Pencarian

Gerhana 5

Gerhana Eclipse Twilight Buku Ke 3 Karya Stephenie Meyer Bagian 5


istri ketiga. Hanya wanita biasa, tanpa bakat ataupun kemampuan istimewa. Secara fisik lebih
lemah dan lebih lamban daripada monster apa pun dalam legenda. Tapi justru
dialah yang menjadi kunci, solusi. Ia menyelamatkan suaminya, anak-anak
lelakinya yang masih muda, sukunya. Kalau saja mereka ingat siapa namanya. Ada
yang mengguncang-guncang lenganku.
"Ayo, Bells," bisik Jacob di telingaku. "Kita sudah sampai." Aku mengerjap-
ngerjapkan mata, bingung karena api separonya sudah lenyap. Aku melotot
memandangi kegelapan yang tidak disangka-sangka, berusaha mengenali keadaan di
sekelilingku. Butuh waktu semenit untuk menyadari bahwa aku sudah tidak lagi
berada di tebing. Aku hanya bersama Jacob. Aku masih berada dalam
pelukannya, tapi tidak lagi berbaring di tanah.
Bagaimana aku bisa berada di mobil Jacob"
"Oh, brengsek!" aku terkesiap kaget begitu sadar aku tertidur, "Jam berapa
sekarang" Brengsek, mana telepon bodoh itu?" Kutepuk-tepuk saku baju dan
celanaku, kebingungan waktu tidak mendapati benda itu di mana pun.
"Tenanglah. Tengah malam saja belum. Dan aku sudah menelepon dia untukmu. Lihat-
dia sudah menunggu di sana."
"Tengah malam?" ulangku dengan sikap bodoh, masih linglung. Aku memandang
kegelapan, dan jantungku berdebar begitu mataku mengenali sosok Volvo, hampir
tiga puluh meter jauhnya. Tanganku meraih handel pintu.
"Ini," kata Jacob, meletakkan sesuatu di telapak tanganku yang lain. Ponselku.
"Kau menelepon Edward untukku"'
Mataku sudah bisa menyesuaikan diri dengan kegelapan hingga bisa melihat senyum
Jacob yang cemerlang. "Kupikir, kalau aku baik-baik dengannya, aku bisa lebih sering bertemu
denganmu." "Trims, Jake," ujarku, terharu. "Sungguh, terima kasih. Dan terima kasih sudah
mengundangku malam ini. Acara
tadi... " Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. "Wow. Lain daripada
yang lain." "Padahal kau bahkan tidak sempat bangun untuk melihatku menelan sapi bulat-
bulat." Jacob tertawa.
"Tidak, aku senang kau menyukainya. Rasanya... menyenangkan. Karena ada kau di
sana. Tampak gerakan-gerakan dalam gelap di kejauhan -sesuatu yang pucat
bergerak-gerak di antara pepohonan hitam. Berjalan mondar-mandir"
"Yeah, dia sudah tidak sabar lagi, ya?" ujar Jacob, melihat perhatianku tertuju
ke sana. "Pergilah. Tapi cepatlah kembali lagi,oke?"
"Tentu, Jake," janjiku, membuka pintu mobil secelah, Hawa dingin menyerbu masuk,
menerjang kakiku dan membuatku gemetaran.
"Tidur yang nyenyak, Bells. Jangan khawatirkan apa-apa, aku akan menjagamu malam
ini." Aku terdiam, satu kaki menginjak ranah. "Tidak usah, Jake. Istirahat sajalah,
aku baik-baik saja."
"Tentu, tentu," sahut Jacob, tapi nadanya lebih terkesan meremehkan daripada
setuju. "Malam, Jake. Trims."
"Malam, Bella." bisiknya sementara aku bergegas memasuki kegelapan.
Edward menyambutku di garis perbatasan.
"Bella," sambutnya, kentara sekali terdengar lega; lengannya memelukku erat-
erat. "Hai, Maaf aku lama sekali, Aku ketiduran dan-"
"Aku tahu. Jacob sudah menjelaskan," Ia mulai melangkah menuju mobil dan aku
berjalan tersaruk-saruk di sampingnya. "Kau capek" Aku bisa menggendongmu."
"Tidak usah." "Ayo, kuantar kau pulang, supaya kau bisa tidur. Kau senang di sana?"
"Yeah - benar-benar luar biasa, Edward. Kalau saja kau bisa datang. Aku bahkan
tidak bisa menjelaskannya. Ayah Jake menceritakan pada kami legenda-legenda kuno
dan rasanya begitu... begitu magis."
"Kau harus menceritakannya padaku. Tapi kau harus tidur dulu."
"Aku tidak akan bisa menceritakannya dengan benar..," sergahku, kemudian menguap
lebar-lebar, Edward terkekeh. Ia membukakan pintu untukku, mengangkat dan mendudukkanku di
dalam mobil, lalu memasangkan sabuk pengaman.
Nyala lampu terang-benderang menerpa kami. Aku melambaikan tangan ke arah lampu
mobil Jacob, tapi tidak tahu apakah ia bisa melihatnya.
Malam itu - setelah berhasil melewati Charlie, yang tidak mengomeliku seperti
dugaanku sebelumnya karena Jacob ternyata sudah meneleponnya juga - aku bukannya
langsung ambruk ke tempat tidur, tapi malah mencondongkan tubuh di ambang
jendela yang terbuka, menunggu Edward kembali. Malam ini dingin sekali, nyaris
seperti musim dingin. Aku tidak menyadarinya sama sekali saat berada di tebing
yang berangin; kupikir, pasti itu bukan karena duduk dekat api unggun, tapi
karena duduk di sebelah Jacob.
Tetes-tetes air hujan sedingin es menerpa wajahku saat hujan mulai turun.
Keadaan terlalu gelap untuk melihat hal lain selain segitiga-segitiga hitam
pohon cemara yang meliuk dan menggeletar akibat tiupan angin. Tapi aku terap
membuka mataku lebar-lebar, mencari bentuk-bentuk lain di tengah badai. Siluet
pucat, bergerak bagaikan hantu menembus kegelapan yang hitam pekat atau mungkin
bayangan samar serigala besar.Tapi mataku terlalu lemah.
Kemudian tampak gerakan di tengah kegelapan, tepat di sebelahku. Edward
menyelinap masuk melalui jendela kamarku yang terbuka, tangannya lebih dingin
daripada hujan. "Apakah Jacob ada di luar sana?" tanyaku, tubuhku gemetar saat Edward meraihku
ke dalam pelukannya. "Ya... di suatu tempat. Dan Esme sedang dalam perjalanan pulang."
Aku mendesah. "Cuaca sangat dingin dan basah. Ini konyol." Lagi-lagi aku
gemetaran. Edward terkekeh. "Yang merasa dingin hanya kau, Bella."
Dalam mimpiku malam itu, hawa juga dingin, mungkin karena aku tidur dalam
pelukan Edward. Tapi dalam mimpiku, aku berada di luar di tengah badai, angin
melecut rambutku ke wajah dan membutakan mataku. Aku berdiri di pantai First
Beach yang melengkung bagai bulan sabit dan berbatu-batu, berusaha memahami
bentuk-bentuk yang bergerak cepat, yang hanya bisa kulihat samar-samar dalam
gelap di pinggir pantai. Awalnya tidak ada apa-apa kecuali sekelebat warna putih
dan hitam, saling melesat menghampiri dan menari menjauh. Kemudian, seolah-olah
bulan mendadak muncul dari balik awan-awan, aku bisa melihat semuanya.
Rosalie, dengan rambut menjuntai basah dan keemasan hingga ke belakang lututnya,
menerjang ke arah serigala raksasa-moncongnya berkelebat keperakan-yang seketika
itu juga kukenali sebagai Billy Black.
Aku berlari kencang, tapi sungguh membuat frustrasi, ternyata aku hanya bisa
berlari sangat pelan, seperti dalam gerak lambat. Aku berusaha berteriak pada
mereka, meminta mereka berhenti, tapi suaraku diterbangkan angin, dan aku tak
sanggup bersuara. Aku melambai-lambaikan kedua lengan, berharap bisa menarik
perhatian mereka. Sesuatu berkelebat di tanganku, dan untuk pertama kali baru
aku menyadari tangan kananku memegang sesuatu.
Aku memegang pisau panjang dan tajam, kuno dan berwarna perak, bilahnya ternoda
darah kering yang telah menghitam.
Aku mengernyit ngeri melihat pisau itu, dan mataku mendadak terbuka, melihat
kegelapan yang tenang di kamarku. Hal pertama yang kusadari adalah aku tidak
sendirian, dan aku berpaling untuk membenamkan wajahku ke dada Edward, tahu
wangi kulitnya pasti akan mengusir
mimpi buruk itu jauh-jauh, lebih efektif daripada hal lain.
"Aku membuatmu terbangun, ya?" bisik Edward.
Terdengar suara kertas, seperti gemersik halaman, disusul kemudian dengan suara
berdebum pelan, seolah-olah ada
benda ringan membentur lantai kayu.
"Tidak." gumamku, mendesah senang saat lenganEdward memelukku erat. "Aku tadi
bermimpi buruk." "Mau menceritakannya padaku?"
Aku menggeleng. "Terlalu capek. Mungkin besok pagi, kalau ingat."
Aku merasakan tawa tanpa suara mengguncang tubuh Edward.
"Besok pagi." Edward setuju.
"Kau sedang membaca apa?" gumamku, belum sepenuhnya terbangun.
"Wuthering Fidghts" jawab Edward.
Aku mengerutkan kening walaupun masih mengantuk.
"Katamu kau tidak suka buku itu."
"Kau meninggalkannya di sini." bisik Edward. suara lembutnya membuaiku kembali
ke ketidaksadaran. "Lagi pula... semakin sering aku menghabiskan waktu denganmu,
semakin banyak emosi manusia yang sepertinya bisa kupahami. Ternyata aku bisa
bersimpati pada Heathcliff dalam hal-hal yang sebelumnya kupikir pasti
mustahil." "Mmm." desahku.
Ia mengatakan sesuatu yang lain, suaranya pelan, tapi aku sudah kembali pulas.
Esok paginya cuaca kelabu putih dan tenang. Edward menanyakan mimpiku, tapi aku
tidak bisa mengingatnya. Yang kuingat hanyalah bahwa aku kedinginan, dan bahwa
aku senang ia ada di sana waktu aku bangun. Edward menciumku, cukup lama untuk
membuatku detak nadiku berpacu, kemudian pulang untuk berganti baju dan
mengambil mobilnya. Aku cepat-cepat berpakaian, tak punya banyak pilihan.
Siapa pun yang mengacak-acak keranjang pakaian kotor berhasil merusak koleksi
bajuku. Seandainya tidak mengerikan, situasi ini pasti sangat menjengkelkan.
Aku baru hendak turun untuk sarapan waktu mataku tertumbuk pada novel Wutherng
Heights-ku yang sudah lusuh, tergeletak dalam posisi terbuka di lantai tempat
Edward menjatuhkannya semalam, jilidnya yang sudah rusak tidak pernah mau
menutup sendiri, sehingga bagian yang terakhir kali dibacanya tetap terbuka,
seperti yang selalu terjadi setiap kali aku habis membaca buku itu.
Ingin tahu, aku memungut buku itu, berusaha mengingat perkataan Edward semalam.
Kalau tidak salah ia bersimpati pada Heathcliff, aneh sekali. Itu pasti tidak
benar; aku pasti hanya memimpikan bagian itu.
Mataku tertumbuk pada dua kata di halaman yang terbuka itu, dan aku menundukkan
untuk membaca paragraf itu lebih saksama. Itu bagian di mana Heathcliff
berbicara, dan aku sangat mengenal kalimat itu,
Dan bisa kulihat perbedaan di antara perasaan kami, seandainya ia berada dalam
posisiku walaupun aku sangat membencinya dengan kebencian yang mengubah hidupku
menjadi empedu, aku tidak akan pernah mencelakakannya,, kau mungkin tidak
percaya itu,, terserah kau! Aku tidak akan melenyapkan Idaki itu dari lingkungan
si wanita selama si waria masih menginginkannya. Begitu si wanita tidak
menghendakinya lagi, aku akan mengoyak jantungnya dan meminum darahnya! Tapi
hingga saat itu datang, kalau kau tidak percaya padaku, berarti kau tidak kenal
aku,, hingga saat itu, lebih baik aku mati daripada menyentuh rambutnya
sehelaipun Dua kata yang menarik perhatianku adalah "meminum darahnya".
Aku bergidik. Ya, jelas aku pasti hanya bermimpi mendengar Edward memberi komentar positif
tentang Heathcliff. Dan halaman
ini mungkin bukan halaman yang dibacanya semalam. Bisa saja buku ini terbuka di
halaman ini secara tidak sengaja waktu terjatuh semalam.
12. WAKTU "AKU meramalkan...," Alice berkata dengan nada mengerikan.
Edward menyikut rusuk Alice, yang dengan tangkas berhasil dielakkannya.
"Baiklah," gerutu Alice. "Edward memaksaku melakukannya. Tapi aku memang
meramalkan bahwa kau akan bersikap lebih sulit kalau aku mengagetkanmu."
Saat itu kami sedang berjalan ke mobil usai sekolah, dan aku benar-benar tidak
mengerti apa yang diocehkan Alice.
"Bisa mengatakannya dalam bahasa Inggris?" pintaku. "Jangan rewel seperti bayi
menyikapi ini, Tidak boleh marah-marah."
"Sekarang aku benar-benar takut."
"Jadi kau - maksudku kita - akan menyelenggarakan pesta kelulusan. Bukan hal
besar. Tidak perlu takut, Tapi aku sudah melihat kau bakal mengamuk kalau aku
menjadikannya pesta kejutan" - Alice menari-nari menghindar saat Edward
mengulurkan tangan untuk mengacak-acak rambutnya-" tapi kata Edward, aku harus
memberitahumu dulu. Pestanya kecil-kecilan kok. Janji."
Aku mengembuskan napas berat. "Memang ada gunanya membantah?"
"Sama sekali tidak."
"Oke, Alice. Aku akan datang. Dan aku pasti akan membenci setiap menitnya.
Janji." "Nah, begitu dong! Omong-omong, aku sangat menyukai hadiahku. Seharusnya kau
tidak perlu repot-repot."
"Alice, aku tidak memberimu hadiah apa-apa!"
"Oh, aku tahu kok. Tapi kau akan memberiku hadiah."
Aku memutar otak panik, berusaha mengingat-ingat aku pernah memutuskan memberi
hadiah kelulusan apa untuk
Alice, yang mungkin dilihatnya.
"Luar biasa." gumam Edward. "Bagaimana bisa orang sekecil kau jadi sangat
menjengkelkan?" Alice tertawa, "Itu bakat namanya."
"Tidak bisa ya, menunggu beberapa minggu sebelum menceritakan padaku soal ini?"
tanyaku masam. "Sekarang aku akan stres lebih lama."
