Pencarian

Apartemen Yaqoubian 2

Apartemen Yaqoubian Karya Alaa Al Aswani Bagian 2


sang ibu mendoakannya di hadapan Busainah de-ngan
suara yang nyaring dan parau. Pada saat itu, Busainah
justru hendak meledak dan menjerit bahwa dirinya
mendapatkan uang tersebut bukan sebab rezeki pemberian
Tuhan, melainkan karena ia rela menjual tubuhnya kepada
Tuan Tallal. Sejujurnya dalam batinnya, Busainah kerap kali merasa
sangat berlumuran dosa. Mula-mula sang ibu tidak
mengetahui sejauh mana hubungan Busainah dengan
tuannya atau sejauh mana Tuan Tallal memperlakukan
anak gadisnya. Sama sekali tidak. Oleh karena itu, sang ibu
mendoakannya dengan tulus perihal rezeki yang diperoleh
Busainah. Namun, akhirnya Busainah mengungkapkan
kepada ibunya sejujur-jujurnya tentang yang dilakukan
Tuan Tallal terhadapnya. Mendengarnya, sang ibu hanya
diam, seolah-olah merelakan. Mengetahui tanggapan sang
ibu, Busainah sedikit lega, setidaknya dosa yang
dilakukannya tidak ia tanggung sendirian, tetapi juga
bersama ibunya ... Seiring berlalunya waktu, perbuatan yang dia lakukan
dengan Tuan Tallal itu membuatnya tak lagi bisa
melaksanakan salat, sebuah kewajiban baginya sebagai
seorang muslimah. Busainah menjadi merasa sangat
berdosa dan malu ketika berhadapan dengan Tuhannya. Ia
merasa dirinya betul-betul kotor. Bahkan, ketika suatu hari
ibunya mengajak ia dan adik-adiknya berziarah ke makam
Imam Hussain di dekat masjid Al-Azhar, Bu-sainah
memilih tidak ikut masuk ke dalam masjid dan makam. Ia
memilih duduk di luar, menikmati suasana sekitar yang
kerap riuh oleh turis-turis asing ketika musim panas tiba.
Lama-lama hati Busainah juga berpikir lebih jauh
tentang perasan berdosanya di hadapan Tuhan. Ia
memberontak. Terbayang dalam benaknya sosok sang ibu
yang bekerja hanya sebagai seorang babu. Ia juga
mengingat-ingat dan memikirkan lebih jauh perkataan Fifi
bahwa kehidupan ini tak sepuitis yang diungkapkan oleh
ayat-ayat suci dan fatwa-fatwa para pemuka agama, tidak
pula seindah dalam film-film dan sinetron. Sama sekali
tidak. Kehidupan nyata kerap bertolak belakang dengan
semua itu. Ia juga kerap berpikir ketika melihat para wanita
pembeli di toko pakaian tempatnya bekerja. Mereka tampak
berkecukupan, tampak terjamin kehidupannya. Ketika
itulah ia kerap bertanya pada dirinya sendiri, sudah berapa
kalikah wanita-wanita ini menyerahkan tubuhnya kepada
para tuan kaya hingga mereka bisa memiliki harta yang
berkecukupan" Busainah juga kadang-kadang beristigfar,
meminta ampun kepada Tuhan, karena dia terkadang
beranggapan Allah mungkin menghendakinya gagal dalam
hidup ini. Kalau tidak, bisa saja Allah menakdirkannya
lahir sebagai seseorang yang berkecukupan, tidak melarat
seperti ini sehingga mengalami pelecehan dari para lelaki
hamba-hamba-Nya yang secara lahir tampak taat itu, atau
bisa saja Allah menunda kematian ayahnya barang
beberapa tahun. Tetapi, kenya- taannya tidak begitu, ya,
Tuhan berkehendak menindas dirinya.
Perubahan perasaan, pikiran, dan pandangan hidup yang
terjadi pada diri Busainah juga berpengaruh kepada cara ia
memandang kekasihnya Thaha al-Syadzili. Thaha menjadi
lebih asing di mata Busainah sebab Busainah kini
beranggapan dirinya telah jauh lebih dewasa daripada
Thaha. Busainah telah mencicipi getir kehidupan lebih
banyak daripada Thaha, setidaknya pengalamannya berkali-
kali diperlakukan tidak baik oleh para tuannya demi
menyambung hidup. Sementara itu, Thaha, di mata
Busainah tak lebih dari seorang pemuda tampan yang
belum dewasa dan masih hidup dengan angan-angan serta
mimpinya: hendak menjadi perwira polisi. Busainah pun
kini berpikir pendek tentang masa depannya dan kerap kali
ia memperolok Thaha. "Kamu pikir dirimu Abdul Halim
Hafiz, begitu" Seorang pemuda fakir yang kemudian
berusaha keras dan akhirnya berhasil mencapi angan-
angannya dengan berdarah-darah," kata Busainah.
Thaha pun menjadi terkejut melihat perubahan drastis
yang terjadi pada diri Busainah. Thaha sendiri tidak
mengerti apa yang membuat Busainah sedemikian berubah.
Suatu ketika Thaha mengajak bicara Busainah. Ia meminta
agar Busainah meninggalkan pekerjaannya di toko baju
Tuan Tallal sebab lelaki itu memiliki reputasi buruk.
Busainah naik darah. Ia menantang Thaha. "Thaha,
memangnya kamu bisa memberiku dua ratus lima puluh
pound setiap bulan?" tanya Busainah dengan nada tinggi.
Mendengarnya, Thaha jelas tak nyaman. Harga diri
kelelakiannya serasa terinjak-injak. Thaha mendorong
pundak Busainah. Busainah pun terguncang. Keduanya
dililit kemarahan. Busainah menatap tajam ke arah mata
Thaha. Dicabutnya seuntai gelang yang dahulu pernah
dibelikan Thaha untuknya, lalu dibuangnya di hadapan
Thaha. Sejujurnya, Busainah masih mencintai Thaha,
seorang lelaki yang telah sekian lama menemaninya, yang
dikenalnya sejak kecil. Kenangan indah mereka masih
membekas kuat dalam benak Busainah.
Sepulang kerja pada hari pertemuan dengan Tha-ha di
taman Tawfiqiyya sebelum wawancara tes masuk Akademi
Kepolisian, Busainah mencari Thaha, hendak menanyakan
kabar hasil wawancara itu. Busainah pun menunggu di
bawah apartemen, di tempat Thaha biasa menunggunya
setiap ia pulang dari kerja. Tetapi, Busainah tidak
menemukannya. Tak ada Thaha di sana, tak seperti
biasanya. Ia berpikir mungkin Thaha marah padanya
karena dia tak mau menemaninya lebih lama saat Thaha
membutuhkan dorongan semangat menjelang wawancara
penting tadi pagi. Busainah beranjak menaiki tangga apartemen bagian
belakang menuju perkampungan atas atap apartemen.
Busainah tak segera menuju rumah besi keluarganya, tapi
terlebih dahulu ke rumah besi keluarga Thaha. Ru-mah besi
Thaha tampak terbuka, ibunya tengah duduk termangu di
atas kursi kayu di depan rumah. Busainah menyalaminya
dan menciumnya. Ia kemudian duduk di samping wanita
renta itu. "Busainah, aku khawatir dengan anakku Thaha. Sedari
pagi ia keluar untuk wawancara di akademi kepolisian.
Namun, sampai sekarang ia belum juga pulang. Aku
khawatir terjadi sesuatu pada dirinya. Semoga Allah
menjaganya," kata ibunda Thaha.
Andai saja ia tidak dimakan usianya yang telah
mendekati senja dan andai bukan sebab masa-masa sulit
yang dahulu pernah dialaminya hingga meninggalkan bekas
pada wajahnya, sesungguhnya Haji Muhammad Azzam
tampak seperti bintang film atau serupa pangeran tam-
pan. Ia tampak masih tampan walaupun usianya telah
memasuki kepala enam. Wajahnya tampak awet muda dan
kulitnya tampak tidak mengeriput, masih tampak kencang.
Bisa jadi karena ia rajin merawat tubuhnya dua kali
seminggu di salon kecantikan mahal yang ada di kawasan
elite Mohandessen. Pakaiannya selalu tampak necis,
membuat orang-orang yang melihatnya akan lang-sung
berkesimpulan: ia seorang jutawan.
Setiap pagi, setiap waktu dhuha, mobil Mercedes Benz
berwarna hitam miliknya berjalan pelan menyusuri Jalan
Sulaiman Pasha, untuk kemudian berhenti di depan
Apartemen yacoubian. Haji Azzam tampak duduk di jok
belakang mobilnya, menghabiskan waktu dengan berzikir.
Di tangannya selalu tergenggam tasbih yang senantiasa
berputar oleh tangannya, sambil mulutnya berkomat-kamit
melantunkan zikir. Haji Azzam setiap hari mengontrol
tempat-tempat usahanya. Mulai dua toko baju besar yang
terdapat di seberang Apartemen Americana, satu toko
pakaian dan ruang pajang mobil di lantai dasar Apartemen
yacoubian yang merangkap kantornya, juga sebuah bengkel
otomotif di Jalan Marouf, serta beberapa perusahaan
kontraktor bangunan di kawasan Downtown yang tengah
menggarap beberapa proyek apartemen mewah yang selalu
membawa namanya: Az-zam li al-Muqawalat (Perusahaan
Kontraktor Azzam). Mobil mewah itu berjalan perlahan di sepanjang Jalan
Sulaiman Pasha, lalu berhenti di depan Apartemen
yacoubian. Beberapa pekerja pun berhamburan menyambutnya, memberikan salam dan penghormatan
kepada-nya, sementara Haji Azzam membalasnya dengan
isyarat tangan. Tampak mandor pekerja membukakan pintu
mobil, kemudian melaporkan perihal perusahaan dan para
pekerjanya. Haji Azzam tampak manggut-manggut. Alisnya sesekali
naik turun. Bibirnya menyunggingkan senyum. Matanya
yang tak terlalu lebar serupa kebanyakan orang Mesir
lainnya tampak serupa mata serigala, atau mata orang-
orang Turki dan Persia. Sekilas matanya tampak merah,
menandakan pemiliknya suka mengisap hashis. Sejenak
Haji Azzam menatap langit, tampak berpikir, lalu
melanjutkan pembicaraan dengan mandor pekerja. Sosok
Haji Azzam tampak pendiam. Ia begitu dingin. Banyak
orang menduga sikap pendiamnya itu berkaitan dengan
hadis Nabi, "Hendaklah engkau berkata yang baik atau
lebih baik diam." Hal ini mungkin juga karena ia adalah
seseorang yang kaya raya, yang tidak butuh banyak bicara
untuk kehidupannya. Bisa jadi, diam lebih berarti untuknya.
Usia Haji Azzam kini telah melewati kepala enam.
Sebenarnya, Haji Azzam menjadi jutawan baru sekitar tiga
puluh tahun yang lalu. Sebelumnya, Azzam adalah seorang
tukang semir sepatu yang biasa mangkal di Jalan Sulaiman
Pasha. Ia adalah seorang sa'idi (orang kampung) yang
berasal dari Sohag yang jauh dan hendak mengais rezeki di
Kairo. Beberapa orang tua yang masih hidup di kawasan
Jalan Sulaiman Pasha masih ingat betul dahulu Azzam
duduk di atas tanah di depan Americana dengan memakai
pakaian khas orang pedalaman: jubah berwarna gelap yang
dekil, dengan serban yang melilit kepalanya, juga selendang
dekil yang memutari lehernya. Di depannya selalu terdapat
kotak semir yang terbuat dari kayu. Setelah lama menjadi
tukang semir, Azzam lalu menjadi penjaga kantor Babek di
sebuah apartemen. Selepas itu, Azzam menghilang selama
kurang lebih dua puluh tahun. Setelah lama menghilang, ia
tiba-tiba muncul kembali dengan kekayaan yang melimpah.
Haji Azzam sendiri mengatakan bahwa dirinya selama
itu bekerja di negara-negara teluk seperti Kuwait, Bahrain,
Qatar, yordania, dan Arab Saudi. Tetapi, kebanyakan
orang-orang di Jalan Sulaiman Pasha tidak memercayainya.
Mereka lebih meyakini Azzam ditangkap polisi dan
dipenjara dalam waktu lama karena kasus perdagangan
hashis dan obat-obatan terlarang. Sebagi-an orang masih
memiliki keyakinan bahwa profesi Haji Azzam sebagai
penjual hashis dan obat-obatan terlarang masih tetap
berlangsung hingga sekarang. Mereka berkeyakinan kekayaannya melebihi laba yang didapat dari semua
perusahaan miliknya. Mustahil laba yang didapat dari
beberapa perusahaan tersebut bisa sebanyak kekayaan yang
dimilikinya. Orang-orang justru lebih meyakini perusahaan-
perusahaan miliknya tak lebih dari sekadar usaha untuk
mencuci uang saja. yang jelas, sekarang Haji Azzam telah
menjadi seorang terkemuka di Jalan Sulaiman Pasha
dengan kekayaan yang melimpah ruah. Orang-orang
hormat kepadanya dan banyak yang datang kepadanya
untuk berbagai urusan, terutama perihal pekerjaan. Akhir-
akhir ini, Haji Azzam bahkan terjun ke bidang politik. Ia
berga-bung dengan Partai Nasional dan hendak mengajukan diri sebagai anggota dewan perwakilan rakyat.
Anaknya, Hamdi Azzam, juga terjun ke politik dan
menjabat se-bagai jaksa. Di sisi lain, aktivitas perdagangan
Haji Azzam tetap berlangsung. Ia masih mengurusi
perusahaan kontraktornya.
Haji Azzam seolah-olah menjadi mitos bagi warga Jalan
Sulaiman Pasha. Ia dianggap serupa tokoh yang terdapat
dalam dongeng yang mulanya hanya seorang miskin, tapi
kemudian menjadi kaya raya.
Dua tahun silam, saat subuh Haji Azzam bangun seperti
biasanya. Ia beranjak menuju kamar mandi untuk
mengambil air wudu dan kemudian hendak melaksanakan
salat subuh. Tetapi, pagi itu ia betul-betul kaget sewaktu
mendapati celana dalamnya basah kuyup. Ia segera teringat
jika semalam ia bermimpi bercinta dengan seorang wanita.
Haji Azzam pun menjadi semakin kaget karena mimpi
semacam ini telah menimpanya, seorang lelaki tua yang
usianya telah melewati enam puluh tahun. Sehari dua hari,
Haji Azzam mencoba melupakan kejadian itu. Dan, dalam
dua hari itu Haji Azzam dapat kembali bekerja dengan
tenang. Namun, di hari ketiga justru mimpi itu datang
kembali. Terus-menerus sampai kurang lebih sepuluh hari
sehingga Haji Azzam berkewajiban mandi setiap pagi
akibat mimpi tersebut. Masalah pun tidak berhenti sebatas mimpi saja. Ia
mendadak memiliki kelainan syahwat. Setiap kali ia
memandang wanita, baik muda atau separuh baya, syahwat
kelelakiannya menjadi naik. Dadanya berdesir-desir,
darahnya seolah-olah mendidih, jantungnya serasa berdetak
lebih kencang, dan kemaluannya menegang. Ada perasaan
lain sewaktu ia melihat wanita-wanita itu. Tak terkecuali


