Pencarian

Pengkhianatan Dilembah Neraka 2

Detektif Stop - Pengkhianatan Di Lembah Neraka Bagian 2


Petra bercerita panjang lebar mengenai mereka. Sepuluh menit kemudian, Emma
menyimpulkan, "Jadi, Thomas semakin pintar, Oskar semakin gendut, dan Sporty
sibuk memecahkan rekor-rekor olahraga. Apakah dia sekarang sudah resmi menjadi
pacarmu, atau masih malu-malu seperti dulu?"
Petra langsung tersipu-sipu. "Dari dulu Sporty memang sudah pacar saya. Dia
hanya agak menahan diri karena saya begitu berarti baginya. Sporty benar-benar
berwatak ksatria. Tapi sekarang... ehm... kami sudah benar-benar berpacaran."
"Mudah-mudahan saja saya masih sempat mengalami pernikahan kalian. Awas kalau
kau tidak mengundang saya. Saya ingin sekali berkenalan dengan dia. Karena itu"
Emma menambahkan sambil mengedipkan mata, "saya sudah punya rencana untuk
kalian. Saya pernah mendengar bahwa kalian merupakan empat detektif yang
tangguh. Nah, sekarang saya memerlukan jasa kalian. Besok kan Sabtu. Kalian
pasti punya waktu. Bagaimana kalau saya mengundang kalian semua" Setuju?"
"Teman-teman saya pasti datang kalau mereka punya waktu. Apa yang bisa kami
bantu?" . "Saya ingin agar kalian mencari tempat bedak saya. Dengan imbalan, tentu saja
Ada seseorang yang saya curigai."
"Siapa itu?" tanya Petra sambil menghirup tehnya.
"Sulit sekali untuk membuktikannya," ujar Emma, "tapi saya curiga pada... ehm...
sahabat saya. Kami tinggal serumah. Dia di lantai atas, aku di lantai satu.
Barangkali saja kau besok mengenali Agatha Teler sebagai wanita yang bertabrakan
denganmu. Tapi kalaupun..."
"Tepler?" Petra berseru terkejut. "Namanya Tepler?"
Emma mengangguk. "Tadi siang saya bertemu dengan seorang pelukis bernama Nicole Tepler," Petra
menjelaskan. "Oh, ya, saya juga mengenalnya. Nicole adalah putri kemenakan Agatha. Tepatnya
ibu Nicole, Magda Tepler, adalah keponakan Agatha. Orangnya agak... ehm...
kurang bisa dipercaya. Untung saja Agatha tidak seperti itu. Dia hanya agak
kekanak-kanakan. Karena itu dia tidak pernah sadar bahwa Nicole dan ibunya
berada di jalan yang salah. Saya sedang bermusuhan dengan Agatha. Dia selalu
menghindari pertengkaran secara terbuka Gara-gara tekanan darahnya. Tapi saya
takkan heran kalau dia mau membalas dendam dengan mengambil tempat bedak saya.
Ah, kita lihat saja nanti. Setelah pulang saya akan bicara dengan dia. Dan besok
giliran kalian. Jangan katakan apa-apa seandainya kau mengenali Agatha. Kalau
memang dia yang mengambil tempat bedak saya, maka saya sudah punya bayangan di
mana dia menyembunyikannya. Kau mau tambah teh lagi?"
Petra menolak dengan sopan. Ia harus pulang, sebab ibunya sudah menunggu - apalagi
Bello, anjing spanilnya yang setia.
8. Pertengkaran Dua Nenek
Emma Gisen-Happlich memang berbeda dari wanita-wanita seusianya. Untuk
berkeliling-keliling di dalam kota saja, Emma paling suka menggunakan mobil
sportnya yang buatan Inggris. Padahal mobil itu mempunyai suspensi yang sangat
keras. Jika melewati jalan yang berlubang-lubang, Emma harus berhati-hati agar
lidahnya jangan sampai menyusup di antara giginya.
Meskipun demikian, Emma suka memacu kendaraannya dengan kencang. Enam perempatan
ia lewati dengan kecepatan tinggi, padahal lampu lalu lintas sudah menunjuk
kuning. Ketika hampir sampai di rumah, ia harus mengerem habis karena seekor
kucing tiba-tiba menyeberang jalan. Dengan kecepatan tinggi ia lalu membelok ke
garasinya. Lima senti sebelum menabrak dinding, mobil berhenti.
Emma meraih tasnya, kemudian berjalan menyeberangi pekarangan.
Rumah berlantai dua itu nampak megah. Lampu di lantai dua menyala terang. Itulah
tempat tinggal Agatha Tepler dan Emma Gisen - Happlich.
Emma menekan bel, dan Agatha membuka pintu.
"Kau boleh mengundangku makan malam," ujar Emma. Tanpa menunggu jawaban ia
menuju ke dapur Agatha dan duduk di meja makan. "Ada berita yang luar biasa.
Umat manusia ternyata semakin busuk saja. Ngomong-ngomong, kau masak bubur
bayam, ya?" "Ya, tapi sudah tadi siang," jawab Agatha. "Aku malas memanaskannya lagi. Dingin
juga enak, kok. Mudah-mudahan saja cukup untuk kita berdua."
"Ah, kau kan tidak pernah makan banyak," Emma berkomentar.
Waktu masih muda, Agatha Tepler pasti cantik sekali. Tapi kini ia sudah tua, dan
kulitnya telah berkerut-kerut. Ia selalu mengenakan perhiasan. Sikap anggun yang
selalu ditampilkannya memang merupakan bawaan sejak lahir. Keanggunan itu tidak
pernah hilang, walaupun pada saat ia terpeleset dan jatuh.
Dengan patuh Agatha bersantap malam bersama Emma. Ia juga mengeluarkan sebotol
sherry (sejenis minuman beralkohol yang bisa merangsang selera makan. Emma makan
dan bicara pada saat bersamaan. Agatha mendengarkannya sambil terheran-heran.
"Itulah yang kualami tadi," Emma menutup ceritanya. Dengan tenang ia menuangkan
sherry ke dalam gelasnya. "Dan sekarang akan kujelaskan rencana di balik
semuanya ini." "Rencana apa?" tanya Agatha sambil mengedip-ngedipkan mata.
"Sewaktu aku memegang kunci-kunci di tasku, aku merasakan lapisan lilin. Seperti
lapisan pada kulit jenis apel tertentu. Padahal kunci-kunciku tidak pernah
terkena lilin. Kau mengerti apa maksudku?"
"Tidak!" "Astaga!" Emma berseru sambil menggeleng-geleng. "Kau kan selalu nonton film
detektif di TV! Masa kau tidak tahu bahwa kau bisa membuat cetakan dengan
menekankan sebuah kunci ke dalam sepotong lilin" Dengan cara itu kau bisa
membuat kunci palsu. Tentu saja aku langsung menghubungi polisi. Tapi mereka
ternyata sama sekali tidak membantu. Barangkali mereka menyangka bahwa otakku
sudah agak miring. Salah satu polisi malah berkata bahwa lapisan lilin pada
kunci rumahku mungkin berasal dari keringat di tanganku. Padahal telapak
tanganku selalu kering. Karena mereka bersikap seperti itu, aku tidak
menceritakan bahwa aku mencurigai seseorang. Tapi aku yakin bahwa kau pasti bisa
membereskan urusan ini, Agatha. Anak-anak muda harus diberi kesempatan untuk
memperbaiki diri. Meskipun tindakan mereka kadang-kadang sudah kelewatan."
"Aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu," ujar Agatha. "Apa yang harus
kubereskan?" "Apa lagi kalau bukan Nicole! Kau tidak tahu dari mana ia dan ibunya membiayai
hidup mereka, bukan" Dan aku malah mengundang Nicole ke sini. Apa kau tidak
memperhatikan bagaimana dia mengagumi barang-barang antikku" Dia bahkan sempat
menaksir berapa banyak uang yang bisa diperoleh jika barang-barang itu dijual ke
toko barang antik, dan.,."
"Oh, sekarang aku mengerti!" Agatha berseru dengan suara melengking. "Kau
menyangka bahwa Nicole hendak mencuri barang-barang antikmu.?"
"Kau jangan marah dulu. Nicole memang cerdik sekali. Dia sengaja hanya mengambil
tempat bedak dan sama sekali tidak menyentuh uangku, agar aku jadi bingung dan
tidak memperhatikan lapisan lilin pada kunci rumah. Karena itu..."
"Bagaimana aku tidak marah"!" Agatha kembali berseru. "Tuduhanmu sama sekali
tidak beralasan. Nicole bukan pencuri. Keluargaku semua orang baik-baik. Mana
mungkin..." Kita lihat kenyataannya saja," ujar Emma sambil mereguk minumannya.
"Oh, begitu?" Agatha membalas. "Bukankah kau sendiri juga punya keponakan yang
selalu kekurangan uang?"
"Jangan bawa-bawa Heinz dalam persoa1an ini. Sekarang ini dia sedang berada di
Tokyo. Lagi pula dia bukan penjahat. Dan kecuali itu, dia tidak bakalan masuk ke
WC wanita di sebuah toko swalayan."
"Memang, tapi bagaimana dengan pacar-pacarnya" Apakah kau sempat melihat Nicole
di WC wanita tadi?" "Memang tidak. Tapi kau tahu sendiri kan bagaimana tipe orang seperti dia.
Tinggal memakai rambut palsu, menggunakan make-up yang berbeda, lalu... Wah,
sekarang aku baru ingat. Memang ada seorang wanita. Tapi tiba-tiba saja dia
menghilang. Kalau dipikir-pikir - mungkin itu dia."
Agatha Tepler berdiri. Jari-jarinya merapikan rok yang terlipat-lipat. Dengan
nada tinggi ia berkata, "Aku menolak untuk melanjutkan pembicaraan ini. Kau
tidak punya alasan sama sekali untuk mencurigai Nicola. Kau harus minta maaf.
Kalau tidak, aku tidak mau melihatmu lagi!"
"Kita lihat saja siapa yang benar." Emma tersenyum sinis, lalu meninggalkan
Agatha di dapur. Ia turun ke lantai dasar, membuka pintu apartemennya, lalu menuju ke ruang
duduk. Ruangan ini penuh barang antik.
Aku yakin, pasti Agatha yang mengambil tempat bedakku, pikir Emma. Tapi percuma
aku menggeledah apartemennya. Tempat bedak itu pasti sudah berpindah tangan,
yaitu ke tangan Nicole. Hmm, siapa yang bisa memastikannya" Mudah-mudahan saja
Petra dan teman-temannya bisa membantu kala mereka datang besok.
*** "Hari Sabtu merupakan hari yang paling menyenangkan dalam seminggu," ujar Oskar.
"Bahkan lebih menyenangkan ketimbang hari Minggu. Sebab pada Minggu malam kita
dihantui oleh bayangan mengenai Senin pagi. Sedangkan hari Senin adalah hari
yang paling buruk, soalnya kita terpaksa bangun pagi dan pergi ke sekolah. Tanpa
Senin pagi, hari Minggu sebenarnya lebih menyenangkan daripada hari Sabtu. Sebab
sudah sempat beristirahat. Lagi pula makanan pada hari Minggu lebih lezat."
"Kenapa?" tanya Sporty. "Apakah kau makan coklat merk lain pada hari Minggu?"
"Bukan itu yang kumaksud! Kau kan tahu bahwa juru masak di asrama selalu
menyajikan puding coklat pada hari Minggu."
"Menurut aku, semua hari sama-sama menyenangkan," kata Sporty. "Asal saja ada
yang bisa dikerjakan. Kalau kebetulan tidak ada, maka kita harus mencari
kegiatan. Mudah sekali, bukan" Tapi aku merasa bahwa kau pada hari Sabtu lebih
loyo dari biasanya. Ayo, semangat dikit, dong!"
Ucapan Sporty agak tidak adil, Sebab Oskar sudah menggenjot sepedanya dengan
sekuat tenaga. Perjalanan dari asrama menuju ke kota ditempuhnya sambil
bercucuran keringat. Udara pada siang hari di awal musim gugur ini memang cukup panas. Kabut tipis
menggantung di atas ladang-ladang. Daun-daun di pepohonan sudah mulai berubah
warna. Suasana di kota hiruk-pikuk oleh orang-orang yang ingin berbelanja.
Dengan mengambil jalan pintas kedua sahabat itu tiba di rumah Petra. Di depan
toko bahan makanan milik Bu Glockner terdapat tumpukan peti-peti berisi sayur-
sayuran dan buah-buahan segar. Petra baru saja keluar dari toko, mengisi kantong
plastik dengan buah anggur, lalu hendak masuk lagi.
Sporty bersuit keras. Suaranya nyaring sekali. Burung-burung merpati yang
bertengger di atap rumah-rumah langsung beterbangan. Seorang wanita tua, yang
sedang menyiram tanaman di balkonnya, nyaris mengalami serangan jantung.
Beberapa pejalan kaki menatap ke langit untuk mencari pesawat tempur yang
menurut mereka menimbulkan suara itu. Petra melihat kedua sahabatnya dan
melambaikan tangan. "Petra sedang membantu ibunya. Rajin sekali," ujar Oskar sambil tersengal-sengal
Baru sekarang ia menyesal karena setelah menghabiskan dua liter susu coklat
untuk sarapan pagi. Sporty berhenti di samping Petra, lalu mencium pipi gadis itu.
"Selamat pagi, Petra!"
Petra mencubit hidung Sporty, sementara Oskar segera meraih ke dalam kantong
plastik untuk mengambil buah anggur.
"Hei, ini untuk langganan ibuku!" kata Petra.
"Oh! Tapi tidak apa-apa. Dalam keadaan seperti ini buah anggur memang tidak
begitu enak. Kelezatannya baru terasa kalau sudah dicampur dengan coklat."
"Dia lagi gila coklat," Sporty menjelaskan "Thomas sudah datang?"
Anggota keempat dalam kelompok STOP itu ternyata belum menampakkan batang
hidungnya. Yang muncul di ambang pintu malah Bu Glockner. Istri Komisaris
Glockner itu mirip sekali dengan putri tunggalnya. Ia mengantarkan seorang
langganan, dan memberikan kantong plastik berisi buah anggur tadi sebagai
hadiah. Buah anggurnya memang sudah matang sekali. Kalau dibiarkan sehari lagi
pasti sudah mulai membusuk. Bu Glockner sering memberikan hadiah kecil seperti
itu untuk menghadapi persaingan dengan toko-toko besar.
"Selamat berakhir pekan, Bu Muller," ibu Petra berkata. Kemudian ia berpaling
pada Sporty. "Nah, apakah saya juga akan memperoleh perlakuan khusus seperti
Petra?" Sambil ketawa ia menggandeng tangan Sporty dan Oskar.
Petra pun merangkul ibunya.
"Seandainya Ibu memang sibuk sekali," gadis itu mulai merayu, "maka kami
berempat bersedia membantu. Oskar bisa menangani bagian sayur-mayur dan buah-
buahan, Sporty bagian makanan kecil, dan aku bagian makanan kalengan. Sedangkan
Thomas cocok untuk menjaga kassa. Tapi ini tidak terlalu ramai, bukan" Lagi pula
kami perlu istirahat setelah belajar selama seminggu penuh."
"Dan kecuali itu kalian juga diundang oleh Bu Gisen-Happlich," Margot Glockner
mengingatkan. "Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama. Bu Gisen-Happlich pasti
sudah bangun sejak jam setengah lima pagi."
"Apakah dia menderita penyakit susah tidur?" tanya Oskar.
"Bukan," jawab Petra, "dia memang tidak tidur lama-lama. Emma selalu mengerjakan
segala sesuatu dengan semangat. Kemarin dia melabrak manajer toko swalayan.
Orang yang malang itu hampir bersembunyi di bawah mejanya."
"Siapa yang dilabraknya?" tanya Sporty. Ia memang belum mendengar ceritanya
secara lengkap. Semalam Petra hanya menelepon untuk menyampaikan undangan Emma.
Bu Glockner kembali ke tokonya. Petra bercerita. Ia baru mulai ketika Thomas
tiba. Karenanya anak itu pun mendengar bahwa Emma kehilangan tempat bedak yang
terbuat dari emas, dan bahwa ia mencurigai Agatha Teler-bibi ibu Nicole.
"Kadang-kadang dunia lebih sempit dari yang kita duga," Sporty menanggapi cerita
Petra sambil geleng-geleng. "Siapa yang menyangka bahwa kita bakal berurusan
lagi dengan Nicole Tepler?"
"Kalau begitu kita berangkat saja," kata Petra sambil menghadap ke samping agar
bisa memperhatikan penampilannya di kaca toko.
Hari ini ia mengenakan kaus warna biru muda - warna kesayangannya. Sepatu ketsnya
yang putih nampak serasi sekali dengan celana jeans yang ia pakai.
Sporty menatap gadis itu sambil tersenyum.
Aku tidak mungkin bosan melihat pemandangan seperti ini, katanya dalam hati.
Bahkan seratus tahun lagi sekalipun. Tapi waktu itu aku pasti sudah harus pakai
kacamata. "Bagaimana kalau kita ajak Bello?" ia mengusulkan. "Bello pasti senang berjalan-
jalan dalam cuaca seperti ini."
Anjing kesayangan Petra itu masih ada di atas Sebenarnya Bello sudah dibawa
berjalan-jalan tadi pagi. Namun ia takkan menolak kalau diajak pergi lagi.
Bello sangat menyukai ketiga sahabat Petra, terutama Sporty. Acara penyambutan
seperti biasa berlangsung selama beberapa menit. Bello melompat-lompat seperti
bola karet, sampai akhirnya diikat oleh Petra. Setelah itu ia menurut dan
berlari kecil di samping sepeda Petra. Beriring-iringan rombongan anak-anak STOP
menuju rumah Emuna Gisen-Happlich.
"Emma punya mobil sport buatan Inggris," Petra bercerita. "Dia selalu
mengendarai mobil itu dengan kap terbuka. Tapi kalau sedang hujan, dia terpaksa
menggunakan mobil lain."
"`Kedengarannya dia masih cukup gesit," Oskar berkomentar.
"Yang pasti, dia lebih gesit ketimbang salah satu sahabatku," balas Petra.
