Pencarian

Si Frustasi Yang Beruntung 2

Joey Si Frustasi Yang Beruntung Karya Mark Bowden Bagian 2


Joey sangat kesal mendapati kedua temannya berubah pikiran. Ia tidak percaya
dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut John dan Jed. Ia pun marah
besar. Bagaimana bisa kedua teman baik Joey bertindak bodoh!
"Aku telah bekerja keras selama bertahun-tahun!" kata Joey. "Aku bekerja sistem
aplusan setiap delapan jam selama hidupku! Aku ketakutan dan dihantui maut yang
mengintai! Aku telah bekerja terlalu keras untuk berani mengambil risiko tidak
mempunyai apa-apa! Apakah aku harus menderita untuk selamanya?" Joey memukulkan
dengan keras kepalan tinjunya ke meja ruang tamu Masi sehingga jam tangannya
lepas dari pergelangan dan terhempas jauh di atas lantai. "Aku tidak bisa
mengembalikan uang itu kalaupun aku mau melakukannya!" Katanya. "Mafia telah
menahan uang kita, dan sangatlah tidak mungkin untuk kita mendapatkannya
kembali. Mereka sedang memproses mencuci uang itu."
"Joey, ada imbalan sebesar lima-puluh-ribu dolar," kata Jed.
"Dari siapa?" "Dari Purolator."
"Aku tidak percaya sama sekali," kata Joey. "Dengar, milik siapa sebenarnya uang
itu" Kau tentu tidak tahu. Tidak tertulis apa pun pada kantong kanvas itu
apalagi nama 'Purolator'. Di kantong itu hanya tertulis
'Federal Reserve', itu artinya Amerika. Uang itu milik negara, milik umum, milik
kita sekarang ini. Jika mereka menyinggung masalah imbalan, baiklah, kita akan
membahas tentang uang imbalan. Kalian mengerti maksudku, kan?"
John dan Jed tetap pada pendirian mereka. Cerita tentang hilangnya uang, telah
menyebar luas. Uang tersebut milik Purolator. Semua orang pun tahu. Imbalannya
$50,000 bagi siapa saja yang mengembalikannya, serta nilai yang ditawarkan
tentunya, jauh lebih besar dari pendapatan mereka selama ini.
Joey mengejek tingkah polah kedua temannya. "Aku tidak akan mengembalikan uang
itu!" Katanya. "Lima puluh ribu. Apa artinya lima puluh ribu dolar" Bukankah kita memiliki
lebih dari satu juta dolar?"
Joey menekankan, perlu waktu dua hari lagi sebelum ia bisa melarikan din ke
tempat yang jauh dan aman. Katanya, ia akan pergi ke luar negeri, setelah uang
dipecah, ia akan mengatur rencana perjalanannya. Ia akan memberikan jatah kedua
temannya dan mereka boleh melakukan apa saja, namun dalam situasi separah apa
pun, Joey tidak akan pernah sudi mengembalikan uang tersebut. Lalu ia memberi
keduanya masing-masing seratus dolar dan berpesan untuk tidak membelanjakannya
sebelum ia pergi dari sana.
Hal itu tentu saja sama sekali tidak memberi kepuasan pada John dan Jed sama
sekali. Mereka tahu, hadiah dari Purolator jauh lebih besar dari sekadar seratus
dolar, belum lagi kalau berbicara mengenai bagian keduanya atas temuan uang itu.
Mereka lalu berkata, dua ratus dolar untuk dua orang saat itu, tentu saja tidak
akan mampu membungkam mulut keduanya lebih lama lagi. Joey merasa sakit hati dan
marah. Joey berjanji akan segera memberikan bagian kedua temannya dengan adil.
"Dengar, aku akan bertemu kalian malam minggu di Dick's Lee, tepat tengah malam.
Aku akan memberikan jatah kalian berdua. Setelah itu, aku tidak akan peduli lagi
apa pun yang akan kalian lakukan. Mafia telah melibatkan diri dalam urusan kita.
Jika kalian berani menyebutkan namaku pada polisi, aku tidak segan-segan
menembak kepala kalian. Jika kalian pergi melapor pada polisi saat ini juga,
kalian berdua akan mati. Jika bukan aku yang melakukannya, maka seseorang akan
melakukannya untukku."
Selesai mengancam, Joey pergi meninggalkan mereka. Mike mengikutinya menuju El
Dorado. Ketika keduanya telah berada di dalam mobil, Joey merabai sakunya dan
tidak mendapati kunci mobil. Kunci El Dorado hilang. John dan Jed keluar dari
rumah Masi. Mereka berdua hanya terdiam melihat Joey yang turun dari mobil, dan
kembali melangkah memasuki rumah sembari menggerutu dengan maksud untuk mencari
kunci. Mike menghampiri John dan Jed yang terlihat sangat ketakutan.
"Dia memang gila," kata John. "Tidak ada gunanya bicara pada orang itu."
Joey akhirnya dapat menemukan kunci El Dorado yang tergeletak di jok belakang.
Ia mengantar Mike ke rumahnya di Wolf Street dan kembali untuk menjemput Linda,
serta mampir di rumah kakak perempuannya, Ellen. Ia terlebih dulu berjanji pada
Mike untuk kembali menemuinya dalam dua jam.
Ketika Mike tiba di rumahnya, ia menyempatkan diri mengintip isi koper hitam
yang ditaruh Joey di lemari depan. Memang benar! Joey Coyle, dialah orangnya,
yang sedang heboh dibicarakan seluruh masyarakat saat ini.
6 Bagi Jack Durwood, yang bekerja sebagai sekuriti di perusahaan Purolator, dua
puluh empat jam terakhir dalam hidupnya, tak ubahnya seperti mimpi buruk.
Bagaimana bisa kau kehilangan uang sebanyak jutaan dolar dengan begitu saja"
Apakah tidak ada cara yang lebih buruk dari menghilangkan uang dengan cara
menjatuhkannya dari pintu belakang mobil boks" Dan mana kau akan memulai mencari
siapa badut pelakunya. Durwood adalah seorang pria pendiam, kepalanya botak, serta tubuhnya kekar dan
tegap, penampilannya cocok untuk menghiasi halaman
"depan" majalah bodybuilding. Ia seorang veteran perang Vietnam, Pasukan Khusus
Angkatan Darat Amerika, yang dulu sering direndahkan masyarakat.
Mengurusi keamanan di sebuah perusahaan pengantar uang jutaan dolar milik para
klien dari perusahaan-perusahaan pelanggan lain, tentu saja tidak sama dengan
urusan militer apalagi untuk seorang pensiunan sepertinya.
Durwood selalu menyenangi tantangan, tetapi kasus yang satu ini sangatlah buruk.
Sedikit sekali petunjuk yang sekaligus, membuatnya kesukaran untuk melacak uang
yang hilang. Menjelang matahari terbenam sore itu, Durwood menerima telepon di rumahnya, isi
berita yang disampaikan penelepon, membuatnya sedikit merasa lega. Seorang
sekuriti di terminal Philadelphia meneleponnya untuk mengabari bahwa ia telah
dihubungi oleh seorang pria bernama Alan David Sihverman. Katanya ia adalah
seorang pengacara; Silverman ingin berbicara pada seseorang dari perusahaan
Purolator tentang uang yang hilang. Ia meninggalkan nomor telepon.
Durwood menyuruh sang sekuriti untuk memeriksa halaman kuning buku telepon. Nama
Alan David Silverman memang benar terdaftar sebagai seorang pengacara. Kantornya
terletak di center !important City. Jadi, pria tersebut tidak berbohong.
Durwood menelepon sang pengacara. Istri Alan menjawab teleponnya dan menjelaskan
bahwa suaminya sedang tidak di rumah dan memberitahukan suaminya tidak lama lagi
akan segera pulang. Sekitar dua puluh menit kemudian, telepon Durwood berdering.
"Klienku memiliki sekitar dua puluh lima hingga tiga puluh prosen uang Purolator
yang hilang," jelas Silverman. Ia berkata bahwa kliennya akan mengembalikan uang
itu dan, ia serta kliennya harus dibebaskan dari tuntutan hukum apa pun.
"Apa kau mewakili perusahaanmu?" Tanya Silverman.
"Ya, benar." "Kurasa klienku berhak untuk mendapatkan semacam imbalan."
Silverman mengatakan kalau kliennya tidak mungkin menyimpan uang itu terlalu
lama. Kliennya "khawatir dan tidak tenang," kata sang pengacara, "karena salah satu orang yang
terlibat dalam urusan uang itu adalah anggota sebuah organisasi kejahatan
terkuat di Philadelphia, dan akan segera melakukan penyucian uang."
"Siapa namanya?" Tanya Durwood. "Apa terkait dengan kasus Angelo Bruno?"
Silverman tidak menanggapi pertanyaan tersebut.
"Bagaimana klien Anda bisa mendapatkan uang itu?" Tanya Durwood.
Menurut pengacara Silverman, kliennya tidak berniat untuk menahan maupun
melakukan penyucian uang. Katanya bahwa kliennya secara kebetulan bertemu dengan
"orangnya" di sebuah bar pada hari Jum'at pagi.
Mereka berdua minum-minum bersama lalu kembali ke rumah kliennya untuk
menyuntikkan obat terlarang. Kemudian, setelah ia mengantar pulang pria
tersebut, pada saat itulah, kliennya menemukan bahwa "orang itu"
telah meninggalkan sebuah koper berwarna hitam dengan tidak sengaja.
Ketika ia membukanya, klienku menemukan uang sejumlah $300,000 tunai di
dalamnya. Mike DiCriscio tidak membuang-buang waktu. Dengan mengetahui sikap Joey yang
kalap, mendengar cerita tentang Sonny Ricobene darinya, dan menyaksikannya
sendiri bagaimana Joey, John, dan Jed bertengkar tentang uang temuan mereka;
Mike merasa petualangan mereka tidak akan berjalan mulus. Ketika ia mengantar
Joey ke rumah Masi dan setelah melihat uang yang disimpan Joey di lemari kamar
tamunya, Mike sudah merasa bahwa dirinya akan terlibat jauh dalam konspirasi
kejahatan yang sedang mereka lalukan. Tiba-tiba, kabar tentang uang hadiah bagi
siapa pun yang mengembalikan uang temuan milik Purolator walaupun nilainya jauh
lebih kecil menarik perhatiannya.
"Bagaimana klienmu tahu bahwa uang itu milik Purolator?" Tanya Durwood.
"Aku tidak tahu," jawab Silverman. "Kurasa 'orang itu' telah mengatakannya
sendiri pada klienku."
Durwood mengatakan pada Silverman bahwa kliennya akan mendapat imbalan sebesar
$50,000; walau jumlah uang yang dikembalikan tidak penuh. Dan, sejauh yang
diketahui sang sekuriti, Purolator tidak akan menuntut apa pun kepada siapa saja
yang mengembalikan uang tersebut.
7 Kakak perempuan Joey, Ellen, tidak mengetahui adiknya memasuki rumah.
Waktu telah menunjukkan lewat pukul delapan malam. Ellen baru menyadari
kedatangan adiknya ketika Joey memanggilnya, dan ia segera turun ke lantai
bawah. Joey tengah berdiri di sudut ruang tamu.
"Kemarilah, Ell," kata Joey.
"Ada apa, Joey?"
"Ke sini. Ada hal penting untuk dibicarakan."
Kepala Joey menunduk. Ketika Ellen menyalakan lampu ruangan, Joey menyuruhnya
untuk mematikannya kembali.
"Ada apa?" Tanya Ellen.
"Aku baik-baik saja." Joey memeluk kakaknya. "Kau adalah satu-satunya keluarga
yang kumiliki." Ellen berusaha menenangkannya. Tubuh Joey gemetar.
"Dengar," kata Joey. "Aku punya uang."
"Apa, Joey?" "Aku punya uang banyak."
"Uang apa?" "Uang Purolator itu."
"Joey, tenang. Mari minum kopi, santai, dan kita diskusikan pemecahan
masalahmu." "Tidak usah. Tetap di sini saja." "Joey."
"Uang itu ada padaku. Uang milik Purolator."
"Benarkah?" "Ya." "Mengapa tak secepatnya kau kembalikan?"
"Kembalikan" Tidak mungkin aku mengembalikannya."
"Kenapa?" "Apa kau tidak percaya bahwa ayah yang melakukannya, ayah dan Tuhan telah
mengirimnya untuk kita?"
"Joey kumohon. Tenanglah. Rileks."
"Ayah telah bekerja keras semasa hidupnya. Pikir baik-baik. Untuk apa?"
Ellen tidak menjawab pertanyaan Joey seperti itu. Ia bingung. Ellen tidak bisa
memercayai apa yang baru saja dikatakan adiknya. Joey mungkin saja sedang
berfantasi lantaran dipengaruhi obat. Juga sangat ketakutan.
Ellen berusaha mengatasi situasi yang sedang dihadapi adiknya. Ia menyarankan
agar Joey menginap di rumahnya malam itu. Paling tidak, mungkin adiknya dapat
mencurahkan perasaannya. Joey menolak.
"Dengar, aku tidak bisa tinggal di sini. Aku harus pergi. Ada beberapa orang
yang sedang mengincarku."
"Orang apa, Joey?"
Joey tidak menjawab, ia melihat ke luar jendela, gelisah dan tidak dapat berdiri
dengan tenang. Ellen khawatir mungkin adiknya akan histeria.
Ia terus menerus berkata. Tenang, tenang, Joey!" Kata Ellen sambil menangis.
"Ellen, kau tidak perlu cemas," kata Joey. "Semua akan baik-baik saja."
"Joey, aku mencemaskanmu. Aku tidak ingin sesuatu yang tidak diharapkan terjadi
padamu." "Tidak akan ada sesuatu yang buruk menimpaku. Aku baik-baik saja.
Aku punya pelindung tersendiri. Ayah dan Tuhan pun selalu mengawasiku.
Mengerti, kan?" Lalu ia mengeluarkan sebuah benda hadiah 'tanda keberuntungan'
dari sakunya, yang dulu diberikan oleh ayahnya. Benda milik ayahnya. Joey telah
sempat mengambilnya dari rumah, hari itu.
"Ini," kata Joey sembari menyobek selembar uang pecahan $5, dibagi dua. Ia
berikan sepotong pada Ellen dan menyimpan sepotong lagi ke dalam sakunya.
"Seseorang akan menghubungimu dan mengatakan di mana aku berada serta
mengabarimu bahwa aku baik-baik saja, seseorang yang akan membawa potongan uang
kertas yang ada padaku sekarang."
"Joey, berjanjilah untuk meneleponku. Setiap hari. Kabari aku bahwa kau aman dan
baik-baik saja." "Baiklah!" Joey pun pergi. HARI KETIGA Sabtu, 28 Februari 1981 1 Setelah seharian Joey berada dalam pengaruh obat, sedang sakau; pikiran Joey
jauh lebih kacau dari biasanya. Ia tidak sedikit pun mengantuk. Lalu ia teringat
akan janjinya untuk bertemu dengan John dan Jed di Dick's Lee. Ia cemas kedua
temannya akan melaporkan dirinya kepada polisi. Joey pernah mengancam mereka
bahwa jika keduanya melapor pada polisi, ia akan membunuh mereka walaupun Joey
tahu kedua temannya tidak akan menanggapi ancamannya dengan serius. Ia bingung
dan merasa keberatan untuk berbagi uang sejumlah yang dijanjikannya.
Ancaman kematian terasa jauh lebih buruk menghantui Joey, daripada efek yang
dirasakan oleh John dan Jed. Seolah-olah, Joey telah mengutuk dirinya sendiri
dan menghempas tubuhnya menuju sebuah sisi gelap kehidupannya yang terbuka
lebar. Sisi gelap tempat para iblis memangsa dirinya yang berbalut ketakutan.
