Pencarian

Omerta 5

Omerta Karya Mario Puzo Bagian 5


korbannya seorang pembunuh. Sekalipun begitu...
Aspinella juga penasaran bagaimana kehidupannya
bisa menjadi begini. Tuhan tahu ia bertempur melawan para penjahat dengan
semangat dan tekad yang telah
menjadikan dirinya legenda di New York. Tentu saja ia menerima suap. Ia agak
terlambat dalam hal ini, saat Di Benedetto merayunya agar mau menerima uang obat
bius. Di Benedetto telah menjadi mentornya selama
bertahun-tahun dan sempat menjadi kekasihnya selama
beberapa bulan - tidak buruk, hanya seekor beruang kikuk yang menggunakan seks
sebagai bagian dari dorongan
hati untuk melakukan tidur musim dingin.
Tapi kebrutalan Aspinella telah dimulai di hari
pertamanya, setelah ia dipromosikan menjadi detektif. Di ruang rekreasi kantor,
seorang polisi kulit putih yang suka menguasai bernama Gangee menggodanya. "Hei.
Aspinella," katanya, "dengan itu mu dan ototku kita bisa 272
OMERTA - Mario Puzo menyapu bersih kejahatan di dunia beradab." Para polisi, termasuk beberapa yang
berkulit hitam, tertawa. Aspinella memandangnya dingin dan berkata, "Kau
tidak akan pernah menjadi partnerku. Lelaki yang
menghina wanita cuma pengecut berkemaluan kecil."
Gangee berusaha untuk tetap bersahabat.
"Kemaluanku yang kecil bisa memuaskanmu kapan pun
kau mau. Aku ingin mengubah nasib."
Aspinella menatap dingin kepadanya. "Hitam lebih
baik daripada kuning," katanya. Minggat sana, keparat sialan."
Ruangan tersebut seakan-akan membeku karena
terkejut. Sekarang Aspinella telah menyebabkan wajah Gangee memerah. Ejekan
seperti itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Gangee mendekatinya, tubuhnya yang
besar membuat orang-orang seketika memberi jalan.
Aspinella telah bersiap-siap. Ia mencabut pistolnya, tapi tidak membidikkannya.
"Cobalah dan akan ku
ledakkan selangkanganmu," katanya, dan di ruang itu
tidak satu pun yang ratu bahwa ia akan menarik picunya.
Gangee berhenti dan menggeleng jijik.
Kejadian tersebut, tentu saja, dilaporkan. Tindakan
itu merupakan pelanggaran Aspinella yang serius. Tapi Di Benedetto cukup tajam
untuk tahu bahwa persidangan
departemen akan menjadi bencana politik bagi NYPD. Ia menghapuskan semuanya dan
begitu terkesan dengan Aspinella, sehingga ia memasukkan wanita itu sebagai salah satu staf pribadinya
dan menjadi mentornya. Yang paling mempengaruhi Aspinella adalah waktu
itu ada sedikitnya empat polisi kulit hitam di ruangan tersebut, dan tidak satu
pun membelanya. Mereka bahkan tertawa mendengar lelucon polisi kulit putih
tersebut. Kesetiaan gender lebih kuat dari kesetiaan rasial.
273 OMERTA - Mario Puzo Kariernya, setelah itu, menjadikan Aspinella polisi terbaik di divisi. Ia sangat
keras terhadap para pengedar obat bius, penodong, perampok bersenjata. Ia tidak
mengampuni mereka, entah kulit hitam atau putih. Ia
menembak mereka, memukuli mereka, mengejek mereka.
Ia sering mendapat tuduhan, tapi tidak pernah
dilanjutkan, dan catatan keberaniannya menyatakan siapa dirinya. Tapi tuduhan-
tuduhan tersebut memicu kemarahannya terhadap masyarakat. Bagaimana mungkin
mereka berani mempertanyakan dirinya sementara ia
melindungi mereka dari bajingan-bajingan paling kotor di kota ini" Di Benedetto
selalu mendukungnya. Pernah satu kali ia menembak dua penodong remaja
hingga tewas sewaktu mereka mencoba merampoknya di
jalan Harlem yang terang-benderang, tepat di luar
apartemennya. Salah seorang di antara mereka meninju wajahnya,
dan yang lain menyambar dompetnya. Aspinella mencabut pistolnya dan kedua bocah
tersebut membeku. Ia dengan sengaja menembak keduanya. Bukan hanya karena telah
meninju wajahnya, tapi juga sebagai pesan agar tidak merampok di lingkungannya.
Kelompok-kelompok kebebasan sipil mengorganisir
protes, tapi departemen memutuskan ia tidak bersalah.
Aspinella tahu bahwa ia bersalah dalam kejadian tersebut.
Di Benedetto yang membujuknya agar mau
menerima suap pertama dalam sebuah kasus obat bius
yang sangat penting. Di Benedetto berbicara bagaikan seorang paman yang
menyayanginya. "Aspinella,"
katanya, "polisi pada masa ini tidak perlu terlalu khawatir dengan peluru. Itu
sudah bagian dari pekerjaan. Dia harus khawatir terhadap kelompok-kelompok
kebebasan sipil, penduduk, dan para penjahat yang menuntut karena
kerusakan. Bos-bos politik di departemen akan
274 OMERTA - Mario Puzo memenjarakan dirimu agar mendapat suara. Terutama
seseorang seperti dirimu. Kau seorang korban alamiah, jadi apa kau akan bernasib
sama seperti mereka di jalanan yang diperkosa, dirampok, dan dibunuh" Atau kau akan melindungi dirimu
sendiri" Ikuti saja ini. Kau akan mendapat lebih banyak perlindungan dari para
petinggi departemen yang sudah disuap. Dalam lima atau enam
tahun kau sudah bisa pensiun dengan penghasilan besar.
Dan kau tidak perlu khawatir akan dipenjara karena
mengusutkan rambut seorang penodong."
Jadi, Aspinella menyerah. Dan sedikit demi sedikit
ia menikmati kegiatannya memasukkan uang suap ke
berbagai rekening bank samaran. Bukannya ia lalu
berhenti bersikap keras terhadap para penjahat.
Tapi kali ini berbeda. Kali ini adalah persekongkolan untuk membunuh. Dan ya,
Astorre ini orang hebat Mafia yang pasti akan menyenangkan untuk dihabisi.
Dengan cara yang lucu, ia seperti melakukan tugas aja. Tapi argumen terakhirnya adalah
pekerjaan ini risikonya sangat kecil dan bayarannya sangat besar. Seperempat juta dolar.
Di Benedetto mengemudikan mobilnya menyusuri
Southern State Parkway, dan beberapa menit kemudian
membelokkan mobilnya memasuki areal parkir sebuah
mal kecil dua tingkat. Sekitar selusin toko yang ada di sana telah tutup semua,
termasuk tempat piza yang
menampilkan tanda neon merah cerah di jendelanya.
Mereka turun dari mobil. "Ini pertama kali aku menemui tempat piza tutup se
sore ini," kata Di Benedetto. Saat itu baru pukul sepuluh malam.
Ia mengajak Aspinella memasuki pintu samping toko
piza tersebut. Pintunya tidak dikunci. Mereka menaiki 275
OMERTA - Mario Puzo tangga. Di atas, di sebelah kiri terdapat sebuah suite yang terdiri atas dua ruangan dan
sebuah ruangan di sebelah kanan. Di Benedetto memberi isyarat dan Aspinella
memeriksa suite di sebelah kiri, sementara Di Benedetto berjaga-jaga . Lalu
mereka masuk ke ruangan di sebelah kanan. Heskow telah menanti mereka di sana.
Heskow duduk di ujung sebuah meja kayu panjang
yang dikelilingi empat kursi kayu yang berderik-derik. Di meja terdapat sebuah
tas karung seukuran kantung tinju, dan tampaknya berisi penuh. Heskow menjabat
tangan Di Benedetto dan mengangguk kepada Aspinella. Aspinella merasa belum
pernah melihat pria kulit putih sepucat Heskow. Wajah dan bahkan leher Heskow
boleh dikatakan tidak berwarna sama sekali.
Ruangan tersebut hanya diterangi sebuah bohlam
yang suram, dan tidak ada jendela. Mereka duduk
mengitari meja. Di Benedetto mengulurkan tangan dan
menepuk kantungnya. "Semuanya di sini?" tanyanya.
"Tentu saja," kata Heskow gemetar. Yah, membawa
$500.000 dalam karung tentu menyebabkan orang-orang
gugup, pikir Aspinella. Sekalipun begitu, ia mengamati ruangan tersebut, kalau-
kalau ada alat penyadap. "Coba kulihat," kata Di Benedetto.
Heskow membuka ikatan tali yang melilit leher tas
karung tersebut dan setengah menumpahkan isinya.
Sekitar dua puluh pak lembaran uang terikat karet gelang berjatuhan ke meja.
Sebagian besar merupakan lembaran seratus dolaran, tidak ada lima puluh, dan dua
pak di antaranya merupakan lembaran dua puluh dolaran.
Di Benedetto mendesah. "Dua puluhan sialan,"
katanya. "OK, kembalikan saja."
Heskow menjejalkan uangnya kembali ke dalam
276 OMERTA - Mario Puzo karung dan mengikat talinya. "Klienku meminta secepat mungkin," katanya.
"Dalam dua minggu," kata Di Benedetto.
"Bagus," kata Heskow.
Aspinella mengangkat tas karung tersebut ke
bahunya. Tidak berat, pikirnya. Setengah juta dolar
ternyata tidak seberat itu.
Ia melihat Di Benedetto berjabatan tangan dengan
Heskow dan merasa tak sabar, Ia ingin segera pergi dari situ. Ia mulai menuruni
tangga, tasnya tersandung di bahu, dipegang dengan satu tangan, tangan yang lain
bebas untuk mencabut pistol. Ia mendengar Di Benedetto mengikutinya.
Lalu mereka telah berada dalam dinginnya malam.
Mereka berdua banjir keringat.
"Letakkan tasnya di bagasi," kata Di Benedetto. Ia
masuk ke kursi pengemudi dan menyulut sebatang
cerutu. Aspinella memutar dan naik di sebelahnya.
"Di mana kita membaginya?" tanya Di Benedetto.
"Jangan di rumahku. Aku ada baby-sitter."
"Jangan di tempatku," kata Di Benedetto. Istriku di
rumah. Bagaimana kalau menyewa kamar motel?"
Aspinella meringis, dan Di Benedetto berkata sambil
tersenyum. "Kantorku. Kita kunci pintunya." Mereka
berdua tertawa. "Periksa bagasinya satu kali lagi. Pastikan sudah terkunci
rapat." Aspinella tidak mendebat. la turun dari mobil,
membuka bagasi, dan menarik tas karungnya. Pada saat itu Di Benedetto
menghidupkan mesin mobil.
Ledakan yang terjadi menyiramkan serpihan kaca ke
mal, bagaikan hujan kaca. Mobilnya sendiri bagai
277 OMERTA - Mario Puzo melayang di udara dan turun dengan debuman keras
logam yang meluluhlantakkan tubuh Paul Di Benedetto.
Aspinella Washington terlempar hampir sepuluh kaki
jauhnya, satu kaki dan tangannya patah, tapi sakit akibat matanya yang
tercabutlah yang menyebabkan ia pingsan.
Heskow, yang keluar dari pintu belakang toko piza,
merasakan empasan udara menekan tubuhnya ke
gedung. Lalu ia melompat masuk ke mobilnya, dan dua
puluh menit kemudian ia telah tiba di
rumahnya di Brightwaters. Ia minum dan memeriksa dua pak lembaran seratus
dolaran yang diambilnya dari tas karung. Empat puluh ribu - sedikit bonus yang
manis. Ia akan memberi putranya dua ribu untuk bersenang-senang. Tidak, seribu saja. Dan menyimpan
sisanya. Ia menyaksikan berita larut malam TV yang
melaporkan ledakan tersebut sebagai berita utama.
Seorang detektif terbunuh, yang lain terluka parah. Dan di lokasi, sebuah tas
karung berisi uang ditemukan. Penyiar TV tidak mengatakan berapa banyak uangnya.
Sewaktu Aspinella Washington sadar di rumah sakit dua hari kemudian, ia tidak
terkejut mendapat cecaran
pertanyaan tentang uang itu dan alasan mengapa kurang empat puluh ribu dari
setengah juta dolar. Ia menolak mengakui bahwa ia tahu sesuatu tentang uang
tersebut. Mereka menanyainya, apa yang dilakukan seorang
kepala detektif dan asistennya bersama-sama. Ia menolak menjawab, dengan dasar
itu masalah pribadi. Tapi ia
merasa marah karena mereka menanyainya tanpa henti,
sementara jelas kondisinya masih parah. Departemen
tidak memedulikannya sama sekali. Mereka tidak
menghormati prestasinya. Tapi kemudian semua berakhir 278
OMERTA - Mario Puzo baik-baik saja. Departemen tidak mengejarnya dan
mengatur sedemikian rupa hingga urusan uang tersebut tidak melebar ke mana-mana.
Setelah memikirkannya selama seminggu Aspinella
menyadari apa yang telah terjadi. Mereka dijebak. Dan satu-satunya orang yang
bisa menjebak mereka adalah
Heskow. Dan fakta bahwa uangnya kurang empat puluh
ribu dolar berarti babi serakah tersebut tidak bisa
menahan diri untuk tidak mengeruk keuntungan dari
orang-orangnya sendiri. Well, ia pasti akan pulih, pikirnya, dan ia akan menemui Heskow satu kali lagi.
279 OMERTA - Mario Puzo BAB 10 ASTORRE sekarang sangat berhati-hati dalam bertindak.
Bukan saja untuk menghindari para pembunuh bayaran,
tapi juga untuk tidak membiarkan dirinya ditangkap
dengan alasan apa pun. Ia selalu berada dekat dengan rumahnya yang dijaga ketat
oleh regu-regu lima petugas keamanan yang berjaga dua puluh empat jam setiap
harinya. Ia menanamkan sensor-sensor di dalam hutan
dan lahan di sekeliling rumah dan lampu-lampu infra
merah untuk pengintaian malam. Kalau keluar, ia
didampingi oleh enam orang pengawal dalam tiga regu
yang masing-masing terdiri atas dua orang. Ia terkadang bepergian seorang diri,
mengandalkan kerahasiaan,
kejutan, dan kepercayaan pada kekuatannya sendiri kalau ia bertemu dengan salah
satu dari kedua pembunuh bayaran. Peledakan terhadap kedua detektif tersebut
perlu dilakukan, tapi menyebabkan situasinya sangat
panas. Dan setelah Aspinella Washington sadar nanti, wanita itu pasti bisa
memperkirakan bahwa Heskow-lah yang telah mengkhianatinya. Dan kalau Heskow buka
mulut, Aspinella akan memburu Astorre.
Tapi sekarang Astorre tahu besarnya masalah yang
dihadapi. Ia tahu semua orang yang bersalah atas
kematian sang Don dan masalah serius yang harus
diselesaikannya. Ada Kurt Cilke, yang pada dasarnya tidak 280
OMERTA - Mario Puzo bisa disentuh; Timmona Portella, yang memerintahkan
pembunuhan tersebut; sebagaimana juga Inzio Tulippa, Grazziella, dan Konsul
Jenderal Peru. Satu-satunya yang berhasil dihukumnya baru Sturzo bersaudara, dan
mereka berdua hanyalah pion.
Semua informasi berasal dari John Heskow,
Mr.Pryor, Don Craxxi, dan Octavius Bianco di Sisilia. Kalau mungkin, ia harus