Oskar hanya senyum-senyum saja.
Pintu garasi di samping rumah terbuka lebar. Garasi itu bisa menampung dua
mobil. Di samping sebuah mobil sport masih ada sebuah sedan mewah. Apakah mobil
kedua itu juga milik Emma" Kalau ya, maka Agatha Tepler pasti selalu memakai
taksi kalau bepergian. Keempat sahabat itu menaruh sepeda masing-masing di pekarangan, kemudian menuju
pintu rumah. Sebelum Petra sempat menekan bel, pintunya sudah membuka.
Halo, kepala suku! pikir Sporty ketika berhadapan dengan Emma. Petra benar, ia
lalu berkata dalam hati, tampangnya memang seperti prajurit Indian. Dia pasti
masih rajin berolahraga dan sering berada di alam bebas.
Emma mengenakan pakaian serupa dengan Petra, tetapi warnanya serba kuning.
Selain itu ia juga memakai ikat kepala.
"Kalian datang tepat pada waktunya," wanita itu berkata dengan gembira. "Halo
Petra! Oh, kau membawa Bello. Dia lucu sekali. Apakah dia suka menggigit" Dan
kau pasti Oskar, bukan" Selamat siang, Thomas! Eh, bukan, ini pasti Sporty."
Emma memperhatikan Sporty dengan saksama. Ia memang tidak memerintahkan Sporty
agar berdiri dalam posisi siaga, tetapi sebelah tangannya memegang lengan anak
itu. Sambil nyengir Sporty mengencangkan ototnya. Emma sampai terheran-heran.
"Penampilanmu cukup memadai untuk jadi pacar seorang gadis seperti Petra," Emma
menyimpulkan kemudian. "Tapi penilaian mengenai watakmu saya serahkan pada Petra
saja. Bagaimanapun juga dia yang memilihmu sebagai pendampingnya, bukan saya."
Untung saja, pikir Sporty, lalu berkata, "Mudah-mudahan saja segala kelemahan
pada watak saya sudah hilang sebelum saya dewasa nanti. Tapi selain suka
mendendam, mengiri, dan gemar berbohong, saya hampir tak memiliki kekurangan.
Dan kalau Anda sudah sempat menguji otot kaki saya, maka Anda pasti tidak akan
ragu-ragu lagi." Emma langsung tertawa berderai-derai.
"Bagus, Sporty!" ia memuji. "Saya tahu bahwa sikap saya sering menjengkelkan.
Tapi saya tidak peduli. Dan rupanya kau juga tidak ambil pusing."


Detektif Stop - Pengkhianatan Di Lembah Neraka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Kalau begitu Anda punya pandangan hidup yang sama dengan saya," Oskar
berkomentar. "Saya juga tidak begitu peduli bagaimana pandangan orang-orang
terhadap saya. Selama masih ada coklat, tak ada yang bisa mengganggu ketenangan
saya." "Berarti tidak sia-sia saya menyiapkan susu coklat untuk kalian," kata Emma.
"Saya membuat dua liter untuk sarapan kedua. Ayo, masuk dulu, deh."
Oskar yang pertama tiba di meja makan. Dan ia juga yang paling lahap. Yang
lainnya hanya menikmati susu coklat. Bello berbaring di kaki Petra, dan langsung
tertidur. Emma bertanya pada Petra, apakah ketiga sahabat gadis itu telah diberitahu
mengenai hilangnya tempat bedaknya. Petra mengangguk.
"Agatha yang mengambil tempat bedak saya," kata Emma. "Saya yakin sekali bahwa
dugaan saya tidak keliru. Dia memang sahabat saya. Tapi itu tidak berarti bahwa
kami tidak pernah cekcok. Tempat bedak itu sebenarnya merupakan hadiah dari dia.
Karena itulah saya membawanya ke mana-mana sekadar untuk tidak melukai perasaan
Agatha. Tapi saya sudah sering mempertimbangkan untuk menyingkirkan barang itu."
"Kenapa?" Oskar ingin tahu.
"Tempat bedak itu memang cukup mahal karena terbuat dari emas. Tapi saya kurang
suka bentuknya yang mirip kerang. Tutupnya juga agak macet sehingga sukar
dibuka. Belum lama ini, waktu bermain bridge bersama beberapa teman, saya sempat
berkomentar bahwa saya sudah muak dengan tempat bedak itu. Rupanya salah seorang
dan mereka menceritakannya pada Agatha. Ucapan seperti itu pasti langsung
tersebar ke mana-mana. Akibatnya, Agatha tersinggung. Kami bertengkar, dan kemudian berbaikan lagi. Tapi saya rasa Agatha
masih jengkel. Saya menduga bahwa dia mengambil tempat bedak saya dalam rangka
membalas dendam. Agatha sering belanja di toko swalayan itu. Karena itu mungkin
saja dia yang melakukannya."
"Tapi kalau begitu Andar pasti melihat sahabat Anda," kata Sporty. "Ataukah Anda
sempat meninggalkan tas Anda untuk waktu yang agak lama?"
"Terus terang, ya! Pada waktu itu saya sama sekali lupa bahwa saya bawa tas.
Tapi itu bukan pertanda bahwa saya sudah mulai pikun. Dari dulu saya memang agak
pelupa dalam hal-hal seperti ini."
"Hmm, kalau begitu memang ada kemungkinan bahwa Bu Tepler mengenali tas Anda,
lalu mengambilnya," Sporty menyimpulkan. Emma mengangguk. "Semalam saya sempat
bicara dengan dia. Saya sengaja menuduh kerabatnya yang bernama Nicole. Petra
mengenalnya dan..." "Kami semua mengenalnya," ujar Thomas.
"Malah kebetulan. Saya pura-pura yakin bahwa..." Emma lalu menceritakan
pembicaraannya dengan Agatha semalam. Kemudian ia melanjutkan, "Mengenai lapisan
lilin pada kunci rumah saya, itu hanya isapan jempol saja. Saya sama sekali
tidak mengkhawatirkan pencurian di rumah saya. Cerita itu sekadar gertakan
saja." "Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Sporty.
"Saya perlu bantuan untuk membuktikan bahwa itu perbuatan Agatha. Kalian
bersedia?" "Apakah Anda sudah punya rencana tertentu?" tanya Petra.
"Saya sudah cukup lama mengenal Agatha. Dia bukan tipe orang yang bisa menyimpan
barang curian di rumah. Tempat bedak itu pasti langsung diserahkannya pada orang
lain. Dan saya yakin bahwa orang itu adalah Nicole. Entah kenapa Agatha begitu
sayang padanya. Saya berharap agar kalian mau mengawasi Nicole lalu menemukan
tempat bedak saya di rumahnya. Dengan demikian urusannya sudah beres."
"Betul, dengan demikian urusannya sudah selesai," kata Sporty. "Tapi kenapa Anda
begitu ngotot untuk membuktikan kesalahan sahabat Anda" Bukankah Anda tidak
menyukai tempat bedak itu" Anda telah mengenal watak sahabat Anda. Untuk apa
Anda membesar-besarkan persoalan ini?"
Emma menatap Sporty beberapa saat, kemudian ia tersenyum.
"Pertanyaan itu sama sekali belum terpikir oleh saya. Dilihat sepintas lalu, kau
memang benar. Kenapa persoalan ini tidak dilupakan saja" Tunggu sebentar, saya
harus berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaanmu."
Sporty mengambil sepotong roti sosis dan menunggu.
"Begini," ujar Emma kemudian, "saya tidak rela kalau orang mencuri barang saya
tanpa mendapat ganjaran yang setimpal. Apalagi kalau orang itu Agatha. Saya
tidak suka kalau saya diperlakukan seenaknya."
Anak-anak STOP pun manggut-manggut.
"Jadi kami harus mengawasi Nicole Tepler," kata Thomas. "Sebenarnya jauh lebih
mudah kalau Anda menghubungi polisi dan..."
"Wah, jangan!" Emma segera memotong. "Saya keberatan kalau sahabat saya harus
berurusan dengan polisi. Ini adalah urusan pribadi yang tidak perlu diketahui
orang lain. Jika kecurigaan saya ternyata terbukti, maka kalian tidak boleh
menceritakannya pada siapa pun juga. Mengingat pengalaman kalian sebagai
detektif, saya percaya bahwa kalian takkan mengalami kesulitan untuk mengawasi
Nicole Tepler." "Jangan khawatir," kata Sporty. "Itu soal mudah. Saya bahkan sudah punya
rencana. Nona Tepler takkan menyadari apa-apa."
"Baiklah, kalau begitu saya akan mengontrak kalian," ujar Emma sambil mengetok
meja. "Berapa yang harus saya bayar untuk jasa kalian?"
"Uang, maksud Anda?" tanya Thomas. "Maaf saja, kami tidak pernah minta imbalan
uang. Kalau Anda mau menunjukkan rasa terima kasih - kalau kami berhasil - maka Anda
sebaiknya menggunakan cara lain."
"Boleh saja," kata Emma. "Apakah kalian punya usul?"
"Kami akan senang sekali jika Anda memberikan sumbangan pada pihak-pihak, yang
membutuhkannya. Misalnya panti asuhan, atau Yayasan Perlindungan Binatang."
"Oke, saya setuju!" Emma berseru. "Tapi supaya kalian jangan pulang dengan
tangan kosong, maka saya akan mengundang kalian besok malam. Jangan takut! Bukan
di sini. Di rumah anak saya, Direktur Gunter Gisen-Happlich. Dia akan mengadakan
pesta kebun. Di antara tamu-tamunya selalu ada orang-orang yang menarik. Sayalah
yang paling tua di antara semuanya, dan kalian pasti yang termuda."
9. Siasat Nomor 17 KEEMPAT sahabat STOP berhenti di perempatan Jalan Hornis dan Jalan Bromberg.
Bello segera menghampiri sebatang pohon. Setelah mendengus-dengus sejenak, ia
mengangkat kaki belakang dan meninggalkan tanda pada pohon itu.
Oskar menggerutu panjang lebar. Sebenarnya ia belum puas menikmati sarapan di
rumah Emma. Tapi Petra, Sporty, dan Thomas, sudah tak sabar. Mereka ingin segera bertindak,
bukannya menikmati roti sosis serta susu coklat.
Petra menyandarkan sepedanya pada sebuah bangku taman, lalu meniup rambut yang
menutupi keningnya. "Tadi kau bilang bahwa kau sudah punya rencana," ia berkata pada Sporty.
"Bagaimana kau akan menghadapi Nicole Tepler?"
Sporty meletakkan sebelah kaki pada sandaran bangku taman. Kemudian ia
membungkuk sampai kepalanya menyentuh lutut.
"Ya," katanya dengan tenang.
"Ya bagaimana?"
"Aku sudah punya rencana untuk mangelabui dia."
"Yaitu?" , Sporty berganti kaki. "Aku sengaja tidak, menjelaskan rencanaku di hadapan Emma,
Semakin misterius sikap kita, semakin besar pula sumbangan yang akan
diberikannya. Oh, ya, usulmu tadi benar-benar bagus, Thomas." .
Thomas tersenyum. "Kita akan mendatangi apartemen Nicole," Sporty kembali pada pokok pembicaraan
semula. "Kita harus cari alasan yang masuk akal, supaya dia jangan curiga. Dan
untuk itu, Oskar-lah yang paling tepat."
"Aku?" tanya Oskar. "Kenapa justru aku?"
"Soalnya kau punya keinginan yang masuk akal," Sporty menjelaskan. "Kau ingin
belajar melukis di bawah bimbingan Nicole. Jelas" Kau merasa punya bakat
terselubung, Hubi tidak perlu tahu soal ini. Biar saja dia terheran-heran, kalau
kau tiba-tiba bisa melukis."
Petra telah duduk di bangku taman. Mendengar penjelasan Sporty, ia mendadak
ketawa terbahak-bahak. Thomas ketawa sampai kacamatanya nyaris jatuh.
Oskar nampak tersinggung. Dengan kesal ia menatap kedua sahabatnya.
"Ada apa ketawa-ketawa, heh" Aku tahu, aku memang tidak bisa menggambar. Justru
karena itulah aku butuh bimbingan. Lukisan-lukisanku bakal jadi rebutan para
kolektor. Dan para pemalsu lukisan harus belajar lagi, agar bisa meniru lukisan
dengan gaya Oskar Sauerlich."
Petra nyaris terjatuh dari bangku taman. Tapi ia berpegangan sambil ketawa
cekikikan. Sporty berusaha keras untuk tetap serius.
"Aduh, Oskar," katanya, "kau tidak akan belajar melukis di bawah bimbingan
Nicole Tepler. Itu kan hanya alasan agar kita bisa mendatangi dia tanpa
menimbulkan kecurigaan. Kita akan bersikap ramah padanya. Kemudian Petra pura-
pura harus ke WC. Itu pun hanya alasan supaya Petra bisa memeriksa isi kamar
mandi. Barangkali saja tempat bedak Emma ada di sana, dan..."
"Kamar mandi bukan tempat yang cocok untuk menyimpan bedak," Petra memotong
"Bagaimana kalau bedaknya kecipratan air" Kelihatannya kau benar-benar benar
tidak tahu apa-apa mengenai kebiasaan kaum wanita. Bedak serta peralatan make-up
lain ditaruh di meja rias. Dan meja rias selalu berada di kamar tidur."
"Kalau begitu kau berlagak pingsan saja. Petra," Thomas mengusulkan. "Kita akan
membaringkanmu di tempat tidur, lalu..."
"Tidak perlu," Petra kembali memotong. "Tempat bedak Emma juga tidak akan ada di
kamar tidur, Tempat bedak berbentuk kerang emas hanya cocok untuk dibawa dalam
tas." Untuk sesaat semuanya terdiam.
"Mungkin ada baiknya kalau aku ikut les melukis," ujar Oskar kemudian. "Paling
tidak bisa memperbaiki nilai menggambar di sekolah."
"Oskar!" Petra menegur sahabatnya. "Kita diutus untuk menemukan tempat bedak
Emma di apartemen Nicole. Dengan demikian kesalahan Agatha Tepler akan terbukti,
dan Emma pun puas. Kemudian dia akan memberikan sumbangan. Itulah yang paling
penting." Sejenak Thomas mempertimbangkan apakah sekarang saat yang tepat untuk berceramah
mengenai kedua pelukis bernama Cranach-Cranach Senior dan Cranach Junior Tapi
kemudian ia membatalkan niatnya,
"Aku akan membuktikan apakah tempat bedak itu memang ada di tangan Nicole atau
tidak" kata Petra dengan yakin. "Serahkan saja semuanya padaku. Ayo, kita
berangkat." Mereka kembali bersepeda. Hari telah menjelang siang. Kepadatan lalu lintas di
pusat kota mulai berkurang. Restoran-restoran diserbu oleh orang-orang yang
tidak sempat pulang untuk makan siang. Sebuah mobil ambulans melewati anak-anak
STOP dengan kecepatan tinggi.
Setelah membelok ke Jalan Sperling, mereka melihat sebuah Porsche diparkir di
tepi jalan. Berarti Hubi ada di rumah.
Pintu gedung apartemen nomor 63 terbuka lebar. Lift-nya ternyata belum juga
diperbaiki. Karena itu anak-anak STOP terpaksa menggunakan tangga untuk naik
sampai lantai enam. Petra menekan bel di apartemen Nicole Tepler. Namun mereka menunggu dengan sia-
sia. "Dia sedang pergi," ujar Hubi sambil mengintip melalui celah pintu apartemennya.
Kemudian ia tersenyum lebar. "Oh, kalian! Selamat siang, semuanya! Ayo, masuk
dulu, deh! Apakah kalian tidak salah pintu?"
"Sebenarnya tidak," ujar Sporty, sambil memenuhi ajakan Hubi.
Keadaan guru mereka sudah jauh lebih baik ketimbang kemarin. Ia nampak segar
bugar. Yang menunjukkan bahwa ia sedang cedera hanyalah lengannya yang masih
dibalut gips. . Hentakan musik disko menyambut anak-anak STOP ketika mereka masuk ke apartemen
Hubi. Keempat lukisan palsu yang dibuat oleh Nicole Tepler sudah tidak
kelihatan. "Lukisan-lukisan itu disita polisi," Hubi menerangkan dengan sedih. "Tapi saya
sudah bertekad untuk membeli semuanya. Bukan untuk mengelabui ayah saga! Justru
sebaliknya. Seandainya saya kemarin siang tahu apa yang saga ketahui sekarang,
maka saya pasti akan berterus terang padanya."
"Anda sudah bicara dengan ayah Anda?" Petra.
"Sudah, semalam," jawab Hubi. "Kami bicara panjang lebar. Saya mengakui semua
kesalahan saya. Tapi ayah saya bukanya marah, dia malah tertawa terpingkal-
pingkal. Katanya, saga sudah cukup menderita karena kecemasan yang menghantui
saya selama ini. Selebihnya dia lebih banyak ketawa. Terutama ketika mendengar
akibat dari tindakan Sporty. Siapa yang menduga bahwa urusannya akan berbuntut
seperti ini?" Padahal urusannya belum selesai, pikir Sporty. Tapi untuk sementara Hubi belum
perlu diberitahu mengenai Operasi Tempat Bedak.
"Kami ingin mengunjungi Nona Tepler," ujar Oskar. "Saya ingin tanya apakah...
Ehm. apakah saya... ehm... maksudnya, saya tertarik untuk belajar melukis dengan
gaya Cranach. Saya mau tanya apakah Nona Tapler bersedia membimbing saya."
Hubi nampak ragu-ragu. Ia telah mengetahui bakat Oskar.
"Ehm... Oskar, saya bukannya melarang. Tapi barangkali les biola lebih cocok
untuk mu. Menurut pengamatan saya di sekolah kau tidak begitu berbakat dalam hal
melukis atau menggambar. Tapi... itu terserah padamu.
Oskar langsung pasang tampang masam. Masa bodoh dengan pendapat orang katanya
dalam hati. Aku mau belajar melukis. Kalau hasilnya kurang memuaskan, paling
tidak aku bisa mengecat dinding SARANG RAJAWALI.
"Karena itulah kami ingin bertemu dengan Nona Tepler," ujar Thomas. "Apakah Anda
tahu di mana dia sekarang, atau jam berapa dia pulang?"
