Pencarian

Kill Mocking Bird 6

To Kill A Mocking Bird Karya Harper Lee Bagian 6


sesegera mungkin. Tipikal mentalitas negro yang tak punya rencana, tak
memikirkan masa depan, hanya lari tunggang langgang pada kesempatan pertama yang
dilihatnya. Lucunya, Atticus Finch mungkin bisa membebaskannya tetapi apa dia
mau menunggu" Tidak. Kamu tahu mereka seperti apa. Mudah datang, mudah pergi.
Jelas kan, bahwa Robinson sudah menikah, mereka bilang dia bersih, ke gereja dan
sebagainya, tetapi pada dasarnya, kedoknya sangat mudah terbuka. Sifat nigger
selalu muncul dalam diri mereka.
Ditambahi beberapa detail lagi, memungkinkan setiap pendengar mengulangi
versinya ke orang lain, lalu tak ada lagi yang dibicarakan sampai Maycomb
Tribune muncul hari Kamis berikutnya. Ada obituari singkat dalam Berita Kulit
Hitam, tetapi juga ada editorial. Mr. B.B. Underwood sedang getir-getirnya, dan dia tak peduli siapa yang
membatalkan iklan dan langganan. (Tetapi, cara main Maycomb tidak seperti itu:
Mr. Underwood bisa berteriak sampai berkeringat dan menulis apa pun yang dia
mau, dia masih mendapatkan iklan dan langganan. Jika dia ingin memperbodoh diri
di korannya, itu urusannya.) Mr. Underwood tidak membicarakan timpangnya
keadilan, dia menulis supaya anak-anak bisa mengerti. Mr. Underwood hanya
menyimpulkan bahwa membunuh orang cacat itu dosa, baik mereka sedang berdiri,
duduk, atau melarikan diri. Dia mengumpamakan kematian Tom sebagai pembantaian
tanpa arti atas burung penyanyi oleh pemburu dan anak-anak, dan Maycomb berpikir
dia mencoba menulis editorial yang cukup puitis untuk dicetak ulang dalam
Montgomery Advertiser. Bagaimana bisa begini, aku bertanya-tanya, saat aku membaca editorial Mr.
Underwood. Pembunuhan tanpa artiTom telah diproses sesuai dengan hukum yang
berlaku hingga hari kematiannya; dia telah diadili secara terbuka dan divonis
oleh dua belas orang lelaki yang baik dan benar; ayahku telah memperjuangkannya
habis-habisan. Lalu, maksud Mr. Underwood menjadi jelas: Atticus telah
menggunakan setiap alat yang tersedia bagi orang merdeka untuk menyelamatkan Tom
Robinson, tetapi di pengadilan tersembunyi dalam hati manusia, Atticus tak punya
kasus. Tom adalah orang mati begitu Mayella Ewell membuka mulutnya dan menjerit.
Nama Ewell memberiku perasaan mual. Maycomb segera mendengar pandangan Mr. Ewell
tentang kematian Tom dan meneruskannya melalui saluran utama gosip, yaitu Miss
Stephanie Crawford. Miss Stephanie memberi tahu Bibi Alexandra di depan Jem
("Ah, dia cukup besar untuk mendengar,") bahwa Mr. Ewell berkata satu sudah
tumbang dan masih ada dua lagi. Kata Jem padaku, jangan takut, Mr. Ewell cuma
omong besar. Jem juga berkata padaku bahwa kalau aku sampai membocorkannya
kepada Atticus, jika dalam cara apa pun aku memberi tahu Atticus bahwa aku tahu,
Jem tak akan pernah bicara denganku lagi.
Dua Puluh Enam Sekolah dimulai, demikian pula perjalanan harian kami melewati Radley Place. Jem
kelas tujuh dan bersekolah ke SMP, di belakang gedung SD; aku sekarang kelas
tiga, dan rutinitas kami sudah begitu berbeda sehingga aku hanya berjalan ke
sekolah bersama Jem pada pagi hari dan bertemu pada saat makan. Dia mencoba
masuk tim football, tetapi terlalu langsing dan terlalu muda untuk melakukan
apa-apa kecuali membawakan ember air untuk seluruh tim. Dia melakukannya dengan
bersemangat; hampir setiap sore dia pulang setelah hari gelap.
Radley Place sudah tidak lagi membuatku takut, tetapi rumah itu tetap suram,
tetap tampak dingin di bawah pohon eknya yang besar-besar, dan tetap tak
menarik. Mr. Nathan Radley masih terlihat pada hari cerah, berjalan pulang pergi
ke kota; kami tahu Boo ada di dalam, untuk alasan yang sama belum ada yang
melihatnya digotong keluar. Kadang-kadang, ketika melewati tempat tua itu, aku
merasa sedih karena pernah berpartisipasi dalam sesuatu yang pasti menyiksa
Arthur Radley petapa bernalar mana yang ingin anak-anak mengintip lewat jendela,
mengantarkan sapaan dengan ujung tongkat pancing, berjalan-jalan di kebun sawi
di tengah malam" Tetapi, aku juga ingat. Dua keping koin kepala Indian, permen karet, boneka
sabun, medali berkarat, jam-rantai rusak. Jem rupanya menyimpannya di suatu
tempat. Aku berhenti dan melihat pada pohon itu suatu sore: batangnya membengkak
di sekitar tambalan semennya. Tambalan itu sendiri sudah menguning.
Kami sudah beberapa kali hampir melihatnya, nilai yang cukup baik bagi siapa
pun. Namun, aku masih mencarinya setiap kali aku lewat. Mungkin suatu hari aku akan
melihatnya. Aku membayangkan akan seperti apa ketika itu terjadi; dia hanya
duduk di ayunan ketika aku lewat. "Halo, Mr. Arthur," aku akan berkata, seolah-
olah aku mengatakannya setiap sore sepanjang hidupku. "Sore, Jean Louise," dia
akan berkata, seolah-olah dia mengatakannya setiap sore sepanjang hidupku,
"cuaca yang indah, bukan?" "Ya, Sir, benar indah," aku pun menjawab, lalu terus
berjalan. Itu hanya khayalan. Kami tak akan pernah melihatnya. Mungkin dia memang keluar
saat bulan terbenam dan mengamati Miss Stephanie Crawford. Aku lebih suka
memilih orang lain untuk diamati, tetapi itu urusannya. Dia tak akan mengamati
kami. "Kau tidak akan memulainya lagi, kan?" kata Atticus suatu malam, ketika aku
mengungkapkan hasrat liar untuk melihat Boo Radley sebelum aku mati. "Kalau ya,
kukatakan sekarang: hentikan. Aku sudah terlalu tua untuk menghalaumu dari tanah
Radley. Lagi pula, berbahaya. Kau bisa tertembak. Kau tahu Mr. Nathan menembak
setiap bayangan yang dilihatnya, bahkan bayangan yang meninggalkan jejak kaki
telanjang berukuran empat. Kau beruntung tak terbunuh."
Aku langsung terdiam. Pada saat yang sama, aku takjub pada Atticus. Ini pertama
kalinya dia memberi tahu bahwa dia tahu lebih banyak daripada yang kami sangka.
Dan peristiwa itu terjadi bertahun-tahun yang lalu. Tidak, baru musim panas yang
lalu tidak, musim panas sebelum itu ... waktu membuatku bingung. Aku harus ingat
untuk bertanya kepada Jem.
Begitu banyak hal terjadi pada kami, Boo Radley adalah hal terakhir yang kami
takuti. Kata Atticus, dia cukup yakin tak akan terjadi apa-apa lagi, bahwa
keadaan akhirnya akan mereda, dan setelah cukup waktu berlalu, orang akan lupa
bahwa kehadiran Tom Robinson pernah menarik perhatian mereka.
Mungkin Atticus benar, tetapi peristiwa musim panas itu menyelimuti kami seperti asap dalam ruang
tertutup. Orang dewasa di Maycomb tak pernah membahas kasus itu dengan aku dan
Jem; sepertinya mereka membahasnya dengan anak-anak mereka, dan sepertinya
mereka menunjukkan sikap bahwa kami berdua tidak bisa memilih orangtua kami.
Akibatnya, anak-anak mereka harus baik kepada kami meskipun ada Atticus. Anak-
anak tak mungkin memikirkan hal seperti ini sendiri: seandai-nya teman sekelas
kami dibiarkan, aku dan Jem mungkin masing-masing sudah beberapa kali berkelahi
dengan singkat dan memuaskan, dan mengakhiri masalah itu selamanya. Dengan cara
seperti ini, kami terpaksa mengangkat kepala dan menjadi lelaki dan perempuan
terhormat. Boleh dibilang, masa ini mirip dengan masa Mrs. Henry Lafayette
Dubose, tanpa teriakan-teriakannya. Namun, ada satu hal aneh yang aku tak pernah
mengerti: meskipun ada kekurangan Atticus sebagai orangtua, masyarakat tetap
puas memilih dia kembali sebagai anggota badan legislatif negara bagian tahun
itu, seperti biasa, tanpa oposisi. Aku menyimpulkan bahwa orang memang aneh. Aku
menarik diri dari mereka, dan tak pernah memikirkan mereka sampai aku terpaksa.
Keterpaksaan itu datang pada suatu hari di sekolah. Seminggu sekali, kami
mengikuti mata pelajaran Peristiwa Terkini. Setiap anak diwajibkan memotong satu
berita dari koran, menyerap isinya, dan mengungkapkannya di kelas. Praktik ini
katanya bermanfaat untuk menanggulangi berbagai kejahatan: berdiri di depan
teman-temannya mendorong terbentuknya postur yang baik dan mengajarkan sikap
tenang kepada anak; mempelajari peristiwa terkini memperkuat ingatannya; tampil
sendiri-sendiri membuatnya lebih-lebih ingin kembali ke Kelompok.
Gagasan yang agung, tetapi seperti biasa, di Maycomb, gagasan ini tidak terlalu
berhasil. Pertama, hanya sedikit anak desa yang memiliki koran, jadi beban
Peristiwa Terkini ditanggung anak-anak yang tinggal di kota; hal ini semakin
menambah keyakinan anak-anak anggota bus jemputan bahwa anak-anak kotalah yang selalu
memperoleh perhatian. Anak-anak desa yang punya koran, biasanya membawa artikel
dari Grit Paper, koran kacangan di mata Miss Gates, guru kami. Mengapa dia
mengerutkan kening ketika seorang anak membaca dari Grit Paper, aku tak pernah
tahu, tetapi entah bagaimana koran ini dikaitkan dengan kesukaan bermain biola,
memakan biskuit bersirop saat makan siang, penganut Pantekosta, menyanyi Sweet/y
Sings the Donkey dan melafalkannya dengan 'dunkey' semua hal yang harus diredam
oleh para guru yang digaji oleh negara.
Meskipun demikian, tak banyak siswa yang mengerti Peristiwa Terkini itu apa.
Little Chuck Little, meskipun pengetahuannya tentang sapi dan kebiasaan mereka
telah berumur seratus tahun, sudah setengah jalan membacakan cerita Paman Nat-
chell, kartun maskot sebuah produk pupuk, ketika Miss Gates menghentikannya,
"Charles, itu bukan peristiwa terkini. Itu iklan."
Tetapi, Cecil Jacobs tahu apa itu Peristiwa Terkini. Ketika gilirannya tiba, dia
maju ke depan dan memulai, "Si Tua Hitler"
"Adolf Hitler, Cecil," kata Miss Gates. "Orang tak boleh memulai kalimat dengan
menyebut seseorang Si Tua."
"Ya, Ma'am," katanya. "Adolf Hitler Tua sudah lama melindas"
"Menindas, Cecil ..."
"Tidak, Miss Gates, di sini bunyinya yah, pokoknya Adolf Hitler tua menyusahkan
orang Yahudi dan dia memasukkan mereka ke penjara dan dia merampas semua milik
mereka dan dia tidak mengizinkan mereka keluar negara dan dia membersihkan semua
otak udang dan" "Membersihkan otak udang?"
"Ya, Miss Gates, sepertinya mereka tidak cukup pandai untuk mandi sendiri,
sepertinya seorang idiot tak bisa menjaga kebersihan tubuhnya. Yah, pokoknya,
Hitler memulai program untuk menggaruk orang setengah Yahudi juga dan dia ingin
mendaftar mereka kalau-kalau mereka ingin mempersulitnya dan saya pikir ini hal
yang buruk dan selesailah peristiwa terkini saya."
"Bagus sekali, Cecil," kata Miss Gates. Mengembuskan napas, Cecil kembali ke
kursinya. Satu tangan diacungkan di belakang ruangan. "Bagaimana dia melakukan hal itu?"
"Siapa melakukan apa?"tanya Miss Gates sabar.
"Maksud saya, bagaimana Hitler bisa memasukkan banyak orang ke kurungan seperti
itu, mestinya pemerintah mencegahnya," kata si pemilik tangan.
"Hitlerlah pemerintahnya," kata Miss Gates, dan, menyambar kesempatan untuk
mendinamiskan pendidikan, dia berjalan ke papan tulis. Dia menuliskan DEMOKRASI
dalam huruf besar. "Demokrasi," katanya. "Ada yang tahu definisinya?"
"Kita," seseorang berkata. Aku mengacung, mengingat slogan kampanye kuno yang
pernah diceritakan Atticus kepadaku. "Menurutmu, apa artinya, Jean Louise?"
'"Hak yang sama untuk semua, hak istimewa tidak untuk seorang pun!'" aku
mengutip. "Bagus sekali, Jean Louise, bagus sekali," Miss Gates tersenyum. Di depan
DEMOKRASI, dia menulis KITA ADALAH NEGARA. "Nah, Anak-anak, ucapkan semuanya:
'Kita adalah negara demokrasi.'"