Joey mulai berpikir, mungkin uang itu bukanlah anugerah melainkan kutukan
baginya. Ia bahkan ragu dirinya tidak akan pernah bisa mendapatkan kembali uang
senilai $800,000 yang telah dititipkannya pada Carl Masi dan Sonny Riccobene.
Bahkan, mungkin sisa uang yang ada padanya senilai $400,000 akan juga direbut
oleh kelompok mafia itu. Tetapi Joey tetap merasa uang itu miliknya! Ia percaya
bahwa dirinya telah ditakdirkan untuk mendapatkan uang sebanyak itu, bahwa arwah
ayahnya lah yang telah membimbingnya menemukan uang itu, juga oleh Tuhan. Uang
itu akan memberinya kekuatan, sebuah alat untuk pencapaian semua keinginan, dan
ia tidak ingin melewatkan kesempatan sebaik ini begitu saja. Bahkan ia berpikir,
dengan uang sebanyak itu, dirinya mampu membuka usaha sebagai 'bandar' narkoba
dan sebagian lagi akan digunakannya untuk membuka usaha ril yaitu bengkel dan
workshop alat-alat berat, sesuai dengan keahliannya. Dengan demikian uang haram
yang didapatinya dan bisnis narkoba, akan sukar dilacak dan terselubung dengan
kepemilikan usahanya yang kedua. Kedua potensi bisnis dalam fantasinya telah
membuat kepala Joey pusing. Ia berpikir lebih jauh lagi, mungkin inilah saatnya
ia melakukan peninjauan usaha dengan mendatangi bengkel alat-alat berat yang
sudah maju saat ini, mungkin juga mencoba untuk menawarkan usaha kerjasama
dengan mereka, atau bahkan mengambil alih perusahaan tersebut. Tiba-tiba ia
teringat akan ayahnya yang dulu sering mengejeknya sebagai anak yang tidak
berguna, yang lamban dalam berpikir dan bekerja, yang selalu membuat kesalahan
dalam bekerja. Lintasan pikiran seperti itu telah membuatnya berpikir lebih
jauh, bahwa uang-semua uang yang ada.!- bahkan terasa semakin berat untuk
dipertanggung jawabkannya. Jumlah yang terlalu besar bagi Joey, yang mana
mustahil baginya untuk dapat mengaturnya dengan baik.
Janji bertemu dengan John dan Jed telah membuat dadanya terasa sesak. Hari Jumat
tengah malam, waktu yang telah dijanjikan, semakin dekat. Joey berpikir ulang,
mungkin akan lebih baik menemui kedua temannya pada hari Sabtu pagi. Joey telah
siap siaga atas segala risiko dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, ia
telah mempersiapkan sebuah pistol kaliber 0.44 Magnum yang diambilnya dari
tempat persembunyian di rumahnya, kini diselipkannya di pinggang bagian
belakang. Setelah berbicara dengan Ellen, Joey menjemput Linda dan membawanya serta di
dalam mobil El Dorado, keduanya pergi menuju rumah Mike DiCriscio. Joey merasa
tidak nyaman dengan pistol yang mengganjal di punggung. Mike sedang menunggu
kedatangannya bersama John DiBruno, seseorang bertubuh pendek dan gemuk; yang
mana belum pernah dikenalnya.
Serta merta Joey tidak dapat menahan diri untuk mengungkap siapa dirinya: orang
yang telah menemukan uang milik Purolator. Joey pun memberi pria itu dua lembar
uang kertas yang masih lurus dan bersih kepada DiBruno.
"Ini untukmu," katanya sembari menyeringai.
Joey jelas telah bertolak belakang. Sejak kali pertama ia menemukan dua kotak
metal berwarna kuning, serta berjanji dan menyuruh kedua temannya bersumpah


Joey Si Frustasi Yang Beruntung Karya Mark Bowden di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

untuk tidak membocorkan rahasia, Joey sendiri telah melanggarnya, dan
sepertinya, hingga debk itu dialah yang telah paling sering mengumbar mulut,
sampai debk ini, mungkin semua orang di South Philly telah mengetahui rahasia
itu. Joey seakan bangga pada siapa saja yang dijumpainya, seakan ia ingin
menunjukkan pada semua orang bahwa dirinyalah "orang yang menemukan uang itu"
termasuk kepada kemenakannya, keluarga Masi, Sonny Riccobene, Linda, Mike dan
Marion, Ellen, dan sekarang pada lelaki asing yang baru saja dijumpainya di
rumah Mike. John benar-benar tidak bisa menahan diri. Memiliki jabatan sebagai
"penemu" telah memberinya kebanggaan dan status tersendiri. Joey belum pernah
meraih status apa pun sebelumnya, dan kesempatan yang sangat langka untuk
menggembor-gemborkan statusnya ini, tentu sangat sukar untuk dihindari. Semakin
banyak orang yang diberitahu, semakin banyak pula peluang dirinya menjadi
semakin terancam. Sejauh ini, memang belum terjadi sesuatu yang tidak diharapkan
menimpanya. Disamping itu, ia pun telah merencanakan menghindar dari keramaian
untuk sementara waktu, lalu pergi ke luar negeri dan kembali ke tanah
kelahirannya ketika situasi sudah aman, kelak. Joey belum memutuskan ke mana ia
akan pergi, dan rencana seperti apa yang akan dijalaninya.
Satu hal yang benar-benar tidak disadarinya, mungkin juga karena ketololannya,
ia telah memberitahukan siapa dirinya kepada banyak pihak, yang mungkin saja
masing-masing orang tersebut, telah juga menyebarluaskan siapa Joey sebenarnya,
dan seterusnya. Memang manusiawi. Tidak mengherankan jika saja berita akan siapa
sebenarnya yang telah menemukan dan mengambil uang milik Purolator, telah
tersebar luar di seantero kawasan South Philly. John dan Jed juga telah
memberitahu orang tua mereka; dan Mike, tanpa sepengetahuan Joey, telah meminta
bantuan seorang pengacara untuk melaporkan temuan uang milik Purolator.
Joey fadak berpikir sejauh itu. Ia terlalu parah dalam pengaruh narkotika, yang
dari waktu ke waktu, tidak lain yang memenuhi benaknya hanyalah mimpi-mimpi
indah. Joey memiliki perasaan yang terlalu kuat atas kepercayaan pada agama yang
dipeluknya, bahwa ia telah ditakdirkan untuk menemukan uang itu, dan bahwa
kesempatan ini adalah mutlak miliknya.
Dalam kerangka pikiran Joey, suasana tidak nyaman yang telah diciptakan dua
temannya, John Behlau dan Jed Pennock, telah membuatnya, dan debk ke detik,
semakin bertambah cemas. Ia berpikir untuk melenyapkan kedua orang itu, atau
paling tidak,menakut-nakuti keduanya.
Joey kini meminta Mike dan John DiBruno untuk mengantarnya ke Dick's Lee menemui
John dan Jed. Wajah kedua orang ini sangat khas sebagai orang keturunan Italia.
Dengan demikian, Joey dapat dengan mudah membuat kedua temannya merasa
ketakutan. Tentunya, pikir Joey, wajah keduaorang ini mirip dengan anggota
mafia, apalagi ia kini membawa pistol. Joey menaruh koper hitamnya di dalam
bagasi Cadillac. Ia dan kedua orang Italia ini pergi melintasi jembatan Walt
Whitman. Tentu saja, waktu sepagi itu bukanlah waktu yang tepat, tidak sesuai dengan
waktu yang telah dijanjikan Joey pada kedua temannya. Oleh karenanya, setiba
dibar Dick's Lee, mereka hanya minum-minum dan bercakapcakap dengan bartender,
yang heran karenaJoey bertingkah tidak seperti biasanya. Ia terus menerus
mentraktir minuman pada kedua pendampingnya, lagi dan lagi. Komentar Joey
awalnya singkat, "Aku punya uang."
Lalu Joey lepas kendali, ia berkata kepada bartender dialah "orangnya"
yang menemukan uang Purolator. Joey menambahkan dengan penjelasan rinci kepada
sang bartender. Joey, Mike, dan John, yang ternyata ditemani juga oleh Linda,
meninggalkan bar kemudian pergi menuju rumah kedua orang tua Mike di Ctementon,
New Jersey. Setan dalam tubuh Joey kembali menagih asupan cairan haram.
Lewat tengah malam, mobil yang ditumpangi Joey dan Linda berbelok ke sebuah
kawasan pemukiman di pinggiran kota. Keduanya mabuk berat.
Joey kehilangan jejak mobil yang ditumpangi Mike, yang baru kemudian dapat
dikenalinya ketika sebuah mobil sedang diparkir di depan sebuah rumah, beberapa
blok dari tikungan di mana ia berbelok tadi. Ia memarkir El Dorado di depan
mobil Mike, lalu memasuki halaman depan rumah yang basah menuju pintu depan
rumah orang tua Mike. Joey membuka pintu, dilihatnya dua orang tua yang belum dikenalnya sedang
tiduran di atas sofa. Lelaki pendek dan gemuk itu bangun dan berdiri.
"Siapa kamu!" Teriaknya sambil memasang kudakuda karate, ia telah siap untuk
menyerang dengan jurusjurusnya yang mematikan. Joey mundur beberapa langkah dan
tangannya merengkuh punggungnya untuk mengambil pistol.
"Kamu siapa?" Tanya Joey.
"Siapa kamu?" Tanya lelaki tua itu lagi.
"Apa Mike ada di sini?" Tanya Joey yang punggungnya telah menyentuh daun pintu
dan ia merasa kebingungan.
"Siapa kamu?" Lelaki tua itu kembali bertenak.
"Aku teman Mike."
"Siapa itu bajingan Mike?"
Lelaki tua pemilik rumah mendesak Joey ke pintu untuk keluar dari rumah itu.
"Aku salah, maaf, aku telah membuat kesalahan!"
Joey memekik. "Kau memang telah membuat kesalahan," kata lelaki tua itu sambil mendorong tubuh
Joey keluar pintu. Joey terus mengulangi perkataannya bahwa ia telah salah masuk
rumah. Demikian juga dengan Linda, ia mengatakan hal yang sama. Istri DiBruno
muncul dan meluruskan permasalahan.
"Maaf, mungkin kami telah memasuki rumah yang salah," kata Joey; dengan wajahnya
yang tampak seperti orang dungu karena pengaruh narkoba, yang telah membuat
istri lelaki tua itu tertawa geli. Semua orang tertawa, rupanya Joey telah salah
masuk rumah, ia kelewatan dua pintu dari pintu rumah orang tua Mike.
Keluarga DiBruno mengajak mereka ke rumah yang benar. Kedua orang tua Mike
sedang tidur di dipan dekat koridor. Mike menyiapkan kopi panas, sementara Joey
dan Linda berjinjit menuju sebuah kamar di lantai atas untuk menyuntik diri.
Joey menyuntik mereka berdua dengan speed, yang secara temporer telah berhasil
memberikan efek tenang atas ketegangan yang baru sajadialami sepasang kekasih
itu. Joey memutuskan untuk menghitung ulang uangnya, ia menebarnya di atas
kasur. Ketika selesai menghitung, Joey kaget karena uang yang tadinya berjumlah
total $400,000, kini tinggal $378,000.
Joey kembali ke lantai bawah dan meminta Mike untuk menginvestasikan uangnya. Ia
ingin agar uangnya dikelola ke dalam sebuah usaha semacam real estate investment
di Atlantic City, atau bahkan ke dalam bisnis jual beli narkoba. Mike setuju
untuk membantunya. Joey memberikan uang kepada Mike senilai $238,000 yangtelah
dibungkus kantong plastik. Mike menyimpannya di lemari salah satu ruangan di
lantai dua. Joey memutuskan bahwa ia perlu meminta maaf telah memasuki rumah orang lain. Ia
keluar dari rumah DiCriscio, kembali melewati halaman depan rumah yang basah
itu, kemudian mengetuk pintu. Lelaki jago karate tadi membukakan pintu, wajahnya
masih tampak kesal. Kali ini ia Joey telah diberitahu bahwa lelaki itu bernama
Michael Madgey memperkenalkan diri.
Madgey mengajaknya masuk. Lalu ia dan istrinya yang masih tersenyum geli,
menyiapkan kopi di dapur. Lagi-lagi, Joey memperkenalkan diri bahwa ia adalah
"orang" yang telah menemukan uang milik Purolator. Ia bahkan mengatakan bahwa
dirinya percaya. Tuhan telah memilihnya untuk memiliki uang itu. Ia juga
mengatakan bahwa dirinya adalah supir pribadi sekaligus bodyguard Angelo Bruno
dan Frank Rizzo. "Ayahku selalu bilang aku seorang pecundang," kata Joey.
Keluarga Madgey merasa kasihan padanya. Joey terharu.
"Aku tidak tahu apa agama kalian, tetapi aku sendiri seorang pemeluk agama
Katholik yang taat," katanya. "Aku percaya kepada Jesus Kristus dan Tuhan dan
semua tentang mereka. Aku percaya ayahku sedang berada di surga bersama mereka,
dan mereka telah mengatur skenario agar akulah yang menemukan uang tersebut.
Dan, apakah kalian ingin tahu apa rencanaku dengan uang sebanyak itu" Aku akan
membagi-bagikannya kepada semua orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan,
terutama para jompo dan fakir miskin. Aku sangat cemas dengan para yatim piatu
yang berada di Atlanta."
Joey menawarkan din untuk melunasi tunggakan rumah kedua orang tua yang berada
di hadapannya. Ia mengambil pil dari sakunya dan menawarkan pada kedua orang tua
itu jikalau mereka mau menelan "pil haram." Tentu saja mereka menolak. Joey lalu
memberi keduanya masing-masing seratus dolar, yang melongo karena dia pergi
sembari membawa cangkir kopi mereka.
"Jangan dibelanjakan dulu, ya," kata Joey setengah berbisik. "Aku akan pergi ke
Italia. Setibanya di sana, aku akan menelepon kalian bahwa aku telah tiba dengan
selamat. Pada saat itu, barulah kalian boleh menggunakan uang pemberianku."
Ketika Joey tiba di ambang pintu keluar, ia menghentikan langkahnya dan berbalik
untuk mencium pipi wanita tua itu. Setelah Joey berlalu, sang wanita tua berkata
kepada suaminya, 'Oh, kasihan sekali, sungguh memilukan!'
Mike telah kehilangan Joey yang baru saja berkunjung ke rumah Madgey. Ia telah
sempat mencari-cari di mana Joey berada sebelum dilihatnya lelaki muda itu
berjalan kembali ke rumah orang tua Mike sembari memegangi cangkir kopi dan
bernyanyi riang. Saat itu jam telah menunjukkan pukul empat tiga puluh menit dini hari, ketika
Antbony DiCriscio terbangun dari tidurnya. Ia memang sudah terbiasa bangun
subuh. Ia mengenakan baju handuk mandi; dan berjalan menuju dapur serta terkejut
mendapati lampu dapur menyala, poci kopi di atas mesin kopi masih hangat dan
terlihat asbak penuh puntung rokok. Ia pergi ke ruang tamu, dilihatnya Michael,
anaknya, sedang berada di sana.
Mike sedang berdiri dan bersiap-siap melangkahkan kaki keluar dari ruang tamu.
Ia menjelaskan dengan singkat bahwa dirinya beserta
"temannya yang dungu" hanya mampir di rumah orangtuanya. Mike juga
memberitahukan bahwa temannya salah masuk rumah orang. Seketika setelah anaknya
pergi, dari jendela Anthony DiCriscio melihat keluar.
Sebuah mobil Cadillac El Dorado tengah diparkir dekat tikungan jalan.
