Pencarian

Makhluk Pemeluk Manusia 2

Goosebumps - Invasi Makhluk Pemeluk Manusia 2 Bagian 2


13 "OHHH" Aku mengerang ngeri.
Rasa dingin merambati punggungku. Dingin dan tajam, seperti es.
Rasa dingin itu semakin nyata.
Tidak, pikirku. Jangan biarkan dia melakukannya. Jangan biarkan makhluk itu
masuk ke tubuhmu. Aku menarik napas dan berpikir keras, berusaha mengatasi rasa panik dan
dingin yang makin menyebar.
Lalu aku memejamkan mata dan menekuk lutut.
Pura-pura pingsan. Aku terkulai ke lantai dengan lengan lemas.
Kudengar Mrs. Berkman berseru kaget.
Rasa dingin yang menyakitkan itu langsung reda.
Mrs. Berkman berdiri memandangiku dengan ternganga. Sebelum ia sempat
berbuat apa-apa, aku berguling dan melompat bangkit, lalu lari.
Ia terbelalak dan mencoba meraihku dengan dua tangan.
Tapi aku terus lari ke balik tirai, ke tengah tirai-tirai di belakang panggung,
di antara kotak-kotak dan perlengkapan panggung lainnya.
Terdengar suara langkah kaki monster itu. Dari balik tirai kudengar suara salah
seorang polisi. Lalu tepuk tangan menggemuruh.
Aku mesti bicara pada mereka! pikirku. Mereka harus tahu tentang Mr. Liss dan
Mrs. Berkman. Tapi bagaimana cara memberitahukannya"
Kalau aku lari ke atas panggung lagi, Mrs. Berkman akan menahanku sebelum
aku sempat bicara. Aku merunduk ke belakang sebuah backdrop dan berjalan menepi sepanjang tembok
belakang auditorium. "Jack di mana kau?" Mrs. Berkman berseru perlahan "Tidak apa-apa, jack Tidak
akan sakit. Kau bisa merasakannya sendiri."
Aku berhenti. Tirai itu bergetar. Mrs. Berkman sedang bergerak cepat sepanjang
sisi luar tirai. Bersembunyilah, Jack, perintahku pada diri sendiri. Bersembunyilah.
Aku menoleh ke kiri-kanan dengan panik. Di dekat pintu belakang ada
setumpuk kardus. Tidak. Dia akan menemukanmu dengan mudah di belakang
sana. "Jack, di mana kau" Kau tidak bisa sembunyi dariku." Ia semakin dekat.
Aku berbalik dan berjalan cepat ke arah tempat aku datang tadi. Kulihat di
depan tirai ada sebuah peti besar berselimut debu.
Kosongkah peti itu" Kuangkat tutupnya. dan aku melongok ke dalamnya.
Iiih! Bau debu yang asam dan tajam menyerang hidungku. Debu dan jamur. Peti itu
penuh dengan kostum-kostum lama yang sudah lusuh.
Aku menutupi mulutku. Perutku bergolak. Bau itu sangat tajam, sampai-sampai aku
merasa mual. "Jack, jangan coba-coba bersembunyi," seru Mrs. Berkman. Ia semakin dekat.
Sebentar lagi ia pasti menemukanku dan ia akan menangkapku.
Aku masih ragu sesaat, merasakan bau asam memuakkan dari dalam peti itu.
Tapi aku tak punya pilihan.
Dengan gemetar hebat aku memanjat sisi peti itu... dan masuk ke dalamnya.
"Jack" Jack?" Kudengar monster itu berbisik memanggil saat aku menurunkan
tutup peti. Apakah dia melihatku"
Aku meringkuk dalam gelap sambil memeluk tubuhku dan menahan napas.
Tapi bau memuakkan itu tetap saja menyerang mulut dan hidungku.
Aku... aku tak bisa bernapas di dalam sini, pikirku, mulai panik. Belum pernah
aku mencium bau memuakkan begini.
Langkah-langkah kaki yang cepat dan tajam mendekat hampir-hampir
membuatku terlonjak. Tapi langkah-langkah itu menjauh dengan cepat. Mrs. Berkman berjalan
melewatiku. Aku mendesah lega. Perutku bergolak lagi. Aku menelan sekali, dua kali,
berusaha menahan mual. Kupejamkan mataku, lalu memasang telinga.
Polisi satunya sedang berbicara. Aku mendengarnya dengan jelas. Ia sedang
menjawab pertanyaan dari hadirin.
Dengan pelan dan hati-hati aku mengangkat tutup peti dan mengintip ke luar.
Mengejutkan! Ternyata aku bisa melihat bagian depan panggung.
Kulihat polisi yang kurus dan jangkung itu berdiri di podium, berbicara di
mikrofon, dan kulihat rekannya duduk bersilang kaki di kursi lipat.
Aku akan menunggu di dalam peti yang menjijikkan ini pikirku.
Mungkin aku bisa bertahan sampai acara ini selesai, sampai kedua polisi itu
pergi. Lalu aku akan melompat ke luar dan menceritakan kisahku pada mereka.
Keringat membasahi keningku. Perutku berputar-putar. Aku memencet hidung
dan b?rnapas melalui mulut.
Bau ini akan terus melekat di tubuhku, pikirku. Aku bakal terus menciumnya
seumur hidup. Tutup peti itu kutahan sedikit dan aku terus mengintip ke luar. Akhirnya si
polisi meninggalkan podium dan ikut duduk dengan rekannya. Tepuk tangan
membahana. Acara sudah selesai.
Aku menelan ludah dan mengangkat kedua tutup peti dengan dua tangan, lalu
siap-slap melompat. Di podium, Mrs. Berkman mengucapkan terima kasih pada kedua polisi. Lalu ia
menyuruh anak-anak cepat-cepat kembali ke kelas untuk pelajaran berikutnya.
Kemudian ia mendampingi kedua polisi itu turun panggung, menuju ke arahku,
beberapa meter dari petiku.
"Terima kasih banyak," kudengar Mrs. Berkman berkata. "Kalian bagus sekali
tadi." Aku mengangkat tutup peti kayu yang berat itu lebih tinggi dan terbelalak ngeri
melihat si kepala seko1ah memeluk kedua polisi itu.
Kulihat mereka terkesiap kaget saat Mrs. Berkman merangkul mereka dengan
erat, semakin erat. Kuku-kukunya yang panjang melesat keluar, dan ia
menghunjamkannya dalam-dalam ke punggung kedua polisi itu.
Pelan-pelan ekspresi terkejut di wajah kedua polisi itu memudar saat si makhluk
asing telah memasuki diri mereka.
"T-t-t. Kami selalu senang bisa berdiskusi dengan anak-anak sekolah," kata
polisi yang kurus tinggi. Gelembung-gelembung hijau muncul dari kedua
telinganya. Mrs. Berkman tersenyum senang.
"Pertanyaan-pertanyaan mereka t-t-t bagus-bagus," kata polisi satunya. Ia
menggaruk bahunya kiri-kanan, lalu membuat suara-suara berdecap keras
dengan bibirnya. Aku menurunkan tutup peti dan terenyak lemas.
Ini sudah keterlaluan, pikirku.
Kedua polisi itu sudah terkena juga.
Aku mesti menambahkan nama mereka ke dalam daftarku, pikirku. Kucoba
mengingat-ingat nama mereka.
Apa yang akan mereka lakukan sekarang" pikirku. Menyebarkan makhluk itu ke
seluruh kepolisian" Aku mesti pulang. Semakin banyak orang yang kerasukan makhluk asing itu
Aku mesti melaporkan ini pada Mr Fleshman, mesti memastikan ia dan para
agennya tahu apa yang terjadi.
Aku menunggu hingga kedua polisi dan Mrs. Berkman sudah pergi dan
auditorium itu sudah kosong. Lalu aku keluar dari peti yang bau dan
menjijikkan itu. Aku menyeka keringat di wajahku dan menarik napas panjang beberapa kali,
menghirup udara segar. "Aku mesti keluar dari sini," gumamku sendirian. Aku berjalan ke bagian
belakang auditorium, melangkah ke lorong, dan hendak menuju pintu.
Mendadak dua anak lelaki mencengkeram lenganku dengan kasar.
"Henry!" seruku. "Derek!"
"Kau mesti ikut dengan kami," paksa Derek.
"Kenapa" Ke mana kalian mau membawaku?" seruku. "Ke mana?"
14 HENRY terkikik-kikik. "Kau kenapa sih, Jack?"
"Ikut sajalah dengan kami," perintah Derek.
Mereka menyeretku ke sudut, lalu masuk ke sebuah pintu di tengah lorong.
"Ruang loker?" seruku "Ada apa ini" Kalian mau apa?"
Mereka melepaskanku begitu seseorang muncul dari balik barisan loker.
"Ini dia orangnya, Coach Finney," lapor Derek. "Kami menemukannya."
"Dia lupa untuk tes renang," kata Henry.
Coach Finney mengernyit padaku sambil mendekat. Ia mengenakan kaus tanpa
lengan dan celana renang hitam longgar. Ia masih muda, hampir sependek aku, tapi
sangat kekar, dengan dada lebar dan otot menonjol. Matanya biru pucat dan rambut
hitamnya dibuntut kuda. Banyak cewek menganggap ia tampan. Aku
tahu Marsha dan Maddy naksir berat padanya.