Kami mengucapkannya. Lalu, Miss Gates berkata, "Itulah bedanya Amerika dan
Jerman. Kita negara demokrasi dan Jerman negara diktator. Kediktatoran,"
katanya. "Di sini kita percaya, kita tidak boleh menindas siapa pun. Penindasan
berasal dari orang-orang yang berprasangka buruk. Prasangka," dia mengucapkan
dengan hati-hati. "Tak ada orang yang lebih baik di dunia ini daripada kaum
Yahudi, dan mengapa Hitler tidak berpikir begitu adalah misteri bagiku."
Sebuah jiwa yang ingin tahu di tengah ruangan berkata, "Mengapa mereka tidak
menyukai orang Yahudi, menurut Anda, Miss Gates?"
"Aku tak tahu, Henry. Orang Yahudi berkiprah di setiap masyarakat yang mereka
tinggali, dan terutama, mereka sangat religius. Hitler mencoba menyingkirkan
agama, jadi mungkin dia tidak menyukai mereka karena alasan itu."
Cecil angkat bicara. "Saya tak tahu pasti," katanya, "mereka mestinya menukar
uang atau semacam itu, tapi itu bukan alasan untuk menindas mereka. Mereka
berkulit putih, kan?"
Miss Gates berkata, "Kalau kau sudah SMA, Cecil, kau akan mempelajari bahwa kaum
Yahudi sudah ditindas sejak awal sejarah, bahkan diusir dari
negara mereka sendiri. Itu salah satu kisah paling buruk dalam sejarah. Waktunya
aritmetika, anak-anak."
Karena aku tak pernah suka aritmetika, aku melewatkan jam itu melihat keluar
jendela. Sekalinya aku melihat Atticus merengut adalah ketika Elmer Davis,
seorang wartawan dan penyiar radio CBS, memberi kami berita terakhir tentang
Hitler. Atticus akan mematikan radio dan berkata, "Hmp!" Aku pernah bertanya
mengapa dia tak suka kepada Hitler dan Atticus berkata, "Karena dia orang gila."
Ini tak cukup, pikirku, ketika kelas berlanjut dengan belajar tambah-tambahan.
Satu orang gila dan jutaan orang Jerman. Menurut pikiranku, semestinya mereka
menyekap Hitler dalam penjara alih-alih membiarkannya menyekap mereka. Ada hal
lain yang mengganjal aku akan bertanya kepada ayahku tentang itu.
Aku bertanya, dan katanya dia tak mungkin menjawab pertanyaanku karena dia tak
tahu jawabannya. "Tetapi membenci Hitler itu boleh?" "Tidak boleh," katanya. "Kita tidak boleh
membenci siapa pun."
"Atticus," kataku, "ada sesuatu yang tak kumengerti. Menurut Miss Gates kejadian
ini mengerikan, Hitler bertindak seperti itu. Wajahnya sampai memerah karenanya"
"Aku tak heran."
"Tapi" "Ya?" "Tak apa-apa, Sir." Aku pergi, tak yakin aku bisa menjelaskan kepada Atticus apa
yang ada di benakku, tak yakin aku bisa menjabarkan sesuatu yang hanya berupa
perasaan. Mungkin Jem bisa memberikan jawaban. Jem mengerti urusan sekolah lebih
daripada Atticus. Jem lelah karena seharian membawa air. Ada setidaknya dua belas kulit pisang di
lantai di samping tempat tidurnya, mengitari botol susu kosong. "Kenapa kau
makan begitu banyak?" tanyaku.
"Kata Pelatih, kalau beratku naik dua belas kilo dua tahun lagi, aku boleh
bermain," katanya. "Ini cara tercepat."
"Kalau kau tidak memuntahkan semuanya. Jem, " kataku, "aku ingin menanyakan
sesuatu." "Silakan." Dia meletakkan buku dan meluruskan kakinya.
"Miss Gates perempuan yang baik, bukan?" "Tentu saja," kata Jem. "Aku suka dia
waktu aku di kelasnya."
"Dia sangat membenci Hitler "Apa salahnya?"
"Hmm dia berbicara hari ini tentang betapa buruknya Hitler memperlakukan orang
Yahudi seperti itu. Jem, menindas siapa pun itu salah, kan" Maksudku, bahkan
memiliki pikiran jahat pada siapa pun, begitu, kan?"
"Jelas salah, Scout. Memangnya kenapa?"
"Yah, waktu keluar dari gedung pengadilan malam itu, Miss Gates sedang dia
menuruni tangga di depan kita, kau mungkin tidak melihatnya dia sedang berbicara
dengan Miss Stephanie Crawford. Aku mendengar dia berkata bahwa sudah waktunya
mereka diberi pelajaran, mereka sudah melunjak, dan hal berikutnya yang mereka
pikir bisa mereka lakukan adalah menikahi kita. Jem, bagaimana orang bisa
membenci Hitler demikian sangat, lalu berbalik dan bersikap buruk pada orang-
orang yang justru ada di kotanya sendiri?"
Tiba-tiba kemarahan Jem meledak. Dia melompat turun dari tempat tidur, menangkap
kerahku dan mengguncangku. "Aku tak pernah ingin mendengar tentang gedung
pengadilan itu lagi, selamanya, selamanya, mengerti" Mengerti" Jangan pernah
ucapkan satu kata lagi padaku tentang itu lagi, mengerti" Pergi!"
Aku terlalu terkejut untuk menangis. Aku beringsut dari kamar Jem dan menutup
pintu perlahan, kalau-kalau suara yang tak diinginkan membuatnya marah lagi.
Merasa tiba-tiba kelelahan, aku menginginkan Atticus. Dia sedang di ruang duduk,
dan aku menghampirinya dan mencoba naik ke pangkuannya.
Atticus tersenyum. "Kau sudah terlalu besar sekarang, aku hanya bisa memeluk
sebagian." Dia memelukku erat. "Scout," katanya lembut, "jangan biarkan Jem
membuatmu sedih. Dia sedang menghadapi masa sulit akhir-akhir ini. Aku mendengar
kalian berbicara." Kata Atticus, Jem sedang mencoba bersungguh-sungguh melupakan sesuatu, tetapi
sebenarnya yang dilakukannya hanyalah menyisihkan masalah tersebut beberapa lama
sampai sudah cukup waktu berlalu. Lalu, dia akan mampu memikirkan dan
memahaminya. Ketika dia mampu memikirkannya, Jem akan kembali menjadi dirinya.
Dua Puluh Tujuh Keadaan memang mereda, kira-kira, seperti yang diramalkan Atticus. Pada
pertengahan Oktober, hanya dua hal kecil yang di luar kebiasaan terjadi pada dua
warga Maycomb. Tidak, ada tiga hal, dan tidak langsung berkaitan dengan kami
keluarga Finchtetapi boleh juga dibilang berkaitan.
Hal pertama adalah Mr. Bob Ewell memperoleh dan kehilangan pekerjaan dalam waktu
beberapa hari dan hal itu mungkin membuatnya unik dalam sejarah 1930-an: dia
satu-satunya orang yang pernah kudengar dipecat dari WPA, proyek padat karya
pemerintah, karena malas. Kukira kepopuleran singkatnya menimbulkan
keproduktifan yang lebih singkat, tetapi pekerjaannya hanya berlangsung selama
masa kejayaannya: Mr. Ewell mendapati dirinya dilupakan seperti Tom Robinson.
Setelah itu, dia muncul lagi setiap minggu di dinas sosial untuk mengambil cek


To Kill A Mocking Bird Karya Harper Lee di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

santunan, dan menerimanya tanpa terima kasih, di tengah gerutuan tak jelas bahwa
para bajingan yang merasa memerintah kota ini tidak mengizinkan orang jujur
mencari nafkah. Ruth Jones, petugas sosial, mengatakan bahwa Mr. Ewell terang-
terangan menuduh Atticus merebut pekerjaannya. Miss Ruth cukup risau sampai-
sampai dia berjalan ke kantor Atticus dan menceritakan hal itu. Kata Atticus,
Miss Ruth tak perlu cemas, karena jika Bob Ewell ingin membahas persoalan
Atticus "merebut" pekerjaannya, Bob sudah tahu jalan ke kantornya.
Hal kedua terjadi pada Hakim Taylor. Hakim Taylor tidak ke gereja pada Minggu
malam; Mrs. Taylor yang hadir. Hakim Taylor menikmati waktu Minggu malam
sendirian di rumahnya yang besar, dan pada waktu kebaktian dia bersembunyi di
ruang kerjanya membaca tulisan Bob Taylor (bukan saudara, tetapi sang hakim
tentu bangga andai bisa mengaku saudara). Pada suatu Minggu malam, tenggelam
dalam metafora berbuah dan diksi berbunga, perhatian Hakim Taylor terenggut dari
lembar kertas oleh suara garukan yang mengganggu. "Sst," katanya kepada Ann
Taylor, anjing kampungnya yang gemuk. Lalu, dia menyadari dia berbicara pada
ruangan kosong; suara menggaruk berasal dari belakang rumah. Hakim Taylor menuju
teras belakang untuk mengeluarkan Ann dan menemukan pintu kawatnya berayun
terbuka. Bayangan di pojok rumah beradu pandang dengannya, dan hanya itulah yang
bisa dilihatnya dari pengunjungnya. Mrs. Taylor pulang dari gereja menemukan
suaminya di kursinya, tenggelam dalam tulisan Bob Taylor, dengan senapan di
pangkuan. Hal ketiga terjadi pada Helen Robinson, janda Tom. Kalau Mr. Ewell dilupakan
seperti Tom Robinson, Tom Robinson dilupakan seperti Boo Radley.
Tetapi, Tom tidak dilupakan oleh majikannya, Mr. Link Deas. Mr. Link Deas
menciptakan pekerjaan untuk Helen. Dia sebenarnya tak memerlukannya, tetapi
menurutnya, dia benar-benar merasa tak enak dengan apa yang terjadi. Aku tak
pernah tahu siapa yang mengurus anak-anak Helen ketika dia pergi. Calpurnia
berkata, keadaan ini sulit bagi Helen, karena dia harus berjalan hampir satu mil
dari jalan yang biasa untuk menghindari keluarga Ewell, yang, menurut Helen,
"melemparinya" ketika dia pertama kali mencoba menggunakan jalan umum. Mr. Link
Deas akhirnya mendapat kesan bahwa Helen datang bekerja setiap pagi dari arah
yang salah, dan mengorek alasannya dari Helen. "Biarkan saja, Mr. Link, tolong,
Sir," mohon Helen. "Enak saja," kata Mr. Link. Dia menyuruhnya mampir di tokonya
sore itu sebelum pergi. Dia mampir, dan Mr. Link menutup toko, memakai topi, dan
mengantar Helen pulang. Dia mengantarnya lewat jalan umum, melewati rumah Ewell.
Ketika berjalan pulang, Mr. Link berhenti di gerbang gila itu.
"Ewell?" panggilnya. "Oi, Ewell!" Jendela-jendela, biasanya penuh anak-anak,
kosong. "Aku tahu setiap anggota keluargamu sedang berbaring di lantai! Sekarang dengar,
Bob Ewell: kalau aku mendengar sepatah lagi dari pekerjaku Helen tentang dia
yang tak bisa lewat jalan ini, akan kupastikan kau dipenjara sebelum matahari
terbenam!" Mr. Link meludah di tanah dan berjalan pulang. Helen berangkat kerja
keesokan paginya dan menggunakan jalan umum. Tak ada yang melemparinya, tetapi ketika dia sudah
beberapa meter melewati rumah Ewell, dia menoleh dan melihat Mr. Ewell berjalan
di belakangnya. Dia berbalik dan terus berjalan, dan Mr. Ewell menjaga jarak
yang sama di belakangnya hingga dia sampai ke rumah Mr. Link Deas. Sepanjang
jalan ke rumah itu, kata Helen, dia mendengar suara lirih di belakangnya
melantunkan kata-kata kotor. Merasa benar-benar ketakutan, dia menelepon Mr.
Link di tokonya, yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Ketika Mr. Link keluar
dari tokonya, dia melihat Mr. Ewell bersandar di pagar. Kata Mr. Ewell, "Link
Deas, jangan pandang aku seakan aku ini sampah. Aku tidak meloncati"
"Hal pertama yang bisa kaulakukan, Ewell, adalah enyah jauh-jauh dari tanahku.
Kamu bersandar di pagarku dan aku tak punya uang untuk membayar cat baru. Hal
kedua yang bisa kaulakukan adalah jauh-jauh dari tukang masakku atau aku akan
menuntutmu karena menyerang"
"Aku tak menyentuhnya, Link Deas, dan tak sudi mendekati nigger mana pun!"
"Kamu tak perlu menyentuhnya, yang perlu kau lakukan hanyalah membuatnya
ketakutan, dan jika tuntutan penyerangan tak cukup untuk memenjara-kanmu
beberapa lama, akan kutuntut kau dengan Hukum Perempuan*. Jadi, menyingkirlah!
Kalau menurutmu aku tidak sungguh-sungguh, coba saja ganggu dia lagi!"
Mr. Ewell rupanya menganggap Mr. Link Deas bersungguh-sungguh karena Helen tak
pernah lagi melaporkan adanya masalah.
"Aku tak suka ini, Atticus, aku tak suka sama sekali," adalah penilaian Bibi
Alexandra mengenai peristiwa-peristiwa ini. "Lelaki itu tampaknya masih
menyimpan dendam pada semua orang yang berkaitan dengan kasus itu. Aku tahu
bagaimana orang macam dia membalas dendam, tetapi aku tak mengerti mengapa dia
harus mendendam bukankah keinginannya terpenuhi di pengadilan?"
"Kurasa aku mengerti," kata Atticus. "Mungkin karena dia tahu dalam hatinya
bahwa sangat sedikit orang di Maycomb yang benar-benar memercayai dongengnya dan
Mayella. Dia menyangka dia akan menjadi pahlawan, tetapi yang dia dapatkan
setelah bersusah payah adalah ... adalah, oke, kami memvonis Negro ini, tetapi
kembalilah ke tempat pembuangan sampahmu. Dia sudah berurusan dengan semua orang
sekarang, jadi semestinya dia puas. Dia akan tenang kembali ketika cuaca
berubah." "Tetapi, mengapa dia mencoba merampok rumah John Taylor" Dia jelas tak tahu John
ada di rumah, kalau tidak, dia tak akan mencobanya. Lampu yang dinyalakan John
pada Minggu malam hanyalah di teras depan dan di ruang kerjanya di belakang...."