Alice mengerutkan kening padaku.
"Bella," ucapnya. "Kau tahu sekarang hari apa?"
"Senin?" Alice memutar bola mata. "Ya. Sekarang hari Senin... tanggal empat." Ia
menyambar sikuku, memutar tubuhku setengah lingkaran, dan menuding poster kuning
besar yang ditempel di pintu gimnasium. Di sana, dalam huruf-huruf hitam terang,
tertulis tanggal kelulusan. Tepat satu minggu dari hari ini.
"Sekarang tanggal empat" Bulan Juni" Kau yakin?"
Tak seorang pun menjawab. Alice hanya menggeleng sedih, pura-pura kecewa, dan
alis Edward terangkat. "Tidak mungkin! Bagaimana itu bisa terjadi?" Dalam hati aku menghitung mundur,
tapi tidak mengerti bagaimana hari-hari bisa berlalu secepat itu.
Aku merasa seakan-akan ada yang menendang kakiku dan jatuh tersungkur.
Berminggu-minggu aku stres dan
khawatir... dan entah bagaimana di tengah segala obsesiku memikirkan waktu,
waktuku malah lenyap begitu saja. Kesempatanku membereskan semuanya, menyusun
rencana, habis sudah. Aku kehabisan waktu.
Dan aku belum siap. Aku tak tahu bagaimana melakukannya. Bagaimana mengucapkan selamat berpisah
kepada Charlie dan Renee... kepada Jacob... kepada kondisiku sebagai manusia.
Aku tahu persis apa yang kuinginkan, tapi tiba-tiba saja aku takut menggapainya.
Teorinya, aku sangat ingin, bahkan bersemangat menukar ketidakabadian dengan
keabadian. Bagaimanapun, itu kunci agar bisa bersama Edward selamanya. Apalagi
ada fakta aku diburu berbagai pihak, baik yang dikenal maupun tidak. Aku lebih
suka tidak duduk berpangku tangan, tidak berdaya dan menggiurkan, menunggu salah
seorang dari mereka berhasil menangkapku.
Teorinya, semua itu masuk akal,
Prakteknya... yang kutahu hanyalah menjadi manusia.
Masa depan di luar sana ibarat sumur dalam dan gelap yang takkan kuketahui
dasarnya sampai aku melompat ke dalamnya.
Pengetahuan sederhana seperti tanggal hari ini, misalnya yang kentara sekali
oleh alam bawah sadarku berusaha kuabaikan - membuat tenggat waktu yang begitu
kutunggu-tunggu terasa bagaikan tanggal untuk menghadapi regu tembak.
Samar-samar aku menyadari Edward membukakan pintu mobil untukku, Alice
berceloteh di kursi belakang, juga suara hujan menderu menerpa kaca depan.
Edward sepertinya menyadari hanya tubuhku yang ada di sana; ia tidak berusaha
menggugahku dari lamunan. Atau mungkin ia sudah berusaha, tapi aku tidak
menggubrisnya. Sesampainya di rumahku, Edward membimbingku ke sofa dan mendudukkanku di
sampingnya. Aku memandang ke luar jendela, ke kabut kelabu cair, dan berusaha
menemukan lagi ketetapan hariku yang lenyap entah ke mana. Kenapa sekarang aku
justru panik" Aku sudah tahu tenggat waktunya sebentar lagi tiba. Kenapa aku
harus ketakutan jika saat itu benar-benar tiba"
Entah berapa lama Edward membiarkanku menerawang ke luar Jendela sambil berdiam
diri. Tapi setelah hujan lenyap ditelan malam, akhirnya ia tak tahan lagi.
Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangannya yang dingin, dan menatapku
lekat-lekat dengan mata emasnya.
"Maukah kau memberitahuku apa yang sedang kaupikirkan" Sebelum aku jadi gila?"
Apa yang bisa kukatakan padanya" Bahwa aku pengecut" Aku mencari-cari kata yang
tepat. "Bibirmu pucat. Bicaralah, Bella."
Aku mengembuskan napas besar-besar. Sudah berapa lama aku menahan napas"


Gerhana Eclipse Twilight Buku Ke 3 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Tanggal itu membuatku kaget," bisikku. "Itu saja."
Edward menunggu, wajahnya sarat kekhawatiran dan tampak skeptis.
Aku mencoba menjelaskan. "Aku tidak yakin harus melakukan apa... harus
mengatakan apa kepada Charlie... apa yang harus dikatakan bagaimana... Suaraku
menghilang. "Jadi bukan masalah pesta?"
Aku mengerutkan kening. "Bukan. Tapi terima kasih karena mengingatkanku."
Hujan terdengar semakin keras saat Edward menilik wajahku. .
"Kau belum siap," bisiknya.
"Sudah," aku langsung berbohong, reaksi yang sangat spontan. Kentara sekali
Edward tidak percaya, jadi aku menarik napas dalam-dalam, dan mengatakan hal
sebenarnya. "Aku harus siap."
"Kau tidak harus melakukan apa-apa."
Bisa kurasakan kepanikan muncul dalam tatapanku saat aku menyebut alasan-
alasannya tanpa suara. "Victoria, Jane, Caius, siapa pun dia, masuk ke
kamarku,..!" "Itu justru alasan untuk menunggu."
"Itu tidak masuk akal, Edward!"
Edward menempelkan tangannya lebih erat lagi di wajahku dan sengaja berbicara
lambat-lambat. "Bella. Tak seorang pun dari kami punya pilihan. Kau sudah tahu akibatnya...
bagi Rosalie terutama. Kami berjuang dengan susah payah, berusaha berdamai
dengan diri sendiri untuk sesuatu yang tak bisa kami kendalikan. Aku tidak akan
membiarkan itu terjadi padamu. Kau harus punya pilihan."
"Aku sudah menetapkan pilihan."
"Kau tidak boleh mengambil keputusan hanya karena ada pedang diacungkan di atas
kepalamu. Kami akan membereskan masalah itu, dan aku akan menjagamu." Edward
bersumpah. "Kalau kita sudah bisa mengatasinya, dan tidak ada yang memaksamu
mengambil keputusan, barulah kau bisa memutuskan untuk bergabung denganku, kalau
kau masih menginginkannya. Tapi tidak saat kau takut. Kau tidak boleh
melakukannya dengan terpaksa."
"Carlisle sudah berjanji," gumamku, berlawanan dengan kebiasaan. "Setelah
kelulusan." "Tidak sampai kau siap," tukas Edward mantap. "Dan jelas tidak saat kau merasa
terancam." Aku tidak menyahut. Aku malas berdebat; rasanya aku tak bisa menemukan
komitmenku saat itu. "Sudahlah," Edward mengecup keningku. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan."
Aku tertawa lemah. "Tidak ada kecuali kiamat yang sebentar lagi datang"
"Percayalah padaku."
"Aku percaya." Edward masih mengawasi wajahku, menungguku rileks. "Boleh kutanyakan sesuatu?"
tanyaku. "Apa saja."
Aku ragu-ragu, menggigit bibir, kemudian mengajukan pertanyaan lain yang selama
ini kukhawatirkan. "Memangnya aku akan memberi hadiah apa untuk kelulusan Alice?" Edward terkekeh.
"Kelihatannya kau akan membelikan
tiket konser untuk kami berdua..."
"Ya, benar!" Aku lega sekali, nyaris tersenyum. "Konser di Tacoma. Aku melihat
iklannya di koran minggu lalu, dan kupikir kalian pasti suka kalau kuberi hadiah
tiket konser, karena katamu CD-nya bagus."
"Ide yang bagus sekali. Terima kasih." "Mudah-mudahan saja tiketnya belum habis
terjual." "Yang penting niatnya. Soal itu aku pasti tahu."
Aku mendesah. "Ada hal lain yang ingin kautanyakan." kata Edward.
Keningku berkerut, "Kau hebat."
"Aku banyak berlatih membaca wajahmu. Tanyakan padaku."
Aku memejamkan mata dan mencondongkan tubuh kepadanya, menyembunyikan wajahku di
dadanya. "Kau tidak mau aku menjadi vampir."
"Memang tidak," kata Edward lirih, kemudian menunggu. "Itu bukan pertanyaan."
desaknya beberapa saat kemudian.
"Well.. aku khawatir tentang... kenapa kau merasa seperti itu."
"Khawatir?" Edward mengulangi kata itu dengan kaget.
"Maukah kau menjelaskan kepadaku kenapa" Sejujurnya, tanpa menghiraukan
perasaanku?" Edward ragu-ragu sejenak. "Kalau aku menjawab pertanyaanmu, maukah kau
menjelaskan pertanyaanmu?"
Aku mengangguk, wajahku masih tersembunyi di dadanya.
Edward menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Kau bisa melakukan jauh
lebih baik daripada ini, Bella. Aku tahu kau percaya aku punya jiwa, tapi aku
tidak sepenuhnya yakin akan hal itu, jadi mempertaruhkan
jiwamu..." Edward menggeleng lambat-lambat, "Bagiku, mengizinkan hal ini -
membiarkanmu menjadi seperti aku hanya supaya aku takkan pernah kehilanganmu -
adalah tindakan paling egois yang bisa kubayangkan. Aku sangat menginginkannya,
lebih daripada apa pun, untuk diriku sendiri. Tapi untukmu, aku menginginkan
lebih dari itu. Menuruti kemauanmu - rasanya seperti melakukan kejahatan. Itu
hal paling egois yang pernah kulakukan, bahkan bila aku hidup selamanya."
"Seandainya ada cara supaya aku bisa menjadi manusia untukmu - tak peduli apa
pun risikonya, aku rela menanggungnya."
Aku duduk diam tak bergerak, menyerap semua itu. Edward merasa dirinya egois.
Aku merasa senyumku pelan-pelan merekah.
"Jadi... bukan karena kau takut kau tidak akan menyukaiku sebesar sekarang
setelah aku berubah nanti -kalau tubuhku tak lagi lunak dan hangat dan bauku tak
lagi sama" Kau benar-benar mau mempertahankanku, tak peduli bagaimanapun jadinya
aku nanti?" Edward mengembuskan napas keras-keras, "Kau khawatir aku tidak akan menyukaimu?"
tuntutnya. Kemudian, belum sempat aku menjawab, tawanya sudah meledak. "Bella,
untuk ukuran orang yang sangat intuitif
kau bisa begitu konyol!"
Aku tahu Edward pasti menganggapku konyol, tapi aku lega. Kalau ia benar-benar
menginginkanku, aku pasti sanggup melewati sisanya... entah bagaimana caranya.
Egois tiba-tiba terasa bagaikan kata yang indah.
"Kukira kau tidak sadar betapa lebih mudahnya itu bagiku, Bella," kata Edward,
masih terdengar secercah nada
humor dalam suaranya, "kalau aku tidak perlu berkonsentrasi setiap saat agar
tidak membunuhmu. Jelas, aku pasti akan kehilangan beberapa hal. Salah satunya
ini... " Ia menatap mataku sambil membelai pipiku, dan aku merasakan darah mengalir cepat
dan membuat kulitku merah padam. Edward tertawa lembut.
"Dan mendengar detak jantungmu," sambungnya, lebih serius tapi tetap tersenyum
kecil, "Itu suara paling signifikan
di duniaku. Aku sudah sangat terbiasa mendengarnya sekarang, aku bahkan bisa
mendengarnya dari jarak beberapa kilometer. Tapi hal-hal itu tidak berarti.
Ini," ujarnya, merengkuh wajahku dengan kedua tangan. "Kau. Itulah yang
kupertahankan. Kau tetap Bella-ku, hanya sedikit lebih kuat."
Aku mendesah dan membiarkan mataku terpejam karena senang, meletakkan wajahku di
tangannya. "Sekarang, maukah kau menjawab pertanyaanku" Sejujurnya, tanpa menghiraukan
perasaanku?" tanya Edward.
"Tentu saja," jawabku langsung, mataku terbuka lebar karena kaget. Apa yang
ingin ia ketahui" Edward berbicara lambat-lambat. "Kau tidak mau menjadi istriku."
Jantungku berhenti berdetak, dan sejurus kemudian berpacu cepat. Keringat dingin
merembes di tengkuk dan kedua tanganku berubah menjadi es.
Edward menunggu, mengawasi, dan mendengarkan reaksiku.
"Itu bukan pertanyaan," bisikku akhirnya.
Edward menunduk, bulu matanya memantulkan bayangan panjang di tulang pipinya. Ia
menurunkan tangannya dari wajahku dan meraih tangan kiriku yang membeku. Ia
memainkan jari-jariku sambil bicara.
"Aku khawatir kenapa kau merasa seperti itu."
Aku mencoba menelan ludah. "Itu juga bukan pertanyaan," bisikku.
"Please, Bella?"
"Sejujurnya?" tanyaku, hanya bisa menggerakkan mulutku tanpa suara.
"Tentu saja. Aku bisa menerimanya, apa pun itu."
Aku menghela napas dalam-dalam, "Kau pasti akan menertawakanku."
Edward menatapku, syok. "Menertawakan" Sulit membayangkannya."
"Lihat saja nanti." gumamku, lalu mendesah. Wajahku berubah dari putih ke merah
padam karena perasaan malu yang tiba-tiba muncul. "Oke, baiklah! Aku yakin
kedengarannya akan seperti lelucon besar bagimu, tapi ini benar! Ini sangat...
sangat... sangat memalukan" Aku mengakui, dan menyembunyikan wajahku di dadanya
lagi. Sejenak tidak ada yang mengatakan apa-apa. "Aku tidak mengerti."
Aku mendongak dan menatapnya garang, perasaan malu membuatku menyampaikan
maksudku dengan pedas dan sengit.
"Aku bukan gadis seperti itu, Edward. Yang langsung menikah begitu lulus SMA,
seperti gadis kota kecil kampungan yang hamil di luar nikah! Tahukah kau
bagaimana pikiran orang nanti" Sadarkah kau abad berapa sekarang" Tak ada orang
yang menikah pada umur delapan belas sekarang! Bukan orang-orang yang cerdas,
bertanggung jawab, dan matang! Aku tidak mau menjadi seperti itu! Aku tidak
seperti itu..." Kata-kataku
menghilang, kehilangan kegarangannya.
Wajah Edward tak terbaca saat ia mencoba mencerna jawabanku.
"Hanya itu?" tanyanya akhirnya.
Aku mengerjapkan mata. "Apa itu belum cukup?"
"Jadi bukan karena kau.. lebih bersemangat memperoleh keabadian daripada hanya
mendapatkan aku?" Kemudian, walaupun tadinya aku mengira Edward akan tertawa, mendadak justru
akulah yang tertawa histeris.
"Edward!" Aku megap-megap kehabisan napas di sela-sela tawaku. "Ya ampun...
padahal aku... mengira... kau... jauh... lebih cerdas daripada aku!"
Edward meraihku dalam pelukannya, dan aku bisa merasakan ia tertawa bersamaku.
