masing


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar Bwee Hoa Kiam Hiap Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

memegang sebelah tangan sang Sumoay berjalan masuk
kehutan bambu tersebut. Dalam hutan itu jalannya terbuat daripada batu-batu,
terus langsung menuju kerumah Tabib Sakti yang tinggal
dalam beberapa rumah yang dibuat daripada alang-alang.
Keadaan disekitarnya sangat sunyi, hingga disitu hanya
terdengar suara kicauan burung-burung dan bunyi kutu-
kutu saja. Waktu kaki mereka menginjak batu dari jalanan tersebut,
lalu menerbitkan suara keresekan. Diatas dinding rumah
yang dibuat daripada bambu itu, debu-debu menempel
sangat tebalnya, sedangkan diatas debu-debu tersebut
terdapat binatang-binatang yang merayap, kelihatannya
sangat tak sedap dipandang mata.
Lalu mereka mengetuk pintu rumah tersebut perlahan-
lahan. Tiga sampai lima puluh kali ketukan pintu telah
dilakukan mereka, tapi dari dalam rumah itu tak terdengar
suatu suarapun yang menyahut. Ie It Hui lalu berkata :
"Apakah barangkali Louw Sinshe sedang keluar berpergian
?" Cu-kat Beng menggelengkan kepalanya sambil berkata :
"Tidak mungkin, selama sepuluh tahun ini, aku belum
pernah mendengar dia keluar berpergian." Lalu mereka
memandang keadaan sekelilingnya. "Kau tengoklah, pintu
besar ini sama sekali tidak dikunci, sekalipun benar dia
sudah pergi, dalam rumah tersebut pasti ada orang yang
menjaganya," kata Cu-kat Beng lagi. Oleh karena itu,
mereka lalu mengetok kembali pintu tersebut.
Setelah mengetuk beberapa kali lagi, pintu besar tersebut
barulah terdengar terkuak. Tampaknya pintu besar itu
memang tidak dikunci orang.
"Loo Jie, bagaimana kiranya jika kita masuk saja untuk
melihat-lihat ?" Cu-kat Beng coba menanyakan pikiran adik
seperguruannya. Tapi meski Ie It Hui menyatakan mupakat berjalan
sampai dipekarangan rumah tersebut, tetap saja tak
terdengar suara orang sama sekali, hingga Cu-kat Beng lalu
berteriak dengan suara nyaring : "Apakah Louw Loo Sinshe
ada dirumah ?" Tapi, kecuali suara burung yang berkicau,
tidak ada suara lainnya yang menjawab pertanyaannya.
Tidak terasa lagi dia mulai merasa curiga, sambil
memandang pada Ie It Hui dia berkata : "Kau dan Sumoay
boleh tunggu disini dahulu, aku akan pergi melihat keadaan
disebelah dalam. Aku harap kau dapat menjaga Sumoay
dengan sempurna, sehingga tak terjadi sesuatu yang tidak
diinginkan oleh kita sekalian."
Perkataan ini belum lagi habis diucapkan Cu-kat Beng,
ketika dengan sekonyong-konyong dari dalam rumah
tersebut terdengar suara yang menyeramkan dari seorang
yang membentak : "Enyahlah kalian dari sini !"
Sekalipun hanya empat patah kata saja yang dikatakan
orang tersebut, tapi suaranya jelas mengandung penghinaan
bagi mereka. Cu-kat Beng yang mendengar suara orang tersebut,
ternyata beda sekali dengan suara Tabib Sakti yang
berbahasa daerah provinsi Ouw Pak itu, maka ia lalu
berkata : "Tuan siapa gerangan " Kami 'Kong Tong Sam
Coat Kiam', sengaja datang kesini untuk mengunjungi
Louw Sinshe." Dia mengira, dengan menyebutkan gelar 'Kong Tong
Sam Coat Kiam' itu akan dapat menarik perhatian orang
tersebut, tidak disangka-sangka bahwa orang itu malah
berlaku semakin adem dan membentak pula : "Telah
kukatakan supaya kalian segera angkat kaki dari sini,
apakah kalian tidak mendengar ?" Kemudian disusul
dengan suara "brak" dari terpentangnya pintu jendela yang
dekat pekarangan tersebut, dari mana segera kelihatan
muncul kepala orang yang tidak tampak darahnya, sehingga
muka orang itu tampak sangat pucat melebihi kepucatan
muka Souw Eng Swat. Melihat wajah orang tersebut, Ie It Hui dan Cu-kat Beng
tidak terasa lagi menjadi menggigil dan dengan serentak
mereka berseru : "Kau siapa ?"
Orang itu lalu tertawa dengan suara yang panjang dan
nyaring, sinar matanya yang sangat tajam disapukan kearah
mereka dan kemuka Souw Eng Swat, kemudian dengan
penuh keangkuhan dia berseru : "Sungguh cantik sekali si
nona itu !" Cu-kat Beng dan Ie It Hui menjadi gusar sekali melihat
sikap orang tersebut yang tidak memandang sebelah
matapun pada mereka. Dan setelah melihat muka Souw
Eng Swat sekilas lagi, lalu dia berkata pula : "Kalian yang
berdiri disana mau menunggu apa lagi " Sekarang Louw
Loo-thauw-cu tidak mempunyai waktu untuk mengobati
kamu. Enyahlah kamu sekalian !"
Sudah tiga kali berturut-turut dia mengusir mereka pergi,
maka dengan penuh kemarahan Ie It Hui lalu berkata :
"Kawan ini orang dari golongan mana " Silahkan kau suka
menerangkan namamu pada kami."
Tapi orang itu lalu tertawa mengejek dan berkata kaku :
"Akan kuhitung sampai sepuluh. Jika kalian masih belum
juga pergi, aku tak akan berlaku segan-segan pula terhadap
kalian !" Sejurus kemudian dengan bersikap seolah-olah disampingnya tidak ada orang, dia segera mulai
menghitung dengan lambat-lambat: "Satu, dua, tiga ......"
Muka Ie It Hui jadi beringas, tapi karena memandang
pada Souw Eng Swat yang sedang menyenderkan badannya
ditangannya, dengan suara yang perlahan dia berkata pada
kakak seperguruannya : "Suheng, marilah kita keluar
segera." Cu-kat Beng pun sambil memandang pada luka yang
sedang diderita oleh Souw Eng Swat dan demi menjaga
keselamatan adik seperguruannya, buru-buru mereka
meninggalkan tempat itu. Baru saja mereka sampai diluar pekarangan, orang
tersebut habis menghitung sampai sepuluh.
Sehabis menghitung, kedengaran orang tersebut tertawa
terbahak-bahak. Cu-kat Beng dan Ie It Hui selama hidupnya belum
pernah menerima penghinaan sebesar demikian.
Kemudian Ie It Hui berkata : "Siauw-tee akan pergi
sebentar melihat keadaan disebelah dalam."
Dia yakin bahwa orang yang berada didalam rumah itu,
pastilah seorang lawan yang tangguh, maka dia segera
mencabut pedangnya, yang telah dia gunakan untuk
melatih diri selama beberapa puluh tahun lamanya. Apa
lagi ia telah mahir dalam gaya 'Siauw-yang-kiu-it-sek' dari
jurus partai Kong Tong, yang sudah terkenal dan menjagoi
dengan itu diseluruh dunia Kang-ouw.
Dengan adanya pedang ditangan, semangatnya menjadi
bertambah besar, maka sambil melompat sekali saja
badannya sudah memasuki kembali pekarangan tersebut.
Tenaga dalamnyapun kuat, maka waktu badannya jatuh
ketanah, tidak terdengar suara apapun. Tak disangka-
sangka dalam sekejap mata saja, orang yang menyuruhnya
pergi itu sudah meloncat keluar melalui jendela.
Kepandaian ilmu meringankan tubuh orang tersebut
tampaknya jauh melebihi kepandaian Ie It Hui sendiri.
It Ie Hui menjadi amat terkejut. Orang itu sambil tertawa
dibuat-buat lalu berkata : "Apakah kau pernah dengar ada
lawan yang meloloskan dirinya dari tangan Thian-mo Kim
Ie dengan masih bernyawa ?"
Tian-mo Kim Ie ini benar-benar telah membuat Ie It Hui
menjadi tertegun, maka dia berpikir pada dirinya sendiri :
"Ternyata orang ini adalah Tian-mo Kim Ie !" Kemudian
mukanya tampak berubah menjadi sangat gugup.
Tian-mo Kim Ie berkata lagi : "Karena aku sangat
memandang, maka hari ini baru kaulah orang pertama yang
masih bernyawa dan dapat berlaku tanpa cedera dari
hadapanku. Sekarang segeralah kau pergi dari sini !"
perintahnya. Sekalipun Ie It Hui terkenal dengan sifat sombongnya
selama ini, tapi pada saat berhadapan dengan orang ini, dia
merasa agak kuatir juga. Setelah berpikir-pikir sejurus lamanya, lalu dengan
terpaksa dia berlari juga keluar dari situ.