Omerta Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

mengumpulkan semua musuhnya di
satu tempat pada saat yang sama. Untuk menghabisi
mereka satu per satu jelas mustahil. Dan Mr.Pryor serta Craxxi sudah
memperingatkan bahwa ia tidak bisa
mengusik Cilke. Dan masih ada Konsul Jenderal Peru, Marriano
Rubio, teman Nicole. Sejauh mana kesetiaan Nicole
padanya" Apa isi arsip FBI tentang sang Don yang
dibuang oleh Nicole supaya tidak diketahui Astorre" Apa yang disembunyikan
Nicole" Di waktu senggangnya, Astorre memimpikan wanita-
wanita yang pernah dicintainya. Mula-mula Nicole, begitu muda dan penuh
semangat, tubuhnya yang mungil dan
indah begitu kuat menarik dirinya hingga jatuh cinta. Dan sekarang betapa
berubahnya Nicole, semangatnya
terserap untuk politik dan kariernya.
Astorre teringat Buji di Sisilia, tidak sepenuhnya
gadis panggilan, tapi sangat dekat dengan profesi itu.
Buji begitu balk, namun bisa mendadak berubah marah
dengan sangat mudahnya. Ia teringat ranjang Buji yang indah, di malam-
malam Sisilia yang lembut sewaktu mereka berenang dan menyantap zaitun langsung
dari tong penuhi minyak. Yang paling disukainya adalah ingatan tentang Buji yang tidak pernah berbohong;
gadis itu sepenuhnya jujur
tentang hidupnya, tentang pria-pria lainnya. Dan
281 OMERTA - Mario Puzo kesetiaannya sewaktu Astorre tertembak, bagaimana Buji menyeretnya dari laut,
darah dari tenggorokan Astorre mengotori tubuhnya. Lalu hadiah kerah emas dengan
medalionnya untuk menyembunyikan luka yang
mengerikan itu. Lalu Astorre teringat pada Rosie. Rosie yang
pengkhianat, begitu manis, begitu cantik, begitu
sentimental, yang selalu mengaku benar-benar
mencintainya sambil terus mengkhianatinya. Sekalipun begitu, Rosie selalu bisa
membahagiakannya saat mereka bersama-sama. Astorre ingin menghapus perasaannya
terhadap Rosie dengan menggunakan gadis itu untuk
menjerat Sturzo bersaudara, dan ia terkejut karena Rosie memenuhi permintaannya
sebagai bagian dari kehidupan khayalnya.
Lalu dalam benak Astorre melintas bayangan istri
Cilke, Georgette. Benar-benar bodoh. la menghabiskan suatu sore mengawasi
Georgette, mendengar wanita itu membicarakan omong kosong yang tidak
dipercayainya sedikit pun, tentang betapa berharganya jiwa seorang manusia. Sekalipun begitu,
ia tidak bisa melupakan Georgette. Bagaimana wanita seperti itu bisa menikah dengan pria seperti Kurt
Cilke" Terkadang Astorre ke lingkungan tempat tinggal Rosie dan menghubungi gadis itu
melalui telepon mobilnya. la
terkejut karena Rosie selalu ada, tapi Rosie menjelaskan bahwa ia terlalu sibuk
belajar, hingga tidak sempat pergi.
Ini sesuai dengan keinginan Astorre, karena ia terlalu berhati-hati untuk makan
di restoran atau mengajak Rosie menonton bioskop. Jadi, ia mampir di Zabar's di
East Side dan membeli hidangan yang akan menyebabkan
Rosie tersenyum gembira. Sementara itu, Monza menunggu di mobil di luar.
282 OMERTA - Mario Puzo Rosie akan menyajikan hidangan itu dan membuka
sebotol anggur. Sambil bersantap ia akan meletakkan
kakinya di pangkuan Astorre dengan gaya seorang teman, wajahnya memancarkan
kebahagiaan karena bersama
Astorre. Rosie tampaknya menerima setiap patah katanya dengan senyum senang. Itu
bakatnya, dan Astorre tahu bahwa Rosie bersikap seperti itu pada semua prianya.
Tapi itu tidak penting. Dan sewaktu mereka di ranjang, Rosie sangat
bersemangat, tapi juga sangat manis dan lengket pada Astorre. Rosie akan
menyentuh wajahnya terus-menerus dan menciumnya dan berkata, "Kita benar-benar
teman sejiwa." Dan kata-kata itu akan menyebabkan Astorre
merinding. Ia tidak ingin Rosie menjadi teman sejiwa dengan seorang pria seperti
dirinya. Ia menginginkan nilai-nilai moral klasik pada saat ini, tapi tidak bisa
menahan diri untuk tidak menemui Rosie.
Ia tinggal di apartemen Rosie selama lima atau
enam jam. Pada pukul tiga pagi ia akan pergi. Terkadang sewaktu Rosie tidur ia
akan memandangi gadis itu dan melihat pada otot-otot wajahnya yang santai sebuah
kerapuhan dan perjuangan yang menyedihkan, seakan-
akan setan yang ditahan Rosie jauh di dasar hatinya
tengah berjuang untuk bebas.
Suatu malam ia meninggalkan Rosie lebih awal.
Sewaktu tiga di mobil yang menunggu, Monza
memberitahunya bahwa ada pesan mendesak untuk
menghubungi Mr. Juice. Ini nama sandi yang digunakan Astorre dan Heskow, jadi
Astorre bergegas meraih telepon mobil.
Suara Heskow terdengar mendesak. "Aku tidak bisa
bicara melalui telepon. Kita harus segera bertemu."
"Di mana?" tanya Astorre.
283 OMERTA - Mario Puzo "Aku akan berdiri tepat di luar Madison Square
Garden," kata Heskow. "Jemput aku sambil berjalan. Satu jam lagi."
Sewaktu Astorre melaju melintasi Garden, ia melihat
Heskow berdiri di trotoar. Monza menyiapkan pistol di pangkuannya sewaktu
menghentikan mobil di depan
Heskow. Astorre membuka pintu, dan Heskow melompat
masuk ke kursi depan bersama mereka. Udara dingin
menyisakan garis-garis berair di pipinya. Ia berkata kepada Astorre, "Kau
mendapat masalah besar."
Astorre sekarang merasa dingin. "Anak-anak?"
tanyanya. Heskow mengangguk. "Portella menculik sepupumu
Marcantonio dan menyembunyikannya di suatu tempat.
Aku tidak tahu di mana. Besok dia akan mengundangmu
untuk bertemu. Dia ingin menukarkan sanderanya dengan sesuatu. Tapi kalau kau
tidak berhati-hati, dia membawa regu empat pembunuh bayaran untuk mengincarmu.
Dia menggunakan orang-orangnya sendiri. Dia mencoba
memberikan pekerjaan itu padaku, tapi ku tolak."
Mereka tiba di sebuah jalan yang gelap. "Trims,"
kata Astorre. "Kau mau turun di mana?"
"Tepat di sini. Mobilku cuma satu blok dari sini."
Astorre mengerti. Heskow merasa gelisah kalau
terlihat bersama dirinya.
"Satu hal lagi," kata Heskow. "Kau tahu tentang
suite Portella di hotel pribadinya" Saudaranya, Bruno, menggunakannya malam ini
bersama pelacur. Dan tidak
ada pengawal." "Trims lagi," kata Astorre. Ia membuka pintu mobil
dan Heskow menghilang ke dalam kegelapan.
284 OMERTA - Mario Puzo Marcantonio Aprile mengadakan rapat terakhir hari itu, dan ingin segera
mengakhirinya. Sekarang sudah pukul tujuh malam. dan ia ada janji makan malam
pukul sembilan. Ia harus menemui produser kesukaan dan teman
terbaiknya dalam bisnis film, seorang pria bernama Steve Brody, yang tidak
pernah mengeluarkan biaya melebihi anggaran, memiliki naluri yang hebat untuk
kisah-kisah dramatis, dan sering kali memperkenalkan Marcantonio pada aktris-
aktris muda yang memerlukan sedikit bantuan dalam karier mereka.
Tapi malam ini mereka berada di pihak yang
berbeda. Brody datang bersama salah satu agen paling berkuasa dalam bisnis ini,
seorang pria bernama Matt Glazier, yang mati-matian membela kliennya. Ia datang
untuk mengingatkan Marcantonio akan seorang penulis, yang karya terakhirnya
telah diubah menjadi serial drama TV sepanjang delapan jam dan meraih
kesuksesan. Sekarang Glazier ingin menjual tiga buku karya awal
penulis tersebut. "Marcantonio," kata Glazier, "ketiga bukunya yang
lain itu hebat, tapi kurang laku. Kau tahu bagaimana tingkah laku penerbit -
mereka tidak bersedia mengobral.
Brody sudah siap memproduksinya. Sekarang kau sudah
mendapatkan uang banyak dari bukunya yang terakhir,
jadi bersikap dermawanlah sedikit dan kita adakan
perjanjian." "Aku tidak melihatnya begitu," kata Marcantonio.
"Kita membicarakan buku-buku lama. Buku-buku yang
tidak pernah menjadi bestseller. Dan sekarang sudah
tidak dicetak lagi."
285 OMERTA - Mario Puzo "Tidak penting," kata Glazier dengan keyakinan khas
seorang agen. "Begitu kita mengadakan perjanjian, para penerbit akan mencetak
ulang." Marcantonio sudah sering mendengar komentar
seperti ini. Memang benar, para penerbit akan mencetak ulang, tapi sebenarnya
hal ini tidak banyak membantu acara TV. Acara TV tersebut yang membantu penerbit
hingga bisa menjual lebih banyak buku. Argumentasi
omong kosong. "Terlepas dari semua itu," kata Marcantonio, "aku
sudah membaca buku-buku itu. Tidak ada gunanya bagi
kami. Buku-buku itu terlalu sastra. Bahasanya yang
menjadikan buku itu menarik, bukan kejadiannya. Aku
menikmatinya. Bukannya mengatakan buku-buku
tersebut tidak berhasil, maksudku hanya buku-buku itu tidak seimbang dengan
risiko dan besarnya usaha."
"Jangan membohongiku," kata Glazier. "Kau
membaca laporan pembaca. Kau kepala pemrograman -
kau tidak punya waktu untuk membaca."
Marcantonio tertawa. "Kau keliru. Aku suka
membaca dan aku suka buku-buku itu. Tapi buku-buku itu tidak bagus untuk TV."
Suaranya hangat dan bersahabat.
"Maaf, tapi kami terpaksa menolaknya. Tapi jangan
lupakan kami. Kami senang bisa bekerja sama
denganmu." Setelah mereka berdua pergi, Marcantonio mandi di
kamar mandi suite eksekutif dan berganti pakaian untuk kencan makan malamnya. Ia
mengucapkan selamat malam pada sekretarisnya, yang selalu tetap berada di kantor hingga ia pergi,
dan turun ke lobi gedung dengan menggunakan lift.
Kencannya di Four Seasons, hanya beberapa blok
jauhnya, dan ia akan berjalan kaki. Tidak seperti
286 OMERTA - Mario Puzo umumnya eksekutif puncak, ia tidak memiliki mobil dan pengemudi yang khusus
melayaninya; ia hanya memintanya kalau memerlukan. Ia membanggakan diri
akan sikap hematnya dan tahu bahwa ia telah
mempelajari ini dari ayahnya, yang sangat menentang
menghambur-hamburkan uang dengan sia-sia.
Sewaktu melangkah ke jalan, ia merasakan
embusan angin dingin dan menggigil. Sebuah limousine hitam berhenti, sopirnya
turun dari mobil dan membukakan pintu baginya. Apa sekretarisnya
memanggilkan mobil untuknya" Pengemudinya seorang
pria jangkung kekar, dengan topi terlihat agak aneh di kepalanya, tampaknya satu
nomor kekecilan. Pengemudi itu membungkuk dan berkata, "Mr. Aprile?"
"Ya," kata Marcantonio. "Aku tidak memerlukan mu
malam ini." "Perlu," kata sopir tersebut sambil tersenyum riang.
"Masuk ke mobil atau ku tembak."
Tiba-tiba Marcantonio menyadari kehadiran tiga pria
di belakangnya. Ia ragu-ragu. Si pengemudi berkata,
"Jangan khawatir, ada teman yang ingin bercakap-cakap sedikit denganmu."
Marcantonio naik ke kursi belakang limousine, dan ketiga pria tersebut berjejal-
jejal di sampingnya. Mereka melaju sejauh satu atau dua blok, lalu salah
satu dari mereka memberi Marcantonio sebuah kacamata hitam dan memerintahkan ia
mengenakannya. Marcantonio mematuhinya - dan ia bagaikan buta dengan
tiba-tiba. Kacamata tersebut begitu gelap, sehingga tidak sedikit pun cahaya
masuk. Terpikir olehnya bahwa cara ini cerdik sekali. Ia mengingat-ingat untuk
menggunakannya dalam salah satu cerita TV-nya. Ini merupakan pertanda baik.
Kalau mereka tidak ingin ia mengetahui ke mana ia 287
OMERTA - Mario Puzo akan dibawa, berarti mereka tidak bermaksud
membunuhnya. Sekalipun begitu, semua ini terasa tidak nyata, seperti salah satu
drama TV. Hingga tiba-tiba ia teringat pada ayahnya. Bahwa ia akhirnya berada di
dunia ayahnya, yang selama ini tidak pernah ia percayai
sepenuhnya. Setelah sekitar satu jam, mobil berhenti dan ia
dibantu turun oleh dua orang pengawal. Ia bisa
merasakan jalan dari batu bata di bawah kakinya, lalu ia dibimbing menaiki empat
anak tangga, memasuki sebuah rumah. Mereka kembali menaiki tangga ke sebuah
kamar. Ia mendengar pintu ditutup di belakangnya. Baru pada saat itulah kacamatanya
ditanggalkan. Ia berada dalam sebuah kamar tidur kecil yang jendelanya ditutup
gorden tebal. Salah satu pengawal duduk di sebuah kursi di
samping ranjang. "Tidurlah dulu," kata pengawal tersebut padanya.
"Besok harimu panjang ." Marcantonio memandang
arlojinya. Hampir tengah malam.
Tepat selewatnya pukul empat pagi, sementara gedung-gedung pencakar langit
menjulang bagaikan hantu dalam kegelapan, Astorre dan Aldo Monza turun di depan
Lyceum Hotel; pengemudinya menunggu di depan. Monza
mengguncang-guncang seikat anak kunci sementara
mereka berlari menaiki tiga tangga, lalu masuk ke dalam suite Portella.
Monza menggunakan kunci-kuncinya untuk
membuka pintu suite, dan mereka masuk ke dalam ruang duduk. Mereka melihat
sebuah meja yang dipenuhi kotak-kotak karton masakan Cina, gelas-gelas kosong,
dan berbotol-botol anggur serta wiski. Di sana juga terdapat sebuah kue besar, sudah
dimakan separuh, dengan 288 OMERTA - Mario Puzo puntung-puntung rokok menghiasi bagian atasnya,
bagaikan lilin ulang tahun. Mereka masuk ke kamar tidur, dan Astorre