Apartemen Yaqoubian Karya Alaa Al Aswani di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

beberapa pekerja wanita di perusahaan-peru-sahaannya.
Mereka mengetahui jika Haji Azzam tengah naik syahwat,
setidaknya dari cara Haji Azzam memandang mereka.
Mengetahui tuannya sedang naik syahwat, tak sedikit dari
mereka yang semakin genit di hadapan Haji Azzam.
Syahwat yang meledak-ledak datang secara tiba-tiba ini
sangat mengagetkan Haji Azzam dan membuatnya tidak
nyaman. Pertama, karena usianya yang telah melewati
enam puluh tahun, yang sudah tak mungkin memiliki
syahwat sebesar itu. Kedua, karena selama ini Haji Azzam
merasa hidupnya sangat lurus. Ia berkeyakinan teguh
bahwa jalan lurus agama yang selama ini ia tempuh, juga
usaha kerasnya untuk menjauhi hal-hal yang dilarang dan
dimurkai Allah adalah salah satu sebab po-kok semua
karunia yang ia miliki sekarang ini.
Haji Azzam tidak pernah meminum minuman keras. Ia
memang sering mengisap hashis, tetapi ia berpendapat
sebagian ulama menghalalkan hashis. Hashis tidak haram
dan bukan najis. Mengisap hashis tidak menghilangkan akal
sehat dan tidak menjerumuskan manusia untuk berbuat
jahat seperti halnya jika minum minuman keras. Bahkan
hashis bisa berfungsi sebaliknya, bisa menjadikan semangat
bekerja lebih tinggi dan menjadikan perasa-an lebih tenang.
Haji Azzam juga tidak pernah berzina seumur hidupnya. Ia
senantiasa menjaga dirinya dari hal-hal buruk yang dilarang
agama. Ia sudah menikah sewaktu masih sangat muda
untuk menyalurkan syahwatnya. Sepanjang hidupnya, Haji
Azzam kerap mendapati beberapa orang kaya seperti
dirinya yang menyia-nyiakan harta untuk melampiaskan
syahwat mereka. Haji Azzam pun menceritakan pergolakan syahwatnya
yang datang secara tiba-tiba itu kepada beberapa kawan
dekatnya. Ia menceritakannya dengan sembunyi-sembunyi.
Sebagian menyatakan bahwa itu hanya gej ala sesaat.
Sebagian lagi menyatakan bahwa pengalaman ini akan
datang terus menerus hingga ia mati kelak. Mereka berkata
mungkin inilah anugerah yang diberikan Tuhan kepada
orang-orang tua seperti dirinya.
"Ini adalah kenikmatan gaib, Tuan," kata salah satu
kawannya, Haji Kamil, seorang penjual semen.
Tetapi, gejolak syahwat itu ternyata terus berlanjut.
Bahkan, semakin hari semakin menjadi-jadi. Istrinya
sendiri, Hajjah Shalihah, menjadi terkaget-kaget. Betapa
tidak, kini Haji Azzam menjadi kerap meminta Hajjah
Shalihah melayaninya setiap malam dan dia pun menjadi
heran karena permainan Haji Azzam sangat liar. Ia lebih
kaget lagi ketika ternyata syahwat Haji Azzam tak
tertuntaskan selepas berhubungan badan dengan dirinya.
Kerap kali Hajjah Shalihah menasihati Haji Azzam. Ia
berkata bahwa anak-anak mereka kini sudah besar dan
sudah beristri, bahkan sudah ada yang memiliki anak.
Hendaklah Haji Azzam dan Hajjah Shalihah menjadi
pasangan kakek-nenek yang baik dan tenang.
Akhirnya, Haji Azzam pun mendatangi Syekh Samman.
Seorang pemuka agama dan pemimpin sebuah yayasan
sosial yang sudah dianggap oleh Haji Azzam sebagai imam
bagi dirinya sekaligus guru spiritualnya dalam segala urusan
kehidupan dan agamanya. Hampir semua permasalahan
yang menimpa Haji Azzam selalu dikonsultasikan kepada
Syekh Samman. Haji Azzam juga kerap menyumbangkan
uang puluhan ribu pound kepada Syekh Samman untuk
disalurkan bagi kepentingan sosial dan kebaikan, belum lagi
hadiah-hadiah berharga yang selalu ia berikan kepada
ulama tersebut setelah setiap kali ia menyelesaikan urusan-
urusanya di bawah bimbingan Syekh Samman.
Selepas salat Jumat dan pengajian agama rutin
setelahnya yang diberikan Syekh Samman di masjid Assa-
laam di bilangan Medinet Nasser, Haji Azzam menemui
Syekh Samman secara pribadi. Haji Azzam kemudian
menceritakan apa yang selama ini menimpanya perihal
letupan syahwatnya. Sejenak Syekh Samman terdiam.
Kemudian, ia pun berkata dengan suara tinggi, "Subha-
nallah. Kenapa Anda harus mempersulit masalah ini,
sedangkan Allah telah jauh-jauh hari membukakan jalan
yang lapang untuk menyelesaikannya" Mengapa Anda
malah membukakan pintu untuk setan sehingga Anda pun
jatuh kepada kesalahan" Haji Azzam, Anda harus menjaga
diri Anda dari dosa-dosa sebagaimana yang telah
diperintahkan Allah. Allah telah menghalal-kan kepada
Anda untuk menikah lebih dari satu wanita, dengan catatan
Anda harus mampu berbuat adil. Bertawakallah kepada
Allah, dan segeralah menuju jalan yang halal itu sebelum
Anda jatuh terperangkap ke dalam ja-lan yang haram."
"Saya seorang lelaki tua. Saya takut jika saya menikah
lagi saya akan menjadi bahan omongan orang-orang,"
Azzam menimpali. "Sungguh, Haji Azzam, jika saya tidak mengenal Anda
lebih jauh, tidak mengetahui kesalehan dan ketakwaan
Anda, saya akan berburuk sangka kepada Anda. Mana yang
lebih baik menurut Anda, omongan orang-orang ataukah
tidak disukai oleh Allah" Apakah Anda hendak mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah" Anda
seorang lelaki yang berkecukupan, kesehatan Anda juga
normal. Dan sekarang, Anda tengah memiliki keinginan
kepada wanita. Menikahlah lagi, dan berbuat adillah
kepada kedua istri Anda kelak. Sesungguhnya Allah
menyukai ketika seorang hamba menjalani kemudahan
yang telah ditetapkannya," kata Syekh Samman lebih jauh.
Sejenak Haji Azzam terdiam, tampak merenungi lebih
jauh nasihat gurunya. Percakapan keduanya pun berlanjut
hingga keputusan Haji Azzam pun bulat, ia hendak
menikah lagi. Tak lama kemudian ketiga anak-nya datang,
Fawzi Azzam, Qadri Azzam, dan Hamdi Az-zam, ikut
bergabung dengan ayah mereka. Haji Azzam meminta
pendapat ketiga anaknya, perihal rencananya hendak
menikah lagi. Qadri Azzam dan Hamdi Azzam menyetujui
anjuran Syekh Samman agar ayah mereka hendaknya
menikah lagi. Adapun Fawzi, anak sulungnya, hanya diam,
tanda tak sepakat, tetapi ia juga menghormati keputusan
ayahnya. "Kalaupun ayah hendak menikah lagi, sebaiknya kita
lebih berhati-hati agar kelak kita tidak salah pilih
mendapatkan wanita yang malah akan menghancurkan
hidup kita," kata Fawzi.
Kesimpulan akhir pun telah benar-benar bulat bagi Haji
Azzam. Ia hendak menikah lagi. Dan, ia menyuruh anak-
anaknya sendiri untuk mencarikan calon istri barunya. Haji
Azzam berpesan kepada anak-anaknya agar mencarikan
calon istri yang baik. Beberapa bulan kemudian, sudah ada beberapa calon
istri untuk Haji Azzam. Tetapi, semuanya ia tolak sebab
tidak ada yang masuk kriterianya. Akhirnya, ia mendapatkan seorang calon bernama Suad Gaber, janda
muda dengan seorang putra. Suad adalah wanita yang
berasal dari Iskandariah.
Haji Azzam menemui Suad untuk mengetahui langsung
sosok wanita itu dengan bertatap muka dengannya. Suad
Gaber adalah sesosok wanita cantik, berkulit putih,
berbadan langsing. Rambutnya hitam, matanya hitam dan
bulat, bibirnya mungil dan menggairahkan. Jemari tangan
dan kakinya lentik, dengan cat kuku yang menjadikannya
tampak lebih menawan. Tangannya tampak putih mulus
sebab Suad Gaber rajin meluluri tubuhnya dengan krim
lulur. Sejak pertemuan pertama itu, Suad Gaber telah
meninggalkan kesan yang jauh pada hati Haji Azzam.
Kesan itu pun lebih membekas ketika Haji Azzam
mengetahui bahwa Suad Gaber adalah seorang janda muda
dengan seorang anak yang hidupnya susah, tetapi sejarah
hidupnya tak terdapat cacat.
Suad Gaber menikah dengan seorang lelaki baik-baik.
Suaminya bekerja di Irak, tapi setelah perang Amerika-Irak
pada tahun 2002 lalu, kabar suaminya tidak terdengar lagi.
Pengadilan pun memutuskan bahwa hubungan keduanya
telah bercerai demi menghindari fitnah. Suad Gaber pun
menjadi janda. Sebelumnya, Haji Azzam pun mengutus beberapa orang
untuk mengetahui perihal Suad Gaber secara lebih jauh,
tetapi dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ada kesan
yang dibuat-buat oleh pihak Suad Gaber. Haji Azzam
memerhatikan perangai dan akhlak wanita itu dari jauh.
Dan betul, Haji Azzam memang benar-benar terpikat oleh
kebaikan perangai Suad Gaber.
Haji Azzam melakukan salat istikharah guna meyakinkan lebih jauh pilihannya. Ternyata, wanita yang
hadir dalam mimpi Haji Azzam selepas ia melaksanakan
salat istikharah itu adalah Suad Gaber. Dalam mimpi itu
Suad Gaber tampak memakai jilbab dan anggun, tidak
telanjang seperti wanita-wanita yang kerap hadir dalam
mimpi-mimpi Haji Azzam dalam beberapa waktu ter-akhir
ini. Haji Azzam lalu bertawakal kepada Allah, memasrahkan segala urusannya kepada Tuhan.
Haji Azzam kemudian mengunjungi keluarga Suad
Gaber di Iskandariah dan melamarnya. Hamido, kakak
tertua Suad Gaber, bertindak sebagai wakil keluarga pihak
wanita. Kedua belah pihak pun bersepakat atas pernikahan
Haji Azzam dan Suad Gaber. Tetapi, sebagai pebisnis, Haji
Azzam mengajukan beberapa syarat dan ketentuan
pernikahan. Pertama, setelah menikah nanti Suad harus
hidup di Kairo menemani Haji Azzam dengan meninggalkan anaknya. Anak tunggal Suad Gaber akan
tinggal bersama neneknya di Iskandariah. Suad hanya
diperbolehkan mengunjungi anaknya setiap ada kesempatan
yang layak. Kedua, status pernikahan keduanya adalah
nikah sirri sehingga istri pertamanya, Hajjah Shalihah,
sekalipun tidak mengetahui pernikahan Haji Azzam dengan
Suad Gaber. Jika kelak istri tuanya mengetahui pernikahan
mereka dan terjadi pertengkaran keluarga maka Haji
Azzam akan menalak Suad. Ketiga, Haji Azzam tak
hendak memiliki anak dari Suad. Keempat, Haji Azzam
akan membayar mahar secara kontan sebesar sepuluh ribu
pound. Pernikahan keduanya pun berlangsung esok harinya.
"Ada apa suamiku?" tanya Suad Gaber kepada Haji
Azzam. Haji Azzam dan Suad Gaber tengah berada di atas
ranjang. Suad Gaber memakai daster pendek berwarna biru
tua. Dadanya tampak separuh. Menggelayut. Pahanya
terlihat putih dan mulus. Haji Azzam memakai jubah putih,
baju rumah khas Mesir. Ia tidur menyamping di belakang
Suad Gaber. Suad menyandarkan tubuhnya di dada Haji
Azzam sambil berbaring. Inilah waktu keduanya untuk
bersama, setiap habis asar selepas Haji Azzam beranjak dari
kantornya di Apartemen yacoubian. Haji Azzam telah
membeli sebuah flat di lantai tujuh apartemen tersebut
untuk dijadikan tempat tinggal Suad Gaber dan dirinya.
Haji Azzam harus membagi waktu utuk menggilir dua
istrinya. Ia bertandang ke rumah Suad selepas asar,
sepulang dari kantor, beristirahat barang sejenak, makan
sore, mandi, bersetubuh, atau sekadar bercengkerama
hingga waktu isya. Ketika waktu isya tiba, Haji Azzam
harus pulang ke rumah istri tuanya. Begitulah Haji Azzam
menjalani hari-harinya bersama Suad Gaber.
Sore ini Haji Azzam tampak lelah. Tangannya
mengusap-usap dan mempermainkan rambut Suad Gaber
yang tengah bersandar di tubuhnya. Haji Azzam merasa
sangat letih hari ini. Ia banyak memikirkan pekerjaan dan
perusa-haan-perusahaannya.
Kepalanya terasa berat. Pening. Haji Azzam hendak beristirahat barang sejenak.
Membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya,
setidaknya hingga waktu isya nanti. Tetapi, tangan Suad
menggamit kepala Haji Azzam, lalu menyandarkannya di
atas dadanya yang montok. Suad lalu meraih tangan Haji
Azzam dan meletakkannya di atas tubuhnya. Ia gerak-
gerakkan perlahan. Haji Azzam mencium aroma parfum
yang semerbak dari tubuh Suad. Ditatapnya Haji Azzam,
mata Suad tampak berbinar dan bersemangat.
"Ada apa suamiku?" tanya Suad Gaber.
Haji Azzam tersenyum. Datar.