Dimuka Tian-mo Kim Ie mengucur terlalu banyak
keringat, karena ia menderita kesakitan yang sangat.
Kemudian sambil balik kembali kejendela dengan
pergerakan badannya yang sangat lamban itu, ia
menghapus keringat dengan tangannya.
Diatas sebuah bangku panjang dalam rumah itu, tampak
seorang tua yang bermuka amat pucat sekali, tidur
bersandar pada bangku itu. Dan orang ini tampaknya
sedikitpun tidak menghiraukan peristiwa yang baru saja
terjadi diluar rumah tempat ia berbaring itu.
Tian-mo Kim Ie menghampiri orang tua itu dan lalu
berkata kepadanya : "Orang she Louw, kau harus berlaku
sedikit lebih cerdik. Kau tentu mengetahui bagaimana
letaknya jalan darah 'Pek-hwee-hiat'. Didunia tidak ada
orang lain yang dapat membuka totokanku ini. Jika kau
belum juga mau meluluskan permintaanku, hidupmu akan
kutamatkan dalam waktu beberapa jam lagi, sekalipun aku
orang she Kim sendiri akan menemui ajalku pula !"
Ternyata Tian-mo Kim Ie yang telah menggunakan
kesempatan melarikan diri selagi orang bermain kucing-
kucingan dengan Thio Ceng, dengan dibelakangnya Tong
Pin, Tong Leng dan Tong Yan masih terus-menerus
mengejarnya. Tapi karena Tong Pin dan kawan-kawannya
tak dapat menandingi ilmu meringankan tubuh Tian-mo
Kim Ie ini, maka dalam waktu sedetik saja Tian-mo Kim Ie
telah berhasil melenyapkan diri dari kejaran lawan-
lawannya. Tian-mo Kim Ie setelah melarikan diri sebentar, terasa
bagian dada dan perutnya sangat sakit, bahkan pernapasannyapun menjadi tidak teratur dan tidak
sempurna jalannya. Ternyata dadanya yang terkena
pukulan Lie Siauw Hiong, pada saat itu sakitnya mulai
terasa, apa lagi ia telah menderita luka-luka pula. Karena
dia telah berlari sedemikian pesatnya, maka dalam tempo
yang tidak berapa lama pula membuat luka-lukanya
menjadi lebih parah keadaannya.
Sejurus antaranya dalam larinya itu, sesekali ia coba
menoleh kebelakang, tapi ternyata keluarga Tong itu sudah
tidak berhasil mengejarnya. Pada sebuah pohon besar ia
berhenti untuk beristirahat sebentar, sambil menoleh kekiri-
kanan dan bersembunyi disitu. Setelah mengatur jalan
pernapasannya, tulang-tulang persambungan antara kaki
dan tangannya terasa seperti hendak terlepas satu sama
lainnya, dia menjadi sangat terkejut sekali, dalam hatinya
diam-diam dia berpikir : "Ternyata pukulan bocah she Lie
ini bukan main lihaynya."
Ia insyaf bahwa pukulan Lie Siauw Hiong ini adalah
pukulan seorang ahli tenaga dalam, maka bila tidak lekas-
lekas diobati, dikuatirkan untuk selama-lamanya dia tak
akan dapat sembuh lagi. Dalam kegugupannya ini, tiba-tiba
dia terpikir akan seorang tabib pandai, yaitu Louw Ciang.
Tanpa membuang-buang tempo lagi, dia lalu berangkat
dengan tergopoh-gopoh ke Keng-san untuk memohon
pertolongan tabib itu. Waktu tabib ini mendengar nama
Kim Ie, dengan tegas dia berkata bahwa dia tidak mau
mengobatinya. Tian-mo Kim Ie tentu saja menjadi sangat geram, hingga
akhirnya mereka berdua bertempur dengan amat serunya.
Sekalipun Tian-mo Kim Ie bertarung dengan badan sedang
menderita luka-luka, tapi tabib sakti itu bukanlah
tandingannya yang setimpal. Maka dalam tiga atau lima
jurus saja dia sudah berhasil menotok jalan darah 'Pek-
hwee-hiat ditubuh tabib tersebut, hingga kemudian dia
mendudukkan tabib itu diatas pembaringannya.
Tian-mo Kim Ie ingin menggunakan pengaruhnya untuk
memaksa tabib itu akan mengobatinya, tapi sitabib hanya
duduk diam saja, sepatah katapun tidak dia ucapkan. Oleh
sebab itu, tidaklah heran jika Kim Ie semakin geram.
Dalam pada itu, 'Kong Tong Sam Coat Kiam' pun
datang pula kesitu, hingga diam-diam Tian-mo Kim Ie
menghela napas, karena dia tahu benar, bahwa pada saat
menderita luka-luka yang parah itu dia bukan lawan yang
setimpal dari 'Kong Tong Sam Coat Kiam'. Bila sampai
terjadi dia harus turun tangan terhadap mereka, luka-luka
dalam tubuhnya pasti akan bertambah parah lagi. Begitulah
ketika dengan sepatah dua kata dia telah berhasil mengusir
pergi Ie It Hui, barulah dalam hatinya diam-diam dia
merasa girang sekali. Tapi tabib she Louw ini biar apapun yang Kim Ie
katakan, namun dia tidak mau juga mengobatinya. Oleh
karena itu, Tian-mo Kim Ie jadi semakin bingung. Kalau
lukanya itu hanya luka didalam yang biasa saja, dia bisa
mengobati sendiri, tapi luka yang dia derita sekarang,
kekuatannya jauh melebihi tenaga pukulan biasa. Maka dari
itu, tak sembarangan orang dapat menyembuhkannya.
Ie It Hui yang sudah berlari keluar pagar pekarangan
rumah Tabib Sakti itu, lalu berkata pada Cu-kat Beng :
"Orang itu adalah Tian-mo Kim Ie, Suheng, coba kau
katakan, kita harus berbuat bagaimana baiknya ?"
Cu-kat Beng berdiam sejurus, kemudian ia lalu berkata :
"Tian-mo Kim Ie hari ini datang mencari Tabib Sakti untuk
keperluan apakah. sebenarnya " Aku kira dia sendiripun
luka pula."

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar Bwee Hoa Kiam Hiap Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Loo Jie, baik kita letakkan dulu Sumoay dalam hutan
bambu, kemudian kita berdua masuk kembali kedalam
rumah untuk menyelidiki Tian-mo Kim Ie. Karena meski
dia mempunyai tiga kepala dan enam tangan, mustahil
amat kita berdua tak mampu melawannya ?" sambung Cu-
kat Beng. Ie It Hui menyatakan mupakat dan lalu meletakkan
Souw Eng Swat diatas rumput tebal dekat sebuah rumpun
pohon bambu yang besar sekali.
Cu-kat Beng lalu memberi isyarat dengan tangannya,
untuk mengajak adik seperguruannya masuk kembali
kedalam pekarangan rumah tabib she Louw tersebut.
Dengan melalui jendela rumah itu mereka melongok
kedalam. Tampak oleh mereka, Tian-mo Kim Ie sedang
duduk diatas sebuah kursi sedang berpikir.
Setelah itu Cu-kat Beng lalu melontarkan batu Hui-hong-
ciok pada lawannya. Kong Tong adalah salah satu pemimpin dikalangan
Kang-ouw, Li Gok tidak suka menggunakan senjata
rahasia. Diantara murid-murid partai Kong Tong yang
dapat menggunakan senjata rahasia, boleh dikatakan sedikit
sekali, sedangkan senjata yang dipergunakannya hanya
sebangsa batu Hui-hong-ciok saja.
Hal itu membuktikan bahwa partai tersebut sangat
menjunjung tinggi nama partainya.
Dikalangan Kang-ouw Hui-hong-ciok hanya termasuk
senjata rahasia yang sangat umum, oleh karena itu,
sambitan tersebut tentu saja tak dapat mengenai Tian-mo
Kim Ie yang sudah termasuk seorang ahli jempolan dalam
kalangan rimba persilatan. Dengan hanya mengibaskan
sedikit saja tangannya, ia dapat memukul hingga batu Hui-
hong-ciok itu terpental ketempat yang jauh sekali.
Tapi pergerakannya itu sama sekali tidak menandakan
bahwa badannya bergerak barang sedikitpun dari tempat
duduknya semula. Sesaat kemudian perasaan sakit yang
amat telah menyerang pada dadanya, hingga bernafas pun
dirasakannya agak sukar. Cu-kat Beng yang melepaskan batu Hui-hong-ciok ini,
tidak mengharapkan batu tersebut betul-betul menemui
sasarannya. Dan jika ia berbuat juga begitu, ialah semata-
mata untuk mengagetkan dan memancing Tian-mo Kim Ie,
agar dia dapat keluar melalui jendela rumah itu. Tapi ketika
menyaksikan lawan itu tidak menunjukkan aksi sesuatu,
mereka menjadi bertambah heran.