"Belum tentu Bob Ewell yang memotong kawat itu, kita tak tahu siapa pelakunya,"
kata Atticus. "Tetapi, aku bisa menebak alasannya. Aku memang
* Dari Hukum Pidana Alabama, Jil. III, 1907, yang menyatakan bahwa orang yang
mendekati rumah orang lain dan menggunakan bahasa kasar di depan kaum perempuan,
boleh didenda dan dipenjara.
membuktikan dia berbohong, tetapi John membuatnya kelihatan seperti orang tolol.
Sepanjang Ewell di kursi itu, aku tidak berani memandang John dan tidak tertawa.
John memandang Ewell seolah-olah dia ayam berkaki tiga atau telur segiempat.
Jangan pernah bilang hakim tidak mencoba membuat juri berprasangka," Atticus
terkekeh. Pada akhir Oktober, kami telah terbiasa dengan keseharian antara sekolah,
bermain, belajar. Jem tampaknya sudah menyingkirkan dari benaknya apa pun yang
ingin dia lupakan, dan teman-teman sekelas kami untungnya mengizinkan kami
melupakan kenyentrikan ayah kami. Cecil Jacobs suatu kali bertanya kepadaku
apakah Atticus seorang Radikal. Waktu aku bertanya kepada Atticus, Atticus
begitu geli sehingga aku agak kesal, tetapi katanya dia tidak menertawakan aku.
Katanya, "Bilang pada Cecil, aku ini seradikal Cotton Tom Heflin."
Bibi Alexandra mengalami kemajuan pesat. Miss Maudie sepertinya membungkam
seluruh Masyarakat Misionaris dengan sekali pukul karena Bibi menguasai kawanan
itu lagi. Kue-kuenya menjadi semakin lezat. Aku belajar lebih banyak tentang
kehidupan sosial suku Mrunas yang malang dari mendengarkan Mrs. Merriweather:
rasa kekeluargaan mereka begitu kecil sehingga seluruh suku itu adalah satu
keluarga besar. Seorang anak memiliki ayah sebanyak jumlah lelaki di komunitas
ini, dan ibu sebanyak jumlah perempuan. J. Grimes Everett mencoba sekuat tenaga
mengubah keadaan ini, dan karena itu, dia sangat membutuhkan doa kami.
Maycomb kembali menjadi dirinya sendiri. Tepat sama seperti tahun lalu dan tahun
sebelum itu, hanya dengan dua perubahan kecil. Pertama, para warga sudah
menghilangkan dari jendela toko dan mobil mereka stiker yang berbunyi NRA KAMI
IKUT BERPARTISIPASI. Aku bertanya kepada Atticus mengapa, dan katanya karena
National Recovery Act sudah mati. Aku bertanya siapa yang membunuhnya: dia
bilang sembilan orang tua.
Perubahan kedua di Maycomb sejak tahun lalu bukanlah hal yang penting secara
nasional. Sampai saat itu, Halloween di Maycomb merupakan acara yang sangat
tidak terorganisasi. Setiap anak melakukan apa yang ingin dilakukannya, dengan
bantuan anak-anak lain kalau ada yang perlu dipindahkan, seperti meletakkan
kereta ringan di atas istal persewaan. Tetapi, para orangtua menganggap situasi
sudah terlalu jauh tahun lalu, ketika kedamaian Miss Tutti dan Miss Frutti
hancur. Miss Tutti dan Frutti Barber adalah dua perawan tua bersaudara yang tinggal
bersama di satu-satunya rumah di Maycomb yang memiliki ruang bawah tanah. Desas-
desus mengatakan bahwa Barber bersaudara adalah anggota Partai Republik karena
bermigrasi dari Clanton, Alabama, pada 1911. Cara hidup mereka asing bagi kami,
dan mengapa mereka ingin memiliki ruang bawah tanah, tak ada yang tahu, tetapi
mereka ingin punya, dan mereka menggalinya, dan mereka melewatkan sisa hidup
mereka mengusir sekian generasi anak-anak dari situ.
Miss Tutti dan Frutti (nama asli mereka adalah
Sarah dan Frances), selain cara hidup Yankee mereka, adalah dua orang tunarungu.
Miss Tutti menyangkalnya dan hidup dalam dunia sunyi, tetapi Miss Frutti, tak
ingin terlewat apa pun, menggunakan terompet telinga yang begitu besar sehingga
Jem menyatakan itu adalah loudspeaker dari salah satu iklan gramofon merk
Victrola yang dibintangi seekor anjing.
Dengan mengingat fakta-fakta ini dan Halloween yang akan segera tiba, beberapa
anak nakal menunggu sampai Barber Bersaudara terlelap, menyelinap ke dalam ruang
duduk mereka (tak ada rumah selain rumah keluarga Radley yang pintunya dikunci
pada malam hari), diam-diam mengeluarkan setiap perabot di dalamnya, dan
menyembunyikannya di ruang bawah tanah. Aku menyangkal bahwa aku berpartisipasi
dalam hal seperti itu. "Aku mendengar mereka!" adalah seruan yang membangunkan para tetangga Barber
Bersaudara pada keesokan subuhnya. "Mendengar mereka mengemudikan truk ke depan
pintu! Menggereduk seperti kuda. Mereka sudah di New Orleans sekarang!"
Miss Tutti yakin para penjaja keliling bulu binatang yang melewati kota dua hari
lalu adalah perampok perabot mereka. "Gelap mereka," katanya. "Orang Suriah."
Mr. Heck Tate dipanggil. Dia menyurvei daerah itu dan berkata dia menduga ini
pekerjaan penduduk setempat. Miss Frutti berkata dia mengenal suara Maycomb di
mana pun, dan tak ada suara Maycomb di ruang duduk itu tadi malam mereka
berkeliaran di seluruh rumahnya. Sekurangnya anjing pelacak harus dikerahkan untuk menemukan
perabot mereka, Miss Tutti bersikeras. Jadi, Mr. Tate terpaksa pergi sejauh
sepuluh mil, mengumpulkan anjing berburu, dan menyuruh mereka melacak.
Mr. Tate melepaskan anjing-anjing itu di tangga depan rumah Barber Bersaudara,
tetapi yang mereka lakukan hanyalah berlari mengitari rumah ke belakang dan
melolong di pintu ruang bawah tanah. Ketika Mr. Tate melepaskan mereka tiga
kali, dia akhirnya berhasil menebak yang terjadi. Pada siang hari itu, tak ada
anak bertelanjang kaki terlihat di Maycomb, dan tak ada yang melepaskan
sepatunya sampai anjing-anjing itu dikembalikan.
Jadi, kaum perempuan Maycomb mengatakan keadaan akan berubah tahun ini.
Auditorium sekolah menengah akan dibuka, akan ada acara sandiwara untuk orang
dewasa; menggigit apel, menarik gulali, menyematkan ekor pada keledai untuk
anak-anak. Juga, akan ada hadiah 25 sen untuk kostum Halloween terbaik, yang
dibuat oleh yang mengenakan.
Aku dan Jem sama-sama mengerang. Bukannya kita pernah berbuat macam-macam,
tetapi ini soal prinsip. Toh Jem menganggap dirinya sudah terlalu tua untuk
Halloween; dia berkata dia tak mau dekat-dekat gedung SMP di acara seperti itu.
Biar saja, pikirku, Atticus bisa mengantarku.
Namun, aku segera tahu bahwa jasaku diperlukan di panggung petang itu. Mrs.
Merriweather telah menciptakan sandiwara asli berjudul Maycomb County: Ad Astra
Per Aspera (Menuju Bintang Melewati Kesukaran), dan aku disuruh menjadi daging
ham. Menurutnya, akan manis sekali kalau ada anak-anak berkostum untuk mewakili
hasil tani county: Cecil Jacos akan dibuatkan kostum sapi; Agnes Boone akan
menjadi kacang kara yang cantik, seorang anak lain menjadi kacang, dan begitu
seterusnya sampai imajinasi Mrs. Merriweather dan persediaan anak-anak terpakai
semua. Tugas kami satu-satunya, sepanjang yang ku-peroleh dari dua kali latihan, adalah
masuk dari sebelah kiri panggung sementara Mrs. Merriweather (tak hanya
pengarang, tetapi juga narator) memperkenalkan kami. Ketika dia berseru, "Babi",
itu isyarat bagiku. Lalu, paduan suara akan bernyanyi, "Maycomb County, Maycomb
County, kami akan setia padamu," sebagai penutupnya, dan Mrs. Merriweather akan
menaiki panggung membawa bendera negara bagian.
Kostumku bukan masalah besar. Mrs. Crenshaw, penjahit setempat, memiliki
imajinasi sebanyak Mrs. Merriweather. Mrs. Crenshaw mengambil kawat ayam dan
membengkokkannya untuk membentuk ham asap. Dia melapiskan kain cokelat, dan
mengecatnya agar mirip dengan aslinya. Aku bisa menyusup dari bawah dan orang
akan menurunkan benda itu ke kepalaku. Hampir sampai ke lutut. Mrs. Crenshaw
dengan baik hati membuatkan dua lubang intip untukku. Pekerjaannya bagus; kata
Jem. Aku kelihatan persis seperti ham berkaki. Namun, ada beberapa hal yang
tidak nyaman: di dalam panas dan sempit: kalau hidungku gatal, aku tak bisa
menggaruk, dan begitu masuk, aku tak bisa keluar sendiri.
Ketika Halloween tiba, aku mengira bahwa seluruh keluarga akan hadir untuk
menontonku beraksi, tetapi aku kecewa. Atticus berkata sediplomatis mungkin
bahwa dia benar-benar merasa tak akan tahan menghadiri sandiwara malam ini, dia
lelah sekali. Dia sudah seminggu di Montgomery dan baru pulang sore tadi. Dia
pikir Jem akan mengantarku kalau aku memintanya.
Kata Bibi Alexandra, dia harus segera tidur, dia sudah mendekorasi panggung
sepanjang sore dan merasa kelelahan dia berhenti di tengah-tengah kalimat. Dia
menutup mulutnya, lalu membukanya untuk mengatakan sesuatu, tetapi tak ada kata
yang muncul. "Ada apa, Bibi?" tanyaku.
"Oh, tidak, tidak ada apa-apa," katanya, "aku teringat akan sesuatu." Dia
menyingkirkan pikiran yang membuatnya gelisah itu, dan menyarankan supaya aku
memberi pertunjukan pendahuluan kepada keluarga kami di ruang duduk. Jadi, Jem
menyusupkan aku ke dalam kostum, berdiri di pintu ruang duduk, berseru "Babi,"
persis seperti yang dilakukan Mrs. Merriweather, dan aku berjalan masuk. Atticus
dan Bibi Alexandra senang sekali.
Aku mengulang peranku bagi Calpurnia di dapur dan dia berkata aku mengagumkan.
Aku ingin menyeberang jalan untuk menunjukkan kepada Miss Maudie, tetapi kata
Jem, dia mungkin akan menghadiri sandiwara itu.
Setelah itu, tidak penting apakah mereka hadir atau tidak. Kata Jem, dia akan
mengantarku. Demikianlah dimulai perjalanan kami yang terpanjang.
m Dua Puluh Delapan Cuaca hangat, tidak biasanya untuk hari terakhir bulan Oktober. Kami bahkan
tidak perlu mengenakan jaket. Angin bertiup semakin kencang, dan menurut Jem,
hujan akan turun sebelum kami sampai di rumah. Bulan tak terlihat.
Lampu jalan di tikungan menciptakan bayangan tajam pada rumah Radley. Kudengar
Jem tertawa perlahan. "Pasti tak ada yang mengganggu mereka malam ini," katanya.
Jem membawakan kostum ham-ku dengan canggung karena sulit dipegang. Menurutku
dia bersikap sangat kesatria dengan melakukan itu.
"Tempat itu memang menyeramkan, ya, kan?" kataku. "Boo memang tidak mau
menyakiti orang, tetapi aku lega kamu ikut."
"Kau tahu, Atticus tak akan membolehkanmu pergi ke gedung sekolah sendirian,"
kata Jem. "Aku tak tahu kenapa tidak boleh, kan cuma satu tikungan dan menyeberang
halaman." "Halaman itu panjang sekali untuk dilintasi anak perempuan malam-malam," goda
Jem. "Kamu tak takut hantu?"
Kami tertawa. Hantu, Uap Panas, mantra, tanda rahasia, semuanya sudah menghilang
bersama tahun-tahun yang kami lewati seperti kabut bersama matahari terbit.
"Mantra apa waktu itu," kata Jem, "Malaikat terang, hidup dalam mati; menyingkir
dari jalan, jangan sedot napasku."
"Sudah, sudah," kataku. Kami berada di depan Radley Place.
Kata Jem, "Boo sepertinya tidak di rumah. Dengar."
Jauh di atas kami, dalam kegelapan, mockingbird yang penyendiri mengumandangkan
repertoarnya, sama sekali tak sadar siapa pemilik pohon yang dihinggapinya,
menukik dari pekik kii-kii burung bunga matahari, ke kuakan biuejay yang
pemarah, hingga lantunan sedih burung Poor Will, pur wil, pur wil.
Kami membelok di tikungan dan aku tersandung akar yang tumbuh di trotoar. Jem
mencoba menolongku, tetapi yang dilakukannya hanyalah menjatuhkan kostumku ke
tanah. Tetapi aku tidak jatuh, dan kami segera melanjutkan perjalanan.
Kami membelok dari jalan dan memasuki halaman sekolah. Gelap gulita.
"Dari mana kautahu kita di mana, Jem?" tanyaku, ketika kami sudah berjalan
beberapa langkah. "Aku tahu kita berada di bawah pohon ek besar karena kita melewati tempat sejuk.
Hati-hati ya, jangan jatuh lagi."