Omerta Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

menjentikkan saklar lampu di dinding. Bruno Portella berbaring di ranjang, hanya
memakai celana pendek. Bau parfum menyesakkan napas, tapi Bruno hanya
seorang diri di ranjang. Ia bukanlah pemandangan yang enak dilihat. Wajahnya,
kasar dan agak tolol, mengilat oleh keringat, dan bau busuk hidangan laut
berembus dari mulutnya. Dadanya yang besar menyebabkan
penampilannya bagai beruang, dan memang benar.
Ekspresinya semanis boneka beruang, pikir Astorre. Di kaki ranjang terdapat
botol anggur merah yang telah
terbuka, isinya menggenang membentuk pulau di lantai.
Rasanya memalukan sekali untuk membangunkan Bruno,
dan Astorre melakukannya dengan mengetuk lembut
kening orang itu. Bruno membuka satu mata, lalu yang lainnya. Ia
tidak tampak ketakutan atau bahkan terkejut. "Apa yang kalian lakukan di sini?"
Suaranya serak oleh kantuk.
"Bruno, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata
Astorre lembut. "Mana gadisnya?"
Bruno terduduk. Ia tertawa. "Dia harus pulang lebih
awal untuk mengantar anaknya ke sekolah. Aku sudah
menidurinya tiga kali, jadi ku biarkan dia pulang."
Ia mengatakannya dengan bangga, baik untuk
kejantanannya maupun untuk pengertiannya akan
masalah yang dihadapi wanita pekerja. Ia mengulurkan tangan ke meja samping
ranjang dengan gerakan biasa.
Astorre menyambar tangannya dengan lembut. Monza
membuka laci dan mengeluarkan sepucuk pistol.
"Dengar, Bruno," kata Astorre dengan nada
menenangkan. "Tidak bakal ada kejadian buruk. Aku tahu 289
OMERTA - Mario Puzo kakakmu kurang mempercayaimu, tapi dia sudah
menculik sepupuku Marc semalam. Jadi, sekarang aku
harus mengambilmu untuk ditukar dengannya. Kakakmu
menyayangimu, Bruno; dia akan menukarkan kau dengan
sepupuku. Kau percaya, bukan?"
"Tentu saja," kata Bruno. Ia tampak lega.
"Jangan lakukan tindakan bodoh. Sekarang,
berpakaianlah." Setelah Bruno selesai berpakaian, ia tampaknya
menemui kesulitan untuk mengikat tali sepatunya. "Ada apa?" tanya Astorre.
"Ini pertama kalinya aku mengenakan sepatu ini,"
kata Bruno. "Biasanya aku memakai yang jenis selop."
"Kau tidak tahu cara mengikat tali sepatu?" tanya
Astorre. "Ini sepatu pertamaku yang memakai tali."
Astorre tertawa. "Astaga. OK, biar aku yang
mengikatnya." Dan ia membiarkan Bruno meletakkan
kakinya di pangkuannya. Setelah selesai, Astorre memberikan telepon dari
samping ranjang kepada Bruno. "Hubungi kakakmu,"
katanya. "Pukul lima pagi begini?" kata Bruno. "Timmona
akan membunuhku." Astorre menyadari bahwa bukan kantuk yang telah
menumpulkan otak Bruno; pria ini memang benar-benar
bodoh. "Beritahu saja bahwa aku menangkapmu," kata
Astorre. "Lalu biar aku yang bicara padanya."
Bruno mengambil telepon itu dan berkata dengan
nada merengek, "Timmona, kau membuat aku mendapat
banyak masalah, itu sebabnya aku meneleponmu sepagi
290 OMERTA - Mario Puzo ini." Astorre bisa mendengar raungan dari ujung
seberang telepon, lalu Bruno berkata dengan tergesa-gesa
"Astorre Viola menangkapku dan ingin bicara denganmu."
la bergegas memberikan telepon kepada Astorre.
Astorre berkata, "Timmona, maaf sudah
membangunkanmu. Tapi aku harus mengambil Bruno
karena kau menculik sepupuku."
Suara Portella di telepon terdengar bagai raungan
kemarahan. "Aku tidak tahu apa-apa tentang itu.
Sekarang kau mau apa?"
Bruno bisa mendengarnya dan ia berteriak, "Kau
yang menyebabkan aku begini, sialan! Sekarang bebaskan aku."
Astorre berkata dengan tenang, "Timmona, kita
tukar sandera, dan kita bisa membicarakan transaksi yang kau inginkan
sesudahnya. Aku tahu kau mengira aku
keras kepala, tapi nanti kalau kita bertemu akan
kuberitahukan alasannya, dan kau akan tahu bahwa aku justru membantumu."
Suara Portella sekarang terdengar lebih tenang.
"OK," katanya. "Bagaimana caranya kita bertemu?"
"Ku temui kau di Restoran Paladin tengah hari," kata Astorre. "Aku punya ruang
makan pribadi di sana. Akan ku bawa Bruno bersamaku, dan kau membawa Marc. Kau
boleh membawa pengawal kalau takut, tapi kita tidak
ingin ada banjir darah di tempat umum. Kita bicarakan segala sesuatunya dan
menukar sandera." Kesunyian timbul cukup lama, lalu Portella berkata,
"Aku akan ke sana, tapi jangan mencoba berbuat yang
aneh-aneh." "Jangan khawatir," kata Astorre dengan riang.
291 OMERTA - Mario Puzo "Sesudah pertemuan ini, kita pasti berteman."
Astorre dan Monza mengapit Bruno di antara
mereka, Astorre memeluk Bruno dengan gaya bersahabat.
Mereka mengajaknya menuruni tangga ke jalan. Di sana ada dua mobil lagi, berisi
anak buah Astorre yang telah menanti.
"Bawa Bruno dengan salah satu mobil," kata Astorre
pada Monza. "Antar dia ke Paladin tengah hari nanti. Ku tunggu kalian di sana."
"Apa yang harus kulakukan dengannya sampai
nanti?" tanya Monza. "Tengah hari masih berjam-jam
lagi." "Ajak dia sarapan," kata Astorre. "Dia suka makan.
Paling tidak, kau akan membuang waktu dua jam. Lalu
ajak dia jalan-jalan di Central Park. Pergilah ke kebun binatang. Salah satu
mobil dan sopirnya akan ku bawa.
Kalau dia mencoba lari, jangan dibunuh. Tangkap saja lagi."
"Kau seorang diri," kata Monza. "Apa itu cerdas?"
"Aku baik-baik saja."
Di mobil, Astorre menggunakan ponselnya untuk
menghubungi nomor pribadi Nicole. Sekarang pukul enam pagi, dan cahaya pagi
mengubah kota menjadi segaris
bebatuan yang panjang. Suara Nicole masih terdengar mengantuk sewaktu
menjawab. Astorre teringat begitulah suaranya sewaktu masih muda dan ketika
mereka menjadi kekasih. "Nicole, bangun," katanya. "Kau tahu siapa ini?"
Pertanyaan tersebut jelas menyebabkan Nicole
jengkel. "Tentu saja aku tahu kau siapa. Siapa lagi yang akan meneleponku sepagi
ini?" "Dengarkan balk-baik," kata Astorre. "Jangan
292 OMERTA - Mario Puzo bertanya. Dokumen yang kau simpankan untukku, yang
ku tandatangani untuk Cilke, yang menurutmu sebaiknya tidak ku tandatangani,
ingat?" "Ya," kata Nicole singkat, "tentu saja aku ingat."
"Kau menyimpannya di rumah atau di kantor?"
tanya Astorre. "Di kantor, tentu saja," kata Nicole.
"OK," kata Astorre. "Aku akan tiba di rumahmu tiga
puluh menit lagi. Akan ku bunyikan belnya. Kau bersiap-siaplah dan langsung
turun. Bawa semua kuncimu. Kita ke kantormu.
Sewaktu Astorre membunyikan bel pintu tempat tinggal Nicole, Nicole bergegas
turun. Ia telah mengenakan
mantel kulit biru dan membawa sebuah tas tangan besar.
Nicole mencium pipinya, tapi tidak berani mengatakan apa pun hingga mereka
berada dalam mobil dan ia harus
memberitahukan arah kepada pengemudinya. Lalu ia
kembali membisu hingga mereka tiba di kantornya.
"Sekarang, katakan untuk apa kau menginginkan
dokumen tersebut," katanya.
"Kau tidak perlu tahu," kata Astorre.
Astorre melihat Nicole merasa marah mendengar
jawaban tersebut, tapi Nicole melangkah ke lemari besi kantor yang menjadi satu
dengan meja dan mengeluarkan sebuah map.
"Lemari besinya jangan ditutup dulu," kata Astorre.
"Aku memerlukan rekaman pertemuan kita dengan Cilke."
Nicole memberikan mapnya. "Kau berhak melihat
dokumen katanya. "Tapi kau tidak berhak atas rekaman apa pun, bahkan kalau ada."
293 OMERTA - Mario Puzo "Kau dulu pernah memberitahuku bahwa kau
merekam setiap pertemuan di kantormu, Nicole," kata
Astorre. "Dan aku sudah mengawasimu dalam pertemuan
itu. Kau sedikit terlalu puas terhadap dirimu sendiri."
"Nicole tertawa dengan nada sayang, sekaligus agak
mencela. "Kau sudah berubah," katanya. "Kau dulu bukan salah satu keparat yang
mengira dirinya bisa membaca pikiran orang lain."
Astorre meringis dan berkata dengan nada
menyesal, "Kukira kau masih menyukaiku. Itu sebabnya aku tidak pernah menanyakan
apa yang kau hapus dalam arsip ayahmu sebelum memberikannya padaku."
"Aku tidak menghapus apa pun," kata Nicole tenang.
"Dan aku tidak akan memberikan rekamannya sampai kau memberitahuku ada kejadian
apa." Astorre membisu, lalu berkata, "OK, kau sudah
dewasa sekarang." Ia tertawa sewaktu melihat betapa marahnya Nicole
mendengar kata-kata itu; mata Nicole berkilau-kilau, bibirnya mengerucut
jengkel. Astorre jadi teringat
tampang Nicole sewaktu menerobos pembicaraan antara
dirinya dan sang Don bertahun-tahun yang lalu.
"Well, dulu kau selalu ingin bermain dengan bocah-bocah yang lebih besar," kata
Astorre. "Dan itulah yang kaulakukan. Sebagai pengacara, kau sudah membuat
takut orang hampir sebanyak ayahmu."
"Dia tidak seburuk yang digambarkan media massa
dan FBI," kata Nicole dengan marah.
"OK," kata Astorre menenangkan. "Marc diculik
Timmona Portella semalam. Tapi tidak perlu khawatir. Aku sudah menculik adik
Portella, Bruno. Sekarang kita bisa tawar-menawar."
"Kau menculik seseorang?" kata Nicole dengan nada
294 OMERTA - Mario Puzo tak percaya. "Mereka juga," kata Astorre. "Mereka benar-benar
ingin kita menjual bank-bank itu."
Nicole hampir menjerit, "Kalau begitu berikan saja
bank-bank sialan itu!"
"Kau tidak mengerti," kata Astorre. Kita tidak akan
memberikan apa pun pada mereka. Kita punya Bruno.
Mereka menyakiti Marc, aku menyakiti Bruno."
Nicole menatapnya dengan pandangan ngeri.
Astorre menatapnya dengan tenang, satu tangan
terangkat ke kerah emas yang meliliti lehernya. "Yeah,"
katanya, "kalau terpaksa, aku harus membunuhnya."
Ketegasan di wajah Nicole berubah menjadi gurat-
gurat penderitaan. "Bukan kau, Astorre, bukan kau.?"
"Jadi, sekarang kau tahu," kata Astorre. "Aku bukan
orang yang akan menjual bank-bank itu sesudah mereka membunuh ayahmu dan
pamanku. Tapi aku memerlukan
rekaman itu dan dokumennya untuk menyelesaikan
tawar-menawar ini dan mengambil Marc lagi tanpa perlu menumpahkan darah."
"Jual saja bank-bank itu," bisik Nicole padanya. "Kita akan kaya raya. Apa itu
penting?" "Bagiku ya," kata Astorre. "Bagi sang Don, bank-
bank itu penting." Tanpa mengatakan apa-apa lagi Nicole mengulurkan
tangan ke lemari besi dan mengeluarkan sebuah kotak
kecil, yang diletakkannya di atas map.
"Tolong putarkan untukku," kata Astorre.
Nicole mengulurkan tangan untuk mengambil
sebuah cassette-player kecil dari mejanya. Ia
memasukkan kasetnya, dan mereka mendengarkan suara
295 OMERTA - Mario Puzo Cilke mengungkapkan rencananya untuk menjebak untuk
menjebak Portella. Lalu Astorre memasukkan semuanya ke sakunya
dan berkata, "Akan ku kembalikan semuanya padamu
nanti, dan Marc juga. Jangan khawatir. Tidak akan terjadi apa-apa. Dan kalau
memang ada yang terjadi, pasti lebih buruk untuk mereka daripada bagi kita."
Tidak lama selewat tengah hari, Astorre, Aldo Monza, dan Bruno Portella duduk di
sebuah ruang makan pribadi di restoran Paladin di East Sixties.
Bruno tidak tampak khawatir sama sekali, walaupun
dirinya disandera. Ia berceloteh dengan riangnya kepada Astorre. "Kau tahu
seumur hidup aku tinggal di New York dan tidak pernah tahu ada kebun binatang di
Central Park. Seharusnya lebih banyak orang yang tahu dan pergi ke sana."
"Jadi, kau bersenang-senang," kata Astorre dengan
nada riang, sambil berpikir bahwa kalau situasi
memburuk, paling tidak Bruno memiliki kenangan indah sebelum mati.
Pintu ruang makan terayun membuka, dan pemilik
restoran muncul, diikuti Timmona Portella dan
Marcantonio. Sosok Portella yang tinggi besar dengan setelan terjahit rapi
hampir menyembunyikan sosok
Marcantonio di belakangnya. Bruno bergegas
menghambur ke pelukan Timmona dan mencium kedua
pipinya, dan Astorre terpesona melihat ekspresi sayang dan puas di wajah
Timmona. "Benar-benar kakak yang hebat," seru Bruno keras-
keras. "Kakak yang hebat."
Sebaliknya, Astorre dan Marcantonio berjabat
296 OMERTA - Mario Puzo tangan, lalu Astorre memeluk sepupunya sepintas dan
berkata, "Segalanya baik-balk saja, Marc."


