Pencarian

Pesta Halloween 3

Fear Street - Pesta Halloween Halloween Party Bagian 3


menghadapi persoalan besar berikutnya - apa yang sekarang harus
dilakukan. "Kita sebaiknya menelepon polisi," usulnya.
David mengangguk. "Bukankah kita sebaiknya memberitahu
yang lain apa yang telah terjadi?"
Terry berpikir sesaat. "Tidak, sebelum kita berbicara dengan
polisi," katanya. "Di sini ada seorang pembunuh. Kita tak mau dia melarikan
diri." "Setidaknya kita harus bicara pada Philip," bantah David.
"Mungkin lebih baik kalau dia yang menelepon."
Mereka kembali ke ruang tamu seolah tak ada yang terjadi.
Terry merasa seolah sepuluh jam sudah berlalu, tapi setelah menatap
jamnya ia tahu baru beberapa menit berlalu.
Para tamu lain mas ih bermain Kebenaran. Alex sedang berdiri
di atas kepalanya di sudut ruangan, dan Terry menduga pemuda itu
sedang membayar sebuah penalti, tapi ia tak terlalu peduli. Semua
semangat bersenang-senang dan bermainnya sudah hilang - untuk
selamanya. "Hai, guys," ujar Justine ceria. "Sudah siap untuk Kebenaran?"
"Belum," jawab Terry. "Aku harus menanyakan sesuatu pada pamanmu. Kau tahu dia
ada di mana?" "Bukankah dia ada di sini?" Justine balik bertanya. "Atau di dapur?"
"Aku tak melihatnya dari tadi," jawab Angela.
"Mungkin dia juga menghilang," kata Murphy, tertawa. "Seperti Niki dan Les.
Mungkin tepat di tengah rumah ini ada segitiga
Bermuda." Niki! Setelah menemukan mayat Les, Terry sama sekali melupakan
gadis itu. Niki masih hilang, dan ada pembunuh di dalam rumah ini.
Yang terpikir olehnya hanyalah berlari kembali menaiki tangga
dan mulai mencari Niki lagi. Tapi David mencengkeram bahunya.
"Ayo, Terry," ajaknya, terdengar hampir normal. "Kita lihat apakah Philip ada di
dapur." Benar, kata Terry dalam hati. Panggil bantuan. Itulah yang
pertama kali harus dilakukan.
Ia mengikuti David ke dapur. Sebuah jendela terbuka
terbanting-banting angin, dan di sebelahnya tergantung sebuah telepon dinding;
licin karena air hujan. Dengan jari masih gemetar, Terry mengangkat gagang telepon
dan memutar nomor 911. Tapi tak ada nada panggil. "Salurannya
mati," bisiknya, bertanya-tanya kekacauan apa lagi yang akan terjadi.
"Mungkin angin membuat kabelnya lepas," kata David.
"Embusannya cukup kuat untuk membuka jendela itu."
"Coba kulihat," ujar Terry. Ia membuka kunci pintu belakang dan mengintip ke
luar. "Kabelnya lewat persis di atas jendela,"
katanya. "Mungkin..."
"Kabelnya dipotong!" sergah David. Ia melangkah ke beranda, menunjuk. Tak salah
lagi - kabel itu menggantung jadi dua, jelas
dipotong. Kedua pemuda itu saling pandang. Terry bertanya-tanya apakah
ia tampak setakut David. "Menurutmu, si pembunuh yang melakukannya?" tanya Terry.
"Pasti Bobby dan Marty," jawab David. "Siapa lagi?"
Terry memikirkannya. Apa Bobby dan Marty tega membunuh
Les" "Mereka bisa saja mengendap-endap kembali dan masuk lewat
jendela," kata David, rupanya memikirkan hal yang sama.
Tidak. Tak mungkin, pikir Terry.
Kedua pengendara motor itu berkeliaran ke mana-mana,
menyombongkan diri, pura-pura bersikap hebat. Tapi mereka bukan
pembunuh. Ada seseorang, kata sebuah suara di kepalanya.
Ada seorang pembunuh. Seseorang yang kaukenal.
Seseorang di pesta ini. Satu-satunya hal yang ia tahu pasti adalah mereka harus cari
bantuan - secepat mungkin.
Dan bahwa ia tak bisa meninggalkan istana itu sampai
menemukan Niki. "Kita harus menemukan Philip," ujar David. "Kemudian salah satu dari kita bisa
pergi cari bantuan."
Kedua pemuda itu berlari kembali ke dalam rumah lewat
koridor depan. Terry melihat ke luar panel jendela di sebelah pintu
depan. Di seberang halaman, sepeda motor Marty yang rusak
berkilauan terkena sinar petir seperti tanda peringatan akan adanya
bencana. Saat itu sebuah petir yang sangat menyilaukan menerangi
halaman, dan mata Terry melihat sesuatu.
Dengan cepat ia lari ke arah sepeda motor, diikuti David.
Tergeletak kusut di tengah lumpur, tepat di bawah roda depan,
sepotong jaket satin biru - kostum badut Philip.
Terry memeriksa jaket itu. Satu lengannya penuh berlumur
darah. Chapter 14 "INI lelucon, kan?" tanya Murphy. "Satu lagi tipuan..."
"Sudah pasti," kata Alex. "Terry masih marah karena tim pengecut kalah dalam
perburuan harta karun, dan dia memakai cara
yang sangat dewasa ini untuk menunjukkan kekesalannya. Apa dia
membayarmu supaya mau bekerja sama, Dave?"
"Ini bukan lelucon!" sergah David, agak gemetar dalam bajunya yang basah. Ia dan
Terry sedang berdiri di depan perapian,
mengeringkan tubuh. Mereka berhadapan dengan tamu-tamu yang
lain. Senyum dan tawa ragu-ragu berganti dengan mimik ngeri ketika
mereka mulai sadar bahwa tipuan Halloween ini mungkin betulan.
Trisha kini berbicara, mencoba menahan air matanya. "Maksud
kalian, Les sudah... sudah mati?"
"Dibunuh," ujar Terry muram.
"Tapi siapa...?"
"Dan Paman Philip?" Justine berbicara untuk pertama kali.
"Sesuatu juga telah terjadi padanya?"
"Kami tak tahu pasti," kata Terry. "Tapi kami menemukan jaketnya berlumuran
darah." Justine menutupi wajah dengan kedua tangan dan mulai
menangis. Alex, yang sedang duduk di sebelahnya, merangkulnya
dengan satu lengan dan menepuk-nepuknya pelan dengan tangan yang
lain. Angela berdiri, gemetar. "Seseorang... seseorang di dalam
rumah ini adalah seorang... seorang pembunuh!" katanya. Nada
suaranya sangat tinggi dan hampir histeris.
"Atau seseorang di luar rumah," tukas David. Ia menceritakan pada yang lain
tentang kabel telepon yang dipotong.
"Aku... aku mau pulang!" kata Angela. "Aku harus keluar dari sini!" Ia berlari
ke arah pintu depan, dikejar Ricky dan Murphy.
"Kau tak boleh keluar!" sergah Ricky. "Di luar hujan deras!"
"Lagi pula," Murphy menambahkan, "Marty dan Bobby
mungkin masih ada di luar!"
"Aku tak peduli!" pekik gadis itu. Ia melepaskan diri dari pegangan kedua pemuda
itu dan berlari ke arah pintu. Sesaat
kemudian terdengar teriakan dari arah beranda depan.
Murphy dan Ricky bergegas keluar. Sesaat kemudian Ricky
masuk, tampak lebih takut daripada tadi. "Tak apa," katanya. "Dia jatuh. Dia
tersandung sepotong kayu lapis yang dipakai Marty dan
Bobby sebagai landasan."
Murphy masuk sambil menggendong Angela. Gadis itu masih
menangis tapi tak lagi terdengar histeris. "Mata kakiku," erangnya.
"Kurasa ototnya terkilir," kata Murphy. Ia merebahkan gadis itu di salah satu
sofa. "Kau harus menggendongku pulang, Murphy," kata Angela.
"Kurasa aku tak bisa berjalan."
"Akan kubantu," ujar Alex.
"Berhenti!" teriak Justine tiba-tiba. "Jangan tinggalkan aku sendirian! Kumohon!
Tunggu sampai pagi! Nanti kita semua bisa
pergi bersama-sama mencari bantuan!"
"Kita harus menelepon polisi," ujar David pelan. "Tapi tak perlu semuanya pergi.
Ada telepon umum di sudut Fear Street dan Old Mill
Road. Sepertinya aku hanya butuh beberapa menit untuk mencapai
tempat itu dengan mobil."
Terry membayangkan perjalanan lewat makam untuk mencapai
tempat parkir, dan bertanya-tanya bagaimana David sanggup
menempuhnya. Tapi ia tahu pemuda itu benar - ia harus pergi. Dan
Terry sendiri harus tetap di sini luntuk mencari Niki.
"Jangan khawatir," kata David. "Kalian akan aman di sini selama tak berpencar.
Jangan meninggalkan ruang tamu dan kunci
pintunya. Aku akan kembali membawa bantuan dalam beberapa
menit." Ia mengenakan jaket universitasnya serta keluar dari pintu
depan, dan bahkan Justine sekalipun tampak bingung dan takut dalam
cahaya perapian yang bergerak-gerak.
"Hanya beberapa menit," ujar Trisha menenangkan Angela.
"Selama kita semua tetap... Terry, kau mau ke mana?"
"Aku masih tak tahu Niki ada di mana," katanya, mencoba
terdengar lebih tenang daripada yang ia rasakan. "Aku sedang
mencarinya ketika menemukan Les."
"Ini bukan tipuan?" tanya Alex curiga.
"Menurutmu apa?" bentak Terry. "Apa kau lihat Niki" Dia sudah satu jam lebih
hilang!" "Maaf, man" kata Alex, tiba-tiba takut. "Akan kubantu kau mencarinya."