Kami berjalan perlahan, berhati-hati, dan meraba-raba supaya tidak menabrak
pohon. Pohon itu adalah satu-satunya pohon ek yang sudah tua; dua
orang anak tidak akan bisa memeluknya dan bersentuhan tangan. Letaknya jauh dari
guru, mata-mata mereka, dan tetangga yang usil: dekat tanah Radley, tetapi
keluarga Radley tidak usil. Petak kecil tanah di bawah cabang-cabangnya menjadi
padat akibat terlalu sering digunakan untuk perkelahian dan permainan dadu diam-
diam. Lampu di auditorium sekolah berpijar dari kejauhan, tetapi hanya membutakan


To Kill A Mocking Bird Karya Harper Lee di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kami, tak membantu. "Jangan melihat ke depan, Scout," kata Jem. "Lihat ke tanah,
kamu tak akan jatuh."
"Semestinya kau bawa lampu senter, Jem." "Aku tak tahu bakal segelap ini. Tadi
tidak kelihatan akan segelap ini. Mendung sekali, itu sebabnya. Tapi belum akan
hujan kok." Seseorang menyergap kami.
"Tuhan Mahakuasa!" seru Jem. Lingkaran cahaya tiba-tiba muncul di wajah kami,
dan Cecil Jacobs melompat kegirangan dari baliknya. "Haaa, kena!" pekiknya.
"Sudah kuduga kalian akan lewat sini!"
"Apa yang kaulakukan jauh-jauh di sini sendirian" Kamu tidak takut Boo Radley?"
Cecil diantar mobil dengan aman ke auditorium oleh orangtuanya, tidak melihat
kami di sana, lalu berjalan sejauh ini karena dia tahu pasti kami akan datang.
Tetapi, dia menyangka Mr. Finch akan menemani.
"Ah, cuma di balik tikungan saja kok," kata Jem. "Siapa yang takut mengitari
tikungan?" Tapi, kami harus mengakui bahwa Cecil cukup hebat. Dia
berhasil mengagetkan kami, dan dia bisa menyombongkannya di seluruh gedung
sekolah, itu haknya. "Eh," kataku, "bukannya kau jadi sapi malam ini" Mana kostummu?"
"Di belakang panggung," katanya. "Kata Mrs. Merriweather, sandiwaranya masih
lama akan tampil. Kau bisa menaruh kostummu di belakang panggung di sebelah
punyaku, Scout, dan kita bisa pergi bersama yang lain."
Ini gagasan yang bagus, pikir Jem. Dia juga senang karena aku dan Cecil bisa
bersama-sama. Dengan cara ini, Jem bisa bebas berkumpul dengan orang-orang
seusianya. Ketika kami sampai di auditorium, seluruh kota hadir kecuali Atticus dan kaum
wanita yang lelah mendekorasi, dan orang-orang terbuang dan tersekap. Sepertinya
sebagian besar penduduk county hadir: aula disesaki orang desa yang telah
berdandan rapi. Gedung SMP memiliki aula yang luas di lantai satu; orang-orang
berkerumun di kios-kios yang dipasang di setiap sisi.
"Oh, Jem, aku lupa bawa uang," aku mengeluh ketika melihat kios-kios itu.
"Atticus tidak lupa," kata Jem. "Ini tiga puluh sen, kau bisa melakukan enam
hal. Sampai ketemu."
"Oke," kataku, cukup puas dengan tiga puluh sen dan Cecil. Aku pergi bersama
Cecil ke depan auditorium, melalui pintu samping, dan langsung menuju belakang
panggung. Aku menyingkirkan kostum ham dan buru-buru menghampiri Mrs.
Merriweather yang sedang berdiri di mimbar di depan baris kursi pertama, dengan
antusias membuat perubahan dadakan dalam skenario.
"Kau punya uang berapa?" tanya Cecil. Cecil juga punya tiga puluh sen, membuat
kedudukan kami seimbang. Kami membelanjakan sepeser pertama di Rumah Horor, yang
sama sekali tidak menakutkan; kami memasuki ruang kelas tujuh yang didekorasi
dengan warna hitam dan disambut oleh ghoul, sementara yang tinggal di situ
disuruh menyentuh beberapa benda yang katanya merupakan organ tubuh manusia.
"Ini matanya," kami diberi tahu ketika kami menyentuh dua butir anggur kupas di
piring. "Ini jantungnya," yang baunya seperti hati mentah. "Ini jeroan," dan
tangan kami dihunjamkan ke dalam sepiring spageti dingin.
Aku dan Cecil mengunjungi beberapa kios. Kami masing-masing membeli sekantong
gula-gula buatan Bu Hakim Taylor. Aku ingin ikut menggigit apel, tetapi kata
Cecil tidak higienis. Ibunya berkata dia bisa tertular dari kepala semua orang
yang mencelup di baskom yang sama. "Di kota ini tak ada penyakit yang bisa
ditularkan," aku protes. Tetapi kata Cecil, menurut ibunya, tidak higienis
memakan setelah orang lain. Aku belakangan menanyakan hal ini kepada Bibi
Alexandra, dan katanya orang yang berpandangan demikian biasanya climbers, orang
yang berusaha masuk ke kelompok sosial di atasnya.
Kami hendak membeli segumpal gulali ketika utusan Mrs. Merriweather muncul dan
menyuruh kami ke belakang panggung, sudah waktunya bersiap-siap. Auditorium
mulai terisi orang. Band Sekolah Menengah Maycomb County sudah berkumpul di
bawah panggung; lampu di lantai panggung sudah menyala dan tirai beledu merah
beriak dan berombak menutupi kekacauan di belakangnya.
Di belakang panggung, aku dan Cecil menemukan lorong sempit itu disesaki orang:
warga desa bertopi tiga-sudut buatan sendiri, topi Konfederasi, topi Perang
Spanyol-Amerika, dan helm Perang Dunia. Anak-anak yang memakai kostum berbagai
hasil tani berdesakan di sekitar satu jendela kecil.
"Kostumku tergencet orang," lolongku kecewa. Mrs. Merriweather berlari
menghampiriku, membetulkan bentuk kawat ayam, dan mendorongku masuk.
"Kau tidak apa-apa di dalam, Scout?" tanya Cecil. "Suaramu kedengaran jauh,
seperti di balik bukit saja."
"Suaramu juga tak lebih dekat," kataku. Band memainkan lagu kebangsaan, dan kami
mendengar hadirin bangkit. Lalu, drum berbunyi. Mrs. Merriweather, berdiri di
balik mimbar di samping band, berkata, "Maycomb County: Ad Astra Per As-pera."
Bunyi drum menggelegar lagi. "Itu artinya," kata Mrs. Merriweather,
menerjemahkan untuk warga desa, "dari lumpur menuju bintang." Dia menambahkan,
yang menurutku tidak diperlukan, "Sebuah sandiwara."
"Mungkin mereka tak tahu kalau dia tidak memberi tahu," bisik Cecil, yang segera
dibungkam dengan 'sst'. "Seluruh kota tahu," desahku.
"Tetapi orang desa juga datang," kata Cecil.
"Yang di belakang, diam," perintah sebuah suara, dan kami diam.
Drum menggelegar mengikuti setiap kalimat yang diucapkan Mrs. Merriweather. Dia
melantun dengan sedih tentang Maycomb County yang berumur lebih tua daripada
negara bagian, yang merupakan bagian dari Wilayah Mississippi dan Alabama, bahwa
orang berkulit putih pertama yang menginjakkan kaki di hutan yang masih perawan
adalah kakek buyut lima generasi Hakim Waris, yang tak pernah terdengar lagi
kabarnya. Lalu, datanglah Kolonel Maycomb yang pemberani, yang namanya dijadikan
nama county ini. Andrew Jackson menunjuknya menjadi penguasa, dan rasa percaya diri yang keliru
dan minimnya pengetahuan arah Kolonel Maycomb membawa musibah bagi semua yang
mengikutinya dalam Peperangan Indian Creek. Kolonel Maycomb berusaha keras dalam
upayanya membuat wilayah tersebut aman bagi demokrasi, tetapi operasi pertamanya
juga merupakan yang terakhir. Perintahnya, disampaikan kepadanya oleh utusan
Indian yang ramah, adalah bergerak ke selatan. Setelah berkonsultasi dengan
sebatang pohon untuk menentukan dari lumutnya arah mana ke selatan, dan tak
menerima saran dari bawahannya yang mencoba mengoreksinya, Kolonel Maycomb
memulai perjalanan yang bertujuan mengusir musuh dan menyesatkan pasukannya
begitu jauh ke barat laut dalam hutan perawan sehingga mereka akhirnya
diselamatkan oleh pendatang yang pindah ke pedalaman.
Mrs. Merriweather memberikan gambaran selama tiga puluh menit tentang
petualangan Kolonel Maycomb. Aku menemukan bahwa jika aku menekuk lutut, aku
bisa menyusupkannya ke dalam kostumku dan kurang-lebih duduk. Aku duduk,
mendengarkan Mrs. Merriweather yang membosankan bersama dentum drum dan segera
tertidur lelap. Kata orang, Mrs. Merriweather menuangkan seluruh semangatnya ke dalam penutupan
sehingga dia bersenandung, "Baabii", dengan rasa percaya diri yang ditimbulkan
oleh pohon pinus dan kacang kara yang masuk sesuai dengan aba-aba. Dia menunggu
beberapa detik, lalu memanggil, "Baabii?" ketika tak ada yang muncul, dia
membentak, "Babi!"
Rupanya aku mendengar suaranya dalam tidurku atau band yang memainkan Dixie
membangunkanku, tetapi saat Mrs. Merriweather dengan penuh kemenangan menaiki
panggung bersama bendera negara bagianlah aku memilih untuk masuk. Memilih
sebetulnya kurang tepat: kupikir aku sebaiknya menyusul mereka.
Kata orang, Hakim Taylor keluar ke belakang auditorium dan berdiri di situ
menepuk lututnya begitu keras sehingga Mrs. Taylor membawakannya segelas air dan
sebutir pil. Mrs. Merriweather tampaknya mencetak sukses, semua orang bersorak-sorai, tetapi
dia menangkapku di belakang panggung dan berkata padaku aku menghancurkan
pertunjukannya. Dia membuatku merasa sangat tidak enak, tetapi ketika
Jem datang menjemputku, dia bersikap simpatik. Katanya, dia tidak bisa melihat
kostumku dengan baik dari tempatnya duduk. Bagaimana dia bisa tahu aku me-rasa
sedih di balik kostumku, aku tidak tahu, tetapi katanya pertunjukanku bagus, aku
hanya masuk sedikit terlambat, itu saja. Jem sudah hampir sebaik Atticus dalam
membuatku merasa lebih nyaman ketika situasi memburuk. Hampir bahkan Jem tak
bisa membuatku menembus kerumunan dan dia rela menunggu di belakang panggung
bersamaku sampai penonton pergi.
"Kau mau melepaskannya, Scout?" tanyanya. "Tidak, mau kupakai terus," kataku.
Aku bisa menyembunyikan rasa maluku di dalamnya.
"Kalian mau diantar pulang?" seseorang bertanya.
"Tidak, Sir, terima kasih," kudengar Jem berkata. "Cuma jalan sebentar saja."
"Hati-hati ada hantu," suara itu berkata. "Lebih baik, beri tahu saja hantu itu
agar berhati-hati pada Scout."
"Sudah tak banyak orang yang tinggal," kata Jem kepadaku. "Ayo."
Kami melintasi auditorium menuju aula, lalu menuruni tangga. Masih gelap gulita.
Mobil yang tersisa diparkir di sisi lain gedung, dan lampunya tidak banyak
membantu. "Kalau sebagian berjalan ke arah kita, kita bisa melihat lebih jelas,"
kata Jem. "Sini, Scout, biar kupegang lutut babimu. Kau bisa kehilangan
keseimbangan." "Aku bisa lihat kok."
"Iya, tapi kau bisa hilang keseimbangan." Aku merasakan sedikit tekanan pada
kepalaku, dan aku berasumsi Jem memegang ujung ham sebelah situ. "Sudah
dipegang?" "Iya." Kami mulai melintasi halaman sekolah yang gelap gulita, memicing untuk melihat
kaki kami. "Jem," kataku, "aku melupakan sepatuku, ketinggalan di belakang
panggung." "Ayo kita ambil." Tetapi ketika kami berbalik, lampu auditorium padam. "Kau bisa
mengambilnya besok," katanya.
"Tapi besok hari Minggu," aku memprotes ketika Jem membalikkan badanku ke arah
rumah. "Kau bisa meminta penjaga sekolah membukakan pintu ... Scout?"
"Hm?" "Tidak apa-apa." Jem sudah lama tidak begitu. Aku bertanya-tanya apa yang sedang
dipikirkannya. Dia akan memberitahuku kalau dia mau, mungkin kalau sudah sampai
di rumah. Aku merasa jemarinya menekan puncak kostumku, terlalu keras, rasanya.
Aku menggeleng. "Jem, kau tak perlu"
"Diam sebentar, Scout," katanya, mencubitku. Kami berjalan dalam keheningan.
"Ini sudah bukan sebentar," kataku. "Apa yang kaupikirkan?" Aku berpaling untuk
memandangnya, tetapi siluetnya hampir tak terlihat.
"Rasanya aku mendengar sesuatu, katanya. "Berhenti sebentar."
Kami berhenti. "Kau dengar?" tanyanya. "Tidak."
Kami baru berjalan lima langkah ketika dia memberhentikanku lagi.
"Jem, kau mau menakut-nakutiku" Aku sudah besar"
"Diam," katanya, dan aku tahu dia tidak bercanda.
Malam sunyi. Aku bisa dengan mudah mendengar napasnya keluar di sampingku.
Sesekali angin sepoi-sepoi bertiup dan dengan tiba-tiba menerpa kaki
telanjangku, tetapi itu hanyalah sisa dari malam yang katanya akan berangin. Ini
adalah kesunyian sebelum badai petir. Kami memasang telinga.