Apartemen Yaqoubian Karya Alaa Al Aswani di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Banyak masalah di perusahaan," kata Haji Azzam
dengan suara pelan dan berat.
"Alhamdulillah atas kesehatanmu, sesuatu yang sangat
penting dalam hidupmu," kata Suad.
"Alhamdulillah."
"Dunia menjadi urusan nomor dua daripada hal-hal
penting dalam hidup ini." "ya," kata Haji Azzam.
"Ceritakanlah padaku. Apa yang membebani pikiranmu?" Suad merajuk.
"Aku harap kamu bisa mengurangi beban masalahku."
"Tentu semuanya akan kupersembahkan untukmu,
Sayang." Haji Azzam tersenyum simpul. Ia kemudian mena-tap
Suad Gaber dengan nanar. Didekatkannya wajahnya pada
wajah cantik wanita itu. Ia cium bibir dan pipinya,
kemudian kembali bersandar di dada wanita itu. "Dengan
izin Tuhan. Aku hendak mencalonkan diri menjadi ketua
dewan perwakilan rakyat," kata Haji Az-zam.
"Dewan perwakilan rakyat?"
"ya." Suad Gaber menggeliat, ia menaikkan posisi tubuhnya.
Wajahnya berseri-seri. "Wahai seribu siang yang cerah, wahai Haji Azzam,"
kata Suad bahagia. "Semoga Tuhan memudahkan segala urusan. Semoga
keberuntungan berpihak padaku," kata Haji Azzam.
"Dengan izin Tuhan."
"Kamu tahu, Suad, andai aku menjadi ketua dewan
perwakilan rakyat, aku akan mendapatkan uang bermilyar-
milyar." "Aku yakin dirimu akan sukses. Orang-orang banyak
yang bersimpati kepadamu," kata Suad sambil menyung-
gingkan bibir indahnya layaknya anak kecil. Haji Azzam
tersenyum. Ia mendekap Suad lebih erat hingga hangat
tubuh Suad begitu terasa. Tangan Suad pun menyambut
dekapan suaminya. Suad kemu-dian mencopot baju kurung
putih yang dikenakan Haji Azzam.
Layaknya menonton film drama di sebuah bioskop,
sekilas kita hanyut oleh adegan demi adegan, seolah-olah
kita adalah bagian dari film tersebut. Ketika film telah
selesai diputar, lampu bioskop kembali menyala, dan kita
pun kembali ke alam nyata setelah sebelumnya larut dalam
alam khayal. Selepas itu kita keluar bioskop, kembali
menghirup udara malam yang menusuk pori-pori kulit,
berjalan menyusuri jalanan yang sesak oleh mobil-mobil
dan orang-orang yang berlalu lalang sambil mengingat-ingat
adegan demi adegan film yang baru saja kita lihat: bahwa
segala sesuatu yang baru saja terjadi tak lebih dari sekadar
fiksi. Tak lebih. Begitulah Thaha melewati hari ini. Ia melewatinya
layaknya seorang penonton film yang baru saja keluar dari
gedung bioskop dan kembali hidup dalam kehidupan yang
sejati: seleksi terakhir sekaligus pengumuman kelulusan,
gedung akademi kepolisian yang luas dengan gang-gang
panjang bercat merah, ruangan seleksi yang besar dengan
atap kukuh, meja penguji yang lebar dan tampak lebih
tinggi dari ukuran meja biasanya, tempat duduk yang
berlapis kulit tempat para perwira petugas seleksi duduk
dengan gagah. Badan mereka tampak tegap dan besar,
memakai seragam putih, di dada mereka terselip beberapa
lencana. Ketua dewan penguji duduk di kursi tengah. Ia terlihat
lebih berwibawa daripada dua orang perwira penguji di
sampingnya. Ketika giliran Thaha menghadap, ketua
dewan penguji itu menyunggingkan senyum datar
untuknya. Sementara itu, dua perwira penguji yang duduk
mengapitnya memerhatikan Thaha dengan saksama,
bersiap-siap mendengarkan segala yang hendak dikatakan
Thaha. Beberapa perwira muda yang menjadi kawan Thaha
jauh-jauh hari telah menyatakan bahwa soal-soal yang
hendak dipertanyakan saat wawancara dan pengumuman
kelulusan adalah soal-soal yang sama. Dari dahulu hingga
sekarang tak pernah berubah. Mereka bilang pertanyaan-
pertanyaan dalam wawancara itu hanyalah formalitas
belaka. Tak lebih. Walaupun demikian, terda-pat juga
beberapa pertanyaan sekunder lainnya.
Thaha telah betul-betul mempersiapkan jawaban dari
segala pertanyaan yang dilontarkan oleh dewan penguji.
Ketika dewan penguji mengajukan beberapa pertanyaan
kepada Thaha, ia pun menjawab dengan meyakinkan. Ia
berkata bahwa dirinya berhasil meraih nilai tertinggi di
sekolahnya. Ia menyampaikan bahwa alasannya masuk
akademi kepolisian tak lain untuk mengabdikan diri kepada
negara. Menjadi polisi, kata Thaha lebih lanjut, tidak
sekadar menjadi aparat yang tugasnya mengamankan
negara dan mengatur lalu lintas belaka, tetapi juga
mengurusi serta menyelesaikan masalah-masalah sosial
kemasyarakatan dan kemanusiaan. Seorang polisi adalah
teladan bagi masyarakat. Pernyataan-pernyataan Thaha tampak menyakinkan.
Para dewan penguji memanggutkan kepala mereka. Ketua
dewan penguji tersenyum simpul, kemudian mengajukan
pertanyaan. Sebuah pertanyaan yang sangat se derhana.
"Apa yang hendak kaulakukan andai menemukan
seorang pelaku kriminal, sedangkan ia adalah sobat masa
kecilmu?" tanyanya. Sejenak Thaha tampak berpikir.
"Seorang polisi tentulah harus menjalani kewajibannya
dan menegakkan hukum negara tanpa pandang bulu. Jelas,
ia tidak boleh membedakan antara kawan bahkan keluarga
sekalipun." Mendengar jawaban Thaha, ketua dewan penguji
tertawa. Ia memanggutkan kepalanya seolah-olah hendak
meyakinkan bahwa Thaha telah lulus seleksi. Ia pun
mempersilakan Thaha untuk beranjak. Tetapi, ia tiba-tiba
memanggil Thaha dengan suara tinggi. Ketua dewan
pengawas itu membuka-buka kertas dokumen, tangannya
yang memegang beberapa lembar kertas dokumen ia angkat
lebih dekat ke arah matanya, lalu ia pun bertanya kepada
Thaha. "Apa pekerjaan orangtuamu, Thaha?" tanya ketua dewan
penguji itu. Matanya menatap mata Thaha. Tajam.
"Pegawai, Tuan," jawab Thaha datar. Thaha menuliskan
pekerjaan orangtuanya sebagai pegawai di formulir calon
anggota sekolah akademi kepolisian itu. Thaha juga
memberikan suap sebesar seratus pound kepada petugas
penanda tangan formulir. "Pegawai ataukah bawwab?"
Thaha terdiam untuk beberapa jenak waktu.
"ya. Ayah saya seorang bawwab," kata Thaha dengan
suara tercekat. Perwira ketua dewan penguji kembali tersenyum. Datar.
Ia pun mencoret lembaran formulir yang telah diisi Thaha.
"Terima kasih. Anda tidak lulus," kata perwira itu.
Sebisa-bisanya ibunda Thaha berusaha menenangkan
pikiran anaknya. "Barangkali sesuatu yang mereka tidak sukai justru
sebenarnya yang terbaik bagi mereka," kata sang ibu
mengutip ayat Alquran. Busainah pun ikut menenangkan.
"Persetan dengan perwira polisi. Apa yang dikehendaki
oleh mereka" Mereka telah menjadikan sesuatu yang lain
jauh lebih penting daripada hati. ya, mereka telah
kehilangan hati dan perasaan," kata Busainah.
Selepas keluar dari tempat ujian siang tadi, Thaha
menghabiskan waktu dengan menyusuri ruas-ruas jalan
sejauh-jauhnya. Ia hendak membuang kekecewaan dan
kekesalannya. Barangkali semuanya akan hilang seiring
jauhnya jalan yang ia telusuri. Selepas magrib, Thaha baru
pulang ke rumahnya di perkampungan atas atap. Ia duduk
di atas dipan kayu di depan pondoknya. Sedari
kedatangannya, sang ibu tampak menemani Thaha di
sampingnya, juga Busainah.
"Sudahlah anakku. Di depan kita banyak pilihan. Banyak
perguruan tinggi lain yang lebih bagus untuk dijadikan
tempat belajar," kata sang ibu.
Mendengarnya Thaha hanya diam, kepalanya menunduk. Sang ibu berdiri dari duduknya, ia kemudian
beranjak menuju dapur, meninggalkan Thaha bersama
Busainah. Busainah duduk di samping Thaha, di atas dipan
kayu. Lebih didekatkannya tubuhnya di samping tubuh
Thaha. "Janganlah kamu marah kepada dirimu sendiri Thaha,"
kata Busainah dengan suara lembut.
"Aku mengutuk kebodohanku, Busainah. Andai saja
para perwira brengsek itu sedari awal memberikan syarat
bahwa anak-anak bawwab, anak-anak miskin para penjaga
apartemen, dilarang masuk akademi kepolisian. Mereka
telah mengkhianati hukum negara yang mereka bangun
sendiri, Busainah. Tadi aku sempat bertanya kepada
seorang pengacara untuk memerkarakan masalah ini," kata
Thaha berapi-api. "Lalu?" tanya Busainah.
"Pengacara itu hanya tertawa simpul. Ia bilang yang
hendak memerkarakan hanyalah orang dungu."
"Sudahlah, jangan diperlarut lebih jauh. Kamu mau
mendengarkan pendapatku" Begini, Thaha, dengan nilaimu
yang bagus kamu bisa masuk ke jurusan bergengsi di
universitas umum. Di sana kamu bisa lebih berprestasi lagi.
Selepas lulus nanti, kamu bisa bekerja di negara-negara
Teluk. Selepas pulang dari pekerjaanmu kelak, kamu akan
menjadi kaya raya." Sejenak Thaha meresapi pendapat Busainah. Kemudian
ia tatap mata wanita itu.
"Thaha, boleh jadi usiaku lebih muda dari usiamu.
Tetapi, aku telah punya pengalaman bekerja. Pengalaman
kerjaku setidaknya banyak mengajariku. Aku jadi punya
kesimpulan bahwa negeri Mesir ini bukan negeri milik kita,
anak-anak yang dibesarkan di bawah naungan takdir
kesengsaraan. Negeri ini hanya milik mereka yang memiliki
uang saja. Kalau kamu punya uang dua puluh ribu pound
kamu akan langsung diterima di akademi kepolisian itu.
Negeri ini adalah negeri suap, Thaha. Persetan dengan
mereka. Sudahlah, realistis saja. Carilah uang sebanyak-
banyaknya, baru kamu bisa menikmati kehidupan di sini.
Kalau kamu tetap melarat seperti ini, hidup akan selamanya
tak berpihak kepadamu," kata Busainah.
"Tidak mungkin aku diam seperti ini. Aku harus
memerkarakan perwira-perwira brengsek itu," kata Thaha
tegas. Mendengarnya Busainah tertawa lepas.
"Kamu hendak memerkarakan siapa" Kepada siapa"
Dengarkan baik-baik kata-kataku, Thaha, sekarang kamu
harus berpikir untuk masuk kuliah di universitas umum.
Dan belajarlah yang sungguh-sungguh. Setelah kamu
memiliki ijazah dengan nilai tinggi, bekerjalah di Teluk.
Jangan pernah pulang ke Mesir, kecuali kamu sudah punya
banyak uang." "Kamu menganjurkanku bekerja di Teluk?" tanya Thaha
lebih lanjut. "ya. Di sana uang berlimpah-limpah. Tidak seperti di
Mesir." "Kamu mau menemaniku pergi ke sana?" kini Tha-ha
balik bertanya. Pertanyaan Thaha mengagetkan Busainah. Sejenak ia
terdiam. "Dengan izin Tuhan," kata Busainah.
"Busainah. Beruntung aku memilikimu. Kamu banyak
mengubah cara berpikirku. Kamu banyak mengubah
hidupku." Busainah mendongakkan kepalanya, memandang langit
malam. Langit tengah terang oleh cahaya bulan separuh.
Sementara itu, bintang-bintang tampak berserakan menghampari langit malam.
"Kamu tampak lelah, Thaha. Sekarang lebih baik kamu
tidur dan kita lanjutkan pembicaraan esok nanti," kata
Busainah. Pembicaraan keduanya selesai malam itu. Busainah
beranjak menuju rumah besinya. Thaha tak segera beranjak
ke tempat tidur. Matanya tidak bisa terpejam. Wajah ketua
dewan penguji yang menghinanya tadi siang seolah-olah
berkelebatan di benak Thaha. Masih terngiang juga
pertanyaan perwira itu, yang sejatinya bukan pertanyaan,
melainkan sebuah penghinaan. "Ayahmu seorang bawwab?" Bawwab. Ah, kata itu, yang sejatinya sangat asing bagi
kamus batinnya, tetapi menjadi bagian hidupnya selama
bertahun-tahun sejak ia lahir. Ia hidup di dalam kubangan
kata itu. Anak seorang bawwab, sungguh tak nyaman,
bahkan kerap tersiksa dan sengsara. Sebisa-bisanya Thaha
bersusah payah keluar dari kubangan kata-kata itu dengan
berikhtiar mengikuti ujian masuk akademi kepolisian.
Dirinya begitu yakin dengan kecerdasan yang ia miliki, juga
nilai tinggi yang ia kantongi. Bagaimanapun, menjadi


Apartemen Yaqoubian Karya Alaa Al Aswani di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