"Kau lupa ikut uji-coba?" tanyanya sambil menyipitkan mata "Kau yakin mau ikut
masuk tim renang?" Henry dan Derek mengawasiku.
"Ya, mau," kataku pada Coach Finney "Tapi sekarang aku sedang buru-buru.
Apa tidak bisa..." Coach Finney tertawa. "Sedang buru-buru?" Ia melihat arlojinya "Aku akan
menulis surat izin untukmu, supaya kau masuk pada jam pelajaran berikutnya
saja." "Tapi.. tapi.. " Bagaimana mungkin aku ikut tes renang sementara
segerombolan makhluk asing sedang mengambil alih seisi sekolah" Atau
mungkin seantero L.A."
"Ganti pakaian!" perintah Coach Finney. "Ada celana renang di lemari itu,
kalau kau tidak bawa celana sendiri. Cari yang tidak bakal melorot di air. Kalau
sampai celanamu melorot, nilaimu dikurangi sepuluh."
Ia tertawa, Henry dan Derek juga.
Aku tercekat. Aku tidak bersemangat untuk berenang. Aku mesti pergi dari sini,
mencari bala bantuan. Bagaimana kalau aku kabur saja dan menjelaskan nanti" Tapi Henry dan Derek
tidak bakal membiarkanku lolos begitu saja.
Akhirnya kuputuskan untuk menyelesaikan tes itu secepatnya, lalu aku akan
bergegas ke rumah Mr. Fleshman.
"Sampai ketemu di kolam," kata Coach Finney. Lalu ia menghilang di balik
barisan loker. "Cepatlah," desak Henry.
"Kau pasti bisa," kata Derek. Ia mengajakku ber- high five.
Akan kubereskan urusan ini secepat mungkin, pikirku.
Aku mencari celana renang yang pas untukku di lemari, lalu ganti pakaian.
Tak lama kemudian, aku membuka pintu yang menuju kolam renang. Udara
panas dan bau klorin menguar menerpaku.
Coach Finney duduk di papan loncat, menuliskan sesuatu di clipboard. Kulihat ada
empat anak lain yang akan ikut tes. Mereka sudah ada di kolam, sedang
melakukan pemanasan. Henry dan Derek duduk bersilang kaki di tepi kolam. Celana renang mereka
masih kering. Aneh, pikirku. Biasanya mereka berdua senang main air. Aku tahu mereka tidak
perlu ikut tes, sebab mereka adalah kapten tim renang.
Tapi kenapa mereka tidak masuk ke kolam"
Henry mengangkat ibu jarinya ke arahku. Derek membuat gerakan berenang
dengan lengannya. "Semoga sukses!" serunya.
"Trims!" aku balas berseru. Aku masuk ke air yang hangat. Saat melakukan
pemanasan, aku merasa otot-ototku sangat tegang dan kaku.
Air yang hangat itu terasa menenangkan. Aku menyelam ke bawah dan
berenang ke seberang. Ketika aku muncul lagi, Coach Finney sedang membunyikan peluitnya. Kami
berlima berenang ke papan loncat.
"Kuminta kalian semua berenang sekali lagi kali ini kecepatan akan dihitung,"
kata sang pelatih sambil melepaskan buntut kudanya. "Kalian harus berenang
cepat. Berlomba." Anak-anak di kolam renang mengeluh. Aku memandangi para perenang itu satu
per satu. Aku kenal mereka semua, tapi aku tidak tahu apakah mereka perenang
andal atau tidak. Siapa tahu ada yang bisa menandingiku.
"Naiklah," perintah Coach Finney. "Aku ingin melihat kalian berlomba dari sisi
ini, dua kali bolak-balik."
Kami semua naik sambil mengibas-ngibaskan air dari tubuh, seperti anjing
basah. Coach Finney berkata pada Henry dan Derek, "Bagaimana kalau kalian ikut
berlomba" Biar mereka lebih bersemangat."
Kulihat Henry dan Derek saling pandang. Mereka tampak ketakutan. Benarkah"
Tidak Jack, itu cuma bayanganmu saja, pikirku.
"Ehm... aku tidak bisa berenang hari ini, Coach," gumam Henry sambil
menunduk. "Aku kena flu."
"Aku juga tidak bisa," kata Derek; "Aku kena infeksi telinga."
Aneh, pikirku. Biasanya mereka tidak begini.
Tapi aku tidak sempat memikirkannya. Coach Finney meniup peluitnya dan
perlombaan dimulai. Aku kurang bagus ketika start. Gerakan terjunku canggung dan aku jatuh ke air
jauh di belakang yang lainnya Aku berusaha mengejar mereka, bergerak dengan
lambat tapi pasti. Lalu aku mulai menambah kecepatan dan berenang dengan
kekuatan penuh pada putaran terakhir.
Napasku terengah-engah ketika mendekati akhir, tapi rasanya menyenangkan.
Aku berenang dengan mulus dan lebih cepat daripada biasanya. Mungkin segala
ketegangan dan ketakutanku tadi pagi membuatku sangat lelah dan sekarang
otot-ototku senang mendapat pelepasan.
Aku menang, jauh lebih cepat daripada yang lainnya.
"Bagus sekali, Jack!" seru Coach Finney. Ia maju ke tepi kolam untuk
membantuku naik. "Sangat mengesankan. Cara terjunmu masih harus
diperbaiki, tapi ayunan tanganmu benar-benar bagus."
Sambil terengah aku mengucapkan terima kasih, lalu menoleh pada Henry dan
Derek. Aku kaget melihat mereka ternyata tidak ada.
Aneh, pikirku. Mereka menyeretku kemari, tapi tidak mau melihatku berlomba.
Coach Finney melemparkan handuk padaku. Aku mengalungkannya di leher
dan beranjak ke ruang loker. Sambil berjalan, aku kembali merasa tegang.
Aku senang telah berenang. Pikiranku jadi teralihkan dari makhluk asing itu.
Tapi sekarang aku kembali ketakutan.
Aku merinding ketika masuk ke ruang loker. Cepat-cepat aku menuju lokerku
sambil mengeringkan tubuh.
"Aku mesti keluar dari sekolah ini," gumamku sendirian.
Kulemparkan handukku ke lantai, lalu kubuka pintu loker.
"Hei!" Aku berseru kaget ketika Henry dan Derek muncul dari balik sederetan
loker "Kalian mengagetkan aku saja," kataku.
Mereka tertawa. "Kalian dari mana?" tanyaku "Lihat lomba tadi, tidak" Kalian tahu aku
mengalahkan yang lainnya?"
Mereka tidak menjawab. Senyum Henry memudar. Ia melangkah ke depanku.
"Kau mau apa?" seruku. "Kenapa kau ini?"
Derek bergerak ke belakangku.
Aku melirik, dan menyadari bahwa aku terperangkap di antara mereka.
"Hem" protesku.
"Tidak akan t-t-t sakit, Jack," gumam Henry. "Sungguh. T-t-t sama sekali tidak
sakit." Aku tak bisa bergerak. Juga tak bisa menjerit. Mereka mengangkat tangan dan
mulai mendekat ke arahku.
15 SAMBIL menggeram aku mendorong mereka dengan sikuku, lalu merunduk
dan berusaha meloloskan diri.
Tapi Henry dan Derek bertubuh besar dan kuat. Mereka merangsek ke arahku
dan memegangiku sambil mendecak-decak senang.
Habislah aku, pikirku. Aku akan menjadi salah satu dari mereka.
"Ada apa ini?" sebuah suara berseru.
"Hah?" Kedua anak itu tersentak dan mundur.
Coach Finney muncul sambil memandangi kami dengan curiga.
"Kami cuma memberi selamat pada Jack," kata Derek. Ia menepuk-nepuk
punggungku.

Goosebumps - Invasi Makhluk Pemeluk Manusia 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Dia hebat," Henry menimpali. "Derek dan aku sudah yakin dia pasti berhasil."
"Biarkan dia berpakaian," kata Coach Finney. "Kalian ikut denganku. Aku perlu
bantuan." Ia mengajak Henry dan Derek pergi.
Aku mendesah lega. Tanganku gemetar hebat. Sekarang ada dua nama lagi yang
mesti kutambahkan pada daftarku.
Siapa yang memeluk kedua temanku" pikirku.
Mr. Liss-kah" Atau Mrs. Berkman" Atau orang lain lagi"
Berapa banyak guru yang sudah kerasukan" Berapa banyak anak"
Aku membuka pintu ruang loker dan melongok ke lorong. Setelah yakin tidak
ada yang mengawasi, aku lari ke pintu.
Aku mengira akan ada yang meneriakiku atau menghadangku.
Tapi aku berhasil keluar dengan aman ke udara siang yang panas berawan. Di
luar sini basah dan lembap, seperti di dalam kolam renang tadi.
Setelah menarik napas panjang, aku lari melintasi pekarangan sekolah yang
sudah kosong, juga melewati tempat parkir untuk guru.
Lalu aku menyeberang jalan dan terus berlari. Kakiku sakit sehabis berenang
tadi, tapi tidak kupedulikan. Hujan mulai turun rintik-rintik.