Sesaat Terry ingin menyuruh Alex mengurusi masalahnya
sendiri. Tapi ia melihat mimik kekhawatiran yang tulus di wajah
bekas temannya, dan untuk pertama kali menyadari dalamnya
perasaan Alex pada Niki. Lagi pula, katanya dalam hati, yang paling
penting bukan siapa yang menemukan Niki, tapi berusaha
menemukannya secepat mungkin.
Dan terlalu banyak waktu sudah terbuang.
Dengan perasaan khawatir yang semakin dalam, Terry
menyadari ia mungkin sudah terlambat.
*********************** Ketika berjalan ke arah hutan yang mengitari makam, David
sadar ia tak pernah setakut ini seumur hidupnya. Ia mengajukan diri
untuk pergi karena tak sanggup membayangkan hanya menunggu di
istana itu bersama mayat Les. Tapi ia tak bisa menghilangkan
bayangan mayat Les dari benaknya.
Setiap kali memejamkan mata, ia melihat wajah Les yang
menatap kosong. Setiap kali angin mengguncang pepohonan, ia melihat kostum
kerangka. Hujan semakin deras mendera, dan ia basah kuyup. Tubuhnya
mulai gemetar karena hawa dingin, dan karena rasa takut.
Ia butuh lebih banyak waktu untuk mencapai makam daripada
yang dibayangkannya. Permukaan tanah melesak karena jejak
kendaraan, dan kini sangat licin penuh lumpur hingga ia harus sangat berhati-
hati melangkah. Angin sudah berganti arah dan langsung
mengembus ke arah mukanya, seolah memaksanya kembali ke istana
Cameron. Satu-satunya hal yang ia anggap baik adalah tak terlihatnya
Bobby dan Marty. Mungkin cuaca menjadi terlalu buruk untuk
mereka. Dinding yang mengitari makam Fear Street menjulang di
depannya. Ia mendorong pagarnya sampai terbuka dan mulai
melangkah di jalan setapak di antara garis batas nisan, mencoba tak
memikirkan ia sedang berada di mana.
Setiap gelegar guntur diikuti petir yang menerangi makam
seperti lampu kilat kamera. Nisan-nisan tua menjulang dalam
keheningan yang mengerikan.
Hanya tinggal beberapa meter ke ujung makam, tempat parkir
mobil. Di tengah kilat petir, ia akhirnya melihat deretan kendaraan itu dari
jauh. Perasaan lega membanjirinya untuk pertama kali setelah
berjam-jam. Tinggal beberapa langkah lagi ia akan keluar dari makam ini
dan pergi mencari bantuan. Akhirnya ia mencapai pagar,
membukanya, dan mulai berlari ke arah kumpulan mobil yang diparkir
di ujung Fear Street. Ia memasukkan tangan ke dalam saku dan mengeluarkan kunci
sambil berjalan ke arah Corolla merahnya.
Dan berhenti, memegangi kunci.
Posisi Corolla itu aneh. Semua bannya sudah dikoyak. Semua
ban setiap mobil milik tamu pesta telah dikoyak.
Chapter 15 BOBBY dan Martin, pikir David.
Ia sudah susah payah datang lewat makam dan kini tak bisa
meneruskan perjalanannya. Apa yang bisa ia lakukan sekarang" Entah
bagaimana, ia harus mencari bantuan. Tapi jarak ke kota sangat jauh
kalau ditempuh dengan berjalan kaki.
Pendar petir menerangi rumah-rumah di ujung Fear Street, dan
David menyadari ia bisa dengan mudah pergi ke salah satu rumah itu
serta meminjam telepon. Tak masalah bahwa separo dari rumah-
rumah itu tak dihuni dan separo yang lain disinyalir berhantu, atau..
bahwa kini sudah jauh lewat tengah malam.
Ini keadaan darurat. Sesaat ia berdiri memandang rumah-rumah terdekat, lalu
berjalan ke sana - dan dihentikan raung sepeda motor.
Bobby dan Marty, keduanya di atas sepeda motor Bobby,
muncul menderum-derum dari belakang makam dan berhenti tepat di
depannya. "Mau ke mana, David?" tanya Bobby mengejek.
"Pestanya ada di di arah berlawanan," tambah Marty. "Mungkin kau bisa membantu
kami masuk kembali ke sana."
"Apalagi kalau kau lihat apa yang akan menimpamu jika tak
mau," timpal Bobby. Kata-kata kedua pemuda itu tak jelas, dan David sadar mereka
telah minum-minum - mungkin sejak mengacau di pesta tadi.
"Ayo, David," desak Marty. "Bagaimana?"
Tiba-tiba David merasa tak tahan lagi. Setelah semua yang
terjadi, ia tidak akan membiarkan dirinya dipermainkan sepasang
pengganggu. Sebuah suara di benaknya mengingatkan bahwa Marty
dan Bobby mungkin pembunuh, tapi ia mengabaikannya. Mereka
terlalu pengecut untuk melakukan tindakan yang benar-benar
kriminal, pikirnya. Lagi pula, ia terlalu marah untuk berpikir jernih.
"Pergi!" bentak David marah, dan kembali meneruskan
langkahnya ke arah rumah di seberang jalan.
Bobby menderumkan mesin motornya. "Hei, tenang, man,"
katanya. "David rupanya sudah lupa sopan santun," timpal Marty. Ia
telah mengeluarkan rantai tebal dari jaket, dan memegangnya dengan
gaya mengancam saat turun dari motor.
"Aku tak punya waktu untuk ini!" bentak David, marah. "Telah terjadi sesuatu
yang mengerikan!" "Sesuatu yang bahkan lebih mengerikan akan terjadi," kata
Marty, maju selangkah ke arahnya. "Padamu."
Untuk pertama kali sejak Marty dan Bobby muncul, David


Fear Street - Pesta Halloween Halloween Party di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mulai merasa takut pada mereka. Ia sadar mereka terlalu mabuk untuk
menyadari tindakan mereka.
"Baiklah, baiklah," kata David, mundur. "Tenanglah."
"Hei, kenapa, man?" tanya Marty mengejek. "Tidak merasa terlalu berani lagi?"
"Dengar," ujar David, dengan panik mencari jalan keluar, "aku tak punya masalah
dengan kalian, guys. Jadi, bagaimana kalau kalian
jangan menggangguku?"
"Tak usah, ya," ejek Bobby, tepat di belakang Marty.
Kedua pengendara motor itu begitu bernafsu melakukan
kekerasan, hingga David sadar satu-satunya harapan yang ia miliki
supaya selamat adalah melarikan diri dari mereka. Ia berputar dan,
tergelincir di permukaan tanah yang basah, melesat kembali ke arah
makam. Bobby dan Marty mengejar. Anehnya gerakan mereka cukup
cepat walau dalam keadaan mabuk berat.
David lari di sepanjang jalan setapak, deretan nisan berkelebat
di kedua sisinya. Ia sedang menuju dinding makam dan kemudian ke
hutan Fear Street. "Aduh!" Kakinya tersandung pada sebuah akar dan ia terjatuh ke tengah kubangan
lumpur. Ia baru berhasil berdiri ketika Bobby dan Marty sampai di
dekatnya. "Hei, dude, tunggu," ujar Bobby mabuk.
"Kau seharusnya tidak melarikan diri. Bisa berbahaya." Marty mengayunkan rantai
ke kepala David. David dengan mudah
menghindar, tapi kakinya kembali tergelincir, dan ia mendengar derak mengerikan
ketika kepalanya membentur sudut sebuah nisan.
Ia melihat sekelebat sinar terang, dan kemudian semuanya
berubah suram, seolah ada yang menutupi kepalanya dengan tirai.
Dari balik tirai itu, ia samar-samar mendengar suara Bobby dan
Marty. Mereka tampak seperti sosok tubuh di kejauhan.
"Apa yang kaulakukan?" tanya suara Bobby, terdengar
ketakutan. "Tidak ada!" bantah Marthy. "Dia tergelincir dan kepalanya terbentur."
"Ia tampak terluka parah," kata Bobby. "Bagaimana kalau dia mati?"
"Berarti kita tak boleh terlihat ada di sini," ujar Marty. "Ayo, kita pindahkan
dia ke tempat tersembunyi."
David tahu mereka sedang membicarakan dirinya, tapi entah
mengapa kata-kata mereka tak dapat dimengerti. Ia merasa sangat
mengantuk. Ia merasa tubuhnya diseret di atas tanah.
Sinar semakin suram dan suram serta kemudian sama sekali
sirna. Chapter 16 TERRY tak suka Alex membantunya mencari Niki, tapi ia sadar
hal itu masuk akal. Terlalu banyak waktu telah berlalu.
Kumohon, pikirnya. Kumohon, semoga ia selamat.
"Aku sudah memeriksa lantai dua," katanya pada Alex. "Coba kauperiksa lagi,
siapa tahu ada yang terlewat olehku."
"Tunggu," ujar Justine. "Aku saja yang memeriksanya. Aku yang paling tahu
keadaan rumah ini." "Aku akan ikut mencari bersamamu," kata Alex.
"Tidak, Alex," bantah Justine manis. "Kau tunggu saja di ruang tamu bersama yang
lain, siapa tahu ada sesuatu yang terjadi." Alex sudah bermaksud protes lagi,
tapi Justine mencondongkan tubuh dan
mengecup pipinya. "Kumohon, biarkan aku melakukannya. Aku
merasa sangat tak enak atas semua yang telah terjadi. Setidaknya
biarkan aku membantu Tetry."
Sambil menggerutu, Alex kembali untuk bergabung dengan
yang lain di dekat perapian. "Trims, Justine," kata Terry. "Hati-hati."
"Aku berjanji," jawab gadis itu. "Kau periksa di bawah saja, aku akan ke atas."