Seorang pria berambut pirang sedang berdiri di belakangnya, membetulkan sesuatu
di bagasi belakang di mobil bak terbuka. Selesai membetulkan barang bawaannya,
lelaki itu masuk ke mobil. Mobil anaknya dan mobil El Dorado pergi meninggalkan
jalanan di depan rumahnya.
Lelaki tua itu kini melihat betapa berantakan dapurnya. Di atas konter dapur,
tergeletak sebuah cangkir kopi yang tampak asing baginya.
2 Joey mengikuti mobil Mike menelusuri Route 42 menuju Philadelphia.
Sebelum tiba di jembatan, dari kaca spion, Mike melihat mobil Cadillac yang
mengikutinya, berhenti di dekat Camden Marine Terminal. Beberapa saat menjelang
fajar menyingsing, El Dorado warna hijau mendekat ke arah terminal marine. Mesin
ngadat, lajunya tersendatsendat, kemudian berputar di tempat dan berhenti total.
Joey terus menerus memutar kunci starter, namun mesin mobil Cadillac enggan
untuk menyala. Joey lalu berjalan ke terminal pelabuhan laut untuk menemui
kakaknya, Billy, yang bekerja shift pagi di sana. Joey teringat bahwa kakaknya
memiliki safe deposit boks besar di rumahnya yang berlokasi di South Philly.
Pikirnya, benda itu akan menjadi tempat penyimpanan yang tepat, sisa uang tunai
yang masih ada padanya. Ia merencanakan untuk bersantai beberapa hari, kemudian
kembali menemui Masi dan mencari tahu perkembangan sisa uangnya senilai $800,000
yang telah dititipkan kepadanya pada hari Kamis malam.
Billy belum tiba di tempat kerja. Teman Billy mengantar Joey kembali ke mobil
Cadillac-nya yang sedang mogok. Setelah keduanya memancing strum aki mobil itu,
mesin berhasil menyala. Joey kembali menyetir menuju Route 42, menyeberangi
jembatan Ben Franklin sementara matahari pagi di hari Sabtu yang indah mulai
muncul, sinarnya dipantulkan kaca spion El Dorado.
Ia mengemudi menuju rumah kakaknya di Second Street. Setibanya di depan pintu,
Joey menekan bel rumah. Kakak ipar Joey membukakan pintu untuknya. Ia mengatakan
bahwa Billy baru saja pergi bekerja.
"Bolehkah aku masuk?" Tanya Joey.
"Apa maumu?" Tanya kakak iparnya ketus. Hubungan antara kedua bersaudara itu
memang tegang. Joey tahu kakaknya kecewa atas kelakuannya, dan ia merasa sukar
berkomunikasi dengan kakak iparnya, seolah-olah hubungan buruk yang telah
terjalin di antara mereka, kini bertambah parah.
"Bolehkah aku menggunakan safe deposit-mu?"
"Untuk apa?" "Dengar, aku menemukan uang ini. Aku ingin menyimpannya di sana sampai aku
berhasil menemukan cara terbaik menggunakan uang ini."
Joey membuka koper hitamnya, lalu menunjukkan isinya bundel ratusan dolar kepada
kakak iparnya. Ia histeris. "Siapa yang telah kau bunuh" Tidak, kamu tidak bisa
memakai safe deposit kami! Pergi jauh-jauh dari sini!" Teriaknya kemudian
membanting pintu depan rumahnya.
Merasa kecewa berat dan sakit hati, Joey kembali ke El Dorado, yang mesinnya
dibiarkan hidup untuk menghindari mogok kedua kalinya.
"Kita dapat menyimpannya di ruang bawah tanah rumah kakakku,"
Linda menawarkan jasa. "Dia bahkan tidak akan menyadari keberadaan uangmu."
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah kakak Linda di Roseberry Street.
Linda menyelinap ke ruang bawah tanah dan menyimpan koper itu di dalam bangkai
peralatan elektronik tua dan rusak, milik kakaknya yang sudah tak terpakai.
3 Banyak telepon masuk ke meja detektif yang memberi petunjuk tentang jejak uang
yang hilang, semua tidak membuahkan hasil maksimal, dan malahan membuat Pat
Laurenzi bertambah pusing kepala, pada hari Sabtu pagi itu. Sempat terlintas
dalam benak Pat untuk melepas saluran telepon kantornya. Tapr tentunya ia tidak
mungkin melakukannya. Pat harus tetap menerima semua telepon masuk dengan sopan
dan menanggapi masukan para penelepon satu persatu.
Di berita dan ulasan radio atau televisi, terdengar dan terlihat beberapa
pendapat masyarakat, dihiasi gelak tawa tentang pendapat para pemirsa dan
perkiraan apa yang akan dilakukan jika mereka menemukan uang sebanyak itu.
Tentunya, yang paling penting bagi mereka adalah mengetahui sejauh mana kemajuan
investigasi uang hilang tersebut yang sedang dilakukan polisi dan detektif.
Demikian pula dengan bos Pat Laurenzi, beliau meminta laporan dari sang detektif
tentang perkembangan investigasi yang dilakukannya.
Pagi itu, paling tidak Pat mendapat laporan dari seorang penelepon yang memberi
kabar menggembirakan. Seorang pria yang katanya pernah mengemudi melewati kedua
kotak metal berwarna kuning di Swanson Street, serta secara sekilas telah
melihat sebuah mobil lain yang berada di belakangnya, berhenti di tempat kedua
kotak itu tergeletak. Awalnya ia tidak begitu ingat, namun setelah sang
penelepon mendengar berita di radio hari Jum'at malam, tiba-tiba ia
tersentak ... Kalau tidak salah dengar, ia mendengar semacam hadiah atau imbalan
yang ditawarkan" Pat mengemudi menuju rumah sang penelepon. Benar, orang itu menyaksikan sendiri
dua buah kantong kanvas ditarik seseorang dan dimasukkan ke dalam sebuah mobil.
Ia pun mengklarifikasi ciri-ciri kendaraan yang dilihatnya waktu itu.
"Apa kau melihat plat nomor kendaraan itu?" Tanya sang detektif tidak sabar.
"Aku hanya melihatnya dari kaca spion, waktu itu aku mengemudi ke arah yang
berlawanan," jawab pria itu.
Menurutnya tanda pada plat nomor mobil tersebut, terdaftar sebagai mobil
Philadelphia, namun dia tidak ingat nomornya. Jawaban mentahnya cukup membuat
Pat kesal yang telah jauh-jauh menyempatkan diri mendatangi lelaki itu.
Apa yang tidak diketahui Pat saat ia sedang keluar menuju tempat penelepon tadi
adalah seorang polisi dari Delaware River di Gloucester City, New Jersey, telah
meneleponnya untuk memberi kabar. Sebuah informasi penting berkenaan dengan
mobil yang digunakan sang penemu uang Purolator. Pihak kepolisian di sana telah
menderek sebuah mobil yang ditelantarkan pengemudinya di kawasan 200 block of
Mercer Street. Ia melaporkan mobil itu adalah Chevy Malibu tahun 1975 dengan
warna primer biru di bumper depannya. Pat mengomentari bahwa temuan mobil
tersebut tidak begitu penting, karena Malibu tahun '75 sangatlah jauh berbeda
dengan Chevy Malibu keluaran tahun 1971, sesuai laporan dari para saksi
tentunya. Mobil yang dilaporkan sebenarnya adalah Malibu '71.
Satu lagi berita yang masuk ke saluran teleponnya, sepertinya kurang penting.
Seorang petugas jaga menyodorkan laporan pembicaraan telepon sewaktu ia pergi
tadi, sebuah file berisi ratusan pesan telepon yang diterimanya pada hari yang
sama. 4 Joey dan Linda menghabiskan sebagian besar hari-hari mereka belakangan ini,
dengan check-in di Four winds Motel, Admiral Wilson Boulevard. Sore itu, Joey
menyodorkan kunci El Dorado pada Linda yang secara kebetulan mesin, segera
hidup. Joey memintanya untuk mengembalikan mobil itu pada temannya tidak lupa
mengembalikan kunci mobil itu kepada pemiliknya.
Setelah Linda berlalu, Joey berjalan ke gedung di samping motel itu, Frencb
Quarters Bar. Ia memesan minuman dan menghabiskan waktunya sepanjang sore itu,
dengan menelepon, mencoba untuk menghubungi Carl Masi. Ketika telepon berhasil
terkoneksi dengan Cari, lelaki itu menyuruhnya pergi ke jembatan untuk berbicara
dengannya di situ. Joey ingin meyakinkan. Ia ingin tahu perkembangan penyucian
dua pertiga uangnya, dan ingin mendengar kabar baik dari Cari dan Sonny. Joey
menyadari langkah yang ditempuhnya salah karena berbahaya. Ia telah melakukan


Joey Si Frustasi Yang Beruntung Karya Mark Bowden di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kontak dengan anggota mafia. Joey gugup dan cemas, ia mengatakan kepada Cari
bahwa dirinya berada di Admiral Bar, yang terletak jauh di sudut dan seberang
jalan di mana ia berada kini. Joey berpikir, dengan begitu ia akan tahu ketika
Masi datang nanti, sendirikah atau didampingi orang lain"
Ia kembali ke motel untuk meyuntik cairan haram dan menunggu bertemu Masi tiba
di bar. Ia memandangi matahari terbenam di luar jendela sembari minum. Ketika
hari mulai gelap, ia teringat akan janji untuk menelepon kakaknya.
"Ell?" "Ya." "Ini aku, Joey."
"Ada kabar apa Joey, kamu baik-baik saja, kan?"
"Ya, aku baik-baik saja, aku tidak bisa bicara banyak. Aku akan meneleponmu lagi
nanti." Joey menutup telepon. Masi datang sendiri. Mereka pergi bersama menuju Atlantic City. Joey mempunyai
sejuta pertanyaan. Di mana sisa uangnya" Kapan ia akan mendapatkannya kembali"
Apa yang dilakukan Sonny terhadap uangnya"
Apa rencana selanjutnya" Namun apa yang diharapkan Joey tentu saja lebih
mendalam dari sekadar jawaban atas pertanyaannya: Apakah Masi benar-benar
membantu atau mengkhianatinya" Apakah ia akan memperoleh kembali uang yang
dititipkannya" Apakah kelompok mafia Sonny tengah mengincarnya" Haruskah ia
merasa takut, setakut yang telah dirasakannya selama ini" Joey memerlukan
dukungan Masi, namun dengan tenangnya lelaki itu menjawab seperlunya.
Sepertinya, setiap kali ia bertanya kepada Masi, ia akan balik bertanya pada
Joey. Hal itu membuatnya frustasi. Sialan, pikirnya dan kembali menyalahkan
dirinya yang telah meragukan temannya.
Malam sudah larut ketika mereka tiba di Atlantic City. Meja perjudian di Golden
Nugget sudah tutup. Oleh karenanya, Joey dan Masi pergi makan malam di restoran
mewah. Joey mengikuti langkah Masi yang sempat menggoda seorang pelayan.
Keduanya bercengkrama dengan beberapa orang teman Masi. Dalam perjalanan pulang
ke motel, Joey berkata kepada Masi bahwa ia memutuskan untuk mengambil kembali
uang yang telah dititipkannya, selanjutnya Jeoy akan pergi ke luar negeri.
Masi berkata bahwa Sonny akan mengontaknya hari Senin. Dia bertanya di mana Joey
akan berada saat itu. "Aku akan menunggu di motel," jawab Joey, namun tiba-tiba bisikan lain terdengar
di dalam benaknya. Kau gila, Joey, pasti kamu akan ditipu mereka!
Masi mengangguk, ia mencoba menenangkan Joey.
"Sudahlah, tidak perlu cemas. Semua akan baik-baik saja."
"Carl, mereka mengincarku. Mereka akan menangkapku."
"Polisi tidak akan tahu siapa yang menyimpan uang itu, Joey. Tenang saja."
Joey tidak berani mengatakan bahwa saat itu ia lebih takut pada Carl dan Sonny
Riccobene ketimbang polisi. Masi terus saja mengoceh agar Joey tenang, bahwa
proses penyuncian uang membutuhkan waktu agak lama serta kesabaran penuh dari
Joey. Uang sebanyak itu tidak mungkin dipecah dalam satu malam. Mungkin teman
Joey yang satu ini benar. Mungkin hanya pengaruh obatlah yang membuatnya
paranoid. Namun, jikapun benar, Masi merencanakan untuk membodohinya, bukankah
perkataan seperti itu jualah yang akan terlontar dari mulutnya"
HARI KEEMPAT Minggu, 1 Maret 1981 1 Joey Coyle tidak bisa tidur pada malam minggu di Four Winds Motel.
Tubuhnya limbung bahkan sejak hari Kamis sore, siang, dan malam, menyuntik diri,
setiap jamnya, dalam usahanya menenangkan diri. Ia merebahkan diri di atas kasur
ruangan motel, memejamkan mata sembari merasakan ketegangan otot-ototnya. Ia
akan terjaga dan keadaan dirinya yang seperti bdur, melihat waktu pada jam di
tangannya, hanya sepuluh menit saja yang telah berlalu. Joey kembali pada
rutinitas menyuntik din. Ritual yang sudah dikuasainya dengan baik.
Joey bermimpi. Ia menginvestasikan uang jutaan dolar dalam bisnis narkoba. Di
dalam mimpinya saja,Joey sudah mulai merasakan ketamakan tengah merasuki diri.
Mimpinya lebih berhubungan dengan kebanggaan, status diri. Dirinya yang sudah
kecanduan narkoba, telah menjadi objek penghinaan, ia telah bergantung penuh
pada obat yang satu itu, sampai sampai ia harus mengutang karena dompetnya
kosong, dan desakan candu dari dalam tubuhnya tidak mau bersahabat apalagi
menunggu. Ia semakin bangkrut, dan terus terpuruk. Dengan uang jutaan dolar di
tangan, ia akan menjadi orang yang kuat karena uang, dan barang dagangan
melimpah ruah. Para pecandu akan berdatangan. Joey akan menggunakan kekayaannya
untuk mengobati penyakit yang diderita ibunya kepada dokter terbaik di dunia.
Joey tidak lagi bersikap kekanak-kanakan dan hanya menjadi pecundang, ia adalah
penyedia barang dan jasa, menunjukkan keberhasilannya pada Billy yang bekerja
sebagai seorang pengawas di pelabuhan. Joey masih merasa sakit hati atas
perlakuan kakak iparnya. Dengan kekayaannya, Joey akan membangun usaha bengkel alat-alat berat di kawasan
Delaware River. Ia akan menjadi boss perusahaan tersebut.