Aku lari dengan kecepatan penuh. Aku mesti berhenti di sudut berikutnya
karena ada mobil besar lewat. Lalu aku lari lagi.
Beberapa saat kemudian rumahku sudah kelihatan.
Mom pasti ada di rumah, pikirku.
Ya, Mom tidak ke kantor hari ini, sebab Billie masih belum sehat.
Kalau saja Mom mau percaya padaku, pikirku. Kalau saja aku bisa meyakinkan
Mom bahwa aku tidak berbohong. Bahwa kami semua benar-benar dalam
bahaya. Aku mesti mencoba sekali lagi.
Kubuka pintu depan dan aku menyerbu masuk ke lorong. "Mom! Mom!"
teriakku terengah-engah. "Mom di mana?"
Tidak ada jawaban. Aku berhenti di lorong belakang. "Mom" Mom ada di sini?"
Tidak ada jawaban. Aku melongok ke setiap ruangan, lalu berbalik dan lari ke tangga depan. "Mom ada
di atas" Aku mesti bicara. Mom?"
Terdengar bunyi kerai berdetak-detak menimpa jendeia. Selain itu tidak ada
suara lain. "Aneh," gumamku.
Aku pergi ke dapur, satu-satunya ruangan yang belum kulongok. "Mom?"
panggilku. "Ini aku. Aku..."
Aku masuk ke dapur dan tersentak.
Apa itu yang bersinar-sinar di lantai dapur"
Kubangan hijau mengilap. Lendir hijau. Gumpalan lendir hijau di lantai, dekat meja.
"Dia kemari," gumamku.
Makhluk asing itu tadi kemari.
Dengan ngeri kupandangi gumpalan-gumpalan hijau itu.
Mom" Billie" Apa yang terjadi pada mereka"
Apa yang dilakukan makhluk itu pada mereka"
16 AKU merasa mual. Perutku bergolak saat kupandangi gumpalan-gumpalan
hijau itu. Aku terus memandangi sampai semuanya menjadi kabur di mataku.
Lalu aku mengangkat kepala dan melihat catatan di pintu lemari es.
"Hah?" Aku berusaha menyadarkan diriku, mengusir rasa takut.
Mom selalu meninggalkan catatan untuk kami di pintu kulkas. Seperti yang satu
ini. Kuambil catatan itu dengan tangan gemetar dan kubaca tulisan Mom yang rapi:
Jack, amandel Billie kambuh lagi. Dia sampai tidak bisa menelan Jell-O limau
kesukaannya. Dad dan aku membawanya ke dokter. Kami akan meneleponmu
secepatnya. Buatlah roti selai kacang untuk kaumakan kalau kami belum
pulang saat makan malam. Salam sayang. M. Kubaca catatan itu dua kali. Akhirnya kubiarkan kertas itu jatuh ke lantai dan
aku mendesah lega. "Wow," gumamku. "Kasihan Billie."
Apa dia dibawa ke rumah sakit" Apa amandelnya mesti dibuang" Sakitkah
operasi amandel itu" Kubaca catatan tadi sekali lagi.
Jell-O limau. Jell-O limau....
"Wow," gumamku. Aku mengempaskan tubuh ke lantai, di samping meja
dapur. Kucolek gumpalan hijau itu, lalu kuendus-endus, dan kujilat.
Benar. Jell-O limau. Bukan lendir makhluk asing.
Setidaknya keluargaku selamat dari makhluk itu, pikirku. Untuk sementara ini.
Aku berdiri dan memandang ke sekeliling dapur. Piring-piring bekas sarapan
masih ada di bak cuci piring.
Aku sendirian di sini, pikirku.
Kalau Billie dibawa ke rumah sakit, berarti aku akan sendirian sampai larut
malam. Aku jadi merinding. Bagaimana kalau makhluk-makhluk itu datang mencariku"
Mr. Liss. Mrs. Berkman. Henry dan Derek.
Bagaimana kalau mereka kemari"
Bagaimana aku bisa melindungi diriku"
Kuputuskan untuk mengikuti nasihat Mr. Fleshman. Akan kukunci semua pintu.
Kalau ada yang mengetuk tidak akan kubukakan. Siapa pun.
Bel pintu berbunyi. "Tidak!" Aku hampir-hampir terlompat.
Aku terpaku di ambang pintu dapur.
Bel berbunyi lagi. Dan lagi.
"Jack, kau ada di rumah?" Suara cewek.
Aku berjalan ke ruang tamu dan mengintip dari jendela depan Marsha dan
Maddy. Mau apa mereka" Kenapa mereka kemari" Kan belum bubaran sekolah.
Bel berbunyi lagi. Aku beranjak ke pintu, tapi tidak membukanya. "K-kalian mau apa?" tanyaku
terbata-bata. "Kami mau masuk!" seru Marsha.
"Jack, kami takut!" kata Maddy.
"Takut" Takut apa?" tanyaku dari balik pintu.
"Ada yang aneh sekali di sekolah," sahut Maddy.
"Kami takut, Jack," kata Marsha. "Kami ingin bicara denganmu. Bukakan pintu
dong." Aku bimbang. Bisakah mereka kupercaya"
Bisakah" 17 AKHIRNYA aku melepaskan rantai pintu dan membuka pintu itu sedikit.
"Jack, buka dong!" desak Maddy.
Aku memandangi mereka, untuk mengira-ngira apakah mereka sudah
kerasukan. Rambut Maddy tampak acak-acakan dan mata birunya tegang.
Marsha tampak ketakutan. Dahinya berkeringat.
"Kau kenapa sih, Jack?" tanya Maddy. "Kenapa kami tidak boleh masuk?"
Aku ragu-ragu. Mereka tidak mendecak-decak, juga tidak mengeluarkan
gelembung-gelembung hijau dari telinga mereka.
"Kalian mau memeluk aku, ya?" tanyaku.
Marsha tertawa. Maddy cemberut.
"Tidak usah ya!" kata Maddy. "Kau ini sinting deh."
Akhirnya aku membuka pintu. Mereka menyerbu masuk, sampai-sampai ransel
mereka menyenggolku dengan keras.
Kuikuti mereka ke ruang tamu. Aku bingung, perlukah aku menceritakan
tentang pesawat makhluk asing itu" Aku tidak mau membuat mereka ketakutan.
Lagi pula belum tentu mereka akan mempercayaiku.
"Ada apa?" tanyaku. "Kalian kelihatannya benar-benar ketakutan."
"Henry dan Derek bertingkah aneh sekali," kata Maddy sambil menoleh ke luar
jendela. Marsha menggigil. "Mudah-mudahan mereka tidak mengikuti kami kemari."
"Memangnya mereka kenapa?" tanyaku.
"Cara bicara mereka aneh," sahut Maddy sambil menyibakkan rambutnya
dengan satu tangan. "Mereka lain sekali dari biasa."
"Apa mereka mencoba memeluk kalian?" tanyaku.
Marsha merinding lagi. Maddy hendak menjawab, tapi sebuah suara BLUK keras di luar membuat kami
sama-sama terlompat. "Pasti Henry dan Derek!" kata Marsha sambil mengangkat tangan ke pipinya.
"Mereka memang mengikuti kami."
Lagi-lagi terdengar suara BLUK itu.
Kami lari ke jendela. Kulihat sesuatu menghantam batang pohon pinus di jalan depan dan melambung
ke rumput. "Batu!" teriakku.
Sebuah batu bundar berwarna jingga, seukuran sofbol.
Marsha dan Maddy menjerit ketika sebuah bola jingga jatuh lagi di jalan.
Mendadak aku sadar. Invasi sudah dimulai.
Kata Mr. Fleshman, masih banyak makhluk asing yang sedang dalam
perjalanan. Sekarang mereka sudah tiba, mendarat di jalanan dan pekarangan-
pekarangan. Melambung ke bumi dalam bola-bola jingga yang persis seperti
bola yang kutemukan. "Gawat!" teriakku. Meski ketakutan, aku mesti melihat. Aku lari ke depan,
membuka pintu, dan menghambur ke luar.
Marsha dan Maddy mengikutiku.
Aku ternganga ketika melihat hujan bola jingga itu. Banyak sekali yang jatuh di
blok kami. Dengan berdebar-debar aku menoleh pada Marsha dan Maddy, mengira mereka
akan tampak ketakutan dan terheran-heran seperti aku.
Tapi mereka malah tersenyum.
"Sudah t-t-t waktunya mereka datang," kata Maddy.
"Yeah. Kenapa mereka lama sekali?" sahut Marsha.
"Teman-teman kami sudah t-t-t tiba," kata Marsha.
"Jangan coba-coba lari, Jack," kata Maddy. "Kau kalah sekarang."
18 "TIDAK" Aku menjerit keras dan berbalik dari mereka.
Mereka hendak mencengkeramku, tapi aku sudah lari.
Aku masuk kembali ke rumah dan mengempaskan pintu depan.
Kudengar mereka menjerit marah ketika aku berusaha mengunci pintu.
Kupasang kembali rantai pintu ke tempatnya.
"Biarkan kami masuk" seru Maddy.
Mereka menggedor-gedor pintu. Pintu berguncang oleh empasan-empasan
keras. BUK... BUK... Mereka menggedor dengan bahu rupanya. Mencoba merobohkan pintu.
