Pencarian

Masalah Di Teluk Pollensa 1

Masalah Di Teluk Pollensa Problem At Pollensa Bay Karya Agatha Christie Bagian 1


http://inzomnia.wapka.mobi
Agatha Christie Masalah Di Teluk Pollensa
Download Ebook Lainnya Di
http://mobiku.tk http://inzomnia.wapka.mobi
Masalah di Teluk pollensa-Problem at Pollensa Bay pertama kali
dipublikasikan di Inggris di Strand Magazine pada tahun 1936 sebagai salah satu
kisah dengan tokoh utama Poirot
1 MASALAH DI TELUK POLLENSA
Kapal uap yang berlayar dari Barcelona ke Majorca menurunkan Mr.
Parker Pyne di Palma, pagi-pagi sebelum fajar menyingsing, dan pria itu langsung
menghadapi masalah yang tak terbayangkan olehnya. Semua
hotel penuh! Yang paling baik yang bisa diperolehnya hanyalah sebuah kamar
sempit dan pengap, dengan jendela membuka ke halaman belakang, di sebuah hotel
di kawasan pusat kota yang padat. Mr. Parker Pyne tidak Koleksi ebook inzomnia
http://inzomnia.wapka.mobi
siap untuk menginap di tempat seperti itu. Pemilik hotel itu tidak peduli pada
rasa kecewa tamunya. "Apa mau Anda?" tanyanya tak peduli Palma sekarang menjadi
tujuan wisata yang populer! Suasana dan iklim yang berbeda membuat tempat itu
disukai wisatawan mancanegara. Setiap
orang-orang inggris, orang Amerika-mereka datang ke Majorca di musim dingin.
Seluruh tempat itu penuh orang. Tak diragukan lagi, pria Inggris 9
itu pasti takkan memperoleh penginapan yang layak, kecuali, mungkin di Formentor
yang mahalnya luar biasa dan karenanya dihindari oleh para wisatawan asing.
Mr. Parker Pyne mengambil kopi dan sepotong roll-kue isi daging cincang-lalu
berjalan keluar untuk memandangi katedral. Sayang, dia sedang tidak bisa
menikmati keindahan arsitektur bangunan itu.
Kemudian dia mengobrol dengan seorang sopir taksi yang ramah, dalam bahasa
Prancis yang sesekali dibumbui kata-kata Spanyol. Mereka
mendiskusikan keuntungan dan kemungkinan menginap di Soller,
Alcudia, pollensa, dan Formentor-di sana terdapat hotel-hotel yang bagus tetapi
sangat mahal. Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Mr. Parker Pyne tergoda untuk bertanya, seberapa mahal tarif hotel-hotel itu.
Mereka menarik sewa, kata si sopir taksi, yang sangat mahal hingga sepertinya
tidak masuk akal dan konyol jika kita membayarnya. Bukankah orang tahu bahwa
orang-orang Inggris memilih berlibur ke sini karena harga-harga di sini murah
dan masuk akal" Mr. Parker Pyne berkata bahwa itu memang benar, tetapi-tolong katakan-berapa
harga kamar di Formentor"
Mahal sekali! Ya-tetapi BERAPA TEPATNYA HARGANYA" Akhirnya, sopir itu mau juga
menjawab dengan menyebutkan sederet angka.
10 Karena baru saja menginap di hotel-hotel di Jerusalem dan Mesir, angka-angka-itu
tidak membuat Mr. Parker Pyne merasa ngeri.
Ongkos taksi disepakati, koper-koper Mr. Parker Pyne dimasukkan-
seenaknya ke dalam taksi, lalu mereka pun berangkat menyusuri pinggiran pulau
itu. Di tengah perjalanan, mereka berhenti sesekali di hotel-hotel kecil yang
lebih murah, meskipun tujuan akhir mereka tetap Formentor.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Tetapi mereka tak pernah sampai ke tujuan akhir itu, sebab setelah melewati
jalan-jalan sempit di Pollensa dan menyusuri jalan yang
melengkung sepanjang pantai, mereka tiba di depan Hotel Pino d'Oro-sebuah hotel
kecil yang tegak berdiri di tepi laut. Dalam kabut di pagi yang indah itu,
pemandangan di sekitar Pino d'Oro bagaikan sebuah lukisan Jepang yang sangat
halus dan samar. Seketika itu juga Mr. Parker Pyne tahu bahwa hotel ini, dan
hanya hotel ini, yang benar-benar sesuai dengan keinginannya. Dia menyuruh taksi
berhenti lalu membelok melewati
gerbang. Dia berharap akan menemukan tempat menginap yang nyaman.
Suami-istri tua pemilik hotel itu tidak mengerti bahasa Inggris maupun bahasa
Prancis. Tetapi, akhirnya persoalan bisa dibereskan dengan memuaskan. Mr. Parker
Pyne diberi kamar yang menghadap ke laut,
koper-koper diturunkan, sopir taksi memuji penumpangnya karena
berhasil menghindari "hotel-hotel baru" yang tidak nyaman, menerima ongkos
taksi, lalu pergi setelah mengucapkan salam perpisahan dalam, bahasa Spanyol
dengan riang. 11 Mr. Parker Pyne melihat jam tangannya sekilas dan mengetahui bahwa saat itu
bahkan masih pukul 09.45. Dia pergi ke luar, ke teras kecil yang Koleksi ebook
inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
sekarang tersiram cahaya mentari pagi. Untuk kedua kalinya pagi itu, dia memesan
secangkir kopi dan roll. Ada empat meja di teras itu, mejanya, satu meja yang sedang dibersihkan pelayan
dari bekas-bekas sarapan, dan dua meja lain yang sudah diduduki orang. Pada meja
yang paling dekat dengannya duduk sebuah keluarga yang terdiri atas ayah, ibu,
dan dua putri mereka yang sudah dewasa-mereka orang Jerman. Di seberang mereka,
di sudut teras, duduk seorang wanita Inggris-jelas-jelas wanita Inggris-dengan
putranya. Wanita itu berusia sekitar 55. Rambutnya abu-abu indah Ia mengenakan setelan wol
tipis yang* terdiri atas jas pendek dan rok, setelan yang sopan tetapi
ketinggalan zaman. Penampilannya mencerminkan ciri khas wanita Inggris yang
terbiasa bepergian ke luar negeri.
Pemuda yang duduk di depannya mungkin berumur 25 dan dia juga
contoh khas pemuda seusia-nya dan dari kelasnya. Wajahnya tidak terlalu tampan
tapi juga tak bisa disebut jelek, tubuhnya tidak tinggi tapi juga tidak pendek.
Jelas sekali hubungannya dengan ibunya amat baik-mereka asyik bercanda-dan
dengan penuh perhatian ia melayani ibunya.
Sementara asyik mengobrol, mata wanita itu bersitatap. dengan mata Mr.
Parker Pyne. Ia me- Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
12 mandang pria itu sekilas dengan pandangan yang mencerminkan sedikit ketidak-
sopanan yang terkendali. Mr. Parker Pyne tahu, dirinya telah dilihat dan telah
dinilai. Dia telah dikenali sebagai seorang pria Inggris dan tak usah diragukan lagi-
serta tak lama lagi- kata-kata basa-basi yang sopan dan
menyenangkan pasti akan dilontarkan ke arahnya.
Mr. Parker Pyne sebenarnya tidak berkeberatan. Orang-orang senegaranya yang
dijumpainya di luar negeri umumnya membosankan, tetapi dia
bersedia mengisi waktunya hari itu dengan bersopan santun. Wanita itu, dia
yakin, pasti punya "sikap tamu hotel" yang terpuji, begitu menurut istilah Mr.
Parker Pyne. Pemuda Inggris itu bangkit dari kursinya, mengucapkan sesuatu sambil tertawa,
lalu masuk ke hotel. Wanita itu mengumpulkan kertas-kertasnya, meraih tasnya,
lalu mengubah posisi duduknya menghadap ke laut. Dia membuka koran Continental
Daily Mail, Dia duduk memunggungi Mr
Parker Pyne. Sambil meneguk sisa kopinya, Mr. Parker Pyne memandang wanita itu sekilas, dan
tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku. Dia kaget-kaget dan cemas Koleksi ebook
inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
karena yakin, ketenangan liburannya pasti akan terganggu! Punggung itu amat
ekspresif. Orang seusia dia sudah terbiasa mengamati sikap
punggung orang. Sikap punggung yang kaku dan tegang... tanpa melihat wajah
wanita itu, dia tahu mata wanita itu pasti berkaca-kaca oleh air mata yang
13 hampir tumpah. Dia juga tahu bahwa wanita itu dengan susah payah
berusaha mengendalikan diri.
Bergerak lamban, seperti binatang buruan yang kehabisan tenaga, Mr.
Parker Pyne mengundurkan diri ke dalam hotel. Tak sampai setengah jam yang lalu
dia menandatangani daftar tamu pada buku tamu yang
tergeletak di meja. Nah, ini dia-tanda tangannya yang rapi-C. Parker Pyne,
London Beberapa baris di atas nama Mr. Parker Pyne tertulis nama: Mrs. R.
Chester, Mr. Basil Chester- Holm Park, Devon.
Dengan pena, Mr. Parker Pyne menggoreskan sesuatu dengan cepat di atas tanda
tangannya. Sekarang yang terbaca (dengan susah payah) adalah Christopher Pyne.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Kalau memang Mrs. R. Chester merasa tidak bahagia di Teluk Pollensa, Mr.
Parker Pyne tidak akan memberikan jalan mudah bagi wanita itu untuk
berkonsultasi dengannya. Selama ini dia sering terheran-heran karena begitu banyak orang yang ditemuinya
di berbagai belahan bumi ini ternyata mengenal namanya dan pernah membaca
iklannya. Di Inggris, ribuan orang membaca Times setiap hari dan dengan jujur
mungkin akan menjawab bahwa mereka belum
pernah mendengar namanya. Di luar negeri, renung Mr. Parker Pyne, orang
cenderung membaca surat kabar negeri asalnya dengan lebih cermat.
Tak ada sepotong berita pun, bahkan tak ada satu kolom pun iklan baris, yang
tidak mereka baca. Sampai saat itu, liburannya sudah sering tergang-
14 gu. Dia harus berurusan dengan bermacam-macam masalah, dari
pembunuhan sampai usaha pemerasan. Mr. Parker Pyne sudah
membulatkan tekad hendak menikmati liburan yang tenang di Majorca.
Secara instingtif dia langsung tahu bahwa seorang ibu yang sedang sedih dan
putus asa mungkin akan mengganggu ketenangannya. -
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Mr. Parker Pyne dengan senang memilih menginap di Pino d'Oro. Tak jauh dari situ
ada sebuah hotel yang lebih besar, Hotel Mariposa, tempat banyak orang Inggris
menginap. Ada juga koloni seniman di sekitar situ. Jika kita berjalan menyusuri
pantai, ke arah desa nelayan dengan sebuah bar tempat orang berkumpul dan
mengobrol sambil minum-minum, kita akan melihat beberapa toko. Suasana di sana
amat damai dan menyenangkan. Gadis-gadis berjalan melenggang mengenakan celana
pendek dengan semacam saputangan lebar berwarna-warni cerah diikatkan di bagian
atas badan mereka. Para pemuda yang mengenakan baret dan berambut panjang
duduk-duduk di "Mac's Bar", asyik berdiskusi tentang seni.
Pada hari kedatangan Mr. Parker Pyne, Mrs. Chester menyapanya dan bicara basa-
basi, memuji keindahan pemandangan di situ dan meramalkan bahwa cuaca akan tetap
cerah selama beberapa hari lagi. Wanita itu kemudian mengobrol -tentang rajut-
merajut dengan si wanita Jerman, kemudian membicarakan situasi politik yang
memburuk dengan dua pria Denmark yang tadi bangun pagi-pagi sekali lalu
berjalan-jalan selama sebelas jam.
15 Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Menurut Mr. Parker Pyne, Basil Chester adalah pemuda yang
menyenangkan. Dia menyapa Mr. Parker Pyne dengan sebutan "Sir" dan dengan sopan
mendengarkan apa pun yang dikatakan pria yang lebih tua itu. Kadang-kadang
ketiga orang Inggris itu bersama-sama menikmati kopi sehabis makan malam. Pada
hari keempat, Basil meninggalkan mereka setelah mengobrol sekitar sepuluh menit
dan tinggallah Mr. Parker Pyne tete-a-tete-berduaan-dengan Mrs. Chester.
Mereka bicara tentang aneka bunga dan bagaimana merawatnya, mereka bicara
tentang nilai pound Inggris yang terus merosot dan naiknya nilai uang Prancis,-
-mereka juga bicara tentang sulitnya mencari teh yang enak untuk dinikmati sore
hari. Setiap malam, setelah Basil Chester meninggalkan mereka berdua, Mr.
Parker Pyne melihat bibir Mrs. Chester langsung gemetar, tetapi wanita itu
segera menguasai diri dan mengobrol dengan asyik mengenai topik-topik tersebut.
Sedikit demi sedikit Mrs. Chester mengalihkan pembicaraan mengenai Basil-betapa
pandainya dia di sekolah dulu-"dia termasuk dalam kelompok First XI"-betapa
semua orang suka pada pemuda itu, betapa ayahnya pasti akan bangga seandainya
dia masih hidup, dan betapa bersyukurnya Mrs, Koleksi ebook inzomnia
http://inzomnia.wapka.mobi
Chester karena Basil tidak pernah menjadi "liar". "Tentu saja saya selalu
mendorongnya agar bergaul dengan anak-anak muda seusianya, tetapi dia lebih suka
menemani saya." 16 Wanita itu mengatakan hal itu dengan sikap senang dan sopan.
Tetapi, Mr. Parker Pyne tidak memberikan tanggapan yang diplomatis seperti yang
selalu dilakukannya. Dia malah berkata, "Oh! Saya lihat banyak sekali anak muda
di sini-bukan di hotel, tetapi di sekitar sini."
Begitu selesai mengucapkannya, dia melihat bahwa sikap Mrs. Chester langsung
tegang. Kata wanita itu, "Tentu saja. Banyak sekali artis di sini.
Mungkin dia terlalu kuno. Seni yang benar-benar seni, tentu saja berbeda, dan
anak-anak muda itu memakai alasan seni untuk membenarkan sikap mereka yang
malas-malasan, dan gadis-gadis itu minum terlalu banyak."
Pada hari berikutnya, Basil berkata kepada Mr. Parker Pyne, "Saya sungguh senang
karena Aqda muncul di sini, Sir, lebih-lebih demi ibu saya. Dia suka mengobrol
dengan Anda sambil merintang waktu di malam hari."
"Apa yang kaulakukan ketika pertama kali datang ke sini?"
"Kami biasa main piquet."
"Oh." Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Tentu saja kami akhirnya bosan main piquet. Lagi pula, sebenarnya saya punya
beberapa kawan disini-kawan-kawan yang periang dan mengerikan.
Saya rasa ibu saya tidak suka pada mereka..." Dia tertawa seakan apa yang
dikatakannya itu lucu. "Ibu saya sangat kuno... bahkan gadis-gadis yang
mengenakan celana pendek bisa membuatnya shock!"
17 "Hmm, ya, benar," kata Mr. Parker Pyne.
"Yang selalu 'saya katakan padanya adalah... orang harus mengikuti zaman. Gadis-
gadis di sekitar rumah kami sungguh membosankan..."
"Saya mengerti," kata Mr. Parker Pyne.
Semua itu cukup membuatnya tertarik. Dia adalah penonton drama yang tidak
diundang untuk ikut berperan di situ.
Lalu, terjadilah hal yang paling buruk-dari sudut pandang Mr. Parker Pyne.
Seorang wanita kenalannya datang dan menginap di Mariposa.
Mereka bertemu di kafe ketika Mrs. Chester juga ada di sana.
Wanita yang baru datang itu berseru, "Wah... bukankah ini Mr. Parker Pyne...
satu-satunya Mr. Parker Pyne di dunia -ini"! Dan Adela Chester!
Kalian sudah saling kenal" Oh, ya" Kalian menginap di hotel yang sama"
Dia seorang tukang sihir asli yang tiada duanya, Adela-keajaiban abad ini-
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
kau hanya tinggal duduk menunggu dan segala persoalanmu akan
dibereskan olehnya! Kau belum tahu" Kau pasti pernah mendengar
tentang dia Kau belum pernah membaca iklannya" 'Anda dalam kesulitan"
Datanglah pada Mr. Parker Pyne.' Tak ada yang tak dapat dilakukannya.
Suami-istri yang bertengkar hebat dibuatnya rukun kembali-kalau kau kehilangan
gairah hidup, dia akan memberimu petualangan yang paling menegangkan. Seperti
kataku tadi, pria ini tukang sihir!."
Kata-katanya terus meluncur deras-sesekali Mr. Parker Pyne menyela, menyanggah
pujian-pujian 18 itu dengan sopan. Dia tidak suka melihat cara Mrs. Chester
memandangnya. Dia lebih tidak suka lagi melihat wanita itu
mendatanginya, sambil menyusuri pantai, bersama wanita yang memuji-muji-nya
secara berlebihan itu. Klimaksnya terjadi lebih cepat dari yang dibayangkannya. Malam itu, setelah