"Edward," kataku, berusaha berbicara lebih jelas, "tidak ada gunanya hidup
selamanya tanpa kau. Aku tidak mau hidup satu hari pun tanpa kau."
"Well, lega mendengarnya," kata Edward.
"Meski begitu... tetap saja itu tidak mengubah apa-apa."
"Tapi senang rasanya bisa memahaminya. Dan aku bisa memahami sudut pandangmu,
Bella, sungguh. Tapi aku benar-benar sangat senang kalau kau mau mencoba
mempertimbangkan sudut pandangku."
Aku sudah kembali tenang, jadi aku pun mengangguk dan berusaha keras menghapus
kerutan di keningku. Mata emas cair Edward menatapku lekat-lekat, membuatku merasa seperti
dihipnotis. "Begini, Bella, sejak dulu aku sudah menjadi laki-laki itu. Dalam duniaku, aku
sudah dewasa, Aku tidak mencari cinta - tidak, saat itu aku terlalu bersemangat
menjadi prajurit hingga tidak peduli pada cinta, aku tidak memikirkan yang lain
selain betapa mulianya terjun ke medan perang seperti yang selalu mereka
dengung-dengungkan terhadap para calon tentara yang mendaftar - tapi seandainya
aku menemukan..." Edward terdiam sejenak, menelengkan kepala ke satu sisi. "Aku
tadi hendak mengatakan seandainya aku menemukan seseorang, tapi itu
tidak tepat. Seandainya aku menemukanmu, tidak ada keraguan dalam pikiranku
bagaimana aku memulainya. Aku laki-laki itu, yang - begitu mengetahui kaulah
orang yang kucari - akan langsung berlutut dan melamarmu. Aku pasti
menginginkanmu untuk selama-lamanya, bahkan saat
kata itu tidak memiliki arti yang sama."
Edward menyunggingkan senyum miringnya padaku. Kutatap dia dengan mata
membelalak lebar. "Tarik napas, Bella," ia mengingatkanku sambil tersenyum.
Aku menarik napas. "Bisakah kau melihat dari sisiku, Bella, walaupun sedikit saja?"
Dan sejenak aku bisa. Aku melihat diriku dalam balutan gaun panjang dan blus
renda-renda berleher tinggi, dengan rambut disanggul tinggi-tinggi. Aku melihat
Edward tampak tampan dalam setelan jas warna terang, memegang buket bunga-bunga
liar, duduk berdampingan denganku di ayunan teras.
Aku menggeleng dan menelan ludah. Aku baru saja melihat kilas balik seperti
dalam novel Anne of Green Gables.
"Masalahnya, Edward," kataku dengan suara gemetar, menghindari pertanyaannya,
"dalam pikiranku, pernikahan dan selamanya tidak selalu berkaitan. Dan berhubung
saat ini kita hidup di duniaku, mungkin sebaiknya kira ikuti saja zaman ini,
kalau kau mengerti maksudku."
"Tapi di lain pihak." tukas Edward, "sebentar lagi kau akan meninggalkan konsep
waktu untuk selama-lamanya. Jadi kenapa kebiasaan fana sebuah kebudayaan lokal
harus sangat memengaruhi keputusanmu?"
Aku mengerucutkan bibir, "Kau harus beradaptasi dengan kebudayaan setempat,
Edward." Edward menertawakanku. "Kau tidak perlu mengatakan ya atau tidak hari ini,
Bella. Tapi ada baiknya kita memahami dua sudut pandang yang berbeda, bukankah
begitu menurutmu?" "Jadi syaratmu...?"
"Masih berlaku. Aku bisa memahami sudut pandangmu, Bella, tapi kalau kau mau aku
sendiri yang mengubahmu.... "
"Teng-teng-teng-teng, teng-teng-teng." gumamku pelan.
Sebenarnya aku bermaksud menyenandungkan mars pernikahan, tapi kedengarannya
malah seperti nyanyian kematian.
Waktu terus berjalan terlalu cepat.
Malam itu berlalu tanpa diganggu mimpi, tiba-tiba hari sudah pagi dan hari
kelulusan membayang di depan mata. Ada setumpuk pelajaran yang harus kupelajari
untuk ujian akhir, dan aku tahu aku bahkan tidak akan bisa menguasai setengahnya
dalam beberapa hari yang tersisa.
Waktu aku turun untuk sarapan, Charlie sudah berangkat. Ia meninggalkan korannya
di meja, dan itu membuatku teringat harus membeli sesuatu. Mudah-mudahan saja
iklan penjualan tiket konser masih ada; aku butuh nomor teleponnya untuk membeli
tiket-tiket bodoh itu. Sepertinya sudah bukan hadiah istimewa lagi, karena tidak
ada unsur kejutannya. Tentu saja, berusaha memberi kejutan untuk Alice bukanlah
ide cemerlang. Aku bermaksud langsung menuju bagian hiburan, tapi judul berita utama yang
dicetak hitam tebal menarik perharianku. Hatiku bagai dicengkeram kengerian saat
membungkuk dan membaca lebih saksama berita di halaman depan.
SEATTLE DITEROR PEMBANTAIAN
Belum sampai saru dekade berlalu sejak Seattle jadi medan perburuan bagi
pembunuh berantai paling keji sepanjang sejarah Amerika Serikat. Gary Ridgway,
yang dijuluki Pembunuh Green River, dijatuhi hukuman karena membunuh 48 wanita..
Dan kini, Seattle harus menghadapi kemungkinan menjadi tempat berdiam monster
yang bahkan lebih kejam lagi.
Polisi tidak menyimpulkan serangkaian pembunuhan dan peristiwa orang hilang yang
begitu sering terjadi akhir-akhir ini sebagai perbuatan pembunuh berantai.
Paling tidak belum. Polisi enggan meyakini pembantaian sesadis ini merupakan
hasil perbuatan satu orang, Itu berarti si pembunuh - bala,, memang benar,
pelakunya hanya satu orang - bertanggung jawab atas 39 pembunuhan dan kasus
orang hilang yang saling berhubungan
hanya dalam kurun waktu tiga bulan Sebagai perbandingan, 48 kasus pembunuhan
yang dilakukan Ridgway dilakukan dalam
kurun waktu 21 tahun jika pembunuhan-pembunuhan ini bisa dikaitkan ke satu
orang, ini akan jadi kasus pembantaian terbesar
yang dilakukan seorang pembunuh berantai sepanjang sejarah Amerika.
Polisi cenderung lebih meyakin teori bahwa pembantaian ini dilakukan sekelompok
orang, Teori ini didasari pada banyaknya korban, serta fakta bahwa tampaknya
tidak ada pola khusus dalam pemilihan kofoan.
Dari Jack The Ripper hingga Ted Bundy, target pembunuhan berantai biasanya
dihubungkan dengan kesamaan usia, gender, ras, atau kombinasi ketiganya.
Sementara korban-korban kejahatan ini bervariasi, mulai dari pelajar cemerlang
berusia 15 tahun Amanda Reed, hingga pensiunan tukang pos Omar Jenks berusia 67
tahun. Jumlah korbannya juga nyaris seimbang dalam hal jenis kelamin, yaitu 18
wanita dan 21 pria. Ras para kofoan pun bermacam-macam: Kaukasia, Afrika-
Amerika, Hispanik, dan Asia.
Pilihan tampaknya dilakukan secara acak.. Motinya seolah-olah membunuh tanpa
alasan lain selain ingin membunuh jadi mengapa mesti mempertimbangkan ini
sebagai kasus pembunuhan berantai"
Cukup banyak kesamaan dalam modus operandi untuk mencoret kemungkinan kejahatan-


Gerhana Eclipse Twilight Buku Ke 3 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kejahatan tersebut tidak saling berhubungan. Setiap korban ditemukan dalam
keadaan hangus terbakar hingga dibutuhkan catatan gigi untuk proses
identifikasi. Ada indikasi digunakannya semacam zat akseleran, seperti bensin atau alkohol,
untuk membakar mayat-mayat korban; namun sisa akseleran tak pernah ditemukan.
Semua mayat korban dibuang begitu saja tanpa upaya menyembunyikannya.
Yang lebih mengerikan lagi,, sebagian besar mayat menunjukkan bukti telah
terjadinya kekerasan brutal - tulang-tulang remuk, seperti diremukkan tekanan
yang sangat kuat -yang oleh petugas forensik diyakini terjadi sebelum korban
meninggal, walaupun kesimpulan tersebut sulit dipastikan kebenarannya, mengingat
kondisi korban Kemiripan lain yang mengarah pada kemungkinan bahwa hal ini merupakan pembunuhan
berantai: tidak ada bukti sedikit pun yang tertinggal di tubuh korban, kecuali
mayat korban sendiri. Tidak ada sidik jari, tidak ada jejak ban ataupun rambut
asing yang tertinggal Juga tidak ada yang pernah melihat pelaku yang dicurigai
dalam berbagai peristiwa orang liang itu.
Kemudian peristiwa lenyapnya para korban itu sendiri sama sekali tidak dilakukan
sembunyi-sembunyi. Tak seorang korban pun bisa dianggap sebagai sasaran empuk.
Tidak ada yang lari dari rumah atau menggelandang di jalanan, yang mudah hilang
dan jarang dilaporkan sebagai orang hilang. Para korban lenyap dari rumah
mereka, dari apartemen lantai empat, dan klub kebugaran, dari resepsi
pernikahan. Mungkin yang paling mencengangkan petinju amatir berusia 30 tahun,
Robert Walsh, datang ke bioskop bersama teman kencannya; beberapa menit
setelah film diputar, wanita tersebut sadar korban sudah tak ada lagi di
kursinya. Jenazahnya ditemukan tiga jam kemudian olah regu pemadam kebakaran
dipanggil ke lokasi terbakarnya tempat pembuangan sampah, 32 kilometer dari
bioskop, Pola lain yang ditemukan dalam pembantaian itu: semua korban hilang pada malam
hari. Dan pola apakah yang paling menakutkan" Kecepatan. Enam di antaranya dilakukan
pada bulan pertama, 11 pada bulan kedua. Dua puluh dua terjadi dalam kurun waktu
10 hari terakhir. Dan polisi belum juga menemukan pihak yang bertanggung jawab
sejak jenazah hangus pertama ditemukan.
Bukti-bukti yang ada saling bertentangan, bagian-bagiannya mengerikan. Geng baru
yang kejam atau pembunuh berantai yang terlalu aktif" Atau hal lain yang belum
terpikirkan polisi" Hanya satu kesimpulan yang tak terbantahkan lagi: sesuatu yang mengerikan
menunai Seattle. Aku sampai harus membaca kalimat terakhir tiga kali, dan sadarlah aku itu karena
tanganku gemetar. "Bella?" Walaupun sedang berkonsentrasi, suara Edward, meski tenang dan sudah bisa diduga
kehadirannya, tetap saja membuatku terkesiap dan membalikkan badan dengan cepat.
Edward bersandar di ambang pintu, alisnya bertaut,
Kemudian tiba-tiba saja ia sudah berada di sisiku, meraih tanganku.
"Aku membuatmu kaget, ya" Maaf Padahal aku tadi sudah mengetuk pintu... "
"Tidak, tidak." aku buru-buru menjawab, "Kau sudah melihat ini?" Kutunjuk koran
itu. Kening Edward berkerut. "Aku belum membaca berita hari ini. Tapi aku tahu keadaannya makin parah. Kami
harus melakukan sesuatu secepatnya."
Aku tidak suka mendengarnya. Aku tidak suka mereka mengambil risiko, dan apa pun
atau siapa pun yang ada di Seattle benar-benar mulai membuatku ngeri. Tapi
membayangkan keluarga Volturi datang juga sama
mengerikannya. "Apa kata Alice?"
"Itulah masalahnya," Kerutan di kening Edward mengeras, "Dia tidak bisa melihat
apa-apa.. walaupun kami sudah berkali-kali menetapkan pikiran untuk mengeceknya.
Dia mulai merasa tidak percaya diri. Dia merasa terlalu banyak hal luput dari
perhatiannya belakangan ini, takut kalau-kalau ada yang tidak beres. Bahwa
mungkin kemampuan visinya mulai hilang."
Mataku membelalak. "Bisakah itu terjadi:?"
"Siapa tahu" Tidak ada yang pernah meneliti... tapi aku benar-benar
meragukannya. Hal-hal ini cenderung semakin intensif seiring berjalannya waktu.
Lihat saja Aro dan Jane."
"Kalau begitu apa masalahnya?"
"Ramalan yang digenapi dengan sendirinya, kurasa. Karena kita menunggu-nunggu
Alice melihat sesuatu supaya kita bisa pergi tapi dia tidak melihat apa-apa
karena kita tidak benar-benar pergi sampai dia melihat sesuatu. Jadi dia tidak
melihat kita di sana. Mungkin kita harus melakukannya begitu saja."
Aku bergidik. "Tidak."
"Kau ingin masuk kelas atau tidak hari ini" Ujian akhir tinggal beberapa hari
lagi; tidak mungkin ada materi baru."
"Kurasa aku bisa bolos satu hari. Kita mau melakukan apa?"
"Aku ingin bicara dengan Jasper."
Jasper, lagi. Aneh. Di keluarga Cullen, Jasper selalu agak berada di pinggir, ia
adalah bagian dari segalanya tapi tak pernah menjadi pusat segalanya. Aku punya
asumsi sendiri ia hanya ada untuk Alice. Firasatku mengatakan, meski rela
mengikuti Alice ke mana pun, namun gaya hidup ini bukanlah pilihan pertamanya.
Fakta bahwa ia kurang berkomitmen pada gaya hidup ini ketimbang yang lain-lain
mungkin menjadi alasan ia lebih sulit mengikutinya.
Bagaimanapun, aku tidak pernah melihat Edward merasa tergantung kepada Jasper.
Aku jadi penasaran lagi, apa yang dimaksud Edward mengenai keahlian Jasper. Aku
tidak tahu banyak tentang riwayat hidup Jasper, hanya bahwa ia berasal dari
suatu tempat di selatan sebelum Alice menemukannya. Entah mengapa, Edward selalu
mengelak bila ditanya tentang saudara lelaki terbarunya itu, Dan aku selalu
merasa terintimidasi oleh vampir jangkung pirang mirip bintang film pendiam itu
untuk menanyakannya secara langsung.
Sesampainya di rumah kami menemukan Carlisle, Esme, dan Jasper sedang tekun
menyimak siaran berita, walaupun suaranya kecil sekali hingga aku tak bisa
mendengar. Alice duduk di anak tangga paling bawah, bertopang dagu dengan
ekspresi muram. Saat kami datang, Emmett melenggang keluar dari pintu dapur,
terlihat sangat santai. Ia memang tak pernah memusingkan apa pun.
"Hai, Edward. Membolos, Bella?" Ia nyengir padaku.