Hati Ie It Hui tiba-tiba bergerak, maka dengan perlahan-
lahan dia lalu berkata pada Cu-kat Beng : "Kenapa setan ini
rupanya datang kemari untuk mencari si Tabib Sakti,
berhubung dia sendiripun telah dilukakan oleh pihak
lawannya. Dia bergerakpun tampaknya tidak mampu, maka
bila kita ingin mengalahkan kepadanya, saat ini adalah
waktu yang paling tepat. Tapi bagaimana pendapat Suheng
pribadi ?" Cu-kat Beng berpikir sejurus dan lalu berkata lagi :
"Tampaknya hari ini kita tak dapat tidak turun tangan
melakukan suatu pertempuran yang menentukan. Keadaan
luka Sumoay kita sangat mengkhawatirkan dan harus
mendapat pengobatan secepat mungkin. Tidak perduli
apakah dia itu terluka ataupun tidak, kesemuanya adalah
sama saja, hanya ......"
"Hanya kenapa ?" tanya Ie It Hui tiba-tiba.
"Hanya bila kita harus melangsungkan pertempuran
dalam rumah tersebut, aku kuatirkan dapat membuat
kejadian perbuatan kita ini menyinggung perasaan si tabib
itu, dengan sendirinya diapun tidak mau pula mengobati
Sumoay kita, bukan " Dengan begitu tidakkah berarti kita
membuat keadaan menjadi lebih kacau saja ?" jawab Cu-kat
Beng pula. Mendengar kakak seperguruannya berkata demikian, Ie
It Hui pun merasa hal itu memang masuk diakal juga.
Maka sekalipun dia sendiri tidak kenal dengan tabib
tersebut, tapi dia memang pernah mendengar tentang adat
tabib yang sangat aneh dan luar biasa itu. Pendeknya, orang
yang berdekatan dengannya pasti baru mengetahui benar
sifat-sifat tabib itu. Setelah berdiam diri sejurus lamanya, Ie It Hui berkata
pula : "Bila demikian halnya, cara bagaimana kita barus
bertindak sebaiknya " Kita meninggalkan Sumoay seorang
diri dalam hutan bambu itu, apakah ini tidak berbahaya ?"
Ie It Hui sangat memperhatikan keselamatan Souw Eng
Swat, maka pada waktu mendengar perkataan Suteenya ini,
dalam hati Cu-kat Beng timbul rasa cemburunya. Dengan
berpura-pura menunjukkan sikap yang besar hati ia
menjawab : "Aku kira tidak akan terjadi sesuatu yang boleh
dikhawatirkan, tapi bila kau tidak merasa tenteram, pergilah
kau mengawasinya." Ie It Hui merasa tidak enak, maka didalam hatinya ia
berkata : "Mengapa kau harus mencemburui aku ?"
"Kalau begitu baiklah," sahutnya kemudian. "Silahkan
Suheng menunggu disini. Bila keadaan mengijinkan,
barulah kau campur tangan. Aku akan pergi keluar dulu
melihat Sumoay." Sehabis berkata begitu, lalu Ie It Hui
pergi keluar. Tiba-tiba Cu-kat Beng menyesalkan dirinya sendiri,
mengapa dia mengijinkan Ie It Hui pergi seorang diri saja
menengok Souw Eng Swat, Ia dan Ie It Hui memang
sedang berlomba-lomba untuk memperebutkan sang
Sumoay ini. Pada hal Souw Eng Swat tidak barang
sedikitpun mencintai mereka, bahkan kadang-kadang dia
merasa jemu terhadap Ie It Hui dan Cu-kat Beng ini.
Justeru disinilah letak keanehan seorang gadis. Bila
seseorang senantiasa gampang saja menunjukkan rasa
cintanya, maka sigadis menganggap bahwa orang yang
menyatakan cintanya dengan terang-terangan itu sebenarnya tidak bersungguh-sungguh cinta terhadapnya.
Tapi bila seseorang itu pura-pura tidak mencintainya, maka
dia akan berbalik menyukai orang itu.
Tian-mo Kim Ie merasakan keadaan badannya mulai
tidak sempurna, hingga napasnyapun sudah mulai tidak
teratur lagi. Maka waktu dia melihat tabib tersebut masih
saja duduk diatas ranjangnya, sudah barang tentu
pertolongan yang diharapkannya takkan berhasil, dan hal
itu akan merupakan harapan yang sia-sia belaka. Sudah itu,
sekarang ditambah lagi dengan 'Kong Tong Sam Coat
Kiam' yang tampak menghadang dihadapannya.
Hatinya yang memang sangat kejam itu, diperlihatkannya bila dia hendak mengerjakan sesuatu. Bila
belum tercapai maksudnya, dia tidak akan berhenti sampai
disitu saja. Sedangkan ayah dan ibu kandungnya senjri dia
sampai hati membunuhnya, apalagi terhadap jiwa orang
lain, dimanalah dia mau memandang sebelah matapun "
Pada saat itu nafsu membunuhnya telah mulai
memuncak pula, maka dengan diam-diam dia berpikir :
"Sitabib bangsat ini rupanya tidak mau mengobatiku, dari
itu, akan kubikin dia tidak mampu pula mengobati orang
untuk selama-lamanya !"
Begitulah setelah mengambil suatu ketetapan, lalu dia
tertawa kecut. Yang menjadi tertawaannya itu ialah karena
dia yakin, bahwa tindakan liarnya itu pasti menggagalkan
juga segala maksud kedatangan 'Kong Tong Sam Coat
Kiam'. Kemudian dia bayangkan bahwa dikemudian hari orang-
orang dikalangan Kang-ouw yang menjadi cidera tentu tak
akan ada orang yang dapat menyembuhkannya. Oleh
karena itu, maka hatinya menjadi girang dan puas sekali
dengan rencananya ini. Diam-diam dia berkata pada
dirinya sendiri : "Bila aku berbuat demikian, sudah pasti
dapat mengakibatkan banyak orang turut merasakan juga
akibatnya." Begitulah sambil menahan sakit yang dideritanya, dia
lalu bangun berdiri, dengan cepat sekali dia menghampiri
ranjang dimana tabib itu berbaring, kemudian terdengar
suara 'pak' yang nyaring sekali. Suara itu adalah suara
sesuatu yang dipukulkannya kearah batok kepala tabib
tersebut. Sesudah melakukan perbuatan kejam itu, Tian-mo
Kim Ie lalu meloncat keluar melalui jendela dan
bayangannyapun dalam seketika saja hilang lenyap entah
kemana perginya. Cu-kat Beng dari luar jendela tiba-tiba tidak melihat pula
Kim Ia selain tabib itu yang tampak lagi berbaring diatas
pembaringan. Setelah berselang sejurus, dengan perasaan
yang sangat terkejut dia bertanya : "Louw Loo-sinshe, kau
kenapa ?" Dengan lemah sekali tabib tersebut membuka matanya,
pandangannya pada saat itu sudah sangat kabur sekali,
maka dengan memaksakan diri dia berkata : "Lekas kau
tolong ambilkan obat yang terletak dipara-para sebelah
kanan, botol ketiga yang berwarna hijau itu. Lekas, lekas !"
Cu-kat Beng buru-buru pergi kepara-para sebelah kanan
dan mengambil botol hijau yang bentuknya sudah sangat
kuno dan menyerahkannya kepada tabib itu.
Sekalipun pukulan Kim Ie dikepala Tabib Sakti akan
membawa kematiannya, tapi hal itu justeru telah membuka
jalan darahnya. Namun dia masih dapat berbicara, sedang
kaki dan tangannyapun masih dapat bergerak-gerak. Sejurus
kemudian Louw Ciang menyuruh Cu-kat Beng mengambil
3 butir pil dan memasukkan kedalam mulutnya.
Cu-kat Beng lalu membuka tutup botol obat itu dan
mengambil tiga butir pil yang bening dan harum baunya,
lalu diberikannya pada tabib itu. Dalam hatinya ia berpikir :
"Obat ini tentu obat yang paling mujarab untuk
menyembuhkan luka-luka didalam tubuh yang bernama
Tui-hun-tan itu." Obat 'Tui-hun-tan' dari Tabib Sakti ini, adalah obat
istimewa untuk menyembuhkan luka-luka dibahagian
dalam tubuh yang khasiatnya sangat mujarab sekali. Orang-
orang dikalangan Kang-ouw banyak yang mengetahui,
bahwa obat buatan tabib she Louw ini bukan main
mustajabnya. Juga obat ini bukanlah sembarangan orang
dapat memintanya. Setelah Cu-kat Beng memasukkan tiga butir 'Tui-hun-tan'
itu kemulut tabib tersebut, lalu dengan diam-diam dia
memasukkan botol pil tersebut kedalam saku baju
didadanya. Setelah obat pil ini ditelan semangat tabib tersebut
tampak menjadi lebih baik, maka dengan segala daya dia
telah memaksakan dirinya untuk duduk dengan mata
dipejamkan. Sesaat kemudian sambil menarik nafas
panjang dia membuka matanya.
Dengan perasaan simpati Cu-kat Beng segera bertanya :
"Apakah Louw Loo-sinshe merasa baikan ?"