Masalah Di Teluk Pollensa Problem At Pollensa Bay Karya Agatha Christie di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

minum kopi, Mrs. Chester bicara cepat, "Apa Anda bersedia masuk ke ruang duduk
kecil itu, Mr. Pyne" Ada yang ingin saya katakan kepada Anda."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Mau tidak mau Mr. Parker Pyne membungkuk hormat dan mengikuti
wanita itu. Mrs. Chester sudah nyaris tak dapat mengendalikan emosinya lagi. Begitu pintu
ruang duduk kecil itu. menutup di belakang mereka, daya tahannya langsung
runtuh. Wanita itu duduk dan langsung menumpahkan air
matanya. "Anak saya, Mr. Parker Pyne, Anda harus menyelamatkannya. Kita harus
menyelamatkannya Kelakuannya membuat hati saya hancur!"
"Nyonya yang terhormat, sebagai orang asing..."
"Nina Wycherley bilang Anda dapat melakukan apa saja. Katanya, saya harus
membuat Anda percaya. Nina menasihati agar saya berterus terang kepada Anda...
dan bahwa Anda pasti akan membereskan masalah saya."
"Dalam hati Mr. Parker Pyne menyumpahi Mrs. Wycherley yang sok tahu.
Akhirnya, dengan mengabaikan kepentingan dirinya, dia berkata, "Yah, marilah
kita bicarakan masalah ini. Tentang seorang gadis, bukan?"
19 "Apakah dia menceritakannya kepada Anda?"
"Hanya secara tidak langsung."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Kata-kata meluncur deras dari bibir Mrs. Chester yang bergetar. "Gadis itu
mengerikan. Dia suka minum, kata-katanya kasar-dan boleh dikatakan dia tidak
pernah mengenakan pakaian yang pantas. Kakaknya tinggal di sini-menikah dengan
seorang seniman-orang Belanda. Seniman-seniman
seperti mereka sungguh mengerikan. Setengah dan mereka-hidup bersama tanpa
menikah. Basil sungguh berubah. Dia anak pendiam yang tertarik pada hal-hal yang
serius. Dia pernah bercita-cita menekuni arkeologi..."
"Wah, wah," kata Mr. Parker Pyne. "Alam akan membalasnya."
"Apa maksud Anda?"
"Tidak baik bagi anak muda untuk menaruh minat pada hal-hal yang serius.
Seharusnya dia tergila-gila pada seorang gadis, meninggalkannya, dan memilih
gadis lain lagi." "Oh, yang benar saja, Mr. Pyne."
"Saya sungguh bersungguh-sungguh. Apakah wanita muda itu, menurut dugaan saya,
yang kemarin minum teh bersama Anda?"
Mr. Pyne melihat gadis itu kemarin... celana flanelnya abu-abu...
saputangan lebar warna ungu diikatkan sembarangan menutupi buah
dadanya mulutnya-dicat merah manyala... dan dia memilih minuman
beralkohol dan bukannya teh,
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Anda melihatnya" Mengerikan! Bukan jenis gadis yang biasanya dikagumi Basil."
20 "Anda tidak banyak memberinya kesempatan untuk mengagumi seorang gadis, ya,
kan?" "Saya?"
"Dia terlalu senang bersama Andal Itu tidak baik! Tetapi, saya berani bertaruh,
dia akan bosan sendiri dengan ini semua, asalkan Anda tidak membesar-besarkan
persoalannya." "anda tidak mengerti. Dia ingin menikah dengan gadis ini-Betty Gregg-mereka
sudah bertunangan." "Sudah sejauh itu?"
"Ya. Mr. Parker Pyne, Anda harus melakukan sesuatu. Anda harus menyelamatkan
anak saya dari perkawinan yang membawa bencana ini!
Hi-dup_nya akan hancur."
"Hidup seseorang hanya dapat dihancurkan oleh orang itu sendiri."
"Itu tidak berlaku bagi Basil," kata Mrs. Chester mantap.
"Saya tidak mencemaskan Basil."
"Anda tidak khawatir tentang gadis itu?"
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Tidak, yang saya khawatirkan justru Anda. Anda telah menyia-nyiakan hak hidup
Anda." Mrs. Chester memandangnya, agak kaget.
"Tahun-tahun seperti apakah yang kita alami antara usia dua puluh sampai empat
puluh tahun" Penuh-hubungan pribadi dan emosional.
Begitulah seharusnya. Itulah hidup. Tetapi, setelah itu, kehi-dupan memasuki
babak baru. Anda bisa merenung, mengamati kehidupan,
menemukan sesuatu dalam pribadi orang-orang lain, dan memahami
kebenaran dalam diri Anda. Hidup menjadi nyata, penuh makna. Anda melihat hidup ini
sebagai satu kesatuan yang utuh Bukan hanya sepotong adegan- adegan yang Anda,
sebagai aktor, memerankannya. Tak ada orang, laki-laki maupun perempuan, yang
bisa benar-benar menjadi dirinya sendiri
sebelum dia mencapai usia 45. Saat itu, barulah seseorang sungguh-sungguh
mempunyai kesempatan."
Mrs. Chester berkata, "Saya terlalu terikat pada Basil. Dia adalah segala-
galanya bagi saya." "Hmm, seharusnya tidak begitu. Itulah harga yang harus Anda bayar sekarang.
Cintailah dia sebesar cinta yang bisa Anda berikan-tapi ingat.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Anda adalah Adela Chester, satu pribadi yang utuh-bukan hanya ibu Basil."
"Hati saya akan hancur kalau hidup Basil hancur," kata ibu Basil.
Mr. Parker Pyne memandangi gurat-gurat halus pada wajah wanita itu, dan
senyumnya yang sedih. Wanita ini, dia menyimpulkan, sebenarnya adalah seorang
wanita yang penuh cinta. M Parker Pyne tidak ingin melukai hatinya. Katanya,
"Saya akan membantu Anda semampu saya."
Dia menemukan Basil Chester yang sudah tak sabar ingin bicara
dengannya, tak sabar ingin menyatakan pendiriannya.
"Urusan ini benar-benar kacau. Seperti neraka. Mama payah,
pandangannya sempit, picik. Kalau mau, sebenarnya Mama bisa melihat betapa
baiknya Betty." "Dan Betty?" Basil Chester mendesah. "Akhir-akhir ini Betty suka bertingkah! Kalau saja dia mau sedikit kompromi-
maksud saya, sehari saja tidak memakai lipstik-mungkin
semuanya akan lain. Kelihatannya dia suka melenceng, jauh-dari apa yang disebut-
hmmm-modern- kalau ada Mama."
Mr. Parker Pyne tersenyum.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Betty dan Mama adalah orang-orang yang paling saya cintai di dunia, dan menurut
saya seharusnya mereka bisa saling menyukai."
"Anda harus belajar banyak, anak muda," kata Mr. Parker Pyne.
"Saya harap Anda mau menemui Betty dan bicara dengannya."
Mr. Parker Pyne langsung menerima undangan itu.
Betty, kakaknya, dan suami kakaknya tinggal di sebuah pondok bobrok yang sempit,
agak jauh dari garis pantai. Kehidupan mereka sederhana tetapi menyenangkan.
Perabotan mereka hanya tiga kursi, satu meja, dan dua ranjang. Ada satu lemari
yang menempel pada dinding, untuk
menyimpan cangkir-piring dalam jumlah yang tak lebih dari yang
diperlukan. Hans seorang pria muda yang penuh semangat dengan rambut pirang yang
tumbuh tegak di atas kepalanya. Dia bicara dengan bahasa Inggris yang ganjil dan
amat cepat, sambil berjalan mondar-mandir. Stella, istrinya, bertubuh mungil dan
berkulit bersih. Betty Gregg berambut merah, wajahnya berbintik-bintik cokelat
dan matanya menyorot tajam 23
dan nakal. Betty, menurut Mr. Parker Pyne, saat itu hampir-hampir tidak
mengenakan make-up, tidak seperti hari sebelumnya di Pino d'Oro,
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Gadis itu mengulurkan segelas koktail dan berkata sambil mengedipkan matanya,
"Anda punya udang di balik batu, ya?"
Mr. Parker Pyne mengangguk.
"Dan Anda berdiri di pihak siapa, Bung" Sepasang kekasih yang malang-atau
seorang ibu yang tidak memberi restu?"
"Boleh saya. menanyakan sesuatu?"
"Silakan." "Apakah Anda pernah bersikap taktis menghadapi masalah ini?"
"Tidak, tak pernah," kata Miss Gregg jujur. "Tapi kucing betina tua itu sengaja
mencakar punggungku." (Dia memandang berkeliling, memastikan bahwa Basil tak
dapat mendengar kata-katanya.) "Wanita itu membuatku gila. Dia terus mengikat
Basil dengan tali celemeknya-seperti- selama ini.
Yang seperti itu membuat lelaki kelihatan tolol. Basil sebenarnya tidak tolol.
Tapi, ibunya benar-benar mengerikan. Dasar pukka sahib"
"Itu sebenarnya tidak jelek. Hanya... 'ketinggalan zaman'."
Betty Gregg mengedipkan matanya dengan jenaka.
"Maksud Anda, seperti menyimpan kursi-kursi Ghippendale di loteng di Zaman
Victoria" Dan' kemudian mengeluarkannya lagi sambil berkata,
"Kursi-kursi ini bagus sekali, kan"'"
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
24 "Ya, kira-kira begitu."
Betty Gregg menimbang-nimbang jawaban itu.
"Mungkin Anda benar. Aku akan jujur. Justru Basil yang membuatku jengkel. Dia
terlalu ingin membuat ibunya terkesan oleh penampilanku. Itu membuatku gila dan
hilang sabar. Bahkan sekarang, aku punya keyakinan, dia akan meninggalkan aku
sewaktu-waktu-kalau ibunya bekerja keras dan berhasil mempengaruhinya."
"Ya, itu memang mungkin," kata Mr. Parker Pyne. "Kalau ibunya menggunakan cara
yang benar." "Anda akan memberitahu dia cara yang benar itu" Dia sendiri pasti takkan
berpikir sampai ke situ. Dia pasti akan terus menyatakan keberatannya, terus
menentang kami, dan itu takkan berhasil. Tapi, kalau Anda sengaja
mempengaruhinya..." Betty menggigit bibir dan menatap Mr. Parker Pyne dengan mata birunya yang.
memancarkan kejujuran. "Aku pernah dengar tentang Anda, Mr. Parker Pyne. Anda amat ahli mengenai sifat-
sifat manusia. Menurut Anda, hubunganku dengan Basil akan berhasil... atau
tidak?" Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Saya ingin minta jawaban untuk tiga pertanyaan."
"Tes kelayakan, eh" Baik, silakan." "Anda tidur dengan jendela tertutup atau
terbuka?" "Terbuka. Aku suka udara segar."
25 "Apakah Anda dan Basil menyukai makanan yang sama?"
"Ya." "Anda suka tidur sore-sore atau larut malam?"
"Astaga, aneh benar pertanyaan Anda. Jam setengah sebelas aku menguap-dan pagi
hari semangatku amat besar-tapi tentu saja aku tak berani mengakuinya."
"Anda berdua cocok satu sama lain," kata Mr. Parker Pyne.
"Tes yang luar biasa."
"Tidak juga. Sekurang-kurangnya saya tahu tujuh perkawinan yang gagal, benar-
benar hancur, karena si suami tidak suka tidur sebelum tengah malam dan istrinya
sudah pulas pada jam setengah sepuluh, atau
sebaliknya." "Sungguh kasihan...," kata Betty, "tidak setiap orang bisa bahagia. Kami, aku
dan Basil, bisa bahagia, kalau ibunya mau merestui kami."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Mr. Parker Pyne berdeham.
"Saya rasa," katanya, "hal itu bisa diatur." Betty memandang pria itu ragu-ragu.
"Oh," kata Betty, "jangan-jangan Anda ingin menjebak aku."
Mr. Parker Pyne tidak menanggapinya.
Kepada Mrs. Chester dia bersikap menghibur, tetapi tidak memberikan kejelasan
apa-apa. Bagaimanapun... bertunangan tidak sama dengan
menikah. Kemudian dia pergi ke Soller selama seminggu. Dia mengusulkan,
sebaiknya Mrs. Chester tidak bersikap menghakimi. Biarkan Betty seperti apa
adanya. 26 Seminggu lamanya Mr. Parker Pyne menikmati liburan yang
menyenangkan di Soller. Waktu kembali, dia melihat perkembangan yang sama sekali tak terduga.
Sewaktu memasuki Pino d'Oro, yang pertama dilihatnya adalah Mrs.
Chester dan Betty Gregg sedang duduk-duduk berdua minum teh. Basil tak ada di
sana. Wajah Mrs. Chester kuyu. Betty juga, wajahnya pucat sekali.
Dia nyaris tidak mengenakan make-up apa pun, dan pelupuk matanya
bengkak seperti habis menangis.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Mereka menyapanya dengan ramah, tetapi tanpa menyebut-nyebut Basil.
Tiba-tiba Mr. Parker Pyne mendengar gadis di sampingnya menarik napas tertahan,
seakan ada sesuatu yang menbuatnya sakit. Mr. Parker Pyne berpaling.
Basil Chester sedang menaiki undakan dari arah laut. Dia ditemani seorang gadis
yang cantik sekali; dengan kecantikan eksotis yang membuat kita terkagum-kagum.
Kulit gadis itu gelap dan tubuhnya menggiurkan. Siapa pun bisa melihat keindahan
tubuhnya yang hanya dililit sehelai kain crepe tipis berwarna biru pucat. Make-
up-nya tebal, dengan bedak warna tanah dan bibir dicat oranye kemerah-merahan.
Tetapi, semua itu justru menambah kecantikannya. Basil kelihatannya tak dapat mengalihkan
pandangannya dari wajah gadis itu. "Kau terlambat sekali, Basil," kata ibunya.
"Kau harus mengajak Betty ke Mac's."
"itu kesalahanku," kata si jelita yang tak dikenal
27 itu dengan suara merdu. "Kami tadi asyik sekali." Dia berpaling kepada Basil.
"Sayangku, ambilkan minuman yang berkelas."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Gadis itu menendang lepas sepatunya lalu menjulurkan kakinya yang indah,
memamerkan kuku-kukunya yang terawat bagus dan dicat warna hijau zamrud, sama
dengan kuku-kuku jari tangannya.
Dia tidak memedulikan kedua wanita itu, tetapi dia mencondong badannya ke arah
Mr. Parker Pyne. "Pulau ini payah," katanya. "Aku sudah bosan sekali sebelum ketemu Basil.
Dia sangat manis!" "Mr. Parker Pyne-Miss Ramona,' kata Mrs.
Gadis itu tersenyum malas waktu diperkenalkan.
"Kurasa sebaiknya aku memanggilmu Parker saja," gumamnya. "Namaku Dolores."
Basil datang membawa minuman. Miss Ramona membagi perhatiannya
(yaitu lirikan-lirikan menggoda) antara Mr. Parker Pyne dan Basil Chester.
Dia seakan sudah melupakan kehadiran dua wanita itu. Sekali-dua kali Betty
mencoba ikut mengobrol dengan mereka, tetapi si jelita itu
memelototinya dan menguap malas.
Tiba-tiba Dolores bangkit.
"Ah, aku mau pergi sekarang. Aku menginap di hotel lain. Ada yang mau
mengantarkan aku ke sana?"
Basil langsung berdiri. Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Aku akan mengantarkan kau."
Mrs. Chester berkata, "Basil sayang..."
28 "Aku takkan lama-lama, Mama."
"Dia tipe anak-mama, kan?" tanya Miss Ramona tidak kepada siapa-siapa.
"Kau selalu mengekor ke mana pun ibumu pergi, ya kan?"
Wajah Basil memerah dan dia kelihatan kikuk. Miss Ramona mengangguk ke arah Mrs.