"Nona Tepler sedang mengunjungi ibunya," kata Hubi. "Di Jalan Olympia nomor
satu. Saya tidak tahu di mana itu. Dia hanya bilang bahwa ibunya tinggal di
sana. Dia mengunjunginya setiap hari Sabtu."
Aha! keempat sahabat STOP berkata dalam hati.
"Maaf," kata Petra, "saya bukannya ingin ikut campur dalam urusan Anda. Tapi
satu hal yang ingin saya tanyakan. Bagaimana sih watak Nicole Tepler" Apakah dia
memang semenarik yang Anda bayang selama ini?"
"Oh, dia benar-benar mempesona," jawab Hubi penuh semangat. "Hanya agak pemalu.
Barangkali dia masih marah karena kita membongkar kedoknya sebagai pemalsu
lukisan." Tak lama kemudian anak-anak STOP berpamitan. Mereka turun, lalu membelai Bello
yang menjaga sepeda-sepeda mereka.
"Jalan Olympia," ujar Thomas. "Beres, aku tahu di mana itu."
Yang lain tidak mengetahuinya, sehingga mereka ikut saja diajak Thomas, Ternyata
mereka harus menyeberang kota dari ujung ke ujung.
Seperti biasa, Oskar mengeluh karena perutnya sudah mulai keroncongan.
Penderitaannya semakin menjadi-jadi, ketika mereka melewati sejumlah restoran
yang menyebarkan bau yang merangsang selera.
''Aduh," Oskar mendesah. "Semua orang sedang menikmati makan siang. Hanya kita
yang tidak menghormati jam makan."
Namun teman-temannya tidak terpengaruh.
Jalan Olympia nomor satu ternyata sebuah rumah pojok. Bangunannya tak terawat.
Dinding-dindingnya ditumbuhi lumut. Genteng-gentengnya sudah rapuh. Seluruh
trotoar digunakan sebagai tempat parkir mobil. Suasana hening dipecahkan oleh
sekitar 20 sampai 30 radio. Siarannya terdengar dengan jelas, sebab jendela-
jendela terbuka lebar dan semua radio dipasang dengan volume keras. Untung saja
sebagian besar pendengar memilih pemancar yang sama. Kesannya bukan stereo lagi,
melainkan lebih mirip konser di lapangan terbuka.
Daerahnya menyenangkan sekali! Ujar Sporty dalam hati. Pada malam hari para
penduduk pasti main tikam-tikaman. Aku jadi penasaran seperti apa ibunya Nicole
itu. Berdasarkan mama yang tercantum pada kotak surat, Sporty mengetahui bahwa ia
bernama Magda. Kemudian keempat sahabat itu sudah berdiri di depan pintu. Petra
baru saja hendak mengangkat tangan untuk menekan bel.
Tiba-tiba saja terdengar suara-suara dari balik pintu. Suara langkah mendekat.
Rupanya ada seseorang yang mau pergi.
"Sampai ketemu, Ottmar!" seorang wanita berkata. .
"Ya, sampai nanti!" seorang pria menjawab dengan suara serak. "Nanti sore aku
akan beraksi. Gnaski sudah mengatur semuanya. Rencanaku tidak mungkin gagal.
Sebentar lagi aku bakal kaya raya. Oke, deh! Aku berangkat dulu."
"Mudah-mudahan kau sukses!" Nicole berseru.
Sporty segera memberi isyarat agar ketiga sahabatnya kembali ke jalan. Tepat
pada waktunya, sebab sedetik kemudian pintu membuka. Pembicaraan tadi pasti
tidak boleh terdengar oleh orang lain.
Bahkan Oskar pun segera memahami apa sedang terjadi. Langsung saja ia pasang
wajah tak berdosa. Seorang pria berbadan tinggi melangkah keluar. Wajahnya yang berbentuk kotak
mencerminkan kehidupan yang tidak bahagia. Namun matanya nampak menyorot tajam
Anak-anak STOP segera mengenali wajah yang muncul di ambang pintu. Tidak salah
lagi - dia pasti ibunya Nicole.


Detektif Stop - Pengkhianatan Di Lembah Neraka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Sambil lalu saja Ottmar menatap keempat sahabat yang berdiri di tepi jalan.
Kemudian ia meraih tangan Magda, menciumnya, lalu pergi Hampir saja ia menginjak
kaki Bello. "Hei, hati-hati, dong!" Petra segera memprotes. Untung ia masih sempat menarik
Bello. Tapi Ottmar tidak memperhatikannya. Tanpa menoleh ia berjalan menuju mobilnya.
"Kalian mau ketemu Saya?" tanya Magda.
"Anda pasti Bu Tepler," ujar Sporty. "Kami ingin bertemu dengan Nicole. Pak
Knoth mengatakan bahwa dia ada di sini. Kami... Ehm.. Nicole sudah mengenal
kami." "Oh, kalian?" suara Nicole terdengar dari dalam. "Silakan masuk."
Memang itu yang diharapkan oleh Sporty.
Sambutan Nicole ternyata tidak terlalu hangat. Tapi itu bisa dimengerti. Ia
hanya berdiri sambil tersenyum seadanya. Kehadiran Bello baru ia ketahui ketika
anjing itu mulai mencium-cium kakinya. Nicole tidak menyukai hal itu. Ia juga
tidak mengulurkan tangan untuk membelai-belai Bello. Barangkali ia takut anjing
itu punya kutu. Demi menjaga sopan santun, Sporty memperkenalkan diri pada Bu Tepler.
"Maksud kedatangan kami," ia menjelaskan, "berhubungan dengan bakat Anda sebagai
pelukis. Oskar sangat mengagumi karya-karya Anda, Nona Nicole." Sporty tidak
mengada-ada, sebab Nicole memang memiliki bakat yang menonjol. "Oskar ingin
belajar melukis di bawah bimbingan Anda." '
"Apa" Belajar melukis?"
"Ya, saya ingin belajar melukis," kata Oskar. "Kalau bisa, dengan gaya Cranach."
"Ya Tuhan! Apakah kalian belum puas juga" Saya telah, kehilangan sumber
penghasilan gara-gara kalian, dan sekarang kalian malah minta agar saya
membimbing si Gendut ini" Maaf saja, saya tidak berminat. Kenapa kalian tidak
minta tolong pada tangga saya saja?"
"Oh!" kata Petra. "Kenapa sih Andal begitu ketus" Seharusnya Anda justru bangga.
Tapi Anda malah menghina teman saya hanya karena dia tidak bisa bersaing dengan
kelangsingan Anda. Keterlaluan! Sporty, apakah aku mulai pucat?"
Sporty menatap wajah Petra, lalu mengangguk penuh semangat.
"Wajahmu pucat sekali! Kau kelihatan seperti.. seperti mayat hidup."
Petra segera memelototi sahabatnya. Ia memang berharap agar Sporty menanggapi
permainan sandiwaranya. Tapi itu tidak berarti bahwa Sporty boleh berkomentar
sesuka hatinya. "Wah, mengerikan!" Petra berseru sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
kemudian ia mulai merogoh-rogoh kantong celana. "Aduh! Di mana sih tempat
makeup-ku" Aku harus berbedak, supaya wajahku kelihatan segar lagi."
Nicole Tepler dan ibunya nampak terheran-heran. Mereka tidak mengerti mengapa
seorang remaja seperti Petra sudah memakai make-up.
Namun pertunjukan Petra belum selesai.
"Ini semua gara-gara Anda, Nicole," ia mengeluh. "Sebenarnya kami mau sekolah
setelah ini. OSIS sekolah kami mengadakan pemilihan Putri Pelajar sore ini. Tapi
coba lihat bagaimana tampang saya sekarang" Saya paling tidak tahan kalau
mendengar orang marah-marah. Brengsek! Seharusnya saya bisa jadi juara dua atau
juara tiga." "Menurut saya, penampilanmu tetap menarik," ujar Magda sambil mengerutkan
kening. "Tapi tidak semenarik yang saya harapkan. Bu Tepler, tolonglah, apakah saya
boleh memakai alat make-up Anda" Saya hanya perlu bedak sedikit saja. Ah,
jangan. Make-up Anda pasti kurang cocok untuk saya. Saya perlu make-up yang
cocok untuk anak muda. Nicole, apakah saya boleh minta sedikit bedak?"
Petra memang cerdik sekali, Sporty mengakui dalam hati. Namun kemudian ia jadi
ragu-ragu. Bagaimana kalau Nicole atau ibunya tiba-tiba mulai curiga"
Kekhawatiran Sporty ternyata tidak beralasan. Baik Nicole maupun Magda sama
sekali tidak menyadari hubungan antara anak-anak STOP dengan Agatha Tepler.
Nicole hanya mendesah perlahan, lalu tersenyum sinis.
"Tunggu sebentar," katanya. "Saya punya bedak yang cocok sekali untukmu. Bedak
itu khusus untuk remaja di bawah 17 tahun."
Langsung saja tangannya merogoh-rogoh sebuah kantong yang mirip karung terigu.
Kemudian ia menyerahkan tempat bedak pada Petra.
Ternyata memang mirip kerang! Pikir Sporty. Dan terbuat dari emas. Emma benar,
tempat bedak itu memang kurang menarik. Dan tutupnya juga agak seret.
Petra harus bersusah-payah untuk membuka tempat bedak itu. Tapi matanya yang
biru nampak bersinar-sinar.
Sambil menahan tawa, Sporty, Thomas, dan Oskar, memperhatikan Petra mengoleskan
bedak pada pipinya. "Menurut aku," ujar Sporty, "tanpa bedak kau kelihatan lebih menarik. Sekarang
kulitmu jadi mirip kulit jeruk."
Petra hanya melotot. "Ah, lumayan juga," kata Oskar. "Tampangmu jadi rada seram. Kau pantas jadi
pemeran utama dalam film horor."
"Jangan banyak komentar!" balas Petra dengan ketus. "Lebih baik kauurus perutmu
yang gendut itu. Terserah aku dong, kalau aku mau pakai bedak."
Ia mengembalikan tempat bedak pada Nicole, mengucapkan terima kasih, lalu
kembali berdiri. Sporty harus menahan diri agar tidak mengeluarkan saputangan untuk membersihkan
wajah Petra. "Jadi bagaimana dengan bimbingan melukis untuk Oskar?" Thomas bertanya sekali
lagi. "Saya kan sudah mengatakan bahwa saya tidak berminat jadi guru melukis. Kecuali
itu, saya tidak punya waktu," jawab Nicole sambil menggeleng. "Saya lagi banyak
masalah. Kalau saya mau membimbing dia," ia menambahkan sambil menunjuk Oskar.
"nanti saya malah disangka mengajarkan cara memalsukan lukisan."
"Saya tidak mungkin berbuat seperti itu." balas Oskar. "Tapi saya mengerti
mengapa Anda keberatan. Kehilangan sumber nafkah memang pukulan yang berat.
Terutama karena Anda sudah begitu hebat melukis dengan gaya Cranach. Ya, mau
tidak mau Anda harus cari pekerjaan lain. Kenapa Anda tidak ikut kursus
kerajinan tangan saja" Menjelang hari Natal nanti pasti banyak pesanan."
"Dasar cerewet!" Nicole marah-marah. "Sudah, pergi sana! Saya tidak mau melihat
kalian lagi!" Dengan demikian pembicaraan telah berakhir.
Keempat sahabat STOP segera meninggalkan rumah itu. Mereka menaiki sepeda
masing-masing, membelok, menggelinding sejauh 50 meter, lalu berhenti.
Para pejalan kaki yang memperhatikan anak-anak itu pasti menyangka bahwa mereka
sudah gila. Bagaimana tidak" Sporty, Thomas, Oskar, dan Petra, ketawa terbahak-
bahak sampai nyaris terjatuh dari sepeda. Oskar turun, lalu duduk di trotoar
sambil menggoyangkan kaki. Petra diguncang tawa, sehingga harus berpegangan pada
Sporty. Dan Thomas terpaksa mengelap kacamatanya.
"Putri Pelajar!" Sporty berseru sambil berusaha menarik napas. "Hahaha, idemu
benar-benar cemerlang, Petra. Aku salut padamu. Tapi Oskar benar, tampangmu jadi
mirip pemain film horor. Sini, biar kubersihkan wajahmu."
Sporty langsung mengeluarkan saputangan dan mulai menghapus bedak dari wajah
Petra. "Wah, malah jadi belang," Oskar berkomentar. "Seperti orang yang terserang
penyakit kusta atau semacamnya."
"Ah, kalian memang tidak bisa menghargai kecantikan seorang wanita," Petra
menanggapinya sambil cekikikan.
"Urusan itu hanya dimengerti oleh para produsen kosmetika," kata Sporty sambil
mengelap hidung Petra. "Dan mereka kemudian mendikte kaum wanita yang bodoh.
Aduuuh!" Tanpa disangka-sangka sikut Petra telah menghantam tulang iga Sporty.
"Apa maksudmu dengan kaum wanita yang bodoh, heh?"
"Maksudku, orang-orang seperti Nicole Tepler dan ibunya. Orang-orang seperti
merekalah yang mau mengeluarkan uang banyak agar bisa tampil lebih cantik."
Ia menyimpan saputangannya dalam kantong celana.
"Apakah kalian sadar bahwa kita bakalan sibuk sekali hari ini?" Sporty lalu
bertanya. "Bukan karena kita harus melapor pada Emma bahwa Operasi Tempat Bedak
telah berhasil dengan gemilang. Tapi ucapan si Ottmar tadi merupakan petunjuk
yang sangat berharga."
"Aku hampir pingsan waktu mendengarnya," ujar Petra sambil mengangguk. "Apa yang
dikatakannya tadi: Nanti sore aku akan beraksi. Gnaski sudah mengatur semuanya.
Rencanaku tidak mungkin gagal. Sebentar lagi aku bakal kaya raya."
"Tepat sekali," kata Sporty. "Aku yakin seratus persen bahwa si Ottmar itu akan
melakukan kejahatan. Dan dia dibantu oleh seseorang bernama Gnaski. Hmm, Gnaski
bukan hanya nama yang bagus, tapi juga jarang. Coba kita lihat apakah namanya
tercantum di buku telepon." _
"Emma pasti punya buku telepon," ujar Thomas. "Setelah melapor bahwa kita
berhasil menemukan tempat bedaknya, kita sekalian bisa pinjam buku telepon."
10. Dua Setengah Ton Keju Jerman
EMMA GISEN-HAPPLICH berulang-ulang menekan bel sampai Agatha Tepler akhirnya
membuka pintu. Begitu melihat Emma, Agatha hampir saja membanting pintu. Tapi Emma cepat-cepat
memegang kusen. Ia tahu persis bahwa sahabatnya tidak akan tega untuk menjepit
jarinya. "Aku hanya datang untuk memberitahumu bahwa dugaanku sudah terbukti benar," ujar
Emma. "Ternyata memang saudaramu yang bernama Nicole itu yang mengambil tempat
bedakku. Kau tak perlu menyangkal. Aku menyewa empat detektif untuk mendatangi
dia. Dan apa yang mereka temukan" Tempat bedakku! Nah, sekarang giliranmu."
"Kau... kau...?" Agatha terpaksa bersandar pada daun pintu. Wajahnya menjadi
pucat pasi. "De... tektif" Empat orang, lagi?"
"Habis, apa yang kauharapkan" Aku tidak mau setengah-setengah dalam urusan
seperti ini. Saudaramu itu benar-benar keterlaluan. Dari dulu aku sudah tahu
bahwa dia bukan orang baik-baik. Hanya selama tiga detik aku meninggalkan tasku
di tempat cuci tangan! Tapi waktu yang singkat itu sudah cukup untuk..."
"Tiga detiiik"!" suara Agatha melengking tinggi. Seruannya terdengar oleh anak-
anak STOP, yang menunggu di apartemen Emma di lantai dasar. "Lima menit! Mungkin
malah lebih! Kau meninggalkan tasmu selama lima menit, dan..."
Mendadak dia terdiam. Sambil membelalakkan mata wanita tua itu menutup mulut
dengan sebelah tangan. "Dari mana kautahu semuanya itu?" Emma berlagak heran.
Agatha menundukkan kepala. Kemudian ia melangkah ke samping.
"Masuk dulu, deh!" katanya. "Aku baru saja bikin kue tart. Kita bisa bicara
sambil minum teh." Emma tetap berdiri di tempat. "Pasti bukan Nicole yang memberitahumu. Berarti
dia tidak terlibat. Tapi bahwa kau..." Tiba-tiba saja Emma tersenyum lebar.
"Terus terang saja, Agatha, sejak semula aku sudah agak curiga padamu. Untuk apa
sih, kau melakukan kejahatan seperti itu?"
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu," jawab Agatha sambil mengutak-atik kalung
berlian yang selalu dikenakannya. "Aku sama sekali tidak bermaksud mengikutimu
ke toko swalayan. Semuanya serba kebetulan saja. Aku masih sempat melihatmu
masuk ke WC. Dan tasmu tergeletak begitu saja. Kau masih ingat" Sehari
sebelumnya aku sempat marah besar karena kau begitu congkak. Kau selalu menteror orang-orang di
sekitar mu. Kau sama sekali tidak menghargai tempat bedak yang kuhadiahkan
padamu. Karena itu akua memberikannya pada Nicole. Mungkin aku ingin memberi
pelajaran padamu." "Dan nyatanya kau berhasil."
"Kau marah padaku?"
"Sekarang sudah tidak lagi. Dan kau?"
"Juga tidak. Aku sadar bahwa kau hanya bertindak sesuai dengan watakmu. Tapi ada
satu hal yang perlu kukemukakan: seharusnya kau lebih rajin memakai bedak. Nanti
semua orang tahu bahwa kau tidak berusia 20 tahun lagi."
"Ah, apa artinya beberapa tahun," Emma menanggapinya sambil tersenyum.
"Sebenarnya aku tidak memerlukan tempat bedak itu. Mudah-mudahan saja bagi
Nicole lebih banyak gunanya. Mengenai kue tart yang kaubuat, sebentar lagi aku
kembali ke sini. Aku masih harus menyelesaikan urusan dengan para detektif."
"Lho" Mereka ada di tempatmu" Keempat-empatnya?"