Mimpi Joey berakhir dalam kebingungan dan ketakutan. Di dalam sakunya, ia hanya
menemukan uangsebesar dua ratus dolar dan sisa uang dan hasil Pacarnya
mencairkan cek pembayaran pekerjaannya yang terakhir selama musim liburan hari
Natal dan Tahun baru di pelabuhan, yang diterimanya pada hari Kamis dan Marine
Terminal. Uang Purolator tersebar entah di mana, di kawasan Philadelphia dan New
Jersey Joey bahkan sudah kehilangan jejak sama sekali: $400,000 dipegang Masi
dan $400,000 lagi ada pada Sonny Riccobene. Seberapa besar kesempatannya untuk
dapat melihat uangnya lagi" Semakin ia memikirkan tentang uang yang tidak
diketahui rimbanya, semakin yakin diri Joey bahwa anggota geng mafia akan datang
mencarinya untuk merampas sisa uang yang masih ada padanya. Joey menitipkan
sebesar $240,000 (Joey sendiri tidak yakin berapa jumlah total yang
dititipkannya) kepada Mike DiCriscio di Clementon, New Jersey; dengan harapan
bahwa Mike akan memanfaatkan uangnya sebagai modal investasi pada suatu bisnis
yang menguntungkan. Sebesar lebih kurang $150,000 disembunyikan di dalam stereo
rusak di ruang bawah tanah kakak perempuan Pacarnya di Roseberry Street. Ia
sendiri telah membagikan beberapa lembar uang ratusan dolar berapa banyak" Joey
tidak tahu. Bisakah orang-orang ini dipercaya" Atau bisakah Joey, paling tidak
percaya pada salah seorang dari mereka" Orang biasanya suka datang ke toko-toko
di pinggir jalan untuk memecah uang $100 dolar menjadi lima lembar uang nominal
$20! Bisakah Joey berharap memecah uang sebanyak itu di jalanan"
Empat hari sudah berlalu sejak ia menemukan uang Purolator, uang yang kini
membebaninya dan seakan menjadi kutukan berat baginya. Efek mimpi yang
dialaminya pun begitu kuat. Mimpi yang dirasanya begitu nyata, kesempatan-
pemberian Tuhan untuk bekal hidupnya. Jika saja ia dapat melewati kemelut yang
tengah menghantuinya. Pagi-pagi sekali di hari Minggu, Joey menelepon rumah Masi. Dee menghampirinya
dekat jembatan Walt Whitman pagi itu. Dee mengajak Joey pergi ke toko peralatan
kecantikan dan membelikan Joey cat rambut. Lalu membawanya ke rumah kemenakan
Joey, Joey "Bucky" McCall, seorang longshoreman yang tinggal di Gloucester.
Bucky telah menjadi seperti saudara bagi Joey di luar keluarga aslinya. Keduanya
seusia, tubuhnya hampir sama besar, bentuk fisiknya cocok, menurut orang-orang,
sebagai adik-kakak. Joey memberitahu Bucky bahwa dialah yang menemukan uang
Purolator. Ia meminjam sepasang celana Jeans dan sebuah kemeja Flannel milik
Bucky, mencukur kumis warna pirangnya, kemudian mengecat rambut yang asalnya
berwarna pirang menjadi hitam legam.
Siang harinya, Dee mengantar Joey kembali ke rumahnya. Joey duduk di dapur,
berbincang-bincang dengan Cari dan Dee. Joey berharap sangkaan buruknya pada
Masi salah. Ia telah beberapa kali pulang pergi ke rumah Masi untuk sekadar
memastikan uangnya. Masi telah menyembunyikan bagiannya dan mereka belum
mendengar kabar dari Sonny. Joey mengetahui bahwa Sonny telah membawa uangnya ke
Las Vegas, di mana uang sebanyak itu akan lebih mudah dipecah dan ditransfer ke
rekening tujuan dengan cepat.
"Jangan terlalu cemas," kata Cari pada Joey. "Tentu butuh waktu lebih lama dalam
upaya memecah uang sebanyak ini."
2 Kakak perempuan Joey, Ellen sedang mencuci piring dan suaminya, Charlie O'Brien,
sedang menonton televisi ketika Joey membuka pintu depan dan langsung masuk
menuju ruang tamu di dalam apartemen mereka.
"Yo!" sapa Joey dengan nada riang.
Ellen telah mengenal suara adiknya dengan baik, ia kemudian menghampirinya di
ruang tamu. Ellen dan Charlie tidak percaya apa yang tengah dilihatnya. Mereka
menatap Joey kemudian keduanya saling memandang.
"Joey, apa yang kau lakukan pada rambutmu?" Tanya Ellen.
"Aku harus mengubah penampilan. Aku harus menyamar."
"Untuk apa?" "Tenang, jangan khawatir. Aku pernah mengatakan tentang orangorang yang
menginginkanku, bukan" Aku harus terlihat berbeda. Bagus, kan?"
Sebenarnya tidak terlihat bagus sama sekali. Terlihat kotoran bekas percikan cat
pewarna rambut di leher Joey. Charlie hanya menatap pada Ellen sambil
menggelengkan kepala. "Duduklah, Joey. Kita akan minum kopi," kata Ellen.
"Tidak usah. Aku tidak punya banyak waktu," jawab Joey. "Apa ibu ada di atas?"
"Ya, kurasa begitu. Ia sedang menonton televisi bersama Kathy."
"Baiklah. Aku akan menemuinya."
Joey duduk di lantai atas bersama ibu dan kemenakan perempuannya selama kira-
kira sepuluh menit. Ia kembali ke lantai bawah dan segera menuju ruang tamu
serta duduk di samping Charlie. Ia mengeluarkan pistol 0.44 magnumnya. Ellen dan
Charlie kaget melihatnya. Joey meletakkan pistolnya di atas meja kopi dan mulai
mengeluarkan peluru dari pistol itu kemudian membungkusnya dengan saputangan.
"Apa kau baik-baik saja, Joey?" Tanya Ellen.
"Yeah, aku tidak apa-apa," jawab Joey yang sepertinya kesal dengan pertanyaan
kakaknya yang bertubi-tubi dan selalu menanyakan hal yang sama.
Ellen sangat mencemaskan adiknya sejak Joey muncul di apartemennya hari Jum'at
petang. Malam itu, sewaktu Joey memberinya sepotong uang kertas pecahan lima
dolar, ia masih terlihat gugup, walau tidak separah sebelumnya. Ellen sempat
bingung apa yang harus diucapkan kepada adiknya.
"Apa yang akan kau lakukan" Kau mau pergi ke mana?" Tanya Ellen.
"Ellen, aku boleh numpang mandi, kan?"
"Ya, tentu saja."
"Bolehkah aku juga meminjam mobilmu" Aku perlu pulang dan mengambil pakaian
bersih." Sementara Joey mandi dan pergi mengambil pakaian bersih di rumah ibunya, Ellen
menyempatkan diri berunding dengan Charlie, langkah apa yang akan ditempuh
keduanya dalam menghadapi situasi yang sedang dialami adiknya. Mungkin Joey akan
lebih tenang setelah mandi. Mereka bertiga dapat membahas bersama, cara terbaik
untuk membantu kesulitan Joey.
Joey pergi dengan mengendarai mobil Chevy Nova milik Charlie. Ellen menyiapkan
seteko kopi dan mengeluarkan beberapa keping kue dari kulkas.
Tetapi Joey tidak kunjung tiba.
HARI KELIMA Senin, 2 Maret 1981 1 Ketika Detektif Pat Laurenzi selesai membaca memo di genggaman jarinya, wajah
Pat merah padam menahan amarah. Letnan telah memberinya kertas memo tersebut
setibanya ia di kantor pagi itu. Pat berjalan menuju meja kerjanya sebelum
sempat menuangkan secangkir kopi seperti yang biasa dilakukannya setiap pagi. Ia
menelepon kantor pusat Purolator untuk memastikan bahwa Jack Durwood, sang
pengirim pesan di memo itu, masuk kerja. Pat kembali berjalan keluar dari kantor
pusat kepolisian South Div'rsion, menuju ke mobilnya dan segera melaju dengan
cepat ke kantor Purolator di Swanson Street.
Pat menapaki tangga menuju ruang kantor para eksekutif perusahaan Purolator,
dengan melewati dua anak tangga sekali langkah, lalu mencari tahu di mana
Durwood berada saat itu. Ia berdebat dengan seorang pria bertubuh kekar, tegap,
namun sedikit botak. Pat hampir-hampir tidak bisa menahan diri untuk meluapkan
kemarahannya. "Mengapa aku tidak segera dikabari!" Tanya Pat kesal.
Memo tersebut berisi detil pembicaraan antara Durwood dengan pengacara Alan
David Silverman pada hari Jum'at sore. Silverman telah menelepon Purolator untuk
menanyakan uang tebusan atau imbalan pada siapa pun yang mengembalikan uang yang
hilang. Hal itu, sepertinya, adalah satu-satunya petunjuk yang pasti, agar
investigasi yang telah dijalankannya selama empat hari terakhir, dapat menemukan
titik terang. Bahkan tidak dikabari sama sekali!
"Pengacara itu mengatakan bahwa kliennya tidak ingin dilibatkan dengan urusan
polisi," jawab Durwood.
Sikapnya yang tenang, sama sekali tidak bergeming menghadapi seorang detektif
yang tengah memarahinya. "Kami mencoba jalan terbaik untuk mendapatkankembali
uang kami yang hilang. Sahkan kami belumpemah melakukan kontak apa pun dengan
orang yang katanya menyimpan uang tersebut, oleh karenanya kami sama sekali
tidak tahu siapa orang itu. Kau tidak akan mampu berbuat apaapa kepada sang
pengacara, bahkan jika kau berniat melakukan sesuatu padanya."
"Tidak melibatkan pihak kepolisian?" Sanggah Pat. "Biar aku jelaskan padamu. Aku
sudah dilibatkan sejak awal kejadian ini! Bagaimana bisa kau mengabaikanku
begitu saja?" Durwood menjelaskan bahwa perusahaannya lebih tertarik untuk mendapatkan uang
mereka kembali daripada untuk menangkap siapa pelaku pengambilan uang milik
Purolator. Mereka tidak peduli siapa pun yang melakukannya asalkan uangnya
kembali. "Tidakkah kalian pikir kasus ini lebih baik ditangani polisi terutama berkenaan
dengan negosiasi urusan uang tebusan?" Pat kembali memberi komentar dengan nada
suaranya yang tinggi. "Tidakkah kau pikir bahwa kami lebih berhak dalam urusan
ini?" Pat berjalan mondar-mandir dalam ruangan itu. Ia menjelaskan bagaimana dirinya
telah melewati berbagai macam kendala dalam usahanya mengungkap kasus ini di
tengah penduduk kota yang beragam karakter, yang secara keseluruhan berjumlah
hampir enam juta orang. Ia telah mendapatkan deskripsi mobil yang digunakan
untuk mengambil uang yang terjatuh dari kedua kotak metal kuning itu, deskripsi,
yang sebenarnya masih samar tentang seorang pria muda berambut pirang yang
mengambil kedua kantong kanvas uang warna putih. Dugaan sementara uang tersebut
masih tersimpan rapat di sebuah tempat tidak jauh dari lingkungan dekat uang
terjatuh, walaupun sejauh ini, perkiraannya itu belum membuahkan hasil maksimal.
Purolator tahu seberapa keras Pat telah bekerja mengungkap kasus ini. Perusahaan
itu pun sempat membayar untuk melakukan hipnotis pada seorang saksi mata, di
mana ia tidak dapat mengingat dengan jelas detil kejadian yang dilihatnya.
Barulah setelah dihipnotis, orang itu dapat mengingat kembali semua detil
kejadian pengambilan uang Purolator yang terjatuh dari mobil boks.
Pat sudah dapat menenangkan diri. Ia mengerti penjelasan Durwood; cukup masuk
akal. Tetapi mengapa sekarang pihak mereka kembali melibatkan Pat Laurenzi"
"Negosiasi telah disepakati, selesai dilakukan dan menemukan kesepahaman. Siapa
pun klien Silverman, orang itu telah mundur dari kesepakatan karena mengharapkan
imbalan yang lebih besar. Hal ini tentunya tidak bisa kami lakukan."
Sekembalinya ke kantor pusat, Pat meminta izin letnan untuk melakukan hipnotis
pada saksi mata barunya. Tidak semua orang di kepolisian percaya akanmetode yang
satu ini, sebagaimana juga Pat sendiri.
Akan tetapi, seperti yang ia katakan kepada letnan, "Mungkin saja benar, metode
ini tepat dilakukan namun, mungkin juga ... karena kita sudah kehabisan cara
yang tepat untuk mengungkap tuntas kasus ini."
Berita tentang rencana Pat segera menyebar ke semua pejabat tinggi di
kepolisian. Jawabannya "Tidak". Kalangan press telah siap siaga meliputnya.
Pihak kepolisian Philadelphia belum siap untuk melakukan metode hipnotis yang
belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
Detektif Pat kalap. Ia menelepon Durwood dan meminta dukungan.
Perusahaan Purolator siap untuk membiayai metode hipnotis yang diajukan oleh Pat
Laurenzt. Pat menjemput Durwood. Kemudian keduanya menjemput saksi mata yang baru, seorang
pria yang melihat tersangka mengambil kedua kantong kanvas uang, yang dilihatnya
dari kaca spion mobilnya. Mereka membawa saksi mata menuju center !important
City office untuk menemui ahli metode hipnotis, Dr. Howard Pharnes. Pharnes
mulai menghipnotis sang saksi mata itu dan menanyainya sejumlah pertanyaan. Ia
mencoba untuk mengungkap setiap debl kejadian yang tadinya diingat pna itu samar-samar. Saksi mata
yakin sekali bahwa plat nomor kendaraan tersebut terdaftar sebagai mobil dari
Pennsylvania. Ia masih belum yakin namun dapat memastikan bahwa dirinya melihat
angka tujuh pada plat nomor kendaraan tersebut, angka tujuh lalu angka sembilan.
Itu saja. Pat kecewa dengan hasil yang dicapai. Saksi mata benar-benar tidak dapat
mengingatnya secara keseluruhan, namun Pat sedikit lega. Ia telah melakukan


Joey Si Frustasi Yang Beruntung Karya Mark Bowden di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

suatu tindakan yang tepat sebagai pendukung investigasinya.
Angka "7" dan "9" memang tidak banyak berarti. Namun kedua angka yang baru saja
didapatinya tentu merupakan suatu teka-teki baru. Senang juga rasanya
mendapatkan suatu pengalaman baru.
2 Setelah meninggalkan apartemen Ellen pada hari Minggu petang, Joey pergi
menjemput Linda yang tengah menunggunya di pojok luar rumah kakak perempuannya.
Mereka bermaksud menghabiskan malam itu bersenang-senang di kamar motel Admiral
Wilson, New Jersey. Keesokan harinya, Minggu pagi, kedua insan yang sedang mabuk kepayang ini, pergi
berbelanja di Deptford Mali, di mana Joey membelikannya celana baru, pakaian
dalam, kaos kaki, dan sebuah overcoat dari bahan kulit lembut berwarna coklat
muda. Usai berbelanja Joey mampir di sebuah telepon umum dalam kawasan mall untuk
menelepon Cari, memeriksanya jika saja pria itu telah dikabari oleh Sonny. Joey
baru saja memasukkan sebuah koin ke slot telepon ketika seorang petugas
berseragam, dari perusahaan telekomunikasi, masuk ke kamar telepon umum di
sebelahnya, kemudian mengangkat gagang telepon.
Joey yang merasa curiga dan tidak ingin percakapannya dicuri dengar, segera
meletakkan gagang telepon dan ia mengurungkan niatnya untuk menelepon Cari. Ia
kembali ke mobil di mana Linda tengah menunggunya.
"Tidak dijawab?" Tanya Linda.
"Bukan, pria itu mungkin saja seorang polisi yang sedang menyamar."
Linda menertawakannya. Katanya, paranoia yang dialami Joey semakin sukar
dikendalikan. HARI KEENAM Selasa, 3 Maret 1981 1 Frankie Santos adalah seorang ahli sulap. Ia dapat melakukan tipuan permainan
kartu di konter bar, yang tentu saja hiburan ekstra bagi para pelanggan yang
dapat membuat mereka nyaman dan betah minum di sana semalaman.
Tubuhnya agak bungkuk, berambut hitam, kulitnya gelap, serta sikapnya persuasif,
kedua matanya besar dan berwarna coklat. Frank seorang pria periang, pandai, dan
tinggal di kawasan South Philly.
Rambutnya berwarna coklat tua, tulang rahang dan pipinya terlihat menonjol.