Masalah Di Teluk Pollensa Problem At Pollensa Bay Karya Agatha Christie di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Chester, tersenyum manis kepada Mr. Parker Pyne, lalu pergi.
bersama Basil. Setelah keduanya pergi, suasana menjadi kaku dan hening. Mr. Parker Pyne tidak
mau membuka pembicaraan. Betty Gregg meremas-remas jari-jarinya sambil memandang
ke laut lepas. Mrs. Chester kelihatan marah sekali dan wajahnya memerah.
Betty berkata, "Hmm, bagaimana pendapat Anda tentang kenalan baru kita di Teluk
Pollensa?" suaranya bergetar.
Mr. Parker Pyne menjawab dengan hati-hati, "Hmm". agak... eh... eksotis.",
"Eksotis?" Betty tertawa pahit.
Mrs. Chester berkata, "Dia mengerikan... sungguh mengerikan. Basil pasti gila."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Betty berkata tajam, "Basil baik-baik saja."
"Lihat kuku kakinya," kata Mrs. Chester dengan sikap seperti orang mau muntah
karena jijik. Tiba-tiba Betty bangkit berdiri.
"Mrs. Chester, sebaiknya saya pulang dan tidak jadi makan malam bersama Anda."
"Oh, sayangku... Basil pasti akan kecewa."
"Oh, ya?" tanya Betty sambil tertawa sinis. "Yang terang, saya yang akan kecewa.
Kepala saya pusing."
29 Dia tersenyum kepada kedua orang itu lalu pergi. Mrs. Chester berpaling kepada
Mr. Parker Pyne. "Oh, saya menyesal datang ke sini. Sungguh menyesal!"
Mr. Parker Pyne menggeleng-geleng dengan sedih.
"Seharusnya Anda tidak pergi," kata Mrs. Chester. "Seandainya Anda ada, ini
semua tidak akan terjadi."
"Nyonya yang terhormat, menurut saya, kalau masalahnya menyangkut seorang gadis
jelita, saya takkan bisa mempengaruhi putra Anda, dengan cara apa pun. Dia...
hmm- sepertinya punya watak yang gampang terpikat."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Dia tidak pernah begitu," kata Mrs. Chester dengan air mata berlinang-linang.
"Untungnya," kata Mr. Parker Pyne sambil berusaha melihat sisi baiknya,
"daya tarik gadis jelita itu kelihatannya membuat dia tidak tergila-gila lagi
kepada Miss Gregg. Itu pasti membuat Anda lega."
"Saya tak mengerti maksud Anda," kata Mrs. Chester. "Betty anak baik dan amat
mencintai Basil. Melihat kelakuan Basil seperti itu, dia hanya menahan diri.
Saya rasa, anak saya itu sudah gila."
Mr. Parker Pyne mendengarkan perubahan pendirian yang mengejutkan itu tanpa
menunjukkan reaksi apa pun. Dia sudah sering berurusan
dengan ketidakkonsistenan kaum wanita. Dia berkata ringan, "Bukan gila-hanya
tergila-gila." "Makhluk itu seperti setan betina. Mengerikan."
30 "Tapi, sungguh jelita."
Mrs. Chester mendengus. Basil lari menaiki undakan dari arah laut.
"Halo, Mama, aku sudah datang. Mana Betty?"
"Betty pulang. Dia sakit kepala. Jelas saja...."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Maksud Mama, dia marah."
"Menurutku, Basil, kau sudah bertindak keterlaluan terhadap Betty."
"Demi Tuhan, Mama, jangan mulai. Kalau Betty mulai rewel atau cemburu setiap
kali aku bicara dengan gadis lain, wah... seperti apa hidup kami nanti...."
"Kau sudah bertunangan."
"Ya, kami memang sudah bertunangan. Tapi, itu tidak berarti kami tidak boleh
bergaul dengan kawan masing-masing. Zaman sekarang, orang
harus menjalani hidupnya sendiri dan mencoba untuk tidak cemburuan."
Dia berhenti bicara. "Dengar, Mama, kalau Betty tidak mau makan malam dengan kita, kurasa sebaiknya
aku balik saja ke Mariposa. Mereka mengundangku makan
malam di sana...." "Oh, Basil..." Pemuda itu memandang ibunya dengan jengkel, lalu lari menuruni
undakan. Mrs. Chester memandang Mr. Parker Pyne dengan penuh perasaan.
"Anda lihat sendiri," katanya..
Ya, Mr. Parker Pyne melihatnya dengan mata kepala sendiri.
31 Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Persoalan memuncak dua hari kemudian. Betty dan Basil rencananya akan berjalan-
jalan agak jauh; mereka membawa bekal makan siang. Betty datang ke Pino d'Oro
dan menemukan bahwa Basil Ter-nyata lupa akan rencana mereka. Pemuda itu sudah
pergi ke Formentor untuk bergabung dengan kawan-kawan Dolores Ramona.
Betty tidak berkata apa-apa, hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Akhirnya, dia bangkit lalu berdiri di depan Mrs. Chester (hanya ada mereka
berdua di teras itu). "Tidak apa-apa," katanya. "Tak jadi soal. Tapi... saya rasa... sama saja....
Sebaiknya kami putuskan saja hubungan kami."
Dilepasnya cincin pengikat yang diberikan Basil padanya; pemuda itu rencananya
akan membelikannya cincin pertunangan sungguhan.
"Maukah Anda memberikan ini kepadanya, Mrs. Chester" Dan tolong katakan padanya,
tak apa-apa... tak perlu bingung..."
"Betty sayang, jangan! Dia sungguh mencintaimu... sungguh."
"Kelihatannya memang begitu, ya kan?" kata gadis itu sambil tertawa pahit.
"Tidak... saya masih punya harga diri. Katakan padanya, saya tidak apa-apa dan
bahwa saya... saya doakan dia semoga -bahagia."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Ketika Basil kembali setelah matahari tenggelam, ia disambut
ibunya.dengan marah-marah.
Wajahnya agak memerah melihat cincinnya yang dikembalikan.
32 "Oh, jadi begitu ya katanya" Hmm, kurasa itulah yang terbaik." "Basil!"
"Ah, Mama akhir-akhir ini kami tidak cocok "Salah siapa?"
"Kurasa bukan semata-mata salahku. Rasa cemburu itu merusak dan, aku tak
mengerti mengapa Mama marah-marah begini. Mama sendiri yang
memohon-mohon agar aku tidak kawin dengan Betty."
"Itu sebelum aku mengenalnya. Basil, sayangku, kau tidak berniat menikah dengan
makhluk itu, kan?" Basil menjawab dengan murung, "Aku pasti menikah dengannya kalau dia mau...
tapi, kurasa dia takkan mau menerimaku."
Arus dingin serasa merambati punggung Mrs. Chester. Dia segera mencari Mr.
Parker Pyne, dan menemukan pria itu sedang asyik membaca buku di sebuah sudut
yang teduh. "Anda harus melakukan sesuatu! Anda harus melakukan sesuatu! Hidup anak saya
akan hancur." Mr. Parker Pyne sudah bosan mendengar tentang hancurnya hidup Basil.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Apa yang bisa saya lakukan?"
"pergi dan temui makhluk mengerikan itu. Kalau perlu, beri dia uang dan suruh
dia pergi." "Wah, itu pasti akan mahal sekali."
"Saya tak peduli."
"Sayang sekali. Tapi, kelihatannya masih ada beberapa kemungkinan lain."
33 Mrs. Chester menatapnya dengan pandang bertanya. Mr. Parker Pyne
menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saya takkan menjanjikan apa-apa, tapi akan saya lakukan apa yang bisa saya
lakukan. Saya sudah pernah menangani kasus seperti ini. Eh... tapi jangan
katakan apa pun pada Basil. Kalau Anda bilang padanya,
masalahnya akan bertambah gawat"
"Tentu saja saya takkan bicara apa-apa."
Mr. Parker Pyne kembali dari Mariposa sekitar tengah malam. Mrs. Chester masih
menunggunya. "Jadi?" tanyanya sambil-menahan napas.
Mata pria itu berkedip senang.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Senorita Dolores Ramona akan meninggalkan Pollensa besok pagi-pagi dan
meninggalkan pulau ini besok malam."
"Oh, Mr. Parker Pyne! Bagaimana Anda berhasil membujuknya?"
"Tanpa kehilangan Sepeser pun," kata Mr. Parker Pyne. Sekali lagi matanya
berkedip senang. "Saya sudah memperhitungkan, saya pasti bisa menguasainya...
dan saya benar." "Anda hebat sekali. Nina Wycherley memang benar. Anda harus katakan...
hm... berapa saya harus membayar Anda...."
Mr. Parker Pyne mengangkat tangannya yang terawat baik.
"Sepeser pun tidak. Saya senang bisa menolong Anda. Saya harap semuanya akan
berakhir dengan baik. Putra Anda mula-mula pasti akan sedih ketika tahu gadis
itu menghilang dan tidak meninggalkan
34 alamat. Bersikaplah lunak kepadanya, satu-dua minggu ini."
"Kalau saja Betty mau memaafkan dia..."
"Betty pasti akan memaaafkannya Mereka pasangan yang menyenangkan.
Eh, ngomong-ngomong, saya juga akan pergi besok."
"Oh, Mr. Parker Pyne, kami akan merasa kehilangan Anda."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Mungkin ada baiknya saya segera pergi sebelum putra Anda tergila-gila lagi pada
gadis ketiga." Mr. Parker Pyne berdiri berpegangan pagar geladak kapal sambil
memandangi cahaya lampu-lampu kota Palma. Di sampingnya berdiri
Dolores Ramona. Pria itu sedang berkata penuh terima kasih, "Kau berhasil baik,
Madeleine.Saya senang telah menyuruhmu datang ke sana. Aneh sekali, padahal
sebenarnya kau gadis pendiam yang lebih betah tinggal di rumah."
Madeleine de Sara, alias Dolores Ramona, alias Maggie Sayers, berkata riang,
"Saya senang karena Anda puas, Mr. Parker Pyne. Ini selingan yang menyenangkan.
Sebaiknya sekarang saya kembali ke kabin saya sebelum kapal berangkat. Saya
seorang pelaut yang buruk."
Beberapa menit kemudian sebuah tangan menepuk bahu Mr. Parker Pyne.
Dia berpaling dan melihat Basil Chester.
"Saya datang untuk mengucapkan selamat jalan, Mr. Parker Pyne, dan menyampaikan
rasa cinta Betty dan rasa terima kasih kami berdua. Anda 35
benar-benar hebat. Betty dan Mama sama-sama keras kepala. Malu saya terpaksa
menipu Mama- tapi Mama memang sulit. Tetapi, sekarang
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
semuanya sudah baik. Saya harus tetap berpura-pura selama beberapa hari lagi.
Kami sangat berterima kasih kepada Anda, Betty dan saya"
"Saya doakan semoga kalian bahagia," kata Mr. Parker. Pyne.
"Terima kasih."
Hening sejenak, kemudian Basil bicara dengan sikap tak peduli yang dibuat-buat,
"Apakah Miss... Miss de Sara... ada di kapal ini" Saya juga ingin berterima
kasih padanya." Mr. Parker Pyne memandang pemuda itu dengan tajam.
Katanya, "Sayang, Miss de Sara sudah masuk ke kabinnya."
"Oh, sayang sekali. Yah... mudah-mudahan kapan-kapan saya dapat bertemu
dengannya di London."
"Sebenarnya, dia akan segera terbang ke Amerika untuk sesuatu tugas yang saya
berikan padanya." "Oh!" suara Basil terdengar hampa. "Yah," katanya. "Saya harus pergi
sekarang..." Mr. Parker Pyne tersenyum. Ketika kembali ke kabinnya dia mengetuk pintu kabin
Madeleine. "Bagaimana kau, anak manis" Baik-baik saja" Pemuda kawan kita itu tadi kemari.
Yah, terserang penyakit madeleinitis yang agak berbahaya. Dia Koleksi ebook
inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
akan pulih satu-dua .hari lagi, tapi penampilanmu memang membuat
orang lupa segalanya."
36 GONG KEDUA Gong Kedua atau The Second Gong pertama kali diterbitkan di Inggris di Strand
Magazine pada tahun 1932, Cerita ini muncul dalam versi yang diperluas pada
tahun 1937 dengan judul Dead Man's Minor.
2 GONG KEDUA Joan ashby keluar dari kamar tidurnya dan berdiri sejenak di depan pintu
kamarnya. Dia setengah berpaling, seakan hendak kembali ke kamarnya ketika,
kelihatannya tepat di bawah kakinya, sebuah gong dipukul keras sekali.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Joan langsung berjalan tergesa-gesa, hampir-hampir seperti lari. Dia sangat
tergesa-gesa -hingga tepat di puncak tangga lebar dia bertabrakan dengan seorang
pemuda yang datang dari arah berlawanan.
"Halo, Joan! Mengapa buru-buru?"
"Maaf, Harry. Aku tak melihatmu."
"Hmm, memang," kata Harry Dalehouse datar. "Tapi, mengapa buru-buru?"
"Aku dengar bunyi gong."
"Aku tahu. Tapi, itu kan baru gong pertama."
"Bukan, gong kedua."
"Pertama." "Kedua." 39 Sambil berdebat mereka menuruni tangga. Sekarang mereka berdiri di selasar, dan
melihat Kepala Pelayan, setelah meletakkan pemukul gong, berjalan ke arah mereka
dengan sikap sungguh-sungguh dan penuh
martabat. "Yang kedua," kata Joan ngotot. "Aku yakin sekali. Lihat saja, jam berapa
sekarang." Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Harry Dalehouse melihat jam besar itu sekilas.
"Tepat jam delapan lewat dua belas," katanya. "Joan, kurasa kau benar, tapi aku
tak dengar bunyi gong yang pertama. Digby," katanya pada si kepala pelayan,
"tadi itu gong pertama atau kedua?"
"Yang pertama, Sir."
"Pada jam delapan lewat dua belas" Digby, pasti ada yang akan kena marah nanti."
Senyum samar sekilas tersungging di wajah si kepala pelayan.
"Makan malam akan dihidangkan sepuluh menit lebih lambat dari biasanya, Sir.
Atas perintah Tuan."
"Aneh sekali!" seru Harry Dalehouse. "Wah... wah! Ini benar-benar tidak biasa!
Keajaiban dan keanehan tak pernah habis. Ada apa dengan
pamanku yang terhormat itu?"
"Kereta jam tujuh, Sir, terlambat setengah jam, dan seperti..." Kata-kata kepala
pelayan itu terputus, karena tepat ketika itu terdengar ledakan seperti bunyi
cemeti yang dicambukkan keras-keras.
"Astaga...," kata Harry. "Wah, bunyinya persis letusan tembakan."
Seorang pria muda berusia 35, berkulit gelap
40 Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
dan tampan, keluar dari ruang duduk di sebelah kiri mereka.
"Bunyi apa itu?" tanyanya. "Kedengarannya persis bunyi tembakan."
"Pasti bunyi mobil yang dipacu kencang-kencang, Sir," kata Kepala Pelayan.
"Jalan raya terletak tidak jauh dari rumah ini, di sisi ini, dan jendela kamar-