"Kau tidak bisa lari dari kami, Jack!" seru Maddy.
BUK... BUK... "T-t-t, kami semua sudah di sini sekarang," seru Marsha. "Kami sudah siap."
"Kami butuh t-t-t tubuhmu, Jack"
"Tidak akan sakit Sungguh"
"Satu pelukan saja. Satu pelukan cepat, dan kau akan menjadi salah satu dari
kami." "Biarkan kami masuk!"
Pintu berdebam lagi dengan suara BLUK keras.
Bisakah pintu ini bertahan" Bisakah"
Terdengar suara keras dari atas dan sebuah pesawat angkasa luar menghantam
atap rumah. "Pintu belakang dikunci tidak?" teriakku keras-keras.
Aku sudah setengah jalan ke dapur ketika telepon berdering.
"YAAAI!" aku menjerit kaget dan menyambar telepon di tembok dapur.
"Halo?" "Jack?" "Dad?" "Jack, aku di rumah sakit," kata ayahku.
Aku berusaha menajamkan telinga di antara deru napasku.
"Billie mesti operasi amandel," kata ayahku. "Ibumu dan aku akan di sini
sampai larut malam. Kau tidak apa-apa?"
"Tidak, aku ketakutan!" teriakku panik. Bahkan dari sini pun bisa kudengar
Marsha dan Maddy menggedor-gedor pintu depan.
"Apa katamu?" tanya Dad. "Aku tidak dengar, Jack. Di sini berisik sekali. Aku di
lobi masuk." "Aku ketakutan!" teriakku. "Dad mesti cari bantuan. Ada makhluk angkasa luar
mendarat di bumi. Jumlahnya ratusan. Mereka mendarat di pekarangan depan."
Aku menarik napas panjang dan menunggu jawaban Dad.
Terdengar suara-suara di seberang sana, dan dering telepon.
Dad mendesah berat di telepon. "Jack," katanya akhirnya. "Aku benar-benar
kecewa padamu." "Hah?" Aku terperanjat.
"Adikmu sedang di rumah sakit. Ini bukan waktunya main-main." Ia
kedengaran marah. "Tapi, Dad...," aku mencoba protes.
"Kau bisa lebih dewasa, tidak?" lanjut Dad. "Bisakah kaulupakan cerita
konyolmu itu dan bersikap dewasa?"
"Dad, Marsha dan Maddy ingin memelukku," kataku. "Mereka kerasukan.
Mereka. .." "Cukup!" Dad berseru marah. "Dengar, Jack. Kerjakan PR-mu dan buatlah
sesuatu untuk makan malammu. Jangan bersikap konyol!"
Konyol" Aku tercekat. Aku mesti membuat Dad mengerti, mesti membuatnya percaya.
Ada satu pesawat lagi mendarat di atap, meluncur ke bawah, dan mendarat di
rumput, di luar jendela dapur.
Aku menarik napas panjang. "Dad, dengarkan," aku memulai.
Di seberang sana hening. "Dad?" Rupanya ayahku sudah menutup telepon.
Kulemparkan telepon itu dan aku lari ke jendela depan, melongok ke luar.
Marsha dan Maddy sudah menghilang.
Aku mendesah lega. Pintu depan bisa bertahan.
Tapi untuk berapa lama"
Aku memandang ke jalan. Udara penuh dengan suara batu-batu yang membelah. Kedengarannya seperti
letupan ratusan petasan kecil-kecil. Semua pesawat angkasa luar itu membelah
seperti telur. Para penghuninya mulai bermunculan.
Mulanya mereka tampak seperti serangga-serangga hijau seukuran belalang.
Lalu mereka mulai besar, seperti kadal hijau yang gemuk. Dan mereka terus
bertambah besar. Cepat sekali.
Mereka berdiri dengan kaki belakang, gigi mereka muncul, kaki mereka
melangkah di tanah dan lengan-lengan mereka yang ramping mulai ditumbuhi
otot raksasa. Tangan-tangan mereka yang berjari empat mencakar-cakar udara.
Aku memandang dengan ngeri dari balik jendela, ketika makhluk-makhluk itu
mulai menyebar ke segala arah. Mata mereka yang menonjol bergerak-gerak di
bawah cangkang keras di atas kepala mereka.
Lendir kental keluar dari tubuh mereka yang mengilap, membasahi rumput.
Mendadak dadaku serasa akan meledak. Tanpa sadar aku menahan napas lama
sekali rupanya. Aku mengembuskan napas panjang dan kembali memandangi pekarangan
depan yang rumputnya penuh oleh bola jingga dan lendir putih.
Makhluk-makhluk itu menjauh, masih terus membesar sementara mereka
berjalan. Mereka akan memenuhi seluruh wilayah ini, pikirku.
Terdengar pekikan dan seruan keras dari seberang jalan. Anjing-anjing
menggonggong marah. Kulihat Mr. dan Mrs. Anderson lari keluar dari rumah
mereka dengan panik. Sebuah mobil polisi berhenti dan dua petugas polisi melompat keluar.
Suami-istri Anderson lari ke arah polisi-polisi itu sambil bicara dengan panik.


Goosebumps - Invasi Makhluk Pemeluk Manusia 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalian mesti bertindak!" teriak Mr. Anderson. "Tidak bisakah kalian
melakukan sesuatu?" Lalu kulihat kedua polisi itu maju dengan cepat. Salah seorang memeluk Mr.
Anderson dan rekannya memeluk Mrs. Anderson.
Kulihat kuku-kuku panjang muncul dari tangan mereka dan dengan ngeri
kusaksikan kedua polisi itu menghunjamkan kuku mereka ke punggung
tetanggaku. Suami-istri Anderson berdiri terpaku sejenak, lalu mereka cepat-cepat pergi
untuk memeluk orang lain.
"Seluruh wilayah ini. ..," gumamku pada diri sendiri. "Seluruh wilayah ini akan
celaka." Penuh ketakutan aku menempelkan wajah di kaca jendela, melihat dan
mendengarkan. "Mr. Fleshman," gumamku mendadak.
Apa tindakannya atas peristiwa ini" Apa yang dilakukannya untuk
menghentikan invasi ini"
Apakah ia ada di luar sana bersama agen-agennya, bersiap menghadapi
makhluk-makhluk ini" Bagaimana ia bisa memerangi mereka" Mereka banyak sekali
dan menyebar dengan cepat.
Daftar namaku tidak akan ada gunanya kalau semua orang di L.A. ikut menjadi
korban. Aku beranjak ke pintu belakang. Mr. Fleshman menyuruhku tetap di rumah, tapi aku
tak bisa. Aku mesti tahu, apa yang dilakukannya.
Ketika aku akan membuka pintu, telepon berdering. Dengan berdebar aku
mengambilnya. "Jack?" "Dad?" "Maaf tadi pembicaraan kita terputus. Apa kau sudah tenang" Kau baik-baik
saja?" "Tidak, Dad!" teriakku. "Dad... seluruh wilayah ini... Mereka sudah mendarat!"
"Aku tidak dengar!" teriak Dad. "Sambungannya jelek sekali. Dan di sini
berisik sekali." "Dad, dengarkah...," pintaku.
"Ibumu dan aku akan pulang larut malam sekali. Kau bisa tidur sendiri" Kami akan
menengokmu di kamar begitu kami pulang nanti."
"Tapi, Dad..." "Billie sedang dioperasi," kata ayahku. "Kalau semuanya berjalan lancar,
mungkin besok dia bisa pulang."
"Bagus," kataku. "Tapi di sini tidak aman. Makhluk-makhluk itu..."
"Kau mungkin harus pergi sendiri ke sekolah," teriak Dad. "Ibumu dan aku
akan ke rumah sakit pagi-pagi sekali. Kami tidak mau Billie bangun sendirian di
rumah sakit." "Aku tidak bisa kembali ke sekolah itu," kataku. "Dad, kita mesti bicara begitu
Dad pulang malam nanti."
"Apa katamu?" tanya Dad. "Sudah dulu, ya" Ada yang mau memakai telepon.
Sampai nanti, Jack."
Sambungan terputus. Kuletakkan kembali ke tempatnya.
Aku gemetar hebat. "Kenapa dia tidak mau dengar?" teriakku.
Aku menarik napas panjang. Hanya satu orang yang mau mendengar. Satu
orang yang tahu apa yang terjadi. Mr. Fleshman.
Aku hendak ke pintu lagi... tapi lalu berhenti.
Makhluk-makhluk itu sudah menyebar di seluruh wilayah ini, pikirku.
Bagaimana kalau ada yang menungguku di pekarangan belakang" Misalnya ada
selusin" Aku berbalik dan lari ke atas. Dari jendela kamarku aku bisa melihat ke
pekarangan dan ke rumah Mr. Fleshman.
Aku pergi ke jendela, membukanya, dan melongok ke luar.
Dengan cepat aku menyapukan pandangan ke pekarangan belakang. Kulihat
pesawat-pesawat jingga itu bertebaran di rumput, tapi makhluk-makhluknya
tidak ada. Di seberang pekarangan kulihat lampu menyala di rumah Mr. Fleshman. Aku
menajamkan mata ke jendelanya.
Kulihat ia ada di sana. Sedang apa dia" Duduk di kursi empuk dengan kaki diangkat"
Aku terenyak. Dia sedang nonton TV.