Omerta Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Marcantonio berpaling menjauhinya dan duduk.
Kakinya melemah, sebagian karena lega telah selamat
dan sebagian karena kemunculan Astorre. Bocah yang
senang menyanyi, pemuda yang selalu riang
gembira, begitu bebas dan penuh kasih. Sekarang tampil dalam bentuk aslinya
sebagai Malaikat Maut. Kekuasaan kehadirannya mendominasi Portella yang tampak
ketakutan dan memerah. Astorre duduk di samping Marcantonio dan
menepuk-nepuk lutut sepupunya. la melontarkan senyum ramahnya, seakan-akan ini
hanyalah makan siang bersama teman. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
Marcantonio menatap lurus ke mata Astorre. La
belum pernah menyadari betapa jernih dan tanpa
ampunnya mata Astorre. la memandang Bruno, pria yang seharusnya menjadi bayaran
untuk nyawanya. Pria tersebut tengah berceloteh pada kakaknya, sesuatu
tentang Kebun Binatang Central Park.
Astorre berkata kepada Portella, "Ada yang harus
kita diskusikan." "OK," kata Portella. "Bruno, minggat dari sini. Ada
mobil yang menunggu di luar. Kita bicara nanti, sesudah aku pulang."
Monza masuk ke dalam ruang makan.
"Antar Marcantonio pulang," kata Astorre padanya.
"Marc, tunggu aku di rumah."
Portella dan Astorre sekarang duduk saling berhadapan di meja. Portella membuka
sebotol anggur dan mengisi gelasnya. la tidak menawari Astorre
297 OMERTA - Mario Puzo Astorre memasukkan tangan ke dalam saku,
mengeluarkan sebuah amplop cokelat, dan mengosongkan isinya ke meja. Di dalamnya
berisi dokumen rahasia yang telah ditandatanganinya untuk Cilke, yang memintanya
untuk mengkhianati Portella.
Portella memandang dokumen berlogo FBI tersebut
dan membacanya. Kemudian ia melontarkannya ke
samping. "Itu bisa saja palsu," katanya. "Dan kenapa kau begitu bodoh mau
menandatanganinya?" Sebagai jawaban, Astorre menjentikkan tombol di
tape, dan suara Cilke bisa didengar, meminta Astorre bekerja sama menjebak
Portella. Portella mendengarkan dan berusaha mengendalikan keterkejutan dan
kemurkaan yang dirasakannya, tapi wajahnya berubah
merah pada dan bibirnya bergerak-gerak melontarkan
makian tanpa suara. Astorre mematikan tape tersebut.
"Aku tahu kau sudah bekerja sama dengan Cilke
selama enam tahun terakhir ini," kata Astorre. "Kau
membantunya menyapu bersih Keluarga-Keluarga New
York. Dan aku tahu kau mendapat kekebalan dari Cilke untuk itu. Tapi sekarang
dia memburumu. Orang-orang
berlencana itu tidak pernah puas. Mereka menginginkan semuanya. Kau menganggap
dia sebagai temanmu. Kau melanggar omerta untuknya. Kau menjadikannya terkenal, dan sekarang dia ingin
mengirimmu ke penjara. Dia tidak lagi membutuhkan dirimu. Dia akan
memburumu begitu kau membeli bank-bank tersebut. Itu sebabnya aku tidak bisa
menjualnya. Aku tidak akan
pernah melanggar omerta."
Portella berdiam diri lalu tampaknya ia mengambil
keputusan. "Kalau ku bereskan masalah Cilke, apa yang akan kau tawarkan untuk
bank-bank itu?" Astorre mengembalikan semuanya ke dalam tas
kerjanya. "Penjualan menyeluruh," katanya. "Kecuali
298 OMERTA - Mario Puzo untukku - aku tetap memiliki lima persen saham."
Portella tampaknya telah pulih dari keterkejutannya.
"OK," katanya. Itu bisa kita bereskan sesudah masalah ini terpecahkan."
Mereka berjabat tangan untuk itu, dan Portella pergi terlebih dulu. Astorre
menyadari bahwa ia sangat lapar, dan ia memesan steak merah yang tebal untuk
makan siang. Satu masalah terselesaikan, pikirnya.
Pada tengah malam, Portella bertemu dengan Marriano Rubio, Inzio Tulippa, dan
Michael Grazziella di konsulat Peru.
Rubio menjadi tuan rumah yang luar biasa bagi
Tulippa dan Grazziella. Ia menemani mereka ke teater, ke opera, dan balet. Dan
ia memasok wanita-wanita muda
yang cantik dan telah mendapat nama di dunia seni dan musik. Tulippa dan
Grazziella benar-benar menikmati
kunjungan mereka dan enggan untuk kembali ke
lingkungan alami mereka yang kurang menarik. Mereka
raja rendahan yang tengah dijamu oleh penguasa yang
mati-matian berusaha menyenangkan mereka.
Malam ini si konsul jenderal bersikap lebih ramah
daripada biasanya. Meja konferensi dibebani berbagai hidangan eksotis, buah-
buahan, keju, dan permen-cokelat besar; di samping setiap kursi terdapat sebotol
sampanye dalam ember es. Kue-kue kecil yang anggun ditata di
tangga pilin dari gula. Sepoci besar kopi masih
mengepulkan uap, dan beberapa kotak cerutu Havana,
madaro, light brown, dan hijau tersebar di meja.
Rubio membuka percakapan dengan berkata kepada
Portella, "Nah, apa yang begitu penting hingga kami harus membatalkan urusan
lainnya untuk datang kemari?"
299 OMERTA - Mario Puzo Sekalipun ramah, nada suaranya agak merendahkan,
sehingga memicu kemarahan Portella. Dan ia tahu bahwa mereka akan semakin
memandang rendah padanya kalau
tahu pengkhianatan Cilke. Ia menceritakan seluruhnya kepada mereka.
Tulippa tengah menyantap permen-cokelat sewaktu
berkata, "Maksudmu kau berhasil mendapatkan
sepupunya, Marcantonio Aprile, dan kau mengadakan
perjanjian untuk membebaskan adikmu tanpa
berkonsultasi terlebih dulu dengan kami." Suaranya
sangat muak. "Aku tidak bisa membiarkan adikku tewas," kata
Portella. "Lagi pula, kalau aku tidak mengadakan
perjanjian dengan Astorre, kita akan masuk ke dalam
perangkap Cilke." "Benar," kata Tulippa. "Tapi bukan kau yang berhak
memutuskan itu." "Yeah," kata Portella. "Kalau begitu, siapa..."
"Kita semua!" sergah Tulippa. "Kami ini partnermu."
Portella memandangnya dan penasaran apa yang
telah menahan dirinya sehingga tidak menghabisi keparat berminyak ini. Tapi lalu
ia teringat pada lima puluh topi Panama yang melayang ke udara itu.
Konsul Jenderal tampaknya bisa membaca
pikirannya. Ia berkata dengan nada menenangkan. "Kita semua berasal dari budaya
yang berbeda dan memiliki
nilai-nilai yang berbeda. Kita semua harus saling berusaha menyesuaikan diri.
Timmona orang Amerika, seorang
sentimentalis." "Adiknya cuma seonggok sampah yang bodoh," kata
Tulippa. Rubio menggoyang-goyangkan jarinya ke arah
Tulippa. "Inzio, berhentilah mencari masalah. Kita semua 300
OMERTA - Mario Puzo memutuskan urusan pribadi masing-masing."
Grazziella melontarkan senyum tipis keheranan
bercampur senang. "Benar. Kau, Inzio, tidak pernah
menceritakan tentang laboratorium-laboratorium
rahasiamu pada kami. Keinginanmu untuk memiliki
senjata pribadi. Gagasan bodoh. Kau pikir pemerintah akan patuh dengan ancaman
seperti itu" Mereka akan
mengubah semua hukum yang sekarang melindungi kita
dan memungkinkan kita untuk berhasil."
Tulippa tertawa. Ia menikmati pertemuan ini. "Aku
seorang patriot," katanya. "Aku ingin Amerika Selatan memiliki posisi untuk
membela diri dari negara-negara seperti Israel, India, dan Irak."
Rubio tersenyum ramah. "Aku tidak tahu kau
seorang nasionalis."
Portella tidak merasa gembira. "Aku ada masalah
besar di sini. Kukira Cilke temanku. Aku sudah
menanamkan banyak uang padanya. Sekarang dia
memburuku dan kalian semua."
Grazziella berbicara langsung dengan nada tegas.
"Kita harus membatalkan seluruh proyek. Kita harus puas dengan hasilnya." Ia
tidak lagi seorang pria periang yang mereka kenal. "Kita harus menemukan
pemecahan lain. Lupakan Kurt Cilke dan Astorre Viola. Mereka terlalu berbahaya sebagai musuh.
Kita tidak boleh memburu tujuan yang bisa jadi justru menghancurkan kita sendiri."
"Itu tidak menyelesaikan masalahku," kata Portella.
"Cilke akan tetap memburuku."
Tulippa juga tidak lagi menunjukkan keriangan
palsunya. Ia berkata kepada Grazziella, "Mengherankan sekali kau bisa mengajukan
saran seperti itu, tidak seperti kau yang kami kenal. Kau membunuh para polisi
dan hakim di Sisilia. Kau membunuh gubernur dan istrinya.
301 OMERTA - Mario Puzo Kau dan cosca Corleonesi-mu membunuh Jenderal Angkatan Darat yang dikirim untuk
menghancurkan organisasimu. Tapi sekarang kau berkata, lupakan proyek memberi kita miliaran
dolar. Dan meninggalkan kita
Portella." "Aku akan menyingkirkan Cilke," kata Portella.
"Tidak peduli apa pendapat kalian."
"Itu tindakan yang sangat berbahaya," kata Konsul
Jenderal. "FBI akan menyatakan pembalasan dendam.
Mereka akan menggunakan seluruh sumber dayanya
untuk melacak pembunuhnya."
"Aku setuju dengan pendapat Timmona." kata
Tulippa. "FBI beroperasi berdasarkan keterbatasan hukum dan bisa diatasi. Akan
ku sediakan regu penyerang, dan dalam beberapa jam sesudah operasi, mereka akan
berada dalam pesawat menuju Amerika Selatan."
Portella berkata, "Aku tahu ini berbahaya, tapi
hanya ini yang bisa kita lakukan."
"Aku setuju," kata Tulippa. "Untuk mendapat
miliaran dolar, orang harus berani mengambil risiko. Atau, kalau tidak, untuk
apa kita terlibat bisnis ini?"
Rubio berkata kepada Inzio, "Kau dan aku hanya
menanggung risiko kecil, karena kita memiliki status diplomatik. Michael,
sebaiknya kau kembali ke Sisilia untuk sementara ini. Timmona, kau satu-satunya
yang akan menanggung apa yang bakal terjadi sesudahnya."
"Kalau keadaan semakin buruk," kata Tulippa, "aku
bisa menyembunyikanmu di Amerika Selatan."
Portella membentangkan lengannya di udara
sebagai isyarat tak berdaya. "Aku tidak punya pilihan,"
katanya. "Tapi aku menginginkan dukungan kalian.
katanya. Michael, kau setuju?"
Ekspresi wajah Grazziella datar. "Ya, aku setuju,"
302 OMERTA - Mario Puzo katanya. "Tapi aku akan lebih khawatir terhadap Astorre Viola daripada Kurt
Cilke." 303 OMERTA - Mario Puzo BAB 11 SEWAKTU menerima pesan bersandi mendesak dari Heskow, yang menyatakan ingin
bertemu, Astorre melakukan tindakan berjaga-jaga. Selalu terbuka
kemungkinan bahaya Heskow berbalik melawannya. Jadi, bukannya menjawab pesan
tersebut, ia muncul dengan
tiba-tiba di rumah Heskow di Brightwaters pada tengah malam.
Ia, mengajak Aldo Monza bersamanya, dan sebuah
mobil tambahan berisi empat orang lagi. la juga
mengenakan rompi antipeluru. Ia menelepon Heskow
sewaktu berada di jalur masuk, agar Heskow
membukakan pintu. Heskow tidak tampak terkejut. Ia menyiapkan kopi
untuk Astorre dan dirinya sendiri. Lalu ia tersenyum kepada Astorre dan berkata,
"Aku punya kabar baik dan kabar buruk. Kau mau yang mana lebih dulu?"
"Katakan saja," kata Astorre.
"Kabar buruknya, aku harus ke luar negeri untuk
selamanya, dan itu karena kabar baiknya. Dan aku ingin memintamu menepati janji,
bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada putraku, sekalipun aku tidak bisa lagi
bekerja untukmu." 304 OMERTA - Mario Puzo "Pasti," kata Astorre. "Sekarang, kenapa kau harus
ke luar negeri?" Heskow menggeleng, pura-pura sedih. Ia berkata,
"Karena keparat tolol Portella itu sudah melewati batas.
Dia akan menyikat Cilke, orang FBI itu. Dan dia ingin aku yang memimpin operasi
ini." "Tolak saja," kata Astorre.
"Tidak bisa," kata Heskow. "Operasi ini
diperintahkan oleh seluruh sindikatnya, dan kalau
menolak, aku akan dibunuh, dan mungkin putraku pun
akan dihabisi juga. Jadi, akan kuatur pembunuhannya, tapi aku tidak akan ikut
dalam regu penyerbuan. Aku
sudah pergi pada waktu itu. Dan sesudah Cilke terbunuh, FBI akan menerjunkan
seratus orang agen mereka ke
kota untuk memecahkan masalah ini. Mereka sudah
kuberitahu hal ini, tapi mereka tidak peduli. Cilke
mengkhianati mereka atau apalah. Mereka mengira bisa merusak nama baiknya cukup
berat, hingga pembunuhan ini tidak akan menjadi masalah."
Astorre berusaha untuk tidak menunjukkan
kepuasannya. Rencananya berhasil, Cilke akan tewas
tanpa membahayakan dirinya. Dan dengan sedikit
keberuntungan, FBI akan menyingkirkan Portella.
Ia berkata pada Heskow, "Kau mau memberiku
alamat?" Heskow tersenyum tak percaya. "Kurasa tidak,"
katanya. "Bukannya aku tidak mempercayaimu. Tapi aku selalu bisa menghubungimu."
"Well, terima kasih sudah memberitahuku," kata
Astorre, "tapi siapa yang sesungguhnya mengambil
keputusan?"