Masalah Di Teluk Pollensa Problem At Pollensa Bay Karya Agatha Christie di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kamar atas terbuka."
"Mungkin," kata Joan ragu-ragu. "Tapi, bunyinya pasti dari sana." Dia
melambaikan tangannya ke kanan. "Menurutku, bunyinya dari arah sini."
Dia menunjuk ke arah kiri.
Pria berkulit gelap itu menggeleng.
"Menurutku tidak. Aku tadi di ruang duduk. Aku keluar ke sini karena kukira
bunyi itu asalnya dari sini." Dia mengangguk ke arah depannya, ke arah gong itu
dan pintu depan utama. "Timur, barat, dan selatan, ya?" kata Harry yang tak terpengaruh oleh kekacauan
itu. "Nah, aku akan melengkapinya, Keene. Aku pilih utara.
Menurutku, bunyi itu dari arah belakang kita. Ada yang punya usul bagaimana
penyelesaiannya?" "Hmm, selalu ada pembunuhan," kata Geoffrey Keene, sambil tersenyum.
"Maaf, Miss Ashby."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Aku ngeri," kata Joan. "Tidak, tidak apa-apa. Perasaanku seperti kalau berjalan
di kuburan." "Gagasan yang bagus-pembunuhan," kata Harry. "Tapi, coba pikir! Tak ada erang
kesakitan, tak ada darah mengalir. Menurutku, kesimpulannya adalah seorang
pemburu menembak kelinci."
"Terlalu gampang, tapi mungkin itu benar," pria
41 satunya sependapat. "Tapi, kedengarannya dekat sekali dari sini. Ayo kita masuk
ke ruang duduk." "Untunglah, kita tidak terlambat," kata Joan lega. "Aku tadi terpaksa lari-lari
turun tangga, karena mengira gong kedua sudah berbunyi."
Sambil tertawa, mereka masuk ke ruang duduk yang luas.
Lytcham Close adalah salah satu rumah kuno yang termasyhur di inggris.
Pemiliknya, Hubert Lytcham Roche, adalah keturunan terakhir dari silsilah yang
panjang. Sanak saudaranya sering berkomentar begini tentang
dirinya, "Si Tua Hubert harusnya didaftarkan sebagai makhluk langka.
Kayanya sama dengan pelitnya."
Meskipun kawan-kawan atau sanak saudara sering melebih-lebihkan,
ungkapan-ungkapan itu mengandung kebenaran juga. Hubert Lytcham
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Roche benar-benar eksentrik. Meskipun dia seorang musikus yang hebat,
ketidaksabarannya sering membuatnya marah tak terkendali. Kecuali itu, dia punya
ego yang abnormal, merasa dirinya sangat penting. Orang-orang yang diundang ke
rumahnya harus menahan diri terhadap kritik-kritik tajam yang dilontarkannya,
atau mereka takkan diundang lagi.
Salah satu yang dianggapnya penting adalah musik. Jika dia sedang bermain musik
untuk tamu-tamunya, seperti yang sering dilakukannya setelah jamuan-jamuan makan
malam, semua orang harus benar-benar
diam. Sebuah bisikan lirih, desir gaun menyapu lantai, atau bahkan gerakan yang
sehalus apa pun-akan membuatnya melemparkan tatapan
42 tajam dan memaki-maki tamu yang malang itu, yang pasti takkan pernah diundangnya
lagi. Satu hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah ketepatan waktu untuk jamuan
makan yang paling, penting dalam satu hari. Sarapan pagi tidak ada artinya;
kalau mau, tamu-tamu boleh saja turun sarapan di tengah hari. Makan siang juga;
hidangan sederhana yang terdiri atas daging dingin dan sayuran yang dikukus.
Tetapi, makan malam adalah sebuah Koleksi ebook inzomnia
http://inzomnia.wapka.mobi
ritus, sebuah pesta, disiapkan oleh seorang cordon bleu yang dibajak dari sebuah
hotel terkenal dengan gaji berlipat ganda.
Gong pertama dibunyikan pukul 20.05. Pukul 20.15, gong kedua
dibunyikan, dan segera sesudah itu, pintu dibuka lebar-lebar, lalu acara makan
malam secara resmi diumumkan kepada tamu-tamu yang sudah
berkumpul di depan pintu. Selanjutnya, sebuah arak-arakan yang terdiri atas
tamu-tamu yang mengenakan busana malam yang anggun akan
memasuki ruang makan. Seseorang yang berani datang terlambat setelah gong kedua-
dibunyikan, akan langsung dikucilkan-dan Lytcham Close takkan terbuka lagi bagi
tamu malang itu. Karena itu, kekhawatiran Joan Ashby dan kekagetan Harry Dalehouse bisa
dimengerti; yaitu waktu mendengar bahwa jamuan makan malam yang
sudah dianggap sebagai ritus yang dikeramatkan itu malam ini diundur sepuluh
menit. Meskipun tidak terlalu akrab dengan pamannya, dia cukup sering datang ke
Lytcham Close hingga tahu bahwa kejadian itu sungguh ganjil.
43 Geoffrey Keene, sekretaris Lytcham Roche, juga sangat terkejut.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Ini sungguh tidak biasa," katanya. "Aku belum pernah dengar yang seperti ini
terjadi di sini. Kau yakin?"
"Digby yang bilang."
"Dia bilang sesuatu tentang kereta api," kata Joan Ashby. "Rasanya tadi kudengar
dia bilang begitu." "Aneh sekali," kata Keene sambil merenung. "Sebentar lagi kita pasti mendapat
penjelasan tentang ini semua. Tapi, ini benar-benar ganjil."
Kedua pria itu diam selama beberapa saat, memperhatikan si gadis. Joan Ashby
adalah gadis yang menawan, matanya biru, rambutnya keemasan, dan sorot matanya
cerdik. Ini kunjungannya yang pertama ke Lytcham Close dan dia diundang ke situ
karena usul Harry. Pintu membuka dan Diana Cleves, putri angkat Lytcham Roche, masuk ke ruangan
itu. Penampilan Diana anggun sekaligus menggoda, matanya yang hitam
bersinar seakan menyihir siapa pun yang dipandangnya. Kecuali itu, lidahnya amat
tajam. Hampir setiap lelaki terpikat padanya dan Diana menikmati kemenangan itu.
Dia adalah makhluk aneh, dengan sikap
hangat menggoda namun sekaligus juga dingin tanpa perasaan.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Wah, sekali ini si Tua Bangka kalah," katanya. "Baru kali ini dia bukan yang
pertama turun dan berjalan mondar-mandir sambil mengentak-entakkan kaki dan
memandangi jam tangannya; seperti harimau
kelaparan." 44 Kedua pria muda itu maju mendekatinya. Diana tersenyum menawan pada mereka,
kemudian berpaling kepada Harry. Wajah Geoffrey Keene yang kecokelatan memerah
ketika dia mundur ke belakang.
Beberapa saat kemudian, dia sudah menguasai diri lagi. Saat itu Mrs.
Lytcham Roche datang. Wanita itu bertubuh jangkung, berkulit gelap, dan sikapnya
agak kurang mantap. Dia mengenakan gaun model draperies
yang terjulai indah dari kain bernuansa hijau. Bersamanya datang seorang pria
setengah baya, dengan hidung seperti paruh burung dan dagu yang menyiratkan
kekerasan sikapnya- Gregory Barling. Dia seorang ahli keuangan yang disegani,
dari garis ibunya dia mewarisi darah terhormat dan terpelajar. Sudah beberapa
tahun dia berteman baik dengan Hubert Lytcham Roche.
Gooong! Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Sekali lagi gong berbunyi keras sekali. Ketika gemanya menghilang, pintu tiba-
tiba dibuka dan Digby mengumumkan,
"Makan malam sudah dihidangkan."
Kemudian, meskipun terdidik baik sebagai kepala pelayan, wajahnya yang nyaris
tanpa ekspresi sekilas menyiratkan keheranan. Untuk pertama kali sejauh yang
diingatnya, tuannya tidak ada dalam ruangan itu!
Bahwa para tamunya juga terheran-heran seperti dia, itu jelas sekali. Mrs.
Lytcham Roche tertawa gugup.
"Sungguh luar biasa. Sungguh.... aku tak tahu, harus bagaimana ini."
45 Semua yang hadir pun kebingungan. Tradisi Lytcham Close yang
terpelihara baik kini diremehkan. Apa yang terjadi" Pelan-pelan
percakapan terhenti. Ketegangan terasa menggantung.
Akhirnya pintu terbuka sekali lagi; terdengar desah lega, tetapi dibarengi
kekhawatiran dan ketidakpastian tentang bagaimana caranya menghadapi situasi
itu. Tak perlu kata-kata untuk menguatkan fakta bahwa tuan rumah telah merusak
aturan ketat yang selama ini diberlakukan di
rumahnya. Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Tetapi, yang baru datang itu bukan Lytcham Roche. Bukan pria tinggi besar,
bercambang dan berjenggot, bertubuh raksasa seperti orang Viking.
Yang datang seorang pria bertubuh kecil, jelas orang asing, dengan kepala
berbentuk telur, kumis yang tebal mengesankan, dan setelan jas yang paling aneh.
Dengan mata berbinar-binar, tamu yang baru datang itu berjalan
mendekati Mrs. Lytcham Roche.
"Maafkan saya, Madame," katanya. "Saya, maaf, terlambat beberapa menit."
"Oh, tak apa!" gumam Mrs. Lytcham Roche samar. "Tak apa, Mr...." kata-katanya
terhenti. "Poirot, Madame. Hercule Poirot."
Di belakangnya terdengar "Oh"-desah tertahan dan bukan satu kata yang terucap-
suara seorang wanita. Mungkin Hercule Poirot merasa tersanjung.
"Anda tahu saya akan datang?" tanyanya sopan. "N'est ce pas, Madame"
Suami Anda sudah mengatakannya pada Anda,"
"Oh... ya, ya," kata Mrs. Lytcham Roche, suaranya semakin ragu. "Maksud saya...
saya kira. 46 Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Saya ini sangat tidak praktis, M. Poirot. Saya mudah lupa. Untunglah ada Digby
yang membereskan semuanya."
"Kereta saya, maafkan, terlambat," kata M. Poirot. "Ada kecelakaan di depan
kereta kami." "Oh," seru Joan, "jadi itu sebabnya makan malam diundur."
Mata Poirot segera menatapnya dengan tajam- mata yang tajam, awas, dan cerdik.
"Itu sesuatu yang tidak biasa... eh?" "Saya sungguh tak tahu..." Mrs.
Lytcham Roche memulai, lalu terdiam. "Maksud saya," lanjutnya linglung,
"ini aneh sekali. Hubert tidak pernah..."
Mata Poirot sekilas menyapu wajah orang-orang di sekelilingnya.
"M. Lytcham Roche belum turun?" "Belum, dan ini sungguh di luar kebiasaan...."
Mrs. Lytcham Roche memandang Geoffrey Keene dengan penuh permohonan.
"Mr. Lytcham Roche adalah dewa ketepatan," jelas Keene. "Beliau tak pernah
terlambat untuk jamuan makan malam sejak... yah, saya tak tahu apakah beliau
pernah datang terlambat."
Bagi orang yang tidak tahu, situasi itu pasti amat ganjil-wajah-wajah bingung
dan semua nampak canggung.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Saya tahu," kata Mrs. Lytcham Roche dengan nada bangga, "Saya akan memanggil
Digby." Dia segera melaksanakan kata-katanya. Kepala Pelayan langsung datang
begitu bel dibunyikan. 47 "Digby," kata Mrs. Lytcham Roche, "tuanmu. Apa beliau..."
Seperti kebiasaannya, Mrs. Lytcham Roche tak pernah menyelesaikan kalimatnya.
Jelas sekali, kepala pelayan itu sudah hafal akan kebiasaan itu.
Dia segera -menjawab dan dengan penuh pengertian.
"Mr. Lytcham Roche turun jam delapan kurang lima menit dan langsung masuk ke
ruang kerja, Madame."
"Oh!" Dia berhenti. "Maksudmu - maksudku... apa dia mendengar bunyi gong?"
"Saya rasa beliau pasti mendengarnya... gongnya ada tepat di seberang pintu
ruang kerja." "Ya, tentu saja, tentu saja," kata Mrs. Lytcham Roche, semakin samar dan penuh
keraguan dibanding sebelumnya.
"Apakah sebaiknya saya sampaikan pada beliau, Madame, bahwa makan malam sudah
dihidangkan?" "Oh, terima kasih, Digby. Ya, kurasa ya, ya, harus."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Saya tak tahu," kata Mrs. Lytcham Roche kepada tamu-tamunya ketika kepala
pelayan itu sudah pergi, "apa yang harus saya lakukan tanpa Digby!"
Keheningan menyusul. Kemudian Digby muncul kembali di ruangan itu. Napasnya agak tersengal-sengal,
lebih cepat dari yang dianggap pantas untuk ukuran seorang kepala pelayan.
"Maaf, Madame... ruang kerja terkunci."
Pada saat itu M. Hercule Poirot langsung mengambil alih situasi.
48 "Saya rasa," katanya, "sebaiknya kita pergi ke ruang kerja."
Dia memimpin di depan dan yang lain mengikutinya. Sikapnya yang
memimpin dan berwibawa terasa amat wajar. Dia bukan lagi seorang tamu yang
berpenampilan konyol. Dia adalah sebuah pribadi yang penuh
wibawa dan menguasai situasi.
Dia berjalan ke selasar, melewati tangga, jam besar, dan ceruk tempat gong
diletakkan. Tepat di seberang ceruk itu terdapat pintu yang tertutup.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Dia mengetuknya, mula-mula pelan, kemudian semakin cepat dan semakin keras. Tapi
tak ada jawaban. Dengan kikuk dia berlutut lalu mengintip lewat lubang kunci.
Kemudian dia berdiri dan memandang sekelilingnya.
"Tuan-tuan," katanya, "kita harus mendobrak pintu ini. Segera!"
Seperti sebelumnya, tak seorang pun mempertanyakan wewenangnya.
Geoffrey Keene dan Gre-gory Barling yang paling besar badannya. Mereka mendobrak
pintu itu dengan aba-aba Poirot. Itu bukan hal yang mudah.
Pintu-pintu di Lytcham Close terbuat dari kayu tua bermutu bagus-tak ada pintu-
pintu tipis modern di rumah tua itu. Pintu itu tak bergeming sedikit pun.
Tetapi, setelah kekuatan para pria itu digabung, akhirnya pintu itu menyerah dan
jatuh terlepas ke arah dalam.
Semua berdiri ragu di depan pintu. Mereka melihat apa yang di bawah sadar sudah
mereka bayangkan akan terlihat. Di depan mereka ada
jendela. Di sisi kiri, antara pintu dan jendela, ada
49 sebuah meja tulis besar. Di sebuah kursi, tidak tepat di depan meja tetapi agak
menyamping, duduk terkulai seorang pria-pria bertubuh besar.
Tubuhnya tersungkur ke depan. Punggungnya menghadap mereka, dan
wajahnya menghadap jendela, tetapi posisinya sudah menjelaskan
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
keadaannya. Tangan kanan pria itu tergantung lemas dan di bawahnya, di._atas
karpet, tergeletak sepucuk pistol kecil yang berkilat.
Poirot berkata tajam kepada Gregory Barling.
"Ajak Mrs. Lytcham Roche keluar dari sini- juga kedua wanita lainnya."
Gregory Barling mengangguk paham. Dia meraih lengan nyonya
rumahnya. Wanita itu gemetar.
"Dia menembak dirinya sendiri," gumam Mrs. Lytcham Roche.
"Mengerikan!" Dengan tubuh gemetar dia mengizinkan Gregory Barling
menggandengnya keluar ruangan. Kedua gadis itu mengikutinya.
Poirot masuk ke ruangan, dua pria muda itu rapat di belakangnya.
Dia berlutut di samping mayat, dan memberi isyarat agar yang lain jangan terlalu
mendekat. Dia menemukan lubang peluru di sisi kanan kepala. Peluru itu menembus sisi
lainnya dan langsung mengenai sebuah cermin yang digantungkan pada dinding
sebelah kiri, karena kaca itu retak. Di atas meja tulis ada sehelai kertas,
kosong, belum ditulisi apa-apa kecuali kata Maaf yang sepertinya digoreskan
dengan ragu dan dengan tangan gemetar.
Mata Poirot cepat kembali ke arah pintu.
50 Koleksi ebook inzomnia

Masalah Di Teluk Pollensa Problem At Pollensa Bay Karya Agatha Christie di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