Terry mengangguk. Satu-satunya tempat yang belum ia periksa
adalah ruang bawah tanah. Menurutnya Niki tak mungkin ke bawah
sendirian, tapi ia tak tahu harus mencari di mana lagi.
Ketika mulai menuruni tangga sempit dan gelap itu, ia dapat
mendengar teman-temannya berbicara dengan nada takut dan pelan di
ruang tamu. Kumohon, ia berulang kali berkata dalam hati. Kumohon,
kumohon, kumohon. Ini pertama kalinya ia turun ke ruang bawah tanah. Setiap
langkahnya berderak seperti benda hidup, dan ia bertanya-tanya
apakah tangga itu cukup kuat untuk menopang bobot tubuhnya.
Sinar senter memperlihatkan untaian tebal sarang labah-labah
dan balok langit-langit yang berdebu serta lapuk. Tampak jelas Justine dan
pamannya tak merenovasi sisi rumah sebelah sini.
Ruang bawah tanah itu sendiri penuh sesak dengan dos-dos tua-
dan kayu-kayu lapuk. Ia melompat kaget ketika sesuatu berlari
melintasi lantai di depannya. Hanya tikus, katanya pada diri sendiri.
Setidaknya kuharap itu tikus.
Niki tak mungkin ada di bawah sini, pikirnya. Ia ingin
memanggil namanya, tapi tahu gadis itu takkan bisa mendengar
seandainya pun ia berada di sini.
Ia mendengar sebuah suara lain, semacam dentam, dari ujung
ruangan gelap dan rendah itu. Dalam jangkauan sinar senter, ia
melihat sebuah lemari dinding besar di tembok. Dengan hati-hati ia
mendekati dan membuka pintunya.
Di dalam terdapat sesuatu yang tampak seperti sebundel kain
lapuk. Kemudian bundel itu bergerak.
Niki. Ia menatap ke atas dengan mimik bingung. "Terry?"
"Muka Lucu!" Terry menjatuhkan diri berlutut dan memeluk
gadis itu. Ia merangkulnya dengan kencang, dibanjiri perasaan lega
karena gadis itu masih hidup. Akhirnya ia melepaskan Niki dan
menerangi wajahnya sendiri dengan senter supaya Niki bisa
melihatnya. "Kau tak apa-apa?" tanya Terry.
"Kita ada di mana?" tanya Niki, melihat ke sekeliling dengan bingung.
"Di ruang bawah tanah rumah Justine," jawab Terry. "Dalam sebuah lemari
dinding." "Lemari dinding?" ulang Niki. "Bagaimana aku bisa sampai di..."
"Aku tak tahu," potong Terry. "Apa yang terjadi padamu?"
"Aku tak yakin," jawab gadis itu. "Kurasa ada yang memukulku sampai pingsan."
"Memukulmu sampai pingsan!" Terry merasa jantungnya mulai
berdebar kencang. Ia memeriksa wajah Niki dan melihat di dahinya
ada lebam ungu besar. "Ceritakan apa yang kauingat, Muka Lucu."
Niki berdiri dan membersihkan debu yang menempel di gaun
merahnya. Ia menyipitkan mata, berusaha mengingat-ingat. "Tepat sesudah kita
bertengkar karena... soal konyol itu," ceritanya, "aku kembali naik ke kamar
Justine. Tempat itu sangat gelap dan
menakutkan, tapi aku terus berpikir pasti ada sesuatu yang terlewat
olehku, sesuatu yang akan menjelaskan sikap aneh Justine.
"Aku kembali masuk ke dalam lemari dinding rahasia itu," Niki meneruskan, "dan
kali ini aku melihat sebuah kotak sepatu di lantai.
Tak ada sepatu lain yang dimasukkan ke dalam kotak, jadi aku
membukanya. Kotak itu penuh benda kenangan - foto tua, beberapa
bunga kering, dan... dan ini." Ia memasukkan tangan ke dalam saku dan memberi
Terry sebuah kliping berita yang sudah kuning, diambil
dari koran Shadyside. Terry mengambil kliping itu dan meneranginya dengan senter.
Dengan perasaan bingung dan tak percaya yang semakin memuncak,
ia mulai membaca: PASANGAN LOKAL TEWAS DALAM
KECELAKAAN MAUT Edmund D. Cameron, 26, dan istrinya, Cissy, 20, tewas tadi
malam ketika mobil mereka ditabrak dari depan oleh mobil yang
dikendarai James B. Whittle, 16.
Mobil pasangan Cameron, sebuah Ford lama, sedang menuju
selatan di Old Mill Road ketika ditabrak mobil Whittle, sebuah station wagon
Chevrolet. Menurut saksi mata di tempat kejadian, Whittle
sedang balapan dengan mobil lain, sebuah Corvette yang dikendarai
John McCormick, 16. Mobil pasangan Cameron lepas kendali dan
terlempar ke dalam selokan, serta kemudian terbakar.
"Aku tak melihat apa-apa sampai semuanya sudah terlambat,"
kata Whittle. "Mereka tiba-tiba muncul dari balik kabut. Aku merasa sangat
bersalah." Mobil Whittle menderita kerusakan berat, sementara Corvette-
nya sama sekali tak tergores. Baik Whittle maupun McCormick, dan
semua penumpang kedua mobil itu, tak ada yang terluka parah. Yang
berada dalam kendaraan Whittle adalah Evelyn Sayles, 15, Joanne
Trumble, 15, Arlene Coren, 16, dan Robert Carter, 14. Penumpang
Corvette adalah Jim Ryan, 18, Nancy Arlen, 16, dan Ed Martiner, 15,
semua penduduk Shadyside.
Pasangan Cameron meninggalkan seorang anak perempuan,
Enid, usia 1 tahun. Tak ada gugatan yang diajukan saat menunggu penyelidikan
polisi. Terry dengan cepat menyelesaikan membaca artikel itu. "Ini
pasti kecelakaan yang membunuh pemilik asli istana ini!" sergahnya.
"Cara mati yang sangat mengerikan - terbakar dalam mobil!"
"Ya," Niki menyetujui. "Tak heran Justine jadi gila."
"Apa maksudmu?" tanya Terry.
"Terry, pasangan yang tewas dalam kecelakaan itu - mereka
orangtua Justine!!' Terry hanya menatapnya. "Mungkin kita harus membawamu ke
dokter," katanya. "Memang ada yang memukul kepalamu..."
"Oh, demi Tuhan!" kata Niki kesal. "Apa kau benar-benar begitu takut melihat
kenyataan?" "Tapi orangtua Justine - Justine - ini tak masuk akal," protes Terry. "Lagi pula,
dalam kliping ini disebutkan nama anak perempuan mereka Enid."
"Ingat" Ini nama yang kubaca di botol obat itu," kata Niki.
"Lagi pula, lihat ini." Ia memasukkan tangan kedalam saku. Surat Izin Mengemudi,
memperlihatkan foto Justine dengan nama Enid J.
Cameron. Terry melihatnya, terguncang. "Yah," akhirnya ia berkata,
"berarti Justine bukan sepupu jauh mereka. Tapi mengapa dia ingin kita
menganggapnya orang lain?"
"Kau masih belum mengerti, ya?" tanya Niki. "Apa kau
mengenali nama-nama yang terlibat dalam kecelakaan itu?"
Dengan cepat Terry memeriksa kliping itu lagi. "Whittle,"
katanya. "McCormick. Tentu, nama mereka sama dengan nama
beberapa teman kita. Tapi memangnya kenapa" Shadyside kan kota
kecil." "Terry, ini bukan hanya nama-nama yang sama dengan nama
teman kita - ini nama orangtua kita! Apa kau tak melihat nama
ayahmu" Jim Ryan?"
"Rupanya terlewat olehku," Terry mengkui. "Tapi bagaimana dengan nama-nama yang
lain - Joanne Trumble, Arlene Coren..."
"Arlene ibuku," kata Niki. "Coren namanya sebelum kawin."
Terry hanya berdiri sesaat, memikirkan apa yang baru saja
disampaikan Niki padanya. Ia tak mau memikirkan apa artinya.
"Ada satu hal lagi," Niki meneruskan. "Apa kau melihat tanggal artikel ini?"
"Ya, sekitar... sebentar," jawab Terry, menghitung dalam hati.
"Dua puluh delapan tahun lalu." Dan kemudian ia menyadari artinya.
"Jadi, Justine berusia... berusia..."
"Hampir tiga puluh tahun!" Niki menyelesaikan kalimatnya.
"Terry, dia bukan murid sekolah menengah! Dia seorang wanita
dewasa!" "Kehidupan ganda," kata Terry. Ia bersiul pelan. "Aku ingin tahu apa yang akan
dikatakan Justine jika dia tahu kau menemukan
benda-benda ini." "Kurasa dia sudah tahu," kata Niki. "Atau setidaknya orang lain.
Setelah meletakkan kembali kotak sepatu itu, aku berbalik untuk
menceritakan penemuanku padamu. Hanya sebelum aku sempat
menutup pintu rahasia itu, seseorang rupanya telah menyelinap ke
belakangku. Aku ingat sedang membungkuk untuk menarik pintu itu
supaya menutup, dan hal berikut yang aku tahu, aku telah berada di
dalam lemari dinding ini." Ia menyentuh lebam di kepalanya.
Terry membungkuk dan dengan lembut mengecup lebam itu.
"Syukurlah kau tak mengalami hal yang lebih buruk,"
gumamnya. Niki dengan cermat mengamati wajah pemuda itu. "Apa
maksudmu lebih buruk?" tanyanya. "Terry, apa ada sesuatu yang tak kaukatakan
padaku?" "Oh, Niki," kata Terry. Ia meremas tangan gadis itu, keras.
"Begitu banyak yang telah terjadi." Dengan cepat ia bercerita tentang penemuan
mayat Les dan jaket Philip yang berlumur darah. Ketika ia
selesai bercerita, Niki tampak lebih pucat daripada biasanya.