"Kami sama-sama bolos," Edward mengingatkannya. Emmett terbahak.
"Memang, tapi ini kan pertama kalinya Bella menjalani masa-masa SMA. Bisa saja
dia kehilangan sesuatu."
Edward memutar bola matanya, tapi tak menggubris saudara kesayangannya itu. Ia
melemparkan koran ke arah Carlisle.
"Sudah baca bahwa polisi sekarang mempertimbangkan kemungkinan pelakunya
pembunuh berantai?" tanyanya.
Carlisle mendesah. "Ada dua spesialis memperdebatkan kemungkinan itu di CNN
sepanjang pagi ini."
"Kita tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut."
"Kita pergi saja sekarang," seru Emmett, mendadak antusias. "Aku bosan setengah
mati." Suara desisan bergema di tangga dari lantai atas,
"Pesimis betul dia," gerutu Emmett pada dirinya sendiri.
Edward sependapat, "Kita memang harus pergi suatu saat nanti."
Rosalie muncul di puncak tangga dan turun pelan-pelan.
Wajahnya mulus, tanpa ekspresi,
Carlisle menggeleng-gelengkan kepala. "Aku khawatir. Kita tidak pernah
melibatkan diri dengan hal semacam ini sebelumnya. Ini bukan urusan kita. Kita
bukan keluarga Volturi."
"Aku tidak mau keluarga Volturi sampai harus datang ke sini." kata Edward. "Jika
itu terjadi, kita tak punya banyak waktu untuk bereaksi."
"Belum lagi manusia-manusia tak berdosa di Seattle sana," imbuh Esme. "Tidak
benar membiarkan mereka mati seperti ini."
"Memang." desah Carlisle.
"Oh." sergah Edward tajam, memalingkan kepala sedikit untuk menatap Jasper. "Itu
tidak terpikir olehku. Jadi begitu. Kau benar, pasti itu. Well, semua jadi
berubah kalau begitu."
Bukan hanya aku yang memandangi Edward dengan sikap bingung, tapi mungkin hanya
aku satu-satunya yang tidak terlihat sedikit jengkel.
"Kurasa ada baiknya kaujelaskan pada yang lain-lain," saran Edward kepada
Jasper. "Apa tujuannya?" Edward mulai berjalan mondar-mandir, memandangi lantai,
hanyut dalam pikirannya sendiri.
Aku tidak melihatnya berdiri, tapi tiba-tiba Alice sudah ada di sampingku. "Apa
yang diocehkan Edward?" tanyanya pada Jasper. "Apa yang sedang kaupikirkan?"
Jasper tampak risi menjadi pusat perhatian. Ragu-ragu, setelah mengamati wajah
semua yang mengelilinginya - karena semua merubung untuk mendengarkan
perkataannya - matanya kemudian tertuju padaku.
"Kau bingung," katanya padaku, suaranya yang dalam sangat tenang.
Tidak ada nada bertanya dalam asumsinya. Jasper tahu apa yang kurasakan, apa
yang dirasakan semua orang.
"Kita semua bingung," gerutu Emmett.
"Kau punya waktu yang cukup untuk bersikap sabar," kata Jasper pada Emmet.
"Bella juga harus memahami hal ini. Dia sudah menjadi bagian dari kita
sekarang." Kata-kata Jasper membuatku terkejut. Meski jarang sekali berurusan dengan
Jasper, apalagi sejak ulang tahunku tempo hari waktu ia mencoba membunuhku, aku
tidak mengira ia berpikir begitu mengenalku.
"Berapa banyak yang kauketahui tentang aku, Bella?" tanya Jasper.
Emmett mendesah sok dramatis, lalu mengempaskan diri ke sofa untuk menunggu
dengan sikap tidak sabar yang dilebih-lebihkan.
"Tidak banyak," aku mengakui.
Jasper menatap Edward, yang mendongak dan membalas tatapannya.
"Tidak," Edward menjawab pikirannya. "Aku yakin kau bisa mengerti kenapa aku
belum menceritakan hal itu padanya. Tapi kurasa dia perlu mendengarnya
sekarang." Jasper mengangguk dengan sikap khidmat, kemudian mulai menggulung lengan sweter
warna gading yang dipakainya.
Aku mengawasinya, ingin tahu dan bingung, berusaha memahami apa yang ia lakukan.
Jasper memegang pergelangan tangannya di bawah kap lampu meja di sebelahnya,
dekat bola lampu, dan jarinya menyusuri bekas luka berbentuk bulan sabit di
kulitnya yang pucat. Butuh waktu semenit untuk menyadari mengapa bentuk itu tampak tak asing di
mataku. "Oh," desahku begitu tersadar, "Jasper, bekas lukamu mirip sekali dengan bekas
lukaku." Aku mengulurkan tangan, bulan sabit keperakan itu terlihat lebih jelas di
kulitku yang berwarna krem ketimbang di kulit Jasper yang sewarna pualam.
Jasper tersenyum samar. "Aku punya banyak bekas luka seperti bekas lukamu,
Bella." Wajah Jasper tak terbaca saat ia menyingkapkan lengan sweter tipisnya lebih ke
aras lagi. Awalnya mataku tidak mengenali tekstur tebal yang melapisi permukaan
kulitnya. Mengingat warnanya yang putih di atas dasar putih, bentuk bulan sabit
melengkung silang-menyilang dalam pola seperti bulu itu hanya bisa dilihat
karena bantuan sinar terang lampu di sebelahnya. Tekstur itu jadi agak timbul
seperti relief, dengan bayang-bayang pendek mengelilingi garis-garis luarnya.
Kemudian aku terkesiap karena pola itu ternyata dibentuk bulan sabit seperti
yang ada di pergelangan tangannya seperti yang ada di tanganku.
Kupandangi lagi bekas lukaku yang kecil dan sendirian -dan ingat bagaimana aku
mendapatkannya. Kupandangi bentuk gigi James yang terukir selamanya di kulitku.
Kemudian aku terkesiap, mendongak menatap Jasper.
"Jasper, apa yang terjadi padamu?"
13. VAMPIR BARU "SAMA seperti yang terjadi pada tanganmu." jawab Jasper tenang. "Dikalikan
seribu." Ia tertawa, tawanya sedikit sedih, Diusapnya lengannya. "Racun kami
adalah satu-satunya yang meninggalkan bekas pada kami."
"Kenapa?" Aku terkesiap ngeri, merasa lancang tapi tak sanggup mengalihkan
pandangan dari kulitnya yang carut-marut.
"Aku tidak memiliki... latar belakang yang sama seperti saudara-saudara angkatku
di sini. Awal-mulaku sama sekali berbeda." Suaranya berubah keras saat ia
selesai bicara. Aku ternganga memandanginya, tercengang.
"Sebelum aku menceritakan riwayatku padamu," kata Jasper, "kau harus paham di
dunia kami juga ada tempat-tempat, Bella, di mana umur mereka yang tidak bisa
menua di ukur dalam hitungan minggu, bukan abad."
Yang lain-lain sudah pernah mendengar cerita ini sebelumnya. Carlisle dan Emmett
mengalihkan perhatian kembali ke televisi. Alice berjalan tanpa suara, lalu
bersimpuh di kaki Esme. Tapi Edward tetap menyimak
dengan tekun, sama seperti aku: bisa kurasakan matanya menatap wajahku, membaca
setiap perubahan emosi. "Untuk benar-benar memahami alasannya, kau harus melihat dunia dari perspektif
berbeda. Kau harus membayangkan bagaimana dunia di mata mereka yang
berkuasa, serakah... yang terus-menerus haus.
"Begini. ada tempat-tempat di dunia ini yang lebih disukai kaum kami
dibandingkan yang lain. Tempat kami bisa tidak terlalu menahan diri, tapi tetap
tidak ketahuan. "Bayangkan misalnya, peta belahan dunia Barat. Bayangkan setiap nyawa manusia di
dalamnya sebagai noktah merah kecil. Semakin tebal warna merahnya, semakin mudah
kami - well, mereka yang eksis dengan cara seperti ini - bisa makan tanpa
menarik perhatian." Aku bergidik membayangkannya, mendengar kata "makan", Tapi Jasper tidak khawatir
membuatku takut, tidak overprotektif seperti Edward. Ia melanjutkan ceritanya
tanpa jeda. "Bukan berarti kelompok-kelompok di Selatan peduli apakah manusia menyadari
keberadaan mereka atau tidak.
Keluarga Volturi-lah yang menjaga supaya mereka tidak melewati batas. Hanya
mereka yang ditakuti kelompok-kelompok Selatan. Kalau bukan karena keluarga
Volturi, keberadaan kita semua dengan cepat akan ketahuan."
Keningku berkerut mendengar cara Jasper mengucapkan nama itu-sikapnya penuh
hormat, nyaris seperti penuh terima kasih. Sulit bagiku menerima pemikiran bahwa
keluarga Volturi orang-orang baik.
"Kelompok Utara, bila dibandingkan, justru sangat beradab. Kebanyakan dari kami
adalah kaum nomaden yang bisa menikmati baik siang maupun malam hari, yang
mengizinkan manusia berinteraksi dengan kami tanpa curiga-anonim penting artinya
bagi kami semua. "Sebaliknya, dunia - di Selatan sama sekali berbeda. Kaum abadi hanya keluar
pada malam hari. Siang hari mereka gunakan untuk merencanakan aksi berikutnya,
atau mengantisipasi musuh mereka. Karena di Selatan terjadi perang, perang
terus-menerus selama berabad-abad, tanpa sekali pun gencatan senjata, Kelompok-
kelompok di sana nyaris tidak memerhatikan keberadaan manusia, kecuali sebagai
prajurit yang memerhatikan sekelompok 'sapi' di
pinggir jalan - makanan yang siap diambil. Keluarga Volturi-lah yang membuat
mereka bersembunyi dari pengamatan manusia."
"Memangnya apa yang mereka perebutkan?" tanyaku.
Jasper tersenyum. "Ingatkah kau peta dengan nokrah-noktah merah itu?"
Ia menunggu, maka aku pun mengangguk.
"Mereka berperang karena berebut menguasai wilayah yang noktah merahnya paling
tebal. "Begini, dulu pernah terpikir oleh seseorang, bahwa seandainya dia menjadi satu-
satunya vampir di, katakanlah Mexico City, dia bisa makan setiap malam, bahkan
dua-tiga kali sehari, dan tidak ada yang memerhatikan. Jadi dia menyusun rencana untuk
menyingkirkan para pesaingnya.
"Yang lain-lain juga memiliki gagasan yang sama. Sebagian bahkan punya taktik
yang lebih efektif daripada yang lain.
"Tapi taktik yang paling efektif diciptakan vampir yang masih sangat muda,
bernama Benito. Hal pertama yang didengar orang tentang Benito adalah bahwa dia
datang dari tempat di sebelah utara Dallas dan membantai dua kelompok kecil yang
berbagi wilayah di dekat Houston. Dua malam kemudian dia menghabisi klan yang
jauh lebih kuat, yang mengklaim kawasan Monterrey di sebelah utara Meksiko.
lagi-lagi, Benito menang "Bagaimana dia bisa menang?" tanyaku ingin tahu.
"Benito menciptakan sekelompok vampir baru. Dialah yang pertama kali memikirkan
hal itu, dan, pada awalnya, dia tidak bisa dihentikan. Vampir yang masih sangat
muda itu ganas, liar, dan nyaris mustahil dikendalikan. Satu vampir baru masih
bisa diatasi, diajarkan untuk menahan diri, tapi sepuluh, lima belas sekaligus


Gerhana Eclipse Twilight Buku Ke 3 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

adalah mimpi buruk. Mereka mudah disuruh saling menyerang, apalagi kalau disuruh
menghabisi musuh. Benito harus terus menciptakan vampir baru karena mereka
berkelahi antar mereka sendiri, juga karena kelompok-kelompok vampir yang
dibantainya menghabisi setengah kekuatannya sebelum kalah.
"Kau tahu, walaupun vampir baru berbahaya, mereka masih mungkin dikalahkan kalau
kau tahu caranya. Mereka luar biasa kuat secara fisik, selama tahun pertama atau
kedua, dan kalau diperbolehkan mengerahkan segenap kekuatan, mereka sanggup
meremukkan vampir yang lebih tua dengan mudah. Tapi mereka diperbudak insting
mereka sendiri, sehingga mudah diprediksi. Biasanya mereka tidak punya keahlian
berperang, hanya mengandalkan otot dan keberanian. Dan dalam kasus ini, jumlah
mereka yang sangat banyak.
"Vampir-vampir di selatan Meksiko sadar apa yang menyerang mereka, dan mereka
melakukan satu-satunya hal yang terpikir untuk melawan Benito. Membuat pasukan
sendiri..." "Situasi menjadi tidak terkendali - bisa kaubayangkan sendiri. Kami kaum abadi
juga memiliki sejarah sendiri, dan perang yang satu ini takkan pernah dilupakan.
Tentu saja tidak enak menjadi manusia di Mexico City pada saat itu."
Aku bergidik. "Ketika jumlah korban mencapai angka yang dapat menimbulkan epidemi - bahkan,
sejarah kalian menyebutkan bahwa berkurangnya populasi secara drastis adalah
akibat wabah penyakit - keluarga Volturi akhirnya turun tangan. Seluruh penjaga
datang bersama dan mencari setiap vampir baru di seluruh penjuru Amerika Utara
bagian bawah. Benito bermarkas di Puebla, membangun pasukan secepat yang bisa
dilakukannya demi mendapatkan hadiah utama - Mexico City. Keluarga Volturi
memulai pembersihan dari Benito, kemudian berlanjut ke yang lain-lain.
"Setiap orang yang didapati sedang bersama vampir baru langsung dieksekusi saat
itu juga, dan karena semua orang berusaha melindungi diri dari Benito, Meksiko
bersih dari vampir untuk sementara waktu.
"Keluarga Volturi melakukan pembersihan besar-besaran selama hampir satu tahun.
Ini babak lain dalam sejarah kami yang akan selalu dikenang, walaupun sedikit
sekali saksi mata tersisa yang masih bisa mengingatnya. Aku pernah berbicara
dengan seseorang yang pernah menyaksikan peristiwa itu dari kejauhan, ketika
mereka mengunjungi Culiacin."
Jasper bergidik. Aku baru sadar bahwa sebelumnya aku tidak pernah melihat Jasper
takut ataupun ngeri. Ini yang pertama kalinya.
"Untunglah demam ingin menguasai itu tidak menyebar dari Selatan. Bagian dunia
lainnya tetap waras. Kami berutang budi pada keluarga Volturi sehingga bisa
menjalani kehidupan seperti ini.
"Tapi setelah keluarga Volturi kembali ke Italia, para vampir yang masih
bertahan dengan cepat menancapkan klaimnya di Selatan.