Omerta Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

305 OMERTA - Mario Puzo "Timmona Portella," kata Heskow. Tapi Inzio Tulippa
dan Konsul Jenderal menyetujuinya. Orang Corleonesi itu, Grazziella, cuci tangan
dari masalah ini. Dia menjauhkan diri dari operasi. Kurasa dia akan kembali ke
Sisilia. Lucu juga karena dia boleh dikatakan sudah membunuh semua orang disana.
"Mereka tidak benar-benar memahami cara kerja
Amerika, dan Portella benar-benar bodoh. Katanya dia mengira dirinya dan Cilke
benar-benar teman." "Dan kau akan memimpin regu pembunuhnya," kata
Astorre. "Itu juga tidak cerdas."
"Tidak, sudah kukatakan bahwa pada saat mereka
menyerbu rumahnya, aku sudah lama pergi."
"Rumah?" kata Astorre, dan pada saat itu ia
merasakan ketakutan akan apa yang bakal didengarnya
sebentar lagi. "Yeah," kata Heskow. "Sebuah regu penyerang
besar-besaran akan terbang kembali ke Amerika Selatan dan menghilang."
"Sangat profesional," kata Astorre. "Kapan ini
berlangsung?" "Esok lusa malam. Kau cuma perlu menonton
mereka menyelesaikan masalahmu. Itu berita bagusnya."
"Begitu," kata Astorre. Ia menjaga agar wajahnya
tetap tanpa ekspresi, tapi dalam benaknya ia
membayangkan Georgette Cilke, membayangkan
kecantikan dan kebaikan wanita itu.
"Kupikir sebaiknya kau tahu, agar bisa menyiapkan
alibi yang bagus," kata Heskow. "Jadi, kau berutang
padaku, dan jaga anakku."
"Benar sekali," kata Astorre. "Jangan
mengkhawatirkan dia."
306 OMERTA - Mario Puzo Ia berjabat tangan dengan Heskow sebelum pergi.
"Kupikir tindakanmu cerdas juga, pergi ke luar negeri.
Tidak lama lagi situasinya pasti kacau."
"Yeah," kata Heskow.
Sejenak Astorre penasaran, apa yang seharusnya ia
lakukan pada Heskow. Bagaimanapun, pria inilah yang
mengemudikan mobil dalam pembunuhan sang Don.
Heskow harus membayarnya, tak peduli bantuan yang
telah ia berikan. Tapi Astorre telah kehilangan sebagian semangatnya
setelah mengetahui bahwa istri dan anak Cilke akan tewas bersama agen FBI
tersebut. Biarkan Heskow pergi,
pikirnya. Mungkin nanti dia berguna. Lalu akan tiba
saatnya untuk membunuh orang itu. Ia memandang
Heskow yang tengah tersenyum, dan balas tersenyum.
"Kau sangat pandai," katanya pada Heskow.
Wajah Heskow memerah karena gembira. "Aku
tahu," katanya. "Karena itu aku tetap hidup."
Keesokan harinya, pada pukul 11.00 pagi, Astorre tiba di markas besar FBI dengan
ditemani oleh Nicole Aprile, yang telah mengatur sebuah janji temu.
Astorre terjaga sepanjang malam, memikirkan
tindakan yang harus diambilnya. Ia telah merencanakan agar Portella membunuh
Cilke. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan Georgette atau putrinya
terbunuh. la juga tahu bahwa Don Aprile tidak akan pernah
mencampuradukkan nasib dalam masalah ini. Tapi lalu ia teringat sebuah kisah
tentang sang Don yang menyebabkan ia berhenti berpikir sejenak.
Suatu malam, sewaktu Astorre berusia dua belas
tahun dan tengah berada di Sisilia bersama sang Don
307 OMERTA - Mario Puzo dalam rangka kunjungan tahunan, mereka tengah
bersantap malam dengan dilayani Caterina di paviliun taman.
Astorre, dengan kepolosannya yang unik, bertanya
pada mereka dengan tiba-tiba, "Bagaimana kalian berdua bisa saling mengenal" Apa
kalian berdua tumbuh besar bersama?"
Sang Don dan Caterina bertukar pandang, lalu
tertawa melihat keseriusan minatnya.
Sang Don meletakkan jemarinya di bibir dan berbisik
dengan nada bergurau, "Omerta, itu rahasia."
Caterina memukul tangan Astorre dengan sendok
pengaduk kayu. "Itu bukan urusanmu, kau setan kecil,"
katanya. "Lagi pula, itu bukan sesuatu yang bisa ku
banggakan." Don Aprile menatap Astorre dengan sayang.
"Kenapa dia tidak boleh tahu" Dia anak Sisilia sampai ke tulang-tulangnya.
Ceritakan saja." "Tidak," kata Caterina. "Tapi kau boleh
menceritakannya kalau mau."
Setelah makan malam, sang Don menyulut
cerutunya, mengisi gelasnya dengan adas manis, dan
menceritakan kisah perkenalannya dengan Caterina
kepada Astorre. "Sepuluh tahun yang lalu, orang yang paling penting
di kota adalah Pater Sigusmondo, seorang pria yang
sangat berbahaya, tapi lucu. Sewaktu aku berkunjung ke Sisilia, dia sering
mampir di rumahku dan bermain kartu dengan teman-temanku. Pada waktu itu
pengurus rumahku orang lain. ?"Tapi Pater Sigusmondo orang yang religius. Dia pastor yang taat dan pekerja
keras. Dia memarahi orang-orang agar hadir dalam misa, dan pernah satu kali baku
308 OMERTA - Mario Puzo hantam dengan seorang ateis. Dia paling terkenal karena suka menyampaikan
sakramen terakhir kepada korban-korban Mafia saat mereka tergeletak sekarat; dia
membersihkan jiwa mereka untuk menuju Surga. Dia
dipuja untuk itu. Tapi hal ini terlalu sering terjadi, dan orang-orang mulai
berbisik-bisik, mengatakan bahwa
alasan dia selalu siap adalah karena dia merupakan salah satu algojo - bahwa dia
mengkhianati rahasia pengakuan dosa untuk keuntungannya sendiri.
"Suami Caterina pada waktu itu merupakan seorang
polisi yang sangat anti-Mafia. Dia tetap memburu sebuah kasus pembunuhan, bahkan
setelah mendapat peringatan dari kepala Mafia provinsi, sebuah keberanian yang
tidak pernah terdengar pada waktu itu. Seminggu setelah
ancaman tersebut, suami Caterina disergap dan tergeletak sekarat di lorong
belakang Palermo. Dan kebetulan Pater Sigusmondo muncul untuk mengadakan
sakramen terakhir. Kejahatan tersebut tidak pernah terpecahkan.
"Caterina, seorang janda yang sangat berduka,
menghabiskan setahun untuk berkabung dan untuk
gereja. Lalu suatu hari Sabtu dia mengadakan pengakuan dosa dengan Pater
Sigusmondo. Sewaktu pater tersebut keluar dari tempat pengakuan dosa, di hadapan
semua orang, Caterina menusuknya hingga menembus jantung
dengan pisau suaminya. "Polisi memenjarakannya, tapi itu baru cobaan
paling kecil. Kepala Mafia mengumumkan hukuman mati
atas dirinya." Astorre menatap Caterina dengan mata terbelalak.
"Kau benar-benar melakukannya, Bibi Caterina?"
Caterina menatapnya dengan pandangan keheranan
bercampur geli. Astorre tampak begitu penuh rasa ingin tahu dan tidak takut
sedikit pun. 309 OMERTA - Mario Puzo "Tapi kau harus mengerti alasannya. Bukan karena
dia membunuh suamiku. Di Sisilia pria-pria selalu saling bunuh. Tapi Pater
Sigusmondo seorang pastor palsu,
seorang pembunuh kotor. Dia tidak bisa memberikan
sakramen terakhir yang sah. Untuk apa Tuhan
mendengarnya" Jadi, suamiku bukan saja dibunuh, tapi juga ditolak masuk Surga
dan turun ke Neraka. Well, orang kadang tidak tahu batas. Ada hal-hal yang tidak
bisa kaulakukan. Itu sebabnya ku bunuh pastor itu."
"Kalau begitu, bagaimana Bibi bisa ada di sini?"
tanya Astorre. "Karena Don Aprile menaruh perhatian pada seluruh
kejadian itu," kata Caterina. "Jadi, sudah selayaknya kalau dia membereskan
segala sesuatunya." Sang Don berkata dengan serius kepada Astorre,
"Aku punya sedikit kekuasaan di kota. Pihak berwenang dengan mudah dipuaskan,
dan gereja tidak ingin masyarakat menaruh perhatian kepada pastor yang
korup. Kepala Mafia tidak sepeka itu dan menolak
membatalkan hukuman mati atas Caterina. Dia ditemukan di pemakaman tempat suami
Caterina dimakamkan, tergorok, cosca-nya dihancurkan dan dibuat tidak berdaya. Pada saat itu aku
sudah menyukai Caterina, dan ku angkat dia menjadi penguasa rumah ini. Dan
selama sembilan tahun terakhir, musim panasku di Sisilia
merupakan saat-saat paling manis dalam hidupku."
Bagi Astorre semua ini sungguh ajaib. la menyantap
segenggam zaitun dan meludahkan biji-bijinya.
"Caterina itu kekasih Paman?" tanyanya.
"Tentu saja," kata Caterina. "Kau bocah dua belas
tahun, tapi sudah bisa mengerti. Aku berada dalam
perlindungan pamanmu, selayaknya istrinya, dan
kulakukan semua tugasku seperti seorang istri."
310 OMERTA - Mario Puzo Don Aprile tampak agak malu; baru kali itu Astorre
melihatnya begitu. Astorre berkata, "Tapi kenapa kalian tidak menikah?"
Caterina berkata, "Aku tidak bisa meninggalkan
Sisilia. Aku hidup bagai ratu di sini, dan pamanmu sangat dermawan. Semua teman-
temanku, keluargaku, saudara-saudariku, dan sepupu-sepupuku ada di sini. Dan
pamanmu tidak bisa tinggal di Sisilia. Jadi, kami berusaha sebaik-baiknya."
Astorre berkata kepada Don Aprile, "Paman, kau
bisa menikahi Caterina dan tinggal di sini. Aku akan tinggal di sini juga. Aku
tidak ingin meninggalkan Sisilia."
Mendengar ini, mereka berdua tertawa.
"Dengarkan aku," kata sang Don. "Perlu banyak kerja keras untuk menghentikan
pembalasan terhadap Caterina. Kalau kami menikah, orang-orang akan
menyangka yang tidak-tidak. Mereka bisa menerima fakta bahwa dia gundikku, tapi
mereka tidak bisa menerima
kalau dia menjadi istriku. Jadi, dengan pengaturan begini, kami berdua bahagia
dan kami berdua bebas. Lagi pula, aku tidak ingin punya istri yang menolak untuk
menerima keputusanku, dan kalau dia menolak meninggalkan Sisilia, aku bukanlah
seorang suami." "Dan itu adalah infamita," kata Caterina. Kepalanya agak tertunduk, lalu ia
mengalihkan pandangannya ke
langit Sisilia yang gelap dan mulai menangis.
Astorre kebingungan. Sebagai seorang bocah,
penjelasan itu terasa tidak masuk akal baginya.
"Sungguh, tapi kenapa" Kenapa?" katanya.
Don Aprile mendesah. Ia mengembuskan asap
cerutunya dan menghirup adas manis. "Kau harus
mengerti," kata sang Don. "Pater Sigusmondo itu
kakakku." 311 OMERTA - Mario Puzo Astorre sekarang teringat bahwa penjelasan mereka pada waktu itu tidak berhasil
meyakinkannya. Dengan semangat romantis seorang bocah, ia percaya dua orang yang saling mencintai
seharusnya diizinkan menikah.
Baru sekarang ia memahami betapa berat
keputusan yang diambil paman dan bibinya tersebut.
Kalau seandainya pamannya menikahi Caterina, seluruh kerabat sang Don akan
menjadi musuhnya. Bukannya
mereka tidak tahu bahwa Pater Sigusmondo seorang
penjahat. Tapi pater itu saudara sendiri, dan hal itu membersihkannya dari
segala dosa. Dan seorang pria
seperti sang Don tidak bisa menikahi pembunuh
saudaranya. Caterina tidak mungkin meminta
pengorbanan sebesar itu. Dan bagaimana kalau Caterina percaya bahwa sang Don
entah bagaimana terlibat dalam pembunuhan suaminya" Benar-benar memerlukan
lompatan keyakinan yang luar biasa bagi mereka berdua kalau mereka sampai
menikah, dan mungkin hal itu akan menjadi pengkhianatan yang hebat atas semua
yang mereka percayai. Tapi ini Amerika, bukan Sisilia. Selama malam panjang tersebut Astorre berhasil
mengambil keputusan. Pagi
harinya ia menghubungi Nicole.
"Akan ku jemput kau untuk sarapan," katanya. "Lalu
kau dan aku akan mengunjungi Cilke di markas besar
FBI." Nicole berkata, "Ini pasti serius, benar?"
"Yeah. Akan kuberitahukan sambil sarapan."
"Kau ada janji temu dengannya?" tanya Nicole.
312 OMERTA - Mario Puzo "Belum, itu tugasmu."
Sam jam kemudian, kedua sepupu tersebut sarapan
bersama di sebuah hotel mewah, dengan meja-meja yang terpisah jauh, untuk
menjaga privasi, karena tempat
tersebut merupakan arena pertemuan dini hari bagi para perantara kekuasaan di
kota ini. Nicole selalu sarapan banyak-banyak, untuk
memberinya semangat sepanjang dua belas jam kerja
sehari. Astorre hanya menyantap jus jeruk dan kopi,
berikut sekeranjang roti gulung - harganya mencapai dua puluh dolar untuk
semuanya. "Benar-benar keparat," katanya pada Nicole sambil
meringis. Nicole merasa tidak sabar dengan semua ini. "Kau
membayar untuk suasananya," katanya. "Linen impor,
keramik. Sekarang apa lagi yang salah?"
"Aku akan melakukan tugasku sebagai warga negara
yang baik," kata Astorre. "Ada informasi dan sumber yang sangat layak dipercaya
bahwa Kurt Cilke dan keluarganya akan dibunuh besok malam. Aku ingin
memperingatkannya. Aku ingin mendapat nilai karena
memperingatkannya. Dia pasti ingin tahu sumberku, dan aku tidak bisa
memberitahunya." Nicole mendorong piringnya dan menyandar ke
belakang. "Siapa yang bodoh?" katanya kepada Astorre.
"Demi Tuhan, kuharap kau tidak terlibat."
"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Astorre.
?"Entahlah," kata Nicole. Pikiran itu melintas begitu saja. Kenapa tidak
memberitahunya secara diam-diam?"