Frank bekerja giliran malam, dan di siang hari ia kursus keterampilan di Camden
Community College. Ia senang mengumpulkan botol-botol antik bekas minuman wine
dan liquor, membaca buku dan berlatih sulap sehingga tidak masalah betapa sering
pelanggan melihat ia melakukan sulap lelaki itu sepertinya selalu memiliki trik
sulap yang baru, yang sempurna dan belum pernah dilihat sebelumnya. Frank juga
bekerja sebagai traffic controller, pengatur lalulintas dan bergabung dengan
Delaware River Pilot Association, sebuah asosiasi penting lalu lintas sungai
yang tentu saja memerlukan kecakapan dan keahlian khusus. Sebuah pekerjaan
yangmembutuhkan kerja keras, disiplin, dan tanggungjawab, serta dedikasi tinggi
kualitas yang setara seperti dimiliki oleh Frank. Ia seorang yang sukses, mampu
menyimpan uang hasil jerih payahnya dan ia berhasil menginvestasikan dana
simpanannya. Penampilan Frank biasa saja, low profile, dan ia tidak suka
nekoneko bergaya dalam busana. Mungkin apabila selama temannya tidak berjumpa
dengannya setahun, pasti ia akan mendapati pria ini masih mengenakan pakaian
yang sama, yang pernah dilihatnya pada perjumpaan sebelumnya. Itulah Frank,
namun ia patut diacungkan jempol karena ia tidak lupa dengan tanah
kelahirannyadan selalu memperhatikan adat kebiasaan yang berlaku di tempat
asalnya. Frank adalah tipe seorang pria yang loyal. Ia adalah salah seorang pria
kesayangan masyarakat South Philly.
Pada tahun 1980, Frank pernah tinggal di rumah milik ibu Joey di Front Street,
selama enam bulan setelah ia bercerai dengan istrinya. Frank dan Joey telah
berteman sejak kelas satu ketika keduanya masih belajar di sekolah Katholik,
Hidup serumah dengan Joey pada awalnya baikbaik saja, tentu Frank berterima
kasih pada Joey. Lama kelamaan, Frank mengetahui gaya hidup Joey yang urakan dan
tidak beraturan. Frank sebenarnya tidak bisa tetap tinggal bersama Joey.
Sebagai contoh, suatu hari ketika Joey kesulitan untuk menghidupkan mesin
mobilnya, ia dan temannya segera membuka kap mesin mobil Frank untuk meminjam
"batere" (aki) mobil tersebut. Mereka tidak saja mengabaikan tatakrama untuk
meminta izin dari Frank terlebih dahulu atau paling tidak segera memberitahu,
tetapi juga Joey tidak peduli untuk memasang accu kembali ke mobil Frank yang
sedang diparkir. Tentu saja, ketika Frank menghidupkan mobilnya, ia kelabakan
karena mesin mobil miliknya tidak dapat menyala. Frank terus saja memutar kunci
untuk menghidupkan mesin, sementara ia harus segera berangkat kerja. Hal
menjengkelkan seperti itu tidak saja terjadi satu kali. Pernah juga terjadi
ketika Joey dan teman-temannya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat.
Sementara Frank sedang bertugas di sungai sebagai traffic controller, Joey dan
teman-temannya menjarah koleksi minuman miliknya yang masih terisi bourbon, old-
style Wild Turkey, dan Old Forrester yang segelnya masih tertutup rapat.
Kejadian tersebut telah membuat Frank sakit hati. Ia telah mengumpulkan dan
membeli koleksi botolnya, baik kosong maupun masih penuh, dari bandar minuman
keras; dan benda-benda tersebut sangat bernilai bagi Frank. Frank kehilangan
kesabarannya dan memutuskan bahwa ia tidak bisa hidup berdampingan dengan Joey
beserta rekan-rekannya yang tidak tahu aturan. Bagi Joey, sebotol bourbon adalah
sebotol minuman bourbon, tidak memiliki nilai lebih apa pun kecuali sekadar
minuman keras. Menenggaknya habis ketika dibutuhkan, dan membelinya kembali ketika dompet sudah
terisi uang. Joey tidak dapat memahami mengapa seseorang dapat menikmati sebotol
minuman tanpa membukanya atau mencicipinya dan meminumnya sama sekali.
Frank akhirnya menemukan tempat tinggal yang cocok di New Jersey.
Ia pindah ke sana. Tanpa sakit hati. Ia tidak dapat terus menerus merasa kesal
dan marah pada Joey karena betapa menjengkelkan kelakuan pria yang satu ini.
Sebenarnya Frank tahu Joey tidak pernah bermaksud jelek sama sekali. Selain itu,
ada sesuatu hal yang sukar untuk dijelaskan dalam diri Joey, yang membuatnya
luluh dan tidak bisa tegas, apalagi marah padanya. Setelah kemarahannya reda,
Frank akan segera merasa bersalah karena telah kehilangan kendali emosi dirinya
kepada lelaki itu. Frank selalu saja merasa sukar untuk menjelaskan mengapa
botol minuman koleksinya penting baginya, ia pun sempat merasa ragu akan hobinya
tersebut; dan kenyataannya Joey dengan polosnya dan merasa tidak berdosa, bahkan
terkesan dungu, akan mengulangi perbuatannya yang tidak disenangi oleh Frank.
Joey, jika ia meminjam atau meminta sesuatu dan tidak pernah ditagih, ia akan
lupa untuk mengembalikannya. Lagi pula, barang apa yang bisa diambil sebagai
penggantinya yang Joey miliki" Ia tidak punya apa-apa.
Pagi hari itu, suasana masih gelap, Frank harus berangkat bekerja giliran pagi.
"Hey, Frank. Ini aku, Joey. Dengar baik-baik, Frank, aku dalam masalah besar.
Aku perlu bicara denganmu."
"Aku sedang berada di tempat kerja sekarang, Joey," jawab Frank.
"Jam berapa kau selesai?"
"Lebih kurang lima belas menit lagi."
"Aku perlu bicara denganmu."
"Kamu di mana, Joey?"
"Fourth and Butler."
"Okay. Aku akan menjemputmu di Sixth and Porter. Lima belas menit lagi."
Mobil Frankie, Chevelle berwarna merah berhenti di sudut jalan yang telah
dijanjikan, tepat pada waktunya.
"Man, kau terlihat menjijikan," kata Frank ketika Joey naik ke dalam mobilnya.
Tubuhnya juga bau. "Aku belum bisa tidur selama beberapa hari terakhir," jawab Joey yang kemudian
segera menjelaskan kepada Frank bahwa dialah 'orangnya yang menemukan uang'
milik Purolator. Ia menjelaskan dirinya telah menitipkan $800,000 kepada kedua
kenalannya serta mengatakan mungkin dirinya tengah diburu oleh pihak yang
berwajib, begitu juga oleh polisi yang membawa anjing pelacak dan menaiki
helikopter ... "Banyak pihak yang sedang mengejarku. Mereka akan menangkapku!" Katanya.
"Joey, dengar. Tenanglah."
"Aku harus keluar dari kota ini," kata Joey, kemudian dengan nada memaksa, "Kau
harus menolongku. Aku sedang diincar. Aku masih memiliki sebagian kecil uang
itu." "Mana uangnya sekarang?"
"Linda akan mengantarkannya. Dia pasti akan datang sebentar lagi."
Joey menunjukkan pistol magnum kaliber 0.44 yang terasa mengganggu, mengganjal
di punggungnya dan telah dibawanya ke mana-mana selama dua hari terakhir.
Punggungnya lecet karena benda itu. Joey meminta Frank untuk membawanya dalam
kapal yang melintas di sungai Delaware, pergi jauh dari Philadelphia bahkan ke
luar negeri. "Polisi pastinya akan menjaga setiap stasiun kereta dan di airport," kata Joey.
Frank hanya terdiam melongo di depan stir, tanpa bisa berucap sepatah kata pun.
Tubuh Joey gemetar dan ia histeria, juga takut jika saja Frank tidak memercayai
kebenaran ceritanya. Frank tentu saja telah mendengar berita kehilangan uang
jutaan dolar tersebut namun, ia meragukan bahwa kelompok geng terlibat dalam
urusan Joey. Bedebah para anggota kelompok geng mafia yang terorganisir dengan
rapi seperti di Philadelphia itu, tidak akan membiarkan Joey berkeliaran dengan
sisa uang $400,000 masih di tangannya. Frank mengenal Carl Masi. Menurut Frank,
Masi pintar telah menyuruh seseorang yang mirip atau seolah-olah Sonny
Riccobene, untuk datang ke rumahnya. Tentunya, ia berniat menakut-nakuti Joey
sehingga pada suatu titik stres tertentu yang dialami Joey karena ketakutan
jiwanya terancam kelompok geng tersebut, tentu Joey mau menyerahkan sepertiga
bagian, sisa uang yang semestinya masih berada di tangannya. Frank yang telah
mengetahui gelagat dan modus operandi yang dilakukan Carl Masi, tidak segera
memberitahu Joey, bahwa uangnya senilai $800,000, yang dititipkan pada kedua
pria itu, akan lenyap secara permanen, untuk selamanya.
Frank dan Joey duduk di dalam mobil sambil menunggu Linda, yang muncul kemudian
dengan membawa sisa uang Joey yang telah dimasukkannya ke dalam beberapa buah
kaos kaki. Linda menyimpan uang itu di balik jaket yang dikenakannya, ia masuk
mobil dan duduk di jok belakang, membuka jaket, dan segera memberikannya pada
Joey. Frank menatap lama sekali pada tumpukan uang yang baru saja diberikan
Linda, kemudian ia menatap dalam-dalam pada gadis itu. Ia sudah dapat menduga
bahwa Linda telah membuat masalah baru. Namun ia belum tahu tindakan apa yang
akan dilakukannya pada pacar Joey, dan Frank perlu berbicara empat mata dengan
Joey. "Linda, kupikir akan lebih baik jika kau menunggu di rumahmu untuk sementara
waktu dan aku akan pastikan Joey segera mengabarimu tentang rencana
selanjutnya," kata Frank. "Jangan bilang pada siapa pun bahwa kita bertemu saat
ini. Jangan katakan kepada siapa-siapa bahwa Joey bersamaku."
"Dengar, sayang, jika aku berhasil mengatur segala sesuatunya sesuai rencana,
aku akan segera menghubungimu," kata Joey. "Kita akan segera pergi ke luar
negeri." Frank mengemudikan mobilnya, membawa serta Joey menuju rumahnya di kawasan
pinggiran kota, di Erial, New Jersey. Mereka menghitung uang yang digelar di
meja dapur. Selesai menghitung, didapati jumlah keseluruhan uang tersebut kini
tinggal $119,900. "Mana lagi sisa uangnya?" Tanya Frank.
"Semua disatukan di situ, koq."
"Joey, kau bilang padaku bahwa dirimu masih memiliki empat ratus ribu dolar!
Kenyataannya hanya sekitar seratus dua puluh ribu dolar!
Artinya, uang ini telah hilang hampir sebanyak dua ratus delapan puluh ribu
dolar!" "Pastilah Linda telah mengambilnya."
"Joey! Uang ini hilang dua ratus delapan puluh ribu dolar" Apa kau yakin
semestinya empat ratus ribu dolar semuanya?"
"Yeah. Pacarku pasti telah mengambilnya," jawab Joey santai seolah tidak merasa
kehilangan sama sekali. Joey tentu saja tidak memberitahu Frank apa pun tentang Mike DiCriscio. Ia
mencoba bermain licik, pikirnya cukup memberitahu semua pihak yang terlibat
dengannya dan jumlah kasar keseluruhan uangnya saja.
Joey merasa dialah yang berkuasa untuk mengatur semua pihak. Joey pikir dialah
satu-satunya orang yang berhak mengetahui rangkaian teka-teki di pihak mana saja
keseluruhan uangnya kini tersangkut.
"Aku menguburnya di suatu tempat," kata Joey, namun tatapan mata polosnya tidak
bisa menyembunyikan kebohongannya dan sepertinya ia masih ingin terus bercerita.
Setelah ia ragu sejenak dan sebelum Frank sempat menimpali, Joey, seperti
biasanya tidak dapat menahan diri dari rahasia apa pun, ia lalu bercerita
panjang lebar tentang kisah petualangannya. Ia kehilangan jejak kisahnya
sendiri. Joey kebingungan siapa saja yang telah melakukan kontak dengannya, di
mana saja, dan berapa jumlah uang yang tersebar. Joey semakin ngawur. Frank
segera menghentikan celotehan Joey.
"Okay, okay," katanya. "Dengar baik-baik Joey. Kau tidak perlu bercerita panjang
lebar lagi. Semakin sedikit yang aku ketahui tentang kronologis uang ini,
semakin baik bagiku. Kau bilang telah mengubur uang ini. Itu sudah cukup,
baiklah, anggap saja aku percaya. Anggap saja kau benar-benar telah mengubur
sisa uang yang hilang. Semakin sedikit yang aku ketahui, semakin baik efeknya
bagimu." "Okay." Frank pikir langkah terbaik yang harus dilakukannya adalah mencari solusi atas
uang yang kini berada di hadapan mereka. Kenyataannya sudah jelas, Joey telah
kehilangan sebagian besar uang jutaan dolar itu. Pastinya Joey memerlukan suatu
sistem untuk menelusuri kembali uangnya. Frank berinisiatif untuk memperlakukan
pria itu seperti seorang bocah yang perlu bimbingan.
"Begini saja, Joey, mengapa tak kau ambil uang itu lalu kau masukkan ke dalam
amplop,' kata Frank. Ia pergi meninggalkan dapur kemudian kembali menemui Joey
dengan membawa setumpuk amplop putih.
"Sekarang, coba kau hitung lima puluh lembar uang pecahan seratus dolar, dan
setiap nilai yang telah dipecah dimasukkan ke dalam masing-masing amplop yang
terpisah." Sementara Joey menghitung dan memasukkan jumlah yang telah dipecah masing-masing
lima puluh lembar seratus dolaran, ia mulai mengingat di mana saja sisa uang
yang belum kembali padanya, berada. Ia memberi tahu Frank tentang Mike
DiCriscio. "Tadi katamu kau telah mengubur uang itu," kata Frank yang tentunya kesal atas
kecerobohan temannya itu.
Joey hanya mengangkat bahu.
"Joey, terus terang saja, siapa saja yang telah mengetahui bahwa kau menemukan
uang ini?" Frank mendengarkan dengan seksama, lalu ia merasa terguncang, kemudian dirinya
merasa bingung; ketika Joey mulai menyebutkan serangkaian nama. Ada nama Behlau,
Pennock, Masi, dan ada lagi orang yang bernama Sonny, Linda Rutter, kemenakan
perempuan Joey, kakak perempuan Joey dan suaminya, kakak iparnya Eleanor,
mungkin juga kakak Joey Billy, Mike DiCriscio, John DiBruno, bartender di bar
Dick's Lee ... "Bartender di Dick's Lee?"
Joey nyinyir kuda. Frank menggelengkan kepala. Ia sedih. "Joey, jika kau tetap berniat menahan uang
ini, lupakan saja! Kau telah membagikannya kepada semua orang. Semua orang telah
mengetahui rahasiamu! Tidak mungkin kau dapat kabur dari permasalahan yang akan
timbul. Bagaimana mungkin kau bisa membelanjakan uangmu dengan aman" Kau harus
bisa menarik kembali sebisa dan sebanyak mungkin uang itu untuk ditukar dengan
imbalan dari Purolator sebesar 550,000. Kau harus meminta bantuan seorang
pengacara dan coba kita lihat apa yang bisa dilakukannya untuk menolongmu."
Joey menekankan pada Frank bahwa dia tidak mungkin melakukannya walaupun ia
berniat demikian. "Kelompok mafia telah menguasai uang itu, Frank. Mereka akan terus mencariku.