Tabib Sakti itu lalu menarik nafas panjang dan
menggelengkan kepalanya sambil berkata : "Tian-mo Kim
Ie adalah seorang ahli silat yang sangat tangguh, dalam
segala hal ini terbukti setelah menderita luka-luka berat, dia
masih mempunyai tenaga pukulan yang demikian
kuatnya." Kemudian dia menarik nafas lagi berulang-ulang dan lalu
berkata pula : "Kepalaku telah dipukulnya satu kali dengan
pukulan yang membahayakan sekali, maka pada saat ini
walaupun aku menggunakan obat dewa, tidak urung jiwaku
sukar dapat ditolong pula !"
Cu-kat Beng lalu menghiburnya sambil berkata : "Tidak
mungkin ......" Sekonyong-konyong dengan amat marahnya tabib itu
telah membentaknya : "Apa yang tidak mungkin, akulah
yang lebih tahu daripadamu !"
Begitu dia marah, serta merta keadaan badannya
menjadi tergoncang. Tiba-tiba dia batuk-batuk panjang selama beberapa
menit. Setelah batuknya berhenti, dia melanjutkan
perkataannya : "Aku tidak ...... tidak mungkin, ai, hanya
disayangkan yang ilmu tabibku ini tidak ada ......" Baru saja
dia habis mengucapkan perkataannya 'da', tiba-tiba kedua
matanya terbalik, sedangkan pernafasannya pun berhenti
seketika itu juga. Ternyata dia telah menghembuskan
napasnya yang penghabisan ! Rupanya pukulan Tian-mo
Kim Ie yang mengenai kepala tabib ini, betul-betul
menggegerkan otaknya sehingga ia mendadak jatuh
semaput. Tak seorang pun dapat menahan tenaga pukulan
Kim Ie yang sangat luar biasa ini. Tabib Sakti itu hanya
dapat mempertahankan dirinya hingga beberapa menit saja
lamannya. Dia sendiri sehari-harian selalu merawat dirinya
dengan sempurna, dan meski tenaga dalamnya bagaimana
hebat sekalipun, juga biarpun ia menelan tiga butir 'Tui-
hun-tan' yang seperti obat dewa itu, tidak urung tak dapat
menolong jiwanya sendiri.
Begitu dia mati, Cu-kat Beng menjadi sangat gugup
sekali, hingga diam-diam dia berpikir pada dirinya sendiri :
"Tidak disangka begitu aku sampai, jiwanya pun lantas
melayang. Sungguh sial sekali !"
Cu-kat Beng betul-betul mempunyai kepribajan yang
sangat tipis sekali. Melihat matinya Tabib Sakti tersebut,
sedikitpun dia tak mempunyai perasaan sedih atau simpati,
bahkan sebaliknya dia hanya merasa dirinya saja yang
bernasib malang ! Pada saat itu diluar rumah terdengar suara ketrikan jari
orang yang datangnya dari dalam hutan bambu. Mendengar
hal itu, Cukat Beng sadar bahwa Ie It Hui tentu
memanggilnya karena timbul

Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar Bwee Hoa Kiam Hiap Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sesuatu yang tidak diharapkan. Sebelum ia meninggalkan rumah itu, ia menoleh kearah
para-para obat tersebut. Disebelah kanan para-para itu
masih terdapat beberapa botol yang berwarna hijau. Waktu
dia hendak pergi, dia ingin mengambil botol-botol obat itu,
tapi tiba-tiba dia berpikir : "Sekalipun aku ambil obat-obat
ini, aku tidak tahu obat-obat ini untuk menyembuhkan
penyakit apa. Lagi pula aku tak tahu cara bagaimana untuk
menggunakannya." Oleh karena itu, dia tidak jadi
mengambilnya dan lantas dia lari keluar menuju kehutan
bambu tersebut. Baru saja dia melewati pagar rendah yang terbuat
daripada bambu, hatinya menjadi sangat terkejut sekali,
karena didapatinya diluar pagar dihutan bambu tersebut
selain Ie It Hui dan Souw Eng Swat, tampak pula tiga orang
yang lainnya. Dua orang diantaranya memakai jubah Too-
su yang berwarna biru, sedangkan yang seorang lagi
memakai baju biasa, tampak menyandarkan tubuhnya
kebadan kedua orang Too-su yang tampaknya dalam
keadaan luka. Oleh karena itu, dengan segera dia melompat keluar
menuju kearah Ie It Hui. Waktu matanya memandang,
ternyata pihak lawannya itu adalah Leng Hong Tojin dari
Bu-tong-pay, dan yang satu lagi ialah murid keturunan
kesembilan dari partai tersebut, sedangkan yang terluka itu
adalah Sin-ho Tam Peng. Ternyata Sin-ho Tam Peng yang kena pukulan Ie It Hui,
keadaan lukanya cukup berat, sekalipun dia sudah lama
beristirahat digunung Bu-tong-san dan menelan entah
berapa banyak obat yang manjur-manjur, tapi keadaan
lukanya sedikitpun tidak berubah. Oleh karena itu, mereka
datang kesitu untuk meminta pertolongan dan pengobatan
dari Tabib Sakti ini. Pada saat itu dan ditempat yang sama, mereka kedua
belah pihak bertemu pula, hati masing-masing sangat benci
dan dendam. Begitupun masing-masing pihak sama-sama
mengetahui, bahwa kedatangan mereka kesana pun semata-
mata untuk meminta obat. Setelah masing-masing pihak saling memandang sesaat
lamanya, Leng Hong Too-jin tanpa mengucapkan sepatah
katapun, lalu membimbing tangan Sin-ho Tam Peng masuk
kerumah Tabib Sakti tersebut, maka tiba-tiba Cu-kat Beng
berkata dengan suaranya yang bernada rendah : "Mari kita
segera pergi." Ie It Hui melihat wajah Cu-kat Beng bersungguh-
sungguh, dia yakin telah terjadi sesuatu yang tak
diinginkan, maka sambil buru-buru mendukung Souw Eng
Swat, lekas-lekas ia pergi keluar dari hutan bambu itu.
Dia merasakan bahwa nafas Souw Eng Swat sangat berat
sekali, tampaknya sudah kembung-kempis saja, maka tidak
terasa lagi dia bertanya dengan gugup : "Luka Sumoay
bagaimana dirawatnya ?"
Cu-kat Beng menjawab : "Jangan khawatir, aku telah
mengambil satu botol obat mujarab dari Tabib Sakti
tersebut." Ie It Hui dengan perasaan ragu-ragu lalu berpikir pada
dirinya sendiri : "Kenapakah Tabib Sakti ini sekarang
dengan secara tiba-tiba menjadi begitu dermawan sekali dan
mau menyerahkan obat 'Tui-hun-tan'-nya pada Cu-kat Beng
?" Sekonyong-konyong dia berseru : "Sumoay !" Lalu dia
ulurkan tangannya meraba hidung Souw Eng Swat, dan
dengan perasaan kaget sekali dia berkata : "Celaka,
pernafasan Sumoay agaknya sudah berhenti menghembus
!" Pada saat itu mereka sudah melampaui hutan bambu
tersebut. Sambil berjalan disamping kereta mereka. Cu-kat
Beng lalu memandang kebelakang sambil mengeluarkan
sebotol obat yang berwarna hijau dan berkata : "Tui-hun-tan
ini baik ditelankan kemulut Sumoay sebanyak tiga butir,
obat ini pasti akan menolongnya."
Belum lagi perkataan ini habis diucapkannya, dari dalam
hutan bambu tersebut berkelebat satu bayangan manusia,
yang sekonyong-konyong berhenti dimuka mereka. Dengan
tertawa dingin orang tersebut berkata : "Sungguh kejam
sekali kamu 'Kong Tong Sam Coat Kiam' ! Ternyata kalian
telah membunuh mati Tabib Sakti itu !"
Lalu dengan ekor matanya dia melirik kearah botol obat
yang sedang dipegang oleh Cu-kat Beng, dengan mana ia
melanjutkan perkataannya : "Bahkan kalian telah mencuri
juga obat 'Tui-hun-tan' pula. Hmmm ! Ternyata ahli pedang
seluruh jagat telah menghasilkan murid yang sangat baik
sekali !" Waktu Ie It Hui mendengar bahwa Tabib Sakti itu sudah
meninggal dunia, dia menjadi sangat terkejut juga. Cu-kat
Beng pun sambil tertawa hambar lalu berkata : "Too-su dari
Bu-tong-pay pun ternyata lihay juga, ya " Tanpa
membedakan hijau merah ataupun putih lagi, lalu
sembarangan saja menuduh orang !"
Leng-Hong Tojin tertawa pula sambil berkata : "Bagus,
aku telah menuduhmu." Sehabis berkata begitu, lalu dia
kembali masuk kedalam hutan bambu itu. Kemudian Cu-
kat Beng memandang pada Ie It Hui, yang tampaknya
sangat curiga terhadapnya dan berkata : "Lekas naik kereta,
sebentar lagi akan aku jelaskan duduknya perkara yang
sebenar-benarnya." Ternyata para too-su dari Bu-tong-pay sekalipun ribut
mulut dengan Cu-kat Beng, tapi masing-masing pihak
mementingkan untuk menolong kawannya lebih dahulu,
oleh karena itu, lalu mereka mengambil jalan sendiri-
sendiri. Hal ini, baiklah untuk sementara kita tinggalkan dahulu.