"Semuanya! Mereka juga bawa anjing pelacak."
Agatha segera kembali ke dapur. Selama beberapa menit berikutnya ia benar-benar
sibuk. Di satu pihak ia bermaksud menyiapkan teh, di lain pihak ia pun ingin
mengintip ke luar jendela untuk melihat keempat detektif yang disewa oleh
sahabatnya. Tapi justru ketika anak-anak STOP pergi, Agatha harus bergegas ke dapur karena
air yang dimasaknya sudah matang.
Emma mengucapkan terima kasih pada Sporty, Petra, Thomas, dan Oskar. Ia merasa
agak heran karena keempat sahabat itu kelihatan terburu-buru sekali.
Emma memang tidak tahu bahwa sementara ia bicara dengan Agatha, Thomas sempat
membuka buku telepon pada halaman G-la1u mengumumkan pada teman-temannya; "Di
sini hanya ada satu orang bernama Gnaski. Bert Gnaski. Alamatnya Sudelfeld 19.
Mudah-mudahan saja memang dia yang kita cari."
Kini mereka bersalaman dengan Emma. Wanita itu sekali lagi mengingatkan mereka
bahwa besok malam ada acara di rumah anaknya, Gunter Gisen - Happlich, direktur PT
Nosiop. "Saya tidak mungkin lupa," ujar Oskar sambil menepuk dahi dengan telapak
tangannya. "Tolong beritahu bagian dapur bahwa nafsu makan saya termasuk besar.
Jangan sampai tamu-tamu lain tidak kebagian."
"Jangan khawatir," jawab Emma sambil ketawa. "Saya sudah pesan seekor kambing
guling khusus untukmu sendiri - belum lagi makanan pencuci mulutnya."
Oskar nampak puas, lalu membiarkan dirinya ditarik keluar oleh ketiga
sahabatnya. "Kami lagi berusaha menemukan Gnaski tapi kau hanya memikirkan urusan perut
saja," Sporty mengomel. "Cepat sedikit, dong" Hari sudah menjelang sore.
Sebentar lagi Ottmar akan beraksi."
"Kau tahu jalannya?" tanya Petra.
"Tidak," kata Sporty.
Thomas pun hanya menggeleng.
"Jalan ke rumah Pak Gisen - Happlich?" tanya Oskar. "Wah, kenapa kalian tadi tidak
menanyakannya pada Emma?"
"Bukan itu!" Thomas berkata dengan sengit. "Jalan menuju rumah Gnaski. Sudelfeld
19!" "Oh!" Oskar segera naik ke sepedanya. "Ayo, semuanya ikut aku! Aku tahu
jalannya." **** Sabtu siang di jalan bebas hambatan di sebelah selatan kota.
Sebuah mobil Fiat berhenti di tempat istirahat di tepi jalan bebas hambatan.
Ottmar Lohmann duduk di balik kemudi sambil makan permen. Berkali-kali ia
melirik ke kaca spion. Tempat istirahat itu tidak terlalu luas. Tidak ada pompa bensin maupun restoran.
Bahkan WC pun tidak ada. Sedangkan daerah sekitarnya tidak memungkinkan untuk
buang hajat. Hanya ada beberapa tanaman perdu. Selebihnya pandangan tidak
terhalang sampai ke cakrawala.
Hanya Lohmann yang berhenti di sini.
Lalu lintas di jalan bebas hambatan belum begitu padat. Baru sedikit pelancong
yang menuju ke arah selatan. Sekali-sekali ada truk yang melewati tempat
istirahat ini. Kini sebuah VW Combi berwarna biru tua membelok, mengurangi kecepatan, dan
berhenti di belakang mobil Lohmann.
Bert Gnaski turun. Ia mengenakan pakaian montir. Sebuah topi pet melindungi
wajahnya dari sengatan matahari. Ia mendekat, membuka pintu, kemudian duduk di
samping Lohmann. "Halo, Ottmar!" katanya sambil nyengir, lalu menyalami rekannya.
"Halo, Bert!" Lohmann telah menyerahkan 2000 Mark pada Gnaski. Sebagian merupakan bayaran atas
segala persiapan yang telah dilakukan, sisanya sebagai uang muka. Tapi ketika
Lohmann menatap teman lamanya itu, ia mulai ragu-ragu. Apakah itu masih Gnaski
yang dulu, rekannya yang bisa dipercaya"
Usia mereka sebenarnya hanya terpaut beberapa tahun. Tapi Gnaski kelihatan jauh
lebih tua. Dulu ia hampir tidak pernah tersenyum. Tapi sekarang ia nyengir
terus, seperti orang bingung. Sorot matanya nampak gelisah. Gigi palsunya
berantakan. Sering kali Gnaski harus cepat-cepat menutup mulut agar giginya
jangan sampai copot Namun tongkrongannya masih seperti dulu. Ia berbadan besar. Bahunya lebar, tapi
agak menurun. Tangan kirinya telah kehilangan jempol. Gnaski mempunyai berbagai
cerita untuk menerangkan cacatnya itu. Kadang-kadang ia mengaku kehilangan
jempol pada waktu memotong kayu bakar. Lain kali ia mengatakan bahwa jempolnya
tertembak oleh polisi yang berusaha menangkapnya. Pernah juga ia bercerita bahwa
jempolnya tersangkut pada pintu kereta api yang baru berangkat.
"Semuanya beres?" tanya Lohmann.


Detektif Stop - Pengkhianatan Di Lembah Neraka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Beres, dong!" Lohmann melirik jam tangannya. "Pukul setengah dua lewat sedikit. Coba kita
ulangi semuanya sekali lagi."
Gnaski mengangguk. "Segala sesuatu yang kuketahui berasal dari keterangan sopir
mobi1 tangki itu. Dia minum-minum sampai mabuk bersamaku. Karena itulah aku bisa
mengorek informasi yang kita perlukan. Semuanya sudah kuteliti sekali lagi, dan
ternyata semuanya benar. Tak ada yang perlu diragukan, Ottmar."
"Mudah-mudahan saja. Jadi begini, jam 14.00 tepat mobil tangki dengan nama sandi
'Bom Berjalan' berangkat dari halaman PT. Nosiop. Tidak lama setelah itu, dia
sudah berada di jalan bebas hambatan dan menuju ke selatan. Nah, yang paling
penting bagi kita adalah: sopirnya yang bernama Kurt Weinhard selalu berhenti di
tempat istirahat terakhir sebelum kota."
"Betul," ujar Gnaski sambil kembali mengangguk. "Soalnya di sana ada warung yang
menjual hamburger paling enak di daerah ini.. Aku sudah sempat mencicipinya.
Rasanya memang luar biasa. Mungkin karena dibumbui dengan paprika hijau. Si
Weinhard merupakan langganan tetap di warung itu. Dan selalu membeli beberapa
hamburger sekaligus untuk bekal di jalan."
Dan Weinhard selalu parkir di pojokan, di belakang, di dekat tepi hutan. Supaya
mobil tangkinya tidak terlalu menarik perhatian.
"Ya, betul. Soalnya dia sebenarnya tidak boleh mampir di sana. Dia tidak
diperbolehkan berhenti di tengah jalan. Dan itu berarti bahwa dia tidak bisa
makan hamburger kesukaannya."
"Oke, aku berangkat duluan," Lohmann melanjutkan. "Aku akan berhenti di tempat
istirahat terakhir sebelum kota, dan langsung bersembunyi di balik semak-semak.
Aku sudah mempelajari medannya. Tempatnya cocok sekali untuk rencana kita.
Takkan ada yang kencing di sana, sebab di bagian depan ada WC umum. Kebanyakan
orang juga parkir di depan. Aku akan menunggu di balik semak-semak. Tidak ada
yang boleh melihatku. Kalau sampai ada yang mengenaliku, maka bubarlah rencana
kita. Dan aku juga tidak bisa mondar-mandir sambil mengenakan topeng. Pokoknya,
aku tunggu di sana. Kemudian kau datang. Kau sengaja berada di depan mobil
tangki itu. Weinhard berhenti, dan kau berhenti di sebelahnya. Mobilmu akan
menghalangi pandangan dari restoran ke tempat parkir belakang. Begitu Weinhard
turun kautodong dia dengan pistol. Lalu kau menggiringnya ke semak-semak. Aku
sambut dia, lalu mengikatnya. Mulutnya kusumpal dengan sepotong kain. Setelah
itu aku akan mengambil alih mobil tangki. Kau mengikutiku naik mobilmu. Dua
puluh menit kemudian kita sudah berada di Lembah Neraka. Mobil tangki itu kita
sembunyikan dalam Terowongan Lama. Setelah menutup mulut terowongan, kita
kembali ke tempat istirahat untuk mengambil mobilku, lalu bereslah semuanya.
Sip! Rencana kita tidak mungkin gagal."
Gnaski menggunakan dua jari untuk mengatur letak gigi palsunya. "Tapi bagaimana
kalau terowongan itu tiba-tiba runtuh?"
"Kenapa harus runtuh" Sudah berpuluh-puluh tahun terowongan itu tetap dalam
keadaan semula." "Apakah kau punya SIM untuk mobil tangki?"
"Tidak." "Wah, mudah-mudahan saja tidak ada razia di tengah jalan."
"Ah, mama mungkin! Lembah Neraka kan tidak jauh dari sini. Lagi pula jalannya
sepi." Gnaski berkedip-kedip, lalu menggunakan dua jari untuk memijat kelopak matanya.
"Ada apa, Bert" Kau sedang tidak enak badan?" tanya Lohmann sambil mengerutkan
kening. "Ah, tidak! Cuma penglihatanku kadang-kadang agak kabur. Mungkin karena aku
terlalu sering nongkrong di depan TV."
"Kau punya kacamata?"
"Aku punya kacamata hitam. Tapi ketinggalan di rumah. Aku lupa membawanya. .
Mudah-mudahan saja dia tidak mengacaukan rencanaku, pikir Lohmarm. Dia berubah
sekali sejak aku terakhir bertemu dengannya. Ya, mudah-mudahan saja...
"Ayo, Bert! Sudah waktunya. Sebaiknya kau bersiap-siap."
Gnaski mengangguk. Senyumnya semakin lebar. Ia turun, lalu kembali ke mobilnya.
Baru setelah distart tiga kali mesin mobilnya mau hidup. VW Combi berwarna biru
tua itu menggelinding ke ujung tempat istirahat, kemudian berhenti lagi.
Dari sini Gnaski bisa memperhatikan semua kendaraan yang lewat - termasuk mobil
tangki milik PT Nosiop. Tapi Lohmann tidak menunggu sampai 'Bom Berjalan' itu muncul. Ia langsung
berangkat, melambaikan tangan pada rekannya, lalu memasuki jalan bebas hambatan.
Dengan kecepatan sedang ia menuju ke arah selatan.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian ia telah sampai di tempat tujuannya. Lohmann
melewati pompa bensin dan restoran. Ia juga tidak berhenti di tempat parkir
kendaraan pribadi. Mobilnya terus menggelinding sampai ke tempat perhentian truk
dan kendaraan berat lainnya. Bagian ini dibatasi oleh semak-semak yang tumbuh
dengan subur. Di balik semak-semak langsung hutan.
Matahari masih terasa menyengat, tetapi sebagian langit sudah ditutupi awan
kelabu. Lapisan awan semakin lama semakin meluas. Lohmann memperkirakan hujan
akan turun menjelang malam.
Di tempat perhentian truk Dini hanya ada sebuah truk pengangkut mebel. Mobil itu
berukuran raksasa. Sopir truk bersama keneknya baru saja selesai makan di
restoran. Mereka masing-masing menghabiskan setengah kilo sosis serta lima
potong roti. Kini mereka bersiap-siap untuk berangkat lagi.
Sambil nyengir Lohmann memperhatikan truk raksasa yang mulai bergerak. Ia
kembali ke tempat parkir kendaraan pribadi meninggalkan mobilnya di sana, lalu
bergegas menuju semak-semak.
D Tempat ini memang cocok sekali untuk rencananya. Tidak ada saksi mata kalau
mereka menyergap Kurt Weinhard nanti lalu mengambil alih mobil tangkinya.
Satu juta Mark! pikir Lohmann. Aku harus memperoleh satu juta Mark. Gnaski sih
cukup diberi uang rokok saja, Sisanya untukku semua. Busyet, aku belum
memikirkan di mana aku akan tinggal setelah jadi i orang kaya. Apakah lebih baik
di Amerika Selatan, atau di tepi Laut Tengah"
Ia nyengir seperti Gnaski, lalu menerobos semak-semak. Di awal musim gugur ini,
daun-daun baru berganti warna namun belum berjatuhan. Karena itu pandangan
Lohmann agak terhalang. Tapi itu tidak penting.
Setelah menemukan tempat persembunyian yang cocok, Lohmann mengenakan topeng
berupa stocking (kaus kaki wanita) yang telah diberi lubang untuk mata dan
mulut. Sayangnya stocking itu terbuat dari nilon. Akibatnya dalam sekejap saja
Lohmann telah bermandikan keringat. Berulang kali ia harus menyeka butir-butir
air asin gang masuk ke matanya.
Kemudian tibalah saat yang dinanti-nanti.
Sebuah VW Combi berwarna biru tua nampak mendekat. Gnaski duduk di belakang
kemudi. Tapi ia bukannya berhenti, melainkan berputar-putar seakan-akan sedang
mencari jarum di tumpukan jerami.
Lohmann menahan napas. Di belakang mobil Gnaski ia melihat sebuah mobil tangki.
Itu dia! pikir Lobmann. Hebat! Luar biasa! Mobil tangki itu pasti penuh dengan
cairan beracun. Selamat datang, 'Bom Berjalan!'
Ia tidak bisa melihat dengan jelas, karena pandangannya terhalang daun-daun dan
keringat yang membasahi matanya. Dia hanya melihat bahwa kendaraan itu adalah
mobil tangki. Tangkinya yang terbuat dari aluminium memantulkan sinar matahari.
Kendaraan berat itu berhenti lima langkah dari tempat persembunyian Lohmann.
Gnaski, yang tadi sempat berputar-putar tanpa arah, kini parkir tepat di samping
mobil tangki, seakan-akan ingin mencari perlindungan dari sengatan matahari.
Lohmann mengintip dengan hati-hati.
Seorang pria memanjat turun dari kabin pengemudi. Orangnya pendek sekali - apalagi
untuk ukuran pengemudi mobil tangki. Karena itu ia tidak berani melompat.
Tapi begitu ia sampai di tanah, Gnaski telah berdiri di belakangnya - sambil
menodongkan pistol. "Angkat tangan!" Lohmann mendengar rekannya memerintah dengan tegas. "Jangan
bergerak! Ayo, jalan ke semak-semak! Cepat. cepat! Hoi, jangan bengong saja! Dan
turunkan tanganmu! Apa kata orang-orang nanti"!"
Tapi orang-orang yang berhenti di pompa bensin atau mereka yang berada di dalam
restoran tidak bisa melihat apa-apa. Pandangan mereka terhalang oleh kendaraan
Gnaski dan mobil tangki. "Ke sini!" Lohmann berseru dengan suara tertahan. Ia mengeluarkan tali dan
sepotong kain dari kantong celana. Kecuali itu ia juga membawa sebotol
kloroform, dan segenggam kapas.
Mereka mendekat. Sopir berbadan pendek itu nampaknya sudah pasrah pada nasib.
Gnaski menempelkan pistolnya pada kepala orang itu.
Senjata itu sebenarnya hanya pistol mainan. Tapi di tangan Gnaski kesannya
seperti benaran. "Selamat siang," ujar si sopir ketika berhadapan dengan Lohmann,
"Apa" Oh, selamat siang juga." Lohmann sempat terbengong-bengong. Namun kemudian
ia memasang tampang sangar dan berkata, "Asal tahu saja, Weinhard, kau tidak
punya alasan untuk bergembira."
"Kurt Weinhard" berusia sekitar 50 tahun. Wajahnya kecil. Ia kelihatan sehat
sekali, mungkin karena tidak merokok dan tidak pernah menyentuh minuman keras.
"Wah, ini benar-benar luar biasa," katanya dengan riang. "Sudah lima kali aku
dihalang di tengah jalan. Bayangkan, lima kali! Tapi biar saja, keju itu toh
bukan milikku. Hahaha! Rupanya kalian sudah berganti taktik, ya" Biasanya aku
baru disergap satelah melewati perbatasan dan sudah berada di wilayah Italia.
Apakah kalian termasuk komplotan itu" Rasanya aku belum pernah melihat kalian,
Oh, ya, ada satu hal yang ingin kutanyakan dari dulu. Ke mana sih kalian menjual
semua keju itu" Begitu banyak keju untuk keperluan sendiri - itu kan tidak
mungkin." Lohmann membelalakkan mata.
"Apa?" "Ya!" Gnaski ikut berkomentar. "Apa sih maksudmu" Jangan mengkhayal yang tidak-
tidak, Weinhard!" "Weinhard" Kenapa sih, kalian memanggilku Weinhard" Namaku Max Braun."
"Kau sopir cadangan, ya?" tanya Lohmann.
"Bukan! Hmm, kelihatannya kalian anggota komplotan lain. Pantas aku belum pernah
melihat kalian. Aku sudah 32 tahun bekerja untuk Koperasi Susu Mandiri. Dua kali
seminggu aku membawa muatan ke Milan. Dan tahun lalu aku mendapat piagam
penghargaan karena sudah 30 tahun..."
"Koperasi Susu Mandiri?" Lohmann manghardik sopir itu. "Apa maksudmu" Bukankah
kau bekerja untuk..."
Pada detik terakhir Lohmann baru menyadari bahwa ia hampir saja membuat
kesalahan fatal. Max Braun memandang Lohmann, menatap Gnaski, mengangkat bahu dengan heran, lalu
mengusir seekor kumbang yang tertarik oleh bau deodoran yang dipakainya.
"Kau bawa muatan apa?" tanya Lohmann. "Apa yang ada di dalam tangkimu?"
"Apa lagi kalau bukan keju?"
"Keju?" Gnaski mengulang seperti orang tolol. "Keju beracun, maksudmu?"