seorang perwira polisi di negara seperti Mesir menjanjikan
jaminan kehidupan yang layak pada masa depan.
Pemerintah Presiden Mubarak memiliki perhatian yang
sangat tinggi kepada militer, rezim yang menyokong
kekuasaannya. Susah payah Thaha membangun harapan
dan masa depannya, berharap ia bisa memperbaiki nasib
kehidupannya. Tetapi, ah, kata itu, anak seorang penjaga
apartemen, ternyata menghancurkan segalanya. Hanya
gara-gara status itu, ia gagal memasuki akademi kepolisian
yang sejatinya layak ia masuki. Ia berpikir keras, mengapa
mereka tidak sedari awal menyebutkan bahwa akademi
kepolisian tidak dibuka bagi anak-anak miskin" Kenapa
perwira penguji itu tiba-tiba mengabaikannya begitu saja
setelah sebelumnya mereka terkagum-kagum oleh jawaban
dan pernyataan Thaha. "Pergilah, hai anak bawwab. Kamu hendak masuk
akademi kepolisian" Seorang anak penjaga apartemen
hendak menjadi perwira" Ini mimpi yang mahal, Nak,"
begitulah kata-kata terakhir yang diucapkan perwira penguji
itu. Pernyataan yang sangat menyesakkan batin Thaha.
Sesesak rumah besi tempat tinggalnya.
Thaha masih berbaring di dipan tempat tidurnya, di
rumah besi yang sempit. Sejenak ia mengangkat tubuhnya.
Ia duduk berselonjor. Terlintas di benaknya ia harus
melakukan sesuatu, setidaknya ia tak diam begitu saja
ketika diperlakukan tidak adil seperti ini, ketika merasakan
betapa sakitnya menjadi orang tertindas. Tetapi, Thaha
memang masih lugu cara berpikirnya. Ia berandai-andai jika
dirinya menceramahi beberapa perwira kepolisian tentang
hak dan keadilan sebagaimana diperintahkan Allah dan
Rasul-Nya. Ia hendak menceramahi mereka habis-habisan
agar mereka tersadar dan akhirnya meminta maaf di
hadapannya, lalu memasukkan namanya menjadi taruna
akademi kepolisian. Ternyata Thaha selalu berangan-angan seperti ini, seperti
jalan cerita film-film drama, setiap kali ia mendapatkan
masalah dan tak bisa menemukan jalan keluarnya. Thaha
hanya bisa berkhayal. Sejenak Thaha beranjak dari dipan
tempat tidurnya menuju arah jendela. Rasa sakit hati masih
membekas kuat di hatinya. Thaha melangkah ke rak kecil,
lalu diambilnya beberapa helai kertas dan pena, kemudian
ia menuliskan surat pengaduan, "Bismil- lahirrahmannirrahim. Pengaduan yang diajukan kepada
Presiden Republik Arab Mesir." Sejenak Thaha termenung,
memikirkan kata-kata apa yang akan ia tulis berikutnya.
Suatu petaka telah terjadi pada Zaki Bey. Ia benar-benar
terpukul dibuatnya. Beberapa jam sebelumnya masih jelas
dalam ingatan Zaki Bey sosok Rabab kekasihnya yang
berjalan dari pintu ketika keputusasaan Zaki Bey telah
memuncak sebab ia menyangka Rabab tak jadi datang.
Mendadak Zaki Bey sumringah melihat Rabab berjalan ke
arahnya, lalu duduk di pangkuannya. Zaki Bey menatap
wajah Rabab, lama sekali, seolah-olah tengah menyelaminya hingga batas terdalam. Wajah Rabab yang
cantik, matanya hitam dan lebar, bibirnya sensual dan
sedikit menganga. Sesekali Rabab mengurai rambutnya
yang sebahu. Rabab kemudian meraih wiski dan
menuangkannya ke dalam gelas yang masih kosong,
sementara Zaki Bey membantu menuangkan beberapa
balok kecil es ke dalamnya.
Rabab kemudian meminta izin kepada Zaki Bey, dengan
suaranya yang separuh mendesah, untuk sejenak pergi ke
kamar mandi. Sekembalinya dari kamar mandi, Rabab
telah berganti pakaian, kali ini ia memakai baju tidur yang
sangat tipis, sehingga kutang dan celana dalamnya terlihat
dengan jelas. Sambil tersenyum Rabab bertanya, "Di mana
kita hendak tidur, Kekasihku?"
Lalu, Zaki Bey pun dibawanya pada kenikmatan yang
dahsyat. Rabab telah memasrahkan tubuh indahnya kepada
Zaki Bey, membuatnya sampai di puncak kenikmatan
persetubuhan sehingga akhirnya tertidur pulas. Semua itu
masih melekat dalam ingatan Zaki Bey.
Namun, mendadak semuanya berubah. Semua gambaran ingatan itu mendadak meruwet. Kini ia merasa
sangat pusing. Perasaannya benar-benar terpukul. Rupanya
Rabab yang semula datang memberikan kenikmatan, kini
pergi dengan meninggalkan luka bagi Zaki Bey. Wanita itu
telah mencuri beberapa barang berharga milik Zaki Bey.
Hal terakhir yang ia ingat adalah ketika Rabab
menciumnya, juga aroma napasnya yang wangi, sementara
mata Zaki Bey separuh memejam dan kabur. Selepas itu
Zaki Bey terkulai dan tidak ingat apa-apa lagi. Zaki Bey
kemudian bangun dengan kepala yang teramat berat, bagai
dihantam jutaan godam. Absakharun berdiri di
sampingnya, mencoba membantu membangunkannya.
"Tuan letih?" tanya Absakharun kepada Zaki Bey. "Saya
panggilkan dokter?" tanyanya lebih lanjut.
Dengan susah payah Zaki Bey mencoba bangkit.
Kepalanya terasa pening. Matanya berat. Zaki Bey seolah-
olah tengah mengumpulkan segala kekuatan yang masih
tersisa pada dirinya untuk bangun. Zaki Bey merasa dirinya
telah terlelap sangat lama seusai merampungkan petualangannya dengan Rabab. Ia lalu mengulurkan
tangannya, mendekatkannya ke arah matanya, hendak
melihat arloji emasnya untuk mengetahui jam berapakah
sekarang. Tetapi, ia tidak mendapatkan arloji emas itu di
tangannya. Zaki Bey mendadak terbangun dengan kaget. Ia
pun melihat ke meja kecil di samping ranjang, mencari
beberapa barang berharga lainnya. Dompet berisi uang
ratusan pound, pena emas bermerek Cross, kacamata
mahal, dan sebuah kotak kecil yang ia taruh di atas meja itu
yang berisi benda sangat berharga, cicin berlian milik kakak
wanitanya, Dawlat el-Dasuki.
"Aku telah kecurian, Absakharun. Rabab telah merampok hartaku," kata Zaki Bey.
"Pelacur bajingan!" umpatnya.
Zaki Bey mengumpati Rabab berkali-kali sambil ia
terduduk. Tubuhnya masih telanjang, hanya memakai
celana dalam. Ia pun segera beranjak, lalu mengenakan
helai demi helai pakaiannya untuk menutupi tubuhnya yang
ringkih. Tak lupa ia memakai kawat gigi yang sebelum
bersetubuh dengan Rabab tadi ia copot agar mulutnya dapat
dengan leluasa mencumbu tubuh wanita cantik itu. Zaki
Bey mengapitkan kepalanya di antara kedua tangannya. Ia
sungguh merasa pusing, juga sakit hati sebab dirampok oleh
wanita murahan itu. Absakharun tampak mencari-cari barang milik tuannya
yang hilang. Ia mencoba mencari di segenap penjuru
rumah, serupa anjing pelacak saja. Lama ia mencari-cari
hingga akhirnya ia menghadap kepada tuannya.
"Tuan, sepertinya kita harus melaporkan perampokan ini
kepada polisi," kata Absakharun dengan suara lirih.
Zaki Bey tampak sejenak berpikir. Ia kemudian
menggelengkan kepalanya. Lalu kembali terdiam dalam
tempo lama. Absakharun mendekati tubuh tuannya. Zaki
Bey meminta Absakharun untuk membantunya bangun.
Zaki memakai jasnya, lalu beranjak pergi ke luar kantor. Ia
pergi tanpa bicara sepatah pun kepada Absakharun.
Separuh malam telah berlalu, beberapa toko di sepanjang
Jalan Sulaiman Pasha telah banyak yang tutup. Terasa berat
sekali Zaki Bey menyeret tubuhnya menyusuri jalanan
menuju flat tempat tinggalnya. Zaki Bey berpikir lebih jauh,
selama ini ia telah mengeluarkan banyak uang untuk
membayar Rabab, pelacur wanita yang dikasihinya itu,
tetapi Rabab memang wanita bajingan. Susah payah Zaki
Bey mengeluarkan banyak uang untuknya, ternyata Rabab
tega merampok dirinya. Zaki Bey tak habis pikir mengapa
semua ini terjadi. Zaki Bey terus berjalan. Ia, seorang lelaki petualang
wanita, tiba-tiba harus sakit hati oleh seorang wanita
pelayan bar. Zaki Bey berangan-angan andai saja Rabab
datang pada dirinya, mencegatnya di jalan, meminta maaf
sambil mengembalikan barang-barang berharga miliknya
yang baru saja ia ambil, ia pasti akan menerimanya dengan
senyuman sambil mencium dan memeluknya, lalu
keduanya menuju bar atau hotel untuk menghabiskan
malam bersama. Namun, Zaki Bey sadar itu hanya khayalannya. Dia juga
tak hendak memerkarakan kejadian ini ke pihak berwajib.
Kejadian ini sungguh memalukan: seorang lelaki tua yang
masih senang meniduri wanita, kemudian wanita yang
ditidurinya tega merampok kekayaannya. Zaki Bey lalu
berpikir hendak memerkarakan hal ini ke bar tempat Rabab
bekerja. Tetapi, Zaki Bey segera sadar, kemungkinan besar
otak perampokan ini adalah pemilik bar itu sendiri.
Zaki Bey tidak memiliki pilihan lain untuk menyelesaikan kejadian ini, kecuali melupakannya, ya,
melupakannya, lalu selesailah masalahnya. Tetapi, itu
tidaklah mudah. Dan sekarang, terbayang di pikirannya
wajah kakak wanitanya yang kasar, Dawlat. Zaki Bey kini
tengah berpikir mencari alasan perihal cincin berlian milik
kakaknya yang juga dirampok Rabab. Mula-mula ia
menyesali, mengapa setelah mengambil cincin berlian itu
dari seorang tukang yang memperbaikinya, ia meninggalkan cincin berharga mahal itu di meja kantornya
dan tidak segera ia kembalikan kepada Dawlat" Sekarang
apa yang hendak ia perbuat" Zaki Bey tidak bisa membeli
cincin berlian yang baru sebagai penggantinya. Walaupun
mampu, tentulah Dawlat mengetahui dengan sangat teliti
akan perhiasan-perhiasannya sebagaimana ia mengetahui
anak-anaknya. Zaki Bey sangat segan setiap kali berhadapan dan
berurusan dengan kakak wanitanya yang kasar itu. Ia masih
terus berjalan hingga sampai di depan gerbang apartemen
tempat ia tinggal. Sejenak ia bingung. Hendak masuk
ataukah tidak. Akhirnya, ia pun memasuki gerbang
apartemen dan menaiki tangga.
"Anda dari mana saja, Tuan Bey?" sindir Dawlat.
Begitulah Dawlat menyambut kedatangan adiknya
sewaktu ia baru memasuki flat. Rupanya, sedari tadi
Dawlat telah menunggu kedatangan Zaki Bey di balkon flat
apartemennya yang sejajar dengan pintu. Dawlat kemudian
berjalan menuju arah Zaki Bey. Rambut wanita itu tampak
terurai, berwarna cokelat tua karena dicat, bedak di
wajahnya tampak tebal. Sementara itu, di bibirnya terapit
sebatang rokok yang disedot lewat pipa emas. Dawlat
memakai daster rumah berwarna gelap yang menutupi
tubuh gendutnya. Kakinya memakai sandal rumah dari
kulit. "Selamat malam," sapa Zaki Bey.
Zaki Bey menyapa dengan tergesa. Ia pun segera
beranjak menuju kamar tidurnya. Tetapi, dari arah belakang
Dawlat menarik baju Zaki Bey, berusaha mencegah Zaki
Bey yang hendak masuk kamar tidur.
"Zaki! Kenapa kau" Kaupikir kau di hotel" Aku
menunggumu tiga jam lamanya di sini. Hampir saja aku
hendak menelepon polisi barangkali terjadi sesuatu dengan
kau. Kautahu kalau aku tengah sakit. Kau hendak
membunuhku, nah?" ujar Dawlat dengan suara tinggi,
membentak-bentak. "Aku minta maaf, Dawlat. Aku pening betul. Aku
hendak tidur dulu, besok pagi kita bicara lagi," kata Zaki
Bey. Dibilang begitu Dawlat semakin naik darah. Diambilnya
vas yang tak jauh dari tempatnya itu berdiri, lalu
dilemparkannya vas itu ke arah Zaki Bey sambil berteriak
kencang. "Kau pusing kenapa, hah" Karena wanita-wanita yang
kerap kausetubuhi serupa anjing betina itu, hah" Hei, orang
tua, kau harusnya sadar kematian bisa saja merenggutmu
kapan saja. Lalu apa yang hendak kaukatakan kepada
Tuhanmu sewaktu kau menghadap-Nya nanti?" teriak
Dawlat. Dawlat lalu mendorong Zaki Bey dari belakang. Zaki
Bey tersungkur. Sebisa-bisanya ia balik mendorong tubuh
Dawlat sehingga Dawlat pun tersungkur. Zaki Bey menutup
pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Dari luar kamar,


Apartemen Yaqoubian Karya Alaa Al Aswani di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dawlat menggedor-gedor pintu. Sekuat tenaga wanita tua
itu hendak membukanya dengan mendobraknya. Tetapi sia-
sia, pintu kamar itu tetap terkunci dan tak mungkin terbuka.
Zaki Bey tidak memedulikan tingkah Dawlat di luar pintu
kamarnya. Ia hendak menenangkan pikiran, setidaknya ia
masih beruntung bisa mengunci diri di kamar tidurnya.
Zaki Bey membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Matanya menatap langit-langit kamar. Benaknya kembali
mengingat kejadian siang tadi. Lama ia mengingat-ingat
dengan tatapan mata yang nelangsa. Hingga akhirnya Zaki
Bey bergumam sendiri. "Hari yang sial," rutuknya dalam hati.
Sejenak kemudian pikirannya mengingat Dawlat,
kakaknya. Hatinya bertanya-tanya mengapa kakak wanitanya tercinta bisa sedemikian berubah. Ia yang
mudanya anggun, cantik, dan lembut kini berubah menjadi
sesosok nenek tua yang kasar dan tamak.
Usia Dawlat dan Zaki Bey tidak terpaut jauh, hanya
berjarak tiga tahun. Zaki Bey masih ingat masa-masa
mereka kecil dulu. Masih segar dalam ingatan Zaki Bey:
kakaknya dahulu adalah gadis kecil yang cantik dan imut,
memakai seragam Le Mer de Deo berwarna kuning muda,
dengan dasi pita yang tersemat di lehernya. Dawlat suka
menyimpan potongan rambut hewan-hewan lucu. Sewaktu
musim panas tiba, Dawlat kecil kerap memainkan piano
yang terdapat di pojok kamar tamu, di rumah ayahnya yang
dulu, di bilangan Zamalek (yang kemudian dijual setelah
masa-masa revolusi). Dawlat kecil sangat suka bermain
musik sehingga ayah dan ibu mereka pun memasukkan
Dawlat kecil ke sekolah piano. Ayahnya berangan-angan
lebih jauh, kelak Dawlat akan menjadi pianis andal. Dawlat
kecil juga sering mengikuti perlombaan bermain piano.
Pernah suatu ketika ia hen-ak dijadikan sekolah musiknya
sebagai utusan sekolahnya untuk mengikuti festival piano di
Paris, tetapi sang ayah melarangnya.
Dawlat pun beranjak dewasa, ia tumbuh sebagai gadis
yang cantik dan memikat para lelaki. Akhirnya Dawlat pun
menikah dengan Hasan Shawkat, seorang kapten pilot yang
tampan dan gagah, serta dikaruniai dua orang anak lelaki
dan wanita, Hani dan Diana. Ketika revolusi meletus pada
tahun 1952, Kapten Hasan Shawkat pun tak lepas dari
kejaran dewan revolusi, sebab ia masih menjadi kerabat
kerajaan. Tak lama setelah itu, Hasan Shawkat meninggal
dunia karena serangan jantung, padahal usianya masih
muda, baru empat puluh lima. Dawlat pun menjanda.
Tetapi, ia pun menikah lagi sampai dua kali. Dari kedua
pernikahan itu Dawlat tak memiliki keturunan. Dan
sayang, dengan kedua suaminya itu Dawlat gagal
membangun kembali kehidupan rumah tangga yang
bahagia. Setelah dewasa, Hani dan Diana menikah. Diana
menikah dengan seorang pengusaha dan bermigrasi ke
Kanada bersama suaminya. Diana kini mengambil kewar-
ganegaraan Kanada dan tidak pernah kembali ke Mesir.
Sementara itu, ketika Hani lulus dari bangku kuliah fakultas
kedokteran, ia pun hendak hijrah ke Prancis.
Dawlat melarangnya. Tetapi, Hani tetap keras kepala.
Dawlat meminta tolong kepada beberapa kerabat dekat
keluarganya untuk menghalang-halangi kepergian Hani ke
Prancis. Dawlat takut jika anak lelakinya pun kelak akan
menjadi anak peluru serupa Diana yang setelah lepas dari
sarangnya, pergi melesat, menemukan tuju-an hidupnya,
dan tidak pernah kembali lagi ke sarang tersebut. Anak
wanitanya telah menjadi anak peluru. Tak apalah, tetapi ia
berharap tidak untuk anak lelaki-nya. Namun, sia-sia
belaka, Hani pun akhirnya pergi ke Prancis dan menjadi
anak peluru. Hani dan Diana, sebagaimana anak-anak
bang-sawan pada zamannya, enggan tinggal di Mesir,
negeri sendiri, dan memilih menjadi imigran di negara-
negara Barat. Dawlat pun hidup menyendiri. Ia meminta tinggal
bersama Zaki Bey, adik satu-satunya yang menetap di
Wasath el-Balad. Sejak hari-hari pertama keduanya tinggal
satu atap, percekcokan kerap terjadi. Keduanya seolah-olah
bukan adik-kakak dan saudara kandung, melainkan lebih
serupa musuh. Sejatinya, Zaki Bey telah membangun kehidupannya
dengan penuh ketenangan dan kebebasan, sekalipun ia tetap
membujang hingga di usia yang setua ini. Sangat sulit
rasanya ketika ia harus menerima kehadiran orang lain
yang kelak mencampuri kehidupannya, sekalipun saudaranya sendiri. Bagaimanapun Zaki Bey harus
menyesuaikan hari-harinya dengan Dawlat, menyesuaikan
waktu makan dan tidur, juga ia harus memberi tahu Dawlat
terlebih dahulu ketika ia hendak begadang. Keberadaan
Dawlat mau tidak mau menjadi penghalang bagi Zaki Bey
ketika ia hendak membawa teman kencannya ke rumah itu.
Terlebih lagi ketika Dawlat kerap mencampuri urusan Zaki
Bey hingga ha-hal yang berifat sangat pribadi.
Di sisi lain, Dawlat bermaksud agar kehidupan keduanya
bisa menyatu dan memberinya rasa lega. Bagaimanapun,
Dawlat, di usianya yang telah renta kini hi-dup sendirian
tanpa memiliki mata pencaharian setelah ia gagal dalam
membina keluarga dan kedua anaknya pergi meninggalkan
dirinya sendirian di hari-hari sen-janya.
Namun, karakter Zaki Bey berlawanan dengan Dawlat.
Sekalipun sudah bangka, Zaki Bey masih senang bermain
dengan wanita. Dengan gampang Zaki Bey dapat
memanggil wanita, mengencaninya, menyetubuhinya, lalu
setelah puas ia pun meninggalkan wanita itu. Pola hidup
Zaki Bey seperti ini rupanya sedikit banyak memengaruhi
emosi Dawlat sebagai wanita yang hidupnya gagal dan
menderita. Dawlat merasa tak terima. Kemarahan Dawlat
kepada Zaki Bey layaknya kemarahan seorang wanita yang
nelangsa karena dikecewakan harga dirinya oleh seorang
lelaki brengsek. Apalagi keduanya sudah tua, dengan segala
sifat ketuaan yang melekat, semisal mudah marah dan cepat
hilang kesabaran. Tuan Presiden, sebagai anak bangsa, saya Thaha
Muhammad al-Syadzili telah dirampas hak-hak kenegaraannya dan telah dizalimi oleh tuan kepala dewan
penguji di akademi kepolisian. Tuan Presiden, bukankah
Rasulullah sendiri telah bersabda dalam hadisnya,
"Sesungguhnya kerusakan orang-orang sebelum kalian
adalah karena ketika terjadi kejahatan di antara mereka
dan pelakunya adalah orang terpandang, mereka melepaskannya, dan ketika terjadi kejahatan di antara
mereka dan pelakunya adalah orang miskin, mereka pun
menghukumnya. Demi Allah, andai Fatimah anak
Muhammad mencuri, akan aku potong tangannya."
Benarlah sabda Rasulullah.
Tuan Presiden, saya telah bersusah payah dan berusaha
sekuat tenaga untuk rajin belajar di sekolah sehingga ketika
nilai ujian diumumkan, saya mendapat nilai yang sangat
memuaskan, dengan jumlah nilai 89. Dan alhamdulillah,
dengan izin Allah, saya bisa lulus tes seleksi tahap awal di
akademi kepolisi-an. Tuan Presiden, apakah adil jika
akademi kepoli-sian tidak mengizinkan seorang anak
penjaga apartemen untuk belajar di dalamnya. Penjaga
apartemen adalah sebuah pekerjaan halal dan mulia, serta
semua pekerjaan halal harus mendapat kehormatan, Tuan
Presiden. Saya berharap Tuan Presiden sudi membaca pengaduan
ini dengan kacamata seorang ayah yang penuh kasih sayang
kepada anak-anak bangsanya yang tidak akan rela ketika
anak-anaknya diperlakukan tidak adil dan dizalimi oleh
pihak lain. Tuan Presiden, sesungguhnya masa depan saya
menunggu keputusan Anda. Dan saya, dengan izin Allah,
kiranya telah berkata jujur atas semua pengaduan saya
kepada Tuan Presiden. Demikian dan terima kasih yang tak terhingga. Semoga
Allah mengabadikan kejayaan bagi Islam dan umat
Muslim. Anak Anda, Thaha Muhammad al-Syadzili Nomor KTP 19578,
distrik Kasr el-Nil Apartemen yacoubian, Jalan Talaat Harb 34, Kairo
Ia serupa seorang komandan perang yang baru saja
memenangkan peperangan dan tengah memasuki kota yang
ditaklukkannya dengan kekuasaan penuh. Perasaan seperti
inilah yang kini tengah dialami Mallak. Ia tampak sangat
bahagia, berputar-putar di atas perkampungan atas atap
apartemen setelah ia memegang kunci sebuah rumah besi
baru sewaannya. Mallak memakai baju jubah kurung khas
pedesaan. Di lehernya terikat serban (bagi orang-orang
pelosok pedesaan, pakaian seperti ini serupa pakaian
kebesaran para perwira). Pagi itu, tampak juga beberapa
tukang di sekitar rumah besinya: seorang tukang listrik,
tukang besi, tukang ledeng, dan beberapa anak kecil yang
membantu mereka. Mallak terlebih dahulu memanjatkan doa kepada yesus
sebelum ia membuka pintu rumah besinya. Udara di dalam
rumah sempit itu terasa pengap dan bau karena lama tak
pernah dibuka, nyaris selama hampir setahun lebih,
semenjak ditinggal wafat oleh penghuninya yang lama:
Atheyya, seorang penjual koran. Di dalam rumah besi
tersebut masih didapati sisa-sisa tumpukan koran milik
Atheyya. Mallak pun menyuruh anak-anak kecil mengumpulkannya dan menjualnya ke bekyak (tukang
loak). Dan sekarang, Mallak tengah berdiri di tengah rumah
besinya. Dibukanya jendela, sinar matahari dan udara luar
pun segera memenuhi ruangan perlahan-lahan. Ia lalu
memberikan arahan kepada para tukang yang hendak
merapikan dan memperbaiki rumah besi sewaannya.
Beberapa penduduk perkampungan atas atap tampak lalu
lalang didepan rumah besi Mallak. Sebagian menyapanya,
sebagian berbasa-basi menanyakan perihal rumah barunya,
sebagian lagi mengucapkan selamat kepadanya. Sekitar
setengah jam kemudian kabar Mallak yang telah menyewa
rumah besi itu pun segera menyebar.
Mendadak datang dua orang penghuni perkampungan
atas atap lainnya. Keduanya datang dengan raut muka yang
kurang bersahabat. Keduanya juga menyapa Mallak, tapi
dengan nada datar. Dua orang itu adalah Hamid Hawwas
dan Ali Sawwaq. Hamid Hawwas adalah pegawai di badan kesehatan
negara di provinsi Mansoura. Atasannya memindahkannya
dari Mansoura ke Kairo. Di Kairo ia menyewa kamar besi
di atas atap Apartemen yacoubian. Sekarang ini sudah
hampir setahun lebih Hamid Hawwas berusaha agar dirinya
dipindahkan lagi ke Mansoura. Hamid Hawwas memiliki
kecakapan bahasa, baik dalam berbicara maupun dalam
menulis. Selama setahun itu pula Hawwas kerap
membuatkan pengaduan dan menjadi fasilitator orang-
orang yang hendak mengajukan pengaduan mereka ke
pihak pengadilan atau kepolisian.
Adapun Ali Sawwaq bekerja sebagai sopir di sebuah
perusahaan obat-obatan. Wajahnya tampak kusut, menandakan ia suka mabuk. Memang, hampir setiap sore,
sepulang dari pekerjaannya sebagai pengemudi, ia selalu
mampir di bar. Di bar itu ia menghabiskan waktunya
hingga separuh malam, minum bir atau anggur sambil
menyedot shisha. Ali Sawwaq memiliki tabiat gampang
marah. Bisa jadi itu akibat pengaruh minuman keras yang
setiap hari ia tenggak. Hamid Hawwas mendekati Mallak yang tengah berdiri
di depan rumah besinya. Hawwas pun menyapa Mallak,
bertanya kabar dan berbasa-basi barang sejenak.
"Soal rumah besi ini, apakah Anda memiliki surat izin
dari pemiliknya untuk menggunakan rumah besi ini sebagai
tempat dagang?" tanya Hawwas.
"ya, jelas. Saya memiliki akad dan izinnya," jawab
Mallak. Mallak lalu mengeluarkan beberapa helai kertas yang
telah ia lipat-lipat di dalam kantong baju jubahnya. Ia
mengeluarkan surat akad penyewaan rumah besi dari
pemiliknya, Fikri Abdel Syahed. Hawwas meraihnya, lalu
segera memasang kaca matanya, kemudian ditelitinya
secara saksama. Tak lama kemudian, Hawwas pun
menyodorkan kembali kertas itu kepada Mallak.
"Akad seperti ini batal," katanya.
"Apa" Batal" Batal bagaimana maksud Anda?" tanya
Mallak.