"Aku baru saja mendengar suara anjing tua," kataku.
"Bukan itu," jawab Jem. "Kedengaran kalau kita berjalan, tetapi kalau kita
berhenti, tidak kedengaran lagi."
"Kau mendengar kostumku bergesekan. Ah, cuma Halloween yang membuatmu
Aku mengatakannya lebih untuk meyakinkan diriku daripada Jem, tetapi benar saja,
ketika kami mulai berjalan, aku mendengar yang dibicarakannya tadi. Bukan
kostumku. "Mungkin Cecil," kata Jem sekarang. "Dia tak akan berhasil menakuti kita lagi.
Jangan biarkan dia menyangka kita buru-buru."
Kami melambat. Aku bertanya bagaimana Cecil bisa mengikuti kami dalam kegelapan,
menurutku dia akan menabrak kami dari belakang.
"Aku bisa melihatmu, Scout," kata Jem. "Oh, ya" Aku tak bisa melihatmu." "Garis
lemakmu kelihatan. Mrs. Crenshaw mengecatnya dengan cat berkilat yang bercahaya
saat disinari lampu panggung. Aku bisa melihatmu dengan baik, dan kukira Cecil
bisa melihatmu cukup baik untuk menjaga jarak."
Aku akan menunjukkan kepada Cecil bahwa kami tahu dia ada di belakang kami dan
kami sudah siap untuknya. "Cecil Jacobs induk ayam baasaah!" aku mendadak
berteriak, berbalik. Kami berhenti. Tak ada jawaban selain "baasaah" memantul di dinding gedung
sekolah di kejauhan. "Coba aku," kata Jem. "Heei!" Heii-heii-heii, jawab dinding gedung sekolah.
Tidak biasanya Cecil bertahan begitu lama; sekali dia bercanda, dia suka
mengulang-ulang. Mestinya dia sudah menyergap kami. Jem mengisyaratkan padaku
untuk berhenti lagi. Dia berkata lirih, "Scout, kau bisa melepas kostummu?"
"Rasanya bisa, tetapi aku tak pakai baju yang cukup tebal di bawahnya."
"Aku membawakan baju gantimu." "Aku tak bisa memakainya dalam gelap." "Oke,"
katanya, "tak usah." "Jem, kau takut?"
"Tidak. Sepertinya kita sudah hampir sampai ke pohon. Beberapa meter dari situ,
kita sudah sampai ke jalan. Kita bisa melihat lampu jalan." Jem berbicara dengan suara yang
tak bernada, datar, tenang. Aku bertanya-tanya berapa lama dia mencoba
membiarkan candaan Cecil berlangsung.
"Menurutmu, apa sebaiknya kita bernyanyi, Jem?"
"Tidak. Diam saja, Scout."
Kami tidak mempercepat langkah. Jem tahu, sama seperti aku, bahwa sulit berjalan
cepat tanpa terantuk tunggul, tersandung batu, dan masalah-masalah lainnya, dan
aku berkaki ayam. Mungkin yang kami dengar hanyalah suara angin berdesau di
pepohonan. Tetapi, tak ada angin dan tak ada pohon selain kayu ek besar.
Teman kami perlahan menyeret kakinya, seakan-akan memakai sepatu yang berat.
Siapa pun dia pasti memakai celana panjang katun yang tebal; yang kukira desauan
pepohonan adalah desir lembut katun menggesek katun, wess, wess, mengiringi
setiap langkahnya. Aku merasa pasir yang kuinjak dengan telapak kakiku semakin dingin dan aku tahu
kami sudah mendekati pohon ek besar. Jem menekan kepalaku. Kami berhenti dan
memasang telinga. Bunyi seretan kaki itu tidak berhenti bersama kami kali ini. Desiran celana itu
terdengar perlahan dan terus-menerus. Lalu, berhenti. Dia berlari, berlari ke
arah kami, bukan dengan langkah anak-anak.
"Lari, Scout! Lari! Lari!" teriak Jem.
Aku mengambil satu langkah besar, dan
menemukan tubuhku oleng: tanganku tak bisa digerakkan, dan, dalam gelap, aku tak
bisa menjaga keseimbangan.
"Jem, Jem, tolong, Jem!"
Sesuatu menggencet kawat ayam di sekelilingku. Logam merobek logam dan aku jatuh
ke tanah dan berguling sejauh mungkin, menggelepar untuk melepaskan diri dari
penjara kawatku. Dari suatu tempat di dekatku terdengar bunyi hantaman dan
tendangan, bunyi sepatu dan daging menggaruk tanah dan akar. Seseorang berguling
menabrakku dan aku merasakan Jem. Dia bangkit seperti kilat dan menarikku
bersamanya, tetapi meskipun kepala dan bahuku bebas, aku begitu kusut sehingga
kami tak sampai jauh. Kami sudah hampir sampai ke jalan ketika kurasakan tangan Jem terlepas dari
tanganku, merasakannya tersentak mundur ke tanah. Perkelahian lagi, lalu
terdengar sesuatu berderak dan Jem menjerit.
Aku berlari ke arah jeritan Jem dan tenggelam dalam perut lelaki yang gemuk.
Pemiliknya berkata, "Eek ..!" dan mencoba menangkap lenganku, tetapi tanganku
tergencet erat. Perutnya empuk tetapi tangannya seperti baja. Dia perlahan
menggencetku hingga aku kesulitan bernapas. Aku tak bisa bergerak. Tiba-tiba dia
tersentak mundur dan terlempar ke tanah, hampir membawaku bersamanya. Kupikir,
Jem sudah bangun. Otak seseorang bekerja sangat lambat kadang-kadang. Terpaku, aku berdiri diam.
Suara perkelahian mereda; napas seseorang tersentak dan malam kembali hening.
Hening, kecuali seorang lelaki yang bernapas berat, bernapas berat dan goyah.
Kupikir dia ke pohon dan bersandar di situ. Dia batuk parah, batuk yang
menyerupai isakan dan mengguncang tulang. "Jem?"
Tak ada jawaban kecuali napas lelaki itu yang terdengar berat. "Jem?"
Jem tak menjawab. Lelaki itu mulai bergerak, seolah-olah mencari sesuatu. Aku mendengarnya
mengerang dan menyeret sesuatu yang berat. Aku perlahan menyadari bahwa sekarang
ada empat orang di bawah pohon. "Atticus...?" Lelaki itu sedang berjalan dengan
berat dan goyah ke arah jalan.
Aku melangkah ke tanah yang tadinya kupikir ditempati pria itu dan meraba-raba
tanah dengan panik, menjulurkan kaki. Sekarang, aku menyentuh seseorang. "Jem?"
Jari kakiku menyentuh celana, ikat pinggang, kancing, sesuatu yang tak bisa


To Kill A Mocking Bird Karya Harper Lee di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

kukenali, kerah, dan wajah. Berewok tajam pada wajahnya memberitahuku wajah itu
bukan Jem. Aku mengendus bau wiski basi.
Aku berjalan ke arah yang kupikir menuju jalan. Aku tidak yakin, karena aku
sudah terlalu banyak berguling begitu. Tetapi, aku menemukannya
dan melihat ke lampu jalan. Seseorang sedang melewatinya. Seorang lelaki
berjalan dengan langkah tertatih-tatih karena sedang membawa beban yang
sepertinya terlalu berat baginya. Dia mengitari tikungan. Dia membawa Jem.
Lengan Jem menjuntai liar di depannya.
Saat aku sampai di tikungan, lelaki itu sedang melintasi halaman depan. Cahaya
dari pintu depan membingkai Atticus sejenak; dia berlari menuruni tangga, dan,
bersama-sama, dia dan lelaki itu membawa Jem masuk.
Aku berada di pintu depan ketika mereka memasuki ruang tamu. Bibi Alexandra
berlari menghampiriku. "Telepon Dr. Reynolds!" Suara Atticus terdengar tajam
dari kamar Jem. "Di mana Scout?"
"Di sini," seru Bibi Alexandra, menarikku bersamanya ke telepon. Dia menarikku
dengan cemas. "Aku tak apa-apa, Bibi," kataku, "sebaiknya telepon dulu."
Dia menarik penerima dari kait dan berkata, "Eula May, ke Dr. Reynolds, cepat!"
"Agnes, ayahmu di rumah" Oh Tuhan, di mana dia" Tolong beri tahu untuk kemari
secepat mungkin. Tolong, ini penting!"
Bibi Alexandra tak perlu lagi memperkenalkan diri; seluruh penduduk Maycomb
sudah saling mengenal suara.
Atticus keluar dari kamar Jem. Begitu Bibi Alexandra memutuskan hubungan,
Atticus mengambil gagang darinya. Dia mengguncang kait dan berkata, "Eula May,
tolong sambungkan ke sheriff."
"Heck" Atticus Finch. Ada yang menyerang anak-anakku. Jem cedera. Antara di sini
dan gedung sekolah. Aku tak bisa meninggalkan putraku. Tolong cepatlah ke sana,
dan lihat apakah orangnya masih di sana. Aku ragu kau akan menemukannya, tetapi
aku ingin melihatnya kalau kau menemukannya. Aku harus pergi. Terima kasih,
Heck." "Atticus, apa Jem mati?"
"Tidak, Scout. Jaga dia, Dik," serunya, sambil ke ruang tamu.
Tangan Bibi Alexandra gemetar ketika melepaskan kain dan kawat penyok dari
sekelilingku. "Kau tak apa-apa, Sayang?" tanyanya berulang-ulang sambil
membebaskan aku. Lega rasanya keluar dari kostum. Lenganku mulai kesemutan, dan warnanya merah
dengan tanda segi enam kecil. Aku menggosoknya dan rasanya lebih baik.
"Bibi, apakah Jem mati?"
"Tidak, tidak, Sayang, dia pingsan. Kita tak tahu seberapa parah cederanya
sampai Dr. Reynolds kemari. Jean Louise, apa yang terjadi?"
"Aku tak tahu." Bibi tidak menanyaiku lagi. Dia membawakan baju ganti untukku,
dan andai terpikir olehku saat itu, aku tak akan pernah membiarkan dia
melupakannya: dalam pikiran kacau, Bibi membawakanku sepotong overall. "Pakai
ini, Sayang," katanya, memberiku pakaian yang paling dibencinya.
Dia bergegas menuju kamar Jem, lalu menghampiriku di ruang tamu. Dia menepukku
perlahan, lalu kembali ke kamar Jem.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah. Aku mengenal langkah Dr. Reynolds hampir
sebaik langkah ayahku. Dia membantu persalinan Jem dan aku, membimbing kami
melewati setiap penyakit masa kanak-kanak yang diketahui manusia, termasuk
ketika Jem terjatuh dari rumah pohon, dan persahabatan kami tak pernah berubah.
Dr. Reynolds berkata jika kami sering bisulan, mungkin kami tidak akan
bersahabat, tetapi kami meragukan hal itu.
Dia memasuki pintu dan berkata, "Ya Tuhan." Dia berjalan menghampiriku dan
berkata, "Kau masih berdiri," dan mengubah arahnya. Dia mengenal setiap ruangan
rumah ini. Dia juga tahu kalau kondisiku buruk, Jem juga.
Setelah sepuluh menit yang rasanya seabad, Dr. Reynolds kembali. "Apakah Jem
mati?" tanyaku. "Jauh dari itu," katanya, berjongkok di hadapanku. "Kepalanya benjol, seperti
kepalamu, dan tangannya patah. Scout, lihat ke sana tidak jangan putar kepalamu,
gerakkan matamu. Sekarang, lihat ke sana. Patahnya parah, sejauh yang bisa
kuperiksa sekarang, patahnya di sikut. Sepertinya seseorang mencoba memiting
sikutnya hingga lepas ... sekarang lihat aku."
"Jadi, dia tidak mati?"
"Tidaak!" Dr. Reynold berdiri. "Kita tak bisa berbuat banyak malam ini,"
katanya, "kecuali membuatnya senyaman mungkin. Kita harus merontgen lengannya
sepertinya dia harus terus meluruskan lengannya beberapa lama. Tapi jangan
khawatir, dia akan sembuh. Anak-anak seusianya mudah pulih.
Sambil berbicara, Dr. Reynolds memandangiku dengan tajam, perlahan meraba benjol
yang muncul di keningku. "Kau tak merasa ada yang patah di tubuhmu, kan?"
Canda kecil Dr. Reynolds membuatku tersenyum. "Jadi, menurut Dokter dia tidak
mati, begitu?" Dia memakai topinya. "Tentu saja, aku bisa salah, tetapi menurutku dia sangat
hidup. Menunjukkan semua gejalanya. Lihatlah sendiri, dan kalau aku kembali,
kita mengobrol dan memutuskan."
Dr. Reynolds melangkah cepat seperti orang muda. Berbeda dengan Mr. Heck Tate.
Sepatu botnya yang berat membuat teras menderita dan dia membuka pintu dengan
canggung, tetapi dia mengatakan hal yang sama seperti Dr. Reynolds ketika dia
masuk. "Kau tak apa-apa, Scout?" tanyanya.
"Ya, Sir, saya mau masuk melihat Jem. Atticus dan yang lain ada di dalam."
"Aku ikut," kata Mr. Tate. Bibi Alexandra sudah menyampirkan handuk pada lampu
baca Jem, dan kamarnya menjadi remang-remang. Jem terbaring telentang. Ada luka
yang tampak parah di sisi wajahnya. Lengan kirinya terkulai menjauh dari
tubuhnya; sikutnya sedikit bengkok, tetapi ke arah yang salah. Jem mengernyit.
"Jem ...?" Atticus berbicara. "Dia tak bisa mendengarmu Scout, dia pingsan. Dia mulai
sadar, tetapi Dr. Reynolds membuatnya tak sadar lagi."
"Ya, Sir." Aku mundur. Kamar Jem besar dan persegi. Bibi Alexandra duduk di
kursi goyang di samping perapian. Lelaki yang membawa Jem masuk berdiri di
pojok, bersandar pada dinding. Dia orang desa yang tak kukenal. Mungkin dia
menghadiri pertunjukan, dan sedang berada di sekitar situ ketika kejadian. Pasti
dia mendengar jeritan kami dan bergegas datang.