"Beracun" Hai, jangan sembarangan, Bung! Kau membuat aku marah. Aku bekerja
untuk Koperasi Susu Mandiri, dan aku bertugas membawa keju yang masih agak cair
ke Itali. Dua setengah ton keju kualitas terbaik. Terutama jenis Emmental, Edam,
Tilsit, Romadur, Limburg, dan Liptozu. Aku tidak mengerti kenapa kalian menuduh
bahwa keju itu beracun. Pada waktu kembali dari Italia, aku membawa keju Bel
Paese, Gorgonzola, dan Parmesom."
Lohmann langsung memelototi rekannya. "Cepat, coba periksa isi tangkinya."
Gnaski bergegas ke mobil tangki yang dikemudikan oleh Max Braun. Dengan hidung
nyaris menempel pada dinding tangki, ia membaca keterangan yang tercantum di
sana. Tapi ia belum mau percaya. Karena itu ia juga memeriksa pelat nomor.
Kemudian ia naik ke kabin pengemudi, mencabut kunci, berlari ke belakang, dan
membuka tutup tangki. Bau yang tercium sudah menjelaskan semuanya.
Ketika kembali, Gnaski menundukkan kepala dengan perasaan bersalah.
"Benar, Ott..."
"Diam!" "Oh, ya! Ehm... ternyata ada kesalahan teknis. Gara-gara..."
"Jangan di depan dia, tolol!" Lohmann marah-marah. Ia sudah bermandikan
keringat. Namun ia tetap tidak boleh memperlihatkan wajahnya.
Sambil memaksakan diri untuk tetap tenang, ia berpaling pada Braun.
"Kami... kami ternyata membuat kesalahan. Maaf, Bung, tapi kami terpaksa
mengikatmu di sini. Setelah kami pergi, kau boleh berteriak untuk minta tolong.
Kami hanya memerlukan beberapa menit untuk kabur dari sini. Mengerti?"
Max Braun membiarkan dirinya diikat pada sebatang pohon. Peristiwa ini patut
dirayakan, katanya dalam hati. Biarpun bukan aku sasaran mereka yang sebenarnya,
aku tetap saja telah dihadang untuk kelima kalinya. Lima kali! Sopir mana yang
bisa menyaingi prestasiku ini" Tidak ada! Akulah pemegang rekor.
Namun nasib Max Braun tidak seperti yang dibayangkannya. Setelah berhasil
mengikat sopir itu, Lohmann membasahi kapasnya dengan khlomform, lalu
menempelkannya ke mulut dan hidung Max Braun.
Sopir itu sempat meronta-ronta, dan berusaha menarik napas lewat telinga, tapi
akhirnya ia terpaksa menyerah. Sambil mendesah panjang ia jatuh pingsan. Dan
kedua penjahat itu bisa menarik napas lega.
Lohmann segera menarik lengan rekannya. "Ya ampun, Bertl Kenapa ini bisa
terjadi?" "Habis, mobil tangkinya mirip sekali, Ottmar. Hampir seperti kembar! Bahkan
pelat nomornya hampir sama. Hanya satu huruf yang lain. Aku tidak sempat
memperhatikannya tadi, karena si Cebol ini terlalu ngebut. Aku kan sudah
mengatakan bahwa mataku tidak begitu awas lagi."
Dasar tolol! Lohmann mengumpat dalam hati. Gara-gara dia rencanaku jadi
berantakan! Jangan-jangan Bom Berjalan itu malah sudah lewat" Ataukah Weinhard
kali ini parkir lebih ke depan"
Ia melirik ke arah warung hamburger yang terletak di samping restoran. Ternyata
mobil tangki yang dicarinya tidak ada di sana. Ia hanya melihat berapa pelancong
yang sedang makan siang, sambil berharap agar cuaca tetap cerah.
Gnaski menundukkan kepala dengan malu.
"Padahal aku sudah mempelajari semuanya dengan teliti," ia berkata dengan geram.
"Dasar sial! Aku bahkan mencatat semuanya. Minggu, tanggal 19 Pukul 14.00
Weinhard berangkat dari..."
"Haaah" Apaaa?" teriak Lohmann yang telah melepaskan topengnya. "Aku pikir hari
ini!" "Ya, memang hari ini."
"Kalau begitu kenapa kau menyinggung tari Minggu tanggal 19?"
"Hari ini kan Minggu."
"Bert, jangan gugup! Hari ini adalah hari Sabtu, tanggal 18! Mengerti, tolol"!
Dasar bego! Orang jompo seperti kau seharusnya puas dengan tunjangan dari
pemerintah, dan bukannya mengacaukan rencanaku!"
Gnaski menunduk seakan-akan takut ditampar. Tapi dalam keadaan seperti ini pun
ia tetap nyengir. Mungkin ada yang tidak beres dengan sistem sarafnya.
"Menurut kalender di rumahku, hari ini adalah hari Minggu! Sumpah!"
"Kalau begitu kalendermu yang ngaco," kata Lohmann, setelah tiga kali menarik
napas panjang. "Barangkali kau pakai kalender tahun lalu, atau tahun depan. Atau
bahkan dari tahun 1820. Mungkin juga kalendermu dibuat di Jepang. Di sana
matahari memang terbit lebih cepat. Tapi sama saja! Kau yakin bahwa mobil tangki
itu berangkat pada hari Minggu tanggal 19, jam 14.00 tepat?"
"Betul, Ottmar! Aku tidak mengada-ada," Gnaski berusaha meyakinkan rekannya.
"Mobil tangki itu sengaja berangkat pada hari Minggu, karena lalu lintas pada
hari itu tidak terlalu padat."
"Hmm, masuk akal," Lohmann bergumam "Untung saja! Berarti masih ada harapan.
Kalau begitu besok kita mulai dari awal lagi. Tapi kali ini jangan ngawur lagi,
Bert! Aku benar-benar benar membutuhkan uang itu Kau jangan minum-minum lagi
hari ini. Jangan tidur terlalu malam. Dan besok jangan lupa bawa kacamata hitam.
Ayo, kita pergi dari sini sebelum si Cebol siuman lagi."
Mereka naik ke mobil masing-masing, lalu langsung berangkat.
Tapi Lohmann sempat berhenti di warung hamburger, untuk membeli dua hamburger.
Ia penasaran apakah rasanya memang selezat yang dikatakan Gnaski.
11. Petunjuk pada Peta Kota
JALAN Sudelfeld ternyata sejajar dengan rel kereta api. Hampir setiap sepuluh
menit ada kereta lewat, dan para penghuni jalan itu hanya mempunyai dua pilihan;
menghadapi kebisingan dengan sabar, atau sambil marah-marah.
Keempat sahabat STOP bersepeda melewati rumah nomor 19.
Rumah itu agak menyudut. Tiga sisinya dibatasi oleh pagar tanaman yang tumbuh
tak teratur. Rumahnya sendiri lebih mirip gubuk - kecil dan kotor. Sisi keempat
berdempetan dengan sebuah gudang.
"Alamatnya benar," ujar Sporty sambil menoleh ke belakang. "Bagus, Oskar.
Sekarang tinggal memastikan apakah Bert Gnaski ini memang orang yang kita cari,
dan apakah dia bersekongkol dengan Ottmar yang rupanya akrab sekali dengan
keluarga Tepler." Mereka berhenti di ujung jalan.
"Kelihatannya Gnaski tinggal sendirian di sini," kata Petra. "Nama yang
tercantum pada papan nama di pintu pagar hanya Bert Gnaski. Lagi pula gorden-


Detektif Stop - Pengkhianatan Di Lembah Neraka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

gordennya kotor sekali - hmm, aku yakin, dia pasti tidak punya istri."
"Aku mengenal seseorang yang punya istri dan tiga anak perempuan berusia antara
16 sampai 2o tahun," Thomas berkomentar sambil nyengir. "Tapi gorden di rumahnya
tetap saja tidak pernah bersih."
"Ya, memang ada wanita yang tidak berminat menjalankan tugas sebagai ibu rumah
tangga," kata Oskar sok tahu. "Tapi rumah Gnaski memang kelewat sempit. Paling-
paling dia cuma ditemani oleh seekor burung kakaktua."
"Sebaiknya aku langsung temui dia saja," Sporty memutuskan. "Aku akan mengetok
pintunya, lalu berkata... ehm... wah, apa yang harus kukatakan" Ayo, Sporty,
coba pakai otakmu!" Ia mengusap rambutnya yang ikal. "Aku akan berkata..."
"Katakan saja bahwa kau sedang magang di kantor polisi khusus kereta api," Oskar
memotong, "lalu tambahkan bahwa kau ditugaskan untuk memeriksa apakah rumah
Gnaski tidak terlalu berdekatan dengan rel. Kalau dia kelihatan kaget pada waktu
mendengar kata polisi, maka sudah pasti bahwa memang dia yang kita cari."
"Ngawur saja," Thomas menanggapi usul sahabatnya. "Mana ada orang magang di
kantor Polsuska?" Sementara itu Sporty telah mengeluarkan buku catatan dari kantong celana.
"Aku akan berlagak cari sumbangan saja," ia menjelaskan. "Untung aku selalu bawa
kartu pelajar. Aku akan minta sumbangan
untuk OSP, Organisasi Swadaya Pelajar. Organisasi itu baru saja kuresmikan. Aku
tahu, Petra, kau pasti keberatan karena ini melanggar hukum. Mencari sumbangan
tanpa izin memang dilarang. Tapi aku kan hanya berpura-pura saja. Lagi pula
Gnaski toh takkan menyumbangkan apa-apa."
"Tapi bagaimana kalau dugaanmu meleset?" tanya Oskar penuh harap. "Barangkali
kita bisa pakai uang itu untuk beli makanan?"
"Kalaupun dia memberikan sesuatu," ujar Sporty sambil menggeleng, "maka aku akan
mengembalikan uangnya, lalu berkata bahwa ini hanya percobaan dalam rangka
menguji kesetiakawanan sosial masyarakat kota kita. Kalian tunggu saja di sini.
Aku tidak akan lama."
Bello ingin ikut. Tapi Petra menahannya.
Sporty bersepeda ke rumah nomor 19, menyandarkan sepedanya, kemudian melompati
pagar. Sia-sia ia mencari bel. Di samping pintu rumah Gnaski hanya ada kotak surat yang
sudah dimakan karat. Sporty sangat berhati-hati ketika mengetuk pintu, karena
takut pintunya copot dari engselnya jika ia terlalu mengerahkan tenaga. Tapi tak
ada reaksi. Ia melirik jam tangannya. Pukul dua lewat seperempat.
...nanti sore aku akan beraksi, begitu kata Ottmar tadi. Apakah Gnaski juga
ikut" Apakah bagi mereka sore hari sudah mulai selepas jam makan slang" Kalau
memang begitu, apa yang jadi sasaran mereka"
Wah, kelihatannya anak-anak STOP terlambat, pikir Sporty. Seharusnya kita tadi
tidak mampir ke tempat Emma dulu.
Anak itu menuju ke pojok rumah untuk mengintip lewat jendela. Namun secara
mendadak ia berhenti. Sayup-sayup terdengar suara langkah. Dan kini ada bunyi gesekan halus, seakan-
akan seseorang sedang menerobos semak-semak.
Dengan hati-hati Sporty mengintip.
Di belakang rumah Gnaski ada sebuah pagar. Jaraknya kira-kira kira 80 sentimeter
dari dinding. Pagar itu hanya berupa dua potong kawat yang direntangkan antara
dua tiang kayu. Sebagai pembatas tambahan masih ada sederet tanaman perdu. Daun-
daunnya nampak kotor, karena bersebelahan dengan rel kereta api.
Seorang pria telah melewati rel, menerobos semak-semak, menyusup di antara kedua
potong kawat, dan kini merapatkan badan pada dinding rumah.
Tak ada yang melihatnya - kecuali Sporty.
Hmm, itu pasti bukan Gnaski, Sporty berkata dalam hati. .
Pria itu berusia sekitar 30 tahun. Badannya tinggi dan potongannya cukup
atletis. Ia memiliki mata berwarna hijau, dan rambut keriting berwarna coklat
yang kelihatannya dikeramas setiap hari. Tapi jenggotnya seharusnya sudah perlu
dicukur. Ia mengenakan setelan jas mahal, yang terbuat dari sutera berwarna
kuning gading. Tujuannya sama denganku, pikir Sporty. Mencari keterangan mengenai Gnaski. Hah!
Ini tidak bisa dibiarkan, Bung! Pekarangan ini terlalu kecil untuk kita berdua.
Pria perlente itu berjongkok. Sambil menempelkan hidung pada kaca ia mengintip
ke dalam. Kemudian si Perlente mendorong daun jendela, yang rupanya tidak
terkunci. Tanpa membuang-buang waktu ia segera memanjat masuk.
Ini baru kejutan! Dengan hati-hati Sporty mengendap-endap sepanjang dinding
sampai ke jendela tadi. Apa yang diinginkan oleh pria perlente itu" Apakah dia
berniat mencuri" Seorang pencuri dengan setelan jas sutera beraksi di sini"
Kini Sporty berdiri di samping jendela. Ia memberanikan diri untuk mengintip.
Ruang duduk di rumah Gnaski ternyata kecil sekali, dan penuh dengan perabot
rongsokkan. Meja tamu sempat bergoyang-goyang ketika si Perlente menyandarkan
badan dengan kedua tangannya.
Meja itu ditutupi sebuah peta. Seseorang telah membuat catatan dan mencorat-
coretnya dengan spidol berwarna hitam.
Si Perlente mempelajari peta itu dengan saksama. Ia nampak agak terkejut. Sambil
membaca, ia menggerak-gerakkan bibir seperti seseorang yang menjadi bisu akibat
kebanyakan nonton video. Apa yang dia cari" Sporty bertanya dalam hati. Si Perlente kelihatannya tertarik
sekali pada peta itu. Apakah dia kesasar"
Dan sekarang dia baru berhasil menemukan jalan menuju tempat tujuannya"
Pria di ruang duduk berdehem, meludah ke lantai, kembali mempelajari peta,
menunjuk beberapa tempat dengan jari telunjuknya, lalu mengangguk dengan puas.
"Aha!" ia bergumam pelan. "Jadi itulah permainan yang mereka rencanakan". Ya,
kalau begitu," katanya sambil nyengir, "setidaknya kalian menyiapkan pakaian
hangat dari sekarang." .
Si Perlente tidak mengambil apa-apa. Ia juga tidak memeriksa apakah Gnaski rajin
mengisi celengan atau mengumpulkan perangko berharga.
Ia berbalik badan dan menuju ke jendela. Sporty segera bersembunyi.
Dari arah rel kereta terdengar bunyi peluit panjang. Sebuah kereta ekspres lewat
dengan suara gemuruh. Sporty mengintip. Si Perlente ternyata menunggu sampai kereta api berlalu. Baru setelah itu ia
memanjat ke luar. Tapi sepatunya yang bermerek Gucci tersangkut, sehingga ia
nyaris jatuh terjerembab.
lebih baik aku jangan bertindak dulu, Sporty memutuskan, lalu memperhatikan si
Perlente menyeberangi rel. Pria itu menarik kaki celananya, persis, seperti
seorang wanita bergaun panjang yang sedang berjalan-jalan di tempat pembuangan
sampah. Setelah si Perlente menghilang dari pandangan, Sporty menuju ke jendela.
Jendelanya ditutup lagi, tetapi tidak dikunci.
Sporty membukanya dan melompat masuk. Ia disambut oleh bau pengap yang memenuhi
ruang duduk di rumah Gnaski.
Rasa ingin tahu Sporty berkobar-kobar seperti api unggun. Penuh semangat ia
menghampiri meja tamu. Aha! Peta tadi ternyata mencakup wilayah seluas 100 km2 di sekitar kota. Dan
Gnaski - - siapa lagi kalau bukan dia - telah menulis beberapa catatan. Tulisannya
mirip cakar ayam, tapi Sporty masih bisa membacanya.
Sebuah lingkaran. tebal mengelilingi tempat istirahat pada jalan bebas hambatan.
Di sampingnya terdapat tulisan Gerobak PT Nosiop, Kurt Weinhard, 19, setelah jam
14.00! Sebuah tanda panah menunjuk ke daerah LEMBAH NERAKA!
Sporty sudah pernah mendatangi lembah itu.
Catatan Gnaski mengatakan: Terowongan Lama!!! Tanda seru ketiga tidak dilengkapi
dengan titik. Semua orang yang pernah datang ke Lembah Neraka pasti mengenal Terowongan Lama.
Memang, orang tidak bisa masuk ke dalam. Puluhan tahun lalu para pekerja telah
menutup mulut terowongan itu. Bukan dengan semen, melainkan dengan papan dan
balok kayu, yang setelah sekian tahun pasti sudah lapuk.
Sporty memelototi peta di hadapannya. Apakah peta ini merupakan bagian dari
rencana Gnaski dan rekannya yang bernama Ottmar" PT Nosiop" Aha! Aha! Gerobak"
Barangkali mobil angkutan yang dimaksud Gnaski"
Si Perlente kelihatannya bisa mengartikan catatan ini, pikir Sporty dengan
kesal, tapi aku tidak mengerti apa-apa. Permainan apa yang sedang berjalan" Dan
kenapa Ottmar dan Gnaski harus menyiapkan pakaian hangat"
Beberapa saat kemudian Sporty telah kembali ke teman-temannya. Langsung saja ia
melaporkan apa yang ditemuinya di rumah Gnaski.
"Aneh sekali," ujar Petra.
"Sekarang sudah jelas bahwa Ottmar dan Gnaski merencanakan sesuatu," Thomas
berkomentar. "Dan kelihatannya si Perlente pun tertarik. Sedangkan Nicole dan
Magda Tepler cukup akrab dengan Ottmar."
"Yang membuat aku cemas adalah catatan mengenai gerobak PT Nosiop itu," kata
Sporty. "Nosiop! Nosiop! Sebenarnya paling mudah kalau kita tanya Emma saja.
Tapi kita tidak bisa melakukannya. Sebab Emma pasti akan langsung menghubungi
polisi, dan mereka akan segera bertindak."
"Besok sudah tanggai 19," ujar Petra.
Oskar mendesah. "Aku sudah bisa membayangkan apa rencana kita setelah ini. Kita
akan menunggu di tempat istirahat di tepi jalan bebas hambatan, lalu menunggu
bagaimana kelanjutannya."