"Jadi, bisa kaubayangkan," ujar Terry, "aku khawatir sekali.
Kukira mungkin kau telah... telah..."
"Aku tak mengerti mengapa Justine melepaskanku," gumam
Niki. "Dia pasti tak punya waktu melakukan... melakukan apa yang dia lakukan
pada Les." "Justine?" ulang Terry. "Menurutmu Justine yang membunuh Les?"
"Siapa lagi?" tanya Niki. "Terry, lihatlah kenyataannya!
Pertama, daftar undangan itu..."
"Oke," kata Terry, berpikir. "Jadi, Justine mengundang kita -
anak para remaja yang terlibat dalam kecelakaan itu..."
"Benar," ujar Niki. "Dan hanya kita. Apa kau tak merasa aneh dia bersikeras tak
ada orang lain yang boleh datang ke pesta ini,
termasuk teman kencan?"
"Ya, aku mengerti maksudmu," kata Terry. "Rupanya aku masih sulit
mempercayainya." "Itu sebabnya dia bebas melakukannya!" ujar Niki. "Karena tak ada yang percaya
Justine yang polos dan manis dapat menjadi
pembunuh. Tapi, Terry, kita harus mengakui kenyataan ini. Justine
mengundang kita ke pesta ini hanya karena satu alasan."
Ia sesaat berhenti, kemudian meneruskan, suaranya tiba-tiba
gemetar, "Untuk membalas dendam!"
Chapter 17 "Nikki," kata Terry, "kita harus secepatnya kembali ke atas!
David sedang pergi mencari bantuan. Jadi, jika bermaksud melakukan
sesuatu, justine akan segera melaksanakannya, sebelum polisi
datang!" Tanpa berkata apa-apa lagi, Terry dan Niki berlari menaiki
tangga ruang bawah tanah dan kembali ke ruang tamu. Semua duduk
dalam posisi yang, sama seperti waktu ditinggalkan Terry, berdekatan di sekitar
perapian, tampak takut dan gelisah.
Semua orang kecuali Justine. Ia sedang duduk di ujung salah
satu kursi, di wajahnya terbersit mimik bersemangat yang aneh.
Ketika melihat Terry dan Niki, ia melemparkan senyumnya yang
paling bersahabat dan terbuka.
"Oh, bagus!" katanya seolah tak ada yang terjadi. "Kau menemukan Niki. Kini kita
bisa meneruskan acara pesta."
"Meneruskan pesta!" sergah Terry, terperangah. "Bagaimana mungkin kau masih bisa
memikirkan hal semacam itu! Justine, kami
tahu yang sebenarnya! Kami tahu kau membunuh Les!"
Selama beberapa detik berikutnya, tak ada yang bisa mendengar
apa pun, karena semua orang bicara berbarengan.
"Apa kalian mabuk?" tanya Murphy.
"Aku tahu ini apa," kata Alex. "Ini usaha terakhir tim pengecut untuk membuat
takut kita semua. Tapi tak akan berhasil, Terry.


Fear Street - Pesta Halloween Halloween Party di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Lupakan!" "Dengarkan aku!" teriak Niki. "Aku punya sebuah kliping koran! Membuktikan..."
Tapi sebelum ia bisa mengeluarkan kliping itu, Justine tiba-tiba
mulai tertawa dan bertepuk tangan. Semua orang menoleh dan
menatapnya. "Sempurna!" katanya. "Niki, Terry, akting kalian berdua sempurna! Bahkan lebih
bagus daripada waktu latihan. Kalau tak ikut
terlibat, bahkan aku pun akan percaya kau mengira aku pembunuh."
"Maksudmu," desah Trisha, "bahwa ini sebenarnya hanya satu lagi..."
"Ini hanya satu kejutan lagi," tukas Justine. "Sebelum kejutan terakhir malam
ini. Dan aku minta maaf kalau beberapa di antara
kalian jadi takut, tapi apa arti Halloween tanpa tipuan menakutkan
yang bagus?" "Dia bohong!" teriak Niki. "Jangan dengarkan dia!"
"Ini bukan tipuan!" Terry menambahkan. "Trisha, Alex, kalian semua, dengarkan
aku! Pikirkan apa yang telah terjadi!"
"Bagaimana dengan Les?" Trisha tiba-tiba bertanya dengan
nada curiga. "Kenapa dengan dia?" ulang Justine. "Dia juga ikut terlibat."
"Ayolah, Justine," sergah Terry. "Les sudah mati. Aku melihat tubuhnya. Dan kau
membunuhnya." Justine kembali tertawa, seolah itu adalah lelucon terlucu yang
pernah ia dengar. "Kau boleh berhenti sekarang, Terry," katanya.
"Kurasa semua orang sudah mengerti."
"Kau membantah telah membunuhnya?" tanya Terry.
"Kalau aku membunuh Les," jawab Justine, menyeka air mata
geli di wajahnya, "bagaimana mungkin dia dan aku barusan tertawa terbahak-bahak
di atas?" "Tapi..." ujar Terry.
"Justine," kata Niki pada saat bersamaan, "aku melihat..."
Justine memotong perkataan keduanya. "Ayo, guys, santailah!
Lupakan Les, dan mari kita teruskan - dengan kejutan terakhir malam
ini." Chapter 18 "AKU tak percaya kau menipu kami!" gumam Murphy. "Lebih parah lagi, aku tak
percaya kami tertipu!"
"Apa ini berarti tim pengecut menang?" tanya Ricky.
"Tak mungkin," sergah Alex. "Lagi pula, kalian mendapat bantuan Justine."
Seperti semua yang lain, ia tampak jelas lega.
Terry tak percaya teman-temannya bisa begitu buta. "Ayolah,
Ricky - ini betulan!" teriaknya.
Ia menatap Niki, yang tubuhnya gemetar karena marah dan
frustrasi. "Ini gila! Mereka semua mempercayai Justine," bisiknya.
"Kita harus meyakinkan mereka bahwa kita semua terancam bahaya
besar!" "Kurasa kita tak bisa melakukannya," kata Terry. "Tapi kau dan aku mengetahui
yang sebenarnya. Mengapa kita tak keluar dari sini
sementara masih ada waktu?"
Niki menggelengkan kepala. "Kita tak boleh melakukannya,
Terry," ujarnya. "Kita tak bisa meninggalkan mereka sendiri dengannya. Pada saat
mereka mempercayainya. Kita hanya bisa
berharap David akan segera kembali membawa bantuan."
Terry tahu gadis itu benar.
"Justine," ujar Niki manis, "jika ini semua hanya tipuan, mana pamanmu Philip?"
"Kau tak ingat?" jawab Justine, terdengar kesal. "Dia pergi beli soda lagi."
Itu jawaban terbodoh yang pernah didengar Terry, tapi yang
lain seolah tak menyadarinya. Terry memutuskan untuk mencoba lagi.
"kau bilang kau dan Les baru berbincang-bincang," katanya. "Tapi tak ada yang
telah melihatnya. Jika ini semua hanya tipuan, di mana dia?"
"Dari tadi sudah kutunggu pertanyaan ini," kata Justine,
melompat berdiri dari kursinya. "Les ada di ruang makan,
membantuku mempersiapkan kejutan terakhir."
Semua mulai bergerak ke arah ruang makan, tapi Justine
mengangkat tangannya. "Tunggu sebentar," katanya. "Aku ingin memastikan semuanya
sempurna." Ia berbalik dan masuk ke ruang
makan, membiarkan pintunya agak terbuka.
"Tipuan kita berjalan lancar, Les!" Semua orang mendengar
ucapannya. "Trims atas semua bantuanmu."
Dari sisi lain pintu, Terry dan yang lain mendengar Justine terus
bercakap-cakap dengan Les. Terry merasa bulu kuduknya berdiri.
Lalu Justine kembali muncul di pintu. "Ayo, semua," katanya.
"Sekarang semua sudah siap untuk kalian."
Semua bergegas masuk ke dalam ruang makan, sedangkan
Ricky dan Murphy memapah Angela yang bertumpu pada satu kaki.
Di tengah ruangan terdapat meja panjang yang mengilat, dan di
tengahnya terdapat tempat lilin besar. Di sekeliling meja terdapat
kotak-kotak kecil terbungkus kertas kado, di depan tiap kursi.
Dan di kepala meja duduk Les.
Ia mengenakan kacamata hitam besar berbentuk lonjong yang
memantulkan sinar lilin. "Cari tempat kalian masing-masing," kata Justine. "Setiap kotak ada namanya."
Tapi tak ada yang memperhatikan kotak kado di meja.
Sebaliknya mereka malah berkerumun di sekeliling Les.
Murphy mengepalkan tangan dan separo bercanda
mengangkatnya di depan wajah Les. "Hei, man, kau membuat kita
ketakutan setengah mati!" katanya. "Kami benar-benar
mengkhawatirkanmu." "Ya," Alex menyetujui. "Tak pernah kusangka aku akan senang melihatmu!"
Les tak menjawab. "Tipuanmu bagus, Les," kata Trisha. "Tapi tak adil menipu timmu sendiri. Mengapa
kau tak mengatakan sesuatu?"
Les tak menjawab. Terry mengamatinya dengan lebih teliti. Ada yang tak beres.
Les tak bergerak. Sama sekali tidak. Terry menyentuh bahu temannya,
dan Les perlahan terguling dari kursi ke atas lantai. Kacamata
hitamnya terlempar, memperlihatkan matanya yang sangat mati,
menatap kosong. "Dia sudah mati," ujar Terry, merasa sekujur tubuhnya dingin.
"Aku sudah tahu."
Seseorang menjerit. "Rasanya aku akan muntah," kata Trisha.
Terry dengan cepat berbalik, tepat pada saatnya melihat Justine
berlari keluar, membanting pintu di belakangnya.