"Tak lama kemudian kelompok-kelompok itu mulai berselisih lagi. Banyak sekali
darah busuk, maafkan istilahku. Balas dendam merajalela di mana-mana. Ide
menciptakan vampir baru sudah terbentuk, dan ada sebagian yang tidak mampu
menolak. Bagaimanapun, karena tidak ingin didatangi lagi oleh keluarga Volturi,
kelompok-kelompok Selatan lebih berhati-hati kali ini. Para vampir baru dipilih
dari kelompok manusia secara lebih cermat, dan diberi lebih banyak pelatihan.
Mereka dimanfaatkan secara sangat hati-hati, dan sebagian besar manusia tetap
tidak menyadari keberadaan mereka. Para pencipta mereka tidak memberi alasan
kepada keluarga Volturi untuk kembali.
"Perang berlanjut, namun dalam skala lebih kecil. Sesekali ada orang yang
bertindak terlalu jauh, spekulasi pun berkembang di koran-koran manusia, dan
keluarga Volturi kembali untuk membersihkan kota. Tapi mereka membiarkan yang
lain-lain, yang cukup berhati-hati, melanjutkan kegiatan mereka..." Mata Jasper
menerawang jauh. "Begitulah kau berubah," Kesadaranku hanya berupa bisikan.
"Ya," Jasper membenarkan. "Waktu aku masih menjadi manusia, aku tinggal di
Houston, Texas. Umurku hampir tujuh belas waktu aku bergabung dengan Tentara
Konfederasi di tahun 1861. Aku berbohong pada bagian
penerimaan dan mengatakan umurku dua puluh. Aku tinggi, jadi mereka percaya.
"Karier militerku hanya berumur pendek, tapi sangat menjanjikan. Orang-orang
selalu... menyukaiku, mendengarkan apa yang kukatakan. Kata ayahku, itu karena
aku punya karisma. Tentu saja, sekarang aku tahu
mungkin itu karena hal lain. Namun, apa pun alasannya, aku cepat mendapat
promosi, mengalahkan tentara-tentara lain yang lebih tua dan lebih
berpengalaman. Tentara Konfederasi masih baru dan berusaha mengorganisir diri,
jadi itu memberiku kesempatan untuk maju. Saat pertempuran pertama di Galveston
- well, sebenarnya lebih tepat disebut kerusuhan - akulah mayor termuda di
Texas, bahkan tanpa menyebutkan umurku sesungguhnya.
"Aku diserahi tanggung jawab mengevakuasi wanita dan anak-anak dari kota ketika
kapal-kapal mortar Union sampai di pelabuhan, Diperlukan waktu satu hari untuk
menyiapkan mereka, kemudian aku berangkat bersama
rombongan rakyat sipil pertama untuk membawa mereka ke Houston.
"Aku masih ingat malam itu dengan sangat jelas.
"Kami sampai di kota setelah hari gelap. Aku tidak berlama-lama di sana, hanya
sampai aku bisa memastikan seluruh anggota rombongan dalam keadaan aman. Setelah
semua urusanku selesai, aku mengganti kudaku dengan kuda baru, lalu kembali ke
Galveston. Tidak ada waktu untuk beristirahat.
"Baru satu setengah kilometer meninggalkan kota, aku menemukan tiga wanita
berjalan kaki. Asumsiku, mereka gelandangan dan aku langsung turun dari kuda
untuk menawarkan bantuan. Tapi waktu aku melihat wajah
mereka dalam keremangan cahaya bulan, aku terperangah sampai tak bisa berkata-
kata. Mereka, tak diragukan lagi, merupakan tiga wanita paling cantik yang
pernah kulihat. "Kulit mereka sangat pucat, aku ingat sampai terkagum-kagum melihatnya. Bahkan
gadis kecil berambut hitam, yang dari garis-garis wajahnya kentara sekali orang
Meksiko, tampak bagaikan porselen dalam cahaya bulan. Kelihatannya mereka masih
muda, mereka semua, masih pantas disebut gadis. Aku tahu mereka bukan anggota
rombongan kami yang tersesat. Aku pasti ingat kalau pernah melihat mereka
bertiga. "'Dia sampai tidak sanggup bicara,' kata gadis yang paling tinggi dengan suara
merdu mengalun - suaranya seperti genta angin. Rambutnya berwarna terang, dan
kulitnya seputih salju. "Gadis yang lain juga pirang, kulitnya juga putih bersih. Wajahnya seperti
malaikat. Gadis itu mencondongkan tubuh ke arahku dengan mata separuh tertutup
dan menarik napas dalam-dalam.
"'Mmm,' gumamnya. 'Menyenangkan.'
"Gadis yang kecil, si mungil berambut cokelat, memegang lengan gadis itu dan
berbicara cepat sekali. Suaranya terlalu lirih dan merdu untuk terdengar ketus,
tapi sepertinya itulah yang dia maksudkan.
"'Konsentrasi, Nettie,' begitu katanya.
"Aku memiliki kemampuan merasakan bagaimana orang-orang saling berhubungan, jadi
aku langsung tahu gadis berambut cokelat itulah pemimpinnya. Kalau di militer,
bisa dibilang gadis itu lebih tinggi pangkatnya dibandingkan yang lain.
"'Kelihatannya dia orang yang tepat - muda, kuat, seorang tentara... ' Si rambut
cokelat terdiam, dan aku mencoba berbicara, tapi tidak bisa. 'Dan ada satu
lagi... kalian bisa menciumnya"' tanyanya kepada dua gadis yang lain. 'Dia...
memikat.'" "'Oh, ya,' Nettie langsung setuju, mencondongkan tubuh ke arahku lagi.
"'Sabar,' si rambut cokelat mengingatkan. Aku ingin mempertahankan yang satu
ini.' "Nettie mengerutkan kening; sepertinya kesal. "'Sebaiknya kau saja yang
melakukannya, Maria; si pirang tinggi berkata lagi. 'Kalau dia penting bagimu.
Soalnya, aku membunuh sama seringnya seperti aku mempertahankan mereka.'
"Ya, biar aku saja yang melakukannya,' Maria sependapat. 'Aku benar-benar
menyukai yang satu ini. Bawa Nettie pergi, bisa" Aku tidak mau repot-repot
memikirkan keselamatan diriku selagi sedang berusaha berkonsentrasi,'
"Bulu kudukku meremang, walaupun aku sama sekali tidak mengerti apa yang
dibicarakan makhluk-makhluk cantik itu. Naluriku mengatakan ada bahaya, bahwa
gadis berwajah malaikat tadi tidak main-main waktu berbicara tentang membunuh,
tapi penilaianku mengalahkan naluriku. Aku tidak diajari untuk takut pada
wanita, melainkan melindungi mereka,
"'Ayo kita berburu,' Nettie setuju dengan sikap antusias, meraih tangan si gadis
jangkung. Mereka melesat - benar- benar luwes! - dan berpacu menuju kota. Hampir
terlihat seperti terbang saking cepatnya - gaun putih mereka berkibar-kibar di
belakang bagaikan sayap. Aku mengerjap-ngerjap takjub, dan mereka pun lenyap.
"Aku menoleh dan menatap Maria, yang mengamatiku dengan sikap ingin tahu.
"Aku bukan orang yang percaya takhayul. Sampai detik itu aku tidak pernah
percaya pada hantu atau omong kosong lain sejenisnya. Tapi tiba-tiba saja aku
tidak yakin. "'Siapa namamu, Tentara"' Maria bertanya padaku.
"'Mayor Jasper Whitlock, Ma'am,' jawabku terbata-bata, tak bisa bersikap tidak
sopan pada wanita, meski ia hantu sekalipun.
"'Aku benar-benar berharap kau selamat, Jasper,' katanya lembut. 'Aku punya
firasat bagus mengenaimu.' "Dia maju satu langkah, dan menelengkan kepala
seperti hendak menciumku. Aku membeku di tempat, meski seluruh naluriku
berteriak menyuruhku berlari."
Jasper berhenti sejenak, wajahnya merenung, "Beberapa hari kemudian." katanya
akhirnya, dan aku tidak tahu apakah ia mengedit ceritanya demi aku atau karena
merespons ketegangan yang bahkan bisa kurasakan terpancar dari Edward. "Aku
diperkenalkan pada kehidupanku yang baru.
"Nama mereka Maria, Nettie, dan Lucy. Mereka belum lama bersama-sama - Maria
mengumpulkan dua gadis yang lain - ketiganya selamat dari peperangan yang mereka
menangkan. Hubungan mereka saling menguntungkan. Maria ingin membalas dendam,
dan ingin menguasai kembali wilayahnya. Sementara yang lain ingin memperluas...
ladang perburuan mereka, kurasa begitulah istilahnya. Mereka bermaksud membentuk
pasukan, dan melakukannya secara lebih hati-hati daripada biasanya. Itu ide
Maria. Dia menginginkan pasukan yang superior, jadi dia mencari manusia-manusia
tertentu yang berpotensi. Jadi dia memberi kami lebih banyak perhatian, memberi
pelatihan lebih banyak daripada yang mau dilakukan pihak lain. Dia mengajari
kami cara bertarung, dan dia mengajari kami bagaimana agar tidak terlihat
manusia. Kalau kami berbuat baik, kami diberi hadiah... "
Jasper berhenti, mengedit ceritanya lagi.
"Tapi dia terburu-buru. Maria tahu kekuatan luar biasa vampir baru mulai melemah
setelah satu tahun, jadi dia ingin bertindak selagi kami masih kuat.
"Sudah ada enam anggota waktu aku bergabung dengan kelompok Maria. Dia menambah
empat lagi dalam dua minggu. Kami semua lelaki - Maria menginginkan tentara -
jadi agak susah menjaga agar kami tidak berkelahi antar kami sendiri, Aku terjun
dalam peperangan pertama melawan teman-teman baruku sepasukan. Aku lebih cepat
dibandingkan yang lain-lain, lebih hebat dalam bertempur. Maria senang melihat
hasil kerjaku, meski kesal karena harus terus-menerus mengganti mereka yang
kuhabisi. Aku sering diberi hadiah, dan itu membuatku semakin kuat.
"Maria pandai menilai karakter orang. Dia memutuskan untuk menugaskanku
mengetuai anggota-anggota lain -seolah-olah aku dipromosikan. Itu sangat sesuai
dengan sifat asliku. Jumlah korban menurun drastis, dan jumlah kami membengkak
hingga mendekati dua puluh.
"Ini jumlah yang luar biasa mengingat pada masa itu kami harus sangat berhati-
hati. Meski belum terdefinisikan, kemampuanku mengendalikan atmosfer emosional
di sekitarku, sangatlah efektif. Sebentar saja kami mulai bekerja sama dalam
cara yang tidak pernah dilakukan para vampir baru sebelumnya. Bahkan Maria,
Nettie, dan Lucy bisa lebih mudah bekerja sama.
"Maria sangat sayang padaku - dia mulai bergantung padaku. Dan, dalam beberapa
hal, bisa dibilang aku benar-benar memujanya. Aku sama sekali tidak tahu cara
hidup lain itu mungkin. Maria memberi tahu kami seperti inilah keadaannya, dan
kami percaya. "Dia memintaku memberi tahu kapan saudara-saudara lelakiku dan aku siap
bertempur, dan aku bersemangat ingin membuktikan diri. Akhirnya aku berhasil
menghimpun pasukan beranggotakan 23 orang - 23 vampir baru yang sangat kuat,
terorganisir, dan terlatih, tidak seperti pasukan-pasukan lain sebelumnya. Maria
girang bukan main. "Kami bergerak diam-diam menuju Monterrey, daerah asal Maria dulu, dan dia
melepas kami untuk menghadapi musuh-musuhnya. Waktu itu mereka hanya punya
sembilan vampir baru, serta sepasang vampir tua yang mengendalikan mereka. Kami
mengalahkan mereka lebih mudah daripada yang bisa dipercaya Maria, dan hanya
kehilangan empat anggota. Margin kemenangan yang belum pernah terjadi
sebelumnya. "Dan kami semua terlatih dengan baik. Kami melakukannya tanpa menarik perhatian.
Kota berpindah tangan tanpa satu manusia pun menyadarinya.
"Kesuksesan membuat Maria serakah. Tak lama kemudian dia mulai melirik kota-kota
lain. Tahun pertama itu dia memperluas kendalinya untuk menguasai sebagian
besar Texas dan sebelah utara Meksiko. Kemudian vampir-vampir lain datang dari
Selatan untuk menggulingkannya.
Jasper mengusapkan dua jari di sepanjang pola samar bekas luka di lengannya.
"Pertempurannya sengit. Banyak yang mulai waswas keluarga Volturi bakal kembali.
Dari 23 anggota asli, akulah satu-satunya yang selamat dalam delapan belas bulan
pertama. Kami menang dan kalah. Nettie dan Lucy akhirnya berbalik melawan Maria
- tapi dalam pertempuran itu kami menang.
"Maria dan aku berhasil mempertahankan Monterrey. Suasana sedikit tenang,
walaupun perang terus berlanjut. Keinginan menguasai sudah tidak ada; kebanyakan
hanya keinginan membalas dendam dan bermusuhan. Banyak sekali yang kehilangan
pasangan, dan itu adalah hal yang tidak bisa dimaafkan kaum kami...
"Maria dan aku selalu menyiapkan kira-kira selusin vampir baru untuk berjaga-
jaga. Mereka tidak berarti bagi kami - mereka hanya pion, bisa digonta-ganti.
Kalau sudah tidak berguna lagi, kami benar-benar membuang mereka. Hidupku
berlanjut dalam pola kekerasan dan tahun-tahun pun berlalu. Aku muak pada semua
itu untuk waktu yang sangat lama sebelum ada perubahan...
"Beberapa dekade kemudian aku menjalin persahabatan dengan vampir baru yang
tetap berguna dan selamat melewati tiga tahun pertamanya meskipun kemungkinannya
sangat kecil. Namanya Peter. Aku menyukai Peter; dia beradab-kurasa itulah
istilah yang tepat. Dia tidak suka bertarung, walaupun dia bisa melakukannya
dengan baik. "Dia ditugaskan menangani para vampir baru - menjaga mereka, bisa dibilang
begitu. Itu tugas yang berat.
"Kemudian tiba saatnya melakukan pembersihan lagi. Kekuatan para vampir baru itu
sudah habis; sudah waktunya mereka diganti. Peter seharusnya membantu aku
menyingkirkan mereka. Kami menghabisi mereka secara individu, kau mengerti kan,
satu per satu. Tugas itu sangat berat. Kali ini dia berusaha meyakinkan aku ada
beberapa yang memiliki potensi, tapi Maria sudah menginstruksikan agar kami
menghabisi mereka semua. Jadi kubilang tidak padanya.
"Kira-kira baru setengah perjalanan, aku bisa merasakan tugas semacam ini mulai
membebani batin Peter. Aku sedang menimbang-nimbang apakah sebaiknya aku
menyuruhnya pergi saja dan menyelesaikan tugas ini sendirian waktu aku memanggil
korban berikutnya. Yang mengagetkan, Peter tiba-tiba marah, mengamuk. Aku
bersiap-siap menghadapi suasana hati apa pun yang mungkin dibayangkannya - dia
petarung hebat, tapi dia bukan tandinganku.