"Tepat sekali," balas Sporty. "Besok siang kita akan berada di sana. Dan
seandainya memang terjadi sesuatu, maka kita punya keuntungan besar. Kita tahu
siapa saja yang terlibat: Nicole dan Magda Tepler, Ottmar, si Perlente, hanya
Gnaski yang belum sempat kita lihat. Begitu juga Kurt Weinhard."
"Barangkali itu Gnaski?" ujar Petra sambil memandang ke ujung jalan.
Sporty dan Thomas, yang membelakangi arah itu, segera berpindah posisi.
Sebuah VW Combi berwarna biru tua sedang mendekat, lalu berhenti di depan pagar.
Seorang pria setengah baya bertubuh kekar turun. Ia mengenakan pakaian montir
dan topi pet. Dari jauh Sporty mendapat kesan bahwa orang itu sedang lelah.
"Tampangnya sih cocok," kata Petra. "Orang seperti itu mungkin saja membiar kan
peta yang penuh catatan tergeletak di sembarang tempat."
"Barangkali dia percaya bahwa dunia ini hanya dihuni oleh orang jujur," Sporty
berkomentar sambil ketawa.
"Tanyakan saja apakah dia bersedia menyumbang untuk Organisasi Swadaya Pelajar,"
Oskar mengusulkan sambil nyengir "Nanti kita akan tahu bagaimana duduk
perkaranya." 12. Kebakaran di Gudang Bawah
FRIEDRICH "FRED" PETULLJE sama sekali tidak l menyadari bahwa ada empat remaja
yang menjulukinya si Perlente. Seandainya tahu, bisa-bisa ia lebih marah lagi.
Sekarang saja ia sudah menggerutu karena sepatunya yang mahal terkena kotoran di
rel kereta Ia menghentikan mobilnya di Jalan Olympia nomor satu, lalu bergegas menuju
pintu. Sebelum ia sempat menekan bel, pintunya membuka.
Nicole ternyata mendengar kedatangan tunangannya.
Tapi bagaimana penampilannya"!
Wanita muda itu sengaja berdiri di selasar remang-remang, sehingga orang-orang
yang kebetulan lewat tidak bisa melihatnya.
Ia mencium pipi Fred, kemudian mengajaknya ke ruang duduk.
"Dari tadi kami menunggu telepon darimu," Magda menyambut calon menantunya. Ia
mengenakan pakaian serupa dengan anaknya.
"Aku memang tidak menelepon," jawab Fred, lalu meraih botol berisi minuman
keras. lbu dan anak - dari jauh penampilan mereka kini lebih mirip laki-laki. Masing-
masing mengenakan baju montir dan sepatu lars yang terbuat dari kulit. Baju
montir yang mereka pakai serba kedodoran, sehingga menyembunyikan ciri-ciri
kewanitaan mereka. Stocking yang telah diberi lubang tergeletak di atas meja,
dan akan dipergunakan sebagai topeng. Di samping itu masih ada dua pasang sarung
tangan, serta dua topi laken yang sudah usang.
Di depan sofa ada sebuah tas kantor. Isinya dua pucuk pistol. Yang pertama
rusak. Sedangkan pembuatan amunisi untuk yang kedua telah dihentikan 20 tahun
lalu Tapi senjata-senjata itu masih bisa dipakai untuk menggertak orang.
Fred telah menuangkan minuman ke dalam gelas. Ia nampak kesal sekali.
"Aku membayar 500 Mark untuk sepasang sepatu ini! Tapi coba lihat seperti apa
rupanya sekarang" Siapa yang akan mengganti sepatuku ini, heh?"
"Kau habis menyeberang ladang tadi?" tanya Nicole.
"Ngawur! Sepatuku jadi begini gara-gara aku terpaksa menyeberang rel kereta api.
"Ada apa, sih?"
"Tidak ada apa-apa! Aku mengikuti Lohmann dan temannya yang tolol itu sampai ke
suatu tempat istirahat di pinggir jalan bebas hambatan. Kemudian aku mengawasi
gerak-gerik mereka lewat teropong. Rupanya mereka salah sasaran. Bayangkan,
mereka menghadang seorang sopir mobil tangki yang sedang membawa keju untuk
diekspor ke Italia! Begitu sadar, mereka langsung kabur. Karena masih penasaran,
aku lalu ngebut ke rumah Gnaski. Ternyata memang itu langkah yang paling tepat.
Sekarang aku tau kenapa si Tolol membuat kesalahan. Tanggalnya keliru. Padahal
dia sudah mencatat tanggal 19 pada petanya!"
Ia menceritakan detil-detilnya.
Magda dan Nicole ketawa cekikikan. Mereka pun ikut minum-minum. Di lemari es
masih ada satu botol lagi. Dan sore itu pun berlalu dalam suasana riang gembira.
**** Langit pada hari Minggu nampak mendung. Tapi menurut ramalan cuaca, para
penduduk kota tidak perlu khawatir. Itu bisa berarti bahwa cuaca akan membaik,
atau bahwa hujan deras akan mengguyur kota.
Sejak pagi Sporty berlatih judo di aula olahraga. Ia baru berhenti setelah
benar-benar lelah. Kemudian ia menulis surat pada ibunya, dan setelah itu masih
sempat membaca dua bab dalam buku sejarah.
Anak itu sedang berbaring di tempat tidurnya. Berkali-kali ia melirik jam yang
terpasang di dinding. Bersama Oskar ia menunggu waktu makan siang. Sebab semakin
cepat mereka selesai makan, semakin cepat juga mereka bisa berangkat.
Oskar baru bangun menjelang pukul setengah sebelas. Kemudian ia mulai
membereskan lemarinya. Tugas itu sebenarnya sudah hendak dikerjakannya sejak
akhir liburan musim panas. Tetapi setiap kali ia berhasil menemukan alasan untuk
menunda pekerjaan berat itu sampai besok.
Sambil mendesah dan mengumpat dengan suara tertahan, Oskar membongkar isi
lemarinya. Semakin lama, tumpukan barang yang seharusnya masuk tong sampah
semakin tinggi. Tapi Oskar masih merasa sayang untuk membuang barang-barang itu.
"Biar kubawa ke gudang bawah saja," katanya. "Barang-barang ini akan kumasukkan
ke dalam koper. Nanti Georg," sopir keluarga Sauerlich, "bisa membawa pulang
semuanya." Gudang bawah adalah gudang bawah tanah yang digunakan untuk menyimpan koper-
koper milik anak-anak asrama.
"Hati-hati," ujar Sporty sambil membalik halaman bukunya. "Lampu di gudang bawah
putus dan belum diganti."
"Tidak ada lampu sama sekali?"
"Tidak ada lampu sama sekali."
"Wah, asrama macam apa ini?" Oskar menggerutu. "Mana mungkin aku menemukan
koperku di antara ratusan koper lain" Uh, ya! Aku masih punya korek api. Wah,
mana aku menaruhnya?"
Oskar mencari seperti orang kesurupan. Akhirnya ia menemukan kotak korek api itu
di dasar tumpukan barang bekas.
"Pekerjaan ini kelewat melelahkan!" ia mengomel. "Padahal hari Minggu seharusnya
digunakan untuk beristirahat. Bagaimana kalau kita makan dulu" Nanti saja kucari
koperku di gudang bawah."
Sporty pun merasa lapar. Mereka meninggalkan SARANG RAJAWALI dan menuruni
tangga. Ketika sampai di depan ruang makan, kedua sahabat itu melihat bahwa Pak Pflumer
sedang memarahi seorang murid bernama Egon von Fels. Egon berasal dari keluarga
bangsawan, tetapi itu tidak kelihatan dari penampilannya. Umurnya 12 tahun, dan
ia baru saja menghabiskan sebatang rokok cli WC. Dengan jendela tertutup rapat.
Pak Pflumer - yang tidak merokok - mencium bau asapnya, lalu menampar Egon. Hukuman
seperti itu sebenarnya dilarang, Namun jika Pak Pflumer mendapat giliran piket
pada hari Minggu, maka ia sering tidak bisa menahan diri. Orangnya besar dan
berperut buncit. Sporty dan Oskar cepat-cepat masuk ke ruang makan. Ternyata baru mereka yang
datang. Dengan lahap keduanya menghabiskan sepiring sop, lalu menikmati daging
semur dengan kentang rebus. Sporty tidak mengambil makanan pencuci mulut.
Sedangkan Oskar hanya makan dengan setengah hati. Soalnya yang dihidangkan bukan
puding coklat, melainkan buah-buahan segar.
Hal ini semakin menambah kekesalan Oskar. "Makin lama mutu pelayanan di sini
makin parah saja," ia kembali menggerutu.
"Sudah waktunya untuk berangkat," kata Sporty. "Kita kan sudah sepakat untuk
berkumpul jam setengah dua." .
"Berapa jauh sih, sampai ke sana?"


Detektif Stop - Pengkhianatan Di Lembah Neraka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Ah, dekat," jawab Sporty. Ia sengaja merahasiakan jaraknya, agar Oskar tidak
patah semangat duluan. Sebenarnya tempat istirahat di pinggir jalan bebas
hambatan itu berjarak 26 kilometer dari asrama - itu pun potong kompas, lewat
jalan yang paling pendek.
Mereka kembali ke SARANG RAJAWALI. Sporty berganti baju. Ia membuka kemejanya
yang berwarna putih, lalu mengenakan T-shirt dengan huruf S pada dadanya. Untuk
berjaga-jaga, ia juga menyelipkan pisau lipat ke kantong celana.
Oskar menarik napas panjang, kemudian memasukkan barang-barang yang akan ia
kirim-titipkan pada Georg ke dalam sebuah kardus besar. Kemudian ia mengangkat
kardus itu untuk membawanya ke gudang bawah.
"Aku tunggu di selasar bawah," kata Sporty.
Di sanalah ia berdiri sambil bersandar pada dinding. Dalam hati ia memikirkan
segala kemungkinan menyangkut Ottmar, Gnaski, si Perlente, serta Magda dan
Nicole Tepler. Tapi... ke mana si Oskar" Kenapa dia belum nongol juga" Apakah
dia tersesat di gudang bawah"
Beberapa menit telah berlalu. Tiba-tiba Oskar muncul di ujung selasar. Ia
berlari sekuat tenaga, seakan-akan dikejar sekawanan tawon penyengat. Wajahnya
nampak pucat pasi. "Sporty, gudang... gudangnya kebakar! Sialanl Aku..."
"Apaaa"!" "Aku pun tidak tahu kenapa bisa kebakar. Semuanya gara-gara lampu yang putus
itu. Korek api yang sedang kupegang jatuh... Ehm... Koreknya menyala. Dan
kebetulan jatuhnya persis ke tumpukan kertas-bekas..."
Sporty tidak menunggu lebih lama lagi. Ia langsung melesat maju, melewati lima
anak tangga sekaligus, kemudian masuk ke gudang bawah tanah.
Asap tampak mengepul di ruang penyimpanan koper. Lidah api menari-nari. Untung
kebakarannya belum sempat membesar hingga mengancam seluruh gedung asrama Hanya
ada tiga koper kosong yang tengah dimakan api.
Sporty menyambar tabung pemadam kebakaran, kemudian mematikan api dengan
menyemprotkan busa khusus.
Oskar memperhatikannya sambil mengangguk-angguk.
"Wah, kau memang sigap sekali," ia memuji sahabatnya. "Aku sama sekali tidak
berpikir untuk memakai tabung pemadam kebakaran. Hampir saja aku lari ke kamar
mandi untuk mengambil seember air."
"Busyet, Oskar! Kadang-kadang kau benar-benar..."
Suara langkah terdengar menuruni tangga. Seseorang menarik napas sambil
tersengal-sengal. Yang pertama-tama kelihatan adalah sebuah perut buncit. Baru
kemudian Pak Pflumer menyusul.
Aduh, kacau-balau! pikir Sporty. Kita bakalan diamuk-amuk.
Dugaannya ternyata benar.
"Kalian merokok, ya?" Pak Pflumer langsung membentak mereka.
Dasar goblok! pikir Sporty. Cerutu pun tidak ada yang baunya setajam ini.
"Saya tidak merokok!" Oskar memprotes. "Saya hanya membakar ruang penyimpanan
koper. Itu pun tanpa sengaja." Kemudian ia menambahkan dengan nada tinggi,
"Gara-gara lampunya putus saya terpaksa menyalakan korek api. Tapi koreknya
jatuh ke tumpukan kertas bekas, dan..."
"Siapa yang mengizinkan kalian untuk bermain bakar-bakaran di sini?" teriak Pak
Pflumer. "Karena ulah kalian sekolah kita nyaris terbakar habis. Keterlaluan!
Urusan ini harus diselesaikan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Awas, jangan
coba-coba kabur!" Dengan hati-hati Pak Pflumer mengintip ke ruang penyimpanan koper. Tapi apinya
sudah padam. Bau asap yang menggantung di udara pun telah semakin menipis.
"Kalian menghadap kepala sekolah!" Pak Pflumer memerintah. "Sekarang juga!"
Wah pikir Sporty. Kalau begini rencana kita terancam gagal. Seharusnya kita
sudah berangkat. Brengsek! Padahal waktunya tinggal sedikit. Petra dan Thomas
pasti sudah menunggu. Operasi Lembah Neraka pun sedang berjalan. Sedangkan kita
malah harus menghadap kepala sekolah. Eh, tunggu dulu! Pada hari Minggu dia kan
tidak ada di sini! "Apakah saya boleh mengingatkan Bapak bahwa Pak Kepala Sekolah sedang berada di
rumahnya," Sporty berkata dengan sopan sekali. "Bararngkali urusan ini bisa
ditunda sampai..." "Kalian dilarang ke luar asrama!" Pak Pflumer menanggapinya dengan geram. "Ayo,
segera naik ke kamar kalian. Dan jangan keluar sebelum Pak Kepala Sekolah
datang. Awas kalau saya memergoki kalian di taman atau di luar!"
Taman juga terletak di luar, Pak! Sporty sebenarnya kepingin menendang tulang
kering gurunya itu. Buyarlah rencana mereka!
Bersama Oskar ia naik ke SARANG RAJAWALI.
Pak Pflumer menggiring kedua anak itu sambil berlagak seperti sipir penjara.
Namun napasnya semakin pendek. Setelah sampai di ujung tangga, ia langsung
berbalik dan turun lagi. "Brengsek!" Oskar mengumpat setelah mereka sampai di kamar. "Setiap orang bisa
membuat kesalahan," ujar Sporty. "Tapi anehnya kau selalu berhasil membuat
kesalahan pada waktu yang paling tidak menguntungkan. Sekarang kita terpaksa
mendekam di sini. Sementara itu Petra dan Thomas menunggu dengan sia-sia. Mereka
butuh bantuan kita."
"Kalau begitu kita kabur saja," Oskar mengusulkan. "Untuk apa aku punya tangga
tali?" Sporty langsung membelalakkan mata.
"Aduh, Oskar! Mikir dulu dong, sebelum buka mulut. Pak Pflumer pasti akan
memeriksa kamar kita setiap setengah jam sekali. Dia memang tidak menyukai aku.
Lagi pula mana mungkin kita kabur pada siang hari bolong seperti ini" Pasti ada
lusinan anak di taman. Apa jadinya kalau mereka lihat kita kabur lewat jendela?"
"Hmm, benar juga!"
Oskar membuka lemarinya, lalu mengambil sekeping coklat. Perasaan bersalah yang
melanda dirinya membuat anak itu jadi lapar sekali. Sambil mengunyah ia berkata,
"Barangkali saja Pak Kepala Sekolah kembali agak lebih cepat dari kota - dan
mengizinkan kita pergi. Hari Minggu dia suka makan di Hotel Post. Kalau... ah,
percuma saja. Dengan naik sepeda kita tidak bakal keburu sampai di tempat
istirahat sebelum jam 14.00. Untuk itu kita perlu mobil sport."
"Mobil sport" Oskar, itu jawabannya!" seru Sporty. "Kita harus cari Hubi! Hanya
dia yang bisa membantu kita sekarang. Kalau naik mobil dia, kita bisa menghemat
waktu yang terbuang gara-gara kau membakar gudang bawah. Jelas?"
"Tidak!" "Kau tunggu di sini saja! Aku mau menelepon dulu."
Sporty bergegas ke lantai dasar. Ia harus berhati-hati agar tidak kepergok oleh
Pak Pflumer. Guru itu masih sibuk berpatroli keliling asrama.
Mudah-mudahan Hubi ada di apartemennya, Sporty berharap-harap.
Tanpa terlihat oleh Pak Pflumer ia menyelinap ke GUDANG SAPU, ruang telepon di
lantai dasar. Sambil memutar nomor Hubi, Sporty memikirkan apa yang harus ia
katakan. Akhirnya ia sampai pada kesimpulan bahwa ia sebaiknya berterus terang
saja - mengenai rencana mereka, mengenai apa yang ingin mereka cegah, dan mengenai
orang-orang yang mungkin terlibat: terutama Nicole Tepler.
"Halo" Di sini Hubert Knoth," Hubi menyahut.
"Ini Sporty. Kami memerlukan bantuan Anda. Urusannya sangat mendesak. Kami
menghadapi..." Sporty bercerita. Hubi mendengarkannya sambil membisu. Ia benar - benar terpukul
oleh kenyataan ini. "Ini... ini tidak masuk akal!" Hubi berkata. "Saya belum bisa percaya bahwa Nona
Tepler terlibat dalam kejahatan yang lebih gawat dibandingkan pemalsuan lukisan.
Ya, Tuhanl Tapi saya harus berani menghadapi kenyataan. Saya harus tahu apakah
saya bertetangga dengan seorang penjahat dan... Wah, brengsekl Ehm... Sporty,
tentu saja saya bersedia membebaskan kalian dari... ehm... cengkeraman Pak
Pflumer. Tapi baru kemarin mobil saya masuk bengkel. Bengkelnya tidak jauh dari
rumah saya. Masalahnya mereka tidak buka pada hari Minggu."
"Anda harapan kami yang terakhir,"ujar Sporty dengan kecewa.