Sesaat kemudian sebuah kunci diputar. Terry tahu tanpa perlu
melihat. Mereka terkunci di ruangan itu.
Chapter 19 SATU-SATUNYA jendela yang ada tertutup jeruji pengaman
terbuat dari logam tebal, dan hanya ada satu pintu.
Murphy langsung mulai menggedornya, tapi pintu itu terbuat
dari kayu ek kokoh. "Keluarkan kami!" teriaknya.
Alex dan Ricky menarik-narik, dan mencoba meregangkan,
jeruji pengaman, tapi jeruji itu tetap bergeming.
"Kita terjebak!" jerit Angela histeris. "Dia menjebak kita di sini dengan...
dengan... mayat..." "Tenanglah, Angela," kata Niki, dengan lembut memegang
bahu gadis itu. "Ya," ujar Trisha setuju, suaranya sendiri gemetar. "Kita harus tetap tenang -
kita harus berpikir jernih..."
Pada saat itu, bel kecil Justine berdering, dari luar jendela.
"Kejutan!" teriaknya pada mereka, wajahnya sangat dengat dengan jeruji pengaman.
Ia menyorotkan sebuah senter ke wajahnya. Mereka
bergegas ke jendela. Hujan sudah berhenti.
"Nah, bukankah ini tipuan Halloween terhebat?" tanya Justine, tampak jelas puas
dengan dirinya sendiri. "Keluarkan kami dari sini, Justine," kata Terry. "Aku tak tahu apa rencanamu,
tapi sebentar lagi David akan kembali - dengan
polisi!" "Kalau begitu, aku sebaiknya bergegas, ya kan?" kata gadis itu tenang. Ia
tersenyum pada semua tamunya, senyum mengejek yang
kejam. "Tiba saat kejutan terakhir malam ini," katanya. "Tapi pertama aku ingin
kalian semua duduk di tempat masing-masing di meja dan
membuka dos kado itu."
"Kau telah menipu kami sejak awal!" sergah Alex. "Mengapa kami harus melakukan
perintahmu?" "Karena," kata Justine dingin, "aku akan sangat marah kalau kau merusak
kejutanku. Dan kalau sudah begitu, siapa tahu apa yang
akan kulakukan" Sekarang, cari tempat kalian masing-masing!"
Satu per satu berjalan ke meja dan duduk. Selama sekitar satu
menit, yang terdengar hanyalah suara kursi menggesek lantai, kadang
diselingi isakan Angela. "Semua siap?" tanya Justine. "Bagus. Sekarang kita akan menyelesaikan permainan
Kebenaran. Hanya kali ini giliranku
menceritakan yang sebenarnya - dan kalian yang akan membayar
penaltinya." Ia menyunggingkan senyum gilanya, dan Terry kembali merasa
dingin. Mungkin Justine hanya ingin bicara, ia berharap. Ia pernah
dengar beberapa orang tak waras hanya memerlukan sebuah
kesempatan untuk membicarakan hal-hal yang mengganggu mereka.
Lagi pula, Justine berada di luar rumah - apa yang bisa ia lakukan
pada mereka dari sana"
"Sebelum mulai," lanjut Justine, "aku ingin kalian membuka dos itu." Ia menunggu
para tamunya membuka dos masing-masing. Di dalam tiap kotak terdapat foto
pasangan muda yang mengenakan baju
tahun enam puluhan. Yang wanita berambut gelap, tapi wajahnya
sangat mirip Justine. "Itu foto sebuah pasangan bernama Edmund dan Cissy," cerita Justine pada mereka.
"Sekarang aku ingin kalian menatap foto itu saat aku menceritakan sebuah kisah."
Ia menatap ke sekeliling ruangan, untuk memastikan semua orang sedang memandang
foto itu. "Edmund dan Cissy," ia mulai, "dulu persis kalian - muda, penuh
kebahagiaan dan harapan masa depan. Mereka penuh harapan, sampai dua puluh
delapan tahun lalu, persis malam ini." Ia sesaat berhenti, lalu melanjutkan
dengan nada mendayu-dayu, seolah ia telah
menghafalkannya dari sebuah naskah.
"Dua puluh delapan tahun lalu adalah malam Halloween, seperti
saat ini. Edmund dan Cissy habis mengunjungi teman-teman mereka.
Mereka dalam perjalanan pulang menuju anak perempuan mereka
yang baru berusia satu tahun, yang sangat mereka cintai. Mobil
mereka melaju ke selatan di Old Mill Road."
Ia kembali berhenti sejenak. Meskipun tahu apa yang akan
dikatakan Justine, Terry tetap mendengarkan, terpesona, ketika kisah itu
dibeberkan. "Pada saat bersamaan," lanjut Justine, "ada dua mobil penuh remaja menuju ke
utara di Old Mill Road. Mereka baru menghadiri
sebuah pesta Halloween, dan masih dalam suasana pesta. Mereka
memutuskan untuk balapan. Di dalam kedua kendaraan itu terdapat
tepat sembilan orang. "Satu blok dari sudut Fear Street dan Old Mill Road, salah satu mobil itu
bertabrakan frontal dengan kendaraan sang pasangan muda.
Mobil pasangan itu terguling ke dalam selokan dan terbakar. Saat
pemadam kebakaran sampai di sana, sudah terlambat untuk
menyelamatkan mereka."
Terry bisa melihat dari mimik para tamu lain bahwa sebagian
besar dari mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi. Baik Angela
maupun Trisha menangis, air mata mengalir membasahi wajah
mereka. Justine meneruskan ceritanya, wajahnya tampak kejam dan tua
terkena sorot senter. "Aku ingin kalian sekarang memejamkan mata dan
membayangkan apa yang dialami Edmund serta Cissy malam itu,"
katanya. "Bayangkan rasanya terjebak dalam sebuah mobil yang
terbakar, panasnya tak tertahankan, dan tak ada jalan keluar. Dan tak ada yang
bisa menolong kalian, sekeras apa pun kalian menjerit.
Kalian mungkin sekarang sudah menebak bahwa Edmund dan Cissy
adalah orangtuaku. Tapi kalian mungkin belum tahu siapa nama
remaja di kedua mobil itu." Perlahan ia mengucapkan nama-nama
mereka. Terry mendengar desah kaget ketika masing-masing tamu
mengenali nama orangtua mereka.
"Tak ada satu pun di antara mereka yang terluka," kata Justine.
"Tak ada yang pernah membayar apa yang mereka lakukan pada
orangtuaku. Jadi aku telah memutuskan bahwa kalian, anak-anak
mereka, yang akan membayarnya."
Tak ada suara dari dalam ruang makan, kecuali isak Angela dan
Trisha. "Les mendapat kehormatan membayar lebih dulu," ujar Justine,
"karena ayahnyalah yang mengendarai mobil yang membunuh
orangtuaku. Kalian semua akan mati bersama, seperti yang seharusnya
terjadi pada orangtua kalian bertahun-tahun lalu."
"Tidak!" tiba-tiba Angela berteriak. "Bagaimana mungkin kau menyuruh kami
bertanggung jawab atas sesuatu yang terjadi sebelum
kami lahir" Ini tak adil!"
"Yang menimpa orangtuaku juga tak adil!" teriak Justine.
"Lepaskan kami," bujuk Murphy. "Kami takkan bercerita pada siapa pun tentang hal
ini!" Justine sesaat mengamatinya, kemudian tertawa terkekeh-
kekeh. "Apa kau benar-benar mengira akan semudah itu?" tanyanya.
Terry menatap Niki, merasa tak berdaya. Ia tak tahu apa
rencana Justine, tapi ia tahu pasti sesuatu yang mengerikan.
"Kita harus membuatnya tetap bicara," bisik Niki.
"Apa?" "Selama berbicara, Justine tak bisa melakukan apa-apa pada
kita," kata Niki. "Jadi, kita harus mengulur waktu sampai polisi datang."
Kalau mereka datang, pikir Terry. David sudah cukup lama
pergi. Tapi gagasan Niki tetap masuk akal. "Justine...," panggilnya.
Gadis itu menoleh padanya, terganggu.
"Ada apa lagi?" tanyanya.
"Aku hanya... aku hanya ingin tahu bagaimana kau bisa menipu
kami mentah-mentah seperti ini. Maksudku... semua tampaknya sudah
direncanakan secara mendetail."
Justine tampak jelas merasa senang. "Aku senang kau
menghargai upayaku," ujarnya. "Aku telah cukup lama merencanakan hal ini. Dan
harus kuakui, bahkan aku pun tak berharap akan sesukses ini."
"Jadi, ini semua - undangan, kejutan - semua bagian
rencanamu?" "Tentu saja," jawab Justine. "Semua dirancang menuju saat ini.
Dan kini tiba waktu..."
Niki kembali memotongnya. "Tapi bagaimana kau bisa
melakukan semuanya?" tanyanya. "Sebagai contoh, seseorang
memukulku dan membawaku ke bawah. Tak mungkin kau..."
"Tapi tentu saja itu aku!" Justine tersenyum seolah ada yang memuji rambutnya.
"Tapi bagaimana caramu membawaku ke ruang bawah tanah?"
lanjut Niki. "Aku tahu kau kuat, tapi bahkan kau pun takkan bisa membawaku
sejauh itu." "Aku tak perlu melakukan hal itu," ujar Justine sombong. "Ada sebuah lift dapur
di rumah ini. Aku hanya memasukkanmu ke
dalamnya di lantai dua dan kemudian menurunkanmu ke ruang bawah
tanah." "Bagaimana dengan tangga yang dipotong?" tanya Terry. "Apa kau juga yang
melakukannya?" Justine tertawa. "Menurutmu bagaimana?" katanya balik
bertanya. "Aku sadar sebelum pesta bahwa mungkin akan ada yang
mencurigaiku, jadi aku mengatur kecelakaan kecil itu. Sama sekali tak sulit.