Dia duduk tenang-tenang nonton TV"
Kenapa dia tidak bertindak"
19 MUNGKIN Mr. Fleshman sedang menunggu laporan dari para agennya,
pikirku. Ia pasti punya rencana. Ketika aku bicara dengannya, kelihatannya ia
sama sekali tidak cemas. Aku akan bertindak sesuai perintahnya, pikirku. Aku tidak akan pergi ke
rumahnya. Aku di sini saja. Akan kutunggu sampai ia mengatakan semuanya
sudah aman. Tapi aku mesti memperingatkan Mom dan Dad. Dan aku mesti menunjukkan
pada mereka bahwa aku tidak bohong.
Aku tak peduli mereka akan pulang larut malam. Akan kutunggu mereka dan
kupaksa mereka mendengarkan.
Hari itu berlalu lambat sekali, dan sangat menakutkan. Meski di sebelah ada Mr.
Fleshman, aku merasa sangat sendirian. Sangat tak berdaya.
Aku membuat roti selai kacang untuk makan malamku. Karena masih lapar, aku
makan sereal, lalu sekantong keripik kentang.
Aku teringat Billie yang malang. Mudah-mudahan ia tidak apa-apa.
Setiap kali ada mobil lewat, aku bergegas ke depan jendela untuk melihat
apakah itu Mom dan Dad. Jam-jam berlalu lambat. Aku mulai mengantuk.
Aku mondar-mandir, memaksa diriku agar tetap terjaga. Aku mesti
memperingatkan Mom dan Dad tentang invasi makhluk asing itu.
Merasa semakin mengantuk, aku menyalakan TV. Berita pukul sebelas baru
mulai. "Wilayah Los Angeles akan lebih hangat," kata si pembaca berita. "Gelombang
udara hangat t-t-t sedang bergerak dari arah Lembah San Fernando dan akan
membawa hujan rintik-rintik."
"Pembaca berita itu juga sudah kena," keluhku.
Kupaksakan diri menonton seluruh berita itu. Sama sekali tidak ada berita
tentang pendaratan makhluk asing tersebut.
Lalu menyusul berita olahraga. Pembaca beritanya juga sudah kena pengaruh
makhluk asing tersebut, sebab dari kedua telinganya muncul gelembung hijau, yang
lalu ditutupinya dengan headphone.
Mereka semua sudah kena, pikirku dengan gemetar. Dan mereka
merahasiakannya. Untuk berapa lama" Sampai mereka berhasil menguasai semua orang"
Sebuah mobil lewat. Aku lari ke jendela. Bukan Mom dan Dad.
Aku merasa sangat mengantuk. Mataku hampir-hampir tak bisa dibuka lagi.
Semua ketegangan dan ketakutan hari ini menguasaiku. Aku sangat letih.
Aku istirahat saja di tempat tidur, pikirku. Aku tidak akan ganti pakaian. Aku
cuma memejamkan mata beberapa menit.
Kalau Mom dan Dad pulang, aku akan bangun dan menceritakan semuanya
pada mereka. *** Hah" Aku bangun dengan terkejut. Sinar matahari yang terang masuk ke kamar
tidurku. Aku duduk tegak sambil menggosok-gosok mata dengan bingung.
Aku masih mengenakan pakaianku semalam. Sepatuku rasanya berat sekali.
Aku mengerang. Aku tertidur rupanya... terus sampai pagi.
Apa Mom dan Dad menengokku" Kenapa mereka tidak membangunkanku"
Apa mereka ada di kamar" Masih di rumah ini"
Aku melirik jam kecilku. Hampir jam sepuluh. Kenapa aku bisa tidur begitu
lama" Aku mesti bicara dengan mereka. Mesti!
Aku melompat dan lari ke luar kamar, turun tangga. "Mom" Dad?" teriakku.
Suaraku masih serak karena baru bangun tidur.
"Mom" Dad" Kalian ada di rumah?"
Aku memeriksa dapur. Tidak ada siapa-siapa.
Aku lari ke kamar orangtuaku.
"Ada orang di rumah?"
Aku membuka pintu kamar mereka... dan terperanjat.
20 TIDAK ada orang di kamar.
Apa mereka sudah pergi lagi" Atau mereka menemani Billie di rumah sakit
sepanjang malam" Di pintu kulkas ada catatan yang menjawab semua pertanyaanku.
Jack, kami pergi pagi-pagi sekali. Kami akan membawa pulang Billie. Dia baik-
baik saja. Berangkatlah sendiri ke sekolah. Kita bertemu nanti.
Salam sayang. Mom dan Dad.
Aku akan duduk menunggu mereka, pikirku. Tak mungkin aku pergi ke
sekolah, meninggalkan rumah ini.
Aku minum segelas jus jeruk, lalu menyalakan radio.
Aku mendengarkan berbagai stasiun. Semua penyiarnya sudah kena invasi
makhluk asing itu. Dan tak ada berita tentang invasi tersebut.
Mereka sudah menguasai semua orang
Aku tercekat ketakutan. Jus jeruk itu sampai tidak tertelan olehku.
Akhirnya kudengar suara mobil di depan rumah.
"Mom! Dad!" Aku membuka pintu dan lari ke depan.
Aku terkejut, sebab yang pulang hanya Mom dan Billie.
Mom membantu Billie keluar dari dalam mobil. Billie agak pucat dan lelah, tapi
selebihnya ia baik-baik saja.
"Mom! mana Dad?" seruku.
Mom menyibakkan rambutnya dan mendesah letih. "Dia mesti langsung ke
kantor. Ada urusan penting."
"Aku tahu ada urusan penting!" seruku. "Mom, aku mesti bicara."
Aku menarik-narik lengannya.
"Aku akan bantu Billie masuk dulu," sahut Mom tak sabar. "Kau tidak apa-apa,
kan" Kenapa kau tidak ke sekolah?"
"Tidak, tidak bisa," kataku
"Kau ingin melihat adikmu, ya?" tanya Mom. "Seperti kaulihat, dia baik-baik
saja. Tenggorokannya agak sakit sekarang, tapi beberapa hari lagi..."
"Sakit," bisik Billie sambil memegangi tenggorokannya.
"Aku senang kau tidak apa-apa," gumamku.
"Amandelku yang diambil ada empat," bisik Billie. "Eh, enam deh."
"Billie, jangan bicara dulu," omel Mom. "Dan jangan cerita yang tidak-tidak."
Aku menggeleng. Operasi amandel tidak mengubah Billie sedikit pun.
Mom mengajak Billie ke pintu belakang. Aku mengejar mereka. "Mom, Mom
mesti mendengar dulu!" seruku. "Makhluk-makhluk hijau jelek itu sudah
mendarat di bumi dan..."
Mom membalikkan tubuh dengan marah. "Jack, aku akan membawa Billie ke
kamarnya dulu, oke?"
Ia membukakan pintu untuk Billie, tapi Billie berhenti dan berbisik padaku,
"Aku juga melihat pesawat angkasa luar di rumah sakit. Tapi warnanya biru."
"Diam!" bentakku. "Ini serius."
"Jack, adikmu baru saja dioperasi, dan kau sudah membentak-bentaknya?" seru Mom.
"Kau keterlaluan."
Billie nyengir padaku. "Benar, lho. Warnanya, biru cerah," bisiknya. "Kurasa
pesawat itu mengikutiku pulang."
Aku mundur. Aku tidak berminat mendengarkan cerita konyolnya.
Aku menunggu di luar, mondar-mandir dengan gugup sambil menendangi
rumput. Akhirnya Mom keluar lagi sambil menguap dan meregangkan tubuh. "Aku
tidak bisa tidur nyenyak semalam." Ia mendesah. "Ayahmu dan aku pulang
malam sekali. Kami menengokmu di kamar. Kenapa kau tidur dengan pakaian
lengkap, Jack?" "Soalnya aku menunggu kalian pulang!" teriakku.
Mom menguap. "Bicaralah." Ia mengaiigk?l tangan. "Tapi satu hal, jangan
bicara tentang invasi makhluk asing segala. Aku tidak mau lagi mendengarnya.
Aku sudah capek." Aku ingin mulai bercerita, tapi lalu mengurungkannya. Mom tidak akan
mendengarkan. Ia tidak akan percaya.
Aku mesti menemui Dad. Mungkin Dad mau mendengarku.
Dad bekerja di kantor deputi walikota. Ia bisa bicara dengan sang deputi, atau
mungkin dengan walikota sendiri. Mungkin belum terlambat.
Mungkin mereka sudah mulai menangani invasi ini. Barangkali itulah urusan
penting yang menyebabkan Dad harus bergegas ke kantor.
Barangkali Mr. Fleshman sudah menghubungi kantor walikota dan mereka
sedang bekerja sama untuk melawan makhluk-makhluk itu
"Kenapa kau tidak sekolah?" tanya Mom. "Cuma karena Billie?"
"Yeah," gumamku sambil berpikir keras, bagaimana cara pergi ke kantor Dad.
"Belum terlambat untuk pergi sekarang," kata Mom "Aku bisa menuliskan surat
untuk Mrs. Hoff." "Oke," kataku. Jadi, aku pura-pura berangkat ke sekolah.