"Dan harapan kalian tidak akan saya sia-siakan!" Hubi berseru. "Saya akan
mengambil mobil saya. Kalau perlu, saya akan mendobrak pintu bengkel. Nanti saya
akan menjelaskan pada Pak Pflumer bahwa saya memerlukan tenaga kalian untuk
Operasi Lingkungan Bersih yang dipimpin oleh ayah saya. Kalian tunggu saja."
"Terima kasih banyak!" seru Sporty. Tapi Hubi sudah meletakkan gagang.
Menunggu merupakan pekerjaan yang paling tidak menyenangkan. Terutama dalam
keadaan seperti ini. Sporty berdiri di depan jendela SARANG RAJAWALI. Setiap
tiga detik ia menoleh ke luar. Dari kamarnya ia bisa melihat tempat parkir yang
dipenuhi oleh mobil-mobil para guru bujangan yang tinggal cli asrama. Tapi mobil
Hubi belum kelihatan. Barangkali Porsche itu sudah mulai dibongkar di bengkel.
Atau seorang montir meminjamnya untuk jalan-jalan - tanpa sepengetahuan pemilik
bengkel, apalagi pemilik mobil.
Oskar sibuk melahap coklat, dan berkata, "lni benar-benar bencana bagi kita! Aku
berjanji untuk tidak lagi menyalakan api di gudang bawah. Tapi yang salah
sebenarnya Pak Pflumer. Kenapa dia menghukum kita" Kebakaran tadi kan tidak
terlalu berbahaya." Sporty melirik arlojinya. Waktu berlalu dengan cepat.
Ketika Hubi akhirnya datang, jam dinding menunjukkan pukul 13.51.
Hubi segera bergegas ke bangunan utama, dan mulai mencari Pak Pflumer.
"Saya rasa dia ada di ruang makan!" teriak Sporty dari atas tangga. Kemudian ia
dan Oskar menunggu sambil menghitung detik-detik.
Mudah-mudahan Pak Pflumer tidak macam-macam," ujar Oskar.
Suara langkah terdengar menggema. Hubi muncul, dan melambaikan tangan pada
kepada sahabat itu. "Ayo, kita berangkat!"
13. Tertawan MEREKA ngebut seperti orang gila. Oskar duduk di belakang, Sporty di samping
Hubi. Semuanya mengenakan sabuk pengaman. Karena sedang melaju dengan kecepatan
tinggi, Hubi tidak bisa melepaskan kemudi.
Kalau harus pindah gigi - yang memang sering dilakukannya - maka ia menginjak
kopling dan berseru, "Sekarang!"
Sporty segera menyambar tuas persneling dan berusaha menemukan gigi yang tepat.
Mula-mula ia masih mengalami kesulitan, tapi sekarang semuanya berjalan dengan
lancar. "Hebat!" Oskar berkomentar.
Tempat istirahat di mana Petra dan Thomas menunggu sudah kelihatan.
Hubi mengurangi kecepatan, lalu menginjak kopling. Sporty segera pindah ke gigi
tiga. Mereka melewati pompa bensin, restoran, dan juga warung hamburger. Petra dan
Thomas berdiri tidak jauh dari sana. Keduanya nampak cemberut.
"Aku pikir kalian mau datang naik sepeda," kata Petra.
Sporty segera mencium kening gadis itu.
"Pak Knoth sudah tahu apa yang terjadi," katanya. "Tanpa bantuannya, Oskar dan
aku tidak mungkin sampai ke sini. Tapi nanti saja kuceritakan. Kita sudah
terlambat. Apa ada kejadian aneh selama kalian tunggu di sini?"
"Tidak ada apa-apa," jawab Thomas. "Kami juga terlambat karena rantai sepeda
Petra lepas terus. Kami berharap kalian sudah lebih dulu tiba di sini. Sejak
tadi aku belum melihat siapa-siapa. Mobil angkutan PT Nosiop juga belum datang."
"Barangkali kecurigaan kalian sejak awal memang tidak beralasan," ujar Hubi
sambil ketawa dengan lega, "dan Nicole Teler sama sekali tidak bersalah."
Petra langsung menggeleng, lalu menunjuk ke arah warung hamburger. "Waktu Thomas
dan saya beli Coca-Cola di sana, kami sempat mendengar percakapan antara pemilik
warung itu dengan seorang pembeli. Kami hanya mendengar sebagian, tapi
kelihatannya kemarin telah terjadi penyergapan di sini. Sasarannya adalah
seorang pengemudi mobil tangki bernama Max Braun."
"Ah, itu mungkin hanya kebetulan saja," Hubi menanggapinya. "Nicole pasti tidak
terlibat." "Hanya ada satu cara untuk memastikannya," kata Sporty. "Saya akan beli
hamburger. Terserah siapa yang mau menghabiskannya nanti."
"Demi kepentingan bersama, aku bersedia berkorban," ujar Oskar.
Sporty menghampiri warung. Sebagian teras warung dilindungi atap. Meja-meja yang
ada di sana nampak belepotan saus tomat. Seorang pria berdiri di meja layan. Ia
mengenakan jaket bermotif kotak-kotak, dan sedang mencampur Coca-Cola dengan
wiski. Wanita berambut pirang yang berada di belakang meja layan sedang
bercerita. Pria itu nampak melongo dan membelalakkan mata. Di atas meja layan
ada sebuah papan kayu bertulisan: F. DELLE, RATU HAMBURGER.
"Wah, ini baru kejutan, Fricka," si Jaket Kotak-kotak berkomentar. Rupanya dia
baru saja mendengar berita mengenai penyergapan kemarin.
Fricka" pikir Sporty. Hmm, rupanya Bu Delle ini kelahiran Swedia. Tampangnya
sih, cocok. Dan suaminya pasti Raja Sosis Panggang.
"Sungguh, Heinz! Aku tidak mengada-ada. Max Braun disergap oleh dua penjahat. Di
belakang sana, dekat tepi hutan. Dia diikat, terus dibius dengan khloroform.
Setelah itu dia dibiarkan tergeletak di balik semak-semak. Rupanya kedua
penjahat itu salah sasaran. Ya, para bajingan pun bisa membuat kesalahan." Ia
ketawa dan melirik ke arah Sporty.
Tapi anak itu masih nampak ragu-ragu.
"Salah sasaran?" tanya Heinz.
"Ya, mereka keliru, Max Braun kan membawa keju ke Milan. Tapi ternyata mereka
sama sekali tidak mengutak-atik muatannya. Polisi sempat datang ke sini. Mereka
juga minta keterangan dari aku. Tapi aku tidak melihat apa-apa."
Heinz memandang ke tepi hutan, ke tempat perhentian mobil-mobil angkutan.
"Astaga! Dekat sekali dari sini! Para penjahat semakin nekat saja, Tepatnya di
mana mereka menyergap Max?"
"Di depan pohon cemara yang tinggi itu Kurt Weinhard tadi juga berhenti di sana.
Wah, kali ini aku benar-benar kecewa terhadap dia. Begitu mobil tangkinya
berhenti, aku langsung menyiapkan hamburger yang paling besar untuk dia, seperti
biasanya. Tapi ternyata dia tidak datang. Dia hanya berhenti sebentar, lalu
langsung berangkat lagi. Aku sempat melambaikan kantong berisi hamburger,
tapi... Hmm, aneh! Rasanya bukan Kurt Weinhard yang duduk di belakang kemudi.
Pantas saja dia tidak mampir ke sini. Tapi aku yakin, Kurt yang pegang kemudi
waktu datang." Ia berpaling pada Sporty. "Mau pesan apa?"
Sporty menatap wanita itu dengan wajah berseri-seri. "Bu Delle, sebenarnya saya
ingin memeluk Anda. Anda tidak bisa membayangkan betapa penting keterangan Anda
bagi kami. Nanti saya akan kembali untuk mencicipi hidangan Anda. Tapi sekarang
kami sedang terburu-buru."
Ia mengangguk ke arah wanita yang terbengong-bengong, kemudian kembali pada
teman-temannya. "Kita terlambat! Ottmar dan Gnaski ternyata sudah beraksi. Dan kalau tidak salah
di balik semak-semak di belakang sana kita akan menemukan Kurt Weinhard, sopir
mobil tangki PT Nosiop; dalam keadaan pingsan dan terikat. Mobilnya dibawa kabur
oleh kedua bajingan itu. Coba kita periksa."
Dugaan Sporty ternyata tepat sekali. Mereka menemukan sopir itu dalam keadaan
terbius. Tangannya diikat, dan mulutnya disumpal dengan sepotong kain.
Sporty segera kembali ke warung hamburger.
"Bu Delle, di sana ada orang yang mengalami kejadian yang sama dengan Max Braun.
Saya rasa orang itu Kurt Weinhard langganan Anda yang biasanya selalu mampir ke
sini. Satu hal yang ingin saya tanyakan, jam berapa mobil PT Nosiop berangkat
dari sini?" Wanita itu semakin heran. Si Jaket Kotak-kotak pun semakin melongo. Sporty
terpaksa mengulangi pertanyaannya.
"Saya... saya tidak tahu persis," jawab Bu Delle. "Tapi belum terlalu lama. Jadi
Kurt juga jadi korban mereka" Wah, kalau begini saya harus segera menelepon
polisi." "Saya memang mau minta tolong pada Anda untuk menghubungi pihak yang berwajib,"
ujar Sporty. "Dan tolong rawat orang yang pingsan itu! Nah, itu dia."
Kurt Weinhard digotong oleh Hubi dan ketiga sahabat Sporty. Untung saja orangnya
kecil, sehingga mereka tidak perlu memeras tenaga. Sporty segera menggantikan
tempat Petra. Setelah sopir yang malang itu diserahkan pada Bu Delle, Hubi
beserta anak-anak STOP langsung bergegas ke mobilnya.
"Sekarang ke Lembah Neraka!" kata Sporty "Bagian kedua dari permainan ini akan
berlangsung di sana."
Dengan kecepatan tinggi mereka melewati jalan bebas hambatan. Seperti tadi,
Sporty bertugas mengoper gigi persnelling. Sementara itu Oskar bercerita mengapa
ia dan Sporty terlambat. Thomas ketawa. Hubi menyetir dengan sebelah tangan.
"Sebelum lupa," kata Petra, yang duduk di belakang Sporty, "Emma... ehm... Bu
Gisen-Happlich sempat menelepon tadi. Katanya kita ditunggu jam 16.00. Kami
diundang untuk menghadiri pesta kebun anaknya, Gunter Gisen-Happlich, Direktur
PT Nosiop," Gadis itu lalu menjelaskan pada Hubi.
"Jam empat sore?" Oskar mendesah. Mudah-mudahan saja kita jangan terlambat lagi.
Aku akan menyesal seumur-umur kalau tidak sempat mencicipi kambing guling yang
khusus disediakan untukku."
"Hei, itu dia!" Sporty tiba-tiba berseru.
Benar saja! Di depan mereka sebuah mobil tangki bertulisan PT Nosiop
menggelinding di jalur lambat.


Detektif Stop - Pengkhianatan Di Lembah Neraka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Hati-hati," kata Sporty. "Kemungkinan besar ada orang yang mengenal kita di
mobil itu." Tanpa mengurangi kecepatan, Hubi melewati kendaraan berat itu.
Oskar melirik melalui jendela belakang. "Aku lihat Ottmar! Hanya dia..."
Pada detik berikutnya mereka menyusul VW Combi berwarna biru tua yang
dikemudikan Gnaski. "Nah, itu Gnaski," ujar Oskar. "Dia masih nyengir seperti orang gila. Selain dia
tidak ada siapa-siapa lagi."
"Nicole Tepler tidak kelihatan?" tanya Hubi dengan gembira. "Sejak semula
pertama saya kurang percaya bahwa dia terlibat dalam urusan ini. Semuanya memang
masih teka-teki bagi saya. Untuk apa mereka mencuri mobil tangki berisi limbah
beracun?" "Cairan di dalamnya bisa digunakan untuk menimbulkan bencana," kata Sporty.
"Sama halnya dengan korek api," Oskar berkomentar.
Sebuah papan petunjuk di pinggir jalan mengatakan bahwa semua orang yang menuju
ke Eipenhausen, Plogdort, Taulstadt, ke Danau Angerwieser, atau ke Lembah
Neraka, harus keluar dari jalan bebas hambatan.
Hubi mengerem dan menginjak kopling. Sporty mengoper gigi persneling. Mereka
semakin dekat ke tempat tujuan.
Lembah Neraka memotong sebuah bukit menjadi dua bagian yang tidak sama besar.
Sebuah jalan berlubang menyusuri lembah. Orang-orang yang tahu bahwa jalan itu
buntu pasti akan segera kembali. Puluhan tahun lalu pernah ada rencana untuk
menembus bagian bukit yang lebih besar dengan sebuah terowongan. Tapi rencana
itu akhirnya terbengkalai. Belakangan Lembah Neraka dikenal sebagai tambang batu
kerikil. Di ujung lembah terdapat celah-celah di batu cadas, yang kadang-kadang
mengeluarkan uap belerang. Bau uap itu amat menusuk hidung dan juga kurang
sehat. Karena itulah Lembah Neraka memperoleh namanya yang tidak menarik.
"Kita bisa bersembunyi di terowongan," Sporty mengusulkan. "Tapi mobilnya harus
di taruh di mana?" "Pilihannya cukup banyak," kata Thomas.
Dan memang! Lembah yang sempit itu tampak seperti hutan belantara; penuh pohon-
pohon, semak belukar, tumbuhan dan rumput liar - segala sesuatu yang tumbuh subur
di tanah yang lembab. Hubi membawa mobilnya ke balik dinding tumbuhan di sebelah kanan jalan. Hanya
ada satu jalan untuk mencapai tempat persembunyian itu. Roda mobil Hubi masuk ke
dalam lumpur. Tapi Hubi yakin bahwa Porsche - nya takkan terperangkap di sini.
Mereka menuju ke jalan itu. Mobil Hubi tidak kelihatan sama sekali. Sedangkan
jejak ban. yang ditinggalkan hanya bisa dilihat oleh pencari jejak yang paling
ulung. Mereka bergegas ke terowongan.
Di sebelah kiri, di dekat ujung lembah, ada dinding batu cadas setinggi rumah
bertingkat tiga. Sisa lereng bukit jauh lebih landai, dan ditumbuhi pohon-pohon
serta semak-semak. Bagian tepi tebing dibatasi oleh pagar kawat.
Mulut Terowongan Lama cukup besar untuk dimasuki sebuah mobil tangki. Ruang di
sebelah kiri dan kanan masih cukup lebar untuk dilewati orang. Hanya bagian
atasnya agak pas-pasan. Tapi Sporty menaksir bahwa mobil tangki PT Nosiop tidak
akan terbentur. Mulut terowongan ditutup seadanya dengan papan dan balok kayu. Sebuah papan
memperingatkan; DILARANG MASUK! BAHAYA RUNTUH!
Mereka memilih tumbuhan semak yang berada agak jauh dari mulut terowongan, lalu
duduk di atas batu-batu berlumut. Sporty mengorbankan saputangannya, agar celana
jeans Petra jangan sampai kotor.
"Hanya kita yang ada di sini," katanya. "Pintar juga, mereka. Aku menduga,
Ottmar dan Gnaski bermaksud menyembunyikan mobil tangki itu di sini. Lalu"
Rasanya tidak masuk akal kalau mereka menjual isinya sebagai obat serba guna.
Barangkali mereka ingin memeras PT Nosiop."
"Set!" Hubi mendesis. "Mereka datang!"
Sebuah kendaraan berat terdengar mendekat, kemudian berhenti di depan mulut
terowongan. Mobil yang dikemudikan Gnaski menyusul. Ottmar dan Gnaski turun.
Mereka hanya bicara seperlunya, lalu mengeluarkan linggis dari mobil Gnaski.
"Ayo, kita mulai saja, Bert!" ujar Ottmar.
Mereka bekerja dengan sekuat tenaga. Balok-balok dan papan-papan kayu yang
menghalangi mulut terowongan dilepaskan satu per satu. Semuanya dibuang ke
samping, dan setengah jam kemudian mulut terowongan telah terbuka lebar. Ottmar
dan Gnaski bermandikan keringat.
"Awas!" bisik Sporty. "Kita tidak sendirian lagi. Ada yang bersembunyi di balik
semak-semak di dekat pohon besar itu. Kelihatannya seperti beberapa orang."
Sporty dan yang lainnya semakin menundukkan kepala. Namun mereka tidak perlu
khawatir. Tempat persembunyian mereka benar-benar aman.
Ottmar dan Gnaski telah memecahkan leher sebuah botol bir, dan kini minum dengan
penuh semangat. Gnaski tetap nyengir terus. Tapi sekarang Ottmar pun ikut-
ikutan, ia menepuk bahu rekannya, naik ke mobil tangki, lalu menghidupkan mesin.
Dengan hati-hati ia memasukkan kendaraan berat itu ke dalam terowongan.
Gnaski memberi pertunjuk. Ia melompat ke kiri, lalu ke kanan, dan bertingkah
seperti badut. "Lebih ke kiri, Ottmar! Hati-hati! Ke kiri! Terus, terus, sedikit lagi! Yaaa!
Sekarang ke kanan! Stop!"
Terowongan Lama telah menelan mobil tangki PT Nosiop. Asap knalpot mengepul.
Kemudian Ottmar mematikan mesin.
Hubi dan .anak-anak STOP tidak bisa memastikan seberapa jauh mobil tangki itu
masuk ke dalam terowongan.
Ottmar kembali. Di balik semak-semak dekat pohon besar tidak ada yang bergerak.
Tapi pasti ada orang di sana! pikir Sporty.
Ottmar dan Gnaski mulai menutup mulut terowongan. Mereka bekerja sampai
bercucuran keringat, namun tetap menghabiskan waktu lebih lama dibandingkan pada
waktu membongkar. Ketika kedua bajingan itu akhirnya hampir - -selesai, lutut mereka nampak
gemetaran. Keduanya memang sudah agak berumur dan kelihatannya terlalu malas
untuk berolahraga. "Sebentar lagi beres, Bert," ujar Ottmar dengan napas tersengal-sengal.
Mereka menggotong balok kayu terakhir ke mulut terowongan.