"Vampir baru yang kupanggil wanita, baru saja melewati tahun pertamanya. Namanya
Charlotte. Perasaan Peter berubah begitu wanita itu muncul; perasaan itulah yang
membuatku mengetahui niat Peter sesungguhnya. Peter berteriak, menyuruh wanita
itu lari, lalu dia sendiri menyusul. Sebenarnya aku bisa saja mengejar mereka,
tapi itu tidak kulakukan. Aku merasa... enggan menghabisinya. "Maria kesal
padaku gara-gara itu... "Lima tahun kemudian Peter diam-diam kembali menemuiku. Waktu yang dia pilih
untuk kembali sungguh tepat.
"Maria bingung melihat pikiranku yang semakin memburuk. Dia tidak pernah sedikit
pun merasa depresi, dan aku sendiri penasaran kenapa aku berbeda. Aku mulai
menyadari perubahan emosinya bila Maria berada di dekatku - kadang-kadang ada
perasaan takut... dan benci - perasaan yang sama yang memberiku peringatan dini
waktu Nettie dan Lucy menyerang. Aku sedang bersiap-siap menghabisi satu-satunya
sekutuku, inti eksistensiku, waktu Peter kembali.
"Peter menceritakan kehidupan barunya bersama Charlotte, menceritakan opsi-opsi
yang sebelumnya tak pernah terbayangkan bisa kumiliki. Selama lima tahun mereka
tidak pernah berperang, walaupun mereka bertemu banyak vampir lain di Utara.
Vampir-vampir lain yang bisa hidup berdampingan tanpa bertempur terus-menerus.
"Dalam obrolan itu, dia berhasil meyakinkanku. Aku siap pergi, dan entah mengapa
lega karena tidak harus membunuh Maria. Aku sudah menjadi pendampingnya selama
sekian tahun. hampir selama Carlisle dan Edward, namun ikatan batin kami tidak
sekuat mereka. Kalau kau hidup untuk bertarung, untuk pertumpahan darah,
hubungan yang terbentuk sangat rentan dan mudah dihancurkan. Aku pergi tanpa
menoleh lagi ke belakang.
"Aku berkelana bersama Peter dan Charlotte selama beberapa tahun, menjajaki
dunia baru yang lebih damai ini. Tapi depresiku tak kunjung hilang. Aku tidak
mengerti apa yang salah dengan diriku, sampai Peter menyadari perasaan depresi


Gerhana Eclipse Twilight Buku Ke 3 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

itu semakin menjadi-jadi setiap kali aku selesai berburu.
"Aku merenung memikirkannya. Sekian tahun membantai dan membunuh, aku nyaris
kehilangan semua rasa perikemanusiaanku. Tak diragukan lagi aku adalah mimpi
buruk, monster paling kejam. Meski begitu, setiap kali aku menemukan korban
manusia lain, aku kembali teringat kehidupanku yang dulu. Ketika melihat mereka
membelalak takjub pada ketampananku, aku seperti bisa melihat Maria dan yang
lain-lain dalam pikiranku, bagaimana mereka terlihat olehku pada malam terakhir
aku menjadi Jasper Whitlock. Perasaan itu lebih kuat bagiku -kenangan buruk ini
- daripada bagi orang lain. karena aku bisa merasakan semua yang dirasakan calon
korbanku. Dan aku merasakan emosi mereka waktu aku membunuh mereka,
"Kau sudah pernah mengalami sendiri bagaimana aku bisa memanipulasi emosi di
sekitarku, Bella. tapi aku tak tahu apakah kau sadar perasaan-perasaan yang ada
dalam ruangan itu juga mempengaruhiku. Setiap hari aku hidup dalam iklim emosi.
Selama seabad pertama kehidupanku; aku hidup di dunia yang dipenuhi aksi balas
dendam yang haus darah. Kebencian adalah pendamping tetapku. Kebencian itu
sedikit berkurang setelah aku meninggalkan Maria, tapi aku masih harus merasakan
kengerian dan ketakutan korbanku.
"Aku mulai tak sanggup lagi menanggungnya.
"Depresiku semakin parah, dan aku menjauh dari Peter dan Charlotte. Walaupun
beradab, mereka tidak merasakan keengganan yang mulai kurasakan. Mereka hanya
menginginkan kedamaian dari perang. Sementara aku lelah merasakan keharusan
membunuh - membunuh siapa saja, bahkan manusia biasa sekalipun,
"Meski begitu, aku harus terus membunuh. Apa lagi pilihan yang kumiliki" Aku
berusaha mengurangi frekuensinya, tapi akibatnya aku sangat kehausan hingga
akhirnya harus menyerah. Setelah seabad merasakan kepuasan instan, aku mendapati
bahwa mendisiplinkan diri itu... menantang. Aku masih belum bisa
menyempurnakannya." Jasper terhanyut dalam kisahnya, begitu juga aku. Jadi aku kaget bukan main
waktu ekspresi muram Jasper mendadak berubah menjadi senyum penuh damai.
"Aku sedang di Philadelphia. Muncul badai besar, dan aku keluar pada siang hari
- sesuatu yang belum sepenuhnya bisa kujalani dengan nyaman. Aku tahu berdiri di
tengah hujan akan menarik perhatian, maka aku pun merunduk dan memasuki restoran
kecil yang separuh kosong. Warna mataku cukup gelap, jadi tidak ada yang akan
memerhatikan, walaupun itu berarti aku sedang dahaga, dan itu sedikit membuatku
khawatir. "Dia ada di sana - menungguku, tentu saja," Jasper terkekeh. "Dia melompat dari
bangku tinggi di konter begitu aku masuk dan langsung menghampiriku.
"Aku syok. Aku tak yakin apakah wanita itu bermaksud menyerangku. Itu satu-
satunya interpretasi dari sikapnya, akibat dari masa laluku yang suram. Tapi
wanita itu tersenyum. Dan berbagai emosi yang terpancar dari dalam dirinya sama
sekali tidak seperti yang pernah kurasakan sebelumnya.
"'Kau membuatku menunggu lama sekali,' katanya."
Aku tidak sadar Alice datang dan berdiri di belakangku lagi.
"Dan kau menundukkan kepala, seperti lazimnya lelaki Selatan baik-baik, dan
menjawab, Maafkan saya, Ma'am,'" Alice tertawa mengenangnya.
Jasper menunduk dan tersenyum padanya. "Kau mengulurkan tangan, dan aku
menyambutnya tanpa perlu berpikir. Untuk pertama kali dalam kurun waktu hampir
seabad, aku merasa ada harapan."
Jasper meraih tangan Alice sambil bicara,
Alice nyengir. "Aku hanya lega. Kupikir kau tidak akan pernah muncul."
Mereka saling tersenyum lama sekali, kemudian Jasper menoleh lagi padaku,
ekspresi lembut masih menggayuti wajahnya.
"Alice menceritakan apa yang ia lihat tentang Carlisle dan keluarganya. Aku
nyaris tak percaya ada vampir yang bisa hidup seperti itu. Tapi Alice membuatku
optimis. Maka kami pun pergi mencari mereka."
"Membuat mereka ketakutan setengah mati juga," imbuh Edward, memutar bola
matanya kepada Jasper sebelum berpaling kepadaku untuk menjelaskan. "Emmett dan
aku sedang berburu. Jasper muncul, tubuhnya dipenuhi bekas luka akibat
peperangan, membawa makhluk kecil aneh ini" - disikutnya Alice dengan bercanda -
"yang menyapa mereka semua dengan nama masing-masing, tahu segala sesuatu
mengenai mereka, dan ingin tahu dia bisa menempati kamar yang mana."
Alice dan Jasper tertawa berbarengan dalam harmonisasi suara yang kompak, sopran
dan bass. "Dan sesampainya aku di rumah, semua barang-barangku sudah di garasi," sambung
Edward. Alice mengangkat bahu. "Kamarmu kan yang memiliki pemandangan paling indah."
Mereka semua tertawa berbarengan.
"Bagus sekali ceritanya," kataku.
Tiga pasang mata menatapku, mempertanyakan kewarasanku.
"Maksudku bagian terakhir," aku membela diri, "Akhir yang membahagiakan dengan
hadirnya Alice." "Alice memang membawa perubahan." Jasper setuju. "Iklim seperti inilah yang
kusenangi" Namun selingan tadi tak dapat mengurangi ketegangan yang telanjur tercipta.
"Satu pasukan," bisik Alice. "Kenapa kau tidak memberitahuku?"
Yang lain kembali menyimak pembicaraan kami, mata mereka terpaku di wajah
Jasper. "Kupikir aku pasti salah menerjemahkan pertanda-pertanda yang ada.
Karena, apa motifnya" Untuk apa seseorang membentuk pasukan di Seattle" Tidak
ada sejarah perselisihan di sana, tidak ada balas dendam. Tidak masuk akal bila
melihatnya dari sudut pandang untuk menguasai satu wilayah juga; karena memang
tidak ada yang mengklaim wilayah itu, Kaum nomaden hanya melewatinya, jadi tidak
ada pihak yang perlu dilawan. Tidak perlu membela diri terhadap apa pun.
"Tapi aku pernah melihat hal seperti ini sebelumnya, dan tidak ada penjelasan
lain. Ada sepasukan vampir baru di Seattle. Kurang dari dua puluh, menurut
perkiraanku. Sulitnya, mereka benar-benar tidak dilatih. Siapa pun yang
menjadikan mereka, membiarkan mereka berkeliaran begitu saja. Ini hanya akan
bertambah parah, dan tidak lama lagi,
keluarga Volturi pasti akan turun tangan. Sebenarnya, aku justru heran mereka
membiarkan masalah ini berlarut-larut begitu lama."
"Apa yang bisa kita lakukan?" tanya Carlisle.
"Kalau ingin menghindari keterlibatan keluarga Volturi, kira harus mengenyahkan
vampir-vampir baru itu, dan kita harus melakukannya sesegera mungkin," Wajah
Jasper tampak keras. Setelah mengetahui riwayat hidupnya, aku bisa menduga
evaluasi ini pasti sangat merisaukan pikirannya. "Aku bisa mengajari kalian
caranya. Tidak mudah melakukannya di kota. Vampir-vampir muda ini tidak peduli
apabila keberadaan mereka diketahui orang, tapi kita harus tetap berhati-hati.
Itu membatasi gerak-gerik kita dalam beberapa hal, sementara mereka tidak.
Mungkin kita bisa merayu mereka untuk keluar dari kota."
"Mungkin itu tidak perlu." Suara Edward muram, "Tidak terpikirkah oleh kalian
bahwa satu-satunya ancaman yang mungkin ada dalam wilayah ini, yang membuat
seseorang merasa perlu membentuk pasukan adalah kita sendiri"'
Mata Jasper menyipit; mata Carlisle membelalak, syok.
"Keluarga Tanya juga dekat," kata Esme lambat-lambat, tidak bisa menerima
perkataan Edward. "Para vampir baru itu tidak mengacau di Anchorage, Esme. Menurutku, kita perlu
mempertimbangkan pemikiran bahwa kitalah target mereka."
"Mereka tidak mengincar kita," Alice bersikeras, kemudian terdiam sejenak.
"Atau... mereka tidak tahu kalau mereka mengincar kita. Belum."
"Ada apa?" tanya Edward, ingin tahu sekaligus tegang.
"Apa yang kauingat?"
"Kilasan-kilasan gambar." jawab Alice. "Aku tidak bisa melihat dengan jelas
kalau berusaha melihat apa yang sedang terjadi, sama sekali tidak konkret. Tapi
aku sering mendapat potongan-potongan gambar yang aneh. Tidak cukup lengkap
untuk bisa dicerna. Seolah-olah ada orang yang berubah pikiran, beralih dari
satu tindakan ke tindakan lain begitu cepat sehingga aku tak bisa melihat dengan
jelas... " "Bimbang?" tanya Jasper tak percaya.
"Entahlah... " "Bukan bimbang." geram Edward. "Tapi tahu. Seseorang yang tahu kau tidak bisa
melihat apa-apa sampai suatu keputusan diambil. Seseorang yang bersembunyi dari
kita. Bermain-main dengan celah dalam visimu."
"Siapa yang tahu tentang hal itu?" bisik Alice.
Mata Edward sekeras es. "Aro mengenalmu sebaik kau mengenal dirimu sendiri."
"Tapi aku pasti bisa melihatnya kalau mereka memutuskan untuk datang... "
"Kecuali mereka tidak ingin tangan mereka kotor."
"Balas budi," Rosalie memberi masukan, untuk pertama kalinya angkat bicara.
"Seseorang di Selatan... seseorang yang sudah melanggar aturan, Seseorang yang
seharusnya dihancurkan tapi diberi kesempatan kedua - asalkan mereka bersedia menangani
persoalan kecil ini... Itu bisa menjelaskan respons keluarga Volturi yang
terkesan lambat." "Kenapa?" tanya Carlisle, masih syok. "Tidak ada alasan bagi keluarga Volturi-"
"Tentu saja ada," sela Edward pelan. "Tapi aku heran ini terjadi begitu cepat,
karena pikiran -pikiran lainnya lebih kuat. Dalam benak Aro, dia melihatku di
satu sisi, dan Alice di sisinya yang lain. Masa sekarang dan masa depan,
kemahatahuan sejati. Berkuasa atas pikiran membuat Aro tergiur. Kukira butuh
waktu jauh lebih lama baginya untuk menjalankan rencana itu - dia terlalu
menginginkannya. Tapi dia juga memikirkanmu, Carlisle, memikirkan keluarga kita,
yang semakin lama semakin kuat dan besar. Dia merasa iri sekaligus takut: kau
memiliki... tak lebih daripada yang dimilikinya, memang, tapi kau memiliki hal-hal yang dia inginkan.
Dia mencoba untuk tidak memikirkannya, tapi tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan
keinginan itu. Ide untuk mengenyahkan
saingan ada dalam benaknya; selain mereka, keluarga kita adalah kelompok
terbesar yang pernah mereka temui..."
Kutatap wajah Edward dengan ngeri. Ia tak pernah menjelaskannya, tapi kurasa aku tahu alasannya. Aku bisa membayangkannya sekarang,
mimpi Aro. Edward dan Alice mengenakan jubah hitam berkibar-kibar, berjalan
mendampingi Aro dengan sorot mata dingin dan merah darah...
Carlisle membuyarkan lamunan seramku. "Mereka terlalu berkomitmen dengan misi
mereka. Mereka takkan pernah melanggar aturan mereka sendiri. Itu bertentangan
dengan segala sesuatu yang selama ini mereka kerjakan."
"Mereka bisa membersihkannya sesudahnya. Pengkhianatan ganda," tukas Edward
muram. "Tak ada yang dirugikan."