Apartemen Yaqoubian Karya Alaa Al Aswani di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"ya. Jelas-jelas batal. Secara hukum, seluruh bagian atas
atap apartemen adalah untuk kemanfaatan bersama,
utamanya bagi para penghuni rumah-rumah besi. Dengan
demikian, Anda tidak boleh menyewanya untuk kepentingan pribadi, yaitu dagang," kata Hawwas.
Mallak pun menjadi bingung oleh kata-kata Hawwas.
"Akad Anda dihukumi batal. Bukan hak Anda
menggunakan rumah besi ini jika untuk tempat berdagang,"
kata Hawwas lebih jauh. "Baiklah. Anda hendak tinggal di rumah besi ini, di atas
atap apartemen sini. Dengarkan saya baik-baik," Hawwas
terus berbicara, sementara Mallak semakin kebingungan.
"Kami, sebagaimana orang-orang penghuni rumah-
rumah besi di atas atap ini, menyewa rumah besi kami
untuk tempat tinggal, sedangkan Anda menyewa rumah
besi untuk kepentingan dagang. Ini jelas-jelas menyalahi
peraturan." "Sudahlah. Lebih baik Anda tanyakan saja kepada
pemilik rumah besi ini di flat apartemen sana. Dia yang
memberiku akad seperti ini," kata Mallak.
"Jelas tidak. Peraturan melarang Anda memakai rumah
besi ini. Dan kami, penghuni atas atap ini, jelas merasa tak
nyaman dengan kehadiran Anda. Hak kami jika melarang
Anda," kata Hawwas. "Lalu apa maksud Anda?" tanya Mallak.
"Kemasi barang-barang Anda dan pergi secepat-cepatnya
dari atas atap sini," kata Ali Sawwaq yang ikut menyela
pembicaraan Mallak dengan Hamid Hawwas.
Ali Sawwaq kemudian meletakkan tangannya di pundak
Mallak. "Dengarkan saya. Tempat ini adalah tempat tinggal
bagi keluarga baik-baik. Tidak pernah terpikirkan oleh
mereka jika suatu saat akan datang seseorang yang
membuka tempat ini untuk urusan bisnis. Di sini banyak
wanita. Apa jadinya jika para pekerja dan para pembeli di
tempat usahamu melihat keluarga-keluarga itu" Anda
paham?" tanya Sawwaq.
Mallak pun segera menjawab kata-kata Sawwaq.
langkahnya ia majukan sedikit. "Tuan yang terhormat,
beberapa pekerjaku memiliki keahlian yang cakap. Mereka
juga memiliki etika dan memahami situasi di sini. Mereka
tidak akan bermasalah dengan wanita-wanita di sini," kata
Mallak. "Dengarkan, apa maumu?"
"Mau apa?" "Brengsek!" Ali Sawwaq mengumpati Mallak. Sawwaq kemudian
mendorong tubuh Mallak. Seketika Mallak pun terpelanting
dan tersungkur. Keduanya beradu mulut, bahkan akhirnya
saling pukul. Sawwaq memukul kepala Mallak. Mallak
terjungkal. Sawwaq lalu memukul perut Mallak. Darah
segar pun mengucur dari mulut dan hidung Mallak. Mallak
membalas pukulan Sawwaq. Diambilnya sepotong kayu,
lalu dipukulkannya ke arah Sawwaq. Tetapi, pukulan
Mallak meleset. Ia pun terus memukul-mukulkannya.
Namun, beberapa tukang yang tengah memperbaiki rumah
besi Mallak melerai keduanya. Tak lama beberapa penghuni
atas atap mengerubungi keduanya.
Absakharun, adik Mallak, pun muncul. Absakharun
tampak mendekat Mallak, berbicara pelan, mencoba
membela dan menenangkannya. Tetapi, adu mulut antara
Mallak dan Sawwaq masih terus berlangsung. Sawwaq
berhasil menyeret tubuh Mallak keluar rumah besinya.
Hamid Hawwas pun segera berlari menuruni tangga. Ia
menelepon pihak kepolisian. Tak lama kemudian beberapa
aparat kepolisian datang dan menaiki tangga menuju atas
atap apartemen. Polisi-polisi itu mencoba melerai Sawwaq
dan Mallak yang masih adu mulut. Tampak Hawwas
mendekati seorang perwira polisi.
"Tuan, Anda tentu saja mempelajari undang-undang.
Dan dia (sambil telunjuknya menunjuk ke arah Mallak)
hendak menjadikan rumah besi sewaannya sebagai tempat
usaha di atas atap sini. Dan Anda tahu, Tuan, jika atas atap
ini adalah untuk kemanfaatan bersama, tidak diperbolehkan
menggunakannya untuk keperluan bisnis. Anda juga tahu,
Tuan, ini adalah tindak pidana sebab ia telah menggunakan
sesuatu yang bukan haknya. Tuan juga tahu tentunya,
hukuman bagi pelanggar seperti dia adalah tiga tahun
penjara," ujar Hawwas meyakinkan.
"Anda seorang pengacara?" tanya perwira polisi itu.
"Bukan, Tuan. Saya Hamid Hawwas, wakil kepala
kantor kesehatan negara cabang Mansoura. Saya juga salah
satu penghuni atas atap ini yang merasa hak kami terampas
dan terzalimi oleh kehadiran orang ini. Bagaimana bisa dia
menyewa rumah besi untuk kepentingan bisnis" Ini jelas-
jelas menyalahi asas kemanfaatan bersama, utamanya bagi
para penghuni rumah-rumah besi di atas atap ini. Bisa jadi
setelah ini muncul orang lain yang menyewa gerbang
apartemen untuk kemudian dijadikan tempat dagang."
Hamid Hawwas berkata serupa penulis drama atau
opera. Hawwas lalu menatap orang-orang penghuni atas
atap yang tengah berkerumun. Orang-orang itu tampak
terpengaruh oleh kecakapan bicara Hawwas. Mereka
tampak memanggut-manggutkan kepala mereka.
Perwira polisi muda itu berpikir sejenak, lalu kembali
berbicara. "Baik. Kalian semua ikut saya ke kantor polisi."
Pada paruh tahun empat puluhan, Dr. Hasan Rashid
adalah seorang pakar hukum Mesir terkenal. Namanya bisa
disejajarkan dengan beberapa nama terkemuka lainnya,
semisal Thaha Hussain, Zaki Naguib Mahmoud, Ali
Badawi, dan Abbas Mahmoud Aqqad. Mereka adalah para
penghulu pembaruan di Mesir. Kebanyakan dari mereka
menyelesaikan sekolah di beberapa perguruan tinggi di
Eropa dan Amerika serta kemudian menerapkan apa yang
telah mereka pelajari di Barat di beberapa universitas di
Mesir. Mereka memiliki keyakinan yang teguh bahwa kemajuan
dan Barat adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan, dua
kata dengan satu makna. Oleh karena itu, jika bangsa Mesir
hendak mencapai kemajuan serupa yang telah dicapai
Barat, bangsa Mesir harus sepenuhnya mengikuti Barat.
Mereka memuja nilai-nilai Barat: demokrasi, kebebasan,
keadilan, bersungguh-sungguh dalam bekerja, dan kesejajaran. Lebih jauh, mereka mencampakkan tradisi
mereka sendiri karena dipandang jumud dan kuno. Bagi
mereka, tradisi nenek moyang tak lebih dari sebuah tali
yang mengikat bangsa mereka untuk mencapai kemajuan.
Sudah menjadi harga mati jika mereka harus melepaskan
diri dari kungkungan tradisi nenek moyang mereka jika
hendak mencapai kemajuan dan segera mengikuti Barat
sepenuhnya. Ketika belajar di Paris, Dr. Hasan Rashid bertemu dan
berkenalan dengan seorang gadis Prancis, Janet Dominique
namanya. Rashid lalu menikahi Janet dan memboyongnya
ke Mesir setelah ia menyelesaikan pendidikannya. Dari
pernikahan itu, keduanya dikaruniai seorang anak: Hatim.
Keluarga Rashid hidup dengan gaya Eropa sepenuhnya,
luar dalam. Gaya hidupnya serupa ketika ia hidup di Paris
dulu. Rashid pun tak pernah salat dan puasa. Cerutu mahal
selalu tersemat di mulutnya. Anggur Prancis senantiasa
menemani acara makan mereka, dari pagi hingga malam.
Bahasa percakapan yang di pakai di dalam rumah pun
bukan bahasa Arab, melainkan bahasa Prancis.
Rashid juga menerapkan cara berdisiplin yang sangat
ketat. Termasuk cara dia menemui tamu atau menghadiri
pesta. Dr. Rashid selalu membagi waktunya dengan tegas.
Dalam seminggu, misalnya, ia dengan sangat matematis
telah membagi waktu kapan untuk menulis, kapan untuk
menemui tamu, kapan menemui kerabat dan karib, kapan
pergi ke kafe bersama keluarga, dan kapan berlibur. Berkat
kecerdasan dan kecakapannya yang luar biasa, Dr.
Rashid pun segera terkenal sebagai pakar hukum di
Mesir tak berapa lama selepas kepulangannya dari Paris. Ia
kemudian dipercaya untuk memegang jabatan dekan
fakultas hukum di Universitas Kairo. Ia pun mendapat
penghargaan sebagai anggota pakar hukum terkemuka di
dunia yang berpusat di Paris. Di sana, Dr. Rashid
merupakan salah satu dari seratus pakar hukum
internasional terkemuka yang menjadi anggota asosiasi
tersebut. Sementara Dr. Hasan Rashid semakin tenggelam dalam
popularitas dan kesibukannya, istrinya juga sibuk bekerja
sebagai penerjemah di kantor kedutaan besar Prancis di
Mesir sehingga Hatim Rashid, sang anak, melewati masa
kecil dengan kesepian yang kerap mencengkeramnya.
Hatim pun tumbuh tidak seperti kebanyakan anak-anak
kecil lainnya. Ketika liburan musim panas yang panjang
tiba, Hatim justru tak merasa senang layaknya teman-teman
sebaya lainnya. Ia justru merasa sedih karena ketika liburan
tiba, ia akan tinggal di rumah sendirian. Ia tak punya teman
untuk berbagi dan bermain. Hatim lebih senang ketika hari-
hari bersekolah. Di sana ia bisa tertawa, berbagi dan
bergembira bersama kawan-kawannya. Akhirnya, Hatim
pun tumbuh tidak normal. Ia kerap merasa terasing. Ada
sebuah perasaan asing yang mengendap dalam dirinya.
Perasaan itu ditambah dengan keadaan kedua orangtuanya
yang berbeda latar budaya: ayahnya seorang Mesir dan
ibunya seorang Prancis. Hari-hari Hatim pun dilalui bersama para pembantu
rumah tangga. Merekalah yang menemani hari-hari Hatim,
teman bermain, teman ketika ia hendak jalan-jalan, teman
bercerita, dan teman berbagi. Hatim seakan lebih dekat
perasaan kasih sayangnya kepada para pembantu itu
daripada kepada orangtuanya sendiri.
Di antara para pembantu itu ada seorang pembantu yang
paling dekat dengan Hatim. Ia adalah Idris el-Safarji,
seorang Mesir dari suku kulit hitam Nubia. Hatim sangat
menyukai Idris, dengan jubahnya yang putih dan longgar,
dengan tarbus (peci panjang) merahnya, dengan tubuhnya
yang tinggi dan tegap. Warna kulitnya cokelat kehitam-
hitaman dengan sorot mata tajam, dan senyum yang khas,
dengan gigi putihnya selalu terlihat mengilap ketika ia
tersenyum. Idris kerap menemani Hatim di kamarnya yang
luas dan besar. Dari jendelanya tampak Jalan Sulaiman
Pasha yang membentang di bawahnya. Di sana Idris
menemani Hatim bermain, juga bercerita tentang hewan
dan alam, juga menyanyikan tembang berbahasa Nubia
yang memikat dan menerjemahkan bait-baitnya. Hatim
kerap menangis saat Idris menyampaikan kisah yang sedih,
misalnya ketika ayah ibunya, juga saudara-saudaranya,
memaksanya untuk bekerja saat Idris masih seusia Hatim
waktu itu. Kecintaan Hatim kepada Idris pun semakin bertambah
sehingga keduanya sering melewati hari yang panjang
bersama-sama. Ketika Idris mencium wajah atau leher
Hatim sembari berkata, "Kamu tampan, Hatim, aku
menyukaimu," Hatim pun tidak merasa takut, bahkan
semakin senang. Waktu Hatim berusia sembilan tahun, ketika Idris
mencium wajahnya yang putih dan tampan, Hatim pun
balas mencium bibir Idris. Keduanya lalu berciuman. Lama
sekali. Idris lalu menyuruh Hatim mencopot bajunya.
Hatim pun membukanya. Ketika Idris mulai menciumi
tubuh Hatim, ia merasakan kenikmatan. Saat itulah Idris
mendesah dan mengeluarkan ungkapan-ungkapan berbahasa Nubia yang tak dipahami Hatim. Sekalipun
hasrat Idris besar, ia memperlakukan Hatim dengan lemah
lembut. Idris meminta Hatim memberitahunya jika ia
merasa kesakitan sewaktu Idris memasukkan penisnya ke
dalam anus Hatim. Hatim tidak merasakan kesakitan apa
pun. Ia malah merasakan kenikmatan. Setelah Idris dan
Hatim selesai bercumbu, Hatim pun membalikkan
tubuhnya, dan mencium bibir Idris dengan penuh gairah.
Kemudian, ditatapnya mata Idris dengan nanar.
"Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Hatim.
Jangan sekali-kali kamu katakan kejadian ini kepada siapa
pun, apalagi kepada orangtuamu. Apa yang terjadi jika
mereka mengetahui hal ini" Mereka nanti akan memu-
kuliku, memperkarakanku, dan memenjarakanku. Bahkan,
tidak mustahil mereka akan membunuhku," kata Idris
dengan suara berat. Hubungan antara Hatim dan Idris berlanjut selama
bertahun-tahun hingga ayah Hatim meninggal dunia akibat
serangan jantung. Setelah itu, sang ibu mengurangi jumlah
pembantu di rumah mereka untuk menghemat pengeluaran.
Idris termasuk salah satu pembantu yang diberhentikan.
Idris pergi dan kabar tentang dirinya pun terputus.
Kepergian Idris membuat Hatim kesepian dan terpukul
sehingga ia lulus dari sekolah menengah dengan nilai-nilai
yang sangat buruk. Selepas itu, Hatim menjalani kehidupan
homoseksual. Dua tahun setelah kematian ayahnya, sang ibu
meninggal dunia. Hatim merasa lega karena ibunya yang
dirasa membelenggu kehidupannya kini telah pergi. Hatim
pun hidup dari harta warisan ayah ibunya yang banyak. Di
samping itu, ia pun bekerja di surat kabar berbahasa Prancis
di Mesir. Hatim kemudian merenovasi flat yang besar di
Apartemen yacoubian. Ia mengubah bentuk interior flat