Semak-semak di seberang tempat persembunyian anak-anak STOP bergerak-gerak.
Sporty sempat terheran-heran ketika ketiga sosok itu muncul secara mendadak.
Ketiga-tiganya bertopeng dan memegang pistol. Mereka bergerak tanpa bersuara.
Yang paling tinggi, yang berada di tengah, berjalan dengan ringan. Kedua
rekannya melangkah seakan-akan sedang ikut peragaan busana.
Gnaski dan Ottmar tidak menyadari apa-apa. Dengus napas mereka sendiri terlalu
keras. "Balik badan dan angkat tangan!" si Jangsung memerintah dengan tegas.
Gnaski dan Ottmar berdiri seperti patung. Perlahan-lahan mereka membalik.
Keduanya tampak kaget sekali. Tapi Gnaski tetap nyengir.
"Itu si Perlente," bisik Sporty. "Aku mengenali suara dia. Dan cara jalannya."
Hanya itulah ciri-ciri yang menunjukkan identitas orang-orang bertopeng itu.
Ketiga-tiganya mengenakan pakaian montir. Selain memakai topeng, mereka juga
mengenakan topi. Mereka nampak cukup berbahaya.
"Hah" Lho! Apa... Apa - apaan ini'?" tanya Gnaski.
"Diam!" si Perlente menghardiknya. "Jangan melawan kalau kalian masih sayang
pada nyawa kalian. Mulai sekarang kami yang mengatur segala sesuatu di sini!
Jelas?" Ottmar mengerti. Tiba-tiba saja ia memahami apa yang telah terjadi. Wajahnya
jadi merah padam karena marah.
"Kurang ajar!" ia berteriak. "Siapa yang mengkhianati kami" Ini ada yang tidak
beres! Brengsek! Kami sudah bekerja setengah mati, eh, tahu-tahu kami disikat
oleh seorang pengkhianat busuk. Kalian jangan terburu-buru, kawan. Aku yakin,
kita pasti bisa menyelesaikan urusan ini secara baik-baik. Untuk apa kita ribut-
ribut?" "Tidak ada yang mengkhianati kalian," balas si Perlente. "Asal tahu saja,
Lohmann, aku mengawasi setiap langkahmu sejak kau tiba di kota ini. Aku
mengawasi kau, temanmu yang tolol itu, dan juga kedua perempuan yang kaudatangi
tadi. Aku sudah tahu apa rencanamu. Kau ingin memeras PT Nosiop, bukan" Kau
ingin meracuni air tanah dengan limbah mereka kalau tuntutanmu tidak dipenuhi.
Tapi kau boleh melupakan semuanya. Waktumu sudah habis."
Ia mengeluarkan dua buah borgol dan kantong, lalu melemparkan keduanya ke
hadapan mereka. "Hei, Gnaski! Coba kauikat tangan rekanmu di balik punggungnya! Awas kalau kau
berani macam-macam! Aku tidak segan-segan menarik picu."
Gnaski menurut. Ottmar Lohmann menggertakkan gigi. Tapi itu tidak membantu.
Tangannya diborgol oleh Gnaski. Kemudian salah satu dari kedua rekan si Perlente
melangkah maju. Selama ini dia belum berkata apa-apa. Ia mengikat Gnaski,
kemudian memeriksa borgol di tangan Lohmann. Anggota ketiga di komplotan mereka
mengeluarkan potongan-potongan kain dari kantong.
Gnaski tidak mengadakan perlawanan. Dalam sekejap mulutnya sudah tersumpal.
Namun Lohmann masih memberontak.
Si Perlente segera menghantamkan pistolnya ke kepala Lohmann. Bajingan itu
memang tidak sampai jatuh pingsan, tapi kepalanya pasti terasa berdenyut-denyut.
Setelah mulut Lohmann pun disumpal, si Perlente berkata,
"Kita ikat mereka ke bemper mobil tangki- Si Tolol di depan, temannya di
belakang. Biar mereka punya waktu untuk memikirkan kebodohan mereka."
Ia menggiring Gnaski dan Lohmann ke dalam terowongan. Kedua rekannya menyusul.
"Astaga!" bisik Hubi. "Kita baru saja menjadi saksi mata sebuah kejahatan.
Padahal setengah jam yang lalu saya masih beranggapan bahwa kita hanya_ buang-
buang waktu saja. Tapi sekarang dugaan kalian telah terbukti. Ada-ada saja!
Gnaski dan Lohmann menculik mobil tangki itu, tapi kelompok kedua yang menikmati
hasilnya. Wah, ini benar-benar menegangkan. Setelah menghadapi ujian akhir di
universitas, saya tidak pernah merasa setegang ini."
Petra mengangguk. Sebagai anggota STOP, gadis itu sudah terbiasa dengan
petualangan yang mendebarkan.
Thomas tersenyum. Oskar memberi isyarat dengan tangannya, yang berarti; Ah, ini sih soal kecil!
Kami sudah sering menemui hal-hal yang jauh lebih berbahaya.
Aku jadi kasihan sama Hubi, pikir Sporty. Sebentar lagi dia bakal jauh lebih
kaget lagi. Tunggu saja sampai kedua bajingan bisu membuka topeng mereka.
Tidak lama kemudian si Perlente dan kedua rekannya kembali.
Begitu keluar dari terowongan, mereka mulai bertingkah seperti penghuni rumah
sakit jiwa. Mereka menari-nari dan melompat-lompat sambil membuka topeng masing-
masing. Si Perlente yang pertama-tama mencopot topengnya. Tak ada yang terkejut, sebab,
kecuali Sporty, tidak ada yang mengenalnya. Sedangnya Sporty mengangguk dengan
puas. Ya, itulah orang yang dilihatnya di rumah Gnaski.
Tapi setelah itu! Sporty segera menyikut Hubi - untuk memperingatkannya. Ternyata itu memang perlu.
Hubi hampir saja berteriak karena begitu kecewa.
Ia masih tenang-tenang saja ketika wajah Magda Tepler muncul dari balik topeng.
Ia memang belum pernah bertemu dengannya. Tapi ketika melihat Nicole, Hubi
merasa kepalanya seperti dihantam dengan palu godam. Ia nampak menyeringai, dan
matanya mulai berair. Hatinya benar-benar hancur lebur. .
"Sst! Sst!" Nicole berdesis sambil menyeka keringat yang membasahi keningnya.
Wajahnya kelihatan agak merah. Kedua matanya berbinar-binar. "Si Lohmann tidak
boleh mendengar kita. Dia sudah curiga bahwa ada orang yang mengkhianatinya.
Tapi dia sama sekali tidak menyangka bahwa orang ternyata bekas pacarnya yang
dulu. Hebat! Bagaimana, Fred" Semuanya beres?"
"Semuanya berjalan dengan mulus," jawab si Perlente. Kemudian ia menepuk pantat
Magda - mungkin karena sedang terbawa oleh luapan kegembiraan. "Kalian berdua jaga
di sini! Dan siapkan pistol kalian. Jangan sampai rencana kita berantakan pada
saat terakhir, hanya karena ada orang yang kesasar ke sini. Aku mau menutup
terowongan dulu." Magda dan Nicole setuju saja. Dengan santai mereka menggenggam pistol, dan
menatap ke sekeliling. Tapi keduanya sama sekali tidak kelihatan curiga ataupun
waspada. Soalnya tidak ada yang mengusik suasana damai di Lembah Neraka.
Hubi dan anak-anak STOP mengintip sambil menelungkup. Mereka memang tidak bisa
berbuat apa-apa, karena baik Magda, Nicole, maupun si Perlente, masing-masing
membawa pistol. Bahkan Sporty pun menyadari bahwa mereka lebih baik bersabar.
Napas si Perlente sudah mulai memburu. Kelihatannya dia tidak biasa bekerja
kasar. Meskipun demikian, dia berhasil menutup celah terakhir dengan sebuah
balok kayu. "Nah," ia berkata sambil menatap telapak tangannya, "mereka tidak bisa kabur
atau berteriak minta tolong. Dan mereka juga takkan mati kelaparan kalau kita
tinggal sebentar. Sudah waktunya untuk menghubungi Direktur Gisen - Happlich. Dia
harus mengeluarkan satu juta Mark untuk cairan beracunnya ini. Ya, paling tidak
setengah juta. Kalau tidak... Tapi itu sudah kita bahas tadi. Begitu dia bayar,
dia akan kita beritahu di mana dia bisa menemukan mobil tangkinya - lengkap dengan
para penculik. Hahaha!"
Nicole Tepler dan ibunya ikut ketawa.
Si Perlente memungut peralatan yang dibawa Gnaski, lalu melemparkan semuanya ke
mobil bajingan itu. Kemudian ia dan kedua rekannya naik. Si Perlente
menghidupkan mesin, memutar mobil, lalu mengarahkan VW Combi itu ke luar lembah.
Dalam sekejap saja suara mesinnya sudah tidak kedengaran lagi.
"Aku rasa mobil mereka disembunyikan di suatu tempat di lembah ini," kata
Sporty. "Mereka hanya memakai mobil Gnaski agar tidak perlu jalan kaki ke sana.
Hmm, rupanya mereka sudah terlalu banyak menguras tenaga."
"Ya Tuhan!" bisik Hubi sambil menggeleng "Ternyata kalian yang benar. Nicole
memang seorang penjahat! Padahal dia begitu berbakat. Dia begitu pandai
melukis..." ".... dengan gaya Cranach," Oskar menyambung. "Ya. sayang sekali! Bakat saja
ternyata tidak bisa mencegah perbuatan bodoh."
"Wah untung saja Oskar menyinggung soal Cranach! " Thomas berseru. "Sudah sejak
dua hari yang lalu aku ingin bercerita mengenai kedua pelukis besar itu. Tapi
ada saja yang membatalkan rencanaku, sehingga..."
"...dan sekarang juga," ia dipotong oleh Sporty. "Soalnya kita harus memburu
waktu." "Ya, kita harus mengeluarkan Ottmar dan Gnaski dari terowongan," Petra
berkomentar sambil mengangguk.
"Sebenarnya bukan itu yang kupikirkan," kata Sporty sambil ketawa. "Kenapa kita
harus membebaskan mereka" Mereka kan tidak bisa kabur. Biar polisi saja yang
menjemput mereka. Kita kan masih harus menghadiri pesta kebun. Pak Knoth, apakah
Anda bersedia ikut dengan kami" Emma paling senang bertemu dengan orang muda.
Dan hampir semua orang lebih muda dari dia."
**** Mobil-mobil mewah nampak berderet-deret di depan kediaman Direktur Gisen-
Happlich. Dari pekarangan belakang terdengar alunan musik tiup. Seorang pegawai
berseragam berdiri di pintu gerbang. Ketika berhadapan dengan Hubi dan anak-anak
STOP, ia langsung mengerutkan kening.
"Maaf, Pak Direktur sedang sibuk," ia berkata dengan angkuh.
"Kami tamu di sini," balas Sporty dengan ketus. "Kami diundang oleh Bu Emma..."
"Ah!, ternyata kalian datang juga!" suara Emma tiba-tiba terdengar. Langsung
saja ia mendekat untuk menyambut keempat sahabat mudanya.
Keempat-empatnya dirangkul dengan erat. Hubi pun sudah mendapat giliran, ketika
Emma mendadak sadar bahwa ia belum mengenalnya.
Sporty memperkenalkan Hubi, lalu menjelaskan bahwa tangan guru muda itu patah
akibat kecelakaan pada waktu latihan judo. Kemudian ia menambahkan, "Kami
mengajak Pak Knoth sebagai tamu kehormatan, sebab... sebab kami tidak bisa
berbuat apa-apa tanpa bantuan beliau. Kami terlalu banyak kehilangan waktu
karena ulah Pak Pflumer. Dan karena itu perusahaan Anda nyaris kehilangan satu
juta Mark." Terheran-heran Emma menatap Sporty. Mungkin ia menduga bahwa anak itu sedang
menderita demam. Ia baru hendak bertanya ketika sebuah teriakan terdengar
menggema. Tariakan itu berasal dari atas, dari ujung gang menuju ke lantai dua. Anak-anak
STOP segera menoleh ke arah itu, dan melihat Direktur Gisen-Happlich. Pimpinan
PT Nosiop itu ternyata mirip sekali dengan ibunya. Hanya saja sorot matanya
tidak begitu tajam. "Ibu!" ia berseru dengan nada memilukan.
Emma langsung berbalik. Sekitar 30 sampai 40 tamu mendadak terdiam. Semuanya melihat ke arah tuan rumah.
"Ibu!" Gunter Gisen-Happlich kembali berseru. Tergopoh-gopoh ia menuruni tangga.
"Keterlaluan! PT. Nosiop baru saja menjadi sasaran usaha pemerasan."
Suaranya cukup keras, sehingga terdengar sampai ke pekarangan. Para tamu yang
ada di sana pun mengalir masuk.
"Dia mau pamer," Sporty berbisik ke telinga Petra. "Kejadian ini merupakan


Detektif Stop - Pengkhianatan Di Lembah Neraka di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

sensasi bagi tamu-tamunya. Sekarang pestanya baru mulai meriah."
Petra hanya ketawa. Sementara itu Gunter Gisen-Happlich berhenti di tengah tangga.
"Ibu! Teman - teman yang saya hormati!" ia berkaata. "Kita akan meneruskan pesta
ini, dan tidak akan mengalah terhadap ulah sekelompok penjahat Tapi saya tidak
akan merahasiakan apa yang harus dihadapi oleh seorang pengusaha seperti saya.
Baru saja saya menerima telepon dari rumah sakit. Sejak dua jam yang lalu para
dokter sibuk merawat seseorang bernama Kurt Weinhard. Perlu saya jelaskan bahwa
Kurt Weinhard bekerja sebagai sopir di perusahaan saya. Dia disergap, dan dibius
di suatu tempat istirahat tepi jalan bebas hambatan. Sampai tadi Weinhard belum
bisa memberikan keterangan. Tapi sekarang keadaannya sudah membaik dan... Berita
yang saya terima mengatakan bahwa para penjahat itu menculik mobil tangki milik
PT Nosiop yang dikemudikan oleh Weinhard. Mobil tangki yang berisi cairan
beracun itu kini lenyap tanpa bekas, dan..."
Gunter Gisen-Happlich segera mengangkat tangan ketika tamu-tamunya mulai
berbisik-bisik. "...masih ada kelanjutannya; teman-teman! Saya baru saja meletakkan gagang,
ketika telepon kembali berdering. Kali ini dari seorang laki-laki yang mengaku
bertanggung jawab atas kejadian ini. Mobil tangki itu ada di tangan kelompoknya,
dan mereka menuntut satu juta Mark. Kalau saya tidak membayar, maka mereka akan
menggunakan cairan beracun itu untuk menimbulkan kerusakan lingkungan yang luar
biasa. Bagaimana pendapat kalian?"
Ia menatap ke sekeliling seakan-akan menunggu sanjungan dari para undangan.
"Para bajingan itu akan terheran-heran," Emma berbisik pada anak-anak STOP.
"Pokoknya tak sepeser pun akan jatuh ke tangan mereka."
Sporty dan ketiga sahabatnya ketawa.
Hubi nyengir lebar. "Kau saja yang mengatakannya," Sporty menawarkan pada Thomas.
Tapi Thomas menggeleng. "Kau sudah mulai tadi. Tapi sampai sekarang belum ada
yang mengerti." "Begini," Sporty lalu berkata dengan gaya yakin "Mobil tangki Anda, Pak
Direktur, berada di Lembah Neraka. Tepatnya di Terowongan Lama. Mobil itu
disembunyikan di sana. Cairan beracun di dalamnya masih belum dikutak-katik.
Kedua penjahat yang bertangungjawab atas kejadian ini telah diikat pada bemper.
Mereka adalah Ottmar Lohmann dan rekannya yang bernama Bert Gnaski. Mereka
ternyata dikelabui oleh kelompok penjahat lain. Kelompok inilah yang menelepon
Anda, Pak Direktur. Anggota-anggotanya adalah Nicole dan Magda Tepler serta
seorang laki-laki bernama Fred. Markas mereka terletak di Jalan Olympia nomor
satu. Kami akan menjelaskan semuanya pada waktu makan nanti."
Keheningan yang menyusul merupakan sesuatu yang tidak biasa untuk pesta kebun di
rumah Direktur Gisen-Happlich.
Kemudian Emma berkata, "Keempat anak muda ini, Gunter, adalah anak-anak STOP
yang telah kuceritakan padamu. Mula-mula mereka berhasil menyelesaikan kasus
tempat bedak dengan gemilang. Dan sekarang mereka berjasa kepada perusahaan
kita. Ayp ke sini. Gunter! Kau harus berterima kasih pada mereka."
**** Polisi segera berangkat ke Lembah Neraka untuk mengamankan mobil tangki milik PT
Nosiop, serta Ottmar Lohmann dan Bert Gnaski. Pada saat bersamaan polisi juga
menggerebek rumah di Jalan Olympia nomor satu.
Sementara pasta berjalan dengan meriah di kediaman Gunter Gisen-Happlich, para
penjahat berkumpul di balik terali besi. Belakangan semua dikenakan hukuman yang
sesuai dengan perbuatan masing-masing. Tapi pada waktu itu Nicola Taplar sudah
terhapus dari ingatan Hubi.
Hubi ternyata bertemu dengan wanita idamannya di pesta kebun di rumah Gunter
Gisan-Happlich; seorang wanita muda yang juga bekerja sebagai guru. Pujaan
hatinya itu memang tidak bisa melukis, tapi ia sangat menyukai mobil sport.
Tiga bulan kemudian keduanya mengumumkan pertunangan mereka. Anak-anak STOP
tentu saja juga diundang.
Atas nama teman-temannya Oskar menyerahkan seikat bunga.
"Bunga-bunga ini bisa dibeli dengan bebas," ujar Oskar sambil melirik ke Pak
Knoth tua. "Tak satu pun berada di bawah perlindungan undang-undang. Kami sudah
memastikan hal ini. Soalnya kami sekarang jadi pejuang pelestarian lingkungan
yang paling gigih." TAMAT Hina Kelana 34 Pendekar Rajawali Sakti 172 Mister Tabib Siluman Lembah Karang Hantu 3
^