http://inzomnia.wapka.mobi
"Kuncinya tak tergantung di sana," katanya. "Aneh..."
Tangannya merogoh saku baju mayat itu.
"Ini dia," katanya. "Yah, sudah kuduga. Maukah Anda mencobanya, Monsieur?"
Geoffrey Keene menerima anak kunci itu dan memasukkannya ke lubang kunci di
pintu. "Cocok." "Dan jendelanya?"
Harry Dalehouse melangkah cepat ke jendela. "Tertutup."
"Izinkan saya." Dengan tangkas Poirot berdiri lalu bergabung dengan Harry
Dalehouse. Jendela itu model Prancis, tinggi dan bagian bawahnya serendah bagian
bawah pintu. Poirot membukanya, berdiri semenit
lamanya untuk mengamati rumput di depan jendela, kemudian
menutupnya lagi. "Kawan-kawan," katanya, "kita harus menelepon polisi. Sampai mereka datang,
memeriksa, dan menyimpulkan bahwa ini murni kasus bunuh diri, kita tak boleh
menyentuh apa pun. Saat kematian pasti terjadi sekitar seperempat jam sampai
satu jam yang lalu."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Saya tahu," kata Harry dengan suara parau. "Kami mendengar bunyi tembakan."
"Comment" Apa kata Anda?"
Harry menjelaskan, dengan bantuan Geoffrey Keene. Ketika dia selesai bercerita,
Barling muncul. Poirot mengulangi apa yang sudah dikatakannya, dan sementara Keene keluar untuk
menelepon, Poirot meminta Barling bicara berdua dengannya sebentar.
51 Mereka masuk ke morning room-ruang santai di pagi hari-yang tidak terlalu besar.
Digby diperintahkan berjaga di depan pintu ruang kerja, sementara Harry pergi
menemui para wanita. "Setahu saya, Anda kawan dekat M Lytcham Roche," Poirot memulai.
"Dengan alasan itulah saya terutama ingin bicara dengan Anda. Dalam etiket,
mungkin, seharusnya saya bicara dulu kepada Madame, tetapi untuk saat ini,
menurut saya itu tidak pratique"
Dia berhenti. "Saya berada dalam situasi yang rumit. Saya akan berterus terang kepada Anda.
Saya, menurut profesi saya, adalah seorang detektif swasta."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Si ahli keuangan tersenyum sekilas.
"Anda tidak perlu mengatakan itu kepada saya, M. Poirot. Nama Anda, saat ini,
sudah terkenal di mana-mana."
"Monsieur terlalu murah hati," kata Poirot, sambil membungkuk dengan dramatis.
"Kalau begitu, mari kita lanjutkan. Saya menerima, di alamat saya di London,
sepucuk surat dari M. Lytcham Roche. Dalam surat itu dia mengatakan bahwa dia
punya alasan untuk merasa yakin bahwa selama ini dia ditipu dalam jumlah besar.
Demi alasan-alasan keluarga, begitu dia menyebutnya, dia tak ingin menghubungi
polisi, tapi dia ingin saya datang dan menyelesaikan masalah itu bersamanya.
Nah, saya setuju. Saya datang.
Tidak secepat yang diharapkan M. Lytcham Roche-karena saya punya
urusan-urusan lain, dan M. Lytcham Roche, dia
52 bukanlah Raja Inggris, meskipun kelihatannya dia menganggap dirinya penuh kuasa
seperti raja." Barling tersenyum masam. "Dia memang menganggap dirinya seperti itu."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Tepat sekali. Oh, Anda mengerti-suratnya jelas-jelas menunjukkan bahwa dia
orang yang oleh orang lain disebut eksentrik. Dia tidak gila, tapi hanya tidak
seimbang, n' est-ce pas?"
"Apa yang baru saja dilakukannya menunjukkan ketidakseimbangannya."
"Oh, Monsieur, tapi bunuh diri tidak selalu merupakan contoh tindakan orang yang
tidak seimbang. Pemeriksa mayat mungkin akan berkata
begitu, ya, mereka biasa berkata begitu, tetapi itu dilakukan untuk menjaga
perasaan mereka yang ditinggalkan."
"Hubert bukan pribadi yang normal," kata Barling tegas. "Dia sering marah tak
terkendali, dia seorang monomaniak kalau urusannya menyangkut kebanggaan dan
harga diri keluarga. Sering sekali dia mengamuk tanpa sebab. Tetapi, di luar itu
semua, dia seorang pria yang amat cerdik dan lihai."
"Tepat sekali. Dia cukup cerdik untuk mengetahui bahwa diam-diam dia dirampok."
"Apakah orang bunuh diri karena tahu dia dirampok?" tanya Barling.
"Seperti kata Anda, Monsieur. Itu aneh. Dan itu membuat saya ingin mengorek
lebih dalam. Demi alasan-alasan keluarga-itu kalimat yang digunakannya dalam
suratnya. Eh bien, Monsieur, Anda
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
orang yang sudah berpengalaman, Anda tahu persis bahwa demi itu
tepatnya-alasan-alasan keluarga- orang tidak memilih bunuh diri."
"Maksud Anda?" "Bahwa kelihatannya-sepintas kilas-seakan-akan ce pauvre Monsieur, tuan kita
yang malang ini, telah menemukan bukti lebih lanjut-dan tak berdaya menghadapi
apa yang ditemukannya. Tetapi Anda pun mengerti, saya
punya tugas. Saya sudah diberi wewenang dan sudah dipilih-dan saya sudah
menerima tugas ini. 'Alasan keluarga' inilah yang tidak diinginkan pria ini
sampai ke tangan polisi. Jadi, saya harus bertindak cepat. Saya harus memperoleh
fakta-fakta yang benar."
"Dan kalau itu sudah Anda peroleh"'
"Saya harus menggunakan kemampuan saya. Saya harus lakukan apa yang bisa saya
lakukan." "Saya mengerti," kata Barling. Satu-dua menit dia mengisap rokoknya sambil
merenung, kemudian berkata, "Maaf, saya tak bisa membantu Anda. Hubert tak
pernah berterus terang kepada saya. Saya tak tahu apa-apa."
"Tapi, katakan pada saya, Monsieur, siapa, menurut Anda, yang punya kesempatan
untuk merampok pria malang ini?"
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Itu sulit dikatakan. Tentu saja, ada agen yang mengurusi tanah-tanahnya.
Dia orang baru." "Agen yang mengurusi soal tanah?"
"Ya. Marshall. Kapten Marshall. Orangnya baik, sangat menyenangkan, kehilangan
satu tangannya waktu perang. Dia datang ke sini setahun yang 54
lalu. Tapi Hubert suka orang itu, saya tahu, dan saya pun
mempercayainya." "Seandainya Kapten Marshall yang menipu dia, maka tidak mungkin ada alasan
keluarga yang harus dirahasiakan."
"T-tidak." Keraguan itu tidak luput dari perhatian Poirot.
"Katakan, Monsieur. Katakan dengan jelas, saya mohon."
"Ah, mungkin hanya gosip."
"Saya mohon dengan sangat, katakan."
"Baiklah kalau begitu, akan saya ceritakan. Apakah Anda melihat seorang wanita
muda yang sangat menarik di ruang duduk tadi?"
"Saya melihat dua wanita muda yang sangat menarik."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Oh, ya, Miss Ashby. Gadis mungil yang manis. Baru sekali ini kemari.
Harry Dalehouse berhasil membujuk Mrs. Lytcham Roche agar
mengundangnya. Bukan, bukan dia. Yang saya maksud yang berkulit
gelap-Diana Cleves."
"Saya melihatnya," kata Poirot. "Dia tipe wanita yang akan membuat setiap lelaki
menoleh memandangnya."
"Dia setan kecil," sembur Barling. "Dia suka mempermainkan setiap lelaki yang
ada dalam radius dua puluh mil darinya. Seseorang pasti akan membunuhnya, cepat
atau lambat." Dia menyapu keningnya dengan saputangannya, tak sadar bahwa dirinya dipandangi
detektif itu dengan saksama
55 "Dan wanita muda ini adalah..."
"Dia putri angkat Lytcham Roche. Sayang sekali, Lytcham dan istrinya tak punya
anak. Mereka mengadopsi Diana Cleves-masih sepupu mereka.
Hubert amat mencintainya, boleh dikatakan malah memujanya."
"Kalau begitu, dia pasti tak suka kalau gadis itu menikah, ya kan?" kata Poirot
memancing. Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Bukan begitu. Kalau Diana menikah dengan lelaki yang tepat, tak ada masalah."
"Dan pria yang tepat itu adalah... Anda, Monsieur?"
Barling tergagap dan wajahnya memerah.
"Saya tak pernah berkata..."
"Mais, non, mais, non! Anda memang tak bilang apa-apa. Tapi, itu benar, kan?"
"Saya jatuh cinta padanya... ya. Lytcham Roche senang mengetahuinya.
Saya cocok dengan gagasannya mengenai pasangan Diana."
"Dan Mademoiselle sendiri?"
"Sudah saya katakan, dia itu setan kecil yang menjelma."
"Saya paham sepenuhnya. Diana punya gagasan sendiri tentang pria yang
dipilihnya, ya kan" Tetapi Kapten Marshall, di mana hubungannya dengan ini
semua?" "Yah, Diana sering berkencan dengannya. Orang-orang bergosip. Tidak, saya tidak
berpikir yang bukan-bukan. Marshall hanya salah satu lelaki di mata Diana. Hanya
sejauh itu." Poirot mengangguk. 56 Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Tetapi, seandainya memang ada apa-apa di antara mereka... nah, itu menjelaskan
mengapa Mr. Lytcham Roche ingin bertindak secara amat hati-hati."
"Anda mengerti semuanya, ya" Anda tentu mengerti tak ada alasan yang masuk akal
untuk mencurigai bahwa Marshall telah melakukan
perampokan." "Oh, parfaitement, parfaitement! Mungkin urusannya hanya soal cek palsu, dan
melibatkan salah seorang di rumah ini. Eh, Mr. Dalehouse yang masih muda itu,
siapa dia?" "Seorang keponakan."
"Dia akan memperoleh warisan, ya?"
"Dia anak adik perempuan Hubert. Tentu saja dia mungkin akan mewarisi nama
Lytcham Roche- karena tak ada keturunan langsung yang masih
hidup." "Saya mengerti."
"Hak atas rumah ini sebenarnya belum diatur, meskipun sejak dahulu selalu
diwariskan dari garis ayah kepada anak laki-laki. Saya selalu membayangkan bahwa
Hubert mewariskannya kepada istrinya, selama
istrinya masih hidup, kemudian mungkin akan diwariskan kepada Diana, Koleksi
ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
kalau dia menyetujui pernikahan gadis itu. Anda tentu tahu, suami Diana punya
kemungkinan mewarisi nama keluarga ini."
"Saya paham sepenuhnya," kata Poirot. "Anda sangat baik dan sangat membantu
saya, Monsieur. Bolehkah saya mengajukan satu permintaan lagi"
5 Tolong jelaskan kepada Madame Lytcham Roche semua yang sudah saya katakan kepada
Anda, dan tolong sampaikan bahwa saya ingin bicara sebentar dengannya."
Lebih cepat dari yang diperhitungkannya, pintu membuka dan Mrs.
Lytcham Roche masuk. Dia melayang mendekati sebuah kursi.
"Mr. Barling telah menjelaskan semuanya kepada saya," katanya. "Tentu saja kami
tidak menginginkan skandal. Meskipun saya merasa ini semua sudah takdir. Anda
juga berpendapat begitu" Maksud saya, karena cermin itu, dan lain-lain hal."
"Comment... cermin itu?"
"Begitu melihatnya, sepertinya itu suatu pertanda. Tentang Hubert!
Tentang sebuah kutukan! Saya rasa, setiap keluarga yang sudah tua harus Koleksi
ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
hidup dengan kutukan tertentu. Hubert selalu bersikap aneh. Dan akhir-akhir ini
sikapnya semakin aneh."
"Maafkan saya kalau menanyakan ini, Madame, tetapi... maksud saya, Anda tidak
sedang kekurangan uang bukan?"
"Uang" Saya tak pernah memikirkan uang."
"Anda tahu apa kata orang, Madame" Mereka yang tak pernah
memikirkan uang membutuhkannya jauh lebih banyak."
Poirot tertawa kecil. Wanita itu tidak menanggapinya. Mata Mrs. Lytcham Roche
menerawang jauh. "Terima kasih, Madame," katanya, dan wawancara itu selesai.
Poirot membunyikan bel, dan Digby menjawab.
58 "Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan padamu," kata Poirot. "Saya detektif
swasta yang dipanggil tuanmu sebelum beliau meninggal."
"Detektif!" seru kepala pelayan itu. "Mengapa?"
"Tolong jawab pertanyaan-pertanyaanku. Nah, tentang bunyi tembakan itu..."
Dia menyimak cerita si kepala pelayan.
"Jadi kalian berempat berdiri di selasar?"
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Ya, Tuan, Mr. Dalehouse, Miss Ashby, dan Mr. Keene keluar dari tuang duduk."
"Di mana yang lain?"
"Yang lain, Tuan?"
"Ya, Mrs. Lytcham Roche, Miss Cleves, dan Mr. Barling."
"Mrs. Lytcham Roche dan Mr. Barling turun kemudian, Tuan."
"Dan Miss Cleves?"
"Saya kira Miss Cleves ada di ruang duduk, Tuan."
Poirot mengajukan beberapa pertanyaan lagi, kemudian menyuruh kepala pelayan itu
memanggil Miss Cleves untuk menemuinya.
Gadis itu langsung datang. Poirot mengamati wanita muda itu dengan saksama, dan
membayangkan apa yang sudah dikatakan Barling. Gadis itu memang cantik. Dia
mengenakan gaun satin putih, dengan-kuncup mawar dari kain yang sama menghiasi
bahunya. Poirot menjelaskan hal-hal yang menyebabkan dia datang ke Lytcham Close sambil
mengamati gadis itu dengan tajam, tetapi apa yang
ditunjukkan 59 Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
gadis itu hanyalah rasa kaget yang benar-benar asli, tanpa ada rasa canggung
atau rasa tidak enak. Diana bicara sepintas tentang Marshall, tanpa menunjukkan
perasaannya. Hanya ketika nama Barling disebut-sebut dia menjadi bersemangat.
"Dia lelaki busuk," katanya tajam. "Saya sudah bilang pada Pak Tua, tapi dia tak
mau dengar, dia terus saja menanam uang pada proyek-proyek busuk si Barling."
"Apakah Anda sedih, Mademoiselle, bahwa ayah Anda meninggal?"
Diana menatap Poirot dengan tajam.
"Tentu saja. Tapi, saya ini gadis modern, M. Poirot. Saya tak akan menangis
tersedu-sedu. Tetapi saya mencintai Pak Tua. Meskipun, tentu saja, ini yang
terbaik baginya." "Yang terbaik baginya?"
"Ya. Cepat atau lambat dia pasti harus dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Dia semakin kacau, dia makin yakin bahwa keturunan terakhir Lytcham Roche yang
mewarisi Lytcham Close adalah makhluk mahakuasa."
Poirot mengangguk penuh pemikiran.
"Hmm, saya mengerti... ya, tanda-tanda nyata dari ketidakseimbangan jiwa.
Eh, bolehkah saya memeriksa tas Anda itu" Wah, indah sekali, bunga-Koleksi ebook
inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi


Masalah Di Teluk Pollensa Problem At Pollensa Bay Karya Agatha Christie di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bunga dari sutra ini. Oh, apa kata saya tadi" Oh, ya, apakah Anda mendengar
bunyi tembakan?" "Oh, ya! Tapi saya kira itu bunyi mobil atau senapan pemburu, atau entah apa."
"Anda tadi berada di ruang duduk?"
60 "Tidak. Saya tadi sedang di kebun." "Oh. Terima kasih, Mademoiselle.
Selanjutnya, saya ingin bicara dengan Mr. Keene. Benar namanya begitu"'
"Geoffrey" Akan saya suruh dia kemari." Keene muncul, waspada dan kelihatan
tertarik. "Mr. Barling telah bercerita pada saya, alasan yang membuat Anda
datang kemari. Saya tak tahu, entah apa yang bisa saya katakan pada Anda, tetapi
kalau saya bisa..." Poirot menyelanya. "Saya hanya ingin tahu satu hal, Monsieur Keene. Apa yang
Anda ambil sambil membungkuk, tepat ketika kita baru saja masuk ke ruang kerja
tadi?" "Saya..." Keene hampir terlompat dari kursinya, tetapi segera tenang kembali.
"Saya tak mengerti maksud Anda," katanya ringan.
"Oh, saya yakin Anda mengerti, Monsieur. Anda berada di belakang saya, saya
tahu, tetapi kawan saya pernah bilang, saya ini punya mata di Koleksi ebook
inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
belakang kepala saya. Anda memungut sesuatu dan Anda masukkan
benda itu ke saku kanan jas Anda.".
Hening sejenak. Pada wajah Keene yang tampan terlihat jelas bahwa dia ragu-ragu.
Akhirnya dia mengambil keputusan.
"Pilih sendiri, M. Poirot," katanya, dan sambil membungkuk dikeluarkannya isi
sakunya. Ada pipa rokok, sehelai saputangan, sekuntum mawar mungil dari sutra,
dan kotak korek api terbuat dari emas.
Hening sejenak, kemudian Keene berkata, "Sebenarnya, ini yang saya pungut tadi."
Dia mengambil 61 kotak korek api itu. "Pasti terjatuh sebelumnya, mungkin sore tadi."
"Saya yakin bukan itu," kata Poirot.
"Apa maksud Anda?"
"Maksud saya begini. Saya, Monsieur, adalah orang yang memuja kerapian, metode,
dan keteraturan. Kotak korek api di lantai, saya pasti akan melihatnya dan
memungutnya-kotak korek api sebesar ini, pasti akan terlihat oleh saya! Bukan
ini, Monsieur, saya yakin, pasti sesuatu yang jauh lebih kecil... seperti ini,
misalnya." Dia mengambil kuntum mawar sutra itu.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Dari tas Miss Cleves, kan?"
Hening sejenak, kemudian Keene mengakuinya sambil tertawa.
"Ya, Anda benar. Dia... memberikannya pada saya kemarin malam."
"Oh," kata Poirot, dan saat itu pintu membuka. Seorang pria jangkung berambut
pirang dan mengenakan celana santai masuk ke dalam ruangan.
"Keene, apa-apaan ini" Lytcham Roche menembak dirinya sendiri" Astaga, aku
takkan percaya. Ini mengerikan."
"Mari kukenalkan kau," kata Keene, "kepada M. Hercule Poirot." Pria yang baru
datang itu kaget. "Dia akan menjelaskan semuanya kepadamu." Dan ia meninggalkan
ruangan, sambil membanting pintu.
"M. Poirot...," John Marshall amat bersemangat, "...saya senang sekali bisa
berkenalan dengan Anda. Untung Anda datang kemari. Lytcham Roche
tak 62 pernah cerita Anda akan datang. Saya amat mengagumi Anda, Sir."
Pemuda .yang tak berbahaya, kata Poirot dalam hati. Tidak terlalu muda juga,
karena rambut abu abu mulai menghiasi pelipisnya dan dahfnya sudah mulai
berkerut. Suara dan sikapnya yang membuatnya tampak
muda. Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Polisi..." "Mereka sudah ada di sini, Sir. Saya datang bersama mereka begitu mendengar
kabar ini. Mereka sepertinya tidak kaget. Tentu saja, Lytcham orang yang aneh,
tapi, begitupun..." "Begitupun Anda kaget ketika mendengar dia mati bunuh diri?"
"Terus terang, ya. Seharusnya saya tidak mengira bahwa... yah, bahwa Lytcham
Roche dapat membayangkan dunia akan terus berputar tanpa
dia." "Saya duga, akhir-akhir ini dia punya masalah keuangan?"
Marshall mengangguk. "Dia berspekulasi. Gagasan-gagasan Barling yang ngawur."
Poirot berkata pelan, "Saya akan berterus terang. Apakah Anda punya alasan untuk
menduga bahwa Mr. Lytcham Roche mencurigai Anda
memainkan uang Anda?"
Marshall menatap Poirot dengan terkejut bercampur geli. Pria itu terlihat begitu
kaget dan geli hingga mau tak mau Poirot tersenyum.
"Saya lihat Anda kaget sekali, Kapten Marshall."
63 "Ya, memang. Rikiran seperti itu sungguh konyol."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Ah! Satu pertanyaan lagi. Apa dia tidak men-~ curigai Anda karena merebut putri
angkatnya darinya"' "Oh, rupanya Anda sudah tahu tentang hubungan saya dengan Di?" Dia tertawa malu.
"Jadi itu benar?" Marshall mengangguk.
"Tapi, Pak Tua belum tahu apa-apa tentang ini. Diana takkan
menceritakannya padanya. Saya rasa dia benar. Pak Tua akan mengamuk dan...
meledak seperti sekeranjang petasan. Saya pasti akan kehilangan pekerjaan saya,
dan habislah saya." "Kalau begitu, apa rencana Anda semula?"
"Yah, percayalah, Tuan, saya sendiri tak tahu. Saya serahkan semuanya pada Di.
Dia bilang dia yang akan mengaturnya. Sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan.
Kalau saya bisa dapat pekerjaan, saya akan pergi dari sini."
"Dan Mademoiselle akan menikah dengan Anda" Tetapi, M. Lytcham Roche mungkin
akan menyetop tunjangan untuknya. Mademoiselle Diana, menurut saya, amat suka
pada uang." Marshall kelihatan tidak enak.
"Saya akan berusaha memenuhi kebutuhannya, Sir."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Geoffrey Keene masuk ke dalam ruangan. "Polisi sudah akan pergi dan mereka ingin
bicara dengan Anda, M. Poirot."
"Merci. Saya akan ke sana."
64 Di ruang kerja ada seorang inspektur polisi dan ahli bedah, kepolisian
"M. Poirot?" tanya inspektur polisi itu. "Kami sudah mendengar banyak tentang
Anda, Sir. Saya Inspektur Reeves."
"Anda terlalu murah hati," kata Poirot, sambil menyambut tangan yang terulur
itu. "Anda tidak membutuhkan kerja sama saya?" Dia tertawa kecil.
"Tidak untuk kali ini, Sir. Semuanya sudah jelas."
"Kalau begitu, kasus ini mudah sekali?" desak Poirot.
"Mudah sekali. Pintu dan jendela terkunci, kunci pintu di dalam saku si mayat.
Kelakuan yang ganjil akhir-akhir ini. Tak ada keraguan setitik pun."
"Semuanya nampak... wajar?" Dokter itu mendengus.
"Pasti duduknya dengan sudut yang aneh sekali; kalau tidak, tak mungkin
pelurunya mengenai cermin itu. Tapi, bunuh diri selalu aneh, ya kan?"
"Anda menemukan pelurunya?"
"Ya, di sini." Dokter itu menunjukkan pelurunya. "Di dekat dinding, di bawah
cermin. Pistol itu milik Mr. Roche. Selalu disimpan di laci meja. Ada Koleksi
ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
sesuatu di balik ini semua, saya yakin, tapi kita tak akan pernah tahu apa
masalahnya." Poirot mengangguk. Mayat sudah dipindahkan ke ruang tidur. Polisi kini bersiap hendak meninggalkan
rumah itu.-Poirot berdiri di pintu depan, memandang polisi yang
65 sedang pergi itu. Sebuah suara membuatnya ber-balik. Harry Dalehouse berdiri
tepat di belakangnya. "Kawan, apakah Anda kebetulan punya senter yang terang-cahayanya?"
tanya Poirot. "Ya, akan saya ambilkan."
Ketika dia kembali, Joan Ashby datang bersamanya.
"Anda berdua boleh menemani saya, kalau mau," kata Poirot ramah.
Dia melangkah keluar lewat pintu depan, membelok ke kanan, lalu berhenti di
depan jendela ruang kerja. Jalur rumput selebar kira-kira dua meter memisahkan
jendela itu dari jalan setapak. Poirot membungkuk,
menyorotkan senternya ke rerumputan. Dia menegakkan badannya lalu menggeleng.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Bukan," katanya, "bukan di sini."
Kata-katanya terhenti dan pelan-pelan tubuhnya menegang. Di kedua sisi jalur
rumput itu ditanam petak bunga yang tumbuh rapat. Perhatian Poirot terpusat pada
batas bunga di sisi kanan, penuh dengan bunga-bunga aster Michaelma dan bunga
dahlia. Senternya kini diarahkan ke bagian depan petak bunga itu. Jejak-jejak
kaki terlihat jelas pada tanah yang lembut itu.
"Empat jejak," gumam Poirot. "Dua ke arah jendela, dua dari sana."
"Tukang kebun," tebak Joan.
"Bukan, Mademoiselle, bukan. Gunakan mata Anda. Sepatu ini kecil, bertumit
tinggi dan runcing, sepatu wanita. Mademoiselle Diana
mengatakan 66 dia berada di kebun tadi. Apakah Anda melihatnya menuruni tangga
sebelum Anda, Mademoiselle?" Joan menggeleng.
"Saya tak ingat. Saya sangat tergesa-gesa karena gong sudah berbunyi, dan saya
merasa telah mendengar bunyi gong yang pertama. Rasanya saya ingat pintu
kamarnya terbuka, ketika saya lewat, tapi saya tidak yakin.
Kamar Mrs. Lytcham Roche tertutup, itu saya tahu pasti."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Saya mengerti," kata Poirot.
Sesuatu dalam nada suaranya membuat Harry memandangnya dengan
tajam, tetapi Poirot hanya mengerutkan dahi.
Di ambang pintu mereka bertemu dengan Diana Cleves.
"Polisi sudah pergi," kata Diana. "Semua sudah selesai."
Diana mendesah dalam-dalam.
"Bolehkah saya bicara sebentar dengan Anda, Mademoiselle?"
Gadis itu berbalik dan masuk ke morning room, Poirot mengikutinya, lalu menutup
pintu di belakangnya. "Nah?" Gadis itu terlihat agak kaget.
"Satu pertanyaan, Mademoiselle. Apakah tadi, malam ini, Anda berada di sekitar
petak bunga, tepat di depan jendela ruang kerja?"
"Ya." Diana mengangguk. "Kira-kira jam tujuh, dan sekali lagi sebelum makan
malam." "Saya tak mengerti," kata Poirot.
"Saya tak melihat ada yang perlu Anda 'menger-
67 Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
ti, begitu istilah Anda," kata Diana dingin. "Saya tadi memetik bunga-bunga
aster Michaelma untuk penghias meja makan. Saya selalu
merangkai" bunga untuk meja makan. Itu kira-kira jam tujuh tadi."
"Dan setelah itu... yang kemudian?"
"Oh, yang itu! Tanpa sengaja saya meneteskan setitik minyak rambut pada gaun
saya, tepat di bagian bahu sini. Padahal, saya sudah siap hendak turun. Saya tak
mau mengganti gaun saya. Saya Ingat ada sekuntum
mawar di petak bunga itu. Mawar yang mekar lewat musimnya. Saya lari keluar,
memetiknya, dan menyematkannya. Lihat..." Dia mendekati Poirot dan mengangkat
kuntum mawar itu. Poirot melihat noda minyak rambut yang kecil sekali. Diana
tetap berdiri dekat dengannya, bahunya hampir menyentuh bahu Poirot.
"Dan jam berapakah waktu itu?"
"Oh, kira-kira jam delapan lebih sepuluh, saya kira."
"Anda tidak... mencoba lewat jendela?"
"Saya memang mencoba lewat sana. Ya, saya pikir pasti lebih cepat kalau lewat
sana. Tapi jendela itu terkunci."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Saya mengerti." Poirot mendesah keras. "Dan bunyi tembakan itu,"
katanya, "di mana - Anda waktu mendengarnya" Masih di petak bunga itu?"
"Oh, tidak, itu dua atau tiga menit kemudian, tepat sebelum saya masuk lewat
pintu samping." - "Anda tahu, benda apa ini, Mademoiselle?"
Poirot menunjukkan sekuntum mawar mungil dari kain sutra di telapak tangannya.
Gadis itu mengamatinya dengan sikap santai.
68 "Kelihatannya seperti kuntum bunga mawar yang-lepas dari tas saya. Di mana Anda
menemukannya?" "Di saku Mr. Keene," kata Poirot datar. "Apakah Anda memberikannya padanya,
Mademoiselle?" "Apa dia bilang saya memberikannya padanya?"
Poirot tersenyum. "Kapan Anda memberikannya padanya, Mademoiselle?"
"Kemarin malam."
"Apakah dia mengancam Anda agar mengatakan begitu, Mademoiselle?"
"Apa maksud Anda?" tanya Diana marah-Tapi Poirot tidak menjawab. Dia keluar dari
ruangan lalu masuk ke ruang duduk. Barling, Keene, dan Marshall ada di sana.
Poirot langsung mendekati mereka.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Messieurs," katanya ringkas, "maukah Anda semua ikut saya ke ruang kerja?"
Dia keluar ke selasai- dan berkata kepada Joan dan Harry.
"Anda berdua juga, saya mohon. Dan tolong sampaikan pada Madame agar datang ke
sini. Terima kasih. Ah! Nah, ini Digby yang hebat. Digby, ada satu pertanyaan,
pertanyaan sepele namun sangat penting. Apakah Miss Cleves merangkai bunga-bunga
aster Michaelma sebelum makan
malam?" Kepala pelayan itu nampak kaget. "Ya, Tuan, memang." "Kau yakin"
69 "Yakin sekali, Tuan."
"Tres bien. Sekarang... Anda semua, silakan masuk."
Di dalam ruang kerja Poirot berdiri menghadap mereka semua.
"Saya minta Anda semua datang ke sini untuk suatu alasan. Kasus ini sudah
selesai, polisi sudah datang dan sudah pergi. Mereka mengatakan bahwa Mr.
Lytcham Roche menembak dirinya sendiri. Selesai." Dia berhenti. "Tetapi saya,
Hercule Poirot, berkata bahwa ini belum selesai."
Ketika mata-mata yang kaget menatapnya, pintu membuka dan Mrs.
Lytcham Roche meluncur masuk.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Saya sedang berkata, Madame, bahwa kasus ini belum selesai. Ini masalah
psikologi, Mr. Lytcham Roche, dia punya semacam manie de grandeur-menganggap
diri sendiri hebat sekali. Dia menganggap dirinya raja. Orang seperti dia tidak
akan bunuh diri. Tidak, tidak mungkin. Barangkali dia gila, tidak waras, tapi
dia takkan membunuh dirinya sendiri. Mr. Lytcham Roche tidak bunuh diri." Poirot
berhenti. "Dia dibunuh."
"Dibunuh?" Marshall tertawa pendek. "Sendirian di sebuah ruangan dengan pintu
dan jendela terkunci?"
" "Bisa saja," kata Poirot keras kepala, "dia dibunuh."
"Lalu bangkit dan mengunci pintu serta jendela, setelah mati dibunuh.
Begitu, ya?" kata Diana tajam.


Masalah Di Teluk Pollensa Problem At Pollensa Bay Karya Agatha Christie di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

70 "Akan saya tunjukkan sesuatu kepada Anda sekalian," kata Poirot sambil berjalan
ke jendela. Dia memutar pegangan jendela model Prancis itu, kemudian menariknya
pelan-pelan. "Lihat, terbuka. Sekarang saya tutup, tapi tanpa memutar pegangannya.
Nah, sekarang jendela tertutup, tetapi tidak terkunci. Sekarang!"
Didorongnya jendela itu tiba-tiba dan pegangannya langsung memutar, membuat
selotnya terkunci dengan sendirinya.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Lihat!" kata Poirot pelan. "Mekanisme kunci jendela ini amat sederhana Kita
dapat menguncinya dari luar, dengan mudah sekali."
Dia berbalik, sikapnya bersungguh-sungguh.
"Ketika tembakan itu diletuskan pada jam delapan dua belas, ada empat orang di
selasar. Empat orang itu mempunyai alibi. Di mana tiga orang lainnya" Anda,
Madame" Di kamar Anda. Anda, Monsieur Barling.
Apakah Anda juga berada di dalam kamar Anda?"
"Ya." "Dan Anda, Mademoiselle, apakah Anda berada di kebun seperti yang Anda katakan?"
"Saya tak melihat..." Diana memulai.
"Tunggu." Poirot berpaling kepada Mrs. Lytcham Roche. "Katakan, Madame, apakah
Anda tabu bagaimana suami Anda akan mewariskan
uangnya?" "Hubert pernah membacakan surat wasiatnya. Katanya saya harus tahui Dia
mewariskan tiga ribu poundsterling per tahun, dari rumah ini, dan rumah dower
atau apartemen di kota, terserah
71 Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
mana yang saya pilih. Sisanya diwariskannya kepada Diana, dengan. syarat, kalau
dia menikah, suaminya harus bersedia memakai nama Lytcham
Roche." "Ah!"
"Tapi kemudian dia membuat codicil-catatan tambahan-beberapa minggu yang lalu."
"Ya, Madame?" "Dia masih mewariskan semuanya kepada Diana, tapi dengan syarat Diana menikah
dengan Mr. Barling. Kalau dia menikah dengan pria lain, semua warisan ini akan
menjadi hak keponakannya, Harry Dalehouse."
"Tetapi codicil itu baru dibuat beberapa minggu yang lalu," gumam Poirot.
"Mademoiselle mungkin belum tahu itu." Dia melangkah maju dan berkata menuduh.
"Mademoiselle Diana, Anda ingin menikah dengan Kapten Marshall, ya kan" Atau...
dengan Mr. Keene?" Diana berjalan menyeberangi ruangan dan menggandeng lengan Marshall yang masih
utuh. "Lanjutkan," katanya.
"Saya akan menjelaskan mengapa kasus ini memberatkan Anda,
Mademoiselle. Anda mencintai Kapten Marshall. Anda juga cinta uang.
Ayah angkat Anda takkan menyetujui pernikahan Anda dengan Kapten
Marshall, tapi jika beliau meninggal, Anda akan memperoleh semuanya.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Jadi Anda pergi ke luar, berjalan di petak bunga itu ke arah jendela yang
terbuka, Anda membawa pistol yang telah Anda ambil dari laci meja tulis.
Anda mendekati 72 korban sambil terus bicara dengan ramah. Anda menembak. Anda
menjatuhkan pistol itu pada tangan ayah angkat Anda, menghapus sidik jari Anda,
kemudian menekankan jari-jari korban pada pistol itu. Anda keluar lagi, menekan
jendela hingga selotnya terkunci. Anda lalu masuk ke dalam rumah. Begitukah yang
terjadi" Saya bertanya pada Anda,
Mademoiselle?" "Tidak," jerit Diana. "Tidak... tidak!"
Poirot menatap gadis itu beberapa saat, kemudian tersenyum.
"Tidak," katanya, "memang tidak begitu kejadiannya. Yang seperti itu memang
mungkin. Itu masuk akal-mungkin bisa begitu-tetapi hal itu tidak mungkin karena
dua hal. Alasan yang pertama adalah Anda memetik
bunga-bunga aster Michaelma pada jam tujuh malam, alasan kedua ada hubungannya
dengan apa yang sudah dikatakan nona ini kepada saya."
Dia berpaling kepada Joan, yang memandangnya ketakutan. Poirot
mengangguk, menenangkan Joan.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Sungguh, Mademoiselle. Anda katakan tadi Anda tergesa-gesa menuruni tangga
karena Anda mengira mendengar bunyi gong kedua, karena Anda merasa mendengar
bunyi.yang pertama."
Poirot memandang berkeliling dengan tajam.
"Anda tak mengerti apa yang saya maksud?" serunya. "Anda tidak mengerti. Lihat!
Lihat!" Dia melompat ke arah kursi yang tadi diduduki korban. "Tidakkah Anda
melihat bagaimana posisi tubuh itu tadi" Tidak duduk menghadap meja, tetapi
73 duduk menyamping, menghadap jendela. Apakah itu sikap duduk yang
wajar bagi orang yang akan bunuh diri" Jamais, jamais! Anda menulis apologia
"maaf" pada secarik kertas. Anda membuka laci, mengambil pistol, Anda arahkan ke
kepala Anda dan Anda tembakkan. Itu caranya bunuh diri. Tetapi, sekarang
bayangkan ini kasus pembunuhan. Korban duduk di depan mejanya, si pembunuh
berdiri di sampingnya, mengajaknya bicara.
Dan sambil terus bicara menembakkan senjatanya. Di mana selongsong peluru itu
sekarang?" Dia berhenti sebentar. "Menembus kepala dan keluar di sisi yang lain,
meluncur lewat pintu kalau pintu itu terbuka, dan...
mengenai gong. Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Ah! Anda mulai paham. Itu adalah bunyi gong pertama, yang hanya terdengar oleh
Mademoiselle ini, karena kamarnya terletak di atas.
"Apa yang dilakukan si pembunuh setelah itu" Menutup pintu,
menguncinya, memasukkan kunci pintu ke saku korban, kemudian
mengatur mayat itu sedemikian rupa hingga miring dan terkulai pada sisinya,
meretakkan cermin yang tergantung di dinding sebagai sentuhan akhir yang
mengesankan-ringkasnya, 'mengatur' usaha bunuh diri itu.
Kemudian dia keluar lewat jendela, selotnya dibuat mengunci dengan mengentakkan
jendela. Pembunuh itu tidak menginjak rumput agar
jejaknya tak kelihatan, tetapi dia menginjak petak bunga agar langsung bisa
dirapikan setelah diinjak. Tak ada jejak yang tertinggal. Kemudian dia masuk
lagi ke rumah, dan jam delapan lewat dua belas, ketika sendirian 74
di ruang duduk, dia menembakkan sepucuk revolver ke luar jendela ruang duduk Mu
cepat-cepat keluar ke selasar. Begitukah yang Anda lakukan, Mr. Geoffrey Keene?"
Sekretaris itu terpana, menatap sosok yang mendekatinya sambil
menuduhnya. Kemudian, sambil menjerit tertahan tubuhnya terjerembap ke lantai.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Saya rasa pertanyaan saya sudah terjawab," kata Poirot. "Kapten Marshall,
maukah Anda menelepon polisi?" Dia membungkuk di atas tubuh yang tak berdaya
itu. "Saya rasa dia belum akan sadar ketika polisi datang."
"Geoffrey Keene," gumam Diana. "Tapi apa motifnya?"
"Menurut saya, sebagai sekretaris, dia punya kesempatan-kesempatan tertentu-
pembukuan keuangan, cek. Sesuatu membuat Mr. Lytcham Roche curiga. Dia meminta
saya datang." "Mengapa Anda" Mengapa bukan polisi?"
"Saya rasa, Mademoiselle, Anda bisa menjawab pertanyaan itu. Mr.
Lytcham Roche mengira ada apa-apa antara Anda dan anak muda ini.
Untuk mengalihkan perhatiannya dari Kapten Marshall, Anda tanpa malu-malu
bercumbu dengan Mr. Keene. Tetapi, ya, saya benar, Anda tidak dapat
menyangkalnya! Mr. Keene tahu saya akan datang dan dia bertindak cepat. Inti
rencananya adalah membuat pembunuhan itu tampak seperti dilakukan pada jam 8.12,
ketika dia mempunyai alibi. Yang berbahaya baginya adalah pelurunya, yang pasti
tergeletak entah di mana, dekat gong, dan belum
75 Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
sempat diambilnya. Pada saat yang sangat menegangkan dia mengira tak ada yang
akan mengamatinya. Tetapi saya, saya selalu mengamati apa saja dengan cermat!
Saya menanyai dia. Dia berpikir-pikir semenit lamanya sebelum memainkan lelucon
konyolnya! Dia sengaja memberi kesan bahwa apa yang diambilnya adalah sekuntum
mawar sutra Dia memainkan peran sebagai pemuda yang sedang jatuh cinta dan
melindungi wanita yang dicintainya. Oh, cerdik sekali dia, dan seandainya Anda
tadi tidak memetik bunga aster Michaelma..."
"Saya tidak mengerti apa hubungannya bunga aster dengan urusan ini."
"Anda tidak mengerti" Dengar... hanya ada empat jejak kaki di petak bunga,
tetapi ketika Anda memetik bunga, Anda pasti membuat jejak lebih banyak-lebih
dari empat. Jadi, antara saat ketika Anda .memetik bunga aster dan ketika Anda
ke sana lagi untuk memetik sekuntum mawar,
seseorang pasti telah meratakan lagi petak bunga itu. Bukan tukang kebun; tak
ada tukang kebun yang masih bekerja sesudah jam tujuh. Jadi, pasti seseorang
yang bersalah-pasti si pembunuh-pembunuhan itu terjadi
sebelum letusan tembakan terdengar." '
"Tetapi mengapa tak ada orang yang mendengar letusan tembakan yang mematikan
itu?" tanya Harry. Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Peredam. Polisi akan menemukan revolver itu di semak-semak."
76 "Sungguh penuh risiko!"
"Mengapa harus ada risiko" Semua orang ada di lantai atas, bersiap untuk makan
malam. Itu saat yang tepat, waktu yang sangat bagus. Peluru itulah yang
membuatnya sial, dan bahkan, seperti yang diperkirakannya,
nyatanya berlangsung tanpa hambatan "
Poirot memungut peluru itu. "Dia melemparkannya ke bawah cermin ketika saya
sedang memeriksa jendela bersama Mr. Dalehouse."
"Oh!" Diana berputar menghadap Marshall. "Nikahilah aku, John, dan bawalah aku
pergi." Barling berdeham. "Diana sayang, menurut syarat-syarat surat wasiat kawanku..."
"Aku tak peduli," seru gadis itu. "Aku tak peduli."
"Kau tak perlu begitu," kata Harry. "Warisannya akan kita bagi dua, Di.
Aku tak berniat memiliki semuanya karena Paman suka marah-marah."
Tiba-tiba terdengar jerit tertahan. Mrs. Lytcham Roche melompat berdiri.
"M. Poirot... cermin itu... dia... dia pasti sengaja membuatnya retak."
"Ya, Madame." Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Oh!" Mrs. Lytcham Roche menatap Poirot. "Tapi, siapa yang memecahkan cermin
akan kena sial." "Itu sudah terbukti pada Mr Geoffrey Keene," kata Poirot dengan riang.
77 Bunga Iris Kuning Bunga Iris Kuning-Yellow Iris pertama kali diterbitkan di Inggris di Strand
Magazine pada tahun 1937. Cerita ini dikembangkan menjadi novel,
Sparkling Cyanide (Kenangan Kematian, PT Gramedia Pustaka Utama,
1986), yang untuk pertama kalinya diterbitkan oleh Collins paSa tahun 1945-tanpa
tokoh Hercule Poirot di dalamnya.
3 BUNGA IRIS KUNING Hercule poirot menyelonjorkan kakinya ke arah radiator listrik yang dipasang
pada dinding. Bentuknya yang rapi, dan bilah-bilah merah yang berjajar teratur
itu membuat senang pikirannya yang memuja keteraturan.
"Api batu bara," katanya pada diri sendiri, "tak ada bentuknya dan selalu
membuat kotor! Tak pernah ada api batu bara yang simetris."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Telepon berdering. Poirot bangkit, sambil melihat jam tangannya sekilas.
Saat itu sudah hampir pukul 23.30. Dia heran, siapa yang meneleponnya malam-
malam begitu. Mungkin salah sambung.
"Dan mungkin," gumamnya pada diri sendiri sambil tersenyum aneh, "ada pemilik
koran kaya raya yang ditemukan mati di ruang perpustakaan, di rumahnya di
pedesaan, dengan sekuntum bunga anggrek diletakkan di tangan kirinya dan secarik
sobekan halaman buku masak disematkan pada dadanya."
81 Sambil tersenyum karena angan-angan yang menyenangkan itu, dia
mengangkat telepon. "Apakah di situ M. Hercule Poirot" Apakah di situ M. Hercule Poirot?"
"Ya, Hercule Poirot di sini."
"M. Poirot... dapatkah Anda segerS kemari... segera... saya dalam bahaya...
dalam- bahaya besar... saya tahu ini..."
Poirot menukas tajam, "Siapa Anda" Dari mana Anda bicara ini?"
Suara itu terdengar semakin sayup, tapi dengan nada mendesak yang semakin
kentara. Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Segera... ini urusan hidup atau mati... di Jardin des Cygnes... segera... meja
dengan bunga iris kuning.,.."
Hening sejenak, terdengar seruan tertahan yang ganjil... lalu hubungan terputus.
Hercule Poirot meletakkan teleponnya. Wajahnya kebingungan. Dia
mendesis, "Ini benar-benar ganjil."
Di pintu masuk Jardin des Cygnes, Luigi yang gemuk cepat-cepat
menyambutnya. "Buona sera, M. Poirot. Anda menginginkan meja... ya?"
"Tidak, tidak, Luigi sahabatku yang baik. Aku datang untuk menemui beberapa
kawan. Aku akan mencari mereka, mungkin mereka belum
datang. Ah, lihat, meja di pojok dengan bunga-bunga iris kuning itu. Ada satu
pertanyaan, kalau ini bukan tidak sopan. Di meja-meja lain ada bunga tulip....
82 tulip merah jambu... tapi mengapa di meja yang itu kauletakkan bunga iris
kuning?" Luigi mengangkat bahu dengan ekspresif
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Atas perintah, Monsieur! Permintaan khusus. Pasti bunga kesayangan salah
seorang wanita itu. Meja itu dipesan oleh Mr. Barton Russell, orang Amerika,
sangat kaya raya." "Aha, orang harus mempelajari selera para wanita, ya, kan, Luigi?"
"Monsieur telah mengatakannya," kata Luigi.
"Kulihat ada kenalanku di meja itu. Aku harus ke sana dan bicara dengannya."
Poirot berjalan lincah menyeberangi lantai dansa yang penuh pasangan yang
berdansa berputar-putar. Meja yang dimaksud ditata untuk enam orang, tetapi saat
itu hanya ada seorang pemuda duduk di sana Pria muda itu nampak merenung,
sepertinya pesimis, sambil menikmati segelas sampanye.
Sama sekali bukan pria yang hendak ditemuinya. Rasanya tidak masuk akal
menghubungkan gagasan akan adanya bahaya atau melodrama
dengan kelompok apa pun di mana Tony Chapell menjadi anggota.
Poirot berhenti di samping meja itu.
"Ah, bukankah ini kawanku Anthony Chapell?"
"Astaga... sungguh ajaib... Poirot, si anjing polisi!" seru pemuda itu. "Bukan
Anthony, Kawan, cukup Tony untuk teman-teman!"
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Dia menarik sebuah kursi.
"Ayo, duduk dekat aku. Mari kita berdiskusi tentang kriminalitas! Mari kita
mengobrol puas-83 puas dan minum demi kriminalitas" Dia menuang sampanye ke sebuah gelas kosong.
"Tapi untuk apa kau kemari, ke tempat yang penuh tawa.
dansa, dan suka ria ini, Poirot" Tak ada mayat di sini, jelas-jelas tak ada
mayat yang akan menarik minatmu."
Poirot mencecap sampanyenya.