Apartemen Yaqoubian Karya Alaa Al Aswani di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

rumahnya dari modelnya yang lama menjadi lebih artistik
dengan citra yang feminin sehingga membuat keka-sih-
kekasihnya betah tinggal di rumah itu bahkan hingga
berbulan-bulan. Hatim kerap berganti-ganti pasangan.
Mereka berpisah dengan alasan masing-masing. Tetapi,
sejujurnya, hasrat Hatim tertambat pada seseorang, yaitu
Idris el-Safarji. Seperti halnya seorang lelaki yang merindukan seorang
wanita yang memberinya pengalaman pertama ber-setubuh,
begitu juga Hatim yang merindukan sosok lelaki semacam
Idris. Sebisa-bisanya ia mencari pasangan yang banyak
memiliki kesamaan dengan Idris. Sejujurnya, Hatim selalu
merindukan Idris dan selalu mengingatnya. Hatim masih
mengingat masa lalunya sewaktu ia bersetubuh dengan
Idris. Keduanya selalu bersetubuh di atas karpet Persia dan
tak pernah melakukannya di atas ranjang kamar Hatim
yang lebar. Watak Idris sebagai seorang pembantu
membuatnya merasa tak nyaman tidur di atas ranjang
empuk seperti milik tuannya.
Pada suatu malam beberapa bulan silam, hasrat Hatim
benar-benar memuncak. Ia lalu berjalan-jalan. Ia berharap
di tengah jalan bisa menemukan lelaki mirip Idris yang bisa
diajaknya tidur. Waktu itu jam menunjukkan pukul sepuluh
malam. Hatim tengah berjalan menyusuri bilangan Wasath
el-Balad. Biasanya, pada jamjam itu terjadi pergantian
petugas militer di beberapa pos jaga di daearah itu. Di
antara para tentara yang bertugas, ada juga yang memiliki
hasrat homoseks. Hatim dengan saksama memerhatikan
beberapa tentara di sebuah pos jaga. Di sana ia melihat
seseorang yang sangat mirip dengan Idris. Nama lelaki itu
Abdu Rabbih. Hatim memanggilnya dan mengajaknya
masuk ke dalam mobil. Hatim lalu memberi uang dalam
jumlah banyak untuk Abduh-panggilan Abdu Rabbih.
Tentu saja, sebagai seorang miskin yang datang dari pelosok
pedesaan yang tengah menjalani wajib militer, Abdu
Rabbih sangat senang menerima uang sebanyak itu
sehingga dia mau tidur bersama Hatim.
Namun, lama kelamaan, Abduh pun mulai memberontak. Ia hendak melepaskan diri dari Hatim.
Tetapi, Hatim paham betul, seorang homoseks aktif
(Burghal) pemula seperti Abduh kerap terhinggapi perasaan
bersalah atas apa yang ia perbuat. Juga ada perasaan risih
dalam diri homoseks pasif (Kodiana). Sekalipun begitu,
hasrat yang mulanya dibarengi dengan perasaan ri-sih dan
bersalah, sedikit demi sedikit beranjak menjadi hasrat yang
betul-betul lepas. Begitu juga antara Abduh dan Hatim yang
hubungan keduanya kerap mengalami pasang surut.
Seperti halnya kemarin malam, ketika keduanya bertemu
di bar Chez Nouz. Di sana Abduh sempat marah dan
membentak-bentak Hatim. Tetapi, tak lama setelah itu,
pada malam itu juga, Hatim bisa berdamai kembali dengan
Abduh dan membawanya tidur bersama di flat apartemennya. Di flat itu keduanya minum anggur Prancis
dengan aroma yang kuat, lalu melewati malam dengan
percumbuan hangat. Esok paginya, Hatim lebih dahulu bangun daripada
Abduh. Ia berendam di bak mandi air hangat. Sambil
menggosoki tubuhnya, Hatim tersipu-sipu mengingat
petualangannya semalam bersama Abduh. Malam itu
Abduh betul-betul mabuk akibat anggur yang terlalu banyak
ditenggaknya sehingga hasrat seksnya betul-betul terasa liar
dan ganas. Selepas mandi air hangat, Hatim lalu
menghanduki dirinya. Ia berdiri di depan cermin kamar
mandi sambil tersipu-sipu. Ia pun mulai meluluri bagian
tertentu dari wajahnya dengan krim, lalu mencukur janggut
dan kumisnya, juga bulu cambangnya. Selepas itu ia pun
membilasnya dengan air mawar. Seelah selesai, Hatim
keluar dari kamar mandi, kemudian masuk kamar dan
menatapi Abduh yang masih terbaring pulas. Wajah Abduh
kecokelatan, bibirnya tebal dan lebar, hidungnya khas
hidung orang-orang Nubia, alisnya tebal sehingga memberi
kesan kekar pada wajahnya. Didekatkannya wajah Hatim
ke wajah Abduh. Diciumnya bibir kekasihnya. Abduh pun
terbangun. Matanya ter-buka perlahan.
"Abduh, selamat pagi," kata Hatim.
Hatim mengucapkan selamat pagi kepada Abduh dengan
lembut sambil tersenyum. Abduh pun perlahan-lahan
bangkit. Ia sandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Dada
Abduh yang telanjang terlihat bidang dan berwarna gelap.
Di sana tumbuh bulu-bulu yang lebat. Hatim menciumi
dada Abduh, tetapi tangan Abduh segera meraih kepala
Hatim yang tengah menciumi dadanya, lalu meminggirkannya agak jauh.
"Hatim, aku mau pergi ke markas militer. Pagi ini
hendak ada pengabsenan. Aku takut kalau atasanku nanti
menghukumku," kata Abduh dengan suara berat.
"Abduh, nanti kita bicara dengan atasanmu itu. Aku
sudah bilang, ini bukan hal penting. Aku kenal dengan
banyak petinggi militer. Nanti biar aku bicara pada mereka
dan mereka yang mengurusnya," kata Hatim.
"Ah, tapi hari ini adalah hari-hari terakhir wajib
militerku. Anak dan istriku di kampung juga tentunya
menantikan kedatanganku. Aku belum memberi kabar pada
mereka. Aku takut mereka khawatir," kata Abduh.
Hatim pun menangapinya dengan senyum simpul. Ia
lalu bangkit. Dirogohnya kantong celananya, lalu ia
memberikan beberapa helai uang kepada Abduh.
"Ambillah. Kirim ini untuk anak dan istrimu. Apa pun
kebutuhanmu akan aku penuhi. Besok, kita bertemu dengan
petinggi militer di markasmu dan bicara lebih jauh tentang
urusanmu di sana. Jangan khawatir gara-gara hubungan
ini." Abduh menerima pemberian Hatim. Ia berterima kasih.
Hatim pun mendekatkan tubuhnya pada tubuh Abduh.
Keduanya berpelukan. Dengan suara lirih, Hatim berbisik
di dekat kuping Abduh, "Sungguh sebuah pagi yang sangat
indah." Saudara Thaha Muhammad al-Syadzili
Apartemen yacoubian, Jalan Talaat Harb 34, Kairo.
Dengan hormat, Berkaitan dengan pengaduan Saudara kepada Tuan
Presiden mengenai ketidaklulusan Saudara pada ujian
masuk akademi kepolisian, kami hendak memberitakan
kepada Saudara bahwa setelah kami memeriksa berkas
Saudara dan membicarakan lebih lanjut dengan perwira
kepala akademi kepolisian, kami berkesimpulan bahwa
pengaduan Saudara sangat tidak beralasan. Hormat kami,
Jenderal Hassan Bazara Kepala Urusan Pengaduan Kantor Kepresidenan
Para tetangga kembali mendengar suara ribut dari dalam
flat Zaki Bey. Lagi-lagi Zaki Bey dan Dawlat tengah adu
mulut. Para tetangga telah terbiasa mendengar percekcokan
di rumah itu, tetapi sepertinya percekcokan dan adu mulut
kali ini sangat berbeda dari biasanya. Teriakan Dawlat
terdengar lebih kencang, diiringi suara barang-barang yang
pecah. Suara Dawlat yang kencang rupanya memancing
para tetangga untuk keluar dari flat mereka serta mendekati
pintu rumah Zaki Bey dan Dawlat. Di depan pintu itu
beberapa orang tampak berkerumun. Dari dalam terdengar
suara Dawlat berteriak kencang.
"Lelaki najis, kau telah menghilangkan cincin berharga
itu?" pekik Dawlat. "Hei, Dawlat, muliakan dirimu sendiri," kata Zaki Bey.
"Bajingan. Kau pasti memberikan cincin itu kepada
wanita pelacur kekasihmu."
"Aku bilang sekali lagi, hormati dirimu."
"Aku masih terhormat sekalipun marah kepadamu. Kau
yang tak terhormat dan nista. Keluar dari rumahku!"
"Ini flat milikku," teriak Zaki Bey.
"Tidak. Sama sekali bukan. Ini rumah ayah. Ini rumah
mulia. Kau yang telah menjadikannya najis dan kotor
karena perilakumu." Dawlat kemudian mendorong tubuh Zaki Bey sehingga
ia keluar dari pintu flat. Dari dalam kemudian Dawlat
menutup pintu dengan kencang, lalu menguncinya.
"Keluar sana. Aku tidak mau lagi melihat mukamu.
Paham" Keluar sana!" teriak Dawlat dari dalam.
Di luar, Zaki dikerumuni para tetangga
yang menontonnya. Ia menoleh, melihat para tetangga. Zaki Bey
sungguh merasa malu. Ia berkata pelan kepada Dawlat.
"Baik, Dawlat. Aku keluar."
Para tetangga mendekati Zaki Bey. Sebagian berkata
bahwa ini sungguh kejadian tak pantas yang tak seharusnya
terjadi. Ini aib. Apalagi pertengkaran ini terjadi di antara
dua saudara kandung, Zaki Bey dan Dawlat. Dikatai begitu
Zaki Bey pun hanya tersenyum sambil memanggutkan
kepalanya. Zaki Bey lalu beranjak pergi, meninggalkan
kerumunan tetangga. Sebelum Zaki Bey sepenuhnya
beranjak, ia sempat berkata kepada para tetangga yang
mengerumuninya, "Maaf kalau kami kerap mengganggu
kalian. Ini sebatas salah paham saja. Insya Allah, besok-
besok kami baik kembali."
Beberapa cerita yang berkembang seputar Kamal al-Fuli
memberikan informasi bahwa ia lahir dan tumbuh dari
keluarga yang sangat miskin di Shibbin el-Koum, provinsi
Manoufeyya. Sekalipun miskin, al-Fuli memiliki tingkat
kecerdasan yang sangat luar biasa. Al-Fuli menyelesaikan
pendidikan tingkat menengah atasnya pada tahun 1955
sebagai lulusan terbaik di provinsinya. Ia kemudian masuk
fakultas hukum. Al-Fuli terlibat dalam aktivitas politik setelah bergabung
dengan beberapa lembaga swadaya masyarakat dan partai
politik sejak usia muda, antara lain dewan kemerdekaan,
persatuan nasional, dan persatuan sosialis, kemudian
bergabung dengan majalah ternama, Minbar el-Wasath, dan
Partai Mesir. Terakhir, ia aktif di Partai Nasional.
Di beberapa lembaga dan partai tersebut, al-Fuli kerap
memegang posisi strategis dan terkenal vokal. Pada masa
pemerintahan Gamal Abdul Nasser dulu, ketika ia masih
muda, al-Fuli sering menjadi orator dan tulisan-tulisannya
banyak tersebar di berbagai media massa. Beberapa
bukunya berkaitan dengan sosialisme paham yang dianut
partai terbesar pada masa pemerintahan Gamal Abdul
Nasser. Ketika Mesir berubah haluan dari sosialisme menuju
kapitalisme di bawah pelopor Husni Mobarak sejak tahun
1982, al-Fuli pun menjadi penganut ideologi ini. Bisa
ditegaskan, al-Fuli adalah seorang cendekiawan dan politisi
yang sangat pragmatis. Al-Fuli pun bergabung dengan
parlemen sejak lama. Di sana ia terkenal vokal dan
memegang jabatan senior. Bisa jadi ia adalah salah satu
politisi Mesir yang bisa mempertahankan jabatannya di
parlemen selama lebih dari tiga puluh tahun. Porsi kursi di
parlemen memang ditentukan oleh partai yang memenangkan pemilihan umum, tetapi al-Fuli adalah
seorang politisi berbakat yang memiliki naluri politik tinggi
sehinga sekalipun tampuk kekuasaan berpindah dari partai
satu ke partai yang lain, al-Fuli tetap bisa mempertahankan
diri. Namun, bakat dan naluri tinggi yang ia punyai
bercampur dengan keburukan, kebohongan, dan kemunafikan sehingga bagi kebanyakan masyarakat Mesir,
nama Kamal al-Fuli identik dengan politisi pragmatis yang
rakus, kotor, dan munafik. Di Partai Nasional, namanya
kerap menjadi "pialang politik" bagi setiap calon anggota
dewan perwakilan rakyat hampir di seluruh Mesir. Artinya,
seorang calon dari Partai Nasional, mulai dari provinsi
Iskandariah hingga provinsi Aswan, mau tak mau harus
mendapat restu terlebih dahulu dari dirinya. Ketika itulah
al-Fuli memainkan kepiawaiannya dalam akrobat politik:
rata-rata para calon yang direstuinya bisa dipastikan "jadi".
Tetapi, sudah menjadi rahasia umum, para calon tersebut
memberi uang suap untuk dirinya dalam jumlah luar biasa
besar. Untuk menutupi suap itu, al-Fuli lagi-lagi lihai dalam
berakrobat: ia menggunakan separuh uang itu untuk
kepentingan pemilihan umum bagi partainya atau
membagikan beberapa persennya untuk para politisi lainnya
dan menyuap lembaga pemilihan umum, utamanya
penghitung suara. Hampir di setiap pertemuan politis, dalam rapat-rapat
dan pertemuan resmi lainnya, di parlemen atau di Partai
Nasional, al-Fuli menguasai forum. Ketika ia berbicara,
segenap hadirin seolah tersihir oleh pidato dan kata-