Sekarang kita balik meninjau pemuda Lie Siauw Hiong.
Pada saat dia ditawan musuhnya, ternyata dia tidak
kehilangan ingatan. Dia tidak bisa berbicara ...... kaki dan tangannyapun
tidak dapat digerakkannya, karena ia dikempit dan dibawa
pergi oleh Biu Chit Nio. Hanya disamping badannya, dia
merasa angin menghembus amat kencangnya. Pada saat itu
lawannya melarikannya dengan amat cepatnya. Tadinya
dia merasa bahwa ilmu kepandaian meringankan tubuhnya,
'Am-eng-pu-hiang' sudah terlatih sempurna, tapi tak
disangka-sangka kepandaian lawannya ini jauh melebihi
kepandaiannya sendiri. Kini ia insyaf, bahwa ilmu tersebut
tidak dapat dipelajari sampai pada sesuatu batas tertentu,
karena bila seseorang mempunyai kepandaian yang sangat
tinggi, maka pasti ada lain orang yang dapat melebihi
kepandaiannya. Begitulah orang didunia ini dalam
menuntut ilmu selalu atas mengatasi tanpa habis-habisnya.
Kemudian Lie Siauw Hiong berpikir tentang keselamatan dirinya, maka diam-diam dia berpikir :
"Apakah kesalahan yang telah kuperbuat terhadap orang
aneh dan luar biasa ini " Mengapa dia secara mendadak
sekali mengancamku ?"
Lie Siauw Hiong hanya dapat mengeluh saja, tapi pada
saat itu bernafaspun dirasakannya agak sulit. Kaki dan
tangannya mulai merasa agak kesemutan.
Penderitaannya pada saat itu adalah suatu pengalaman
pahit getir yang tak dapat dilukiskannya dengan kata-kata.
Begitulah untuk pertama kalinya Lie Siauw Hiong
merasa dirinya terkena totok orang, maka dalam kegugupan
serta kemarahannya, membuat perasaan membenci lawannya tidak terhingga besarnya. "Sekali ini bila aku
dapat melarikan diri, aku akan berlatih lebih giat lagi,
kemudian setelah sempurna, akan kupertunjukkan hasil
godokan ilmuku itu pada Biu Chit Nio ini." Tapi tak tahu ia
siapakah orang yang telah menotoknya itu. Laki-lakikah,
atau perempuankah ia itu "
Tapi hidungnya segera menangkap bebauan yang harum
sekali. Bau itu bersumber dari badan Biu Chit Nio. Begitu
dia menyedot dalam-dalam hawa tersebut, diam-diam dia
berpikir : "Bau ini ternyata tidak jauh bedanya dengan bau
yang dipancarkan oleh Leng Moay-moay." Kembali dia
menghisap hawa tersebut sambil memikirkan diri Kim
Bwee Leng : "Sekarang mungkin Kim Bwee Lang sudah
mati karena menanggung perasaan kesal."
Karenanya, pikiran Lie Siauw Hiong menjadi gundah
gulana dan kacau-balau. Tiba-tiba ia merasa angin
disamping badannya berbenti berhembus, cepat dia
memusatkan seluruh perhatiannya.
Sambil memandang keempat penjuru, ternyata dia sudah
berada dalam satu ruangan dari sebuah kapal pula.
Hatinya bertambah gusar, akhirnya dia berpikir :
"Mengapa kini aku berada didaerah perairan " Dan diatas
kapal siapakah aku gerangan ?"
Biu Chit Nio telah membantingkan tubuh Lie Siauw
Hiong dilantai kapalnya. Si pemuda yang dibantingkannya
itu tulang tubuhnya merasa seakan-akan hancur luluh dan
tak terperikan sakitnya. Nafasnya sengal-sengal.
Pada saat itu selain kehilangan kebebasannya, diapun tak
bisa bergerak. Tubuhnya terbaring dilantai kapal tersebut,
berkeluk berpangku lutut, hingga amat tak sedap dipandang
mata. Bu Heng Seng yang sudah banyak mengerahkan
tenaganya itu, kelihatan dipantai tersebut bulak-balik dua
kali, membuat air sungai tersebut bergolak-golak, tapi ia tak
juga berhasil menemukan bayangan orang yang sedang
dicari-carinya itu. Maka dengan penuh kemarahan dan
kemendongkolan lalu kembali kekapalnya. Sewaktu dia tiba
kekapalnya, ternyata orang yang sedang dicari dan hendak
ditangkapnya itu sudah berada disitu.
Biu Chit Nio sambil tertawa berkata pada Bu Heng Seng
: "Biasanya kau mengatakan aku seorang bodoh, tapi
sekarang justeru adalah giliranku untuk menyebut kaulah
yang bodoh, bukan ?"
Sambil tertawa getir Bu Heng Seng menyahut : "Anak ini
ternyata sangat cerdik sekali."
Thio Ceng waktu melihat 'pemuda yang bermata besar
ini' kena tertangkap oleh ibunya, kembali hatinya kaget
bercampur gembira, kagetnya ialah entah apa gerangan
yang hendak dilakukan terhadap pemuda ini oleh ayah dan
ibunya, gembiranya ialah karena dia dapat berjumpa
kembali dengan pemuda ini.
Biu Chit Nio lalu berkata kepada Bu Heng Sang :
"Apakah kau sudah menanyakan dengan sejelas-jelasnya
mengenai saputangan itu ?"
Bu Heng Seng menjawab : "Saputangan itu benar
kepunyaannya, dan dia sendiripun telah mengakuinya."
Biu Chit Nio dengan suara yang sangat benci dan gemas
lalu berkata : "Aku ingin membawanya pulang kepulau kita,
untuk membawa dia kemakam Kiu Moay, kemudian
barulah aku membunuh dia untuk dijadikan barang sajian,
sebagai balasan atas kekejamannya dahulu."
Dengan gugup Thio Ceng berkata : "Kenapakah kita
harus kembali kepulau ?" Kemudian dengan suaranya yang
perlahan dia berkata pula : "Aku tidak mau turut !
Bukankah ayah pernah meluluskan permintaanku, untuk
bermain-main sepuas-puasnya ditempat ini " Sekarang
belum lagi aku dapat bermain-main dengan puas, tapi
mengapa mendadak sontak hendak pulang kembali kepulau
kita yang amat kecil itu " Sungguh-sungguh membuat aku
mati berulam jantung karena kesal dan kesepian disana !"
Dengan tertawa Bu Hang Seng berkata : "Apa yang kau
katakan, pulau Bu-khek-too kita tidak enak untuk bermain-
main " Orang-orang dikalangan Kang-ouw diseluruh dunia
ingin pergi kepulau kita itu, dan orang-orang biasa kesana
sengaja untuk berparawisata."
Dengan perasaan yang amat terkejut, Lie Siauw Hiong
berpikir : "Ternyata orang ini adalah pemilik dari pulau Bu-
khek-too, kenapakah aku hendak dibawanya kesana " Dan
apakah kesalahan yang telah kuperbuat terhadap Tong Hay
Sam Sian (Tiga Dewa dari Lautan Timur) ini ?"
Segala-galanya ini hanya Yang Maha Esalah yang tahu.
Sambil memonyongkan mulutnya dan dengan suara
yang amat merdu, Thio Ceng lalu berkata : "Mereka ingin
datang adalah urusan mereka sendiri, aku ......"
Sambil mengerutkan keningnya Bu Heng Seng membentak : "Jangan kau banyak cakap ! Jika ingin pergi
bermain-main di Tiong-Goan, waktunya masih banyak
dikemudian hari. Tapi kini kita harus kembali kepulau
sekarang juga." Mata Thio Ceng menjadi merah, air matanya mulai
jatuh berderai-derai. Biu Tihit Nio lalu memeluk anaknya Thio Ceng ini
kedadanya sambil berkata dengan lemah-lembut : "Anak
goblok, kau mengapa harus berlaku begitu kesusu " Ayah
dan ibumu tentu saja tidak hendak memaksa kau berdiam
seumur hidup dipulau Bu-khek-too. Dikemudian hari kau
harus menikah dan bila kau sudah menikah, kau boleh pergi
kemana kau suka untuk bermain-main. Coba kau katakan,
benar tidak ?" Saking merasa malu, muka Thio Ceng menjadi merah
saga. Tanpa disadarinya apa sebabnya, dia selalu terkenang
pada 'pemuda bermata besar' yang sedang terbaring dilantai


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar Bwee Hoa Kiam Hiap Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kapalnya ini. Dia berpikir : "Asal saja dikemudian hari dia dapat
menemani aku bermain-main, alangkah baiknya. Tapi bila
mereka sudah kembali kepulau, dia pasti akan dihukum
oleh ayah dan ibuku."
