Pencarian

Jurus Tanpa Bentuk 10

Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira Bagian 10


lagi kebutuhan hidup sehari-hari; mereka semua terbangun,
dan meski sebetulnya belum terlalu sadar, telah membuat
para pembunuh itu sangat terperanjat. Namun sebagian tetap
mengayunkan pisaunya. Inilah saatnya aku bergerak!
Dalam sekejap aku telah berada pada lima belas tempat.
Pisau mereka kutampel hingga terlepas dan tubuh mereka
kudorong ke tengah orang banyak, seperti menjatuhkan
seseorang ke jurang. (Oo-dwkz-oO) Episode 56: [Permainan Kekuasaan]
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
KUTATAP mata mereka. Aku merasa khawatir mereka tidak
akan bicara. Para penyusup dalam kegelapan malam tidak
hanya menguasai seni membunuh, tetapi juga terlatih untuk
menerima siksaan jika tertangkap, dan jika perlu mengakhiri
hidup mereka sendiri agar membuka rahasia. Adapun jika
mereka telah memutuskan untuk bunuh diri, sangatlah sulit
untuk menghalanginya, karena tentu saja mereka juga sudah
dilatih untuk itu, kecuali mereka sendiri tidak menghendakinya. Jadi kuminta keduapuluh orang itu dipisahkan ke duapuluh
tempat, dan aku tidak terlalu tergesa-gesa untuk segera
meminta penjelasan dari mereka. Hanya kuminta untuk
meletakkan mayat para korban dari pihak pekerja yang tidak
bersalah itu di hadapan mereka, dan kami semua menjauh,
meski tetap kuminta pengawasan dari kejauhan.
Pada tubuh mereka tidak terdapat tanda rajah apa pun,
sehingga aku tidak dapat memastikan mereka terhubungkan
dengan suatu kelompok tertentu. Tidak dengan Cakrawarti,
dan belakangan juga tidak dengan Kalapasa. Cakrawarti
sebagai jaringan rahasia yang telah disebut kehadirannya
sejak masa Wangsa Sanjaya telah merasuk begitu rupa ke
segala lapisan masyarakat, sehingga menunjukkan keberadaan dirinya tidak dengan tanda-tanda pada tubuh lagi,
melainkan bahasa sandi yang setiap kali berganti. Adapun
Kalapasa sebagai kelompok penyusup yang muncul lebih
kemudian sangat terkenal kerahasiaannya yang takterendus,
sehingga sebuah keluarga dapat menjadi anggotanya secara
turun temurun tanpa dikenali sedikitpun oleh tetangganya
juga secara turun temurun.
Maka, jika penyamaran Cakrawarti dan penyusupan
Kalapasa bukanlah dari tingkat yang mudah terbongkar,
siapakah orang-orang ini" Aku teringat pengacau di balik
patung Durga di daerah tak bertuan yang membawa lembaran
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
lontar dengan tulisan bahwa Cakrawarti bekerja untuk Naga
Hitam. Apakah peristiwa ini menjelaskan sesuatu"
Seorang di antara para pembunuh ini mengenali aku,
padahal aku selalu membunuh siapapun mereka yang terlanjur
mengenalku, karena mereka memang harus terbunuh dalam
pertarungan untuk menguji kesempurnaan. Namun selama ini
memang ada orang-orang yang mengetahui keberadaan diriku
dengan tugas membunuhku. Itulah orang-orang suruhan Naga
Hitam yang jaringan kejahatannya hampir selalu membayangi
kehidupanku. Apakah orang-orang ini anggota jaringan Naga
Hitam" Itulah pertanyaanku sekarang: Jika Naga Hitam menggunakan jaringan Cakrawarti untuk menjalankan
tujuannya, apakah kiranya tujuan tersebut"
Aku memikirkan beberapa hal.
Pertama adalah isi surat untuk menghancurkan kepercayaan. Bukankah saat itu para petani yang memuja Durga telah
berbalik mengutuk Durga ketika anggota Cakrawarti tersebut
melemparkan bola cahaya yang asapnya mematikan,
sementara getaran cahayanya memberi kesan delapan tangan
Durga itulah yang telah melemparkannya"
Jika hal semacam itu dilakukan secara serempak di mana-
mana, tidakkah begitu banyak orang akan melepaskan
kepercayaan yang selama ini telah membuat jiwanya
tenteram, bahkan berganti memeluk kepercayaan lain yang
sedang tumbuh dan berkembang dengan pesat di seluruh
Yawabumi" Kulihat sebuah perjuangan, kulihat suatu pertarungan.
Namun igama-igama tidak bertarung bukan" Manusia
bertarung memperebutkan kekuasaan atas nama igama dan
bukan sebaliknya. Igama manapun tidak membenarkan
pertarungan antar igama dan tidak akan pernah ada kecuali
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
manusia yang begitu bodoh sehingga menafsirkan yang
sebaliknya. Jika Panamkaran mampu memberikan tanah
kepada igama berbeda, Panunggalan hanya dapat melawan
dengan tidak mengikutinya, malah berbuat sebaliknya.
Setidaknya para penasihat igama masing-masing memiliki
kepentingannya pula. Bukankah sudah kuceritakan betapa
seorang raja ternyata tidak menguasai dunia dan sebaliknya
hanya dapat duduk di singgasana kekuasaan dengan
persyaratan yang tidak mungkin disanggupinya.
Barangkali ia sanggup melawan musuh yang menyerang
dari luar, tapi bagaimana caranya ia mencegah gunung
meletus dan mengusir wabah penyakit yang tidak dikenalnya"
Maka seorang raja yang ingin tetap berkuasa harus membeli
kekuasaannya dengan banyak cara, antara lain dengan
sedapat mungkin memenuhi keinginan rakyatnya itu, selama
itu bukan menahan banjir atau gempa bumi, misalnya dengan
memenuhi kehendak rakyat yang menginginkan keseragaman
igama. Itulah sebabnya ia turuti keinginan rakyat yang tidak
senonoh itu, dengan menindas pemeluk igama yang lebih
sedikit di wilayah kekuasaannya, meski pemeluk igama
tersebut di luar wilayahnya jauh lebih besar.
KEDUA, dan karena itu, ia harus membuat rakyatnya
membutuhkan dirinya, membutuhkan kerajaannya, dan
membutuhkan kekuasaannya. Bagaimana caranya rakyat
membutuhkan perlindungannya" Seorang raja memikirkan
cara yang paling menjamin kepentingannya untuk berkuasa:
Sebarkan ketakutan yang hanya membuat rakyat membutuhkan perlindungan negara; jika rakyat memilih untuk
pindah, maka ketakutan juga harus disebarkan di luar wilayah
kekuasaannya, yakni di daerah takbertuanO
Bagaimana caranya menyebarkan ketakutan" Aku telah
melihatnya sendiri betapa bisa mengerikan penyebaran
ketakutan demi kepentingan kekuasaan. Betapa kejam, betapa
dingin, dan betapa tidak berhati.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Aku teringat kalimat yang kudengar malam itu: Tugas kita
sudah mencapai maksudnya. Dihubungkan dengan kehadiran
para pengawal rahasia istana, yang membuat para pekerja
lebih tenang karena tiada lagi mayat terpotong-potong,
kalimat itu meyakinkan sebagai bagian dari suatu rencana
yang cermat. Gawat. Untuk membuat rakyat menyadari
keberadaan negara, diperlukan suatu penyebaran ketakutan
agar rakyat membutuhkan kehadiran para pengawal rahasia
istana yang merupakan petugas negara. Dengan kata lain,
terdapat suatu permainan sandiwara yang membutuhkan
korban, yakni mereka yang dikorbankan menjadi mayat
terpotong-potong! Ketiga, supaya sandiwara ini lebih meyakinkan, para
pengawal rahasia istana tidak mendapat pemberitahuan sama
sekali atas kebijakan tersebut. Selain karena ini akan membuat
sikap mereka untuk me lindungi rakyat terlihat sungguh-
sungguh, juga karena jika mereka diberi tahu belum tentu
akan setuju. Para pengawal rahasia istana bukanlsh
sembarang prajurit atawa sembarang pengawal istana. Kata
rahasia dalam sebutan itu berarti mereka adalah orang-orang
pilihan, yang akan menjaga raja, pejabat tinggi, dan anggota
keluarga istana dengan tingkat kewaspadaan tertinggi, tanpa
diketahui seorangpun yang sekiranya mempunyai maksud
buruk. Pernah terjadi dalam suatu iring-iringan, dan raja berada di
dalam tandu di atas punggung gajah, sesosok bayangan
mendadak berkelebat melayang ke atas dengan tombak
pendek yang siap dilempar di tangannya. Pada titik tertentu ia
akan melempar tombak itu dan tampaknya tidak akan ada
sesuatupun yang menghalangi betapa sang raja akan
menemui ajalnya hari itu.
Namun sesosok bayangan putih berkelebat menggagalkan
kemungkinan itu. Tepat pada saat sosok yang melayang ke
atas terhenti pada garis yang sejajar dengan raja dan tombak
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sudah terangkat ke belakang siap dilemparkan, bayangan
putih itu tiba-tiba saja berada di hadapan calon pembunuh
tersebut. Kejadian itu berlangsung begitu cepat dan tidak bisa
diiikuti mata orang awam. Orang-orang yang berada di tepi
jalan dan menyaksikan iring-iringan itu dengan lirikan, karena
mereka semua bersujud, hanya
melihat cahaya putih berkilatan ketika sebuah pedang
dikeluarkan dari sarungnya. Bayangan yang membawa tombak
tadi me layang turun kembali dengan dada terbelah. Ambruk
ke bawah bersimbah darah. Sedangkan sosok bayangan putih
tadi tetap berada di atas, berdiri di depan tandu, yang
ternyata seorang peremuan berkain putih dengan pedang
terhunus siap menghadapi segala kemungkinan.
Sebenarnyalah para pengawal rahasia istana adalah orang-
orang pilihan dengan ilmu silat yang tinggi.
KEBERADAANNYA sudah dikenal meski hanya dalam
peristiwa yang sangat dibutuhkan seperti itu mereka terlihat
melaksanakan tugasnya. Maka ketika pembunuhan yang
tampak sengaja dilakukan untuk menakut-nakuti
itu merajalela, kehadiran mereka yang seperti telah mengusirnya
sangat terasa sebagai perlindungan negara. Mereka sendiri
tidak mengira tentunya, sandiwara macam apa yang telah
meminta banyak korban demi tersebarnya ketakutan.
Kehadiran para pengawal rahasia istana membuat orang-
orang menjadi tenang, tenang dan tergantung kepada negara,
sesuai dengan kehendak di balik sandiwara kejam tersebut.
Kedatanganku tentu saja telah mengacaukan rencana besar
tersebut, dan ini menghadapkan aku langsung kepada para
pembunuh. Sebetulnya aku ingin membangkitkan kepercayaan
diri rakyat, dengan muncul seolah-olah dari tengah mereka
sebagai salah satu pekerja, meski tidaklah terlalu mudah
membuat orang banyak percaya betapa terdapat seorang
pendekar di antara mereka.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Betapapun, aku masih harus memeriksa satu perkara lagi,
yang setelah beberapa saat kuakui takmungkin kudapatkan
dengan pengakuan terbuka. Takseorangpun memperlihatkan
perubahan perasaan kudekatkan dengan korban-korban
pembunuhan mereka. Siapapun mereka, pemaksaan pengakuan akan membuat mereka bunuh diri dengan cara
menekuk lidah mereka, dan aku tidak akan mendapat
keterrangan apa-apa. ''Bawa mereka semuanya kemari,'' kataku, ''sudah tiba
waktunya memberi mereka hukuman.''
Langit berubah warna. Aku ingin menyelesaikan persoalan
ini sebelum hari terang, sebelum para pejabat istana datang
dan menerapkan hukum mereka sendiri. Apa yang akan
kulakukan, memang hanya dapat dilakukan dengan mengenal
dunia persilatan. Mereka sudah dikumpulkan di hadapanku.
''Buka ikatan mereka,'' kataku.
Tangan mereka diikat dengan tali rotan, sakitnya tentu
bukan buatan. Mereka telah dilatih untuk me lepaskan diri dari
ikatan seperti itu dengan mudah, tetapi dengan cara mengikat
seperti itu, aku taktahu s iapakah kiranya ia yang akan mampu
melepaskan diri. Setelah ikatan mereka dibuka, di wajah mereka terlihat
harapan. Dengan ini saja kutahu mereka bukan anggota
Kalapasa. Aku hanya harus melakukan sesuatu untuk
membuktikan dugaanku. ''Kuberi kalian kesempatan hidup,'' kataku, ''dengan cara
kalian semua bertarung melawanku.''
Mereka saling memandang, harapan makin terang di mata
mereka. Tentu saja mereka adalah orang-orang yang belum
sempat kulumpuhkan dalam penyergapan mereka yang secara
keseluruhan harus dianggap gagal.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
''Apakah perjanjiannya"'' Salah seorang di antaranya
bertanya. ''Jika aku tewas, siapa pun yang masih hidup berhak untuk


Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

pergi dengan bebas.'' Seorang di antara mereka berteriak keras.
''Apakah pernyataan ini disaksikan"''
Terdengar jawaban serentak ribuan orang.
''Disaksikan!'' Maka kami pergi ke tempat yang lapang tanpa pepohonan.
Senjata yang semula mereka bawa, sebuah pisau belati
panjang, telah mereka pegang kembali. Seorang di antaranya
telah mengenali aku, kini giliranku mengenal siapa mereka
sebenarnya. Jika mereka anggota jaringan rahasia, kuragukan
kemampuanku mengorek keterangan dari mulut mereka yang
telah dilatih untuk bungkam dan menyimpan rahasia; tetapi
dari pertarungan ini, aku akan mengetahui asal usul mereka
dari jurus-jurus ilmu silatnya, dan kukira mereka juga tidak
akan pernah menyangka! Mereka berduapuluh orang mengepungku dalam lingkaran.
Setelah saling memandang sejenak segera bergerak dalam
suatu jurus yang rupanya memang dibuat untuk dima inkan
suatu kelompok. Mereka ternyata sangat terlatih, mereka
bergerak memutariku sembari terus menyerang dan aku
merasa seolah berhadapan dengan empatpuluh pedang secara
bersamaan. Sembarang lawan akan segera terpotong-potong
menghadapi jurus ajaib seperti itu. Mereka mengandalkan
gelombang serangan yang berlekuk liku bagaikan liukan
seekor naga. Meskipun dimainkan secara bersamaan, aku
mengenal jurus yang sama ketika dimainkan satu orang,
meskipun setiap orang itu pun telah membawakannya secara
berlain-lainan. Sebagai pemegang Jurus Bayangan Cermin,
aku memiliki kemampuan mempelajari suatu jurus dengan
seketika saat itu juga, termasuk kemampuan mengenali
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
asalnya. Begitulah serangan bergelombang itu dapat kukenali
sebagai pengembangan Ilmu Pedang Naga Hitam.
AKU melenting dalam serangan dahsyat Ilmu Pedang Naga
Hitam yang mengambil gagasan dari gerak seekor naga
mengamuk dengan menyabetkan ekornya. Pada saat kita
mengira berhadapan dengan suatu kepala, sabetan ekor yang
mematikan akan menyambar dari belakang. Aku melenting ke
sana kemari dengan senang hati, seolah-olah memberikan
tontonan, padahal aku memang sedang sangat beriang hati
karena telah menemukan jawab persoalan: Naga Hitam telah
bekerjasama dengan jaringan rahasia Cakrawarti agar
mendapat peran kekuasaan.
Namun betapapun sakti dan besar pengaruh Naga Hitam
sebagai tokoh dunia persilatan, dia bukanlah seorang
negarawan. Untuk menggapai cita-citanya ia memanfaatkan
jaringan rahasia Cakrawarti yang memang merembes ke
mana-mana bahkan sampai ke dalam istana, untuk menjual
jasa dan pengaruhnya di dunia persilatan. Kini taklagi uang
yang diinginkannya, melainkan suatu peran dalam kekuasaan.
Baginya menjadi penguasa wilayah Kubu Utara dalam dunia
persilatan rupanya takcukup lagi. Astaga, benarkah pada
akhirnya ia juga ingin menjadi raja" Itulah pertanyaanku:
Mengapa seseorang ingin berkuasa"
Adapun mereka yang begitu pandai berma in dengan
kekuasaan di istana, memanfaatkan cita-cita Naga Hitam
untuk memperkuat kedudukannya sendiri. Naga Hitam tidak
pernah menyadari betapa jaringan rahasia seperti Cakrawarti
sangat mungkin berma in dengan dua muka; di satu pihak ia
melayani jasa untuk menghubungkan Naga Hitam dengan
istana, di lain pihak ia melayani kepentingan istana untuk
memhuat Naga Hitam tetap berjarak dengan kekuasaan,
sementara Cakrawarti itu sendiri menjadi sangat penting
peranannya dalam permainan kekuasaan. Jadi, Cakrawarti
seolah-olah memberi jalan dan membantu Naga Hitam, seperti
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang terjadi ketika anggotanya menghancurkan kepercayaan
terhadap Durga di daerah takbertuan; tetapi setiap saat Naga
Hitam bisa ditinggalkannya menjadi musuh negara sendirian.
Bagiku ini sungguh suatu permainan kekuasaan. Istana
hanya akan memanfaatkan pengaruh Naga Hitam selama
diperlukan. Pada saat jasanya untuk menyebarkan ketakutan
tidak dibutuhkan lagi, para pengawal rahasia istana akan
membasmi mereka dengan segala kekuatan. Istana dan raja
menyebarkan ketakutan kepada rakyatnya sendiri melalui
Naga Hitan, tanpa pernah bisa dibuktikan, karena tidak pernah
berlangsung tatap muka manapun kecuali me lalui jaringan
Cakrawarti dengan cara yang sangat penuh dengan
kerahasiaan. Kekuasaan hanya sahih jika didukung oleh rakyatnya, tetapi
rakyat Mataram yang dipekerjakan secara bergiliran
membangun candi raksasa takbisa pergi. Rakyat terpaksa
tinggal di tempat, karena sangat membutuhkan perlindungan
kerajaan atas ancaman bahaya kejahatan yang sebenarnya
disebarkan oleh kerajaan itu sendiri.
Aku masih melenting-lenting, takpernah menapak tanah
sama sekali karena setiap kali pisau panjang mereka
menyambar dapat kupakai sebagai pijakan. Kadangkala aku
terlihat, kadangkala juga tidak, sekadar usaha untuk
membingungkan para pengepung. Mereka membentuk
kesatuan gerak seperti naga yang melingkar-lingkarkan
tubuhnya, menjepit yang di tengah dengan seketika. Pisau
panjang mereka ibarat s isi tajam di atas punggung naga, s iap
mematikan siapapun di tengahnya sampai terpotong-potong
dengan seketika. Harus kuakui Ilmu Pedang Naga Hitam, dimainkan oleh
satu orang maupun secara berkelompok seperti ini, memang
ganas dan kejam; jika aku belum menguasai Ilmu Pedang
Naga Kembar maupun Jurus Penjerat Naga, niscaya riwayatku
sudah tamat sejak lama. Kini sudah kuketahui asal usul
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
mereka. Aku sudah menemukan bukti bahwa Naga Hitam
terlibat erat dalam penyebaran ketakutan dengan cara yang
sangat kejam. Aku telah memberi mereka kesempatan untuk
bisa tetap hidup, tetapi sudah saatnya riwayat mereka itulah
yang kutamatkan. Dengan Jurus Bayangan Cermin kuserap segenap jurus
dalam Ilmu Pedang Naga Hitam yang sudah mereka
keluarkan, kukembalikan kepada mereka dengan kecepatan
takterbayangkan. Diriku bagaikan menjadi empatpuluh orang
yang bergerak bagaikan bayangan, setiap orang merasa
dirinya menghadapi dua orang dari segala jurusan. Pada saat
langit menjadi terang, duapuluh orang telah menjadi mayat
bergelimpangan. Orang banyak bergerak seperti bermaksud memotong-
motongnya, tetapi aku tentu saja menghalanginya.
''Mereka telah melawan dengan segala kemampuan,''
kataku, ''hormatilah mereka sebagai orang-orang yang telah
berjuang.'' (Oo-dwkz-oO) Episode 57: [Kebudayaan dan Darah]
AKU berjalan dalam hujan. Sudah beberapa hari
kutinggalkan bukit yang kelak akan menjelma candi raksasa
itu. Tidak bisa kubayangkan kapan pekerjaan besar itu akan
selesai. Mengumpulkan batu dan menjadikannya kotak-kotak
persegi panjang dalam ukuran-ukuran tertentu saja sudah
memakan waktu lima tahun, dan itu baru dapat digunakan
untuk mulai membangun dasar bangunan. Dari dasar itu akan
terbentuk dinding, pada dinding itulah sedang dipahatkan
cerita Maha Karmawibhangga yang bagiku terasa sangat
mengesankan, karena bagiku adalah luar biasa bahwa batu-
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
batu yang dingin dapat menggambarkan hangatnya
kehidupan. Namun semua itu harus kutinggalkan, karena aku memang
ingin me lanjutkan perjalanan. Para pengawal rahasia istana
telah kembali hari itu juga karena berita datangnya pembunuh
segera tersebar ke mana-mana. Begitu kulihat mereka datang,
aku segera menghilang. Telah kutinggalkan lembaran lontar
dengan tulisan di atasnya:
carilah petinggi istana yang berhubungan dengan Cakrawarti
dan membuat perjanjian dengan Naga Hitam agar anak buahnya menyebarkan kematian
Mereka tidak akan segera mengerti permainan kekuasaan
yang berlangsung, tetapi tentu akan mampu menyelidikinya
sendiri. Aku tidak ingin berperan lebih jauh di luar batas ini.
Aku hanyalah seorang pengembara, berusaha memperdalam
ilmu silat dalam perjalanan, dan tidak tertarik sama sekali
untuk mengabdi kerajaan. Kutinggalkan pemberitahuan itu
bukan karena bermaksud ikut campur dalam permainan,
melainkan karena kurasakan ketidakadilan. Para pembunuh
berkepandaian tinggi merajalela tanpa lawan adalah keadaan
yang mengenaskan. Biarlah para pengawal rahasia istana kini
mendapat pekerjaan dan mengerahkan segala kemampuan.
Mereka harus memburu dan mengobrak-abrik jaringan
kejahatan Naga Hitam! Aku berjalan dalam hujan. Kubiarkan tetes-tetes hujan dari
langit membasah kuyupi seluruh badan. Aku berjalan lurus ke
utara karena aku ingin segera mencapai lautan. Namun aku
sengaja tidak berlari kencang menggunakan Jurus Naga
Berlari di Atas Langit karena ingin menikmati perjalanan.
Penggambaran Maha Karmawibhangga pada dinding batu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
telah membuat aku tertarik untuk melakukan pengamatan
terhadap lingkungan. Apakah yang telah diperhatikan oleh
para jurupahat itu sehingga kehidupan sehari-hari yang juga
kukenal dapat tergambarkan kembali dengan cara takterbayangkan" Kuperhatikan saat mereka bekerja, sebetulnya memang
telah terdapat suatu rancangan keseluruhan yang menjamin
keseragaman bentuk penggambaran, dengan cara menempatkan seorang pengawas pada setiap kelompok
pemahat yang mengerjakan sepotong cerita. Setiap pengawas
ini harus menjamin agar pengerjaan bagiannya akan
menjamin ketepatannya sebagian bagian dari rancangan
keseluruhan, begitu terus berlapis-lapis ke atas, sampai tinggal
satu orang yang bertanggungjawab atas keutuhan rancangan;
yang terkecil adalah bagian yang terbesar, tetapi yang
terbesar adalah paduan segala hal sampai yang terkecil. Candi
raksasa ini nanti akan menjadi sebuah pesan tentang
kebesaran. Namun aku sekarang tertarik kepada yang terkecil.
Begitulah sepanjang jalan kuperhatikan segala sesuatu yang
telah dipahatkan sampai kepada yang sekecil-kecilnya. Apabila
aku berjalan melewati pemukiman, segera kucari sesuatu yang
juga telah dipahatkan, misalnya bentuk sebuah jembatan yang
digunakan untuk menyeberangi sungai.
Pada sebuah desa kulihat sebuah jembatan terbuat dari
bambu dengan susun-bentuk yang sederhana, tetapi terlihat
ramping, kuat, dan indah. Hanya terdapat satu bentuk
jembatan nanti yang terdapat pada pahatan di dinding candi,
yakni pada lantai keempat.
JEMBATAN itu terikat kepada pancangan tiang bambu yang
saling bertemu ujungnya sehingga berbentuk segitiga di kiri
dan kanan jembatan, tempat jembatan itu tergantung. Ini
sebuah jembatan gantung yang biasa terdapat di berbagai
pemukiman dalam perjalananku, tetapi menyadarinya sebagai
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
yang satu-satunya dalam pahatan di seluruh candi, membuat
aku bertanya-tanya: Bagaimanakah kelak jembatan itu akan
berbicara" Bahkan pagar-pagar halaman bagiku tampak menarik
hanya setelah melihatnya sebagai pahatan, dan memang
hanya setelah melihat pahatan itulah aku kini mengamati
pagar halaman yang sudah terlalu sering kulihat, tetapi tanpa
makna seperti sekarang. Pagar yang dimaksud sebagai
pembatas suatu halaman dengan halaman lain
itu diungkapkan pada candi sebagai balok-balok batu atau kayu,
yang ditanam atau disusun berjajar sepanjang batas halaman.
Banyak sekali bentuk balok atau tiang pagar yang berencana
mereka pahatkan pada dinding candi, hanya sebagian kecil
yang sudah kulihat. Semuanya terbagi dalam berbagai jenis
yang berhubungan dengan macam halaman tempat pagar itu
ditancapkan. Kemudian tentu juga terdapat berbagai bangunan, yang
dalam rancangan keseluruhan bahkan telah dihitung bahwa
akan terdapat 147 gambar pahatan bangunan batu, 254
gambar pahatan bangunan kayu, enam gambar pahatan
bangunan yang menggunakan logam, dan seperti telah
diungkap, satu gambar pahatan jembatan bambu, selain juga
463 bangunan bentuk hiasan. Sebetulnya terdapat juga
bangunan stupa, jumlahnya 31 gambar pahatan, tetapi aku
sedang tertarik dengan berbagai bangunan dalam kehidupan
sehari-hari, sesuatu yang begitu jauh bagiku yang dibesarkan
dalam keterasingan, baik selama 15 tahun di Celah Kledung
maupun sepuluh tahun dalam pengasingan diri di tempat
terpencil ketika mendalami ilmu persilatan.
Kuperhatikan bahwa bangunan kayu mempunyai susunan
utama berupa rangka dari bahan kayu, tempat atap dan
dinding-dindingnya diselesaikan dengan bahan kayu atau
bambu, berdiri langsung di atas tanah atau di atas sebuah
batur dari bahan batu. Bangunan yang pada rencana candi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terdapat 248 buah ini, merupakan susunan rangka yang
mempunyai kolong atap miring dengan teritisan yang lebar,
suatu bentuk bangunan yang menanggapi kelembaban.
Bangunan-bangunan

Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kayu ini terbedakan dalam pengelompokan berdasarkan atapnya, ada yang beratap
pelana, ada yang beratap limasan, ada yang beratap limasan
lengkung, ada yang beratap tajuk, ada pula yang beratap
susun.7) Demikianlah sambil berjalan aku memperhatikan,
mengamati, menghitung, dan mengelompokkan, dan terutama
membayangkan bagaimana manusia memikirkan untuk
akhirnya mendirikan semua itu sebagai bagian kehidupan
mereka, lantas para pemahat memindahkannya. Mengetahui
semua itu membuat diriku merasa penuh dengan semangat.
Perjalanan menuju pengetahuan ternyata adalah perjalanan
yang sangat membahagiakan!
Atas dasar apakah para perancang gambar pahatan yang
akan melingkari candi sampai empat tingkat ini menentukan isi
penggambaran di dalamnya"
APAKAH mereka membicarakannya bersama menghadapi
gambaran keseluruhan rancangan, dan berkata, ''Masukkan
rumah-rumah itu!'', ataukah seseorang telah menggambarkannya begitu saja dari dalam hati dan
benaknya, dan baru kemudian dipertimbangkan bersama"
Tentu ini bukan pekerjaan satu orang, tetapi tentu ada
seseorang yang mempunyai peran menentukan, jika memang
keadaannya demikian. Aku tidak cukup lama berada di sana
untuk dapat mengetahui semuanya, tetapi aku masih dapat
menggali pengetahuan dengan caraku sendiri.
Maka kini aku memperhatikan bangunan yang menggunakan bahan logam. Bangunan berbahan logam
adalah bangunan yang susunan utamanya rangka terbuat dari
bahan logam, tempat bagian atapnya diselesaikan dengan
bahan kayu. Pada gambar pahatan, bangunan bahan logam ini
ditunjukkan dengan penyelesaian tiang-tiang kecil, yang bila
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dibandingkan dengan bagian yang disangganya, hanya dapat
dibuat dengan rangka yang menggunakan bahan logam atau
bambu. Kelompok ini bangunannya kecil-kecil, biasanya hanya
memiliki empat tiang penyangga dengan atap pelana atau
limasan. Bagian kaki dari bangunan ini diselesaikan dengan
berbeda-beda. Ada bangunan yang berdiri di atas sebuah
batur dari batu,8) ada pula bangunan-bangunan yang
lantainya tidak langsung di atas tanah atau batur, tempat
penyelesaian bagian kakinya merupakan panggung.9) Pada
gambar pahatan, bangunan-bangunan ini semuanya diungkapkan dengan terdapatnya orang-orang yang sedang
duduk di sekitarnya. Gambar-gambar pahatan itu terbayangkan kembali olehku
pada saat melihat pemandangan yang digambarkannya, yakni
orang-orang yang sedang duduk di sekitarnya itu. Dalam
gambar pahatan batu, tentu kita tidak tahu apa yang mereka
bicarakan, tetapi sekarang aku dapat bergabung dengan
orang-orang yang sedang duduk ini.
Hujan telah lama berhenti, tetapi aku basah kuyup. Semula
aku ragu-ragu bergabung karena merasa asing, tetapi
seseorang dengan ramah mengajak aku duduk di dekatnya.
''Pengembara sunyi, istirahatlah di sini, dengarkanlah cerita
Bapak Tua ini, sambil makan pisang,'' katanya.
Aku pun mendekat, tetapi hanya berdiri di belakang,
mengambil ses isir pisang, karena kainku yang masih basah
kuyup. Tentu bisa kukeringkan segera dengan tenaga dalam
yang kupancarkan dari tubuhku, tetapi itu akan terlalu
menarik perhatian, meski perhatian semua orang sedang
tertuju kepada orang yang bercerita.
''Ya, aku ikut dalam serangan seribu kapal kita tahun 767
ke negeri Champa yang mengerikan itu.11) Seribu kapal
mengarungi lautan selama duapuluh hari. Hujan angin dan
badai gemuruh kami tembus dengan bernyali, meski banyak di
antara kami yang baru pertama kali berlayar dan mabuk laut
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dengan muntahan yang takbisa ditahan lagi. Kami memasuki
sebuah teluk dan melayari sungai masuk ke pedalaman,
langsung menyerbu istana ketika rajanya taksadar sama sekali
akan terdapat suatu serangan. Di sana kita telah menjadi
orang-orang yang ganas. Penduduk setempat menyebut
orang-orang Yawabhumipala sebagai orang-orang berkulit
gelap yang lebih menakutkan dari kelelawar penghisap darah,
yang kejam dan buas seperti Yama, datang dengan kapal-
kapal, membawa pergi Mukhalingga dari Dewa, dan
membakar kediaman Dewa bagaikan pasukan bersenjata
Daitya melakukannya di surga.
''BERIBU-RIBU pemakan daging manusia datang dari
negeri-negeri jauh dengan kapal-kapal dan menghancurkan
arca serta gambar-gambar pahatan. Kita menyerang mereka
lagi pada tahun 787 dan membakar kuil Bhadradhipsatisvara.13) Jangan heran jika siapapun dari kita
yang pergi ke sana akan menerima sikap bermusuhan.''
''Apakah mereka akan menunjukkannya"''
''Mereka akan menunjukkannya bila sudah merasa kuat,
dan kurasa mereka sedang menggalang kekuatan untuk itu.
Namun lebih berbahaya tentu sikap bermusuhan yang tidak
ditunjukkan, karena saat itulah kita akan ditusuk dari
belakang. Jadi kulepaskan kalian jika ingin mencari
pengalaman maupun berdagang, tetapi hati-hatilah. Ketahuilah bahwa setiap bangsa juga ingin merdeka, bebas
dari penjajahan bangsa manapun jua.''
Aku tertegun dan mendadak kembali merasa rendah diri
dengan sempitnya wawasanku. Banyak orang telah berlayar
dan berperang menyerbu negeri-negeri yang jauh, tetapi aku
masih sibuk berkecimpung dalam dunia persilatan sahaja.
Rasanya rela aku melepaskan segenap ilmu silatku, tetapi
digantikan dengan kesempatan mengembara sejauh-jauhnya,
nun jauh ke balik cakrawala, yang tidak dapat kulakukan
karena riwayat hidupku bagai selalu terlibat dengan urusan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Naga Hitam. Itulah yang selalu membuat aku ragu, tidakkah
sebaiknya aku menyelesaikan urusanku dengan Naga Hitam
dan menantangnya bertarung untuk suatu penentuan siapa
akan terus hidup dan siapa sebaiknya mati" Ataukah
kubiarkan saja Naga Hitam terhukum oleh pengkhianatan atas
kependekarannya sendiri, dengan membuat jaringannya
dimusnahkan para pengawal rahasia istana seperti yang telah
kulakukan" Aku mencoba mengatasi rasa rendah diri itu dengan sikap
rendah hati. Siapakah aku sebenarnya yang harus mengetahui
dan mengalami segala hal bagaikan seorang prajurit utama
sekaligus orang terpelajar, sehingga harus merasa begitu
bodoh karena tidak mengetahui segala sesuatu yang dianggap
penting di dunia ini" Kiranya aku harus merasa tidak ada pusat
dunia, supaya aku yang berada jauh darinya tidak merasa
berada jauh dari segalanya. Sebaliknya mungkin lebih baik aku
merasa, bahwa di mana pun tempat aku berdiri, di situlah
pusat dunia berada. Kenapa tidak" Bukankah adanya dunia ini
bagi kita dapat dan memang telah ditentukan oleh sudut
pandang kita" Aku tidak harus meminjam mata orang lain
untuk memandang dunia, dan akupun tidak harus meminjam
kata-kata siapapun jua di dunia ini untuk merumuskan dunia.
''Kita harus menjadi diri kita sendiri,'' ujar orang yang
disebut Bapak Tua itu yang terasa tiba-tiba, tentu saja karena
sementara tenggelam dalam pemikiranku sendiri tidak kuikuti
perbincangannya. (Oo-dwkz-oO) AKU melanjutkan perjalananku dan suatu ketika melewati
bangunan-bangunan batu. Banyak sekali bangunan batu yang
sudah ambruk dan tidak dipergunakan lagi, begitu juga
bangunan batu yang masih dapat dipergunakan tetapi
ditinggalkan dan tidak dihuni. Kuperhatikan bangunan-
bangunan batu itu juga banyak terdapat dalam gambar
pahatan. Mulai dari yang bisa kita sebut sebagai bangunan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
satu bilik, yang terbagi lagi menjadi yang tanpa bilik pintu dan
yang dengan bilik pintu; bangunan satu bilik dengan bilik pintu
tanpa pelipit bawah, bangunan satu bilik dengan tiga relung
kecil dan bilik pintu, bangunan satu bilik dengan tiga relung
besar dan bilik pintu, bangunan satu bilik dengan tiga relung
besar dan bilik pintu dengan emper tertutup, bangunan satu
bilik dengan pelipit yang disangga oleh tiang tanpa bilik pintu;
sampai bangunan tiga bilik yang terbagi sebagai bangunan
tiga bilik tanpa bilik pintu dan bangunan tiga bilik dengan bilik-
bilik tambahan pada kedua samping bangunannya tanpa bilik
pintu.15) INI belum semua, masih terdapat bangunan bertingkat dua
dengan enam bilik, yang jenisnya terbagi masing-masing
bangunan bertingkat dua dengan enam bilik tanpa bilik pintu,
bangunan bertingkat dua dengan enam bilik dan bilik pintu
bertingkat yang terbuka, bangunan bertingkat dua dengan
enam bilik dan bilik pintu yang bertingkat, maupun juga
bangunan yang tidak berbilik. Terakhir, terdapat juga
bangunan satu bilik dengan denah segi enam tanpa bilik pintu.
Semakin jauh aku berjalan, semakin banyak yang
kutemukan dan kuendapkan, semakin penuh kepalaku dengan
gagasan berkelebatan. Apakah aku harus berhenti berjalan,
tekun dalam pembacaan, dan meninggalkan dunia persilatan"
Namun aku sudah terlanjur dibesarkan dalam asuhan
sepasang pendekar, yang meskipun sangat menghargai ilmu
pengetahuan yang manapun, dan selalu mempelajarinya
dalam setiap kesempatan, seperti mereka ingin memberi
contoh padaku, tetaplah jalan kependekaran yang mereka
tempuh sebagai jalan kehidupannya. Semua manusia harus
mati dan seorang pendekar mendapatkan kesempurnaan
dalam kematian melalui pertarungan. Inikah yang membuat
aku menjadi jauh dari ilmu pengetahuan" Sempat kukenal
bahwa dunia ilmu pengetahuan adalah dunia yang dingin dan
sepi, dalam usaha keras perenungan manusia demi penemuan
dan penjelajahan bagi peningkatan kemanusiaan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Aku berada di depan sebuah bangunan tanpa bilik, dan
sedang berpikir untuk berhenti dan merenung, ketika sebuah
angin pukulan dahsyat menyerang dari belakang.
(Oo-dwkz-oO) Episode 58: [Kematian dan Kehormatan]
AKU melesat jungkir balik ke atas, langsung ke belakang
manusia yang mengirim angin pukulan dahsyat itu. Melihat
arah pukulannya, tampaknya ia bermaksud membunuhku
dengan seketika. Seperti juga dirinya, dalam ilmu silat tangan
kosong dipelajari titik-titik terlemah pada tubuh manusia,
yakni 36 titik yang menyebabkan kelumpuhan sementara, 18
titik yang menyebabkan kelumpuhan selamanya, dan sembilan
titik yang langsung menyebabkan kematian.
Adapun angin pukulan ini tampak terarah, mengarah
langsung kepada sebagian dari titik-titik kematian tersebut.
Berarti kepadanya pun aku tidak perlu memberi ampun.
Kudorongkan pukulan Telapak Darah ke depan. Namun
rupanya iapun mampu melesat jungkir balik ke atas dan
langsung berada di belakangku dan lagi-lagi mengirimkan
pukulan mematikan, tetapi kini dengan kedua tangan. Aku tak
mau menghindar seperti tadi, karena tentu lagi-lagi nanti ia
akan berada di belakangku lagi, maka aku pun berbalik untuk
mengadu tenaga! Rrrrrrrrtt! Kedua telapak tanganku merekat dengan kedua telapak
tangannya, dan akupun terhenyak. Maksud hati mengadu
tenaga, yang terjadi adalah tenagaku bagaikan diserap! Itu
kejutan pertama. Kejutan kedua, yang kuhadapi adalah
seorang perempuan! Aku memang masih baru mengembara di
rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, tetapi jika
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
terdapat seorang perempuan pendekar dengan tingkat ilmu
setinggi ini, setidak-tidaknya aku seharusnya sudah pernah
mendengar ia punya nama. Tangan yang menyerap itu membuat aku terkesiap. Apakah
itu berarti tenaga dalamku terserap olehnya, seperti aku
mampu menyerap ilmu silat lawan dengan Jurus Bayangan
Cermin" Jika memang demikian, takterbayangkan betapa
dahsyat tenaga dalam yang telah dimilikinya! Mengetahui
kemungkinan semacam ini, seharusnya aku melepaskan
tenaga dalamku, sehingga tak ada sesuatu pun yang dapat
diserapnya, dan apalagi dikembalikan kepadaku dengan
tambahan tenaga dalam yang dimilikinya pula! Akibatnya akan
sangat berbahaya bagi diriku, aku bisa terjengkang muntah
darah. Namun jika tenaga dalamku kulepaskan, itu juga
berarti pertahanan diriku terbuka, dan tanpa tenaga dalam
apalah artinya nyawa dalam pertarungan tingkat tinggi seperti
ini" Aku harus bergerak secepat pikiran. Jika pikiranku lambat,
itulah saat sang maut akan membabat.
MAKA memang kulepaskan tenaga dalamku, tetapi sebelum


Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

perempuan pendekar tersebut memanfaatkan peluang atas
kekosonganku, aku telah bergerak lebih cepat dari kilat,
mengirimkan lima jenis pukulan yang serentak berkembang
menjadi 55 pukulan. Namun perempuan pendekar ini memang
hebat. Bukan saja seluruh seranganku dapat dihindarinya,
tetapi ia mampu menyerangku pula. Aku meningkatkan
kecepatan sampai kepada taraf yang belum pernah kulakukan,
ibarat mata yang ketika berkedip hanya akan melihat
bayangan sosok ketika sosoknya telah berkelebat, aku dapat
kembali kepada bayangan sosok itu sebelum menghilang, dan
tetap meninggalkan sosok bayangan baru, yang semuanya
terjadi tak sampai satu kedipan.
Namun perempuan pendekar ini dapat mengimbangiku.
Sungguh lawan yang sepadan denganku, meski satu kunci
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
permainan telah kupegang: Jangan mengadu tenaga dalam!
Kukira kemampuannya menyerap tenaga dalam telah
menewaskan banyak lawan tangguh, jika ia memang
menyerang semua orang seperti ke-tika menyerangku
sekarang ini. Aku mengembangkan kecepatan pada taraf yang
sangat tinggi, sehingga tak ada satu pun pukulan
mematikannya mengenaiku; tetapi pukulan-pukulanku pun tak
ada yang mengenainya, meski kuakui tak ada satu pun
seranganku yang mematikan. Namun aku pun harus
mengakui, jika kukirimkan pukulan yang dapat mene-
waskannya seketika, pada salah satu dari sembilan titik
kematian di tubuhnya, kukira belum tentu pula aku akan dapat
mengenainya. Tiba-tiba aku mendapat akal untuk memancingnya, dengan
berlari memutari bangunan batu tanpa bilik itu. Jika ia
mengikutiku, maka aku akan berbalik menyerangnya dengan
mendadak, dan saat itu kukira aku akan mendapat peluang
yang tak sampai sekedipan mata untuk menotok titik di
tubuhnya yang akan membuat ia lumpuh untuk sementara;
tetapi yang terjadi justru sebaliknya, pada saat aku melesat
dan menoleh ke belakang, ia muncul di depanku dengan
serangan yang kecepatannya melebihi cahaya. Dengan sisa
waktu yang kumiliki, aku memiringkan tubuhku, meluncur
tepat di bawah tubuhnya yang kini menjadi lewat di atasku.
Pada saat itu, seketika waktu serasa begitu lambat, bagai
tiada lagi yang lebih lambat dari kelambatan ini, karena dalam
kecepatan seperti itu aku ternyata mampu membuka ruang
pikiran di dalam kepalaku.
Begitu dekat tubuhnya berpapasan dengan diriku, sehingga
terhirup olehku bau tubuhnya yang semerbak dengan harum
melati. Kukatakan bau tubuh dan bukan bau bunga, karena
memang tubuhlah yang serasa terbaui oleh indera
penciumanku, dan bukan bunga melati. Hanya tubuh, yang
dilibat kain putih, dan hanya putih, semerbak tubuh yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dibalut kain yang seperti telah diasapi pewangi, suatu
wewangian yang tidak tajam, tetapi mengendap meyakinkan
memberikan kesan suatu keanggunan...
Bagaikan aku dapat meraba tubuhnya itu, tubuh yang
dibalut kain putih longgar di pinggang, perut terbuka dan
terlihat anting-anting di pusarnya, tetapi kembali berkain ketat
membelit pada payudara. Supaya tidak bergerak-gerak naik
turun tentunya dalam pertarungan, menyisakan pemandangan
lembah maut memutih yang sangat mendebarkan. Siapalah
yang akan tega memusnahkan keindahan seperti ini dari muka
bumi" Hanya ancaman mautlah yang membuat siapa pun akan
tersadar, betapa keindahan yang tersaksikan dalam
pertarungan antara hidup dan mati itu adalah keindahan maut
adanya... Namun tidakkah maut itu sendiri barangkali sesuatu yang
indah" Jika tidak, mengapa banyak orang begitu tertarik untuk
bermain-main dengan maut"
Tubuh berbalut kain putih itu mengalir di udara dengan
lambat. Serasa ingin dan serasa bisa kusentuh kulitnya yang
kecokelatan karena terbakar matahari. Jika ia tinggal di istana,
ia lebih dari layak menjadi seorang putri raja, tetapi ia seorang
pendekar, tentunya pendekar pengembara yang telah
meninggalkan gua pertapaan dan kenyamanan atap
perguruannya. Pinggangnya yang ramping tampak semakin
ramping oleh tali kulit yang mengikatnya. Punggungnya
terbuka, tetapi tertutupi rambut lurus panjang lebat hitam
yang pada samping kiri dan kanannya dijepit sisir kulit penyu.
Baru kusadari ternyata di atas pusarnya yang beranting-anting
terdapat rajah seekor kalajengking. Sempat kuembus kulit
perutnya dalam perpapasan itu.
Waktu kembali berkelebat cepat. Siapa yang bisa
menghalangi waktu" Tentu saja ia tahu telah kutiup perutnya
dengan embusan dari mulut yang hangat dan ini memancing
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kemarahan jika tidak ingin mengatakannya naik pitam. Kini ia
tak bergerak. Akupun tak bergerak. Kami mendadak terpaku.
Ia menatapku dan aku menatapnya.
IA berusaha menguasai diriku, jadi aku pun harus
menguasai dirinya. Ia menggunakan tatapan mata ular yang
dingin, menyihir, dan s iap memagut dalam setiap kelengahan.
Patukan berbisa, apakah yang dapat menjadi lawan" Kutatap
ia dalam tatapan mata elang, tatapan yang dapat melihat ikan
berenang di dalam air dari atas gunung. Tatapan tanpa sihir,
tatapan untuk melihat dengan nyata, untuk mencakar dan
menerkam. Kami bertatapan dengan mata tajam. Siapa pun yang
memiliki mata batin untuk melihat pertarungan ini akan dapat
menyaksikan betapa seekor ular berbisa tanpa ampun telah
tersambar oleh cengkeraman elang. Betapa elang itu akhirnya
terbang tinggi dengan seekor ular meronta-ronta dalam
cengkeraman cakarnya. "Bah!!!!!" Ia berteriak agar pemusatan pikiranku buyar, lantas
menerjang dengan jurus-jurus pagutan ular yang mematikan.
Tiada lagi yang bisa kulakukan selain mengimbanginya dengan
Jurus Tarian Elang Emas yang sangat jarang kugunakan,
bahkan inilah kurasa untuk kali pertama aku memainkannya.
Dalam ilmu persilatan terdapat dua bentuk pembelajaran yang
disampaikan bersamaan: pertama, mempelajari jurus-jurus
mulai yang paling dasar sebagaimana murid mana pun dalam
setiap perguruan; kedua, mempersiapkan seorang murid agar
dapat menerima tenaga bantuan secara gaib dalam keadaan
terdesak, bahkan terdapat pula kemungkinan tenaga gaib ini
akan datang sendiri tanpa harus dipanggil, jika keadaan
memang membutuhkannya. Kiranya jiwa ular telah dipanggil
atau dengan sendirinya merasuk ke dalam tubuh perempuan
pendekar yang luar biasa ini, yang tidak bisa diatas i tanpa
mengundang tenaga gaib juga.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Aku memang dipersiapkan oleh Sepasang Naga dari Celah
Kledung agar mampu melakukannya jika menghadapi lawan
yang juga menggunakannya. Pada setiap hari pasar tertentu
selama tujuh kali berturut-turut, mataku diolesi dan ditetesi
cairan ramuan tertentu dari tumbuh-tumbuhan yang sepintas
lalu dapat mengakibatkan kebutaan, meski yang terjadi justru
kemampuan melihat sesuatu yang berada di luar jangkauan
pandangan orang awam. Jika semula mata kami bertatapan,
tetapi hanya bertarung di dalam pikiran; maka kini tubuh kami
bertarung, tetapi mata kami terpejam, karena dalam
keterpejaman terlihat sosok yang mengajak kami memainkan
segenap jurus yang kami keluarkan. Maka kini bukan kami lagi
yang bertarung, melainkan tubuh kami yang mewakili jiwa ular
berbisa dan jiwa e lang emas.
Dalam keterpejaman, kusaksikan Elang Emas itu menari,
mengangkat kedua sayap dan menerjang dengan cakar;
dalam keterpejaman tubuhku bergerak seperti menari tetapi
menghajar. Di antara sesama tenaga bantuan yang gaib,
siapakah yang akan menang" Pasangan pendekar yang
mengasuhku berkata, setidaknya terdapat lima jiwa yang
berhubungan dengan ilmu s ilatku yang dapat kupanggil, yakni
jiwa ular, jiwa harimau, jiwa kera, dan jiwa buaya, dengan
jiwa elang emas sebagai tenaga gaib utama. Benarkah
terdapat suatu jiwa semacam itu di dalam dunia ini yang dapat
dipanggil" Adapun yang kualam i hanyalah, aku melihat elang
emas yang mengajakku bermain silat dan menirukannya --
bahkan aku tidak melihat lawanku sama sekali!
Maka tiada yang dapat kuceritakan selain kesaksian atas
gerakan Elang Emas yang pada dasarnya tidak pernah kulihat
maupun kupelajari, tetapi yang telah disiapkan oleh pasangan
pendekar yang mengasuhku agar dapat dipergunakan
bilamana perlu. Jurus Tarian Elang Emas yang dibawakan jiwa
elang emas kini kusaksikan tanpa dapat kuterjemahkan secara
tepat dalam penceritaan; aku tak dapat mengatakan jurus-
jurus itu dibawakan oleh seekor elang ataupun manusia, tetapi
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
dapat kusampaikan bahwa jurus-jurus dibawakan oleh
manusia elang. IA tak bersayap tetapi bertangan, ia tak bercakar tetapi
berkaki; tangannya tak menjadi sayap tetapi mencakar,
kakinya tak menjadi cakar tetapi menerbangkan tubuhnya
dengan jejakan dan lentingan seekor burung elang yang
menyambar dari udara tanpa suara dan tanpa peringatan.
Tidakkah maut ternyata penuh keindahan" Tiada heran para
pendekar suka berdekat-dekat dengan kematian, kiranya
keindahan maut telah menjadi pesona tak terbayangkan.
Kemudian kurasakan terjadinya suatu benturan dahsyat.
Aku membuka mata seperti orang yang bangun tidur.
Rupanya keadaan yang sama juga terjadi dengan diri
perempuan pendekar itu. Namun kini terdapat orang ketiga.
Rupanya dialah yang telah memisahkan kami, dengan
menahan benturan dengan kedua tangan dari samping kanan
dan kiri. Tentu saja tingkat tenaga dalamnya tidak
terbayangkan. Ia seorang tua dengan jenggot melambai-lambai. Ia
mengenakan caping dan wajahnya seperti seorang petani. Ia
membuka caping dan mengipas-ngipas seolah kepanasan,
padahal hari telah semakin sore dan udara sejuk. Ia
berbusana seperti orang kebanyakan, tetapi ibuku pernah
berkata untuk berhati-hati terhadap siapa pun yang berusaha
menyembunyikan dirinya dari kejelasan kepribadian.
''Lawan yang paling sulit dikalahkan adalah lawan yang
paling sulit diduga,'' katanya.
Maka aku pun mempersiapkan diri untuk keadaan yang
paling buruk, karena kini aku berhadapan dengan dua lawan.
Namun agaknya justru orang tua berjenggot melambai itulah
yang menetapkan kami sebagai dua lawan.
''Heheheheheh! Dewa yang Agung memberikan aku berkah
untuk bertemu lawan seperti kalian! Sampai setua ini aku
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
malang melintang dalam dunia persilatan, tak seorang pun
kuanggap pantas sebagai lawan. Namun aku telah mengawasi
pertarungan kalian dari tadi, dan dapat kuketahui s iapa kalian.
Berhadapan satu lawan satu, kalian tak punya harapan, tetapi
jika kutantang kalian sekaligus berdua, kuharapkan kalian
dapat membunuhku.'' Perempuan pendekar itu mendengus dan meludah.
''Cuih! Tua bangka tidak tahu diri! Siapa sudi membunuh
orang tua seperti kamu! Tidak ada hakmu menyuruh aku
membunuhmu! Lagipula aku tidak punya keuntungan apa-apa
dengan membunuh jiwa lapukmu itu!''
Orang tua itu terbatuk-batuk dan juga meludah, tetapi ini
bukan sebagai penghinaan, melainkan tampaknya karena
memang sakit paru-paru yang parah, sebab kuperhatikan yang
diludahkannya adalah darah.
''Para pendekar, tolonglah aku, lawanlah aku dan bunuhlah
aku, agar aku mati sebagai seorang pendekar...''
Suaranya sekarang serak, mungkin karena sakit, mungkin
juga karena menahan tangis.
''Telah bertahun-tahun aku mencari lawan yang bisa
membunuhku, karena aku benar-benar ingin mati, tetapi tiada
satu pun dapat mengalahkan aku dan dapat membunuhku,
sedangkan seorang pendekar sejati tak dibenarkan mengalah
sekadar supaya dirinya terbunuh. Jadi kucari pertarungan
terhormat untuk kematianku. Aku sudah tidak tahan dengan
sakitku, tetapi aku tidak juga mati. Para pendekar muda yang
terhormat, telah kudengar nama Pendekar Tanpa Nama dan
Pendekar Melati dibawakan angin lembah sepanjang sungai
telaga dunia persilatan. Lawanlah aku, bunuhlah aku, agar
kudapatkan kematian dalam kesempurnaan.''
Ah! Itulah rupanya Pendekar Melati! Aku telah mendengar
bagaimana namanya menjadi perbincangan dari kedai ke
kedai sebagai perempuan pendekar takterkalahkan. Namun
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
keberadaannya sebagai perempuan telah membuat ia selalu
menyerang, karena tidak seorangpun lelaki pendekar merasa
pantas menantangnya. Demikianlah kudengar perbincangan dari kedai ke kedai.
''Bertarung melawan perempuan" Jika menang dianggap
tidak tahu malu, jika kalah lebih memalukan lagi! Menantang
perempuan sesakti apa pun belum pernah dilakukan dalam
dunia persilatan!'' Sebaliknya, jika Pendekar Melati menantang, juga tidak
seorang pun bersedia melayaninya. Adapun sebagai pendekar
yang menempuh jalan persilatan untuk mencapai kesempurnaan, ia membutuhkan pertarungan agar mendapat
pengakuan. Maka suatu cara telah dilakukannya untuk
memaksakan pertarungan, yakni selalu menyerang lawan
yang telah ditentukannya. Begitu rupa mematikan serangannya,

Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sehingga siapa pun lawannya harus mengeluarkan seluruh ilmu silatnya jika tidak ingin menemui
kematian. Itulah rupanya yang telah dilakukannya kepadaku,
sampai kami mencapai tingkat pertarungan yang tak pernah
terbayangkan. ''Aku menentukan lawanku sendiri, tidak seorang pun
menentukan siapa yang akan kutantang.''
''TAPI dikau kutantang, wahai perempuan pendekar,
bukankah selama ini tidak seorang pendekar pun sudi
menantangmu" Aku memohon kehormatan, tetapi akupun
memberimu kehormatan. Tolong, kalian berdua, lawanlah
aku.'' Pendekar Melati meludah lagi. Matanya yang tajam berapi-
api. ''Kehormatan apa yang akan didapatkan dengan membunuh seorang tua bangka penyakitan" Dan dikau
meminta aku membunuhmu dalam pengeroyokan! Jika dikau
seorang pendekar yang sudah makan asam garam sungai
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
telaga dunia persilatan wahai orang tua, maka dikau tahu
itulah suatu penghinaan! Aku lebih suka dikau berdua yang
melawan diriku seorang! Minggirlah orang tua! Aku masih
harus melanjutkan pertarungan!''
Lantas ia menghadap ke arahku, seperti bersiap melakukan
serangan. Aku meningkatkan kewaspadaan, karena siapa pun
orang tua itu, jelas ilmunya tinggi sekali. Jika yang terjadi
adalah diriku yang terpaksa menghadapi serangan, dari orang
tua itu maupun dari Pendekar Melati, sungguh aku harus
mengerahkan segenap kemampuan.
Namun orang tua itu membanting capingnya ke tanah,
lantas menjejakkan kakinya dengan akibat yang tidak pernah
terbayangkan. Suaranya berdentam dalam dan mendebarkan,
bahkan bumi pun serasa bergoyang. Ia menggeram dan
tampak menjadi amat kejam.
''Hmmmmmhh! Pendekar Melati! Dikau telah menghina
seorang tua! Aku akan memaksamu menghindari kematian
hanya dengan pertarungan!'
Lantas ia menegakkan tubuhnya, memasang kuda-kuda
dengan hentakan kaki yang lagi-lagi mendebarkan jantung
dan membuat bumi bergoyang. Hentakan yang sangat
mungkin meruntuhkan nyali!
''Pendekar Tanpa Nama dan Pendekar Melati! Bersiaplah
menghadapi Raja Pembantai dari Selatan!''
Nama itu membuat bulu kudukku meremang, dan kulihat
juga Pendekar Melati matanya terbelalak. Orang tua yang kini
tampak seperti algojo itu menyentakkan kedua tangannya ke
depan, maka dari dalam tangannya, betul-betul dari dalam
tangannya, muncul sepasang pedang hitam.
Nama itu sudah lama sekali tidak terdengar, tetapi nama itu
memang nama yang sangat mengerikan, karena berkaitan
dengan pembunuhan beribu-ribu orang!
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Sepasang pedang hitam itu digenggamnya erat-erat. Warna
hitam pedang itu terbentuk karena racun bercampur darah.
Lantas ia sekali lagi menggeram.
''Janganlah sekedip mata pun kalian kehilangan kewaspadaan, karena kalian dapat mati dengan kesakitan tak
terbayangkan!'' (Oo-dwkz-oO) Episode 59: [Wabah Kencana]
SEPASANG pedang hitam yang muncul dari dalam tangan
itu mendadak berputar bagai angin puting beliung. Bukanlah
betapa kehitamannya merupakan campuran darah dan racun,
melainkan bahwa hawa racun yang dikeluarkan pedang yang
lebih berbisa dari segala bisa itu dapat membunuh bahkan
tanpa lawannya itu harus tergores. Udara berbau amis, bukan
amis ikan, tetapi am is racun binatang yang tidak mudah
dijelaskan seperti apa baunya, yang jelas baunya sangat
memualkan. Aku yang baru saja bertempur melawan Pendekar
Melati dengan segenap keharuman melatinya, bagaikan
berpindah mendadak dari taman bunga ke tempat
penimbunan mayat-mayat yang sudah membusuk.
''Huuuuueeeeeeeekkkk!'' Pendekar Melati yang perkasa dan dalam kenyataannya
belum dapat kutundukkan itu ternyata tidak tahan dengan
baunya. Ia terpental keluar lingkaran dan muntah-muntah,
sama sekali bukan karena kalah tenaga karena benturan
senjata, melainkan melulu karena bau amis tersebut. Lebih
berbahaya lagi karena keamisan tersebut menunjukkan
tingginya tingkat racun. Bagi Pendekar Melati yang tenaga
dalamnya tinggi, bukan masalah besar baginya untuk
menahan resapan racun yang terhirup agar tidak memasuki
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
paru-parunya, tetapi itu tidak berarti ia juga akan tahan
terhadap baunya! Raja Pembantai dari Selatan yang mencari kematian itu
sebenarnya menyerang kami berdua bukan tanpa alasan.
Seperti dikatakannya, berhadapan satu lawan satu, menurut
perhitungannya ia pasti akan mampu mengalahkan kami;
sebaliknya, berhadapan dengan kami berdua sekaligus,
gabungan ilmu kami akan mampu menundukkan dirinya, yang
berarti juga menewaskannya, dan memang itulah yang
dicarinya. Maka sangat berbahaya bagi Pendekar Melati jika
dalam keadaan muntah-muntah itu Raja Pembantai dari
Selatan itu masih merangseknya pula. Pendekar Melati nyaris
hanya bertahan, berkelit ke sana dan kemari dengan ilmu
meringankan tubuhnya yang tinggi, tetapi bau amis telah
membuyarkan pertahanannya. Kedudukannya sangat berbahaya. MAKA segera kusambar dua batang bambu kuning yang
sembarang tergeletak dan segera kudesak Raja Pembantai
dari Selatan itu dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian.
Ia terpaksa melepaskan perhatiannya dari Pendekar Me lati
dan menghadapiku. Dalam keadaan biasa, apalah artinya
batang bambu kuning menghadapi dua pedang hitam yang
keluar dari tangan Raja Pembantai dari Selatan, tetapi kali ini
kedua batang bambu ini telah berisi tenaga dalam, yang
dengannya kumainkan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian
yang telah kukembangkan, yakni memainkannya dengan
pernafasan pranayama yang bukan hanyamampu membuatku
berjaya mengarahkan pukulan, tetapi juga memunahkan hawa
racun dari serbuk pedang yang bertaburan setiap kali beradu.
Setiap kali kedua pedang itu beradu dengan senjata lawan,
serbuk hitam selembut tepung berhamburan dan bertaburan
di gelanggang pertarungan, dan meracuni seluruh lingkungannya, sehingga dapat kubayangkan bagaimana
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
segala cerita tentang Raja Pembantai dari Selatan ini ternyata
merupakan kebenaran. Demikianlah cerita itu kudengar dari masa kecilku maupun
kudengar dari kedai ke kedai, bahwa apabila Raja Pembantai
ini bertarung, maka bukan saja musuhnya yang akan tewas
dengan tubuh mencair atau menghitam atau melepuh atau
terjulur lidahnya dan terloncat bola matanya karena kejahatan
ia punya bisa racun, tetapi juga penonton. Seluruh penonton
di tempat itu akan ikut mati karena segenap udara ikut
beracun. Dapat dibayangkan kekejaman Raja Pembantasi ini,
karena dengan sengaja ia takhanya membunuh manusia,
tetapi juga seluruh makhluk hidup di tempat ia datang
meminta korban. Konon ia mempelajari ilmu gaib yang
memerlukan korban. Konon pula gurunya yang gaib itu,
seorang tua bungkuk yang bisa tiba-tiba tampak dan tiba-tiba
menghilang, memberi syarat persembahan korban manusia,
binatang, dan tumbuh-tumbuhan yang dibunuh dengan
sekejam-kejamnya, jika ingin selalu menang dalam pertarungan. Maka dengan selesainya pertarungan Raja Pembantai
bukan hanya lawan dan para penonton yang tewas, tetapi
segenap lingkungan hidup hancur musnah. Mayat-mayat
ratusan manusia seisi desa, lelaki perempuan, tua muda,
besar kecil, orang sehat atau orang sakit, orang waras atau
orang gila, nenek bungkuk maupun ibu muda yang masih
menyusui bayi, berikut bayi-bayinya, bergelimpangan begitu
saja seperti tumpukan sabut kelapa; bangkai-bangkai hewan
piaraan maupun binatang liar mulai dari ayam, bebek, sapi,
kerbau, kambing, babi, anjing, sampai ular, kadal, bajing,
burung-burung, serangga, dan bekicot merata di mana-mana,
monyet jatuh dari pohon, kelelawar jatuh dari udara, dan ikan
di sungai meloncat keluar hanya untuk menggelepar
takseorang pun akan memakannya. Tanah menjadi tandus
dan mati, pepohonan yang manapun, pohon maupun semak-
semak, buah-buahan maupun bunga-bungaan, layu dan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
meranggas, atau juga menjadi putih mencair dan lengket
menjadi racun jua adanya. Jadi ia memang seorang
mahadiraja pembantaian terkejam yang pernah kudengar.
Pernah suatu ketika pasukan kerajaan memburu dan
berhasil mengepungnya di sebuah desa yang sudah mati,
tinggal gubuk-gubuk kosong yang reyot dan miring. Tidak
kurang dari seribu prajurit yang datang dari empat penjuru
mengepungnya di situ. Sejak pagi ia takkeluar juga semenjak
terdesak pada malam harinya, tetapi pasukan itu pun
takberani maju karena tahu bahwa racun akan membunuh
mereka dengan siksaan yang sakitnya taktertahankan. Jika ia
disebut Raja Pembantai dari Selatan, itu karena ia menguasai
daerah yang paling selatan, yakni suatu daerah pantai di
Yavabhumipala. Suatu daerah yang nyaris hanya dihuni
olehnya seorang, karena segala sesuatunya sudah mati,
bahkan tanah juga sudah mati.
Memang benar Raja Pembantai dari Selatan ini memiliki
banyak murid yang tersebar sebagai ahli racun, dukun klenik,
tukang santet, dan bromocorah. Bahkan dulu terkenal barisan
pengawalnya yang dijuluki Barisan Setan Iblis sebanyak
duapuluh orang. Namun Barisan Setan Iblis ini telah dibasmi
oleh para pendekar golongan putih. Meski taksatupun dari
para pendekar golongan putih itu bertahan hidup karena juga
dibantai, taklebih dan takkurang hanya mengukuhkan
kedahsyatan Sang Raja Pembantai.
KERAJAAN pun akhirnya turun tangan, karena Raja
Pembantai ini terus menerus membunuh orang awam yang
tidak bersalah. Dunia persilatan dan dunia kerajaan sebetulnya
merupakan dua dunia yang tidak pernah terhubungkan secara
langsung. Makanya, berapapun banyaknya pendekar yang
terbunuh, kerajaan tidak merasa kehilangan. Namun orang
awam adalah hamba kerajaan. Tanpa hamba, di manakah
letaknya raja" Seorang raja tidak bertahta di atas kekosongan,
kekuasaannya adalah kekuasaan atas sesuatu, dan sesuatu itu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
bukankah juga tanah-tanah kosong tanpa penghuni. Tanah-
tanah itu harus ada penduduknya, tetapi penduduk manakah
dapat hidup tenang di suatu wilayah tempat seorang
pembunuh dapat merajalela mencari mangsa
tanpa perlawanan" Jika kerajaan tidak berbuat sesuatu terhadap Raja
Pembantai dari Selatan, maka yang akan menjadi raja
bukanlah Rakai Panamkaran waktu itu, melainkan Raja
Pembantai itu sendiri meski memang akan menduduki daerah
yang kosong dan begitu kosongnya, bukan sekadar karena
seluruh penduduknya sudah mati dan sisanya berpindah
sejauh-jauhnya, tetapi karena seluruh makhluk hidup dan
tetumbuhannya bahkan tanahnya sudah mati. Tiada seorang
raja pun patut menyerahkan kekuasaannya kepada seorang
penyebar ketakutan. Maka terkepunglah Raja Pembantai dari Selatan di
wilayahnya sendiri. Seribu pasukan berkuda kerajaan bergerak
maju dari empat penjuru. Mereka harus bergerak sekarang,
karena jika hari menjadi gelap, para penguasa ilmu hitam
akan terlalu mudah menghilang. Namun pada saat pasukan
bergerak, dari tengah perkampungan mati yang penuh tulang
belulang segala makhluk hidup itu mengangkasalah selaksa
lebah yang segera berubah menjadi suatu cahaya, menjadi
cendawan cahaya di langit, bergabung dengan langit sore
yang juga keemasan. Pemandangan bagaikan sesuatu yang
indah, tetapi keindahan maut yang mengancam. Maka
cendawan cahaya yang kini telah memayungi pasukan
kerajaan itu segera berkelebat turun dan menyambar.
''Aaaaaaaaahhhhhhhhhh!'' ''Aaaaaaaaahhhhhhhhhh!'' ''Aaaaaaaaahhhhhhhhhh!'' Cendawan cahaya yang berkelebat menyambar pasukan itu
ternyata merupakan hawa panas, begitu panas, bagaikan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tiada lagi yang lebih panas, sehingga kulit mengelupas, darah


Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menggelegak bagaikan air dimasak, rambut terbakar, tetapi
tidak langsung mematikan. Manusia dan kuda meleleh
meskipun tidak langsung mati, ketika akhirnya seribu prajurit
itu tewas hampir seluruhnya, kecuali beberapa orang yang
kebetulan berada di luar sapuan cendawan. Betapapun kulit
tubuh dan rambut mereka tetap menjadi kuning dan segenap
cairan di dalam tubuh mereka serasa menguap, menerbitkan
rasa kekeringan dan kehausan yang luar biasa.
Tak berhenti di sana, cendawan ini bagai mengembang
melingkupi desa-desa di sekitarnya. Jika orang-orang tidak
segera lari, niscaya mereka pun akan mengalami nasib serupa.
Maka dengan sekuat tenaga siapapun orangnya segera lari
menghindari cendawan yang terus menerus melebarkan
dirinya, dengan lambat tapi pasti dan mengerikan sekali. Tidak
dapat kubayangkan bagaimana orang-orang berlari ketakutan
dalam kejaran cendawan kekuningan yang sangat membinasakan. Cendawan ini begitu indah dipandang mata seperti langit
yang keemas-emasan, tetapi memiliki daya memunahkan yang
bagaikan tanpa batasan, maka kemudian disebut sebagai
Wabah Kencana. Namun semenjak saat itu Raja Pembantai dari Selatan
bagaikan lenyap ditelan bumi. Tidak jelas benar apa yang
sudah terjadi. Pernah kudengar bahwa ia mengundurkan diri
dunia persilatan berdasarkan ketentuan dalam Musyawarah
Para Naga. Dalam pertemuan tahunan ini diceritakan bahwa
Naga Hitam telah berhasil mempengaruhi tujuh naga yang
lain, yakni Naga Putih, Naga Kuning, Naga Merah, Naga Biru,
Naga Hijau, Naga Jingga, dan Naga Dadu agar memberikan
ancaman kepada Raja Pembantai dari Selatan, bahwa seluruh
dunia persilatan akan mengepung dan memusuhinya jika ia
tidak mengundurkan diri. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Bahwa seorang Raja Pembantai yang memiliki kemampuan
menyebarkan Wabah Kencana dengan kekejamannya yang
tiada tara bersedia menuruti perintah yang diputuskan dalam
Musyawarah Para Naga, bagiku menunjukkan wibawa para
naga di dunia persilatan; tetapi bagiku cerita ini tidak terlalu
meyakinkan, aku lebih percaya Raja Pembantai dari Selatan itu
mengundurkan diri dari dunia persilatan, lebih karena
kehilangan lawan yang mampu menundukkannya. Begitulah
berbagai jenis cerita beredar di dunia persilatan maupun di
dunia awam berdasarkan kepentingan masing-masing. Di
dunia a wam, pertempuran dalam pengepungan terhadap Raja
Pembantai tersebut tidak pernah terjadi, meski mereka juga
menyebut wabah kematian tersebut sebagai Wabah Kencana.
DI tengah pertarungan, mendadak terlintas dalam benakku,
cerita tentang Musyawarah Para Naga itu, benar atau tidak
keberadaannya, seperti menghubungkan dunia persilatan
dengan istana. Mungkinkah semua ini hanya lamunanku saja
atau merupakan tanda perubahan belumlah kuketahui.
Tidakkah aku dapat menanyakannya kelak pada suatu hari
kepada para naga saja, ketika bertarung melawan mereka
dalam jalan kependekaran untuk mencapai kesempurnaan"
Namun tentu saja hal itu tidak dimungkinkan jika hari ini aku
tewas dalam pertarungan melawan Raja Pembantai dari
Selatan. Wuuuuuuuuuuuzzzzzzzzzzz! Pedang hitamnya nyaris membelah leherku. Aku menahan
nafas ketika pedang itu lewat mendesing di bawah hidungku.
Kedua pedangnya menyebarkan hawa racun yang amis, bacin,
dan memuakkan. Itulah sulitnya bertempur melawan golongan
hitam, karena mereka selalu menggunakan segala cara untuk
menang. Jika mereka yang menempuh jalan kependekaran
bersedia menempuh pertempuran untuk mencapai kesempurnaan, meski dapat berakibat kematian; bagi
golongan hitam kemenangan adalah segalanya dan boleh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ditempuh dengan segala cara, meskipun sangat licik dan
penuh kecurangan dalam siasat pertempurannya. Jadi dalam
pertarungan yang seharusnya menjadi pertarungan ilmu
pedang seperti ini, yang tidak kalah menyita perhatian adalah
cara menghadapi racun dan daya sihir yang sangat menipu
pandangan. Wabah Kencana tampak sebagai langit yang indah dalam
senja yang sungguh keemasan, tetapi siapakah yang akan
mengira betapa akan meninggalkan bencana yang begitu
menyiksa" Dalam pertarungan ini kuhayati cara bertempur
golongan hitam yang licik, tidak tahu malu, dan bukannya
berarti takberketrampilan. Seluruh jurus Raja Pembantai ini
sangat mengerikan, karena bukan sekadar membunuh yang
jadi tujuan, melainkan sedapat mungkin membunuh dengan
menyakitkan. Meskipun aku dapat menerapkan Jurus
Bayangan Cermin untuk menghadapinya, kutahu itu bukannya
tanpa akibat, karena begitu seluruh ilmunya terserap ke dalam
diriku, terserap pula segenap ilmu racun dan sihir Raja
Pembantai dari Selatan itu ke dalam tubuhku!
Pedang hitam itu menari-nari seperti tanduk iblis, seolah-
olah pedang itu memiliki matanya sendiri. Pedang yang keluar
dari dalam tangan, apalah yang tidak dapat dilakukannya"
Namun Jurus Dua Pedang Menulis Kematian ternyatalah bisa
lebih dari mengimbanginya meski yang kugunakan hanyalah
dua batang bambu kuning. Suatu kali nyaris leher Raja
Pembantai dari Selatan itu terbabat putus jika ia tidak segera
melesakkan dirinya ke dalam tanah.
Saat itulah, ketika ia meloncat ke udara untuk memulai
serangannya lagi, lima daun bambu yang telah menjadi keras
dan tajam seperti pisau terbang meluncur ke dadanya.
Kejadiannya berlangsung cepat sekali. Siapapun orangnya
tidaklah mungkin untuk terhindar dalam keadaan seperti itu.
Lima daun bambu yang telah mengeras seperti pisau terbang
akan segera tertancap di dada Raja Pembantai dari Selatan.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Namun kejadian selanjutnya sungguh aneh, manusia yang
sejak tadi terus menerus mengelak dan menangkis pukulan
senjata bambuku itu memang kemudian tampak jelas
tertembus tubuhnya, bagaikan tubuhnya tidak terdiri dari
darah dan daging, melainkan dari asap!
"Huh?" Pendekar Melati, yang agaknya telah melemparkan daun-
daun bambu itu, tertegun. Aku juga tertegun. Tinggal
bangunan batu tanpa bilik itu, yang tegak kehitaman di balik
kelam. Aku terkesiap. Kekelamanm selalu mampu dimanfaatkan dengan baik oleh ilmu hitam, yang tidak pernah
sudi berurusan dengan kejujuran. Akupun berteriak.
"Dikau mencari kematian, tetapi dikau terus menerus
menghindari kematian! Dari tadi sebetulnya dikau hanya bisa
hidup terus karena ilmu sihirmu yang hitam, bukan ilmu
pedang atau ilmu persilatan, dikau tidak akan mendapat
kehormatan seorang pendekar, wahai Raja Pembantai dari
Selatan!" Aku berkata demikian untuk memancingnya. Agar iblis itu
melepaskan ilmu s ihirnya dan bertanding merebut kehormatan
melalui pertarungan yang dapat dimenangkan sebagai seorang
pendekar, bukan kemenangan seseorang dari golongan hitam.
Tindakanku itu juga merupakan siasat, karena jika Wabah
Kencana yang bagaikan tiada terlawan itu dikeluarkannya, aku
belum tahu bagaimana mengatasinya. Namun bukan diriku
sendiri yang kupikirkan, melainkan Pendekar Melati, meskipun
kehadiran perempuan pendekar itu di tempat ini, taklebih dan
takkurang hanyalah untuk membunuh diriku!
HARI belum lagi malam, tetapi saat-saat seperti itulah yang
kurasakan sebagai penuh dengan bahaya, karena kesamaran
menjelang malam merupakan suasana yang sangat menipu
pandangan. Bukankah senja merupakan peristiwa perubahan
yang sangat cepat" Siang dan malam memberikan ketetapan
suasana yang panjang, tetapi pergantian suasana dari terang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
menuju gelap, tepat pada batasnya, merupakan keadaan yang
paling rawan dalam pertarungan. Aku sering memanfaatkan
keadaan seperti ini, tetapi kini adalah Raja Pembantai dari
Selatan itu yang tampak bermaksud menggunakannya kepada
diri kami berdua! Seperti telah lama bekerja sama, aku dan Pendekar Melati
saling beradu punggung untuk menghadapi segala kemungkinan. Aku masih dengan senjata bambuku,
perempuan pendekar itu ternyata telah memegang sebuah
toya. Entah bagaimana pula toya sepanjang itu telah disimpan
dan kini dikeluarkannya, apakah ia telah menyimpan
senjatanya secara gaib pula"
Mendadak kudengar desingan senjata-senjata rahasia, dan
bersama dengan itu sejumlah bayangan berkelebat dari balik
kelam. (Oo-dwkz-oO) Episode 60: [Rehat dan Filsafat]
Pembaca yang Budiman, sekali lagi izinkanlah diriku yang
tua ini beristirahat sebentar. Usiaku boleh seratus tahun dan
aku memiliki tenaga dalam, tetapi pengalamanku menulis
masih sangat singkat, apalagi untuk menulis sesuatu yang
belum dapat kuketahui kapan berakhir.
Ada kalanya aku menulis sangat lambat. Hanya beberapa
kalimat, di atas lembaran lontar yang baru saja mengering,
dengan guratan pengutik yang membentuk aksara Kawi.
Kupilih menulis dalam aksara dan bahasa ini, karena aku
memang membayangkan bahwa orang akan membacanya
dalam bahasa ini. Lagipula, di seluruh Javadvipa, bukankan
semua orang berbicara bahasa ini" Tentu aku taktahu nasib
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
tulisanku, jika pada suatu kali tiada lagi bahasa Kawi ini di
muka bumi. Kadang kala aku menulis dengan lambat, karena tidak
semuanya teringat olehku secara tepat. Pertarungan yang
berlangsung secara cepat misalnya, tidak selalu dapat kuingat
dengan rinci bagaimana gerakan itu telah berlangsung.
Memang bisa terjadi karena lupa dan tidak sedikitpun dapat
kuingat lagi, dapat pula karena memang tidak mungkin
dituliskan meski aku mengingat sampai yang sekecil-kecilnya,
karena jika dituliskan dengan tetap rinci, selain akan menjadi
takterhitung lagi berapa ratus lembar lontar diperlukan untuk
sebuah pertarungan yang hanya singkat, justru akan terasa
berlebihan dan tidak meyakinkan sebagai kenyataan yang
sungguh kualami. Ini berarti sambil menulis, sebetulnya aku masih
memikirkan cara untuk menulis dengan sebaik-baiknya.
Sangat menggelisahkan bagiku, jika suatu peristiwa kualami
sebagai sesuatu yang dahsyat, tetapi ketika kutuliskan dan
kubaca kembali tampaknya tidak menjadi sesuatu yang luar
biasa. Apakah rahasia orang menulis"
Nah! Aku memang telah berusaha menulis dengan sejujur-
jujurnya, tetapi seberapa jauh tulisanku akan terbaca dan
meyakinkan sebagai kenyataan" Dapatkah tulisanku dipercaya
jika telah kuceritakan peristiwa yang bisa diakibatkan oleh
Wabah Kencana, Jurus Bayangan Cermin, dan apalagi nanti
Jurus Tanpa Bentuk" Jika aku menuliskan sesosok bayangan berkelebat
bagaimanakah Pembaca yang Budiman akan menerimanya
juga sebagai sesosok bayangan berkelebat " Mungkinkah
Pembaca yang Budiman menerima suatu penggambaran
sebagaimana aku menggambarkannya" Jika dalam hal gambar
pahatan pada batu kesamaan antara penggambaran dan
penerimaan masih mungkin dijamin, meski kemudian
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
penafsiran akan menghancurkan kembali kesamaan itu,
seberapa mungkinkah kesamaan itu masih mungkin
berlangsung dalam penggambaran dengan kata-kata"
Aku berusaha menggambarkan kembali segenap pengalamanku seperti aku telah mengalam inya, tetapi selain
daya dan kemampuan penggambaranku terbatas, di samping
ingatanku yang juga amat sangat terbatas, penerimaan
siapapun yang membaca catatanku ini juga akan sangat
menentukan. Aku sendiri tidak dapat berbuat apa-apa dalam
mengarahkan ketentuan atas penerimaan para pembaca.
Hidup pada masa apakah Pembaca yang Budiman sekarang
ini" Jika pembaca hidup dalam masa yang sama denganku
sekarang ini, yakni tahun 871, itu pun belum dapat dipastikan
bahwa penggambaranku akan diterima seperti yang
kuinginkan, bahkan boleh dipastikan siapapun di zamanku
tetap akan membacanya dengan ia punya sudut pandang dan
bukan pandanganku. Apalagi pembaca catatan ini seratus
tahun kemudian pada 971, atau seribuseratus tahun kemudian
pada 1971 bukan" SAAT itu aku sudah tidak tahu lagi di mana diriku. Menjadi
zat yang lebur dalam zat semesta raya, tiada lagi diri, hanya
zat, melebur dalam udara tanpa kesadaran, yang telah
kutinggalkan sebagai catatan.
Begitulah aku telah menuliskan catatan ini selama berhari-


Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

hari dan berminggu-minggu nyaris tanpa henti, kecuali tentu
saja ketika aku harus menjalankan pekerjaanku sebagai
pembuat lontar. "Orang tua, dikau selalu mengambil sepuluh lembar dari
setiap seratus lontar yang dikau buat. Ada apa sebenarnya,
orang tua" Dikau menulis tanpa beranjak dari tempatmu
duduk bagaikan seorang empu, karya tulis apakah yang kau
buat wahai orang tua?"
Demikianlah pengusaha lembaran lontar yang mempekerjakan aku akhirnya bertanya.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
"Maafkanlah sahaya, Tuan, sungguh-sungguh maafkanlah
sahaya, adapun sepuluh lembar lontar yang sahaya ambil dari
tiap seratus lembar itu sahaya gunakan hanyalah untuk belajar
menulis sahaja." "Belajar menulis" Hmm. Coba lihat."
Ia memperhatikan caraku mengguratkan aksara dari
sebuah lembaran. "Apa lagi yang dikau pelajari, tulisanmu ini tulisan orang
yang sudah biasa menulis."
"Ya, sahaya dahulu kala bekerja pada seorang guru silat,
Tuan, yang mengejakan kata-kata untuk sahaya guratkan,
tetapi itu pun lebih banyak gambar-gambar Tuan, gambar
jurus-jurus ilmu silat."
Lantas ia tatap tubuhku yang takberbaju.
"Apakah dikau juga seorang pesilat, wahai orang tua?"
Harus kuakui tubuhku tidaklah terlalu kurus dan kering
sebagai manusia berusia seratus tahun, tetapi bukankah aku
sedang menyamar sebagai orang berumur 60 tahun"
"Setiap pemuda di kampung kami memang belajar silat,
Tuan, tetapi hanya beberapa jurus sahaja, sebagai bagian
pertahanan desa." "Ah, begitu," ia mengangguk-angguk, "di manakah
kampungmu itu orang tua?"
Tak kusangka tentu, pertanyaan itu.
"Sahaya hanyalah orang kampung, Tuan, sahaya berasal
dari wilayah Kledung."
"Kledung" Hmm. Aku ingat orangtuaku bercerita tentang
Sepasang Naga dari Celah Kledung."
Aku tercekat. Sudah seratus tahun umurku, tetapi ingatan
kepada pasangan pendekar yang mengasuhku dengan penuh
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kasih sayang itu masih membuat mataku berlinang-linang.
Namun kali ini aku tidak memperlihatkannya.
"Bagus sekali dongeng tentang mereka itu," katanya lagi,
"kurasa memang luar biasa untuk mendapatkan kematian
yang sempurna sebagai seorang pendekar, bukan kematian
karena terlalu banyak makan."
Ia melangkah pergi, tapi berhenti sebentar untuk bertanya.
"Jadi apakah yang sedang kau tulis, orang tua?"
Apalagi yang bisa kujawab"
"Kenang-kenangan saya sahaja Tuan, sekadar mengisi
waktu luang, sebelum nyawa kita melayangO."
Ia meneruskan langkahnya dan hilang ditelan pintu bilik
rumahnya. Di depan pondokku anak-anak kecil masih bermain
dakon. Aku masih tertegun. Riwayat Sepasang Naga dari
Celah Kledung diterima sebagai dongeng. Tentu tidak ada
salahnya. Aku mengaku telah menjadi juru tulis bagi seorang
guru silat, karena hanya pengalaman menulis kitab ilmu silat
itulah yang pernah kulakukan sebagai seorang penulis, dan
seperti telah kuakui, lebih banyak gambar daripada kata-kata
yang terdapat dalam kitab ilmu silat.
Tentu bukanlah kitab ilmu silat seperti yang telah kutulis
itulah yang terbayang di kepala pembuat lembaran lontar
untuk istana tersebut. Telah kuceritakan betapa dunia
persilatan hanya terdengar bagaikan dongeng di telinga
orang-orang awam, tetapi memang terdapat juga ilmu silat
yang merupakan bagian dari kebudayaan orang-orang awam
tersebut. Di dunia orang awam, ilmu silat adalah pelajaran
wajib setiap orang sebagai kelengkapan hidupnya, karena
kejahatan seperti pencurian, pembunuhan, pemerkosaan,
perampokan, dan penjarahan adalah bagian dari kehidupan
sehari-hari. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Namun selain sebagai cara untuk membela diri, ilmu silat
juga hadir sebagai seni, yang biasa dipertunjukkan dalam
pesta dan upacara, mulai dari pesta pernikahan sampai
upacara panen. Ini berarti memang terdapat guru-guru yang
mengajarkan ilmu silat, tetapi tidak terdapat pekerjaan guru
silat, karena dalam kehidupan sehari-hari mereka memiliki
pekerjaan masing-masing, apakah sebagai petani, tukang
besi, pengantar surat, atau juga seorang pejabat desa. Mereka
yang memiliki kepandaian ilmu silat tanpa pekerjaan, malah
dapat dicurigai sebagai sekadar tukang pukul atau pembunuh
rahasia, dan tentu saja ini akan sangat menggelisahkan.
Mereka yang menjual ilmu silatnya kepada siapapun yang
bersedia membayarnya, termasuk melakukan pembunuhan,
akan menenggelamkan diri dalam kehidupan rahasia. Memang
dunia penuh kerahasiaan inilah yang justru akan menghubungkannya dengan dunia persilatan sebenarnya,
seperti yang telah kutuliskan dan kualam i sendiri.
DENGAN ini juga semoga Pembaca yang Budiman menjadi
lebih jelas, bagaimana menempatkan ilmu silat dunia awam
dalam perbandingannya dengan ilmu silat sungai telaga dunia
persilatan. Apa yang bagi orang awam merupakan dongeng,
bagiku merupakan suatu kenyataan yang dapat kutuliskan,
aku mengenalnya sebagai bagian diriku, sebagai dunia yang
telah selalu kuhidupi dan menghidupkan diriku. Maka jika aku
menuliskan betapa suatu pertarungan telah berlangsung
dalam kecepatan cahaya sehingga takdapat diikuti mata orang
biasa, maka pertarungan tersebut memang telah berlangsung
seperti itu, setidaknya seperti yang kurasakan ketika
mengalaminya. Masalahnya, seberapa mungkin aku berdaya
membahasakannya" Mula-mula ini tentu masalah kemampuanku sebagai penulis, tetapi kemudian juga seberapa
berdaya bahasa menerjemahkan dan mencerminkan kenyataan dunia persilatan itu. Mungkinkah ada sesuatu yang
takterbahasakan di dunia ini" Ataukah harus dikatakan bahwa
dunia persilatan dan dunia bahasa adalah sesuatu yang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
ternyata tidak berhubungan antara yang satu dengan lainnya"
Kalau begitu caranya, dunia persilatan yang terbaca bukanlah
persilatan jua adanya, melainkan dunia sastra, karena jurus-
jurus silat tidak tampil sebagaimana adanya, melainkan
melalui kata-kata. Pembaca yang Budiman, izinkanlah diriku yang tua ini
mengelantur ke sana kemari lebih dahulu, karena menulis
berpanjang-panjang dengan liar tidaklah membuatku bahagia
tanpa sekadar usaha merenungkannya. Bukankah pernah
kukatakan, dengan suatu cara, bahwa dunia persilatan
bukanlah seperti me lainkan adalah kesusastraan" Dalam
penulisan dan pembacaan, sungai telaga dunia persilatan
hidup dalam kata-kata, dan bukan permainan pedang.
Memang kata-kata menjadi lebih tajam daripada pedang,
bahkan kata-kata juga telah mempertajam pedang itu sendiri.
Bukankah pernah kuceritakan tentang ketajaman sebuah
pedang yang mampu membelah ketebalan sehelai rambut dan
bukan kepanjangannya" Harus kukatakan sekarang bahwa
akupun masih dapat bercerita tentang ketajaman sebuah
pedang yang dapat membelah ketebalan sehelai rambut
bahkan menjadi tujuh bagian. Manakah kiranya yang lebih
hebat kemudian, ilmu persilatan ataukah ilmu penulisan" Jika
hanya lewat tulisan dunia persilatan mendapatkan keberadaannya, maka dapat dibayangkan betapa tanpa kata-
kata sungai telaga persilatan merupakan dunia yang terlalu
sunyi. Penemuan tentang peranan kata-kataku sendiri dalam
dunia persilatan agak mengejutkan bagiku. Menemukan diriku
sendiri sebagai seorang pesilat kata-kata tidaklah menyenangkan diriku. Tidakkah dalam usahaku membuat
pembaca tersenangkan dan percaya, aku tentu akan
menuliskan sesuatu dengan cara yang mengecoh mereka"
Tidakkah aku akan cenderung membuat pembaca yang
manapun berpihak kepadaku, menyetujui pendapatku, dengan
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
cara menggiringnya ke arah itu" Mampukah kiranya aku
menahan diriku sendiri untuk tidak berlaku seperti itu"
Hmm. Kejujuran adalah perkara yang rumit. Kiranya ilmu
penulisan memberikan tuntutan yang tidak kalah besar
tanggungjawabnya dibanding ilmu persilatan. Apabila dalam
ilmu persilatan kita harus bertanggungjawab atas setiap
kematian yang kita sebabkan, maka dalam ilmu penulisan kita
harus bertanggungjawab agar setiap kalimat tidak merupakan
penipuan; karena setiap kali seorang pembaca terkecoh
pandangannya atas kenyataan, dosa seorang penulis sama
besar dengan pembunuhan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Padahal seorang pendekar hanya
dapat menewaskan seorang lawan satu kali; sedangkan
kalimat demi kalimat yang tersusun menjadi pesan
tersampaikan, bukan hanya mungkin dibaca seseorang
berkali-kali, tetapi terutama mungkin saja dibaca berbagai
orang dari zaman ke zaman berganti-ganti; belum lagi jika
akan sering dibacakan di depan para pendengar dari kampung
ke kampung, sehingga jumlahnya sungguh takterhitung
banyak sekali. Aku menghela nafas. Itu berarti seorang penulis berpeluang
mengumpulkan dosa sebuah pembunuhan banyak sekali tanpa
disadari. Padahal, dalam penulisanku ini, aku hanya ingin
menemukan suatu penyebab dalam riwayat hidupku, yang
telah membuat para pembunuh bayaran memburu diriku, dan
seseorang menginginkan aku mati.
Mengapa seseorang menghendaki aku mati" Atau
mungkinkah sejumlah orang bersepakat menentukan bahwa
sebaiknya aku mati" Mungkinkah bukan sejumlah pribadi,
melainkan negara itu sendiri, seperti yang dapat kutafsirkan
dari selebaran perburuanku yang resmi, yang memutuskan
aku harus mati" MENGAPA seseorang menghendaki aku mati" Atau
mungkinkah sejumlah orang bersepakat menentukan bahwa
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sebaiknya aku mati" Mungkinkah bukan sejumlah pribadi,
melainkan negara itu sendiri, seperti yang dapat kutafsirkan
dari selebaran perburuanku yang resmi, yang memutuskan
aku harus mati" Benarkah suatu ajaran rahasia yang menjadi sumber
masalah ini" Kuakui dengan jujur, betapa aku sungguh tidak
mengerti. Jika suatu ajaran rahasia telah disebut sebagai
vidharma atau apatha atau vipatha atau juga mithyadusti
karena kerahasiaan itu sendiri, maka apakah yang tidak
rahasia dalam segala ajaran di atas bumi Javadvipa ini"
Tidakkah setiap ajaran memang memiliki rahasianya sendiri"
(Oo-dwkz-oO) AKU masih menulis ketika dunia seperti membuka diri
kepadaku, mengeluarkan diriku dari dunia di dalam batok
kepalaku sendiri. Kulihat bajing me lompat naik turun pohon
kelapa, menyeberang dari daun ke daun yang jadi bergoyang
dan meneteskan sisa-sisa air hujan. Orang-orang kampung
menyeberangi halaman puri untuk menyingkat jalan. Anak
kecil berlari-lari di sekitar ibu yang menggendong adik
bayinya. Segala sesuatu dari kehidupan sehari-hari, kenapa
kini menjadi indah sekali, meski segala sesuatunya hanyalah
sama, sama, dan sama saja sama sekali.
Lantas kusadari betapa cara memandang itulah yang sudah
berubah. Segala sesuatu dari kehidupan sehari-hari yang
tampaknya memang akan selalu sama dapat saja menjadi
lebih dari biasa jika kita memandangnya sebagai sesuatu yang
luar biasa. Jadi mengapa aku tidak memandang segala
sesuatu sebagai luar biasa sahaja" Mengapa aku tidak harus
memandang segala sesuatu sebagai istimewa bukan"
Maka kulihat orang-orang yang melangkah di halaman
bukan sebagai orang-orang yang melangkah di halaman,
melainkan sebagai penari yang bergerak penuh keanggunan,
meski mereka hanya melangkah dan berjalan sebagaimana
biasanya mereka melangkah dan berjalan. Namun segalanya
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
kemudian memang berubah apabila kemudian aku dapat
menyaksikan pantulan matahari pada rambut lurus panjang


Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

baru saja diminyaki, wajah ceria dalam canda dan tawa yang
menoleh kepadaku antara terlihat dan tidak terlihat karena
semburat cahaya di belakang kepala mereka, serta suara-
suara riang anak-anak bermain dakon sebagai latar belakang
segala pemandangan. Gadis-gadis dengan kain di pinggang
dan dada mereka yang terbuka, para jejaka dengan destar di
kepalaO Begitu sederhana, begitu biasa, tetapi dalam pandanganku
kini penuh dengan pesona.
Lantas muncullah Nawa, anak yang sangat bersemangat
untuk belajar membaca dan menulis itu.
"Kakek, lihatlah tulisanku."
Ia membawa sejumlah lembaran lontar. Aksara telah
diguratkannya dengan cukup rapi, meski terkadang masih
berlari ke sana kemari, "Apakah yang kamu tulis itu Nawa" Marilah kubaca."
Maka aku pun membacanya. "Salinan ya?" "Ya, dari Arthasastra di dalam sana, apakah tulisanku dapat
dibaca?" Aku terkejut, bukan karena apa yang dituliskannya sebagai
salinan, melainkan yang telah dibacanya sebagai pengetahuan. Anak sekecil ini telah menyalin bagian tentang
Daftar Ilmu-Ilmu, bagaimana kelak ia jadinya"
Anvikshaki, ketiga Veda, Varta dan Dandaniti
inilah ilmu-ilmu Vidya ketiga Veda, Varta, dan Dandaniti
inilah ketiga ilmu kata para pengikut Maha Rsi Manu
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
sedangkan Anvishaki hanyalah cabang tersendiri dari Veda
hanya Varta dan Dandaniti
yang termasuk ilmu kata para pengikut Maha Rsi Brhaspati
karena pengetahuan Veda hanyalah suatu selubung bagi seseorang yang memahami cara-cara di dunia
Dandaniti adalah satu-satunya ilmu kata para pengikut Maha Rsi Usana
padanya terikat usaha-usaha
yang berhubungan dengan semua ilmu
empatlah sesungguhnya jumlah ilmu-ilmu itu
kata Kautilya karena dengan bantuan semua ilmu itu
seseorang dapat belajar tentang kebenaran dan kesejahteraan
karenanya semua disebut Vidya
Samkhya, Yoga, dan Lokayata
inilah yang membentuk Anvikshaki
kebenaran dan kebatilan tindakan
dipelajari dari Veda kesejahteraan dan kemiskinan
dipelajari dari Varta kebijakan baik dan buruk dipelajari dari Dandaniti
begitu pula kemampuan dan kelemahan ketiga ilmu
Anvikshaki memberikan manfaat kepada orang-orang
dengan tetap teguh di dalam kemalangan dan kemenangan
akan meningkatkan kemahiran
di dalam pikiran, ucapan, dan tindakan
Anvikshaki atau Filsafat TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
cahaya segala ilmu alat bagi segala penunjang hukum dan kewajiban
NAWA baru enam tahun umurnya. Bagaimana jadinya jika
ia bertahan pada jalan pengetahuan seperti sekarang selama
hidupnya" Ia akan beranjak dari jalan pengetahuan menuju
jalan ilmu pengetahuan. Kuingat kehidupanku sendiri pada
masa kecilku, bagaimana caranya aku mengenal pengetahuan
dan persilatan. Nawa masih belajar menuliskan aksara, tetapi
telah dapat kubayangkan pintu dunia yang terbuka untuknya.
"Aksaramu sudah tertulis dengan bagus Nawa, tetapi kata
dan kalimat mestinya ditulis rata, tidak meloncat-loncat dan
jadinya miring seperti ini."
Mata Nawa berbinar dan penuh cahaya.
"Tapi aku sudah dapat mengejanya Kakek!"
Lantas katanya: "Anvikshaki atau Filsafat adalah cahaya
segala ilmu, benarkah itu Kakek?"
Aku hanya tersenyum, mengusap kepalanya, sembari
berdoa di dalam hati, semoga ia tidak mengenal dan
menghendaki juga untuk menguasai ilmu persilatan. Aku tidak
dapat membayangkan, jika jiwa semurni ini kelak harus
menumpahkan darah. Namun tiba-tiba ia berkata.
"Kakek, benarkah Kakek seorang pendekar?"
(Oo-dwkz-oO) TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
KITAB 4: DUA PEDANG MENULIS
KEMATIAN (Oo-dwkz-oO) Episode 61: [Bagaikan Ruang Angkasa]
Pembaca yang Budiman, izinkanlah aku untuk menunda
jawaban atas pertanyaaan Nawa, yang bertanya apakah benar
aku seorang pendekar itu, sampai waktu rehat berikutnya,
karena aku takut jadi terlalu melantur. Bukankah aku sedang
menceritakan diriku yang berusia 25 tahun, bertemu dengan
Pendekar Melati, dan bertarung antara hidup dan mati
melawan Raja Pembantai dari Selatan" Aku harus segera
menceritakannya kembali sebelum semuanya terlupakan
dalam waktu. Senjata-senjata rahasia itu berdatangan dari segala
penjuru. Aku memejamkan mata, menancap ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, agar
semuanya menjadi jelas tergambar dan takhanya sekadar
terdengar sebagai suara desingan. Udara ditembusi jarum-
jarum beracun yang meluncur dengan kecepatan takterbayangkan. Serangan macam ini hanya dapat di atasi
dengan naluri yang terlatih, karena kecepatannya memang
memang melampaui kecepatan pikiran. Namun dengan ilmu
pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang,
kecepatannya bagai terlambatkan meski dalam kenyataannya
tidak sama sekali. Tetap meluncur dan siap merajam tubuhku
maupun tubuh Pendekar Melati.
Dalam keremangan masih dapat kutangkap bias cahaya
redup hijau kekuningan penanda tingginya tingkat racun yang
dibawanya, sehingga jangankan terajam, hanya tergores pada
kulit saja sudah lebih dari cukup untuk mengantar korban ke
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
jalan kematian mengerikan. Pernah kusaksikan seorang
pendekar terkena jarum beracun semacam itu di tengah
pertarungan dan langsung menggelepar dengan lidah terjulur
dan bola mata nyaris terlompat keluar. Mengerikan sekali! K ini
ribuan jarum mendesing dari segala penjuru mengancam
diriku! Keadaan menjadi jauh lebih berbahaya, karena di
belakang jarum-jarum itu sejumlah sosok menyerbu dengan
kecepatan yang sama! Ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam
Liang menjabarkan semuanya sebelum aku dapat bertindak
dengan kecepatan melebihi kilat. Pertama, bahwa jarum-jarum
beracun yang meluncur itu berjumlah 200.000 sehingga
pantaslah bias cahaya dan gesekannya pada udara lebih
mudah dibaca daripada jika jarum yang dilepaskan hanya satu
saja adanya; kedua, 200.000 jarum itu dilepaskan oleh 20
sosok bayangan yang berkelebat begitu cepat ke arah kami
dengan berbagai senjata terhunus.
Berarti setiap orang melepas 10.000 jarum beracun, bukan
dari sebuah kantung, melainkan dari dalam tangannya!
Mereka pasti duapuluh anggota Barisan Setan Iblis yang telah
dibangun kembali oleh Raja Pembantai dari Selatan.
KECEPATAN jarum-jarum itu menunjukkan darimana ia
berasal, karena hanya dengan daya gaib maka 200.000 jarum
beracun itu dapat meluncur serentak dan tidak berturut-turut.
Perbedaannya juga sangat jelas, berapa banyakpun jarum
yang diluncurkan berturut-turut, akan memakan ruang yang
lebih sempit daripada yang terluncur serentak dari segala
arah. Itu berarti tidak hanya keluar dari telapak tangan seperti
ketika Raja Pembantai dari Selatan mengeluarkan pedangnya,
melainkan dari segenap pori-pori kulit di lengannya dengan
cara dikebutkan seperti menyentakkan selendang, tentu saja
dengan lambaran tenaga dalam. Dengan ilmu Mendengar
Semut Berbisik di Dalam Liang, dalam hembusan maut yang
datang mengancam, kucari celah untuk membuka peluang.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Namun aku takdapat memikirkan diriku sendiri, aku juga harus
memikirkan Pendekar Me lati, meski perempuan pendekar itu
telah berusaha membunuhku!
Persoalannya, dalam beradu punggung seperti ini setiap
gerakan haruslah berpadanan, sementara kami bukan hanya
takpernah berlatih bersama, melainkan ilmu kami sendiri
belum tentu sesuai dipadu padankan, apalagi dalam keadaan
yang begini mendesak. Aku memegang dua batang bambu
kuning dan ia memegang sebuah toya. Akankah Pendekar
Melati memahami isyaratku jika kulakukan gagasanku" Aku
telah melihat kecepatannya dan betapapun waktu untuk
berpikir tiada lagi. ''Ikuti daku!'' kataku. Kubungkukkan badanku dan punggungnya mengikuti
punggungku, kutiarapkan tubuhku ke tanah dan punggungnya
tetap menempel di punggungku, tetapi saat itulah ia memutar
toyanya seperti baling-baling berkecepatan sangat tinggi,
begitu cepatnya sampai tidak kelihatan lagi.
''Tahan!'' Kataku lagi. Artinya ketika aku berguling me lepaskan diri dari tindihan
punggungnya, punggungnya itu tidak perlu terus menempel
ke tanah, melainkan tetap mengambang, karena jarum-jarum
itu ada yang meluncur hanya sehasta di atas tanah. Saat itu
aku telah berkelebat di balik jarum-jarum tersebut dan
menghadapi Barisan Setan Iblis. Kejadiannya sangat cepat dan
tidak bisa diikuti mata. Namun karena mengalami sendiri
dapat kujelaskan seperti berikut: Karena serangan jarum itu
serentak, maka dapat dimentahkan dengan satu kali putaran
toya, tentu dengan syarat tiada celah selubang jarumpun
untuk menembusnya, yang berarti toya itu harus berputar
dengan kecepatan yang lebih tinggi dari jarum-jarum beracun
tersebut. TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Maka ketika Barisan Setan Iblis itu tiba, serangan jarum-
jarum yang mendesis itu sudah dimentahkan. Pendekar Me lati
telah berdiri di atas kakinya dan kami membagi ruang agar
masing-masing menghadapi sepuluh orang, karena aku masih
juga belum terlalu yakin ilmu kami berdua cocok untuk
dipadankan menghadapi duapuluh lawan. Jadi sete lah
bekerjasama sementara, kami bekerja sendiri-sendiri lagi. Aku
berkelebat memojokkan sepuluh orang agar menghadapiku
saja dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Aku yakin
Pendekar Melati pun akan mampu menghadapi sepuluh orang
sisanya. Menghadapi sepuluh anggota Barisan Setan Iblis, meskipun
sepintas lalu seperti pertarungan dalam dunia persilatan pada
laz imnya, sebetulnya sama sekali tidak seperti itu. Bahwa ilmu
silat mereka tinggi telah dijamin oleh nama dan pengalaman
gurunya, Raja Pembantai dari Selatan itu. Namun bahwa di
samping ilmu silat mereka yang tinggi itu selalu dima inkan
secara licik dan licin, kenyataan bahwa selalu terdapat unsur
racun dan sihir dalam ilmu mereka itu membuat pertarungan
tidak menjadi mudah. Aku berkelebat dengan cepat, tetapi
sepuluh orang itu pun berkelebat tidak kalah cepat. Hanya
angin berkesiur di sekitar tempat pertarungan. Senja yang
semakin remang bagi mereka tentu semakin menguntungkan,
karena mereka sangat pandai menghindar ke balik kelam.
Sungguh seperti memiliki ilmu siluman.
Senjata mereka semua serba aneh. Ada yang seperti
tombak berbentuk cakar, ada yang seperti pisau saja tetapi
bertali panjang, ada yang menggunakan sepasang arit besar
bergerigi, ada yang bersenjata gada mahaberat tetapi
dima inkan dengan ringan, ada yang menggunakan senjata
jala, ada yang bersenjata ruyung besi, ada yang memainkan
toya tetapi terbagi tiga, ada yang pisau terbangnya bagaikan
tiada habisnya, ada yang bersenjatakan limpung, ada yang
bersenjatakan tombak tetapi ujungnya adalah kapak dua sisi.
Masing-masing senjata itu memiliki keistimewaan yang jarang
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
diungkap dalam kitab-kitab ilmu silat, sehingga melayani
permainannya, apalagi secara bersama-sama menjadi sangat
berat. BARISAN Setan Iblis ini tubuhnya dibalut kain serba hitam.
Dalam senja yang semakin lama semakin kelam mereka
bagaikan menyatu dalam kegelapan. Tinggal topeng
tengkoraknya yang karena kesamaannya kadang-kadang