Apartemen Yaqoubian Karya Alaa Al Aswani di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

katanya. Mereka terdiam. Pendapat-pendapat al-Fuli
hampir selalu tak terbantahkan.
Dalam hal ini telah terjadi kasus yang populer di
kalangan parlemen dan rakyat sendiri tentang akibat para
pembangkang al-Fuli atau yang tidak setuju dengan
pandangannya, misalnya penurunan jabatan Dr. Al-
Ghamrawi sebagai direktur Bank Nasional Mesir. Hal ini
terjadi agak lama. Atau, yang baru terjadi: kasus yang
menimpa Menteri Agama setahun lalu. Ia memiliki posisi
yang kuat di mata rakyat. Rakyat Mesir menyukainya
karena kebijakannya dipandang memihak mereka. Ia pun
merasa kuat dan memiliki posisi yang signifikan di
parlemen. Suatu ketika, pada sebuah pertemuan partai, sang
menteri mengeluarkan kritik tajam perihal kebusukan yang
berkembang di dalam tubuh partai. Ia menganjurkan untuk
membersihkan tubuh partai dari orang-orang yang
dipandang bejat. Saat itulah al-Fuli memperingatkan sang
menteri, tetapi sang menteri tidak menggubris omongan al-
Fuli sehingga akhirnya di pertemuan itu al-Fuli angkat
bicara. Ia menaiki podium dan menatap peserta pertemuan
itu, lalu berkata dengan retorika seorang aktor opera.
"Berita apa gerangan, Tuan Menteri" Kenapa Anda
sangat rajin memerangi keburukan sedemikian rupa. Ingat,
Tuan, mulailah dari diri Anda. Anda meraup keuntungan
sebanyak sepuluh juta pound setiap tahunnya dari bank
pembangunan negara dari hasil tabungan umat. Dan,
keuntungan itu akan terus Anda ambil selama lima tahun
lamanya selama Anda menjadi menteri. Omong-omong,
para pegawai senior bank hendak memerkarakan kasus ini
dan membeberkannya kepada rakyat."
Sang menteri menjadi bungkam seketika. Sementara itu,
para peserta pertemuan riuh saling berbisik dan menertawakan sang menteri.
Semua ini diketahui dengan baik oleh Haji Azzam. Ia
pun urung mengajukan diri sebagai calon anggota dewan
sebelum ia meminta restu terlebih dahulu kepada Kamal al-
Fuli. Beberapa minggu lamanya Haji Azzam meminta
waktu al-Fuli untuk dapat bertemu dengannya. Akhirnya
tibalah waktu pertemuan keduanya pada suatu siang, di
kantor pengacara yasser al-Fuli, anak Kamal al-Fuli yang
menjadi pengacara terkenal di Kairo. Kantor itu ada di
Jalan el-Syehab di kawasan elite Mohandessen. Selepas
salat Jumat, Haji Azzam berangkat ditemani anaknya,
Fawzi Azzam menuju tempat pertemuan yang telah
dijanjikan. Kantor yasser al-Fuli tampak lengang. Hanya terdapat
seorang penjaga kantor saja. Di dalamnya, Kamel dan
yasser al-Fuli sudah tampak menunggu kedatangan tamu
mereka. Ketika tiba, kedua belah pihak pun saling
bersalaman dan bertukar kabar, berpelukan hangat layaknya
kerabat lama yang sudah lama terpisah dan tak pernah
bertemu. Selepas pembicaraan pembuka yang panjang, yang
lebih bersifat basa-basi dan berbual-bual, Haji Azzam pun
mulai memasuki pokok pembicaraannya.
Ia memulai pembicaraan dengan mengungkapkan
kecintaannya yang sangat dalam kepada umat manusia dan
rakyat. Ia pun mengungkapkan kecintaannya untuk
berkhidmat dan berbakti kepada mereka. Ia juga
memaparkan beberapa hadis yang mengatakan tentang
ganjaran orang-orang yang berbakti dan berkhidmat demi
kepentingan umat, memenuhi hajat orang banyak, dan
seterusnya. Al-Fuli pun menanggapinya dengan memanggutkan kepala, selah-olah menyetujui perkataan
Haji Az-zam hingga akhirnya Haji Azzam sampai pada
sebuah titik kulminasi dari kalam panjangnya.
"Dari itulah saya telah beristikharah memohon petunjuk
kepada Allah dan telah bertawakal memasrahkan segala
hajat saya kepada-Nya. Telah saya niatkan atas nama Allah
untuk mencalonkan diri saya pribadi seba-gai calon anggota
dewan dari daerah saya, Kasr el-Nil, pada pemilihan umum
mendatang. Harapan saya, Partai Nasional dapat memberikan restu terkait pencalonan diri saya."
Sejenak al-Fuli berpikir keras. Jidatnya tampak berkerut
walaupun sebenarnya al-Fuli menyetujui permintaan Haji
Azzam. Sosok al-Fuli meninggalkan kesan bagi orang yang
tengah melihatnya bahwa kecerdasan sekaligus kecepatannya dalam berpikir dan kelicikan terpancar dari
wajahnya. Di sisi lain, tubuhnya tampak gendut, dengan
jas, dasi kotak-kotak yang menggantung pada lehernya, dan
warna bajunya yang kerap kurang serasi. Rambutnya yang
keriting dan selalu tampak mengilap karena minyak yang
meluluhnya, ia sisir ke belakang. Kaca matanya yang bulat
semakin menambah kesan picik pada wajahnya. Ketika
berbicara, ia kerap tampak seperti tukang obat yang
menggerak-gerakkan tangan, jemari, pundak, hingga
ekspresi wajah dan mulutnya untuk menyihir orang-orang
yang tengah mendengarkan omongannya. Dan entah, al-
Fuli juga meninggalkan kesan yang memuakkan bagi siapa
saja yang melihat dan berbicara dengannya.
Al-Fuli lalu meminta tolong anaknya untuk mengambilkan beberapa carik kertas dan pena. Ia pun
mulai mencorat-coret kertas kosong. Sejenak al-Fuli tampak
serius ketika menuliskan sesuatu sehingga Haji Azzam
menyangka bahwa al-Fuli berkali-kali salah ketika menulis.
Setelah selesai menulis dan mencorat-coret kertas itu, ia
menyodorkannya ke hadapan Haji Azzam. Haji Azzam
pun kaget ketika ia melihat coretan yang dibuat oleh al-Fuli
lebih menyerupai gambar kelinci yang besar. Sejenak Haji
Azzam terdiam, tapi seseungguhnya ia memahami apa
maksud al-Fuli. Akhirnya ia pun bertanya. "Saya tidak
paham apa yang Anda maksud, Tuan," kata Haji Azzam.
Al-Fuli pun segera menjawab, "Anda ingin sukses dalam
pemilihan umum nanti" Anda telah menuturkan keinginan
Anda. Nah, sekarang saya hendak penuhi keinginan Anda
itu lewat sebuah gambar sebagai isyarat."
"Kelinci" Sejuta pound maksud Anda" Ini terlalu banyak,
Tuan." Namun, Haji Azzam akhirnya menyetujui jumlah uang
yang dikehendaki oleh al-Fuli. Ia hendak menandatangani
surat persetujuan, tetapi wajahnya tampak bimbang dan
bingung, masih terbayang-bayangi sesuatu yang tidak-tidak.
"Dengarkan, Tuan! Jujurlah atas nama Tuhan!" kata al-
Fuli. "La itaha mallah," kata Haji Azzam. yang lain pun
mengikuti. "Jujur. Saya mengambil pungutan dari luar daerah Kasr
el - Nil lebih besar dari ini. Saya biasanya mengambil satu
juta setengah hingga dua juta pound. Nah, anak saya ini
sebagai saksinya. Dia tahu betul perihal itu. Tetapi, demi
Tuhan yang Mahaagung, saya mencintai Anda sebagai
saudara. Kita toh nanti akan duduk bersama di kursi
dewan. Uang ini tidak semuanya saya ambil. Saya hanya
sebagai perantara. Nanti juga saya bagikan uang ini kepada
orang lain. Ah, Anda tentu paham," kata Kamal.
Haji Azzam semakin tampak panik dan kikuk.
"Mmm ... maksud Tuan kalau saya membayar uang
sesuai jumlah yang diinginkan, saya sudah pasti menjadi
anggota dewan?" tanya Haji Azzam.
"Anda tengah berbicara dan berhadapan dengan seorang
Kamal al-Fuli, anggota parlemen selama lebih dari tiga
puluh tahun. Tidak ada satu pun calon yang sukses kecuali
atas restu saya." "Saya mendengar ada sebagian orang yang juga hendak
mencalonkan diri mereka di daerah Kasr el - Nil di bawah
restu Anda," kata Haji Azzam.
"Ini bukan perkara rumit. Jika kita bersepakat atas nama
Allah, kita akan sukses di Kasr el - Nil. Dan, andai kata ada
'jin hijau' yang kelak kalah, catatlah, ini permainan saya,"
kata Kamel dengan terkekeh.
"Tuan, semua politisi pun tahu, bahkan segenap rakyat
mengerti bahwa kita adalah calon pemimpin mereka.
Banyak cerita yang sudah kita pelajari perihal karakter
rakyat Mesir. Rakyat Mesir berkarakter sangat baik.
Tuhan telah menciptakan mereka untuk selalu patuh di
bawah bayang-bayang kekuasaan. Tidak mungkin mereka
membangkang kepada kekuasaan. Hal ini terjadi sejak
zaman Firaun dahulu. Di dunia ini ada rakyat sebuah
negara yang suka memberontak dan mengkritik kebijakan
penguasa. Tetapi, rupanya tidak di Mesir. Rakyat Mesir
hidup hanya demi mendapatkan roti gandum. Itu sudah
sangat cukup bagi mereka. Rakyat Mesir adalah rakyat yang
paling gampang dikuasai di dunia. Dan, partai mana pun di
Mesir yang meraih tampuk kekuasaan akan menjadi
penguasa mutlak sebab rakyat Mesir kelak akan tunduk
pada penguasa. Tuhan menakdirkan seperti ini."
Haji Azzam tampak semakin bingung. Sekalipun ia tidak
setuju dengan perkataan al-Fuli, ia pun pada akhirnya
menanyakan aturan main perihal pencalonan dirinya dan
uang yang harus dibayarnya.
"Bersalawatlah untuk Nabi, Tuan Haji. Jika uangnya
berbentuk kontan, langsung setorkan sekarang juga. Tapi,
jika dalam bentuk cek, tulis atas nama yasser al-Fuli. Saya
yakin Anda paham urusan ini. Ini sekadar formalitas saja,"
kata al-Fuli. Haji Azzam terdiam, kemudian ia mengeluarkan
lembaran cek kosong. Ia menuliskan jumlah nominal uang
dengan pena emasnya di atas cek kosong itu.
"Baiklah, atas berkat Allah. Saya tulis jumlah uang
dalam cek ini separuh dulu, separuh sisanya jika saya sudah
menang," kata Haji Azzam.
"Tidak, Tuan. Ini menjadikan saya tidak menyukai
Anda. Cara Anda ini hanya pantas diterapkan pada siswa
sekolahan. Peraturan main saya adalah Anda memberi,
Anda pun dapat. Anda meyerahkan uang kepada saya, saya
pun menyerahkan apa yang Anda minta. Bayar jumlah
uang semuanya, saya nanti akan memberkati Anda di
sidang dewan. Sekarang kita baca al-Fatihah bersama-
sama," kata al-Fuli.
Akhirnya, Azzam menyetujui permintaan al-Fuli. Ia pun
menuliskan jumlah nominal sebesar yang disepakati di atas
cek kosong miliknya. Selepas menulisnya, Haji Azzam
menyerahkan lembaran itu kepada al-Fuli. Al-Fuli pun
menyerahkannya kepada anaknya, yasser. Selepas itu al-
Fuli berkata, "Selamat, Tuan Haji. Mari kita baca surat al-
Fatihah bersama-sama. Semoga Allah memuliakan kita dan
memenuhi hajat kita. Akad perjanjian nanti disiapkan oleh
yasser," kata al-Fuli.
Keempat orang itu, al-Fuli dan anaknya, juga Haji
Azzam serta anaknya, saling berjabatan tangan dan
membaca surat al-Fatihah bersama-sama. Mereka tampak
me-mejamkan mata. Haji Azzam tampak paling khusyuk.
Mereka membaca al-Fatihah hingga berkali-kali.
Haji Azzam telah membayar kontan jumlah uang yang
telah disepakati dengan Kamal al-Fuli. Ia membayangkan
pada pemilihan umum mendatang ia akan menjadi anggota
dewan dari Partai Nasional dengan mudah atas perantaraan
Kamal al-Fuli, salah seorang pembesar partai tersebut.
Namun, ternyata hal itu tidak sepenuhnya betul sebab di
daerah pemilihan Kasr el - Nil juga terdapat calon kuat
lainnya yang berpotensi menduduki kursi anggota dewan.
Di antara calon yang paling kuat dan menjadi saingan Haji
Azzam adalah Haji Abu Hamid, pengusaha kaya pemilik
kelompok toko pakaian besar yang terkenal, Al-Ridha wa
al-Nour, yang butiknya terdapat di beberapa penjuru Mesir.
Persaingan keduanya semakin hari semakin runcing.
Sejatinya, sejarah hidup Haji Azzam dan Haji Abu
Hamid memiliki banyak kesamaan. Seperti halnya Haji
Azzam, Haji Abu Hamid juga seorang kaya yang pada
mulanya seorang kere yang datang dari desa. Abou Hamid
dulu hanyalah seorang buruh kasar di pelabuhan Port Said.
Dalam waktu kurang lebih dua puluh tahun, Abu Hamid
menjadi seseorang yang kaya raya, layaknya Haji Azzam
dulu. Orang-orang mulai mengenal nama Haji Abu Hamid
sejak beberapa tahun yang lalu ia membuka toko baju besar
dan butik di beberapa distrik di Kairo dan Iskandariah.
Namanya pun kerap muncul di koran-koran dan televisi,
setidaknya sejak toko-toko bajunya di berbagai daerah
memberikan jilbab secara cuma-cuma kepada kaum wanita
dengan syarat si wanita bersedia memakai jilbab dalam
berpakaian kesehariannya. Para wanita itu pun diminta
menukar bajunya yang pendek oleh toko baju itu dengan
baju panjang dan jilbab. Bisa jadi ini adalah bentuk dakwah
di satu sisi, tetapi di sisi lain hal ini bisa jadi taktik bisnis
Haji Abu Hamid. Saat itulah keberadaan toko Al-Ridha wa al-Nour
menjadi ramai digunjingkan di kalangan masyarakat Mesir.
Tak sedikit pula wanita yang memanfaatkan kesempatan
ini. Sebagian wanita itu datang ke butik Al-Ridha wa al-