Jasper mencondongkan tubuh ke depan, menggeleng-geleng. "Tidak, Carlisle benar.
Keluarga Volturi tidak pernah melanggar aturan. Apalagi, ini terlalu sembrono.
Orang... ini, ancaman ini - mereka tak tahu apa yang mereka lakukan. Pasti
pelakunya baru pertama kali melakukan ini, aku berani bersumpah. Aku tidak
percaya keluarga Volturi terlibat. Tapi mereka akan terlibat."
Mereka berpandang-pandangan, membeku akibat perasaan tertekan,
"Kalau begitu, mari kita pergi," Emmett nyaris meraung. "Tunggu apa lagi?"
Carlisle dan Edward berpandang-pandangan. Edward mengangguk satu kali.
"Kau harus mengajari kami, Jasper," kata Carlisle akhirnya, "Bagaimana
menghancurkan mereka." Dagu Carlisle mengeras, tapi bisa kulihat sorot kepedihan
di matanya waktu ia mengucapkan kata-kata itu. Carlisle paling tidak menyukai
kekerasan. Ada hal lain yang mengganggu pikiranku, tapi entah apa, aku sendiri
tak tahu. Aku merasa kebas, ngeri, sangat ketakutan. Meski begitu di balik semua
itu aku bisa merasakan ada hal penting yang luput dari perhatianku. Sesuatu yang
masuk akal di tengah segala kekacauan ini. Sesuatu yang bisa memperjelas
keadaan. "Kita membutuhkan bantuan," kata Jasper. "Apa menurutmu keluarga Tanya mau..."
Lima vampir dewasa lain akan membuat perbedaan besar. Kate dan Eleazar terutama
akan sangat menguntungkan pihak kita. Akan mudah sekali, dengan bantuan mereka."
"Nanti akan kita tanyakan," jawab Carlisle. Jasper mengulurkan ponsel. "Kita
harus bergegas." Belum pernah aku melihat Carlisle yang biasanya tenang terguncang. Ia menerima
ponsel dari tangan Jasper, lalu berjalan ke arah deretan jendela. Ia menghubungi
sebuah nomor, menempelkan ponsel ke telinga, dan menumpangkan tangannya ke kaca.
Matanya menatap pagi yang berkabut dengan ekspresi pedih dan ambivalen.
Edward meraih tanganku dan menarikku ke sofa putih.
Aku duduk di sebelahnya, memandangi wajahnya sementara Edward menatap Carlisle.
Suara Carlisle rendah dan cepat, sulit didengar. Kudengar ia menyapa Tanya,
kemudian menjelaskan situasinya dengan kecepatan tinggi, terlalu cepat untuk
kumengerti, meski kentara sekali para vampir Alaska mengetahui apa yang terjadi
di Seattle. Mendadak nada suara Carlisle berubah.
"Oh," ucapnya, suaranya terdengar lebih tajam karena terkejut. "Kami tidak
mengira kalau... Irina merasa seperti itu."
Edward mengerang di sampingku dan memejamkan mata. "Brengsek... Terkutuklah
Laurent di tempatnya di neraka terdalam sekarang."
"Laurent?" bisikku, darah langsung surut dari wajahku, tapi Edward tidak
merespons, perhatiannya tertuju pada pikiran-pikiran Carlisle.
Perjumpaan singkatku dengan Laurent awal musim semi lalu masih segar dalam
ingatanku. Aku masih ingat setiap kata yang ia ucapkan sebelum diinterupsi Jacob
dan kawanannya. Seonarnya kedatanganku ke sini adalah untuk membantunya...
Victoria. Laurent adalah manuver pertama Victoria - ia mengirim Laurent untuk
melakukan observasi, untuk melihat apakah sulit menemukanku. Hanya saja Laurent
tidak selamat dari terkaman serigala-serigala sehingga tidak bisa melapor
kembali pada Victoria. Walaupun tetap memelihara hubungan dengan Victoria setelah kematian James,
Laurent juga menjalin ikatan dan hubungan baru. Ia sempat tinggal bersama
keluarga Tanya di Alaska - Tanya si pirang stroberi - teman-teman terdekat
keluarga Cullen di dunia vampir, praktis sudah seperti keluarga besar. Laurent
tinggal bersama mereka selama hampir satu tahun sebelum kematiannya.
Carlisle masih terus bicara, suaranya tidak terdengar memohon-mohon. Persuasif
tapi sedikit tajam. Kemudian mendadak nada tajam itu menggantikan nada
persuasif. "Tak diragukan lagi," tukas Carlisle kaku. "Kami memiliki kesepakatan. Mereka
tidak melanggarnya, begitu juga kami. Aku ikut prihatin mendengarnya... tentu
saja. Kalau begitu kami akan berusaha sendiri." Carlisle menutup telepon tanpa
menunggu jawaban. Matanya masih terus menerawangi kabut di luar sana.
"Ada apa?" gumam Emmett kepada Edward.
"Ternyata hubungan Irina dengan teman lama kita Laurent lebih dari teman biasa.
Sekarang Irina mendendam pada para serigala karena membunuh Laurent untuk
menyelamatkan Bella. Jadi dia ingin -" Edward terdiam, menunduk menatapku.
"Teruskan," ujarku dengan nada sedatar mungkin. Mata Edward mengeras. "Dia ingin
membalas dendam. Menghabisi kawanan serigala itu. Mereka mau membantu asal kita
mengizinkan mereka menyerang kawanan serigala."
"Tidak!" aku terkesiap.
"Jangan khawatir," sergah Edward dengan suara datar. "Carlisle takkan pernah
mengizinkan hal itu." Edward ragu-ragu sejenak, lalu mengembuskan napas. "Begitu
juga aku. Laurent sendiri yang mencari masalah" - ini nyaris berupa geraman -
"dan aku tetap berutang budi pada para serigala karena telah menyelamatkanmu."
"Wah, ini gawat," keluh Jasper. "Pertarungannya terlalu seimbang. Kita memang
lebih terampil daripada mereka, tapi jumlah kita tidak melebihi mereka. Kita
bisa menang, tapi berapa harga yang harus kita bayar?" Matanya yang tegang
berkelebat ke wajah Alice, lalu ia berpaling lagi.
Ingin rasanya aku menjerit sekeras-kerasnya waktu menyadari maksud Jasper.
Kita bisa menang, tapi juga bisa kalah. Sebagian mungkin akan jadi korban.
Aku memandang berkeliling, ke wajah-wajah mereka Jasper, Alice, Emmett, Rose,
Esme, Carlisle... Edward - wajah-wajah keluargaku.
14. DEKLARASI "BERCANDA kau," sergahku pada hari Rabu Siang.
"Kau benar-benar sudah kehilangan akal!"
"Terserah apa katamu," sahut Alice. "Pokoknya pestanya tetap jalan."
Kupandangi dia, mataku membelalak tak percaya hingga rasanya bola mataku nyaris
copot dari rongganya dan mendarat di nampan makan siangku.
"Oh, tenanglah, Bella! Tidak ada alasan untuk membatalkan pesta. Lagi pula,
undangannya kan sudah disebar."
"Tapi... itu... kan... gila!"
"Kau kan sudah membelikanku hadiah," tukas Alice mengingatkan. "Jadi kau tinggal
datang." Aku berusaha keras menenangkan diri, "Menimbang semua yang terjadi saat ini,
rasanya tidak pantas kita menggelar pesta."
"Yang sedang terjadi sekarang ini adalah kelulusan, jadi justru sangat pantas
jika kita menyelenggarakan pesta sekarang."
"Alice!" Alice mendesah, dan mencoba bersikap serius. "Ada beberapa hal yang perlu kita


Gerhana Eclipse Twilight Buku Ke 3 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

bereskan sekarang, dan itu butuh waktu. Mumpung tidak ada yang bisa kita
kerjakan saat ini. Lebih baik kita rayakan saja hal yang bagus-bagus. Kau hanya
lulus SMA sekali seumur hidup - ini yang pertama kali. Kau tidak bisa menjadi
manusia lagi, Bella. Ini kesempatan sekali seumur hidup."
Edward, yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan perdebatan kecil kami,
melayangkan pandangan mengingatkan kepada Alice. Alice menjulurkan lidah
kepadanya. Ia benar - suaranya yang lembut tak mungkin terdengar orang di
tengah-tengah celotehan ribut anak-anak di kafeteria ini. Tapi kalaupun ada yang
mendengar, tak ada yang mengerti maksudnya.
"Memangnya apa yang perlu dibereskan?" tanyaku, menolak digiring ke topik lain.
Edward menjawab pelan, "Jasper menganggap kita butuh bantuan. Keluarga Tanya
satu-satunya pilihan yang kita punya. Carlisle sedang berusaha melacak
keberadaan beberapa teman lamanya, sementara Jasper mencari Peter dan Charlotte.
Dia sedang menimbang-nimbang untuk menemui Maria... tapi sebenarnya kami tak
ingin melibatkan orang-orang Selatan."
Alice bergidik pelan. "Harusnya tidak sulit meyakinkan mereka untuk membantu," lanjut Edward. "Tidak
ada yang ingin didatangi tamu dari Italia."
"Tapi teman-teman ini - mereka bukan... vegetarian, kan?" protesku, menggunakan
istilah yang dipakai keluarga Cullen untuk menjuluki diri mereka sendiri.
"Bukan." jawab Edward, tiba-tiba tanpa ekspresi. "Di sini" Di Forks?"
"Mereka teman-teman kita," Alice meyakinkanku. "Semua pasti beres. Jangan
khawatir. Apalagi, Jasper kan harus mengajari kami beberapa pelajaran tentang
cara menghabisi vampir baru... "
Mata Edward berubah cerah mendengarnya, dan senyum kecil terkuak di bibirnya.
Tiba-tiba perutku bagai dipenuhi pecahan-pecahan es kecil yang tajam.
"Kapan kalian akan pergi?" tanyaku, suaraku bergaung. Aku tak tahan
memikirkannya - bahwa mungkin ada di antara mereka yang tidak kembali. Bagaimana
kalau yang jadi korban itu Emmett, yang begitu pemberani dan sembrono hingga
tidak pernah mau berhati-hati sedikit pun!'
Atau Esme, begitu manis dan keibuan, yang tak kubayangkan bisa bertarung" Atau
Alice, begitu mungil dan tampak sangat rapuh" Atau... tapi aku bahkan tak bisa
memikirkan namanya, meskipun hanya mempertimbangkan kemungkinannya.
"Satu minggu," ujar Edward dengan sikap biasa -biasa saja, "Waktunya cukup untuk
kita." Serasa ada serpihan-serpihan es menusuk-nusuk perutku. Aku mendadak mual.
"Kelihatannya kau pucat sekali, Bella." Alice berkomentar.
Edward memeluk bahuku dan menarikku erat-erat ke sisinya. "Semua pasti beres,
Bella. Percayalah padaku."
Tentu, pikirku. Percaya padanya. Kan bukan dia yang bingung memikirkan apakah
orang yang menjadi inti eksistensinya bisa kembali atau tidak.
Dan mendadak aku mendapat ilham. Mungkin aku tidak perlu duduk menunggu mereka.
Satu minggu lebih dari cukup.
"Kalian butuh bantuan." ujarku pelan,
"Benar," Alice menelengkan kepala ke satu sisi sementara ia mencerna perubahan
nada suaraku. Aku hanya memandanginya saat menjawab. Suaraku hanya sedikit lebih keras
daripada bisikan. "Aku bisa membantu."
Tubuh Edward mendadak kaku, lengannya memelukku kelewat erat, Ia mengembuskan
napas, dan suaranya berupa desisan.
Namun Alice-lah, masih terap tenang, yang menjawab. "Itu malah tidak akan
membantu" "Kenapa tidak?" bantahku; bisa kudengar nada putus asa dalam suaraku. "Delapan
kan lebih baik daripada tujuh. Waktunya lebih dari cukup."
"Tidak cukup waktu untuk membuatmu bisa membantu kami, Bella," Alice membantah
dengan nada dingin. "Ingatkah kau bagaimana Jasper menggambarkan vampir-vampir muda itu" Kau tidak
bakal bisa bertempur. Kau tidak akan bisa mengontrol instingmu, dan itu hanya
akan membuatmu menjadi sasaran empuk. Dan bisa-bisa Edward celaka saat berusaha
melindungimu." Ia bersedekap, puas dengan logikanya yang tak terbantahkan.
Dan aku tahu Alice benar. Aku duduk merosot di kursiku, harapanku yang tiba-tiba
muncul seketika lenyap. Di sampingku, Edward kembali rileks.
Ia berbisik di telingaku, "Yang penting bukan karena kau takut."
"Oh." ucap Alice, ekspresi kosong mendadak melintasi wajahnya. Sejurus kemudian
ekspresinya berubah kecut.
"Aku paling tidak suka kalau ada yang batal di saat-saat terakhir. Berarti
jumlah tamunya berkurang jadi 65..."
"Enam puluh lima!' Sekali lagi aku membelalakkan mata.
Aku bahkan tidak punya teman sebanyak itu, Memangnya aku kenal sebegitu banyak
orang" "Siapa yang batal?" tanya Edward, tidak menggubrisku. "Renee."
"Apa?" aku terkesiap kaget.
"Sebenarnya dia berniat memberimu kejutan saat kelulusan nanti, tapi mendadak
ada masalah. Kau akan mendapat pesan darinya di rumah nanti."
Sesaat kubiarkan diriku menikmati perasaan lega. Apa pun masalah yang dihadapi
ibuku sekarang, aku benar-benar bersyukur. Kalau saja ia datang ke Forks
sekarang aku tak ingin memikirkannya. Bisa-bisa kepalaku meledak.
Lampu pesan di pesawat telepon berkedip-kedip sesampainya aku di rumah.
Kelegaanku kembali membuncah saat mendengar penjelasan ibuku mengenai kecelakaan
yang dialami Phil di lapangan bola - saat mendemonstasikan gerakan meluncur, ia
bertabrakan dengan pemain lain dan tulang pahanya parah, Phil benar-benar
bergantung pada ibuku sekarang, jadi tidak mungkin ia bisa meninggalkannya.
Ibuku masih terus meminta-minta maaf saat pesannya terputus.
"Well, berarti berkurang satu," desahku.
"Berkurang satu apa?" tanya Edward.
"Berkurang satu orang yang tidak perlu kukhawatirkan bakal terbunuh minggu ini."
Edward memutar bola matanya.
"Kenapa kau dan Alice tidak menganggap serius masalah ini?" tuntutku. "Ini
serius, tahu." Edward tersenyum. "Kepercayaan diri."
"Hebat," gerutuku. Kuraih telepon dan kuhubungi Renee.