Padahal aku berjalan terus sampai ke halte bus. Aku menunggu lama sekali. Di LA
bus jarang ada. Aku mesti ganti bus dua kali. Di salah satu halte, enam atau tujuh orang saling
berpelukan. Di belakang mereka sebuah pintu toko dibuka dan kulihat dua
orang berpelukan di ambangnya. Di sudut sebelah ada empat orang lagi
berpelukan. "Cepat. Cepatlah," kataku dalam hati. "Mungkin aku sudah terlambat."
Bus bergerak melewati persimpangan. Di seberang jalan kulihat sesosok
makhluk hijau masuk ke punggung seorang pria. Lengan orang itu langsung
terangkat dan mulutnya ternganga kaget. Makhluk itu lenyap ke dalam
tubuhnya. "Anda lihat itu?" seruku pada wanita di depanku.
"Tidak," sahutnya .
Tak ada penumpang yang melihat apa pun. Tak ada yang berkomentar.
Apa mereka semua sudah kena juga"
Perjalanan itu serasa makan waktu berjam-jam. Tapi akhirnya aku sampai juga.
Aku melompat turun dan masuk ke gedung jangkung dari granit itu. Langsung
naik lift ke lantai dua belas.
Seorang resepsionis sedang bicara di telepon di belakang mejanya yang besar.
"Kau sudah membuat janji?" tanyanya ketika aku maju ke hadapannya.
"Aku mesti bertemu ayahku!" seruku terengah-engah. "Aku Jack Archer."
"Kau mesti menunggu," sahutnya. "Kurasa dia sedang bersarna Deputi Rawls."
Aku tak bisa menunggu. Aku lari melewati mejanya, ke lorong panjang yang
penuh kantor. "Hei, tunggu!" teriak si resepsionis.
Aku melewati dua wanita bersetelan gelap, dan melewati kantor ayahku.
Kantor di sudut pintunya terbuka. Kulihat ayahku berdiri di depannya sambil
melipat tangan di depan dada, bicara dengan seorang laki-laki di belakang
sebuah meja besar. "Dad!" panggilku "Dad..."
Ia menoleh terkejut "Jack" Bagaimana kau bisa kemari?"
Aku masuk dengan terengah-engah ke dalam ruangan. "Dad?"
Dad memberi isyarat pada Deputi Rawls. "Anda ingat anakku" Jack?"
Mr. Rawls mengangguk sambil tersenyum.
Ia bertubuh besar dan lebar. Rambutnya hitam dan lebat, disisir licin ke
belakang, dan matanya hijau. Ia mengenakan setelan biru pucat. Dasinya
tergantung longgar di kerah kemejanya.
"Dad makhluk-makhluk itu sudah mendarat," kataku.
Dad menoleh pada Mr. Rawls "Jack sangat takut pada makhluk-makhluk itu."
katanya. Senyum Mr. Rawls langsung lenyap. Ia memutar tubuh ke arahku. "Tak perlu
takut, Nak," katanya "Tidak t-t-t sakit kok."
Aku ternganga. Lalu sang deputi menoleh pada ayahku "Peluklah t-t-t anakmu, Frank"
Dad meletakkan satu tangannya ke bahuku dan memutar tubuhku ke arahnya.
"Tidak t-t-t akan lama, Jack," katanya pelan. "Dan kau akan jadi seperti kami."


Goosebumps - Invasi Makhluk Pemeluk Manusia 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

21 "DAD... Dad juga kena?" teriakku.
Dad mengangguk dengan serius. Gelembung-gelembung hijau keluar dari
telinganya. "Peluk dia," perintah sang deputi "Peluk dia, Frank! Sekarang?"
"Keterlaluan!" desahku. Mendadak aku merasa sangat lemah dan lelah.
"Tidak t-t-t akan sakit," Dad membujukku lagi. Ia memelukku.
Ayahku. Ayahku sendiri...
Aku terpaku diam, tak percaya.
Merasa kalah. Dad mempererat pelukannya padaku.
Kepalan tangannya menekan punggungku.
Biarlah, pikirku. Ia toh ayahku. Ayahku sendiri. Habislah sudah.
Aku tak bisa melawannya. Tak bisa melawan semua orang.
Aku cuma anak kecil. Aku tak bisa melawan satu kota makhluk asing.
Aku terpuruk lemas di tubuh ayahku dan memejamkan mata.
Ia memelukku lebih erat. Terdengar suara kuku-kuku tajam mencuat dari jemarinya.
Lalu aku merasakan terpaan dingin yang tajam di tengah punggungku.
Seperti sepuluh pisau es yang ditusukkan bersamaan ke kulitku.
Rasa dingin itu menyebar... menyebar...
22 HABISLAH, pikirku. Makhluk ini akan menginvasi diriku.
Rasa dingin itu menggelitik kulitku.
Tanganku terulur. Tangan kananku menyenggol sesuatu.
Aku membuka mata dan melihat botol air yang terjatuh.
Tangan kananku rupanya menyenggol botol air di meja Mr. Rawls.
Ia dan Dad serentak menjerit kaget ketika air itu terciprat ke komputer dan ke
karpet. Mr. Rawls ternganga ngeri melihat genangan air itu.
Dad melompat mundur. Saat ia melepaskanku, rasa dingin yang tajam itu menghilang dengan segera.
Aku waspada sekarang, jantungku berdebar kencang.
Kenapa mereka melompat begitu melihat air" pikirku.
Aku tidak mau berpikir lagi. Aku sudah bebas. Dan aku masih diriku.
"Tangkap dia!" perintah sang deputi. Perutnya yang besar berguncang ketika ia
bergerak hendak menangkapku.
"Jack... t-t-t, stop!" seru ayahku.
Tapi aku lebih gesit. Aku merunduk dan melesat keluar dan ruangan itu.
"Hei...!" Si resepsionis memanggil ketika aku melewatinya, menuju deretan lift.
Aku menekan tombol lift, tapi lalu melihat ada tangga di belakang ruangan itu.
"Jangan sampai dia lolos, Frank!" Kudengar Mr. Rawls berseru sementara
mereka berdua mengejarku. "Cuma dia yang belum kena oleh kita."
Aku melesat ke tangga dan lari turun dua anak tangga sekaligus.
Di atasku terdengar langkah kaki berdebum-debum.
Aku terus turun. Dua belas lantai, sampai ke jalan. Bisakah aku mendahului
mereka" Atau mereka sudah akan menungguku di bawah sana"
Kalau aku berhasil lolos, ke mana aku mesti pergi" Aku tidak punya rencana.
Yang penting aku mesti lolos dulu dari mereka.
Aku sudah kehabisan napas ketika tiba di lantai satu. Aku hendak lari ke pintu,
tapi... "Stop!" teriak sebuah suara.
Dua orang satpam lari mengejarku.
Pintu lift terbuka. Dad dan Mr. Rawls keluar.
"Jangan biarkan dia lolos!" teriak Mr. Rawls.
Aku menyerbu ke pintu keluar dan terus ke jalan. Aku menoleh ke kiri-kanan.
Ke mana aku mesti lari"
Kedua satpam itu ikut keluar mengejarku. "Berhenti " teriak salah satu dari
mereka. Satpam satunya bicara cepat ke telepon genggamnya, mungkin
memanggil teman-temannya.
Aku melesat ke kerumunan orang.
"Jack, tunggu!" Kudengar ayahku memanggil.
Dua wanita sedang berpelukan di sudut. Aku lari ke arah mereka, hampir
menabrak mereka. "T-t-t... hei" seru salah satunya.
Aku melesat ke jalan tanpa memperhatikan lalu lintas. Mobil-mobil mengerem
mendadak dan membunyikan klakson.
Akhirnya aku berhasil menyeberang, lalu aku menoleh. Kulihat empat satpam
mengejarku, disusul oleh Dad dan Mr. Rawls dan dua polisi bertampang seram.
Aku menjerit dan hendak berlari lagi. Kulihat sebuah bus hendak melaju dari tepi
jalan. "Tunggu" Aku melompat ke pintunya dan menggedor-gedor. "Bukakan...."
Para satpam itu lari menyeberang jalan "Berhenti, Nak!" teriak salah satunya.
Aku menggedor pintu bus. "Bukakan..."
Kedua satpam itu hendak meraihku.
Tapi pintu bus terbuka. Tangan-tangan mencengkeram bahuku.
Aku menyentakkan tubuh dengan keras dan melompat ke tangga paling bawah.
Bus berjalan. Aku melewati sopir, duduk di kursi depan.
"Ongkosnya," kata si sopir "Bayar t-t-t ongkosnya."
Sambil berusaha mengatur napas aku melihat para pengejarku tadi berdiri
memandangiku dengan marah sementara bus melaju pergi.
*** Setengah jam kemudian aku sudah berada di depan rumahku. Tidak ada mobil
di pekarangan. Sebelum masuk, aku mengintip dan jendela. Aku mesti
memastikan bahwa tidak ada yang mengikutiku.
Ternyata tidak ada. Atau belum ada.
Mungkin mereka terjebak kemacetan lalu lintas atau apalah. Tapi aku tahu
sebentar lagi mereka akan datang.
Cuma dia yang belum kena oleh kita! Ucapan Mr. Rawls terngiang-ngiang di
telingaku. Berarti mereka tidak akan berhenti sebelum berhasil menangkapku.