Apartemen Yaqoubian Karya Alaa Al Aswani di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Nour tanpa memakai jilbab, padahal sesungguhnya mereka
memakai jilbab dalam keseharian mereka. Mereka datang
ke toko tersebut dengan memakai baju pendek yang sudah
jelek, yang bisa dibeli di pasar-pasar pakaian bekas dengan
harga sangat murah, lalu pihak toko pun memberikan
mereka jilbab dan baju panjang yang harganya jauh lebih
mahal. Pihak toko pun lama kelamaan mengetahui gelagat
ini. Sejak itu, pihak toko mensyaratkan harus terdapat akad
terlebih dahulu sebelum penukaran baju, dan setiap wanita
yang mencoba menipu akan dikenakan hukuman.
Walaupun begitu, akhirnya program ini berjalan sukses.
Beberapa wanita Mesir yang sebelumnya tak berjilbab
kemudian memakai jilbab dan hijab.
Haji Abu Hamid sendiri telah berniat untuk menyumbangkan beberapa persen dari keuntungannya di
jalan kebaikan dengan mengharap keridaan Allah. Haji Abu
Hamid, di bawah petunjuk para ulama yang membimbingnya, setidaknya telah menemukan jalan keluar
bagi para wanita Mesir agar menjalankan perintah Allah,
yaitu memakai jilbab dan hijab.
Ketika ditanya berapa banyak ia menghabiskan biaya
untuk membagikan busana muslimah secara cuma-cuma, ia
selalu menjawab bahwa semua biaya tersebut datang dari
pertolongan Allah. Dan, langkah yang ditempuh oleh Abu
Hamid perihal pemberian busana muslimah secara gratis ini
sedikit banyak memopulerkan dirinya dan menjadikannya
sebagai tokoh masyarakat Mesir. Tetapi di sisi lain, ada
gunjingan kuat yang berkembang di sebagian masyarakat
bahwa sesungguhnya Haji Abu Hamid adalah seorang
bandar narkoba. Adapun pembagian busana muslimah
secara cuma-cuma itu tak lebih dari usaha cuci uang untuk
menutupi bisnis besarnya. Ia juga membayar uang suap
dalam jumlah besar kepada pihak aparat keamanan
sehingga bisnis narkobanya berjalan lancar.
Haji Abu Hamid berniat mencalonkan diri menjadi
anggota dewan perwakilan rakyat dari daerah Kasr el - Nil.
Ia juga mencalonkan diri lewat Partai Nasional. Ketika
Partai Nasional mengumumkan pencalonan Haji Azzam,
Haji Abu Hamid tak pelak naik pitam. Ia pun melabrak
Kamal al-Fuli. Tetapi, sebagai seorang politisi, al-Fuli memang lihai. Ia
menjawab pengaduan Abu Ha-mid dengan tenang.
"Dengarkan baik-baik, Haji Abu Hamid. Anda tahu
kalau saya sangat mencintai Anda. Dan saya sangat
memerhatikan kebaikan diri Anda. Jangan sekali-kali Anda
hendak mencalonkan diri di parlemen tanpa restu dari al-
Fuli. Ketika Anda tidak terpilih sebagai anggota dewan
pada kali sekarang, kesempatan itu menanti Anda di tahun-
tahun mendatang. Bahkan, kesempatan esok lebih besar.
Dengan izin Allah. Tetapi, jangan sekali-kali berlaku tak
baik di hadapan al-Fuli. Sebab, kalau Anda membuatnya
kesal, masalah rumit tengah mengintai Anda."
Namun, Haji Abu Hamid tidak mendengarkan kata-kata
al-Fuli. Ia akhirnya mengajukan diri sebagai calon
independen. Ratusan poster dirinya menjejali kawasan Kasr
el - Nil. Terpampang dalam poster itu foto dirinya,
namanya, dan lambang pemilihannya. Hampir setiap
malam para pendukung Haji Abu Hamid mengadakan
kampanye di bilangan Wasath el-Balad. Dalam kampanye
tersebut tak jarang pihak Haji Abu Hamid menjatuhkan
lawan politisnya, utamanya Haji Azzam. Pihak Haji Abu
Hamid menuduh bahwa Haji Azzam adalah bandar
narkoba. Kekayaannya yang menumpuk adalah hasil dari
pekerjaan yang haram. Pihak Haji Abu Hamid juga
membeberkan perihal pernikahan Haji Azzam secara
sembunyi-sembunyi dengan istri barunya.
Mengetahui hal ini, jelas saja Haji Azzam menjadi naik
darah. Ia pun menemui Kamal al-Fuli. "Apa gunanya
sebuah partai yang mencalonkan anggotanya menjadi
anggota dewan, yang kemudian ia banyak dirugikan oleh
lawan politiknya, sementara partai yang mencalonkan
tersebut diam saja?"
Al-Fuli tampak serius menanggapi Haji Azzam. Ia
memanggutkan kepalanya. Dan betul, keesokan harinya di
beberapa media massa turun tulisan khusus di hala-man
depan terkait kampanye anggota dewan. Tertulis di saalah
satu koran dengan judul yang diketik besar-besar, "Partai
Nasional Hanya Memiliki Satu Orang Calon di Setiap
Daerah Pemilihannya." Di tulisan tersebut juga terdapat
anjuran dan seruan agar seluruh anggota partai membela
calon anggota yang diajukan partainya. Anggota Partai
Nasional yang mengajukan diri sebagai calon anggota
dewan tanpa dukungan partai akan ditindak lebih lanjut
secara internal oleh partai.
Abu Hamid membaca gelagat ini. Ia makin naik darah.
Pertentangan antara keduanya pun semakin hari semakin
memanas. Persaingan tak sehat semakin mejadi-jadi.
Hampir setiap malam kedua belah pihak berkampanye dan
sebisa-bisanya menarik dukungan dengan segala cara.
Kedua belah pihak sama-sama memberikan beberapa
bingkisan dalam kampanye tersebut sebagai upaya menarik
simpati dari orang-orang.
Saking panasnya persaingan antara kedua belah pihak,
tak jarang bentrokan berdarah pun terjadi. Polisi
mengerahkan beberapa peleton pasukan untuk menangani
peristiwa itu dan menangkap pelaku kekerasan dalam
bentrokan tersebut, lalu membawanya ke kantor polisi, yang
mengherankan, para pelaku yang ditangkap tersebut bisa
kembali bebas dengan cepat.
Fakultas Ekonomi dan Ilmu Politik di Universitas Kairo
memang menjadi fakultas yang bergengsi waktu itu. Para
mahasiswanya menjawab dengan penuh percaya diri jika
ditanya di fakultas apa mereka tengah belajar, seolah-olah
mereka hendak meneguhkan kepada si penanya bahwa
mereka mahasiswa terpandang.
Entah apa yang menjadikannya begitu bergengsi.
Barangkali karena fakultas ini didirikan belakangan, jauh
setelah fakultas lain berdiri sejak universitas tersebut masih
bernama Universitas Raja Faruq pada awal tahun 1900-an.
Atau, mungkin karena di sana pernah belajar seorang anak
gadis Gamal Abdul Nasser. Atau, barangkali para
mahasiswa yang belajar di fakultas tersebut memang pintar-
pintar, memahami konstelasi politik dan ekonomi global
secara baik, sistematis dalam berpikir, beretorika dan
bertindak. Barangkali. Sebab, sejak lama fakultas ini serupa
menjadi gerbang bagi orang-orang yang ingin bekerja di
kementerian luar negeri. Tak jarang pula anak-anak orang
kaya memasuki fakultas ini sebagai pintu masuk untuk
meraih jabatan sebagai diplomat pada masa depan.
Thaha al-Syadzili menuliskan pilihan Fakultas Ekonomi
dan Ilmu Politik di atas berkas formulir pendaftaran. Ia
sama sekali tak tahu banyak tentang fakutas ini. Thaha
hanya berpikir bahwa impiannya untuk menjadi seorang
perwira polisi telah gagal. Ia kini hanya ingin mengembangkan potensi kecerdasan dalam dirinya. Karena
memiliki nilai ijazah yang tinggi, ia pun dapat diterima di
fakultas bergengsi ini. Pada hari-hari pertama kuliah, Thaha merasakan banyak
hal baru. Ia berjalan melewati jam besar yang terdapat di
atas tugu, sekejap memerhatikan jam besar tersebut.
Dengan sangat jelas telinganya dapat mendengar bunyi
detak jam itu. Lalu, Thaha pun memasuki ruang kuliahnya.
Ruangan itu berbentuk serupa arena teater Romawi yang
membulat separuh dan berundak-undak. Ruangan kelas
penuh oleh para mahasiswa dan mahasiswi baru. Suara
terdengar riuh. Sebagian mereka tampak saling berkenalan, bertukar
cerita dan pengalaman. Ketika Thaha berjalan di tangga
ruangan kuliah, ia sungguh merasakan dirinya benar-benar
terasing dan betul-betul kerdil. Ia merasa para penghuni
kelas yang kebanyakan anak-anak orang kayatak lebih
serupa hewan-hewan yang tengah menggelegak bertukar
gengsi, saling bercerita membangga-banggakan diri dan
keluarga masing-masing. Thaha melihat mata orang-orang
yang melihatnya sungguh tak beda seperti mata sekumpulan
binatang buas yang tengah mengintai, layaknya mangsa
yang hendak mereka hinakan: mereka memandang Thaha
dengan sorot mata sinis. Ia pun terus melangkah, menuju tempat duduk paling
belakang yang tampak sepi dari kerumunan orang-orang. Ia
seolah-olah hendak bersembunyi ke tempat ia bisa melihat
dan memerhatikan orang-orang dari tempat duduknya,
sementara orang-orang tak melihatnya. Hari itu Thaha
mengenakan kaus putih dengan ce\ana jeans biru.
Mulanya, sewaktu ia berangkat dari rumah, ia menyangka
jika dandanannya sudah sangat necis, setidaknya untuk
ukuran seorang mahasiswa. Tetapi, ternyata ia salah karena
ia melihat teman-teman sekelasnya memakai pakaian yang
jauh lebih bagus dan necis. Ia pun menjadi sadar, jeans
yang dipakainya adalah jeans murahan yang warnanya
telah luntur. Ia membelinya di toko Al-Ridha wa al-Nour,
toko pakaian yang terkenal murah.
Thaha berniat untuk tidak berkenalan dengan mereka
sebab berkenalan pada hakikatnya adalah saling bertukar
identitas dan pengalaman. Ia tidak bisa membayangkan
seandainya dirinya diminta memperkenalkan diri di
hadapan teman-teman sekelasnya. Kemudian, salah
seorang kawan sekelasnya ada yang bertanya tentang
keluarganya atau pekerjaan orangtuanya. Apa yang hendak
ia jawab untuk pertanyaan seperti ini" Ia pun mulai
berpikir. Andaikan teman sekelasnya adalah anak seorang
kaya yang tinggal di Apartemen yacoubian tempat Thaha
dan ayahnya menjadi penjaganya, tukang cuci dan bersih-
bersih di sana atau tukang suruhan, setidaknya untuk
membeli sebungkus rokok, apa yang hendak terjadi jika
anak seorang penjaga satu kelas dengan anak seorang tuan"
Thaha terus berpikir. Sementara itu, satu mata kuliah
telah berlalu. Azan zuhur pun berkumandang. Terdengar
sayup-sayup memenuhi ruangan kelas yang riuh. Thaha
bergegas menuju masjid kampus. Ia beranggapan, biasanya
orang yang rajin salat di kampus-kampus adalah orang-
orang miskin seperti dirinya. Setidaknya, tampak dari cara
berpakaian para jemaahnya. Selepas salat, Thaha memberanikan diri bertanya kepada salah seorang jemaah.
"Kamu di tingkat pertama?"
"Insya Allah," "Nama kamu siapa?"
"Khalid Abdurrahim. Saya dari Asyuth. Kamu?" "Thaha
al-Syadzili, dari sini, Kairo."
Inilah kali pertama perkenalan Thaha. Penyebabnya,
sejak kali pertama ia memasuki bangku kuliah, ia melihat
pemandangan kehidupan yang serupa air dengan minyak,
perbedaan antara kelas orang-orang kaya dan kelas orang-
orang serupa dirinya. Ia betul-betul merasakan dengan
jelas adanya sekat antarkelas sosial. Beberapa mahasiswa
anak orang kaya memisahkan diri dari mahasiswa anak
orang miskin dan membuat komunitas sendiri-sendiri.
Kebanyakan dari mereka berangkat ke kampus dengan
mengendarai mobil pribadi, juga berpakaian mewah.
Mereka banyak didekati oleh mahasiswi-mahasis-wi cantik
dan seksi. Sementara itu, orang-orang seperti Thaha"
Sungguh Thaha merasakan dirinya dan orang-orang
sepertinya tak jauh beda dengan tikus got.
Setelah sebulan, Thaha bergabung dengan kawan-kawan
aktivis masjid, kawan-kawan yang secara kelas sosial adalah
orang-orang seperti Thaha atau setidaknya orang-orang
yang mau berbagi dan tidak memandang sekat-sekat kelas
sosial. Di antara mereka, kawannya yang paling akrab
adalah Khalid Abdurrahim, seorang pemuda berperawakan
kurus, tak terlalu tinggi, dengan tubuh kering layaknya kulit
tebu yang telah diperas sarinya, kulitnya gelap, kacamatanya yang bulat berwarna putih dengan merek
murahan, juga dengan pakaian kemeja gaya lama. Khalid
tampak seperti mahasiswa generasi kakek-kakek karena
pakaiannya. Thaha sangat dekat dengan Khalid. Bisa jadi karena
keduanya sama-sama terlahir dan besar dari keluarga
miskin, atau mungkin karena Khalid lebih miskin dari
Thaha. Thaha juga mencintai Khalid karena ia adalah
seseorang yang taat beragama. Setiap kali Khalid salat, ia
tampak berdiri dengan khusyuk. Seolah-olah Tuhan tengah
hadir di samping dirinya. Kedua tangannya tertambat di
dada, tepatnya di bagian jantung berdetak.
Kepalanya tampak menunduk, sesekali manggut-


Apartemen Yaqoubian Karya Alaa Al Aswani di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

manggut, matanya memejam, bibirnya bergetar melantunkan doa. Pada saat-saat seperti ini, andai terjadi kebakaran
sekalipun, atau gempa bumi misalnya, bisa jadi Khalid tak
beranjak dari salatnya. Thaha kerap berangan-angan kadar
keimanannya bisa seperti kadar keimanan Khalid.
Persahabatan Thaha dengan Khalid pun semakin akrab.
Keduanya menjadi lebih saling terbuka, saling bertukar
pikiran dan cerita, serta saling menyimpan rahasia. Mereka
berdua sama-sama jengah dengan apa yang setiap hari
mereka lihat di kampus: para mahasiswa anak-anak orang
kaya yang kehidupannya sangat jauh dari agama, juga para
mahasiswi dengan pakaian yang lebih pantas dipakai ke
pesta-pesta, bukan ke kampus.
Khalid lalu mengenalkan kawan-kawannya di asrama
mahasiswa kepada Thaha. Mereka adalah orang-orang baik
hati, taat beragama, dan rata-rata datang dari pelosok desa
miskin. Thaha pun senang memiliki banyak kawan yang
bisa diajak berbagi dan satu dunia dengan dirinya. Thaha
secara rutin mengunjungi mereka setiap Kamis sore, salat
isya bersama-sama mereka, bahkan melewatkan malam
bersama sambil mengobrolkan perkara halal haram, yang
hak dan yang batil. Dari beberapa obrolan malam tersebut,
Thaha menjadi mengerti bahwa masyarakat Mesir adalah
masyarakat jahiliah, bukan masyarakat Islam, sebab
pemerintah tidak menjalankan hukum Islam. Pemerintah
malah membiarkan kemaksiatan dan hal-hal yang
diharamkan Allah tumbuh merajalela begitu saja. Peraturan
negara seolah-olah mengizinkan minuman keras, zina, dan
riba. Thaha pun menjadi paham bahwa sosialisme adalah
musuh agama. Begitu juga kekerasan terhadap para pemuka
agama sejak zaman Nasser dahulu yang menekan habis-
habisan orang-orang Ikhwan al-Muslimin. Bahkan, kekerasan itu terus berlanjut hingga sekarang. Oleh mereka,
Thaha juga dipinjami buku-buku karya Abu al-A'la al-
Maududi, Sayyid Quthb, yusuf al-Qardhawi, dan lain-lain.
Setelah berminggu-minggu lamanya, tibalah hari itu.
Pada suatu hari selepas Thaha menghabiskan malam di
asrama mahasiswa, sewaktu ia hendak keluar dari pin-tu
asrama, Khalid menanyainya, "Di mana nanti kamu akan
salat Jumat, Thaha?"
"Di masjid dekat rumahku."
Khalid pun terdiam sejenak, mengulum bibir, lalu
berkata dengan suara pelan, "Dengarkan, Thaha. Aku telah
bertekad untuk saling berbagi pahala denganmu. Besok,
tunggu aku pukul sepuluh pagi di bundaran Tahrir, di
depan kafe Ali Baba. Kita salat Jumat di Masjid Anas bin
Malik. Di sana nanti akan kukenalkan kamu kepada Syekh
Syakir, dengan izin Allah."
Dua jam sebelum azan Jumat berkumandang, masjid
Anas bin Malik sudah tampak penuh sesak hingga bagian
tepi terakhir oleh para jemaah. Mereka semua adalah
mahasiswa aktivis Islam garis kanan. Sebagian mereka
memakai pakaian Eropa modern, dan sebagian yang lain
memakai pakaian khas Pakistan: jubah putih atau biru yang
memanjang hingga ke lutut dipadu dengan celana yang
berwarna sama, serta serban putih menutupi kepala yang
Makam Tanpa Nisan 2 Pendekar Rajawali Sakti 14 Api Di Karang Setra Cinta Bernoda Darah 7
^