Aku tahu ini bakal jadi obrolan panjang, tapi aku juga tahu aku tidak perlu
banyak bicara. Aku hanya mendengarkan, dan meyakinkan ibuku setiap kali bisa menyela ocehannya:
aku tidak kecewa, aku tidak marah, aku tidak sakit hati. Seharusnya ia
berkonsentrasi membantu Phil supaya cepat sembuh. Aku menitipkan salam "semoga
cepat sembuh" kepada Phil, dan berjanji akan meneleponnya dengan cerita lengkap
tentang acara kelulusan Forks High yang kampungan ini. Akhirnya, aku terpaksa
menggunakan alasan bahwa aku sangat perlu belajar untuk menghadapi ujian akhir
agar bisa menyudahi telepon.
Kesabaran Edward sungguh luar biasa. Ia menunggu dengan sopan sementara aku
meladeni ocehan ibuku, hanya memainkan rambutku dan tersenyum setiap kali aku
mendongak. Mungkin konyol memerhatikan hal semacam itu padahal ada hal-hal lain
yang lebih penting untuk dipikirkan, tapi senyum Edward tetap sanggup membuat
napasku tertahan. Ia sangat tampan hingga terkadang sulit memikirkan hal lain,
sulit berkonsentrasi pada masalah Phil atau permintaan maaf Renee atau pasukan
vampir keji. Aku hanya manusia biasa. Begitu menutup telepon, aku berjinjit
menciumnya. Edward memeluk pinggangku dengan kedua tangannya dan mengangkatku ke atas konter
dapur, supaya aku tak perlu berjinjit. Kurangkul lehernya dan melebur di dadanya
yang dingin. Seperti biasa, belum apa-apa Edward sudah menarik diri.
Aku merasakan wajahku menekuk cemberut, Edward tertawa melihat ekspresiku
sementara ia melepaskan diri dari belitan lengan dan kakiku. Ia bersandar di
konter, bersebelahan denganku, dan memeluk bahuku.
"Aku tahu menurutmu aku memiliki pengendalian diri yang kuat dan tak
tergoyahkan, tapi sebenarnya tidak"
"Seandainya saja begitu," aku mendesah, Dan ia ikut-ikutan mendesah.
"Sepulang sekolah besok," kata Edward, mengganti topik, "aku akan pergi berburu
dengan Carlisle, Esme, dan Rosalie. Hanya beberapa jam - kami takkan pergi jauh-
jauh, Alice, Jasper, dan Emmett pasti bisa menjagamu."
"Ugh," gerutuku. Besok hari pertama ujian akhir, jadi hanya setengah hari. Besok
aku ujian Kalkulus dan Sejarah - keduanya tantangan bagiku - jadi hampir
seharian besok aku akan sendirian, tak melakukan apa-apa kecuali merasa
khawatir. "Aku tidak suka dijaga."
"Kan hanya untuk sementara," janji Edward.
"Jasper pasti bosan setengah mati. Dan Emmett pasti akan mengejekku."
"Mereka pasti akan bersikap sangat baik." "Hah, yang benar saja." gerutuku.
Kemudian, mendadak aku sadar aku punya pilihan lain selain dijaga. "Kau tahu aku
sudah lama tidak ke La Push, semenjak acara api unggun waktu itu."
Kuamati wajah Edward dengan saksama, melihat kalau-kalau ada perubahan ekspresi.
Mata Edward sedikit mengeras.
"Aku cukup aman di sana," kuingatkan dia.
Edward berpikir sebentar, "Mungkin kau benar;" Wajahnya tenang, namun sedikit
terlalu datar. Hampir saja aku bertanya apakah ia lebih suka aku tetap di sini,
tapi kemudian terbayang olehku ejekan-ejekan yang sudah pasti akan dilontarkan
Emmett padaku. "Memangnya kau sudah haus lagi?" tanyaku, mengulurkan tangan dan mengusap-usap
bayangan samar di bawah matanya. Iris matanya masih emas tua.
"Tidak juga," Edward sepertinya enggan menjawab, dan itu membuatku kaget. Aku
menunggu penjelasan darinya.
"Kami ingin tetap sekuat mungkin," Edward menjelaskan. "Mungkin kami akan
berburu lagi dalam perjalanan nanti, mencari buruan besar."
"Itu akan membuatmu lebih kuat?"
Edward mengamari wajahku, seolah mencari sesuatu, tapi tidak ada apa-apa di sana
kecuali keingintahuan. "Ya." jawab Edward akhirnya. "Darah manusia adalah yang paling kuat, meski hanya
sedikit. Jasper sempat berpikir untuk melakukan pengecualian sekali ini saja
-walaupun dia tidak menyukai ide itu, namun demi alasan kepraktisan - tapi dia
tidak mau menyarankannya. Dia tahu apa yang akan dikatakan Carlisle nanti."
"Apakah itu bisa membantu?" tanyaku pelan.
"Tak ada bedanya. Kami takkan mengubah jati diri kami." Aku mengerutkan kening.
Kalau ada yang bisa membantu, meskipun kemungkinannya kecil... kemudian aku
bergidik, sadar bahwa aku rela seseorang yang tidak kukenal mati demi melindungi
Edward. Aku ngeri pada diriku sendiri, tapi tak sepenuhnya sanggup
menyangkalnya. Edward mengganti topik lagi. "Itulah sebabnya mereka sangat kuat, tentu saja.
Para vampir baru itu penuh darah manusia - darah mereka sendiri, bereaksi
terhadap perubahan. Darah itu bertahan dalam jaringan tubuh mereka dan
menguatkan mereka. Tubuh mereka menghabiskannya pelan-pelan, seperti pernah
dikatakan Jasper, kekuatan itu mulai memudar setelah kira-kira satu tahun."
"Seberapa kuat aku nantinya?"
Edward nyengir. "Lebih kuat daripada aku."
"Lebih kuat daripada Emmett?"
Seringaiannya semakin lebar, "Ya. Coba tantang dia adu panco nanti. Dia akan
belajar banyak dari pengalaman itu."
Aku tertawa. Kedengarannya konyol sekali.
Lalu aku mendesah dan melompat dari konter, karena aku benar-benar tak bisa
menundanya lebih lama lagi. Aku harus belajar sungguh-sungguh. Untunglah aku
dibantu Edward, dan Edward sangat pandai mengajar - apalagi ia tahu banyak hal.
Kurasa masalah terbesarku hanya memfokuskan diri pada ujian-ujian nanti. Kalau
tidak hati-hati bisa-bisa aku menulis esai Sejarah tentang perang
vampir di daerah Selatan.
Aku menyempatkan diri menelepon Jacob, dan Edward tampak biasa-biasa saja
seperti waktu aku menelepon Renee tadi. Ia memainkan rambutku lagi.
Walaupun saat ini siang bolong, teleponku membangunkan Jacob, dan awalnya ia
sempat jengkel. Ia langsung girang waktu aku bertanya apakah aku bisa datang ke
rumahnya besok. Sekolah Quileute sudah mulai liburan musim panas, jadi Jacob
menyuruhku datang sepagi mungkin. Aku senang ada pilihan lain selain dijaga
seperti bayi. Rasanya masih ada sedikit harga diri bila menghabiskan waktu
bersama Jacob. Sebagian harga diri itu lenyap waktu Edward lagi-lagi bersikeras mengantarku ke
perbatasan seperti anak-anak yang diantar petugas perwalian.
"Bagaimana ujianmu tadi?" tanya Edward dalam perjalanan, berbasa-basi sedikit.
"Sejarah sih gampang, tapi entah kalau Kalkulus.
Sepertinya masuk akal, jadi itu mungkin berarti aku gagal."
Edward tertawa, "Aku yakin kau pasti lulus. Atau, kalau kau benar-benar
khawatir, aku bisa menyuap Mr. Vamer supaya memberimu nilai A."
"Eh, trims, rapi tidak usah, terima kasih."
Lagi-lagi Edward tertawa, tapi mendadak berhenti waktu kami berbelok di tikungan
terakhir dan melihat mobil merah menunggu. Keningnya berkerut penuh konsentrasi,
kemudian, saat memarkir mobilnya, ia mendesah.
"Ada apa?" tanyaku, tanganku memegang pintu.
Edward menggeleng. "Tidak apa-apa." Matanya menyipit saat memandang ke luar kaca
depan, ke mobil itu. Aku pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya.
"Kau tidak sedang mendengarkan pikiran Jacob, kan?" tuduhku.
"Tidak mudah mengabaikan orang kalau dia berteriak."
"Oh," Aku berpikir sebentar, "Apa yang dia teriakkan?" bisikku.
"Aku yakin benar dia akan mengatakannya sendiri padamu nanti," jawab Edward
masam. Sebenarnya aku berniat mendesaknya lebih jauh, tapi kemudian Jacob membunyikan
klakson - dua kali dengan nada tidak sabar.
"Itu sangat tidak sopan," geram Edward.
"Begitulah Jacob," desahku, kemudian bergegas turun sebelum Jacob melakukan
sesuatu yang bakal membuat amarah Edward meledak.
Aku melambaikan tangan kepada Edward sebelum menaiki Rabbit dan, dari kejauhan,
kelihatannya ia benar-benar kesal gara-gara masalah klakson itu... atau apa pun
yang dipikirkan Jacob. Tapi pandanganku lemah dan sering kali keliru menilai
sesuatu. Aku ingin Edward mendatangiku. Aku ingin mereka berdua turun dari mobil masing-
masing, berjabat tangan, dan berteman - menjadi Edward dan Jacob, bukan vampire
dan werewolf. Rasanya seperti memegang dua magnet keras kepala itu di tanganku
lagi, dan aku mendekatkan keduanya, berusaha memaksakan kekuatan alami mereka
agar berubah... Aku mendesah, lalu naik ke mobil Jacob.
"Hai, Bells," Nada Jake riang, tapi suaranya seperti diseret. Kuamati wajahnya
waktu ia mulai menjalankan mobil, mengemudikannya sedikit lebih cepat daripada
yang biasa kulakukan, tapi lebih lambat daripada Edward, dalam perjalanan
kembali ke La Push. Jacob terlihat berbeda, bahkan mungkin sakit, Kelopak matanya turun dan wajahnya
letih. Rambut shaggy-nya mencuat ke mana-mana; di beberapa tempat malah hampir
sampai ke dagu. "Kau baik-baik saja, Jake?"
"Hanya capek," akhirnya ia bisa menjawab setelah sebelumnya menguap lebar-lebar.
Lalu ia bertanya, "Apa yang ingin kaulakukan hari ini?"
Kupandangi ia sesaat, "Kita nongkrong dulu saja di rumahmu," aku menyarankan.
Kelihatannya Jacob tidak bisa melakukan lebih dari itu. "Nanti saja naik
motornya." "Tentu, tentu," sahutnya, lagi-lagi menguap.
Rumah Jacob kosong, dan itu terasa aneh. Sadarlah aku bahwa Billy nyaris menjadi
aksesori permanen di sana. "Mana ayahmu".
"Di rumah keluarga Clearwater. Sekarang dia sering ke sana setelah Harry
meninggal. Sue sering kesepian."
Jacob duduk di sofa tua yang tidak lebih besar daripada loveseat dan
mengenyakkan tubuhnya ke satu sisi, memberi ruang untukku.
"Oh. Baguslah. Kasihan Sue."
"Yeah... dia menghadapi banyak masalah..." Jacob ragu-ragu sejenak. "Dengan
anak-anaknya." "Tentu, pastilah berat bagi Seth dan Leah, kehilangan ayah mereka.. "
"He-eh," Jacob setuju, hanyut dalam pikirannya. Ia mengambil remote dan
menyalakan TV, sepertinya tanpa berpikir. lagi-lagi ia menguap.
"Ada apa denganmu, Jake. Kau seperti zombie."
"Aku hanya tidur kira-kira dua jam semalam dan empat jam malam sebelumnya,"
cerita Jacob. Ia meregangkan kedua lengan panjangnya lambat-lambat, dan aku bisa
mendengar sendi-sendinya berderak. Disampirkannya lengan kirinya di sepanjang
punggung sofa di belakangku, dan duduk merosot untuk menyandarkan kepalanya di
dinding. "Aku kecapekan."
"Memangnya kenapa kau tidak tidur?" tanyaku.
Jacob mengernyitkan wajah. "Sam bersikap sulit. Dia tidak percaya pada teman-
temanmu, para pengisap darah itu. Padahal aku sudah berpatroli semalaman selama


Gerhana Eclipse Twilight Buku Ke 3 Karya Stephenie Meyer di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

dua minggu dan belum ada yang menyentuhku, tapi dia masih saja tidak percaya.
Jadi untuk sementara aku sendirian."
"Berpatroli semalaman," Apa itu karena kau berusaha menjagaku" Jake, itu salah!
Kau perlu tidur. Aku tidak akan kenapa-kenapa."
"Sudahlah, tidak apa-apa," Mata Jacob mendadak tampak lebih waspada. "Hei, kau
sudah tahu siapa yang masuk ke kamarmu waktu itu" Apakah ada berita baru."
Aku tak memedulikan pertanyaan kedua. '"Tidak, kami belum menemukan apa-apa
tentang, eh, tamu kami."
"Kalau begitu aku akan tetap berjaga-jaga," kata Jacob, matanya terpejam.
"Jake.." aku mulai merengek.
"Hei, setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan, aku kan sudah menawarkan diri
melayanimu, ingat. Aku budakmu seumur hidup."
"Aku tidak mau punya budak!"
Mata Jacob tetap terpejam. "Memangnya apa yang kauinginkan, Bella?"
"Aku menginginkan temanku Jacob, dan bukan Jacob yang separo mati, menyakiti
diri sendiri dengan konyol."
Jacob memotong kata-kataku. "Begini saja, aku berharap bisa melacak keberadaan
vampir yang boleh kubunuh, oke."
Aku diam saja. Jacob menatapku, melirik untuk melihat reaksiku.
"Bercanda, Bella."
Mataku memandang lurus ke pesawat televisi.
"Jadi, ada rencana khusus minggu depan. Kau akan lulus, kan. Wow. Hebat."
Nadanya berubah datar, dan wajahnya, yang sudah nampak letih, terlihat semakin
kuyu saat matanya terpejam lagi, kali ini bukan karena kelelahan, tapi karena
penyangkalan. Sadarlah aku bahwa momen kelulusanku masih menjadi sesuatu yang
menyakitkan baginya, walaupun niatku itu sekarang terhalang.
"Tidak ada rencana istimewa," jawabku hati-hati, berharap Jacob mendengar nada
yakin dalam suaraku tanpa aku perlu menjelaskannya lebih lanjut. Aku sedang
tidak ingin membicarakannya. Pertama, karena Jacob sepertinya sedang tidak siap
membicarakan hal-hal sulit. Kedua, aku tahu ia pasti tahu aku cemas. "Well, tapi
ada pesta kelulusan yang harus kuhadiri. Pesta kelulusanku sendiri." Aku
Mentari Senja 5 Pendekar Naga Putih 12 Kelabang Hitam Rumah Bisikan 3
^