Aku lari ke dalam rumah. Aku tahu, di sini tidak aman. Aku berniat
memberitahu Mom dan Billie, lalu pergi ke rumah Mr. Fleshman secepat
mungkin. "Mom! Mom! Mom di mana?"
"Jack" Aku di kamar Billie!" seru Mom.
"Tetap di sana!" teriakku. "Di atas sana lebih aman. Mom bisa mengunci pintu
kamar Billie?" "Apa, Jack" Apa katamu?" sahut Mom.
"Tetap di atas sana!" teriakku. "Aku akan memanggil Mr. Fleshman. Dia akan
melindungi kita." Aku hendak membuka pintu depan, tapi tersentak ketika melihat beberapa
mobil berhenti di luar. Ada sekitar dua belas mobil. Dan truk-truk pemadam kebakaran. Juga mobil
patroli polisi dengan lampu berkedap-kedip.
Kulihat Dad melompat keluar dari mobil pertama, disusul dua orang polisi
dengan tangan siap di pistol.
Aku membanting pintu. Tak bisa bernapas. Lututku gemetar dan aku mulai merosot.
"Tidak!" teriakku "Aku tidak boleh menyerah!" Kupaksakan diri untuk bergerak.
Aku lari ke bagian belakang rumah dan membuka pintu dapur.
Tiga polisi berseragam muncul dari sudut rumah dan lari di pekarangan
belakang. Aku terperangkap. Aku mesti keluar dari rumah ini. Mesti menemui Mr. Fleshman.
Tapi bagaimana caranya"
Bagaimana" 23 KUDENGAR suara-suara teriakan di luar dan gedoran di pintu.
Aku mengintip dari jendela dan melihat pekarangan belakang penuh dengan
orang. Para tetangga lari keluar dari rumah-rumah mereka.
Para satpam, polisi, petugas pemadam kebakaran, tukang pos, dan beberapa
orang anak semuanya masuk ke pekarangan, membentuk lingkaran sekeliling
rumahku. Sambil mengelilingi rumah mereka mulai menggumam pelan, "Peluk... peluk...
peluk... peluk..." Aku menutupi telinga dengan tangan, tapi suara-suara itu tetap terdengar.
Di mana Mr. Fleshman" pikirku.
Ia pasti melihat orang-orang ini. Kenapa ia tidak bertindak" Apa yang
ditunggunya" Aku berpaling dengan gemetar dan memaksakan diri bergerak ke tangga ruang
bawah tanah. Sambil berpegangan erat-erat di birai tangga aku turun ke ruang
bawah tanah. Aku berhenti di anak tangga paling bawah. Suara gumaman itu merambat
melalui jendela ruang bawah tanah yang kecil. "Peluk... peluk... peluk...."
Aku lari ke bawah tanah dan melihat pistol airku di rak. Aku terpaku
memandanginya, dan teringat Henry dan Derek. Mereka perenang andal di
sekolah, tapi saat diadakan uji-coba mereka tidak mau ikut dan tidak mau
masuk ke kolam renang. Mereka juga tampak ketakutan.
Takut air. Mereka sudah kerasukan makhluk asing itu, dan mendadak mereka jadi takut
air. Sementara itu, ayahku sendiri dan sang deputi juga terlompat kaget ketika aku
menjatuhkan botol air itu.
Apa mereka hanya terkejut"
Atau takut basah" Mungkin air bisa mencelakakan mereka, pikirku. Mungkin air itu bahkan bisa
membunuh mereka. Aku mesti mencoba. Kuambil pistol airku dan aku lari ke wastafel di ruang
cuci. Akan kusemprot semua orang. Mungkin dengan begitu aku bisa pergi ke
rumah Mr. Fleshman. Tanganku gemetar hebat, sehingga hampir tak bisa mengisi pistol air itu.
Air tumpah ke seluruh lantai ruang bawah tanah, tapi akhirnya aku berhasil
mengisi seluruh tangki pistolku dan mencobanya.
"Pasti berhasil," gumamku. "Dengan ini aku bisa pergi ke rumah sebelah."
Aku berjuang naik ke tangga, lalu pergi ke pintu depan. Seluruh tubuhku
gemetar. Pistol air ini makin lama makin terasa berat di tanganku
"Peluk... peluk... peluk..."
Gumaman monoton itu masih saja terdengar Aku mengintip. Orang-orang yang
kerasukan itu masih membentuk lingkaran di sekeliling rumah. Aku melihat
Henry dan Derek berdiri paling depan. Dad ada di dekat mereka, ikut bergumam
seperti yang lainnya. "Ini dia," kataku.
Aku menarik napas panjang.
Mengangkat pistol air yang berat itu ke bahuku.
Lalu membuka pintu dan melangkah ke luar.
Gumaman itu serentak berhenti. Beberapa orang berseru kaget. Yang lainnya
bersorak-sorak. Lalu lingkaran manusia itu mendekat ke arahku dengan cepat.
Sambil maju mereka mengulurkan lengan dan mulai menggumam lagi, "Peluk...
peluk dia... peluk... peluk dia..."
Semakin dekat. Semakin dekat.
Menghampiriku, Mendekatiku.
"Sori!" teriakku "Aku tak punya pilihan."
Kuturunkan pistol itu dari bahuku, lalu aku menarik picunya dan
menyemprotkan isinya ke kumpulan orang itu.
24 HANTAMAN air yang keras itu mengenai dada seorang laki-laki dalam
lingkaran dan ia mundur dengan terkejut.
Terdengar seruan-seruan kaget.
Aku membidik dengan cepat, mencoba menyemprot semua orang yang
menghalangi jalanku. Aku menyemprot dua orang anak. Mereka menurunkan
lengan dan mundur. Semburan air itu mengenai seragam seorang polisi. Ia melotot marah padaku,
tapi tidak mundur. Sekarang aku mendengar mereka tertawa.
"Pistol air," ejek seseorang. "Dia pikir dia bisa menghentikan kita dengan
pistol air konyol itu."
Suara tawa semakin riuh. Orang-orang itu mendekat lagi dengan lengan terulur hendak meraihku.
"Peluk... peluk dia..."
Aku menurunkan pistol airku. Airnya menetes-netes ke sepatuku.
Henry dan Derek tertawa "Kaupikir benda itu t-t-t bisa menghentikan kami?"
seru Derek. "Tapi.. tapi... di sekolah...," aku tergagap-gagap. "Kalian tidak mau
berenang..." Mereka tertawa lagi. "Kami tidak suka air," kata Henry, lalu tertawa. "Tapi air
tidak bisa menyakiti kami."
Ia maju ke arahku. "Waktunya dipeluk, Jack," gumamnya.
"Tidak!" Aku menjatuhkan pistol air itu dan mundur lagi selangkah.
Aku tersentak ketika melihat Mom. Ia sudah keluar dan berdiri di samping Dad.
Mereka berpegangan tangan dan sama-sama menggumam, "Peluk... peluk...
peluk dia," sambil bertepuk tangan seirama dengan gumaman itu.
"Tidaaak!" Aku terpekik ngeri dan mundur terhuyung-huyung, mencari celah di
antara lingkaran manusia itu.
Aku memutar tubuh ke segala arah.
Tidak ada celah. Tidak ada.
Tangan-tangan terulur ke arahku dan kerumunan orang itu semakin mendekat.
Lalu aku melihat Mr. Fleshman.
Akhirnya! Ia berdiri di belakang lingkaran manusia itu, di samping garasi. Seperti biasa,
ia mengenakan pakaian serba hitam. Rambutnya yang keperakan bercahaya oleh
sinar matahari. "Mr. Fleshman!" panggilku di antara suara gumaman itu. "Ada apa ini?"
Ia maju ke arahku dengan tangan di pinggang.
"Anda sudah janji," seruku "Kata Anda makhluk-makhluk asing itu akan pergi
dalam waktu sehari dua hari."
Ia menerobos hngkaran manusia itu dan melangkah ke depanku, matanya yang
keperakan menatapku tajam
"Kami memang akan pergi, jack," katanya. "Kami akan pergi begitu kami berhasil
menanganimu" Aku tersentak. Jantungku serasa melompat.
"Maksud Anda. Anda salah satu dari mereka?" seruku.
"Jack,' sahutnya, "akulah pemimpin mereka."
25 MR. FLESHMAN mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi dan suara
gumaman itu berhenti. Hening.
Mata Mr Fleshman berkilat-kilat. "Aku pemimpin mereka," ia menjelaskan
dengan suaranya yang berupa bisikan serak. "Akulah sumber energi mereka."
"Tapi... tapi..." Aku mencoba bicara dengan lemah. Lalu aku berpaling. Mata yang
aneh dan tajam itu terasa menakutkan sekarang.
"Aku datang lebih dulu," kata Mr. Fleshman, "Untuk memastikan bumi sudah
siap menerima kami. Aku sengaja membuat berbagai efek khusus itu di
rumahku, supaya orang-orang mengira aku punya pekerjaan."
Senyum aneh menghiasi wajahnya yang kecokelatan. "Kau tahu efek khususku
yang paling bagus" Tubuh manusia ini."
"Hah?" Aku tercekat.