Oleh karena berpikir begitu, tidak terasa lagi hal ini
menjadi pukulan bathinnya yang sangat hebat.
Biu Chit Nio lalu mengusap-usap rambut anaknya yang
sangat bagus itu, dan sambil menunjuk kearah tubuh Lie
Siauw Hiong dia berkata : "Tapi kau dikemudian hari
jangan sekali-kali menikah dengan orang semacam dia ini.
Dia adalah she Bwee, namanya San Bin. Ah-iepun justeru
karena kesal terhadapnya, sehingga menyebabkan dia
sampai meninggal dunia. Ibumu akan membunuhnya,
untuk membalaskan sakit hati Ah-iemu !"
Pada saat itu Lie Siauw Hiong merasa sangat terkejut,
setelah mendengar ibu Thio Ceng yang menjelaskan halnya
tadi. Barulah sekarang dia insyaf, apa maksud orang ini
sebenarnya menangkapnya mati-matian. "Oh, ternyata
urusan ini bersangkut-paut dengan urusan Siok-siok. Ia
menganggap aku Bwee San Bin, alangkah malang dan
celakanya nasibku ini. Tapi sebaliknya bila tidak ada Bwee
Siok-siok, aku mana bisa mempunyai hari depan seperti
hari ini " Tentu lama sebelumnya mungkin aku sudah mati
dipuncak gunung Ngo-hoa-san. Sekarang aku mewakilkan
dia untuk mati. Hal itu aku tidak berkeberatan untuk
sekedar guna membalas budinya."
Kemudian dia melanjutkan perasaan hatinya : "Tapi cara
kematianku ini sungguh-sungguh terlampau tidak berharga
dan keterlaluan. Apakah yang telah diperbuat Bwee Siok-
siok terhadap 'Kiu Ah-ie' ini " Dan apakah barangkali Bwee
Siok-siok telah menganiaya Kiu Ah-ie ini, sehingga
akhirnya dia mengalami kematiannya ?"
Sekonyong-konyong dia teringat pada hari pertama
waktu pertama kalinya dia tiba dirumahnya Bwee San Bin.
Pada saat itu dirungan depan dia mendengar 'Hauw Jie
Siok'-nya pernah mengatakan hal itu kepadanya, tapi pada
waktu itu dia sama sekali tidak mengerti persoalannya.
Tetapi sekarang hal ini sudah menjadi terang benderang
baginya, hingga diam-diam dia berpikir : "'Kiu Ah-ie' ini
mungkin juga setelah mendengar Bwee Siok-sioknya telah
meninggal dunia, lantas dia pergi menuntut balas, tapi
akhirnya diapun binasa, entah kenapa tidak diketahui. Apa
lagi pemilik pulau Bu-khek-too ini mempunyai ilmu
kepandaian silat yang sangat tinggi sekali, tapi meskipun
demikian orangnya sangat sembrono. Karena belum lagi dia
menyelidiki duduk perkara sebenarnya mengenai kematian
Ah-ie ini, dan belum pula bertanya secara cermat pada
orang yang bersangkutan, dia mengira Lie Siauw Hiong
adalah Bwee Siok-sioknya sendiri yang telah mencelakai
dia. Ai, bukankah hal ini merupakan satu kekeliruan yang
besar sekali ?" Kendatipun hatinya berpendapat demikian, tapi ia tak
dapat mengatakannya. Dan saking gugupnya, dahinya
menjadi basah dengan keringat.
Dengan tertawa dingin Biu Chit Nio lalu berkata : "Kau
ternyata takut mati juga, ya ?"
Lalu Biu Chit Nio bertepuk tangan, kemudian datang
dua pemuda yang berbadan tegap. Mereka ini adalah kelasi-
kelasi. Biu Chit Nio lalu memerintahkan mereka sambil berkata
: "Putar haluan ke Timur, kita akan pulang kembali."
Kedua kelasi tersebut dengan berlaku hormat sekali
menyatakan menurut perintah. Dan bersamaan dengan itu,
Biu Chit Nio pun berkata lagi : "Lekas bawa orang ini
ketempat simpanan barang-barang dibagian belakang dari
ruangan kapal kita ini. Setiap hari beri dia makan sedikit
bubur, jangan biarkan dia mati kelaparan ditengah
perjalanan." Karena marahnya, dari tujuh anggota badan Lie Siauw
Hiong seolah-olah mengeluarkan
asap. Dia dapat membedakan orang dengan baik sekali. Tidak perduli
apakah orang itu berbudi ataukah bermusuhan dengan dia,
dia pandang hal tersebut dengan sama pentingnya. Bagi
orang yang baik terhadapnya, dia akan berusaha untuk
membalas kebaikan terhadap orang itu, dan jika orang itu
berlaku jahat terhadapnya, diapun akan berikhtiar pula
untuk membalasnya. Maka disaat itu kebenciannya
mencapai puncaknya terhadap Biu Chit Nio.
"Asal saja aku tidak mati, aku akan memberi pelajaran
terhadap perempuan itu," pikirnya. Setelah dia mengambil
keputusan ini, diapun akan berdaya-upaya untuk membalasnya. Kemudian dia merasakan tubuhnya seakan-akan sehelai
papan saja, dilemparkan kesana-kemari seenaknya dilantai
kapal. Tapi waktu tubuhnya hendak dibawa keluar, dia melihat
muka gadis cilik yang berbaju putih itu tengah memandang
kepadanya dengan pandangan yang menunjukkan rasa
kasihan terhadapnya. Hal ini membuat hatinya merasa
terharu sekali. Namun pandangan Lie Siauw Hiong ini sebentar saja,
karena tubuhnya sudah dibawa keluar. Kedua kelasi ini
memperlakukannya sangat kasar sekali, dia tidak menganggap Lie Siauw Hiong seperti orang, melainkan
seperti barang saja. Dia melihat dilangit sebuah sinar terkilas, sewaktu dia
dilemparkan keruangan kapal yang amat gelap gulita itu.
Dia seperti orang yang sudah mati saja, berbaring diruangan
kapal yang gelap itu. Sekian kali badannya dilemparkan agak jauh, sekian kali
pula dia merasa badannya semakin sakit. Diruangan kapal
dimana terakhir ia dilemparkan, ia mencium bau busuk
yang sangat menusuk hidung dan sukar dapat ditahan
hingga kepalanya dirasakan sangat pusing sekali.
Sedikitpun Lie Siauw Hiong tidak pernah menduga,
bahwa dirinya akan mengalami peristiwa sepahit itu.
Saking marahnya, seakan-akan dia hendak muntahkan
darah saja rasanya. Tapi biar bagaimanapun ia tidak berdaya sama sekali,
apalagi ilmu totokkan pemilik pulau Bu-khek-too ini dapat
membikin orang yang tertotok sukar bernafas.
Ilmu totokan tersebut ternyata lebih lihay daripada
totokan partai Tiam Cong yang disebut ilmu 'Chit-coat-
tiong-ciu'. Sekarang baru dia tahu bahwa dirinya telah mengalami
kekalahan, hingga kini terpaksa dia berlaku tenang dan
tidak ingin melakukan pergerakan apa-apa.
Entah sudah berapa lama waktu sudah berlalu, kelasi
yang kasar itu berjalan masuk, lalu dengan menggunakan
mangkok besar yang berisikan bubur mereka membuka
mulut Lie Siauw Hiong, kemudian menuangkan semua isi
bubur itu ketenggorokan si pemuda.
Bubur itu sedang panas-panasnya, sehingga tenggorokan
Siauw Hiong terasa melepuh. Penderitaannya ini membuat
hatinya serasa ditusuk-tusuk dan diiris-iris dengan sembilu.
Karena bila dia tidak mau, dia tidak berdaya sama sekali,
maka orang-orang tersebut merasa lebih senang lagi dapat
memperlakukan pemuda ini dengan cara demikian
berulang-ulang, dan tidak lama kemudian dia datang lagi
dengan membawa pula sebuah mangkok berisikan bubur
panas. Begitulah dalam waktu yang pendek sekali, dia
sudah memberi makan bubur pada pemuda itu beberapa
kali. Akhirnya Lie Siauw Hiong merasa perutnya sudah
kembung, sehingga dia tidak berdaya untuk mencegahnya.
Setelah menelan bubur itu sebanyak enam atau tujuh
mangkok, dia sesungguhnya sudah tidak tahan lagi.
Perbuatan ini lebih kejam daripada hukuman apapun
jua, apa lagi bubur tersebut masih panas sekali.
Waktu masuk kekerongkongannya, terasa olehnya sakit
sekali, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya penderitaannya lahir-batin yang ditanggungkannya dewasa
itu. Kesemuanya ini membuat dia semakin bertambah benci
saja terhadap Biu Chit Nio.