Mungkin juga sekarang, mereka sedang mengincar
keberadaanku!" Frank ragu, akan tetapi ia melihat dari wajah temannya bahwa lelaki itu terlalu
ketakutan untuk dapat menerima saran apa pun dengan kepala dingin. Dengan alasan
apa pun, Joey masih sayang untuk melepas uang temuannya. Ia punya suatu rencana.
Joey masih percaya uang yang sedang berkeliaran sekarang akan kembali padanya.
Pada momen yang sama, Joey takut pada Cari dan Sonny, walau ia dengan keras
kepala telah berusaha memercayai keduanya serta percaya pada Mike DiCriscio.
Frank merasakan situasi yang aneh. Pada satu sisi ia merasa mengetahui cara
terbaik bagi Joey, sebaliknya pada sisi lainnya, Joey telah meminta
pertolongannya, telah menaruh kepercayaan padanya. Joey juga kawan lama Frank.
Ia merasa sudah sepatutnya membantu teman, bahkan jikalau hal itu bertentangan
dengan nalar positif yang ada dalam benaknya.
"Kau harus membawaku keluar negeri dengan kapal laut," kata Joey.


Joey Si Frustasi Yang Beruntung Karya Mark Bowden di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Frank sadar akan risiko dan komplikasi menjalankan rencana sesuai keinginan
Joey. Ia rela membantu teman. Namun ia tidak mungkin melibatkan pekerjaannya
yang tentunya akan membahayakan masa depannya.
"Joey kau tidak bisa semudah membalikkan telapak tangan, naik ke atas kapal dan
berlayar ke luar negeri. Kenapa kau tidak pergi ke Meksiko saja" Kau tidak perlu
paspor untuk pergi ke sana. Perlu waktu dua atau tiga hari, paling tidak untuk
mengurus paspor, dan petugas keamanan di kantor imigrasi tentu akan segera
menangkapmu ketika kau menunggu aplikasi paspor disetujui. Kurasa, tidak ada
perjanjian ektradisi antara Amerika dan Meksiko. Setibanya kau di sana, kau bisa
melanjutkan terbang ke Swiss atau ke mana saja yang kau mau."
Mantan istri Frank, Laura, bekerja pada American Express Travel Agency. Frank
mengatakan ia akan mengurus tiket penerbangannya ke luar negeri. Sementara Joey
melanjutkan menghitung uang, Frank menelepon Laura dan menjelaskan situasi yang
sedang dihadapi temannya. Menurut hemat Frank, Joey sebaiknya pergi ke luar
negeri dari airport New York, siapa tahupolisi tengah berjaga-jaga di bandara
setempat. Ia menyadari bahwa polisi telah mengetahui, lebih kurang, ciri-ciri
fisik Joey. Laura menjelaskan bahwa terdapat penerbangan nonstop dari bandara
John F. Kennedy, New York ke Acapulco, yang berangkat pada hari Rabu pagi dengan begitu
Frank dan Joey memiliki waktu sehari penuh untuk tiba di New York dan
selanjutnya boarding ke atas pesawat, di sana.
Frank menanyakan pada Joey jika temannya tersebut memiliki KTP, atau Surat Kenal
Lahir, atau semacam kartu Pemilu. Joey menjawab, tidak.
Frank memesan tiket round-trip, penerbangan pergi-pulang, menggunakan namanya.
Menurut pemikiran Frank, tiket round-trip tentu akan menghindarkan kecurigaan
dari pihak imigrasi, Joey akan memiliki alasan kuat bahwa ia tidak sedang kabur
dari negaranya, atau jika sesuatu hal yang tidak diharapkan terjadi di Meksiko,
ia akan mudah untuk kembali ke Amerika.
Frank kembali ke dapur, ia meminta uang ratusan dolar secukupnya untuk membayar
tiket pesawat. "Aku akan pergi mengatur rencana perjalananmu," Frank berkata kepada Joey. "Kau
tenang-tenang saja di sini dan tunggu aku pulang.
Jangan ke mana-mana dan jangan menjawab semua panggilan telepon masuk."
Frank pergi ke bank untuk menyetor uang dari Joey ke dalam rekening miliknya. Ia
kemudian pergi ke Philadelphia mengunjungi Laura di kantor American Express
untuk membeli tiket pesawat dengan menggunakan cek pribadi atas nama dirinya.
Laura membuat reservasi untuk Joey di sebuah hotel di Acapulco. Ketika Frank
kembali tiba di rumahnya, ia mendapati Joey sedang melakukan percakapan telepon.
Frank marah. Ia mengancam akan mengusirnya jika dia tidak bersikap seperti yang
disuruhnya. Joey menjelaskan bahwa ia menelepon John Behlau yang memberinya batas waktu
hingga jam delapan malam sebelum dia melapor kepada polisi.
"Ya ...jika kau tetap bersikeras untuk melakukan sesuai kemauanmu, Joey, kita
harus berangkat detik ini juga," kata Frank. "Kita akan menginap di New York,
Joey. Apa tekadmu sudah bulat bahwa kau tidak mau menghubungi pengacara untuk
mengatur pengembalian uang dan bernegosiasi mengenai nilai uang imbalan yang
akan mereka berikan" Apa kau yakin berani mengambil semua risiko yang akan
timbul?" "Aku tidak akan pernah mengembalikan uang itu, "kata Joey.
"Sepanjang hidup, kita telah bermimpi untuk mendapat kesempatan sebaik ini,
Frank. Ini adalah kesempatan terbaik kita. Mengapa kau tidak ikut saja
denganku?" Frank menggelengkan kepala. "Tidak. Aku akan membantumu, tapi tidak akan ikut
pergi denganmu ke luar negeri. Jika kau ingin pergi, kau bisa pergi sendiri."
Mereka berkemas dan bersiap untuk segera berangkat.
Keduanya mengosongkan dompet Joey, membakar semua kartu dan kertas yang berbau
informasi tentang diri Joey dalam tungku perapian di ruang keluarga. Frank
mengambil sertifikat kelahiran baptis-nya, kartu pemilu, KTP
dan identitas lain menyangkut dirinya, kemudian menyodorkannya pada Joey.
Selama Joey menghitung uang tadi, ia menemukan 13 lembaran uang kertas yang
telah distempel dengan cap "Federal Reserve Bank" dan dibubuhi tanggal sesuai
waktu ketika ia menemukan uang: "February 26, 1981. "Kesemuanya ditemukan Joey
pada lembaran kertas paling atas disetiap bundel yang dibukanya. Joey
memberikannya pada Frank untuk dibakar. Frank berkata bahwa ia tidak mungkin
membakar ke tiga belas lembar uang atau senilai $1,300. Lalu katanya, ia akan
menyimpannya untuk sementara waktu.
Frank memasukkan semua keperluan Joey ke dalam satu tas. Mereka telah siap
berangkat, namun tiba-tiba Joey berkata bahwa dia akan mengurungkan niat untuk
kabur. "Apa!" Frank mulai frustasi. "Kenapa tidak jadi?"
"Frank, ibuku sakit keras. Bagaimana jika penyakitnya bertambah parah dan harus
dilarikan ke rumah sakit sementara aku melarikan diri?"
"Bukankah dia tinggal bersama Ellen dan Charlie?"
"Yeah, aku membawa uang banyak, bukan" Aku tidak mungkin dapat pergi bebas
begitu saja. Bagaimana jika mereka menangkapku di atas pesawat?"
Frank memahami ketakutan Joey.
"Tenang, Joey, Rileks. Tidak seorang akan membunuhmu di dalam pesawat. Jika kau
mencemaskan kesehatan ibumu dan mau menitipkan sesuatu untuknya, kalau-kalau ia
perlu masuk rumah sakit, baiklah. Aku akan meyakinkan jikapun ia harus dirawat,
semua tagihan perawatan akan aku urus sebaik-baiknya."
Joey memberi Frank dua buah amplop, $10,000; dan menambahkan uang tunai sebesar
$4,800 untuk biaya yang diperlukan Frank mengurus ibunya selama Joey pergi jika,
mungkin, Frank sendiri harus terbang ke Acapulco menyusulnya untuk membawa Joey
pulang bersamanya. Frank berkata bahwa ia akan menyimpan uangnya di suatu tempat yang aman. Frank
kembali meminta Joey menunggu sementara ia pergi sebentar dan menyuruhnya
menjauhi telepon. Dia berangkat ke rumah Pacarnya tidak jauh dari situ. Frank
menitipkan uang sebesar $14,500 serta uang yang ditandai bank, yang tadi
diberikan oleh Joey kepadanya. Ketika ia kembali, Frank mendapati Joey sedang
rebahan di kasur kamar tidur yang terletak di lantai dua, sebelah tangan
memegangi tas yang penuh berisi uang, dan satunya memegangi pistol Magnum
kaliber 0.44. "Joey apa yang kau pikirkan, seseorang akan mendobrak pintu rumah dan
merampokmu?" 'Ya ... mungkin saja," jawabnya,
"Kau benar-benar paranoid," Frank berkata dan untuk kali pertamanya pada hari
itu, keduanya tertawa terpingkal-pingkal.
2 Fajar hari Selasa pagi telah menyingsing. Lima hari sudah berlalu sejak kejadian
uang jutaan dolar terjatuh dari mobil boks untuk kali pertamanya.
Pat tidak memiliki petunjuk lain yang memungkinkannya melanjutkan investigasi
lebih jauh, selain petunjuk terakhir yang didapatinya pada hari Kamis; tentang
deskripsi mobil yang terlihat di TKP, ciri-ciri lelaki muda yang mengambil
kantong uang, dan seorang pria tua yang badannya agak bongkok serta cek buku
asli atau, mungkin bekerja di seputar lokasi kejadian dekat tempat pembuangan
sampah di Front Street. Pat lelah dan bosan melihat setumpuk file kertas manila yang berisi laporan dari
masyarakat tentang petunjuk kasus yang dihadapinya, yang telah terkumpul selama
lima hari terakhir. Dengan perutnya yang lapar, Pat merasakan naluri yang kurang
baik dari kasus ini. Pat melihat sebuah pesan yang belum pernah dibaca sebelumnya.
Pesan yang masuk ke mejanya pada hari Sabtu, sebuah pesan dari Gloucester City,
Kepolisian New Jersey yang meralat laporan tentang model dan tahun keluaran
mobil Chevy yang terlantar di sebuah gudang dekat pelabuhan. Malibu tersebut
bukanlah model 75 melainkan keluaran tahun 71!
Dua orang rekan Pat mengemudi dan menyeberangi jembatan Walt Whitman menuju
Gloecester City untuk membuktikan kebenaran laporan.
Benar saja, Chevy Malibu marun tahun 1971, dengan warna biru primer di bumper
depan sebelah kanan. Hampir pasti, mobil itulah yang dimaksud dalam laporannya.
Ketika Pat mendapatkan laporan tentang mobil tersebut, ia segera mencatat nomor
senal plat kendaraan tersebut. Informasi yang didapat dari layar monitor
komputer adalah mobil tersebut terdaftar sebagai milik John Henry Behlau yang
tinggal di 314 Durfor Street yang mana, Pat segera teringat bahwa tempat itu
hanya berjarak tidak lebih dari tiga blok jauhnya dari tempat terjatuhnya uang
Purolator. Pat segera meluncur ke lokasi bersama sekelompok investigator berseragam. Mereka
menuju rumah termaksud. Ketika ia menekan bel pintu, seorang wanita membukanya.
Dia menatap tajam pada sang detektif lalu memandangi teman-teman Pat yang
mengenakan seragam. Pat mengenalkan diri. Wanita itu tidak terlihat kaget sama
sekali. "Kami semua bertanya-tanya kapan kalian akan datang ke sini,"
katanya. 3 Saat itu jarum jam menunjukkan pukul lima sore ketika Frank dan Joey tengah
bersiap-siap untuk meninggalkan rumah, berangkat ke New York.
Frank menyuruh Joey untuk meninggalkan pistolnya.
"Pistol ini akan menjadi salah satu alasan kita berdua di penjara selain karena
urusan uang," kata Frank menjelaskan pada Joey. "Kasusnya akan jauh berbeda jika
polisi menemukan kita berdua membawa uang dan senjata api."
Keduanya bergegas pergi. Mereka berputar-putar dan sempat frustasi, selama empat
puluh lima menit, sebelum menemukan tikungan jalan New Jersey.
Setelah sampai di perempatan, mereka barulah mengenali jalan di sana. Ketika
keduanya masih berusia enam belas tahun, dan Joey baru saja mendapatkan SIM
pelajarnya, keduanya pernah mengemudi sepanjang Broad Street, merasa seperti
orang besar dan mengajak serta dua orang perempuan yang usianya jauh lebih tua,
sedang berdiri di tepi jalan dan mencoba mendapatkan tumpangan ke New York.
"Maukah kalian pergi bersama kami ke New York?" Tanya perempuan tadi.
Frank menatap pada Joey, dan sebaliknya, Joey memandangi wajah reaksi Frank.
"Boleh!" Kata mereka serempak, dan keduanya berangkat beserta kedua orang wanita
itu, ke kota New York, pada malam itu juga. Kedua pemuda itu hanya memiliki uang
lima dolar yang sebagian besar digunakan untuk membayar tol. Mereka tertawa dan
bersenda gurau sepanjang perjalanan. Kedua wanita itu terus menerus merayu bahwa
Joey dan Frank tampan dan gagah. Kedua pria berusia enam belas tahun, tentu saja
senang bukan kepalang, seperti baru saja memenangkan lotere; hidungnya kembang
kempis, kepala keduanya manggut-manggut, dan pandangan mata mereka cerah
berbinar. Sesampainya di New York, kedua perempuan tadi segera membawa Frank dan
Joey menuju sebuah hotel besar bercat coklat.
Setibanya di sana, kedua perempuan berpamitan untuk pergi sebentar membeli
minuman. Mereka menyuruh Frank dan Joey untuk menunggu di lobby.
Frank dan Joey menunggu hampir dua jam sebelum menyadari apa yang tengah terjadi
pada mereka. Keduanya kembali ke mobil. Udara malam itu sangat dingin sehingga
mereka tetap menghidupkan mesin mobil, mengunci pintu, menyalakan heater,
penghangat ruangan dalam mobil; lalu mencoba tidur. Mereka terbangun keesokan
harinya ketika seorang polisi patroli mengetuk atap mobil dengan tongkatnya.
Kedua pria muda itu berhasil mengumpulkan uang dari saku senilai total lima
puluh sen, yang dipakai membeli donat dan secangkir kecil kopi untuk dinikmati
berdua. Mobil hampir kehabisan bensin dan mereka sudah tidak lagi mempunyai uang sepeser
pun. Frankie menelepon ibunya. Ia punya seorang teman yang tinggal di Brooktyn.
Frankie dan Joey segera meluncur ke sana. Setelah mengemudi sekian lamanya di
tengah kemacetan lalulintas, ditambah pula keduanya tersesat, Frankie menyuruh
Joey minggir. Joey menghentikan kendaraan.
Frankie pergi untuk bertanya pada seorang polisi yang sedang bertugas di
perempatan: jalan ke Brooklyn. Polisi melihat seorang pengemudi remaja di
belakang stir mobil yang sedang parkir di tepi jalan, ia menghampiri mobil itu
dan menanyakan SIM sang pengemudi. Joey menunjukkan pada polisi Cinderella
License, semacam SIM lokal yang diberikan pada pelajar sebagai identitas bahwa
pengemudi tersebut baru bisa menyetir dan masih dalam masa percobaan. SIM Joey
tidak berlaku di New York, kedua pemuda itu pun ditahan polisi. Ibu Frank
akhirnya muncul untuk membebaskan mereka, membayar penginapan untuk keduanya
beristirahat, memberi bekal untuk makan, minum, dan membeli bensin serta
membayar tol. Kejadian itu telah berlalu lebih dari satu dekade, dan sekarang keduanya
merasakan kegembiraan yang sama seperti ketika mereka berangkat ke New York
dulu. Hanya saja, perbedaannya adalah kini mereka mengemudi mobil ke kota besar
di arah utara itu dengan membawa uang tunai senilai lebih dari $100,000. Siang
itu, Frank berkata kepada Joey untuk berhenti di sebuah teko karena ia ingin
membeli jas baru. Joey tidak berani mengambil risiko, namun ia menghentikan
kendaraannya. "Membantu dan bersekongkol," kata Frank. "Itulah yang sedang aku lakukan
sekarang di sini. Jika kita tertangkap, aku sendiri sama bermasalah seperti
halnya dirimu, posisi kita sama."