Omerta Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Aku ingin orang mengakui perbuatan baikku. Aku
merasa akhir-akhir ini tidak ada yang mencintaiku lagi."
Astorre tersenyum. 313 OMERTA - Mario Puzo "Aku mencintaimu," kata Nicole sambil
mencondongkan tubuh ke arahnya. "OK, begini cerita kita.
Sewaktu kita mau masuk ke hotel, seorang pria asing
menghentikan kita dan membisikkan informasi tersebut ke telingamu. Dia
mengenakan setelan kelabu bergaris-garis, kemeja putih, dan dasi hitam.
Tingginya rata-rata, berkulit gelap, bisa jadi orang Italia atau Hispanik.
Sesudah itu terserah. Aku akan menjadi saksimu, dan dia tahu bahwa dia tidak
bisa main-main denganku."
Astorre tertawa. Tawanya selalu menyebabkan
orang kehilangan kewaspadaan; tawanya memancarkan
kenangan seorang bocah. "Jadi, dia lebih takut padamu daripada pada diriku,"
katanya. Nicole tersenyum. "Dan aku kenal Direktur FBI. Dia
seekor hewan politik; pasti, akan kuhubungi Cilke dan ku minta dia menunggu
kedatangan kita. la mengeluarkan
ponsel dari tas tangannya dan menelepon.
"Mr. Cilke," katanya ke telepon, "ini Nicole Aprile.
Aku sedang bersama sepupuku Astorre Viola, dan dia
memiliki informasi penting yang ingin disampaikannya padamu."
Setelah diam sejenak, ia berkata, "Itu sudah
terlambat. Kami akan tiba di sana dalam satu jam." Ia menutup telepon sebelum
Cilke sempat mengatakan apa-apa lagi.
Satu jam kemudian, Astorre dan Nicole dipersilakan
masuk ke kantor Cilke. Ruangan tersebut sebuah kantor sudut yang luas, dengan
jendela-jendela anti-peluru
Polaroid yang tidak bisa memandang ke luar, jadi tidak ada pemandangan.
Cilke, yang berdiri di belakang sebuah meja besar,
telah menanti mereka. Di hadapan mejanya terdapat tiga kursi kulit hitam. Di
belakangnya terdapat sebuah papan 314
OMERTA - Mario Puzo tulis sekolah. Cukup aneh.
Bill Boxton, yang tidak menawarkan untuk berjabat
tangan, duduk di salah satu kursi tadi.
"Kau akan merekam pembicaraan ini?" tanya Nicole.
"Tentu saja," kata Cilke.
Boxton berkata dengan nada menenangkan. "Hell, kami merekam semuanya, bahkan
pesanan kopi dan donat. Kami juga merekam siapa pun yang menurut kami layak dipenjara."
"Kau lucu juga," kata Nicole, serius. "Di harimu yang paling baik pun kau tidak
bisa memenjarakanku. Pikirkan sebaliknya. Klienku Astorre Viola menemuimu secara
sukarela untuk menyampaikan informasi yang sangat
penting. Aku ikut untuk melindunginya dari pelecehan apa pun yang akan kalian
lakukan padanya sesudah dia
menyampaikan informasinya."
Kurt Cilke tidak seramah sebagaimana dalam
pertemuan mereka sebelumnya. la melambai
mengisyaratkan agar mereka duduk, dan ia sendiri duduk di belakang meja. "OK,"
katanya. "Apa informasinya?"
Astorre merasakan permusuhan pria tersebut,
seakan-akan berada di wilayahnya sendiri membuat Cilke merasa tidak perlu
menunjukkan keramahan bisnis yang biasa ditunjukkannya. Bagaimana reaksinya" Ia
menatap lurus ke mata Cilke dan berkata, "Aku mendapat informasi akan ada
penyerangan bersenjata berat ke rumahmu
besok malam. Larut. Tujuannya untuk membunuhmu,
entah karena alasan apa."
Cilke tidak bereaksi. Ia membeku di kursinya, tapi
Boston melompat bangkit dan berdiri di belakang Astorre.
Kepada Cilke ia berkata, "Kurt, tenang."
Cilke bangkit berdiri. Seluruh tubuhnya bagai
315 OMERTA - Mario Puzo meledak oleh kemarahan. "Ini tipuan lama Mafia,"
katanya. "Dia menyiapkan operasi, lalu menyabotnya. Dan menurutnya aku akan
berterima kasih. Sekarang,
bagaimana kau bisa memperoleh informasi itu?"
Astorre menceritakan kisah yang telah
dipersiapkannya bersama Nicole. Cilke berpaling kepada Nicole dan berkata, "Kau
menyaksikan peristiwa itu?"
"Ya," kata Nicole, "tapi aku tidak mendengar apa
kata orang itu." Cilke berpaling pada Astorre, "Kau sekarang
ditangkap." "Untuk apa?" kata Nicole.
"Karena mengancam petugas federal," kata Cilke.
"Kupikir sebaiknya kau menghubungi direkturmu," kata Nicole.
"Aku yang mengambil keputusan," kata Cilke
padanya. Nicole memandang arlojinya.
Cilke berkata dengan lembut, "Berdasarkan perintah
eksekutif Presiden, aku berhak menahanmu dan klienmu selama empat puluh delapan
jam tanpa penasihat hukum sebagai ancaman terhadap keamanan nasional."
Astorre terkejut. Dengan mata terbelalak bagai anak
kecil ia berkata, "Apa benar begitu" Kau bisa berbuat begitu" Ia benar-benar
terkesan oleh kekuasaan sebesar itu. Ia berpaling kepada Nicole dan berkata
dengan riang, "Hei, ini semakin lama semakin mirip Sisilia."
"Kalau kau meneruskan niatmu, FBI akan disidang
selama sepuluh tahun mendatang dan kau tinggal
sejarah," kata Nicole kepada Cilke. "Kau masih sempat mengungsikan keluargamu
dan menyergap para penyerangnya. Mereka tidak akan tahu bahwa kedatangan 316
OMERTA - Mario Puzo mereka sudah diketahui. Kalau kau bisa menangkap salah satunya, kau bisa
menanyai mereka. Kami tidak akan
bicara. Atau memperingatkan mereka."
Cilke tampaknya mempertimbangkan hal ini. Ia
berkata pada Astorre dengan nada muak. "Paling tidak, aku lebih menghormati
pamanmu. Dia tidak akan pernah membuka mulut."
Astorre melontarkan senyum kikuk. "Itu dulu, dan
negara ini bukan yang sekarang. Lagi pula, kau juga tidak berbeda, dengan
perintah eksekutif rahasiamu." Ia
penasaran, apa kata Cilke kalau ia memberitahukan
alasannya yang sebenarnya. Bahwa ia menyelamatkan
orang ini hanya karena pernah berkenalan dengan istri Cilke pada suatu sore, dan
telah jatuh cinta secara romantis dan bodoh kepada bayangannya akan istri Cilke.
"Aku tidak percaya cerita omong kosongmu, tapi
akan kami pelajari lebih lanjut kalau memang besok
malam ada penyerangan. Kalau terjadi apa-apa, aku akan mengurungmu. Dan mungkin
kau juga, Penasihat. Tapi
kenapa kau memberitahuku?"
Astorre tersenyum. "Karena aku menyukainya,"
katanya. "Yang benar saja," kata Cilke. Ia berpaling kepada
Boxton. "Panggil komandan satuan taktis khusus kemari, dan beritahu sekretarisku
untuk menghubungi Direktur."
Astorre dan Nicole tetap berada di sana selama dua
jam untuk diinterogasi oleh staf Cilke. Sementara itu, Cilke di kantornya
berbicara dengan direkturnya di
Washington melalui telepon acak.
"Jangan menangkap mereka dalam kondisi apa
pun," kata sang direktur padanya. "Segalanya akan
muncul di media, dan kita akan menjadi bahan tertawaan.
Dan jangan main-main dengan Nicole Aprile, kecuali kau 317
OMERTA - Mario Puzo punya bukti kuat terhadapnya. Rahasiakan segala
sesuatunya dan kita lihat apa yang akan terjadi besok malam. Petugas yang
menjaga rumahmu sudah diperingatkan, dan keluargamu sudah diungsikan
sementara kita bicara. Sekarang berikan teleponnya pada Bill. Dia yang akan
memimpin operasi penyergapan."
"Sir, seharusnya itu tugasku," kata Cilke.
"Kau akan membantu dengan perencanaan," kata
Direktur, "tapi kau tidak boleh terlibat operasi taktis, dengan alasan apa pun.
Biro beroperasi berdasarkan
peraturan yang sangat ketat untuk menghindari
kekerasan yang tidak diperlukan. Kau akan menjadi
tersangka kalau situasinya memburuk. Kau mengerti?"
"Ya, Sir." Cilke memahami sepenuhnya.
318 OMERTA - Mario Puzo BAB 12 SETELAH sebulan di rumah sakit, Aspinella Washington diizinkan pulang, tapi
masih harus pulih lebih banyak lagi sebelum bisa menjalani operasi pemasangan
bola mata palsu. Ia benar-benar sebuah spesimen fisik yang luar biasa, tubuhnya bagai
merakit sendiri di sekitar luka-lukanya. Memang benar, kaki kirinya menjadi agak
pincang dan lubang matanya tampak mengerikan. Tapi ia mengenakan penutup mata
persegi kecil berwarna hijau, bukannya hitam.
Warna hijau tersebut semakin menonjolkan
kecantikan kulitnya yang berwarna cokelat moka. Ia
kembali bekerja dengan mengenakan celana panjang
hitam, kaus hijau, dan mantel kulit hijau. Sewaktu
menatap bayangannya sendiri di cermin, ia merasa
penampilannya cukup menarik.
Sekalipun masih dalam taraf pemulihan, ia
terkadang pergi ke markas besar Biro Detektif dan
membantu menginterogasi. Luka-lukanya memberinya
perasaan merdeka - ia merasa bisa melakukan apa saja,
dan ia merentangkan kekuasaannya lebih besar lagi.
Pada interogasi pertamanya ada dua orang
tersangka, sebuah pasangan yang tidak biasa, karena
yang satu kulit putih dan yang lain kulit hitam. Tersangka kulit putih, sekitar
tiga puluh tahun usianya, seketika 319
OMERTA - Mario Puzo ketakutan melihatnya. Tapi partner kulit hitamnya merasa gembira melihat wanita
jangkung yang cantik itu, yang mengenakan penutup mata hijau dan memiliki
tatapan dingin. Wanita ini benar-benar menarik.
"Holy shit," serunya dengan wajah gembira.
Ini pertama kalinya ia tertangkap, ia tidak memiliki catatan tindak kejahatan
sebelumnya, dan ia benar-benar tidak tahu bahwa ia tengah menghadapi masalah
serius. Ia dan partnernya telah mendobrak masuk ke dalam
sebuah rumah, mengikat suami-istri penghuni rumah
tersebut, lalu merampok isinya.
Mereka tertangkap berkat bantuan informan.
Bocah kulit hitam tersebut masih mengenakan arloji
Rolex milik penghuni rumah. Ia berkata dengan riang
kepada Aspinella, tanpa niat jahat, dengan suara yang menyatakan kekaguman
tulus. "Hei, Kapten Kidd, kau
mau melempar kami ke laut?"
Para detektif lain dalam ruangan tersebut meringis
melihat kebodohannya. Tapi Aspinella tidak berkata apa-apa. Bocah tersebut masih
diborgol dan tidak bisa menghindari pukulannya. Bagai seekor ular, tongkat
Aspinella terayun menghantam wajah bocah kulit hitam tersebut, mematahkan
hidungnya dan menghancurkan
tulang pipinya. Bocah tersebut tidak jatuh; lututnya lemas, dan ia menatap
Aspinella dengan pandangan
mencela. Wajahnya berlumuran darah. Lalu kaki terlipat dan ia jatuh ke lantai.
Selama sepuluh menit berikutnya Aspinella menghajarnya tanpa ampun. Seakan-akan
sebuah mata air baru, darah mulai mengalir dari telinga bocah tersebut.
"Ya Tuhan," kata salah seorang detektif, "bagaimana
kita bisa menanyainya sekarang?"
"Aku tidak ingin bicara dengannya," kata Aspinella.
320 OMERTA - Mario Puzo "Aku ingin bicara dengan yang ini." Ia mengacungkan
tongkatnya ke tersangka kulit putih. "Zeke, benar" Aku ingin bicara denganmu,
Zeke." Ia menarik bahu bocah
tersebut dengan kasar dan melemparkannya ke kursi di hadapan mejanya. Bocah
tersebut menatapnya ketakutan.
Aspinella menyadari bahwa penutup matanya telah
tergeser dan Zeke tengah menatap lubang matanya yang kosong. Ia membetulkan
letak penutup matanya untuk
menutupi lubang matanya yang seputih susu.
"Zeke," katanya, "ku minta kau mendengarkan baik-
baik. Aku ingin menghemat waktu. Aku ingin tahu
bagaimana caramu bocah ini hingga mau terlibat.
Bagaimana kau bisa melakukan semua ini. Mengerti" Apa kau akan bekerja sama?"
Wajah Zeke telah pucat pasi. Ia tidak ragu-ragu.
"Ya, Ma'am," katanya. "Akan kukatakan semuanya."
"OK," kata Aspinella kepada detektif lainnya. "Bawa
bocah ini ke bagian medis dan suruh orang-orang video untuk merekam pengakuan
sukarela Zeke." Begitu monitor-monitor telah disiapkan. Aspinella
berkata pada Zeke, "Siapa yang menjadi penadahmu"
Siapa yang memberimu informasi tentang sasaranmu"
Ceritakan perampokannya secara terinci. Partnermu jelas sekali bocah manis. Dia
tidak memiliki catatan tindak kejahatan dan dia tidak sepandai itu. Itu sebabnya
aku bersikap lunak padanya. Sedangkan kau, Zeke, catatanmu cukup panjang, jadi
kurasa kaulah otak yang mengajaknya terlibat. Jadi, silakan bercerita."
Sewaktu Aspinella meninggalkan kantor Polisi, ia mengemudikan mobilnya di
sepanjang Southern State Parkway ke Brightwaters, Long Island.
321 OMERTA - Mario Puzo Anehnya, ia mendapati bahwa mengemudi dengan
satu mata justru lebih nyaman daripada dengan dua
mata. Pemandangannya jadi lebih menarik, karena lebih terfokus, seperti semacam
lukisan futuristik yang mencair menjadi impian di sekitar tepi-tepinya. Rasanya
seperti separuh dunia, bumi ini sendiri, telah dibelah dan separuh yang bisa
dilihatnya mengklaim lebih banyak perhatian.
Akhirnya ia melintasi Brightwaters dan melaju
melewati rumah John Heskow. Ia bisa melihat mobil
Heskow di jalur masuk, dan seorang pria yang tengah
mengangkat sebuah tanaman azalea besar dari rumah
kaca ke dalam rumah. Lalu seorang pria lain muncul dari rumah kaca, membawa
kotak berisi bunga kuning. Ini
menarik, pikirnya. Mereka sedang mengosongkan rumah
kaca. Sewaktu di rumah sakit, ia sudah meneliti John