Atticus berdiri di samping tempat tidur Jem. Mr. Heck Tate berdiri di ambang
pintu. Topinya berada di tangannya, dan lampu senter menonjol dari saku
celananya. Dia mengenakan pakaian kerja.
"Masuk, Heck," kata Atticus. "Kau menemukan sesuatu" Aku tak bisa membayangkan
orang yang cukup rendah melakukan hal seperti ini, tetapi kuharap kau
menemukannya." Mr. Tate mendengus. Dia menoleh tajam pada lelaki di pojok, mengangguk
kepadanya, lalu melihat ke sekeliling ruangan pada Jem, pada Bibi Alexandra,
lalu pada Atticus. "Duduk, Mr. Finch," katanya ramah. Atticus berkata, "Mari kita semua duduk.
Duduk di situ saja, Heck. Aku akan ambil satu lagi kursi dari ruang duduk."
Mr. Tate duduk di kursi Jem, dia menunggu sampai Atticus kembali dan duduk juga.
Aku bertanya-tanya mengapa Atticus tidak membawakan kursi untuk lelaki di pojok,
tetapi Atticus jauh lebih mengenal cara-cara orang desa daripada aku. Sebagian
klien desanya memarkir kuda bertelinga panjang mereka di bawah pohon mindi di
halaman belakang, dan Atticus sering mengadakan pertemuan di tangga belakang.
Yang ini mungkin lebih merasa nyaman di tempatnya.
"Mr. Finch," kata Mr. Tate, "akan kuceritakan apa yang kutemukan. Aku menemukan
baju anak perempuan ada di mobilku. Itu bajumu, Scout?"
"Ya, Sir, kalau warnanya merah muda dan berkerut," kataku. Mr. Tate bersikap
seolah-olah dia berada di kursi saksi. Dia suka bercerita dengan caranya
sendiri, tidak terganggu oleh negara atau pembela, dan terkadang butuh waktu
lama. "Aku menemukan secarik kain berwarna lumpur yang berbentuk aneh"
"Itu kostumku, Mr. Tate."
Mr. Tate mengusap kedua pahanya. Dia menggosok lengan kirinya dan mengamati
hiasan perapian Jem, lalu dia tampak tertarik pada perapian. Jarinya menyentuh
hidungnya yang panjang. "Ada apa, Heck?" tanya Atticus.
Mr. Tate memegang lehernya dan menggosoknya. "Bob Ewell sekarang tergeletak di
tanah di bawah pohon di sana dengan pisau dapur tertusuk di antara tulang
iganya. Dia tewas, Mr. Finch."
" Dua Puluh Sembilan Bibi Alexandra berdiri dan mendekati perapian. Mr. Tate bangkit, tetapi Bibi
menolak dibantu. Untuk sekali itu dalam hidupnya, naluri sopan santun Atticus
tidak berfungsi. Dia tetap duduk di tempatnya.
Entah bagaimana, aku ak bisa memikirkan apa pun selain ucapan Bob Ewell bahwa
dia akan menghabisi Atticus walaupun harus menunggu seumur hidup. Mr. Ewell
hampir menghabisinya, dan itulah hal terakhir yang dilakukannya.
"Kau yakin?" tanya Atticus muram.
"Sudah pasti dia mati," jawab Mr. Tate. "Benar-benar mati. Dia tak akan
menyakiti anak-anak ini lagi."
"Bukan itu maksudku." Atticus bicara seperti mengigau. Usianya mulai terlihat,
tanda adanya pergolakan batin: garis dagunya yang kaku sedikit menggelambir,
kerutan mulai terbentuk di bawah telinganya, rambutnya yang hitam legam mulai
ditumbuhi petak abu-abu di bagian pelipisnya.
"Bagaimana kalau kita ke ruang keluarga?" Bibi Alexandra akhirnya berkata.
"Kalau Anda tak berkeberatan," ujar Mr. Tate,
"saya lebih suka kita di sini jika tidak mengganggu Jem. Aku ingin melihat
cederanya sementara Scout ... menceritakan kejadiannya."
"Tak apa-apa kan kalau saya pergi?" tanya Bibi. "Saya tak diperlukan di sini.
Aku ada di kamarku kalau kau memerlukan, Atticus." Bibi Alexandra berjalan ke
pintu, tetapi kemudian berhenti dan berbalik. "Atticus, tadi aku mendapat
firasat tentang malam ini aku ini salahku," dia mulai berbicara. "Mestinya aku"
Mr. Tate mengangkat tangannya. "Silakan saja, Miss Alexandra, saya tahu Anda
terguncang karena kejadian ini. Dan tak usah menyiksa dirimu tentang ini kalau
kita selalu menurutkan perasaan, kita akan serupa kucing yang mengejar ekornya.
Miss Scout, coba ceritakan apa yang terjadi, selagi masih segar dalam ingatanmu.
Bisa, kan" Apakah kau melihat dia membuntuti kalian?"
Aku mendekati Atticus dan merasakan tangannya merangkulku. Aku membenamkan
wajahku ke pangkuannya. "Kami mulai berjalan pulang. Aku bilang, Jem, aku
kelupaan sepatu. Begitu kami mau kembali mengambil, lampu dipadamkan. Kata Jem,
aku bisa mengambilnya besok ...."
"Scout, berbicaralah lebih keras supaya Mr. Tate bisa mendengarmu," ujar
Atticus. Aku merayap ke pangkuannya.
"Lalu, Jem menyuruhku diam sebentar. Kusangka dia sedang memikirkan sesuatu dia
selalu menyuruhku diam biar bisa berpikir lalu dia bilang dia mendengar suara.
Kami menyangka itu Cecil."
"Cecil?" "Cecil Jacobs. Dia menakut-nakuti kami malam ini, dan kami pikir dia mencoba
lagi. Dia memakai kain. Ada hadiah 25 sen buat kostum terbaik, aku tak tahu
siapa yang memenangkannya"
"Kau di mana saat menyangka itu Cecil?"
"Tak jauh dari gedung sekolah. Aku meneriak kan sesuatu padanya"
"Kau berteriak, apa?"
"Cecil Jacobs induk ayam gendut, rasanya. Kami tak mendengar apa-apa lalu Jem
berteriak halo atau apa, cukup keras untuk membangunkan orang mati"
"Sebentar, Scout," kata Mr. Tate. "Mr. Finch, kau mendengar mereka?"
Atticus berkata dia tidak mendengar. Dia menghidupkan radio. Bibi Alexandra juga
menghidupkan radionya di kamar. Dia ingat karena Bibi menyuruhnya mengecilkan
suara radio supaya dia bisa mendengar acaranya. Atticus tersenyum. "Aku selalu
menghidupkan radio terlalu kencang."
"Mungkin tetangga ada yang mendengar...," ujar Mr. Tate.
"Aku ragu, Heck. Sebagian besar sedang mendengar radio atau tidur sore seperti
ayam. Maudie Atkinson mungkin masih terjaga, tetapi aku meragukannya."
"Lanjutkan, Scout," ujar Mr. Tate.
"Lalu, setelah Jem berteriak, kami berjalan lagi. Mr. Tate, aku terkurung dalam
kostum tapi aku juga bisa mendengar suaranya saat itu. Langkah kaki,
maksudku. Berjalan saat kami berjalan, berhenti saat kami berhenti. Kata Jem,
dia bisa melihatku karena Mrs. Crenshaw menambahkan sejenis cat berpendar pada
kostumku. Aku jadi daging asap." "Maksudmu?" tanya Mr. Tate, terkejut. Atticus
menjelaskan peranku kepada Mr. Tate, sekaligus bentuk pakaianku. "Mestinya
kaulihat dia waktu dia sampai," ujarnya, "kostumnya hancur jadi bubur."
Mr. Tate menggaruk dagu. "Tadinya aku heran, apa yang menyebabkan tanda itu
padanya. Lengan bajunya penuh lubang-lubang kecil. Ada satu dua bekas tusukan
kecil di lengannya yang sesuai dengan lubang-lubang tersebut. Aku ingin melihat
benda itu, Sir, kalau boleh."
Atticus mengambilkan sisa-sisa kostumku. Mr. Tate membaliknya dan
melengkungkannya agar bisa membayangkan bentuk aslinya. "Benda ini mungkin
menyelamatkan hidupnya," katanya. "Lihat."
Dia menunjuk dengan telunjuknya yang panjang. Sebuah garis bersih bersinar pada
kawat yang kusam. "Bob Ewell tidak main-main," gumam Mr. Tate.
"Dia kehilangan akal sehatnya," ujar Atticus.
"Aku tak perlu mendebatmu, Mr. Finch bukan gila, luar biasa jahat. Bajingan hina
yang kebanyakan minum sehingga cukup berani membunuh anak-anak. Dia tak akan
pernah menghadapimu secara terang-terangan."
Atticus menggeleng. "Aku tak bisa membayangkan ada orang yang tega"
"Mr. Finch, ada jenis manusia yang harus ditembak dahulu sebelum disapa. Begitu
pun, mereka masih tak sebanding dengan peluru yang digunakan untuk menembak.
Ewell adalah satunya."
Atticus berkata, "Kusangk dia sudah melampiaskan semuanya pada waktu dia
mengancamku. Kalau belum pun, kusangka dia akan memburuku."
"Dia cukup punya nyali untuk menyusahkan seorang wanita kulit hitam yang miskin,
dia cukup punya nyali untuk mengganggu Hakim Taylor saat dia pikir rumahnya
kosong, apa kau pikir dia akan menghadapimu secara terang-terangan?" Mr. Tate
menghela napas. "Sebaiknya kita lanjutkan. Scout, kau mendengar dia di
belakangmu" "Ya, Sir. Waktu kami sampai di bawah pohon"
"Bagaimana kautahu bahwa kau berada di bawah pohon, di sana kilat pun tak
kelihatan." "Saya bertelanjang kaki, dan kata Jem tanah selalu lebih dingin di bawah pohon."
"Kita harus menjadikan putramu deputi, lanjutkan."
"Lalu, tiba-tiba ada yang menangkapku dan menghancurkan kostumku ... rasanya aku
membungkuk ke tanah ... kedengaran perkelahian di bawah pohon seperti ... mereka
kedengaran menghantam pohon. Jem menemukanku dan langsung menarikku ke arah
jalan. Seperti Mr. Ewell mungkin menariknya hingga terjatuh. Mereka kembali
berkelahi lalu ada suara aneh Jem menjerit ..." Aku berhenti. Itu bunyi yang
muncul dari tangan Jem. "Pokoknya, Jem menjerit dan aku tak mendengar lagi suaranya, lalu Mr. Ewell
mencoba meremasku sampai mati, kukira ... lalu seseorang menarik Mr. Ewell sampai
roboh. Sepertinya Jem sudah bangun, kukira. Cuma itu yang kutahu ..."
"Lalu?" Mr. Tate menatap tajam ke arahku.
"Ada yang terhuyung-huyung dan terengah-engah dan terbatuk-batuk seperti mau
mati. Awalnya kusangka itu Jem, tetapi kedengarannya tidak seperti dia, jadi aku
terus mencari Jem di tanah. Kusangka Atticus keluar membantu kami dan kelelahan"
"Jadi, siapa dia?"
"Nah, itu orangnya, Mr. Tate, dia bisa memberitahumu namanya."
Sambil bicara, aku sudah mengangkat tangan untuk menunjuk lelaki di sudut,
tetapi segera menurunkannya lagi agar tidak ditegur Atticus karena menunjuk
orang. Menunjuk orang itu tidak sopan.
Dia masih bersandar di dinding. Dia telah bersandar di dinding sejak aku masuk
ke kamar ini, tangannya bersidekap di depan dada. Saat aku menunjuk, dia
menurunkan tangannya dan menekan telapak tangannya ke dinding. Tangannya putih,
putih pucat yang tak pernah kena matahari, demikian putih sehingga terlihat
berkilau dengan latar belakang krem kusam dinding kamar Jem yang diterangi
cahaya temaram. Aku menatap dari tangannya ke celana khaki-nya yang dikotori pasir; pandanganku
merayap dari perawakannya yang kurus ke kemeja denimnya yang robek. Wajahnya
seputih tangannya, kecuali
bayangan pada dagunya yang menonjol. Pipinya cekung; mulutnya lebar; ada lekukan
dangkal di pelipisnya, dan mata kelabunya demikian tak berwarna sehingga aku
mengira dia buta. Rambutnya lepek dan tipis, nyaris seperti bulu di atas
kepalanya. Ketika aku menudingnya, telapak tangannya bergerak sedikit, meninggalkan noda
keringat berminyak pada dinding, dan dia mengaitkan jempolnya pada ikat
pinggangnya. Tubuhnya terguncang bersama kejang kecil yang aneh, seolah-olah dia
mendengar kuku menggaruk papan, tetapi saat aku memandangnya dengan takjub,


To Kill A Mocking Bird Karya Harper Lee di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

ketegangan perlahan mengendur dari wajahnya. Bibirnya membuka menjadi senyuman
malu-malu, dan sosok tetangga kami mengabur bersama air mataku yang tiba-tiba
mengalir. "Hai, Boo," kataku.
Tiga Puluh Mr. Arthur, Sayang," kata Atticus, dengan lembut mengoreksiku. "Jean Louise, ini
Mr. Arthur Radley. Aku yakin dia sudah mengenalmu."
Jika Atticus bisa memperkenalkanku kepada Boo Radley secara santai pada saat
seperti ini ya, memang begitulah Atticus.
Boo tentu melihatku spontan berlari ke ranjang yang ditiduri Jem karena senyum
malu-malu yang sama juga merambat di wajahnya. Dibakar rasa malu, aku
menutupinya dengan cara menyelimuti Jem. "Eh, jangan sentuh dia," Atticus
berkata. Mr. Heck Tate menatap Boo dengan penuh perhatian melalui kacamatanya
yang berbingkai tanduk. Saat dia akan berbicara, Dr. Reynold masuk ke dalam
kamar. "Semuanya keluar," katanya, begitu dia melewati pintu, "Malam, Arthur, tidak
melihatmu waktu aku tadi kemari."