Sekonyong-konyong terdengar suara langkah kaki orang
yang mendatangi lagi. Mendengar ini Lie Siauw Hiong
tambah mengeluh. Dia mengira bahwa mereka yang sedari
tadi bertubi-tubi memberi makan bubur panas kepadanya,
kini mendatangi lagi. Ia terpaksa memejamkan matanya
rapat-rapat. Pada saat itu dirasakannya ada sebuah tangan yang licin
dan halus mengusap-usap mukanya. Tangan tersebut
bukanlah tangan yang berbulu, tapi licin dan putih halus
melebihi batu giok layaknya. Lagi pula orang tersebut
membawa bau badan yang sangat harum sekali.
(Oo-dwkz-oO) Jilid 13 Lie Siauw Hiong lalu membuka matanya. Selama
sepuluh tahun dia melatih diri dikamar batunya, dia sudah
biasa melihat barang-barang ditempat gelap dengan tak
ubahnya seperti disiang hari saja, maka pada saat itu tentu
saja dia dengan mudah dapat melihat sebuah wajah yang
sangat cantik jelita. Wajah yang dilihatnya itu lalu tertawa, sehingga dikedua
pipinya kelihatan lesung pipitnya yang manis menggiurkan,
seakan-akan sekuntum bunga yang sedang mekar.
Perasaan hatinya menjadi sangat sedap. Bahkan sejak
lahir, dia sudah mempunyai perasaan yang sangat berkesan
dan memuji akan 'kecantikan', apa lagi dibawah pimpinan
Bwee San Bin yang sedemikian lamanya, maka perasaan ini
dengan sendirinya semakin berkembang segar saja.
Perasaan mana, bukanlah setiap orang dapat mangertinya. Hal itu baru didapatkannya setelah mangalami banyak hal-hal yang bersangkutan dengan
kecantikan yang sangat mahal sekali nilainya ini. Pada saat
itu ketika melihat kecantikan yang luar biasa ini, dalam hati
Siauw Hiong tidak pernah timbul perasaan yang bukan-
bukan, selain merasa dirinya lebih dekat kepada orang yang
bersangkutan itu. Waktu Thio Ceng merasa dirinya dipandang begitu rupa
oleh Lie Siauw Hiong, diapun lalu tertawa dengan
manisnya dan dalam hatinya dia telah mengambil
keputusan yang pasti, yaitu : "Melepaskan Lie Siauw Hiong
supaya dia dapat melarikan diri."
Sekalipun dalam hatinya dia merasa serba salah, tapi dia
tahu asal saja dia dapat melepaskan 'pemuda bermata besar
ini' untuk melarikan dirinya, maka dikuatirkannya
dikemudian hari dia tak mempunyai kesempatan lagi untuk
saling berjumpa kembali dengannya.
Tapi dia tak sampai hati akan ayah dan ibunya sampai
membunuh pemuda ini, sekalipun pemuda ini telah
membuat kesalahan, yang menurut perkiraannya, kesalahan
Lie Siauw Hiong itu belum patut mendapat ganjaran
hukuman mati. Gadis yang masih murni ini sangat besar sekali perasaan
kasihnya terhadap pemuda ini. Perasaan 'cinta' dan 'benci'
dari pemuda ini jauh lebih besar bila dibandingkan dengan
perasaan 'benar' dan 'salah', perasaan mana dirasakan juga
Thio Ceng pada saat itu. Dengan suara yang perlahan dia berkata : "Aku akan
melepaskan kau. Kapal ini berjarak dekat sekali dengan
pantai, kau pasti dapat melarikan dirimu. Kau harus lekas-
lekas melarikan diri, bila tidak ingin diketahui oleh orang
tuaku." Jempol kanannya lalu menekan jalan darah 'Bun-hiang-
hiat' dibawah hidungnya, lantas tangannya dengan cepat
menepuk dua kali didada dan perut pemuda itu, maka pada
saat itu juga tubuh Lie Siauw Hiong yang kaku itu segera
dapat bergerak kembali dengan leluasa.
Kini dengan sedikit gerakan saja, ia lalu berdiri
dihadapan Thio Ceng, yang pada saat itu juga hidungnya
dapat menangkap bau-bauan yang wangi dari tubuh pemudi
itu. Pada saat itu seakan-akan dunia ini penuh oleh wangi-
wangian yang semerbak baunya. Mereka merasakan bahwa
dunia ini seolah-olah tiada berpenghuni, selain mereka
berdua saja. Mereka seakan-akan dapat mendengar debaran jantung
masing-masing. Lie Siauw Hiong berdiri terpaku seketika,
otaknya terasa sangat kosong, hingga dia tidak tahu lagi
perkataan apa yang baik yang harus diucapkannya
dihadapan pemudi itu. Setelah berselang lama juga dengan penuh kegugupan,


Pendekar Pedang Sakti Munculnya Seorang Pendekar Bwee Hoa Kiam Hiap Karya Liong Pei Yen di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Thio Ceng berkata : "Kau lekas lari, kalau sampai ketahuan
oleh ayah, pasti hal ini tidak mungkin dapat kau lakukan !"
Dimulut ia berkata begitu, tetapi dalam hati sebenarnya dia
tak ingin ditinggalkan oleh pemuda yang bermata besar ini.
Lie Siauw Hiong sambil menekan perasaan hatinya yang
rindu, segera menggerakkan kaki dan tangannya mencelat
keluar dari dalam kapal bagaikan seekor burung kepinis
gesitnya. Sementara Thio Ceng lalu mengantarkan
bayangan Lie Siauw Hiong dengan didalam hatinya
berpikir : "Perpisahan pada kali ini, bilamanakah kiranya
dapat berjumpa lagi ?"
Diluar kapal yang sedang berlabuh dengan tenangnya
itu, keadaan sangat gelap sekali. Jarak kapal dari pantai tak
seberapa jauh, tepat seperti apa yang dikatakan oleh Thio
Ceng tadi, yang kalau diukur jaraknya, kurang lebih tujuh
atau delapan tombak jauhnya. Jarak sejauh itu bagi Lie
Siauw Hiong bukanlah merupakan suatu halangan yang
sulit. Maka dengan sekali mencelat saja, tubuhnya sudah
melayang sejauh lima tombak lebih, kemudian lalu
digerakkannya tubuhnya kembali, untuk dapat melayang
mencapai daratan. Keadaan disana-sini sunyi-senyap, hingga hanya suara
air mengalir saja yang terdengar, tapi dalam kesunyian
malam itu tiba-tiba terdengar suara dingin yang berkata :
"Bagus !" Sekalipun suara itu kaku, tetapi gemanya jelas
terdengar diudara. Sewaktu baru saja kakinya menginjak pantai, sekonyong-
konyong dari sampingnya berkelebat satu bayangan orang,
ternyata dihadapannya berdiri seorang yang memakai
pakaian yang berwarna putih.
Dalam waktu sekejap itu saja, hatinya tiba-tiba berpikir :
"Mustahilkah dia tidak mengijinkan aku melarikan diri, lalu
dia datang mengejar lagi ?" Ketika dia menatapkan
matanya memandang dengan cermat, tidak terasa lagi
semangatnya melayang keudara.
Orang yang berdiri dimukanya adalah seorang anak
sekolah yang berpakaian putih, yaitu pemimpin pulau Bu-
kek-too. Tadinya Lie Siauw Hiong menduga, bahwa orang
tersebut adalah gadis Thio Ceng adanya.
Dengan suara yang dingin Bu Heng Seng berkata :
"Apakah kau pikir kau akan dapat melarikan diri ?"
Lie Siauw Hiong tahu kekuatan dirinya sendiri dan dia
tahu pula bahwa dirinya pasti tidak dapat melarikan diri
dengan bebas, karena biar bagaimanapun dia tidak dapat
memenangkan orang ini, maka dia berkata : "Tuan telah
menduga banyak hal-hal yang keliru terhadap diriku, aku
......" Dengan suara tertawanya yang tajam dia memutuskan
perkataan pemuda itu, lalu dia mengulurkan sepuluh
jarinya yang mirip sepit itu. Dari tangan kanannya yang
terdiri dari jari telunjuk, tengah, dan jempol menotok jalan-
jalan darah 'Tian-cong', 'Kian-ceng' dan 'Giok-cin' ditubuh
lawannya. Sedangkan jari-jari tangan kirinya menotok jalan
darah 'Su-pek', 'He-kwan', 'Tee-cong', 'Sim-hiang' dan 'Tong-
hian'. Dengan menggunakan seluruh perhatiannya lalu dia
melancarkan serangan yang dahsyat diarahkan disebelah
bawah tubuh lawannya. Serangannya ini dilakukan dengan
latihannya yang telah dia latih selama sepuluh tahun.
Belum lagi suara dingin Bu Heng Seng berhenti,
badannya sudah ditarik mundur kebelakang, sedangkan
bayangan Lie Siauw Hiong lalu mengikuti maju, dengan
menggunakan segala kemampuannya dia balas melancarkan serangannya terhadap lawannya, tapi sekalipun serangannya ini sangat terukur dan terlatih, tapi
tidak berdaya menemui sasarannya.