Omerta Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Heskow. la mengunjungi samsat New York dan
mendapatkan alamat Heskow. Lalu ia memeriksa seluruh bank data kejahatan dan
mendapati bahwa John Heskow
sebenarnya bernama Louis Ricci; keparat itu orang Italia, sekalipun
penampilannya seperti puding Jerman. Tapi
catatan kejahatannya bersih. Heskow pernah ditangkap beberapa kali karena
pemerasan dan penyerangan, tapi tidak pernah divonis. Rumah kaca tidak bisa
menghasilkan uang untuk membiayai gaya hidupnya.
Aspinella melakukan semuanya ini karena ia telah
menduga satu-satunya orang yang bisa menunjuk dirinya dan Di Benedetto hanyalah
Heskow. Satu-satunya hal yang membingungkan adalah Heskow telah memberikan
uangnya kepada mereka. Uang tersebut ditemukan oleh
Biro Urusan Internal pada diri Aspinella, tapi Aspinella berhasil mengelak dari
pertanyaan-pertanyaan mereka
yang diajukan tanpa minat, karena mereka senang bisa mengambil uang itu untuk
mereka sendiri. Sekarang ia 322
OMERTA - Mario Puzo bersiap-siap untuk melenyapkan Heskow.
Dua puluh empat jam sebelum jadwal penyerangan atas Cilke, Heskow bermobil ke
bandara Kennedy untuk penerbangannya ke Mexico City, di mana ia akan
menghilang dari dunia beradab dengan paspor palsu yang telah dipersiapkannya
bertahun-tahun lalu. Rinciannya telah dibereskan. Rumah kaca telah
dikosongkan; mantan istrinya akan menangani penjualan rumah dan menyimpan
hasilnya di bank untuk biaya
kuliah putra mereka. Heskow memberitahunya bahwa ia
akan pergi selama dua tahun. la memberitahu putranya kisah yang sama, selama
makan malam di Shun Lee's.
la ke bandara pada dini hari. la hanya membawa
dua buah koper, berisi semua yang diperlukannya,
kecuali seratus ribu dolar yang diselotipkan di sekeliling tubuhnya, dalam
kantung-kantung kecil. Ia terbungkus uang untuk pengeluaran cepat, dan ia
memiliki rekening rahasia di Cayman, berisi hampir lima juta dolar. Syukur,
Tuhan, karena jelas ia tidak akan bisa mendaftar untuk Jaminan Sosial. Ia bangga
karena telah menjalani kehidupan yang sederhana dan tidak menghambur-
hamburkan tabungannya untuk berjudi, wanita, atau
kebodohan-kebodohan lainnya.
Heskow mendaftar untuk penerbangannya dan
mendapat boarding pass. Sekarang ia hanya membawa sebuah tas kerja berisi kartu
identitas dan paspor palsunya. Ia meninggalkan mobilnya di tempat parkir
permanen; mantan istrinya akan mengambilnya dan
menyimpannya untuknya. Ia tiba sedikit satu jam lebih awal. Ia merasa agak
tidak nyaman karena tidak bersenjata, tapi ia harus
323 OMERTA - Mario Puzo melewati detektor untuk bisa naik ke pesawat, dan ia bisa mendapatkan banyak
senjata melalui kontak-kontaknya di Mexico City.
Untuk melewatkan waktu, ia membeli sejumlah
majalah di toko buku, lalu pergi ke kantin terminal. Ia mengisi sebuah baki
dengan makanan penutup dan kopi, dan duduk di salah satu meja kecil yang ada. Ia
membalik-balik majalah sambil menyantap kuenya,
sebuah tar stroberi palsu yang ditutupi krim kocok palsu.
Tiba-tiba ia menyadari kehadiran seseorang yang duduk di mejanya. Ia menengadah
dan memandang Detektif Aspinella Washington. Seperti semua orang lainnya, ia terpesona melihat penutup
mata persegi hijau gelap tersebut. Benda itu menimbulkan kepanikannya. Aspinella tampak jauh lebih cantik
daripada yang diingatnya.
"Hai, John," kata Aspinella. "Kau tidak pernah
mengunjungiku di rumah sakit."
Heskow begitu malu, hingga ia menganggap
Aspinella serius. "Kau tahu aku tidak bisa berbuat begitu, Detektif. Tapi aku
sedih mendengar kemalanganmu."
Aspinella tersenyum lebar. "Aku cuma bergurau,
John. Tapi aku memang ingin bercakap-cakap sedikit
denganmu sebelum kau pergi."
"Tentu saja," kata Heskow. Ia merasa mesti
mengeluarkan uang untuk menyuap Aspinella, dan ia
membawa sepuluh ribu di tasnya untuk kejutan seperti ini. "Aku senang melihatmu
tampak sehat. Aku khawatir dengan keadaanmu."
"Yang benar saja," kata Aspinella, mata tunggalnya
berkilau bagai mata elang. "Sayang sekali Paul bernasib buruk. Kami teman baik,
kau tahu, selain dia juga bosku."
"Sayang sekali," kata Heskow. Ia bahkan berdecak
sedikit, yang menyebabkan Aspinella tersenyum.
324 OMERTA - Mario Puzo "Aku tidak perlu menunjukkan lencanaku padamu,"
kata Aspinella. "Bena?" Ia diam sejenak. "Aku ingin kau ikut aku ke ruang
interogasi kecil yang ada di terminal ini.
Berikan jawaban yang menarik, dan kau bisa pergi."
"OK," kata Heskow. Ia beranjak bangkit sambil
mencengkeram tasnya. "Dan jangan bertingkah aneh-aneh, atau ku tembak
kau sampai mati. Tembakanku lebih dengan hanya satu
mata." Aspinella beranjak bangkit dan meraih lengan
Heskow, lalu membimbingnya menaiki tangga ke balkon
gantung, di mana terdapat kantor-kantor administrasi perusahaan penerbangan. Ia
membimbing Heskow menyusuri lorong yang panjang dan membuka kunci
sebuah pintu kantor. Heskow terkejut, bukan saja karena luasnya ruangan
tersebut, tapi oleh deretan monitor TV
yang ada di dinding - paling tidak ada dua puluh monitor -
yang diawasi oleh dua pria yang duduk di kursi berlengan yang lunak. Kedua pria
mengamati monitor-monitor
tersebut sambil menyantap roti isi dan menghirup kopi.
Salah satu bangkit berdiri dan berkata, "Hei, Aspinella, ada apa?"
"Aku mau bercakap-cakap sebentar dengan orang
ini di ruang interogasi. Tolong kunci pintunya."
"Baik," kata pria tersebut. "Kau mau ditemani salah
satu dari kami?" "Tidak. Ini cuma antar teman biasa."
"Oh, salah satu percakapan antar temanmu yang
terkenal," kata pria tersebut dan tertawa. Ia memandang Heskow dengan lebih
teliti. "Aku melihatmu di layar
terminal tadi. Tar stroberi, benar?"
Ia mengajak mereka ke sebuah pintu di bagian
belakang ruangan dan membuka kuncinya. Setelah
Heskow dan Aspinella masuk ke dalam ruang interogasi, 325
OMERTA - Mario Puzo ia mengunci pintunya di belakang mereka.
Heskow sekarang merasa bahwa ada orang-orang
lain yang terlibat. Ruang interogasi itu terasa
menenangkan, dengan sebuah sofa, sebuah meja, dan
tiga buah kursi yang tampak nyaman. Di salah satu sudut terdapat pendingin air
dengan gelas-gelas kertas.
Dinding-dinding merah mudanya dihiasi foto-foto dan
lukisan-lukisan pesawat terbang.
Aspinella memaksa Heskow duduk di salah satu
kursi, sementara ia sendiri duduk di meja dan menunduk memandang Heskow.
"Bisa kita lanjutkan?" tanya Heskow. "Aku tidak
ingin ketinggalan pesawat."
Aspinella tidak menjawab. Ia mengulurkan tangan
dan meraih tas Heskow dari pangkuan pria itu. Heskow hanya mengernyit singkat.
Aspinella membukanya dan membalik-balik isinya, termasuk tumpukan uang seratus dolaran. Ia mempelajari
salah satu palsu, lalu mengembalikan semuanya ke dalam tas dan
memulangkan tas itu pada Heskow.
"Kau orang yang sangat pandai," katanya. "Kau tahu
sudah waktunya untuk melarikan diri. Siapa yang
memberitahumu bahwa aku mengejarmu?"
"Untuk apa kau mengejarku?" tanya Heskow. la
merasa semakin percaya diri setelah Aspinella
mengembalikan tasnya. Aspinella mengangkat penutup matanya, sehingga
Heskow bisa melihat lubang matanya yang rusak. Tapi
Heskow tidak berkedip; ia pernah melihat yang lebih
buruk lagi pada zamannya.
"Kau menyebabkan aku kehilangan mata ini," kata
Aspinella. "Hanya kau yang bisa memberitahu dan
menjebak Paul serta diriku."
326 OMERTA - Mario Puzo Heskow berbicara dengan ketulusan paling dalam,
yang merupakan salah satu senjata terbaik dalam
profesinya. "Kau keliru, keliru sama sekali. Kalau aku yang melakukan, akan ku
simpan uangnya - kau mengerti" Look, aku benar-benar harus naik ke pesawat."
Ia membuka kancing kemejanya dan mencabut dua buah
kantung. Ia meletakkannya di meja. "Ini untukmu, dan uang di dalam tas. Semuanya
tiga puluh ribu." "Gee," kata Aspinella. "Tiga puluh ribu. Itu cukup
banyak untuk satu mata. OK, tapi kau harus
memberitahuku siapa yang membayarmu untuk menjebak
kami." Heskow telah mengambil keputusan . Ia punya
kesempatan kalau bisa naik ke pesawat. Ia tahu Aspinella bukan menggertak. Ia
telah berurusan dengan banyak
maniak pembunuh, dan ia tidak mungkin salah menilai
Aspinella. "Dengar, percayalah," katanya. "Aku tidak pernah
bermimpi bahwa orang ini akan membunuh dua pejabat
tinggi polisi. Aku cuma mengadakan perjanjian dengan Astorre Viola agar dia bisa
bersembunyi. Aku tidak pernah bermimpi dia akan berani bertindak begitu."
"Bagus," kata Aspinella. "Sekarang, siapa yang
membayarmu untuk membunuhnya?"
"Paul tahu," kata Heskow. "Apa dia tidak
memberitahumu" Timmona Portella."
Mendengar itu Aspinella merasa kemurkaannya
menggelegak. Partner gendutnya bukan saja sialan, tapi juga keparat pembohong.
"Berdiri," katanya pada Heskow. Tiba-tiba saja ia
telah menggenggam sepucuk pistol.
Heskow ketakutan. Ia pernah melihat tatapan
327 OMERTA - Mario Puzo seperti itu sebelumnya, hanya saja ia bukanlah
korbannya. Sejenak ia teringat pada lima juta dolar
tersembunyi yang akan lenyap bersamanya, tidak diambil, dan lima juta dolar
tersebut terasa seperti makhluk hidup.
Benar-benar tragedi. "Jangan," serunya, dan menyurut mundur di kursinya.
Aspinella menyambar rambut Heskow dengan
tangannya yang masih bebas dan menariknya bangkit
berdiri. Ia menjauhkan pistol dari leher Heskow dan
menembak. Heskow bagai melayang lepas dari
cengkeramannya dan menghantam lantai. Aspinella
berlutut di samping mayat Heskow. Separuh tenggorokan pria tersebut telah
hilang. Lalu ia mengambil pistol cadangan dari sarung kakinya, meletakkannya
dalam genggaman Heskow, dan beranjak bangkit. Ia bisa
mendengar kunci pintu diputar, lalu kedua petugas layar monitor bergegas masuk
dengan pistol teracung. "Aku terpaksa menembaknya," kata Aspinella. "Dia
mencoba menyuapku, lalu mencabut pistol. Panggil regu medis terminal dan akan
kuhubungi sendiri Bagian Pembunuhan. Jangan sentuh apa pun, dan jangan jauh-
jauh dariku." Keesokan malamnya Portella menyerang. Istri dan
putri Cilke telah diamankan ke sebuah kantor FBI yang tertutup dan dijaga ketat
di California. Cilke, atas perintah Direktur, berada di markas besar FBI di New
York bersama seluruh stafnya yang tengah bertugas. Bill
Boxton yang memegang keseluruhan komando satuan
tugas khusus akan memimpin jebakan di rumah Cilke.
Tapi peraturan pelaksanaannya ketat. Biro tidak
menginginkan banjir darah yang akan menyebabkan
keluhan dari kelompok-kelompok liberal. Regu FBI tidak akan menembak, kecuali
ditembak terlebih dulu. Para
328 OMERTA - Mario Puzo penyerang harus mendapat kesempatan untuk menyerah.
Sebagai asisten petugas perencanaan, Kurt Cilke
bertemu dengan Boxton dan komandan satuan tugas
khusus, seorang pria yang masih muda, berusia tiga puluh lima tahun, dengan
ekspresi kaku khas komandan. Tapi kulitnya kelabu dan ada belahan di dagunya.
Namanya Sestak dan aksesnya murni Harvard. Mereka bertemu di kantor Cilke.
"Ku minta kau terus berkomunikasi denganku
selama operasi," kata Cilke. "Peraturan pelaksanaan akan diawasi dengan ketat."
"Jangan khawatir," kata Boxton. "Kita membawa
seratus orang dengan persenjataan jauh di atas mereka.
Mereka akan menyerah."
Sestak, berkata dengan suara lembut. "Ada seratus
orang lagi yang menjaga batas luar. Kita akan
membiarkan mereka masuk, tapi tidak akan membiarkan
mereka keluar." "Bagus," kata Cilke. "Sesudah berhasil menangkap,
segera kirim mereka ke pusat interogasi New York. Aku tidak diizinkan terlibat
dalam interogasi, tapi aku ingin mendapat info secepat mungkin."
"Bagaimana kalau ada yang keliru dan mereka
tewas semua?" tanya Sestak.
"Kalau begitu akan ada penyelidikan internal, dan
Direktur akan sangat tidak senang. Sekarang,
kenyataannya: Mereka akan ditangkap den tuduhan
persekongkolan untuk membunuh, dan mereka akan
dibebaskan dengan jaminan. Lalu mereka akan
menghilang ke Amerika Selatan. Jadi, kita hanya punya waktu beberapa hari untuk
menginterogasi mereka."
Boxton memandang Cilke sambil tersenyum sedikit.
329 OMERTA - Mario Puzo Sestak berkata pada Cilke dengan nadanya yang sopan,
"Kupikir dengan begitu kau akan merasa sangat tidak
senang." "Tentu saja, aku terganggu," kata Cilke. "Tapi


Omerta Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Direktur harus memikirkan komplikasi politiknya. Tuduhan persekongkolan selalu
sulit." "Aku mengerti," kata Sestak. "Kau terikat."
"Benar," kata Cilke.
Boxton berkata pelan, "Memalukan sekali, mereka
bisa mencoba membunuh seorang petugas federal dan
bebas " Sestak memandang mereka berdua sambil
tersenyum geli. Kulit kelabunya berubah agak kemerahan.
"Kalian ini omong apa?" katanya. "Pokoknya, operasi-
operasi seperti ini selalu ada kesalahan. Orang-orang yang memegang pistol
biasanya menganggap diri mereka tidak bisa ditembak. Sifat manusia memang sangat
lucu." Malam itu Boxton menemani Sestak ke area operasi di sekitar rumah Cilke di New
Jersey. Lampu-lampu di dalam rumah dibiarkan menyala, untuk memberi kesan ada
orang di dalam. Juga tiga buah mobil diparkir di jalur masuk, agar terkesan para
penjaga tengah berada di dalam. Mobil-mobil tersebut telah dipasangi jebakan, sehingga kalau dihidupkan
akan meledak. Selain itu Boxton tidak melihat apa-apa lagi.
"Di mana keseratus orangmu?" tanya Boxton pada
Sestak. Sestak meringis lebar. "Cukup bagus, heh" Mereka
semua ada di sekitar sini, dan bahkan kau pun tidak bisa melihatnya. Mereka
sudah berada dalam jangkauan
tembakan. Kalau para penyerang nanti datang, jalan akan 330
OMERTA - Mario Puzo ditutup di belakang mereka. Kita akan mendapatkan
mereka semua." Boxton tetap berada di samping Sestak, di pos
komando yang jaraknya lima puluh meter dari rumah.
Regu komunikasi ada bersama mereka, empat pria yang
mengenakan kamuflase mirip hutan yang mereka
gunakan sebagai perlindungan. Sestak dan anak buahnya bersenjatakan senapan,
tapi Boxton hanya membawa
pistol genggamannya. "Aku tidak ingin kau terlibat dalam pertempuran,"
kata Sestak pada Boxton. "Lagi pula, senjata yang kau bawa itu tidak akan ada
gunanya di sini." "Kenapa tidak?" kata Boxton. "Aku sudah menunggu
sepanjang karierku untuk menembak penjahat."
Sestak tertawa. "Hari ini tidak. Reguku dilindungi
perintah eksekutif terhadap semua tuntutan hukum. Kau tidak."
"Tapi aku yang memimpin," kata Boxton.
"Tidak saat kita sudah beroperasi," kata Sestak
dingin. "Pada saat itu aku komandan satu-satunya. Aku yang mengambil semua
keputusan. Bahkan kan Direktur
pun tidak bisa melompati diriku."
Mereka menunggu bersama-sama dalam kegelapan.
Boxton memandang arlojinya. Tengah malam kurang
sepuluh menit. Salah seorang regu komunikasi berbisik pada
Sestak, "Lima mobil penuh orang mendekati rumah. Jalan di belakang mereka sudah
ditutup. Diperkirakan tiba
dalam lima menit." Sestak mengenakan kacamata infra merah yang
menyebabkan ia bisa melihat dalam kegelapan malam.
"OK," katanya. "Kirimkan pesannya. Jangan menembak,
331 OMERTA - Mario Puzo kecuali ditembak atau atas perintahku."
Mereka menunggu. Tiba-tiba lima buah mobil melesat memasuki jalur
masuk, dan orang-orang berhamburan keluar dari
dalamnya. Salah satu dari mereka segera melemparkan
bom bakar ke dalam rumah Cilke; bom itu memecahkan
kaca jendela dan mulai membakar ruangan.
Lalu tiba-tiba seluruh areal dibanjiri cahaya terang benderang dari lampu sorot
yang menyebabkan kedua puluh penyerang tersebut membeku di tempat. Pada saat yang sama, sebuah
helikopter menggemuruh di atas
kepala dengan lampu sorot menyilaukan. Pengeras suara meraungkan pesan ke dalam
gelapnya malam. "Ini FBI.
Buang senjata kalian dan berbaring di tanah."
Tertegun oleh cahaya dan helikopter-helikopter,
orang-orang yang terjebak tersebut membeku. Boxton
melihat dengan perasaan lega bahwa mereka telah
kehilangan semangat untuk melawan.
Jadi, ia terkejut sewaktu Sestak mengangkat
senapannya dan menembak kelompok penyerang
tersebut. Seketika kelompok penyerang tersebut balas menembak. Lalu Boxton
merasa pekak oleh raungan
tembakan yang menyapu jalur masuk dan merontokkan
para penyerang. Salah satu mobil yang dipasangi jebakan meledak. Suasananya
seperti ada badai timah yang
meluluhlantakkan jalur masuk. Serpihan kaca
berhamburan dan menghujani area tersebut, bagaikan
hujan perak. Mobil-mobil yang lain melesak ke tanah dan berlubang-lubang akibat
peluru, begitu hebat hingga
bagian luarnya tidak lagi berwarna. Jalur masuk bagaikan memancarkan mata air
darah yang mengalir dan menggenang di sekitar mobil-mobil. Kedua puluh
penyerang tersebut menjadi onggokan berlumuran darah yang mirip tumpukan pakaian
kotor yang siap diambil. 332 OMERTA - Mario Puzo Boxton sangat shock. "Kau menembak sebelum
mereka sempat menyerah," katanya pada Sestak dengan
nada menuduh. "Aku akan melaporkannya begitu."
"Laporanku berbeda." Sestak meringis kepadanya.
"Begitu mereka melemparkan bom bakar ke dalam
rumah, itu percobaan pembunuhan. Aku tidak bisa
mempertaruhkan anak buahku. Itu yang akan ku
laporkan. Juga bahwa mereka menembak lebih dulu."
"Well, laporanku tidak akan begitu," kata Boxton.
"Yang benar saja," kata Sestak. "Kau kira Direktur
mau membaca laporanmu" Kau akan masuk daftar
hitamnya. Selama-lamanya."
"Dia akan menggantungmu karena tidak mematuhi
perintah," kata Boxton. "Kita akan jatuh bersama-sama."
"Bagus," kata Sestak. "Tapi aku komandan taktis.
Perintahku tidak bisa dibatalkan. Begitu aku
memerintahkan, itu yang akan dijalankan. Aku tidak ingin para penjahat mengira
mereka bisa menyerang seorang
petugas federal. Itu kenyataannya, persetan dengan
dirimu dan Direktur."
"Dua puluh orang tewas," kata Boxton.
"Bagus untuk mereka," kata Sestak. "Kau dan Cilke
ingin aku membunuh mereka, tapi tidak punya nyali untuk mengatakannya terus
terang." Boxton tiba-tiba menyadari bahwa pendapat Sestak
benar. Kurt Cilke bersiap-siap bertemu lagi dengan Direktur di Washington. la membawa
catatan berisi garis besar apa yang akan dikatakannya, dan laporan tentang
situasi penyerangan atas rumahnya.
333 OMERTA - Mario Puzo Seperti biasa, Bill Boxton menemaninya, tapi kali ini berdasarkan permintaan
Direktur. Cilke dan Boxton berada di kantor Direktur yang
berisi deretan monitor TV yang menunjukkan laporan-
laporan kegiatan kantor FBI lokal. Direktur, yang selalu sopan, menjabat tangan
mereka berdua dan mempersilakan mereka duduk, sekalipun ia melontarkan pandangan dingin ke arah
Boxton. Dua orang deputinya hadir dalam pertemuan tersebut.
"Tuan-tuan," katanya kepada semua yang hadir,
"kita harus membereskan kekacauan ini. Kita tidak bisa membiarkan tindakan gila-
gilaan seperti itu berlalu begitu saja tanpa menanyai seluruh sumber daya kita.
Cilke, kau mau terus bekerja atau pensiun?"
"Bekerja," kata Cilke.
Direktur berpaling pada Boxton, dan wajah
aristokratnya yang ramping tampak kaku. "Kau yang
bertanggung jawab. Bagaimana seluruh penyerang bisa
terbunuh dan kita tidak berhasil menangkap satu pun
untuk diinterogasi" Siapa yang memerintahkan
menembak" Kau" Atas dasar apa?"
Boxton duduk tegak dengan kaku di kursinya. "Sir,"
katanya, "para penyerang itu melemparkan bom ke dalam rumah dan menembak lebih
dulu. Tidak ada pilihan lain."
Direktur mendesah. Salah seorang deputinya
menggerung marah. "Kapten Sestak salah satu orang terbaik kita," kata
Direktur. "Apa dia, paling tidak, mencoba menangkap
salah satu penyerang?"
"Sir, semuanya selesai dalam dua menit," kata
Boxton. "Sestak pakar taktik yang sangat efisien di
lapangan." " Well, sejauh ini media dan publik tidak 334
OMERTA - Mario Puzo meributkan," kata Direktur. "Tapi harus kukatakan bahwa menurutku itu banjir
darah." "Ya, memang," kata salah seorang deputi tanpa di
minta. "Well, tidak bisa tidak," kata Direktur. "Cilke, kau sudah menyusun rencana
operasi?" Cilke merasa marah akan kritik mereka, tapi ia
menjawab dengan tenang. " Aku minta seratus orang
untuk ditugaskan di kantorku. Aku ingin Anda
mereka mengajukan audit penuh bank-bank Aprile. Aku akan
menyelidiki masa lalu setiap orang yang terlibat bisnis ini."
Direktur berkata, "Kau tidak merasa berutang budi
pada Astorre Viola ini karena sudah menyelamatkan
nyawamu dan keluargamu?"
"Tidak," kata Cilke. "Anda harus tahu orang-orang
ini. Mula-mula mereka menyulitkanmu, lalu mereka
membantumu membereskannya."
Direktur berkata, "Ingat, salah satu tujuan utama
kita adalah untuk mengakuisisi bank-bank Aprile. Bukan saja karena kita
diuntungkan, tapi karena bank-bank itu hendak digunakan sebagai pusat pencucian
uang obat bius. Dan melalui bank-bank itu kita bisa menangkap
Portella dan Tulippa. Kira harus memandang kasus ini secara global. Astorre
Viola menolak menjual bank-bank itu, dan sindikat berusaha menghabisinya. Sejauh
ini mereka gagal. Kita telah mengetahui bahwa kedua
pembunuh bayaran yang menembak sang Don telah
menghilang. Dua detektif NYPD diledakkan orang."
"Astorre itu licin dan licik, dan dia tidak terlibat dalam penipuan apa pun,"
kata Cilke pada mereka, "jadi kita tidak bisa menimpakan apa pun padanya. Nah,
Sindikat mungkin akan berhasil menyingkirkannya, dan 335
OMERTA - Mario Puzo anak-anak Aprile akan menjual bank tersebut. Dan aku yakin dalam dua tahun
mereka akan melewati batas."
Bukan tidak biasa bagi lembaga penegak hukum
pemerintah untuk memainkan permainan jangka panjang, terutama dalam menghadapi
orang-orang obat bius. Tapi untuk itu mereka harus mengizinkan orang-orang
tersebut melakukan kejahatan.
"Kita sudah pernah bermain dalam jangka panjang,"
kata Direktur. "Tapi itu tidak berarti kau boleh
membiarkan Portella bertingkah seenaknya."
"Tentu saja," kata Cilke. la tahu pembicaraan ini
tidak direkam. "Akan kuberikan lima puluh orang," kata Direktur.
"Dan ku minta audit sepenuhnya terhadap bank-bank itu, sekadar untuk mengguncang
mereka." Salah seorang deputinya berkata, "Kita sudah
pernah mengaudit mereka dan tidak pernah menemukan
apa pun." "Selalu ada kesempatan," kata Cilke. "Astorre bukan
bankir, dan dia bisa saja melakukan kesalahan."
"Ya," kata Direktur. "Jaksa Agung cuma
memerlukan satu kesalahan kecil."
Kembali ke New York, Cilke bertemu dengan Boxton dan Sestak untuk merencanakan
kampanyenya. "Kita akan
mendapat tambahan lima puluh orang untuk menyelidiki penyerangan atas rumahku,"
katanya pada mereka. "Kita harus sangat berhati-hati. Ku minta semua yang bisa
kalian temukan tentang Astorre Viola. Aku ingin
menyelidiki peledakan kedua detektif tersebut. Aku
menginginkan segala sesuatu tentang lenyapnya Sturzo bersaudara dan semua
informasi yang bisa kita dapatkan 336
OMERTA - Mario Puzo tentang sindikat. Pusatkan perhatian pada Astorre dan juga Detektif Washington.
Detektif itu punya reputasi menerima suap dan kebrutalan, dan alasannya untuk
peledakan itu serta semua uang di lokasi terasa
mencurigakan." "Bagaimana dengan Tulippa?" tanya Boxton. "Dia
bisa meninggalkan negara ini kapan saja."
"Tulippa sedang berkeliling ke seluruh negeri untuk berceramah tentang
legalisasi obat bius, dan juga
mengumpulkan upah pemerasannya dari perusahaan-
perusahaan besar." "Kita bisa menangkapnya karena itu?"" tanya
Sestak. "Tidak bisa, Sestak," kata Cilke. "Dia memiliki perusahaan asuransi dan dia
menjual asuransi pada mereka. Kita mungkin bisa menyusun kasus atas Tulippa, tapi orang-orang bisnis
akan menentangnya. Mereka
sudah memecahkan masalah keamanan personel mereka
di Amerika Selatan. Dan Portella tidak bisa ke mana-
mana." Sestak meringis dingin kepadanya. "Apa peraturan
pelaksanaannya di sini?"
Cilke berkata dengan ringan, "Direktur
memerintahkan untuk tidak ada pembantaian lagi, tapi lindungi diri kalian
sendiri. Terutama menghadapi
Astorre."