Suara Dr. Reynold terdengar seriang langkahnya, seakan-akan dia mengucapkannya
setiap malam selama hidupnya, suatu hal yang lebih mengejutkanku dibandingkan
berada seruangan dengan Boo Radley. Tentu saja ... Boo Radley pun kadang-kadang
jatuh sakit, pikirku. Namun sebaliknya, aku
juga tak yakin. Dr. Reynolds membawa bungkusan besar yang terbalut kertas koran. Dia
meletakkannya di atas meja Jem lalu melepas mantelnya. "Sekarang, sudah puas
bahwa dia masih hidup" Biar kuceritakan bagaimana aku tahu. Saat aku mencoba
memeriksanya, dia menendangku. Harus ditenangkan dengan baik sebelum aku bisa
menyentuhnya. Jadi, pergilah," katanya padaku.
"Ngg ..." kata Atticus, melirik Boo. "Heck, mari ke teras depan. Di sana banyak
kursi, dan udara masih cukup hangat."
Aku sempat bertanya-tanya mengapa Atticus mengajak kami ke teras depan, bukannya
ke ruang keluarga, baru kemudian aku mengerti. Cahaya di ruang keluarga sangat
terang. Kami beriringan keluar, pertama Mr. Tate Atticus menunggu di pintu agar dia
keluar lebih dahulu. Lalu, dia berubah pikiran dan menyusul Mr. Tate.
Orang mempunyai kebiasaan untuk bertindak seperti hari-hari biasa pada saat yang
paling aneh sekalipun. Aku juga bukan pengecualian, "Mari, Mr. Arthur," kudengar
aku bicara, "Anda tak mengenal rumah ini. Saya antar ke teras, Sir."
Dia menatap ke arahku dan mengangguk.
Aku menuntunnya melalui ruang tamu dan melewati ruang keluarga.
"Silakan duduk, Mr. Arthur. Kursi goyang ini enak dan nyaman."
Khayalan kecilku tentang dia hidup lagi: dia duduk di terasnya ... cuacanya indah
ya, Mr. Arthur" Ya, cuacanya indah. Merasa sedikit tidak nyata, aku menempatkannya di kursi yang
terjauh dari Atticus dan Mr. Tate. Tempat itu tertimpa bayangan kelam. Boo akan
merasa lebih nyaman dalam kegelapan.
Atticus duduk di ayunan, dan Mr. Tate di kursi sebelahnya. Cahaya dari ruang
keluarga menerangi mereka. Aku duduk di samping Boo.
"Jadi, Heck," Atticus bicara, "Kukira yang harus dilakukan Ya Tuhan, Aku
kehilangan ingatanku ..." Atticus menaikkan kacamatanya dan menekan jari-jarinya
ke mata. "Jem belum tiga belas tahun ... tidak, dia sudah tiga belas aku tak
ingat. Bagaimanapun, kasusnya akan diajukan ke pengadilan negeri "
"Kasus apa, Mr. Finch?" Mr. Tate meluruskan kakinya dan mencondongkan tubuhnya
ke depan. "Tentu saja ini jelas-jelas pembelaan diri, tetapi aku tetap harus ke kantor dan
mencari" "Mr. Finch, kau mengira Jem yang membunuh Bob Ewell" Kau mengira seperti itu?"
"Kaudengar cerita Scout tadi, itu tak diragukan lagi. Katanya, Jem berdiri dan
menariknya dari Scout entah bagaimana mungkin pisau Ewell sampai ke tangannya
dalam kegelapan ... kita akan tahu besok."
"Mr. Finch, tahan dulu," ujar Mr. Tate. "Jem tak pernah menikam Bob Ewell."
Atticus diam sesaat. Dia menatap Mr. Tate seakan dia menghargai yang
diucapkannya. Namun, Atticus menggeleng.
"Heck, kau sangat baik dan aku tahu kau melakukannya atas dorongan hatimu yang
baik, tetapi jangan memulai hal seperti itu."
Mr. Tate berdiri dan berjalan ke ujung teras. Dia meludah ke semak-semak, lalu
memasukkan tangannya ke saku celana dan menghadap Atticus. "Seperti apa?"
tanyanya. "Maaf kalau aku bicara keras, Heck," Atticus berkata datar, "tapi tak akan ada
yang menutup-nutupi kejadian ini. Aku tak mau hidup seperti itu."
"Tak ada yang menutup-nutupi, Mr. Finch." Suara Mr. Tate lirih, tetapi sepatu
botnya tertanam kukuh di lantai teras seakan-akan tumbuh di sana. Pertandingan
aneh yang tidak kumengerti sedang terjadi antara ayahku dan sheriff.
Sekarang, giliran Atticus yang berdiri dan berjalan ke ujung teras. Dia
menggumam, "Hmm," dan meludah ke pekarangan. Dia memasukkan tangannya ke saku
dan menatap Mr. Tate. "Heck, kau belum mengatakannya, tetapi aku tahu yang kaupikirkan. Terima kasih
untuk itu. Jean Louise" Dia berpaling padaku. "Katamu, Jem yang menarik Mr.
Ewell darimu?" "Ya, Sir, sepertinya begitu ... Aku"
"Kaudengar kan, Heck" Aku berterima kasih dari lubuk hatiku, tetapi aku tak
ingin putraku memulai hidupnya dengan hal seperti ini menghantuinya. Cara
terbaik untuk menjernihkan masalah adalah dengan membeberkan semuanya. Biar saja
warga county datang dan membawa roti isi. Aku tak ingin dia tumbuh dikelilingi
kasak-kusuk, aku tak ingin ada yang berkata, 'Jem Finch ... ayahnya keluar uang
banyak untuk membebaskannya.' Lebih cepat kita menyelesaikan ini akan lebih
baik." "Mr. Finch," ujar Mr. Tate tanpa emosi, "Bob Ewell jatuh menimpa pisaunya. Dia
membunuh dirinya sendiri."
Atticus berjalan ke sudut serambi. Dia menatap anggur wisteria yang menjalar.
Dengan cara mereka sendiri, kukira, keduanya sama keras kepalanya. Aku bertanya-
tanya siapa yang akan menyerah terlebih dahulu. Kekeraskepalaan Atticus tak
pernah terdengar dan jarang terlihat, tetapi dalam beberapa hal dia sama kakunya
seperti Cunningham. Meskipun Mr. Tate tidak berpendidikan dan apa adanya, mereka
berdua sama keras kepalanya.
"Heck," Atticus membalikkan badan. "Jika hal ini ditutup-tutupi, bagi Jem ini
akan menjadi pengingkaran nyata terhadap caraku membesarkannya. Terkadang aku
merasa gagal total sebagai orangtua, tapi hanya aku yang mereka punyai. Sebelum
Jem melihat siapa pun, dia melihatku lebih dahulu, dan aku mencoba menjalani
hidup supaya bisa balas menatapnya ... jika aku bersekongkol untuk hal seperti
ini, terus terang aku tak akan mampu menatap matanya, dan bila itu terjadi aku
tahu aku akan kehilangan dia. Aku tak ingin kehilangan dia dan Scout karena
hanya mereka yang kupunya."
"Mr. Finch." Mr. Tate masih terpaku ke lantai papan. "Bob Ewell menimpa
pisaunya. Aku bisa membuktikannya."
Atticus berputar. Tangannya makin masuk ke saku. "Heck, tak bisakah kau melihat
hal ini dari sudut pandangku" Kau juga punya anak, tetapi aku lebih tua darimu. Saat anak-
anakku dewasa, aku tentu sudah tua, kalau memang masih hidup, tapi saat ini aku
jika mereka tak memercayaiku, mereka tak akan memercayai siapa pun. Jem dan
Scout tahu apa yang terjadi. Jika mereka mendengarku di kota menyampaikan
kejadian yang berbeda Heck, aku tak akan memiliki mereka lagi. Aku tak bisa
hidup dengan satu cara di kota dan cara lain di rumah."
Mr. Tate mengetuk-ngetukkan tumitnya dan berkata dengan sabar, "Dia membanting
Jem, tersandung akar pohon dan lihat, aku bisa menunjukkannya padamu."
Mr. Tate merogoh ke saku celananya dan mengeluarkan sebilah pisau lipat
otomatis. Saat dia melakukan hal tersebut, Dr. Reynolds tiba di pintu. "Kepar
almarhum ada di bawah pohon itu, Dok, tepat di dalam pekarangan sekolah. Punya
senter" Ambil yang ini saja."
"Aku bisa memindahkan mobilku ke situ dan menghidupkan lampunya," kata Dr.
Reynolds, tetapi dia menerima senter Mr. Tate. "Jem tak apa-apa. Dia tak akan
terbangun malam ini, kuharap, jadi jangan khawatir. Itu pisau yang membunuhnya,
Heck?" "Bukan, Sir, masih di badannya. Sepertinya pisau dapur, kalau melihat gagangnya.
Ken seharusnya sudah di sana dengan mobil jenazah, Dok. Selamat malam."
Mr. Tate menekan tombol pada pisaunya. "Seperti ini," katanya. Dia memegang
pisau dan pura-pura tersandung; saat dia terhuyung ke depan, tangan kirinya
turun ke depan tubuhnya. "Lihat" Menusuk dirinya sendiri melewati bagian lunak
di sela-sela rusuknya. Berat tubuhnya menghunjamkan pisaunya semakin dalam."
Mr. Tate memasukkan mata pisau dan mengembalikannya ke saku. "Scout baru delapan
tahun," ujarnya. "Dia demikian ketakutan sehingga tak tahu pasti yang terjadi."
"Kaubisa terkejut kalau tahu," ujar Atticus masam.
"Aku tidak bilang dia mengarang-ngarang, aku bilang dia demikian ketakutan
sehingga tak tahu pasti yang terjadi. Di sana gelap gulita, sehitam tinta. Hanya
orang yang sangat terbiasa dengan kegelapan bisa menjadi saksi ..."
"Aku tak bisa menerimanya," Atticus berkata perlahan.
"Persetan, aku bukan berpikir mengenai Jem!" Sepatu bot Mr. Tate mengentak papan
lantai demikian keras sehingga lampu di kamar tidur Miss Maudie menyala. Lampu
Miss Stephanie Crawford menyala. Atticus dan Mr. Tate memandang ke seberang
jalan, lalu saling menatap. Mereka menunggu.
Saat Mr. Tate berbicara lagi suaranya hampir tak terdengar. "Mr. Finch, aku tak
suka bertengkar denganmu saat kau seperti ini. Malam ini kau dilanda ketegangan
yang tak seharusnya dialami manusia. Mengapa kau belum terkapar di tempat tidur
aku tak tahu, tetapi aku tahu untuk saat ini kau tak bisa menyimpulkan dengan
benar, dan kita harus menyelesaikan ini malam ini juga karena besok akan
terlambat. Dada Bob Ewell tertusuk pisau dapur."
Mr. Tate menambahkan bahwa Atticus tak bisa berdiri dan bersikeras bahwa bocah
seukuran Jem dengan tangan cedera masih punya tenaga untuk merobohkan dan
membunuh orang dewasa dalam gelap gulita.
"Heck" kata Atticus tiba-tiba, "pisau lipat yang kau ayun tadi. Kau dapat dari
mana?" "Aku mengambilnya dari orang mabuk," Mr. Tate menjawab dingin.
Aku mencoba mengingat-ingat. Mr. Ewel di atasku ... lalu dia roboh ... tentu Jem
sudah bangun. Setidaknya kusangka begitu ....
"Heck?" "Kataku, kuambil dari orang mabuk di kota malam ini. Ewell mungkin menemukan
pisau dapur itu di sembarang kotak sampah. Diasah sambil menunggu ... menunggu
waktunya." Atticus berjalan ke ayunan lalu duduk. Kedua tangannya terjuntai lunglai di
antara lutut. Dia menatap lantai. Dia juga bergerak dengan kelambanan yang sama
seperti malam itu di depan penjara, ketika dia lambat-lambat melipat surat kabar
dan melemparkannya ke kursi.
Mr. Tate perlahan berjalan mengitari teras. "Ini bukan keputusanmu, Mr. Finch,
semuanya bagianku. Ini keputusan dan tanggung jawabku. Sekali ini, kalau kau tak
bisa melihat persoalan ini dengan
caraku, tak banyak yang bisa kaulakukan. Jika kau coba-coba, aku akan menuduhmu
berbohong. Putramu tak pernah menikam Bob Ewell," dia berkata perlahan, "dekat
pun tidak dan sekarang kautahu itu. Yang diinginkannya hanya agar dia dan
adiknya sampai ke rumah dengan selamat."
Mr. Tate berhenti berjalan. Dia berhenti di depan Atticus, dan membelakangi
kami. "Aku bukan orang baik, Sir, tetapi aku Sheriff Maycomb County. Sudah
tinggal di sini seumur hidupku dan umurku hampir empat puluh tiga tahun. Aku
tahu semua yang terjadi di sini sejak sebelum aku lahir. Ada bocah kulit hitam
mati tanpa alasan, dan orang yang bertanggung jawab sekarang sudah mati. Biarkan
kali ini yang mati saling mengubur, Mr. Finch. Biarkan yang mati saling
mengubur." Mr. Tate berjalan ke ayunan dan mengambil topinya yang terletak di samping
Atticus. Dia merapikan rambutnya ke belakang dan mengenakan topinya.
"Aku belum pernah mendengar bahwa berusaha mencegah kejahatan merupakan
pelanggaran hukum, dan itulah yang dilakukannya, tapi mungkin menurutmu tugasku
adalah memberi tahu seluruh kota tentang hal ini dan tidak menutupinya. Tahu apa
yang akan terjadi berikutnya" Semua wanita di Maycomb termasuk istriku akan
mengetuk pintunya sambi membawa kue angel food. Menurut pemikiranku, Mr. Finch,
menyeret seorang pemalu yang telah berjasa besar padamu dan seluruh kota ke
bawah lampu sorot menurutku, itu dosa. Itu dosa
dan aku tak mau dibebani hal itu. Jika orangnya orang lain, mungkin akan
berbeda. Tapi tidak untuk yang satu ini, Mr. Finch."