Fear Street - Pesta Halloween Halloween Party di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Waktu masih remaja, aku belajar senam."
Ia sudah memikirkan semuanya, pikir Terry. Kami tak punya
kesempatan. Terry mencoba memikirkan pertanyaan lain untuk
Justine, untuk membuatnya tetap bicara, tapi benaknya sudah kosong.
"Bagaimana dengan Les?" tanya Niki tiba-tiba.
"Kenapa dengan dia?" ulang Justine.
"Yang lain mendengarmu berbicara dengannya sebelum kami
masuk ke sini," kata Niki.
Justine tertawa, tawa mengejek. "Mereka mendengarku. Tapi
aku berani taruhan mereka tak mendengar jawaban Les dalam
percakapan itu! Nah, waktu telah banyak terbuang," kata Justine, senyumnya
pudar. "Kalau menengadah ke langit-langit, kalian akan melihat aku telah
memasang pengeras suara mutakhir untuk
menghibur kalian." Terry melihat ke atas, kaget. Seperti yang dikatakan Justine,
empat pengeras suara raksasa dipasang tinggi di dinding, tepat di
bawah langit-langit. "Pengeras suara ini disambungkan dengan cassette deck yang
kutaruh di luar sini," Justine meneruskan. "Yang mengingatkanku.
Kini saat memulai penalti kalian."
"Tapi bagaimana dengan...," sergah Terry.
"Tidak," kata Justine. "Tak ada lagi pertanyaan. Sekarang waktu meneruskan
kejutan ini." Ia kembali tersenyum, senyum yang begitu manis hingga
kekontrasannya dengan apa yang ia ucapkan sangat
mengejutkan. "Ketika mulai memikirkan cara membuat kalian membayar
perbuatan orangtua kalian," katanya, "aku sadar bahwa aku ingin kalian menderita
dengan cara yang sama seperti orangtuaku bertahun-tahun lalu. Tapi aku tak bisa
mengatur sebuah kecelakaan mobil. Dan
kemudian kusadari aku dapat dengan mudah mereproduksi bagian-
bagian terburuk dari sebuah kecelakaan mobil." Ia sesaat
membungkuk di bawah jendela, kemudian kembali berdiri. "Aku baru saja menyalakan
sebuah tape yang kurekam khusus untuk kalian,"
katanya. Sebuah derum pelan mulai terdengar dari pengeras suara
raksasa di atas. Terry mengenali suara mesin mobil yang dinyalakan.
"Karena tak bisa menciptakan kembali sebuah kecelakan asli,"
Justine meneruskan, "aku akan membuat kalian mendengar bagaimana rasanya,
mendengar decit logam bengkok, jerit kesakitan korban yang
ketakutan..." Suara mesin semakin keras terdengar, dan kini ada suara-suara
baru, suara ban mobil berdecit di belokan ketika mobil dalam rekaman mempercepat
lajunya. Apa ini yang akan ia lakukan pada kami" Terry bertanya-tanya
dengan perasaan terguncang. Membuat kami mendengar rekaman
kecelakaan mobil" Apa hanya ini"
"Tentu saja, hanya mendengar suara-suara kecelakaan saja tak
cukup," Justine meneruskan, seolah membaca pikiran Terry. "Supaya benar-benar
membayar, kalian juga harus merasakan kesakitan yang
mereka alami, dan mati seperti cara mereka mati." Ia menyalakan sebuah pemantik
api. "Aku telah menumpuk sebundel kain tua berlumur bensin persis
di luar ruang makan," katanya. "Aku sekarang akan masuk dan menyalakannya. Akan
makan waktu beberapa menit sebelum apinya
mencapai kalian. Kalian akan punya cukup waktu memikirkan apa
yang diderita orangtuaku - dan apa yang akan terjadi pada kalian!"
Ia kembali membungkuk, lalu berjalan menjauhi jendela. Terry
ingin bicara pada yang lain, mencoba merencanakan sebuah pelarian,
tapi suara rekaman meningkat dari keras menjadi memekakkan
telinga. Ia tak bisa mendengar apa-apa ketika mobil dalam rekaman
melaju semakin kencang. Sesaat kemudian terdengar decit rem yang membuat telinga
ngilu, derak logam hancur, kaca yang pecah berkeping-keping, dan
kemudian jeritan - jeritan kesakitan dan takut. Berulang kali rekaman
itu diputar, begitu keras hingga Terry bisa merasakan getarannya di
sekujur tubuh. Jeritan dalam rekaman itu ditambah dengan jeritan para tamu
yang terperangkap dalam ruang makan, dengan tangan membekap
telinga ketika mereka mencoba meredam semua suara keras yang
menyeramkan itu. Itu peristiwa paling mengerikan yang pernah
dialami Terry. Menurutnya tak ada yang lebih buruk.
Dan kemudian kepulan asap pertama mulai merembes di bawah
pintu ruang makan. Chapter 20 SEPERTI kejadian dalam mimpi buruk, pikir Niki ketika
melihat teman-temannya berteriak dan menggeliat-geliat, mencoba
meredam suara mengerikan itu. Bahkan Terry memejamkan mata erat-
erat, kedua tangan rapat menutupi telinga.
Ketika asap mulai merembes masuk ke dalam ruangan,
kepanikan makin memuncak. Alex dan Murphy mulai menggedor-
gedor jeruji jendela, mencakarinya. Tangan kedua pemuda itu
berlumuran darah, yang mengalir ke lengan mereka, tapi mereka
seolah tak menyadarinya. Niki dapat merasakan getaran musik di seluruh tubuhnya. Tapi
hal itu tak membuatnya takut. Ia malah merasa seolah sedang
menonton pertunjukan di panggung.
Ia tahu nyawanya terancam - semua yang ada di sana terancam
bahaya. Asap yang masuk dari bawah pintu semakin tebal. Niki tahu
mereka tak punya banyak waktu. Ia memegang pintu dengan telapak
tangannya. Sudah panas. Entah bagaimana, mereka harus menemukan jalan keluar.
Mungkin kalau bekerja sama, mereka semua bisa membobol pintu,
atau membengkokkan jeruji.
Ia menyentuh bahu Terry. "Terry!" teriaknya. "Kita harus melakukan sesuatu!"
Pemuda itu hanya menatapnya, mata Terry penuh rasa sakit dan
bingung. Ia tak bisa mendengar apa pun yang dikatakan Niki, dan
jelas ia tak bisa berpikir jernih.
Niki kemudian mencoba menyadarkan Alex, tapi seperti Terry,
pemuda itu tak bisa mendengarnya. Alex malah kembali menarik-
narik jeruji bersama Murphy. "Apa semua orang sudah gila?" teriak Niki keras-
keras. Dan sadar bahwa, dengan cara masing-masing,
semua telah kehilangan akal sehat. Trisha dan Angela mendekam
bersama di pojok, terisak-isak, dan Ricky berdiri di depan pintu,
dengan mata terpejam rapat, menjerit-jerit.
Tak ada yang bisa menolongnya, Niki sadar.
Mungkin sebentar lagi David akan datang bersama polis i, tapi ia
sudah lama pergi. Banyak yang bisa terjadi padanya dan Niki tahu ia
sekarang tak bisa mengandalkan pemuda itu.
Semua tergantung padanya.
Mencoba tak panik, dan mencoba mengabaikan kepulan asap
yang semakin tebal, ia memaksa dirinya berpikir logis.
Pintu itu terlalu berat untuk didobrak. Ia berjalan ke jendela dan
menjejalkan tubuhnya di antara Murphy serta Alex. Jerujinya tebal
dan tak bisa digerakkan. Ia melangkah mundur dan memaksa dirinya menarik napas
dalam sebanyak dua-tiga kali, menghirup udara segar yang masuk dari
jendela. Kini asap dalam ruangan itu telah setebal kabut, dan teman-
temannya benar-benar hilang kendali - histeris.
Justine telah merencanakan pembalasan dendamnya dengan
baik. Kalau saja ada jalan keluar lain. Kalau saja ada jendela di
langit-langit, atau ventilasi pemanas, atau... Matanya melihat sebuah pegangan
pintu di dinding. Mungkin hanya lemari. Tapi mungkin...
Ia membuka pintu kecil itu dan hampir menangis karena lega.
Itu adalah lorong lift dapur yang dikatakan Justine. Keranjang
lift tampaknya terlalu kecil untuk membawa satu orang, tapi Niki
bertubuh ramping, dan lagi pula, Justine telah berkata bahwa dengan
cara itulah tubuhnya bisa sampai ke ruang bawah tanah.
Dengan perasaan putus asa, Niki sadar ia takkan bisa
menurunkan keranjang itu seorang diri. Lift itu dirancang untuk
diturunkan dengan tenaga manusia - seseorang harus menarik tali
yang terpasang pada kerekan. Ia harus minta bantuan. Tapi apa ia bisa
menyadarkan salah satu temannya"
Terry masih duduk dengan kedua tangan erat menutupi telinga.
Niki mengguncang tubuhnya dengan keras. Ketika pemuda itu
menoleh padanya, Niki berteriak sekeras mungkin. "Terry! Kau harus menolongku!"
Pemuda itu hanya menatapnya kosong.
"Terry!" teriak Niki lagi. "Tolonglah! Ini tergantung kita!"
Niki mengamati wajah pemuda itu, berusaha membuatnya
mengerti. Terry mengerjap dan tiba-tiba matanya jadi jernih. Ia
menatap Niki dengan sorot mengerti.
"Muka Lucu," panggilnya.
Tape terlalu keras hingga ia tak bisa mendengar suara Niki.
Gadis itu menarik lengan Terry dan membawanya ke lift dapur. Ia
menunjuk pada dirinya sendiri, kemudian pada keranjang, dan
memeragakan orang menarik tali. Kini Alex sudah menghampirinya
juga, dan kedua pemuda itu terpaku menatapnya seolah ia sudah
kehilangan akal sehat. "Jangan!" kata Terry. "Ini terlalu berbahaya!"