Omerta Karya Mario Puzo di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

"Dengan kata lain, kita bisa membiarkan Astorre
tewas," kata Sestak Cilke tampaknya tenggelam dalam pemikiran
sejenak. "Kalau perlu," jawabnya.
Hanya seminggu kemudian para auditor federal
membanjiri catatan bank-bank Aprile, dan Cilke datang 337
OMERTA - Mario Puzo secara langsung untuk menemui Mr. Pryor di kantornya.
Cilke. menjabat tangannya, lalu berkata dengan
riang, "Aku selalu senang bertemu langsung dengan
orang-orang yang mungkin akan ku kirim ke penjara.
Sekarang, bisakah kau membantu kami dan mengungkap
semuanya sebelum terlambat?"
Mr. Pryor menatap pria muda tersebut dengan
prihatin. "Sungguh" Katanya. "Kau benar-benar sudah
keliru, kujamin. Aku mengelola bank-bank ini tanpa cacat, sesuai hukum nasional
dan internasional." "Well, aku cuma ingin kau tahu bahwa aku melacak latar belakangmu dan semua
orang lainnya," kata Cilke.
"Dan kuharap kalian semua bersih. Terutama Sturzo
bersaudara." Mr. Pryor tersenyum padanya. "Kami bersih."
Setelah Cilke berlalu, Mr. Pryor bersandar kembali
ke kursinya. Situasi ini semakin menakutkan. Bagaimana kalau mereka berhasil
melacak Rosie" Ia mendesah.
Sayang sekali. Ia terpaksa tindakan terhadap Rosie.
Sewaktu Cilke memberitahu Nicole bahwa ia ingin Nicole dan Astorre datang ke
kantornya keesokan harinya, ia masih belum benar-benar memahami karakter
Astorre, dan tidak ingin memahaminya. la hanya merasakan
kebencian seperti yang dirasakan kepada semua orang
yang telah melanggar hukum. Ia tidak memahami tekad
seorang Mafioso sejati. Astorre percaya akan tradisi lama. Para pengikutnya
mencntainya bukan hanya karena karismanya, tapi karena ia menghargai kehormatan
di atas segalanya. Seorang Mafioso sejati memiliki kemauan cukup
kuat untuk membalas setiap penghinaan terhadap dirinya 338
OMERTA - Mario Puzo pribadi atau cosca-nya. la tidak akan pernah mematuhi keinginan orang lain atau
lembaga pemerintah. Dan di sinilah letak kekuatannya. Kemauannya sendiri amat
besar; keadilan adalah apa yang menurutnya adil.
Tindakan Astorre menyelamatkan Cilke dan keluarganya merupakan kelemahan
karakternya. Sekalipun begitu,
bersama Nicole ia datang ke kantor Cilke, dengan sedikit harapan akan mendapat
ucapan terima kasih, pengurangan sikap bermusuhan dari pihak Cilke.
Jelas sekali mereka telah mengatur pertemuan ini
dengan sangat hati-hati. Dua petugas keamanan
memeriksa Astorre dan Nicole sebelum mereka memasuki kantor Cilke. Cilke sendiri
berdiri di belakang mejanya dan memelototi mereka. Tanpa menunjukkan tanda-tanda
persahabatan, ia memberi isyarat agar mereka duduk.
Salah seorang penjaga mengunci mereka semua di dalam dan menunggu di balik
pintu. "Apa pertemuan ini direkam?" tanya Nicole.
"Ya," kata Cilke. "Audio dan video. Aku tidak ingin
ada salah pengertian dalam pertemuan ini." Ia diam
sejenak. "Aku ingin kalian mengerti bahwa tidak ada yang berubah. Aku tetap
menganggap kalian sampah yang
tidak akan ku izinkan tinggal di negara ini. Aku tidak percaya dengan omong
kosong tentang sang Don ini. Aku tidak percaya ceritamu tentang informannya.
Kupikir kalian sengaja mengatur ini bersamanya, lalu
mengkhianati sekongkolmu untuk mendapat kemudahan
dariku. Aku benci tipuan seperti itu."
Astorre terkejut menyadari betapa dekatnya Cilke
dengan kebenaran. Ia memandang orang itu dengan
penghormatan baru. Namun ia merasa tersinggung. Orang ini tidak tahu terima
kasih, tidak menghormati orang yang sudah menyelamatkan nyawanya dan
keluarganya. 339 OMERTA - Mario Puzo Astorre tersenyum menyadari kontradiksi dalam dirinya.
"Kau menganggapnya lucu, salah satu lelucon Mafia-
mu," kata Cilke. "Akan ku hapus senyummu dalam dua
detik." Ia berpaling kepada Nicole. "Pertama-tama, Biro
menuntut kau memberitahukan keadaan sebenarnya,
bagaimana kau bisa mendapatkan informasi ini. Bukan
cerita palsu yang diberikan sepupumu. Aku terkejut
dengan tindakanmu, Penasihat. Aku sedang
mempertimbangkan untuk menuntutmu sebagai
konspirator." Nicole berkata dingin, "Coba saja, tapi ku sarankan
kau tanyakan dulu pada direkturmu."
"Siapa yang memberitahumu tentang penyerangan
atas rumahku?" tanya Cilke. "Kami menginginkan
informan yang sebenarnya."
Astorre angkat bahu. "Terserah," katanya.
"Tidak bisa," kata Cilke dingin. "Kita luruskan yang satu ini. Kau cuma sampah
biasa. Pembunuh. Aku tahu
kau yang meledakkan Di Benedetto dan Washington. Kami sedang menyelidiki
menghilangnya kedua Sturzo
bersaudara di L.A. Kau membunuh tiga anak buah
Portella, dan kau terlibat penculikan. Kami akan
menangkapmu suatu hari nanti. Lalu kau akan menjadi
seonggok sampah biasa."
Untuk pertama kalinya Astorre tampak kehilangan
ketenangannya, dan topeng keriangannya terlepas. Ia
menyadari Nicole mengawasinya dengan perasaan iba
bercampur ketakutan. Jadi, ia membiarkan sebagian
kemarahannya terlepas. "Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu," kata
nya pada Cilke. "Kau bahkan tidak tahu arti kehormatan.
Aku sudah menyelamatkan nyawa istri dan putrimu.
340 OMERTA - Mario Puzo Mereka bisa saja terkubur dalam tanah kalau bukan
karena aku. Sekarang kau mengundangku kemari untuk
melecehkanku. Istrimu dan putrimu masih hidup karena aku. Paling tidak tunjukkan
penghormatan karena itu."
"Cilke menatapnya. "Aku tidak akan menunjukkan
apa-apa," katanya, dan ia merasakan kemarahan yang
luar biasa karena berutang budi pada Astorre.
Astorre bangkit berdiri dari kursinya dan menuju
pintu, tapi seorang petugas keamanan mendorongnya
kembali ke kursi. "Akan ku buat hidupmu sengsara," kata Cilke.
Astorre angkat bahu. "Terserah kau mau apa. Tapi
kuberitahu. Aku tahu kau termasuk salah satu penyebab Don Aprile menjadi
incaran. Hanya karena kau dan Biro ingin menguasai bank-banknya."
Mendengar hal ini, kedua petugas keamanan
mendekatinya, tapi Cilke melambai mengusir mereka.
"Aku tahu kau bisa menghentikan penyerangan terhadap keluargaku," kata Astorre.
"Sekarang kuberitahu bahwa aku menganggap kau yang bertanggung jawab atas
penyerangan tersebut."
Dari sisi seberang ruangan, Bill Boxton memandang
Astorre dan menggeram, "Apa kau mengancam petugas
federal?" Nicole menyela, "Tentu saja tidak, dia cuma
meminta bantuan." Cilke sekarang tampak lebih tenang. "Segala urusan
ini gara-gara Don tercintamu itu. Well, jelas sekali kau belum membaca arsip
yang kuberikan pada Nicole. Don
tercintamu adalah orang yang membunuh ayahmu
sewaktu kau masih berusia tiga tahun."
Astorre mengernyit dan melirik Nicole. "Itu bagian
341 OMERTA - Mario Puzo yang kau hapus?" Nicole mengangguk. "Kurasa bagian itu palsu, dan
kau memang benar, kurasa kau tidak perlu tahu.
Informasi itu hanya akan menyakitimu."
Astorre merasa ruangan tersebut mulai berputar,
tapi ia menjaga ketenangannya. "Tidak ada bedanya,"
katanya. Nicole berkata pada Cilke, "Sekarang, sesudah
semuanya jelas, kami boleh pergi?"
Cilke bertubuh tinggi besar, dan saat keluar dari
belakang meja ia menampar kepala Astorre dengan sikap main-main. Astorre
terkejut, begitu pula Cilke sendiri, karena ia belum pernah bertindak seperti
itu. Tamparan tersebut menunjukkan kejengkelannya, yang menutupi
kebencian sebenarnya. Ia menyadari bahwa ia tidak akan pernah lupa bahwa Astorre
sudah menyelamatkan keluarganya. Astorre menatap Cilke dengan tajam. Ia
memahami betul perasaan Cilke.
Nicole dan Astorre kembali ke apartemen Nicole, dan Nicole mencoba menunjukkan
simpatinya pada Astorre akibat penghinaan tadi, tapi hal ini justru menambah kemarahan Astorre. Nicole
menyiapkan makan siang ringan, kemudian membujuk Astorre untuk tidur sebentar di kamarnya. Saat tidur,
Astorre sadar bahwa Nicole
berbaring di sebelahnya, memeluknya. Ia mendorong
Nicole menjauh. "Kau mendengar apa yang dikatakan Cilke tentang
diriku," katanya. "Kau mau terlibat dalam kehidupanku?"
"Aku tidak mempercayai dia maupun laporannya,"
Perang Ilmu Gaib 1 Pendekar Cambuk Naga 5 Pedang Semerah Darah Dendam Empu Bharada 28
^