Masalah Di Teluk Pollensa Problem At Pollensa Bay Karya Agatha Christie di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kau kelihatan riang sekali, mon cher?"
"Riang" Aku justru sedang sedih sekali... terpuruk dalam kemurungan. Eh, kau
tahu lagu yang mereka mainkan" Kau tahu lagu itu?"
Poirot menjawab dengan hati-hati, "Sesuatu yang ada hubungannya dengan kekasih
yang pergi meninggalkanmu?"
"Tebakanmu boleh juga," kata pemuda itu. "Tapi, kali ini kau keliru. 'Hanya
cinta yang bisa membuatmu menderita!' Begitu kata orang."
"Aha?" Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Lagu kesayanganku," kata Tony Chapell murung. "Dan restoran favoritku dan band
favoritku... dan gadis idamanku ada di sini dan dia berdansa dengan pria lain."
"Wah, karena itu. kau jadi melankolis?" kata Poirot.
"Benar. Pauline dan aku, telah bertengkar sengit. Kami saling melontarkan apa
yang oleh orang liar disebut kata-kata. Maksudku, dia bicara 95 kata dan aku
lima kata, untuk setiap seratus kata. Lima kata yang kuucapkan adalah 'Tapi,
Sayang... aku bisa jelaskan.' Kemudian dia memulai yang 95
lagi, dan kami pun hanya berputar-putar di situ.
84 Kurasa," tambah Tony sedih, "sebaiknya aku minum racun saja "
"Pauline?" gumam Poirot.
"Pauline Weatherby. Adik ipar Barton Russell. Muda, jelita, dan kaya raya.
Malam ini Barton Russell mengadakan pesta. Kau tahu dia" Bisnis besar, tipe
lelaki Amerika yang bersih... penuh kekuasaan dan punya kepribadian kuat.
Istrinya adalah kakak Pauline."
"Dan siapa lagi yang hadir di pesta ini?"
"Kau akan ketemu mereka sebentar lagi, kalau musik sudah berhenti Ada Lola
Valdez... penari dari Amerika Selatan yang sedang mengawali show-Koleksi ebook
inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
nya di Metropole, dan ada pula Stephen Cartef Kau kenal Carter-dia seorang
diplomat. Sangat pendiam. Dijuluki Silent Stephen-Stephen si Pendiam. Jenis
orang yang suka bilang, 'Saya tidak berwenang mengatakan bahwa, dst., dst' Eh,
itu mereka datang." Poirot bangkit. Dia diperkenalkan kepada Barton Russell, Stephen Carter, Senora
Lola Valdez- makhluk jelita berkulit gelar)-dan kepada Pauline Weatherby-seorang
gadis yang masih sangat muda, sangat cantik, dengan mata indah bagaikan dua
kuntum bunga cornflower. Barton Russell berkata, "He, apakah ini M. Hercule Poirot yang termasyhur itu"
Saya sungguh senang bertemu Anda, Sir. Maukah Anda duduk dan bergabung dengan
kami" Tentu saja kalau Anda tidak..." Tony Chapell menyela.
"Dia ada janji dengan sesosok mayat, atau seorang ahli keuangan yang melarikan
uang, atau batu mirah milik Raja Borrioboolagah?"
"Ah, kawanku, kaukira aku ini tak pernah bebas tugas" Tidak bolehkah aku,
sesekali, bersenang-senang sedikit?"
"Mungkin kau ada janji dengan Carter di sini. Kabar terakhir tentang situasi
politik luar negeri makin parah. Rahasia-rahasia yang dicuri itu Koleksi ebook
inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
harus ditemukan sekarang juga, kalau tidak besok pagi perang akan diumumkan!"
Pauline Weatherby menukas dengan tajam, "Apakah kau harus selalu beningkah tolol
seperti orang idiot, Tony"'"
"Maaf, pauline."
Tony Chapell langsung terdiam.
"Betapa kejamnya Anda, Mademoiselle."
"Saya benci orang yang selalu membuat dirinya kelihatan tolol!"
"Saya harus hati-hati kalau begitu. Saya harus bicara tentang hal-hal yang
serius saja." "Oh, bukan begitu, M. Poirot. Bukan Anda yang saya maksud."
Gadis itu berpaling memandang Poirot, dan tersenyum sambil bertanya,
"Apakah Anda seperti Sherlock Holmes dan sering membuat deduksi-deduksi yang
mengagumkan?" "Ah, deduksi... dalam kehidupan nyata, itu tidak selalu mudah. Tapi, bolehkah
saya mencobanya" Dengar, saya akan membuat deduksi. Bunga iris kuning adalah
bunga kesayangan Anda."
86 "Salah, M. Poirot. Lily of the valley atau mawar." Poirot mendesah.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Wah, saya gagal. Saya akan mencoba sekali lagi. Malam ini, belum lama ini, Anda
menelepon seseorang."
Pauline tertawa sambil bertepuk tangan.
"Benar." "Kejadiannya tidak lama setelah Anda sampai di sini?"
"Sekali lagi Anda benar. Saya langsung menelepon begitu saya masuk ke sini."
"Ah... itu tidak tepat. Anda menelepon sebelum Anda sampai ke meja ini?"
"Ya." "Buruk sekali. Sungguh."
"Oh, tidak, menurut saya, Anda sungguh cerdik. Bagaimana Anda bisa tahu bahwa
saya menelepon?" "Yang itu, Mademoiselle, adalah rahasia seorang detektif ulung. Dan orang yang
Anda telepon, apakah namanya dimulai dengan huruf P... atau
mungkin dengan H?" Pauline tertawa. "Salah. Saya menelepon pelayan saya, menyuruhnya mengeposkan beberapa surat yang
amat penting yang belum sempat saya poskan.
Namanya Louise." Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Saya bingung... sungguh bingung."
Musik mengalun lagi. "Mau dansa, Pauline?" tanya Tony.
"Rasanya aku belum mau dansa lagi, Tony."
"Wah, sayang sekali," dengan pahit Tony berkata tidak kepada siapa-siapa.
8 Poirot berbisik kepada" gadis Amerika Selatan yang duduk di sampingnya,
"Senora, saya takkan berani meminta Anda berdansa dengan saya. Saya ini terlalu
antik." Lola Valdez berkata, "Ah, Anda bercanda! Anda masih muda. Rambut Anda masih
hitam!" Poirot sedikit menggeser duduknya.
"Pauline, sebagai kakak iparmu dan pelindung-mu," kata Barton Russell dengan
suara berat, "aku akan memaksa berdansa! Yang ini irama waltz dan waltz adalah
satu-satunya dansa yang aku bisa."
"Wah, tentu saja, Barton, kita akan segera turun."
"Bagus, Pauline, kau anak baik."
Mereka meluncur pergi. Tony duduk memiringkan kursinya ke belakang.
Kemudian dia memandang Stephen Carter.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Kau kan lelaki cerewet, Carter," katanya memulai. "Buat suasana pesta ini jadi
menyenangkan dengan obrolanmu yang riang, eh! Apa?"
"Sungguh, Chapell, aku tak mengerti apa maumu."
"Oh, kau tidak mengerti... ya, kan?" Tony meni-rukannya. "Sahabatku."
"Minum, Bung, ayo minum, kalau kau tak mau bicara."
"Tidak, terima kasih."
"Kalau begitu, aku mau minum."
Stephen Carter mengangkat bahu tak peduli
"Maaf, aku harus bicara dengan seorang kenalanku di sana. Kawan waktu di Eton."
88 Stephen Carter bangkit lalu berjalan ke arah sebuah meja beberapa meja dari situ
Tony berkata dengan murung, "Sebaiknya para calon lulusan Eton ditenggelamkan
saja waktu mereka dilahirkan."
Hercule Poirot masih tetap bersikap gallant pada wanita jelita berkulit gelap di
sampingnya. Dia bergumam, "Hmm... bolehkah saya bertanya, apakah bunga
kesayangan Anda, Mademoiselle?"
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Ah, mengapa Anda ingin tahu?"
Lola bersikap jual mahal.
"Mademoiselle, kalau saya mengirimkan bunga untuk seorang wanita, saya akan
mengirimkan bunga kesayangannya."
"Anda sungguh memikat, M. Poirot. Akan saya katakan... saya suka sekali bunga
anyelir merah tua... atau mawar merah tua."
"Selera Anda sungguh hebat... ya, hebat! Kalau begitu, Anda tidak suka bunga
iris kuning?" "Bunga kuning... tidak... warna itu tidak sesuai dengan watak saya."
"Wah, Anda sungguh bijak. Katakan, Mademoiselle, apakah Anda menelepon kawan
Anda malam ini, setelah Anda sampai di sini?" "Saya"
Menelepon kawan" Tidak! Aneh benar pertanyaan Anda "
"Ah, tapi saya memang pria aneh."
"Ya, saya yakin, Anda memang aneh" Wanita itu memutar-mutar bola matanya.
"Seorang pna yang sangat berbahaya."
"Tidak, tidak; tidak berbahaya; saya ini,
89 katakanlah, pria yang mungkin berguna... dalam bahaya! Anda mengerti?"
Lola tertawa geli. Giginya putih dan rata,
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Salah," katanya sambil tertawa. "Anda pria berbahaya."
Hercule Poirot mendesah. "Saya lihat Anda tidak mengerti. Urusan ini aneh sekali."
Tony tersadar dari lamunannya dan tiba-tiba berkata, "Lola, bagaimana kalau kita
main a spot of swoop and di" Ayo ikut aku."
"Aku akan ikut... ya. Karena M. Poirot tidak cukup berani!"
Tony memeluk Lola dan berkata kepada Poirot lewat bahunya, sambil meluncur
pergi, "Silakan merenungkan tindak kriminal yang akan terjadi, Bung!"
Poirot berkata, "Yang kaukatakan itu seperti ramalan. Ya, seperti ramalan...."
Poirot duduk merenung satu-dua menit lamanya, kemudian dia
mengacungkan jarinya. Luigi segera mendekat, wajah Italia-nya yang lebar
tersenyum cerah. "Mon vieux," kata Poirot. "Aku butuh informasi darimu."
"Saya selalu siap, Monsieur."
"Aku ingin tahu, berapa orang yang duduk di meja ini yang tadi menggunakan
telepon?" Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Saya bisa katakan, Monsieur. Gadis muda yang mengenakan gaun putih, dia
menelepon segera setelah sampai kemari. Kemudian dia pergi ke tempat 90
penitipan mantel dan sementara dia di sana. wanita yang satunya keluar dari
ruang penitipan mantel lalu pergi ke boks telepon."
"Jadi, Senora Valdez memang menelepon! Apakah itu sebelum dia masuk ke dalam
restoran?" "Ya, Monsieur."
"Yang lain?" "Tidak, Monsieur."
"Semua ini, Luigi, membuatku harus berpikir keras!"
"Ya, memang, Monsieur."
"Ya. Kurasa, Luigi, malam ini aku telah kehilangan kehebatanku! Sesuatu akan
terjadi, Luigi, dan aku tidak yakin apa itu."
"Ada yang bisa saya bantu, Monsieur..."
Poirot memberi isyarat. Diam-diam Luigi menyelinap pergi. Stephen Carter sedang
berjalan kembali ke meja itu.
"Kita masih ditinggalkan yang lain, Mr. Carter," kata Poirot.
"Oh... eh... ya, memang," kata Carter.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Anda kenal Mr. Barton Russell?"
"Ya, saya cukup lama mengenalnya."
"Adik iparnya, Miss Weatherby yang mungil, sungguh menawan."
"Ya, gadis manis."
"Anda juga mengenalnya dengan baik?" "Cukup kenal."
"Oh, cukup kenal," kata Poirot. Carter menatapnya.
Musik berhenti dan yang lain kembali ke meja.
91 Barton Russell bicara pada seorang pelayan, "Minta satu botol sampanye lagi...
cepat." Kemudian dia mengangkat gelasnya.
"Dengar, Kawan-kawan. Saya akan meminta kalian bersulang. Terus terang, ada
alasan tertentu di balik pesta kecil malam ini. Seperti kalian tahu, saya
memesan meja untuk enam orang. Tapi, kita hanya berlima.
Maka, akan ada satu kursi kosong. Kemudian, karena suatu kebetulan yang aneh
sekali, M. Hercule Poirot kebetulan singgah di sini dan saya memintanya
bergabung dalam pesta kita
"Kalian pasti belum menyadari, betapa itu suatu kebetulan yang menguntungkan.
Sebenarnya, kursi yang malam ini kosong menyimbolkan Koleksi ebook inzomnia
http://inzomnia.wapka.mobi
kehadiran seorang wanita-wanita yang menjadi tema pesta ini. Pesta ini, hadirin
sekalian, diadakan demi kenangan akan istri saya tercinta... Iris...
yang meninggal tepat empat tahun yang lalu pada hari ini!"
Terdengar seruan-seruan kaget di sekeliling meja. Barton Russell, dengan wajah
murung, mengangkat gelasnya.
"Saya minta kalian bersulang demi kenangan atas dirinya, Iris!"
"Iris?" tanya Poirot tajam.
Dia memandang bunga-bunga itu. Barton Russell memandangnya dan
menganggukkan kepala dengan halus.
Terdengar bisik-bisik di sekeliling meja "Iris... Iris...."
Semua yang hadir kelihatan kaget dan salah tingkah.
92 Barton Russell melanjutkan, dia bicara dengan intonasi Inggris-Amerika yang
membosankan dan lamban, setiap kata seakan dikeluarkannya
dengan susah payah. "Mungkin aneh sekali bagi kalian, mengapa saya memperingati tahun kematian
dengan cara seperti ini-dengan pesta makan malam di sebuah restoran terkenal.
Tetapi saya punya alasan... ya, saya punya alasan. Demi kepentingan M. Poirot,
saya akan menjelaskannya."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Dia berpaling ke arah Poirot.
"Malam ini, tepat empat tahun yang lalu, M. Poirot, ada sebuah pesta makan malam
di New York. Waktu itu yang hadir adalah istri saya, saya sendiri, Mr. Stephen
Carter, yang saat itu bertugas di Kedutaan di Washington, Mr. Anthony Chapell,
yang sedang menjadi tamu di rumah kami selama beberapa minggu, dan Senora
Valdez, yang saat itu memesona masyarakat New York City dengan tariannya.
Pauline..." dia menepuk bahu gadis itu "...baru berumur enam belas tahun, tapi
dia hadir dalam pesta itu sebagai tamu khusus. Kau ingat, Pauline?"
"Aku ingat... ya." Suaranya agak bergetar.
"M. Poirot, pada malam itu terjadi sebuah tragedi. Saat itu drum dipukul keras-
keras dan tarian kabaret mulai dipertunjukkan. Lampu-lampu
dipadamkan... kecuali satu spotlight yang menyinari bagian tengah lantai dansa.
Ketika lampu-lampu dinyalakan lagi, M. Poirot, istri saya sudah terkulai di
meja. Dia mati... benar-benar mati. Di dalam
gelas anggurnya ditemukan sisa-sisa sianida dan sisa bungkusnya
ditemukan dalam tas tangannya."
"Dia bunuh diri?" tanya Poirot.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Itu teori yang diterima.... Peristiwa itu membuat hidup saya hancur, M.
Poirot. Memang, ada kemungkinan itu tindakan bunuh diri... polisi pun menduga