Niki bisa dengan mudah membaca bibirnya, tapi menepis
peringatannya. Ia menunjuk ke pintu ruang makan, di mana asap
merembes masuk semakin tebal.
"Dia benar!" teriak Alex. "Hanya ini kesempatan kita!"
Dengan enggan Terry mengangguk setuju. Bagus, pikir Niki
lega. Tapi apa usaha itu akan berhasil"
Bersama-sama, Alex dan Terry membantunya naik ke dalam
pintu masuk lift. Niki menarik napas dalam dan merayap masuk ke
dalam keranjang. Sempit sekali, tapi dengan melipat lutut di bawah
dagu ia dapat duduk. "Siap!" teriak Niki, jantungnya berdebar kencang.
Alex mulai menarik talinya. Niki dapat merasakan alat kuno itu
berderit dan berderak menopang tubuhnya. Apa alat itu cukup kuat"
Tiba-tiba keranjang lift menyangkut pada sesuatu. Saat
menengadah, ia bisa melihat Alex dan Terry menarik-narik tali,
mencoba membebaskannya. Keranjang itu tetap bergeming.
Udara dalam lorong lift terasa panas dan bau asap. Api
menyebar dengan cepat. Jika keranjang itu tak segera bergerak, ia
akan mati kehabisan napas di dalam dinding rumah tua itu.
Walau tahu berbahaya, ia mulai mengayun tubuhnya maju-
mundur. Ia tahu, gerakan itu bisa melepaskan keranjang, atau
membuatnya jatuh sampai ke ruang bawah tanah.
Tiba-tiba keranjang itu terjerumus ke bawah sejauh beberapa
senti. Niki merasa seolah jantungnya berhenti berdetak, lalu ia
kembali tenang ketika keranjang kembali meneruskan perjalanannya
ke bawah. Di dasar, ia dengan keras mendorong bagian dalam pintu
lemari dan merayap keluar.
Udara jauh lebih jernih di sini, dan sesaat ia hanya menarik
napas. Lalu ia menyalakan senter dan menyorotkannya ke sekeliling
ruangan apak dan gelap itu.
Ruang bawah tanah itu berbentuk tak beraturan, dan berisi apa
yang sepertinya selusin relung dan lemari. Bagaimana Terry bisa
menemukannya di sini"
Akhirnya sinar senter menunjukkan tangga ruang bawah tanah,
dan ia dengan cepat lari menaikinya, hanya untuk menemukan
pintunya panas membakar. Kalau membukanya, ia akan tertambus.
Pasti ada jalan keluar lain. Harus!
Ia kembali menyorotkan senternya ke sekeliling. Sesuatu yang
berwarna gelap dan berbulu melesat ke satu sisi, dan Niki meloncat
kaget. Akhirnya ia melihat sosok jendela, dan bergegas ke sana.
Harapannya tenggelam. Jendela itu tertutup papan.
Niki ingin menangis. Sesudah semua yang terjadi, terperangkap
di sini, mati di sini... Hentikan! katanya pada diri sendiri. Jangan menyerah sekarang.
Semua teman mengandalkannya. Terry mengandalkannya.
Entah bagaimana, ia harus mencari jalan keluar.
Ia menyandarkan senter hingga sinarnya menerangi papan di
atas jendela dan mulai menarikinya, kukunya patah-patah. Akhirnya
salah satu papan mulai terlepas, dan ia dapat melihat sosok gelap
sebuah semak liar di luar.
Ia menarik semakin keras. Akhirnya papan itu terlepas.
Celah itu tak cukup lebar untuk tubuhnya, tapi kalau bisa
melepaskan satu atau dua lagi papan, ia mungkin akan bisa
menyelinap keluar dan mencari pertolongan.
Ia mulai menariki papan berikutnya, mencoba tak memikirkan
berapa lama waktu yang diperlukan.
Ia sudah hampir berhasil melepaskannya ketika merasa ada
tangan mencengkeram mata kakinya.
Chapter 21 Niki menjerit dan meloncat menjauhi jendela. Saat itu, kakinya
tersandung sesuatu yang empuk dan ia terjengkang di atas lantai.
Justine, pikirnya. Justine telah menemukanku, dan kini akan langsung
membunuhku, di sini. Tapi ia takkan menyerah mentah-mentah.
Niki membalikkan badan dan mencoba melepaskan diri dari
tangan yang memeganginya.
Tapi kemudian, di bawah sinar remang-remang senter, ia
melihat ternyata itu bukan Justine. Tapi paman Justine, Philip. Tangan yang
mencengkeram pergelangan kakinya ternyata terikat erat oleh
seutas tali pada tangannya yang sebelah lagi, dan kedua pergelangan
kaki pria itu juga terikat erat. Di kemeja polkadot putih-birunya
terlihat noda lebar darah kering.
Niki sangat terkejut sehingga tak langsung menyadari Philip
sedang bicara padanya. Gadis itu menyipitkan mata dalam sinar
remang-remang, memusatkan penglihatan supaya bisa memahami
perkataan pria itu. "Tolong aku," kata Philip, wajah badutnya yang bermimik sedih mengernyit penuh
permohonan. "Kumohon, kumohon, kau harus
menolongku!" "Aku akan menolongmu," tukas Niki. Philip berhenti bicara, heran. "Tapi kau juga
harus menolongku," tambah gadis itu. "Aku dan teman-temanku."
Ia mulai membuka simpul tali di tangan dan kaki Philip, sambil
menjelaskan apa yang telah dilakukan Justine. Ketika ia bercerita
tentang upaya Justine membakar mereka, mata Philip membeliak
ngeri. "Memang aku mencium bau asap," katanya. "Aku tak pernah bermimpi bahkan
dia pun akan..." Niki selesai membuka ikatannya. "Ayo!" sergahnya. "Kita harus bergegas!"
Philip bergegas berdiri dan berlari ke arah sebuah lemari, dan
kembali dengan membawa sebuah linggis tebal. Walaupun berbadan
kecil, ia ternyata cukup kuat.
Pria itu berhasil melepaskan papan-papan yang masih
menempel di jendela hanya dalam beberapa detik. Lalu ia mengangkat
tubuh Niki ke atas tepi jendela dan memanjat naik di belakangnya.
Begitu berada di luar, Niki dengan rakus menelan gumpalan-
gumpalan udara segar. Tapi mereka tak boleh membuang waktu.
Niki serta Philip berlari ke bagian depan rumah. Di dalam


Fear Street - Pesta Halloween Halloween Party di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

jendela tampak kelebat lidah api. Para remaja yang terjebak di
dalamnya merapatkan tubuh ke jeruji jendela, berusaha bernapas.
Philip mencoba melepaskan jeruji dengan linggis.
Tidak. Tidak, jeruji itu tetap bergeming, pikir Niki, perasaan
panik yang menyelimutinya semakin memuncak.
Tidak. Tidak. Coba terus. Ya! Akhirnya Philip berhasil mendongkel lepas jeruji.
Dalam keadaan tercekik kehabisan napas, para remaja itu mulai
memanjat keluar, dengan mata merah dan bercucuran air mata karena
asap asam yang tebal. Alex serta Terry membantu yang lain dan terakhir keluar dari
ruangan itu. Beberapa saat setelah mereka keluar, pintu ruang makan
tertambus. Niki dan Philip membimbing para remaja yang terguncang dan
kehabisan napas itu ke tempat aman di halaman depan, jauh dari
rumah yang kini berkobar-kobar dijilat si jago merah dari ruang
bawah tanah hingga gudang loteng.
Begitu mereka sampai di tempat aman, Terry menghambur
menghampiri Niki dan memeluknya erat-erat, menciumi wajah dan
rambutnya. "Muka Lucu," katanya berulang kali. "Muka Lucu." Niki hampir tak
percaya pemuda itu selamat. Wajah Terry berlumur asap
hitam dan bulu matanya agak gosong.
Nyaris. Sangat nyaris. Niki dan Terry hanya berdiri di sana, saling rangkul, melihat
rumah terbakar itu meletupkan bunga api oranye cerah ke angkasa.
Di timur, remang-remang sinar oranye fajar mulai muncul.
Sebagian atap rumah tiba-tiba roboh, memercikkan hujan bunga api ke
seluruh halaman. Semua mundur ke tepi halaman. Sesaat kemudian
David sempoyongan keluar dari hutan Fear Street.
*********************** "Jadi, kurasa Marty dan Bobby terlalu mabuk untuk berpikir
jernih," David menjelaskan. "Ketika akhirnya sadar, aku berada di pondok
penyimpanan di sudut makam. Aku pergi ke rumah terdekat
dan menelepon polisi."
Dahinya berlebam besar dan gumpalan darah kering melekat di
pipinya, tapi ia tampak baik-baik saja.
Bahkan semua baik-baik saja. Semua kecuali Les.
Baik Trisha maupun Ricky sedang duduk dan mengamati
kobaran api seolah mereka tak mengalami apa-apa. Murphy dan
Angela duduk di tengah rumput tinggi, mengabaikan permukaannya
yang basah, saling menghibur.
Alex berdiri sendiri terpisah, wajahnya tampak sedih, kostum
peraknya yang indah kini koyak dan bernoda asap hitam.
Terry tak bisa mempercayai apa yang telah terjadi. Bagaimana
mungkin begitu banyak yang terjadi dalam waktu sesingkat ini" Ia
merasa semua yang terjadi di rumah itu tadi malam telah mengubah
mereka semua - untuk selamanya.
Dari jauh mulai terdengar sayup-sayup raung sirene.
Philip berdiri di depan mereka semua, dan Terry heran melihat
matanya basah. "Aku sangat, sangat menyesal," katanya pada mereka.
"Aku tak pernah bermaksud hal ini akan terjadi. Kalian harus percaya padaku."