Masih sambil tersenyum Mr. Fleshman memegang kedua sisi wajahnya.
Lalu menariknya dengan keras.
Kulit wajahnya mulai bergerak
Ia menarik dengan kedua tangannya, menarik tenggorokannya, lalu dadanya.
Wajahnya, kulitnya, pakaiannya... ia menarik semuanya. Menimbulkan suara
basah yang menjijikkan ketika semuanya terbuka.
Lalu ia melipat kulit itu dan melemparkannya ke tanah.
Aku memandanginya dengan ngeri. Ia tidak seperti makhluk-makhluk asing
lainnya. Ia seperti segumpal otak raksasa. Tubuhnya berdenyut dan bergetar,
warnanya merah muda dan basah.
Bunga api listrik berkeredap di sekitarnya. Ia menimbulkan bunyi gemeretak
ketika bergerak, seolah ia dikelilingi arus listrik.


Goosebumps - Invasi Makhluk Pemeluk Manusia 2 di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sebuah lubang merah terang di dekat puncak tubuhnya yang berdenyut-denyut
itu membuka dan menutup. Rupanya itu mulutnya. "Akulah sumber energi
mereka," kata Mr. Fleshman.
Orang-orang yang kerasukan itu bersorak.
"Lama sekali aku menunggu teman-temanku datang, Jack," katanya. Lubang
mulutnya membuka dan menutup. "Menunggu mereka mengambil tubuh-tubuh
baru. Sekarang kami semua punya tubuh manusia yang bisa berfungsi dengan
baik di planet kami."
"Tidak," erangku. "Maksudmu..."
Makhluk itu berdenyut-denyut gembira. "Ya, sudah waktunya kami pergi,
kembali ke planet kami dengan tubuh baru ini. Aku sudah janji padamu bahwa
kami akan pergi, bukan?"
"Ya, tapi..." "Cuma ada satu masalah," kata Mr. Fleshman sambil mencondongkan tubuhnya
ke arahku. "Kaulah penghalang terakhir, Jack," geramnya "Penghalang terakhir di
kota ini. Kami memerlukan tubuhmu, Jack. Kami tak bisa membiarkanmu
tertinggal." Ia menegakkan diri. Bunga-bunga api beterbangan dari tubuhnya.
"Peluklah aku sekarang," katanya.
"Tidak," kataku "Jangan."
"Kami memerlukan semua orang," kata mulut merah di puncak otak yang
berdenyut-denyut itu. "Tidak!" Aku berpaling pada Mom dan Dad. Mereka masih berpegangan tangan
di tengah yang lainnya. "Tidak akan sakit, Jack," kata Dad. "Cuma t-t-t sebentar"
Daging Mr. Fleshman yang merah muda dan basah mulai memelukku.
Terdengar dengung listrik; kulitku tergelitik ketika tersentuh olehnya.
"Peluk, Jack," kata Mr. Fleshman. "Peluk."
Aku mendesah panjang. Seluruh tubuhku lemas ketika makhluk itu memelukku.
Aku tak bisa melawan. Aku tak bisa menentang mereka semua. Tak ada gunanya.
Bahkan orangtuaku pun sudah kena oleh mereka.
"Oke," bisikku "Oke."
26 "OKE" Aku menyerah. Kubiarkan tubuhku melemas.
Mr. Fleshman memelukku. Rasanya hangat dan lengket. Bunga api kuning
cerah beterbangan di sekitarnya. Ia berbau asap, seperti terbakar. Seolah-olah
arus listrik itu membakar dagingnya yang merah muda dan lembek.
Habislah aku, pikirku. Habislah.
Daging yang berat itu semakin merapat ke tubuhku. Menyesakkan napasku.
Suatu arus listrik yang kuat membuatku bergetar.
Dan tersadar. Mendadak aku punya gagasan. Gagasan sinting dan nekat.
Aku mengangkat kedua tanganku dan mencengkeram daging makhluk itu.
Kutegangkan semua ototku dengan keras, sampai terasa sakit.
Aku mengertakkan gigi dan mengetatkan rahang, mengencangkan kaki dan
tanganku. Lalu aku menyerbu masuk ke punggung makhluk itu.
Aku masuk ke dalam tubuh Mr. Fleshman. Ke dalam kegelapan dan hawa panas
yang berdenyut-denyut itu. Ke dalam arus listrik yang kuat dan mantap itu.
Dalam. Dalam. Dalam. Kudengar ia menjerit kaget.
Di dalam tubuhnya yang gelap dan basah kurasakan ia meronta-ronta dan
meliuk-liuk. Aku membalikkan segalanya. Ia berusaha merasukiku, tapi aku lebih dulu
merasukinya. Aku lebih dulu menyerbu ke dalam energinya, pikirannya.
Dan dalam kudengar geraman protes muncul dari perutnya yang besar dan
keluar dari mulutnya yang menganga.
Lalu kurasakan tubuhnya gemetar keras dan jatuh tersungkur.
Aku ikut tersungkur ke tanah.
Kurasakan seluruh otot makhluk itu melemas dan tubuh raksasanya jatuh.
Jatuh dengan wajah lebih dulu. Dan aku ikut jatuh bersamanya.
Terus dan terus. Begitu jauh dan berat.
Berdebuk keras. Melambung dua kali.
Lalu tidak bergerak lagi.
Kupaksakan diriku bangkit berdiri.
Dengan mengerahkan semua otot dan tenagaku aku bangkit berdiri... dan keluar.
Keluar dan tubuh yang berat dan panas itu. Aku mencengkeram tepi rumah,
terengah-engah - menarik napas. Seluruh tubuhku berkeringat dan aku
membalikkan badan. Kulihat Mr. Fleshman tergeletak mati di kakiku.
Aku telah merasukinya... dan ia mati.
Masih gemetar dan terengah-engah aku mengangkat kepala ke arah lingkaran
orang-orang itu. Mereka menghampiriku. Berbaris dengan langkah berat dan mata kosong. Terus dan terus maju ke
arahku... 27 "OHHH!" Aku mundur ke tembok rumah dengan ngeri.
Orang-orang yang kerasukan itu terus maju ke arahku. Kulihat Marsha dan
Maddy dengan mata kosong dan mulut menganga serta lengan terulur mendekat
padaku. Mom dan Dad... Henry dan Derek... para petugas polisi... para tetangga... semua
maju. Lalu mendadak mereka berhenti dan jatuh berlutut. Semuanya. Serentak.
Makhluk-makhluk hijau di dalam tubuh mereka keluar, jatuh tergeletak di
rumput. Tidak bergerak. "Sumber energinya," gumamku sambil memandangi mereka dengan
takjub."Mr. Fleshman, sumber energi mereka, sudah mati."
Satu demi satu orang-orang itu berdiri. Mereka merentangkan lengan, menarik
napas panjang, dan menjauhi makhluk-makhluk yang sudah mati itu. Mereka
mulai tersenyum. Dan tertawa.
Lalu sepertinya mereka baru melihatku.
"Kau menyelamatkan kami!" seru seorang wanita.
"Kau mengalahkan mereka, Jack!"
"Hebat!" "Kau menyelamatkan kami semua!"
"Jack, kau pahlawan" kata Maddy.
Pekarangan belakang itu dipenuhi sorakan dan seruan senang.
Mom dan Dad memelukku. Kali ini aku tidak keberatan dipeluk.
Orang-orang mulai menyanyi dan menari. Semuanya senang telah bebas dan
selamat. Sejenak kupandangi mereka dengan bahagia. Lalu aku baru teringat.
"Billie!" Adikku. Di mana dia"
Baru kusadari bahwa selama ini Billie masih berada di kamarnya.
Apa dia baik-baik saja"
Aku lari ke dalam rumah. "Billie! Billie!" panggilku sambil naik ke kamarnya.
"Billie!" "Aku masih di sini." Ia mengangkat kepala dari bantalnya dan bertopang pada
sikunya saat aku masuk ke kamarnya
"Kau baik-baik saja?" tanyaku.
"Aku melihatmu," katanya, masih berbisik karena bekas operasi amandel itu
"Aku melihatmu dari jendela, Jack. Kau hebat."
"Trims," kataku. Kupandangi dia. Billie belum pernah bersikap semanis ini
padaku "Apa kau tidak apa-apa" Aku khawatir..."
"Kau mengalahkan makhluk-makhluk hijau itu," bisik Billie. Ia berusaha
duduk. "Tapi bagaimana dengan makhluk yang biru?"
"Hah?" Aku menyipitkan mata.
"Kan sudah kubilang aku juga menemukan makhluk angkasa luar," kata Billie.
"Punyaku biru, dan dia lebih besar daripada makhluk hijaumu."
"Billie." bentakku "Kita tidak usah bersaing terus, oke" Tidak usah cerita-yang
bukan-bukan lagi." Terdengar bunyi gemuruh, lalu pintu lemari Billie meledak terbuka.
Sesosok monster biru raksasa melangkah keluar.
"Lihat, kan?" kata Billie "Dia ingin dipeluk, Jack. Peluk dong!"
END Ebook by: Farid ZE Blog Pecinta Buku - PP Assalam Cepu
Tusuk Kondai Pusaka 6 Amarah Pedang Bunga Iblis Karya Gu Long Pedang Golok Yang Menggetarkan 13
^