Jurus Tanpa Bentuk Naga Bumi I Karya Seno Gumira di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

membingungkan, karena aku bagaikan menghadapi satu
lawan tetapi dengan sepuluh gerakan. Maka kuputuskan untuk
menyerang dan melumpuhkannya satu persatu, karena secara
bersama mereka terlalu licik untuk dikalahkan. Seperti mereka,
akupun mampu berkelebat ke balik kelam, dan segera
mendesak salah satunya dengan Jurus Dua Pedang Menulis
Kematian. Aku tidak tertarik kali ini untuk menggunakan Jurus
Bayangan Cermin, karena aku tidak ingin sama sekali
mengenal apalagi memiliki ilmu Barisan Setan Iblis ini. Apalagi,
seperti yang kujaga dari ilmu gurunya, tiada jaminan aku tidak
akan menyerap pula segenap racun yang telah menyatu
dengan ilmu itu ke dalam tubuhku. Selain itu aku belum lupa
dengan segala upacara dalam pelajaran ilmu setan yang
sangat menjijikkan, sampai aku tidak tega dan tidak kuat pula
menceritakannya kembali karena dapat menimbulkan kemualan. Begitulah aku me lenting ke atas dan menjungkirkan
kepalaku ke bawah, merentangkan kedua tangan yang
memegang bambu kuning dan takturun lagi. Dengan cara
itulah, dengan kaki di atas dan kepala di bawah, kuhadapi
setiap orang yang wajahnya bertopeng tengkorak itu. Jurus
untuk dua pedang ini sungguh kugunakan untuk menulis
kematian mereka. Kepada setiap orang kuberikan jurus
mematikan berupa aksara Kawi yang membentuk tulisan, yang
jika dikumpulkan akan membentuk kata-kata berikut.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Bagaikan ruang angkasa Taktercela Takbersifat Takberwujud Takterlukiskan Takterukur Takberwarna Serba luas Merasuk Ke sepuluh bagian Berhadapan satu persatu, senjata mereka kehilangan
keampuhan dalam keterpecahan. Sepuluh orang itu tanpa
ampun segera tewas tanpa kepala. Batang bambu kuningku
merah karena darah. Tak kusangka ilmu pedangku telah
berkembang sedemikian rupa sampai kepada kecepatan
pikiran. Seolah-olah aku hanya perlu berpikir untuk
mengalahkan lawan dan tidak perlu menggerakkan apapun.
Rupanya tanpa sadar itu kulakukan agar mereka tidak sempat
menggunakan ilmu sihirnya, karena betapapun ilmu sihir
hampir selalu berhasil menipu dan mengalihkan perhatian dari
masalah yang sebenarnya, sehingga mendapatkan hasil yang
tampak nyata, seperti sastra. Makanya, seperti kupelajari dari
pasangan pendekar yang mengasuhku, ilmu pikiran itu harus
dilawan dengan tindakan dalam pikiran, artinya juga suatu
ilmu pikiran juga. Begitulah akhirnya Jurus Dua Pedang
Menulis Kematian yang kumainkan bergerak secepat dan
sesaat yang sama ketika aku memikirkannya.
Dalam keremangan yang nyaris mendekati kegelapan aku
lebih baik memejamkan mata untuk menghindari pengaruh
sihir mereka, karena aku tahu jika kubuka mataku yang
semula sepuluh orang bisa menjadi seratus jumlahnya tanpa
kita ketahui mana yang perlu ditangkis dan mana yang tidak,
dan tiba-tiba kita bisa kehilangan kedua lengan kita, meski
lebih sering tentu kepala kita.
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Lawan-lawanku sudah tewas, ketika kubuka kembali
mataku, kusaksikan Pendekar Melati memainkan toya
bagaikan suatu seni pertunjukan. Dengan menancapkan toya
pada tanah, ia bisa berputar-putar berpegangan pada toya itu
sampai tidak terlihat oleh mata dan tahu-tahu tendangan
kakinya telah memecahkan kepala salah satu anggota Barisan
Setan Iblis. Ketika tampak kembali, ia sudah berdiri di atas
toya yang tertancap di atas tanah itu dengan satu kaki,
sementara kaki lainnya yang semula tertekuk membuka dan
meluruskan diri dengan indah, lantas sembari merendahkan
tubuh ke depan berputar perlahan dengan dua tangan
terentang. Seperti patung yang berputar dengan lamban,
tetapi apabila diserang, maka begitu saja senjata lawan telah
bersarang pada tubuh pemiliknya sendiri. Kadang ditinggalkannya toya itu untuk menangkap lawannya dengan
tangan dan menancapkannya kepada toya yang masih juga
berdiri itu, yang tentu saja membuat nyawa lawannya segera
terbang ke alam baka. Toya itu sudah penuh darah ketika lawannya tinggal satu.
Ia cabut toya yang ternyata tidak tertancap, melainkan berdiri
begitu saja di atas tanah. Pendekar Melati maju perlahan
seperti siap me lontarkan toya menembus tubuh lawannya,
tetapi lawannya itu mundur terus sampai menabrak dinding
bangunan batu tanpa bilik itu. Namun ketika ia mengangkat
toyanya, anggota terakhir Barisan Setan Iblis bertopeng
tengkorak itu tubuhnya menembus masuk ke balik dinding
batu! "Sihir setan." Pendekar Melati mendesis.
KE manakah lawannya itu menghilang" Mungkinkah ia
berada di dalam bangunan tanpa bilik" Kukelilingi bangunan
penuh hiasan itu, dan memang tidak kelihatan lagi batang
hidungnya. Apakah ia berada di dalam rongga dan apakah
yang akan terjadi jika ia memang berada di dalamnya tetapi
tidak dapat keluar lagi"
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
Aku baru menyelesaikan satu lingkaran ketika lagi-lagi
Pendekar Melati menyerangku dengan bernafsu.
''Pendekar Melati! Apa salahku padamu" Mengapa dikau
ingin membunuhku"'' ''Diam lah! Pertahankan saja dirimu, atau kusempurnakan
hidupmu!'' Jadi Raja Pembantai itu benar. Perempuan pendekar yang
dirinya sendiri memburu kesempurnaan hidup melalui jalan
persilatan itu memang harus menyerang untuk memenuhi
harapannya. Jika tidak, tak seorang pendekar pun akan
melayani apalagi menantangnya bertarung, karena bertarung
dan mengalahkan seorang perempuan, meskipun ia seorang
pendekar perkasa, masihlah sulit diterima. Sementara itu,
tentu saja kalah dari seorang perempuan, meski itu
perempuan pendekar yang paling perkasa, tetap saja
memalukan. Kukira memang itu sebabnya ia selalu menyerang
dengan jurus mematikan, selain karena perbincangan apapun
tidak akan mengarah kepada kesepakatan bertarung, hanya
dengan begitu lawannya akan mengerahkan segenap
kemampuan, termasuk balas menyerang. Pendekar Melati
selalu berhasil memaksakan pengertian, bahwa selama dirinya
masih hidup, lawannya pasti binasa, dan memang itulah yang
selama ini terjadi. Ia merangsekku dengan toya yang memainkan Jurus Kera
Sakti Bermain Toya. Telah kudengar betapa jurus itu memang
merupakan puncak permainan toya dan kini kualami sebagai
jurus yang menyerangku. Kedua ujung toya itu berubah jadi
selaksa memburu titik-titik mematikan di tubuhku. Aku
berguling-guling di tanah menghindari serangan, lantas
melenting ke udara untuk turun lagi dengan Jurus Elang Emas
Mengepakkan Sayap. Kedua batang bambu kuningku juga
berubah menjadi selaksa. Tidak satupun sambaran toya itu
yang tidak tertangkis dan memang sebaiknya begitu, karena
TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/
jika tidak, aku akan segera menjadi seonggok tubuh yang
lumpuh, yang setiap saat akan menjadi takbernyawa.
Pertarungan kami seimbang, tetapi Pendekar Melati tidak
menggunakan kembali ilmu menyerap tenaganya yang belum
dapat kuatasi; sebaliknya aku pun belum menggunakan Jurus
Bayangan Cermin karena aku seperti mempunyai perasaan
tidak ingin mengalahkannya.
''Pendekar Melati! Raja Pembantai dari Selatan itu belum
mati! Bagaimana kalau ia tiba-tiba menyerang kita"''
''Pendekar Tanpa Nama! Sejak kapan dikau takut
menghadapi lawan sendirian" Siapapun yang masih hidup di
antara kita, dialah yang akan menghadapinya!''
Namun keadaan berkembang tidak seperti diduganya,
karena tepat pada saat dia terperangkap Jurus Penjerat Naga
yang kumainkan secara tersembunyi di balik Jurus Dua
Pedang Menulis Kematian, dan toyanya berhasil kujepit kedua
batang bambu kuningku, sesosok bayangan hitam muncul dari
dalam tanah mengirimkan pukulan ke dadaku sehingga aku
terlempar seratus langkah, sedangkan Pendekar Melati telah
Tapak Merah Darah 2 Candika Dewi Penyebar Maut X I Naga Sakti Sungai Kuning 14
^