"Apa maksudmu?" sergah Alex marah. "Kami hampir terbunuh di sana!"
"Yang ingin kulakukan," ujar Philip, "hanyalah menakuti-nakuti kalian. Tak
lebih." Terry merasa mulai mengerti, dan hal itu membuatnya marah.
"Maksudmu, kau sejak awal sudah merencanakannya?" sergahnya.
"Ya," jawab Philip dengan suara sarat malu. "Begini, ayah Justine adalah kakak
laki-lakiku. Aku paling akrab dengannya. Setelah dia meninggal, aku bersumpah
akan membesarkan Justine supaya dia
bangga pada putrinya. Tapi aku tak bisa melupakan kematiannya, dan
rupanya selama bertahun-tahun aku telah menularkan kepahitanku
pada Justine. Kini aku sadar seharusnya aku mengajarinya untuk
memaafkan dan mengasihi sesama. Tapi aku malah mengajarinya
kebencian dan... nafsu membalas dendam."
"Jadi, kalian telah merencanakannya selama bertahun-tahun?"
tanya Trisha, terdengar tak percaya.
"Tidak, sama sekali tidak!" bantah Philip. Ia berhenti dan menyeka wajahnya.
"Tahun lalu dokter menyatakan aku sakit, dan aku memutuskan menghabiskan hari-
hari terakhirku di rumah tua
kakakku. Kukatakan pada semua orang bahwa aku sepupu jauhnya,
supaya tak ada yang menggangguku. Tapi ketika tahu aku ada di sini,
Justine meninggalkan karier dan kekasihnya serta pindah ke sini
bersamaku. Dia meyakinkanku bahwa aku takkan bisa mati dengan
tenang sebelum membalaskan kematian kakakku."
Terry terbeliak menatap Philip. Semua yang diucapkan pria itu
terdengar seperti mimpi buruk - namun ternyata nyata.
"Kalian tahu kisah selanjutnya," Philip meneruskan. "Justine mendaftar sebagai
murid sekolah menengah sementara aku
menyelidiki kelompok remaja yang dulu terlibat, dan menelusuri jejak anak-anak
mereka. Lalu kami mengirim undangan."
"Mengapa kalian tega melakukannya?" tanya Alex. "Mengapa"
Tak ada di antara kami yang pernah menyakiti kalian!"
"Aku tahu," jawab Philip. "Dan mungkin aku memang agak gila memendam dendam
sekian lama. Tapi kalian harus mempercayaiku!
Aku tak pernah berniat benar-benar menyakiti kalian. Aku hanya ingin kalian
ketakutan, sesaat merasakan penderitaan."
"Tapi Justine melangkah lebih jauh, ya kan?" tanya Niki.
Berlawanan dengan Alex, wajah dan suara Niki hanya
memperlihatkan perasaan simpati.
"Aku tak menyadari betapa terobsesinya dia," jawab Philip, mengangguk setuju.
"Sampai aku menemukan... menemukan tubuh
teman kalian Les. Aku tahu Justine yang melakukannya, dan aku tahu
harus menghentikannya. Aku menyembunyikan mayatnya di atap
supaya tak ada yang menemukannya, dan kemudian aku
mengkonfrontasi keponakanku dengan apa yang telah dia lakukan.
Kukatakan kami harus langsung menghentikan pesta itu. Kukatakan
aku akan menelepon polisi. Tapi dia... dia..." Ia berhenti bicara dan mulai
terisak-isak. "Dia menyerangmu," kata Niki. "Aku tahu. Dia juga
melakukannya padaku."
"Aku tak pernah mengira dia akan... akan melawanku," ujar
Philip. "Dia melumpuhkanku dengan sebuah pukulan di kepala, dan kemudian dia
rupanya menyeretku ke ruang bawah tanah serta
mengikatku." "Maksudmu, Justine melakukan semuanya sendiri - membunuh
Les, melumpuhkanmu..." Alex terdengar tak percaya.
"Kalian harus mengerti," kata Philip, "Justine sangat kuat.
Kurasa dia melatih tubuhnya supaya dapat melakukan apa pun. Aku
yakin sejak dulu dia tahu akan melakukan hal semacam ini."
"Berani sekali kau"!"
Semua menoleh mendengar suara Justine. Ia berdiri di tepi
kebun, wajah cantiknya hampir tak dapat dikenali di balik mimik gila dan marah.
"Justine!" teriak Philip. Terry dapat melihat betapa pria itu masih sangat
mencintai keponakannya. "Kau telah mengkhianatiku!" Justine berteriak padanya. "Dan lebih parah lagi,
kau telah mengkhianati orangtuaku! Seharusnya aku
tadi membunuhmu!" "Tidak!" teriak Philip, terpuruk berlutut. "Jangan berkata begitu!"
"Aku seharusnya tahu kau terlalu lemah untuk melakukan apa
yang harus dilakukan!" kata gadis itu. "Tak pernah ada yang sekuat aku. Aku
telah merencanakan pembalasan dendam yang sempurna!
Dan akan berhasil - malah hampir berhasil..." Ia membeliak menatap mereka semua
dengan penuh kebencian. Terry membuang muka. Niki semakin kencang memegang
tangan pemuda itu. Kini kami sudah aman, pikir Terry. Justine tak bisa lagi melukai
kami. Tapi Terry meloncat mundur ketakutan, seperti juga yang lain,
ketika Justine tiba-tiba berlari langsung ke arah mereka, mata hijaunya
memancarkan sorot tak waras.
Tepat sebelum mencapai mereka, ia tiba-tiba belok ke kiri, dan
kemudian, bergerak lebih cepat daripada yang terasa mungkin, berlari menaiki
tangga depan dan naik ke beranda yang sedang terbakar.
Chapter 22 "TIDAK!" Ratapan penderitaan Philip membelah udara.
Tubuh Terry membeku ketika Justine berbelok dan berlari
kembali ke arah rumah yang sedang dilalap api. Tapi saat gadis itu
mencapai tangga, Terry juga mulai berlari, hampir tanpa sadar
melakukannya. Mengejar Justine. Berlari ke arah panas dan kobaran api.
Sudut matanya melihat sebuah gerakan, dan ketika mencapai
tangga, ia melihat bahwa Alex juga mengejar Justine, tepat di
belakangnya. Tanpa memperlambat kecepatannya, Terry berlari menaiki
tangga dan naik ke atas beranda yang menyala-nyala.
Justine sedang berdiri tepat di pintu masuk rumah, agak
sempoyongan, bajunya mulai terbakar. Ia berbalik, dan ketika melihat Alex serta
Terry, matanya melebar dan ia mulai melangkah ke dalam
rumah, yang kini sudah berkobar-kobar dilalap si jago merah.
"Pegang dia!" teriak Alex.
Terry mengulurkan tangan dan berusaha meraih tubuh Justine.
Ia berhasil memegang lengan gadis itu dan menariknya sekuat tenaga.
Tapi dengan kekuatan orang gila, Justine melompat ke arah
berlawanan, menarik pemuda itu ke dalam rumah bersamanya.
Keduanya terguling ke atas lantai yang menyala-nyala.
Terry menjerit ketika melihat lidah api yang berkobar-kobar,
membentang beberapa senti dari tempatnya tergeletak.
Hal berikutnya yang ia ketahui, seseorang mencengkeramnya,
dan tubuhnya berguling-guling keluar rumah, menuruni tangga,
terlempar ke kubangan lumpur. Seseorang berulang kali
menggulingkan tubuhnya, lumpur sejuk mendinginkan panas api.
Ia duduk, bingung, dan melihat Alex berdiri di atas tubuh
Justine, mematikan lidah api yang menjilati baju gadis itu dengan
jaket peraknya. Justine kini terisak-isak, tak bernada gila, tapi berkesan
menyerah, dan kesakitan. Alex mendekat dan membungkuk di atas Terry, wajah pucatnya
tampak takut dan letih. "Hei, man," sapanya. "Kau baik-baik saja?"
Terry mengangguk. "Kau menyelamatkan nyawaku, Alex.
Trims." "Kau mencoba menyelamatkan nyawa kami semua," jawab
Alex, memegang bahu Terry. "Kurasa kami terlalu keras kepala untuk
mendengarkan." Sesaat kedua pemuda itu hanya saling tatap, dan Terry melihat
sesuatu yang tak pernah ia duga akan dilihatnya lagi - tatapan
persahabatan dan penghargaan. Ia berharap wajahnya juga
menunjukkan hal serupa. Sesaat kemudian halaman itu dipenuhi pendaran sinar dan
raungan sirene kendaraan. Ketika pemadam kebakaran mulai
bertempur dengan kobaran api, personel medis memeriksa luka bakar
Terry dan Alex. Niki berdiri dekat di sebelah Terry, memegangi lengannya
seolah takkan pernah melepaskannya. "Menurutmu, apa yang akan
terjadi pada Justine?" tanyanya.
"Dia akan mendapatkan bantuan yang diperlukannya," jawab
Philip sedih. "Seharusnya aku sudah melakukan hal itu bertahun-tahun lalu."
Mereka melihat Justine dibaringkan di atas tandu rumah sakit.
Beberapa menit kemudian, ambulans polisi itu keluar dari
halaman, sirenenya meraung-raung.
Di atas, hujan bunga api berletupan, menerangi kerangka istana
Cameron yang sudah hancur.
Di balik asap tebal, matahari pagi berwarna merah mulai
muncul. "Hei... kita berhasil melewatkan satu malam. Sekarang sudah
pagi!" teriak Ricky. "Sekarang bukan Halloween lagi!"
"Aku tak yakin," ujar Niki, masih berpegangan pada lengan
Terry ketika mereka mulai berjalan pergi. "Di Fear Street selalu Halloween. END
Setan Rawa Bangkai 1 Pendekar Hina Kelana 30 Dendam Gila Dari Kubur Satria Pedang Asmara 1
^