"Masalah apa?" Tanya Joey. "Aku tidak melakukan kesalahan apa pun."
Frank menjelaskan bahwa uang yang dibawa Joey bukanlah mutlak miliknya.
"Hey, kepemilikanku atas uang ini secara hukum tidak bisa sepenuhnya
disalahkan," jawab Joey bersikeras seolah-olah mengerti hukum. "Aku tidak
melakukan kejahatan apa pun."
Frank menjelaskan bahwa, sesuai pemahamannya pada aturan yang berlaku, hukum
menegaskan bahwa jika seseorang menemukan sesuatu yang berharga, maka orang
tersebut diharuskan untuk mengembalikannya.
Jika tidak, maka orang tersebut dianggap telah melakukan pencurian.
"Tidak bisa!" Sanggah Joey yang buta hukum dan tetap merasa uang itu miliknya.
"Finders Keepers!" siapa yang menemukannya, dialah yang memilikinya; "itulah
hukum lama yang paling benar dan masih berlaku."
Frank kembali menjelaskan bahwa memang hukum tersebut berlaku pada tatanan
masyarakat dulu, tetapi menurut hukum yang berlaku di Pennsylvania saat ini,
aturan tersebut sudah tidak dipakai lagi. Joey tidak mau mendengar penjelasan
Frank. Mereka akhirnya cheek-in di Sky Line Inn, yang mereka pilih asal saja setibanya
di Manhattan. Di ruang kamar mereka di lantai atas, Frank menelepon jasa
penyewaan limo untuk malam itu. Joey menyuntikkan speed-nya di kamar mandi, dan
semua amplop uang dimasukan ke dalam kaus kaki. Tidak muat. Sepatu boots Joey
pendek sementara kaos kakinya panjang dan melorot karena terbebani beratnya
amplop uang. Joey tidak mau meninggalkan uangnya di ruang kamar hotel, dan ia
tidak mau dirinya menghabiskan waktu semalaman berada di dalam kamar, Joey pun
berlari ke lobby untuk membeli selotif. Ia kembali ke kamar dan memasukkan
setengah dari jumlah uang yang dikeluarkannya tadi, ke dalam kaos kaki yang
sama, lalu membalutnya dengan selotif pada bagian atas kaos kaki tersebut.
Beres, pikirnya. Sebagian dari amplop uang disimpannya di laci, dan Joey
mengambil sebuah amplop lagi untuk dimasukkan ke dalam saku jaketnya.
Mereka kini sedang berada di New York, saat itu adalah malam terakhir keduanya
berada di kota besar sebelum Joey berangkat ke luar negeri pada keesokan
harinya. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan berniat menghabiskan
sebagian kecil uang. Dalam perjalanan keluar dari hotel, Joey sempat
menggantungkan tanda DO NOT DISTURB di gagang pintu kamar dan memasang sedikit
selotif dari daun pintu ke kusen agar ia tahu jikalau ada seseorang yang telah
memasuki kamarnya. Joey takut kepada mafia yang akan mampu melacaknya hingga ke
tempat itu. Frank hanya menggelengkan kepala. Ia berpikir bahwa kehati-hatian
Joey yang terlalu berlebihan terlihat lucu, tetapi, ada baiknya juga dia
bertingkah seperti itu, karena ketegangan Joey akibat rasa takut yang
menghantuinya, sedikit reda.
Mereka turun ke lantai dasar untuk menunggu limo. Joey sudah tidak sabar, ia
memasuki sebuah taksi yang sedang parkir di situ, kemudian menyuruh pengemudi
segera tancap gas menuju Broadway. Ia berkata kepada supir taksi bahwa mereka
tidak akan pergi untuk menonton pertunjukan show melainkan untuk bersenang-
senang dengan pelacur. Pengemudi taksi menawarkan jasa untuk membantu mereka. Mereka pergi jauh dari
kawasan kota dan berhenti di sebuah kawasan di mana terdapat deretan rumah-rumah
batako. Sempat terlintas dalam benak Joey, dengan semua uang yang disimpan dalam kaos
kakinya, tentu ia akan terlihat lucu jika dirinya diperlukan untuk membuka
celana, nanti. Ia menunggu di luar sementara Frank, dengan diantar oleh supir
taksi, naik ke ruangan atas. Sepuluh menit kemudian Frank kembali sambil
menyeringai dan wajahnya berseri-seri, lalu menyadari tiket pesawat tidak berada
di saku celana. Ia kembali ke atas dan berteriak, katanya, ia telah dirampok.
Tiket ditemukan dalam amplop yang tergeletak di lantai. Seorang wanita mengikuti
Frank menemui Joey di lantai bawah. Dia mengikuti mereka masuk ke dalam taksi
dan menawarkan jasa seksual pada Joey.
"Tidak, terima kasih. Gak usah, terima kasih, sayang," jawab Joey sambil
menghindar dari wanita itu. Joey sebenarnya tidak enak untuk menolak namun ia


Joey Si Frustasi Yang Beruntung Karya Mark Bowden di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

keberatan untuk diketahui kaos kakinya penuh dengan uang. Sebelah tangannya
merogoh saku, mengambil gulungan uang kertas seratus dolaran lalu menarik satu
lembar dan diberikannya pada wanita itu.
Mereka pun berangkat, meninggalkan wanita tadi berdiri di tepi jalan sambil
tersenyum dan melambaikan tangan.
4 Cahaya lampu sorot dari helikopter dan kamera para wartawan menerangi halaman
depan rumah Carl Masi. Siaran langsung tengah disiarkan di televisi swasta. Kru
berjejer seperti sedang melangsungkan acara syuting film di sana. Sedari tadi,
para wartawan telah keluar masuk halaman rumah para tetangga Masi, mengetuk
pintu, dan mewawancarai penghuninya, apa yang mereka ketahui tentang keluarga
Carl Masi. Dee sedang berada di dalam rumah, ia panik dan ketakutan.
"Mereka orang baik dan ramah kepada tetangga," kata salah seorang tetangga Masi,
yang merasa cemas mungkin tidak seharusnya ia berkomentar apa pun.
Sekelompok reporter sedang berkumpul, menunggu di jalan kecil belakang rumah
Masi. Dua orang wanita muncul dari rumah yang terletak di belakang. Salah satu
dari kedua wanita itu mengenakan jacket bulu binatang yang disarungkan di leher
dan bahunya. Kedua wanita berjalan melewati para reporter yang sedang
berkerumun, membuka pintu gerbang belakang rumah Masi kemudian mengetuk pintu
belakang. Seorang polisi membukakan pintu.
"Dia baru saja meneleponku dan meminta kami datang," kata wanita yang mengenakan
jaket bulu binatang. Polisi menahan langkah mereka, katanya, keduanya tidak
diizinkan masuk. "Nyonya Masi sedang histeris di dalam sana!' Jawab wanita tadi berteriak. "Ia
membutuhkan kehadiran kami. Biarkan kami masuk. Ia tidak mempunyai teman untuk
berkeluh kesah.' Polisi dengan halus mengusir kedua wanita tersebut. Dengan perasaan kesal,
keduanya berlalu dan melirik pada kamera wartawan yang sedari tadi meliput
kejadian itu. "Kamu sekalian tidak lebih dari sekelompok manusia yang senang menimbulkan
tragedi bagi orang lain, iya kan?"
Ini sebenarnya bukan tragedi. Ini adalah misteri. Penduduk kota ini tidak
sepenuhnya mengikuti setiap momen kasus heboh yang sepertinya semakin mendekati
pengungkapan misteri atas peristiwa yang sesungguhnya sedang terjadi.
Para detektif memeriksa setiap sudut rumah Masi. Beberapa polisi berseragam
tampak berjaga-jaga di seputar rumah bagian luar, baik di sisi depan, maupun
belakang; serta menahan masyarakat yang semakin lama, jumlahnya semakin banyak,
berdesakan, seakan berlomba dengan para reporter yang sedang meliput berita
penting itu. Kabar burung yang menyebar di kalangan masyarakat adalah polisi
telah menemukan uang jutaan dolar milik Purolator yang hilang, Namun kabar itu
sepertinya harus menggantung tanpa kesimpulan, sebab polisi seakan bungkam tanpa
berani memberi komentar apa pun.
Menjelang sore, kamera wartawan menangkap gambar Carl Masi, mengenakan jaket
kulit, dan digiring keluar dari pintu depan rumahnya menuju mobil polisi.
Beberapa orang detektif mengikutinya sambil membawa beberapa buah kantong sampah
berwarna hijau. Dugaan massa adalah kantong-kantong tersebut berisi penuh uang
yang hilang dan telah ditemukan di rumah Masi, akan tetapi, satu jam kemudian,
dalam acara berita di televisi dan radio, pihak kepolisian memberikan pernyataan
bahwa uang Purolator belum ditemukan.
Liputan kejadian penggeledahan di rumah Masi, hanya berselang beberapa jam saja
setelah polisi mengetuk pintu depan rumah John Behlau.
Saat itu, John dan Jed terlihat sangat ketakutan, kesal, dan marah. Setelah
berkonsultasi dengan seorang pengacara sore itu, serta mendapati kepastian
penjelasan bahwa keduanya tidak hanya dapat menghindar dari tuntutan, tetapi
juga besar kemungkinannya akan mendapat imbalan jika saja mereka memberitahukan
Joey berada. Mereka pun menjelaskan pada Pat bagaimana ketiganya menemukan uang
tersebut, lalu membawanya ke rumah Joey.
Mereka menjelaskan bagaimana, keduanya telah memaksa Joey untuk segera
mengembalikan uang temuan itu, namun Joey bersikeras memaksa John dan Jed
mengantarnya ke rumah Carl Masi untuk meminta bantuan lelaki itu. John dan Jed
lalu menjelaskan ketiga orang, Joey Coyle, Carl Masi, dan seorang pria lain.
Mereka tidak menyebut nama lelaki yang ke tiga. Kata mereka, keduanya tidak tahu
menahu siapa nama pria itu telah membagi uang menjadi tiga bagian, dan itulah
akhir cerita yang dipaparkan oleh kedua teman Joey. Di rumah Masi, polisi hanya
menemukan sisa pembakaran kertas segel pengikat uang di dalam tempat sampah
serambi belakang. Sementara penggeledahan barang bukti terus berlangsung di kawasan perumahan
seputar tempat tinggal Masi, di kantor pusat kepolisian South Detective
Division, Carl Masi merasa kepanasan. Sambil berusaha menahan rasa sakit yang
masih dirasakannya akibat operasi jantung, ia berusaha untuk tetap terlihat
tenang, walau ia pun tahu bahwa dirinya sedang menghadapi kasus yang lebih berat
daripada yang sedang dihadapi oleh Behlau dan Pennock. Para detektif tentu tahu,
bahwa ia telah dititipi bagian uang terbesar dari hasil temuan Joey dan rekan-
rekannya. Masi menjawab semua pertanyaan Detektif Pat yang menyudutkan dirinya
dengan tenang, penuh kehati-hatian, jujur, dan semua jawabannya tidak mengada-
ada. Sifat dasar Masi seorang eks-petinju yang memiliki koneksi khusus dengan geng
mafia adalah tidak mau untuk melibatkan diri membantu polisi lebih jauh.
Menurutnya, jawaban yang telah diberikannya kepada sang detektif, sudah cukup
jujur dan membantu, la telah bekerjasama dengan baik, katanya. Pat menekankan
pada Cari bahwa satu-satunya cara yang terbaik untuk menghindari tuntutan adalah
dengan mengembalikan uang Purolator, secepatnya.
Kedua orang ini seolah telah lama kenal. Suatu kemiripan sikap di antara
keduanya, telah membuat mereka dapat berkomunikasi dengan lancar, dan Cari kini
merasa nyaman dalam berdiskusi dengan Pat. Pat telah mendengar dari ayahnya. Ia
telah mencatat nama "Massey" setelah berbicara dengan Behlau dan Pennock. Ia
mencatatnya sebagai seseorang yang memiliki hubungan kuat dengan dunia mafia,
walaupun nama itu sendiri belum pernah tercatat dalam daftar pribadinya. Pat
tahu persis pergerakan terselubung grup mafia itu, namun belum pernah mendengar
nama Massey sebelumnya. Ia lalu bertanya kepada ayahnya, Pasquale Laurenzi.
Menurut ayahnya, ia sendiri pun belum pemah mendengar nama Massey.
"Ada masalah apa"' Tanya ayah Pat.
"Apa?" "Coba eja nama itu," pinta ayahnya.
"M-A-S-S-E-Y." "Bukan S-S-E-Y, tetapi M-A-S-I. Dia adalah kakak Joey Masi."
Pat telah mengenal Joey Masi sejak ia masih anak-anak. Tubuhnya pendek dan gemuk
serta ia memiliki sebuah usaha frozen food, makanan yang dibekukan, yang mana
lelaki itu sering mengantar pesanan ke toko ayahnya.
Ketika Pat mengatakan bahwa ia adalah anak dari Pasquale Laurenzi, beban berat
seakan tiba-tiba terangkat dari dadanya. Ia pun bercerita panjang lebar. Cari
sempat meminta Pat keluar kantor untuk membelikan obat penyakit jantung yang
dideritanya, Pat pun melakukannya. Akhirnya sang detektif meyakinkan Cari bahwa
ia tidak akan dikenai dakwaan apa pun atas keterlibatannya dalam konspirasi
penahanan uang temuan itu.
"Kami hanya ingin uang itu kembali, Carl."
"Ya ... tentu, namun pastinya akan menyita waktu lama," jawab Cari.
"Kau sudah boleh memulainya saat ini juga," kata Pat sembari menyodorkan pesawat
telepon pada Cari. "Jangan lupa untuk menekan angka '9' untuk terhubung ke
saluran luar." Sementara itu sesuatunya berjalan dengan sangat cepat sekarang Pat telah
mengirim buletin ke agensi hukum:
DPO: JOSEPH COYLE 28 W/M DOB 22-2-53 RES 2323 S FRONT ST PHILA. PA. 6 FOOT, 150
LBS, RMBT PIRANG KUSAM, TATOO 1 LENGAN (SHAMROCK), LUKA BKS SENJ TAJAM SBLH
WAJAH DR TELINGA KE BWH MATA KIRI, PENCURIAN, RSP & CONSP. SUBYEK BURON SP
#98946. TTD HAKIM LEDERER.
Dalam satu jam, terdapat telepon masuk dari Washington Township police di New
Jersey. Mereka telah menangkap seorang pna bernama Joseph Coyle ketika sedang
bertengkar di sebuah bar. Pat sedang sibuk bersama Carl, namun karena menemukan
uang yang hilang adalah prioritas utama, Pat menginm dua orang anak buahnya
untuk meninjau lokasi penangkapan dan pergi ke Washington Township untuk
menjemput tersangka. Ucapan selamat banyak terlontar di kantor polisi ... sementara itu, Cari terus
berusaha mengontak orangorang yang terlibat dengan uang yang hilang. Pat merasa
lega sekaligus bangga bahwa kasus sesukar itu tampaknya akan segera berakhir ...