Mr. Tate berusaha menggali lubang di lantai dengan ujung sepatu botnya. Dia
menarik hidungnya, kemudian memijat-mijat lengan kirinya. "Aku mungkin bukan
siapa-siapa, Mr. Finch, tetapi aku tetap Sheriff Maycomb County dan Bob Ewell
jatuh menimpa pisaunya. Selamat malam."
Mr. Tate mengentakkan kakinya di teras lalu berjalan melintasi halaman depan.
Dia membanting pintu mobilnya lalu melaju pergi.
Atticus lama duduk tepekur. Akhirnya, dia mengangkat kepala. "Scout," katanya,
"Mr. Ewell jatuh menimpa pisaunya. Bisakah kau mengerti?"
Kelihatannya Atticus perlu dihibur. Aku berlari mendekat dan memeluk serta
menciumnya sekuat tenaga. "Ya, aku mengerti," aku meyakinkannya. "Mr. Tate
benar." Atticus melepaskan diri dan menatapku, "Apa maksudmu?"
"Ya, itu sama saja dengan menembak mockingbird, ya, kan?"
Atticus mencium kepalaku dan membelainya. Ketika dia bangkit dan berjalan
melintas teras ke dalam bayangan, langkah mudanya telah kembali. Sebelum dia
masuk ke rumah, dia berhenti di depan Boo Radley. "Terima kasih atas nama anak-
anakku, Arthur," katanya.
Tiga Puluh Satu Saat Boo Radley berdiri dengan canggung, cahaya dari jendela ruang keluarga
berkilauan di keningnya. Semua gerakan yang dibuatnya terlihat tidak pasti,
seolah-olah dia tak yakin tangan dan kakinya bisa bersentuhan dengan benda-benda
yang disentuhnya. Batuknya berkepanjangan menakutkan, begitu mengguncang
sehingga dia duduk kembali. Tangannya meraih ke dalam saku celananya, lalu
menarik selembar saputangan. Dia batuk ke saputangan, lalu mengelap keningnya.
Karena sudah begitu terbiasa dengan ketidak hadirannya, bagiku luar biasa bahwa
dia duduk di sampingku selama ini, hadir. Dia tak mengeluarkan suara sama
sekali. Sekali lagi, dia berdiri. Dia berpaling padaku dan menunjuk ke pintu depan
dengan dagunya. "Kau ingin mengucapkan selamat tidur pada Jem, ya Mr. Arthur" Mari masuk."
Aku mengantarnya ke ruangan. Bibi Alexandra duduk di sebelah ranjang Jem.
"Silakan masuk, Arthur," katanya. "Dia masih tertidur. Dr. Reynold memberinya
obat penenang yang keras. Jean Louise, ayahmu masih di ruang keluarga?"
"Ya, Ma'am, rasanya begitu."
"Aku mau bicara dengannya sebentar. Dr. Reynold meninggalkan beberapa ..."
suaranya terdengar menjauh.
Boo telah masuk hingga ke pojok kamar. Dia berdiri dengan dagu terangkat,
menatap Jem dari kejauhan. Kupegang tangannya, yang hangatnya mengejutkan untuk
tangan seputih itu. Kutarik sedikit, dan dia membiarkanku menuntunnya ke ranjang
Jem. Dr. Reynold menata sesuatu yang mirip kemah di atas lengan Jem, supaya tidak
tertimpa sesuatu, kukira, dan Boo menunduk memandanginya. Perasaan ingin tahu
yang malu-malu muncul di wajahnya, seakan-akan dia belum pernah melihat anak
laki-laki. Mulutnya sedikit terbuka, dan dia menatap Jem dari kepala sampai
kaki. Tangan Boo bergerak ke atas, tetapi diturunkannya lagi ke sisi tubuhnya.
"Anda boleh membelainya, Mr. Arthur, dia sedang tidur. Kalau dia bangun, Anda
tak bisa, dia tak akan membolehkan ..." aku tanpa sengaja menjelaskan, "Silakan."
Tangan Boo mengapung di atas kepala Jem. "Silakan, Sir, dia sedang tidur."
Tangannya turun perlahan ke rambut Jem.
Aku mulai mengerti bahasa tubuhnya. Tangannya semakin erat di tanganku dan dia
mengisyaratkan bahwa dia ingin pergi.
Aku mengantarnya ke teras depan, lalu langkah gelisahnya berhenti. Dia masih
menggandeng tanganku dan tak menunjukkan tanda-tanda akan
melepaskanku. "Kaubisa mengantarku pulang?" Dia hampir berbisik, dengan suara kanak-kanak yang
takut akan gelap. Aku meletakkan kaki di anak tangga teratas dan berhenti. Aku bisa menuntunnya
dalam rumahku, tetapi tak boleh menuntunnya pulang.
"Mr. Arthur, bengkokkan tanganmu, ya benar seperti itu."
Aku menyelipkan tanganku di lekuk tangannya. Dia harus sedikit menekuk lututnya
untuk menyesuaikan dengan tinggiku, tetapi kalau Miss Stephanie Crawford melihat
dari jendela lantai atas, dia akan melihat Arthur Radley mengawalku sepanjang
trotoar, sebagaimana layaknya seorang lelaki terhormat.
Kami sampai di lampu jalan di tikungan, dan aku bertanya-tanya sudah berapa kali


To Kill A Mocking Bird Karya Harper Lee di http://cerita-silat-novel.blogspot.com by Saiful Bahri Situbondo

Dili berdiri di sana memeluk tiang besar, menatap, menunggu, berharap. Aku
bertanya-tanya, berapa kalikah Jem dan aku menyusuri jalan ini, tetapi aku
memasuki gerbang depan Radley untuk kedua kalinya dalam hidupku. Boo dan aku
menaiki tangga ke teras. Jari-jarinya menemukan gagang pintu. Dengan lembut
dilepaskannya tanganku, membuka pintu, masuk ke dalam, lalu menutup pintu. Aku
tak pernah melihatnya lagi.
Tetangga biasa mengantar makanan jika ada yang meninggal, bunga jika ada yang
sakit, serta hal-hal kecil lainnya. Boo adalah tetangga kami. Dia memberi kami
dua boneka sabun, jam rantai yang
rusak, sepasang uang logam keberuntungan, dan nyawa kami. Namun, tetangga selalu
membalas pemberian. Kami tak pernah balas meletakkan sesuatu yang kami ambil
dari pohon itu: kami tak pernah memberinya apa-apa, dan itu membuatku sedih.
Aku berbalik untuk pulang. Lampu-lampu jalan berkelap-kelip sepanjang jalan ke
kota. Aku belum pernah melihat lingkungan kami dari sudut ini. Di situ rumah
Miss Maudie, Miss Stephanie dan rumah kami. Aku bisa melihat ayunan teras rumah
Miss Rachel setelah kami terlihat jelas. Aku bahkan bisa melihat rumah Mrs.
Dubose. Aku melihat ke belakangku. Di sebelah kiri pintu cokelat itu terdapat sebuah
jendela tinggi ber-kerai. Aku berjalan ke situ, berdiri di depannya, lalu
berbalik. Pada siang hari, kupikir, dia bisa melihat sampai ke tikungan kantor
pos. Siang hari ... dalam benakku, malam memudar. Saat itu siang hari dan lingkungan
ini terlihat sibuk. Miss Stephanie Crawford menyeberangi jalan untuk
menyampaikan berita terakhir kepada Miss Rachel. Miss Maudie membungkuk di atas
bunga azaleanya. Saat itu musim panas, dan dua anak berlari-lari di trotoar
menuju seorang lelaki yang berjalan mendekat di kejauhan. Lelaki itu melambai,
anak-anak itu adu cepat menghampirinya.
Masih musim panas, anak-anak itu datang mendekat. Seorang anak laki-laki
tertatih-tatih di trotoar sambil menyeret galah pancing di belakangnya. Seorang
pria menunggu sambil berkacak pinggang. Musim panas, anak-anak itu bermain di
halaman depan bersama teman mereka, mempertunjukkan drama singkat aneh yang
mereka ciptakan sendiri. Musim gugur, anak-anaknya berkelahi di trotoar depan rumah Mrs. Dubose. Anak
laki-laki itu membantu adiknya berdiri, lalu mereka berjalan pulang. Musim
gugur, anak-anak itu berlari-lari kecil ke sana kemari di sekitar tikungan, suka
duka hari itu terlihat di wajah mereka. Mereka berhenti di sebuah pohon ek,
senang, bingung, khawatir.
Musim dingin, anak-anak itu menggigil di gerbang depan, hanya terlihat siluet
dengan latar rumah yang berkobar. Musim dingin, seorang lelaki melangkah ke
jalan, menjatuhkan kacamatanya, dan menembak seekor anjing.
Musim panas, dia melihat anak-anak itu patah hati. Musim semi lagi, anak-anak
Boo membutuhkannya. Atticus benar. Dia pernah berkata, kau tak akan pernah mengenal seseorang sampai
kau berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya. Hanya berdiri di
serambi Radley pun cukup.
Cahaya lampu jalan terlihat kabur karena rintik hujan yang jatuh. Sepanjang
perjalanan pulang, aku merasa sangat tua, tetapi saat memandang ke ujung
hidungku, aku bisa melihat tetesan kecil-kecil yang berkabut, tetapi
menjulingkan mata membuatku pusing jadi aku berhenti. Sepanjang perjalanan
pulang, aku memikirkan cerita yang sungguh hebat yang akan kukatakan kepada Jem
keesokan harinya. Dia akan sangat marah karena tak sempat mengalaminya, dia tak
akan bicara padaku selama berhari-hari. Sepanjang perjalanan pulang, aku
berpikir Jem dan aku akan terus tumbuh, tetapi tak banyak yang tersisa untuk
dipelajari selain, mungkin, aljabar.
Aku berlari menaiki tangga dan masuk ke rumah. Bibi Alexandra sudah tidur,
sementara kamar Atticus sudah gelap. Aku ingin melihat apakah Jem sudah siuman.
Atticus ternyata berada di kamar Jem, duduk di samping tempat tidurnya. Dia
sedang membaca buku. "Jem sudah bangun belum?"
"Tidur lelap. Dia tak akan terbangun sampai pagi."
"Oh. Kau mau menemaninya terus?"
"Paling satu atau dua jam. Tidurlah Scout, harimu melelahkan."
"Ah, aku akan tinggal sebentar."
"Terserah kau," kata Atticus. Saat itu mungkin sudah lewat tengah malam, dan aku
heran dia membolehkan dengan ramah. Namun, dia lebih pintar dariku: begitu
duduk, aku langsung merasa mengantuk.
"Apa yang kaubaca?" tanyaku. Atticus membalik bukunya. "Punya Jem, judulnya The
Grey Ghost." Aku tiba-tiba terjaga. "Kenapa baca yang itu?"
"Sayang, aku tak tahu. Asal ambil. Satu dari sedikit yang belum pernah kubaca,"
dia menjawab apa adanya. "Tolong baca keras-keras, Atticus. Ceritanya sangat menakutkan."
"Tidak," katanya, "Kau sudah cukup ketakutan beberapa waktu ini. Yang ini
terlalu ...." "Atticus, aku tadi tidak takut." Dia mengangkat alisnya dan aku langsung
menyanggah, "Paling tidak sampai aku bercerita pada Mr. Tate. Jem tidak takut.
Aku menanyakannya waktu itu, dan dia bilang tidak. Lagi pula, tidak ada yang
benar-benar menakutkan selain yang ada di buku."
Atticus membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi menutupnya lagi. Dia
menarik jempolnya dari bagian tengah buku lalu kembali membuka halaman pertama.
Aku bergeser dan menumpukan kepalaku di lututnya. "Hmm, katanya. "The Grey
Ghost, oleh Seckatary Hawkins, Bab Satu ..."
Aku berusaha terus terjaga, tetapi hujan begitu lembut dan ruangan begitu hangat
dan suaranya begitu dalam dan lututnya begitu nyaman sehingga aku tertidur.
Beberapa saat kemudian, rasanya, sepatunya dengan lembut menggamit rusukku. Dia
membantuku berdiri serta mengantarku ke kamarku. "Aku dengar semua kata-katamu,
kok," gumamku, "... sama sekali tidak tidur, ceritanya tentang kapal, Three
Fingered Fred serta Stoner's Boy
Dia melepas kancing overall-ku, menyandar-kanku ke badannya, lalu menarik bajuku
hingga lepas. Dia menegakkanku dengan satu tangan lalu dengan tangan yang
lainnya menjangkau piama.
"Ya, dan semuanya berpikir bahwa Stoner's Boy yang mengacak-acak tempat
pertemuan mereka dan mencipratkan tinta ke mana-mana dan ..."
Dia membimbingku ke ranjang dan menduduk-kanku. Mengangkat kakiku, lalu
menyelimutiku. "Dan mereka memburunya tetapi tak pernah menangkapnya karena mereka tak tahu
seperti apa rupanya, lalu Atticus, ketika akhirnya mereka melihatnya, ternyata
dia tak pernah melakukan hal-hal tersebut ... Atticus, dia benar-benar baik ...."
Tangannya mengangkat daguku, menarik selimut hingga ke leherku, lalu menyisipkan
tepinya ke bawah badanku.
"Begitulah sebagian besar manusia, Scout, ketika kau mengerti mereka."
Dia mematikan lampu dan kembali ke kamar Jem. Dia akan berada di sana semalaman,
dan dia akan berada di sana saat Jem terbangun esok pagi.
Kemelut Di Majapahit 12 Pembalesan Seri Oey Eng Si Burung Kenari Karya Siao Ping Nemesis 4
^