Masalah Di Teluk Pollensa Problem At Pollensa Bay Karya Agatha Christie di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

begitu. Saya menerima keputusan mereka."
Tiba-tiba dia memukul meja.
"Tetapi saya tidak puas.... Tidak, selama empat tahun ini saya merenung dan
merenung... dan saya tidak puas: saya tidak percaya Iris bunuh diri.
Saya yakin, M. Poirot, dia pasti dibunuh... oleh salah seorang yang hadir di
meja kami." "Dengar, Sir..."
Tony Chapell terlompat berdiri.
"Diam, Tony," potong Russell. "Saya belum selesai. Salah seorang dari mereka
pasti pelakunya... saya yakin sekarang. Seseorang, yang dengan berlindung di
balik kegelapan ketika itu, diam-diam memasukkan bungkus sianida yang tinggal
separo isinya ke dalam tas. Iris. Saya rasa saya tahu siapa dia, Maksud saya,
saya tahu apa yang sebenarnya terjadi..."
Suara Lola terdengar tajam dan meninggi.
"Kau gila... edan... siapa yang tega mencelakainya" Tidak, kau yang gila.
Aku... aku takkan.."
Kata-katanya terputus. Terdengar drum dipukul keras-keras.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Barton Russell berkata, "Tarian kabaret. Sesudah itu kita akan lanjutkan pesta
ini. Semua tetap di tempat, kalian semua. Saya harus pergi dan bicara 94
dengan pemain band. Saya sudah mengatur sesuatu dengan -mereka."
Dia bangkit dan meninggalkan meja itu. "Urusan yang luar biasa," Carter
berkomentar. "Orang itu gila."
"Dia edan, ya," kata Lola. Lampu-lampu pelan-pelan menjadi temaram.
"Aku akan kabur dari sini," kata Tony. "Jangan!" kata Pauline tajam.
Kemudian dia bergumam, "Oh... oh..." "Ada apa, Mademoiselle?" bisik Poirot.
Gadis itu menjawab dengan berbisik, nyaris tak terdengar.
"Ini mengerikan! Persis seperti malam itu...." "Ssst! Ssst!" kata beberapa
orang. Poirot merendahkan suaranya. "Mari saya bisiki." Dia berbisik ke telinga
Pauline, kemudian menepuk bahunya. "Semua akan beres," katanya meyakinkan gadis
itu "Ya, Tuhan, dengar," seru Lola. "Ada apa, Senora?" -
"Itu lagu yang sama... lagu yang sama dengan yang mereka mainkan di New York.
Barton Russell pasti sudah mengaturnya. Saya tak suka ini."
"Bersikaplah berani... berani..." Terdengar orang berbisik, mengingatkan agar
mereka diam. Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Seorang gadis melangkah ke tengah lantai dansa, gadis berkulit hitam legam
dengan mata berbinar-binar dan gigi putih berkilau. Dia mulai menyanyi
95 dengan suaranya yang dalam dan parau... suara yang menyentuh perasaan.
I've forgotten you I never think of you The way you walked The way you talked
The things you used to say I've forgotten you I never think of you I couldn't
say For sure today Whether your eyes were blue or grey I've forgotten you I
never think of you I'm through Thinking of you 1 tell you I'm through Thinking of you... You...
you... you.. Irama yang mendayu-dayu, suara merdu gadis Negro itu benar-benar
mempunyai efek yang kuat. Suara itu membius... menghipnotis mereka...
membuat mereka tak sadar. Bahkan para pelayan pun merasakannya. Seisi ruangan
menatap gadis itu, terpana oleh arus emosi kuat yang
dipancarkannya. Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Seorang pelayan datang mendekat, berkeliling meja tanpa suara, dan mengisi
gelas-gelas itu. Dia menggumam "sampanye" dengan suara rendah tetapi
96 semua perhatian diarahkan pada sosok gadis yang disinari cahaya lampu itu...
gadis berkulit hitam yang nenek moyangnya berasal dari Afrika. Gadis itu masih
menyanyi dengan suaranya yang dalam:
I've forgotten you I never think of you
Oh, what a lie I shall think of you, think of you, think of you
till I die... Tepuk tangan bergemuruh. Lampu-lampu serentak dinyalakan. Barton
Russell kembali ke meja dan diam-diam duduk di kursinya.
"Dia hebat sekali, gadis itu...," seru Tony.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Tetapi kata-katanya terputus oleh jerit tertahan yang terlontar dari mulut Lola.
"Lihat... lihat..."
Kemudian mereka semua melihatnya. Pauline Weatherby terkulai di meja.
Lola menjerit, "Dia mati... persis seperti Iris... seperti Iris di New York."
Poirot melompat dari kursinya, memberi isyarat agar yang lain tetap duduk dengan
tenang. Dia membungkuk dan memeriksa tubuh gadis itu, dengan lembut dia
mengangkat pergelangan tangannya dan memeriksa denyut
nadinya. Wajahnya menjadi pucat dan serius. Yang lain
97 memperhatikannya. Mereka terpaku, tak kuasa berbuat, apa-apa.
Pelan-pelan, Poirot mengangguk.
"Ya, dia sudah mati... la pauvre petite-gadis kecil yang malang. Padahal saya
duduk di sampingnya! Ah! Tetapi, kali ini si pembunuh takkan lolos."
Barton Russell, dengan wajah kelabu, bergumam, "Persis seperti Iris.... Dia
melihat sesuatu, Pauline melihat sesuatu malam itu. Tapi, dia tidak yakin...
dia bilang padaku dia tidak yakin. Kita harus memanggil polisi.... Ya, Tuhan,
Pauline yang malang."
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Poirot berkata, "Mana gelasnya?" Dia mengambil gelas Pauline dan mendekatkannya
ke hidungnya. "Ya, saya bisa mencium bau sianida.
Baunya seperti buah almond pahit.... metode yang sama, racun yang sama...."
Dia mengambil tas tangan gadis itu.
"Mari kita periksa isi tasnya."
Barton Russell berseru, "Anda tidak menganggap ini bunuh diri, bukan"
Tidak... bukan?" "Tunggu," kata, Poirot tegas. "Tak ada apa-apa di sini. Lampu-lampu dinyalakan,
Anda semua tahu, terlalu cepat, dan si pembunuh tak punya waktu. Karenanya,
.racun itu pasti masih ada pada dia."
"Atau dia," kata Carter. Dia memandang Lola Valdez. Yang dipandang langsung
menukas tajam, "Apa maksudmu" Apa katamu" Aku
membunuhnya... itu 98 tidak benar... tidak benar... untuk apa aku membunuhnya"!"
"Sejak masih di New York, kau sudah jatuh hati "pada Barton Russell. Itu gosip
yang kudengar. Wanita Argentina jelita yang sangat terkenal karena
kecemburuannya." Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Itu bohong besar. Dan aku bukan orang Argentina. Aku orang Peru. Ah...
kuludahi kau nanti. Aku..." kata-katanya meluncur deras dalam bahasa Spanyol.
"Tenang, Anda semua harap tenang," seru Poirot. "Saya yang harus bicara."
Barton Russell berkata dengan berat hati, "Setiap orang harus digeledah."
Poirot berkata dengan tenang.
"Non, non, tidak, itu tidak perlu."
"Apa maksud Anda, tidak penting?"
"Saya, Hercule Poirot, sudah tahu. Saya melihat dengan mata pikiran. Dan saya
akan bicara! M. Carter, tolong keluarkan bungkusan racun dari saku jas Anda."
"Tak ada apa-apa di saku jas saya. Apa-apaan ini..."
"Tony, kawanku, tolong bantu dia."
Carter berseru marah, "Sialan kau..."
Tony sudah membalikkan saku itu sebelum Carter bisa mempertahankan-diri.
"Ini dia, M Poirot, tepat seperti yang Anda katakan!"
"INI KEBOHONGAN BESAR," maki Carter,
99 Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Poirot mengambil bungkusan itu, membaca labelnya.
"Potasium sianida. Kasusnya sudah selesai."
Suara Barton Russell terdengar berat.
"Carter! Sudah kuduga sejak dulu. Iris memang mencintaimu. Dia ingin pergi
bersamamu. Kau tidak ingin ada skandal, demi kariermu yang amat berharga itu,
dan karena itu kau meracuninya. Kau akan digantung karena ini.. Kau, kau anjing
busuk." "Diam!" Suara Poirot keras, tegas, dan penuh wibawa. "Ini belum selesai.
Saya, Hercule Poirot, akan mengatakan sesuatu. Kawan saya di sini, Tony Chapell,
berkata pada saya ketika saya baru datang tadi, bahwa saya datang untuk mencari
tindak kriminal. Dan itu memang ada benarnya.
Memang ada tindak kriminal dalam pikiran saya... tapi, saya datang untuk
mencegahnya. Dan saya telah berhasil mencegahnya. Si pembunuh, dia sudah
menyusun rencananya dengan baik sekali... tetapi Hercule Poirot telah
mendahuluinya selangkah. Poirot harus berpikir cepat, harus berbisik cepat ke
telinga Mademoiselle ketika lampu-lampu dipadamkan. Dia
sangat cerdas dan cepat tanggap, Mademoiselle Pauline, dia memainkan perannya
dengan sempurna. Mademoiselle, maukah Anda menunjukkan
kepada kami bahwa Anda sebenarnya tidak mati?"
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
Pauline menegakkan duduknya. Dia tertawa gugup.
"Kebangkitan Pauline," katanya. "Pauline... sayang."
100 "Tony!" "Sayangku!" "Kekasihku."
Barton Russell tersentak "Saya... saya tidak mengerti..." "Saya akan menolong
Anda agar mengerti, Mr. Barton Russell. Rencana Anda telah gagal." "Rencana
saya?" "Ya, rencana Anda. Siapakah satu-satunya orang yang punya alibi dalam kegelapan
tadi" Siapakah orang yang meninggalkan meja" Anda, Mr.
Barton Russell. Tetapi Anda segera kembali dengan berlindung dalam kegelapan,
memutari meja ini, membawa sebotol sampanye, mengisi gelas-gelas, memasukkan
sianida ke dalam gelas Pauline dan memasukkan
bungkusan yang tinggal separo isinya itu ke dalam saku Carter sementara Anda
membungkuk di dekatnya untuk mengambil gelas. Oh, ya, mudah
sekali memainkan peran seorang pelayan dalam ruangan yang gelap,
sementara perhatian semua orang terpusat ke tempat lain. Itulah alasan
sesungguhnya mengapa Anda mengadakan pesta malam ini. Tempat
paling aman untuk melakukan pembunuhan adalah di tengah-tengah
orang banyak." Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Untuk... untuk apa saya ingin membunuh. Pauline?"
"Mungkin, barangkali, karena soal uang. Istri Anda menunjuk Anda sebagai wali
pelindung adiknya. Anda menyebut-nyebut fakta itu tadi. Usia Pauline dua puluh.
Ketika usianya mencapai 21, atau kalau ia menikah, Anda harus menyerahkan
101 hak perwalian itu, beserta pengaturan keuangannya. Saya duga Anda tidak sanggup
melakukannya. Anda telah berspekulasi dengan uang Pauline.
Saya tak tahu, Mr. Barton Russell, apakah Anda membunuh istri Anda dengan cara
yang sama, atau apakah peristiwa bunuh diri istri Anda memberi gagasan kepada
Anda untuk melakukan tindakan ini. Tetapi, saya tahu pasti malam ini Anda
bersalah telah melakukan usaha pembunuhan.
Sekarang terserah kepada Miss Pauline, apakah dia akan meng-ajukan tuntutan atau
tidak." "Tidak," kata Pauline. "Dia boleh pergi dari negeri ini dan jangan sampai saya
melihatnya lagi. Saya tidak ingin ada skandal."
"Sebaiknya Anda segera pergi, Mr. Barton Russell, dan saya nasihati Anda...
lain kali harap lebih berhati-hati."
Barton Russell berdiri, wajahnya penuh gejolak emosi.
Koleksi ebook inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi
"Sialan kau! Kau serigala Belgia yang licik." Barton Russell melangkah cepat
dengan marah. Pauline mendesah.
"M. Poirot, Anda hebat sekali..."
"Anda, Mademoiselle, Anda sungguh mengagumkan. Membuang
sampanye itu, berpura-pura mati... Anda sungguh mengesankan."
"Oh," gadis itu gemetar, "Anda membuat saya ngeri."
Poirot berkata dengan lembut, "Jadi, Anda yang menelepon saya?" "Ya."
102 "Mengapa?" "Entahlah, Saya cemas sekali... dan takut sekali tanpa tahu mengapa saya
ketakutan. Barton mengatakan pada saya, dia akan mengadakan pesta ini untuk
memperingati kematian Iris. Saya sadar, dia punya rencana rahasia...
tapi dia tak mau bilang apa itu. Dia kelihatan sangat... sangat aneh dan sangat
Tangan Berbisa 12 Putri Bong Mini 06 Rahasia Pengkhianatan Baladewa Misteri Pulau Neraka 12
^