Lalu telepon di kantornya kembali berdering. Dari kedua detektif anak buahnya
yang telah tiba di Washington Township.
Merek telah berhasil menemui Joseph Coyle. Tingginya sama, usianya tepat, juga
memiliki tato shamrock dan berambut pirang, hanya saja ... pria yang satu ini
tidak memiliki bekas luka gores senjata tajam di wajahnya. Dia adalah Joey Coyle
yang salah. 5 Setelah meninggalkan sang pelacur di pinggir jalan, Joey dan Frank meminta sang
supir taksi untuk mengantar mereka ke sebuah restoran masakan Perancis yang
paling mewah di kota itu. Malam sudah larut dan jam pelayanan makan malam telah
berakhir. Namun keduanya tetap disambut tuan rumah dengan ramah. Frank segera
beramah tamah dengan kepala pelayan, dan ia mengundangnya untuk makan malam
bersama satu meja. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam menikmati hidangan makan malam dan membuka
beberapa botol sampanye mahal dari Perancis, Dom Perignon, memakan daging burung
menu khas restoran itu, dan menikmati, hidangan penutup yang lezat. Mereka juga
mengajak sang pelayan untuk makan bersama. Uang persenan, yang mereka berikan
hampir sebesar $450. Lewat tengah malam, barulah mereka meninggalkan restoran. Mereka bba di sebuah
klab malam. Penjaga pintu tidak mengizinkan mereka masuk, barulah setelah Joey
menyodorkan $100, pintu terbuka lebar. Mereka minum-minum di sana, setelah mabuk
berat, keduanya keluar untuk memanggil taksi. Memasuki taksi, baik Joey maupun
Frank, sudah tidak ingat lagi tempat di mana mereka menginap malam itu, baik
nama hotel maupun alamatnya. Frank menyuruh pengemudi taksi untuk Berhenti di
depan Hotel Sheraton. Ia memberi uang sogokan pada petugas resepsionis malam
sebesar $50 untuk mengizinkan keduanya menginap di salah satu kamar kosong hotel
itu, walau hanya untuk beberapa jam saja. Keduanya segera menuju kamar yang
diberikan sang resepsionis. Joey segera masuk kamar mandi untuk menyuntikkan
speed nya. Joey gelisah, mondar-mandir dalam ruangan kamar dan tidak bisa tidur.
Ia membayangkan bagaimana kalau salah satu anggota mafia berhasil melacak
keberadaannya kemudian menembaknya sewaktu ia tidur. Frank merasa terganggu
dengan kelakuan Joey. "Man, aku tidak peduli apa pun yang kamu ingin lakukan, tapi sekarang, aku
benar-benar ingin tidur," katanya.
Joey berjalan-jalan ke lantai bawah hingga bba di basement, ia berada di ruang
parkir dan menemukan sebuah mobil milik orang lain yang pintunya tidak terkunci.
Joey masuk dan tidur meringkuk di jok belakang mobil itu.
HARI KETUJUH Rabu, 4 Maret 1981 1 Menjelang fajar menyingsing, ratusan dari ribuan eksemplar surat kabar yang
telah dicetak; telah tersebar luas ke seluruh penjuru kota Philadelphia dengan
halaman muka dihiasi tulisan besar-besar yang menyatakan bahwa Joey Coyle telah
tertangkap. Surat kabar telah dicetak dan tersebar sebelum pihak kepolisian
menyadari kekeliruan mereka telah menangkap Joey Coyle yang salah. Cerita dalam
berita koran pagi itu penuh dengan tulisan yang mengulas tentang seorang pria
yang selalu ceria, periang, urakan, dan sedang menganggur; seorang, pekerja
musiman di galangan kapal pelabuhan sungai, yang telah membagi-bagikan uangnya
dengan royal kepada siapa saja yang ia sukai; yang akan segera mengembalikan
harta kekayaannya, uang jutaan dolar dari hasil temuannya, milik Purolator.
PERTENGKARAN DI BAR TELAH BERHASIL MENGUNGKAP TERSANGKA YANG TELAH MELARIKAN
UANG TEMUAN SEBESAR $1,2 JUTA.
"Tidak ada jawaban apa pun," John Behlau berkata kepada seorang wartawan yang
mengetuk pintu rumahnya. "Pengacaraku menyarankan agar aku tidak menjawab
pertanyaan apa pun dari wartawan," kata John dengan raut muka yang terlihat
gembira. Di jalan raya, Jed Pennock bersikap lebih tegas, ia berkata, "Maaf, sobat. Tidak
ada komentar apa pun."
Sementara itu, Frank Santos terbangun dari tidurnya di kamar hotel kota New
York, ia mendapati Joey Coyle sedang gelisah dan berada di dekatnya.
Mereka hanya memiliki waktu lebih kurang empat jam untuk menemukan di mana Sky
Line Inn berada, mengambil sisa uang yang disimpan Joey di sana, kemudian segera
pergi ke bandara John F. Kennedy untuk penerbangan jam 10:45 ke Acapulco.
Frank bergegas mengganti pakaian. Ia dan Joey berhenti di sebuah toko yang
berada di dalam bangunan Hotel Sheraton untuk membeli tas jinjing kain seharga
dua puluh lima dolar yang penuh dengan peralatan mandi. Keduanya belum pernah
berkunjung ke Meksiko, dan Frank berpikir barang-barang keperluan sehari-hari
seperti itu, tidak akan dapat ditemukan Joey dengan mudah di Acapulco. Frank
juga membeli satu set untuknya.
Joey membeli sepasang kacamata baru yang mahal. Keduanya keluar dari hotel
Sheraton dan segera menumpang sebuah taksi.
Baik Joey maupun Frank tidak ingat sama sekali nama persis dari hotel di mana
keduanya check-in kemarin petang. Tugas keduanya saat ini adalah mencari di mana
hotel tersebut. Joey menyalahkan Frank, dan Frank menyalahkan Joey. Setelah
keduanya hampir putus asa, akhirnya, Frank menjelaskan pada supir taksi bahwa
hotel yang sedang mereka cari adalah
"Sfcy... sesuatu atau semacam itu.'
Supir taksi mengernyitkan dahi. Ia mengemudi ke arah alamat tujuan sesuai
penjelasan ala-kadarnya dari Frank. Tidak ditemukan hotel dengan tanda-tanda
sesuai penjelasannya. Joey, yang merasa jauh lebih gugup dari sebelumnya,
menyalakan sebatang rokok. Pengemudi taksi membalikan wajah dan meminta Joey
untuk segera mematikan rokoknya. Joey dan supir taksi bertengkar, mereka adu
argumentasi. "Sudah, turunkan saja kami di sini!" Frank berteriak.
Dengan tidak sabar, Frank segera membayar ongkos taksi, Joey berjalan di trotoar
mengikuti langkah kaki Frank sambil menggerutu karena kesal pada sang supir
taksi tadi. Mereka menghentikan taksi lain dengan supir yang berasal dari Iran
dan hampir-hampir tidak mengerti sama sekali maksud dari penjelasan Frank
tentang tujuan mereka. Mereka berjalan mengitari kota selama dua puluh menit
sebelum Frank akhirnya memutuskan untuk berganti taksi lain. Mereka membayar
pengemudi dan segera melangkah keluar dari taksi. Namun, ketika taksi mulai
beranjak pergi, Joey berteriak, "Oh, tidak! Tasku ketinggalan di jok belakang
taksi itu!" Frank bergegas lari menyusul taksi yang mulai melaju, melambaikan tangannya
sembari berteriak. Ia berlari dua blok jauhnya dan tempat tadi dan baru berhasil
menyusul taksi ketika mobil tersebut berhenti di lampu merah. Frank kembali
menemui Joey yang sedang bersungut betapa tolol dirinya. Saat itu, mereka berdua
memiliki uang tunai sekitar $100,000, yang sebagian besarnya ditinggal Joey
dalam kamar sebuah hotel, yang hingga detik itu, belum berhasil ditemukan
mereka, Joey merasa baik polisi Philadelphia, FBI, atau siapa pun 'hanya Tuhan
yang tahu', tengah mengejarnya. Ia pun harus bergegas berada ke dalam pesawatnya
menuju Acapulco dan harus bertarung melawan sesaknya orang yang berkeliaran di
kota paling sibuk di seluruh dunia. Ironinya ia lebih memenangkan berlari cepat
mengejar tas belanja senilai hanya $25 dolar saja, yang tertinggal di jok
belakang taksi. Frank melempar tas itu ke muka Joey segera setelah ia mendekat
padanya. Supir taksi yang ketiga, seorang pria yang usianya sudah cukup tua, menemukan
hotel mereka. Ia segera tahu penjelasan yang diberikan oleh Frank. "Dekat
Lincoln Tunnel?" Tanyanya. "Ah pastilah Sky Line Inn."
Frank tidak ingin kehilangan supir taksi yang berharga ini, yang lancar
berbicara bahasa Inggris, sepertinya sudah berpengalaman, dan mengenal dengan
baik seluk beluk Manhattan. Oleh karenanya ia menyuruh Joey untuk menunggu
bersama supir taksi di bawah, sementara ia bergegas lari menuju kamar hotel Sky
Line Inn untuk mengambil uang. Di dalam kamar, Frank segera mengambil beberapa
amplop yang penuh dengan uang. Ia melihat sebuah tas penuh dengan obat-obatan
terlarang milik Joey. Frank berpikir, tidak akan aman jika Joey pergi ke luar
negeri dengan membawa narkoba. Frank segera membuang narkotika tersebut ke dalam
toilet. Joey tentu akan marah besar, namun ia melakukannya demi kebaikan
temannya. Sebelum Frank meninggalkan ruangan, Frank tidak lupa mengambil alat tulis dan
kertas berlogo hotel dari atas meja rias.
Sekembalinya ke dalam taksi, Frank menyuruh sang supir untuk membawa keduanya
menuju bandara, secepat mungkin. Ia memberikan tas uang kepada Joey, membubuhkan
tanda tangannya pada secarik kertas kemudian memberikannya pada Joey.
"Ini, sekarang kau harus latihan membuat tanda tangan sesuai namaku," kata


Joey Si Frustasi Yang Beruntung Karya Mark Bowden di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Frank, "Siapa tahu kau diminta untuk membuat tanda tangan sesuai KTP itu, nanti
di kantor imigrasi."
Sementara sang supir mengemudi di tengah ramainya lalulintas pagi itu, Joey
terus menerus berlatih membuat tanda tangan "Francis Santos" di atas setumpuk
kertas yang diberikan temannya.
Mereka tiba di airport sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh menit.
Joey menyempatkan diri pergi ke toilet untuk menyuntik dan memasukan lebih
banyak uang ke dalam kaos kaki, sepatu boots-nya, dan ke dalam saku baju,
celana, serta jaket. Frank melakukan konfirmasi nomor tempat duduk Joey di dalam
pesawat. Joey kesulitan. Uang yang disebarnya di beberapa lokasi penyimpanan dalam
tubuhnya selalu bergerak-gerak seirama gerakan langkahnya. Joey merasa tidak
nyaman sama sekali. Joey putar otak. Ia mendapat ide untuk membeli panty hose,
semacam stocking wanita. Joey tentu tidak terbiasa mengenakan barang koleksi
perempuan itu. Bulu betisnya terasa sakit.
Namun setelah berjuang sekuat tenaga, Joey berhasil.
Sempat terpikir olehnya bagaimana jika ia nanti digeledah dan dipaksa untuk
mengeluarkan uangnya" Joey pastinya akan terlihat konyol dan terhina. Apakah
orang akan mengerti posisi kebingungan dirinya" Dengan waktu sempit yang ia
miliki saat itu, ia membuka panty hose kemudian mengeluarkan uangnya serta
menyusun kembali dengan cara seperti yang dilakukannya sebelum ia membeli benda
itu. Joey akan mengambil risiko apa pun yang mungkin timbul. Ia keluar dari
toilet dan membuang panty hose tadi ke tong sampah, yang digenggamnya dengan
erat dalam kepalan tangan agar tidak terlihat oleh orang lain.
Frank telah menunggunya dengan cemas di luar pintu toilet pria.
"Apa saja yang kamu lakukan di dalam sana?" Tanya Frank sembari berlalu tanpa
menunggu Joey memberinya penjelasan. Ia menunjukkan kepada Joey pintu gerbang
masuk menuju pesawatnya. Setibanya di sana, Frank memberikan tiket pesawat
berikut dokumen perjalanan Joey lainnya, serta menyuruhnya mengantri. Seorang
pramugari mengumumkan proses boarding ke pesawat akan segera dimulai.
Ketika Joey antri di antara para penumpang lain, dua orang pria mengenakan jas
berjalan menghampirinya. "Apakah namamu Joey Coyle?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Ya," jawab Joey refleks. Dari sudut matanya, ia melihat seorang pria lain
sedang berjalan menghampiri Frank.
Sebelah tangan pria itu merogoh sakunya untuk mengeluarkan badge tanda pengenal.
Teman pria itu memegangi bahu Joey dengan kencang.
Lelaki yang menunjukkan pengenalnya tadi segera berujar, "Kau ditahan."
"Oh, Sial," kata Joey. "FBI."
2 Tentu saja, sedari awal kejadian, laporan hilangnya uang milik Purolator, yang
paling pertama dalam skenario investigasi Pat Laurenzi adalah siapa pun yang
menemukan uang tersebut, tentu saja akan segera minggat ke luar negeri. Namun,
tentu semua usaha yang telah dilakukannya dengan cara menghubungi semua
perusahaan penerbangan dan travel agency, belum membuahkan hasil positif. Oleh
karenanya ia hanya bisa berpesan agar agen perjalanan mana pun segera melapor
padanya apabila ada seseorang yang membeli tiket menggunakan uang pecahan
seratus dolar atau memang sang pembeli tiket terlihat mencurigakan.
Barulah ketika ia mengetahui nama tersangka adalah Joey Coyle pada hari Selasa
malam, detektif dapat berharap lebih banyak. Sementara ia tengah sibuk
mewancarai Carl Masi, John Behlau dan Jed Pennock, detektif lainnya diberi tugas
untuk mencari informasi berkenaan dengan nama Joey Coyle, sebanyak mungkin.
Ellen O'Bnen, saudara perempuan Joey yang selalu mencemaskannya, mencoba untuk
berpura-pura tidak mengetahui banyak hal tentang adik kesayangannya. Walau
bagaimanapun, sebagai kakak dari tersangka, tentunya ia merasa harus membelanya,
sesuai kadar kemampuan dirinya.
Pada kenyataannya, memang benar bahwa Ellen sama sekali tidak mengetahui di mana
adiknya berada, ataupun di mana adiknya menyembunyikan uang milik Purolator yang
ditemukannya. Ellen hanya mengikuti irama permainan. Ketika detektif meminta
izin menggeledah apartemen, Ellen, hanya mejawab, "Silahkan, tetapi tentu saja
kalian tidak akan menemukan apa pun di sini." Dan ketika salah satu dan polisi
investigator bertanya padanya siapa saja teman baik Joey, Ellen tidak bisa
menyangkal untuk tidak memberi penjelasan rinci pada mereka. Salah satu nama
yang paling melekat dalam ingatannya adalah seorang pria yang baik hati dan
bekerja sebagai pilot pemandu lalulintas kapal di perairan sungai, bernama
Frankie Santos. Saat itu hari Selasa tengah malam, ketika Carl Masi masih sibuk penuh kecemasan,
ia menelepon semua kenalannya; diketahui bahwa Frank Santos telah memesan tiket
Hati Budha Tangan Berbisa 9 Pendekar Romantis 08 Buronan Darah Dewa Iblis Sungai Telaga 16
^