Kemudian dalam waktu yang singkat, kedua orang ini
sudah mundur kebelakang sampai beberapa puluh tombak
jauhnya, pada saat mana napas Lie Siauw Hiong sudah
tidak beraturan lagi jalannya. Bu Kek Toocu badannya
sedikit berputar, lantas dari tempat yang dekat sekali dia
menotok jalan darah 'Houw-kee' dituhuh Lie Siauw Hiong.
Pergerakan Bu Heng Seng yang cepat bukan buatan ini
justeru adalah salah satu tipu 'Hut-hiat' yang sudah lama
lenyap dari kalangan Kang-ouw, yaitu pergerakan tangan
diantara lengan baju yang tertutup ini dengan sendirinya
tidak terlihat nyata cara pergerakannya itu.
Pergerakan yang cepat dari Bu Heng Seng ini dapat
dibuktikan dengan tubuh Lie Siauw Hiong yang belum lagi
sempat berkelit, tahu-tahu tubuhnya sudah tertotok oleh
lawannya, sehingga dia berdiam seperti sebuah patung batu
saja. Kepandaian Lie Siauw Hiong sudah mencapai tingkat
yang tinggi, tapi bagaimana dia dapat dengan sekali totok
saja sudah kena ditotok lawannya, hal ini sebenarnya
disebabkan karena Lie Siauw Hiong yang sangat marah itu
dia tidak dapat lagi mengendalikan dirinya lebih lanjut,
maka dengan cara yang jitu dan licin sekali dirinya sudah
kena tertotok oleh lawannya. Lagi pula ilmu totokan
lawannya ini sangat luar biasa sekali, hingga cara
pergerakannya itu belum pernah dilihatnya dikalangan
Kang-ouw. Begitulah dengan banyak faktor yang mempengaruhinya
ini, Lie Siauw Hiong dengan sekali bergebrak saja telah
dibikin tidak berdaya oleh pihak musuh, hingga dalam
hatinya tidak putus-putusnya dia menyesalkan dirinya dan
berpikir : "Tidak diangka-sangka ilmuku yang sudah sangat
tinggi ini, dengan satu serangan saja dari pihak lawan aku
sudah tak berdaya untuk meloloskan diri !"
Suara tertawa Bu Heng Seng berhenti dan tangannya
lantas bergerak, ternyata tubuh Lie Siauw Hiong sudah
dikempitnya. Pada saat itu, hati Thio Ceng sangat berduka. Sambil
berdiri diatas geladak kapalnya, dia memandang pada air
sungai yang mengalir perlahan-lahan. Diatas langit tampak
bintang-bintang berkelap-kelip, dan ditempat yang jauh
disana bumi sudah ditelan oleh kegelapan malam hari.
Perasaan Thio Ceng yang sangat sedih dan kesepian ini,
baru dia rasakan untuk pertama kalinya sejak dia dilahirkan
didunia ini. Sekonyong-konyong dari arah daratan tampak berkelebat
satu bayangan orang yang berwarna putih, cepat sekali
pergerakan orang tersebut. Melihat cara pergerakan itu,
tanpa disangsikan lagi sudah pasti adalah ayahnya sendiri,
maka dalam hatinya diam-diam ia berpikir dengan heran :
"Ayah turun kedarat demi kepentingan apakah " Apakah
barangkali dia telah memergokinya ?" Begitu pikiran ini
terlintas dikepalanya, kenyataan telah membuktikannya.
Bu Kek Toocu dengan mengempit Lie Siauw Hiong
diketiaknya lantas naik keatas kapalnya, dan dengan
matanya yang tajam dia melirik kearah anak daranya yang
sedang memandang kepadanya dengan perasaan heran.
Lantas tangan kanannya terangkat dan tubuh Lie Siauw
Hiong lagi-lagi dilemparkan kedalam ruangan gudang kapal
itu. Perasaan hati Thio Ceng sangat terkejut. Perasaan takut
dan tercengang bersarang dalam hatinya.
Bu Kek Toocu lalu berjalan menghampirinya sambil
berkata : "Kau telah melakukan suatu pekerjaan yang
sangat bagus sekali. Mari kau turut aku !" Mukanya tampak
dingin sekali, melihat hal itu teranglah yang ayahnya
sedang marah besar. Ternyata lagi-lagi Lie Siauw Hiong telah mengalami
kesengsaraan seperti pertama kalinya dia kena tertotok,
yaitu kedua tangannya terjulur kemuka dengan jari-jarinya
terpentang lebar, sedangkan kakinya separuh membengkok.
Pada saat ini dengan cara demikian juga dia terbaring
dilantai ruangan kapal. Pemuda kasar yang memberinya bubur itu selalu datang
dengan tidak putus-putusnya, setiap hari asal saja matahari
mulai menyingsing, pasti pemuda kasar itu datang
menyiksanya dengan memberi dia makan bubur yang
sebanyak-banyaknya. Dengan cara demikianlah dia dapat menghitung
lewatnya hari. Lima-enam hari telah lewat, selama mana diapun telah
dipermainkan pula tidak keruan oleh pemuda kasar itu.
Sekalipun dia tidak dapat bergerak dengan leluasa, tapi
otaknya masih tetap dapat bekerja dengan normal.
Oleh karena itu, kebenciannya terhadap lawannya
bertambah besar saja dan sebaliknya terhadap orang yang
dikasihinya, perasaan cintanya semakin bertambah besar
dan berkobar-kobar, dan justeru pada saat inilah baru
disadarinya, bahwa perasaan 'cinta' lebih hebat daripada
perasaan 'benci'. Karena otaknya terbayang dengan nyata bahwa orang
yang dikasihinya jauh lebih banyak daripada orang yang
dibencinya, demikianlah dia menilai sesuatu perkara
didunia ini dengan cara selayang pandang.
Kim Bwee Leng dengan sendirinya adalah orang yang
paling dalam melekat disanubarinya, hingga setiap waktu
bayangannya senantiasa memenuhi ruang matanya.
Dia mendadak sontak teringat akan Kim Bwee Leng,
waktu dia bersama-sama melewati penghidupan mereka
yang penuh kesunyian disuatu daerah yang liar dan sepi.
Dia teringat betapa mereka telah melewati waktu satu hari
satu malam disana. Terhadap pengorbanan yang diberikan
oleh Kim Bwee Leng ini, dia merasa sangat bangga sekali.
Dan terhadap Pui Siauw Kunpun dia tidak dapat
melupakannya pula. Tapi pada saat ini yang paling segar
dalam otaknya adalah bayangan Thio Ceng yang begitu
cantik dan suci. Diam-diam Lie Siauw Hiong berpikir pada dirinya
sendiri : "Mengapa dia tidak nampak muncul-muncul "
Setelah beberapa hari berselang, aku kira ayah dan ibunya
sudah memberi peringatan keras kepadanya."
Pada saat itu dia telah melupakan sama sekali keadaan
dirinya sendiri yang sangat berbahaya itu, malahan dia telah
melupakan pula kebenciannya yang sangat besar ini.
Adapun Thio Ceng yang telah dimaki habis-habisan oleh
ayah dan ibunya, sambil berbaring didalam kamarnya
sendiri, tidak dapat dia melupakan 'pemuda bermata besar
ini'. Kapalnya pada saat itu dari pulau Cong-beng-too
berlayar kearah selatan, keluar dari mulut sungai Tiang-
kang dan menuju kelaut. Bu Kek Toocu lalu memandang jauh sekali keluar dari
jendela kapalnya, dimana tampak laut yang tak bertepi
dihadapannya. Air dan langit seakan-akan menjadi satu
saja, sedangkan Laut Timur (Tong Hay) tampak terbentang
dengan angkernya, dimana airnya bergelombang sangat
dahsyatnya. Hatinya dirasakannya bergolak-golak, maka
sambil menoleh pada Biu Chit Nio ia tertawa dan berkata :
"Kita akan segera kembali kekampung balaman kita." Biu
Chit Nio hanya mengganda tertawa.
Bu Heng Seng dengan mengerutkan keningnya berkata :
"Kembalinya kita kekampung halaman kita sekali ini, kita
harus mengajar anak kita itu baik-baik," Biu Chit Nio masih
saja tinggal tetap tertawa.
Bu Heng Seng dengan perasaan penuh keheranan lalu
bertanya : "Apa yang kau tertawakan ?"
"Aku sedang menertawakan para perompak yang
tampaknya sudah bosan hidup ingin merompak kapal kita."
Biu Chit Nio berkata sambil menunjuk dengan jarinya
keluar jendela kapal mereka. "Selama dua hari ini kita
sesungguhnya terlampau kesal sekali, sekarang justeru
saatnya untuk melenyapkan kekesalan kita sudah sampai."
Dengan mengikuti arah tudingan tangan isterinya ini,
lalu Bu Heng Seng memandang keluar. Benar saja dari jarak
yang sangat jauh sekali tampak tiga titik hitam, tadi karena
hatinya sedang memikirkan sesuatu, maka dia tidak
Mencari Bende Mataram 10 Pendekar Hina Kelana 19 Sepasang Walet Merah Pendekar Muka Buruk 21
^